Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Apakah Tuhan Masih Mencipta?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

Pernahkah Anda mendengar istilah Deisme? Jika belum, saya rasa Anda pernah tahu orang yang mempunyai paham yang mirip Deisme. Saya sendiri mempunyai teman yang menganut filsafat ini sekalipun tidak terang-terangan mengakuinya.

Kaum Deis percaya bahwa alam semesta yang sangat teratur ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Harus ada Pencipta yang mahacerdas di awal mula. Namun, setelah penciptaan itu selesai dan hukum alam ditetapkan, Tuhan menarik diri dan membiarkan semesta berjalan mandiri.

Dalam Deisme, manusia tidak membutuhkan iman atau dogma agama. Nalar dan sains adalah alat utama untuk memahami moralitas dan keberadaan Tuhan. Jika suatu ajaran agama bertentangan dengan logika dan ilmu pengetahuan, maka ajaran tersebut harus ditolak.

Penganut Deisme percaya Tuhan itu ada sebagai pencipta, tetapi mereka menolak adanya mukjizat, wahyu, kitab suci, atau intervensi ilahi dalam sejarah manusia. Bagi mereka, dunia sepenuhnya berjalan di atas hukum fisika dan logika. 

Pandangan Deisme tentang penciptaan ini kelihatannya masuk akal, tapi tidak benar. Meskipun penciptaan awal alam semesta (material primordial) telah selesai, sebagian besar perspektif teologi dan sains memandang bahwa aktivitas penciptaan Tuhan tidak pernah berhenti, melainkan bertransformasi menjadi proses yang dinamis dan berkelanjutan.

Banyak teolog menggunakan istilah creatio continua (penciptaan yang terus-menerus). Konsep ini menyatakan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta dan manusia lalu meninggalkannya begitu saja. Bagaimana kata Alkitab tentang hal ini?

Ketika membaca kitab Kejadian, kita melihat bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi, laut dan daratan, tumbuhan, binatang, dan manusia. Banyak orang berpikir bahwa pekerjaan penciptaan itu sudah selesai pada hari ketujuh ketika Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya.

Namun Alkitab menunjukkan bahwa Allah masih terus bekerja sampai hari ini. Ia bukan lagi menciptakan dunia dari ketiadaan, melainkan menciptakan manusia baru di dalam Kristus.

Yesus Kristus menegaskan dalam Injil Yohanes 5:17 bahwa “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”.

Dosa telah merusak manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Manusia tetap bisa terlihat baik dari luar, berbudaya, sopan, bahkan religius, tetapi hati manusia sudah tercemar dosa. Karena itu, keselamatan bukan sekadar memperbaiki perilaku lama atau menambal karakter yang rusak. Tuhan tidak datang hanya untuk “merenovasi” manusia lama. Ia menciptakan sesuatu yang baru.

Itulah sebabnya Paulus berkata, “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.” Perhatikan bahwa Alkitab tidak mengatakan “orang yang sedikit diperbaiki,” tetapi “ciptaan baru.” Ini adalah karya ilahi. Sama seperti manusia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri pada awal dunia, manusia juga tidak dapat menciptakan kelahiran rohaninya sendiri. Semua berasal dari anugerah Allah.

Menjadi ciptaan baru bukan berarti orang percaya langsung menjadi sempurna. Orang Kristen sejati masih bisa jatuh dalam dosa, masih bergumul dengan kelemahan, emosi, dan kebiasaan lama. Namun ada sesuatu yang berbeda: arah hidupnya berubah. Dahulu ia nyaman hidup jauh dari Tuhan, sekarang hatinya rindu kepada Tuhan. Dahulu dosa terasa biasa, sekarang dosa mendatangkan pergumulan dan dukacita. Dahulu hidup hanya berpusat pada diri sendiri, sekarang ada kerinduan untuk memuliakan Kristus.

Kadang perubahan itu terjadi secara dramatis. Ada orang yang hidupnya berubah total setelah mengenal Kristus. Tetapi sering kali perubahan itu berlangsung perlahan seperti pertumbuhan pohon. Tidak selalu mencolok setiap hari, tetapi nyata setelah waktu berlalu. Tuhan bekerja dengan sabar membentuk umat-Nya.

Di zaman sekarang, banyak orang berusaha “menciptakan diri baru” dengan kekuatan sendiri. Ada yang mencoba melalui motivasi diri, terapi, pendidikan, kekayaan, pencapaian, atau perubahan penampilan. Semua itu mungkin memberi perubahan sementara, tetapi tidak dapat mengubah hati manusia yang paling dalam. Hanya Roh Kudus yang mampu memberi hidup baru.

Inilah pengharapan besar Injil. Masa lalu tidak harus menjadi identitas terakhir seseorang. Kegagalan, dosa, luka, atau kehancuran hidup bukan akhir cerita ketika seseorang ada di dalam Kristus. Tuhan sanggup melakukan penciptaan baru. Ia mengambil hati yang keras dan memberi hati yang baru. Ia mengambil hidup yang kosong dan memberi tujuan yang baru.

Dan pekerjaan penciptaan itu belum selesai. Orang percaya masih sedang dibentuk setiap hari. Kadang proses itu menyakitkan, karena Tuhan memotong kesombongan, ego, dan dosa yang masih melekat. Tetapi seperti seorang pemahat yang tekun membentuk batu menjadi karya indah, demikian pula Tuhan membentuk umat-Nya menjadi serupa dengan Kristus.

Karena itu, jangan putus asa melihat kelemahan diri sendiri. Jika kita sungguh berada di dalam Kristus, Tuhan belum selesai bekerja. Sang Pencipta yang dahulu menciptakan dunia kini sedang menciptakan hidup baru di dalam umat-Nya.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih karena Engkau bukan hanya Pencipta langit dan bumi, tetapi juga Pencipta hidup baru di dalam Kristus. Kami mengaku bahwa dosa telah merusak hati kami dan kami tidak mampu mengubah diri dengan kekuatan sendiri. Bentuklah kami terus menjadi ciptaan baru yang memuliakan nama-Mu. Ketika kami jatuh, kuatkan kami kembali. Ketika kami lemah, ingatkan kami bahwa Engkau belum selesai bekerja dalam hidup kami. Biarlah hidup kami semakin hari semakin serupa dengan Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Bukan Asal Percaya

”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Kisah Para Rasul 16:31

Di zaman sekarang, kata “percaya” sering dipakai dengan sangat ringan. Orang berkata, “Saya percaya Tuhan,” tetapi maksudnya bisa sangat berbeda-beda. Ada yang percaya seperti percaya bahwa suatu informasi itu benar. Ada yang percaya hanya karena takut masuk neraka. Ada pula yang mengaku percaya karena merasa lebih “aman” memiliki agama untuk keperluan bisnis maupun politis daripada tidak memiliki agama sama sekali. Namun Alkitab menunjukkan bahwa iman yang menyelamatkan bukan sekadar pengakuan di bibir atau persetujuan di kepala.

Di tengah pembicaraan tentang iman dan keselamatan, sebagian orang ateis dan agnostik sering juga mempertanyakan konsep surga. Mereka berkata bahwa tidak ada seorang pun yang pernah pergi ke surga lalu kembali membawa bukti empiris bahwa surga itu benar-benar ada. Karena itu mereka menganggap iman kepada surga hanyalah harapan psikologis manusia untuk menghibur diri menghadapi kematian. Kekristenan memahami keberatan seperti ini, tetapi iman Kristen tidak dibangun di atas spekulasi kosong atau sekadar angan-angan.

Iman Kristen berdiri di atas pribadi Yesus Kristus yang bangkit dari kematian. Jika Kristus sungguh bangkit, maka janji-Nya tentang hidup kekal dan rumah Bapa bukanlah kebohongan. Orang percaya bukan sedang “bertaruh” secara buta, melainkan mempercayakan diri kepada Kristus yang hidup.

Ketika kepala penjara di Filipi bertanya kepada Paulus dan Silas, “Apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?”, jawabannya sangat sederhana: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.” Tetapi kesederhanaan kalimat itu bukan berarti dangkal. Kata “percaya” di dalam Alkitab memiliki kedalaman yang jauh melampaui sekadar keputusan intelektual.

Teologi Kristen menjelaskan bahwa iman yang menyelamatkan memiliki tiga unsur penting. Pertama adalah notitia, yaitu pengetahuan tentang kebenaran Injil. Seseorang harus mengenal siapa Yesus Kristus, mengapa manusia berdosa, dan bagaimana Kristus mati dan bangkit untuk menebus umat-Nya. Tidak mungkin seseorang percaya kepada Pribadi yang sama sekali tidak ia kenal.

Kedua adalah assensus, yaitu persetujuan bahwa Injil itu benar. Banyak orang mengetahui isi Alkitab, tetapi tidak semua menerima kebenarannya. Bahkan iblis pun tahu siapa Yesus. Pengetahuan saja tidak cukup. Seseorang dapat memahami doktrin keselamatan dengan sangat baik tetapi hatinya tetap jauh dari Tuhan.

Yang ketiga adalah fiducia, yaitu kepercayaan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus. Inilah inti iman sejati. Bukan hanya tahu dan setuju, tetapi bersandar total kepada Yesus sebagai satu-satunya pengharapan hidup dan mati. Di titik inilah hati manusia yang baru bekerja. Orang yang sungguh percaya tidak lagi menggantungkan keselamatannya pada moralitas, amal, tradisi keluarga, atau kekuatan dirinya sendiri, melainkan hanya kepada anugerah Kristus.

Karena itu, iman Kristen bukan seperti konsep Pascal’s Wager atau “Taruhan Pascal”, yaitu percaya kepada Tuhan hanya demi berjaga-jaga supaya aman jika neraka ternyata benar-benar ada. Iman seperti itu pada dasarnya masih berpusat pada diri sendiri. Motivasinya bukan kasih kepada Tuhan atau kesadaran akan dosa, melainkan sekadar mencari keuntungan pribadi dan menghindari hukuman.

Alkitab berbicara tentang pertobatan sejati, metanoia, yaitu perubahan hati dan arah hidup. Ketika Roh Kudus bekerja, seseorang mulai membenci dosanya dan rindu hidup menyenangkan Tuhan. Ia bukan menjadi manusia sempurna seketika, tetapi ada arah hidup yang baru. Dahulu ia mencintai dosa dan tidak peduli kepada Tuhan. Sekarang ia jatuh bangun dalam pergumulan, tetapi hatinya mulai mengasihi Kristus.

Itulah sebabnya Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Perbuatan baik bukan syarat keselamatan, melainkan buah keselamatan. Pohon yang hidup akan menghasilkan buah. Demikian juga orang yang sungguh percaya akan menunjukkan perubahan hidup, meskipun tidak sempurna. Ada kerinduan untuk taat, mengampuni, mengasihi, hidup jujur, dan meninggalkan dosa.

Keselamatan bukan sekadar keputusan emosional sesaat, bukan pula hanya mengucapkan doa tertentu. Keselamatan adalah karya anugerah Allah yang menghidupkan hati manusia yang mati secara rohani sehingga ia sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Iman sejati bukan asal percaya. Iman sejati adalah penyerahan diri total kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Dan justru di situlah letak penghiburan terbesar bagi orang percaya. Keselamatan kita tidak bergantung pada kekuatan iman kita, tetapi pada Pribadi yang kita percayai, yaitu Kristus yang setia dan sempurna.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau memberikan keselamatan oleh anugerah-Mu, bukan karena jasa atau kebaikan kami. Ajarlah kami untuk memiliki iman yang sejati, bukan hanya di pikiran atau di bibir, tetapi iman yang lahir dari hati yang telah diperbarui oleh Roh Kudus. Ampuni jika selama ini kami lebih mencari rasa aman daripada sungguh mengasihi dan mengikuti Engkau. Bentuklah hidup kami agar menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Tolong kami untuk bersandar sepenuhnya kepada-Mu dalam hidup dan mati. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Mengapa Kenaikan Yesus Membawa Sukacita?

“Setelah Ia memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.” Lukas‬ ‭24‬:‭51‬-‭52‬

Pada hari Kamis kemarin, tidak semua denominasi gereja Kristen di dunia merayakan Hari Kenaikan Yesus. Hari itu tidak pernah menjadi hari libur di Australia. Di negara lain, ada gereja yang mengadakan ibadah khusus, ada juga yang tidak memberikan penekanan liturgis tertentu. Namun terlepas dari perbedaan tradisi itu, kenaikan Yesus ke surga adalah peristiwa yang sangat penting secara teologis. Mengapa demikian?

Tanpa kenaikan Kristus, pemahaman kita tentang keselamatan, pemerintahan Kristus, pengharapan orang percaya, dan kehadiran Roh Kudus menjadi tidak utuh. Kenaikan Yesus ke surga bukan sekadar “penutup cerita” setelah kebangkitan, melainkan bagian penting dari karya penebusan Allah.

Menarik sekali memperhatikan respons para murid ketika Yesus naik ke surga. Mereka tidak pulang dengan kesedihan mendalam, tetapi justru “sangat bersukacita.” Secara manusiawi, seharusnya mereka merasa kehilangan. Bukankah Guru yang mereka kasihi kini tidak lagi bersama mereka secara fisik? Namun para murid mulai memahami bahwa kenaikan Yesus bukanlah perpisahan yang tragis, melainkan kemenangan yang mulia.

Yesus tidak naik ke surga sebagai pribadi yang kalah atau melarikan diri dari dunia. Ia naik sebagai Raja yang menang atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan. Salib bukan akhir yang menyedihkan. Kebangkitan membuktikan kemenangan-Nya atas maut, dan kenaikan menegaskan bahwa Kristus kini bertakhta dalam kemuliaan. Ia hidup dan memerintah.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, perang, penyakit, perubahan ekonomi, dan kegelisahan manusia, orang percaya memiliki penghiburan besar: Tuhan kita bertakhta di surga. Dunia tidak berjalan tanpa kendali. Sejarah tidak bergerak secara kacau tanpa arah. Kristus yang naik ke surga adalah Kristus yang memegang pemerintahan atas segala sesuatu.

Kenaikan Yesus juga membawa sukacita karena Ia tidak meninggalkan umat-Nya sendirian. Sebelum naik, Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan datang menyertai mereka. Dahulu para murid hanya dapat bersama Yesus secara fisik di satu tempat tertentu. Tetapi melalui Roh Kudus, kehadiran Tuhan kini menyertai setiap orang percaya di mana pun mereka berada. Jadi kenaikan bukan berarti Yesus menjadi jauh, melainkan justru penyertaan-Nya menjadi dekat dan nyata di hati umat-Nya.

Selain itu, kenaikan Kristus mengarahkan pandangan orang percaya kepada pengharapan kekal. Yesus naik sebagai pendahulu bagi umat-Nya. Ia membuka jalan menuju rumah Bapa. Dunia ini bukan tujuan akhir kehidupan orang percaya. Ada kemuliaan kekal yang menanti. Karena itu, iman Kristen bukan sekadar tentang bertahan hidup di bumi, tetapi tentang pengharapan akan hidup bersama Kristus selama-lamanya.

Mungkin itulah sebabnya para murid dapat pulang dengan sukacita besar. Mereka sadar bahwa mereka tidak ditinggalkan. Tuhan mereka hidup, memerintah, menyertai, dan suatu hari aka datang kembali.

Sekarang kita juga hidup dengan iman yang sama. Kita tidak melihat Yesus dengan mata jasmani, tetapi kita percaya kepada Kristus yang bertakhta di surga. Dan justru di situlah sumber sukacita orang percaya: kita memiliki Juru Selamat yang hidup, berkuasa, dan setia memegang umat-Nya sampai akhir.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Raja yang hidup dan bertakhta di surga. Terima kasih karena kenaikan-Mu mengingatkan kami bahwa dunia ini tetap berada dalam tangan-Mu yang berkuasa. Saat hati kami gelisah oleh keadaan hidup dan dunia yang tidak menentu, kuatkanlah iman kami untuk memandang kepada-Mu.

Penuhi hati kami dengan sukacita dan pengharapan karena Engkau tidak meninggalkan kami. Ajarlah kami hidup sebagai umat yang menantikan kedatangan-Mu kembali dengan setia dan penuh pengharapan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Kuat dalam Kekurangan, Tetap Setia dalam Kelimpahan

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi‬ ‭4‬:‭13‬‬

Ayat ini sangat sering dikutip saat seseorang sedang susah, sakit, gagal, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi tekanan hidup. Memang benar, Tuhan memberi kekuatan kepada umat-Nya untuk bertahan dalam penderitaan. Rasul Paulus sendiri menulis ayat ini dalam keadaan yang tidak nyaman. Ia pernah lapar, dipenjara, dihina, dan hidup berkekurangan.

Namun sering kali kita lupa bahwa konteks ayat ini bukan hanya tentang bertahan dalam kesulitan, tetapi juga tentang hidup benar dalam kelimpahan.

Beberapa ayat sebelumnya Paulus berkata:

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan.” Filipi 4:12

Ternyata “segala perkara” bukan hanya soal menghadapi penderitaan, tetapi juga menghadapi kenyamanan, keberhasilan, kecukupan, bahkan kemakmuran. Dan justru di sinilah banyak orang jatuh.

Tidak semua orang kuat saat miskin, tetapi tidak sedikit juga yang gagal saat kaya. Ada orang yang tetap berdoa ketika sakit, tetapi mulai jarang berdoa ketika hidup menjadi mudah. Ada yang sangat bergantung kepada Tuhan ketika tidak punya apa-apa, tetapi mulai merasa mampu berdiri sendiri ketika segala sesuatu berjalan lancar.

Kenyamanan sering kali lebih berbahaya daripada penderitaan karena kenyamanan dapat membuat hati perlahan-lahan lupa kepada Tuhan tanpa disadari.

Bangsa Israel adalah contoh yang jelas. Ketika mereka berada di padang gurun, mereka berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi ketika masuk ke tanah yang berlimpah susu dan madu, hati mereka berkali-kali menyimpang. Musa bahkan sudah memperingatkan:

“Jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu.” Ulangan 8:11

Manusia berdosa memiliki kecenderungan aneh: saat susah kita mencari Tuhan, tetapi saat nyaman kita mulai merasa tidak terlalu membutuhkan-Nya.

Karena itu Filipi 4:13 sebenarnya adalah ayat tentang rahasia kecukupan rohani. Paulus belajar tetap setia dalam dua musim kehidupan: musim kekurangan dan musim kelimpahan. Ia tidak diperbudak oleh penderitaan, tetapi juga tidak mabuk oleh kenyamanan.

Ini bukan kekuatan mental biasa. Ini kekuatan dari Kristus.

Dunia mengajarkan bahwa kekuatan berarti kemampuan mengendalikan keadaan. Tetapi kekuatan rohani berarti tetap melekat kepada Kristus apa pun keadaan kita. Saat miskin tidak bersungut-sungut. Saat kaya tidak menjadi sombong. Saat gagal tidak putus asa. Saat berhasil tidak mencuri kemuliaan Tuhan.

Kadang-kadang ujian terbesar bukan ketika dompet kosong, melainkan ketika hidup terasa terlalu aman. Ketika doa mulai singkat karena semua kebutuhan terpenuhi. Ketika ibadah menjadi formalitas. Ketika hati lebih menikmati berkat daripada Sang Pemberi berkat.

Tidak mudah menjadi orang yang tetap rendah hati ketika dipuji. Tidak mudah tetap sederhana ketika berkecukupan. Tidak mudah tetap haus akan Tuhan ketika dunia terasa nyaman. Karena itu kita juga membutuhkan kekuatan Kristus dalam masa-masa baik.

Paulus tidak berkata, “Aku dapat menikmati segala perkara.” Ia berkata, “Aku dapat menanggung segala perkara.” Bahkan kelimpahan pun perlu “ditanggung” dengan hati yang dijaga Tuhan.

Orang percaya sejati bukan hanya dipanggil untuk bertahan dalam badai, tetapi juga tetap setia ketika laut terasa tenang.

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Amsal‬ ‭30‬:‭8‬‬

Doa Penutup

Tuhan, ajar kami untuk bergantung kepada-Mu bukan hanya saat susah, tetapi juga saat hidup terasa nyaman. Jagalah hati kami agar tidak melupakan-Mu ketika Engkau memberi kelimpahan. Berikan kami kekuatan untuk tetap rendah hati, setia, dan mengasihi-Mu dalam segala keadaan. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Mengapa Tuhan Melihat Segala Ciptaan-Nya Baik?

“ Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian‬ ‭1‬:‭31‬‬

Sesudah menciptakan langit, bumi, laut, tumbuhan, binatang, dan manusia, Tuhan memandang semuanya dan berkata, “Sungguh amat baik.” Itu berarti ciptaan pada awalnya berada dalam keharmonisan yang indah. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada kesalahan desain, tidak ada cacat dalam karya Allah. Semua berjalan sesuai tujuan-Nya.

Tetapi, ketika saat ini ada orang yang bertanya, “Mengapa dunia ini penuh penderitaan?” sebenarnya ada satu pertanyaan tersembunyi di baliknya: “Apakah dunia ini sejak awal memang buruk?” Alkitab menjawab dengan jelas: tidak. Dunia ini tidak dimulai dengan kegelapan moral, kebencian, penyakit, dan kematian. Dunia dimulai dari tangan Tuhan yang sempurna.

Kita sering lupa bahwa dunia yang kita lihat sekarang bukan lagi dunia seperti semula. Kita terbiasa dengan berita perang, wabah penyakit, pertengkaran keluarga, pengkhianatan, dan ketidakadilan sehingga seolah-olah itulah bentuk asli kehidupan. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa semua itu adalah akibat dari dosa yang merusak ciptaan Tuhan.

Karena itulah ada ketegangan dalam hidup manusia. Di satu sisi kita masih melihat keindahan ciptaan. Matahari terbit dengan teratur, burung bernyanyi, hujan menyuburkan bumi, bayi lahir dengan ajaib, dan tubuh manusia bekerja dengan kompleksitas yang luar biasa. Tetapi di sisi lain kita juga melihat dunia yang retak. Virus menyebar, tubuh sakit, manusia saling membenci, dan kematian datang tanpa diundang.

Beberapa tahun terakhir dunia diguncang oleh COVID-19. Ketika pandemi mulai mereda, manusia kembali mendengar tentang hantavirus dan berbagai ancaman penyakit lainnya. Banyak orang menjadi takut dan bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini ada?” Namun di balik ketakutan itu, kita juga diingatkan bahwa dunia ini memang sedang mengerang.

Virus dan penyakit menjadi tanda bahwa ciptaan tidak lagi berada dalam kondisi sempurna seperti semula. Tetapi bahkan di tengah semua itu, manusia masih dapat melihat hikmat Tuhan melalui kemampuan tubuh untuk bertahan, para tenaga medis yang melayani, ilmu pengetahuan yang berkembang, dan kasih manusia yang muncul di tengah penderitaan. Dunia telah jatuh, tetapi belum kehilangan seluruh jejak tangan Penciptanya.

Kadang orang juga bertanya, “Kalau Tuhan menciptakan segala sesuatu baik, mengapa ada nyamuk, bakteri, atau virus yang mematikan?” Pertanyaan itu muncul karena kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Banyak hal dalam ciptaan yang awalnya memiliki tempat dan fungsi yang baik, kini menjadi bagian dari dunia yang rusak. Alam yang dulu harmonis sekarang ikut “mengerang” karena akibat dosa manusia.

Namun menariknya, sekalipun dunia telah jatuh, sidik jari Tuhan masih terlihat di mana-mana. Bahkan dalam makhluk kecil yang tidak kasatmata, manusia menemukan keteraturan, desain, dan kompleksitas yang mengagumkan. Seorang ilmuwan dapat mempelajari sel, bakteri, atau sistem tubuh manusia dengan rasa kagum yang mendalam karena tetap adanya hubungan antara keberadaan dan fungsi masing-masing. Dunia belum kehilangan seluruh jejak kemuliaan Penciptanya.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan manusia. Tuhan menciptakan Hawa untuk menemani Adam. Manusia diciptakan untuk hidup dalam kasih dan persekutuan. Tetapi dosa membuat manusia saling melukai. Kadang tempat yang seharusnya penuh kasih justru menjadi tempat penuh luka: rumah tangga, keluarga, bahkan gereja. Kita merindukan hubungan yang sempurna, tetapi hati manusia telah rusak oleh dosa.

Meski demikian, kerinduan untuk dikasihi dan mengasihi tidak pernah hilang. Itu adalah sisa jejak gambar Allah dalam diri manusia. Hati kita tahu bahwa kebencian bukan keadaan yang seharusnya. Hati kita tahu bahwa dunia ini seharusnya lebih indah daripada sekarang.

Dan di situlah Injil menjadi kabar baik. Tuhan tidak membuang dunia yang rusak ini. Ia datang ke dalamnya melalui Yesus Kristus. Tuhan masuk ke dunia yang penuh air mata, penderitaan, dan kematian untuk menebus ciptaan-Nya. Salib Kristus menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerah kepada manusia yang jatuh.

Suatu hari nanti, Tuhan akan memperbarui langit dan bumi. Tidak akan ada lagi maut, tangisan, atau penderitaan. Dunia akan dipulihkan seperti yang Tuhan kehendaki sejak semula.

Sementara menunggu hari itu, setiap keindahan kecil yang masih kita lihat — kasih seorang ibu, pelukan seorang sahabat, suara burung di pagi hari, atau damai yang Tuhan berikan dalam doa — semuanya seperti bisikan lembut yang mengingatkan kita: ciptaan Tuhan memang pada awalnya baik, dan Tuhan masih terus bekerja di dunia ini: dalam diri, keluarga, gereja, masyarakat dan negara kita.

Doa Penutup:

Tuhan, terima kasih karena Engkau menciptakan dunia ini dengan baik dan indah. Walaupun dosa telah merusak banyak hal, tolong kami tetap melihat jejak kasih dan kemuliaan-Mu dalam kehidupan ini. Ajarkan kami berharap kepada-Mu di tengah dunia yang penuh luka. Pulihkan hati kami, hubungan kami, dan iman kami sampai hari Engkau menjadikan segala sesuatu baru. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Semakin Dekat kepada Tuhan, Semakin Jelas Diri Kita

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7:18

“Apa kabar?” Pertanyaan sederhana itu hampir selalu dijawab dengan kalimat yang sama: “Baik-baik saja.” Kadang jawaban itu hanya basa-basi. Kadang itu jawaban otomatis tanpa dipikir. Kadang juga menjadi cara manusia menghibur dirinya sendiri agar tampak kuat di hadapan orang lain. Padahal kalau direnungkan lebih dalam, sebenarnya tidak ada manusia yang benar-benar “baik-baik saja.” Di balik senyum, kesibukan, keberhasilan, atau bahkan kesalehan, setiap orang menyimpan pergumulan, luka, ketakutan, kelemahan, dan dosa yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

Secara lahiriah seseorang mungkin tampak tenang, sopan, dan religius. Tetapi di dalam hati bisa ada kekhawatiran, kemarahan, iri hati, kesombongan, atau kekosongan yang tidak diketahui siapa pun. Manusia sangat pandai menutupi dirinya, bahkan dari dirinya sendiri. Karena itu, banyak orang merasa dirinya baik-baik saja sampai suatu hari terang Tuhan membuka keadaan hatinya yang sebenarnya.

Paulus adalah contoh yang sangat jelas. Sebelum bertobat, ia bukan orang sembarangan. Ia religius, disiplin, taat hukum Taurat, dan sangat yakin bahwa dirinya sedang membela Allah. Dalam pikirannya saat itu, ia tidak sedang berbuat jahat. Bahkan ketika menganiaya jemaat Kristen, ia melakukannya dengan hati yang merasa “benar.”

Itulah salah satu bahaya terbesar manusia: dosa sering kali memiliki titik buta. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kebusukan yang tersembunyi di dalam hati sendiri. Manusia bisa tampak saleh di luar, tetapi penuh kesombongan, iri hati, kepahitan, atau motivasi tersembunyi di dalam dirinya.

Tanpa campur tangan Tuhan, manusia cenderung membangun standar moralnya sendiri. Kita membandingkan diri dengan orang lain dan merasa masih lebih baik. Tetapi ketika terang Tuhan menyinari hati, semua topeng mulai runtuh. Itulah yang terjadi pada Paulus.

Ketika ia berjumpa dengan Kristus, ia bukan hanya berubah secara perilaku, tetapi juga mulai melihat isi hatinya dengan cara yang baru. Roh Kudus membuka matanya terhadap dosa yang selama ini tersembunyi di balik kesalehan agama. Ia mulai memahami bahwa dosa bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi juga soal motivasi batin.

Tuhan tidak hanya melihat tangan manusia, tetapi juga hati manusia. Seseorang mungkin tidak membunuh, tetapi menyimpan kebencian. Seseorang mungkin tidak mencuri, tetapi penuh ketamakan. Seseorang mungkin melayani, tetapi diam-diam haus pujian.

Semakin dekat Paulus kepada kekudusan Allah, semakin ia sadar betapa lemahnya dirinya. Karena itu ia berkata dengan jujur, “di dalam aku… tidak ada sesuatu yang baik.”

Namun pengakuan ini bukan tanda kehancuran iman. Justru sebaliknya, ini adalah tanda kedewasaan rohani.

Orang yang masih dangkal biasanya cepat merasa dirinya rohani. Tetapi orang yang sungguh berjalan dekat dengan Tuhan akan semakin rendah hati. Mereka sadar bahwa jika bukan karena kasih karunia Tuhan, mereka pun mampu jatuh.

Seperti debu yang baru terlihat ketika cahaya masuk melalui jendela, demikian pula dosa dalam hati manusia menjadi semakin jelas ketika terang Tuhan hadir.

Dan anehnya, kesadaran seperti ini tidak membuat Paulus lumpuh. Sebaliknya, hal itu membuatnya semakin bergantung kepada kasih karunia Allah. Ia tidak lagi melayani dengan kekuatan dirinya sendiri, melainkan dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang menopang hidupnya.

Kerendahan hati justru melahirkan kekuatan rohani.

Dunia sering mengajarkan bahwa kekuatan muncul dari rasa percaya diri yang tinggi. Tetapi Injil mengajarkan bahwa kekuatan sejati muncul ketika manusia sadar akan kelemahannya lalu bersandar penuh kepada Kristus.

Karena itu, ketika Tuhan mulai membuka mata kita terhadap dosa-dosa kecil dalam hati — kesombongan, ego, iri hati, kemarahan, motivasi yang salah — jangan langsung putus asa. Bisa jadi itu tanda bahwa Roh Kudus sedang bekerja dengan lebih dalam dalam hidup kita.

Semakin terang cahaya Tuhan masuk, semakin jelas pula area hidup yang perlu dibersihkan. Dan itu adalah bagian dari pertumbuhan rohani.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak membiarkan kami hidup dalam kebutaan rohani. Selidikilah hati kami dan tunjukkan dosa-dosa yang tersembunyi di dalam diri kami. Ajarlah kami untuk rendah hati dan semakin bergantung kepada kasih karunia-Mu. Biarlah terang-Mu membersihkan dan membentuk hidup kami supaya semakin serupa dengan Kristus. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Lupa boleh, tapi jangan lupakan Tuhan

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103:2

Semakin bertambah usia, semakin banyak orang mulai akrab dengan kata “lupa.” Lupa menaruh kunci. Lupa nama seseorang. Lupa janji kecil yang tadi pagi masih diingat. Kadang bukan karena penyakit serius, tetapi karena tubuh dan pikiran memang sudah lelah. Kesibukan hidup, tekanan pekerjaan, kurang tidur, atau usia yang terus berjalan membuat daya ingat manusia tidak lagi sekuat dahulu.

Dan itu manusiawi.

Alkitab tidak pernah menuntut manusia menjadi sempurna secara fisik. Kita diciptakan dari debu tanah, dengan keterbatasan yang nyata. Bahkan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab pun mengalami kelemahan, keletihan, dan pergumulan batin. Tetapi ada satu jenis “lupa” yang Tuhan ingatkan dengan sangat serius: lupa kepada Tuhan dan segala kebaikan-Nya.

Daud berkata kepada dirinya sendiri, “Janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Menarik bahwa Daud berbicara kepada jiwanya sendiri. Ia seperti sedang menasihati hatinya agar tidak kehilangan fokus. Sebab sering kali masalah terbesar dalam hidup bukanlah kita tidak tahu Tuhan baik, melainkan kita terlalu mudah melupakan kebaikan-Nya ketika tekanan hidup datang.

Bangsa Israel mengalami hal itu berulang kali. Mereka melihat laut terbelah. Mereka makan manna dari langit. Mereka dipimpin tiang awan dan tiang api. Tetapi ketika menghadapi kesulitan baru, mereka kembali bersungut-sungut. Ketakutan membuat mereka lupa bahwa Tuhan yang menolong kemarin masih sanggup menolong hari ini.

Bukankah kita juga sering demikian?

Saat doa dijawab, kita bersukacita. Saat keadaan baik, kita mudah memuji Tuhan. Tetapi ketika sakit datang, ekonomi terguncang, keluarga bermasalah, atau masa depan terasa gelap, hati mulai dipenuhi kecemasan. Sedikit demi sedikit, ingatan tentang kesetiaan Tuhan tertutup oleh besarnya persoalan.

Lupa secara rohani sebenarnya jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya dimulai perlahan. Hati menjadi terlalu sibuk. Pikiran terlalu dipenuhi kekhawatiran. Dunia terasa lebih nyata daripada janji Tuhan. Akhirnya kita hidup seolah-olah harus menanggung semuanya sendiri.

Karena itu Daud tidak berkata, “Ingatlah Tuhan hanya saat ibadah.” Ia berkata kepada jiwanya sendiri untuk terus memuji dan terus mengingat. Mengingat dalam pengertian Alkitab bukan sekadar aktivitas otak, tetapi tindakan hati. Mengingat berarti membawa kembali kesetiaan Tuhan ke pusat pikiran dan kehidupan kita.

Itulah sebabnya penting untuk memiliki “mezbah syukur” dalam hidup. Ada orang yang menulis jurnal doa. Ada yang menyimpan catatan tentang pertolongan Tuhan. Ada yang mengingat tanggal-tanggal penting ketika Tuhan membuka jalan yang mustahil. Semua itu bukan sekadar nostalgia rohani, tetapi cara menjaga hati agar tidak lupa.

Pujian juga menolong kita mengingat. Memuji Tuhan saat keadaan baik memang mudah. Tetapi memuji Tuhan di tengah badai adalah tindakan iman. Ketika mulut tetap bersyukur walau mata masih melihat masalah, jiwa sedang diarahkan kembali kepada kebenaran bahwa Tuhan tetap bekerja.

Selain itu, Tuhan memberi komunitas iman agar kita saling menguatkan. Kesaksian sederhana dari orang lain kadang menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa Tuhan belum meninggalkan umat-Nya.

Mungkin hari ini ada hal-hal yang mulai Anda lupakan karena usia atau kelelahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Kita semua manusia yang terbatas. Tetapi mintalah agar hati kita jangan sampai melupakan Tuhan. Sebab selama hati tetap mengingat kasih dan kesetiaan-Nya, hidup tidak akan kehilangan arah.

Tubuh boleh melemah. Ingatan manusia boleh memudar. Tetapi jiwa yang terus melekat kepada Tuhan akan tetap menemukan pengharapan baru setiap hari.

Doa Penutup

Tuhan, kami mengaku bahwa hati kami sering lebih mudah mengingat masalah daripada mengingat kebaikan-Mu. Di tengah kesibukan, kekhawatiran, dan pergumulan hidup, tolong kami agar jangan melupakan kasih dan kesetiaan-Mu. Ajarlah kami memiliki hati yang terus bersyukur, bahkan di saat sulit sekalipun. Ketika tubuh dan pikiran kami melemah, biarlah jiwa kami tetap melekat kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Bisa Diserang tapi Tidak Ditawan

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Yohanes 10:27–28

Dalam perjalanan hidup, ada masa-masa ketika orang percaya merasa sangat lemah. Doa terasa berat. Pikiran dipenuhi ketakutan. Hati mudah tersinggung. Bahkan terkadang muncul pertanyaan dalam hati: “Apakah Tuhan masih memegangku?” Pada saat-saat seperti itu, sebagian orang mulai takut bahwa dirinya sudah “dikalahkan” oleh kuasa gelap.

Namun firman Tuhan memberi penghiburan yang kuat. Yesus tidak pernah berkata bahwa domba-domba-Nya tidak akan mengalami serangan. Tetapi Ia berkata bahwa tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan-Nya. Ada perbedaan besar antara diserang dan ditawan.

Iblis memang menyerang. Ia menggoda, menuduh, melemahkan, menakut-nakuti, dan mencoba mengguncang iman orang percaya. Tetapi kuasanya tidak mutlak. Orang percaya tetap berada di dalam tangan Kristus. Seorang anak Tuhan dapat terluka, dapat jatuh dalam kelemahan, bahkan dapat mengalami pergumulan rohani yang berat, tetapi bukan berarti ia otomatis menjadi milik iblis.

Yesus sendiri pernah berkata kepada Petrus:

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Lukas 22:31

Ungkapan “ditampi seperti gandum” berasal dari proses pemisahan gandum dari sekamnya. Gandum dilempar ke udara dan diguncang oleh angin agar bagian yang tidak berguna tersingkir. Proses itu keras dan mengguncang.

Demikian pula yang ingin dilakukan iblis terhadap Petrus. Ia ingin mengguncang iman Petrus sampai hancur. Ia ingin memperlihatkan kelemahan, ketakutan, dan kesombongan yang masih tersembunyi dalam diri Petrus. Dan memang, tidak lama kemudian Petrus menyangkal Yesus tiga kali.

Tetapi yang sangat indah adalah Yesus tidak berhenti pada peringatan itu. Ia berkata:

“tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Lukas‬ ‭22‬:‭32‬‬

Petrus jatuh, tetapi ia tidak binasa. Ia terguncang, tetapi tidak ditinggalkan. Ia menangis dengan pahit, tetapi akhirnya dipulihkan, dan bahkan dimampukan untuk menolong saudara seiman. Inilah gambaran kasih karunia Tuhan bagi orang percaya. Kita bisa diserang, tetapi tidak ditawan. Kita bisa ditampi, tetapi tidak dibuang.

Kadang-kadang Tuhan mengizinkan masa “penampian” terjadi dalam hidup kita. Bukan karena Ia membenci kita, melainkan karena Ia sedang memurnikan iman kita. Ada kesombongan yang harus dihancurkan. Ada rasa mengandalkan diri sendiri yang harus dilepaskan. Ada iman yang perlu diperdalam agar tidak hanya bergantung pada keadaan baik.

Petrus sebelumnya merasa sangat yakin pada dirinya sendiri. Ia berkata bahwa sekalipun semua murid lain meninggalkan Yesus, ia tidak akan meninggalkan-Nya. Tetapi penampian memperlihatkan bahwa kekuatan manusia sangat terbatas. Setelah melalui kegagalan dan pemulihan, Petrus berubah menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan lebih kuat secara rohani.

Sering kali kita juga demikian. Ketika hidup tenang, kita merasa iman kita kuat. Tetapi badai kehidupan memperlihatkan isi hati yang sebenarnya. Penampian rohani bisa datang melalui penderitaan, penolakan, sakit penyakit, kesepian, kehilangan, atau tekanan hidup yang berat. Semua itu mengguncang kita seperti gandum yang dilempar ke udara.

Namun di tengah semua itu, ada penghiburan yang besar: Yesus tetap memegang domba-domba-Nya. Musuh boleh mengguncang, tetapi tidak dapat merebut. Dunia boleh menekan, tetapi Kristus tidak melepaskan tangan-Nya.

Karena itu, ketika sedang berada dalam masa penampian, jangan putus asa. Jangan langsung berpikir bahwa Tuhan meninggalkan Anda. Bisa jadi justru di tengah guncangan itu Tuhan sedang membersihkan iman kita dari sekam-sekam kesombongan, ketakutan, atau kedagingan yang selama ini tersembunyi.

Dan ketika proses itu selesai, seperti Petrus, kita akan mengenal Tuhan dengan lebih dalam dan berjalan dengan iman yang lebih murni.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memegang hidup kami dengan tangan-Mu yang kuat. Ketika kami diserang, takut, dan lemah, tolong kami tetap percaya bahwa kami tidak ditinggalkan. Mampukan kami bertahan dalam setiap penampian hidup, dan murnikan iman kami agar semakin menyerupai kehendak-Mu. Ajarlah kami bergantung kepada-Mu, bukan kepada kekuatan sendiri. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Menjadi Orang Kristen yang Memiliki Resiliensi

“Bersukacita lah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma‬ ‭12‬:‭12‬‬

Di zaman modern ini, kata resiliensi sering dipahami sebagai kemampuan manusia atau infrastruktur untuk tetap kuat menghadapi tekanan alamiah. Untuk manusia, banyak buku motivasi mengajarkan bahwa manusia harus menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Kita diajak untuk membangun mental yang tangguh, berpikir positif, dan tidak bergantung kepada siapa pun. Dunia memuji orang yang terlihat kuat, mandiri, dan tidak mudah goyah.

Tidak semua hal itu salah. Ketekunan, disiplin, dan keberanian memang penting dalam hidup. Namun Alkitab memperlihatkan gambaran yang berbeda tentang ketahanan sejati. Resiliensi orang percaya bukan terutama tentang seberapa kuat diri kita, melainkan tentang kepada siapa kita bergantung. Rasul Paulus dalam Roma 12:12 tidak berkata, “Kuatkanlah dirimu sendiri,” tetapi ia mengarahkan hati orang percaya kepada pengharapan, kesabaran, dan doa. Semua itu berbicara tentang hubungan dengan Tuhan.

Manusia pada dasarnya terbatas. Ada saat ketika kekuatan mental kita habis. Ada hari-hari ketika hati terasa lelah, pikiran penuh kekhawatiran, dan tubuh tidak lagi sanggup menanggung tekanan hidup. Bahkan orang yang paling optimis sekalipun bisa mengalami keputusasaan.

Dalam usia yang menua, resiliensi manusia cenderung melemah. Karena itu, bila resiliensi hanya dibangun di atas kekuatan diri sendiri, maka pada akhirnya manusia akan mudah runtuh ketika menghadapi penderitaan fisik/batin yang terlalu berat.

Orang Kristen juga mengalami kesesakan seperti orang lain. Kita bisa menghadapi sakit penyakit, kehilangan, kegagalan, penolakan, atau pergumulan keluarga. Menjadi pengikut Kristus tidak berarti hidup bebas masalah. Namun iman Kristen memberikan sesuatu yang dunia tidak miliki: pengharapan yang melampaui keadaan saat ini. Paulus berkata, “Bersukacitalah dalam pengharapan.” Sukacita itu bukan karena keadaan selalu baik, melainkan karena kita percaya bahwa Tuhan tetap memegang hidup kita.

Pengharapan Kristen bukan sekadar harapan kosong atau optimisme buta. Pengharapan kita berakar pada kesetiaan Allah. Kita percaya bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan ketika kita belum melihat jalan keluar. Kita percaya bahwa kasih-Nya tidak berubah sekalipun hidup terasa gelap. Kita percaya bahwa Kristus telah menang, dan kemenangan itu memberi arti bagi setiap air mata dan pergumulan kita.

Karena itu Paulus juga berkata, “sabarlah dalam kesesakan.” Kesabaran di sini bukan sikap pasif tanpa pergumulan. Kesabaran adalah keteguhan untuk tetap percaya ketika hidup terasa berat. Iman yang sejati tidak selalu terlihat dari keberhasilan besar, tetapi dari kesediaan seseorang untuk tetap berjalan bersama Tuhan hari demi hari, sekalipun langkahnya lambat dan penuh air mata.

Lalu Paulus menambahkan, “bertekunlah dalam doa.” Inilah pusat dari resiliensi Kristen. Doa adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan Tuhan. Dunia sering melihat ketergantungan sebagai kelemahan, tetapi Alkitab justru mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir ketika kita bersandar kepada Allah. Dalam doa, kita membawa ketakutan kita kepada-Nya. Dalam doa, kita mengingat bahwa kita tidak berjalan sendirian. Dalam doa, hati kita kembali diarahkan kepada Tuhan yang setia.

Sering kali Tuhan tidak langsung menghilangkan kesesakan kita. Namun Ia memberi kekuatan untuk melewati semuanya bersama-Nya. Seperti seorang ayah yang menggandeng anaknya melewati jalan yang sulit, Tuhan menopang umat-Nya langkah demi langkah. Kadang kita baru menyadari setelah melewati masa sulit bahwa sebenarnya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Pada akhirnya, resiliensi Kristen bukan berarti kita tidak pernah menangis atau merasa lemah. Resiliensi Kristen adalah kemauan untuk tetap datang kepada Tuhan di tengah kelemahan kita. Ketahanan sejati bukan ditemukan dalam keyakinan bahwa “aku mampu,” tetapi dalam iman bahwa “Tuhan memegang aku.”

Doa Penutup

Tuhan, ajar kami untuk memiliki keteguhan yang berakar pada iman kepada-Mu, bukan pada kekuatan diri kami sendiri. Ketika kami menghadapi kesesakan, mampukan kami untuk tetap berharap, bersabar, dan bertekun dalam doa. Ingatkan kami bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan anak-anak-Mu. Topang hati kami setiap hari agar kami tetap berjalan bersama-Mu sampai akhir. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Bila Manusia Menjadi Seperti Hewan

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur‬ ‭49‬:‭21‬‬

Sekalipun hidup ini tidak mudah, setiap manusia pasti merasa lebih beruntung jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia bisa dan sering membanggakan dirinya karena kecerdasan, teknologi, kekuatan, atau keberhasilan hidupnya. Manusia dapat membangun kota-kota besar, menciptakan mesin yang rumit, bahkan mencoba memahami alam semesta. Namun pemazmur memberi sebuah peringatan yang tajam: manusia yang tidak mempunyai pengertian dapat disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Pengertian apa?

Ayat ini bukannya menista hewan. Alkitab dalam kitab Kejadian mengajarkan bahwa hewan adalah ciptaan Tuhan yang baik. Burung di udara dipelihara oleh Tuhan. Singa muda mencari makanan dari Tuhan. Bahkan kepada Yunus, Tuhan berkata bahwa Ia juga memperhatikan banyak ternak di Niniwe. Hewan memiliki hidup yang berasal dari Sang Pencipta.

Dalam penciptaan, manusia dan hewan memang memiliki beberapa persamaan. Keduanya berasal dari bumi. Tubuh manusia dibentuk dari debu tanah, dan hewan pun diciptakan dari bumi. Keduanya menerima nafas hidup dari Tuhan. Keduanya makan, bertumbuh, berkembang biak, menjadi lemah, lalu mati. Secara jasmani, manusia tidak setinggi yang sering ia bayangkan.

Tetapi Alkitab juga menunjukkan adanya perbedaan yang besar. Ketika menciptakan hewan, Tuhan berfirman supaya bumi mengeluarkan makhluk hidup. Namun ketika menciptakan manusia, Tuhan membentuk Adam dan menghembuskan nafas hidup ke dalam dirinya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Manusia diberi kemampuan mengenal Tuhan, berbicara dengan-Nya, memahami benar dan salah, serta memelihara ciptaan-Nya.

Sebelum kejatuhan, manusia hidup dalam keadaan yang indah. Adam bukan sekadar makhluk biologis yang bernapas. Ia hidup dalam persekutuan dengan Allah. Ia belum dipenuhi rasa malu, ketakutan, kebencian, atau hawa nafsu yang rusak. Hidupnya memiliki arah yang jelas karena pusat hidupnya adalah Tuhan sendiri. Ia bisa melihat kemuliaan Tuhan melalui semua ciptaan-Nya.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;” Mazmur‬ ‭19‬:‭2‬‬

Kita bisa mengatakan bahwa manusia pada mulanya hidup lebih tinggi daripada sekadar dorongan naluri. Ia tidak hidup hanya untuk makan, bertahan hidup, atau memuaskan keinginannya. Ada dimensi rohani yang hidup di dalam dirinya. Ia seharusnya mengenal Penciptanya. Ini adalah pengertian yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia.

Namun semuanya berubah ketika dosa masuk ke dunia.

Kejatuhan tidak langsung mengubah manusia menjadi binatang secara fisik, tetapi dosa membuat manusia kehilangan arah rohaninya. Hubungan dengan Tuhan rusak. Sejak saat itu manusia mulai hidup dengan pusat pada dirinya sendiri. Nafsu menjadi tuan. Kesombongan menguasai hati. Pada pihak yang lain, ketakutan dan kematian mulai membayangi hidup manusia.

Bukankah sering kali manusia modern hidup hanya mengikuti naluri? Mengejar makanan, kenyamanan, seks, kekuasaan, uang, dan hiburan tanpa pernah bertanya untuk apa ia diciptakan. Dalam hal ini, manusia dapat jatuh lebih rendah daripada hewan. Hewan mengikuti nalurinya karena memang demikian ia diciptakan. Tetapi manusia diberi hati untuk mengenal Allah, namun memilih hidup tanpa Dia.

Itulah sebabnya pemazmur berkata bahwa manusia yang tidak mempunyai pengertian dapat disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Pada akhirnya, jika seseorang hidup tanpa mengenal Tuhan, nasib jasmaninya tidak berbeda jauh dari hewan: sama-sama menua, sama-sama mati, sama-sama kembali menjadi debu.

Kegemilangan dunia tidak mampu mengalahkan kematian.

Namun Injil memberi pengharapan. Kristus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa manusia, tetapi juga untuk memulihkan manusia kepada tujuan semula: hidup dalam persekutuan dengan Allah. Di dalam Kristus, manusia yang jatuh dipanggil kembali untuk hidup bukan menurut daging, tetapi menurut Roh.

Karena itu pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah seberapa sukses kita, melainkan: apakah kita sungguh mengenal Tuhan? Sebab tanpa Dia, manusia perlahan kehilangan kemuliaannya dan hidup hanya menurut naluri dunia yang sementara. Tetapi bersama Tuhan, manusia menemukan kembali siapa dirinya sebenarnya.

Doa Penutup

Tuhan, kami mengaku bahwa sering kali kami hidup hanya mengikuti keinginan dan naluri kami sendiri. Kami mengejar banyak hal duniawi, tetapi melupakan Engkau, sumber hidup kami yang sejati. Ampunilah kami apabila hati kami menjadi tumpul dan kehilangan pengertian rohani.

Pulihkanlah kami melalui Kristus agar kami kembali hidup dalam persekutuan dengan-Mu. Ajarlah kami untuk hidup bukan hanya bagi tubuh dan kesenangan sementara, tetapi bagi kehendak-Mu yang kekal. Biarlah Roh-Mu memimpin kami supaya kami semakin mengenal Engkau dan hidup sebagai manusia yang memuliakan Tuhan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.