Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Pakailah mata rohani, bukan mata jasmani

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Hari ini saya pergi ke sebuah kennel yang sering saya pakai untuk menitipkan anjing saya jika saya bepergian jauh. Kali ini ada kabar buruk yang disampaikan pemilik kennel itu, yaitu bulan depan kennel itu akan ditutup karena sering merugi sejak adanya pandemi. Orang jarang melakukan perjalanan jauh, dan karena itu jaranglah anjing yang dititipkan. Memang kasihan sekali orang-orang yang mempunyai usaha atau menawarkan jasa yang kurang dipandang penting dalam keadaan krisis sekarang ini. Karena itu, orang bisa melihat banyaknya perusahaan kecil yang bangkrut atau yang terpaksa ditutup sebelum bangkrut. Dengan mata, kita bisa melihat banyaknya orang yang tidak mempunyai pekerjaan, yang menantikan bantuan pemerintah.

Jika dengan mata kita bisa melihat bahwa kehidupan manusia di saat ini menjadi porak poranda, hati kita tentunya akan merasa makin sedih karena adanya kemungkinan bahwa keadaan ini belum bisa membaik dalam tahun ini. Apa yang kita lihat dengan mata bisa menghilangkan semangat kita untuk tetap berjuang. Dalam mengalami keadaan yang serupa, Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia tidak memperhatikan apa yang sekarang kelihatan, melainkan apa yang tak kelihatan, karena apa yang kelihatan saat ini adalah sementara, sedangkan apa yang tak kelihatan adalah kekal. Apa yang kita lihat sekarang, bukanlah apa yang akan kita dapat di masa depan. Apa maksudnya?

Paulus berusaha menjelaskan bahwa apapun yang kita lihat selama kita hidup, baik itu penderitaan ataupun kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang abadi. Selama hidup di dunia, orang Kristen harus menjalankan tugas kewajiban mereka, tetapi apapun yang mereka rasakan atau lihat tidak perlu membuat hidup mereka terpengaruh. Hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Tuhan yang tidak kelihatan dan untuk itu mereka cukup bermodalkan iman yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan iman mereka bisa berharap akan masa depan dan yakin akan keselamatan yang sudah diberikan sekalipun mereka masih belum berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Memang manusia cenderung berpikir bahwa apa yang mereka alami atau rasakan adalah faktor yang menentukan kehidupan mereka di dunia. Karena itu mereka merasa bangga dan puas jika mereka berhasil memperoleh kesuksesan, atau merasa tertekan jika mereka mengalami apa yang tidak diharapkan. Bahkan banyak orang Kristen yang percaya bahwa hidup di dunia sebagai orang diberkati Tuhan seharusnya ditandai dengan kemakmuran. Banyak orang mungkin lupa bahwa jika mereka meninggalkan dunia ini, semua harta miliknya tidak akan berguna lagi. Begitu juga, dalam penderitaan orang mungkin lupa bahwa itu adalah sementara. Karena itu kita seharusnya memusatkan pikiran kepada apa yang abadi, yaitu hidup sesudah hidup di dunia. Kebahagiaan di surga adalah hal yang harus kita perhatikan agar selama kita hidup di dunia kita tidak terpikat oleh apa yang bisa dilihat mata saja dan apa yang ditawarkan oleh dunia.

Hari ini, apakah yang anda lihat dengan mata anda? Apakah yang terjadi dalam hidup anda? Apakah yang dialami oleh keluarga anda? Adakah orang-orang yang anda kasihi yang saat ini mengalami sakit atau kesusahan? Adakah rasa tertekan dan rasa sedih dalam diri anda karena adanya hal-hal yang tidak anda harapkan? Firman Tuhan berkata melalui Paulus bahwa kita tidak perlu tawar hati sekalipun apa yang kita lihat dengan mata jasmani kita menunjukkan adanya hal yang tidak baik. Sebagai orang beriman, kita bisa memakai mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertai kita hingga kita bertemu dengan Dia dalam kebahagiaan yang kekal.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” 2 Korintus 4: 16 – 17

Bukan Allah yang membuat manusia menderita

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13-14

Selang setahun sejak munculnya virus corona, orang di negara mana pun masih hidup dalam berbagai penderitaan. Tidak hanya kasus positif yang makin meningkat, korban yang tewas juga bertambah banyak. Dalam keadaan yang makin parah, beberapa negara mulai menjalankan lockdown lagi. Tetapi, rakyat yang sudah merasa sangat jemu terkurung di rumah, sekarang mulai memperlihatkan rasa tidak senang dan bahkan rasa marah kepada pemerintah. Apalagi, dalam situasi saat ini banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Karena itu di beberapa negara ada demo-demo yang menuntut penghapusan pembatasan sosial dan juga orang-orang yang sengaja mengabaikan aturan pemerintah setempat. Apakah Allah yang membuat manusia menderita? Apakah salah manusia sehingga pandemi ini terjadi?

Kitab Kejadian 3 menceritakan bagaimana Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa melalui tipu muslihat iblis. Iblis dengan kecerdikannya berhasil membuat Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada Adam yang bersama-sama dengan dia (Kejadian 3: 6).

Adam dan Hawa jatuh kedalam pencobaan, tetapi siapakah yang sebenarnya bersalah? Allah yang menciptakan pohon itu, iblis yang menjerumuskan manusia, atau manusia yang jatuh kedalam perangkap iblis? Ada orang yang berpendapat bahwa Allahlah yang paling bersalah karena Ia yang menciptakan pohon itu dan Ia seharusnya bisa mencegah iblis dari menipu manusia atau mencegah manusia dari melanggar perintahNya.

Jika pada akhirnya Allah menjatuhkan hukumanNya kepada Adam, Hawa, dan juga iblis, menunjukkan bahwa mereka semuanya sudah bersalah di hadapan Allah. Sebagai keturunan Adam dan Hawa kita terkena getahnya dan harus mengalami berbagai penderitaan selama hidup di dunia. Jika Allah memang mahaadil, hukuman itu adalah sudah sewajarnya, tetapi ada juga orang yang berpendapat bahwa manusia sudah jatuh kedalam pencobaan dari Allah.

Mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan tentang apa yang baik dan yang jahat? Apakah Ia ingin mencobai manusia, ingin menjebak mereka? Alkitab dalam ayat diatas mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dari mulanya Allah menetapkan hukum dan perintahNya agar manusia taat kepadaNya, tetapi bukan untuk menjebak mereka kedalam dosa. Dosa adalah keadaan dimana manusia gagal untuk menaati hukum dan perintah Tuhan.

Allah tidak pernah mencobai kita walaupun Ia mungkin menguji kita. Pencobaan dari iblis berbeda dengan ujian dari Allah. Mengapa Yesus mengajar kita untuk memohon agar Allah tidak membawa kita kedalam pencobaan?

“…dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 13

Doa diatas sebenarnya dimaksudkan agar Allah sudi membimbing dan menguatkan kita agar kita tidak terseret kedalam pencobaan. Bisa terhindar dari godaan iblis sehingga tidak sampai dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan kita sendiri.

Yesus sebagai manusia yang lelah tubuhnya setelah berpuasa 40 hari di padang gurun, juga mengalami pencobaan (Matius 4: 1-11). Ia menghadapi pencobaan yang datang bukan dari Allah Bapa, tetapi dari iblis. Yesus sebagai manusia yang tidak berdosa, tidak dapat dicobai. Ia menghadapi tiga macam bujukan iblis, dan Ia menangkis semua itu dengan cara yang tepat. Pada akhirnya, kemenangan Yesus membawa kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, sekalipun pencobaan bukan dari Tuhan, adanya pencobaan membawa kemuliaan kepada Tuhan ketika umatNya bisa menghadapinya dan tidak jatuh kedalam dosa.

Hari ini kita harus sadar bahwa seperti apa yang ditawarkan kepada Yesus, iblis sering menggoda manusia dengan tiga hal yaitu kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan. Dalam hal ini, keinginan manusia untuk bebas dari perintah dan hukum Allah, membuat manusia mudah terperosok ke dalam tipuan iblis. Selanjutnya, keinginan manusia untuk bebas dari hukum dan aturan pemerintah, membuat manusia melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain.

Hidup di dunia ini tidak mudah karena adanya berbagai pencobaan dan tantangan. Mungkin kita merasa lelah dan takut menghadapi keadaan hidup yang tidak menentu saat ini. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa semua pencobaan itu sebenarnya tidak melebihi kekuatan kita. Biarlah kita selalu berdoa agar kita bisa menghindari pencobaan; tetapi jika kita harus menghadapinya, biarlah kekuatan dari Tuhan memberi kita kemenangan. Karena apakah suatu keadaan yang sulit akhirnya menjadi godaan yang menghancurkan kita atau ujian yang menguatkan kita, itu sering bergantung pada reaksi kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1Korintus 10: 13

Bertekunlah dalam menghadapi ujian

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Bulan Desember 2020 telah menjadi bulan penting dalam perang global melawan COVID-19. Setahun setelah munculnya virus corona, Inggris dan AS telah mulai memberikan suntikan pertama vaksin kepada rakyat mereka. Namun di negara berpenghasilan rendah, penantiannya bisa lebih lama. Pemerintah di seluruh dunia saat ini masih sibuk merundingkan kesepakatan untuk membeli vaksin COVID-19. Tetapi, “perebutan vaksin” ini dapat menunda pengadaan vaksin di negara-negara yang kurang mampu hingga tahun 2024. Rakyat yang sudah merasa lelah dengan berbagai lockdown, sekarang ingin mendapatkan kebebasan sekalipun rasa takut menjadi makin besar karena adanya varian virus yang lebih ganas.

Memang, kita yang hidup di dunia ini sering merasa lelah dan takut dengan keadaan di sekeliling kita. Karena itu, kita mungkin merasa sangat menderita jika gelombang kehidupan yang besar terus melanda. Hal ini agaknya tidak mengherankan, karena tentu tidak ada manusia yang menyenangi adanya masalah kehidupan. Siapa yang tidak ingin hidup yang tenteram dan damai? Seperti ikan yang senang berenang di air tenang, sudah tentu semua manusia mendambakan adanya hidup yang berkecukupan dan yang bisa terus dinikmati. Tetapi itu bukanlah kenyataan hidup.

Adalah fakta bahwa semua makhluk hidup pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan atau berbahaya. Sebagian makhluk malahan sudah punah (misalnya Dinosaurus) karena tidak sanggup memenangkan perjuangan hidup mereka, baik karena keadaan lingkungan maupun serangan makhluk lain. Tetapi manusia sebagai makhluk yang paling besar ukuran otaknya, secara umum tidak pernah mengalami ancaman yang menjurus kearah kepunahan total. Manusia sebagai peta dan teladan Allah diberi kemampuan untuk menghadapi segala tantangan hidup dan justru makin kuat dan makin mampu menghadapi masalah kehidupan, terutama dengan majunya teknologi. Karena itu juga, jumlah manusia di dunia ini makin membengkak dan sekarang lebih dari 7,5 miliar jiwa.

Bertambahnya penduduk dunia tidaklah berarti bahwa semua manusia hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada banyak penduduk di dunia yang masih hidup dalam penderitaan dan kekurangan. Begitu juga dengan bertambahnya jumlah orang yang menemukan keselamatan dalam Kristus, ada banyak yang masih harus berjuang mati-matian dalam hidup sehari-hari. Bagi banyak orang Kristen, gelombang kehidupan yang tidak kunjung reda membuat mereka sangat lelah dan putus asa. Mereka yang ingin untuk mencari ketenangan sekalipun hanya sejenak, seringkali sulit untuk mendapatkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sekalipun adanya gelombang kehidupan saat ini tidaklah membawa rasa nyaman, kita bisa menganggap itu sebagai kebahagiaan, sebagai suatu berkat. Bagaimana mungkin? Itu karena kita tahu bahwa ujian terhadap iman akan membuat kita ingat bahwa kita harus mencari tempat berlindung dalam Tuhan. Tiap-tiap kali kita menghadapi gelombang kehidupan, tiap kali juga kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa melindungi umatNya. Oleh karena itu, dengan adanya tantangan kehidupan, kita bisa menjadi makin tekun dalam berdoa, dalam bersekutu dengan saudara seiman dan dalam mengikuti perintahNya. Gelombang kehidupan selalu ada, tetapi itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Kristus adalah terang

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Kejadian 1:3-4

Sinar matahari adalah berkat Allah yang memungkinkan semua makhluk di dunia untuk hidup. Tanpa matahari yang diciptakan Allah pada hari keempat (Kejadian 1: 14), sebagian besar dari dunia akan mengalami musim dingin dan kegelapan sepanjang masa. Allah memang menciptakan matahari untuk mengusir kegelapan sehingga semua ciptaanNya bisa hidup menurut ritme kehidupan yang teratur. Dengan adanya terang, kegelapan bisa dihilangkan.

Walaupun demikian, dalam ayat pembukaan di atas tertulis bahwa pada hari pertama Allah menciptakan terang dan memisahan terang itu dari gelap. Terlihat pula bahwa ayat itu adalah ayat pertama dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan dengan FirmanNya. Lebih dari itu Allah melihat bahwa terang itu baik adanya. Bagaimana ada terang sebelum ada matahari dan bulan? Apakah terang disini bukan dimaksudkan sebagai terang secara fisik, terang matahari yang kita lihat di siang hari?

Bahwa terang adalah baik dan Tuhan adalah sumber terang, itu sudah dimengerti sejak zaman dulu. Pemazmur dalam Mazmur 27:1 memuji Tuhan sebagai terang dan keselamatannya. Dengan demikian orang Israel mempunyai konsep bahwa Tuhan adalah terang dalam hidup mereka.

“…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Dengan demikian, ketika Yesus berkata dihadapan orang Farisi bahwa Ia adalah terang dunia, orang Farisi tentu mengerti bahwa Yesus mengklaim bahwa Ia adalah sumber kehidupan manusia. Tetapi mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu, karena bagi mereka Yesus adalah orang biasa, anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus datang ke dunia sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Ia datang sebagai terang dari mulanya untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa. Jika Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan, itu berarti Ia mengaruniakan AnakNya untuk mengusir dosa manusia agar manusia bisa memperoleh kehidupan yang kekal.

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Sayang sekali, dalam hidup ini seringkali manusia tidak sadar bahwa mereka hidup dalam kegelapan. Sebagian manusia malahan lebih menyukai kegelapan karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3: 19). Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa ada banyak hal-hal yang tidak baik yang mereka lakukan, mereka akan tetap hidup dalam dosa jika mereka dengan sengaja mengabaikan suara Roh Kudus yang mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Dengan dorongan Roh Kudus, manusia bisa menyadari bahwa mereka akan binasa karena tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari hukuman Tuhan. Hanya karena Yesus sudah datang sebagai terang dunia, kegelapan dosa bisa dihilangkan melalui pengampunan total dari Allah yang terjadi karena darah Kristus sudah tercurah bagi mereka yang mau percaya kepadaNya. Mereka yang sudah diselamatkan akan memakai terang Kristus untuk menjalani hidup baru yang senantiasa mengalami pembaharuan, hari demi hari dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah diberikan kepada umatNya. Mereka melakukan apa yang benar, supaya menjadi nyata bahwa hidup mereka ada dalam Allah Sang Pencipta (Yohanes 3: 21).

Hari ini, ayat diatas adalah panggilan untuk kita menyadari bahwa tanpa Yesus hidup kita akan tetap dalam kegelapan. Mungkin saja kita tidak merasa bahwa sudah lama kita mengabaikan terang Kristus yang dulu pernah datang ke dalam hidup kita ketika kita pertama kali menyatakan iman percaya kita. Mungkin sejak itu, terang api Roh Kudus mulai perlahan-lahan menjadi padam karena kita sering mengabaikanNya. Pagi ini kita diingatkan bahwa jika terang hidup itu tidak bertambah besar dalam hidup kita, besar kemungkinan bahwa terang itu akan mengecil dan kegelapan dalam hidup kita akan bertambah besar. Saat ini adalah saat yang penting untuk kita sadari bahwa kita perlu untuk makin bisa mengikut Yesus dalam terangNya. Dengan memakai terang Kristus, kita akan bisa menghindari kegelapan dosa; dan dengan memancarkan terang Kristus, orang lain akan dapat ikut memuliakan Dia yang sudah mengubah hidup kita.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Yohanes 12: 46

Dalam kesulitan kita harus tetap teguh

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan berbagai kesulitan dan penderitaan dalam hubungan antar manusia karena adanya lockdown dalam berbagai bentuk. Pemerintah Australia saat ini tidak mengizinkan warganya untuk ke luar negeri setidaknya sampai akhir tahun ini. Begitu juga orang yang ingin mengunjungi Australia haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk karantina selama dua minggu di hotel atau perumahan yang ditetapkan pemerintah. Bagaimana pula dengan warga Australia yang berada di luar negeri yang ingin pulang ke negaranya? Inilah yang sangat menyedihkan karena banyak di antara mereka yang tidak dapat menemukan pesawat yang bisa membawa mereka pulang. Sekalipun ada pesawatnya, banyak orang yang tidak sanggup membayar harga tiket pesawat yang sangat mahal saat ini.

Pandemi tidaklah memandang bulu, siapa pun bisa merasakan akibatnya. Bagaimana umat Kristen bisa bertahan dalam menghadapi semua tantangan hidup mereka? Paulus adalah seorang rasul yang suka menggambarkan bahwa hidup orang Kristen adalah seperti seorang atlit, petinju atau pelari yang berjuang untuk menang dalam pertandingan. Itu bukan karena ia adalah seorang olahragawan, tetapi ia sadar bahwa seorang olahragawan perlu mempunyai dedikasi tinggi dalam berlatih dan berlomba. Ia bisa melihat bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi hidupnya tidak seperti yang seharusnya karena kurangnya dedikasi dan iman.

Seperti seorang pelari yang harus menghadapi berbagai perlombaan, kita tahu bahwa sebagai manusia kita akan mengalami berbagai tantangan kehidupan. Jika seorang atlit harus hidup sehat, giat berlatih dan mempunyai keberanian untuk menghadapi semua pertandingan, orang Kristen harus hidup menurut perintah Tuhan, rajin mempelajari firmanNya, giat berdoa dan berani menghadapi tantangan hidup.

Masalahnya adalah adanya satu saat dalam kehidupan kita dimana kita, sekalipun sudah berusaha untuk hidup dalam kebenaran, menghadapi persoalan hidup yang sangat besar sehingga kita seakan membentur sebuah tembok besar. Apa yang terjadi pada diri kita mungkin tidak bisa dirasakan orang lain karena itulah masalah kita pribadi.

Seperti seorang pelari yang sudah merasa sangat lelah, keputusan ada ditangan kita, apakah kita akan terus berlari sebisa mungkin, atau berhenti berlari dan meninggalkan perlombaan. Bagi seorang pelari, perasaan lelah akan bertambah besar ketika ia melihat bagaimana pelari-pelari lain mendahului, tidak ada seorangpun yang bisa menolong untuk mengatasi kelelahannya. Tetapi dalam hidup, kita yang mempunyai iman kepada Tuhan mengerti bahwa kita tidak akan tertinggal sendirian, karena Tuhan sebenarnya ikut berlari bersama kita sampai garis finish (Matius 28: 20).

Hari ini biarlah kita menyadari bahwa hidup ini memang terkadang sangat berat, ketika tubuh dan jiwa kita menjerit seakan ingin menyerah. Begitu banyak hal-hal berat yang sudah terjadi sejak awal tahun lalu dan untuk menghadapi hari-hari mendatang terasa hati kita menjadi semakin kecil. Pada saat yang demikian, seperti seorang atlit yang bertekad untuk mencapai garis finish, iman kita harus mengambil alih pikiran manusiawi kita. Hidup ini memang penuh tantangan, tetapi kekuatan dan keberanian kita akan datang dalam pengharapan kepada Tuhan yang akan memberi mahkota kehidupan di masa depan.

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Dalam Kristus seharusnya ada kedamaian

“Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya.” Mikha 4: 3-4

Hari ini hampir semua media di dunia memberitakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Pelantikan serupa pada tahun-tahun yang silam selalu mengisi berita utama media, tetapi tahun ini agaknya lebih menjadi perhatian orang. Mengapa demikian? Ada banyak sebabnya, antara lain karena adanya demo besar-besaran yang terjadi minggu sebelumnya yang berbuntut tewasnya 5 orang, dan juga karena Presiden yang digantikan tidak mau menghadiri acara pelantikan itu.

Dengan alasan keamanan, suasana pelantikan kali ini tidaklah seperti biasanya karena hanya orang-orang tertentu yang boleh hadir. Memang situasi di Amerika saat ini sangatlah genting dengan adanya pandemi yang sudah menewaskan lebih dari 400 ribu orang dan juga adanya jurang perbedaan pendapat yang besar di antara rakyat Amerika yang disebabkan oleh persaingan antara kedua partai politik utama. Dalam keadaan seperti itu, sungguh membesarkan hati bahwa dalam upacara pelantikan itu ada seorang gadis berkulit hitam, Amanda Gorman, yang membawakan sebuah puisi yang berisi harapan akan masa depan.

Dalam salah satu bait dari puisinya, Amanda menyebutkan bahwa “Alkitab mengajak kita untuk membayangkan bahwa setiap orang akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara milik mereka sendiri dan tidak ada yang akan membuat mereka merasa takut.” Dari mana Amanda mengambil cuplikan di atas? Dari Mikha 4: 4 yang menyebutkan bahwa pada saatnya, umat Tuhan akan hidup dalam damai sejahtera dan bisa menikmati segala berkat Tuhan. Pada waktu itu, tidak ada lagi orang atau bangsa yang berperang karena semua umat Tuhan akan hidup dalam kedamaian.

Barangkali harapan Amanda untuk bangsa Amerika adalah seperti harapan umat Tuhan yang percaya akan apa yang dijanjikan Tuhan. Tidak akan ada permusuhan, kekacauan dan penderitaan di masa depan. Sudah tentu ini hanyalah harapan. Selama hidup di dunia, manusia harus membanting tulang untuk mencari nafkah dan menghadapi segala macam tantangan. Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung satu tahun, dan kita belum tahu kapan itu akan berakhir. Bagaimana pula dengan perseteruan antar golongan dan antar manusia? Sejak Kain membunuh Habel, manusia tidak pernah bisa memadamkan api kemarahan, iri hati dan kebencian!

Memang di dunia ini semua orang yang bijak tentunya ingin hidup dalam kedamaian, ingin untuk menikmati pohon anggur dan pohon aranya. Tetapi di dunia ini iblis mengembara, dan seperti singa yang mengaum-aum ia mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5: 8). Karena itu, di dunia ini selalu ada masalah, permusuhan dan kebencian. Ayat di atas mungkin menggambarkan keadaan setelah kedatangan Kristus kedua kalinya yang tidak kita ketahui saatnya. Lalu bagaimana pula dengan hidup kita selama di dunia?

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan yang sudah berfirman bahwa selaku umat pilihanNya kita akan mengalami saat dimana kita secara bersama bisa menikmati suasana damai. Selaku umatNya sebenarnya kita tidak perlu menunggu sampai saat kedatangan Kristus untuk memperoleh keadaan damai. Sebagai orang Kristen seharusnya kita mau untuk membawa damai di bumi ini karena hanya kita tahu dalam Kristus ada rasa damai yang sempurna. Karena itu biarlah kita bisa menjadi orang-orang yang membawa damai dalam masyarakat di sekeliling kita, dan bisa menunjukkan kepada seisi dunia bahwa kita adalah anak-anak Allah.

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Matius 5: 9

Apakah maksudMu, Tuhan?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Dengan adanya pandemi yang tidak kunjung mereda saat ini, setidaknya keadaan ekonomi, pendidikan dan pekerjaan di banyak negara mengalami kemunduran. Sekalipun beberapa vaksin sudah ditemukan dan bahkan mulai disuntikkan, dalam kenyataannya keadaan dunia tidak akan membaik dengan cepat. Sebaliknya, menurut para ahli, situasi akan bertambah buruk selama tahun 2021 sebelum bisa mulai membaik pada tahun sesudahnya.

Banyak orang yang sudah hampir setahun terkurung dalam rumah, keadaan saat ini sungguh terasa membosankan untuk tidak dikatakan menyedihkan. Mereka yang masih belajar mungkin hanya bisa melakukannya secara daring melalui internet. Begitu juga mereka yang biasanya ke kantor setiap hari, saat ini mungkin harus bekerja dari rumah. Mereka yang biasanya bekerja di rumah sakit, toko, pabrik atau lapangan sudah tentu tidak dapat bekerja dari rumah. Dengan demikian jika ada orang-orang yang masih beruntung mempunyai pekerjaan di luar rumah pada saat ekonomi yang suram ini, mereka mungkin harus melupakan risiko tertular virus corona.

Sebelum adanya pandemi, keadaan dunia umumnya cukup baik. Ketika itu kita baru saja memasuki tahun 2020 dan setiap orang mempunyai harapan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Adanya pandemi seharusnya mengingatkan manusia bahwa masa depan mereka sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini.

Sekalipun keadaan saat ini dapat dikatakan kritis, mereka yang tetap berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Sebaliknya, mereka yang menuruti kehendak sendiri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah orang-orang yang bodoh.

Memang dalam keadaan yang normal, orang yang tidak mengenal Tuhan selalu yakin bahwa hidup mereka ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam keadaan yang gawat sekarang ini, mereka merencanakan segala sesuatu yang baik untuk diri sendiri dan menurut cara-cara mereka tanpa mempedulikan orang lain. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan dan kehendak mereka hanya akan terjadi jika itu sesuai dengan rancangan Tuhan.

Hari ini biarlah kita mau berdoa untuk masa depan kita, masa depan bangsa dan keadaan dunia. Kesadaran bahwa Tuhan yang mahakuasa mencintai orang-orang yang tulus, jujur dan suka damai, seharusnya menambah keyakinan kita bahwa sekalipun awan tebal menutupi langit saat ini, pada waktunya kita akan melihat sinar matahari lagi.

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 7

Tuhanlah yang akan bertindak

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Adalah suatu hal yang biasa dalam kehidupan politik di Amerika, bahwa ketika seorang presiden akan turun dari jabatannya, ia mempunyai kesempatan untuk mengampuni orang-orang yang sudah melanggar hukum. Ini adalah kesempatan terakhir bagi seorang presiden yang akan lengser untuk menolong orang-orang yang dianggap pernah berjasa kepadanya. Sekalipun orang-orang itu dianggap publik sebagai orang yang bersalah, ada kemungkinan bahwa karena “kebaikan” presiden, mereka tidak jadi dihukum. Sebaliknya, orang-orang yang tidak disenangi presiden bisa-bisa mengalami pemecatan.

Hidup manusia di dunia ini seringkali terlihat tidak adil. Mereka yang jahat dan curang kerapkali hidupnya berhasil dan nyaman, sedangkan mereka yang baik hati dan jujur justru hidupnya berat dan bahkan bisa menjadi bulan-bulanan orang lain. Dengan demikian, kita mungkin menghadapi semua itu dengan rasa kurang senang. Kalau Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat dan bahkan membiarkan mereka untuk berjaya, tidak patutkah kita merasa iri dan bahkan sakit hati kepada yang tidak mengenal Tuhan, dan juga marah kepada Tuhan yang tidak melakukan tindakan apa-apa kepada mereka? Tuhan agaknya tidak adil!

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup mereka ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk membahas kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini sudah sangat berkembang dan era globalisasi membuat negara yang satu membutuhkan negara yang lain. Begitu juga, di sebuah negara ada banyak berbagai partai dan golongan yang saling bergantung dan berinteraksi. Dalam kehidupan seseorang, kerjasama dan komunikasi dengan orang lain adalah perlu sekalipun mereka tidak sepaham. Semua itu tentunya jika masih dalam batas-batas yang bisa diterima masyarakat.

Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya sebuah negara, sebuah kelompok manusia atau pribadi yang seolah-olah berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah di muka bumi, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firmanNya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi? Kita mungkin lupa bahwa sebenarnya kita pun bukan orang baik. Kita adalah orang-orang jahat dan berdosa, yang sudah menerima pengampunan melalui darah Kristus.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan baik untuk orang yang jahat maupun umatNya (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan ada di dunia, sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan kehidupan manusia tetap berjalan, dan mereka yang mau bertobat dan percaya kepada Tuhan bisa menerima pengampunanNya. Mereka yang sudah percaya kepada Tuhan akan sadar bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepadaNya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Hindarilah kekacauan

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Tanggal 20 Januari yang akan datang adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Amerika karena presiden dan wakilnya akan dilantik di ibukota negara itu, Washington D.C.. Saya sendiri pernah merasakan suasana serupa pada tahun 2001 ketika saya mengunjungi kota itu pada saat menjelang pelantikan Presiden George W. Bush. Kali ini, jutaan orang di dunia yang akan memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tambahan pula, suasana pandemi dan politik di Amerika saat ini cukup membuat prihatin banyak orang. Orang tentunya mengharapkan agar acara itu bisa dilaksanakan dengan baik dan aman sekalipun ada perbedaan pendapat di antara rakyatnya.

Tujuan hidup rakyat suatu negara memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Kekacauan kemudian bisa timbul karena adanya orang-orang yang bertentangan pendapat. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik.

Adanya pemerintah memang dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah.

Bagi umat Kristen, pemerintah yang sah, yang sudah terpilih melalui cara yang benar adalah ada dengan seizin Tuhan. Dengan demikian, ayat diatas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara. Malahan, jika semua warga mau menaati firman Tuhan diatas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah diatas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Pagi ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara yang ada. Terutama pada saat pandemi ini, kita harus taat kepada peraturan/anjuran pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diriNya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita harus membawa damai sejahtera dimanapun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Iblis dan pengaruhnya

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Saat ini Jakarta sudah mulai menjalankan PSBB ketat lagi karena melonjaknya kasus Covid-19. Tentunya, mereka yang mengikuti anjuran pemerintah di berbagai media tahu bahwa setiap orang harus lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya. Karena itu saya heran bahwa kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta pada hari minggu ini masih ramai dikunjungi warga yang berolahraga, termasuk mereka yang ramai-ramai bersepeda dan berjalan kaki tanpa menggunakan masker. Mungkin mereka ingin menikmati segarnya udara pagi bersama dengan teman, dan mungkin juga mereka bosan tinggal di rumah; tetapi jelas bahwa ada banyak orang yang tidak dapat berpikir sehat karena terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya.

Ayat diatas secara gamblang menyebutkan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Orang yang sopan bisa menjadi tidak sopan, yang biasanya berhati-hati bisa menjadi ceroboh, yang jujur bisa berubah menjadi pembohong, yang lemah lembut bisa menjadi bengis dan kasar, dan yang hidupnya baik menjadi berantakan akibat pengaruh lingkungan dan pergaulan. Karena itu, sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar apa yang baik tidak berubah menjadi buruk.

Bagaimana kita bisa berhati-hati agar tidak terjerumus kedalam apa yang keliru? Berhati-hati lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Banyak orang yang sudah berusaha untuk berwaspada, tetapi tetap juga jatuh kedalam dosa. Apa yang nampaknya baik, dengan berjalannya waktu bisa saja berkembang menjadi sesuatu yang buruk. Mereka yang dulunya kita anggap sebagai teman, bisa saja menjadi orang yang kemudian menjerumuskan kita kedalam kebiasaan yang jelek. Ini sering menyangkut hal-hal seperti korupsi, narkoba, atau seks; tetapi juga bisa bertalian dengan tingkah laku dan gaya hidup.

Orang bisa berhati-hati kalau ia bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Orang tidak akan berhati-hati jika tidak menyadari adanya bahaya. Begitulah banyak orang Kristen yang tidak sadar jika iblis datang menggoda. Memang banyak orang yang membayangkan bahwa iblis adalah suatu makhluk gaib yang mempunyai rupa yang menakutkan. Tetapi, jika memang begitu, tentunya orang tidak mudah tergoda. Sebaliknya, iblis sering muncul sebagai sesuatu yang nampaknya memikat, indah, dan berguna. Dengan demikian, tidaklah mudah bagi manusia untuk membedakan apa yang baik dari yang jahat. Mereka yang melakukan hal yang bodoh, tidak sadar akan kebodohan mereka. Karena itu, sebagai orang yang sudah menerima keselamatan, kita harus mau hidup dalam bimbingan Roh Kudus setiap waktu sehingga kita tahu apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Kita harus juga mau mempelajari firman Tuhan secara teratur supaya kita makin mengerti apa yang baik dalam pandangan Tuhan.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita harus mau tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita harus sadar bahwa mereka yang sombong dan merasa kuat adalah orang-orang yang mengabaikan bimbinganNya, dan yang kemudian lebih suka untuk mendengarkan suara manusia di sekelilingnya. Mereka jugalah yang kemudian menjadi orang-orang yang tersesat, yang harus membayar kekeliruannya dengan harga yang mahal.