
Jika kita benar-benar mau mengasihi sesama kita, kita harus bisa melupakan adanya perbedaan latar belakang, apa yand terjadi di masa lalu, dan kekurangan mereka.

Jika kita benar-benar mau mengasihi sesama kita, kita harus bisa melupakan adanya perbedaan latar belakang, apa yand terjadi di masa lalu, dan kekurangan mereka.
“Suatu waktu Yesus berada di suatu kota di mana seorang yang sangat sakit tinggal. Tubuhnya ditutupi dengan penyakit kulit yang mengerikan (kusta). Ketika ia melihat Yesus, ia sujud menyembah Yesus dan memohon kepada-Nya, “Tuhan, Engkau berkuasa untuk menyembuhkan aku, jika Engkau mau.” Lukas 5:12 (AMD)

Ada seorang teman yang baru-baru ini bertanya apakah saya percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas (free will). Saya menjawab bahwa kenyataan hidup dan bahkan Alkitab sendiri jelas-jelas menunjukkan bahwa manusia bisa dan bebas untuk memilih apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, ini buka berarti bahwa manusia akan selalu mendapatkan apa yang diingininya karena hanya apa yang sesuai dengan kehendak Tuhanlah yang akan terjadi.
Kisah Lukas tentang Yesus yang menyembuhkan orang yang sakit kusta menarik karena beberapa hal yang berkaitan dengan ayat ini. Matius mengatakan orang itu mendekati Yesus ketika Ia “turun dari gunung” (Matius 8:1) dan Markus tidak menyebutkan lokasi lain selain Galilea (Markus 1:39), sementara Lukas mengatakan mereka berada di sebuah kota. Dengan demikian, orang itu pasti sudah memikirkan, merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Itu adalah kehendak bebasnya karena ia tidak dipaksa orang lain untuk melakukan hal itu.
Mengingat peraturan ketat yang diberlakukan bagi penderita kusta dalam hukum Musa, hal ini terdengar penuh risiko. Imamat 13:45-46 mengatakan, “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” Meskipun beberapa sejarawan kuno mengklaim Musa melarang penderita kusta memasuki kota mana pun, kitab Talmud hanya melarang mereka memasuki kota-kota bertembok. Hanya ada sedikit informasi tentang kota mana, jika ada, di Galilea yang dikelilingi tembok. Walaupun demikian, jelas bahwa kehendak bebas penderita kusta itu memiliki risiko yang harus ditanggungnya.
Catatan kedua yang unik untuk Lukas adalah bahwa orang itu “penuh kusta.” Para ahli mengatakan bahwa sebagai seorang dokter (Kolose 4:14), Lukas akan lebih tepat dalam deskripsinya tentang kondisi medis. Jika ini adalah penyakit kusta yang sekarang dikenal sebagai “penyakit Hansen”, ini menyiratkan stadium lanjut yang hampir mematikan. Penderita kusta dapat mengalami luka dan borok di wajah, tangan, dan tubuh mereka. Hal ini akan mengakibatkan stigma sosial yang besar, serta banyak penderitaan pribadi bagi si penderita.
Penyakit Hansen adalah infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang terutama menyerang kulit dan saraf. Gejalanya, selain meliputi lesi kulit (bintik dan benjolan pucat, merah, atau mati rasa), juga termasuk kerusakan saraf (kehilangan sensasi, kelumpuhan), dan potensi efek kerusakan pada mata, hidung, dan testis. Di zaman sekarang, penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik jangka panjang, yang biasanya berlangsung selama satu hingga dua tahun.
Poin ketiga dalam ayat ini tercatat dalam ketiga Injil. Orang yang sakit kusta beriman bahwa Yesus dapat menyembuhkannya tetapi tidak yakin apakah Yesus mau. Ia tahu bahwa sebesar apapun keinginannya, ia tidak dapat memaksa Yesus untuk melakukannya. Tetapi Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: ”Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Orang kusta itu tentunya terkejut bahwa Yesus menjawabnya dengan cara yang sangat berlawanan dengan budaya saat itu: Ia menjamah orang najis ini (Lukas 5:13). Yesus tidak takut akan penyakit kusta!
Lukas 5:12 menghadirkan sebuah gambaran yang sangat indah tentang hubungan antara kehendak bebas manusia dan kehendak Allah. Seorang penderita kusta—yang secara sosial, rohani, dan fisik terbuang—datang kepada Yesus dengan sebuah keputusan sadar. Tidak ada yang memaksanya. Ia melangkah mendekat karena pilihan iman. Tindakannya memohon, “Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku,” adalah pernyataan kehendak bebas: ia memilih untuk percaya, memilih untuk mendekat, memilih untuk berserah.
Permohonannya agar Yesus “menjadikannya tahir” bukan sekadar permintaan pemulihan fisik. Baginya, itu adalah ungkapan kerinduan akan pemulihan rohani. Ia ingin bukan hanya sembuh, tetapi dipulihkan—dibersihkan, dikembalikan ke hadapan Allah dan komunitas. Inilah inti dari kehendak bebas dalam konteks Alkitab: kemampuan untuk merespons Allah, untuk memilih datang kepada-Nya dalam iman.
Namun, tindakan iman itu selalu disertai kesadaran yang benar tentang siapa Yesus. Di balik permintaannya, ada kerendahan hati yang menakjubkan. Ia tidak menuntut, tidak memerintah, tidak memaksa karya ilahi. Ia berkata: “jika Engkau mau.” Dalam satu kalimat ini, kita melihat keseimbangan teologis yang dalam: Manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk datang kepada Tuhan, tetapi manusia juga harus mengakui bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah.
Inilah relasi iman yang sehat—kehendak bebas yang tunduk kepada kehendak ilahi. Sang penderita kusta secara bebas memilih untuk percaya, tetapi ia juga berserah kepada rencana dan otoritas Tuhan. Iman yang sejati bukan hanya keberanian untuk meminta, tetapi juga kerelaan menerima apa pun yang Tuhan kehendaki.
Respons Yesus memperlihatkan bahwa kehendak Allah bukanlah musuh bagi kehendak bebas manusia, tetapi justru kasih karunia yang mempertemukan keduanya. Yesus menjawab, “Aku mau, jadilah engkau tahir!” Manusia berseru; Allah menjawab. Manusia memilih untuk datang; Allah memilih untuk memulihkan.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah pasivitas, melainkan tindakan sadar untuk datang kepada Kristus. Tetapi pada saat yang sama, iman juga adalah penyerahan penuh kepada kehendak Allah yang baik. Dua unsur ini—kehendak bebas dan kedaulatan Allah—berjalan berdampingan, bukan saling meniadakan.
Dengan demikian, Lukas 5:12 tidak hanya menceritakan kesembuhan seorang penderita kusta, tetapi juga mengajarkan dinamika indah antara pilihan manusia dan rencana Allah. Dalam iman, kita datang; dalam kasih-Nya, Ia melakukan apa yang benar dan baik bagi kita.
Jika dilihat lebih dalam, kisah itu bukan hanya tentang manusia yang menggunakan kehendak bebasnya, tetapi juga tentang anugerah Allah yang memungkinkan manusia untuk bisa beriman. Dalam perspektif iman Kristen, terutama dalam pemahaman yang dekat dengan tradisi Reformed, tindakan si orang kusta itu tidak berdiri sendiri.
Ia mendekat, berpikir dengan benar, merendahkan diri, dan mengucapkan kata-kata iman—karena Allah terlebih dahulu bekerja dalam dirinya. Dengan kata lain: Ia bisa melihat bahwa Yesus adalah harapan — karena Tuhan yang membuka matanya. Ia bisa percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan — karena Tuhan yang menumbuhkan iman itu. Ia bisa merendahkan diri dan berkata dengan tepat — karena Roh Kudus memampukannya. Ia bisa melangkah mendekat — karena kasih karunia menariknya kepada Kristus.
Itulah harmoni indah antara: Kehendak bebas manusia yang nyata dan Karya Allah yang mendahului, menopang, dan menyempurnakan.
Itulah sebabnya, tindakan orang kusta itu bukan sekadar pilihan moral atau tekad pribadi. Itu adalah respons terhadap kasih karunia yang sudah lebih dulu bekerja dalam dirinya, memampukannya untuk datang kepada Yesus dengan kata-kata yang tepat:
“Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Kisah ini pada akhirnya bukan memuliakan kehendak manusia, tetapi memuliakan karya Yesus yang bekerja sebelum, selama, dan sesudah tindakan iman itu. Inilah panggilan kita selaku aorang Kristen, agar menggunakan kehendak bebas kita untuk melakukan apa yang baik karena Tuhan sudah memberi kita kemampuan untuk itu. Kita harus yakin bahwa Dia mau menopang kita jika kita mau memilih jalan yang benar menurut kehendak-Nya.
Tetapi Paulus berkata kepada perwira dan para prajurit lainnya, “Jika orang-orang tidak tetap di kapal, kalian semua tidak akan selamat.” Kisah Para Rasul 27:31

Bacaan: Kisah Paulus di Tengah Badai (Kisah Para Rasul 27–28)
Kisah Paulus di tengah badai laut bukan sekadar kisah petualangan dramatis, tetapi cermin kehidupan rohani yang mendalam. Ia sedang dalam perjalanan menuju Roma sebagai tahanan, ditemani seorang perwira Romawi bernama Yulius dan 275 penumpang lainnya. Paulus sebenarnya telah memperingatkan agar mereka tidak berlayar pada musim badai, tetapi nasihatnya diabaikan. Tak lama kemudian, angin kencang bernama Euraquilo menghantam kapal mereka dengan dahsyat.
Selama empat belas hari, langit gelap tanpa matahari atau bintang. Para pelaut kehilangan harapan hidup. Mereka membuang muatan dan peralatan kapal untuk meringankan beban, namun badai tidak juga reda. Dalam kekacauan itulah, berdiri satu pribadi yang tenang — Paulus. Ia tidak panik, tidak mengeluh, dan tidak menyalahkan siapa pun. Ia berdiri teguh di atas janji Allah yang ia dengar melalui malaikat. Paulus percaya kepada Tuhan.
“Tetapi sekarang aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap tabah, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.” Kisah Para Rasul 27:22
Kisah ini menyingkap dua sisi iman yang sering kita butuhkan dalam hidup: percaya dan taat (trust and obey), serta percaya dan bertindak (trust and do).
Ketika semua orang kehilangan arah, Paulus memilih untuk berpegang pada janji Tuhan. Malaikat Tuhan berkata bahwa nyawa mereka akan diselamatkan, meskipun kapal akan hancur. Paulus tidak hanya mempercayai kabar itu, ia menaati apa yang Allah firmankan — dengan menyampaikan pengharapan kepada orang lain.
Inilah inti dari “trust and obey”: percaya kepada kedaulatan Allah, dan taat untuk tetap berjalan sesuai firman-Nya, meski kita tidak tahu kapan badai akan berhenti. Paulus tidak bisa mengendalikan arah angin, tetapi ia bisa mengendalikan sikap hatinya. Ia menunjukkan ketaatan dengan menenangkan orang lain, memberi semangat, dan berdoa sebelum mereka makan.
“Sebab aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi seperti yang dikatakan kepadaku.” Kisah Para Rasul 27:25
Percaya dan taat tidak berarti pasrah tanpa arah. Artinya, kita menaruh kendali hidup di tangan Tuhan yang jauh lebih tahu jalan ke pelabuhan keselamatan. Dalam badai kehidupan, ketaatan menjadi jangkar iman kita — menahan kita agar tidak terombang-ambing oleh rasa takut. Namun Paulus tidak berhenti pada doa dan iman saja. Ia juga melakukan apa yang perlu dilakukan. Ia memerintahkan para pelaut untuk makan supaya kuat, dan memastikan agar semua tetap di kapal hingga saat yang tepat. Ketika kapal mulai pecah, ia memberi petunjuk agar semua orang berenang atau berpegang pada serpihan kayu untuk sampai ke darat. Inilah “trust and do” — iman yang bergerak.
Iman sejati tidak menunggu keajaiban datang tanpa usaha, tetapi juga tidak berlari tanpa arah. Iman sejati berjalan seiring dengan hikmat dan ketaatan. Paulus mempercayai janji Tuhan bahwa semua akan selamat, tetapi ia juga melakukan tindakan konkret yang sesuai dengan janji itu.
Kita sering berada di titik serupa: antara menunggu dan bertindak. Tuhan ingin kita mempercayai-Nya sepenuhnya, tetapi juga menggerakkan tangan dan kaki kita sesuai dengan petunjuk-Nya. Kadang itu berarti berdoa lebih lama; kadang itu berarti menelpon seseorang, memaafkan, bekerja kembali, atau menolong sesama. Kita harus ingat bahwa:
Keduanya bukan berlawanan, melainkan dua sisi dari iman yang hidup.
Akhir kisah Paulus itu meneguhkan kebenaran janji Tuhan. Semua 276 orang selamat, persis seperti yang dikatakan Paulus. Mereka terdampar di pulau Malta. Di sana, Paulus digigit ular berbisa, tetapi tidak mengalami apa-apa. Orang-orang setempat tercengang dan menyadari kuasa Allah yang menyertai dia. Melalui kesembuhan dan mukjizat berikutnya, banyak orang di pulau itu mengenal kasih Tuhan.
Dari badai menuju pantai, dari kapal karam menuju kesaksian, kehidupan Paulus memperlihatkan bahwa iman yang percaya, taat, dan bertindak selalu mengarah pada keselamatan dan kemuliaan Allah. Terkadang, kita juga harus mengalami “kapal karam” agar menyadari bahwa keselamatan kita bukan bergantung pada perahu, tetapi pada Allah yang memegang ombak dan angin. Kadang-kadang Tuhan mengizinkan kapal kita hancur, supaya kita sampai di pantai anugerah-Nya dengan iman yang lebih murni.
Dalam menghadapi kesulitan, manusia mudah terjebak di dua ekstrem: terlalu menunggu mukjizat hingga kehilangan kesempatan untuk bertindak, atau terlalu berlari dengan kekuatan sendiri tanpa menunggu kehendak Tuhan. Kisah Paulus memberi keseimbangan: Percaya dan taat menjaga hati tetap tenang dalam badai; Percaya dan bertindak menolong kita berjalan bersama Tuhan menuju daratan yang dijanjikan. Iman tidak membuat kita pasif, dan tindakan tidak membuat kita mandiri dari Tuhan. Iman yang sejati justru melahirkan tindakan yang tepat — dilakukan dalam waktu dan cara Tuhan. Ketika kita menaruh kepercayaan penuh pada-Nya, ketaatan menjadi dasar, dan tindakan menjadi buah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita percaya dan taat, tetapi juga percaya dan bertindak. Ini berarti kita berdoa sebelum bekerja, mendengar sebelum berbicara, menunggu sebelum memutuskan, dan bertindak ketika Tuhan membuka jalan. Seperti Paulus, kita diajak untuk memimpin diri sendiri dan orang lain bukan dengan panik, melainkan dengan tenang dalam iman. Kapal mungkin hancur, tetapi janji Tuhan tidak akan pernah tenggelam.
Doa Penutup:
Tuhan yang berdaulat atas angin dan ombak, ketika badai hidup mengamuk dan arah hilang, ajarlah aku untuk percaya kepada firman-Mu lebih dari keadaan. Ketika Engkau memintaku untuk diam, tolong aku untuk taat. Ketika Engkau memintaku untuk bertindak, beri aku keberanian dan hikmat. Jadikan imanku hidup — yang tidak hanya percaya dalam kata, tetapi juga dalam langkah. Seperti Paulus, kiranya aku tetap kuat di tengah badai, menjadi pembawa harapan bagi orang lain, dan menemukan bahwa setiap “kapal karam” adalah jalan menuju kasih-Mu yang lebih dalam. Dalam nama Yesus aku berdoa, amin.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6

Tentunya pada zaman ini banyak orang sudah terbiasa melalukan pembayaran online, dengan memakai credit card atau melalui bank transfer. Walaupun demikian, di Indonesia rakyat biasa masih akrab dengan penggunaan uang kertas, sekalipun uang logam atau koin sudah tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran sejak 1 Desember 2023. Begitu pula dengan uang koin Rp500 yang memilki gambar bunga melati dan berwarna kuning keemasan, baik TE 1991 maupun TE 1997, saat ini sudah tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran.
Di Australia, uang plastik dengan denominasi $5, $10, $20, $50 dan $100 masih dipakai dan uang koin logam juga masih ada sekalipun jarang dipakai kecuali untuk tabungan anak-anak. Koin Australia terdiri dari 5 sen, 10 sen, 20 sen, 50 sen, satu dolar, dan dua dolar . Koin $1 dan $2 berwarna emas. Sekalipun lebih berharga, koin $2 adalah lebih kecil daripada koin $1.
Pada zaman Alkitab, koin merupakan bagian penting dari sistem ekonomi, yang memfasilitasi perdagangan dan niaga. Penggunaan koin disebutkan dalam beberapa bagian Alkitab, yang mencerminkan signifikansinya dalam kehidupan sehari-hari dan praktik keagamaan.
Koin pada zaman kuno biasanya terbuat dari logam mulia seperti emas, perak, dan perunggu. Koin-koin tersebut sering kali dicap dengan gambar penguasa atau dewa, yang menandakan otoritas dan keaslian. Pengenalan koin di Alkitab dapat ditelusuri kembali ke abad ke-7 SM, dengan bangsa Lidia sering dianggap sebagai yang pertama mencetak koin. Pada waktu itu, koin adalah syarat untuk hidup karena tanpa koin orang tidak dapat membeli barang kebutuhan sehari-hari kecuali kalau bisa melakukan tukar menukar barang/jasa (barter). Selain itu, koin juga diperlukan untuk membayar pajak kepada penguasa dan persembahan di bait suci.
Kepingan logam yang sekarang dinamakan koin dalam Alkitab sering kali melambangkan kekayaan materi dan potensi tantangan moral yang terkait dengannya. Penggunaan keping uang logam dalam narasi Alkitab berfungsi sebagai pengingat akan sifat sementara dari harta benda dan nilai kekal dari kekayaan rohani. Melalui berbagai ajaran dan perumpamaan, Alkitab mendorong orang percaya untuk memprioritaskan hubungan mereka dengan Tuhan di atas kekayaan duniawi, menggunakan sumber daya mereka untuk melayani sesama dan memajukan kerajaan Allah. Walaupun demikian, orang percaya juga membutuhkan dan menggunakan koin untuk bisa hidup di dunia.
Paulus mencatat bahwa pengalamannya telah mengajarinya untuk mencukupkan diri dengan berkat-berkat materi apa pun yang dimilikinya. Ketergantungan pada kuasa Kristus ini tidak hanya memungkinkan orang percaya untuk merasa cukup, tetapi juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan sesama orang Kristen. Hal ini juga menuntut keputusan yang disengaja untuk mengarahkan perhatian kita pada hal-hal yang positif.
Nasihat Paulus adalah untuk berfokus pada kemampuan kita untuk bersukacita dalam persekutuan kita dengan Kristus. Hasil dari penekanan itu seharusnya berupa sikap “masuk akal”, yang terlihat oleh semua orang. Dengan fokus yang tepat pada hal-hal positif, kita dapat mengalami kedamaian melalui kuasa Allah.
Karena Tuhan sudah dekat, atau akan segera datang kembali (Filipi 4:5), orang percaya hendaknya mengatur hidup dan pikiran mereka dengan cara-cara tertentu. Paulus memulai dengan kontras antara kekhawatiran dan doa. Ia mencatat bahwa orang percaya tidak boleh “khawatir tentang apa pun.” Ini tidak berarti sama sekali tidak ada kekhawatiran. Ini juga tidak berarti orang Kristen harus ceroboh. Sebaliknya, ini berarti orang percaya tidak boleh takut, paranoid, atau gelisah. Mengapa tidak? Orang percaya dapat berbicara langsung dengan Allah, Pencipta langit dan bumi, yang memiliki segala kuasa dan otoritas, yang memegang kendali penuh atas situasi.
Sebagai orang Kristen, kita tidak berbeda dalam kebutuhan sehari-hari. Kita tentu memerlukan uang untuk membeli berbagai jasa atau produk yang kita perlukan. Sekalipun uang koin sudah tidak atau jarang dipakai, uang dalam berbagai bentuknya selalu kita bawa kemana saja. Uang dengan demikian, bisa menjadi sesuatu yang tanpanya kita tidak dapat hidup. Karena itu banyak orang merasa khawatir jika uang menyusut atau tidak cukup. Apa yang harus kita lakukan jika “koin” kita tinggal sedikit?
Sebagai orang percaya, kita pagi ini belajar dari dari ayat di atas bahwa sebuah koin yang kita butuhkan mempunyai dua sisi. Di satu sisi kita melihat perlunya permohonan kepada Tuhan, di sisi lain kita melihat adanya rasa syukur. Dengan demikian, bagi kita orang percaya, tidak mungkin bagi kita untuk memikirkan perlunya permohonan kepada Tuhan saja, tetapi kita juga perlu bersyukur atas apa yang sudah diberikan-Nya pada saat-saat yang telah lalu.
Alih-alih merasa cemas, orang percaya harus dengan rendah hati dan penuh syukur menghampiri Allah dengan apa pun yang ada dalam pikiran mereka. Doa yang dewasa mencakup bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia lakukan, selain meminta bantuan di bidang-bidang yang membutuhkan. Ini adalah resep Kristen untuk mengurangi kecemasan di semua bidang kehidupan. Ini tidak berarti orang percaya akan menjalani hidup tanpa kekhawatiran. Ini juga tidak berarti bantuan tambahan tidak akan dibutuhkan. Namun, ayat ini menunjukkan bahwa mengatasi masalah dalam hidup kita harus dimulai dengan doa.
Dalam surat Paulus kepada jemaat Filipi, ada sejumlah hal yang mungkin mereka khawatirkan. Paulus menulis surat ini ketika ia sedang menjalani tahanan rumah, atas izin Kekaisaran Romawi. Jemaat di Filipi telah mendukung pekerjaan misionarisnya, dan mereka mungkin mengkhawatirkan kesejahteraannya (Filipi 1). Rupanya, ada perselisihan di gereja dengan orang-orang yang bertindak egois, dan mereka perlu berfokus pada teladan Kristus (Filipi 2). Guru-guru palsu juga berusaha menggoyahkan keyakinan mereka kepada Kristus (dan ajaran Paulus) dengan mengajarkan bahwa suatu bentuk ketaatan kepada Hukum Taurat diperlukan untuk keselamatan (Filipi 3). Dan, akhirnya, perselisihan di gereja telah mencapai titik sedemikian rupa sehingga Paulus memanggil dua perempuan dengan nama mereka dan meminta mereka untuk rukun (Filipi 4:2).
Paulus kemudian mengakhiri suratnya dengan nasihat dalam Filipi 4:4 untuk “bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Di sini, jemaat menghadapi tekanan eksternal dan masalah internal, dan mereka mungkin bertanya-tanya apakah mungkin untuk merayakannya dengan sukacita.
Jika keputusasaan atas masalah yang dibahas dalam surat itu (atau hal lainnya) merampas sukacita jemaat Filipi, maka Paulus memberikan solusinya dalam Filipi 4:6. Tidak perlu resah dan khawatir tentang keadaan. Solusinya adalah menyerahkan masalah kepada Dia yang Mahakuasa yang sungguh-sungguh dapat mengatasinya. Jemaat Filipi harus berdoa dalam segala situasi, menyampaikan permohonan mereka kepada Tuhan dan memanjatkan doa syukur atas apa yang telah Tuhan lakukan. Satu koin dengan dua sisi.
Paulus tidak berjanji bahwa Tuhan akan melakukan setiap hal yang mereka minta. Mereka tidak diberi cek kosong. Namun, ia berjanji bahwa ketika jemaat Filipi berdoa tentang berbagai hal, Allah akan mengubah jemaat Filipi itu sendiri:
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:7
Ketika mereka sungguh-sungguh berdoa tentang masalah mereka dan memilih untuk bersyukur, Allah akan memberi mereka damai sejahtera.
Meskipun ditulis untuk jemaat Filipi, prinsip Filipi 4:6 berlaku untuk semua orang percaya. Ketika kita memiliki masalah dan kekhawatiran, kita sering lupa untuk mendoakannya. Kemudian, ketika kita berdoa, kita mungkin berpikir bahwa satu-satunya pertolongan yang dapat Allah berikan adalah mengabulkan permohonan yang telah kita ajukan dan mengubah situasi. Allah mungkin saja melakukannya. Dia memiliki kuasa untuk mengubah situasi apa pun, tetapi Dia tidak akan terbatas pada itu. Allah tidak berjanji untuk mengubah setiap situasi sesuai keinginan kita. Yang Dia janjikan adalah memberi kita damai sejahtera dalam situasi apa pun. Dengan kata lain, Allah mungkin mengubah keadaan atau mungkin tidak, tetapi Dia akan mengubah watak kita terhadapnya sehingga hal itu tidak menyebabkan kekacauan batin dalam diri kita.
Secara praktis, Filipi 4:6 memberi kita contoh doa yang perlu kita panjatkan ketika kita cemas atau khawatir. Pertama, kita menolak kekhawatiran: jangan cemas tentang apa pun. Kemudian, kita cukup meminta kepada Tuhan apa yang kita butuhkan: dalam setiap situasi, dengan doa dan permohonan, sampaikan permohonan kita kepada Tuhan. Dan kita bersyukur kepada-Nya atas semua yang telah Dia lakukan: dengan ucapan syukur. Akhirnya, kita beristirahat, mengetahui bahwa Dia mengasihi kita dan akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita dan kemuliaan-Nya. Damai sejahtera Allah pun menjadi milik kita karena kita bisa menghitung berkat Tuhan selama ini satu persatu.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Lukas 16:10

Ayat dari kitab Lukas ini memperkenalkan konsep kepercayaan dan integritas yang kuat. Ayat ini menunjukkan bahwa kepercayaan tidak ditentukan oleh besarnya tugas, melainkan oleh karakter dan perilaku seseorang. Sederhananya, jika kita dapat dipercaya dengan tanggung jawab kecil, kemungkinan besar kita akan dipercaya dengan tanggung jawab yang lebih besar. Ini merupakan dorongan bagi kita untuk bertanggung jawab dalam hal-hal kecil, karena ini membangun reputasi dan karakter kita.
Ketika kita merenungkan kehidupan kita, konsep ini dapat dipahami. Mungkin kita memiliki tugas-tugas kecil di rumah atau tugas-tugas kecil di sekolah. Hal-hal kecil ini juga penting. Jika kita menganggapnya serius dan melakukannya dengan baik, hal itu menunjukkan kepada orang lain bahwa kita mampu dan dapat diandalkan. Ini mengingatkan kita bahwa pencapaian besar seringkali dimulai dari tindakan integritas yang kecil. Ini adalah fakta hidup di dunia.
Untuk memahami Lukas 16:10 sepenuhnya, kita perlu melihat konteks di mana perumpamaan itu dibingkai. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Yesus membagikan perumpamaan tentang bendahara yang cerdik, yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat licik namun tetap beretika. Sang bendahara dihadapkan pada kehilangan pekerjaannya dan membuat serangkaian keputusan untuk mengamankan masa depannya. Yesus menggunakan perumpamaan ini bukan untuk mendukung ketidakjujuran, tetapi untuk menyoroti pentingnya bersikap bijaksana dan penuh pertimbangan dengan apa yang kita miliki. Dalam konteks ajaran-Nya, Yesus menekankan bahwa dunia ini membutuhkan keterampilan tertentu dalam mengelola sumber daya dan tanggung jawab. Namun, Ia membandingkan hal ini dengan kesetiaan sejati. Ayat yang kita renungkan merangkum pelajaran ini dengan menuntut integritas dan kejujuran dalam setiap tugas — sekecil apa pun kelihatannya.
Dalam hidup, kita sering menghadapi berbagai situasi yang menguji kepercayaan kita. Lukas 16:10 mendorong kita untuk menyadari pentingnya bersikap jujur dan dapat diandalkan bahkan dalam tugas-tugas terkecil sekalipun. Konsep kepercayaan merupakan bagian integral dari hubungan — baik dengan teman, keluarga, maupun rekan kerja. Ketika kita menepati komitmen, hal itu menciptakan fondasi yang kokoh untuk hubungan yang lebih erat.
Ayat ini juga menjelaskan potensi konsekuensi terkait ketidakjujuran. Jika seseorang tidak dapat dipercaya dalam hal-hal kecil, hal itu menimbulkan keraguan tentang bagaimana ia dapat menangani tanggung jawab yang lebih besar dengan benar. Gagasan ini menggemakan prinsip yang terdapat dalam Amsal 12:22, yang menyatakan bahwa Tuhan membenci orang yang suka berdusta, tetapi berkenan kepada orang yang mengatakan kebenaran. Kejujuran membantu kita menjalani hidup yang selaras dengan kehendak Tuhan dan memperkuat karakter kita.
Selain itu, ayat ini dapat menjadi ujian bagi karakter kita. Ayat ini mendorong kita untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita menangani tanggung jawab kecil kita dengan baik? Bisa sesederhana mengembalikan barang pinjaman tepat waktu atau datang tepat waktu untuk rapat. Tindakan terkecil dapat mencerminkan karakter dan nilai-nilai sejati kita.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi pengelola yang andal atas segala sesuatu yang telah Dia berikan kepada kita. Itu bisa berupa waktu, bakat, atau sumber daya kita. Dalam Matius 25:21, kita membaca tentang perumpamaan tentang talenta, di mana mereka yang setia dengan sedikit talenta diganjar dengan lebih banyak. Hal ini menunjukkan kebaikan Allah kepada mereka yang menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan dengan penuh perhatian.
Ketika kita menerima pelajaran dari Lukas 16:10, kita belajar bahwa integritas dalam hal-hal kecil dapat menuntun pada peluang yang lebih besar. Kita juga mengembangkan gaya hidup yang mencerminkan kasih dan kebenaran Allah. Dengan demikian, menjadi orang yang dapat dipercaya dalam hal-hal kecil menempatkan kita pada posisi untuk melayani tujuan yang lebih besar.
Pesan Yesus di sini sangat mendalam. Manusia sering dinilai berdasarkan karakternya. Ketidakpercayaan dalam hal kecil menunjukkan betapa besar integritas seseorang ketika taruhannya lebih tinggi. Oleh karena itu, pesan tersebut mendorong kita untuk membangun integritas selangkah demi selangkah, setiap kali meneguhkan karakter kita.
Hal ini selaras dengan ajaran yang terdapat di seluruh Alkitab, termasuk Matius 5:16, yang mendorong kita untuk membiarkan terang kita bersinar di hadapan orang lain. Ketika kita menjalankan tugas sehari-hari dengan integritas, kita mencerminkan kasih dan terang Allah ke dunia di sekitar kita.
Ketika kita menelaah Lukas 16:10, kita dapat membaginya menjadi dua bagian utama — aspek kepercayaan dan integritas karakter. Masing-masing bagian memainkan peran krusial dalam menyampaikan pesan keseluruhan ayat tersebut.
Bagian pertama menekankan, “Barangsiapa dapat dipercaya dalam hal yang sangat kecil, ia juga dapat dipercaya dalam hal yang sangat besar.” Pernyataan ini menekankan pentingnya dapat diandalkan dalam tugas-tugas kecil. Jika kita sering membuktikan diri dapat diandalkan, hal itu akan membuka peluang bagi kita untuk dipercayakan dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Bagian kedua memperingatkan, “Barangsiapa tidak jujur dalam hal yang sangat kecil, ia juga akan tidak jujur dalam hal yang sangat besar.” Ini berfungsi sebagai peringatan. Jika seseorang berbohong tentang hal-hal kecil, kemungkinan besar ia akan melanjutkan perilaku tersebut dalam situasi yang lebih besar. Hal ini memperkuat kebutuhan kita untuk membangun dan menjunjung tinggi kejujuran sebagai nilai inti dalam setiap aspek kehidupan kita.
Penulis Lukas ingin kita menyadari bahwa kedua elemen tersebut — kepercayaan dan kejujuran — berjalan beriringan. Kejujuran menumbuhkan kepercayaan, yang pada gilirannya menghasilkan peluang yang lebih signifikan. Bersama-sama, elemen-elemen ini menciptakan siklus akuntabilitas dan pertumbuhan yang bermanfaat bagi kita dalam perjalanan iman kita.
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari Lukas 16:10? Pertama, kita didorong untuk merangkul gagasan tanggung jawab. Setiap hari, kita menghadapi tugas-tugas kecil yang mungkin tampak remeh. Namun, unggul dalam hal-hal kecil tersebut mencerminkan komitmen kita untuk dapat dipercaya.
Kedua, kita belajar bahwa karakter itu penting. Kita perlu menyadari bahwa tindakan kita mencerminkan siapa diri kita. Dalam menjalankan tanggung jawab kita, kita menunjukkan karakter kita. Marilah kita berusaha menjadi orang yang berintegritas dalam segala hal yang kita lakukan.
Selain itu, kita menemukan nilai dari kesetiaan dengan apa yang kita miliki. Tuhan mempercayakan sumber daya, hubungan, dan tugas kita kepada kita. Mengelolanya dengan baik menjadi bukti kesetiaan kita kepada Tuhan dan orang-orang di sekitar kita. Mazmur 37:5 mendorong kita untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, percaya bahwa Dia akan menetapkan jalan kita.
Akhirnya, ayat ini membuka mata kita akan pentingnya perilaku yang konsisten. Membangun reputasi membutuhkan kesengajaan. Dimulai dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari ketika tidak ada orang lain yang melihat. Ketika kita membangun fondasi kepercayaan, kita mempersiapkan diri untuk kesempatan yang lebih besar dalam hidup dan perjalanan iman kita.
Lukas 16:10 terhubung dengan kita dalam berbagai aspek, mengajarkan pelajaran penting tentang integritas dan tanggung jawab. Setiap tugas yang kita tangani, besar atau kecil, berperan penting dalam membentuk karakter dan reputasi kita.
Saat kita menjalankan tanggung jawab kita sehari-hari, marilah kita ingat untuk melakukannya dengan jujur dan tekun, sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk menjadi penatalayan yang baik dalam setiap aspek kehidupan kita, mulai dari cara kita mengelola waktu hingga cara kita memperlakukan hubungan kita. Setiap langkah memungkinkan kita untuk bertumbuh lebih dekat kepada-Nya dan mempersiapkan diri untuk tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
Hal berbakti kepada-Nya menuntut perhatian khusus. Karena jika kita ingin ke surga, kita harus sadar bahwa di sana setiap orang percaya merasa bahagia hidup bersama Tuhan dan mau memuji Dia dalam setiap saat. Bagaimana kita bisa melakukan hal itu jika bagi kita yang mengaku Kristen, untuk ke gereja sekali seminggu dan berdoa setiap hari saja kita sudah mengalami kesulitan dan tidak mempunyai gairah? Bukankah itu tidak mencerminkan karakter dan tanggung jawab kekristenan yang baik?
Marilah kita menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang terdapat dalam Lukas 16:10, karena prinsip-prinsip tersebut mendorong kita untuk menjalani hidup yang mencerminkan kasih dan terang Tuhan. Baik di rumah, sekolah, maupun tempat kerja dan gereja, menjadi orang yang dapat dipercaya dan jujur tetaplah yang terpenting. Ketika kita memperlakukan hal-hal kecil dengan hormat, kita membuka pintu untuk mengalami berkat-berkat yang lebih besar di masa depan.
Jika Anda menikmati menjelajahi ayat yang penuh wawasan ini dan implikasinya yang mendalam, pertimbangkan untuk mempelajari lebih lanjut tentang pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan tersebut, atau jelajahi ayat-ayat Alkitab tentang perubahan dalam hidup kita. Ada begitu banyak firman Tuhan dalam Kitab Suci yang menunggu untuk kita laksanakan!
“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Yosua 1:9

Sering kita mendengar ucapan “Tuhan menyertai Anda” pada saat perpisahan antara dua orang. Ucapan ini agaknya sama populernya dengan ucapan “Tuhan menyertai Anda”. Walaupun demikian, ucapan-ucapan ini lebih sering diucapkan secara kebiasaan saja, daripada sebagai salam berkat yang serius. Agaknya baik orang yang mengucapkannya maupun orang yang menerimanya mungkin kurang memikirkan bahwa ucapan itu berlaku untuk setiap orang yang percaya.
Masalahnya, dalam Yosua 1:9, Tuhan memerintahkan Yosua, “Jadilah kuat dan berani. Jangan takut; jangan berkecil hati, karena TUHAN, Allahmu, akan menyertaimu ke mana pun kamu pergi.” Apakah janji ini berlaku untuk orang Kristen pada saat ini?
Dalam satu pengertian, janji dalam bagian ini khusus untuk peran Yosua sebagai pemimpin orang Israel saat dia membawa mereka ke Tanah Perjanjian. Yosua memiliki tugas yang luar biasa untuk dipenuhi setelah kematian Musa—tanggung jawab memimpin seluruh bangsa ke tanah baru. Kata-kata keberanian dan dorongan Tuhan berfungsi sebagai pesan penting untuk memperkuat Yosua sebagai pemimpin umat Tuhan.
Sementara janji bahwa Tuhan akan bersama Yosua khusus untuk Yosua, prinsipnya meluas ke kita hari ini. Pertama, Tuhan mengharapkan para pengikut-Nya untuk menjalani kehidupan yang kuat dan berani. Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan rasul Paulus mengatakan kepada Timotius, “Roh yang diberikan Tuhan kepada kita tidak membuat kita takut, tetapi memberi kita kuasa, kasih, dan disiplin diri” (2 Timotius 1:7). Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu akan menerima kuasa ketika Roh Kudus datang kepadamu; dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.”
Kedua, selain menjalani kehidupan yang kuat dan berani sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk sepenuhnya hidup tanpa rasa takut. Yesus mengajarkan, “Jangan takut kepada orang-orang yang membunuh tubuh tetapi tidak dapat membunuh jiwa” (Matius 10:28). Ketika Paulus dipenjara, dia menulis, “Karena rantaiku, sebagian besar saudara dan saudari telah menjadi percaya kepada Tuhan dan semakin berani untuk memberitakan Injil tanpa rasa takut” (Filipi 1:14). Meskipun ada pengertian di mana kita dipanggil untuk takut akan Tuhan, yang berarti hidup dengan hormat dan hormat kepada-Nya, Kitab Suci jelas menyatakan bahwa kita harus hidup dengan keyakinan pada janji dan kuasa Tuhan.
Ketiga, alasan kita dapat hidup dengan berani dan tanpa rasa takut adalah karena Tuhan bersama kita ke mana pun kita pergi. Apa yang Tuhan perintahkan kepada Yosua juga terlihat dalam Amanat Agung: “Tentunya Aku selalu bersamamu, sampai akhir zaman” (Matius 28:20). Juga, kita memiliki janji Ibrani 13:5: “Tuhan telah berkata, ‘Aku tidak akan pernah meninggalkanmu; aku tidak akan pernah meninggalkanmu.'”
Singkatnya, sementara janji Yosua 1:9 khusus untuk Yosua, prinsipnya ditegaskan di tempat lain dalam Alkitab yang berlaku untuk semua orang percaya saat ini. Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan berani, tanpa rasa takut, mengetahui bahwa Tuhan bersama kita setiap saat.
Pada saat ini mungkin Anda mengalami rasa sepi dan kuatir karena jauh dari sanak keluarga, karena kesehatan yang kurang baik, atau masa depan yang tidak menentu. Jika demikian, janji Tuhan kepada Yosua adalah janji-Nya kepada Anda juga, karena seperti Yosua, Anda adalah orang yang percaya kepada kuasa dan kasih Tuhan.
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu” Mazmur 139:7

Berapa banyak orang yang percaya adanya Tuhan yang tidak peduli akan hidup manusia? Ada banyak tentunya, tetapi belum ada riset yang menyatakan secara pasti tentang jumlahnya.
Sebagian orang yang beragama, tidak mengenal siapa Tuhan mereka, sekalipun mereka takut untuk berbuat jahat karena mereka percaya adanya karma. Dalam hal ini, mereka yang beragama Kristen tahu bahwa Tuhan itu ada dan mahatahu, tetapi banyak juga yang hidup seolah-olah Tuhan tidak mampu atau mau untuk campur tangan dalam hidup mereka. Jadi mereka hidup seperti Tuhan itu tidak ada.
Dalam ayat di atas, Daud menyatakan bahwa Tuhan mahatahu dan peduli atas hidupnya. Jika Daud ingin melarikan diri dari pengetahuan Allah yang menyeluruh, ia tidak akan menemukan tempat untuk bersembunyi dari Allah. Ini bukan karena ia ingin melarikan diri dari Allah seperti apa yang diperbuat nabi Yunus.
Nani Yunus mencoba melarikan diri dari hadirat Allah ketika Allah memerintahkannya untuk pergi ke Niniwe dan berseru melawannya. Alih-alih pergi ke timur ke Niniwe, ia naik kapal yang menuju ke barat ke Tarsis (Yunus 1:1-3). Ia segera menyadari bahwa Allah hadir, sejauh apa pun ia berlari. Tuhan menyiapkan badai besar yang menyebabkan Yunus terdampar di laut, dan Allah tetap ada di sana (Yunus 1:11-12). Tuhan juga telah menetapkan seekor ikan besar untuk menelan Yunus (Yunus 1:17). Di dalam perut ikan, Yunus bertobat dan bersumpah untuk menaati Tuhan (Yunus 2:1).
Lain Yunus, lain Elia. Elia melarikan diri ke padang gurun di selatan Yehuda untuk menghindari murka Izebel, tetapi ia tidak dapat menjauhkan diri dari Tuhan. Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Elia dalam bisikan pelan dan memberinya kesempatan baru untuk melayani-Nya (1 Raja-raja 19:9-18).
Mengapa orang percaya sering lupa bahwa Tuhan melihat apa yang diperbuat mereka? Sebagian karena mereka tidak benar-benar mengenal Tuhan. Sebagian lagi memang sengaja tidak mau mengingat hal itu karena mereka mau hidup bebas semaunya sendiri. Mereka merasa bahwa adanya Tuhan yang mengawasi mereka adalah terlalu membatasi cara hidup mereka.
Mazmur 139:7–12 mengikuti sebuah bagian yang berfokus pada kemahatahuan Allah. Bagian mazmur ini menggambarkan kemahahadiran-Nya: kemampuan-Nya untuk berada di mana-mana sekaligus. Daud menyebutkan beberapa tempat yang mungkin ia kunjungi, hanya untuk menemukan bahwa Allah ada di sana. Pengetahuan akan kehadiran Allah menghibur Daud. Ia tahu Allah akan menyertainya ke mana pun ia pergi.
Dalam mazmur ini, Daud mengagumi karakteristik Allah yang menakjubkan. Tuhan tahu segalanya tentang dirinya: ke mana ia pergi, semua pikiran Daud, dan segala hal tentang perilakunya. Tuhan tahu apa yang akan Daud katakan bahkan sebelum Daud mengatakannya. Tidak ada tempat yang bisa Daud kunjungi tanpa kehadiran Tuhan. Daud mengagumi karya kreatif Tuhan dalam kandungan. Ia bersyukur atas pikiran Tuhan yang tak terhitung banyaknya untuknya dan atas kehadiran Tuhan siang dan malam. Akhirnya, pikiran Daud tertuju pada orang jahat. Ia menganggap mereka musuh Tuhan dan musuhnya, dan berharap agar Tuhan untuk melenyapkan mereka. Daud muak dengan orang jahat karena mereka mencela Tuhan dan menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Ia meminta Tuhan untuk menyelidiki hatinya, melihat apakah ada dosa di sana, dan ia meminta Tuhan untuk menuntunnya di jalan yang kekal.
Seperti Daud, bagi orang percaya yang taat, kemahahadiran Allah merupakan suatu penghiburan. Yesus berkata, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Ibrani 13:5 menggemakan janji “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Janji ini berarti kita tidak perlu takut terhadap apa pun yang dapat dilakukan siapa pun terhadap kita (Ibrani 13:6). Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak kenyataan bahwa Tuhan selalu melihat apa yang kita lakukan dalam hidup demi kebaikan kita. Ia tahu apakah kita benar-benar beriman dan memuliakan Dia, atau sekadar mengaku Kristen tetapi mengabaikan-Nya.
“Kita dikelilingi orang-orang besar yang beriman ini sebagai contoh kita. Jadi, kita juga harus berlari dalam perlombaan yang ada di depan kita, tanpa menyerah. Marilah kita membuang dari hidup kita semua yang akan memperlambat kita dan semua dosa yang membuat kita sering terjatuh.” Ibrani 12:1 (AMD)

Semakin bertambah usia, topik pembicaraan saya dengan teman-teman sering berubah mengikuti perjalanan hidup. Kalau dulu, dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, percakapan saya banyak berkisar pada pekerjaan, keluarga muda, atau cita-cita karier, kini topiknya lebih sering tentang anak-anak yang sudah dewasa, cucu yang lucu, atau kesehatan yang mulai menuntut perhatian. Jika dahulu pertanyaan yang lazim adalah, “Kamu kerja di mana?” kini yang terdengar lebih sering adalah, “Sudah berapa cucu sekarang?” Begitulah kehidupan manusia, selalu bergeser dan berkembang seiring waktu.
Bersamaan dengan itu, dengan usia lanjut percakapan tentang kesehatan menjadi semakin umum. Banyak teman saya saling berbagi pengalaman tentang tekanan darah, kolesterol, gula darah, atau sendi yang mulai kaku. Ada yang bertukar informasi tentang obat dan suplemen, ada pula yang membicarakan pola makan atau olahraga. Semua itu wajar, bahkan baik, karena semakin tua seseorang, semakin ia menyadari bahwa kesehatan jasmani bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Tubuh ini adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga, sebab tanpa tubuh yang sehat, aktivitas dan pelayanan pun menjadi terbatas.
Namun di tengah kesadaran besar untuk menjaga kesehatan jasmani, sering kali kita lupa bahwa ada jenis kesehatan lain yang jauh lebih penting — yaitu kesehatan rohani. Banyak orang sanggup menempuh diet ketat, bangun pagi untuk berjalan kaki, dan minum vitamin dengan disiplin, tetapi jarang memberi waktu untuk menyehatkan jiwanya. Padahal, tubuh yang kuat tidak menjamin hati yang tenang; otot yang berisi tidak menjamin iman yang teguh. Dan pada akhirnya, ketika usia semakin lanjut dan tenaga semakin berkurang, justru kesehatan rohanilah yang paling menentukan bagaimana seseorang menapaki sisa hidupnya dengan damai dan bersyukur.
Penulis surat Ibrani mengajak kita memandang hidup sebagai perlombaan iman. Kita semua sedang berlari di lintasan kehidupan menuju garis akhir, di mana Tuhan menanti. Dalam perjalanan itu, ada banyak hal yang bisa memperlambat langkah: dosa yang belum ditinggalkan, dendam dan kepahitan yang disimpan, rasa takut, kekhawatiran, dan keinginan yang tak terkendali. Semua itu seperti beban berat yang kita bawa saat berlari. Firman Tuhan berkata, “Marilah kita membuang dari hidup kita semua yang memperlambat kita.” Artinya, kita diajak untuk menanggalkan segala hal yang membuat langkah iman kita terseret, agar bisa berlari dengan ringan dan penuh ketekunan.
Kesehatan rohani, sama seperti kesehatan jasmani, memerlukan perawatan yang terus-menerus. Roh yang sehat tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh dari kebiasaan hidup yang benar: pergi ke gereja secara teratur, membaca firman Tuhan, berdoa dengan tulus, bersyukur dalam segala hal, dan hidup dalam pengampunan. Orang yang sehat rohaninya tidak berarti tidak pernah sedih atau marah, tetapi ia tahu ke mana harus membawa kesedihan dan kemarahannya — kepada Tuhan. Ia mungkin menghadapi banyak masalah, tetapi hatinya tidak dikuasai kecemasan. Ia mungkin menua secara fisik, tetapi rohnya tetap muda karena setiap hari diperbarui oleh kasih karunia Tuhan.
Dalam surat Ibrani pasal 11, penulis menyebut banyak tokoh iman: Nuh, Abraham, Musa, dan yang lain. Mereka bukanlah orang-orang yang sempurna, tetapi adalah contoh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh iman, bukan oleh rasa takut. Mereka menanggung penderitaan, bahkan kematian, namun tetap setia. Itulah sebabnya mereka disebut “awan saksi iman” — seolah-olah mereka kini menjadi penonton yang menyemangati kita dari tribun kehidupan. Kesadaran itu memberi kekuatan: kita tidak sendirian. Ada banyak orang percaya yang telah berlari lebih dulu dan berhasil menyelesaikan perlombaan mereka dengan iman yang tetap utuh. Allah yang memampukan mereka adalah Allah yang sama yang menolong kita hari ini.
Dan di atas semua itu, Yesus sendiri menjadi teladan utama dari hidup yang sehat secara rohani. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana kita harus hidup, tetapi Ia sendiri meneladankannya. Ia menghadapi pencobaan dan penderitaan, tetapi tidak pernah goyah dalam ketaatan kepada Bapa. Ia menanggung salib bukan karena lemah, tetapi karena tahu bahwa penderitaan itu adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna. Kesehatan rohani Yesus terletak pada ketaatan-Nya yang penuh kasih — ketaatan yang tidak tergoyahkan oleh rasa sakit, hinaan, atau kesepian.
Ketika kita menatap kepada Yesus, kita belajar bahwa hidup rohani yang sehat berarti hidup yang mau taat, sekalipun jalan yang ditempuh tidak mudah. Sehat rohani bukan berarti bebas dari masalah, tetapi kuat menghadapi masalah dengan iman. Sehat rohani berarti terus berharap walau belum melihat hasilnya, terus berdoa walau belum menerima jawaban, dan terus mengasihi walau mungkin tidak dibalas dengan kasih.
Pada umumnya, kebugaran jasmani mulai menurun di usia 40-an karena metabolisme yang melambat, massa otot yang berkurang sekitar 1% per tahun, dan daya tahan tubuh yang menurun. Perubahan ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan penurunan kekuatan, namun perubahan ini normal dan dapat dikelola dengan gaya hidup sehat. Bagi banyak orang berumur, masa hidup sekarang adalah waktu di mana tubuh mulai memberi tanda-tanda keterbatasan. Tetapi justru di sinilah iman diuji. Tubuh boleh melemah, tetapi roh harus tetap kuat. Orang yang sehat rohaninya akan memandang hari tua bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan baru untuk bersyukur dan menjadi berkat. Ia tidak pahit terhadap masa lalu, tidak cemas terhadap masa depan, tetapi hidup dengan damai karena tahu bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan.
Kesehatan rohani membuat seseorang tetap memancarkan cahaya Kristus meski tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Ia tetap sabar, penuh kasih, dan mudah mengampuni. Ia tidak lagi sibuk mengejar pengakuan manusia, karena hatinya sudah dipenuhi oleh kasih Allah. Ia tahu bahwa sukacita sejati tidak datang dari keadaan, melainkan dari hubungan yang hidup dengan Sang Pencipta. Orang yang rohnya sehat akan menjadi sumber penghiburan bagi sekitarnya. Kehadirannya membawa ketenangan, bukan kegelisahan; membawa semangat, bukan keluhan.
Menjaga kesehatan rohani tidak perlu menunggu masa pensiun atau masa tua. Sama seperti tubuh yang perlu dirawat sejak muda, jiwa pun harus dipelihara sejak awal. Jika tubuh perlu makanan bergizi, roh kita pun perlu makanan rohani: firman Tuhan setiap hari. Jika tubuh perlu bergerak untuk tetap bugar, roh kita pun perlu dipraktikkan melalui pelayanan, kasih, dan pengampunan. Jika tubuh perlu istirahat, roh kita pun perlu hening — waktu tenang untuk bersekutu dengan Tuhan, memeriksa hati, dan menerima pembaruan dari-Nya.
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai garis akhir, tetapi siapa yang tetap setia sampai garis akhir. Paulus berkata dengan yakin, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Itulah tujuan yang sejati. Sehat jasmani memang penting agar kita bisa terus melayani dan bekerja, tetapi sehat rohani jauh lebih penting karena menentukan arah hidup dan masa depan kekal kita.
Ketika tubuh tak lagi kuat dan langkah mulai melambat, roh yang sehat akan menjadi kekuatan yang menopang. Dan ketika akhirnya kita mencapai garis akhir, biarlah kita dapat berkata dengan damai, “Aku telah berlari dan tidak menyerah.” Sebab pada saat itu, yang menanti kita bukan sekadar akhir dari perjuangan, melainkan awal dari kemuliaan kekal bersama Tuhan yang telah menuntun kita sepanjang jalan.
Doa Penutup:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memberi kami hidup dan tubuh untuk dijaga, tetapi lebih dari itu, Engkau memberi kami roh yang harus dipelihara. Tolong kami agar tidak hanya sibuk merawat jasmani kami, tetapi juga menjaga kesehatan rohani kami setiap hari. Beri kami kekuatan untuk tetap beriman, tetap berharap, dan tetap mengasihi sampai kami mencapai garis akhir dengan mata tertuju kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16:9

Selama berabad-abad, para teolog telah memperdebatkan apa artinya bagi pria dan wanita untuk diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:26-27). Belum ada definisi yang diterima secara universal, tetapi terdapat kesepakatan luas mengenai setidaknya beberapa hal yang membentuk gambar ilahi. Salah satu aspeknya adalah bahwa manusia memiliki pikiran dan kehendak. Sebagian orang memikirkan kemampuan ini sebagai kehendak bebas (free will). Seperti Allah, kita memiliki niat, kita membuat rencana, dan kita memilih tindakan tertentu. Lebih lanjut, kita semua merasa setidaknya bisa mengendalikan apa yang kita biasa lakukan setiap hari, seperti makan apa, berbaju warna apa dan sebagainya. Betapa pun kita mencoba menyangkalnya, kita semua merasa bertanggung jawab atas pilihan kita (Rm. 1:18-2:29).
Pada pihak yang lain, Alkitab mengajarkan kita untuk tidak pernah membiarkan kenyataan ini membodohi kita dengan percaya bahwa kita memiliki keputusan akhir atas apa yang kita capai. Free will adalah kemampuan untuk memilih, tetapi bukan untuk memastikan bahwa apa yang kita kehendaki akan terjadi. Ada satu kehendak yang selalu mengalahkan kehendak kita, yaitu kehendak ilahi. Allah, “yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11), memiliki keputusan akhir karena Dialah yang menetapkan langkah-langkah kita, seperti yang kita baca dalam bacaan hari ini. KIta mungkin tidak sadar bahwa Tuhan bisa mengizinkan atau menolak pilihan kita, bisa menyuruh atau menetapkan kita untuk berbuat atau mengalami sesuatu, dan apa yang terjadi adalah sesuai dengan apa yang ditetapkan-Nya.
Dalam tafsirannya atas kehendak bebas manusia dan kedaulatan Tuhan, Matthew Henry mencatat bahwa setiap manusia adalah “makhluk yang berakal budi, yang memiliki kemampuan untuk merancang bagi dirinya sendiri” dan “makhluk yang bergantung, yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya.” Ini adalah suatu paradox. Paradoks adalah sebuah pernyataan atau proposisi yang tampaknya tidak masuk akal atau bertentangan, namun jika diselidiki dapat terbukti berdasar atau benar. Kita harus berpegang teguh bahwa manusia memiliki kebebasan untuk membuat keputusan mereka sendiri, sementara pada saat yang sama pilihan mereka berada di bawah kedaulatan Tuhan.
Kebebasan manusia berarti kita selalu melakukan apa yang ingin kita lakukan dalam situasi apa pun. Memang, banyak situasi tampaknya tidak memberi kita pilihan yang baik. Namun demikian, begitu kita berada dalam situasi seperti itu, kita selalu memilih pilihan yang tampaknya terbaik bagi kita. Jika semua hal sama, kita biasanya tidak ingin seseorang melukai kita, tetapi jika pilihannya adalah antara melukai kita untuk mengangkat usus buntu yang meradang atau meninggal karena radang usus buntu, pilihan operasi kita menunjukkan bahwa kita lebih ingin hidup daripada mati. Kita bebas memilih operasi karena saat itu itulah yang paling ingin kita lakukan.
Walaupun demikian, karena adanya kedaulatan Allah, pilihan kita itu terkadang dibuat sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan, dan kita mencapai apa yang kita inginkan. Di lain waktu, pilihan yang telah kita tetapkan tidak sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan, dan rencana kita pun gagal. Namun dalam kedua kasus tersebut, tujuan Allah tidak pernah gagal. Langkah kita ditetapkan sesuai dengan apa yang telah Dia rancang (Amsal 16:9), karena Dia memiliki keputusan akhir dalam ciptaan-Nya.
Kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi berada dalam hubungan yang kompleks dan misterius. Meskipun Allah menetapkan semua pilihan kita—bahkan pilihan yang akhirnya gagal karena tidak sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan—kita tidak pernah dapat menyalahkan-Nya atas dosa dan kekeliruan kita. Kita juga tidak dapat lepas dari tanggung jawab atas tindakan kita. Kita telah salah memahami firman Tuhan jika kita menganggap pilihan-pilihan kita merupakan penentu akhir perjalanan hidup kita, tetapi kita juga telah salah memahaminya jika kita mengingkari kebebasan dan tanggung jawab manusia.
Apa yang Anda lakukan ketika menghadapi keputusan penting? Anda berdoa, memohon hikmat dari Tuhan. Anda mencari nasihat dari orang percaya yang dewasa, yang melalui pengalaman dan hikmat mereka membantu Anda memikirkan apa yang baik. Anda mempelajari Firman Tuhan, yang menyingkapkan motif dan niat hati Anda. Anda pergi ke gereja, di mana Anda menemukan dorongan dan persekutuan untuk menopang iman Anda.
Anda ingin rencana Anda (dan keinginan terdalam Anda) mencerminkan rencana Tuhan. Anda bertumbuh dalam pemahaman Anda akan Firman Tuhan, sehingga hidup Anda dapat menjadi cerminan (meskipun terkadang redup) dari apa yang penting bagi-Nya. Karena itu, Anda harus merencanakan dengan bijaksana, penuh kasih, dan cermat.
Anda seharusnya merasa terhibur karena Tuhan yang menetapkan rencana-rencana Anda: “TUHANlah yang menentukan langkahnya” (Amsal 16:9). Tidak ada yang terjadi tanpa Tuhan. Dia berdaulat atas segalanya, termasuk rencana-rencana kita. Seperti yang dikatakan Amsal 16:1, “Manusia dapat merencanakan dalam hati.” Saya mungkin berkata, “Ini rencanaku,” tetapi Tuhan yang menetapkan rencanaku. Dia yang membuatnya berhasil atau membiarkannya gagal. Dia yang mengendalikan apa yang terjadi. Itu seharusnya melenyapkan kesombongan Anda atas keyakinan yang Anda tanamkan pada rencana-rencana Anda. Tidak ada yang Anda rencanakan terjadi di luar kehendak Tuhan.
Jika Tuhan menetapkan segalanya, apakah kita adalah robot-robot-Nya? Bukan! Kita bukan robot yang sudah diprogram sebelumnya. Tuhan memberi kita kebebasan untuk merencanakan dan mengatur jalan ke depan. Sebagai manusia yang digambarkan dalam gambar-Nya, kita diberi kemampuan untuk menyusun strategi, membentuk, dan memilih. Jika kita mendapat tawaran pekerjaan yang bagus di kota lain, kita akan mencari nasihat, berdoa, dan membaca Firman Tuhan, tetapi pada akhirnya, kita memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran itu.Tuhan berjalan di depan Anda untuk menetapkan jalan Anda. Dia yang mengatur jalan Anda. Apakah Anda selalu mendapatkan apa yang Anda rencanakan? Tidak. Sama seperti seorang anak yang orang tuanya melihat apa yang terbaik untuknya, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita.
Perhatikan akhir dari Amsal 16:1: “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.” Tuhan menciptakan mulut Anda. Dia memberi Anda ucapan dan kata-kata. Anda mungkin membuat dan bisa menguraikan rencana yang rumit, tetapi keputusan akhir datang dari-Nya. Jika Anda menghadapi masa depan yang tidak pasti, sungguh melegakan bahwa rencana Anda tidak terjadi di luar tangan Tuhan. Tuhan yang menentukan masa depan Anda. Dia memegang hidup Anda di tangan-Nya.
Seseorang dapat merencanakan setiap aspek kehidupannya; namun Allah-lah yang pada akhirnya memutuskan apa yang akan terjadi. Para penulis Perjanjian Baru seperti Paulus (Roma 9:20-21) dan Yakobus (Yakobus 4:13-15) memperkuat gagasan ini. Ayub 42:2 menyatakan, “Aku tahu, bahwa Engkau dapat melakukan segala sesuatu, dan bahwa tidak ada rencana-Mu yang gagal”. Itu tidak berarti usaha perencanaan manusia itu salah—tetapi apa yang kita rencanakan perlu dipersiapkan dengan semangat kerendahan hati dan ketaatan kepada Dia yang mahakuasa.
Yesaya 53:6 menggambarkan manusia sebagai domba yang telah menyimpang dari Allah. Kita semua telah tersesat, dan betapapun cerdasnya seseorang, ia tidak dapat melawan kebijaksanaan Tuhan.
“Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” Yeremia 10:23
Namun demikian, jika seseorang mencari kehendak Allah dan berjalan oleh Roh dalam terang Firman Allah, Tuhan akan berkenan dan membimbing langkahnya. Semoga kita sadar bahwa frasa “Ora et Labora” (berdoa dan bekerja) adalah satu hal yang harus kita praktikkan dalam hidup ini.
“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3:15-16

Wahyu 3:14–22 adalah pesan terakhir dan paling keras dari Yesus, yang ditujukan kepada gereja di Laodikia. Kita belajar dari penilaian ini bahwa gereja Laodikia suam-suam kuku, sombong, dan puas diri. Mereka membanggakan kekayaannya dan tidak membutuhkan apa pun. Namun gereja Laodikia menipu dirinya sendiri. Dalam hal kondisi rohaninya, gereja itu malang, menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang. Yesus mendesak gereja untuk berpaling kepada-Nya, karena Ia berada di luar gereja, mengundang siapa pun yang mendengar suara-Nya untuk membuka pintu dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja dari tujuh gereja yang hanya menerima teguran, dan tidak mendapat komentar positif.
Surat-surat terakhir di Alkitab ini melambangkan sejarah Gereja dari tahun 1500 M hingga saat kepindahan orang percaya dari bumi untuk pergi bersama Yesus. Orang Kristen di Laodikia bangga dengan kekayaannya, tetapi secara rohani suam-suam kuku, suatu karakteristik yang dibenci Yesus. Ia berjanji untuk bersekutu dengan siapa pun di gereja yang akan mengindahkan suara-Nya dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja yang tidak dipuji oleh Kristus karena acuh tak acuh kepada Yesus.
Tidak ada yang luput dari perhatian Yesus. Dalam ayat ini, Ia memberi tahu jemaat Laodikia bahwa Ia mengetahui kondisi jemaat itu. Ia berkata jemaat itu tidak dingin atau panas, meskipun Ia lebih suka jika jemaat itu salah satu atau yang lain. Kutukan terhadap iman yang “suam-suam kuku” ini membawa konsekuensi yang mengerikan. Pada masa itu, air bersuhu ruangan adalah air yang berbahaya. Air dingin menunjukkan air segar dari mata air atau sungai yang mengalir, dan air panas adalah air yang telah dimasak atau dibersihkan. Apa pun di antara keduanya, tentu saja mencurigakan dan mungkin tidak berharga.
Jemaat di Laodikia tidak bersemangat atau dingin. Jemaat itu hanya puas mempertahankan posisi status quo. Jemaat itu tidak bersemangat tentang masalah-masalah aktuil kehidupan Kristen atau tidak berperasaan tentang hal-hal itu. Mereka tidak peduli akan keadaan di sekitarnya karena merasa aman dalam keadaan mereka sendiri. Mereka merasa sudah terpilih dan tidak mungkin kehilangan keselamatan mereka. Sementara Yesus tidak memberikan teguran kepada jemaat di Filadelfia, Ia tidak memberikan pujian kepada jemaat Laodikia. Tidak seperti jemaat di Sardis yang menyadari adanya hal-hal yang kurang dan perlu dikuatkan, jemaat di Laodikia yakin tidak memiliki apa pun yang perlu diperbaiki. Dalam beberapa hal, jemaat-jemaat yang ada saat ini tidak panas atau dingin.
Seperti itu juga keadaan beberapa gereja di zaman ini. Mereka hanya terus melakukan kegiatan tradisional yang sama, menawarkan ajaran “teologi unggulan” yang seakan menjamin keselamatan para pengunjung, mengikuti gerakan-gerakan liturgi yang “steril”, dan dengan demikian membuat para anggotanya bersikap pasif dalam usaha untuk hidup dalam kekudusan. Mereka juga tidak tertarik untuk giat menginjil karena semua itu dianggap kurang berguna sebab Tuhan yang mahakuasa sudah menetapkan segalanya.
Aspek lain dari keinginan Yesus agar gereja saat ini menjadi “panas atau dingin” berkaitan dengan bagaimana kita menanggapi Injil. Mereka yang “panas” dalam hal-hal rohani terlibat secara mendalam dan berkomitmen pada iman. Namun, mereka yang dingin, setidaknya berada dalam posisi di mana mereka mengakui kelemahan mereka dan dengan demikian dapat diubah oleh pekerjaan Roh Kudus. Mereka yang “suam-suam kuku” memiliki cukup pengetahuan teologi tentang Kristus sehingga mereka tidak menolak Yesus, tetapi tidak memiliki cukup iman sejati untuk terlibat sepenuhnya dalam hidup sehari-hari. Hidup mereka tidak pernah berubah dari cara hidup lamanya. Kondisi itu, sebenarnya, lebih sulit diubah daripada mengubah orang yang tidak percaya yang sepenuhnya dingin!
Perlu diketahui, Laodikia tidak memiliki sumber air sendiri. Mereka bergantung pada kota Hierapolis di dekatnya untuk mendapatkan airnya. Hierapolis dibangun di sekitar banyak sumber air panas, sehingga mereka menikmati pasokan air panas yang melimpah yang dikirim ke Laodikia melalui saluran air. Akan tetapi, pada saat air mencapai Laodikia, air tersebut telah mendingin hingga suhu suam-suam kuku. Air tersebut perlu didinginkan atau dipanaskan kembali sebelum layak untuk dikonsumsi. Rasa suam-suam kuku dari kehidupan keagamaan jemaat Laodikia membuat Yesus merasa sangat sakit sehingga Ia ingin memuntahkan jemaat itu dari mulut-Nya.
Dalam ayat ini Yesus menggambarkan jemaat di Laodikia sebagai jemaat yang suam-suam kuku. Pada zaman dahulu, orang-orang biasa minum minuman panas atau dingin pada pesta-pesta mereka dan dalam persembahan keagamaan mereka, tetapi mereka tidak pernah minum minuman yang suam-suam kuku. Air seperti itu tidak enak diminum, dan ada alasannya: cairan tersebut lebih mungkin mengandung kuman. Sekarang, pada hari yang panas, orang-orang merasa minuman dingin menyegarkan, dan pada hari yang dingin mereka merasa minuman panas menyegarkan, tetapi tidak seorang pun yang menyukai minuman yang suam-suam kuku.
Ini juga merupakan analogi yang berguna untuk penginjilan. Mereka yang “panas” secara rohani terlibat dalam iman mereka. Mereka yang “dingin” memiliki kesempatan untuk dipengaruhi dengan cara yang kuat oleh Injil. Namun, mereka yang “suam-suam kuku” sebenarnya berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada mereka yang “dingin.” Mereka tahu “cukup” tentang Yesus, jadi mereka tidak menolak, tetapi mereka juga agak tidak peduli dengan suara-Nya. Dari sudut pandang Yesus, sebenarnya lebih baik untuk menjadi “dingin” secara rohani, karena itu berarti mereka lebih mungkin memperhatikan panggilan Tuhan.
Sungguh indah untuk diingat pagi ini bahwa Juruselamat kita tidak mencurahkan diri-Nya bagi kita dengan cara yang suam-suam kuku. Dia tidak merendahkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang ragu-ragu. Dia tidak canggung dengan pergaulan-Nya dengan para murid-Nya. Sebaliknya, Dia menjadi Gembala Utama kita, dan sudah menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Allah tidak akan menoleransi kekristenan yang suam-suam kuku atau hati yang hanya sebagian menjadi milik-Nya. Mereka yang acuh tak acuh mungkin saja belum pernah menerima uluran tangan-Nya!