Kenyang atau lapar?

“Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis.” Amsal 27: 7

Dalam perjalanan di New Zealand saya mengunjungi beberapa toko yang menjual cindera mata atau souvenir. Diantara apa yang populer diantara para turis adalah madu Manuka yang dikatakan mengandung berbagai khasiat untuk kesehatan. Dengan harga yang cukup mahal, mereka yang mau membelinya tentunya tidak akan menyia-nyiakannya. Kebanyakan mereka membawa madu itu pulang ke negara masing-masing seperti layaknya barang berharga.

Jika ayat diatas mengatakan bahwa orang yang kenyang menginjak-injak madu, tentunya orang bisa bertanya-tanya apakah orang yang perutnya kenyang akan membuang madu yang berharga dan rasanya enak itu. Bukankah lebih baik untuk menyimpan madu itu untuk bisa dikonsumsi pada saat yang tepat? Disini kita bisa membayangkan bahwa orang yang kenyang dalam ayat itu adalah orang yang yakin bahwa ia sudah mempunyai segalanya dan merasa bahwa madu itu tidak berharga. Orang sedemikian adalah orang yang sombong dan yang sedang hidup dalam kenikmatan, sehingga ia merasa bahwa tidak ada lagi yang dapat menarik perhatiannya. Sekalipun Tuhan menunjukkan kasihNya dan mau memberikan karunia keselamatan melalui Yesus, mereka yang menyukai dan kenyang dengan hal-hal duniawi tidak mau menerimanya. Mereka dengan kata-kata lain menginjak-injak uluran tangan kasih Tuhan.

Jika orang yang merasa kenyang akan menolak tawaran makanan yang enak, bagaimana pula sambutan orang yang lapar atas tawaran makanan? Sudah tentu mereka yang benar-benar lapar tidak akan menyia-nyiakan makanan apapun yang diberikan kepada mereka. Bagi orang yang lapar makanan yang tidak enakpun dirasakan enak. Seperti itu juga, mereka yang mendambakan kebenaran dari Tuhan akan dengan bersyukur menerima kabar baik bahwa mereka akan diselamatkan. Sekalipun hidup di dunia ini terasa berat dan pahit, dalam Kristus mereka menemui kelegaan dan kepuasan.

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Matius 5: 6

Pagi ini, pertanyaan kepada kita yaitu apakah kita merasa bahwa kita sudah penuh dengan segala kenyamanan, kekayaan dan pengetahuan sehingga kita merasa kenyang dan tidak lagi mau menerima kebenaran Tuhan. Apakah kita sudah jenuh akan firman Tuhan, apakah kita sudah muak mendengarkan suaraNya? Berbahagialah orang yang masih dapat merasakan manisnya kasih Tuhan sekalipun hidup ditengah tantangan kehidupan.

Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6: 35

Menikmati hidup itu baik

“Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” Pengkhotbah 2: 24 – 25

Satu hal yang saya sukai ketika mendapat kesempatan untuk mengunjungi negara lain adalah mencoba makanan setempat. Banyak makanan yang dulunya tidak saya kenal, kemudian menjadi makanan favorit saya. Memang kata orang tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mengagumi pemandangan sambil menikmati makanan yang enak. Tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa jika hati kita senang, makanan yang kurang enak pun terasa enak. Kebahagiaan tidak harus bergantung pada kenyamanan hidup.

Memang untuk bisa berbahagia, orang membutuhkan sesuatu yang bisa dinikmati. Ayat diatas seolah mengatakan bahwa kemampuan untuk makan minum dan bersenang-senang adalah hal yang sangat baik. Tetapi, jika diterjemahkan langsung dari bahasa Ibrani, sebenarnya ayat itu justru berbunyi “Tak baik bagi manusia untuk makan dan minum dan berpura-pura senang dalam jerih payahnya“.

Bagaimanapun terjemahannya, ayat diatas tidak dapat dipakai untuk membenarkan kebiasaan orang untuk memburu kenikmatan melalui makanan dan minuman. Ayat diatas juga tidak menyatakan bahwa tidak ada hal yang lebih penting dari menikmati makanan dan minuman. Apa yang dapat kita pelajari sebagai inti dari ayat diatas adalah kenyataan bahwa segala sesuatu yang baik datang dari Tuhan. Lebih dari itu, kemampuan untuk bisa menikmati segala yang baik juga datang dari Tuhan. Karena itu, apa yang terpenting dalam hidup kita bukan kesempatan untuk makan minum dan bersenang-senang, tetapi kesadaran bahwa Tuhan adalah sumber kebahagiaan.

Apa yang penting adalah kemampuan untuk bisa bersyukur atas apapun yang ada, yang bukan hanya atas makanan dan minuman saja. Kebahagiaan kita tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan. Jika hubungan kita dengan Tuhan erat, banyak hal lain yang bisa rasakan sebagai berkatNya. Sebaliknya, siapa dapat merasakan kenikmatan hidup diluar Dia?

Pagi ini, jika kita masih mendambakan kebahagiaan hidup, kita harus sadar bahwa makanan, minuman dan kenikmatan yang serupa hanyalah sebagian kecil dari berkat Tuhan. Jika kita kurang bisa atau tidak bisa menikmati hal-hal itu, tentu ada berkat lain yang sudah kita terima jika saja kita mau menghitungnya satu persatu. Lebih dari semua itu, berkat yang terbesar untuk kita adalah keselamatan jiwa kita melalui Yesus Kristus.

Hal makan dan makanan

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” Kolose 2: 16 – 17

Makanan itu sesuatu yang sangat penting di dunia. Anda setuju? Tentunya semua orang setuju, karena tanpa makan, orang tidak dapat hidup. Bukan saja manusia, tetapi semua makhluk di dunia ini perlu makan. Walaupun demikian, manusia sebagai makhluk yang berbudi-daya, tidaklah puas dengan makanan yang sama setiap hari. Bahkan, manusia tentunya mempunyai diet yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan dan kesehatan tubuhnya. Semboyan kuno yang berbunyi “empat sehat lima sempurna” barangkali bisa mengingatkan kita akan hal ini.

Alkitab dari awal hingga akhir sering menampilkan hal makan dan makanan. Memang kemampuan untuk makan dan membuat makanan adalah berkat karunia Tuhan, tetapi jika disalahgunakan bisa membawa masalah. Kebanyakan makan sudah jelas tidak baik, apalagi kerakusan mungkin bisa dipandang sebagai salah satu dosa utama oleh sebagian orang. Salah makan, bukan saja bisa membuat perut sakit, tetapi juga dapat mendatangkan masalah kesehatan yang serius dan bahkan fatal.

Jika salah makan yang dialami seseorang bisa membawa akibat langsung pada keadaan jasmaninya, adakah makanan yang bisa mempengaruhi keadaan rohaninya? Pertanyaan ini sering didiskusikan orang Kristen sesudah Yesus menyelesaikan tugas penyelamatanNya. Agaknya mengherankan bahwa soal apa yang boleh dan tidak boleh dimakan jarang dipersoalkan oleh Yesus selama Ia hidup di dunia. Dalam hal ini, mereka yang mengerti bahwa tugas utama Yesus adalah untuk menebus dosa manusia tentunya dapat mengerti mengapa Ia tidak mempersoalkan halal atau tidaknya makanan jasmani (Markus 7: 19). Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidaklah bergantung pada soal makanan jasmani.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Pada zaman Perjanjian Lama, hukum Taurat dan segala kaidahnya cukup efektif untuk membimbing dan mempersatukan orang Yahudi dalam soal makan dan makanan. Tetapi masalah makanan mulai muncul dengan pertumbuhan kekristenan dalam masyarakat diluar golongan Yahudi. Memang makanan adalah salah satu produk budaya masyarakat. Setiap masyarakat dan budaya mempunyai cara makan dan jenis makanan yang tersendiri. Orang Yahudi yang merasa lebih tinggi dan beradab dari orang lain tentunya kurang bisa menerima kebiasaan orang lain. Tetapi Tuhan memperingatkan kita bahwa semua makanan adalah halal.

“……Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Kisah Para Rasul 10: 15

Pagi ini, soal makanan mungkin tidak perlu dipikirkan dalam konteks keselamatan kita atau keselamatan orang lain. Tetapi, memilih makanan yang baik untuk memelihara kesehatan jasmani kita adalah perlu. Selain itu, seperti segi kehidupan lainnya, ada hal-hal yang bisa membawa hidup rohani kita makin terasa dekat kepadaNya. Kebiasaan yang kita pandang baik untuk mempererat hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan sesama sudah tentu baik untuk dipertahankan, tetapi kita harus sadar bahwa itu belum tentu baik dan sesuai dengan kebiasaan orang lain.

Firman Tuhan bukan untuk memuaskan keinginan telinga

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4: 3 – 4

Jika anda sempat mengunjungi toko buku, tentu anda bisa melihat adanya berbagai karya tulis yang bisa dibeli. Itu bukti bahwa sekalipun e-book atau buku elekronik sekarang ini makin populer, buku tradisional yang terbuat dari kertas tetap mempunyai banyak penggemar. Apalagi untuk anak-anak, buku dongeng atau fable yang bergambar adalah sesuatu yang disenangi sampai sekarang. Sebaliknya bagi orang dewasa, cerita novel dan fiksi seperti kisah petualangan, kisah cinta dan semacamnya tetap enak untuk dibaca sekalipun tidak bergambar.

Mengapa orang senang membaca cerita fiksi dan dongeng? Mungkin karena orang bisa mendapat kepuasan melalui khayalan. Teringat saya sewaktu anak-anak saya masih kecil, mereka selalu meminta untuk dibacakan dongeng sebelum tidur. Dengan mendengarkan dongeng, mereka menjadi tenang dan kemudian bisa tidur pulas.

Memang dengan mendengar cerita yang indah atau lagu yang merdu, kita bisa terbuai. Selain itu, dengan mata kita bisa mengagumi pemandangan, dengan lidah kita bisa menikmati makanan yang enak, dan dengan hidung kita dapat menghirup aroma yang harum.

Semua indera adalah pemberian Tuhan yang berguna dan bisa membawa kebaikan kepada manusia jika dipakai pada tempatnya. Tetapi iblis tahu bahwa manusia seringkali terlalu mempercayai indera mereka. Karena itu iblis berusaha menipu manusia melalui apa yang dapat mereka lihat, dengar dan rasakan. Manusia yang melihat, mendengar dan merasakan sesuatu sebagai suatu pengalaman seringkali mempercayainya sebagai kebenaran.

Memang seperti apa yang terjadi di taman Firdaus, manusia yang mencari kebenaran hanya melalui indera mudah terjebak dalam hal-hal yang melanggar perintah Tuhan.

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Kejadian 3: 6

Bagaimana pula dengan orang Kristen yang sengaja mencari kepuasan melalui indera? Banyak orang yang ke gereja bukan untuk mencari kepuasan rohani yang benar, tetapi lebih mementingkan kepuasan mata dan telinga mereka, mungkin dengan melihat gedung yang indah dan megah, atau dengan mendengarkan musik yang merdu dan khotbah yang mengandung cerita yang lucu atau memikat. Pusat perhatian jemaat dengan demikian berubah, dari hal memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya, menjadi hal mendapatkan kepuasan mata dan telinga sendiri. Apa yang dipentingkan oleh pimpinan gereja juga berubah, dari hal memuliakan Tuhan menjadi hal mendapatkan perhatian jemaat.

Pagi ini kita membaca dari ayat pembukaan diatas yang mengingatkan kita agar kita tidak memilih apa yang sesuai dengan selera dan keinginan telinga kita dalam hal mendengar dan memahami firman Tuhan. Biarlah kita mau menerima seluruh kebenaran yang berdasarkan Alkitab dan bukannya pengalaman pribadi dan pengajaran populer yang berdasarkan pemikiran manusia.

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Kolose 2: 8

Menjadi pemimpin yang baik

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.“ 1 Petrus 5: 3

Leaders are born not made. Seorang pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibuat, begitu ungkapan yang sering dikumandangkan. Memang ada benarnya bahwa seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang kelihatannya sudah sejak dari kecil tumbuh dengan bakat memimpin orang lain. Walaupun demikian, sebagian ahli jiwa berpendapat bahwa seorang pemimpin adalah dibuat dan bukannya dilahirkan. Hanya melalui pendidikan dan latihan, seorang bisa menjadi pemimpin yang baik. Leaders are made not born.

Mana yang benar? Apakah pemimpin itu dilahirkan sebagai pemimpin atau belajar menjadi pemimpin? Tentu saja mereka yang bisa menjadi pemimpin yang baik adalah orang yang berbakat dari lahir dan memperoleh didikan, latihan dan pengalaman yang cukup. Tidak ada orang yang bisa menjadi pemimpin dunia tanpa menerima gemblengan yang cukup dari orang lain.

Bagi orang Kristen, satu-satunya pemimpin yang dilahirkan dan tidak dibuat adalah Yesus Kristus yang sebagai Allah sudah turun ke dunia sebagai manusia. Ialah pemimpin terbesar, Raja diatas segala raja yang harus dimuliakan. Semua pemimpin lain yang ada di dunia adalah manusia biasa yang bercacat-cela dan yang tidak perlu disembah.

“Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Kisah Para Rasul 5: 31

Jika Yesus adalah Pemimpin manusia yang terbaik, bagaimana orang Kristen bisa menjadi pemimpin yang baik? Dengan mencontoh Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 5 – 7). Ia menjadi pemimpin terbesar karena mau mengurbankan diriNya.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Dengan demikian, pemimpin Kristen yang baik adalah orang yang mau berkurban seperti Yesus, dan bukannya orang yang menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya bisa memerintah dan menyuruh orang lain . Pemimpin yang baik harus mau belajar untuk bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Ia harus mempunyai kasih dan kesabaran serta bisa menghargai seluruh bawahannya.

Pagi ini kita belajar bahwa setiap orang Kristen yang mendapat kesempatan untuk memimpin orang lain, baik dalam negara, perusahaan, masyarakat maupun keluarga, haruslah menjadikan dirinya sebagai orang yang siap bekerja untuk kebaikan orang lain.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 25 – 28

Tuhan melindungi kita

“Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” Yohanes 17: 15

Sejak kelahirannya, seorang anak mendapat perhatian dan bimbingan orangtuanya. Semua orangtua tentunya mengingini anak-anak mereka berhasil dalam hidup mereka. Karena itu, sedapat mungkin orangtua umumnya ingin membantu anak-anaknya sejak dari kecil, melewati masa- masa sekolah, universitas, bahkan sampai mereka bisa berumah-tangga.

Maksudnya baik tetapi caranya sering salah, ada orangtua yang membantu anaknya agar bisa berhasil dalam bersekolah dengan cara-cara yang tidak benar; bahkan untuk bisa masuk dan lulus di universitas idaman, orang tua menggunakan berbagai cara agar itu bisa tercapai. Cara “menebus” atau bail out kepentingan anak ini sangat sering terjadi, terutama di negara-negara berkembang. Cara-cara itu dianggap biasa asal tidak terang-terangan melanggar hukum. Bagi orang tua, hal-hal semacam itu sering dilakukan dengan alasan “cinta kasih” kepada anak-anak mereka. Mereka memang sangat berharap agar anak-anak mereka bisa menjadi orang-orang yang sukses di hari depan.

Benarkah upaya orangtua untuk meringankan hidup anak seperti diatas? Mungkin orangtua yang melakukan hal itu tidak pernah memikirkan bahwa semua cara yang sedemikian bukan hanya membuat anak menjadi manja dan kurang bisa berdiri sendiri, tetapi juga bisa membuat masa depan anak menjadi suram karena mereka tidak terbiasa untuk menghadapi tantangan hidup. Celakanya, anak yang dididik sedemikian, mungkin saja akan mendidik anak mereka dengan cara yang serupa.

Bagaimana pula Tuhan mendidik anak-anakNya? Alkitab menulis bahwa Bapa yang baik tidak memanjakan anaknya.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Tuhan yang mahakasih memberkati umatNya bukannya selalu dengan kenyamanan tapi dengan ketabahan. Ia tidak memberikan kenyamanan yang berlebihan bagi semua umatnya, tetapi dengan apa yang bisa dinikmati dengan rasa cukup dan syukur setiap hari. Yesus memang mengajarkan kita untuk meminta rezeki yang secukupnya untuk hari ini (Matius 6: 11). Ia juga pernah berkata agar kita tidak kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri (Matius 6: 34).

Pagi ini, jika kita merasa hidup kita berat, kita harus sadar bahwa Tuhan tidak ingin memisahkan umatNya dari manusia yang lain dan memberi hidup yang penuh kenyamanan di dunia. Selama hidup di dunia yang penuh dosa ini semua orang akan menghadapi bahaya, tantangan, perjuangan dan masalah. Tetapi bagi umat Tuhan ada satu jaminan bahwa Tuhan tetap akan melindungi mereka. Karena itu kita tidak seharusnya berdoa agar Tuhan membuat hidup kita ringan dan nyaman, tetapi sebaliknya berdoa meminta agar Tuhan memberi kekuatan dan perlindungan dalam menghadapi segala tantangan. Sebab kedamaian, dan bukannya kenyamanan, adalah ciri hidup orang Kristen.

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13: 5 – 6

Yang paling penting dalam hidup

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16: 26

Sampai tahun lalu, setiap tahunnya Australia menerima sekitar 190 ribu migran dari berbagai negara. Sebagian diantara mereka yang datang adalah para pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri dari peperangan dan penindasan yang ada dalam negara masing-masing. Berdasarkan alasan kemanusiaan atau humanitarian, orang-orang yang sudah terseleksi itu datang ke Australia untuk menjadi penduduk tetap.

Bagi mereka yang datang ke Australia, menyesuaikan diri dengan bahasa, hukum dan kebiasaan di Australia adalah suatu tantangan. Banyak migran yang meninggalkan sanak saudaranya di negara asal mereka, merasa bahwa untuk bisa hidup bahagia di negara baru ini adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Adalah kenyataan bahwa sebagian dari para migran ini tidak dapat beradaptasi dan karena itu terpaksa pulang atau dipulangkan ke tempat asalnya dan kehilangan kesempatan untuk menetap di Australia untuk selamanya.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang terpilih untuk diselamatkan karena kasih Kristus. Kita sudah memperoleh izin menetap di surga bukan karena kebaikan atau keistimewaan kita, tetapi karena belas kasihan Tuhan semata. Kita yang dulunya warga dunia, sekarang menjadi warga surga karena Yesus yang datang dari surga sudah menyelamatkan kita.

“Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Yohanes 17: 16

Sebagai orang yang sudah dipilih untuk menjadi warga surga, seharusnya kita bisa melupakan apa yang menjadi pusat perhatian dunia. Uang, gelar, kemasyhuran, kenikmatan tubuh dan berbagai hal badani seharusnya tidak dapat memikat kita lagi. Tetapi, seperti kata ungkapan tentang rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau dibandingkan dengan rumput di halaman sendiri, orang Kristen yang sudah menjadi warga surga, masih sering tertarik untuk mengejar hal-hal duniawi yang nampak gemerlapan, yang dinikmati banyak orang.

Sering terlihat bahwa dalam hidup sehari-hari, sebagian orang yang mengaku Kristen terlihat lebih mirip seperti warga dunia daripada warga surga. Mereka lebih memusatkan perhatian pada usaha mengejar kesuksesan duniawi daripada memuliakan Tuhan. Malahan ada yang sering mengukur dalamnya iman dengan kesuksesan duniawi yang dipunyai. Jelas bahwa sebagian diantara mereka ada yang belum benar-benar mau menjadi warga surga. Selain itu, mereka yang sudah menerima kesempatan untuk hidup baru, tetapi tidak dapat menyesuaikan hidup dengan ajakan firman Tuhan untuk memuliakan Tuhan diatas segalanya, lambat laun tergoda untuk meninggalkan imannya dan kembali menjadi warga dunia. Mereka melupakan Kristus dan menjadi hamba dunia lagi.

Di tahun baru ini, patutlah kita memikirkan kewarganegaraan kita lagi. Yakinkah kita akan keputusan kita untuk mengikut Yesus dan menjadi warga surga? Ataukah kita masih sering tergoda untuk memakai kesempatan guna mencari kepuasan duniawi? Hati kita tidak dapat mendua, karena kita hanya boleh memilih satu saja.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 25