Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Yesus adalah Tuhan, jalan kebenaran dan hidup

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Soal salah pilih adalah soal biasa. Misalnya, jika kita membeli baju dari toko dan setelah dicoba di rumah ternyata kekecilan. Itulah gara-gara malas mencoba. Kalau baju mungkin bisa ditukar, soal pasangan hidup lain lagi karena sekali pilih diharapkan cocok untuk seumur hidup sekalipun tanpa coba-coba!

Bagaimana pula dengan iman kepercayaan kita? Mungkinkah kita memilih kepercayaan tertentu dan kemudian ternyata salah pilih? Mungkin juga! Kebanyakan mereka yang mau mencari Tuhan akhirnya menganut ajaran agama tertentu. Namun setelah menganut ajaran itu, adakalanya mereka kemudian meninggalkan agamanya dan menjadi tidak beragama lagi atau masuk agama lain.

Selanjutnya ada orang Kristen yang sudah lama ke gereja tertentu, tetapi karena adanya daya tarik dari gereja lain kemudian meninggalkan gereja yang lama. Jika itu karena merasa bahwa bahwa gereja yang baru memiliki pengajaran kerohanian yang lebih baik, tentu itu tidak ada salahnya. Tetapi, sering terjadi bahwa orang pindah gereja karena adanya hal yang secara tiba-tiba menjadi sesuatu yang memikat hati dan pikiran.

Mengapa ada orang Kristen yang kemudian meninggalkan hidup kekristenan? Mengapa ada orang Kristen yang meninggalkan gerejanya untuk kemudian, tanpa berpikir panjang, mengikuti sebuah aliran yang aneh? Ada berbagai sebabnya, seperti perumpamaan benih yang ditabur (Matius 13: 19-23).

  • Kurang pengertian: Kepada setiap orang yang mendengar firman, tetapi belum tentu ia bisa atau mau mengertinya. Kemudian datanglah iblis dalam bentuk yang memikat hati, yang merampas apa yang ditaburkan dalam hati orang itu. Jika ada pendeta yang mengajarkan “wahyu baru”, orang yang kemudian merasa bahwa itu adalah lebih baik dari apa yang lama.
  • Kurang kuat: Ada orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penderitaan atau goncangan hidup, orang itupun segera berubah imannya.
  • Godaan duniawi: Ada orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kenikmatan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah dan akibatnya hidup orang itu menjadi jauh dari Tuhan.

Selain itu, banyak orang yang kecewa melihat hidup orang Kristen seolah tidak ada bedanya dengan orang yang tidak beriman. Apalagi, agama lain mengajarkan bahwa keselamatan manusia harus diraih melalui hidup yang baik, dengan amal dan sedekah, dengan ritual dan doa tertentu yang lain daripada yang lain. Mereka yang dulunya tidak yakin akan keselamatan mereka, kemudian memilih agama atau aliran gereja yang mengharuskan mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka kemudian merasa puas karena merasa bahwa mereka mendapatkan kesadaran baru.

Ada pula orang yang dulunya memilih agama karena ikut-ikutan suami, istri, teman atau orang tua. Barangkali mereka melihat bahwa semua agama baik adanya. Menurut mereka, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang buruk. Malahan agama-agama lain lebih terlihat lebih toleran dari agama Kristen, dan pemimpinnya lebih bijak dan berpengetahuan. Karena itu konsep beragama bagi mereka tidaklah jauh berbeda dengan pergi berbelanja.

Hari ini kita ditantang dengan sebuah pertanyaan: apakah kita yakin tidak salah pilih. Apakah kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan dan apa buktinya? Kita harus yakin bahwa Allah kita adalah Allah yang benar yang mahasuci, yang tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Mereka yang mengajarkan bahwa kita bisa mencapai pilihan yang benar dengan usaha kita sendiri adalah keliru. Allah orang Kristen bukan allah-allahan yang kecil.  Manusia hanya bisa diselamatkan karena menjawab panggilan Tuhan. Manusia tidak dapat meraih Tuhan dengan berbuat baik. Tuhan sendirilah yang harus datang ke dunia dengan merendahkan diriNya untuk menebus dosa manusia.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8-9

Iman seharusnya membuat kita hidup untuk Kristus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Minggu-minggu ini adalah saat yang menarik dalam dunia politik di Australia maupun Amerika. Di Australia, pemilihan umum untuk negara bagian Queensland akan berlangsung pada tanggal 31 Oktober, sedangkan di Amerika pemilihan presiden akan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2020. Di Australia, pemilihan umum adalah sebuah keharusan untuk setiap warga, sedangkan di Ameria pemilihan umum tidaklah merupakan keharusan. Bagi mereka yang ikut berpartsipasi dalam pemilu, kesempatan ini adalah sebuah cara untuk menyatakan kepercayaan mereka kepada orang tertentu dengan menyatakan diri sebagai pendukungnya melalui cara demokrasi.

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman yang percaya kepada Yesus dan juga pengikut Yesus. Sebagian orang berpendapat bahwa setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikutNya. Apakah kepercayaan kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pendukung Yesus? Apa bukti bahwa setelah kita mengaku percaya, kita kemudian menjadi pengikutNya?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikutiNya (Matius 9:9). Menjadi pengikut Kristus adalah hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita adalah orang yang dikaruniai iman oleh Tuhan dan kemudian secara otomatis menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikutNya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama itu kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kesiapan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus kemana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Menjadi pengikut Yesus bukannya berarti hidup dalam kenyamanan dan berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikutnya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintahNya dan bekerja untuk kemuliaanNya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24) karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilanNya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan namaNya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Allah adalah Bapa kita

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Baru-baru ini saya mengikuti sebuah diskusi mengenai nama panggilan untuk Tuhan kita. Topiknya adalah nama apa yang harus kita pakai untuk tidak mengabaikan keinginan Tuhan. Nama apa yang diinginkanNya? Apakah Tuhan mengharuskan kita memanggil Dia dengan nama tertentu? Diskusi yang menarik ini sebenarnya bukan baru, karena banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menghendaki kita memanggil Dia dengan nama YHVH (Yahweh).

Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH (Yehovah adalah pengucapan lainnya). Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan namaNya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14). Dalam Keluaran 3:15 Tuhan berfirman lebih lanjut kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Tihan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”

Haruskah kita memanggil Tuhan dengan nama Yahweh? Kita harus ingat bahwa Alkitab adalah buku wahyu progresif. Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabiNya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayananNya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Allah dalam menebus manusia dan memulihkan segala sesuatu. Kemudian, setelah kenaikan Yesus ke Surga, Tuhan mengirimkan Roh Kudus untuk menginspirasi penulisan firman Tuhan yang kita miliki dalam Perjanjian Baru, dengan demikian memberikan wahyu lebih lanjut dan melengkapi Alkitab.

Dengan wahyu yang penuh, kita memahami bahwa AKU YANG ESA yang berbicara kepada Musa adalah Allah Tritunggal – satu Allah dalam tiga Pribadi yang berbeda: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi itu kekal, sederajat, dan hidup berdampingan dalam satu Ketuhanan. Oleh karena itu, ketika Tuhan mengungkapkan namaNya sebagai Yahweh kepada Musa, itu adalah wahyu dari nama Tuhan Tritunggal kita. Kita memahami sifat tritunggal Tuhan; tetapi sebelum inkarnasi Yesus, orang Israel tidak mungkin memahami ini.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa, dan persis apa yang Dia ingin agar dipahami oleh umatNya, Israel, pada saat itu. Tuhan sedang mempersiapkan umatNya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus. Dia yang akan datang dan menyelamatkan manusia yang jatuh (Kejadian 3:15). Dari awal di taman, dan berlanjut sepanjang Perjanjian Lama, kita membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan lebih dan lebih banyak lagi dari tujuan dan rencana penebusanNya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, termasuk namaNya.

Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepadaNya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Ayat pembukaan kita berkata bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”

Saya tahu nama ayah saya. Tapi entah saya tahu namanya atau tidak, itu bukanlah nama yang saya gunakan. Saya memanggilnya sebagai ayah atau bapa. Saya bahkan tidak menggunakannya saat berbicara dengan orang lain yang mengenalnya. Saya berkata, “ayah saya,” atau “bapa saya.” Dan orang lain juga menyebutnya sebagai “ayahmu.” Dengan demikian, untuk saya lebih akrab jika saya memanggil ayah dengan nama relasional daripada dengan nama resminya. Itu adalah hal yang sama dengan Bapa kita di surga. Sekarang, kita tdak perlu memanggil Dia dengan namaNya, bahkan jika kita tahu persis bagaimana mengatakannya karena semua itu bisa membuat kita lupa bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu dari awalnya, dan sudah merencanakan penyelamatan umat manusia sejak mulanya. Pujilah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kasih!

Manusia berusaha, Tuhan menentukan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Pada saat pandemi ini, semua negara di dunia berusaha keras untuk mengatasi dampaknya, yang bisa menyangkut bidang kesehatan, sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Dampak kesehatan sudah jelas sangat besar; tetapi dengan banyaknya orang yang menjadi korban, kehidupan sosial pun menjadi berantakan. Sebagai akibatnya, ekonomi banyak negara mengalami kemunduran yang sangat besar dan bahkan resesi. Dalam kekacauan yang ada, keadaan politik pun bisa terpengaruh.

Terlalu banyaknya persoalan yang timbul sudah menyebabkan pemerintah mana pun menghadapi tantangan besar. Apa yang bisa diperbuat negara untuk menyelamatkan rakyatnya dari berbagai dampak di atas? Berbagai rancangan tentunya dibuat oleh para pemimpin untuk bulan-bulan mendatang, dan banyak yang berpendapat bahwa kunci keberhasilan adalah adanya vaksin. Jika vaksin sudah ada, masalah-masalah yang ada akan bisa diatasi. Walaupun demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa adanya vaksin belum tentu dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Dalam kekacauan dunia saat ini, sudahlah wajar bahwa banyak orang Kristen yang berserah kepada kehendak Tuhan. Tetapi, dalam kenyataannya manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “kehendakMu jadilah”, tetapi tetap merencanakan segala sesuatu yang dianggapnya baik. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa benar-benar memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi “stempel” persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan. Manusia sering tidak sadar bahwa kunci kehidupan adalah Tuhan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya.

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Dengan takut akan Tuhan, datanglah kebijaksanaan (Mazmur 111: 10). Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Perbedaan itu memang harus ada

“Kamu harus berpegang kepada ketetapanKu. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.” Imamat 19: 19

Jika kita rajin membaca berita di media, setiap hari selalu ada masalah sosial yang dilaporkan, yang disebabkan karena adanya perbedaan antar manusia, antar bangsa dan antar agama. Walaupun demikian, pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.

Dengan perubahan yang terjadi di zaman modern, banyak orang yang merasa “maju” jika mereka bisa hidup bersama dengan damai bersama orang yang sebenarnya berpandangan hidup yang sangat berbeda. Hal yang sedemikian adalah baik, dan Alkitab memang menunjang prinsip kesamaan derajat antar umat manusia. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat digolongkan sebagai umat Tuhan. Ada orang yang dapat digolongkan sebagai domba Yesus dan gandum, tetapi ada pula yang bukan termasuk dombaNya (Yohanes 10: 26) dan mungkin bisa tergolong jenis lalang (Matius 13: 38).

Agama memang adalah salah satu hal yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Ada orang yang membayangkan betapa dunia akan tenteram jika tidak ada agama. Itu ada benarnya, tetapi dalam hal hidup beragama hal yang jahat biasanya bukan karena adanya perbedaan agama, tetapi karena adanya manusia yang memutar-balikkan ajaran agamanya sehingga timbul permusuhan antar sesama manusia. Adanya perbedaan dalam hidup tidaklah dapat dihilangkan, tetapi tidaklah harus menimbulkan kebencian dan persengketaan. Pada pihak yang lain, mereka yang berusaha menghilangkan kebencian dengan menghilangkan perbedaan, bisa melenyapkan kebenaran.

Ayat di atas menunjukkan adanya perbedaan: ada dua jenis ternak, ada dua jenis benih dan ada dua jenis bahan pakaian. Walaupun demikian, isi ayat itu bukanlah mengenai 3 jenis perbedaan itu. Ayat itu menggambarkan perbedaan antara umat Tuhan dan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kedua kelompok ini adalah ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, tetapi sangat berbeda dalam hal iman, sehingga keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Mereka yang beriman, tetapi menerima cara hidup orang yang tidak beriman, lambat laun akan berubah gaya hidupnya dan menjalani hidup seperti orang yang tidak beriman. Mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi juga bisa menerima pendapat bahwa ada jalan lain menuju ke surga, lambat laun akan berpendapat bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat percaya kita harus menghargai semua ciptaan Tuhan, dan itu termasuk sesama manusia. Walaupun demikian, kita tidak boleh membiarkan diri kita dipengaruhi pandangan dunia, yang memperbolehkan pandangan dan cara hidup apapun untuk dicampur-aduk demi terciptanya keadaan “harmonis” dan “persamaan hak” menurut pandangan manusia. Perbedaan antara terang dan kegelapan adalah suatu kenyataan yang harus diterima, tetapi apa yang terang tidak boleh dibuat menjadi remang-remang dengan adanya kegelapan. Sebaliknya, apa yang terang haruslah bisa membuat apa yang gelap berubah menjadi terang.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Pilihlah apa yang berguna untuk kemuliaan Tuhan

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Kolose 3:  5 – 6.

Pada zaman pandemi ini, orang lebih diharapkan untuk memakai cara hidup yang baik. Menjaga jarak, rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menutup mulut ketika bersin adalah sebagian tata cara kehidupan yang baik, yang bukan saja penting untuk kesehatan kita, tetapi juga untuk kesehatan orang lain.

Memang sudah sewajarnya jika orang mempunyai etika hidup yang baik, yang bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Dalam melakukan sesuatu, kita harus memperhatikan apakah semua itu tidak merugikan atau membuat marah orang lain. Walaupun demikian, dalam kenyataannya banyak juga orang yang semaunya sendiri dan tidak mau menjalankan etika yang baik. Mungkin mereka merasa adanya kebebasan untuk menentukan cara hidup diri sendiri.

Untuk kesejahteraan umat manusia, setiap orang harus mempunyai etika. Etika bisa muncul dalam satu masyarakat, dan karena etika berhubungan dengan budaya, etika masyarakat yang satu mungkin bisa menjadi bahan pergunjingan dan geguyonan dalam masyarakat lain. Pada pihak yang lain, etika Kristen (dari bahasa Yunani ethos yang berarti  kebiasaan/ adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  dimana saja.

Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang terbaik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik dan memuliakan Dia saja. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya dan tradisi) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak memilih apa yang buruk dan yang tidak berguna. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman dibahas secara langsung dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau kurang mampu berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika atau kebiasaan yang bisa memuaskan diri sendiri.

Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 diatas disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang sering dianggap lazim di dunia, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, karena semuanya itu sama dengan penyembahan berhala. Itu tidak sesuai dengan etika Kristen. Memang jika cara hidup, kebiasaan, tradisi kita bisa diterima orang lain, kita bisa lupa bahwa Tuhanlah yang berhak menentukan apa yang benar, yang harus kita lakukan.

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar kewajiban hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

Mempunyai berhala bukan hanya keterikatan kepada apa yang jelas terlihat jahat. Dalam kenyataannya, ada banyak hal yang nampaknya baik tetapi bisa menjadi seperti berhala karena kita lebih sering atau lebih senang melakukannya daripada melakukan hal yang disenangi Tuhan. Kita sering dengan senang hati melakukan hal-hal yang terlihat indah di mata kita, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup bagi kemuliaanNya.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika dan cara hidup Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan. Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firmanNya.

Dengan etika yang berdasarkan Alkitab kita akan bisa memilih apa yang benar-benar berguna. Etika Kristen yang dilaksanakan akan membuat hidup kita memancarkan terang Kristus kepada masyarakat di sekeliling kita, sehingga makin banyak orang yang dibawa menuju Dia dan menerima keselamatan.

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6: 13

Alkitab adalah pedoman kita

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Semakin tua, manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, dan apa yang sudah menjadi tradisi, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dengan demikian, pengalaman yang kita peroleh dari pandemi COVID-19 ini juga bisa berguna untuk masa depan. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman dan kebiasaan yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami dan lazim dilakukan akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan,

Dalam kehidupan iman, kita dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran.

Karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, metode empiris mempunyai kelemahan bahwa apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman dan kebiasaan seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Pagi ini kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi atau pendapat manusia, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan kemuliaan bagi manusia dan bukannya Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman manusia, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman Firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkanNya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab.

“FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Persekutuan orang Kristen haruslah secara nyata

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Hari ini hari Minggu. Sejak adanya pandemi di Australia, pergi ke gereja tidaklah semudah sebelumnya. Banyak gereja yang membatasi jumlah pengunjung, dan ada juga yang mengharuskan jemaat untuk mendaftarkan diri sebelum datang di gereja. Mereka yang tidak bisa hadir di gereja mungkin bisa melihat acara kebaktian gereja di layar komputer atau TV. Sebenarnya banyak orang yang ingin ke gereja, tetapi banyak juga alasannya. Begitu pula banyak orang tidak ke gereja dengan berbagai sebab. Banyak juga orang yang ke gereja atau tidak ke gereja tanpa sebab yang pasti.

Gereja bisa berarti persekutuan orang percaya, gereja juga bisa berarti rumah Tuhan, tetapi gereja sering diartikan sebagai gedung pertemuan orang Kristen. Orang bisa ke gereja sebagai orang Kristen tetapi tidak semua orang yang ke gereja menjumpai Tuhan. Sebagian orang ke gereja menjumpai manusia dan menikmati persekutuan dengan sesama. Sepertinya lumrah dan tidak ada salahnya. Ke gereja, mengikuti kebaktian, bertemu teman, lalu pulang. Sebagian orang Kristen malah bisa merasa ke gereja dengan mengikuti acara gereja di TV atau di YouTube.

Bagi mereka yang mengerti, gereja adalah tubuh kita karena Roh Kudus tinggal dalam diri tiap orang percaya:

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan setiap hari, dan bukan pada hari Minggu saja. Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya berarti mengabaikan Tuhan dan menelantarkan gereja!

Gereja juga tempat yang kudus dan harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk meninggikan manusia. Bukan sebuah pertemuan organisasi untuk merencanakan suatu event atau merayakan kesuksesan organisasi atau perseorangan. Gereja bukanlah rumah sarang penyamun, bukan juga tempat bisnis!

“Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Markus 11: 17

Setiap orang percaya adalah gereja, dan pada hari Minggu mereka bersama-sama bersekutu untuk mendengarkan Firman, berdoa, saling menyapa dan menguatkan. Saling menasihati, agar mereka dapat hidup dengan baik sesuai dengan Firman. Untuk umat percaya, gereja adalah hidup dan hidup adalah gereja, dan karena itu tidak dapat digantikan dengan benda-benda mati seperti TV, internet dan radio. Tetapi, adanya pandemi mungkin bisa membuat sebagian orang Kristen menjadi malas untuk pergi ke gereja karena sudah terbiasa dengan kebaktian secara maya.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai rumah Tuhan, kita harus bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan giat bersekutu dengan saudara seiman untuk memuliakan Tuhan kita. Selagi kita masih bisa, dan jika keadaan memungkinkan, janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, sekalipun dunia modern ini penuh dengan daya penariknya sendiri. Jangan juga kita bersekutu dengan hati yang mati dan dingin, tetapi marilah kita saling mengasihi, menguatkan, mendoakan dan menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat!

Yesus adalah Raja

Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.” Yohanes 18: 37

Siapakah Yesus itu? Bagi mereka yang tidak mengenal Yesus secara pribadi, Yesus mungkin adalah manusia yang istimewa, yang bijaksana dan sudah mengajarkan cara hidup yang baik seperti banyak filsuf dan tokoh spiritual yang lain. Yesus bagi mereka bukanlah Tuhan, tetapi mungkin adalah nabi yang besar. Kebingungan seperti ini bukanlah hal yang baru, karena sewaktu Yesus lahir di dunia, orang tidak sadar bahwa Ia adalah Tuhan sendiri, Mesias yang datang untuk menyelamatkan manusia yang berdosa.

Orang Majus dan Herodes menyangka bahwa Yesus adalah seorang raja yang datang untuk bani Israel, dan banyak orang Israel juga berharap bahwa Ia akan menjadi pemimpin yang akan membebaskan bangsa Israel dari jajahan orang Romawi. Mereka kemudian kecewa melihat bahwa Yesus kemudian disalibkan bersama dengan dua orang penjahat.

Sebelum Yesus disalbkan, Ia harus menghadapi “pengadilan” Pilatus. Pilatus bertanya apakah Yesus adalah seorang raja, seperti apa yang diberitakan banyak orang kepadanya. Yesus tidak menjawab Pilatus secara langsung, tetapi Ia seolah mengiyakannya. Walaupun demikian, Yesus menjelaskan bahwa Ia lahir dan datang ke dalam dunia supaya Ia bisa memberi kesaksian tentang kebenaran Ilahi, agar mereka yang percaya kepadaNya akan beroleh keselamatan. Yesus bukanlah raja orang Yahudi, tetapi Raja semesta alam.

Bagi banyak orang Yahudi saat itu, kenyataan bahwa Yesus bukanlah “orang kuat” seperti apa yang diharapkan adalah sebuah kekecewaan yang besar. Bagi orang Farisi dan Saduki, pernyataan Yesus bahwa Ia dan Allah Bapa adalah satu membuat mereka marah dan membenci Dia (Yohanes 10: 30-31).

Pada saat itu bangsa Israel tidak mengerti bahwa kerajaan Yesus bukanlah kerajaan jasmani atau duniawi, tetapi adalah kerajaan rohani dan surgawi. Ia datang sebagai Tuhan hanya untuk disalibkan oleh manusia ciptaanNya dan kemudian bangkit dari kematian untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, termasuk hal hidup dan mati.

Jawab Yesus: “KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Yohanes 18: 36

Patut disayangkan bahwa banyak orang yang saat ini masih meragukan keilahian Yesus. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa jika orang Kristen memuja Yesus, itu adalah sebuah tindakan yang menghujat Allah yang di surga. Sebagian orang malahan tidak yakin apa manfaat sebuah doa yang dipanjatkan dalam nama Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus yang pernah berjalan di atas air dalam kegelapan malam (Matius 14: 25) adalah Allah yang sebagai Roh melayang-layang di atas permukaan air sebelum bumi diciptakan – ketika bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita (Kejadian 1: 2).

Yesus adalah Allah yang turun ke bumi sebagai manusia sepenuhnya tetapi juga sebagai Tuhan sepenuhnya. Seperti Allah yang membawa terang ke bumi dengan penciptaanNya, Yesus membawa terang kebenaran kepada umat manusia agar mereka bisa melihat jalan keselamatan.

Dimanakah Yesus sekarang ini, ketika dunia mengalami pandemi? Jika Ia benar-benar Tuhan mengapa Ia tidak bertindak secara langsung dan menolong kita? Sebagai orang Kristen kita tidak bisa berharap kepada manusia atau pemimpin kita. Jika kita berharap kepada kehendak kita sendiri, mungkin kita akan mengalami kekecewaan seperti apa yang dialami bangsa Yahudi. Dalam kekecewaan, orang Yahudi sulit untuk menerima bahwa Yesus adalah Tuhan semesta alam.

Yesus sekarang sudah kembali ke surga dan sebagai Tuhan Ia mengatur segala sesuatu yang ada di jagad raya. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya. Seperti orang Yahudi pada zaman Yesus, mungkin kita tidak mengerti apa yang kehendakiNya. Tetapi Yesus sudah berfirman bahwa Ia datang ke dunia untuk membawa kebenaran Allah. Sebagai orang yang sudah diperbaharui dan mengenal Yesus sebagai Tuhan, kita akan bisa mendengar suaraNya. Yesus adalah Tuhan dan Raja kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita.

“Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam BapaKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Yohanes 14

Tetap teguh dalam iman

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91: 7

Ayat diatas sering dipakai sebagian orang Kristen untuk menegaskan bahwa sekalipun orang disekeliling mereka mengalami kehancuran, mereka tetap jaya dan tidak terpengaruh, karena adanya pemeliharaan Tuhan. Bahkan, sering diceritakan bahwa ketika ada bencana alam dan semua gedung hancur berantakan, gedung gereja dengan ajaib tetap bisa berdiri. Bukankah itu tanda kebesaran Tuhan? Orang yang benar selalu dibebaskan dari bencana, orang yang mengalami malapetaka adalah orang yang jahat. Begitu mungkin anggapan mereka.

Adanya pandemi COVID-19 membuka mata banyak orang sehingga mereka bisa melihat bahwa virus corona ternyata tidak memandang bulu. Tua atau muda, kaya atau miskin, negara maju atau negara terbelakang, semua orang bisa terjangkit wabah ini. Bahkan banyak orang Kristen yang sakit berat atau tewas akibat serangan virus ini.

Dimanakah Tuhan sewaktu hal itu terjadi? Dimanakah janji Tuhan untuk melindungi semua umatNya? Mereka yang mengartikan ayat diatas secara literal akan kecewa. Pada waktu banyak orang yang berdoa mohon kelepasan dari bencana pandemi ini, Tuhan seolah mengabaikan mereka. Tetapi Tuhan jelas tidak pernah meninggalkan umatNya. Malahan, semua yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan rencanaNya. Oleh karena itu, apapun yang ada, hal yang baik maupun yang buruk, seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih jauh untuk mengerti kehendakNya.

Benarkah Tuhan akan melindungi kita sekalipun ada ribuan orang tewas disekitar kita? Penulis Mazmur tidak secara terperinci menjelaskan keadaannya pada waktu itu. Mungkin pada waktu itu ia merasakan perlindungan Tuhan ketika ada kehancuran disekelilingnya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita tidak bisa selalu luput dari penderitaan dan bencana. Bahkan dalam sejarah orang Kristen, banyak yang tersiksa, dianiaya dan dibunuh karena iman mereka. Yesus berkata bahwa itu adalah bagian dari panggilan iman kita. Tuhanlah yang memungkinkan kita untuk tetap teguh dalam iman, sekalipun keadaan disekeliling kita sangat menyedihkan.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 10

Dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai umatNya, biarlah kita bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekeliling kita bahwa Tuhan yang sudah memberi kita kekuatan dalam menghadapi kehancuran disekeliling kita, adalah Tuhan yang juga bisa menolong mereka. Melalui ketabahan dan keyakinan kita biarlah makin banyak orang yang mengenal Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16