Mengapa Tuhan terasa membosankan

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Dalam hidup ini kita bisa melihat ada banyak pasangan suami istri yang mempunyai hubungan yang harmonis. Bagaimana kita bisa tahu tentang hal itu? Ada beberapa tandanya; misalnya mereka sering pergi berduaan, senang berbincang-bincang, jarang bertengkar, saling membantu dalam tugas rumah tangga dan selalu memberi perhatian utama kepada pasangannya. Sebaliknya pasangan yang kurang harmonis biasanya terlihat bosan dalam hidup bersama. Hubungan mereka mungkin masih ada secara formal, dan malah sering saling memanggil pasangannya dengan sebutan “sayangku” atau “manisku”, tetapi mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk hobby, pekerjaan dan orang lain.

Seperti hubungan suami istri, kitapun mungkin bisa melihat dan merasakan adanya hubungan yang harmonis antara seseorang dengan Tuhan jika orang itu dalam setiap langkah hidupnya selalu minta penyertaan Tuhan, senang berbincang-bincang dengan Tuhan melalui doa, jarang berdebat dengan Tuhan, mau bekerja untuk kemuliaanNya dan selalu memberi perhatian utama kepada Tuhan. Sebaliknya mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan biasanya terlihat bosan dalam soal kerohanian. Sekalipun hubungan mereka dengan Tuhan mungkin masih ada secara formal, dan malah sering menyebut-nyebut nama Tuhan di depan umum, tetapi mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk hobby, pekerjaan, hiburan dan teman.

Tuhan itu seperti orang berumur yang bawel, begitulah banyak orang mengeluh. Ia suka sekali menggurui manusia dan mengatur segala segi kehidupan manusia. Karena itu sebagian orang merasa bosan terhadap hubungannya dengan Tuhan. Malahan ada orang-orang yang marah atau tersinggung kalau mendapat peringatan Tuhan baik melalui Firman maupun lewat saudara seiman. Tuhan itu “bossy” dan “boring”, kata sebagian orang. Mereka tidak mau terlalu dekat dengan Tuhan karena tetap mau hidup “berdikari” alias berdiri diatas kaki sendiri. Mereka mau merdeka dari kungkungan Tuhan dan tidak mau terlalu diatur oleh Tuhan.

Mengapa Tuhan sepertinya membosankan? Karena Tuhan sepertinya kuno, ketinggalan zaman.

  1. Tuhan tidak memperbolehkan manusia beriman kepada rasul-rasul, nabi-nabi, orang suci, pemimpin gereja dan orang-orang terkenal lainnya, baik sudah mati maupun masih hidup. Padahal mereka itu adalah anak-anak Tuhan yang jempolan.
  2. Tuhan tidak memperbolehkan manusia membaktikan diri kepada kekayaan, kesuksesan, kepopuleran, kepandaian, kesenangan dan semacamnya. Padahal itu adalah tujuan hidup manusia yang diajarkan dalam berbagai media.
  3. Kita tidak diperbolehkan menyebut nama Tuhan secara sembarangan, sekalipun itu bisa menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Tuhan.
  4. Tuhan mengharuskan kita menghormati Dia khususnya pada hari Sabat/Minggu, padahal hari itu hari libur kita yang bisa dipakai untuk bersenang-senang.
  5. Kita selalu diingatkan untuk menghormati orang tua, padahal mereka sendiri tidak pernah mengeluh atas perlakuan kita.
  6. Tuhan melarang kita membunuh seolah kita ini memang bertampang pembunuh. Apalagi jika kita tidak diperbolehkan membenci orang lain karena itu dianggap sama dengan membunuh.
  7. Manusia tidak diperbolehkan untuk berbuat zinah, cabul, hidup diluar pernikahan, atau berhubungan dengan kaum sejenis, padahal banyak orang modern dan ternama berbuat begitu di siang hari bolong pun.
  8. Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil keuntungan secara tidak benar karena itu dianggap mencuri. Padahal semua orang harus berbuat begitu kalau mau sukses dalam hidup.
  9. Kita tidak boleh menjelekkan nama orang lain sekalipun orang itu sering memfitnah kita. Inipun sulit dijalankan karena dalam bisnis dan politik sudah biasa manusia bersaing dan saling menyerang atau menjelekkan.
  10. Manusia dilarang mengiri kesuksesan orang lain, padahal rasa ingin seperti orang lain bisa menjadi pendorong kesuksesan kita. Kekaguman kita atas hidup orang lain, prestasi orang lain, harta, pasangan, dan anak-anak mereka sering digolongkan sebagai rasa iri.

Pagi ini kita bisa melihat bahwa Tuhan kita itu terasa berlebihan dalam mengatur hidup kita. Karena itu sering kita ingin berjalan sendirian dalam hidup kita. Kita sering bosan untuk hidup “terlalu alim”, kita ingin kebebasan. Tetapi yang tidak kita sadari adalah bahwa semakin lama dan jauh kita hidup tanpa Tuhan, semakin jauh juga kita tersesat dalam kegelapan dosa.

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s