Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Toowoomba, Queensland, Australia,

Andreas

Mengikut Yesus itu tidak mudah

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 20

Dalam perjalanan ke luar negeri baru-baru ini saya mendapat kesempatan untuk membandingkan keadaan sosial-ekonomi dari beberapa negara. Dalam beberapa negara yang ekonominya kuat, saya membayangkan tentunya tidak ada orang gelandangan (homeless people) di tengah kota. Harapan saya ternyata adalah hampa karena agaknya keadaan ekonomi sebuah negara belum tentu seirama dengan keadaan sosial rakyatnya.

Di beberapa negara yang termasuk kaya, saya bisa menjumpai adanya orang gelandangan yang meminta-minta. Sekalipun mungkin ada hukum setempat yang melarang orang hidup seperti itu, saya masih bisa melihat adanya orang-orang yang berjalan kaki dengan pakaian lusuh dan peralatan yang jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Saya tidak dapat membayangkan betapa beratnya hidup mereka, apalagi jika musim dingin tiba.

Sudah tentu penyebab orang untuk menjadi gelandangan ada berbagai macam. Sebagian orang mungkin dipaksa oleh keadaan seperti kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, adanya penyakit, atau kehancuran rumah tangga. Tetapi ada juga orang yang kehilangan rumah karena kesalahan sendiri, seperti pemakaian narkoba, kecanduan judi dan kemalasan.

Yesus dalam ayat di atas menjelaskan kepada orang- orang yang ingin mengikut Dia bahwa pada dasarnya mereka harus bisa hidup seperti Dia. Yesus adalah Anak Allah, tetapi selama Ia memberitakan kabar keselamatan di dunia, Ia tidak mempunyai tempat tinggal. Yesus adalah orang gelandangan. Karena itu, orang yang ingin mengikut Dia haruslah mau dan siap untuk menjadi homeless. Yesus direndahkan sedemikian rupa, bukan karena kesalahan yang diperbuatNya, tetapi karena dosa umat manusia yang perlu ditebusNya. Menjadi pengikut Yesus bukanlah gampang.

Di zaman ini, jika kita ingin mengikut Yesus dan menjadi umatNya, kita tidak lagi perlu menjadi gelandangan. Tuhan Yesus sudah menyelesaikan tugasNya. Tetapi inti ayat di atas tetap sama: menjadi pengikut Yesus bukanlah gampang. Jika kita ingin mengikut Dia, itu berarti mendahulukan kepentinganNya dan melupakan ambisi pribadi kita. Kita harus siap menjalankan tugas-tugas yang diberikanNya kepada kita. Kita tidak dapat berhamba kepada dua tuan (Matius 6: 24). Kita tidak dapat mengikut Yesus jika hidup, pikiran dan tenaga kita dipakai untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan duniawi saja.

Firman di atas berkata bahwa untuk mengikut Dia kita harus siap mengurbankan kepentingan pribadi kita. Jika kita ingin menjadi umatNya tetapi mengharapkan Tuhan akan membayar kita dengan berbagai kenikmatan hidup, kita akan kecewa. Harga yang termahal untuk menebus kita sudah dibayarNya, dan karena itu kita mempunyai kewajiban untuk membalas kasihNya dan melayaniNya dengan menempatkan kepentinganNya sebagai hal yang paling utama dalam hidup kita.

Tetaplah berpegang pada satu kebenaran

“Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.” Imamat 19: 19

Pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.

Dengan perubahan yang terjadi di zaman modern, banyak orang yang merasa “maju” jika mereka bisa hidup bersama dengan damai bersama orang yang sebenarnya berpandangan hidup yang sangat berbeda. Hal yang sedemikian adalah baik, dan Alkitab memang menunjang prinsip kesamaan derajat antar umat manusia. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat digolongkan sebagai umat Tuhan. Ada orang yang dapat digolongkan sebagai domba Yesus dan gandum, tetapi ada pula yang bukan termasuk dombaNya (Yohanes 10: 26) dan mungkin bisa tergolong jenis lalang (Matius 13: 38).

Agama memang adalah salah satu hal yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Dalam lagu “Imagine“, John Lennon membayangkan betapa dunia akan tenteram jika tidak ada agama. Itu ada benarnya, tetapi dalam hal hidup beragama hal yang jahat biasanya bukan karena adanya perbedaan agama, tetapi karena adanya manusia yang memutar-balikkan ajaran agamanya sehingga timbul permusuhan antar sesama manusia. Adanya perbedaan dalam hidup tidaklah dapat dihilangkan, tetapi tidaklah harus menimbulkan kebencian. Pada pihak yang lain, mereka yang berusaha menghilangkan kebencian dengan menghilangkan perbedaan, bisa melenyapkan kebenaran.

Ayat di atas menunjukkan adanya perbedaan: ada dua jenis ternak, ada dua jenis benih dan ada dua jenis bahan pakaian. Walaupun demikian, isi ayat itu bukanlah mengenai 3 jenis perbedaan itu. Ayat itu menggambarkan perbedaan antara umat Tuhan dan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kedua kelompok ini adalah ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, tetapi sangat berbeda dalam hal iman, sehingga keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Mereka yang beriman, tetapi menerima cara hidup orang yang tidak beriman, lambat laun akan berubah gaya hidupnya dan menjalani hidup seperti orang yang tidak beriman. Mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi juga bisa menerima pendapat bahwa ada jalan lain menuju ke surga, lambat laun akan berpendapat bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat percaya kita harus menghargai semua ciptaan Tuhan, dan itu termasuk sesama manusia. Walaupun demikian, kita tidak boleh membiarkan diri kita dipengaruhi pandangan dunia, yang memperbolehkan pandangan apapun untuk dicampur-aduk demi terciptanya keadaan “harmonis” menurut pandangan manusia. Perbedaan antara terang dan kegelapan adalah suatu kenyataan yang harus diterima, tetapi apa yang terang tidak boleh dibuat menjadi remang-remang dengan adanya kegelapan. Sebaliknya, apa yang terang haruslah bisa membuat apa yang gelap berubah menjadi terang.

Semua manusia adalah sederajat

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Di zaman ini, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari, seringkali ada opini yang menyudutkan golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?

Hal membeda-bedakan manusia tidak dapat dipisahkan dari kenyataan tentang adanya manusia yang berbeda penampilan, kebudayaan, bahasa dan cara hidupnya. Dari manakah asal umat manusia itu dan bagaimana pula mereka bisa menyebar dan menjadi manusia yang kelihatan berbeda adalah hal-hal yang sering dipertanyakan orang sejak dulu.

Bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, tentunya ada keyakinan bahwa semua umat manusia di dunia ini adalah sebuah ciptaan Tuhan. Dengan berlalunya waktu, perubahan perlahan-lahan terjadi, tetapi semua manusia pada hakikatnya adalah sejenis.

Bagi mereka yang mendalami ilmu genetika, manusia dengan segala bentuk badan, rupa dan warna kulit mereka, tidaklah menyatakan bahwa mereka adalah makhluk yang berlainan. Sebaliknya, manusia berdasarkan genetika adalah makhluk yang homogen dan hampir tidak berbeda. Kebanyakan bukti genetika dan arkeologi menunjuk pada satu tempat di sebelah timur Afrika, dari mana manusia kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Jika satu kelompok manusia merasa lebih baik dari kelompok yang lain, biasanya itu disebabkan oleh ketidaksadaran atau ignorance bahwa semua manusia pada dasarnya berasal dari satu tempat, dan dengan demikian adalah sebangsa. Dengan kehendak Tuhan, manusia kemudian nenyebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, bagi umat Kristen semua manusia dan dimanapun mereka berada adalah ciptaan Tuhan yang sederajat. Lebih dari itu, Tuhan mengasihi setiap orang dan mengurbankan AnakNya untuk menebus siapa saja yang percaya tanpa memandang asal usulnya (Yohanes 3: 16), sehingga pada saatnya semua umatNya akan dipersatukan di surga.

Adalah suatu hal yang menyedihkan bahwa ada orang-orang yang senang membesar-besarkan perbedaan dan asal usul umat manusia. Bagi umat Kristen, hal yang sedemikian seolah berarti bahwa Tuhan pada awalnya menciptakan manusia yang berbeda jenis dan kelas di berbagai tempat di dunia. Pandangan sedemikian juga membuat seolah Tuhan lebih mengasihi orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu karena mereka lebih baik dari bangsa yang lain.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan seluruh umat manusia, dan terutama umat Kristen bahwa setiap insan adalah ciptaan Tuhan yang harus menerima perlakuan dan penghargaan yang sama dimana pun mereka berada. Lebih dari itu, sebagai umat Kristen kita terpanggil untuk menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia yang tanpa perkecualian sudah jatuh kedalam dosa.

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4: 32

Tidak semua orang mengenal Yesus

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Yohanes 10: 14

Cuaca hari ini sangat cerah dan memberi kesempatan bagi saya untuk bisa duduk di sebuah cafe, mengamati kesibukan orang yang berlalu-lalang di tengah kota. Segala jenis manusia bisa terlihat, baik tua atau muda, pria atau wanita, dan dari bermacam bangsa.

Melihat manusia yang berbagai jenis dan rupa itu, mau tidak mau saya menjadi kagum atas kebesaran Tuhan. Bukan saja Tuhan sudah menciptakan berbagai jenis binatang dan tumbuhan, Ia juga menciptakan manusia yang mempunyai ciri-ciri penampilan yang berbeda dan tersebar di seluruh penjuru dunia, sekalipun pada mulanya berasal dari ciptaanNya yang satu jenis di satu tempat saja.

Melihat banyaknya orang yang lewat di depan saya, saya mau tidak mau merasa bersyukur bahwa Tuhan jelas mengasihi seluruh umat manusia dan memberkati mereka sehingga mereka maju dalam segala bidang kehidupan selama abad-abad yang silam. Walaupun demikian, saya tahu bahwa tidak semua orang yang saya lihat mau dan bisa menyadari besarnya kasih pemeliharaan Tuhan dalam hidup mereka.

Jika Tuhan secara umum mengasihi setiap manusia, sebagian manusia memilih untuk melupakan Tuhan. Dari Alkitab dan juga sejarah kita bisa menyadari bahwa banyak orang yang tidak mau untuk percaya bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada dan perlu untuk disembah. Mereka memilih untuk hidup bebas menurut apa yang disukai.

Begitu banyak orang yang hidup di dunia, tetapi tidak semua orang akan diselamatkan. Ini adalah sebuah kenyataan yang mungkin bisa membawa rasa sedih dalam hati kita. Tuhan sebenarnya mengasihi semua orang dan segala bangsa, tetapi sebagian orang mengabaikan kasihNya yang sudah dinyatakan dalam pengurbanan Yesus. Selain itu, ada juga orang yang mengenal nama Tuhan dan Yesus tetapi tidak mau hidup sebagai dombaNya, yaitu orang yang menurut firmanNya. Tetapi, patutkah kita hanya melihat kehidupan orang lain?

Pagi ini, pertanyaan ada untuk kita semua: apakah kita sendiri sudah benar-benar menjadi domba-domba Kristus. Jika ya, tentunya hidup kita bukanlah menurut kehendak kita sendiri. Jika kita memang adalah domba Yesus, kita tentu bisa menyadari betapa besarnya kasih Tuhan dan mau mengikuti langkahNya setiap saat dan keadaan. Tidak semua orang benar-benar mengenal Yesus!

Perspektif kehidupan manusia

“Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.” Yakobus 1: 9 – 10

Hari ini saya pergi ke sebuah museum di Copenhagen. Sebenarnya saya bukanlah orang yang gemar mengunjungi museum, tetapi saya menyempatkan diri karena kebetulan museum itu dibuka gratis untuk umum.

Dalam kunjungan itu, saya melihat koleksi patung-patung kuno dari beberapa kaisar Romawi yang dibuat pada zaman kelahiran Yesus sampai abad ketiga Masehi. Walaupun patung kaisar Romawi yang pertama, Augustus, tidak saya temukan, patung penggantinya yaitu kaisar Tiberius ternyata ada. Begitu juga patung kaisar ketiga yaitu Caligula, yang terkenal sangat kejam.

Melihat patung-patung kaisar yang dipamerkan dalam museum itu, pikiran saya mau tidak mau melayang ke zaman dimana mereka masih hidup dan berkuasa. Sudah tentu karena mereka pada saat itu adalah kaisar-kaisar yang berkuasa, patung-patung itu dibuat oleh artis-artis untuk mengabadikan “kebesaran” mereka. Dua ribu tahun kemudian, tidak hanya mereka sudah meninggalkan dunia ini, patung-patung mereka pun tidaklah terlihat lengkap bagiannya.

Begitulah nasib manusia yang fana di dunia ini. Mereka yang dulunya jaya, akhirnya akan lenyap seperti bunga rumput, tulis rasul Yakobus. Sebaliknya, Yakobus menulis bahwa mereka yang sekarang menderita boleh bermegah karena mereka akan dihargai Tuhan.

Rasul Yakobus sudah tentu tidak bermaksud bahwa umat Tuhan harus menghindari kejayaan dan kekayaan. Tetapi memang mereka yang perspektif hidupnya hanya untuk mencari kejayaan dan kekayaan akan direndahkan Tuhan karena hidup mereka yang tidak dipakai untuk memuliakanNya.

Tuhan membenci mereka yang sombong dan merasa yakin akan kemampuan diri sendiri. Mereka yang selalu mengejar kejayaan dan kekayaan, pada akhirnya akan kecewa karena semua yang mereka capai di dunia ini pada akhirnya akan hilang lenyap.

Pada pihak yang lain, mereka yang pada saat ini merasa bahwa dunia menempatkan mereka pada posisi yang rendah tidaklah perlu berkecil hati karena Tuhan akan meninggikan mereka jika mereka selalu mau hidup bergantung pada Tuhan. Bagaimana pula dengan perspektif hidup anda?

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14: 11

Hidup memang sering terasa tidak adil

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Bagi saya, perjalanan ke luar negeri sering membawa berbagai kesan. Selain kesan yang baik, kesan yang kurang baik juga bisa muncul. Di beberapa negara jelas terlihat bahwa rakyat hidup dalam kecukupan, sehingga mereka yang tidak mempunyai posisi tinggi pun tetap dapat menikmati berbagai hal yang tergolong mewah di negara lain.

Melihat mobil-mobil taksi di beberapa negara Eropa yang berlogo bintang berujung tiga, saya hanya bisa menghela nafas karena mobil semacam itu digolongkan sebagai mobil mewah di Australia. Walaupun demikian, saya merasa sedih ketika melihat pengemis yang duduk di tengah keramaian daerah pertokoan. Sekalipun sadar bahwa ada orang-orang yang karena kesalahan sendiri terjebak kedalam keadaan itu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa hidup jika musim dingin tiba, karena suhu bisa turun sampai beberapa derajat dibawah nol.

Mungkin tidak ada seorang pun yang bisa membantah kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang adil. Raja Salomo pernah berkata bahwa setiap orang mempunyai “nasib” yang berbeda, dan orang-orang yang berjaya belum tentu disebabkan oleh keunggulan mereka. Sebaliknya, orang yang menderita belum tentu karena kesalahan mereka.

“Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.” Pengkhotbah 9: 11

Mengapa Tuhan membiarkan adanya ketidakadilan di dunia? Apakah Ia adalah Tuhan yang adil? Pertanyaan ini sering diucapkan mereka yang merasakan perbedaan yang ada di antara umat manusia, terutama jika mereka sendiri merasa sebagai orang yang kurang beruntung. Apalagi jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka yang berhasil dan jaya pastilah orang-orang yang dikasihi Tuhan.

Pagi ini ayat pembukaan kita menjelaskan bahwa apa yang kita pandang adil belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak untuk melakukan apa saja yang sesuai dengan rencanaNya.

Manusia yang tidak dapat mengerti mengapa sesuatu yang kurang baik bisa terjadi pada dirinya, sering menjerit: mengapa harus aku? Why me? Tetapi manusia yang sama mungkin tidak pernah memikirkan mengapa ada orang yang harus menderita di sebuah negara yang makmur.

Pagi ini kita diingatkan bahwa dalam setiap keadaan kita harus menyadari bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi pada diri setiap orang. Tuhan yang seolah membiarkan ketidakadilan terjadi di dunia, bermaksud agar setiap manusia sadar bahwa mereka bergantung kepada Dia. Ia juga menghendaki bahwa kita tidak kehilangan rasa belas kasihan kepada mereka yang kurang beruntung.

Tuhan mau agar kita percaya bahwa dalam segala sesuatu Ialah yang memegang kemudi kehidupan manusia. Adanya penderitaan di dunia seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk menolong atau menyadarkan mereka yang mengalami hidup yang berat karena satu dan lain hal. Sebagai umatNya kita harus tetap taat kepadaNya dalam setiap keadaan dan percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahaadil, mahakasih dan mahabijaksana.

Tuhan menghendaki hati kita

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Hosea 6: 7

Siapa saja yang ke Eropa tentu bisa melihat bahwa banyak kota disana yang memiliki gedung-gedung gereja kuno yang sangat indah arsitekturnya. Walaupun demikian, kebanyakan gedung gereja yang besar dan megah itu sekarang cenderung berfungsi sebagai museum daripada sebagai tempat berbakti kepada Tuhan.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak gedung gereja yang indah itu didirikan oleh orang-orang yang berpengaruh dan berharta pada zamannya, tetapi mereka bukanlah contoh orang Kristen yang baik. Mereka mungkin mendirikan gereja-gereja itu sebagai bukti kejayaan dan kekayaan mereka.

Di zaman modern ini, di banyak negara ada juga gedung-gedung gereja besar yang dapat menampung ribuan jemaat. Jemaat yang datang ke gereja itu tentunya dapat menikmati suasana serba mewah, nyaman dan indah yang tersedia. Dengan demikian, mungkin saja sebagian dari jemaat tertarik untuk ke gereja tertentu karena gedung gereja yang megah, modern dan berteknologi canggih.

Sudah tentu adanya fasilitas yang baik untuk berbakti kepada Tuhan itu tidak ada salahnya, kecuali jika semua itu membuat pengenalan akanTuhan sebagai hal yang sekunder saja. Dengan adanya fasilitas yang sangat baik, jemaat bisa lupa bahwa Tuhan sebenarnya tidak menghargai semua kemegahan itu, karena semua itu tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan surga. Ia menyukai kasih setia umatNya dan pengenalan akan Dia, lebih daripada benda-benda buatan manusia yang tidak berharga di mataNya.

Pagi ini jika kita ke gereja, kita harus sadar bahwa jika manusia tidak mempersembahkan hati mereka kepada Tuhan, segala bentuk persembahan dan pujian kepada Tuhan adalah sia-sia. Jika kita berharap bahwa Tuhan akan hadir di tempat yang megah dan mewah sedangkan hati dan hidup kita belum sepenuhnya kita serahkan kepada Dia, harapan kita adalah sesuatu yang sia-sia.