Apa arti sebuah bencana?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Michelle Brady ingat betapa putrinya, Addie, sangat mencintai kehidupan. Addie Brady didiagnosis menderita kanker pada usia 9 dan usia 14 tahun. Addie menderita kanker tulang yang langka. Tulang tibianya harus diganti dengan tulang prostetik di kakinya, dan dia menghabiskan waktu berbulan-bulan di rumah sakit untuk menjalani kemoterapi yang keras. Tapi itu bukan sikat terakhirnya dengan kanker. Kanker akhirnya pindah ke tulang belakang Addie dan Michelle ingat betapa sulitnya beberapa bulan terakhir kehidupan Addie.

“Ketika dia berusia 14 tahun, dia bangun di suatu pagi dan tiba-tiba – tidak ada tanda-tanda semua ini, ini adalah lima tahun sejak kanker pertamanya – dia sudah tidak dapat berbicara dan mengalami kejang,” Michelle mengatakan. “Dan dia dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans. Beberapa hari setelah itu, kami diberitahu bahwa dia menderita tumor otak yang tidak bisa dioperasi.” Michelle tahu sesuatu yang lebih sedang terjadi. Tidak masuk akal bahwa putrinya yang masih kecil dapat menderita dua jenis kanker yang berbeda dalam waktu yang begitu singkat.

Pengujian genetik mengungkapkan Addie menderita sindrom Li Fraumeni – atau LFS. Ini adalah mutasi bawaan pada gen TP53, yang dikenal sebagai “penjaga genom” karena menghentikan pembentukan kanker. Tetapi bagi orang-orang dengan LFS, proses ini berjalan secara salah dan justru membuat kanker ganas datang. Ini jelas suatu bencana bagi mereka yang ditinggalkan Addie.

Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Mengapa Tuhan membiarkan Addie menderita dan akhirnya meninggal pada usia muda. Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang tertimpa bencana. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab jika bencana terjadi. Bencana memang mempunyai arti, tetapi apa yang terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

  • Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaan-Nya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaan-Nya sendiri. Tuhan justru ingin agar umat-Nya hidup bahagia.
  • Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia itu bukan Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
  • Tuhan maha kuasa dan maha suci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilih-Nya untuk hidup sesuai dengan perintah-Nya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
  • Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini adalah karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat.
  • Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.

Hari ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita pada akhirnya.

Apakah aku masih bisa memilih?

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” 2 Korintus 6:14

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Jika Tuhan tidak memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memilih, bagaimana pula dengan hidup pernikahan kita? Ada yang bilang bahwa pernikahan adalah seperti lotere; jika kita mujur, kita akan mendapatkan seorang pasangan yang baik. Tetapi ada pula orang yang menyalahkan Tuhan jika ia mendapatkan jodoh yang dianggap kurang tepat. Selain itu ada orang yang menyesali hidup pernikahannya karena ia merasa salah pilih. Inilah masalah yang pelik, yang tidak mudah dijawab. Pada persoalan ini bergantung satu pertanyaan: apakah aku masih bisa memilih?

Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

Pernikahan dengan demikian adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Memilih jodoh atau pasangan hidup dengan demikian bukanlah hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak sungguh-sungguh saling mencintai? Ataukah Tuhan jugalah yang menentukan mereka bercerai? Pernikahan dengan demikian bisa dianggap sebagai patokan apakah manusia masih mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang perlu dilakukan dalam hidupnya.

Berbicara tentang hal memilih apa saja, secara umum ada dua pandangan yang berbeda, yaitu pandangan bahwa apa yang terjadi dalam hidup manusia adalah takdir dan pandangan bahwa apa yang terjadi adalah karena pilihan manusia. Pandangan takdir atau disebut juga determinisme, mengakui bahwa apa yang sudah dipilih seseorang itu telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga ia tidak perlu berusaha atau melakukan upaya apapun untuk mendapatkannya. Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring seseorang pada determinisme fatalistik yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa.

Menurut pandangan ini, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya, disebut fatalistik. Dalam teologi Kristen, kaum Calvinis ekstrim yang dikenal sebagai golongan Hiper-Calvinis berpegang pada pandangan semacam ini sekalipun mereka segan untuk mengakuinya. Ini karena golongan ini tertalu meninggikan kedaulatan Tuhan dan terlalu merendahkan ciptaan Tuhan, yaitu manusia.

Sebenarnya dalam Alkitab ada banyak contoh yang menyatakan bahwa kehendak Allah yang berdaulat tidaklah menghancurkan kebebasan (freedom) ataupun kehendak bebas (freewill) manusia. Manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Mengapa? Kerena, manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Dengan kata lain, manusia memiliki “citra” Allah. Walaupun demikian, sebagai mahluk ciptaan manusia bergantung pada Tuhan, Sang pencipta-Nya, bagi kelangsungan hidupnya;. Manusia tidak bisa berdiri sendiri; hidupnya bergantung sepenuhnya pada Allah sang pencipta. Di dalam Allah manusia bisa hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28).

Sebagai mahluk berpribadi, manusia memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan membuat pilihan-pilihannya sendiri. Tetapi, akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa tersebut “citra” Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Secara rohani manusia telah rusak total dan tidak dapat mengambil keputusan tanpa terjebak dalam dosa. Apa pun yang dilakukan manusia akan dinodai dosa, jika tidak mau dibimbing Tuhan.

Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi nyata pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Akibat dosa itu, manusia di luar Kristus terus menggunakan kehendak bebas itu sedemikian rupa sehingga membuat apa yang jahat menjadi nyata (Markus 7:20-23). Walaupun demikian, Allah tetap menghargai “kehendak bebas” yang diberikan-Nya kepada semua manusia termasuk dalam hal memilih dan menentukan apa yang dibutuhkan mereka.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat manusia bisa melakukan apa yang jahat dan salah. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya hal yang jahat? Jika Ia mengijznkan (permissive will) perceraian misalnya, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Paulus kepada jemaat di Korintus. Jemaat di Korintus adalah jemaat yang mengalami berbagai persoalan terutama dalam hal kesusilaan dalam hidup pernikahan. Dalam pesannya, Paulus menasihati mereka agar tidak memilih pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Mereka diingatkan bahwa antara kebenaran dan kedurhakaan ada perbedaan besar, dan apa yang terang tidak dapat bersatu dengan apa yang gelap. Jelas bahwa Paulus menyuruh karena mereka memang bisa memilih apa yang baik. Jika semua itu sudah ditentukan Tuhan, tentunya mereka hanya bisa berserah dan Paulus tidak perlu meminta agar mereka berhati-hati dalam memilih jodoh.

Sebagian manusia akan tetap berusaha mempersalahkan Tuhan jika mereka memperoleh apa yang tidak nyaman. Mengapa Tuhan memberi kita kemampuan untuk memilih tetapi membiarkan kita melakukan kesalahan? Kita tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Hari ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup dan dalam memilih tindakan apa yang harus kita lakukan, biarlah kita tetap berkomunikasi dengan Tuhan,dengan keyakinan bahwa Ia tetap menyertai kita sebagaiTuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Bagaimana belajar dari Alkitab

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Tidak terasa, sekarang sudah pertengahan tahun. Waktu berjalan cepat, hari demi hari dilalui, tetapi bagi kebanyakan orang hidup ini terasa membosankan karena agaknya tidak ada yang berbeda. Walaupun demikian, untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, bisa memberi pelajaran dan pengertian untuk hari depan. Tetapi, dengan adanya pengalaman pribadi, orang juga bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua, dan bahkan firman Tuhan.

Secara umum, karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di saat ini, belum tentu benar di masa depan. Karena itu, pengalaman orang lain belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik untuk kita. Apa yang pernah kita alami sendiri akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup kita, sering diabaikan.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan dalam hidup ini mungkin bersumber pada pengalaman pribadi seseorang, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Karena itulah kita harus mau belajar dari Alkitab.

Perlu kita ketahui bahwa pengalaman pribadi, jika dipakai sebagai dasar untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga akal budi tidak akan dapat menjajaki kedalaman firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan kebenaran yang ada dalam Alkitab. Bagaimana cara yang tepat untuk mempelajari Alkitab?

Jika membaca Alkitab bisa dilakukan siapa juga, mencari makna ayat-ayat Alkitab adalah salah satu tugas yang paling penting yang dimiliki oleh orang-percaya dalam hidup ini. Allah tidak memberitahu bahwa kita hanya perlu membaca Alkitab. Kita perlu mempelajarinya, dan menggunakannya secara tepat. Mempelajari Firman Tuhan adalah pekerjaan berat. Membaca Alkitab secara sekilas atau sambil lalu kadang menghasilkan kesimpulan yang sama sekali keliru mengenai apa yang Allah maksudkan. Karena itu, sangatlah penting untuk mengerti beberapa prinsip mengenai bagaimana menentukan arti yang sebenarnya dari Kitab Suci.

Yang pertama, kita harus rajin berdoa dan minta agar Roh Kudus memberikita pengertian, bukan saja sewaktu kita membaca Alkitab, tetapi selama kita hidup di dunia. Melalui Yohanes 16, Yesus berbicara mengenai Roh Kudus dan mengatakan bahwa ketika Ia datang (Roh Kudus datang pada hari Pentakosta, Kisah Rasul 2), Dia akan menuntun mereka ke dalam kebenaran. Sebagaimana Roh Kudus menuntun para rasul dalam menulis Perjanjian Baru, Dia juga membimbing kita untuk mengerti isi Alkitab. Kita harus ingat bahwa Alkitab itu milik Allah dan kita perlu bertanya kepada-Nya apa artinya untuk hidup kita.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Yohanes 16: 13

Yang kedua, kita tidak boleh memisahkan satu ayat Alkitab dari ayat-ayat sekitarnya dan menganggap bahwa arti dari ayat itu tidak tergantung pada ayat-ayat lain. Kita perlu selalu membaca ayat-ayat dalam konteks yang benar dan mengenali tujuan penulisan dari ayat-ayat tersebut. Alkitab memang berasal dari Allah (2 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:21), namun Allah menggunakan manusia untuk menuliskannya. Orang-orang ini memiliki tema tertentu dalam pikiran mereka, tujuan penulisan, dan hal-hal tertentu yang mereka ingin bicarakan. Karena itu, kita harus membaca latar belakang dari ayat Alkitab yang kita pelajari supaya kita mengetahui siapa yang menuliskan kitab itu, untuk siapa kitab itu ditulis, kapan ditulis dan mengapa itu ditulis. Jika tidak demikian, kita akan terjebak dalam kekeliruan di mana kita menaruh pengertian kita sendiri di atas Firman Tuhan, supaya kita bisa menafsirkannya sesuai dengan keinginan kita.

Yang ketiga, jangan coba mempelajari Alkitab tanpa mempedulikan orang lain. Adalah kesombongan kalau kita beranggapan bahwa kita tidak akan belajar apa-apa melalui karya seumur hidup dari orang-orang lain yang telah mempelajari Alkitab secara mendalam. Memang banyak orang, secara keliru, sengaja berusaha memahami Alkitab dengan usaha sendiri, dengan asumsi bahwa mereka bisa bergantung semata-mata pada Roh Kudus dan karenanya bisa menemukan kebenaran Kitab Suci yang tersembunyi. Mereka tidak mau belajar dari penjelasan tokoh-tokoh dan guru-guru teologi Kristen, yang mungkin dianggap berbeda dengan pandangan mereka sendiri.

Kita tentu tahu bahwa Kristus, ketika memberikan Roh Kudus, telah memberikan orang-orang talenta dan karunia rohani sebagai bagian dari tubuh Kristus. Salah satu dari karunia rohani ini adalah karunia untuk mengajar (Efesus 4:11-12; 1 Korintus 12:28). Para pengajar ini diberikan Allah untuk menolong kita mengerti Firman Tuhan secara benar dan menaati Kitab Suci. Selain itu, mempelajari Alkitab bersama dengan orang-orang percaya lainnya selalu merupakan hal yang bijaksana, karena mereka bisa saling membantu dalam pengertian dan penerapan kebenaran Firman Tuhan.

Hari ini, pertanyaan kepada kita yaitu apakah kita mau hidup dengan selalu belajar dari Firman Tuhan. Segala pengalaman hidup terjadi dengan sekehendak Tuhan dan semua itu bukan tidak ada artinya. Sungguh sayang jika pengalaman kita tidak membuat kita makin bijaksana, bertambah dalam kasih, dan makin menaati firman Tuhan. Dapat disesalkan jika pengalaman kita justru membuat kita makin jauh dari Tuhan dan sesama kita karena kekeliruan kita dalam mengartikannya. Biarlah kita mau belajar dari Alktab dengan cara yang benar!

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Bagaimana menjadi penjala manusia yang benar

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Matius 4: 19-20

Pada waktu Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon Petrus dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau sebab mereka penjala ikan. Pekerjaan yang membosankan, karena mereka harus berjam-jam bekerja tetapi belum tentu mendapatkan hasil yang memadai. Yesus mengajak keduanya untuk mengikut Dia, untuk menjadi penjala manusia. Mungkinkah ini lebih menarik dari menjala ikan? Ataukah ini juga membosankan dan sama beratnya dengan menjala ikan?

Menjala manusia, mengajak orang untuk menjadi pengikut Kristus adalah pekerjaan yang berat. Tetapi, bagi setiap pengikut Kristus, menjala manusia adalah tugas mulia yang harus dilakukan, karena itu adalah sesuatu yang bukan dianjurkan saja. Mengabarkan injil keselamatan adalah perintah Tuhan, mandat agung, untuk kita.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Mungkin di antara kita ada yang mengira bahwa menjala manusia adalah tugas pendeta, penginjil dan orang-orang tertentu saja. Mereka tidak peduli akan panggilan Kristus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dengan ketidakpedulian mereka, seringkali cara hidup mereka justru bisa menghalangi usaha-usaha untuk menangkap orang-orang yang ada disekitar mereka.

Pada pihak yang lain, ada banyak aliran gereja yang ssat ini mempunyai banyak anggota yang rajin menjala manusia, agar makin banyak orang yang bergabung dengan mereka. Anggota aliran ini biasanya sangat bersemangat untuk “mengabarkan Injil” yang tidak benar, yang terlihat dari apa yang mereka lakukan atau percayai:

  1. Sebagian menyangkal bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Ini jelas merupakan suatu kesalahan yang fatal. Contohnya, ada orang yang berkata bahwa jalan ke sorga ada banyak. Ajaran ini sekarang dikenal dengan sebutan universalisme.
  2. Ada aliran yang menyangkal Alkitab adalah satu-satunya Firman tertulis dan kemudian menambahi pewahyuan lain di luar Alkitab. Aliran seperti Mormon jelas sekali merupakan aliran sesat (bidat) karena mereka menambahi Alkitab dengan “Kitab Mormon”, sedangkan aliran Yahweisme memakai berbagai tulisan Ibrani di luar Alkitab sebagai pelengkap Alkitab yang mutlak diperlukan. Jelas sekali aliran-aliran seperti ini mengangap bahwa Alkitab yang sekarang ada belumlah final.
  3. Banyak aliran yang tidak menghasilkan buah-buah yang baik. Salah satu contohnya adalah aliran Children of God yang menarik kaum pria untuk bergabung dengan cara yang tidak senonoh.
  4. Ada juga aliran gereja yang mempunyai pengertian yang keliru tentang kasih karunia Tuhan. Yohanes 3: 16 menyatakan bahwa kasih karunia Tuhan berarti “Tuhan ingin agar sebanyak mungkin orang dapat diselamatkan, dan Dia memberi syarat yang paling mudah yaitu percaya”. Namun ada beberapa gereja dengan keras berkata bahwa jika ingin selamat orang harus bergabung dengan gereja tersebut, sebagai satu-satunya gereja yang benar. Itu sebabnya aliran seperti ini rajin melakukan penginjilan kepada orang yang sudah Kristen dengan alasan bahwa mereka belum beriman dengan benar (atau lebih jelasnya tidak sesuai dengan ajaran Alkitab menurut tafsiran mereka).

Hari ini, marilah kita sadar bahwa sebagai penjala manusia, kita adalah pengikut Kristus yang benar. Dunia ini melihat kita dan tingkah laku kita sehari-hari. Orang lain bisa melihat kita pergi ke gereja, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang bisa membuat mereka untuk mengikut Yesus. Tetapi, jika kita hidup menurut firman-Nya dan menghasilkan hal-hal yang baik dalam hidup kita, orang akan bisa tertarik untuk mengikut Yesus dan memuliakan Bapa di surga.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Au Revoir – Sampai berjumpa lagi

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 35 – 41

Selama belajar di SMA, saya hanya mendapat pelajaran dua bahasa asing, Inggris dan Jerman. Saya sebenarnya ingin untuk bisa berbahasa Prancis yang bagi saya terdengar merdu. Tetapi sayang, tidak ada kesempatan untuk itu. Walaupun demikian, saya mengerti arti kata “Bon Voyage” dalam bahasa Prancis yang berarti “selamat jalan”. Lalu bagaimana mengucapkan “sampai berjuma lagi” dalam bahasa Prancis? Kata “Au Revoir” adalah kata yang umumnya disampaikan pada saat perpisahan atara dua teman.

Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Au Revoir! Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia. Tidak ada orang yang tahu apakah mereka pernah berjumpa lagi setelah itu.

Anda tentunya pernah mendengar kisah di atas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat nama-Nya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin suasana yang ada tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif dalam pelayanan. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan beban pikiran dalam hubungan kita dengan orang-orang lain.

Ada beberapa yang bisa kita pelajari dari pertengkaran Paulus dan Barnabas. Yang pertama adalah pertengkaran itu sebenarnya bukanlah soal pengajaran. Baik Paulus maupun Barnabas adalah  orang-orang pernah bersama-sama mengabarkan injil. Mereka sepaham dalam prinsip-prinsip iman yang benar. Kedua, sekalipun dua orang mempunyai iman yang sama, mereka tetap adalah dua individu yang berbeda. Roh Kudus tidak pernah mengubah semua orang Kristen sehingga mereka mempunyai kepribadian, cara bekerja dan cara berpikir yang sama. Karena itu, ketidaksesuaian pendapat bisa terjadi dan perpecahan terkadang tidak dapat dihindarkan.  Oleh sebab itu juga sampai sekarang kita bisa melihat adanya perbedaan pendapat antara orang percaya, baik di rumah dan bahkan di gereja.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umat-Nya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umat-Nya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan kasih kepada saudara seiman kita. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar dalam suasana yang ada di saat ini Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan sesuai dengan rencana-Nya.

Kita lebih berharga dari apa pun

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizinNya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendaki-Nya. Pengertian yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat. KuasaTuhan yang absolut membuat manusia hanya bisa melakukan apa yang ditentukan-Nya.

Perlu diketahui, selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus Kristus menggunakan frasa “rambut” secara harfiah dan metaforis, dua cara yang berbeda tetapi terhubung. Secara harfiah, Dia berbicara tentang pengetahuan ilahi dengan detail yang tepat. Tuhan dapat dan melakukan hal yang mustahil secara manusiawi, sepanjang waktu. Itulah yang dilakukan dan akan dilakukan oleh Allah Tritunggal untuk selama-lamanya.

“Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.” Matius 10:30.

Secara kiasan, Yesus berbicara tentang keselamatan. Hanya Tuhanlah Juruselamat, Penyelamat, Pelindung, Penjaga, dan Pembebas kita, sekarang dan selama-lamanya. Sekali lagi, itulah yang Dia lakukan dan akan lakukan selamanya.

“Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.” Lukas 21:18

Seperti Yesus, Paulus juga menggunakan frasa ini secara metafora untuk mengartikan “keselamatan.”

“Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” Kisah Para Rasul 27:34

Dengan demikian, sekalipun secara literal bunyi ayat pembukaan di atas menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Berbeda dengan kehidupan di taman Firdaus, dosa manusia menyebabkan berbagai kejahatan dan penyelewengan sering terjadi. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendak-Nya yang terjadi.

Pada saat ini, apakah anda khawatir tentang masa depan? Mencapai pertengahan tahun 2022, kita tentu mempunyai harapan bahwa tahun ini akan dapat dilalui dengan baik. Tetapi, dalam hati kita mungkin mengakui adanya kemungkinan bahwa hal-hal yang tidak kita harapkan bisa terjadi. Adanya kemungkinan resesi dunia dan belum tuntasnya pandemi COVID-19 adalah dua contoh keadaan yang membuat banyak orang menjadi was-was. Adakah hal yang bisa kita lakukan seandainya hal yang serupa terjadi dalam hidup kita?

Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksi-Nya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan.

Ayat pembukaan di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasi-Nya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umat-Nya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa.

Bila perasaan sudah tumpul

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.” Efesus 4: 19

Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah “orang yang tidak berperasaan”, yang artinya orang yang tidak lagi peka atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang sedemikian adalah orang yang “kebal”, yang tidak lagi dapat merasakan hal-hal yang kurang baik yang dilakukannya kepada orang lain. Sebagai contoh, baru-baru ini ada seorang Youtuber yang terkena sanksi pidana pelecehan elektronik. Orang itu, saking getolnya membuat video-video sensasionil untuk disiarkan melalui Youtube, sampai-sampai tidak sadar bahwa ia sudah melampaui batas hukum yang menyangkut perlindungan nama baik orang lain.

Anda mungkin berpikir bahwa orang-orang yang sedemikian tentunya bukan orang Kristen. Tetapi itu keliru. Malahan banyak orang Kristen yang merasa sudah menjadi orang yang diselamatkan, tidak lagi mau pusing untuk memikirkan tindak tanduknya. Mereka mungkin mengira bahwa karena sudah mengaku Kristen, Tuhan pasti sudah memilih mereka sebagaimana adanya, dan memberi pengampunan atas dosa apa pun yang diperbuat mereka. Perasaan mereka bisa menjadi tumpul, sampai-sampai mereka tidak sadar jika melanggar etika, melanggar hukum atau menyakiti hati orang lain.

Ada banyak faktor yang bisa membuat orang kehilangan perasaan. Biasanya, faktor-faktor seperti lingkungan, kebiasaan, budaya, pendidikan, hukum dan agama mempunyai andil dalam membentuk perasaan seseorang. Tetapi, pada akhirnya setiap orang tentunya bertanggung jawab atas kehidupannya. Adalah kenyataan bahwa karena banyaknya hal yang dianggap biasa atau normal, lambat laun membuat orang tidak peka dan kemudian kehilangan perasaan. Apalagi kalau hal-hal yang tidak baik itu justru menjadi sesuatu yang membuat mereka terkenal atau bisa memberi penghasilan besar. Dengan demikian, hal- hal yang bisa membuat orang lain mengerutkan dahi atau menghela nafas, untuk mereka adalah soal yang tidak lagi perlu dipikirkan.

Jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, ada banyak contoh di mana orang tidak lagi merasa canggung untuk berbuat dosa. Di dunia ini, mereka yang melakukan korupsi, perbuatan asusila, perampasan, pencurian, penipuan, pemfitnahan dan semacamnya sering muncul di koran, dan para pelakunya mungkin tidak lagi menakuti sanksi atau hukuman yang ada. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari, hubungan antar manusia juga berubah sehingga apa yang dulu tidak baik, sekarang dianggap sebagai bagian hak azasi, kebebasan atau budaya manusia modern.

Mereka yang membaca hal-hal ini di media, mungkin juga sudah tidak lagi heran dan karena itu kurang sensitif atas penyebab dan akibat perbuatan jahat semacam itu. Masyarakat dalam hal-hal tertentu justru menganggap apa yang dulunya jahat atau dosa sebagai sesuatu yang lumrah, dan malahan memusuhi orang yang berusaha mengingatkan bahwa firman dan hukum Tuhan tidaklah berubah di sepanjang zaman.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam satu segi kita mungkin sudah mengalami perubahan, yaitu dari tidak mengenal Yesus, kita sekarang sudah mengakui Dia sebagai Juruselamat kita. Walaupun demikian, mengakui dengan mulut saja belumlah berarti bahwa kita sudah menerima Dia dengan sepenuhnya. Jika kita tidak membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita, hidup kita tidaklah akan berubah menjadi semakin baik. Sebaliknya, jika Roh Kudus bekerja dengan sepenuhnya dalam hati kita, Ia akan membimbing kita hingga perasaan kita tidak akan menjadi tumpul.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4: 17

Tugas setiap umat Tuhan

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Sebagai seorang dosen saya sudah mengajar di Australia sejak lama. Selama itu, saya mempunyai banyak murid yang sekalipun mempunyai sifat yang berbeda-beda, tetap mempunyai rasa hormat kepada dosennya. Walaupun demikian, saya dapat merasakan adanya perubahan sikap murid terhadap dosen-dosen mereka sejak pemerintah pada tahun 1989 mengharuskan semua mahasiswa membayar sebagian biaya pendidikan universitas mereka. Jika dulu para murid mau memperhatikan pendapat dosen mereka, di zaman ini mereka justru sering menuntut dosen untuk mendengarkan suara mereka. Dengan keadaan ini, untuk bisa menjadi dosen yang baik, orang haruslah mau terus-menerus belajar cara untuk mengajar murid secara efektif.

Dalam kehidupan bergereja, suasana tentunya berbeda dengan universitas. Pada umumnya jemaat menghormati para pemimpin gereja, penatua dan pendeta. Walaupun demikian, dengan perubahan sosial, hukum, teknologi dan pendidikan, para pemimpin gereja sekarang sering juga harus menghadapi berbagai komentar, kritik dan bahkan tantangan yang berasal dari jemaat atau orang Kristen yang lain. Perdebatan dan pertengkaran sering terjadi di antara umat Kristen baik dalam soal organisasi maupun teologi, baik secara langsung atau melalui media.

Menjadi hamba Tuhan dan pimpinan gereja mungkin tidaklah semudah 50 tahun yang lalu. Tetapi pada zaman rasul-rasul keadaan gereja bukannya serba tenang dan tenteram. Justru pada saat itu gereja baru mulai tumbuh dan karena itu berbagai masalah internal dan eksternal sering menyebabkan ketegangan dan pertengkaran. Peraturan gerejani dan organisasi pada waktu itu masih sangat minim, dan masyarakat tentunya masih bergumul dalam hal etika dan hukum. Walaupun demikian, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan beberapa prinsip kehidupan dan kelakuan yang masih relevan hingga sekarang.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang.

Salah satu hal yang menimbulkan perdebatan adalah keyakinan yang diperoleh melalui pendalaman teologi. Teologi adalah ilmu yang mempelajari segi-segi ketuhanan, tetapi ini belum tentu bersangkutan dengan iman Kristen. Apa yang berguna untuk mendalami firman Tuhan dalam Alkitab adalah teologi Kristen. Ada banyak pandangan teologi Kristen yang menyebabkan timbulnya berbagai aliran gereja. Tidak mengherankan bahwa sering terjadi adanya perdebatan antar umat Tuhan yang berbeda teologi. Perbedaan ini bukan hanya terjadi antar aliran gereja, tetapi juga antar pengikut satu gereja, karena setiap orang yang belajar teologi agaknya mempunyai pengertian yang, sedikit atau banyak, berbeda dengan yang lain. Untunglah, teologi bukanlah apa yang menyelamatkan kita.

Bagaimana kita harus menghadapi mereka yang gemar mendebat firman Tuhan? Kita harus mampu mengajar dengan sabar dan dengan lemah lembut dan dapat menuntun orang yang belum percaya, sebab mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Kita harus memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran. Di lain pihak, jika kita menghadapi mereka yang sudah percaya, tetapi belum tumbuh dalam iman dan pengertian, biarlah kita menjadi guru yang baik yang bisa memberi contoh yang baik melalui cara hidup kita. Biarlah firman Tuhan hari ini memberi kita insentif untuk bisa menjadi terang dunia!

Dari hati turun ke mulut

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 18 – 19

Pemilihan umum di mana pun selalu disertai kampanye yang menyebabkan hangatnya dunia politik. Memang dalam saat kampanye, biasanya dua kubu politik saling menyerang dengan berbagai pernyataan yang seolah membagi negara menjadi dua. Berbagai pernyataan lisan maupun tertulis dikeluarkan untuk menyerang, mengolok, menghina dan merendahkan lawan politik. Walaupun demikian, sebenarnya hal olok-mengolok itu bukan saja terjadi di dunia politik, tetapi di berbagai kalangan masyarakat. Bahkan anggota dua gereja yang saling bertentangan aliran bisa saja terlibat dalam serang-menyerang dengan menggunakan kata-kata yang tidak sedap.

Dalam hidup sehari-hari pun, banyak orang Kristen yang terperangkap dalam kebiasaan memakai istilah-istilah tertentu untuk menjuluki mereka yang kurang disenangi. Sebutan kadrun, onta, anjing, cebong, kampret dan sebagainya sering kali dipakai untuk memanggil orang yang tidak disenangi atau orang yang dipandang lebih rendah derajatnya: orang-orang ditolak atau persona non grata. Mungkin mereka tidak ingat bahwa orang Yahudi pernah memanggil Yesus dengan berbagai nama dan sebutan yang tidak pantas. Kata-kata yang berasal dari hati itu akhirnya diwujudkan dengan penyaliban Yesus.

Jika kecerobohan dalam memilih kata-kata bisa melukai hati orang lain, ada orang-orang yang justru tidak peduli akan apa yang dikatakannya. Mereka memakai perkataan yang tidak sepatutnya, tetapi tidak terpengaruh atas apa yang diperbuatnya. Dalam bahasa Inggris, orang yang ceroboh dalam memakai kata-kata dan perbuatan, yang bisa membuat malu atau menyakiti orang lain, sering disebut sebagai meriam lepas ikatan atau loose cannon. Mengapa begitu? Pada abad 17-19, kapal perang yang terbuat dari kayu mempunyai meriam sundut sebagai senjata utamanya. Meriam ini dipasang di atas beberapa roda dan diikat dengan tali ke dinding kapal agar tidak terhentak ke belakang sewaktu dipakai untuk menembak kapal musuh. Menurut cerita, meriam yang lepas ikatannya dapat mencelakai pemakainya dan juga merusak kapal itu sendiri.

Sebagai manusia kita adalah makhluk yang istimewa karena kita adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai tata bahasa dan tata suara untuk berkomunikasi. Banyak makhluk lain bisa berkomunikasi dengan sesamanya melalui suara, bau atau gerakan tubuh, tetapi tidak ada yang bisa menggunakan bahasa dan suara untuk menyampaikan pesan secara sistimatis. Dengan kelebihan manusia dalam hal berkomunikasi, manusia bisa menggunakan kata-kata secara tertulis atau lisan untuk menyatakan perasaannya, entah itu rasa senang ataupun rasa berang. Bahasa, selain dipakai untuk memuji, menghibur dan menyenangkan orang lain, juga bisa digunakan untuk memaki, menipu dan bahkan memfitnah orang lain. Jika lidah dikatakan seperti pedang (Amsal 12: 18), di zaman internet ini perkataan kita bisa membawa akibat yang jauh lebih besar melalui berbagai sosial media seperti Youtube, Twitter, Facebook dan Whatsapp. Apa yang dinyatakan atau diberitakan orang dalam sosial media bisa dengan mudah menghancurkan perasaan dan hidup orang lain.

Apa yang kurang disadari manusia adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang bisa mendengar apa saja yang kita ucapkan, baik secara lisan maupun tertulis. Ia tahu jika kita memakai lidah kita secara sembarangan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita. Sebagai orang Kristen, kita mungkin ingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa perkataan kita adalah pencerminan isi hati yang bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan yang mahasuci menjadi renggang.

Sayang sekali, di zaman ini kita justru sering melihat para pemimpin agama dan tokoh masyarakat yang seakan berlomba-lomba untuk menyatakan pendapatnya dengan tanpa berpikir dalam-dalam baik secara langsung maupun melalui berbagai media.. Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu bahwa perkataan yang keliru akan sukar untuk ditarik kembali, dan apa yang sudah dirusakkan oleh sebuah loose cannon adalah sukar untuk diperbaiki.

Firman Tuhan kali ini jelas mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen dalam hal ini adalah untuk mawas diri, dan selalu hidup dalam bimbingan Tuhan, sehingga hati kita diisi dengan apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Hari demi hari, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh dalam iman dan kasih melalui bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang ada dalam hati kita akan selalu terpancar dari mulut kita sebagai ucapan kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4: 6

Dari mana datangnya pencobaan?

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13

Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal. Peribahasa itu dimaksudkan untuk menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa yang terjadi dalam hidupnya.

Dikatakan bahwa manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran agama-agama di luar agama Kristen. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Betulkah?

Yakobus memulai surat ini dengan memerintahkan orang Kristen untuk melihat pencobaan dalam hidup kita sebagai hal yang bermakna dan pada akhirnya bermanfaat. Perjuangan selama hidup kita di dunia adalah kesempatan untuk memercayai Tuhan di tingkat yang lebih dalam. Godaan yang melekat pada pencobaan adalah untuk kurang memercayai Tuhan. Kita mungkin memutuskan bahwa Dia tidak cukup kuat untuk menyertai kita, tidak setia untuk memenuhi kebutuhan kita, tidak berbelas kasih tentang rasa sakit dan duka hati kita. Apakah Tuhan itu baik? Apakah Dia mengasihi? Apakah Dia berkuasa?

Yakobus berbicara tentang bagaimana kita harus memilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan pada hari-hari terburuk kita. Jika kita memutuskan untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa Tuhan tidak setia, kita dapat menyatakan kemerdekaan kita dari-Nya dengan memilih untuk tidak taat. Jika kita memutuskan Dia dapat dipercaya, kita akan bergerak lebih dekat kepada-Nya mencari lebih banyak bantuan dan dukungan. Dalam keduanya, kitalah yang harus mengambil keputusan.

Di sini Yakobus menjelaskan bahwa menyalahkan Tuhan karena menyebabkan kita untuk menolak-Nya, dengan membiarkan pencobaan masuk ke dalam hidup kita, bukanlah tanggapan yang benar. Tuhan tidak pernah mengatur peristiwa kehidupan kita dengan maksud untuk memikat kita menjauh dari diri-Nya. Dia selalu mengajak kita untuk bergerak lebih dekat. Itulah dia. Jika Tuhan membiarkan adanya pencobaan, itu bukanlah untuk menjauhkan kita dari Tuhan, tetapi untuk mendekatkan kita kepada-Nya.

Orang Kristen tidak pernah dijamin kehidupan yang lebih mudah daripada orang yang tidak percaya. Justru sebaliknya: menjadi sahabat Allah berarti menjadi musuh dunia yang jatuh (Yohanes 16:1-4). Jadi, pencobaan akan datang (Yohanes 15:18-20). Pencobaan akan menguji iman kita. Tetapi godaan untuk tidak setia kepada Tuhan selama kesulitan bukanlah dari-Nya. Dia tidak bisa dicobai oleh kejahatan; Dia tidak mencobai orang dengan kejahatan. Jadi salahlah pendapat bahwa segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan.

Ayat dari Yakobus 1: 13 di atas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan jahat orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu. Jadi dari mana datangnya godaan? Ayat 14 akan menjelaskan dari mana sebenarnya godaan untuk menolak Tuhan itu berasal. Dari manusia sendiri.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencana-Nya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang mahatahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang mahakuasa dapat mencapai tujuan-Nya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.

Setiap manusia bebas untuk melakukan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Malahan dalam kebebasannya, setiap manusia cenderung berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita seharusnya sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Roh Kudus ada dalam diri kita dan kita tidak boleh mendukakan-Nya. Dengan bimbingan Roh Kudus kita bisa hidup menurut firman-Nya dan boleh yakin bahwa Tuhan yang mahakasih akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik, sekalipun kita mengalami hal-hal yang menekan hidup kita pada saat ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28