
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” Mazmur 19:2

Suatu hari seseorang bertanya dengan nada setengah serius, setengah menyelidik, “Mengapa kita perlu memuliakan Tuhan? Apakah karena Ia belum cukup mulia?” Pertanyaan itu terdengar tajam. Seolah-olah pujian manusia dibutuhkan untuk melengkapi kemuliaan-Nya. Jika Tuhan memang Mahamulia, bukankah tanpa pujian kita pun Ia tetap sama?
Pemazmur memberi jawaban yang sunyi namun tegas. Ia menunjuk ke langit. Sebelum ada mimbar, sebelum ada gereja, sebelum ada doa yang terucap, langit sudah menceritakan kemuliaan Allah. Cakrawala tanpa suara sudah memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Bintang-bintang tidak berkhotbah, tetapi keindahannya bersaksi. Gunung-gunung tidak bernyanyi dengan kata-kata, tetapi keagungannya memproklamasikan kebesaran Penciptanya.
Artinya jelas: kemuliaan Tuhan tidak bergantung pada kita. Ia tidak menjadi lebih besar ketika kita memuji, dan tidak menjadi lebih kecil ketika kita diam. Ia tidak menunggu manusia untuk menjadi mulia. Ia sudah mulia. Lalu mengapa kita tetap dipanggil untuk memuliakan-Nya?
Karena memuliakan Tuhan bukanlah soal menambah sesuatu pada diri-Nya, melainkan menata sesuatu dalam diri kita. Pujian bukan vitamin bagi Allah, tetapi arah bagi hati manusia. Ketika kita memuliakan Tuhan, kita sedang mengakui realitas yang benar. Kita sedang berkata, “Engkau adalah pusat, bukan aku.”
Dalam dunia yang mendorong kita untuk menjadi pusat segala sesuatu, memuliakan Tuhan adalah tindakan merendahkan diri yang menyembuhkan.
Manusia tidak pernah hidup tanpa memuliakan sesuatu. Jika bukan Tuhan, kita akan memuliakan uang, pencapaian, kecerdasan, reputasi, atau bahkan kesalehan kita sendiri. Kita selalu memberi nilai tertinggi kepada sesuatu. Kita selalu menaruh sesuatu di takhta hati. Pertanyaannya bukan apakah kita akan memuliakan, tetapi siapa atau apa yang kita muliakan.
Di sinilah pentingnya kita datang ke gereja. Bukan karena Tuhan hanya hadir di sana, atau karena Ia kekurangan penyembah di luar gedung itu, melainkan karena hati kita mudah lupa. Dalam kebersamaan umat Tuhan, kita diingatkan kembali siapa pusat hidup ini. Kita menyanyikan pujian bersama bukan untuk memperbesar Allah, tetapi untuk meneguhkan iman kita satu sama lain.
Ibadah bersama menjadi latihan rohani yang menata ulang orientasi hati, agar di tengah kesibukan dan godaan dunia, kita tetap ingat bahwa Tuhanlah yang layak dimuliakan.
Ketika kita memuliakan Tuhan, kita sedang memindahkan takhta itu kembali kepada yang berhak. Dan di situlah kita menemukan kebebasan. Beban untuk menjadi pusat dunia terangkat. Kita tidak lagi harus mempertahankan citra, membuktikan diri, atau mengejar pengakuan tanpa henti. Kita kembali menjadi ciptaan yang bersandar kepada Sang Pencipta.
Memuliakan Tuhan juga adalah bentuk pengenalan. Sama seperti seseorang yang memandang matahari dan berkata, “Betapa terangnya,” ia tidak membuat matahari lebih terang. Ia hanya mengakui apa yang memang ada. Demikian pula ketika kita menyatakan kemuliaan Tuhan, kita sedang menyelaraskan hati dengan kebenaran. Kita belajar melihat hidup dari perspektif kekekalan, bukan sekadar dari sudut kepentingan sesaat.
Ada sukacita tersembunyi dalam tindakan itu. Ketika kita berhenti menempatkan diri sebagai pusat, jiwa kita justru menjadi lebih tenang. Ada kedamaian dalam mengakui bahwa dunia ini tidak bertumpu pada kita. Tuhan tidak membutuhkan pujian kita untuk bertahan, tetapi kita membutuhkan penyembahan untuk tetap sehat secara rohani.
Jadi, memuliakan Tuhan bukanlah beban yang menekan, melainkan undangan yang membebaskan. Bukan karena Ia kekurangan kemuliaan, tetapi karena kita sering kekurangan arah. Pujian bukanlah suplai bagi Allah, melainkan penataan ulang bagi hati manusia. Dan ketika hati tertata, hidup pun menjadi lebih jernih.
Langit terus menceritakan kemuliaan-Nya, siang dan malam tanpa lelah. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan sudah cukup mulia. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau membuka mata dan ikut menyaksikan apa yang sudah dinyatakan sejak awal?
“Besarlah Tuhan dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga.” Mazmur 145:3
Doa Penutup
Tuhan yang Mahamulia,
Ampuni kami ketika kami mengira Engkau membutuhkan pujian kami, seolah-olah kemuliaan-Mu bergantung pada suara kami. Ajarlah kami memahami bahwa dalam memuliakan-Mu, justru hati kamilah yang ditata kembali. Bebaskan kami dari keinginan untuk menjadi pusat hidup kami sendiri.
Tolong kami setia bersekutu bersama umat-Mu, agar melalui ibadah dan persekutuan, hati kami terus diarahkan kepada-Mu. Bukalah mata kami untuk melihat kemuliaan-Mu dalam ciptaan dan dalam setiap peristiwa hidup. Ajarlah kami memuji bukan karena kewajiban, tetapi karena pengenalan dan kasih. Kiranya hidup kami, dalam perkataan dan perbuatan, menjadi respons yang wajar terhadap kebesaran-Mu yang sudah sempurna.
Di dalam nama Tuhan kami berdoa. Amin.
“Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!’” Matius 14:30

Dalam kehidupan rohani, kita mengenal berbagai bentuk doa. Ada doa yang terstruktur seperti Doa Bapa Kami. Ada doa syafaat yang panjang dan terinci. Ada juga doa yang sangat singkat, bahkan hanya satu kalimat yang diulang. Sebagian tradisi menyebutnya meditasi dengan mantra—sebuah kata doa yang diucapkan berulang untuk menenangkan pikiran dan menolong hati fokus kepada Tuhan.
Suatu hari Petrus berjalan di atas air. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia berdiri teguh. Tetapi ketika ia merasakan tiupan angin keras, ketakutan merayap masuk. Ia mulai tenggelam. Dalam momen genting itu, ia tidak mengucapkan doa panjang. Ia tidak merangkai kalimat indah. Ia hanya berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Itulah doa yang lahir dari kebutuhan, bukan sekadar mantra.
Namun di sinilah kita perlu bijaksana. Alkitab memperingatkan agar kita tidak berdoa dengan pengulangan kata-kata kosong, seolah-olah banyaknya kata atau ritmenya memberi kuasa pada doa itu sendiri.
Doa Kristen bukan usaha manusia untuk mengaktifkan sesuatu yang ilahi. Doa adalah relasi anak dengan Bapa.
Pengulangan kata tidak selalu salah. Mazmur mengulang pujian. Seruan “kudus” diulang dalam penyembahan surgawi. Bahkan doa yang sama dapat dinaikkan kembali ketika hati sedang terdesak: “Tolong Tuhan, tolonglah aku Tuhan.” Tetapi pengulangan menjadi bermasalah ketika kita mulai mempercayai metodenya lebih daripada Pribadi yang kita tuju.
Jika sebuah kata diulang hanya demi mencapai keadaan tertentu, tanpa kesadaran dan kasih kepada Kristus, maka doa berubah menjadi teknik. Dan teknik mudah menggantikan relasi.
Sebaliknya, jika sebuah doa pendek diucapkan dengan iman dan ketergantungan, seperti seruan Petrus, itu bukanlah mantra. Itu jeritan hati.
Kita perlu menyadari bahwa komunikasi yang sehat dengan Tuhan sangat bergantung pada situasi hati dan keadaan hidup kita. Ketika badai menerpa, doa mungkin hanya satu kalimat: “Tuhan, tolonglah aku.” Ketika hati penuh syukur, doa bisa menjadi pujian panjang.
Ketika pikiran gelisah, mungkin kita membutuhkan keheningan beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum berbicara. Ketika kita bingung, kita bisa membuka firman dan menjadikannya doa. Tidak ada satu bentuk doa yang cocok untuk semua keadaan.
Yang penting bukan panjang atau pendeknya doa, bukan diulang atau tidaknya kalimat, tetapi apakah hati kita sungguh tertuju kepada Kristus. Apakah kita sadar sedang berbicara kepada Pribadi yang hidup? Apakah kita datang dengan iman, bukan dengan kepercayaan pada metode?
Dalam situasi tertentu, pengulangan doa singkat dapat menolong fokus. Dalam situasi lain, kita perlu percakapan jujur dan terbuka dengan Tuhan. Dalam pergumulan berat, kita mungkin hanya mampu menghela napas dan berkata, “Ya Tuhan.”
Di taman Getsemani kita juga melihat bagaimana Yesus berdoa. Dalam pergumulan yang sangat berat menjelang salib, Ia datang kepada Bapa dengan kata-kata yang jujur dan penuh penyerahan. Injil mencatat bahwa Ia mengucapkan doa yang sama beberapa kali, namun bukan sebagai pengulangan kosong. Ia menyatakan isi hati-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Di sana kita melihat bahwa doa yang sejati bukanlah teknik untuk menghindari penderitaan, melainkan perjumpaan yang membawa kita pada ketaatan. Pengulangan Yesus lahir dari pergumulan yang mendalam, dan berakhir dalam penyerahan total kepada kehendak Bapa.
Doa yang sejati selalu relasional. Ia hidup, bukan mekanis. Ia sederhana, bukan magis. Ia lahir dari iman, bukan dari teknik.
Seperti Petrus, kita belajar bahwa yang menyelamatkan bukanlah kata-kata kita, tetapi tangan Yesus yang terulur. Doa hanyalah jembatan relasi itu—cara kita berseru kepada-Nya di tengah angin dan ombak kehidupan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus,
Ajarlah kami berdoa dengan hati yang tulus.
Jauhkan kami dari kepercayaan pada teknik atau bentuk yang kosong.
Ketika kami gelisah, tenangkan hati kami.
Ketika kami takut, ajar kami berseru seperti Petrus: “Tuhan, tolonglah aku.”
Bentuklah relasi yang hidup antara kami dan Engkau, sehingga dalam setiap situasi kami tahu bagaimana datang kepada-Mu—dengan sederhana, dengan jujur, dengan iman.
Terima kasih karena Engkau selalu mengulurkan tangan-Mu kepada kami.
Amin.
“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” Roma 3:12

Di dunia ini, hampir semua agama dan filsafat hidup mendorong manusia untuk berbuat baik. Kita diajar untuk memiliki kemauan berbuat baik, melatih diri agar konsisten, dan memiliki visi hidup menjadi pribadi yang lebih luhur. Secara manusiawi, ajaran seperti itu terasa masuk akal. Bukankah dunia akan lebih indah jika setiap orang bertekad, berdisiplin, dan berkomitmen untuk berbuat baik?
Namun ketika kita membaca Roma 3:12, kita seakan ditarik ke dalam cermin yang lebih dalam. Rasul Paulus tidak sedang menilai manusia dari ukuran sosial atau moral, melainkan dari ukuran kekudusan Allah. Di hadapan standar manusia, mungkin kita bisa berkata, “Saya tidak seburuk itu” atau “Hidup saya sudah cukup baik.” Tetapi di hadapan Allah yang Mahakudus, bahkan kebaikan terbaik kita pun selalu tercemar oleh motif yang tidak murni, oleh ego yang tersembunyi, oleh keinginan untuk dipuji atau diakui orang lain, sekalipun kita mengaku “ikhlas” untuk berbuat baik. Paling tidak, agar perbuatan baik kita diakui oleh Tuhan!
Ajaran moral menekankan latihan dan kemauan berbuat baik. Kekristenan menyingkapkan sesuatu yang lebih radikal: masalah manusia bukan sekadar kurang latihan, melainkan mempunyai hati yang telah rusak. Kita bukan hanya membutuhkan perbaikan perilaku; kita membutuhkan pembaruan natur secara total.
Sering kali kita berpikir, “Kalau saya lebih disiplin, lebih konsisten, lebih fokus dan ikhlas, saya akan menjadi orang yang benar-benar baik.” Tetapi pengalaman hidup menunjukkan bahwa kemauan dan kemampuan manusia ada batasnya. Konsistensi bisa goyah. Visi bisa kabur ketika godaan datang atau ketika kepentingan diri tersentuh.
Alkitab tidak meniadakan pentingnya perbuatan baik. Justru iman yang sejati akan menghasilkan buah yang nyata. Namun perbuatan baik bukan tangga menuju keselamatan; itu adalah buah dari keselamatan melalui lahir baru.
Kita tidak berbuat baik supaya diterima Allah. Mengapa demikian? Jika kita ingin berbuat baik dengan usaha sendiri, apa pun yang kita hasilkan adalam tidak berharga di hadapan-Nya. Jadi, kita berbuat baik karena sudah diterima oleh Dia di dalam Kristus.
“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” Yesaya 64:6
Di sinilah letak penghiburan Injil. Jika keselamatan bergantung pada kemauan dan konsistensi kita, siapakah yang dapat bertahan? Tetapi jika keselamatan bergantung pada anugerah Allah, maka ada pengharapan bagi setiap orang—bahkan bagi mereka yang sadar akan kegagalannya.
Roma 3 tidak berhenti pada vonis bahwa tidak ada yang berbuat baik. Pasal itu bergerak menuju kabar sukacita bahwa kebenaran Allah dinyatakan melalui iman kepada Yesus Kristus. Allah tidak hanya menunjukkan standar-Nya; Ia juga menyediakan jalan keselamatan-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tetap dipanggil untuk memiliki kemauan berbuat baik, hidup konsisten, dan memegang visi hidup yang benar. Tetapi semua itu mengalir dari hati yang telah disentuh oleh anugerah. Kita berjuang bukan untuk memperoleh kasih Allah, melainkan karena telah lebih dahulu dikasihi.
Maka setiap kali kita tergoda untuk mengandalkan usaha diri, Roma 3:12 mengingatkan kita untuk merendahkan hati. Dan setiap kali kita merasa gagal, Injil mengingatkan bahwa Allah sanggup memperbarui hati yang paling rapuh sekalipun.
Menjadi baik adalah tujuan yang mulia. Tetapi dilahirkan baru adalah kebutuhan yang mutlak. Dari hati yang diperbarui lahirlah iman yang sejati. Dan hanya melalui iman yang benar itulah perbuatan baik kita sungguh memuliakan Tuhan—bahkan dalam ketaatan itu iman kita sendiri semakin diteguhkan dan bertumbuh.
“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22
Doa Penutup
Tuhan yang Mahakudus,
Kami mengakui bahwa sering kali kami mengandalkan kekuatan dan kemauan kami sendiri untuk menjadi baik. Kami lupa bahwa hati kami memerlukan pembaruan dari-Mu. Ampuni kesombongan kami yang merasa mampu berdiri benar oleh usaha sendiri.
Terima kasih untuk anugerah-Mu di dalam Kristus, yang membenarkan kami bukan karena perbuatan kami, melainkan karena kasih-Mu. Perbaruilah hati kami setiap hari, supaya kemauan kami selaras dengan kehendak-Mu, dan perbuatan kami menjadi buah dari iman yang hidup.
Ajarlah kami hidup dalam kerendahan hati, bersandar pada anugerah-Mu, dan memuliakan nama-Mu melalui hidup yang diubahkan.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11:13

Di mata dunia, keberhasilan sering diukur dari penampilan. Suara yang lantang, retorika yang memukau, pakaian yang rapi, panggung yang megah, serta pengikut yang banyak—semua itu mudah membuat orang terkesan. Tidak berbeda jauh dengan keadaan jemaat Korintus pada abad pertama. Mereka berhadapan dengan orang-orang yang mengaku sebagai rasul, bahkan lebih hebat dari Paulus. Paulus, dengan nada ironi, menyebut mereka “rasul-rasul super.”
Jika dibandingkan, Paulus tampak jauh dari kesan mengesankan. Ia mengakui bahwa ia bukan orator ulung. Ia sering menderita, dipenjara, dianiaya, bahkan pernah harus melarikan diri pada malam hari demi menghindari penangkapan. Secara lahiriah, hidupnya tidak menunjukkan gambaran “pelayan sukses.” Ia memberitakan Injil tanpa meminta bayaran dari jemaat Korintus. Ia tidak memanfaatkan pelayanannya untuk keuntungan pribadi.
Sebaliknya, para “rasul super” tampil penuh percaya diri. Mereka fasih berbicara, berani, dan tampak kuat. Mereka mengambil dukungan finansial dari jemaat dan memperlakukan orang-orang dengan sikap otoriter. Ironisnya, jemaat justru sabar terhadap perlakuan keras itu. Penampilan luar dan kesan keberhasilan membuat banyak orang sulit membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.
Paulus membuka kedok mereka dengan tegas: mereka adalah rasul-rasul palsu yang menyamar sebagai rasul Kristus. Penyamaran itu berhasil karena manusia cenderung menilai dari apa yang terlihat. Hati mudah terpikat oleh yang gemerlap, sementara kesetiaan yang sunyi dan penuh pengorbanan sering terabaikan.
Kisah ini bukan hanya catatan sejarah gereja mula-mula. Zaman ini pun tidak kekurangan figur yang tampak hebat. Gedung gereja yang megah, tata panggung yang profesional, musik yang menggetarkan, dan khotbah yang penuh motivasi bisa memberi kesan rohani yang kuat. Namun semua itu bukanlah jaminan kebenaran.
Pertanyaannya bukanlah seberapa mengesankan pelayan Tuhan itu terlihat, melainkan apakah ajarannya setia kepada Injil. Apakah Kristus ditinggikan, ataukah pribadi dan pengalaman sang pembicara yang lebih ditonjolkan? Apakah jemaat dibangun dalam kerendahan hati dan pertobatan, atau justru digiring pada ketergantungan dan kekaguman berlebihan kepada manusia dan kesuksesan duniawi?
Paulus rela terlihat lemah agar Kristus yang kuat. Ia tidak mencari pujian, melainkan kesetiaan. Ia tidak memoles citra, tetapi memikul salib. Dalam logika dunia, itu tampak seperti kegagalan. Namun dalam pandangan Allah, kesetiaan dalam penderitaan jauh lebih berharga daripada popularitas tanpa kebenaran.
Renungan ini mengajak kita untuk lebih berhati-hati. Jangan cepat terpesona oleh penampilan hebat atau kesuksesan gereja. Ujilah setiap ajaran dengan firman Tuhan. Perhatikan buahnya: apakah menghasilkan pertumbuhan dalam kasih, kekudusan, dan ketaatan? Ataukah hanya membangkitkan emosi sesaat?
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa para pelayan-Nya akan selalu tampak mengagumkan di mata dunia. Bahkan Sang Juruselamat sendiri datang tanpa kemegahan lahiriah. Salib bukanlah simbol kemewahan, melainkan pengorbanan. Karena itu, marilah kita belajar melihat melampaui apa yang tampak, dan memohon hikmat untuk membedakan yang sejati dari yang palsu.
Doa Penutup
Ya Tuhan yang Mahakudus,
Ampuni kami jika hati kami mudah terpikat oleh apa yang gemerlap dan mengesankan. Sering kali kami menilai dari luar, bukan dari kebenaran firman-Mu. Berikan kami kepekaan rohani untuk menguji setiap ajaran dan setiap pelayanan dengan terang Injil Kristus.
Tolong kami untuk tidak mengagumi manusia secara berlebihan, tetapi mengarahkan hati hanya kepada-Mu. Bentuklah kami menjadi umat yang mengasihi kebenaran, rendah hati, dan setia, sekalipun jalan itu tidak terlihat megah di mata dunia. Peliharalah gereja-Mu dari ajaran palsu dan bangkitkan pelayan-pelayan yang setia, yang lebih rindu memuliakan Kristus daripada meninggikan diri sendiri.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17:10

Dalam komunikasi sehari-hari, kita bisa salah mengirim pesan. Jari terlalu cepat menekan tombol kirim, lalu kita sadar bahwa alamatnya keliru. Jika penerima sudah membacanya, kita tak bisa menarik kembali kata-kata itu. Yang dapat dilakukan hanyalah meminta maaf dan menanggung rasa malu. Namun jika ternyata pesan itu belum dibuka, hati kita terasa lebih tenang. Seolah-olah kesalahan itu belum sungguh terjadi.
Perasaan seperti itu sering terbawa ke dalam kehidupan rohani. Selama tidak ada yang tahu, kita merasa aman. Selama dosa dilakukan dalam ruang tersembunyi, kita berpikir semuanya baik-baik saja. Kita lebih takut kepada penilaian manusia daripada kepada pandangan Tuhan. Yang penting citra kita tetap terjaga.
Namun firman Tuhan di atas menyatakan sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia bukan hanya mengamati tindakan lahiriah, tetapi menyelidiki hati. Ia menguji batin. Ia melihat motivasi di balik pelayanan, kesombongan yang tersembunyi di balik kerendahan hati yang tampak, luka yang tersembunyi di balik senyum, keengganan untuk dekat dengan-Nya, bahkan pemberontakan yang tersembunyi di balik kata-kata saleh.
Manusia menilai dari apa yang terlihat. Kita mudah terkesan oleh penampilan, prestasi, atau reputasi. Tetapi Tuhan melihat postur hati. Di hadapan-Nya tidak ada “pesan yang belum dibaca.” Tidak ada pikiran yang terlalu cepat untuk luput dari perhatian-Nya. Tidak ada niat yang cukup tersembunyi untuk lolos dari penyelidikan-Nya. Ia tahu alasan yang sebenarnya dari setiap tindakan dan keputusan kita, bahkan sebelum itu dilakukan.
Bagi sebagian orang, kebenaran ini terasa menakutkan. Jika Tuhan sungguh membaca isi hati, siapa yang dapat bertahan? Namun bagi orang percaya, ini juga menjadi penghiburan.
Tuhan bukan hanya Hakim yang mengetahui, tetapi juga Bapa yang memurnikan. Ia menyelidiki bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk membersihkan. Ia menguji bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membentuk.
Sering kali kita berkata, “Tuhan tahu hatiku,” seolah-olah itu pembelaan terakhir atas sikap atau tindakan kita. Tetapi sebenarnya kalimat itu adalah doa yang sangat berani. Jika Tuhan sungguh tahu hati kita, maka biarlah Ia menyingkapkan apa yang busuk, meluruskan apa yang bengkok, dan melembutkan apa yang keras.
Kesadaran bahwa Tuhan membaca hati seharusnya membawa kita pada kejujuran rohani. Kita tidak perlu berpura-pura di hadapan-Nya. Kita tidak perlu menyembunyikan luka, iri hati, atau ambisi tersembunyi. Justru di sanalah proses pemurnian dimulai. Hati yang terbuka di hadapan Tuhan adalah hati yang siap diubah.
Pada akhirnya, hidup Kristen bukan sekadar mengatur perilaku luar, tetapi menyerahkan pusat terdalam diri kita kepada Allah. Sebab dari hatilah terpancar kehidupan. Dan ketika Tuhan memerintah di hati, perbuatan pun akan mengikuti.
Kiranya renungan itu juga menjadi cermin yang lembut bagi hati kita sendiri—bukan untuk membuat kita hidup dalam ketakutan, tetapi untuk semakin jujur dan bersandar pada anugerah-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang menyelidiki hati, Engkau mengenal kami lebih dalam daripada kami mengenal diri sendiri. Tidak ada pikiran yang tersembunyi, tidak ada motivasi yang luput dari pandangan-Mu. Ampuni kami ketika kami lebih takut pada penilaian manusia daripada pada hadirat-Mu.
Datanglah dan selidiki hati kami. Ujilah batin kami. Singkapkan setiap kesombongan, kemunafikan, dan niat yang tidak murni. Bersihkan kami dengan kasih dan kebenaran-Mu. Bentuklah hati kami agar selaras dengan kehendak-Mu.
Ajarlah kami hidup dalam kejujuran di hadapan-Mu, bukan sekadar terlihat benar di hadapan manusia. Biarlah hati kami menjadi tempat kediaman Roh-Mu, sehingga hidup kami memancarkan kemuliaan-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24

Di zaman modern ini, uang sering kali menjadi ukuran keberhasilan. Banyak orang bekerja keras bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk mengejar status, kenyamanan, bahkan pengakuan atas kesuksesan. Tanpa disadari, uang yang semula hanyalah alat berubah menjadi pusat kehidupan. Kita mulai hidup untuk uang, bukan lagi memakai uang untuk hidup.
Yesus dengan tegas berkata bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kata “Mamon” menunjuk pada kekayaan yang dipersonifikasikan seolah-olah ia adalah tuan yang menuntut kesetiaan. Masalahnya bukan pada uang itu sendiri, melainkan pada hati yang melekat padanya. Ketika uang menjadi sumber rasa aman, identitas, dan sukacita, ia telah mengambil tempat yang seharusnya hanya bagi Tuhan.
Alkitab mengingatkan bahwa cinta uang tidak pernah memuaskan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar keinginan untuk menambah. Jiwa manusia tidak pernah diciptakan untuk dipuaskan oleh hal-hal sementara. Kita dapat memiliki kelimpahan secara materi, tetapi tetap miskin secara rohani. Kita dapat bekerja membanting tulang mencari uang sampai tua, tetapi kebahagiaan sejati tidak pernah terasa.
Di sinilah bahaya yang sering tidak disadari muncul. Ada ajaran yang secara halus menempatkan kekayaan sebagai tanda utama berkat dan iman yang berhasil. Seolah-olah ukuran perkenanan Tuhan dapat dilihat dari peningkatan aset dan kenyamanan hidup. Tanpa terasa, fokus bergeser: Tuhan dicari bukan karena Dia adalah Tuhan, melainkan karena Ia dianggap sebagai jalan menuju kemakmuran. Iman berubah fungsi menjadi sarana untuk mendapatkan sesuatu, bukan respons kasih kepada Pribadi Allah.
Pandangan seperti ini tampak rohani di permukaan, tetapi berisiko memindahkan pusat penyembahan. Hati bisa saja menyebut nama Tuhan, namun diam-diam tetap mengabdi kepada Mamon. Ketika berkat materi tidak datang, iman pun goyah. Ketika kekayaan bertambah, kerendahan hati bisa menghilang. Relasi dengan Tuhan akhirnya diukur dari untung-rugi.
Sebaliknya, orang percaya dipanggil menjadi penatalayan. Kita bukan pemilik mutlak atas harta yang kita miliki. Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan dipercayakan kepada kita untuk dikelola dengan setia. Uang adalah alat, bukan tujuan. Ia sarana untuk memenuhi kebutuhan, memberkati sesama, dan mendukung pekerjaan Tuhan—bukan bukti tingkat spiritualitas seseorang.
Rasul Paulus menasihati agar kita hidup dengan rasa cukup. Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha, tetapi memiliki hati yang bersyukur dalam segala keadaan. Orang yang merasa cukup tetap bekerja dengan rajin, namun tidak menggantungkan pengharapannya pada kekayaan. Ia tahu bahwa keamanan sejatinya bukan pada stabilitas ekonomi, melainkan pada kasih Tuhan.
Pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada hati kita: siapa yang benar-benar kita layani? Jika Tuhan adalah pusat hidup kita, maka uang akan berada pada tempatnya yang benar. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, mengelola dengan bijaksana, memberi dengan sukacita, tetapi tidak diperbudak olehnya. Uang menjadi alat untuk hidup dan bisa berguna untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama—bukan tuan yang menentukan arah hidup.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, Engkau sumber segala berkat dan pemeliharaan kami. Jauhkan hati kami dari keinginan menjadikan uang sebagai pusat hidup, bahkan dari keinginan tersembunyi memakai Engkau demi keuntungan pribadi. Ajarlah kami mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu, dan mengelola setiap berkat dengan setia. Berikan kami hati yang cukup, rendah hati, dan penuh syukur. Kiranya hidup kami hanya mengabdi kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.” 1 Korintus 6:12

Di zaman ini, makan bukan sekadar kebutuhan, tetapi pengalaman. Orang berburu tempat makan baru, mengikuti ulasan kuliner, bahkan bepergian jauh hanya untuk mencicipi hidangan tertentu. Foto makanan memenuhi media sosial. Undangan makan besar menjadi simbol kebahagiaan, kemakmuran, dan keberhasilan. Tanpa terasa, muncul kesan bahwa tanda hidup yang sukses adalah adanya rangkaian kesempatan untuk makan. Hidup untuk makan.
Namun, fenomena ini bukan hal baru. Di kota Korintus pada abad pertama, orang juga bergumul dengan kebebasan dan kenikmatan. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di sana, mengingatkan bahwa sekalipun sesuatu diperbolehkan, tidak semuanya berguna. Ada hal-hal yang sah, tetapi bisa memperhamba. Prinsip ini sederhana, tetapi tajam: kebebasan sejati bukan berarti mengikuti semua keinginan, melainkan mampu menguasainya.
Kontrol diri adalah bagian dari buah Roh. Ia bukan sekadar kemampuan menahan diri, melainkan sikap hati yang terlatih untuk berkata “cukup.” Dalam hal makan, ini berarti menikmati makanan dengan syukur tanpa kehilangan kendali. Makan berlebihan sering kali bukan soal lapar, tetapi soal emosi—stres, bosan, atau ingin menghibur atau meyakinkan diri. Jika kita tidak waspada, makanan menjadi pelarian. Dan pelarian yang terus-menerus akan menjadi tuan.
Alkitab mengingatkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Artinya, tubuh bukan milik kita semata; ia dipercayakan kepada kita. Setiap pilihan yang kita buat—termasuk pola makan—adalah bagian dari kepengurusan rohani. Ketika kita sembarangan memperlakukan tubuh, kita sedang lalai dalam tanggung jawab yang Tuhan berikan. Makan untuk hidup berarti menghargai tubuh sebagai alat untuk melayani, bukan sebagai wadah untuk memuaskan diri tanpa batas.
Lebih jauh lagi, ada bahaya yang lebih halus: penyembahan berhala. Paulus pernah menyinggung orang-orang yang “allahnya ialah perut mereka.” Ketika selera menjadi pusat hidup, ketika jadwal, uang, dan perhatian kita didominasi oleh makanan, perut dapat mengambil tempat yang seharusnya hanya milik Tuhan. Berhala tidak selalu berupa patung; ia bisa berupa nafsu yang tidak terkendali.
Namun, kekristenan bukan agama yang memusuhi kenikmatan. Tuhan menciptakan rasa, aroma, dan keindahan makanan. Yesus sendiri makan bersama banyak orang, bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum. Jadi masalahnya bukan pada makan, melainkan pada posisi makan dalam hidup kita. Apakah ia menjadi sarana syukur atau sarana perbudakan?
Keseimbangan adalah kuncinya. Kita dipanggil untuk menikmati tanpa diperhamba, bersyukur tanpa berlebihan, merayakan tanpa kehilangan arah. Makan untuk hidup berarti menjadikan makanan sebagai penopang panggilan kita—agar tubuh kuat bekerja, melayani, mengasihi. Hidup untuk makan sebaliknya menjadikan kenikmatan sebagai tujuan akhir.
Setiap kali kita duduk di meja makan, ada kesempatan kecil untuk melatih hati. Kita bisa berdoa bukan hanya sebelum makan, tetapi juga dalam cara kita makan. Kita bisa memilih porsi yang bijaksana, memperhatikan kesehatan, dan berhenti ketika cukup. Tindakan-tindakan sederhana ini adalah bentuk ibadah yang tersembunyi.
Kiranya kita menjadi orang-orang yang merdeka—bukan diperhamba oleh selera, melainkan dikuasai oleh Roh. Sehingga melalui hal yang sesederhana makan, hidup kita tetap memuliakan Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan yang baik, Engkau memberi kami makanan sebagai berkat dan pemeliharaan. Ampuni kami jika sering kali kami menjadikannya pusat hidup kami. Ajarlah kami menguasai diri dan hidup dalam disiplin yang lahir dari kasih kepada-Mu. Tolong kami menghargai tubuh sebagai bait Roh Kudus dan menggunakannya untuk melayani-Mu dengan setia. Berikan kami hati yang bersyukur dan bijaksana, supaya kami makan untuk hidup, dan hidup untuk memuliakan nama-Mu. Amin.
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25

Seorang pria pernah berkata, “Saya tetap percaya kepada Tuhan, tetapi saya tidak lagi pergi ke gereja.” Kalimat itu terdengar jujur, tanpa kemarahan, tanpa pemberontakan. Hanya sebuah keputusan yang perlahan menjadi kebiasaan. Ia masih berdoa, masih membaca Alkitab, bahkan masih mendengarkan khotbah melalui siaran daring. Namun kursi gereja baginya sudah lama kosong.
Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan dalam surat kepada jemaat Ibrani, penulis sudah menyinggung adanya orang-orang yang mulai menjauh dari pertemuan ibadah. Kata Yunani enkataleipontes mengandung arti “menelantarkan” atau “mengabaikan.” Ini bukan sekadar absen sesekali, melainkan sikap yang menjadikan persekutuan sebagai sesuatu yang tidak lagi dianggap penting.
Mengapa hal ini terjadi? Sebagian orang merasa dapat beribadah di mana saja. Mereka menemukan kedamaian di alam, di ruang kerja pribadi, atau melalui renungan di rumah. Ada yang berkata bahwa hubungan mereka dengan Tuhan bersifat pribadi, sehingga tidak memerlukan komunitas. Di era digital, siaran langsung kebaktian dan khotbah daring memberikan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Setelah masa pandemi global, banyak orang terbiasa berbakti dari ruang tamu mereka sendiri.
Ada pula orang yang terluka. Konflik antarjemaat, ketidakcocokan dengan pemimpin rohani, perbedaan pandangan tentang isu sosial atau politik, bahkan pengalaman merasa diabaikan, dapat meninggalkan bekas yang dalam. Luka batin seringkali membuat seseorang memilih menjauh demi melindungi diri.
Sebagian lainnya bukan karena luka, tetapi karena kesibukan. Jadwal kerja, tanggung jawab keluarga, atau kelelahan membuat ibadah Minggu terasa sebagai beban tambahan. Mereka ingin santai di hari libur. Perlahan, prioritas bergeser. Ketidakhadiran yang awalnya sesekali berubah menjadi kebiasaan.
Namun Ibrani 10:25 tidak hanya memberi perintah, melainkan juga alasan. Ayat sebelumnya mengingatkan agar kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan perbuatan baik.
Iman Kristen bukan sekadar keyakinan pribadi; terapi juga perjalanan bersama.
Kita dipanggil untuk berpegang teguh pada pengharapan. Tetapi siapa yang meneguhkan kita saat iman goyah? Siapa yang menegur dengan kasih ketika langkah kita mulai menyimpang? Siapa yang menguatkan saat hati kita lelah? Tuhan memang dapat memakai berbagai cara, tetapi salah satu sarana utama yang Ia tetapkan adalah tubuh Kristus—gereja-Nya.
Kitab Ibrani ditulis dalam konteks tekanan dan penganiayaan. Orang-orang percaya menghadapi risiko sosial dan bahkan fisik. Dalam keadaan seperti itu, godaan untuk menarik diri sangat besar. Namun justru pada saat itulah persekutuan menjadi semakin penting. Penulis surat itu menambahkan, “semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ada dimensi eskatologis di sini: semakin kita menyadari bahwa karena waktu yang singkat, kita makin membutuhkan satu sama lain.
Gereja memang tidak sempurna. Ia terdiri dari orang-orang berdosa yang sedang diproses. Tetapi ketidaksempurnaan itu bukan alasan untuk menjauh; justru itulah alasan kita hadir—untuk saling membangun dan dibangun. Gereja bukan sekadar tempat menerima, melainkan tempat memberi. Bukan hanya tempat mendengar khotbah, melainkan tempat mempraktikkan kasih.
Mungkin ada di antara kita yang sudah lama tidak hadir dalam persekutuan. Mungkin ada kekecewaan yang belum sembuh, atau keletihan yang belum teratasi. Renungan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak merenung: apakah kita sedang memelihara iman seorang diri, padahal Tuhan merancangnya untuk bertumbuh dalam kebersamaan?
Hubungan pribadi dengan Kristus adalah fondasi. Tetapi fondasi itu dirancang untuk menopang sebuah bangunan—komunitas orang percaya yang saling menasihati, saling menguatkan, dan saling mengasihi. Dalam persekutuan, kita belajar rendah hati. Dalam persekutuan, kita belajar mengampuni. Dalam persekutuan, kita melihat Injil dipraktikkan, bukan hanya diajarkan.
Menjelang hari Tuhan yang mendekat, dunia mungkin semakin individualistis. Namun panggilan firman tetap sama: jangan menjauhkan diri. Datanglah, bukan karena gereja sempurna, tetapi karena Kristus setia. Hadirlah, bukan hanya untuk menerima berkat, tetapi untuk menjadi berkat.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang setia,
Terima kasih karena Engkau memanggil kami bukan hanya menjadi pengikut-Mu secara pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari tubuh-Mu. Ampuni kami jika kami pernah mengabaikan persekutuan dan menganggapnya tidak penting. Sembuhkan setiap luka yang membuat kami menjauh.
Beri kami kerendahan hati untuk mengampuni dan keberanian untuk kembali membangun relasi. Ajarlah kami untuk saling menasihati dalam kasih, saling menguatkan dalam iman, dan semakin giat berkumpul menjelang kedatangan-Mu. Jadikan kami gereja yang hidup, yang memuliakan nama-Mu dalam kebersamaan dan kasih.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
“Jawab Yesus: ‘Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!’” Markus 9:23

Ayat ini adalah respons Tuhan Yesus kepada seorang ayah yang anaknya kerasukan roh jahat. Dengan hati gelisah ia berkata, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu…” Jawaban Yesus menyingkapkan inti persoalan: bukan pada kemampuan-Nya, melainkan pada iman sang ayah. Kuasa Kristus tidak pernah terbatas; yang sering goyah adalah hati manusia.
Perkataan, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya,” menegaskan kedaulatan dan kuasa Allah yang tak terbatas. Bagi mereka yang bersandar kepada-Nya, tidak ada situasi yang terlalu sulit, tidak ada pergumulan yang terlalu rumit. Ayat ini telah menguatkan banyak orang percaya sepanjang zaman untuk tetap beriman dalam keadaan paling gelap sekalipun.
Namun ayat ini juga sering dipahami secara kurang tepat. Seolah-olah iman adalah kunci yang otomatis membuka setiap pintu sesuai keinginan kita. Seolah-olah jika hasilnya tidak sesuai harapan, berarti iman kita kurang. Padahal dalam kisah itu, Yesus tidak sedang mengajarkan teknik rohani untuk mengendalikan mukjizat. Ia sedang mengarahkan hati si ayah kepada kepercayaan penuh kepada diri-Nya.
Pertanyaannya bagi kita hari ini adalah: bagaimana kita memahami mukjizat di zaman ini?
Kita tentu tidak menyangkal bahwa Allah Mahakuasa. Ia sanggup melakukan apa pun. Ia dapat menyembuhkan penyakit yang secara medis mustahil. Ia dapat membalikkan keadaan dalam sekejap. Ia tetap Allah yang sama, dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. “Tidak ada yang mustahil” tetap benar dan tidak pernah berubah.
Tetapi jika kita membaca Alkitab dengan saksama, kita melihat bahwa mukjizat-mukjizat besar terkonsentrasi pada momen-momen penting dalam sejarah keselamatan. Pada masa Musa, Elia, pelayanan Kristus, dan era para rasul, tanda-tanda ajaib mengiringi penyataan wahyu Allah. Mukjizat-mukjizat itu meneguhkan bahwa pesan yang disampaikan sungguh berasal dari Tuhan.
Setelah wahyu Allah dinyatakan secara lengkap dalam Kitab Suci, fokus kehidupan orang percaya bukan lagi pada pencarian tanda-tanda, melainkan pada kesetiaan kepada firman yang telah diberikan. Seorang teolog seperti R. C. Sproul pernah menekankan bahwa meskipun Allah dapat melakukan mukjizat pada masa kini, iman Kristen tidak berpusat pada pengejaran sensasi rohani, melainkan pada pengenalan akan kedaulatan dan karakter Allah.
Di sinilah kita perlu membedakan antara iman yang berserah dan iman yang menuntut. Ayat Markus 9:23 bukanlah cek kosong untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Mukjizat bukan terjadi karena ada orang-orang yang “pandai merayu” Tuhan. Iman sejati adalah bukan saja percaya bahwa Allah sanggup melakukan mukjizat, tetapi juga tunduk pada kehendak-Nya.
Rasul Paulus pernah memohon agar “duri dalam daging”-nya disingkirkan. Ia tentu percaya bahwa Tuhan mampu menyembuhkannya. Namun jawab Tuhan adalah: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Tidak ada kesembuhan instan. Tidak ada mukjizat spektakuler. Tetapi ada anugerah yang menopang. Dan justru dalam kelemahan itulah kuasa Kristus menjadi sempurna.
Sering kali kita membayangkan keajaiban sebagai sesuatu yang melanggar hukum alam. Padahal pemeliharaan Allah dalam keseharian adalah karya-Nya yang terus-menerus. Nafas yang kita hirup, kekuatan untuk bangun setiap pagi, pertolongan yang datang melalui orang-orang di sekitar kita—semua itu adalah tangan Tuhan yang bekerja dengan setia.
Lebih dalam lagi, mukjizat terbesar pada zaman ini adalah pertobatan. Ketika hati yang keras dilembutkan, ketika seorang berdosa berbalik kepada Kristus, ketika hidup yang hancur dipulihkan oleh kasih karunia—itulah keajaiban yang kekal nilainya. Tubuh yang disembuhkan suatu hari akan kembali lemah. Tetapi jiwa yang diselamatkan menerima hidup yang tidak berkesudahan.
Menantikan keajaiban Tuhan berarti percaya penuh kepada kuasa-Nya tanpa memaksakan kehendak kita. Kita berdoa dengan iman, tetapi kita juga berserah dengan rendah hati. Kita memohon dengan sungguh-sungguh, tetapi kita tetap mengerjakan apa yang perlu dilakukan sambil menyerahkan hasilnya kepada hikmat-Nya yang sempurna.
Barangkali hari ini Anda sedang berada dalam posisi seperti ayah dalam Markus 9. Ada pergumulan yang terasa tak tertanggungkan. Ada doa yang terus dinaikkan. Dengarlah kembali perkataan Yesus: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.” Percayalah pada kuasa-Nya. Percayalah pada kasih-Nya. Dan percayalah juga pada kebijaksanaan-Nya ketika jawaban-Nya berbeda dari yang kita bayangkan.
Keajaiban bisa hadir dalam bentuk kesembuhan. Bisa juga hadir sebagai kekuatan untuk bertahan. Bisa berupa pintu yang terbuka. Bisa pula berupa damai sejahtera di tengah pintu yang tetap tertutup. Dalam semua itu, Tuhan tetap bekerja. Sebab pada akhirnya, keajaiban terbesar bukanlah apa yang terjadi di sekitar kita, melainkan siapa yang kita percayai di tengah segala sesuatu.
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus, kami percaya Engkau Mahakuasa dan tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Ampuni kami jika kami sering meragukan kuasa-Mu atau menuntut cara kerja-Mu sesuai kehendak kami. Ajarlah kami memiliki iman yang berserah, iman yang percaya bukan hanya pada mukjizat, tetapi pada diri-Mu sendiri. Jika Engkau berkenan melakukan hal yang ajaib dalam hidup kami, kami bersyukur. Jika Engkau memilih menopang kami melalui anugerah yang cukup, kami pun bersyukur. Teguhkan hati kami untuk selalu percaya kepada-Mu. Amin.
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5:48

Setiap kali membaca ayat ini, hati kita bisa terasa gentar. Perintah itu terdengar mutlak. Bukan sekadar “jadilah lebih baik,” bukan “usahakan sedikit lebih suci,” tetapi: sempurna. Standarnya bukan manusia lain, bukan tokoh rohani, melainkan Bapa di surga.
Pertanyaannya sederhana namun berat: mungkinkah manusia menjadi sempurna? Seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran? Jika tidak mungkin, apakah Yesus memberi tuntutan yang mustahil? Apakah Ia sedang menaruh beban yang tak mungkin dipikul?
Kita hidup di dunia yang mengagungkan kesempurnaan. Orang mengejar performa terbaik, reputasi tanpa cela, citra yang tampak tanpa cacat. Namun semakin tinggi standar dinaikkan, semakin jelas terlihat retakan di dalam diri. Kita bisa disiplin, bisa bermoral, bisa dermawan, tetapi jauh di dalam hati, motivasi kita sering bercampur antara kasih dan kepentingan diri. Bahkan kebaikan kita tidak sepenuhnya murni.
Banyak jalan ditawarkan manusia untuk mencapai “kesempurnaan”: latihan rohani, disiplin diri, meditasi, amal, pengendalian nafsu. Semua itu bisa memperhalus karakter. Namun Alkitab menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam: masalah manusia bukan sekadar kurang usaha, melainkan natur yang telah jatuh dalam dosa. Standarnya bukan sekadar lebih baik dari kemarin, melainkan kesucian Allah sendiri.
Di hadapan terang matahari, cahaya lilin tak lagi berarti. Di hadapan kekudusan Allah, kebaikan manusia yang terbaik pun tidak memadai. Jika kesempurnaan diukur dengan standar manusia, mungkin kita bisa lulus. Tetapi jika diukur dengan standar Allah yang mahakudus, semua manusia gagal.
Namun justru di titik inilah Injil menjadi kabar baik.
Yesus tidak pernah memberi perintah tanpa menyediakan jalan. Dalam konteks Khotbah di Bukit, Ia berbicara tentang kasih yang melampaui batas: mengasihi musuh, mendoakan mereka yang menganiaya. Kesempurnaan yang dimaksud bukanlah kesempurnaan kosmetik, melainkan kesempurnaan kasih — kasih yang utuh, tidak terbagi, tidak pilih kasih, seperti Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik.
Tetapi siapakah yang dapat mengasihi seperti itu? Tidak ada, kecuali Kristus sendiri.
Di kayu salib, kita melihat kesempurnaan itu. Ia yang tanpa dosa rela menanggung dosa. Ia yang kudus bersedia diperlakukan sebagai yang terkutuk. Di sana terjadi pertukaran agung: dosa kita diperhitungkan kepada-Nya, dan kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita.
Di hadapan Allah, manusia memang “reject” jika berdiri dengan kualitas dirinya sendiri. Dalam istilah sehari-hari, barang reject adalah barang reject adalah hasil produksi yang tidak lolos standar kendali mutu (quality control) perusahaan.
Dalam hal ini, standar ilahi tidak bisa diturunkan. Allah tidak mengompromikan kekudusan-Nya. Namun Ia melakukan sesuatu yang lebih mulia: Ia menutupi kita dengan kebenaran Kristus. Darah Anak-Nya menjadi meterai bahwa hukuman telah dibayar lunas.
Dengan demikian, perintah “haruslah kamu sempurna” bukanlah lelucon ilahi, melainkan panggilan menuju Kristus. Di dalam Dia, orang percaya dinyatakan benar. Statusnya berubah. Bukan lagi tertolak, melainkan diterima. Bukan lagi gagal uji mutu, melainkan lulus — bukan karena kualitas diri, tetapi karena anugerah.
Apakah itu berarti kita boleh hidup sembarangan? Tentu tidak. Justru karena telah diterima, kita terdorong untuk hidup sesuai identitas baru itu. Kesempurnaan sebagai status mendahului kesempurnaan sebagai proses. Kita dibenarkan sekali untuk selamanya, tetapi kita juga dikuduskan hari demi hari.
Perjalanan menuju kesempurnaan bukanlah tangga yang kita bisa panjat sendiri untuk mencapai Allah. Itu adalah jalan yang kita tempuh karena Allah sudah lebih dahulu meraih kita. Roh Kudus bekerja membentuk hati, memurnikan motivasi, melatih kasih yang tulus. Kita mungkin masih jatuh, tetapi kita tidak lagi hidup sebagai orang tanpa harapan.
Kesempurnaan final memang baru akan kita alami sepenuhnya ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu, dosa tidak lagi melekat, kelemahan tidak lagi membelenggu. Tetapi bahkan sekarang, dalam kelemahan kita, Allah memandang kita sebagai anak melalui karya Anak-Nya.
Jalan menuju kesempurnaan dimulai bukan dari usaha manusia, melainkan dari pengakuan akan ketidakmampuan. Dimulai dari kerendahan hati yang berkata, “Aku tidak mampu memenuhi standar-Mu, ya Tuhan.” Dan dijawab oleh salib yang menyatakan, “Sudah selesai.”
Karena itu, ayat ini bukan ancaman, melainkan undangan. Undangan untuk meninggalkan kepercayaan diri yang palsu dan berlindung dalam anugerah. Undangan untuk hidup dalam kasih yang semakin menyerupai Bapa. Di dalam Kristus, apa yang mustahil menjadi mungkin.
Doa Penutup
Bapa yang Mahakudus, kami mengakui bahwa standar-Mu terlalu tinggi bagi kami. Kami sering gagal, bahkan dalam niat terbaik kami. Ampuni kesombongan kami yang ingin membenarkan diri sendiri.
Terima kasih untuk Kristus, yang telah memenuhi hukum-Mu dengan sempurna dan menyerahkan diri-Nya bagi kami. Terima kasih karena di dalam Dia kami tidak lagi tertolak, tetapi diterima sebagai anak-anak-Mu.
Tolong kami hidup sesuai dengan anugerah itu. Bentuklah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu. Ajarlah kami mengasihi dengan kasih yang murni, mengampuni seperti Engkau mengampuni, dan berjalan dalam kekudusan setiap hari.
Bimbing kami di jalan menuju kesempurnaan yang sejati, sampai pada akhirnya kami berdiri di hadapan-Mu tanpa noda dan tanpa cela, karena karya Kristus semata.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.