Marah jangan sekedar marah

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Efesus 4: 36

Bagi sebagian orang, marah adalah soal mudah. Mudah marah, sering marah, sekalipun tanpa sebab yang berarti. Mungkin mereka mendapatkan kepuasan tersendiri dengan menjadi marah. Belum lagi mereka yang kecanduan shabu shabu (narkoba), mereka cenderung selalu marah.

Untuk kebanyakan orang, marah adalah normal. Setiap orang pernah marah, sekalipun sering harus menimbang apa perlu untuk marah seiring bunyi tokek: marah…tidak…marah…tidak. Memang orang tahu bahwa akibat kemarahan bisa serius, bisa memberi akibat baik atau buruk untuk yang dimarahi maupun yang memarahi. Orang yang terus menerus marah atau dimarahi, lambat laun akan hancur hidupnya.

Dalam Alkitab, Tuhan yang Mahasuci dan Mahakasih pun pernah dan sering marah. Bahkan sampai sekarang Ia marah jika ada hal-hal yang menyalahi perintahNya.

“Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.” Mazmur 7: 11

Walaupun demikian, kemarahan manusia tidak bisa dibandingkan dengan kemarahan Tuhan sebab kemarahan manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Tuhan (Yakub 1 : 20). Jadi, apakah manusia tidak boleh marah sama sekali?

Ayat Efesus 4: 36 diatas mengatakan bahwa jika kita menjadi marah, jangan sampai kita berbuat dosa. Malahan, dalam beberapa Alkitab terjemahan bahasa Inggris, dikatakan: “Marahlah, asal jangan berdosa”. Kita diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk marah dengan cara yang baik supaya tidak berdosa. Bagaimana mungkin sedangkan kita bukan Tuhan?

Dalam hidup beriman, tujuan hidup kita adalah untuk berjalan menurut perintahNya. Karena itu dalam setiap reaksi kita, kita harus memikirkan apa reaksi Tuhan dalam menghadapi hal yang sama. Yesus marah ketika Ia melihat bahwa Bait Allah dijadikan pasar. Apa sebabnya? 

“Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Matius 21: 12-13.

Begitu juga, hubungan kita dengan Tuhan menentukan kemampuan kita untuk mengerti apa kehendak Tuhan dalam hidup kita dan orang disekitar kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kemarahan yang benar adalah kemarahan yang didasarkan oleh kebenaran Tuhan. Jika Tuhan tidak menyukai hal-hal tertentu, adalah normal jika kita juga marah jika hal-hal itu terjadi. Tuhan mengasihi seluruh isi bumi ini, dan karena itu kita juga wajib marah jika ada hal-hal yang bisa merusak ketentraman dan kesejahteraan manusia dan lingkungan. Kemarahan disini harus dituangkan dalam bentuk positif yang membangun dan memperbaiki situasi.

Satu hal yang harus kita ingat adalah kasih Tuhan yang sangat besar kepada manusia. Sekalipun semua manusia sudah berdosa, Tuhan tetap berusaha menyelamatkan mereka dengan mengirim Yesus anakNya yang tunggal sebagai Juruselamat manusia (Yohanes 3: 16). Karena itu, kemarahan yang benar adalah kemarahan yang berdasarkan kemurahan dan kasih Tuhan yang sudah kita terima!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s