Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Jangan terombang-ambing

“Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Efesus 4: 14

Akhir pekan ini cuaca benar- benar kurang baik untuk mereka yang mengunjungi Brisbane dan Gold Coast. Hujan dan angin keras menerpa kota-kota itu sehingga banyak orang yang memilih untuk tinggal di rumah saja. Memang daerah sepanjang pantai terkadang mengalami angin keras (gale) untuk beberapa hari dalam setahun. Yang sekarang terjadi masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan angin keras tahun lalu, yang membuat karam beberapa perahu.

Jika adanya angin keras adalah gejala alam yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara, ayat diatas mengingatkan kita akan bahaya angin pengajaran yang ditiupkan oleh berbagai orang yang dianggap sebagai guru-guru kerohanian. Jika pada zaman rasul Paulus, kebingungan sering terjadi karena gereja masih berusia usia muda, sekarang itu gampang terjadi karena majunya komunikasi dan media. Seperti apa yang ditulis Paulus, sebagian dari pengajaran rohani yang ada hanyalah permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

Bagaimana kita harus menghadapi keadaan yang membingungkan saat ini? Apa pedoman kita untuk tidak terombang-ambing dalam berbagai pengajaran kerohanian yang keliru? Ada beberapa pedoman, diantaranya:

  1. Ajaran yang benar selalu berdasarkan Alkitab dan mengakui bahwa Allah adalah Tritunggal dan Yesus adalah Juruselamat manusia.
  2. Ajaran yang benar tidak berubah-ubah dengan datangnya iluminasi atau ilham baru yang datang dari Tuhan, yang lain dari apa yang ada dalam Alkitab.
  3. Ajaran yang benar adalah ajaran yang menyampaikan kabar baik yaitu penebusan dosa manusia yang percaya, dan bukan menyebarkan rasa takut, kegundahan dan kekacauan diantara umat Kristen.
  4. Pengajaran rohani yang benar bukan untuk mencari kemuliaan diri sendiri atau untuk mencari keuntungan atau penghasilan.
  5. Ajaran yang baik akan mempersatukan jemaat dan bukannya memecah belah keutuhan gereja.
  6. Mereka yang mengajarkan apa yang benar tidak terpengaruh oleh pendapat atau kebiasaan masyarakat zaman sekarang. Ajaran mereka juga tidak dipengaruhi oleh suasana politik yang ada.
  7. Pengajar yang baik adalah orang-orang yang menjalankan hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Apa yang di mulut, sama di hati.

Pagi ini kita mungkin bisa merasakan kencangnya angin yang berusaha mengombang-ambingkan iman kita. Jika kita adalah orang Kristen yang sudah dewasa, kebijaksanaan yang Tuhan berikan kepada kita tentunya sudah cukup untuk bisa membuat kita untuk bisa berdiri teguh. Walaupun demikian, jika angin masih terasa sangat kuat, kita tetap bisa berharap pada pertolongan Tuhan.

Tuhan yang sudah memberikan bimbinganNya kepada rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, guna memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai sekarang tetap mau membimbing kita semua, untuk mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 11 – 13).

Jangan lupakan berkat Tuhan

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Mazmur 103: 2

Adakah orang yang mengucapkan terima kasih tanpa sebab? Di dunia barat, ada ungkapan bernada sarkastik “thanks for nothing” atau “terima kasih untuk tidak adanya bantuan” yang diucapkan untuk menyindir orang yang diharapkan untuk membantu, tetapi ternyata tidak membantu sama sekali. Kebalikan dari kata ini, ada ucapan “thanks for everything” atau “terima kasih atas segalanya”, yang bisa dipakai untuk mengucapkan terima kasih atas berbagai macam pemberian yang sulit untuk disebut satu persatu, atau untuk sekedar basa-basi.

Bagi umat Kristen, sudah tentu kita tidak akan mengucapkan “thanks for nothing” kepada Tuhan, karena Tuhan selalu memberikan berbagai hal yang baik kepada umatNya. Umat Kristen mungkin lebih sering berdoa dan mengucap syukur atas segala berkat Tuhan. Paling tidak, dengan mensyukuri segala berkatNya secara ombyokan, kita tidak perlu mengingat-ingat dan menyebut apa saja yang sudah kita terima dalam hidup kita.

Untuk menghemat waktu, memang dalam doa pribadi orang cenderung untuk tidak berdoa panjang-panjang. Dengan demikian, bersyukur atas “segala sesuatu” sering dilakukan tanpa mengingat-ingat berkat-berkat Tuhan satu persatu. Berbeda dengan doa permohonan yang seringkali panjang lebar, doa syukur mungkin pendek saja. Pertanyaannya dalam hal ini, cukupkah kita bersyukur tanpa mengingat apa saja yang sudah dilakukan Tuhan kepada kita pada saat yang lalu? Perlukah kita untuk selalu ingat akan semua berkat Tuhan yang pernah datang selama hidup kita? Cukupkah bagi kita untuk merasa bahwa Tuhan itu baik?

Ayat diatas mengajarkan kita untuk selalu memuji Tuhan dan untuk tidak melupakan segala kebaikanNya. Sebuah lagu bertema serupa ditulis oleh Johnson Oatman pada tahun 1897, dan sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Sebagian syair lagu “Hitung berkatmu” berbunyi:

Bila topan k’ras melanda hidupmu

Bila putus asa dan letih lesu

Berkat Tuhan satu-satu hitunglah

Kau niscaya kagum oleh kasih-Nya

Berkat Tuhan mari hitunglah

Kau kan kagum oleh kasih-Nya

Berkat Tuhan mari hitunglah

Kau niscaya kagum oleh kasih-Nya

Jelas bahwa kita harus bersyukur kepada Tuhan untuk semua berkatNya, for everything. Tetapi, lebih dari itu kita harus bisa dan mau untuk mengingat berkat Tuhan satu persatu untuk kebaikan diri kita sendiri. Berkat Tuhan sudah dilimpahkan dalam hidup kita pada saat-saat kita membutuhkannya, dan juga sampai saat ini, datang tiap-tiap hari. Dengan mengingat semua berkat Tuhan, terutama berkatNya yang membawa kita kepada keselamatan, kita akan selalu kuat menghadapi semua tantangan hidup sebab kita akan diyakinkan oleh kasihNya.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Jangan salah pilih

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” 1 Yohanes 4: 1

Baru-baru ini muncul berita viral dalam sosmed bahwa ada kejadian luar biasa yang muncul di suatu daerah. Berbagai komentar disampaikan, dan sebagian orang menghubungkan peristiwa ini dengan suatu pertanda dari Tuhan. Memang, bagi mereka yang kurang memahami gejala alami, kejadian yang langka seperti ini sering dikaitkan dengan hal yang ilahi. Padahal, kejadian yang dinamakan sun dog ini tidak lain adalah refleksi matahari yang dipantulkan sekelompok awan yang mengandung butir-butir es di angkasa.

Dalam hidup manusia di dunia memang ada berbagai kejadian yang tidak atau belum bisa dijelaskan. Bagaimanapun pandainya manusia, selalu ada hal-hal yang membuat mereka mengeleng-gelengkan kepala. Tidak hanya hal-hal yang jasmani, tetapi juga dalam segi rohani orang bisa melihat atau merasakan sesuatu yang luar biasa pada saat-saat tertentu dalam hidupnya. Dalam hal ini, setiap orang tentunya bebas untuk memilih untuk percaya atau tidak bahwa itu benar-benar peristiwa yang luar biasa. Believe it or not.

Dalam ayat diatas, rasul Yohanes menulis bahwa sebagai tanda makin dekatnya akhir zaman, ada banyak orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan pergi ke seluruh dunia. Mereka seolah membawa pesan atau injil baru kepada dunia dan melakukan berbagai hal yang ajaib. Orang-orang yang terpesona dengan pengajaran yang kelihatannya luar biasa, apalagi jika diiringi mujizat yang lebih besar dari apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dengan mudah akan percaya bahwa mereka sudah menemukan sesuatu yang benar-benar dari Tuhan.

Manusia sering tidak sadar bahwa apa yang didengar dan dilihat belum tentu benar. Jika iblis menipu manusia, ia bisa memakai berbagai cara dan ilusi. Kita dalam keterbatasan yang ada, mudah tertipu dengan apa yang nampaknya benar, istimewa dan indah. Apalagi, jika kita terbuai dengan keyakinan bahwa ada orang-orang yang diberi kemampuan dan pengertian yang luar biasa, kita kemudian mudah percaya bahwa Tuhanlah yang mengutus mereka.

Pagi ini mungkin kita bisa melihat bahwa ada banyak hal yang terlihat luar biasa yang dilakukan orang-orang di sekitar kita. Ada yang terlihat hebat dalam kepemimpinan mereka. Ada juga yang sepertinya luar biasa dalam hal kebijaksanaan, kedermawanan, dan kesuksesan. Selain itu, ada orang-orang yang mampu memberi motivasi dan nasihat yang membawa semangat baru. Begitu juga ada banyak orang yang bisa berkhotbah dan membawakan firman yang bernada baru dan melakukan berbagai mujizat. Bagaimana kita bisa tahu kalau itu dari Tuhan? Bagaimana kita bisa menghindari jebakan kepalsuan?

Mereka yang benar-benar bisa melakukan pekerjaan Tuhan adalah orang-orang yang sudah diselamatkan melalui pengurbanan Kristus. Setiap manusia yang nampaknya bisa melakukan hal yang hebat dan baik tetapi tidak mempunyai Kristus, ia melakukan hal-hal duniawi untuk dirinya sendiri. Apa yang diperbuatnya bukanlah apa yang dilakukan Kristus melalui dirinya. Sebaliknya, mereka yang sudah dimiliki Roh Kristus, menjadi milik Kristus; dan karena itu, apa yang diperbuat dalam hidupnya, sekalipun nampaknya kecil, adalah dari Kristus dan untuk kemuliaan Kristus. Mereka yang mempunyai Roh Kristus juga akan sadar bahwa Yesus datang ke dunia sebagai manusia dengan segala kesederhanaanNya. Karena itu, orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus tetapi filsafat hidupnya berbeda dengan Kristus, bukanlah murid Kristus yang sejati.

“Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.” 1 Yohanes 4: 5

Ajarlah aku untuk mau mendengar

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Matius 11: 15

Ucapan “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” muncul beberapa kali dalam Alkitab Perjanjian Baru. Tuhan Yesus sendiri agaknya sering mengucapkannya untuk mengingatkan pentingnya apa yang diucapkanNya.

Pada umumnya, secara normal, untuk mendengar suara kita tidak memerlukan usaha khusus. Mereka yang tidak terganggu pendengarannya tentu bisa mendengar suara orang lain. Tetapi, banyak orang yang seharusnya mendengar, tidak dapat menangkap atau menanggapi apa yang didengarnya. Masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan, kata peribahasa.

Memang ada orang yang mempunyai kemampuan untuk menyeleksi apa yang akan didengarnya. Apa yang disukai akan didengar, apa yang tidak disukai akan dilupakan. Selective hearing, itulah istilahnya. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang biasa mendengarkan suara yang keras, dan karena itu terganggu pendengarannya. Selain itu, semua orang akan berkurang pendengarannya seiring dengan bertambahnya usia. Senile deafness.

Apa yang dimaksudkan oleh Yesus, sudah tentu bukan soal mendengarkan suara secara jasmani. Dalam konteks Firman Tuhan, pendengaran kita tidak ditentukan oleh keadaan jasmani kita, tetapi oleh kerohanian kita. Dalam hal ini, mereka yang tidak mempunyai pendengaran jasmani yang baik, tetap bisa mendengar suara Tuhan secara rohani. Dan sebaliknya, mereka yang sehat jasmaninya mungkin tuli secara rohani.

Pada waktu Samuel masih kecil, ia hidup bersama nabi Eli. Pada suatu malam, Samuel mendengar namanya dipanggil. Samuel mengira bahwa Eli memanggilnya dan karena itu ia pergi ke kamar Eli. Dua kali Tuhan memanggil, dua kali Samuel lari ke kamar Eli, hanya untuk menerima jawaban Eli bahwa ia tidak memanggil Samuel. Pada kali yang ketiga, Eli yang sudah tua dan mulai buta itu mengerti bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel. Karena itu, ia menyuruh Samuel untuk memohon agar Tuhan berbicara sebab Samuel siap untuk mendengar. Itulah yang kemudian dilakukan Samuel; dan karena ia mendengar nasihat Eli, ia kemudian bisa mendengar suara Tuhan.

Untuk mengerti dan menyadari suara Tuhan, memang kita harus membiasakan diri. Dengan adanya banyak pergumulan dan pengalaman, Eli bisa mengerti apa yang terjadi. Sebaliknya, Samuel yang masih kecil belum pernah mendengar suara Tuhan atau mendapat penglihatan sebelumnya. Samuel harus mau mendengar nasihat Eli untuk bisa mendengarkan suara Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi tugas sehari-hari. Pikiran kita sudah penuh dengan berbagai hal dan telinga kita sudah mendengar hiruk-pikuk kehidupan disekeliling kita. Dalam keadaan yang sedemikian, sulitlah bagi kita untuk mendengar suara Tuhan. Tanpa kemauan untuk secara selektif mematikan suara-suara yang membingungkan, kita tidak akan bisa menyadari bahwa Tuhan menunggu kita untuk menjawab panggilanNya. Dalam keadaan apapun, baik suka maupun duka, sehat ataupun sakit, usia muda maupun tua, Roh Kudus ada didalam hidup kita dan menantikan respons kita. Seperti Samuel, kita seharusnya menjawab dengan tulus hati.

“Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Samuel 3: 10).

Apakah malapetaka selalu terjadi karena dosa?

Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat baru-baru ini membuat banyak orang kuatir. Sampai saat ini, sains belum bisa memastikan kapan datangnya gempa dan seberapa besarnya. Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.

Apa yang dirasakan banyak manusia jika malapetaka terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah nabi Yunus dalam perahu yang dilanda topan. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa malapetaka yang luar biasa dengan seijin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya malapetaka adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan malapetaka akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  1. Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  2. Malapetaka selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  3. Malapetaka hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umatNya. Manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang jahat maupun yang baik, bisa menerima berkat Tuhan seperti sinar matahari. Karena itu, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan.

Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan berjalan dalam kebenaran menuju kearah keselamatan yang sebelumnya mungkin tidak disadari.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 28

Kita adalah duta besar kerajaan Allah

Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Membaca berita yang muncul di koran atau di TV pada zaman ini mungkin seringkali membuat kita menghela nafas atau menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Apa yang diberitakan biasanya adalah hal-hal yang jelek dan jahat, sedangkan hal-hal yang baik biasanya kurang ditonjolkan. Lebih dari itu, orang-orang yang dimunculkan dalam berita seringkali adalah mereka yang perbuatan, perkataan dan hidupnya kurang bisa ditiru. Sayang, banyak diantara mereka mengaku atau dikenal sebagai orang Kristen.

Mengapa orang senang menonton dan membaca berita-berita “miring” tentang orang-orang lain? Mungkin karena hal-hal itu bisa dijadikan bahan pergunjingan. Memang membicarakan kejelekan dan kebodohan orang lain itu mempunyai daya pikat tersendiri. Tetapi, jika kita sendiri yang menjadi bahan pergunjingan masyarakat, itu bisa membawa rasa tidak enak dan malu. Kecuali jika kita sudah terbiasa dalam melakukan hal yang kurang baik, dan tidak lagi peka atas komentar orang lain.

Dalam ayat diatas, rasul Paulus menulis agar para pengikut Yesus bisa menjadi contoh yang baik untuk semua orang, terutama bagi kaum muda, dalam hal menguasai diri. Semua orang Kristen seharusnya hidup jujur dan memberi teladan kepada orang lain dengan cara hidup dan kelakuan yang sehat dan tidak bercela. Hidup mereka seharusnya justru membuat orang lain menjadi malu karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat disebarkan dan dipergunjingkan.

Adalah kenyataan, bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang mendapat sorotan masyarakat di sekeliling kita. Bermula dari cara hidup dalam keluarga, sekolah, dan tempat pekerjaan, sampai apa yang kita lakukan di tempat lain, baik secara nyata maupun maya, semuanya memungkinkan datangnya komentar yang baik atau buruk dari orang lain.

Jika seseorang mendapat malu karena perbuatan atau sifat buruknya, itu adalah sudah sepantasnya. Tetapi banyak orang yang tidak lagi merasa malu atau terpengaruh atas komentar orang lain. Aku adalah aku, itu judul sebuah lagu terkenal. I am what I am. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku merasa damai dengan diriku sendiri.

Bagi kita orang Kristen, hidup kita sebenarnya bukanlah milik kita lagi. Oleh sebab itu, jika kita melakukan hal yang tercela, nama Tuhan ikut dipermalukan. Mungkin kita tidak melakukan hal yang buruk dengan sengaja, mungkin kita hanya terbawa suasana atau kurang waspada. Tetapi pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah duta besar kerajaan surga untuk dunia. Karena itu kita tidak boleh mempermalukan Dia yang sudah mengutus kita.

Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 15 – 16

Apakah kasihNya sama untuk setiap orang?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sebenarnya sukar untuk dijawab. Secara teologi, pertanyaan ini sudah banyak diperdebatkan. Tetapi, untuk hidup sehari-hari, ada baiknya untuk kita renungkan dan simak.

Sebagian orang Kristen akan menjawab pertanyaan diatas dengan “ya”, karena kasih Tuhan yang memelihara dunia dan isinya, dan bahkan seluruh jagad raya. Tanpa penciptaan dan pemeliharaan (providensia) Tuhan, dunia ini akan kacau balau jadinya.

Tuhan memang mahakasih dan mahaadil, karena itu Ia memberikan kesempatan bagi seluruh umat manusia untuk bisa hidup, bekerja dan bermasyarakat dengan menggunakan semua berkatNya. Seluruh umat manusia diberi kesempatan yang sama untuk bisa menikmati apa yang sudah diciptakanNya di alam semesta. Ini jugalah salah satu yang mendorong manusia untuk menerapkan prinsip keadilan dalam sebuah negara.

Yesus dalam menyatakan hukum yang kedua, berkata:

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22: 39

Dalam hal ini, jelas bahwa umat Kristen harus mengasihi sesamanya, baik mereka yang seiman maupun yang belum menerima Yesus sebagai Juruselamat. Kita harus mengasihi sesama kita, dan bukan hanya orang-orang tertentu, seperti Tuhan yang sudah mengasihi seluruh ciptaanNya.

Walaupun kasih Tuhan itu mahabesar, keadilanNya mengharuskan semua umat manusia yang sudah jatuh dalam dosa untuk menerima hukuman yang setimpal. Dalam hal ini, Tuhan tetap menunjukkan kasihNya kepada seisi dunia (kosmos) dengan mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan mereka yang mau percaya kepadaNya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Sekalipun Tuhan itu senang melihat seluruh ciptaanNya (Kejadian 1: 31), Ia mengasihi manusia lebih dari yang lain. Ia memberikan mandat kepada Adam dan Hawa untuk memelihara segala yang ada (Kejadian 2: 15). Tuhan yang mahakasih ternyata membeda-bedakan kasihNya. Dari awalnya, Tuhan mengasihi mereka yang bisa taat kepadaNya dan memuliakanNya. Tuhan memang menciptakan manusia menurut gambarNya untuk kemuliaanNya.

Jika Tuhan lebih mengasihi manusia daripada hewan dan tumbuhan atau apapun yang diciptakanNya, itu menunjukkan bahwa Tuhan menghargai hubungan mesra yang seharusnya selalu ada antara manusia dan Tuhan. Dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, tidak semua manusia bisa merasakan pentingnya hal itu. Sekalipun di kalangan orang percaya, tidak semuanya sadar bahwa Tuhan lebih menghargai mereka yang taat dan dekat kepadaNya. Obedience is the key to God’s heart, ketaatan manusia adalah kunci hati Tuhan.

Umat Kristen adalah bagian tubuh Kristus. Oleh sebab itu, Tuhan lebih mengasihi mereka yang taat kepadaNya daripada mereka yang hidup menurut jalan mereka sendiri. Ia selalu memelihara, mengasuh dan merawat umatNya, baik dalam suka maupun duka.

Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” Efesus 5: 29 – 30

Pagi ini, jika hati kita bertanya-tanya, apakah Tuhan mencintai umatNya lebih dari orang lain, kita tahu apa jawabnya. Mungkin kita heran mengapa mereka yang hidupnya ugal-ugalan, justru terlihat nyaman dan jaya. Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh melalui hubungan yang baik denganNya. Kepada yang taat kepadaNya, Ia adalah Tuhan yang sanggup dan siap untuk melimpahkan damai sejahtera dalam hidup mereka.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27