Sebab Dia hidup

“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” 1 Korintus 15: 21 – 22

Siapakah yang tidak mengenal lagu “Because He lives“? Lagu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “S’bab Dia hidup” ini ditulis oleh William (Bill) dan Gloria Gather di Amerika pada tahun 1971 di tengah pergolakan sosial, ancaman perang, dan penolakan terhadap kepercayaan nasional dan pribadi. Pada saat itu, pembunuhan, lalu lintas narkoba, dan perang ekonomi menjadi tajuk berita utama setiap hari. Di tengah-tengah ketidakpastian seperti itu, kepastian akan ketuhanan Kristus bangkit meniup pikiran manusia yang bermasalah seperti angin sepoi-sepoi yang mendinginkan padang pasir yang kering.

Anak Allah Yesus namaNya
Menyembuhkan, menyucikan
Bahkan mati tebus dosaku
Kubur kosong membuktikan Dia hidup

S’bab Dia hidup, ada hari esok
S’bab Dia hidup, ku tak gentar
Kar’na ku tahu Dia pegang hari esok
Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup

Tidak dapat disangkal, tahun 1971 sudah lama berlalu. Hampir setengah abad yang lalu, dan waktu itu saya masih belajar di SMA. Pada saat itu komputer dan ponsel belum ada, dan TVRI belum mempunyai stasiun pemancar di Surabaya. Dengan demikian, berita tentang apa yang terjadi dalam masyarakat dan negara hanya bisa saya peroleh melalui radio saja. Walaupun begitu, jika ada pendapat bahwa dengan kemajuan teknologi yang sudah tercapai sampai saat ini kita sudah mencapai tingkat kemampuan yang bisa membawa hidup yang nyaman, itu mungkin adalah pandangan yang keliru.

Pada saat ini dunia sedang mengalami krisis karena adanya pandemi COVID-19. Tidak saja ini menyangkut kesehatan manusia, banyak masalah lain juga timbul seperti masalah ekonomi, sosial, politik dan juga keamanan dunia. Teknologi memang sudah maju sekali diakhir abad ke 20, tetapi dengan adanya krisis di awal abad ke 21 ini, kita mungkin kembali merasakan apa yang dirasakan orang di tahun 1970an. Manusia kehilangan pegangan hidupnya, dan mencari-cari apa yang bisa dipakai sebagai pedoman hidup.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi masa mendatang yang serba tidak menentu ini? Sebagian orang mencoba untuk melupakan apa yang terjadi dan mencoba untuk menikmati hidup ini selagi masih bisa. Sebagian lagi mencoba menimbun harta berharga seperti emas dan uang dollar untuk menghadapi kemungkinan kacaunya ekonomi. Ada juga orang yang saking kuatirnya untuk jatuh sakit, sekarang mengonsumsi berbagai obat suplemen guna meningkatkan imunitas. Walaupun demikian, kekuatiran dalam hati setiap orang tetap ada karena mereka tahu bahwa hidup mereka sebenarnya bukan di tangan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa pada saatnya mereka akan meninggalkan dunia ini.

Bagi sebagian orang, kematian mungkin bukan hal yang harus dipikirkan. Ada orang yang percaya bahwa seperti hewan, mereka akan lenyap musnah setelah kematian. Selain itu, ada juga manusia yang berpikir bahwa jika hidup ini dijalani sebagai warga dunia yang baik, pada akhirnya mereka akan menemui kebahagiaan setelah kematian. Tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa manusia tidak dapat mengabaikan adanya hidup sesudah kematian jasmani. Mereka yang percaya kepada Kristus akan menemui kebahagiaan di surga, sedangkan yang lain akan menderita di neraka.

Ayat di atas menyatakan bahwa setiap orang akan menemui kematian jasmani karena dosa yang sudah dilakukan oleh Adam, tetapi karena kedatangan Kristus ke dunia, mereka yang percaya kepadaNya akan memperoleh kebangkitan. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Membayangkan kebahagiaan yang akan kita terima di surga memang bisa membuat kita terhibur. Walaupun demikian, kita mungkin mengharapkan agar kita bisa berbahagia juga selama hidup di dunia. Mengapa kita harus menderita selama menantikan saat untuk meninggalkan dunia ini? Dalam hal ini, Alkitab menyatakan bahwa sebenarnya setiap orang percaya tidak perlu merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Keyakinan bahwa Tuhan sudah memberi kita pengampunan seharusnya memberi kita keberanian untuk menghadapi gelora kehidupan karena kita yakin akan kasihNya. Seperti syair lagu “Because He lives” kita percaya bahwa sebab Dia hidup, ada hari esok untuk kita. Sebab Dia hidup, kita tak gentar menghadapi hari depan. Kita tahu bahwa Yesus memegang hari esok, dan hidup kita akan menjadi berarti jika kita yakin bahwa Dia benar-benar Tuhan yang hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s