
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
— Mazmur 118:24

Pada tahun 1970-an, sebuah lagu berjudul Beautiful Sunday menjadi populer dan membawa suasana ceria bagi banyak pendengarnya. Lagu itu mengingatkan kita akan sebuah hari Minggu yang indah, ketika hati terasa ringan dan kehidupan seolah-olah dipenuhi kegembiraan. Namun, apakah hari Minggu selalu terasa indah bagi setiap orang? Dan, sebagai orang Kristen, apakah kita seharusnya dapat merasakan keindahan hari Minggu?
Secara teologis, hari Minggu melambangkan hari pertama penciptaan ketika Allah berfirman, ‘Jadilah terang.’ Karena hal inilah, hari Minggu sering kali dikaitkan dengan pencerahan spiritual, kejelasan, dan perayaan kehidupan itu sendiri.
Dalam Kejadian 1:3, Allah berfirman, “Jadilah terang,” dan terang pun jadi. Terang menjadi bagian dari karya penciptaan Allah yang menghadirkan keteraturan dan kehidupan. Karena itu, kita dapat memakai terang sebagai gambaran rohani tentang kejelasan, pengharapan, dan kehidupan. Namun, menghubungkan secara khusus hari Minggu dengan terang pada hari pertama penciptaan merupakan refleksi teologis, bukan makna eksplisit yang dinyatakan dalam Mazmur di atas.
Mazmur 118:24 berkata, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Ayat ini juga sering digunakan untuk mengungkapkan sukacita menyambut hari yang diberikan Tuhan. Namun, jika kita memperhatikan konteksnya, pemazmur sedang mengungkapkan syukur atas pertolongan dan keselamatan yang diberikan Allah. Ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, tetapi kemudian menjadi batu penjuru. Gambaran ini kemudian diterapkan dalam Perjanjian Baru kepada Yesus Kristus, yang ditolak manusia tetapi ditinggikan oleh Allah. Karena itu, bagi orang Kristen, sukacita yang dinyatakan dalam Mazmur ini menemukan makna yang mendalam dalam karya keselamatan Kristus.
Hari Minggu memiliki tempat khusus dalam kehidupan orang Kristen karena mengingatkan kita akan kebangkitan Tuhan Yesus. Kubur yang kosong menyatakan bahwa kematian tidak memiliki kata terakhir. Kristus telah bangkit, dan kebangkitan-Nya menjadi dasar pengharapan kita. Karena itu, hari Minggu bukan sekadar hari libur, kesempatan untuk bersantai, atau rutinitas menghadiri kebaktian. Hari Minggu mengarahkan perhatian kita kembali kepada Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberikan pengharapan akan kehidupan baru.
Meskipun demikian, kita perlu mengakui bahwa tidak setiap hari Minggu terasa indah. Ada orang yang datang ke gereja dengan hati penuh sukacita, tetapi ada pula yang datang dengan beban pikiran, masalah keluarga, pergumulan ekonomi, atau penyakit yang belum sembuh. Ada yang baru kehilangan orang yang dikasihi, sementara yang lain sedang menghadapi ketidakpastian masa depan. Bagi mereka, ajakan untuk bersukacita mungkin terasa sulit, bahkan menyakitkan jika dipahami sebagai tuntutan untuk selalu tersenyum.
Iman Kristen tidak mengharuskan kita menyangkal kesedihan. Alkitab sendiri memberi ruang bagi ratapan, air mata, dan pertanyaan yang lahir dari penderitaan. Sukacita Kristen bukan berarti kita harus merasa bahagia setiap saat, melainkan bahwa di tengah keadaan yang tidak selalu menyenangkan, kita tetap memiliki dasar untuk berharap kepada Allah. Keadaan kita dapat berubah, tetapi kebangkitan Kristus tetap menjadi kenyataan yang menopang iman kita.
Lagu Beautiful Sunday menggambarkan keindahan melalui suasana yang menyenangkan. Namun, keindahan hari Minggu bagi orang Kristen memiliki dasar yang lebih dalam. Hari itu mengingatkan kita bahwa terang Allah tidak padam ketika kehidupan menjadi gelap. Kita mungkin belum menemukan jawaban atas pergumulan kita, tetapi kita dapat datang kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa hidup kita tidak berada di luar pemeliharaan-Nya.
Sesungguhnya, bukan hanya hari Minggu yang dijadikan Tuhan. Setiap hari adalah pemberian-Nya. Namun, ketika kita berkumpul untuk beribadah, mendengarkan firman, berdoa, dan bersekutu dengan sesama orang percaya, kita memperoleh kesempatan khusus untuk mengingat kembali anugerah-Nya. Kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang sedang kita alami, melainkan juga dari apa yang telah Kristus kerjakan bagi kita dan pengharapan yang tersedia di dalam Dia.
Karena itu, marilah kita menyambut setiap hari Minggu dengan hati yang bersyukur. Kita tidak perlu menunggu semua masalah selesai untuk menemukan alasan bersukacita. Sekalipun hari ini tidak berjalan seperti yang kita harapkan, kita tetap dapat berkata bahwa hari ini adalah pemberian Tuhan. Hari Minggu yang indah bukanlah hari ketika semua masalah telah lenyap, melainkan hari ketika kita kembali mengarahkan hati kepada Kristus yang telah bangkit dan menemukan pengharapan di dalam-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih untuk hari yang Engkau berikan. Ajar kami bersukacita bukan hanya ketika hidup terasa indah, tetapi juga ketika kami menghadapi kesulitan. Ingatkan kami akan kebangkitan Kristus, sumber pengharapan kami, agar kami menjalani hari ini dengan hati yang bersyukur dan iman yang teguh. Amin.

Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
jika kutaruh tempat tidurku di dunia orang mati,
di situ pun Engkau.
Demikian firman-Mu,
dan aku percaya.
Namun, pagi ini,
di tengah sunyi yang tak terucapkan,
aku bertanya dengan hati yang letih:
Di manakah Engkau, Tuhan?
Kesulitanku begitu besar,
jalanku begitu gelap,
dan beban yang kupikul
terasa lebih berat daripada kekuatanku.
Aku berdoa, tetapi langit seakan membisu.
Aku mencari, tetapi tak kutemukan jawaban.
Aku menanti, tetapi waktu terus berlalu.
Tuhan, mungkinkah Engkau ada di balik semua ini?
Ataukah aku yang terlalu lemah
untuk melihat kehadiran-Mu?
Aku tahu Engkau tidak pernah berjanji
bahwa hidupku akan bebas dari air mata,
bahwa setiap luka akan segera sembuh,
atau setiap doaku dijawab seperti yang kumau.
Namun, bukankah Engkau Allah yang dekat
kepada mereka yang patah hati?
Bukankah Engkau tempat perlindungan
ketika segala sesuatu terasa tak menentu?
Maka, jangan biarkan kesulitanku
menjadi ukuran bagi kasih setia-Mu.
Jangan biarkan keheningan-Mu
kuartikan sebagai ketidakhadiran-Mu.
Dan ketika imanku goyah,
ketika pengertianku terbatas,
ketika aku tak sanggup melihat
apa yang ada di depan,
ajar aku untuk tetap datang kepada-Mu,
meski hanya dengan air mata,
meski tanpa kata-kata,
meski hanya dengan sebuah pertanyaan:
“Tuhan, di manakah Engkau?”
Sebab, mungkin aku belum memahami
mengapa jalan ini begitu berat.
Mungkin aku belum melihat
apa yang sedang Engkau kerjakan.
Tetapi hari ini,
aku tidak meminta untuk mengetahui segalanya.
Aku hanya memohon anugerah-Mu:
berilah aku kekuatan untuk melangkah,
kesabaran untuk menanti,
dan iman untuk tetap berharap,
bahkan ketika harapan itu terasa jauh.
Jika aku tak mampu merasakan kehadiran-Mu,
tolong aku untuk tetap mencari-Mu.
Jika aku tak mengerti jalan-Mu,
tolong aku untuk tetap percaya.
Dan jika pagi ini aku hanya sanggup berbisik,
“Di manakah Engkau, Tuhan?”
Biarlah bisikan itu tetap menjadi doaku,
sampai kelak aku menyadari,
bahwa dalam lembah tergelap sekalipun,
aku tidak pernah berada
di luar jangkauan kasih-Mu.
Amin.
(Di tulis berdasarkan Mazmur 139:8)
“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”
— 2 Korintus 12:9

Ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan, kita sering menghiburnya dengan berkata, “Masa-masa sulit tidak akan bertahan lama,” atau, “Bersama Tuhan kita pasti menang!” Nasihat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk membangkitkan semangat dan menguatkan iman. Namun, benarkah setiap penderitaan akan segera berlalu dan setiap persoalan pasti berakhir seperti yang kita harapkan? Kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang bertahun-tahun hidup dengan penyakit yang tidak kunjung sembuh, ada kehilangan yang tidak pernah dapat tergantikan, dan ada orang percaya yang tetap bergumul dengan kesulitan hingga akhir hayatnya.
Alkitab tidak menjanjikan bahwa iman kepada Tuhan akan membebaskan kita dari setiap penderitaan. Kemenangan di dalam Kristus tidak selalu berarti masalah kita terselesaikan, melainkan bahwa di tengah masalah yang belum terselesaikan sekalipun, kita tetap dapat hidup dalam kasih karunia dan pemeliharaan-Nya.
Pernahkah kita sendiri merasa lelah menghadapi persoalan hidup yang seolah-olah tidak kunjung berakhir? Kita sudah berdoa, berusaha, dan berharap, tetapi keadaan tetap tidak berubah. Penyakit belum sembuh, masalah keluarga belum terselesaikan, kesulitan ekonomi terus membebani, atau kehilangan seseorang yang kita kasihi meninggalkan luka yang sulit dipulihkan. Dalam keadaan seperti itu, tidak jarang kita bertanya dalam hati, “Tuhan, sampai kapan aku harus menanggungnya? Mengapa Engkau belum mengangkat beban ini?”
Pertanyaan semacam itu tidak selalu menunjukkan lemahnya iman. Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang percaya harus selalu tersenyum ketika menghadapi penderitaan. Kitab Mazmur dipenuhi dengan seruan orang-orang yang bergumul, menangis, dan bertanya kepada Tuhan. Bahkan Yesus sendiri menangis ketika berada di hadapan kubur Lazarus. Iman tidak meniadakan kesedihan, dan air mata bukanlah bukti bahwa kita telah kehilangan kepercayaan kepada Tuhan.
Paulus pun bukan orang asing terhadap penderitaan. Dalam 2 Korintus 12, ia menceritakan tentang “duri dalam daging” yang menyusahkannya. Kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang dimaksud dengan duri tersebut, tetapi jelas bahwa hal itu menjadi beban baginya. Paulus telah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya duri itu diangkat. Namun, jawaban yang diterimanya bukanlah pembebasan dari penderitaan, melainkan firman Tuhan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”
Jawaban itu mungkin bukan jawaban yang kita harapkan ketika sedang menderita. Kita ingin masalah segera selesai, penyakit disembuhkan, pintu yang tertutup dibukakan, dan keadaan kembali seperti semula. Namun, Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita minta dalam bentuk dan waktu yang kita inginkan. Kadang-kadang Ia mengubah keadaan kita, tetapi kadang-kadang Ia menopang kita ketika keadaan itu belum berubah. Kasih karunia-Nya tidak selalu mengangkat beban yang kita pikul, tetapi dapat memberi kekuatan untuk menanggungnya.
Tentu saja, berserah kepada Tuhan bukan berarti kita berhenti berusaha atau mengabaikan pertolongan yang tersedia. Kita boleh berdoa memohon kesembuhan, menjalani pengobatan, mencari nasihat yang bijaksana, dan meminta bantuan orang lain. Semua itu dapat menjadi sarana pemeliharaan Tuhan. Namun, ketika berbagai usaha telah dilakukan dan beban itu masih harus ditanggung, kita belajar bahwa kekuatan kita sendiri bukanlah satu-satunya sandaran.
Paulus bahkan berkata bahwa ia bermegah dalam kelemahannya supaya kuasa Kristus menaunginya. Ia tidak sedang memuliakan penderitaan atau menikmati kelemahannya. Ia menyadari bahwa keterbatasan dirinya tidak membatalkan kuasa Tuhan. Justru ketika ia tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri, ia semakin menyadari betapa besar kebutuhannya akan kasih karunia Kristus.
Mungkin hari ini kita masih menanggung beban yang sama. Kita belum memperoleh jawaban atas doa-doa kita dan tidak tahu berapa lama lagi perjalanan ini berlangsung. Kita tidak perlu berpura-pura kuat atau memaksakan diri untuk selalu bersukacita. Kita boleh datang kepada Tuhan dengan hati yang letih dan berdoa, “Tuhan, aku tidak tahu sampai kapan harus menanggungnya. Tolonglah aku menjalani hari ini dengan kasih karunia-Mu.”
Kita tidak tahu kapan badai akan berlalu, tetapi kita dapat berpegang pada janji bahwa kasih karunia Kristus cukup bagi kita. Pengharapan kita bukanlah kepastian bahwa semua kesulitan segera berakhir, melainkan keyakinan bahwa dalam kelemahan sekalipun, kita tidak ditinggalkan-Nya. Sebab kemenangan iman bukan selalu tentang berhasil keluar dari badai, melainkan tentang tetap berjalan bersama Kristus, bahkan ketika badai itu belum berlalu.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ketika beban hidup terasa berat dan kami tidak mengetahui sampai kapan harus menanggungnya, kuatkanlah kami dengan kasih karunia-Mu. Tolong kami tetap beriman, mencari pertolongan yang diperlukan, dan menjalani setiap hari dalam penyertaan-Mu. Biarlah kuasa-Mu nyata dalam kelemahan kami. Amin.
“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan. Berkatalah aku dalam hati: ‘Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.’”
— Pengkhotbah 3:16–17

Kita hidup dalam dunia yang teratur. Matahari terbit dan terbenam menurut keteraturan yang dapat kita amati. Gravitasi bekerja apakah kita berdoa atau tidak. Tubuh memiliki hukum biologis, dan tindakan manusia sering membawa konsekuensi. Karena itu kita dapat belajar, merencanakan, bekerja, berobat, dan mengambil keputusan berdasarkan pola-pola yang Tuhan tanamkan dalam ciptaan-Nya. Keteraturan itu sendiri merupakan anugerah.
Namun, apakah hidup kemudian berjalan seperti sebuah mesin? Tidak.
Pengkhotbah mengajak kita melihat kenyataan yang lebih pahit. “Di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan.” Tempat yang seharusnya menegakkan keadilan ternyata dapat menjadi tempat ketidakadilan. Orang yang benar dapat menderita, sementara orang yang tidak adil kadang justru tampak berhasil. Prinsip bahwa manusia akan menuai apa yang ditaburnya memang benar, tetapi Alkitab tidak mengajarkannya sebagai rumus mekanis yang selalu menghasilkan akibat secara langsung.
Kalau kehidupan berjalan seperti mesin, orang yang rajin selalu berhasil, orang jujur selalu menang, orang jahat selalu segera dihukum, dan orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh selalu mendapatkan apa yang dimintanya. Tetapi pengalaman hidup dan kesaksian Alkitab sendiri menunjukkan bahwa kenyataannya tidak demikian. Ayub menderita bukan karena ia lebih jahat daripada orang lain. Asaf pernah hampir tergelincir ketika melihat kemakmuran orang fasik. Bahkan Yesus sendiri, satu-satunya manusia yang benar-benar tanpa dosa, mengalami penderitaan dan kematian.
Karena itu kita perlu membedakan antara keteraturan ciptaan dan kendali mekanis atas segala peristiwa. Tuhan memang menetapkan hukum-hukum alam dan prinsip-prinsip moral, tetapi Tuhan tidak menjadi tawanan hukum-hukum yang Ia tetapkan. Ia dapat bekerja melalui proses yang biasa, tetapi Ia juga bebas bertindak dengan cara yang tidak dapat kita prediksi. Mukjizat bukan berarti Tuhan kehilangan kendali atas ciptaan-Nya; justru mukjizat menunjukkan bahwa keteraturan alam bukanlah Allah itu sendiri.
Demikian pula, doa bukanlah cara untuk menghindari tanggung jawab. Kita tetap harus bekerja, berhati-hati, belajar, menjaga kesehatan, mencari pertolongan medis ketika diperlukan, dan menghadapi konsekuensi keputusan kita. Berdoa tidak berarti menolak prinsip-prinsip yang Tuhan berikan. Tetapi doa juga tidak boleh direduksi menjadi sekadar usaha untuk “menyelaraskan diri” dengan sebuah sistem hukum yang impersonal. Kita berdoa kepada Allah yang hidup, yang mendengar, mengasihi, memelihara, dan dapat bertindak menurut kehendak-Nya.
Pengkhotbah tidak memberikan kita sebuah rumus untuk mengendalikan kehidupan. Ia justru mengarahkan kita kepada pengharapan bahwa Allah akan mengadili. Jika hari ini keadilan belum terlihat, bukan berarti keadilan tidak ada. Jika orang benar belum menerima hasil yang diharapkannya, bukan berarti kesetiaannya sia-sia. Ada waktu Tuhan yang tidak selalu sama dengan waktu kita.
Mungkin inilah salah satu pelajaran penting dalam perjalanan hidup: kita tidak dipanggil untuk memahami dan mengendalikan seluruh mekanisme kehidupan. Kita dipanggil untuk setia di tengah kehidupan yang tidak selalu dapat kita jelaskan. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, menggunakan hikmat, berdoa dengan tekun, menerima keterbatasan kita, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Hidup bukan mesin. Dunia memiliki keteraturan, tetapi juga berada dalam kondisi yang belum dipulihkan sepenuhnya. Karena itu kita tidak boleh menjadikan setiap keberhasilan sebagai bukti bahwa seseorang pasti benar, atau setiap penderitaan sebagai bukti bahwa seseorang pasti salah. Pada akhirnya, bukan hukum sebab-akibat yang menjadi hakim terakhir, melainkan Allah sendiri.
Dan ketika kita tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi, kita masih dapat berkata: Tuhan mengetahui waktunya. Tuhan mengetahui jalannya. Dan Tuhan tetap memegang kehidupan kita.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami menerima keteraturan yang Engkau berikan, tetapi jangan biarkan kami menganggap hidup sebagai sebuah mesin yang dapat kami pahami dan kendalikan sepenuhnya. Berikan kami hikmat untuk bertanggung jawab, iman untuk berdoa, kesabaran ketika keadilan belum terlihat, dan kepercayaan bahwa pada waktu-Mu Engkau akan menyatakan keadilan-Mu. Amin.
“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
— Yakobus 5:16

“Pray. It causes miracles.” Berdoalah. Itu menyebabkan mukjizat.
Kalimat ini terdengar indah dan membangkitkan semangat. Namun, ada yang perlu kita luruskan. Doa memang berkuasa, tetapi bukan karena doa memiliki kekuatan magis untuk menghasilkan mukjizat. Kuasa doa terletak pada Allah yang mendengar dan berkenan bekerja melalui doa umat-Nya.
Yakobus memberikan contoh yang kuat. Setelah mengatakan bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya, ia mengingatkan pembacanya kepada Elia: “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita.” Elia bukan manusia super-rohani yang memiliki kuasa khusus. Ia manusia biasa, dengan kelemahan dan pergumulannya sendiri. Namun ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, dan Allah bertindak.
Elia berdoa supaya hujan tidak turun, dan hujan tidak turun selama tiga tahun enam bulan. Kemudian ia berdoa lagi dan hujan turun. Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang seorang nabi yang doanya mampu menghasilkan mukjizat. Ini adalah kisah tentang Allah yang bekerja melalui doa seorang manusia biasa. Karena itu, yang perlu kita kagumi bukanlah “kekuatan” Elia atau doa itu sendiri, melainkan Allah yang mendengar doanya.
Kita tidak perlu takut mengakui bahwa Allah masih dapat dan mau melakukan mukjizat. Kesembuhan yang tidak dapat dijelaskan secara medis, pertolongan yang datang secara luar biasa, atau suatu peristiwa yang melampaui apa yang secara manusiawi mungkin dapat menjadi karya Allah yang ajaib. Alkitab sendiri penuh dengan kesaksian tentang pekerjaan Allah yang melampaui kemampuan manusia.
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar kata “mukjizat” tidak digunakan untuk setiap berkat yang kita terima. Tidak semua karya Tuhan harus berupa sesuatu yang luar biasa. Ketika seorang dokter menemukan penyakit dengan tepat, ketika obat bekerja, ketika tubuh perlahan pulih, ketika seorang sahabat datang tepat pada waktunya, atau ketika seseorang memperoleh pekerjaan melalui usaha dan kesempatan yang terbuka, kita juga dapat melihat tangan pemeliharaan Tuhan di sana.
Yang dapat dijelaskan secara manusiawi tidak berarti tidak dikerjakan oleh Tuhan. Allah yang melakukan mukjizat juga menopang kehidupan melalui hukum-hukum alam, pekerjaan manusia, hikmat, pengobatan, keluarga, dan berbagai sarana yang setiap hari kita anggap biasa.
Karena itu, janganlah kita hanya mencari Tuhan dalam perkara yang spektakuler. Mukjizat adalah salah satu cara Allah menyatakan kuasa-Nya; pemeliharaan-Nya melalui hal-hal biasa juga merupakan karya kasih-Nya.
Kita boleh memohon kesembuhan, pertolongan, jalan keluar, bahkan mukjizat. Kita boleh datang dengan iman dan pengharapan. Tetapi doa bukan alat untuk memaksa Tuhan memenuhi keinginan kita. Kita berdoa karena kita percaya kepada-Nya dan menyerahkan permohonan kita ke dalam tangan-Nya.
Paulus sendiri berdoa agar “duri dalam daging”-nya disingkirkan. Namun Tuhan tidak mengambilnya. Jawaban-Nya justru, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Allah menjawab doa Paulus bukan dengan mengubah keadaannya, melainkan dengan memberikan kasih karunia yang cukup untuk menjalaninya.
Di sinilah kita menemukan sesuatu yang lebih dalam. Yang paling ajaib dalam kehidupan orang percaya bukan selalu perubahan keadaan, melainkan kasih Tuhan yang tetap hadir dalam setiap keadaan. Ketika kita sembuh, Tuhan tetap baik. Ketika kita belum sembuh, Tuhan tetap baik. Ketika doa kita dijawab seperti yang kita harapkan, Tuhan tetap baik. Ketika jawaban-Nya berbeda, Tuhan tetap baik.
Maka, berdoalah. Berdoalah dengan iman, karena Tuhan mendengar. Berdoalah dengan pengharapan, karena Tuhan berkuasa. Jika Ia memberikan mukjizat, bersyukurlah. Jika Ia bekerja melalui cara-cara yang biasa, bersyukurlah. Dan jika keadaan belum berubah, tetaplah percaya.
Sebab kuasa doa bukan terletak pada kemampuan kita menghasilkan mukjizat, melainkan pada Allah yang mendengar doa kita. Tuhan mendengar. Tuhan hadir. Tuhan bekerja. Dan kasih karunia-Nya cukup bagi kita.
Doa Penutup
Tuhan, kami percaya Engkau mendengar doa kami dan berkuasa melakukan mukjizat. Ajarlah kami menerima setiap jawaban-Mu dengan iman dan kerendahan hati. Jika Engkau menyatakan kuasa-Mu melalui mukjizat, biarlah kami memuliakan-Mu; jika Engkau bekerja melalui cara-cara yang biasa, ajarlah kami mengenali tangan-Mu. Dan ketika keadaan tidak berubah seperti yang kami harapkan, teguhkanlah kami untuk tetap percaya bahwa kasih karunia-Mu cukup bagi kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
— Yohanes 10:10

Ketika mendengar kata “pencuri”, kita biasanya membayangkan seseorang yang datang untuk mengambil milik orang lain. Karena itu, Yohanes 10:10 sering kali diterapkan kepada berbagai hal yang dapat merampas sukacita, waktu, atau kekayaan rohani kita. Penerapan seperti itu dapat menjadi bahan perenungan yang baik, tetapi kita perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud Yesus dengan “pencuri” dalam konteksnya.
Yohanes 10 merupakan kelanjutan dari peristiwa dalam Yohanes 9. Yesus telah menyembuhkan seorang yang sejak lahir buta. Namun orang Farisi, yang seharusnya menjadi pemimpin umat Allah, justru menolak kesaksian orang itu dan mengucilkannya. Mereka melihat dengan mata jasmani, tetapi gagal mengenali siapa Yesus. Dalam konteks itulah Yesus berbicara tentang domba dan gembala, tentang pintu kandang, dan tentang pencuri yang datang bukan melalui pintu.
Yesus sedang membandingkan gembala yang sejati dengan pemimpin yang tidak benar. Domba mengenal suara gembalanya dan mengikutinya. Sang Gembala yang baik mengenal domba-domba-Nya dan memelihara mereka. Sebaliknya, pencuri datang untuk mengambil, membunuh, dan membinasakan.
Jadi, secara teologis, “pencuri” dalam bagian ini bukanlah setiap kesenangan dunia atau setiap hal yang dapat mengganggu kehidupan rohani kita. Istilah itu berkaitan dengan mereka yang mengambil tempat sebagai pemimpin umat Allah tetapi tidak menggembalakan mereka dengan benar. Mereka tidak membawa domba kepada kehidupan, melainkan merusak dan membinasakan.
Kontrasnya sangat indah. Pencuri datang untuk mengambil, sedangkan Yesus datang untuk memberikan. Pencuri merusak domba, sedangkan Gembala yang Baik bahkan memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.
Karena itu, pusat Yohanes 10:10 sebenarnya bukan pencurinya, melainkan Kristus Sang Gembala yang Baik. Ia berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup.” Kehidupan yang dimaksud bukan sekadar kehidupan yang nyaman, makmur, atau penuh kesenangan, melainkan kehidupan yang berasal dari Allah dan mencapai kepenuhannya dalam Kristus.
Namun gambaran tentang pencuri tetap memberikan sebuah pertanyaan yang serius bagi kita. Jika Kristus adalah Gembala kita, siapa atau apa yang sedang kita dengarkan? Kepada siapa kita memberikan perhatian dan kepercayaan kita?
Di sinilah kita dapat melakukan penerapan secara hati-hati. Harta bukan “pencuri” dalam arti Yohanes 10. Kenyamanan bukan “pencuri” dalam arti itu. Hiburan, keluarga, kesehatan, perjalanan, bahkan kegiatan gereja juga bukan pencuri dalam pengertian langsung teks tersebut. Semuanya dapat menjadi pemberian Tuhan yang baik.
Tetapi hal-hal yang baik dapat mengambil tempat yang tidak semestinya dalam hati kita. Harta dapat menjadi lebih penting daripada Tuhan. Kenyamanan dapat membuat kita kehilangan kerelaan berkorban. Hiburan dapat menghabiskan waktu yang seharusnya diberikan kepada Tuhan. Keluarga dapat menyerap seluruh perhatian kita. Bahkan pelayanan dan kegiatan gereja dapat menjadi begitu dominan sehingga kita lebih menikmati kegiatan tentang Kristus daripada Kristus sendiri.
Kita dapat sibuk mengikuti kebaktian, seminar, konferensi, persekutuan, musik rohani, dan berbagai program gereja. Semua itu dapat sangat baik. Tetapi kita perlu terus bertanya: apakah kegiatan tersebut membawa kita semakin mengenal Sang Gembala, mendengar suara-Nya, dan mengikuti-Nya? Ataukah perhatian kita justru berhenti pada acaranya, pembicaranya, musiknya, suasananya, atau keberhasilan pelayanannya?
Ada kemungkinan seseorang sangat aktif bekerja untuk Kristus, tetapi semakin jarang berdiam di hadapan Kristus. Bukan karena kegiatan gerejanya salah, tetapi karena sesuatu yang seharusnya menjadi sarana akhirnya mengambil tempat sebagai tujuan.
Maka pertanyaan yang penting bukan hanya, “Apakah ini baik?” tetapi juga, “Apakah ini masih membawa saya kepada Kristus?”
Semakin bertambah usia, pertanyaan itu mungkin menjadi semakin penting. Banyak hal yang dahulu memenuhi hidup kita perlahan-lahan berubah atau harus kita lepaskan. Karier berakhir, anak-anak menjadi mandiri, tubuh tidak sekuat dahulu, dan kenikmatan duniawi tidak lagi memberikan kepuasan yang sama. Pada akhirnya kita menyadari bahwa tidak ada ciptaan yang dapat menjadi sumber kehidupan yang kekal.
Tetapi Sang Gembala tetap ada.
Ia tidak datang untuk mengambil hidup kita. Ia justru datang untuk memberikan hidup yang sejati. Ia mengenal domba-domba-Nya, memanggil mereka, memimpin mereka, dan memberikan nyawa-Nya bagi mereka. Itulah kelimpahan yang sejati.
Karena itu, marilah kita waspada bukan dengan mencurigai setiap kesenangan atau kegiatan, melainkan dengan menjaga Kristus tetap berada di pusat. Kita boleh menikmati berkat-Nya tanpa menggantikan Dia dengan berkat tersebut. Kita boleh aktif melayani tanpa kehilangan persekutuan dengan-Nya. Kita boleh menikmati kehidupan dunia tanpa melupakan bahwa kehidupan yang paling berharga adalah kehidupan yang diberikan oleh Sang Gembala.
Jangan sampai kita begitu sibuk dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Kristus sehingga kehilangan Kristus sendiri. Jangan sampai kelimpahan hidup dalam Kristus kemudian diganti dengan pelampiasan keinginan diri sendiri,
Sebab pencuri datang untuk mengambil, tetapi Gembala yang Baik datang untuk memberikan. Pencuri membawa kehancuran, tetapi Kristus memberikan kehidupan dalam segala kelimpahan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkaulah Gembala kami yang Baik. Tolong kami mengenal suara-Mu dan tetap mengikuti-Mu. Jangan biarkan harta, kenyamanan, kesenangan, keluarga, pekerjaan, ataupun pelayanan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik-Mu. Ajarlah kami menikmati semua berkat-Mu dengan syukur, tetapi tetap menemukan kepuasan dan kehidupan yang sejati di dalam Engkau. Amin.
“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
— Mazmur 118:24

Ayat ini sering kita dengar atau ucapkan pada hari Minggu. Tidak mengherankan, sebab hari Minggu adalah hari ketika umat Kristen berkumpul untuk beribadah dan mengingat kebangkitan Yesus Kristus. Namun, Mazmur 118:24 sebenarnya tidak sedang mengatakan bahwa hari Minggu adalah “hari yang dijadikan Tuhan”. Setiap hari adalah milik Tuhan. Yang dimaksud pemazmur adalah suatu hari ketika Tuhan bertindak dan menyatakan keselamatan-Nya.
Mazmur 118 adalah mazmur pujian dan ucapan syukur atas kasih setia Tuhan. Mazmur ini dimulai dan diakhiri dengan seruan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Di antara kedua seruan itu, pemazmur menceritakan bagaimana ia mengalami kesesakan, ancaman, dan penolakan, tetapi kemudian mengalami pertolongan Tuhan.
Ia berseru kepada Tuhan dalam kesesakan, dan Tuhan menjawab dengan memberikan kelegaan. Karena itu, ia belajar bahwa lebih baik berlindung kepada Tuhan daripada mengandalkan manusia. Ia memang menghadapi musuh yang mengepung, tetapi ia dapat berkata bahwa dalam nama TUHAN ia mengalahkan mereka. Sukacitanya bukan karena hidupnya bebas dari masalah, melainkan karena ia mengalami bahwa Tuhan tetap setia dan bertindak menyelamatkan.
Puncaknya terlihat dalam ayat 22–24:
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
Di sini terdapat hubungan yang sangat indah antara penolakan dan kemenangan. Batu itu dibuang karena dianggap tidak layak. Namun Tuhan justru menjadikannya batu penjuru. Apa yang ditolak manusia dipakai Tuhan untuk sesuatu yang menentukan. Apa yang tampak sebagai kegagalan ternyata tidak menggagalkan maksud Tuhan.
Karena itu, “hari yang dijadikan TUHAN” bukan terutama menunjuk kepada suatu nama hari dalam kalender. Yang membuat hari itu istimewa adalah tindakan Tuhan di dalamnya. Tuhan membalikkan keadaan. Penolakan tidak menjadi kata terakhir. Kemenangan berasal dari Tuhan.
Bagi kita sebagai orang Kristen, hubungan ini menjadi semakin jelas dalam diri Yesus Kristus. Yesus ditolak, dihina, disalibkan, dan dibunuh. Dari sudut pandang manusia, salib tampak sebagai kekalahan. Namun Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Yang ditolak manusia justru menjadi Batu Penjuru. Yang tampak sebagai kekalahan ternyata menjadi kemenangan. Salib menjadi jalan keselamatan, dan kebangkitan menyatakan kemenangan Kristus atas dosa dan maut.
Tidak mengherankan jika para rasul kemudian menggunakan Mazmur 118:22 untuk menjelaskan karya Kristus. Karena itu, ketika kita membaca ayat 24 dalam terang Injil, kita tidak perlu mengartikannya sebagai “hari Minggu adalah hari yang dijadikan Tuhan.” Hari Minggu memang sangat berarti bagi umat Kristen karena mengingatkan kita kepada kebangkitan Kristus. Namun dasar sukacita kita bukanlah nama harinya. Dasar sukacita kita adalah kemenangan Kristus yang telah dikerjakan Allah.
Lalu apa artinya bagi hari-hari kita sekarang? Setiap hari yang Tuhan berikan adalah kemurahan-Nya. Ketika kita membuka mata pada pagi hari, kita menerima kesempatan baru untuk menyadari kebaikan Tuhan dan mengingat kembali karya keselamatan-Nya.
Tidak semua hari terasa menyenangkan. Ada hari yang dipenuhi sukacita, tetapi ada pula hari yang membawa air mata, kekecewaan, sakit, atau ketidakpastian. Namun keadaan hari ini tidak mengubah kenyataan bahwa Kristus telah menang. Kita tidak selalu tahu bagaimana Tuhan akan bekerja dalam persoalan kita, dan kita tidak boleh menganggap setiap penolakan pasti akan berakhir dengan keberhasilan menurut keinginan kita. Tetapi kita tahu bahwa penolakan manusia tidak dapat menggagalkan rencana keselamatan Tuhan.
Karena itu, setiap hari dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengingat kemenangan Kristus. Hari-hari ini mungkin bukan hari yang mudah, tetapi hari ini tetap berada di dalam tangan Tuhan. Kita dapat bersyukur bukan karena semua yang terjadi sesuai dengan keinginan kita, melainkan karena kasih setia Tuhan tetap ada dan kemenangan Kristus telah menjadi dasar pengharapan kita.
“Inilah hari yang dijadikan TUHAN.” Marilah kita menyambut hari yang Tuhan berikan dengan hati yang bersyukur. Bukan hanya pada hari Minggu, tetapi setiap hari, kita dapat berhenti sejenak dan menyadari kemurahan-Nya: Tuhan masih memberi kita hari ini untuk hidup, mengasihi, melayani, dan terutama untuk kembali mengingat bahwa Kristus telah menang bagi kita.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih untuk setiap hari yang Engkau berikan kepada kami. Tolong kami melihat kemurahan-Mu dan tidak kehilangan pengharapan ketika menghadapi penolakan, kesulitan, atau kekecewaan. Ingatkan kami bahwa Kristus telah menang dan kemenangan-Nya menjadi dasar sukacita dan pengharapan kami. Dalam nama Yesus. Amin.
“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”
— Yakobus 4:4

Yakobus 4 dimulai dengan pertanyaan tentang sumber sengketa dan pertengkaran di antara orang percaya. Ia menunjuk kepada keinginan-keinginan yang berjuang di dalam hati: manusia mengingini, iri hati, mengejar kepuasan, bahkan berdoa dengan motivasi yang salah—yaitu untuk memuaskan hawa nafsunya sendiri (Yakobus 4:1–3).
Dalam konteks itulah Yakobus berkata, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia!” Istilah ini menggunakan gambaran ketidaksetiaan dalam hubungan perkawinan. Mereka mengaku sebagai umat Allah, tetapi hati mereka telah condong kepada “dunia”—bukan sekadar dunia sebagai tempat manusia hidup, melainkan pola pikir dan keinginan yang menempatkan kepuasan diri di atas kehendak Allah.
Jadi, persahabatan dengan dunia bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan orang yang tidak percaya, bekerja, memiliki harta, menggunakan teknologi, atau menikmati kehidupan yang Tuhan berikan. Persoalannya adalah ketika nilai-nilai dunia mulai menguasai hati dan menentukan apa yang kita cintai, kejar, dan percayai. Di sinilah perzinahan rohani dapat terjadi.
Di zaman ini, kita mungkin tidak pernah menyembah patung berhala, tetapi kita dapat memiliki berhala dalam bentuk uang, karier, keberhasilan, kenyamanan, status, atau pengakuan manusia. Semua itu pada dirinya sendiri tidak selalu salah. Namun sesuatu yang baik dapat menjadi berhala ketika mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah.
Uang, misalnya, dapat menjadi sumber keamanan yang menggantikan kepercayaan kepada Tuhan. Keberhasilan dapat menjadi sumber identitas. Pengakuan manusia dapat menjadi kebutuhan yang menguasai hati. Media sosial bahkan dapat membuat kita terus-menerus mencari perhatian dan validasi. Tanpa disadari, kita lebih sibuk membangun citra diri daripada membangun karakter di hadapan Allah.
Perzinahan rohani juga terjadi ketika kita mulai berkompromi dengan dosa karena ingin diterima oleh lingkungan. Apa yang dahulu kita anggap salah perlahan-lahan menjadi biasa: pornografi, ketidaksetiaan, kebencian, ketamakan, hedonisme, dan berbagai bentuk kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Kita mungkin berkata, “Semua orang melakukannya.” Tetapi standar kekudusan bukanlah apa yang dianggap normal oleh masyarakat, melainkan apa yang berkenan kepada Allah.
Demikian pula ketika hati mencari rasa aman melalui sumber-sumber spiritual lain—ramalan, horoskop, tarot, jimat, perdukunan, atau berbagai praktik yang menjanjikan kepastian. Ketika ketakutan membuat kita mencari perlindungan di luar Tuhan, kesetiaan kita sedang diuji.
Yang lebih halus adalah ketika kehidupan rohani tetap berjalan secara lahiriah, tetapi hati semakin jauh dari Allah. Kita tetap pergi ke gereja, berdoa, menyanyi, dan melayani, namun keinginan kita semakin berpusat pada diri sendiri. Aktivitas keagamaan masih ada, tetapi kasih kepada Tuhan mulai kehilangan tempatnya.
Karena itu, perzinahan rohani tidak selalu dimulai dengan meninggalkan Tuhan secara terbuka. Sering kali ia dimulai ketika sesuatu yang lain perlahan-lahan mengambil tempat Tuhan di dalam hati.
Namun Yakobus tidak berhenti pada teguran. Beberapa ayat kemudian ia memberikan jalan kembali: “Tunduklah kepada Allah” dan “dekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” (Yakobus 4:7–8). Ada pengharapan bagi hati yang menyadari ketidaksetiaannya. Allah memanggil kita bukan sekadar untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk kembali menempatkan Dia sebagai pusat kehidupan.
Maka pertanyaan bagi kita bukan hanya, “Apakah saya masih percaya kepada Tuhan?” Melainkan, “Apa yang paling saya cintai? Apa yang paling saya takut kehilangan? Kepada siapa saya mencari keamanan, identitas, dan kepuasan?”
Mungkin kita tidak pernah bersujud di depan patung. Tetapi hati manusia tetap dapat memiliki berhala.
Kiranya kita berani memeriksa hati di hadapan Tuhan dan mendengar kembali undangan-Nya: “Dekatlah kepada Allah.”
Tuhan, ampuni kami ketika hati kami tidak setia kepada-Mu dan berpaling kepada dunia. Singkapkan segala sesuatu yang telah mengambil tempat-Mu dalam hati kami. Pulihkan kesetiaan kami, sucikan hati kami, dan mampukan kami untuk kembali dekat kepada-Mu serta menjadikan Engkau satu-satunya Tuhan dalam hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.”
— 2 Yohanes 1:8-9

“Dapatkah saya kehilangan keselamatan saya?” Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam hati banyak orang Kristen. Jawabannya tampaknya hanya dua: ya atau tidak. Namun, ketika kita membaca Alkitab secara keseluruhan, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam. Di satu sisi, keselamatan adalah anugerah Tuhan yang tidak mungkin kita peroleh dengan usaha sendiri. Di sisi lain, Alkitab berkali-kali memperingatkan kita agar tidak meninggalkan Kristus dan agar tetap bertekun sampai akhir.
Karena itu, saya melihat keselamatan seperti sebuah perjalanan yang berada di antara dua kebenaran: Tuhan berdaulat memelihara umat-Nya, dan manusia tetap bertanggung jawab untuk merespons kasih karunia itu dengan iman dan ketaatan. Keduanya bukan alasan untuk berdebat dan menyombongkan pemahaman teologis kita, melainkan panggilan untuk hidup dengan rendah hati dan waspada.
Saya pribadi sulit membayangkan keselamatan sebagai sesuatu yang dapat “hilang” secara tidak sengaja, seperti kehilangan kunci mobil. Keselamatan bukan milik yang kita ciptakan sendiri. Keselamatan adalah karya Tuhan, berakar pada pengorbanan Kristus di kayu salib. Paulus bahkan berkata bahwa tidak ada sesuatu pun—baik maut maupun hidup, baik yang sekarang maupun yang akan datang—yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:38–39).
Namun, jaminan itu bukan izin untuk hidup sembarangan. Yesus memperingatkan tentang hamba yang berkata dalam hatinya bahwa tuannya masih lama datang, lalu mulai hidup tidak setia (Matius 24:48–51). Yohanes juga memperingatkan agar kita tetap tinggal dalam ajaran Kristus. Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12).
Apakah ini berarti keselamatan bergantung pada kekuatan kita? Tidak. Ketaatan bukan harga yang kita bayar untuk memperoleh keselamatan. Ketaatan adalah buah dari iman yang hidup. Kita tidak diselamatkan karena kita bertekun; tetapi orang yang telah menerima kasih karunia dipanggil untuk bertekun.
Saya pernah memikirkan hal ini dalam konteks yang sangat manusiawi. Bagaimana jika seseorang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus kemudian mengalami Alzheimer atau penyakit lain yang merusak ingatan dan kemampuan berpikirnya? Jika keselamatan bergantung pada kemampuan kita untuk terus mengingat, memahami, dan mengucapkan iman kita, bukankah keselamatan menjadi sangat rapuh?
Tetapi Tuhan tidak menyelamatkan kita berdasarkan kekuatan ingatan kita. Ketika pikiran kita melemah, kasih karunia Tuhan tidak ikut melemah. Tangan kita mungkin tidak lagi kuat menggenggam Tuhan, tetapi tangan Tuhan tetap kuat memegang kita.
Karena itu, ketika kita melihat seseorang yang dahulu mengaku percaya tetapi kemudian meninggalkan iman, kita perlu berhati-hati untuk menghakimi. Kita tidak mengetahui seluruh isi hati manusia. Kita dapat melihat pengakuan dan buah kehidupannya, tetapi Tuhanlah yang mengetahui jiwa seseorang dengan sempurna.
Yang dapat kita lakukan adalah berdoa, mengasihi, menasihati dengan lemah lembut bila diperlukan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Mungkin suatu hari kita akan terkejut ketika melihat siapa yang ternyata ada di hadapan takhta Allah. Kita tidak pernah menjadi hakim terakhir atas keselamatan seseorang.
Maka pertanyaan yang mungkin lebih penting bukanlah, “Apakah saya dapat kehilangan keselamatan?” melainkan, “Bagaimana saya hidup sebagai orang yang telah menerima keselamatan?”
Apakah saya masih tinggal di dalam Kristus? Apakah kasih karunia membuat saya semakin mengasihi Tuhan? Apakah iman saya menghasilkan ketaatan? Apakah saya tetap bertekun ketika kehidupan menjadi sulit?
Paulus berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:27). Ia tidak sedang menyombongkan kekuatannya. Ia sedang menunjukkan keseriusan menjalani kehidupan iman.
Keselamatan adalah anugerah. Kita tidak membelinya, tidak menghasilkannya, dan tidak dapat membanggakannya. Tetapi anugerah yang menyelamatkan bukanlah anugerah yang membuat kita acuh tak acuh. Anugerah itu mengajar kita untuk berusaha hidup dalam kasih, iman, pertobatan, dan ketaatan. Itulah tanda-tanda orang yang sudah diselamatkan.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak mampu menjelaskan seluruh misteri antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Tetapi kita tidak perlu memahami seluruh misteri itu sebelum menjalani kehidupan iman. Kita dipanggil untuk percaya kepada Kristus, tinggal di dalam-Nya, dan bertekun sampai akhir.
Kita diselamatkan oleh kasih karunia saja, tetapi bukan oleh kasih karunia yang dibiarkan sendirian tanpa buah. Tangan kita dipanggil untuk tetap menggenggam Tuhan, tetapi keselamatan kita pada akhirnya bergantung pada tangan Tuhan yang menggenggam kita.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih karena keselamatan bukan hasil kekuatan dan kebaikan kami, melainkan anugerah-Mu melalui karya Kristus. Tolong kami untuk tidak hidup dalam kesombongan maupun ketakutan, tetapi dalam iman, kerendahan hati, kewaspadaan, dan ketaatan. Ketika iman kami kuat, jagalah kami agar tidak sombong; ketika kami lemah, kuatkan kami agar tidak menyerah. Ajarlah kami untuk tetap tinggal di dalam Kristus dan bertekun sampai akhir. Amin.
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
— Roma 12:12

Apakah orang Kristen selalu sabar, pasrah, berwajah cerah, dan murah senyum? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Bukankah orang yang telah menerima anugerah keselamatan seharusnya selalu bersukacita? Mengapa ada orang Kristen yang wajahnya sering terlihat murung? Jika anugerah Tuhan sudah cukup baginya, mengapa hidupnya masih tampak merana? Jangan-jangan imannya belum sungguh-sungguh?
Pertanyaan seperti ini kadang muncul dalam bentuk kritik atau bahkan pergunjingan. Seolah-olah wajah yang murung adalah tanda kurangnya iman, sedangkan wajah yang selalu ceria merupakan bukti bahwa seseorang dekat dengan Tuhan.
Padahal, iman Kristen tidak membuat seseorang kebal terhadap penderitaan. Selama hidup di dunia, orang percaya tetap dapat mengalami sakit, kehilangan, kesepian, kegagalan, tekanan ekonomi, maupun berbagai persoalan keluarga. Menjadi anak Allah tidak berarti seseorang selalu hidup berkecukupan dan bebas dari masalah.
Perjanjian Baru bahkan memberikan gambaran yang sangat berbeda. Rasul Paulus menceritakan bahwa para rasul pernah lapar, haus, telanjang, dipukuli, dan hidup mengembara (1 Korintus 4:11). Mereka tentu tidak selalu berada dalam keadaan nyaman, apalagi selalu tersenyum. Tuhan Yesus sendiri mengalami kesedihan yang sangat mendalam di taman Getsemani dan penderitaan yang luar biasa di Golgota. Air mata dan wajah yang berduka bukanlah bukti bahwa seseorang kehilangan iman.
Karena itu, kita perlu membedakan sukacita Kristen dengan ekspresi wajah yang selalu gembira.
Ada pula anggapan bahwa iman Kristen yang kuat seharusnya membuat seseorang menjadi seperti seorang Stoik. Stoisisme adalah filsafat yang berkembang sejak sekitar abad ketiga sebelum Kristus dan kemudian memengaruhi banyak pemikir sepanjang sejarah. Dalam pemahaman populer, seorang Stoik adalah orang yang mampu menghadapi penderitaan dengan tenang, tidak mudah mengeluh, dan mengendalikan reaksinya terhadap keadaan yang tidak dapat diubah.
Ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari sikap tersebut: kita memang perlu belajar menguasai diri dan tidak membiarkan keadaan menentukan seluruh hidup kita. Namun, kekristenan bukanlah Stoisisme.
Seorang Stoik berusaha menemukan keteguhan melalui pengendalian diri dan penerimaan terhadap kenyataan. Orang Kristen menemukan keteguhan karena ia percaya kepada Allah. Orang Kristen tidak sekadar berkata, “Saya harus kuat menghadapi semuanya.” Ia dapat berkata, “Saya tidak selalu kuat, tetapi saya tahu kepada siapa saya dapat bersandar.”
Inilah perbedaan yang penting. Orang Kristen tidak dipanggil untuk memendam penderitaan dalam kesunyian. Ia boleh menangis, mengeluh, bahkan berseru kepada Tuhan. Alkitab sendiri penuh dengan ratapan dan permohonan. Bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Roh Kudus menolong kita.
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”
Roma 8:26
Lalu, bagaimana dengan sukacita? Mengapa Alkitab begitu sering mengajak kita untuk bersukacita?
Kata-kata seperti girang, gembira, senang, dan sukacita banyak ditemukan dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun, sukacita Kristen tidak boleh disamakan begitu saja dengan perasaan senang karena keadaan sedang menyenangkan. Kita dapat merasa gembira karena memperoleh rumah baru, mobil baru, ijazah, kenaikan jabatan, atau keberhasilan mencapai suatu target. Tetapi kegembiraan semacam itu sangat bergantung pada keadaan dan dapat segera berubah.
Bahkan ada kesenangan yang diperoleh melalui sesuatu yang salah. Orang dapat merasa senang ketika berhasil mencuri, berpesta pora, atau menggunakan narkoba. Namun kesenangan itu tidak memberikan sukacita sejati dan pada akhirnya dapat membawa kehancuran.
Lalu, adakah sukacita yang tidak bergantung pada keadaan?
Bagi orang percaya, jawabannya adalah ya. Dasar sukacita Kristen bukanlah bahwa hidup kita selalu berjalan baik, melainkan bahwa kita telah menerima keselamatan melalui Kristus. Kita yang berdosa dan seharusnya menerima hukuman telah menerima pengampunan dan diperdamaikan dengan Allah. Kita menjadi anak-anak-Nya bukan karena keberhasilan kita, melainkan karena kasih karunia-Nya.
Inilah sukacita yang jauh lebih dalam daripada sekadar perasaan senang. Rumah dapat hilang. Kesehatan dapat menurun. Uang dapat habis. Jabatan dapat berakhir. Tubuh semakin lemah. Bahkan orang-orang yang kita kasihi suatu hari akan meninggalkan dunia ini. Tetapi kasih Allah di dalam Kristus tidak bergantung pada semua itu.
Namun, apakah berarti orang Kristen yang memiliki sukacita sejati tidak boleh tampak sedih?
Tentu saja boleh.
Ketika seseorang kehilangan orang yang dikasihinya, ia boleh menangis. Ketika tubuhnya sakit, ia boleh mengeluh. Ketika menghadapi persoalan berat, ia boleh merasa takut. Sukacita Kristen bukanlah topeng yang dipakai untuk menyembunyikan penderitaan.
Justru dalam penderitaan, kita dapat mengalami penyertaan Tuhan dengan cara yang lebih dalam. Kita mungkin tidak selalu mendapatkan jawaban atas pertanyaan kita, tetapi kita dapat membawa pertanyaan itu kepada-Nya. Kita tidak harus berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Kita dapat datang dengan hati yang hancur dan berkata, “Tuhan, saya tidak sanggup.”
Karena itu Paulus dapat berkata, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.” Ketiga hal ini tidak berdiri sendiri. Kita bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa. Sukacita tidak menghapus kesesakan; pengharapan membuat kita mampu melewati kesesakan sambil tetap berpegang kepada Tuhan.
Lebih daripada itu, penderitaan kita sendiri seharusnya membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Kita tidak dipanggil untuk berkata kepada orang yang sedang menangis, “Kamu harus bersukacita karena kamu orang Kristen.” Sebaliknya, Paulus berkata:
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”
Roma 12:15
Kita membutuhkan mata yang mampu melihat penderitaan dan hati yang bersedia peduli. Jangan sampai kita begitu sibuk mempertahankan citra sebagai orang Kristen yang selalu ceria sehingga kita tidak mampu melihat bahwa orang lain sedang terluka.
Pada akhirnya, wajah yang gembira belum tentu menunjukkan hati yang damai. Sebaliknya, wajah yang lelah dan penuh air mata belum tentu menunjukkan hati yang kehilangan pengharapan. Sukacita Kristen tidak selalu terlihat pada wajah, tetapi berakar dalam hati yang percaya kepada Tuhan.
Paulus menggambarkan pengharapan itu dengan indah:
“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
2 Korintus 4:16
Kita tidak perlu menjadi Stoik untuk menjadi orang Kristen yang kuat. Kita tidak perlu mematikan emosi, menyembunyikan air mata, atau menanggung penderitaan seorang diri. Kita dipanggil untuk membawa seluruh hidup kita—sukacita, kesedihan, kelemahan, ketakutan, dan pengharapan—kepada Tuhan.
Mungkin tubuh kita semakin lemah, tetapi manusia batiniah kita dapat terus diperbarui. Mungkin hari ini kita menangis, tetapi kita tetap memiliki pengharapan. Mungkin wajah kita tidak selalu ceria, tetapi hati kita tetap dapat berpegang kepada Kristus.
Sebab sukacita Kristen bukanlah “saya selalu merasa senang.” Sukacita Kristen adalah “dalam keadaan apa pun, saya tetap mempunyai alasan untuk berharap karena Tuhan tetap bersama saya.”
Kiranya kita bukan hanya belajar bertahan ketika menderita, tetapi juga belajar melihat, memahami, dan menghibur mereka yang sedang menderita. Dan ketika giliran kita sendiri berada dalam kesesakan, kiranya kita tidak malu untuk menangis, mengeluh, dan berdoa—sambil tetap percaya bahwa penderitaan yang kelihatan dan sementara ini tidak akan menjadi kata terakhir dalam kehidupan kita.
“Sebab yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”
2 Korintus 4:18
Tuhan, ajarlah kami untuk bersukacita tanpa berpura-pura, bersabar tanpa kehilangan pengharapan, dan berdoa ketika kami tidak lagi mempunyai kekuatan. Tolong kami untuk tidak menghakimi orang yang sedang menangis hanya karena wajahnya tidak selalu ceria. Berikan kami mata yang peka melihat penderitaan orang lain dan hati yang rela menghibur mereka. Ketika tubuh kami semakin lemah, perbaruilah manusia batiniah kami dari hari ke hari. Kiranya dalam segala keadaan kami tetap berpegang kepada-Mu, sumber pengharapan dan sukacita kami. Amin.