
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
— Filipi 4:11

Kalau ada yang bertanya, “Kalau harus memilih, lebih baik kaya atau sehat?” kebanyakan orang akan menjawab, “Tentu sehat.” Lalu sering ditambahkan ungkapan yang populer, “Banyak orang ingin kaya, tetapi ketika sakit baru sadar bahwa kesehatan lebih berharga.”
Sekilas kalimat itu terdengar bijaksana. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kekayaan dan kesehatan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kita tidak harus memilih salah satunya. Ada orang yang kaya dan sehat. Ada yang kaya tetapi sakit. Ada yang hidup sederhana namun sehat. Ada pula yang miskin dan bergumul dengan penyakit.
Bahkan di zaman sekarang, menjaga kesehatan sering kali membutuhkan biaya. Makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, operasi, asuransi, dan fasilitas medis semuanya memerlukan uang. Kekayaan memang bukan jaminan kesehatan, tetapi dapat menjadi sarana untuk memelihara kesehatan. Sebaliknya, kesehatan yang baik juga dapat menolong seseorang bekerja dengan lebih produktif. Keduanya dapat saling mendukung.
Di sisi lain, ukuran “kaya” maupun “sehat” ternyata juga relatif.
Seseorang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan tabungan melimpah mungkin masih merasa dirinya belum kaya karena selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih berada. Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang hidup tenang, bersyukur, dan merasa cukup.
Demikian pula dengan kesehatan. Hasil pemeriksaan medis seseorang mungkin sangat baik, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan, kepahitan, atau kesepian. Apakah orang seperti itu benar-benar sehat? Sebaliknya, ada orang yang harus hidup dengan penyakit kronis, tetapi wajahnya tetap memancarkan damai sejahtera karena ia mengenal Kristus. Tubuhnya lemah, tetapi jiwanya kuat.
Karena itu, persoalan terbesar manusia sebenarnya bukan kekurangan uang ataupun gangguan kesehatan. Persoalan terbesar adalah hati yang tidak pernah merasa cukup.
Itulah sebabnya perkataan Paulus dalam Filipi 4:11 sangat mengesankan. Ia berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Perhatikan bahwa Paulus mengatakan, “telah belajar.” Rasa cukup bukanlah sesuatu yang muncul secara alami. Hati manusia cenderung selalu menginginkan lebih. Lebih banyak harta, lebih baik kesehatan, lebih besar kenyamanan, lebih tinggi kedudukan. Setelah satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya.
Namun Paulus belajar sesuatu yang jauh lebih berharga daripada memperoleh kekayaan atau kesehatan yang sempurna. Ia belajar hidup dengan hati yang puas di dalam Tuhan.
Ketika menulis surat Filipi, Paulus bukan sedang menikmati kehidupan yang nyaman. Ia berada dalam penjara. Ia pernah mengalami kelaparan, penganiayaan, kekurangan, bahkan kelemahan fisik. Namun semua itu tidak mampu merampas damai sejahteranya.
Mengapa?
Karena rasa cukupnya tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada Kristus.
Inilah rahasia yang sering dilupakan dunia. Dunia berkata, “Kalau saya lebih kaya, saya akan puas.” Yang lain berkata, “Kalau saya sembuh total, saya baru bisa bersyukur.” Tetapi firman Tuhan mengajarkan kebalikannya. Bersyukurlah sekarang, maka engkau akan belajar menikmati apa yang Tuhan percayakan hari ini.
Ada satu ayat lain yang sangat mendukung cara hidup orang Kristen, yaitu:
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”
— 1 Timotius 6:6
Ayat ini tidak berkata bahwa kekayaan adalah keuntungan terbesar, atau kesehatan adalah keuntungan terbesar, melainkan ibadah yang disertai rasa cukup. Dalam bahasa Yunani, kata autarkeia (rasa cukup) menunjuk pada kepuasan batin yang tidak bergantung pada keadaan lahiriah. Bagi orang percaya, rasa cukup itu bukan berasal dari kekuatan diri sendiri, tetapi dari pemeliharaan Kristus.
Tentu kita tetap boleh bekerja keras, mengelola keuangan dengan bijaksana, dan menjaga kesehatan sebaik mungkin. Semua itu adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai pengelola berkat Tuhan. Namun jangan sampai hati kita bergantung pada semua itu.
Kekayaan adalah anugerah Tuhan. Kesehatan juga anugerah Tuhan. Tetapi rasa cukup di dalam Kristus adalah anugerah yang membuat kita mampu menikmati keduanya tanpa diperbudak olehnya, dan tetap bersandar kepada Tuhan ketika salah satunya berkurang.
Jadi, jika ada yang bertanya, “Pilih kaya atau sehat?” mungkin jawabannya bukan memilih salah satu.
Lebih baik berdoa, “Tuhan, berikanlah kepadaku hati yang selalu merasa cukup di dalam Engkau untuk selama hidupku.” Sebab orang yang telah belajar mencukupkan diri akan tetap bersyukur ketika diberi kelimpahan, tetap setia ketika mengalami kekurangan, tetap rendah hati ketika sehat, dan tetap berharap ketika sakit. Itulah kekayaan rohani yang tidak dapat dirampas oleh keadaan apa pun.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas setiap berkat yang Engkau percayakan kepada kami, baik kesehatan, kemampuan bekerja, maupun rezeki yang kami terima setiap hari. Ajarlah kami memiliki hati yang selalu merasa cukup di dalam Kristus. Jangan biarkan kami diperbudak oleh keinginan akan lebih banyak harta atau putus asa ketika kesehatan kami menurun. Mampukan kami mensyukuri setiap keadaan, tetap setia kepada-Mu, dan menemukan damai sejahtera yang hanya berasal dari-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”
— Kisah Para Rasul 17:25

Ketika mendengar Amanat Agung, (Matius 28:19) sebagian orang Kristen langsung merasa terbebani. Mereka berpikir, “Bagaimana kalau saya gagal membawa orang kepada Kristus? Bagaimana kalau saya tidak pandai berbicara? Bagaimana kalau saya ditolak?” Akibatnya, penginjilan menjadi sumber rasa bersalah dan tekanan, bukan sukacita.
Namun, di tengah semua itu, Kisah Para Rasul 17:25 memberikan sebuah pengingat yang sangat melegakan. Paulus berkata bahwa Allah “tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa.” Kalimat ini mengubah cara kita memandang pelayanan.
Allah tidak membutuhkan manusia. Dialah Pencipta langit dan bumi, yang memberikan hidup, napas, dan segala sesuatu kepada semua orang. Jika Allah tidak membutuhkan kita untuk menciptakan alam semesta, tentu Ia juga tidak membutuhkan kita untuk menyelamatkan manusia. Keselamatan adalah pekerjaan Roh Kudus. Hanya Allah yang dapat membuka hati seseorang, melahirbarukan, dan memberikan iman kepada orang berdosa.
Kebenaran ini membebaskan kita dari beban yang seharusnya tidak pernah kita pikul. Kita bukan juruselamat. Kita hanyalah utusan. Tugas kita adalah memberitakan Injil dengan setia; hasilnya berada sepenuhnya di tangan Tuhan. Karena itu kita tidak perlu stres seolah-olah keselamatan seseorang bergantung pada kemampuan kita. Kita menanam, kita menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
Di saat yang sama, kebenaran ini juga menghancurkan kesombongan rohani. Tidak ada tempat untuk berkata, “Saya telah menyelamatkan banyak orang.” Tidak ada juga kecenderungan untuk menyalahkan orang lain yang dianggap gagal dalam misinya. Tidak seorang pun mampu menyelamatkan jiwa manusia. Jika ada seseorang bertobat melalui kesaksian kita, itu sepenuhnya karena anugerah Allah yang bekerja melalui firman-Nya. Semua kemuliaan kembali kepada-Nya.
Lalu muncul pertanyaan: jika Allah tidak membutuhkan kita, mengapa Ia tetap memerintahkan kita mengabarkan Injil?
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”
— Matius 28:19
Jawabannya sungguh indah. Allah mengundang kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Ia tidak membutuhkan kita, tetapi Ia berkenan memakai kita. Itu bukan karena kemampuan kita, melainkan karena kasih karunia-Nya.
Bayangkan seorang ayah yang sedang membuat sebuah meja kayu. Anak kecilnya datang menghampiri dan ingin membantu. Sang ayah sebenarnya dapat menyelesaikan semuanya jauh lebih cepat sendirian. Namun ia memberikan sebuah amplas kecil kepada anaknya. Bukan karena ia membutuhkan bantuan anak itu, melainkan karena ia ingin anaknya merasakan sukacita bekerja bersama ayahnya.
Demikian pula Allah. Melibatkan kita dalam pelayanan bukanlah kerja rodi dari surga, melainkan sebuah kehormatan yang luar biasa. Tugas memberitakan Injil berubah dari perasaan, “Saya harus,” menjadi ucapan syukur, “Saya boleh.” Betapa besarnya anugerah ketika Sang Raja semesta alam berkenan memakai hidup kita sebagai alat-Nya.
Lebih daripada itu, Allah mengizinkan kita menikmati sukacita-Nya sendiri. Tuhan Yesus berkata bahwa ada sukacita di surga karena satu orang berdosa bertobat. Ketika kita menjadi saksi Injil dan melihat seseorang mulai mengenal Kristus, bertumbuh dalam iman, atau menemukan pengharapan baru, kita sedang merasakan secuil kebahagiaan surgawi itu.
Sukacita seperti ini tidak dapat dibeli dengan uang, jabatan, ataupun harta. Ada kepuasan batin yang mendalam ketika melihat hidup seseorang dipulihkan oleh kasih karunia Tuhan. Kita sadar bahwa kita hanyalah alat yang dipakai-Nya, tetapi justru di situlah letak kebahagiaan itu. Allah mengizinkan kita ikut menyaksikan karya keselamatan-Nya.
Akhirnya, ayat ini juga memurnikan motivasi pelayanan kita. Kita tidak melayani agar Tuhan berutang budi kepada kita. Kita tidak menginjili supaya memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di hadapan-Nya. Kita melayani karena hati kita telah lebih dahulu disentuh oleh Injil.
Orang yang mengerti anugerah tidak akan berkata, “Tuhan membutuhkan saya.” Sebaliknya ia akan berkata, “Betapa ajaibnya, Tuhan yang tidak membutuhkan siapa pun justru berkenan memakai saya.”
Di sinilah letak keistimewaan Amanat Agung. Allah yang tidak membutuhkan kita justru berkenan memakai kita sebagai penyampai kabar terbaik yang pernah didengar dunia. Alam memberitakan kemuliaan Allah tanpa suara (Mazmur 19:2-5), tetapi gereja dipanggil memberitakan kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus dengan suara yang lantang.
Itulah semangat Amanat Agung yang sejati. Kita pergi bukan untuk menggantikan pekerjaan Allah, melainkan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan yang sudah dan sedang dikerjakan-Nya. Kita bukan penyelamat dunia. Kristuslah Juruselamat. Kita hanyalah saksi yang bersukacita menceritakan kabar baik tentang Dia.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau tidak membutuhkan kami, namun dalam kasih karunia-Mu Engkau berkenan memakai kami. Jauhkan kami dari rasa takut, kesombongan, dan motivasi yang salah dalam melayani-Mu. Pakailah hidup kami sebagai saksi Kristus, sehingga banyak orang mengenal kasih dan keselamatan-Mu. Biarlah kami menikmati sukacita melihat karya-Mu terjadi dalam hidup orang lain, sementara seluruh kemuliaan hanya bagi nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
— Yohanes 14:27

Siapa yang tidak pernah khawatir?
Seiring bertambahnya usia, sering kali daftar kekhawatiran justru semakin panjang. Tubuh tidak lagi sekuat dahulu. Penyakit datang silih berganti. Anak-anak dan cucu mempunyai pergumulan mereka sendiri. Harga-harga terus naik. Berita perang, bencana, dan ketidakpastian ekonomi memenuhi layar televisi dan telepon genggam. Hari demi hari, dunia seakan menyediakan alasan baru untuk merasa cemas.
Di siang hari, mata kita melihat banyak hal yang mengusik hati. Ketika malam tiba dan suasana menjadi sunyi, pikiran mulai mengulang semuanya. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab muncul satu demi satu. Bagaimana kalau penyakit ini bertambah parah? Bagaimana masa depan keluarga saya? Bagaimana kalau tabungan tidak cukup? Bagaimana kalau saya tidak sanggup menghadapi hari esok?
Mungkin kita pernah berusaha mengusir semua pikiran itu, tetapi semakin dilawan, semakin kuat rasanya.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa rasa khawatir juga dapat menjadi panggilan Tuhan agar kita berhenti mengandalkan diri sendiri?
Kekhawatiran mengingatkan kita bahwa kita bukan Tuhan. Kita tidak dapat mengendalikan masa depan. Kita tidak sanggup menambah sehasta pun pada jalan hidup kita. Selama kita merasa mampu mengatur segalanya, kita mudah lupa kepada Tuhan. Tetapi ketika kekuatan kita mencapai batasnya, barulah kita menyadari betapa kita membutuhkan Dia.
Karena itu, masalah sebenarnya bukanlah bahwa kita pernah merasa khawatir. Yang menjadi persoalan adalah jika kekhawatiran itu mengambil alih tempat yang seharusnya ditempati oleh Tuhan di dalam hati kita.
Yesus mengucapkan Yohanes 14:27 bukan ketika keadaan sedang tenang. Justru saat itu salib sudah di depan mata. Murid-murid akan segera mengalami ketakutan, kebingungan, dan kehilangan. Namun Yesus tidak berkata, “Aku akan menghilangkan semua masalahmu.” Sebaliknya, Ia berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.”
Damai yang diberikan dunia bergantung pada keadaan. Selama semuanya baik-baik saja, hati terasa tenang. Tetapi ketika keadaan berubah, damai itu pun lenyap.
Damai yang diberikan Kristus berbeda. Damai itu lahir dari keyakinan bahwa hidup kita berada di dalam tangan Bapa yang penuh kasih dan berdaulat. Kita mungkin tidak memahami jalan yang sedang kita lalui, tetapi kita mengenal Pribadi yang memimpin langkah kita.
Itulah sebabnya orang percaya masih dapat tersenyum di tengah air mata, masih dapat berharap ketika hasil pemeriksaan dokter belum sesuai harapan, masih dapat tidur dengan tenang meskipun hari esok belum pasti. Bukan karena persoalannya kecil, tetapi karena Tuhan yang diandalkannya jauh lebih besar daripada persoalannya.
Mungkin Anda kenal lagu “Ku Tak Tahu Hari Esok” telah menghibur banyak orang percaya selama puluhan tahun. Pesannya sederhana tetapi sangat dalam: kita memang tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang hari esok.
Bait yang paling dikenal berbunyi:
Ku tak tahu hari esok,
Namun langkahku tegap.
Bukan surya kuharapkan,
Kar’na surya ’kan lenyap.
O tiada ku gelisah,
Akan masa menjelang.
Ku berjalan serta Yesus,
Maka hatiku tenang.
Pengarang lagu tersebut, Ira Forest Stanphill (1904–1993), menulisnya pada masa yang penuh ketidakpastian. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke banyak bahasa dan menjadi penghiburan bagi orang-orang yang menghadapi perang, penyakit, kehilangan, maupun masa tua.
Begitu juga, setiap kali rasa khawatir datang, jangan biarkan ia mendorong kita menjauh dari Tuhan. Jadikanlah kekhawatiran itu sebagai undangan untuk semakin dekat kepada-Nya. Biarlah setiap berita yang menggelisahkan berubah menjadi doa. Biarlah setiap ketidakpastian menjadi kesempatan untuk berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup, tetapi Engkau sanggup.”
Semakin bertambah usia, kita akan semakin menyadari bahwa hidup ini memang tidak pernah benar-benar berada dalam kendali kita. Namun itu bukan kabar buruk. Justru itulah kabar baiknya. Hidup kita sejak semula berada di dalam tangan Tuhan yang tidak pernah salah memimpin.
“Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok. Dan itu sudah cukup.”
Karena itu, jangan ukur damai sejahtera dari sedikitnya masalah yang kita hadapi. Ukurlah dari besarnya kepercayaan kita kepada Kristus. Ketika hati mulai gelisah, ingatlah kembali janji-Nya: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Damai itu bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi, melainkan anugerah yang menopang hati sampai akhir perjalanan hidup kita.
Doa Penutup
Bapa yang penuh kasih, kami mengakui betapa mudah hati kami dikuasai oleh kekhawatiran. Ajarlah kami menjadikan setiap kecemasan sebagai alasan untuk datang lebih dekat kepada-Mu. Penuhi hati kami dengan damai sejahtera Kristus, sehingga dalam segala keadaan kami tetap percaya bahwa Engkau memegang hidup kami dan tidak akan pernah meninggalkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
— Yesaya 46:4

Hampir semua orang pernah mengkhawatirkan masa depan. Anak muda cemas apakah akan mendapatkan pekerjaan yang baik. Orang tua memikirkan biaya hidup dan pendidikan anak-anak. Mereka yang memasuki usia pensiun bertanya-tanya apakah kesehatan akan tetap terjaga dan apakah tabungan akan cukup. Bahkan banyak lansia yang diam-diam takut kehilangan daya ingat atau menjadi beban bagi keluarga.
Sesungguhnya, yang paling menakutkan bukanlah kenyataan bahwa kesulitan bisa datang. Yang membuat kita gelisah adalah karena kita tidak tahu seberapa berat kesulitan itu nantinya. Kita tidak dapat melihat hari esok. Ketidakpastian sering kali lebih menakutkan daripada penderitaan itu sendiri.
Namun, di tengah kecemasan itu, Tuhan memberikan janji yang begitu indah melalui nabi Yesaya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia… Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
Perhatikan bahwa Tuhan tidak berjanji hidup tanpa masalah. Sebaliknya, Dia berjanji bahwa apa pun yang terjadi, Dia sendiri akan memikul umat-Nya. Fokus janji ini bukanlah pada jalan yang selalu mulus, melainkan pada Pribadi yang setia menyertai kita sepanjang perjalanan.
Mazmur 23 melukiskan kebenaran yang sama dengan gambaran yang berbeda. Daud berkata, “TUHAN adalah gembalaku.” Seekor domba tidak mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya. Domba hanya mengenal gembalanya. Selama gembala berjalan di depan, domba dapat mengikuti dengan tenang.
Begitulah kehidupan orang percaya. Kita tidak mengetahui seluruh rencana Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan, bulan depan, bahkan besok pagi. Tetapi kita mengenal Dia yang memegang seluruh hidup kita.
Ada sebuah lagu lama yang telah menghibur banyak orang selama puluhan tahun. Syairnya berbunyi:
“Ku tak tahu akan hari depan…”
Lagu itu tidak mengajarkan sikap optimistis yang kosong. Sebaliknya, lagu itu mengakui bahwa banyak hal tidak kita pahami. Namun refreinnya memberikan penghiburan yang luar biasa:
“Banyak hal tak kupahami dalam masa menjelang; tapi t’rang bagiku ini: tangan Tuhan yang pegang.”
Inilah inti iman Kristen. Iman bukan berarti mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Iman berarti mempercayai Tuhan yang telah memegang masa depan.
Penghiburan ini sangat berarti bagi setiap tahap kehidupan. Bagi anak muda, Tuhan memegang masa depan karier dan keluarga. Bagi orang yang sedang bergumul menghadapi masalah hidup, Tuhan memegang jalan keluar yang mungkin belum terlihat. Bagi mereka yang memasuki masa tua, Tuhan tidak pernah berkata, “Sekarang engkau harus berjalan sendiri.” Sebaliknya, Dia berkata, “Aku akan menggendong kamu.”
Dalam pandangan iman Kristen, martabat seseorang tidak ditentukan oleh kuat atau lemahnya tubuh, tajam atau pudarnya ingatan, ataupun banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki. Nilai kita terletak pada kenyataan bahwa kita dikasihi oleh Tuhan yang tidak pernah berubah. Kita mungkin lupa banyak hal, tetapi Tuhan tidak pernah melupakan anak-anak-Nya. Kita mungkin tidak lagi mampu memegang banyak hal, tetapi tangan-Nya tidak pernah melepaskan kita.
Karena itu, marilah kita menjalani hidup satu hari demi satu hari dengan hati yang tenang. Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Kita tidak tahu apakah jalan di depan akan menanjak atau menurun, dipenuhi sukacita atau air mata. Namun kita mengetahui satu hal yang jauh lebih penting: Tuhan sudah ada di sana. Sang Gembala yang menuntun kita hari ini adalah Allah yang sama yang berjanji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia.” Maka kita dapat menyanyikan syair lagu itu dengan penuh keyakinan: “Ku tak tahu akan hari depan… tetapi t’rang bagiku ini: tangan Tuhan yang pegang.” Selama tangan-Nya memegang kita, tidak ada hari esok yang berada di luar pemeliharaan-Nya.
Doa Penutup
Bapa yang setia, kami mengakui bahwa kami sering cemas menghadapi masa depan. Tolong kami untuk tidak bergantung pada apa yang kami ketahui, tetapi kepada-Mu yang memegang hari esok. Ajarlah kami berjalan dengan iman, percaya bahwa Engkau akan menuntun, memikul, dan memelihara kami sampai akhir. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.”
— Ibrani 11:39

Ada kalanya kita memandang kalender dan mulai bertanya dalam hati, “Apakah waktuku sudah habis?” Usia terus bertambah, kesehatan tidak lagi sekuat dahulu, kesempatan semakin terbatas, dan beberapa doa yang telah dipanjatkan selama bertahun-tahun masih belum juga dijawab. Kita mulai bertanya-tanya, “Mengapa Tuhan masih menunda? Bukankah Dia sanggup memberikan yang lebih baik sekarang?”
Pertanyaan seperti ini bukanlah tanda bahwa iman kita telah hilang. Banyak tokoh Alkitab juga mengalaminya. Paulus memohon agar “duri dalam daging” diambil darinya, tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Tuhan memang tidak mengabulkan permohonan Paulus seperti yang diharapkannya, tetapi Dia memberikan sesuatu yang lebih berharga: penyertaan dan kasih karunia yang tidak pernah habis.
Demikian pula penulis Ibrani mengingatkan bahwa para pahlawan iman “tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu” selama hidup mereka. Nuh tidak melihat seluruh rencana keselamatan Allah. Abraham tidak menyaksikan lahirnya bangsa-bangsa yang dijanjikan. Musa tidak memasuki Tanah Perjanjian. Mereka meninggal sebelum melihat penggenapan penuh dari janji Allah.
Namun, apakah itu berarti iman mereka sia-sia? Sama sekali tidak. Justru Alkitab berkata bahwa iman mereka memberikan kesaksian yang baik. Kesetiaan mereka tidak diukur dari banyaknya doa yang terkabul selama hidup mereka, tetapi dari kepercayaan mereka kepada Allah yang selalu setia.
Sering kali kita mengira bahwa Tuhan terlambat karena kita mengukur waktu dengan jam dan kalender. Tetapi Tuhan bekerja menurut rencana-Nya yang sempurna. Apa yang menurut kita adalah penundaan, bisa jadi merupakan bagian dari hikmat-Nya yang jauh melampaui pengertian kita.
Lebih dari itu, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa kita akan melihat seluruh hasil pekerjaan-Nya semasa kita hidup di dunia ini. Ada doa yang dijawab pada masa hidup kita. Ada pula benih yang kita tabur dan baru akan berbuah bagi generasi berikutnya. Bahkan ada janji yang baru akan kita lihat penggenapannya secara sempurna di dalam kekekalan.
Karena itu, ketika kita mulai khawatir bahwa waktu sudah hampir habis, Tuhan mengajak kita mengalihkan perhatian dari lamanya penantian kepada kecukupan kasih karunia-Nya. Tuhan tidak selalu memberi kita penjelasan tentang masa depan, tetapi Dia selalu memberi kekuatan untuk menjalani hari ini.
Kasih karunia Tuhan bukan hanya mengampuni dosa, tetapi juga menopang langkah kita setiap hari. Ia tidak memberikan persediaan anugerah untuk seumur hidup sekaligus, melainkan cukup untuk hari ini, lalu diperbarui lagi esok pagi. Itulah sebabnya kita tidak perlu mengetahui seluruh jalan di depan kita. Kita hanya perlu berjalan bersama Dia selangkah demi selangkah.
Bagi mereka yang sudah memasuki usia lanjut, ayat ini membawa penghiburan yang mendalam. Mungkin kita tidak akan melihat semua anak cucu berjalan seperti yang kita doakan. Mungkin kita tidak akan menyaksikan semua pelayanan yang kita rintis berkembang. Mungkin kita tidak akan melihat semua pergumulan hidup terselesaikan. Mungkin juga kesehatan kita akan terus menurun. Namun itu bukan berarti Tuhan gagal menepati janji-Nya.
Allah yang memegang masa depan tidak dibatasi oleh panjang pendeknya umur manusia. Tidak satu pun janji-Nya akan gugur karena waktu kita di dunia telah berakhir. Jika ada penggenapan yang belum kita lihat sekarang, kita akan melihatnya kelak di hadapan-Nya. Di sana tidak akan ada lagi penyesalan karena merasa waktu telah habis. Yang ada hanyalah kekaguman melihat bahwa selama ini Tuhan tidak pernah terlambat.
“Waktu kita mungkin terbatas, tetapi kesetiaan Tuhan tidak pernah dibatasi oleh waktu.”
Orang percaya tidak hidup dari melihat semua janji Allah digenapi selama hidupnya, tetapi dari keyakinan bahwa Allah akan menggenapi semua janji-Nya, baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan.
Karena itu, jangan biarkan kekhawatiran tentang hari esok merampas damai sejahtera hari ini. Selama Tuhan masih memberi kita napas, berarti kasih karunia-Nya masih bekerja. Dan ketika perjalanan hidup ini berakhir, kasih karunia yang sama akan membawa kita pulang ke rumah Bapa, tempat semua janji Allah mencapai penggenapannya yang sempurna.
Doa:
Bapa yang setia, kami mengaku bahwa sering kali kami gelisah karena merasa waktu semakin singkat dan banyak doa yang belum kami lihat jawabannya. Ajarlah kami untuk tidak mengukur kesetiaan-Mu dengan kalender kami, melainkan dengan janji-Mu yang tidak pernah gagal. Berikanlah kepada kami hati yang tetap percaya bahwa kasih karunia-Mu selalu cukup, baik dalam masa penantian maupun ketika kami tidak memahami jalan-Mu. Tolonglah kami menjalani setiap hari dengan damai, sambil menyerahkan masa depan kami sepenuhnya ke dalam tangan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”
— Lukas 16:9
Bacaan: Lukas 16:1-9

Lukas 16:1-9 merupakan salah satu bagian Alkitab yang paling sulit dipahami. Sekilas, seolah-olah Yesus memuji seorang bendahara yang tidak jujur. Tentu bukan itu maksud-Nya. Yesus tidak pernah membenarkan ketidakjujuran. Yang dipuji adalah kecerdikan bendahara itu dalam mempersiapkan masa depannya. Ia sadar bahwa posisinya akan segera berakhir. Karena itu, ia memanfaatkan kesempatan yang masih ada untuk membangun hubungan dengan orang-orang yang suatu hari nanti dapat menerimanya.
Kata “Mamon” dalam ayat ini juga sering disalahpahami. Dalam konteks Lukas 16, mamon (bahasa Aram: mamona) bukan berarti uang itu sendiri jahat. Mamon adalah kekayaan atau harta duniawi yang bersifat sementara dan sering kali dikaitkan dengan dunia yang telah jatuh dalam dosa. Karena itu Yesus menyebutnya “Mamon yang tidak jujur” (unrighteous mammon), bukan karena setiap uang diperoleh secara curang, tetapi karena seluruh sistem kekayaan dunia berada di tengah dunia yang penuh ketidakadilan, keserakahan, dan dosa. Harta benda mudah disalahgunakan dan tidak dapat bertahan selamanya.
Tetapi, justru karena harta itu bersifat sementara, Yesus mengajarkan agar kita menggunakannya untuk tujuan yang kekal. Harta dapat dipakai untuk menolong orang lain, mendukung pelayanan, menunjukkan kemurahan hati, memulihkan hubungan, dan menjadi berkat bagi sesama. Ketika harta itu akhirnya tidak lagi berguna—entah karena habis, hilang, atau karena kita meninggal dunia—buah dari kasih dan kesetiaan yang telah kita lakukan tetap memiliki nilai di hadapan Allah.
Dari kisah yang mengejutkan ini, Yesus mengajarkan sebuah prinsip penting: orang percaya harus bijaksana menggunakan apa yang dipercayakan Tuhan untuk mempersiapkan masa depan yang kekal. Namun, perumpamaan ini juga mengandung hikmat yang sangat pragmatis dan realistis bagi kehidupan sehari-hari.
Kita hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dunia ini tidak sempurna. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan cara yang ideal. Kadang-kadang kita harus mengambil keputusan yang paling bijaksana di antara beberapa pilihan yang sama-sama tidak sempurna. Yesus mengetahui kenyataan itu. Karena itulah Ia menggunakan contoh seorang bendahara yang berpikir jauh ke depan, bukan untuk ditiru ketidakjujurannya, tetapi untuk diteladani kebijaksanaannya.
Salah satu pelajaran praktisnya adalah: jangan membakar jembatanmu.
Sering kali ketika sedang marah atau kecewa, kita mengucapkan kata-kata yang bisa merusak hubungan untuk selamanya. Kita keluar dari pekerjaan dengan penuh kemarahan. Kita meninggalkan gereja sambil menyalahkan semua orang. Kita memutuskan persahabatan karena merasa paling benar. Pada saat itu mungkin kita merasa lega. Namun beberapa tahun kemudian keadaan berubah. Orang yang pernah kita musuhi ternyata menjadi rekan kerja, tetangga, sesama pelayan, atau bahkan orang yang Tuhan pakai untuk menolong kita.
Bendahara dalam perumpamaan Yesus sadar bahwa masa depannya bergantung pada hubungan yang ia miliki. Sekali lagi, bukan caranya yang ditiru, melainkan kesadarannya bahwa relasi memiliki nilai yang sangat besar.
Sebagai orang Kristen, kita tentu tidak membangun hubungan melalui tipu daya, tetapi melalui kasih, kejujuran, kemurahan hati, dan kerendahan hati. Ketika memungkinkan, kita berusaha berdamai, meminta maaf, mengampuni, dan memulihkan relasi. Bukan karena kita mengabaikan kebenaran, tetapi karena kita sadar bahwa Allah sering kali memelihara kita melalui orang lain.
Kadang-kadang orang terlalu terpaku pada pertanyaan, “Siapa yang benar?” sehingga melupakan pertanyaan lain yang juga penting, “Apa yang paling membangun?” Alkitab tidak pernah meminta kita mengorbankan kebenaran demi kenyamanan. Namun Alkitab juga mengajarkan agar kita mengejar damai sejahtera dan hidup rukun sedapat-dapatnya dengan semua orang.
Di sinilah kita belajar membedakan antara “bagaimana seharusnya” dan “bagaimana baiknya.” Yang pertama berbicara tentang prinsip yang tidak boleh dikompromikan. Yang kedua berbicara tentang hikmat dalam menerapkan prinsip itu di dunia yang tidak sempurna. Orang yang dewasa secara rohani tidak hanya bertanya apakah tindakannya benar, tetapi juga apakah tindakannya membangun, memulihkan, dan memuliakan Tuhan.
Betapa sering Tuhan memakai orang-orang di sekitar kita sebagai alat pemeliharaan-Nya. Keluarga, sahabat, rekan kerja, tetangga, bahkan orang yang dahulu pernah berselisih dengan kita dapat menjadi saluran anugerah Tuhan pada waktu yang tidak kita sangka. Karena itu, jangan mudah membakar jembatan yang suatu hari mungkin masih akan kita lewati.
Marilah kita menjadi orang yang memegang teguh integritas, tetapi juga penuh hikmat; teguh pada kebenaran, tetapi lembut dalam kasih; berani membela prinsip, tetapi tidak tergesa-gesa menghentikan hubungan. Itulah kecerdikan yang diajarkan Yesus—bukan kecerdikan yang licik, melainkan hikmat yang melihat jauh ke depan dan hidup dengan kesadaran bahwa setiap relasi adalah kesempatan untuk memuliakan Tuhan.
Doa Penutup
Bapa di surga, berilah kami hati yang berhikmat dalam menjalani hidup di dunia yang tidak sempurna ini. Ajarlah kami memegang teguh kebenaran tanpa kehilangan kasih, serta memelihara hubungan yang Engkau percayakan kepada kami. Jauhkan kami dari sikap sombong, mudah marah, dan suka memutuskan hubungan. Pakailah kami menjadi pembawa damai dan alat pemeliharaan-Mu bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.”
— Matius 24:6

Setiap kali membuka berita, kita hampir selalu mendengar tentang perang atau ancaman perang. Konflik di Ukraina belum berakhir. Timur Tengah terus bergolak. Di berbagai belahan dunia lain, ketegangan antarnegara semakin meningkat. Tidak sedikit orang mulai bertanya-tanya, “Apakah ini tanda Perang Dunia yang baru?” Kekhawatiran seperti ini mudah menguasai hati, apalagi jika kita melihat begitu banyak negara mulai membentuk aliansi dan memperkuat persenjataan mereka.
Namun, jauh sebelum semua ini terjadi, Yesus sudah mengatakannya. Ia berkata bahwa kita akan mendengar “deru perang atau kabar-kabar tentang perang.” Dengan kata lain, peperangan bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi Tuhan. Sejarah manusia sejak kejatuhan ke dalam dosa memang dipenuhi oleh peperangan. Dari zaman Kain dan Habel hingga zaman modern, manusia terus berkonflik karena keserakahan, kebencian, ambisi, dan keinginan untuk berkuasa.
Yang menarik adalah apa yang Yesus katakan berikutnya: “Jangan kamu gelisah.” Tuhan tidak menyuruh kita mengabaikan kenyataan, tetapi Ia juga tidak ingin kita hidup dalam ketakutan. Mengapa? Karena sejarah dunia tidak berjalan tanpa arah. Di balik segala pergolakan, Allah tetap berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar pengetahuan dan izin-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tentu boleh berdoa agar perdamaian terjadi. Kita bersedih melihat penderitaan para korban perang. Kita berharap para pemimpin dunia mengambil keputusan yang bijaksana. Namun pada saat yang sama, kita juga percaya bahwa Allah tetap memegang kendali atas sejarah. Kerajaan-kerajaan dunia akan datang dan pergi, tetapi Kerajaan Allah tetap berdiri untuk selama-lamanya.
Namun, ada peperangan yang sesungguhnya jauh lebih dekat dengan kita daripada perang antarbangsa. Itu adalah peperangan rohani yang terjadi setiap hari di dalam kehidupan orang percaya. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pergumulan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan kuasa-kuasa kegelapan. Iblis tidak selalu menyerang melalui penganiayaan atau ancaman fisik. Sering kali ia bekerja melalui godaan yang halus, kesombongan, kekhawatiran, kepahitan, keputusasaan, atau berbagai distraksi yang menjauhkan hati kita dari Kristus.
“karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”
— Efesus 6:12-13
Jika kita terlalu sibuk mengamati peperangan dunia tetapi mengabaikan peperangan di dalam hati sendiri, kita justru sedang kehilangan kewaspadaan yang paling penting. Mungkin tidak ada bom yang jatuh di sekitar kita, tetapi hati kita dapat perlahan-lahan menjauh dari Tuhan. Mungkin negara kita hidup dalam damai, tetapi jiwa kita bisa dikalahkan oleh dosa yang tidak kita lawan.
Kabar baiknya, peperangan rohani ini tidak kita hadapi sendirian. Kristus telah memenangkan kemenangan yang menentukan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Iblis memang masih berusaha menggoda dan menakut-nakuti, tetapi ia adalah musuh yang sudah dikalahkan. Karena itu, kemenangan orang percaya tidak bergantung pada kekuatan dirinya sendiri, melainkan pada Kristus yang hidup di dalamnya.
Itulah sebabnya, ketika dunia dipenuhi kabar perang, Yesus tidak berkata, “Takutlah.” Sebaliknya, Ia berkata, “Jangan gelisah.” Mata kita tidak perlu terus terpaku pada berita-berita yang membuat cemas. Sebaliknya, pandangan kita harus tetap tertuju kepada Kristus, Raja di atas segala raja. Dialah yang memegang awal dan akhir sejarah. Tidak ada satu pun peristiwa yang dapat menggagalkan rencana-Nya bagi umat-Nya.
Selama kita masih hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, perang mungkin akan terus ada. Namun, suatu hari nanti Sang Raja Damai akan datang kembali. Pada saat itulah segala peperangan akan berakhir untuk selama-lamanya. Sampai hari itu tiba, marilah kita hidup dengan hati yang tenang, tetap berjaga-jaga, setia kepada Tuhan, dan berjuang memenangkan peperangan yang paling penting, yaitu tetap beriman kepada Kristus sampai akhir.
Doa Penutup
Bapa di surga, ketika kami mendengar kabar-kabar perang dan melihat dunia yang semakin tidak menentu, tolonglah kami agar tidak dikuasai oleh ketakutan. Teguhkan iman kami untuk tetap percaya bahwa Engkau memegang kendali atas sejarah. Berikan kami kekuatan untuk memenangkan peperangan rohani setiap hari dan tetap setia kepada Kristus sampai akhir hidup kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”
— Pengkhotbah 7:14

Pengkhotbah mengajak kita melihat hidup dengan jujur. Ada hari-hari yang penuh sukacita, tetapi ada juga hari-hari yang penuh air mata. Keduanya tidak lepas dari kedaulatan Allah. Namun, ketika kesulitan datang, pertanyaan yang sering muncul adalah: Kalau Tuhan itu baik, mengapa Dia mengizinkan hal-hal yang menyakitkan terjadi?
Hampir semua orang mudah percaya bahwa Tuhan itu baik ketika hidup berjalan lancar. Ketika tubuh sehat, keluarga harmonis, pekerjaan berhasil, dan doa-doa seakan langsung dijawab, mengakui kebaikan Tuhan terasa begitu mudah. Namun, ketika penyakit datang, kehilangan menimpa, atau doa belum juga dijawab, keyakinan itu mulai diuji.
Pengkhotbah mengingatkan bahwa hidup memang terdiri dari hari mujur dan hari malang. Keduanya berada di bawah kedaulatan Allah. Namun, kita perlu memahami ayat ini dengan benar. Ketika dikatakan bahwa Allah “menjadikan hari malang”, bukan berarti Allah adalah pencipta kejahatan atau pelaku dosa. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah itu kudus dan tidak mencobai siapa pun dengan kejahatan (Yakobus 1:13).
Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang berada di luar pemerintahan Allah. Dalam hikmat dan kasih-Nya, Ia dapat mengizinkan penderitaan, penyakit, bencana, bahkan kejahatan manusia terjadi, tetapi semuanya tetap berada dalam kendali-Nya. Tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya.
Mengapa Allah mengizinkan hal-hal yang menyakitkan? Kita tidak selalu mengetahui jawabannya. Pengkhotbah berkata bahwa Allah melakukan semuanya itu supaya manusia tidak dapat mengetahui masa depannya. Tuhan tidak membuka seluruh rencana-Nya kepada kita. Ia menghendaki agar kita hidup bukan dengan kepastian tentang masa depan, melainkan dengan iman kepada Dia yang memegang masa depan.
Ironisnya, justru melalui hari-hari yang sulit kita sering kali mengenal Tuhan lebih dalam. Ketika kita lemah, kita belajar bahwa anugerah-Nya cukup. Ketika kita kehilangan pegangan, kita menemukan bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya. Ketika kita tidak sanggup melangkah, kita merasakan kekuatan yang berasal dari Roh Kudus. Hari-hari yang gelap sering menjadi tempat di mana terang kasih Allah bersinar paling jelas.
Memang banyak orang mengira bahwa keberadaan kejahatan membuktikan Tuhan tidak ada atau tidak baik. Namun, dari sudut pandang Kristen, justru sebaliknya.
Rasul Paulus menulis bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penyakit tetap menyakitkan. Kematian tetap menyedihkan. Ketidakadilan tetap salah. Namun Allah bekerja di dalam semua itu untuk menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak-anak-Nya.
Jika tidak ada Tuhan, maka penderitaan hanyalah hasil proses alam yang acak. Tidak ada tujuan di baliknya, tidak ada pengharapan yang pasti, dan pada akhirnya semua berakhir dengan kematian. Tetapi jika Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih itu ada, maka penderitaan bukanlah kata terakhir. Penderitaan dapat memiliki makna, dapat membentuk karakter, dapat mendekatkan kita kepada Allah, dan pada akhirnya akan digantikan oleh kemuliaan yang kekal bagi mereka yang percaya kepada Kristus.
Karena itu, adanya penderitaan tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak baik. Sebaliknya, dalam penderitaan kita sering melihat betapa besar kuasa, kasih, kesabaran, pertolongan, dan kesetiaan-Nya. Kita mungkin tidak memahami alasan di balik setiap air mata, tetapi kita dapat mempercayai Pribadi yang memegang hidup kita.
Di usia senja, seseorang mulai menghadapi tubuh yang melemah, kehilangan orang-orang yang dikasihi, dan kesadaran bahwa hidup di dunia ini terbatas. Pada saat itulah pengharapan kepada Tuhan menjadi sangat berharga. Iman Kristen tidak menjanjikan hidup tanpa air mata, tetapi menjanjikan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, dan bahwa kematian bukanlah akhir bagi mereka yang ada di dalam Kristus.
Hari ini mungkin adalah hari yang penuh sukacita atau mungkin hari yang penuh pergumulan. Apa pun keadaan kita, marilah tetap bersyukur dan tetap berharap. Bergembiralah pada hari mujur tanpa menjadi sombong. Bertekunlah pada hari malang tanpa menjadi putus asa. Tuhan yang memimpin kita pada hari-hari yang cerah adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita melewati lembah yang gelap.
Selama kita mengenal Dia, kita tidak perlu mengetahui seluruh masa depan. Cukuplah kita percaya bahwa Allah yang memegang hari esok adalah Allah yang mahakuasa, mahakasih, dan selalu baik.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau tetap baik dalam setiap musim kehidupan. Ketika kami bersukacita, ajarlah kami untuk bersyukur. Ketika kami menderita, ajarlah kami untuk tetap percaya kepada kasih dan kuasa-Mu. Tolong kami melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kendali-Mu, dan pakailah setiap pengalaman hidup kami untuk membentuk kami semakin serupa dengan Kristus. Teguhkan iman kami agar kami tetap berharap kepada-Mu sampai akhir hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
— Galatia 6:7

“Hukum tabur tuai” adalah salah satu prinsip Alkitab yang sering dikutip. Namun, tidak sedikit orang memahaminya secara keliru. Saya sudah beberapa kali menampilkan renungan tentang hal ini, tetapi saya ingin membahasnya lebih lanjut karena pentingnya hal ini.
Ada orang yang menganggap bahwa setiap penderitaan pasti merupakan akibat dosa tertentu. Sebaliknya, setiap keberhasilan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang hidup benar. Pemahaman seperti ini dapat menyerupai konsep karma, seolah-olah hidup manusia diatur oleh hukum sebab-akibat yang bekerja secara otomatis.
Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Galatia 6:7 memang menegaskan bahwa Allah tidak dapat dipermainkan. Apa yang ditabur manusia akan dituainya. Orang yang terus menabur dosa akan menuai kerusakan. Sebaliknya, orang yang hidup menurut Roh akan menuai hidup yang berasal dari Roh. Ini adalah prinsip moral yang Allah tetapkan bagi kehidupan manusia.
Namun, prinsip ini tidak berarti bahwa setiap peristiwa dalam hidup dapat dijelaskan dengan rumus yang sederhana. Ayub adalah contoh yang jelas. Ia hidup saleh, tetapi mengalami penderitaan yang luar biasa. Asaf dalam Mazmur 73 pernah bergumul ketika melihat orang fasik justru hidup makmur. Bahkan Tuhan Yesus, satu-satunya Pribadi yang tidak pernah berbuat dosa, mengalami penghinaan, penolakan, dan kematian di kayu salib.
Semua contoh itu menunjukkan bahwa kita tidak boleh terburu-buru menghakimi orang yang sedang menderita. Tidak semua penderitaan merupakan akibat langsung dari dosa pribadi. Ada kalanya Allah mengizinkan penderitaan untuk membentuk iman, menyatakan kemuliaan-Nya, atau menggenapi rencana-Nya yang jauh melampaui pengertian kita.
Perbedaan terbesar antara hukum tabur-tuai menurut Alkitab dan konsep karma terletak pada Pribadi Allah. Dalam Alkitab, Allah adalah Pribadi yang hidup, berdaulat, adil, sekaligus penuh kasih karunia. Ia menetapkan bahwa dosa membawa konsekuensi, tetapi Ia juga berkuasa mengampuni orang yang bertobat. Allah tidak terikat oleh suatu hukum yang berjalan seperti mesin. Sebaliknya, hukum tabur-tuai berada di bawah kasih karunia dan kedaulatan-Nya.
Lebih dari itu, Injil menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Seandainya Allah menerapkan hukum tabur-tuai secara mutlak untuk keselamatan, tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di hadapan-Nya. Semua manusia telah berdosa dan seharusnya menuai hukuman kekal. Tidak ada seorang pun yang mampu berkata bahwa ia telah menabur kehidupan yang sempurna di hadapan Allah.
Tetapi kasih karunia Allah mengubah segalanya.
Di kayu salib, Yesus Kristus menanggung tuaian yang seharusnya menjadi bagian kita. Ia yang tidak berdosa menerima hukuman akibat dosa kita, supaya kita yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dan kebenaran-Nya. Allah tetap adil karena dosa tetap dihukum, tetapi Ia juga penuh kasih karena hukuman itu ditanggung oleh Kristus sebagai Pengganti kita.
Inilah sebabnya keselamatan tidak pernah diperoleh melalui usaha atau taburan perbuatan baik kita. Keselamatan adalah anugerah Allah semata melalui iman kepada Yesus Kristus.
Namun, kasih karunia bukanlah alasan untuk hidup sembarangan. Orang yang telah diselamatkan dipanggil untuk hidup dalam ketaatan. Pilihan-pilihan kita tetap membawa konsekuensi. Menabur kasih akan menghasilkan damai. Menabur kejujuran membangun kepercayaan. Sebaliknya, menabur kebohongan, keserakahan, atau dosa akan membawa kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Allah sebagai Bapa juga mendisiplinkan anak-anak-Nya demi kebaikan mereka.
Karena itu, marilah kita hidup dengan bijaksana. Jangan menabur dosa dengan harapan tetap bisa menuai berkat. Sebaliknya, marilah kita menabur kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan ketaatan kepada Tuhan. Bukan supaya kita memperoleh keselamatan, melainkan karena kita telah terlebih dahulu diselamatkan oleh kasih karunia-Nya.
Ketika kita gagal, jangan berputus asa. Datanglah kepada Kristus yang telah menanggung tuaian dosa kita. Di dalam Dia selalu tersedia pengampunan, pemulihan, dan kekuatan untuk memulai kembali. Hukum tabur-tuai mengingatkan kita akan keseriusan dosa, tetapi Injil mengingatkan kita akan besarnya kasih karunia Allah.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang adil sekaligus penuh kasih karunia. Ajarlah kami untuk hidup dengan bijaksana dan menabur hal-hal yang berkenan kepada-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan yang mengandalkan perbuatan sendiri maupun dari sikap sembrono yang menyalahgunakan kasih karunia-Mu. Terima kasih karena Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya kami tuai. Tolonglah kami hidup dalam ketaatan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang telah Engkau anugerahkan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
— Filipi 2:13

Salah satu ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan dan perubahan. Seorang bayi bertumbuh menjadi anak, kemudian menjadi dewasa. Pohon yang hidup akan terus bertumbuh dan pada waktunya menghasilkan buah. Sebaliknya, sesuatu yang tidak pernah berubah atau bertumbuh patut dipertanyakan apakah masih hidup.
Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Ketika seseorang percaya kepada Kristus, Allah tidak hanya mengampuni dosanya, tetapi juga mulai mengerjakan pembaruan di dalam dirinya. Itulah yang ditegaskan Paulus dalam Filipi 2:13. Allah sendiri yang bekerja di dalam orang percaya, bukan hanya memberi kemampuan untuk berbuat baik, tetapi juga membangkitkan kemauan untuk melakukannya. Dengan kata lain, perubahan hidup adalah hasil karya Roh Kudus, bukan sekadar usaha manusia.
Karena itu, setiap orang yang mengaku sebagai orang Kristen patut bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah saya mengharapkan adanya perubahan dalam hidup saya?” Bukan perubahan yang spektakuler dalam semalam, melainkan perubahan yang terus-menerus menuju keserupaan dengan Kristus.
Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang percaya akan langsung menjadi sempurna. Kita masih bergumul dengan dosa, masih jatuh, masih lemah, dan masih membutuhkan anugerah Tuhan setiap hari. Namun, arah hidup kita seharusnya berubah. Kita semakin membenci dosa, semakin mengasihi firman Tuhan, semakin mudah mengampuni, semakin rendah hati, dan semakin rindu menyenangkan hati Tuhan. Mungkin pertumbuhannya lambat, tetapi tetap ada.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila seseorang merasa bahwa pengakuan iman saja sudah cukup. Ia berkata bahwa dirinya percaya kepada Yesus, tetapi tidak peduli apakah hidupnya berubah atau tidak. Ia tidak merasa perlu bertobat, tidak peduli akan kekudusan, tidak tertarik untuk makin dekat kepada Tuhan, dan menganggap semua itu tidak penting karena merasa sudah “aman”. Sikap seperti ini bertentangan dengan ajaran Alkitab.
Yesus tidak hanya memanggil orang untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga menjadi murid yang menaati segala perintah-Nya. Amanat Agung (Matius 28:19-20) bukan sekadar membawa orang lain kepada keputusan percaya, melainkan membentuk mereka sendiri untuk bisa menjadi teladan bagi orang lain – sebagai murid yang hidup dalam ketaatan. Hidup kudus bukanlah syarat memperoleh keselamatan, tetapi merupakan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan Allah.
Karena itu, janganlah kita mendukakan Roh Kudus. Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya untuk membentuk karakter Kristus dalam hidup kita. Ketika kita dengan sengaja memelihara dosa, mengabaikan firman Tuhan, atau tidak peduli terhadap kekudusan, kita mendukakan Dia yang sedang mengerjakan pembaruan dalam diri kita.
Yesus berkata dengan tegas, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Matius 12:30). Tidak ada wilayah netral dalam mengikut Kristus. Tentu ayat ini bukan berarti setiap kali kita jatuh ke dalam dosa kita langsung menjadi musuh Kristus. Yang dimaksud adalah sikap hati yang terus menerus menolak pemerintahan-Nya dan gaya hidup yang tidak mau tunduk di bawah otoritas-Nya.
Maka, marilah kita menguji diri kita sendiri. Apakah kita masih memiliki kerinduan untuk bertumbuh? Apakah kita masih peka ketika Roh Kudus menegur kita? Apakah kita masih mengharapkan perubahan dalam hidup kita?
Kabar baiknya adalah, perubahan itu tidak bergantung pada kekuatan kita sendiri. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk hidup kudus; Dia sendiri yang bekerja di dalam kita. Ia mengubah hati kita, memperbarui keinginan kita, dan memampukan kita menjalani kehidupan yang semakin berkenan kepada-Nya.
Kiranya setiap hari kita semakin menyerupai Kristus. Bukan supaya Allah lebih mengasihi kita, melainkan karena Dia telah lebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita oleh anugerah-Nya. Biarlah dunia melihat karya Roh Kudus melalui kehidupan kita yang terus diubahkan, sehingga nama Kristus dimuliakan.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau bukan hanya mengampuni dosa kami, tetapi juga terus mengubah kami menjadi semakin serupa dengan Kristus. Tolonglah kami agar tidak berpuas diri dengan sekadar pengakuan iman, tetapi memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam kekudusan setiap hari. Jangan biarkan kami mendukakan Roh Kudus-Mu, melainkan mampukan kami hidup taat, rendah hati, dan menjadi saksi yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.