Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Antara koma dan titik harus ada iman

“Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” 2 Korintus 5: 6 – 7

Ever onward, no retreat! Maju terus, pantang mundur! Demikianlah pesan Presiden Sukarno dalam derap langkah politiknya. Memang di tahun 1960-an situasi politik global semakin mengombang-ambingkan negara-negara yang baru merdeka. Karena itu, keputusan untuk berdiri di atas kaki sendiri dan melangkah terus pantang mundur dianggap sebagai jalan terbaik agar tak terjatuh dan terdesak oleh bangsa-bangsa dari tatanan dunia lama. Tidak dapat disangkal bahwa hidup di era itu tidaklah mudah, dan saya masih ingat ketika rakyat dianjurkan untuk makan jagung untuk mengatasi masalah kekurangan beras. Walaupun ada orang yang merasa bahwa ekonomi negara pada saat itu sudah berhenti, masih banyak orang yang percaya bahwa itu adalah hanyalah untuk sementara. Bukan titik, tapi koma.

Membedakan titik dan koma tentunya tidak sulit bagi orang yang melek huruf. Walaupun demikian, banyak orang yang kurang mengerti bagaimana menempatkan koma dan titik pada posisi yang tepat dalam sebuah kalimat. Begitu juga, orang sering bingung dalam hidup ini mengenai hal yang serupa. Bagaimana kita tahu bahwa apa yang kita alami masih berakhir dengan sebuah koma dan bukan titik? Bagaimana kita yakin bahwa penderitaan dan masalah yang kita hadapi sekarang ini hanya untuk sementara dan bukannya titik akhir? Bagaimana kita bisa yakin bahwa dalam perjuangan hidup ini kita belum “masuk kotak” atau “tamat”?

Menjelang akhir hayatnya saat dia menulis surat cinta terakhirnya kepada suaminya, George Burns, komedian terkenal Gracie Allen menulis, “Jangan pernah menempatkan titik di mana Tuhan telah menempatkan koma.” Cara lain untuk menjelaskan pemikiran di balik apa yang ditulis Gracie Allen adalah, “Jangan masukkan Tuhan ke dalam kotak!” Tuhan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun dan apa pun, dan jika Ia di pihak kita, tidak ada yang perlu kita takuti. Itu teorinya.

Ketika segala sesuatunya terlihat buruk, ketika kita menghadapi berbagai krisis, reaksi kita, berdasarkan cara berpikir manusiawi, sering kali bisa berupa kepasrahan, kekalahan, atau keputusasaan. Adalah umum, jika manusia tidak melihat jalan keluar dari situasi atau krisis yang dihadapi, mereka akan bersiap untuk menyerah. Fatalisme mungkin datang dan mereka menyangka bahwa semua itu sudah kehendak Tuhan. Dan sejujurnya, jika itu tergantung pada kekuatan kita sendiri, akan benar apa yang kita rasakan. Alkitab meyatakan bahwa Allah mampu, melalui kuasa-Nya yang besar yang bekerja di dalam kita, untuk melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3: 20). Kita mungkin tidak sanggup menghadapi masalah yang ada, tapi Tuhan bisa! Tuhan dapat menempatkan sebuah koma di mana kita akan menempatkan sebuah titik.

Dalam Injil Markus, kita membaca tentang Yairus, seorang pemimpin sinagoga, yang putrinya jatuh sakit parah. Yairus pergi kepada Yesus untuk memohon kepada-Nya, meminta Yesus untuk datang dan menumpangkan tangan atas putrinya agar dia dapat hidup (Markus 5:22-23). Yesus pergi bersama Yairus, tetapi dalam perjalanan ke rumah Yairus ada orang yang membawa berita bahwa putri Yairus telah meninggal. Orang itu menyarankan Yairus untuk tidak mengganggu Yesus karena gadis itu sudah mati. Titik.. Mendengar ini, Yesus mengatakan kepada mereka untuk tidak takut tetapi memiliki iman (Markus 5:35-36). Dengan kata lain, Yesus menghapus titik tersebut dari akhir sebuah kalimat dan menggantinya dengan sebuah koma.

Yesus lalu melanjutkan perjalanan-Nya ke rumah Yairus. Sesampainya di sana dan melihat banyak keributan dan tangisan, Yesus masuk ke dalam dan bertanya: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati; tetapi tidur.” Kerumunan orang hanya menertawakan Dia. Mereka tentunya yakin bahwa ada perbedaan nyata antara mati dan tidur, dan gadis muda ini pasti sudah mati. Titik! Tamat! Tetapi Yesus tahu bahwa itu bukanlah titik yang ada pada kehidupan gadis ini, tetapi koma. Dia pergi ke kamar di mana gadis yang mati itu berbaring, memegang tangannya dan berkata, “Hai anak,Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Gadis itu segera bangkit berdiri dan berjalan (Markus 5:38-42).

Ketika krisis membuat kita siap menyerah, dan ketika kita merasa kalah atau putus asa, janganlah kita melihat keterbatasan manusiawi kita sendiri, atau keterbatasan orang lain. Lihatlah ketidakterbatasan Tuhan. Ayat pembukaan di atas mengajarkan kita untuk tabah dalam menantikan pertolongan Tuhan. Ingatlah bahwa apa yang mungkin tidak mungkin bagi kita, bukanlah tidak mungkin bagi Tuhan. Bagi Allah segala sesuatu mungkin (Markus 10:27). Jangan menempatkan sebuah titik di mana Tuhan telah menempatkan sebuah koma. Dari kesaksian mereka yang sudah mengalami pertolongan Tuhan dalam hidup mereka, kita akan tahu bahwa antara sebuah koma dan sebuah titik mungkin ada banyak koma. Dan di antara koma-koma dan titik itu, seharusnya ada iman yang memastikan kita untuk pada akhirnya mendapat kemenangan abadi melalui darah Kristus.

Banyak yang diundang, tapi sedikit yang dipilih

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.” Matius 22: 9-10

Perumpamaan perjamuan kawin (Matius 22: 1-14) adalah perumpamaan tentang kemurahan Tuhan yang bersifat adil. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi.

Alkisah, ada seorang raja sedang mempersiapkan pesta pernikahan untuk putranya. Dia mengirim pelayannya untuk mengajak tamu undangan untuk hadir – tetapi tidak ada yang mau datang. Para pelayan sekali lagi dikirim dengan pesan, “Aku telah menyiapkan hidangan untuk anda, lembu dan anak sapi saya yang gemuk telah disembelih, dan semuanya sudah siap; datanglah ke perjamuan kawin ini” (Matius 22: 4).

Beberapa tamu mengabaikan para pelayan raja itu dan malah pergi ke ladang atau mengurus bisnis mereka. Yang lain menangkap para pelayan, menganiaya mereka dan kemudian membunuh mereka. Raja itu tentu sangat marah dan mengirim pasukan untuk menghancurkan para pembunuh dan membakar kota mereka. Dia kemudian menyuruh pelayannya untuk mengundang siapa pun yang mereka temukan, di jalanan, sehingga orang baik dan orang jahat memenuhi ruang perjamuan.

Di sini Yesus menggambarkan tawaran Injil, pertama kepada orang Yahudi dan kemudian kepada orang bukan Yahudi. Bangsa Yahudi dengan tegas menolak tawaran yang Tuhan berikan kepada mereka melalui para nabi-Nya. Untuk penolakan itu, Yesus mengumumkan penghakiman yang akan Allah berikan—penghancuran tentara Romawi atas Yerusalem pada tahun 70 M. Tetapi dalam rencana Allah, penolakan itu adalah kesempatan untuk menyebarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Hasilnya adalah “ruang perjamuan kawin itu penuh dengan tamu” (Mat. 22:10).

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi. Di akhir perumpamaan kita melihat interaksi antara raja dan seorang pria yang berpakaian tidak pantas di antara mereka yang datang. Dia memerintahkan para pelayan untuk mengikat orang ini dan melemparkannya ke dalam kegelapan di mana dia akan menangis dan menggertakkan giginya. Pria yang berpakaian tidak pantas itu mewakili golongan orang yang tidak mau untuk benar-benar mengikut Yesus. Perumpamaan itu diakhiri dengan kata-kata:”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Pesan yang cukup menakutkan. Apakah kita termasuk golongan ini?

Kalau kita bisa memahami kalimat penutup yang tajam ini, kita akan bisa memahami perumpamaan itu secara keseluruhan. Apa yang Yesus maksudkan dengan “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”? Untuk menjawabnya, kita harus memahami apa yang Yesus maksudkan di sini dengan “memanggil” dan “memilih.” Kata “panggil” dan “undang”beberapa kali muncul dalam perumpamaan. Para pelayan dikatakan “memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin” (Matius 22: 3). Para pelayan kemudian diperintahkan untuk “mengundang” orang-orang bukan Yahudi (Matius 22: 9).

Pola ini membantu kita memahami sifat panggilan dalam perumpamaan ini. Itu adalah panggilan atau undangan Allah melalui hamba-hamba-Nya—nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan pelayan-pelayan-Nya di Perjanjian Baru. Panggilan ini mengajak para pendengar untuk bertobat dan percaya akan kabar baik yang diberitakan oleh para pelayan-Nya. Adalah mungkin bagi kita untuk menolak undangan-Nya, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang menolak panggilan Allah untuk menerima keselamatan itu bersalah karena menolaknya.

Mereka yang datang ke perjamuan ternyata tidak semuanya menghargai undangan raja. Pria tanpa pakaian pesta di Matius 22:12 menanggapi undangan tersebut. Tetapi kurang pantasnya pakaiannya membuktikan bahwa ia tidak bermaksud untuk menghadiri pesta itu, dan karena itu ia dihukum dengan adil. Apakah yang dimaksud dengan “pakaian pesta”? Ini menggambarkan karunia keselamatan yang ditawarkan secara cuma-cuma dalam Injil. Hanya mereka yang menerima karunia inilah yang akan duduk di pesta pernikahan Anak Domba pada saat penyempurnaan segala sesuatu terjadi.

Siapakah mereka yang dengan tulus menanggapi panggilan dan menerima Kristus dalam iman? Yesus menyebut mereka “yang terpilih” atau “yang dipilih”. Inilah semua yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Efesus. 1:4). Hanya orang-orang pilihan ini yang akan menjadi kumpulan orang-orang yang ditebus ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan mereka akan menanggapi panggilan itu dengan tulus.

Karena Perjanjian Baru di tempat lain menggabungkan panggilan dengan pemilihan (lihat 2 Timotius 1:9; Roma 8:30), apa yang Yesus maksudkan ketika Ia mengatakan ada beberapa yang dipanggil tetapi tidak dipilih? Jawabannya terletak pada perbedaan yang diperlukan untuk memahami cara para penulis Alkitab berbicara tentang “panggilan”. Dalam perumpamaan ini, Yesus berbicara tentang “panggilan” dalam arti eksternal. Ini adalah panggilan Allah melalui pesan Injil. Panggilan ini mengajak pria dan wanita untuk datang kepada Kristus melalui pertobatan dan iman. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang. Tetapi hanya orang-orang pilihan yang mengalami panggilan internal.

Alkitab berbicara tentang “panggilan” dalam arti internal. Misalnya, Paulus berbicara tentang panggilan internal ini dalam 1 Korintus 1:24—ini adalah pekerjaan Roh Kristus yang efektif dan menyelamatkan dalam hubungannya dengan panggilan eksternal Injil. Panggilan internal ini dengan kuat dan efektif mengubah orang berdosa untuk berubah pelan-pelan menjadi seperti Yesus Kristus. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang, dan di zaman modern ini tidaklah banyak yang belum mendengar nama Yesus. Tetapi hanya orang-orang pilihan yang akan, pada waktu yang ditetapkan Tuhan, mengalami panggilan internal. Bagi mereka, Injil memang adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan” (Roma 1:16).

Apa pelajaran utama yang Yesus miliki bagi kita dalam perumpamaan yang mengejutkan dan meresahkan ini? Pertama, tidak sedikit yang menolak panggilan Allah melalui utusan-Nya. Mereka yang tidak mau mendengarkan kabar keselamatan yang disampaikan hamba Tuhan. Mereka yang ke gereja hanya untuk bersosial, atau mereka yang sama sekali menolak ajaran Kristen. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban mereka yang menolak panggilan itu pada hari penghakiman. Kedua, Yesus ingin kita menyadari bahwa ada cara yang lebih halus untuk menolak panggilan itu. Seseorang mungkin hanya berbasa-basi untuk menerima panggilan eksternal tetapi tidak pernah benar-benar mau mendengarkan suara Yesus seperti yang ditawarkan dalam panggilan itu. Bagaimana nasib kita jika berlaku sedemikian? Kabar buruknya adalah kita tidak memiliki kekuatan dalam diri kita sendiri untuk mengubah hati kita yang memberontak. Kabar baiknya adalah Allah mau mengubah hati orang yang memberontak dengan kuasa Roh-Nya yang tak terkalahkan. Dalam hal ini, Tuhanlah yang menentukan siapa orang yang dipilih-Nya, dengan cara serta pada waktu yang ditetapkan-Nya, dan karena itu kita yang sudah diselamatkan patutlah tetap mau untuk menyampaikan undangan-Nya selama hidup di dunia.

Jika kita telah menanggapi panggilan eksternal dengan pertobatan dan iman, itu juga bukan karena usaha kita. Itu terjadi hanya karena Allah telah terlebih dahulu bekerja di dalam kita untuk mengubah kita menjadi umat-Nya di dalam Kristus. Tanpa karunia Allah kita hanya dapat menolak semua panggilan Allah. Keselamatan benar-benar hanya karena kasih karunia Allah. Kebenaran ini memang bisa membuat kita resah, tetapi Yesus membuat kita berpikir dalam-dalam mengenai hidup kita karena suatu alasan. Dia ingin kita menemukan keselamatan dan hidup di dalam Dia saja, yang hanya oleh kasih karunia. Dan hanya di dalam Kristus kita dapat menemukan keselamatan yang kekal dan tak tergoyahkan.

Kebebasan iblis dan manusia ada batasnya

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Perumpamaan (Inggris: parable) adalah kiasan, metafora yang diperluas, cerita yang menggunakan tindakan atau keadaan umum yang dirancang untuk menggambarkan kebenaran spiritual, prinsip, atau pelajaran moral. Kata parable berasal dari kata Yunani parabole, yang berarti menempatkan di samping atau berdampingan untuk tujuan perbandingan. Sebuah perumpamaan biasanya dapat diidentifikasi dengan penggunaan kata “seperti.” Ini adalah metode pengajaran yang paling sering digunakan Yesus.

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk melambangkan kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia (Matius 13: 38) dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini dibayangkan seperti padang yang ditumbuhi gandum dan lalang. Gandum melambangkan anak-anak Allah, sedangkan lalang melambangkan anak-anak iblis. Gandum dan lalang dibiarkan hidup bersama oleh pemilik ladang untuk sementara waktu.. Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya kelompok manusia atau pribadi yang berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah bagi umat Tuhan, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firman-Nya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi? Mengapa Tuhan membiarkan iblis dengan bebas mengacaukan dunia dengan memakai orang-orang mau diperalatnya?

Adalah kenyataan bahwa meskipun setiap orang memiliki kebebasan; seperti Adam dan Hawa, tidak semua orang mau menurut perintah Tuhan. Tuhan telah menyediakan firman-Nya dan menyatakan kehendak-Nya di halaman-halaman Alkitab yang mengungkapkan kebenaran tentang segala sesuatu yang dibutuhkan umat manusia untuk memiliki hubungan yang penuh kasih dengan-Nya dan menjadi pemenang dalam hidup ini. Setiap manusia diberikan kesempatan untuk memilih, apakah mereka mau menjadi alat iblis atau menjadi milik Tuhan. Menjadi lalang atau gandum.

Kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan untuk orang yang jahat dan orang yang baik (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan yang ada di dunia, mempunyai keberadaan sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan, yang baik maupun yang buruk, kehidupan manusia tetap berjalan dan mereka yang percaya bisa senantiasa berharap atas kasih dan pertolongan Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan juga yakin bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepada-Nya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Yesus Kristus datang ke dunia ini membuat penebusan dan keselamatan tersedia bagi seluruh umat manusia. Selama berabad-abad, iblis dengan seizin Tuhan agaknya bebas untuk menipu dan menjebak sebanyak mungkin manusia yang mau mendengarkan bujukannya. Berabad-abad telah berlalu dan generasi telah datang dan pergi, tetapi saatnya akan tiba di mana Tuhan akan memisahkan lalang dari gandum. Selama ini Tuhan masih bersabar, dan memberikan kesempatan bagi setiap manusia untuk bertobat. Tetapi, jika manusia tidak mau untuk memilih jalan yang benar, pada akhirnya apa yang akan terjadi pada mereka adalah seperti lalang yang akan dibakar habis dan menjadi abu. Kebebasan iblis dan pengikutnya akan berakhir pada saat yang sudah ditentukan Tuhan.

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Bagaimana Allah bekerja untuk umat-Nya

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ayat di atas adalah salah satu ayat Alkitab yang sering dihafalkan dan diucapkan orang Kristen ketika mengunjungi mereka yang lagi tertimpa kemalangan.Walaupun ayat ini bisa membawa penghiburan, harapan dan bimbingan kepada mereka yang bersedih hati, jika diucapkan pada saat yang kurang tepat dan dengan pengertian yang kurang cocok, ayat ini justru bisa menambah kesedihan. Mengapa begitu?

Memang kebanyakan orang beriman tahu bahwa kekuatiran dan kesedihan yang berlarut-larut adalah tidak berguna karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dalam Alkitab ada tertulis ayat-ayatnya dan para pendeta pun sering mengajarkannya. Tetapi, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Lebih mudah untuk mereka yang mengamati, daripada orang yang menjalani tantangan hidup.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada orang percaya, yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Bukan untuk mereka hanya yang ke gereja, tetapi mereka yang mengenal siapakah Tuhan itu. Tuhan yang mahakuasa, mahatahu dan mahakasih.Orang yang sudah mengalami perubahan dalam hidupnya dan ingin menjadi seperti Yesus. Yesus yang turun dari surga sebagai manusia biasa, hanya saja tidak berdosa, dan yang sudah mengalami penderitaan dan bahkan mati di kayu salib. Apa yang dialami-Nya selama di dunia dipakai Allah untuk kebaikan orang percaya sesuai dengan rencana-Nya.

Sering kali orang yang mengalami musibah diberi nasihat penghiburan yang berdasarkan pada ayat di atas. Tuhan bisa memakai pengalamanmu untuk membuat hal-hal yang baik di masa depan, mungkin begitu nasihat yang sering kita terima. Bagi orang yang tidak atau belum mengenal Tuhan, nasihat sedemikian bisa menimbulkan salah faham dan kemarahan; apakah Tuhan memakai hal-hal buruk yang terjadi saat ini untuk mencapai hasil yang baik? Tuhan macam apa itu?

Sekalipun kita sudah percaya kepada Yesus, apa yang terjadi dalam hidup ini sering tidak kita mengerti arti dan gunanya. Apa yang kita pandang baik belum tentu membawa kebaikan. Apalagi apa yang buruk, kita tidak bisa membayangkan gunanya. Itu semua karena apa yang kita mengerti adalah terbatas jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan dan karena itu sering tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.

Apa yang dimaksudkan ayat di atas sebenarnya adalah Tuhan memakai segala sesuatu yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita, baik itu suka atau duka untuk kebaikan kita. Itu bukan berarti bahwa apa pun yang terjadi saat ini adalah baik dan indah. Jika seseorang kehilangan seseorang yang dicintai, tentu bisa merasa sedih dan terpukul. Karena itu kita harus mempunyai rasa empati dan simpati kepada orang itu. Ayat ini jika diucapkan pada waktu yang kurang tepat dan dengan nada yang kurang cocok, justru bisa membuat orang yang sedih menjadi makin sedih.

Memang ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah mahakuasa. Ia bisa membuat apa yang kita lihat sebagai hal yang buruk saat ini dan hal-hal lain untuk menjadi apa yang baik bagi mereka yang percaya, dan itu pada saat yang ditentukan Tuhan. Tetapi, ayat ini juga menyatakan adanya hubungan kasih antara orang itu dan Tuhannya. Tuhan yang mahakasih bisa membawa kebaikan kepada anak-anak-Nya sekalipun apa yang terjadi saat ini nampak seperti kegagalan , kehilangan, penderitaan dan bahkan malapetaka.

Tuhan tidak pernah mencobai anak-anak-Nya tetapi Ia mungkin menguji iman kita. Tuhan tidak pernah menjatuhkan umat-Nya dan mendatangkan penderitaan hanya untuk menunjukkan bahwa Ia adalah mahakuasa. Ini berarti, pada saat kita mengalami kesulitan atau duka yang bukan akibat kesalahan kita, janganlah kita hanya memusatkan pikiran kita pada hal-hal itu saja karena bukan hanya itu yang dipakai Tuhan menurut rencanaNya untuk membawa kebaikan bagi hidup kita. Tuhan memakai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya untuk membawa mereka makin dekat kepada-Nya.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Dibalik semua peristiwa, Tuhan yang mahatahu bekerja untuk rencana agung-Nya. Memang duka adalah duka dan adalah wajar jika bisa merasakannya sebagai suatu penderitaan. Tetapi, baik suka maupun duka, semua yang terjadi dalam hidup kita dan bahkan dalam dunia akan membawa orang yang beriman untuk makin dekat dan serupa dengan Yesus yang pernah mengalami segalanya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Mungkinkah Tuhan menakdirkan kita ke neraka?

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain” Roma 9: 22-24

Sewaktu saya masih berkantor di Sydney, saya sering melihat seseorang yang membawa sebuat plakat yang bertuliskan “Bertobatlah agar kamu tidak ke neraka”. Orang ini berdiri di persimpangan dekat City Hall dan semua orang tentunya tahu bahwa ia bermaksud untuk mengabarkan Injil. Injil adalah kabar baik, tetapi pesan orang itu mungkin ditafsirkan sebagai kabar buruk oleh sebagian orang. Maklum, sebagian orang menolak adanya Tuhan atau adanya neraka. Konsep neraka agaknya bukan kabar baik untuk banyak orang.

Bagi kita, adanya neraka dan surga merupakan kabar baik. Itu karena orang yang sudah diselamatkan melalui darah Yesus tidak akan pergi ke neraka setelah meninggalkan dunia ini. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen masih merasa ragu akan jaminan keselamatan Tuhan. Itu karena adanya ayat di atas, ada beberapa ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah sudah menentukan siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka sejak awalnya, karena Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada mereka yang dipilih-Nya. Ini bisa membuat sebagian orang Kristen berpikir apakah ia atau seorang yang dikenalnya memang termasuk golongan yang sudah “ditakdirkan” untuk ke neraka. Ini tentu saja bisa menimbulkan rasa gelisah dan sedih kepada mereka yang berharap bahwa Tuhan sudah menakdirkan mereka untuk ke surga.

Haruskah orang Kristen percaya bahwa Tuhan menakdirkan manusia ke neraka? Konsep Tuhan yang mahakasih sering dianggap bertentangan dengan adanya neraka. Tetapi kita harus sadar bahwa karena Tuhan adalah mahasuci, semua manusia seharusnya dihukum untuk pergi ke neraka. Jika ada orang yang diselamatkan itu berarti Tuhan mengampuni dosa mereka yang sebenarnya tak terampuni.

Alkitab menegaskan bahwa Allah mengatur apa yang ada di alam semesta. Jadi hidup dan dosa manusia tidaklah di luar pemeliharaan Tuhan yang mengatur segalanya. Tetapi hal predestinasi, pemilihan dan panggilan keselamatan merujuk pada karunia yang dibagikan Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Alkitab tidak menekankan kebalikannya: takdir ke neraka, penetapan untuk gagal, atau panggilan untuk berbuat dosa. Tuhan tidak membuat manusia berdosa, tetapi setiap orang sudah berdosa sejak lahir. Kita mengakui bahwa Tuhan memang mengeraskan hati Firaun (Keluaran 7: 3), namun Firaun bertindak sesuai dengan kapasitas alami dan kehendak bebasnya untuk melakukan kejahatan, sementara Tuhan mengarahkan tindakan jahatnya untuk mencapai tujuan-Nya. Dalam pengertian ini, tidak ada yang ada di luar kendali Allah.

Tentu saja bagi sebagian orang, mengapa dan bagaimana Tuhan sejak mulanya memilih orang yang akan diselamatkan dan orang yang akan dihukum adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Namun kita harus meninggalkan usaha untuk memahami hal yang misterius ini. Tuhan itu baik. Tuhan adalah kasih. Dan Dia bertindak dari adanya kelimpahan kebaikan dan kasih-Nya untuk memberikan kehidupan. Penyebab penghukuman kita adalah dosa kita. Hanya kesabaran dan kasih karunia ilahi yang mencegah adanya penghakiman terakhir bagi kita (Rom 2: 4). Tuhan tidak menyebabkan dosa; manusia sendiri yang melakukannya. Sebaliknya, Tuhan melakukan regenerasi hati pada siapa saja yang dikasihi-Nya sehingga mereka dapat mengalami kasih karunia ilahi yang melampaui kapasitas alami mereka. Dalam hal ini kita tidak tahu atau bisa memastikan apakah orang tertentu memang termasuk dalam pilihan-Nya.

Jadi, adanya predestinasi adalah berhubungan erat dengan kasih karunia Tuhan. Itulah yang pada saatnya bisa dirasakan dan diyakini oleh setiap orang yang sudah dipilih-Nya, sekalipun keselamatannya mungkin masih dipertanyakan oleh orang lain. Oleh karena itu, orang yang percaya bahwa dirinya sudah diselamatkan seharusnya tetap giat mengabarkan kabar baik ke seluruh penjuru dunia. Kita tidak bisa berkata bahwa orang itu, golongan itu atau bangsa itu sudah ditentukan Tuhan untuk ke neraka. Bagi kita tidak ada istilah “Tuhan menakdirkan manusia ke neraka” karena dosa tanpa pertobatanlah yang menyebabkan penghukuman atas manusia.

Jika kita sekarang berusaha untuk menjadi makin sempurna dalam Kristus selama hidup di dunia, itu menandakan bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, dan kita harus yakin bahwa kita sudah diselamatkan. Tetapi perbuatan baik apa pun yang kita lakukan bukanlah yang menyelamatkan kita. Hanya kasih karunia cuma-cuma yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, dan itu melalui iman di dalam Kristus Yesus yang memperkenalkan kebenaran-Nya kepada kita melalui Roh Kudus.

Berdoa dan bersyukur

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Apa guna kita berdoa? Dulu sering kita mendengar semboyan Ora et Labora, berdoa dan bekerja. Tetapi, sekarang banyak orang yang tidak percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang sudah tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk bekerja saja.

Ada juga orang yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain mungkin berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman saja. Karena itu mereka menganggap orang Kristen yang sering berdoa sebagai orang “melempem”, yang tidak punya aspirasi atau cita-cita.

Selain itu, ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya termasuk kebiasaan berdoa kita. Mereka mungkin merasa bahwa doa itu adalah hanya sesuatu yang diharuskan Tuhan yang berdaulat. Mereka mungkin berpikir bahwa doa itu sebenarnya tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencana-Nya. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang mahasuci. Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan pada jam-jam tertentu seperti dalam agama lain.

Memang ada orang Kristen yang kurang percaya bahwa Tuhan akan mempertimbangkan doa manusia, tetapi Alkitab mempunyai banyak contoh bahwa berkat dan pertolongan Tuhan turun kepada mereka yang rajin berdoa. Dalam hal ini, kebanyakan orang Kristen lebih rajin untuk berdoa ketika mereka menghadapi masalah kehidupan. Mereka yang takut dan kuatir menghadapi topan kehidupan biasanya ingin untuk “membangunkan” Tuhan, persis seperti apa yang dilakukan murid-murid Yesus ketika perahu mereka diterpa angin keras di danau Tiberias, sekalipun mereka percaya Tuhan yang berdaulat sudah menetapkan apa yang terjadi.

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apa pun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat di atas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan atau merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Dengan mengingat bagaimana Yesus berdoa dengan khusyuk kepada Bapa di taman Getsemani, kita akan menyadari bahwa berdoa adalah cara komunikasi yang sangat penting dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenai-Nya. Jika kita kenal baik dengan Dia, kita bisa menerima bahwa kehendak-Nyalah yang harus terjadi. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilakan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang mahakasih.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk dan sukses sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang mahakudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Kita harus menyadari bahwa dalam keadaan apa pun, Tuhan yang mahakuasa selalu lebih besar dari masalah kita. Kasih-Nya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita. Semua itu terbukti dengan penebusan dosa kita oleh darah Yesus. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, biarlah kita bisa mempunyai rasa syukur karena Ia tidak pernah meninggalkan kita. Dan dengan rasa syukur itu, kita akan bisa memohon segala apa yang kita butuhkan, agar itu bisa terjadi apabila sesuai dengan kehendak-Nya.

Kehendak Tuhan dan kebebasan manusia

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10

Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menetapkan segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Walaupun sebagian lagi orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa Tuhan menentukan mereka yang akan dikirim ke surga dan mereka yang ke neraka tanpa mempertimbangkan iman dan pernyataan iman mereka selama hidup di dunia. Manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman. Tetapi sudah barang tentu, siapa pun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus. Dan oleh bimbingan Roh Kudus, mereka yang percaya akan bisa menyatakan iman mereka dalam berbagai perbuatan baik yang memuliakan Tuhan.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Memang sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik dalam diri manusia yang bisa memenuhi standar Allah. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan. Memang, hanya karena anugerah Tuhan mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima hidup yang kekal di surga. Walaupun demikian, tidaklah benar bahwa Tuhan selalu memaksakan kehendak-Nya kepada mereka yang tidak mau percaya kepada-Nya atau tidak peduli akan adanya surga dan neraka.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, manusia memang diberi kebebasan untuk memilih apa yang diingini selama hidup di dunia. (Kejadian 2: 16). Tetapi, jika manusia tidak mau tunduk kepada firman Tuhan, kehendak bebas akan membawa mereka kepada pilihan yang buruk. Kebebasan manusia dengan demikian bukanlah sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan dan firman-Nya. Manusialah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup mereka. Mereka yang pada akhirnya masuk ke neraka, tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil karena mereka akan disadarkan bahwa selama hidup di dunia, mereka tidak mau taat kepada firman Tuhan.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Selama hidup di dunia, setiap orang bisa menghendaki apa pun, tetapi belum tentu mendapatkannya. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya akan terjadi. Karena itu kita harus meniru Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26: 39

Kehendak kita hanya bisa terjadi sejauh mana Allah mengizinkan dan tidak lebih jauh. Manusia bisa menghendaki apa pun, tapi tidak ada usaha kita yang mengalahkan kedaulatan dan rencana Tuhan.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35

Jika demkian, apakah kita tidak benar-benar mempunyai kehendak bebas? Sebagai umat Kristen kita bebas untuk melakukan apa saja atau mengambil keputusan selama hidup di dunia. Tetapi kita tidak boleh menggunakan kebebasan itu untuk membuat murka Allah. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan karena kita bukanlah pion-pion Allah. Kewajiban kita adalah menggunakan kehendak bebas (yaitu tanpa paksaan) yang diberikan-Nya kepada kita untuk diselaraskan dengan kehendak-Nya selama hidup di dunia. Kita tidak boleh dengan sombong memakai kebebasan yang kita punyai untuk mengabaikan kedaulatan Allah. Sebaliknya, dengan kerendahan hati kita berserah kepada-Nya:

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Satu hal penting yang harus kita sadari, Tuhan belum tentu menghentikan tindakan manusia sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak bisa mempersalahkan Tuhan jika ia jatuh ke dalam dosa. Tuhan sudah tahu sebelum dosa dilakukan manusia dan rencana-Nya tetap bisa berjalan tanpa bergantung pada hidup dan perbuatan manusia. Itulah sebabnya ada banyak hal menyedihkan yang terjadi ketika manusia tidak mau hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa sebagai umat Kristen kita bertanggung-jawab atas apa pun yang kita sudah lakukan dengan kehendak bebas kita baik mengenai soal jasmani maupun rohani.

Hidup kita, pilihan kita

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 11

Empat Kebebasan adalah pidato yang dibacakan Franklin D. Roosevelt di Depan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada 6 Januari 1941. Ide-ide yang tercantum dalam pidato tersebut adalah prinsip-prinsip dasar yang berkembang menjadi Piagam Atlantik yang dinyatakan oleh Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt pada Agustus 1941, Deklarasi PBB pada tanggal 1 Januari 1942 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi oleh PBB pada tahun 1948.

Empat Kebebasan (Four Freedoms) yang sangat penting dalam negara demokrasi adalah kebebasan beragama, kebebasan pers, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan berkumpul. Empat kebebasan tersebut merupakan hak asasi manusia yang harus dijamin keberadaannya oleh negara. Memang kebebasan dari penindasan adalah salah satu ciri ajaran Kristen yang dilandasi oleh hukum kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Kebebasan adalah sesuatu yang berharga yang diberikan oleh Tuhan kepada Adam dan Hawa, adalah anugerah yang bisa dipakai untuk memilih apa yang baik dalam hidup ini, asal tidak digunakan untuk melawan kehendak Tuhan (Kejadian 2: 15 – 17).

Jika prinsip kebebasan berpendapat adalah hal yang mendasar dalam negara hukum, banyak negara yang belum dapat menerapkannya sebagai bagian hak asazi manusia. Memang membela kebenaran memang bisa mengandung risiko besar. Karena itu tidak semua orang mau ikut campur. “Pokoknya saya tidak ikut-ikut!”, begitulah jawaban mereka yang melihat kejahatan, ketimpangan dan kejanggalan dalam masyarakat. Memang banyak orang yang memilih untuk berdiam diri, sekalipun apa yang terjadi adalah hal yang tidak baik.

Mencampuri urusan orang lain jelas membawa risiko bahwa mereka akan membenci kita. Pada zaman perang dunia kedua misalnya, Hitler dan komplotannya melakukan berbagai tindakan represif di negara Jerman dan jajahannya. Karena itu, banyak orang Kristen yang abstain dalam usaha menegakkan kebenaran. Sebagai alasan, mungkin orang Kristen bisa saja menyebutkan bahwa mereka tidak mau mengadili orang lain, atau mereka lebih mencintai perdamaian. Sebagian lagi, mungkin menghibur diri dengan menyatakan bahwa apa yang ada adalah sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan dan karena itu mereka harus mau menerimanya. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan memberi manusia kesempatan untuk membuat pilihan yang bisa memengaruhi nasib mereka. Manusia benar-benar memiliki kehendak bebas.

Adalah kenyataan bahwa dalam hidup banyak orang yang menyesali mengapa mereka tidak bertindak apa-apa ketika ada hal-hal yang jahat terjadi. Pengecut! Egois! Begitulah hati kecil mereka berkata. Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Bukankah dengan berdiam diri engkau berpihak kepada mereka yang jahat? Itulah suara hati banyak orang Kristen yang melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, tetapi memilih untuk tidak bertindak atau justru lari menjauh. Roh Kudus menegur karena mereka gagal untuk menegakkan kebenaran Tuhan. Menegakkan kebenaran dan keadilan adalah salah satu ciri orang Kristen yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa.

Ayat di atas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, adalah salah satu ayat yang mengandung nasihat praktis untuk hidup sebagai umat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita bertanggung jawab tidak saja untuk apa yang kita lakukan, tetapi juga untuk reaksi kita atas apa yang diperbuat orang lain. Tindakan aktif dan proaktif mana yang kita lakukan, tergantung pada pilihan kita. Sebagai manusia, secara individu kita bebas untuk mempunyai keinginan dan harapan (free will). Jika kita membiarkan adanya perbuatan-perbuatan kegelapan di sekitar kita, itu sama saja dengan menyetujuinya. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita memperoleh mandat budaya (Kejadian 1: 28) untuk ikut mau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Apa yang ada di dunia belum tentu dikehendaki Tuhan, karena itu Tuhan menghendaki kita untuk menjadi umat-Nya yang mau membawa terang surgawi ke dunia.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Apakah Tuhan menentukan semua pilihanku?

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” Kejadian 3: 17

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, tetapi juga percaya bahwa manusia membuat pilihan yang berarti. Tapi bagaimana keduanya bisa benar?

Ayat di atas bisa kita pakai untuk membahas hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia. Apakah kedaulatan Tuhan bertentangan dengan kemampuan Adam untuk membuat keputusan yang penting dan berdampak besar pada seluruh umat manusia? Apakah Tuhan dengan kedaulatan-Nya sengaja membuat Adam melanggar perintah-Nya agar Ia dapat mengirim manusia yang tidak dipilih-Nya ke neraka?

Tuhan memegang kendali penuh atas segala sesuatu. Inilah yang dimaksud orang Kristen ketika mereka menyebut Tuhan “berdaulat.” Kedaulatan, atau otoritas Tuhan, adalah mutlak. Rencana-Nya bagi dunia tidak dapat ditantang atau dicegah. Apa yang Tuhan katakan akan terjadi pastilah terjadi. Pada pihak yang lain ada pilihan kita; pilihan praktis dan keputusan moral yang kita buat setiap hari, sesuai dengan kemampuan yang berbeda-beda yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Alkitab menunjukkan kepada kita contoh sempurna tentang hubungam kedaulatan Tuhan dan pilihan manusia dalam kematian Yesus. Kematian Yesus di kayu salib dimaksudkan oleh Allah untuk menyelamatkan orang berdosa. Tetapi Yesus dibunuh oleh orang-orang yang menginginkan Dia mati. Mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka, meskipun itu adalah bagian dari rencana Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa kedua hal di atas benar. Bahkan, dikatakan bahwa dalam semua rencana-Nya, Tuhan mampu melewati seluruh pilihan manusia sebagai agen moral, termasuk tindakan dosa yang dipilih secara bebas! Segala sesuatu yang kita lakukan adalah apa yang ingin kita lakukan, sementara juga menjadi bagian dari rencana Tuhan. Semua itu adalah apa yang Tuhan pakai untuk menggenapi rancangan-Nya.

Hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia memang sulit untuk kita pahami, apalagi untuk menerimanya. Itu adalah kebenaran yang terlalu besar untuk kita pahami sepenuhnya. Satu yang jelas, setiap orang bertanggung jawab untuk apa yang diperbuatnya. Tuhan selalu memegang kontrol atas segala sesuatu tanpa harus memperlakukan manusia sebagai robot. Tuhan yang mahakuasa tidak akan kuatir atau terkejut melihat tindakan manusia, karena Ia tahu sebelum itu terjadi dan mampu untuk bertindak apa saja untuk mencapai rencana-Nya.

Sekalipun hal di atas sulit dimengerti dan bisa menciptakan kebingungan dan kadang-kadang rasa frustrasi, itu juga memberi kita harapan: Tuhan sedang mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia, dan kita dapat percaya bahwa tidak ada pilihan manusia dan usaha iblis yang bisa menghentikan Dia dari penggenapan rencana-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut q dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28