Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Mungkinkah kita kehilangan keselamatan?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya keraguan apakah mereka atau sanak-saudara akan diselamatkan pada akhir hidup mereka. Tambahan lagi, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagiNya.  Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas memenuhi syarat untuk masuk ke neraka!

Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwaYesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Kembali kepada pertanyaan diatas, dapatkah orang yang sudah mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, untuk kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah singkat dan pasti: tidak mungkin. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintahNya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus.

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggilNya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apapun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubahNya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan namaNya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatanNya.

Pada pihak yang lain, mungkin diantara kita masih ada yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau dorongan dunia. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Disini peranan doa adalah sangat penting, karena Tuhan bekerja menurut rencanaNya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukanNya kepada orang-orang yang belum percaya kepadaNya luar dan dalam. Doa kita haruslah merupakan pernyataan iman kita bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan ingin agar manusia bisa diselamatkan pada waktu yang ditetapkanNya. Dengan doa, kita menyerahkan hidup kita dan hidup orang lain agar bisa berubah secepat mungkin karena hidup manusia di dunia adalah terbatas; tetapi semua itu biarlah sesuai dengan kehendakNya.

Jangan kecewa kepada Tuhan

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 2 Korintus 12: 7

Jika kita jujur kepada diri kita sendiri, tentu kita harus mengaku bahwa dalam hidup ini kita sering kecewa karena berbagai sebab. Diantara kekecewaan yang ada, mungkin ada yang besar atau yang kecil, dan mungkin disebabkan oleh apa yang terjadi pada diri kita, orang lain atau lingkungan.

Kekecewaan terjadi ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi, atau jika apa yang tidak kita harapkan terjadi.  Bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang mahakasih, pertanyaan mereka mungkin bertalian dengan kenyataan bahwa Tuhan seakan membuat umatNya kecewa. Doa yang diucapkan sejak lama misalnya, tidak kunjung terjawab; dan itu membuat manusia merasa dikecewakan.

Pada intinya, bagi manusia kekecewaan adalah rasa sedih karena kita tidak mengerti mengapa sesuatu berjalan tidak sesuai dengan pengharapan kita. Kekecewaan belum tentu dosa, karena Tuhan juga sering dikecewakan oleh manusia sekali pun Ia tahu segala yang akan terjadi dan penyebabnya. Jika kekecewaan Tuhan adalah karena kebodohan manusia, kekecewaan manusia adalah juga karena hal yang sama. Kekecewaan manusia menjadi dosa jika manusia tidak mengakui bahwa kebodohan manusia adalah penyebabnya dan itu mungkin termasuk kebodohan dirinya sendiri.

Mereka yang tidak mengerti bahwa segala sesuatu berjalan menurut rancangan Tuhan adalah orang-orang yang bodoh. Mereka yang kecewa adalah orang-orang bodoh yang kemudian bisa membenci orang lain, keadaan di sekelilingnya atau dirinya sendiri. Mereka yang kecewa bisa saja melakukan hal-hal yang lebih bodoh lagi dengan melakukan kekerasan atau kebencian kepada orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri. Mereka yang sangat kecewa bisa saja mengutuki Tuhan.

Salah satu orang yang hampir kecewa adalah rasul Paulus, yang menderita karena suatu sebab. Apakah penderitaan itu adalah penderitaan fisik, spiritual atau emosional, tidaklah ada orang yang bisa memastikan. Tetapi ia jelas sangat menderita karena ia mengatakan bahwa ia mempunyai suatu “duri dalam daging”. Jika duri itu tidak mematikan tubuh jasmaninya, jelas bahwa ia merasa sakit sekali. Karena itu ia sudah berseru tiga kali untuk memohon pertolongan. Tetapi seakan Tuhan tidak mendengar.

Tuhan malahan memberi Paulus pengetahuan bahwa Ia sendiri sudah menyurus utusan iblis untuk menyiksa Paulus. Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan iblis untuk mengganggu Paulus adalah hal yang menakutkan semua orang percaya. Tetapi itu bukanlah hal yang tidak mungkin, karena Ayub yang sangat taat kepada Tuhan juga mengalami penderitaan yang sangat besar ketika Tuhan mengizinkan iblis untuk menyerang Ayub (Ayub 1: 12). Tetapi Ayub bukanlah orang yang bodoh; ia mengerti bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu dalam semua yang dialaminya. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dalam semua keadaan.

Tahukah Paulus maksud Tuhan dengan membiarkan dirinya menderita? Mungkin saja ia pada mulanya tidak mengerti hal itu. Karena itu, Paulus memohon sampai tiga kali agar Tuhan melepaskannya dari duri itu. Jika ia mengerti apa maksud Tuhan dari mulanya, tentu Paulus sebagai rasul tidak perlu memohon kelepasan. Tetapi, melalui pergumulannya, Paulus kemudian mengerti bahwa semua itu terjadi agar ia tidak meninggikan diri. Sebagai anak Tuhan, Paulus bisa saja merasa sombong jika Tuhan selalu memberikan kenyamanan, kesuksesan dan kemakmuran kepadanya.

Pagi ini, jika kita mengalami penderitaan dan kekecewaan karena orang lain, karena lingkungan,  atau karena diri kita sendiri, kita harus menyadari bahwa seperti Ayub dan Paulus, kita pun pengikut Tuhan. Bagi pengikut Tuhan, penderitaan hidup adalah hal yang biasa. Berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh sebagian orang Kristen, kita harus menghindari kebodohan manusia yang merasa bahwa Tuhan harus selalu melimpahkan berkatNya dalam bentuk apa yang enak saja. Sebab Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang besar dalam diri setiap umatNya, dan melalui pergumulan hidup kita bisa menerima berkat yang besar yaitu iman yang makin teguh kepada Dia. Jangan mudah kecewa!

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Jika kesulitan hidup mendatangi

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Ada falsafah Jawa yang berbunyi “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Artinya, lebih baik hidup susah di desa atau di kampung daripada harus berpisah dengan keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mencari makan ditempat lain. Kebahagiaan agaknya bukan ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang yang tidak setuju dengan falsafah itu bisa saja berpendapat bahwa untuk bisa hidup bersama dengan keluarga dan kerabat, orang tetap harus mempunyai penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan.

Memang untuk bisa hidup berbahagia sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya harta, semua bisa dibeli. Kebahagiaan seolah bisa diperoleh melalui kemakmuran. Tetapi ini tentu saja tidak benar. Alkitab menyatakan bahwa orang yang gila harta mudah jatuh kedalam berbagai pencobaan (1 Timotius 6: 10). Sebaliknya, orang yang hidup dalam kekurangan yang besar, mungkin juga sulit untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Jika kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dukacita dan penderitaan sering datang tanpa diundang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dalam kemalangan masih ada keuntungan, yaitu datangnya penghiburan dari Tuhan.

Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin untuk selalu berkomunikasi dengan umatNya. Setiap saat Ia ingin untuk membimbing dan menguatkan mereka yang mau mendengarkanNya. Tetapi, seperti seorang anak kecil yang melupakan orangtuanya ketika sibuk bermain ayunan di halaman, kita pun sering melupakan Tuhan ketika hidup kita sedang berjalan lancar.

Untuk seorang anak, adanya orangtua adalah suatu berkat. Mereka yang tidak mempunyai orangtua bisa merasakan saat-saat dimana rasa sepi dan takut mendatangi. Anak-anak yang mempunyai orangtua yang baik dan bijaksana adalah orang-orang yang berbahagia karena adanya penghiburan dan perlindungan ketika mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Semoga pagi ini kita disadarkan bahwa Bapa kita yang di surga tidak pernah meninggalkan kita. Berbahagialah umat Tuhan yang mau memanggil namaNya ketika badai kehidupan menerpa!

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22 – 23

Melawan kuasa iblis

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Banyak orang yang percaya bahwa hantu itu ada. Anehnya, hanya sebagian dari orang-orang itu yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi, sekalipun mereka percaya bahwa dunia roh itu ada, hanya sebagian orang yang percaya bahwa roh yang mahakuasa itu ada.

Banyak orang yang pernah menjumpai, melihat dan merasakan kehadiran roh-roh yang bergentayangan, percaya bahwa dunia roh adalah dunia yang penuh misteri. Di beberapa negara yang dipengaruhi budaya setempat, orang mengenal banyak roh-roh yang bisa muncul dengan berbagai bentuk dan mempunyai berbagai nama. Selain itu, ada orang-orang yang percaya bahwa diantara roh-roh itu ada roh yang baik dan ada yang roh yang jahat. Mereka mungkin percaya bahwa ada roh-roh yang bisa mereka gunakan sebagai pembantu atau penolong mereka.

Untuk orang Kristen dunia roh itu memang ada, dunia dimana iblis dan pengikutnya berkeliaran seperti singa yang mencari kesempatan guna menyerang anak-anak Tuhan. Orang Kristen tidak memuja roh atau berdoa kepada roh, jin dan arwah, karena mereka hanya beriman kepada Tuhan.

Roh yang jahat sering dibayangkan berupa makhluk yang mengerikan, tetapi orang Kristen tahu bahwa itu tidaklah selalu benar. Iblis dulunya adalah malaikat Tuhan yang rupawan, dan ia tahu bahwa dengan penampilan yang memikat, manusia tentu mudah terkecoh dan jatuh dalam dosa. Karena itu, iblis justru seringkali menggoda manusia dengan hal-hal yang indah, nikmat dan menggairahkan. Bukannya menghindari, manusia justru sering mendekati iblis untuk mencoba dan merasakan apa yang ditampilkannya.

Bagaimana kita dapat mengatasi serangan iblis? Sebagian orang memakai doa-doa dan tindakan istimewa untuk melawan serangan iblis, tetapi ini tidak selalu diperlukan. Sebenarnya umat Kristen tidak perlu takut kepada iblis, karena Yesus sudah mengalahkannya di kayu salib.

Apa yang perlu kita lakukan hanyalah hidup dekat dengan Tuhan. Jika hidup kita dipakai untuk memuliakan Tuhan setiap saat, iblis tidak akan mempunyai kesempatan untuk menggoda atau menyerang kita. Darah Kristus adalah senjata orang Kristen baik secara defensif maupun ofensif terhadap kuasa iblis. Karena itu, untuk menolong orang lain yang mengalami serangan iblis, kita harus membantu mereka dengan doa dan peringatan agar mereka mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.” Efesus 6: 14 – 18

Bagaimana mendidik orang lain

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17 – 18

Hal mendidik bukanlah soal mudah. Sejak dulu orang tua, guru dan majikan selalu harus berusaha keras untuk membimbing anak, murid dan bawahan, agar mereka menjadi orang-orang yang berguna. Jika pada zaman yang telah silam orang seakan menggunakan teknik atau cara yang sederhana untuk mendidik kaum muda, di zaman sekarang berbagai teori muncul untuk memberikan cara pendidikan yang terbaik. Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hal mendidik bukannya semakin mudah dilaksanakan.

Alkitab menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dari masa kecil untuk memberi hasil yang maksimal. Penundaan pendidikan tidak hanya memberi kesempatan untuk kebiasaan buruk untuk mulai muncul, tetapi juga membuat orang lebih sulit untuk menerima ajaran baru dengan meningkatnya usia.

“Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.” Amsal 29: 21

Tuhan yang sudah mengasihi kita, ingin agar kita membagikan kasihNya kepada mereka yang kita didik. Sebagaimana Yesus sudah menebus dosa kita dalam kasihNya, kita mendidik orang-orang disekitar kita dengan kasih dan kesabaran, agar mereka bisa melihat bahwa sebagaimana Tuhan menjaga dan melindungi kita, begitu juga Tuhan yang mahakuasa mau menjaga mereka jika mereka mau menjadi dombaNya.

Tuhan yang di surga, tentunya mengerti sepenuhnya bagaimana sifat dan kemampuan manusia. Dalam ayat pembukaan diatas, pemazmur menulis bahwa Tuhan sudah mengajar dia sejak kecil untuk memberitakan kebesaranNya; dan karena itu, sampai masa tua pun dia ingin agar Tuhan tetap menyertainya agar ia dapat mendidik kaum muda. Mendidik adalah membagikan apa yang kita ketahui kepada orang lain, sehingga mereka pun menjadi orang yang berpengetahuan.

Sebagai orang percaya, tentu ada banyak pengetahuan tentang Tuhan yang kita punyai. Bukan saja kita sadar bahwa Tuhan itu mahakuasa, kita juga mengerti bahwa Dia adalah mahatahu dan mahakasih. Tuhanlah yang sudah membimbing dan melindungi kita sejak kecil, dan dengan demikian apa yang kita sampaikan kepada orang lain adalah kesaksian hidup kita yang menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Dalam hal ini, kita menceritakan apa yang kita yakini dan alami kepada orang lain, dan menjalankan apa yang kita ajarkan kepada orang disekitar kita, sehingga kita bukan hanya menjadi pembawa Firman, tetapi juga pelaku Firman. Talk the walk, walk the talk.

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Hampir berarti belum

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.” Markus 12: 34

Teringat saya akan pertandingan sepakbola piala dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia. Banyak orang pada saat itu memperkirakan bahwa tim Prancis akan kalah menghadapi tim Kroasia yang pada babak-babak sebelumnya bermain kompak dan cantik. Tim Prancis memang secara umum bermain dengan baik, tetapi sebelum final prestasi mereka tidak terlihat istimewa.

Apa yang terjadi adalah diluar dugaan. Prancis menang dengan skor 4 – 2. Walaupun Kroasia menguasai bola sepanjang 61% dalam pertandingan dan menembakkan bola 15 kali, hanya 3 tembakan yang terarah ke gawang, dua saja yang masuk ke gawang. Memang bola yang tidak masuk ke gawang, sekalipun hampir masuk, tidak akan menghasilkan skor. So near, and yet so far.

Apa yang bisa terjadi dalam pertandingan bola agaknya mirip dengan apa yang ditulis dalam ayat diatas. Orang-orang yang merasa yakin bahwa mereka sudah diselamatkan, mungkin saja hampir diselamatkan. Tapi belum. Pada waktu itu, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus apa hukum yang paling utama. Yesus kemudian menyatakan bahwa hukum kasih kepada Tuhan dan sesama manusia adalah dua hukum yang paling penting. Mendengar hal itu, sang ahli Taurat dengan cepat mengiyakan apa yang dikatakan Yesus. Karena itu, Yesus menjawab bahwa ahli Taurat itu tidak jauh dari kerajaan surga, tidak jauh dari pengertian yang benar.

Apakah ucapan Yesus itu adalah sebuah pujian atau celaan? Jika kita bayangkan diri kita sebagai ahli Taurat yang mendengarkan jawaban Yesus itu, apakah kita merasa senang? Barangkali, tidak semua orang bisa mengerti bahwa Yesus bermaksud menyatakan bahwa “tidak jauh” berarti “belum sampai”. Memang “hampir”, tetapi “belum”.

Banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa cukup dengan percaya kepada Yesus, mereka akan diselamatkan. Tetapi mereka tidak sadar bahwa iblis pun percaya kepada Tuhan dan bahkan takut kepadaNya. Iblis juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Walaupun demikian, iblis tidak mengasihi Allah dan tidak taat kepada perintah Allah. Iblis ingin berbuat semaunya, dan tidak mau tunduk kepadaNya.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita bukannya apakah kita percaya kepada Tuhan. Sebab itu dengan mudah bisa kita jawab dengan keyakinan. Tetapi, pertanyaan kepada kita ialah apakah kita benar-benar melakukan apa yang dikendaki Tuhan dalam hidup kita sebagai bukti iman kita. Hampir tidak berarti sudah. Hampir berarti belum.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Pengampunan bukanlah persiapan untuk berbuat dosa

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 18

Bagi orang Indonesia, hal mandi adalah hal yang biasa dilakukan setiap hari. Di daerah tertentu orang mungkin masih bisa mandi di sungai, tetapi mereka yang hidup di kota biasanya mandi dengan gayung atau pancuran.

Dari mana datangnya kebiasaan mandi? Kebutuhan manusia untuk membersihkan diri sudah muncul ribuan tahun yang lalu. Sekitar tahun 500 – 300 SM “pancuran air” muncul di Mesir dan Mesopotamia untuk orang kaya, dimana pelayan-pelayan mereka menuangkan air dari botol untuk membersihkan tubuh majikan mereka, tetapi orang Yunanilah yang pada masa itu menemukan prinsip pancuran modern untuk para atlit mereka.

Mengapa kita perlu mandi secara teratur? Bukankah setelah mandi tubuh kita akan menjadi kotor lagi? Tentu kita sadar bahwa mandi adalah perlu untuk kebersihan dan kesehatan tubuh. Tanpa usaha untuk menjaga kebersihan tubuh, kita akan mudah terkena berbagai penyakit. Selain itu, kebersihan tubuh juga membawa kesegaran dan semangat baru. Mandi dengan demikian bukan berarti persiapan untuk mengotorkan tubuh lagi.

Seperti mandi yang tidak bisa membuat tubuh kita bersih untuk selamanya, begitu juga doa pengampunan kita ucapkan setiap hari tidak membuat kita tidak berdosa untuk selamanya. Sebagai manusia, sekeras apapun kemauan kita untuk tidak berbuat dosa, tetap saja ada dosa yang datang tiap hari. Apa gunanya kita menjadi orang Kristen dan apa pula perlunya kita berdoa minta ampun setiap hari? Begitu mungkin pertanyaan mereka yang berpendapat bahwa orang Kristen tak lain adalah orang munafik saja.

Ayat diatas menegaskan bahwa semua orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari dosa, dari ikatan dosa. Jika dulunya orang-orang itu tidak mengenal Yesus Kristus, mereka kemudian percaya kepadaNya, darah Kristus mencuci bersih dosa yang ada, sehingga mereka layak diterima sebagai umat Tuhan.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Sejak umat Kristen memperbaharui hidup mereka, mereka sadar bahwa Yesus sudah menebus hidup mereka dengan harga yang termahal, dan karena itu harus berusaha untuk tidak lagi hidup bergelimang dalam dosa.

Pagi ini, kesadaran kita bahwa dalam hidup di dunia kita tidak dapat menghindari berbagai kekeliruan, seharusnya mengharuskan kita berdoa kepada Bapa yang di surga untuk meminta pengampunan atas dosa-dosa yang kita perbuat hari demi hari. Tetapi, selain itu kita juga harus sadar bahwa pengampunan dosa bukanlah persiapan untuk membuat dosa baru. Tanpa usaha untuk menjaga kebersihan hidup, kita akan mudah terkena berbagai masalah. Selain itu, kebersihan hidup juga membawa kesegaran dan semangat baru dalam hubungan dengan Tuhan.

Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yohanes 8: 11