Menghadapi kelelahan hidup

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11: 27-28

Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur dan beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kelelahan orang tentunya berbeda-beda. Ada yang lelah pikirannya, ada yang lelah tubuhnya. Ada yang lelah matanya, ada pula yang lelah mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang lelah jarinya!

Saya sendiri merasakan kelelahan yang cukup parah sejak adanya pandemi. Bermula dengan perasaan kuatir ketika lockdown untuk pertama kalinya dijalankan di kota saya, lambat laun saya mengalami kelelahan jasmani maupun rohani karena adanya berita-berita buruk dari seluruh dunia. Mata saya mulai teras berat jika ada kabar-kabar yang kurang baik dan hati pun menjadi mudah untuk berdebar-debar. Memang menurut riset baru-baru ini, banyak orang yang mengalami gangguan psikologis karena suasana yang tidak biasa. Karena itu saya sekarang mengurangi kegiatan “surfing” di media untuk meredakan ketegangan.

Penyebab rasa lelah tentunya beraneka ragam. Di usia muda, mungkin rasa capai disebabkan karena terlalu sering bergadang atau keluyuran. Sesudah berkeluarga orang mungkin merasa lelah karena kesibukan rumah tangga. Mereka yang bekerja sering juga merasa lelah karena tugas kewajiban, entah itu dalam berpikir, membuat sesuatu, atau menemui klien dan mungkin juga karena “blusukan” ke lapangan. Yang sudah mulai uzur pun sering lelah karena faktor usia dan juga karena tetap adanya tugas kehidupan.

Rasul Paulus dalam ayat-ayat diatas menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia juga sering merasa lelah, kurang tidur dan bahkan kelaparan dalam tugasnya memelihara semua jemaat-jemaat. Itulah kelelahan yang disebabkan oleh dedikasinya kepada pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Karena ia mengasihi jemaatnya, Paulus mau bekerja keras membanting tulang untuk menolong mereka yang dalam kesulitan.

Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Berbeda dengan zaman Paulus, di zaman ini orang Kristen lebih individualis dan karena itu sudah lumrah kalau mereka lebih sering merasa lelah karena “urusan dalam negeri”. Mungkin mereka yang hidup di desa masih punya rasa dedikasi tinggi kepada gereja dan masyarakat, tetapi mereka yang tinggal di kota besar biasanya terlalu sibuk dengan kehidupannya, sehingga jarang yang merasa terpanggil untuk bekerja di luar kesibukannya sendiri. Dengan demikian, mereka yang sibuk dan menyibukkan diri umumnya merasa lelah hanya karena apa yang dikerjakan untuk kepentingan pribadi dan kenikmatan diri sendiri.

Hari ini, jika kita sering merasa lelah dalam hidup kita, kita harus bisa melihat apa yang kita prioritaskan dalam hidup ini. Banyak orang yang tidak bisa tidur, merasa lelah terus-terusan, sakit-sakitan, tertekan, bingung dan bahkan berubah pikiran, karena adanya kesibukan yang lebih dari seperlunya. Karena itu, sebagai orang Kristen, kita harus selalu memohon Roh Kudus untuk memberi kita kebijaksanaan agar bisa melihat apa yang perlu dan baik untuk dikerjakan dan membuang obsesi yang tidak berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Setiap manusia memang mempunyai batas kekuatan dan karena itu adalah normal jika kita merasa lelah baik secara badani maupun rohani. Namun, seperti Rasul Paulus, kelelahan badani karena pekerjaan yang berguna untuk Tuhan dan sesama akan bisa cepat terobati, karena secara rohani kita akan memperoleh tambahan kekuatan dari Tuhan sendiri. Biarlah kita bisa bertambah bijak hari demi hari sehingga kita bisa mempunyai hidup baik yang sehat dan seimbang serta bisa mengatur prioritas hidup kita!

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. 2 Korintus 11:30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s