Jangan lengah, Jesus adalah Tuhan.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Yohanes 8: 23-24

Di sepanjang sejarah, selalu ada saja orang-orang yang mengajarkan cara hidup untuk mencapai kebahagiaan. Mereka menunjukkan hal-hal yang penting untuk dilakukan agar manusia bisa hidup tenteram, tidak hanya selama hidup di dunia, tetapi juga setelah itu. Kebahagiaan di surga sepertinya bisa dicapai dengan berbagai cara seperti yang diajarkan oleh berbagai agama.

Perbedaan ajaran berbagai agama sering kali membuat manusia bingung, terutama mengenai bagaimana manusia harus melakukan berbagai kebajikan agar mereka bisa masuk ke surga. Dalam hal ini, Kekristenan atau Kristianitas sebenarnya bukanlah agama; karena dalam Kekristenan, hanya iman kepada Yesus yang membawa keselamatan. Manusia tidak bisa mendapat keselamatan karena perbuatan baik apa pun.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Walaupun demikian, di zaman ini makin banyak orang yang mengajarkan bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan, the way, untuk menuju ke surga. Paham-paham semacam itu bisa berupa universalisme yang mengajarkan bahwa tiap orang bisa mencari jalan ke surga dengan caranya sendiri. Akibatnya, orang Kristen sekarang sering malu dan segan untuk menyatakan keyakinan bahwa Yesuslah satu-satunya Mesias, jalan keselamatan.

Lebih dari itu, di zaman ini faham sabelianisme mulai berkembang lagi. Faham yang muncul sekitar tahun 400an ini menyatakan bahwa Tuhan adalah satu dan telah turun ke dunia sebagai Yesus. Sesudah Yesus naik ke surga, Ia sudah tidak ada lagi karena sudah berubah, kembali menjadi Bapa. Selain itu, ada juga yang menyatakan bahwa Yesus adalah ciptaan Bapa dan karena itu tidak sederajat dengan Bapa.

Banyak juga orang Kristen yang dipengaruhi oleh paham universalisme di era pluralisme yang ada sekarang, sehingga mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya menghargai iktikad baik setiap manusia yang berusaha sungguh-sungguh mencari Tuhannya. Sering kali orang mempunyai kepercayaan semacam ini karena adanya sanak saudara yang bukan orang Kristen. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa sanak saudara mereka tidak akan diselamatkan.

Ayat pembukaan di atas menunjukkan bahwa usaha manusia untuk mengenal Tuhan akan sia-sia karena Tuhan itu mahatinggi. Yesus datang dari surga sedang manusia berada di dunia. Pengertian manusia tidak akan dapat meraih kebesaran Yesus. Apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah menerima Yesus sebagai Mesias dengan iman, percaya bahwa Yesus datang dari surga sebagai satu-satunya jalan keselamatan, sesuai dengan pernyataan-Nya.

Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa betapapun baiknya hidup seseorang, ia tetap adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan yang mahasuci. Jika ada orang yang percaya bahwa mereka yang berbuat banyak kebajikan akan masuk ke surga, pada hakikatnya mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Mereka dengan demikian menolak bahwa Yesus adalah Tuhan yang datang dari surga untuk menyelamatkan manusia.

Apa yang dikatakan Yesus dalam ayat pembukaan di atas seharusnya bisa menyadarkan mereka yang menolak bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan Tuhan sendiri. Bahwa dengan penolakan itu, mereka akan mati dalam dosa sekalipun mereka mengaku sebagai orang Kristen.

Hari ini ada satu pertanyaan untuk kita. Apa yang sebenarnya kita percayai? Apakah kita percaya bahwa Kekristenan adalah salah satu cara mencapai surga? Mungkin kita percaya bahwa Yesus hanyalah salah satu guru agama yang masyhur di dunia? Barangkali anda percaya bahwa Yesus adalah ciptaan Allah dan bukan Anak Allah yang satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus? Ataukah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang datang dari surga untuk menebus dosa kita?

Pada waktu Yesus disalib, seorang penjahat yang disalib di sampingNya berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Jawaban Yesus kepada penjahat itu seharusnya tidak mengherankan mereka yang percaya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23: 42-43). Yesus adalah Tuhan dan di dalam Dia ada keselamatan. Tidak ada jalan lain di luar Dia!

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.” Lukas 9: 26

Tersesat karena tidak percaya kepada Allah Tritunggal

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam bepergian ke tempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana di sekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan ke mana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa mereka menuju ke surga melalui jalan tertentu, tetapi orang lain juga bisa menuju ke tempat yang sama melalui jalan lain. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Alkitab menyatakan bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin diselamatkan jika Tuhan sendiri tidak menebus mereka dengan kurban yang sempurna. Tetapi, tidak ada manusia atau oknum ilahi yang sempurna, kecuali Tuhan sendiri. Dengan demikian, Yesus adalah satu-satunya oknum Allah yang memenuhi syarat kesucian Tuhan dan yang bisa menyuci bersih dosa manusia. Yesus sudah menebus dosa manusia dan kembali ke surga, namun Ia tetap ada sebagai salah satu pribadi dari Allah.

Orang-orang yang menolak kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak dapat menerima adanya 3 pribadi Allah yang ada pada saat yang sama. Mereka mungkin percaya bahwa Allahlah yang turun ke dunia, dan sekarang sudah kembali ke surga. Atau Allah sudah mengirimkan “wakil-Nya” yaitu Yesus ke dunia, tetapi hanya Allahlah yang sekarang patut disembah. Memang konsep Allah Tritunggal itu tidak mudah dimengerti dan sering menjadi bahan cemooh kelompok-kelompok tertentu.

Yesus bukan hanya mengklaim bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Ia juga berkata bahwa mereka yang melihat Dia, sudahlah melihat Allah. Dengan kata lain, mereka yang percaya kepada-Nya adalah percaya kepada Allah sendiri.

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14: 9

Jika kita tahu bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan menuju ke arah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 di atas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Memang di zaman ini, di mana “semangat persahabatan” antar umat Kristen lagi sering didengung-dengungkan, orang mungkin ragu untuk menegur orang lain. Tetapi, Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai kesetiaan sejati kepada Kristus saja, kita mungkin sudah jatuh ke dalam tipuan iblis. Ternyata, umat Kristen yang percaya kepada Yesus bisa saja tersesat jika kepercayaan kita kepada-Nya tidak lagi murni.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai pedoman arah kita, Alkitab, dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju ke arah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra di luar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayakan kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah, dan dalam perjalanan hidup keimanan kita harus selalu mau mempelajari apakah yang kita percayai sudah dan tetap sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Yesus adalah Tuhan dan Mesias

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 16: 15 – 17

Alkitab mencatat adanya berbagai mukjizat Yesus terjadi di sekitar danau Tiberias, seperti berjalan di atas air, meneduhkan angin ribut dan memberi makan ribuan orang. Mungkin dapat kita bayangkan bahwa murid-murid Yesus yang melihat semua itu tentunya merasa heran dan takjub. Walaupun demikian, semua itu tidak membuat mereka mengerti bahwa Yesus adalah Mesias jika hati mereka tidak disentuh oleh Tuhan sendiri. Seperti itu, sampai saat ini keajaiban kuasa Tuhan terjadi di seluruh penjuru dunia tetapi tidak semua orang akan dapat merasakan atau melihatnya jika Tuhan tidak menyatakannya kepada mereka.

Pada waktu berkunjung ke Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya apa kata orang tentang diri-Nya. Murid-murid menjawab bahwa sebagian orang berpendapat bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, tetapi ada juga yang mengatakan Yesus adalah Elia dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Setelah mendengar jawaban murid-murid-Nya, Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Hanya Petrus yang bisa menjawab dengan tepat: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Bagaimana Petrus dapat mengerti bahwa Yesus adalah Mesias dan penjelmaan Allah? Jika murid yang lain bungkam, Petrus dengan yakin dan lantang mengakui Yesus sebagai Tuhan. Ini adalah suatu keajaiban besar yang sering dilupakan orang Kristen. Seperti itulah, dengan usaha sendiri kita tidak dapat mengenal Yesus.

Di zaman ini, ada banyak orang yang mengenal nama Yesus, tetapi tidak semua mengakui bahwa Ia adalah Tuhan. Bahkan, sebagian orang yang mengaku Kristen tidak percaya bahwa Yesus adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Mereka tidak mengakui Yesus sebagai Mesias yang datang ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya, sekalipun Alkitab dengan jelas menyatakannya.

“Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.” 1 Yohanes 4: 15

Apakah saat ini anda benar-benar mengakui Yesus adalah Mesias dan Tuhan? Jika ya, anda sudah menerima mukjizat besar dari Allah. Dengan demikian, hidup anda seharusnya penuh dengan sukacita karena anda sudah dikenal oleh Allah sebagai anak-Nya. Dengan keyakinan ini anda akan kuat dalam menghadapi segala tantangan kehidupan. Ataukah masih ada rasa sangsi dalam hati anda mengenai siapa Yesus yang sebenarnya? Jika memang demikian, berdoalah kepada Allah agar terang-Nya menghilangkan kabut keraguan anda.

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Yohanes 20: 30-31

Jika kita merasa lemah

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17: 45

Hari Sabtu kemarin rakyat di Australia melaksanakan pemilu dengan berbondong-bondong pergi ke tempat pencoblosan. Setelah menunggu beberapa jam setelah berakhirnya pemilu, malam harinya perdana menteri yang ada menyatakan kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada pemimpin oposisi, Anthony Albanese. Perjuangan hidup tiap manusia di dunia ini terkadang mirip perjuangan mereka yang bertarung di dunia politik. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, manusia harus bekerja keras dan sekalipun tidak dapat menduga hasilnya, mereka tetap harus berusaha. Ini bukanlah hal yang ringan, dan terkadang orang merasa sangat kecil dalam menghadapi tantangan hidupnya. Mungkin terasa seperti Daud jika dibandingkan dengan Goliat.

Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di  lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat. Raja Saul, sekalipun tinggi besar untuk zaman itu, hanya sekitar 1.80 meter tingginya dan tidak sebanding dengan Goliat yang tingginya hampir 3 meter.

Dua hal yang menarik perhatian adalah, yang pertama, kemauan dan keberanian Daud yang untuk ukuran manusia tidaklah masuk diakal. Yang kedua adalah kemenangan Daud atas Goliat dan kemenangan tentara Israel atas tentara Filistin yang menurut akal sehat tidaklah mudah untuk bisa dimengerti. Mengapa hal yang di luar dugaan bisa terjadi untuk membawa kemenangan bagi bangsa Israel? Bukankah lebih mudah bagi Tuhan untuk membiarkan orang Israel mengalahkan orang Filistin melalui perang yang biasa, yang konvensional?

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah di atas:

  • Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang Mahakuasa yang kepada-Nya kita boleh serahkan segala masalah kita. Kemenangan Daud yang di luar dugaan menjadi kemenangan bani Israel karena Tuhan sendirilah yang menghadapi Goliat dan orang Filistin. Demikian juga, Tuhanlah yang akan mengalahkan persoalan-persoalan kita jika kita mau bersandar kepada Dia.
  • Tuhan mengundang setiap umat-Nya untuk menjadi seperti Daud yang mempunyai rasa hormat, ketaatan dan iman kepada-Nya. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Ialah yang bisa melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat kita mengerti, untuk kebaikan kita di masa depan.
  • Tuhan yang Mahabijaksana adalah Tuhan yang mempunyai rencana untuk hidup seluruh manusia dan bahkan alam semesta. Apa yang terjadi dalam hidup kita berjalan sesuai dengan kehendak-Nya dan terjadi pada waktu yang ditetapkan-Nya. Hidup kita akan jauh lebih ringan jika kita mau berserah kepada-Nya.

Hari ini, keadaan di sekitar kita mungkin terasa seperti apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Berbagai masalah saat ini sedang dihadapi dunia sejak adanya pandemi COVID-19.  Kita sendiri mungkin mempunyai banyak masalah, tetapi kita harus bersedia menjadi seperti Daud ketika menghadapi Goliat. Tuhan yang sudah melindungi kita sampai saat ini, adalah Tuhan yang akan menyertai kita di masa mendatang!

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Tuhan tidak memaksa orang yang tidak mau diselamatkan

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” 1 Korintus 1: 23-24

Dalam sejarah ada tercatat bahwa banyak penduduk asli sebuah negara tertentu menganut satu agama baru setelah datangnya orang-orang yang menjajah negara itu. Sering kali dilaporkan bahwa penduduk asli negara itu “dipaksa” atau “terpaksa” untuk menganut agama baru itu. Kedatangan pendatang baru memang bisa menimbulkan perkawinan campur dan munculnya pendidikan, pengaruh dan bahkan pemaksaan agar penduduk asli negara itu ikut menjalankan adat-istiadat dan juga agama si pendatang. Jika itu benar terjadi dalam konteks perkembangan agama Kristen, apakah Tuhan memang memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya?

Untuk mengerti hal ini, penting bagi kita untuk memahami bagaimana kita menjadi seorang Kristen, yaitu bagaimana kita diselamatkan. Alkitab mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah, bukan karena kehendak dan perbuatan kita sendiri, atau karena perbuatan orang lain. Keselamatan kita tidak bergantung pada apa yang dilakukan manusia sebelum atau bahkan setelah kita diselamatkan. Kita dibenarkan hanya karena apa yang Yesus lakukan. Selain itu, semua dosa kita telah diampuni melalui kematian dan kebangkitan Kristus: di masa lalu, sekarang dan di masa depan. Dalam arti rohani, kita telah “disempurnakan” oleh iman kita.

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10: 14

Seseorang mungkin berkata, “Ya, Roh Kudus menarik kita kepada Tuhan, tetapi kita dapat menggunakan kebebasan kita untuk menolak atau menerima penarikan itu.” Itu sebenarnya pernyataan yang tidak benar. Jawaban yang benar adalah: kecuali ada upaya terus-menerus dari anugerah keselamatan, kita akan selalu menggunakan kebebasan kita untuk melawan Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan “tidak dapat tunduk kepada Tuhan”. Manusia dalam kodratnya, selalu ingin melakukan apa yang melawan Tuhan. Jika seseorang menjadi cukup rendah hati untuk tunduk kepada Tuhan, itu berarti bahwa Tuhan telah memberi orang itu sifat baru yang rendah hati. Jika seseorang tetap berkeras hati dan sombong untuk tunduk kepada Tuhan, itu karena orang itu belum diberi semangat dan kemampuan untuk tunduk kepada Tuhan.

Jelas dari sini bahwa kasih karunia keselamatan Tuhan tidak pernah menyiratkan bahwa Tuhan memaksa kita untuk percaya jika itu bertentangan dengan keinginan kita. Memang, ada orang Kristen yang percaya bahwa kehendak Tuhan tentu tidak dapat dibantah atau dilawan oleh manusia. Tetapi, manusia dalam dosanya selalu cenderung untuk tidak menurut kepada Allah. Sebaliknya, Tuhan mempunyai kuasa untuk memungkinkan (bukan memaksa) orang untuk mau mendengar-Nya. Kasih karunia Tuhan bisa dibayangkan sebagai khotbah dan kesaksian yang mencoba untuk membujuk orang untuk melakukan apa yang masuk akal dan apa yang sesuai dengan kepentingan terbaik mereka. Di sini, pertobatan juga termasuk karunia Allah.

Lalu Ia berkata: ”Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Yohanes 6:65

Yohanes tidak hanya mengatakan bahwa keselamatan adalah karunia Allah. Dia mengatakan bahwa prasyarat keselamatan juga adalah sebuah anugerah. Ketika seseorang mendengar seorang pengkhotbah menyerukan pertobatan, dia dapat menolak panggilan itu. Tetapi jika Tuhan memberinya karunia pertobatan, dia tidak dapat menolak karena itu adalah penghapusan perlawanan. Tidak mau bertobat sama dengan menolak Roh Kudus. Jadi jika Tuhan memberikan Roh Kudus yang bekerja sepenuhnya, itu sama saja dengan menghilangkan perlawanan.

Kembali ke ayat pembukaan dari 1 Korintus 1: 23-24 di atas, kita bisa melihat adanya dua jenis “panggilan” :

Pertama, pemberitaan Paulus ditujukan kepada semua orang, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ini adalah panggilan umum Injil. Ini menawarkan keselamatan bagi semua orang yang akan percaya kepada Kristus yang disalibkan. Tetapi pada umumnya itu jatuh di telinga yang tidak mau menerima dan disebut kebodohan.

Tetapi kemudian, kedua, Paulus mengacu pada jenis panggilan yang lain. Dia mengatakan bahwa di antara mereka yang mendengar ada beberapa yang “dipanggil” sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi menganggap salib sebagai kebodohan tetapi sebagai hikmat dan kuasa Tuhan. Jika semua orang yang dipanggil dalam pengertian ini menganggap salib sebagai kekuatan Tuhan, maka sesuatu dalam panggilan itu harus mempengaruhi iman. Ini adalah sesuatu yang luar biasa dan yang tidak dapat ditolak.

Lebih lanjut dijelaskan dalam 2 Korintus 4: 6, “...yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: ”Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Karena manusia dibutakan oleh dosa akan nilai Kristus, diperlukan mukjizat agar mereka dapat melihat dan percaya. Paulus membandingkan mukjizat ini dengan hari pertama penciptaan ketika Tuhan berkata, “Jadilah terang.” Sebenarnya ini adalah ciptaan baru, atau kelahiran baru. Inilah yang dimaksud dengan panggilan yang efektif dalam 1 Korintus 1:24.

Mereka yang terpanggil dibukakan matanya oleh kuasa penciptaan Allah yang berdaulat sehingga mereka tidak lagi melihat salib sebagai kebodohan tetapi sebagai kekuatan dan hikmat Allah. Panggilan yang efektif adalah keajaiban menghilangkan kebutaan kita. Jadi, sekalipun Tuhan tidak memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya, Ia bekerja dan memberi manusia kemampuan untuk melihat jalan kebenaran dan tidak terus menerus melawan uluran tangan kasih-Nya. Ini adalah cara kerja Tuhan yang bisa menaklukkan orang yang ingin diselamatkan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang percaya.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang mengaku sebagai orang percaya benar-benar diselamatkan. Orang bisa saja mengaku atau merasa sebagai seorang Kristen walaupun belum benar-benar dilahirkan kembali oleh iman kepada Yesus Kristus. Dalam kasus seperti itu, orang tersebut akan terus berbuat dosa tanpa pertobatan karena mereka terus menerus melawan Roh Kudus yang berusaha menginsafkan mereka ke arah hidup yang benar dan yang menyenangkan Tuhan. Karena kita sulit untuk membedakan perbedaan antara orang Kristen yang tidak taat dan orang yang tidak percaya yang terus berbuat dosa, kita harus menahan diri dari membuat penilaian atau menarik kesimpulan tentang keselamatan seseorang hanya berdasarkan perilaku mereka. Penginjilan harus tetap dilakukan agar makin banyak orang yang mau mendengar panggilan untuk menjadi umat-Nya. Tuhan bisa membuat panggilan ini sebagai sesuatu yang mencelikkan mata rohani mereka untuk bisa mau menjawab “ya’ atas keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus.


Hikmat untuk menghadapi masa depan

“Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 24:14

Hari Sabtu mendatang ini, Australia akan menyelenggarakan pemilihan umum. Siapa pun yang akan terpilih sebagai perdana menteri harus siap untuk menghadapi berbagai tantangan. Mengapa begitu? Pandemi COVID-19 sudah memporak-porandakan banyak negara, termasuk negara-negara yang besar dan kaya. Karena itu, krisis ekonomi, sosial, hukum dan politik sudah mulai muncul di berbagai negara. Dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, kebutuhan sehari-hari semakin sulit untuk diperoleh. Apalagi harga bahan makanan pun mulai naik karena inflasi yang makin meroket.

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan kapan krisis kehidupan ini bisa diatasi sepenuhnya. Jika ada orang yang mencoba membuat prediksi tentang hal itu, semuanya hanya berdasarkan asumsi-asumsi tertentu yang belum tentu benar. Yang pasti, keadaan sosial dan ekonomi dunia ini akan menjadi makin buruk, paling tidak sampai akhir tahun ini. Karena itu, semua orang harus memikirkan bagaimana tahun ini bisa dilewati dengan baik. Setiap orang harus berhati-hati dalam membuat keputusan dalam keadaan yang tidak menentu pada saat ini.

Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan harus dipunyai semua orang. Masa depan sepenuhnya ada di tangan kita, begitu sebagian orang berpendapat. Tetapi, sebagian orang sebaliknya yakin bahwa masa depan manusia ada di tangan Tuhan sepenuhnya. Mana yang benar? Bagi umat Kristen, sudah tentu apa saja yang terjadi adalah seizin Tuhan dan sesuai dengan rancangan-Nya. Tetapi ini bukan berarti manusia tidak perlu mengambil keputusan untuk mengatur hidupnya. Manusia harus menggunakan hikmat kebijaksanaan yang diterimanya dari Tuhan untuk dapat mengatur seisi dunia seperti apa yang diperintahkan Tuhan sejak awalnya (Kejadian 1: 28). Dengan demikian, menolak tanggung jawab untuk berusaha dan bekerja adalah dosa.

Dalam berusaha dan bekerja manusia haruslah melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika manusia hanya mau melakukan apa yang dikehendaki mereka, Tuhan bisa menghentikan atau mengubah arah tujuannya agar sesuai dengan rancangan-Nya. Tuhan yang berkuasa tidak akan kehilangan jejak atau terlena jika manusia melakukan tindakan apa pun di dunia, dan dihadapan-Nya tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan dosa dan kesalahannya.  Manusia selalu harus bertanggung jawab 100% atas apa yang dilakukannya. Karena itu, bagi kita umat Kristen, adalah bijak jika kita mau bekerja dan menjalankan tugas kita seperti yang dikehendaki-Nya. Kita harus memakai hikmat kebijaksanaan yang ada pada kita untuk bisa mencapai hasil yang baik. Hikmat kebijaksanaan dan hasil baik yang bagaimana?

Jika manusia hanya memakai hikmat dan kebijaksanaannya sendiri, apa yang diperbuatnya hanya menghasilkan sesuatu yang bodoh dimata Tuhan. Manusia tanpa Tuhan adalah bagaikan layang-layang yang ingin terbang tinggi tanpa menyadari bahwa talinya sudah putus.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”`1 Korintus 3: 19

Hikmat kebijaksanaan yang berkenan kepada Tuhan hanya bisa diperoleh dari Tuhan sendiri. Hanya dengan mengenal Tuhan dan perintah-Nya, manusia akan dapat bekerja dan mengambil tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mengenal Tuhan, dan karena itu mereka tidak dapat mengerti bahwa hidup mereka seharusnya untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, kita sadar bahwa tantangan dan perjuangan besar ada di depan kita. Tetapi kita juga sadar bahwa Tuhan adalah lebih besar dari semuanya. Karena itu, dengan menyadari kuasa Tuhan, marilah kita hidup dengan rasa takut akan Dia. Takut bukan berarti kita merasa bahwa Ia kejam, yang sudah menentukan nasib kita; sebaliknya, kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia menghendaki umat-Nya untuk mempunyai hidup yang berbahagia dan karena itu mau mengaruniakan hikmat kebijaksanaan kepada mereka yang tunduk kepada-Nya. Dengan hikmat kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan mempunyai harapan untuk masa depan.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Kita bertanggung jawab sepenuhnya atas cara hidup kita

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” 1 Timotius 6: 12

Tuhan 100 persen berdaulat dan manusia 100 persen bertanggung jawab, adalah semboyan yang dipakai oleh umat Kristen yang percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan, tetapi manusia tetap harus bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup mereka. Bagi sebagian orang, semboyan ini dianggap tidak adil, karena mereka tidak bisa menerima kalau apa yang terjadi dalam hidup mereka berjalan sedemkian rupa sehingga semuanya cocok dengan rencana Tuhan, tetapi mereka harus menjadi “kambing hitam”.

Bagi orang lain, mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa segala sesuatu di alam semesta pada akhirnya akan membuat rencana Tuhan terjadi. Mereka percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk memilih cara hidupnya, dan Tuhan tidak akan memaksakan kehendak-Nya. Pada pihak yang lain, ada juga orang yang percaya bahwa karena kedaulatan Tuhan, manusia tidak perlu bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup mereka. Bukankah segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan?

Bagi kita umat Kristen yang harus hidup di dunia, memang sering tantangan hidup menguji iman kita. Kita yang sudah berikrar untuk setia dan berharap kepada Tuhan dalam setiap keadaan, sekarang mungkin merasa bahwa hidup kita seharusnya dibimbing dan bahkan diatur sepenuhnya oleh Tuhan. Mengapa Tuhan masih mengharapkan kita untuk bertanggung jawab atas hidup kita jika pengampunan Tuhan sudah dijanjikan untuk umat-Nya? Bukankah kita sudah dipilih untuk diselamatkan?

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan Timotius bahwa selama hidup di dunia kita berjuang untuk menang. Dengan iman kita harus berani menghadapi semua tantangan dan persoalan hidup agar pada akhirnya kita akan memperoleh mahkota kehidupan. Ini tidak mudah, tetapi kita sudah berjanji kepada Tuhan di hadapan banyak saudara seiman. Kita tidak boleh mundur dari iman kita.

Dalam ayat di atas tertulis “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal”. Ini adalah ajakan yang membingungkan. Bukankah sebagai orang Kristen kita sudah mengaku percaya kepada Yesus, dan Yesus sudah menang atas maut sehingga kita dapat memperoleh hidup yang kekal? Mengapa kita harus “bertanding” dan “merebut”? Bukankah itu menandakan bahwa kita harus berusaha untuk mendapatkan dan mempertahankan keselamatan kita dengan usaha sendiri?

Bertanding untuk iman yang benar berarti lari menghindari dosa dan mengejar hal-hal seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5: 22-23). Pertandingan iman yang benar adalah tentang membuat pilihan – pilihan untuk mengejar kehendak Tuhan dan kehidupan iman setiap hari. Ini adalah keputusan kita untuk taat kepada pimpinan Roh Kudus dalam melawan godaan dan faktor-faktor yang menjauhkan diri dari Tuhan dan sebaliknya bersandar kepada-Nya sepenuhnya.

Hari ini, jika kita ingat bahwa hidup di dunia adalah sementara, dan itu jauh lebih singkat dari hidup yang akan kita jalani bersama Yesus di surga, baiklah kita sadar bahwa kita harus mati-matian memilih cara hidup yang baik selama di dunia. Mengapa demikian? Karena Tuhan sudah mengampuni kita, kita harus menyatakan rasa syukur kita dalam kesetiaan dalam iman. Bukan justru merasa bahwa kita tidak perlu lagi bekerja keras karena sudah dipilih untuk diselamatkan. Paulus merujuk pertandingan yang baik lagi dalam 2 Timotius 4:7 di mana dia berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Dengan demikian, patutlah kita meniru Paulus dengan tetap beriman, tetap setia dan tetapl berjuang memuliakan nama-Nya selama kita hidup.

Lemah lembut Tuhan Yesus memanggil

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3 – 6

Tuhan yang mahakuasa adalah mahakasih. Itulah Tuhan yang dikenal oleh umat Kristen. Memang kasih Tuhan itu terlihat dalam pemeliharaan-Nya setiap hari, tetapi yang paling bisa disadari adalah kasih-Nya yang memungkinkan manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus. Siapakah manusia yang beruntung mendapatkan karunia Tuhan yang cuma-cuma itu? Dalam ayat di atas dikatakan “Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran”. Apakah itu berarti semua orang akan diselamatkan? Tentu saja tidak. Allah memang ingin agar semua orang diselamatkan, tetapi tidak semua orang mau bertobat dan percaya kepada Yesus.

Pada zaman sebelum Yesus, orang Yahudi percaya bahwa merekalah satu-satunya bangsa yang diselamatkan. Tetapi, sesudah Yesus datang ke dunia, Alkitab menyatakan bahwa keselamatan tersedia untuk semua orang yang percaya (Yohanes 3: 16). Itu bukan untuk orang Yahudi saja, tetapi untuk segala bangsa dan seluruh umat manusia di dunia; dengan persyaratan bahwa mereka harus percaya kepada Yesus.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17 – 18

Walaupun manusia sejak penciptaan makin berbudaya dan makin pandai, adalah kenyataan bahwa manusia tidak dapat percaya kepada Allah dan kepada Anak-Nya dengan usaha sendiri. Tanpa pertolongan Tuhan, tidaklah mungkin manusia mengenal Allah. Manusia tanpa karunia Allah tidak akan menemui jalan keselamatan. Seluruh umat manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang terhilang, yang tidak dapat menemukan jalan yang benar. Tetapi untunglah, karena kasih-Nya Allah mengaruniakan Anak-Nya untuk mencari mereka yang tersesat.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataan-Nya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka.

Sesudah Yesus naik ke surga, apakah usaha-Nya untuk menyelamatkan manusia sudah berhenti? Tidak! Sampai sekarang Tuhan Yesus tetap bekerja memanggil mereka yang berdosa untuk kembali ke jalan yang benar, dan menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Yesus Juruselamat. Hari ini, sebuah pertanyaan untuk kita semua, apakah kita menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada orang yang lebih baik dan lebih pantas untuk diselamatkan. Bagi Tuhan, semua orang sudah berdosa. Tidakkah kita heran mengapa Tuhan menghendaki supaya semua orang diselamatkan, dan itu termasuk diri kita dan seluruh anggota keluarga kita? Bukankah Ia adalah Allah yang mahakasih? Pujilah Dia selalu!

Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil
Memanggil aku dan kau
Lihatlah Dia p’rihatin menunggu
Menunggu aku dan kau
Hai mari datanglah
Kau yang lelah mari datanglah
Sungguh lembut
Tuhan Yesus memanggil
Kau yang sesat, marilah

Janganlah ragu Tuhanmu membujuk
Membujuk aku dan kau
Jangan enggan menerima kasih-Nya
Terhadap aku dan kau
Hai mari datanglah
Kau yang lelah mari datanglah
Sungguh lembut
Tuhan Yesus memanggil
Kau yang sesat, marilah

Kabar baik atau kabar buruk?

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain” Roma 9: 22-24

Banyak orang yang berpendapat bahwa mengabarkan Injil tidak boleh dipengaruhi keadaan masyarakat. Itu karena isi Alkitab adalah sama sejak mulanya dan firman Tuhan tidak berubah untuk selama-lamanya. Walaupun demikian, banyak pimpinan gereja sekarang menyadari bahwa keadaan zaman sudah berubah, dan dengan itu cara penginjilan juga harus disesuaikan dengan kehidupan manusia di zaman ini. Sebagian di antara mereka bisa melakukan penginjilan dengan efektif tanpa mengurangi isi firman Tuhan, tetapi ada juga gereja yang tetap menjalankan cara penginjilan yang dipakai pada abad yang lalu. Oleh karena itu, banyak gereja yang saat ini mengalami kemunduran dan bahkan ditutup karena gagal dalam tugas pemuridan.

Sebenarnya, Injil adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia. Itu karena orang yang diselamatkan melalui darah Yesus tidak akan pergi ke neraka setelah meninggalkan dunia ini. Itu semata-mata karena karunia Allah. Walaupun demikian, sebagian orang merasa ragu akan jaminan keselamatan Allah. Itu karena adanya ayat di atas, ada beberapa ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah sudah menentukan siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka sejak awalnya, karena Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada mereka yang dipilih-Nya. Ini bisa membuat sebagian orang berpikir apakah ia atau seorang yang dikenalnya memang termasuk golongan yang sudah “ditakdirkan” untuk ke neraka. Sayang sekali, berita Injil tentang Tuhan yang sudah memilih orang yang akan diselamatkan sejak awalnya, membuat orang segan untuk pergi ke gereja. Hal yang sama bisa membuat sebagian orang Kristen segan untuk memberitakan Injil.

Haruskah orang Kristen percaya bahwa Tuhan menakdirkan manusia ke neraka? Konsep Tuhan yang mahakasih sering dianggap bertentangan dengan adanya neraka. Tetapi kita harus sadar bahwa karena Tuhan adalah mahasuci, semua manusia seharusnya dihukum untuk pergi ke neraka. Jika ada orang yang diselamatkan itu berarti Tuhan mengampuni dosa mereka yang sebenarnya tak terampuni. Jika kita sekarang berusaha untuk menjadi makin sempurna dalam Kristus selama hidup di dunia, itu menandakan bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, dan kita harus yakin bahwa kita sudah diselamatkan. Tetapi perbuatan baik apa pun yang kita lakukan bukanlah yang menyelamatkan kita. Hanya kasih karunia cuma-cuma yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, dan itu melalui iman di dalam Kristus Yesus yang memperkenalkan kebenaran-Nya kepada kita melalui Roh Kudus.

Alkitab menegaskan bahwa Allah mengatur apa yang ada di alam semesta. Jadi hidup dan dosa manusia tidaklah di luar pemeliharaan Tuhan yang mengatur segalanya. Tetapi hal pemilihan dan panggilan keselamatan merujuk pada karunia yang dibagikan Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Alkitab tidak menekankan kebalikannya: takdir ke neraka, penetapan untuk gagal, atau panggilan untuk berbuat dosa. Tuhan tidak membuat manusia berdosa, tetapi setiap orang sudah berdosa sejak lahir. Kita mengakui bahwa Tuhan memang mengeraskan hati Firaun (Keluaran 7: 3), namun Firaun bertindak sesuai dengan kapasitas alami dan kehendak bebasnya untuk melakukan kejahatan, sementara Tuhan mengarahkan tindakan jahatnya untuk mencapai tujuan-Nya. Dalam pengertian ini, tidak ada yang ada di luar kendali Allah.

Tentu saja bagi sebagian orang, mengapa dan bagaimana Tuhan sejak mulanya memilih orang yang akan diselamatkan dan orang yang akan dihukum adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Namun kita harus meninggalkan usaha untuk memahami hal yang misterius ini. Tuhan itu baik. Tuhan adalah kasih. Dan Dia bertindak dari adanya kelimpahan kebaikan dan kasih-Nya untuk memberikan kehidupan. Penyebab penghukuman kita adalah dosa kita. Hanya kesabaran dan kasih karunia ilahi yang mencegah adanya penghakiman terakhir bagi kita (Rom 2: 4). Tuhan tidak menyebabkan dosa; manusia sendiri yang melakukannya. Sebaliknya, Tuhan melakukan regenerasi hati pada siapa saja yang dikasihi-Nya sehingga mereka dapat mengalami kasih karunia ilahi yang melampaui kapasitas alami mereka.

Selama hidup di dunia, kita tidak tahu atau bisa memastikan apakah orang tertentu memang termasuk dalam pilihan-Nya. Dan kita juga tidak tahu siapakah yang pada akhirnya akan diselamatkan, karena Tuhan terus bekerja setiap saat memanggil mereka yang tersesat. Oleh karena itu, orang yang percaya bahwa dirinya sudah diselamatkan seharusnya tetap giat mengabarkan kabar baik ke seluruh penjuru dunia. Kita tidak bisa berkata bahwa orang itu, golongan itu atau bangsa itu sudah ditentukan Tuhan untuk ke neraka. Bagi kita tidak ada istilah “Tuhan menakdirkan manusia ke neraka” karena dosa tanpa pertobatanlah yang menyebabkan penghukuman atas manusia.

Bagaimana kita bisa menarik lebih banyak orang untuk bertobat dari hidup lamanya yang tidak mengenal Kristus untuk menjadi pengikut Kristus? Satu hal yang pasti adalah kita harus mengabarkan kabar baik melalui hidup kita. Kita harus hidup dengan memancarkan terang-Nya, sehingga setiap orang yang melihat kita akan memuliakan nama Tuhan di surga.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia

“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12

Ada seseorang yang pernah bertanya, “Sepertinya saya menyiratkan bahwa mereka yang tidak terpilih bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertobat, karena mereka dilahirkan untuk kehancuran. Apakah ini benar, bahwa banyak orang diciptakan tanpa kesempatan untuk diselamatkan?” Pertanyaan ini sudah dilontarkan oleh banyak orang yang merasa bahwa Tuhan orang Kristen itu begitu kejam karena apa yang disebut faham “double predestination” atau “pemilihan ganda: Tuhan memilih orang yang diselamatkan, dan Tuhan memilih mereka yang diselamatkan.

Faham “pemilihan ganda” sebenarnya bisa dibagi lagi dalam dua jenis yaitu positif-positif, dan positif negatif. Pada jenis yang pertama, pemegang faham teologi ini percaya bahwa Tuhan secara aktif menentukan mereka yang selamat, dan sisanya secara pasti ditentukan Tuhan untuk tidak diselamatkan. Pada pihak yang lain, faham positif-negatif menyatakan bahwa Tuhan memilih mereka yang diselamatkan, tetapi menelantarkan sisanya sehingga memilih jalan kebinasaan. Semua gereja Kristen percaya predestinasi, tetapi ada yang percaya pada doktrin”pemilihan tunggal” yaitu Tuhan hanya menentukan mereka yang diselamatkan. Dalam pandangan apa pun, orang sering bertanya-tanya apakah mereka yang tidak dipilih tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk diselamatkan? Jika masih ada kesempatan, lalu bagaimana itu bisa terjadi?

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Jika ada orang yang menjawab bahwa dari semula orang-orang tertentu sudah tidak mempunyai harapan, jawaban itu tidak akan menjadi cara yang baik dan alkitabiah untuk menyatakan kasih Tuhan. John Piper, seorang teolog Reformed yang terkenal pernah menjelaskan adanya dua kebenaran alkitabiah yang dianggap banyak orang kontradiktif, tetapi sebenarnya tidak. Kedua hal ini adalah sangat penting dalam kehidupan orang Kristen karena adanya implikasi yang serius dari dua kebenaran itu yang mempengaruhi orang Kristen dalam cara mereka hidup dan menginjil.

Kebenaran pertama adalah, dari segala kekekalan, Allah telah memilih dari antara seluruh umat manusia yang jatuh dan berdosa, sebuah umat untuk diri-Nya sendiri — tetapi tidak semua orang. Jadi, pemilihan ini bukan karena adanya keistimewaan pada orang-orang terpilih itu. Allah mengejar keselamatan mereka tidak hanya dengan secara efektif mencapai penebusan dosa mereka melalui Kristus, tetapi juga dengan secara berdaulat mengatasi semua pemberontakan mereka dan membawa mereka kepada iman yang menyelamatkan.

Kebenaran kedua ialah bahwa setiap orang yang binasa dan akhirnya hilang dan terputus dari Tuhan karena peninggian diri yang nyata dan tercela, yaitu hidup dalam dosa. Karena hati mereka dikeraskan terhadap pernyataan dan kemuliaan Allah di alam semesta dan di dalam Injil, tidak ada orang yang tidak bersalah yang bakal binasa. Tak seorang pun yang dengan rendah hati menginginkan Kristus sebagai Juru Selamat akan hilang. Tidak seorang pun akan dihakimi atau dikutuk karena tidak mengetahui, atau mempercayai, atau mematuhi suatu kenyataan yang tidak dapat mereka peroleh. Semua kehilangan dan semua penghakiman adalah karena dosa dan pemberontakan terhadap pernyataan Allah yang sudah diberikan. Tidak akan ada orang yang tidak bersalah di neraka, dan hanya akan ada orang berdosa yang diampuni di surga.

Yang membuat kedua kebenaran itu tidak saling bertentangan adalah pertanggungjawaban moral manusia yang tidak dihancurkan oleh kedaulatan mutlak Allah dalam keselamatan. Dengan kata lain, pengaturan Tuhan yang final dan menentukan atas segala sesuatu, termasuk siapa yang beriman, sesuai dengan hakikat manusia yang harus bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan dari awalnya: apakah mereka percaya atau tidak. Jadi, pada satu pihak Tuhan berdaulat 100% dan pada pihak lain manusia bertanggung jawab 100% atas hidupnya.

Sekarang, kita hidup di dunia yang pada umumnya menolak untuk menerima kedaulatan Allah dalam segala hal. Seperti tertulis pada ayat di atas, Allah bekerja di dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya. Orang-orang menolak kenyataan ini, sebagian besar karena adanya satu-satunya solusi yang dapat diterima oleh pikiran mereka, yaitu anggapan bahwa manusia bisa menentukan nasibnya sendiri baik di dunia maupun setelah mati. Tetapi penentuan nasib sendiri manusia tidak ditemukan di mana pun di dalam Alkitab. Sebaliknya, kedaulatan Tuhan ada, dan tanggung jawab manusia ada. Tidak ada hal yang bisa dianggap kontradiktif.

Oleh karena itu, jika ada orang yang mengira bahwa “banyak orang diciptakan tanpa adanya kesempatan untuk diselamatkan” , mereka adalah keliru. Setiap orang dirayu dan diundang oleh Tuhan setiap hari. Mereka sedang dirayu melalui wahyu alami — matahari terbit untuk yang baik dan yang jahat, atau hujan yang turun untuk yang baik dan yang jahat — atau melalui hati nurani, atau melalui kebenaran Injil. Pernyataan Allah ini adalah apa yang memberi mereka kesempatan untuk diselamatkan. Ini adalah undangan yang nyata. Hal ini penting karena jika mereka mau merendahkan diri, bertobat, dan menerima kasih karunia Tuhan, mereka akan diselamatkan. Dalam hal ini, manusia juga diselamatkan karena karunia Tuhan semata-mata, dan bukan karena perbuatan mereka.

Hari ini, kita belajar bahwa mereka yang merendahkan diri dan menerima kasih karunia Tuhan akan sadar bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang berdaulat yang memungkinkan mereka untuk percaya. Dan mereka yang tidak melakukannya harus tahu bahwa itu karena dosa mereka sendiri. Bahwa mereka mencintai sesuatu yang lain lebih dari Tuhan adalah sebab mengapa mereka tidak percaya. Tidak akan ada orang yang tidak bersalah di neraka, dan hanya akan ada orang berdosa yang diampuni di surga. Segala puji untuk Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa!