Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Salahkah kalau kita mengeluh?

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.”
— Roma 8:22

Mengapa hidup terasa sulit? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam hati hampir setiap orang. Ada masa ketika semuanya berjalan baik, tetapi ada pula masa ketika persoalan datang bertubi-tubi. Tubuh mulai melemah, orang yang kita kasihi mengalami masalah, pekerjaan tidak berjalan seperti yang diharapkan, hubungan menjadi rumit, atau masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, sangat manusiawi kalau kita berkata, “Tuhan, mengapa hidup ini begitu berat?”

Tetapi sebagai orang Kristen, apakah mengeluh itu salah?

Roma 8:22 memberikan jawaban yang menarik. Paulus tidak menggambarkan dunia ini sebagai tempat yang semuanya baik-baik saja. Ia berkata bahwa segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dengan kata lain, penderitaan bukan sesuatu yang asing dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Ciptaan sedang menantikan pembebasan dan pemulihan yang Allah janjikan.

Karena itu, menjadi orang percaya tidak berarti kita tidak akan pernah mengeluh. Iman Kristen tidak mengharuskan kita berpura-pura kuat ketika sebenarnya hati kita sedang terluka. Alkitab sendiri penuh dengan ratapan. Para pemazmur menangis, bertanya, bahkan berseru kepada Allah ketika mereka tidak memahami keadaan yang mereka alami.

Yang perlu dibedakan adalah mengeluh kepada Allah dan bersungut-sungut terhadap Allah.

Bersungut-sungut dapat menjadi sikap hati yang menuduh Allah tidak baik dan menolak kehendak-Nya. Tetapi ratapan adalah ketika kita membawa rasa sakit kita kepada Allah karena kita tahu bahwa hanya kepada-Nyalah kita dapat datang. Kita berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti. Aku lelah. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi aku tetap datang kepada-Mu.”

Keluhan semacam itu justru dapat menjadi sebuah bentuk doa.

Lebih indah lagi, ketika kita berada dalam kelemahan, kita tidak ditinggalkan sendirian. Paulus melanjutkan dalam Roma 8:26 bahwa Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, Roh Kudus berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Betapa dalam penghiburan ini! Ada saat ketika kita terlalu lelah untuk berdoa. Ada penderitaan yang begitu dalam sehingga kita tidak mampu menemukan kata-kata. Kita hanya bisa menangis atau menghela napas panjang. Namun ketidakmampuan kita bukan berarti Allah jauh. Justru dalam kelemahan itu Roh Kudus hadir menolong kita.

Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks iman Kristen. Kelemahan kita dapat membuat kuasa Allah semakin nyata.

Kita sering mengira bahwa untuk mengalami Tuhan kita harus kuat. Padahal Paulus mendengar Tuhan berkata kepadanya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Selama kita merasa mampu mengatasi semuanya sendiri, kita mungkin tidak terlalu menyadari betapa kita membutuhkan Tuhan. Tetapi ketika kita sampai pada titik, “Aku tidak sanggup lagi,” kita mulai belajar bersandar. Ketika kemampuan kita terbatas, kita mulai melihat bahwa kuasa Allah tidak terbatas.

Mungkin karena itu, kita tidak perlu malu ketika suatu hari kita berkata, “Tuhan, saya lelah.” Kita tidak perlu merasa gagal dalam iman hanya karena air mata jatuh. Kita tidak perlu menganggap pertanyaan “Mengapa?” sebagai bukti bahwa kita tidak percaya.

Yang penting adalah ke mana kita membawa keluhan itu.

Jika kita membawanya kepada Allah, keluhan dapat menjadi doa. Dalam doa itu kita menemukan Roh Kudus yang menolong dalam kelemahan. Dan dalam kelemahan itu kita belajar mengenal Allah bukan hanya sebagai Pribadi yang Mahakuasa, tetapi sebagai Bapa yang menopang anak-anak-Nya.

Kita mungkin tidak selalu mendapatkan jawaban atas pertanyaan “mengapa”. Tetapi kita dapat menemukan jawaban yang lebih dalam: siapa yang menyertai kita ketika hidup terasa berat.

Ciptaan masih mengeluh. Kita pun kadang mengeluh. Tetapi keluhan kita tidak berakhir dalam keputusasaan. Kita mengeluh sambil berharap, menangis sambil percaya, dan berjalan dalam kelemahan sambil memegang janji Allah.

Jadi, salahkah kalau kita mengeluh?

Tidak, selama keluhan itu membawa kita kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.

Sebab mungkin dalam keluhan kita yang paling jujur, kita justru menemukan bahwa Tuhan lebih dekat daripada yang selama ini kita sadari.

Doa Penutup

Tuhan, ketika hidup terasa berat dan kami tidak sanggup lagi menyembunyikan kelemahan kami, ajarlah kami datang kepada-Mu dengan jujur. Tolong kami agar keluhan kami menjadi doa dan air mata kami menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Mu. Ketika kami tidak tahu bagaimana harus berdoa, biarlah Roh Kudus menolong kami. Dalam kelemahan kami, biarlah kami semakin mengenal kuasa dan kasih-Mu. Amin.

Hidup Panjang Itu Untuk Apa?

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
— Mazmur 90:12

Kebanyakan orang sebenarnya tidak ingin hidup selamanya dalam tubuh seperti sekarang. Kita mungkin ingin hidup panjang, tetapi bukan tanpa batas. Kita ingin mencapai usia tua yang wajar, tetap sehat dan mandiri, masih dapat menikmati keluarga, berbicara dengan sahabat, melakukan berbagai kegiatan, dan melihat anak serta cucu bertumbuh. Namun pada suatu saat, kita juga menyadari bahwa hidup di dunia ini mempunyai batas. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar, “Berapa lama aku akan hidup?” tetapi, “Kalau Tuhan masih memberikan hidup kepadaku, untuk apa?”

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika seseorang memasuki usia lanjut. Masa muda biasanya dipenuhi berbagai target: pendidikan, pekerjaan, membangun keluarga, membeli rumah, mencapai kedudukan tertentu, dan mengumpulkan harta. Tetapi setelah sebagian besar tujuan itu tercapai, kita mulai melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda. Waktu terasa semakin berharga, dan kita mulai menyadari bahwa yang paling penting bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang kita lakukan dengan hari-hari yang masih Tuhan berikan.

Musa berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami.” Ia tidak meminta Tuhan menghapus kenyataan bahwa manusia fana. Sebaliknya, ia meminta hati yang bijaksana untuk menjalani kehidupan justru karena kehidupan itu terbatas. Menghitung hari bukan berarti terus-menerus menghitung berapa tahun lagi kita akan hidup, tetapi menyadari bahwa setiap hari adalah pemberian Tuhan yang tidak boleh disia-siakan.

Selama hidup masih ada, berarti masih ada tanggung jawab. Kehidupan itu sendiri adalah sesuatu yang perlu dipelihara. Karena itu, menjaga kesehatan, berolahraga, makan dengan bijaksana, cukup beristirahat, menjaga pikiran tetap aktif, memelihara relasi, dan memperoleh pertolongan medis ketika diperlukan bukanlah tindakan yang bertentangan dengan iman. Sebaliknya, semuanya dapat menjadi bagian dari penatalayanan terhadap kehidupan yang Tuhan percayakan.

Namun kita juga perlu memahami batasnya. Kita bertanggung jawab memelihara kehidupan, tetapi kita tidak berkuasa menentukan panjang kehidupan. Kita boleh berusaha hidup sehat, tetapi tidak boleh menjadikan kesehatan sebagai tujuan tertinggi. Kita boleh berharap panjang umur, tetapi tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap kematian. Umur kita berada dalam tangan Tuhan.

Lalu, untuk apa Tuhan memberikan tambahan hari?

Untuk mengasihi. Untuk mengampuni. Untuk melayani. Untuk menguatkan mereka yang lemah. Untuk memberikan perhatian kepada keluarga. Untuk membagikan pengalaman dan hikmat kepada generasi yang lebih muda. Untuk mendoakan anak-anak dan cucu-cucu. Untuk terus belajar mengenal Tuhan. Dan bahkan untuk menikmati dengan penuh syukur berbagai kebaikan sederhana yang masih Tuhan berikan.

Ketika usia bertambah, bentuk pelayanan kita mungkin berubah. Dahulu kita mungkin banyak bekerja dengan tenaga dan kemampuan fisik. Sekarang mungkin kita lebih banyak memberi nasihat, mendengarkan, mendoakan, dan menjadi teladan. Kita tidak harus terus melakukan sebanyak yang dahulu kita lakukan untuk membuktikan bahwa hidup kita masih berguna. Kesetiaan dalam perkara-perkara kecil tetap berharga di hadapan Tuhan.

Dan akhirnya, orang Kristen tidak perlu melihat kematian sebagai kekalahan terakhir. Kematian memang menyedihkan karena memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi. Tetapi bagi mereka yang percaya kepada Kristus, kematian bukanlah akhir. Kristus telah bangkit dan menjanjikan kehidupan kekal kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu, kita dapat memelihara kehidupan dengan penuh tanggung jawab tanpa menjadi diperbudak oleh ketakutan akan kematian.

Mungkin inilah keseimbangan iman Kristen: selama Tuhan memberi hidup, kita memeliharanya; selama Tuhan memberi waktu, kita menggunakannya dengan bijaksana; dan ketika Tuhan memanggil kita pulang, kita menyerahkan diri kepada-Nya.

Jadi, hidup panjang itu untuk apa?

Bukan sekadar untuk menambah angka usia. Bukan sekadar untuk menikmati kenyamanan lebih lama. Tetapi untuk menggunakan setiap hari yang tersisa sebagai kesempatan untuk mengasihi sesama, bertumbuh dalam iman, menjadi berkat, dan memuliakan Tuhan.

Kita tidak tahu berapa banyak hari yang masih tersisa. Tetapi kita memiliki hari ini. Dan mungkin itulah yang Tuhan ingin kita perhatikan: bukan berapa panjang hidup kita, melainkan seberapa setia kita mengisi hari yang sedang dipercayakan-Nya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan bijaksana. Tolong kami memelihara kehidupan yang Engkau percayakan, tanpa menjadi takut kehilangan hidup. Selama Engkau masih memberikan kami waktu, mampukan kami menggunakannya untuk mengasihi, melayani, menjadi berkat, dan memuliakan nama-Mu. Dan ketika tiba waktunya kami meninggalkan dunia ini, teguhkan iman kami kepada Kristus dan pengharapan akan kehidupan kekal bersama-Mu. Amin.

Hal Mengejar Mahkota Surgawi

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
— Efesus 2:10

Ada orang yang menjalani hidup dengan bekerja keras karena ingin membuktikan bahwa dirinya berharga. Ada yang mengejar keberhasilan karena ingin dikagumi. Ada pula orang Kristen yang bekerja sangat keras dalam pelayanan karena ingin memperoleh mahkota kemuliaan di surga. Keinginan untuk menerima upah dari Tuhan bukanlah sesuatu yang salah. Alkitab sendiri berbicara tentang mahkota dan upah bagi mereka yang setia. Namun, kita perlu berhati-hati agar mahkota tidak mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Kristus.

Sebab kita dapat melakukan pekerjaan yang kelihatannya sangat rohani, tetapi tanpa sadar ego masih menjadi pusatnya.

Kita bisa melayani Tuhan sambil diam-diam bertanya, “Seberapa besar penghargaan yang akan saya terima?” Kita dapat berkorban sambil berharap orang lain melihat pengorbanan kita. Kita dapat bekerja keras dalam pelayanan sambil membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Bahkan kehidupan rohani dapat berubah menjadi sebuah perlombaan pribadi untuk mengumpulkan prestasi.

Efesus 2:10 membawa kita kembali kepada dasar yang benar. Paulus terlebih dahulu mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan karena hasil usaha kita sendiri. Keselamatan adalah pemberian Allah. Kemudian barulah ia berkata bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.

Urutannya sangat penting.

Kita tidak melakukan pekerjaan baik supaya diselamatkan. Kita melakukan pekerjaan baik karena telah diselamatkan.

Pekerjaan baik adalah buah, bukan akar. Kita tidak bekerja untuk membeli kasih Allah. Kita bekerja karena telah lebih dahulu menerima kasih-Nya.

Karena itu, pusat kehidupan Kristen bukanlah pekerjaan kita, melainkan hubungan kita dengan Kristus. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Ranting tidak menghasilkan buah dengan berusaha menjadi pohon. Ranting menghasilkan buah karena melekat pada pokok anggur.

Demikian juga kehidupan kita. Ketika kita melekat kepada Kristus, pekerjaan baik menjadi buah yang keluar secara alami dari kehidupan yang telah diperbarui oleh Roh Kudus.

Allah memang telah mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan baik bagi kita. Namun, “blueprint” atau rencana atas kehidupan kita tidak harus dipahami sebagai sebuah kode rahasia yang harus kita temukan agar tidak salah menjalani hidup. Yang terutama adalah kesediaan kita untuk berjalan bersama Tuhan dan setia melakukan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita, hari demi hari.

Panggilan itu dapat berbeda bagi setiap orang. Ada yang dipanggil untuk memimpin, ada yang mengajar, ada yang membangun usaha, ada yang merawat keluarga, ada yang melayani di gereja. Ada pula yang memasuki masa tua ketika kemampuan fisik dan kesempatan bekerja semakin terbatas. Tetapi berkurangnya aktivitas tidak berarti berkurangnya nilai hidup.

Pada masa tua pun masih ada pekerjaan baik yang Tuhan persiapkan: menguatkan anak-anak, mengasihi cucu-cucu, memberi nasihat dengan bijaksana, mendoakan orang lain, mengampuni, menjadi teladan, dan membagikan pengalaman hidup kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan di hadapan Tuhan bukan terutama seberapa banyak yang telah kita capai, melainkan seberapa setia kita berjalan bersama-Nya.

Mahkota kemuliaan boleh kita nantikan sebagai janji Tuhan. Tetapi mahkota surgawi bukanlah pusat hidup kita. Kristuslah pusatnya.

Bahkan ketika suatu hari kita menerima mahkota itu, kita akan menyadari bahwa tidak ada alasan untuk membanggakan diri:

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.””
— ‭‭Lukas‬ ‭17‬:‭10‬‬

Yesus menggunakan ungkapan “hamba-hamba yang tidak berguna” (unworthy servants dalam banyak terjemahan Inggris). Maksudnya bukan bahwa kita tidak berharga di mata Allah. Injil justru menyatakan betapa berharganya kita sehingga Kristus rela memberikan diri-Nya bagi kita. Maksudnya adalah bahwa kita tidak mempunyai dasar untuk menuntut upah sebagai hak yang wajib dibayar Tuhan.

Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari anugerah-Nya. Segala kemampuan yang kita gunakan adalah pemberian-Nya. Bahkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan baik pun telah dipersiapkan oleh-Nya.

Maka kita tidak perlu menjalani hidup dengan kecemasan untuk membuktikan diri kepada Tuhan. Kita hanya perlu tinggal di dalam Kristus, mengasihi-Nya, menaati-Nya, dan setia menjalani pekerjaan yang dipercayakan kepada kita.

Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah mahkota yang kita letakkan di kepala, melainkan Kristus yang menjadi pusat kehidupan kita.

Pekerjaan adalah buah dari keselamatan. Dan buah yang sejati selalu membawa kemuliaan kembali kepada Pokoknya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena keselamatan bukan hasil usaha kami, melainkan anugerah-Mu. Ajarlah kami melakukan pekerjaan baik bukan untuk membuktikan diri, bukan demi pujian, dan bukan terutama demi mahkota, tetapi karena kami mengasihi-Mu. Tolong kami tetap melekat kepada-Mu dan setia menjalani setiap pekerjaan yang Engkau persiapkan bagi kami. Biarlah seluruh hidup kami menjadi buah yang memuliakan nama-Mu. Amin.

Pandangan Kristen tentang AI

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
— Filipi 4:8

Kita sedang hidup dalam suatu zaman yang dahulu hanya dapat dibayangkan melalui film fiksi ilmiah. Artificial Intelligence atau AI kini dapat menjawab pertanyaan, menerjemahkan bahasa, menulis, menganalisis data, membuat gambar, membantu penelitian, bahkan berdialog dengan manusia.

AI dalam bahasa Indonesia berarti kecerdasan buatan atau kecerdasan artifisial. Dalam beberapa bidang, kemampuan AI mengolah informasi bahkan melampaui kemampuan manusia. Tidak mengherankan jika sebagian orang bertanya: apakah suatu hari AI akan menjadi lebih “cerdas” daripada manusia?

Pertanyaan itu menarik, tetapi bagi orang Kristen ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seharusnya kita memandang AI?

Pertama-tama, kita perlu mengingat bahwa kemampuan manusia untuk berpikir sendiri merupakan berkat Tuhan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan akal budi yang diberikan Tuhan, manusia dapat mempelajari ciptaan, menemukan hukum-hukum alam, membangun teknologi, menciptakan karya seni, dan mengembangkan berbagai pengetahuan. AI, dalam arti tertentu, merupakan salah satu hasil dari kemampuan berpikir manusia yang luar biasa.

Karena itu, keberadaan AI tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan iman Kristen. AI dapat menjadi alat yang berguna untuk menolong manusia belajar, bekerja, meneliti, berkomunikasi, dan memecahkan berbagai persoalan. Seperti pisau, komputer, atau internet, AI pada dirinya sendiri bukanlah baik atau jahat secara moral. Yang sangat menentukan adalah bagaimana manusia menggunakannya.

Namun di sinilah doktrin Total Depravity (Kerusakan Total) mengingatkan kita untuk berhati-hati. Kerusakan total tidak berarti manusia kehilangan seluruh kemampuan berpikirnya. Manusia masih mampu berpikir secara logis dan menghasilkan banyak kebaikan. Tetapi dosa telah memengaruhi seluruh keberadaannya, termasuk pikirannya. Karena itu semua orang cenderung jatuh dalam dosa. Inilah yang sering disebut sebagai efek noetik dari dosa.

Masalah manusia bukan sekadar bahwa ia kurang mengetahui kebenaran. Kadang-kadang manusia mengetahui sesuatu benar, tetapi tidak menyukainya. Ia dapat menggunakan kecerdasannya untuk mencari alasan agar dapat melakukan apa yang sebenarnya ingin dilakukannya. Bahkan akal yang sangat cerdas dapat menjadi alat untuk membenarkan keserakahan, kesombongan, ketidakadilan, atau dosa. Manusia bisa membenarkan apa yang salah sebagai kehendak Tuhan atau menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada.

AI berbeda dalam hal ini. AI tidak tidak berdosa karena AI bukan makhluk moral seperti manusia. Seperti sebuah komputer, AI tidak mempunyai hati nurani yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan. Ia juga tidak memiliki iman, pertobatan, kasih kepada Allah, atau kerinduan untuk memuliakan-Nya. AI dapat berbicara tentang Tuhan, tetapi berbicara tentang Tuhan tidak sama dengan mengenal Tuhan. AI juga bisa dengan bebas menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. AI bukan manusia yang diciptakan Tuhan dengan batasan moral yang jelas (Kejadian 2:16-17).

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika meminta AI memberikan nasihat. AI dapat memberikan jawaban yang masuk akal, menyenangkan, bahkan sangat meyakinkan. Tetapi sesuatu yang terdengar bijaksana belum tentu benar secara moral dan rohani. AI dapat membantu kita berpikir, tetapi AI tidak boleh menjadi pengganti hati nurani, hikmat, dan tanggung jawab kita di hadapan Allah.

Ada bahaya lain yang lebih halus. Manusia dapat menggunakan AI untuk memperoleh pembenaran bagi apa yang memang ingin dilakukannya. Jika hati sudah menginginkan sesuatu, kita dapat mencari jawaban AI yang mendukung keinginan tersebut. Dengan demikian, AI bukan lagi alat untuk mencari kebenaran, melainkan alat untuk membenarkan diri. AI bisa membantu manusia menciptakan malapetaka, seperti perang atau pandemi.

Filipi 4:8 memberikan prinsip yang sangat penting. Paulus tidak berkata agar kita memikirkan segala sesuatu yang menarik, menguntungkan, atau menyenangkan. Ia mengarahkan pikiran kita kepada yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, baik dan patut dipuji.

Inilah panggilan Kristen di zaman AI: bukan hanya memiliki kemampuan berpikir yang semakin besar, tetapi belajar berpikir dengan benar. AI mungkin dapat membantu meningkatkan kecerdasan kita, tetapi hanya Tuhan yang dapat memperbarui pikiran dan hati kita.

Maka janganlah kita takut kepada AI, tetapi juga janganlah kita menyembahnya. Gunakanlah AI sebagai alat, tetapi jangan menyerahkan kepadanya otoritas yang hanya menjadi milik Tuhan. Kita boleh meminta AI membantu kita menemukan informasi, menyusun gagasan, atau melihat persoalan dari berbagai sudut. Tetapi pada akhirnya, kita sendiri harus bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini sesuai dengan firman Tuhan? Apakah melalui keputusan ini saya sedang memuliakan Allah?

AI akan menjadi makin pintar dan bisa lebih cerdas daripada manusia. Tetapi kebutuhan manusia yang paling mendalam tetap sama: bukan sekadar pikiran yang lebih cerdas, melainkan hati yang telah diperbarui oleh anugerah Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih atas akal budi yang Engkau berikan kepada manusia dan atas kemampuan kami untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berikan kami hikmat untuk menggunakan AI dengan bijaksana. Jangan biarkan kecerdasan teknologi menggantikan Engkau dalam hidup kami. Perbaruilah pikiran dan hati kami supaya kami selalu mencari apa yang benar, baik, suci, dan berkenan kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Perubahan dalam Hidup Manusia

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
— 2 Korintus 4:16

Ada sesuatu yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan manusia: perubahan. Kita lahir sebagai bayi, bertumbuh menjadi anak-anak, memasuki masa remaja, menjadi dewasa, kemudian perlahan memasuki usia lanjut. Pada awal kehidupan, perubahan itu terlihat sebagai pertumbuhan. Tubuh menjadi lebih tinggi, otot semakin kuat, kemampuan berpikir berkembang, dan berbagai keterampilan semakin dikuasai. Kita menyambut perubahan itu dengan gembira.

Tetapi setelah mencapai kedewasaan, arah perubahan mulai bergeser. Tubuh tidak lagi bertumbuh seperti sebelumnya. Secara biologis, proses penuaan berlangsung perlahan. Massa otot dan kekuatan fisik cenderung menurun, massa tulang mengalami perubahan, kulit kehilangan sebagian elastisitasnya, dan beberapa aspek kecepatan pemrosesan otak juga dapat melambat. Perubahan ini biasanya tidak terasa dalam satu malam. Ia datang sedikit demi sedikit, sehingga sering baru kita sadari ketika suatu hari kita berkata, “Dulu saya bisa melakukan ini dengan mudah.”

Inilah yang Paulus sebut sebagai “manusia lahiriah kami semakin merosot.”

Paulus tidak sedang memberikan teori ilmiah tentang penuaan. Ia sedang berbicara tentang kenyataan bahwa tubuh manusia bersifat fana dan terus menuju kelemahan. Ia sendiri mengalami penderitaan, tekanan, dan berbagai kesulitan dalam pelayanan. Namun yang menarik adalah bahwa ia tidak berhenti pada kenyataan tersebut. Ia berkata, “sebab itu kami tidak tawar hati.”

Mengapa?

Karena manusia tidak hanya memiliki kehidupan lahiriah.

Ada manusia batiniah yang dapat terus diperbarui.

Kita dapat melihat gambaran yang sederhana dalam kehidupan para atlet. Seorang atlet mungkin pada suatu saat mencapai batas kemampuan fisiknya. Kecepatan, kekuatan, refleks, atau daya tahannya tidak lagi memungkinkan dia bertanding pada tingkat yang sama seperti ketika berada di puncak karier. Tetapi berakhirnya karier sebagai atlet tidak berarti berakhirnya kemampuan untuk berkembang. Pengalaman bertahun-tahun dapat membentuknya menjadi pelatih yang baik. Ia tidak lagi berada di lapangan sebagai pemain, tetapi dapat mengajarkan teknik, strategi, disiplin, dan mental bertanding kepada generasi berikutnya. Perannya berubah, tetapi pertumbuhannya tidak berhenti. Bahkan pengalaman yang dahulu diperoleh melalui tubuh kini dapat diteruskan melalui hikmat.

Demikian pula kehidupan manusia. Ada masa ketika kekuatan fisik menjadi keunggulan utama. Namun ketika kekuatan itu berkurang, kita tidak harus berhenti bertumbuh. Kita dapat beralih dari melakukan kepada membimbing, dari kecepatan kepada kebijaksanaan, dan dari pengalaman pribadi kepada memberikan teladan bagi generasi berikutnya.

Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks kehidupan. Ketika beberapa kemampuan fisik mulai berkurang, manusia masih mempunyai kemampuan untuk bertumbuh dalam hal-hal yang lain. Kecepatan memproses informasi mungkin melambat, tetapi pengetahuan dan pengalaman yang terkumpul dapat membuat seseorang memiliki pertimbangan yang lebih matang. Seseorang mungkin tidak lagi secepat ketika muda, tetapi ia dapat lebih mampu melihat pola, memahami akibat suatu keputusan, dan membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Dengan kata lain, kehidupan tidak hanya bergerak dari lebih kuat menjadi lebih lemah, tetapi juga dapat bergerak dari lebih cepat menjadi lebih bijaksana.

Bahkan otak manusia tetap memiliki kemampuan untuk berubah dan belajar sepanjang kehidupan. Mempelajari keterampilan baru, membaca, memainkan alat musik, mempelajari bahasa, berdiskusi, dan menghadapi tantangan baru dapat terus merangsang otak. Karena itu, menjadi tua tidak berarti berhenti belajar.

Hal yang sama bahkan lebih penting dalam kehidupan rohani.

Kita mungkin tidak akan menjadi sempurna dalam kehidupan sekarang. Tetapi kita dipanggil untuk terus menjadi dewasa di dalam Kristus. Pengudusan tidak berhenti ketika kita mencapai usia tertentu. Roh Kudus terus membentuk kita melalui firman Tuhan, doa, persekutuan, pelayanan, keberhasilan, kegagalan, bahkan penderitaan.

Kita masih dapat belajar menjadi lebih sabar. Masih dapat belajar mengampuni. Masih dapat belajar merendahkan diri. Masih dapat belajar mengendalikan perkataan. Masih dapat belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Dan yang terutama, kita dapat semakin belajar mempercayai Allah. Kita hanya berhenti belajar jika hidup ini berhenti.

Karena itu, usia lanjut tidak seharusnya hanya dipandang sebagai masa kehilangan. Ia dapat menjadi masa pendalaman.

Tubuh mungkin semakin lemah, tetapi iman dapat semakin kuat. Langkah mungkin semakin lambat, tetapi pertimbangan dapat semakin matang. Kita mungkin semakin menyadari keterbatasan diri, tetapi justru semakin memahami bahwa hidup ini bergantung pada kasih karunia Allah.

Inilah keindahan kalimat Paulus: “manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Perhatikan kata sehari ke sehari. Artinya, pembaruan itu adalah proses yang terus berlangsung. Tidak ada usia ketika seorang Kristen boleh berkata, “Saya sudah selesai bertumbuh.”

Selama kita masih hidup, masih ada pekerjaan Allah di dalam diri kita.

Karena itu, jangan tawar hati ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Jangan mengukur seluruh nilai diri berdasarkan apa yang dahulu dapat kita lakukan. Tubuh memang mempunyai batas. Tetapi karya Allah dalam manusia batiniah tidak berhenti hanya karena kekuatan tubuh berkurang.

Pada akhirnya, kita bukan sedang berusaha mempertahankan kemampuan masa muda. Kita sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar: keserupaan dengan Kristus dan kehidupan kekal bersama-Nya.

Maka perubahan dalam hidup manusia bukan hanya cerita tentang menjadi tua. Bagi orang percaya, perubahan itu juga merupakan perjalanan dari hari ke hari—dari kekuatan menuju ketergantungan, dari pengalaman menuju hikmat, dari kelemahan menuju pengharapan, dan dari manusia lama menuju manusia yang terus diperbarui oleh kasih karunia Allah.

Manusia lahiriah boleh semakin merosot. Tetapi manusia batiniah dapat terus bertumbuh.

Doa Penutup

Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memahami seluruh perjalanan hidup kami. Ketika tubuh kami semakin lemah dan kemampuan kami berkurang, tolonglah kami untuk tidak tawar hati. Perbaruilah manusia batiniah kami dari hari ke hari. Berikan kami iman yang semakin teguh, hati yang semakin rendah hati, kasih yang semakin dalam, hikmat yang semakin matang, dan pengharapan yang semakin kuat. Ajarlah kami menerima perubahan hidup dengan percaya bahwa kasih karunia-Mu tidak pernah berkurang. Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus sampai pada akhirnya kami berjumpa dengan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Apa Alasan untuk Bekerja Keras?

“Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah – sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”
— Mazmur 127:2

Bekerja keras adalah sesuatu yang baik. Alkitab tidak pernah mengajarkan kemalasan (Amsal 6:6). Kita dipanggil untuk bertanggung jawab, menggunakan talenta yang Tuhan berikan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Namun Mazmur 127:2 mengingatkan bahwa ada perbedaan antara bekerja keras dan diperbudak oleh pekerjaan.

Ada orang yang bekerja keras karena memang pekerjaannya menuntut demikian. Ada pula yang bekerja keras karena ingin mencapai sesuatu. Tetapi ada orang yang terus bekerja karena pekerjaan itu memberikan kepuasan tertentu. Ketika target tercapai, masalah terselesaikan, atau hasil pekerjaan terlihat, muncul perasaan senang dan puas. Kesibukan membuatnya merasa produktif, berguna, bahkan hidup. Karena itu ia sulit berhenti.

Ada pula yang bekerja keras karena mengharapkan pujian. Ia ingin dianggap rajin, bertanggung jawab, dapat diandalkan, atau sangat dibutuhkan. Tanpa disadari, pekerjaan menjadi sumber validasi dirinya. Ia merasa berharga karena orang lain menghargai apa yang dilakukannya.

Yang lebih halus lagi, seseorang dapat bekerja terlalu keras karena merasa orang lain kurang mampu. “Kalau bukan saya yang mengerjakan, pasti tidak beres.” Ia sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Akhirnya ia mengambil alih semakin banyak pekerjaan dan semakin yakin bahwa hanya dirinya yang mampu melakukannya dengan benar.

Hal seperti ini dapat terjadi bahkan dalam keluarga. Orang tua yang sudah lanjut usia mungkin masih terus mengurus anak-anak dan cucu-cucunya karena merasa mereka tidak mampu melakukannya sendiri. “Kasihan anak saya.” “Kalau saya tidak membantu, siapa yang akan membantu?” “Biar saya saja.” Semua itu mungkin dimulai dari kasih, tetapi perlahan dapat berubah menjadi ketergantungan. Anak menjadi terlalu bergantung kepada orang tua, sementara orang tua merasa dirinya harus selalu dibutuhkan.

Ada kepuasan tertentu di dalamnya: merasa berguna, dibutuhkan, dipuji, dan mampu mengendalikan keadaan. Tetapi kepuasan itu dapat menjadi jebakan. Kita mulai sulit membedakan antara melayani karena kasih dan bekerja karena membutuhkan kepuasan yang diberikan oleh pekerjaan itu.

Di sinilah persoalannya menjadi rohani.

Kita dapat begitu menikmati keberhasilan dan produktivitas sehingga diri kita menjadi yang paling penting dalam kehidupan kita. Kita tidak secara terang-terangan meninggalkan Tuhan. Kita tetap berdoa, tetap ke gereja, bahkan mungkin tetap melayani. Tetapi hati kita mulai berkata, “Saya mampu mengurus semuanya.” Kita memperoleh rasa aman dari pekerjaan, bukan dari Tuhan; memperoleh nilai diri dari prestasi, bukan dari kasih karunia; dan memperoleh kepuasan dari pujian manusia, bukan dari persekutuan dengan Allah.

Karena itu perkataan pemazmur, “pada waktu tidur,” begitu indah. Tidur adalah gambaran keterbatasan manusia. Ketika kita tidur, kita tidak bekerja. Kita tidak mengontrol apa pun. Kita tidak menghasilkan sesuatu. Namun Tuhan tetap bekerja dan memelihara.

Tidur seolah-olah berkata, “Dunia tidak bergantung kepadaku. Aku bukan penyelamat keluargaku. Aku bukan penentu masa depan. Tuhanlah yang memegang semuanya.”

Ini bukan alasan untuk menjadi malas. Kita tetap bekerja dengan rajin. Tetapi kita perlu memeriksa alasan kita bekerja keras.

Apakah karena tanggung jawab? Baik.

Apakah karena menggunakan karunia Tuhan? Baik.

Apakah karena mengasihi keluarga dan melayani sesama? Baik.

Apakah karena orang lain benar-benar membutuhkan bantuan saya? Baik.

Tetapi jika kita bekerja terutama karena membutuhkan pujian, ingin merasa superior, takut kehilangan kendali, rasa kuatir yang berlebihan, atau merasa bahwa tanpa kita semuanya akan berantakan, mungkin sudah waktunya berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: “Siapakah diri saya ini? Apakah saya bisa bertahan terus jika saya hidup seperti ini? Siapa sebenarnya yang saya percayai?”

Ada waktunya kita bekerja. Ada waktunya kita berhenti. Ada waktunya kita menolong anak-anak. Ada waktunya kita membiarkan mereka belajar bertanggung jawab. Ada waktunya kita mengambil alih. Ada waktunya kita menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.

Dan ada waktunya kita tidur.

Sebab ketika kita tidur, Tuhan tidak tidur.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari Mazmur 127:2: kita dipanggil untuk bekerja dengan setia, tetapi bukan untuk hidup seolah-olah segala sesuatu bergantung pada apa yang kita lakukan.

Kita boleh berhenti karena kita percaya kepada-Nya. Dan jika kita bangun, kita bisa bersyukur kepada-Nya karena dunia tetap berputar.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami bekerja dengan rajin dan setia, tetapi jangan biarkan pekerjaan menjadi sumber nilai, kepuasan, atau keamanan kami. Tolong kami untuk mengenali ketika kami mulai mencari pujian, kontrol, atau rasa dibutuhkan. Ajarlah kami menyerahkan pekerjaan, keluarga, dan masa depan kami ke dalam tangan-Mu. Berikan kami keberanian untuk bekerja ketika waktunya bekerja dan beristirahat ketika waktunya berhenti. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Solitude dalam Perspektif Kristen

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
— Mazmur 46:11

Kita hidup dalam dunia yang hampir tidak pernah benar-benar diam. Telepon berbunyi, pesan masuk, media sosial terus bergerak, pekerjaan menunggu, keluarga membutuhkan perhatian, dan berbagai persoalan kehidupan terus memenuhi pikiran. Bahkan ketika tubuh kita sedang beristirahat, pikiran kita sering tetap sibuk. Kita begitu terbiasa dengan suara dan kesibukan sehingga keheningan kadang-kadang terasa aneh.

Padahal, manusia membutuhkan keheningan. Kita membutuhkan solitude—kesendirian yang disengaja dan sehat, ketika untuk sementara kita mengambil jarak dari hiruk-pikuk kehidupan supaya dapat beristirahat, berpikir, merenung, dan terutama kembali mengarahkan hati kepada Allah.

Solitude berbeda dari kesepian. Kesepian adalah keadaan ketika seseorang merasa terputus dan tidak memiliki hubungan yang berarti dengan orang lain. Solitude justru dapat menjadi pilihan untuk menyendiri tanpa kehilangan hubungan kasih dengan orang lain. Seseorang dapat menikmati solitude dan tetap menjadi pribadi yang sangat mengasihi keluarga, sahabat, dan komunitasnya.

Mazmur 46 lahir dari suasana yang penuh pergolakan. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goyah, bumi bergoncang, dan manusia menghadapi ketidakpastian. Di tengah keadaan seperti itu, Allah berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

“Diamlah” bukan berarti berhenti peduli terhadap kehidupan. Bukan pula berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Kata-kata itu merupakan undangan untuk berhenti sejenak dari kegaduhan dan menyadari kembali siapa yang sebenarnya memegang kendali. Ada saat ketika kita terlalu sibuk mengatur kehidupan sehingga lupa bahwa kita bukan Allah.

Kita mungkin merasa harus selalu tersedia bagi orang lain. Sebagai suami atau istri, kita mempunyai tanggung jawab terhadap pasangan. Sebagai orang tua, kita masih memikirkan anak-anak. Sebagai kakek dan nenek, kita dapat merasa perlu membantu anak dan cucu. Di gereja pun ada pelayanan dan kebutuhan orang lain. Semua itu baik. Tetapi sesuatu yang baik dapat menjadi tidak sehat apabila kita tidak pernah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berhenti.

Bahkan Yesus sendiri memberi teladan tentang pentingnya menyendiri. Injil mencatat bahwa Ia sering mengundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Ia melayani orang banyak, mengajar, menyembuhkan, dan berjalan bersama murid-murid-Nya. Namun Ia juga mencari tempat yang sunyi. Kesendirian bukan tanda bahwa Ia tidak mengasihi manusia. Justru dalam keheningan itu Ia kembali kepada Bapa.

Kita pun membutuhkan saat-saat seperti itu.

Solitude tidak harus berarti pergi ke tempat yang jauh. Mungkin hanya duduk sendirian selama beberapa menit pada pagi hari. Mungkin berjalan seorang diri tanpa telepon. Mungkin membaca Alkitab tanpa tergesa-gesa. Mungkin duduk di taman dan menikmati keheningan. Mungkin minum secangkir kopi tanpa harus membuka media sosial. Bahkan tidak melakukan apa-apa selama beberapa saat dapat menjadi bentuk istirahat yang sangat berharga.

Dalam solitude, kita belajar bahwa nilai diri kita tidak bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang kita selesaikan atau seberapa banyak orang yang membutuhkan kita. Kita tetap dikasihi Allah ketika kita sedang tidak produktif. Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa kita berguna.

Lebih dari itu, solitude memberikan kesempatan untuk mendengar kembali suara hati. Dalam kesibukan, kita dapat mengabaikan kegelisahan, kelelahan, kemarahan, atau kesedihan yang sebenarnya sedang kita alami. Keheningan memungkinkan kita menyadari apa yang selama ini kita tekan. Di sana kita dapat membawa semuanya kepada Tuhan dalam doa.

Namun solitude juga harus dijalani dengan bijaksana. Kesendirian tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab, memutus hubungan, atau mengasingkan diri dari orang-orang yang mengasihi kita. Kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Tetapi kita juga bukan mesin yang dapat terus bekerja tanpa berhenti. Karena itu, terkadang solitude bisa dilakukan di tengah keramaian.

Ada waktunya untuk berinteraksi dengan orang lain, dan ada waktunya untuk duduk sendiri dan melihat orang lain bekerja, sambil bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaan-Nya. Memang, ada waktunya berbicara, dan ada waktunya diam. Ada waktunya memberi, dan ada waktunya menerima. Ada waktunya melayani, dan ada waktunya beristirahat.

Mungkin karena itu kita perlu belajar menikmati karunia solitude tanpa merasa bersalah.

Ketika kita diam, kita tidak sedang membuang waktu. Tidak juga kehilangan rasa peduli. Tetapi kita sedang mengingat kembali siapa Allah dan siapa diri kita. Kita bukan pusat alam semesta. Kita bukan penyelamat keluarga kita. Kita bukan orang yang harus mengendalikan segala sesuatu. Allah adalah Allah.

“Diamlah dan ketahuilah.”

Dalam dunia yang terus berkata, “Lakukan lebih banyak,” Tuhan kadang berkata, “Berhentilah sejenak.” Dalam dunia yang terus menuntut perhatian kita, Tuhan mengundang kita untuk memberikan perhatian kepada-Nya.

Dan mungkin, setelah kita belajar diam di hadapan Allah, kita dapat kembali kepada keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari bukan dengan hati yang semakin kosong, melainkan dengan hati yang telah diperbarui.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menikmati keheningan tanpa merasa bersalah. Tolong kami membedakan antara melarikan diri dari tanggung jawab dan mengambil waktu untuk memulihkan diri. Dalam kesunyian, mampukan kami mengenal-Mu lebih dalam dan menyadari bahwa Engkaulah Allah yang memegang hidup kami. Berikan kami hati yang tenang agar kami dapat kembali mengasihi dan melayani orang lain dengan sukacita. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Misogini: Arti dan Akibatnya

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
— Kejadian 1:27

Ada sebuah kebiasaan yang mungkin pernah kita dengar, bahkan dianggap biasa dalam masyarakat kita. Ketika seorang bayi lahir, kelahiran anak laki-laki kadang disambut dengan kebanggaan yang lebih besar daripada kelahiran anak perempuan. Anak laki-laki disebut sebagai penerus nama keluarga, pewaris, atau kebanggaan orang tua. Anak perempuan tentu juga disayangi, tetapi tanpa disadari kadang ditempatkan pada posisi yang berbeda.

Kita mungkin berkata, “Bukankah itu hanya kebiasaan budaya?” Memang, tidak setiap penghargaan terhadap anak laki-laki berarti seseorang membenci perempuan. Tetapi kita perlu bertanya lebih dalam: mengapa jenis kelamin seseorang menentukan seberapa besar ia dianggap membanggakan?

Di sinilah kita perlu mengenal sebuah kata yang mungkin masih asing bagi banyak orang: misogini. Misogini berarti sikap merendahkan, membenci, memusuhi, atau memandang perempuan sebagai kelompok yang lebih rendah daripada laki-laki. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu misos (kebencian) dan gyne (perempuan). Dengan demikian, kata misoginis berarti pelaku atau orang yang memiliki rasa benci terhadap wanita, sedangkan kata misogami berarti kebencian terhadap ikatan perkawinan.

Misogini tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian terbuka. Ia dapat muncul melalui lelucon, stereotip, perlakuan tidak adil, atau keyakinan bahwa laki-laki secara alami lebih berharga dan lebih berhak menentukan segala sesuatu.

Karena itu, tidak semua orang yang mempunyai pandangan tradisional tentang peran laki-laki dan perempuan dapat disebut misoginis. Seorang Kristen dapat meyakini adanya tanggung jawab yang berbeda antara suami dan istri tanpa merendahkan perempuan. Masalahnya muncul ketika perbedaan peran berubah menjadi perbedaan nilai dan martabat.

Kejadian 1:27 memberikan dasar yang sangat kuat. “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Keduanya berada di dalam karya penciptaan Allah dan keduanya diciptakan menurut gambar Allah. Alkitab tidak mengatakan bahwa laki-laki lebih menyerupai Allah daripada perempuan. Martabat manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, kekayaan, pendidikan, kedudukan, atau kemampuan.

Karena itu, ketika seorang anak laki-laki disambut dengan kebanggaan sedangkan anak perempuan dianggap kurang bernilai, kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menghakimi setiap keluarga yang mempunyai kebiasaan demikian, melainkan untuk memeriksa hati kita sendiri. Jangan-jangan ada nilai budaya yang tanpa sadar telah kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Misogini juga dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Seorang laki-laki yang sejak kecil dibentuk untuk merasa lebih tinggi daripada perempuan dapat membawa pola pikir itu ke dalam pernikahan, pekerjaan, gereja, dan masyarakat. Jika kemudian ia mengalami kekecewaan, penolakan, atau kegagalan, rasa berhak yang tidak terpenuhi dapat berubah menjadi kebencian terhadap perempuan. Dalam lingkungan tertentu, kebencian semacam ini bahkan dapat dipupuk melalui komunitas daring yang terus-menerus menguatkan kemarahan dan rasa menjadi korban.

Karena itu, berita tentang hubungan antara misogini dan ekstremisme seharusnya tidak hanya menjadi bahan pembicaraan tentang keamanan masyarakat. Gereja pun perlu memperhatikannya. Kita tidak perlu menunggu sampai seorang pemuda menjadi ekstremis untuk mengajarkan kepadanya bahwa perempuan adalah ciptaan Allah yang harus dihormati.

Gereja perlu mengajarkan kepada anak laki-laki bahwa menjadi laki-laki bukan berarti menjadi lebih tinggi daripada perempuan. Menjadi laki-laki berarti belajar bertanggung jawab, mengendalikan diri, menghormati perempuan, dan menggunakan kekuatan untuk melayani, bukan untuk mendominasi.

Bagi para suami, Efesus 5:25 bahkan memberikan ukuran yang jauh lebih tinggi: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Kepemimpinan Kristen bukanlah hak untuk dilayani. Kepemimpinan Kristen adalah panggilan untuk mengasihi dan berkorban.

Dan bagi kita semua, mungkin ada baiknya kita memeriksa kembali kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini kita anggap biasa. Bagaimana kita menyambut kelahiran anak laki-laki dan anak perempuan? Bagaimana kita berbicara tentang perempuan? Apakah kita tertawa ketika perempuan direndahkan? Apakah kita mengajarkan kepada anak laki-laki bahwa menang, kuat, dan berkuasa lebih penting daripada mengasihi dan menghormati? Apakah gereja mengajarkan bahwa kaum pria saja yang bisa menjadi pemimpin?

Dosa sering kali tidak dimulai dari tindakan yang besar. Ia dapat dimulai dari sebuah pikiran yang terus dipelihara, sebuah lelucon yang terus diulang, atau sebuah kebiasaan yang tidak pernah kita pertanyakan.

Sebaliknya, perubahan juga dapat dimulai dari hal yang sederhana: memandang setiap manusia sebagaimana Allah memandangnya—sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Kiranya gereja tidak hanya mengajarkan kepada perempuan bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik, tetapi juga mengajarkan kepada laki-laki bagaimana menjadi laki-laki yang mencerminkan Kristus. Sebab dunia tidak membutuhkan laki-laki yang merasa lebih tinggi daripada perempuan. Dunia membutuhkan laki-laki yang memiliki kekuatan untuk mengasihi, kerendahan hati untuk menghormati, dan keberanian untuk melayani.

Doa Penutup

Tuhan, ampunilah kami apabila tanpa sadar kami memelihara sikap atau kebiasaan yang merendahkan perempuan. Ajarlah kami melihat setiap laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan-Mu yang memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar-Mu. Bentuklah anak-anak dan para laki-laki di dalam gereja-Mu menjadi pribadi yang kuat tetapi rendah hati, berani tetapi penuh kasih, dan memiliki kuasa yang digunakan untuk melayani, bukan mendominasi. Dalam nama Yesus. Amin.

Bolehkah kita mengeluh?

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.”
— Filipi 2:14

Apakah orang Kristen tidak boleh mengeluh? Bukankah ada saat-saat ketika hidup terasa begitu berat sehingga kita ingin berkata, “Tuhan, mengapa harus begini?” Jika setiap keluhan dianggap sebagai dosa, kita mungkin akhirnya belajar menyembunyikan rasa sakit di balik kata-kata rohani. Kita tersenyum dan berkata, “Puji Tuhan,” sementara hati sebenarnya sedang terluka. Padahal Alkitab tidak mengajarkan kepura-puraan seperti itu.

Karena itu, kita perlu memahami dengan tepat perkataan Paulus dalam Filipi 2:14. Paulus tidak sedang melarang setiap ungkapan kesedihan, kekecewaan, atau pertanyaan kepada Allah. Dalam Alkitab, kita menemukan Daud yang meratap, Yeremia yang menangis, Ayub yang bergumul, dan bahkan Yesus yang berseru dalam penderitaan-Nya. Yang Paulus larang adalah bersungut-sungut dan berbantah-bantahan sebagai sikap hati yang menolak dan tidak puas terhadap jalan Allah.

Konteks ayat ini sangat penting. Pada ayat 12–13, Paulus berkata agar jemaat mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Karena itu, ketika mereka menjalani proses yang Allah kerjakan dalam hidup mereka, mereka tidak seharusnya merespons dengan gerutu dan perselisihan.

Kata “bersungut-sungut” (goggysmos) menunjuk pada keluhan yang lahir dari ketidakpuasan, sedangkan “berbantah-bantahan” mengandung gagasan perselisihan atau pertengkaran. Paulus kemudian menjelaskan tujuannya: supaya mereka hidup sebagai anak-anak Allah yang bercahaya “di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (ay. 15).

Dengan demikian, yang menjadi persoalan bukan sekadar apa yang keluar dari mulut kita, tetapi apa yang ada di baliknya.

Mengomel biasanya lahir dari ego yang merasa berhak mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada yang sedang dialaminya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita merasa dirugikan. Lalu muncul pertanyaan, “Mengapa saya harus mengalami ini? Saya tidak pantas mendapatkannya!” Tanpa disadari, kita bukan lagi sekadar menyatakan bahwa kita terluka, tetapi sedang menuntut Allah, orang lain, atau lingkungan untuk memberikan apa yang menurut kita menjadi hak kita.

Israel di padang gurun memberi contoh yang jelas. Mereka lapar, haus, takut, dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Kesulitan mereka nyata. Namun respons mereka berubah menjadi sungut-sungut terhadap Musa dan Allah. Mereka tidak sekadar berkata, “Kami lapar.” Mereka mempertanyakan jalan Allah dan bahkan merindukan kembali kehidupan lama di Mesir. Kesulitan menjadi alasan untuk tidak mempercayai Allah.

Tetapi ada perbedaan antara omelan yang berdosa dan ratapan yang kudus.

Mazmur 42 berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Pemazmur tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia sedang sedih. Ia sedang bingung. Namun ia membawa kegelisahannya kepada Allah dan kemudian berkata kepada jiwanya sendiri, “Berharaplah kepada Allah!” Ratapan tidak menyembunyikan luka, tetapi juga tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk meninggalkan Allah.

Mengomel berkata, “Tuhan, saya berhak mendapatkan yang lebih baik. Ini sangat merendahkan diri saya.”

Ratapan berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti mengapa ini terjadi. Ini sangat menyakitkan, tetapi saya tetap datang kepada-Mu.”

Perbedaan ini penting dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan: usia yang bertambah, tubuh yang tidak lagi sekuat dahulu, perubahan rencana, kehilangan, keterbatasan, kekecewaan, atau kelemahan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak harus menyukai semuanya. Namun kita dapat belajar menerima proses pembentukan Tuhan tanpa terus-menerus menggerutu. Kita percaya bahwa Allah dapat memakai keadaan yang tidak kita sukai untuk membentuk kita semakin menyerupai Kristus.

Namun menerima providensi Allah tidak berarti menerima dosa, ketidakadilan, penindasan, atau bahaya sebagai sesuatu yang tidak perlu dilawan. Alkitab tidak memanggil kita menjadi pasif terhadap kejahatan. Kita dapat berdoa dengan jujur, menyatakan keberatan dengan benar, mengambil tindakan iman, membela yang lemah, dan menegakkan kebenaran.

Dalam ajaran Stoisisme, idealnya manusia mencapai ketenangan melalui kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penerimaan terhadap tatanan alam. Dalam iman Kristen, kita tidak mengandalkan kemampuan diri untuk tetap tenang, tetapi bergantung kepada Allah yang berdaulat, mengasihi, dan memelihara kita.

Karena itu, ungkapan seperti “Jangan menangis; terima saja keadaan” bisa terdengar stoik tetapi tidak selalu alkitabiah. Yesus sendiri menangis di depan makam Lazarus (Yoh. 11:35). Mazmur penuh dengan ratapan. Paulus pun berbicara tentang penderitaan dan kelemahannya secara terbuka.

Namun ada satu hal dari Stoisisme yang dapat kita apresiasi secara terbatas: kita memang perlu membedakan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang tidak dapat kita kendalikan. Orang Kristen juga tidak perlu menghabiskan hidup dengan mengomel tentang sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara gerutu pasif dan respons iman. Gerutu hanya menguras jiwa: kita mengeluh, mengulang keluhan, menyalahkan, tetapi tidak melakukan apa-apa. Respons iman membawa persoalan kepada Tuhan lalu bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki saya lakukan?”

Jadi, orang Kristen tidak dipanggil untuk berpura-pura kuat. Kita boleh menangis. Kita boleh sedih. Kita boleh bertanya. Kita boleh meratap. Tetapi kita tidak dipanggil untuk terus-menerus bersungut-sungut dengan hati yang merasa berhak dan menolak jalan Tuhan.

Mungkin pertanyaan yang lebih baik bukanlah, “Bolehkah saya mengeluh?”, tetapi “Apa yang sedang keluar dari hati saya ketika saya mengeluh?”

Apakah saya sedang mempertahankan hak saya, atau membawa luka saya kepada Tuhan? Apakah saya sedang menyalahkan Allah, atau mencari pertolongan-Nya? Apakah keluhan saya hanya menjadi gerutu yang merusak jiwa, atau mendorong saya untuk berdoa dan melakukan apa yang benar?

Mengomel mempertahankan hak kita. Ratapan menyerahkan luka kita. Iman menerima pembentukan Tuhan dan melakukan apa yang benar ketika menghadapi kejahatan.

Kiranya dalam segala keadaan kita belajar menjadi seperti bintang yang bercahaya di tengah dunia—bukan karena hidup kita selalu mudah, tetapi karena di tengah hidup yang sulit pun kita tetap percaya kepada Allah.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami membedakan antara gerutu yang lahir dari ego dan ratapan yang lahir dari iman. Ketika kami harus menerima keadaan, berikan kami hati yang rela. Ketika kami menghadapi dosa dan ketidakadilan, berikan kami keberanian untuk bertindak benar. Dan ketika hati kami terluka, mampukan kami datang kepada-Mu dengan jujur tanpa kehilangan iman dan pengharapan. Amin.

Jika Hatiku Sedih dan Perih

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
— ‭‭Mazmur‬ ‭42‬:‭6‬‬

Ada kalanya hati kita terasa sedih dan perih, tetapi kita sendiri tidak tahu mengapa. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Tidak ada berita buruk yang baru kita terima. Secara lahiriah, semuanya mungkin berjalan cukup baik. Namun entah mengapa, hati terasa berat. Kita bangun pagi dengan perasaan murung, menjalani hari tanpa sukacita, dan pada malam hari masih membawa perasaan yang sama.

Keadaan seperti ini kadang justru membuat kita semakin sedih. Kita mulai bertanya, “Mengapa saya merasa seperti ini?” Lalu muncul pertanyaan lain, “Bukankah saya seharusnya bersyukur? Bukankah Tuhan sudah begitu baik kepada saya?” Akhirnya kita bukan hanya sedih karena hati terasa berat, tetapi juga merasa bersalah karena kita menganggap bahwa kita tidak seharusnya bersedih.

Mazmur 42 menunjukkan bahwa pergumulan seperti ini bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan orang percaya. Pemazmur berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia tidak menutupi keadaan hatinya. Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia mengakui bahwa jiwanya sedang tertekan dan gelisah.

Ada pelajaran penting di sini: kita tidak selalu harus mengetahui penyebab kesedihan kita sebelum kita membawanya kepada Tuhan. Kita boleh datang kepada-Nya dengan hati yang berat, bahkan ketika kita tidak mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.

Kadang kita terlalu sibuk mencari jawaban: “Apa penyebabnya? Mengapa saya begini? Apa yang salah dengan saya?” Padahal mungkin untuk sementara kita tidak perlu menemukan semua jawabannya. Kita dapat berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa hatiku sedih. Aku sendiri tidak dapat menjelaskannya. Tetapi Engkau mengenal aku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.”

Yang lebih sulit adalah ketika kita tidak dapat menerima keadaan yang sedang kita alami. Kita tahu bahwa Tuhan berdaulat. Kita percaya bahwa hidup kita berada di dalam tangan-Nya. Namun mengetahui hal itu secara akal tidak selalu membuat hati langsung tenang. Ada perbedaan antara mengetahui bahwa Allah memegang keadaan kita dan mampu menerima keadaan tersebut dengan hati yang tenang.

Kita tidak perlu memaksa diri untuk segera berkata, “Saya sudah menerima semuanya.” Mungkin kita memang belum sampai di sana. Kita dapat berkata dengan jujur, “Tuhan, saya tahu Engkau baik, tetapi hati saya belum mampu menerima apa yang sedang terjadi.” Kejujuran seperti itu bukan tanda tidak beriman. Justru di sanalah kita belajar membawa iman masuk ke dalam pergumulan yang nyata.

Kadang kesedihan menjadi lebih berat karena orang yang kita kasihi tidak memahami perasaan kita. Kita berharap mereka mengerti, tetapi mungkin mereka hanya berkata, “Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja.” Nasihat itu mungkin diberikan dengan tulus, tetapi hati kita sebenarnya tidak membutuhkan seseorang yang segera menghapus kesedihan kita. Kita membutuhkan seseorang yang bersedia mengakui, “Aku tahu kamu sedang berat.”

Namun jika manusia tidak mampu memahami kita, kita masih memiliki Allah yang memahami kita sepenuhnya. Kita mungkin tidak mengerti diri sendiri, tetapi Tuhan mengerti. Kita mungkin tidak mampu menjelaskan perasaan kita, tetapi tidak ada satu pun isi hati kita yang tersembunyi dari-Nya.

Karena itu, pemazmur tidak berkata kepada dirinya, “Berhentilah bersedih!” Ia berkata, “Berharaplah kepada Allah!” Ini sangat berbeda. Iman tidak selalu menghilangkan kesedihan dengan segera. Iman mengajar kita untuk tetap berharap kepada Allah di tengah kesedihan.

Ada hari ketika kita belum mampu bersyukur. Tidak apa-apa. Perhatikan perkataan pemazmur: “Aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.” Kata “lagi” mengandung pengharapan. Hari ini mungkin hati kita masih perih, tetapi kesedihan hari ini bukan akhir dari cerita.

Mungkin kita belum memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Mungkin kita belum mampu menerima keadaan. Mungkin kita bahkan tidak tahu mengapa kita merasa sedih. Tetapi kita dapat tetap berkata:

“Tuhan, aku tidak mengerti hatiku, tetapi Engkau mengerti. Aku belum mampu menerima keadaanku, tetapi aku mau berharap kepada-Mu. Dan aku percaya, pada waktunya, aku akan bersyukur lagi kepada-Mu.”

Doa Penutup

Tuhan, Engkau mengetahui ketika hatiku sedih dan perih, bahkan ketika aku sendiri tidak mengerti mengapa. Tolonglah aku untuk tidak menyalahkan diriku karena perasaan ini. Ajarlah aku membawa kesedihanku kepada-Mu dan tetap berharap kepada-Mu meskipun aku belum memahami keadaan. Tenangkan hatiku, teguhkan imanku, dan pada waktunya mampukan aku bersyukur lagi kepada-Mu. Amin.