Jangan mau digagalkan

“Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi.” Kolose 2: 18

Bagi mereka yang senang berolahraga atletik atau menontonnya, olahraga jalan cepat seringkali membawa kejutan. Atlit-atlit yang lagi “leading” atau berada didepan, belum tentu bisa memenangkan pertandingan. Jane Saville, seorang atlit pejalan kaki dari Sydney, pada saat mengikuti perlombaan di Olimpiade 2000 di Sydney, berada di posisi terdepan dan hampir mencapai garis finis ketika ia di-diskualifikasi. Kemenangan yang sudah di ambang pintu, tiba-tiba lenyap.

Orang Kristen sering diibaratkan sebagai atlit pelari oleh rasul Paulus. Ia pernah mengatakan bahwa kita harus memandang kedepan dan berlari menuju tujuan, yaitu mahkota kemenangan didalam Kristus. Ia juga mengatakan bahwa kita harus menuruti aturan-aturan pertandingan, yaitu firman Tuhan, untuk bisa mencapai kemenangan.

“Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.” 2 Timotius 2: 5

Jelas bahwa siapa yang ingin menang dalam perjuangan hidup ini haruslah tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan. Dalam hal ini, Alkitab adalah buku pedoman, firman dari Tuhan yang memberi kaidah hidup baru umat Kristen.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2 Timotius 3: 16 – 17

Walaupun kebenaran Alkitab itu seharusnya sama bagi setiap pengikut Kristus, dalam kenyataannya ada orang-orang yang mempunyai penafsiran mereka yang berbeda dengan apa yang diajarkan Alkitab. Mereka itu seringkali mengajak orang lain untuk melakukan praktik-praktik religius yang tidak atau kurang sesuai dengan firman Tuhan. Sebagian dari mereka menuntut umat Kristen untuk melakukan ritual-ritual tertentu agar bisa memastikan keselamatan mereka. Ajaran semacam ini sampai sekarang pun masih ada, yang sering menyatakan bahwa iman kepada Kristus saja tidak cukup untuk membawa kearah keselamatan.

Pagi ini, firman Tuhan sekali lagi mengingatkan bahwa manusia diselamatkan bukan karena usaha kita sendiri, tetapi karena kemurahan Tuhan saja (Efesus 2: 8 – 9). Jika kita ke gereja hari ini, itu adalah keinginan kita untuk bersyukur kepada Tuhan dan untuk mendengarkan firmanNya. Pergi ke gereja dan menjalankan ritual tertentu memang bisa memperdekat hubungan kita dengan Tuhan, tetapi kita harus berhati- hati untuk tidak menggantungkan keselamatan kita pada apa yang diajarkan manusia dan yang bersifat duniawi. Yesus sudah menebus dosa kita dan kita sudah menang didalam Dia; karena itu kita tidak boleh membiarkan orang lain untuk mencuri kemenangan kita dengan menambahkan syarat-syarat tambahan untuk meraih keselamatan.

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” 1 Korintus 7: 23

Harus tahu untuk mengerti

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Di Australia ada organisasi yang dinamakan Royal Automobile Club yang ada di berbagai negara bagian. Organisasi ini kebanyakan sudah berumur lebih dari 100 tahun, dan mempunyai tujuan untuk menghimpun para pemilik dan pengemudi mobil dalam segala kegiatan dan kepentingan bermobil. Organisasi yang ada di Queensland misalnya (RACQ) , mempunyai jasa pelayanan di jalan (road assist) yang memberi bantuan kepada mereka yang mengalami kerusakan mobil di jalan, menyediakan asuransi kendaraan dan rumah, dan juga berbagai fasilitas kemudahan lainnya. Selain itu, RACQ menerbitkan majalah bulanan yang berisi ulasan mobil, cara mengemudi di medan tertentu, laporan perjalanan manca negara, dan juga membahas peraturan lalu lintas yang baru atau yang sering disalah-mengertikan.

Untuk saya yang sudah memegang SIM Australia selama 35 tahun, ulasan peraturan lalu lintas di majalah RACQ sangatlah menarik. Seringkali, dari membaca ulasan itu saya diingatkan bahwa peraturan lalu lintas tertentu itu ada, dan juga kadang-kadang diinsafkan bahwa pengertian saya tentang peraturan tertentu itu ternyata keliru. Memang untuk mendapat SIM di Australia tidaklah mudah, banyak orang yang gagal untuk memperolehnya pada kesempatan pertama; tetapi adanya SIM tidak menjamin bahwa pemiliknya faham atau ingat akan peraturan lalu lintas tertentu, ataupun mampu untuk menaatinya.

Hafal akan hukum yang ada belum tentu menjamin seseorang untuk bisa menjalaninya. Tetapi siapa yang tidak mengenal atau lupa akan adanya hukum, tentunya akan sulit untuk menaatinya. Begitu juga orang Kristen yang tidak tahu atau lupa akan firman Tuhan di Alkitab, akan sulit untuk hidup dalam kebenaran. Alkitab adalah firman Tuhan, dan karena itu setiap orang Kristen harus sering membaca dan mempelajarinya agar bisa melaksanakannya dalam hidup sehari-hari. Pengertian yang sama juga dimiliki penganut agama-agama lain, yang menggalakkan semangat untuk menghafal ayat-ayat kitab suci mereka dengan mendorong sebagian umat mereka untuk menjadi teladan.

Adalah kenyataan bahwa sebagian besar orang Kristen tidaklah tertarik untuk menghafalkan ayat Alkitab. Ada yang tidak punya waktu untuk menggumuli firman Tuhan, karena itu lebih senang untuk sekali seminggu ke gereja untuk mendapat “firman instan”. Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa adalah lebih baik untuk menjadi pelaku firman daripada menjadi orang yang hanya hafal firman. Bukankah orang yang paling hafal akan hukum Tuhan adalah orang Farisi? Bukankah Yesus membenci orang sedemikian, karena walaupun mereka tahu firman Tuhan, mereka tidak melaksanakannya?

Memang benar bahwa orang yang tahu adanya perintah Tuhan tetapi tidak melaksanakannya adalah orang yang munafik. Jika ini kita bayangkan, barangkali orang semacam ini adalah seperti pengemudi mobil yang punya SIM dan sudah lama mengemudi, tetapi tetap sering dengan sengaja melanggar peraturan lalu lintas. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mempelajari firman Tuhan tetapi ingin hidup sebagai orang Kristen adalah seperti orang yang ingin mengemudikan mobil sekalipun tidak mengerti peraturan lalu lintas. Mungkin saja mereka hafal akan beberapa ayat Alkitab, tetapi mereka tidak mengerti konteks dan aplikasinya. Bagaimana mungkin mereka bisa survive dalam perjalanan hidup tanpa mencelakai diri sendiri dan orang lain?

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa selama hidup, kita harus mau memakai firman Tuhan sebagai pembimbing langkah kehidupan kita. Membaca dan menghafal firman Tuhan adalah sebuah kesempatan yang berharga dan tanggung jawab setiap orang Kristen. Kita tidak dapat menjadi orang Kristen “semau gue“, yang tidak mempedulikan peraturan dan bimbingan Tuhan. Tuhan memang panjang sabar dan mahakasih, tetapi Ia menghargai mereka yang takut akan Dia.

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 8 – 13

Kapan kita boleh mencuri?

“Jangan mencuri” Keluaran 20: 15

Di Australia, terutama di perusahaan atau kantor yang besar, biasanya ada tersedia sebuah “common room“, yaitu ruang serba guna yang bisa digunakan semua pekerja untuk beristirahat atau makan siang. Tempat ini bukanlah sebuah cafeteria yang menjual makanan, tetapi sebuah ruang yang mempunyai fasilitas membuat kopi dan teh, microwave oven, dan lemari pendingin untuk menyimpan susu dan makanan.

Suatu hal yang aneh tapi nyata, yang selalu terjadi di common room, adalah hilangnya sendok teh. Setiap orang yang ingin membuat kopi atau teh harus membawa cangkir mereka sendiri, tetapi sendok-sendok teh biasanya disediakan untuk dipakai bersama. Sendok inilah yang selalu habis menghilang setelah kira-kira 2-3 bulan, mungkin dengan kecepatan 2-3 sendok seminggu. Ini adalah suatu fenomena yang sudah sering dibuat bahan lelucon dan bahkan topik riset. Analisa statistik tentang menghilangnya sendok teh ini sudah pernah diterbitkan dengan judul The case of disappearing teaspoons. Walaupun begitu, orang sudah tidak peduli akan fakta bahwa ini adalah kasus pencurian dan bukan sekedar geguyonan atau kebiasaan.

Apa arti mencuri?  Apakah mencuri selalu merupakan dosa?  Inilah beberapa hal yang sering dipertanyakan, sekalipun orang tentunya menyadari bahwa definisi umum kata “mencuri” adalah mengambil barang orang lain tanpa izin atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mencuri bisa berupa mengambil mangga dari pohon tetangga, meminjam pakaian atau HP teman tanpa ijin, mencontoh solusi ujian/riset orang lain, atau tidak membayar hutang, sampai hal yang bisa menjadi pokok berita heboh di media, seperti melarikan pasangan orang lain atau menggelapkan uang negara.

Jika kita melihat apa yang tertulis dalam ayat diatas, yang merupakan salah satu dari sepuluh hukum Tuhan, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa mencuri dalam segala bentuknya adalah dosa. Baik mencuri barang yang kecil maupun besar adalah dosa. Tetapi, bagaimana jika kita mengambil barang seseorang karena kita merasa bahwa orang yang empunya tidak berkeberatan? Bagaimana pula jika kita mengambil barang orang lain yang sudah tidak dipakai? Atau jika seorang mencuri karena terpaksa, karena keadaan yang berat yang dialaminya?

Bagi sebagian orang, mencuri adalah sesuatu yang mempunyai kepuasan tersendiri. Orang yang bisa menggunakan fasilitas atau sarana tanpa membayar sering merasa senang dan puas. Mereka yang menemukan barang berharga yang tertinggal di tempat umum, bisa saja tergoda untuk mengambilnya. Bagi mereka, kalau orang lain berbuat hal yang sama, dan tidak ada hukum setempat yang melarangnya, itu bukan mencuri.  Tetapi, menggunakan atau mengambil sesuatu yang bukan hak atau milik kita adalah mencuri.

Memang ada situasi yang berat, yang memaksa sesesorang untuk mencuri. Misalnya, mereka yang kelaparan dan tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, mungkin terpaksa untuk mencuri. Ini pun dosa yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini juga bisa menyebabkan orang di sekitarnya berbuat dosa juga karena membiarkan hal ini sampai terjadi. Perintah Yesus untuk mengasihi sesama kita, membuat kita ikut bertanggung jawab jika seseorang terpaksa mencuri, sedangkan kita mampu untuk memberi pertolongan.

Mencuri tidak selalu berupa kegiatan “mengambil”, tetapi juga bersangkutan dengan kegiatan “memberi”. Mereka yang tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan/dibaktikan kepada seseorang, masyarakat, negara, dan dunia adalah mencuri hak orang lain.  Sebagai contoh, setiap orang Kristen diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Tidak membayar pajak atau sengaja mengurangi jumlah pajak yang seharusnya dibayar kepada pemerintah adalah mencuri hak pemerintah.

“Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 6-7

Mencuri juga bisa berupa penyalahgunaan apa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk maksud-maksud tertentu. Tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan hal yang baik adalah mencuri waktu yang diberikan Tuhan, sebab Tuhan memberi kita kehidupan bukan untuk dipakai secara sembarangan, tetapi untuk memuliakanNya. Segala berkat yang dilimpahkanNya bukannya untuk kemuliaan kita, tetapi untuk kebesaranNya. Karena itu, dalam keadaan apapun kita tidak boleh lupa untuk menyatakan rasa syukur kita kepadaNya.

Pagi ini, kita bisa melihat bahwa ayat diatas adalah singkat dan mudah dimengerti, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Tetapi, bagi kita yang sudah menerima anugrah keselamatan dari Yesus Kristus, kesadaran tentunya ada bahwa sebagai umat Kristen kita tidak seharusnya mencari keuntungan dalam segala kesempatan. Kita harus sadar bahwa kebiasaan memberi adalah lebih baik daripada menerima. Kebiasaan memberi akan menumbuhkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama, dan akan mengurangi godaan untuk menerima atau mengambil sesuatu dari orang lain.

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Kesedihan membawa kepercayaan

“Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” Mazmur 13: 2

Suatu perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di luar negeri adalah adanya kuliah melalui internet. Dengan majunya teknologi, seorang murid tidak perlu menghadiri kuliah di universitas, tetapi cukup dengan memutar video rekaman kuliah melalui internet. Semua bahan-bahan kuliah juga tersedia secara elektronik, sehingga murid itu tidak perlu pergi ke perpustakaan atau ke toko buku.

Segala kemajuan teknologi memang bisa membawa kemudahan; walaupun demikian, tentu ada juga kemunduran atau akibat sampingan yang terjadi. Dalam hal pendidikan jarak jauh (distance education), kemunduran yang terjadi adalah dalam hubungan langsung antar murid dan antara murid dan dosen yang hilang, yang diganti dengan kontak melalui internet. Murid tidak bisa mengenal dosen, dan dosen tidak tahu akan sifat dan reaksi murid. Karena tidak adanya perjumpaan muka dengan muka, para murid seringkali lebih bebas untuk mengutarakan uneg-uneg mereka. Karena itu, tidak mengherankan jika ada kejadian dimana murid membuli atau menggosip dosen tertentu. Kejadian semacam ini tentu saja bisa menyebabkan kesedihan dan bahkan trauma psikologis bagi dosen yang bersangkutan.

Dalam hidup di dunia, memang tidak dapat dihindari adanya orang-orang yang kurang menyenangi kita, dan bahkan membenci kita. Apapun yang kita perbuat, tidak bisa membuat mereka senang. Lebih buruk lagi, ada orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang, yang mempunyai naluri untuk menghancurkan hidup atau karir orang lain. Dengan segala tindakan mereka, orang mungkin merasa bahwa ada musuh-musuh yang selalu menunggu saat yang baik untuk menyerang.

Pemazmur, dalam ayat diatas, juga mengalami hal yang serupa. Ia merasa hidupnya berat karena musuh-musuh yang menekan dia. Hidupnya penuh kekuatiran dan kesedihan, karena ia merasa tidak berdaya. Tuhan seolah sudah melupakan dan meninggalkan dia.

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” Mazmur 13: 1

Bagi orang percaya, tidak ada kesedihan yang lebih besar dari perasaan bahwa Tuhan sudah menelantarkan dia. Ini bukan hanya terjadi pada mereka yang lemah rohaninya, tetapi bisa dialami semua umat Kristen, baik muda atau tua, miskin atau kaya, di desa maupun di kota. Selama hidup di dunia, semua orang bisa mengalaminya.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus yang pernah mengalami banyak hal yang serupa dengan apa yang dialami oleh pemazmur diatas, menuliskan keyakinannya sebagai satu nasihat kepada jemaat di Korintus.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Pagi ini, jika kita bangun tidur dengan mata yang masih terasa berat dan tubuh yang lelah, pikiran kita mungkin menganjurkan kita untuk menyerah. Tuhan seakan sudah meninggalkan kita. Hati kita mungkin menjerit seperti pemazmur: “Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.”

Seperti Tuhan mendengarkan jeritan pemazmur, Tuhan juga mau menguatkan kita. Ia belum tentu menghilangkan kesulitan dalam hidup kita, tetapi melalui kesulitan yang kita hadapi, Tuhan mengingatkan kita bahwa Ia yang sudah berbuat baik pada masa yang lalu, Ia jugalah yang menyertai kita dan akan menolong kita pada saat yang tepat. Pujilah Tuhan yang mahakasih!

“Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” Mazmur 13: 5 – 6

Mudahnya menjadi orang dursila

“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN” 1 Samuel 2: 12

Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36

Salah satu kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia yang menarik perhatian saya adalah kata “dursila”. Dalam Alkitab berbahasa Inggris yang banyak versinya, kata dursila ini muncul sebagai kata “wicked“, “scoundrel“, “worthless“, “corrupt” dan sebagainya. Secara umum kata-kata itu menunjukkan karakter dan cara hidup manusia yang sangat buruk. Mungkin, jika ada Alkitab berbahasa Indonesia yang berversi lain, kata durhaka, durkasa dan durjana bisa juga dipakai sebagai kata alternatif.

Mengapa anak-anak lelaki nabi Eli, Hofni dan Pinehas, disebut sebagai orang dursila? Berbagai kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan sifat dan kelakuan mereka menunjukkan bahwa tidaklah cukup jika kita memakai kata “jahat” atau “amoral”. Mereka adalah orang-orang jahat, kejam, amoral, dan culas, yang tidak peduli akan hukum dan orang lain. Lebih dari pada itu, mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada Tuhan.

Pada waktu itu anak-anak Eli adalah orang-orang dewasa yang suka menjarah kurban persembahan untuk Allah. Bukannya mereka menunggu sampai upacara persembahan selesai dan kemudian mengambil bagian daging bakaran yang sesuai dengan hukum yang ada, mereka sebaliknya mengambil apa saja yang mereka mau, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Lebih dari itu mereka juga berzinah dengan perempuan-perempuan Israel yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

Jika kesalahan anak-anak Eli adalah sangat besar menurut standar kepercayaan umat Israel pada waktu itu, semuanya adalah suatu dosa besar yang membuat Allah sangat murka. Segala kesalahan itu dapat disimpulkan sebagai tidak adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka yang seharusnya mengenal Tuhan yang mahasuci, justru mengabaikan adanya Tuhan dengan berbuat semaunya dan dengan tidak menghiraukan teguran Eli, ayah mereka.

Bagi kita, adalah mudah untuk berkata bahwa sudah sepantasnya bahwa Tuhan menghukum anak-anak Eli untuk kedursilaan mereka, dan juga menghukum Eli yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menegur mereka. Dalam hal ini, sungguh menarik perhatian bahwa Eli seakan pasrah kepada Tuhan dan tidak lagi peduli akan kemarahan Tuhan yang merasa terhina atas segala apa yang terjadi (1 Samuel 3: 18). Keacuhan kita akan adanya dosa di sekitar kita, adalah termasuk dosa juga.

Mungkin kita berpikir bahwa kita tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat anak-anak Eli. Kita barangkali yakin bahwa perbuatan seperti menjarah, merampok, mencuri, membuli dan berselingkuh tidak pernah kita lakukan dalam hidup ini. Tetapi, apa yang menjadi penyebab utama kemarahan Tuhan adalah sikap hidup manusia yang mengabaikanNya. Perbuatan-perbuatan jahat hanyalah manifestasi hati dan pikiran yang menaruh Tuhan di satu sudut hidup kita untuk bisa dilupakan. Out of sight, out of mind.

Mengabaikan Tuhan tidak selalu berupa tindakan dursila yang jelas terlihat. Eli yang tidak merasa terbeban untuk menghentikan kejahatan anak-anaknya, juga melakukan dosa besar dalam pandangan Tuhan yang mahasuci. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika hidup kita berjalan cukup “normal” untuk ukuran manusia dan kita merasa senang karenanya, itu belum tentu merupakan keadaan yang disukai Tuhan.

Orang yang dursila adalah manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan yang mahasuci di tempat yang tertinggi dalam hidupnya. Ia sering mengabaikan firmanNya, tidak lagi sadar akan kebesaran Tuhan, dan tidak lagi menghormatiNya dalam setiap segi kehidupannya. Sungguh tidak sukar bagi kita untuk menjadi manusia dursila!

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30

Peranan filsafat bagi orang Kristen

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Kolose 2: 8

Pernahkah anda mempelajari ilmu filsafat? Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Filsafat dalam arti aslinya tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan mengutarakan masalah secara terperinci dan mencari solusi untuk itu; dengan memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk memperoleh solusi. Untuk mempelajari ilmu filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Sekalipun kita tidak pernah belajar ilmu filsafat di sekolah, pikiran yang mengandung unsur filsafat sering muncul dalam hidup manusia. Mencari arti hidup, mempelajari pandangan manusia, dan menghadapi penderitaan, adalah sebagian contoh peristiwa yang memerlukan kita untuk berpikir dalam-dalam guna mencari jawabannya.

Pikiran falsafi sering dipakai untuk membantu manusia guna menyelami apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi. Karena itu setiap aliran kepercayaan biasanya mempunyai tokoh-tokoh yang mampu membahas segi-segi kehidupan dari sudut filsafat keagamaan. Dalam agama Kristen, mungkin orang tidak menyadari bahwa Rasul Paulus sering memakai cara filsafat untuk mendalami arti hidup sebagai anak Allah. Sepanjang sejarah gereja, nama-nama seperti Augustine, Aquinas, Calvin, Kierkegaard, and lainnya, dikenal sebagai filsuf-filsuf Kristen. Di zaman modern ini, kita juga mempunyai pemikir-pemikir Kristen seperti C. S. Lewis, Alvin Plantinga, Francis Schaeffer, dan Ravi Zacharias.

Walaupun filsafat adalah sebuah ilmu yang bisa membantu kita untuk mencari arti hidup dan untuk menghadapi masalah kehidupan, ilmu filsafat saja tidak dapat menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan. Mereka yang digolongkan sebagai filsuf Kristen, selalu memakai Alkitab sebagai pedoman.

Mereka yang dipandang sebagai ahli pemikir dunia, seringkali memakai cara-cara manusiawi untuk menyelesaikan masalah. Mereka yang kelihatannya pandai berbicara dan mampu menarik perhatian masyarakat, tetapi tidak pernah memakai firman Tuhan sebagai pedoman, hanyalah “orang-orang pandai” yang merasa bahwa Tuhan tidak perlu dipikirkan. Mereka seringkali, seperti ayat diatas, menyampaikan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan pikiran dunia, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Mereka berfilsafat untuk mencari keuntungan pribadi, dan bukan untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menghadapi hidup ini. Pemikiran yang mendalam adalah perlu untuk mempelajari firman Tuhan. Logika berpikir dan logika bahasa adalah perlu untuk mendalami firmanNya, tetapi yang lebih perlu lagi adalah pencerahan Roh Kudus.

Adalah kenyataan bahwa pada umumnya orang Kristen sering malas untuk mendalami firman Tuhan. Asal percaya cukuplah, begitu mungkin anggapan mereka. Pergumulan pribadi untuk mengerti makna firman Tuhan seringkali dihindari, dan diganti dengan apa yang bisa diperoleh dari orang lain. Jalan yang mudah, tetapi tidak mendorong kearah kedewasaan iman. Sebaliknya, mereka sering dengan mudah mengagumi kata-kata bijak dan slogan-slogan singkat yang berbau filsafat dari orang-orang yang dianggap pandai atau suci.

Filsafat memang bisa membantu kita melangkah dalam hidup sehari-hari. Tetapi jika semua itu tidak berdasarkan pada firman Tuhan dan rasa takut kepada Tuhan, itu sama saja dengan usaha untuk mengganti filsafat Kristen dengan filsafat umum duniawi yang tidak mengenal Tuhan.

“Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” Pengkhotbah 12: 12 – 14

Menjadi sempurna seperti Bapa

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Pernahkah anda menonton film Superman? Bagi yang pernah, Superman adalah manusia yang “super”; ia adalah seorang pria yang sehari-harinya hidup sebagai orang yang sederhana dan sopan, tetapi tanpa diketahui orang lain, ia adalah seorang pembela keadilan dan pembasmi kejahatan. Ia tidak bisa mati, ia bisa terbang kemana saja dengan kecepatan supersonic. Sudah tentu tokoh Superman hanyalah ada dalam khayalan, karena tidak ada manusia yang seperti dia. Walaupun begitu, film Superman selalu mendapat perhatian para pecinta layar perak, baik yang tua maupun yang muda, mungkin karena mereka bisa bebas berkhayal selama menonton.

Sudah tentu dalam kenyataannya manusia super itu tidak ada. Alkitab malahan mengatakan bahwa semua manusia itu adalah makhluk berdosa yang seharusnya menerima murka Allah, jika tidak karena kemurahanNya yang dinyatakan dengan pengurbanan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Jika ada seorang Superman yang benar-benar super, itu adalah manusia Yesus yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia yang percaya kepadaNya. Yesus adalah sempurna seperti Allah Bapa, karena Ia dan Bapa adalah satu adanya.

Dalam ayat diatas, Yesus berkata bahwa seluruh orang percaya haruslah menjadi sempurna sama seperti Allah Bapa. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa ini bisa menjadi sempurna, tidak bercacat cela, suci seperti Tuhan? Banyak orang yang berpendapat bahwa perintah Yesus ini tidak mungkin bisa tercapai. Tetapi, Yesus yang menyuruh kita untuk menjadi sempurna, sudah tentu tahu bahwa hal ini bisa dicapai umatNya. Bagaimana pula kita bisa menjalankan perintah Yesus ini?

Mengenai apa yang sempurna, haruslah dimengerti bahwa kesempurnaan yang dipandang Tuhan adalah hal yang mutlak, karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Sebaliknya, istilah sempurna (perfect) yang sering dipakai manusia adalah sesuatu yang relatif, karena tiap manusia mempunyai standar sendiri. Seringkali, umat Kristen berusaha mencapai taraf kesempurnaan rohani tertentu dengan melakukan hal-hal atau kebiasaan tertentu yang dianggap sebagai kesempurnaan dalam Kristus, tetapi apapun yang kita lakukan tidaklah akan menaikkan kesempurnaan kita dihadapan Allah. Penebusan dosa kita oleh darah Kristus adalah pengurbanan yang sudah sempurna sehingga Allah mau menerima kita sebagai anak-anakNya, sekalipun kita mempunyai banyak cacat cela.

Jika pengurbanan Kristus sudah cukup untuk membuka pintu surga bagi orang percaya, adakah yang harus kita lakukan selama hidup di dunia? Pertama-tama, kita harus selalu bersyukur atas kemurahan Tuhan. Hidup bersyukur adalah hidup dengan memuliakan Dia melalui segala apa yang kita lakukan. Yang kedua, kita harus membina hubungan kita dengan Tuhan, sehingga makin lama kita akan makin mengenal Dia yang mahabesar dan mahakasih. Dengan semakin mengenal Dia, kita akan semakin tahu apa yang dikehendakiNya atas hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupaiNya.

Dalam ayat diatas, Yesus memerintahkan kita untuk menjadi sempurna dalam konteks kasih Allah yang tidak membeda-bedakan manusia. Bapa kita yang di sorga, menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5: 45). Tuhan jugalah yang karena kasihNya kepada seisi dunia, telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16).

Pagi ini, panggilan Yesus untuk kita adalah untuk menjadi sempurna dalam hal mengasihi sesama manusia. Seringkali, dalam usaha kita untuk menjalankan hukum kedua ini, kasih kita hanya terpusat kepada orang-orang pilihan. Selain itu, rasa kurang senang juga sering muncul untuk orang-orang tertentu. Padahal Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi semua orang tanpa pandang bulu. Jika kita tetap bertahan dengan pandangan manusiawi, yang hanya memberikan kasih kepada orang yang “pantas” kita kasihi, bagaimana pula dengan kita, apakah kita sebenarnya pantas untuk menerima kasih Allah? Jika kita dapat merasakan besarnya kasih Allah kepada kita, kita akan lebih mudah untuk mengasihi sesama kita sama seperti Dia yang di surga.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8