Berjalan dalam lembah kekelaman

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

See the source image

Pernahkah anda menonton film Ben-Hur?  Ben-Hur adalah sebuah film drama religi epik Amerika produksi tahun 1959, yang disutradarai oleh William Wyler, diproduseri oleh Sam Zimbalist untuk Metro-Goldwyn-Mayer, dan dibintangi oleh Charlton Heston selaku pemeran utama.

Dalam film ini dikisahkan bahwa seorang Yahudi yang bernama Judah Ben-Hur mengalahkan  seorang Romawi yang bernama Messala dalam lomba balap kereta berkuda. Messala mengalami kecelakaan parah akibat dilanggar kereta lain, sementara Judah menjuarai lomba. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Messala berkata kepada Judah bahwa “lomba belum usai”, dan sebagai tindakan paling akhir yang semata-mata dilandasi kebencian, ia memberi tahu Judah untuk mencari ibu dan adiknya di Lembah Orang Kusta.

Pada saat itu, orang yang berpenyakit kusta adalah serupa dengan orang yang dihukum mati secara perlahan-lahan. Karena tidak ada obatnya, penderita kusta diasingkan di tempat-tempat terpencil. Tentu saja Judah merasa sangat terpukul dengan kabar buruk yang disampaikan Messala. Tetapi, film ini berakhir dengan  “happy ending” ketika Judah menyaksikan penyaliban Yesus, sementara ibu dan adik Judah sembuh secara ajaib saat hujan keras sesudah Yesus wafat di kayu salib.

Pada zaman itu, Lembah Orang Kusta adalah  seperti lembah kekelaman atau lembah kegelapan. Ayat diatas adalah ayat yang menggambarkan pemazmur yang berjalan dalam lembah ini. Tetapi, ia tidak merasa takut akan bahaya karena Tuhan besertanya.

Ayat ini memang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang.

Dalam bahasa Ibrani, kata  sal-ma-wet  berarti “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan Alkitab berbahasa Inggris yang memakai kata-kata “the valley of the shadow of death”  yang berarti “lembah bayang-bayang maut” dan bukannya “lembah kekelaman”. Dengan demikian, orang sering membaca ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kelaparan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Dan pada suasana COVID-19 yang kita alami saat ini, semua itu adalah seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Saat ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s