Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Pikiran yang bisa menambah penderitaan

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Teringat saya akan masa dimana saya bekerja sebagai konsultan teknik di Melbourne. Saya mempunyai seorang rekan kerja yang mengeluh bahwa mesin fotokopi di kantor “membenci dia” karena sering macet pada saat ia sangat harus menyerahkan laporan penting kepada kliennya. Ia bertanya: “Mengapa apa yang buruk justru terjadi pada saat yang tidak diharapkan?” Pernahkah anda mengalami kejadian serupa? Mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan selagi anda berada dalam kesulitan? Itu adalah kesulitan berganda alias double trouble.

Macetnya mesin fotokopi ketika kita perlu memakainya tidak dapat dibandingkan dengan apa yang dialami Ayub. Mungkin dalam hidup ini, kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub, yang diakibatkan oleh pekerjaan iblis. Walaupun begitu, di dunia ini banyak juga orang yang kehilangan semua yang dimilikinya akibat perbuatan orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya?  Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri atau self pity.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Pagi ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Boleh khawatir tapi jangan takut

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Dalam bahasa Indonesia, rasa khawatir mungkin bisa diganti dengan kata cemas atau takut. Tetapi sebenarnya arti ketiga kata itu berbeda. Orang memang sering menyebutkan rasa khawatir atau kuatir akan sesuatu hal, tetapi belum tentu merasa cemas atau takut. Dalam bahasa Inggris pun ada istilah “worry” yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari – yang menunjuk kepada adanya kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan – tetapi ini belum sampai menjurus kearah rasa cemas. Orang juga sering mengatakan bahwa keadaan bisa membuat kita was-was tetapi tidak perlu membuat kita cemas. Concerned but not alarmed.

Jika dalam ayat diatas dikatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita seharusnya tidak kuatir tentang apapun juga, agaknya ini bukan sehubungan dengan kekuatiran yang secara normal muncul jika kita melihat adanya sesuatu atau keadaan yang kurang baik, tetapi yang masih bisa kita hindari. Misalnya, kita memilih untuk naik kereta MRT daripada memakai mobil sendiri karena kuatir akan jalan yang macet. Kekuatiran disini adalah kekuatiran yang positif karena membuat kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana.

Kekuatiran yang tidak baik adalah kekuatiran yang negatif, yang membuat kita merasa tidak berdaya. Rasa cemas yang membuat tubuh kita menjadi lemah, dan rasa takut yang membuat kita lumpuh. Sebagai umat Tuhan , sebenarnya agak aneh jika kita bisa merasa cemas dan takut karena kita merasa tidak bisa melakukan hal apapun dan tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Itu karena kita seharusnya percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan maha kasih: Ia sanggup melakukan hal apapun dan bisa menolong siapapun, terutama umatNya.

Memang suatu masalah yang kita hadapi dalam kekuatiran adalah adanya kemungkinan bahwa kekuatiran yang kecil, perlahan-lahan bisa menjadi besar, menjadi rasa was-was dan rasa cemas, dan kemudian menjadi rasa takut. Dalam penantian akan pertolongan Tuhan, seringkali kita menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah Ia akan menolong kita dan jika itu benar, kapan Ia akan menolong kita. Dalam hal ini, ayat diatas mengatakan bahwa kita harus menyatakan keinginan kita dalam doa dan dengan rasa syukur sekalipun Ia belum menjawab doa kita.

Apa perlunya berdoa dan bersyukur? Doa tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan. Doa kita tidak selalu dikabulkan Tuhan. Tetapi doa berguna untuk kita, karena dengan doa kita membina hubungan yang baik dengan Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa Ia adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Doa membuat kita bisa berserah kepada Tuhan, suatu pilihan yang jauh lebih baik daripada usaha untuk mencari jalan keluar menurut keinginan kita sendiri. Doa juga membuat kita belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, sehingga kita lebih bisa bersabar menantikan pertolonganNya. Jika rasa kuatir bisa menjauhkan kita dari Tuhan, doa bisa menghilangkan rasa was-was dan rasa takut. Doa yang disertai dengan rasa syukur bisa membawa kedamaian bagi kita karena adanya kesadaran bahwa Tuhan itu baik. Doa mungkin tidak mengubah keadaan, tetapi doa bisa mengubah reaksi kita terhadap keadaan – doa bisa mengubah hidup kita karena Tuhan bisa memberi rasa damai sejahtera dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

 

Merenungi roda kehidupan

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Bacaan: Yeremia 17: 5 – 10.

Sebagian orang di dunia membayangkan bahwa hidup ini berjalan seperti sebuah titik pada sebuah roda yang berputar, spinning wheel, yang bisa naik dan kemudian turun. Oleh sebab itu, bagi mereka, hidup adalah kesempatan untuk mencari keuntungan dan kenyamanan selagi bisa. Selagi roda kehidupan mereka berputar keatas, mereka memanfaatkannya dengan apa saja yang bisa dilakukan supaya hidupnya makin enak.

Memang jika kita lihat dalam hidup ini, manusia selalu berusaha untuk berhasil tanpa memperdulikan siapa yang menggerakkan roda kehidupan ini. Sebagian percaya bahwa mereka harus bisa mempertahankan posisi mereka pada roda kehidupan dengan segala cara.  Mereka lupa bahwa Tuhan yang memegang kontrol atas hidup kita di setiap saat, bahwa roda kehidupan itu tidak selalu berputar seperti apa yang diharapkan. Mereka tidak sadar bahwa dinamika hidup ini adalah sangat kompleks. Roda kehidupan bukanlah seperti roda yang berputar dengan kecepatan dan arah yang tidak pernah berubah.

Adakah yang bisa diharapkan dalam hidup ini? Adakah yang bisa dipastikan jika roda kehidupan selalu berputar? Yeremia 17 berisi peringatan bagi bangsa Israel bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Peringatan ini secara umum juga berlaku untuk setiap orang yang hidup di dunia, dari dulu sampai sekarang.  Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mereka yang merasa bahwa hidup dan hasil usaha mereka berada dalam tangan sendiri, pada suatu saat akan kecewa karena apa yang terjadi bisa diluar dugaan mereka. Tuhan melalui Yeremia dengan jelas menyatakan rasa tidak senangNya atas kesombongan manusia.

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17: 5

Sebagai umat Kristen, kita harus percaya bahwa Tuhan benar-benar  membenci manusia yang sombong, yang merasa bahwa ia dapat mengatur jalannya roda kehidupan dengan berbuat ini dan itu. Kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai rencana untuk seisi alam semesta, dan itu harus terjadi. Ini bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja sebaik mungkin dalam keadaan apapun yang mereka alami. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Manusia mungkin berusaha untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Itu adalah baik jika mereka seperti bekerja untuk Tuhan dan tidak lupa untuk memuliakan namaNya. Dalam kenyataannya, terlalu banyak orang yang sukses dalam hidupnya tetapi tidak sukses dalam usaha memuliakan Tuhan. Ada juga yang nampaknya bekerja untuk kemuliaan Tuhan, tetapi segala apa yang dicapainya sebenarnya hanya dipakai untuk kenikmatan diri sendiri. Ayat pembukaan kita berkata bahwa Tuhanlah yang  menyelidiki hati, yang menguji pikiran, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Ia tahu  apakah orang menyombongkan keberhasilannya; Ia juga tahu jika orang menyalahgunakan berkatNya. Tetapi Ia juga tahu jika orang menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam setiap keadaan.

Pagi ini, biarlah kita memikirkan roda kehidupan yang kita jalani.  Mungkin roda kehidupan kita sekarang ini memberikan kesempatan untuk menikmati berkatNya. Kepada kita diingatkan bahwa semuanya datang dari Tuhan dan karena itu kita harus makin menaruh harapan kepada Tuhan. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa hidup kita ada ditanganNya. Sebaliknya, jika kita pada saat ini berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan, kita tidak boleh berputus asa karena Tuhan menilik hati dan pikiran kita. Ia tahu apa kebutuhan dan motivasi kita. Mereka yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapan mereka kepada Tuhan akan dikuatkan dan diberkati, sehingga dalam keadaan apapun mereka akan tetap berdiri teguh dan bisa merasakan kasihNya.

 

Puji Tuhan!

Statistik diatas menunjukkan bahwa jumlah mingguan pembaca Renungan Kristen terus meningkat, dan hanpir menyentuh 2000 minggu lalu.

Saya mengucapkan terima kasih atas kesetiaan dan dukungan anda sekalian.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Salam,

Andreas

18/02/2019

Apa yang harus dikerjakan setelah kegagalan?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Sangatlah menarik bahwa di dunia ini sekarang ada banyak orang yang menjadi motivator. Agaknya karena banyaknya orang yang mengalami kesulitan hidup, apa yang dikumandangkan oleh orang-orang yang pandai berpidato ini menjadi barang komoditi yang laris. Pada umumnya mereka yang berkecimpung dalam bidang psikologi pemikiran positif ini, selalu menganjurkan agar orang selalu optimis dan positif dalam segala hal, dan tidak mudah berputus asa. Sebagian pendeta pun tidak segan-segan memakai pendekatan positive thinking dalam khotbah-khotbah mereka, dan berusaha meyakinkan jemaat bahwa jika Tuhan beserta mereka, mereka akan selalu sukses. Mereka mencoba menghapus kata ” gagal” dalam pikiran orang, karena pengaruh negatif yang bisa membuat orang kehilangan semangat. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang terbuai akan pesan-pesan seperti itu, dan semua itu membuat banyak motivator menjadi pembicara yang terkenal dan berpenghasilan tinggi.

Benarkah bahwa sebagai orang Kristen kita harus selalu memakai prinsip “pantang menyerah” dalam hidup ini? Memang banyak orang yang mengajarkan bahwa jika kita gagal, kita harus mencoba lagi dan terus mencoba sampai berhasil. If you fail, try  again, and again and again. Ini ada benarnya, bahwa tidak semua orang bisa berhasil dalam usaha pertamanya. Mereka yang cepat berputusasa dan mudah menyerah akan sulit untuk mencapai keberhasilan. Memang mereka yang berhasil dalam hidup mereka, biasanya adalah orang-orang yang ulet, dan orang Kristen yang berhasil biasanya membanggakan bahwa semua itu bisa terjadi karena iman. Tetapi, mereka yang gagal bisa saja merasa sangat terpukul karena tidak menyadari bahwa keuletan dan iman  tidak selalu menjamin keberhasilan.

Memang umat manusia adalah orang-orang yang harus berjuang dalam hidupnya setelah kejatuhan kedalam dosa. Dengan itu, kegagalan adalah bagian kehidupan yang dapat dialami oleh semua orang, tidak hanya oleh orang yang tidak beriman. Mereka yang mengajarkan bahwa mereka yang beriman teguh akan selalu memperoleh kesuksesan dalam hidup sebenarnya kurang mengerti bahwa baik keberhasilan maupun kegagalan bisa terjadi pada semua orang, seperti juga kematian.

“Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.” Ayub 14: 1 – 2

Jika kegagalan juga bisa terjadi pada semua orang, apakah untungnya untuk menjadi umat Kristen? Menjadi pengikut Yesus mempunyai keuntungan besar bahwa kita bisa meniru Dia yang baik dalam hidup dan matiNya sudah bekerja untuk kemuliaan Allah dan karena itu Ia memperoleh kemuliaan di surga. Selain itu, kita bisa belajar dari Dia yang mempunyai hubungan yang baik dengan Allah BapaNya, sehingga sekalipun hidup kita menjadi sangat berat, kita tetap bisa bertahan karena kekuatan yang diberikan Tuhan. Karena Yesus, kita bisa berani menghadapi hidup ini sekalipun kegagalan mendatangi. Kita tidak mudah putus asa atau melarikan diri dari kenyataan.

Yesus mengajarkan bahwa adakalanya kita harus menerima kegagalan sebagai suatu kenyataan yang harus terjadi. Lukas 9: 1- 5 menuliskan perintah Yesus kepada murid-muridNya untuk mengabarkan injil. Pekerjaan ini tidak ringan karena ada kemungkinan bahwa ada orang-orang di tempat tertentu  yang akan menolak mereka. Apa yang harus diperbuat murid-murid Yesus? Mencoba lagi dan mencoba lagi? Try again and try again? Bukan begitu. Yesus mengatakan bahwa dalam keadaan sedemikian, murid-muridNya sebaiknya meninggalkan tempat itu. Memang ada keadaan yang bisa kita ubah, tetapi ada juga yang tidak bisa kita ubah. Umat Tuhan harus bisa melihat perbedaannya dengan mencari apa yang dikehendaki Tuhan.

Menjadi pengikut Tuhan tidak berarti bahwa kita mudah menyerah dengan alasan bahwa semuanya sudah kehendak Tuhan. Ada kalanya kita memang harus mencoba lagi, dan mencoba lagi. Tetapi, jika kita berpikir bahwa kita akan bisa berhasil karena ketekunan dan iman kita saja, itu adalah keliru. Karena manusia bisa berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Karena itu, dalam setiap keadaan, baik keberhasilan maupun kegagalan, kita harus sadar dan mengakui bahwa kita tidak dapat menghadapi tantangan hidup ini seorang diri. Tuhanlah yang memberi kekuatan untuk bisa berjuang, dan kekuatan untuk menerima kenyataan. Segala sesuatu dapat kita tanggung didalam Tuhan, apalagi karena kita tahu bahwa kemenangan yang terbesar yang berupa keselamatan abadi sudah dijamin melalui darah Yesus.

 

Haleluya setiap saat

Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mazmur 106: 1

Kata haleluya atau pujilah Tuhan (praise the Lord) adalah kata yang dikenal semua orang Kristen walaupun hanya beberapa denominasi yang sering menggunakan atau mengucapkannya. Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengucapkan kata ini hanya sebagai gurauan saja, tanpa kekhusyukan sama sekali.

Dari mana asal kata haleluya ini? Kata ini berasal dari kata hallĕlūyāh dalam bahasa Ibrani dan kata allēlouia dalam bahasa Yunani, yang kemudian dipakai dalam bahasa Latin sebagai kata alleluia, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah halleluyah. Kata ini menjadi makin terkenal dengan adanya Halleluyah Chorus dari musik konser Messiah ciptaan Handel pada tahun 1741.

Jika ciptaan Handel itu dianggap sebagai lagu rohani yang memuji Tuhan, ada banyak lagu Halleluyah lain yang diciptakan berbagai komposer, termasuk sebuah lagu pop sekular yang mengandung unsur seks dan keduniawian yang diciptakan oleh Leonard Cohen pada tahun 1984 dan baru-baru ini menjadi populer lagi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbeda dengan lagu yang asli, lagu pop ini sebenarnya bukan lagu pujian kepada Tuhan.

Bagi umat Kristen, tidak ada keraguan bahwa ayat diatas mengandung kata haleluya dalam konteks yang benar, yaitu pujian untuk Tuhan sebab Ia baik dan selalu mengasihi kita dengan setia. Pujian kepada Tuhan memang seharusnya kita sampaikan kepadaNya setiap hari karena Ia memelihara kita: dulu, sekarang dan untuk selamanya.

Lebih dari itu, haleluya juga sepatutnya kita ucapkan ketika kita ingat bahwa Yesus sudah datang dari surga untuk menebus dosa kita, dan Ia sudah mengalahkan maut dengan kebangkitanNya. Karena itu kita boleh berharap akan masa depan yang indah bersama Dia.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” 1 Petrus 1: 3

Ucapan haleluya memang seharusnya keluar dari dalam hati dan mulut kita setiap saat, dan bukan hanya ketika kita sadar bahwa adalah keajaiban bahwa kita masih bisa bangun tidur dan melihat sinar matahari setiap hari. Tetapi memuji Tuhan secara tulus dan khusyuk memang tidak mudah dilakukan.

Pada saat-saat tertentu hidup kita mungkin terasa berat karena berbagai tekanan dan penderitaan. Rasa tertekan juga menjadi semakin besar jika kita sering merasa gagal untuk berjalan menurut perintahNya. Walaupun demikian, kita harus yakin bahwa sekalipun Yesus sudah di surga, Ia tetap menyertai kita hari demi hari.(Yohanes 14: 18). KasihNya yang besar juga memberi pengampunan jika kita mengakui dosa kita ( 1 Yohanes 1: 9).

Pagi ini, adakah alasan bahwa kita tidak perlu mengucapkan haleluya dalam hati kita?

Tuhan Yesus tidak berubah

Tidak berubah, tidak berubah

Tuhan Yesus tidak berubah

Tak berubah selama-lamanya

Haleluya haleluya haleluya haleluya

Haleluya haleluya haleluya

Kesibukan dapat merusak kehidupan

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.” Markus 6: 31

Di dunia ini ada banyak orang yang hidupnya terlihat sangat sibuk. Malahan, ada negara-negara tertentu yang seluruh penduduknya selalu sibuk. Jepang, misalnya, adalah negara dimana penduduknya selalu bergesa menuju tempat tujuan mereka, terutama pada jam kerja. Kota raksasa seperti Tokyo dengan subway station Shinjuku yang tersibuk sedunia, bisa membuat pendatang baru menjadi pusing dan bingung dengan banyaknya orang yang lewat dari pagi sampai malam. Saya yang pernah tinggal disana, bisa merasakan beratnya hidup, terutama untuk pendatang baru.

Mengapa orang mau tinggal ditempat yang sangat ramai? Mengapa orang memilih hidup dalam kesibukan yang luar biasa? Pada umumnya, hal ini bukan berkaitan dengan soal “mau” atau “memilih”, tetapi karena “terpaksa”. Dunia yang dipenuhi manusia mengharuskan mereka untuk mencari tempat yang bisa memberikan penghasilan, dan itu seringkali hanya bisa diperoleh dengan susah payah. Semua itu tidaklah mengherankan, karena sejak kejatuhan manusia kedalam dosa, mereka hanya bisa mencari makan dengan bersusah payah (Kejadian 3: 17).

Tuhan Yesus yang pernah hidup di dunia pun mengalami saat-saat dimana Ia dan murid-muridNya mengalami kesibukan yang luar biasa karena adanya orang-orang yang datang dan pergi untuk mendapatkan penghiburan dan pelayanan. Walaupun demikian, Yesus dapat merasakan bahwa Ia dan murid-muridNya memerlukan waktu untuk beristirahat dan makan. Karena itu, dalam ayat diatas Yesus mengajak para muridNya untuk pergi ke tempat yang sunyi. Kesadaran bahwa kesibukan dapat merusak kehidupan ada pada Yesus. Manusia, seperti juga makhluk lainnya, memerlukan istirahat.

Istirahat bukan saja untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan jiwa kita. Dalam kesibukan kita, mungkin kita tidak atau kurang sempat untuk mendengarkan suara Tuhan. Seringkali juga, karena sibuk kita memilih untuk terus bekerja sekalipun hati dan pikiran kita mengomel. Tidak jarang, karena kelelahan jasmani dan rohani, orang kemudian tidak sanggup lagi untuk bekerja, alias burned-out. Hubungan mereka yang lelah dengan orang disekitarnya pun bisa terganggu karenanya.

Pada waktu Yesus mengunjungi rumah Maria dan Marta di Betania, Marta sangat sibuk menyiapkan makanan. Maria adiknya, sebaliknya hanya duduk mendengarkan Yesus. Ketika Martha merasa kesal karena Maria tidak mau membantunya di dapur, ia meminta Yesus untuk menegur adiknya. Tetapi Yesus justru menegur Marta.

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Pagi ini, sebagai orang percaya kita sadar bahwa memang setiap orang di dunia ini harus mau giat bekerja. Lebih dari itu, setiap orang Kristen harus bekerja untuk kemuliaan Tuhan. Itu berarti kita harus bisa melihat arti kerja menurut pandangan Tuhan. Banyak pekerjaan dan kesibukan yang nampaknya baik, tetapi sebenarnya membuat hidup kita menjadi kering dan layu. Banyak kesibukan yang terjadi karena kekuatiran kita atas diri kita sendiri atau diri orang lain. Bahkan banyak hamba Tuhan yang terbenam dalam kesibukan yang luar biasa karena kekuatiran atas masalah gereja.

Segala kesibukan yang secara sengaja atau tidak disengaja menjadi tak terkontrol, bisa menyebabkan kita menjauhi Tuhan; dan itu pada akhirnya akan merusak kehidupan dan kebahagiaan kita. Akhir minggu ini, biarlah kita mau menganalisa prioritas hidup kita sambil mengingat bahwa Tuhan selalu beserta kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7