Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Berjaga-jaga bukan berarti berjaga

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Matius 24: 42

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ada perbedaan antara kata “berjaga-jaga” dan kata “berjaga”. Perbedaan itu mungkin tipis dan sering diabaikan. Tetapi, agaknya kata “berjaga-jaga” lebih cocok untuk diartikan sebagai “bersiap-siap”, sedang kata “berjaga” berarti “tidak tidur”.

Dalam hal menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, kata “berjaga-jaga” yang dipakai dalam ayat diatas adalah kata pilihan Yesus. Bukan “berjaga”. Dalam Matius 25: 1- 13, Yesus memberi perumpamaan tentang 10 gadis yang di tengah malam menunggu kedatangan mempelai pria untuk menghadiri perjamuan kawin. Dari kesepuluh gadis itu, lima diantaranya adalah bijaksana karena mereka membawa pelita lengkap dengan minyaknya yang disimpan dalam buli-buli, sedang lima gadis yang lain adalah bodoh karena mereka hanya membawa pelita. Apa yang mereka lakukan selagi menunggu kedatangan mempelai pria? Mereka semuanya tidur, karena memang hari sudah malam. Mereka tidak perlu berjaga. Walaupun begitu, gadis-gadis yang bijaksana sudah berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan mempelai pria dan karena itu bisa masuk kedalam ruang perjamuan.

Kedatangan Kristus untuk kedua kalinya adalah seperti yang digambarkan sebagai kedatangan mempelai pria. Banyak orang Kristen yang menantikan hal itu dengan semangat yang luar biasa karena takut tertinggal. Seringkali mereka adalah orang-orang yang lupa diri, dan karena itu mereka selalu berjaga dan bukannya berjaga-jaga. Mereka sering menganalisa segala kejadian, dan berusaha menentukan kapan Yesus akan datang. Sebagian malahan ada yang meninggalkan kegiatan sehari-hari, untuk bisa menunggu kedatangan Yesus sepanjang hari (doomsday cults).

Kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup ini juga sering mereka tafsirkan secara harfiah, seperti apa yang digambarkan oleh Yesus:

“Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” Matius 24: 7

Memang dalam Matius 24, Yesus menggambarkan apa yang akan terjadi setelah Ia kembali ke surga, tetapi kebanyakan penafsir Alkitab menulis bahwa apa yang diucapkan Yesus di bukit Zaitun ini bukanlah tanda-tanda akhir zaman, tetapi apa yang akan terjadi (dan sudah terjadi sekarang) pada bangsa Israel. Ini bukan berarti bahwa hal-hal yang menakutkan itu tidak bisa mengawali kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, tetapi itu tidak harus demikian karena tidak ada seorang pun yang bisa menerka kapan Yesus akan datang lagi.

Apa yang jelas bagi kita adalah bahwa Yesus akan datang pada suatu saat yang tidak terduga, dan itu mungkin saja terjadi pada saat kita masih hidup di dunia. Karena penekanan pada hal-hal yang menakutkan seperti yang tertulis dalam Matius 24, sebagian orang Kristen menjadi gelisah dan bingung, dan bahkan meninggalkan kewajiban untuk terus mengabarkan injil keselamatan kepada dunia. Mereka tidak henti-hentinya berusaha mempelajari keadaan dunia untuk menerka-nerka saat kedatangan Yesus. Tetapi ini bukanlah barang baru. Kepada umat Kristen pada zamannya, Rasul Paulus menulis:

“Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.” 2 Tesalonika 2: 1 – 2

Pagi ini kita harus sadar bahwa dalam hidup kita sekarang ini, kita tidak perlu berjaga untuk menantikan kedatangan Kristus dengan menganalisa berbagai kabar buruk di dunia. Sebaliknya, karena kita sadar bahwa Yesus bisa datang kapanpun juga, kita harus berjaga-jaga dengan makin giat mempelajari dan melaksanakan firmanNya. Lebih dari itu, kita harus tetap mau memberitakan injil keselamatan (kabar baik) kepada semua bangsa selagi kesempatan masih ada.

“Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.” Mazmur 57: 9 – 10

Apakah Tuhan peduli akan sakit kita?

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Sudah tiga bulan ini saya menderita rasa sakit pada pundak saya yang sebelah kanan. Karena itu saya sementara ini tidak bisa menggunakan tangan kanan saya untuk mengangkat barang belanja atau beban berat lainnya. Ultrasound menunjuk pada sobeknya otot penghubung bahu dan lengan saya sepanjang 1,75 cm. Cedera yang dialami sewaktu berolahraga itu membuat saya berpikir dan merenung, kalau-kalau itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada saya. Kalau betul demikian, untuk apa?

Memang soal sakit, semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengijinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita tetap dekat kepadaNya.

Memang rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Pagi ini, jika kita merasakan hidup ini adalah terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Hidupku bukanlah milikku

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” 1 Korintus 6: 19

Tahukah anda bahwa di zaman modern ini masih ada beberapa negara dimana adat “membeli” seorang istri masih dipraktikkan dalam masyarakat? Di negara-negara itu, seorang calon istri mungkin dihargai dengan 50 ekor lembu atau 100 ekor babi; dan jika harga itu diterima, sang istri kemudian menjadi milik suami sepenuhnya, seperti halnya lembu atau babi yang sebelumnya menjadi milik suami.

Bolehkah seorang manusia membeli sesamanya untuk dijadikan harta miliknya? Tentu saja tidak! Kita masih ingat bahwa pada beberapa abad yang lalu, perbudakan dalam segala bentuknya ada di dunia. Hanya melalui perjuangan yang berat, sistim perbudakan yang kejam itu bisa dilenyapkan. Semua manusia adalah sama derajatnya, dan karena itu perbudakan antar manusia dengan segala bentuknya harus dihilangkan.

Alkitab yang menceritakan kehidupan manusia ribuan tahun yang lalu juga mempunyai berbagai ayat yang menyebutkan adanya hamba atau budak. Ada hamba yang baik, ada hamba yang jahat. Demikian pula ada tuan atau majikan yang baik, dan ada yang kejam dan jahat. Tetapi, Alkitab menyebutkan bahwa dalam Kristus semua manusia adalah sama, karena mereka semuanya adalah orang-orang yang sudah dilepaskan dari perhambaan dosa.

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 27 – 28

Tuhan yang mahakuasa telah mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa yang membawa kepada kebinasaan, agar bisa kembali menjadi milikNya. Hanya dengan membayar harga tertinggi untuk manusia, yaitu melalui darah Kristus, Tuhan yang mahasuci bisa mengampuni manusia yang seharusnya masuk kedalam neraka. Dengan membeli manusia dengan harga tertinggi, iblis dan jerat mautnya sudah dikalahkan, dan mereka yang percaya kemudian menjadi milik Tuhan sepenuhnya.

Bagi sebagian orang, menjadi milik Tuhan adalah suatu bentuk perhambaan yang tidak banyak berbeda dari perbudakan antar manusia. Mereka merasa bahwa menaati perintah Tuhan adalah menghilangkan kebebasan mereka untuk bisa berbuat apa yang mereka kehendaki. Mereka ingin untuk menjadi majikan dan pemilik dari hidup mereka. Mereka tidak menyadari bahwa dengan menolak menjadi milik atau hamba Tuhan, mereka membiarkan hidup mereka dikuasai oleh berbagai hal, seperti harta, pekerjaan, kesuksesan, obat-obatan, sex dan sebagainya. Selain itu, banyak juga manusia yang menjadi hamba orang lain, yang dipuja dan didewakan. Mereka sudah menjadi hamba dosa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa sebagai Sang Pencipta, Tuhan adalah pemilik alam semesta tanpa perkecualian. Itu adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak manusia. Walaupun demikian, dengan kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, manusia kemudian menjadi hamba dosa yang akan membawa kematian jika Tuhan tidak bertindak untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya. Dengan demikian, mereka yang menolak untuk menjadi hamba Tuhan dan memilih untuk tetap hidup dalam dosa berarti menolak kasihNya dan rencana keselamatanNya. Mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat adalah orang-orang merdeka yang percaya bahwa Tuhanlah pemilik hidup mereka, dan karena itu selalu ingin hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan. Maukah kita menjadi milik Tuhan?

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Tuhan sebagai pendidik

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Sebagai seorang dosen, minggu-minggu mendatang adalah minggu-minggu yang sibuk, karena tugas-tugas murid saya yang sudah diserahkan, harus dikoreksi. Bagi saya pekerjaan memeriksa tugas murid adalah hal yang membosankan, tapi harus dijalankan. Memang salah satu tugas seorang dosen adalah memberi tes dan ujian kepada murid-muridnya agar mereka bisa memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam karir dan masa depan mereka.

Bagi para murid, adanya tugas dan ujian merupakan hal yang tidak menyenangkan. Tidak hanya mereka harus mempelajari semua teori yang sudah diajarkan, mereka juga harus memakainya untuk menyelesaikan tugas dan ujian mereka. Semua itu adalah tantangan untuk bisa mencapai hidup yang baik di masa depan. Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, begitu kata orang yang bijaksana.

Dengan contoh diatas, kehidupan orang Kristen juga bisa dibayangkan seperti kehidupan murid sekolah atau mahasiswa. Seperti tidak ada murid yang tidak menghadapi ujian untuk bisa lulus, begitu juga dalam hidup ini, kita harus menghadapi berbagai ujian agar kita bisa menjadi orang Kristen yang dewasa dan teguh beriman.

Memang ada banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa hidup anak-anak Tuhan seharusnya penuh kebahagiaan dan berkat, tetapi pandangan semacam itu adalah serupa dengan seorang murid yang mendapat sebuah ijazah untuk tidak belajar. Sesuatu yang tidak masuk di akal, dan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.

Walaupun demikian, di dunia ini memang ada orang-orang yang mengaku sebagai sarjana ini dan itu, tetapi hanya bermodalkan ijazah palsu. Demikian juga ada orang yang mengaku orang Kristen, tetapi dari hidupnya terlihat bahwa ia belum pernah mendapat didikan Tuhan dan bahkan mungkin belum mengenal Tuhan.

Dari kemampuan seorang pekerja perusahaan dalam menghadapi persoalan kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya. Begitu juga dengan melihat bagaimana orang Kristen menghadapi tantangan kehidupan, kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya dalam hal menjadi pekerja Tuhan.

Memang menjadi pengikut Tuhan tidak hanya harus mengenal Dia dan firmanNya, tetapi harus juga bisa melaksanakannya. Karena iblis pun mengenal siapa Tuhan itu dan tahu setiap ayat dalam Alkitab, tetapi ia tidak pernah mau melaksanakan firman Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mau atau tidak bersedia menghadapi kesukaran dalam hidup, belumlah sadar bahwa Tuhan sebagai Bapa adalah Tuhan yang mendidik semua anak-anakNya untuk bisa kuat menghadapi semua ujian kehidupan.

Pagi ini, jika kita merasa bahwa hidup kita sangat berat dan seakan Tuhan jauh dari kita, biarlah kita boleh sadar bahwa Tuhan tidak pernah melupakan atau mengalihkan pandangan mataNya dari semua anak-anakNya. Karena adanya Bapa yang mau mendidik kita untuk menjadi dewasa dalam iman, kita harus menghadapi berbagai ganjaran dalam hidup, agar makin hari kita makin dekat kepadaNya.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Mujizat apa yang masih dicari?

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Setiap hari, jika kita membaca berbagai media, kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak diantara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani.

Pada pihak yang lain, dalam media kita juga menemui berbagai kabar baik tentang adanya berbagai organisasi yang bisa membantu mereka yang menderita, bermacam obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan juga berbagai keajaiban yang terjadi dalam hidup manusia. Kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Seringkali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mujizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui pengobatan yang tidak tradisionil, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima dengan pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin bisa merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, seringkali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekedar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apapun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mujizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mujizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, Tuhan hanya ada karena adanya mujizat yang bisa mereka lihat atau alami.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mujizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, yaitu keselamatan jiwa mereka. Mereka yang tidak mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata anda, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu,

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mujizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak mencari mujizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memuliakan mujizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mujizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Sekali merdeka, tetap merdeka!

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5: 1

Sekali merdeka, tetap merdeka! Begitulah semboyan yang kita kenal sejak lama di Indonesia, terutama pada saat kita merayakan hari kemerdekaan bangsa dari penjajahan.

Kemerdekaan (freedom) adalah sebuah hal yang didambakan setiap manusia di dunia, dimanapun mereka berada. Untuk menjadi merdeka (free) orang mungkin mau membayar harga apapun, dan bahkan bersedia berjuang sampai mati.

Memang Tuhan dari mulanya sudah memberikan kemerdekaan kepada manusia ciptaanNya di taman Firdaus, dan dengan itu setiap manusia mengerti perlunya hal itu.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas..” Kejadian 2: 16

Tuhan memberikan taman Firdaus kepada Adam dan Hawa untuk tempat hidup mereka, agar mereka bisa menjadi “manager“, yang mengusahakan dan memelihara taman itu. Mereka bebas untuk menjalani hidup mereka dan boleh memakan buah apa saja, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

“..tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 17

Jelas bahwa sekalipun kemerdekaan itu adalah hak azasi manusia, dengan kemerdekaan ada kewajiban dan batasan. Sayang sekali, karena Adam dan Hawa melanggar batasan itu, mereka kehilangan kemerdekaan mereka dan jatuh kedalam belenggu dosa. Oleh karena itu juga, semua manusia adalah mahluk yang berdosa sejak dilahirkan. Dengan demikian, tak ada satu manusia pun yang bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi, jika Yesus Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Sebagai umat Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, dan menjadi manusia merdeka, seperti keadaan Adam dan Hawa pada mulanya. Harga kemerdekaan kita tidak mungkin terbayar oleh usaha kita sendiri. Harga yang termahal itu sudah dibayar oleh Tuhan, dengan mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus.

Sekali merdeka, tetap merdeka! Itu adalah harapan kita. Kita harus bersyukur bahwa dengan adanya satu pengurbanan yang sempurna, semua dosa kita sudah diampuni Tuhan. Dengan kemerdekaan itu, kita harus ingat bahwa tidak ada kemerdekaan yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk mempertahankannya. Karena setiap orang yang sudah merdeka, bisa jatuh lagi kedalam perhambaan dan kehilangan kemerdekaannya, jika tidak berhati-hati dalam hidup dan tingkah lakunya.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai manusia yang merdeka bukanlah berarti bahwa kita bisa dan boleh berbuat apa saja yang kita sukai. Kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan dalam batas-batas hukum yang ada. Kemerdekaan yang tanpa batas adalah sebuah anarki. Bagi kita umat Kristen, segala hukum yang ada bisa disimpulkan dalam dua hukum yang terutama, yaitu untuk menghormati Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Hati-hatilah dengan hatimu

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 19

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati, kalau menurut pantun lama. Tetapi simbol jatuh cinta adalah sebuah anak panah yang menembus sebuah heart (jantung) dan bukannya liver (hati). Hati berbeda dengan jantung, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kata “hati” sering dipakai untuk menggantikan kata “jantung”.

Hati dalam arti kiasan adalah pusat perasaan manusia yang bersifat rohani, berbeda dengan otak yang dianggap sebagai alat pemikiran duniawi. Sering jika seseorang mengalami kebingungan, nasihat yang diberikan oleh orang lain adalah “ikuti kata hatimu”. Hati dianggap lebih murni dari otak dan mempunyai kesadaran yang lebih dalam mengenai hubungan antar manusia, antara manusia dengan Tuhan, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Dengan hati juga manusia seolah bisa merasakan cinta, kemarahan (sakit hati) dan kedamaian.

Apa yang dikatakan Alkitab mengenai hati manusia? Hati dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan berbagai hal, seperti kehidupan, jiwa, perasaan, pikiran, tujuan, maksud dan sebagainya. Tetapi hati juga dipakai untuk menggambarkan tempat dimana dan dari mana hal yang baik dan hal yang buruk bisa tinggal dan dipancarkan.

Yesus pernah berkata bahwa dimana harta kita berada, disitu juga hati kita berada (Matius 6: 21). Itu berarti bahwa apa yang menarik perhatian kita di dunia bisa menyeret hidup (hati) kita. Yesus juga pernah menasihati murid-muridNya agar menjaga diri mereka, supaya hati mereka jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (Lukas 21: 34). Dengan demikian, menjaga kesucian hati adalah penting dalam kehidupan orang Kristen.

Lebih lanjut, dari ayat pembukaan diatas kita melihat bahwa Alkitab menulis bahwa hati manusia adalah sumber segala sesuatu yang jahat. Sebab hati yang sudah dikuasai dosa akan mengeluarkan buah-buah yang berupa segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak pernah melakukan pembunuhan, perzinahan dan apa yang kelihatannya sangat jahat dimata manusia. Tetapi, hal berbohong dan memfitnah orang lain juga berasal dari sumber yang sama: hati yang dikuasai dosa.

Adalah kenyataan bahwa sebagai orang percaya kita juga masih bisa jatuh kedalam dosa. Jika demikian, bagaimana keadaan hati kita? Hati kita tetap merupakan sumber segala hal jahat yang tertimbun didalamnya. Semakin banyak hal yang jahat yang kita simpan didalamnya, semakin sering kita melakukannya. Tetapi, jika kita mengisi hati kita dengan hal yang baik, apa yang keluar dari hati adalah hal-hal yang bisa memuliakan Tuhan. Jika kita membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita dengan sepenuhnya, dengan sendirinya hal-hal yang jahat akan terusir keluar, untuk digantikan dengan hal yang baik. Kegelapan diganti dengan terang.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6: 45

Pagi ini kita disadarkan bahwa kita tidak boleh puas dengan keadaan hati kita saat ini. Perjuangan hidup kita sebagai orang percaya tidak pernah berakhir sampai Tuhan memanggil kita. Kecenderungan untuk berbuat dosa selalu ada, dan oleh sebab itu kita harus berhati-hati dalam mendengarkan suara hati kita. Semangat kita untuk menjadi lebih baik dalam hal kemurnian hati tetap harus dipupuk, untuk membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, sehingga hati kita berkelimpahan dengan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes 7: 38