Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Nepotisme adalah dosa yang terselubung

“Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” Yakobus 2: 9

Apakah nepotisme itu? Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Istilah ini biasanya dipakai untuk mengutarakan keadaan buruk yang bisa menyebabkan keresahan karena adanya ketidakadilan. Orang yang sebenarnya berprestasi baik, ternyata tidak terpilih untuk menjabat sesuatu kedudukan karena orang yang dipilih adalah teman atau sanak dari orang yang berkuasa. Nepotisme pada hakikatnya adalah diskriminasi atas orang-orang yang bukan tergolong keluarga atau golongan sendiri.

Nepotisme sering terjadi dalam masyarakat atau negara dimana tertib hukum belum sepenuhnya tercapai, dan juga di lingkungan dimana keadilan sosial masih kurang berkembang. Dalam Alkitab perjanjian lama, kasus nepotisme banyak terjadi. Apa yang dilakukan imam Eli kepada anak-anaknya – dengan membiarkan mereka berlaku semaunya di kemah suci, merupakan contoh bagaimana nepotisme bisa membawa malapetaka (1 Samuel 2: 11 – 16). Agaknya mengherankan bahwa sekalipun imam Eli dan anak-anaknya mendapat hukuman berat dari Tuhan karena nepotisme, umat Kristen di sepanjang sejarah gereja masih kurang mau berusaha untuk menghilangkan hal yang jelas dibenci Tuhan.

Nepotisme bukan hanya menyangkut perlakuan istimewa (special treatment) kepada sanak saudara saja, tetapi bisa juga kepada mereka yang dianggap teman, sesuku, segolongan, kaya, pandai atau ternama. Sekalipun sering terlihat, nepotisme adalah hal yang jarang dibahas dan bahkan tabu untuk dibicarakan di kalangan umat Kristen, walaupun orang Kristen seharusnya tahu bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah sama dan sederajat. Apalagi, Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya.

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5: 15

Pagi ini, jika kita ke gereja, kita akan bisa melihat banyak orang yang ingin berbakti kepada Tuhan. Sama seperti kita, mereka yang dulunya adalah orang-orang berdosa, sekarang sudah diselamatkan karena iman. Sekalipun mereka mempunyai berbagai ragam latar belakang sosial, budaya, pendidikan dan ekonomi, mereka semua adalah saudara-saudara kita dalam Kristus. Adalah tepat bahwa ayat Yakobus 2: 9 diatas mengingatkan bahwa sebagai orang Kristen kita tidak boleh membeda-bedakan mereka berdasarkan status mereka.

“Sebab Allah tidak memandang bulu.” Roma 2: 11

Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita, bukan hanya saudara-saudara kita. Biarlah melalui hidup anak-anak Tuhan, makin banyak orang yang mau percaya karena kasih Tuhan dan karena kasih kita tidak membeda-bedakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 4: 45

Mengabdi kepada Tuhan sepanjang hari

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16: 14

Bekerja sebagai dosen di Australia seperti saya, ada enak dan tidak enaknya. Pekerjaan ini bukanlah seperti pekerjaan lain yang terbatas pada jumlah jam tertentu saja. Mereka yang bekerja di kantor, umumnya mulai bekerja jam 9 pagi dan pulang kerumah sekitar jam 5 sore; dalam sehari mereka bekerja sekitar 7,5 jam. Tetapi, seorang dosen tidak selalu mulai bekerja pada waktu yang sama, karena jam kerja adalah cukup fleksibel. Terkadang saya berangkat ke kantor jam 8 pagi, tetapi bisa juga jam 10 pagi, semua tergantung tugas apa yang harus dikerjakan hari itu. Kebanyakan dosen bisa bekerja dari kantor atau dari rumah dengan memakai komputer, dan biasanya bekerja setidaknya 38 jam dalam seminggu. Tetapi pada saat yang diperlukan, seorang dosen harus bekerja dua kali lebih banyak, misalnya pada saat-saat memeriksa hasil ujian atau mempersiapkan riset.

Memang bekerja itu perlu untuk mencari penghasilan. Tanpa bekerja, manusia umumnya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Jika dalam sehari orang menghabiskan waktu setidaknya 8 jam untuk bekerja, 2 jam untuk persiapan kerja dan perjalanan, dan 7 jam untuk tidur, apa yang tersisa tidaklah banyak, hanya 7 jam saja. Bagi seseorang yang mempunyai berbagai aktivitas dan kegiatan lain, waktu yang tersisa untuk keluarga mungkin hanya 1-2 jam sehari, dan untuk Tuhan mungkin tidak ada yang tersisa, kecuali pada hari Minggu jika sempat ke gereja.

Bagaimana kita bisa hidup sebagai anggota keluarga yang baik dengan terbatasnya waktu? Dan bagaimana pula kita bisa menjadi anggota keluarga Kristus jika kita sudah sulit untuk menyediakan waktu untuk Tuhan dan orang-orang disekitar kita? Inilah masalah yang dihadapi banyak orang Kristen. Karena itu, bagi sebagian orang Kristen, kedekatan kepada Tuhan itu adalah tugas rohani yang diwakilkan kepada para pendeta dan pemimpin gereja, mereka yang hidup sebagai rohaniawan.

Ayat diatas sering ditafsirkan dalam konteks fokus hidup manusia. Mereka yang hanya memikirkan harta duniawi, tidak akan bisa membaktikan diri kepada Tuhan. Perhatian manusia tidak dapat dibagi dua: sebagian untuk Mamon, dewa uang, dan sebagian lagi untuk Tuhan semesta alam. Tetapi, ayat ini sebenarnya juga menyangkut segala aspek jasmani kehidupan kita dan bukan hanya soal uang. Mereka yang menggunakan hidup dan waktu hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan kepentingan diri sendiri, tidak akan bisa memenuhi kebutuhan rohani, yaitu kedekatan dengan Tuhan. Karena itu, mereka yang hanya hidup untuk hal jasmani, lambat laun akan sakit dan mati rohaninya.

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Bagaimana kita bisa hidup sehat, baik secara jasmani dan juga secara rohani, jika kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan? Pertanyaan bagus yang mungkin sulit dijawab, apalagi karena kita sadar bahwa waktu yang kita punyai adalah terbatas. Tetapi jawab pertanyaan itu ada dalam Alkitab. Alkitab adalah firman Tuhan yang diberikan kepada manusia sebagai pedoman hidup yang bisa dilaksanakan manusia dengan pertolongan Tuhan. Alkitab bukan buku hanya teori psikologi seperti apa yang ditulis oleh guru-guru dan para pembicara terkenal. Alkitab juga bukan buku mantra yang bisa membuat segala sesuatu terjadi secara ajaib. Sebaliknya, Alkitab memberi kita bimbingan sehingga kita bisa memakai dan menjalani hidup kita ini sesuai dengan kehendak Tuhan.

Apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa membaktikan diri hanya kepada Tuhan? Hanya ada satu cara, yaitu dengan mengikut-sertakan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Dengan demikian, Tuhan akan beserta kita pada setiap saat dan keadaan, dan kita berjalan bersama Dia sepanjang hari. Jika Tuhan adalah tuan dan pemimpin kita, komunikasi kita dengan Dia haruslah berjalan terus, dimanapun kita berada dan dalam apapun yang kita kerjakan. Dalam sehari ada 24 jam, dan selama itu Tuhan mengharapkan kita untuk menghormati Dia dan menurut perintahNya.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Menjadi teladan itu tidak mudah

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12

Jika saya mengingat masa muda, mau tidak mau saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Semasa muda saya ingin cepat-cepat menjadi dewasa, agar orang dewasa mau menghargai pendapat saya dan tidak menganggap saya kurang pengalaman. Sekarang, sesudah menjadi tua, saya ingin kembali menjadi muda, agar orang muda mau menerima pendapat saya dan tidak menganggap saya ketinggalan zaman!

Apa yang bisa kita lakukan agar orang mau menerima pendapat kita? Mereka yang pernah menjadi pemimpin, entah itu di pramuka, keluarga, gereja, kantor dan negara tahu bahwa orang mau menghargai kita jika kita bisa dipercaya, trustworthy. Mereka yang pandai berbicara dan bagus penampilannya mungkin bisa menarik perhatian orang untuk sementara, sampai saat dimana kualitas yang sebenarnya bisa terlihat dengan sepenuhnya. Apa yang palsu pada lambat laun akan ketahuan juga.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada Timotius, rekan juniornya. Paulus menulis untuk membesarkan hati Timotius, agar dia jangan sampai berkecil hati, sekalipun ia masih muda. Memang hal berkecil hati itu bisa membuat seseorang merasa tidak berdaya atau kurang mampu untuk memimpin orang lain. Tetapi siapa yang mau menjadi pemimpin, haruslah mempunyai “percaya diri”. Percaya diri yang bagaimana, itulah yang belum tentu dimengerti manusia yang tidak mengenal Kristus.

Orang seringkali berusaha memperoleh percaya diri dengan berbagai cara. Mungkin saja dengan menonton penampilan para motivator dan mengikuti ajaran mereka. Atau dengan memakai pakaian dan perhiasan mahal. Mungkin juga dengan memakai model rambut dan jenggot yang istimewa. Bahkan ada juga orang yang selalu bermanis-manis atau bertingkah garang di depan umum. Semua ini umumnya dilakukan untuk membuat impresi, dan untuk mencari kemuliaan bagi diri sendiri.

Bagaimana orang Kristen bisa memperoleh percaya diri dan menjadi teladan bagi orang lain? Dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa mereka yang disertai Tuhan mempunyai keyakinan untuk bisa mengatasi keadaan dan dengan demikian mampu menjadi pemimpin teladan masyarakat di sekelilingnya. Abraham, Yusuf dan Musa adalah beberapa diantara mereka. Tetapi, mengapa Tuhan mau menyertai mereka? Tuhan menyertai mereka karena ketaatan mereka kepadaNya.

Pagi ini, jika kita ingin untuk menjadi teladan dan mempunyai percaya diri, firman Tuhan berkata bahwa kita harus menjaga perkataan dan tingkah laku kita. Selain itu kita bisa menunjukkan kasih, kesetiaan dan kesucian dalam hidup kita. Baik kita bekerja di lingkungan keluarga, sekolah, universitas, kantor, gereja dan negara, faktor usia bukanlah yang penting untuk menjadi teladan. Hidup kita yang sebenarnya, yaitu hidup sebagai umat Kristen, itulah yang akan disorot masyarakat. Lebih dari itu, jika kita hidup untuk Tuhan dan berjalan sesuai dengan firmanNya, Tuhan akan memberkati kita dengan berbagai berkat karunia sehingga kita makin mampu menjadi teladan bagi banyak orang untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Hal mengejar kepuasan hidup

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Matius 5: 6

Jam berapa anda biasanya makan malam? Ada orang yang selalu makan malam pada jam tertentu; lapar atau tidak lapar, itu harus dilakukan. Tetapi ada pula orang yang menunggu sampai perut terasa lapar. Memang jika perut belum lapar, kata orang, makanan yang enak bagaimanapun akan terasa kurang “sreg”. Sebaliknya, jika perut kita lapar dan mulut terasa haus, makanan dan minuman apapun terasa enak dan menyegarkan. Kemampuan untuk merasa lapar adalah berkat Tuhan agar kita bisa merasakan kasih karuniaNya dan bersyukur kepadaNya.

Rasa lapar di perut dan rasa haus di mulut adalah rasa lapar jasmani. Selama  di dunia, semua makhluk hidup harus mencukupi kebutuhan jasmaninya. Karena itu, mereka harus mempunyai gairah untuk makan dan minum agar energi baru untuk tubuh bisa diterima dan dipakai untuk pertumbuhan atau kesehatan badan. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia bukannya hanya terdiri dari jasmani saja, tetapi juga rohani. Untuk bisa bertumbuh dalam hal rohani, perlu adanya firman Tuhan yang masuk untuk menyegarkan jiwa kita. Sayang sekali, sebagai makhluk yang paling pandai di alam semesta ini, tidak semua manusia menyadari kebutuhan rohaninya. Kebanyakan orang bisa melihat berbagai kebutuhan jasmani dan mau berjuang mati-matian untuk mencapai kepuasan, tetapi dalam hal rohani mereka agaknya kurang peduli.

Mereka yang sadar akan adanya faktor rohani dalam hidup ini, mungkin mencari kepuasan dari hal-hal yang bukan bersifat kebendaan. Mungkin mereka mencari kebahagiaan dalam pendekatan alam semesta, atau dalam merenungkan ajaran filsuf-filsuf dan guru-guru agama. Bahkan ada juga yang merasa berbahagia jika dapat mengasingkan diri ke tempat yang sepi dan membaca ayat-ayat dari buku suci mereka. Tetapi jika apa yang mereka cari bukanlah kebenaran yang sejati, rasa puas dalam kehidupan tidaklah akan tercapai. Hidup mereka dalam pandangan orang lain mungkin nampak bahagia, tetapi jika mereka tidak mengerti apa arti hidup ini, kekosongan selalu ada dalam hati mereka. Untuk apa hidup ini? Mengapa ada penderitaan dalam hidup? Apa arti keadilan Tuhan? Apa arti segala kepandaian, kesuksesan dan kemegahan yang aku punyai? Siapakah aku ini di antara segala apa yang ada di alam semesta? Kemanakah aku pergi setelah aku mati?

Pagi ini ayat diatas seharusnya menyadarkan kita bahwa jika Tuhan memberikan rasa lapar dan haus dalam hal jasmani kepada kita agar kita bisa menikmati segala berkat makanan dan minuman yang Ia berikan, begitu pula Ia memberikan rasa lapar dan haus untuk rohani kita, agar kita bisa merasakan perlunya bagi kita untuk mendapat kebenaran dari Tuhan yang akan memberi kepuasan dan kedamaian hati.

Banyak orang yang menolak tawaran untuk makan atau minum untuk pertumbuhan rohani mereka karena merasa waktunya belum tepat; dan banyak juga yang tidak mau karena belum merasa lapar atau haus. Ada juga mereka yang hanya mau makan dan minum jika apa yang disajikan sesuai dengan selera mereka. Sekalipun panggilan Tuhan sudah dibisikkan berkali-kali, sebagian tetap mengeraskan hati dan mencoba menutupi rasa lapar dan haus mereka akan kebenaran.

Tahukah anda apa arti hidup anda? Yakinkah anda bahwa anda sudah mencapai segalanya? Ataukah anda masih mendambakan adanya kedamaian, kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup? Tuhan sudah memberikan rasa lapar dan haus akan kebenaran kepada kita, dan karena itu kita harus menyambut karuniaNya dengan kemauan untuk menerima dan menikmati segala berkat rohani yang sudah dipersiapkanNya untuk kita.

Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6: 35

Dimanakah Engkau Tuhan?

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” Mazmur 22: 1

Ayat diatas yang diambil dari Alkitab perjanjian lama bunyinya tidak asing untuk kita. Dalam perjanjian baru ada ayat yang serupa. Yesus Kristus ketika tergantung di kayu salib, juga mengucapkan seruan yang serupa menjelang ajalnya. Menurut Markus 15: 34, pada jam tiga hari itu, berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mengapa Yesus, Anak Allah, menyerukan jeritan seperti itu? Bukankah Ia tahu bahwa penyalibanNya adalah bagian misi penyelamatan umat manusia? Tidakkah Ia sadar bahwa Allah Bapa dan diriNya adalah satu dan tidak terpisahkan? Mungkinkah Dia dalam penderitaanNya merasa bahwa semua itu terasa sangat berat?

Yesus dalam tugasNya untuk melaksanakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia memang harus merendahkan diriNya seperti manusia. Dengan itu Ia menjadi manusia dalam segala sesuatunya, kecuali dalam hal dosa. Dengan pengurbananNya, Ia dengan sepenuhnya membayar hutang umat manusia.

Seruan Yesus di kayu salib adalah mewakili umat manusia yang menderita, seperti pemazmur yang juga mengalami hal yang serupa. Bahwa sebagai manusia, Yesus bisa merasakan bahwa terkadang tantangan hidup dan penderitaan manusia adalah begitu besar, sehingga Tuhan yang di surga terasa jauh dan diluar jangkauan. Yesus benar-benar menjadi manusia dalam penderitaanNya supaya Ia bisa menjadi perantara antara manusia yang berdosa dan Allah yang mahasuci.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Yesus adalah pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa. Yesus jugalah yang memberi pengharapan bagi setiap orang yang percaya bahwa Tuhan kita tahu apa yang kita derita selama kita hidup di dunia. Jika kita bisa mengalami kesepian, rasa sakit, siksaan, fitnah, umpatan dan penderitaan lain dalam hidup kita, Yesus pun bisa merasakan agony, sama seperti kita.

Apa yang dijeritkan oleh pemazmur dan Yesus juga menunjukkan adanya dua hal yang sangat penting bagi kita orang percaya. Yang pertama adalah bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar jeritan kita. Tidaklah ada gunanya jika kita memanggil nama seseorang untuk meminta tolong, jika orang yang dipanggil itu tidak ada, atau tidak mempunyai empati. Yang kedua, jeritan itu menunjukkan bahwa hubungan antara yang menjerit dan Tuhan adalah sangat dekat, seperti hubungan seorang anak dan bapanya.

Dengan jeritanNya, Yesus memberi contoh kepada kita yang sekarang sedang mengalami perjuangan berat. Kita yang sudah diselamatkan oleh darah Kristus adalah anak-anak Allah, yang berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita boleh dengan keyakinan menjerit kepadaNya untuk meminta tolong, dan juga dengan keyakinan bahwa pada saatnya, Bapa kita akan memberi kelepasan.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pagi ini, jika beban hidup terasa menghimpit kita dan tidak ada seorang pun yang mengerti atau bisa menolong kita, kita harus ingat bahwa Yesus pernah mengalami hal yang serupa. Seperti Yesus, kita boleh berseru kepada Bapa kita: Eloi, Eloi, lama sabakhtani?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 16: 33

Sudah lahir baru?

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Apapun pengertian lahir baru itu, ayat diatas menyatakan bahwa hanya orang yang benar-benar dilahirkan kembali, akan menerima penyelamatan.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan dimana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan dimana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, disebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali, hidup lamanya yang penuh dosa, sudah menjadi putih bersih melalui pengampunan Tuhan.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Pagi ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Jika ada orang yang mempertanyakan mengapa kita berusaha untuk makin hari makin baik, kita tahu jawabnya. Perbuatan baik adalah sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap memilih untuk hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum menerima karunia hidup baru dari Tuhan. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Apa lagi yang masih kurang?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5 – 7

Keberhasilan adalah satu hal yang masih diidam-idamkan banyak orang. Walaupun dalam pandangan umum sebagian orang mungkin sudah cukup berhasil dalam hidupnya, banyak diantara mereka yang dianggap sukses masih belum juga puas dengan apa yang sudah dicapainya. Menggantungkan cita-cita setinggi langit mungkin adalah pedoman hidup mereka, dan karena itu seringkali rasa tidak puas timbul, secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, keadaan yang lebih buruk bisa terjadi jika lingkungan yang ada selalu menekankan pentingnya kesuksesan lahiriah sebagai bukti kasih Tuhan.

Perasaan bahwa Tuhan kurang adil atau pertanyaan mengapa orang lain sukses sedangkan aku tidak, seringkali muncul dalam hati dan pikiran manusia. Hal ini tentu saja bisa membuat hidup orang yang bersangkutan menjadi suram hidupnya atau miserable. Apa salahku? Mengapa Tuhan tidak adil? Perasaan gundah bisa makin menjadi jika pemimpin gereja sering menghubungkan kesuksesan manusia dengan ukuran iman mereka. Perasaan bersalah bisa timbul karena iman yang dirasakan kecil. Manusia menjadi lupa bahwa iman datang dari Tuhan, dan kesuksesan menurut ukuran dan standar manusia tidaklah sama dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Pagi ini, kita mencoba memahami apakah Tuhan menghendaki umatNya sukses, dan jika itu benar, kesuksesan yang bagaimanakah yang dikehedakiNya? Apakah Tuhan mengukur kesuksesan anak-anakNya dari kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan kekuatan mereka? Dalam hal ini jawaban pertanyaan diatas mudah didapat jika kita ingat bahwa misi Yesus ke dunia sudah berhasil atau sukses bukan karena sebagai anak Allah ia sudah menunjukkan kekayaan dan kebesaranNya kepada seisi dunia. Kesuksesan Yesus adalah keberhasilanNya untuk menggenapi kehendak Allah Bapa untuk menjadi manusia yang sederhana tetapi taat kepada panggilanNya untuk menebus dosa manusia.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Ayat diatas menunjukkan bahwa kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus haruslah mau menjadi seperti Dia. Menjadi orang-orang Kristen yang bukan mementingkan kesuksesan dalam mengumpulkan harta, membina karir dan mencapai kemuliaan duniawi, tetapi mencari kesuksesan dalam usaha menambahkan iman kita dengan kebajikan, pengetahuan akan kebenaran, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih akan semua orang. Berbeda dengan orang-orang yang mementingkan harta duniawi, orang Kristen sejati selalu mementingkan harta surgawi yang tidak bisa lenyap, yang membuat mereka makin sukses dalam hal mengenal Juruselamat mereka, Yesus Kristus.

“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 2 Petrus 1: 8