
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”
— Pengkhotbah 7:14

Pengkhotbah mengajak kita melihat hidup dengan jujur. Ada hari-hari yang penuh sukacita, tetapi ada juga hari-hari yang penuh air mata. Keduanya tidak lepas dari kedaulatan Allah. Namun, ketika kesulitan datang, pertanyaan yang sering muncul adalah: Kalau Tuhan itu baik, mengapa Dia mengizinkan hal-hal yang menyakitkan terjadi?
Hampir semua orang mudah percaya bahwa Tuhan itu baik ketika hidup berjalan lancar. Ketika tubuh sehat, keluarga harmonis, pekerjaan berhasil, dan doa-doa seakan langsung dijawab, mengakui kebaikan Tuhan terasa begitu mudah. Namun, ketika penyakit datang, kehilangan menimpa, atau doa belum juga dijawab, keyakinan itu mulai diuji.
Pengkhotbah mengingatkan bahwa hidup memang terdiri dari hari mujur dan hari malang. Keduanya berada di bawah kedaulatan Allah. Namun, kita perlu memahami ayat ini dengan benar. Ketika dikatakan bahwa Allah “menjadikan hari malang”, bukan berarti Allah adalah pencipta kejahatan atau pelaku dosa. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah itu kudus dan tidak mencobai siapa pun dengan kejahatan (Yakobus 1:13).
Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang berada di luar pemerintahan Allah. Dalam hikmat dan kasih-Nya, Ia dapat mengizinkan penderitaan, penyakit, bencana, bahkan kejahatan manusia terjadi, tetapi semuanya tetap berada dalam kendali-Nya. Tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya.
Mengapa Allah mengizinkan hal-hal yang menyakitkan? Kita tidak selalu mengetahui jawabannya. Pengkhotbah berkata bahwa Allah melakukan semuanya itu supaya manusia tidak dapat mengetahui masa depannya. Tuhan tidak membuka seluruh rencana-Nya kepada kita. Ia menghendaki agar kita hidup bukan dengan kepastian tentang masa depan, melainkan dengan iman kepada Dia yang memegang masa depan.
Ironisnya, justru melalui hari-hari yang sulit kita sering kali mengenal Tuhan lebih dalam. Ketika kita lemah, kita belajar bahwa anugerah-Nya cukup. Ketika kita kehilangan pegangan, kita menemukan bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya. Ketika kita tidak sanggup melangkah, kita merasakan kekuatan yang berasal dari Roh Kudus. Hari-hari yang gelap sering menjadi tempat di mana terang kasih Allah bersinar paling jelas.
Memang banyak orang mengira bahwa keberadaan kejahatan membuktikan Tuhan tidak ada atau tidak baik. Namun, dari sudut pandang Kristen, justru sebaliknya.
Rasul Paulus menulis bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penyakit tetap menyakitkan. Kematian tetap menyedihkan. Ketidakadilan tetap salah. Namun Allah bekerja di dalam semua itu untuk menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak-anak-Nya.
Jika tidak ada Tuhan, maka penderitaan hanyalah hasil proses alam yang acak. Tidak ada tujuan di baliknya, tidak ada pengharapan yang pasti, dan pada akhirnya semua berakhir dengan kematian. Tetapi jika Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih itu ada, maka penderitaan bukanlah kata terakhir. Penderitaan dapat memiliki makna, dapat membentuk karakter, dapat mendekatkan kita kepada Allah, dan pada akhirnya akan digantikan oleh kemuliaan yang kekal bagi mereka yang percaya kepada Kristus.
Karena itu, adanya penderitaan tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak baik. Sebaliknya, dalam penderitaan kita sering melihat betapa besar kuasa, kasih, kesabaran, pertolongan, dan kesetiaan-Nya. Kita mungkin tidak memahami alasan di balik setiap air mata, tetapi kita dapat mempercayai Pribadi yang memegang hidup kita.
Di usia senja, seseorang mulai menghadapi tubuh yang melemah, kehilangan orang-orang yang dikasihi, dan kesadaran bahwa hidup di dunia ini terbatas. Pada saat itulah pengharapan kepada Tuhan menjadi sangat berharga. Iman Kristen tidak menjanjikan hidup tanpa air mata, tetapi menjanjikan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, dan bahwa kematian bukanlah akhir bagi mereka yang ada di dalam Kristus.
Hari ini mungkin adalah hari yang penuh sukacita atau mungkin hari yang penuh pergumulan. Apa pun keadaan kita, marilah tetap bersyukur dan tetap berharap. Bergembiralah pada hari mujur tanpa menjadi sombong. Bertekunlah pada hari malang tanpa menjadi putus asa. Tuhan yang memimpin kita pada hari-hari yang cerah adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita melewati lembah yang gelap.
Selama kita mengenal Dia, kita tidak perlu mengetahui seluruh masa depan. Cukuplah kita percaya bahwa Allah yang memegang hari esok adalah Allah yang mahakuasa, mahakasih, dan selalu baik.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau tetap baik dalam setiap musim kehidupan. Ketika kami bersukacita, ajarlah kami untuk bersyukur. Ketika kami menderita, ajarlah kami untuk tetap percaya kepada kasih dan kuasa-Mu. Tolong kami melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kendali-Mu, dan pakailah setiap pengalaman hidup kami untuk membentuk kami semakin serupa dengan Kristus. Teguhkan iman kami agar kami tetap berharap kepada-Mu sampai akhir hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
— Galatia 6:7

“Hukum tabur tuai” adalah salah satu prinsip Alkitab yang sering dikutip. Namun, tidak sedikit orang memahaminya secara keliru. Saya sudah beberapa kali menampilkan renungan tentang hal ini, tetapi saya ingin membahasnya lebih lanjut karena pentingnya hal ini.
Ada orang yang menganggap bahwa setiap penderitaan pasti merupakan akibat dosa tertentu. Sebaliknya, setiap keberhasilan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang hidup benar. Pemahaman seperti ini dapat menyerupai konsep karma, seolah-olah hidup manusia diatur oleh hukum sebab-akibat yang bekerja secara otomatis.
Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Galatia 6:7 memang menegaskan bahwa Allah tidak dapat dipermainkan. Apa yang ditabur manusia akan dituainya. Orang yang terus menabur dosa akan menuai kerusakan. Sebaliknya, orang yang hidup menurut Roh akan menuai hidup yang berasal dari Roh. Ini adalah prinsip moral yang Allah tetapkan bagi kehidupan manusia.
Namun, prinsip ini tidak berarti bahwa setiap peristiwa dalam hidup dapat dijelaskan dengan rumus yang sederhana. Ayub adalah contoh yang jelas. Ia hidup saleh, tetapi mengalami penderitaan yang luar biasa. Asaf dalam Mazmur 73 pernah bergumul ketika melihat orang fasik justru hidup makmur. Bahkan Tuhan Yesus, satu-satunya Pribadi yang tidak pernah berbuat dosa, mengalami penghinaan, penolakan, dan kematian di kayu salib.
Semua contoh itu menunjukkan bahwa kita tidak boleh terburu-buru menghakimi orang yang sedang menderita. Tidak semua penderitaan merupakan akibat langsung dari dosa pribadi. Ada kalanya Allah mengizinkan penderitaan untuk membentuk iman, menyatakan kemuliaan-Nya, atau menggenapi rencana-Nya yang jauh melampaui pengertian kita.
Perbedaan terbesar antara hukum tabur-tuai menurut Alkitab dan konsep karma terletak pada Pribadi Allah. Dalam Alkitab, Allah adalah Pribadi yang hidup, berdaulat, adil, sekaligus penuh kasih karunia. Ia menetapkan bahwa dosa membawa konsekuensi, tetapi Ia juga berkuasa mengampuni orang yang bertobat. Allah tidak terikat oleh suatu hukum yang berjalan seperti mesin. Sebaliknya, hukum tabur-tuai berada di bawah kasih karunia dan kedaulatan-Nya.
Lebih dari itu, Injil menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Seandainya Allah menerapkan hukum tabur-tuai secara mutlak untuk keselamatan, tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di hadapan-Nya. Semua manusia telah berdosa dan seharusnya menuai hukuman kekal. Tidak ada seorang pun yang mampu berkata bahwa ia telah menabur kehidupan yang sempurna di hadapan Allah.
Tetapi kasih karunia Allah mengubah segalanya.
Di kayu salib, Yesus Kristus menanggung tuaian yang seharusnya menjadi bagian kita. Ia yang tidak berdosa menerima hukuman akibat dosa kita, supaya kita yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dan kebenaran-Nya. Allah tetap adil karena dosa tetap dihukum, tetapi Ia juga penuh kasih karena hukuman itu ditanggung oleh Kristus sebagai Pengganti kita.
Inilah sebabnya keselamatan tidak pernah diperoleh melalui usaha atau taburan perbuatan baik kita. Keselamatan adalah anugerah Allah semata melalui iman kepada Yesus Kristus.
Namun, kasih karunia bukanlah alasan untuk hidup sembarangan. Orang yang telah diselamatkan dipanggil untuk hidup dalam ketaatan. Pilihan-pilihan kita tetap membawa konsekuensi. Menabur kasih akan menghasilkan damai. Menabur kejujuran membangun kepercayaan. Sebaliknya, menabur kebohongan, keserakahan, atau dosa akan membawa kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Allah sebagai Bapa juga mendisiplinkan anak-anak-Nya demi kebaikan mereka.
Karena itu, marilah kita hidup dengan bijaksana. Jangan menabur dosa dengan harapan tetap bisa menuai berkat. Sebaliknya, marilah kita menabur kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan ketaatan kepada Tuhan. Bukan supaya kita memperoleh keselamatan, melainkan karena kita telah terlebih dahulu diselamatkan oleh kasih karunia-Nya.
Ketika kita gagal, jangan berputus asa. Datanglah kepada Kristus yang telah menanggung tuaian dosa kita. Di dalam Dia selalu tersedia pengampunan, pemulihan, dan kekuatan untuk memulai kembali. Hukum tabur-tuai mengingatkan kita akan keseriusan dosa, tetapi Injil mengingatkan kita akan besarnya kasih karunia Allah.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang adil sekaligus penuh kasih karunia. Ajarlah kami untuk hidup dengan bijaksana dan menabur hal-hal yang berkenan kepada-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan yang mengandalkan perbuatan sendiri maupun dari sikap sembrono yang menyalahgunakan kasih karunia-Mu. Terima kasih karena Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya kami tuai. Tolonglah kami hidup dalam ketaatan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang telah Engkau anugerahkan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
— Filipi 2:13

Salah satu ciri kehidupan adalah adanya pertumbuhan dan perubahan. Seorang bayi bertumbuh menjadi anak, kemudian menjadi dewasa. Pohon yang hidup akan terus bertumbuh dan pada waktunya menghasilkan buah. Sebaliknya, sesuatu yang tidak pernah berubah atau bertumbuh patut dipertanyakan apakah masih hidup.
Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Ketika seseorang percaya kepada Kristus, Allah tidak hanya mengampuni dosanya, tetapi juga mulai mengerjakan pembaruan di dalam dirinya. Itulah yang ditegaskan Paulus dalam Filipi 2:13. Allah sendiri yang bekerja di dalam orang percaya, bukan hanya memberi kemampuan untuk berbuat baik, tetapi juga membangkitkan kemauan untuk melakukannya. Dengan kata lain, perubahan hidup adalah hasil karya Roh Kudus, bukan sekadar usaha manusia.
Karena itu, setiap orang yang mengaku sebagai orang Kristen patut bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah saya mengharapkan adanya perubahan dalam hidup saya?” Bukan perubahan yang spektakuler dalam semalam, melainkan perubahan yang terus-menerus menuju keserupaan dengan Kristus.
Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang percaya akan langsung menjadi sempurna. Kita masih bergumul dengan dosa, masih jatuh, masih lemah, dan masih membutuhkan anugerah Tuhan setiap hari. Namun, arah hidup kita seharusnya berubah. Kita semakin membenci dosa, semakin mengasihi firman Tuhan, semakin mudah mengampuni, semakin rendah hati, dan semakin rindu menyenangkan hati Tuhan. Mungkin pertumbuhannya lambat, tetapi tetap ada.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila seseorang merasa bahwa pengakuan iman saja sudah cukup. Ia berkata bahwa dirinya percaya kepada Yesus, tetapi tidak peduli apakah hidupnya berubah atau tidak. Ia tidak merasa perlu bertobat, tidak peduli akan kekudusan, tidak tertarik untuk makin dekat kepada Tuhan, dan menganggap semua itu tidak penting karena merasa sudah “aman”. Sikap seperti ini bertentangan dengan ajaran Alkitab.
Yesus tidak hanya memanggil orang untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga menjadi murid yang menaati segala perintah-Nya. Amanat Agung (Matius 28:19-20) bukan sekadar membawa orang lain kepada keputusan percaya, melainkan membentuk mereka sendiri untuk bisa menjadi teladan bagi orang lain – sebagai murid yang hidup dalam ketaatan. Hidup kudus bukanlah syarat memperoleh keselamatan, tetapi merupakan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan Allah.
Karena itu, janganlah kita mendukakan Roh Kudus. Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya untuk membentuk karakter Kristus dalam hidup kita. Ketika kita dengan sengaja memelihara dosa, mengabaikan firman Tuhan, atau tidak peduli terhadap kekudusan, kita mendukakan Dia yang sedang mengerjakan pembaruan dalam diri kita.
Yesus berkata dengan tegas, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Matius 12:30). Tidak ada wilayah netral dalam mengikut Kristus. Tentu ayat ini bukan berarti setiap kali kita jatuh ke dalam dosa kita langsung menjadi musuh Kristus. Yang dimaksud adalah sikap hati yang terus menerus menolak pemerintahan-Nya dan gaya hidup yang tidak mau tunduk di bawah otoritas-Nya.
Maka, marilah kita menguji diri kita sendiri. Apakah kita masih memiliki kerinduan untuk bertumbuh? Apakah kita masih peka ketika Roh Kudus menegur kita? Apakah kita masih mengharapkan perubahan dalam hidup kita?
Kabar baiknya adalah, perubahan itu tidak bergantung pada kekuatan kita sendiri. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk hidup kudus; Dia sendiri yang bekerja di dalam kita. Ia mengubah hati kita, memperbarui keinginan kita, dan memampukan kita menjalani kehidupan yang semakin berkenan kepada-Nya.
Kiranya setiap hari kita semakin menyerupai Kristus. Bukan supaya Allah lebih mengasihi kita, melainkan karena Dia telah lebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita oleh anugerah-Nya. Biarlah dunia melihat karya Roh Kudus melalui kehidupan kita yang terus diubahkan, sehingga nama Kristus dimuliakan.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau bukan hanya mengampuni dosa kami, tetapi juga terus mengubah kami menjadi semakin serupa dengan Kristus. Tolonglah kami agar tidak berpuas diri dengan sekadar pengakuan iman, tetapi memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam kekudusan setiap hari. Jangan biarkan kami mendukakan Roh Kudus-Mu, melainkan mampukan kami hidup taat, rendah hati, dan menjadi saksi yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
— Filipi 1:21

Seusia saya, tiap tahun saya mendengar adanya teman lama yang meninggal. Ini tentunya membuat saya sedih, tetapi juga menyadarkan saya bahwa setiap orang akan mengalami hal yang sama, dan tidak ada orang yang bisa menduga kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi.
Banyak orang berusaha menghindari pembicaraan tentang kematian. Kematian dianggap sebagai momok yang menakutkan, sesuatu yang harus dijauhkan dari pikiran. Tidak sedikit orang menjalani hidup seolah-olah kematian tidak akan pernah datang. Namun Alkitab mengajarkan sikap yang berbeda. Bagi orang percaya, kematian memang merupakan musuh terakhir akibat dosa, tetapi sejak Kristus bangkit dari antara orang mati, maut telah kehilangan sengatnya. Karena itu Paulus dapat berkata dengan penuh keyakinan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Bayangkan seorang musafir yang telah menyelesaikan perjalanan panjangnya. Ia mulai merapikan barang-barangnya, memastikan tidak ada urusan yang tertinggal, lalu bersiap pulang ke rumah. Ia tidak bersedih karena perjalanan berakhir. Sebaliknya, ia bersukacita karena rumah yang selama ini dirindukannya sudah di depan mata. Demikianlah seharusnya orang percaya memandang akhir hidupnya. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan, sedangkan rumah kita yang kekal ada bersama Tuhan.
Perkataan Paulus terdengar aneh bagi dunia. Bagaimana mungkin kematian disebut keuntungan? Bukankah kematian berarti meninggalkan keluarga, sahabat, dan semua yang kita kasihi? Jawabannya terdapat pada bagian pertama ayat itu: “Hidup adalah Kristus.” Jika selama hidup kita berjalan bersama Kristus, maka kematian menjadi saat kita berjumpa dengan Dia muka dengan muka. Itulah keuntungan terbesar yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia.
Namun kenyataannya, banyak orang Kristen bukan terutama takut kepada kematian, melainkan kepada penderitaan yang mungkin mendahuluinya. Penyakit yang berkepanjangan, rasa sakit, kehilangan kemandirian, atau menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. Kekhawatiran seperti ini sangat manusiawi.
Tuhan Yesus pun pernah mengalami pergumulan menjelang kematian. Di taman Getsemani hati-Nya sangat sedih, bahkan seperti mau mati rasanya. Ia mengetahui penderitaan yang akan dihadapi-Nya. Namun pada akhirnya Ia berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Karena itu, ketika kita menghadapi ketakutan akan proses menjelang kematian, kita memiliki Juruselamat yang memahami pergumulan kita. Ia berjalan lebih dahulu melewati lembah itu.
Kesadaran bahwa hidup ini terbatas sesungguhnya adalah anugerah. Kematian membuka mata kita untuk mempersiapkan diri. Kita terdorong menyelesaikan tanggung jawab kepada keluarga, memulihkan hubungan yang retak, mengampuni dan meminta maaf, mempersiapkan generasi penerus dalam iman, serta menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan. Kita belajar melepaskan apa yang selama ini kita genggam erat dan mengakui bahwa semuanya hanyalah titipan Allah.
Semakin bertambah usia, kita semakin menyadari betapa terbatasnya diri kita. Kesehatan dapat menurun. Kekuatan fisik berkurang. Pikiran tidak lagi setajam dahulu. Semua itu mengajar kita untuk tidak lagi mengandalkan diri sendiri. Justru saat itulah kita semakin memahami arti kasih karunia Allah. Kita belajar berkata bersama Paulus, “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”
Orang percaya yang dewasa bukanlah orang yang merasa dirinya semakin kuat, melainkan semakin sadar bahwa seluruh hidupnya ditopang oleh anugerah Tuhan. Ia tidak berkata, “Aku mampu menghadapi semuanya,” melainkan, “Kristuslah yang memegang hidupku.” Penghiburan terbesar menjelang kematian bukanlah keyakinan bahwa kita mampu bertahan sampai akhir, tetapi keyakinan bahwa Kristus tidak akan pernah melepaskan kita dari tangan-Nya.
Karena itu, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap kematian. Kita juga tidak mencari kematian. Sebaliknya, selama Tuhan masih memberi napas hidup, kita memakai setiap hari untuk mengasihi, melayani, dan memuliakan Dia. Lalu ketika waktunya tiba, kita dapat pulang dengan damai, seperti seorang musafir yang akhirnya tiba di rumah setelah perjalanan yang panjang.
“Belajarlah hidup dengan baik, maka engkau akan belajar mati dengan baik.”
Bagi orang percaya, “mati dengan baik” bukan berarti meninggal tanpa rasa sakit atau tanpa pergumulan. Yang terutama adalah tetap memegang iman kepada Kristus sampai akhir. Sebab keselamatan kita tidak bergantung pada kekuatan kita memegang Kristus, tetapi pada kesetiaan Kristus memegang kita.
Kiranya kelak kita semua dapat mengakhiri hidup seperti Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Pada saat itulah kita akan memahami sepenuhnya mengapa Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena di dalam Kristus Engkau telah mengalahkan maut dan memberikan kami pengharapan yang kekal. Ajarlah kami menggunakan setiap hari dengan bijaksana, menyelesaikan tanggung jawab yang Engkau percayakan, mengasihi sesama, dan hidup bergantung sepenuhnya pada anugerah-Mu. Ketika saat kami tiba untuk pulang kepada-Mu, berikanlah kami hati yang tenang dan penuh pengharapan, karena kami tahu Kristus telah menyediakan tempat bagi kami. Biarlah sepanjang hidup kami dapat berkata, “Hidup adalah Kristus,” sehingga pada akhirnya kami pun dapat menyambut kematian sebagai keuntungan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’”
— Yakobus 4:15

Ada dua sikap yang sama-sama keliru dalam memandang masa depan. Yang pertama adalah terlalu khawatir. Orang seperti ini terus-menerus gelisah memikirkan hari esok. Ia takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut kekurangan, takut gagal, bahkan takut menghadapi hal-hal yang belum tentu terjadi. Di sisi lain, ada orang yang sama sekali tidak mau memikirkan masa depan. Dengan alasan “Tuhan pasti memelihara,” ia hidup tanpa perencanaan, tanpa tanggung jawab, dan tanpa persiapan.
Alkitab tidak mengajarkan kedua sikap tersebut.
Pada waktu itu, Yakobus menegur orang-orang yang begitu yakin akan rencana mereka sendiri. Mereka berkata, “Hari ini atau besok kami akan pergi ke kota anu, tinggal di sana setahun, berdagang, dan mendapat untung.” Yang salah bukanlah berdagang atau mencari keuntungan. Yang salah adalah mereka berbicara seolah-olah hidup dan masa depan sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.
Karena itu Yakobus kemudian berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”
Perhatikan kalimat terakhir: “berbuat ini dan itu.” Yakobus tidak mengatakan bahwa orang percaya hanya duduk diam menunggu kehendak Tuhan dinyatakan. Sebaliknya, ia mengandaikan bahwa orang percaya tetap aktif bekerja, merencanakan, berusaha, dan menjalankan tanggung jawabnya. Yang membedakan hanyalah sikap hati. Semua rencana itu disusun dengan rendah hati sambil mengakui bahwa Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.
Sebagai orang percaya, kita memang tidak perlu mengkhawatirkan masa depan, tetapi kita justru patut khawatir bila kita tidak memikirkan masa depan sama sekali. Mengabaikan masa depan bukanlah tanda iman, melainkan tanda kurang bijaksana.
Kitab Amsal memuji semut yang mengumpulkan makanan pada musim panas untuk menghadapi musim berikutnya. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa orang yang hendak membangun menara harus terlebih dahulu menghitung biayanya. Perencanaan yang bijaksana bukanlah lawan dari iman, melainkan salah satu bentuk ketaatan kepada Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu merencanakan pendidikan anak, mengelola keuangan dengan bijaksana, menjaga kesehatan, menabung untuk hari tua, mempersiapkan surat wasiat, bahkan memelihara kemampuan agar dapat terus melayani Tuhan dengan lebih baik. Semua itu bukan tanda kurang percaya kepada Allah. Justru itulah bentuk tanggung jawab atas kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Demikian pula dalam hal kesehatan. Ada orang yang berkata, “Kalau Tuhan sudah menentukan umur saya, buat apa berolahraga, menjaga pola makan, atau membuang uang untuk kontrol ke dokter?” Pemikiran seperti ini terdengar rohani, tetapi sesungguhnya mengabaikan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita. Tubuh kita adalah anugerah Tuhan sekaligus bait Roh Kudus yang harus dipelihara dengan bijaksana. Menjaga kesehatan bukan berarti kita tidak percaya kepada pemeliharaan Allah, melainkan justru menghargai kehidupan yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
Merencanakan kesehatan di masa tua juga merupakan bagian dari hikmat. Berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan yang sehat, tidur yang cukup, mengendalikan stres, serta menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala adalah bentuk tanggung jawab, bukan bentuk ketidakpercayaan kepada Tuhan. Memang benar, semua usaha itu tidak dapat menjamin kita terbebas dari penyakit dan mempunyai umur panjang. Namun, Tuhan sering kali bekerja melalui kebiasaan hidup yang baik untuk memelihara kita.
Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengunci pintu rumah, memakai sabuk pengaman, menabung untuk masa depan, dan menjaga kesehatan bukan karena kita tidak percaya kepada kedaulatan Allah, tetapi karena kita percaya bahwa Allah memakai tindakan-tindakan yang bijaksana sebagai sarana pemeliharaan-Nya. Pada akhirnya, kita mengakui bahwa hasilnya tetap berada di tangan Tuhan. Kita melakukan bagian kita dengan setia, lalu menyerahkan apa yang berada di luar kendali kita kepada-Nya.
Tanggung jawab mempersiapkan masa depan juga berlaku dalam pelayanan gereja. Ada kalanya kita mendengar, “Kalau Tuhan menghendaki, nanti Dia sendiri akan membangkitkan pemimpin-pemimpin baru.” Memang benar Tuhan yang memanggil dan memperlengkapi para pelayan-Nya. Namun, Tuhan juga memakai orang-orang percaya sebagai alat untuk membimbing, melatih, dan membina generasi penerus. Musa mempersiapkan Yosua, Elia membimbing Elisa, Tuhan Yesus membentuk kedua belas murid, dan Paulus mendidik Timotius serta Titus. Mereka tidak hanya memikirkan pelayanan pada masa mereka sendiri, tetapi juga memastikan bahwa pelayanan Tuhan terus berlanjut setelah mereka selesai menjalankan panggilannya.
Karena itu, gereja yang sehat tidak hanya sibuk dengan pelayanan hari ini, tetapi juga dengan pelayanan untuk hari esok. Orang-orang yang lebih senior perlu dengan sengaja membimbing, memberi kesempatan, dan mempercayakan tanggung jawab kepada generasi yang lebih muda. Mempersiapkan penerus bukan berarti kita kurang percaya bahwa Tuhan akan memelihara gereja-Nya. Sebaliknya, itulah salah satu cara Tuhan memelihara gereja melalui ketaatan umat-Nya. Kita menanam dan menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1 Korintus 3:6).
Di balik semua perencanaan itu, kita tetap harus mengakui bahwa hidup kita rapuh. Tidak seorang pun dapat menjamin apa yang akan terjadi besok. Kita boleh menyusun agenda, tetapi hanya Tuhan yang mengetahui setiap hari yang akan kita jalani. Kesadaran inilah yang membuat kita rendah hati. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menjadi sombong ketika berhasil. Kita juga tidak putus asa ketika rencana berubah, karena kita percaya bahwa Tuhan yang sama tetap memegang kendali.
Ada sebuah ungkapan yang indah: “Rencanakan masa depan dengan bijaksana, jalani hari ini dengan setia, dan serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.” Inilah keseimbangan yang diajarkan Alkitab. Iman bukan berarti hidup tanpa rencana, tetapi hidup dengan rencana yang selalu tunduk kepada kehendak Allah.
Kiranya setiap kali kita membuat keputusan besar maupun kecil, kita belajar berkata bukan sekadar dengan bibir, tetapi dengan hati, “Jika Tuhan menghendakinya.” Dengan demikian, kita akan menjadi orang-orang yang rajin bekerja tanpa menjadi angkuh, berhikmat dalam merencanakan tanpa dikuasai kekhawatiran, serta tenang menghadapi masa depan karena mengetahui bahwa hidup kita berada di tangan Bapa yang setia.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau memegang masa depan kami. Ajarlah kami untuk hidup dengan bijaksana, rajin bekerja, dan bertanggung jawab atas setiap kesempatan yang Engkau berikan. Jauhkan kami dari sikap khawatir yang berlebihan maupun dari kemalasan yang mengabaikan masa depan. Kiranya dalam setiap rencana kami, kami selalu berserah kepada kehendak-Mu dan percaya bahwa rancangan-Mu adalah yang terbaik. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”
— Matius 6:1

Beberapa tahun terakhir, gereja-gereja semakin memanfaatkan berbagai bentuk seni untuk mendukung ibadah. Musik yang berkualitas, tata suara yang baik, pencahayaan yang indah, multimedia yang menarik, hingga tarian penyembahan dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk membantu jemaat memuji Tuhan. Semua itu bukanlah sesuatu yang salah. Allah sendiri adalah Pencipta keindahan, dan Alkitab mencatat bahwa Dia mengaruniakan kemampuan seni kepada Bezaleel untuk membangun Kemah Suci dengan penuh keahlian.
Namun, di balik semua itu tersembunyi sebuah bahaya yang sering kali datang secara perlahan. Seni yang semula dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan dapat bergeser menjadi sarana untuk memuliakan manusia. Panggung yang seharusnya mengarahkan mata kepada Kristus dapat berubah menjadi panggung yang mengarahkan perhatian kepada para pelayannya.
Yesus telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Matius 6:1. Yang Ia kecam bukanlah melakukan sesuatu di depan umum, melainkan melakukannya “supaya dilihat orang.” Persoalannya bukan pada tempat pelayanan, melainkan pada motivasi hati.
Karena itu, setiap pelayan Tuhan perlu sesekali bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa saya melayani? Siapa yang ingin saya puaskan? Bagaimana perasaan saya jika setelah ibadah tidak ada seorang pun yang memuji saya?
Jika kita merasa kecewa karena tidak mendapat apresiasi, mungkin tanpa sadar kita telah mulai mencari upah dari manusia. Jika kita lebih sibuk memikirkan kostum, tata lampu, atau penampilan daripada mempersiapkan hati melalui doa, mungkin fokus kita mulai bergeser. Jika kita merasa iri ketika pelayan lain lebih sering mendapat kesempatan atau lebih dipuji, mungkin pelayanan telah berubah menjadi arena persaingan, bukan lagi persembahan kasih kepada Tuhan.
Ironisnya, semua itu dapat terjadi tanpa kita sadari. Dari luar kita tetap melayani di gereja, tetapi di dalam hati kita mulai menikmati sorotan yang seharusnya hanya menjadi milik Kristus.
Di sisi lain, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa pelayanan kepada Tuhan boleh dilakukan dengan asal-asalan. Tuhan layak menerima yang terbaik. Latihan yang sungguh-sungguh, disiplin, dan persiapan yang matang merupakan bagian dari mempersembahkan talenta kepada-Nya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kualitas pelayanan menggantikan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Teknik dapat dipelajari, tetapi hati yang menyembah hanya dapat dibentuk melalui persekutuan yang akrab dengan Kristus.
Ukuran keberhasilan ibadah juga bukanlah tepuk tangan yang meriah atau pujian dari jemaat atau orang lain. Bisa saja sebuah ibadah tampak sederhana tanpa efek panggung yang memukau, tetapi Kristus dimuliakan dan hati jemaat disentuh oleh Roh Kudus. Sebaliknya, sebuah pertunjukan yang sangat mengesankan belum tentu menghasilkan penyembahan yang sejati.
Yohanes Pembaptis memberikan teladan yang luar biasa ketika pelayanannya mulai “dikalahkan” oleh Yesus. Murid-muridnya merasa khawatir karena semakin banyak orang mengikuti Yesus. Namun Yohanes tidak merasa terancam. Sebaliknya, ia berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30).
Inilah hati seorang pelayan sejati. Sukacitanya bukan ketika dirinya semakin dikenal, tetapi ketika Kristus semakin ditinggikan. Kepuasannya bukan ketika namanya disebut-sebut, tetapi ketika nama Yesus dimuliakan.
Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi tim musik atau penari, tetapi juga bagi pendeta, pengkhotbah, pemimpin doa, guru Sekolah Minggu, penatua, pemain multimedia, bahkan setiap orang yang melayani di balik layar. Apa pun bentuk pelayanan kita, tujuan akhirnya tetap sama: membawa orang semakin dekat kepada Kristus, bukan semakin mengagumi kita.
“Tujuan hidup orang percaya bukanlah supaya dirinya semakin dikenal, melainkan supaya Kristus semakin dimuliakan. Sebab pada akhirnya, bukan besarnya pelayanan kita yang akan dikenang di hadapan Allah, melainkan kesetiaan kita untuk berkata: ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.’”
Kiranya setiap kali kita melayani, doa dalam hati kita bukanlah, “Tuhan, biarlah orang melihat aku,” melainkan, “Tuhan, biarlah mereka melihat Engkau melalui hidupku.” Sebab pada akhirnya, semua talenta, semua kemampuan, dan semua kesempatan melayani hanyalah alat untuk satu tujuan yang mulia: Soli Deo Gloria — hanya bagi kemuliaan Allah.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur atas setiap talenta dan kesempatan untuk melayani-Mu. Jagalah hati kami agar tidak mencari pujian manusia, melainkan hanya kerinduan untuk memuliakan nama-Mu. Ajarlah kami melayani dengan rendah hati, mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, dan tetap bergantung kepada Roh Kudus. Biarlah dalam setiap pelayanan kami, Kristus makin besar dan kami makin kecil. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
— Ibrani 4:16

Pernahkah kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan? Setelah jatuh ke dalam dosa, gagal memenuhi harapan, atau berkali-kali mengulangi kesalahan yang sama, kita sering berpikir bahwa Tuhan pasti sudah kecewa. Kita membayangkan seolah-olah kasih-Nya mulai berkurang, kesabaran-Nya mulai habis, dan kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum berani berdoa. Namun firman Tuhan justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Penulis Ibrani tidak berkata, “Datanglah setelah engkau menjadi lebih baik.” Ia berkata, “Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia.”
Mengapa kita dapat datang dengan berani? Bukan karena kita layak, melainkan karena Yesus Kristus telah menjadi Imam Besar yang memahami kelemahan kita dan telah membuka jalan bagi kita melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dasar keberanian orang percaya bukanlah prestasi rohani, melainkan karya Kristus yang sempurna. Takhta Allah bukan lagi menjadi tempat penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, tetapi menjadi takhta kasih karunia.
Kasih karunia Tuhan pertama-tama adalah anugerah yang diberikan tanpa syarat. Keselamatan tidak pernah dapat dibeli dengan perbuatan baik, disiplin rohani, ataupun pelayanan kita. Paulus berkata bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan hasil usaha kita, supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri. Semua dimulai oleh inisiatif Allah. Bahkan iman untuk percaya pun merupakan pemberian-Nya. Inilah yang membedakan Injil dari semua usaha manusia untuk memperoleh keselamatan. Kita tidak bekerja agar diterima Tuhan; kita bekerja karena sudah diterima oleh Tuhan.
Namun kasih karunia Tuhan tidak berhenti pada saat kita percaya kepada Kristus. Kasih karunia itu terus menyertai perjalanan hidup orang percaya. Ratapan 3:22-23 mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan dan belas kasihan-Nya selalu baru setiap pagi. Betapa menghiburkan mengetahui bahwa setiap hari kita memulai hidup bukan dengan catatan kegagalan kemarin, melainkan dengan belas kasihan Allah yang diperbarui. Tuhan tidak berkata, “Aku sudah cukup menolongmu.” Sebaliknya, setiap pagi Ia menyediakan kasih karunia yang baru untuk menghadapi tantangan yang baru pula.
Sering kali kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin ada kabar yang mengecewakan, masalah kesehatan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau pergumulan batin yang berat. Tetapi Tuhan yang sudah mengetahui semuanya telah lebih dahulu menyediakan kasih karunia yang sesuai dengan kebutuhan kita. Ia tidak memberikan kekuatan untuk satu tahun sekaligus, melainkan kekuatan yang cukup untuk hari ini. Sama seperti manna di padang gurun yang diberikan setiap hari, demikian pula kasih karunia-Nya dipelihara hari demi hari agar kita terus bergantung kepada-Nya.
Kasih karunia itu juga merupakan dukungan yang konstan. Ibrani 4:16 mengatakan bahwa kita akan “menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Perhatikan ungkapan “pada waktunya.” Tuhan mungkin tidak selalu bertindak menurut jadwal kita, tetapi Ia tidak pernah terlambat menurut hikmat-Nya. Saat kita merasa tidak sanggup lagi melangkah, justru pada saat itulah Tuhan memberikan kekuatan yang kita perlukan. Ketika hati hampir putus asa, Roh Kudus menghibur. Ketika hikmat terasa buntu, Tuhan membuka jalan. Ketika kita lemah, kasih karunia-Nya menjadi cukup.
Sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengalami salah satu masa paling gelap dalam hidup. Usus buntu saya pecah dan harus segera dioperasi dengan metode laparoskopi. Setelah beberapa hari saya diperbolehkan pulang, tetapi tidak lama kemudian saya mengalami demam tinggi dan harus dirawat kembali di rumah sakit.
Hari demi hari berlalu. Meskipun saya sudah menerima antibiotik melalui infus, demam itu tidak juga turun. Para dokter mulai khawatir, dan terus terang saya pun berpikir bahwa mungkin saat saya akan meninggalkan dunia sudah dekat. Dalam keadaan itu saya menelepon putri saya yang sedang berada di luar negeri. Ia segera terbang kembali ke Australia dan berbicara dengan dokter yang merawat saya. Akhirnya diputuskan untuk mengganti antibiotik yang saya terima. Puji Tuhan, dua hari kemudian demam saya hilang, dan kondisi saya mulai membaik. Ketika saya melihat kembali peristiwa itu, saya hanya dapat berkata, semuanya berakhir karena kasih karunia Tuhan.
Kehidupan Kristen bukanlah perjalanan yang mengandalkan kekuatan sendiri. Dari awal keselamatan hingga akhir kehidupan, semuanya ditopang oleh kasih karunia Allah. Kita diselamatkan oleh kasih karunia, dipelihara oleh kasih karunia, dikuatkan oleh kasih karunia, dan kelak akan dimuliakan oleh kasih karunia. Seperti ungkapan yang indah, “Kita diselamatkan oleh kasih karunia saja, tetapi kasih karunia yang menyelamatkan tidak pernah berjalan sendirian.” Kasih karunia itu akan terus mengubahkan hidup kita sehingga semakin serupa dengan Kristus.
Maka, apa pun keadaan kita hari ini, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan penuh keberanian. Di hadapan takhta kasih karunia selalu tersedia rahmat bagi orang yang gagal, pengampunan bagi orang yang bertobat, kekuatan bagi yang lemah, dan pertolongan yang selalu datang tepat pada waktunya. Kasih karunia Tuhan tidak pernah berhenti.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena kasih karunia-Mu tidak pernah habis. Terima kasih karena Engkau menerima kami bukan berdasarkan kelayakan kami, tetapi karena karya Yesus Kristus. Ajarlah kami untuk setiap hari datang kepada takhta kasih karunia-Mu dengan penuh keberanian, menerima belas kasihan-Mu yang baru setiap pagi, dan mengandalkan kekuatan-Mu dalam setiap pergumulan. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian bahwa kasih karunia-Mu bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memelihara dan mengubahkan kami sampai akhir. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
— Yakobus 1:2–3

Hampir tidak ada seorang pun yang bangun pagi sambil berharap hari itu dipenuhi masalah. Sebaliknya, kita semua mendambakan hidup yang tenang, sehat, berkecukupan, dan bebas dari persoalan. Namun kenyataannya, hidup justru dipenuhi tantangan. Ada yang bergumul dengan penyakit, kehilangan orang yang dikasihi, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau kekhawatiran akan masa depan. Pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa ada masalah?” melainkan, “Bagaimana seharusnya kita menghadapinya?”
Jika kita kembali ke awal penciptaan, kita menemukan bahwa sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa bukan hidup tanpa aktivitas. Allah memberi mereka tugas untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden. Adam juga diminta memberi nama kepada semua binatang. Jadi, sejak semula manusia memang diciptakan untuk bekerja, berpikir, dan mengelola ciptaan Allah.
Namun ada satu perbedaan besar antara kehidupan sebelum dan sesudah kejatuhan. Sebelum dosa masuk ke dunia, manusia hidup dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah. Mereka tidak mengenal rasa takut, kecemasan, rasa bersalah, atau ketidakpastian. Kehadiran Allah membuat setiap tugas dijalani dengan damai dan sukacita.
Setelah manusia memberontak kepada Allah, semuanya berubah. Pekerjaan menjadi berat, hubungan menjadi rusak, bumi menghasilkan semak duri, dan untuk pertama kalinya manusia berkata, “Aku menjadi takut.” Sejak saat itu, penderitaan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Masalah bukan lagi sekadar tugas yang harus diselesaikan, tetapi sering kali menjadi beban yang menguras hati dan pikiran.
Lalu bagaimana orang percaya harus menjalani kehidupan seperti ini?
Yakobus memberikan jawaban yang terdengar mengejutkan. Ia tidak berkata, “Berdoalah supaya pencobaan segera berlalu,” melainkan, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan.” Tentu Yakobus tidak sedang mengajarkan bahwa penderitaan itu menyenangkan atau bahwa kita harus berpura-pura menikmati kesulitan. Ia sedang mengajak kita melihat dari sudut pandang Allah.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan pencobaan yang dialami anak-anak-Nya. Di tangan-Nya, setiap kesulitan menjadi alat untuk membentuk iman. Ujian menghasilkan ketekunan, dan ketekunan membentuk kedewasaan rohani. Allah lebih tertarik membentuk karakter kita daripada sekadar menciptakan hidup yang nyaman.
Sering kali kita berdoa agar masalah segera diangkat. Tidak ada yang salah dengan doa seperti itu. Yesus sendiri mengajarkan kita membawa semua pergumulan kepada Bapa. Namun, ketika Allah belum mengangkat pencobaan itu, bukan berarti Ia meninggalkan kita. Mungkin justru pada saat itulah Ia sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam hati kita.
Melalui pencobaan, kita belajar mempercayai Allah ketika keadaan tidak dapat kita kendalikan. Kita belajar bersandar kepada-Nya ketika kekuatan sendiri tidak lagi cukup. Sedikit demi sedikit, Allah memulihkan hati kita agar kembali hidup dalam ketergantungan kepada-Nya, seperti yang dikehendaki-Nya sejak semula.
“Masalah bukanlah tanda bahwa Allah menjauh; sering kali justru di sanalah Ia sedang bekerja paling dalam membentuk kita.”
Di sinilah Injil memberikan pengharapan yang indah. Kristus tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah. Sebaliknya, Ia berkata bahwa di dalam dunia kita akan mengalami kesukaran. Tetapi Ia juga berjanji menyertai kita senantiasa. Penyertaan Allah inilah yang membedakan kehidupan orang percaya. Kita menghadapi badai yang sama, tetapi kita tidak berjalan sendirian.
Suatu hari nanti, ketika Kristus datang kembali, segala akibat dosa akan lenyap. Tidak akan ada lagi air mata, penderitaan, penyakit, ataupun kematian. Persekutuan yang pernah dinikmati manusia di Eden akan dipulihkan dengan cara yang bahkan lebih mulia, karena kita akan hidup bersama Kristus selama-lamanya.
Sampai hari itu tiba, setiap masalah yang kita hadapi bukanlah bukti bahwa Allah telah meninggalkan kita. Sebaliknya, di dalam tangan-Nya, setiap pencobaan menjadi bagian dari proses pembentukan. Allah sedang mempersiapkan kita menjadi semakin serupa dengan Kristus dan semakin siap menikmati kemuliaan yang akan datang.
Karena itu, ketika masalah datang, jangan hanya bertanya, “Kapan semua ini berakhir?” Belajarlah juga bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau kerjakan dalam hidupku melalui semua ini?” Pertanyaan kedua itulah yang sering kali membawa kita kepada damai, pengharapan, dan iman yang semakin dewasa.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami di tengah pencobaan. Tolong kami memandang setiap kesulitan dengan iman, percaya bahwa Engkau sedang membentuk kami menjadi semakin serupa dengan Kristus. Berikan kami ketekunan, pengharapan, dan damai sejahtera untuk tetap berjalan bersama-Mu sampai akhir. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
— Filipi 1:6

Permainan ular tangga sudah dikenal di berbagai negara dan dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa permainan ini berasal dari India kuno sebagai sarana mengajarkan konsep moral dan karma. Dalam permainan itu, tangga melambangkan kebajikan yang mengangkat seseorang ke tingkat yang lebih tinggi, sedangkan ular melambangkan kejahatan yang menjatuhkan ke tingkat yang lebih rendah. Nasib pemain terus berubah. Kadang ia naik dengan cepat, lalu tiba-tiba jatuh jauh ke bawah karena seekor ular. Sebelum garis akhir, tidak ada kepastian siapa yang akan menang.
Tanpa disadari, banyak orang memandang keselamatan seperti permainan ular tangga. Ketika rajin berdoa, membaca Alkitab, melayani, dan berbuat baik, mereka merasa sedang naik beberapa tingkat. Namun, ketika jatuh dalam dosa atau gagal menjalankan kehidupan rohani, mereka merasa telah meluncur turun dan khawatir kehilangan keselamatan. Hidup menjadi seperti permainan yang penuh kecemasan: apakah hari ini saya sedang naik atau justru turun? Apakah saya akan mempunyai nasib baik atau nasib buruk?
Alkitab mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda. Keselamatan bukanlah hasil naik-turun berdasarkan keberhasilan dan kegagalan manusia. Keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir. Paulus menulis dengan penuh keyakinan, “Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” Perhatikan bahwa yang memulai adalah Allah, dan yang menyelesaikan juga Allah. Keselamatan tidak dimulai oleh usaha manusia, lalu disempurnakan oleh usaha manusia. Semuanya berasal dari kasih karunia-Nya.
Ini bukan berarti kehidupan orang percaya akan bebas dari pergumulan. Kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, mengalami kelemahan, bahkan terkadang tersandung oleh pencobaan. Iblis memang terus berusaha menggoda dan menjatuhkan orang percaya. Namun, Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa iblis dapat membatalkan karya keselamatan yang telah Allah kerjakan. Bapa yang memanggil kita juga memelihara kita. Ia mendisiplinkan, menegur, memulihkan, dan membentuk kita agar semakin serupa dengan Kristus.
Keselamatan tidak hanya dirancang oleh Bapa, dibeli oleh Anak, tetapi juga diterapkan dan dipelihara oleh Roh Kudus.
Di sinilah pentingnya membedakan antara akar dan buah keselamatan. Kekudusan, pertobatan setiap hari, dan kehidupan yang dipimpin Roh Kudus bukanlah tangga untuk mencapai surga. Semua itu adalah buah dari keselamatan yang telah Allah anugerahkan. Kita tidak berusaha menjadi anak Allah melalui kehidupan yang kudus. Sebaliknya, karena kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah, kita rindu hidup sesuai dengan identitas baru yang telah diberikan-Nya.
Bayangkan seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan. Ia berkali-kali terjatuh. Namun setiap kali ia jatuh, ayahnya segera mengangkatnya kembali. Anak itu tidak berhenti menjadi anak hanya karena ia jatuh. Justru karena ia adalah anak, sang ayah tidak membiarkannya tetap tergeletak. Demikian pula kehidupan orang percaya. Kita memang belum sempurna, tetapi tangan Bapa tidak pernah melepaskan kita. Kasih karunia yang menyelamatkan juga adalah kasih karunia yang memelihara.
Karena itu, jangan hidup dengan mentalitas ular tangga. Jangan mengukur hubungan kita dengan Tuhan berdasarkan perasaan sedang “naik” atau “turun”. Dasar keselamatan kita bukanlah catatan keberhasilan rohani, melainkan karya Yesus Kristus di kayu salib. Dari dasar yang kokoh itulah Roh Kudus bekerja membarui hati kita, sehingga kita semakin membenci dosa, semakin mengasihi Tuhan, dan semakin menghasilkan buah Roh dalam kehidupan sehari-hari.
Jika hari ini Anda sedang bergumul dengan kelemahan, jangan putus asa. Datanglah kepada Kristus dengan hati yang hancur dan bertobat. Ia setia mengampuni dan memulihkan. Jika hari ini Anda sedang bertumbuh dalam iman, jangan menjadi sombong seolah-olah semuanya hasil usaha sendiri. Ingatlah bahwa setiap langkah pertumbuhan adalah karya anugerah Allah. Pada akhirnya, seluruh kemuliaan bukanlah bagi manusia yang berhasil memanjat tangga, melainkan bagi Allah yang menyelamatkan, memelihara, dan menyempurnakan umat-Nya.
Keselamatan bukanlah permainan ular tangga yang bergantung pada keberuntungan, kekuatan sendiri, atau kemampuan menghindari “ular”. Keselamatan adalah kisah kasih karunia Allah yang dimulai di dalam Kristus, dikerjakan oleh Roh Kudus, dan akan disempurnakan oleh Allah sendiri pada hari Tuhan Yesus datang kembali. Itulah sebabnya orang percaya dapat hidup dengan kerendahan hati, ketekunan, dan pengharapan yang teguh.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena keselamatan kami adalah karya kasih karunia-Mu dari awal sampai akhir. Tolong kami untuk tidak mengandalkan usaha sendiri, tetapi terus percaya kepada Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus untuk hidup semakin serupa dengan-Nya. Teguhkan iman kami hingga kami setia sampai akhir dan seluruh hidup kami memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
— Mazmur 34:19

Ketika mendengar seseorang mengalami depresi berat, psikosis, atau gangguan kejiwaan lainnya, tidak jarang tanggapan pertama yang muncul adalah, “Pasti imannya lemah,” atau bahkan, “Ia pasti kerasukan setan.” Kalimat-kalimat seperti ini mungkin diucapkan dengan maksud baik, tetapi justru dapat melukai orang yang sedang menderita. Lebih menyedihkan lagi, karena takut dicap kurang beriman atau kerasukan, banyak orang Kristen memilih menyembunyikan pergumulannya daripada mencari pertolongan.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya kebal terhadap penderitaan jiwa. Sebaliknya, firman Tuhan memperlihatkan bahwa tokoh-tokoh iman pun pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam. Elia pernah ingin mati karena kelelahan dan keputusasaan. Daud berkali-kali mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dengan ratapan yang menyayat hati. Ayub dan Yeremia bahkan pernah mengutuki hari kelahiran mereka. Namun Tuhan tidak meninggalkan mereka. Ia mendengar ratapan mereka, menguatkan mereka, dan memulihkan mereka menurut waktu-Nya.
Mazmur 34:19 memberikan penghiburan yang luar biasa. Tuhan tidak menjauh dari orang yang remuk jiwanya. Justru kepada merekalah Ia datang mendekat. Ini berarti keadaan jiwa yang terluka bukanlah alasan bagi Tuhan untuk menolak seseorang. Sebaliknya, kelemahan kita menjadi tempat di mana kasih dan pemeliharaan-Nya dinyatakan.
Memang, Alkitab mengajarkan bahwa Iblis dan roh-roh jahat itu nyata. Namun Alkitab juga membedakan antara orang yang sakit dan orang yang kerasukan setan. Tidak semua gangguan kejiwaan berasal dari kuasa gelap. Gangguan seperti depresi mayor, gangguan bipolar, skizofrenia, atau psikosis dapat memiliki penyebab biologis, psikologis, maupun sosial. Sama seperti penyakit jantung atau diabetes, gangguan pada otak juga merupakan bagian dari realitas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Dementia merupakan contoh lain yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa penyakit pada otak dapat memengaruhi pikiran, ingatan, dan perilaku. Karena demensia secara fisik mengubah otak, banyak pasien demensia mengembangkan gejala kejiwaan seperti kecemasan, depresi, atau halusinasi saat penyakit berkembang. Penyakit neurodegeneratif ini menyebabkan sel-sel otak rusak secara bertahap. Penyakit ini dapat mengubah kepribadian seseorang. Orang yang dahulu lembut bisa menjadi mudah marah, orang yang jujur bisa mulai menuduh orang lain mencuri, bahkan ada yang mengucapkan kata-kata kasar yang tidak pernah mereka ucapkan sebelumnya.
Bagi keluarga Kristen, hal ini sering sangat menyakitkan. Mereka bertanya, “Apakah ayah sudah tidak mengenal Tuhan lagi?” atau “Mengapa ibu yang dahulu rajin berdoa sekarang tidak mau ke gereja?” Bahkan ada yang bertanya, “Apakah ini hukuman Tuhan?”
Allah tidak kehilangan orang yang sudah menjadi milik-Nya hanya karena otaknya rusak. Jika kerusakan otak dapat membatalkan keselamatan, maka keselamatan akhirnya bergantung pada kondisi neurologis seseorang, bukan pada anugerah Allah. Ini bertentangan dengan ajaran Alkitab mengenai keselamatan oleh kasih karunia.
Karena itu, orang Kristen perlu berhati-hati agar tidak terburu-buru memberikan penilaian rohani terhadap setiap gangguan mental. Menyebut seseorang kerasukan tanpa dasar yang jelas dapat memperberat penderitaannya dan membuat ia terlambat memperoleh pertolongan yang diperlukan. Di sisi lain, kita juga tidak boleh mengabaikan kehidupan rohani. Orang yang bergumul dengan gangguan kejiwaan tetap membutuhkan doa, firman Tuhan, persekutuan dengan umat percaya, dan kasih dari gereja. Pendekatan yang bijaksana bukanlah memilih antara pertolongan rohani atau medis, melainkan menghargai keduanya sebagai anugerah Allah.
Dalam perspektif iman Kristen, seluruh aspek kehidupan berada di bawah kedaulatan Tuhan. Allah dapat bekerja melalui doa, melalui keluarga yang mengasihi, melalui gereja yang mendampingi, maupun melalui dokter, psikolog, dan psikiater yang memberikan penanganan yang tepat. Menggunakan pengobatan bukanlah tanda kurang beriman, sebagaimana menggunakan antibiotik untuk mengobati infeksi juga bukan tanda kurang percaya kepada Tuhan. Semua sarana yang baik pada akhirnya berasal dari tangan-Nya.
Sebagai gereja, kita dipanggil bukan menjadi hakim yang cepat memberi label, tetapi menjadi sahabat yang mau mendengar. Orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan sering kali tidak membutuhkan ceramah panjang atau tuduhan bahwa dosanya belum dibereskan. Mereka membutuhkan pelukan kasih, telinga yang mau mendengar, doa yang tulus, dan dorongan untuk mencari pertolongan yang sesuai. Kasih Kristus seharusnya membuat gereja menjadi tempat yang aman bagi mereka yang sedang remuk jiwanya, bukan tempat yang membuat mereka semakin merasa tertolak.
Sebagai orang Kristen kita harus yakin bahwa keselamatan orang percaya tidak bergantung pada kestabilan kondisi fisik atau mental, melainkan pada kesetiaan Kristus, sehingga memberikan penghiburan bagi keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan kejiwaan.
Kiranya kita belajar melihat mereka yang bergumul dengan mata Kristus. Jangan tergesa-gesa menghakimi apa yang belum kita pahami. Sebaliknya, marilah kita hadir sebagai pembawa pengharapan. Sebab Tuhan yang dekat kepada orang-orang yang patah hati masih bekerja hingga hari ini. Ia sanggup memulihkan melalui cara-cara yang kadang berada di luar dugaan kita, tetapi selalu sesuai dengan kasih dan hikmat-Nya.
Doa Penutup
Bapa di surga, ajarlah kami memiliki hati yang penuh belas kasihan kepada mereka yang bergumul dengan gangguan kejiwaan. Berikanlah hikmat agar kami tidak mudah menghakimi, tetapi mampu mengasihi, mendampingi, dan menolong dengan bijaksana. Dekatkanlah setiap hati yang remuk kepada-Mu, dan nyatakanlah penghiburan serta pemulihan-Mu melalui cara yang Engkau kehendaki. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.