Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Pandemi ini seharusnya membuat kita lebih bergantung kepada Tuhan

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Adanya pandemi Covid-19 mungkin dipandang oleh banyak orang sebagai malapetaka yang sama sekali tidak ada gunanya. Malahan, pandemi ini terasa seperti sebuah malapetaka yang hanya membawa kepedihan dan derita bagi umat manusia. Memang, peradaban manusia di masa lalu berkembang karena adanya berbagai tantangan hidup; tetapi jika apa yang dihadapi adalah lebih besar dari kemampuan untuk mengatasinya manusia bisa saja hilang harapan.

Bagi umat Kristen, segala apa yang terjadi di dunia adalah dengan seizin Tuhan. Umat percaya tentunya juga yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umat-Nya dalam setiap keadaan. Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang sangat berat, orang mungkin merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa dan mahakasih, kepada siapa mereka bisa berharap. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang sekarang goncang imannya, dan bingung mencari-cari jalan apa pun untuk dapat bertahan atau survive. Mereka lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas seisi alam semesta. Mereka bisa saja lebih bergantung kepada nasihat orang lain dan usaha sendiri untuk mengatasi segala kekuatiran mereka. Mereka secara tidak sadar sudah meninggalkan iman kepada Tuhan dan mencoba bersandar pada pikiran dan pengetahuan manusia. Ini tentunya bisa membuat Tuhan merasa cemburu.

Jika rasa cemburu manusia seringkali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dan penyerahan dari manusia. Ia tidak mengijinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau benda apapun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan dan penyerahan yang tidak kepada Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia melalui ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak kedalam kekacauan dan penderitaan di saat ini karena berharap kepada ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia kearah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam keadaan terdesak, manusia makin mudah terperosok kedalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “influencer” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan anjuran dan ajaran mereka yang hebat, dan menganggap apa yang kelihatan oleh mata sebagai sesuatu yang terbaik dan di atas yang segalanya. Pada pihak yang lain, manusia juga mudah terperangkap dalam keyakinan bahwa hidup-mati mereka ada di tangan mereka sendiri. Adanya pandemi yang seharusnya bisa mengingatkan kita untuk makin dekat dengan Tuhan sumber kehidupan kita, bisa membuat kita ragu untuk bergantung kepada-Nya. Ini tentu saja serupa dengan pemujaan berhala.

Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan apa dan siapa yang ditinggikan oleh manusia. Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat pengharapan dan mengharapkan mujizat terjadi melalui doa-doa mereka. Pemujaan diri sendiri terjadi jika kita lupa untuk mengakui bahwa kehendak-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak kita.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak diatas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki , kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan saat ini, jika kita tunduk dalam ketakutan dan mengambil keputusan atau tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan kareana kita solah lupa bahwa hanya Tuhan yang memegang kontrol.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya dalam keadaan darurat saat ini, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama untuk menghormati dan percaya kepada Dia adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umat-Nya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Kewajiban kita kepada pemerintah

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Adanya pandemi sudah membawa berbagai masalah di berbagai negara dan membuat banyak manusia mengalami berbagai penderitaan. Semua negara berusaha mati-matian untuk mengatasi segala persoalan, tetapi tiap negara tentunya mempunyai situasi dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, ada negara-negara yang bisa mengatasi dampak pandemi ini, tetapi lebih banyak lagi yang kalang kabut karena keadaan yang tidak teratasi. Salah satu masalah yang dihadapi setiap negara adalah hal ketaatan rakyatnya kepada peraturan kesehatan setempat. Rakyat yang sudah merasa lelah dengan berbagai lockdown, cenderung untuk kurang tunduk kepada pemerintah. Inilah yang membuat keadaan di negara-negara itu sulit untuk membaik sekalipun vaksin sudah ada.

Bagaimana dengan tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan bernegara? Alkitab menekankan pentingnya agar setiap umat Tuhan untuk tunduk kepada pemerintahnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Karena pemerintah negara mana pun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, hak asasi, perdamaian, keamanan, keadilan, kejujuran, dan sebagainya.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, seisi negara harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang hukum-Nya, dan yang tidak berfungsi seperti yang diharapkan-Nya.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, umat Kristen harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang terpilih dalam pemerintahan dapat memberi rakyat mereka hidup yang tenang dan tenteram. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus ikut berpartisipasi dalam memikirkan, dan dalam mengemukakan pendapat kita secara kritis , tentang apa yang akan dan sudah dilakukan oleh para pemimpin kita – agar mereka dapat mawas diri dan bisa melaksanakan mandat mereka dengan baik. Kita harus berdoa agar mereka dapat mempunyai kebijaksanaan untuk bisa menciptakan kehidupan yang tenang dan tenteram bagi seluruh rakyat, seperti yang dikehendaki Tuhan kita. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4

Tuhan itu tidak jauh dari umat-Nya

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Dalam agama Hindu, sapi adalah simbol suci kehidupan dan bumi. Selama berabad-abad umat Hindu di India menggunakan kotoran sapi untuk membersihkan rumah dan untuk ritual doa. Baru-baru ini, di negara bagian Gujarat, beberapa orang percaya dan pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran dan air kencing sapi. Mereka berharap ritual itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh, atau membantu mereka pulih dari infeksi virus corona.

Para dokter dan ilmuwan di India serta di seluruh dunia telah berulang kali memperingatkan agar tidak mempraktikkan pengobatan alternatif untuk melawan Covid-19, tetapi masih banyak juga yang mengabaikan peringatan itu. “Kami melihat bahwa dokter pun datang ke sini. Mereka yakin ritual ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan mereka dapat merawat pasien tanpa rasa takut,” kata seorang manajer di perusahaan farmasi. Dia mengatakan bahwa dalam kenyataannya praktik tersebut membantunya pulih dari Covid-19 pada tahun lalu. Kemanjuran “terapi” itu baginya adalah evidence based atau berdasarkan kenyataan.

Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang mahakuasa dan menyembahnya agar hidup mereka diberkati. Pada saat ini, tentu ada banyak orang yang memohon kepada tuhan-tuhan mereka untuk dilindungi dari wabah Covid-19. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka juga berdoa meminta perlindungan atau kesembuhan dalam nama Yesus Kristus. Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, kita pun percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendak-Nya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Walaupun demikian, berbeda dengan banyak kepercayaan lain, orang Kristen tidak perlu lagi bergantung kepada berbagai ritual untuk menghampiri Tuhan. Mereka tidak juga membutuhkan keajaiban untuk bisa percaya bahwa Tuhan itu ada dan Ia mengasihi umat-Nya. Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, di mana saja, yang berseru kepada-Nya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, tanpa ritual banyak orang Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. kalau mereka sempat untuk berbakti kepada Tuhan, itu pun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Bagi mereka Tuhan mungkin seperti seorang teman baik saja yang bisa memenuhi keinginan mereka. Walaupun demikian, pandemi yang berkepanjangan ini membuat mereka merasa bahwa Tuhan sudah melupakan mereka.

Memang benar bahwa kita tidak lagi mempunyai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpai-Nya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak lagi Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Jika kita membutuhkan Tuhan, itu tidak hanya pada saat kita mengalami masalah besar, tetapi pada setiap saat kita harus bergantung kepada-Nya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita sudah terbiasa untuk hidup bagi diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!

Penyebab masalah hidup

 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Hari Sabtu kemarin saya mendengar kabar bahwa kasus transmisi lokal varian Delta sudah ditemukan di Brisbane dan karena itu ada kemungkinan bahwa sudah ada banyak orang yang terpapar dalam masyarakat. Karena itu, akhir minggu ini Brisbane dan 10 daerah di sekitarnya harus mengalami lockdown lagi agar testing dan tracing bisa dilakukan dengan efektif. Jika pada hari Selasa yang akan datang semua orang yang terpapar bisa ditemukan, lockdown bisa dihentikan. Kabar lockdown ini tentunya membuat banyak orang kaget, karena akhir minggu ini harus dilewatkan dengan tinggal di rumah saja.

Memang dalam suasana yang mirip suasana perang saat ini, hal menonton TV atau mengikuti berita bisa membuat kita merasa serba salah. Kalau kita tidak mengikuti berita media, kita mungkin tidak sadar akan keadaan pandemi di tempat kita dan mungkin tidak tahu adanya peraturan baru dari pemerintah. Tetapi, jika kita rajin mengikuti berita, selalu ada saja kejadian-kejadian yang mengagetkan, yang membawa kekuatiran. Tentu saja tidak ada orang yang ingin menambah kekuatiran atau rasa takut yang sudah ada, seperti takut sakit, takut gemuk, takut kurus, takut kesepian, takut ketinggalan jaman, takut diganggu orang lain, takut mati dll.

Mengapa manusia selalu menghadapi masalah dalam hidup ini? Ada berbagai sebab spesifik, namun pada umumnya hal-hal itu dapat digolongkan dalam 5 golongan.

Kejatuhan dalam dosa: Memang itulah dunia, sejak kejatuhan dalam dosa manusia harus menghadapi hidup yang berat yang terisi penderitaan dan kesepian (Kejadian 3: 17-19). Karena kejatuhan Adam dan Hawa, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak hidup di taman Firdaus lagi.

Kesalahan kita sendiri: Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita kurang berhati-hati melangkah dalam hidup ini. Mungkin sebagai orang Kristen kita sering mendengar bahwa hidup sebagai orang beriman pasti membawa ketenangan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang mengharapkan solusi instan akan kecewa. Ketenangan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan hidup berdisplin dekat dengan Tuhan. Jika tidak berhati-hati kita akan tetap bisa jatuh ke dalam pencobaan terutama jika kita lebih mementingkan kehidupan yang berpusat kepada hal-hal duniawi (Markus 14: 38).

Perbuatan orang lain: Karena semua orang sudah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23), tidaklah mengherankan jika ada saja masalah yang terjadi karena ulah orang lain, termasuk orang-orang terdekat dan bahkan saudara-saudara seiman. Kesadaran bahwa tiap orang membutuhkan penyelamatan dari Yesus Kristus seharusnya mengingat kan kita agar tidak kecewa atau putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang disebabkan orang lain.

Usaha iblis untuk menghancurkan umat Tuhan: Sering kali kita bayangkan iblis muncul dalam bentuk yang mengerikan dan menakutkan seperti seekor singa (1 Petrus 5: 8). Tetapi iblis juga pandai menyamar (2 Korintus 11: 14); ia bisa menyamar sebagai hal-hal atau orang-orang yang nampaknya baik dan berguna dalam hidup ini. Karena itu ada saja orang beriman yang jatuh ke dalam berbagai masalah ketika sibuk dengan aktivitas gereja dan sosial yang nampaknya baik.

Pekerjaan Tuhan: Tuhan mempunyai rencana agung untuk seisi dunia dan Ia tetap bekerja dalam semua keadaan dunia. Dalam keadaan dunia yang kacau-balau saat ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan hanya membiarkan semuanya terjadi. Tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar rencana-Nya (Yesaya 14:24); semua hal yang baik dan buruk terjadi harus dengan seizin Tuhan. Karena Tuhan kita Mahakuasa dan Mahakasih, kita yakin bahwa Tuhan tetap bisa dan mau menyertai kita dalam keadaan apa pun.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Tuhan selalu mau memberikan kekuatan agar kita bisa bertahan dalam hidup ini. Tetapi untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah lemah dan karena itu mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya.

Siapakah yang sanggup memimpin kita?

“Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. 1 Samuel 15: 11

Di mana pun kita hidup, masyarakat di sekitar kita selalu memerlukan adanya pemimpin. Adalah kenyataan hidup bahwa hampir semua makhluk di dunia ini, besar dan kecil, selalu mempunyai pemimpin dalam aktivitas hidup mereka. Pemimpin diharapkan bisa untuk memberi contoh, teladan, pengarahan, penguatan, dan pemersatuan. Pemimpin yang baik disegani musuh tetapi disayangi dan dihormati oleh masyarakatnya.

Untuk memilih seorang pemimpin, umumnya ada prosesnya. Entah melalui kenaikan pangkat, penunjukkan oleh suatu badan atau pemilihan oleh masyarakat. Kalau harus dipilih masyarakat, tiap lingkungan, daerah dan negara mempunyai cara sendiri untuk memilih pemimpinnya. Pemimpin yang dipilih biasanya orang yang populer, dikenal dan disukai oleh mayoritas masyarakat. Mereka yang kemudian terpilih menjadi pemimpin sering kali menjadi tumpuan harapan dan dipuja rakyatnya.

Umat Israel juga pernah merindukan akan adanya seorang raja yang bisa memimpin mereka. Walaupun Tuhan sudah memimpin mereka dari awalnya, mereka masih kurang puas, dan mengingini seorang raja seperti bangsa lain. Raja pertama bangsa Israel, Saul, akhirnya dipilih melalui undian. Pada waktu Tuhan mengangkat Saul menjadi raja, Ia berjanji bahwa kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya, keturunannya turun temurun akan terus menjadi raja di Israel sampai selama-lamanya. Namun Raja Saul kehilangan kesempatan itu. Dalam ayat di atas tertulis bahwa Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja Israel. Tuhan menyesal karena Saul menyalah-gunakan apa yang Ia berikan dan mengabaikan-Nya.

Keadaan dunia saat ini adalah seperti keadaan umat Israel pada waktu itu. Bagaimana tidak? Ancaman pandemi, kemunduran ekonomi, kemungkinan perang dan bencana alam menghantui rakyat berbagai negara. Memang, jika kita memikirkan masa mendatang, kita sadar bahwa tidak ada siapa atau apa pun yang bisa menjamin hari depan kita. Di dunia ini, tidak ada yang baik, tidak ada yang sempurna, tidak ada yang kekal. Harapan kita untuk adanya pemimpin yang bisa membimbing kita melewati keadaan yang sulit saat ini memang harus tetap ada, tetapi lebih penting dari itu kita harus sadar bahwa hanya Tuhan yang dapat memimpin kita dengan pasti menuju hari depan.

Hanya Tuhan yang mahakuasa dan mengerti kebutuhan umat-Nya serta bisa melindungi mereka dari bahaya. Tuhanlah juga yang bisa membimbing para pemimpin kita untuk bisa mengatur jalannya hidup bermasyarakat di tempat kita masing-masing. Sebagai umat Tuhan kita harus sadar bahwa para pemimpin dunia, bagaimana pun hebatnya, tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, di saat ini kita harus dengan tidak putus-putusnya berdoa seperti Samuel, memohon agar Tuhan sudi menolong para pemimpin kita. Kita juga harus berdoa agar para pemimpin kita mau memilih jalan yang benar, yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Berilah aku ketenangan ya Tuhan!

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Yesaya 40: 28-29

Hari ini ada kabar dari negara bagian New South Wales, Australia, bahwa karena kasus tambahan Covid positif yang mendekati 200 per hari dan sebarannya yang sulit untuk diketahui, seluruh kota Sydney dan sekitarnya dipastikan untuk mengalami perpanjangan lockdown selama sebulan. Hal ini tentunya membuat banyak orang resah karena sudah sebulan terkurung, sekarang penambahan kasus positif masih belum juga bisa teratasi. Keadaan ini dikuatirkan akan memperburuk kesehatan mental penduduknya dan membuat makin banyaknya orang yang kecanduan obat penenang dan obat penghilang rasa sakit.

Mengapa begitu banyak orang yang memakai obat-obat seperti itu? Ada berbagai sebabnya, antara lain karena orang ingin merasakan ketenangan pikiran, menghindari tekanan jiwa, mengurangi kelelahan tubuh atau sekadar mencari kenikmatan dalam ketidaksadaran. Memang, serupa dengan narkoba, obat-obatan ini bisa membuat pemakainya tidak sadar atas keadaan sekitarnya. Banyak pecandu obat semacam ini pada mulanya mungkin ingin mengurangi rasa lelah dan rasa sakit yang dideritanya dengan meminta resep dokter. Lambat laun dosis obat ini makin meningkat karena tubuh menjadi kebal, dan tanpa disadari mereka menjadi pecandu obat keras.

Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia saat ini, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Dalam suasana pandemi yang tidak kunjung reda ini, manusia kehilangan rasa aman yang dulunya ada. Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah meminum obat-obatan yang bisa untuk sementara menghilangkan rasa sakit. Bagi orang yang lain, mungkin doa permohonan kepada Tuhan masih bisa membawa sebuah harapan. Tetapi doa yang bagaimana?

Mungkin juga berita simpang-siur di media membuat anda bingung ikut mencari perlengkapan medis dan obat-obatan yang mungkin diperlukan jika ada anggota keluarga yang terpapar. Seperti banyak orang, anda mencari-cari nasihat tentang apa yang bisa dilakukan dan obat atau ramuan apa yang mungkin bisa diminum untuk menghindari serangan virus yang ganas ini. Sebagai manusia, naluri anda mengingatkan bahwa saat ini nasib anda ada di tangan anda sendiri. Dalam keadaan terdesak, pikiran sehat diganti dengan segala usaha (legal atau tidak, terbukti efektif atau tidak) untuk mempertahankan eksistensi. Anda mungkin siap dan bersedia untuk ikut berebut perlengkapan dan obat-obatan yang ditawarkan mereka yang memanfaatkan situasi untuk mencari untung. Dalam suasana chaos, seolah anda lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas kehidupan seluruh umat manusia di dunia.

Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia mana pun tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung adalah Tuhan yang selalu ada dan tahu apa yang terjadi dalam hidup umat-Nya. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana, tidak terduga pengertian-Nya.

Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa keringanan dan kesembuhan? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan dan kekuatiran yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita. 

Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tuhan yang tidak pernah lelah akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran. Maukah kita memercayakan hidup-mati kita kepada-Nya?

Jika Tuhan mengizinkan hal yang jahat terjadi

“Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” Habakuk 1: 13

Mengapa Tuhan membiarkan mereka kelaparan?

Mendengar dan menyaksikan kejadian-kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan di sekeliling kita di saat ini, mungkin kita merasa sedih karena dunia ini agaknya secara pelan-pelan menjadi semakin kacau, setidaknya di tempat-tempat tertentu. Dunia memang penuh dosa dan karena itu tidak bisa bebas dari kekacauan, kejahatan dan kekejaman, tetapi jika hal-hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa Tuhan berdiam diri?

Kejadian buruk yang terjadi di luar dugaan pada seseorang memang sering dihubungkan dengan faktor kebetulan: mungkin ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tetapi alasan ini untuk orang Kristen akan membawa pertanyaan: apakah ada hal yang kebetulan di hadapan Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa? Tentu Tuhan yang membiarkan hal yang jahat itu terjadi!

Tuhan adalah pencipta alam semesta yang membuat apa yang tidak baik dan kacau untuk menjadi baik dan indah. Tetapi mengapa Ia membiarkan adanya hal-hal yang keji atau menyedihkan di sekeliling kita? Tentu Tuhan mempunyai maksud atau rencana sekalipun kita sering tidak bisa memahaminya.

Ayat Habakuk 1: 13 di atas adalah keluhan nabi Habakuk karena Tuhan bermaksud membuat bangsa Babel yang jahat untuk menguasai bani Israel. Habakuk seakan menyatakan protes atas rencana Tuhan karena seakan Tuhan akan menelantarkan umat-Nya. Ia tidak mengerti bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan umat-Nya, pada saat-saat tertentu sengaja membiarkan terjadinya hal-hal yang tidak baik dan bahkan hal-hal yang jahat untuk menggenapi rencana-Nya.

Adalah menarik bahwa kita sering kali lupa bahwa Allah Bapa mengirimkan Anak-Nya ke dunia untuk disiksa dan disalibkan guna menebus dosa kita. Allah tidak menyiksa dan membunuh Yesus, tetapi Ia membiarkan orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang jahat kepada Yesus untuk menggenapi rencana penyelamatan-Nya. Sejarah gereja juga menulis bahwa setelah Yesus naik ke surga, umat Kristen juga mengalami penganiayaan yang besar, yang membawa banyak korban di antara orang percaya.

Berubahkah keadaan dunia setelah itu? Memang, orang umumnya berpikir bahwa dengan kemajuan sains, hukum dan pendidikan, agaknya manusia dapat hidup lebih baik atau teratur. Tetapi, apakah keadilan dan keamanan sudah sepenuhnya kita alami sekarang? Tentu saja tidak! Di dunia ini tetap ada orang-orang jahat yang hidup di antara umat Tuhan, seperti lalang di antara rumput-rumput. Wabah penyakit yang sudah dapat diatasi memang banyak, tapi penyakit baru masih juga muncul dari waktu ke waktu dan membuat sengsara banyak orang, terutama di negara-negara yang belum kuat ekonominya.

Tuhan membiarkan hal yang jahat ada, dan bahkan terkadang memakai hal yang jahat untuk membangun dan memperkuat umat-Nya di dunia. Semua itu bisa terjadi dengan seizin Tuhan yang mempunyai rencana agung untuk membawa setiap orang yang percaya kepada keselamatan, dan agar mereka yang sudah diselamatkan untuk makin beriman kepada-Nya. Bagi kita hal-hal semacam itu bukanlah pencobaan tetapi ujian iman.

Dari sejarah dunia, kita tahu bahwa Tuhan yang “membiarkan” umat Israel jatuh ketangan musuh-musuh mereka, ternyata tidak bermaksud meninggalkan mereka. Justru sebaliknya, Tuhan menggunakan masa-masa sulit untuk menggenapi rencana-Nya. Karena itu, kita boleh percaya bahwa seperti janji-Nya kepada bani Israel, Tuhan juga tetap membimbing umat-Nya dalam setiap keadaan untuk menuju ke arah yang baik, sesuai dengan rencana kasih-Nya!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jeremia 29: 11