Kasih itu bukan hanya berkurban tanpa tujuan

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” 1 Korintus 13: 3

Ada banyak pengurbanan yang dilakukan manusia untuk orang lain. Bagi banyak orang, semua pengurbanan baik moril maupun materiil adalah kebaikan. Dalam hal ini, kesediaan untuk mati sering dipandang sebagai pengurbanan yang terbesar yang bisa dilakukan manusia.

Bayangkan Yesus yang mengurbankan dirinya di kayu salib. Menurut perikemanusiaan, bagaimana Ia menderita dan akhirnya mati adalah suatu kekejaman. Untuk sebagian orang itu adalah kebodohan yang bisa dihindari; sedang bagi orang lain, pengurbanan itu adalah tanda kasih.

Apakah ada orang yang mau mati? Tentu! Tetapi belum tentu itu berdasarkan kebaikan. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk membela kehormatan pribadi, keluarga, agama dan negara. Ada juga orang yang bersedia untuk mati daripada menderita, atau untuk menyusul kekasih yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia, dan bahkan ada juga orang memilih mati untuk mendapatkan pahala di surga sesuai dengan ajaran agamanya.

Ada banyak orang yang mengurbankan diri untuk orang lain, tetapi untuk maksud dan tujuan yang keliru. Orang tua dalam memanjakan anaknya, mungkin berpikir bahwa itu baik adanya. Suami atau istri yang membiarkan pasangannya untuk mengumbar apa yang disenanginya juga sering beralasan cinta. Mereka yang sering memberi donasi kepada orang yang menderita, bisa saja berdasarkan kesadaran sosial atau perikemanusiaan, tetapi mungkin juga untuk membawa nama baik dan keuntungan pribadi.

Ayat diatas mengatakan bahwa tujuan apapun yang kita punyai dalam memberi, jika itu bukan kasih, semuanya adalah sia-sia. Kasih itu apa? Kasih yang bagaimana? Paulus dalam 1 Korintus 13: 4 – 7 menulis:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Semua hal-hal diatas adalah mengenai hal bagaimana, yaitu tentang pelaksanaan kasih; tetapi belum menjelaskan apa kasih itu. Apa yang ditulis oleh rasul Yohanes dibawah ini memberi jawaban tentang apa kasih itu.

“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 9 – 10

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kasih manusia yang benar adalah kasih yang bertalian dengan kasih yang sudah diterimanya dari Allah. Mereka yang sudah menerima kasih Allah dalam pengurbanan AnakNya, sadar bahwa kasih yang harus dipunyainya adalah kasih yang membawa kemuliaan kepada sumber kasih itu sendiri. Kasih yang benar hanya mempunyai satu tujuan yaitu mempermuliakan Tuhan.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s