Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Manusia berusaha, Tuhan memutuskan

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Secara umum, perubahan iklim (climate change) adalah fenomena pemanasan global (global warming), dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca (green house gasses) pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil.

Ada banyak dampak perubahan iklim itu, antara lain:

  • Curah hujan tinggi
  • Musim kemarau yang berkepanjangan
  • Peningkatan volume air laut akibat mencairnya es di kutub
  • Terjadinya bencana alam angin puting beliung
  • Berkurangnya sumber air

Diantara mereka yang sering terkena dampak langsung perubahan iklim adalah kaum petani yang bergantung pada adanya persediaan air yang cukup. Musim kemarau yang berkepanjangan dan curah hujan yang terlalu tinggi bisa memorakporandakan usaha mereka.

Hidup manusia mungkin bisa dibayangkan sebagai hidup para petani yang bergantung pada adanya air dalam jumlah yang dibutuhkan. Adakalanya manusia dalam hidup ini menantikan datangnya pasangan hidup, pekerjaan, vaksin dan berbagai kebutuhan yang lain. Seringkali penantian itu berlangsung lama sekali dan karena itu rasa kuatir pun mulai muncul. Akankah aku mendapatkannya?

Mereka yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan mungkin merasa lega. Rasa gembira muncul sesaat, namun apa yang diperoleh sering tidak seperti yang diharapkan. Rasa khawatir mula-mula muncul karena tidak adanya sesuatu, berubah menjadi rasa kuatir lain setelah datangnya sesuatu yang semula diharapkan. Hidup manusia dengan demikian tidak dapat mengalami kedamaian. Kurang bisa menjadi kuatir, tetapi terlalu banyak juga bisa menimbulkan rasa kuatir. Mengapa manusia selalu cenderung kuatir?

Kekuatiran menunjuk kepada kelemahan manusia yang tidak berkuasa atas masa depannya. Seandainya manusia bisa mengatasi semua persoalan hidup, kekuatiran tidak akan muncul. Dengan demikian, bagi orang beriman adanya kekuatiran di dunia hanya membuktikan bahwa semua manusia bergantung kepada kemurahan Tuhan semata. Karena itu, untuk orang yang percaya kepada Tuhan, kekuatiran sebenarnya tidak ada gunanya dan hanya memperlemah semangat hidup mereka.

Jika kekuatiran itu harus dihindari, “kepikiran” itu lumrah. Kita sebagai manusia harus bisa memikirkan apa yang bisa terjadi dan mengambil tindakan dan keputusan. Sebagai manusia kita tahu bahwa tiap hari ada persoalan yang harus kita hadapi (Matius 6: 34). Hidup tanpa menyadari adanya berbagai kemungkinan, risiko dan bahaya adalah hidup dalam alam mimpi. Tetapi, sebagai anak-anak Tuhan kita bisa menyerahkan segala persoalan kita kepadaNya. Tuhanlah yang mengambil keputusan apakah usaha kita adalah sesuai dengan rencanaNya dan Dia bisa membuat segala sesuatu yang tidak dikehendakiNya untuk menjadi apa yang baik sesuai dengan kasih dan kebijaksanaanNya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hanya Tuhan yang tidak pernah lelah

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40: 28-29

Rasa lelah. Semua orang tahu bagaimana rasanya. Hari ini saya berkebun selama 6 jam, dan sekarang kaki serta punggung saya terasa kurang nyaman. Begitulah hidup di negeri orang, semua harus dikerjakan sendiri.

Sejak kecil kita tentu pernah merasa lelah; lebih sering sewaktu kanak-kanak, agak berkurang setelah dewasa, tetapi kembali menjadi sering ketika mulai tua. Istirahat yang cukup biasanya bisa memulihkan kesegaran. Namun, berapapun umur kita, kadang-kadang kita bangun dari tidur yang cukup lama, tetapi masih tetap merasa lelah.

Apa penyebab rasa lelah? Dari segi medis, kelelahan bisa terjadi secara fisik maupun psikologis. Seorang yang sudah bekerja berat atau berolahraga intensif akan mengalami kelelahan. Begitu juga orang yang mengalami beban mental yang berat, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan psikis. Karena fisik dan psikis saling memengaruhi, adanya kelelahan fisik bisa memengaruhi keadaan psikis atau mental seseorang, dan begitu juga kelelahan psikis atau mental bisa membuat orang mudah lelah secara fisik. Kedua kelelahan ini biasanya bisa diatasi dengan mengistirahatkan tubuh dan pikiran.

Bagaimana pula dengan kelelahan spiritual? Kelelahan spiritual terjadi jika seseorang merasa Tuhan itu tidak ada atau jauh darinya. Keadaan ini sering membuat manusia mengalami kelelahan yang luar biasa dan bahkan kehancuran karena manusia kehilangan arti hidupnya.

Manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah selalu merasakan adanya sesuatu yang mahabesar, yang tidak dapat dilihatnya: Tuhan. Selama beribu-ribu tahun, dalam sejarah tercatat bahwa manusia melalui berbagai agama dan kepercayaan, berusaha menemukan tuhan-tuhan yang hanya bisa mereka bayangkan. Tetapi, jika manusia bisa menemukan Tuhan yang mahabesar, pastilah itu bukanlah Tuhan. Jika manusia yang terbatas bisa mengenal Oknum yang mahabesar, itu berarti ia adalah mahabijaksana; atau sebaliknya, ia tidak mengerti bahwa Tuhan yang benar adalah Oknum yang tidak bisa dimengertinya,

Bagi kita umat Kristen, Tuhan yang satu-satunya hanya dapat dikenali dengan sempurna melalui Yesus Kristus, karena Ia yang telah menyatakan diriNya sebagai manusia. Allah membuat diriNya dikenal oleh manusia karena dengan usaha sendiri mustahillah manusia bisa menentukan mana Tuhan yang benar. Mereka yang mencoba mengenali Allah tanpa menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka akan menemui jalan buntu.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Hari ini, jika kita mengalami kelelahan fisik dan psikis yang berat dan melihat bahwa tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menolong kita, ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Ia mahabijaksana dan mau memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Apa yang harus kita lakukan dalam beratnya kehidupan di saat ini hanyalah berdoa dengan iman kepada Allah kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Tidak semua makanan itu berguna

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Bagi sebagian orang, hari ini adalah hari yang istimewa: hari Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh adalah perayaan bulan purnama pertama di awal tahun. Jika Imlek 2572 atau Imlek 2021 jatuh pada 12 Februari 2021, maka Cap Go Meh 2021 jatuh pada 15 hari setelah Imlek.

Menurut tradisi kuno di Indonesia, hari Cap Go Meh adalah hari yang dirayakan dengan makan lontong Cap Go Meh. Tapi, karena Indonesia masih dalam suasana pandemi, perayaan Cap Go Meh tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena tidak bisa makan-makan di restoran, banyak orang yang merayakannya bersama keluarga di rumah saja.

Makanan itu sesuatu yang sangat penting di dunia. Bagi banyak orang kesempatan untuk bisa makan besar dirasakan sebagai suatu keharusan. Anda setuju? Tentunya semua orang tahu bahwa tanpa makan, orang tidak dapat hidup. Bukan saja manusia, tetapi semua makhluk di dunia ini perlu makan. Walaupun demikian, manusia sebagai makhluk yang berbudi-daya, tidaklah puas dengan makanan yang ‘biasa-biasa’ saja. Karena itu kebutuhan untuk makan enak, makan besar dan makan-makan adalah lumrah.

Sesekali makan besar tidak ada salahnya. Walaupun demilkian, Paulus dalam ayat di atas menulis bahwa sekalipun segala sesuatu diperbolehkan, bukan segala sesuatu berguna. Karena itu, bukan segala sesuatu adalah baik untuk dilakukan. Lalu, apakah yang “baik”, yang berguna dan membangun, yang boleh dan patut dilakukan?

Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan apa saja, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10: 31). Dengan demikian, apa yang berguna adalah segala sesuatu yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan membangun kerajaanNya di dunia. Umat Kristen seharusnya hidup dan memakai hidup mereka untuk menerangi dunia agar makin banyak orang yang bertobat dari hidup lamanya dan kemudian menjadi umatNya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Makanan adalah berkat karunia Tuhan, tetapi jika disalahgunakan bisa membawa masalah. Kebanyakan makan sudah jelas tidak baik, apalagi kerakusan mungkin bisa dipandang sebagai salah satu dosa utama oleh sebagian orang. Salah makan, bukan saja bisa membuat perut kita sakit, tetapi juga dapat menimbulkan hal-hal yang lebih serius di masa mendatang.

Jika salah makan yang dialami seseorang bisa membawa akibat langsung pada keadaan jasmaninya, adakah makanan yang bisa mempengaruhi keadaan rohaninya? Tentu! Bagi orang Kristen, apa yang jauh lebih penting untuk masa depan kita adalah makanan yang murni dan suci, yaitu Firman Tuhan. Dengan firman Tuhan, kita akan bisa menjalani hidup ini dalam ketabahan dan kebenaran sampai saat kita bertemu dengan Juruselamat kita di surga. Mereka yang melihat kesehatan rohani kita tentunya akan tertarik untuk meniru kita dan menjadi orang percaya!

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Bertahan dalam penderitaan

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Dengan adanya pandemi, banyaklah orang yang mengalami musibah. Entah itu karena kehilangan pekerjaan, kehilangan sanak, atau terjangkit virus corona. Apa yang dialami oleh sebagian orang, mungkin mirip dengan apa yang dialami Ayub yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan. Dalam keadaan yang sudah terasa berat saat ini, masih ada saja orang yang menemui masalah-masalah lain yang disebabkan ulah orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih, tetapi tidak perlu terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri, yang bisa membuat orang sekuat bagaimana pun menjadi lumpuh.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Saat ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Jangan tergoda atau menggoda

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6

Hari-hari ini, ketika saya membaca media, selalu ada saja berita tentang adanya orang yang berselingkuh atau melakukan perbuatan asusila lainnya. Dalam hati saya heran bagaimana berita semacam itu justru bisa membuat orang yang bersangkutan menjadi populer . Mereka yang melakukan perbuatan yang tidak pantas itu bahkan seolah-olah bangga dengan apa yang dilakukan, sehingga mereka merasa perlu menyebar-luaskan apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Banyak diantara orang-orang itu yang mengaku bahwa mereka sudah tergoda untuk melakukan sesuatu yang terlihat nikmat. Selain itu ada juga kisah tentang orang-orang yang suka menggoda orang lain agar mau berbuat hal-hal yang tidak baik. Hal tergoda dan menggoda memang bisa menjadi berita yang membuat kecanduan banyak pembaca. Dalam hal ini sudah jelas bahwa manusia pada hakikatnya sulit untuk menguasai diri.

Dalam Galatia 5: 22-23 ada tertulis 9 buah Roh yang sudah sering dibahas, kecuali yang terakhir, yaitu penguasaan diri. Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? Seandainya tubuh dan hidup kita di dunia ini adalah sebuah mobil dan kita adalah pengemudinya, kita harus dapat menguasai mobil kita agar tidak mengalami musibah, agar tidak mencelakakan diri kita sendiri atau orang lain. Sesudah kita mendapatkan sebuah SIM yaitu menerima anugerah keselamatan dari Yesus, hidup di dunia tidaklah berubah menjadi hidup yang bebas dari bahaya. Menjadi umat Tuhan juga tidak berarti kita bisa mengarungi hidup yang penuh bahaya dan tantangan ini dengan mudah. Kita membutuhkan kemampuan untuk menguasai diri, untuk hidup dengan bertahan atas segala ancaman dari dalam dan luar.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Roma 7: 22-23

OMemang sewaktu kita menjawab panggilan keselamatan Kristus, kita merasakan kebahagiaan yang tersendiri. Karena kalau tidak karena kasih Allah, kita tidak mungkin bisa mendapat kesempatan untuk diselamatkan dan masuk ke surga. Seperti orang yang baru mendapat SIM, hati kita menjadi besar dan dengan itu kita mungkin mudah merasa yakin bahwa kita akan dapat menghadapi hidup ini dengan tenang, tanpa kuatir dalam menghadapi segala persoalan. Tetapi, dalam ketenangan hidup yang sedemikian, orang Kristen sering lupa bahwa iblis akan berusaha mencari kesempatan untuk menyerang kita sewaktu kita lengah.

Penguasaan diri adalah salah satu hal yang sering dilupakan oleh orang Kristen dalam menghadapi segala godaan kecil maupun besar dalam hidup ini. Seringkali godaan-godaan ini justru timbul ditempat dimana kita merasa aman: di kantor, dalam keluarga, dan juga di gereja dan di antara teman-teman baik kita. Tidak jarang bahwa orang yang sudah terbiasa dengan hidup menantang bahaya, justru merasa makin tertarik untuk melakukan hal yang terlarang jika risikonya makin besar. Tidaklah mengherankan bahwa adanya pandemi saat ini justru membuat orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang tercela.

Godaan-godaan ini belum tentu muncul sebagai kejahatan yang jelas terlihat, tetapi muncul sebagai perbuatan, perkataan, sikap, tingkah-laku dan keputusan yang melanggar perintah-perintah Kristus dan etika kekristenan. Seringkali hal-hal semacam itu juga melanggar hukum dan peraturan negara. Godaan-godaan itu mungkin muncul sebagai hal yang baru dalam hidup kita, tetapi seringkali adalah sisa peninggalan hidup lama kita yang belum bisa dihilangkan. Seperti apa yang dialami Adam dan Hawa, hal-hal yang sedemikian bisa menghancurkan hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

Hari ini kita belajar bahwa seperti mengemudikan mobil, kita perlu mengembangkan kemampuan kita untuk menguasai diri dalam perjalanan hidup ini. Kita harus mau belajar tiap hari untuk makin bisa membiarkan Roh Kudus untuk menguasai hidup kita. Hidup ini bisa menjadi suatu tantangan yang tidak bisa teratasi jika kita berusaha mengendalikannya dengan usaha sendiri. Tetapi dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menguasai diri kita dan tetap kuat dalam menghadapi segala tantangan hari demi hari.

Belajar bersabar dalam menghadapi masalah

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Dalam suasana pandemi ini, banyaklah orang yang berusaha untuk tidak tertular virus corona. Bagi mereka yang sudah terlanjur terkena virus ini, usaha untuk cepat sembuh seringkali membuat mereka mengambil jalan di luar apa yang ditentukan dokter. Oleh sebab itu, berbagai obat timur atau barat sekarang ini banyak ditawarkan di media bagi mereka yang sudah tidak yakin akan apa yang dilakukan oleh dokter atau rumah sakit mereka.

Mengapa orang senang memakai obat-obat “gelap” semacam ini? Ada berbagai alasan yang mungkin mereka berikan. Obat-obat tertentu mungkin dianggap lebih manjur sekalipun belum ada bukti ilmiahnya. Pemakainya mungkin percaya bahwa obat-obat itu lebih manjur dari obat dokter karena sudah banyak orang yang memakainya.

Didalam hidup kekristenan, kita sekarang juga sering mendengar dan menyaksikan adanya “penjual obat manjur” di gereja. Mereka yang menjanjikan penyelesaian instan masalah-masalah kita; masalah keuangan, hal kesuksesan, masalah kesehatan, soal hubungan kemanusiaan dll. Semuanya seolah bisa diselesaikan hanya melalui iman dan doa kita kepada Tuhan.

Seperti obat-obat yang dijual bebas dan menjanjikan kesembuhan instan, berbagai cara dan jalan diajarkan pembicara-pembicara di gereja untuk dapat memperoleh berkat Tuhan. Bahkan, mereka seolah mengajarkan cara untuk membuat Tuhan mendengarkan dan menuruti permohonan kita. Tokoh-tokoh gereja bermunculan dan menjadi tenar karena mereka membuat jemaatnya terpukau akan kata-kata mereka. Kesaksian demi kesaksian diperagakan oleh mereka sebagai bukti bahwa jika kita memakai cara tertentu, Tuhan akan menjawab permintaan kita secara instan.

Sungguh disayangkan bahwa begitu banyak orang Kristen yang tekecoh oleh berbagai ajaran yang keliru itu. Mereka tidak sadar bahwa jalan pikiranTuhan bukan jalan pikiran manusia. Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat atau termudah, tetapi adalah jalan yang terbaik buat umatNya. Sebaliknya, ada tokoh-tokoh gereja yang merasa bisa melakukan berbagai hal-hal ajaib dan meramalkan masa depan manusia. Mereka memuliakan dirinya sendiri dan dipermuliakan jemaatnya. Mereka menjadi guru-guru yang sukses seperti apa yang tertulis dalam Alkitab:

“Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.”  2 Petrus 2: 3

Untuk mereka yang dekat dengan Tuhan, kebijaksanaan rohani sudah dikaruiniakan Tuhan untuk bisa membedakan apa yang benar dari apa yang keliru. Mereka akan mengerti bahwa Tuhan mendengar permohonan anak-anakNya tetapi tidak dapat diperintah oleh siapapun. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal Tuhan tidak akan dapat mengerti bahwa segala sesuatu bergantung pada kebijaksanaanNya.

Memang manusia cenderung berbuat kekeliruan yaitu mudah tertarik atas solusi  yang instan. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus: untuk memperoleh status yang sama dengan Allah mereka memilih cara yang keliru. Kesalahan fatal! Seperti itulah banyak orang Kristen yang tergoda untuk memperoleh hasil yang hebat dan besar dalam waktu yang singkat, dan mereka jatuh kedalam perangkap dosa. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah pekerjaan iblis.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”  2 Tesalonika 2: 9

Perjuangan hidup ini tidak mudah, apa yang kita minta belum tentu terjadi menurut apa yang dihatapkan. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan apa yang terbaik, yaitu kasihNya, yang tidak dapat lenyap dalam hati kita. Mereka yang tidak mengerti akan hal ini tidak akan juga dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Lain dulu lain sekarang?

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Dalam kitab Kejadian 2 disebutkan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.

Keadaan dunia sejak kejatuhan dalam dosa sudah berubah sedemikian rupa sehingga manusia tidak lagi jernih pikirannya dan menjadi kacau hidupnya. Itu adalah konsekuensi dosa yang sudah dilakukan manusia, yang sudah merusak hubungan manusia dengan Penciptanya. Apa yang seharusnya tidak membawa rasa malu, sekarang bisa membebani pikiran manusia. Sebaliknya, apa yang seharusnya membuat rasa malu, orang melakukannya tanpa rasa segan. Mata dan pikiran yang seharusnya tidak menyebabkan manusia berbuat dosa, sekarang menjadi penyebab utama untuk jatuh dalam dosa.

Di zaman modern ini orang beriman memang menghadapi berbagai tantangan dan perjuangan. Banyak orang yang menggunakan mata dan pikiran mereka untuk mendapatkan kenikmatan. Dalam hubungan antar manusia, orang makin bebas untuk berbuat apapun karena itu dipandang sebagai hak azasi dan kebebasan pribadi. Tidak mengherankan bahwa standar moral orang zaman sekarang ini seringkali tidak sesuai dengan pandangan Kristen.

Banyak orang yang menuduh orang Kristen sebagai orang yang kolot, fanatik atau tidak realistis. Iman Kristen yang mengharuskan pengikutnya untuk menghindari kelakuan dan perbuatan tertentu bisa saja dianggap sebagai ketinggalan zaman. Jika menonton show bersama teman-teman misalnya, mau tidak mau orang Kristen ikut melihat dan mendengar apa yang tidak senonoh. Mereka yang berusaha hidup suci justru sering dipermalukan oleh orang-orang di sekitarnya dan dianggap sebagai orang yang bodoh. Oleh karena itu, banyak orang Kristen yang terpaksa “berpura-pura” dan menyembunyikan kekristenannya dalam hidup bermasyarakat.

Sebagian orang Kristen segan menunjukkan kekristenannya mungkin juga karena dorongan untuk “hidup damai” dengan golongan lain. Apalagi, jika ada sanak keluarga yang belum mengenal Kristus, hal-hal yang berbau rohani kemudian terpaksa disembunyikan agar tidak menyinggung perasaan mereka. Pada pihak yang lain, mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan bisa mengemukakan semua itu tanpa rasa malu, sekalipun telinga orang Kristen menjadi merah karena rasa malu.

Banyak gereja di zaman ini juga seakan-akan malu untuk terlalu sering membahas firman Tuhan dengan mendalam. Gereja-gereja populer malah lebih sering menyajikan apa yang dianggap dapat membuat jemaat merasa puas dan yakin akan kemampuan diri sendiri. Rasa malu akan apa yang salah sudah dianggap sepele karena adanya pengampunan dari Tuhan. Lebih dari itu, sebagai manusia yang mengaku Kristen mereka tidak malu untuk memohon berkat apa saja dari Tuhan.

Paulus dalam ayat di atas menjelaskan bahwa ia ingin dalam segala hal untuk tidak akan beroleh malu karena ia tidak memancarkan sinar kekristenannya. Ia tidak ingin mendapat malu kalau hidupnya tidak secara jelas menunjukkan bahwa ia adalah pengikut Kristus. Sebaliknya, ia ingin untuk menyatakan imannya kepada semua orang dan memuliakan Kristus dalam tubuhnya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Paulus tidak ragu untuk mengakui dosa dan kelemahannya. Pada pihak yang lain, Paulus tahu bahwa jika ia malu untuk mengakui dan menyatakan kebenaran Tuhan dalam hidupnya, Tuhan akan menolak dia sebagai umatNya.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 15

Tidak mau menipu, tidak mudah tertipu

“Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah.” Yeremia 9: 4

Di zaman ini soal menipu dan ditipu orang lain adalah soal biasa. Tiap hari di media ada berita penipuan ini dan itu, yang pada umumnya menunjukkan bahwa sekalipun masyarakat sudah maju dalam banyak hal dan bisa berkomunikasi lewat berbagai cara, seringkali orang tidak sadar akan adanya trik-trik baru yang bisa menyebabkan kerugian baik materi, perasaan maupun nama baik. Malahan, dalam berbagai media kita bisa menjumpai berbagai berita yang tidak jelas asal-usulnya atau kebenarannya, namun masyarakat menerima itu sebagai sesuatu yang menarik dan bisa dinikmati, setidaknya sebagai lelucon.

Pepatah berbahasa Inggris mengatakan “honesty is the best policy“, yang berarti “kejujuran adalah sikap yang terbaik”. Memang hal yang tidak jujur atau tidak benar, yang diperbuat, dikatakan atau ditampilkan seseorang bisa menimbulkan kesulitan untuk diri orang itu. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa mereka boleh saja tidak jujur atau mengabaikan kebenaran, selama tidak terlalu merugikan orang lain. Ada juga yang merasa bahwa mereka bebas untuk menyampaikan berita apa saja yang dianggap menarik, dan tidak peduli atas reaksi orang lain. Apalagi, di zaman ini orang bisa menggunakan media seperti Facebook, Twitter dan Whatsapp untuk membuat sensasi. Sikap ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita. Dengan demikian, kita harus selalu bersikap jujur dan waspada atas berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya dan berita-berita yang dapat menyebabkan kegundahan, kekacauan dan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen kita harus waspada akan adanya kemungkinan bahwa apa yang kita sampaikan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya. Kita harus bisa memilih berita yang benar agar tidak membuat orang lain kecewa atau salah bertindak. Kita harus mau memperingatkan orang lain jika ada berita-berita yang tidak benar, sekalipun itu bisa mengundang kritik orang-orang tertentu,

Berita yang tidak benar bukan saja muncul di antara masyarakat umum, tetapi juga sering muncul di antara orang-orang yang kita anggap pemimpin. Apa yang sudah terjadi selama pandemi Covid-19 ini membuka mata banyak orang bahwa seorang pemimpin besar bisa membuat berita-berita yang mengacaukan kehidupan rakyatnya. Banyak pernyataan resminya yang dibumbui cerita-cerita yang tidak jelas asal-usul atau kebenarannya. Dalam hal ini, sekalipun maksudnya baik, kekeliruan ini tidak dapat dibenarkan. The end does not justify the means. Tujuan tidak menghalalkan cara.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16-19

Hari ini, kita membaca dari ayat pembukaan Yeremia 9: 4 bahwa kita harus berhati-hati atas apa yang kita dengar dan terima dari orang-orang di sekeliling kita, sebab ada banyak orang yang mempunyai maksud yang kurang baik. Banyak orang yang hanya mencari perhatian orang lain, mencari nama dalam menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Memang kita tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, tetapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam menghadapi hal-hal itu.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Menghadapi kelelahan hidup

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11: 27-28

Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur dan beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kelelahan orang tentunya berbeda-beda. Ada yang lelah pikirannya, ada yang lelah tubuhnya. Ada yang lelah matanya, ada pula yang lelah mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang lelah jarinya!

Saya sendiri merasakan kelelahan yang cukup parah sejak adanya pandemi. Bermula dengan perasaan kuatir ketika lockdown untuk pertama kalinya dijalankan di kota saya, lambat laun saya mengalami kelelahan jasmani maupun rohani karena adanya berita-berita buruk dari seluruh dunia. Mata saya mulai teras berat jika ada kabar-kabar yang kurang baik dan hati pun menjadi mudah untuk berdebar-debar. Memang menurut riset baru-baru ini, banyak orang yang mengalami gangguan psikologis karena suasana yang tidak biasa. Karena itu saya sekarang mengurangi kegiatan “surfing” di media untuk meredakan ketegangan.

Penyebab rasa lelah tentunya beraneka ragam. Di usia muda, mungkin rasa capai disebabkan karena terlalu sering bergadang atau keluyuran. Sesudah berkeluarga orang mungkin merasa lelah karena kesibukan rumah tangga. Mereka yang bekerja sering juga merasa lelah karena tugas kewajiban, entah itu dalam berpikir, membuat sesuatu, atau menemui klien dan mungkin juga karena “blusukan” ke lapangan. Yang sudah mulai uzur pun sering lelah karena faktor usia dan juga karena tetap adanya tugas kehidupan.

Rasul Paulus dalam ayat-ayat diatas menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia juga sering merasa lelah, kurang tidur dan bahkan kelaparan dalam tugasnya memelihara semua jemaat-jemaat. Itulah kelelahan yang disebabkan oleh dedikasinya kepada pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Karena ia mengasihi jemaatnya, Paulus mau bekerja keras membanting tulang untuk menolong mereka yang dalam kesulitan.

Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Berbeda dengan zaman Paulus, di zaman ini orang Kristen lebih individualis dan karena itu sudah lumrah kalau mereka lebih sering merasa lelah karena “urusan dalam negeri”. Mungkin mereka yang hidup di desa masih punya rasa dedikasi tinggi kepada gereja dan masyarakat, tetapi mereka yang tinggal di kota besar biasanya terlalu sibuk dengan kehidupannya, sehingga jarang yang merasa terpanggil untuk bekerja di luar kesibukannya sendiri. Dengan demikian, mereka yang sibuk dan menyibukkan diri umumnya merasa lelah hanya karena apa yang dikerjakan untuk kepentingan pribadi dan kenikmatan diri sendiri.

Hari ini, jika kita sering merasa lelah dalam hidup kita, kita harus bisa melihat apa yang kita prioritaskan dalam hidup ini. Banyak orang yang tidak bisa tidur, merasa lelah terus-terusan, sakit-sakitan, tertekan, bingung dan bahkan berubah pikiran, karena adanya kesibukan yang lebih dari seperlunya. Karena itu, sebagai orang Kristen, kita harus selalu memohon Roh Kudus untuk memberi kita kebijaksanaan agar bisa melihat apa yang perlu dan baik untuk dikerjakan dan membuang obsesi yang tidak berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Setiap manusia memang mempunyai batas kekuatan dan karena itu adalah normal jika kita merasa lelah baik secara badani maupun rohani. Namun, seperti Rasul Paulus, kelelahan badani karena pekerjaan yang berguna untuk Tuhan dan sesama akan bisa cepat terobati, karena secara rohani kita akan memperoleh tambahan kekuatan dari Tuhan sendiri. Biarlah kita bisa bertambah bijak hari demi hari sehingga kita bisa mempunyai hidup baik yang sehat dan seimbang serta bisa mengatur prioritas hidup kita!

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. 2 Korintus 11:30

Apa pun yang terjadi, kehendak Tuhan adalah yang terbaik

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2: 9

Dengan adanya pandemi, banyak orang harus membatalkan rencana mereka. Mereka yang ingin melancong ke luar negeri harus menunggu setidaknya sampai setahun lagi, demikian juga mereka yang ingin melanjutkan studi ke negara lain terpaksa menunda rencana mereka atau memilih studi on-line. Keadaan yang sedemikian juga sudah membuat kacau rencana pernikahan sebagian orang. Mungkin saja banyak orang yang akhirnya tidak dapat mencapai cita-cita mereka.

Adanya cita-cita membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika makhluk lain hidup menurut naluri mereka, tiap orang mempunyai hidup yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Adanya cita-cita bisa memberi semangat hidup untuk menantikan apa yang diinginkan, tetapi juga bisa memberi kekecewaan atas apa yang tidak kunjung datang.

Cita-cita bukan hanya keinginan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sanak keluarga. Mungkin kita sudah merasa cukup puas dengan hidup kita sendiri, tetapi masih terus memikirkan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita cintai. Seringkali mudah bagi seseorang untuk merasakan adanya kekosongan dalam hati karena pertanyaan: Inikah semua yang bisa dicapai? Ataukah masih ada yang lebih baik?

Sangatlah mudah bagi kita untuk mengalami frustrasi dan kekecewaan bahwa apa yang ada belumlah sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebagai orang Kristen, kita terjebak diantara keinginan untuk berusaha dan kesadaran untuk berserah. Dalam hal ini kunci pertanyaannya adalah apa yang Tuhan mau dalam hidup manusia. Apakah kehendak Tuhan untuk kita?

Dari awalnya, Tuhan menghendaki agar manusia bisa tinggal dekat denganNya dan memuliakan Dia. Dengan begitu, hidup manusia akan bahagia karena kemuliaan dan kasih Tuhan juga terpancar untuk mereka. Kejatuhan manusia membuat situasi berubah, kehidupan manusia menjadi berat. Tetapi rencana Tuhan tidak berubah, yaitu untuk memberikan apa yang terbaik kepada manusia yang dikasihiNya, di bumi dan di surga.

Sebagai orang percaya, kita percaya bahwa hidup di dunia ini adalah sementara saja. Hidup yang lama kita sudah diperbarui oleh darah Kristus. Karena itu, pusat perhatian kita adalah untuk hidup baru yang semakin lama semakin baik dalam hal menyerupai Kristus.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Pagi ini, jika kita bangun dan sempat memikirkan apa arti hidup kita saat ini, biarlah kita sadar bahwa selama kita hidup di dunia, kita tetap harus melanjutkan perjuangan hidup kita; bukan untuk mencari kemuliaan dan kepuasan diri sendiri, tetapi untuk menjadi anak-anak Tuhan yang makin lama makin menyerupai Dia. Kita harus bersyukur atas apa yang ada, dan percaya bahwa hidup di surga yang dijanjikan Tuhan pasti akan datang. Pilihan Tuhan adalah yang terbaik!

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5: 24