Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Kita adalah Warga Surgawi

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,”
— Filipi 3:20

Setiap bangsa mempunyai simbol, sejarah, dan kebanggaannya sendiri. Indonesia mempunyai Merah Putih, lagu kebangsaan, Pancasila, dan berbagai perayaan nasional. Semua itu mempunyai tempatnya dalam kehidupan berbangsa. Kita boleh menghormati bendera, mencintai tanah air, menghargai sejarah kemerdekaan, dan bersyukur kepada Tuhan atas bangsa tempat kita hidup.

Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: identitas kebangsaan bukanlah identitas tertinggi seorang Kristen.

Paulus mengatakan sesuatu yang sangat dalam: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga.” Paulus tidak sedang mengatakan bahwa menjadi warga negara dunia adalah sesuatu yang buruk. Ia sendiri hidup sebagai warga Romawi dan memahami tanggung jawabnya sebagai warga negara. Tetapi ia tahu bahwa ada kewargaan yang jauh lebih tinggi daripada kewargaan duniawi—yaitu kewargaan dalam Kerajaan Allah.

Itulah sebabnya gereja perlu berhati-hati ketika identitas nasional mulai dibawa terlalu jauh ke dalam kebaktian. Bendera negara, lagu patriotik, pembacaan dasar negara, tarian kebangsaan, atau berbagai seremoni kemerdekaan mungkin mempunyai tempat dalam kehidupan masyarakat. Tetapi kebaktian memiliki tujuan yang berbeda. Ketika umat Tuhan berkumpul untuk beribadah, kita datang bukan terutama sebagai orang Indonesia, Australia, Amerika, Korea, Tionghoa, atau bangsa lainnya. Kita datang sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus.

Di hadapan takhta Allah, tidak ada bendera nasional yang menjadi pusat perhatian. Tidak ada bangsa yang lebih tinggi daripada bangsa lainnya. Yang menjadi pusat adalah Kristus.

Karena itu, gereja tidak perlu menggunakan nasionalisme untuk membuktikan bahwa orang Kristen adalah warga negara yang baik. Kita dapat mencintai Indonesia tanpa membawa nasionalisme ke dalam liturgi. Kita dapat menghormati pemerintah tanpa mengangkat negara menjadi sesuatu yang sakral. Kita dapat bersyukur atas kemerdekaan tanpa menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai bagian dari ibadah.

Bahkan, kita dapat melakukan sesuatu yang lebih bermakna: berdoa bagi bangsa.

Paulus meminta agar jemaat menaikkan doa bagi para raja dan semua pembesar, supaya kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan (1 Timotius 2:1–2). Jadi gereja tidak dipanggil untuk mengabaikan negara. Gereja dipanggil untuk mendoakan negara.

Tapi ada perbedaan besar antara menghormati negara dan menguduskan negara.

Kita boleh mencintai tanah air, tetapi jangan sampai tanah air mengambil tempat yang hanya layak diberikan kepada Allah. Kita boleh bangga menjadi warga Indonesia, tetapi kebanggaan itu tidak boleh mengalahkan identitas kita sebagai umat Kristus. Kita boleh menyanyikan lagu kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi ketika kita datang beribadah, hati kita diarahkan kepada lagu baru yang dinyanyikan oleh umat tebusan bagi Anak Domba.

Sebab pada akhirnya, semua negara dunia akan berlalu. Semua bendera akan diturunkan. Semua lagu kebangsaan akan berhenti dinyanyikan. Batas-batas negara akan kehilangan maknanya. Tetapi Kerajaan Kristus tidak akan berakhir.

Itulah sebabnya Paulus berkata bahwa kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Pengharapan kita bukan terutama pada masa depan Indonesia, Amerika, Tiongkok, Australia, atau bangsa mana pun. Pengharapan kita adalah kedatangan Kristus dan penyempurnaan Kerajaan-Nya.

Maka ketika kita memasuki gereja, marilah kita meninggalkan sejenak segala identitas duniawi yang dapat memisahkan kita. Kita datang sebagai satu umat, satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, dan satu pengharapan.

Setiap orang adalah warga suatu negara di bumi, tetapi sebagai umat Kristen kita semuanya adalah warga Kerajaan Allah.

Dan kewargaan surgawi itulah yang seharusnya menjadi identitas kita yang terutama.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena melalui anugerah-Mu kami telah menjadi warga Kerajaan Allah. Tolong kami menghormati bangsa dan pemerintah kami dengan benar, tanpa memberikan kepada negara tempat yang hanya layak bagi-Mu. Ketika kami beribadah, arahkan hati kami hanya kepada-Mu. Kiranya kami hidup sebagai warga dunia yang baik, tetapi terutama sebagai warga surgawi yang setia kepada Kristus. Amin.

Memilih dengan Tanggung Jawab

“Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna.”
— 1 Korintus 10:23

Ada banyak keputusan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak secara langsung diatur oleh Alkitab. Alkitab tidak mengatakan kita harus memilih teh atau kopi, tinggal di rumah seperti apa, membeli mobil merek apa, mengenakan pakaian model tertentu, memilih pekerjaan atau karier tertentu, atau mengisi waktu luang dengan kegiatan yang mana. Dalam tradisi Kristen, hal-hal seperti ini sering disebut adiaphora—hal-hal yang tidak diperintahkan ataupun dilarang secara khusus oleh Alkitab.

Pada titik ini kita sering berpikir, “Kalau boleh, berarti saya bebas memilih apa saja yang saya sukai.” Memang kita bebas. Tetapi kebebasan Kristen bukan berarti kita bebas dari tanggung jawab.

Paulus berkata, “Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna.” Perhatikan bahwa Paulus tidak berhenti pada pertanyaan, “Bolehkah?” Ia membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah ini berguna?” Sesuatu dapat diperbolehkan, tetapi belum tentu merupakan pilihan yang bijaksana.

Masalahnya, kita sering menggunakan kebebasan untuk memaksimalkan kenyamanan diri. Kalau dua pilihan sama-sama boleh, kita memilih yang paling enak, paling mudah, paling nyaman, paling menguntungkan, atau paling menyenangkan saat ini. Tidak ada yang salah dengan menikmati kenyamanan yang Tuhan berikan. Allah tidak memanggil kita untuk hidup sengsara hanya supaya terlihat rohani.

Namun, kenyamanan bukanlah kompas utama kehidupan Kristen.

Hal yang sama berlaku ketika kita memilih karier. Alkitab tidak menetapkan bahwa seorang Kristen harus menjadi insinyur, dokter, guru, pengusaha, pegawai negeri, atau profesi tertentu. Banyak pilihan karier secara moral sama-sama sah.

Karena itu, kita dapat tergoda memilih karier terutama berdasarkan gaji tertinggi, jabatan paling bergengsi, keamanan finansial, atau status sosial yang paling membanggakan. Semua pertimbangan tersebut tidak otomatis salah. Gaji yang baik dapat menjadi berkat, pekerjaan yang bergengsi tidak dengan sendirinya berdosa, dan mencari keamanan bagi keluarga adalah tanggung jawab yang baik.

Tetapi seorang Kristen perlu bertanya lebih jauh: “Apakah pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan? Apakah saya dapat melakukannya dengan integritas? Apakah pekerjaan ini memungkinkan saya memenuhi tanggung jawab kepada keluarga? Apakah lingkungan kerjanya akan menolong atau justru terus-menerus menarik saya menjauh dari Kristus? Dan melalui pekerjaan ini, apakah saya dapat melayani sesama dan memuliakan Tuhan?”

Karier bukan hanya sarana untuk mendapatkan penghasilan. Pekerjaan juga merupakan salah satu cara kita menjalankan panggilan hidup dan menggunakan talenta yang Tuhan percayakan.

Ada kalanya seseorang memilih pekerjaan yang lebih sederhana tetapi lebih sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya. Ada pula yang memilih pekerjaan yang lebih menuntut karena kesempatan untuk menggunakan karunia yang Tuhan berikan lebih besar. Tidak ada satu jawaban yang berlaku bagi semua orang. Yang penting adalah motivasi dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.

Demikian pula dalam memilih pasangan hidup. Seseorang mungkin tergoda memilih orang yang paling membuat dirinya bangga di hadapan keluarga dan masyarakat—karena pendidikan, penampilan, kekayaan, keluarga, atau statusnya. Semua kualitas tersebut dapat menjadi pertimbangan yang wajar, tetapi pasangan hidup bukanlah trofi untuk meningkatkan citra diri.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah kami dapat berjalan bersama dalam iman, saling mengasihi, saling melayani, dan bersama-sama bertumbuh dalam Kristus?”

Kita juga dapat melakukan hal yang sama dalam memilih gereja, rumah, kendaraan, pendidikan, rekreasi, dan berbagai hal lainnya. Kita bisa memilih sesuatu karena memang berguna dan sesuai kebutuhan. Tetapi kita juga bisa memilihnya karena ingin masuk dalam “kelompok orang berhasil”.

Di sinilah ego dapat bersembunyi bahkan di balik perkara yang sah.

Karena itu, ketika menghadapi keputusan adiaphora, kita tidak cukup bertanya, “Apakah ini boleh?” Kita perlu bertanya, “Apakah ini berguna? Apakah ini membangun? Apakah hati nurani saya damai? Apakah keputusan ini bijaksana? Dan yang paling penting, apakah pilihan ini memuliakan Tuhan?”

Paulus memberikan prinsip yang lebih luas:

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
— 1 Korintus 10:31

Perhatikan kata “sesuatu yang lain.” Artinya, bahkan keputusan-keputusan kecil yang tampaknya tidak rohani tetap berada di bawah pemerintahan Tuhan. Memilih makanan, kendaraan, rumah, pekerjaan, karier, rekreasi, atau cara menggunakan uang bukan sekadar persoalan selera. Kita tetap dipanggil menggunakan hikmat sebagai orang yang telah menerima anugerah Tuhan.

Namun kita juga harus berhati-hati agar tidak menggantikan kebebasan dengan legalisme. Tidak semua keputusan mempunyai satu jawaban yang Tuhan tetapkan secara khusus. Dua orang Kristen yang sama-sama mengasihi Tuhan dapat memilih secara berbeda dalam perkara adiaphora, dan keduanya dapat memiliki hati nurani yang bersih.

Roma 14:5 berkata:

“Hendaklah tiap-tiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.”

Jadi kedewasaan Kristen bukanlah kemampuan menemukan larangan untuk setiap hal. Kedewasaan adalah kemampuan menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab.

Kita tidak perlu selalu bertanya, “Apa yang paling saya inginkan?” Kita juga tidak harus selalu memilih apa yang paling sulit. Pertanyaan yang lebih baik adalah:

“Dari pilihan-pilihan yang diperbolehkan, mana yang paling bijaksana, paling membangun, dan paling sesuai dengan panggilan saya untuk hidup bagi Kristus?”

Kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan untuk selalu mendapatkan apa yang kita mau. Kebebasan sejati adalah ketika kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan kita sendiri.

Kita bebas memilih, tetapi kita memilih sebagai milik Kristus.

Dan ketika suatu hari kita menyadari bahwa pilihan kita ternyata kurang bijaksana, kita pun tidak perlu tenggelam dalam penyesalan. Kita dapat belajar, bertobat bila diperlukan, memperbaiki arah, dan kembali berjalan bersama Tuhan.

Sebab dalam perkara adiaphora, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita pilih, tetapi juga hati yang memilihnya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menggunakan kebebasan yang Engkau berikan dengan penuh tanggung jawab. Jangan biarkan kenyamanan, gengsi, kesenangan, uang, atau keinginan untuk membanggakan diri menjadi alasan utama dalam mengambil keputusan. Berikan kami hikmat untuk membedakan apa yang sekadar boleh dari apa yang sungguh berguna dan membangun.

Ketika kami memilih gereja, karier, pasangan hidup, rumah, kendaraan, pendidikan, pekerjaan, maupun hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, tolong kami untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat pertimbangan. Ajarlah kami melihat segala sesuatu sebagai kesempatan untuk menggunakan karunia-Mu, melayani sesama, dan memuliakan nama-Mu.

Biarlah dalam setiap pilihan, besar maupun kecil, kami tetap mengingat bahwa hidup kami adalah milik-Mu.

Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Iman yang Benar bukan Iman Prasmanan

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” — Matius 16:24

Ada jenis iman yang semakin populer tanpa kita sadari: iman yang mengambil apa yang menyenangkan, tetapi meninggalkan apa yang menuntut. Iman semacam ini dapat disebut “iman prasmanan.” Seperti seseorang yang datang ke meja prasmanan, ia memilih makanan yang disukainya dan melewati yang tidak disukainya. Dalam kehidupan rohani pun demikian: mengambil kasih Tuhan, berkat, penghiburan, damai sejahtera, dan kehidupan kekal, tetapi menolak pertobatan, penyangkalan diri, kekudusan, ketaatan, dan salib.

Inilah salah satu wajah Moralistic Therapeutic Deism (MTD), atau Deisme Terapeutik Moralistik. Secara sederhana, ia dapat diringkas dalam gagasan: “Yang penting saya menjadi orang baik, Tuhan membuat saya nyaman, dan Tuhan menolong saya ketika saya membutuhkan-Nya.” Kedengarannya religius, bahkan mungkin sangat saleh. Tetapi di dalamnya terdapat persoalan mendasar: manusia tetap menjadi pusat, sementara Tuhan ditempatkan sebagai penolong yang mendukung kehidupan yang kita inginkan.

Kita tentu tidak boleh meremehkan hidup yang bermoral. Alkitab justru memanggil kita untuk hidup kudus dan mengasihi sesama. Tetapi menjadi orang baik tidak sama dengan diselamatkan. Seseorang dapat memiliki moralitas yang baik tetapi belum pernah bertobat dan percaya kepada Kristus.

Masalah lainnya adalah ketika Tuhan hanya dicari untuk memberikan kenyamanan. Tuhan menjadi seperti “ketuhanan yang Maha Penolong Saat Butuh Saja.” Ketika menghadapi masalah, kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Setelah masalah selesai, kita kembali menjalani hidup seolah-olah Tuhan tidak memiliki hak atas keputusan kita.

Namun Yesus memberikan panggilan yang jauh lebih dalam. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Perhatikan kata “setiap orang.” Ini bukan panggilan khusus bagi pendeta, misionaris, atau orang Kristen yang sangat rohani. Setiap orang yang mau mengikut Kristus dipanggil untuk menyangkal diri.

Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri. Artinya, kita berhenti menempatkan diri sebagai pusat kehidupan. Keinginan saya tidak lagi menjadi ukuran tertinggi. Kenyamanan saya bukan lagi tujuan utama. Saya mulai bertanya: “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki?”

Kemudian Yesus berkata, “memikul salibnya.” Salib bukan sekadar simbol indah yang kita pasang di gereja atau kalung yang kita kenakan. Salib berbicara tentang pengorbanan, ketaatan, dan kesediaan membayar harga karena mengikut Kristus.

Tentu saja, kita tidak diselamatkan karena mampu memikul salib dengan sempurna. Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus. Tetapi kasih karunia yang menyelamatkan tidak membuat kita semakin nyaman hidup dalam dosa. Kasih karunia mengubah hati sehingga kita rindu mengikuti Dia.

Karena itu, iman Kristen bukanlah memilih bagian-bagian Injil yang kita sukai. Kita tidak dapat berkata, “Saya mau Yesus sebagai Penghibur, tetapi bukan sebagai Tuhan. Saya mau pengampunan, tetapi tidak mau pertobatan. Saya mau berkat, tetapi tidak mau ketaatan. Saya mau mahkota, tetapi tidak mau salib.”

Kristus tidak menawarkan iman prasmanan.

Ia memanggil kita untuk mengikut Dia.

Dan anehnya, justru ketika kita berhenti menjadikan kenyamanan diri sebagai pusat kehidupan, kita menemukan sukacita yang lebih dalam. Sebab tujuan akhir iman bukanlah membuat kita nyaman, melainkan membawa kita kembali kepada Allah.

Iman yang benar bukan berkata, “Tuhan, berikanlah apa yang saya inginkan.”

Iman yang benar berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu dalam hidup saya.” Di situlah iman bertumbuh dari sekadar agama menjadi hubungan yang nyata dengan Kristus.

Biarlah kita berubah dari manusia yang memilih milih firman Tuhan sesuai kenyamanan kita, dan menjadi manusia yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu menyerahkan diri-Nya bagi kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ampunilah kami apabila selama ini kami hanya mengambil bagian-bagian iman yang menyenangkan hati kami. Ajarlah kami untuk sungguh-sungguh bertobat, menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Engkau. Biarlah kasih karunia-Mu tidak hanya menghibur kami, tetapi juga mengubah kami. Jadikan hidup kami bukan berpusat pada kenyamanan diri, melainkan pada kehendak dan kemuliaan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Perdamaian yang Dimulai dari Satu Pihak

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
— ‭‭Kolose‬ ‭3‬:‭13‬‬

Ada sebuah kenyataan yang sering kita lupakan dalam kehidupan rumah tangga: dua orang yang saling mengasihi pun dapat saling melukai. Justru karena hidup begitu dekat, kata-kata yang sederhana dapat terasa sangat tajam, sikap yang tampaknya kecil dapat meninggalkan luka, dan kesalahan yang sebenarnya sudah lama berlalu dapat kembali muncul setiap kali terjadi pertengkaran.

Awalnya mungkin hanya kemarahan. Tetapi kemarahan yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kepahitan. Kepahitan yang dipelihara dapat berkembang menjadi kebencian. Akhirnya, seseorang tidak lagi hanya marah terhadap apa yang dilakukan pasangannya, tetapi mulai membenci pribadi pasangannya.

Yang lebih menyedihkan, kepahitan sering kali tidak terlihat. Seseorang masih dapat tersenyum, tetap menjalankan kewajibannya, tetap pergi ke gereja, bahkan tetap berdoa bersama. Namun di dalam hati ada sebuah luka yang terus dipelihara.

Paulus berkata, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan, “Ampunilah jika orang itu terlebih dahulu meminta maaf.” Ia juga tidak berkata, “Bersikaplah baik jika pasanganmu sudah berubah.” Dasarnya jauh lebih dalam: “Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu.”

Memang perdamaian sejati dimulai dari inisiatif Allah sendiri. Melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, Allah mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri-Nya tanpa menunggu manusia meminta atau memulainya terlebih dahulu. Allah bergerak lebih dulu mengasihi manusia saat manusia masih hidup dalam pemberontakan dan dosa. Itulah sebabnya perdamaian orang Kristen sering kali dimulai dari satu pihak.

Bayangkan seorang suami dan istri sedang berselisih. Keduanya merasa dirinya benar. Keduanya menunggu yang lain meminta maaf. Keduanya berkata dalam hati, “Mengapa saya yang harus mulai?” Akibatnya, rumah menjadi dingin. Tidak ada yang benar-benar berbicara, tetapi keduanya menyimpan luka.

Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari kita berhenti. Saya tidak mau terus hidup dalam kemarahan. Mungkin saya juga mempunyai kesalahan. Saya ingin kita berdamai.”

Apakah itu berarti dia mengakui bahwa dirinya sepenuhnya salah? Tidak.

Apakah itu berarti kesalahan pasangannya menjadi benar? Tidak.

Apakah itu berarti semua konsekuensi harus dihapus? Tidak selalu.

Tetapi seseorang telah memilih untuk memutus rantai permusuhan.

Inilah kekuatan kerendahan hati. Perdamaian tidak selalu dimulai ketika kedua pihak sudah sepakat. Dalam konsep Kristen, perdamaian bisa dimulai ketika satu orang memilih untuk berhenti menghitung kesalahan, berhenti menunggu pihak lain bergerak, dan kemudian mengambil langkah pertama.

Tentu, pengampunan bukan berarti membiarkan perilaku yang salah terus berlangsung. Dalam rumah tangga, kasih juga membutuhkan kebenaran. Ada kalanya diperlukan percakapan yang serius, pertobatan, batasan yang sehat, bahkan bantuan dari orang lain. Tetapi semua itu dapat dilakukan tanpa menyimpan kebencian di dalam hati.

Kita perlu membedakan antara mengingat dan menyimpan dendam. Kita mungkin tidak dapat melupakan suatu peristiwa. Tetapi kita dapat menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan. Kita dapat berkata, “Tuhan, Engkau mengetahui apa yang terjadi. Aku tidak mau luka ini menguasai hatiku.”

Bukankah demikian pula cara Tuhan memperlakukan kita?

Kita datang kepada-Nya bukan sebagai orang yang tidak pernah bersalah. Kita datang membawa dosa, kegagalan, dan ketidaktaatan. Namun di dalam Kristus kita menerima pengampunan yang tidak layak kita terima.

Karena itu, ketika kita sulit mengampuni pasangan, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apakah dia pantas saya ampuni?” tetapi, “Apakah saya sungguh menyadari betapa besar pengampunan yang telah saya terima dari Tuhan?”

Kolose 3:13 mengarahkan mata kita kepada Kristus. Kita mengampuni bukan karena pasangan selalu layak menerima pengampunan, tetapi karena kita sendiri hidup setiap hari dari pengampunan Allah.

Mungkin hari ini hubungan Anda dengan seseorang sedang dingin. Jangan menunggu perasaan menjadi sempurna. Jangan menunggu pihak lain mengambil langkah pertama. Jika memungkinkan dan bijaksana, jadilah orang yang memulai.

Satu kata, “Maafkan saya.”

Satu kalimat, “Mari kita bicara.”

Satu doa, “Tuhan, lembutkan hati kami.”

Satu langkah kecil dapat menjadi awal dari sebuah perdamaian besar.

Sebab kadang-kadang Tuhan tidak menunggu dua orang untuk memulai perdamaian. Dia memakai satu orang yang bersedia merendahkan diri untuk menjadi awalnya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami. Jauhkan hati kami dari kemarahan, kepahitan, dan dendam. Berikan kami kerendahan hati untuk mengambil langkah pertama menuju perdamaian, sekalipun kami merasa pihak lain yang seharusnya memulainya. Berikan hikmat untuk membedakan antara mengampuni dan membiarkan kesalahan, serta keberanian untuk mencari kebenaran dalam kasih. Pulihkanlah hubungan kami dan jadikan rumah kami tempat kasih karunia-Mu nyata. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Berterima kasih kepada siapa?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”
— Yakobus 1:17

Pernahkah kita menerima pertolongan seseorang dan dengan spontan berkata, “Terima kasih”? Tentu saja. Ketika seseorang membantu kita, memberikan sesuatu, atau hadir pada saat kita membutuhkan, ucapan terima kasih adalah respons yang wajar. Kita harus menghargai orang yang telah berbuat baik kepada kita. Dan setiap orang tua selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk bersikap demikian.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Sesungguhnya, kepada siapa saya harus berterima kasih?”

Pertanyaan ini membawa kita lebih dalam daripada sekadar sopan santun. Ada perbedaan antara mengetahui siapa yang menjadi perantara kebaikan dan mengetahui dari mana kebaikan itu pada akhirnya berasal.

Bayangkan seseorang sedang sakit. Kemudian seorang dokter memberikan pengobatan yang tepat dan akhirnya ia sembuh. Tentu kita harus berterima kasih kepada dokter. Dokter telah belajar bertahun-tahun, menggunakan pengetahuan dan keterampilannya, lalu memberikan pertolongan. Mengabaikan jasa dokter dengan berkata, “Bukan dokter yang menyembuhkan saya, tetapi Tuhan,” bukanlah sikap yang tepat.

Namun iman membawa kita melihat lebih jauh.

Siapa yang memberikan dokter itu kecerdasan? Siapa yang memberikan kemampuan untuk belajar? Siapa yang memungkinkan obat ditemukan? Siapa yang memberikan kesempatan, sumber daya, bahkan kehidupan itu sendiri?

Di sinilah kita melihat perbedaan antara secondary cause, penyebab sekunder, dan Primary Cause, Penyebab Utama. Manusia dapat menjadi alat yang dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Kita melihat tangan manusia, tetapi iman mengajak kita melihat tangan Allah di baliknya.

Mungkin jarang orang tua yang mengajarkan hal ini kepada anak-anak mereka. Mungkin itulah sebabnya manusia sering kurang bersyukur kepada Tuhan. Kita cenderung melihat apa yang langsung ada di depan mata. Kita melihat orang tua yang berkorban, pasangan yang setia, anak yang membantu, sahabat yang datang, dokter yang merawat, atau seseorang yang memberikan pekerjaan. Kita mengucapkan, “Terima kasih,” lalu berhenti di sana.

Padahal Yakobus berkata, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas.”

Ini bukan berarti kita tidak perlu berterima kasih kepada manusia. Justru kita harus melakukannya. Alkitab tidak mengajarkan kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama. Paulus sendiri berkali-kali menghargai orang-orang yang telah menolong dan melayani dirinya.

Tetapi orang percaya tidak berhenti pada alatnya. Ia melihat kepada Sang Pemberi.

Kita dapat berkata kepada seorang sahabat, “Terima kasih karena telah menolong saya.” Tetapi dalam hati kita berkata kepada Tuhan, “Bapa, terima kasih karena Engkau menggerakkan hati sahabat saya untuk menolong saya.”

Kita berterima kasih kepada dokter, tetapi bersyukur kepada Tuhan yang memberikan hikmat dan kemampuan kepadanya.

Kita berterima kasih kepada anak-anak kita yang memperhatikan kita, tetapi bersyukur kepada Tuhan yang menumbuhkan kasih dalam hati mereka.

Kita berterima kasih kepada seseorang yang memberikan kesempatan, tetapi memuliakan Tuhan yang membuka pintu tersebut.

Inilah salah satu keindahan Soli Deo Gloria—kemuliaan hanya bagi Allah. Kita menghargai manusia, tetapi kita tidak berhenti pada manusia. Kita menikmati pemberian, tetapi kita mencari Sang Pemberi. Kita menghormati alat yang dipakai Allah, tetapi kemuliaan terakhir kita kembalikan kepada Allah.

Karena itu, mungkin kalimat yang paling tepat bukanlah, “Berterima kasih kepada Tuhan atau kepada manusia?”

Melainkan:

“Berterima kasih kepada manusia, tetapi bersyukur kepada Tuhan.”

Manusia adalah perantara. Allah adalah sumber.

Dan semakin kita menyadari hal ini, semakin banyak alasan yang kita temukan untuk bersyukur. Bahkan pertolongan yang tampaknya sangat biasa—sebuah telepon, sebuah senyuman, sebuah nasihat, sebuah tangan yang terulur—dapat menjadi pengingat bahwa Bapa kita tetap bekerja melalui orang-orang yang ditempatkan-Nya di sekitar kita.

Hari ini, jangan hanya melihat berkatnya. Jangan hanya melihat orang yang menjadi perantaranya. Lihatlah tangan Allah di balik semuanya.

Sebab setiap pemberian yang baik datangnya dari atas.

Doa Penutup

Bapa di surga, kami bersyukur untuk setiap kebaikan yang kami terima. Ampunilah kami apabila sering hanya melihat manusia sebagai sumber pertolongan dan lupa melihat tangan-Mu di balik semuanya. Ajarlah kami menghargai setiap orang yang Engkau pakai sebagai alat kebaikan-Mu, sambil tetap mengembalikan segala kemuliaan kepada-Mu. Kiranya dalam setiap berkat kami melihat kasih-Mu, dan dalam setiap pertolongan kami berkata, “Terima kasih, Tuhan.” Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tuhan Lebih Tahu

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
— Amsal 3:5

Ada sebuah pengakuan iman yang sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam: Tuhan lebih tahu tentang saya daripada saya sendiri.

Kita sering merasa mengenal diri kita dengan baik. Kita tahu apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, apa yang kita rencanakan, dan apa yang menurut kita paling baik bagi kehidupan kita. Kita membuat pilihan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan pertimbangan kita. Itu semua baik. Tuhan memberikan akal budi supaya kita menggunakannya.

Namun, masalah muncul ketika kita mulai menganggap pengertian kita sebagai ukuran terakhir dari kebenaran. Kita berpikir, “Saya tahu apa yang terbaik bagi saya.” Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan, sementara Tuhan melihat seluruhnya—masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Itulah sebabnya Amsal 3:5 berkata, “Janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Perhatikan, ayat ini tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan pengertian. Kita tetap harus berpikir, mempertimbangkan, merencanakan, dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Tetapi kita tidak boleh bersandar sepenuhnya kepada pengertian kita sendiri.

Ada perbedaan antara menggunakan pengertian dan bersandar kepadanya.

Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi kita tidak dapat melihat masa depan. Kita dapat memilih jalan yang menurut kita benar, tetapi kita tidak mengetahui seluruh konsekuensinya. Kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh untuk sesuatu, tetapi kita tidak selalu mengetahui apakah sesuatu itu benar-benar baik bagi kita.

Betapa seringnya kita baru memahami hal itu setelah waktu berlalu.

Ada pintu yang dahulu kita kecewa karena Tuhan tutup, tetapi kemudian kita bersyukur bahwa pintu itu tidak pernah terbuka. Ada rencana yang gagal dan membuat kita bertanya-tanya, tetapi beberapa tahun kemudian kita melihat bahwa kegagalan itu justru menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui. Ada kehilangan yang dahulu terasa seperti akhir segalanya, tetapi ternyata Tuhan menggunakannya untuk membawa kita ke arah yang baru.

Kita melihat satu potongan kecil dari gambar kehidupan. Tuhan melihat seluruh gambar.

Karena itu, iman tidak berarti bahwa kita selalu memahami apa yang Tuhan lakukan. Iman berarti kita mempercayai Dia ketika kita tidak memahami-Nya.

Kepercayaan ini juga mengubah cara kita melihat diri sendiri. Dunia sering mengajarkan kita untuk menentukan nilai diri berdasarkan keberhasilan, kekayaan, kesehatan, penampilan, usia, jabatan, atau penilaian orang lain. Bahkan perasaan kita sendiri dapat berubah-ubah. Hari ini kita merasa berharga; besok kita merasa gagal.

Tetapi Tuhan tidak menentukan nilai kita berdasarkan ukuran-ukuran tersebut. Di dalam Kristus, identitas kita tidak bergantung pada apa yang berhasil kita capai, melainkan pada kasih karunia Allah yang telah menerima kita. Kita adalah pendosa yang diselamatkan hanya melalui karunia Tuhan. Karena itu, kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa diri kita berharga.

Dan ketika rencana kita gagal, kita pun tidak perlu segera menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Mungkin rencana kita gagal, tetapi rencana Tuhan tidak pernah gagal. Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Tentu, ini bukan berarti semua yang terjadi menyenangkan. Ada penderitaan yang benar-benar menyakitkan. Ada doa yang belum dijawab. Ada jalan yang penuh tanda tanya. Tetapi di tengah semuanya itu kita dapat berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya percaya Engkau lebih tahu.”

Bukankah itu juga yang kita lihat di Getsemani? Tuhan Yesus sendiri berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42)

Maka kita boleh membuat rencana, tetapi jangan menjadikan rencana kita sebagai sumber damai sejahtera. Kita boleh mempunyai keinginan, tetapi jangan memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita. Kita boleh bekerja keras, tetapi akhirnya kita menyerahkan hasilnya kepada Dia.

Sebab kita tidak harus mengetahui semuanya, karena kita mengenal Dia yang mengetahui semuanya.

Mungkin inilah salah satu tanda kedewasaan rohani: bukan semakin yakin bahwa kita tahu segala sesuatu, melainkan semakin rela berkata, “Tuhan, Engkau lebih tahu.”

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mempercayai-Mu dengan segenap hati. Ampunilah kami ketika kami terlalu bersandar pada pengertian sendiri dan merasa mengetahui apa yang terbaik bagi hidup kami. Berikan kami kerendahan hati untuk mengikuti pimpinan-Mu, ketenangan ketika rencana kami gagal, dan iman untuk percaya bahwa Engkau tetap bekerja bahkan ketika kami tidak mengerti. Tolong kami mengingat bahwa kami tidak harus mengetahui semuanya, karena Engkau mengetahui semuanya. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Hidup adalah Kristus, Mati adalah Keuntungan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
— Filipi 1:21

Ada sesuatu yang berubah dalam cara manusia memandang kematian. Dahulu, ketika seseorang berhenti bernapas dan jantungnya berhenti berdetak, kematian hampir tidak mungkin disalahartikan. Tetapi kemajuan teknologi medis telah membuat keadaan menjadi jauh lebih kompleks. Ventilator dapat mempertahankan pernapasan, obat-obatan dapat mempertahankan tekanan darah, dan berbagai teknologi dapat membuat organ-organ tubuh tetap berfungsi meskipun kerusakan yang sangat berat telah terjadi.

Akibatnya, kita dipaksa bertanya: Apakah hidup hanya berarti tubuh masih berfungsi?

Pertanyaan itu membawa kita kepada perkataan Yesus: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Yesus tidak sedang berbicara hanya tentang denyut jantung atau kemampuan bernapas. Ia berbicara tentang kehidupan manusia dalam arti yang jauh lebih dalam—tentang diri kita, jiwa kita, dan hubungan kita dengan Allah.

Teknologi dapat memperpanjang kehidupan biologis, tetapi teknologi tidak dapat memberikan makna kepada kehidupan.

Kita mungkin dapat hidup lebih lama, tetapi untuk apa? Kita dapat memiliki kekayaan lebih banyak, tetapi untuk apa? Kita dapat memperoleh pendidikan, jabatan, rumah, kendaraan, bahkan seluruh penghargaan dunia, tetapi semuanya tidak dapat ditukar dengan kehidupan yang sejati.

Paulus memahami hal ini dengan sangat jelas ketika ia berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.”

Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata, “Bagiku hidup adalah kesehatan.” Ia juga tidak berkata, “Bagiku hidup adalah kekayaan,” “keluarga,” “karier,” atau “kenyamanan.” Semua itu dapat menjadi berkat Tuhan, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan.

“Hidup adalah Kristus.”

Artinya, Kristus bukan sekadar bagian dari kehidupan kita. Kristus adalah pusatnya. Kita bekerja untuk Kristus. Kita melayani keluarga untuk Kristus. Kita menikmati kesehatan dan berkat untuk Kristus. Bahkan ketika tubuh mulai melemah karena usia, hidup kita tetap mempunyai tujuan karena Kristus tetap ada.

Lalu Paulus melanjutkan, “mati adalah keuntungan.”

Bagaimana mungkin kematian disebut keuntungan?

Bukan karena kematian itu sendiri indah. Kematian tetap merupakan musuh terakhir manusia. Tetapi bagi orang yang ada di dalam Kristus, kematian bukan lagi akhir yang mengerikan. Kematian membawa kita kepada hadirat Kristus.

Karena itu, bagi orang percaya, ada penghiburan yang luar biasa: selama hidup, kita memiliki Kristus; ketika mati, kita tetap memiliki Kristus.

Kita boleh menggunakan teknologi medis. Kita boleh berusaha mempertahankan kehidupan. Kita boleh berdoa bagi kesembuhan. Tetapi kita tidak perlu menjadikan perpanjangan hidup sebagai tujuan tertinggi. Sebab yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan untuk siapa kita hidup.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah, “Berapa lama saya masih dapat hidup?” tetapi:

“Apakah selama saya hidup, Kristus menjadi pusat kehidupan saya?”

Sebab teknologi mungkin dapat menunda kematian, tetapi hanya Kristus yang memberikan kehidupan kekal.

Dan karena itu kita dapat berkata bersama Paulus:

Jika Tuhan masih memberikan saya hidup, saya mau hidup bagi Kristus. Jika suatu hari Tuhan memanggil saya pulang, saya tidak kehilangan Kristus. Saya pergi kepada Kristus.

Itulah sebabnya bagi orang percaya, hidup memiliki tujuan dan kematian memiliki pengharapan.

Hidup adalah Kristus. Mati adalah keuntungan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih untuk kehidupan yang Engkau berikan kepada kami. Ajarlah kami menggunakan sisa hidup kami bukan terutama untuk mengejar kenikmatan dunia, melainkan untuk hidup bagi-Mu. Ketika kami menghadapi kelemahan, usia tua, sakit penyakit, dan akhirnya kematian, berikanlah kami iman dan damai sejahtera. Tolong kami mengingat bahwa hidup kami ada di dalam tangan-Mu dan bahwa kematian tidak dapat memisahkan kami dari kasih-Mu. Kiranya selama kami hidup, Kristus menjadi pusat kehidupan kami, dan ketika tiba saatnya kami meninggalkan dunia ini, kami boleh pergi dengan pengharapan bahwa kami akan bersama-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Haruskah Kita Selalu Mengungkapkan Apa yang Sebenarnya?

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
— Matius 5:37

Ayat di atas kelihatannya mudah dimengerti, tapi tidak mudah menerapkannya. Sehubungan dengan itu, ada pertanyaan untuk kita:

“Haruskah kita selalu mengatakan apa yang sebenarnya?”

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berada dalam situasi ketika mengatakan seluruh kebenaran justru terasa tidak bijaksana. Ada pertanyaan yang terlalu pribadi, ada masa lalu yang tidak perlu dibongkar kembali, ada informasi yang tidak relevan, dan ada keadaan ketika kita perlu menjaga perasaan orang lain.

Lalu, apakah kita harus selalu mengatakan semuanya?

Saya kira jawabannya: tidak.

Tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa kita boleh berbohong.

Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” Dalam konteks Khotbah di Bukit, Yesus sedang menekankan integritas. Perkataan kita seharusnya dapat dipercaya. Kita tidak perlu bersumpah demi meyakinkan orang lain bahwa perkataan kita benar. “Ya” kita harus benar-benar berarti ya, dan “tidak” benar-benar berarti tidak.

Namun, menjadi orang yang jujur tidak berarti kita harus menjadi buku terbuka bagi semua orang.

Ketika seseorang menanyakan sesuatu yang sangat pribadi, kita boleh berkata, “Saya lebih memilih untuk tidak membicarakannya.” Itu bukan kebohongan. Ketika pasangan bertanya tentang sesuatu yang sangat sensitif dari masa lalu, mungkin tidak semua detail perlu diceritakan, terutama jika hal tersebut sudah selesai dan tidak mempunyai konsekuensi terhadap kehidupan pernikahan sekarang. Tetapi jika masa lalu itu masih mempunyai dampak nyata—misalnya utang, anak, hubungan yang masih berlangsung, atau kewajiban tertentu—menyembunyikannya tentu berbeda. Pasangan mempunyai hak untuk mengetahuinya.

Demikian pula dalam pekerjaan.

Membuat resume bukan berarti menuliskan seluruh sejarah hidup kita. Kita memilih pengalaman yang relevan, menonjolkan pencapaian, dan menyusun kata-kata secara persuasif. Itu bukan kebohongan selama kita tidak menciptakan kesan yang palsu. “Memoles” penyajian tidak boleh berubah menjadi memalsukan kenyataan.

Dalam politik, batas ini bahkan lebih sulit. Seorang politisi tentu boleh menyampaikan visi, menekankan keberhasilan, dan memilih argumen yang mendukung kebijakannya. Tetapi ketika fakta sengaja diputarbalikkan, statistik dipalsukan, atau janji dibuat dengan sengaja untuk menipu pemilih, kita telah melewati batas.

Masalahnya adalah manusia sering merasa bahwa tanpa sedikit kebohongan, kita tidak akan berhasil.

Kita mungkin berpikir, “Kalau saya mengatakan semuanya apa adanya, saya tidak akan mendapatkan pekerjaan.” Atau, “Kalau saya mengakui kesalahan, karier saya akan rusak.” Atau, “Kalau saya mengatakan kebenaran dalam politik, saya tidak akan menang.”

Di sinilah iman kita diuji.

Apakah keberhasilan merupakan pembenaran bagi ketidakjujuran?

Alkitab berkata tidak. Paulus bahkan menolak gagasan bahwa kita boleh melakukan yang buruk supaya hasil akhirnya menjadi baik (Roma 3:8). Keberhasilan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran.

Namun demikian, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan “kejujuran” sebagai alasan untuk mengatakan segala sesuatu tanpa hikmat. Ada kebenaran yang benar tetapi tidak perlu kita ceritakan. Ada pertanyaan yang tidak perlu kita jawab. Ada informasi yang bukan hak orang lain untuk mengetahuinya.

Karena itu, mungkin ada prinsip sederhana yang dapat menolong kita:

Kita tidak harus mengungkapkan segala sesuatu, tetapi apa yang kita katakan haruslah benar.

Kita boleh menjaga privasi tanpa berdusta. Kita boleh memilih kata-kata yang baik tanpa memanipulasi. Kita boleh tidak menjawab pertanyaan tertentu tanpa menciptakan cerita palsu atau kesan yang menipu orang lain.

Dan ketika kita sendiri tidak tahu atau tidak mampu untuk menjawab bagaimana, kita dapat berkata dengan jujur, “Saya belum siap membicarakan hal itu,” atau, “Saya tidak tahu.” Bahkan pengakuan bahwa kita tidak tahu atau tidak mampu adalah sebuah bentuk kejujuran.

Lebih jauh lagi, pertanyaan-pertanyaan yang sulit kadang membawa kita kepada Tuhan. Ketika kita tidak mampu menjelaskan diri kita sendiri, kita diingatkan bahwa Tuhan mengetahui seluruh kebenaran tentang kita. Kita mungkin dapat menyembunyikan sesuatu dari manusia, tetapi tidak dari Dia.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,” doa pemazmur (Mazmur 139:23).

Maka hidup dalam kebenaran bukan berarti hidup tanpa privasi. Bukan pula berarti mengatakan semua yang ada dalam pikiran kita. Hidup dalam kebenaran berarti tidak membangun kehidupan kita di atas kepalsuan.

Pada akhirnya, kita mungkin kehilangan suatu kesempatan karena memilih jujur. Kita mungkin kalah dalam persaingan. Kita mungkin dianggap terlalu polos. Tetapi kita dapat tidur dengan hati yang tenang karena tidak perlu mengingat kebohongan apa yang harus kita pertahankan.

Sebab bagi orang percaya, kejujuran bukan sekadar strategi untuk berhasil. Kejujuran adalah bagian dari karakter Kristus yang ingin dibentuk dalam diri kita.

Kita tidak hidup terutama di hadapan manusia yang menilai kita, melainkan di hadapan Allah yang mengenal kita sepenuhnya.

Tidak semua hal harus diungkapkan, tetapi apa yang kita ungkapkan harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dan ketika kita harus memilih antara keuntungan dan kebenaran, kiranya kita mempunyai keberanian untuk berkata:

“Tuhan, biarlah saya kehilangan sesuatu karena berkata benar, tetapi jangan biarkan saya kehilangan integritas demi mendapatkannya.”

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami hidup dalam kebenaran dan kasih. Berikan kami hikmat untuk mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan bagaimana menjaga privasi tanpa berdusta. Ampunilah kami ketika kami menggunakan kebohongan untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Bentuklah hati kami agar lebih takut kehilangan integritas di hadapan-Mu daripada kehilangan keuntungan di hadapan manusia. Dalam nama Yesus. Amin.

Bila Nasi Sudah Menjadi Bubur

“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”
— Filipi 3:13

Ada sebuah ungkapan sederhana yang sangat realistis: “Nasi sudah menjadi bubur.” Artinya, sesuatu telah terjadi dan tidak mungkin dikembalikan seperti semula. Kita boleh menyesal, tetapi penyesalan tidak akan mengubah kenyataan.

Dalam hidup, banyak hal yang sudah menjadi “bubur”. Waktu yang telah berlalu tidak dapat diputar kembali. Kesempatan yang terlewat tidak dapat diambil lagi. Uang yang sudah hilang tidak dapat dikembalikan dengan terus meratapinya. Kata-kata yang sudah terucapkan tidak dapat ditarik kembali. Keputusan yang ternyata salah tidak dapat dihapus dari sejarah hidup kita. Bahkan ada hubungan yang telah rusak, orang yang telah meninggalkan kita, kesehatan yang tidak lagi seperti dahulu, dan berbagai keadaan yang berada di luar kendali kita.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Paulus berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”

Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus menghapus ingatan tentang masa lalu. Masa lalu tetap penting karena di sana kita belajar. Kesalahan dapat menjadi guru. Kegagalan dapat menjadi sumber hikmat. Bahkan luka dapat membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Yang harus kita tinggalkan bukanlah pelajarannya, melainkan keterikatan kita kepada masa lalu.

Ada orang yang hidupnya terhenti karena terus berkata, “Seandainya saja…” Seandainya dulu saya memilih yang lain. Seandainya saya tidak melakukan kesalahan itu. Seandainya saya mengambil kesempatan tersebut. Seandainya saya lebih berhati-hati.

Tetapi terlalu lama hidup dalam “seandainya” dapat membuat kita kehilangan kesempatan yang Tuhan berikan sekarang.

Kisah Yudas memberikan peringatan yang menyedihkan. Ia menyesali pengkhianatannya terhadap Yesus. Ia bahkan mengakui bahwa ia telah berdosa. Tetapi penyesalannya tidak membawanya kepada pengharapan dan pemulihan. Ia justru mengambil keputusan yang semakin menghancurkan dirinya.

Di sini kita melihat bahwa penyesalan belum tentu merupakan pertobatan.

Penyesalan berkata, “Saya telah melakukan kesalahan.”

Pertobatan berkata, “Saya telah melakukan kesalahan; Tuhan, ampunilah saya, dan tuntunlah saya untuk berjalan kembali.”

Petrus juga pernah gagal. Ia menyangkal Yesus tiga kali. Tetapi kegagalannya bukan menjadi akhir hidupnya. Ia menangis, dipulihkan oleh Kristus, dan kemudian kembali menjalankan panggilannya.

Perbedaannya bukan karena Petrus tidak pernah gagal, sedangkan Yudas gagal. Keduanya gagal. Tetapi ada perbedaan dalam bagaimana mereka menghadapi kegagalan mereka.

Karena itu, ketika kita menyadari bahwa “nasi telah menjadi bubur”, jangan terus-menerus menangisi beras yang sudah tidak mungkin kembali. Bertanyalah: “Tuhan, apa yang dapat saya pelajari dari semua ini? Dan apa yang masih dapat saya lakukan hari ini?”

Inilah hikmat yang juga tercermin dalam Serenity Prayer: memohon ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat kita ubah, keberanian untuk mengubah apa yang masih dapat kita ubah, dan hikmat untuk membedakan keduanya.

Ada hal-hal yang harus kita terima. Ada hal-hal yang masih dapat kita perbaiki. Dan ada hal-hal yang harus kita serahkan kepada Tuhan.

Masa lalu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk tinggal.

Kita tidak dapat mengubah kemarin, tetapi kita dapat menjalani hari ini. Kita tidak mengetahui seluruh hari esok, tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok.

Kegagalan bukan selalu akhir. Kehilangan bukan selalu kehancuran. Masa lalu bukan selalu penjara.

Selama Tuhan masih memberikan hari ini, masih ada kesempatan untuk bersyukur, memperbaiki yang dapat diperbaiki, meminta maaf, mengampuni, mengasihi, melayani, dan berjalan lebih dekat kepada-Nya.

Karena itu, jangan terus menyesali nasi yang sudah menjadi bubur. Belajarlah dari masa lalu, serahkan yang tidak dapat diubah kepada Tuhan, dan arahkanlah langkah kepada apa yang masih ada di hadapan kita.

Sebab kasih karunia Allah tidak hanya bekerja dalam hidup kita yang sempurna. Kasih karunia juga bekerja di tengah hidup kita yang berantakan.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menerima apa yang tidak dapat kami ubah, memperbaiki apa yang masih dapat kami perbaiki, dan memiliki hikmat untuk membedakan keduanya. Tolong kami untuk tidak terperangkap dalam penyesalan masa lalu, tetapi belajar darinya dan terus berjalan bersama-Mu. Ampunilah kesalahan kami dan berikan kami keberanian untuk menatap hari depan dengan iman dan pengharapan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Anda Pernah Kecewa?

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
— Matius 11:6

Semua orang tentu pernah mengalami kekecewaan. Tetapi, apakah Anda pernah kecewa kepada Tuhan?

Mungkin Anda pernah berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kesembuhan seseorang, tetapi orang itu tetap meninggal. Anda berdoa agar anak Anda berhasil, tetapi justru melihatnya mengalami kegagalan. Anda meminta Tuhan membuka jalan, tetapi pintu-pintu seakan tertutup satu demi satu. Atau mungkin Anda sudah berusaha hidup setia, tetapi masalah demi masalah tetap datang. Bahkan lebih parah lagi, ada orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan mungkin sedang menghukum kita.

Dalam keadaan seperti itu, sangat mudah bagi kita untuk bertanya, “Tuhan, mengapa?” Kita mungkin diam-diam berkata, “Bukankah Engkau tahu penderitaanku? Bukankah Engkau sanggup menolong? Mengapa Engkau tidak melakukannya? Mengapa Engkau biarkan orang mengejek aku??”

Pertanyaan seperti itu bukanlah sesuatu yang asing dalam Alkitab. Yohanes Pembaptis sendiri pernah mengalaminya.

Yohanes adalah orang yang pernah dengan berani memberitakan tentang Yesus. Ia bahkan menunjuk kepada-Nya dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Tetapi kemudian Yohanes dimasukkan ke dalam penjara. Di sana, dalam kesendirian dan penderitaan, keyakinannya mulai diguncangkan. Ia mengutus murid-muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Menariknya, Yesus tidak mempermalukan Yohanes karena pertanyaannya. Namun Ia memberikan sebuah peringatan: “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

Perhatikan baik-baik. Yesus tidak berkata bahwa orang percaya tidak akan pernah kecewa. Ia tahu manusia dapat kecewa. Ia tahu penderitaan dapat mengguncang iman. Tetapi Ia memperingatkan agar kekecewaan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan-Nya.

Kita sering mempunyai harapan yang tidak pernah Tuhan janjikan. Kita berpikir, “Kalau saya setia kepada Tuhan, hidup saya seharusnya lebih baik.” Seolah-olah ada kontrak bisnis: saya memberikan kesetiaan, Tuhan memberikan perlindungan.

Tetapi iman Kristen tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa penderitaan.

Ada sebuah lagu yang sangat indah: Di Kala Hidupku Tent’ram, atau dalam bahasa Inggris, It Is Well with My Soul. Lagu ini mempunyai kisah yang luar biasa menyentuh.

Horatio Spafford, penulis lagu tersebut, mengalami kehilangan yang sangat dalam. Keempat anaknya meninggal dalam tragedi kapal laut. Bayangkan seorang ayah menerima kabar bahwa anak-anaknya telah tiada. Sulit membayangkan kepedihan seperti itu.

Namun dari tengah kehancuran itu lahirlah pengakuan iman: “It is well with my soul.” Jiwaku tetap tenteram.

Bukan karena hidupnya baik-baik saja.

Bukan karena ia tidak menangis.

Bukan karena kehilangan itu tidak menyakitkan.

Tetapi karena di tengah hidup yang hancur, ia menemukan bahwa jiwanya masih mempunyai tempat untuk bersandar kepada Tuhan.

Inilah yang sering kita salah mengerti tentang iman.

Iman bukan berkata, “Saya tidak pernah kecewa.”

Iman berkata, “Saya kecewa, tetapi saya tidak akan meninggalkan Tuhan.”

Iman bukan berarti kita memahami semua yang Tuhan lakukan.

Iman berarti kita tetap percaya kepada Tuhan ketika kita tidak memahami apa yang sedang Ia lakukan.

Ayub tidak mendapatkan penjelasan lengkap tentang mengapa ia menderita. Daud tidak selalu mendapatkan jawaban ketika ia berdoa. Paulus berulang kali memohon agar duri dalam dagingnya disingkirkan, tetapi Tuhan memberikan jawaban yang berbeda dari yang ia harapkan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”

Dan bukankah salib Kristus merupakan puncak dari semuanya?

Para murid mengira Yesus akan menjadi Raja yang segera mengalahkan musuh-musuh Israel. Tetapi yang mereka lihat justru Guru mereka dihukum mati di kayu salib. Bagi mereka, saat itu tampaknya seperti kegagalan terbesar.

Namun apa yang tampak seperti kekalahan ternyata merupakan kemenangan terbesar Allah.

Salib mengingatkan kita bahwa apa yang kita lihat dan rasakan bukanlah seluruh cerita.

Mungkin hari ini Anda sedang berada di halaman hidup yang tidak Anda mengerti. Mungkin Anda sedang kecewa. Mungkin doa yang Anda nantikan belum dijawab. Mungkin ada sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi yang sampai sekarang belum dapat Anda terima.

Jangan merasa bersalah karena Anda sedang bergumul.

Bawalah kekecewaan itu kepada Tuhan. Menangislah di hadapan-Nya. Bertanyalah kepada-Nya. Tetapi jangan pergi meninggalkan-Nya.

Sebab ada perbedaan besar antara berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti Engkau,” dan berkata, “Tuhan, saya tidak membutuhkan Engkau.”

Yang pertama adalah pergumulan iman.

Yang kedua adalah penolakan iman.

Mungkin hidup Anda hari ini tidak tentram. Tetapi jiwa Anda masih dapat menemukan ketentraman di dalam Kristus.

Karena pada akhirnya, damai sejahtera Kristen bukanlah keyakinan bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita. Damai sejahtera adalah keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, kita tetap berada di dalam tangan Tuhan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok.

Dan karena itu, bersama Horatio Spafford, kita dapat belajar berkata:

“Tuhan, aku tidak mengerti jalan-Mu. Aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi. Tetapi aku tetap percaya. Biarlah jiwaku tetap tentram di dalam-Mu.”

Itulah arti perkataan Yesus:

“Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

Bukan orang yang tidak pernah kecewa yang disebut berbahagia, melainkan orang yang di tengah kekecewaannya tetap memilih Kristus.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau mengetahui setiap kekecewaan yang kami simpan di dalam hati. Ketika doa kami belum terjawab dan jalan hidup kami tidak seperti yang kami harapkan, tolong kami untuk tidak menjauh dari-Mu. Ajarlah kami percaya ketika kami tidak mengerti, berharap ketika kami tidak melihat jalan, dan tetap bersandar kepada-Mu ketika hati kami terluka. Biarlah di tengah hidup yang tidak selalu tentram, jiwa kami tetap tentram di dalam kasih karunia-Mu. Amin.