Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Galatia 6: 2

Di Australia, umumnya segala tugas sehari-hari harus dikerjakan sendiri. Dalam hal membersihkan pakaian, mencuci piring, berbelanja, bepergian dan sebagainya, orang tidak dapat mengharapkan jasa pembantu rumah tangga (PRT) dan supir. Ini karena ongkos untuk mempekerjakan mereka adalah cukup besar, sehingga hanya orang yang kaya sekali akan mampu menggajinya. Bagaimana dengan mencari pekerja dari negara lain? Ini pun sama saja, karena secara hukum, mereka seharusnya mendapat gaji yang sama besarnya dengan gaji pekerja lokal.

Dengan situasi yang sedemikian, tidaklah mengherankan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri harus bisa saling membantu. Pembagian tugas keluarga antara orang tua dan anak pun bukanlah hal yang luar biasa. Memang hidup mungkin tidak bisa seringan apa yang ada di negara lain, tetapi jika tugas yang berat bisa dibagi di antara beberapa orang, tentunya itu bisa terasa lebih ringan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Jika beban berat yang menyangkut hal jasmani tidaklah terlalu sulit untuk dibagi, beban rohani adalah berbeda. Di negara barat, orang lebih cenderung bersikap individual. Karena itu apa yang tidak terlihat dalam hidup seseorang dan apa yang bersifat pribadi, orang lain tidak ingin ikut campur. Sebagai akibatnya, banyak orang yang secara batin mengalami penderitaan, tanpa orang lain bisa menolong. Karena itu, merupakan fakta yang menyedihkan bahwa di Australia jumlah orang yang bunuh diri dan mengalami gangguan kejiwaan adalah cukup besar menurut ukuran internasional.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, menasihati mereka agar mau bertolong-tolongan menanggung beban hidup. Ini tidak lain adalah pemenuhan hukum kasih yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya. Dalam hal ini, seringkali orang merasa bahwa ia sudah memenuhi hukum Kristus dengan memberi bantuan yang berbentuk jasmani. Tetapi, bantuan jasmani adalah yang paling mudah dilakukan manusia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ada banyak orang di sekitar kita yang menanggung beban berat secara rohani. Ini mungkin tidak mudah dilihat mata, sekalipun mereka tinggal tidak jauh dari kita. Mungkin saja mereka hidup serumah, sekantor, sesekolah dan segereja. Di antara mereka mungkin saja ada yang sangat tertekan hati dan pikirannya. Bagi mereka, kesediaan kita untuk menyapa, mendengarkan keluh-kesah, menguatkan, dan mendoakan mereka mungkin adalah apa yang terpenting.

Firman Tuhan sudah mengingatkan kita akan pentingnya untuk memiliki peduli kasih kepada setiap orang yang menderita, terutama kepada mereka yang seiman. Untuk orang-orang yang sedemikian, Tuhan memerintahkan kita untuk mempunyai kepekaan dan mau berusaha meringankan beban, supaya kehadiran dan kasih Kristus bisa terasa dalam hidup mereka.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 19

Dalam Yesus, Tuhan tidak lagi suatu enigma

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Di Australia ada banyak orang yang mengadopsi anak yang berasal dari negara-negara lain. Secara umum, ada dua macam adopsi yang bisa dipilih, yaitu adopsi tertutup (closed adoption) dan adopsi terbuka (open adoption). Jika jenis adopsi yang pertama merahasiakan informasi mengenai orang tua anak yang diadopsi, jenis yang kedua memungkinkan anak yang diadopsi untuk mengenali siapa orang tua mereka.

Di zaman ini, adopsi terbuka dianggap lebih baik untuk pertumbuhan kejiwaan sang anak, karena ia tidak akan merasa seperti orang terbuang yang tidak tahu asal usulnya. Memang seorang yang diadopsi seringkali ingin tahu siapa orang tua yang sebenarnya dan hal ini bisa menjadi suatu enigma, atau tanda tanya yang besar yang membawa penderitaan.

Kurun waktu yang panjang dan jarak yang jauh seringkali membuat anak yang diadopsi sulit untuk mencari informasi tentang orang tua yang sebenarnya. Hal yang serupa membuat seseorang yang sudah lama hidup secara duniawi untuk sulit memikirkan asal usulnya. Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut peta dan teladanNya, ia tidak mudah mengenal bahwa pada awalnya ia adalah ciptaan Tuhan yang paling utama. Bagi manusia yang sudah hidup jauh dari Tuhan, Tuhan adalah seperti enigma.

Sebenarnya Tuhan yang di surga tidak jemu-jemunya berusaha untuk mengingatkan semua orang bahwa Ia ada dan menantikan mereka untuk mau kembali mengenaliNya. Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia, dan melalui berbagai kejadian dan ciptaanNya mengingatkan setiap orang bahwa Ia ada. Namun tidak semua orang mau memikirkan adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan yang jauh disana adalah Tuhan yang tidak perlu dikenal. Suatu enigma yang tidak dapat dipecahkan.

Bagaimana dengan hidup kita sendiri yang sudah percaya adanya Tuhan? Tentunya kita menyadari bahwa kita adalah anggota keluarga Tuhan. Kita bukan anak-anak dunia (Yohanes 17: 16). Walaupun demikian, kita tidak dapat membayangkan kebesaran Tuhan dengan sepenuhnya. Dengan iman kita percaya, tetapi kita belum pernah menjumpai Dia. Pada saat ini kita hanya dapat melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Hal ini seringkali mendatangkan kegalauan, karena setiap orang percaya hanya memiliki pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna.

Untunglah bagi kita, Yesus sudah turun ke dunia. Ia adalah Anak Allah dan satu dengan Allah. Yesus adalah Tuhan dan melalui hidupNya di dunia kita dapat mengenal siapa Tuhan dan bagaimana hakikatNya. Melalui Yesus kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahahadir dan mahakasih. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, Tuhan bukanlah sebuah enigma. Sebagai orang Kristen kita tidak mempunyai alasan untuk menolak jalan, kebenaran dan hidup seperti yang sudah difirmankan Yesus.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Yohanes 14: 6 – 7

Tuhan mendengarkan keluh kesah kita

Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Matius 20: 32 – 34

Australia seperti banyak negara lain, mengalami perubahan iklim yang tidak pernah dialami sebelumnya. Sudah beberapa tahun ini curah hujan menurun, dan bahkan terhenti sama sekali di beberapa daerah. Banyak orang yang menghubungkan perubahan ini dengan kegiatan manusia yang menyebabkan berbagai polusi udara, dan untuk itu manusia haruslah mau mengubah cara hidupnya. Tetapi masih banyak juga orang yang yakin bahwa semua ini adalah bagian dari siklus perubahan iklim dunia. Bagi mereka, musim kering yang berkepanjangan ini akan berakhir pada suatu saat, seperti apa yang pernah terjadi pada abad-abad yang silam. Selain itu, ada orang yang percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dan karena itu kita harus menerimanya. Siapakah yang bisa mempengaruhi Tuhan dan memaksaNya untuk berubah pikiran?

Hidup manusia mungkin bisa juga menghadapi kemarau yang panjang. Jika penderitaan datang silih berganti dan tidak kunjung hilang, perasaan gundah kita mungkin akan muncul. Apakah yang harus aku lakukan? Sebagian orang yang melihat kesulitan yang kita alami mungkin akan berkomentar bahwa “semua itu terjadi karena kesalahan yang diperbuatnya”. Walaupun demikian, ada juga orang yang berpendapat bahwa kesusahan dan kegembiraan adalah bagian hidup manusia. Mereka mungkin menasihati kita agar jangan berputus asa, karena semua yang pahit akan berlalu pada saatnya. Tetapi, ada juga orang-orang lain yang menasihati kita agar kita menerima semua itu sebagai kehendak Tuhan. Tuhah sudah menentukan segala yang terjadi di bumi dan di surga, baik hal yang baik maupun yang terlihat kurang baik. Tuhan yang mahakuasa tentunya tidak dapat kita bantah.

Dalam ayat di atas, diceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-muridNya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ketika itu, dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan yang mendengar bahwa Yesus lewat, berseru memanggil Yesus memohon belas kasihanNya. Sebagai orang buta pada zaman itu hidup tentunya sangat berat. Mungkin, apa yang mereka bisa lakukan sehari-harinya adalah meminta-minta belas kasihan orang lain. Sebagai Anak Allah, Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan mereka, tetapi Ia tetap bertanya: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Atas pertanyaan Yesus, mereka menjawab: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.”Permohonan yang menarik karena mereka tidak meminta uang atau benda lain, tetapi memohon kesembuhan. Kesembuhan ajaib tentu tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Pantaskah permohonan orang buta itu kepada Yesus, Anak Allah? Bukankah Tuhan tahu apa yang mereka butuhkan sebelum mereka memohonkannya? Tidakkah permohonan orang buta itu keterlaluan? Bahwa Tuhan yang sudah “membuat” mereka buta sekarang diminta untuk mencelikkan mata mereka? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering dipikirkan oleh orang Kristen yang berada dalam penderitaan dan kesulitan hidup. Peperangan batin sering muncul antara keinginan untuk memohon dan keinginan untuk berserah.

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan menentukan apa saja yang terjadi di dunia. Jika kurang dari itu, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, begitu pendapat mereka. Apa saja yang terjadi di dunia harus terjadi sesuai dengan rencanaNya, dan karena itu tidak ada “kejutan” bagi Tuhan. Pada pihak yang lain ada orang Kristen yang percaya bahwa karena dunia ini sudah jatuh dalam dosa, banyak hal yang jahat dan kejam yang terjadi; tetapi itu bukan karena perbuatan Tuhan. Tuhan yang mahatahu tidak akan “terkejut”  atau “heran” melihat adanya penderitaan dan kejahatan di antara manusia, karena Ia yang mahakuasa tetap bisa menggenapi rencanaNya dalam keadaan apapun. Selain itu, Tuhan belum tentu menghendaki adanya penderitaan tertentu pada manusia, tetapi Ia selalu menghendaki manusia sepenuhnya menyadari kuasa dan kasihNya dalam setiap keadaan.

Bagaimana dengan kedua orang buta itu? Yesus bisa melihat bahwa orang buta itu menderita, tetapi juga tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia bisa menolong mereka. Yesus tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bisa berbuat apa saja yang diinginkanNya dan membiarkan apa saja untuk terjadi di dunia; tetapi Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mendengarkan permohonan manusia yang percaya. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Karena kuasa dan kasih Yesus, kedua orang buta itu menjadi celik secara jasmani dan rohani.

Pagi ini adakah penderitaan yang kita alami? Adakah hal-hal yang membebani kita sehingga kita merasa bahwa hidup ini hampa? Tuhan yang mahatahu tentu bisa melihat apa yang kita derita. Ia ingin agar kita memanggilNya, memohon pertolongan. Ia ingin agar kita menyadari bahwa Tuhan yang mahakuasa mempunyai rencana yang baik bagi setiap umatNya, dan itu bisa berarti bahwa apa yang kita alami sekarang, baik itu manis atau pahit,  adalah bagian dari rencanaNya untuk hidup kita. Tetapi, kita juga harus sadar bahwa rencana Tuhan tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan manusia dan dunia. Karena itu kita tetap bisa menyatakan keinginan kita dalam doa permohonan kita kepadaNya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang direncanakan Tuhan dalam hidupnya, tetapi setiap orang harus sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan Ia bisa memakai berbagai cara untuk mewujudkan rencanaNya.  Karena Ia mahakuasa dan mahakasih, kita bisa makin dekat kepadaNya dan tidak ragu untuk berdoa!

Jangan mendukakan Roh Kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda merasa sedih karena perlakuan orang lain terhadap anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Dari kecil kita bisa merasakan kesedihan jika ada hal-hal yang diperbuat orang yang menyinggung, melukai dan membuat kita merasa kurang dihargai atau disayangi.

Dengan bertambahnya umur, mungkin orang lebih tahan sabar dalam menghadapi hal-hal semacam itu; tetapi, jika banyak hal-hal yang melukai hati setiap hari, perlahan-lahan kepribadian orang itu akan berubah. Memang perasaan yang terluka bisa membuat orang menutup diri terhadap mereka yang menyebabkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat.

Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataanNya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepadaNya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dan menuruti jalan kita sendiri.

Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahanNya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit. Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolonganNya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah. Tanpa bimbingan Roh, hidup manusia adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Hal-hal yang sedemikian membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firmanNya. Dengan hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Matius 5: 45 – 46

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Ini adalah satu pertanyaan yang sering dikemukakan semua orang, baik orang Kristen maupun bukan. Sebagian orang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang beriman, sebagian lagi yakin bahwa Tuhan membenci mereka yang “kafir”. Selain itu, ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang banyak berbuat amal dan berkurban untuk sesamanya. Sudah tentu, ada juga orang yang meragukan kasih Tuhan kepadanya, karena merasa bahwa hidupnya jauh dari apa yang dikendaki Tuhan.

Memang di dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah oknum yang menuntut manusia untuk menyembah Dia dalam ketakutan dan dengan demikian manusia harus banyak berbuat baik di dunia, agar bisa menerima kasihNya. Tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seperti ini seringkali bukannya membuat manusia menjadi benar-benar baik, tetapi merasa sudah baik. Memang, jika kasih Tuhan dianggap bisa dibeli, orang tidak perlu merasa takut untuk berbuat dosa karena amal-ibadah bisa menebus dosanya. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik sering masih merasa tertekan karena adanya perasaan bahwa Tuhan belum menunjukkan kasihNya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahasuci menuntut umatNya untuk hidup baik sesuai dengan firmanNya. Tuhan membenci dosa dan tidak dapat dipermainkan oleh manusia dengan segala pikiran dan perbuatan mereka. Walaupun demikian, tidak ada apapun yang bisa diperbuat manusia untuk mencuci dosanya, untuk memenuhi syarat kesucian Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Umat manusia tidak akan mempunyai harapan masa depan jika Tuhan tidak mengasihi mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Apakah Tuhan mengasihi semua umat manusia? Jika benar, mengapa ada orang yang kelihatan jaya dan berbahagia, sedangkan orang lain harus menderita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Jika semua manusia sudah sepantasnya menderita karena dosa-dosa mereka, Tuhan tetap memelihara mereka untuk bisa hidup dan lebih dari itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal kuasa dan kasihNya.

Tuhan bukan saja memberi karunia dan berkat kepada seisi dunia, Ia juga mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Yesus datang ke dunia, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa menerima hidup yang kekal di surga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Tuhan sungguh besar dan tidak pandang bulu. Jika demikian, mengapa kita kurang atau tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu? Mungkinkah karena orang-orang itu terlihat berbeda cara hidupnya jika dibandingkan dengan cara hidup kita? Mungkinkah orang-orang itu hidup bergelimang dalam dosa? Ataukah karena mereka membenci dan sering menyakiti kita? Ayat di atas menunjukkan jika kita hanya mengasihi orang-orang tertentu saja, itu berarti kita belum sadar bahwa karena kasihNya, kita yang tidak layak sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus. Pagi ini, marilah kita yakin bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan itu termasuk diri kita sendiri.

Menjaga integritas Kristen

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”  Matius 5: 37

Baru-baru ini ada iklan rumah dijual di internet. Dalam iklan itu ada foto dari ruang-ruang dari rumah yang walaupun kecil, terletak di tempat strategis. Rumah itu akan dilelang dengan patokan harga sekitar 775 ribu dollar. Dari foto-fotonya, rumah yang agak tua itu nampak rapi dan nyaman, dan karena itu banyak orang yang diperkirakan akan muncul pada hari pelelangan. Namun, suatu hal yang tidak terduga terjadi, dan karena itu mungkin saja rumah itu tidak jadi dijual. Mengapa? Dari penyelidikan beberapa orang, ternyata foto-foto rumah itu sudah “disulap”, sehingga apa yang kotor dan rusak tidaklah kelihatan di foto. Yang mengerikan adalah karpet  di foto yang kelihatan mulus, ternyata kotor dan bernoda gelap. Menurut koran, si pemilik rumah dulunya meninggal dunia di ruang itu dan selama beberapa hari jasadnya tidak ditemukan orang.

Mengapa orang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara, asal  tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Mereka belum tentu bukan orang Kristen, karena justru banyak orang Kristen yang mempunyai hidup dalam dualisme: hidup dalam gereja yang berbeda dengan hidup di luar gereja.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu berlaku jujur. Seringkali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya resiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi kehidupan keluarga pun sering digoncangkan karena adanya orang-orang yang tidak menjaga integritasnya. Sebagai akibatnya, seringkali ada rasa kurang percaya, rasa marah dan kecewa kepada orang lain yang timbul setelah sebuah tipu daya terbongkar.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan pasti diketahui Tuhan. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang kita tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang benar!

Ketika hujan lupa turun

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” Yakobus 5: 7

Kemarin cuaca di kota saya sangat cerah, tetapi langit biru tidaklah kelihatan. Asap kebakaran hutan di sekitar tempat kediaman saya membuat langit seperti berkabut kelabu. Dalam keadaan sedemikian matahari yang terbit atau terbenam menyinarkan warna merah, seakan ikut merasa marah atas musim kemarau yang berkepanjangan di Australia.

Sudah lama hujan tidak turun dan banyak pohon besar di halaman rumah saya yang mati kekeringan. Air ledeng saat ini harus digunakan secara berhemat dan tidak dipakai untuk hal yang kurang penting, seperti mencuci mobil , menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Semua orang merasa menderita, tetapi sebagian besar masih bisa bersyukur jika tidak ada ancaman kebakaran hutan di daerahnya.

Mengapa hujan tidak kunjung turun? Apa yang bisa kita lakukan untuk mendatangkan hujan? Ini adalah pertanyaan yang dimiliki semua orang, tetapi tentu tidak semua orang yakin akan jawabnya. Memang, sekali pun dengan kemajuan teknologi saat ini, tidaklah mudah untuk mengubah iklim yang ada atau untuk membuat hujan turun pada daerah yang luas. Dalam hal ini, mau tidak mau orang harus menerima keadaan yang ada di saat ini.  Bagi orang Kristen, semua ini mungkin mengingatkan mereka akan kejadian  dalam Alkitab dimana orang Israel mengalami penderitaan yang serupa dan tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban. Tuhanlah yang pada akhirnya menunjukkan kuasa dan kasihNya, dan hujan turun pada waktunya.

Dalam hidup di dunia saat ini, sebenarnya bukan hujan saja yang diharapkan manusia. Setiap manusia mempunyai berbagai pengharapan dan kebutuhan. Dalam hal ini, terkadang penderitaan yang dialami selagi menunggu datangnya pertolongan Tuhan terasa tidak tertahankan. Rasul Yakobus dalam ayat di atas menasihati jemaat pada saat itu untuk bersabar dalam penderitaan sambil mengingat bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Seperti seorang petani, mereka semuanya harus bersabar menantikan datangnya hujan yang membawa hasil berharga dari tanahnya.

Kedatangan Tuhan menyatakan saat dimana kita bisa melihat kemuliaan Tuhan sambil bersukacita. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang tahu kapan itu akan terjadi. Tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka yang beriman, karena apa yang mereka alami tidaklah sebanding dengan apa yang akan mereka terima dari Tuhan. Bagi umat Kristen, kebahagiaan bisa dirasakan dalam segala keadaan karena mereka tahu bahwa Tuhan menghargai ketekunan umatNya. Tuhan yang maha penyayang dan penuh belas kasihan tidak akan menyia-nyiakan mereka yang setia kepadaNya.

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 11