Aku manusia beretika

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Kolose 3:  5 – 6.

Sewaktu saya masih belajar di Indonesia, dalam pelajaran agama saya diharuskan untuk membaca buku “Etika Seksuil” karangan Dr. Johannes Verkuyl. Dalam buku itu saya belajar bagaimana sebagai orang Kristen saya harus mempunyai standard moral seksuil yang baik. Pelajaran etika seksuil ini cukup menarik dan memberi murid-murid pengetahuan moral yang perlu dipakai dalam hubungan antar jenis. Tetapi, untuk beberapa murid, sebagian materi pelajaran sering dibuat bahan pergunjingan dan geguyonan.

Pelajaran etika ini sayangnya adalah satu-satunya pelajaran moral diluar pelajaran agama yang saya terima. Setelah saya selesai kuliah, pelan-pelan saya menyadari bahwa dalam hidup ini ada berbagai etika yang baik, tetapi tidak semua ada dalam Alkitab. Etika bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya, etika masyarakat yang satu mungkin bisa menjadi bahan pergunjingan dan geguyonan dalam masyarakat lain.

Etika Kristen (dari bahasa Yunani ethos yang berarti  kebiasaan/ adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  dimana saja. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya setempat) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak menjadi manusia “kurang ajar” yang hidup “ugal-ugalan”. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman itu belum tentu dibahas dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau bisa berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika yang menguntungkan mereka saja. Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 diatas disebutkan bahwa  kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan. Sebagai orang Kristen mungkin kita mudah berkata bahwa kita mengerti akan hal-hal diatas. Tetapi bagaimana pula dengan praktek tingkah laku dan pikiran kita yang sehari-hari tentang hal-hal itu? Adakah etika kita?

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika hidup Kristen yang berdasarkan kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan rajin, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang menjadi majikan kita. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati pemerintah dan hukum yang berlaku. Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani dan karena itu tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firmanNya.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s