Tuhan tidak pernah berubah

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Minggu Paskah sudah berlalu dan hari ini adalah hari kerja seperti biasa. Seperti biasa? Di sepanjang jalan tidak banyak terlihat adanya manusia atau kendaraan; ini tentunya tidak biasa. Demam COVID-19 memang sudah membuat lumpuh roda kehidupan di Australia dan banyak negara lain. Masyarakat yang sudah 3 minggu mengalami pembatasan sosial sekarang mungkin merasa stres juga karena hidup yang seperti di dalam penjara. Jika perayaan Paskah biasanya dirayakan oleh seluruh anggota keluarga, tahun ini hanya bisa dilakukan secara terpisah melalui internet. Dunia ini agaknya sudah berubah dan efek virus ini dalam kehidupan manusia  pasti akan dirasakan untuk waktu yang sangat lama.

Dimanakah Tuhan ketika manusia mengalami bencana? Apakah Tuhan tetap merupakan Oknum yang mahakuasa dan mahakasih di tengah pergulatan manusia? Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa Yesus yang sudah bangkit dan mengalahkan maut itu adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Tetapi, ketika keadaan dunia menjadi kacau seperti saat ini, bukankah Tuhan kelihatannya sudah berubah menjadi Tuhan yang pemarah dan kejam seperti apa yang mungkin dapat dibaca di kitab Perjanjian Lama? Bukankah Tuhan dalam Perjanjian Baru adalah Tuhan yang seharusnya penuh kasih dan kesabaran seperti yang diperlihatkan oleh Yesus ketika Ia masih di dunia? Apa yang akan terjadi pada umat manusia jika sekarang Tuhan memang marah kepada umat manusia?

Memang adanya wabah coronavirus ini sudah banyak dibahas dalam lingkungan gereja. Ada yang menyatakan bahwa adanya wabah ini sudah ditentukan Tuhan dari dulu. Ada juga orang Kristen yang mengatakan bahwa wabah ini adalah tanda akhir zaman. Selain itu ada yang mengatakan bahwa wabah ini adalah hukuman Tuhan atas umat manusia yang makin menjauhi Tuhan. Lebih dari itu ada orang-orang lain yang mencoba menafsirkan arti wabah ini dari segi mistik. Semua usulan itu tidaklah mudah untuk dimengerti atau pun diterima. Apa pun yang menjadi sebab wabah ini, tidak ada seorang pun yang tahu jika itu memang adalah kehendak Tuhan: mengapa Ia menghendaki sesuatu yang begitu jahat untuk terjadi di dunia?

Dalam kenyataannya, wabah ini sudah menjangkiti hampir seluruh pelosok dunia tanpa memandang bulu. Baik mereka yang kurang mampu atau pun yang kaya raya bisa tertular virus SARS-Cov- 2. Jika virus ini dulunya disangka hanya membahayakan mereka yang sudah lanjut usia, sekarang diketahui efeknya pada semua usia. Bagi orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menghendaki suatu yang jahat terjadi pada mereka yang menentang Dia, serangan virus yang tidak memandang bangsa, jabatan, agama atau usia tentunya bukan mencerminkan Tuhan yang bijaksana. Oleh karena itu, bagi orang Kriten, wabah ini mungkin lebih baik diterima sebagai bagian hidup manusia di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Wabah COVID-19 bukanlah satu-satunya wabah yang pernah terjadi di dunia. Berbagai wabah penyakit pernah muncul dan memakan banyak korban. Tiap-tiap kali wabah itu berakhir, manusia selalu dapat menarik pelajaran dari pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Tidak hanya manusia bisa meningkatkan ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran supaya lebih bisa menghindari dan menghadapi kemungkinan wabah di masa datang, sebagian manusia yang percaya kepada Tuhan bisa menarik pelajaran berharga dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.  Bagi mereka, Tuhan adalah Oknum yang tidak pernah kehilangan kontrol atas alam semesta. Tuhan juga tidak membiarkan seisi bumi musnah, tetapi masih menantikan adanya orang-orang yang kemudian menyadari dosanya dan bertobat menjadi umatNya. Adanya pandemi justru membuka mata mereka yang percaya, bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih tidaklah berubah sifat dan hakikiNya.

Pagi ini, jika kita merasa masygul atas apa yang terjadi di dunia, kita harus percaya bahwa Tuhan tidak pernah secara semena-mena mencelakakan umatNya. Tuhan memang pernah menunjukkan kemarahanNya atas kesalahan atau dosa orang dan bangsa tertentu, tetapi Tuhan bukanlah Tuhan yang secara sembarangan membawa derita ke dalam dunia. Sebaliknya, kedatangan Kristus ke dunia, kematianNya di kayu salib dan kebangkitanNya adalah bukti bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia, sehingga setiap orang yang percaya bisa diselamatkan (Yohanes 3: 16). Kita mungkin tidak tahu secara pasti mengapa bencana tertentu terjadi di dunia, tetapi itu bukanlah sesuatu yang penting, yang harus kita cari jawabnya. Satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Tuhan tidak pernah berubah dan Ia selalu mau mendengarkan doa umatNya. Dia juga Tuhan yang mengharapkan kita untuk makin taat kepadaNya dalam keadaan yang sulit seperti ini, karena Ialah yang sanggup menolong kita.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s