
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”— Matius 6:11

Kisah roti manna yang turun dari surga mengingatkan kita pada perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Setelah keluar dari perbudakan di Mesir, mereka harus menghadapi kehidupan yang tidak lagi ditopang oleh persediaan makanan yang biasa mereka kenal. Di padang gurun, mereka tidak dapat mengandalkan ladang yang subur atau hasil panen yang teratur. Tuhan memelihara mereka dengan menyediakan manna, makanan yang mereka perlukan setiap hari.
Ada sesuatu yang menarik dalam cara Tuhan memberikan manna. Bangsa Israel diperintahkan untuk mengumpulkannya menurut kebutuhan setiap orang. Mereka tidak boleh menyimpannya sampai keesokan hari, kecuali menjelang hari Sabat. Ketika sebagian orang mencoba menimbunnya, manna itu menjadi berulat dan berbau busuk (Keluaran 16:16–20). Melalui pengalaman tersebut, Tuhan mengajar umat-Nya untuk hidup dalam ketergantungan kepada pemeliharaan-Nya, bukan dalam ilusi bahwa mereka dapat menjamin masa depan dengan kekuatan sendiri.
Ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kita diingatkan pada pelajaran yang sama. Doa ini bukan sekadar permohonan agar Tuhan menyediakan makanan di atas meja. Ini adalah pengakuan bahwa kehidupan kita bergantung pada pemeliharaan-Nya, bahkan untuk kebutuhan yang paling mendasar sekalipun.
Namun, apakah meminta makanan yang secukupnya berarti kita tidak boleh merencanakan masa depan, menabung, atau mempersiapkan kebutuhan hari tua? Tentu tidak. Alkitab sendiri menghargai hikmat dan tanggung jawab dalam mengelola apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kita boleh bekerja, menabung, berinvestasi, dan memikirkan masa depan keluarga. Akan tetapi, semua itu bukan jaminan mutlak bahwa hidup kita akan selalu berjalan sesuai rencana.
Kita dapat mempunyai tabungan yang cukup, rumah yang nyaman, dan asuransi yang baik, tetapi tetap tidak mampu mengendalikan kesehatan, keadaan ekonomi, atau peristiwa yang tidak terduga. Sebaliknya, ada orang yang memiliki sedikit harta tetapi mengalami pemeliharaan Tuhan melalui pertolongan keluarga, kemurahan hati sesama, dan kecukupan yang datang pada waktunya. Pemeliharaan Tuhan tidak selalu berarti kita memperoleh segala sesuatu yang kita inginkan, melainkan bahwa kita diajak menjalani kehidupan dengan bersandar kepada-Nya di tengah keadaan yang tidak selalu kita pahami.
Kata secukupnya juga mengajak kita memeriksa keinginan hati. Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk memiliki lebih banyak, kita mudah menganggap bahwa kecukupan hanya tercapai apabila kita mempunyai lebih daripada yang dimiliki sekarang. Kita bersyukur ketika menerima berkat, tetapi tidak jarang segera mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang belum kita miliki. Akibatnya, kita terus mengejar tambahan tanpa pernah sungguh-sungguh menikmati apa yang telah diterima.
Mengenang manna bukan berarti kita harus berhenti berusaha atau menganggap kemiskinan sebagai kebajikan. Sebaliknya, kita belajar membedakan kebutuhan dari keserakahan, tanggung jawab dari kecemasan, dan perencanaan yang bijaksana dari keinginan mengendalikan segala sesuatu.
Ada pula makna penting dalam kata kami pada doa tersebut. Yesus tidak mengajar kita berkata, “Berikanlah makanan saya,” melainkan, “Berikanlah kami makanan kami.” Kita tidak hanya memikirkan kecukupan diri sendiri, tetapi juga kebutuhan orang lain. Jika Tuhan memberikan kelimpahan kepada kita, kelimpahan itu dapat menjadi sarana untuk menolong mereka yang berkekurangan. Kita yang menerima pemeliharaan Tuhan dipanggil untuk turut menjadi saluran pemeliharaan-Nya bagi sesama.
Pada akhirnya, manna mengajarkan bahwa kita membutuhkan Tuhan bukan hanya ketika menghadapi krisis besar, melainkan juga dalam kebutuhan sehari-hari. Kita tidak harus menunggu mukjizat luar biasa untuk mengenali kebaikan-Nya. Makanan di meja, pekerjaan yang dapat kita lakukan, keluarga yang mendampingi, dan pertolongan yang datang melalui orang lain pun dapat menjadi ungkapan pemeliharaan-Nya.
Hari ini, kita boleh bekerja untuk masa depan tanpa diperbudak oleh kecemasan tentang masa depan. Kita boleh bersyukur atas kelimpahan tanpa menjadikannya ukuran kasih Tuhan. Dan ketika apa yang kita miliki terasa sederhana, kita tetap dapat datang kepada Bapa dengan iman, memohon apa yang kita perlukan untuk hari ini.
Sebab, sebagaimana bangsa Israel belajar menerima manna setiap hari, kita pun dipanggil untuk menjalani hidup selangkah demi selangkah, dengan bekerja secara bertanggung jawab, berbagi dengan sesama, dan mempercayakan hari esok kepada Tuhan.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas pemeliharaan-Mu dalam kehidupan kami. Ajarlah kami bekerja dengan tekun tanpa dikuasai kecemasan, bersyukur atas kecukupan tanpa terjerat keserakahan, dan berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Kiranya kami selalu mengandalkan kasih dan anugerah-Mu, hari demi hari. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.””
— Kejadian 4:7

Setiap orang mendambakan kehidupan yang damai. Kita ingin menjalani hari-hari dengan hati yang tenteram, tanpa dibebani kemarahan, kekecewaan, dan konflik dengan sesama. Namun, sering kali kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang merampas kedamaian kita bukanlah keadaan di luar diri kita, melainkan pikiran dan perasaan yang kita pelihara di dalam hati.
Ketika seseorang menyakiti kita, wajar jika kita merasa kecewa atau marah. Kita mungkin terus mengingat perkataannya, memikirkan perlakuannya, bahkan membayangkan betapa menyenangkan hidup kita seandainya orang itu tidak ada dalam kehidupan kita. Ketika pikiran semacam ini mulai menjadi pelarian, kita perlu berhenti dan memeriksa hati. Jangan-jangan, luka yang belum disembuhkan telah berkembang menjadi kebencian yang perlahan-lahan menguasai diri kita.
Dalam Kejadian 4, Kain menjadi sangat marah ketika persembahannya tidak mendapat perkenanan Tuhan. Sebelum Kain membunuh Habel, Tuhan telah memperingatkannya bahwa dosa sedang mengintip di depan pintu dan ingin menguasainya. Namun, Kain tidak mengatasi kemarahannya. Ia membiarkan perasaan itu bertumbuh hingga akhirnya melakukan pembunuhan. Habel kehilangan nyawanya, sedangkan Kain harus menanggung akibat yang berat dari perbuatannya.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa dosa yang dibiarkan bertumbuh dapat menghancurkan kehidupan. Kebencian tidak selalu berakhir dengan kekerasan, tetapi kebencian yang dipelihara dapat merampas sukacita, merusak hubungan, dan mengubah cara kita memandang sesama. Ironisnya, orang yang kita benci mungkin menjalani hidupnya seperti biasa, sementara kita sendiri terus tersiksa oleh pikiran tentang dirinya.
Karena itu, Paulus menasihati jemaat di Efesus, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Efesus 4:26). Kita tidak selalu dapat mencegah munculnya kemarahan, tetapi kita bertanggung jawab atas bagaimana kita menyikapinya. Persoalannya, bagaimana kita dapat melepaskan kebencian ketika luka yang kita alami begitu dalam dan hati kita seolah-olah tidak sanggup mengampuni?
Di sinilah kita perlu memandang kepada Kristus.
Pengampunan Kristen tidak bermula dari kekuatan hati manusia, melainkan dari anugerah Allah yang dinyatakan melalui salib Kristus. Kita semua adalah orang berdosa yang tidak dapat membenarkan diri di hadapan Allah melalui kebaikan atau usaha kita sendiri. Namun, Allah mengasihi kita dan memberikan Anak-Nya untuk menanggung hukuman dosa kita. Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Kita menerima pengampunan bukan karena kita layak menerimanya, melainkan karena kasih karunia Allah di dalam Kristus.
Kebenaran ini mengubah cara kita memandang orang yang menyakiti kita. Kita diingatkan bahwa kita sendiri hidup dari belas kasihan Allah. Kita membutuhkan pengampunan-Nya setiap hari. Jika Kristus telah mengampuni kita dengan harga yang begitu mahal, bagaimana mungkin kita terus memelihara kebencian seolah-olah kita sendiri tidak pernah membutuhkan pengampunan?
Efesus 4:32 mengingatkan kita, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Perhatikan urutannya: Allah telah mengampuni kita di dalam Kristus; karena itu, kita dipanggil untuk mengampuni sesama. Kita tidak mengampuni agar Allah bersedia menerima kita. Kita mengampuni karena di dalam Kristus kita telah diterima dan diampuni oleh-Nya.
Tentu saja, mengampuni bukan berarti menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang tidak penting. Pengampunan tidak meniadakan keadilan, tidak mengharuskan kita mempercayai kembali orang yang menyakiti kita, dan tidak selalu berarti hubungan dapat segera dipulihkan. Kita boleh menetapkan batas yang sehat dan menuntut pertanggungjawaban. Namun, kita dapat menyerahkan hak untuk membalas dendam kepada Allah dan menolak membiarkan kebencian menguasai hati kita.
Pengampunan juga tidak selalu terjadi dalam sekejap. Luka yang dalam mungkin membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Ada kalanya kita harus berulang kali membawa kepedihan kita kepada Tuhan dan memohon pertolongan Roh Kudus agar mampu melepaskan keinginan untuk membalas. Anugerah Kristus bukan hanya memberi kita teladan untuk mengampuni, tetapi juga menjadi sumber kekuatan ketika kita merasa tidak mampu melakukannya.
Damai sejati bukanlah ketika semua orang memperlakukan kita dengan baik, melainkan ketika hati kita belajar beristirahat dalam kasih Kristus, bahkan di tengah hubungan yang sulit. Kita tidak lagi harus menjadi tawanan kesalahan orang lain karena hidup kita berakar pada anugerah Allah.
Kita mengampuni bukan karena luka kita tidak berarti, melainkan karena kasih Kristus lebih besar daripada luka kita. Kita melepaskan kebencian bukan karena orang yang bersalah selalu layak menerimanya, melainkan karena kita sendiri telah menerima anugerah yang tidak pernah layak kita tuntut.
Kiranya, ketika dosa mengintip di depan pintu hati kita, kita tidak menyerah kepadanya. Pandanglah Kristus, sumber pengampunan dan damai sejati. Di dalam anugerah-Nya, kita menemukan keberanian untuk mengampuni dan kebebasan untuk menjalani hidup tanpa diperbudak oleh kebencian.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami mengakui bahwa hati kami sering dipenuhi kemarahan, kekecewaan, dan keinginan untuk membalas orang yang menyakiti kami. Ampunilah kami ketika kami melupakan betapa besar pengampunan yang telah kami terima melalui pengorbanan Kristus.
Terima kasih karena ketika kami masih berdosa, Kristus telah mati bagi kami. Tolong kami memahami lebih dalam anugerah-Mu, sehingga kami tidak mengampuni dengan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan dengan pertolongan Roh Kudus. Sembuhkanlah luka hati kami, bebaskanlah kami dari kepahitan, dan ajarlah kami membedakan pengampunan dari pembenaran atas kejahatan.
Mampukan kami menyerahkan keadilan ke dalam tangan-Mu tanpa memelihara keinginan untuk membalas. Biarlah kasih Kristus menguasai hati kami dan damai-Mu menjaga pikiran kami.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, sumber pengampunan dan keselamatan kami, kami berdoa. Amin.
“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.”
— 1 Korintus 15:22

Mengapa setiap orang membutuhkan Kristus? Bukankah ada orang yang beragama, yang hidupnya baik, jujur, suka menolong, dan berusaha tidak merugikan orang lain? Mengapa mereka tetap membutuhkan Yesus? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami hubungan antara Adam dan Kristus sebagaimana dijelaskan Rasul Paulus.
Dalam Kejadian, Adam bukan hanya nama seorang manusia. Kata Ibrani adam juga dapat berarti manusia atau umat manusia, bergantung pada konteksnya. Adam dibentuk dari tanah (adamah), mengingatkan kita bahwa manusia adalah ciptaan yang bergantung pada Allah. Kisah Adam dan Hawa memperlihatkan kenyataan mendasar tentang manusia: kita diciptakan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah, tetapi kita juga memiliki kecenderungan untuk menolak kehendak-Nya dan menentukan jalan sendiri.
Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, dosa memasuki pengalaman manusia. Keduanya mengambil bagian dalam ketidaktaatan itu. Namun, ketika Paulus menjelaskan dosa dan kematian dalam Roma 5 serta 1 Korintus 15, ia secara khusus menyoroti Adam. Mengapa? Karena Paulus sedang memperlihatkan hubungan yang mendalam antara Adam dan Kristus.
Adam menggambarkan umat manusia dalam keadaan lama, sedangkan Kristus menghadirkan awal dari kehidupan yang baru. Melalui Adam, manusia pertama dalam penciptaan, Paulus menjelaskan kenyataan dosa dan kematian yang menguasai kehidupan manusia. Melalui Kristus, ia memberitakan kemenangan atas kematian melalui kebangkitan. Hubungan ini menjadi lebih jelas ketika kita membaca 1 Korintus 15:45:
“Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.”
Dalam Roma 5:19, Paulus menulis bahwa melalui ketidaktaatan satu orang, banyak orang menjadi orang berdosa, dan melalui ketaatan satu orang, banyak orang menjadi benar. Di sini kita melihat gagasan tentang perwakilan. Tindakan Adam mempunyai makna yang melampaui dirinya sendiri, sebagaimana ketaatan Kristus membawa akibat yang jauh melampaui kehidupan pribadi-Nya. Namun, karya Kristus bukan sekadar membalikkan kesalahan Adam. Kristus melakukan apa yang tidak dapat dilakukan manusia berdosa: Ia taat kepada Bapa, menanggung dosa, dan bangkit mengalahkan kematian.
Karena itu, kita tidak dapat menyelesaikan persoalan dosa hanya dengan menyalahkan Adam. Kita sendiri mengenali kecenderungan yang sama dalam hati kita: kesombongan, iri hati, kebencian, ketidakjujuran, dan keinginan menempatkan diri sebagai pusat kehidupan. Dosa bukan hanya sesuatu yang terjadi pada awal sejarah manusia; dosa juga nyata dalam pilihan dan tindakan kita sekarang. Kita membutuhkan pengampunan, pendamaian dengan Allah, dan pembaruan yang tidak dapat kita hasilkan dengan kekuatan sendiri.
Di sinilah persekutuan dengan Kristus menjadi sangat penting. Paulus tidak hanya mengatakan bahwa Kristus memberikan ajaran yang lebih baik daripada Adam. Ia mengatakan bahwa dalam Kristus ada kehidupan. Kebangkitan Yesus merupakan awal dan jaminan kemenangan Allah atas kematian. Sebagaimana manusia mengalami kenyataan kematian karena dosanya, demikian pula mereka yang menjadi milik Kristus memiliki pengharapan akan kebangkitan karena penebusan-Nya. Ayat 23 melanjutkan bahwa mereka yang menjadi milik Kristus akan dibangkitkan pada kedatangan-Nya. Jadi, pengharapan Kristen bukan sekadar hidup lebih baik sekarang, melainkan kehidupan yang dipulihkan oleh Allah.
Hubungan Adam dan Kristus juga mengajar kita untuk merendahkan hati. Kita tidak datang kepada Kristus karena kita lebih baik daripada orang lain. Kita datang karena kita semua membutuhkan anugerah. Perbuatan baik tetap penting, tetapi perbuatan baik tidak dapat menggantikan karya Kristus dalam mendamaikan kita dengan Allah. Keselamatan bukan upah bagi manusia yang merasa layak, melainkan pemberian Allah bagi mereka yang percaya kepada Kristus.
Mengapa setiap orang membutuhkan Kristus? Karena persoalan manusia lebih dalam daripada kelemahan moral, dan pengharapan manusia lebih besar daripada kemampuannya sendiri. Dalam Adam, kita melihat kenyataan dosa dan kematian; dalam Kristus, kita menemukan anugerah, pendamaian, dan pengharapan kebangkitan. Adam mengingatkan kita akan keadaan manusia, tetapi Kristus menunjukkan tujuan karya penyelamatan Allah: membawa manusia kepada kehidupan bersama-Nya.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang membutuhkan anugerah-Mu. Kami tidak ingin menyalahkan orang lain atas dosa kami, sebab kami pun sering memilih jalan sendiri dan mengabaikan kehendak-Mu. Terima kasih karena melalui Yesus Kristus, Engkau memberikan pengampunan dan pengharapan akan kebangkitan. Tolong kami hidup dalam persekutuan dengan Kristus, bertumbuh dalam ketaatan, dan menunjukkan kasih-Mu kepada sesama. Biarlah hidup kami tidak bermegah dalam kebaikan diri sendiri, tetapi senantiasa bersyukur atas keselamatan yang Engkau anugerahkan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.”
— Roma 8:25

Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Ketika masih muda, kita mungkin membayangkan bahwa usia tujuh puluh tahun masih sangat jauh. Namun, tanpa terasa, kita tiba pada usia itu. Kita mulai merasakan perubahan pada tubuh, tenaga tidak lagi seperti dahulu, dan beberapa aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan kini membutuhkan usaha lebih besar. Kita pun mulai memikirkan berapa lama lagi kita dapat menikmati kehidupan bersama pasangan, anak-anak, dan cucu-cucu.
Keinginan untuk hidup panjang dan tetap sehat bukanlah sesuatu yang salah. Kita ingin menikmati hari-hari bersama keluarga, tetap mandiri, dan masih dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Kita berusaha menjaga kesehatan, berolahraga, mengonsumsi makanan yang baik, serta menjalani pemeriksaan dan pengobatan ketika diperlukan. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab kita dalam memelihara kehidupan yang dipercayakan Allah.
Namun, kita juga menyadari bahwa usaha terbaik sekalipun tidak menjamin umur panjang. Ada orang yang hidup sampai usia sembilan puluh atau seratus tahun, sementara yang lain meninggal jauh lebih muda. Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa orang yang berumur panjang lebih dikasihi Allah atau bahwa mereka yang meninggal lebih awal kurang beriman. Panjangnya umur bukan ukuran mutlak kasih dan perkenanan Allah.
Umur panjang adalah harapan yang wajar, tetapi hidup kekal dalam Kristus adalah pengharapan yang melampaui panjangnya umur.
Dalam kehidupan Kristen, ada sebuah ungkapan teologis yang penting: sudah, tetapi belum (already, but not yet). Melalui Kristus, kita sudah menerima keselamatan dan hidup kekal. Namun, kita belum mengalami kepenuhan keselamatan itu. Kita masih hidup dalam dunia yang mengenal penyakit, penderitaan, penuaan, dan kematian. Kita sudah menjadi milik Kristus, tetapi masih menantikan saat ketika tubuh kita dibangkitkan dan seluruh ciptaan diperbarui oleh Allah.
Paulus menjelaskan kenyataan ini dalam Roma 8. Seluruh ciptaan mengeluh dan berada dalam penderitaan, sementara orang percaya pun mengeluh sambil menantikan pembebasan tubuhnya. Iman tidak membuat kita kebal terhadap penderitaan, dan keselamatan tidak berarti bahwa kita langsung terbebas dari segala kelemahan manusia. Kita masih berada dalam perjalanan menuju penggenapan janji Allah.
Karena itu, Paulus berkata, “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Pengharapan Kristen bukanlah keyakinan bahwa segala sesuatu pasti berjalan sesuai keinginan kita. Kita boleh berdoa agar Tuhan memberikan umur panjang, kesehatan, dan kesempatan untuk menikmati keluarga lebih lama. Namun, kita tidak dapat menuntut semua itu seolah-olah Allah berutang kepada kita. Kita berdoa, berusaha, dan menggunakan sarana yang tersedia, sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
Menanti dengan tekun bukan berarti kita berhenti membuat rencana atau kehilangan semangat menjalani kehidupan. Sebaliknya, kita tetap dapat merencanakan masa depan, menjaga kebugaran, memelihara persahabatan, melayani sesama, dan menikmati hari-hari yang masih diberikan kepada kita. Kita melakukannya bukan karena yakin bahwa kita menguasai hari esok, melainkan karena kita percaya bahwa hari ini pun merupakan anugerah Allah.
Tentu, menerima kenyataan bahwa umur kita terbatas tidak selalu mudah. Kita mungkin masih memiliki banyak kerinduan yang belum terwujud. Kita ingin melihat cucu-cucu bertumbuh dewasa, menikmati kebersamaan dengan pasangan selama mungkin, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Kita boleh membawa semua kerinduan itu dalam doa. Namun, di tengah ketidakpastian, kita belajar bahwa pengharapan kita tidak bergantung pada berapa lama kita dapat bertahan hidup di dunia ini.
Kita berharap hidup panjang, tetapi kita tidak menggantungkan seluruh pengharapan pada panjangnya umur. Hidup kekal dalam Kristus bukan sekadar perpanjangan kehidupan sekarang, melainkan pengharapan akan kebangkitan dan kehidupan dalam ciptaan yang telah diperbarui, ketika kematian tidak lagi berkuasa.
Jadi, sudah, tetapi belum. Kita sudah menerima janji keselamatan, tetapi masih menantikan penggenapannya. Selama masih diberi kehidupan, marilah kita menjalaninya dengan penuh syukur dan tanggung jawab. Kita tidak mengetahui berapa banyak hari yang tersisa, tetapi kita mengetahui kepada siapa kita mempercayakan hari-hari itu. Kita menantikan masa depan dengan tekun, bukan karena kita mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan karena kita percaya kepada Allah yang setia menepati janji-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih atas kehidupan yang Engkau anugerahkan. Tolong kami memelihara kesehatan, menjalani hari-hari dengan bijaksana, dan menerima keterbatasan kami dengan iman. Ajarlah kami berharap bukan hanya pada panjangnya umur, melainkan terutama pada janji keselamatan yang telah Engkau berikan melalui Kristus. Amin.
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” — Mazmur 42:6

Di Australia, kita sering mendengar sapaan sederhana, “How are you?” Biasanya, kita menjawab, “Good, thank you,” lalu percakapan berlanjut. Dalam banyak situasi, sapaan dan jawaban ini merupakan bagian dari kesopanan sehari-hari, tanpa harus menjadi awal percakapan yang lebih mendalam.
Namun, bagaimana jika seseorang bertanya demikian ketika sebenarnya hati kita sedang tidak baik-baik saja? Mungkin kita sedang menghadapi masalah keluarga, menerima kabar yang mengecewakan, atau memikirkan sesuatu yang membebani hati. Meski demikian, kita mungkin tetap menjawab, “Good, thank you,” karena merasa tidak perlu menceritakan pergumulan pribadi kepada orang lain. Itu tidak selalu salah. Tidak semua orang perlu mengetahui apa yang sedang kita alami, dan menjaga privasi bukan berarti kita tidak jujur.
Namun, ada pertanyaan yang lebih penting: beranikah kita mengakui keadaan hati kita yang sebenarnya kepada diri sendiri dan kepada Tuhan? Kita mungkin memilih untuk tidak menceritakan masalah kepada orang lain, tetapi jangan sampai kita menyangkal kesedihan yang sedang kita alami. Di hadapan Tuhan, kita tidak perlu berpura-pura kuat. Menjadi orang Kristen tidak berarti kita kebal terhadap kesedihan, kekecewaan, dan kegelisahan.
Pemazmur dalam Mazmur 42 mengalami pergumulan semacam itu. Ia menggambarkan jiwanya seperti rusa yang merindukan sungai berair. Ia merindukan Allah, Allah yang hidup (ayat 2–3). Kerinduannya bukan sekadar keinginan agar masalahnya selesai, melainkan kerinduan akan Allah sendiri.
Ia mengenang masa ketika berjalan bersama orang banyak menuju rumah Allah dengan sorak-sorai dan ucapan syukur (ayat 5). Namun, keadaan sekarang berbeda. Ia berduka, bahkan orang-orang bertanya, “Di mana Allahmu?” (ayat 4, 11). Pertanyaan itu tentu menyakitkan bagi seseorang yang sedang merindukan pertolongan Allah.
Bukankah kita juga dapat mengalami keadaan serupa? Kita percaya kepada Allah, tetapi masalah tidak kunjung selesai. Kita berdoa, tetapi jawaban yang dinantikan belum datang. Kita ingin merasakan kedekatan dengan Allah, tetapi hati justru dipenuhi kegelisahan.
Yang menarik, pemazmur tidak berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja. Ia bertanya kepada jiwanya sendiri, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia berani mengakui kesedihannya. Ia tidak menyangkal kenyataan hanya karena ia percaya kepada Allah.
Namun, pemazmur tidak berhenti pada kesedihan itu. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Berharaplah kepada Allah!” Ini bukan berarti kesedihannya langsung lenyap. Bahkan, menjelang akhir mazmur, ia kembali mengungkapkan kegelisahan yang sama. Pergumulannya belum selesai, tetapi ia terus mengarahkan hatinya kepada Allah.
Perhatikan perkataannya, “Aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.” Kata lagi mengungkapkan pengharapan akan masa depan yang belum dialaminya. Ia belum mengetahui bagaimana pergumulannya akan berakhir, tetapi ia tetap berharap kepada Allah, penolong dan Allahnya.
Inilah pengharapan Kristen. Kita tidak harus menyangkal kenyataan pahit atau meyakinkan diri bahwa semua masalah pasti segera selesai. Kita boleh mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, sambil tetap mempercayai kesetiaan Allah. Kejujuran tentang perasaan tidak bertentangan dengan iman; justru dari pengakuan yang jujur, kita dapat belajar membawa seluruh pergumulan kita kepada Tuhan.
Karena itu, ketika pagi ini kita bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana kabarku?”, marilah kita menjawab dengan jujur. Kita tidak wajib menceritakan segala sesuatu kepada setiap orang, tetapi kita tidak perlu menyembunyikan keadaan hati kita dari Tuhan. Jika kita membutuhkan dukungan, kita dapat memilih dengan bijaksana orang yang dapat dipercaya untuk berbagi beban.
Kita boleh berkata, “Tuhan, hatiku berat dan jiwaku gelisah. Aku belum memahami jalan-Mu, tetapi aku mau tetap berharap kepada-Mu.”
Pengakuan yang jujur bukanlah tanda bahwa iman telah gagal. Kita dapat datang kepada Allah dengan hati yang terluka, tanpa berpura-pura kuat, sambil tetap berharap kepada-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah aku jujur di hadapan-Mu. Ketika hatiku tertekan dan jiwaku gelisah, mampukanlah aku untuk tetap berharap kepada-Mu, sebab Engkaulah penolongku dan Allahku. Amin.
“Berkatalah raja: ‘Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?’”— Daniel 4:30

Julius Caesar, seorang jenderal dan pemimpin Romawi yang terkenal, pernah mengucapkan kalimat Latin Veni, vidi, vici, yang berarti, “Aku datang, aku melihat, aku menang.” Ungkapan itu menggambarkan kemenangan militernya yang cepat. Namun, perjalanan hidupnya juga memperlihatkan bagaimana keberhasilan militer dapat membawa seseorang menuju pemusatan kekuasaan yang luar biasa. Pada tahun 44 SM, Caesar diangkat sebagai dictator perpetuo, atau diktator seumur hidup. Tidak lama kemudian, ia dibunuh oleh sekelompok senator Romawi pada tanggal 15 Maret tahun yang sama.
Ada ironi dalam kehidupan Caesar. Seorang yang berkali-kali memenangkan pertempuran ternyata tidak mampu mempertahankan hidupnya sendiri. Kekuasaan yang tampaknya begitu kokoh tidak dapat melindunginya dari pengkhianatan dan kematian.
Kisah yang berbeda, tetapi memiliki kemiripan dalam hal kesombongan, kita temukan dalam kehidupan Raja Nebukadnezar. Ketika memandang Babel yang megah, ia berkata, “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?”
Perhatikan kata-kata yang digunakannya: kuasaku, kebesaranku, dan kubangun. Seolah-olah seluruh kejayaan Babel merupakan hasil kekuatan dan kemampuan dirinya sendiri. Ia tidak mengakui bahwa kekuasaan manusia berada di bawah kedaulatan Allah.
Padahal, melalui mimpi yang ditafsirkan Daniel, Nebukadnezar telah diperingatkan bahwa Allah Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Daniel 4:17). Namun, ketika keberhasilan berada di depan matanya, ia tetap meninggikan dirinya sendiri.
Akibatnya, penghakiman Allah datang sebagaimana telah diperingatkan. Nebukadnezar direndahkan dan kehilangan kebesarannya sampai ia mengakui bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia. Pada akhir kisah itu, ia memuji dan memuliakan Allah (Daniel 4:31–37).
Tentu, akhir hidup Caesar dan pengalaman Nebukadnezar tidak sepenuhnya sama. Caesar dibunuh dalam konflik politik, sedangkan Nebukadnezar, menurut kesaksian Kitab Daniel, direndahkan dan kemudian mengakui kedaulatan Allah. Namun, kedua kisah tersebut mengingatkan kita akan keterbatasan kekuasaan manusia.
Kita pun dapat terjebak dalam kesombongan yang sama. Ketika karier berhasil, usaha berkembang, pendidikan mencapai tingkat tinggi, atau keluarga hidup berkecukupan, kita mungkin berpikir bahwa semua itu semata-mata merupakan hasil kecerdasan, kerja keras, dan kemampuan kita sendiri. Bukankah itu semata-mata hasil dari hukum tabur tuai?
Memang, kita perlu bekerja keras, belajar, merencanakan, dan bertanggung jawab atas keputusan kita. Mengakui pencapaian bukanlah kesombongan. Masalah muncul ketika kita menganggap diri sebagai sumber segala keberhasilan, seolah-olah kesehatan, kesempatan, kemampuan berpikir, dan dukungan orang lain sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Ada ironi dalam kehidupan manusia: kita dapat membangun kota yang megah, menaklukkan wilayah yang luas, meraih gelar tinggi, dan mengumpulkan kekayaan besar, tetapi kita tetap tidak dapat menguasai seluruh keadaan, apalagi menghindari kematian. Keberhasilan tidak menjadikan kita mahakuasa.
Karena itu, kita perlu membedakan kebanggaan yang wajar atas pekerjaan yang berhasil dari kesombongan yang meninggikan diri di atas orang lain. Kita tidak perlu menyangkal prestasi kita, tetapi harus menyadari keterbatasan diri dan tanggung jawab kita di hadapan Allah. Kita juga tidak boleh menyimpulkan bahwa setiap orang yang mengalami kejatuhan pasti sedang dihukum Allah karena kesombongannya. Namun, Firman Tuhan jelas memperingatkan kita agar tidak hidup dengan mengandalkan kebesaran diri sendiri.
Yakobus 4:6 mengingatkan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Peringatan ini berlaku bagi siapa saja, termasuk orang yang memiliki kedudukan tinggi, pengetahuan luas, keberhasilan besar, bahkan pelayanan rohani yang mengesankan. Kita dapat menjadi sombong bukan hanya karena harta dan kekuasaan, melainkan juga karena merasa lebih benar, lebih pintar, atau lebih rohani daripada orang lain.
Manusia boleh membangun kerajaan, tetapi tidak boleh menganggap dirinya sebagai Allah. Manusia boleh meraih keberhasilan, tetapi tidak boleh melupakan keterbatasannya. Sebab, tujuan hidup bukanlah mendirikan monumen bagi kebesaran diri sendiri, melainkan menggunakan segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita untuk memuliakan Allah dan melayani sesama.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa tinggi kita dapat naik, melainkan apakah ketika berada di puncak, kita masih menyadari bahwa kita tetap manusia yang terbatas dan bertanggung jawab di hadapan Allah.
Doa Penutup
Ya Allah, ampunilah kami ketika keberhasilan membuat kami meninggikan diri dan melupakan anugerah-Mu. Ajarlah kami bekerja dengan tekun, menggunakan kemampuan dengan bertanggung jawab, dan menerima keberhasilan dengan hati yang rendah. Kiranya hidup kami bukan menjadi monumen bagi kebesaran diri sendiri, melainkan kesaksian tentang kebaikan dan kemuliaan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
— Filipi 4:4

Tidak mudah untuk selalu bahagia. Kebahagiaan kita sering bergantung pada keadaan yang menyenangkan. Kita merasa bahagia ketika tubuh sehat, keluarga hidup rukun, anak-anak berhasil, keuangan cukup, dan rencana berjalan sesuai harapan. Namun, ketika penyakit datang, orang yang kita kasihi mengalami kesulitan, hubungan menjadi renggang, atau harapan tidak terwujud, kebahagiaan itu dapat memudar. Kita mungkin berusaha memperbaiki keadaan, tetapi tidak semua persoalan dapat diselesaikan sesuai keinginan kita. Ada penderitaan yang berlangsung lama, kehilangan yang tidak tergantikan, dan doa yang tidak dijawab seperti yang kita harapkan.
Lalu, bagaimana dengan sukacita? Apakah orang Kristen seharusnya selalu bersukacita, sekalipun hidup tidak berjalan dengan baik? Nasihat Paulus dalam Filipi 4:4 seolah-olah menuntut sesuatu yang sulit dilakukan. Bagaimana mungkin kita bersukacita senantiasa ketika hati sedang sedih dan pikiran dipenuhi kekhawatiran?
Kita perlu memahami bahwa Paulus tidak menulis nasihat ini dari kehidupan yang serba nyaman. Ketika menulis surat kepada jemaat Filipi, ia sedang berada dalam penjara. Ia tidak sedang menikmati kebebasan atau kepastian tentang masa depannya. Namun, ia tetap mengarahkan jemaat untuk bersukacita, bukan karena semua keadaan menyenangkan, melainkan karena sukacita mereka berakar dalam Tuhan. Dengan demikian, Paulus tidak menyangkal kenyataan penderitaan, tetapi menunjukkan bahwa penderitaan tidak harus menjadi penentu terakhir kehidupan kita.
Meskipun demikian, sukacita bukanlah perasaan yang dapat kita hasilkan sesuka hati. Kita tidak bisa memerintahkan diri sendiri untuk bersukacita ketika sedang berduka. Mengulang-ulang kata-kata positif atau memaksakan senyum juga tidak dengan sendirinya menghasilkan sukacita rohani. Bahkan, orang percaya yang sungguh-sungguh dapat mengalami kesedihan mendalam. Yesus sendiri menangis di hadapan makam Lazarus. Karena itu, kesedihan tidak selalu menunjukkan kurangnya iman, dan kita tidak perlu berpura-pura bahagia untuk membuktikan bahwa kita percaya kepada Tuhan.
Galatia 5:22 menyebut sukacita sebagai buah Roh. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa sukacita rohani bukan sekadar hasil usaha manusia, melainkan buah karya Roh Kudus dalam diri orang percaya. Berbeda dengan kebahagiaan yang bergantung pada keadaan, sukacita rohani adalah sesuatu yang langgeng. Kita teringat akan perkataan Yesus dalam Yohanes 15 bahwa ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri jika tidak tinggal pada pokok anggur. Demikian pula, kita tidak dapat menghasilkan buah rohani dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita perlu terus melekat kepada Kristus, sumber kehidupan kita.
Melekat kepada Kristus berarti terus bergantung kepada-Nya melalui firman, doa, ketaatan, dan kehidupan yang berjalan dalam anugerah-Nya. Semua itu bukan cara untuk memaksa sukacita muncul, melainkan bagian dari kehidupan yang dipelihara Tuhan agar menghasilkan buah pada waktunya. Kita juga tidak boleh menganggap bahwa setiap orang yang sedang kehilangan sukacita pasti kurang dekat dengan Tuhan. Ada masa ketika seseorang begitu letih atau terluka sehingga ia hanya mampu bertahan dan berdoa dengan singkat. Dalam keadaan demikian, ia tetap dapat bersandar pada kasih karunia Tuhan.
Kita mungkin tidak selalu dapat mengubah keadaan agar hidup kembali membahagiakan. Namun, kita dapat terus tinggal di dalam Kristus ketika keadaan belum berubah. Kebahagiaan mungkin datang dan pergi bersama situasi kehidupan, tetapi pengharapan kita tidak harus ikut lenyap ketika kesulitan datang. Sukacita rohani pun tidak berarti kita selalu merasa gembira, melainkan bahwa di tengah kesedihan, kita tetap memiliki dasar untuk berharap kepada Tuhan.
Jadi, mudahkah untuk bersukacita? Tidak selalu. Kita tidak dapat memaksakan sukacita, tetapi kita dapat terus melekat kepada Kristus dan bergantung pada karya Roh Kudus. Kita tidak harus menunggu sampai semua masalah selesai untuk menjalani hidup dengan iman dan pengharapan. Ketika hati belum mampu bersukacita, marilah kita tetap datang kepada Tuhan. Dialah sumber kehidupan, dan di dalam Dia, sukacita dapat bertumbuh sekalipun keadaan hidup belum berubah.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami untuk tetap tinggal di dalam Kristus ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Tolonglah kami untuk tidak memaksakan kebahagiaan, tetapi bersandar pada anugerah-Mu dan membiarkan Roh Kudus menumbuhkan sukacita dalam hati kami. Amin.
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
— 1 Yohanes 4:19

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal prinsip quid pro quo, sebuah ungkapan Latin yang berarti “sesuatu untuk sesuatu”. Saya memberikan sesuatu kepada seseorang dengan harapan mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Dalam perdagangan, prinsip ini wajar. Saya membayar, lalu menerima barang. Saya bekerja, lalu memperoleh upah. Ada pertukaran yang disepakati dan kewajiban yang harus dipenuhi. Namun, apakah prinsip yang sama patut menjadi dasar hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia?
Tanpa disadari, pola pikir transaksional dapat memasuki kehidupan rohani kita. Kita memberi persembahan dengan harapan Allah melipatgandakan kekayaan kita. Kita rajin berdoa dengan harapan memperoleh lebih banyak berkat. Kita melayani dengan harapan mendapatkan penghargaan atau berkat tertentu. Bahkan, kita mungkin menolong seseorang sambil diam-diam berharap bahwa suatu hari ia akan membalas kebaikan kita. Pemberian kita tampaknya tulus, tetapi di dalam hati tersimpan perhitungan: apa yang akan saya peroleh sebagai gantinya?
Pola pikir seperti ini juga dapat muncul dalam teologi kemakmuran ketika pemberian, iman, atau tindakan rohani diperlakukan seolah-olah merupakan investasi yang menjamin keuntungan dari Allah. Kita menabur benih, lalu mengharapkan hasil tertentu. Kita memberikan sesuatu kepada Allah, seakan-akan Ia berkewajiban membalasnya sesuai dengan harapan kita. Padahal, Allah bukan pihak dalam sebuah transaksi yang dapat kita kendalikan melalui persembahan atau besarnya iman kita. Kita boleh memohon berkat dan mengharapkan pertolongan-Nya, tetapi kita tidak dapat menjadikan pemberian sebagai alat untuk memaksa Allah memenuhi keinginan kita.
Alkitab memperkenalkan cara hidup yang berbeda. Ungkapan Latin dare pro amore dapat kita gunakan untuk menggambarkan prinsip ini: memberi karena kasih. Jika quid pro quo bertanya, “Apa yang akan saya terima sebagai balasan?”, kasih bertanya, “Bagaimana saya dapat menjadi berkat bagi orang lain?” Perbedaannya bukan sekadar pada tindakan memberi, melainkan pada motivasi yang mendasarinya.
Yohanes menulis, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Urutannya sangat penting. Kita bukan orang-orang yang terlebih dahulu mengasihi Allah sehingga Ia kemudian bersedia mengasihi kita. Sebaliknya, ketika kita masih berdosa, Allah menyatakan kasih-Nya melalui Yesus Kristus. Keselamatan bukan upah atas kebaikan kita, melainkan anugerah yang tidak mungkin kita beli atau bayar kembali. Kita memberi bukan untuk memperoleh kasih Allah, melainkan sebagai respons terhadap kasih yang telah lebih dahulu kita terima.
Prinsip ini mengubah cara kita memberi, melayani, dan memperlakukan sesama. Kita dapat menolong seseorang tanpa menuntut ucapan terima kasih. Kita dapat memberi tanpa memastikan bahwa kita akan menerima. Kita dapat melayani tanpa menjadikan pujian sebagai tujuan. Kita dapat mengasihi pasangan kita tanpa mengharapkan balasan. Bahkan, kita belajar mengasihi orang yang tidak mampu membalas kebaikan kita. Yesus mengajarkan agar kita berbuat baik tanpa mengharapkan balasan (Lukas 6:35). Kasih yang demikian tidak menjadikan sesama sebagai sarana untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Tentu saja, memberi karena kasih bukan berarti kita harus membiarkan diri dimanfaatkan atau mengabaikan keadilan dan tanggung jawab. Kita tetap memerlukan hikmat dan batasan yang sehat. Kita juga boleh bersukacita ketika kebaikan kita dibalas. Namun, balasan bukanlah syarat yang menentukan apakah kita bersedia mengasihi.
Bagaimana jika kita telah memberi, tetapi tidak dihargai? Bagaimana jika pelayanan kita tidak mendapat pengakuan? Bagaimana jika kita telah berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menerima jawaban yang kita harapkan? Kita mungkin kecewa dan terluka. Namun, kasih kita kepada Allah tidak seharusnya bergantung pada apakah Ia memberikan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Kita tetap dapat mengasihi karena dasar kasih kita bukanlah keuntungan yang diperoleh, melainkan kasih karunia yang telah kita terima di dalam Kristus.
Pada akhirnya, kehidupan Kristen bukanlah usaha mengumpulkan jasa di hadapan Allah atau menuntut balasan dari sesama. Kita adalah penerima anugerah yang tidak layak kita peroleh. Karena itu, marilah kita memberi bukan untuk membeli berkat, melainkan untuk menyatakan syukur; bukan untuk mengikat orang lain dengan utang budi, melainkan untuk menjadi saluran kasih.
Kita tidak memberi supaya dikasihi. Kita memberi karena telah dikasihi. Kita tidak melayani supaya membeli berkat Allah. Kita melayani karena telah menerima kasih karunia-Nya. Inilah dare pro amore: saya memberi karena saya mengasihi.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau lebih dahulu mengasihi kami ketika kami masih berdosa. Ampunilah kami jika kami menjadikan pemberian, doa, dan pelayanan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Ajarlah kami memberi dengan sukacita, mengasihi tanpa menuntut balasan, dan melayani dengan hati yang bersyukur. Kiranya hidup kami menjadi saluran kasih karunia-Mu bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” — 2 Timotius 3:16

Mengapa ada orang Kristen yang kurang berminat mempelajari firman Tuhan? Sebagian mungkin merasa sudah cukup mengenal Alkitab melalui khotbah setiap minggu. Sebagian lainnya lebih senang membaca ayat-ayat yang memberikan motivasi, penghiburan dan janji berkat daripada ayat-ayat yang menegur kehidupan mereka. Padahal, firman Tuhan tidak hanya diberikan untuk menghibur dan menguatkan, tetapi juga untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
Ayat di atas menunjukkan bahwa mempelajari Alkitab bukan sekadar menambah pengetahuan rohani. Firman Tuhan dimaksudkan untuk membentuk pemahaman sekaligus kehidupan kita. Melaluinya, kita belajar mengenal kebenaran Allah, menyadari kesalahan dalam pemikiran dan tindakan, memperbaiki apa yang keliru, serta terus dilatih untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, proses ini membutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia mengakui bahwa pemahaman kita mungkin belum benar dan kehidupan kita masih memerlukan banyak perbaikan.
Kesulitan muncul ketika kita lebih senang dibenarkan daripada dikoreksi. Kita mungkin rajin membaca Alkitab untuk menemukan ayat yang mendukung pendapat sendiri atau menunjukkan kesalahan orang lain. Namun, ketika firman Tuhan menyingkapkan kesombongan, ketidakjujuran, kebencian, atau keengganan kita mengampuni, kita justru mencari alasan untuk membenarkan diri. Kita lupa bahwa firman Tuhan bukan hanya cermin untuk melihat kesalahan orang lain, melainkan juga untuk memeriksa diri sendiri.
Sikap serupa dapat muncul ketika kita memahami keselamatan sebagai anugerah Allah. Ada orang Kristen yang beranggapan bahwa karena keselamatan bukan hasil usaha manusia dan dosa telah diampuni melalui Kristus, maka usaha untuk hidup benar tidak lagi terlalu penting. Tanpa disadari, keyakinan akan kepastian keselamatan dapat berubah menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab moral. Padahal, Paulus dengan tegas menolak kesimpulan semacam itu. Dalam Roma 6:1–2, ia menyatakan bahwa kita tidak boleh terus hidup dalam dosa hanya supaya kasih karunia semakin melimpah.
Memang, kita tidak diselamatkan karena berhasil menjalani kehidupan yang sempurna. Kita dibenarkan oleh anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Namun, anugerah yang menyelamatkan juga bekerja memperbarui kehidupan kita. Pengudusan merupakan karya Allah melalui Roh Kudus, tetapi hal itu tidak berarti kita hanya perlu menunggu secara pasif tanpa belajar, bertobat, dan berusaha menaati firman-Nya.
Paulus menjelaskan keseimbangan ini dalam Filipi 2:12–13. Kita diperintahkan untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri untuk menjadi kudus, tetapi kita juga tidak menggunakan anugerah sebagai alasan untuk bermalas-malasan secara rohani. Kita berusaha karena Allah bekerja di dalam kita.
Karena itu, kita perlu terus mempelajari firman Tuhan, bukan hanya untuk mengetahui apa yang benar, melainkan juga untuk bersedia dikoreksi dan diubah olehnya. Ketika firman menyatakan kesalahan, kita belajar bertobat. Ketika firman menunjukkan jalan yang benar, kita belajar melangkah di dalamnya. Ketika kita jatuh, kita tidak menyerah, tetapi kembali memohon pertolongan Tuhan dan melanjutkan perjalanan iman. Pertumbuhan ini tidak selalu cepat atau sempurna, tetapi kita dipanggil untuk terus belajar dan bertumbuh. Kita tidak boleh beranggapan bahwa kita tidak perlu berjuang dalam iman kita.
Menjadi orang Kristen bukan berarti kita sudah lulus dari sekolah kehidupan rohani, melainkan kita telah menerima anugerah untuk menjadi murid Kristus. Kita tidak belajar supaya layak diselamatkan; kita terus belajar karena telah diselamatkan.
Dan mungkin salah satu tanda kedewasaan rohani yang paling penting adalah kesadaran bahwa semakin lama kita belajar mengenal Tuhan, semakin kita menyadari betapa banyak hal yang masih perlu kita pelajari, perbaiki, dan serahkan kepada-Nya.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menjadi orang yang pandai menjelaskan Alkitab, melainkan menjadi manusia kepunyaan Allah yang diperlengkapi untuk melakukan setiap pekerjaan baik, sebagaimana dilanjutkan dalam 2 Timotius 3:17.
Jadi, haruskah kita belajar dan berusaha? Tentu saja. Bukan untuk membeli keselamatan atau memperoleh jasa di hadapan Allah, melainkan karena kita membutuhkan firman-Nya untuk terus dibentuk. Kita tidak diselamatkan karena usaha kita, tetapi anugerah yang menyelamatkan juga mendidik kita untuk hidup dalam kebenaran. Jangan sampai kita begitu sibuk membela doktrin anugerah sehingga enggan membiarkan firman Tuhan mengoreksi kehidupan kita.
Doa Penutup
Tuhan, berikanlah kami hati yang rendah hati untuk mempelajari firman-Mu. Tolong kami bersedia diajar, ditegur, diperbaiki, dan dibentuk dalam kebenaran. Mampukan kami untuk terus bertumbuh dalam kekudusan, bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan dengan bersandar pada anugerah dan pertolongan Roh Kudus. Amin.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
— Mazmur 119:105

Dalam perjalanan hidup, ada tiga hal yang sering kita alami: ingat, lupa, dan alpa. Kita mengingat sesuatu yang penting, tetapi kemudian melupakannya. Kita mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi karena berbagai alasan, kita justru lalai melakukannya. Ketiganya merupakan bagian dari pengalaman manusia, termasuk dalam kehidupan iman. Karena itu, kita perlu bertanya: bagaimana ingat, lupa, dan alpa memengaruhi cara kita hidup menurut Firman Tuhan?
Pemazmur menggambarkan Firman Tuhan sebagai pelita bagi kaki dan terang bagi jalan. Gambaran ini menunjukkan bahwa Firman bukan sekadar pengetahuan untuk memenuhi pikiran, melainkan petunjuk yang menolong kita menjalani kehidupan. Seperti seorang yang berjalan dalam kegelapan membutuhkan pelita agar tidak tersandung, demikian pula kita membutuhkan Firman untuk menuntun langkah, menilai pilihan, dan menentukan arah kehidupan. Namun, pelita yang tersedia tidak akan banyak menolong apabila kita tidak mengingatnya ketika mengambil keputusan, mengabaikan petunjuknya, atau memilih berjalan menurut kehendak sendiri.
Pertama, kita perlu mengingat Firman Tuhan. Paulus menulis kepada rekannya yang masih muda, Timotius:
“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”
— 2 Timotius 3:15
Mengingat Firman bukan sekadar menghafal ayat atau mengingat khotbah yang pernah kita dengar. Lebih dari itu, kita menyimpan kebenaran Allah dalam hati agar Firman membentuk cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Ketika kita tersinggung, kita mengingat panggilan untuk mengampuni. Ketika menghadapi ketidakpastian, kita mengingat bahwa kita dipanggil untuk percaya dan tetap melakukan yang benar. Ketika memperoleh keberhasilan, kita mengingat bahwa kita tidak hidup hanya oleh kekuatan sendiri. Firman yang kita ingat menolong kita melihat kehidupan bukan semata-mata dari sudut pandang kepentingan pribadi, melainkan dalam terang kehendak Allah.
Kedua, kita perlu waspada agar tidak melupakan Firman Tuhan. Kita dapat mendengar khotbah pada hari Minggu, tersentuh oleh pesannya, lalu kembali menjalani kehidupan seolah-olah tidak pernah mendengarnya. Kita mendengar tentang kasih, tetapi tetap menyimpan kebencian. Kita membaca tentang kerendahan hati, tetapi sulit menerima koreksi. Kita mengetahui bahwa harta bukanlah tujuan utama kehidupan, tetapi terus mengukur keberhasilan berdasarkan apa yang kita miliki. Dalam keadaan demikian, persoalannya bukan selalu karena kita kehilangan ingatan. Kita mungkin masih mengetahui Firman itu, tetapi membiarkannya kehilangan pengaruh dalam kesibukan hidup sehari-hari. Dalam hal ini, Yakobus mengingatkan agar kita bukan hanya mendengar Firman, melainkan juga melakukannya.
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”
— Yakobus 1:22
Ketiga, kita harus berhati-hati agar tidak alpa melakukan Firman Tuhan. Ada kalanya kita mengingat dan memahami kebenaran, tetapi tidak bersedia menaatinya. Kita tahu bahwa kita harus berkata jujur, tetapi sengaja memilih berdusta demi keuntungan. Kita tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi memilih tidak peduli. Kita tahu bahwa kita perlu meminta maaf, tetapi justru membiarkan kesombongan menghalangi langkah kita. Yakobus mengingatkan bahwa mengetahui kebaikan yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak melakukannya, merupakan persoalan moral yang serius.
“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
— Yakobus 4:17
Tentu saja, tidak semua hal yang tidak sempat kita lakukan adalah dosa, sebab kemampuan dan tanggung jawab kita terbatas. Namun, kita perlu memeriksa diri agar keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan kebaikan yang sebenarnya dapat kita lakukan.
Kita tidak selalu mampu mengingat setiap Firman, dan kita pun tidak selalu berhasil menaatinya dengan sempurna. Karena itu, kehidupan Kristen bukanlah perlombaan untuk membuktikan bahwa kita tidak pernah lupa atau alpa. Kita membutuhkan anugerah Allah dan pertolongan Roh Kudus untuk memahami Firman, menyadari kesalahan, bertobat, dan kembali berjalan dalam ketaatan. Ketika tersandung, kita tidak harus terus tergeletak dalam penyesalan. Kita dapat kembali kepada Tuhan dan membiarkan Firman-Nya menerangi langkah berikutnya.
Marilah kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya ketahui dari Alkitab?” tetapi juga, “Apakah Firman yang saya ketahui sungguh-sungguh memengaruhi kehidupan saya?” Sebab, pelita yang menerangi jalan dimaksudkan untuk menuntun langkah kita, bukan sekadar dikagumi cahayanya. Kiranya kita belajar mengingat Firman dengan setia, tidak melupakannya ketika kehidupan terasa nyaman, dan tidak alpa melakukannya ketika kebenaran menuntut keberanian serta pengorbanan.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih atas Firman-Mu yang menerangi perjalanan hidup kami. Ampunilah kami ketika melupakan kebenaran-Mu atau lalai melakukannya. Tolonglah kami melalui Roh Kudus agar Firman-Mu tidak hanya memenuhi pikiran, tetapi juga membentuk hati, perkataan, dan perbuatan kami. Tuntunlah langkah kami agar senantiasa berjalan dalam kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.