Salam dalam kasih Kristus

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas Nataatmadja

Everything must change

Everything must change
Nothing stays the same
Everyone will change
No one stays the same

The young become the old
And mysteries do unfold
‘Cause that’s the way of time
Nothing and no one goes unchanged

There are not many things in life
You can be sure of

Except rain comes from the clouds
Sun lights up the sky ….

Sung by Quincy Jones (1974)

Change is not necessarily a sign that something has gone wrong. Change is part of being human. Our bodies change, our responsibilities change, our relationships change, our circumstances change, and even the way we understand ourselves changes as we mature.

The challenge is that we often expect relationships to remain in the form in which we first experienced them. A husband and wife may continue using the same pattern of marriage after the children have grown. Parents may continue treating adult children as though they were still children. Grandparents may give more and more of themselves because they remember a time when they had more energy. Friends may expect the same availability from one another despite completely different seasons of life.

But a healthy relationship does not resist every change. It adapts to change while preserving what is essential.

And this is where sanctification gives the Christian perspective something deeper. We are not merely adapting to circumstances; God is changing us. We are being conformed to Christ. Sometimes God uses changing circumstances and changing relationships to expose attitudes in us that still need to be transformed.

So perhaps the Christian response to change is not:

“How can I make everything remain as it was?”

but:

“Lord, what are You teaching me through this change, and how do You want me to love differently in this new season?”

There is also a beautiful paradox. Everything changes, but not everything changes equally.

Our circumstances change.
Our bodies change.
Our roles change.
Our relationships change.
Our needs change.

But God’s faithfulness does not change.

That gives us freedom to let some things go without feeling that we have failed. We can allow an old pattern of relationship to die so that a healthier one can emerge. We can love our children differently when they become adults. We can love our grandchildren without making them the centre of our lives. We can care for our spouse differently as both of us grow older. We can even learn that sometimes loving someone means drawing closer, while at another time it means establishing a boundary.

Nothing stays the same—but change does not have to mean loss. Sometimes change is the very means by which God leads us into greater maturity.

And perhaps this is especially important in later life. The goal is no longer to hold on to everything we once had, but to receive each new season as God’s providence and ask how we can finish well.

As Paul says:

“Though our outer self is wasting away, our inner self is being renewed day by day.”
— 2 Corinthians 4:16

Our outer circumstances keep changing. Yet, by God’s grace, the inner person can keep being renewed.

Everything must change. Nothing stays the same. But in the midst of all that changes, we belong to the One who remains faithful.

Dinamika Keseimbangan Relasi Antar Manusia

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
— Matius 22:39

Hubungan antar manusia sering kita anggap seperti sesuatu yang seharusnya berjalan dengan sendirinya. Setelah menikah, kita berharap hubungan suami istri akan tetap baik. Setelah mempunyai anak, kita berharap hubungan orang tua dan anak akan selalu dekat. Dalam persahabatan pun kita berharap kedekatan yang dahulu pernah ada akan bertahan begitu saja. Namun kehidupan tidak pernah berhenti berubah. Karena itu, hubungan yang sehat bukanlah keseimbangan yang sekali tercapai lalu dapat dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Hubungan yang sehat adalah keseimbangan yang dinamis.

Dua orang dapat saling mengasihi dengan tulus, tetapi kebutuhan, kemampuan, keadaan, dan tanggung jawab mereka dapat berubah. Ketika masih muda, mungkin kita mempunyai tenaga besar, sedang membangun karier, membesarkan anak, dan mengejar berbagai cita-cita. Ketika memasuki usia lanjut, prioritas dapat berubah. Tubuh menjadi lebih terbatas, pekerjaan berkurang, anak-anak telah dewasa, dan kenyataan tentang kehidupan yang sementara menjadi semakin nyata. Hubungan yang dahulu cocok dengan keadaan lima atau dua puluh tahun yang lalu mungkin membutuhkan penyesuaian kembali.

Karena itu, kasih membutuhkan kalibrasi (penyesuaian) bersama. Kita perlu belajar memperhatikan: Apakah orang yang saya kasihi masih membutuhkan hal yang sama? Apakah kemampuan saya masih sama? Apakah ada sesuatu yang perlu saya kurangi atau tambahkan? Apakah saya masih mendengarkan, atau hanya mengharapkan orang lain memahami saya?

Namun bagi orang percaya, perubahan dalam relasi mempunyai dimensi yang lebih dalam. Kita bukan hanya sedang belajar mempertahankan hubungan; kita sedang berada dalam proses pengudusan atau sanctification. Setelah diselamatkan oleh anugerah Allah, kehidupan kita tidak berhenti di sana. Roh Kudus terus membentuk kita semakin menyerupai Kristus. Karena itu, setiap hubungan dapat menjadi salah satu tempat Allah menyatakan kelemahan kita sekaligus mengajar kita bertumbuh dalam kasih.

Sering kali kita baru menyadari betapa egoisnya kita ketika hidup bersama orang lain. Kita menemukan bahwa kita mudah tersinggung, sulit mengampuni, ingin selalu mendapatkan apa yang kita kehendaki, atau merasa pengorbanan kita tidak dihargai. Semua itu dapat menjadi cermin bagi hati kita. Masalah dalam hubungan tidak selalu semata-mata masalah pada orang lain; kadang Allah menggunakannya untuk memperlihatkan sesuatu dalam diri kita yang masih perlu dikuduskan.

Tetapi pengudusan tidak berarti bahwa kita harus mempertahankan setiap hubungan dengan cara apa pun. Kasih Kristen mempunyai batas.

Ada perbedaan antara hubungan yang sedang mengalami konflik dan hubungan yang secara terus-menerus menjadi tempat kekerasan, ancaman, manipulasi, penghinaan, eksploitasi, atau kontrol yang merusak. Konflik membutuhkan rekonsiliasi, komunikasi, pengampunan, dan perubahan. Tetapi relasi yang berbahaya membutuhkan batas, perlindungan, dan kadang-kadang jarak.

Mengampuni seseorang tidak berarti kita harus kembali menempatkan diri dalam situasi yang memungkinkan orang itu terus menyakiti kita. Memahami kelemahan seseorang tidak berarti kita harus membiarkan perilakunya yang merusak. Mengasihi bukan berarti menjadi sasaran kekerasan tanpa batas. Bahkan ketika kita berdoa bagi seseorang yang menyakiti kita, kita tetap dapat mengambil langkah untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Ini sangat penting dalam kehidupan Kristen karena kadang-kadang seseorang menggunakan kata pengorbanan untuk membenarkan hubungan yang tidak sehat. Ia berkata, “Saya harus bertahan karena saya orang Kristen.” Tetapi salib Kristus bukanlah perintah untuk membiarkan manusia lain menyalahgunakan kita. Pengorbanan Kristen berarti memberikan diri dalam ketaatan kepada Allah, bukan menyerahkan diri untuk dieksploitasi oleh manusia.

Dalam relasi yang sehat, batas dapat dibicarakan dan dihormati. Dalam relasi yang berbahaya, batas justru mungkin diperlukan untuk menciptakan keselamatan. Kita dapat berkata, “Saya mengasihi Anda, tetapi saya tidak akan menerima kekerasan.” Kita dapat berkata, “Saya bersedia berbicara ketika kita dapat melakukannya dengan hormat.” Kita dapat berkata, “Saya tidak dapat terus memenuhi tuntutan ini.” Dan jika seseorang terus melanggar batas tersebut, kita mungkin perlu mengambil jarak atau mencari pertolongan dari orang lain yang dapat membantu.

Ini bukan berarti setiap ketidaksepakatan adalah hubungan berbahaya. Orang yang berbeda pendapat dengan kita, mengecewakan kita, atau sesekali bersikap egois tidak otomatis menjadi orang yang harus kita jauhi. Kita sendiri pun masih dalam proses pengudusan dan dapat melakukan kesalahan. Kasih memberi ruang bagi pertobatan, pertumbuhan, dan pengampunan.

Tetapi kasih juga membutuhkan kebenaran. Pengampunan tanpa pertobatan tidak selalu berarti pemulihan kepercayaan. Rekonsiliasi membutuhkan perubahan yang nyata, terutama ketika kerusakan yang terjadi berulang kali. Kepercayaan dapat dibangun kembali secara bertahap; itu tidak selalu harus diberikan kembali seketika hanya karena seseorang berkata, “Maaf.”

Karena itu, kasih dan batas harus berjalan bersama. Kasih bertanya, “Apa yang baik bagi orang lain?” Batas bertanya, “Apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang bukan?” Keduanya diperlukan agar hubungan tidak berubah menjadi eksploitasi di satu pihak atau egoisme di pihak lain.

Hal ini berlaku dalam pernikahan, keluarga, persahabatan, maupun gereja. Orang tua dapat mengasihi anak tanpa terus-menerus mengambil alih kehidupan anak yang telah dewasa. Anak dapat mengasihi orang tua yang lanjut usia tanpa menganggap bahwa seluruh kehidupannya harus dikorbankan. Suami dan istri dapat saling melayani tanpa menjadikan salah satu pihak sebagai pelayan permanen bagi pihak yang lain.

Pada usia lanjut, dinamika ini mungkin menjadi semakin jelas. Suami dan istri yang dahulu bersama-sama membangun kehidupan kini menghadapi kerentanan dan penuaan bersama. Kemampuan fisik berubah. Ketergantungan mungkin meningkat. Karena itu, keseimbangan perlu terus dikalibrasi. Kadang salah satu lebih banyak memberi; pada waktu lain ia sendiri membutuhkan pertolongan. Yang penting bukan pembagian yang selalu sama, melainkan saling memperhatikan agar tidak ada pihak yang terus-menerus terkuras.

Dan pengudusan tidak berhenti karena usia bertambah. Selama kita masih hidup, Allah masih membentuk kita. Bahkan keterbatasan tubuh, kehilangan, perubahan peran, dan semakin dekatnya kematian dapat menjadi bagian dari sekolah iman. Kita masih belajar mengasihi, belajar menerima pertolongan, belajar melepaskan, belajar berkata tidak, belajar mengampuni, dan belajar bergantung kepada Tuhan.

Maka sesekali kita perlu bertanya: Apakah cara saya mengasihi benar-benar kasih? Apakah saya sedang melayani dengan sukacita atau karena rasa bersalah? Apakah saya sedang berkorban karena kasih, atau karena takut kehilangan penerimaan orang lain? Apakah saya sedang mengampuni, tetapi tetap membutuhkan batas? Apakah hubungan ini sedang mengalami konflik yang dapat diperbaiki, atau sudah menjadi relasi yang membahayakan?

Hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu seimbang setiap hari. Ada musim ketika kita memberi lebih banyak dan ada musim ketika kita menerima lebih banyak. Yang penting adalah adanya perhatian timbal balik, penghormatan terhadap batas, dan kesediaan untuk terus berubah.

Sebab tujuan akhir kehidupan Kristen bukanlah memiliki semua hubungan yang sempurna, melainkan menjadi semakin serupa dengan Kristus di tengah hubungan yang Tuhan percayakan kepada kita.

Kita diselamatkan oleh anugerah, dan oleh anugerah yang sama kita terus dikuduskan. Karena itu, setiap perubahan dalam relasi dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengasihi dengan lebih dewasa: berkorban tanpa membiarkan diri dieksploitasi, mengampuni tanpa menyangkal kenyataan, menetapkan batas tanpa membenci, dan melayani tanpa kehilangan kebebasan yang Tuhan berikan.

Kasih bukan berarti tidak memiliki batas. Kasih yang dewasa justru tahu kapan harus memberi, kapan harus menerima, kapan harus berkorban, kapan harus mengampuni, dan kapan harus berkata, “Sampai di sini.”

Dalam relasi yang aman, batas membantu kasih bertumbuh. Dalam relasi yang berbahaya, batas dapat menjadi bentuk kasih terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain yang mungkin juga menjadi korban. Dan dalam keduanya, kita tetap belajar berjalan di hadapan Tuhan, karena pengudusan adalah perjalanan seumur hidup.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mengasihi seperti Kristus. Berikan kami hati yang rela berkorban, tetapi juga hikmat untuk mengenali batas yang sehat. Tolong kami mengampuni tanpa membenarkan kejahatan, mengasihi tanpa membiarkan diri dieksploitasi, dan berani mengambil jarak ketika keselamatan dan martabat terancam. Gunakan setiap relasi untuk terus menguduskan kami, supaya kami semakin serupa dengan Kristus. Amin.

Bolehkah Saya Menikmati Kehidupan Selama di Dunia?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas.”
— Yakobus 1:17

Pernahkah kita merasa bersalah ketika menikmati kehidupan? Ketika menikmati makanan yang enak, bepergian ke tempat yang indah, duduk santai bersama orang yang kita kasihi, menikmati musik, membeli sesuatu yang kita sukai, atau sekadar menikmati hari yang tenang? Bukankah ada kalanya kita berpikir, “Bukankah sebagai orang Kristen seharusnya saya lebih banyak memikirkan perkara-perkara rohani?”

Pertanyaan itu penting. Tetapi kita juga perlu berhati-hati agar tidak menganggap bahwa segala sesuatu yang menyenangkan pasti tidak rohani.

Allah menciptakan dunia dengan keindahan. Ia memberikan kepada manusia kemampuan untuk melihat, mendengar, mencicipi, menyentuh, mengasihi, tertawa, dan menikmati. Alkitab sendiri mengatakan bahwa Allah memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Yakobus mengingatkan bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.

Jadi, menikmati kehidupan bukanlah dosa.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika pemberian menggantikan Sang Pemberi.

Makanan adalah pemberian yang baik, tetapi makanan tidak boleh menjadi sumber kebahagiaan yang utama. Uang dapat memberikan kenyamanan, tetapi uang tidak boleh menjadi tempat kita menggantungkan rasa aman. Keluarga adalah berkat yang besar, tetapi kita tidak boleh menuntut keluarga memenuhi seluruh kebutuhan jiwa kita. Perjalanan, hiburan, keberhasilan, kesehatan, dan berbagai kenyamanan hidup boleh dinikmati, tetapi semuanya bersifat sementara.

Di sinilah kita menemukan perbedaan antara menikmati kehidupan dan hidup untuk kenikmatan.

Hedonisme dunia berkata, “Carilah sebanyak mungkin kesenangan selama masih hidup.”

Tetapi Hedonisme Kristen berkata sesuatu yang berbeda: “Nikmatilah pemberian Allah, tetapi temukan sukacita terdalam di dalam Allah sendiri.”

Kita tidak perlu menjadi seperti seorang Stoik yang berusaha tidak membutuhkan apa pun. Kita juga tidak perlu menjadi seorang hedonis yang harus mendapatkan apa pun yang menyenangkan hatinya. Kita dapat belajar untuk menerima keadaan dengan tenang, tetapi sekaligus menikmati pemberian Tuhan dengan penuh syukur.

Paulus memberikan gambaran yang indah. Ia pernah mengalami kelimpahan dan kekurangan, kenyang dan lapar. Ia belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Namun kecukupannya bukan karena ia kuat mengendalikan dirinya. Ia berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Inilah perbedaan yang mendasar.

Bukan, “Saya cukup kuat sehingga tidak membutuhkan kenikmatan.”

Melainkan, “Saya dapat menikmati kenikmatan tanpa diperbudak olehnya, karena sumber sukacita saya adalah Tuhan.”

Karena itu, ketika kita menikmati secangkir kopi, kita dapat bersyukur. Ketika menikmati perjalanan bersama pasangan, kita dapat bersyukur. Ketika tertawa bersama anak dan cucu, kita dapat bersyukur. Ketika menikmati makanan yang lezat, pemandangan yang indah, musik yang menyenangkan, atau sore yang tenang, kita tidak perlu merasa bersalah.

Kita hanya perlu mengingat dari mana semuanya datang.

Semua itu adalah pemberian, bukan Allah itu sendiri.

Dan justru karena kita tahu bahwa pemberian itu berasal dari Allah, kita dapat menikmatinya dengan cara yang benar. Kita tidak menggenggamnya seolah-olah harus memilikinya selamanya. Kita menerimanya dengan syukur, menikmatinya dengan sukacita, dan melepaskannya ketika Tuhan menghendaki.

Suatu hari, banyak hal yang sekarang kita nikmati akan hilang. Kekuatan tubuh berkurang. Kesempatan bepergian mungkin semakin terbatas. Orang-orang yang kita kasihi dapat meninggalkan kita lebih dahulu. Bahkan kehidupan duniawi kita sendiri akan berakhir.

Tetapi ada satu yang tidak berubah: Tuhan yang memberikan semuanya itu.

Maka bolehkah saya menikmati kehidupan selama masih di dunia?

Ya. Nikmatilah.

Tetapi nikmatilah sebagai seorang anak yang menerima pemberian dari Bapanya, bukan sebagai seorang manusia yang berusaha menemukan surga di dalam dunia.

Sebab kenikmatan terbesar bukanlah memiliki semua pemberian Tuhan.

Kenikmatan terbesar adalah memiliki Tuhan, Sang Pemberi, untuk selama-lamanya.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk setiap pemberian baik yang Engkau berikan dalam kehidupan kami. Ajarlah kami menikmatinya dengan penuh syukur tanpa diperbudak olehnya. Tolong kami menikmati ciptaan-Mu tanpa melupakan Sang Pencipta, dan menemukan sukacita terdalam bukan dalam apa yang kami miliki, melainkan di dalam Engkau. Amin.

Apakah Aku Sungguh Tinggal di dalam Kristus?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
— Yohanes 15:16

Ada pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan orang Kristen: “Apa yang harus saya lakukan bagi Tuhan?” Kita mungkin bertanya apakah kita harus melayani lebih banyak, terlibat dalam pelayanan tertentu, membantu orang lain, menjadi lebih aktif di gereja, atau melakukan sesuatu yang berarti bagi Tuhan.

Pertanyaan itu tidak salah. Tetapi mungkin kita sering mengajukannya terlalu cepat.

Sebelum bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?”, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: “Apakah aku sungguh mengenal Dia?”

Yesus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Perkataan ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Kristus bukan dimulai dari usaha kita mencari dan melayani Dia. Kristus terlebih dahulu memanggil kita kepada diri-Nya. Kita terlebih dahulu menerima anugerah-Nya, mengenal Dia, mengasihi Dia, dan hidup di dalam Dia. Setelah itu barulah Ia berkata, “Pergilah dan hasilkanlah buah.”

Dalam pasal yang sama, Yesus memberikan gambaran tentang pokok anggur dan carang. Ia berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Lalu Ia menjelaskan bahwa carang tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri jika tidak tinggal pada pokok anggur.

Gambaran ini sederhana, tetapi sangat dalam.

Carang tidak menghasilkan buah dengan berusaha keras menjadi carang yang produktif. Carang berbuah karena ia melekat pada pohon. Kehidupan yang ada di dalam pohon mengalir kepadanya. Dari kehidupan itulah buah muncul.

Demikian juga kehidupan Kristen.

Mungkin ada orang percaya yang terus-menerus bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Ia merasa harus melakukan sesuatu supaya hidupnya berguna bagi Tuhan. Ia melihat orang lain melayani, lalu merasa dirinya juga harus melakukan hal yang sama. Akhirnya kehidupan Kristen berubah menjadi kesibukan yang melelahkan.

Padahal mungkin masalahnya bukan kurangnya aktivitas, melainkan kurangnya ketergantungan kepada Kristus.

Carang yang tidak berbuah perlu diperiksa bukan hanya dari sisi buahnya, tetapi juga dari hubungannya dengan pohon. Demikian pula kita. Sebelum bertanya mengapa hidup kita tidak menghasilkan buah, mungkin kita perlu bertanya: Apakah aku sungguh tinggal di dalam Kristus?

Kita dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus tanpa sungguh-sungguh mengenal Yesus. Kita dapat membaca Alkitab, memahami doktrin, menghadiri kebaktian, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi hati kita tetap jauh dari-Nya.

Sebaliknya, ketika kita sungguh mengenal Kristus dan tinggal di dalam Dia, sesuatu mulai berubah. Kita semakin mengenal kasih-Nya, semakin memahami kekudusan-Nya, semakin menghargai anugerah-Nya, dan semakin ingin hidup menyenangkan hati-Nya.

Kemudian pertanyaan kita berubah.

Bukan lagi, “Apa yang harus kulakukan supaya aku berguna bagi Tuhan?” tetapi, “Tuhan, karena aku telah menerima kasih karunia-Mu, bagaimana aku dapat hidup bagi-Mu?”

Inilah perbedaan antara aktivitas dan buah. Aktivitas dapat kita hasilkan dengan kekuatan sendiri. Tetapi buah rohani lahir dari kehidupan yang terhubung dengan Kristus.

Ketergantungan kepada Kristus juga bukan berarti pasif. Carang yang hidup akan bertumbuh dan berbuah. Orang yang sungguh tinggal di dalam Kristus akan semakin nyata dalam kasih, kesabaran, pengampunan, kerendahan hati, ketaatan, dan kepedulian kepada sesama.

Karena itu, mungkin hari ini kita tidak perlu terlebih dahulu mencari pekerjaan besar bagi Tuhan. Kita dapat mulai dengan kembali kepada sumber kehidupan kita.

Tinggallah di dalam Kristus. Kenallah Dia. Nikmatilah anugerah-Nya. Bergantunglah kepada-Nya.

Sebab sebelum kita dipanggil untuk melakukan sesuatu bagi Kristus, kita dipanggil untuk mengenal Kristus.

Dan ketika kita tinggal di dalam Dia, buah itu akan muncul pada waktunya—bukan terutama karena kita berusaha keras menghasilkan buah, tetapi karena kehidupan Kristus mengalir di dalam kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk tidak terlalu sibuk bertanya apa yang harus kami lakukan bagi-Mu, sementara kami melupakan pentingnya tinggal di dalam-Mu. Tolong kami semakin mengenal-Mu, mengasihi-Mu, dan bergantung kepada-Mu. Biarlah hidup kami menghasilkan buah yang berasal dari-Mu dan menyenangkan hati-Mu. Amin.

Prioritas Kehidupan Suami Istri

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
— Matius 19:6

Ketika kita masih muda dan baru menikah, kehidupan kita sering berpusat pada membangun rumah tangga. Kemudian anak-anak lahir. Perlahan-lahan perhatian kita banyak tercurah kepada mereka. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, mengantar mereka ke sekolah, mendampingi mereka bertumbuh, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi masa depan mereka.

Tetapi waktu terus berjalan. Anak-anak menjadi dewasa. Mereka menikah, mempunyai rumah sendiri, dan membangun keluarga mereka. Kemudian lahirlah cucu-cucu yang membawa sukacita baru. Pada tahap kehidupan ini, kita perlu kembali mengingat sebuah kebenaran penting: anak-anak dan cucu-cucu adalah bagian dari kehidupan kita, tetapi mereka bukan pusat kehidupan pernikahan kita.

Yesus berkata, “Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” Kesatuan suami istri bukan hanya kesatuan secara lahiriah karena tinggal dalam satu rumah. Ada juga kesatuan batiniah: berbagi kehidupan, pergumulan, kegembiraan, kekhawatiran, keputusan, kenangan, dan harapan. Suami dan istri menjadi teman seperjalanan yang paling dekat dalam kehidupan ini.

“Sehati dan sepikir” tidak berarti selalu mempunyai pendapat yang sama. Suami dan istri tetap dua pribadi yang berbeda. Namun mereka belajar untuk mempunyai arah yang sama, mencari kehendak Tuhan yang sama, dan saling menyesuaikan diri dalam kasih. Bahkan ketika terjadi perbedaan, mereka tetap dapat berkata, “Kita akan menghadapi ini bersama.”

Hal ini berbeda dengan hubungan kita dengan anak-anak dan cucu-cucu. Kita dapat sangat mengasihi mereka, tetapi mereka mempunyai kehidupan mereka sendiri. Anak-anak dewasa mempunyai pasangan, pekerjaan, rumah tangga, dan tanggung jawab sendiri. Cucu-cucu bahkan berada satu generasi lebih jauh. Kita dapat membantu mereka, mendoakan mereka, memberikan nasihat, bahkan menyediakan waktu dan tenaga bagi mereka. Namun kita tidak dipanggil untuk menggantikan peran orang tua mereka.

Karena itu, kehidupan keluarga membutuhkan batas yang sehat: anak-anak dewasa didukung, tetapi tidak diambil alih; cucu-cucu diberkati, tetapi tidak dijadikan pusat kehidupan.

Batas yang sehat dapat terlihat dalam hal-hal sederhana. Misalnya, kita membantu anak ketika mereka benar-benar membutuhkan, tetapi tidak merasa harus menyelesaikan setiap masalah mereka. Kita boleh memberikan nasihat, tetapi tidak memaksakan keputusan ketika mereka memilih jalan yang berbeda. Kita dapat membantu secara finansial bila mampu, tetapi tidak sampai mengorbankan kebutuhan dan masa depan rumah tangga kita sendiri.

Demikian juga dengan cucu. Kita boleh dengan sukacita menjaga mereka sesekali, tetapi tidak menganggap bahwa kita selalu harus tersedia setiap kali orang tua mereka membutuhkan pengasuhan. Kita dapat memberikan hadiah, tetapi tidak merasa harus memenuhi setiap keinginan mereka. Kita boleh menyampaikan nilai-nilai iman dan kehidupan, tetapi tetap menghormati tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.

Batas yang sehat bukan berarti berkata, “Itu bukan urusan saya.” Sebaliknya, kita berkata, “Saya mengasihi dan akan membantu sejauh yang menjadi bagian saya, tetapi saya tidak akan mengambil alih apa yang menjadi tanggung jawabmu.”

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan ketika memasuki usia lanjut: Siapakah yang paling kita rindukan ketika ia tidak ada di sisi kita?

Tentu kita dapat merindukan anak dan cucu. Kita dapat merasa bahagia ketika mereka datang berkunjung dan merasa sedih ketika mereka pulang. Tetapi seharusnya ada kesepian yang lebih dalam ketika kita jauh dari pasangan. Sebab pasangan bukan sekadar seseorang yang kita cintai. Ia adalah orang yang telah Allah berikan untuk berjalan bersama kita dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, janganlah kesepian karena jauh dari pasangan selalu kita atasi dengan mengejar kedekatan dengan anak dan cucu. Menikmati kebersamaan dengan mereka adalah berkat, tetapi jangan sampai kebersamaan itu menggantikan hubungan yang telah Allah persatukan.

Prioritas kehidupan dapat kita gambarkan demikian: Tuhan adalah sumber kebijaksanaan; pasangan adalah teman hidup seumur hidup; anak-anak dewasa adalah generasi kedua yang kita dukung dalam batas; dan cucu adalah generasi ketiga yang kita berkati melalui kasih, teladan, doa, dan warisan iman.

Ini bukan berarti kita lebih mengasihi pasangan daripada anak dan cucu. Ini berarti setiap hubungan mempunyai tempat dan tanggung jawab yang berbeda.

Bahkan dengan menjaga pernikahan kita tetap sehat, kita sedang memberikan hadiah yang sangat berharga kepada anak-anak dan cucu-cucu. Mereka dapat melihat bahwa pernikahan bukan hanya sarana untuk membesarkan anak, melainkan sebuah persekutuan seumur hidup yang layak dipelihara sampai akhir.

Keluarga modern yang sehat menemukan bahwa pasangan tetap menjadi inti hubungan setelah anak-anak dewasa. Kekristenan memberikan alasan yang lebih dalam: karena sejak awal Allah sendiri yang mempersatukan suami dan istri menjadi satu.

Kiranya pada masa tua kita tidak menjadi semakin bergantung kepada anak dan cucu untuk mengisi kekosongan hidup, melainkan semakin menikmati karunia Tuhan dalam berjalan bersama pasangan. Kita boleh memberkati generasi berikutnya tanpa kehilangan kebersamaan dengan orang yang sejak awal telah Allah persatukan dengan kita.

Sebab pada akhirnya, anak-anak akan menjalani kehidupan mereka sendiri, cucu-cucu akan tumbuh dewasa, tetapi suami dan istri tetap dipanggil untuk berjalan bersama—dua pribadi yang telah dipersatukan Allah menjadi satu.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami memahami dan menjaga prioritas dalam kehidupan keluarga. Berikan kami hikmat untuk mengasihi anak dan cucu dengan cara yang benar, tanpa mengabaikan pasangan yang telah Engkau persatukan dengan kami. Tolong kami menikmati kebersamaan dengan pasangan sampai akhir perjalanan hidup, dan menjadikan kehidupan kami berdua sebagai kesaksian tentang kasih dan kesetiaan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Istirahat adalah berhenti dengan tujuan

“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.”
— Markus 6:31

Ada kalanya kita merasa bersalah ketika tidak sedang melakukan sesuatu. Seolah-olah setiap waktu harus diisi dengan pekerjaan, pelayanan, mengurus keluarga, berolahraga, membaca, atau menyelesaikan berbagai persoalan. Bahkan ketika tubuh sudah lelah, pikiran masih terus bekerja. Kita memikirkan apa yang belum selesai, apa yang harus dilakukan besok, dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Padahal, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk terus bergerak tanpa berhenti.

Dalam Markus 6, para murid baru saja kembali dari pelayanan. Begitu banyak orang datang dan pergi sehingga mereka bahkan tidak sempat makan. Melihat keadaan itu, Yesus tidak berkata, “Kalian harus bekerja lebih keras.” Sebaliknya, Ia berkata, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!”

Betapa sederhananya ajakan itu, tetapi betapa penting maknanya. Yesus mengetahui bahwa manusia mempunyai keterbatasan. Tubuh membutuhkan istirahat, demikian pula pikiran. Ada saatnya kita harus berhenti dari kesibukan dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk dipulihkan.

Istirahat bukan kemalasan.

Kemalasan adalah keengganan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Orang malas menghindari tanggung jawab tanpa tujuan yang baik. Istirahat justru berbeda. Istirahat adalah berhenti dengan tujuan. Kita berhenti bukan karena tidak peduli terhadap tanggung jawab, tetapi karena menyadari bahwa kita bukan mesin.

Tuhan sendiri memberikan pola ini sejak penciptaan. Setelah menyelesaikan pekerjaan penciptaan, Allah berhenti pada hari ketujuh dan menguduskannya (Kejadian 2:2–3). Tentu Allah tidak membutuhkan pemulihan tenaga seperti manusia. Namun, pola yang diberikan-Nya mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari bekerja dan menghasilkan sesuatu. Ada waktunya bekerja, dan ada waktunya berhenti.

Yang sering kita lupakan adalah bahwa pikiran juga membutuhkan istirahat.

Kita mungkin tidak sedang bekerja secara fisik, tetapi pikiran terus berlari. Berita, media sosial, telepon, percakapan, pekerjaan, masalah keluarga, keuangan, kesehatan, dan masa depan dapat memenuhi kepala kita. Akibatnya, tubuh mungkin duduk diam, tetapi pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat.

Karena itu, kita perlu membedakan antara rekreasi dan istirahat mental.

Misalnya, setelah beribadah pada hari Minggu, kita mungkin pergi berjalan-jalan ke mall. Tidak ada yang salah dengan makan bersama keluarga, melihat-lihat toko, atau menikmati suasana. Itu dapat menjadi rekreasi. Namun, mall yang penuh dengan orang, suara, musik, lampu, iklan, percakapan, dan berbagai rangsangan visual belum tentu menjadi tempat untuk mengistirahatkan pikiran. Begitu juga, jika kita tidak berhati-hati acara kumpul-kumpul keluarga di rumah justru bisa membuat lelah mental. Tubuh mungkin tidak bekerja, tetapi pikiran tetap menerima begitu banyak rangsangan. Bagi sebagian orang, setelah berada di tengah keramaian, pikiran justru terasa semakin lelah.

Di sinilah kita melihat bahwa tidak bekerja belum tentu berarti beristirahat.

Rekreasi dapat menyenangkan, tetapi istirahat mental mempunyai tujuan yang berbeda: memberikan kesempatan kepada pikiran untuk mengurangi rangsangan, melepaskan tuntutan, dan menjadi tenang. Karena itu, setelah gereja mungkin ada kalanya kita tidak perlu pergi ke mana-mana. Pulang ke rumah, makan dengan tenang, berbincang dengan pasangan, membaca buku, mendengarkan musik, tidur siang, duduk di teras, atau berjalan santai di tempat yang tenang dapat menjadi bentuk istirahat yang lebih memulihkan.

Yesus mengajak murid-murid-Nya pergi ke tempat yang sunyi. Ia membawa mereka menjauh sejenak dari kerumunan yang terus menuntut perhatian mereka. Ada kalanya jiwa kita memang membutuhkan bukan lebih banyak hiburan, tetapi lebih sedikit rangsangan; bukan lebih banyak suara, tetapi keheningan; bukan lebih banyak aktivitas, tetapi kesempatan untuk berhenti.

Tentu, hidup tidak memungkinkan kita selalu berada dalam keheningan. Ada pekerjaan yang harus dilakukan, keluarga yang harus diperhatikan, dan tanggung jawab yang tidak dapat ditinggalkan. Namun, kita dapat dengan sengaja menyediakan waktu untuk berhenti. Kita dapat mematikan televisi, meletakkan telepon, menjauh sejenak dari media sosial, dan membiarkan pikiran kita tenang.

Dalam keheningan itu, kita belajar mempercayai Tuhan.

Mazmur 46:11 berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Ada hubungan yang dalam antara diam dan iman. Ketika kita berhenti, kita sedang mengakui bahwa kita bukan penguasa atas segala sesuatu. Kita tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Kita tidak harus mengendalikan semua keadaan. Tuhan tetap bekerja ketika kita berhenti bekerja.

Hari Minggu karena itu dapat menjadi kesempatan untuk memperlambat langkah. Kita beribadah, menikmati keluarga, berbicara dengan orang yang kita kasihi, membaca firman Tuhan, dan menyediakan ruang bagi jiwa untuk bernapas.

Jangan merasa bersalah ketika Tuhan mengundang kita untuk beristirahat. Kita berhenti bukan karena hidup kita tidak penting. Kita berhenti justru karena kita tahu bahwa hidup kita ada dalam tangan-Nya.

Istirahat adalah berhenti dengan tujuan: berhenti sejenak agar tubuh dipulihkan, pikiran ditenangkan, hati disegarkan, dan iman kembali diarahkan kepada Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami mengetahui kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti. Tenangkan pikiran kami dari segala kekhawatiran dan kesibukan yang tidak perlu. Ajarlah kami menikmati keheningan dan mempercayakan segala sesuatu ke dalam tangan-Mu. Kiranya dalam istirahat kami, kami semakin menyadari bahwa Engkau tetap memelihara kami. Dalam nama Yesus. Amin.

Menjalani Masa Kini dan Menyongsong Masa Depan

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”
— Roma 8:18

Ada satu hal yang sangat menghibur bagi orang yang percaya kepada Kristus: kita bukan hanya menjalani kehidupan hari ini, tetapi kita juga tahu bagaimana akhir dari cerita kehidupan kita. Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita mengetahui siapa yang memegang hari esok. Kita mungkin tidak memahami mengapa penderitaan tertentu harus kita alami, tetapi kita tahu bahwa penderitaan itu bukanlah akhir cerita.

Paulus menyebutnya sebagai “penderitaan zaman sekarang”. Ada sesuatu yang penting dalam ungkapan itu. Penderitaan memang nyata, tetapi ia berada dalam batas waktu. Ia bukan keadaan kekal. Sebaliknya, kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita adalah sesuatu yang melampaui kehidupan sekarang. Karena itu Paulus mengatakan bahwa penderitaan sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang.

Kita sering lupa bahwa dunia tempat kita hidup terus berubah. Keadaan yang nyaman hari ini tidak menjamin kenyamanan pada hari esok. Orang yang sehat dapat menjadi sakit. Orang yang berkecukupan dapat mengalami kehilangan. Orang yang kuat dapat menjadi lemah. Bahkan hubungan, pekerjaan, kekayaan, dan berbagai hal yang kita anggap stabil dapat berubah dalam waktu yang singkat.

Kalau hari ini kita sedang menikmati kesehatan, keluarga, pekerjaan, kecukupan, atau ketenangan, respons yang tepat bukanlah kesombongan, melainkan ucapan syukur. Kenyamanan adalah kesempatan untuk melayani, berbagi, dan menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang sedang berada dalam kesulitan.

Sebaliknya, ketika kita sendiri mengalami penderitaan, kita tidak perlu kehilangan pengharapan. Kita boleh menangis. Kita boleh merasa lemah. Kita boleh bertanya kepada Tuhan. Namun kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Keadaan kita dapat berubah, tetapi kesetiaan Tuhan tidak berubah.

Dalam buku kehidupan, kita mungkin tidak mengetahui apa yang tertulis pada halaman berikutnya. Tetapi kita mengetahui akhir ceritanya: kemuliaan bersama Kristus. Dan kemuliaan itu begitu besar sehingga penderitaan zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengannya.

Kebenaran ini bukan hanya untuk direnungkan, tetapi untuk dijalani setiap hari.

Pertama, ketika keadaan baik, bersyukurlah tanpa menyombongkan diri. Ketika bangun pagi dalam keadaan sehat, memiliki keluarga, makanan, tempat tinggal, dan berbagai kecukupan, berhentilah sejenak dan akui bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan. Jangan membandingkan berkat kita dengan kekurangan orang lain.

Kedua, ketika melihat orang lain menderita, jangan cepat menghakimi. Kita tidak mengetahui seluruh cerita kehidupan seseorang. Daripada bertanya, “Apa kesalahannya sehingga ia mengalami ini?”, lebih baik bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya?” Belas kasihan jauh lebih mencerminkan hati Kristus daripada penghakiman.

Ketiga, ketika menghadapi kesulitan, jangan hanya melihat keadaan hari ini. Bawalah pergumulan itu kepada Tuhan dalam doa dan ingatkan diri sendiri bahwa penderitaan sekarang bersifat sementara. Kita tidak harus memahami semuanya untuk tetap percaya kepada-Nya.

Keempat, gunakan kenyamanan hari ini untuk mempersiapkan hati menghadapi hari esok. Kekayaan, kesehatan, waktu, dan kesempatan yang kita miliki bukanlah milik kita untuk selamanya. Karena itu, gunakanlah semuanya untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, dan melakukan kebaikan selagi masih diberi kesempatan.

Kelima, setiap malam arahkan kembali pandangan kepada tujuan akhir. Tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah hari ini saya hidup hanya untuk kehidupan sekarang, atau saya juga sedang hidup bagi kekekalan?” Pertanyaan sederhana ini dapat menolong kita menata kembali prioritas hidup.

Dengan demikian, kita tidak hidup dalam ketakutan terhadap masa depan, tetapi juga tidak terlena oleh kenyamanan masa kini. Kita menerima hari ini sebagai anugerah, menghadapi penderitaan dengan iman, dan menantikan masa depan dengan pengharapan.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menjalani hari ini dengan syukur dan kerendahan hati. Ketika hidup kami nyaman, jauhkan kami dari kesombongan; ketika kami menderita, teguhkan pengharapan kami. Tolong kami menggunakan setiap kesempatan untuk mengasihi dan melayani, sambil memandang kepada kemuliaan yang Engkau sediakan bersama Kristus. Amin.

Adakah orang atau bangsa yang Anda kagumi?

“Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.”
— Yesaya 5:20

Manusia mempunyai kecenderungan alami untuk mengagumi seseorang yang dianggap hebat. Kita mengagumi pemimpin yang kuat, tokoh yang berani, atau seseorang yang dianggap berjasa bagi bangsa dan kelompoknya. Demikian pula kita merasa bangga terhadap bangsa sendiri. Rasa memiliki dan rasa cinta kepada komunitas bukanlah sesuatu yang salah. Persoalannya muncul ketika kesetiaan kepada kelompok mulai mengalahkan kesetiaan kepada kebenaran.

Inilah yang disebut tribalisme: kecenderungan melihat dunia dalam kategori “kita” dan “mereka”. Apa yang dilakukan “orang kita” cenderung kita maklumi, sedangkan kesalahan “orang mereka” cepat kita kecam. Kita dapat melihat keberanian pada pihak sendiri, tetapi melihat fanatisme pada pihak lain. Kita menyebut tindakan kita sebagai pembelaan, tetapi tindakan pihak lain sebagai agresi.

Sejarah menunjukkan betapa berbahayanya cara berpikir seperti ini.

Adolf Hitler pernah dipuja oleh banyak rakyat Jerman sebagai pemimpin yang mengangkat kembali martabat bangsanya. Ratko Mladić juga dipandang oleh sebagian orang Serbia Bosnia sebagai pembela bangsa mereka. Namun sejarah tidak dapat berhenti pada pertanyaan, “Apa yang mereka lakukan untuk kelompoknya?” Kita harus bertanya lebih jauh: “Apa yang mereka lakukan terhadap manusia lain?”

Pertanyaan kedua inilah yang sering hilang dalam propaganda politik.

Seorang pemimpin dapat membangun jalan, memulihkan ekonomi, memenangkan perang, atau mengembalikan kebanggaan nasional, tetapi semua keberhasilan itu tidak dapat menjadi alasan untuk menghapus kekejaman. Kebaikan yang dilakukan seseorang tidak menjadikan kejahatannya sebagai kebaikan.

Yesaya memperingatkan tentang pembalikan moral: kejahatan disebut baik dan kebaikan disebut jahat. Inilah bahaya terbesar ketika nasionalisme berubah menjadi semacam agama. Bangsa, bendera, tanah air, atau pemimpin tidak lagi sekadar menjadi bagian dari kehidupan manusia, tetapi menjadi sesuatu yang harus dibela apa pun yang terjadi.

Ketika itu terjadi, suara hati dapat dibungkam dengan sebuah kalimat sederhana: “Yang penting kita menang.”

Tetapi Alkitab tidak pernah memberikan bangsa mana pun hak untuk menjadi ukuran moralitasnya sendiri. Israel sendiri, bangsa pilihan Allah, berkali-kali ditegur oleh para nabi ketika melakukan ketidakadilan. Status sebagai umat pilihan tidak memberikan kekebalan terhadap penghakiman Allah.

Ini menjadi peringatan penting bagi kita. Jika Allah tidak membiarkan Israel menggunakan identitasnya sebagai alasan untuk membenarkan dosa, kita pun tidak boleh menggunakan bangsa, agama, keluarga, ideologi, atau kelompok kita sebagai pembenaran.

Karena itu, kita perlu belajar memandang sejarah bukan hanya dari podium para pemenang, tetapi juga dari tempat para korban menangis. Sebuah bangsa mungkin memiliki monumen untuk para pahlawannya, tetapi keluarga korban mungkin memiliki kuburan tanpa nama. Negara mungkin mengadakan upacara kehormatan, tetapi Allah tetap mendengar jeritan mereka yang tertindas.

Di hadapan Allah, darah manusia tidak memiliki kewarganegaraan. Dalam kasih-Nya, gereja tidak bergantung pada pemerintah.

Kita boleh menghormati seorang prajurit yang gugur tanpa menyetujui perang yang mengirimnya ke medan tempur. Kita boleh mencintai bangsa sendiri tanpa menganggap bangsa sendiri selalu benar. Kita boleh menghargai jasa seorang pemimpin tanpa mengubahnya menjadi manusia yang tidak mungkin salah. Kita boleh kagum atas bangsa lain tanpa menutup mata atas kesalahan mereka.

Bahkan kasih kepada bangsa sendiri justru menuntut keberanian untuk mengatakan: “Bangsa saya juga bisa salah.”

Yesus membawa kita lebih jauh lagi. Ketika orang bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?”, Ia tidak membatasi sesama kepada kelompok sendiri. Ia menghadirkan seorang Samaria sebagai teladan kasih. Dengan demikian, Yesus meruntuhkan tembok “kita versus mereka”.

Salib Kristus akhirnya menjadi tempat di mana semua kesombongan kelompok dihancurkan. Tidak ada bangsa yang dapat berkata, “Kami lebih baik.” Tidak ada kelompok yang dapat berkata, “Kami tidak membutuhkan pengampunan.” Semua manusia berdiri di hadapan Allah sebagai ciptaan-Nya yang membutuhkan anugerah.

Maka pertanyaan bagi kita bukan hanya, “Siapakah orang atau bangsa yang saya kagumi?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

“Apakah kekaguman saya masih memungkinkan saya melihat kebenaran ketika orang atau bangsa yang saya kagumi ternyata melakukan kejahatan?”

Sebab orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi penggemar manusia, melainkan saksi kebenaran. Kita boleh menghormati manusia, tetapi hanya Allah yang layak menerima penyembahan.

Kiranya kita tidak pernah begitu mencintai “pihak kita” sehingga kehilangan kemampuan untuk menangisi penderitaan “pihak mereka”.

Doa Penutup

Tuhan, lepaskan kami dari kesetiaan buta kepada kelompok, bangsa, pemimpin, atau ideologi kami. Berikan kami keberanian untuk menyebut kejahatan sebagai kejahatan, sekalipun dilakukan oleh pihak yang kami cintai. Ajarlah kami mengasihi tanah air tanpa mengidolakan bangsa, dan mengingat para korban tanpa memelihara kebencian. Biarlah kebenaran-Mu lebih tinggi daripada semua kesetiaan kami. Dalam nama Yesus. Amin.

Pentingnya Hati dan Pikiran

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”
— Yakobus 2:19

Bayangkan hidup manusia seperti sebuah kapal yang sedang berlayar. Kapal membutuhkan arah dan juga kemampuan untuk mencapai arah tersebut. Dalam gambaran ini, hati adalah nahkoda sekaligus kompas. Hati menentukan ke mana hidup diarahkan berdasarkan apa yang paling kita cintai. Sedangkan pikiran adalah mesin dan kemudi. Pikiran membantu kita memahami keadaan, mempertimbangkan pilihan, menghitung risiko, dan mencari cara terbaik untuk mencapai tujuan.

Keduanya harus berjalan bersama.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan gereja, kita kadang mendengar ungkapan, “Jangan terlalu banyak berpikir. Percaya saja.” Maksudnya mungkin baik: jangan sampai iman digantikan oleh keraguan. Tetapi jika “percaya saja” berarti kita tidak perlu berpikir, bertanya, atau mencari pengertian, maka kita justru kehilangan sesuatu yang penting dalam iman Kristen.

Yesus berkata:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu … dan dengan segenap akal budimu.”
— Matius 22:37

Perhatikan: hati dan akal budi. Yesus tidak meminta kita memilih salah satunya. Allah memberikan kemampuan berpikir bukan untuk kita tinggalkan ketika datang kepada-Nya, melainkan untuk kita gunakan bagi-Nya.

Pendidikan dapat membuat seseorang mempunyai “mesin” yang sangat kuat. Ia dapat menjadi ahli matematika, dokter, insinyur, ilmuwan, atau ahli teknologi. Tetapi mesin yang kuat tidak menjamin kapal menuju pelabuhan yang benar. Seseorang dapat sangat pintar tetapi menggunakan kepintarannya untuk tujuan yang salah.

Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai niat yang baik tetapi tidak mau menggunakan pikirannya. Ia sungguh ingin menyenangkan Tuhan, tetapi mudah menerima setiap ajaran tanpa memeriksanya. Akibatnya, ketulusan hati tidak selalu menghasilkan keputusan yang benar.

Karena itu, iman Kristen bukan sekadar perasaan religius. Iman mempunyai isi yang perlu kita ketahui. Dalam teologi, iman yang menyelamatkan dikenal melalui tiga istilah: notitia, assensus, dan fiducia.

Istilah-istilah ini sebenarnya sederhana.

Notitia berarti mengetahui. Kita perlu mengetahui apa yang kita percayai: siapa Allah, siapa Yesus Kristus, apa masalah dosa manusia, dan apa yang telah Kristus lakukan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kita tidak mungkin mempercayai seseorang yang sama sekali tidak kita kenal.

Kemudian ada assensus, yaitu mengakui bahwa apa yang kita ketahui itu benar. Misalnya, kita bukan hanya mengetahui bahwa Yesus mati dan bangkit, tetapi sungguh percaya bahwa berita Injil itu benar.

Tetapi masih ada satu langkah yang lebih dalam: fiducia, yaitu mempercayakan diri. Kita bukan hanya mengetahui bahwa Kristus adalah Juruselamat dan mengakui bahwa hal itu benar; kita menaruh hidup kita kepada-Nya.

Yakobus menunjukkan mengapa ketiga hal ini penting. Setan-setan pun percaya bahwa Allah itu satu. Mereka mengetahui kebenaran tentang Allah dan bahkan mengakuinya. Tetapi mereka tidak menyerahkan diri kepada Allah. Pengetahuan mereka tidak menghasilkan kasih dan ketaatan. Mereka hanya gemetar.

Jadi, mengetahui tentang Allah belum tentu berarti mengenal Allah secara pribadi.

Hal ini juga menolong kita memahami apa yang salah dengan iman yang hanya berkata, “Saya percaya.” Pertanyaan berikutnya adalah: Apa yang saya percaya? Apakah saya sungguh menganggapnya benar? Dan apakah kepercayaan itu membuat saya menyerahkan hidup kepada Kristus?

Tentu kita tidak diselamatkan karena pengetahuan kita sempurna atau karena perbuatan kita cukup baik. Keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Tetapi iman yang menyelamatkan bukan sekadar persetujuan di kepala. Iman itu melibatkan seluruh pribadi: pikiran yang memahami, hati yang percaya, dan kehidupan yang kemudian diarahkan kepada Kristus.

Karena itu gereja tidak perlu takut mengajarkan jemaat untuk berpikir. Bertanya bukan berarti tidak beriman. Justru orang percaya dipanggil untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik. Kita membutuhkan pikiran yang mampu membedakan kebenaran dari kesalahan.

Kembali kepada gambaran kapal tadi: hati menentukan pelabuhan yang kita cintai, sedangkan pikiran membantu kita menemukan jalan menuju ke sana. Hati tanpa pikiran dapat tersesat. Pikiran tanpa hati dapat kehilangan arah.

Dan di sinilah pembaruan hidup menjadi penting. Allah bukan hanya ingin mengubah apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita cintai dan bagaimana kita berpikir.

Maka janganlah kita takut menggunakan pikiran ketika beriman. Dan jangan pula kita mengandalkan pikiran tanpa menyerahkan hati kepada Tuhan.

Kita membutuhkan hati yang mengasihi Allah dan pikiran yang mencari kebenaran-Nya.

Sebab iman yang dewasa bukanlah berhenti berpikir supaya dapat percaya, melainkan menggunakan pikiran untuk memahami kebenaran, membuka hati untuk mempercayainya, dan kemudian menyerahkan seluruh hidup kepada Kristus.

Itulah iman yang bukan hanya ada di kepala, tetapi menjadi arah seluruh kehidupan.

Doa Penutup

Tuhan, berikan kami hati yang sungguh mengasihi-Mu dan pikiran yang sungguh mencari kebenaran-Mu. Ajarlah kami bukan hanya mengetahui tentang Engkau dan mengakui kebenaran-Mu, tetapi juga mempercayakan seluruh hidup kami kepada Kristus. Biarlah hati dan pikiran kami berjalan selaras dalam mengikuti-Mu. Amin.

Peran Tuhan dalam Malapetaka

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”
— Yakobus 1:13

Ketika malapetaka menimpa manusia, kita sering kehabisan kata-kata. Berita tentang penderitaan dan kehancuran di Nepal kembali mengingatkan kita betapa rapuhnya kehidupan. Dalam waktu yang singkat, kehidupan yang sebelumnya berjalan biasa dapat berubah menjadi kepanikan, kehilangan, dan kesedihan. Kita melihat penderitaan manusia dan bertanya dalam hati: Di manakah Tuhan ketika semua ini terjadi?

Pertanyaan itu bukan hanya pertanyaan orang yang tidak percaya. Orang beriman pun dapat mengajukannya. Bahkan Alkitab penuh dengan seruan seperti itu. “Berapa lama lagi, Tuhan?” demikian pemazmur berseru. Ketika penderitaan terlalu berat untuk dipahami, iman tidak selalu menghasilkan jawaban. Kadang-kadang iman hanya memberikan keberanian untuk tetap bertanya kepada Tuhan.

Namun muncul pertanyaan yang lebih sulit: “Kalau Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, jangan-jangan Tuhan sendiri yang menyebabkan malapetaka itu?”

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Kita tidak mengetahui seluruh maksud Allah di balik suatu peristiwa tertentu. Karena itu, kita tidak boleh dengan mudah mengatakan bahwa suatu bencana merupakan hukuman Allah terhadap orang-orang yang menjadi korbannya. Kita juga tidak boleh mengklaim mengetahui bahwa Tuhan secara khusus menyebabkan suatu malapetaka untuk mencapai tujuan tertentu, kecuali jika Allah sendiri menyatakannya.

Yakobus memberikan batas yang jelas: Allah tidak mencobai manusia dengan kejahatan. Allah bukan sumber kejahatan dan tidak menikmati penderitaan manusia.

Kita perlu mengingat sesuatu yang sering terlupakan: kita hidup di dalam dunia yang telah rusak.

Ciptaan yang dahulu disebut Allah “sungguh amat baik” sekarang adalah ciptaan yang mengalami kerusakan. Dosa telah memasuki sejarah manusia dan membawa kematian, penderitaan, ketidakadilan, dan kehancuran. Paulus menggambarkan seluruh ciptaan sebagai sesuatu yang “mengeluh” dan “merasa sakit bersalin” sampai sekarang (Roma 8:22).

Karena itu, ketika bencana terjadi, kita tidak boleh langsung berkata, “Tuhan sedang menghukum mereka.” Korban suatu tragedi tidak otomatis berarti lebih berdosa daripada orang lain. Yesus sendiri menolak cara berpikir seperti itu ketika berbicara tentang berbagai tragedi pada zaman-Nya.

Tetapi mengatakan bahwa dunia telah rusak tidak berarti Allah telah kehilangan kendali. Allah tetap berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa yang mengejutkan-Nya. Di sinilah kita perlu membedakan antara apa yang Allah kehendaki dan apa yang Allah izinkan terjadi.

Kehendak Allah tidak pernah bertentangan dengan karakter-Nya yang kudus, baik, dan penuh kasih. Karena itu, ketika manusia melakukan kejahatan, kita tidak boleh berkata bahwa Allah menghendaki kejahatan itu hanya karena Ia membiarkannya terjadi.

Mengizinkan bukan berarti menyetujui. Membiarkan terjadi bukan berarti menjadi penyebab langsungnya.

Dalam providensi-Nya, Allah dapat memilih untuk tidak mencegah suatu peristiwa, tetapi itu tidak berarti bahwa peristiwa tersebut mencerminkan apa yang Ia sukai secara moral. Allah tetap berdaulat atas apa yang terjadi, tetapi kita tidak boleh mengubah setiap kejadian menjadi pernyataan: “Inilah yang Tuhan kehendaki.”

Ada hal-hal yang Allah izinkan dalam dunia yang telah jatuh, tetapi yang jelas bertentangan dengan karakter-Nya. Kejahatan manusia adalah contohnya. Allah mengizinkan manusia memiliki kebebasan yang dapat disalahgunakan, tetapi bukan berarti Allah menyetujui pembunuhan, penindasan, atau ketidakadilan.

Demikian pula dengan malapetaka. Kita dapat berkata dengan iman bahwa Allah mengizinkannya terjadi dalam kedaulatan-Nya, tetapi dengan rendah hati kita harus mengakui: kita tidak tahu mengapa Ia memilih mengizinkannya.

Perbedaan ini penting. Jika kita mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah dalam arti bahwa semuanya adalah sesuatu yang Ia sukai, kita akan kesulitan memahami mengapa Alkitab begitu sering menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang dibenci Allah. Tetapi jika kita mengatakan bahwa Allah sama sekali tidak berdaulat atas penderitaan, kita menjadikan Allah seolah-olah tidak berdaya menghadapi dunia yang kacau.

Iman Kristen menolak kedua ekstrem tersebut.

Allah tetap berdaulat, tetapi Allah bukan pencipta kejahatan. Allah mengizinkan, tetapi tidak berarti menyetujui. Kita tidak memahami semuanya, tetapi kita dapat mempercayai karakter-Nya.

Dan karakter Allah itu paling jelas terlihat dalam Kristus.

Ketika Lazarus meninggal, Yesus mengetahui bahwa Ia akan membangkitkannya. Namun Yesus tetap menangis. Pengetahuan tentang akhir cerita tidak membuat-Nya menjadi dingin terhadap kesedihan manusia.

Betapa indahnya: Allah yang berdaulat adalah Allah yang menangis.

Dalam Kristus, Allah tidak berdiri jauh dari penderitaan manusia. Ia masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Ia mengalami kelaparan, kesepian, penolakan, ketidakadilan, penyiksaan, dan kematian. Di kayu salib kita melihat bahwa Allah tidak acuh terhadap penderitaan manusia.

Maka ketika kita melihat malapetaka di Nepal atau di mana pun di dunia, kita tidak perlu buru-buru menyalahkan Tuhan. Kita juga tidak perlu menyalahkan para korban. Kita dipanggil untuk menangis bersama mereka yang menangis, berdoa bagi mereka yang menderita, dan menolong sejauh kemampuan yang Tuhan berikan.

Kita mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Tetapi kita dapat menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:

“Apakah Tuhan peduli?”

Lihatlah Kristus yang menangis di makam Lazarus. Lihatlah Kristus yang menderita di kayu salib.

Ya, Tuhan peduli.

Dan kisah ini belum selesai. Dunia masih mengeluh. Manusia masih menangis. Kematian masih datang. Tetapi pengharapan Kristen tidak berhenti pada dunia yang rusak ini. Suatu hari Allah akan memulihkan ciptaan-Nya dan menjadikan segala sesuatu baru. Air mata tidak akan menjadi bahasa terakhir manusia. Kematian tidak akan menjadi akhir cerita. Malapetaka tidak akan menjadi kata terakhir.

Sementara menunggu hari itu, tugas kita bukan menjelaskan semua misteri penderitaan. Tugas kita adalah mengasihi, menolong, berdoa, dan tetap berharap.

Keheningan Tuhan bukan berarti ketidakhadiran Tuhan. Dan izin Tuhan bukan berarti persetujuan-Nya terhadap kejahatan.

Kita mungkin tidak memahami jalan-Nya, tetapi kita dapat mempercayai hati-Nya.

Doa Penutup

Tuhan, ketika kami melihat malapetaka dan penderitaan manusia, hati kami bertanya, “Di manakah Engkau?” Kami tidak memahami mengapa Engkau mengizinkan begitu banyak air mata dan kehilangan.

Jauhkan kami dari kesombongan untuk menghakimi para korban atau mengaku mengetahui seluruh maksud-Mu. Ajarlah kami membedakan antara apa yang Engkau izinkan dan apa yang Engkau kehendaki menurut kekudusan-Mu.

Terima kasih karena dalam Kristus Engkau tidak jauh dari penderitaan kami. Engkau menangis bersama manusia dan bahkan masuk ke dalam penderitaan kami. Ketika kami tidak memahami jalan-Mu, teguhkanlah iman kami kepada kasih dan kedaulatan-Mu.

Ajarlah kami untuk menangis bersama mereka yang menangis, menolong mereka yang membutuhkan, dan tetap berharap kepada hari ketika Engkau akan menjadikan segala sesuatu baru.

Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.