Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Sekalipun Ada Penderitaan, Tuhan Selalu Menguatkan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
— Yeremia 29:11

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
— Roma 8:28

Dalam kehidupan, ada saat-saat ketika hati manusia terasa sangat berat. Ada orang yang kehilangan pekerjaan, kehilangan kesehatan, kehilangan orang yang dikasihi, atau menghadapi kegagalan yang menghancurkan harapan. Dalam keadaan seperti itu, dua ayat di atas sering dikutip untuk menghibur. Namun sayangnya, kadang-kadang ayat tersebut dipakai tanpa pengertian yang benar sehingga orang yang sedang menderita justru merasa semakin sedih.

Mereka mulai bertanya dalam hati: “Kalau Tuhan punya rancangan damai sejahtera, mengapa hidupku penuh air mata?” Atau, “Kalau Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, mengapa penderitaan ini begitu menyakitkan?”

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya akan hidup tanpa penderitaan. Justru banyak tokoh iman mengalami pergumulan yang sangat berat. Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya. Daud sering hidup dalam ketakutan dan pelarian. Rasul Paulus mengalami penjara, penganiayaan, dan penderitaan fisik. Bahkan dalam Yesaya 53:3 Yesus Kristus sendiri disebut sebagai “Manusia penuh kesengsaraan.”

Yeremia 29:11 diberikan bukan kepada umat Kristen secara umum, tetapi secara khusus kepada bangsa Israel ketika mereka sedang hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka jauh dari tanah air dan hidup dalam kesedihan. Tuhan tidak berkata bahwa semua masalah mereka akan langsung selesai. Namun Tuhan ingin mereka tahu bahwa penderitaan bukan akhir dari cerita. Tuhan tetap memegang masa depan umat-Nya.

Roma 8:28 yang diberikan untuk semua umat percaya, tidak mengatakan bahwa semua hal yang terjadi, pada akhirnya, adalah baik. Penyakit tetap menyakitkan. Pengkhianatan tetap melukai. Dukacita tetap membuat air mata jatuh. Tetapi di tengah semua itu, Tuhan bekerja. Tangan-Nya tidak berhenti hanya karena hidup manusia sedang sengsara.

Banyak orang lalu menghubungkan ayat-ayat ini dengan hukum tabur-tuai secara sederhana: orang baik pasti hidup lancar, sedangkan orang yang menderita pasti sedang dihukum Tuhan. Padahal Alkitab tidak mengajarkan demikian.

Memang manusia sering menuai akibat dari apa yang ditaburnya. Kemalasan dapat membawa kesulitan, dosa dapat merusak hidup, dan kebencian dapat menghancurkan hubungan. Namun tidak semua penderitaan adalah akibat langsung dari dosa pribadi. Dan tidak semua dosa akan menerima hukuman Tuhan secara langsung.

Sering kali manusia berharap melihat keadilan Tuhan terjadi secara langsung dan segera:

  • orang baik langsung diberkati,
  • orang jahat langsung dihukum.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang hidupnya jahat tetapi tampaknya berhasil dan nyaman. Sebaliknya, ada orang saleh yang justru mengalami penderitaan panjang. Pergumulan ini bahkan muncul berkali-kali dalam kitab Mazmur dan tulisan para nabi.

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus menunjukkan bahwa penilaian akhir Tuhan tidak selalu terlihat dalam kehidupan sekarang. Dalam dunia ini, orang kaya itu hidup mewah sementara Lazarus menderita di depan pintunya. Jika memakai ukuran manusia, mungkin orang mengira si kaya diberkati Tuhan dan Lazarus ditinggalkan Tuhan.

Ayub menderita bukan karena ia hidup jahat. Bahkan Yesus Kristus sendiri yang tidak berdosa mengalami penderitaan paling berat di kayu salib. Dari sini kita belajar bahwa penderitaan kadang menjadi bagian dari proses Tuhan membentuk iman, ketekunan, dan pengharapan umat-Nya.

Tetapi, seseorang bisa menderita bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan karena ia hidup di tengah dunia yang rusak. Anak kecil bisa sakit. Orang benar bisa menjadi korban kejahatan. Orang yang setia bisa kehilangan pekerjaan atau mengalami musibah dan bahkan tewas. Ini bukan “nasib”.

Sering kita baru mengerti mengapa Tuhan mengizinkan datangnya penderitaan setelah melewati lembah yang panjang. Ada orang yang melalui penderitaan justru menjadi lebih rendah hati, lebih peka terhadap sesama, lebih dekat kepada Tuhan, dan lebih memahami arti kasih karunia. Tuhan dapat memakai bahkan pengalaman yang pahit untuk membentuk iman anak-anak-Nya dan mengubah keadaan masyarakat di sekeliling mereka.

Ini bukan berarti orang Kristen harus pura-pura kuat atau menutupi kesedihan. Bukan juga harus mengerti mengapa suatu penderitaan terjadi. Tuhan tidak melarang kita menangis, karena sedih, karena hidup yang jauh dari rasa nyaman. Yesus sendiri menangis di kubur Lazarus. Air mata bukan tanda lemahnya iman. Sering kali air mata adalah bahasa hati yang paling jujur di hadapan Tuhan.

Karena itu, ketika kita menghadapi penderitaan, jangan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita. Mungkin kita belum memahami rencana-Nya sekarang, tetapi Tuhan tetap bekerja dalam diam. Ia tetap memegang hidup kita sekalipun keadaan terlihat kacau.

Sebaliknya, ketika melihat orang lain menderita, jangan terburu-buru memberikan nasihat rohani yang dingin. Kadang-kadang kehadiran kita yang penuh kasih lebih berarti daripada banyak kata. Belajarlah mendengar, mendoakan, dan berjalan bersama mereka. Bukan dengan mudah menyatakan bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan untuk kebaikan mereka, atau sesuatu yang harus diterima karena adanya kesalahan di masa lalu (Yohanes 9:1-3).

Pengharapan orang percaya bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan keyakinan bahwa Tuhan setia menyertai di tengah masalah. Dunia dapat berubah, manusia dapat mengecewakan, dan keadaan dapat menjadi sulit, tetapi kasih Tuhan tetap tidak berubah.

Pada akhirnya, orang percaya dapat berkata: “Aku mungkin terluka, tetapi aku tidak sendirian. Tuhan tetap memegang tanganku dan saudaraku tetap mendampingi aku.”

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
ketika kami menghadapi penderitaan dan pergumulan hidup, sering kali hati kami menjadi lemah dan bingung. Tolong kami untuk tetap percaya bahwa Engkau tidak meninggalkan anak-anak-Mu. Ajarlah kami melihat bahwa sekalipun kami tidak selalu mengerti jalan-Mu, tangan-Mu tetap bekerja dalam hidup kami.

Berikan kekuatan bagi mereka yang sedang sakit, berduka, kecewa, atau kehilangan harapan. Hiburlah hati mereka dengan kehadiran-Mu. Ajarlah kami juga menjadi saluran kasih-Mu bagi orang lain, bukan dengan kata-kata yang menghakimi, tetapi dengan hati yang penuh belas kasihan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Iman Tidak Diturunkan Melalui DNA

“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.”
— Roma 9:16

Di banyak keluarga Kristen ada satu pertanyaan yang sering menimbulkan kesedihan dan kebingungan. Mengapa saudara sekandung bisa bertumbuh sangat berbeda dalam hal iman, padahal mereka dibesarkan dalam rumah yang sama?

Ada anak yang mengasihi Tuhan sejak muda, setia beribadah, dan hidup dekat dengan firman. Tetapi saudaranya mungkin menjadi dingin terhadap Tuhan, menjauh dari gereja, atau bahkan mempertanyakan iman yang dahulu diajarkan kepadanya.

Bagi orang tua, hal ini bisa menjadi luka yang dalam. Mereka bertanya dalam hati: “Apakah kami gagal mendidik anak kami?” Ada pula saudara yang mulai saling menghakimi: yang satu merasa lebih rohani, yang lain merasa tidak dimengerti.

Namun Alkitab menunjukkan bahwa kenyataan seperti ini bukan hal baru. Kain dan Habel berasal dari keluarga yang sama, tetapi hati mereka berbeda. Yakub dan Esau lahir dari rahim yang sama, tetapi jalan hidup mereka tidak sama.

Studi terhadap anak kembar identik yang dibesarkan di lingkungan terpisah menunjukkan bahwa sekitar 40% variasi tingkat spiritualitas seseorang dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik). Sementara itu, 60% sisanya dibentuk oleh lingkungan, pola asuh keluarga, budaya, dan pengalaman hidup pribadi. Seseorang bisa saja memiliki “bakat spiritual” yang tinggi secara genetik (mudah tersentuh atau kagum), tetapi ia tetap bisa memilih untuk menjadi ateis atau menolak untuk taat.

Semua ini mengingatkan kita bahwa iman tidak diwariskan secara otomatis melalui hubungan darah atau genetika. Tidak ada seorang pun menjadi anak Tuhan hanya karena lahir di keluarga Kristen. Tidak ada seorang pun yang bisa menemukan Tuhan dengan usaha sendiri atau bakat pribadi. Keselamatan bukan warisan keluarga, melainkan pekerjaan anugerah Allah di dalam hati seseorang.

Orang tua memang mempunyai tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak di dalam Tuhan. Mereka dipanggil mengajar firman, memberi teladan, dan membangun kehidupan rohani di rumah. Mereka seharusnya mengajak anak-anak untuk setia pergi ke gereja. Tetapi pada akhirnya, hanya Roh Kudus yang dapat membuka hati manusia dan menuntunnya ke arah kebenaran,

Rasul Paulus berkata:

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
— 1 Korintus 3:6

Betapa pentingnya ayat ini. Orang tua dapat menanam benih firman. Gereja dapat menyiram melalui pengajaran dan persekutuan. Tetapi pertumbuhan rohani tetap berasal dari Tuhan.

Karena itu, orang tua Kristen tidak perlu hidup dalam kesombongan rohani ketika anak-anak mereka berjalan baik. Semua itu adalah anugerah Tuhan. Sebaliknya, mereka juga tidak harus tenggelam dalam rasa bersalah tanpa akhir ketika ada anak yang menjauh dari iman. Setiap manusia, tua dan muda, pada akhirnya harus memberikan respons pribadinya sendiri kepada Tuhan yang sudah memanggil mereka.

Kadang-kadang ada anak yang sejak kecil terlihat jauh dari Tuhan, tetapi justru di kemudian hari mengalami pertobatan yang mendalam. Ada pula yang tampak rajin secara lahiriah, tetapi hatinya sebenarnya dingin. Manusia melihat penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati.

Itulah sebabnya keluarga Kristen dipanggil bukan untuk memaksa pertobatan, melainkan untuk setia menghadirkan Injil di dalam rumah. Kasih, doa, pengampunan, kerendahan hati, dan teladan hidup sering berbicara lebih kuat daripada banyak nasihat.

Tidak sedikit anak yang akhirnya kembali kepada Tuhan karena mereka mengingat doa ibunya, kesabaran ayahnya, atau suasana rumah yang pernah memperkenalkan kasih Kristus kepada mereka. Benih firman yang ditanam sejak kecil sering tetap tinggal diam-diam di dalam hati, bahkan ketika seseorang tampak jauh dari Tuhan.

Karena itu jangan berhenti berdoa bagi anggota keluarga yang belum sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan. Jangan cepat putus asa. Selama Tuhan masih memberi hidup, kasih karunia-Nya masih bekerja.

Dan bagi mereka yang hari ini tetap setia dalam iman, jangan menjadi sombong terhadap saudara yang sedang lemah. Kesetiaan kita pun adalah anugerah Tuhan, bukan semata-mata kekuatan diri sendiri.

Pada akhirnya, keselamatan adalah pekerjaan Allah. Tugas kita adalah tetap setia menanam, menyiram, mengasihi, dan berdoa—sambil percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja melampaui apa yang dapat kita lihat.

Doa Penutup

Tuhan, ajar kami memahami bahwa keselamatan adalah anugerah-Mu. Berikan kami hati yang setia untuk terus menanam firman dan menjadi teladan kasih di dalam keluarga kami. Tolong kami untuk tidak sombong ketika melihat pertumbuhan rohani, dan tidak putus asa ketika melihat anggota keluarga yang masih jauh dari-Mu. Roh Kudus, bekerjalah di dalam hati setiap orang yang kami kasihi. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tugas Kita Setelah Turunnya Roh Kudus

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
— Kisah Para Rasul 1:8

Banyak orang Kristen memahami peristiwa Pentakosta sebagai peristiwa besar dalam sejarah gereja. Memang benar. Pada hari itu Roh Kudus turun atas para murid dengan kuasa yang luar biasa. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa, berkhotbah dengan keberanian, dan ribuan orang bertobat.

Namun sering kali kita berhenti hanya pada kekaguman terhadap peristiwanya, tanpa sungguh memahami tujuan dari turunnya Roh Kudus itu sendiri.

Yesus tidak berkata, “Kamu akan menerima Roh Kudus supaya kamu merasa hebat.” Ia juga tidak berkata, “supaya kamu menjadi lebih terkenal, lebih dihormati, atau lebih rohani dibanding orang lain.”

Tetapi Yesus berkata:

“…dan kamu akan menjadi saksi-Ku…”

Inilah tugas utama setelah Roh Kudus turun: menjadi saksi Kristus.

Menarik bahwa sebelum Pentakosta, para murid sebenarnya sudah lama bersama Yesus. Mereka telah melihat mujizat, mendengar pengajaran-Nya, bahkan menyaksikan kebangkitan-Nya. Tetapi mereka masih dipenuhi ketakutan dan kebimbangan. Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali. Para murid bersembunyi karena takut kepada dunia.

Namun setelah Roh Kudus turun, sesuatu berubah secara mendalam. Orang-orang yang dulu takut mati sekarang rela menderita demi Injil.

Roh Kudus bukan diberikan hanya untuk pengalaman emosional sesaat di gereja. Roh Kudus diberikan supaya hidup kita memuliakan Kristus di tengah dunia.

Rasul Paulus menulis:

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
— 1 Korintus 10:31

Artinya, kesaksian Kristen bukan hanya muncul saat kita melayani di gereja atau berbicara tentang Alkitab. Kesaksian itu terlihat dalam seluruh hidup kita sehari-hari.

Menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar besar. Kadang itu berarti:

  • tetap jujur ketika orang lain curang,
  • tetap mengampuni ketika disakiti,
  • tetap berharap ketika hidup berat,
  • tetap mengasihi keluarga,
  • tetap rendah hati ketika berhasil,
  • dan tetap setia kepada Tuhan ketika dunia menjauh dari-Nya.

Bahkan dalam hal-hal sederhana — cara kita berbicara, bekerja, memperlakukan pasangan, menggunakan uang, atau menghadapi penderitaan — orang dapat melihat apakah Kristus sungguh hidup di dalam kita.

Dunia modern sebenarnya sangat haus akan kesaksian seperti itu. Banyak orang hidup dalam kecemasan, kesepian, kebingungan identitas, dan kehilangan arah hidup. Mereka mungkin tidak membaca Alkitab, tetapi mereka membaca kehidupan orang Kristen setiap hari.

Karena itu tugas kita setelah menerima Roh Kudus bukan hanya menjadi pendengar firman, tetapi menjadi terang di tengah dunia yang gelap.

Sayangnya, ada orang Kristen yang ingin menerima kuasa Roh Kudus tetapi tidak ingin memikul tanggung jawab sebagai saksi Kristus. Ada yang mencari pengalaman rohani, tetapi tidak mau hidup kudus. Ada yang ingin mujizat, tetapi tidak mau taat. Ada yang ingin dipakai Tuhan, tetapi masih mencintai dunia lebih daripada Tuhan.

Padahal Roh Kudus bukan diberikan untuk meninggikan manusia, melainkan untuk meninggikan Kristus.

Gereja mula-mula bertumbuh bukan karena mereka kaya atau kuat secara politik. Mereka sering miskin, ditolak, bahkan dianiaya. Tetapi mereka dipenuhi Roh Kudus. Dunia melihat keberanian, kasih, dan iman mereka — dan banyak orang tertarik kepada Kristus.

Hari ini tantangannya berbeda, tetapi panggilannya tetap sama. Tuhan tidak memanggil semua orang menjadi pengkhotbah besar. Tetapi Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadi saksi-Nya:
di rumah,
di tempat kerja,
di sekolah,
di gereja,
dan di mana pun Tuhan menempatkan kita.

Roh Kudus masih bekerja sampai hari ini. Ia masih mengubah hati manusia, menguatkan yang lemah, menghibur yang terluka, dan memimpin umat Tuhan berjalan dalam kebenaran.

Karena itu pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah Roh Kudus sudah turun?”

Tetapi juga:
“Apakah hidup kita sungguh menjadi saksi Kristus?”

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk Roh Kudus yang Engkau berikan kepada umat-Mu. Ampuni kami jika kami sering hidup dengan kekuatan sendiri dan melupakan pimpinan-Mu. Penuhi hati kami dengan keberanian, kasih, dan kesetiaan supaya hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan Kristus. Ajarlah kami melakukan segala sesuatu — baik dalam perkara besar maupun kecil — untuk kemuliaan-Mu. Pakailah kami di mana pun kami berada untuk membawa terang dan pengharapan bagi dunia yang membutuhkan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Haruskah kita pasrah?

“Dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan…”
— Lukas 21:11

Ketika dunia melewati pandemi COVID-19, banyak orang mulai membaca kembali perkataan Tuhan Yesus tentang akhir zaman. Sekarang, ketika Ebola kembali muncul di beberapa wilayah dunia, sebagian orang kembali bertanya dengan cemas: apakah ini tanda kedatangan Tuhan sudah dekat? Adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada?

Memang, Yesus pernah memperingatkan bahwa sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali akan terjadi peperangan, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit. Dunia yang jatuh dalam dosa akan mengalami banyak goncangan. Manusia modern mungkin memiliki teknologi yang luar biasa, tetapi wabah penyakit tetap mengingatkan bahwa hidup manusia sesungguhnya rapuh.

Namun Yesus tidak menyampaikan semua itu supaya murid-murid-Nya hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, Ia ingin agar umat-Nya berjaga-jaga dan tetap setia. Dalam bagian yang sama, Yesus juga berkata, “Janganlah kamu takut.”

Sayangnya, ketakutan sering membuat manusia kehilangan keseimbangan. Ada orang yang begitu takut sehingga hidup dalam kepanikan terus-menerus. Tetapi ada juga yang bereaksi sebaliknya: menolak semua peringatan, mencurigai segala usaha medis, bahkan memusuhi ilmu pengetahuan.

Di masa pandemi COVID-19, dunia melihat perpecahan seperti itu. Sebagian besar orang Kristen mendukung pelayanan medis dan vaksinasi sebagai bentuk kasih kepada sesama. Tetapi ada juga yang menolak semua usaha kesehatan publik karena menganggapnya sebagai ancaman terhadap iman.

Kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada dua ekstrem:

  • menuhankan sains,
  • atau memusuhi sains.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa iman kepada Tuhan berarti menolak pengetahuan dan pengobatan. Lukas, penulis Injil Lukas, adalah seorang tabib. Dalam sejarah gereja, banyak rumah sakit dan pelayanan kesehatan justru lahir dari kasih Kristen kepada orang sakit dan miskin.

Tuhan sering bekerja melalui sarana biasa:

  • dokter,
  • perawat,
  • ilmuwan,
  • peneliti,
  • obat-obatan,
  • dan pelayanan kesehatan.

Menggunakan pengobatan bukan berarti kurang iman. Sama seperti seorang petani tetap menanam sambil berdoa meminta hujan, demikian pula orang percaya boleh berdoa memohon kesembuhan sambil memakai pertolongan medis yang tersedia. Orang Kristen bukanlah orang yang fatalis: yang pasrah kepada nasib.

Hal yang sama berlaku untuk kesehatan mental. Banyak orang menderita depresi, trauma, kecemasan, atau kelelahan jiwa. Mereka tidak membutuhkan penghakiman, tetapi belas kasihan. Kadang Tuhan menolong melalui doa dan firman, tetapi kadang juga melalui konseling, terapi, komunitas, dan pengobatan yang tepat.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hadir membawa pengharapan di tengah dunia yang terluka. Ketika wabah datang, gereja seharusnya bukan menjadi sumber ketakutan atau teori konspirasi, melainkan menjadi tempat kasih dan penghiburan.

Kita dipanggil untuk:

  • memakai sarana pengobatan yang perlu
  • mendoakan yang sakit,
  • mendukung tenaga medis,
  • menolong yang lemah,
  • menjaga sesama dengan bijaksana,
  • dan tetap memberitakan Injil keselamatan.

Karena pada akhirnya, penyakit terbesar manusia bukan hanya penyakit tubuh, tetapi dosa yang memisahkan manusia dari Allah. COVID-19, Ebola, dan berbagai wabah lain mengingatkan bahwa dunia ini tidak sempurna dan manusia membutuhkan Juruselamat.

Namun di tengah dunia yang gelap, orang percaya memiliki pengharapan. Kristus telah bangkit dan memegang sejarah dunia di tangan-Nya. Tidak ada wabah, perang, atau ketakutan yang dapat menggagalkan rencana Tuhan.

Karena itu, kita tidak hidup dalam kepanikan, tetapi juga tidak hidup dengan sembrono. Kita hidup dengan iman yang tenang, hati yang bijaksana, dan kasih yang nyata kepada sesama.

Doa Penutup

Tuhan Yesus,
Di tengah dunia yang penuh ketakutan, ajar kami untuk tetap tenang dan percaya kepada-Mu. Berikan kami hikmat agar tidak hidup dalam kepanikan, tetapi juga tidak menolak kebenaran dan pengetahuan yang dapat menolong manusia.

Tolong kami menjadi umat yang membawa kasih, pengharapan, dan penghiburan bagi mereka yang sakit dan menderita. Pakailah para dokter, perawat, peneliti, dan semua pelayan kesehatan sebagai alat pemeliharaan-Mu. Dan di atas semuanya, arahkan hati kami kepada Kristus, satu-satunya sumber keselamatan dan hidup kekal.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Mengapa Meminta Ampun Setiap Hari?

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
— 1 Yohanes 1:8-9

Ada orang yang bukan Kristen merasa bingung ketika mendengar doa orang percaya yang terus meminta pengampunan dosa. Mereka bertanya, “Bukankah Yesus sudah menebus dosa? Bukankah orang Kristen sudah menjadi ciptaan baru? Mengapa masih terus meminta ampun? Apakah agar mereka bisa berbuat dosa lagi?”

Pertanyaan itu sebenarnya sangat masuk akal bila dilihat dari luar. Banyak orang mengira bahwa setelah seseorang percaya kepada Kristus, ia akan langsung hidup sempurna tanpa pergumulan lagi. Ada juga yang menuduh bahwa orang Kristen adalah orang yang justru sering berbuat dosa. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa selama manusia masih hidup di dunia ini, pergumulan melawan dosa tetap ada.

Banyak orang yang merasa jarang berbuat dosa. Padahal, dosa bukan hanya tentang perbuatan besar seperti mencuri, membunuh, atau berzina. Dosa juga dapat muncul dalam perkataan yang melukai, dalam kemarahan yang tersembunyi, iri hati, kesombongan, ketamakan, pikiran yang kotor, atau sikap hati yang menjauh dari Tuhan. Bahkan kadang-kadang dosa muncul bukan dalam apa yang kita lakukan, tetapi dalam kebaikan yang seharusnya kita lakukan namun kita abaikan. Dan ini terjadi setiap hari pada setiap orang.

Karena itulah, berbeda dengan orang lain, orang percaya tetap datang kepada Tuhan setiap hari untuk meminta ampun. Bukan karena pengorbanan Kristus tidak cukup, tetapi karena mereka sadar bahwa mereka masih membutuhkan kasih karunia Tuhan setiap saat. Bukan karena orang Kristen takut akan adanya “karma”, tetapi karena mereka ingin untuk lebih dekat kepada Tuhan yang mahasuci.

Doa pengakuan dosa sebenarnya adalah tanda bahwa hubungan seseorang dengan Tuhan masih hidup. Orang Kristen sejati yang hatinya peka akan lebih mudah menyadari kesalahannya. Sebaliknya, hati yang mulai keras akan merasa dirinya selalu benar dan tidak lagi merasa perlu bertobat. Dan orang yang hatinya yang dingin tidak lagi menyadari perlunya berdoa.

Rasul Yohanes menulis bahwa jika kita berkata tidak berdosa, kita menipu diri sendiri. Ayat ini mengingatkan bahwa kerendahan hati adalah bagian penting dari kehidupan rohani. Tidak ada manusia yang dapat berdiri di hadapan Tuhan dengan kesombongan rohani atau ketidakpedulian.

Namun kabar baik dari Injil Tuhan tidak berhenti pada pengakuan dosa. Tuhan juga memberikan janji pengampunan. Ia setia dan adil untuk mengampuni dan menyucikan orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus. Betapa besar kasih karunia Tuhan kepada manusia yang lemah.

Menjadi ciptaan baru bukan berarti langsung sempurna, melainkan memiliki arah hidup yang baru. Dahulu manusia mencintai dosa dan hidup jauh dari Tuhan. Ia jarang berdoa dan minta ampun. Sekarang ia belajar membenci dosa dan kembali kepada Tuhan ketika jatuh. Dahulu ia membenarkan dirinya sendiri, sekarang ia belajar rendah hati dan bertobat. Dahulu ia sering menyalahkan keadaan atau orang lain untuk dosanya, sekarang ia mau bertanggung jawab.

Kehidupan orang percaya sebenarnya adalah perjalanan pengudusan seumur hidup. Tuhan sedang membentuk karakter kita sedikit demi sedikit. Kadang proses itu menyakitkan karena Tuhan menyingkapkan dosa-dosa yang tersembunyi dalam hati kita. Tetapi semua itu dilakukan-Nya supaya kita semakin serupa dengan Kristus.

Doa meminta ampun juga menjaga kita dari kesombongan rohani. Ketika seseorang merasa dirinya sudah cukup baik, ia mulai berhenti bergantung kepada Tuhan. Tetapi orang yang sadar akan kelemahannya akan terus mencari Tuhan dalam doa.

Daud adalah contoh yang indah. Walaupun ia disebut seorang yang berkenan di hati Tuhan, ia tetap datang dengan pertobatan ketika jatuh dalam dosa. Mazmur-mazmurnya penuh dengan seruan meminta belas kasihan Tuhan. Daud memahami bahwa manusia hanya dapat hidup oleh anugerah Allah.

Hari ini mungkin kita tidak melakukan dosa besar menurut ukuran manusia. Tetapi apakah hati kita penuh kasih? Apakah perkataan kita membawa damai? Apakah pikiran kita menyenangkan Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita kembali berlutut di hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, ampunilah aku dan ubahkanlah hidupku.”

Dan syukur kepada Tuhan, Ia tidak pernah menolak orang yang datang dengan hati yang hancur dan mau bertobat.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
kami mengakui bahwa kami masih lemah dan sering jatuh dalam dosa, baik melalui perkataan, pikiran, maupun perbuatan kami. Ampunilah kami dan sucikanlah hati kami. Ajarlah kami untuk hidup dalam pertobatan setiap hari dan jangan biarkan hati kami menjadi keras atau sombong. Tolong kami agar semakin serupa dengan Kristus dan semakin membenci dosa. Terima kasih karena kasih karunia-Mu selalu tersedia bagi kami yang datang dengan hati yang tulus. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Jika Kita Diutus Tuhan Menjadi Daud

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam.” — 1 Samuel 17:45

Kisah Daud dan Goliat sering dipahami sebagai cerita tentang seorang anak kecil yang lemah mengalahkan raksasa karena keberanian dan iman. Gambaran itu memang menginspirasi, tetapi sebenarnya Alkitab menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Daud bukan sekadar anak kecil yang nekat. Ia adalah pribadi yang telah dipilih, dibentuk, dan dipersiapkan Tuhan.

Sebelum berdiri di medan perang menghadapi Goliat, Daud telah lama ditempa di tempat tersembunyi. Ia seorang gembala muda yang menjaga domba-domba ayahnya. Pekerjaan itu tampak sederhana dan tidak bergengsi, tetapi justru di sanalah Tuhan membentuk keberanian dan ketekunannya. Daud pernah melawan singa dan beruang demi menyelamatkan dombanya. Ia belajar menghadapi bahaya ketika tidak ada orang yang melihat atau memuji dirinya.

Daud juga bukan orang tanpa kemampuan. Umban yang dipakainya bukan mainan anak-anak. Pada zaman itu, umban adalah senjata perang yang mematikan di tangan orang yang terlatih. Ketika Raja Saul menawarkan baju zirah dan pedangnya, Daud menolaknya bukan karena takut, tetapi karena ia tahu bahwa Tuhan tidak memanggilnya untuk bertempur dengan cara orang lain. Ia maju memakai apa yang sudah dipersiapkan Tuhan dalam hidupnya.

Namun kekuatan terbesar Daud bukanlah keberanian, pengalaman, ataupun keahliannya menggunakan umban. Rahasia kemenangan Daud ada pada keyakinannya kepada Tuhan. Ketika semua orang melihat Goliat sebagai ancaman yang terlalu besar, Daud melihat bahwa orang Filistin itu sedang menentang Allah yang hidup.

Karena itu Daud berkata:

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam.”

Daud sadar bahwa ia tidak berdiri sendirian. Ia diutus oleh Tuhan.

Sering kali dalam hidup, kita merasa terlalu kecil untuk tugas yang Tuhan taruh di depan kita. Kita melihat keterbatasan usia, kesehatan, kemampuan, pendidikan, atau pengalaman kita. Kita membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih kuat dan lebih siap. Kita merasa tidak layak menjadi “Daud.” Kita mungkin merasa bahwa Tuhan salah pilih.

Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah salah memilih orang. Ketika Tuhan memilih Daud, Ia yang sudah memberi Daud banyak kemampuan, juga tahu seluruh kelemahannya. Tuhan tahu bahwa Daud masih muda. Tuhan tahu ia bukan prajurit kerajaan. Tuhan tahu ia tidak memiliki pedang atau baju zirah. Namun justru di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Hal yang sama terjadi pada banyak tokoh Alkitab lainnya. Musa merasa tidak pandai berbicara. Gideon menganggap dirinya paling kecil dalam keluarganya. Yeremia merasa terlalu muda. Petrus penuh kegagalan dan emosi. Paulus memiliki “duri dalam daging.”

Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna sebelum dipakai-Nya. Tuhan hanya meminta kita percaya dan taat.

Kadang-kadang Tuhan mengutus kita menghadapi “Goliat” dalam bentuk yang berbeda: masalah keluarga, penyakit, tekanan ekonomi, pelayanan yang berat, atau tanggung jawab yang terasa melampaui kemampuan kita. Pada saat seperti itu, kita mudah fokus pada besarnya masalah dan lupa pada besarnya Tuhan.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa jika Tuhan mengutus kita menjadi “Daud,” maka Tuhan juga mengetahui keadaan kita sepenuhnya. Ia tidak pernah keliru menempatkan kita.

Ia tidak memanggil kita karena kita paling kuat, melainkan karena Ia ingin menyatakan kuasa-Nya melalui hidup yang bersandar kepada-Nya.

Kemenangan iman bukanlah tentang merasa hebat. Kemenangan iman adalah keberanian untuk melangkah bersama Tuhan ketika dunia berkata bahwa kita tidak mungkin berhasil.

Doa Penutup

Tuhan, sering kali kami merasa kecil dan tidak mampu menghadapi tantangan hidup. Kami melihat kelemahan kami lebih besar daripada penyertaan-Mu. Ampuni kami ketika kami lebih percaya pada kekuatan manusia daripada kuasa-Mu.

Ajarlah kami seperti Daud, yang tidak bersandar pada pedang atau tombak, tetapi pada nama Tuhan semesta alam. Ketika Engkau mengutus kami menjalani tugas dan tanggung jawab yang berat, mampukan kami percaya bahwa Engkau telah mengetahui seluruh keadaan kami sejak semula.

Berikan kami hati yang taat, iman yang teguh, dan keberanian untuk melangkah bersama-Mu. Biarlah melalui hidup kami, orang lain melihat bahwa kemenangan sejati berasal dari Tuhan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Hidup Sehat Melalui Sukacita

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
— ‭‭Amsal‬ ‭17‬:‭22‬‬

Banyak orang berusaha hidup sehat dengan menjaga makanan, rutin berolahraga, mengonsumsi vitamin, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Semua itu baik dan penting. Namun Alkitab mengingatkan bahwa kesehatan manusia tidak hanya ditentukan oleh tubuh, tetapi juga oleh kondisi hati dan jiwa. Amsal 17:22 berkata bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur, sedangkan semangat yang patah dapat mengeringkan tulang.

Kalimat ini ditulis ribuan tahun sebelum dunia modern mengenal istilah stres, depresi, burnout, atau kesehatan mental. Namun firman Tuhan sudah lama menyatakan bahwa keadaan batin manusia memengaruhi kondisi tubuhnya. Orang yang hidup dalam ketakutan, kepahitan, kecemasan, dan tekanan terus-menerus sering kali merasakan tubuh yang mudah lelah, sulit tidur, kehilangan tenaga, bahkan jatuh sakit. Sebaliknya, hati yang penuh damai dan sukacita memberi kekuatan baru bagi hidup seseorang.

Tetapi kita juga tahu bahwa sukacita bukan hal yang mudah dipertahankan. Dunia tempat kita hidup penuh tekanan. Ada masalah ekonomi, konflik keluarga, sakit penyakit, kekecewaan, pengkhianatan, dan lingkungan yang melelahkan jiwa. Banyak orang tersenyum di luar, tetapi sebenarnya sedang letih di dalam hati.

Karena itu, ayat ini bukan sekadar nasihat untuk “berpikiran positif.” Sukacita yang dimaksud Alkitab jauh lebih dalam daripada sekadar suasana hati yang baik. Sukacita sejati lahir dari hubungan dengan Tuhan.

Rasul Paulus pernah menulis tentang sukacita justru ketika ia berada di dalam penjara. Keadaan hidupnya tidak nyaman, tetapi hatinya tetap memiliki pengharapan. Ini menunjukkan bahwa sukacita Kristen tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan sekitar. Sukacita muncul ketika seseorang tahu bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan yang setia.

Orang yang dekat dengan Tuhan tetap bisa menangis, kecewa, bahkan lelah. Namun ia tidak kehilangan pengharapan. Di tengah tekanan hidup, ia masih dapat berkata, “Tuhan masih menyertai aku.” Pengharapan seperti inilah yang menjadi “obat yang manjur” bagi jiwa manusia.

Sebaliknya, semangat yang patah dapat mengeringkan tulang. Gambaran ini sangat kuat. Tulang adalah penopang tubuh. Ketika semangat hidup hancur, manusia kehilangan tenaga untuk berjalan maju. Ada orang yang secara fisik masih hidup, tetapi batinnya sudah lelah dan kosong. Karena itu kita perlu menjaga hati dengan sungguh-sungguh.

Salah satu cara menjaga sukacita adalah belajar melepaskan kepahitan. Kepahitan adalah racun yang perlahan menghancurkan hati. Dendam dan kemarahan yang dipelihara terus-menerus tidak hanya melukai jiwa, tetapi sering kali juga memengaruhi tubuh. Tuhan memanggil kita untuk menyerahkan luka dan keadilan kepada-Nya.

Kita juga perlu berhikmat dalam memilih lingkungan pergaulan. Perkataan yang kasar, pertengkaran yang terus-menerus, dan relasi yang tidak sehat dapat melemahkan jiwa seseorang. Tidak semua keadaan bisa langsung diubah, tetapi kita dapat meminta Tuhan menjaga hati kita agar tidak ikut menjadi pahit.

Yang terpenting, sukacita sejati bukan berasal dari hidup yang sempurna, melainkan dari kehadiran Kristus di dalam hidup kita. Yesus tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia berjanji menyertai umat-Nya. Kehadiran-Nya memberi damai yang tidak dapat diberikan dunia.

Hari ini mungkin ada hati yang lelah, kecewa, atau kehilangan semangat. Datanglah kepada Tuhan. Ia sanggup memulihkan hati yang terluka dan memberikan kekuatan baru. Ketika hati dipenuhi pengharapan di dalam Kristus, jiwa memperoleh obat yang tidak dapat dibeli oleh dunia.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
Terima kasih karena Engkau peduli bukan hanya kepada tubuh kami, tetapi juga kepada hati dan jiwa kami. Engkau tahu beban, tekanan, dan luka yang sering kami sembunyikan dari orang lain.

Ajarlah kami menemukan sukacita sejati di dalam Engkau, bukan hanya dari keadaan yang baik. Ketika hati kami lelah dan semangat kami mulai patah, kuatkan dan pulihkan kami. Jauhkan kami dari kepahitan, dendam, dan kecemasan yang mengeringkan jiwa.

Penuhi hati kami dengan damai dan pengharapan dari Kristus. Biarlah sukacita dari Tuhan menjadi kekuatan dalam hidup kami setiap hari. Pakailah hidup kami juga untuk membawa penghiburan dan sukacita bagi orang lain.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Antara Khawatir dan Waspada

“Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
— Matius 6:34

Setiap manusia mengenal rasa khawatir. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, hati manusia tidak lagi hidup dalam ketenangan sempurna di hadapan Allah. Ketika Adam dan Hawa menyadari dosa mereka, untuk pertama kalinya mereka bersembunyi karena takut. Sejak saat itu, kekhawatiran menjadi bagian dari pengalaman manusia: takut kehilangan, takut gagal, takut sakit, takut miskin, takut ditolak, bahkan takut menghadapi masa depan yang belum terjadi.

Namun Alkitab mengajarkan bahwa ada perbedaan besar antara hidup waspada dan hidup dalam kekhawatiran. Waspada adalah sikap bijaksana yang melihat kenyataan dunia yang telah rusak oleh dosa. Sedangkan kekhawatiran adalah ketakutan yang terus menguasai hati sehingga perlahan-lahan mengikis iman kepada Allah.

Orang yang waspada akan mengunci pintu rumah sebelum tidur. Ia menjaga kesehatan, bekerja dengan rajin, menyiapkan kebutuhan keluarga, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Semua itu bukan dosa. Bahkan sering kali itu adalah bentuk tanggung jawab. Tetapi orang yang hidup dalam kekhawatiran tidak pernah benar-benar tenang. Pikirannya terus dipenuhi bayangan buruk tentang hari esok. Ia mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya. Bahkan, jika ia orang Kristen, mungkin ia makin khawatir karena tahu bahwa rasa khawatir adalah bertentangan dengan iman!

Kekhawatiran memang dapat membunuh manusia secara perlahan-lahan. Tubuh yang terus hidup dalam ketegangan dapat menjadi lelah dan sakit. Tidur terganggu, pikiran kacau, emosi mudah goyah. Tetapi lebih dalam dari itu, kekhawatiran juga dapat membunuh kehidupan rohani. Hati yang dipenuhi kecemasan perlahan kehilangan kemampuan untuk bersandar kepada Tuhan. Doa menjadi hambar. Sukacita memudar. Iman berubah menjadi kegelisahan yang tidak berujung.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata:

“Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”
— Matius 6:27

Pertanyaan Yesus sangat sederhana tetapi menusuk hati. Kekhawatiran tidak memberi tambahan apa pun kepada hidup kita. Ia tidak memperpanjang umur, tidak memberi damai, dan tidak mengubah masa depan. Sebaliknya, kekhawatiran sering merampas kekuatan untuk menjalani hari ini.

Menariknya, Yesus tidak berkata bahwa hidup akan bebas dari kesusahan. Ia justru berkata bahwa setiap hari mempunyai kesusahannya sendiri. Dunia ini memang penuh pergumulan. Orang percaya pun tetap menghadapi sakit penyakit, tekanan ekonomi, konflik keluarga, dan berbagai ketidakpastian hidup. Tetapi Yesus melarang kita memikul beban hari esok sebelum waktunya tiba.

Kekhawatiran selalu membuat kita hidup di masa depan yang belum tentu terjadi. Kita menderita dua kali: pertama dalam pikiran hari ini, dan mungkin nanti dalam kenyataan. Bahkan sering kali hal yang ditakutkan tidak pernah benar-benar terjadi.

Sebaliknya, iman mengajar kita untuk hidup hari demi hari bersama Tuhan. Orang percaya tetap boleh berhati-hati, tetapi tidak hidup dalam kepanikan. Ia menyadari bahwa dirinya terbatas, tetapi Allah tidak terbatas. Ia tahu bahwa masa depan tidak berada di tangannya, tetapi berada di tangan Bapa yang setia.

Burung-burung di udara tidak menanam dan tidak menuai, tetapi tetap dipelihara Allah. Bunga bakung di ladang tidak bekerja keras untuk mempercantik dirinya, tetapi Tuhan mendandani mereka dengan keindahan. Apalagi anak-anak-Nya yang telah ditebus dengan darah Kristus.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, damai sejahtera sejati bukan datang karena semua masalah hilang, melainkan karena kita tahu siapa yang memegang hidup kita. Waspada membuat kita berjalan bijaksana. Tetapi iman menjaga agar hati kita tidak diperbudak oleh kekhawatiran.

Kekhawatiran menjauhkan kita dari Tuhan, tetapi kewaspadaan membuat kita semakin bergantung kepada Tuhan.

Hari esok memang belum kita ketahui. Tetapi Tuhan yang memegang hari esok sudah kita kenal.

Doa Penutup

Tuhan, kami mengaku bahwa hati kami sering dipenuhi kekhawatiran. Kami takut akan masa depan, takut kehilangan, dan takut menghadapi hal-hal yang belum terjadi. Ampunilah kami ketika kekhawatiran lebih besar daripada iman kami kepada-Mu.

Ajarlah kami untuk hidup dengan bijaksana dan waspada, tetapi tidak diperbudak oleh kecemasan. Ingatkan kami bahwa Engkau adalah Bapa yang memelihara hidup kami hari demi hari. Ketika hati kami gelisah, mampukan kami untuk kembali percaya bahwa tangan-Mu tidak pernah melepaskan kami.

Berikan damai sejahtera-Mu yang melampaui segala akal, supaya kami dapat menjalani hari ini dengan tenang bersama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Bersediakah Anda untuk Mati?

“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Galatia 2:19-20

Kebanyakan orang ingin hidup yang nyaman, aman, sehat, dan bahagia. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi ketika Yesus memanggil seseorang untuk mengikut-Nya, Ia tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mudah. Kekristenan bukan sekadar menambahkan agama ke dalam hidup lama kita. Kekristenan adalah kematian sebelum kehidupan baru.

Pertanyaan yang jarang kita dengar adalah: “Bersediakah Anda untuk mati?”

Tentu bukan terutama mati secara fisik, melainkan mati terhadap diri sendiri. Mati terhadap keinginan yang berdosa. Mati terhadap kesombongan. Mati terhadap ambisi yang hanya berpusat pada diri. Mati terhadap cinta dunia yang perlahan menjauhkan hati dari Tuhan.

Itulah yang dimaksud Paulus ketika ia berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus.” Paulus masih hidup secara jasmani, masih berjalan, bekerja, makan, dan melayani. Tetapi pusat hidupnya telah berubah. Dahulu “aku” adalah raja. Sekarang Kristus yang memerintah.

Inilah pergumulan terbesar manusia. Kita ingin Yesus menjadi Penolong, tetapi belum tentu mau menjadikan Tuhan atas seluruh hidup kita. Kita ingin berkat-Nya, tetapi tidak selalu ingin menyerahkan kehendak kita. Kita ingin pengampunan, tetapi sering masih mempertahankan dosa kesayangan.

Dunia modern juga mengajarkan hal yang bertolak belakang dengan Injil. Dunia berkata, “Ikuti hatimu.” Firman Tuhan berkata, “Sangkal dirimu.” Dunia berkata, “Utamakan dirimu.” Kristus berkata, “Pikullah salibmu.” Dunia berkata, “Cari kenyamanan.” Tetapi kita harus menerima kenyataan bahwa Tuhan sering memakai ketidaknyamanan untuk membentuk jiwa kita.

Karena itu kehidupan Kristen sejati tidak pernah lepas dari proses penyaliban diri. Ini adalah respons setiap orang percaya. Kadang Tuhan meminta kita mematikan kepahitan terhadap seseorang. Kadang kita harus mematikan ego dalam keluarga. Kadang kita harus melepaskan kebiasaan dosa yang selama ini kita nikmati diam-diam. Kadang Tuhan mengizinkan penderitaan untuk menghancurkan kesombongan yang tersembunyi di hati kita.

Proses itu menyakitkan. Tidak ada penyaliban yang nyaman. Namun justru di situlah kehidupan baru bertumbuh.

Banyak orang ingin mengalami kuasa kebangkitan Kristus, tetapi tidak mau mengalami salib Kristus. Padahal dalam iman Kristen, salib selalu mendahului kebangkitan. Biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati sebelum menghasilkan buah. Demikian pula manusia lama harus dipatahkan supaya kehidupan Kristus nyata di dalam kita.

Anehnya, ketika seseorang sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Tuhan, ia justru menemukan kebebasan yang tidak dapat diberikan dunia. Orang yang mati terhadap kesombongan tidak lagi terlalu haus pujian manusia. Orang yang mati terhadap cinta uang tidak lagi diperbudak kekhawatiran. Orang yang mati terhadap dosa mulai merasakan damai sejahtera yang lebih dalam.

Itulah paradoks Injil: mati, tetapi hidup. Kehilangan, tetapi memperoleh. Menyerahkan diri, tetapi justru menemukan hidup yang sejati.

Mungkin hari ini Tuhan sedang mengajak kita melihat sesuatu dalam hidup yang perlu “disalibkan.” Bisa berupa ego, ambisi, kebencian, kebiasaan dosa, atau rasa percaya diri yang berlebihan. Tuhan tidak sedang ingin menghancurkan kita. Ia sedang membentuk kita agar semakin serupa dengan Kristus.

Dan kabar baiknya, kita tidak memikul salib ini sendirian. Roh Kudus bekerja di dalam kelemahan kita. Ketika kita jatuh, Tuhan mengangkat. Ketika kita lelah, Tuhan menguatkan. Ketika kita takut menyerahkan hidup sepenuhnya, kasih karunia-Nya tetap memimpin langkah demi langkah.

Pada akhirnya, hidup yang paling penuh bukanlah hidup yang terus mempertahankan “aku,” melainkan hidup yang memberi ruang bagi Kristus untuk hidup di dalam kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, sering kali aku ingin mengikuti-Mu tanpa salib, ingin menerima berkat-Mu tanpa menyerahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Ampunilah aku jika selama ini aku masih mempertahankan ego, dosa, dan keinginan diri yang menjauhkan aku dari kehendak-Mu.

Ajarlah aku untuk menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Berikan keberanian untuk mematikan dosa, kesombongan, dan cinta dunia di dalam hatiku. Biarlah bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Ketika proses itu terasa berat dan menyakitkan, mampukan aku untuk tetap percaya bahwa tangan-Mu sedang membentukku menjadi pribadi yang lebih serupa dengan-Mu. Pimpinlah aku hidup dalam ketaatan, kerendahan hati, dan kasih kepada-Mu sampai akhir hidupku.

Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Apakah Tuhan Masih Mencipta?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

Pernahkah Anda mendengar istilah Deisme? Jika belum, saya rasa Anda pernah tahu orang yang mempunyai paham yang mirip Deisme. Saya sendiri mempunyai teman yang menganut filsafat ini sekalipun tidak terang-terangan mengakuinya.

Kaum Deis percaya bahwa alam semesta yang sangat teratur ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Harus ada Pencipta yang mahacerdas di awal mula. Namun, setelah penciptaan itu selesai dan hukum alam ditetapkan, Tuhan menarik diri dan membiarkan semesta berjalan mandiri.

Dalam Deisme, manusia tidak membutuhkan iman atau dogma agama. Nalar dan sains adalah alat utama untuk memahami moralitas dan keberadaan Tuhan. Jika suatu ajaran agama bertentangan dengan logika dan ilmu pengetahuan, maka ajaran tersebut harus ditolak.

Penganut Deisme percaya Tuhan itu ada sebagai pencipta, tetapi mereka menolak adanya mukjizat, wahyu, kitab suci, atau intervensi ilahi dalam sejarah manusia. Bagi mereka, dunia sepenuhnya berjalan di atas hukum fisika dan logika. 

Pandangan Deisme tentang penciptaan ini kelihatannya masuk akal, tapi tidak benar. Meskipun penciptaan awal alam semesta (material primordial) telah selesai, sebagian besar perspektif teologi dan sains memandang bahwa aktivitas penciptaan Tuhan tidak pernah berhenti, melainkan bertransformasi menjadi proses yang dinamis dan berkelanjutan.

Banyak teolog menggunakan istilah creatio continua (penciptaan yang terus-menerus). Konsep ini menyatakan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta dan manusia lalu meninggalkannya begitu saja. Bagaimana kata Alkitab tentang hal ini?

Ketika membaca kitab Kejadian, kita melihat bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi, laut dan daratan, tumbuhan, binatang, dan manusia. Banyak orang berpikir bahwa pekerjaan penciptaan itu sudah selesai pada hari ketujuh ketika Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya.

Namun Alkitab menunjukkan bahwa Allah masih terus bekerja sampai hari ini. Ia bukan lagi menciptakan dunia dari ketiadaan, melainkan menciptakan manusia baru di dalam Kristus.

Yesus Kristus menegaskan dalam Injil Yohanes 5:17 bahwa “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”.

Dosa telah merusak manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Manusia tetap bisa terlihat baik dari luar, berbudaya, sopan, bahkan religius, tetapi hati manusia sudah tercemar dosa. Karena itu, keselamatan bukan sekadar memperbaiki perilaku lama atau menambal karakter yang rusak. Tuhan tidak datang hanya untuk “merenovasi” manusia lama. Ia menciptakan sesuatu yang baru.

Itulah sebabnya Paulus berkata, “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.” Perhatikan bahwa Alkitab tidak mengatakan “orang yang sedikit diperbaiki,” tetapi “ciptaan baru.” Ini adalah karya ilahi. Sama seperti manusia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri pada awal dunia, manusia juga tidak dapat menciptakan kelahiran rohaninya sendiri. Semua berasal dari anugerah Allah.

Menjadi ciptaan baru bukan berarti orang percaya langsung menjadi sempurna. Orang Kristen sejati masih bisa jatuh dalam dosa, masih bergumul dengan kelemahan, emosi, dan kebiasaan lama. Namun ada sesuatu yang berbeda: arah hidupnya berubah. Dahulu ia nyaman hidup jauh dari Tuhan, sekarang hatinya rindu kepada Tuhan. Dahulu dosa terasa biasa, sekarang dosa mendatangkan pergumulan dan dukacita. Dahulu hidup hanya berpusat pada diri sendiri, sekarang ada kerinduan untuk memuliakan Kristus.

Kadang perubahan itu terjadi secara dramatis. Ada orang yang hidupnya berubah total setelah mengenal Kristus. Tetapi sering kali perubahan itu berlangsung perlahan seperti pertumbuhan pohon. Tidak selalu mencolok setiap hari, tetapi nyata setelah waktu berlalu. Tuhan bekerja dengan sabar membentuk umat-Nya.

Di zaman sekarang, banyak orang berusaha “menciptakan diri baru” dengan kekuatan sendiri. Ada yang mencoba melalui motivasi diri, terapi, pendidikan, kekayaan, pencapaian, atau perubahan penampilan. Semua itu mungkin memberi perubahan sementara, tetapi tidak dapat mengubah hati manusia yang paling dalam. Hanya Roh Kudus yang mampu memberi hidup baru.

Inilah pengharapan besar Injil. Masa lalu tidak harus menjadi identitas terakhir seseorang. Kegagalan, dosa, luka, atau kehancuran hidup bukan akhir cerita ketika seseorang ada di dalam Kristus. Tuhan sanggup melakukan penciptaan baru. Ia mengambil hati yang keras dan memberi hati yang baru. Ia mengambil hidup yang kosong dan memberi tujuan yang baru.

Dan pekerjaan penciptaan itu belum selesai. Orang percaya masih sedang dibentuk setiap hari. Kadang proses itu menyakitkan, karena Tuhan memotong kesombongan, ego, dan dosa yang masih melekat. Tetapi seperti seorang pemahat yang tekun membentuk batu menjadi karya indah, demikian pula Tuhan membentuk umat-Nya menjadi serupa dengan Kristus.

Karena itu, jangan putus asa melihat kelemahan diri sendiri. Jika kita sungguh berada di dalam Kristus, Tuhan belum selesai bekerja. Sang Pencipta yang dahulu menciptakan dunia kini sedang menciptakan hidup baru di dalam umat-Nya.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih karena Engkau bukan hanya Pencipta langit dan bumi, tetapi juga Pencipta hidup baru di dalam Kristus. Kami mengaku bahwa dosa telah merusak hati kami dan kami tidak mampu mengubah diri dengan kekuatan sendiri. Bentuklah kami terus menjadi ciptaan baru yang memuliakan nama-Mu. Ketika kami jatuh, kuatkan kami kembali. Ketika kami lemah, ingatkan kami bahwa Engkau belum selesai bekerja dalam hidup kami. Biarlah hidup kami semakin hari semakin serupa dengan Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.