Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Patutkah kita mengasihi orang yang jahat?

Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Lukas 6: 32

Sebuah lagu pop yang sangat populer sewaktu saya masih tinggal di Indonesia adalah “Mengapa tiada maaf” yang dinyanyikan oleh Broery Marantika. Saya sangat menyukai lagu yang bernada romantik itu, dan karena itu saya senang mendengar kabar bahwa lagu itu kemudian menjadi populer lagi dikalangan generasi penerus saya berkat adanya penyanyi spesialis lagu daur ulang Yuni Shara.

Agaknya memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan, apalagi jika kita sudah dijahati orang lain. Karena itu kata “tiada maaf bagimu” menjadi istilah yang cukup sering didengar. Bahkan di Malaysia ada lagu yang berjudul “Tiada maaf bagimu” yang dinyanyikan oleh biduanita negara, Sharifah Aini.

Bagaimana pengalaman anda sendiri dalam hal minta maaf, dimaafkan dan memaafkan? Adakah pengalaman pahit yang membuat anda sulit memaafkan orang yang bersalah kepada anda? Ataukah ada pengalaman pahit ketika orang lain tidak mau memaafkan anda atau menerima pernyataan maaf anda?

Mungkin dalam hati kita ada perasaan bahwa ada orang-orang yang bisa dimaafkan, tetapi ada juga orang yang sudah melakukan apa yang kita pandang sangat jahat, sehingga mereka tidak patut dimaafkan. Mungkin juga ada orang-orang tidak patut dikasihani atau dikasihi sekalipun mereka adalah orang-orang yang kita kenal, karena mereka pernah menyakiti kita. Mungkin bagi kita lebih mudah untuk mengasihi orang yang terlihat baik, atau orang yang pernah berbuat baik kepada kita. Bukankah ini adalah hal yang biasa dalam hidup bermasyarakat?

Ayat di atas menyatakan hal yang sebaliknya. Yesus menegur orang yang mempunyai kebiasaan berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik. Yesus mengingatkan bahwa jika kita mengasihi orang yang mengasihi kita, itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Adalah fakta bahwa orang-orang tidak mengenal Kristus juga mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Oleh sebab itu, kita yang mengaku anak-anak Tuhan harus bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang belum menerima pengampunan dosa melalui darah Kristus.

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4: 32

Sebagai anak-anak Allah kita juga harus bisa memiliki sifat murah hati yang dimiliki oleh Bapa kita. Dengan demikian, kita bisa menjadi anak-anak Bapa yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5: 45). Adakah keinginan dalam hati kita untuk meniru kasih yang sudah diperlihatkan oleh Bapa kita?

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Lukas 6: 36

Yesus sobat kita yang setia

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Di zaman ini berbagai jenis obat-obatan ditawarkan kepada mereka yang ingin hidup sehat dan kuat. Banyak produk yang berupa vitamin, obat kuat atau makanan sehat, dijual bebas atau melalui program penjualan bertingkat (multi level marketing). Mereka yang membeli produk-produk itu belum tentu membutuhkannya, tetapi jika memang ada uang apa pun yang ditawarkan orang selalu mempunyai daya pemikat tersendiri.

Banyak orang yang tertarik untuk membeli obat-obat atau vitamin yang dijual bebas karena anggapan bahwa produk itu berbeda dengan obat dokter karena dianggap tidak ada akibat sampingannya. Dengan adanya berbagai produk yang indah kemasannya, orang yang mampu merasa bebas untuk memilih apa yang disukai, yang mungkin bisa membuat tubuh terasa kuat sekalipun hanya untuk sementara.

Jika usaha manusia untuk menjadi sehat jasmani melalui jalan pintas seringkali dimungkinkan oleh adanya uang, usaha untuk mencapai kekuatan batin tidaklah semudah itu untuk dilaksanakan. Sebaliknya, semakin jaya hidup manusia, kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati sering menjadi semakin kecil. Karena itu, banyak orang yang hidup sehari-harinya nampak nyaman, tetapi dalam hatinya merasa letih lesu dan berbeban berat.

Dalam kekosongan hidup, seolah tidak ada seorang pun yang peduli atau bisa menolong. Sekalipun banyak usaha sudah dilakukan, ketenteraman hati tidak kunjung datang. Jika obat apa pun bisa dibeli, sobat yang setia tidaklah mudah didapatkan. Banyak sedikitnya uang ternyata tidak bisa memberikan jalan untuk memperoleh kebahagiaan batin.

Ayat di atas menjelaskan mengapa ketenteraman hati yang sejati tidak dapat diperoleh manusia dengan usahanya sendiri atau dengan bantuan orang lain. Kesehatan rohani dan kedamaian hidup tidak dapat dibeli dengan uang atau diperoleh dengan mencoba-coba apa yang terlihat menarik dan dipopulerkan banyak orang. Memang ada banyak orang yang mengajarkan berbagai cara untuk meringankan hati manusia yang letih, lesu dan berbeban berat, tetapi semua itu hanyalah usaha sia-sia. Sebagian orang mungkin sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa memberi pertolongan, tetapi apa yang mereka sembah seringkali terasa jauh dan tidak peduli akan penderitaan manusia.

Yesus yang pernah turun ke dunia adalah Tuhan yang pernah menjadi manusia dan mengalami penderitaan jasmani dan rohani ganti kita. Karena itu, jika Ia mengajak kita untuk datang kepadaNya, ajakan itu bukannya sekedar janji untuk memberi kita keringanan dan kelegaan, tetapi itu adalah suatu kepastian. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, Yesus akan memberikan kita kedamaian dan kekuatan dalam hidup kita yang penuh tantangan. Apa lagi yang kita cari dalam hidup ini?

Yesus sobat yang sejati, tanggung s’gala dosaku,

tiap hal ‘ku boleh bawa, dalam doa pada-Nya.

Bila hatiku gelisah, percumalah berlelah,

bersandarlah pada Yesus, berdoalah pada-Nya.

Kepada siapa aku bisa berharap?

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku! Mazmur 42: 11

Kemarin media memberitakan adanya kejadian yang tragis di Brisbane. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 anak kecil tewas terbakar dalam sebuah mobil. Diduga ini adalah hasil pembunuhan-bunuh diri (murder-suicide). Orang yang bagaimana tega untuk membunuh seisi keluaga dan kemudian membunuh diri sendiri?

Murder-suicide memang sudah lama menjadi bagian gelap dari sejarah kejahatan di Australia, dan ini biasanya menyangkut pembunuhan yang dilakukan anggota keluarga yang kehilangan kontrol diri. Tentunya orang yang dapat menguasai pikirannya tidak akan melakukan hal seperti itu. Tetapi, jika pikiran manusia lagi tertekan atau terluka, semua yang jahat bisa dilakukannya. Manusia dalam kelemahannya memang seringkali tidak dapat mengendalikan emosi dan perbuatannya. Hal itu juga tertulis dalam Alkitab.

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 19

Dapatkah manusia sepenuhnya menghindari hal yang jahat dalam pikirannya? Selama hidup di dunia tidak ada seorang pun yang bisa. Orang Kristen juga tetap bisa tergoda untuk melakukan apa yang jahat atau yang tidak baik, tetapi karena Roh Kudus tinggal di hati mereka, adanya godaan dan pencobaan seharusnya lebih mudah untuk bisa diatasi. Walaupun demikian, Yesus pernah mengingatkan murid-muridNya bahwa sekalipun hati kita mau menurut perintahNya, tubuh jasmani kita mungkin lemah, mudah lelah dan gampang tergoda untuk melakukan apa yang tidak baik.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Matius 26: 41

Orang Kristen yang bagaimana pun bisa mengalami masalah jasmani, terutama mengenai kesehatan kejiwaan. Jika kita meneliti kehidupan Raja Daud, kita bisa menduga bahwa ia pernah menderita gangguan kejiwaan yang setidaknya berbentuk depresi. Beberapa kali ia menunjukkan perasaan kosong, kekuatiran, jeritan, dan sebagainya. Ini bukanlah hal yang mudah diatasi, apalagi jika tidak ada orang yang bisa atau mau untuk memberikan penghiburan atau dukungan moril.

Dalam ayat pembukaan di atas Daud jelas menunjukkan pergumulannya. Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Daud yang pernah mengalahkan Goliat ternyata bukanlah orang yang selalu kuat secara psikologis. Tetapi, kelemahan Daud bukanlah suatu yang aib baginya. Daud tidak merasa malu atau segan mengutarakan perasaannya. Sebaliknya, dengan mengutarakan isi hatinya ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Karena itu, ia bisa melanjutkan jeritannya dengan keyakinan baru. Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Pagi ini, adakah kegundahan dalam hidup anda? Apakah anda merasa bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti perasaan dan masalah anda? Apakah ada rasa segan dan malu dalam diri anda sehingga sulit bagi anda untuk mencurahkan isi hati anda kepada orang lain? Pada pihak yang lain, mungkinkah ada orang yang anda kenal yang selama ini membuat anda kuatir atau takut karena keadaan jiwanya? Firman Tuhan berkata bahwa kita bisa berharap kepadaNya. Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih yang bisa menolong kita melalui berbagai cara. Ia juga bisa memakai orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang bisa menganalisa keadaan kita, untuk membimbing, menguatkan dan mengobati. Berdoalah selalu dan mohonlah agar Ia melindungi anda dari apa yang jahat dan menunjukkan jalan yang bijaksana!

The two sides of Jesus

“All I want is to know Him and the power of His resurrection and the fellowship of His sufferings, in which I became like Him in His death, that I might be raised from the dead.” Philippians 3: 10-11

Which life do you want? A life full of comfort or a life full of suffering? Of course, for all people who are faced with just two choices, they will choose the first. Who wants to live in suffering? However, many wise people want them not to be too rich or too poor. Why is that?

Humans often face problems in two circumstances: too rich and too poor. Proverbs 30: 8 begs God that He does not give poverty or wealth. He asked God to let him have enough if he could enjoy the food that was part of it. Why is it so? The writer in the next verse explained: “So that if I am full, I will not deny you and say, Who is the LORD? Or, if I am poor, I steal, and defile the name of my God.”

Of course, the meaning of wealth and poverty is different for each person. Each person’s measure of sufficiency and deficiency is not the same. There are people who are already rich, but still want to be richer. There are people who are abundant but still do bad things to get even richer. Conversely, many people suffer so much that they deny God. In addition, there are also people who are poor but their lives are full of happiness.

Which do you want in life? Live in success and luxury or live simply and struggle? Maybe there are people who do not mind tough life , as long as there is happiness and peace. This is true, but how? How can we feel happy, feel enough, or not suffer if other people’s lives seem more comfortable in abundance? This question is not easy to answer.

The Apostle Paul in his letter to the Philippians wrote that he wanted to know Jesus so that he could get answers to the questions above. This is a wise act that returns to the basis of true faith. Back to the basics. As Christians, we are followers of Christ and therefore we should follow in His footsteps through this life.

What can we imitate from Jesus? Paul wrote that Jesus had two sides of life: suffering and glory. Through His suffering, Jesus received glory from God the Father. Through His sacrifice on the cross and His death, He was resurrected and ascended to heaven. Paul wanted such a life so that he could imitate Jesus. Paul desired to know Jesus and the power of His resurrection, and the fellowship in His sufferings, so that he would be like Him in His death, so that he could finally live in victory. Because Jesus had two sides of life, Paul also wanted to be like that.

This morning, if our lives have been filled with abundance and success, is there still willingness to struggle, suffer and sacrifice for others? Is there our desire to be like Jesus who obeyed the Father’s call to sacrifice Himself for human salvation? And if we are currently living in suffering, are we aware that Jesus, the Son of God, had experienced a far greater suffering to replace us? Like Jesus, every Christian must take up the cross and follow Him. Like Jesus who has received the glory, all our hard work will ultimately produce eternal happiness.

Mengenal Yesus dari dua sisi

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3: 10 – 11

Manakah hidup yang anda kehendaki? Hidup yang penuh dengan kenyamanan ataukah hidup yang penuh dengan penderitaan? Tentunya bagi semua orang yang dihadapkan pada dua pilihan saja akan memilih yang pertama. Siapakah yang mau hidup dalam penderitaan? Walaupun demikian, banyak orang yang bijaksana ingin agar mereka tidak terlalu kaya atau terlalu miskin. Mengapa demikian?

Manusia sering menghadapi masalah dalam dua keadaan: terlalu kaya dan terlalu miskin. Amsal 30: 8 memohon kepada Tuhan agar Ia tidak memberikan kemiskinan atau kekayaan. Ia meminta Tuhan untuk membiarkannya merasa cukup jika ia bisa menikmati makanan yang menjadi bagiannya. Apa sebabnya? Penulis Amsal dalam ayat berikutnya menulis: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”

Sudah tentu, ukuran kekayaan dan kemiskinan itu berbeda untuk setiap insan. Ukuran tiap orang tentang kecukupan dan kekurangan itu tidak sama. Ada orang yang sudah kaya, tetapi masih ingin lebih kaya. Ada orang yang berkelimpahan tetapi masih juga melakukan hal-hal yang buruk untuk bisa lebih kaya. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat menderita sehingga ia menyangkali Tuhan. Selain itu, ada juga orang yang miskin tetapi hidupnya penuh kebahagiaan.

Manakah yang anda kehendaki dalam hidup? Hidup dalam kesuksesan dan kemewahan atau hidup sederhana dan penuh perjuangan? Mungkin ada orang yang menjawab hidup bagaimana pun baik, asal ada kebahagiaan dan kedamaian. Ini benar, tetapi bagaimana caranya? Bagaimana kita bisa merasa bahagia, merasa cukup, atau tidak menderita jika hidup orang lain terlihat lebih nyaman dalam kelimpahan? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab.

Rasul Paulus dalam suratnya ke jemaat di Filipi menulis bahwa ia ingin mengenal Yesus agar ia bisa mendapatkan jawaban pertanyaan di atas. Ini adalah tindakan yang bijaksana yang kembali ke dasar iman yang benar. Back to the basics. Sebagai orang Kristen kita adalah pengikut Kristus dan karena itu sudah seharusnya mengikut jejakNya dalam mengarungi hidup ini.

Apa yang bisa kita tiru dari Yesus? Paulus menulis bahwa Yesus mempunyai dua sisi kehidupan: penderitaan dan kemuliaan. Melalui penderitaanNya, Yesus menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Melalui pengurbananNya di kayu salib dan kematianNya, Ia dibangkitkan dan naik ke surga. Paulus menghendaki agar ia bisa meniru Yesus.

Yang dikehendaki Paulus ialah mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya, dan persekutuan dalam penderitaanNya, supaya ia menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, agar ia akhirnya beroleh hidup dalam kemenangan. Karena Yesus mempunyai dua sisi kehidupan, Paulus juga ingin bisa seperti itu.

Pagi ini, jika hidup kita sudah terisi dengan kelimpahan dan kesuksesan, masih adakah kemauan untuk pergumulan, penderitaan dan pengurbanan bagi orang lain? Adakah kerinduan kita untuk menjadi seperti Yesus yang menaati panggilan Bapa untuk mengurbankan diriNya demi keselamatan manusia? Dan jika saat ini kita hidup dalam penderitaan, sadarkah bahwa Yesus, Anak Allah, sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar untuk ganti kita? Seperti Yesus, setiap orang Kristen harus memikul salib dan mengikut Dia. Seperti Yesus yang sudah menerima kemuliaan, segala susah payah kita pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan yang kekal.

Do you love your brothers and sisters in Christ?

“This is the sign that we love God’s children, that is, if we love God and do His commandments.” 1 John 5: 2

It is easier to get along with people who are not Christians but who look good in their lives, than making friends with Christians who are in chaos. Perhaps many people who think so because of their personal experience. Indeed, it seems difficult for us to like those who claim to be Christian but often disappoint us. Loving others is not easy, but loving people who believe is often more difficult, especially because of differences among groups and denominations.

How can we cultivate love for all believers? The first verse of 1 John 5 says that “Everyone who believes that Jesus is the Christ is born of God; and everyone who loves the one who gives birth loves also the one who was born of him.” Thus, if we on the one hand love Jesus who was born of God, we must realize that our difficulties in loving our fellow Christians who are also born of God, are actually contrary to our love for God. Moreover, if we can love the invisible God, we should be able to love the visible brother in the faith. Verse 1 John 4: 20 states that if someone says, “I love God,” and he hates his brother, he is a liar, because whoever does not love his brother whom he has seen, it is impossible to love God whom he has not seen.

Are there any indication that we love our brothers and sisters? Our opening verse says that the mark is reflected in how we love God and obey His commandments. This may sound like circular logic. But those who love God certainly do His commandments.

“If you love me, you will keep my commandments.” John 14: 15.

What God commanded His people was summarized in two ways: “Thou shalt love the Lord thy God with all thy heart, and with all thy soul, and with all thy mind, and with all thy strength: and the second commandment is, Thou shalt love thy neighbor as thyself. There is no other commandment greater than these.” Mark 12: 30 – 31. If we love one another, we will inevitably love everyone, including those we do not like and those who do not like us. Clearly love for one another should include love for fellow believers.

As sinful humans, the love we have is not love for others, but love for ourselves. We often love others when it brings us good fortune and happiness. However, since we have been adopted as children of God, we have the ability to love one another with pure love (agape). Thus, true love does not come from us, but must come from God. “My beloved brethren, let us love one another, for love is of God; and every one that loveth is born of God, and knoweth God.” 1 John 4: 7.

We may be ready and willing to love one another, but it is not complete if our love is not passed on to our fellow believers. Love for the brothers and sisters in Christ should be even more important because they are children of God just like us. Let our love grow in Him who has given us a new life!

“Therefore, as long as there is opportunity for us, let us do good to all, but especially to our fellow believers.” Galatians 6:10

Hal mengasihi saudara seiman

Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. 1 Yohanes 5: 2

Lebih mudah bergaul dengan orang yang bukan Kristen tapi yang terlihat baik hidupnya, daripada berteman dengan orang Kristen yang kacau hidupnya. Mungkin banyak orang yang berpendapat begitu karena pengalaman pribadi yang dialaminya. Memang agaknya sulit bagi kita untuk menyenangi orang yang mengaku Kristen tetapi seringkali mengecewakan kita. Mengasihi sesama tidaklah mudah, tetapi mengasihi orang yang seiman seringkali lebih sukar, apalagi karena adanya perbedaan antar golongan dan antar aliran.

Bagaimana kita bisa memupuk kasih kepada semua orang percaya? Ayat pertama dari 1 Yohanes 5 mengatakan bahwa “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya.” Dengan demikian, jika kita pada satu pihak mengasihi Yesus yang lahir dari Allah, kita harus sadar bahwa kesulitan kita dalam mengasihi sesama umat Kristen yang juga lahir dari Allah, sebenarnya bertentangan dengan kasih kita kepada Allah.

Lebih dari itu, jika kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan, seharusnya kita bisa mengasihi saudara seiman yang kelihatan. Ayat 1 Yohanes 4: 20 menyatakan Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Adakah tanda-tanda bahwa kita sudah mengasihi saudara seiman kita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa tandanya terlihat dalam hal bagaimana kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. Ini agaknya seperti logika yang berputar (circular logic). Tetapi memang orang yang mengasihi Allah tentu mau melakukan segala perintahNya.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14: 15

Apa yang diperintahkan Allah kepada umatNya diringkas oleh Yesus dalam dua hal:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30 – 31

Jika kita mau mengasihi sesama kita, kita tidak dapat tidak mengasihi semua orang, termasuk mereka yang kurang kita sukai dan mereka yang tidak menyukai kita. Jelas kasih kepada sesama harus mencakup kasih kepada saudara-saudara seiman.

Sebagai manusia berdosa, kasih yang kita punyai bukanlah kasih untuk orang lain, tetapi kasih kepada diri sendiri. Kita sering mengasihi orang lain jika itu membawa kebaikan dan rasa senang untuk diri kita sendiri. Tetapi, karena kita sudah diangkat menjadi anak-anak Allah, kita memperoleh kemampuan untuk mengasihi sesama kita dengan kasih yang murni (agape). Dengan demikian, kasih yang benar bukan berasal dari diri kita, tetapi harus datang dari Allah.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” 1 Yohanes 4: 7

Saat ini kita mungkin merasa siap dan sanggup untuk mengasihi sesama kita, tetapi itu belum lengkap jika kasih kita tidak diteruskan kepada saudara seiman. Kasih kepada saudara seiman malahan harus lebih diutamakan karena mereka adalah anak-anak Allah seperti kita. Biarlah kasih kita makin bertumbuh di dalam Dia yang sudah memberi kita hidup baru!

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10