Yesus cinta semuanya

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Tuhan itu mahakasih dan kasihNya kepada umatNya tidaklah dapat diukur. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaam ini mungkin mudah dijawab jika Yesus  datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan orang tertentu. Adanya orang yang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat diatas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikutNya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang mereka yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap jahat. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan  mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, tetapi tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Bukankah mereka bukan anak Tuhan?

Apa yang kita pikirkan  tidaklah sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Pagi ini Tuhan mungkin mendengar keluhan kita bahwa Ia seolah kurang mau membedakan mereka yang sudah menjadi pengikutNya dengan mereka yang belum mengenalNya atau mereka yang membenciNya. Mengapa Tuhan seolah  tidak peduli akan kejahatan yang mereka lakukan? Mereka bukan umat Tuhan! Tidak layakkah kita mengasihi mereka yang mengasihi Tuhan dan membenci mereka yang bukan umatNya? Tidak bolehkah kita membenci mereka yang berbuat jahat kepada kita?

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita.

Hidup ini memang berat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”,  tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika masalah yang ada sangat besar?

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani seringkali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani seringkali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah jasmani.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani seringkali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadanya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

 

 

Pendidikan dan pengalaman belum tentu berguna

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

img_9179Menyekolahkan anak di Australia adalah suatu kewajiban untuk setiap orang tua jika anak mereka sudah berumur 5-6 tahun, dan harus diteruskan sampai mereka berumur 15-17 tahun. Pada umumnya, seorang anak akan duduk di bangku sekolah dasar (Primary School) selama 6-7 tahun dan kemudian meneruskan studinya ke Sekolah Menengah  (High School) selama 5-6 tahun. Tidak semua anak akan menamatkan Sekolah Menengah, karena sebagian diantaranya mungkin memilih pendidikan kejuruan yang berbagai jenis. Selain itu, tidak semua yang tamat Sekolah Menengah berkeinginan untuk masuk universitas, karena mereka ingin cepat-cepat bekerja.

Satu hal yang diharapkan orang tua dengan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah adalah agar mereka bisa memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk menghadapi masa depan. Dengan bertambahnya umur, juga diharapkan bahwa mereka akan bertambah dewasa dan makin bijaksana dalam mengambil keputusan. Walaupun demikian, sekolah adalah tempat dimana mereka bergaul dengan sesama anak muda. Seringkali, jika mereka tidak dapat memperoleh kelompok seusia (peer group) yang baik, apa yang buruk justru terjadi. Memang, sudah bukan rahasia bahwa di high school, banyak anak muda yang mulai ber-eksperimen dengan narkoba dan seks. Mereka yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan tercela itu mungkin dari luarnya terlihat sebagai anak muda yang maju dalam hal pendidikan, tetapi dalam kenyataannya semakin mundur dalam hal akhlak.

Bagi orang dewasa, apa yang terjadi pada sebagian kaum muda mungkin dihubungkan dengan usia dan proses kedewasaan. Mereka yang sudah bukan remaja lagi, mungkin merasa bahwa apa yang mereka perbuat pada masa yang lalu adalah lumrah sebagai orang belum mengalami kematangan hidup. Melalui pendidikan dan pengalaman, orang bisa mengalami transformasi menjadi orang dewasa. Begitulah anggapan umum.

Memang jikalau ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi cara hidup seseorang, hidup manusia adalah perjuangan yang terus berlangsung untuk memperbaiki segala sesuatu yang ada. Secara perlahan-lahan manusia mengalami perubahan sesuai dengan apa yang dipelajarinya dalam hidup. Dalam hal ini, banyak manusia yang percaya bahwa pengalaman hidup adalah guru yang terbaik. Walaupun demikian, ada banyak orang dewasa dan bahkan orang yang sudah cukup berumur, yang masih belum mengalami proses pendewasaan rohani. Mereka belum mempunyai kebijaksanaan dalam memilih apa yang baik dalam hidup, dan bahkan sebagian dengan sengaja memilih hidup yang kurang baik. Mengapa demikian?

Sebagai umat Kristen, jika kita hanya belajar dari pendidikan dan pengalaman saja, apa yang kita peroleh adalah apa yang baik untuk menyesuaikan diri dengan standar dunia, dan itu bukan ukuran Tuhan. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang dari luar terlihat hidupnya berhasil, tetapi dari segi rohani hidup mereka adalah kosong.  Kedewasaan iman dan perubahan cara hidup yang diharapkan setelah perjumpaan dengan Yesus tidaklah terjadi. Tidaklah mengherankan jika kita bisa melihat adanya orang-orang yang mengaku Kristen, tetapi hidup mereka adalah serupa dengan hidup mereka yang belum mengenal Yesus. Mereka mungkin sudah mendapat pendidikan tinggi dan banyak pengalamannya, tetapi tingkat kerohanian mereka tetap setara dengan taraf pemula.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk mengubah hidup kita supaya kita tidak lagi mengikuti pandangan dunia. Kita harus mengalami transformasi menjadi orang Kristen yang dewasa dan bijaksana, yang dapat membedakan manakah kehendak Allah dan mana yang bukan: memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam hal ini, bagi umat Kristen perjuangan hidup untuk mencapai kedewasaan iman (maturity) ini tidaklah dapat dilakukan melalui usaha sendiri. Apapun pendidikan dan pengalaman kita,  sebagai orang berdosa kita tidak mungkin mengalami transformasi  jika kita tidak menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada bimbingan Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang bisa bekerja dalam hati dan pikiran kita untuk menjauhkan diri kita dari pengaruh dunia dan makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang sempurna dengan rajin berdoa serta mempelajari dan melaksanakan firmanNya.

 

Hal memilh karir

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Bagi orang seumur saya, hal memilih karir tidak lagi harus dipikirkan. Walaupun demikian, saya masih ingat bahwa sewaktu saya memasuki SMA, pemikiran tentang karir masa depan saya sudahlah ada. Secara praktis, pilihan karir bergantung kepada banyak hal, misalnya pekerjaan apa yang benar-benar disukai, universitas mana yang bisa  dimasuki, pekerjaan apa yang bisa menjamin masa depan, jabatan apa yang bisa dibanggakan, atau jurusan apa yang disetujui orang tua dan lain-lain. Tentunya, bagi sebagian orang, karir yang dipilih kalau bisa adalah yang bisa mencukupi dan bisa dinikmati. Walaupun demikian, banyak juga orang memilih karir yang membawa kekayaan sekalipun kurang bisa dinikmati.

Seiring dengan kemajuan sosial, memang ada kecenderungan bahwa kebahagiaan diukur dengan kesuksesan dan harta. Karena itu, karir-karir tertentu sekarang dikejar banyak orang, seperti karir dibidang kedokteran, banking, IT dan business. Apa yang menghasilkan banyak uang dipandang baik dan ini tidak ada salahnya jika cara dan tujuan yang dipakai adalah benar.

Memang sejak dulu orang selalu ingin memperoleh kenyamanan hidup, tetapi dengan kemajuan zaman orang lebih tertarik untuk mendapatkan kesuksesan  dengan cara yang semudah mungkin dan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dengan demikian, orang mungkin memakai cara-cara yang tidak benar, termasuk dalam hal mendapatkan ijazah, dalam usaha untuk memperoleh pekerjaan tertentu, dan dalam mencari jalan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak mungkin dalam karirnya.

Bagaimana pula dengan tujuan orang untuk mendapatkan kekayaan? Tentu tiap orang mempunyai jawaban yang bervariasi, dari jawaban yang kedengarannya sangat mementingkan diri sendiri, sampai kepada jawaban yang terdengar sangat baik dan bernada sosial. Memang dengan kekayaan orang bisa memperoleh jaminan masa depan untuk dirinya sendiri atau memperoleh kesempatan untuk lebih bisa menolong orang lain. Dalam kenyataannya, orang yang mengejar kekayaan lebih cenderung untuk menaruh dirinya sendiri diatas segalanya.

Ayat diatas mengingatkan bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang. Karena memburu uang, ada orang-orang Kristen telah menyimpang dari iman dan melakukan berbagai hal yang salah, yang membuat hidup mereka jauh dari Tuhan. Manusia yang seharusnya mengasihi Allah dan sesama, kemudian berubah menjadi manusia yang mengasihi harta, kesuksesan dan kenyamanan. Tujuan karir yang seharusnya bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan dan menolong sesama, dengan mudah diganti dengan usaha untuk mencari kepuasan diri sendiri.

Pagi ini, apakah anda masih memikirkan karir untuk masa depan? Ataukah anda mengharapkan karir yang baik untuk anak-anak atau kerabat anda? Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah jahat tetapi jelas menunjukkan bahwa cinta akan uang (sebagai sikap hidup) akan membawa bencana. Ketamakan akan menghilangkan rasa cukup dan menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Karena itu, orang harus sadar bahwa mencari uang sebanyak mungkin dengan cara semudah mungkin adalah gaya hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.  Karir serta penghasilan adalah berkat dari Tuhan, tetapi dalam menerima berkat itu kita harus selalu mengaris-bawahi cara dan tujuan yang bisa memuliakan Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada sesama.

 

 

 

Maju atau mundur?

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Dengan kemajuan teknologi, di Australia banyak lowongan jabatan yang diiklankan lewat internet. Untuk itu ada beberapa website yang khusus menerima iklan lowongan kerja dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Sebagai syarat mengajukan lamaran, biasanya pelamar harus mengirimkan surat pengantar, riwayat hidup dan jawaban untuk kriteria seleksi lewat website itu. Untuk melakukan hal itu, tentu saja si pelamar harus membaca dengan teliti iklan lowongan kerja dan berbagai syarat yang diminta. Dengan berbekal pengetahuan tentang lowongan pekerjaan itu, barulah sang pelamar bisa memberi respons yang sesuai dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan oleh pemasang iklan. Mereka yang kemudian memutuskan untuk tidak mengajukan lamaran karena berbagai alasan, dengan sendirinya tidak mungkin memperoleh pekerjaan itu. Mereka sudah memilih untuk mundur.

Barangkali Tuhan bisa dibayangkan seperti pemilik sebuah perusahaan besar yang ingin mempekerjakan sebanyak mungkin orang yang ingin mempunyai pekerjaan. Ia kemudian memasang iklan tentang lowongan yang ada, yang menjelaskan bahwa perusahaanNya adalah sebuah tempat yang besar dimana semua pekerja akan merasakan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Melalui firmanNya, Tuhan menjanjikan bahwa mereka yang percaya kepadaNya dan kemudian mau mengikut Dia, akan memperoleh hidup yang abadi di surga. Tuhan juga menjelaskan bahwa untuk menjadi pekerjaNya, tidak ada persyaratan pendidikan, pungutan biaya, atau hal-hal lain yang perlu dilakukan oleh manusia. Keselamatan hanya membutuhkan pertobatan dan penyerahan hidup kepadaNya selama waktu masih ada.

Manusia membaca atau mendengar firman Tuhan itu dan mempelajari apa yang dimaksudkan Tuhan dengan posisi sebagai anak Tuhan di surga. Memang tidak mudah bagi manusia untuk memahami betapa besar karunia keselamatan Tuhan melalui darah Yesus yang memungkinkan setiap orang  untuk menjadi bagian dari kerajaan Tuhan secara cuma-cuma. Tuhan melalui Roh Kudus bekerja dengan segala cara untuk meyakinkan semua calon pekerja Tuhan bahwa lowongan itu benar-benar  ada karena Tuhan Yesus yang membuka jalan bagi manusia untuk memasuki surga. Keselamatan di surga hanya karena karunia Tuhan semata-mata. Apa yang ditawarkan Tuhan hanya memerlukan manusia untuk meresponinya.

Dalam perumpamaan penabur (Matius 13: 3 – 16), Yesus menggambarkan bagaimana firman Tuhan adalah seperti biji yang jatuh ke berbagai jenis tanah. Sebagian manusia yang membaca dan mendengar tentang adanya posisi dalam kerajaan surga itu mungkin menganggapnya sebagai khayalan belaka. Terlalu indah untuk dapat dipercaya! Bagaimana mungkin manusia bisa diterima untuk ke surga tanpa harus mengurbankan apa-apa? Sebagian lagi mungkin percaya tetapi kemudian lupa karena terlalu sibuk dengan hidupnya. Sebagian meneliti kabar baik itu dengan entusias dan kemudian ingin untuk menyambut tawaran itu. Mereka kemudian untuk sementara waktu berusaha untuk membuat respons yang positif dengan bertobat dari hidup lamanya dan menempuh hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi, tidak lama kemudian respons mereka terhenti karena berbagai sebab. Mereka itu mungkin saja belum sempat menjadi pekerja Kristus yang sepenuhnya!

Ayat pembukaan diatas memang adalah ayat yang sering didiskusikan oleh berbagai golongan Kristen. Pada intinya, ada beberapa hal yang mungkin dipertanyakan:

  1. Apakah respons manusia diperlukan atas karunia keselamatan Tuhan?
  2. Apakah mereka yang sudah menerima karunia itu bisa kehilangan keselamatan melalui perbuatan dosa?

Pertanyaan-pertanyaan diatas tidaklah mudah dijawab. Walaupun demikian, terlihat bahwa mereka yang sudah mendapat pengetahuan tentang adanya keselamatan di surga dan ingin untuk mendapatkannya haruslah dengan percaya, berubah dari hidup lamanya. Ini adalah respons yang diminta Tuhan kepada setiap manusia yang ingin menjadi umatNya. Pengetahuan tentang adanya lowongan di surga harus diikuti dengan kemauan untuk meyambut tawaran Tuhan dengan komitmen hidup baru. Jika manusia sudah memperoleh pengetahuan akan kemahasucian Tuhan tetapi tetap memilih hidup dalam dosa,  itu menandakan bahwa mereka belum betul-betul mengenal Kristus. Mereka mungkin dulunya ingin maju tetapi kemudian memilih untuk mundur. Sebaliknya, mereka yang sudah benar-benar menjadi pekerja Kristus dan yang sudah bisa merasakan kasih dan kebesaran Tuhan, tentu tidak mungkin memilih untuk mundur. Bagaimana dengan diri kita sendiri?

 

 

 

 

 

Biarlah kita bisa membimbing orang lain

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Sebagai seorang dosen saya sudah mengajar di Australia sejak lama. Selama itu, saya mempunyai banyak murid yang sekalipun mempunyai sifat yang berbeda-beda, tetap mempunyai rasa hormat kepada dosennya. Walaupun demikian, saya dapat merasakan adanya perubahan sikap murid terhadap dosen-dosen mereka sejak pemerintah pada tahun 1989 mengharuskan semua mahasiswa membayar sebagian biaya pendidikan universitas mereka. Jika dulu para murid mendengarkan pendapat dosen mereka, di zaman ini mereka justru sering menuntut dosen untuk mendengarkan suara mereka. Dengan keadaan ini, untuk bisa menjadi dosen yang baik, orang haruslah mau terus-menerus belajar cara untuk mengajar murid secara efektif.

Dalam kehidupan bergereja, suasana tentunya berbeda dengan universitas. Pada umumnya jemaat menghormati para pemimpin gereja, penatua dan pendeta. Walaupun demikian, dengan perubahan sosial, hukum, teknologi dan pendidikan, para pemimpin gereja sekarang sering juga harus menghadapi berbagai komentar, kritik dan bahkan tantangan yang berasal dari jemaat atau orang Kristen yang lain. Perdebatan dan pertengkaran sering terjadi diantara umat Kristen baik dalam soal organisasi maupun teologi, baik secara langsung atau melalui media.

Menjadi hamba Tuhan dan pimpinan gereja mungkin tidaklah semudah 20-30 tahun yang lalu. Tetapi pada zaman rasul-rasul keadaan gereja bukannya serba tenang dan tenteram. Justru pada saat itu gereja baru mulai tumbuh dan karena itu berbagai masalah internal dan eksternal sering menyebabkan ketegangan dan pertengkaran. Peraturan gerejani dan organisasi pada waktu itu masih sangat minim, dan masyarakat tentunya masih bergumul dalam hal etika dan hukum. Walaupun demikian, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan beberapa prinsip kehidupan dan kelakuan yang masih relevan hingga sekarang.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang.

Bagaimana kita harus menghadapi mereka yang gemar mendebat firman Tuhan? Kita harus mampu mengajar dengan sabar dan dengan lemah lembut dan dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran. Biarlah firman Tuhan di hari Minggu ini memberikan kita insentif untuk bisa menjadi terang dunia!

Jangan diam saja

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 11

Minggu yang lalu, seorang polisi yang menembak mati seorang wanita di Amerika dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Wanita warga Australia itu sebenarnya tidak melakukan kejahatan apapun, tetapi ia menjadi korban karena melaporkan adanya kejahatan di rumah tetangganya. Ketika ia muncul menyambut polisi yang datang, ia ditembak polisi yang salah mengidentifikasi.

Membela kebenaran memang bisa mengandung resiko besar. Karena itu tidak semua orang mau ikut campur. “Pokoknya saya tidak ikut-ikut!”, begitulah jawaban mereka yang melihat kejahatan, ketimpangan dan kejanggalan dalam masyarakat. Memang banyak orang yang memilih untuk berdiam diri, sekalipun apa yang terjadi adalah hal yang tidak baik.

Mencampuri urusan orang lain jelas membawa resiko bahwa mereka akan membenci kita. Karena itu, banyak orang Kristen yang abstain dalam usaha menegakkan kebenaran. Sebagai alasan, mungkin orang Kristen bisa saja menyebutkan bahwa mereka tidak mau mengadili orang lain, atau mereka lebih mencintai perdamaian.

Walaupun demikian, dalam hidup banyak orang yang menyesali mengapa mereka tidak bertindak apa-apa ketika ada hal-hal yang jahat terjadi. Pengecut! Egois! Begitulah hati kecil mereka berkata. Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Bukankah dengan berdiam diri engkau berpihak kepada mereka yang jahat? Itulah suara hati banyak orang Kristen yang melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, tetapi memilih untuk tidak bertindak atau justru lari menjauh. Roh Kudus menegur karena mereka gagal untuk menegakkan kebenaran Tuhan.

Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, adalah salah satu ayat yang mengandung nasihat praktis untuk hidup sebagai umat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita bertanggung jawab tidak saja untuk apa yang kita lalukan, tetapi juga untuk reaksi kita atas apa yang diperbuat orang lain. Jika kita membiarkan adanya perbuatan-perbuatan kegelapan disekitar kita, itu sama saja dengan menyetujuinya. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita memperoleh mandat budaya (Kejadian 1: 28) untuk ikut mau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

“Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” Efesus 5: 13