Mengapa kita haus akan mukjizat?

“Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya.” Yohanes 12: 37

Pandemi ini sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun, tetapi sampai sekarang orang tidak bisa menerka kapan dan bagaimana itu akan berakhir. Banyak orang yang berharap bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan-Nya dengan melakukan suatu tindakan yang ajaib, karena kelihatannya manusia sudah menemui jalan buntu.

Tiap hari, jika kita perhatikan, memang ada berita-berita tentang keajaiban yang terjadi di berbagai sudut dunia. Bagi mereka yang percaya adanya kekuasaan Ilahi, kejadian semacam itu adalah sesuatu yang membuat mereka kagum atas kebesaran Tuhan. Sedemikian besar keinginan sebagian diantara mereka untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada dan mahakuasa, mereka sampai-sampai mencari keajaiban dan mukjizat dalam segala bentuknya.

Di kalangan umat Kristen pun ada banyak orang yang selalu mencari pernyataan Tuhan dengan segala ragamnya. Ada orang-orang yang suka menafsirkan proses alami tertentu, seperti bentuk awan dan batu, sebagai penampilan Tuhan. Ada pula mereka yang menyukai orang-orang tertentu yang mengaku utusan Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Lebih dari itu, banyak orang yang gemar mendengar pesan dari mimbar tentang pentingnya memohon agar Tuhan memberi mukjizat bagi umat-Nya.

Adalah hal yang menarik untuk disimak bahwa selama Yesus masih di dunia, Ia tidaklah selalu membuat mukjizat di tempat-tempat yang dikunjungi-Nya. Tuhan Yesus memusatkan tenaga-Nya untuk memberitakan kabar keselamatan dan mengajarkan firman-Nya. Mereka yang mengikut Dia bukanlah selalu mengharapkan adanya mukjizat, tetapi mereka ingin mendengar kabar baik dari Tuhan. Sebagai Anak Allah, kebesaran dan kasih Tuhan Yesus sebenarnya tidak perlu ditopang dengan mukjizat yang memang diperbuat-Nya pada saat-saat tertentu, tetapi sudah dinyatakan dengan kematian dan kebangkitan-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, rasul-rasul harus bekerja keras untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis Yesus. Karena Yesus sudah tidak bersama dengan mereka, tugas untuk mengabarkan injil itu tidaklah mungkin dilaksanakan jika Roh Kudus tidak menyertai mereka. Untuk menambah otoritas mereka, Tuhan juga memberikan kemampuan untuk melakukan berbagai hal yang ajaib agar mereka yang tidak pernah melihat Yesus dan belum pernah mendengar nama-Nya, bisa diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Keadaan pada zaman ini adalah berbeda, karena hampir semua orang di dunia sudah pernah mendengar nama Yesus.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa sekalipun Yesus melakukan banyak mukjizat, sebagian orang tetap tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Bagi mereka, apa yang mereka lihat tidaklah mendatangkan iman. Mungkin hanya sekedar show. Hati mereka tertutup untuk Tuhan. Bagaimana pula jika pandemi ini dilenyapkan Tuhan di bulan depan? Apakah semua orang akan percaya kepada-Nya? Tentu tidak. Kepercayaan manusia kepada Tuhan tidak bergantung pada adanya mukjizat.

Iman adalah percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, kepada Tuhan yang Roh dan kepada kuasa dan kasih-Nya. Karena itu, apa yang terlihat manusia belum tentu bisa membawa kepada iman. Yesus memberi kesempatan kepada Tomas untuk membuktikan dengan mata kepalanya bahwa Ia sudah bangkit. Tetapi Ia juga berkata bahwa adalah lebih baik jika orang bisa percaya dan berserah kepada Tuhan tanpa perlu, dengan mata, melihat keajaiban Ilahi.

Dari manakah iman jika tidak dari perjumpaan dengan kuasa Tuhan? Pertanyaan yang benar, tetapi belum tentu dijawab dengan dengan benar. Karena jawabnya belum tentu mukjizat yang kita lihat dengan mata. Iman datangnya dari Tuhan, yang sudah bekerja dalam hati seseorang. Sekalipun tidak ada mukjizat yang muncul, Roh Kudus terus bekerja untuk membawa manusia kepada iman yang benar. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk memohon agar Tuhan menumbuhkan iman kita setiap hari dalam pergumulan hidup saat ini, daripada memohon agar Tuhan menghilangkan pergumulan hidup kita. Kita harus bisa meyerahkan segala sesuatu kepada Dia. Kehendak Tuhanlah yang harus terjadi di bumi seperti di surga.

Tiap hari, setiap kali kita menghirup udara segar, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban. Tetapi, keajaiban yang terbesar yang dilakukan Tuhan untuk kita adalah datangnya Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Inilah karunia yang terbesar, bahwa sekalipun kita sebenarnya harus mati karena dosa- dosa kita, melalui darah Yesus kita bisa menerima hidup yang kekal. Mengapa pula kita masih mendambakan datangnya mukjizat lain yang tidak dapat dibandingkan dengan pengurbanan Kristus?

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Makin lama makin kenal

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Maria ingin lebih mengenal Yesus

Apakah sepasang pria dan wanita menikah karena mereka dijodohkan Tuhan? Alkitab punya banyak contoh bahwa pasangan seseorang adalah pilihannya sendiri. Walaupun demikian, jika orang Kristen ingin menemukan seorang pendamping, ia akan mendengar suara Tuhan dalam hatinya. Semakin erat hubungan orang itu dengan Tuhan, semakin bijaksana ia dalam melangkahkan kakinya untuk menuju ke masa depan.

Seorang kenalan yang baru merayakan hari ulang tahun ke 50 pernikahannya menyatakan bahwa pernikahan sebagai pilihan dua insan, adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Saya setuju. Memang dengan lamanya pernikahan, hubungan suami-istri bukannya tidak lagi mempunyai masalah. Bahkan sebaliknya, dengan berlalunya waktu suami atau istri akan makin dapat melihat sifat pasangannya dan menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Lamanya pernikahan memang membuat dua orang bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan harus ada, tetapi mereka bisa saling menghormati, saling menerima dan saling percaya. Hubungan kasih antara suami-istri memang mengalami penyataan (revelation) sepanjang hari sampai saat terakhir.

Jika pencerahan terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, bagaimana pula dengan hubungan antara manusia dan Tuhan? Ayat di atas menunjukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi penyataan-Nya melalui Yesus Kristus, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya sekali saja, dan bukan melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum.

Keadaan yang kurang baik di saat ini mungkin sudah membuat banyak orang bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi. Bahkan banyak orang Kristen yang gundah mengapa Tuhan membiarkan banyak umat-Nya, dan bahkan seisi dunia menderita. Mata manusia melihat semua yang ada adalah sia-sia, tetapi bagi Tuhan semua itu ada arti dan tujuannya.

Berbeda dengan hubungan Sang Pencipta dengan dunia, hubungan Tuhan dan umat-Nya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari, melewati gunung dan lembah. Tuhan menyatakan diri-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada mereka yang beriman kepada-Nya dalam setiap keadaan. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pengertian akan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak menerima penyataan dari Tuhan dalam hidup kita.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk mendengar suara-Nya dan melihat kebesaran-Nya. Jika kita merasa yakin bahwa kita sudah mengetahui segala sesuatu, kita tidak mudah belajar dari orang lain atau dari keadaan di sekeliling kita. Jika kita merasa bahwa kita sudah mengerti jalan pikiran Tuhan dengan sepenuhnya, proses pendewasaan iman kita akan berhenti.

Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau menerima dan mendengarkan Dia. Tidak semua orang mengerti bahwa apa yang terlihat sebagai masalah terjadi dengan seizin-Nya. Mereka yang bergantung pada diri sendiri, yang cenderung mengabaikan Tuhan dalam hidupnya, sekarang merasa putus asa. Mereka yang merasa bahwa Tuhan selalu memberikan kenyamanan hidup bagi umat-Nya mungkin merasa kecewa. Memang, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dengan pengenalan yang makin mendalam tentang Tuhan, kita tidak akan mudah untuk kaget, kuatir, takut ataupun kecewa jika ada masalah besar yang terjadi dalam hidup kita. Dengan pengertian akan kesucian-Nya, kita akan bisa makin kuat dalam menghindari godaan iblis. Dengan mengakui kebesaran-Nya, kita juga makin lama makin menyadari kelemahan dan kekurangan kita, sehingga makin lama kita makin beriman kepada-Nya.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu masih bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus-Nya setiap hari? Ataukah anda merasa bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, anda sudah mengenal Dia sepenuhnya dan tidak perlu lagi merenungkan arti apa yang terjadi di zaman ini?

Hari ini, keputusan ada di tangan kita untuk mau membina hubungan yang makin baik dengan Tuhan kita. Tuhan menghendaki setiap umat-Nya untuk mau membuka diri kepada-Nya dan juga mau menerima apa yang dinyatakan-Nya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, iman kita akan tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang penuh tantangan ini dengan keyakinan bahwa kasih-Nya akan senantiasa menyertai kita.

Tuhan bisa merasakan kesedihan kita

“Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun, dan menyusahkan hati-Nya di padang belantara!” Mazmur 78: 40

Siapakah orang yang tidak pernah bersedih? Orang bisa bersedih karena ditinggal kekasih, kehilangan pekerjaan, jatuh sakit ataupun pailit. Kesedihan manusia jelas bisa membuatnya lemah, putus asa ataupun depresi. Apalagi, jika ada masalah yang besar yang kelihatannya tidak mungkin bisa diatasi. Pandemi yang sekarang terjadi, membuat banyak orang mengalami kesedihan yang luar biasa. Sudah tentu, penderitaan mereka bukan hanya dalam hal fisik dan materi, tetapi yang lebih sukar ditangani adalah penderitaan moril atau rohani.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan dapat melihat apa yang terjadi pada diri manusia, mungkin membuat mereka bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa merasa sedih seperti manusia. Jika Tuhan memang bisa merasa sedih, apakah Ia bisa berbelas kasihan kepada mereka yang mengalami kesusahan dan kemudian berbuat sesuatu untuk mereka?

Sebagai Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, sudah tentu Tuhan mempunyai sifat dan reaksi yang mirip dengan apa yang dipunyai manusia. Yesus, Anak Allah yang turun ke dunia, adalah Tuhan yang berwujud manusia; hanya saja Ia sempurna dan tidak berdosa. Dengan demikian, Tuhan dalam segala perasaan-Nya adalah mirip manusia, hanya saja Dia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahatahu. Dia tidak akan kaget jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia.

Kesedihan Tuhan adalah murni karena kasih-Nya. Dia tahu apa yang akan terjadi dan bisa mengutarakan perasaan-Nya ketika hal itu terjadi; tetapi, Ia sudah mempunyai rencana tentang apa yang akan diperbuat-Nya. Tuhan tidak perlu menyesali apa yang terjadi, dan kemudian merencanakan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi; karena apa pun yang terjadi sudah terhitung dalam rancangan-Nya.

Tuhan yang mahatahu, tahu apa yang akan dilakukan manusia, bisa melihat apa yang akan terjadi dalam hidup tiap manusia. Ia bisa membaca pikiran manusia, melihat apa yang diperbuat manusia dan tahu apa kesalahan manusia. Karena itu, Ia merasa sedih jika apa yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Kesedihan Tuhan adalah sesuatu yang suci dan bukan seperti kesedihan manusia yang sering kali terisi dosa. Kesedihan manusia sering menimbulkan berbagai hal yang negatif, seperti kekecewaan, perasaan putus asa, tidak peduli akan orang lain atau masa depan, dan kebencian. Sebaliknya, kesedihan Tuhan selalu disertai dengan rencana untuk meneruskan kasih pemeliharaan-Nya untuk manusia yang percaya kepada-Nya.

Kesedihan Tuhan yang pertama kali muncul ketika Adam dan Hawa melanggar perintah-Nya untuk tidak memakan buah pengetahuan hal yang baik dan buruk. Tidak tahukah Tuhan bahwa manusia sanggup dan akan melanggar perintah-Nya? Sudah tentu Ia tahu! Ia tahu bahwa manusia dalam kemerdekaannya untuk mengambil keputusan yang membuat mereka jatuh kedalam dosa. Tetapi, justru karena Ia tahu, rencana penyelamatan manusia sudah disiapkan-Nya.

Malam ini, jika kita merasa sedih karena berbagai hal, dan berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang bisa ikut merasakannya, kita harus ingat bahwa Tuhan juga ikut berduka bersama kita. Mungkin kita menyesali apa yang terjadi dalam hidup ini, merasa kecewa akan tindakan orang lain, atau mungkin merasa malu atas kesalahan kita sendiri. Tuhan tahu semua itu akan terjadi. Jika kita berduka, Ia pun bisa ikut merasakannya. Tetapi Ia yang mahatahu dan mahakuasa, Ia jugalah yang sudah mempunyai rencana untuk kita. Keputusan, kehendak dan rencana-Nya adalah sempurna, tidak bisa diubah atau perlu diubah. Semuanya akan terjadi pada waktunya. Apa yang harus kita lakukan dalam kesedihan kita adalah percaya bahwa Tuhan yang mengasihi kita, adalah seperti Yesus, Imam Besar kita, yang mengerti perasaan kita dan yang akan memberikan apa yang terbaik untuk kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 15 – 16

Apa yang baik datang dari Tuhan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremiah 29: 11

Hari depan yang penuh harapan, semua orang, tua dan muda menginginkannya. Bagi yang muda tentunya keberhasilan dalam mencapai cita-cita, karir dan rumah tangga adalah sesuatu yang didambakan. Bagi yang sudah berumur, mungkin hari-hari yang bisa dinikmati bersama anak-cucu dan bebas dari sakit adalah sesuatu yang diingini. Ayat di atas nampaknya menjanjikan bahwa harapan semua orang percaya untuk memperoleh hari depan yang damai sejahtera akan dipenuhi Tuhan. Tetapi ayat ini adalah ayat yang sering disalah-tafsirkan banyak orang.

Ayat di atas sebenarnya berkenaan dengan janji Tuhan untuk memelihara bani Israel setelah mereka mengakhiri masa 70 tahun pengasingan di Babel. Tuhan mempunyai rancangan-rancangan tertentu untuk bani Israel yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan kepada seluruh umat pilihan Tuhan. Walaupun demikian, ayat itu tidak menjanjikan bahwa kita secara perseorangan akan selalu dapat memperoleh hidup yang nyaman. Rencana Tuhan untuk sebuah bangsa, tidaklah sama dengan rencana Tuhan untuk setiap umat-Nya.

Dalam keadaan saat ini, hampir setiap orang mengeluh. Bukan saja orang merasa gundah mengenai kemungkinan terpapar Covid-19, tetapi juga karena adanya dampak pandemi yang menyangkut segala segi kehidupan manusia termasuk pekerjaan, sekolah, dan masa depan. Jika orang biasanya mempunyai rencana tertentu untuk masa depan, pada saat ini adanya rencana tidak dapat didukung dengan keyakinan bahwa itu akan bisa tercapai. Apakah ayat di atas bisa kita pakai sebagai ayat yang dapat memberikan kekuatan pada masa ini?

Sebuah lagu himne yang terkenal “Nyamanlah Jiwaku” yang diterjemahkan dari “It is well with my soul” mungkin bisa membuat kita mengerti apakah ayat di atas masih relevan untuk kita. Syair lagu itu adalah karangan Horatio Gates Spafford. Horatio lahir di North Troy, New York pada tanggal 20 Oktober 1828. Pada masa mudanya, Spafford adalah seorang pengacara yang sukses di Chicago. Pada tahun 1870 iman mereka diuji oleh tragedi. Anak laki-laki mereka, yang berumur empat tahun, Horatio Junior, meninggal dunia karena demam berdarah. Tidak hanya sampai di situ saja tragedi yang dialami.  Beberapa bulan sebelum kebakaran besar di Chicago tahun 1871, Horatio menginvestasikan modal yang cukup besar untuk usaha real estate di pinggiran danau Michigan, tapi semua investasinya tersapu habis oleh bencana tersebut.

Pada tanggal 22 November 1873 pukul 2 dini hari, kapal pesiar yang ditumpangi istri Horatio dan 4 orang anaknya ditabrak di atas laut yang tenang oleh sebuah kapal lain. Dalam waktu dua jam Ville du Havre, salah satu kapal terbesar yang pernah ada pada waktu itu, tenggelam ke dasar samudera Atlantik beserta 226 penumpangnya termasuk keluarga Spafford. Sembilan hari kemudian korban yang selamat dari kapal itu tiba di pulau Cardiff, Wales, Inggris dan di antara mereka terdapat Nyonya Spafford. Dia mengabarkan melalui telegram kepada suaminya dengan dua kata, ‘saved alone’ (hanya aku yang selamat).

Horatio tentunya merasa terpukul atas tragedi-tragedi yang secara beruntun menimpanya. Baginya tentu sulit untuk membayangkan bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuknya; untuk memberikan kepadanya hari depan yang penuh harapan dan bukannya hidup yang penuh tragedi. Tetapi Tuhan memberi Horatio kekuatan untuk bertahan dalam iman dan kemampuan untuk menulis syair himne yang sangat terkenal itu.

KENDATIPUN SUSAH TERUS MENEKAN
DAN IBLIS GERAM MENYERBU
TUHANKU MENILIK ANAK-NYA TETAP
S’LAMATLAH, S’LAMATLAH JIWAKU

YA TUHAN, SINGKAPKAN EMBUN YANG GELAP
DAPATKAN SEG’RA UMAT-MU
‘PABILA SERUNAI BERBUNYI GEGAP
‘KU SERU S’LAMATLAH JIWAKU

S’LAMATLAH JIWAKU
S’LAMATLAH, S’LAMATLAH JIWAKU

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan yang mengasihi bani Israel adalah Tuhan yang mengasihi kita pada saat ini. Tuhan mempunyai rencana baik untuk semua umat-Nya, dan sekalipun kita berada dalam keadaan susah atau dalam penderitaan apa pun, kita akan mendapat penghiburan di dalam persekutuan dengan Dia. Tuhanlah yang memberi kita kekuatan dan ketabahan dalam segala keadaan, hingga saat di mana kita bisa bersatu dengan Dia di surga.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Jalan Tuhan adalah baik untuk umat-Nya

Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Matius 20: 32 – 34

Pandemi ini sudah berjalan lebih dari satu setengah tahun, dan tidak ada seorang pun yang bisa menerka kapan berakhirnya. Walaupun demikian, masih banyak juga orang yang yakin bahwa semua ini adalah bagian dari kehidupan manusia yang akan berakhir dengan adanya vaksin atau obat yang efektif. Bagi mereka, pandemi yang berkepanjangan ini akan berakhir pada suatu saat, seperti apa yang pernah terjadi pada pandemi-pandemi yang silam. Selain itu, ada orang yang percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dan karena itu kita harus menerimanya. Tuhah sudah menentukan segala yang terjadi di bumi dan di surga, baik hal yang baik maupun yang terlihat kurang baik. Tuhan yang mahakuasa tentunya tidak dapat kita bantah. Siapakah yang bisa memengaruhi Tuhan dan memaksa-Nya untuk berubah pikiran?

Sekalipun demikian, jika penderitaan datang silih berganti dan tidak kunjung hilang, perasaan gundah kita mungkin akan muncul. Apakah yang harus aku lakukan? Sebagian orang yang melihat kesulitan yang kita alami mungkin akan berkomentar bahwa “semua itu terjadi karena kesalahan atau dosa manusia”. Mereka mungkin berkata bahwa kemarahan Tuhan atas cara hidup manusia sudah tak terbendung dan Ia menimpakan hukuman-Nya.

Dalam ayat di atas, diceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ketika itu, dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan yang mendengar bahwa Yesus lewat, berseru memanggil Yesus memohon belas kasihan-Nya. Sebagai orang buta pada zaman itu hidup tentunya sangat berat. Mungkin, apa yang mereka bisa lakukan sehari-harinya adalah meminta-minta belas kasihan orang lain. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa penderitaan mereka adalah hukuman Tuhan.

Adalah satu hal yang mengherankan bahwa dalam ayat di atas Yesus memanggil mereka dan menanyakan apa yang dikendaki mereka. Sebagai Anak Allah, Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan mereka, tetapi Ia tetap bertanya: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Atas pertanyaan Yesus, mereka menjawab: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Permohonan yang menarik karena mereka tidak meminta uang atau benda lain, tetapi memohon kesembuhan. Kesembuhan ajaib tentu tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Pantaskah permohonan orang buta itu kepada Yesus, Anak Allah? Bukankah Tuhan tahu apa yang mereka butuhkan sebelum mereka memohonkannya? Tidakkah permohonan orang buta itu keterlaluan? Bahwa Tuhan yang sudah “membuat” mereka buta sekarang diminta untuk mencelikkan mata mereka? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering dipikirkan oleh orang Kristen yang berada dalam penderitaan dan kesulitan hidup. Peperangan batin sering muncul antara keinginan untuk memohon dan keinginan untuk berserah.

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan menentukan apa saja yang terjadi di dunia. Jika kurang dari itu, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, begitu pendapat mereka. Apa saja yang terjadi di dunia harus terjadi sesuai dengan rencana-Nya dan karena itu tidak ada “kejutan” bagi Tuhan. Pada pihak yang lain ada orang Kristen yang percaya bahwa karena dunia ini sudah jatuh dalam dosa, banyak hal yang jahat dan kejam yang terjadi; tetapi itu bukan karena perbuatan Tuhan. Tuhan yang mahatahu tidak akan “terkejut” atau “heran” melihat adanya penderitaan dan kejahatan di antara manusia, karena Ia yang mahakuasa tetap bisa menggenapi rencana-Nya dalam keadaan apa pun. Selain itu, Tuhan belum tentu menghendaki adanya penderitaan tertentu pada manusia, tetapi Ia selalu menghendaki manusia sepenuhnya menyadari kuasa dan kasih-Nya dalam setiap keadaan.

Bagaimana dengan kedua orang buta itu? Yesus bisa melihat bahwa orang buta itu menderita, tetapi juga tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia bisa menolong mereka. Yesus tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bisa berbuat apa saja yang diinginkan-Nya dan membiarkan apa saja untuk terjadi di dunia; tetapi Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mendengarkan permohonan manusia yang percaya. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Karena kuasa dan kasih Yesus, kedua orang buta itu menjadi celik secara jasmani dan rohani.

Saat ini, adakah hal-hal yang membebani kita sehingga kita merasa hilang harapan? Tuhan yang mahatahu tentu bisa melihat apa yang kita derita. Ia ingin agar kita memanggil-Nya, memohon pertolongan. Ia ingin agar kita menyadari bahwa Tuhan yang mahakuasa mempunyai rencana yang baik bagi setiap umat-Nya, dan itu bisa berarti bahwa apa yang kita alami sekarang, baik itu manis atau pahit,  adalah bagian dari rencana-Nya untuk hidup kita. Tetapi, kita juga harus sadar bahwa rencana Tuhan tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan manusia dan dunia. Karena itu kita tetap bisa menyatakan keinginan kita dalam doa permohonan kita kepada-Nya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang direncanakan Tuhan dalam hidupnya, tetapi setiap orang harus sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan Ia bisa memakai berbagai cara untuk mewujudkan rencana-Nya.  Karena Ia mahakuasa dan mahakasih, kita bisa makin dekat kepada-Nya dan tidak ragu untuk berdoa!