
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.”
— Yudas 1:21

Samuel Beckett, seorang penulis drama Irlandia, pernah menulis sebuah drama terkenal berjudul Waiting for Godot. Dua tokohnya, Vladimir dan Estragon, menghabiskan waktu dengan menunggu seseorang bernama Godot. Mereka tidak benar-benar mengetahui siapa Godot, kapan ia akan datang, atau apa yang akan dilakukannya ketika datang. Hari demi hari mereka menunggu, tetapi Godot tidak kunjung muncul. Mereka hanya menerima pesan bahwa Godot mungkin datang “besok”.
Sejak pertama kali diperkenalkan secara luas di Indonesia melalui pementasan legendaris Bengkel Teater arahan W.S. Rendra di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 1969, naskah “Menunggu Godot” ini telah menjadi cermin kontemplatif bagi dinamika sosial dan politik tanah air. Berbagai sanggar dan komunitas teater di Indonesia—seperti pementasan oleh Teater Kami (Menunggu Sesuatu Godot yang Telah Pergi), Teater Jerit, hingga adaptasi bernuansa tradisi lokal—kerap menggunakan metafora Godot untuk membaca situasi penantian panjang, ketidakpastian, atau harapan kolektif masyarakat untuk masa depan yang lebih baik.
IBanyak orang yang menafsirkan Godot sebagai lambang Allah. Namun Beckett sendiri menolak mengatakan bahwa Godot memang dimaksudkan sebagai Allah. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa kalau yang dimaksudnya adalah Allah, ia akan menulis “God”, bukan “Godot”. Karena itu, kita tidak seharusnya menjadikan drama tersebut sebagai alegori Kristen. Namun justru dari sini kita dapat melihat sebuah perbedaan yang sangat penting: ada perbedaan besar antara menunggu sesuatu yang tidak pasti dan menunggu Tuhan yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita.
Menunggu Tuhan bukanlah menunggu seseorang atau suatu keadaan yang keberadaannya kita ragukan. Orang Kristen menunggu Kristus yang telah datang ke dunia, mati dan bangkit, dan menjanjikan kedatangan-Nya kembali. Kita memang tidak mengetahui kapan Ia akan datang. Kita juga tidak mengetahui dengan tepat bagaimana perjalanan hidup kita akan berlangsung. Tetapi kita mengetahui siapa yang kita nantikan. Kita menunggu Pribadi yang telah membuktikan kasih-Nya kepada kita.
Karena itu, penantian Kristen bukanlah kekosongan. Yudas berkata, “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus.” Perhatikan bahwa sambil menunggu, kita tidak diperintahkan untuk berhenti hidup. Kita justru dipanggil untuk tetap berada dalam kasih Allah.
Inilah perbedaan antara menunggu Godot dan menunggu Tuhan. Vladimir dan Estragon tampaknya terjebak dalam lingkaran penantian yang tidak menghasilkan perubahan berarti. Tetapi orang Kristen menunggu sambil hidup. Kita bekerja, mengasihi keluarga, mengampuni, melayani, berdoa, melakukan kebaikan, dan memelihara iman. Kita tidak menunda ketaatan sampai Tuhan datang.
Kadang-kadang kita juga menjalani masa seperti “menunggu Godot”. Kita berdoa untuk kesembuhan, menunggu persoalan keluarga selesai, menantikan perubahan keadaan, mengharapkan kemajuan negara, menunggu jawaban Tuhan, atau berharap agar sesuatu yang sudah lama kita rindukan akhirnya terjadi. Hari berganti hari, tetapi keadaan tampaknya tetap sama. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah bertanya, “Tuhan, sampai kapan?”
Alkitab tidak melarang pertanyaan seperti itu. Mazmur penuh dengan seruan, “Berapa lama lagi, TUHAN?” Menunggu Tuhan bukan berarti kita harus berpura-pura tidak kecewa, tidak takut, atau tidak lelah. Iman justru membawa semua pergumulan itu kepada Tuhan.
Namun ada satu hal yang membedakan penantian Kristen: kita tidak hanya menantikan apa yang Tuhan berikan; kita menantikan Tuhan sendiri. Kita mungkin tidak memperoleh semua yang kita minta dalam kehidupan ini. Kesembuhan tidak selalu datang seperti yang kita harapkan. Rekonsiliasi tidak selalu terjadi. Rencana kita tidak selalu terwujud. Harapan kita tidak terjadi. Tetapi kasih Allah tidak berubah dan janji keselamatan di dalam Kristus tidak gagal.
Karena itu, ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, kita tetap dapat menjalani hari ini dengan setia. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang, tetapi kita tahu bahwa Dia telah datang. Kita tidak tahu bagaimana seluruh perjalanan hidup kita akan berakhir, tetapi kita tahu kepada siapa hidup kita akan berakhir.
Menunggu Tuhan bukanlah menunggu tanpa kepastian. Kita menunggu dengan pengharapan karena Dia yang berjanji adalah setia. Dan selama menunggu, kita dipanggil untuk tetap tinggal dalam kasih-Nya.
Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Kapan Tuhan akan datang?” melainkan, “Bagaimana saya hidup sementara saya menunggu?”
Kiranya ketika hari terakhir hidup kita tiba, kita bukan ditemukan sedang menunggu dengan sia-sia, melainkan sedang hidup dalam kasih Allah, setia kepada Kristus, dan melakukan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarlah kami menunggu-Mu dengan iman dan pengharapan. Ketika jawaban doa belum datang dan keadaan belum berubah, jangan biarkan kami kehilangan kepercayaan kepada-Mu. Tolong kami tetap hidup dalam kasih-Mu, setia dalam tanggung jawab kami, dan tekun melakukan kebaikan. Kami tidak mengetahui waktu dan cara-Mu bekerja, tetapi kami percaya bahwa Engkau setia. Biarlah pengharapan kami bukan terutama pada apa yang kami inginkan, melainkan pada diri-Mu dan rahmat-Mu yang membawa kami kepada hidup yang kekal. Amin.
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
— Efesus 5:15–16

Ketika mendengar seseorang meninggal dalam usia yang masih muda, hati kita sering terasa sedih. Terlebih ketika ia pergi sebelum sempat menikmati banyak hal dalam kehidupan, sebelum melihat anak-anaknya bertumbuh, atau bahkan sebelum sempat mengenal Tuhan dan menghasilkan buah bagi-Nya. Kita mungkin bertanya dalam hati, “Mengapa begitu cepat?” Pertanyaan seperti itu manusiawi. Kita menghargai kehidupan karena kehidupan adalah pemberian Tuhan.
Karena itu, tidaklah salah jika kita berdoa agar Tuhan memberikan umur panjang. Kita boleh meminta kesehatan, kekuatan, dan tambahan tahun kehidupan. Bahkan kita boleh berusaha menjaga kesehatan agar tubuh tetap mampu menjalankan tugas dan panggilan yang Tuhan berikan. Namun, doa untuk umur panjang seharusnya tidak berhenti pada keinginan untuk hidup lebih lama. Kita perlu bertanya, “Untuk apa Tuhan memberikan tambahan tahun itu?”
Umur panjang tanpa tujuan hanya memperpanjang waktu. Tetapi umur panjang yang dipersembahkan kepada Tuhan dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan buah.
Efesus 5:15–16 memberikan prinsip yang sangat penting. Ini adalah panggilan bagi orang percaya untuk hidup dengan penuh hikmat, waspada, dan sengaja (intentional) dalam menggunakan waktu. Paulus mengingatkan bahwa dunia di sekitar orang percaya penuh dengan tantangan moral dan spiritual. Karena itu, hidup Kristen tidak seharusnya dijalani dengan mengikuti arus tanpa arah, sekadar go with the flow dan mengejar apa yang terasa menyenangkan bagi diri sendiri.
Panggilan untuk waspada ini berlaku bagi semua orang, baik muda maupun tua. Orang muda tidak boleh menganggap dirinya masih mempunyai waktu yang tidak terbatas. Orang lanjut usia pun tidak boleh berpikir bahwa karena sebagian besar perjalanan hidup telah dilalui, maka tidak banyak lagi yang dapat dilakukan. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, masih ada kesempatan untuk hidup dengan bijaksana dan menghasilkan buah.
Dalam teks Yunani, ungkapan “pergunakanlah waktu” menggunakan kata exagorazō, yang berarti “menebus” atau membeli kembali, dan berkaitan dengan kairos, yaitu waktu atau kesempatan yang tepat dan strategis. Gambaran ini sangat indah: kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita adalah sesuatu yang sangat berharga, seperti komoditas yang harus “dibeli kembali” agar tidak terbuang sia-sia.
Kita tidak dapat menghentikan perjalanan waktu. Hari kemarin tidak dapat kita beli kembali. Tetapi ketika hari ini masih diberikan, kita dapat menggunakan kesempatan itu dengan benar. Kita dapat memilih untuk mengisinya dengan hal-hal yang baik: mengasihi Tuhan, mengasihi pasangan, memperhatikan keluarga, menolong sesama, mengampuni, belajar, melayani, berdoa, dan membagikan iman. Dengan demikian, waktu tidak sekadar berlalu melewati kita; waktu menjadi kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai kekal.
Karena itu, kita tidak hanya berdoa, tetapi juga berusaha. Jika kita meminta kesehatan, kita dapat menjaga tubuh dengan baik, berolahraga, makan dengan bijaksana, melakukan pemeriksaan kesehatan, dan mengikuti pengobatan yang diperlukan. Jika kita ingin tetap berguna, kita terus belajar, memelihara pikiran, membangun relasi yang sehat, dan menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan.
Doa dan usaha bukanlah dua hal yang bertentangan. Kita bekerja sambil berdoa, karena usaha kita pun berada di bawah pemeliharaan Tuhan. Namun, setelah melakukan bagian kita, kita menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Kita boleh merencanakan hidup, tetapi kita tidak memiliki kendali mutlak atas masa depan.
Di sinilah kita perlu menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang finite—terbatas. Kita bukan pemilik kehidupan; kita adalah penerima kehidupan. Kita tidak tahu berapa banyak hari yang masih tersisa. Bahkan orang yang sehat dan berhati-hati pun tidak menerima jaminan bahwa ia akan hidup panjang. Sebaliknya, seseorang dapat meninggal jauh lebih muda daripada yang kita bayangkan.
Kesadaran akan keterbatasan ini bukan alasan untuk hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya, keterbatasan membuat setiap hari menjadi berharga. Paulus tidak mengatakan bahwa kita harus mengetahui berapa lama waktu yang tersedia. Kita hanya diminta menggunakan waktu yang ada sekarang dengan bijaksana.
Mungkin karena itu doa kita sebaiknya bukan hanya, “Tuhan, panjangkan umurku,” tetapi, “Tuhan, jika Engkau berkenan, panjangkanlah umurku supaya aku masih dapat berbuah bagi-Mu dan menjadi berkat bagi sesama.”
Sebab pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak tahun yang kita miliki, tetapi apa yang kita lakukan dengan tahun-tahun itu. Bagi orang yang semakin lanjut usia, buah itu mungkin tidak lagi berupa pekerjaan besar. Bisa berupa kesetiaan kepada pasangan, kasih kepada anak dan cucu, hikmat yang dibagikan kepada generasi berikutnya, doa bagi orang lain, kemurahan hati, penghiburan bagi yang menderita, atau kehidupan yang semakin mencerminkan kasih Kristus.
Kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita pulang. Tetapi selama hari ini masih diberikan, kita masih mempunyai kesempatan untuk mengasihi, melayani, mengampuni, bertumbuh, dan berbuah.
Maka marilah kita meminta umur panjang dengan hati yang terbuka kepada kehendak Tuhan. Kita boleh meminta tambahan tahun, tetapi jangan menjadikan panjang umur sebagai tujuan akhir. Jangan sampai kita hanya ingin hidup lebih lama tanpa memikirkan untuk apa kita hidup lebih lama. Kiranya setiap tahun yang Tuhan tambahkan menjadi tahun yang bermakna, setiap hari menjadi kesempatan yang ditebus dengan bijaksana, dan setiap napas menjadi alasan untuk bersyukur.
Pada akhirnya, yang penting bukan sekadar hidup panjang, tetapi hidup panjang yang berbuah. Kita tidak dipanggil untuk sekadar membiarkan hidup mengalir mengikuti arus. Kita dipanggil untuk hidup dengan arah, dengan hikmat, dengan kewaspadaan, dan dengan kesengajaan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Dan jika Tuhan tidak memberikan umur panjang seperti yang kita harapkan, kiranya kita tetap dapat berkata dengan iman: hidup dan mati berada di tangan-Nya. Tugas kita adalah setia pada hari yang sedang diberikan-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang memberikan kehidupan, kami bersyukur untuk setiap hari yang Engkau anugerahkan. Jika Engkau berkenan, berikanlah kami umur panjang dan kesehatan yang cukup agar kami masih dapat berbuah bagi-Mu dan menjadi berkat bagi sesama.
Ajarlah kami hidup dengan hikmat dan kewaspadaan, bukan sekadar mengikuti arus dunia atau mengejar kepuasan diri sendiri. Tolong kami menebus setiap kesempatan yang Engkau berikan, menggunakan waktu kami untuk mengasihi-Mu, mengasihi pasangan, keluarga, dan sesama.
Mampukan kami melakukan bagian kami dengan setia, menjaga kehidupan yang Engkau percayakan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada-Mu. Ketika kami menyadari bahwa hidup kami terbatas, jangan biarkan kami hidup dalam ketakutan, tetapi dalam iman, hikmat, dan ucapan syukur.
Dan ketika tiba waktunya Engkau memanggil kami, mampukan kami menyerahkan hidup kami ke dalam tangan-Mu dengan tenang, karena kami tahu bahwa hidup kami bukan milik kami sendiri.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.’”
— 1 Samuel 16:7

Hidup manusia sering kali seperti sebuah panggung sandiwara. Di hadapan orang lain, kita mengenakan pakaian yang pantas, mengatur kata-kata, menampilkan senyum, dan memainkan peran yang sesuai dengan keadaan. Di tempat kerja kita ingin terlihat profesional. Di tengah pergaulan kita ingin terlihat menyenangkan. Di media sosial kita memilih bagian kehidupan yang layak dipertontonkan. Kita tidak selalu melakukan semua itu karena ingin menipu. Sering kali kita hanya ingin diterima, dihargai, dan tidak ditolak.
Namun, panggung itu tidak berhenti di ruang publik. Sandiwara juga dapat terjadi di dalam keluarga. Di hadapan pasangan, kita mungkin menyembunyikan kekecewaan, kepahitan, kesombongan, atau ketakutan karena tidak ingin terlihat lemah. Di hadapan anak-anak kita ingin tampak sebagai orang tua yang selalu benar. Di hadapan orang tua kita mungkin memainkan peran sebagai anak yang baik, sementara hati kita menyimpan luka yang tidak pernah diselesaikan. Bahkan suami dan istri yang sudah hidup bersama puluhan tahun dapat memiliki “panggung depan” masing-masing, sehingga mereka tinggal serumah tetapi tidak lagi sungguh-sungguh membuka hati satu terhadap yang lain.
Sandiwara bahkan dapat masuk ke dalam gereja. Kita mengenakan pakaian yang pantas, tersenyum, menyapa orang lain, menyanyikan pujian, mendengarkan khotbah, bahkan melayani. Semua itu baik. Tetapi seseorang dapat terlihat sangat rohani di hadapan jemaat sambil menyembunyikan pergumulan, iri hati, kepahitan, atau kehausan akan pengakuan manusia. Kita dapat membangun reputasi sebagai “orang beriman” sementara kehidupan batin kita jauh dari Tuhan. Gereja pun dapat menjadi tempat kita mempertahankan citra, bukan tempat kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang setiap hari membutuhkan anugerah.
Erving Goffman menggambarkan kehidupan sosial seperti pertunjukan teater. Ada front stage, tempat kita memainkan peran di hadapan penonton, dan ada back stage, tempat kita dapat menanggalkan kostum dan menjadi lebih apa adanya. Masalahnya, kehidupan dapat menjadi sangat melelahkan ketika kita terlalu lama mempertahankan sebuah citra. Kita bukan lagi sekadar memakai topeng; perlahan-lahan kita mulai percaya bahwa topeng itulah wajah kita yang sebenarnya.
Lebih serius lagi, manusia bukan hanya dapat menipu orang lain, tetapi juga dapat menipu dirinya sendiri. Kita dapat melakukan kebaikan sambil mencari pujian. Kita dapat melayani Tuhan sambil diam-diam mencari pengakuan. Kita dapat terlihat rendah hati sementara hati kita ingin dikagumi. Kita merasa baik-baik saja dengan alasan positive thinking. Bahkan kehidupan rohani dapat berubah menjadi sebuah pertunjukan.
Inilah sebabnya perkataan Tuhan kepada Samuel begitu tajam: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Manusia melihat panggung depan. Allah melihat sampai ke balik panggung. Manusia melihat penampilan; Allah melihat motivasi. Manusia melihat keberhasilan; Allah melihat hati yang menghasilkannya.
Namun, persoalannya bukan sekadar bahwa Allah dapat melihat topeng kita. Persoalannya adalah bahwa kita sendiri sering tidak mampu melepaskan topeng itu dengan kekuatan kita sendiri. Hati manusia begitu licik sehingga bahkan ketika kita berusaha menjadi lebih jujur, kita masih dapat membenarkan diri. Kita membutuhkan lebih daripada nasihat untuk “menjadi diri sendiri”. Kita membutuhkan anugerah Allah yang membuka mata kita.
Di sinilah Roh Kudus bekerja. Ia menginsafkan kita tentang dosa dan membawa apa yang tersembunyi ke dalam terang. Penginsafan-Nya mungkin tidak selalu terasa nyaman, tetapi tujuannya bukan untuk menghancurkan kita. Ia menunjukkan kebenaran supaya kita berhenti bersembunyi dan datang kepada Kristus.
Pertobatan karena itu bukan keberhasilan manusia menemukan jalan kembali kepada Allah. Pertobatan adalah karya anugerah Allah yang mengubahkan hati, sehingga kita melihat dosa sebagaimana adanya dan berbalik kepada-Nya. Kita sungguh-sungguh bertobat dan bertanggung jawab atas respons kita, tetapi bahkan kemampuan untuk melihat dan meninggalkan dosa tidak menjadi alasan untuk bermegah.
Di dalam Kristus, kita tidak perlu lagi mempertahankan panggung itu. Allah sudah mengetahui seluruh kehidupan kita, termasuk bagian yang paling kita sembunyikan. Namun, bagi mereka yang ada di dalam Kristus, pengetahuan Allah tidak berakhir pada penghukuman, melainkan bertemu dengan pengampunan dan kasih karunia. Karena itu kita dapat berdoa seperti pemazmur:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;”
— Mazmur 139:23
Maka runtuhnya panggung sandiwara bukan berarti kita akhirnya menjadi manusia yang sempurna. Sebaliknya, kita menjadi berani mengakui bahwa kita tidak sempurna dan membutuhkan Kristus setiap hari. Di dalam keluarga, kita belajar berbicara dengan jujur tanpa melukai. Di dalam gereja, kita belajar bahwa tidak seorang pun perlu membangun citra kesalehan untuk memperoleh kasih Allah. Kita dapat datang sebagai manusia yang terluka, berdosa, dan lemah, karena keselamatan kita tidak berdiri di atas kesempurnaan pertunjukan kita.
Kita tidak lagi hidup terutama untuk mempertahankan penilaian manusia, tetapi untuk berjalan dalam terang Allah. Panggung itu runtuh bukan karena kita cukup kuat untuk menghancurkannya, melainkan karena anugerah Allah cukup kuat untuk membebaskan kita darinya.
Doa Penutup
Tuhan, bukalah mataku untuk melihat hatiku sebagaimana Engkau melihatnya. Hancurkan kepalsuan yang masih kusembunyikan, baik di hadapan dunia, keluarga, maupun gereja. Berikan kepadaku hati yang rela bertobat dan hidup dalam terang-Mu. Tolong aku untuk tidak hidup demi pujian manusia, tetapi semakin menyerupai Kristus dalam kebenaran, kasih, dan kerendahan hati. Amin.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
— Mazmur 119:105

Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan menurut rencana kita. Banyak keputusan yang dahulu terasa sederhana kini menjadi lebih kompleks. Kesehatan berubah, kekuatan berkurang, anak-anak mempunyai keluarga dan tanggung jawab sendiri, sementara masa depan terasa semakin pendek. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya, “Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Apakah Engkau sedang mengarahkan pikiran saya?”
Pertanyaan itu wajar. Namun kita perlu berhati-hati. Tidak setiap pikiran yang muncul dalam diri kita adalah suara Tuhan. Pikiran dapat berasal dari pengalaman, kekhawatiran, keinginan, ketakutan, nasihat orang lain, bahkan kelemahan kita sendiri. Karena itu, kita tidak dipanggil untuk mempercayai setiap pikiran, melainkan untuk mengujinya.
Mazmur 119:105 memberikan prinsip yang sangat penting: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Tuhan tidak menjanjikan bahwa kita akan melihat seluruh perjalanan hidup kita. Ia memberikan pelita yang menerangi langkah kita.
Pelita biasanya tidak membuat kita melihat jauh ke depan. Ia hanya memberikan cukup terang untuk mengetahui ke mana kaki berikutnya harus melangkah. Demikian pula Firman Tuhan. Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana keadaan kesehatan kita beberapa tahun lagi, berapa lama kita masih hidup, bagaimana kehidupan anak-anak dan cucu-cucu kita, atau keputusan apa yang akan kita hadapi di masa depan. Tetapi kita dapat mengetahui bagaimana seharusnya kita hidup hari ini.
Di sinilah pikiran dan kehendak kita mempunyai peranan. Tuhan tidak memanggil kita menjadi robot. Kita tetap harus berpikir, mempertimbangkan, berdoa, mencari nasihat, memperhatikan fakta, dan mengambil keputusan. Kita mempunyai kehendak bebas dan bertanggung jawab atas pilihan kita.
Tetapi kita juga tidak berpikir sendirian. Tuhan dapat menggunakan Firman-Nya, Roh Kudus, pengalaman hidup, nasihat orang yang bijaksana, bahkan keadaan yang kita alami untuk membentuk cara kita berpikir. Roma 12:2 berbicara tentang pembaruan budi, sehingga kita semakin mampu membedakan kehendak Allah.
Ini sangat penting terutama ketika usia bertambah. Kita mungkin dahulu merasa bahwa kita harus mengetahui seluruh rencana hidup sebelum berani mengambil langkah. Tetapi semakin tua, kita justru belajar bahwa kita tidak pernah benar-benar menguasai masa depan. Iman bukan kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi; iman adalah mempercayai Tuhan ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Karena itu, ketika harus mengambil keputusan, kita tidak selalu membutuhkan suatu tanda khusus dari Tuhan. Kita dapat bertanya: Apakah keputusan ini sesuai dengan Firman? Apakah saya sedang digerakkan oleh kasih atau ketakutan? Apakah saya sedang bertindak karena tanggung jawab atau karena ego? Apakah saya sudah mempertimbangkan fakta dengan jujur? Apakah saya bersedia mendengarkan nasihat? Dan setelah semua itu, dapatkah saya menyerahkan hasilnya kepada Tuhan?
Ada kalanya kita salah mengambil keputusan. Namun bahkan kesalahan kita tidak berada di luar pemeliharaan Tuhan. Kedaulatan Tuhan tidak berarti kita selalu membuat keputusan yang sempurna. Kedaulatan Tuhan berarti bahkan melalui keterbatasan, kelemahan, dan kesalahan kita, Ia tetap mampu membawa kita dalam pemeliharaan-Nya.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan hanya, “Apakah Tuhan memberikan saya pikiran ini?” Melainkan, “Apakah pikiran saya sedang dibentuk oleh Firman Tuhan?”
Sebab Tuhan tidak hanya ingin menunjukkan kepada kita apa yang harus dilakukan. Ia sedang membentuk siapa kita. Ia memperbarui pikiran, memurnikan kehendak, menumbuhkan hikmat, dan mengajar kita semakin mempercayai-Nya.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak mengetahui berapa banyak langkah yang masih tersedia di depan kita. Tetapi kita tidak perlu mengetahui semuanya. Pelita Tuhan cukup untuk langkah hari ini.
Dan ketika hari esok tiba, kita akan kembali membutuhkan terang yang sama.
Doa Penutup
Tuhan, ketika kami tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan, ajarlah kami untuk tidak dikuasai ketakutan. Terangilah pikiran kami melalui Firman-Mu, luruskan kehendak kami, dan berikan hikmat untuk mengambil keputusan dengan bertanggung jawab. Tolong kami untuk menerima keterbatasan kami dan mempercayakan masa depan kepada-Mu. Biarlah kami tidak menuntut untuk melihat seluruh jalan, tetapi setia berjalan dalam terang yang Engkau berikan hari ini. Dalam nama Yesus. Amin.
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
— Matius 6:34

Setiap orang mempunyai sikap yang berbeda terhadap hari depan. Ada yang tidak mau memikirkannya karena hari ini sudah terasa nyaman. Selama pekerjaan masih ada, kesehatan masih baik, keuangan cukup, dan keluarga baik-baik saja, untuk apa memikirkan kemungkinan yang belum terjadi? Ada pula yang tidak memikirkan masa depan karena merasa tidak seorang pun dapat mengetahui apa yang akan terjadi. Bukankah semuanya penuh ketidakpastian? Yang lain lagi menyerahkan semuanya kepada apa yang mereka sebut “takdir”. Kalau sesuatu memang sudah ditentukan, pikir mereka, apa gunanya merencanakan dan berusaha?
Namun, ketiga sikap tersebut dapat membawa kita kepada suatu ekstrem. Kenyamanan hari ini dapat membuat kita lalai. Ketidakpastian hari esok dapat membuat kita takut. Sedangkan keyakinan tentang takdir yang disalahpahami dapat membuat kita pasrah secara buta. Di sisi lain, ada pula orang yang terlalu percaya pada kemampuannya sendiri. Ia membuat rencana seolah-olah masa depan sepenuhnya berada dalam tangannya. Inilah kesombongan yang juga perlu dihindari.
Yesus memberikan jalan yang berbeda. Ketika berkata, “Janganlah kamu kuatir akan hari besok,” Yesus tidak sedang mengajarkan kita untuk tidak memikirkan masa depan. Ia tidak melarang kita membuat rencana, menabung, menjaga kesehatan, mendidik anak, mempersiapkan masa tua, atau mengantisipasi berbagai kemungkinan. Yang Yesus larang adalah kekuatiran yang membuat kita mencoba memikul hari esok sebelum waktunya.
Ada perbedaan antara mempersiapkan hari esok dan mencemaskan hari esok. Persiapan adalah bentuk tanggung jawab; kecemasan adalah usaha mengambil alih sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Karena itu, kita perlu memikirkan hari depan dengan bijaksana. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu perlu dipersiapkan, janganlah kita menutup mata hanya karena keadaan hari ini nyaman. Kesehatan yang baik saat ini tidak berarti kita tidak perlu memikirkan masa tua. Keuangan yang cukup hari ini tidak menjamin kebutuhan masa depan. Hubungan yang ada tetap perlu dipelihara dan bahkan diperbaiki. Waktu yang Tuhan berikan perlu digunakan dengan bijaksana karena kita tidak tahu berapa lama kita memilikinya.
Tetapi setelah melakukan apa yang dapat kita lakukan, kita harus berhenti di batas tanggung jawab kita. Kita tidak dapat mengetahui semua yang akan terjadi. Kita tidak dapat mengendalikan keputusan orang lain, perubahan ekonomi, penyakit, bencana, atau berbagai keadaan yang mungkin datang tanpa kita duga. Karena itu, persiapan kita harus disertai kerendahan hati.
Di sinilah iman kepada pemeliharaan Allah memberikan ketenangan. Kita bukan penguasa hari esok, tetapi kita mengenal Dia yang memegang hari esok. Kita tidak mengetahui seluruh jalan di depan, tetapi kita dapat mempercayai Tuhan yang mengetahui seluruh jalan itu.
Maka janganlah kesombongan membuat kita berkata, “Saya mampu mengatur masa depan saya.” Janganlah kealpaan membuat kita berkata, “Hari ini nyaman, jadi saya tidak perlu mempersiapkan apa-apa.” Jangan pula kepasrahan buta membuat kita berkata, “Kalau sudah takdir, saya tidak perlu berbuat apa-apa.” Sebaliknya, marilah kita menjalankan tanggung jawab dengan setia, membuat persiapan dengan bijaksana, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Kita tidak dipanggil untuk mengetahui hari esok. Kita dipanggil untuk setia hari ini.
Ketika hari esok tiba, ia mungkin membawa sukacita, mungkin juga membawa kesulitan. Tetapi kita tidak perlu menerima kesusahannya sebelum waktunya. Anugerah Tuhan untuk hari ini cukup untuk hari ini. Dan ketika hari esok datang, Tuhan yang sama tidak akan berhenti menyertai kita.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami memikirkan hari depan dengan bijaksana tanpa dikuasai kekuatiran. Jauhkan kami dari kesombongan, kealpaan, dan kepasrahan buta. Tolong kami melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kami hari ini, sambil mempercayakan hari esok ke dalam pemeliharaan-Mu. Berikan kami hikmat untuk mempersiapkan diri, ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat kami kendalikan, dan iman untuk percaya bahwa anugerah-Mu selalu cukup bagi kami. Amin.
“Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
— Yeremia 17:7

Ada penderitaan yang mudah kita ceritakan kepada orang lain. Tetapi ada juga penderitaan yang kita simpan dalam-dalam. Bukan karena kita tidak membutuhkan pertolongan, melainkan karena kita sadar bahwa manusia mempunyai banyak keterbatasan.
Kita tidak dapat berharap setiap orang akan mengerti penderitaan kita. Pengalaman hidup mereka berbeda dengan pengalaman kita. Bahkan orang yang sangat dekat dengan kita, seperti pasangan hidup kita, mungkin hanya dapat memahami sebagian dari apa yang sedang kita rasakan.
Kalaupun mereka mengerti, kita tidak dapat selalu berharap mereka mempunyai empati. Mengetahui bahwa seseorang sedang menderita tidak otomatis membuat seseorang mampu merasakan kepedihan orang itu.
Kalaupun mereka berempati, kita tidak dapat memastikan mereka mau menolong. Mereka mungkin mempunyai persoalan sendiri, merasa tidak sanggup terlibat, atau memilih untuk tidak ikut campur.
Dan sekalipun mereka mau menolong, belum tentu mereka mampu menolong. Ada penderitaan yang tidak dapat diselesaikan dengan nasihat, uang, obat, atau bantuan manusia. Bahkan orang yang paling kita kasihi pun mempunyai batas kemampuan dan prioritas hidup sendiri.
Karena itu, ada saatnya kita hanya dapat berkata, “Saya tidak tahu kepada siapa lagi saya harus bercerita.”
Tetapi sesungguhnya ada satu Pribadi yang tidak pernah memiliki keterbatasan seperti itu.
Tuhan mengetahui penderitaan kita dengan sempurna.
Kita tidak perlu menjelaskan kepada-Nya apa yang terjadi. Bahkan sebelum kita mengucapkan satu kata, Dia sudah mengetahui isi hati kita.
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”
— Roma 8:26
Tidak ada air mata yang tersembunyi dari-Nya. Tidak ada pergumulan yang terlalu pribadi bagi-Nya. Dan Tuhan bukan hanya mengetahui. Dia peduli.
Allah bukan Tuhan yang senang melihat umat-Nya menderita. Kita melihat belas kasihan-Nya dengan jelas dalam diri Yesus. Ketika Yesus melihat Maria dan orang-orang di sekitarnya menangisi kematian Lazarus, Yesus pun menangis. Penderitaan manusia bukan sesuatu yang dipandang-Nya dengan sikap dingin dan tidak peduli.
Namun Tuhan juga berbeda dari manusia karena Dia mahakuasa. Tidak ada keadaan yang berada di luar pengetahuan dan kedaulatan-Nya. Kita mungkin tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan tertentu terjadi, tetapi kita dapat yakin bahwa penderitaan itu tidak pernah terjadi tanpa sepengetahuan-Nya.
Dan karena Dia mahakasih, kita dapat percaya bahwa kedaulatan-Nya bukanlah kedaulatan yang kejam. Dia tidak menikmati kesusahan kita. Bahkan ketika Dia mengizinkan penderitaan untuk maksud yang tidak kita mengerti, Dia tetap hadir dan tidak meninggalkan kita.
Di sinilah kita memahami perbedaan antara kebahagiaan dan sukacita.
Kebahagiaan biasanya berkaitan dengan keadaan. Kita bahagia ketika kesehatan baik, keluarga harmonis, rencana berhasil, atau sesuatu yang menyenangkan terjadi. Semua itu adalah berkat Tuhan. Tetapi kebahagiaan dapat berubah ketika keadaan berubah.
Sukacita Kristen mempunyai dasar yang lebih dalam. Sukacita tidak terutama bergantung pada apa yang terjadi dalam hidup kita, tetapi pada siapa yang menjadi dasar hidup kita.
Karena itu, kita dapat bersedih tetapi tetap memiliki sukacita. Kita dapat menangis tetapi tetap berharap. Kita dapat mengalami penderitaan tetapi tetap percaya.
Sukacita itu berkata:
“Aku tidak mengerti semuanya, tetapi Tuhan tahu. Aku tidak mampu mengatasi semuanya, tetapi Tuhan berkuasa. Aku mungkin tidak menemukan manusia yang mampu memahami atau menolongku, tetapi Tuhan memahami dan Dia tidak meninggalkanku.”
Inilah sebabnya Yeremia berkata, “Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”
Perhatikan: kita diminta menaruh kepercayaan dan harapan kepada Tuhan, bukan kepada keadaan dan bukan kepada manusia.
Tentu saja kita tetap membutuhkan manusia. Tuhan sering memakai keluarga, sahabat, gereja, dokter, dan orang-orang lain sebagai alat pertolongan-Nya. Kita juga dipanggil untuk menjadi orang yang berempati dan menolong mereka yang menderita.
Tetapi manusia tidak pernah dapat menjadi tempat terakhir bagi kepercayaan kita.
Pada akhirnya, ada satu Pribadi yang tidak hanya mengetahui penderitaan kita, tetapi juga memahami, peduli, mengasihi, dan berkuasa untuk menolong menurut kehendak-Nya.
Tuhan tahu. Tuhan peduli. Tuhan berkuasa. Tuhan mengasihi.
Karena itu, sekalipun hidup kita tidak selalu membuat kita bahagia, kita tetap dapat memiliki sukacita di dalam Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, ketika kami mengalami penderitaan yang tidak dapat kami jelaskan kepada manusia, ajarlah kami datang kepada-Mu. Kami percaya Engkau mengetahui, memahami, dan peduli terhadap setiap pergumulan kami. Tolonglah kami untuk tidak menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia atau keadaan, tetapi kepada-Mu yang mahakuasa dan mahakasih. Berikanlah kami sukacita yang tetap bertahan di tengah segala keadaan. Amin.
“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;”
— Matius 25:35
“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
— Matius 6:18

Kita hidup di dunia yang sangat menghargai sesuatu yang dapat dilihat. Pekerjaan yang berhasil, prestasi yang dicapai, pelayanan yang mendapat penghargaan, bahkan kebaikan yang diketahui banyak orang sering membuat kita merasa bahwa apa yang kita lakukan mempunyai nilai. Tidak ada yang salah dengan penghargaan manusia. Ucapan terima kasih dapat menguatkan hati dan membuat seseorang merasa bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. Tetapi ada bahaya ketika penghargaan manusia menjadi alasan utama kita melayani.
Namun sebelum berbicara tentang pelayanan, kita perlu mengingat satu kebenaran yang paling mendasar: pelayanan bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan atau memperoleh perkenanan Allah. Anugerah Allah adalah dasar pelayanan kita.
Kita tidak melayani supaya Tuhan mengasihi kita. Kita melayani karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita tidak berbuat baik supaya mendapatkan keselamatan. Kita berbuat baik karena di dalam Kristus kita telah menerima keselamatan sebagai anugerah. Kita tidak bekerja untuk membayar utang keselamatan kepada Allah, sebab utang itu tidak mungkin kita bayar. Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan bagi kita.
Karena itu, pelayanan Kristen adalah respons syukur terhadap anugerah. Iman menerima apa yang Allah kerjakan bagi kita di dalam Kristus, dan kasih kemudian mengalir keluar melalui kehidupan kita. Pelayanan bukan akar keselamatan, melainkan salah satu buahnya.
Selama orang lain menghargai kita, pelayanan mungkin terasa menyenangkan. Kita merasa dibutuhkan dan berguna. Mungkin kita juga merasa bangga. Namun ketika pelayanan kita dianggap biasa, tidak diperhatikan, atau bahkan tidak dihargai, semangat kita dapat perlahan-lahan menghilang. Kita mulai berpikir, “Untuk apa saya melakukan semua ini kalau tidak ada yang menghargainya?”
Di sinilah Yesus mengarahkan pandangan kita kepada sesuatu yang lebih dalam. Dalam Matius 25, Yesus menggambarkan orang-orang yang memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, menerima orang asing, memberi pakaian kepada yang membutuhkan, dan mengunjungi orang sakit. Yang mengejutkan adalah perkataan-Nya: ketika mereka melakukan semuanya itu kepada manusia yang membutuhkan, sebenarnya mereka melakukannya kepada Kristus sendiri.
Tuhan yang kita layani tidak selalu kelihatan. Kita tidak melihat wajah Kristus ketika memberi makanan kepada seseorang. Kita tidak mendengar suara-Nya ketika menemani orang sakit. Kita mungkin tidak melihat Dia ketika mengunjungi seseorang yang kesepian, membantu orang yang lemah, atau melakukan pekerjaan kecil yang tidak diketahui siapa pun. Namun iman membuat kita percaya bahwa Kristus hadir dan melihat.
Karena itu, kita dipanggil untuk berbuat baik kepada semua orang. Kasih Kristen tidak boleh dibatasi oleh suku, bangsa, agama, status sosial, atau apakah seseorang dapat membalas kebaikan kita. Orang lapar tetap perlu diberi makan, orang sakit tetap perlu dikunjungi, dan orang yang kesepian tetap membutuhkan perhatian, siapa pun mereka.
Namun Alkitab juga memberikan suatu prioritas. Paulus berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:10). Jadi kasih kita bersifat luas, tetapi tidak berarti tanpa prioritas. Semua orang adalah sesama yang harus kita kasihi, tetapi saudara seiman mempunyai tempat khusus dalam kehidupan komunitas umat Tuhan. Lebih dari itu, pasangan hidup kita menempati prioritas teratas di antara saudara seiman.
Saudara seiman adalah keluarga rohani yang dipersatukan oleh Kristus. Ketika seorang saudara sakit, mengalami kesulitan, menjadi lanjut usia, atau menghadapi kesepian, gereja dan sesama orang percaya dipanggil untuk tidak membiarkannya menghadapi semuanya seorang diri. Di dalam keluarga, pasangan kita adalah orang yang sudah dipersatukan Tuhan dengan kita untuk saling mengasihi sepanjang hidup di dunia. Di dalam keluarga Allah, kasih seharusnya menjadi nyata melalui perhatian dan pelayanan.
Namun melayani Tuhan bukan berarti kita harus melakukan segala sesuatu bagi semua orang. Kasih membutuhkan hikmat. Kita mempunyai keterbatasan waktu, tenaga, kesehatan, dan tanggung jawab. Melayani bukan berarti mengambil alih kehidupan orang lain atau mengorbankan diri tanpa batas. Kita menolong sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan dan menyerahkan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita kepada Tuhan dan kepada orang-orang yang lebih mampu menanganinya.
Yang terutama adalah jangan sampai keterbatasan kita menjadi alasan untuk tidak peduli. Ketika Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang membutuhkan pertolongan, mungkin itulah kesempatan yang Dia berikan kepada kita untuk menyatakan kasih-Nya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah, “Apakah mereka menghargai saya?” melainkan, “Apakah Tuhan berkenan kepada apa yang saya lakukan?”
Manusia mungkin tidak melihat. Manusia mungkin lupa. Manusia mungkin tidak mengucapkan terima kasih. Tetapi Tuhan melihat. Dan ketika kita melayani dengan kasih yang lahir dari iman, kita sebenarnya sedang melayani Dia yang tidak kelihatan.
Kiranya kita belajar berbuat baik kepada semua orang, dengan perhatian khusus kepada saudara seiman, bukan untuk mendapatkan anugerah, melainkan karena kita telah menerima anugerah. Kita melayani bukan untuk membuat diri kita layak di hadapan Allah, tetapi karena di dalam Kristus kita telah diterima oleh-Nya. Anugerah yang kita terima dengan cuma-cuma itulah yang kemudian mendorong kita untuk mengasihi dan melayani dengan cuma-cuma.
Sebab pelayanan yang sejati tidak mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Ia dengan sederhana berkata, “Tuhan, semua yang ada padaku adalah anugerah-Mu. Karena Engkau telah lebih dahulu mengasihi aku, biarlah hidupku menjadi saluran kasih-Mu bagi orang lain.”
Doa Penutup
Tuhan, kami bersyukur karena keselamatan dan segala yang kami miliki adalah anugerah-Mu. Ampunilah kami apabila kami pernah melayani untuk mencari penghargaan, pengakuan, atau merasa diri berjasa di hadapan-Mu.
Ajarlah kami melayani bukan untuk mendapatkan kasih-Mu, tetapi karena kami telah terlebih dahulu menerima kasih-Mu di dalam Kristus. Berikan kami hati yang rela berbuat baik kepada semua orang, dan perhatian yang khusus kepada saudara-saudara seiman yang membutuhkan pertolongan.
Berikan kami mata untuk melihat kebutuhan orang lain, hati yang rela menolong, dan hikmat untuk mengetahui batas kemampuan kami. Ketika pelayanan kami tidak dilihat atau dihargai manusia, ingatkan kami bahwa Engkau melihat segala sesuatu yang tersembunyi.
Biarlah anugerah-Mu yang kami terima menjadi sumber kasih, kerendahan hati, dan pelayanan kami. Pakailah hidup kami untuk menyatakan kasih Kristus kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa. Amin.
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
— 1 Tesalonika 5:21

Kita hidup dalam zaman ketika begitu banyak orang berbicara kepada kita. Pemerintah memberikan informasi, para ilmuwan menyampaikan penelitian, dokter memberikan nasihat, perusahaan mempromosikan produknya, gereja menyampaikan pengajaran, dan media sosial menyebarkan berbagai pendapat dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang sederhana tetapi penting: siapa dan apa yang dapat kita percaya?
Sebagai orang percaya, kita memang dipanggil untuk berhati-hati. Manusia bukan makhluk yang sempurna. Pemerintah dapat melakukan kesalahan, perusahaan dapat mengejar keuntungan, ilmuwan dapat keliru, bahkan pemimpin gereja pun dapat memiliki kepentingan dan kelemahan pribadi. Karena itu, menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh seseorang yang memiliki jabatan, gelar, reputasi, atau banyak pengikut bukanlah bentuk hikmat.
Namun, kehati-hatian tidak sama dengan kecurigaan terhadap segala sesuatu. Seorang ilmuwan yang bukan Kristen dapat menemukan sesuatu yang benar tentang dunia ciptaan Tuhan. Sebaliknya, seorang Kristen pun dapat keliru, bahkan ketika ia berbicara dengan penuh keyakinan dan mengutip Alkitab. Karena itu, siapa yang berbicara memang perlu diperhatikan, tetapi apa yang dikatakannya tetap harus diuji.
Lalu, bagaimana kita menguji sebuah informasi? Kita dapat memulainya dengan bertanya: siapa sumbernya dan apa buktinya? Apakah ia benar-benar memahami bidang yang dibicarakannya? Apakah ada data atau penelitian yang dapat diperiksa? Bagaimana data itu diperoleh? Setelah itu, kita tidak berhenti pada satu sumber, tetapi membandingkannya dengan sumber lain yang independen. Kita bertanya apakah orang atau lembaga lain yang tidak mempunyai kepentingan yang sama memperoleh kesimpulan yang serupa.
Pada saat yang sama, kita perlu memperhatikan kemungkinan adanya kepentingan di balik informasi tersebut. Perusahaan mungkin mempunyai kepentingan komersial, pemerintah kepentingan politik, dan media kepentingan untuk menarik perhatian. Tetapi adanya kepentingan tidak otomatis membuat suatu informasi salah. Itu hanya alasan untuk memeriksanya dengan lebih teliti. Kita juga harus membedakan antara fakta, penafsiran, dan dugaan. Pernyataan bahwa dua hal berhubungan tidak selalu berarti bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Sesuatu yang sedang diteliti belum tentu sudah terbukti.
Yang tidak kalah penting adalah kesediaan untuk mendengarkan keberatan terhadap pendapat kita sendiri. Kita sering mencari informasi bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk membuktikan bahwa kita sudah benar. Padahal, menguji berarti bersedia bertanya, “Bagaimana kalau saya keliru?” Kita bahkan perlu menerima kemungkinan bahwa setelah semua pemeriksaan dilakukan, bukti yang tersedia belum cukup untuk menghasilkan kesimpulan yang pasti. Mengatakan “saya belum tahu” kadang-kadang justru merupakan bentuk kejujuran dan hikmat.
Hal ini dapat diterapkan dalam banyak bidang kehidupan. Dalam kesehatan, kita dapat memeriksa penelitian serta manfaat dan risikonya. Dalam investasi, kita dapat memeriksa data sebelum mempercayai janji keuntungan. Dalam berita, kita dapat mencari sumber asli sebelum meneruskan sebuah cerita. Dalam ilmu pengetahuan, kita dapat membedakan temuan yang sudah kuat dari hipotesis yang masih diperdebatkan. Bahkan dalam khotbah dan pengajaran Kristen, kita perlu bertanya apakah penafsiran yang diberikan sungguh sesuai dengan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.
Vaksin hanyalah salah satu contoh. Kita boleh bertanya tentang keamanan, efektivitas, manfaat dan risiko, kualitas penelitian, serta kemungkinan konflik kepentingan. Tetapi kita juga harus berhati-hati agar pertanyaan yang sehat tidak berubah menjadi kesimpulan tanpa bukti. Jika seseorang mengatakan bahwa suatu vaksin menggunakan informasi genetik, misalnya, kita perlu bertanya lebih jauh: informasi genetik dalam bentuk apa, bagaimana cara kerjanya, dan apakah ada bukti bahwa informasi tersebut mengubah DNA manusia? Jangan berhenti pada satu istilah yang terdengar menakutkan.
Di sinilah perkataan Paulus menjadi sangat relevan: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Paulus tidak mengatakan, “Percayalah segala sesuatu.” Ia juga tidak mengatakan, “Curigailah segala sesuatu.” Kita diperintahkan untuk menguji, kemudian memegang yang baik.
Jemaat di Berea memberikan teladan yang indah. Mereka mendengarkan pengajaran Paulus, tetapi kemudian memeriksa Kitab Suci untuk melihat apakah yang dikatakannya benar (Kisah Para Rasul 17:11). Mereka tidak menolak Paulus hanya karena harus menguji perkataannya, tetapi juga tidak menerimanya secara membabi buta.
Iman Kristen bukanlah ketakutan terhadap pertanyaan. Iman yang sehat tidak takut diuji, karena kebenaran tidak perlu takut terhadap pemeriksaan.
Pada akhirnya, kita tidak menaruh kepercayaan mutlak kepada ilmuwan, dokter, pemerintah, perusahaan, pendeta, media, ataupun diri kita sendiri. Kepercayaan mutlak hanya kepada Tuhan. Manusia dapat salah; Tuhan tidak.
Karena itu, pertanyaan kita bukan sekadar, “Siapa yang mengatakan ini?” tetapi juga, “Apa buktinya, bagaimana kita mengetahuinya, apakah sumber lain yang independen menguatkannya, dan apakah kesimpulannya benar-benar mengikuti bukti?”
Kiranya kita menjadi orang percaya yang tidak mudah ditipu, tetapi juga tidak mudah mencurigai; tidak naif, tetapi juga tidak sinis. Kita menguji dengan akal budi yang Tuhan berikan, dengan kejujuran, kerendahan hati, dan—dalam perkara iman—dengan terang firman-Nya.
Ujilah segala sesuatu. Peganglah yang baik. Dan di atas semuanya, tetaplah percaya kepada Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, berikanlah kami hikmat dan kejujuran untuk menguji setiap informasi yang kami terima. Tolong kami membedakan fakta dari dugaan, bukti dari opini, dan kebenaran dari penyesatan. Jauhkan kami dari sikap mudah percaya maupun kecurigaan yang berlebihan. Berikan kami kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan keberanian untuk memegang apa yang benar. Di atas segala sesuatu, biarlah kepercayaan kami tetap tertuju kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Everything must change
Nothing stays the same
Everyone will change
No one stays the same
The young become the old
And mysteries do unfold
‘Cause that’s the way of time
Nothing and no one goes unchanged
There are not many things in life
You can be sure of
Except rain comes from the clouds
Sun lights up the sky ….
Sung by Quincy Jones (1974)
Change is not necessarily a sign that something has gone wrong. Change is part of being human. Our bodies change, our responsibilities change, our relationships change, our circumstances change, and even the way we understand ourselves changes as we mature.
The challenge is that we often expect relationships to remain in the form in which we first experienced them. A husband and wife may continue using the same pattern of marriage after the children have grown. Parents may continue treating adult children as though they were still children. Grandparents may give more and more of themselves because they remember a time when they had more energy. Friends may expect the same availability from one another despite completely different seasons of life.
But a healthy relationship does not resist every change. It adapts to change while preserving what is essential.
And this is where sanctification gives the Christian perspective something deeper. We are not merely adapting to circumstances; God is changing us. We are being conformed to Christ. Sometimes God uses changing circumstances and changing relationships to expose attitudes in us that still need to be transformed.
So perhaps the Christian response to change is not:
“How can I make everything remain as it was?”
but:
“Lord, what are You teaching me through this change, and how do You want me to love differently in this new season?”
There is also a beautiful paradox. Everything changes, but not everything changes equally.
Our circumstances change.
Our bodies change.
Our roles change.
Our relationships change.
Our needs change.
But God’s faithfulness does not change.
That gives us freedom to let some things go without feeling that we have failed. We can allow an old pattern of relationship to die so that a healthier one can emerge. We can love our children differently when they become adults. We can love our grandchildren without making them the centre of our lives. We can care for our spouse differently as both of us grow older. We can even learn that sometimes loving someone means drawing closer, while at another time it means establishing a boundary.
Nothing stays the same—but change does not have to mean loss. Sometimes change is the very means by which God leads us into greater maturity.
And perhaps this is especially important in later life. The goal is no longer to hold on to everything we once had, but to receive each new season as God’s providence and ask how we can finish well.
As Paul says:
“Though our outer self is wasting away, our inner self is being renewed day by day.”
— 2 Corinthians 4:16
Our outer circumstances keep changing. Yet, by God’s grace, the inner person can keep being renewed.
Everything must change. Nothing stays the same. But in the midst of all that changes, we belong to the One who remains faithful.
“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
— Matius 22:39

Hubungan antar manusia sering kita anggap seperti sesuatu yang seharusnya berjalan dengan sendirinya. Setelah menikah, kita berharap hubungan suami istri akan tetap baik. Setelah mempunyai anak, kita berharap hubungan orang tua dan anak akan selalu dekat. Dalam persahabatan pun kita berharap kedekatan yang dahulu pernah ada akan bertahan begitu saja. Namun kehidupan tidak pernah berhenti berubah. Karena itu, hubungan yang sehat bukanlah keseimbangan yang sekali tercapai lalu dapat dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Hubungan yang sehat adalah keseimbangan yang dinamis.
Dua orang dapat saling mengasihi dengan tulus, tetapi kebutuhan, kemampuan, keadaan, dan tanggung jawab mereka dapat berubah. Ketika masih muda, mungkin kita mempunyai tenaga besar, sedang membangun karier, membesarkan anak, dan mengejar berbagai cita-cita. Ketika memasuki usia lanjut, prioritas dapat berubah. Tubuh menjadi lebih terbatas, pekerjaan berkurang, anak-anak telah dewasa, dan kenyataan tentang kehidupan yang sementara menjadi semakin nyata. Hubungan yang dahulu cocok dengan keadaan lima atau dua puluh tahun yang lalu mungkin membutuhkan penyesuaian kembali.
Karena itu, kasih membutuhkan kalibrasi (penyesuaian) bersama. Kita perlu belajar memperhatikan: Apakah orang yang saya kasihi masih membutuhkan hal yang sama? Apakah kemampuan saya masih sama? Apakah ada sesuatu yang perlu saya kurangi atau tambahkan? Apakah saya masih mendengarkan, atau hanya mengharapkan orang lain memahami saya?
Namun bagi orang percaya, perubahan dalam relasi mempunyai dimensi yang lebih dalam. Kita bukan hanya sedang belajar mempertahankan hubungan; kita sedang berada dalam proses pengudusan atau sanctification. Setelah diselamatkan oleh anugerah Allah, kehidupan kita tidak berhenti di sana. Roh Kudus terus membentuk kita semakin menyerupai Kristus. Karena itu, setiap hubungan dapat menjadi salah satu tempat Allah menyatakan kelemahan kita sekaligus mengajar kita bertumbuh dalam kasih.
Sering kali kita baru menyadari betapa egoisnya kita ketika hidup bersama orang lain. Kita menemukan bahwa kita mudah tersinggung, sulit mengampuni, ingin selalu mendapatkan apa yang kita kehendaki, atau merasa pengorbanan kita tidak dihargai. Semua itu dapat menjadi cermin bagi hati kita. Masalah dalam hubungan tidak selalu semata-mata masalah pada orang lain; kadang Allah menggunakannya untuk memperlihatkan sesuatu dalam diri kita yang masih perlu dikuduskan.
Tetapi pengudusan tidak berarti bahwa kita harus mempertahankan setiap hubungan dengan cara apa pun. Kasih Kristen mempunyai batas.
Ada perbedaan antara hubungan yang sedang mengalami konflik dan hubungan yang secara terus-menerus menjadi tempat kekerasan, ancaman, manipulasi, penghinaan, eksploitasi, atau kontrol yang merusak. Konflik membutuhkan rekonsiliasi, komunikasi, pengampunan, dan perubahan. Tetapi relasi yang berbahaya membutuhkan batas, perlindungan, dan kadang-kadang jarak.
Mengampuni seseorang tidak berarti kita harus kembali menempatkan diri dalam situasi yang memungkinkan orang itu terus menyakiti kita. Memahami kelemahan seseorang tidak berarti kita harus membiarkan perilakunya yang merusak. Mengasihi bukan berarti menjadi sasaran kekerasan tanpa batas. Bahkan ketika kita berdoa bagi seseorang yang menyakiti kita, kita tetap dapat mengambil langkah untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.
Ini sangat penting dalam kehidupan Kristen karena kadang-kadang seseorang menggunakan kata pengorbanan untuk membenarkan hubungan yang tidak sehat. Ia berkata, “Saya harus bertahan karena saya orang Kristen.” Tetapi salib Kristus bukanlah perintah untuk membiarkan manusia lain menyalahgunakan kita. Pengorbanan Kristen berarti memberikan diri dalam ketaatan kepada Allah, bukan menyerahkan diri untuk dieksploitasi oleh manusia.
Dalam relasi yang sehat, batas dapat dibicarakan dan dihormati. Dalam relasi yang berbahaya, batas justru mungkin diperlukan untuk menciptakan keselamatan. Kita dapat berkata, “Saya mengasihi Anda, tetapi saya tidak akan menerima kekerasan.” Kita dapat berkata, “Saya bersedia berbicara ketika kita dapat melakukannya dengan hormat.” Kita dapat berkata, “Saya tidak dapat terus memenuhi tuntutan ini.” Dan jika seseorang terus melanggar batas tersebut, kita mungkin perlu mengambil jarak atau mencari pertolongan dari orang lain yang dapat membantu.
Ini bukan berarti setiap ketidaksepakatan adalah hubungan berbahaya. Orang yang berbeda pendapat dengan kita, mengecewakan kita, atau sesekali bersikap egois tidak otomatis menjadi orang yang harus kita jauhi. Kita sendiri pun masih dalam proses pengudusan dan dapat melakukan kesalahan. Kasih memberi ruang bagi pertobatan, pertumbuhan, dan pengampunan.
Tetapi kasih juga membutuhkan kebenaran. Pengampunan tanpa pertobatan tidak selalu berarti pemulihan kepercayaan. Rekonsiliasi membutuhkan perubahan yang nyata, terutama ketika kerusakan yang terjadi berulang kali. Kepercayaan dapat dibangun kembali secara bertahap; itu tidak selalu harus diberikan kembali seketika hanya karena seseorang berkata, “Maaf.”
Karena itu, kasih dan batas harus berjalan bersama. Kasih bertanya, “Apa yang baik bagi orang lain?” Batas bertanya, “Apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang bukan?” Keduanya diperlukan agar hubungan tidak berubah menjadi eksploitasi di satu pihak atau egoisme di pihak lain.
Hal ini berlaku dalam pernikahan, keluarga, persahabatan, maupun gereja. Orang tua dapat mengasihi anak tanpa terus-menerus mengambil alih kehidupan anak yang telah dewasa. Anak dapat mengasihi orang tua yang lanjut usia tanpa menganggap bahwa seluruh kehidupannya harus dikorbankan. Suami dan istri dapat saling melayani tanpa menjadikan salah satu pihak sebagai pelayan permanen bagi pihak yang lain.
Pada usia lanjut, dinamika ini mungkin menjadi semakin jelas. Suami dan istri yang dahulu bersama-sama membangun kehidupan kini menghadapi kerentanan dan penuaan bersama. Kemampuan fisik berubah. Ketergantungan mungkin meningkat. Karena itu, keseimbangan perlu terus dikalibrasi. Kadang salah satu lebih banyak memberi; pada waktu lain ia sendiri membutuhkan pertolongan. Yang penting bukan pembagian yang selalu sama, melainkan saling memperhatikan agar tidak ada pihak yang terus-menerus terkuras.
Dan pengudusan tidak berhenti karena usia bertambah. Selama kita masih hidup, Allah masih membentuk kita. Bahkan keterbatasan tubuh, kehilangan, perubahan peran, dan semakin dekatnya kematian dapat menjadi bagian dari sekolah iman. Kita masih belajar mengasihi, belajar menerima pertolongan, belajar melepaskan, belajar berkata tidak, belajar mengampuni, dan belajar bergantung kepada Tuhan.
Maka sesekali kita perlu bertanya: Apakah cara saya mengasihi benar-benar kasih? Apakah saya sedang melayani dengan sukacita atau karena rasa bersalah? Apakah saya sedang berkorban karena kasih, atau karena takut kehilangan penerimaan orang lain? Apakah saya sedang mengampuni, tetapi tetap membutuhkan batas? Apakah hubungan ini sedang mengalami konflik yang dapat diperbaiki, atau sudah menjadi relasi yang membahayakan?
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu seimbang setiap hari. Ada musim ketika kita memberi lebih banyak dan ada musim ketika kita menerima lebih banyak. Yang penting adalah adanya perhatian timbal balik, penghormatan terhadap batas, dan kesediaan untuk terus berubah.
Sebab tujuan akhir kehidupan Kristen bukanlah memiliki semua hubungan yang sempurna, melainkan menjadi semakin serupa dengan Kristus di tengah hubungan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Kita diselamatkan oleh anugerah, dan oleh anugerah yang sama kita terus dikuduskan. Karena itu, setiap perubahan dalam relasi dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengasihi dengan lebih dewasa: berkorban tanpa membiarkan diri dieksploitasi, mengampuni tanpa menyangkal kenyataan, menetapkan batas tanpa membenci, dan melayani tanpa kehilangan kebebasan yang Tuhan berikan.
Kasih bukan berarti tidak memiliki batas. Kasih yang dewasa justru tahu kapan harus memberi, kapan harus menerima, kapan harus berkorban, kapan harus mengampuni, dan kapan harus berkata, “Sampai di sini.”
Dalam relasi yang aman, batas membantu kasih bertumbuh. Dalam relasi yang berbahaya, batas dapat menjadi bentuk kasih terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain yang mungkin juga menjadi korban. Dan dalam keduanya, kita tetap belajar berjalan di hadapan Tuhan, karena pengudusan adalah perjalanan seumur hidup.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami mengasihi seperti Kristus. Berikan kami hati yang rela berkorban, tetapi juga hikmat untuk mengenali batas yang sehat. Tolong kami mengampuni tanpa membenarkan kejahatan, mengasihi tanpa membiarkan diri dieksploitasi, dan berani mengambil jarak ketika keselamatan dan martabat terancam. Gunakan setiap relasi untuk terus menguduskan kami, supaya kami semakin serupa dengan Kristus. Amin.