Dari manakah datangnya kekuatanku?

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” 2 Korintus 4: 8 – 10

Berita media tentang wabah coronavirus pagi ini agaknya membuat gundah banyak orang di seluruh dunia. Bukan saja di China, virus ini juga makin menyebar dan memakan korban jiwa di berbagai negara. Memang hal semacam ini tidak bisa dianggap “monopoli” suatu bangsa saja. Di dunia ini selalu ada hal-hal yang membuat manusia dimana pun menderita, baik tua atau muda, lelaki atau wanita, miskin atau kaya.

Jika manusia dimana saja bisa jatuh dalam penderitaan, ada sebuah pertanyaan yang mungkin menggelitik hati nurani kita: apa gunanya menjadi pengikut Kristus? Bagi sebagian orang Kristen, pertanyaan ini mungkin sering ditepis dengan keyakinan bahwa sekalipun orang lain mengalami bencana, orang yang beriman tidak mungkin mengalami hal yang sama. Karena itu mereka mungkin percaya bahwa setiap penderitaan adalah hukuman atas dosa yang dilakukan orang. Di lain pihak, Tuhan selalu memagari umatNya dari semua kesulitan, penderitaan dan bencana. Ini adalah keyakinan yang keliru.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah dan sering mengalami penderitaan dalam hidup mereka. Dalam segala hal mereka ditindas, tetapi mereka tidak putus asa. Mereka dianiaya, namun tidak merasa ditinggalkan sendirian; mereka dihempaskan, namun masih bertahan hidup.

Hal yang sangat berat dalam hidup murid Tuhan pada waktu itu, tentunya masih terjadi di zaman ini sekalipun mungkin lain penyebabnya. Dalam hal ini, masyarakat yang cenderung individualistis saat ini seringkali membuat orang Kristen mudah mengalami hal-hal yang mengguncangkan iman mereka: Tuhan terasa jauh dan teman sehati sulit ditemukan.

Apa yang harus kita lakukan ketika ada masalah besar di depan kita? Bagaimana kita dapat bertahan dalam menghadapi penderitaan, kekurangan, ketakutan, dan rasa sakit? Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya senantiasa mengingat kematian Yesus di dalam hidupnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata.

Paulus dan rekan-rekannya selalu sadar bahwa Yesus sudah pernah mengalami penderitaan yang besar di kayu salib dan bahkan merasakan bagaimana sakitnya ketika Ia dipisahkan dari Allah Bapa. Walaupun Yesus merasakan derita yang luar biasa, Ia yakin akan kasih Bapa dan karena itu Ia tetap setia sampai akhir.

Dengan kebangkitanNya Yesus membuktikan bahwa maut tidak berkuasa atasNya. Bagi Paulus dan rekan-rekannya, Yesus adalah Tuhan dalam mati dan kebangkitanNya. Karena itu, dalam menghadapi segala penderitaan, mereka percaya bahwa pada akhirnya mereka akan menang seperti Yesus dan memperoleh mahkota kehidupan.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1: 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s