Untung rugi menjadi pengikut Kristus

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3: 8

Bagi penduduk Australia, memiliki sebuah rumah adalah sebuah cita-cita. Karena itu, kebanyakan orang meminjam uang dari bank untuk bisa membeli rumah. Pinjaman uang untuk membayar harga rumah biasanya bisa dilunasi setelah jangka waktu yang cukup lama, sekitar 30 tahun. Dengan demikian, peminjam yang tidak bisa melunasi hutang dalam jangka waktu yang lebih singkat akan membayar bunga yang sangat besar. Resiko bukan hanya itu saja; jika rumah itu akhirnya dijual, ada kemungkinan bahwa pemiliknya mengalami kerugian.

Di negara lain seperti Swiss, Hong Kong dan Jerman, penduduknya mungkin mempunyai pandangan yang berbeda. Mereka lebih suka menyewa rumah karena tidak mau memikirkan hutang selama 30 tahunan. Apalagi memikirkan biaya pemeliharaan rumah dan kemungkinan rugi. Dengan menyewa, mereka lebih bisa menikmati hidup karena mereka tidak harus hidup pas-pasan untuk membayar uang cicilan. Dalam hal ini, manakah filsafat hidup yang benar? Mana yang lebih menguntungkan?

Pertanyaan yang serupa bisa saja dikemukakan mengenai hal mengikut Tuhan. Ada orang yang berpendapat bahwa hidup sebagai orang percaya itu membutuhkan komitmen yang besar. Mereka lebih senang untuk hidup nyaman tanpa batasan selagi masih bisa. Untuk menjadi orang Kristen yang sepenuhnya barangkali bisa dilakukan jika usia sudah tua. Mereka mungkin merasa bahwa hidup yang sekarang adalah kesempatan untuk mencari kesuksesan dan kekayaan, selagi masih bisa. Bukankah hal kerajaan surga itu bisa dilupakan untuk sementara waktu?

Paulus dalam ayat diatas mengutarakan filsafat hidupnya. Ia menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini membawa kerugian, karena pengenalan akan Kristus Yesus adalah lebih baik dari pada semuanya. Karena apa yang ada di dunia ini cenderung menjauhkan Paulus dari Tuhan, ia telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sebagai barang yang tidak berharga, supaya ia memusatkan hidupnya kepada Kristus. Hidup dalam Kristus, dalam kedamaian dengan Tuhan, bagi Paulus adalah hal yang bisa membawa kebahagiaan yang sejati.

Adalah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang justru hidup untuk mengejar kebahagiaan diluar Yesus. Memang sebagai manusia kita tidak dapat mengabaikan kepentingan pribadi, keluarga, pekerjaan, gereja dan negara. Tetapi, jika kita mengutamakan hal-hal itu diatas kebutuhan untuk lebih dekat dengan Yesus Kristus, hidup kita mungkin tidak akan mengalami perubahan. Hari demi hari kita akan mengalami kerugian, karena hidup kita akan makin jauh dari Dia.

Pagi ini, jika kita bersiap untuk pergi ke gereja, apakah yang ada dalam pikiran kita? Mungkinkah ke gereja hanyalah suatu kewajiban dua jam saja? Ataukah kita mempunyai kerinduan kepada Yesus setiap hari? Apakah kita mengerti bahwa hidup dekat kepadaNya adalah lebih berharga dari hal-hal lain yang sekarang selalu kita lakukan dan idamkan?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Satu pemikiran pada “Untung rugi menjadi pengikut Kristus

  1. Sepintas menjadi pengikut Kristus sejati itu susah ya, perlu komitmen segitunya, seolah hidup sulit utk dinikmati. Namun berbahagialah mereka yg paham dan myakini apa yg dikatakan Paulus di atas.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s