Kapankah aku dewasa?

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1Korintus 13: 11

Masa kanak-kanak mungkin adalah masa dimana kita bebas bermain dengan teman, masa dimana kita tidak perlu memikirkan susahnya mencari rezeki. Walaupun demikian, masa kanak-kanak agaknya bisa merupakan masa dimana kita terikat pada perintah orang lain yang lebih tua. Teringat bahwa sewaktu kecil saya ingin cepat menjadi dewasa, tetapi setelah mencapai usia tua saya ingin kembali menikmati hidup seperti kanak-kanak yang gembira. Saya ingin menjadi dewasa karena membayangkan hak orang dewasa, tapi saya terkadang ingin kembali menjadi kanak-kanak karena ingin untuk sesekali bebas dari kewajiban orang dewasa.

Apa salahnya kalau kita menjadi seperti kanak-kanak? Bukankah Yesus berkata bahwa orang yang seperti kanak-kanaklah yang bisa masuk ke surga?

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18: 3

Sudah tentu Yesus tidak bermaksud bahwa kita harus bertingkah laku seperti anak kecil. Apa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah sifat anak kecil yang tulus dan mempercayai orang tuanya. Kita harus percaya kepada Tuhan untuk bisa digolongkan sebagai anak-anak Tuhan.

Sebagai anak-anak Tuhan, pertumbuhan hidup rohani terjadi pada tiga masa: masa lalu, masa sekarang, dan masa datang. Di masa lalu, sewaktu kita baru mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mengakui bahwa Ia adalah Juruselamat kita, kita mengalami pertumbuhan yang ajaib. Dari manusia yang mati secara rohani, kita mengalami kebangkitan karena penebusan Yesus.

Dalam hidup orang Kristen, pertumbuhan iman sesudah menjadi pengikut Kristus dimungkinkan oleh kasih karunia Tuhan. Roh Kudus sudah diberikan kepada setiap orang percaya untuk bisa membimbing pertumbuhan kedewasaan rohani kita. Tetapi, tanpa adanya kesediaan dan kemauan untuk mempersilahkan Roh Kudus memimpin hidup kita, kita tidak dapat tumbuh dalam iman; dan dengan demikian kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani.

Mereka yang belum dewasa secara rohani akan berkata-kata seperti kanak-kanak, akan merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Mereka bukanlah contoh orang Kristen yang baik, karena dengan sifat dan pengertian yang “kekanak-kanakan” yang ada, mereka mudah terombang-ambing dalam hidup di dunia.

Tahun demi tahun berlalu, mereka yang sudah menjadi anak-anak Tuhan seharusnya sudah bertumbuh dalam iman. Hidup mereka yang dulunya masih berbau dunia, perlahan-lahan menjadi makin menyerupai Kristus.

“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.” 2 Korintus 2: 15

Dalam kenyataannya, tidak semua anak Tuhan mempunyai kemauan untuk bertumbuh. Banyak orang Kristen yang pada saat ini cara hidup dan rohaninya tidak berubah banyak dari keadaan di masa lalu, sewaktu mereka baru mengaku percaya kepada Kristus. Mereka mungkin tidak sadar bahwa itu bukanlah yang dikehendaki Tuhan. Pengurbanan Kristus yang berbau harum di hadapan Allah adalah terlalu mahal untuk disia-siakan.

Pertumbuhan rohani kita tidak akan berhenti selama kita hidup di dunia. Mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya adalah salah satu kewajiban bagi anak-anak Tuhan untuk bisa tumbuh menjadi dewasa. Kedewasaan dan kesempurnaan yang penuh hanya bisa dicapai setelah kita ada di surga, tetapi selama kita hidup di dunia haruslah kita selalu bertumbuh dalam iman hingga kita makin sempurna sampai saatnya Tuhan memanggil kita.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Hal percaya dan taat kepada Yesus

“Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 18

Menimbang situasi dunia saat ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita. Mengapa ada orang yang mau dan bisa percaya kepada Tuhan, tetapi ada juga orang yang tidak mau dan tidak bisa percaya? Mengapa ada orang yang bukan saja tidak mau percaya kepada Yesus, tetapi juga sangat membenciNya?

Ayat diatas adalah ayat yang sulit dimengerti, yang bersangkutan dengan hal kedaulatan Tuhan dalam memilih manusia untuk menjadi pengikutNya. Ayat ini sudah sering didiskusikan di kalangan umat Kristen.

Jauh sebelum Yesus datang ke dunia, ada seorang Firaun di Mesir yang keras kepala. Berkali-kali Musa memintanya agar membiarkan umat Israel untuk keluar dari tanah Mesir, tetapi Firaun itu selalu berkeras hati dan tidak mau memberi ijin. Dengan keangkuhannya, ia sudah menentang Tuhan dan utusanNya, Musa dan Harun. Karena tindakan Firaun itu, yang berkali-kali diambilnya dengan kesadaran penuh, Tuhan tidak lagi mau mengasihaninya. Tuhan membuat hati Firaun menjadi semakin keras, dan akhirnya ia harus membayar keangkuhannya dengan berbagai malapetaka di Mesir dan kematiannya yang tragis (baca Keluaran 7 – 14). Semua orang dalam peristiwa ini adalah orang berdosa, tetapi Tuhan tidak menunjukkan perlakuan yang sama.

Bagaimana Tuhan yang maha kasih dan maha adil juga bisa menjadi Tuhan yang menghukum dan seolah berat sebelah? Mengapa Tuhan memilih orang-orang tertentu untuk menjadi pengikutNya dan orang-orang lain untuk menjadi musuhNya? Mengapa Tuhan membuat musuhNya akhirnya dipermalukan dan dihancurkan? Kita tidak selalu tahu sebabnya, tetapi Tuhan tentu boleh dan bisa melakukan apa yang dikehendakiNya. Semua itu adalah untuk kemuliaan Tuhan yang maha kuasa. Walaupun begitu, kita tahu bahwa orang dapat mengenal Tuhan dan diampuni melalui darah Kristus semata-mata hanya karena belas kasihan Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang memilih hidup dalam dosa dan hidup tanpa mengenal Tuhan yang benar, akhirnya mendapat hukuman yang setimpal.

Manusia sering mengambil keputusan yang belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Manusialah yang sering dengan sadar memilih menjadi musuh Tuhan. Tuhan mungkin membiarkan manusia menentang kehendakNya untuk sementara waktu. Cepat atau lambat, Tuhan akan bertindak untuk membuat apa yang dikehendakiNya terjadi. Jika demikian, hal ini bisa terjadi melalui kejadian-kejadian yang luar biasa yang bisa membuat manusia sadar bahwa Tuhan yang maha kuasa tidak dapat dihentikan manusia.

Tuhan bisa memakai reaksi manusia untuk mencapai maksudNya dan menunjukkan kebesaranNya. Apa yang terjadi pada Firaun di Mesir menunjukkan penolakan Tuhan atas mereka yang menutup hati mereka kepada Tuhan, dan apa yang terjadi pada Saulus dengan pertobatannya kepada Yesus Kristus menunjukkan penerimaan Tuhan atas mereka yang mau mengikut Dia (Kisah Para Rasul 9: 1 – 20). Tuhan berkuasa dan berhak untuk memilih orang-orang tertentu untuk melayani Dia, dan Ia bisa membiarkan orang yang tidak tunduk kepadaNya untuk memilih jalan kehancuran.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa sebagai manusia adalah seperti tanah liat di tangan seorang tukang pembuat periuk. Apakah kita mau membiarkan Tuhan memimpin kita, ataukah kita selalu beusaha memilih jalan kita sendiri dan tetap hidup dalam dosa? Jika kita percaya bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih Tuhan, haruslah kita taat kepada Yesus Kristus dan firmanNya supaya nama Tuhan makin dipermuliakan melalui hidup kita selama kesempatan masih ada!

Yesus berdoa untuk kita

“Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” Yohanes 17:15

Sebagai orang Kristen, tentu kita percaya bahwa doa adalah suatu yang sangat penting dalam hidup kita, karena doa adalah sebuah komunikasi dengan Tuhan Sang Pencipta. Doa orang yang benar memang didengar Tuhan dan karena itu besar kuasanya. (Amsal 25: 29).

Dalam kitab Yohanes 17, ditulis bahwa Yesus berdoa untuk murid-muridNya sebelum Ia ditangkap untuk diadili. Membaca doa Tuhan Yesus itu, kita bisa membayangkan bahwa Ia sangat dekat dan mengasihi muridNya. Ia mengerti bahwa hidup di dunia itu berat bagi pengikutNya, apalagi sesudah Ia pergi.

Adanya berbagai tantangan, kesulitan, penderitaan, cobaan iblis dan hal-hal lain yang harus dihadapi pengikutNya, membuat Yesus berdoa secara khusus untuk mereka kepada Bapa di surga. Doa Yesus hanya untuk pengikutNya, bukan untuk orang lain.

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” Yohanes 17: 9

Walaupun begitu, doa Yesus bukan saja untuk murid dan pengikutNya yang ada pada saat itu, tetapi untuk semua orang yang sudah beriman kepadaNya. Dan itu berarti kita pun termasuk di dalamnya.

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka.” Yohanes 17: 20

Mengapa Yesus berdoa untuk para pengikutNya? Yesus tahu bahwa hidup anak-anak Tuhan selalu bertentangan dengan hidup orang dunia. Adalah normal jika kita yang percaya kepada Yesus dimusuhi dan bahkan dianiaya selagi di dunia.

“Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Yohanes 17: 14

Yesus berdoa agar Allah Bapa memberi perlindungan dan kekuatan kepada kita yang percaya kepadaNya. Yesus tidak meminta supaya Allah Bapa mengambil kita dari dunia, karena masih banyak tugas surgawi yang harus kita jalankan. Yesus tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan jalan pintas ke surga. Tetapi Yesus berdoa agar selama kita di dunia, Bapa melindungi kita dari yang jahat. Ia berdoa agar kita dikuatkan dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

Apakah doa Yesus didengar Allah? Sudah tentu! Kalau doa orang yang benar didengar Allah, apalagi doa yang disampaikan oleh AnakNya yang tunggal. Tambahan lagi, Yesus sekarang ada di surga, dipermuliakan bersama Allah Bapa. Karena itulah kita harus yakin bahwa Tuhan menyertai kita dalam setiap keadaan, dan memberi perlindungan dan kekuatan dalam kita menghadapi segala bahaya dan tantangan. Biarlah kasih penyertaan Tuhan bisa dilihat banyak orang melalui hidup kita!

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Kesadaran pribadi itu penting

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Pernahkah anda merasa malu? Tentunya setiap orang pernah mengalami peristiwa yang memalukan dalam hidupnya. Mungkin itu hanya soal kecil seperti memakai pakaian yang kurang sesuai ke pesta, atau hal yang lebih besar seperti lupa mengerjakan tugas penting yang diberikan atasan.

Untuk hal yang kecil, biasanya orang lebih mudah melupakan rasa malunya, tetapi ada hal-hal lain yang signifikan yang membuat rasa malu sulit hilang dari pikiran. Dalam hal ini, ada hal yang sekalipun terasa kecil untuk seseorang, merupakan hal yang besar untuk orang lain. Walaupun demikian, ada orang yang tidak pernah merasa malu sekalipun ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain bisa merasa sangat malu. Tidak tahu malu, istilahnya. Tetapi rasa malu adalah soal pribadi, dan tiap orang agaknya mempunyai kesadaran yang berbeda.

Tuhan bukanlah yang menimbulkan merasa malu, tetapi manusia bisa merasa malu karena apa yang kurang baik yang diperbuatnya. Pada waktu Adam dan Hawa melanggar larangan Tuhan di taman Firdaus, mereka tiba-tiba sadar akan ketelanjangan mereka (Kejadian 3: 7). Mereka merasa malu bukan karena Tuhan membuatnya muncul, dan bukan juga karena adanya bentuk tubuh yang berlainan, tetapi karena adanya kesadaran bahwa mereka sudah mengkhianati kasih Tuhan.

Dalam kehidupan umat Kristen, penebusan oleh darah Kristus sudah mencuci bersih dosa kita (Yesaya 1: 18). Apa yang dulunya gelap, sekarang menjadi terang; apa yang dulunya kotor sekarang menjadi putih bersih. Dengan itu semua rasa bersalah, rasa malu dan rasa pahit dari masa lalu kita seharusnya bisa dihilangkan dari pikiran kita. Karena pengampunan Tuhan, kita juga wajib mengampuni diri kita dan juga orang lain, melupakan hal-hal memalukan dari masa lalu.

Walaupun demikian, ayat diatas menyatakan jika kita tidak memuliakan Kristus sepenuhnya, patutlah kita merasa malu. Hidup baru orang yang sudah diselamatkan seharusnya bisa terlihat dari apa yang diperbuatnya dan apa yang dihasilkannya. Karena kita sudah diselamatkan bukan karena usaha kita, kita harus selalu memuliakan Kristus Juruselamat kita, baik oleh hidup kita maupun oleh mati kita. Selama hidup ini kita harus memuliakan Kristus dalam segala apa yang kita kerjakan, sehingga jika tiba waktunya untuk kita meninggalkan dunia ini, Tuhan akan menerima kita dengan ucapan selamat atas segala jerih payah kita (Matius 25: 21).

Pagi ini, marilah kita menganalisa hidup pribadi kita. Marilah kita memikirkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita sampai sekarang. Apakah kita sudah memakai segala apa yang kita punyai untuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan yang diberikanNya? Apakah kita merasa puas dengan pujian orang lain atas hidup kita yang terlihat indah di depan umum? Ataukah kita secara pribadi mengakui bahwa kita masih sering mementingkan apa yang kita senangi saja dan melupakan rasa malu kepada Tuhan yang sudah mencurahkan kasihNya yang sungguh besar kepada kita? Semua itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang percaya secara pribadi sesuai dengan panggilan Tuhan dan bukannya dengan mendengarkan pendapat dunia. Semoga pencerahan Roh Kudus bisa kita rasakan dan sadari dalam hidup kita.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” 1 Korintus 2: 14 – 15

Jika Tuhan berdiam diri

“Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” Habakuk 1: 13

Mendengar dan menyaksikan kejadian-kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan disekeliling kita, mungkin kita merasa sedih karena dunia ini agaknya secara pelan-pelan menjadi semakin kacau, setidaknya di tempat-tempat tertentu. Dunia memang penuh dosa dan karena itu tidak bisa bebas dari kekacauan, kejahatan dan kekejaman, tetapi jika hal-hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa Tuhan berdiam diri?

Kejadian buruk yang terjadi diluar dugaan pada seseorang juga sering dihubungkan dengan faktor kebetulan: mungkin ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tetapi alasan ini untuk orang Kristen akan membawa pertanyaan: apakah ada hal yang kebetulan di hadapan Tuhan yang maha tahu dan maha kuasa? Tentu Tuhan membiarkan hal yang jahat itu terjadi!

Tuhan adalah pencipta alam semesta yang membuat apa yang tidak baik dan kacau untuk menjadi baik dan indah. Tetapi mengapa Ia membiarkan adanya hal-hal yang keji atau menyedihkan di sekeliling kita? Tentu Tuhan mempunyai maksud atau rencana sekalipun kita sering tidak bisa memahaminya.

Ayat Habakuk 1: 13 diatas adalah keluhan nabi Habakuk karena Tuhan bermaksud membuat bangsa Babel yang jahat untuk menguasai bani Israel. Habakuk seakan menyatakan protes atas rencana Tuhan karena seakan Tuhan akan menelantarkan umatNya. Ia tidak mengerti bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan umatNya, pada saat-saat tertentu sengaja membiarkan terjadinya hal-hal yang tidak baik dan bahkan hal-hal yang jahat untuk menggenapi rencanaNya.

Adalah menarik bahwa kita seringkali lupa bahwa Allah Bapa mengirimkan AnakNya ke dunia untuk disiksa dan disalibkan guna menebus dosa kita. Allah tidak menyiksa dan membunuh Yesus, tetapi Ia membiarkan orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang jahat kepada Yesus untuk menggenapi rencana penyelamatanNya. Sejarah gereja juga menulis bahwa setelah Yesus naik ke surga, umat Kristen juga mengalami penganiayaan yang besar, yang membawa banyak korban diantara orang percaya.

Berubahkan keadaan dunia setelah itu? Apakah keadilan dan keamanan sudah sepenuhnya kita alami sekarang? Tentu saja tidak! Di dunia ini tetap ada orang-orang jahat yang hidup diantara umat Tuhan, seperti belalang diantara rumput-rumput. Tuhan membiarkan hal yang jahat ada, dan bahkan terkadang memakai hal yang jahat untuk membangun dan memperkuat umatNya di dunia. Semua itu bisa terjadi dengan seijin Tuhan yang mempunyai rencana agung untuk membawa setiap orang yang percaya kepada keselamatan, dan agar mereka yang sudah diselamatkan untuk makin beriman kepadaNya. Bagi kita hal-hal semacam itu bukanlah pencobaan tetapi ujian iman.

Dari sejarah dunia, kita tahu bahwa Tuhan yang “membiarkan” umat Israel jatuh ketangan musuh-musuh mereka, ternyata tidak bermaksud meninggalkan mereka. Justru sebaliknya, Tuhan menggunakan masa-masa sulit untuk menggenapi rencanaNya. Karena itu, kita boleh percaya bahwa seperti janjiNya kepada bani Israel, Tuhan juga akan membimbing umatNya dalam setiap keadaan untuk nenuju ke arah yang baik, sesuai dengan rencana kasihNya!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jeremia 29: 11

Mengatasi rasa takut dengan keyakinan

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4

Dunia ini selalu penuh dengan hal-hal yang membuat orang kuatir, was-was atau ketakutan. Memang ada orang yang senang pergi ke tempat yang berbahaya, melakukan hal-hal yang membuat hati berdebar-debar, atau melakukan sesuatu tindakan yang mempunyai resiko besar. Mereka yang tergolong “thrill-seeker“, memang sengaja mencari kesempatan untuk menantang bahaya untuk memuaskan diri sendiri. Tetapi, tidak ada seorangpun yang menyukai sesuatu yang bisa membawa kecelakaan atau bencana yang diluar kontrol. Hanya orang yang bodoh atau gila yang sengaja mencari bencana untuk diri sendiri atau orang lain.

Apa yang terjadi di Surabaya pada hari Minggu kemarin, membuat orang kaget karena kekejaman yang dilakukan oleh beberapa orang terjadi secara tak terduga oleh siapapun. Hal ini membuat banyak orang merasa kuatir, was-was dan bahkan takut karena seakan manusia tidak berdaya menghadapi kejahatan. Bagi banyak orang Kristen, hal semacam itu memaksa mereka untuk mengevaluasi iman mereka. Patutkah mereka merasa kuatir atau takut dengan adanya kejahatan semacam itu? Apa yang harus atau bisa mereka lakukan untuk mengatasi rasa takut?

Rasa takut sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan Tuhan sebagai berkat. Rasa takut bisa membuat orang menghindari bahaya. Selain itu, rasa takut kepada Tuhan, yaitu ketaatan kepada firmanNya, adalah satu hal yang dikehendaki Tuhan agar umatNya bisa menikmati hidup yang aman dan berbahagia. Ayub, sebagai contoh, adalah orang yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan mengasihinya dan melindunginya dari serangan iblis (Ayub 1: 8 – 10). Selain itu, banyak ayat Alkitab lain yang mengatakan bahwa takut akanTuhan akan membawa hikmat kebijaksanaan dan berbagai berkat. Tuhan memang menyayangi semua orang yang takut akan Dia.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Dalam kenyataan zaman ini, orang yang benar-benar takut akan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Di kalangan Kristen pun, orang cenderung untuk mengesampingkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada hari Minggu dan selama satu atau dua jam saja kita mengakui kedaulatan Tuhan dan berusaha meyakinkan Dia bahwa kita mempunyai rasa takut kepadaNya. Tetapi diluar itu, kita sering hidup seperti manusia bebas merdeka yang mempunyai hak dan kuasa atas diri kita dan juga orang lain.

Kejadian buruk yang tidak terduga dalam hidup manusia mungkin membuat banyak orang menjadi kuatir dan bahkan takut menghadapi masa depan karena kepercayaan kepada diri sendiri menjadi goyah. Kita jelas tidak berkuasa atas hidup kita, apalagi atas hidup dan perbuatan orang lain. Hal-hal yang sedemikian seharusnya membuat kita mencari pertolongan, tetapi jika kita tidak mempunyai iman kepada Tuhan, kepada siapa lagi kita bisa bergantung?

Pagi ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah hanya di dunia yang fana ini. Jika hidup di dunia adalah sementara, bagi kita hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal di surga bersama Tuhan, Raja semesta alam yang kita sembah. Karena itu, jika kita benar-benar takut kepada Tuhan, kita tidak perlu takut kepada sesama manusia. Sama seperti kita, mereka hanyalah mahluk yang kecil dan tidak berdaya di hadapan Tuhan.

Walaupun demikian, dalam menghadapi bahaya, sebagai manusia kita tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, kita tahu bahwa sebagai orang yang takut kepada Tuhan, kita mempunyai keyakinan bahwa kita bisa mendekatiNya dan memohon penyertaanNya. Biarlah kita mau memohon agar Tuhan memberi kita rasa damai dan sejahtera di saat yang sulit ini dan agar Ia menunjukkan kuasaNya untuk membawa mereka yang tersesat kepada jalan yang benar.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Mempersembahkan apa yang terbaik kepada Tuhan

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” Ibrani 13: 15

Alkisah Adam dan Hawa mempunyai dua orang anak, Kain dan Habel. Sebagai petani, Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya kepada Allah sebagai korban persembahan. Tetapi Habel yang penggembala kambing dan domba, mempersembahkan korban terbaik dari anak sulung kambing dombanya. Karena ketulusan Habel, Allah mengindahkan korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya diabaikanNya. Karena iri hati, Kain kemudian menjadi sangat marah, dan ia akhirnya membunuh Habel.

Mengapa dua bersaudara sampai mengalami peristiwa yang menyedihkan seperti itu? Hal memberi persembahan kepada Allah pasti adalah bagian kehidupan mereka. Untuk Habel hal memilih dan mempersiapkan persembahan yang terbaik untuk kemuliaanTuhan adalah yang paling penting, sedang untuk Kain memberi persembahan kepada Tuhan mungkin hanyalah sekedar kebiasaan saja. Jika Kain kemudian marah kepada Habel, itu karena ia tahu bahwa Tuhan menolak persembahannya. Kain kemudian membunuh Habel karena ia memusatkan pikirannya pada diri sendiri: ia tersinggung dan merasa harga dirinya direndahkan. Itulah pikiran yang menghantui Kain.

Memang hal mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan itu bukanlah soal remeh, karena Tuhan adalah Raja diatas segala raja. Walaupun demikian, di zaman ini banyak orang yang seperti Kain, kurang memperhatikan pentingnya persembahan kepada Tuhan yang maha kasih. Banyak orang yang merasa acuh tak acuh, dalam menyatakan syukur kepada Tuhan. Mereka hanya menjalankan ritual saja, tanpa usaha untuk memuliakanNya. Sebaliknya, banyak juga orang yang memberi persembahan dengan memusatkan pikiran kepada diri sendiri: mengharapkan balasan dari Tuhan dan membuat impresi untuk sekitarnya. Dan jika kemudian mereka tidak mendapat penghargaan untuk itu, mereka menjadi iri hati, tersinggung atau marah.

Jika Habel mempersembahkan bagian daging yang terbaik untuk Tuhan, kita yang sudah menerima karunia keselamatan dari Yesus Kristus sudah seharusnya mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang terbaik. Hanya yang terbaiklah yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan, karena tidak ada benda apapun yang bisa menyamai hidup kita sebagai persembahan kepada Tuhan Sang Pencipta.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Banyak orang yang mempersembahkan hidup mereka dengan melakukan berbagai kegiatan sosial. Dari luar semua itu nampaknya baik. Tetapi jika nama Tuhan tidak dipermuliakan, semua itu akhirnya hanya bisa untuk memuliakan diri sendiri saja.

Pagi ini biarlah kita sadar bahwa dalam hidup ini kita harus bisa menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama; tetapi apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan dalam keluarga, tempat bekerja, gereja dan negara haruslah merupakan pernyataan kasih yang benar melalui persembahan hidup kita sebagai sesuatu yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.