Semua ujian tidaklah menyenangkan

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

See the source image

Sebulan lagi ujian semester 1 akan dilangsungkan di universitas saya. Karena adanya PSBB, semua kuliah sudah dilakukan secara online sejak bulan Maret yang lalu, dan ujian mata pelajaran saya akan diadakan dalam bentuk Tes Objektif Bentuk Pilihan Ganda (Multiple Choice) melalui internet. Setiap murid dapat mengikuti ujian dari tempat masing-masing, dan oleh sebab itu saya harus membuat bahan ujian sedemikian rupa sehingga setiap siswa mendapat pertanyaan yang berbeda. Itu tidak mudah dilakukan karena saya harus membuat banyak pertanyaan yang akan dipilih secara acak oleh komputer untuk setiap siswa.

Persiapan sebuah bahan ujian online biasanya memerlukan waktu lebih dari seminggu karena sulitnya membuat pertanyaan yang bermutu. Dalam hal ini, adalah menarik untuk membandingkan keadaan zaman dulu dan zaman sekarang. Kalau ujian pada masa-masa yang lalu merupakan hal yang harus diterima para siswa, pada zaman ini seringkali muncul berita tentang adanya stres berat diantara kaum siswa pada musim ujian. Karena itu, jika ujian sebuah mata kuliah pada zaman dulu bisa berlangsung selama 4-5 jam, sekarang saya harus meringkas bahan pelajaran satu semester untuk dijadikan bahan ujian untuk 2 jam saja. Jika bagi banyak dosen tugas seperti ini terasa seperti ujian, bagi  banyak siswa bahan ujian yang bermutu adalah seperti momok.

Tidak dapat disangkal bahwa adanya ujian itu perlu sebelum seseorang dinyatakan memenuhi syarat untuk naik kelas atau naik pangkat. Walaupun demikian, mengapa ujian itu seringkali terasa sebagai hukuman berat dan bukannya kesempatan untuk mencapai keberhasilan? Kebanyakan orang takut adanya ujian karena kuatir tidak lulus. Ujian sendiri bukan masalah jika tidak ada konsekuensinya. Ujian itu tidak akan terasa berat jika pesertanya dijamin untuk berhasil.

Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa tiap orang percaya akan mengalami masalah dalam hidup ini. Seperti apa yang dialami para siswa, adanya masalah hidup tidak membawa sukacita kepada orang yang mengalaminya. Tidak hanya rasa kuatir, tetapi juga rasa sakit baik secara badani maupun batin, bisa muncul ketika kita menghadapi persoalan yang berat.

Jika hidup ini sebelumnya sudah terasa berat, sekarang kita tidak tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Ini agaknya adalah ujian berat yang bakal berkepanjangan. Tidaklah mengherankan banyak orang mengeluh dan bertanya-tanya. Apa artinya semua ini? Haruskah aku mengalaminya? Apa yang akan terjadi? Sanggupkah aku menjalaninya? Bagaimana pula kalau aku gagal?

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap masalah yang kita hadapi adalah sebuah ujian kehidupan yang pada akhirnya bisa menghasilkan rasa damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Dengan demikian, setiap kali kita menghadapi masalah kehidupan, kita harus bersyukur bahwa selama kita menghadapinya bersama Tuhan, kita akan berhasil untuk  tumbuh makin kuat dalam iman. Mereka yang berdisiplin dalam menghadapi masalah, akan bisa hidup dalam keyakinan, yang makin lama makin kuat, atas kemenangan yang sudah dijamin oleh darah Yesus. Dengan demikian, apakah yang kita kuatirkan dalam menghadapi hidup yang berat ini?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s