Tidaklah mudah untuk rendah hati

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Kesombongan adalah dosa dan sebagian orang Kristen mengenalnya sebagai dosa yang teratas diantara tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Memang sejak awalnya manusia cenderung untuk sombong; Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa karena mereka ingin mempunyai pengetahuan seperti Allah. Kesombongan adalah seperti penyakit menular. Mungkin kita sadar bahwa kesombongan adalah hal yang tidak baik, tetapi, jika kita mendengar seseorang memyombongkan milik, anak atau prestasinya, cepat atau lambat kita akan ikut-ikutan menyombongkan diri.

Kesombongan (dalam bahasa Inggris: pride dan dalam bahasa Latin: superbia) atau kecongkakan/keangkuhan adalah awal segala dosa. Tokoh gereja Thomas Aquinas pernah menyatakan bahwa setiap manusia yang meninggalkan Tuhan berawal dari kesombongannya, karena ia yang merasa super, ingin mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain ataupun Tuhan.

Kesombongan adalah hasrat berlebihan ketika manusia menilai dirinya terlalu tinggi. Manusia menjadikan dirinya sendiri ‘tuhan’ dengan penolakan untuk menundukkan akal budi dan keinginannya pada Tuhan, termasuk tunduk pada mereka yang berkewajiban untuk memimpinnya. Dengan demikian, kesombongan seringkali menimbulkan masalah dan kehancuran dalam keluarga, gereja, masyarakat dan bahkan negara.

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal yang pertama, adalah contoh dari apa yang menjadi lawan kesombongan, yaitu kerendahan hati. Dalam ayat diatas dikatakan bahwa Yesus selama hidup di dunia, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, bahkan mati di kayu salib sebagai ganti manusia yang berdosa.

Kerendahan hati adalah sifat dan sikap yang sulit dipertahankan dalam hidup, terutama karena orang yang sedemikian seolah-olah adalah orang yang selalu membiarkan dirinya “diinjak-injak” orang lain. Bagaimana Yesus, Anak Allah, dapat mempunyai karakter yang lemah lembut dan rendah hati? Karena Ia taat kepada perintah BapaNya; Yesus mengasihi Bapa dan sadar akan tugasNya untuk menyelamatkan manusia. Seperti itu jugalah, kita bisa menjadi orang yang rendah hati jika kita benar-benar taat kepada Tuhan dan sadar bahwa tugas kita di dunia ini adalah untuk memuliakan Tuhan. Dengan kerendahan hati kita, kasih Tuhan akan lebih nyata dicurahkan dalam hidup kita karena Tuhan mengasihi orang yang tunduk kepadaNya dan menghormati sesamanya.

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” 1 Petrus 5: 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s