Hari Natal bukanlah hari untuk berpesta pora

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Jika anda berada di Australia, pastilah anda dapat merasakan adanya suasana yang berubah di pusat-pusat pertokoan. Hari Natal yang datangnya masih sebulan lagi, sekarang sudah mulai terasa suasananya. Apalagi, murid kelas tiga SMA minggu ini sudah menamatkan tahun ajaran, dan saat ini adalah kesempatan untuk bergembira. Masa ujian mereka sudah berakhir, dan mereka yang akan melanjutkan studi ke universitas akan berlibur panjang sampai bulan Febuari 2022 sebelum masuk kuliah.

Kalau bisa, setiap orang tentu ingin untuk bisa hidup dalam kegembiraan. Siapakah yang mau menderita? Apalagi dalam merayakan Natal, banyak yang memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun tidak mengerti makna hari istimewa itu. Mereka yang menyadari arti Natal pun kelihatannya memilih untuk merayakan Natal semeriah dan semewah mungkin, sekadar berusaha untuk membuat kenangan yang tidak mudah terlupakan selama mereka masih hidup.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan di sekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan manusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya bisa disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang sekarang ada, sering kali adalah tanda kesombongan manusia.

Kelahiran Yesus Anak Allah, tentunya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, lebih mewah dari perayaan Natal apa pun yang dapat dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus manusia yang berdosa. Sekalipun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilih-Nya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umat-Nya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan nama-Nya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi di dalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan dan kemegahan. Sebaliknya, sebagai anak-anak Tuhan kita sering kali menghadapi tantangan, kesedihan, kekurangan, kesepian dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa ikut merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman itu justru akan membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Bukannya ditundukkan oleh kepedihan dan kekuatiran, mereka yang beriman justru terlihat teguh dan bisa bersyukur dalam segala keadaan. Karena itu, hidup kita bisa membawa orang yang belum percaya untuk menyerahkan hidupnya kepada Yesus.

Hari ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Mungkin kita sudah bisa merasakan adanya karunia iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaan-Nya?

Jangan sampai mata kita menjadi hijau

”Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 8 – 9

Mengapa ada ungkapan “matanya menjadi hijau ketika melihat uang”? Meskipun sebenarnya mata orang yang sehat tidak berubah warna, ungkapan ini sering dipakai untuk menyatakan adanya orang yang rakus akan uang. Entah bagaimana orang yang “cinta uang” bisa digambarkan sebagai orang yang bisa berubah warna matanya. Ada yang menduga bahwa warna hijau berkaitan dengan warna uang dollar Amerika, dan memang banyak orang “mata duitan” yang senang mengumpulkan mata uang ini.

Kebanyakan orang ingin memiliki banyak uang untuk menjadi kaya, karena kekayaan dianggap sebagai penunjang kebahagiaan. Karena itu dari kecil mereka akan berusaha keras untuk mencari kesuksesan dengan segala cara. Bahkan dalam ajaran beberapa pimpinan gereja, jemaat juga dianjurkan untuk mencari kesuksesan yang dianggap sebagai bukti penyertaan Tuhan. Kekayaan dalam Alkitab Perjanjian Lama memang sering dikaitkan dengan anugerah Allah kepada umat-Nya. Tetapi, pemberian Allah yang terbesar dalam Perjanjian Baru sudah terwujud dalam diri Yesus. Karena itu Alkitab Perjanjian Baru lebih menekankan pada kekayaan rohani dan bukannya kekayaan jasmani. Malahan, mencari kekayaan jasmani dikatakan dalam ayat di atas sebagai sesuatu yang bisa membuat kebangkrutan rohani.

Jika kekayaan bisa mendatangkan banyak masalah, itu adalah hal yang mudah dimengerti. Mereka yang ingin kaya sering kali melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi, orang harus menyadari bahwa mereka yang miskin pun bisa terjebak dalam kerakusan. Baik orang kaya atau miskin, keduanya bisa menjadi orang yang warna matanya berubah hijau ketika melihat uang. Pesan rasul Yakobus di bawah ini adalah jelas dan lantang; walaupun demikian, banyak orang Kristen tetap saja mau menjadi hamba uang.

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Yakobus 4: 1-2

Karena adanya akibat yang tidak diinginkan, penulis Amsal dalam ayat di bawah ini tidak mau memilih kekayaan atau kemiskinan, tetapi memilih apa yang ditentukan Tuhan, agar ia tidak terjerumus dalam dosa.

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 8-9

Masalahnya, kita sering tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Seberapa banyak Tuhan sudah menentukan apa yang menjadi bagian kita? Bukankah Dia yang mahakasih dan mahaadil selalu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya? Bukankah Ia mau memberikan apa saja yang baik yang kita minta?

Dalam hidup ini kita bisa melihat bahwa memang baik kekayaan atau kemiskinan bisa membuat orang Kristen untuk menjauhi Tuhan. Satu sebabnya, dan hanya satu: itu karena tidak adanya rasa cukup. Tidak adanya rasa cukup membuat orang menjadi rakus atau merasa sangat lapar. Tidak adanya rasa puas membuat kita mau melakukan apa saja demi kenikmatan. Dengan demikian,kita bisa jatuh ke dalam dosa jika Tuhan tidak memberi kekuatan kepada kita dan kemampuan untuk merasa cukup. Karena itu, biarlah kita belajar untuk berdoa setiap hari agar Tuhan memberi kita makanan yang secukupnya agar kita tetap bisa merasakan penyertaan Tuhan dalam hidup kita.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13

Apakah aku bertanggungjawab atas kesalahan orang lain?

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Yehezkiel 33: 8

Bagi orang Kristen, kisah orang Samaria yang baik hati tentunya sudah cukup familiar. Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang murah hati itu (Lukas 10: 30-37) biasanya ditafsirkan oleh umat Kristen sebagai ajaran untuk mengasihi semua orang, termasuk orang yang mungkin dianggap sebagai “orang luar”.

Apa yang sudah dilakukan orang Samaria dalam perumpamaan itu agaknya di luar dugaan siapa saja. Sebab, orang Samaria adalah orang yang dimusuhi dan dibenci oleh orang Jahudi. Karena itu, si korban (orang Yahudi) dalam kisah tersebut tentunya sama sekali tidak mengharapkan pertolongannya. Namun, dari ketiga orang yang sudah melihatnya, justru orang Samaria itulah yang bersedia menolongnya.

Frase “orang Samaria yang murah hati” kemudian menjadi ungkapan sehari-hari bagi seseorang yang bersedia menolong orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya sekalipun. Sayang sekali, saat ini di banyak negara orang harus mengerti apakah ada hukum (the Good Samaritan law) yang melindunginya dari kemungkinan tuntutan hukum jika ia melakukan kekeliruan dalam usaha menolong orang lain. Memang, jika kita tidak yakin bisa menolong, maksud baik kita justru bisa membawa akibat yang buruk bagi orang lain. Sebaliknya, tidak ada hukum yang mengharuskan orang untuk berusaha menolong orang lain yang mengalami kecelakaan.

Kisah ini sebetulnya cukup dramatis. Bagi orang Samaria itu, orang yang ditolongnya bukan saja berasal dari kaum yang berbeda, tetapi dari kelompok yang selama ini menghina, membenci dan mengasingkan kaumnya. Sebagai seorang Kristen, di mana mengasihi sesama manusia adalah sebuah perintah Yesus yang wajib untuk dilaksanakan, kita wajib belajar dari kisah ini. Selagi seseorang masih disebut sebagai “seorang manusia” maka kita wajib mengasihinya. Kasih yang dimaksud juga harus lintas suku, agama, negara dan ras. Bahkan, kita wajib mengasihi orang yang membenci, mencaci maki, atau bahkan mengasingkan kita, yang bisa disebut sebagai orang jahat, musuh kita.

Adakah untungnya bagi orang yang bermaksud baik untuk memberi nasihat bagi orang lain jika ada kemungkinan bahwa nasihat itu akan ditolak mentah-mentah dan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengadakan permusuhan? Ini adalah pertanyaan yang mungkin muncul dalam setiap orang dari kecil. Memang, orang sering mempunyai keinginan untuk menolong orang lain, setidaknya untuk memberi nasihat.  Tetapi, dari kecil mungkin kita sudah belajar untuk mengabaikan adanya hal-hal yang kurang baik dalam masyarakat. Mungkin dari orang tua atau teman, kita belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Itu adalah demi keselamatan atau kenyamanan kita sendiri.

Jika seseorang berusaha menasihati orang lain, ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Ada orang yang hanya ingin menunjukkan kemampuan dan kehebatannya. Ada juga orang yang cenderung ingin mempersalahkan, menghakimi atau merendahkan orang lain. Tetapi, ada juga orang yang benar-benar ingin agar orang lain sadar akan adanya hal yang tidak benar. Dalam semua itu, orang yang dinasihati bisa saja merasa bahwa dirinya dipermalukan atau diserang sehingga ia menjadi defensif, ingin membela diri.

Bagaimana sebenarnya panggilan orang Kristen dalam menghadapi situasi di sekelilingnya? Bolehkah orang Kristen untuk berdiam diri melihat sesama kita yang melakukan hal yang jahat dalam pandangan Allah? Ayat di atas adalah pernyataan Tuhan yang khusus kepada Yehezkiel, tetapi bisa diterapkan prinsipnya untuk semua orang Kristen yang hidup di mana pun. Prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita ikut bertanggung-jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain, yang bisa kita lihat sendiri.

Jika kita tahu bahwa orang lain melakukan kesalahan dan kita hanya berdiam diri, kita sudah ikut bersalah di hadapan mata Tuhan. Setiap orang Kristen dipanggil untuk ikut berpartisipasi dalam menegakkan kebenaran, bukan saja dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan gereja, tetapi juga dalam hidup bernegara. Semua itu tentunya harus dilakukan dengan kasih dan untuk kemuliaan Tuhan. Semoga Tuhan menguatkan umat-Nya. Kita bisa melihat dari contoh Yesus yang selama hidup di dunia tidak ragu-ragu menegur orang lain, sekalipun itu menyebabkan kemarahan mereka. Itu karena Ia tahu bahwa All;ah mengasihi semua orang. Dengan demikian, panggilan kita untuk hari ini tetaplah sama, yaitu agar kita berani menyatakan apa yang benar dan yang tidak benar menurut apa yang difirmankan Tuhan agar banyak orang yang bisa bertobat dari cara hidup mereka.

Bertumbuh bersama dalam iman dan pengetahuan

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19 – 20

Pernahkah anda mempertanyakan mengapa untuk satu hal yang sama ada banyak pendapat yang berbeda? Itulah karena manusia adalah makhluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah makhluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika makhluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang di sekitarnya. Karena itu, tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Roma 1: 19-20 menunjukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi pernyataan-Nya, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum, tetapi lebih bisa diterima melalui iman yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya.

Bagaimana pula dengan pengertian umat percaya akan firman-Nya? Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat mengenal Sang Pencipta. Bagaimanapun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin memahami-Nya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan hal itu. Pengenalan akan Tuhan yang sudah ada pada zaman Perjanjian Lama, makin bertambah setelah Tuhan turun ke dunia dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Memang, Yesus semasa tinggal di dunia sudah menggenapi apa yang disebut dalam Perjanjian Lama dan membuka hati dan pikiran banyak orang untuk memahami Perjanjian Baru dalam darah-Nya. Setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat terus belajar tentang apa yang dikehendaki Tuhan.

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anak-Nya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuni-Nya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Karena itu, tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus setiap hari? Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus, dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Tetapi perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan yang sering terjadi, bisa juga menimbulkan pertikaian antar umat percaya.

Berbeda dengan penyataan Tuhan kepada dunia, hubungan umat Tuhan dan umat-Nya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari. Tuhan menyatakan diri-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada mereka yang beriman kepada-Nya. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pernyataan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak mau mendengar suara-Nya.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk menerima kebenaran-Nya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau hidup untuk Dia. Mereka yang terlalu sibuk dengan kesibukan diri sendiri cenderung mengabaikan firman Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, kita bisa bertumbuh dalam kesatuan orang percaya. Dengan itu, iman kita juga tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang akan datang dengan keyakinan bahwa kasih-Nya akan senantiasa menyertai semua anak-anak-Nya.

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Hari Sabat dan hari Minggu

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang pentng, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk beristirahat atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dalam berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama.

Dalam Perjanjian Lama, perintah Tuhan untuk menguduskan hari Sabat diberikan kepada umat Israel pada saat Musa menerima dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa orang Israel harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, mereka tidak akan dapat beristirahat pada hari Sabat. Hari Sabat diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Ayat pembukaan di atas menjelaskan bahwa hari Sabat sebenarnya bukan ditentukan sebagai hari untuk Tuhan. Tetapi, Tuhan memberikan hari Sabat kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Hari Sabat digunakan oleh orang Israel untuk berdoa dan memuji Tuhan. Tanpa kegiatan kerohanian itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik dalam jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Sesudah kebangkitan Kristus, orang Kristen mulai mengadakan kebaktian pada hari Minggu. Hari ini kemudian disahkan oleh kaisar Konstantin pada tahun 321 Masehi. Perlu dicatat bahwa hari Minggu bukanlah hari yang dipilih manusia untuk mengganti hari Sabtu, hari Sabat yang ditentukan Allah untuk bani Israel. Hari Minggu menjadi hari peringatan kebangkitan Kristus yang sudah membawa keselamatan bagi umat-Nya, yang datang dari segala bangsa. Hari untuk berbakti pada Tuhan itu sudah ada sejak munculnya orang – orang Kristen yang pertama (Kisah 20: 7).

Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita dalam ketenangan bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru. Lebh dari itu, orang Kristen harus bisa mengingat kemurahan-Nya setiap hari, Tuhan yang sudah mengampuni dosa-dosa kita. Pada hari itu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Sebaliknya, hari Sabat seharusnya kita jalani setiap hari, dengan cara hidup yang sesuai dengan firman-Nya.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Apakah Tuhan hanya mengasihi umat-Nya?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini saya melihat film dokumenter tentang penginjilan yang dilakukan oleh Billy Graham, seorang penginjil abad ke 20 dari Amerika yang sangat terkenal. Dalam video itu Billy Graham menyatakan bahwa melalui ayat di atas kita bisa melihat bagaimanaTuhan mengasihi seisi dunia dan karena itu Ia ingin menyelamatkan siapa saja yang mau menjawab panggilan-Nya. Seperti Billy Graham, banyak orang Kristen yang memakai ayat itu sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat di atas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Keselamatan hanya dimungkinkan melalui anugerah Allah.
  • Allah sudah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih?

Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasih-Nya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membuat seluruh umat manusia mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Adanya perbedaan di dunia justru membuat manusia sadar akan adanya Tuhan yang mahakuasa. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencana-Nya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencana-Nya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena “keistimewaan” orang-orang itu. Rencana baik dari Tuhan bisa tercapai sekalipun ada manusia yang berusaha menggagalkannya.

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-domba-Nya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tangan-Nya, diberi-Nya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberi-Nya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan bisa menghirup udara segar, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umat-Nya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Batu sontohan yang berbahaya

“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!: Roma 14:13

Dalam kehidupan modern saat ini, di mana sulit bagi kita untuk mengucapkan satu-dua kata tanpa menyinggung seseorang, ayat di atas bisa ditafsirkan sebagai peringatan keras. Mungkin itu terasa sedikit ekstrem untuk pelanggaran yang mungkin berasal dari kata-kata atau perbuatan yang tidak disengaja atau disalahartikan. Tetapi, hal tuntut menuntut di pengadilan memang makin marak saja di seluruh dunia.

Dalam bahasa asli Perjanjian Baru, kata yang Yesus gunakan untuk “pelanggaran” adalah skandalon—kata Yunani yang merujuk pada pemicu, atau “tongkat penggantung umpan,” yang akan menyebabkan sebuah jebakan menutup. Dalam hal ini,“batu sandungan” adalah sesuatu yang menjegal atau merintangi orang lain untuk mempunyai hubungan baik dengan Allah. Di dalam Matius 18: 5-7, Yesus berkata: “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”

Apa yang diungkapkan Yesus menunjukkan sesuatu yang lebih jahat daripada “pelanggaran” seperti yang kita kenal sekarang. Yesus tidak perlu memperingatkan kita tentang risiko menghina perasaan seseorang. Dia memperingatkan tentang memasang jebakan, memikat dan menjerat korban yang tidak curiga, membawa “si kecil” menjauh dari kebenaran dan ke dalam kegelapan.

Menurut Yesus Kristus, siapa pun yang pergi membuat skandalon untuk umat Allah akan lebih baik ditenggelamkan di dasar laut. Paulus memperingatkan tentang pelayan iblis, yang menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. (2 Korintus 11:15). Paulus menggunakan kata “tersandung” (yaitu skandalon) ketika dia menegur orang-orang percaya di Roma.

“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” Roma 14: 13

Tidak ada keraguan bahwa sebagai orang Kristen, kita semua adalah satu tubuh di dalam Kristus, dan masing-masing adalah anggota satu sama lain” (Roma 12:5). Tidak ada manfaat bagi kita untuk membuat hidup lebih sulit bagi anggota tubuh yang lain, dan sebaliknya ada keuntungan dalam memperkuat dan mendukung mereka. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah bagaimana kita menjaga agar tindakan kita tidak menjadi batu sandungan dan skandalon bagi rekan-rekan Kristen kita? Menghindari pelanggaran membutuhkan kesadaran.

Langkah pertama untuk tidak menjadi batu sandungan adalah kesadaran bahwa kita dan apa yang kita lakukan bisa menjadi batu sandungan. Sayang, tidak semua orang menyadari hal itu atau peka akan akibat buruk apa yang bisa dihasilkan untuk orang lain. Sangat mudah untuk melihat bagaimana tindakan orang lain memengaruhi kita, tetapi lebih sulit untuk mengingat bahwa tindakan kita sendiri dapat memengaruhi orang lain. Hanya dengan mengalihkan perhatian kita kepada orang lain, kita sudah membuat langkah besar untuk meletakkan batu sandungan di depan mereka.

Yang kedua, kita harus sadar bahwa batu sandungan tidak selalu tentang hal “benar” dan “salah”. Sebagai orang Kristen yang berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengurangi fokus pada apa yang paling benar jika tidak ada hal yang nyata-nyata melanggar firman Tuhan, tetapi berusaha agar kita bisa memperkuat saudara-saudari seiman. Tindakan memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada dewa-dewa, misalnya, dapat dengan mudah menjadi batu sandungan, atau skandalon, bagi orang Kristen yang baru mengenal iman. Meskipun orang Kristen memiliki kebebasan untuk memakan daging itu, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan bagaimana hal itu akan berdampak pada iman orang-orang di sekitar mereka (1 Korintus 8: 13).

Demikian pula, dalam Roma 14: 12-13, Paulus menunjukkan bahwa dalam cara hidup Kristen, hanya Allah yang boleh menghakimi; kita sendiri tidak boleh menghakimi saudara seiman kita agar kita tidak menyebabkan mereka jatuh atau tersandung. Menahan diri dari menjadi batu sandungan berarti tidak membawa orang lain ke dalam dosa. Misalnya, menahan diri untuk tidak bertengkar akan menghindari kemungkinan untuk jatuh dalam rasa marah atau dendam. Sudah tentu, bagi kita umat Kristen, itu adalah sesuatu yang harus dihindari. Tentu saja, bagaimana kita mencapai hal ini tergantung pada situasi dan hati orang-orang di sekitar kita. Untuk itu kita perlu berdoa untuk meminta bimbingan Roh Kudus.

Kesejahteraan yang kita miliki dalam kasih karunia Tuhan, baik sekarang maupun di masa depan, memungkinkan kita untuk menunjukkan kepedulian kepada mereka yang lebih lemah – mereka yang membutuhkan dorongan khusus untuk memahami siapa Tuhan itu. Dalam beberapa situasi, itu berarti mendorong terciptanya keadilan sosial dan penegakan hak azasi untuk menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih karunia. Pada orang lain, itu berarti mendisiplinkan diri kita sendiri untuk dapat menguatkan mereka yang lebih lemah dan tidak mendorong mereka ke dalam kebebasan sebelum mereka siap. Dalam semua keadaan, itu berarti tidak membuat orang lain untuk menjauhi Tuhan karena kita sudah menjadi batu sontohan bagi mereka. Pagi ini kita harus bersyukur bahwa Tuhan tetap membimbing kehidupan setiap umat-Nya, sehingga kasih-Nya terlihat nyata oleh mereka yang belum percaya.

Mengabarkan Injil melalui karakter kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:19 di atas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat di atas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara pemaksaan dan kekerasan. Di zaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk dibaptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 di atas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk pengaruh spiritual, yaitu hadirnya Roh Kudus.

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan menjalani hidup menurut perintah Tuhan agar orang di sekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang. Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk menipu mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Lalu bagaimana kita bisa secara efektif menyampaikan Injil, kabar baik tentang penyelamatan manusia yang berdosa?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat masyarakat.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita memberi dunia sebuah alasan untuk berbicara dengan cara yang meragukan kebenaran kekristenan….”

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan memperhatikan pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana. Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang belum menerima apa pun dan sama sekali rusak karakter dan moralnya (totally depraved). Karena itu, kita mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita.

Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium aroma manis kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Pagi ini, marilah kita meminta agar Roh Kudus mau membimbing kita di setiap saat.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Memandang ke masa depan dengan keyakinan

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Kisah 16: 31-32

Ayat di atas (Kisah 16: 13-34) mengisahkan pengalaman Paulus dan Silas yang mengabarkan Injil dan mengusir setan di Filipi. Dengan hasutan beberapa penduduk Filipi, mereka berkali-kali didera dan bahkan dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, dan sesuai dengan perintah itu, ia memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Kemudian, terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu penjara dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ”Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”. Lalu Paulus dan Silas memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah. Happy ending.

Pertobatan dan penyerahan kepala penjara itu tampaknya seperti akhir sebuah film yang bisa membuat para penonton merasa gembira dan melihat bahwa semua penderitaan Paulus dan Silas ternyata ada gunanya. Menjadi orang percaya yang akan masuk ke surga ternyata tidak sukar. Tetapi, bagi banyak orang Kristen, perasaan yakin bahwa mereka akan menuju ke surga pada akhir hidup mereka mungkin belum terasa. Apalagi, semakin tua usia kita, mungkin kita makin sadar bahwa kita belum betul-betul berhasil untuk menjadi umat-Nya yang baik. Jika kita membandingkan hidup kita dengan hidup mereka yang dermawan atau penuh dengan pengetahuan Alkitab, kita mungkin merasa minder atau putus asa, karena takut kalau-kalau Tuhan menolak kita. Kita mungkin merasa bahwa kita tidak cukup saleh untuk menjadi orang percaya yang akan masuk ke surga.

Bagi banyak orang non-Kristen, perasaan gundah karena tidak adanya jaminan keselamatan adalah disebabkan oleh pengertian yang keliru, bahwa manusia hanya bisa masuk ke surga setelah dapat sepenuhnya mengubah hidupnya, dari hidup yang mementingkan diri sendiri menjadi hidup untuk kemuliaan Allah. Dalam agama lain memang diajarkan bahwa karena Tuhan itu suci, Ia hanya dapat menerima mereka yang suci hidupnya atau yang telah bersedekah dengan murah hati. Oleh karena itu banyak orang yang tidak dapat yakin kalau mereka akan dinyatakan cukup baik oleh Allah setelah meninggalkan dunia.

Dalam agama Kristen pun ada banyak orang percaya yang tidak yakin akan keselamatan mereka, bukan karena mereka merasa belum cukup suci atau beramal, tetapi karena pikiran Tuhan yang sulit diduga. Apalagi mereka yang sangat menonjolkan aspek kemahakuasaan Tuhan mungkin percaya bahwa adalah hak Tuhan kalau Ia sudah memutuskan dari awalnya untuk mencampakkan orang-orang tertentu ke neraka. Mereka mungkin percaya bahwa apa pun yang mereka perbuat dalam hidup ini, atau bagaimana pun kuatnya iman mereka, adalah Tuhan yang sudah memutuskan siapa yang akan ke surga. Dengan demikian, Injil bagi sebagian orang Kristen adalah bukan kabar baik, tetapi kabar buruk; dan itu karena mereka tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka. Bukan happy ending, tapi sad ending.

Ayat mas kita di atas sebenarnya adalah sebuah contoh kabar baik dalam Alkitab. Bagaimana seseorang yang tidak mengenal Kristus sudah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat jalan kebenaran. Kepala penjara yang dulunya merasa bahwa hidupnya sudah tamat karena semua tawanan diduganya sudah melarikan diri, kemudian bisa melihat kebesaran Tuhan melalui Paulus dan Silas. Mengapa begitu? Tentunya semua itu terjadi karena Tuhan bermaksud untuk menyelamatkan dia, dan juga keluarganya. Mengapa begitu mudah bagi mereka itu untuk menerima “karcis” ke surga? Semua orang yang percaya kepada Kristus dapat menyadari dosa mereka dan perlunya penebusan dengan darah Kristus, ketika mereka mendapat bimbingan Roh Kudus yang membuat mereka sadar akan adanya satu-satunya jalan menuju keselamatan. Yesus menerima kepala penjara itu dan seisi rumahnya sebagaimana adanya. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa mereka sudah layak untuk diselamatkan, tetapi mereka yakin akan keselamatan dari Yesus.

Seperti kepala penjara itu, keselamatan kita bukan tergantung pada pengetahuan alkitab, perbuatan baik dan hidup saleh kita. Tidak ada seorang pun yang baik di hadapan Tuhan, dan tidak ada orang yang bisa diselamatkan jika Tuhan menuntut kesempurnaan hidup kita. Sekalipun kita sudah rajin ke gereja atau mempelajari firman Tuhan, itu tidak akan bisa membuat kita tergolong sebagai umat- Nya jika bukan Tuhan sendiri yang memilih kita dan membimbing kita sehingga kita mempunyai kesadaran bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahakasih. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi cukup layak untuk berdiri di hadapan Tuhan yang mahasuci, tetapi Tuhan yang mahakasih sudah memberikan Yesus sebagai jaminan untuk ganti dosa kita.

Pagi ini, jika kita mengharapkan jaminan keselamatan Tuhan, kita harus bisa berpikir positif – bahwa jika kita benar-benar percaya kepada Yesus, itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa kita adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang dengan Roh Kudus-Nya akan membimbing kita dalam menjalani hidup kita dan membuat kita ingat akan kasih-Nya. Dengan itu kita tidak ragu untuk melalui jalan kehidupan kita sebagai umat-Nya, dan pada waktunya menuju tempat tujuan akhir kita, yaitu surga,