Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Jika Hatiku Sedih dan Perih

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
— ‭‭Mazmur‬ ‭42‬:‭6‬‬

Ada kalanya hati kita terasa sedih dan perih, tetapi kita sendiri tidak tahu mengapa. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Tidak ada berita buruk yang baru kita terima. Secara lahiriah, semuanya mungkin berjalan cukup baik. Namun entah mengapa, hati terasa berat. Kita bangun pagi dengan perasaan murung, menjalani hari tanpa sukacita, dan pada malam hari masih membawa perasaan yang sama.

Keadaan seperti ini kadang justru membuat kita semakin sedih. Kita mulai bertanya, “Mengapa saya merasa seperti ini?” Lalu muncul pertanyaan lain, “Bukankah saya seharusnya bersyukur? Bukankah Tuhan sudah begitu baik kepada saya?” Akhirnya kita bukan hanya sedih karena hati terasa berat, tetapi juga merasa bersalah karena kita menganggap bahwa kita tidak seharusnya bersedih.

Mazmur 42 menunjukkan bahwa pergumulan seperti ini bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan orang percaya. Pemazmur berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia tidak menutupi keadaan hatinya. Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia mengakui bahwa jiwanya sedang tertekan dan gelisah.

Ada pelajaran penting di sini: kita tidak selalu harus mengetahui penyebab kesedihan kita sebelum kita membawanya kepada Tuhan. Kita boleh datang kepada-Nya dengan hati yang berat, bahkan ketika kita tidak mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.

Kadang kita terlalu sibuk mencari jawaban: “Apa penyebabnya? Mengapa saya begini? Apa yang salah dengan saya?” Padahal mungkin untuk sementara kita tidak perlu menemukan semua jawabannya. Kita dapat berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa hatiku sedih. Aku sendiri tidak dapat menjelaskannya. Tetapi Engkau mengenal aku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.”

Yang lebih sulit adalah ketika kita tidak dapat menerima keadaan yang sedang kita alami. Kita tahu bahwa Tuhan berdaulat. Kita percaya bahwa hidup kita berada di dalam tangan-Nya. Namun mengetahui hal itu secara akal tidak selalu membuat hati langsung tenang. Ada perbedaan antara mengetahui bahwa Allah memegang keadaan kita dan mampu menerima keadaan tersebut dengan hati yang tenang.

Kita tidak perlu memaksa diri untuk segera berkata, “Saya sudah menerima semuanya.” Mungkin kita memang belum sampai di sana. Kita dapat berkata dengan jujur, “Tuhan, saya tahu Engkau baik, tetapi hati saya belum mampu menerima apa yang sedang terjadi.” Kejujuran seperti itu bukan tanda tidak beriman. Justru di sanalah kita belajar membawa iman masuk ke dalam pergumulan yang nyata.

Kadang kesedihan menjadi lebih berat karena orang yang kita kasihi tidak memahami perasaan kita. Kita berharap mereka mengerti, tetapi mungkin mereka hanya berkata, “Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja.” Nasihat itu mungkin diberikan dengan tulus, tetapi hati kita sebenarnya tidak membutuhkan seseorang yang segera menghapus kesedihan kita. Kita membutuhkan seseorang yang bersedia mengakui, “Aku tahu kamu sedang berat.”

Namun jika manusia tidak mampu memahami kita, kita masih memiliki Allah yang memahami kita sepenuhnya. Kita mungkin tidak mengerti diri sendiri, tetapi Tuhan mengerti. Kita mungkin tidak mampu menjelaskan perasaan kita, tetapi tidak ada satu pun isi hati kita yang tersembunyi dari-Nya.

Karena itu, pemazmur tidak berkata kepada dirinya, “Berhentilah bersedih!” Ia berkata, “Berharaplah kepada Allah!” Ini sangat berbeda. Iman tidak selalu menghilangkan kesedihan dengan segera. Iman mengajar kita untuk tetap berharap kepada Allah di tengah kesedihan.

Ada hari ketika kita belum mampu bersyukur. Tidak apa-apa. Perhatikan perkataan pemazmur: “Aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.” Kata “lagi” mengandung pengharapan. Hari ini mungkin hati kita masih perih, tetapi kesedihan hari ini bukan akhir dari cerita.

Mungkin kita belum memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Mungkin kita belum mampu menerima keadaan. Mungkin kita bahkan tidak tahu mengapa kita merasa sedih. Tetapi kita dapat tetap berkata:

“Tuhan, aku tidak mengerti hatiku, tetapi Engkau mengerti. Aku belum mampu menerima keadaanku, tetapi aku mau berharap kepada-Mu. Dan aku percaya, pada waktunya, aku akan bersyukur lagi kepada-Mu.”

Doa Penutup

Tuhan, Engkau mengetahui ketika hatiku sedih dan perih, bahkan ketika aku sendiri tidak mengerti mengapa. Tolonglah aku untuk tidak menyalahkan diriku karena perasaan ini. Ajarlah aku membawa kesedihanku kepada-Mu dan tetap berharap kepada-Mu meskipun aku belum memahami keadaan. Tenangkan hatiku, teguhkan imanku, dan pada waktunya mampukan aku bersyukur lagi kepada-Mu. Amin.

Dinamika Hubungan Suami-Istri di Hari Tua

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
— Kejadian 2:24

Ketika memasuki usia lanjut, dinamika kehidupan keluarga mengalami perubahan. Anak-anak yang dahulu memenuhi rumah dengan suara dan kesibukan kini telah dewasa. Mereka mempunyai pekerjaan, pasangan, rumah tangga, dan anak-anak mereka sendiri. Kita pun memasuki peran baru sebagai orang tua dari orang dewasa dan bahkan sebagai kakek atau nenek. Dalam keadaan seperti ini, ada satu hubungan yang sering kali perlu kembali kita sadari nilainya: hubungan suami dan istri.

Kejadian 2:24 mengatakan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Ayat ini bukan hanya berbicara tentang awal sebuah pernikahan. Di dalamnya terdapat prinsip bahwa pernikahan membentuk sebuah kesatuan baru. Suami dan istri bukan sekadar dua orang yang tinggal bersama, melainkan “satu daging”. Karena itu, hubungan mereka tidak seharusnya kehilangan prioritas ketika anak-anak telah dewasa atau ketika cucu-cucu mulai memenuhi kehidupan keluarga.

Justru pada hari tua, prinsip ini mungkin menjadi semakin penting. Ketika masih muda, perhatian pasangan sering terbagi oleh pekerjaan, pendidikan anak, pelayanan, dan berbagai tanggung jawab keluarga. Tetapi ketika anak-anak sudah mandiri, Tuhan memberikan kesempatan kepada suami dan istri untuk kembali menikmati kebersamaan dengan cara yang mungkin dahulu sulit dilakukan.

Namun, hadirnya cucu dapat membawa dinamika yang baru. Cucu adalah berkat yang indah. Melihat mereka bertumbuh, bermain bersama, mendengar cerita mereka, bahkan membantu orang tua mereka dalam mengasuh mereka merupakan sukacita tersendiri. Alkitab sendiri menunjukkan betapa pentingnya hubungan antargenerasi. Iman dapat diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, sebagaimana iman Lois diwariskan kepada Eunike dan kemudian kepada Timotius.

Tetapi kasih kepada cucu tidak berarti bahwa cucu harus menjadi pusat kehidupan kakek dan nenek. Ada kalanya orang tua meminta bantuan menjaga cucu, ada kebutuhan finansial, atau ada berbagai persoalan keluarga yang membutuhkan perhatian. Menolong tentu merupakan perbuatan kasih. Namun, pasangan lansia juga perlu bertanya: apakah bantuan yang kami berikan mulai mengorbankan hubungan kami sendiri?

Ada pasangan yang akhirnya hampir tidak mempunyai waktu untuk berdua karena seluruh jadwal mereka disusun berdasarkan kebutuhan anak dan cucu. Ada pula yang menggunakan sebagian besar sumber daya mereka untuk memenuhi keinginan generasi berikutnya, sementara kebutuhan dan kenyamanan pasangan sendiri diabaikan. Padahal, kasih kepada keluarga tidak seharusnya membuat kita melupakan orang yang telah berjalan bersama kita selama puluhan tahun.

Kita perlu membedakan antara menjadi berkat bagi anak dan cucu dengan menjadikan diri kita bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Orang tua tetap mempunyai tanggung jawab utama terhadap anak-anak mereka, dan ketika anak-anak telah berkeluarga, mereka juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga mereka sendiri. Kakek-nenek boleh membantu, tetapi bantuan itu seharusnya lahir dari kasih dan kemampuan, bukan dari rasa bersalah atau tekanan.

Bahkan, menjaga hubungan suami-istri dengan baik dapat menjadi warisan rohani yang sangat berharga bagi cucu-cucu. Mereka dapat melihat bahwa setelah puluhan tahun menikah, kakek dan nenek masih saling menghormati, menikmati kebersamaan, saling menjaga, dan tetap setia kepada janji pernikahan. Kesetiaan seperti itu merupakan khotbah yang hidup.

Hari tua bukanlah masa untuk berhenti mengasihi generasi berikutnya. Sebaliknya, kita dapat menjadi sumber hikmat, doa, kasih, dan pertolongan bagi mereka. Tetapi semuanya perlu ditempatkan dalam tatanan yang benar. Kita mengasihi cucu tanpa menjadikan mereka pusat kehidupan. Kita membantu anak tanpa mengambil alih tanggung jawab mereka. Dan kita tetap menjaga pasangan sebagai teman seperjalanan yang Tuhan percayakan kepada kita.

Pada akhirnya, anak-anak mungkin telah meninggalkan rumah, cucu-cucu akan bertumbuh dan mempunyai kehidupan mereka sendiri, tetapi pasangan tetap menjadi orang yang berjalan bersama kita dalam perjalanan menuju akhir kehidupan. Karena itu, jangan sampai kesibukan menjadi kakek dan nenek membuat kita lupa bagaimana harus tetap menjadi suami atau istri di masa depan.

Memprioritaskan pasangan bukan berarti kurang mengasihi cucu. Justru dengan menjaga pernikahan tetap kuat, kita memberikan kepada anak dan cucu sebuah teladan bahwa kasih yang dijanjikan di hadapan Tuhan dapat bertahan sampai hari tua.

Jangan biarkan pasangan lansia hidup hanya dari kenangan tentang apa yang pernah mereka lalui. Bersyukurlah atas masa lalu, belajarlah darinya, ampuni apa yang perlu diampuni, tetapi kemudian bersama-sama pandanglah ke depan. Masih ada hari yang Tuhan berikan, masih ada kasih yang dapat dinyatakan, masih ada pelayanan yang dapat dilakukan, masih ada cucu yang dapat didoakan, dan terutama masih ada Kristus yang harus terus dikejar sampai akhir.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk pasangan hidup yang Engkau berikan untuk menemani perjalanan kami. Tolong kami agar tetap saling mengasihi, menghormati, dan memperhatikan satu sama lain di hari tua. Ajarlah kami mengasihi anak dan cucu dengan bijaksana, menolong tanpa mengambil alih tanggung jawab mereka, dan tidak membiarkan hubungan kami sebagai suami dan istri terabaikan. Kiranya kehidupan pernikahan kami menjadi kesaksian tentang kesetiaan-Mu bagi generasi yang akan datang. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Menabur Kebaikan untuk Masa Depan

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
— Galatia 6:9

Ketika memikirkan masa depan, kebanyakan orang memikirkan apa yang harus mereka persiapkan. Kita menabung uang, membeli rumah, menyiapkan dana pensiun, menjaga kesehatan, dan memikirkan berbagai kebutuhan ketika usia semakin lanjut. Semua itu baik dan bijaksana. Namun ada satu bentuk persiapan yang sering terlupakan: menabur kebaikan dalam kehidupan orang lain.

Ada orang yang sejak muda membangun hidup dengan keyakinan bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun. Ia mengejar keberhasilan, mengumpulkan harta, dan menjaga kemandirian. Ia mungkin berhasil secara materi, tetapi tanpa disadari, ia tidak membangun hubungan yang mendalam dengan orang lain. Ketika usia semakin tua, ia mungkin memiliki cukup uang untuk hidup, tetapi tidak memiliki banyak orang yang mengenal, memperhatikan, atau bersedia hadir ketika ia membutuhkan pertolongan.

Ada pula orang yang berpikir, “Bukankah Tuhan yang memelihara hidup saya? Kalau nanti saya tua dan membutuhkan pertolongan, Tuhan pasti menyediakan.” Iman seperti ini memang mengandung kebenaran—Tuhan sungguh berdaulat dan memelihara umat-Nya. Tetapi kita perlu berhati-hati agar percaya kepada pemeliharaan Tuhan tidak berubah menjadi alasan untuk tidak membangun hubungan dengan sesama. Sering kali Tuhan justru memelihara kita melalui orang lain.

Sebaliknya, ada orang yang sepanjang hidupnya senang memperhatikan orang lain. Ia menyediakan waktu untuk mendengarkan, mengunjungi teman yang sakit, membantu ketika ada kesulitan, mengingat hari ulang tahun, memberikan dorongan ketika seseorang sedang kecewa, dan hadir bukan hanya ketika dirinya membutuhkan sesuatu. Ia mungkin tidak pernah berpikir bahwa semua itu adalah investasi untuk masa tuanya. Ia hanya sedang menjalani hidup dengan kasih.

Pertolongan yang kita terima suatu hari mungkin datang melalui sahabat, anak, tetangga, saudara seiman, atau bahkan seseorang yang dahulu pernah kita perhatikan.

Karena itu, mempercayakan masa depan kepada Tuhan tidak berarti kita boleh hidup tanpa memedulikan orang lain.

Justru karena kita percaya Tuhan bekerja melalui manusia, kita dipanggil sejak sekarang untuk membangun kasih, perhatian, dan hubungan yang sehat dengan sesama. Tuhan menyediakan masa depan kita, tetapi Ia juga menyediakan kesempatan bagi kita untuk mengambil bagian dalam pemeliharaan-Nya terhadap orang lain.

Alkitab berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.” Berbuat baik memang terkadang melelahkan, terutama ketika kebaikan kita tidak dihargai atau bahkan disalahgunakan. Kita mungkin pernah bertanya, “Untuk apa saya terus berbuat baik kalau tidak ada yang membalas?”

Tetapi Paulus mengingatkan bahwa orang percaya tidak hidup hanya berdasarkan apa yang terlihat sekarang. Ada waktu untuk menabur dan ada waktu untuk menuai. Kita mungkin tidak melihat hasil dari kebaikan kita hari ini. Bahkan, orang yang kita tolong mungkin tidak pernah membalasnya. Tetapi Tuhan melihat setiap perbuatan yang dilakukan dalam kasih.

Karena itu, berbuat baik bukanlah transaksi: “Saya menolong kamu supaya suatu hari kamu menolong saya.” Itu bukan kasih Kristen. Kita berbuat baik bukan untuk membuat orang lain berutang kepada kita. Kita berbuat baik karena Tuhan terlebih dahulu telah berbuat baik kepada kita.

Namun demikian, Tuhan sering memakai kebaikan yang kita taburkan untuk membangun hubungan yang akan menjadi berkat bagi kehidupan kita sendiri. Orang yang sepanjang hidupnya menabur perhatian biasanya tidak hidup dalam keterasingan. Ia memiliki sahabat, keluarga, tetangga, dan saudara seiman yang mengenalnya. Ketika suatu hari ia membutuhkan pertolongan, sering kali ada tangan yang terulur kepadanya.

Itulah sebabnya kita dapat mengatakan: jangan hanya menabung uang untuk masa depan; tabunglah juga perhatian, kasih, kesabaran, kepercayaan, dan persahabatan. Tetapi jangan menabungnya sebagai tuntutan kepada orang lain. Tabunglah dengan cara menaburkannya.

Terlebih lagi, kehidupan kita tidak berhenti pada masa tua. Ada masa ketika kehidupan di dunia berakhir dan kita berdiri di hadapan Tuhan. Keselamatan kita bukanlah hasil dari perbuatan baik kita—keselamatan adalah anugerah Allah. Namun orang yang telah menerima anugerah itu dipanggil untuk menghasilkan buah dalam kehidupannya.

Karena itu, selama kita masih memiliki kesempatan, marilah kita terus berbuat baik. Mungkin hari ini kita masih dapat menelepon seseorang yang kesepian. Kita masih dapat mengampuni. Kita masih dapat menolong. Kita masih dapat memberikan waktu dan perhatian.

Jangan merasa bahwa usia membuat hidup kita tidak lagi berguna. Selama Tuhan memberi kita kesempatan untuk hidup, masih ada kesempatan untuk menabur.

Dan kita boleh menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Kita tidak tahu kapan akan menuai, melalui siapa tuaian itu datang, atau seperti apa bentuknya. Tetapi kita tahu satu hal: Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan yang dilakukan dalam kasih kepada-Nya.

Maka janganlah jemu-jemu berbuat baik. Teruslah menabur, sekalipun belum melihat hasilnya. Sebab suatu hari nanti, pada waktu yang Tuhan tentukan, kita akan menuai.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
— ‭‭Galatia‬ ‭6‬:‭10‬‬

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk berbuat baik. Ajarlah kami menabur kasih, perhatian, waktu, dan pertolongan tanpa menuntut balasan. Tolong kami agar tidak jemu ketika kebaikan kami tidak segera terlihat hasilnya. Biarlah hidup kami menjadi berkat bagi orang lain, dan biarlah semua yang kami lakukan menjadi buah dari anugerah-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Memutus Mata Rantai Dosa

“yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
— Keluaran 34:7

Ada sebuah kenyataan yang sering kali tidak kita sadari: dosa seseorang tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Dosa dapat meninggalkan jejak yang panjang, bahkan sampai kepada anak dan cucunya. Seorang ayah yang hidup dalam kemarahan dapat mewariskan pola kemarahan kepada anaknya. Orang tua yang hidup dalam ketamakan dapat mengajarkan bahwa nilai manusia ditentukan oleh harta. Ketidakjujuran, kepahitan, kecanduan, perselingkuhan, bahkan cara memperlakukan pasangan dapat menjadi pola yang berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itulah salah satu makna serius dari Keluaran 34:7. Allah tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi. Bahkan, akibat dosa seseorang dapat dirasakan oleh mereka yang tidak melakukan dosa tersebut.

Namun kita perlu berhati-hati. Ayat ini tidak berarti bahwa seorang anak secara otomatis dinyatakan bersalah di hadapan Allah karena dosa orang tuanya. Alkitab juga menegaskan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Yang dapat diteruskan adalah akibat, kecenderungan, pola hidup, dan lingkungan dosa, bukan kesalahan moral orang tua yang secara otomatis dipindahkan kepada anak.

Faktor genetika pun dapat memainkan peranan. Seorang anak mungkin mewarisi temperamen yang lebih mudah marah, lebih impulsif, atau lebih rentan terhadap kecanduan. Tetapi genetika bukanlah takdir moral. Seorang anak tidak dilahirkan dengan “gen kesombongan” atau “gen ketamakan”. Ia mungkin memiliki kecenderungan tertentu, tetapi kecenderungan bukanlah dosa dan bukan pula alasan untuk menyerah kepada dosa.

Lebih jauh lagi, doktrin dosa asal (original sin) mengingatkan kita bahwa masalah manusia tidak semata-mata berasal dari orang tua atau lingkungan. Manusia lahir dalam natur yang telah jatuh. Seorang anak tidak perlu diajari untuk menjadi egois. Dorongan untuk berkata, “Ini milikku!” dapat muncul dengan sendirinya. Dengan demikian, dosa bukan hanya sesuatu yang kita pelajari; dosa juga mengalir dari natur manusia yang telah rusak.

Lalu bagaimana kita memutus rantai tersebut?

Jawabannya bukan dengan menyalahkan orang tua, genetika, atau keadaan masa lalu. Kita juga tidak dapat berkata, “Saya memang seperti ini karena keluarga saya.” Kita mungkin tidak memilih keluarga tempat kita dilahirkan, tetapi kita tidak ditakdirkan untuk menjalani hidup seperti orang tua kita.

Salah satu hal yang dapat memutus dinamika dosa dalam keluarga adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan berarti hidup dengan kesadaran bahwa Allah melihat, mengetahui, dan akan menghakimi setiap perbuatan kita. Kesadaran itu membuat kita berhenti berkata, “Semua orang di keluarga saya melakukan ini,” lalu bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki?”

Seorang anak dari keluarga pemarah dapat belajar mengampuni. Anak dari keluarga yang tidak jujur dapat memilih hidup dalam integritas. Anak dari keluarga yang penuh kepahitan dapat menjadi pembawa damai. Dengan demikian, ia dapat menjadi generasi yang menghentikan rantai dosa.

Namun pada akhirnya, kita tidak dapat menghindari hukuman dosa hanya dengan menjadi lebih baik. Kita semua membutuhkan pengampunan. Itulah sebabnya bagian pertama Keluaran 34:7 justru sangat indah: Allah adalah Dia yang “mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.”

Keadilan Allah tidak dibatalkan, tetapi pengampunan tersedia melalui kasih karunia-Nya. Dalam Kristus, orang berdosa tidak perlu melarikan diri dari Allah; ia dapat datang kepada-Nya dalam pertobatan dan iman.

Kita mungkin tidak dapat memilih warisan yang kita terima dari keluarga kita. Tetapi oleh anugerah Tuhan, kita dapat menentukan warisan apa yang akan kita tinggalkan.

Kiranya kita tidak menjadi mata rantai yang meneruskan dosa, melainkan menjadi titik balik yang meneruskan iman, kasih, pengampunan, integritas, dan takut akan Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita.

Doa Penutup

Tuhan, kami mengakui bahwa kami adalah manusia berdosa dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Ampunilah dosa kami dan lepaskan kami dari pola dosa yang mungkin telah berlangsung dalam keluarga kami. Berikan kami hati yang takut akan Engkau, sehingga kami tidak meneruskan dosa kepada generasi berikutnya. Jadikan hidup kami teladan iman, kasih, pengampunan, dan kebenaran bagi anak-anak dan cucu-cucu kami. Di dalam Kristus kami berdoa. Amin.

Kita adalah Warga Surgawi

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,”
— Filipi 3:20

Setiap bangsa mempunyai simbol, sejarah, dan kebanggaannya sendiri. Indonesia mempunyai Merah Putih, lagu kebangsaan, Pancasila, dan berbagai perayaan nasional. Semua itu mempunyai tempatnya dalam kehidupan berbangsa. Kita boleh menghormati bendera, mencintai tanah air, menghargai sejarah kemerdekaan, dan bersyukur kepada Tuhan atas bangsa tempat kita hidup.

Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: identitas kebangsaan bukanlah identitas tertinggi seorang Kristen.

Paulus mengatakan sesuatu yang sangat dalam: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga.” Paulus tidak sedang mengatakan bahwa menjadi warga negara dunia adalah sesuatu yang buruk. Ia sendiri hidup sebagai warga Romawi dan memahami tanggung jawabnya sebagai warga negara. Tetapi ia tahu bahwa ada kewargaan yang jauh lebih tinggi daripada kewargaan duniawi—yaitu kewargaan dalam Kerajaan Allah.

Itulah sebabnya gereja perlu berhati-hati ketika identitas nasional mulai dibawa terlalu jauh ke dalam kebaktian. Bendera negara, lagu patriotik, pembacaan dasar negara, tarian kebangsaan, atau berbagai seremoni kemerdekaan mungkin mempunyai tempat dalam kehidupan masyarakat. Tetapi kebaktian memiliki tujuan yang berbeda. Ketika umat Tuhan berkumpul untuk beribadah, kita datang bukan terutama sebagai orang Indonesia, Australia, Amerika, Korea, Tionghoa, atau bangsa lainnya. Kita datang sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus.

Di hadapan takhta Allah, tidak ada bendera nasional yang menjadi pusat perhatian. Tidak ada bangsa yang lebih tinggi daripada bangsa lainnya. Yang menjadi pusat adalah Kristus.

Karena itu, gereja tidak perlu menggunakan nasionalisme untuk membuktikan bahwa orang Kristen adalah warga negara yang baik. Kita dapat mencintai Indonesia tanpa membawa nasionalisme ke dalam liturgi. Kita dapat menghormati pemerintah tanpa mengangkat negara menjadi sesuatu yang sakral. Kita dapat bersyukur atas kemerdekaan tanpa menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai bagian dari ibadah.

Bahkan, kita dapat melakukan sesuatu yang lebih bermakna: berdoa bagi bangsa.

Paulus meminta agar jemaat menaikkan doa bagi para raja dan semua pembesar, supaya kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan (1 Timotius 2:1–2). Jadi gereja tidak dipanggil untuk mengabaikan negara. Gereja dipanggil untuk mendoakan negara.

Tapi ada perbedaan besar antara menghormati negara dan menguduskan negara.

Kita boleh mencintai tanah air, tetapi jangan sampai tanah air mengambil tempat yang hanya layak diberikan kepada Allah. Kita boleh bangga menjadi warga Indonesia, tetapi kebanggaan itu tidak boleh mengalahkan identitas kita sebagai umat Kristus. Kita boleh menyanyikan lagu kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi ketika kita datang beribadah, hati kita diarahkan kepada lagu baru yang dinyanyikan oleh umat tebusan bagi Anak Domba.

Sebab pada akhirnya, semua negara dunia akan berlalu. Semua bendera akan diturunkan. Semua lagu kebangsaan akan berhenti dinyanyikan. Batas-batas negara akan kehilangan maknanya. Tetapi Kerajaan Kristus tidak akan berakhir.

Itulah sebabnya Paulus berkata bahwa kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Pengharapan kita bukan terutama pada masa depan Indonesia, Amerika, Tiongkok, Australia, atau bangsa mana pun. Pengharapan kita adalah kedatangan Kristus dan penyempurnaan Kerajaan-Nya.

Maka ketika kita memasuki gereja, marilah kita meninggalkan sejenak segala identitas duniawi yang dapat memisahkan kita. Kita datang sebagai satu umat, satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, dan satu pengharapan.

Setiap orang adalah warga suatu negara di bumi, tetapi sebagai umat Kristen kita semuanya adalah warga Kerajaan Allah.

Dan kewargaan surgawi itulah yang seharusnya menjadi identitas kita yang terutama.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena melalui anugerah-Mu kami telah menjadi warga Kerajaan Allah. Tolong kami menghormati bangsa dan pemerintah kami dengan benar, tanpa memberikan kepada negara tempat yang hanya layak bagi-Mu. Ketika kami beribadah, arahkan hati kami hanya kepada-Mu. Kiranya kami hidup sebagai warga dunia yang baik, tetapi terutama sebagai warga surgawi yang setia kepada Kristus. Amin.

Memilih dengan Tanggung Jawab

“Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna.”
— 1 Korintus 10:23

Ada banyak keputusan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak secara langsung diatur oleh Alkitab. Alkitab tidak mengatakan kita harus memilih teh atau kopi, tinggal di rumah seperti apa, membeli mobil merek apa, mengenakan pakaian model tertentu, memilih pekerjaan atau karier tertentu, atau mengisi waktu luang dengan kegiatan yang mana. Dalam tradisi Kristen, hal-hal seperti ini sering disebut adiaphora—hal-hal yang tidak diperintahkan ataupun dilarang secara khusus oleh Alkitab.

Pada titik ini kita sering berpikir, “Kalau boleh, berarti saya bebas memilih apa saja yang saya sukai.” Memang kita bebas. Tetapi kebebasan Kristen bukan berarti kita bebas dari tanggung jawab.

Paulus berkata, “Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna.” Perhatikan bahwa Paulus tidak berhenti pada pertanyaan, “Bolehkah?” Ia membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah ini berguna?” Sesuatu dapat diperbolehkan, tetapi belum tentu merupakan pilihan yang bijaksana.

Masalahnya, kita sering menggunakan kebebasan untuk memaksimalkan kenyamanan diri. Kalau dua pilihan sama-sama boleh, kita memilih yang paling enak, paling mudah, paling nyaman, paling menguntungkan, atau paling menyenangkan saat ini. Tidak ada yang salah dengan menikmati kenyamanan yang Tuhan berikan. Allah tidak memanggil kita untuk hidup sengsara hanya supaya terlihat rohani.

Namun, kenyamanan bukanlah kompas utama kehidupan Kristen.

Hal yang sama berlaku ketika kita memilih karier. Alkitab tidak menetapkan bahwa seorang Kristen harus menjadi insinyur, dokter, guru, pengusaha, pegawai negeri, atau profesi tertentu. Banyak pilihan karier secara moral sama-sama sah.

Karena itu, kita dapat tergoda memilih karier terutama berdasarkan gaji tertinggi, jabatan paling bergengsi, keamanan finansial, atau status sosial yang paling membanggakan. Semua pertimbangan tersebut tidak otomatis salah. Gaji yang baik dapat menjadi berkat, pekerjaan yang bergengsi tidak dengan sendirinya berdosa, dan mencari keamanan bagi keluarga adalah tanggung jawab yang baik.

Tetapi seorang Kristen perlu bertanya lebih jauh: “Apakah pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan? Apakah saya dapat melakukannya dengan integritas? Apakah pekerjaan ini memungkinkan saya memenuhi tanggung jawab kepada keluarga? Apakah lingkungan kerjanya akan menolong atau justru terus-menerus menarik saya menjauh dari Kristus? Dan melalui pekerjaan ini, apakah saya dapat melayani sesama dan memuliakan Tuhan?”

Karier bukan hanya sarana untuk mendapatkan penghasilan. Pekerjaan juga merupakan salah satu cara kita menjalankan panggilan hidup dan menggunakan talenta yang Tuhan percayakan.

Ada kalanya seseorang memilih pekerjaan yang lebih sederhana tetapi lebih sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya. Ada pula yang memilih pekerjaan yang lebih menuntut karena kesempatan untuk menggunakan karunia yang Tuhan berikan lebih besar. Tidak ada satu jawaban yang berlaku bagi semua orang. Yang penting adalah motivasi dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.

Demikian pula dalam memilih pasangan hidup. Seseorang mungkin tergoda memilih orang yang paling membuat dirinya bangga di hadapan keluarga dan masyarakat—karena pendidikan, penampilan, kekayaan, keluarga, atau statusnya. Semua kualitas tersebut dapat menjadi pertimbangan yang wajar, tetapi pasangan hidup bukanlah trofi untuk meningkatkan citra diri.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah kami dapat berjalan bersama dalam iman, saling mengasihi, saling melayani, dan bersama-sama bertumbuh dalam Kristus?”

Kita juga dapat melakukan hal yang sama dalam memilih gereja, rumah, kendaraan, pendidikan, rekreasi, dan berbagai hal lainnya. Kita bisa memilih sesuatu karena memang berguna dan sesuai kebutuhan. Tetapi kita juga bisa memilihnya karena ingin masuk dalam “kelompok orang berhasil”.

Di sinilah ego dapat bersembunyi bahkan di balik perkara yang sah.

Karena itu, ketika menghadapi keputusan adiaphora, kita tidak cukup bertanya, “Apakah ini boleh?” Kita perlu bertanya, “Apakah ini berguna? Apakah ini membangun? Apakah hati nurani saya damai? Apakah keputusan ini bijaksana? Dan yang paling penting, apakah pilihan ini memuliakan Tuhan?”

Paulus memberikan prinsip yang lebih luas:

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
— 1 Korintus 10:31

Perhatikan kata “sesuatu yang lain.” Artinya, bahkan keputusan-keputusan kecil yang tampaknya tidak rohani tetap berada di bawah pemerintahan Tuhan. Memilih makanan, kendaraan, rumah, pekerjaan, karier, rekreasi, atau cara menggunakan uang bukan sekadar persoalan selera. Kita tetap dipanggil menggunakan hikmat sebagai orang yang telah menerima anugerah Tuhan.

Namun kita juga harus berhati-hati agar tidak menggantikan kebebasan dengan legalisme. Tidak semua keputusan mempunyai satu jawaban yang Tuhan tetapkan secara khusus. Dua orang Kristen yang sama-sama mengasihi Tuhan dapat memilih secara berbeda dalam perkara adiaphora, dan keduanya dapat memiliki hati nurani yang bersih.

Roma 14:5 berkata:

“Hendaklah tiap-tiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.”

Jadi kedewasaan Kristen bukanlah kemampuan menemukan larangan untuk setiap hal. Kedewasaan adalah kemampuan menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab.

Kita tidak perlu selalu bertanya, “Apa yang paling saya inginkan?” Kita juga tidak harus selalu memilih apa yang paling sulit. Pertanyaan yang lebih baik adalah:

“Dari pilihan-pilihan yang diperbolehkan, mana yang paling bijaksana, paling membangun, dan paling sesuai dengan panggilan saya untuk hidup bagi Kristus?”

Kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan untuk selalu mendapatkan apa yang kita mau. Kebebasan sejati adalah ketika kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan kita sendiri.

Kita bebas memilih, tetapi kita memilih sebagai milik Kristus.

Dan ketika suatu hari kita menyadari bahwa pilihan kita ternyata kurang bijaksana, kita pun tidak perlu tenggelam dalam penyesalan. Kita dapat belajar, bertobat bila diperlukan, memperbaiki arah, dan kembali berjalan bersama Tuhan.

Sebab dalam perkara adiaphora, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita pilih, tetapi juga hati yang memilihnya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menggunakan kebebasan yang Engkau berikan dengan penuh tanggung jawab. Jangan biarkan kenyamanan, gengsi, kesenangan, uang, atau keinginan untuk membanggakan diri menjadi alasan utama dalam mengambil keputusan. Berikan kami hikmat untuk membedakan apa yang sekadar boleh dari apa yang sungguh berguna dan membangun.

Ketika kami memilih gereja, karier, pasangan hidup, rumah, kendaraan, pendidikan, pekerjaan, maupun hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, tolong kami untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat pertimbangan. Ajarlah kami melihat segala sesuatu sebagai kesempatan untuk menggunakan karunia-Mu, melayani sesama, dan memuliakan nama-Mu.

Biarlah dalam setiap pilihan, besar maupun kecil, kami tetap mengingat bahwa hidup kami adalah milik-Mu.

Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Iman yang Benar bukan Iman Prasmanan

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” — Matius 16:24

Ada jenis iman yang semakin populer tanpa kita sadari: iman yang mengambil apa yang menyenangkan, tetapi meninggalkan apa yang menuntut. Iman semacam ini dapat disebut “iman prasmanan.” Seperti seseorang yang datang ke meja prasmanan, ia memilih makanan yang disukainya dan melewati yang tidak disukainya. Dalam kehidupan rohani pun demikian: mengambil kasih Tuhan, berkat, penghiburan, damai sejahtera, dan kehidupan kekal, tetapi menolak pertobatan, penyangkalan diri, kekudusan, ketaatan, dan salib.

Inilah salah satu wajah Moralistic Therapeutic Deism (MTD), atau Deisme Terapeutik Moralistik. Secara sederhana, ia dapat diringkas dalam gagasan: “Yang penting saya menjadi orang baik, Tuhan membuat saya nyaman, dan Tuhan menolong saya ketika saya membutuhkan-Nya.” Kedengarannya religius, bahkan mungkin sangat saleh. Tetapi di dalamnya terdapat persoalan mendasar: manusia tetap menjadi pusat, sementara Tuhan ditempatkan sebagai penolong yang mendukung kehidupan yang kita inginkan.

Kita tentu tidak boleh meremehkan hidup yang bermoral. Alkitab justru memanggil kita untuk hidup kudus dan mengasihi sesama. Tetapi menjadi orang baik tidak sama dengan diselamatkan. Seseorang dapat memiliki moralitas yang baik tetapi belum pernah bertobat dan percaya kepada Kristus.

Masalah lainnya adalah ketika Tuhan hanya dicari untuk memberikan kenyamanan. Tuhan menjadi seperti “ketuhanan yang Maha Penolong Saat Butuh Saja.” Ketika menghadapi masalah, kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Setelah masalah selesai, kita kembali menjalani hidup seolah-olah Tuhan tidak memiliki hak atas keputusan kita.

Namun Yesus memberikan panggilan yang jauh lebih dalam. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Perhatikan kata “setiap orang.” Ini bukan panggilan khusus bagi pendeta, misionaris, atau orang Kristen yang sangat rohani. Setiap orang yang mau mengikut Kristus dipanggil untuk menyangkal diri.

Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri. Artinya, kita berhenti menempatkan diri sebagai pusat kehidupan. Keinginan saya tidak lagi menjadi ukuran tertinggi. Kenyamanan saya bukan lagi tujuan utama. Saya mulai bertanya: “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki?”

Kemudian Yesus berkata, “memikul salibnya.” Salib bukan sekadar simbol indah yang kita pasang di gereja atau kalung yang kita kenakan. Salib berbicara tentang pengorbanan, ketaatan, dan kesediaan membayar harga karena mengikut Kristus.

Tentu saja, kita tidak diselamatkan karena mampu memikul salib dengan sempurna. Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus. Tetapi kasih karunia yang menyelamatkan tidak membuat kita semakin nyaman hidup dalam dosa. Kasih karunia mengubah hati sehingga kita rindu mengikuti Dia.

Karena itu, iman Kristen bukanlah memilih bagian-bagian Injil yang kita sukai. Kita tidak dapat berkata, “Saya mau Yesus sebagai Penghibur, tetapi bukan sebagai Tuhan. Saya mau pengampunan, tetapi tidak mau pertobatan. Saya mau berkat, tetapi tidak mau ketaatan. Saya mau mahkota, tetapi tidak mau salib.”

Kristus tidak menawarkan iman prasmanan.

Ia memanggil kita untuk mengikut Dia.

Dan anehnya, justru ketika kita berhenti menjadikan kenyamanan diri sebagai pusat kehidupan, kita menemukan sukacita yang lebih dalam. Sebab tujuan akhir iman bukanlah membuat kita nyaman, melainkan membawa kita kembali kepada Allah.

Iman yang benar bukan berkata, “Tuhan, berikanlah apa yang saya inginkan.”

Iman yang benar berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu dalam hidup saya.” Di situlah iman bertumbuh dari sekadar agama menjadi hubungan yang nyata dengan Kristus.

Biarlah kita berubah dari manusia yang memilih milih firman Tuhan sesuai kenyamanan kita, dan menjadi manusia yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu menyerahkan diri-Nya bagi kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ampunilah kami apabila selama ini kami hanya mengambil bagian-bagian iman yang menyenangkan hati kami. Ajarlah kami untuk sungguh-sungguh bertobat, menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Engkau. Biarlah kasih karunia-Mu tidak hanya menghibur kami, tetapi juga mengubah kami. Jadikan hidup kami bukan berpusat pada kenyamanan diri, melainkan pada kehendak dan kemuliaan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Perdamaian yang Dimulai dari Satu Pihak

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
— ‭‭Kolose‬ ‭3‬:‭13‬‬

Ada sebuah kenyataan yang sering kita lupakan dalam kehidupan rumah tangga: dua orang yang saling mengasihi pun dapat saling melukai. Justru karena hidup begitu dekat, kata-kata yang sederhana dapat terasa sangat tajam, sikap yang tampaknya kecil dapat meninggalkan luka, dan kesalahan yang sebenarnya sudah lama berlalu dapat kembali muncul setiap kali terjadi pertengkaran.

Awalnya mungkin hanya kemarahan. Tetapi kemarahan yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kepahitan. Kepahitan yang dipelihara dapat berkembang menjadi kebencian. Akhirnya, seseorang tidak lagi hanya marah terhadap apa yang dilakukan pasangannya, tetapi mulai membenci pribadi pasangannya.

Yang lebih menyedihkan, kepahitan sering kali tidak terlihat. Seseorang masih dapat tersenyum, tetap menjalankan kewajibannya, tetap pergi ke gereja, bahkan tetap berdoa bersama. Namun di dalam hati ada sebuah luka yang terus dipelihara.

Paulus berkata, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan, “Ampunilah jika orang itu terlebih dahulu meminta maaf.” Ia juga tidak berkata, “Bersikaplah baik jika pasanganmu sudah berubah.” Dasarnya jauh lebih dalam: “Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu.”

Memang perdamaian sejati dimulai dari inisiatif Allah sendiri. Melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, Allah mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri-Nya tanpa menunggu manusia meminta atau memulainya terlebih dahulu. Allah bergerak lebih dulu mengasihi manusia saat manusia masih hidup dalam pemberontakan dan dosa. Itulah sebabnya perdamaian orang Kristen sering kali dimulai dari satu pihak.

Bayangkan seorang suami dan istri sedang berselisih. Keduanya merasa dirinya benar. Keduanya menunggu yang lain meminta maaf. Keduanya berkata dalam hati, “Mengapa saya yang harus mulai?” Akibatnya, rumah menjadi dingin. Tidak ada yang benar-benar berbicara, tetapi keduanya menyimpan luka.

Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari kita berhenti. Saya tidak mau terus hidup dalam kemarahan. Mungkin saya juga mempunyai kesalahan. Saya ingin kita berdamai.”

Apakah itu berarti dia mengakui bahwa dirinya sepenuhnya salah? Tidak.

Apakah itu berarti kesalahan pasangannya menjadi benar? Tidak.

Apakah itu berarti semua konsekuensi harus dihapus? Tidak selalu.

Tetapi seseorang telah memilih untuk memutus rantai permusuhan.

Inilah kekuatan kerendahan hati. Perdamaian tidak selalu dimulai ketika kedua pihak sudah sepakat. Dalam konsep Kristen, perdamaian bisa dimulai ketika satu orang memilih untuk berhenti menghitung kesalahan, berhenti menunggu pihak lain bergerak, dan kemudian mengambil langkah pertama.

Tentu, pengampunan bukan berarti membiarkan perilaku yang salah terus berlangsung. Dalam rumah tangga, kasih juga membutuhkan kebenaran. Ada kalanya diperlukan percakapan yang serius, pertobatan, batasan yang sehat, bahkan bantuan dari orang lain. Tetapi semua itu dapat dilakukan tanpa menyimpan kebencian di dalam hati.

Kita perlu membedakan antara mengingat dan menyimpan dendam. Kita mungkin tidak dapat melupakan suatu peristiwa. Tetapi kita dapat menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan. Kita dapat berkata, “Tuhan, Engkau mengetahui apa yang terjadi. Aku tidak mau luka ini menguasai hatiku.”

Bukankah demikian pula cara Tuhan memperlakukan kita?

Kita datang kepada-Nya bukan sebagai orang yang tidak pernah bersalah. Kita datang membawa dosa, kegagalan, dan ketidaktaatan. Namun di dalam Kristus kita menerima pengampunan yang tidak layak kita terima.

Karena itu, ketika kita sulit mengampuni pasangan, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apakah dia pantas saya ampuni?” tetapi, “Apakah saya sungguh menyadari betapa besar pengampunan yang telah saya terima dari Tuhan?”

Kolose 3:13 mengarahkan mata kita kepada Kristus. Kita mengampuni bukan karena pasangan selalu layak menerima pengampunan, tetapi karena kita sendiri hidup setiap hari dari pengampunan Allah.

Mungkin hari ini hubungan Anda dengan seseorang sedang dingin. Jangan menunggu perasaan menjadi sempurna. Jangan menunggu pihak lain mengambil langkah pertama. Jika memungkinkan dan bijaksana, jadilah orang yang memulai.

Satu kata, “Maafkan saya.”

Satu kalimat, “Mari kita bicara.”

Satu doa, “Tuhan, lembutkan hati kami.”

Satu langkah kecil dapat menjadi awal dari sebuah perdamaian besar.

Sebab kadang-kadang Tuhan tidak menunggu dua orang untuk memulai perdamaian. Dia memakai satu orang yang bersedia merendahkan diri untuk menjadi awalnya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami. Jauhkan hati kami dari kemarahan, kepahitan, dan dendam. Berikan kami kerendahan hati untuk mengambil langkah pertama menuju perdamaian, sekalipun kami merasa pihak lain yang seharusnya memulainya. Berikan hikmat untuk membedakan antara mengampuni dan membiarkan kesalahan, serta keberanian untuk mencari kebenaran dalam kasih. Pulihkanlah hubungan kami dan jadikan rumah kami tempat kasih karunia-Mu nyata. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Berterima kasih kepada siapa?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”
— Yakobus 1:17

Pernahkah kita menerima pertolongan seseorang dan dengan spontan berkata, “Terima kasih”? Tentu saja. Ketika seseorang membantu kita, memberikan sesuatu, atau hadir pada saat kita membutuhkan, ucapan terima kasih adalah respons yang wajar. Kita harus menghargai orang yang telah berbuat baik kepada kita. Dan setiap orang tua selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk bersikap demikian.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Sesungguhnya, kepada siapa saya harus berterima kasih?”

Pertanyaan ini membawa kita lebih dalam daripada sekadar sopan santun. Ada perbedaan antara mengetahui siapa yang menjadi perantara kebaikan dan mengetahui dari mana kebaikan itu pada akhirnya berasal.

Bayangkan seseorang sedang sakit. Kemudian seorang dokter memberikan pengobatan yang tepat dan akhirnya ia sembuh. Tentu kita harus berterima kasih kepada dokter. Dokter telah belajar bertahun-tahun, menggunakan pengetahuan dan keterampilannya, lalu memberikan pertolongan. Mengabaikan jasa dokter dengan berkata, “Bukan dokter yang menyembuhkan saya, tetapi Tuhan,” bukanlah sikap yang tepat.

Namun iman membawa kita melihat lebih jauh.

Siapa yang memberikan dokter itu kecerdasan? Siapa yang memberikan kemampuan untuk belajar? Siapa yang memungkinkan obat ditemukan? Siapa yang memberikan kesempatan, sumber daya, bahkan kehidupan itu sendiri?

Di sinilah kita melihat perbedaan antara secondary cause, penyebab sekunder, dan Primary Cause, Penyebab Utama. Manusia dapat menjadi alat yang dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Kita melihat tangan manusia, tetapi iman mengajak kita melihat tangan Allah di baliknya.

Mungkin jarang orang tua yang mengajarkan hal ini kepada anak-anak mereka. Mungkin itulah sebabnya manusia sering kurang bersyukur kepada Tuhan. Kita cenderung melihat apa yang langsung ada di depan mata. Kita melihat orang tua yang berkorban, pasangan yang setia, anak yang membantu, sahabat yang datang, dokter yang merawat, atau seseorang yang memberikan pekerjaan. Kita mengucapkan, “Terima kasih,” lalu berhenti di sana.

Padahal Yakobus berkata, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas.”

Ini bukan berarti kita tidak perlu berterima kasih kepada manusia. Justru kita harus melakukannya. Alkitab tidak mengajarkan kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama. Paulus sendiri berkali-kali menghargai orang-orang yang telah menolong dan melayani dirinya.

Tetapi orang percaya tidak berhenti pada alatnya. Ia melihat kepada Sang Pemberi.

Kita dapat berkata kepada seorang sahabat, “Terima kasih karena telah menolong saya.” Tetapi dalam hati kita berkata kepada Tuhan, “Bapa, terima kasih karena Engkau menggerakkan hati sahabat saya untuk menolong saya.”

Kita berterima kasih kepada dokter, tetapi bersyukur kepada Tuhan yang memberikan hikmat dan kemampuan kepadanya.

Kita berterima kasih kepada anak-anak kita yang memperhatikan kita, tetapi bersyukur kepada Tuhan yang menumbuhkan kasih dalam hati mereka.

Kita berterima kasih kepada seseorang yang memberikan kesempatan, tetapi memuliakan Tuhan yang membuka pintu tersebut.

Inilah salah satu keindahan Soli Deo Gloria—kemuliaan hanya bagi Allah. Kita menghargai manusia, tetapi kita tidak berhenti pada manusia. Kita menikmati pemberian, tetapi kita mencari Sang Pemberi. Kita menghormati alat yang dipakai Allah, tetapi kemuliaan terakhir kita kembalikan kepada Allah.

Karena itu, mungkin kalimat yang paling tepat bukanlah, “Berterima kasih kepada Tuhan atau kepada manusia?”

Melainkan:

“Berterima kasih kepada manusia, tetapi bersyukur kepada Tuhan.”

Manusia adalah perantara. Allah adalah sumber.

Dan semakin kita menyadari hal ini, semakin banyak alasan yang kita temukan untuk bersyukur. Bahkan pertolongan yang tampaknya sangat biasa—sebuah telepon, sebuah senyuman, sebuah nasihat, sebuah tangan yang terulur—dapat menjadi pengingat bahwa Bapa kita tetap bekerja melalui orang-orang yang ditempatkan-Nya di sekitar kita.

Hari ini, jangan hanya melihat berkatnya. Jangan hanya melihat orang yang menjadi perantaranya. Lihatlah tangan Allah di balik semuanya.

Sebab setiap pemberian yang baik datangnya dari atas.

Doa Penutup

Bapa di surga, kami bersyukur untuk setiap kebaikan yang kami terima. Ampunilah kami apabila sering hanya melihat manusia sebagai sumber pertolongan dan lupa melihat tangan-Mu di balik semuanya. Ajarlah kami menghargai setiap orang yang Engkau pakai sebagai alat kebaikan-Mu, sambil tetap mengembalikan segala kemuliaan kepada-Mu. Kiranya dalam setiap berkat kami melihat kasih-Mu, dan dalam setiap pertolongan kami berkata, “Terima kasih, Tuhan.” Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tuhan Lebih Tahu

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
— Amsal 3:5

Ada sebuah pengakuan iman yang sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam: Tuhan lebih tahu tentang saya daripada saya sendiri.

Kita sering merasa mengenal diri kita dengan baik. Kita tahu apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, apa yang kita rencanakan, dan apa yang menurut kita paling baik bagi kehidupan kita. Kita membuat pilihan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan pertimbangan kita. Itu semua baik. Tuhan memberikan akal budi supaya kita menggunakannya.

Namun, masalah muncul ketika kita mulai menganggap pengertian kita sebagai ukuran terakhir dari kebenaran. Kita berpikir, “Saya tahu apa yang terbaik bagi saya.” Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan, sementara Tuhan melihat seluruhnya—masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Itulah sebabnya Amsal 3:5 berkata, “Janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Perhatikan, ayat ini tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan pengertian. Kita tetap harus berpikir, mempertimbangkan, merencanakan, dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Tetapi kita tidak boleh bersandar sepenuhnya kepada pengertian kita sendiri.

Ada perbedaan antara menggunakan pengertian dan bersandar kepadanya.

Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi kita tidak dapat melihat masa depan. Kita dapat memilih jalan yang menurut kita benar, tetapi kita tidak mengetahui seluruh konsekuensinya. Kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh untuk sesuatu, tetapi kita tidak selalu mengetahui apakah sesuatu itu benar-benar baik bagi kita.

Betapa seringnya kita baru memahami hal itu setelah waktu berlalu.

Ada pintu yang dahulu kita kecewa karena Tuhan tutup, tetapi kemudian kita bersyukur bahwa pintu itu tidak pernah terbuka. Ada rencana yang gagal dan membuat kita bertanya-tanya, tetapi beberapa tahun kemudian kita melihat bahwa kegagalan itu justru menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui. Ada kehilangan yang dahulu terasa seperti akhir segalanya, tetapi ternyata Tuhan menggunakannya untuk membawa kita ke arah yang baru.

Kita melihat satu potongan kecil dari gambar kehidupan. Tuhan melihat seluruh gambar.

Karena itu, iman tidak berarti bahwa kita selalu memahami apa yang Tuhan lakukan. Iman berarti kita mempercayai Dia ketika kita tidak memahami-Nya.

Kepercayaan ini juga mengubah cara kita melihat diri sendiri. Dunia sering mengajarkan kita untuk menentukan nilai diri berdasarkan keberhasilan, kekayaan, kesehatan, penampilan, usia, jabatan, atau penilaian orang lain. Bahkan perasaan kita sendiri dapat berubah-ubah. Hari ini kita merasa berharga; besok kita merasa gagal.

Tetapi Tuhan tidak menentukan nilai kita berdasarkan ukuran-ukuran tersebut. Di dalam Kristus, identitas kita tidak bergantung pada apa yang berhasil kita capai, melainkan pada kasih karunia Allah yang telah menerima kita. Kita adalah pendosa yang diselamatkan hanya melalui karunia Tuhan. Karena itu, kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa diri kita berharga.

Dan ketika rencana kita gagal, kita pun tidak perlu segera menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Mungkin rencana kita gagal, tetapi rencana Tuhan tidak pernah gagal. Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Tentu, ini bukan berarti semua yang terjadi menyenangkan. Ada penderitaan yang benar-benar menyakitkan. Ada doa yang belum dijawab. Ada jalan yang penuh tanda tanya. Tetapi di tengah semuanya itu kita dapat berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya percaya Engkau lebih tahu.”

Bukankah itu juga yang kita lihat di Getsemani? Tuhan Yesus sendiri berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42)

Maka kita boleh membuat rencana, tetapi jangan menjadikan rencana kita sebagai sumber damai sejahtera. Kita boleh mempunyai keinginan, tetapi jangan memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita. Kita boleh bekerja keras, tetapi akhirnya kita menyerahkan hasilnya kepada Dia.

Sebab kita tidak harus mengetahui semuanya, karena kita mengenal Dia yang mengetahui semuanya.

Mungkin inilah salah satu tanda kedewasaan rohani: bukan semakin yakin bahwa kita tahu segala sesuatu, melainkan semakin rela berkata, “Tuhan, Engkau lebih tahu.”

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mempercayai-Mu dengan segenap hati. Ampunilah kami ketika kami terlalu bersandar pada pengertian sendiri dan merasa mengetahui apa yang terbaik bagi hidup kami. Berikan kami kerendahan hati untuk mengikuti pimpinan-Mu, ketenangan ketika rencana kami gagal, dan iman untuk percaya bahwa Engkau tetap bekerja bahkan ketika kami tidak mengerti. Tolong kami mengingat bahwa kami tidak harus mengetahui semuanya, karena Engkau mengetahui semuanya. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.