Pengudusan yang menuntut adanya kepatuhan

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 22

Apa yang membedakan hidup orang yang tidak percaya dengan hidup orang percaya? Apakah bedanya hanya terletak pada kejakinan sepihak orang Krisren, yang merasa mereka sudah dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan? Ayat diatas menyebutkan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya berbeda dari orang lain karena kita tentunya sudah berubah dari hidup lama kita; itu jika kita membiarkan Tuhan memimpin hidup kita.

Sebagai umat Tuhan, kita seharusnya dapat membedakan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dari apa yang jahat. Tuhan selalu menghendaki apa yang baik, dan apa yang berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. Jika ada hal-hal yang jahat dan keji kita lakukan sebelum menjadi umat-Nya, kita pasti berubah melalui pengudusan sesudah menjadi hamba Allah yang sejati.

Perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang lain mudah dimengerti jika hanya menyangkut perbedaan antara akhir hidup orang percaya dan akhir hidup orang yang tidak benar-benar percaya. Masalah yang lebih rumit adalah hal berbuat dosa setiap hari dan akibatnya. Semua manusia tidak dapat bebas dari berbuat dosa selama hidup. Mengapa orang Kristen sejati harus peduli akan perubahan hidup?

Memang, semua orang Kristen percaya bahwa tidak ada seorang pun yang layak dihadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan hanya bisa diselamatkan semata-mata karena kasih anugerah Tuhan. Tetapi, orang Kristen juga percaya bahwa kasih anugerah Tuhan juga melakukan pembaharuan melalui Roh Kudus.

“Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Titus 3: 3-4

Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa mereka sudah cukup berusaha untuk mengurangi dosa mereka dan berkeyakinan bahwa Tuhan yang mahakasih tentu tahu bahwa sebagai manusia mereka punya kelemahan, dan karena itu Tuhan pasti selalu mau mengampuni dosa yang sama setiap hari. Ada juga mereka yang berpendapat bahwa jika semua yang terjadi ada dalam kedaulatan Tuhan, tentulah dosa mereka juga sudah termasuk dalam rencana Tuhan yang tidak dapat mereka hindari.

Hidup yang sudah menerima Kristus tidak mungkin untuk tidak berubah karena adanya Roh Kudus yang tinggal didalam hati kita. Sebaliknya, jika pembaharuan hidup kita tidak terjadi, patutlah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita benar-benar sudah menyerahkan hidup kita kepada Kristus? Apakah kita adalah orang Kristen sejati?

Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan yang memberi pengampunan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yang membawa pengudusan bagi hidup kita. Paulus menulis bahwa, dengan percaya kepada Kristus untuk keselamatan kita, kita telah memasuki hubungan yang baru dengan Allah. Identitas kita begitu erat berhubungan dengan Kristus sehingga kita diubahkan menjadi orang-orang yang terikat untuk melakukan apa yang benar. Inilah kita sekarang. Ini adalah kabar baik. Mengapa? Karena “buah”, konsekuensi langsung dari menjadi hamba Kristus, adalah pengudusan dan hidup yang kekal. Ini bertentangan dengan rasa malu dan kematian yang ada ketika kita masih menjadi hamba dosa.

Hasil dari jalan yang kita jalani di dalam Kristus ini adalah hidup yang kekal. Kita akan mengambil bagian dalam kemuliaan Allah selama-lamanya. Ini menjelaskan mengapa kita tidak boleh terus berbuat dosa begitu kita beriman kepada Kristus. Paulus menjawab bahwa kita akan terus menjalani perbudakan dosa secara sukarela jika kita tidak mau melawannya. Sebaliknya, kita harus hidup seolah-olah kebenaran adalah tuan kita, Kita harus mau mematuhi kebenaran Allah daripada menuruti keinginan dosa kita,

Pengudusan, kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kekudusan,” adalah proses perubahan di dalam diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita tidak sepenuhnya berada di sana, tetapi karena kita sekarang adalah milik Allah, kita sedang dalam perjalanan. Dia sedang mengubah kita (1 Yohanes 3:2).

Pagi ini kita harus sadar bahwa penebusan dosa kita oleh darah Kristus seharusnya bukan hanya sebuah even yang mengubah cara hidup kita dalam satu saat saja. Tetapi hidup kita sebagai orang Kristen sejati harus selalu tumbuh dan mengalami pembaharuan dan pengudusan secara terus menerus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.” Roma 6: 17

Di dunia ada dua jenis kebebasan dan dua jenis perhambaan

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Adalah menarik jika kita meneliti reaksi manusia terhadap bertambahnya umur. Pada waktu masih kecil seorang anak mungkin berharap akan cepat datangnya kedewasaan, karena dengan itu datang “kebebasan”. Walaupun demikian, orang dewasa sering membayangkan betapa enaknya mereka yang masih anak-anak, karena mereka tidak perlu memikirkan berbagai tanggung jawab kehidupan.

Reaksi manusia terhadap proses kedewasaan tentunya berbeda-beda. Mungkin saja ada orang yang puas dengan cara hidupnya atau yang ingin tetap berada dalam umur yang sekarang. Tetapi mereka yang realistis tentunya sadar bahwa bertambahnya umur adalah salah satu tanda yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita harus mengalami perubahan hidup, baik mengenai apa yang diingini maupun apa yang harus dihindari.

Jika pada waktu muda bertambahnya umur diharapkan bisa memberi kebebasan dan kesempatan untuk menikmati apa yang diinginkan, perubahan yang terjadi setelah dewasa dan berumahtangga pada umumnya bertalian dengan munculnya tanggung jawab dan tugas-tugas yang harus dilakukan. Walaupun demikian, mungkin jarang orang yang memikirkan bahwa dengan bertambahnya umur, hidup kerohanian juga harus berubah untuk bisa makin sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebelum orang menjadi Kristen, kebebasan itu sebenarnya ada untuk melakukan apa yang disenangi, tetapi itu selalu ternoda dosa karena hanya untuk memenuhi keinginan sendiri. Tetapi, sesudah lahir baru, orang Kristen seharusnya berubah dari hamba dosa kemudian menjadi hamba Kristus. Apakah dengan demikian ia menjadi tidak bebas? Tentu tidak! Orang Kristen justru bebas dari pengaruh dosa dan dengan demikian bisa menggunakan pikiran dan hati yang bebas itu untuk bisa melihat dan melakukan apa yang harus kita lakukan sebagai umat Tuhan.

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 18

Ayat pembukaan di atas mengingatkan kita bahwa pada masa lalu kita mungkin sudah membiarkan hidup kita jatuh ke dalam kecemaran dan kedurhakaan. Sebaliknya, setelah menjadi umat Tuhan, kita seharusnya memakai akal budi kita untuk memakai hidup kita untuk menjadi hamba kebenaran yang membuat kita makin menyerupai Kristus.

Sebelum kita lahir baru, kita merasa bebas tetapi sebenarnya terikat pada dosa. Sesudah lahir baru, kita benar-benar bebas, tetapi justru mau mengunakan kebebasan itu untuk menjalani hidup yang berbeda dengan kehidupan duniawi. Kita berubah oleh pembaharuan budi yang dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Bagi banyak orang, kewajiban ini adalah sesuatu yang sering dilupakan, sehingga kurang ada kemauan untuk berubah dengan kebebasan yang sudah Tuhan berikan. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang tidak pernah mengalami perubahan cara hidup. Tidak pernah menjadi dewasa secara rohani. Paulus memperingatkan jemaat di Roma tentang hal ini: bahwa mereka harus menggunakan kebebasan mereka untuk melakukan apa yang harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6: 19

Pagi ini kita diingatkan bahwa di dunia ini ada dua macam kebebasan dan dua macam perhambaan. Bagi mereka yang bukan orang Kristen sejati, kebebasan masih ada untuk melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Tetapi, mereka yang benar-benar beriman, kebebasan sekarang ada untuk melakukan apa yang baik dan apa yang harus dilaksanankan sesuai dengan firman-Nya. Sebelum menjadi umat Tuhan kita merasa bebas tetapi memperhambakan diri kita kepada dosa; tetapi, sesudah menjadi orang percaya, kita benar-benar bebas untuk mau memperhambakan dri kita kepada Tuhan yang sudah memilih kita untuk diselamatkan.

Jawaban atas panggilan Tuhan yang lemah lembut

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Pernahkah anda mendengar atau menyanyikan lagu “Softly and Tenderly Jesus is Calling“? Lagu yang diciptakan oleh Will Lamartine Thompon pada tahun 1880 itu sangat populer di kalangan orang Kristen, dan sudah dinyanyikan oleh banyak penyanyi Gospel, seperti Allan Jackson dan Anne Murray. Lagu yang diilhami ayat dari Matius 11: 28 ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu “Manis Lembut Tuhan Yesus Memanggil”.

Tuhan memang memanggil setiap manusia untuk datang kepada-Nya. Adalah kasih-Nya yang memanggil manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataan-Nya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka. Lalu bagaimana cara Yesus memanggil manusia yang berdosa untuk bertobat? Apakah hanya dengan panggilan lemah lembut seperti apa yang ada pada syair lagu “Manis Lembut Tuhan Yesus Memanggil”?

Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia, bukan hanya memanggil mereka dengan lemah lembut. Dia yang ingin agar manusia bertobat, selalu memanggil mereka dengan nada yang mengingatkan dosa mereka. Roh Kudus sering bekerja menuntut pertanggungjawaban manusia atas hidupnya. Dalam mazmur pertobatannya yang terkenal, Daud mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak begitu menyukai tanda-tanda lahiriah pertobatan (termasuk membuat pengorbanan), tetapi apa yang disenangi Allah ialah “jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk.” (Mazmur 51:19). Pertobatan bukan hanya mengaku percaya dengan mulut, keyakinan atas pilihan Tuhan, dan mau pergi ke gereja setiap hari Minggu.

Dalam Yoel 2:12–13, Tuhan memanggil Israel, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu”. Ini adalah panggilan yang bernada tajam, bukan lemah lembut. Dalam Perjanjian Lama, orang biasanya mengungkapkan kesedihan dan penderitaan yang besar dengan merobek jubah mereka. Tuhan mau agar mereka benar-benar berduka atas dosa mereka – berduka sampai menangis dan berkabung. Ini bukan berarti bahwa Tuhan selalu menghendaki mereka yang mau menjadi umat-Nya untuk berduka dan berkabung sepanjang hidup. Tetapi, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa yang paling penting adalah kondisi hati kita yang benar-benar harus menunjukkan ketulusan untuk bertobat.

Apakah pertobatan anda terlihat seperti hati yang terkoyak seperti pakaian, patah dan remuk saat berdiri di hadapan Tuhan? Di zaman ini, banyak orang Kristen yang tidak merasa bahwa kelahiran baru adalah sekadar mengaku percaya kepada Tuhan. Tuhan yang memanggil kita, yang menentukan kita untuk diselamatkan, dan karena itu tidak ada yang perlu kita lakukan atau rasakan. Rasa hancur ini memang sudah hilang dari sebagian besar pertobatan, padahal itulah hal yang Tuhan sukai!

Mungkin terdengar aneh, tapi bagaimana caranya agar kita bisa merasakan kehancuran hati? Pertobatan sejati, seperti semua hal yang baik, adalah karunia Allah (2 Timotius 2:25). Jika kita ingin mematuhi perintah untuk mengoyak hati kita, kita harus meminta Tuhan untuk memberikan kita pertobatan sejati. Semakin kita meyakini kemuliaan dan kesucian Tuhan, semakin kita berduka karena kita pernah mencemooh Dia. Dalam hidup lama kita, kita lebih mengagumi diri kita sendiri dan percaya bahwa kita adalah “orang baik”. Dalam hidup baru kita, kita tidak boleh merasa cukup puas bahwa kita adalah “orang pilihan”.

Kita harus menyadari salah satu rintangan terbesar untuk mendapatkan patah hati yaitu pengabaian kita terhadap aspek relasional dari dosa. Kita mungkin dapat melihat dosa sebagai kegagalan kinerja tetapi bukan kegagalan keintiman. Satu-satunya kesedihan yang kita mungkin bisa rasakan adalah kekecewaan atas ketidakmampuan kita untuk melakukan apa yang benar, tetapi bukan karena kita telah mengabaikan Allah dalam hidup kita (2 Samuel 12:9). Itulah sebabnya Daud berkata kepada Tuhan, “terhadap Engkau, hanya Engkau, aku telah berdosa” (Mazmur 51:4). Daud benar melihat kegagalannya dalam hal hubungan, dan akibatnya hatinya sedih karena telah berdosa terhadap Dia yang sangat mengasihinya.

Pertobatan sejati datang tidak hanya dengan memahami aspek relasional dari dosa, tetapi dengan memahami sifat Tuhan yang dengan-Nya kita seharusnya mempunyai hubungan intim. Dengan kata lain, semakin kita melihat Tuhan sebagai mulia dan suci, semakin kita akan melihat dosa sebagai sesuatu yang harus ditangisi. Pertobatan bukan tentang merasa buruk atas perilaku, dan lebih penting adalah kurangnya rasa kagum dan senang terhadap Tuhan. Semakin sering kita melihat kemuliaan Allah, semakin kita meratap karena kita sering mengabaikan kemuliaan-Nya dalam hidup kita. Tuhan sering kita anggap sebagai seorang teman baik yang siap menolong kita dalam segala kebutuhan kita.

Hari ini kita harus sadar bahwa rencana Allah bagi kita adalah bahwa kita akan menjadi kudus sebagaimana Dia kudus (1 Petrus 1:16). Dia pasti akan menyelamatkan orang-orang yang dipilih-Nya, tetapi untuk itu Ia menginginkan orang-orang yang telah belajar dari dosa mereka dan bukan melupakan pentingnya pertobatan. Kita harus bisa menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan, dan sekarang ingin untuk hidup sesuai dengan firman-Nya setiap saat.

Tuhan menciptakan manusia yang bisa memilih

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Tuhan memegang kendali penuh atas segala sesuatu. Inilah yang dimaksud orang Kristen ketika mereka menyebut Tuhan “berdaulat.” Kedaulatan, atau otoritas Tuhan, adalah mutlak. Rencana-Nya bagi dunia tidak dapat ditantang atau dicegah. Apa yang Tuhan katakan akan terjadi pastilah terjadi. Pada pihak yang lain ada pilihan kita; pilihan praktis dan keputusan moral yang kita buat setiap hari, sesuai dengan kemampuan yang berbeda-beda yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Alkitab menunjukkan kepada kita contoh sempurna tentang hubungam kedaulatan Tuhan dan pilihan manusia dalam kematian Yesus. Kematian Yesus di kayu salib dimaksudkan oleh Allah untuk menyelamatkan orang berdosa. Tetapi Yesus dibunuh oleh orang-orang yang menginginkan Dia mati. Mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka, meskipun itu adalah bagian dari rencana Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa kedua hal di atas benar. Bahkan, dalam semua rencana-Nya, Tuhan mampu melewati seluruh pilihan manusia sebagai agen moral, termasuk tindakan dosa yang dipilih secara bebas! Segala sesuatu yang kita lakukan adalah apa yang ingin kita lakukan, sementara juga menjadi bagian dari rencana Tuhan. Semua itu adalah apa yang Tuhan pakai untuk menggenapi rancangan-Nya.

Hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia memang sulit untuk kita pahami, apalagi untuk menerimanya. Itu adalah kebenaran yang terlalu besar untuk kita pahami sepenuhnya. Satu yang jelas, setiap orang bertanggung jawab untuk apa yang diperbuatnya. Tuhan selalu memegang kontrol atas segala sesuatu tanpa harus memperlakukan manusia sebagai robot. Tuhan yang mahakuasa tidak akan kuatir atau terkejut melihat tindakan manusia, karena Ia tahu sebelum itu terjadi dan mampu untuk bertindak apa saja untuk mencapai rencana-Nya.

Ayat pembukaan di atas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya singgah ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekadar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana di sana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya. Membaca ayat-ayat di atas, jelas Maria dan Martha mempunyai kemerdekaan untuk memilih apa yang akan dilakukan. Maria dan Martha bahkan harus mau mengambil keputusan atas apa yang harus dilakukan mereka.

Apa yang terjadi ternyata membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih apa yang disenanginya. Maria duduk di dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Kedua orang itu sudah memilih apa yang baik menurut pikiran masing-masing dan bukan menurut apa yang ditentukan oleh Tuhan. Jika keputusan Martha dan Maria ditetapkan oleh Tuhan, Tuhan tentu tidak akan membandingkan apa yang dipilih mereka!

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari sering kali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firman-Nya atau untuk berbakti kepada Tuhan dengan seluruh anggota keluarga. Seperti Marta kita mungkin sudah memilih apa yang tidak disukai Tuhan, tetapi itu terjadi bukan karena kehendak-Nya. Tuhan mengizinkan kita untuk menggunakan kebebasan kita dan tidak akan selalu memaksa kita untuk memilih apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi Roh-Nya tidak henti-hentinya mengingatkan kita tentang apa yang dikehendaki-Nya, seperti Yesus mengingatkan Marta.

Kemerdekaan manusia ada dalam Alkitab sejak penciptaan. Tetapi kemerdekaan yang disertai kebebasan memilih cara hidup dan keputusan dalam hidup tidaklah seperti yang umumnya dibayangkan. Manusia sering berpikir bahwa “nasibmu ada di tanganmu sendiri”, tetapi sering kali kenyataan adalah berbeda, karena walaupun manusia bisa memilih apa yang diingininya, ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipilih atau dikontrol dalam hidupnya. Apalagi, sesudah kejatuhan, manusia yang berdosa secara sadar maupun tidak sadar akan selalu cenderung untuk melakukan apa yang tidak baik di mata Tuhan.

Dalam kegiatan sehari-hari, manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan atas apa yang akan dilakukannya. Tuhan mengizinkan dan bahkan memberi kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan. Manusia justru tidak dapat meminta Tuhan untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidupnya. Manusia bukanlah robot ciptaan Allah dan Allah tidak mau memperlakukan ciptaan-Nya seperti robot.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Ayat di atas bisa kita pakai untuk membahas hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia. Apakah kedaulatan Tuhan bertentangan dengan kemampuan Adam untuk membuat keputusan yang penting dan berdampak besar pada seluruh umat manusia? Apakah Tuhan dengan kedaulatan-Nya sengaja membuat Adam melanggar perintah-Nya agar Ia dapat mengirim manusia yang tidak dipilih-Nya ke neraka? Tentu tidak! Tuhan bukanlah pencipta dosa.

Ada kemerdekaan, ada kebebasan memilih, tetapi ada batasan. Dalam kebebasan yang diberikan Allah, Adam dan Hawa juga dapat melanggar batasan itu, dan harus menanggung konsekuensinya. Dengan menyalahgunakan kemerdekaan itu, pelanggaran batasan terjadi – yang kemudian membawa dosa untuk seluruh umat manusia. Semua itu terjadi bukan karena Tuhan yang membuat mereka berbuat dosa, tetapi karena kehendak manusia sendiri. Sejak itu, manusia tidak lagi hidup dalam jaminan ketenteraman Firdaus, tetapi masuk kedalam ketidakpastian masa depan!

Sesudah kejatuhan, manusia masih mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan. Tetapi karena jauh dari Tuhan, kebebasan malahan sering digunakan manusia untuk menjadi hamba dosa. Ketenteraman hidup yang dulunya ada, berubah menjadi berbagai kesulitan dan penderitaan. Dari sudut rohani, Allah dengan kasih-Nya memberikan kemungkinan agar setiap orang bisa memilih (dengan bimbingan Roh Kudus) apa yang sudah disediakan-Nya, yaitu jalan sempit yang menuju keselamatan dalam Kristus (Matius 7: 13 – 14). Tetapi, tidak semua orang mau menyambut bimbingan Roh Kudus.

Hari ini kita harus sadar bahwa umur kita bukan di tangan kita; dan karena itu, kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anak-Nya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang di luar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah tugas setiap individu.

Tuhan mungkin sudah sering memperingatkan bahwa ada kesempatan bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Kapankah anda akan mengambil keputusan untuk mencari kehendak-Nya? Pilihan kita, risiko kita. Tuhan memang memegang kontrol atas alam semesta, tetapi Ia tidaklah mengambil alih apa yang menjadi kewajiban kita.

Siapa yang memilih, siapa yang dipilih, dan untuk apa?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Pernahkah anda memikirkan bagaimana anda bisa menjadi orang Kristen? Sebagian diantara kita mungkin merasa beruntung karena dilahirkan atau hidup dalam lingkungan Kristen. Sekalipun begitu, ada banyak orang yang menjadi pengikut Kristus melalui proses yang cukup lama dan rumit, yang akhirnya membuat mereka menerima anugerah keselamatan Kristus.

Hubungan antara umat percaya dan Tuhan memang berkembang dengan cara yang berbeda-beda. Walaupun demikian, ayat diatas tidak membedakan bagaimana seseorang bisa menjadi pengikut Kristus, karena dalam diri setiap orang percaya, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif utama untuk memperkenalkan diri-Nya dan rencana-Nya melalui pekerjaan Roh Kudus. Manusia tidak dapat mengenal Tuhan dan mengerti bahwa ia memerlukan penebusan darah Kristus melalui usahanya sendiri.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Manusia memang bisa dilahirkan atau hidup di kalangan tertentu, tetapi untuk menjadi pengikut Kristus semua orang harus melalui proses yang sama, yaitu kesadaran, pertobatan dan pengabdian. Seorang mungkin dilahirkan dalam keluarga Kristen, mengaku Kristen, tetapi tidak pernah sadar bahwa ia adalah manusia yang penuh dosa di hadapan Tuhan yang maha suci. Karena itu, sekalipun ia merasa sudah mengenal Kristus, orang itu mungkin belum mengalami hidup baru. Orang yang demikian tidak mungkin bisa mengabdikan hidupnya untuk Kristus.

Jika Tuhan memilih seseorang, Roh Kudus akan bekerja mencelikkan mata orang itu untuk menyadari akan hidupnya yang penuh dosa, sekalipun ia mempunyai hidup yang baik dalam pandangan manusia. Roh Kudus juga ikut bekerja dalam mempengaruhi orang-orang dan keadaan disekitarnya untuk bisa membantu orang itu kearah pengenalan akan Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci.

Tuhan telah memberikan kehendak bebas kepada manusia, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita, baik dalam hal jasmani maupun rohani. Namun demikian, terlepas dari kasih karunia Allah, karena hakikat kita yang berdosa, kita tidak akan dapat melihat Kerajaan Allah dan datang kepada Allah terlepas dari kasih karunia-Nya (Yohanes 3: 3).

Mereka yang tidak dicelikkan mata rohaninya mungkin yakin bisa mencapai keselamatan dengan usahanya sendiri, tanpa darah Kristus. Tetapi, itu hanya impian. Mereka yang menolak pekerjaan Roh Kudus pada akhirnya tidak mungkin untuk melihat adanya jalan keselamatan yang sudah disediakan Tuhan. Itu karena secara rohani, manusia yang berdosa hanya dapat memilih apa yang jahat, yang tidak berkenan kepada Tuhan. Mereka jugalah yang pada akhirnya harus bertanggung jawab atas hilangnya kesempatan untuk menerima keselamatan yang sudah disediakan Tuhan. Inilah dosa yang membawa kematian.

Perlu dicatat bahwa Yohanes 15: 16 muncul di akhir khotbah agung tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya. Yesus telah mendesak murid-murid-Nya untuk tinggal di dalam Dia karena itulah jalan yang dirancang untuk menghasilkan buah. Selain diselamatkan dan pergi ke surga pada saatnya, tampaknya tujuan hidup orang Kristen adalah untuk menghasilkan buah. Bagaimana bisa begitu?

Yesus berkata bahwa murid-murid dipilih oleh-Nya dan untuk suatu tujuan. Dia tidak hanya berbicara tentang pilihannya atas kedua belas murid-Nya, tetapi tentang kasih karunia Allah untuk keselamatan. Orang-orang pilihan diselamatkan oleh kasih karunia dan akan terus bergerak maju dalam kasih karunia, tinggal dalam kesatuan dengan Kristus dan menghasilkan buah Roh, dan pergi melanjutkan pelayanan Yesus di dunia.

Allah tidak hanya memilih kita untuk menjadi anak-Nya, memberi kita hati yang baru (Yehezkiel 36:26), dan menjadikan kita ciptaan baru (2 Korintus 5:17), Ia telah menetapkan kita untuk menghasilkan buah. Ini sebagian mengacu pada buah Roh (Galatia 5:22-23) karena karakter kita semakin diubah menjadi gambar Kristus, tetapi lebih khusus di sini Yesus tampaknya berbicara tentang buah dalam pelayanan. Murid-murid dipanggil untuk menerima Yesus untuk bekerja melalui mereka untuk melanjutkan pekerjaan-Nya menyelamatkan yang terhilang dan melatih murid-murid yang lain (Matius 28:16-20).

Jenis buah yang tidak akan bertahan lama adalah “buah” yang bukan hasil pekerjaan dan kuasa Tuhan. Apa yang mendatangkan kekacauan dan kebimbangan rohani adalah hasil pekerjaan iblis. Ada banyak metode licik untuk membawa orang ke dalam gereja (2 Korintus 4:2). Kepemimpinan yang memanipulasi anggota gereja, yang menyampaikan pesan palsu, atau yang menjanjikan kemakmuran hanyalah beberapa di antaranya. Apa pun yang bukan dari Tuhan tidak akan bertahan lama. Seperti Paulus, kita harus berdoa agar buah pekerjaan kita, ketika diuji di pengadilan, tidak akan hangus seperti jerami (1 Korintus 3:15).

Pagi ini, jika anda membaca renungan ini, anda boleh bertanya mengapa Tuhan sudah memilih orang-orang tertentu seperti diri anda, dan untuk apa. Ia memilih manusia agar mereka mau bertobat dari hidup lama dan mengajak mereka untuk menempuh perjalanan hidup baru bersama-Nya. Tanpa inisiatif dari Tuhan, tidak mungkin kita bisa menjawab “ya” atas panggilan-Nya, dan tidak mungkin bagi kita untuk mengabdikan hidup kita dengan penyerahan sepenuhnya kepada-Nya. Dalam hidup baru, sekalipun tetap bisa berbuat dosa, kita yang dipilih Tuhan dapat merasakan bimbingan Roh Kudus yang selalu memberi kebijaksanaan untuk berusaha menuruti firman-Nya setiap hari, dan kekuatan untuk bertahan dalam iman baik dalam suka maupun duka, sampai kita menjumpai Tuhan muka dengan muka. Pujilah Tuhan yang sudah memilih kita!

Karunia yang menyelamatkan

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” 1 Korintus 1: 23-24

Dalam sejarah ada tercatat bahwa banyak penduduk asli sebuah negara tertentu menganut satu agama baru setelah datangnya orang-orang yang menjajah negara itu. Sering kali dilaporkan bahwa penduduk asli negara itu “dipaksa” atau “terpaksa” untuk menganut agama baru itu. Kedatangan pendatang baru memang bisa menimbulkan perkawinan campur dan munculnya pendidikan, pengaruh dan bahkan pemaksaan agar penduduk asli negara itu ikut menjalankan adat-istiadat dan juga agama si pendatang. Jika itu benar terjadi dalam konteks perkembangan agama Kristen, apakah Tuhan memang memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya? Apakah Tuhan menyeret orang yang menolak Dia ke dalam kerajaan-Nya tetapi mencegah orang lain yang sangat ingin diselamatkan?

Untuk mengerti hal ini, penting bagi kita untuk memahami bagaimana kita menjadi seorang Kristen, yaitu bagaimana kita diselamatkan. Alkitab mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah, bukan karena kehendak dan perbuatan kita sendiri, atau karena perbuatan orang lain. Keselamatan kita tidak bergantung pada apa yang dilakukan manusia sebelum atau bahkan setelah kita diselamatkan. Kita dibenarkan hanya karena apa yang Yesus lakukan. Selain itu, semua dosa kita telah diampuni melalui kematian dan kebangkitan Kristus: di masa lalu, sekarang dan di masa depan. Dalam arti rohani, kita telah “disempurnakan” oleh iman kita.

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10: 14

Sebagian orang Kristen percaya bahwa seseorang tidak mungkin menawarkan perlawanan apa pun terhadap anugerah Tuhan. Tetapi, dalam kenyataannya, manusia dari mulanya selalu berusaha melawan kehendak Tuhan dan bahkan menampik karunia-Nya. Adam dan Hawa sudah menolak kasih karunia Tuhan, dan seperti itu juga kita memang sering melawan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Tetapi, terlepas dari penolakan alami manusia terhadap anugerah Tuhan, kasih Tuhan begitu kuat sehingga memiliki kapasitas untuk mengatasi penolakan alami manusia terhadap-Nya.

Seseorang mungkin berkata, “Roh Kudus menarik kita kepada Tuhan, tetapi kita dapat menggunakan kebebasan kita untuk menolak atau menerima penarikan itu.” Itu sebenarnya pernyataan yang tidak benar. Jawaban yang benar adalah: kecuali ada upaya terus-menerus dari anugerah keselamatan, kita akan selalu menggunakan kebebasan kita untuk melawan Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan “tidak tunduk kepada Tuhan”. Manusia dalam kodratnya, dengan kehendak bebasnya, secara sadar atau tidak sadar, selalu ingin melakukan apa yang melawan Tuhan. Jika seseorang menjadi cukup rendah hati untuk tunduk kepada Tuhan, itu berarti bahwa Tuhan telah memberi orang itu sifat baru yang rendah hati. Jika seseorang tetap berkeras hati dan sombong untuk tunduk kepada Tuhan, itu karena orang itu belum diberi semangat dan kemampuan untuk tunduk kepada Tuhan.

Jelas dari sini bahwa kasih karunia keselamatan Tuhan tidak pernah menyiratkan bahwa Tuhan memaksa kita untuk percaya jika itu bertentangan dengan keinginan kita. Memang, ada orang Kristen yang percaya bahwa kehendak Tuhan tentu tidak dapat dibantah atau dilawan oleh manusia. Tetapi, manusia dalam dosanya selalu cenderung untuk tidak menurut kepada Allah. Sebaliknya, Tuhan mempunyai kuasa untuk memungkinkan (bukan memaksa) orang untuk mau mendengar-Nya. Kasih karunia Tuhan bisa dibayangkan sebagai khotbah dan kesaksian yang mencoba untuk membujuk orang untuk melakukan apa yang masuk akal dan apa yang sesuai dengan apa yang terbaik untuk hidup mereka. Di sini, pertobatan juga termasuk karunia Allah, karena keselamatan datang dari Dia.

Sebelum seseorang mempunyai iman yang menyelamatkan, sebelum mereka percaya kepada Kristus, sebelum mereka menyatakan keinginan mereka untuk memeluk Kristus, Tuhan harus melakukan sesuatu untuk mereka dan di dalam mereka. Yohanes memberi tahu kita kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes pasal enam, di mana Yesus berkata, “Tidak seorang pun dapat datang kepada-Ku kecuali jika Bapa menariknya.” Banyak orang Kristen menafsirkan teks itu adalah dengan mengatakan bahwa itu berkaitan dengan rayuan eksternal, persuasi, pemikat, pemikat, apa pun dari Tuhan. Karena Tuhan memberikan pengaruh-Nya kepada banyak orang, beberapa orang akan menanggapi secara positif, tetapi yang lain menolaknya. Dalam hal ini Tuhan tentu tahu dari awalnya siapa yang akan menerima panggilan-Nya dan siapa yang akan mengabaikannya.

Lalu Ia berkata: ”Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Yohanes 6:65

Yohanes dalam ayat di atas tidak hanya mengatakan bahwa keselamatan adalah karunia Allah. Dia mengatakan bahwa prasyarat keselamatan juga adalah sebuah anugerah. Ketika seseorang mendengar seorang pengkhotbah menyerukan pertobatan, dia dapat menolak panggilan itu. Tetapi jika Tuhan memberinya karunia pertobatan, dia tidak dapat menolak karena itu adalah penghapusan perlawanan. Tidak mau bertobat sama dengan menolak Roh Kudus. Jadi jika Tuhan memberikan Roh Kudus yang bekerja sepenuhnya, itu akan memadamkan usaha perlawanan.

Kembali ke ayat pembukaan dari 1 Korintus 1: 23-24 di atas, kita bisa melihat adanya dua jenis “panggilan” :

Pertama, pemberitaan Paulus ditujukan kepada semua orang, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ini adalah panggilan umum Injil. Ini menawarkan keselamatan bagi semua orang yang akan percaya kepada Kristus yang disalibkan. Tetapi pada umumnya itu jatuh di telinga yang tidak mau menerima dan disebut kebodohan.

Tetapi kemudian, kedua, Paulus mengacu pada jenis panggilan yang lain. Dia mengatakan bahwa di antara mereka yang mendengar ada beberapa yang “dipanggil” sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi menganggap salib sebagai kebodohan tetapi sebagai hikmat dan kuasa Tuhan. Jika semua orang yang dipanggil dalam pengertian ini menganggap salib sebagai kekuatan Tuhan, maka sesuatu dalam panggilan itu harus mempengaruhi iman. Ini adalah sesuatu yang luar biasa dan yang tidak akan ditolak.

Lebih lanjut dijelaskan dalam 2 Korintus 4: 4-6,

Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah m zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang! “, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Tuhanlah yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Karena manusia dibutakan oleh dosa akan nilai Kristus, diperlukan mukjizat agar mereka dapat melihat dan percaya. Paulus membandingkan mukjizat ini dengan hari pertama penciptaan ketika Tuhan berkata, “Jadilah terang.” Sebenarnya ini adalah ciptaan baru, atau kelahiran baru. Inilah yang dimaksud dengan panggilan yang ada dalam 1 Korintus 1:24.

Mereka yang terpanggil dibukakan matanya oleh kuasa penciptaan Allah yang berdaulat sehingga mereka tidak lagi melihat salib sebagai kebodohan tetapi sebagai kekuatan dan hikmat Allah. Panggilan yang efektif ini adalah keajaiban menghilangkan kebutaan kita. Jadi, sekalipun Tuhan tidak memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya, Ia bekerja dan memberi manusia kemampuan untuk melihat jalan kebenaran dan tidak terus menerus melawan uluran tangan kasih-Nya. Ini adalah cara kerja Tuhan yang bisa menaklukkan orang yang ingin diselamatkan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang percaya.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang mengaku sebagai orang percaya benar-benar diselamatkan. Orang bisa saja mengaku atau merasa sebagai seorang Kristen walaupun belum benar-benar dilahirkan kembali oleh iman kepada Yesus Kristus. Dalam kasus seperti itu, orang tersebut akan terus berbuat dosa tanpa pertobatan karena mereka terus menerus melawan Roh Kudus yang berusaha menginsafkan mereka ke arah hidup yang benar dan yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Hari ini, kita harus sadar bahwa karena kita sulit untuk membedakan perbedaan antara orang Kristen yang tidak taat dan orang yang tidak percaya yang terus berbuat dosa, kita harus menahan diri dari membuat penilaian atau menarik kesimpulan tentang keselamatan seseorang hanya berdasarkan perilaku mereka. Penginjilan harus tetap dilakukan agar makin banyak orang yang mau mendengar panggilan untuk menjadi umat-Nya. Panggilan untuk hidup saleh juga harus tetap didengungkan di gereja, agar setiap orang menyadari bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan akan mengeluarkan buah-buah Roh yang terlihat baik. Bagi mereka yang belum percaya, Tuhan bisa membuat panggilan ini sebagai sesuatu yang mencelikkan mata rohani mereka untuk bisa mau menjawab “ya’ atas keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus.

Dosa yang mengakar dan kasih Tuhan yang besar

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 18-19

Siapakah yang bertanggung jawab atas hidup kita? Tentu saja tiap orang harus bertanggung jawab atas hidupnya. Sekalipun ada orang yang mempersalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Tuhan atas apa yang dialaminya, secara umum tiap orang harus bertanggung jawab atas hal yang baik maupun apa yang buruk dalam hidupnya. Setiap orang akan menuai apa yang apa yang ditaburnya, begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Tidak mengherankan jika ada orang yang hidupnya menderita karena menyadari segala dosanya, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikannya.

Semua orang Kristen mungkin percaya bahwa mereka menerima anugerah Tuhan yang memungkinkan mereka mengerti apa yang baik dan apa yang buruk. Tetapi mereka tetap bisa melakukan hal yang buruk, bahkan memilih apa yang buruk dengan sengaja. Mengapa bisa demikian? Bukankah hidup orang Kristen adalah hidup yang malang?

Ayat di atas menggambarkan bahwa bagaimanapun manusia berusaha untuk berbuat baik, selalu ada saja yang menyebabkan untuk tidak melakukannya. Ayat itu tidak menyatakan bahwa usaha kita untuk hidup baik adalah sia-sia saja, tetapi menyatakan kesedihan Paulus bahwa dosa sudah mengakar pada setiap orang percaya termasuk dirinya. Sekalipun kita adalah orang Kristen, tetap saja kita bisa gagal untuk melakukan apa yang baik.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Seing dikatakan bahwa manusia yang sudah berdosa dari awalnya adalah berada dalam keadaan “rusak total” (totally depraved). Ini bukan berarti bahwa kita sudah rusak serusak-rusaknya, sehingga kita sama sekali tidak dapat mengerti apa yang baik dan buruk. Manusia mana pun, adalah gambar Allah dan karena itu ia masih mempunyai kesadaran, bagaimanapun kecilnya, tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Tidak ada manusia yang sehat pikirannya yang memakan anaknya, atau menelantarkan dirinya sendiri. Dengan demikian, keadaan manusia lebih tepat dikatakan sebagai “radically depraved” atau rusak karena adanya dosa yang mengakar. Kata “racical” sendiri berasal dari kata “radix” yang artinya sumber atau penyebab utama.

Mereka yang berusaha untuk menaati firman Tuhan tanpa kasih karunia Kristus yang menyelamatkan pasti akan menemukan bahwa mereka tidak sanggup melaksanakan maksud baik hatinya. Mereka bukan penguasa atas diri mereka sendiri; kejahatan dan dosa sudah berakar seperti benalu di dalam dirinya. Dengan memakai kehendak bebasnya, manusia tidak dapat melakukan apa yang baik, sekalipun ia mungkin mengerti akan apa yang seharusnya dilakukannya. Dengan demikian, manusia mana pun merupakan hamba kejahatan dan dosa dan menjadi “tawanan hukum dosa” (Roma 7: 23). Hanya di dalam Kristus, Allah menyediakan “jalan ke luar dari pencobaan sehingga kita dapat menanggungnya” (1 Korintus 10: 13).

Jauh dari sempurna, manusia memang adalah makhluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapa pun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Hidup lama untuk dunia haruslah diubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.

Sering kali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Sekalipun kita mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik, dalam kenyataannya kita justru sering berbuat jahat. Jika sejak lahir manusia harus terus belajar untuk bisa berbuat baik, manusia mudah untuk berbuat jahat sekalipun tanpa harus belajar. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita. Kita harus mau melepaskan diri dari tuntutan manusia dan kemudian menjadi hamba Kristus. Kita tidak lagi mencari kesukaan manusia, tetapi apa yang disukai Tuhan (Galatia 1: 10). Itu dimungkinkan karena Tuhan sudah memberi Roh Kudus yang membimbing kita.

Tuhan memberikan kemerdekaan kepada umat manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Sebaliknya, karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak secara radikal sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karunia-Nya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal yang menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus selalu bergantung kepada Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kebebasan kita akan membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Jangan serupa dengan dunia

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:1-2

Semua orang yang beragama apa pun tentunya tahu bahwa dosa adalah sesuatu yang harus dihindari. Secara umum mereka mengerti bahwa berbuat dosa adalah melakukan apa yang tidak baik dalam pandangan atau ajaran agama masing-masing. Jika mereka melakukan hal yang jahat, itu adalah dosa; sebaliknya jika mereka melakukan hal yang baik, itu membawa pahala. Walaupun demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa asal tidak berbuat jahat, ia sudah termasuk orang yang baik.

Dalam banyak hal, apa yang baik dan yang buruk bagi manusia mana pun adalah serupa. Hal membunuh, mencuri, berbohong dan semacamnya biasanya juga diatur oleh hukum negara, dan karena itu orang berusaha untuk tidak melakukannya. Walaupun demikian, hukum negara biasanya tidak mengatur atau mengharuskan orang untuk berbuat baik. Karena itu, selama tidak ada hukum yang mengharuskan hal atau tindakan tertentu, orang bisa memilih apa yang akan dikerjakannya. Dalam hal ini, jika tidak ada insentif untuk berbuat baik, orang biasanya tidak mau repot untuk melakukannya.

Hal berbuat baik biasanya diatur oleh etika. Etika mengajarkan apa yang baik dan yang buruk dalam hidup bermasyarakat. Adanya etika adalah baik, tetapi tiap bangsa atau masyarakat mempunyai etika tersendiri sehingga apa yang dianggap baik di satu tempat, mungkin adalah sesuatu yang tidak baik di tempat lain. Etika biasanya tidak diatur hukum, sehingga perbuatan yang dianggap buruk tidaklah mengundang hukuman negara, sekalipun mungkin ada sanksi sosialnya.

Bagi orang Kristen, etika Kristen adalah prinsip baik-buruk yang dilandaskan pada Alkitab. Karena itu, etika Kristen seharusnya tidaklah bergantung pada tempat atau masa. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang mempunyai perbedaan etika karena mereka mempunyai pergumulan yang berbeda dalam hal penerapan firman Tuhan. Mereka mungkin sependapat dalam hal-hal yang buruk atau dosa, tetapi mungkin berbeda dalam usaha untuk melakukan apa yang baik bagi Tuhan dan sesama. Tambahan pula, ada orang Kristen yang berpikir bahwa setiap orang sudah ditetapkan Tuhan jalan hidupnya, dan itu tidak akan dipengaruhi oleh usahanya untuk berbuat baik. Bukankah apa yang dipandang baik oleh manusia adalah sampah bagi Tuhan?

Salahkah jika orang tidak melakukan hal yang baik? Benarkah bahwa di dunia ini tidak ada yang baik? Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen harus mau berbuat baik, karena hal yang baik itu ada. Dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10: 30 – 37), baik imam maupun orang Lewi tidak mau menolong orang Samaria yang menjadi korban perampokan. Bagi mereka, menolong orang lain dan berbuat baik adalah sebuah pilihan dan bukan keharusan. Mereka tidak merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada orang Samaria itu. Dan pada zaman sekarang, banyak orang Kristen yang melakukan hal yang serupa: mereka menutup mata akan hal yang buruk dan tidak tertarik untuk berbuat baik.

Ayat diatas adalah apa yang seharusnya membuat kita sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus memegang etika yang sejalan dengan Alkitab. Alkitab bukan hanya menyatakan bahwa perbuatan buruk adalah dosa, tetapi juga jelas menerangkan bahwa jika tidak melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, kita juga berbuat dosa. Menjadi orang Kristen bukan saja aktif dalam arti menghindari dosa, tetapi juga aktif dalam berbuat baik tanpa mengharapkan pahala!

Paulus menasihatkan jemaat di Roma, supaya mereka mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Paulus menyatakan bahwa hal itu adalah cara ibadah orang yang saleh. Orang Kristen tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini, yang sering mengikut arus dosa, tetapi harus berubah dan mengubah melalui bimbingan Roh Kudus. Mereka harus tahu dan bisa membedakan apa yang baik dari apa yang tidak baik. Baik dan jahat adalah seperti terang dan gelap, dan tidak ada sesuatu di antaranya yang bisa dipilih.

Ayat ini sangat jelas bunyinya, dan mungkin memang dimaksudkan demikian akar tidak ada orang yang bisa membantahnya. Paulus memang sering memberikan penjelasan tentang apa artinya bagi seorang Kristen untuk tidak menjadi serupa dengan orang yang bukan Kristen. Saat ini, kita bisa melihat bahwa banyak cara hidup sudah dianggap”normal”, seperti arogan, mementingkan diri sendiri, dan tidak setia. Banyak orang Kristen yang tidak mau atau tidak berani melawan ketidakadilan, pelecehan, penyelewengan dan kejahatan yang lain. Bagi mereka, ketidakpedulian akan apa yang jahat adalah cara hidup yang paling aman setelah menerima keselamatan dari Tuhan.

Dalm kenyataannya, adalah terlalu mudah bagi umat Kristen untuk menanggapi ajaran Alkitab secara teologis tanpa benar-benar berusaha membuat perubahan apa pun. Kita mungkin menikmati merenungkan ide-ide besar, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, menimbang maknanya. Tetapi jika yang kita lakukan hanyalah memikirkannya dan tidak pernah melaksanakannya, kita akan berbuat dosa. Ayat ini menambahkan kewajiban pada pengetahuan kita: kegagalan untuk bertindak, dengan sendirinya, adalah suatu tindakan. Tidak berbuat baik adalah suatu perbuatan yang buruk. Kita tidak hanya diperintahkan untuk menghindari kejahatan, semua orang percaya diwajibkan secara moral untuk melakukan apa yang kita ketahui sebagai hal yang baik dan dikehendaki Tuhan di mana pun mereka berada.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17