Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Perjuangan melawan diri sendiri

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

I am what I am (aku adalah aku) adalah semboyan tentang orang yang bangga dengan keadaannya, dan karena itu meminta pengertian orang lain agar menerimanya sebagaimana adanya. Lagu dengan judul yang sama pernah dinyanyikan oleh penyanyi terkenal Shirley Bassey dan Gloria Gaynor, dan bahkan muncul sebagai lagu anak-anak di sebuah acara TV. Lebih dari itu, lagu ini pernah dinyanyikan dalam sebuah show Broadway Musical, La Cage aux Folles, yang menceritakan kehidupan kaum LGBT.

Sekalipun slogan ini mempunyai maksud baik, yaitu untuk memberi rasa percaya diri kepada orang-orang yang, karena keadaan jasmani atau cara hidup mereka, dipandang rendah atau dikucilkan masyarakat, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berkukuh dengan cara hidupnya dan yakin bahwa apa yang ada sudahlah baik dan tidaklah perlu diubah.

Mungkin anda ingat bahwa ketika Musa diutus Allah untuk memimpin umat Israel, pada waktu itu ia menemui Allah yang menampilkan diri sebagai api ditengah semak duri. Musa kemudian menanyakan nama apa yang bisa dipakainya untuk menjelaskan bani Israel tentang siapa Allah itu. Allah kemudian menjawab bahwa namaNya adalah “Aku adalah Aku” (Keluaran 3: 14), yang mungkin bisa diartikan sebagai “Aku yang tidak ada tandingannya”. Dengan demikian, slogan “aku adalah aku” mungkin kurang tepat untuk dipakai manusia, karena untuk manusia yang tidak sempurna, semboyan itu terasa bernada sombong.

Jauh dari sempurna, manusia adalah mahluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapapun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Hidup lama untuk dunia harus berubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk istimewa dan tidak memerlukan Tuhan. Mahluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.

Seringkali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikutNya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita, karena “aku adalah aku”. Sebaliknya, kita harus mengakui setiap dosa dan kelemahan kita, agar Tuhan yang maha kasih memberikan pengampunan dan kekuatan, sehingga makin hari kita bisa makin sempurna didalam Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23

Tidak jauh berarti belum sampai ke tujuan

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Markus 12: 34

Dalam Alkitab ada banyak kata “bijaksana” yang bisa kita ditemui. Memang diantara sifat baik yang diharapkan dari setiap orang Kristen, kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat penting. Menuruti tradisi Salomo, banyak orang yang percaya bahwa kebijaksanaan adalah yang harus dicari manusia dengan sepenuh hati. Karena itu, adanya filsuf-filsuf di dunia ini, dari dulu sampai sekarang, merupakan bukti pentingnya kemampuan manusia untuk bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam hidup.

Para filsuf yang ada di dunia ini memang adalah orang-orang pandai, dan apa yang pernah diajarkan mereka sudah menjadi bahan pemikiran mereka yang senang mendalami filsafat atau philosophy. Nama-nama seperti Bertrand Russell, Rabindranath Tagore dan Mao Zedong termasuk dalam daftar filsuf abad 20, sekalipun itu bukan berarti bahwa cara hidup mereka harus dicontoh.

Dalam Markus 12: 28 – 34 ditulis bahwa seorang ahli Taurat, yang dianggap sebagai orang bijak yang paling tahu mengenai hukum Tuhan, datang menemui Yesus. Orang itu sudah mendengar tentang Yesus yang selalu memberi jawab yang tepat atas pertanyaan berbagai orang pandai. Dengan kesungguhan, orang itu bertanya kepada Yesus: “Hukum manakah yang paling utama?”. Yesus dengan tanpa mempersoalkan motivasi orang itu, menjawab bahwa hukum yang utama adalah untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Atas jawaban Yesus, ahli Taurat itu menyatakan persetujuannya. Jawabnya:

“Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Markus 12: 33

Yesus yang mendengar jawaban bijaksana dari ahli Taurat itu menjawabnya dengan singkat: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” . Yesus merasa senang bahwa orang itu tahu dan mengerti apa yang benar dan bijaksana. Bahwa kewajiban setiap manusia seharusnya adalah mengasihi Tuhan dengan sepenuh hidup kita dan juga mengasihi sesama manusia, dan bukan sekedar memuji Tuhan dan memberi persembahan. Tetapi kemampuan untuk berpikir dan menjawab dengan kebijaksanaan seperti itu, tidaklah menjamin bahwa seseorang sudah menjadi pengikut Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita sudah mengambil keputusan yang bijaksana untuk pergi ke gereja dan berbakti kepada Tuhan. Keputusan siapapun untuk mau ke gereja adalah satu tindakan yang membuat orang itu satu langkah lebih dekat kepada Tuhan, one step closer to God. Tetapi itu bukan berarti kita sudah mencapai tujuan kita, yaitu menjadi pengikut Tuhan sepenuhnya.

Jawaban yang bijaksana tidak akan menjadi tindakan bijaksana jika Tuhan tidak memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakannya. Dengan kekuatan sendiri, tidaklah mungkin kita bisa melakukan apa yang kita janjikan atau percayai. Hanya dengan bimbingan Roh Kudus kita bisa mengubah hidup kita hari demi hari, untuk menjadi pengikut Yesus sepenuhnya. Biarlah kita terus mau berdoa memohon bimbingan Tuhan agar kita mendapat kekuatan untuk tetap bisa hidup dalam kasih dimana saja dan kapan saja.

Makin dekat, Tuhan, kepadaMu;

walaupun salib tlah mengangkatku,

tetaplah laguku: Dekat kepadaMu;

makin dekat, Tuhan, kepadaMu.

Roda kehidupan terus berputar

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Sabtu terasa baru saja berlalu, sekarang sudah hari Sabtu lagi! Kemana hari-hari ini pergi berlalu? Orang bilang: waktu cepat berlalu menunjukkan kesibukan hidup, itu ada benarnya. Tetapi, sekalipun kita tidak terlalu sibuk, hidup terasa berubah cepat dengan adanya kejadian-kejadian di sekeliling kita, seperti perubahan-perubahan dalam karir, kesehatan, teknologi, keluarga, dan negara.

Banyak perubahan yang harus kita terima saja, tanpa kita bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuat kita sering merasa prihatin, terutama jika perubahan nampaknya tidak membawa kebaikan. Perubahan itu bisa datang dari dalam diri kita sendiri sebagai faktor internal, ataupun dari orang lain atau faktor eksternal lainnya. Bertambahnya umur yang untuk sebagian orang adalah sesuatu faktor internal yang membawa kematangan, untuk orang lain mungkin mendatangkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Masalah eksternal yang datang dari luar diri kita sudah tentu lebih sulit diduga akibatnya, tetapi selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Penulis ayat diatas adalah Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ia menulis bahwa segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menhindari kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Apa yang terjadi mungkin sering dipandang sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dihindari dan karena itu sebagian orang hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah.

Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan sepengetahuanNya. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu. Tuhan juga maha kuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakanNya di dunia, bukankah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan, dan iblis pun tahu bahwa dengan adanya kebebasan manusia, ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

Pagi ini, ayat diatas menegaskan bahwa adanya perubahan dalam hidup kita di dunia ini haruslah bisa kita terima. Jika kita membaca seluruh pasal dalam kitab Pengkhotbah 3, kita akan menyadari bahwa sekalipun kita tidak mengerti arti perubahan dalam hidup kita dan apa yang terjadi di sekitar kita, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Kitab Pengkhotbah 3 juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus sadar akan keterbatasan kita. Kerapkali, kita menerima kebebasan dan kemampuan yang kita terima dari Tuhan sebagai mandat untuk memaksakan kehendak kita. Kita lupa bahwa manusia bisa, boleh dan bahkan harus berusaha, tetapi kehendak Tuhanlah yang akhirnya akan terjadi. Karena itulah, setiap umat percaya seharusnya mencari kehendak Tuhan dan tidak menyia-nyiakan hidup mereka untuk berusaha menemukan apa yang mereka kehendaki.

Kitab Pengkhotbah 3 juga menulis bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati apa yang kita sudah terima dari Tuhan. Kegalauan hati dan pikiran tidak akan menolong kita karena kita memang tidak sepenuhnya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Tetapi berbagai tokoh Alkitab seperti Jusuf, Abraham dan Musa, menyerahkan semua kekuatiran mereka dalam menjalani hidup di tanah yang asing. Mereka bisa menikmati hidup di dunia dengan menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Tuhan.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3: 13

Pagi ini, mungkin kita merasa bahwa kita kehilangan kontrol atas hidup kita. Pengkhotbah 3 bertanya adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa putus asa yang mungkin timbul dalam hidup kita. Adakah sesuatu yang bisa kita andalkan? Salomo menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menguasai jalannya semua peristiwa kehidupan, tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, hidup ini adalah suatu kepastian: Tuhan akan membimbing mereka dalam keadaaan apapun.

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Amazing Grace: Karena Tuhan sudah memilih kita

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Yohanes 15: 16

Pernahkah anda memikirkan bagaimana anda bisa menjadi orang Kristen? Sebagian diantara kita mungkin merasa beruntung karena dilahirkan atau hidup dalam lingkungan Kristen. Sekalipun begitu, ada banyak orang yang menjadi pengikut Kristus melalui proses yang cukup lama dan rumit, yang akhirnya membuat mereka menerima anugerah keselamatan Kristus.

Hubungan antara umat percaya dan Tuhan memang berkembang dengan cara yang berbeda-beda. Walaupun demikian, ayat diatas tidak membedakan bagaimana seseorang bisa menjadi pengikut Kristus, karena dalam diri setiap orang percaya, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif utama untuk memperkenalkan diriNya dan rencanaNya melalui pekerjaan Roh Kudus. Manusia tidak dapat mengenal Tuhan dan mengerti bahwa ia memerlukan penebusan darah Kristus melalui usahanya sendiri.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Manusia memang bisa dilahirkan atau hidup di kalangan tertentu, tetapi untuk menjadi pengikut Kristus semua orang harus melalui proses yang sama, yaitu kesadaran, pertobatan dan pengabdian. Seorang mungkin dilahirkan dalam keluarga Kristen, mengaku Kristen, tetapi tidak pernah sadar bahwa ia adalah manusia yang penuh dosa di hadapan Tuhan yang maha suci. Karena itu, sekalipun ia merasa sudah mengenal Kristus, orang itu mungkin belum mengalami hidup baru. Orang yang demikian tidak mungkin bisa mengabdikan hidupnya untuk Kristus.

Jika Tuhan memilih seseorang, Roh Kudus akan bekerja mencelikkan mata orang itu untuk menyadari akan hidupnya yang penuh dosa, sekalipun ia mempunyai hidup yang baik dalam pandangan manusia. Roh Kudus juga ikut bekerja dalam mempengaruhi orang-orang dan keadaan disekitarnya untuk bisa membantu orang itu kearah pengenalan akan Tuhan yang maha kuasa dan maha suci.

Mereka yang tidak dicelikkan mata rohaninya mungkin yakin bisa mencapai keselamatan dengan usahanya sendiri, tanpa darah Kristus. Mereka yang menolak pekerjaan Roh Kudus pada akhirnya tidak mungkin untuk melihat adanya jalan keselamatan yang sudah disediakan Tuhan. Mereka jugalah yang pada akhirnya harus bertanggung jawab atas hilangnya kesempatan untuk menerima keselamatan yang sudah disediakan Tuhan. Inilah dosa yang membawa kematian.

Pagi ini, jika anda membaca renungan ini, anda boleh bertanya mengapa Tuhan sudah memilih orang-orang tertentu seperti diri anda. Ia memilih manusia agar mereka mau bertobat dari hidup lama dan mengajak mereka untuk menempuh perjalanan hidup baru bersamaNya. Tanpa inisiatif dari Tuhan, tidak mungkin kita bisa menjawab “ya” atas panggilanNya, dan tidak mungkin bagi kita untuk mengabdikan hidup kita dengan penyerahan sepenuhnya kepadaNya. Dalam hidup baru, sekalipun tetap bisa berbuat dosa, kita yang dipilih Tuhan dapat merasakan bimbingan Roh Kudus yang selalu memberi kebijaksanaan untuk berusaha menuruti firmanNya setiap hari, dan kekuatan untuk bertahan dalam iman baik dalam suka maupun duka, sampai kita menjumpai Tuhan muka dengan muka. Pujilah Tuhan yang sudah memilih kita!

Amazing grace! how sweet the sound,
That saved a wretch; like me!
I once was lost, but now am found,
Was blind, but now I see.

….

’Twas grace that taught my heart to fear,
And grace my fears relieved;
How precious did that grace appear
The hour I first believed!

….

The Lord hath promised good to me,
His word my hope secures;
He will my shield and portion be
As long as life endures.

….

When we’ve been there ten thousand years,
Bright shining as the sun,
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we first begun.

Tuhan melihat apa saja yang terjadi

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” 1 Petrus 3: 12

Semalam ketika saya pergi tidur, pada waktu yang sama sebagian penduduk dunia justru baru mulai berangkat bekerja. Dan pagi ini ketika saya bangun tidur dan membaca berita-berita di media, pikiran saya melayang ke berbagai hal yang terjadi di dunia selama saya tidur. Memang dengan adanya internet, orang bisa lebih merasa bahwa dunia ini agaknya seperti sebuah rumah yang sangat besar yang dihuni banyak orang yang mempunyai aktivitas berlainan. Dalam rumah itu selalu ada kegiatan pada setiap waktu di ruang yang berbeda.

Dunia ini memang seperti rumah yang besar dan Tuhan adalah pemiliknya. Lebih dari itu, rumah dan semua penhuninya sepenuhnya bergantung kepada pemeliharaan Sang Pemilik. Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk menjaga rumah itu dan mencukupi kebutuhan penghuninya. Tuhan mencintai seisi rumah itu, dan bahkan sudah memilih sebagian dari penghuninya untuk menjadi anak-anak angkatnya.

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” Efesus 1: 5

Memang setiap orang yang bisa merasakan betapa besar kasih Tuhan kepada dunia, dan bisa melihat bagaimana besar kuasaNya yang tercerminkan dalam semua yang ada dalam alam semesta, tentunya tidak dapat menolak kenyataan bahwa Ia adalah Tuhan yang harus dihormati dan disembah. Walaupun demikian, selalu ada saja orang-orang yang tidak mau mengenal Tuhan, yang berbuat jahat dalam hidup mereka sehari-hari: mereka bukanlah anak-anak Tuhan.

Ayat diatas menunjukkan perbedaan reaksi Tuhan yang memiliki alam semesta ini, terhadap mereka yang menurut perintahNya dan mereka yang mengabaikan hukumNya. Seluruh umat manusia yang tinggal di rumah besar yang saat ini dinamakan dunia, menerima berkat Tuhan setiap hari, tetapi hanya mereka yang mengasihiNya boleh yakin akan pemeliharaanNya dalam setiap keadaan. Karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong.

Pagi ini, jika kita merasa dunia ini seperti sudah terbalik dan kita terhimpit dibawahnya, biarlah kita boleh tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata telingaNya kepada kita yang sudah diangkatNya sebagai anak-anak pilihan. Semoga kita tetap bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita hari demi hari. Tuhan yang memiliki dunia ini tidak pernah meninggalkan kita.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Mengapa pelit dengan doa?

“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6: 18

Apa gunanya kita berdoa? Untuk menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan agar Ia memberi apa yang kita inginkan, begitu mungkin jawaban banyak orang. Tetapi buat orang Kristen doa itu perlu untuk bisa merasakan kedekatan kita dengan Tuhan, agar Tuhan bisa menyatakan kehendakNya kepada kita. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita.

Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan. Makin sering kita berdoa, makin kenal kita dengan Tuhan dan makin bisa kita mengerti akan kehendakNya dalam hidup kita. Berapa kali kita harus berdoa dalam sehari? Kita boleh berdoa seberapa banyak yang kita maui. Semakin sering kita berdoa, semakin terasa kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan semakin kuat iman kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Walaupun doa adalah sangat penting, dalam kenyataannya banyak orang yang merasakan bahwa berdoa hanyalah suatu kewajiban dan bukannya suatu keuntungan dengan adanya hubungan komunikasi langsung, direct line, dengan Tuhan. Dalam kesibukan sehari-hari, orang sering merasa bahwa adanya waktu yang terbatas hanyalah cukup untuk menyapa Tuhan, tetapi bukan untuk berbincang-bincang. Time is money, waktu adalah uang, begitu prinsip hidup sebagian orang. Hanya jika ada yang benar-benar dibutuhkan, barulah doa menjadi agak lebih panjang. Doa untuk orang lain mungkin hanya diucapkan jika ada waktu yang tersisa.

Dalam ayat diatas, Paulus menulis bahwa kita harus berdoa setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jaga dalam doa itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang Kudus. Apa maksudnya?

Yang pertama, doa bukanlah sekedar mengucapkan permohonan kita dengan mulut. Doa yang benar adalah dengan mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita agar kita bisa berserah kepada Tuhan dalam segala kebutuhan kita.

Dalam doa kita juga harus berjaga-jaga dari serangan atau pengaruh iblis yang ingin merusak hubungan intim kita dengan Tuhan dengan memenuhi pikiran kita dengan keinginan-keinginan jasmani, kepentingan pribadi, pikiran sesat dan keraguan akan kasih Tuhan.

Doa kita juga harus dilakukan dengan tidak berkeputusan. Ini berarti kita harus bertekun dalam doa, dan tidak mudah berputus asa. Kita bertekun dalam doa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan, tetapi untuk selalu mencari kehendakNya agar kita bisa memohon apa yang kita butuhkan dalam keyakinan dan kedamaian.

Hal yang terakhir dalam ayat diatas adalah doa untuk orang-orang Kudus. Orang-orang disini adalah semua orang yang dikuduskan oleh darah Kristus, yaitu semua orang-orang percaya. Inilah yang mungkin sering diabaikan dalam doa “ekspres” kita, karena waktu yang terbatas membuat kita malas atau lupa untuk berdoa bagi orang lain.

Pagi ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa doa seharusnya seperti menghirup udara. Tanpa berdoa, hidup rohani kita akan mati dan kita akan sulit untuk mengenal Tuhan dan untuk mengasihiNya. Doa bukan hanya untuk memohon sesuatu untuk diri kita sendiri. Doa untuk mereka yang membutuhkan pertolongan Tuhan tidak boleh dilupakan, agar kita bisa menyelami apa arti mengasihi sesama, terutama saudara-saudara seiman kita. Biarlah kita bisa lebih giat berdoa!

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20

Hidup ini tidak perlu terasa terlalu berat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Jika anda rajin membaca berita, anda mungkin tahu bahwa dalam 2 minggu terakhir ini, sudah tiga orang ternama meninggalkan dunia ini dengan cara bunuh diri. Bagi semua orang, hal bunuh diri adalah hal yang menyedihkan, tetapi mungkin juga sensitif dan tabu untuk dibicarakan. Kita merasa sedih bahwa hal itu bisa terjadi, kita mungkin merasa menyesal bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menolong. Bagi keluarga yang bersangkutan, selain rasa sedih dan menyesal, mungkin juga ada rasa malu. Bagi umat Kristen, tindakan mengambil hidup siapapun adalah bertentangan dengan firman Tuhan, karena itu di lingkungan gereja jarang ada orang yang mau membicarakannya.

Di Australia, kasus bunuh diri cukup besar. Lebih dari 10 orang meninggal diantara tiap 100 ribu penduduk setiap tahun, dan kasus diantara pria sekitar 3 kali lebih tinggi dari wanita, 15 orang dibandingkan dengan 5 orang setiap 100 ribu penduduk. Karena itu, pemerintah dan berbagai badan sosial dan gereja sangat aktif dalam kegiatan mengatasi hal ini.

Ada berbagai sebab mengapa orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Penderitaan hidup, pengangguran, rasa malu dan kesepian mungkin adalah beberapa sebab yang umum di banyak negara, tetapi di negara barat faktor depresi sangatlah menonjol. Dalam hal depresi, ada kemungkinan bahwa faktor medis/genetik menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, penyalah-gunaan obat-obat tertentu dan kecanduan minuman keras bisa juga mengakibatkan depresi berat.

Sebagai orang Kristen, kita mengerti bahwa kita hidup di dunia yang penuh duri. Sejak manusia jatuh kedalam dosa, bumi ini menjadi tempat dimana manusia mengalami penderitaan sampai akhir hidupnya (Kejadian 3: 16 – 19). Di dunia ini bukan saja ada penderitaan jasmani, tetapi juga penderitaan rohani, apalagi jika orang-orang disekitar kita terasa kurang peduli dan Tuhan pun terasa jauh.

Kedatangan Yesus ke dunia sebagai Juru Selamat dunia dua ribu tahun yang lalu, adalah karunia Allah kepada seisi dunia. Dengan tugas utamaNya untuk menyelamatkan jiwa manusia, Yesus juga menyatakan kasih Allah melalui hal-hal yang bersifat jasmani, seperti menyembuhkan orang sakit dan memberi makan banyak orang. Bagi Kristus, kebutuhan jasmani dan rohani adalah perlu dicukupi di dunia ini. Ia tahu bahwa manusia harus menghadapi beban berat di dunia ini, dan Ia mau menolong mereka.

Pagi ini kita diingatkan bahwa apa yang pernah dikatakan Yesus dulu, tetap tidak berubah hari ini. Hidup itu terlalu indah untuk disia-siakan ataupun disesali. Yesus mengajak kita yang berbeban berat untuk datang kepadaNya dalam doa dan persekutuan, agar Ia, melalui Roh Kudus, bisa memberikan penghiburan dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi tantangan hidup. Yesus jugalah yang mengajarkan kita untuk bisa dan mau mendengarkan keluh kesah orang lain, dan untuk memberikan pertolongan dan dukungan kepada mereka yang dalam keadaan sulit.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27