Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Hal melayani mereka yang dalam penderitaan

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10: 43 – 45

Tidak dapat dipungkiri, hari-hari mendatang adalah bagaikan mendung gelap dan tebal yang mendatangi. Walaupun orang tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi bisa dipastikan hujan lebat akan turun disertai dengan petir yang menyambar-nyambar. Memang banyak orang yang sekarang ini mulai kuatir: Akankah aku tetap sehat? Apakah aku akan tetap bisa bekerja? Bagaimana pula dengan keadaan ekonomi negara? Sayang sekali, pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawabnya dan ini membuat banyak orang kuatir.

Dalam keadaan yang seperti ini, orang cenderung untuk menarik diri dan berusaha membangun benteng pertahanan. Apalagi dengan kewajiban untuk social distancing dan physical distancing, orang segan untuk pergi ke tempat yang ramai dan karena itu memilih untuk tinggal di rumah saja. Juga, karena sekolah dan universitas sudah dijalankan secara online dan pekerja kantor sekarang bekerja dari rumah (work from home), seisi keluarga bisa tinggal di rumah sepanjang hari. Dalam hal ini, adalah mudah bagi seseorang untuk memikirkan kebutuhan diri dan keluarga sendiri saja. Kebutuhan hidup yang makin meningkat di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu ini juga membuat orang segan mengeluarkan uang jika tidak sangat perlu.

Memang, salah satu dampak keadaan darurat dalam suatu negara adalah orang berubah menjadi egosentris, yaitu memusatkan perhatian kepada diri sendiri. Dalam hal ini, banyak organisasi sosial seperti badan penolong anak yatim-piatu,  orang miskin, dan orang lanjut usia, dan bahkan berbagai organisasi gereja, yang sekarang ini mengalami kesulitan keuangan. Keadaan yang berlarut-larut sudah tentu akan mempengaruhi pelayanan organisasi-organisasi  yang hidup dari sokongan atau bantuan donatur. Dalam keadaan dimana banyak orang membutuhkan pertolongan mereka, keadaan keuangan yang makin sulit akhirnya membuat mereka mengurangi aktivitas. Bagi mereka yang hidup dari bantuan badan sosial, hidup bisa menjadi sangat suram dalam bulan-bulan mendatang.

Mengapa Tuhan membiarkan adanya malapetaka? Dan mengapa pula Tuhan membiarkan orang-orang tertentu hidup dalam penderitaan dan kekurangan sedangkan orang lain nampaknya masih bisa hidup dalam kenyamanan dan kemakmuran? Ini adalah pertanyaan yang logis dan membuat banyak orang mempertanyakan kasih dan kebijaksanaan Tuhan. Walaupun demikian, pertanyaan ini seharusnya dilontarkan ketika Adam dan Hawa diusir dari taman Eden. Mengapa Tuhan membiarkan Adam dan Hawa dan semua keturunan mereka hidup menderita di dunia dan bahkan mati dan kembali menjadi debu karena dosa yang diperbuat mereka?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak tepat. Tuhan tidak membiarkan manusia yang diciptakanNya sebagai peta dan teladanNya untuk menemui kehancuran begitu saja. Segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan menyatakan rencananya untuk menolong umat manusia dan menghancurkan iblis (Kejadian 3: 15). Karena itu, dalam Alkitab, kita bisa membaca bagaimana Tuhan merancang kedatangan Mesias, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia. Rencana agungNya pada akhirnya memungkinkan semua orang yang percaya kepada Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, tepatlah apa yang dikatakan Yesus dalam ayat di atas bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Adanya penderitaan manusia di dunia justru membuat manusia bisa melihat bahwa Tuhan masih mau menyatakan kasihNya.

Bagaimana pula dengan panggilan orang Kristen dalam keadaan sekarang dimana ada banyak orang menderita sakit dan mengalami kekurangan? Bagaimana pula sikap kita menghadapi kesulitan yang dialami gereja dalam usaha mengabarkan injil dan melayani jemaat di saat keuangan semakin parah? Dalam hal ini Yesus sudah memberikan jawabanNya: Ia datang untuk melayani mereka yang menderita, termasuk diri kita yang berdosa. Ia datang untuk memberikan harapan yang baru bagi seluruh umat manusia. Dengan pengurbananNya di kayu salib, nama Allah yang mahakasih sudah dipermuliakan. Kesempatan yang sama ada pada diri kita: kita harus mau melayani, membantu, menolong mereka yang menderita dengan apa yang kita punyai. Hanya dengan meniru Yesus, nama Allah akan dipermuliakan dalam keadaan yang terlihat suram pada saat ini. Semoga Tuhan menguatkan kita sekalian!

Kematian Yesus membebaskan kita dari ketakutan

Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” Markus 10: 32 – 34

Mengapa manusia bisa mengalami rasa takut? Rasa takut biasanya muncul ketika ada kejadian yang membuat kita terancam. Lebih dari merasa terancam, kita mungkin meragukan kemampuan kita untuk bisa mengatasi ancaman itu. Dengan demikian, kita bisa menjadi takut karena merasa tidak berdaya dalam menghadapi berbagai masalah hidup.

Sebenarnya rasa takut adalah lumrah. Dengan adanya rasa takut kita bisa berusaha untuk melarikan diri, menghindari atau mempertahankan diri dalam menghadapi ancaman yang ada. Tetapi rasa takut juga bisa muncul ketika orang lain yang menghadapi ancaman. Dalam hal ini, kita kuatir kalau-kalau orang yang kita kenal atau cintai akan terkena bahaya.

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Mengapa demikian? Mereka kuatir bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi pada diri mereka dan juga pada diri Yesus. Mereka tahu bahwa ada banyak orang Yahudi yang membenciNya. Apa yang akan terjadi tidaklah bisa diterka, tetapi pastilah sesuatu yang buruk. Lebih payah lagi, mereka bisa melihat bahwa Yesus bukanlah seorang panglima perang yang mempunyai ribuan serdadu. Yesus ternyata adalah seorang guru yang mengajarkan kesabaran, pengampunan dan kasih. Dan ini diajarkannya sekalipun banyak orang yang memusuhiNya!

Murid-murid Yesus dan pengikutNya menjadi takut karena suasana yang makin memanas. Yesus Anak Allah nyata-nyata tidak mempunyai malaikat pengawal. Malahan, Yesus berkata bahwa Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan memberiNya hukuman mati. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana perasaan sedih dan takut yang dialami murid-muridNya.

Seperti murid-murid Yesus, kita pun sering kuatir dan takut karena adanya perasaan bahwa kesulitan yang kita hadapi saat ini adalah sangat besar. Mungkin kita takut kalau-kalau Tuhan membiarkan kita hancur di tengah bencana dunia. Kita mungkin tidak bisa merasakan adanya kuasa Yesus dalam hidup kita. Tetapi, tunggu dulu! Apakah yang dikatakan Yesus setelah Ia menyatakan bahwa Ia akan disesah dan dibunuh? Ia berkata: “….dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”

Tidak ada manusia yang bisa bangkit dari kematian. Sekalipun ada raja-raja dan panglima perang yang perkasa, mereka semua akhirnya mati dan kehilangan kuasa. Sebaliknya, Yesus yang mati kemudian bangkit dan naik ke surga! Dia tentu bukan manusia biasa: Yesus adalah Anak Allah! Mengapa pula kita harus takut kalau Allah ada di pihak kita?

Adakah yang baik dalam kesengsaraan?

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Pagi hari ini saya pergi ke supermarket untuk membeli beberapa jenis makanan. Sebenarnya saya sudah mempunyai persediaan yang cukup untuk sebulan, tetapi pagi ini saya ingin mencari sayuran segar dan kacang goreng kegemaran saya.

Berbelanja di saat dimana orang harus melakukan physical distancing ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Rasa canggung terasa jika ada orang yang mendatangi, dan hati menjadi dag dig dug jika ada orang yang batuk-batuk di dekat saya. Pada pihak yang lain, saya juga bisa melihat adanya perasaan kuatir dalam sinar mata beberapa orang yang berpapasan dengan saya.

Mengalami keadaan hidup yang seperti ini tentunya membuat banyak orang merasa gundah. Manusia sebagai makhluk sosial umumnya tidak dapat hidup berbahagia tanpa berinteraksi dengan sesama. Karena itu, semakin lama keadaan ini berlangsung, tentunya akan makin banyak orang yang mengalami penderitaan baik secara jasmani maupun rohani.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yang mau menderita. Jika kita bayangkan kehidupan di taman Firdaus, tentunya Adam dan Hawa sangat bahagia sebelum kejatuhan dalam dosa. Dengan demikian, sangatlah mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa penderitaan adalah sesuatu yang buruk, yang berawal dari dosa. Penderitaan dengan demikian adalah sesuatu yang tidak berguna, yang harus disesali dan dibenci. Benarkah demikian?

Ayat di atas menyatakan bahwa umat Kristen seharusnya tidak bersusah hati, tetapi justru bermegah dalam kesengsaraan kita. Mengapa demikian? Karena mereka tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Pengharapan yang bagaimana?

Roma 5: 5 menjelaskan:

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Dengan demikian, penderitaan orang Kristen memungkinkan mereka untuk berharap dan bergantung sepenuhnya kepada kasih Allah yang sudah dinyatakan oleh Roh Kudus dalam hati mereka. Jika mereka yang hidup dalam kejayaan mudah melupakan kasih dan penyertaan Allah, adanya penderitaan membuat kita menyadari bahwa Allah kita adalah Tuhan yang mahakuasa.

Dengan adanya penderitaan, kita bisa meyakini bahwa Allah yang sudah mengirimkan Yesus untuk menderita dan mati di kayu salib untuk menebus kita adalah Tuhan yang mahakasih yang setia dalam rencana kasihNya. Dengan demikian, melalui penderitaan yang kita alami, kita akan lebih bisa menyadari bahwa tidak ada apa pun di dunia yang terjadi di luar rencana Tuhan. Tuhan tahu apa yang kita derita, dan melalui semua yang kita alami Ia akan menambahkan iman dan pengharapan kita kepadaNya.

Tuhan selalu mempunyai maksud baik

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Dalam menghadapi setiap kesusahan besar manusia sering mempunyai beberapa pertanyaan:

  1. Mengapa ini harus terjadi?
  2. Mengapa harus aku?
  3. Apakah ini kehendak Tuhan?
  4. Dimanakah Tuhan jika malapetaka terjadi?
  5. Apakah Tuhan mahakasih?

Kelima pertanyaan itu adalah logis dan setiap manusia berhak mempertanyakannya. Mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu belum tentu orang yang bukan Kristen, karena orang Kristen pun sering bergulat menghadapi gejolak hidupnya.

Pada saat ini, setiap manusia yang mengerti keadaan dunia tentu tahu bahwa bahaya pandemi COVID-19 adalah nyata. Masih terbayang ketika kita merayakan datangnya tahun 2020 dan menyambutnya dengan pesta kembang api, tetapi pada saat itu tidak seorang pun yang bisa membayangkan bahwa dua bulan kemudian orang harus menghadapi masalah besar yang bisa menghancurkan negara mana pun, baik dalam hal kesehatan umum, ekonomi maupun politik.

Apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang tidaklah ada orang yang tahu, tetapi efek pandemi ini pasti akan tetap dapat dirasakan untuk waktu yang cukup lama. Karena itu, dalam suasana yang kurang baik ini, setiap orang tentunya mempunyai beberapa  (atau banyak) pertanyaan, seperti yang tertulis di atas. Bagaimana sebagai orang Kristen harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?

Mengapa kekacauan dan bencana ada di dunia? Bagi mereka yang percaya bahwa manusia sudah jatuh kedalam dosa dan karena itu harus meninggalkan taman Eden, pertanyaan ini tidaklah sukar untuk dijawab. Karena Adam dan Hawa sudah jatuh kedalam dosa, mereka harus meninggalkan tempat yang serba indah dan nyaman dan kemudian mengalami hidup yang penuh derita dan susah-payah (Kejadian 3: 23 – 24). Kita sekarang hidup di dunia yang harus dihadapi dengan perjuangan, dan adanya kelaparan, penyakit, kematian dan malapetaka lainnya adalah suatu yang lumrah.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah jaminan untuk hidup nyaman dan untuk memperoleh kelimpahan dalam segala sesuatu. Karena itu, banyak orang yang mengajarkan bahwa iman adalah kunci segala kesuksesan baik di bidang jasmani atau pun rohani. Tetapi, thema Alkitab secara keseluruhan bukanlah kesuksesan atau berkat secara jasmani. Firman Tuhan selalu menekankan bahwa berkat yang berbentuk apa pun adalah datang dari Tuhan, tetapi berkat yang paling utama dan yang tidak bisa hilang adalah adanya keselamatan yang abadi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya melalui darah Yesus Kristus. Dengan demikian, jika kita mengalami masalah kehidupan, kita tidak perlu merasa malu. Setiap orang di dunia ini bisa mengalami penderitaan jasmani, tetapi mereka yang berada dalam Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk menghadapinya.

Jika ada masalah yang sangat besar, setiap orang bisa merasa sedih atau terpukul. Selain itu, seringkali muncul pertanyaan apakah semua itu adalah kehendak Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita tidak selalu bisa menjawabnya. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran Tuhan. Walaupun demikian, jika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, itu selalu berakhir dengan kebaikan. Adakalanya Tuhan membiarkan malapetaka terjadi pada suatu bangsa untuk memberi peringatan agar mereka mau mengakui kuasaNya. Tuhan bisa juga membiarkan kita mengalami kesusahan agar kita mau lebih bergantung kepadaNya. Pengalaman pahit bisa juga membuat masyarakat untuk lebih berhati-hati di masa depan. Dengan demikian, sekali pun Tuhan tidak mendatangkan bencana untuk umatNya, Ia yang memegang kontrol atas segala sesuatu terkadang memungkinkan hal yang nampaknya buruk untuk terjadi.

Dimanakah Tuhan ketika kita mengalami malapetaka? Jeritan dan tangisan ini sering muncul di tengah penderitaan. Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu sudah pasti tetap memegang kemudi kehidupan manusia dan bahkan alam semesta. Tuhan tetap ada dan melihat semuanya terjadi. Tuhan tahu apa yang akan kita lakukan dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Tuhan yang selalu memegang kontrol kehidupan selalu dapat mewujudkan rencananya dalam keadaan apa pun. Jika apa yang dilakukan manusia adalah sesuai dengan kehendakNya, itu akan terjadi. Sebaliknya, jika apa yang dilakukan manusia tidak sesuai dengan rancanganNya, kehendakNyalah yang kemudian terjadi. Dalam hal ini, bagi umat Kristen, adanya iman kepada Tuhan membuat mereka bisa hidup dalam kedamaian bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya.

Apakah Tuhan itu mahakasih? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman. Tetapi jika malapetaka terjadi dan banyak orang sudah menjadi korbannya, termasuk mereka yang beriman, pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Banyak orang Kristen yang kemudian bersandar pada fatalsisme: jika semua itu terjadi, itu adalah kehendak Tuhan dan manusia tidak bisa mengubahnya. Pandangan ini kelihatannya benar, karena siapakah yang dapat melawan kehendak Tuhan? Tetapi pandangan ini juga mudah ditolak, karena siapakah yang tahu dengan pasti apa kehendak Tuhan? Ayat pembukaan kita mengatakan bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tidak mendatangkan bencana bagi umatNya. Karena itu, bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, berjuang untuk menegakkan keadilan, memajukan pendidikan, meningkatkan kesehatan dan mengusahakan kecukupan dalam masyarakat adalah panggilan, agar kasih Tuhan dinyatakan kepada semua orang dan namaNya dipermuliakan.

Tuhan ingin kita mengenal Dia

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” 1 Samuel 4: 3

Hidup ini penuh tantangan. Siapa pun yang hidup di dunia selalu mempunyai berbagai masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan. Mungkin terkadang kita  merasa betapa nikmatnya kehidupan orang tertentu; tetapi mereka yang terlihat enak hidupnya juga sering mengeluh bahwa hidupnya tidaklah mudah. Memang tiap orang mempunyai persoalan hidup yang berbeda, tetapi mereka juga memiliki gaya hidup yang berbeda dalam menghadapi masalah hidup masing-masing.  Dalam hal ini, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa Tuhan itu kurang adil dalam memberikan berkatNya, karena apa yang dipunyai orang lain terlihat lebih baik dari apa yang kita miliki.

Mengapa Tuhan tidak memberi semua umat Kristen hidup yang nikmat dan berkelimpahan? Mengapa hidup orang Kristen seringkali sama beratnya, dan bahkan bisa lebih berat dari mereka yang tidak percaya kepada Tuhan? Apa gunanya menjadi pengikut Tuhan jika hidup kita tidak seenak hidup mereka yang tidak mengenal Tuhan? Adakah yang bisa kita lakukan agar Tuhan berada di pihak kita?

Tentara Israel waktu itu sedang berperang melawan tentara Filistin. Sebagai umat Tuhan, tentara Israel tentunya berharap untuk menang, tetapi mereka justru terpukul kalah. Mereka heran, tidak mengerti mengapa hidup bisa menjadi begitu berat. Dimanakah Tuhan ketika umatNya mengalami perjuangan berat? Dimanakah Tuhan ketika kita mengalami bencana?

Tentara Israel tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan mereka kalah. Mereka tidak sadar bahwa bukan Tuhan yang lebih dulu meninggalkan mereka, tetapi umat Israel yang sudah menjauhi Tuhannya. Memang dalam Alkitab tidak ada kejadian dimana Tuhan meninggalkan seseorang dalam kesulitan hidupnya, jika ia tetap setia kepada Tuhan.

Mereka yang sudah meninggalkan Tuhan belum tentu bertingkah laku seperti hewan yang buas, tetapi pasti adalah orang-orang yang sudah tidak lagi mengenal pribadi Tuhan. Umat Israel masih berharap agar Tuhan mau menolong mereka dalam menghadapi orang Filistin, tetapi bukannya bersujud mendekati Tuhan, mereka mengambil dari Silo tabut perjanjian, dengan maksud memaksa Tuhan agar Ia datang ke tengah-tengah mereka dan melepaskan mereka dari tangan orang Filistin. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak dapat dijadikan “jimat” pembawa kemenangan. Kekeliruan mereka akhirnya harus dibayar mahal dengan kekalahan total dari orang Filistin.

Saat ini hampir semua negara di dunia menghadapi masalah besar karena adanya pandemi. Mengapa ini harus terjadi? Tidak ada seorang pun yang tahu. Tetapi, satu yang jelas adalah pada saat yang kritis ini Tuhan menghendaki kita mengenalNya dengan benar. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi juga Tuhan yang mahakuasa. Tuhan bukalah ilah yang bisa kita pakai untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan kita. Biarlah kita mau menghampiri tahtaNya dengan bersujud di hadapanNya untuk memohon pertolonganNya!

Hidup kita untuk memuliakan Tuhan

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Sejak hari Senin yang lalu saya bekerja dari rumah. Universitas ditutup dan karena itu setiap dosen harus memberi kuliah online. Inilah keadaan di Australia sekarang dengan adanya anjuran untuk social distancing. Karena itu, akhir pekan ini hanya saya lewatkan dengan tinggal di rumah saja. Memang ancaman wabah coronavirus sudah membuat cara hidup manusia dimana pun berubah.

Bagi banyak orang, tinggal di rumah selama berhari-hari tentunya membosankan. Berbeda dengan liburan, saat ini orang tidak bisa pergi ke mall, gym atau shopping. Semua restoran, bioskop dan toserba sudah ditutup, dan hanya toko swalayan dan apotik yang tetap buka. Tidaklah mengherankan banyak orang yang sekarang ini menghabiskan waktu dengan menonton TV atau membaca buku.

Menurut perkiraan pemerintah Australia, krisis COVID -19 ini akan berlangsung berbulan-bulan, dan bukan hanya beberapa minggu. Oleh sebab itu, orang harus siap mental untuk hidup sebagai tahanan rumah. Dalam hal ini, tentunya ada pertanyaan apakah setelah “beristirahat” di rumah selama beberapa bulan, orang tidak mengalami gangguan kejiwaan. Apalagi jika tidak ada income yang masuk, karena ekonomi yang kacau sudah membuat sekitar 1 juta orang kehilangan pekerjaannya di Australia. Inilah masalah yang harus dihindari semua orang.

Menurut Alkitab, manusia diciptakan untuk bekerja dan memuliakan Tuhan. Keharusan untuk bekerja bukanlah karena dosa, tetapi dari mulanya Tuhan sudah berfirman agar manusia menguasai bumi dan isinya. Dengan demikian, semua manusia pada hakikatnya ingin untuk mengisi hidupnya dengan kegiatan yang terasa bermanfaat bagi dirinya atau orang lain.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28.

Dalam keadaan saat ini, mau tidak mau kita akan merasa adanya keterbatasan hidup. Kegiatan yang biasanya kita jalankan, sekarang mungkin tidak bisa dilakukan.

Fiman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa keadaan yang serba kacau ini bukanlah alasan untuk mengurung dan berdiam diri saja. Justru sebaliknya, keadaan yang lebih lenggang ini adalah kesempatan untuk memikirkan hubungan kita dengan Tuhan. Jika sebelum ini kita mungkin sibuk dengan aktivitas kita dan kurang memikirkan hal menolong sesama dan memuliakan Tuhan, sekarang kita diingatkan bahwa apa pun yang kita lakukan, baik makan atau minum, atau mengerjakan sesuatu yang lain, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Kesempatan juga ada bagi kita yang mampu untuk menolong mereka yang kekurangan. Semoga setelah krisis ini berlalu hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita akan lebih dekat!

Kasih Yesus tetap beserta kita

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Pada tahun 1982-1983 saya pernah tinggal di Tokyo, ibukota Jepang. Setelah itu, dua kali lagi saya mengunjungi negara itu dan tinggal di kota Tsukuba dan Tokyo untuk beberapa bulan. Karena itu, saya cukup mengerti cara hidup orang Jepang dan budaya mereka. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah sopan-santun dan disiplin hidup mereka yang tinggi. Tetapi, selama di Jepang saya juga bisa melihat jarangnya orang Jepang yang pernah ke gereja. Itu karena hanya satu persen penduduknya yang memeluk agama Kristen.

Agama Kristen pertama kali memasuki Jepang dari kota Nagasaki sekitar 1560, ketika misionaris Jesuit dari Portugal mulai tiba. Mereka berusaha mengajak penguasa feodal untuk menganut agama Kristen. Sebagian penguasa ini kemudian menjadi Kristen agar dapat berdagang dengan Portugal. Banyak petani juga menganut Kristen sehingga pada permulaan abad ke-17, kota tersebut telah menjadi “Roma-nya Jepang”. Jumlah umat Kristen di Nagasaki saat itu pernah mencapai 500.000 orang.

Sayang sekali, pada abad ke-17 juga, penduduk Nagasaki yang beragama Kristen dipaksa melakukan fumie atau menginjak lempengan tembaga yang merupakan simbol Yesus Kristus yang disalib. Mereka melakukan hal ini dengan disaksikan pejabat pemerintah setempat. Ini adalah pernyataan di depan umum bahwa mereka telah murtad alias meninggalkan iman mereka. Jika umat Kristen tidak melakukan fumie , mereka akan dapat dihukum mati, disalib, atau disiksa.

Bagaimana sikap kita jika kita harus menghadapi penderitaan semacam itu? Apakah kita tetap bertahan dalam iman, ataukah kita menolak Yesus Kristus? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab jika kita jujur. Adanya ancaman, penindasan, penderitaan, penganiayaan, kelaparan, dan bahaya memang bisa membuat orang mundur dari iman mereka, lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih adalah lebih besar dari semua itu. Memang jika malapetaka terjadi, banyak orang yang meragukan kuasa dan kasih Kristus.

Saat ini, mungkin keadaan dunia sudah membuat semua orang kuatir. Ancaman wabah sudah menjalar ke seluruh penjuru dunia. Adanya kekuatiran dan ketakutan membuat orang mencari jalan keluar melalui apa saja yang dianggap baik. Tetapi, jika apa yang dilakukan tidak membawa hasil yang diharapkan, rasa sedih, kecewa dan putus asa bisa muncul. Dimanakah Tuhan di saat umatNya menderita? Ayat di atas mengingatkan kita untuk tetap beriman kepada Tuhan. Yesus yang mati di kayu salib sudah membuktikan kasihNya kepada umatNya. Apapun yang terjadi, kita adalah orang-orang yang beruntung karena sudah diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena itu, kita dengan teguh tetap berani menghadapi hari depan.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8: 37