Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Sesudah dipilih tentu ada perubahan

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Pemilihan umum di Amerika sudah dilangsungkan pada tanggal 3 November yang lalu, namun hampir tiga minggu kemudian orang belum mendapat kepastian resmi siapakah yang mendapatkan suara terbanyak. Hal ini disebabkan karena adanya pihak yang meminta penghitungan suara untuk dilakukan lagi. Jumlah suara terbanyak nantinya akan menentukan siapa yang terpilih sebagai presiden.

Sebagai ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat memilih Tuhan yang disukainya. Tuhan yang benar bukanlah apa yang dipilih oleh banyak manusia. Seandaintya bisa memilih satu Tuhan di antara banyak oknum yang dikenal manusia sebagai “tuhan”, manusia pasti memilih apa yang bukan Tuhan karena tidak ada orang yang mengerti manakah Tuhan yang benar. Tuhan yang benar adalah satu Tuhan yang maha besar dan karena itu manusia tidak dapat menyelami besarnya dan dalamnya kebesaran Tuhan. Dengan demikian, Tuhanlah yang harus memilih manusia yang akan diberiNya pengertian yang benar.

Bagi orang Kristen, kenyataan bahwa mereka sudah dipilih oleh Tuhan mungkin tidak terlalu sering diberitakan. Namun kita harus mengerti bahwa kita menjadi anak-anak Tuhan bukan karena kita yang memilih Dia, tetapi karena Dia yang sudah memilih kita. Tidak ada alasan lain bagi Tuhan untuk memilih manusia berdosa seperti kita untuk diselamatkan, kecuali karena kasihNya yang juga menjadikan kita orang-orang yang berkecukupan dalam segala hal yang baik.

Sayang sekali, banyak orang yang merasa bahwa mereka sudah diselamatkan, merasa bahwa menerima keselamatan dari Tuhan adalah karena melakukan hal-hal yang baik. Dari dulu memang manusia cenderung untuk berusaha untuk mencapai surga dengan mengikuti berbagai ritual agama. Pada pihak yang lain, setelah memenuhi persyaratan agama, mereka cenderung untuk menjalani hidup mereka seperti biasa, dan tidak merasakan perlunya adanya kelahiran baru yang sebenarnya.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus, orang Farisi yang taat kepada hukum Torat, menunjukkan bahwa manusia sering merasa bahwa mereka sudah memenuhi syarat untuk mencapai keselamatan melalui hukum agama, dan bukannya anugerah Tuhan. Mereka merasa bahwa hidup mereka sudah dibenarkan sekalipun mereka belum berubah dari dalam. Memang, hidup baru atau lahir baru hanya dimungkinkan melalui darah Yesus yang membawa pengampunan dosa dan Roh Kudus yang membawa kesadaran bagi manusia.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Manusia zaman ini juga sering yang menunjukkan gejala sindrom Nikodemus, yaitu hidup dengan “ayem-tentrem” karena merasa bahwa mereka sudah menjadi orang percaya dengan membaca Alkitab dan pergi ke gereja. Mereka tidak sadar bahwa mereka yang benar-benar sudah mengikut Yesus tentu akan membuat persiapan dan mengalami perubahan hidup. Dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru yang penuh kasih dan menjauhkan diri dari dosa. Mereka akan berusaha untuk hidup suci dan menghasilkan buah-buah yang baik, karena Yesus adalah suci.

Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus adalah orang yang menantikan perjumpaan dengan Sang Juruselamat. Karena itu tidak mungkin baginya untuk tidak mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Orang Kristen yang tetap membiarkan hidupnya berjalan seperti biasa, yang tidak mau dipimpin Roh Kudus untuk disucikan, mungkin adalah orang-orang yang belum mengenal Kristus seperti halnya Nikodemus.

“Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” 1 Yohanes 3: 7

Biarlah kita tetap memancarkan kehangatan

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12

Sebulan lagi kita akan merayakan hari Natal. Saat ini adalah transisi musim semi ke musim panas di Australia, tetapi transisi dari musim gugur ke musim dingin di belahan utara bumi. Natal di Australia mungkin sulit dibayangkan karena umumnya orang mengaitkan suasana Natal dengan musim dingin dan salju, seperti lagu “White Christmas”.

Pada musim dingin di benua utara, dinginnya udara membuat orang yang sedang berada di luar rumah membungkus diri dengan memakai jaket, topi, dan apapun untuk melindungi tubuh dari udara yang dingin. Bagi mereka yang punya rumah, pemanas ruangan bisa dipakai untuk melupakan udara dingin di luar, tetapi mereka yang tuna wisma terpaksa tidur di pinggir jalan dibawah selimut saja. Bagi mereka, udara dingin menambah kesulitan hidup akibat pandemi yang sudah ada.

Dinginnya udara di musim dingin mungkin seperti dinginnya hati manusia dalam ayat di atas. Dengan udara yang dingin, mereka yang yang berada dalam keadaan yang kurang baik akan merasakan beratnya hidup tanpa adanya kehangatan rumah dan makanan. Dengan dinginnya hati manusia, mereka yang mengalami penderitaan tidak dapat mengharapkan adanya perhatian dan pertolongan dari sesama. Bahkan dengan dinginnya hati mereka yang mengaku Kristen, apa yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari bukannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya, tapi untuk memuliakan diri sendiri dan untuk memperoleh kepentingan pribadi.

Ayat diatas menunjukkan bahwa banyak orang yang dulunya mempunyai kasih, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai kasih. Mereka yang dulunya pernah mendengar panggilan Tuhan dan mengerti perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama manusia, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak lagi taat kepada Tuhan. Mereka lebih taat kepada keinginan dan kebahagiaan duniawi yang berupa kemasyhuran, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan dan semacamnya.

Di hari Minggu ini, banyak orang Kristen yang ke gereja dengan kerinduan untuk mendapatkan kehangatan kasih dalam persekutuan dengan saudara seiman dan mendengar kasih penghiburan Tuhan. Tetapi di banyak negara, gereja sudah berubah menjadi seperti tempat pertemuan yang dipenuhi banyak orang yang kemudian pulang ke rumah masing-masing tanpa dapat merasakan adanya kasih dan perhatian dari orang lain. Yang lebih aneh lagi adalah adanya orang-orang yang hanya karena ke gereja, percaya bahwa mereka sudah memenuhi perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Tuhan melalui rasul Paulus mengingatkan bahwa di zaman ini ada berbagai tanda hilangnya kasih dan bertambahnya hal-hal yang jahat di antara umat Kristen (2 Timotius 3: 1-9). Karena itu, hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hanya ke gereja sebagai kebiasaan atau keharusan. Ia ingin kita datang kepadaNya dengan kehangatan kasih, dan bukannya kepalsuan.

Tuhan tidak mengharapkan uang persembahan manusia tetapi Ia menghargai hati umatNya yang dipenuhi kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan kepada umatNya, dan karena itu Ia membenci orang-orang yang seakan berbakti kepadaNya, tetapi hanya mengharapkan Tuhan memberikan apa yang diinginkan mereka.

Tuhan menyenangi umatNya yang mengabarkan kabar baik tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan, dan bukannya kisah-kisah duniawi. Tuhan menghendaki umatNya untuk benar-benar bisa taat kepadaNya, dan bukannya hanya hidup dalam kepalsuan.

Memang dengan banyaknya orang Kristen yang mundur dari iman, dan tidak lagi mau ke gereja, kita mudah terpengaruh. Tetapi pagi ini kita dingatkan bahwa apapun keadaan yang ada di sekeliling kita, biarlah hati kita tidak ikut menjadi dingin.

Kita akan dikuatkan dalam mengikut Yesus

Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”`Yohanes 21: 18 – 19

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal yang dikatakan Yesus untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dengan memuliakan Allah. Menurut tradisi (yang dicatat oleh Hieronimus), Petrus mati secara martir dengan cara disalibkan terbalik (kepala di bawah, kaki di atas) di Roma pada saat pemerintahan Nero setelah menolak disalibkan dengan kepala di atas karena ia merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus.

Membaca ayat di atas, banyak orang yang tidak merasakan adanya kaitan dengan kehidupan mereka. Bukankah ayat itu hanya untuk Petrus? Bukankah pada zaman ini jarang orang Kristen yang mengalami penganiayaan sadis seperti yang dialami Petrus? Apalagi, untuk mereka yang tinggal di negara berlandaskan hukum, kematian seperti yang dialami Petrus tentunya tidak ada. Walaupun demikian, ayat itu mengandung kenyataan bahwa setiap manusia bisa mengalami kejadian yang tidak diharapkan atau tidak disukai. Malahan, ada saatnya bahwa manusia akan terpaksa mengikuti perintah orang lain, entah karena keadaan setempat, berkurangnya kemampuan atau bertambahnya umur.

Memang nasib kita di masa depan belum tentu dapat kita pastikan. Dalam hidup ini, kita bisa mengalami berbagai goncangan yang membuat hidup ini terasa berat. Entah itu karena persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, persahabatan dan lain-lainnya, terkadang hidup manusia terlihat porak-poranda. Dan jika kita mengalami hal-hal itu, sudah sewajarnya kita bertanya-tanya: adakah masa depan bagiku? Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Bagi banyak orang sudah jauh dari Tuhan, hidup serasa ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam kebodohan mereka, mereka merencanakan segala sesuatu menurut keinginan mereka, dan merasa yakin akan dapat melakukan hal itu. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini tidak akan selalu berjalan sesuai dengan harapan kita. Malahan, tua atau muda, manusia bisa mengalami hidup yang berat secara jasmani atau rohani.

“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” Amsal 27: 1

Masa depan umat manusia sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini. Mereka yang berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Mereka yang tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai persoalan hidup di masa depan adalah orang-orang yang bodoh.

Bagaimana kita dapat bersiap menghadapi tantangan hidup di hari depan? Satu hal yang penting adalah membina hubungan kita dengan Yesus. Di dalam Yesus kita bisa menemukan kepastian bahwa apapun yang terjadi, Ia sudah memilih kita untuk menjadi umatNya yang diselamatkan. Yesus yang mengajak Petrus untuk mengikutiNya adalah Yesus yang akan menguatkan kita dalam menghadapi segala tantangan.

“Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” Mazmur 37: 39

Strengthened in the love of Christ

“I pray that out of his glorious riches he may strengthen you with power through his Spirit in your inner being, so that Christ may dwell in your hearts through faith. And I pray that you, being rooted and established in love” Ephesians 3: 16 – 17

Jacaranda is a flowering plant that comes from tropical and subtropical regions of Central America and South America. Because of its beauty, this plant is widely grown in various countries, including Indonesia, which can be found on the grounds of the IPB campus in Bogor. The name Jacaranda is actually the genus name which is the common name of the plant.

The Jacaranda plant, which can grow to 20-30 meters high, is a large tree with strong roots. This tree begins to flower at the beginning of the dry season in Indonesia and summer in Australia. With a bluish purple color, this flower can last up to 2 months before falling off. When entering the peak, the flowers of this plant almost cover the entire tree so that it looks very beautiful to the eye.

The fruit of the Jacaranda tree is shaped like a flat capsule containing many slender seeds. From small seeds, this tree can thrive in the sun on sandy soil. Mature plants are tough trees that can be said to withstand all weather conditions, but young plants are more susceptible and often may not survive the winter months.

Our Christian life might be described as a Jacaranda tree which has to grow from a tiny seed in a favorable environment and climate for many years to become a strong, flowery tree. In the above verse, Paul mentions two things that are important for the Christian life.

First, his desire for the Ephesians to grow in faith, not knowledge, although both are important. Please note, Paul in Ephesians 2:22 also uses the idea of ​​”the dwelling place of God, in the Spirit”. Furthermore, Paul also taught the Colossians, “Let the words of Christ dwell, and all their riches among you” (Colossians 3:16). Thus, a good environment for the growth of our faith is a life in closeness to Jesus Christ.

Second, Paul prays that his readers will be safe in their dependence on the love of Christ. The image is a tree that must be firmly supported by deep roots (Matthew 13: 6, 21; 15:13; Mark 4:17). Love, especially that expressed among fellow Christians, and that comes from Christ is a hallmark of our faith (John 13: 34-35). Love is also meant to keep Christians strong on earth, staying in a place with Christ who grows us to maturity. In this regard, Colossians 2: 7 says something similar about “taking root in Him and being built up on Him and growing steadfast in the faith”.

Today God’s word invites us to be more focused on our spiritual life. Having a good inner life is absolutely necessary so that we will know more about God who has revealed Himself to us and can understand more about His love. Our outer person may degenerate more and more, and the challenges of life may weaken our physical body, but the person we are inside must grow stronger. Despite the many challenges in our life, our faith will grow bigger and bigger in our spiritual fellowship with Christ.

Dikuatkan dalam kasih Kristus

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Efesus 3: 16 – 17

Jacaranda, tanaman berbunga yang berasal dari daerah Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim tropis dan subtropis. Karena keindahannya, tanaman ini banyak ditanam di berbagai negara termasuk di Indonesia yang bisa dijumpai di halaman kampus IPB di Bogor. Nama Jacaranda sebetulnya adalah nama genus yang menjadi nama umum dari tanaman tersebut.

Tanaman Jacaranda yang bisa tumbuh sampai setinggi 20-30 meter ini adalah pohon besar yang berakar kuat. Pohon ini mulai berbunga pada awal musim kemarau di Indonesia dan musim panas di Australia. Dengan warnanya yang ungu kebiru-biruan, bunga ini bisa bertahan sampai 2 bulan sebelum rontok. Ketika memasuki puncaknya, bunga tanaman ini hampir menutupi seluruh pohonnya sehingga kelihatan sangat indah memesona dipandang mata.

Buah pohon Jacaranda berbentuk seperti kapsul pipih yang mengandung banyak biji ramping. Dari biji yang kecil, pohon ini bisa tumbuh subur di bawah sinar matahari di tanah berpasir. Tanaman dewasa adalah pohon yang kuat yang dapat dikatakan tahan segala cuaca, tetapi tanaman muda lebih rentan dan sering tidak dapat bertahan di musim dingin.

Hidup kita mungkin bisa digambarkan seperti pohon Jacaranda yang harus bertumbuh dari biji yang kecil dalam lingkungan dan iklim yang baik selama bertahun-tahun untuk bisa menjadi pohon yang kuat dan berbunga indah. Dalam ayat di atas, Paulus menyebutkan dua hal yang penting untuk kehidupan orang Kristen.

Pertama, keinginannya agar jemaat di Efesus untuk bertumbuh dalam iman, bukan pengetahuan, meskipun keduanya penting. Perlu diketahui, Paulus dalam Efesus 2:22 juga menggunakan gagasan tentang “tempat kediaman Allah, di dalam Roh”. Lebih lanjut, Paulus juga mengajar orang Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu” (Kolose 3:16). Dengan demikian, lingkungan yang baik untuk pertumbuhan iman kita adalah kehidupan dalam kedekatan kepada Yesus Kristus.

Kedua, Paulus berdoa agar para pembacanya aman dalam ketergantungan mereka pada kasih Kristus. Gambarannya adalah pohon yang harus didukung dengan kuat oleh akar yang dalam (Matius 13: 6, 21; 15:13; Markus 4:17). Kasih, khususnya yang diperlihatkan di antara sesama orang Kristen, dan berasal dari Kristusadalah ciri khas iman kita (Yohanes 13: 34-35). Kasih juga dimaksudkan untuk membuat orang Kristen tetap kuat hidup di bumi, tetap di tempat dengan Kristus yang menumbuhkan kita hingga dewasa. Dalam hal ini, Kolose 2: 7 menyebutkan hal yang serupa tentang “berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia dan bertambah teguh dalam iman”.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk lebih  memusatkan perhatian kepada hidup kerohanian kita. Mempunyai hidup batiniah yang baik adalah mutlak diperlukan agar kita makin mengenal Tuhan yang sudah menyatakan diriNya kepada kita dan makin bisa mengerti akan kasihNya. Manusia lahiriah kita mungkin makin merosot, dan tantangan kehidupan mungkin membuat tubuh jasmani kita lemah, tetapi manusia batiniah kita haruslah tumbuh semakin kuat. Sekalipun banyak tantangan dalam hidup kita, iman kita akan tumbuh semakin besar dalam persekutuan rohani kita  dengan Kristus.

Hikmat untuk menghindari kekacauan

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Bacaan: Yakobus 3: 1 – 18

Tidak terasa tahun 2020 ini akan berakhir. Tinggal satu setengah bulan lagi kita akan memasuki tahun baru. Biasanya, banyak orang di saat seperti ini sudah mulai merencanakan apa yang akan dilakukan selama liburan Natal dan tahun baru. Tetapi tahun ini agaknya lain dari tahun-tahun yang sebelumnya. Bukan saja sejak bulan Febuari yang lalu seluruh dunia dicengkam kekuatiran dengan munculnya pandemi, akhir-akhir ini mulai muncul kekacauan yang diakibatkan oleh tingkah laku dan perbuatan manusia. Kekacauan yang terjadi di berbagai negara sudah membuat keadaan tampak semakin tidak terkontrol.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun yang terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya adalah cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali iri hati dan lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan memengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena ada orang-orang yang mahir memakai kata-kata yang membakar dan menghasut yang bisa membuat orang lain melakukan tindakan yang jahat.

Yakobus 3: 13–18 mempertanyakan konsep kita tentang siapa yang bijak dan mempunyai pengertian. Orang yang benar-benar bijaksana dan berpengertian adalah orang yang karena imannya kepada Tuhan mengarah pada perbuatan baik tanpa pamrih. Orang bijak hidup dalam kerendahan hati dan kebijaksanaan, menyisihkan diri untuk melayani orang lain. Itu lain sekali dengan kebijaksanaan duniawi, yang mengajarkan bahwa setiap orang harus melayani dirinya sendiri terlebih dulu. Sikap duniawi seperti inilah yang mudah mendorong timbulnya rasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain, dan ambisi untuk memperoleh apa yang disukainya dengan segala cara. Hasilnya adalah kekacauan dan kejahatan, bukan kedamaian atau kelembutan, dan belas kasihan yang mengikuti hikmat surgawi.

Definisi kesuksesan dunia adalah bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Menurut sikap ini, setiap orang harus melihat sekeliling dan memutuskan apa yang akan membuat diri mereka bahagia – seperti kenyamanan, uang, kekuasaan – dan kemudian membuat rencana untuk mendapatkannya. Dengan motivasi itu, orang dengan ambisi egois mau melakukan apapun yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam hal ini, Yakobus menunjukkan bahwa akibat dari setiap orang yang berfokus pada diri mereka sendiri, dan bekerja untuk diri mereka sendiri, adalah kekacauan bagi masyarakat di sekelilingnya.

Hasil kedua dari hikmat duniawi adalah berbagai praktik penipuan, kejahatan atau kekejian. Mengapa? Ambisi diri kita pada akhirnya akan menuntut kita untuk menyakiti orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Itu mendorong kita untuk membuat alasan atas keegoisan kita. Itu membuat kita keras dan kebal atas koreksi. Standar kita untuk apa yang dapat diterima pada akhirnya perlu dikompromikan agar kita terus bergerak maju, bekerja di bawah sistem dunia. Kita tidak akan ragu-ragu untuk menjelekkan, memfitnah dan mengutuk orang lain.

Kata-kata manusia sangat kuat. Lidah kita kecil, tetapi mampu menimbulkan malapetaka besar. Siapa pun yang dapat dengan sempurna mengendalikan kata-katanya akan memiliki kendali sempurna atas seluruh tubuh mereka. Sebaliknya, sebagai manusia yang berdosa, lidah kita tidak bisa dijinakkan dengan usaha kita sendiri. Karena kurangnya hikmat, kata-kata kita adalah seperti api, yang mampu menyulut apa yang ada di sekitar kita. Dalam hal ini, hikmat yang sejati tidak selalu ditemukan pada mereka yang ternama, berpendidikan, beruang, atau banyak temannya. Hikmat yang sejati hanya bisa datang dari Tuhan dan diberikan kepada umatNya.

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai orang lain. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk bisa mengasihi masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Keinginan jangan sampai menimbulkan kekuatiran

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hampir semua orang tentunya mempunyai keinginan. Jika keinginan kita menjadi kenyataan, tentu kita merasa senang atau lega; tetapi jika itu tidak tercapai setelah menunggu sekian lama, harapan kita mungkin berubah menjadi kekecewaan. Memang sejak munculnya wabah corona semua orang menginginkan bahwa semua masalah yang timbul bisa diatasi dengan cepat. Dalam kenyataannya, seluruh negara di dunia saat ini masih bergulat dengan pandemi dan segala akibatnya. Karena itu banyak orang yang kuatir akan masa depan.

Dalam keadaan normal apa yang diinginkan manusia tentunya berbeda satu dengan yang lain. Mungkin bagi seseorang, keinginan yang ada hanyalah sederhana, untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya. Tetapi ada juga orang-orang yang menginginkan sesuatu yang kelihatannya lebih bergemerlapan, seperti kekayaan dan kedudukan. Hari-hari mereka digunakan untuk mengejar segala impian, dan jika itu tidak atau belum tercapai, kegundahan mulai muncul. Bagi banyak orang Kristen, keinginan yang tidak atau belum tercapai bisa melemahkan iman karena keyakinan akan kasih Tuhan yang mulai luntur.

Kekuatiran akan masa depan bisa mempengaruhi hidup kita. Baik hati maupun pikiran kita bisa mengalami kekosongan. Tuhan terasa jauh jika kesulitan dunia yang ada terasa sangat besar dan tidak teratasi. Kita mungkin lupa bahwa hidup orang Kristen sebenarnya bukanlah suatu dualisme: hidup di dunia dan hidup di surga. Hidup manusia yang sudah diselamatkan adalah sebuah kesatuan antara hidup di bumi dan hidup di surga, karena hidup secara keseluruhannya sudah menjadi milik Kristus, juga selagi mereka masih di dunia (Roma 1: 6).

Baik dalam suka atau duka, kita seharusnya tahu bahwa kita sudah memiliki hidup yang baru didalam Kristus, yang sesuai dengan rencana Tuhan. Hidup kita dengan demikian, haruslah diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan yang sudah memberi karunia yang terbesar yaitu keselamatan surgawi, tentu akan memelihara kita selama hidup di dunia. Karena itu, dalam hidup ini kita seharusnya hanya mempunyai satu tujuan utama, satu keinginan besar untuk mengingat dan mempermuliakan Tuhan.

Ayat diatas menjelaskan bahwa jika manusia lupa kepada Tuhan yang memegang kuasa atas hidup mereka, kekuatiran akan muncul. Sebaliknya, mereka yang selalu ingat kepada Tuhan akan bisa merasakan kehadiran Tuhan pada setiap saat dan memperoleh kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada situasi saat itu. Hidup manusia yang sudah diselamatkan seharusnya diisi dengan rasa syukur kepada Tuhan. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup selama di dunia kita boleh menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Jika kasih Tuhan bisa kita rasakan setiap hari, rasa damai akan ada dalam hati dan pikiran kita selama kita menantikan jawaban dan pertolongan Tuhan.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Hidup damai dengan kebijaksanaan

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.” Amsal 26:4-5

Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.

Kebanyakan orang yang “sulit diatur”, tidak merasa atau tidak mau mengakui bahwa ia adalah orang yang bertemperamen sulit. Dalam hal ini, banyak juga orang mengaku Kristen, tetapi dalam hidupnya suka bertengkar dengan orang lain, sehingga pada hakikatnya gaya hidup dan sikapnya tidaklah berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus. Tidak jarang, karena mereka mempunyai sifat sedemikian, orang menilai mereka sebagai orang yang bodoh.

Dalam keluarga pun ada suami atau istri yang “sulit diatur” oleh yang lain. Jika keduanya sering bersitegang dan tidak mau saling mengalah, suasana rumah tangga pun akhirnya menjadi kacau dan orang-orang disekitarnya pun bisa ikut menderita. Apakah pengenalan akan Kristus itu bisa secara nyata mengubah hubungan antara manusia sehingga mereka bisa saling menghormati, saling bersabar dan merendahkan diri dalam usaha untuk menyelesaikan masalah? Seharusnya begitu!

Ayat pembukaan diatas mengajak kita untuk menjadi orang terhormat dengan menjauhi perbantahan, dan tidak menjadi orang bodoh yang membiarkan amarah kita meledak tanpa alasan. Sanggupkah kita? Itu tergantung pada kita: apakah kita bisa selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dulu kita adalah orang-orang yang sulit untuk diselamatkan, tetapi karena kesabaran Tuhan kita menerima pengampunan dalam Yesus Kristus.

Saat ini kita mungkin harus menghadapi orang-orang sulit yang berada dalam keluarga, sekolah, kantor atau masyarakat. Cukup dengan membayangkan hal itu, kita bisa menjadi pusing karena memikirkan adanya kemungkinan untuk munculnya pertikaian atau percekcokan.

Kristus dalam hidupNya di dunia juga sering menghadapi orang yang sulit diatur, sikap kita kepada orang-orang semacam itu seharusnya mencontoh Dia. Dalam Yesus berinteraksi dengan orang yang sulit, Ia tidak pernah menunjukkan sikap menang sendiri, kasar atau angkuh; tetapi Ia selalu menunjukkan kekuasaanNya secara terkontrol dan tidak dengan semena-mena. Dengan demikian, kita pun harus bisa bersabar dan menghindari pertikaian yang tidak ada gunanya.

Pada pihak yang lain, adakalanya kesabaran kita membuat orang yang bodoh dan sombong merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar. Dalam hal ini, jika kita berdiam diri ataupun selalu mengiyakan orang sedemikian, orang itu tidak akan pernah menyadari kebodohan dan kesalahannya. Sebagai orang Kristen kita wajib menegur mereka yang tidak benar hidup maupun pandangannya. tetapi tidak melakukannya dengan kekasaran, melainkan dengan kasih. Kristus juga pernah menunjukkan kemarahanNya, tetapi semua itu dilakukanNya karena kasihNya yang ingin menolong dan menyelamatkan manusia.

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Amsal 20: 3

Kita bukan Yahudi tetapi terhitung sebagai anak-anak Allah

“…yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” Efesus 3: 6

Adanya orang tua yang pilih kasih, yang mempunyai anak favorit, adalah hal yang sering membuat ketegangan dalam keluarga. Kebanyakan orang tua menolak tuduhan bahwa mereka berat sebelah, lebih menyayangi seorang anak daripada yang lain. Tetapi dalam kenyataannya memang ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang bapa atau ibu untuk lebih menyayangi salah satu anaknya. Sebagai contoh dalam Alkitab adalah Yakub dan Esau. Yakub disayangi ibunya, dan Esau lebih disenangi oleh bapanya (Kejadian 25: 28).

Soal favoritisme orang tua itu agaknya bisa dimengerti karena setiap orang tua mempunyai kelemahan. Mungkin sebagai orang tua seharusnya berlaku adil kepada semua anak-anaknya dan tidak pilih kasih. Tetapi setiap orang tua juga mempunyai sifat yang mungkin lebih kompatibel dengan anak tertentu, dan dengan demikian, secara emosi, lebih mudah menyayanginya.

Jika hal pilih kasih diantara manusia adalah hal yang sering kita temui dan bisa dimengerti, pertanyaan apakah Tuhan juga pilih kasih terhadap manusia ciptaanNya seringkali menjadi soal sensitif dan tidak mudah dijawab. Tuhan tentunya mengasihi seluruh manusia di dunia sehingga Ia berusaha untuk menyelamatkan mereka dari hukuman dosa (Yohanes 3: 16). Secara umum, Tuhan yang Mahaadil dan Mahakasih juga memberikan berkat yang sama kepada seisi dunia. Matahari bersinar untuk semua orang, baik bagi mereka yang baik maupun yang jahat (Matius 5: 45).

Walaupun demikian, dari Alkitab Perjanjian Lama kita membaca bahwa Tuhan mengasihi bangsa Israel lebih dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel sudah dipilihNya untuk berperan dalam rencana keselamatanNya. Dari bangsa Israel lahirlah Yesus, Anak Allah, yang kemudian mati di kayu salib untuk menghapus kemarahan Allah atas umat manusia. Satu hal yang harus kita perhatikan adalah kenyataan bahwa bangsa Israel bukanlah satu bangsa yang dipilihNya untuk diselamatkan. Tuhan Yesus tidak datang untuk bangsa Israel atau bangsa tertentu, tetapi untuk semua umat manusia (Yohanes 3:16).

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita, orang-orang bukan Yahudi, karena berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Keselamatan ada karena Yesus yang sudah lahir sebagai orang Yahudi, tetapi kita tidak perlu untuk menjadi orang Yahudi atau pun mengikuti adat orang Yahudi. Dalam Yesus, keadilan Allah dinyatakan kepada seluruh umat manusia.

“Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” Roma 2: 28 -29

Walaupun demikian, jika kita berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan anak-anak Tuhan lainnya, pertanyaan akan muncul apakah Tuhan benar-benar adil kepada semua umatNya. Kita tentu percaya bahwa kita semua diselamatkan karena karunia kasih Tuhan yang sama besarnya karena kita semua adalah manusia yang dulunya sama-sama berdosa. Tetapi, apakah Tuhan masih mengasihi bangsa tertentu seperti dalam kitab Perjanjian Lama?

Tuhan memang melihat hidup tiap umatNya secara individual. Ia bereaksi atas kehidupan dan ketaatan setiap orang. Sejarah manusia dalam Alkitab menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang dipilihNya karena ketaatan mereka. Mereka yang karena setia dan kuat dalam iman, mendapat “perhatian khusus” dari Tuhan. Abraham, Daud, Petrus, Paulus adalah sebagian kecil dari umat Israel yang membuat Tuhan senang. Sampai sekarang pun kita bisa melihat bahwa Tuhan juga menunjukkan perhatian khususNya kepada mereka yang mengasihiNya. Mereka yang diberiNya kesempatan, kemampuan dan semangat untuk memasyhurkan namaNya. Ini bukan karena suku, bangsa, negara, adat-istiadat, bahasa atau kemampuan mereka, tetapi karena kesetiaan mereka dan kemauan untuk memakai apa yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk kemuliaanNya.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan mengasihi semua umatNya, tetapi Ia juga menghargai bagaimana kita hidup. Untuk mereka yang dengan setia mengikut Dia, Tuhan akan memberi mereka karunia -karunia yang memungkinkan mereka untuk bisa kuat dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tuhan tidak menjanjikan hidup mulus tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk menghadapi masalah. Lebih dari itu Tuhan seringkali memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka yang mau memakai karunia yang ada untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama sebagaimana adanya.

Sebagai orang pilihan Allah, kita tahu bagaimana kita harus hidup di tempat kita masing-masing supaya berkenan kepada Allah. Kita tidak perlu menjadi orang lain, bangsa lain atau memakai adat istiadat dan bahasa lain untuk bisa terhitung sebagai anggota-anggota tubuh Kristus.

Perlunya menjaga mulut

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 18 – 19

Pemilihan umum di Amerika sudah berakhir, tetapi mungkin kita masih ingat suasana sebelumnya. Banyak orang yang kuatir bahwa karena adanya permusuhan antara dua partai besar yang didukung masyarakat yang mempunyai pandangan berbeda-beda, perang saudara mungkin bisa muncul. Untunglah itu tidak terjadi dan keadaan sekarang mulai menjadi tenang.

Memang dalam saat kampanye, kedua kubu politik saling menyerang dengan berbagai pernyataan yang seolah membagi negara itu menjadi dua bangsa. Berbagai pernyataan lisan maupun tertulis dikeluarkan untuk menyerang, mengolok, menghina dan merendahkan lawan politik. Sudah tentu, sebagian ucapan atau kata-kata yang kita dengar bisa membuat kita merasa risi atau malu sekalipun kita tidak tinggal di Amerika.

Jika kecerobohan dalam memilih kata-kata bisa melukai hati seseorang, ada orang orang yang justru tidak peduli akan apa yang dikatakannya. Mereka memakai perkataan yang tidak sepatutnya, tetapi tidak terpengaruh atas apa yang diperbuatnya. Dalam bahasa Inggris, orang yang ceroboh dalam memakai kata-kata dan perbuatan, yang bisa membuat malu atau menyakiti orang lain, sering disebut sebagai meriam lepas ikatan atau loose cannon. Mengapa begitu? Pada abad 17-19, kapal perang yang terbuat dari kayu mempunyai meriam sundut sebagai senjata utamanya. Meriam ini dipasang diatas beberapa roda dan diikat dengan tali ke dinding kapal agar tidak terhentak ke belakang sewaktu dipakai untuk menembak kapal musuh. Menurut cerita, meriam yang lepas ikatannya dapat mencelakai pemakainya dan juga merusak kapal itu sendiri.

Sebagai manusia kita adalah makhluk yang istimewa karena kita adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai tata bahasa dan tata suara untuk berkomunikasi. Banyak makhluk lain bisa berkomunikasi dengan sesamanya melalui suara, bau atau gerakan tubuh, tetapi tidak ada yang bisa menggunakan bahasa dan suara untuk menyampaikan pesan secara sistimatis. Dengan kelebihan manusia dalam hal berkomunikasi, manusia bisa menggunakan kata-kata secara tertulis atau lisan untuk menyatakan perasaannya, entah itu rasa senang ataupun rasa berang. Bahasa, selain dipakai untuk memuji, menghibur dan menyenangkan orang lain, juga bisa digunakan untuk memaki, menipu dan bahkan memfitnah orang lain. Jika lidah dikatakan seperti pedang (Amsal 12: 18), di zaman internet ini perkataan kita bisa membawa akibat yang jauh lebih besar melalui berbagai sosial media seperti Twitter, Facebook dan Whatsapp. Apa yang dinyatakan atau diberitakan orang dalam sosial media bisa dengan mudah menghancurkan hidup orang lain.

Apa yang kurang disadari manusia adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang bisa mendengar apa saja yang kita ucapkan, baik secara lisan maupun tertulis. Ia tahu jika kita memakai lidah kita secara sembarangan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita. Sebagai orang Kristen, kita mungkin ingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa perkataan kita adalah pencerminan isi hati yang bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan yang mahasuci menjadi renggang.

Sayang sekali, di zaman ini kita justru sering melihat para pemimpin dan tokoh masyarakat yang seakan berlomba-lomba untuk menyatakan pendapatnya dengan tanpa berpikir dalam-dalam baik secara langsung maupun melalui berbagai media.. Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu bahwa perkataan yang keliru akan sukar untuk ditarik kembali, dan apa yang sudah dirusakkan oleh sebuah loose cannon adalah sukar untuk diperbaiki.

Firman Tuhan kali ini jelas mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen dalam hal ini adalah untuk mawas diri, dan selalu hidup dalam bimbingan Tuhan, sehingga hati kita diisi dengan apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Hari demi hari, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh dalam iman dan kasih melalui bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang ada dalam hati kita akan selalu terpancar dari mulut kita sebagai ucapan kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4: 6