Menjadi pemimpin yang baik

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”  Matius 5: 37

Karakter apa yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab karena setiap lingkungan kerja tentunya mempunyai keadaan yang berbeda dan dengan itu membutuhkan pemimpin dengan karakter yang berlainan. Sebagai kepala sekolah, mungkin seseorang harus mempunyai karakter yang baik sebagai pendidik dan bisa diterima oleh para guru, murid dan orangtua murid. Seorang pemimpin negara tentu saja seharusnya mempunyai karisma, kebijaksanaan dan kemampuan untuk memimpin para menteri dan rakyatnya.

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa menjadi pemimpin di di luar gereja tidaklah mudah. Mengapa begitu? Di dalam kehidupan sekuler, kita tentunya tidak bisa memakai Alkitab sebagai buku pedoman kerja untuk semua orang. Dalam kehidupan di negara yang berlandaskan demokrasi, banyak pemimpin mau tidak mau harus tunduk kepada suara terbanyak. Apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin dalam keadaan sedemikian tentunya hanya memakai etika praktis dan hukum yang ada dan yang bisa diterima oleh semua orang. Sekalipun demikian, ada satu karakter yang membedakan seorang pemimpin yang baik dari yang lain: integritas.

Apa arti kata “integritas”? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ini sebagai “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran”. Memang kejujuran adalah karakter yang sangat penting, yang membedakan orang yang mengikut Tuhan dari orang yang lain. Sayang sekali, kita tahu bahwa dari mulanya manusia cenderung untuk tidak jujur, seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus di hadapan Tuhan.

Mengapa orang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara, asal  tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu berlaku jujur. Seringkali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya resiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi kehidupan keluarga pun sering digoncangkan karena adanya orang-orang yang tidak menjaga integritasnya. Sebagai akibatnya, seringkali ada rasa kurang percaya, rasa marah dan kecewa kepada orang lain yang timbul setelah sebuah tipu daya terbongkar.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan pasti diketahui Tuhan. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang kita tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang benar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s