Bosan?

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

Dalam hidup ini siapakah yang tidak pernah bosan? Bete! Bosen! Dari bosan makan makanan  tertentu, bosan memakai jenis pakaian tertentu, bosan bekerja atau bersekolah, sampai bosan hidup dengan orang tertentu. Bosan adalah keadaan emosi atau jasmani yang dialami seseorang karena kurangnya aktivitas, variasi, motivasi atau stimulasi. Tetapi bosan juga bisa disebabkan oleh kesulitan, tantangan dan penderitaan yang tidak kunjung berhenti seperti yang dialami Ayub:

“Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” Ayub 10: 1



Mengalami kebosanan belum tentu dosa, tetapi sikap, kelakuan dan perbuatan yang menyebabkan kebosanan atau terjadi sesudahnya mungkin dapat berakhir dengan dosa.
Pada waktu di padang gurun, umat Israel pada suatu saat merasa bosan memakan roti manna yang rasanya manis seperti kue madu. Maklum sudah bertahun- tahun mereka tidak pernah makan daging. Apa yang terjadi setelah itu? Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan karena tidak adanya daging. Dari perasaan bosan, dosa kemudian muncul, dan akibat selanjutnya mengerikan. Beribu-ribu orang Israel mati karena kebanyakan makan burung puyuh yang didatangkan Tuhan (Bilangan 11).

Kita yang hidup di kota besar mungkin sering berpikir betapa membosankan hidup di desa. Memang sesekali bertamasya ke tempat sepi bisa membawa rasa damai. Tapi bagaimana kalau kita harus hidup di tempat dimana tidak ada mall, internet atau tempat kuliner? Bete? Mereka yang tiap hari ngemall pun lama-lana bete juga. Yang suka ngemal-ngemil bosen juga akhirnya. Kalau sudah bosan bagaimana? Rasa bosan bertambah besar karena kita mungkin merasa bosan atas kebosanan kita. Dan kebosanan yang tidak diatasi ini akan bisa berlanjut dengan dosa karena hidup yang kehilangan tujuan. Begitu banyak orang yang terjerumus kedalam aktivitas dan hal-hal yang buruk karena bosan dengan apa yang ada. Bosan menghilangan rasa syukur,  kesabaran,  kesetiaan  dan kasih.

Pada pihak yang lain, ada orang yang tidak bosan-bosannya melakukan hal yang sama.  Kalau yang dilakukan adalah hal yang baik, maka itu adalah keuletan. Tetapi jika apa yang diperbuat adalah tidak baik, itu bukan keuletan, tapi mungkin ambisi, adiksi atau kerakusan. Mereka yang tidak bosan-bosannya hidup dalam dosa, sudah jatuh kedalam jerat iblis. Mereka yang tidak pernah bosan mengejar harta dan kemuliaan akan jatuh kedalam berbagai dosa.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Pagi ini, sudahkan kita membuat rencana untuk mengerjakan sesuatu? Adakah rencana untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi Tuhan dan sesama? Apa yang kita biasa lakukan setiap hari? Apakah itu karena terpaksa, keuletan,  adiksi atau kerakusan? Apakah kita merasa lelah dan bosan mengalami hal-hal yang tidak enak, yang selalu muncul setiap hari? Apakah kita tidak bosan-bosannya mengerjakan sesuatu demi  kepuasan diri sendiri? Marilah kita mengevaluasi hidup kita agar dalam segala yang kita alami dan lakukan, nama Tuhanlah yang dipermuliakan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s