Hal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

“Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” Efesus 5: 28-30

Adanya pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini telah membawa berbagai dampak yang tidak hanya menyangkut kesehatan, pendidikan dan pekerjaan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Salah satu dampak yang kurang diketahui umum adalah meningkatnya tingkat keparahan dan frekuensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mengapa begitu? Mungkin karena adanya berbagai bentuk PPKM, kebanyakan orang terpaksa tinggal di rumah terus; dan karena keadaan ekonomi yang buruk, orang lebih mudah untuk bertengkar.

Tragisnya, kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di mana saja, bahkan di rumah-rumah orang Kristen. Tragedi ini diperparah oleh fakta bahwa banyak orang Kristen yang menjadi korban pelecehan pasangan, telah diyakinkan bahwa perceraian bukanlah respons yang diizinkan Tuhan. Akibatnya, banyak orang yang menderita berbagai bentuk pelecehan dalam pernikahan mereka selama bertahun-tahun.

Kekerasan dalam rumah tangga adalah tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan rumah tangga. Yang merupakan lingkup tindakan KDRT adalah perbuatan terhadap seseorang, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban yang justru sebaliknya. Tidak semua tindakan KDRT dapat ditangani secara tuntas karena korban sering menutup-nutupi dengan alasan ikatan struktur budaya, tabu, agama, dan belum dipahaminya sistem hukum yang berlaku.

Secara umum, KDRT sering timbul karena istri yang tidak berada dalam posisi yang setara, baik secara fisik, pendidikan maupun ekonomi, sehingga harus hidup bergantung pada suami. Yang bisa memperburuk situasi ialah adanya masyarakat tertentu yang menganggap bahwa laki-laki harus kuat, berani serta tegas. Selain itu, pengertian keliru terhadap ajaran agama bisa menimbulkan anggapan bahwa laki-laki boleh dan malahan harus bisa menguasai perempuan. Oleh sebab itu, KDRT sering dianggap bukan sebagai permasalahan sosial, tetapi persoalan pribadi dalam hubungan suami istri.

Orang Kristen tentunya harus menjunjung tinggi integritas pernikahan sebisa mungkin, dan dalam hal ini ayat di atas menyatakan bahwa seorang suami harus bisa mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri. Lalu bagaimana jika lasih yang diharapkan itu tidak ada, dan sebaliknya hanya kekerasan fisik, mental atau penguasaan semena-menalah yang dialami? Bolehkah seorang istri meninggalkan suaminya karena mengalami pelecehan yang terus menerus?

Tuhan membenci perceraian, dan itu bukan bagian dari rancangan-Nya untuk pernikahan (Kejadian 2:24; Maleakhi 2:16). Namun demikian, Alkitab menyajikan kasus-kasus di mana perceraian diperbolehkan. Dalam Perjanjian Baru, dua pengecualian eksplisit terhadap aturan umum yang menentang perceraian yaitu (1) perzinahan (Matius 5:3 2; 19: 9) dan (2) ditinggalkan oleh pasangan yang tidak percaya (1 Korintus 7:15). Tapi apakah dua hal ini saja yang memberi pengecualian? Apakah adanya KDRT bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk bercerai?

Perjanjian Baru tidak menyatakan apapun mengenai kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan untuk melakukan perceraian, meskipun menjelaskan apa saja yang Allah harapkan dari sebuah pernikahan (Efesus 5: 22-33). Kekerasan bertentangan dengan kehendak Tuhan atas perkawinan manusia. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak bermoral dan tidak bisa ditoleransi oleh siapa pun. Tidak ada seorang pun yang diharuskan untuk tetap tinggal di lingkungan yang berbahaya, yang secara cepat atau lambat akan menghancurkan atau mematikan seseorang secara jasmani atau rohani.

Karena Alkitab tidak mencantumkan kekerasan rumah tangga sebagai alasan bagi seseorang untuk bercerai, kita harus sangat berhati-hati dan membatasi nasihat/anjuran mengenai kasus KDRT. Jika dalam keluarga ada anak-anak, mereka juga harus ikut dilindungi dari ancaman/bahaya yang ada. Adalah hal yang baik jika mereka yang mengalami kekerasan untuk memisahkan diri, setidaknya untuk sementara waktu, dari para pelaku kekerasan. Pada kenyataannya, melindungi diri sendiri dan anak-anak merupakan hal yang benar secara moral dan harus dilakukan secepatnya. Selain itu, tindakan apa lagi yang bisa dilakukan setelah itu?

Perlu diingat, walaupun Allah kelihatannya hanya mengijinkan perceraian dengan dua alasan di atas, kondisi itu tidak secara otomatis memulai proses perceraian. Perceraian selalu menjadi jalan yang terakhir. Dalam kasus perselingkuhan, akan lebih baik bagi suami-istri Kristen tersebut untuk melakukan rekonsiliasi daripada bercerai. Lebih baik untuk memberikan pengampunan dan memberikan kasih yang Allah telah berikan kepada kita dengan cuma-cuma:

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kolose 3: 13-14

Walaupun dmikian, rekonsiliasi dengan pelaku kekerasan adalah hal yang berbeda dengan pelaku dua pelanggaran lainnya. Rekonsiliasi dengan pasangan yang suka melakukan kekerasan bergantung sepenuhnya pada kesungguhan dan kemampuan si pelaku untuk berhenti melakukan kekerasan, yang mungkin bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun – jika itu memang bisa sepenuhnya terjadi. Pemisahan dari pasangan yang suka melakukan kekerasan cenderung berlangsung cukuppanjang dan sering mengakibatkan tragedi pada pihak yang lebih lemah, jika mereka tidak mendapat perlindungan hukum. Itu sering terjadii jika pihak yang berwenang dan gereja tidak menyadari keadaan yang ada atau tidak mau ikut campur.

Sebenarnya, ada sejumlah “tanda-tanda bahaya” yang bisa diuji sebelum seseorang memasuki hubungan pernikahan. Sayangnya, indikator ini bisa saja tidak terlihat hingga pernikahan sudah berlangsung, karena banyak pelaku kekerasan terampil menyembunyikan sifat asli mereka. Hal-hal yang harus membuat kita waspada misalnya saja: kecemburuan yang irasional, kebutuhan untuk mengendalikan, cepat marah, kejam terhadap hewan, berusaha mengisolasi pasangannya dari teman-teman dan keluarganya, ada penyalahgunaan obat atau alkohol, ataupun tidak menghormati batasan, privasi, ruang pribadi, atau nilai-nilai moral. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita berkewajiban untuk memperingatkan mereka yang mau menikah untuk membuka mata atas kemungkinan adanya tanda-tanda itu.

Setiapp orang Kristen sudah dikarunia Roh Kudus yang bisa membimbing mereka agar mengerti akan maksud ayat di atas, dan benar-benar awas akan sifat, kelakuan dan penampilan calon pasangannya sebelum mengambil keputusan. Mereka harus sadar, jika hubungan suami dan istri tidak dapat meniru hubungan kasih antara Kristus dan jemaat-Nya, besar kemungkinan hubungan itu akan membuka kesempatan bagi tindakan kekerasan dan paksaan. Orang tidak boleh berpandangan bahwa Tuhan sudah menentukan orang yang disukainya untuk menjadi pasangannya. Kita harus sadar bahwa memilih jodoh adalah tanggung jawab manusia. Setiap orang harus bijaksana dalam mencari jodohnya.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa pernikahan antara seorang pria dan wanita adalah suatu hubungan yang melambangkan hubungan Kristus dan jemaat-Nya. Hubungan yang berlandaskan kasih dan kemauan untuk saling berkurban. Adanya kekerasan dalam pernikahan dengan demikian adalah suatu hal yang dibenci Tuhan, dimana seorang sengaja bertindak semena-mena terhadap pasangannya. Kekerasan dalam rumah tangga harus dihilangkan dari masyarakat dan dari lingkungan yang mengaku adanya Tuhan yang mahakasih.

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus 6:14

Paradoks kehidupan menurut iman Kristen

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11:33

Apa arti paradoks? Menurut kamus, paradoks adalah dua hal yang seolah-olah bertentangan, tetapi dalam kenyataannya dua-duanya benar. Ada beberapa paradoks dalam iman Kristen seperti “Yesus yang turun ke dunia adalah 100% Tuhan dan juga 100% manusia”, dan juga “Tuhan memegang kendali hidup manusia, tetapi manusia bertanggung jawab atas hidupnya”. Jika paradoks yang pertama adalah sulit di mengerti oleh orang yang belum menjadi Kristen, paradoks yang kedua bukanlah sesuatu yang mudah dipahami oleh umat percaya.

Istilah “Tuhan yang mengatur” atau “Tuhan yang menetapkan” adalah frasa yang sering digunakan orang Kristen sebagai slogan mudah diucapkan ketika terjadi hal yang tidak diingini. “Tuhan memegang kendali,” kita berkata ketika seseorang meninggal, ketika kita kehilangan pekerjaan, atau ketika kesehatan kita memburuk. Tapi apa yang dimaksudkan dengan istilah-istilah ini?

Apakah benar bahwa Tuhan menetapkan setiap keputusan, setiap peristiwa; setiap hal yang terjadi, agar semuanya terjadi menurut kehendak-Nya? Bukankah dengan demikian Tuhan sering kali membuat hal-hal yang buruk dan jahat di dunia ini? Apakah Tuhan yang mahasuci bisa mempunyai kehendak yang jahat? Jika seseorang memilih untuk minum terlalu banyak alkohol dan kemudian mengalami kecelakaan mobil sebagai akibatnya, apakah Tuhan yang menentukannya? Jika seseorang tidak bisa membayar tagihan hutang tepat waktu karena ia senang hidup dalam kemewahan, dan karena itu membuatnys terjerat hutang, apakah Tuhan yang membuat itu terjadi? Jika seseorang tidak mau memperbaiki perilaku pribadinya dan belajar mengatasi emosinya dan sebagai akibatnya pernikahannya berantakan, apakah Tuhan yang menetapkan itu?

Tidaklah mengherankan bahwa walaupun ajaran yang menyatakan bahwa “tidak ada yang terjadi tanpa campur tangan langsung dari tangan Tuhan” kelihatannya seperti teologi yang benar, yang menunjang kedaulatan Tuhan, banyak orang Kristen yang tidak percaya akan hal itu. Mereka berpegang erat pada konsep kebebasan dan tanggung jawab manusia seperti yang diucapkan Tuhan kepada Adam dan Hawa di taman Eden (Kejadian 2: 15-17). Kasih Tuhan dinyatakan kepada manusia yang diberi kemampuan untuk memilih tindakan yang baik, yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta (Kejadian 1:26-28). Dengan demikian, sampai sekarang pun kita bisa mengambil keputusan dan memilih bagaimana kita membelanjakan uang kita, bagaimana kita mengendarai mobil kita, siapa yang kita nikahi, dan jalur karir apa yang kita ikuti. Jadi di sinilah letak paradoks teologis yang pelik. Bagaimana kedaulatan Tuhan dan kehendak manusia bisa berjalan berdampingan?

Ini adalah masalah yang sudah lama diperdebatkan umat Kristen. Paulus, dalam pembahasannya tentang paradoks lain yang menyangkut keselamatan orang Yahudi dan bukan Yahudi, menyatakannya sebagai misteri dalam ayat pembukaan di atas. Sekalipun para teolog dalam sejarah telah mencoba untuk mendamaikan hal penetapan Tuhan dan pilihan manusia ini dengan berbagai ulasan, tetapi sampai sekarang masih banyak orang Kristen yang berpendapat bahwa “segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan dan manusia hanya bisa menerimanya” untuk menghindari paradoks yang berupa misteri itu.

Mengenai paradoks ini, sebenarnya ada tiga hal yang dapat kita yakini:

  1. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya: Tuhan tidak mengendalikan kita seperti sebuah robot. Dia yang sudah memberi manusia kebebasan untuk memilih, tidak pernah mengambilnya kembali setelah kejatuhan. Dia masih terus menawarkan kita berkat dan kutuk, opsi antara benar dan salah, dan pilihan antara hidup dan mati. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih melalui Roh-Nya, tetapi tidak menjewer telinga kita untuk memaksa kita untuk memilih apa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, sebagai anak Tuhan, kita harus berusaha mencari kehendak-Nya (Efesus 5: 17),
  2. Tidak semua yang terjadi di dunia adalah kehendak Tuhan: Banyak dari apa yang kita lihat di bumi ini bukanlah kehendak Tuhan. Memang, jika manusia yang sudah jatuh dalam dosa menggunakan akal budinya saja, mereka akan cenderung memilih sesuatu yang tidak baik. Kitab Suci memberi tahu kita dengan jelas bahwa ada “penguasa kerajaan udara” (Efesus 2: 2), musuh jahat yang bermaksud menggagalkan kehendak Tuhan dan yang cukup kuat untuk memengaruhi hidup kita. Lebih lanjut, jika segala sesuatu yang pernah terjadi di bumi adalah kehendak Tuhan, tentunya tidak akan ada alasan bagi kita untuk berdoa; “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Matius 6:10).
  3. Sekalipun keadaan dunia ini kacau,Tuhan tetap memegang kontrol: Tuhan yang memegang kendali(in control) tidak berarti sama dengan Tuham yang mengontrol (controlling). Jika Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa memang mengontrol cara hidup manusia, dari mulanya tidak akan ada orang yang berdosa. Kasih Tuhan menciptakan kemungkinan kebebasan dan dalam kebebasan berarti ada pilihan yang nyata. Dengan demikian, bukan Tuhan yang membuat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Tuhan bukan pencipta kejahatan. Oleh sebab itu, jika kita tidak berhati-hati, penggunaan frasa “Tuhan yang mengendalikan” bisa membuat kita kehilangan semangat untuk memperbaiki keadaan. Itu karena kita menganggap Tuhan bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang kita alami, sementara melalaikan tanggung jawab kita dalam menghadapi persoalan hidup.

Siang ini, mungkin ada baiknya kita meninjau kembali pernyataan bahwa “Tuhan menetapkan apa saja yang terjadi”. Kita harus ingat bahwa memang Tuhan sudah menetapkan siapa yang dipanggil-Nya dan segala hukum alam semesta, tetapi kita bertanggung jawab sepenuhnya atas cara hidup kita. Mungkin kita harus mengartikan frase “Tuhan yang memegang kendali” sebagai “Tuhan yang berdaulat” yang tidak dapat kita bayangkan kebesaran-Nya. Kedaulatan-Nya yang menakjubkan, ajaib dan misterius berarti bahwa ketika kita harus menghadapi pilihan yang memiliki konsekuensi besar, Dia yang mahatahu dapat mengatasi kelemahan kita dan menggunakan hidup kita untuk kemuliaan-Nya. Bahwa sekalipun ada yang terjadi pada hidup kita berada di luar kehendak Allah yang sempurna, Ia tetap mau dan mampu membuat segala sesuatu bekerja untuk mencapai rencana-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”Roma 8: 28

Kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Walaupun sebagian orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa manusia hanya bisa menerima apa yang “sudah ditentukan” Tuhan.

Aiden Wilson Tozer (21 April 1897 – 12 Mei 1963) adalah seorang pendeta Kristen Amerika, penulis yang terkenal, editor majalah, dan pembimbing rohani. Lahir dalam kemiskinan, Tozer belajar sendiri tentang apa yang tidak pernah diperolehnya dari sekolah menengah dan universitas.

Pada tahun 1919, lima tahun setelah pertobatannya dan tanpa pendidikan formal dalam teologi Kristen, Tozer menerima tawaran untuk melayani sebagai pendeta di gereja pertamanya. Itu adalah awal dari 44 tahun pelayanan yang terkait dengan Christian and Missionary Alliance (C&MA), sebuah denominasi Injili Protestan, termasuk 33 tahun melayani sebagai pendeta di beberapa gereja yang berbeda. Untuk prestasinya, ia menerima gelar doktor kehormatan dari perguruan tinggi Wheaton dan Houghton.

Dalam bukunya yang berjudul “Knowledge of the Holy‘, A. W. Tozer mencoba untuk mendamaikan kepercayaan yang tampaknya bertentangan tentang kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia dengan sebuah analogi:

“Sebuah kapal pesiar meninggalkan New York menuju Liverpool. Tujuannya telah ditentukan oleh otoritas maritim yang berkuasa. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Setidaknya ini adalah gambaran samar tentang kedaulatan. Di atas kapal ada banyak penumpang. Mereka tidak dirantai, kegiatan mereka juga tidak ditentukan oleh peraturan. Mereka benar-benar bebas bergerak sesuka mereka. Mereka makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka; tapi sementara kapal besar itu membawa mereka terus maju menuju pelabuhan yang telah ditentukan. Kebebasan dan kedaulatan ada di sini, dan keduanya tidak bertentangan. Begitulah, saya percaya, dengan kebebasan manusia dan kedaulatan Tuhan. Garis besar rancangan Tuhan yang berdaulat mempertahankan jalurnya yang mantap di atas lautan sejarah.”

Analogi di atas adalah cukup terkenal, dan banyak orang Kristen yang mengutipnya. Walaupun demikian, sebagian orang yang lain menolaknya dan memandang bahwa itu tidak tepat untuk menunjukkan hubungan kedaulatan Tuhan dan kehendak manusia dalam kehidupan sehari-hari. Teolog John Piper misalnya, menolak analogi itu dengan alasan bahwa tindakan kita akan mempengaruhi tujuan hidup kita yang sudah ditetapkan Tuhan. Karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan sehari-hari, bagaimana pun kecilnya, sudah ditentukan Tuhan agar kehendak-Nya terjadi. Pada pihak yang lain, teolog R.C Sproul menyatakan bahwa apa pun yang diperbuat manusia adalah tanggung jawab manusia dan Tuhan tetap bisa menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya.

Bagi saya, pandangan apa pun bisa digunakan untuk menggaris bawahi kebenaran ayat di atas tidaklah menjadi masalah selama kedaulatan Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Jika pandangan Piper menekankan perlunya keselarasan tindakan manusia dan kehendak Tuhan untuk memcapai rencana-Nya, pandangan Sproul menyatakan bahwa kedaulatan Tuhan akan mengatasi apa pun yang dilakukan manusia untuk mencapai rencana-Nya. Jika pandangan pertama menggambarkan Tuhan yang berdaulat penuh melalui penetapan untuk segala sesuatu dari awal sampai akhir sebagai kebenaran Tuhan yang mahakuasa, pandangan kedua menyatakan bahwa Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya melalui penetapan Tuhan untuk segala apa yang terjadi, setiap hari dan di mana saja karena Tuhan mahatahu.

Kembali ke analogi dari Tozer, sangat menarik bahwa kapal laut itu digambarkan sebagai kapal yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuannya oleh otoritas yang berkuasa. Ini sebenarnya adalah kenyataan: bahwa setiap cruise ship memang hanya bisa berlayar menuju ke satu tujuan akhir yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah oleh penumpangnya. Berapa pun jumlah uang yang dibayar atau apa pun usaha yang dilakukan penumpang, mereka tidak bisa mengganti tujuan atau mengubah saat tibanya kapal itu. Memang benar mereka bisa makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka. Tetapi, jika ada orang yang mencoba untuk melanggar peraturan kapal yang ada dengan berbuat onar atau melakukan hal-hal yang bodoh, mereka akan dikenakan sanksi atau hukuman yang sepadan. Mereka yang turun ke darat sewaktu kapal mengunjungi tempat-tempat perhentian sepanjang jalan, hanya bisa melakukan tur darat dalam waktu yang sudah ditetapkan. Mereka yang terlambat untuk kembali ke kapal akan ditinggal. Dengan demikian apa yang dianggap sebagai kebebasan adalah kesempatan untuk melakukan sesuatu dalam batasan yang ada. Mereka dapat melakukan apa saja, tetapi harus memikul konsekuensinya karena tujuan kapal itu sudah ditetapkan.

Bagaimana dengan kehendak bebas kita selaku ciptaan Tuhan? Banyak manusia yang merasa bahwa Tuhan tidak berkuasa atas hidup mereka. Ada pula mereka yang berdalih bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya tidak mau membatasi kebebasan manusia. Selain itu, ada juga yang percaya bahwa selama apa yang mereka senangi terus terjadi, itu tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, ada juga orang tidak mau lagi berusaha mencapai apa yang mereka inginkan karena yakin bahwa Tuhan sudah menetapkan apa yang mereka alami. Juga ada orang-orang yang dengan sengaja berusaha mengubah rancangan Tuhan dengan berbuat jahat, melakukan keonaran dan bahkan menyerang kedaulatan Tuhan di dunia.

Hari ini, sebagai manusia kita harus sadar bahwa Tuhan sudah menentukan tujuan kapal kehidupan kita. Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana memberi manusia kesempatan untuk menikmati hidupnya selama di dunia. Mereka diberi-Nya kebebasan untuk menjalani hidup mereka, tetapi dalam batasan yang telah ditentukan-Nya melalui firman-Nya. Tuhan juga sudah memberikan Roh Kudus yang membimbing setiap umat-Nya agar mereka dapat menggunakan kebebasan mereka dengan cara yang benar. Kebebasan manusia akan membawa kebahagiaan rohani jika manusia tunduk kepada hukum Tuhan. Sebaliknya, kebebasan yang digunakan semaunya sendiri akan dihadapi oleh Tuhan yang akan menegur, mengubah dan bahkan menghukum manusia yang merasa bahwa kehendak bebasnya ada di atas kedaulatan Tuhan.

Bukan menyerah tapi bertekun

“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 10 – 11

Bagi sebagian orang, hidup ini agaknya seperti sebuah perjuangan yang tidak ada habisnya Bahkan hidup ini sering menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk bisa dinikmati. Sejak kejatuhan manusia di taman Eden, memang dunia ini menjadi penuh rintangan dan tantangan bagi seluruh umat manusia. Semua yang terjadi dalam hidup ini terasa seperti takdir yang tidak bisa dihindari. Karena itu, tidaklah heran bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang patah hatinya dan hancur semangatnya. Mungkin itu disebabkan oleh kegagalan rumah tangga, karir atau usaha; atau mungkin juga karena faktor kesehatan dan keuangan. Walaupun demikian, dalam ayat di atas, rasul Yakobus menulis bahwa ada orang-orang yang sudah mengalami penderitaan berat tetapi karena kesabaran mereka, bisa menjadi teladan bagi kita. Itu karena mereka yang telah bertekun, akhirnya memperoleh pertolongan dari Tuhan.

Bertekun dalam menghadapi masalah, penderitaan dan tantangan lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Memang, untuk mengambil teladan dari penderitaan orang lain tidaklah mudah. Penderitaan yang kita alami sering kali sulit dibandingkan dengan penderitaan orang lain. Kita mungkin dapat mengerti bahwa apa yang dialami Ayub adalah suatu yang sangat berat, tetapi Ayub adalah orang yang luar biasa imannya. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi tantangan hidup, kita sering merasa bahwa apa yang terjadi sudah terlalu berat untuk kita, sekalipun dalam hati kita tahu bahwa Tuhan tentunya tidak membiarkan kita mengalami sesuatu yang melebihi kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Kita mungkin percaya bahwa Tuhan pada saatnya akan memberikan jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya, tetapi jika itu tidak juga datang setelah lama menunggu-nunggu, harapan kita pun bisa menjadi pudar. Lebih lanjut, dalam menghadapi penderitaan, apa yang diperoleh orang lain setelah mereka menderita mungkin saja tidak cukup memikat diri kita. Para rasul yang sudah bertekun dalam iman dan tetap bekerja dalam menantikan kedatangan Tuhan, kemudian banyak yang menemui ajalnya dengan cara yang mengerikan. Tidaklah mengherankan, jika penderitaan kita sudah tidak tertahankan, apa yang sering muncul adalah keinginan agar kita dibebaskan dari derita itu. Sekarang juga. Tetapi jika itu tidak terjadi, apakah yang bisa kita pakai untuk tetap bertahan dalam hidup? Karena itu, mungkin kita merasa lebih mudah jika kita pasrah.

Hari ini dalam kita membaca ayat-ayat di atas, satu hal yang terlihat adalah hakikat Tuhan yang penyayang dan penuh belas kasihan. Tuhan yang setia dalam kasih-Nya. Karena itu, kita bisa percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa senantiasa berjalan menyertai kita dalam menghadapi semua masalah, dan tidak pernah meninggalkan kita. Jika tidak ada hal lain yang bisa membuat kita tetap tabah, inilah sumber kekuatan dan ketekunan kita dalam berjuang menghadapi tantangan hidup!

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6

Tuhan memegang kendali kehidupan

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Ayat di atas sering dipakai untuk menekankan bahwa Tuhanlah yang menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia dari awalnya. Semua itu sudah ditentukan, dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun begitu, pengertian seperti itu sebenarnya kurang tepat. Ayat itu memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi bukan dalam konteks “nasib”. Hari baik adalah hari di mana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari di mana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan. Keduanya dimungkinkan oleh Tuhan, agar manusia mau sadar akan kuasa Tuhan dan mencari kehendak-Nya selama hidup di dunia.

Memang setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor, apalagi di saat pandemi Covid-19 ini sedang berlangsung.

Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Adakah hari baik dan hari buruk bagi mereka? Tentu! Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari boss, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian.

Pengkhotbah dalam ayat di atas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan apa yang terjadi sering kali membuat kejutan karena ada di luar dugaan mereka.

Mereka yang selalu berhati-hati dalam hidup, biasanya selalu merencanakan segala tindakan dengan seksama. Pengalaman mereka di masa lalu mungkin memberi keyakinan bahwa sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan, mereka mempunyai semangat dan kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan. Masa depan ada di tangan kita sendiri, begitu mungkin pikiran sombong mereka.

Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan apa yang terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan sebenarnya tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus mencari kehendak-Nya dalam bekerja dan berusaha.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14.

Adanya Tuhan yang mahakuasa bukanlah alasan untuk kita menyerah kepada nasib, seolah Tuhan tidak menghargai jerih payah kita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh padam semangat dalam bekerja dan dalam menjalani hidup. Tuhan membenci orang yang malas dan menyerah kepada keadaan. Tuhan juga tidak menyenangi orang yang tidak pernah menganalisa cara hidupnya dan menganggap kegagalannya sebagai tindakan, penentuan, atau hukuman dari Tuhan.

Pagi ini, kembali kita diingatkan bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu bersyukur dan mau menyerahkan masa depan kita sepenuhnya ke dalam bimbingan kasihNya.

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Menyadari kebesaran Tuhan melalui penderitaan

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19

Sejak adanya pandemi Covid-19 banyaklah orang yang mengalami berbagai masalah kejiwaan. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang bisa dialami masyarakat di negara mana pun. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat modern hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Dan mereka yang sudah bekerja keras tetapi tetap mengalami kesulitan sering merasa bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup seperti ini, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka (Ayub 1: 13 – 20), tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1: 21).

Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati? Tidakkah ia merasa bahwa Tuhan adalah Oknum yang kejam dan semena-mena? Tuhan sudah mempermainkan hidupnya!

Ayat pembukaan dari 1 Petrus 2: 19 menyebutkan bahwa adalah kasih karunia, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan duniawi yang tidak harus ia tanggung. Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendak-Nya.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman. Tuhan bukanlah Tuhan yang membuat umat-Nya menderita tanpa suatu alasan yang baik.

Mungkin pelajaran terbesar yang kita pelajari dari pengalaman Ayub adalah bahwa Tuhan tidak harus menjawab siapa pun atas apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan. Pengalaman Ayub mengajarkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah tahu alasan spesifik dari penderitaan seseorang, tetapi kita harus percaya kepada Allah kita yang berdaulat, kudus, dan adil.

Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Mazmur 18: 31

Karena jalan Tuhan sempurna, kita dapat percaya bahwa apa pun yang Dia lakukan—dan apa pun yang Dia izinkan—juga sempurna. Kita tidak dapat berharap untuk memahami pikiran Tuhan dengan sempurna, karena Dia mengingatkan kita untuk memilih reaksi yang tepat terhadap firman-Nya:

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55:8-9.

Adalah tanggung jawab dan pilihan kita untuk menaati-Nya, memercayai-Nya, dan tunduk pada kehendak-Nya, baik kita memahaminya atau tidak. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan Tuhan di tengah-tengah pencobaan kita—bahkan mungkin karena pencobaan kita. Kita akan melihat dengan lebih jelas keagungan Allah kita, dan kita akan berkata, bersama Ayub, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5).

Dalam hidup baru kita, pilihan ada di tangan kita

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8: 28-29

Apakah kehendak bebas itu ada? Itu semua tergantung pada maknanya. Jika dengan kehendak bebas diartikan bahwa orang yang tidak percaya sama sekali adanya Tuhan memiliki kemampuan untuk memilih di antara tunduk dan murtad terhadap Tuhan, maka jawabannya adalah tidak ada. Orang yang tidak mengenal Tuhan selalu terikat dosa dan cenderung berbuat jahat. Tetapi, jika seseorang yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi masih sering berbuat dosa dengan sengaja, namun karena adanya kebutuhan (bukan paksaan) yang membuatnya sadar untuk sepenuhnya tunduk dan bergantung pada kasih karunia Allah untuk membebaskannya dari kuasa dosa, maka kehendak bebas itu ada.

Dalam semua kejadian Perjanjian Baru di mana kata tunduk muncul, kata tersebut diterjemahkan dari kata Yunani hupotasso. Hupo berarti “di bawah” dan tasso berarti “mengatur”. Arti penuh dari kata itu adalah “untuk mematuhi, menempatkan di bawah, tunduk pada, tunduk di bawah atau di bawah kepatuhan, atau patuh.” Kata itu digunakan sebagai istilah militer yang berarti “untuk mengatur divisi pasukan secara militer di bawah komando seorang pemimpin.” Kata ini adalah definisi yang indah tentang apa artinya “menyerahkan diri” kepada Tuhan. Ini berarti mengatur diri sendiri di bawah perintah Tuhan daripada hidup menurut cara hidup lama berdasarkan sudut pandang manusia. Ini adalah proses menyerahkan kehendak kita sendiri kepada kehendak Bapa kita.

Kitab Suci memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang tunduk pada “kekuatan yang lebih tinggi”. Ini mengacu pada prinsip-prinsip pendirian yang telah Allah tetapkan di dunia kita -pemerintah dan para pemimpin, dalam kapasitas apa pun, yang telah Allah tempatkan dalam otoritas atas kita di bumi ini. Bagian-bagian yang mengajarkan asas ini adalah Roma 13:1-7. Prinsipnya adalah taat pada otoritas atas kita, apa pun otoritas itu. Ini akan membawa berkat secara nyata di dunia, dan bagi orang percaya, pahala di kemudian hari. Otoritas tertinggi adalah Tuhan, dan Dia mendelegasikan otoritas kepada orang lain; jadi, untuk tunduk kepada Tuhan, kita tunduk pada otoritas yang telah Dia tempatkan atas kita. Kita melihat bahwa tidak ada peringatan yang membedakan antara otoritas yang baik atau yang buruk atau bahkan otoritas yang adil atau tidak adil. Kita hanya harus merendahkan diri dan taat seperti “kepada Tuhan.”

Seseorang tidak dapat tunduk kepada Tuhan tanpa kerendahan hati. Ketaatan menuntut kita untuk merendahkan diri kita sendiri untuk menyerah pada otoritas orang lain, dan kita diberitahu bahwa Tuhan menolak kesombongan karena dari satu kesombongan bisa tumbuh banyak kesombongan yang lain. Oleh karena itu, memiliki hati yang rendah hati dan tunduk kepada Tuhan adalah pilihan yang seharusnya kita ambil. Itu berarti sebagai orang percaya yang dilahirkan kembali, kita setiap hari membuat pilihan untuk menyerahkan diri kita kepada Allah untuk pekerjaan yang dilakukan Roh Kudus di dalam kita yang akan membuat kita “serupa dengan gambar Kristus.” Dalam ayat pembukaan di atas, kita membaca bahwaTuhan menggunakan situasi hidup kita untuk memberi kita kesempatan untuk tunduk kepada-Nya. Dengan demikian, kita kemudian menerima kasih karunia Tuhan untuk bisa berjalan dalam Roh dan tidak mengikuti cara hidup lama.

Menjadi anak Tuhan itu bukan hanya percaya bahwa Ia sudah memilih kita, tetapi dicapai dengan memilih untuk menerapkan Firman Allah dan belajar tentang ketentuan-ketentuan yang telah Allah buat bagi kita di dalam Kristus Yesus. Sejak kita dilahirkan kembali, kita memiliki kemampuan di dalam Kristus, untuk menjadi orang percaya yang dewasa; tetapi, kita harus membuat pilihan untuk melakukan apa yang baik. Orang yang sudah diselamatkan bukannya menjadi orang yang pasif, tetapi sebaliknya aktif untuk mempraktikkan imannya selama hidup di dunia (Yakobus 2:26).

Kita harus memilih untuk berserah diri kepada Tuhan untuk proses belajar agar dapat bertumbuh secara rohani. Ini adalah proses yang dimulai pada kelahiran baru dan terus berlanjut dengan setiap pilihan yang kita buat, untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Proses ini akan terus berlangsung sampai Tuhan datang kembali atau sampai saat Dia memanggil kita pulang. Hal yang menakjubkan tentang ini adalah bahwa, seperti yang dikatakan dengan tepat oleh Rasul Paulus, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

Tuhan tidak memaksa kita untuk tunduk karena Dia adalah seorang tiran, tetapi karena Dia adalah Bapa yang pengasih dan Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Tuhan tidak memilih kita agar kita menerima keselamatan sebagai hadiah untuk dipandang saja. Memang, berkat dan damai sejahtera yang kita peroleh dari penyerahan diri kepada-Nya dengan rendah hati setiap hari adalah anugerah-anugerah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Tetapi, patutkah kita berdiam diri dan tidak mau untuk memilih cara hidup yang baik sesuai dengan kehendak-Nya? Pilihan ada di tangan kita untuk menggunakan karunia-Nya untuk hidup dengan memuliakan Dia.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Apa pandangan anda tentang nasib?

“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12

“Segala hal terjadi untuk suatu alasan.” Mungkin anda pernah mendengarnya sebelumnya. Mungkin anda pernah mengatakannya. Kalimat ini terdengarnya seperti bijak sekali. Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan,” dan “Tuhan memberi alasan untuk semua yang terjadi.” Yang pertama adalah fatalisme Kristen; yang kedua menyatakan kemuliaan Tuhan.

Gagasan bahwa Tuhan entah bagaimana menarik tuas di balik layar kehidupan adalah apa yang disebut fatalisme Kristen: “Tuhan itu mahakuasa. Kehendak-Nya tidak dapat disangkal”. Karena itu, segala sesuatu yang terjadi pasti sudah menjadi bagian dari rencana-Nya sejak awal. Dia berada di belakang segala apa yang terjadi di dunia selama ini. Bukankah Tuhan itu hebat?

Memang benar Tuhan bisa membuat sesuatu yang luar biasa indahnya muncul dari kebodohan manusia. Juga benar bahwa kemuliaan kuasa dan hikmat Tuhan sering diperlihatkan dalam berbagai urusan manusia, dan itu terlepas dari pilihan manusia, bukan karena kehendak manusia. Bagian dari kemuliaan Tuhan adalah kemampuan-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di tengah rumitnya sejuta pilihan manusia.

Walaupun demikian, Tuhan tidak mengatur hidup manusia, yang diciptakan menurut gambar-Nya, secara berlebihan. Dia bekerja di dalam diri mereka. Apa yang sesuai dengan rencana-Nya akan mendapat berkat-Nya. Pada pihak yang lain, Tuhan adalah pengampun, sabar, dan baik hati. Dia tahu kelemahan kita dan tetap mau untuk membimbing mereka yang tersesat dan kemudian bertobat. Beberapa orang melakukan apa yang dimaksudkan untuk kejahatan, tetapi Dia mengubahnya untuk maksud yang baik. Lebih dari itu, Tuhan sendiri tidak pernah menjadi pembuat kejahatan itu.

Salah satu tragedi terbesar dalam gereja Kristen selama berabad-abad adalah gagasan bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Menurut pandangan ini, pernyataan bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berarti bahwa Tuhan sebenarnya telah memakai sebuah naskah yang hanya dapat mengikuti jalan yang telah ditetapkan-Nya sampai ke detil yang sekecil-kecilnya. Bukankah Tuhan adalah Alfa dan Omega?

Adalah menyedihkan bahwa dalam menghadapi tragedi mengerikan dan menyedihkan seperti adanya pandemi saat ini, orang-orang yang percaya pada “fatalisme Kristen” akan menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa ini entah bagaimana adalah kehendak Tuhan dan bahkan didatangkan Tuhan. Mereka percaya atas semboyan “que sera sera” – apa pun yang akan terjadi, akan terjadi. Benarkah demikian?

Kita tidak perlu percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa harus menetapkan semua hal untuk bisa mewujudkan rencana-Nya. Tuhan tetap bisa mewujudkan rencana-Nya sekalipun manusia berbuat hal-hal yang tidak dikehendaki-Nya. Tuhan bekerja di tengah-tengah segala sesuatu dan Dia memutuskan hasil berdasarkan semua faktor yang penting bagi-Nya, termasuk pilihan yang dibuat orang, dan terutama doa, iman, dan tanggapan umat-Nya sendiri.

Bukanlah kehendak Allah bagi gereja-Nya untuk meninggikan rasa tunduk kepada Tuhan dengan membayangkan bahwa Tuhan yang mahasuci akan memakai segala cara untuk menyatakan kedaulatan-Nya. Bukanlah kehendak Tuhan bagi kita untuk berhenti percaya bahwa Dia akan menjawab doa-doa kita pada saat yang tepat. Bukan kehendak Tuhan bahwa orang Kristen bersikap apatis atas diri sendiri dan orang lain. Bukan kehendak Tuhan bahwa api Roh Kudus padam di dalam hati kita.

Hal-hal yang jahat telah terjadi selama berabad-abad dan sedang terjadi hari ini, tetapi tidak satu pun adalah kehendak Tuhan, sekalipun itu terjadi atas izin-Nya. Keyakinan anda tentang masalah ini akan sangat memengaruhi kehidupan kita. Sulit bagi kita untuk bisa menyampaikan doa yang berbau harum bagi Tuhan jika kita tidak percaya bahwa doa kita atau cara kita berdoa akan membuat perbedaan pada hidup kita. Tuhan tidak harus memenuhi permintaan kita, tetapi jika kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang tetap membimbing hidup kita dalam keadaan apa pun untuk mencapai suatu tujuan yang baik, kita akan selalu merasa tenteram dan cukup dalam kasih-Nya.

Malam ini, biarlah kita menentang setiap bentuk “fatalisme Kristen”. Jangan pasif. Jangan malas. Jangan apatis. Jangan tidur. Bangun dan percayalah akan kasih Tuhan. Tolaklah setiap bentuk fatalisme, bahkan jika itu muncul dalam pakaian “teologi yang sehat”. Kabarkanlah kasih Tuhan kepada semua bangsa yang sudah membawa penebusan, dan bukannya kutuk Tuhan kepada setiap manusia yang terjadi sesudah mereka jatuh dalam dosa. Yang pertama adalah pesan yang memuliakan Tuhan, yang kedua adalah pesan yang merendahkan kasih Tuhan.

Hidup berdamai dengan semua orang

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Roma 12: 18

Bacaan: Roma 12: 17 – 21

Jika kita mengikuti media di saat ini, setiap hari kita mendengar adanya berita tentang berbagai percekcokan di dunia. Bahkan beberapa orang menilai bahwa keadaan dunia sudah mendekati terjadinya “perang dingin” di antara beberapa negara besar dan kelompoknya. Suasana pandemi yang membuat kacau keadaan sosial dan ekonomi di banyak negara, ternyata tidak bisa meredam rasa permusuhan antar manusia. Dengan demikian, perdamaian dunia yang dirindukan sejak berakhirnya perang dunia kedua sampai saat ini belumlah bisa tercapai.

Siapakah yang tidak ingin hidup dalam kedamaian? Tentunya kebanyakan orang merindukan adanya suasana damai. Walaupun demikian, kita bisa melihat dalam hidup sehari-hari bahwa kedamaian bisa sewaktu-waktu hilang ketika ada orang-orang yang melakukan hal-hal tertentu  yang menimbulkan kekacauan. Di zaman ini, kekacauan bisa terjadi dalam bidang relasi, komunikasi, pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan lain-lainnya. Itu tidak saja bisa terjadi dalam rumah tangga, sekolah, dan kantor, tetapi bisa juga terjadi di satu negara ataupun di dunia. Semua kekacauan biasanya terjadi karena akibat ulah manusia, terutama pertikaian antar manusia.

Bagaimana orang Kristen harus bertindak jika kekacauan terjadi karena dengan adanya orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak baik? Prinsip mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri memang satu hukum Tuhan yang harus tetap kita pegang, tetapi bagaimana pula kita harus melaksanakannya? Ayat-ayat pada kitab Roma di atas menunjukkan bahwa kita harus sebisa mungkin hidup damai dengan semua orang. Apa pun yang orang lakukan kepada kita, pada prinsipnya kita tidak boleh membalas (avenge) karena hanya Tuhan yang berhak untuk itu. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita harus mau bersabar dan berbuat baik kepada mereka yang membenci kita agar mereka malu atas apa yang mereka perbuat.

Sedapat-dapatnya memang kita harus mempertahankan perdamaian dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kata “sedapat-dapatnya” bukan berarti “selalu”. Tetapi, selama apa yang terjadi masih bisa kita tanggung, kita harus bisa menghindari konfrontasi dan mau menunjukkan kebaikan kepada mereka yang menjahati kita. Jika banyak orang mengajarkan bahwa kita harus berbuat baik kepada sesama kita tetapi boleh membenci musuh kita, Yesus berkata bahwa itu tidak cukup untuk pengikut-Nya. Sebaliknya, kita harus bisa juga mengasihi musuh kita dan berdoa untuk mereka supaya mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 – 44

Mengasihi musuh kita adalah sesuatu yang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Tetapi Yesus sudah memberi contoh dengan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34). Pada pihak yang lain Yesus pernah marah juga, misalnya kepada orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (Matius 21: 12 – 13) dan kepada orang Farisi yang mempersalahkan Dia ketika menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (Markus 3: 5).

Yesus marah ketika kemuliaan Allah direndahkan oleh manusia, Ia juga marah ketika misi penyelamatan-Nya dihalangi oleh orang Farisi. Walaupun demikian, Yesus tidak berdosa dalam kemarahan-Nya, karena dalam kemarahan-Nya yang tidak berlarut-larut selalu ada motivasi untuk memuliakan Bapa-Nya dan mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Yesus selalu bertindak tegas dalam hal-hal yang penting, tetapi semua itu bukan karena ego, tetapi karena kasih-Nya.

Pagi ini, mungkin kita masih ingat bahwa orang-orang tertentu sering mengganggu hidup kita. Mungkin mereka ada di antara keluarga kita, dalam gereja ataupun dalam masyarakat di sekitar kita. Firman Tuhan berkata bahwa sedapat mungkin kita harus bersabar dan memilih jalan damai. Kita harus mengasihi semua orang dan itu termasuk orang-orang yang tidak kita senangi. Semua itu tidaklah mudah untuk dilaksanakan jika kita tidak dapat membedakan apa yang menyangkut kemuliaan Tuhan dan apa yang hanya mengenai kepentingan kita sendiri. Semoga Tuhan bekerja di antara umat-Nya untuk membawa kedamaian di dunia.