Kesadaran bisa membawa kebaikan

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Di zaman ini umat Kristen mengalami banyak tantangan iman. Apa yang diajarkan dalam Alkitab sering dianggap kuno oleh banyak orang. Selain itu, banyak orang yang mengaku Kristen sekarang merasa wajib untuk bisa menerima pandangan hidup orang  lain. Kesadaran sosial bahwa semua orang mempunyai hak yang sama dan boleh memilih apa yang disenangi mereka, membuat banyak orang Kristen tidak dapat lagi yakin akan kebenaran Alkitab dan percaya bahwa Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Memang di berbagai negara sekarang ini tumbuh berbagai aliran kepercayaan baru dan cara hidup modern yang menjanjikan ketenteraman hidup. Ada aliran yang mengajarkan kebahagiaan melalui keyakinan pada diri sendiri, melalui perbuatan sosial atau dengan berbagai cara mistik. Diantara ajaran modern, ada ajaran yang menyatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah baik, dan dunia ini sebenarnya bukan tempat dimana manusia harus berjuang dan menderita karena dosa mereka. Ada juga orang-orang yang mengajarkan bahwa setiap manusia mampu untuk menjadi tuhan-tuhan melalui kesadaran akan apa yang baik dan jahat. Dunia ini akan dapat berubah menjadi makin baik dengan adanya manusia-manusia yang baik, begitulah kata mereka.

Manusia di zaman modern memang yang tidak dapat menerima jika orang lain menilai mereka sebagai orang yang “kurang baik”. Malahan, banyak sekolah yang tidak lagi dengan terang-terangan menyatakan kegagalan murid dalam hal belajar. Istilah “gagal” atau “fail” dianggap merendahkan martabat murid dan membuat mereka kehilangan motivasi untuk belajar, begitu kata beberapa ahli pendidikan. Selain itu, angka merah sekarang tidak lagi boleh dipakai karena warna merah dianggap menyakiti perasaan murid. Pada pihak yang lain, komen guru seperti “akan bisa mencapai hasil yang baik dengan banyak berlatih” sekarang bisa dipakai dalam rapor murid. Pendekatan semacam ini memang dapat memulihkan semangat dan rasa percaya diri para murid.

Jika di zaman ini orang terbiasa dengan penghargaan dari sesama sejak dari kecil, banyak orang yang kemudian merasa bahwa apa yang ditulis dalam Alkitab seringkali menusuk perasaan. Alkitab memang dengan jelas menyatakan apa yang baik dan apa yang buruk dengan tanpa tedeng aling-aling. Orang yang merasa bahwa diri mereka sudah diadili oleh orang lain dan oleh firman Tuhan seringkali kemudian menyatakan bahwa gereja sudah ketinggalan zaman dan orang Kristen adalah orang yang kolot atau orang yang membenci sesamanya. Semua orang adalah orang-orang yang sederajat dan orang-orang yang baik jika mereka tidak  melanggar hukum negara atau menyakiti sesamanya, begitulah pendapat orang di zaman ini.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa jika seseorang bisa hidup di dunia dengan tidak melanggar hukum yang ada dan tidak berbuat jahat kepada sesamanya, ia belum tentu tidak melanggar hukum Tuhan dan tidak menyakiti hati Tuhan. Tuhan adalah mahabesar dan mahasuci, dan apa yang diperintahkanNya seringkali justru dilanggar manusia. Manusia sesudah kejatuhan kedalam dosa pada hakikatnya adalah  manusia yang jahat. Ayat diatas jelas-jelas menulis bahwa di dalam diri manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab jika sekalipun kehendak untuk berbuat baik itu ada, apa yang kemudian dilakukan manusia adalah bukan apa yang baik.

Manusia tidak dapat menjadi orang yang baik menurut standar Tuhan dengan usaha sendiri.  Setiap orang harus sadar akan kekurangannya, mau bertobat dari hidup lamanya dan memohon ampun atas apapun yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan. Firman Tuhan memang seringkali terasa seperti pedang yang menusuk hati, tetapi itulah yang bisa membuat kita sadar akan kesalahan kita, agar kita bisa kembali kepada jalan yang benar.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Ibrani 4: 12 – 13

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s