Bolehkah kita bangga?

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Hal berbangga adalah sesuatu yang sering kita jumpai dalam hidup ini. Orang bangga akan keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan apa yang diperolehnya atau yang dicapai oleh anak cucu dan kerabatnya.

Kebanggaan yang bisa dilihat dalam diri orang lain dan pada diri kita sendiri, mungkin dipandang sebagai kesombongan jika diutarakan dengan secara berlebihan. Tetapi seringkali beda antara kebanggaan dan kesombongan itu sangat tipis, sehingga sulit untuk memisahkan keduanya.

Bolehkah kita bangga? Tentu saja boleh. Tetapi ada syaratnya. Kita boleh bangga akan apa yang baik, yang benar-benar terjadi pada diri kita.

Seringkali kebanggaan seseorang diutarakan atas hal yang kurang baik, yang terjadi karena orang itu menggunakan kesempatan, kemampuan dan kebebasan yang dipunyainya. Mungkin ia bangga karena tidak ada orang atau hal lain yang bisa menghalanginya. Kebanggaan semacam ini tidak lain adalah kebodohan.

Sering juga orang merasa bangga atas apa yang terjadi pada diri orang lain, karena apa yang sudah dicapai orang itu, sekalipun ia tidak mempunyai andil atau hubungan langsung atas keberhasilan orang itu. Jelas kebanggaan semacam itu hanyalah kebanggaan yang kosong saja.

Kebanggaan boleh ada jika kita berhasil melakukan hal yang baik.

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Galatia 6: 4

Kebanggaan kita atas apa yang dicapai orang lain boleh ada hanya jika kita ikut berjuang, dan mempunyai hubungan yang erat, dengan orang itu.

“Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.” 2 Korintus 7: 3-4

Bagi orang Kristen, kebanggaan tidak dapat dipisahkan dengan anugerah Tuhan. Segala yang baik datang dari Tuhan. Kebanggaan yang hanya merupakan usaha untuk menunjukkan keberhasilan diri sendiri sering merupakan kesombongan dan ketidakjujuran. Inilah sesuatu yang dibenci Tuhan.

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8: 13

Kebanggaan kita haruslah didasari dengan kesadaran bahwa tanpa Tuhan, segala sesuatu yang baik tidak dapat terjadi. Kita adalah manusia fana yang punya banyak kelemahan. Sekalipun kita tahu bahwa kita harus berbuat baik, apa yang tidak baiklah yang cenderung kita lakukan. Karena itu, dalam segala apa yang kita banggakan, baiklah kita mengingat bahwa dalam kelemahan kita, Tuhan sudah memberikan berkat dan menunjukkan kasihNya!

Satu pemikiran pada “Bolehkah kita bangga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s