Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Semoga Banyak Untung

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” Filipi 3:7

Hari ini, banyak keluarga keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Di Australia, hari ini bukan hari libur nasional, tetapi suasana tetap terasa di beberapa sudut kota: lampion merah tergantung, meja makan dipenuhi hidangan istimewa, dan keluarga berkumpul dalam sukacita. Salah satu ucapan yang paling sering terdengar adalah Gong Xi Fa Cai. Banyak orang mengira ucapan ini berarti “Selamat Tahun Baru,” padahal maknanya lebih tepat adalah “Semoga menjadi kaya” atau “Semoga banyak rezeki.”

Ucapan itu mencerminkan harapan yang sangat manusiawi. Siapa yang tidak ingin hidup berkecukupan? Siapa yang tidak ingin usaha berhasil, kesehatan terjaga, dan masa depan anak-anak terjamin? Dalam tradisi Tionghoa, mendoakan kemakmuran bagi orang lain adalah bentuk kasih dan perhatian. Itu bukanlah sesuatu yang jahat. Bahkan Alkitab pun tidak pernah memuliakan kemiskinan sebagai tujuan. Tuhan mengetahui bahwa kita membutuhkan sandang, pangan, dan tempat tinggal.

Namun persoalannya bukan pada memiliki atau tidak memiliki, melainkan pada apa yang kita anggap sebagai “untung.”

Rasul Paulus pernah memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan. Ia terdidik, berstatus, dihormati, dan secara agama sangat saleh. Dalam standar dunia religius Yahudi saat itu, ia adalah figur yang berhasil. Tetapi dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ia membuat pernyataan yang mengejutkan: semua yang dahulu ia anggap keuntungan, sekarang ia pandang sebagai kerugian karena Kristus.

Di sini terjadi pergeseran nilai yang radikal. Dunia berkata: untung adalah posisi, reputasi, jaringan, kekayaan, dan pengakuan. Injil berkata: untung adalah mengenal Kristus.

Bagi Paulus, bukan berarti semua pencapaiannya tiba-tiba tidak bernilai secara sosial. Namun dibandingkan dengan kemuliaan mengenal dan dimiliki oleh Kristus, semuanya menjadi relatif, bahkan seperti sampah. Ia menemukan bahwa keuntungan sejati bukanlah apa yang dapat ia kumpulkan, tetapi Tuhan yang telah menemukannya.

Kita hidup di tengah budaya yang sangat menekankan keberhasilan finansial. Ukuran sukses sering kali terlihat dari rumah, investasi, kendaraan, atau stabilitas rekening. Bahkan tanpa sadar, doa-doa kita pun bisa lebih banyak berisi permohonan berkat materi daripada kerinduan akan kedekatan dengan Tuhan. Kita mudah sekali mengucapkan “semoga banyak untung” dengan arti yang sempit: bertambahnya harta dan lancarnya usaha.

Padahal, Alkitab mengingatkan bahwa kekayaan dapat menjadi jebakan. Bukan karena uang itu sendiri jahat, melainkan karena hati manusia mudah melekat padanya. Apa yang kita anggap sebagai untung bisa perlahan-lahan menggeser Kristus dari pusat hidup kita. Tanpa terasa, kita mulai mengukur kasih Tuhan dari jumlah berkat yang terlihat.

Sebaliknya, ada orang percaya yang secara ekonomi sederhana, tetapi kaya dalam iman, damai, dan pengharapan. Ada pula yang secara materi melimpah, namun tetap rendah hati dan menggunakan berkatnya untuk melayani Tuhan dan sesama. Jadi persoalannya bukan pada Imlek atau bukan, bukan pada kaya atau tidak, melainkan pada orientasi hati.

Merayakan Imlek bukanlah tradisi yang buruk bila kita memaknainya dengan benar. Berkumpul dengan keluarga, mendoakan kesejahteraan, berbagi sukacita—semua itu dapat menjadi kesempatan untuk bersyukur atas pemeliharaan Tuhan. Namun sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menafsirkan ulang makna “untung.”

  • Untung terbesar bukanlah ketika bisnis kita berkembang pesat, tetapi ketika iman kita bertumbuh di tengah tantangan.
  • Untung terbesar bukanlah ketika saldo bertambah, tetapi ketika kasih kita kepada Tuhan makin dalam.
  • Untung terbesar bukanlah ketika nama kita dikenal, tetapi ketika nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan.

Tahun baru sering menjadi momen evaluasi. Kita menoleh ke belakang, menghitung keberhasilan dan kegagalan. Kita membuat rencana dan target. Tidak salah merencanakan kemajuan finansial atau profesional. Namun di atas semua itu, marilah kita bertanya: apakah Kristus tetap menjadi harta termahal dalam hidup kita?

Jika suatu hari kita harus memilih antara mempertahankan reputasi atau setia kepada Kristus, mana yang kita sebut untung? Jika ketaatan membuat kita kehilangan kesempatan duniawi, apakah kita masih percaya bahwa kita tidak sedang rugi?

Paulus telah menemukan jawabannya. Ia kehilangan banyak hal demi Kristus, tetapi ia tidak merasa dirugikan. Ia justru merasa menemukan segalanya. Dalam Kristus ada pengampunan, identitas baru, damai sejahtera, dan pengharapan kekal—keuntungan yang tidak dapat dicuri inflasi, krisis ekonomi, atau kematian.

Maka ketika kita mendengar atau mengucapkan harapan akan “banyak untung” di tahun yang baru, biarlah hati kita terlebih dahulu tertuju kepada satu keuntungan yang tak tergantikan: mengenal Kristus dan hidup di dalam Dia.

Selamat Tahun Baru Imlek.

Doa Penutup

Tuhan yang setia,

Kami bersyukur untuk setiap berkat jasmani yang Engkau percayakan kepada kami. Engkau tahu kebutuhan hidup kami dan Engkau memelihara kami dengan kasih-Mu. Namun ajar kami untuk tidak menjadikan kekayaan, keberhasilan, atau reputasi sebagai pusat hidup kami.

Tolong kami memandang segala sesuatu dalam terang Kristus. Jika Engkau memberkati kami dengan kelimpahan, jagalah hati kami tetap rendah dan murah hati. Jika Engkau mengizinkan kekurangan, kuatkan iman kami agar tidak goyah.

Di tahun baru Imlek ini, biarlah keuntungan terbesar kami adalah semakin mengenal Engkau, semakin serupa dengan Kristus, dan semakin setia dalam panggilan kami. Ajarlah kami menghitung nilai hidup bukan dari apa yang kami miliki, tetapi dari siapa yang kami miliki di dalam Engkau.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Setan dan Sihir Dapat Menyerang Orang Kristen?

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6:12

Ada masa dalam hidup ketika seorang percaya mulai bertanya dengan jujur: jika Kristus sudah menang, mengapa saya masih mengalami tekanan, ketakutan, bahkan gangguan yang terasa gelap? Di tengah budaya Asia yang akrab dengan dunia mistik, pertanyaan tentang sihir dan kuasa kegelapan bukan sekadar teori. Ia hadir dalam cerita keluarga, bisikan tetangga, atau pengalaman pribadi yang sulit dijelaskan.

Rasul Paulus tidak menutup mata terhadap realitas itu. Dalam Efesus 6:12, ia menegaskan bahwa perjuangan orang percaya bukan sekadar konflik manusiawi. Ada dimensi rohani yang nyata. Alkitab tidak meremehkan keberadaan kuasa gelap. Namun Alkitab juga tidak membesar-besarkannya.

Di sinilah kita perlu keseimbangan. Teologi Kristen secara umum mengakui adanya peperangan rohani. Iblis dapat menyerang, mengganggu, mencobai, bahkan mencoba melumpuhkan efektivitas iman seseorang. Serangan itu sering muncul dalam bentuk ketakutan yang tidak rasional, kecemasan yang melumpuhkan, kebingungan rohani, konflik relasi, gangguan kesehatan, atau tekanan batin yang berat. Seperti yang terjadi pada Ayub, tujuannya jelas: membuat orang percaya tidak efektif, kehilangan damai sejahtera, dan meragukan kebaikan Tuhan.

Namun ada garis tegas yang juga diajarkan Kitab Suci. Orang yang telah ditebus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus tidak dapat dirasuki atau dikuasai secara permanen oleh kuasa kegelapan. Rasul Yohanes menulis, “Lebih besar Dia yang ada di dalam kamu daripada dia yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Kehadiran Roh Kudus bukan simbolik; Ia nyata, aktif, dan berdaulat.

Maka, dapatkah setan atau sihir “menyerang” orang Kristen? Ya, dalam arti gangguan atau pencobaan. Tetapi tidak dalam arti kepemilikan mutlak atas hidup orang percaya.

Ada kalanya orang berbicara tentang “pintu terbuka”: dosa yang tidak dibereskan, kepahitan yang dipelihara, ketakutan yang terus dirawat, atau keterlibatan dengan praktik okultisme di masa lalu. Semua ini dapat melemahkan kewaspadaan rohani. Bukan berarti iblis menjadi lebih kuat daripada Tuhan, tetapi hati yang tidak berjaga membuat kita rentan terhadap tipu dayanya.

Sebaliknya, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa mantra atau kutukan otomatis menempel pada orang yang hidup dalam Kristus. Itu karena mereka adalah milik-Nya. Tetapi, ketakutan yang berlebihan justru dapat menjadi alat musuh. Ketika kita lebih fokus pada kuasa gelap daripada pada Kristus, perhatian kita bergeser dari terang kepada bayangan. Kita bisa lupa bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi seizin Tuhan dan Tuhan tidak akan lepas tangan atas apa yang terjadi pada umat-Nya yang setia.

Karena itu Paulus tidak berkata, “Pelajari semua strategi iblis,” melainkan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah.” Ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut Injil damai sejahtera, perisai iman, ketopong keselamatan, pedang Roh yaitu Firman Allah, dan doa setiap waktu—semuanya menunjuk pada relasi yang hidup dengan Tuhan, bukan teknik mistik tandingan.

Perisai iman memadamkan panah api si jahat. Itu berarti serangan memang ada, tetapi iman lebih kuat. Ketopong keselamatan melindungi pikiran—tempat di mana banyak peperangan rohani terjadi. Pedang Roh, Firman Tuhan, bukan jimat, melainkan kebenaran yang dihidupi dan dipercayai.

Peperangan rohani bukan permainan. Sikap ambigu terhadap banyaknya ragam tipu daya iblis, pengabaian atas dosa, kompromi moral yang dianggap sepele, atau rasa takut yang terus dipelihara memang dapat melemahkan kita. Dalam hal ini, fokus hidup kita sebagai pengikut Kristus bukanlah untuk “memburu setan” di setiap sudut kehidupan, melainkan hidup dalam terang Kristus setiap hari.

Seorang percaya yang berjalan dalam pertobatan, doa, dan ketaatan tidak perlu hidup dalam ketakutan akan sihir. Ketakutan adalah upaya setan untuk melumpuhkan pelayanan dan iman orang Kristen. Kita mungkin mengalami serangan, tetapi harus tetap berdiri di atas kemenangan Kristus. Otoritas kita bukan berasal dari kekuatan diri, melainkan dari kesatuan dengan Dia yang telah menang di kayu salib.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Seberapa kuat setan?” melainkan, “Seberapa besar saya mempercayai Kristus?” Ketakutan memberi ruang bagi kegelapan, tetapi iman membuka jalan bagi damai sejahtera.

Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam paranoia rohani, tetapi dalam kewaspadaan yang tenang. Tidak menyangkal realitas peperangan, namun juga tidak mengagungkan musuh. Dunia gelap memang ada, tetapi terang Kristus jauh lebih nyata.

Maka, ya—orang Kristen dapat menjadi sasaran. Namun mereka tidak ditinggalkan tanpa perlindungan. Roh Kudus tinggal di dalam, Firman tersedia di tangan, dan doa terbuka setiap saat. Dalam Kristus, tidak ada kuasa yang dapat merampas kita dari tangan-Nya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah terang yang mengalahkan segala kegelapan. Ajarlah kami untuk tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam iman yang teguh.

Lindungilah hati dan pikiran kami dari tipu daya musuh. Jika ada dosa yang belum kami akui, bukalah mata kami untuk bertobat dengan sungguh. Kenakanlah kami dengan seluruh perlengkapan senjata-Mu, agar kami berdiri teguh dan tidak goyah.

Biarlah hidup kami menjadi saksi bahwa Engkau lebih besar daripada segala kuasa dunia ini. Dalam nama-Mu kami berdoa. Amin.

Merayakan Hari Valentine untuk Apa?

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis.” Roma 12:15

Setiap 14 Februari, kita melihat satu kata mendominasi ruang publik: kasih. Di Indonesia, perayaan ini bukan hanya untuk pasangan. Teman saling bertukar cokelat, kolega saling memberi ucapan, bahkan di gereja pun ada yang menyelipkan salam “Happy Valentine” sebagai tanda perhatian. Semua dibungkus dalam satu istilah yang sama: cinta. Namun di balik itu, ada pertanyaan penting: cinta yang bagaimana?

Dalam tradisi pemikiran Kristen, setidaknya dikenal tiga bentuk cinta. Eros, cinta yang bersifat romantis dan tertarik secara pribadi. Philia, cinta persahabatan, keakraban, solidaritas. Dan agape, atau kasih, adalah cinta yang mau mengurbankan diri, yang tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Hari Valentine sering membaurkan ketiganya menjadi satu tanpa batas yang jelas. Cokelat dan bunga untuk pacar (eros), ucapan selamat untuk sahabat (philia), bahkan sapaan hangat untuk sesama jemaat (yang mungkin dimaksudkan sebagai agape). Semuanya dilebur dalam satu simbol yang sama. Tidak salah, tetapi bisa membingungkan.

Masalahnya bukan pada memberi cokelat atau mengucapkan salam. Masalahnya adalah ketika makna kasih direduksi menjadi perasaan hangat sesaat atau gestur simbolik tahunan yang dipengaruhi pesan komersial.

Eros dan philia adalah bagian sah dari kehidupan manusia. Allah menciptakan ketertarikan dalam pernikahan, dan Ia juga merancang persahabatan yang indah. Namun keduanya tetap terbatas pada relasi tertentu dan sering dipengaruhi emosi dan keinginan pribadi.

Agape berbeda. Ia tidak bergantung pada perasaan. Ia tidak menunggu balasan. Ia tidak dibatasi oleh kedekatan personal. Agape adalah kasih yang bersedia hadir ketika orang lain gagal, ketika suasana tidak romantis, ketika persahabatan diuji. Inilah kasih yang dicerminkan Kristus—kasih yang memberi diri sampai tuntas.

Roma 12:15 menolong kita melihat bentuk konkret agape: bersukacita dengan yang bersukacita, menangis dengan yang menangis. Itu bukan soal tanggal tertentu. Itu soal kepekaan hati. Ketika teman di gereja mendapat berkat, kita sungguh bersyukur tanpa iri. Ketika kolega mengalami kesulitan, kita sungguh peduli tanpa menghakimi. Ketika keluarga berduka, kita hadir tanpa mencari pujian.

Jika Valentine hanya menjadi campuran eros dan philia yang dirayakan secara massal sekali setahun, orang Kristen dipanggil untuk menghadirkan sesuatu yang lebih dalam. Kita boleh saja mengucapkan salam atau memberi perhatian, tetapi jangan berhenti di sana. Tekankan kasih yang suci—agape—kasih yang nyata yang tidak tergantung pada musim, tidak bergantung pada tren, dan tidak dibatasi simbol.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan “merayakan atau tidak”. Pertanyaannya adalah: untuk apa kita merayakannya? Jika agape menjadi dasar hidup kita, maka setiap hari adalah kesempatan untuk mencerminkan kasih Kristus—tanpa perlu dibatasi oleh satu tanggal di kalender. Kasih yang sedemikian bukan sekadar cokelat, bunga, atau gambar dan tulisan bernada mesra.

Doa Penutup

Bapa yang kudus dan penuh kasih,

Kami bersyukur Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami dengan kasih yang tidak bersyarat. Ajarlah kami membedakan antara kasih yang didorong oleh emosi dan kasih yang lahir dari ketaatan kepada-Mu. Bentuklah hati kami agar hidup dalam agape—kasih yang suci, setia, dan rela berkorban.

Biarlah dalam setiap relasi, baik dalam keluarga, persahabatan, maupun persekutuan gereja, kami memancarkan kasih yang mencerminkan Kristus. Jauhkan kami dari kepalsuan dan simbol kosong, dan penuhi kami dengan kasih yang nyata setiap hari.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.

Tanggung Jawab Kesehatan

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17:22

Setiap orang tentu ingin sehat. Kita berolahraga, berjalan pagi, mengatur pola makan, mengurangi gula dan lemak, minum vitamin, bahkan rutin memeriksakan diri ke dokter. Semua itu baik dan perlu. Tubuh adalah anugerah Tuhan yang harus dirawat dengan bijaksana. Namun pengalaman hidup sering menunjukkan satu kenyataan yang lebih dalam: sesehat-sehatnya tubuh seseorang, tidak selalu berarti ia benar-benar sehat.

Ada orang yang secara fisik tampak bugar, hasil pemeriksaannya baik, tekanan darah normal, berat badan ideal. Tetapi hatinya selalu gelisah. Ia mudah marah, cepat tersinggung, sulit tidur, dan hidup dalam kecemasan. Secara lahiriah tampak kuat, namun batinnya rapuh. Sebaliknya, ada pula orang yang tubuhnya tidak lagi sekuat dulu—usia bertambah, tenaga berkurang—tetapi wajahnya berseri, ucapannya penuh syukur, dan kehadirannya membawa damai. Apa rahasianya?

Amsal 17:22 menjawab dengan sederhana namun mendalam: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” Firman Tuhan tidak sedang meniadakan pentingnya olahraga atau nutrisi, melainkan menegaskan bahwa kesehatan sejati menyentuh lebih dari sekadar otot dan tulang. Ada hubungan erat antara kondisi batin dan kondisi tubuh.

Sukacita, pengharapan, dan rasa syukur bukan hanya konsep rohani; semuanya memiliki dampak nyata terhadap jasmani.

Ketika hati dipenuhi sukacita, tubuh merespons. Pikiran yang tenang menurunkan ketegangan. Rasa syukur meredakan stres. Pengampunan melepaskan beban yang selama ini menekan dada. Tidak heran Alkitab menggambarkan hati yang gembira sebagai “obat”. Ia bekerja dari dalam ke luar.

Sebaliknya, “semangat yang patah mengeringkan tulang.” Tulang adalah penopang tubuh. Jika tulang mengering, tubuh kehilangan kekuatan. Semangat yang patah—keputusasaan, kepahitan, rasa bersalah yang tidak diselesaikan—perlahan-lahan menggerogoti daya hidup seseorang. Mungkin awalnya hanya rasa lelah berkepanjangan, kemudian sulit tidur, mudah sakit, bahkan kehilangan gairah hidup.

Di saat sakit datang, hampir semua orang berharap akan mukjizat. Kita berdoa memohon kesembuhan instan, berharap Tuhan bertindak secara luar biasa. Dan memang, Tuhan sanggup melakukan mukjizat. Ia tidak terbatas oleh hukum alam. Namun ada satu kebenaran yang sering kita lupakan: mukjizat tidak dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab. Jika Tuhan sudah memberi kita akal budi, pengetahuan medis, disiplin, dan kemampuan untuk melakukan apa yang perlu bagi kesehatan kita, maka mengabaikan semuanya sambil menunggu mukjizat bukanlah iman, melainkan kelalaian.

Tuhan bisa menyembuhkan seketika, tetapi sering kali Ia bekerja melalui proses. Ia memberi hikmat kepada dokter, menyediakan obat, menggerakkan kita untuk mengubah gaya hidup, dan menegur kita melalui rasa tidak nyaman agar kita memperbaiki kebiasaan. Dalam banyak hal, “mukjizat” itu hadir dalam bentuk kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bertindak benar. Ketika kita memilih hidup sehat, mengelola stres, berdamai dengan masa lalu, bersabar dalam menghadapi kritik, dan berserah kepada-Nya, kita sedang bekerja sama dengan anugerah-Nya.

Banyak orang berusaha menjaga tubuhnya, tetapi membiarkan hatinya terluka tanpa penyembuhan. Kita berhati-hati terhadap makanan yang masuk ke mulut, tetapi tidak berhati-hati terhadap pikiran yang masuk ke hati. Kita menghitung kalori, tetapi jarang menghitung berapa banyak kepahitan yang kita simpan. Kita rajin membersihkan rumah, tetapi lupa membersihkan batin.

Sehat jasmani tanpa sehat rohani adalah kesehatan yang timpang. Tubuh memang fana dan akan menua. Namun roh yang dikuatkan oleh Tuhan dapat tetap teguh sekalipun tubuh melemah.

Sukacita sejati bukan sekadar tertawa atau hiburan sesaat. Ia lahir dari keyakinan bahwa hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Ia tumbuh dari rasa syukur, bahkan di tengah keterbatasan.

Sukacita juga bertumbuh ketika kita hidup dalam kasih dan pengampunan. Kepahitan adalah racun yang kita minum sendiri sambil berharap orang lain yang menderita. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan melepaskan diri dari belenggu. Saat kita mengampuni, kita memberi ruang bagi kasih dan damai sejahtera memenuhi hati—dan damai itu menguatkan tubuh.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma‬ ‭12‬:‭12‬‬

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk merawat keduanya: jasmani dan rohani. Kita berolahraga karena menghargai hidup yang Tuhan beri. Kita berdoa karena sadar hidup ini lebih dari yang terlihat. Kita berusaha dengan setia, dan dalam keterbatasan kita berserah penuh. Di situlah keseimbangan yang sehat.

Pagi ini, kiranya kita tidak hanya bertanya, “Apakah tubuh saya sehat?” tetapi juga, “Apakah hati saya penuh sukacita di dalam Tuhan?” Sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur—dan hidup yang bertanggung jawab adalah bagian dari iman yang sejati.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Terima kasih untuk tubuh dan jiwa yang Engkau percayakan kepada kami. Ampuni kami jika kami lalai merawatnya atau hanya menuntut mukjizat tanpa melakukan bagian kami.

Berikan kami hati yang gembira, penuh syukur, dan damai di dalam Engkau. Tolong kami untuk hidup disiplin, bijaksana, dan setia dalam menjaga kesehatan. Ketika sakit datang, ajar kami berharap kepada-Mu, tetapi juga taat melakukan apa yang Engkau mampukan untuk kami lakukan.

Pulihkan hati kami yang patah, kuatkan tulang-tulang yang lemah, dan pimpin kami berjalan dalam keseimbangan jasmani dan rohani.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Ketika kita berusaha menebus kepahitan dosa

“Sebab siapa yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian saja, ia bersalah terhadap seluruhnya. Yakobus 2:10

Ada sebuah ilustrasi yang sering terdengar bijak: Jika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan, atau melakukan hal yang tidak baik—diibaratkan seperti segelas air yang asin karena sesendok garam—maka solusinya adalah menambahkan lebih banyak air. Semakin banyak air dituangkan, semakin berkurang rasa asinnya. Ilustrasi ini lalu ditarik ke ranah moral: kesalahan masa lalu memang tidak bisa dihapus, tetapi dengan melakukan semakin banyak kebaikan, dampak buruknya akan terasa semakin ringan.

Sekilas, ini terdengar masuk akal. Bahkan terasa menenangkan. Baik-buruknya hidup kita sepenuhnya ada dalam tangan kita sendiri. Namun, jika direnungkan lebih dalam, ada sesuatu yang mengganggu. Terutama bila kita melihatnya dari terang Firman Tuhan.

Masalah pertama dari ilustrasi ini adalah cara ia memandang dosa. Dosa diperlakukan seperti rasa asin—sekadar ketidakbenaran yang bisa dikurangi intensitasnya. Padahal, Alkitab tidak pernah menggambarkan dosa sebagai masalah perasaan manusia, melainkan sebagai masalah relasi antara manusia dan Tuhan. Dosa adalah pelanggaran terhadap Allah yang kudus, bukan sekadar efek samping moral yang ada, yang bisa diencerkan dengan perbuatan baik sesuai dengan pengertian kita.

Yakobus di atas menulis dengan sangat tegas bahwa melanggar satu bagian hukum Tuhan berarti bersalah terhadap seluruh hukum-Nya. Ini menghancurkan logika bahwa kebaikan dapat “mengimbangi” kejahatan. Dalam terang ini, kebaikan bukanlah air yang menetralkan dosa, dan dosa bukanlah garam yang bisa diatasi dengan volume moral.

Lebih jauh lagi, ilustrasi air garam ini mengandaikan sebuah dunia yang bekerja secara mekanis: lakukan A, maka hasilnya B. Inilah inti dari hukum karma—impersonal, otomatis, dan tanpa ruang bagi anugerah. Namun Alkitab memperkenalkan kita kepada dunia yang berbeda: dunia di mana Allah adalah Pribadi yang hidup, mahasuci, berdaulat, dan berelasi dengan manusia.

Alkitab memang berbicara tentang tabur dan tuai:

“Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Galatia 6:7

Tetapi tabur–tuai dalam Alkitab bukan hukum alam yang buta. Itu berada di bawah kedaulatan Allah. Kadang Allah mengizinkan kita menuai konsekuensi dari pilihan kita. Kemudian, ada kemungkinan bahwa anak cucu seseorang ikut dihukum karena kesalahan orang tua. Di waktu lain, Tuhan justru menahan hukuman yang seharusnya kita terima. Semua itu tidak berjalan dengan rumus, melainkan bergantung pada hikmat dan kasih-Nya. Tuhan yang berdaulat menentukan semua itu tanpa memperhatikan moral manusia.

Jika benar bahwa semakin baik seseorang, semakin ringan dosanya, maka kisah Ayub menjadi tidak masuk akal. Ayub adalah orang benar, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Namun hidupnya dipenuhi penderitaan yang tidak dapat “diencerkan” oleh kesalehannya. Para nabi, para rasul, bahkan Yesus sendiri—yang paling benar—justru mengalami penderitaan paling pahit sesuai dengan kehendak Bapa.

Ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih jujur: mengapa kita tertarik pada ilustrasi air garam itu? Mungkin karena kita rindu akan hidup yang terkendali. Kita ingin percaya bahwa dengan cukup banyak kebaikan, kita bisa mengatur rasa pahit hidup. Bahwa penderitaan dan dosa bisa dinegosiasikan.

Namun Injil tidak pernah menjanjikan hidup yang bisa dikendalikan oleh manusia. Injil menjanjikan hidup yang ditebus. Di salib, kita melihat sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan oleh hukum karma. Dosa tidak dapat diencerkan; dosa harus ditanggung. Hukuman tidak bisa dikurangi; hukuman dipikul oleh Kristus. Di sanalah keadilan dan kasih bertemu. Bukan dengan menambah “air” kebaikan kita, melainkan dengan darah Anak Domba Allah.

Inilah perbedaan mendasarnya: orang Kristen berbuat baik bukan untuk mengurangi hukuman hidup, tetapi sebagai respons syukur atas pengampunan yang sudah diterima.

Kebaikan manusia bukan alat tawar-menawar dengan Tuhan, sebab semua itu tidak memenuhi standar Tuhan. Tetapi, amal ibadah manusia adalah buah dari hati yang telah disentuh anugerah Tuhan.

Maka ketika hidup terasa asin—dan memang sering kali demikian—jawaban Kristen bukanlah sekadar “tambah air”. Jawabannya adalah datanglah kepada Kristus, yang tidak menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi menjanjikan kehadiran-Nya di tengah penderitaan dan dosa. Dan itu jauh lebih berarti daripada sekadar rasa tawar.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengakui bahwa sering kali kami ingin hidup yang mudah dijelaskan dan mudah dikendalikan. Kami ingin rumus yang sederhana, jalan pintas yang menenangkan, dan penghiburan yang instan. Ampuni kami bila kami lebih percaya pada perhitungan moral daripada pada anugerah-Mu.

Ajarlah kami melihat dosa sebagaimana Engkau melihatnya, dan melihat salib sebagai satu-satunya jawaban sejati. Bentuklah hati kami agar kami berbuat baik bukan untuk melarikan diri dari penderitaan, melainkan sebagai ungkapan syukur atas kasih yang telah lebih dahulu Engkau berikan.

Ketika hidup terasa pahit, tolong kami untuk tidak mencari ilusi pengenceran, tetapi berpegang pada Kristus, sumber pengharapan kami. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Anda Bertumbuh Menjadi Dewasa?

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Efesus‬ ‭4‬:‭11‬-‭13‬‬

Ada perbedaan besar antara hidup dan bertumbuh. Seorang bayi yang baru lahir sungguh hidup, tetapi belum dewasa. Ia memiliki semua potensi kehidupan, namun belum memiliki kekuatan, kebijaksanaan, dan keteguhan seorang dewasa. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan Kristen. Ketika seseorang dilahirkan kembali, ia sungguh-sungguh dihidupkan secara rohani. Namun pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah ia hidup, melainkan apakah ia kemudian terus bertumbuh.

Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kelahiran baru adalah peristiwa seketika. Itu adalah pekerjaan Allah yang berdaulat—bukan hasil usaha manusia. Dalam satu momen, seseorang dipindahkan dari kematian rohani kepada kehidupan, dari status musuh Allah menjadi anak yang diadopsi-Nya. Tidak ada tahap-tahap, tidak ada proses bertahap dalam kelahiran baru. Sama seperti kelahiran fisik, tidak ada orang yang “setengah lahir”; ia lahir atau tidak.

Namun, kelahiran bukanlah akhir cerita—itu justru permulaan. Paulus dalam Efesus 4 tidak berhenti pada fakta bahwa kita telah diselamatkan. Ia berbicara tentang tujuan Allah setelah keselamatan itu terjadi: kedewasaan penuh, melalui pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dengan kata lain, Allah bukan hanya ingin anak-anak-Nya hidup, tetapi juga bertumbuh.

Kelahiran selalu diikuti oleh pertumbuhan. Seorang bayi yang tidak bertumbuh akan menimbulkan kekhawatiran. Demikian pula, kehidupan Kristen yang tidak menunjukkan pertumbuhan seharusnya mendorong refleksi yang jujur. Apakah ada nutrisi yang kurang? Apakah ada penyakit yang menghambat? Atau apakah ada penolakan terhadap proses pertumbuhan itu sendiri? Di sinilah kita melihat perbedaan antara posisi dan praktik.

Dalam kelahiran baru, posisi kita di hadapan Allah berubah secara instan. Kita dibenarkan, diampuni, dan diterima sepenuhnya di dalam Kristus. Namun praktik hidup kita—cara berpikir, bereaksi, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain—dibentuk melalui proses panjang. Kekudusan bukan sesuatu yang otomatis, melainkan sesuatu yang dipelajari dan dijalani setiap hari.

Paulus juga menyinggung peran pikiran dalam proses ini. Roh kita diperbarui secara instan, tetapi jiwa kita—pikiran, kehendak, dan emosi—perlu terus ditransformasi. Pola pikir lama tidak hilang begitu saja. Kebiasaan lama tidak otomatis lenyap. Ada proses “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru”, yang membutuhkan kesediaan untuk diajar, ditegur, dan dibentuk oleh Firman Tuhan.

Kedewasaan rohani tidak diukur dari lamanya seseorang menjadi Kristen, tetapi dari buah yang dihasilkan hidupnya. Alkitab menyebutkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Buah-buah ini tidak tumbuh dalam semalam. Mereka muncul perlahan, melalui ketaatan yang konsisten dan hubungan yang hidup dengan Kristus dan sesama.

Sayangnya, tidak sedikit orang Kristen yang tetap berada dalam tahap “bayi rohani” selama bertahun-tahun. Bukan karena mereka tidak memiliki potensi, melainkan karena mereka menolak proses. Ada yang enggan ditegur, ada yang jarang ke gereja, ada yang nyaman dengan dosa tertentu, ada pula yang hanya menjadi pendengar Firman tanpa pernah mempraktikkannya. Dalam hal ini, pertumbuhan selalu menuntut perubahan, dan perubahan sering kali terasa tidak nyaman untuk kebebasan duniawi.

Efesus 4 juga menegaskan bahwa Allah memberi pemimpin-pemimpin rohani bukan untuk menggantikan pertumbuhan kita, tetapi untuk memperlengkapi kita. Gereja bukan tempat penonton rohani, melainkan komunitas yang sedang dibangun bersama menuju kedewasaan. Setiap orang dipanggil untuk bertumbuh dan, pada waktunya, turut menolong orang lain bertumbuh.

Pada akhirnya, kedewasaan rohani bukanlah tujuan yang “sekali tercapai lalu selesai”. Penginjil terkenal Billy Graham sering menyatakan bahwa ini adalah perjalanan seumur hidup. Bahkan orang percaya yang paling matang pun tetap merupakan “pekerjaan yang sedang berlangsung”. Kesempurnaan penuh baru akan kita alami ketika Kristus datang kembali. Namun selama kita masih hidup di dunia ini, panggilan kita jelas: terus bertumbuh, terus dibentuk, terus menjadi semakin serupa dengan Dia.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: Apakah Anda hanya terdaftar di KTP sebagai orang Kristen, ataukah Anda sungguh-sungguh bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Kristus?

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Terima kasih karena Engkau telah melahirkan kami kembali oleh anugerah-Mu yang ajaib. Kami bersyukur karena keselamatan adalah pemberian-Mu, bukan hasil usaha kami. Namun hari ini kami juga mengakui, bahwa sering kali kami puas hanya dengan “lahir”, tetapi enggan untuk “bertumbuh”.

Ajarlah kami untuk rindu akan kedewasaan rohani. Lembutkan hati kami agar mau dibentuk, ditegur, dan diubah oleh Firman-Mu. Tolong kami meninggalkan pola pikir lama dan mengenakan hidup yang baru di dalam Kristus. Biarlah buah Roh nyata dalam hidup kami, sehingga orang lain dapat melihat karya-Mu melalui kami.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Apakah Anda Ciptaan Baru?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus‬ ‭5‬:‭17‬‬

Anda mau beli mobil baru? Atau Anda baru saja membeli mobil? Mobil baru bukanlah mobil lama yang dicat ulang supaya terlihat segar. Mobil baru juga bukan mobil lama yang “baru dibeli”, dan bahkan bukan mobil yang masih tampak mengilap tetapi sudah pernah dipakai sebagai mobil demo. Mobil baru berarti benar-benar baru: riwayatnya bersih, belum pernah dipakai, dan tidak membawa cerita masa lalu. Kita sangat peka terhadap perbedaan itu. Tidak ada orang yang mau membayar harga mobil baru untuk sesuatu yang sebenarnya bukan 100% baru. Kita tahu persis bahwa ada perbedaan besar antara “kelihatan baru” dan “sungguh-sungguh baru”.

Paulus memakai cara berpikir yang jauh lebih radikal ketika ia berbicara tentang kehidupan orang percaya. Ia tidak mengatakan bahwa orang yang ada di dalam Kristus adalah manusia lama yang diperbaiki, diperhalus, atau diperbarui sedikit demi sedikit. Ia berkata dengan tegas: ia adalah ciptaan baru. Yang lama bukan sekadar disamarkan, tetapi sudah berlalu. Yang baru bukan sekadar janji, tetapi sudah datang.

Dalam konteks 2 Korintus 5, Paulus menjelaskan bahwa kematian Kristus telah mengubah cara ia memandang manusia. Dahulu, ia melihat orang “menurut ukuran manusia”—berdasarkan latar belakang, status, atau sejarah hidup. Sekarang, ia tidak bisa lagi melihat dengan cara itu. Salib Kristus telah mengubah pusat segalanya. Siapa pun yang “di dalam Kristus” adalah seseorang dengan identitas yang sama sekali baru.

Ungkapan “di dalam Kristus” bukan bahasa rohani kosong. Itu menunjuk pada posisi hidup seseorang di hadapan Allah. Orang yang ada di dalam Kristus adalah orang yang percaya kepada-Nya, yang dosanya telah diampuni oleh kematian Kristus, dan yang kebenaran Kristus diperhitungkan baginya. Ia tidak lagi berdiri di hadapan Allah sebagai manusia yang jatuh, melainkan sebagai manusia yang dipersatukan dengan Kristus. Inilah dasar mengapa ia disebut ciptaan baru.

Namun, di sinilah kita perlu jujur terhadap kenyataan hidup. Tidak semua orang yang mengaku Kristen sungguh hidup sebagai ciptaan baru. Ada yang tetap berpikir, berbicara, dan hidup seperti manusia lama. Ada yang merasa cukup dengan identitas agama, tetapi tidak pernah mengalami pembaruan hati. Ada yang hidup dalam mimpi rohani—merasa aman karena status “Kristen”, tetapi tidak pernah membiarkan Injil mengubah arah hidupnya.

Menjadi ciptaan baru tidak berarti kita langsung menjadi sempurna. Paulus sendiri sangat sadar akan pergumulan melawan dosa. Tetapi ada perbedaan yang mendasar: pusat hidupnya berubah. Yang lama “sudah berlalu”—bukan berarti tidak pernah muncul lagi, tetapi tidak lagi berkuasa. Yang baru “sudah datang”—bukan berarti tidak ada proses, tetapi ada arah hidup yang jelas.

Hidup sebagai ciptaan baru menuntut iman—iman untuk percaya bahwa apa yang Allah katakan tentang kita lebih benar daripada perasaan kita, pengalaman kita, atau penilaian orang lain. Iblis mungkin terus mengingatkan kita akan kegagalan lama, tetapi Injil menyatakan bahwa di dalam Kristus, riwayat itu telah ditutup. Dalam Kristus kita sudah sepenuhnya ditebus.

Masalahnya, banyak orang Kristen masih mendefinisikan diri mereka dengan masa lalu. “Saya memang seperti ini dari dulu.” “Saya tidak mungkin bisa berubah.” “Dosa ini sudah menjadi bagian dari diri saya.” “Yang penting saya sudah percaya.” Tanpa kita sadari, itu menyatakan bahwa kita percaya bahwa Yesus membayar harga manusia baru dengan nyawa-Nya untuk manusia lama yang tidak mau diperbarui menurut keputusan Tuhan, tetapi yang hanya mau diperbaiki menurut cara dan kemauan diri sendiri.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah saya sungguh hidup sebagai ciptaan baru, atau hanya tampak baru dari luar? Apakah saya masih memelihara dosa lama sambil berharap akan hidup baru? Apakah saya masih melihat diri saya dengan kacamata lama, padahal Allah melihat saya di dalam Kristus?

Kabar baiknya, ciptaan baru bukan proyek yang harus kita kerjakan sendiri. Itu adalah karya Allah yang terus diperbarui oleh Roh Kudus. Kita dipanggil bukan untuk menciptakan identitas baru, melainkan untuk hidup sesuai dengan identitas yang telah diberikan. Setiap hari kita belajar meninggalkan yang lama dan mengenakan yang baru—bukan supaya Allah menerima kita, tetapi karena Allah sudah menerima kita di dalam Kristus.

Doa Penutup

Tuhan Allah kami,

Kami bersyukur karena di dalam Kristus Engkau tidak sekadar memperbaiki kami, tetapi menciptakan kami kembali. Ampuni kami bila kami sering hidup seolah-olah kami masih orang lama, terikat oleh dosa, ketakutan, dan cara berpikir yang tidak Engkau kehendaki. Tolong kami untuk melihat diri kami dengan mata-Mu—sebagai ciptaan baru di dalam Kristus. Beri kami iman untuk hidup sesuai dengan identitas yang telah Engkau berikan, dan kerendahan hati untuk terus dibentuk oleh Roh Kudus-Mu. Biarlah hidup kami memuliakan Engkau, bukan sebagai manusia lama yang dipoles, tetapi sebagai manusia baru yang ditebus.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kedudukan Pria dan Wanita di Hadapan Tuhan

“Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” 1 Korintus 11:11–12

Perbincangan tentang kedudukan pria dan wanita hampir selalu sarat emosi. Di satu sisi, dunia modern semakin sadar akan pentingnya kesetaraan gender. Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa perempuan masih sering dipandang lebih rendah, baik secara terselubung maupun terang-terangan. Budaya patriarki yang mengakar panjang telah membentuk cara berpikir banyak masyarakat—bahkan kadang tanpa disadari, cara berpikir ini ikut terbawa ke dalam gereja.

Kesenjangan karier dan gaji masih menjadi cerita umum. Banyak perempuan bekerja dengan kompetensi dan tanggung jawab yang sama, namun menerima penghargaan yang lebih rendah dan akses terbatas ke posisi kepemimpinan. Di ranah sosial, stereotip lama terus hidup: perempuan dianggap terlalu emosional, kurang rasional, atau hanya pelengkap. Di rumah, banyak perempuan menanggung beban ganda—mengurus rumah tangga sekaligus dituntut berprestasi di luar—yang sering berujung pada kelelahan fisik dan batin. Tidak sedikit pula yang menjadi korban kekerasan, sebagian karena anggapan bahwa posisi mereka memang “di bawah”.

Akar dari semua ini bukan sekadar persoalan kebijakan atau ekonomi, tetapi persoalan cara pandang: stigma bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Jika akar ini tidak dirombak, berbagai program pemberdayaan hanya akan menjadi solusi sementara. Di sinilah firman Tuhan menantang kita untuk kembali melihat manusia dengan mata Sang Pencipta.

Alkitab sejak awal menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Pernyataan ini sederhana, tetapi radikal. Nilai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, kekuatan fisik, atau peran sosial, melainkan oleh fakta bahwa ia mencerminkan Sang Pencipta. Dalam mandat budaya, Allah tidak hanya berbicara kepada Adam, tetapi kepada keduanya: “Beranakcuculah dan penuhilah bumi.” Keduanya dipanggil untuk berpartisipasi, bukan satu menguasai yang lain.

Rasul Paulus, yang sering disalahpahami sebagai anti-perempuan, justru menulis dengan keseimbangan yang indah dalam 1 Korintus 11. Ia mengingatkan bahwa dalam Tuhan tidak ada relasi sepihak: perempuan berasal dari laki-laki, tetapi laki-laki lahir melalui perempuan, dan pada akhirnya segala sesuatu berasal dari Allah. Dengan kata lain, tidak ada alasan bagi satu pihak untuk merasa lebih tinggi. Ketergantungan yang saling mengikat ini meniadakan kesombongan dan meruntuhkan hierarki nilai perseorangan.

Pelayanan Yesus sendiri menjadi kesaksian kuat. Ia berbicara dengan perempuan secara terbuka, memulihkan martabat mereka, dan menerima mereka sebagai murid. Perempuan-perempuan hadir setia di kaki salib ketika banyak murid laki-laki melarikan diri. Bahkan kebangkitan Kristus pertama kali diberitakan kepada perempuan—sebuah fakta yang sangat signifikan dalam konteks budaya saat itu.

Dalam pelayanan gereja mula-mula, Paulus menyebut nama-nama perempuan dengan hormat: Febe sebagai diakon, Priskila sebagai rekan pengajar, dan Yunias yang dicatat “terkenal di antara para rasul”. Ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pernyataan teologis bahwa Tuhan bekerja melalui siapa pun yang Ia kehendaki, tanpa membatasi nilai berdasarkan gender.

Memang, Alkitab juga berbicara tentang peran yang berbeda dalam keluarga dan gereja. Namun perbedaan peran tidak pernah dimaksudkan sebagai perbedaan nilai. Peran adalah soal fungsi, bukan martabat. Seperti tubuh dengan banyak anggota, setiap bagian memiliki tugas yang berbeda, tetapi semuanya sama-sama penting. Ketika perbedaan peran dipakai untuk menindas, saat itulah manusia menyimpang dari maksud Tuhan.

Renungan ini mengajak kita bercermin: apakah cara kita memandang perempuan—di rumah, di tempat kerja, dan di gereja—sudah mencerminkan cara Tuhan memandang mereka? Menghormati perempuan bukan mengikuti tren zaman, melainkan kembali pada kebenaran firman. Di hadapan Tuhan, pria dan wanita berdiri sejajar sebagai ciptaan yang dikasihi, ditebus oleh darah yang sama, dan dipanggil untuk melayani dalam kasih yang saling melengkapi.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh hikmat dan kasih,

Kami bersyukur karena Engkau menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar-Mu. Ampuni kami jika cara pandang, perkataan, dan tindakan kami masih dipengaruhi oleh kesombongan dan stigma yang melukai sesama.

Ajarlah kami melihat satu sama lain dengan mata-Mu—mata yang memulihkan dan memuliakan. Tolonglah kami membangun keluarga, gereja, dan masyarakat yang mencerminkan keadilan, hormat, dan kasih Kristus. Biarlah perbedaan yang ada menjadi kekuatan untuk saling melayani, bukan alasan untuk meninggikan diri.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Mengapa Ada Penderitaan?

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Wahyu‬ ‭21‬:‭4‬‬

Salah satu pertanyaan paling tua dan paling jujur yang pernah keluar dari hati manusia adalah ini: mengapa ada penderitaan? Ketika rasa sakit datang—penyakit, kehilangan, ketidakadilan, bencana—banyak orang dengan cepat menarik kesimpulan bahwa Tuhan pasti kejam, atau setidaknya tidak peduli. Namun Alkitab justru mengajak kita melihat penderitaan bukan sebagai bukti kekejaman Tuhan, melainkan sebagai tanda bahwa dunia ini tidak lagi seperti yang seharusnya.

Kitab Kejadian menggambarkan bahwa pada mulanya Tuhan menciptakan dunia dan menyebutnya “sangat baik”. Tidak ada air mata, tidak ada kematian, tidak ada rasa sakit. Namun dalam Kejadian 3, ketika Adam dan Hawa memilih ketidaktaatan, dosa masuk ke dalam ciptaan. Sejak saat itu, bukan hanya manusia yang rusak, tetapi seluruh tatanan ciptaan ikut terpengaruh. Rasa sakit, penderitaan, dan kematian bukanlah rancangan awal Tuhan, melainkan konsekuensi dari kejatuhan manusia.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa seluruh ciptaan “ditaklukkan kepada kesia-siaan” dan sekarang “mengerang” sambil menantikan pemulihan (Roma 8:20–23). Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang terluka: penyakit muncul, alam tidak stabil, relasi rusak, dan kematian menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Inilah sebabnya penderitaan bersifat universal—menjangkau orang baik maupun jahat.

Selain akibat dosa yang bersifat menyeluruh, Alkitab juga mengakui bahwa penderitaan sering muncul sebagai akibat langsung dari pilihan manusia. Dosa pribadi maupun dosa sosial membawa konsekuensi nyata. Yakobus menulis bahwa konflik dan peperangan sering lahir dari hawa nafsu manusia sendiri. Dalam banyak kasus, penderitaan bukanlah misteri besar, melainkan hasil pahit dari keputusan yang keliru—baik oleh diri kita sendiri maupun oleh orang lain, yang dilakukan secara sadar maupun tidak.

Namun Alkitab juga membuka dimensi lain yang sering kita lupakan: adanya pergumulan rohani. Kita hidup di tengah peperangan yang tidak kelihatan. Iblis digambarkan sebagai singa yang mengaum-aum, mencari siapa yang dapat ditelannya. Ini menjelaskan mengapa kejahatan kadang terasa begitu agresif dan tidak masuk akal. Dunia ini bukan hanya rusak; dunia ini juga sedang diperebutkan.

Bagi orang percaya, ada satu bentuk penderitaan yang bahkan dijanjikan: penderitaan karena kebenaran. Yesus dengan jujur berkata bahwa murid-murid-Nya akan mengalami penolakan sebagaimana Ia ditolak. Kesetiaan kepada Kristus tidak menjamin hidup yang nyaman, tetapi menjamin hidup yang bermakna.

Lalu di manakah Tuhan di tengah semua ini? Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan bukan pencipta penderitaan, tetapi Ia tetap berdaulat di atasnya. Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan untuk maksud-maksud yang sering baru kita pahami dari kejauhan.

Penderitaan membentuk ketekunan, karakter, dan pengharapan. Ia melatih hati kita, meruntuhkan kemandirian palsu, dan mengajar kita bersandar kepada anugerah Tuhan. Banyak orang baru benar-benar mengenal Tuhan bukan di puncak keberhasilan, melainkan di lembah air mata. Bahkan Paulus mengakui bahwa kelemahan menjadi tempat nyata bagi kuasa Kristus.

Lebih dari itu, penderitaan mempersiapkan kita bagi kemuliaan. Paulus menyebut penderitaan saat ini “ringan dan sesaat” bila dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang akan dinyatakan. Dan melalui luka kita sendiri, kita diperlengkapi untuk menghibur orang lain dengan penghiburan yang berasal dari Tuhan.

Akhirnya, Alkitab tidak berhenti pada penjelasan, tetapi membawa kita kepada pengharapan. Penderitaan bukan kata terakhir. Dalam Wahyu 21:4 kita membaca janji yang luar biasa: Tuhan sendiri akan menghapus setiap air mata. Kematian, perkabungan, ratap tangis, dan dukacita akan berlalu. Semua yang rusak akan dipulihkan.

Iman Kristen tidak berkata bahwa penderitaan itu sepele. Ia berkata bahwa penderitaan itu sementara, dan bahwa Tuhan tidak jauh dari orang yang menderita. Ia adalah Allah yang pernah menangis, terluka, dan mati—agar suatu hari nanti tidak ada lagi air mata.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, di tengah dunia yang penuh luka dan air mata, kami datang kepada-Mu dengan hati yang rapuh. Kami mengakui bahwa sering kali kami tidak mengerti jalan-Mu, dan rasa sakit membuat kami bertanya-tanya tentang kehadiran-Mu. Ampuni kami ketika kami menilai-Mu dari penderitaan kami, bukan dari salib Kristus.

Teguhkan iman kami untuk percaya bahwa Engkau tetap bekerja, bahkan ketika kami tidak melihatnya. Ajari kami berharap bukan pada keadaan, tetapi pada janji-Mu. Pakailah penderitaan kami untuk membentuk hati yang lebih lembut, iman yang lebih dalam, dan kasih yang lebih tulus.

Kami menantikan hari ketika Engkau menghapus setiap air mata, dan segala sesuatu yang lama berlalu. Sampai hari itu tiba, berjalanlah bersama kami, ya Tuhan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Hari Sabat Bukan Hanya Sehari

“Lalu kata Yesus kepada mereka: Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Markus 2:27

Banyak orang Kristen yang pergi ke gereja pada hari Sabtu atau hari Minggu, memahami hari Sabat secara sempit: satu hari dalam seminggu untuk berhenti bekerja, pergi ke gereja, lalu kembali ke rutinitas biasa. Sabat sering kali direduksi menjadi kewajiban rohani—sesuatu yang harus dilakukan agar kita dianggap taat. Namun Yesus membongkar cara berpikir ini dengan kalimat yang sederhana tetapi radikal: hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.

Yesus mengucapkan perkataan ini ketika orang-orang Farisi menuduh murid-murid-Nya melanggar Sabat karena memetik bulir gandum. Bagi orang Farisi, Sabat adalah hukum yang kaku, pagar aturan yang harus dijaga dengan ketat. Tetapi bagi Yesus, Sabat adalah anugerah. Ia bukan jebakan hukum, melainkan ruang kasih karunia. Sabat ada untuk memulihkan manusia—tubuhnya, jiwanya, dan relasinya dengan Allah.

Artinya, jika kita datang ke gereja sekali seminggu, beribadah, bernyanyi, dan mendengarkan firman, semua itu bukanlah tujuan akhir. Itu adalah sarana. Tuhan tidak membutuhkan kehadiran kita untuk bisa merasa dihormati; tapi kitalah yang membutuhkan hadirat-Nya untuk dipulihkan. Sabat tidak dimaksudkan untuk memberatkan, tetapi untuk memberkati umat Tuhan.

Namun realitas zaman ini jauh lebih rumit. Dunia modern hampir tidak mengenal jeda. Teknologi seperti ponsel, membuat kita selalu terhubung, dan tuntutan hidup membuat kita selalu siaga. Bahkan ketika kita “beristirahat”, pikiran kita tetap bekerja: memikirkan pekerjaan, keuangan, masa depan, atau hal-hal yang belum selesai. Dunia—dan Alkitab tidak ragu menyebutnya sebagai sistem yang jatuh—akan membuat kita bekerja bahkan saat kita sedang beristirahat.

Di sinilah kontras besar itu muncul. Dunia menawarkan istirahat yang palsu: tubuh berhenti, tetapi jiwa gelisah. Sebaliknya, Yesus menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: istirahat sejati, bahkan ketika kita sedang bekerja. Ia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Kelegaan yang Ia tawarkan bukan sekadar libur, melainkan damai sejahtera batin.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai “istirahat Sabat” yang sejati. Bukan hanya satu hari tanpa kerja, tetapi sebuah keadaan hati. Jalan dunia adalah bekerja dalam istirahat: kecemasan tidak pernah berhenti, identitas ditentukan oleh produktivitas, nilai diri diukur dari hasil. Jalan Yesus adalah beristirahat dalam pekerjaan: bekerja dengan setia, tetapi hati tetap tenang karena percaya bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan.

Istirahat semacam ini menuntut pergeseran besar dalam iman. Dari kemandirian menuju ketergantungan. Dari keharusan membuktikan diri menuju penerimaan kasih karunia. Dari rasa takut kekurangan menuju kepercayaan bahwa Allah adalah Pemelihara. Ketika kita sungguh percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika kita berhenti, maka kita bisa berhenti tanpa rasa bersalah. Dan ketika kita sungguh percaya bahwa nilai kita ada di dalam Kristus, kita bisa bekerja tanpa tekanan berlebihan.

Maka, mengapa kita perlu beristirahat lebih dari sehari dalam seminggu? Karena Sabat bukan hanya soal kalender, tetapi soal orientasi hidup. Kita dipanggil bukan hanya untuk memiliki satu hari Sabat, tetapi untuk menjalani hidup yang bersabat dengan Sabat—hidup yang berakar pada damai sejahtera Allah. Pergi ke gereja mingguan adalah penting, tetapi hati yang beristirahat di dalam Tuhan setiap hari jauh lebih penting.

Pada akhirnya, iman Kristen tidak mengajarkan kita melarikan diri dari pekerjaan, tetapi menebusnya. Kita bekerja, tetapi tidak diperbudak olehnya. Kita beristirahat, bukan untuk malas, tetapi untuk diingatkan bahwa kita adalah ciptaan yang dikasihi, bukan mesin produksi. Dan di dalam Kristus, kita belajar sebuah rahasia yang dunia tidak mengerti: kita dapat menemukan damai bahkan di tengah kesibukan, karena Sabat sejati hidup di dalam hati yang percaya.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Kami bersyukur karena Engkau tidak menciptakan kami untuk kelelahan tanpa akhir. Engkau memberikan Sabat sebagai anugerah, bukan sebagai beban. Ampuni kami jika selama ini kami lebih taat pada tuntutan dunia daripada pada undangan-Mu untuk beristirahat di dalam kasih karunia-Mu.

Ajarlah kami memiliki hati yang tenang—hati yang percaya bahwa hidup kami ada di tangan-Mu. Mampukan kami untuk bekerja dengan setia tanpa kehilangan damai, dan beristirahat tanpa rasa bersalah. Biarlah istirahat Sabat-Mu bukan hanya kami alami satu hari dalam seminggu, tetapi menjadi irama hidup kami setiap hari.

Di dalam nama Yesus, Sang Tuhan atas hari Sabat, kami berdoa.

Amin.