Kesadaran atas akibat dosa adalah perlu

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Siapa atau apa saja yang bisa membuat aspek hidup umat Tuhan rmenderita di dunia? Yang pertama tentunya dosa. Dari awalnya manusia menderita karena dosa Adam dan Hawa yang mendatangkan kutuk Tuhan kepada setiap orang. Selain itu, ada kalanya Tuhan mengizinkan datangnya “temptation” atau pencobaan. Sekalipun Tuhan tidak mencobai siapa pun, Ia dengan tuijuan tertentu bisa mengijinkan iblis untuk mencobai umat-Nya dengan mendatangkan hal-hal yang jahat. Terkadang Tuhan memberi test, hajaran atau ujian hidup kepada umat-Nya, yang sekalipun tidak melakukan dosa tertentu tetapi harus mengalami hal-hal yang tidak nyaman. Bagaimana dengan serangan iblis? Seagian orang percaya bahwa umat Tuhan yang sejati tidak dapat diserang iblis. Ini tidak benar. Iblis tidak dapat memiliki kita, tetapi tetap dapat menyerang kita. Karena itu kita harus tetap berjaga-jaga karena iblis dapat menyerang kita selagi kita tidak siap. Lebih dari itu, umat Kristen bisa menderita karena orang lain dan lingungan yang buruk. Karena itu kita harus berhati-hati memilih teman dan lingkungan kerja atau tempat hidup.

Adalah kenyataan bahwa sebagian besar kesengsaraan manusia disebabkan oleh dosa sendiri dan dosa orang lain. Manusia tidak perlu memperoleh izin Tuhan untuk berdosa, tetapi sebaliknya semua orang cenderung dan bisa berbuat dosa dengan bebas jika Tuhan tidak mencegahnya. Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Memang kebebasan tanpa batas sering kali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak muda, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kenyamanan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Hal yang serupa bisa juga terjadi di kalangan orang Kristen yang merasa bahwa dengan pengampunan yang mereka terima melalui Yesus Kristus, mereka dibebaskan dari pemikiran atau kekuatiran tentang dosa. Dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakasih, mereka mudah jatuh dalam perbuatan yang tercela. Bukankah Tuhan yang mahakasih akan selalu dapat mengampuni dosa mereka? Bukankah kasih Tuhan yang tidak dapat dibayangkan dalamnya bisa mengampuni dosa yang sekelam apa pun?

Jika kasih Tuhan yang tidak terbatas menghapus kekuatiran manusia untuk melanggar hukum Tuhan, itu adalah sesuatu yang aneh. Mengapa? Jika manusia sadar bahwa Tuhan mengasihi mereka, itu bukanlah surat izin untuk melakukan apa saja yang dikehendaki mereka. Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita, ingin agar kita juga mengasihi Dia dan sesama kita. Dalam kenyataannya, jika kita benar-benar pengikut-Nya tentunya kita akan berusaha untuk menempuh hidup yang baik dan menjalankan perintah-Nya. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Tuhan memberikan kemerdekaan kepada umat manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Sebaliknya, karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karunia-Nya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal yang menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata. Kita meninggalkan perhambaan oleh dosa dan memilih menjadi hamba Kristus.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kebebasan kita akan membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Adanya dosa bisa menyatakan kasih Allah

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Apakah semua orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus itu Tuhan akan diselamatkan? Mungkin banyak orang yang mengaku Kristen akan mengiyakan. Tetapi, sebagian orang mungkin merasa ragu-ragu. Bukankah Yesus pernah berkata bahwa tidak semua orang percaya akan keilahian Yesus benar-benar umat-Nya.? Adalah kenyataan bahwa iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19).

Untuk menjadi umat-Nya memang orang tidak cukup untuk percaya, tetapi harus mau hidup dalam terang-Nya karena mereka yang tetap hidup dalam kegelapan dosa bukanlah pengikut-Nya yang sejati. Seorang yang sudah menerima hidup baru adalah ciptaan yang baru, dan dengan bimbingan Roh Kudus akan berubah hidupnya, makin lama makin menyerupai Yesus. Secara pelan atau cepat, setiap orang Kristen sejati akan berubah cara hidupnya.

Pengampunan dosa dan hidup baru bukanlah berarti bahwa orang itu akan menjadi orang yang selamanya tidak bisa berbuat dosa. Manusia dalam kodratnya tetap adalah manusia yang selalu cenderung jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan menjadi lebih serius jika orang itu tidak berusaha untuk mawas diri akan apa yang dilakukannya. Karena itu, ada orang Kristen yang tidak menyadari atau tidak peduli akan dosa yang diperbuatnya dalam hidup sehari-hari, dan karena itu tidak tahu pentingnya memohon ampun kepada Tuhan dan bertobat dari dosa-dosa yang selama ini masih menguasai cara hidup mereka.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum (judisial) menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka dapat melupakan dosa-dosa yang bisa mereka lakukan setelah itu. Ananias dan Safira adalah salah satu contoh di mana umat Tuhan (orang yang diselamatkan) menerima hukuman atas dosa kebohongan yang diperbuat secara sengaja. Memang ada dosa-dosa yang membawa kebinasaan!

Alasan Tuhan untuk menyebabkan kematian Ananias dan Safira melibatkan kebencian-Nya terhadap dosa, kemunafikan mereka, dan pelajaran bagi seluruh gereja, baik dulu maupun sekarang. Hari ini dapat dengan mudah mengabaikan kekudusan Allah, melupakan bahwa Dia adalah benar dan murni dan bahwa Dia membenci dosa dengan sepenuh hati. Dosa kemunafikan dalam gereja ini ditangani dengan cepat dan tegas.

Jika orang Kristen yang menderita karena teringat akan dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan besarnya kasih Allah melalui penebusan darah Kristus, mereka yang menganggap bahwa menjadi Kristen adalah kebebasan untuk tetap berbuat dosa adalah orang-orang yang tidak menghargai penebusan Kristus dan tidak erat hubungannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, mereka yang tetap hidup dalam dosa dan tidak merasakan hal itu, mungkin saja adalah orang-orang yang belum benar-benar menjadi pengikut Kristus.

Ayat di atas menyatakan bahwa mereka yang benar-benar mengikut Kristus sadar bahwa mereka diselamatkan bukan karena usaha sendiri, tetapi semua itu adalah karunia Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil karena Ia menjalankan kasih dan hukum-Nya. Karena itu, mereka selalu berusaha berjalan menurut firman-Nya. Ini tidak mudah karena mereka membutuhkan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk mempunyai hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan. 

Ayat di atas bertalian dengan cara bagaimana kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika kita sadar akan dosa kita, kita harus meminta ampun kepada-Nya. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mereka yang tidak sadar akan dosa-dosa yang mereka perbuat akan sulit untuk memohon ampun dengan tulus hati, dan jika mereka melakukannya itu hanyalah omong-kosong saja. 

Mungkinkah orang yang benar-benar Kristen untuk tidak menyadari pentingnya membina relasi dengan Tuhan yang mahasuci? Mungkinkah bagi mereka untuk tidak mengerti apa yang Tuhan sukai dan apa yang Ia benci? Mungkinkah orang Kristen untuk tidak menerapkan etika Kristen? Mungkinkah mereka tetap membenci sesamanya? Tentunya tidak mungkin, kecuali jika mereka adalah orang belum dilahirkan kembali dan belum menerima pengampunan judisial dari Tuhan. Mereka yang sadar akan arti pengampunan dosa pasti sadar bahwa pertobatan adalah penting agar Tuhan memberkati hidup kita di masa depan, baik di bumi maupun di surga.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yohanes 5: 14

Dosa tidak hanya membawa duka

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1-2

Apakah anda orang yang senang membaca pengalaman hidup selebriti yang menghebohkan di media? Jika begitu, anda mungkin ingin tahu pengalaman hidup dan dosa apa yang pernah saya perbuat dan apa akibat dosa yang saya alami. Saya bukan seorang selebriti, tetapi saya tidak kalah hebatnya jika dibandingkan mereka. Saya mengaku pernah melakukan berbagai perbuatan yang salah, dan jika anda mengenal tujuh dosa yang mematikan atau seven deadly sins yang terdiri dari pride (kesombongan), greed (ketamakan), envy (iri hati), wrath (kemarahan), lust (hawa nafsu), gluttony (kerakusan), dan sloth (kemalasan), saya mengaku pernah melakukan semuanya.

Bagaimana pengalaman saya dengan kejatuhan dalam dosa yang disebut utama dan yang mematikan itu? Saya masih hidup sekarang, tapi itu bukan berarti hidup saya terisi sukacita setelah melakukan dosa-dosa itu. Dosa bagi umat Kristen selalu membawa rasa duka atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Dosa bagi siapa pun akhirnya sering membawa persoalan yang membuat mereka mengalami masalah-masalah besar selama hidup di dunia. Sekarang saya memang merasa menyesal atas dosa-dosa yang lalu, tetapi pada saat saya melakukan dosa-dosa itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya bahkan lupa bahwa Tuhan melihat apa yang saya lakukan. Saya tidak sadar bahwa Tuhan juga berduka atas dosa saya, seperti Ia berduka melihat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Adam dan Hawa yang kemudian hidup sengsara di dunia dan harus mengalami kematian jasmani. Dosa-dosa manusia memang selain mematikan kebahagiaan dan ketenteraman hidup di dunia, juga mematikan hubungan mereka dengan Tuhan.

Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Sebaliknya, banyak orang yang merasa “terpaksa” untuk berbuat dosa karena adanya kesulitan hidup. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh ke dalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain, ada juga yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Bagaimana anda akan mendorong orang Kristen untuk melawan dosa yang mematikan sambil mengetahui bahwa dalam semua hal Tuhan pada akhirnya akan bisa membawa hidup damai karena Ia bekerja untuk kebaikan mereka? Itu benar-benar pertanyaan yang sulit dijawab. Sangat sering, iblis dan dosa kita sendiri dapat mendorong kita untuk menggunakan sifat Allah untuk membenarkan keterlibatan kita dalam dosa. Begitu banyak orang Kristen yang begitu yakin akan slogan seperti “Tuhan berdaulat” atau “Tuhan mencintaiku” atau “Tuhan membenci dosa,” dan mereka terkadang mengambil kesimpulan yang kurang benar. Dan pada titik inilah kita perlu memiliki komitmen yang kuat terhadap otoritas Alkitab dan otoritas Tuhan yang memberi tahu kita bagaimana hidup dengan kebenaran yang telah Dia ungkapkan kepada kita.

Mereka yang selalu menekankan kedaulatan Tuhan memang terlihat rasional. Sepertinya mereka harus dipercaya: “Yah, jika Tuhan berdaulat, maka Dia bertanggung jawab atas kejahatan”. Menurut mereka Tuhan selalu mempunyai rencana tertentu untuk membiarkan kita jatuh dalam dosa. Oleh karena itu kita tidak perlu terlalu memikirkan hal tanggung jawab, karena kita yakin bahwa adanya dosa bisa membuat kasih karunia Tuhan terasa makin berlimpah dan kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Mereka yang sudah terpilih untuk ke surga, tidak perlu menguatirkan akibat dosa. Semua pernyataan ini tidak alkitabiah!

Jika kita ingin berpegang pada kebenaran besar seperti kedaulatan Tuhan, kita harus mengaitkannya dengan cara yang Tuhan tetapkan bagi kita untuk melekat padanya. Kita harus berpegang teguh pada mereka secara alkitabiah. Artinya, kita harus melihatnya dalam kaitannya dengan semua kebenaran alkitabiah lainnya. Di antara kebenaran alkitabiah itu adalah Paulus yang merenungkan pemikiran dalam Roma 6: 1, “Haruskah kita berbuat dosa agar kasih karunia berlimpah?” Dia memang mengatakan dalam Roma 5: 20 bahwa “di mana dosa berlimpah, kasih karunia lebih berlimpah”. Dan inilah seseorang yang mengartikan ayat itu dengan logika dangkal berpikir: “Baiklah! Saya akan membuat kasih karunia Tuhan berlimpah di mana-mana! Saya hanya akan mengklik pornografi sebanyak yang saya bisa, dan melakukan percabulan sebanyak yang saya bisa, dan mencuri sebanyak yang saya bisa, dan serakah semampu saya”

Kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa karena Allah berdaulat, semua dosa kita adalah kehendak-Nya. Oleh karena itu kita bisa berbuat dosa. Ini salah. Jadi, kita perlu mencari tahu apa artinya mati karena dosa. Jika kita hidup menurut daging, kita akan “mati” selama hidup di dunia. Jika kita, oleh Roh Kudus, mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan bertobat, kita akan hidup dalam kasih-Nya yang makin besar. Itu adalah kebenaran sebesar kebenaran kedaulatan Tuhan.

Dosa tidak hanya akan membawa duka, itu bisa menghancurkan hidup seseorang jika tidak dilawan. Begitu juga rasa duka bisa menghancurkan hidup sesorang jika ia tidak mengerti bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih. Adanya rasa duka setelah berbuat dosa sebenarnya menunjukkan bahwa Roh Kudus masih giat bekerja dalam hati kita. Dengan demikian, rasa duka harus ditanggapi secara positif, yaitu bahwa Tuhan masih mengasihi kita dan mau mengingatkan bahwa kita harus bertobat. Kita harus ingat bahwa jika kita mengakui dosa kita, Tuhan itu mau mengampuni kita dan memberkati hidup kita.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8-10

Arti mengabarkan Injil

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam ayat diatas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat diatas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di zaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang.

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk membujuk mereka untuk mau ke gereja kita, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”.

Makna Amanat Agung yang memberi kita pengertian bahwa:

  • Yesus sudah mati untuk memungkinkan semua orang yang percaya untuk menemukan jalan keselamatan. Karena itu kabar baik harus disebarkan ke seluruh bangsa.
  • Panggilan untuk menginjil ini bukan berarti hanya untuk memberitakan kabar baik, tetapi juga untuk bisa menolong banyak orang agar mau percaya dan diselamatkan.
  • Amanat Agung bukan perintah untuk membawa semua orang di dunia untuk masuk ke surga. Tidak semua yang menerima undangan kasih akan mau atau bisa menerimanya. Tetapi undangan ini harus diberitakan ke seluruh bangsa.
  • Tuhan memberi kesempatan dan kemampuan untuk kita melayani Dia dan menyerahkan hidup kita untuk maksud pelebaran kerajaan-Nya. Setiap orang harus mau mengambil keputusan untuk menerima panggilan-Nya jika Roh-Nya sudah bekerja dalam hati mereka.
  • Kita memerlukan petunjuk-Nya untuk menentukan saat dan tujuan kita dalam mengabarkan injil. Tugas ini bukan untuk membuat kekacauan dalam masyarakat atau gereja. Sebaliknya, itu adalah tugas dalam kasih, untuk memberitakan Injil kabar baik kepada mereka yang belum pernah mendengar atau menahami Injil.
  • Dalam menjalankan Amanat Agung kita harus bersandar kepada Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh mengutamakan keberhasilan kita atau menguatirkan kegagalan. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
  • Tuhan yang bekerja untuk membuka hati dan pikiran orang-orang yang kita injili. Kita sendiri tidak dapat membuat orang percaya. Tuhan saja yang bisa mempengaruhi mereka untuk bertobat dan menerima anugerah keselamatan. Kita hanya dapat berdoa agar Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada banyak orang.

Pagi ini, kita mendengar Amanat Agung dari Tuhan untuk menginjil. Biarlah kita percaya bahwa Tuhan sudah memberi setiap anak-Nya kemampuan untuk melaksanakannya. Apa yang kita perlukan hanyalah kemauan untuk menjalankan amanat itu dengan benar.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Menabur benih memang tidak mudah

Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” KIsah Para Rasul 8: 35-36

Dalam Kisah Para Rasul 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk dibaptiskan. Filipus sudah menmjalankan apa yang diperintahkan oleh Yesus sebagai Amanat Agung kepada semua pengikut-Nya:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Dalam pandangan manusia, Filipus sudah berhasil menabur benih kekristenan. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk penginjilan, yaitu peranan Tuhan dalam menciptakan dan menumbuhkan iman.

“Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” 1 Korintus 3: 7

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan kabar baik dari Alkitab dan menjalani hidup menurut perintah Tuhan agar orang di sekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang. Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk membujuk mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Lalu bagaimana kita bisa secara efektif menyampaikan Injil, kabar baik tentang penyelamatan manusia yang berdosa?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat masyarakat.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita dengan demikian memberi dunia sebuah alasan untuk menyatakan keraguan atas kebenaran kekristenan….”

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan memperhatikan pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang kita anggap belum menerima apa pun dari Tuhan dan sama sekali rusak karakter dan moralnya (totally depraved). Karena itu, kita mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita.

Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium aroma manis kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Pagi ini, marilah kita meminta agar Roh Kudus mau membimbing kita di setiap saat.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Pengetahuan ada untuk bisa lebih mengerti

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3: 18 -19

Teologi adalah studi tentang Tuhan dan hubungannya dengan, tujuan, dan pekerjaan di dalam alam semesta yang diciptakan. Dengan demikian, teologi mencakup semua realitas yang diciptakan dari sudut pandang Sang Pencipta yang membuat semua itu. Hanya karena Tuhan telah menyatakan diri-Nya, kita dapat mengetahui siapa Tuhan itu dan apa tujuan, rencana, dan pekerjaan-Nya dalam ciptaan yang telah dibuat-Nya, sekalipun selama kita hidup di dunia pengenalan kita akan Tuhan belumlah sempurna.

Setiap bidang teologi—penciptaan dunia, pembentukan laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya, kejatuhan mereka ke dalam dosa, rencana keselamatan dan pemulihan-Nya bagi dunia yang telah jatuh yang melibatkan panggilan Abraham dan pilihan Israel melalui siapa Mesias akan datang, pekerjaan pemeliharaan-Nya untuk membawa keselamatan melalui inkarnasi, kehidupan tanpa dosa, kematian Yesus sebagai penebus kita, dan kebangkitan-Nya yang berkemenangan, pembentukan gereja-Nya, dan rencananya untuk membawa semua ciptaan ke tujuan yang telah ditetapkan secara ilahi, dan banyak lagi – semua terikat langsung kepada Allah dan karakter, kehendak, cara, rencana, dan pekerjaan pemeliharaan-Nya sendiri. Hanya ketika kita memahami aspek-aspek kehidupan dan teologi ini dari sudut pandang Tuhan, kita dapat memahami siapa Tuhan itu, siapa kita, dan bagaimana sebaiknya kita hidup.

Sebagai ilustrasi pentingnya mengenal Tuhan mungkin bisa dibayangkan jika kita mendengar sebuah pertanyaan yang sering disampaikan kepada mereka yang sudah lama menikah adalah mengenai hal mengenal pasangan mereka. Apakah mereka yang sudah hidup bersama puluhan tahun sudah saling mengenal kebiasaan dan sifat pasangannya sehingga mereka bisa saling menerka segala apa yang akan diperbuat pasangannya? Pada umumnya jawaban pertanyaan ini adalah antara “ya” dan “tidak”. Hidup bersama orang lain dalam suatu pernikahan dalam waktu yang lama tidaklah membuat seseorang bisa mengerti semua apa yang dipikirkan pasangannya. Walaupun demikian, biasanya orang bisa mengerti bahwa pasangannya adalah orang yang seringkali berbeda dalam kebiasaan dan cara berpikir, sehingga ia tidak lagi terkejut atau heran jika pasangannya melakukan sesuatu hal baru. Mereka yang sudah hidup bersama cukup lama tentunya saling mengasihi dan saling memercayai. Bagaimana pula pengenalan kita akan Tuhan?

Dalam Roma 11: 33 Paulus menulis kepada jemaat di Roma ketika ia berada di Korintus sekitar tahun 50 Masehi: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” Ayat ini sering dipakai dalam khotbah untuk menggarisbawahi kebesaran Tuhan yang tidak dapat diselami manusia. Manusia sebagai ciptaan tidak dapat menyelami jalan pikiran Sang Pencipta. Ini adalah hal yang diajarkan dalam banyak agama. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika manusia sering bertanya-tanya mengapa suatu hal harus terjadi dalam hidupnya, terutama jika hal itu adalah sesuatu yang tidak diinginkannya. 

Apa yang terjadi di dunia saat ini adalah sesuatu yang membuat banyak orang menderita, dan dengan itu banyak orang yang mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi. Malahan, ada orang yang bertanya apakah Tuhan itu memang ada jika manusia harus mengalami berbagai malapetaka. Adalah menyedihkan bahwa di dalam kesusahan, manusia tidak dapat mengenali Tuhan yang mahakuasa. Terlebih menyedihkan jika ada orang yang sudah lama merasa kenal dengan Tuhannya, tetapi tidak dapat mengerti bagaimana sifat Tuhan.

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menulis sesuatu yang agaknya berbeda dengan apa yang ditulisnya dalam Roma 11: 33. Dalam ayat Efesus 3: 18-19 ini ia justru berdoa agar jemaat Efesus bersama dengan segala orang percaya dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan yang kita punyai. Apakah ini bukannya doa yang sia-sia jika Tuhan adalah Allah yang tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan tak terselami jalan-jalan-Nya?

Paulus berdoa agar mereka dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Ini menunjukkan bahwa kepenuhan Allah adalah penting untuk bisa memahami sifat dan tindakan Tuhan. Memang setiap orang percaya mengerti bahwa Allah sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus manusia yang seharusnya binasa. Dalam Kristus, kasih dan kebijaksanaan Allah sudah dinyatakan sepenuhnya. Dalam Kristus kita bisa melihat Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata. Allah adalah mahakuasa, mahatahu, mahabijaksana dan Ia juga mahakasih. Allah bukan mahakuasa saja, tetapi Ia juga mahakasih. Dalam ibadah kita, kita tidah boleh menekankan kemahakuasaan Tuhan di atas kemahakasihan-Nya, dan begitu juga sebaliknya. Jika kita terlau menekankan sifat mahakuasa-Nya, kita akan merasa bahwa Tuhan menentukan segalanya tanpa mendengarkan keluh-kesah manusia, dan jika kita terlalu menekankan kasih-Nya, kita mungkin merasa bebas untuk berbuat apa saja (Galatia 5: 13). Dengan demikian, pengetahuan yang seimbang antara kedua sifat hakiki Tuhan ini perlu kita fahami.

Pagi ini, jika anda merasakan jauhnya Tuhan dan betapa hidup ini terasa berat saat ini, firman-Nya berkata bahwa Tuhan dapat kita lihat sepenuhnya dalam diri Kristus yang sudah membawa kita kepada keselamatan. Jika kita mengerti bahwa tidak ada hal lain yang lebih berharga dari karunia kasih Allah dalam diri Kristus, itu berarti bahwa kita sudah mengenal kasih-Nya yang melampaui segala pengetahuan. Jika demikian, adakah hal yang masih membuat kita ragu akan Dia yang dengan kasih-Nya memegang kendali hidup kita dan segala sesuatu yang ada dalam alam semesta?

Bagaimana bisa membesarkan Tuhan

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Berfirmanlah Allah: ”Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan itulah yang terjadi. Tuhan membuat dua lampu besar—yang lebih besar untuk mengatur siang, dan yang lebih kecil untuk mengatur malam. Dia juga membuat bintang. Tuhan menetapkan lampu-lampu ini di langit untuk menerangi bumi, untuk mengatur siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari kegelapan. Dan Tuhan melihat bahwa itu baik (Kejadian 1: 14-15).

Matahari terbit sangat penting bagi kehidupan sehari-hari sehingga reporter cuaca melacak dan memperkirakan waktu yang tepat untuk mengharapkannya. Demikian juga, mereka memprediksi waktu matahari terbenam setiap hari ketika matahari terbenam melewati cakrawala, menyatakan hari itu selesai dan segera bintang-bintang akan menyelimuti langit. Matahari yang lebarnya bisa memuat lebih dari 100 bumi atau 10 planet Jupiter adalah sangat besar ukurannya. Tetapi pernahkah anda berpikir bahwa bahkan sebelum matahari terlihat sepenuhnya di pagi hari, bulan dan bintang-bintang menghilang? Bulan dan bintang- bintang menghilang dari pandangan karena sinar matahari yang luar niasa terangnya. Seperti itulah Yohanes dalam ayat di atas merasa bahwa ia tidak berarti jika dibandingkan Yesus.

Pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus sangat erat hubungannya. Yohanes telah mempersiapkan cara membaptis dan memanggil orang-orang untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Alkitab menggambarkan dia mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu unta dan mengenakan ikat pinggang kulit. Mereka menyuruhnya makan belalang dan madu hutan. Yesaya 40: 3 dikutip sebagai nubuat yang digenapi, “Ada suara yang berseru-seru: ”Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!.” Matius, Markus, Lukas dan Yohanes semuanya menyoroti Yesus yang dibaptis oleh Yohanes. Semua Injil mengungkapkan bahwa ketika Yohanes membaptis Yesus, Roh Kudus turun ke atas Yesus “seperti burung merpati.”

Allah menyatakan kepada Yohanes bahwa Yesus adalah Anak Allah. Jadi ketika seseorang datang kepada Yohanes mengatakan bahwa orang lain pergi kepada Yesus untuk dibaptis, Yohanes dengan cepat menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, bukan dirinya sendiri, dan karena itu orang lain harus pergi kepada Yesus untuk dibaptis. Dia berbicara tentang sukacita yang dia miliki karena mengetahui bahwa Yesus adalah Kristus dan khotbahnya telah digenapi. Yohanes Pembaptis kemudian membuat pernyataan ini, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. ” Pernyataan Yohanes cukup mendalam. Itu adalah kebenaran Injil. Kita dapat belajar banyak dari sikap dan gagasan ini. Kristus harus menjadi lebih besar, dan kita harus menjadi kurang. Hari demi hari, kita harus menjadi makin kecil untuk lebih bisa melihat kebesaran Tuhan. Masalahnya, bagaimana kita melakukannya? Bagaimana kita membuat Kristus lebih besar dan bagaimana kita menjadi lebih kecil?

  • Pertama dan terutama, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita harus memiliki pemahaman tentang siapakah Kristus itu. Alkitab dalam 1 Petrus 3:15 menyatakan, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” Dapatkah anda menjawab pertanyaan ketika ditanya apakah Yesus adalah Tuhan? Dia harus menjadi lebih besar, kita harus menjadi lebih kecil.
  • Kedua, agar Kristus menjadi lebih besar dan menjadi lebih kecil, kita harus mau mengampuni sebagaimana kita telah diampuni. Efesus 4:32 berbunyi “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Apa yang akan terjadi dalam hidup kita jika kita mau mengampuni sebagaimana kita telah diampuni? Kita akan menjadi lebih kecil dan Kristus akan menjadi lebih besar karena dosa kita kepada Tuhan adalah jauh lebih besar dari kesalahan orang lain kepada kita.
  • Ketiga, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita perlu mengasihi sebagaimana kita sudah dikasihi. Dalam Yohanes 15:12, Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Apakah kasih kita membuktikan bahwa kita mau menjadikan Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil dalam cara hidup kita? Sejujurnya, ada kalanya kurangnya kasih kita terhadap orang lain tidak menghasilkan persembahan yang harum kepada Tuhan. Bahkan, mungkin sering baunya yang busuk sudah sampai ke surga. Agar Kristus menjadi lebih besar, kita harus menjadi lebih kecil dengan menjalani kehidupan yang penuh kasih agar kita lebih menyadari bahwa kasih-Nya sangat besar. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4: 19).
  • Keempat, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita perlu menjadi pekerja-Nya. Kita adalah hamba-hamba Tuhan. Ayat 2 Timotius 2:15 berbunyi, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan kabar kebenaran itu.” Dapatkah kita mempraktikkan kebenaran Firman dengan benar? Apakah anda senang mempelajari dan membagikan firman Tuhan?
  • Kelima, agar Kristus menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil, kita perlu menjalani kehidupan doa. Ada sesuatu tentang berdoa yang memungkinkan kita menjadi lebih kecil dan Kristus menjadi lebih besar. Itu karena jika kita berdoa, kita menempatkan diri kita di kaki-Nya. Dengan demikian, jika kita ingin mengalami kebesaran dan kemuliaan Tuhan dalam hidup kita, kita harus rajin berdoa akar kuasa Tuhan terasa lebih nyata.

Hari ini firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan menciptakan kita dan memiliki tujuan untuk kita. Namun, masalahnya adalah bahwa kita adalah orang yang tidak sempurna dan ketidaksempurnaan kita memberikan masalah ketika kita mencoba untuk mendekati Tuhan yang sempurna. Namun karena Tuhan sangat mengasihi kita, Dia menyediakan sarana bagi kita untuk memiliki akses kepada-Nya. Karena Tuhan begitu mencintai dunia sehingga Dia memberi kita hak sebagai anak-Nya dan siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak boleh binasa tetapi memiliki hidup yang kekal. Yang harus kita lakukan adalah memulai dengan langkah keyakinan agar Dia menjadi lebih besar dan kita menjadi lebih kecil. Ini akan mengubah hidup kita sehingga kita bisa lebih bisa mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita.

Dalam hidup kita perlu pemimpin-pemimpin

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Di Australia, pemerintah dari partai Labor yang baru-baru ini menang dalam pemilu sekarang mulai sibuk membenahi berbagai bidang. Peraturan-peraturan baru mulai bermunculan dan tentunya setiap badan pemerintah dan swasta harus menaatinya. Begitu pula rakyat harus mengikuti dan melaksanakan apa yang ditentukan pemerintah. Bagi umat Kristen, ini adalah hal yang sudah semestinya karena setiap pemerintah adalah ditetapkan Allah.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Karena pemerintah negara manapun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, perdamaian, keamanan, keadilan, fungsi keluarga, dan arti pernikahan.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, manusialah yang harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan, dan karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang Dia dan yang melanggar hukum-Nya, dan yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam ayat pembukaan di atas, perintah Tuhan melalui rasul Paulus yang mengirim suratnya kepada Timotius untuk menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur seringkali ditafsirkan sebagai doa untuk pemerintah dan para pemimpinnya. Tetapi, jika kita teliti, sebenarnya itu untuk semua orang yang bisa dan bertanggungjawab untuk membawa kita dapat hidup bahagia dalam ketertiban, yaitu apa yang disebut “tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”. Dengan demikian, itu bukan saja mengenai hidup dalam satu negara, tetapi juga dalam satu tempat pekerjaan, organisasi, gereja, dan bahwan rumah tangga di mana kita berada. Setiap bagian dari hidup kita memerlukan adanya pemimpin yang bisa menuntun semua anggotanya dengan memberi contoh teladan dan kepemimpinan yang baik.

Pemimpin tidak perlu di artikan sebagai satu orang yang sudah terpilih secara resmi dan berdasarkan prinsip demokrasi, tetapi bisa saja terdiri dari orang-orang yang memang terpanggil dan mau untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab tertentu. Dalam pemerintahan, kantor, badan sosial, gereja dan rumah tangga ada orang-orang tertentu yang dikarunia Tuhan dengan kemampuan-kemampuan khusus untuk kebaikan bersama. Dan itu bisa pria atau wanita, tua atau muda, dengan berbagai sifat yang berlainan, tetapi dengan tujuan yang sama yaitu agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Kita sebagai orang Kristen wajib menghormati dan menghargai mereka yang mau dan sanggup untuk menolong orang lain dengan cara yang diperkenan oleh Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, dalam usaha untuk menjadi umat Kristen yang baik, kita harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat untuk semua orang, Kristen dan non-Kristen, yang dipakai Tuhan untuk mewujudkan hidup tenang dan tenteram dalam iman kepercayaan kita. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus mendukung mereka yang memang bijaksana, mempunyai kasih dari Tuhan, dan yang takut akan Tuhan, agar kita juga takut akan Tuhan dan karena itu selalu mendapat berkat-Nya. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Samuel 23: 3 – 4

Orang Farisi sebagai orang yang merasa benar

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18:14

Perumpamaan Yesus tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai adalah pereumpamaan yang sangat terkenal. Kedua orang itu bagai bumi dan langit layaknya. Pada zamannya, orang Farisi adalah warga negara teladan. Dia mendalami Taurat, taat hukum, memberi persepuluhan, adil, setia kepada istrinya, dan benar di hadapan manusia. Orang Farisi memiliki reputasi terbaik di Israel.

Sejarawan Yahudi pada masa itu menggambarkan mereka sebagai ”sekte tertentu orang Yahudi yang tampak lebih religius daripada yang lain, dan tampaknya menafsirkan hukum dengan lebih akurat”. Tidak ada yang melihat orang Farisi dan melihat adanya masalah yang perlu diperbaiki. Tidak seorang pun, yaitu, kecuali Yesus. Pemungut Pajak, sebaliknya, adalah kebalikan dari orang Farisi. Jika orang Farisi adalah warga negara teladan, Pemungut Pajak adalah “penjahat” yang menghindari penangkapan.

Jika dibandingkan, orang Farisi jelaslah orang yang lebih baik. Kita mungkin ingin agar dia menjadi tetangga kita. Kita akan berpaling kepadanya jika kita membutuhkan bantuan. Kitai tidak keberatan berjalan bersamanya di jalan. Pemungut Pajak, di sisi lain, adalah seseorang yang kita hindari. Kita akan bergidik melihatnya mendekati rumah kita. Kita akan memisahkan diri dengan dia.

Kita mungkin sering melupakan perbedaan antara dua orang ini. Kita yang telah mendengar begitu banyak hal buruk tentang orang Farisi lupa bahwa banyak dari mereka adalah tipe pria yang kita hormati. Jangan salah, orang Farisi itu orang baik, Pemungut Pajak orang jahat. Itu dulu, jika kita hidup bersama mereka pada waktu sebelum Yesus lahir.

Tapi kita hanya melihat tampak luar manusia. Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7). Apa yang salah dengan orang Farisi itu? Seringkali orang Farisi ini dianggap sebagai seorang legalis. Legalisme adalah orang yang berusaha memperoleh keselamatannya dengan perbuatan baiknya. Orang Farisi dalam tidak melakukan itu. Dia percaya perbuatan baiknya diberikan kepadanya oleh Tuhan. Dia mengatakan banyak dalam doanya, “Tuhan, saya berterima kasih …” Dia mengakui bahwa Tuhan adalah orang yang memberinya kebenarannya. Masalah dengan orang Farisi bukanlah legalisme. Itu karena dia memandang dan mempercayai kebenaran itu -kebenaran menurut pengertiannya – untuk keselamatan. Dia sangat bangga dengan kebenarannya. Dan itulah masalahnya di hadapan Tuhan.

Orang Farisi itu percaya apa kunci kebenarannya dan berdoa dalam hati. Perhatikan, selain berbicara kepada Tuhan di awal doanya, ia menghabiskan sisa waktunya waktu berbicara tentang dirinya sendiri. Dia percaya pada dirinya sendiri bahwa dia yang paling benar. Dia merasa sudah mencapai kebenaran Tuhan secara mutlak. Hal tentang mempercayai diri sendiri untuk kebenaran adalah bahwa hal itu selalu mengarah pada memperlakukan orang lain dengan penghinaan. Ketika kita percaya bahwa kitalah yang bisa mengerti sifat hakiki Tuhan, kita melihat orang lain sebagai orang yang penuh kebodohan dan kekeliruan dan melihat mereka dengan rasa mual.

Pemungut Pajak, sebaliknya, mempertaruhkan segalanya pada kebenaran Tuhan. Ia tidak mengerti banyak tentang Taurat, tetapi ia percaya adanya Tuhan yang mahakasih. Dia tidak akan memasuki bait Allah. Ada alasan sosial untuk ini, tetapi Yesus menyoroti kerendahan hati-Nya. Dia berdiri jauh, jauh dari orang lain, bukan seperti orang Farisi tetapi dengan kesedihan yang mendalam karena dosa-dosanya. Doanya sederhana. Dia tidak mengacu pada orang lain. Dia tidak membual tentang kebenarannya atau pengetahuannya karena dia tidak memilikinya. Dia memohon belas kasihan Allah. Dia menyebut dirinya siapa dia sebenarnya, “orang berdosa.” Dia bahkan tidak mengangkat matanya ke langit. Dia memukul dadanya dengan sedih. Bahkan, dalam bahasa Yunani, permohonannya lebih dari sekadar pengampunan. Secara harfiah, permohonannya untuk belas kasihan adalah permohonan untuk “didamaikan.” Dia tidak meminta apa pun selain murka Tuhan untuk disingkirkan darinya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita merasa benar di hadapan Tuhan karena Dia memberi kita kemampuan untuk melakukan atau mempelajari ajaran agama yang baik? Atau apakah kita benar di hadapan Allah karena Yesus benar di hadapan Allah dan kita ada di dalam Dia? Itu bermuara pada satu pertanyaan: kebenaran siapakah yang menyelamatkan kita. Banyak orang Kristen yang percaya bahwa apa yang diyakininya adalah kebenaran, dan kebenaran orang lain adalah bukan kebenaran karena berbeda dengan apa yang diyakininya. Padahal, apa yang diyakini Pemungut Cukai hanya sederhana: Tuhan mahasuci dan dia orang berdosa.

Kita tidak dibenarkan karena Allah memberi kita kebenaran khusus untuk kita sendiri. Kita dibenarkan karena Allah memberi kita kebenaran Kristus sebagai Juruselamat kita.. Arah pandangan anda membuat semua perbedaan. Ini diberikan kepada seluruh umat percaya.

Apakah Tuhan adalah penolong ilahi kita, yang memberi kita kemampuan untuk menjadi benar, atau apakah dia Juru Selamat Ilahi kita, yang memberi kita anugerah-Nya? Jika kita merasa bahwa Tuhan memberi kita kebaikan dalam pribadi kita sendiri dan menerima kita berdasarkan itu, masuk akal bagi kita untuk memandang rendah orang lain. Tetapi jika Allah memberi kita kebenaran melalui Anak-Nya, dan hanya melalui Anak-Nya, maka kita tidak akan memandang rendah orang lain. Kita semua setara. Kita semua membutuhkan kebenaran Kristus. Ini yang tidak disadari orang Farisi itu.

Kepada siapa kita harus menginjil?

“Petrus tinggal di Yope dengan seorang penyamak kulit bernama Simon untuk beberapa hari lamanya.” Kisah Para Rasul 9.43

Dalam ayat di atas tertulis bahwa Petrus tinggal di Yope di rumah Simon “sang penyamak”. Itu hanya sebuah deskripsi di mana rasul Petrus tinggal. Seorang malaikat memberikan alamat ini kepada seorang non-Yahudi yang takut akan Tuhan dari Kaisarea. Malaikat itu memberi tahu Kornelius, seorang perwira Romawi, “Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut” (Kisah Para Rasul 10: 5-6). Yope adaah kota pelabuhan di Yudea, sekitar 60 km selatan Kaisarea. Orang yang mencari Petrus di Yope akan mencari rumah di pantai, tetapi mereka mungkin dapat menemukan rumah Simon dari baunya. Penyamak kulit terkenal karena baunya.

Tapi tinggalnya Petrus di rumah Simon orang Yahudi adalah hal yang tidak biasa. Orang Yahudi menghindari penyamak kulit. Hukum zonasi kuno sering menempatkan penyamakan kulit di pinggir kota atau di luarnya, di lokasi yang ditentukan oleh angin yang bertiup. Kulit hewan yang diolah dengan penyamak kulit dengan campuran kotoran hewan atau manusia yang busuk atau dengan bahan kimia keras. Terkadang daging yang tersisa di kulit dibiarkan membusuk. Itu adalah pekerjaan yang tidak higienis selain bau busuk yang akan meresap ke pakaian, kulit, dan rumah penyamak kulit.

Penyamakan kulit adalah salah satu usaha yang paling najis dalam masyarakat kuno mana pun, sifat pekerjaan mereka membuat mereka tetap dalam keadaan najis untuk ritual (Imamat 11:35), dan proses penyamakan kulit memang mengakibatkan keadaan najis secara fisik. Para rabi menyebut penyamak kulit atau penyamak kulit dalam konteks “hal-hal najis” lainnya. Penyamakan kulit sebenarnya tidak dilarang dalam Perjanjian Lama. Kulit digunakan untuk pakaian, tas, pelana, sandal, dan tenda -termasuk Tabernakel, selama berabad-abad pusat kehidupan ibadat Israel. Tapi hewan mati dan fitur lain dari pekerjaan meninggalkan penyamak kulit kotor, bau, dan sering kali najis. Secara adat, penyamak kulit diperlakukan sebagai orang buangan dari masyarakat umum dan didorong ke pinggiran kehidupan keagamaan Yahudi.

Jadi, tinggalnya Petrus dengan Simon si penyamak kulit bertentangan dengan norma kehidupan orang Yahudi. Petrus jelas tidak mencari keuntungan atau kenyamanan pribadi. Mungkin kamarnya memiliki pemandangan laut, tapi pasti ada bau penyamakan kulit. Petrus telah menemukan cara untuk membiarkan Simon si penyamak kulit, terlepas dari statusnya, membantu menyebarkan Injil. Yang paling penting, pilihan akomodasi Petrus membantu menandakan bahwa Injil dimaksudkan untuk semua orang.

Mungkin saja Simon memiliki bisnis penyamakan kulit dan tidak bekerja sendiri. Tapi bisnis tampaknya baik untuk Simon karena dia bisa membuka rumahnya untuk Petrus. Rumah itu cukup besar untuk memiliki gerbang dan halaman yang cukup jauh dari rumah sehingga Petrus tidak mendengar anak buah Kornelius datang (Kisah 10:17-18). Mereka tiba tepat setelah Tuhan melalui suatu penglihatan mengarahkan Petrus bahwa tidak perlu lagi memelihara hukum makanan Yahudi. Roh Tuhan kemudian menyuruhnya kembali ke Kaisarea bersama delegasi dari Kornelius. Di sana Petrus mengkhotbahkan fakta kehidupan kekal kepada seisi rumah perwira dan membaptis mereka.

Bahwa Petrus berbagi keramahan dengan Simon itu penting. Sama seperti Yesus, Ia makan dan minum dengan orang-orang buangan, orang-orang Yahudi tetapi terpinggirkan dari sudut pandang kemurnian Bait Suci dan tradisi Farisi. Sementara penyamak kulit tidak pernah termasuk dalam daftar orang luar yang makan bersama Yesus, mereka mungkin berada dalam kategori yang sama dengan pemungut cukai dan pelacur. Jadi Petrus sebenarnya sudah tidak menaati humum Taurat, dan karena itu tidak bisa menolak perintah Tuhan untuk menjumpai Kornelius yang dianggap najis oleh orang Israel.

Bagaimana dengan kehidupan kita sendiri sebagai orang Kristen? Kita tentu sadar bahwa Yesus memerintahkan kita unruk pergi ke seluruh penjuru dunia, tanpa perkecualian. Pemberitaan Injil yang membawa keselamatan bukan berarti mengajarkan hal-hal yang kurang penting sepeti prinsip-prinsp teologi pilihan kita. Pengabaran injil juga harus dilandaskan pada kasih Tuhan kepada seluruh umat manusia dan tidak dihambat oleh perbedaan ras, staus sosial orang yang di injili, pendidikan dan latar belakang kehidupan mereka. Pengabaran Injil bukan kesempatan untuk menjelekkan aliran Kristen lain agar pengikutnya pindah gereja. Penginjilan adalah ditujukan untuk mencari jiwa baru dalam dunia yang kotor dan penuh dosa. Kita yang mengabarkan Injil harus selalu ingat bahwa Yesus sudah menyucikan hidup kita dari semua dosa. Seperti itulah, Ia ingin menyelamatkan orang lain yang belum mengenal Kristus, sekalipun mereka bukan orang orang yang terlihat baik di mata kita.