Mengapa ingin tahu apa kehendak Tuhan yang belum dinyatakan?

Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi. Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: “Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.” Para pegawainya menjawab dia: “Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah.” 1 Samuel 28: 6-7

Anda senang menonton bola? Saat ini perebutan Piala Dunia (World Cup) lagi berlangsung di Qatar. Banyak orang bukan saja senang menonton, tetapi juga gemar bertaruh uang dengan menebak siapa pemenang pertandingan antara dua tim tertentu setiap harinya. Tenntunya semua orang berharap atas kemenangan tim yang didukung mereka. Tetapi tim mana yang menang tentunya tidak mudah diterka, dan karena itu ada istilah “bola itu bundar”. Karena bola itu bundar dan bisa bergulir ke mana saja, segala kemungkinan bisa terjadi. Tim yang dipandang kuat bisa saja kalah dari tim yang dipandang lebih lemah. Lalu, tim mana yang kira-kira akan menjuarai Piala Dunia? Hanya Tuhan yang tahu, sekalipun ada banyak peramal yang menyatakan tim ini atau tim itu yang akan menjadi juara.

Ketidaktahuan manusia akan apa yang akan terjadi di hari depan sebenarnya adalah berkat Tuhan, karena dengan itu manusia bisa menggantungkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Persis seperti keadaan di taman Firdaus, sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Tetapi, karena manusia ingin menjadi seperti Tuhan yang mahatahu, mereka selalu berusaha dengan segala cara untuk mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup mereka agar bisa melakukan sesuatu sebelumnya.

Raja Saul, sebagai contoh, menemui seorang dukun untuk bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dan bani Israel (1 Samuel 28: 3 -25). Raja Saul pada saat itu merasa bahwa ia tidak dapat memperoleh petunjuk dari Tuhan karena ia sudah hidup jauh dari Tuhan. Dalam kekuatirannya ia ingin mencari jawab dari arwah manusia yang sudah meninggal. Ini adalah tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan larangan untuk praktik perdukunan atau peramal yang ditetapkan oleh Raja Saul sendiri. Sudah tentu, tidak ada manusia yang bisa memanggil roh manusia yang sudah meninggal. Besar kemungkinan bahwa Iblis memanfaatkan kesempatan itu dengan menampilkan sosok Samuel yang sebenarnya sudah bersama Tuhan dan tidak mungkin datang menjumpai Saul. Sebagian “ramalan” iblis memang bisa terjadi, tetapi kematian Saul dengan bunuh diri adalah tragis dan merupakan kelanjutan dosa Saul sendiri, karena ketakutan yang timbul setelah mendengar ramalan itu.

Dalam lingkungan gereja pun, ada orang-orang yang senang mencari “informasi” tentang masa depan, dan ada yang sering menyampaikan “nubuat” tentang berbagai hal. Nubuat semacam itu harus dianalisa isi, tujuan dan akurasinya. Memang, jika Tuhan mau menyatakan sesuatu kepada manusia, itu bisa dilakukan melalui orang-orang tertentu yang dikaruniai Tuhan. Tetapi, itu jarang terjadi dan biasanya muncul secara spesifik untuk hal yang sangat urgen yang akan terjadi. Nubuat bukan untuk membawa kemuliaan kepada si pembawa atau manusia lain, tetapi untuk membawa orang kepada pengenalan akan kebesaran Tuhan. Untuk memberitakan nubuat, seseorang harus dipilih Tuhan pada saat tertentu dan karena itu cara bernubuat tidak bisa dipelajari manusia. Nubuat Tuhan pasti terjadi dan jika ada yang tidak terjadi, itu menunjukkan adanya kepalsuan.

Sadar atau tidak, mereka yang selalu ingin melihat apa yang terjadi di masa depan, sebenarnya ingin untuk mengungguli kehendak Tuhan. Mereka yang merasa bisa meramalkan masa depan, seringkali mengalihkan perhatian orang lain dari Tuhan kepada diri mereka sendiri. Mereka yang terlibat dalam usaha memperoleh pengertahuan akan apa yang belum dinyatakan Tuhan pada akhirnyajatuh dalam penyembahan berhala dan kebodohan yang membawa amarah Tuhan seperti apa yang terjadi pada Rraja Saul.

Jika kita membaca Alkitab dari ujung ke ujung, kita tahu bahwa ada satu oknum yang selalu ingin untuk mengungguli kehendak Tuhan. Iblis dulunya adalah malaikat ciptaan Tuhan yang berpenampilan luar biasa yang merasa lebih hebat dari Tuhan (Yesaya 14: 12 – 14). Iblislah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa dengan mengalihkan perhatian Adam dan Hawa ke arah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dan iblis jugalah yang sampai sekarang berusaha mengalihkan pandangan kita, dari kebesaran Tuhan kepada dirinya sendiri, dengan melakukan berbagai trik dan tipu muslihat yang mempesona agar kita terlena. Iblis jugalah yang membuat kita mengabaikan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab, tetapi justru ingin untuk mengetahui kehendak-Nya yang belum dinyatakan.

Sudah tentu mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhan akan berusaha menghindari tipu daya iblis. Tetapi, keadaan di sekeliling manusia bisa menimbulkan keinginan untuk bisa melihat dan mengatur masa depan mereka. Dengan demikian, manusia bisa jatuh dalam dosa karena tidak mempercayai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Manusia kemudian mudah jatuh kedalam tipu daya ramalan iblis. Manusia jatuh dalam dosa memuja ilah lain, dan itu bisa berbentuk manusia, benda, tempat keramat, ilmu pengetahuan dan sebagainya .

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk hanya mempercayai Dia dalam menghadapi masa depan. Dalam keadaan apap un, kita harus bisa mengatasi dorongan iblis untuk melupakan Tuhan dan kuasa serta kasih-Nya. Jika hidup kita saat ini mengalami berbagai kesulitan dan bahaya, itu adalah kesempatan bagi kita untuk makin dekat kepada Tuhan dan bukannya melarikan diri kepada orang-orang atau cara-cara analisa modern yang nampaknya bisa memberi bimbingan, jaminan, dan pertolongan melalui ramalan masa depan. Semoga kita selalu taat kepada Tuhan dan menghindari bujukan iblis!

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Apa arti bermegah dalam Tuhan

“Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23 – 24

Kata “bermegah” muncul dalam Alkitab lebih dari 50 kali. Apa arti kata bermegah? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata megah mempunyai beberapa arti: (1) tampak mengagumkan (karena besarnya, indahnya, dan sebagainya; gagah kuat; mulia, masyhur; (2) bangga. Dengan demikian, kata bermegah dapat diartikan sebagai (1) mempunyai sifat megah; (2) membanggakan (membesarkan, menyombongkan) diri; berlaku ingin lebih megah daripada yang lain.

Jika mobil mewah dapat memberi kebanggaan kepada pemiliknya, rumah mewah atau kapal pesiar yang dimiliki sesorang juga bisa membuat orang kagum. Begitu juga, orang yang nampaknya pandai, bijaksana atau saleh bisa merasa bangga atas perhatian dan rasa hormat yang diberikan orang lain. Bagaimana pula dengan orang yang kuat, seperti atlit atau olahragawan? Atau mereka yang dikenal sebagai aktris atau penyanyi jempolan? Internet penuh dengan foto-foto dan berita-berita tentang mereka. Orang-orang yang sedemikian tentu bisa bangga atas apa yang sudah dicapainya.

Sebenarnya, rasa bangga yang sepantasnya mungkin tidaklah salah. Rasa bangga belum tentu sama dengan rasa sombong, walaupun dalam bahasa Inggris kata adjektif proud dipakai untuk keduanya. Rasa bangga atas apa yang baik dan yang diutarakan dengan maksud yang baik tentunya bukanlah tindakan yang keliru. Masalahnya orang sering tidak tahu apa yang baik untuk dibanggakan dan bagaimana mengutarakan rasa bangga kita dengan cara yang baik. Apa yang kita lihat sebagai hal/barang yang baik seringkali adalah barang yang hanya terlihat baik untuk sementara waktu. Apa yang baik untuk seseorang belum tentu baik untuk orang lain atau Tuhan.  Selain itu, kebanggaan yang sering kita lihat seringkali justru membawa masalah bagi pemiliknya.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Kata bermegah dalam alkitab berbahasa Inggris diterjemahkan sebagi kata kerja “to boast” yang berarti “menyombongkan”. Dalam sejarah perang di dunia, banyak negara dan pemimpin negara bermegah atas keberhasilannya dalam menghancurkan posisi lawan mereka. Tetapi, tindakan bermegah juga dipakai untuk menggertak lawan dengan menyatakan kemampuan dan tekad untuk menang. Selain itu, kata bermegah juga dipakai untuk menggalang tekad dan keberanian tentara sebuah negara dalam menghadapi tentara musuh. Misalnya, Goliat dalam 1 Samuel 17: 4-9 menampilkan dirinya sebagai “jagoan” dari Filistin yang membuat takut tentara Israel.

Untuk kita orang Kristen, adakah yang bisa kita banggakan? Dalam hal apa kita harus bermegah? Dan untuk apa kita bermegah?Banyak orang Kristen yang bangga atas gereja mereka, atau pendeta mereka yang bisa menarik banyak jemaat. Mungkin juga ada orang Kristen yang bangga atas sistimatik teologi atau segala tata cara kerohanian yang mereka punyai. Selain itu, gedung gereja yang megah dan mewah mungkin juga memberi kebanggaan tersendiri kepada jemaat. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa Tuhan tidak menyukai kebanggaan yang sedemikian. Tuhan berkata bahwa umat-Nya lebih baik bermegah karena mereka memahami dan mengenal Dia sebagai Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil. Bermegah dalam Tuhan adalah hidup menurut firman-Nya dan untuk kemuliaan-Nya, sehingga makin banyak orang yang mengenal Dia dan mau meninggalkan hidup lama mereka. Bermengah dalam Kristus, sebagai jeritan perang rohani kita, juga bisa membuat takut iblis yang berusaha menyerang kita, karena itu menyatakan keyakinan kita atas kuasa dan penyertaan Tuhan.

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Pagi ini, hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hati kita. Hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang sebenarnya kita banggakan dalam hidup ini. Mungkin saja Tuhan melihat bahwa kita sudah mengenal Dia sebagai Tuhan, dan kita mempunyai rasa hormat dan takut kepada-Nya. Kita sudah percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci, dan kebenaran-Nya adalah kekal. Karena itu kita berusaha untuk hidup menurut apa yang sesuai dengan firman-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mahabijaksana, dan karena itu kita mau mencari kehendak-Nya. Selain itu kita juga percaya bahwa sekalipun Tuhan itu mahakuasa, Ia adalah Tuhan yang mahakasih yang sudah mengirimkan Anak-Nya ke dunia agar barangsiapa yang percaya kepada-Nya dapat memperoleh hidup yang kekal.

Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang baik dan yang patut kita puji? Bukankah kita dengan sepatutnya harus mengasihi Dia yang sudah lebih dulu mengasihi kita? Bukankah kita tidak perlu takut atau kuatir dalam menghadapi masa depan dan tantangan kehidupan? Bukankah iblis tidak bisa menjamah umat Tuhan yang sejati?Biarlah kita hanya bermegah di dalam Dia!

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6: 14

Ke mana aku pergi setelah aku mati?

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

J.I. Packer dikenal luas sebagai salah satu pempopuler teologi paling berpengaruh di abad kedua puluh. Salah satu dari banyak tulisan beliau adalah “God’s Plans for you” atau “Rencana Tuhan untukmu”. Beliau menulis dalam buku itu “Only when you know how to die can you know how to live” yang artinya “Hanya jika kamu tahu bagaimana kamu akan mati akanlah kamu tahu bagaimana harus hidup”. Tulisan beliau menggarisbawahi cara hidup orang Kristen yang harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa ia akan bertemu Tuhan yang mahasuci pada saatnya. Karena itu semestinya orang Kristen sadar bahwa mereka harus hidup baik dan bersiap setiap waktu untuk menghadapi kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis ayat di atas merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Ia menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, banyak orang Kristen merasa canggung untuk membicarakan hal kematian, karena kematian jasmani adalah suatu misteri yang tidak pernah dialami oleh orang yang masih hidup.

Mereka yang siap untuk mati jasmani adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Tetapi, sebagian orang Kristen percaya bahwa sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, orang yang meninggal dunia akan masuk ke dalam keadaan tidur, dalam penantian akan saat dibangunkan kembali. Jadi, ada dua pertanyaan:

  • Mengapa kata “tidur” atau gambaran tidur digunakan untuk menggambarkan kematian bahkan oleh Yesus?
  • Apa yang akan kita alami ketika berada di antara saat kematian dan saat kebangkitan tubuh?

Kebangkitan tubuh menjadi masalah bagi banyak orang Yunani yang menyukai gagasan jiwa yang tidak berkematian tetapi tidak menyukai gagasan kebangkitan tubuh ini. Kekristenan bukanlah serasi dengan pandangan Yunani dalam hal ini. Tetapi kita percaya bahwa tubuh kita akan dibangkitkan dari kematian, dan kebangkitan tubuh Yesus dalam bentuk yang dapat dikenali dan yang dapat disentuh serta yang dapat memakan ikan, adalah prototipe dari tubuh kebangkitan kita.

Dalam ayat di atas, Paulus menyebut kematian sebagai “keuntungan” bukan karena dia tidak sadarkan diri atau menikmati tidur nyenyak yang berkepanjangan, tetapi karena dia akan berada di hadirat Kristus. Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:20, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Dan ketika orang mencemooh bab ini dan berkata, “Dengan tubuh seperti apa mereka?” dia menjawab dalam ayat 42–44, “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.” Jadi kebangkitan tubuh mutlak penting bagi doktrin Kristen.

Sekarang pertanyaannya adalah: Bagaimana dengan selang waktu antara kematian dan kebangkitan tubuh? Apakah ada ayat Alkitab yang menyebut keadaan “tidur”? Dalam 1 Tesalonika 4:14 tertulis: “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Kenapa dia berkata seperti itu? Atau 1 Korintus 15:17–18, “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.” Dalam Alkitab berbahasa Inggris, kata meninggal dan mati di atas ditulis sebagai “tidur”. Jadi memang ada referensi untuk tertidur sebagai gambaran kematian.

Dan kemudian ada Yesus di mana dia membangkitkan gadis kecil yang sudah meninggal dunia. Sesudah Ia masuk ke rumah duka, Yesus berkata kepada orang-orang di situ: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah! (Markus 5:41). Dia membangkitkan gadis kecil ini dari kematian. Dan kita tahu bahwa dia sudah meninggal karena dalam Markus 5:35 ada orang yang menyampaikan pesan kepada ayah gadis itu, “Anakmu sudah mati.” Dan ketika Yesus datang untuk menangani hal ini, gadis yang sudah mati itu disebut-Nya sebagai tidur. Mengapa?

Jawabannya adalah bersangkutan dengan cara tubuh terlihat dan bekerja. Ini hanyalah deskripsi kematian dengan gambaran yang lebih lembut tentang seperti apa sebenarnya. Jika Anda pernah melihat seseorang yang baru saja meninggal, Anda mungkin bertanya, apakah mereka meninggal atau hanya tidur? Karena mereka terlihat seperti ada di sana, seperti yang selalu mereka lihat, tetapi tidak bergerak. Sepertinya mereka hanya tertidur. Jadi “tidur” adalah gambar, itu adalah deskripsi yang lebih lembut dari kenyataan sebenarnya bahwa mereka telah mati.

Dua perikop kunci dalam tulisan Paulus adalah Filipi 1:21–23, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Paulus ditekan di antara keduanya. Keinginannya adalah pergi dan bersama Kristus, karena itu jauh lebih baik. Jadi ketika Paulus merenungkan kematiannya sendiri, dia menyebutnya “keuntungan”, bukan karena dia akan menjadi tidak sadar atau tidur dan tidak juga bukan berkhayal karena tidak memiliki pengalaman untuk itu. Mungkin ia ingin hidup seribu tahun lagi (seperi syair lagu Pertemuan, yang dinyanyikan oleh Anna Mathovani), tetapi karena dia tahu bahwa jika ia pergi ke hadirat Kristus, dan bertemu dengan Kristus, itu akan bermakna lebih dalam dan lebih intim. Itu, katanya, jauh lebih baik daripada apa pun yang dia bisa nikmati di dunia.

Ingatkah Anda tentang Yesus yang menceritakan kisah tentang orang kaya dan Lazarus? Kita tidak tahu pasti, apakah itu perumpamaan atau bukan, tetapi tidak dikatakan itu perumpamaan. Yesus hanya menggambarkannya seperti itu benar-benar terjadi. Dan jika itu benar-benar terjadi atau jika itu adalah sebuah perumpamaan, tampaknya menunjukkan bahwa setelah kematian tidak ada masa tidak sadar atau tidur. Yang ada adalah dua pilihan: kehidupan dalam siksaan atau hidup dalam kebahagiaan.

Jadi, hari ini kita boleh percaya bahwa orang Kristen memiliki penghiburan pada saat menunggu ajal atau sesudah meninggal dunia. Bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus, darah dan kebenaran Kristus telah menghapus penghukuman bagi mereka dan memastikan bahwa kebangkitan tubuh di langit baru dan bumi baru setelah kematian adalah pengalaman yang intim dan manis. Setelah meninggalkan dunia ini, kita akan berada di hadirat Kristus pada saat di antara kematian dan kebangkitan yang akan datang. Kita aman di dalam Dia sekarang, kita akan aman di hadapan-Nya pada saat kematian, dan kita akan sangat bahagia dalam tubuh yang baru dan sehat selama-lamanya di langit baru dan bumi baru. Bagaimanamungkin pengertian ini tidak akan mengubah cara hidup anda semasa hidup di dunia? Setiap orang yang sadar akan arti kematian dalam Kristus tentu akan hidup sesuai dengan firman Tuhan untuk kemuliaan-Nya karena rasa syukur yang besar!

Pertobatan adalah respons orang Kristen atas kasih Tuhan

“Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Mazmur 51: 6


Banyak orang yang berpikir bahwa pertobatan cukup dilakukan sekali saja, yaitu sebelum menjadi orang Kristen. Itu tidak benar. Pertobatan Kristiani yang sejati melibatkan keinsafan yang tulus akan dosa, penyesalan atas pelanggaran terhadap Allah, berpaling dari cara hidup yang berdosa, dan berpaling ke cara hidup yang memuliakan Allah. Pertobatan sejati bukan sekadar “memikirkan kembali” hubungan seseorang dengan dosa dan Allah. Pertobatan pertama-tama harus berakar pada kesadaran betapa berdosanya suatu tindakan, emosi, kepercayaan, atau cara hidup orang yang bersangkutan. Kemudian, seseorang harus berduka atas betapa menyinggung dan menyedihkannya dosanya bagi Tuhan, bukan hanya karena takut akan pembalasan Tuhan atas dosanya. Dengan kata lain, pertobatan harus berakar pada nilai yang tinggi menurut standar Tuhan, bukan nilai menurut diri sendiri. Hanya dengan begitu berpaling dari dosa menuju ke kekudusan dapat benar-benar disebut pertobatan sejati.

Kegagalan untuk bertobat dengan demikian merupakan bentuk penyembahan berhala, karena kepercayaan orang yang berdosa pada diri sendiri bahwa semua dosanya bukanlah hal yang memengaruhi jamnan keselamatan Tuhan. Penolakan untuk bertobat berarti meninggikan jiwa kita sendiri di atas kemuliaan Tuhan, dan menolak kebenaran bahwa ketika kita bertobat, itu mengarah pada pengampunan dosa, penghapusan hukuman ilahi, dan pemulihan persekutuan pengalaman kita dengan Tuhan. Bertobat adalah kata kerja aktif yang menunjuk kepada respons kita terhadap tuntutan kesucian Tuhan, Bertobat bukanlah sekadar refleksi pekerjaan karunia penyelamatan Tuhan atas diri kita.

Pertobatan alkitabiah adalah konsep yang mudah disalahpahami dan diterapkan secara keliru, dan karena itu membutuhkan pemeriksaan yang cermat. Kesalahan utama banyak orang adalah mendasarkan pemahaman mereka tentang pertobatan pada bentuk akar kata Yunani. Kata kerja Yunani metanoeō (bertobat) dibangun di atas kata depan meta (“dengan, setelah”) dan kata kerja noeō (“memahami, berpikir”). Beberapa orang kemudian menarik kesimpulan bahwa satu-satunya pengertian di mana seorang Kristen dituntut untuk bertobat adalah untuk mengubah pikirannya atau memikirkan kembali dosa dan hubungannya dengan Allah. Suatu refleksi dari sinar karunia penyelamatan Allah. Namun makna kata bertobat tidak ditentukan dengan cara ini, melainkan pada penggunaan dan konteks. Perubahan pikiran atau perspektif tidak ada nilainya jika tidak disertai dengan perubahan arah, perubahan hidup dan tindakan.

Pertobatan sejati dimulai, tetapi tidak berakhir, dengan keinsafan hati akan dosa. Itu dimulai dengan pengakuan yang tegas dengan hati yang hancur karena kita telah menentang Tuhan dengan merangkul apa yang Dia benci dan benci, atau setidaknya, acuh tak acuh terhadap apa yang Dia perintahkan. Oleh karena itu, pertobatan mencakup hal mengetahui di dalam hati kita: “Ini salah. Saya telah berdosa. Tuhan berduka karenanya.” Antitesis dari pengakuan adalah rasionalisasi, upaya egois untuk membenarkan kelemahan moral seseorang dengan sejumlah alasan: “Saya adalah korban. Jika Anda tahu apa yang telah saya lalui dan betapa buruknya orang memperlakukan saya, Anda akan memberi saya sedikit kelonggaran. Jika Anda tahu apa yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup saya, Anda akan mengerti bahwa semua yang terjadi dalam hidup saya adalah kehendak-Nya”.

Ketika seseorang benar-benar bertobat, ada kesadaran bahwa dosa yang dilakukan, apa pun sifatnya, pada akhirnya hanya melawan Tuhan. Dalam ayat di atas Daud menyatakan, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Meskipun Daud mengambil keuntungan dari Batsyeba secara seksual, bersekongkol untuk membunuh suaminya, yaiu Uria, mempermalukan keluarganya sendiri, dan mengkhianati kepercayaan bangsa Israel, dia memang sudah seharusnya melihat dosanya terhadap Tuhan yang mahasuci. Sebaliknya, walaupun Daud sadar bahwa Allah mahatahu, dia tetap melakukan dosanya. Dia tidak melihat alternatif yang lain, merasa tidak ada alternatif yang lain, tidak dapat memikirkan pilihan yang lain, tetapi kehadiran-Nya justru dilupakan, kekudusan-Nya dibenci, dan kasih-Nya dicemooh untuk mencapai hasratnya. Daud menjadi begitu rusak karena dia telah memperlakukan Tuhan dengan sangat tidak hormat sehingga dia dibutakan oleh pilihannya terhadap semua aspek atau objek lain dari perilakunya.

Pertobatan adalah lebih dari hal pelepasan emosi secara psikologis, di dalamnya ada perasaan atau rasa penyesalan yang sebenarnya. Jika seseorang tidak benar-benar terluka oleh dosanya, tidak akan ada pertobatan. Pertobatan itu menyakitkan, tetapi itu adalah rasa sakit yang seharusnya. Itu menuntut kehancuran hati (Mazmur. 51:7; Yesaya 57:15) tetapi selalu dengan harapan untuk penyembuhan dan pemulihan dalam kasih Kristus dan karunia pengampunan-Nya. Jadi, pertobatan lebih dari sekadar perasaan. Emosi bisa cepat berlalu, sedangkan pertobatan sejati membuahkan hasil. Ini menunjukkan perbedaan antara “goncangan” dan “penyesalan”. Goncangan adalah penyesalan atas dosa yang dipicu oleh ketakutan akan diri sendiri: “Aduh! Saya tertangkap basah! Apa yang akan terjadi kepada diri saya?” Penyesalan, di sisi lain, adalah penyesalan atas pelanggaran terhadap kasih Allah dan rasa sakit karena telah mendukakan Roh Kudus. Dengan kata lain, adalah mungkin untuk “bertobat” karena takut akan hukuman atau pembalasan, bukan karena kebencian akan dosa.

Pertobatan alkitabiah juga harus dibedakan dari pertobatan duniawi atau daging. Karena dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang menuntun pada keselamatan, sedangkan penyesalan secara duniawi hanya menghasilkan kematian. Dalam pertobatan sejati harus ada penyangkalan terhadap semua dosa dan langkah-langkah praktis yang aktif diambil untuk menghindari apa pun yang dapat menimbulkan sedihnya Allah. Harus ada tekad yang disengaja untuk berbalik dan menjauh dari semua pengaruh dosa. Jika dalam apa yang disebut “pertobatan”, kita tidak meninggalkan lingkungan tempat dosa kita pertama kali muncul dan dari mana, kemungkinan besar, itu akan terus berkembang, pertobatan kita perlu dicurigai. Dalam pertobatan harus ada reformasi yang sepenuh hati, artinya, tekad yang kuat untuk mengejar kesucian, untuk melakukan apa yang menyenangkan Tuhan.

Ada sejumlah alasan mengapa orang merasa sulit atau tidak perlu untuk bertobat. Misalnya, Iblis dan sistem dunia telah membuat kita mempercayai kebohongan bahwa nilai atau harga kita sebagai manusia bergantung pada sesuatu selain dari apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus hanya melalui (contoh: hukum negara, etika pergaulan). Jika kita percaya bahwa orang lain memegang kekuasaan untuk menentukan nilai atau cara hidup kita, kita akan selalu merasa aman jika kita menurut apa yang berlaku di tempat kita tinggal. Selain itu, ada orang Kristen yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan sehingga merasa bahwa Tuhan sudah menetapkan hidup mereka dalam segala hal, termasuk apa yang baik dan jahat. Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang terlalu menekankan sifat mahakasih Allah, sehingga mereka mereka yakin bahwa Tuhan yang memilih mereka adalah Tuhan yang menerima mereka sebagaimana adanya. Jadi kegagalan untuk bertobat adalah bentuk penyembahan berhala. Penolakan untuk bertobat berarti meninggikan kebijaksanaan kita sendiri di atas kehendak Allah bagi kita, yaitu untuk bertobat. Itu adalah menempatkan nilai yang lebih tinggi pada keyakinan kita daripada panggilan Allah untuk kembali ke jalan yang benar dan untuk tidak berbuat dosa yang sama.

Persekutuan kita dengan Kristus selalu bergantung pada pertobatan kita yang tulus dan sepenuh hati dari dosa. Kita hanya bisa benar-benar aman dan terjamin dalam persekutuan kekal kita dengan Kristus, sepenuhnya dan semata-mata karena kasih karunia Allah yang mulia. Tetapi kemampuan kita untuk menikmati buah dari persekutuan itu, kemampuan kita untuk merasakan, merasakan, dan beristirahat dengan damai, sangat dipengaruhi oleh pertobatan kita ketika Roh Kudus menyadarkann kita untuk menghormati dan menaati kehendak Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Dalam beberapa kesempatan Tuhan memanggil ketujuh jemaat di Asia Kecil untuk bertobat. Kepada gereja di Pergamus Yesus menyatakan: “Sebab itu bertobatlah” (Wahyu 2:16a). Dan kepada gereja di Sardis dia berkata: “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:3). Dan kepada gereja di Laodikia: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19). Kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa sebagai orang Kristen kita masih bisa jatuh dalam dosa, dan karena itu harus mau bertobat.

Pagi ini kita harus sadar bahwa pertobatan yang Yesus sebut, melibatkan tindakan aktif setiap orang Kristen di setiap waktu untuk berhenti dari satu jenis perilaku yang jahat dan merangkul apa yang baik.. Kita menjadi pengikut Kristus karena “jatuh cinta” kepada-Nya. Karena itu, kita tidak boleh meninggalkan cinta pertama kita, tetapi sebaliknya harus melakukan pekerjaan yang kita lakukan pada waktu kita baru menjadi orang percaya. Itu adalah pertobatan sejati. Bertobat bukanlah hidup yang hanya didominasi oleh kesadaran akan dosa. Tetapi, kita harus sadar akan dosa kita secara tepat, sehingga realitas kasih karunia Allah yang mengampuni, memperbaharui, dan menyegarkan dapat mengendalikan, memberi energi dan memberdayakan kehidupan kita sehari-hari.

Malapetaka terjadi karena adanya dosa di dunia

“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Gempa bumi yang terjadi di Cianjur kemarin membuat banyak orang merasa sedih. Bagaimana tidak? Untuk angka sementara, setidaknya tercatat 162 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Banyak dari korban masih tergolong anak-anak. Selain itu, ada 2.345 rumah rusak berat dan sekitar 13.400 warga mengungsi. Sesudah gempa utama yang berukuran 5,3M itu, tercatat ada 88 getaran atau gempa susulan sehingga suasana di daerah itu masih terasa rawan. Ini jelas adalah sebuah malapetaka.

Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi sering ada diluar jangkauan pengetahuan mereka. Apa yang dirasakan banyak manusia jika malapetaka terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah nabi Yunus dalam perahu yang dilanda topan. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa malapetaka yang luar biasa dengan seizin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya malapetaka adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan malapetaka akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  • Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  • Malapetaka selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  • Malapetaka hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umat-Nya. Walaupun demikian, manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang terlihat jahat maupun yang sepertinya orang baik, adalah makhluk yang berdosa. Karena Tuhan mahakasih, semua manusia masih bisa menerima karunia umum dari Tuhan seperti sinar matahari dan udara segar. Tetapi, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan juga karena adanya kesalahan manusia dalam mengambil keputusan.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Bahwa manusia dalam keterbatasan mereka, tidak dapat mengatasi tantangan hidup di dunia yang sudah dikutuki Tuhan. Manusia juga sering mengabaikan peringatan Tuhan untuk memilih cara hidup yang baik dan menggunakan kemampuan yang diberikan Tuhan untuk menguasai dan mengatur isi dunia.

Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan. Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Adanya bencana bisa menginngatkan orang dan penguasa untuk lebih bertanggung jawab atas tugasnya, untuk menggunakan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan berjalan dalam kebenaran menuju kearah keselamatan yang sebelumnya mungkin tidak disadari.

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Tugas manusia dalam rencana keselamatan Allah

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2: 12-13

Kegagalan untuk membedakan peran Allah dari peran manusia di dalam rencana keselamatan Allah telah menghalangi banyak orang dari menemukan kedamaian, dan sudah menyebabkan banyak gereja nampaknya kurang mempunyai peran dan otoritas sebagai tubuh Kristus di dunia.

Kita harus menyatakan dengan tegas bahwa ada beberapa hal yang hanya dapat dilakukan Allah, dan bagi kita untuk berusaha melakukannya hanya akan menyia-yiakan usaha kita; dan terdapat hal-hal lain yang hanya dapat dilakukan manusia, dan untuk kita meminta Allah melakukannya adalah menyia-yiakan doa kita. Sia-sia untuk berusaha melakukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh anugerah Ilahi; sama sia-sianya untuk kita berusaha membujuk Allah untuk melakukan apa yang telah diperintahkan kepada manusia melalui pemberian otoritas dari Tuhan.

Antara hal-hal yang hanya dapat dilakukan Allah, yang paling penting bagi kita adalah karya penebusan. Penebusan dicapai di tempat kudus yang hanya dapat didatangi oleh seorang Penebus dari Allah. Karya yang mulia itu tidak bergantung pada usaha manusia; dan siapa pun manusia yang merasa cukup baik dari keturunan Adam tidak dapat menambahkan apa-apa di situ. Semua manusia sudah berdosa. Keselamatan hanya bisa datang dari Allah sebagai karunia, dan manusia tidak mempunyai bagian apa pun. Sola Gratia.

Penebusan adalah sebuah fakta objektif. Itu adalah sebuah karya yang berpotensi menyelamatkan, dirancang untuk manusia, tetapi dilaksanakan secara independen dari luar individu itu. Karya Kristus di bukit Kalvari cumup untuk menebus setiap manusia, tetapi tidak menyelamatkan semua orang. Mengapa begitu?

Keselamatan bersifat pribadi. Keselamatan adalah penebusan yang menjadi efektif kepada individu tertentu. Keselamatan adalah karya Allah di dalam hati, yang menjadi mungkin oleh karya Allah melalui Kristus di atas kayu salib. Karya penebusan dan keselamatan tergolong dalam hal-hal yang hanya dapat dilakukan Allah. Tidak ada manusia yang dapat mengampuni dosanya sendiri; tidak ada manusia yang dapat dengan sendirinya membuat hatinya baru; tidak ada manusia yang dapat mendeklarasikan dirinya benar dan bersih. Semua itu adalah karya Allah di dalam manusia, yang mengalir dari karya yang Kristus telah lakukan bagi setiap manusia. Penebusan universal membuat keselamatan tersedia secara universal, tetapi itu tidak membuatnya efektif secara universal kepada setiap individu.

Jika penebusan telah dibuat bagi semua orang, mengapa tidak semua diselamatkan? Jawabannya adalah sebelum penebusan menjadi efektif terhadap suatu individu manusia, ada sebuah tindakan yang harus dilakukan manusia itu. Itu adalah sebuah tindakan yang teramat penting bagi kita karena tanpanya karya Kristus tidak dapat menjadi efektif dalam keselamatan pribadi. Tindakan menerapkan keselamatan ini adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan manusia.

Sebagian orang Kristen takut berhadapan dengan fakta ini. Mereka yang telah dididik secara ekstrim dalam doktrin anugerah, akan takut untuk menyatakan peran manusia secara terang-terangan karena adanya kekuatiran bahwa mereka akan mengurangi kemuliaan anugerah dan karya Kristus yang sudah selesai. Namun adalah sebuah kesalahan untuk berdiam diri tentang sebuah subjek yang begitu penting bagi jiwa kita. Kita harus membedakannya dengan jelas dan memberitakannya dengan berani.

Sebenarnya, kita tidak perlu takut bahwa kita akan mencuri kemuliaan Allah dengan menghormati kebenaran yang Ia sendiri telah nyatakan. Kegagalan untuk membedakan peran Allah dan peran manusia telah mengakibatkan kebingungan mental dan kelambanan moral di antara orang Kristen. Kita perlu mengetahui dan melakukan kebenaran seperti yang diungkapkan kepada kita melalui Alkitab untuk memperoleh jaminan keselanatan dari Allah dan kuasa untuk membawa umat manusia kepada Allah.

Mengapa peran manusia dibutuhkan Allah? Termasuk dalam kategori hal-yang-tidak-dapat-Allah lakukan adalah: Allah tidak dapat bertobat untuk kita. Dalam usaha kita untuk menekankan anugerah Allah, kita mungkin memberitakannya sehingga memberi kesan bahwa pertobatan itu karya Allah. Ini adalah kesalahan fatal yang telah mempengaruhi banyak orang Kristen. Allah telah memerintahkan semua manusia untuk bertobat (Kisah 17.30). Ini adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan manusia. Tidaklah mungkin secara moral untuk seseorang bertobat bagi orang lain. Tidaklah benar bahwa Allah memaksa orang pilihan-Nya untuk bertobat. Bahkan Kristus tidak dapat melakukan ini. Dia dapat mati untuk kita, tetapi dia tidak dapat bertobat untuk kita, dan Ia tidak memaksa setiap murid-Nya untuk setia kepada-Nya.

Allah dalam kemurahan-Nya mungkin akan “mendorong” kita untuk bertobat dan melalui pekerjaan Roh Kudus-Nya membantu kita untuk bertobat; tetapi sebelum kita dapat diselamatkan kita harus dengan penuh kerelaan hati bertobat di hadapan Allah dan mempercayai Yesus Kristus. Hal ini diajarkan oleh Alkitab dengan jelas; dan didukung kuat oleh pengalaman hidup manusia. Pertobatan melibatkan reformasi moral. Manusia yang berbuat salah, jadi hanya manusia yang dapat memperbaikinya. Berbohong, misalnya, adalah tindakan manusia, dan manusialah yang harus bertanggungjawab sepenuhnya. Jika dia kemudian bertobat, dia akan berhenti berbohong. Allah tidak dapat bertobat untuk dia; dialah yang harus bertobat.

Ketika prinsip kebenaran dinyatakan seperti ini secara terang-terangan, semuanya tampak cukup jelas, dan kita mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin orang yang berakal sehat bisa mengharapkan orang lain untuk membebaskan mereka dari kewajiban pribadi untuk bertobat? Akan tetapi, dalam praktik agama dan di bawah tekanan sentimen doktrin tertentu yang kuat, hal-hal ini tidak sejelas seperti yang di nyatakan di atas.. Faktanya adalah, penekanan pada “semuanya sudah dilakukan, Anda tidak dapat berbuat apa-apa lagi” telah mengakibatkan kebingungan yang luar biasa di antara orang-orang kristen dimana-mana.

Jika kita diberitahu bahwa kita harus binasa karena siapa kita (orang yang tak terpilih), dan bukan karena apa yang telah kita lakukan; apa yang kita lakukan sama sekali tidak perlu dipikirkan. Dan selanjutnya, karena kita tidak dapat melakukan apa-apa dalam arah keselamatan; bahkan menyarankan hal ini akan menyinggung Allah: bukankah teladan buruk dari Kain cukup untuk membuktikan hal ini?

Jadi banyak oran Kristen yang terombang-ambing antara Adam pertama dan Adam yang akhir. Yang satu melakukan dosa bagi mereka dan yang satu lagi telah melakukan segala yang menebus mereka. Dengan demikian saraf dari kehidupan moral mereka dipotong dan mereka tenggelam dalam keputusasaan, takut untuk bergerak supaya mereka jangan bersalah karena dosa “upaya-diri”. Di waktu yang bersamaan mereka sangat terganggu dengan pengetahuan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehidupan religius mereka.

Kunci penyelesaian adalah melihat dengan jelas bahwa manusia tidak hilang karena apa yang telah dilakukan seseorang ribuan tahun yang lalu; mereka adalah seperti anak yang hilang karena mereka secara pribadi berbuat dosa kepada Tuhan. Kita tidak akan diadili berdasarkan dosa Adam, tetapi dosa kita sendiri. Kita sepenuhnya bertanggungjawab atas dosa kita sendiri sampai dosa itu dibawa ke salib Yesus. Ide bahwa pertobatan itu bisa didelegasikan kepada Tuhan sendiri adalah kesimpulan yang keliru yang ditarik dari doktrin anugerah yang disalahsampaikan dan disalahpahami.

Satu lagi hal yang Allah tidak dapat lakukan: Dia tidak dapat percaya untuk kita. Yang pasti, iman adalah karunia dari Allah (Efesus 2.8-9), tetapi apa yang kita lakukan atas tidak kita lakukan atas iman itu, terletak sepenuhnya dalam kekuasaan kita (Yak.2:17). Kita bisa bertindak atau tidak bertindak, sesuai pilihan kita. Kepercayaan yang sejati menuntut supaya kita mengubah sikap kita terhadap Allah. Itu berarti kita tidak hanya mengakui bahwa Dia layak dipercaya tetapi kita juga mempercayai janji-janji-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Itulah iman sejati; apa saja yang kurang dari itu adalah menipu diri sendiri.

Ketika Allah menjadi objek iman, Dia tidak dapat menjadi subjek juga. Orang berdosa yang bertobat adalah subjek, dan karena itu dia harus menempatkan imannya pada Kristus sebagai Penyelamatnya. Hal itu harus dia lakukan sendiri. Allah mungkin akan membantunya, Dia mungkin akan menanti dan bersabar, tetapi Dia tidak dapat menjadi orang itu dan bertobat untuk dia.

Setiap interpretasi atas anugerah keselamatan yang meringankan orang-orang berdosa dari tanggung jawab untuk bertobat tidak berasal dari Allah dan tidak sesuai dengan kebenaran yang telah diungkapkan. Allah juga tidak bertanggung jawab untuk menolong kita bertobat. Dia tidak berhutang apa-apa kepada kita, tetapi melaksanakan keadilan. Orang yang mati dalam dosa dan masuk ke penghakiman tanpa diberkati telah menerima apa yang pantas. Yang lain adalah objek kemurahan-Nya. Menantikan Allah untuk menolong kita bertobat, atau mempercayai bahwa Ia wajib berbuat demikian, adalah menyalahpahami seluruh rencana keselamatan.

Apa hubungannya semua ini dengan kurangnya otoritas dalam gereja-gereja kita? Banyak sekali! Jutaan orang memulai kehidupan Kristen tanpa memahami tugas moral mereka terhadap Allah. Mereka berusaha untuk percaya tanpa terlebih dahulu bertobat. Mereka berusaha percaya tanpa berniat untuk membawa hidup mereka selaras dengan kehendak Allah. Gereja tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengakui bahwa semua itu sesuai dengan rencana Allah. Akibatnya banyak orang Kristen yang tidak jelas tentang apa pun. Mereka penuh dengan keraguan dan kebingungan tersembunyi. Mereka diam-diam kecewa dengan kehidupan mereka, dan sebagian besarnya muram dan tanpa antusiasme. Sulit untuk menghasilkan kegembiraan dari ketidakpastian ini. Karena itu, banyak orang Kristen seperti ini yang sinis kepada orang Kristen yang ingin mengerjakan keselamatan mereka dengan sungguh-sungguh.

Pada hari ini, jika kita bisa memahami bahwa Allah tidak akan bertanggung jawab untuk dosa dan ketidakpercayaan kita, akan menjadi hari yang berbahagia bagi umat Kristen. Kesadaran bahwa kita secara pribadi bertanggung jawab atas dosa-dosa individu kita mungkin mengejutkan hati kita, tetapi itu akan menjernihkan pikiran kita dan menghapus ketidakpastian. Orang-orang berdosa membuang waktu mereka memohon Allah untuk melakukan tindakan-tindakan yang justru diperintahkan-Nya kepada mereka untuk dilakukan. Ia tidak akan berdebat dengan mereka; Ia hanya akan meninggalkan mereka dalam kekecewaan mereka. Ketidakpercayaan adalah sebuah dosa besar; atau dinyatakan dengan lebih tepat, itu adalah bukti dari dosa-dosa yang belum diakui. Bertobat dan percaya, itulah urutannya (Markus 1:15). Iman akan mengikuti pertobatan, dan keselamatan akan menjadi hasil akhirnya.

Aku berkata kepadamu: “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Lukas 15: 10

(Bahan renungan diambil dari Paths to Power, oleh A. W. Tozer)

Kapankah?

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.

Banyak anak kecil di Australia di saat ini yang menantikan datangnya Natal dengan hati yang berdebar-debar. Lima minggu yang terasa seperti setahun. Natal adalah satu hari besar di mana mereka akan merayakannya dalam keluarga, dan saat di mana mereka akan menerima hadiah Natal dari orang tua mereka. Hari demi hari mereka menunggu, tetapi hari Natal terasa tidak kunjung tiba. Karena itu mereka mungkin gelisah memikirkan hadiah apa yang akan mereka terima.

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa gelisah ketika harus menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kegelisahan dengan melupakan hal itu, dalam hal besar orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Dalam keadaan saat ini, apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, pada saat ini hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu bisa terwujud dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Di hari Minggu ini, mungkin kita masih sedih memikirkan masa depan kita dan juga hal-hal buruk yang dialami oleh teman dan sanak keluarga kita. Adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan dengan adanya dampak ekonomi dari pandemi yang berkepanjangan ini? Ataukah kita merasa bahwa hidup yang ada di saat ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan?

Mungkin kita sulit untuk tidur nyenyak karena pikiran kita terpaku pada hal-hal yang dapat kita lihat setiap hari: segala penderitaan, kekecewaan, kehilangan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan mereka yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26

Tuhan saja tempat perlindunganku

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Mazmur 46: 1 – 3

Sejak beberapa hari yang lalu beberapa kota kecil di negara bagian New South Wales (NSW) mengalami banjir besar. Air hujan yang jatuh di pengunungan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membuat air sungai meninggi dan membanjiri banyak tempat. Mereka yang berada dalam keadaan kritis diperintahkan untuk mengungsi, tetapi banyak orang yang terlambat untuk mengungsi, sampai-sampai mereka harus naik ke atap rumah mereka sambil menunggu datangnya pertolongan. Sungguh menyedihkan bahwa banyak orang yang beberapa bulan yang lalu sudah kebanjiran, sekarang harus mengalami hal yang serupa. Mereka yang kebanjiran saat ini, hampir semuanya mengalami kerusakan rumah karena arus aliran air yang deras yang membawa pohon-pohon tumbang, yang bisa menghancurkan dinding rumah dan mematikan makhluk hidup.

Bagaimana tanggapan rakyat atas usaha pemerintah untuk menanggulangi masalah ini? Sesudah beberapa lali kebanjiran, banyak rakyat yang merasa ditelantarkan oleh pemerintah. Mereka yang hancur rumahnya dan hanya memiliki satu potong pakaian yang dipakainya merasa bahwa pemerintah kurang cepat bertindak. Tidak mengherankan, pagi tadi ada orang yang memaki-maki gubernur NSW yang datang berkunjung. Sebenarnya pemerintah NSW memang kewalahan dalam menghadapi bencana banjir yang luar biasa saat ini, yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kemungkinan banjir yang sudah cukup lama diketahui, ternyata tidak dapat membuat pemerintah cukup bersiaga. Sampai-sampai, untuk pertama kalinya, mereka mengundang pemerintah luar negeri untuk memberi pertolongan berupa tim penyelamatan (rescue team).

Dalam mengalami penderitaan seperti ini, tentu saja banyak orang yang hancur hatinya. Dalam penderitaan dan ancaman, manusia mencari seseorang yang bisa memberi harapan. Memang dalam keadaan kritis, kita lebih bisa melihat kualitas manusia yang sebenarnya dan menyimpulkan siapakah yang benar-benar bisa memimpin dan mengatasi keadaan. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa sepenuhnya bergantung kepada sesamanya. Pemerintah pun tidak selalu bisa diharapkan. Dalam keadaan bahaya seperti yang kita alami saat ini, tidak akan ada manusia yang benar-benar yakin akan kekuatan dan kemampuannya sendiri.

Ayat di atas menunjukkan bahwa hanya Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Karena itu, Ia adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita. Allah adalah penolong kita di masa lalu, ketika kita mengalami kesesakan, dan Ia jugalah yang akan melindungi kita dihari-hari mendatang. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi bergoncang dan sekalipun bahaya besar datang mengancam kita. Allah adalah Sang Pencipta yang mahakuasa, kepada-Nya kita bisa berharap akan datangnya pertolongan dan penghiburan.

Tuhan yang mahakasih memberkati umat-Nya bukannya selalu dengan kenyamanan tapi dengan ketabahan. Ia tidak memberikan kenyamanan yang berlebihan bagi semua umat-Nya, tetapi dengan apa yang bisa dinikmati dengan rasa cukup dan syukur setiap hari. Yesus memang mengajarkan kita untuk meminta rezeki yang secukupnya untuk hari ini (Matius 6: 11). Ia juga pernah berkata agar kita tidak kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri (Matius 6: 34).

Hari ini, jika kita merasa hidup kita berat, kita harus sadar bahwa Tuhan tidak ingin memisahkan umat-Nya dari manusia yang lain dan memberi hidup yang penuh kenyamanan di dunia. Selama hidup di dunia yang penuh dosa ini semua orang akan menghadapi bahaya, tantangan, perjuangan dan masalah. Tetapi bagi umat Tuhan, sekalipun tidak ada orang yang bisa diharapkan, ada satu jaminan bahwa Tuhan tetap akan melindungi mereka. Karena itu kita tidak seharusnya berdoa agar Tuhan membuat hidup kita ringan dan nyaman, tetapi sebaliknya berdoa meminta agar Tuhan memberi kekuatan dan perlindungan dalam menghadapi segala tantangan. Sebab kedamaian, dan bukannya kenyamanan, adalah ciri hidup orang Kristen.

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13: 5 – 6

Semua orang punya musuh

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Matius 5: 44

Apakah Anda punya musuh? Saya kira Anda mungkin harus berpikir dulu sebelum menyawabnya. Memang ada orang-orang yang “baik hati” yang merasa tidak mempunyai musuh, tetapi saya tidak yakin kalau tidak ada orang yang secara diam-diam memusuhi mereka. Dalam hidup, kita tentu pernah mengalami pertentangan atau percecokan dengan orang lain, tetapi untuk menganggap orang itu sebagai musuh agaknya tidak mudah. Seorang musuh adalah orang yang selalu mencari gara-gara dan berusaha menjatuhkan atau merugikan kita. Karena itu, musuh adalah seseorang yang tidak kita sukai, untuk tidak dikatakan sebagai orang yang membenci kita, atau orang yang kita benci.

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus tahu siapa dan apa yang bisa menjadi musuh kita. Musuh kita bisa merupakan musuh internal, yang ada dalam diri kita sendiri,  dan musuh external, yang datang dari luar. Musuh yang dari dalam yang bisa menghancurkan kita adalah berbagai dosa kedagingan seperti kemarahan, kesombongan, kerakusan, dll. Musuh dari luar bisa berupa manusia disekitar kita dengan segala pengaruh dan tindakan mereka. Musuh dari luar yang terbesar yang seringkali merupakan musuh yang terbesar umat Kristen adalah iblis yang bisa membuat manusia jatuh lebih parah lagi dalam dosa kedagingan dan bisa mempengaruhi orang disekitar kita untuk melakukan berbagai kekejian. Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa iblis adalah musuh yang harus selalu diwaspadai.

Pemakaian ayat di atas tentunya hanya untuk manusia yang disekitar kita. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh bagaimana Ia memohon pengampunan untuk orang-orang yang menyalibkanNya (Lukas 23: 34). Begitu pula, Stefanus juga berdoa untuk pengampunan orang-orang yang merajamnya (Kisah 7: 60). Dalam kedua contoh ini, doa disampaikan kepada Allah untuk kebaikan orang yang menyakiti Yesus dan Stefanus. Kita bisa berdoa demikian untuk orang yang berbuat jahat kepada kita agar mereka juga mendapat kesempatan untuk menemukan jalan kebenaran. Kita tentunya juga harus berdoa agar kita tetap kuat dan tabah dalam menghadapi kejahatan mereka karena dengan tenaga  kita sendiri, kita tidak akan bisa bertahan.

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal karena cukup sering dikotbahkan atau dibahas. Tetapi bagi banyak orang ayat ini juga ayat “teoritis” yang lebih gampang dikotbahkan daripada dilaksanakan. Memang ayat ini membuat kontras dengan berbagai ajaran agama lain yang mengajarkan untuk membalas orang yang menyakiti mereka atau yang menghujat agama mereka. Tetapi, kalau kita tidak bisa melaksanakannya dengan benar, pemakaian ayat ini akan bisa menjadi batu sontohan.

Doa untuk musuh kita adalah doa untuk apa yang dibutuhkan mereka saat ini. Secara umum, kebutuhan utama mereka adalah pengenalan akan jalan keselamatan. Mereka yang menjahati kita mungkin belum pernah mengenal Yesus dengan benar. Seperti Tuhan yang mengasihi seisi dunia, kita juga harus mau mengasihi semua orang termasuk mereka yang menyakiti kita dengan mendoakan agar mereka bisa bertobat. Selain itu, ada hal-hal lain yang mungkin dibutuhkan oleh musuh-musuh kita. Ada kemungkinan mereka memusuhi kita karena mereka kurang pendidikan, tidak sadar akan adanya hukum dan etika sehingga mudah dipengaruhi oleh orang lain atau suasana sekitar mereka. Ada juga mereka yang hidup kekurangan, sehingga mereka cenderung untuk jatuh dalam dosa iri hati, mencuri, merusak dll. Kita bisa berdoa untuk kebaikan mereka dan jika itu terjadi akan membawa kebaikan kepada kita sendiri dan masyarakat.

Pelaksanaan doa diatas agaknya lebih sulit untuk orang-orang yang menjahati orang disekitar kita karena kita sendiri tidak mengalami kejahatan mereka secara langsung. Kita mungkin tidak bisa membayangkan kejahatan apa yang sudah mereka lakukan dan apa yang menyebabkannya. Tetapi dalam hal inipun, kita tetap bisa mendoakan agar mereka dapat diperkenalkan kepada Yesus dan bisa bertobat. Dalam hal ini sudah tentu kita harus juga memusatkan doa kita untuk korban-korban kejahatan mereka, agar mereka dilindungi dan dikuatkan Tuhan. Kita harus bisa ikut sehati dengan mereka yang dianiaya dan menderita (Roma 12:15).

Bagaimana dengan orang-orang jahat yang melakukan teror dan kejahatan keji kepada saudara-saudara seiman dan masyarakat umum? Perlukah kita mengasihi mereka dan berdoa agar mereka diberkati? Sekali lagi kita bisa berdoa untuk apa yang dibutuhkan oleh mereka dan korban mereka. Apa yang mereka butuhkan, nomer satu,  adalah Yesus Juru Selamat. Kita bisa berdoa agar dalam keadaan apapun, mujizat Tuhan bisa terjadi, yang bisa membawa banyak orang kepada jalan keselamatan. Mereka yang jahat membutuhkan pengenalan akan hukum dan rasa kemanusiaan dan untuk itu kita bisa berdoa agar aparat hukum dan negara bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Jika mereka membutuhkan perawatan medis/psikologis, biarlah Tuhan menolong menyembuhkan mereka agar tidak lagi membawa bahaya untuk orang lain di masa depan.

Bagaimana jika kejahatan yang keji itu terus berlangsung? Jika kita sudah berdoa untuk perubahan hidup mereka tetapi mereka tetap tidak kunjung berubah, mungkin kita harus berdoa menyerahkan mereka sepenuhnya kepada Tuhan, agar Tuhan memakai apa yang berkenan kepada-Nya untuk menghentikan kejahatan mereka. Jika mereka yang jahat itu pada akhirnya akan menemui hukum yang setimpal, kita hanya bisa berdoa agar mereka tidak terlambat untuk menemui jalan keselamatan.

Berdoa untuk musuh kita bukanlah hal yang mudah. Tetapi jelas bahwa kita harus berdoa untuk apa yang mereka butuhkan. Untuk itulah kita harus juga berdoa agar kita diberi kemampuan untuk bisa melihat apa yang mereka butuhkan untuk perubahan hidup mereka. Tuhan bukanlah Tuhan yang mencipta dan kemudian berhenti bekerja, tetapi Ia adalah Tuhan yang mahakasih dan bijaksana.

Dari mana datangnya pencobaan?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Hidup manusia adalah penuh tantangan dan setiap orang umumnya pernah mengalami masalah hidup yang serius. Dalam hal ini, sebagian orang merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat mengatasi masalah mereka, mungkin setelah bergumul cukup lama. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak teratasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepada-Nya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengizinkan datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya. Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah tes kehidupan (test, bukan pencobaan!) yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka. Inilah yang disebut sebagai pencobaan (temptation) dalam ayat di atas.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh kedalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada zaman modern  ini mungkin lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa mereka jatuh kedalam dosa dan pencobaan karena Tuhan yang membuat pengaruh jahat merajalela di dunia. Ini adalah keliru.

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” 2 Timotius 3: 1-5

Pagi ini kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umat-Nya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan mereka mengalami pencobaan. Tiap-tiap orang harus menghadapi persoalan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai manusia kita seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang seringkali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kekuatan dari Roh Kudus untuk bisa selalu menang dalam menghadapi pencobaan atau godaan, seperti Jesus yang sudah menang atas godaan Iblis.

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Ibrani 2:18