Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Yesus tetap menyertai kita

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Dalam hidup ini adakalanya kita mungkin merasa bahwa segala sesuatu berjalan lancar dan mulus. Keuangan baik, kesehatan baik, keluarga harmonis, anak cucu pun sehat. Walaupun demikian, seringkali hidup ini tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Sebagai contoh, adanya pandemi saat ini jelas sudah memporak-porandakan dunia. Ekonomi kacau, bisnis mundur, kesehatan terganggu, keluarga menghadapi berbagai persoalan. Pikiran kita jadi suram, hatipun merasa sedih: mengapa ini harus terjadi? Adakah sesuatu yang aku perbuat yang menyebabkan hal ini? Apakah Tuhan sedang marah kepadaku?

Kesadaran akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci memang mungkin bisa membawa berbagai reaksi. Dalam keadaan bahagia, kita bisa bersyukur. Tetapi dalam keadaan sulit, mungkin kita meragukan kasih Tuhan. Malahan dalam situasi yang sangat gawat, sering manusia merasa Tuhan itu jauh. Dan ada kalanya kita merasa bahwa Tuhan itu kejam, tetapi sebagai manusia berdosa dan lemah kita hanya bisa menerima kenyataan itu dan hidup tanpa harapan.

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita hidup dalam dosa? Apakah Tuhan hanya menyertai mereka yang imannya besar dan hidup tak bercela? Pertanyaan ini harus dijawab dengan pengertian dasar bahwa mereka yang memilih untuk mengikut Kristus harus meninggalkan hidup lamanya dan tidak melakukan dosa yang biasa dilakukannya. Karena itu, mereka yang tetap bertahan dalam dosa harus meneliti hidup mereka dan berdoa agar Tuhan memberi mereka kemampuan untuk bisa benar-benar menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Sebagai umatNya, hidup kita seharusnya berubah hari demi hari untuk menjadi makin serupa dengan Yesus. Roh Kudus bekerja dalam hidup kita memperbarui hati dan pikiran kita. Tetapi jika hidup kita masih terlalu sibuk dengan berbagai kesibukan duniawi, pembaruan hidup kita akan mengalami kelambatan dan kita mudah jatuh kedalam dosa, termasuk dosa lama. Itu adalah kesalahan kita sendiri. Demikian juga dalam kehidupan bermasyarakat, banyak orang yang merasakan penderitaan akibat perbuatan dan tindakan para pemimpin yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Karena itu, Ia selalu memperingatkan manusia untuk memilih cara hidup yang benar. Bagi orang percaya, memang peringatan itu adalah tindakan pendisiplinan yang bisa terasa menyakitkan, tetapi Ia tidak akan memberi sesuatu yang melebihi kekuatan kita (1 Korintus 10: 13).

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita manusia berdosa? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab karena penebusan Kristus memungkinkan orang yang benar-benar percaya kepadaNya mendapat pengampunan sekalipun dosanya sebesar apapun (Yesaya 1: 18). Selain itu, karena Kristus sudah mati di kayu salib untuk seisi dunia, setiap manusia yang percaya akan terhitung sebagai anak Tuhan sekalipun ia berdosa (Lukas 23: 43). Dalam Yesus tidak ada lagi hukuman:

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8: 1

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tidak dapat hidup dalam dosa lama. Tetapi, selama hidup di dunia kita tetap harus berjuang melawan dosa setiap hari. Adakalanya Tuhan memperingatkan kita ketika kita membuat kesalahan, agar kita kembali mendekat kepadaNya. Tetapi, dalam keadaan apapun Yesus yang telah mati di kayu salib sebagai ganti hukuman kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Ia adalah gembala kita yang baik, yang menyertai kita selama-lamanya!

Dukunglah pemimpin yang baik

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Saat ini, banyak orang mengikuti perkembangan politik di Amerika. Sebentar lagi, rakyat negara adidaya itu akan menghadapi pemilihan umum (pemilu) untuk jabatan presiden dalam masa 4 tahun mendatang. Berbeda dengan Australia, pemilihan umum di Amerika bukanlah keharusan bagi setiap warga, dan karena itu tidak semua orang mau berpartisipasi. Di Indonesia, pemilihan kepala daerah (pilkada atau pemilukada) sebentar lagi akan dilangsungkan secara serentak. Untuk orang Kristen, partisipasi dalam pemilu seperti itu sudah tentu merupakan kewajiban karena pemerintah pusat maupun daerah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa karena Tuhanlah yang menetapkan adanya pemimpin negara dan pemerintah, mereka tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Tetapi, pandangan semacam ini tentunya tidak sesuai dengan keadaan sekarang, karena Tuhan tidaklah memerintah umat manusia secara langsung seperti Ia memimpin bani Israel pada zaman perjanjian lama.

Karena pemerintah negara manapun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, perdamaian, keamanan, keadilan, fungsi keluarga, dan arti pernikahan.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, manusialah yang harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan, dan karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang Dia dan yang melanggar hukumNya, dan yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan rencanaNya.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, dalam usaha untuk menjadi warganegara yang baik, kita harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang akhirnya terpilih dalam pemerintahan dapat memberi kita hidup tenang dan tenteram dalam iman kepercayaan kita. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus mendukung pemimpin-pemimpin negara yang bijaksana dan yang takut akan Tuhan, agar seluruh rakyatnya juga takut akan Tuhan dan karena itu selalu mendapat berkatNya. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Samuel 23: 3 – 4

Mengapa anda merasa lelah?

“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” Keluaran 18: 18

Pagi ini saya membuka sebuah pertemuan melalui internet. Ada lebih dari 30 orang yang hadir dalam acara itu. Lain dari biasanya, pertemuan itu terasa sepi karena setiap orang mematikan mic nya dan hanya satu orang saja yang digilir untuk berbicara. Ini adalah sopan satun pertemuan melalui Zoom, agar orang tidak bingung mendengar suara banyak orang. Pertemuan maya seperti itu sudah jelas tidaklah senyaman pertemuan muka dengan muka. Memang suasana pandemi ini sudah mengubah cara hidup manusia dan ini membuat kebanyakan orang makin mudah menjadi lelah dan jemu.

Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia. Kelelahan sebenarnya bukan akibat dari dosa. Dari awalnya, Tuhan menciptakan siang dan malam, dan malam adalah waktu untuk beristirahat bagi manusia. Juga, hari ke tujuh adalah hari yang ditetapkan Tuhan sebagai hari bagi manusia untuk beristirahat.

Dosa memang membuat hidup di bumi ini menjadi berat, dan kelelahan bisa membuat manusia makin menderita. Tetapi, kelelahan bisa berguna untuk mengingatkan kita untuk berhenti bekerja untuk memulihkan kekuatan kita. Jika kita sering mengabaikan kelelahan kita, itu adalah dosa. Lambat laun kesehatan dan keseimbangan hidup kita akan terganggu karenanya.

Dalam ayat diatas, mertua Musa mengingatkan Musa agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin agar ia tidak menjadi terlalu lelah. Sebagai pemimpin, Musa pada mulanya selalu menghadapi segala persoalan bani Israel seorang diri. Hal itu tentunya akan menghabiskan waktu dan tenaganya. Mertua Musa, dengan kebijaksanaan dari Allah, mengusulkan agar Musa memilih orang-orang yang pandai dan takut akan Allah untuk menolong Musa. Kelelahan membawa kesadaran akan keterbatasan kita dan mendorong kita untuk memohon kebjaksanaan dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kelelahan itu bisa menjadi berkat untuk kita jika kita tidak mengabaikannya. Banyak orang yang jatuh sakit karena mereka tidak bisa mengukur kekuatannya atau tidak bekerja dengan cara yang bijaksana. Apalagi di saat pandemi ini, masih banyak orang yang secara sembrono melakukan segala aktivitasnya seolah-olah tidak ada risikonya. Seringkali juga orang menjadi lelah karena tidak mau menerima bantuan atau nasihat orang-orang lain. Lebih dari itu, penyebab utama kelelahan kita adalah karena kita tidak mau menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan. Karena itu, maukah kita memikirkan apa yang menyebabkan kelelahan kita saat ini dan memusatkan hidup kita kepada Tuhan dan bimbinganNya?

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Tanggung jawab kita kepada masyarakat

“Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.” Ulangan 22: 8

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya keselamatan fisik dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh mengendarai motor tanpa memakai helm, atau mengendarai mobil tanpa sabuk pengaman, dan juga memakai ponsel sambil menyetir mobil sudah berlalu, dan sekarang kita bisa didenda polisi jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang melanggar peraturan keamanan dan kesehatan umum, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Angka penularan COVID-19 di dunia pada saat ini masih sangat tinggi, bahkan makin tinggi saja di beberapa negara. Karena kurangnya pengertian akan bahaya virus ini, dan juga karena sudah bosan dengan berbagai peraturan pembatasan sosial, mungkin banyak orang yang mulai mengabaikan peraturan yang ada. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang kurang sadar akan peran mereka dalam mengurangi angka penularan dan kematian di daerah tempat tinggal mereka.

Masalah keselamatan orang lain adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum, bukan agama. Walaupun begitu, ayat diatas jelas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal keselamatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri, seperti Kristus yang sudah mengasihi umatNya.

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil risiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan risiko bagi orang lain, terutama risiko bagi mereka yang kurang mampu secara sosial-ekonomi.

Hari ini, sebelum kita mulai mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa membahayakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Inginkah anda menjadi kaya?

“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” 2 Korintus 8: 9

Hal mencari kesuksesan dan kebahagiaan seringkali dipakai untuk bahan renungan atau khotbah, tetapi mungkin banyak orang Kristen yang masih kurang bisa memahami artinya. Kebanyakan orang ingin untuk menjadi kaya dan sukses selama hidup di dunia, dan orang Kristen pun tidak terkecuali. Memang ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa orang yang diberkati Tuhan dapat terlihat dalam hidupnya yang serba nyaman. Tetapi, adanya pandemi sekarang ini bisa membuat sebagian orang Kristen mengalami goncangan spiritual. Bagaimana tidak?

Adanya pandemi sudah membuat banyak orang menderita, dan orang Kristen pun tidak luput dari itu. Dalam hal ini, kemiskinan jasmani, sakit penyakit dan masalah kehidupan di dunia adalah konsekuensi dosa, tetapi itu tidak harus berarti kemiskinan rohani. Mereka yang sadar akan kekurangannya dan mau bergantung kepada Tuhan adalah orang kaya rohani karena dekat denganNya (yang empunya kerajaan surga). Mereka menjadi orang yang bisa merasa damai dalam setiap keadaan.

Baik kekayaan maupun kemiskinan jasmani bukanlah hal yang bisa memadamkan kasih dan kemuliaan Tuhan, jika orang selalu sadar akan ketergantungannya kepada Tuhan. Yesus tidak mengatakan bahwa mereka yang ingin dekat dengan Allah harus menjadi orang yang tidak berharta. Bagi Tuhan, orang berharta dan orang miskin tidak ada bedanya: mereka adalah orang berdosa yang sama-sama membutuhkan Dia. Semua orang adalah miskin di hadapan Allah, walaupun tidak semua orang menyadarinya.

Yesus menyatakan bahwa mereka yang tidak kaya secara jasmani justru bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Ketika Yesus melihat janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya, Ia bisa melihat bahwa hati janda ini dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan yang sudah membimbingnya. Sebagai manusia, janda ini adalah orang yang miskin secara jasmani, tetapi juga orang yang selalu bergantung kepada Tuhan. Orang yang kaya secara rohani.

Maka dipanggil-Nya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Markus 12: 43 – 44

Sesudah menerima Kristus sebagai Juruselamat kita harus percaya bahwa sebagai anak-anak Allah kita adalah orang yang kaya secara rohani. Ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa Yesus, Tuhan yang kaya sudah menjadi miskin karena kita, supaya kita menjadi kaya di dalam Dia. Yesus sudah datang ke dunia dan mati untuk menebus kita yang berdosa, sehingga melalui penderitaanNya kita ditebus dan menjadi anak-anak Allah dan bisa masuk ke surga.

Selama kita hidup di dunia, Tuhan tidak selalu menghendaki atau menjanjikan umatNya kekayaan jasmani, kenyamanan dan kesuksesan, tetapi Ia akan memberikan kekayaan rohani jika orang selalu merasa membutuhkan Tuhan atau merasa miskin di hadapanNya.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Jangan patah semangat

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Adanya pandemi sekarang ini sudah membuat cita-cita dan rencana banyak orang menjadi berantakan. Mereka yang mempunyai rencana untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri misalnya, sekarang harus menunda atau membatalkan rencananya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak universitas di Australia sekarang ini mengalami penyusutan dana yang luar biasa karena berkurangnya jumlah murid dari luar negeri. Sudah ada beberapa universitas yang harus mengurangi jumlah pegawai secara besar-besaran. Dengan demikian, seperti banyak pekerja lainnya, ribuan tenaga pengajar dan administrasi universitas harus menghadapi akhir tahun dengan rasa sedih dan mungkin juga rasa kecewa.

Setiap orang tentunya pernah kecewa, pernah dikecewakan orang lain, dan pernah mengecewakan orang lain. Kekecewaan yang baik kecil ataupun besar, bisa cepat terlupakan tetapi bisa juga selalu dalam ingatan. Kekecewaan yang mudah terlupakan sering membuat orang mudah terperosok dalam keadaan serupa di masa depan, tetapi rasa kecewa yang tidak kunjung hilang jelas bisa membuat hidup seseorang sengsara.

Sebagai manusia, orang Kristen mungkin juga sering kecewa melihat berbagai peristiwa di dunia. Itu terjadi karena mereka tidak mengerti mengapa sesuatu yang buruk dan menyedihkan harus terjadi. Sebaliknya, sekalipun Yesus pernah menunjukkan rasa sedih ketika melihat apa yang tidak baik, Ia tidak pernah kecewa karena sebagai Tuhan, Ia tahu apa yang akan terjadi. Ketika Ia meminta beberapa murid untuk menemaniNya dalam berdoa di taman Getsemane dan menjumpai mereka sedang tidur, Yesus tidak kecewa. Begitu juga Ia tidak kecewa sewaktu Petrus menyangkali tiga kali. Manusia bisa kecewa, tetapi Tuhan tidak akan bisa dikecewakan seperti manusia.

Tuhan tidak pernah bermaksud mengecewakan atau membuat umatNya menderita. Manusia kecewa dan menderita di dunia karena keterbatasannya. Manusia sering tidak bisa melihat jalan Tuhan dan lupa bahwa Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang harus terjadi pada saatnya. Tuhan sendiri ingin agar semua anakNya mencari kehendakNya dalam hidup di dunia supaya mereka tidak mudah kecewa.

Apa yang dialami seseorang bisa membuatnya kecewa kepada Tuhan. Kekecewaan itu juga bisa menjadi rasa benci atas apa yang terjadi. Rasa tidak berdaya bisa muncul dan berubah menjadi fatalisme, yang membuat orang kehilangan iman dan semangat hidup. Kekecewaan juga bisa membuat orang menolak adanya Tuhan yang maha kuasa.

Hari ini marilah kita meneliti hidup kita. Adakah rasa kecewa yang ada dalam hati kita? Adakah keraguan atas kasih Tuhan karena apa yang kita hadapi? Biarlah kita sadar bahwa kekecewaan kita mungkin disebabkan karena kita tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan dan karena kita tidak menyadari bahwa Ia yang mahakasih selalu menyertai kita dalam keadaan apapun.

Halal tapi belum tentu berguna

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Sesuatu yang “halal” (dari bahasa Arab, artinya “diperbolehkan”) adalah segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan dalam agama Islam. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk menunjukkan makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut ajaran Islam, menurut jenis makanan dan cara memperolehnya. Pasangan halal adalah thayyib yang berarti “baik”. Suatu makanan dan minuman tidak hanya halal, tetapi harus thayyib; apakah layak dikonsumsi atau tidak, atau bermanfaatkah bagi kesehatan. Lawan halal adalah haram.

Dalam agama Kristen, kata halal tidak sering dibahas. Oleh karena itu, banyak orang mengira bahwa penganut agama Kristen bebas untuk menggunakan segala objek atau melakukan kegiatan apa saja, asal tidak melanggar hukum.

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6: 12

Dalam hal makanan dan minuman, mayoritas orang Kristen memang bebas untuk mengonsumsi apa saja yang tidak merugikan kesehatan. Hal ini malahan dianggap sebagai ciri orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan hukum Taurat karena pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi, bagi orang yang bukan Kristen, hal ini sering menjadi bahan olok-olokan, karena agaknya orang Kristen tidak mengenal barang atau hal yang haram. Benarkah begitu?

Paulus dalam ayat di atas menulis bahwa segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Dengan demikian, segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Karena itu bukan segala sesuatu adalah baik untuk dilakukan. Lalu, apakah yang “baik”, yang berguna dan membangun, yang boleh dan patut dilakukan?

Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan apa saja, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10: 31). Dengan demikian, apa yang berguna adalah segala sesuatu yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan membangun kerajaanNya di dunia. Umat Kristen seharusnya hidup dan memakai hidup mereka untuk menerangi dunia agar makin banyak orang yang bertobat dari hidup lamanya dan kemudian menjadi umatNya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Ujilah segala sesuatu

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Jika kita ingin mencari berita apa saja, internet adalah tempat yang paling mudah digunakan sebagai sarana. Dengan memakai Google, orang bisa menulis beberapa kata kunci (keywords) di ponsel atau komputer dan kemudian menemukan berita apa yang dicarinya dalam waktu beberapa detik saja. Memang semua itu kelihatannya gampang, tetapi dalam kenyataannya seringkali berita yang diperoleh itu tidak jelas sumbernya dan berbeda-beda isinya. Sebagai akibatnya, banyak orang di zaman pandemi Covid-19 ini yang tertipu oleh berbagai kabar simpang siur yang membingungkan.

Internet bisa dipandang sebagai salah satu penemuan teknologi abad 20 yang sudah menjadi bagian hidup orang di abad 21. Bisa dibayangkan bahwa apapun yang ada di dunia ini sekarang tergantung pada internet dan karena itu orang atau negara yang kurang bisa menggunakan internet perlahan-lahan akan tertinggal dalam segi ekonomi, pengetahuan, kesehatan dan sebagainya.

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia makin lama makin pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Malahan, dengan kemajuan teknologi, manusia lebih mudah tersesat kedalam berbagai pengajaran yang bisa dijumpai melalui internet. Melalui Youtube misalnya, orang bisa menonton berbagai pembicara yang mengaku Kristen tetapi hanya mengajarkan tradisi dan budaya lama yang bisa dijumpai dalam Alkitab, tetapi bukan apa yang perlu digunakan untuk menjalani hidup baru dalam Kristus. Banyak di antara mereka yang menampilkan berbagai ajaran yang lain daripada yang lain, hanya untuk menarik perhatian publik agar mereka di anggap sebagai hamba Tuhan yang benar. Mungkin saja mereka justru adalah serigala yang menyamar sebagai domba (Matius 7: 15).

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati. Kita hidup untuk belajar dari Kristus dan untuk menjadi seperti Dia dalam segala hal yang baik.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar berita atau menyaksikan peristiwa yang luar biasa yang dialami seseorang? Apakah anda mengagumi seseorang yang seolah adalah orang yang paling benar dan paling bijaksana di dunia? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Sulitkah anda membedakan mana yang asli dan mana yang palsu?

Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaranNya ditegakkan, dan apakah kasih kepada Tuhan dan sesama sudah diutamakan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Berhati-hati dalam hidup

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis, yang dengan kelicikannya sudah membuat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umatNya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktek toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini.

Diantara berbagai ajaran diluar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran manusia yang berkembang.

Memang di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, dengan menjalankan aturan-aturan budaya historis, yang membuat orang bergantung pada tradisi dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan dimana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasihNya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat dimana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh kedalam dosa dan menolak Tuhan.

Hari ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apapun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firmanNya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Belajar untuk masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Tidak dapat disangkal bahwa adanya pandemi sudah membuat hidup manusia dimana pun menjadi kacau balau. Mungkin banyak orang yang belum pernah menyaksikan atau mengalami hal seperti ini sebelumnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa kebanyakan orang hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan, dan mencoba-coba mencari jalan keluar dari kesulitan yang ada. Dalam hal ini, mereka yang bijaksana akan mau belajar dari keadaan dan dari orang lain agar bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain. Mereka yang muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyainya, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno dimana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segalanya.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman.  Setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit bagi mereka untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Tambahan lagi, mereka mungkin cenderung memilih tindakan yang bisa menguntungkan diri sendiri. Dalam hal ini, mereka segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dianggap salah, atau tidak ingin diingatkan bahwa tingkah lakunya kurang baik.

 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan.