Kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia

“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12

Ada seseorang yang pernah bertanya, “Sepertinya saya menyiratkan bahwa mereka yang tidak terpilih bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertobat, karena mereka dilahirkan untuk kehancuran. Apakah ini benar, bahwa banyak orang diciptakan tanpa kesempatan untuk diselamatkan?” Pertanyaan ini sudah dilontarkan oleh banyak orang yang merasa bahwa Tuhan orang Kristen itu begitu kejam karena apa yang disebut faham “double predestination” atau “pemilihan ganda: Tuhan memilih orang yang diselamatkan, dan Tuhan memilih mereka yang diselamatkan.

Faham “pemilihan ganda” sebenarnya bisa dibagi lagi dalam dua jenis yaitu positif-positif, dan positif negatif. Pada jenis yang pertama, pemegang faham teologi ini percaya bahwa Tuhan secara aktif menentukan mereka yang selamat, dan sisanya secara pasti ditentukan Tuhan untuk tidak diselamatkan. Pada pihak yang lain, faham positif-negatif menyatakan bahwa Tuhan memilih mereka yang diselamatkan, tetapi menelantarkan sisanya sehingga memilih jalan kebinasaan. Semua gereja Kristen percaya predestinasi, tetapi ada yang percaya pada doktrin”pemilihan tunggal” yaitu Tuhan hanya menentukan mereka yang diselamatkan. Dalam pandangan apa pun, orang sering bertanya-tanya apakah mereka yang tidak dipilih tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk diselamatkan? Jika masih ada kesempatan, lalu bagaimana itu bisa terjadi?

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Jika ada orang yang menjawab bahwa dari semula orang-orang tertentu sudah tidak mempunyai harapan, jawaban itu tidak akan menjadi cara yang baik dan alkitabiah untuk menyatakan kasih Tuhan. John Piper, seorang teolog Reformed yang terkenal pernah menjelaskan adanya dua kebenaran alkitabiah yang dianggap banyak orang kontradiktif, tetapi sebenarnya tidak. Kedua hal ini adalah sangat penting dalam kehidupan orang Kristen karena adanya implikasi yang serius dari dua kebenaran itu yang mempengaruhi orang Kristen dalam cara mereka hidup dan menginjil.

Kebenaran pertama adalah, dari segala kekekalan, Allah telah memilih dari antara seluruh umat manusia yang jatuh dan berdosa, sebuah umat untuk diri-Nya sendiri — tetapi tidak semua orang. Jadi, pemilihan ini bukan karena adanya keistimewaan pada orang-orang terpilih itu. Allah mengejar keselamatan mereka tidak hanya dengan secara efektif mencapai penebusan dosa mereka melalui Kristus, tetapi juga dengan secara berdaulat mengatasi semua pemberontakan mereka dan membawa mereka kepada iman yang menyelamatkan.

Kebenaran kedua ialah bahwa setiap orang yang binasa dan akhirnya hilang dan terputus dari Tuhan karena peninggian diri yang nyata dan tercela, yaitu hidup dalam dosa. Karena hati mereka dikeraskan terhadap pernyataan dan kemuliaan Allah di alam semesta dan di dalam Injil, tidak ada orang yang tidak bersalah yang bakal binasa. Tak seorang pun yang dengan rendah hati menginginkan Kristus sebagai Juru Selamat akan hilang. Tidak seorang pun akan dihakimi atau dikutuk karena tidak mengetahui, atau mempercayai, atau mematuhi suatu kenyataan yang tidak dapat mereka peroleh. Semua kehilangan dan semua penghakiman adalah karena dosa dan pemberontakan terhadap pernyataan Allah yang sudah diberikan. Tidak akan ada orang yang tidak bersalah di neraka, dan hanya akan ada orang berdosa yang diampuni di surga.

Yang membuat kedua kebenaran itu tidak saling bertentangan adalah pertanggungjawaban moral manusia yang tidak dihancurkan oleh kedaulatan mutlak Allah dalam keselamatan. Dengan kata lain, pengaturan Tuhan yang final dan menentukan atas segala sesuatu, termasuk siapa yang beriman, sesuai dengan hakikat manusia yang harus bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan dari awalnya: apakah mereka percaya atau tidak. Jadi, pada satu pihak Tuhan berdaulat 100% dan pada pihak lain manusia bertanggung jawab 100% atas hidupnya.

Sekarang, kita hidup di dunia yang pada umumnya menolak untuk menerima kedaulatan Allah dalam segala hal. Seperti tertulis pada ayat di atas, Allah bekerja di dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya. Orang-orang menolak kenyataan ini, sebagian besar karena adanya satu-satunya solusi yang dapat diterima oleh pikiran mereka, yaitu anggapan bahwa manusia bisa menentukan nasibnya sendiri baik di dunia maupun setelah mati. Tetapi penentuan nasib sendiri manusia tidak ditemukan di mana pun di dalam Alkitab. Sebaliknya, kedaulatan Tuhan ada, dan tanggung jawab manusia ada. Tidak ada hal yang bisa dianggap kontradiktif.

Oleh karena itu, jika ada orang yang mengira bahwa “banyak orang diciptakan tanpa adanya kesempatan untuk diselamatkan” , mereka adalah keliru. Setiap orang dirayu dan diundang oleh Tuhan setiap hari. Mereka sedang dirayu melalui wahyu alami — matahari terbit untuk yang baik dan yang jahat, atau hujan yang turun untuk yang baik dan yang jahat — atau melalui hati nurani, atau melalui kebenaran Injil. Pernyataan Allah ini adalah apa yang memberi mereka kesempatan untuk diselamatkan. Ini adalah undangan yang nyata. Hal ini penting karena jika mereka mau merendahkan diri, bertobat, dan menerima kasih karunia Tuhan, mereka akan diselamatkan. Dalam hal ini, manusia juga diselamatkan karena karunia Tuhan semata-mata, dan bukan karena perbuatan mereka.

Hari ini, kita belajar bahwa mereka yang merendahkan diri dan menerima kasih karunia Tuhan akan sadar bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang berdaulat yang memungkinkan mereka untuk percaya. Dan mereka yang tidak melakukannya harus tahu bahwa itu karena dosa mereka sendiri. Bahwa mereka mencintai sesuatu yang lain lebih dari Tuhan adalah sebab mengapa mereka tidak percaya. Tidak akan ada orang yang tidak bersalah di neraka, dan hanya akan ada orang berdosa yang diampuni di surga. Segala puji untuk Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa!

Mengobati hati yang dendam

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12: 19

Dalam sejarah ada banyak konflik antar umat beragama, bukan saja antara dua agama yang berbeda, tetapi juga di anara umat Kristen. Perang Tiga Puluh Tahun, misalnya, adalah sebuah konflik yang terjadi antara tahun 1618 hingga 1648, khususnya di wilayah yang sekarang menjadi negara Jerman, dan melibatkan sebagian besar kekuatan-kekuatan di kawasan tersebut. Ada beberapa sebab mengapa perang ini terjadi. Selain konflik keagamaan antara kaum Protestan dan Katolik, persaingan antara Dinasti Habsburg dan kekuatan lainnya juga merupakan salah satu motif penting terjadinya perang ini. Perang ini sendiri mungkin hanya berlangsung tiga puluh tahun, tetapi konflik yang dipicunya tetap berlanjut hingga waktu yang lama. Perang ini diakhiri melalui Perjanjian Westfalen.

Sebenarnya perang apa pun buasanya disebabkan oleh kemarahan atau kebencian antara pihak-pihak tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh pihak yang dianggap penyebab persengketaan, dan pihak yang lain tidak bisa menerima hal itu kemudian berusaha membalas dendam. Memang dalam hidup ini banyak orang yang agaknya masih menganut paham “mata ganti mata”. Dengan demikian, mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pembalasan (revenge, avenge, vengeance). Mereka yang merasa terluka akibat apa yang terjadi sebelumnya, berusaha untuk menghancurkan lawannya.

Di kalangan orang Kristern ini pun, perang mulut dan perang media sering terjadi antar umat Kristen yang berlainan aliran. Jika kita meneliti media Youtube, misalnya, ada ratusan penampilan yang bernada sumbang atau kebencian terhadap pihak yang berbeda teologi atau kebiasaan. Kebanyakan mereka yang menerbitkan media semacam itu pernah memiliki pengalaman pahit yang melukai perasaan mereka, yang dilakukan oleh pihak lain. Mereka mungkin merasa bahwa ada kewajiban bagi mereka untuk membela Tuhan dalam menegakkan kebenaran.

Alkitab memang mempunyai banyak ayat yang berhubungan dengan soal membalas dendam. Seperti yang tertulis dalam ayat diatas, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pembalasan dendam selalu dihubungkan dengan hak Tuhan. Mengapa Tuhan menyatakan bahwa Ialah yang berhak membalas dendam? Itu karena Tuhanlah yang memiliki seluruh jagad raya, termasuk semua mahluk hidup dan manusia. Manusia secara pribadi bukanlah pemilik apapun di dunia, dan juga bukan wakil Tuhan; karena itu ia tidak berhak menuntut balas. Selain itu, tiap orang dalam keterbatasannya tidak tahu sepenuhnya akan apa yang benar dan yang salah. Karena itu, hanya Tuhan yang pada hakikatnya berhak menjadi hakim.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Tuhan Yesus bukan saja melarang pengikut-Nya untuk saling membenci, Ia malahan menyuruh mereka untuk melawan kejahatan apa pun dengan kesabaran.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 38 – 39

Jika membalas dendam adalah dosa yang melanggar perintah Tuhan, mereka yang mudah naik darah biasanya mudah terpancing untuk melampiaskan kemarahannya dengan melakukan kekerasan. Memang kemarahan yang tidak segera dihentikan, lambat laun akan berlanjut dengan kebencian dan pertengkaran (Amsal 10: 12). Karena itu Yesus memberikan perintah agar murid-murid-Nya tidak membiarkan kemarahan yang ada untuk berlanjut-lanjut, karena iblis menantikan kesempatan untuk menghancurkan mereka yang dikuasai amarah, seperti apa yang terjadi pada Kain yang membunuh Habel saudaranya.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Hari ini,kita harus sadar bahwa kesempatan untuk kita bisa menghilangkan rasa marah dan dendam sudah diberikan, dan apa yang selanjutnya terjadi dalam hidup kita akan menunjukkan apakah kita benar-benar sudah menjadi pengikut Yesus.

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15

Mengikut Yesus keputusanku

Bacaan Matius 8:18–22

“Salah seorang murid berkata kepadanya, ‘Tuhan, biarkan aku pergi dulu dan menguburkan ayahku.” Dan Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku, dan biarkan orang mati menguburkan orang mati mereka sendiri.” Matius 8: 21-22

Kerumunan besar datang berkumpul menjumpai Yesus ketika ketenaran-Nya menyebar di Kapernaum. Pada waktu itu Dia bersiap untuk menyeberangi danau Galilea (ayat18). Kita tidak tahu pasti mengapa Dia membuat langkah ini, tetapi banyak penafsir Alkitab yang percaya bahwa Yesus sedang mencari tempat istirahat. Memang, Dia ditemukan tertidur di perahu sesudahnya (ayat 24).

Melihat Yesus akan pergi, seorang ahli Taurat yang terlatih dalam hukum Musa mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti Yesus ke mana pun Dia pergi (ayat 19). Yesus tidak menolak calon murid ini, tetapi Dia menjelaskan bahwa untuk mengikuti Yesus, orang berpendidikan ini harus mau ikut mengembara, bahkan mungkin kehilangan tempat tinggalnya (ayat 20). Memang, semua pengikut Yesus harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah orang asing dan orang buangan di dunia (Ibrani 11:13-16).

Hidup di dunia tidaklah mudah untuk orang Kristen, tetapi di dalam Kristus suatu hari nanti kita akan bebas dari tekanan hidup (2 Timotius 2:12a). Kehidupan orang Kristen di dunia, seperti yang dikatakan Yesus adalah panggilan untuk memikul salib-Nya. Seperti Yesus, kita harus bersedia memberi tahu orang-orang bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mengikuti Sang Juruselamat. Kita tidak menyatakan kebenaran jika kita mengajar atau menyiratkan bahwa Yesus dapat dimasukkan ke dalam struktur kehidupan kita tanpa dunia membenci kita (Matius: 24:9). Dunia sudah jatuh dalam dosa karena Iblis, dan Iblis dan pengikutnya membenci Yesus.

Setelah berbicara dengan ahli Taurat, seorang pria lain mengatakan bahwa dia bersedia untuk mengikuti Kristus jika dia dapat menguburkan ayahnya terlebih dahulu. Namun Yesus tidak mengizinkan keraguan ini (8: 21—22). Ini adalah perkataan yang sulit dimengerti, karena Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua kita (Keluaran 20: 12). Tetapi, kemungkinan besar jawaban Yesus kepada orang itu adalah prinsip universal, bukan penerapan universal. Pada prinsipnya, hanya Yesus yang layak menerima pengabdian tertinggi kita, tetapi cara penerapan prinsip ini mungkin berbeda-beda. Walaupun demikian, jelas bahwa tugas keluarga seharusnya menempati urutan kedua ketika Yesus memanggil.

John Calvin berkomentar, “Anak-anak harus melaksanakan kewajiban mereka kepada orang tua mereka sedemikian rupa sehingga, setiap kali Tuhan memanggil mereka untuk pekerjaan lain, mereka harus mengesampingkan ini, dan menempatkan perintah Tuhan di tempat pertama. Apa pun kewajiban kita harus dilaksanakan, ketika Allah memerintahkan kepada kita apa yang harus segera menjadi hak-Nya.”

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap pengikut-Nya mempunyai tugas-tugas tertentu dalam hidupnya. Mungkin kesadaran akan hal itu belum terasa, sekalipun kita sudah menjadi orang yang diselamatkan sejak lama. Mungkin, pikiran kita merasa tenteram karena adanya keyakinan bahwa kita sudah menjadi orang terpilih. Tetapi, ayat pembukaan kita menunjukkan bahwa untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati kita tidak dapat tidak harus mengubah prioritas hidup kita. Menjadi pengikut Kristus tanpa memberi pengurbanan adalah tidak mungkin. Setiap orang yang mau mengikut Dia harus mau membaktikan bagian yang paling utama untuk Tuhan. Itu mungkin berupa dedikasi, waktu, tenaga, kemampuan, pikiran, uang dan apa pun saja yang kita pandang berharga. Itu bukan untuk membeli keselamatan kita, tetapi untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima. Apa saja yang dapat kita pakai untuk melayani dan memuliakan Kristus. Jangan sampai kita menunda-nunda kesempatan yang baik untuk mengikut Dia. Siapa yang menunda panggilan Tuhan akan tertinggal di belakang.

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”Lukas 9: 62

(Saduran bebas dari Ligonier)

Pengertian yang berbeda bisa membuat perpecahan

“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 14-15

Reformasi Protestan adalah pergolakan agama, politik, intelektual, dan budaya pada abad ke-16 atas Gereja Katolik yang pada akhirnya melahirkan Protestantisme. Gerakan ini dipelopori oleh Martin Luther, yang kemudian diikuti oleh John Calvin, Ulrich Zwingli, dan Henry VIII. Para reformis mengkritik otoritas kepausan dan mempertanyakan fungsi Gereja Katolik sebagai pusat politik dan budaya Kekristenan di Eropa. Reformasi Protestan berujung pada perpecahan Gereja Barat menjadi Protestantisme dan Gereja Katolik Roma.

Konflik keagamaan antara kaum Protestan dan Katolik memuncak pada 1618-1648 atau kemudian dikenal sebagai Perang Tiga Puluh Tahun. Perang antar umat Kristen ini kemudian diakhiri dengan perjanjian damai Westfalen, yang menetapkan bahwa semua pihak memiliki hak untuk menentukan agama negaranya sendiri, dan adanya tiga aliran Kristen yang diakui yaitu Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. Ini menjamin hak bagi orang-orang Kristen dalam menjalankan agamanya Perjanjian ini secara resmi mengakhiri kekuasaan politik kepausan di Eropa.

Di zaman ini, masalah perbedaan doktrin masih sering menimbulkan ketegangan antar aliran gereja. Karena itu, tidak semua gereja mementingkan pengajaran doktrin dalam penginjilan. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil? Memang tugas utama umat Kristen adalah mengabarkan injil. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen dengan semangat yang menggebu-gebu ingin agar orang lain juga bisa diselamatkan. Karena itu, sering terlihat di berbagai media adanya berbagai pidato, tulisan dan rekaman yang bernada keras dan menyerang orang yang berbeda teologinya. Baikkah itu? Alkitab menyatakan bahwa sekalipun tujuannya baik, penginjilan harus dilaksanakan dengan cara yang baik karena jika tidak, kekacauan dan kebencian justru akan muncul.

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 7

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa untuk membawa orang lain kepada keselamatan, orang percaya harus bisa memberi nasihat yang benar. Ia menjelaskan jika kita berusaha membawa orang lain kepada keselamatan, itu harus dilakukan tanpa menimbulkan perdebatan sia-sia yang menimbulkan kekacauan.

Tujuan nasihat itu ialah untuk menyatakan kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Bukan didasarkan pada kebencian, rasa tidak suka atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, tujuan mengabarkan Injil adalah untuk menyatakan kasih kita kepada mereka yang belum mengenal Tuhan, agar mereka menyadari betapa besar kasih-Nya yang sudah menurunkan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka yang percaya. Karena itu, setiap orang yang kemudian percaya kepada Tuhan akan memiliki kasih-Nya. Orang yang menabur kasih Tuhan akan menuai kasih dan bukan kebencian.

Mengapa untuk Alkitab yang sama ada begitu banyak teologi yang berbeda? Itulah karena manusia adalah makhluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah makhluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika makhluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang di sekitarnya. Tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat menyamai Sang Pencipta. Bagaimanapun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin kita mengenalnya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diri-Nya dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Untunglah setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat belajar mengerti apa yang dikehendaki Tuhan. Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuni-Nya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Memang tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anak-Nya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Tetapi perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan sering terjadi dan bisa menimbulkan pertikaian. Lebih serius lagi, orang mungkin merasa bertumbuh dalam pengetahuan tetapi sebenarnya tidak bertumbuh dalam iman dan cara hidupnya.

Hari ini kita diingatkan oleh Tuhan bahwa dalam menyatakan keyakinan iman kita, kita harus tegas dan memegang kebenaran Firman tetapi bisa menghindari perdebatan yang tidak membangun, karena selain tidak berguna, hal sedemikian malah bisa menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara mereka yang ingin mengenal Yesus Tuhan kita. Biarlah kita makin hari makin sempurna di dalam anugerah Tuhan!

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Anugerah harus membawa perubahan hidup

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Adalah menarik jika kita meneliti reaksi manusia terhadap bertambahnya umur. Pada waktu masih kecil seorang anak mungkin berharap akan cepatnya datangnya kedewasaan, karena dengan itu datang “kebebasan”. Walaupun demikian, orang dewasa sering membayangkan betapa enaknya mereka yang masih anak-anak, karena mereka tidak perlu memikirkan berbagai tanggung jawab kehidupan. Karena itu, ada orang yang sudah berumur yang ingin dianggap masih muda menampilkan tingkah laku dan penampilan orang muda. Tanpa melihat kartu identitas mereka, orang bisa salah duga.

Kalau kartu penduduk bisa dipakai untuk memastikan umur, dan dengan demikian kedewasaan jasmani orang dewasa dan anak-anak, bagaimana pula dengan kedewasaan rohani? Tingkat kedewasaan rohani jauh lebih sulit untuk diterka atau ditentukan. Mereka yang sudah cukup tua umurnya, belum tentu mempunyai tingkat kerohanian yang lebih tinggi dari anak muda. Mereka yang sudah dewasa secara jasmani, mungkin saja belum mempunyai pengenalan yang mendalam tentang kebenaran Tuhan. Mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen, belum tentu lebih bisa menjalankan firman Tuhan.

Memang, reaksi manusia terhadap pertambahan umurnya tentunya berbeda-beda. Mungkin saja ada orang yang puas dengan umurnya atau yang ingin tetap berada dalam umur yang sekarang. Tetapi mereka yang realistis tentunya sadar bahwa bertambahnya umur adalah salah satu tanda yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita akan mengalami berbagai kejadian, baik yang dikehendaki maupun yang sebenarnya ingin dihindari. Bertambahnya umur juga seharusnya membuat orang makin bijaksana dan hidup bertangggung jawab. Tapi itu belum tentu terjadi.

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13: 11

Mereka yang belum dewasa rohaninya, berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Ini tentunya dalam konteks rohani. Mereka itu tidak mempunyai kebijaksanaan yang cukup untuk bisa hidup dan bertingkah laku seperti orang yang sudah dewasa dalam imannya.

Ayat pembukaan di atas mengingatkan kita bahwa pada masa lalu kita mungkin sudah membiarkan hidup kita jatuh ke dalam kecemaran dan kedurhakaan. Rasa sedih dan rasa malu atas apa yang sudah kita lakukan mungkin ada, tetapi bagi banyak orang itu adalah sesuatu yang lebih baik dilupakan. Sebaliknya, bertambahnya umur seharusnya mengingatkan kita untuk memakai hidup kita untuk menjadi hamba kebenaran yang membuat kita makin menyerupai Kristus. Tetapi, bagi banyak orang, ini pun adalah sesuatu yang sering dilupakan karena semuanya hanya rencana untuk masa depan. Lalu apakah yang kemudian terjadi? Masa kini berubah menjadi masa lalu, dan masa depan tidak pernah datang karena tidak ada perubahan yang terjadi. Itulah ciri manusia duniawi yang dari lahir hingga mati tidak mengalami perubahan rohani.

Manusia yang tidak dapat mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, tidak akan dapat membedakan apa yang baik dan adil dari apa yang jahat. Orang-orang semacam itu selalu ingin untuk menjadi orang Kristen dengan cara yang semudah mungkin, yaitu cara mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang seperti bayi, yang merasa puas dengan makanan yang lunak yang mudah ditelan dan dicerna. Mereka merasa puas karena merasa bahwa keselamatan sudah dianugerahkan Tuhan, dan tidak merasa adanya panggilan untuk berubah dari hidup lamanya. Mereka tidak bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat karena merasa puas dengan keadaan hidupnya saat ini. Mereka mungkin percaya bahwa keselamatan tidak akan hilang, tetapi tidak sadar bahwa ada kemungkinan bahwa mereka belum diselamatkan karena tidak pernah berubah dari hidup lamanya. Bagaimana pula dengan hidup kekristenan kita?

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Mengapa kita harus berusaha untuk hidup baik

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada orang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang berdosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Inginkah anda menjadi manusia yang sempurna? Pertanyaan ini mungkin dijawab orang dengan senyum skeptis. Sempurna? Apa bisa? Apa kriteria untuk menjadi manusia sempurna? Apakah bentuk tubuh, rupa, kepandaian, kesadaran, kebaikan dan sejenisnya?

Memang dengan adanya teknik kedokteran kosmetik, orang bisa mengubah bentuk hidung, bibir dan anggota tubuh lainnya untuk menjadi “sempurna”, tetapi itu bukanlah membuat fisik orang yang bersangkutan benar-benar menjadi sempurna. Selain itu, di dunia ini ada orang-orang yang mengajarkan nilai-nilai moral untuk menuju ke “kesempurnaan”, yang bisa membawa kesadaran manusia ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya mereka bisa mencapai surga. Semua hal-hal di atas hanyalah impian manusia saja.

Alkitab jelas menuliskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Semua orang mempunyai kelemahan fisik dan akhirnya akan mati secara jasmani. Semua orang adalah orang berdosa dan pada akhirnya juga akan mati secara rohani jika tidak diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Jika tidak ada manusia yang sempurna, mengapa Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Allah Bapa di surga? Bukankah ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh siapa pun, sekalipun oleh orang-orang saleh pemimpin agama? Bagi umat Kristen, semua orang sudah berbuat dosa dan karena itu tidak ada yang sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, dan Ia pernah turun ke dunia dalam bentuk Yesus, manusia yang tidak berdosa.

Jika ayat di atas menuliskan firman Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Allah Bapa, tentu saja ini bisa menimbulkan tanda tanya. Siapakah yang bisa menjadi manusia yang sempurna? Sudah tentu ajakan Yesus untuk umat-Nya bukanlah ajakan agar kita berusaha untuk menjadi manusia yang suci. Kesempurnaan hanya terjadi jika Tuhan menyambut umat-Nya di surga. Selama di bumi, kita berusaha untuk menjadi umat Tuhan yang baik; dan pengampunan dosa ada melalui darah Kristus, tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sempurna. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yesus itu?

Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup dalam kasih sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakan-Nya? Orang yang demikian sering disebut sebagai penganut antinomianisme. Mereka tidak mau menekankan pentingnya perbuatan baik dan nilai-nilai moral Kristen dengan alasan bahwa jika orang sudah diselamatkan, itu hanya karena karena Tuhan dan karena itu perbuatan manusia tidaklah mempunyai arti dalam konteks keselamatan.

Sudah tentu pandangan antinomianisme adalah keliru. Tetapi mereka yang menganut faham itu sudah tentu tidak merasa atau tidak mau dituduh berpandangan demikian. Dalam hidup Kristen, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Menjadi sempurna di dalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apa pun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan selama hidup di dunia.

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat di atas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Selain itu, dari apa yang baik (buah-buah Roh), orang Kristen bisa terlihat apakah ia benar-benar sudah diselamatkan.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Tuhan Yesus menyuruh kita untuk menjadi sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Bagaimana pula kita bisa melaksanakan perintah ini dalam keterbatasan kita? Tidakkah tujuan adalah terlalu sulit untuk dilaksanakan guna mencapai hasil yang diharapkan? Tuhan Yesus dengan ayat ini bermaksud menetapkan tujuan hidup umat Tuhan. Tujuan ini memang terlalu berat dan tidak mungkin dicapai dengan kekuatan manusia sendiri. Kita harus berusaha tetapi sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa menyempurnakan hasil perjuangan hidup kita.

Hari ini marilah kita memikirkan hidup kita saat ini. Apakah yang menjadi tujuan hidup kita? Sudahkah kita hidup sesuai dengan tujuan kita? Maukah kita meminta pertolongan Tuhan agar kita bisa hidup dalam kasih sesuai dengan perintah-Nya? Sadarkah kita akan perlunya proses kedewasaan dalam iman kita sehingga makin hari kita makin serupa dengan-Nya? Adakah kemauan kita untuk hidup dalam kasih agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita? Sudahkah kita berubah dari cara hidup kita yang lama? Apakah kita mau mendengarkan suara Roh Kudus yang selalu membisikkan pesan-pesan agar kita mengubah hidup kita? Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak akan bisa berubah, tetapi bersama Yesus kita akan makin lama makin menyerupai Dia!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Menghindari sikap antinomianisme

“Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.” Amsal 14: 16

Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apa pun. Antinomianisme memang mengambil ajaran dari alkitab, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah.

Serangan yang paling sering dilontarkan terhadap doktrin keselamatan melalui “anugerah semata-mata saja” adalah: doktrin itu mendorong seseorang untuk berdosa. Orang bisa saja bertanya-tanya, “Jika saya diselamatkan oleh anugerah dan semua dosa saya telah diampuni, mengapa tidak sekalian saja berbuat dosa sesuka hati saya?” Pemikiran ini bukanlah hasil dari pertobatan sejati. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan hasrat yang lebih besar untuk menjadi taat, bukan sebaliknya. Kehendak Allah – dan kehendak kita saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus – adalah bahwa kita akan berusaha keras untuk tidak berbuat dosa. Sebaliknya, kita akan berusaha untuk berbuat baik.

Yang lebih parah lagi, saat ini banyak gereja yang dirongrong oleh pengajaran antinomianisme, yang tidak menekankan pentingnya perubahan hidup orang Kristen setelah menerima hidup baru. Tahun demi tahun dilewati, tetapi mereka tetap hidup bergelimang dalam dosa lama. Itu karena adanya pendeta-pendeta yang terlalu menekankan doktrin predestinasi, yaitu bahwa Allah sudah memilih orang Kristen untuk diselamatkan, dan keselamatan itu tidak bisa hilang selama orang hidup di dunia. Antinomianisme adalah seperti penyakit kanker yang menggerogoti gereja.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang beruntung. Terlepas dari rasa syukur kita atas kasih karunia dan pengampunan Allah, kita pasti ingin menyenangkan-Nya. Allah telah memberikan kasih karunia-Nya yang tak terhingga dalam keselamatan melalui Yesus (Yohanes 3: 16; Roma 5: 8). Respon kita seharusnya adalah menguduskan hidup kita untuk-Nya, sebagai tanda kasih, penyembahan dan syukur kita atas segala yang telah dilakukan-Nya bagi kita (Roma 12: 1-2). Antinomianisme tidak alkitabiah karena menyalahgunakan makna kasih karunia Allah. Antinomianisme adalah alat iblis untuk menghancurkan hidup orang Kristen.

Antinomianisme bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Allah mengharapkan kita untuk menjalani kehidupan yang penuh moralitas, integritas, dan kasih. Yesus Kristus membebaskan kita dari berbagai perintah di Hukum Perjanjian Lama. Namun, ini tidak berarti bahwa kita memiliki kebebasan untuk berbuat dosa, melainkan supaya kita mendapatkan perjanjian kasih karunia. Pandangan sesat antinomianisme itu sudah ada sejak lama, dan Rasul Paulus membahas isu antinomianisme dalam kitab Roma:

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1-2

Berbuat apa yang keliru bukan hanya terjadi dalam kehidupan jasmani. Dalam kehidupan rohani pun, orang mudah merasa tenteram dan lupa untuk berjaga-jaga jika mereka berada ditengah kelompok mereka. Umat Kristen yang merasa aman dalam lingkungan gereja mereka, cenderung untuk mengikuti apa yang sudah terbiasa dan tidak lagi berhati-hati dalam memilih jalan yang benar.

Ayat diatas menuliskan bahwa orang yang bijaksana selalu berhati-hati dan menghindari kejahatan. Yang menjadi persoalan ialah kenyataan bahwa tidak semua yang jahat terlihat begitu pada awalnya. Sering kali apa yang jahat justru muncul sebagai apa yang bisa dinikmati di tengah lingkungan yang aman, misalnya diantara anggota keluarga, kerabat atau teman. Karena adanya rasa aman selama berada dalam satu gereja, orang mudah untuk memakai pengertian teologi yang ada.

Lebih dari itu, mereka yang ada dalam suatu aliran gereja yang besar cenderung berpikir bahwa segala sesuatunya pastilah sudah dipertimbangkan masak-masak oleh orang lain, dan bagi mereka adalah lebih baik untuk menjalankan ajaran pendeta tanpa perlu berpikir atau berhati-hati. Mereka yang demikian tidak akan bertumbuh dalam kedewasaan iman dan dalam pengetahuan yang baik. Mereka tidak akan memperoleh pengalaman pribadi yang bisa membawa kebijaksanaan.

“Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan,  tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.” Amsal 14: 15

Seperti itulah orang yang tidak berpengalaman akan percaya kepada setiap perkataan orang lain dan melangkah menuju tempat yang nampaknya indah. Sebaliknya, orang yang bijak selalu berhati-hati kemana kaki mereka akan pergi. Setiap langkah yang kita ambil adalah tanggung jawab kita sendiri, dan jika kita terjatuh atau tersandung dalam melangkah, semua itu pada akhirnya adalah kita yang merasakan akibatnya dan kita sendiri yang harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Hari ini, mungkin kita merasa cukup bahagia dalam keadaan kita. Hidup berjalan seperti biasa, tanpa masalah yang berarti. Apa yang kita lakukan setiap hari selama ini berjalan terus. Untuk apa kita memikirkan hidup baik? Bukankah sebagai orang yang sudah diselamatkan kita bisa menikmati dan bahkan memanfaatkan apa pun selagi hidup? Firman Tuhan mencoba menginsafkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita tetap harus aktif dalam memilih apa yang baik menurut Tuhan dan apa yang baik untuk Dia dan sesama kita. Setiap orang bertanggung-jawab atas hidupnya, dan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik jasmani maupun rohani, baik yang sekarang ataupun di masa depan, bergantung pada apa yang kita pilih dan lakukan. Sebagai pohon yang baik kita harus menghasilkan buah yang baik.

Antara mendukakan dan menghujat Roh kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda membuat orang lain merasa sedih karena tingkah laku atau perbuatan anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Semasa kecil, saya juga sering membuat orang tua saya menghela nafas dan bahkan marah karena apa yang saya lakukan. Walaupun demikian, orang tua saya selalu siap untuk melupakan apa yang sudah terjadi jika saya menyadari kesalahan saya dan menyesalinya. Saya bayangkan, jika saya terus membantah dan tidak mengakui kesalahan saya, tentunya orang tua saya akan makin merasa sedih atau marah.

Setelah dewasa, saya sering mendengar dan juga membaca berita tentang adanya anak yang berani melawan orang tuanya. Bahkan ada kisah yang menyedihkan mengenai anak yang memukul orang tuanya karena ia mendapat teguran atas cara hidupnya. Anak itu kemudian menjadi “teror” dalam keluarga karena berani memukul atau mengancam orang tua atau saudara-saudaranya. Biasanya, dalam keadaan sedemikian polisi harus campur tangan, dan jika keadaan tidak dapat diperbaiki, anak itu tentunya akan putus hubungan dengan orang tuanya. Anak itu bukan hanya mendukakan, tetapi sudah melecehkan orang tuanya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat. Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataannya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepada-Nya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dan menuruti jalan kita sendiri.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Hal-hal yang sedemikian hanya membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Jika mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, bagaimana dengan melecehkan atau menghujat Roh Kudus? Munghujat Roh Kudus adalah berbeda dengan mendukakan Roh Kudus. Menghujat atau melecehkan Roh Kudus hanya dapat dilakukan oleh orang yang belum lahir baru, tetapi mendukakan Roh Kudus dapat dilakukan oleh orang yang sudah diselamatkan dan sudah menerima Roh Kudus dalam hatinya. Orang yang terus-menerus menghujat Roh Kudus tidak akan dapat diampuni.

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus 3: 29

Mereka yang menghujat Roh Kudus adalah orang-orang yang dengan sengaja menolak bekerjanya Roh dalam hidup mereka. Jika Roh Kudus mengingatkan mereka untuk bertobat dari dosa dan memohon pengampunan, mereka menolak-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang salah dalam hidup mereka. Mereka mungkin yakin bahwa mereka adalah orang-orang baik dan terhormat. Mereka menolak kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan orang yang mengakui dosanya dan mau bertobat.

Mereka yang menghujat Roh Kudus itu tidak dapat menyadari dosa mereka, dan karena itu tidak mau untuk memohon ampun kepada Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka. Dengan demikian, orang yang menolak Roh Kudus akan menjadi orang-orang yang ditolak masuk dalam kerajaan surga. Mereka tidak bisa menjadi anak Tuhan.

Memang, jika kita benar-benar percaya kepada Allah dan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita. Kita tidak mungkin untuk menghujat Roh Kudus, tetapi dapat mendukakan-Nya. Pada pihak yang lain, mereka yang belum benar-benar percaya cenderung mengabaikan suara Roh Kudus, dan akan kehilangan kesempatan untuk menerima keselamatan.

Biarlah Roh Kudus bisa bekerja makin hebat dalam diri kita, agar kita berhenti mendukakan Roh Kudus. Biarlah melalui hidup kita, mereka yang belum percaya mau mendengarkan suara Roh Kudus yang membawa mereka ke arah pertobatan dan keselamatan.

Kepastian di antara ketidakpastian

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Dampak COVID-19 bukan saja menyangkut masalah kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan rohani. Tidak hanya orang menjadi tidak bebas untuk keluar rumah dan beraktivitas, banyak orang yang mengalami gangguan jiwa dan kehilangan rasa damai karena oleh adanya halangan untuk bertemu dengan orang lain. Syukurlah keadaan sekarang sudah mulai membaik dan sebagian orang sudah dapat berbakti di gereja, hampir seperti biasanya.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Virus corona yang sudah menyebabkan tewasnya lebih dari enam juta orang baik tua atau muda, baik orang Kristen maupun bukan Kristen, tentu dipandang sebagai malapetaka. Apakah Tuhan menghendaki COVID-19 untuk mewabah di dunia?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatan-Nya (sovereign will) membuat virus corona merajarela. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, tetapi harus dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana malapetaka dapat terjadi sekalipun tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa. Semua itu membuat ketidakpastian.

Bagi kita dan pada saat ini, ketidakpastian bisa menyangkut banyak hal. Bukan saja mengenai kesehatan, tetapi juga menyangkut pendapatan, masa depan keluarga, keadaan ekonomi negara dan situasi dunia. Bagaimana dengan global warming dan climate change? , Pemanasan global atau global warming adalah meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, bumi, dan lautan. Sedangkan perubahan iklim atau climate change merupakan perubahan yang signifikan pada iklim, seperti suhu udara atau curah hujan, selama kurun waktu 30 tahun atau lebih. Kedua hal ini juga menyebabkan ketidakpastian masa depan umat manusia di dunia.

Dalam keadaan sekarang ini, banyak orang yang berkata bahwa kunci kehidupan di dunia adalah adanya dana. Persoalan apa pun besarnya akan dapat diatasi jika uang ada. Ini ada benarnya, karena uang adalah salah satu kebutuhan manusia yang paling penting, mungkin setelah udara. Dengan demikian, banyak orang yang mati-matian mengejar kekayaan. Mengejar kekayaan merupakan jalan yang berbahaya bagi orang-orang Kristen dan menjadi sesuatu yang diperingatkan Allah: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.

Kalau kekayaan merupakan tujuan yang baik bagi orang-orang saleh, Yesus sudah pasti akan mengejar kekayaan. Namun, Dia tidak melakukan itu, dan lebih memilih tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20) dan mengajar murid-murid-Nya untuk bersikap serupa.

Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 20

Inilah yang sulit dimengerti oleh orang di zaman ini, karena tentu kita perlu memerlukan bantal yang empuk untuk tidur, dan rumah untuk melindungi kita dari hujan dan angin. Kita tidak dapat hidup seperti serigala yang hanya mempunyai liang dan burung yang tinggal dalam sarang. Kita memerlukan kepastian dalam hidup! Itulah dalih mereka yang mengejar keuntungan.

Paulus memperingatkan Timotius akan orang-orang semacam ini dalam 1 Timotius 6: 6-10.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Memang Yesus pernah berkata bahwa orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, dan kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada berhala Mamon (Matius 6: 24).

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Ayat mas di atas, diucapkan oleh teman-teman Daniel (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika mereka tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, mereka tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika mereka melawan kehendak raja. Apakah mereka berpikir bahwa Tuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak. Tetapi, mereka tahu bahwa apa yang akan dilakukan Tuhan adalah ketidakpastian bagi mereka. Tuhan pasti akan melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak pasti tentang apa yang akan terjadi. Ketidakpastian yang nyata, karena Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Ia tidak perlu berunding dengan ciptaan-Nya untuk mengambil keputusan.

Adakah yang pasti bagi teman-teman Daniel? Ada! Mereka tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain. Lalu, apa yang akan terjadi? Mereka tidak tahu, tetapi bukan tidak beriman.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Ini juga sering dipandang orang yang kurang percaya sebagai Tuhan yang alpa atau lupa akan penderitaan umat-Nya. Bahkan sebagai tanda Tuhan yang sudah mati.

Saat ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita merasa bahwa Tuhanlah membuatnya. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa-pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis atau hukuman/peringatan Tuhan untuk orang/bangsa yang sengaja mau melawan Dia. Tetapi hal yang menakutkan dan bisa menimbulkan ketidakpastian, seperti apa yang pernah dialami Daniel dan teman-temannya, terjadi dengan sepengetahuan Tuhan yang mahakuasa. Dan seperti yang terjadi pada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, Tuhan bisa membuat itu menjadi pelajaran yang berharga untuk kita maupun orang lain.

Alkitab menegaskan bahwa bagaimanapun, penderitaan dan kematian adalah musuh (1 Korintus 15:26), kutukan (Kejadian 3:14-17) untuk semua ciptaan, termasuk makhluk hidup. Tetapi, penghakiman yang mengerikan itu adalah karena pemberontakan Adam (Kejadian 3:17; 1 Timotius 2:14), dan bukan merupakan bagian dari ciptaan Allah yang baik. Penderitaan manusia yang ada dalam rancangan Tuhan begitu asing bagi sebagian orang Kristen, sehingga mereka bingung dalam menghadapi orang yang menyarankan bahwa Tuhan “mengarang” kematian bagi ciptaan-Nya. Tetapi Daniel dan teman- temannya jelas tidak bingung, mengapa ia harus menghadapi kematian. Ia tahu bahwa penderitaan dan kematian adalah bagian hidup manusia yang berdosa. Tetapi, berbeda dengan orang yang tidak berTuhan, ia tahu bahwa baik dalam hidup atau mati, Tuhan senantiasa beserta dia.

Tuhan mengasihi setiap umat-Nya. Itu tidak perlu diragukan. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan memegang kontrol atas keadaan di dunia. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Kita tidak pasti akan apa yang terjadi, tetapi kita pasti bahwa kasih-Nya senantiasa beserta kita.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Tidak terasa tahun 2022 sudah hampir separuhnya dilalui. Apa yang sudah aku capai dalam tahun ini? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Adakah hal yang belum tercapai sampai sekarang? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya pada saat ini. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan belum tercapai. Apalagi mereka yang masih mengalami badai kehidupan di saat ini, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya berbagai hal di atas tidaklah penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, hari apa saja adalah kesempatan bagi setiap orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama ini, sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah bertumbuh secara rohani sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa Tuhan berdaulat atas segala ciptaan-Nya, dan karena itu tidak ada satu makhluk pun yang bisa mempengaruhi-Nya. Tuhan sudah mempunyai rencana untuk seisi jagad raya dan isinya, dan itu termasuk rencana untuk setiap manusia. Setiap manusia sudah ditetapkan-Nya untuk berada dalam lingkungan tertentu dan menerima apa yang sudah ditentukan-Nya dalam hidupnya. Tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam hidupnya, karena Tuhan juga sudah menetapkan tugas dan peranan masing-masing. Itu berarti bahwa Tuhan 100% berdaulat, dan manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya.

Banyak orang Kristen yang merasa kedaulatan Tuhan itu berarti manusia tidak mempunyai opsi apa pun. Mereka percaya bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan sehingga manusia tidak mempunyai peran yang berarti dalam hidupnya. Ini adalah pandangan deterministik yang dalam bentuk ekstrim bisa menjadi pandangan fatalisme yang menyatakan bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan apa yang ditentukan Tuhan. Sudah tentu, pandangan sedemikian adalah keliru dan bertentangan dengan ayat di atas.

Setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah, begitu bunyi ayat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Ada pertanggungjawaban pribadi berarti ada yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan secara pribadi. Bagaimana dengan tanggung jawab manusia atas apa yang dilakukan oleh orang lain, apa yang terjadi di luar kuasanya, atau atas apa yang dilakukan Tuhan dalam hidupnya? Sudah tentu ia tidak bertanggung jawab atas hal-hal itu, tetapi ia bertanggung jawab atas reaksi atau responnya atas hal-hal itu. Dengan demikian, setiap manusia harus 100% bertanggung jawab atas hidupnya yang berada dalam rancangan Tuhan.

Manusia tidak dapat menolak tanggung jawabnya dengan alasan bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya. Manusia juga tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil dengan memberikan apa yang tidak seindah atau sebesar apa yang diberikan Tuhan atas orang lain. Tetapi setiap manusia bertanggung jawab atas talenta atau setiap karunia Tuhan yang sudah diterimanya.

Tuhan menentukan semua rencana-Nya, tetapi adanya manusia yang bertanggung jawab adalah bagian dari penetapan-Nya. Pertengahan tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk meneliti hidup kita, sampai di mana kita sudah berusaha untuk hidup dalam terang Kristus. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah!