
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Bersama Yesus sebagai Imam Besar kita, kita bisa datang ke hadapan takhta Allah secara bebas di mana ada kasih karunia. Di sana kita menerima rahmat dan kemurahan untuk menolong kita apabila kita membutuhkannya.”
— Ibrani 4:16

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin sulit pula akses untuk bertemu dengannya. Bayangkan jika kita harus membuat janji berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk berbicara beberapa menit dengan seorang pemimpin negara. Belum tentu permohonan kita diterima. Belum tentu kita diizinkan masuk.
Begitulah gambaran hubungan manusia dengan Allah pada zaman Perjanjian Lama. Bukan karena Allah tidak mengasihi umat-Nya, tetapi karena kekudusan-Nya tidak dapat didekati oleh manusia yang berdosa. Di Bait Allah terdapat tirai tebal yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Mahakudus. Hanya Imam Besar yang boleh masuk ke Ruang Mahakudus, itupun hanya setahun sekali, setelah mempersembahkan korban penebusan dosa. Tirai itu menjadi pengingat bahwa dosa telah menciptakan jurang antara manusia dan Allah.
Namun semuanya berubah ketika Yesus mati di kayu salib. Pada saat Ia menyerahkan nyawa-Nya, tirai Bait Allah terbelah dari atas ke bawah. Itu bukan sekadar peristiwa yang menggetarkan, tetapi sebuah pengumuman ilahi bahwa jalan menuju hadirat Allah kini telah terbuka. Yesus telah menjadi Imam Besar Agung yang sempurna. Melalui pengorbanan-Nya, setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hak istimewa untuk datang langsung kepada Allah.
Karena itu penulis kitab Ibrani mengajak kita untuk “datang dengan penuh keberanian ke takhta kasih karunia.” Keberanian di sini bukanlah sikap kurang hormat, melainkan keyakinan seorang anak yang tahu bahwa ayahnya mengasihinya. Kita tidak datang membawa jasa atau prestasi rohani. Kita datang karena Yesus telah membuka jalan itu bagi kita.
Sungguh luar biasa bahwa sekarang kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan di mana saja dan kapan saja. Kita tidak perlu menunggu berada di gereja. Kita tidak harus berada di tempat yang dianggap suci. Di rumah, di tempat kerja, di dalam mobil, ketika berjalan kaki, bahkan di tengah malam saat hati dipenuhi kegelisahan, kita dapat berseru kepada Bapa kita di surga. Tidak ada jarak yang membatasi-Nya, tidak ada tirai yang menghalangi kita, dan tidak ada jam operasional bagi takhta kasih karunia-Nya.
Lalu mengapa masih banyak orang percaya yang merasa Tuhan itu jauh? Sering kali bukan Tuhan yang menjauh, melainkan kita yang sibuk dengan begitu banyak hal sehingga mengabaikan hubungan dengan-Nya. Ada pula yang merasa tidak layak datang karena menyadari dosa-dosanya. Sebagian lagi berpikir bahwa persoalannya terlalu kecil untuk dibawa kepada Tuhan. Ada juga yang menjadi malas berdoa karena merasa doa hanyalah kewajiban, bukan sebuah percakapan dengan Bapa yang penuh kasih.
Padahal, melalui Kristus kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita boleh memanggil-Nya, “Ya Bapa.” Seorang ayah yang baik tidak menolak anaknya yang datang dengan hati yang tulus. Demikian pula Bapa surgawi kita. Ia tidak hanya mendengar doa-doa yang panjang dan indah, tetapi juga keluhan yang sederhana, ucapan syukur yang singkat, bahkan air mata yang tidak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.
Doa bukanlah cara untuk memaksa Allah mengikuti kehendak kita. Doa adalah sarana Allah membentuk hati kita agar semakin selaras dengan kehendak-Nya. Melalui doa, kita belajar menyerahkan kekhawatiran, menerima kekuatan baru, memperoleh hikmat, dan menikmati damai sejahtera yang melampaui segala akal. Semakin sering kita datang kepada-Nya, semakin kita menyadari bahwa Allah bukan Pribadi yang jauh, melainkan Bapa yang selalu hadir menyertai anak-anak-Nya.
Lebih daripada itu, Allah tidak membiarkan kita berjuang sendiri dalam kehidupan doa. Roh Kudus diam di dalam setiap orang percaya dan menjadi Penolong yang setia. Rasul Paulus menulis bahwa ketika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, Roh Kudus sendiri berdoa syafaat bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26–27). Betapa menghiburkan kebenaran ini!
Tuhan tidak menilai doa dari kefasihan kata-kata atau panjangnya kalimat, melainkan dari hati yang datang dengan iman kepada-Nya. Bahkan ketika air mata lebih banyak daripada kata-kata, ketika hati begitu lelah sehingga kita hanya mampu berkata, “Tuhan, tolonglah aku,” Roh Kudus membawa pergumulan kita ke hadapan Bapa sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, tidak ada alasan untuk menunda atau menghindari doa. Bapa membuka jalan melalui Anak-Nya, dan Roh Kudus menolong kita berjalan di jalan itu setiap hari.
Jika takhta kasih karunia selalu terbuka, maka masalahnya bukanlah apakah Allah bersedia mendengar kita, melainkan apakah kita bersedia datang kepada-Nya.
Jangan sia-siakan hak istimewa yang dibeli dengan harga yang begitu mahal, yaitu darah Kristus. Takhta kasih karunia selalu terbuka. Datanglah kepada-Nya hari ini, bukan hanya ketika hidup terasa berat, tetapi juga ketika hati dipenuhi sukacita.
Kita datang kepada Allah dengan keberanian, tetapi bukan dengan sikap sembrono. Keberanian (boldness) kita lahir dari keyakinan akan karya Kristus, sementara rasa hormat (reverence) kita lahir dari pengenalan akan kekudusan Allah. Kedua hal ini berjalan bersama. Berkomunikasilah dengan Tuhan kapan saja, karena Dia selalu siap mendengar!
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena melalui Yesus Kristus kami dapat datang dengan bebas ke hadirat-Mu. Ampunilah kami ketika kami lebih sering mengandalkan diri sendiri daripada mencari Engkau dalam doa. Ajarlah kami menikmati persekutuan yang akrab dengan-Mu setiap hari, sehingga kami hidup dalam damai, hikmat, dan ketaatan kepada kehendak-Mu. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Ketika orang Farisi melihat Yesus makan bersama orang-orang ini, mereka bertanya kepada pengikut-Nya, ‘Mengapa gurumu makan bersama para pemungut pajak dan orang-orang berdosa itu?’ Yesus mendengar pertanyaan orang Farisi. Ia berkata kepada mereka, ‘Bukan orang sehat yang perlu dokter, melainkan orang sakit.’”
— Matius 9:11–12

Ada sebuah ironi yang sangat menyentuh dalam peristiwa ini. Orang-orang Farisi bertanya mengapa Yesus mau bergaul dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka menganggap kelompok itu najis, rusak, dan tidak layak menerima perhatian seorang guru agama. Namun mereka tidak menyadari bahwa pertanyaan itu justru membuka keadaan hati mereka sendiri. Mereka melihat orang lain sebagai orang sakit, tetapi tidak pernah menyadari bahwa mereka sendiri pun sedang sakit.
Jawaban Yesus sederhana tetapi sangat tajam: “Bukan orang sehat yang perlu dokter, melainkan orang sakit.” Kalimat ini bukan berarti ada manusia yang benar-benar sehat secara rohani. Justru Yesus sedang menyingkapkan bahwa masalah terbesar bukanlah sakitnya seseorang, melainkan merasa dirinya sehat padahal sebenarnya sakit. Tegasnya, semua orang adalah orang yang sakit.
Inilah jebakan yang terus muncul sampai hari ini. Banyak orang mengukur dirinya dengan standar moral yang mereka ciptakan sendiri. Selama mereka tidak mencuri, tidak membunuh, hidup tertib, rajin bekerja, dan mungkin aktif beribadah, mereka merasa dirinya cukup baik. Mereka membandingkan diri dengan orang yang lebih buruk: penjahat, koruptor, pezina, atau orang yang hidupnya berantakan. Dari perbandingan itu lahirlah kesimpulan, “Saya tidak seburuk mereka. Asal tidak berbuat jahat cukuplah.”
Padahal Alkitab tidak pernah mengukur manusia dengan membandingkannya dengan sesama manusia. Standarnya adalah kekudusan Allah sendiri. Di hadapan Allah yang sempurna, tidak ada seorang pun yang dapat berkata bahwa dirinya sehat. “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dosa bukan hanya tindakan yang terlihat, tetapi juga kesombongan, iri hati, kemarahan, egoisme, motivasi yang salah, bahkan kecenderungan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain. Dosa jugalah yang menyebabkan orang merasa bahwa Tuhan cukup puas melihat cara hidupnya.
Di sinilah letak kebutaan rohani yang paling berbahaya. Orang yang sadar dirinya berdosa akan mencari Juruselamat. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya cukup baik tidak merasa membutuhkan Kristus. Ia mungkin tetap datang ke gereja, membaca Alkitab, bahkan melayani, tetapi di dalam hatinya ia merasa tidak terlalu membutuhkan anugerah. Tanpa disadari, ia sedang menutup pintu bagi pertobatan yang sejati.
Dari sudut pandang teologi yang benar, kesadaran akan penyakit rohani bukanlah hasil kecerdasan atau kepekaan manusia, melainkan pekerjaan Roh Kudus yang membuka mata hati. Karena natur manusia telah rusak oleh dosa, kita cenderung membenarkan diri sendiri daripada mengakui kelemahan dan kesalahan. Itulah sebabnya keselamatan dimulai bukan ketika kita merasa menjadi orang baik, tetapi ketika Allah menyadarkan kita betapa dalamnya kerusakan hati kita sehingga kita berseru memohon belas kasihan-Nya.
Yesus tidak datang untuk orang yang merasa dirinya cukup baik. Ia datang bagi mereka yang mengakui kebutuhannya akan Sang Dokter Agung. Seorang pasien tidak akan sembuh jika ia menolak diagnosis dokternya. Demikian pula, kita tidak akan mengalami pemulihan rohani selama kita terus menyangkal penyakit dosa yang kronis dalam diri kita.
Hari ini marilah kita datang kepada Yesus bukan dengan daftar kebaikan kita, melainkan dengan kerendahan hati. Semakin kita mengenal kekudusan-Nya, semakin kita menyadari betapa kita membutuhkan anugerah-Nya setiap hari. Orang yang paling dekat dengan Kristus bukanlah mereka yang merasa paling benar, melainkan mereka yang terus menyadari bahwa tanpa Dia mereka tidak mempunyai harapan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, bukalah mataku agar aku melihat keadaan hatiku sebagaimana Engkau melihatnya. Jauhkan aku dari kesombongan rohani yang merasa diri cukup baik. Ajarku untuk datang kepada-Mu setiap hari sebagai orang berdosa yang membutuhkan anugerah dan pemulihan-Mu. Terima kasih karena Engkau adalah Dokter Agung yang tidak pernah menolak orang yang datang dengan hati yang hancur. Bentuklah aku semakin serupa dengan-Mu. Amin.
“Hiduplah selalu dengan rendah hati dan lemah-lembut. Bersabarlah dan terimalah satu sama lain dengan kasih.”
— Efesus 4:2

Ayat ini mudah dibaca, tetapi sulit dilakukan. Tidak ada yang kesulitan memahami arti rendah hati, lemah lembut, sabar, dan saling menerima dalam kasih. Tantangannya justru terletak pada saat kita harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selama segala sesuatu berjalan baik, kita merasa mampu mengasihi. Namun ketika disalahpahami, diperlakukan tidak adil, dikecewakan, atau disakiti, semua kata indah itu mendadak terasa sangat berat untuk dijalankan.
Mengapa demikian? Karena perintah ini bertentangan dengan kecenderungan alami manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Hati kita lebih mudah membela diri daripada mengakui kesalahan, lebih suka mempertahankan harga diri daripada merendahkan diri, dan lebih ingin menang daripada berdamai. Ego selalu ingin terlihat benar, dihargai, dan diperlakukan adil. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, emosi pun mudah tersulut.
Di sinilah letak pergumulan setiap orang percaya. Kita bukan hanya bergumul melawan keadaan, tetapi juga melawan diri sendiri. Menjadi lemah lembut saat hati sedang panas membutuhkan pengendalian diri. Bersabar terhadap orang yang terus-menerus mengecewakan kita membutuhkan kasih karunia. Menerima orang lain apa adanya sering kali menjadi perjuangan yang panjang, terutama jika mereka pernah melukai hati kita.
Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya harus menjadi manusia tanpa emosi. Emosi adalah bagian dari anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Kita dapat merasa senang, sedih, takut, kecewa, bahkan marah. Semua itu adalah respons yang wajar. Yang menjadi persoalan bukanlah emosinya, melainkan bagaimana kita mengelolanya.
Karena itu Paulus menulis, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26). Perhatikan bahwa ia tidak berkata, “Jangan pernah marah.” Sebaliknya, ia mengakui bahwa kemarahan dapat muncul dalam kehidupan orang percaya. Akan tetapi, kemarahan tidak boleh berkembang menjadi dosa.
Perbedaannya sangat penting. Merasa kesal ketika diperlakukan tidak adil adalah hal yang manusiawi. Namun memaki, membalas dendam, atau menyimpan kebencian adalah pilihan yang berdosa. Merasa kecewa karena harapan tidak terpenuhi juga merupakan respons yang normal. Tetapi menghukum orang lain dengan mengabaikan, memakai jawaban keras, memanipulasi, atau menyebarkan keburukan mereka adalah dosa di hadapan Tuhan.
Itulah sebabnya kedewasaan rohani bukanlah kemampuan menekan emosi hingga seolah-olah kita tidak merasakan apa-apa. Kedewasaan rohani adalah kemampuan membawa setiap emosi kepada Tuhan sebelum emosi itu menguasai perkataan dan tindakan kita. Emosi adalah tamu yang datang, tetapi jangan biarkan ia menjadi penguasa hati kita.
Tujuan hidup orang percaya bukanlah menghilangkan emosi, melainkan menguduskan emosi.
Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Ia dapat marah terhadap ketidakbenaran, tetapi tidak pernah kehilangan kekudusan-Nya. Ia dapat terluka karena penolakan manusia, tetapi tetap mengampuni mereka. Bahkan ketika disalibkan secara tidak adil, Ia masih berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Inilah kelemahlembutan yang lahir bukan dari kelemahan, melainkan dari kekuatan yang sepenuhnya tunduk kepada kehendak Bapa.
Sebagai orang percaya, kita tidak mungkin menguasai emosi hanya dengan kekuatan kemauan sendiri. Pengendalian diri adalah buah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati yang terus diperbarui oleh firman Tuhan. Semakin kita memenuhi pikiran dengan firman-Nya, semakin Roh Kudus membentuk respons kita. Kita belajar berhenti sejenak sebelum bereaksi, berdoa sebelum berbicara, dan mengampuni sebelum kepahitan berakar. Dengan demikian, kita tidak dikuasai oleh emosi, melainkan dipimpin oleh Roh Allah.
Kedewasaan rohani tidak diukur dari seberapa sedikit emosi yang kita rasakan, tetapi dari seberapa besar Kristus menguasai emosi yang kita miliki.
Kiranya setiap kali emosi mulai menguasai hati kita, kita mengingat bahwa panggilan kita bukanlah memenangkan pertengkaran, melainkan memuliakan Kristus. Dunia mungkin menganggap pengendalian diri sebagai kelemahan, tetapi di mata Tuhan, orang yang mampu menguasai dirinya adalah orang yang sedang bertumbuh menjadi serupa dengan Anak-Nya.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami mengakui bahwa kami sering gagal mengendalikan emosi kami. Ampunilah ketika kemarahan, kekecewaan, dan ego menguasai hati kami sehingga kami melukai orang lain. Penuhi kami dengan Roh Kudus agar kami memiliki kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih dalam setiap hubungan kami. Ajarlah kami membawa setiap emosi kepada-Mu sebelum berubah menjadi dosa, sehingga melalui perkataan dan tindakan kami, nama Kristus dimuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
— Efesus 5:15–16

Seorang pria bekerja keras selama lebih dari empat puluh tahun. Ia menabung, membesarkan anak-anak, dan akhirnya memasuki masa pensiun dengan kondisi keuangan yang cukup. Namun, beberapa bulan kemudian ia mulai merasa gelisah. Rutinitas yang selama ini mengisi hari-harinya telah hilang. Ia bangun pagi tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Perlahan ia menyadari bahwa selama ini ia telah memiliki pekerjaan, tetapi belum benar-benar memiliki tujuan hidup. Kisah seperti ini tidak jarang terjadi.
Banyak orang mempersiapkan diri untuk bisa sukses secara duniawi, tetapi tidak pernah dengan sengaja mempersiapkan diri untuk menjalani hidup yang bermakna.
Sesungguhnya persoalan ini tidak hanya dialami oleh mereka yang sudah lanjut usia. Banyak anak muda juga menjalani hidup tanpa arah yang jelas. Mereka mengikuti arus zaman, mengejar apa yang sedang populer, berpindah dari satu kesenangan ke kesenangan lain, tanpa pernah bertanya untuk apa mereka hidup. Waktu berlalu, usia bertambah, tetapi semua yang dialami hanya datang dan pergi. Akibatnya, baik muda maupun tua dapat terjebak dalam kehidupan yang sibuk tetapi kosong.
Rasul Paulus memberikan nasihat yang sangat berbeda. Ia berkata, “Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya tidak boleh dijalani secara sembarangan atau sekadar mengikuti keadaan. Setiap langkah perlu dipikirkan dengan bijaksana di hadapan Allah. Paulus bahkan menambahkan, “Pergunakanlah waktu yang ada.” Secara harfiah, ungkapan ini berarti “menebus waktu”, yaitu memanfaatkan setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Mengapa? Karena dunia yang kita hidupi penuh dengan godaan yang dapat mengalihkan perhatian kita dari tujuan yang sejati.
Iman Kristen bukanlah hidup yang berjalan dengan “autopilot”. Hidup orang percaya adalah hidup yang disengaja (intentional living). Kita tidak sekadar bertanya, “Apa yang saya inginkan?” melainkan, “Apa yang Tuhan kehendaki?” Kita tidak hanya mengejar apa yang menyenangkan, tetapi dengan sadar memilih apa yang memuliakan Allah.
Katekismus Westminster membuka dengan pertanyaan yang sangat terkenal: “Apakah tujuan utama manusia?” Jawabannya sederhana namun mendalam: “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya.” Inilah kompas yang seharusnya mengarahkan seluruh hidup kita. Ketika tujuan ini jelas, maka pekerjaan, keluarga, pelayanan, bahkan masa pensiun memperoleh makna yang baru. Semua menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan.
Itulah sebabnya hidup yang disengaja tidak bergantung pada usia. Seorang mahasiswa dapat memuliakan Tuhan melalui kesungguhan belajar dan integritasnya. Seorang ayah atau ibu memuliakan Tuhan dengan mengasihi keluarganya dan membesarkan anak-anak dalam takut akan Allah. Seorang profesional memuliakan Tuhan melalui kejujuran dan tanggung jawab dalam pekerjaannya. Bahkan seorang pensiunan tetap memiliki panggilan yang mulia: menjadi pendoa, membimbing generasi yang lebih muda, melayani sesuai kemampuan, serta terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Selama Tuhan masih memberikan napas, tidak ada seorang pun yang telah selesai dari panggilannya.
Hidup yang disengaja juga berarti terus membentuk pikiran kita dengan firman Tuhan. Dunia setiap hari berusaha membentuk cara berpikir kita melalui nilai-nilai yang berpusat pada diri sendiri. Sebaliknya, firman Tuhan memperbarui akal budi kita sehingga kita mampu membedakan apa yang berkenan kepada Allah. Semakin pikiran kita dipenuhi firman-Nya, semakin bijaksana keputusan-keputusan kita, dan semakin jelas arah hidup kita. Orang Kristen tidak hanya mengisi waktu, tetapi juga mengisi pikirannya dengan kebenaran Allah agar setiap langkahnya selaras dengan kehendak-Nya.
Dari sudut pandang iman, semua ini bukanlah usaha manusia untuk memperoleh kenyamanan atau keselamatan. Kita tidak hidup dengan tujuan untuk menikmati segala sesuatu di dunia. Pada pihak lain, kita tidak hidup dengan tujuan supaya Allah menerima kita, melainkan karena di dalam Kristus kita telah diterima oleh kasih karunia-Nya.
Keselamatan oleh iman menghasilkan kehidupan yang terus dikuduskan oleh Roh Kudus. Buah dari iman yang sejati adalah hidup yang semakin terarah kepada kehendak Allah. Orang yang telah ditebus tidak hidup secara kebetulan, melainkan dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan yang Tuhan percayakan untuk memuliakan-Nya.
Karena itu, apa pun tahap kehidupan kita hari ini—masih muda, sedang sibuk bekerja, atau telah memasuki masa pensiun—marilah kita bertanya: Apakah saya sedang hidup dengan sengaja bagi Kristus, atau hanya mengikuti arus? Selama Tuhan masih memberikan hari ini, Ia juga masih memberikan panggilan. Dan hidup yang dipersembahkan untuk kemuliaan-Nya tidak akan pernah menjadi hidup yang kosong dan sia-sia.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih untuk setiap hari yang Engkau anugerahkan kepada kami. Ajarlah kami menjalani hidup dengan bijaksana dan penuh tujuan, sehingga setiap keputusan, pekerjaan, dan pelayanan kami memuliakan nama-Mu. Pimpin kami oleh Roh Kudus agar tidak menyia-nyiakan waktu, tetapi setia mengerjakan kehendak-Mu sampai akhir hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”
— Yeremia 17:10

Di kalangan orang Kristen kita sering mendengar ungkapan, “Aku ya aku, apa adanya,” atau, “Yang penting Tuhan mengasihi dan menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya.” Kalimat-kalimat itu memang mengandung unsur kebenaran. Tuhan memang menerima kita sebagaimana adanya ketika kita datang kepada-Nya. Keselamatan juga sepenuhnya merupakan anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Namun, sering kali kedua kebenaran ini disalahgunakan untuk membenarkan kehidupan yang tidak mau berubah.
Sebagian orang seolah berkata, “Karena keselamatan adalah anugerah, maka Tuhan pasti memaklumi semua kelemahanku.” Akibatnya, mereka tidak lagi merasa perlu bertumbuh dalam kasih, memperbaiki perkataan, atau belajar peka terhadap perasaan orang lain. Mereka menganggap perubahan hidup hanyalah pilihan, bukan buah yang seharusnya muncul dari iman.
Firman Tuhan dalam Yeremia 17:10 memberikan peringatan yang serius. Tuhan bukan hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi Ia menyelidiki hati dan menguji batin manusia. Pada akhirnya, Ia juga memperhatikan “hasil perbuatan” setiap orang.
Perbuatan bukanlah dasar keselamatan, tetapi merupakan bukti dari iman yang hidup. Pohon yang sehat akan menghasilkan buah yang sehat.
Kita diselamatkan oleh anugerah saja, melalui iman saja, di dalam Kristus saja. Namun iman yang menyelamatkan tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu disertai oleh pekerjaan Roh Kudus yang menguduskan orang percaya. Reformator sering mengatakan, “Kita diselamatkan oleh iman saja, tetapi iman yang menyelamatkan tidak pernah sendirian.” Iman sejati selalu menghasilkan kehidupan yang berubah.
Karena itu, orang percaya perlu terus mengasah pikirannya setiap hari dengan firman Tuhan. Dunia terus-menerus membentuk cara kita berpikir, sehingga tanpa disadari kita mudah bergeser dari kebenaran Injil. Melalui pembacaan Alkitab, doa, dan perenungan yang setia, Roh Kudus memperbarui cara kita memandang Allah, diri sendiri, dan sesama. Firman Tuhan bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membentuk hati dan menuntun kita berjalan di jalan yang benar.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
— Roma 12:2
Pembaruan pikiran inilah yang menjaga kita tetap seimbang dalam memahami Injil. Di satu sisi, kita tidak jatuh ke dalam legalisme yang mengira bahwa Tuhan menerima kita karena prestasi rohani atau perbuatan baik kita. Di sisi lain, kita juga tidak terjerumus ke dalam antinomianisme yang menganggap bahwa karena telah diselamatkan oleh anugerah, maka ketaatan tidak lagi penting.
Firman Tuhan terus mengingatkan bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman kepada Kristus, tetapi iman yang sejati akan terus menghasilkan kehidupan yang diubahkan. Semakin kita memenuhi pikiran dengan firman-Nya, semakin kita dimampukan untuk hidup dalam kasih karunia yang menghasilkan ketaatan, bukan ketaatan yang berusaha memperoleh kasih karunia.
Rasul Paulus menyebut hasil pekerjaan Roh Kudus sebagai buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Perhatikan bahwa semuanya berkaitan dengan cara kita hidup bersama orang lain. Roh Kudus bukan hanya mengubah cara kita beribadah, tetapi juga mengubah cara kita berbicara, mendengar, mengampuni, dan memperlakukan sesama.
Karena itu, seseorang yang terus-menerus melukai orang lain dengan perkataannya, bersikap kasar, egois, atau sama sekali tidak peduli terhadap dampak hidupnya terhadap sesama, tetapi merasa aman hanya karena mengaku percaya kepada Kristus, perlu menguji dirinya dengan jujur. Bukan kita yang menentukan keselamatannya, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kehidupan yang sama sekali tidak menghasilkan buah pertobatan merupakan alasan untuk melakukan pemeriksaan diri. Seperti yang ditulis Yakobus, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Ini bukan berarti orang percaya harus menjadi sempurna. Selama hidup di dunia, kita masih bergumul melawan dosa. Kita masih jatuh, masih gagal, dan masih membutuhkan pengampunan setiap hari. Namun ada perbedaan besar antara orang yang berjuang melawan dosanya dan orang yang berdamai dengan dosanya. Orang yang sungguh telah dilahirkan baru akan terus dibentuk oleh Roh Kudus. Mungkin pertumbuhannya lambat, tetapi arahnya jelas: semakin serupa dengan Kristus.
Maka janganlah kita berlindung di balik kalimat, “Memang beginilah saya.” Sebaliknya, marilah kita berkata, “Beginilah saya dahulu, tetapi oleh kasih karunia Tuhan saya sedang diubahkan.” Itulah kesaksian orang yang benar-benar mengenal Injil. Anugerah bukanlah alasan untuk tetap hidup dalam dosa, melainkan kuasa Allah yang mengubah orang berdosa menjadi semakin kudus. Iman yang sejati bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan kehidupan yang terus menghasilkan buah bagi kemuliaan Tuhan.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau menyelamatkan kami hanya oleh anugerah-Mu. Tolong kami agar tidak menyalahgunakan anugerah itu sebagai alasan untuk tetap hidup menurut keinginan kami sendiri. Biarlah Roh Kudus terus mengubahkan hati kami sehingga hidup kami menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan – justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain.”
Roma 9:22–24

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam hati orang percaya adalah, “Mengapa Tuhan membiarkan orang jahat?” Kita melihat orang yang menipu justru semakin kaya, penguasa yang korup tetap berkuasa, pelaku kejahatan tampaknya lolos dari hukuman, sementara orang yang hidup jujur sering mengalami penderitaan. Bukankah Allah Mahakuasa? Mengapa Ia tidak segera bertindak?
Pergumulan seperti ini bukanlah hal baru. Asaf pernah hampir kehilangan imannya ketika melihat kemakmuran orang fasik (Mazmur 73). Nabi Habakuk juga bertanya mengapa Allah seolah-olah membiarkan kejahatan merajalela. Melalui Roma 9, Rasul Paulus mengajak kita melihat persoalan ini dari sudut pandang yang jauh lebih tinggi, yaitu dari perspektif kedaulatan Allah.
Paulus berkata bahwa Allah “menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya.” Kesabaran Allah bukanlah tanda bahwa Ia mengabaikan dosa atau kehilangan kendali atas dunia. Sebaliknya, kesabaran itu merupakan bagian dari rencana-Nya yang sempurna untuk menyatakan baik keadilan maupun belas kasihan-Nya.
Kita harus memahami bagian ini sebagai pengajaran bahwa Allah memerintah secara mutlak atas seluruh sejarah. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar kedaulatan-Nya. Namun, ini tidak berarti Allah adalah penyebab dosa. Manusia tetap berdosa karena keinginannya sendiri dan bertanggung jawab penuh atas setiap perbuatannya. Allah begitu berdaulat sehingga bahkan pemberontakan manusia tidak dapat menggagalkan rencana-Nya, melainkan justru dipakai-Nya untuk menggenapkan maksud-Nya yang kudus.
Kita melihat prinsip ini dalam kehidupan Firaun. Ia berulang kali mengeraskan hatinya terhadap perintah Allah. Alkitab juga menyatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun. Kedua pernyataan itu bukan bertentangan, melainkan berjalan berdampingan. Firaun bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri dan tetap bertanggung jawab atas dosanya, sementara Allah memakai pemberontakan itu untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa.
Peristiwa penyaliban Yesus Kristus bahkan lebih jelas lagi. Tidak pernah ada kejahatan yang lebih besar daripada membunuh Anak Allah yang tidak berdosa. Namun justru melalui kejahatan manusia itulah Allah menggenapkan rencana keselamatan-Nya bagi dunia. Apa yang dimaksudkan manusia untuk kejahatan dipakai Allah untuk mendatangkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya.
Lalu, mengapa Allah masih bersabar terhadap orang jahat? Sebagian dipanggil Allah keluar dari kegelapan menuju terang semata-mata karena belas kasihan-Nya. Dahulu Saulus adalah penganiaya jemaat, tetapi Allah mengubahnya menjadi Rasul Paulus. Itu bukan karena Saulus lebih layak daripada orang lain, melainkan semata-mata karena anugerah Allah.
Sebagian lagi Allah biarkan tetap dalam pemberontakan yang mereka pilih sendiri, sehingga pada akhirnya mereka menerima hukuman yang adil atas dosa-dosa mereka. Allah tidak perlu menciptakan kejahatan dalam hati manusia. Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Ketika Allah menyelamatkan seseorang, itu adalah anugerah yang tidak layak diterima. Ketika Allah menghukum orang berdosa, itu adalah keadilan yang sempurna. Dengan demikian, keselamatan menyatakan belas kasihan Allah, sedangkan penghukuman menyatakan keadilan-Nya.
Kebenaran ini seharusnya memenuhi hati kita dengan kerendahan hati, bukan kesombongan. Jika hari ini kita percaya kepada Kristus, itu bukan karena kita lebih bijaksana atau lebih baik daripada orang lain. Kita percaya karena Allah telah lebih dahulu berbelaskasihan kepada kita. Tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan diri di hadapan-Nya.
Di sisi lain, pengertian ini juga memberikan penghiburan yang besar bagi kita. Dunia mungkin tampak dikuasai oleh kejahatan, tetapi sesungguhnya tidak ada satu detik pun di luar pemerintahan Allah. Orang jahat mungkin tampak menang untuk sementara, tetapi kemenangan mereka hanya sesaat. Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Kristus akan datang kembali untuk menghakimi dunia dengan keadilan yang sempurna. Tidak ada dosa yang akan luput dari penghakiman-Nya, dan tidak ada satu pun janji-Nya kepada umat-Nya yang akan gagal digenapi.
Perumpamaan Lazarus dan orang kaya mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah gagal menegakkan keadilan. Apa yang tampak sebagai kemenangan orang fasik hanyalah sementara. Pada akhirnya setiap orang akan berdiri di hadapan takhta Allah. Bagi mereka yang menerima belas kasihan-Nya di dalam Kristus tersedia kemuliaan kekal. Sebaliknya, mereka yang tetap menolak-Nya akan menerima hukuman yang adil. Karena itu, marilah kita hidup bukan berdasarkan apa yang tampak hari ini, melainkan berdasarkan janji Allah yang pasti.
Karena itu, ketika kita bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan orang jahat?”, Roma 9 mengarahkan kita kepada pertanyaan yang jauh lebih mengherankan: “Mengapa Tuhan berkenan menyelamatkan orang berdosa seperti kita?” Jawabannya hanya satu: karena kasih karunia-Nya yang berdaulat di dalam Yesus Kristus. Kesadaran itulah yang membawa kita bukan kepada perdebatan, melainkan kepada penyembahan. Bersama Paulus kita dapat berkata, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!” (Roma 11:33).
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau memerintah dengan hikmat, keadilan, dan kasih yang sempurna. Ketika kami melihat kejahatan seolah-olah menang, tolonglah kami tetap percaya kepada kedaulatan-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan, sebab keselamatan kami hanyalah oleh anugerah-Mu. Mampukan kami hidup setia, rendah hati, dan penuh syukur sampai Kristus datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.”
— Roma 2:16

Ada anggapan di kalangan sebagian orang Kristen bahwa menyimpan rahasia adalah dosa, bahkan dianggap sama dengan berdusta. Alasannya sederhana: jika kita tidak menceritakan semuanya kepada orang lain, berarti kita sedang menyembunyikan kebenaran. Namun, pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa setiap rahasia harus dibuka kepada semua orang. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa hikmat diperlukan untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus berdiam diri.
Menyimpan rahasia tidak sama dengan berdusta. Berdusta adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan maksud menipu. Menyimpan rahasia berarti tidak mengungkapkan suatu informasi yang memang tidak seharusnya diketahui orang lain. Seorang dokter menjaga kerahasiaan pasiennya. Seorang pendeta memegang teguh kerahasiaan pergumulan jemaat. Seorang sahabat yang setia tidak menyebarkan cerita pribadi temannya. Semua itu bukanlah dosa, melainkan wujud kasih, tanggung jawab, dan integritas.
Alkitab sendiri memberikan contoh yang menarik melalui Rahab di Yerikho. Ketika dua pengintai Israel datang ke kotanya, Rahab menyembunyikan mereka dan tidak menyerahkan mereka kepada raja Yerikho. Tindakannya lahir dari imannya kepada Allah Israel dan menjadi bagian dari rencana penyelamatan Allah. Karena iman itulah Rahab kemudian dipuji dalam Alkitab. Kisah ini menunjukkan bahwa menjaga suatu rahasia demi melindungi kehidupan dan menggenapi kehendak Allah tidaklah sama dengan berbuat dosa.
Karena itu, orang Kristen boleh menyimpan rahasia demi kasih kepada Tuhan dan sesama. Bahkan, menjaga kepercayaan sering kali merupakan bentuk kasih yang nyata. Bila setiap rahasia dibongkar atas nama “kejujuran”, hubungan antarmanusia akan dipenuhi ketakutan dan kecurigaan. Tidak ada lagi tempat yang aman untuk mencurahkan isi hati.
Di sisi lain, kita juga tidak boleh memaksa orang lain membuka semua rahasianya. Ada rahasia yang bukan untuk kita ketahui, apa pun posisi kita. Ada luka yang belum siap diceritakan, ada pergumulan yang masih diproses, dan ada pengalaman yang terlalu pribadi untuk dibagikan. Menghormati batas pribadi seseorang adalah bagian dari mengasihi sesama. Kasih tidak memaksa, tidak mengintimidasi, dan tidak menuntut seseorang membuka seluruh isi hidupnya. Kasih tidak menggunjingkan rahasia orang lain, yang adalah tindakan menyebarkan aib atau informasi pribadi seseorang tanpa izin, yang sering kali bertujuan untuk merendahkan atau menyerang.
Pada pihak lain, memang benar bahwa ada kalanya sebuah rahasia mendorong seseorang untuk berdusta. Ketika takut rahasianya terbongkar, ia mulai menutupi satu kebohongan dengan kebohongan berikutnya. Di sinilah bahayanya. Rahasia itu sendiri bukan dosa, tetapi cara kita mempertahankannya bisa menjadi dosa apabila kita mengorbankan kejujuran dan kebenaran.
Bagaimana kita menghindari jebakan itu? Dengan selalu mengingat bahwa di hadapan Tuhan tidak ada rahasia. Roma 2:16 mengingatkan bahwa suatu hari Allah akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia melalui Kristus Yesus. Tidak ada pikiran, motivasi, atau perbuatan yang dapat disembunyikan dari-Nya. Apa yang tertutup bagi manusia terbuka sepenuhnya di hadapan Allah.
Itulah sebabnya kita perlu membuka seluruh isi hati kita kepada Tuhan. Ketika kita masuk ke kamar dan berdoa dalam kesunyian, tidak ada gunanya menyembunyikan apa pun. Tuhan sudah mengetahui semuanya. Justru pengakuan yang jujur membawa kelegaan, pemulihan, dan pengampunan. Di hadapan manusia kita mungkin memiliki rahasia, tetapi di hadapan Tuhan kita datang dengan hati yang telanjang.
Perlu kita sadari bahwa menjaga rahasia bukan berarti menutup mata terhadap kejahatan. Ada rahasia yang tidak boleh disimpan. Jika sebuah rahasia dapat mencelakakan orang lain, mengancam keselamatan masyarakat, menutupi tindak kekerasan, penipuan, atau kejahatan, maka kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengungkapkannya kepada pihak yang berwenang. Dalam keadaan seperti itu, kasih kepada banyak orang lebih utama daripada menjaga kerahasiaan seseorang yang sedang melakukan kejahatan.
Alkitab membedakan dengan jelas antara hidup dalam terang di hadapan Allah dan mengungkapkan semua informasi kepada manusia.
Kiranya Tuhan memberi kita hati yang jujur di hadapan-Nya, dapat dipercaya oleh sesama, serta hikmat untuk membedakan rahasia yang harus dijaga dan rahasia yang harus diungkapkan demi kasih, keadilan, dan kemuliaan nama-Nya.
Doa Penutup
Bapa di surga, ajarlah kami menjadi orang yang dapat dipercaya, mampu menjaga rahasia yang memang harus dijaga, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran ketika keselamatan dan keadilan dipertaruhkan. Tolonglah kami agar tidak memakai rahasia sebagai alasan untuk berdusta atau menutupi dosa. Mampukan kami hidup dengan hati yang terbuka di hadapan-Mu, sebab tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pandangan-Mu. Berikan kami hikmat untuk berkata-kata dengan benar, berdiam diri pada waktunya, dan bertindak sesuai kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Dan tidak pernah orang mendapati aku sedang bertengkar dengan seseorang atau mengadakan huru-hara, baik di dalam Bait Allah, maupun di dalam rumah ibadat, atau di tempat lain di kota.”
— Kisah Para Rasul 24:12

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menggambarkan kesatuan yang konsisten dari seseorang, sehingga memancarkan kewibawaan dan kejujuran.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Reputasi adalah apa yang orang pikirkan tentang kita, tetapi karakter adalah siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat.” Namun, sering kali keduanya bertemu. Karakter yang dipelihara dalam kehidupan sehari-hari lambat laun akan membentuk reputasi. Sebaliknya, seseorang yang hanya menjaga penampilan luar, tetapi mengabaikan integritas, pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan orang lain. Itulah sebabnya, kehidupan yang konsisten jauh lebih kuat daripada kata-kata yang paling indah sekalipun.
Ketika Rasul Paulus dihadapkan kepada gubernur Feliks, ia sedang menghadapi tuduhan yang berat. Lawan-lawannya menuduhnya sebagai penghasut kerusuhan dan pembuat kekacauan. Namun dengan tenang Paulus menjawab bahwa tidak seorang pun pernah mendapati dirinya sedang bertengkar atau mengadakan huru-hara, baik di Bait Allah maupun di tempat-tempat umum. Ia dapat mengatakan hal itu karena selama bertahun-tahun hidupnya telah menjadi kesaksian yang terbuka di hadapan banyak orang.
Paulus bukan orang yang menghindari penderitaan. Ia dipenjara, dicambuk, dilempari batu, bahkan hampir kehilangan nyawanya berkali-kali. Namun semua itu bukan karena ia bersikap kasar atau suka memancing permusuhan. Ia menderita karena kesetiaannya kepada Kristus. Ada perbedaan yang besar antara menderita karena melakukan kehendak Tuhan dan menderita karena kesalahan, emosi, atau sikap kita sendiri.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk membawa pengaruh yang menenangkan, bukan menggelisahkan. Di tengah masyarakat yang mudah tersulut oleh isu politik, perbedaan pendapat, atau percakapan di media sosial, kita sering tergoda untuk membalas dengan nada yang sama kerasnya. Kita merasa harus memenangkan setiap perdebatan atau memberikan komentar terakhir. Padahal, tidak setiap pertengkaran harus dimenangkan. Sering kali, kemenangan yang sejati justru terlihat ketika kita mampu mengendalikan diri dan tetap menunjukkan kasih.
Perkataan dan tindakan kita di tempat umum harus sejalan dengan iman yang kita akui pada hari Minggu. Tidaklah cukup bila kita tampak saleh di gereja, tetapi dikenal sebagai pribadi yang mudah marah, suka memecah belah, atau gemar memperuncing persoalan di lingkungan sekitar. Dunia sedang memperhatikan apakah Injil benar-benar mengubah hidup kita. Kesaksian yang paling kuat bukanlah argumentasi yang hebat, melainkan kehidupan yang konsisten.
Tuhan Yesus menyebut orang yang membawa damai sebagai orang yang berbahagia. Menjadi pembawa damai bukan berarti menghindari kebenaran atau selalu mengalah. Seorang pembawa damai tetap berpegang teguh pada firman Tuhan, tetapi ia menyampaikannya dengan kasih, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Ia tidak menuangkan bensin ke dalam api perselisihan, melainkan membawa air yang memadamkannya. Kehadirannya menghadirkan keteduhan, bukan ketegangan.
Integritas berarti hidup yang utuh. Apa yang kita yakini di dalam hati, itulah yang tampak dalam perkataan dan perbuatan. Orang yang berintegritas tidak sempurna, tetapi ia dapat dipercaya. Ketika ia gagal, ia mau mengakui kesalahannya. Ketika ia disalahpahami, ia tidak membalas dengan kebencian. Ketika ia diperlakukan tidak adil, ia tetap memilih jalan yang benar. Semua itu hanya mungkin terjadi ketika Roh Kudus terus membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.
Kiranya kehidupan kita menjadi seperti kehidupan Paulus. Bukan berarti kita bebas dari tuduhan atau kritik, tetapi biarlah tidak ada tuduhan yang benar mengenai perilaku kita. Ketika orang mengingat kita, semoga mereka mengenang seseorang yang membawa damai, menjaga perkataannya, hidup dengan jujur, dan memuliakan Kristus dalam setiap aspek kehidupannya. Sebab pada akhirnya, integritas bukanlah tentang menjaga nama baik kita, melainkan tentang menjaga nama Tuhan yang kita wakili di dunia ini.
Doa Penutup
Bapa yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau memanggil kami menjadi saksi-Mu di tengah dunia. Bentuklah kami menjadi pribadi yang hidup dengan integritas, sehingga perkataan, sikap, dan tindakan kami selaras dengan iman yang kami akui.
Jauhkan kami dari roh pertengkaran, kesombongan, dan keinginan untuk selalu menang. Penuhi kami dengan kasih, hikmat, dan penguasaan diri agar kami menjadi pembawa damai di mana pun Engkau menempatkan kami. Biarlah melalui kehidupan kami, nama Tuhan Yesus dimuliakan. Amin.
“Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”
— Markus 10:6–8

Di zaman sekarang, banyak orang memandang pernikahan sebagai sebuah hubungan yang dibangun di atas perasaan. Selama cinta masih terasa, hubungan dipertahankan. Ketika perasaan itu memudar, komitmen pun mulai dipertanyakan. Tidak sedikit pula pasangan yang, setelah memiliki anak, tanpa sadar menjadikan seluruh hidup mereka berpusat pada anak-anak. Ada juga yang setelah menikah masih sulit melepaskan ketergantungan emosional kepada orang tua, sehingga keputusan-keputusan penting dalam rumah tangga lebih dipengaruhi keluarga besar daripada pasangan sendiri.
Namun, ketika Yesus berbicara tentang pernikahan, Ia tidak memulai dari perasaan, melainkan dari rancangan Allah sejak penciptaan. “Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya.” Kata “meninggalkan” bukan berarti memutus hubungan dengan orang tua atau berhenti menghormati mereka. Sebaliknya, Alkitab tetap memerintahkan kita menghormati ayah dan ibu. Yang berubah adalah prioritas. Setelah menikah, suami dan istri membentuk keluarga baru dengan kesetiaan utama kepada satu sama lain di bawah otoritas Tuhan.
Banyak pernikahan yang terasa hambar ketika anak-anak sudah meninggalkan rumah. Rumah terasa sepi, seperti sarang burung kosong yang hanya dihuni oleh dua makhluk. Tetapi, pernikahan yang sehat bukanlah ketika anak-anak menjadi pusat keluarga, melainkan ketika Kristus menjadi pusatnya, suami dan istri hidup sebagai satu daging, dan dari kesatuan itulah mengalir kasih yang memberkati anak-anak, cucu-cucu, dan generasi berikutnya.
Inilah makna yang sering terlupakan. Pernikahan bukan sekadar tinggal serumah atau membesarkan anak bersama. Pernikahan adalah perjanjian di mana dua orang menjadi “satu daging”. Mereka belajar berpikir sebagai satu tim, memikul beban bersama, mengambil keputusan bersama, saling mengampuni, dan bertumbuh bersama dalam iman. Allah memanggil mereka untuk berjalan searah, bukan saling menarik ke arah yang berbeda.
Anak-anak adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Mereka patut dikasihi, dididik, dan dipelihara dengan penuh pengorbanan. Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa anak menjadi pusat keluarga. Suatu hari mereka akan bertumbuh, membangun rumah tangga mereka sendiri, dan “meninggalkan ayahnya dan ibunya”, sebagaimana firman Tuhan. Jika selama puluhan tahun suami dan istri hanya hidup untuk anak-anak, mereka mungkin akan merasa kehilangan arah ketika rumah kembali sepi.
Sebaliknya, ketika hubungan suami dan istri tetap dipelihara dengan baik, anak-anak justru menikmati berkatnya. Mereka melihat teladan kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengampunan setiap hari. Salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah memperlihatkan bahwa mereka tetap saling mengasihi dan saling menghormati.
Pernikahan juga merupakan tempat di mana karakter dibentuk. Tidak ada hubungan lain yang begitu dekat sehingga mampu memperlihatkan kelemahan, keegoisan, dan dosa kita seperti hubungan suami istri. Justru di sanalah Tuhan bekerja. Ia memakai pasangan kita untuk mengajar kita tentang kesabaran, kerendahan hati, pengampunan, dan kasih yang rela berkorban. Dengan demikian, tujuan pernikahan bukan hanya agar kita bahagia, tetapi juga agar kita semakin serupa dengan Kristus.
Di atas semuanya, Kristus harus tetap menjadi pusat pernikahan. Ketika suami dan istri sama-sama mengarahkan hidup kepada Tuhan, mereka akan semakin dekat satu sama lain. Sebaliknya, jika masing-masing berjalan menjauh dari Tuhan, mereka juga akan semakin menjauh satu sama lain. Pernikahan yang kokoh tidak dibangun terutama oleh kecocokan watak atau romantisme, melainkan oleh dua orang yang sama-sama belajar taat kepada Kristus setiap hari.
Karena itu, marilah kita memandang pernikahan sebagaimana Allah memandangnya: sebuah perjanjian kudus yang mengutamakan Tuhan, memelihara kesatuan suami istri, dan menjadi tempat bertumbuhnya kasih yang memuliakan-Nya. Di dalam rancangan seperti inilah keluarga menemukan sukacita yang sejati dan menjadi berkat bagi generasi berikutnya.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas anugerah pernikahan yang Engkau rancangkan dengan begitu indah. Tolong setiap suami dan istri untuk menempatkan Engkau sebagai pusat hidup mereka dan saling mengasihi dengan kasih yang berasal dari-Mu. Ajarlah kami memelihara kesatuan, mengampuni dengan tulus, dan menghormati pasangan kami sebagai teman seperjalanan yang Engkau berikan. Kiranya rumah tangga kami menjadi tempat bertumbuhnya iman, damai sejahtera, dan kasih yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.”
— Roma 12:20

Ada orang yang berkata bahwa mengampuni adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup. Mungkin memang benar. Luka karena perkataan yang menyakitkan, pengkhianatan dari orang yang dipercaya, atau perlakuan tidak adil sering meninggalkan bekas yang bertahan lama. Tidak jarang kita berkata bahwa kita sudah mengampuni, tetapi hati kita masih dipenuhi kepahitan. Kita tidak lagi marah secara terbuka, tetapi juga tidak ingin melihat orang itu, apalagi menolongnya.
Namun firman Tuhan membawa kita melangkah lebih jauh daripada sekadar tidak membalas. Rasul Paulus menulis, “Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum.” Ini bukan sekadar larangan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini adalah panggilan untuk secara aktif berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti kita.
Perintah ini terdengar hampir mustahil. Bagaimana mungkin kita menunjukkan kebaikan kepada seseorang yang telah melukai hati kita? Bukankah itu berarti membenarkan perbuatannya? Tentu tidak. Mengampuni bukan berarti menganggap kesalahan itu tidak penting. Mengampuni juga bukan berarti menghapus semua konsekuensi dari perbuatan yang salah. Sebaliknya, mengampuni berarti menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan dan membebaskan hati kita dari belenggu kebencian.
Itulah sebabnya Paulus menulis sebelumnya, “Janganlah sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah.” Tuhan adalah Hakim yang adil. Ia tidak pernah mengabaikan dosa. Karena itu kita tidak perlu memikul beban untuk menjadi hakim atas sesama. Ketika kita menyerahkan perkara kepada Tuhan, kita juga sedang melepaskan diri dari beban yang selama ini menguras hati dan pikiran.
Lalu bagaimana dengan ungkapan, “menumpukkan bara api di atas kepalanya”? Maksudnya bukan agar kita dapat menyiksa orang lain dengan kebaikan kita. Sebaliknya, kasih yang tulus sering kali membangunkan hati nurani seseorang. Kebaikan yang tidak diduga dapat membuat orang menyadari kesalahannya dan terdorong untuk berubah. Bahkan jika ia tidak berubah, kita tetap telah melakukan bagian kita di hadapan Tuhan.
Mengampuni yang sejati selalu terlihat dalam tindakan. Selama kita masih berharap orang itu mengalami kesusahan, selama kita masih senang melihat kekurangan dan kegagalannya, atau selama kita enggan menolongnya ketika ia sungguh membutuhkan pertolongan, mungkin hati kita masih menyimpan luka yang belum diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Sebaliknya, ketika kita dapat mendoakannya, memperlakukannya dengan hormat, bahkan menolongnya dengan tulus, itu menjadi tanda bahwa kasih karunia Allah sedang bekerja di dalam diri kita.
Tentu saja, ini bukan berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Dalam beberapa keadaan, menjaga jarak atau menetapkan batas yang sehat adalah tindakan yang bijaksana. Pengampunan tidak menghapus hikmat. Namun, sekalipun ada batas, hati kita tetap tidak dikuasai oleh dendam.
Sesungguhnya, teladan terbesar adalah Tuhan Yesus sendiri. Ketika disalibkan oleh orang-orang yang membenci-Nya, Ia tidak mengutuk mereka. Sebaliknya, Ia berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Di kayu salib kita melihat bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, dan pengampunan lebih berkuasa daripada pembalasan. Kita mampu mengampuni bukan karena orang lain layak diampuni, tetapi karena kita sendiri telah terlebih dahulu menerima pengampunan yang begitu besar dari Kristus.
Mungkin hari ini Tuhan mengingatkan kita kepada seseorang yang pernah melukai hati kita. Kita belum dapat mengubah hatinya, tetapi kita dapat menyerahkan luka itu kepada Tuhan. Mintalah kekuatan untuk mengampuni, dan bila kesempatan itu datang, lakukanlah kebaikan dengan hati yang tulus. Dengan demikian, kita bukan sedang menunjukkan kelemahan, melainkan sedang memperlihatkan kemenangan kasih karunia Allah atas kepahitan manusia. Sebab pada akhirnya, kejahatan tidak pernah dikalahkan oleh kejahatan, tetapi oleh kasih yang lahir dari hati yang telah diubahkan oleh Kristus.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau telah lebih dahulu mengampuni segala dosa kami melalui Yesus Kristus. Ajarlah kami untuk melepaskan kepahitan dan keinginan membalas. Berikan kami hati yang sanggup mengampuni dan keberanian untuk berbuat baik kepada mereka yang pernah melukai kami. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih dan anugerah-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.