
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
— 2 Korintus 4:16

Ada sesuatu yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan manusia: perubahan. Kita lahir sebagai bayi, bertumbuh menjadi anak-anak, memasuki masa remaja, menjadi dewasa, kemudian perlahan memasuki usia lanjut. Pada awal kehidupan, perubahan itu terlihat sebagai pertumbuhan. Tubuh menjadi lebih tinggi, otot semakin kuat, kemampuan berpikir berkembang, dan berbagai keterampilan semakin dikuasai. Kita menyambut perubahan itu dengan gembira.
Tetapi setelah mencapai kedewasaan, arah perubahan mulai bergeser. Tubuh tidak lagi bertumbuh seperti sebelumnya. Secara biologis, proses penuaan berlangsung perlahan. Massa otot dan kekuatan fisik cenderung menurun, massa tulang mengalami perubahan, kulit kehilangan sebagian elastisitasnya, dan beberapa aspek kecepatan pemrosesan otak juga dapat melambat. Perubahan ini biasanya tidak terasa dalam satu malam. Ia datang sedikit demi sedikit, sehingga sering baru kita sadari ketika suatu hari kita berkata, “Dulu saya bisa melakukan ini dengan mudah.”
Inilah yang Paulus sebut sebagai “manusia lahiriah kami semakin merosot.”
Paulus tidak sedang memberikan teori ilmiah tentang penuaan. Ia sedang berbicara tentang kenyataan bahwa tubuh manusia bersifat fana dan terus menuju kelemahan. Ia sendiri mengalami penderitaan, tekanan, dan berbagai kesulitan dalam pelayanan. Namun yang menarik adalah bahwa ia tidak berhenti pada kenyataan tersebut. Ia berkata, “sebab itu kami tidak tawar hati.”
Mengapa?
Karena manusia tidak hanya memiliki kehidupan lahiriah.
Ada manusia batiniah yang dapat terus diperbarui.
Kita dapat melihat gambaran yang sederhana dalam kehidupan para atlet. Seorang atlet mungkin pada suatu saat mencapai batas kemampuan fisiknya. Kecepatan, kekuatan, refleks, atau daya tahannya tidak lagi memungkinkan dia bertanding pada tingkat yang sama seperti ketika berada di puncak karier. Tetapi berakhirnya karier sebagai atlet tidak berarti berakhirnya kemampuan untuk berkembang. Pengalaman bertahun-tahun dapat membentuknya menjadi pelatih yang baik. Ia tidak lagi berada di lapangan sebagai pemain, tetapi dapat mengajarkan teknik, strategi, disiplin, dan mental bertanding kepada generasi berikutnya. Perannya berubah, tetapi pertumbuhannya tidak berhenti. Bahkan pengalaman yang dahulu diperoleh melalui tubuh kini dapat diteruskan melalui hikmat.
Demikian pula kehidupan manusia. Ada masa ketika kekuatan fisik menjadi keunggulan utama. Namun ketika kekuatan itu berkurang, kita tidak harus berhenti bertumbuh. Kita dapat beralih dari melakukan kepada membimbing, dari kecepatan kepada kebijaksanaan, dan dari pengalaman pribadi kepada memberikan teladan bagi generasi berikutnya.
Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks kehidupan. Ketika beberapa kemampuan fisik mulai berkurang, manusia masih mempunyai kemampuan untuk bertumbuh dalam hal-hal yang lain. Kecepatan memproses informasi mungkin melambat, tetapi pengetahuan dan pengalaman yang terkumpul dapat membuat seseorang memiliki pertimbangan yang lebih matang. Seseorang mungkin tidak lagi secepat ketika muda, tetapi ia dapat lebih mampu melihat pola, memahami akibat suatu keputusan, dan membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.
Dengan kata lain, kehidupan tidak hanya bergerak dari lebih kuat menjadi lebih lemah, tetapi juga dapat bergerak dari lebih cepat menjadi lebih bijaksana.
Bahkan otak manusia tetap memiliki kemampuan untuk berubah dan belajar sepanjang kehidupan. Mempelajari keterampilan baru, membaca, memainkan alat musik, mempelajari bahasa, berdiskusi, dan menghadapi tantangan baru dapat terus merangsang otak. Karena itu, menjadi tua tidak berarti berhenti belajar.
Hal yang sama bahkan lebih penting dalam kehidupan rohani.
Kita mungkin tidak akan menjadi sempurna dalam kehidupan sekarang. Tetapi kita dipanggil untuk terus menjadi dewasa di dalam Kristus. Pengudusan tidak berhenti ketika kita mencapai usia tertentu. Roh Kudus terus membentuk kita melalui firman Tuhan, doa, persekutuan, pelayanan, keberhasilan, kegagalan, bahkan penderitaan.
Kita masih dapat belajar menjadi lebih sabar. Masih dapat belajar mengampuni. Masih dapat belajar merendahkan diri. Masih dapat belajar mengendalikan perkataan. Masih dapat belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Dan yang terutama, kita dapat semakin belajar mempercayai Allah. Kita hanya berhenti belajar jika hidup ini berhenti.
Karena itu, usia lanjut tidak seharusnya hanya dipandang sebagai masa kehilangan. Ia dapat menjadi masa pendalaman.
Tubuh mungkin semakin lemah, tetapi iman dapat semakin kuat. Langkah mungkin semakin lambat, tetapi pertimbangan dapat semakin matang. Kita mungkin semakin menyadari keterbatasan diri, tetapi justru semakin memahami bahwa hidup ini bergantung pada kasih karunia Allah.
Inilah keindahan kalimat Paulus: “manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Perhatikan kata sehari ke sehari. Artinya, pembaruan itu adalah proses yang terus berlangsung. Tidak ada usia ketika seorang Kristen boleh berkata, “Saya sudah selesai bertumbuh.”
Selama kita masih hidup, masih ada pekerjaan Allah di dalam diri kita.
Karena itu, jangan tawar hati ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Jangan mengukur seluruh nilai diri berdasarkan apa yang dahulu dapat kita lakukan. Tubuh memang mempunyai batas. Tetapi karya Allah dalam manusia batiniah tidak berhenti hanya karena kekuatan tubuh berkurang.
Pada akhirnya, kita bukan sedang berusaha mempertahankan kemampuan masa muda. Kita sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar: keserupaan dengan Kristus dan kehidupan kekal bersama-Nya.
Maka perubahan dalam hidup manusia bukan hanya cerita tentang menjadi tua. Bagi orang percaya, perubahan itu juga merupakan perjalanan dari hari ke hari—dari kekuatan menuju ketergantungan, dari pengalaman menuju hikmat, dari kelemahan menuju pengharapan, dan dari manusia lama menuju manusia yang terus diperbarui oleh kasih karunia Allah.
Manusia lahiriah boleh semakin merosot. Tetapi manusia batiniah dapat terus bertumbuh.
Doa Penutup
Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memahami seluruh perjalanan hidup kami. Ketika tubuh kami semakin lemah dan kemampuan kami berkurang, tolonglah kami untuk tidak tawar hati. Perbaruilah manusia batiniah kami dari hari ke hari. Berikan kami iman yang semakin teguh, hati yang semakin rendah hati, kasih yang semakin dalam, hikmat yang semakin matang, dan pengharapan yang semakin kuat. Ajarlah kami menerima perubahan hidup dengan percaya bahwa kasih karunia-Mu tidak pernah berkurang. Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus sampai pada akhirnya kami berjumpa dengan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah – sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”
— Mazmur 127:2

Bekerja keras adalah sesuatu yang baik. Alkitab tidak pernah mengajarkan kemalasan (Amsal 6:6). Kita dipanggil untuk bertanggung jawab, menggunakan talenta yang Tuhan berikan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Namun Mazmur 127:2 mengingatkan bahwa ada perbedaan antara bekerja keras dan diperbudak oleh pekerjaan.
Ada orang yang bekerja keras karena memang pekerjaannya menuntut demikian. Ada pula yang bekerja keras karena ingin mencapai sesuatu. Tetapi ada orang yang terus bekerja karena pekerjaan itu memberikan kepuasan tertentu. Ketika target tercapai, masalah terselesaikan, atau hasil pekerjaan terlihat, muncul perasaan senang dan puas. Kesibukan membuatnya merasa produktif, berguna, bahkan hidup. Karena itu ia sulit berhenti.
Ada pula yang bekerja keras karena mengharapkan pujian. Ia ingin dianggap rajin, bertanggung jawab, dapat diandalkan, atau sangat dibutuhkan. Tanpa disadari, pekerjaan menjadi sumber validasi dirinya. Ia merasa berharga karena orang lain menghargai apa yang dilakukannya.
Yang lebih halus lagi, seseorang dapat bekerja terlalu keras karena merasa orang lain kurang mampu. “Kalau bukan saya yang mengerjakan, pasti tidak beres.” Ia sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Akhirnya ia mengambil alih semakin banyak pekerjaan dan semakin yakin bahwa hanya dirinya yang mampu melakukannya dengan benar.
Hal seperti ini dapat terjadi bahkan dalam keluarga. Orang tua yang sudah lanjut usia mungkin masih terus mengurus anak-anak dan cucu-cucunya karena merasa mereka tidak mampu melakukannya sendiri. “Kasihan anak saya.” “Kalau saya tidak membantu, siapa yang akan membantu?” “Biar saya saja.” Semua itu mungkin dimulai dari kasih, tetapi perlahan dapat berubah menjadi ketergantungan. Anak menjadi terlalu bergantung kepada orang tua, sementara orang tua merasa dirinya harus selalu dibutuhkan.
Ada kepuasan tertentu di dalamnya: merasa berguna, dibutuhkan, dipuji, dan mampu mengendalikan keadaan. Tetapi kepuasan itu dapat menjadi jebakan. Kita mulai sulit membedakan antara melayani karena kasih dan bekerja karena membutuhkan kepuasan yang diberikan oleh pekerjaan itu.
Di sinilah persoalannya menjadi rohani.
Kita dapat begitu menikmati keberhasilan dan produktivitas sehingga diri kita menjadi yang paling penting dalam kehidupan kita. Kita tidak secara terang-terangan meninggalkan Tuhan. Kita tetap berdoa, tetap ke gereja, bahkan mungkin tetap melayani. Tetapi hati kita mulai berkata, “Saya mampu mengurus semuanya.” Kita memperoleh rasa aman dari pekerjaan, bukan dari Tuhan; memperoleh nilai diri dari prestasi, bukan dari kasih karunia; dan memperoleh kepuasan dari pujian manusia, bukan dari persekutuan dengan Allah.
Karena itu perkataan pemazmur, “pada waktu tidur,” begitu indah. Tidur adalah gambaran keterbatasan manusia. Ketika kita tidur, kita tidak bekerja. Kita tidak mengontrol apa pun. Kita tidak menghasilkan sesuatu. Namun Tuhan tetap bekerja dan memelihara.
Tidur seolah-olah berkata, “Dunia tidak bergantung kepadaku. Aku bukan penyelamat keluargaku. Aku bukan penentu masa depan. Tuhanlah yang memegang semuanya.”
Ini bukan alasan untuk menjadi malas. Kita tetap bekerja dengan rajin. Tetapi kita perlu memeriksa alasan kita bekerja keras.
Apakah karena tanggung jawab? Baik.
Apakah karena menggunakan karunia Tuhan? Baik.
Apakah karena mengasihi keluarga dan melayani sesama? Baik.
Apakah karena orang lain benar-benar membutuhkan bantuan saya? Baik.
Tetapi jika kita bekerja terutama karena membutuhkan pujian, ingin merasa superior, takut kehilangan kendali, rasa kuatir yang berlebihan, atau merasa bahwa tanpa kita semuanya akan berantakan, mungkin sudah waktunya berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: “Siapakah diri saya ini? Apakah saya bisa bertahan terus jika saya hidup seperti ini? Siapa sebenarnya yang saya percayai?”
Ada waktunya kita bekerja. Ada waktunya kita berhenti. Ada waktunya kita menolong anak-anak. Ada waktunya kita membiarkan mereka belajar bertanggung jawab. Ada waktunya kita mengambil alih. Ada waktunya kita menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.
Dan ada waktunya kita tidur.
Sebab ketika kita tidur, Tuhan tidak tidur.
Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari Mazmur 127:2: kita dipanggil untuk bekerja dengan setia, tetapi bukan untuk hidup seolah-olah segala sesuatu bergantung pada apa yang kita lakukan.
Kita boleh berhenti karena kita percaya kepada-Nya. Dan jika kita bangun, kita bisa bersyukur kepada-Nya karena dunia tetap berputar.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami bekerja dengan rajin dan setia, tetapi jangan biarkan pekerjaan menjadi sumber nilai, kepuasan, atau keamanan kami. Tolong kami untuk mengenali ketika kami mulai mencari pujian, kontrol, atau rasa dibutuhkan. Ajarlah kami menyerahkan pekerjaan, keluarga, dan masa depan kami ke dalam tangan-Mu. Berikan kami keberanian untuk bekerja ketika waktunya bekerja dan beristirahat ketika waktunya berhenti. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
— Mazmur 46:11

Kita hidup dalam dunia yang hampir tidak pernah benar-benar diam. Telepon berbunyi, pesan masuk, media sosial terus bergerak, pekerjaan menunggu, keluarga membutuhkan perhatian, dan berbagai persoalan kehidupan terus memenuhi pikiran. Bahkan ketika tubuh kita sedang beristirahat, pikiran kita sering tetap sibuk. Kita begitu terbiasa dengan suara dan kesibukan sehingga keheningan kadang-kadang terasa aneh.
Padahal, manusia membutuhkan keheningan. Kita membutuhkan solitude—kesendirian yang disengaja dan sehat, ketika untuk sementara kita mengambil jarak dari hiruk-pikuk kehidupan supaya dapat beristirahat, berpikir, merenung, dan terutama kembali mengarahkan hati kepada Allah.
Solitude berbeda dari kesepian. Kesepian adalah keadaan ketika seseorang merasa terputus dan tidak memiliki hubungan yang berarti dengan orang lain. Solitude justru dapat menjadi pilihan untuk menyendiri tanpa kehilangan hubungan kasih dengan orang lain. Seseorang dapat menikmati solitude dan tetap menjadi pribadi yang sangat mengasihi keluarga, sahabat, dan komunitasnya.
Mazmur 46 lahir dari suasana yang penuh pergolakan. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goyah, bumi bergoncang, dan manusia menghadapi ketidakpastian. Di tengah keadaan seperti itu, Allah berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
“Diamlah” bukan berarti berhenti peduli terhadap kehidupan. Bukan pula berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Kata-kata itu merupakan undangan untuk berhenti sejenak dari kegaduhan dan menyadari kembali siapa yang sebenarnya memegang kendali. Ada saat ketika kita terlalu sibuk mengatur kehidupan sehingga lupa bahwa kita bukan Allah.
Kita mungkin merasa harus selalu tersedia bagi orang lain. Sebagai suami atau istri, kita mempunyai tanggung jawab terhadap pasangan. Sebagai orang tua, kita masih memikirkan anak-anak. Sebagai kakek dan nenek, kita dapat merasa perlu membantu anak dan cucu. Di gereja pun ada pelayanan dan kebutuhan orang lain. Semua itu baik. Tetapi sesuatu yang baik dapat menjadi tidak sehat apabila kita tidak pernah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berhenti.
Bahkan Yesus sendiri memberi teladan tentang pentingnya menyendiri. Injil mencatat bahwa Ia sering mengundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Ia melayani orang banyak, mengajar, menyembuhkan, dan berjalan bersama murid-murid-Nya. Namun Ia juga mencari tempat yang sunyi. Kesendirian bukan tanda bahwa Ia tidak mengasihi manusia. Justru dalam keheningan itu Ia kembali kepada Bapa.
Kita pun membutuhkan saat-saat seperti itu.
Solitude tidak harus berarti pergi ke tempat yang jauh. Mungkin hanya duduk sendirian selama beberapa menit pada pagi hari. Mungkin berjalan seorang diri tanpa telepon. Mungkin membaca Alkitab tanpa tergesa-gesa. Mungkin duduk di taman dan menikmati keheningan. Mungkin minum secangkir kopi tanpa harus membuka media sosial. Bahkan tidak melakukan apa-apa selama beberapa saat dapat menjadi bentuk istirahat yang sangat berharga.
Dalam solitude, kita belajar bahwa nilai diri kita tidak bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang kita selesaikan atau seberapa banyak orang yang membutuhkan kita. Kita tetap dikasihi Allah ketika kita sedang tidak produktif. Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa kita berguna.
Lebih dari itu, solitude memberikan kesempatan untuk mendengar kembali suara hati. Dalam kesibukan, kita dapat mengabaikan kegelisahan, kelelahan, kemarahan, atau kesedihan yang sebenarnya sedang kita alami. Keheningan memungkinkan kita menyadari apa yang selama ini kita tekan. Di sana kita dapat membawa semuanya kepada Tuhan dalam doa.
Namun solitude juga harus dijalani dengan bijaksana. Kesendirian tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab, memutus hubungan, atau mengasingkan diri dari orang-orang yang mengasihi kita. Kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Tetapi kita juga bukan mesin yang dapat terus bekerja tanpa berhenti. Karena itu, terkadang solitude bisa dilakukan di tengah keramaian.
Ada waktunya untuk berinteraksi dengan orang lain, dan ada waktunya untuk duduk sendiri dan melihat orang lain bekerja, sambil bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaan-Nya. Memang, ada waktunya berbicara, dan ada waktunya diam. Ada waktunya memberi, dan ada waktunya menerima. Ada waktunya melayani, dan ada waktunya beristirahat.
Mungkin karena itu kita perlu belajar menikmati karunia solitude tanpa merasa bersalah.
Ketika kita diam, kita tidak sedang membuang waktu. Tidak juga kehilangan rasa peduli. Tetapi kita sedang mengingat kembali siapa Allah dan siapa diri kita. Kita bukan pusat alam semesta. Kita bukan penyelamat keluarga kita. Kita bukan orang yang harus mengendalikan segala sesuatu. Allah adalah Allah.
“Diamlah dan ketahuilah.”
Dalam dunia yang terus berkata, “Lakukan lebih banyak,” Tuhan kadang berkata, “Berhentilah sejenak.” Dalam dunia yang terus menuntut perhatian kita, Tuhan mengundang kita untuk memberikan perhatian kepada-Nya.
Dan mungkin, setelah kita belajar diam di hadapan Allah, kita dapat kembali kepada keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari bukan dengan hati yang semakin kosong, melainkan dengan hati yang telah diperbarui.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami menikmati keheningan tanpa merasa bersalah. Tolong kami membedakan antara melarikan diri dari tanggung jawab dan mengambil waktu untuk memulihkan diri. Dalam kesunyian, mampukan kami mengenal-Mu lebih dalam dan menyadari bahwa Engkaulah Allah yang memegang hidup kami. Berikan kami hati yang tenang agar kami dapat kembali mengasihi dan melayani orang lain dengan sukacita. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
— Kejadian 1:27

Ada sebuah kebiasaan yang mungkin pernah kita dengar, bahkan dianggap biasa dalam masyarakat kita. Ketika seorang bayi lahir, kelahiran anak laki-laki kadang disambut dengan kebanggaan yang lebih besar daripada kelahiran anak perempuan. Anak laki-laki disebut sebagai penerus nama keluarga, pewaris, atau kebanggaan orang tua. Anak perempuan tentu juga disayangi, tetapi tanpa disadari kadang ditempatkan pada posisi yang berbeda.
Kita mungkin berkata, “Bukankah itu hanya kebiasaan budaya?” Memang, tidak setiap penghargaan terhadap anak laki-laki berarti seseorang membenci perempuan. Tetapi kita perlu bertanya lebih dalam: mengapa jenis kelamin seseorang menentukan seberapa besar ia dianggap membanggakan?
Di sinilah kita perlu mengenal sebuah kata yang mungkin masih asing bagi banyak orang: misogini. Misogini berarti sikap merendahkan, membenci, memusuhi, atau memandang perempuan sebagai kelompok yang lebih rendah daripada laki-laki. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu misos (kebencian) dan gyne (perempuan). Dengan demikian, kata misoginis berarti pelaku atau orang yang memiliki rasa benci terhadap wanita, sedangkan kata misogami berarti kebencian terhadap ikatan perkawinan.
Misogini tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian terbuka. Ia dapat muncul melalui lelucon, stereotip, perlakuan tidak adil, atau keyakinan bahwa laki-laki secara alami lebih berharga dan lebih berhak menentukan segala sesuatu.
Karena itu, tidak semua orang yang mempunyai pandangan tradisional tentang peran laki-laki dan perempuan dapat disebut misoginis. Seorang Kristen dapat meyakini adanya tanggung jawab yang berbeda antara suami dan istri tanpa merendahkan perempuan. Masalahnya muncul ketika perbedaan peran berubah menjadi perbedaan nilai dan martabat.
Kejadian 1:27 memberikan dasar yang sangat kuat. “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Keduanya berada di dalam karya penciptaan Allah dan keduanya diciptakan menurut gambar Allah. Alkitab tidak mengatakan bahwa laki-laki lebih menyerupai Allah daripada perempuan. Martabat manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, kekayaan, pendidikan, kedudukan, atau kemampuan.
Karena itu, ketika seorang anak laki-laki disambut dengan kebanggaan sedangkan anak perempuan dianggap kurang bernilai, kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menghakimi setiap keluarga yang mempunyai kebiasaan demikian, melainkan untuk memeriksa hati kita sendiri. Jangan-jangan ada nilai budaya yang tanpa sadar telah kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Misogini juga dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Seorang laki-laki yang sejak kecil dibentuk untuk merasa lebih tinggi daripada perempuan dapat membawa pola pikir itu ke dalam pernikahan, pekerjaan, gereja, dan masyarakat. Jika kemudian ia mengalami kekecewaan, penolakan, atau kegagalan, rasa berhak yang tidak terpenuhi dapat berubah menjadi kebencian terhadap perempuan. Dalam lingkungan tertentu, kebencian semacam ini bahkan dapat dipupuk melalui komunitas daring yang terus-menerus menguatkan kemarahan dan rasa menjadi korban.
Karena itu, berita tentang hubungan antara misogini dan ekstremisme seharusnya tidak hanya menjadi bahan pembicaraan tentang keamanan masyarakat. Gereja pun perlu memperhatikannya. Kita tidak perlu menunggu sampai seorang pemuda menjadi ekstremis untuk mengajarkan kepadanya bahwa perempuan adalah ciptaan Allah yang harus dihormati.
Gereja perlu mengajarkan kepada anak laki-laki bahwa menjadi laki-laki bukan berarti menjadi lebih tinggi daripada perempuan. Menjadi laki-laki berarti belajar bertanggung jawab, mengendalikan diri, menghormati perempuan, dan menggunakan kekuatan untuk melayani, bukan untuk mendominasi.
Bagi para suami, Efesus 5:25 bahkan memberikan ukuran yang jauh lebih tinggi: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Kepemimpinan Kristen bukanlah hak untuk dilayani. Kepemimpinan Kristen adalah panggilan untuk mengasihi dan berkorban.
Dan bagi kita semua, mungkin ada baiknya kita memeriksa kembali kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini kita anggap biasa. Bagaimana kita menyambut kelahiran anak laki-laki dan anak perempuan? Bagaimana kita berbicara tentang perempuan? Apakah kita tertawa ketika perempuan direndahkan? Apakah kita mengajarkan kepada anak laki-laki bahwa menang, kuat, dan berkuasa lebih penting daripada mengasihi dan menghormati? Apakah gereja mengajarkan bahwa kaum pria saja yang bisa menjadi pemimpin?
Dosa sering kali tidak dimulai dari tindakan yang besar. Ia dapat dimulai dari sebuah pikiran yang terus dipelihara, sebuah lelucon yang terus diulang, atau sebuah kebiasaan yang tidak pernah kita pertanyakan.
Sebaliknya, perubahan juga dapat dimulai dari hal yang sederhana: memandang setiap manusia sebagaimana Allah memandangnya—sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar-Nya.
Kiranya gereja tidak hanya mengajarkan kepada perempuan bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik, tetapi juga mengajarkan kepada laki-laki bagaimana menjadi laki-laki yang mencerminkan Kristus. Sebab dunia tidak membutuhkan laki-laki yang merasa lebih tinggi daripada perempuan. Dunia membutuhkan laki-laki yang memiliki kekuatan untuk mengasihi, kerendahan hati untuk menghormati, dan keberanian untuk melayani.
Doa Penutup
Tuhan, ampunilah kami apabila tanpa sadar kami memelihara sikap atau kebiasaan yang merendahkan perempuan. Ajarlah kami melihat setiap laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan-Mu yang memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar-Mu. Bentuklah anak-anak dan para laki-laki di dalam gereja-Mu menjadi pribadi yang kuat tetapi rendah hati, berani tetapi penuh kasih, dan memiliki kuasa yang digunakan untuk melayani, bukan mendominasi. Dalam nama Yesus. Amin.
“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.”
— Filipi 2:14

Apakah orang Kristen tidak boleh mengeluh? Bukankah ada saat-saat ketika hidup terasa begitu berat sehingga kita ingin berkata, “Tuhan, mengapa harus begini?” Jika setiap keluhan dianggap sebagai dosa, kita mungkin akhirnya belajar menyembunyikan rasa sakit di balik kata-kata rohani. Kita tersenyum dan berkata, “Puji Tuhan,” sementara hati sebenarnya sedang terluka. Padahal Alkitab tidak mengajarkan kepura-puraan seperti itu.
Karena itu, kita perlu memahami dengan tepat perkataan Paulus dalam Filipi 2:14. Paulus tidak sedang melarang setiap ungkapan kesedihan, kekecewaan, atau pertanyaan kepada Allah. Dalam Alkitab, kita menemukan Daud yang meratap, Yeremia yang menangis, Ayub yang bergumul, dan bahkan Yesus yang berseru dalam penderitaan-Nya. Yang Paulus larang adalah bersungut-sungut dan berbantah-bantahan sebagai sikap hati yang menolak dan tidak puas terhadap jalan Allah.
Konteks ayat ini sangat penting. Pada ayat 12–13, Paulus berkata agar jemaat mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Karena itu, ketika mereka menjalani proses yang Allah kerjakan dalam hidup mereka, mereka tidak seharusnya merespons dengan gerutu dan perselisihan.
Kata “bersungut-sungut” (goggysmos) menunjuk pada keluhan yang lahir dari ketidakpuasan, sedangkan “berbantah-bantahan” mengandung gagasan perselisihan atau pertengkaran. Paulus kemudian menjelaskan tujuannya: supaya mereka hidup sebagai anak-anak Allah yang bercahaya “di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (ay. 15).
Dengan demikian, yang menjadi persoalan bukan sekadar apa yang keluar dari mulut kita, tetapi apa yang ada di baliknya.
Mengomel biasanya lahir dari ego yang merasa berhak mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada yang sedang dialaminya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita merasa dirugikan. Lalu muncul pertanyaan, “Mengapa saya harus mengalami ini? Saya tidak pantas mendapatkannya!” Tanpa disadari, kita bukan lagi sekadar menyatakan bahwa kita terluka, tetapi sedang menuntut Allah, orang lain, atau lingkungan untuk memberikan apa yang menurut kita menjadi hak kita.
Israel di padang gurun memberi contoh yang jelas. Mereka lapar, haus, takut, dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Kesulitan mereka nyata. Namun respons mereka berubah menjadi sungut-sungut terhadap Musa dan Allah. Mereka tidak sekadar berkata, “Kami lapar.” Mereka mempertanyakan jalan Allah dan bahkan merindukan kembali kehidupan lama di Mesir. Kesulitan menjadi alasan untuk tidak mempercayai Allah.
Tetapi ada perbedaan antara omelan yang berdosa dan ratapan yang kudus.
Mazmur 42 berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Pemazmur tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia sedang sedih. Ia sedang bingung. Namun ia membawa kegelisahannya kepada Allah dan kemudian berkata kepada jiwanya sendiri, “Berharaplah kepada Allah!” Ratapan tidak menyembunyikan luka, tetapi juga tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk meninggalkan Allah.
Mengomel berkata, “Tuhan, saya berhak mendapatkan yang lebih baik. Ini sangat merendahkan diri saya.”
Ratapan berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti mengapa ini terjadi. Ini sangat menyakitkan, tetapi saya tetap datang kepada-Mu.”
Perbedaan ini penting dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan: usia yang bertambah, tubuh yang tidak lagi sekuat dahulu, perubahan rencana, kehilangan, keterbatasan, kekecewaan, atau kelemahan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak harus menyukai semuanya. Namun kita dapat belajar menerima proses pembentukan Tuhan tanpa terus-menerus menggerutu. Kita percaya bahwa Allah dapat memakai keadaan yang tidak kita sukai untuk membentuk kita semakin menyerupai Kristus.
Namun menerima providensi Allah tidak berarti menerima dosa, ketidakadilan, penindasan, atau bahaya sebagai sesuatu yang tidak perlu dilawan. Alkitab tidak memanggil kita menjadi pasif terhadap kejahatan. Kita dapat berdoa dengan jujur, menyatakan keberatan dengan benar, mengambil tindakan iman, membela yang lemah, dan menegakkan kebenaran.
Dalam ajaran Stoisisme, idealnya manusia mencapai ketenangan melalui kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penerimaan terhadap tatanan alam. Dalam iman Kristen, kita tidak mengandalkan kemampuan diri untuk tetap tenang, tetapi bergantung kepada Allah yang berdaulat, mengasihi, dan memelihara kita.
Karena itu, ungkapan seperti “Jangan menangis; terima saja keadaan” bisa terdengar stoik tetapi tidak selalu alkitabiah. Yesus sendiri menangis di depan makam Lazarus (Yoh. 11:35). Mazmur penuh dengan ratapan. Paulus pun berbicara tentang penderitaan dan kelemahannya secara terbuka.
Namun ada satu hal dari Stoisisme yang dapat kita apresiasi secara terbatas: kita memang perlu membedakan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang tidak dapat kita kendalikan. Orang Kristen juga tidak perlu menghabiskan hidup dengan mengomel tentang sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara gerutu pasif dan respons iman. Gerutu hanya menguras jiwa: kita mengeluh, mengulang keluhan, menyalahkan, tetapi tidak melakukan apa-apa. Respons iman membawa persoalan kepada Tuhan lalu bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki saya lakukan?”
Jadi, orang Kristen tidak dipanggil untuk berpura-pura kuat. Kita boleh menangis. Kita boleh sedih. Kita boleh bertanya. Kita boleh meratap. Tetapi kita tidak dipanggil untuk terus-menerus bersungut-sungut dengan hati yang merasa berhak dan menolak jalan Tuhan.
Mungkin pertanyaan yang lebih baik bukanlah, “Bolehkah saya mengeluh?”, tetapi “Apa yang sedang keluar dari hati saya ketika saya mengeluh?”
Apakah saya sedang mempertahankan hak saya, atau membawa luka saya kepada Tuhan? Apakah saya sedang menyalahkan Allah, atau mencari pertolongan-Nya? Apakah keluhan saya hanya menjadi gerutu yang merusak jiwa, atau mendorong saya untuk berdoa dan melakukan apa yang benar?
Mengomel mempertahankan hak kita. Ratapan menyerahkan luka kita. Iman menerima pembentukan Tuhan dan melakukan apa yang benar ketika menghadapi kejahatan.
Kiranya dalam segala keadaan kita belajar menjadi seperti bintang yang bercahaya di tengah dunia—bukan karena hidup kita selalu mudah, tetapi karena di tengah hidup yang sulit pun kita tetap percaya kepada Allah.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami membedakan antara gerutu yang lahir dari ego dan ratapan yang lahir dari iman. Ketika kami harus menerima keadaan, berikan kami hati yang rela. Ketika kami menghadapi dosa dan ketidakadilan, berikan kami keberanian untuk bertindak benar. Dan ketika hati kami terluka, mampukan kami datang kepada-Mu dengan jujur tanpa kehilangan iman dan pengharapan. Amin.
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
— Mazmur 42:6

Ada kalanya hati kita terasa sedih dan perih, tetapi kita sendiri tidak tahu mengapa. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Tidak ada berita buruk yang baru kita terima. Secara lahiriah, semuanya mungkin berjalan cukup baik. Namun entah mengapa, hati terasa berat. Kita bangun pagi dengan perasaan murung, menjalani hari tanpa sukacita, dan pada malam hari masih membawa perasaan yang sama.
Keadaan seperti ini kadang justru membuat kita semakin sedih. Kita mulai bertanya, “Mengapa saya merasa seperti ini?” Lalu muncul pertanyaan lain, “Bukankah saya seharusnya bersyukur? Bukankah Tuhan sudah begitu baik kepada saya?” Akhirnya kita bukan hanya sedih karena hati terasa berat, tetapi juga merasa bersalah karena kita menganggap bahwa kita tidak seharusnya bersedih.
Mazmur 42 menunjukkan bahwa pergumulan seperti ini bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan orang percaya. Pemazmur berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia tidak menutupi keadaan hatinya. Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia mengakui bahwa jiwanya sedang tertekan dan gelisah.
Ada pelajaran penting di sini: kita tidak selalu harus mengetahui penyebab kesedihan kita sebelum kita membawanya kepada Tuhan. Kita boleh datang kepada-Nya dengan hati yang berat, bahkan ketika kita tidak mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.
Kadang kita terlalu sibuk mencari jawaban: “Apa penyebabnya? Mengapa saya begini? Apa yang salah dengan saya?” Padahal mungkin untuk sementara kita tidak perlu menemukan semua jawabannya. Kita dapat berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa hatiku sedih. Aku sendiri tidak dapat menjelaskannya. Tetapi Engkau mengenal aku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.”
Yang lebih sulit adalah ketika kita tidak dapat menerima keadaan yang sedang kita alami. Kita tahu bahwa Tuhan berdaulat. Kita percaya bahwa hidup kita berada di dalam tangan-Nya. Namun mengetahui hal itu secara akal tidak selalu membuat hati langsung tenang. Ada perbedaan antara mengetahui bahwa Allah memegang keadaan kita dan mampu menerima keadaan tersebut dengan hati yang tenang.
Kita tidak perlu memaksa diri untuk segera berkata, “Saya sudah menerima semuanya.” Mungkin kita memang belum sampai di sana. Kita dapat berkata dengan jujur, “Tuhan, saya tahu Engkau baik, tetapi hati saya belum mampu menerima apa yang sedang terjadi.” Kejujuran seperti itu bukan tanda tidak beriman. Justru di sanalah kita belajar membawa iman masuk ke dalam pergumulan yang nyata.
Kadang kesedihan menjadi lebih berat karena orang yang kita kasihi tidak memahami perasaan kita. Kita berharap mereka mengerti, tetapi mungkin mereka hanya berkata, “Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja.” Nasihat itu mungkin diberikan dengan tulus, tetapi hati kita sebenarnya tidak membutuhkan seseorang yang segera menghapus kesedihan kita. Kita membutuhkan seseorang yang bersedia mengakui, “Aku tahu kamu sedang berat.”
Namun jika manusia tidak mampu memahami kita, kita masih memiliki Allah yang memahami kita sepenuhnya. Kita mungkin tidak mengerti diri sendiri, tetapi Tuhan mengerti. Kita mungkin tidak mampu menjelaskan perasaan kita, tetapi tidak ada satu pun isi hati kita yang tersembunyi dari-Nya.
Karena itu, pemazmur tidak berkata kepada dirinya, “Berhentilah bersedih!” Ia berkata, “Berharaplah kepada Allah!” Ini sangat berbeda. Iman tidak selalu menghilangkan kesedihan dengan segera. Iman mengajar kita untuk tetap berharap kepada Allah di tengah kesedihan.
Ada hari ketika kita belum mampu bersyukur. Tidak apa-apa. Perhatikan perkataan pemazmur: “Aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.” Kata “lagi” mengandung pengharapan. Hari ini mungkin hati kita masih perih, tetapi kesedihan hari ini bukan akhir dari cerita.
Mungkin kita belum memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Mungkin kita belum mampu menerima keadaan. Mungkin kita bahkan tidak tahu mengapa kita merasa sedih. Tetapi kita dapat tetap berkata:
“Tuhan, aku tidak mengerti hatiku, tetapi Engkau mengerti. Aku belum mampu menerima keadaanku, tetapi aku mau berharap kepada-Mu. Dan aku percaya, pada waktunya, aku akan bersyukur lagi kepada-Mu.”
Doa Penutup
Tuhan, Engkau mengetahui ketika hatiku sedih dan perih, bahkan ketika aku sendiri tidak mengerti mengapa. Tolonglah aku untuk tidak menyalahkan diriku karena perasaan ini. Ajarlah aku membawa kesedihanku kepada-Mu dan tetap berharap kepada-Mu meskipun aku belum memahami keadaan. Tenangkan hatiku, teguhkan imanku, dan pada waktunya mampukan aku bersyukur lagi kepada-Mu. Amin.
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
— Kejadian 2:24

Ketika memasuki usia lanjut, dinamika kehidupan keluarga mengalami perubahan. Anak-anak yang dahulu memenuhi rumah dengan suara dan kesibukan kini telah dewasa. Mereka mempunyai pekerjaan, pasangan, rumah tangga, dan anak-anak mereka sendiri. Kita pun memasuki peran baru sebagai orang tua dari orang dewasa dan bahkan sebagai kakek atau nenek. Dalam keadaan seperti ini, ada satu hubungan yang sering kali perlu kembali kita sadari nilainya: hubungan suami dan istri.
Kejadian 2:24 mengatakan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Ayat ini bukan hanya berbicara tentang awal sebuah pernikahan. Di dalamnya terdapat prinsip bahwa pernikahan membentuk sebuah kesatuan baru. Suami dan istri bukan sekadar dua orang yang tinggal bersama, melainkan “satu daging”. Karena itu, hubungan mereka tidak seharusnya kehilangan prioritas ketika anak-anak telah dewasa atau ketika cucu-cucu mulai memenuhi kehidupan keluarga.
Justru pada hari tua, prinsip ini mungkin menjadi semakin penting. Ketika masih muda, perhatian pasangan sering terbagi oleh pekerjaan, pendidikan anak, pelayanan, dan berbagai tanggung jawab keluarga. Tetapi ketika anak-anak sudah mandiri, Tuhan memberikan kesempatan kepada suami dan istri untuk kembali menikmati kebersamaan dengan cara yang mungkin dahulu sulit dilakukan.
Namun, hadirnya cucu dapat membawa dinamika yang baru. Cucu adalah berkat yang indah. Melihat mereka bertumbuh, bermain bersama, mendengar cerita mereka, bahkan membantu orang tua mereka dalam mengasuh mereka merupakan sukacita tersendiri. Alkitab sendiri menunjukkan betapa pentingnya hubungan antargenerasi. Iman dapat diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, sebagaimana iman Lois diwariskan kepada Eunike dan kemudian kepada Timotius.
Tetapi kasih kepada cucu tidak berarti bahwa cucu harus menjadi pusat kehidupan kakek dan nenek. Ada kalanya orang tua meminta bantuan menjaga cucu, ada kebutuhan finansial, atau ada berbagai persoalan keluarga yang membutuhkan perhatian. Menolong tentu merupakan perbuatan kasih. Namun, pasangan lansia juga perlu bertanya: apakah bantuan yang kami berikan mulai mengorbankan hubungan kami sendiri?
Ada pasangan yang akhirnya hampir tidak mempunyai waktu untuk berdua karena seluruh jadwal mereka disusun berdasarkan kebutuhan anak dan cucu. Ada pula yang menggunakan sebagian besar sumber daya mereka untuk memenuhi keinginan generasi berikutnya, sementara kebutuhan dan kenyamanan pasangan sendiri diabaikan. Padahal, kasih kepada keluarga tidak seharusnya membuat kita melupakan orang yang telah berjalan bersama kita selama puluhan tahun.
Kita perlu membedakan antara menjadi berkat bagi anak dan cucu dengan menjadikan diri kita bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Orang tua tetap mempunyai tanggung jawab utama terhadap anak-anak mereka, dan ketika anak-anak telah berkeluarga, mereka juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga mereka sendiri. Kakek-nenek boleh membantu, tetapi bantuan itu seharusnya lahir dari kasih dan kemampuan, bukan dari rasa bersalah atau tekanan.
Bahkan, menjaga hubungan suami-istri dengan baik dapat menjadi warisan rohani yang sangat berharga bagi cucu-cucu. Mereka dapat melihat bahwa setelah puluhan tahun menikah, kakek dan nenek masih saling menghormati, menikmati kebersamaan, saling menjaga, dan tetap setia kepada janji pernikahan. Kesetiaan seperti itu merupakan khotbah yang hidup.
Hari tua bukanlah masa untuk berhenti mengasihi generasi berikutnya. Sebaliknya, kita dapat menjadi sumber hikmat, doa, kasih, dan pertolongan bagi mereka. Tetapi semuanya perlu ditempatkan dalam tatanan yang benar. Kita mengasihi cucu tanpa menjadikan mereka pusat kehidupan. Kita membantu anak tanpa mengambil alih tanggung jawab mereka. Dan kita tetap menjaga pasangan sebagai teman seperjalanan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Pada akhirnya, anak-anak mungkin telah meninggalkan rumah, cucu-cucu akan bertumbuh dan mempunyai kehidupan mereka sendiri, tetapi pasangan tetap menjadi orang yang berjalan bersama kita dalam perjalanan menuju akhir kehidupan. Karena itu, jangan sampai kesibukan menjadi kakek dan nenek membuat kita lupa bagaimana harus tetap menjadi suami atau istri di masa depan.
Memprioritaskan pasangan bukan berarti kurang mengasihi cucu. Justru dengan menjaga pernikahan tetap kuat, kita memberikan kepada anak dan cucu sebuah teladan bahwa kasih yang dijanjikan di hadapan Tuhan dapat bertahan sampai hari tua.
Jangan biarkan pasangan lansia hidup hanya dari kenangan tentang apa yang pernah mereka lalui. Bersyukurlah atas masa lalu, belajarlah darinya, ampuni apa yang perlu diampuni, tetapi kemudian bersama-sama pandanglah ke depan. Masih ada hari yang Tuhan berikan, masih ada kasih yang dapat dinyatakan, masih ada pelayanan yang dapat dilakukan, masih ada cucu yang dapat didoakan, dan terutama masih ada Kristus yang harus terus dikejar sampai akhir.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih untuk pasangan hidup yang Engkau berikan untuk menemani perjalanan kami. Tolong kami agar tetap saling mengasihi, menghormati, dan memperhatikan satu sama lain di hari tua. Ajarlah kami mengasihi anak dan cucu dengan bijaksana, menolong tanpa mengambil alih tanggung jawab mereka, dan tidak membiarkan hubungan kami sebagai suami dan istri terabaikan. Kiranya kehidupan pernikahan kami menjadi kesaksian tentang kesetiaan-Mu bagi generasi yang akan datang. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
— Galatia 6:9

Ketika memikirkan masa depan, kebanyakan orang memikirkan apa yang harus mereka persiapkan. Kita menabung uang, membeli rumah, menyiapkan dana pensiun, menjaga kesehatan, dan memikirkan berbagai kebutuhan ketika usia semakin lanjut. Semua itu baik dan bijaksana. Namun ada satu bentuk persiapan yang sering terlupakan: menabur kebaikan dalam kehidupan orang lain.
Ada orang yang sejak muda membangun hidup dengan keyakinan bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun. Ia mengejar keberhasilan, mengumpulkan harta, dan menjaga kemandirian. Ia mungkin berhasil secara materi, tetapi tanpa disadari, ia tidak membangun hubungan yang mendalam dengan orang lain. Ketika usia semakin tua, ia mungkin memiliki cukup uang untuk hidup, tetapi tidak memiliki banyak orang yang mengenal, memperhatikan, atau bersedia hadir ketika ia membutuhkan pertolongan.
Ada pula orang yang berpikir, “Bukankah Tuhan yang memelihara hidup saya? Kalau nanti saya tua dan membutuhkan pertolongan, Tuhan pasti menyediakan.” Iman seperti ini memang mengandung kebenaran—Tuhan sungguh berdaulat dan memelihara umat-Nya. Tetapi kita perlu berhati-hati agar percaya kepada pemeliharaan Tuhan tidak berubah menjadi alasan untuk tidak membangun hubungan dengan sesama. Sering kali Tuhan justru memelihara kita melalui orang lain.
Sebaliknya, ada orang yang sepanjang hidupnya senang memperhatikan orang lain. Ia menyediakan waktu untuk mendengarkan, mengunjungi teman yang sakit, membantu ketika ada kesulitan, mengingat hari ulang tahun, memberikan dorongan ketika seseorang sedang kecewa, dan hadir bukan hanya ketika dirinya membutuhkan sesuatu. Ia mungkin tidak pernah berpikir bahwa semua itu adalah investasi untuk masa tuanya. Ia hanya sedang menjalani hidup dengan kasih.
Pertolongan yang kita terima suatu hari mungkin datang melalui sahabat, anak, tetangga, saudara seiman, atau bahkan seseorang yang dahulu pernah kita perhatikan.
Karena itu, mempercayakan masa depan kepada Tuhan tidak berarti kita boleh hidup tanpa memedulikan orang lain.
Justru karena kita percaya Tuhan bekerja melalui manusia, kita dipanggil sejak sekarang untuk membangun kasih, perhatian, dan hubungan yang sehat dengan sesama. Tuhan menyediakan masa depan kita, tetapi Ia juga menyediakan kesempatan bagi kita untuk mengambil bagian dalam pemeliharaan-Nya terhadap orang lain.
Alkitab berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.” Berbuat baik memang terkadang melelahkan, terutama ketika kebaikan kita tidak dihargai atau bahkan disalahgunakan. Kita mungkin pernah bertanya, “Untuk apa saya terus berbuat baik kalau tidak ada yang membalas?”
Tetapi Paulus mengingatkan bahwa orang percaya tidak hidup hanya berdasarkan apa yang terlihat sekarang. Ada waktu untuk menabur dan ada waktu untuk menuai. Kita mungkin tidak melihat hasil dari kebaikan kita hari ini. Bahkan, orang yang kita tolong mungkin tidak pernah membalasnya. Tetapi Tuhan melihat setiap perbuatan yang dilakukan dalam kasih.
Karena itu, berbuat baik bukanlah transaksi: “Saya menolong kamu supaya suatu hari kamu menolong saya.” Itu bukan kasih Kristen. Kita berbuat baik bukan untuk membuat orang lain berutang kepada kita. Kita berbuat baik karena Tuhan terlebih dahulu telah berbuat baik kepada kita.
Namun demikian, Tuhan sering memakai kebaikan yang kita taburkan untuk membangun hubungan yang akan menjadi berkat bagi kehidupan kita sendiri. Orang yang sepanjang hidupnya menabur perhatian biasanya tidak hidup dalam keterasingan. Ia memiliki sahabat, keluarga, tetangga, dan saudara seiman yang mengenalnya. Ketika suatu hari ia membutuhkan pertolongan, sering kali ada tangan yang terulur kepadanya.
Itulah sebabnya kita dapat mengatakan: jangan hanya menabung uang untuk masa depan; tabunglah juga perhatian, kasih, kesabaran, kepercayaan, dan persahabatan. Tetapi jangan menabungnya sebagai tuntutan kepada orang lain. Tabunglah dengan cara menaburkannya.
Terlebih lagi, kehidupan kita tidak berhenti pada masa tua. Ada masa ketika kehidupan di dunia berakhir dan kita berdiri di hadapan Tuhan. Keselamatan kita bukanlah hasil dari perbuatan baik kita—keselamatan adalah anugerah Allah. Namun orang yang telah menerima anugerah itu dipanggil untuk menghasilkan buah dalam kehidupannya.
Karena itu, selama kita masih memiliki kesempatan, marilah kita terus berbuat baik. Mungkin hari ini kita masih dapat menelepon seseorang yang kesepian. Kita masih dapat mengampuni. Kita masih dapat menolong. Kita masih dapat memberikan waktu dan perhatian.
Jangan merasa bahwa usia membuat hidup kita tidak lagi berguna. Selama Tuhan memberi kita kesempatan untuk hidup, masih ada kesempatan untuk menabur.
Dan kita boleh menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Kita tidak tahu kapan akan menuai, melalui siapa tuaian itu datang, atau seperti apa bentuknya. Tetapi kita tahu satu hal: Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan yang dilakukan dalam kasih kepada-Nya.
Maka janganlah jemu-jemu berbuat baik. Teruslah menabur, sekalipun belum melihat hasilnya. Sebab suatu hari nanti, pada waktu yang Tuhan tentukan, kita akan menuai.
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
— Galatia 6:10
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk berbuat baik. Ajarlah kami menabur kasih, perhatian, waktu, dan pertolongan tanpa menuntut balasan. Tolong kami agar tidak jemu ketika kebaikan kami tidak segera terlihat hasilnya. Biarlah hidup kami menjadi berkat bagi orang lain, dan biarlah semua yang kami lakukan menjadi buah dari anugerah-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
— Keluaran 34:7

Ada sebuah kenyataan yang sering kali tidak kita sadari: dosa seseorang tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Dosa dapat meninggalkan jejak yang panjang, bahkan sampai kepada anak dan cucunya. Seorang ayah yang hidup dalam kemarahan dapat mewariskan pola kemarahan kepada anaknya. Orang tua yang hidup dalam ketamakan dapat mengajarkan bahwa nilai manusia ditentukan oleh harta. Ketidakjujuran, kepahitan, kecanduan, perselingkuhan, bahkan cara memperlakukan pasangan dapat menjadi pola yang berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Itulah salah satu makna serius dari Keluaran 34:7. Allah tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi. Bahkan, akibat dosa seseorang dapat dirasakan oleh mereka yang tidak melakukan dosa tersebut.
Namun kita perlu berhati-hati. Ayat ini tidak berarti bahwa seorang anak secara otomatis dinyatakan bersalah di hadapan Allah karena dosa orang tuanya. Alkitab juga menegaskan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Yang dapat diteruskan adalah akibat, kecenderungan, pola hidup, dan lingkungan dosa, bukan kesalahan moral orang tua yang secara otomatis dipindahkan kepada anak.
Faktor genetika pun dapat memainkan peranan. Seorang anak mungkin mewarisi temperamen yang lebih mudah marah, lebih impulsif, atau lebih rentan terhadap kecanduan. Tetapi genetika bukanlah takdir moral. Seorang anak tidak dilahirkan dengan “gen kesombongan” atau “gen ketamakan”. Ia mungkin memiliki kecenderungan tertentu, tetapi kecenderungan bukanlah dosa dan bukan pula alasan untuk menyerah kepada dosa.
Lebih jauh lagi, doktrin dosa asal (original sin) mengingatkan kita bahwa masalah manusia tidak semata-mata berasal dari orang tua atau lingkungan. Manusia lahir dalam natur yang telah jatuh. Seorang anak tidak perlu diajari untuk menjadi egois. Dorongan untuk berkata, “Ini milikku!” dapat muncul dengan sendirinya. Dengan demikian, dosa bukan hanya sesuatu yang kita pelajari; dosa juga mengalir dari natur manusia yang telah rusak.
Lalu bagaimana kita memutus rantai tersebut?
Jawabannya bukan dengan menyalahkan orang tua, genetika, atau keadaan masa lalu. Kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang seperti ini karena keluarga saya.” Kita mungkin tidak memilih keluarga tempat kita dilahirkan, tetapi kita tidak ditakdirkan untuk menjalani hidup seperti orang tua kita.
Salah satu hal yang dapat memutus dinamika dosa dalam keluarga adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan berarti hidup dengan kesadaran bahwa Allah melihat, mengetahui, dan akan menghakimi setiap perbuatan kita. Kesadaran itu membuat kita berhenti berkata, “Semua orang di keluarga saya melakukan ini,” lalu bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki?”
Seorang anak dari keluarga pemarah dapat belajar mengampuni. Anak dari keluarga yang tidak jujur dapat memilih hidup dalam integritas. Anak dari keluarga yang penuh kepahitan dapat menjadi pembawa damai. Dengan demikian, ia dapat menjadi generasi yang menghentikan rantai dosa.
Namun pada akhirnya, kita tidak dapat menghindari hukuman dosa hanya dengan menjadi lebih baik. Kita semua membutuhkan pengampunan. Itulah sebabnya bagian pertama Keluaran 34:7 justru sangat indah: Allah adalah Dia yang “mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.”
Keadilan Allah tidak dibatalkan, tetapi pengampunan tersedia melalui kasih karunia-Nya. Dalam Kristus, orang berdosa tidak perlu melarikan diri dari Allah; ia dapat datang kepada-Nya dalam pertobatan dan iman.
Kita mungkin tidak dapat memilih warisan yang kita terima dari keluarga kita. Tetapi oleh anugerah Tuhan, kita dapat menentukan warisan apa yang akan kita tinggalkan.
Kiranya kita tidak menjadi mata rantai yang meneruskan dosa, melainkan menjadi titik balik yang meneruskan iman, kasih, pengampunan, integritas, dan takut akan Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita.
Doa Penutup
Tuhan, kami mengakui bahwa kami adalah manusia berdosa dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Ampunilah dosa kami dan lepaskan kami dari pola dosa yang mungkin telah berlangsung dalam keluarga kami. Berikan kami hati yang takut akan Engkau, sehingga kami tidak meneruskan dosa kepada generasi berikutnya. Jadikan hidup kami teladan iman, kasih, pengampunan, dan kebenaran bagi anak-anak dan cucu-cucu kami. Di dalam Kristus kami berdoa. Amin.
“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,”
— Filipi 3:20

Setiap bangsa mempunyai simbol, sejarah, dan kebanggaannya sendiri. Indonesia mempunyai Merah Putih, lagu kebangsaan, Pancasila, dan berbagai perayaan nasional. Semua itu mempunyai tempatnya dalam kehidupan berbangsa. Kita boleh menghormati bendera, mencintai tanah air, menghargai sejarah kemerdekaan, dan bersyukur kepada Tuhan atas bangsa tempat kita hidup.
Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: identitas kebangsaan bukanlah identitas tertinggi seorang Kristen.
Paulus mengatakan sesuatu yang sangat dalam: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga.” Paulus tidak sedang mengatakan bahwa menjadi warga negara dunia adalah sesuatu yang buruk. Ia sendiri hidup sebagai warga Romawi dan memahami tanggung jawabnya sebagai warga negara. Tetapi ia tahu bahwa ada kewargaan yang jauh lebih tinggi daripada kewargaan duniawi—yaitu kewargaan dalam Kerajaan Allah.
Itulah sebabnya gereja perlu berhati-hati ketika identitas nasional mulai dibawa terlalu jauh ke dalam kebaktian. Bendera negara, lagu patriotik, pembacaan dasar negara, tarian kebangsaan, atau berbagai seremoni kemerdekaan mungkin mempunyai tempat dalam kehidupan masyarakat. Tetapi kebaktian memiliki tujuan yang berbeda. Ketika umat Tuhan berkumpul untuk beribadah, kita datang bukan terutama sebagai orang Indonesia, Australia, Amerika, Korea, Tionghoa, atau bangsa lainnya. Kita datang sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus.
Di hadapan takhta Allah, tidak ada bendera nasional yang menjadi pusat perhatian. Tidak ada bangsa yang lebih tinggi daripada bangsa lainnya. Yang menjadi pusat adalah Kristus.
Karena itu, gereja tidak perlu menggunakan nasionalisme untuk membuktikan bahwa orang Kristen adalah warga negara yang baik. Kita dapat mencintai Indonesia tanpa membawa nasionalisme ke dalam liturgi. Kita dapat menghormati pemerintah tanpa mengangkat negara menjadi sesuatu yang sakral. Kita dapat bersyukur atas kemerdekaan tanpa menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai bagian dari ibadah.
Bahkan, kita dapat melakukan sesuatu yang lebih bermakna: berdoa bagi bangsa.
Paulus meminta agar jemaat menaikkan doa bagi para raja dan semua pembesar, supaya kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan (1 Timotius 2:1–2). Jadi gereja tidak dipanggil untuk mengabaikan negara. Gereja dipanggil untuk mendoakan negara.
Tapi ada perbedaan besar antara menghormati negara dan menguduskan negara.
Kita boleh mencintai tanah air, tetapi jangan sampai tanah air mengambil tempat yang hanya layak diberikan kepada Allah. Kita boleh bangga menjadi warga Indonesia, tetapi kebanggaan itu tidak boleh mengalahkan identitas kita sebagai umat Kristus. Kita boleh menyanyikan lagu kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi ketika kita datang beribadah, hati kita diarahkan kepada lagu baru yang dinyanyikan oleh umat tebusan bagi Anak Domba.
Sebab pada akhirnya, semua negara dunia akan berlalu. Semua bendera akan diturunkan. Semua lagu kebangsaan akan berhenti dinyanyikan. Batas-batas negara akan kehilangan maknanya. Tetapi Kerajaan Kristus tidak akan berakhir.
Itulah sebabnya Paulus berkata bahwa kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Pengharapan kita bukan terutama pada masa depan Indonesia, Amerika, Tiongkok, Australia, atau bangsa mana pun. Pengharapan kita adalah kedatangan Kristus dan penyempurnaan Kerajaan-Nya.
Maka ketika kita memasuki gereja, marilah kita meninggalkan sejenak segala identitas duniawi yang dapat memisahkan kita. Kita datang sebagai satu umat, satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, dan satu pengharapan.
Setiap orang adalah warga suatu negara di bumi, tetapi sebagai umat Kristen kita semuanya adalah warga Kerajaan Allah.
Dan kewargaan surgawi itulah yang seharusnya menjadi identitas kita yang terutama.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih karena melalui anugerah-Mu kami telah menjadi warga Kerajaan Allah. Tolong kami menghormati bangsa dan pemerintah kami dengan benar, tanpa memberikan kepada negara tempat yang hanya layak bagi-Mu. Ketika kami beribadah, arahkan hati kami hanya kepada-Mu. Kiranya kami hidup sebagai warga dunia yang baik, tetapi terutama sebagai warga surgawi yang setia kepada Kristus. Amin.