Bagaimana sikap kita dalam menyambut Natal?

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Lukas 2: 29 – 32

Hari Natal baru akan datang lebih dari dua minggu lagi, tetapi lampu dan hiasan natal sudah mulai bermunculan. Agaknya hari Natal adalah hari yang dinantikan banyak orang. Walaupun demikian, tiap orang menunggu datangnya Natal dengan maksud dan harapan yang berbeda-beda.

Bagi masyarakat umum di Australia, hari Natal adalah hari gembira untuk keluarga. Mereka biasanya merayakan hari itu dengan berkumpul dengan sanak keluarga. Bagi orang lain, hari itu adalah kesempatan untuk berpestapora atau beristirahat saja. Bagaimana pula dengan tanggapan anda? Apakah yang ada dalam pikiran anda?

Ayat di atas adalah pernyataan Simeon, seorang yang hidupnya saleh dan tinggal di Yerusalem. Simeon yang menantikan datangnya Mesias, merasa bahwa umurnya sudah lanjut dan karena itu kuatir kalau-kalau harapannya sia-sia. Tetapi, Tuhan yang mahakasih melihat kesetiaan Simeon dan menjanjikannya bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat sang Mesias. Ketika Simeon melihat bayi Yesus di bait Allah, ia merasakan kebahagiaan yang besar, karena Tuhan sudah menepati janjiNya.

Apa yang dinyatakan Simeon seharusnya bisa menjadi pernyataan setiap orang yang percaya. Simeon merasa bahwa tujuan hidupnya sudah tercapai. Ia merasa berbahagia dan karena itu bisa meninggalkan dunia ini dalam damai sejahtera. Simeon dapat melihat dengan matanya bahwa Yesus sudah datang untuk membawa keselamatan bagi setiap orang yang percaya di segala bangsa.

Sayang sekali bahwa tidak semua orang Kristen bisa menyambut Natal dengan sikap serupa. Sebaliknya justru banyak orang Kristen yang merasa bahwa tujuan hidupnya bukanlah untuk merasakan kehadiran Yesus dalam hidup mereka. Tujuan hidup orang yang sedemikian mungkin bersangkutan dengan keberhasilan karir, kesuksesan anak cucu, atau adanya uang pensiun yang cukup. Bagi mereka, hidup mungkin diisi dengan kekuatiran bahwa segala impian mereka belum tercapai, dan mungkin saja tidak akan tercapai.

Simeon adalah contoh bagaimana kita bisa merasakan damai sejahtera dalam menghadapi masa depan. Bagi Simeon, kebahagiaan adalah adanya kepastian bahwa Yesus sudah datang untuk memberikan kesempatan bagi semua orang yang percaya untuk diselamatkan. Simeon merasakan adanya ketenteraman bagi dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, karena ia sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih dan selalu menepati janjiNya. Sekalipun kita belum pernah melihat dengan mata, dengan hati kita percaya kepada Dia yang sudah datang ke dunia dua ribu tahun yang telah lalu.

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 2: 8 – 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s