Pengalaman bisa menjadi guru yang terbaik

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Semua orang tentu pernah mendengar ungkapan “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Memang melalui pengalaman, orang mempelajari apa yang dialaminya dan kemudian mengambil pelajaran darinya, agar bisa menggunakan kesimpulan yang diambilnya untuk digunakan dalam menghadapi hal yang serupa di masa depan. Inilah metode empiris, yang mungkin cukup efektif untuk menyelesaikan persoalan tertentu, tetapi bisa saja keliru jika keadaan sudah berubah. Pengalaman memang belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Pengalaman bisa saja sesuatu yang pahit atau sesuatu yang manis. Mungkin orang ingin mengingat apa yang manis, dan melupakan apa yang pahit. Tetapi itu tidak mudah, karena apa yang manis mudah dilupakan, sedangkan apa yang pahit sering terbayang-bayang. Dengan demikian, banyaklah orang yang menghadapi hari depan dengan berbekal pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Tidaklah mengherankan, banyak orang yang menghadapi hari depan dengan rasa sesal, takut, marah atau kecewa yang berasal dari pengalaman masa lalu.

Pengalaman apakah yang pernah anda rasakan sebagai orang Kristen? Ada orang yang percaya bahwa orang yang berjalan di jalan yang benar selalu akan menerima berkat dari Tuhan yang mahakaya. Jika mereka pernah menerima berkat di masa lalu, mereka yakin bahwa berkat yang lebih besar akan datang di masa depan. Itu karena Allah adalah Tuhan yang mahakaya, yang memberkati mereka yang mempunyai iman yang kuat dan mengasihiNya. Pengalaman mereka adalah buktinya dan bisa menjadi bahan kesaksian yang dikagumi orang lain.

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen belum tentu selalu nyaman dan indah. Paulus menulis dalam ayat di atas bahwa ia pernah mengalami baik kekurangan maupun kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada hal yang baru atau asing bagi Paulus. Ia pernah merasa kenyang dan juga lapar; ia pernah hidup dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Bagi Paulus, semua pengalaman itu adalah berharga. Mengapa demikian?

Bagi Paulus, semua pengalaman yang pernah dihadapinya bisa menjadi guru yang terbaik untuk menghadapi masa depan. Dalam hal ini, bukanlah tindakan yang dilakukannya di masa lalu yang bisa dijadikan pegangan untuk masa depan, tetapi penyertaan Tuhan dalam setiap keadaan yang dialaminya memberi keyakinan bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi masa depan.

Saat ini, pengalaman apa pun yang anda hadapi tidak akan menjadi guru yang terbaik jika anda tidak merasakan adanya Tuhan yang memegang kontrol atas hidup anda. Dengan demikian, maukah anda percaya kepada Dia yang menyertai anda dalam setiap keadaan?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s