Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Hal menjadi satu daging

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kejadian 2: 24 – 25

Hari ini saya melihat adanya ucapan selamat hari Yom Kippur di WA saya. Saya terperangah. Setahu saya tidak ada satupun teman saya yang merayakannya. Malahan, saya duga hampir semua tidak tahu maknanya. Apa sih Yom Kippur itu?

Menurut Wikipedia, Yom Kippur (יום כיפור yom kippūr); Hari Penebusan atau Hari Pendamaian (hari grafirat) adalah hari yang dianggap paling suci dalam agama Yahudi. Di Australia, Yom Kippur berlangsung sejak Selasa malam 18 September, sampai Rabu malam 19 September 2018.Walaupun disebut perayaan, sebenarnya ini dilakukan puasa selama 25 jam, dihitung dari terbenamnya matahari.

Ada hal-hal yang pantang dilakukan selama perayaan ini berlangsung. Selain tidak diperkenankan untuk makan dan minum, umat tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual. Memang dalam perkawinan Yahudi ortodoks, selalu ada hari-hari tertentu dimana hubungan seks tidak boleh dilakukan karena mereka ingin memusatkan diri kepada Tuhan.

Menurut Alkitab, seks adalah pemberian Tuhan yang baik, yang harus dipertahankan kemurniannya. Seks hanya baik jika dilakukan pada saat yang baik, dengan cara yang benar dan untuk tujuan yang mulia. Pengertian keadaan apa yang baik dan tidak baik agaknya berbeda dengan apa yang dijalankan orang zaman now, yang mungkin menganggap bahwa asal dua orang saling menyukai, seks dalam bentuk apapun, dimanapun dan kapanpun jadilah.

Menurut agama Kristen, seks adalah bagian kehidupan antara suami dan istri yang merupakan pemberian Tuhan. Seks seharusnya adalah sesuatu yang suci yang berdasarkan kasih antara suami dan istri sesuai dengan perintah Tuhan untuk menghasilkan keturunan (Kejadian 1: 28). Seks adalah bukan sesuatu yang tabu, kotor, atau memalukan jika dilakukan dua orang yang hidup dalam pernikahan. Hubungan antara suami dan istri seharusnya membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kejadian 2: 24 – 25

Mengapa pandangan dunia akan pernikahan sekarang sudah berubah? Itu karena dosa manusia. Manusia sudah menjadikan manusia lain sebagai obyek nafsu mereka, baik dalam dunia nyata maupun maya. Banyak orang yang merasa bahwa hidup adalah milik mereka dan itu ada ditangan mereka sendiri. Hidup adalah untuk kenikmatan tubuh dan bukan untuk memuliakan Sang Pencipta. Tidak lagi menghormati perkawinan seperti yang ditentukan Tuhan, manusia justru berbuat hal-hal yang bisa menghancurkan perkawinan dan hidup mereka sendiri.

“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” Ibrani 13: 4

Pagi ini, jika kita sudah diberkati Tuhan dengan seorang pendamping, biarlah kita hidup suci dalam perkawinan untuk seumur hidup. Hubungan kita dengan pasangan kita adalah ibarat hubungan gerejaNya dengan Yesus Kristus, dan karena itu harus didasarkan pada kasih.

Begitu pula jika ada diantara kita yang mendambakan seorang kekasih, biarlah kita menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan, agar kita mendapat seorang yang sepadan dalam iman kepada Tuhan. Selama dalam penantian, pikiran kita tidak boleh dipengaruhi oleh ajaran dunia yang merendahkan dan mengotori apa yang pada mulanya ditentukan Tuhan sebagai sesuatu yang baik adanya.

“…….. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” 1 Korintus 6: 13b

Musuh yang tidak terlihat

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 12

Pernahkah anda menonton film perang? Sebagai penggemar film, ada banyak film perang dari segala zaman yang pernah saya tonton. Dalam beberapa film perang, khususnya film tentang perang Vietnam, misi sebuah regu tentara seringkali adalah untuk mencari tentara musuh dan menghancurkan mereka (search and destroy). Yang membuat penonton jadi tegang ialah adegan dimana tentara musuh yang semula tidak terlihat, tiba-tiba muncul dan menyerang. Memang sulit untuk menghadapi musuh yang pandai berkamulflase seperti bunglon, apalagi menghadapi musuh yang datang dan pergi seperti setan.

Ayat diatas mengingatkan orang Kristen bahwa dalam hidup ini mereka harus berjuang untuk bisa tetap setia kepada Tuhan. Di banyak negara, hidup orang Kristen mirip dengan hidup mereka yang dalam peperangan karena adanya bahaya yang mengancam dari orang-orang yang membenci mereka. Sebagian orang Kristen yang lain memang hidup di daerah dimana perang ada. Dan ada juga masyarakat Kristen yang harus hidup dalam persembunyian karena pemerintah setempat melarang mereka untuk melakukan kegiatan agama. Hidup sebagai laskar Kristen memang tidak mudah.

Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran di negara yang menjamin kebebasan beragama. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan, tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering minta agar Tuhan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh kedalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh kedalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca Firman, dan jauh dari Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk.

Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh. Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa perjuangan kita bukanlah melawan hal-hal yang mudah dilihat dan dirasakan, tetapi melawan melawan roh-roh jahat di udara. Sadarlah dan berjaga-jagalah!

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” Efesus 6: 11

Bagaimana bayangan anda tentang Tuhan?

“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Yohanes 4: 24

Apakah bayangan anda tentang Tuhan ketika sedang berdoa? Apakah anda membayangkan Dia seperti seorang raja dengan segala kemegahannya? Apakah anda membayangkan Dia dalam rupa Yesus seperti yang ada dalam berbagai buku Kristen? Bagaimana anda tahu dengan pasti bahwa Yesus mempunyai wajah seperti apa yang dipertunjukkan dalam film “The Passion of the Christ“?

Memang banyak orang yang merasa bahwa mereka akan lebih khusyuk berdoa jika mereka bisa membayangkan rupa Yesus, seolah Ia ada didekat mereka. Tetapi karena Alkitab tidak menjelaskan bagaimana rupa Yesus, apa yang digambarkan dalam buku dan film hanyalah khayalan manusia. Bagaimana pula dengan Allah? Allah adalah Roh, jadi kita juga tidak bisa membayangkan bagaimana penampilanNya.

Mengapa orang membutuhkan suatu gambaran tentang Tuhan? Ada beberapa sebabnya. Yang pertama ialah karena keterbatasan manusia, mereka hanya bisa melihat dan merasakan apa yang bersifat jasmani. Dari dulu, orang ingin mempunyai Tuhan yang bisa dilihat atau disentuh. Umat Israel pernah menuntut Harun untuk membuat patung anak lembu untuk disembah. Tentu saja Tuhan menjadi marah karena Ia dengan kebesaranNya telah digantikan dengan benda mati dalam wujud anak lembu (Keluaran 32: 1 – 4).

Kedua, sebagai manusia mereka merasa bahwa jika Tuhan bisa diwujudkan dalam bentuk badani, mereka akan lebih mudah untuk menyembahNya. Mereka akan dapat membawa Tuhan kemana saja. Tuhan selalu bisa terlihat dan dijumpai. Dengan demikian, ada orang yang menaruh gambar atau patung di rumah, di kantor, di mobil, di kalung dan dimanapun. Dan jika mereka tidak ingin selalu memikirkan Tuhan, dengan mudah mereka meninggalkan obyek penyembahan mereka di satu tempat. Mereka seolah mempunyai kontrol atas keberadaan Tuhan.

Bagi umat Kristen, Tuhan adalah Roh dan karena itu mereka tidak dapat menggambarkanNya. Mereka tidak perlu bisa membayangkan rupa Tuhan karena yang lebih penting adalah sifat-sifat dasar Tuhan seperti yang ditulis dalam Alkitab: mahakuasa, mahahadir, mahatahu (omnipotence, omnipresence dan omniscience). Dengan turunnya Yesus ke dunia untuk menebus dosa manusia, Tuhan juga terbukti mahakasih (omnibenevolence).

Manusia sebagai ciptaan Tuhan hanya dapat mengenal Tuhan melalui sifat-sifatNya, dan Tuhan hanya mengingini kita untuk mengingat apa yang sudah diperbuatNya dalam hidup kita. Tuhan tidak menghendaki manusia mempunyai bayangan yang keliru tentang kebesaranNya.

Ia memperkenalkan diriNya kepada umat Israel sebagai Tuhan yang sudah menyelamatkan mereka dari perbudakan Firaun.

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Keluaran 20: 2 – 4

Ia jugalah yang sudah menyatakan kasihNya kepada kita melalui Yesus Kristus.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini, jika anda berdoa kepada Tuhan, kepada Tuhan yang mana pikiran dan hati anda akan dipusatkan? Kepada Tuhan yang terlihat dalam bayangan anda? Ataukah kepada sesuatu yang tergambar dalam bentuk jasmani di depan anda? Semua itu tidaklah bisa menggantikan Tuhan yang Roh. Sekalipun kita mengagumi alam semesta ciptaan Tuhan, alam semesta bukanlah Tuhan. Tuhan adalah Roh dan kita harus menyembahnya dalam roh.

Tidak ada sesuatu yang bisa menggambarkan kebesaran Tuhan, kecuali Yesus yang adalah Tuhan kita. Yesus yang sudah menggenapi janji Allah, adalah kebenaran Allah yang memungkinkan kita untuk mendekati Dia yang maha kuasa dan maha suci. Berbeda dengan murid Yesus yang bernama Tomas, sekalipun kita tidak pernah berjumpa dengan Yesus, kita berbahagia karena kita beriman kepadaNya. Walaupun kita tidak dapat membayangkan rupa Yesus, kita tahu bahwa Ia adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menyelamatkan kita.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Lidah bisa menghancurkan pemiliknya

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” 1 Petrus 3: 10

Anda ingat lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”? Lagu yang nadanya enak didengar itu diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu itu kemudian menjadi sangat terkenal dan pernah dibawakan oleb berbagai penyanyi, diantaranya penyanyi pop Hetty Koes Endang dan Bob Tutupoli, serta penyanyi keroncong Tuti Maryati. Sebagian syairnya berbunyi:

Memang lidah tak bertulang

tak berbekas kata-kata

Tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

Lidah memang tidak bertulang dan karena itu dikatakan sebagai anggota tubuh yang dengan leluasa mengeluarkan apa saja, baik itu hal-hal yang baik, ataupun hal-hal jahat seperti bohong, fitnah, dan sumpah serapah, yang dapat mempengaruhi orang lain. Tetapi, dalam Alkitab ada juga tertulis ayat-ayat, yang seperti ayat diatas, menyebutkan resiko penggunaan lidah terhadap pemiliknya.

“Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” Yakobus 3: 6

Hampir dalam segala segi kehidupan, manusia memang sering menggunakan lidahnya untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Tetapi, dengan berbuat demikian, sebenarnya ia juga merugikan diri sendiri. Bukan saja masa depannya bisa menjadi suram, hidupnya pun akan perlahan-lahan menemui kehancuran.

Adalah suatu yang menyedihkan bahwa banyak orang yang duduk sebagai pimpinan masyarakat, justru sering terlihat sebagai orang yang hanya pandai bersilat lidah. Pemimpin yang sedemikian sudah tentu tidak dapat memajukan rakyat, tetapi justru bisa membuat kekacauan dan kebingungan. Mereka akhirnya akan digantikan oleh orang-orang yang lebih baik.

Dalam kehidupan keluarga pun, orang tua memberi bimbingan kepada anak-anaknya melalui apa yang dikatakan dan diperbuat mereka. Jika orang tua hanya sering memberi nasihat tetapi tidak memberi contoh melalui perbuatan; atau lebih sering berjanji tetapi jarang memenuhinya, anak-anak mereka akhirnya akan kurang bisa menjadi anak yang patuh, karena apa yang diucapkan orang tua dianggap sebagai suatu kemunafikan dan kebohongan saja. Orang tua yang sedemikian lambat laun akan kehilangan wibawanya.

Pimpinan gereja dengan ucapan dan pandangan hidup mereka juga membawa pengaruh kepada orang lain. Mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki semua orang Kristen untuk hidup makmur dan sukses di dunia, tidak mencerminkan kebijaksanaan Tuhan yang selalu membimbing umatNya baik dalam suka dan duka. Mereka yang mengajarkan bahwa orang Kristen pada hakikatnya adalah orang yang baik, tidaklah memberitakan kebenaran Tuhan: bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan setiap hari. Mereka bukan saja menyampaikan apa yang keliru, tetapi juga membuat Tuhan dan gerejaNya dipermalukan.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa dalam hidup ini kita harus memakai lidah kita untuk menyatakan kebaikan dan kejujuran. Baik kita adalah pimpinan ataupun pekerja, guru atau murid, orang tua maupun anak, suami ataupun istri, kita semua harus memakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan, dan dengan demikian membuka jalan bagi kita untuk menerima berkat Tuhan yang lebih besar dihari-hari mendatang.

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” 1 Petrus 3: 12

Pintar-pintarlah pilih teman

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Tidak dapat dipungkiri, sejak adanya berbagai sosial media banyak orang menjadi sangat bersemangat untuk berkomunikasi dengan “teman”. Dengan berbagai aplikasi orang bisa berkomunikasi langsung melalui pesan tertulis ataupun pesan lisan kapan saja. Orang biasanya merasa senang bercanda, saling menggoda dan juga mengirimkan gambar-gambar lucu yang kadang-kadang agak “miring”.

Kemajuan teknologi memang bisa membuat dua orang yang terpisah jarak ribuan kilometer, sepertinya ada dalam satu ruangan saja. Istilah teman sekarang ini bukan saja mencakup orang yang pernah kita temui, tetapi juga teman-teman maya yang sebenarnya tidak pernah kita kenal. Bahkan, dalam dunia maya, orang bisa jatuh cinta dan bermesraan bak sepasang merpati yang mabuk kepayang. Pada pihak yang lain, melalui sosial media orang juga bisa menabur benih kebencian. Kenyataan menunjuk kepada adanya orang-orang bersedia menghancurkan hidup orang lain karena pikiran mereka sudah diracuni oleh orang yang dianggap teman seperjuangan di dunia maya.

Pergaulan nyata maupun maya di zaman now memang bisa menerobos “tembok pemisah” yang dulunya ada diantara masyarakat, golongan dan bangsa. Seringkali pergaulan yang bersifat terbuka diantara orang-orang yang berbeda agama, budaya dan sosial ekonominya membuka mata kita bahwa diluar lingkungan kita ternyata ada hal-hal yang sepertinya indah dan baik. Perbedaan antar manusia menjadi baur dan demikian pula perbedaan iman kepercayaan. Orang pun mulai percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang mutlak, karena semua yang ada hanyalah bersifat relatif dan bisa berubah.

Rasul Paulus dalam ayat diatas seakan sudah bisa membayangkan apa yang kita alami sekarang. Itu karena pada zamannya, orang Kristen yang tinggal di Korintus juga menghadapi berbagai kepercayaan, kebiasaan dan budaya yang seringkali tidak sesuai dengan iman Kristen. Dengan itu, tidaklah mengherankan jika ada orang Kristen di Korintus yang terpikat oleh apa yang nampaknya baik. Mereka kemudian jatuh dalam dosa, dan kepada mereka Paulus mengingatkan:

“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” 1 Korintus 15: 34

Pagi ini mungkin kita bersiap untuk ke gereja. Di gereja, kita bersekutu dengan saudara-saudara seiman, memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Kita merasa tenteram dan bahagia, dan Tuhan terasa dekat. Tetapi, seusai kebaktian kita akan kembali menghadapi dunia dengan segala tipu muslihatnya.

Mungkin kita berharap bahwa ketenteraman dan kebahagiaan juga bisa ditemui diantara teman-teman kita. Tetapi, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di dunia ini ada banyak orang yang tidak mengenal Tuhan. Mungkin kita sudah terbiasa bergaul dengan mereka dan merasa bahwa mereka bukanlah orang yang jahat. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa kita tetap harus berhati-hati, agar kita tidak mengikuti cara hidup dan kebiasaan mereka yang tidak mengenal Kristus. Orang percaya adalah garam yang mempengaruhi dunia, dan karena itu garam tidak boleh menjadi tawar karena pengaruh dunia. Garam yang tidak lagi asin, bukanlah garam!

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Matius 5: 13

Iman bukannya tanpa halangan

“Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?” Galatia 5: 7

Hasil kejuaraan lari 3000m pada kejuaraan World Indoor Championships 2018 di Birmingham adalah 1. Genzebe Dibaba (Etiopia) 2. Sifan Hassan (Belanda) 3. Laura Muir (Inggris). Sesudah race itu selesai, salah satu pertanyaan adalah apakah Laura Muir tidak seharusnya diberi medali perak. Mengapa? Pada putaran terakhir, Sifan memotong jalan Laura dan menghalanginya untuk bisa melaju kedepan dengan bebas. Sifan meneruskan usahanya untuk menghalangi Laura bahkan makin melebar ke kanan sampai di garis finis. Anehnya, atas pertanyaan wartawan, Laura tidak menyadari adanya insiden itu karena pikirannya pada waktu itu hanyalah untuk mencapai garish finis. Juga karena lelah, Laura tidak sepenuhnya awas atas keadaan disekelilingnya.

Rasul Paulus bukanlah seorang olahragawan atau seorang prajurit, tetapi ia sering memakai ilustrasi tentang lari dan tinju. Dalam ayat diatas, ia menggambarkan bahwa semua pengikut Kristus adalah seperti pelari atau prajurit yang berlari kearah suatu tujuan, yaitu surga. Perjalanan yang ditempuh adalah cukup panjang, dan aral rintangan selalu muncul di tempat dan waktu yang sulit diduga. Karena itu semua orang Kristen haruslah bisa memusatkan hidup kita kepada kehidupan surgawi yang akan datang. Berlari dalam race menuju garis finis.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Hal berlari karena panggilan surgawi itu tidaklah mudah dilakukan. Selama hidup di dunia, anak-anak Tuhan selalu menghadapi rintangan dan godaan dari berbagai jurusan. Dalam Galatia 5: 7 diatas Paulus bertanya kepada jemaat di Galatia, mengapa mereka sudah berubah dalam pengertian iman mereka. Dulu mereka hidup dalam kebenaran, tetapi setelah selang berapa lama mereka berubah. Paulus menanyakan siapakah yang sudah mempengaruhi mereka. Paulus lebih lanjut berkata bahwa mereka yang menyesatkan jemaat itu akan menerima hukuman Tuhan (Galatia 5: 10).

Bahwa orang Kristen bisa terhalang pertumbuhan imannya adalah suatu kenyataan. Di zaman ini bukan saja pertanyaan “siapa” yang menghalangi hidup Kristen kita, tetapi juga “apa”. Ada banyak orang yang bisa menggoda kita, begitu juga ada banyak benda dan keadaan yang bisa membuat kita berubah. Pada tulisan rasul Paulus diatas, ia secara spesifik menyebut adanya orang-orang yang mengajarkan hal-hal yang salah kepada jemaat Galatia.

Pada saat-saat tertentu, orang Kristen bisa jatuh karena adanya kekerasan dan kejahatan yang dilakukan orang lain. Sejarah membuktikan bahwa dari dulu sampai sekarang, ada orang-orang yang berusaha memaksa orang Kristen untuk menyangkali Tuhan. Kejadian dimana banyak orang Kristen disiksa dan dibunuh karena iman mereka, masih terjadi sampai sekarang.

Apa yang kurang mendapat perhatian adalah orang Kristen bisa juga jatuh karena “perbuatan baik” orang lain. Faktor nama, pesona, cinta, citra, budaya dan kharisma yang dipunyai orang lain bisa, secara tidak terasa, membuat orang Kristen melakukan hal yang keliru. Baik itu pengaruh yang berasal dari orang-orang ternama, orang-orang yang kita hornati, sanak keluarga, ataupun kekasih kita; semuanya bisa menjadi penghalang kita untuk menyelesaikan perjalanan hidup kita dengan baik. Apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan bukanlah kebenaran, sekalipun diberikan kepada kita dengan maksud baik.

Kita mungkin tidak menyadari adanya godaan dan halangan iman karena pikiran kita seringkali terpusat pada usaha untuk mencapai apa yang kita idamkan. Juga karena kelelahan dan kesibukan hidup kita seringkali tidak sepenuhnya awas atas keadaan disekeliling kita.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk mau berpegang pada firman Tuhan selama kita hidup di dunia. Sekalipun itu berarti hidup dalam perjuangan, kita bisa yakin bahwa semua penderitaan kita tidak akan sia-sia. Sebaliknya, kekeliruan apapun bisa mengakibatkan kebingungan dan kegoyahan iman yang membawa kehancuran hidup.

“…sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” Filipi 2: 16

Apakah anda benar-benar mengenal Tuhan?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Dalam sejarah musik internasional, band The Beatles adalah suatu fenomena yang menarik. Dalam waktu hanya 4 tahun, The Beatles yang mulanya hanya sebuah band tak ternama di Liverpool, Inggris, menjadi sebuah band yang seperti diklaim oleh John Lennon pada tahun 1966, “lebih masyhur dari Yesus”.

Pada tahun 1964, The Beatles mengadakan tour ke Australia dan mengunjungi kota Adelaide, Melbourne, Sydney dan Brisbane. Sambutan masyarakat Australia pada waktu itu luar biasa, dan sampai sekarang orang-orang yang pernah ikut menyambut The Beatles masih mengenang saat itu. Mereka merasa kenal dengan pemain-pemain band itu, sekalipun hanya melalui musik dan sebuah perjumpaan. Mungkin mereka memang setuju bahwa The Beatles lebih bisa dikagumi daripada Yesus.

Masyarakat yang menyambut The Beatles pada saat itu agaknya bisa dibandingkan dengan orang-orang yang mengelu-elukan Yesus ketika Ia masuk ke Yerusalem diatas seekor keledai menjelang penyalibanNya. Mereka yang mengharapkan Yesus untuk menjadi pemimpin Israel yang bisa membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Mereka menyambut Yesus sebagai orang yang menurut pengenalan mereka saat itu, adalah calon Raja Israel.

“Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Yohanes 12: 13

Jika mereka yang menyambut Yesus pada waktu itu dibungkus perasaan euforia dan karena itu merasa kenal denganNya, beberapa saat kemudian mereka menyaksikan dan terlibat dalam pengadilan masa yang menentukan bahwa Yesus adalah seorang penipu dan penghujat yang lebih jahat dari Barabas, seorang pemberontak yang kejam. Mereka yang dulunya merasa kenal kepada Yesus, ternyata tidak kenal kepadaNya. Mereka dan orang-orang lain yang membenci Yesus, bersama-sama menyalibkan Dia.

Dalam hidup kita saat ini, ada banyak orang yang merasa kenal kepada Yesus. Mereka sering juga merasakan kegembiraan dalam menemuiNya, entah dalam kebaktian gereja, ataupun dalam mendengarkan lagu-lagu rohani. Malahan, perasaan euforia mungkin juga terkadang datang, dan mereka ikut menyerukan “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang sebagai penebus dosa manusia!”. Mereka merasa kenal dengan Yesus, mereka yakin bahwa Yesus sudah menyelamatkan orang yang percaya.

Satu hal yang menyedihkan dalam hidup ini adalah adanya orang-orang seperti itu, yang merasa kenal kepada Yesus dan merasa percaya kepadaNya, tetapi sebenarnya tidak tahu siapa Dia. Mungkin sudah bertahun-tahun mereka mengenal nama Yesus yang termasyhur itu. Dengan bersemangat, mereka selalu mau menyambut kehadiran Yesus yang dirasakan dalam kebaktian gereja. Persis seperti mereka yang mengagumi orang-orang yang terkenal. Bagi mereka, Yesus adalah orang yang hebat, yang seharusnya dikagumi.

Pagi ini, mungkin sekali tidak ada keraguan bahwa kita mengenal Yesus. Yesus adalah tokoh dunia. Banyak orang mempunyai keyakinan yang serupa. Mempunyai semangat dan euforia, yang sering muncul ketika nama Yesus disebutkan. Namun, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah menjalankan Firman dalam hidup kita sehari-hari. Apakah kita tetap hidup sebagai anak-anak Tuhan, yang membenci hawa nafsu, egoisme, kejahatan, dan kepalsuan. Apakah kita tetap setia kepadaNya, sekalipun dunia menjanjikan berbagai kenyamanan dan kenikmatan. Yesus yang kita kenal adalah Tuhan yang mahatahu. Yesus adalah Mesias yang akan mengenali kita dari apa yang ada dalam hidup kita sehari-hari, bukan dari perjumpaan sesaat yang sering kita alami.

Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” Markus 8: 29