Berbahagialah orang yang berdukacita

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” Matius 5: 4

Bagi mereka yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, tentu tahu bahwa semua anak-kecil pernah mengalami “kecelakaan” seperti jatuh tersandung, kepala terantuk meja dan sebagainya. Itu sudah biasa. Tentu saja, sebagai anak kecil mereka menangis ketika hal-hal itu terjadi. Bagi anak kecil, sakitnya tubuh mungkin tidak terlalu parah, tetapi hati yang kaget atau takut mungkin lebih sering membuat mereka menjerit atau menangis. Mereka mungkin tidak tahu mengapa mereka merasa sakit, tetapi mereka  sadar bahwa orangtuanya akan  bisa menolongnya dan memberi perhatian. Seorang anak tahu bahwa orangtuanya mengasihinya, karena itu rasa sakit yang sekecil apapun memberi mereka kesempatan untuk meminta perhatian orangtua. Sebagai anak kecil, ada rasa bahagia jika dekat dengan orangtua.

Setelah menjadi orang dewasa, kebanyakan orang lebih bisa menahan atau menyembunyikan rasa sakit. Malahan, orang sering merasa malu untuk memperlihatkan rasa sakitnya kepada orang lain, sekalipun itu sakit sekali. Jika ada rasa sedih, mungkin mereka menyembunyikannya di balik senyuman palsu. Mereka mungkin ingin dianggap sebagai orang yang tegar, dan selain itu mereka tidak yakin apakah ada orang yang mengerti akan masalah mereka dan bisa memberi pertolongan. Lebih dari itu, ada juga kecurigaan jangan-jangan ada orang yang malah bersuka-ria karena mendengar adanya orang lain yang menderita. Karena itu, tidak mengherankan bahwa banyak orang dewasa yang mengalami penderitaan batin karena merasa bahwa segala rasa sedih dan pedih haruslah ditanggung sendiri.

Memang jika tidak ada orang yang bisa dipercaya atau yang mau mendengarkan keluh kesah kita, hidup tentunya terasa berat. Mereka yang hidup sebagai suami dan istri, belum tentu dapat saling mencurahkan isi hati dengan leluasa. Menceritakan persoalan yang ada kepada orangtua atau pun kepada anak yang sudah dewasa di zaman ini juga tidak mudah. Semua itu membuat orang terpaksa untuk memendam perasaan sedih dan pahit yang dipunyainya. Siapa lagi yang bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan isi hati jika orang yang terdekat pun tidak mempunyai waktu atau perhatian untuk kita?

Ayat di atas adalah singkat tetapi sangat terkenal. Walaupun demikian, tidaklah mudah bagi kita untuk dapat menyelami artinya. Ayat itu menyatakan bahwa kita harus berbahagia ketika mengalami dukacita karena akan menerima penghiburan. Penghiburan dari mana? Penghiburan dari Tuhan, kalau saja kita menempatkan diri kita sebagai anak kecil yang membutuhkan kasih dan perhatian orangtua. Mungkin sebagai orang dewasa kita berusaha untuk  menghadapi dan menyelesaikan kesulitan kita dengan tenaga sendiri. Mungkin kita tidak yakin kalau Tuhan mau mendengar keluh kesah kita, karena pada saat-saat yang lalu kita tidak pernah mau mendekatiNya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita adalah orang-orang yang sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus. Seorang anak tahu bahwa orangtuanya mengasihinya, dan karena itu rasa sakit yang sekecil apapun memberi mereka kesempatan untuk pergi menemui orangtuanya guna menerima penghiburan. Dengan demikian, sebagai anak Tuhan kita akan mendapatkan rasa bahagia jika kita selalu mau dekat dengan Dia.

 

Badai besar sudah datang

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Matius 7: 25

Hari Minggu yang lalu , negara bagian Australia Barat mengalami badai topan “Mangga” sehingga sekitar 50 ribu rumah terputus aliran listriknya.  Angin yang berkecepatan sampai 100 km/jam membuat banyak rumah dan pantai mengalami kerusakan; tetapi untung tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Mereka yang tidak pernah membayangkan bahwa badai besar bisa terjadi, tentunya tidak merasakan perlunya persiapan khusus. Tetapi, pada bulan-bulan sekarang  ini  badai memang sering datang di negara bagian itu. Kedatangan badai bisa diramalkan dan dipastikan oleh Biro Meteorologi negara dan karena itu penduduk bisa mempersiapkan diri.

Hidup manusia dalam ayat di atas dibayangkan sebagai rumah yang dilanda badai. Datangnya masalah kehidupan yang besar tentunya menggoncang hidup siapa saja. Jika badai besar dalam hidup seseorang mungkin belum datang, ia tentunya berdoa dan berharap agar itu tidak terjadi. Tetapi jika terjadi, itu tidak dapat ditolak atau dihindarinya. Berbeda dengan badai karena cuaca, badai kehidupan seringkali tidak dapat diduga datangnya maupun besarnya. Karena itu banyak orang yang mengalaminya akan mengalami goncangan atau kejutan besar.

Pada akhir tahun 2019, saya mengajukan pertanyaan dalam salah satu renungan: kapankah kita akan mengalami badai kehidupan di masa depan? Adalah suatu hal yang menarik bahwa badai kehidupan dunia ternyata datang 3 bulan kemudian! Siapakah yang bisa menduga kedatangan musibah ini? Walaupun demikian, setiap orang bisa mempersiapkan diri jika mereka sadar bahwa itu bisa datang pada saat yang tidak terduga.

Dalam dunia yang sudah tercemar dosa, siapa saja bisa mengalami masalah hidup yang besar. Saat ini, dengan adanya pandemi  penduduk banyak negara sudah mengalami berbagai penderitaan. Jika keadaan tidak membaik dengan cepat, diperkirakan bahwa wabah kelaparan akan muncul di berbagai negara. Dalam hal ini, umat Kristen  tidak seharusnya berharap akan perlakuan istimewa dari Tuhan, agar mereka boleh bebas dari masalah, sedangkan orang lain semuanya jatuh bangun bergulat dengan penderitaan. Apa yang boleh kita minta adalah kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat kuat menghadapinya.

Seperti mempersiapkan sebuah rumah untuk menghadapi badai yang akan datang, kita harus memohon agar Tuhan memperkuat iman kita hari demi hari, dan memusatkan hidup kita kepadaNya. Dengan demikian, jika badai kehidupan datang, kita akan tetap dapat berdiri teguh dalam iman sampai akhir. Hanya Tuhan yang tahu kapan badai akan datang, sekalipun Dia bukan penyebabnya. Dalam hal ini, kita yang beriman kepada Tuhan harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, Yesus akan menyertai kita. Inilah pondasi kehidupan kita yang menguatkan kita sehingga kita tetap bisa berdiri teguh dan berani menyongsong hari depan.

Carilah tabib yang bisa menyembuhkan

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Hari ini media Australia menyampaikan kabar buruk: seorang pria berumur 30 tahun ditemukan tewas di rumahnya. Setelah diselidiki, dapat dipastikan bahwa ia tewas akibat virus corona. Pemuda ini sebenarnya sudah beberapa minggu merasa tidak enak badan, tetapi ia tidak pernah pergi ke dokter. Sebagai korban virus corona yang termuda di Australia, kematiannya membuat masyarakat sadar bahwa virus ini tidak memandang usia dan sulit untuk diatasi.  Saat ini dinas kesehatan pemerintah sedang berusaha keras untuk menemukan siapa saja yang pernah mengadakan kontak dengan pria ini untuk bisa dites atau diisolasi.  Semua ini adalah hal yang tidak nyaman, tetapi merupakan cara hidup yang normal atau “the new normal” yang harus kita terima sebelum vaksin ditemukan.

Jika masalah diatas adalah menyangkut kesehatan jasmani, hal yang serupa juga terjadi dalam segi kesehatan rohani. Sebagai akibat adanya ‘lockdown‘ di Australia, banyak orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang berat karena merasa terkucil, atau karena hidup dalam ketakutan dan kekuatiran. Jelas bahwa virus corona tidak hanya membawa akibat yang mematikan jasmani tetapi juga rohani manusia. Adalah kenyataan bahwa untuk menghilangkan trauma psikologis seringkali lebih sulit dari menyembuhkan sakit badani. Oleh sebab itu, pemerintah Australia berjanji untuk membantu organisasi yang merawat orang yang mengalami gejala kejiwaan, agar jumlah mereka yang mengalami kehancuran hidup dapat diperkecil.

Selama hidup di dunia, Yesus menunjukkan bahwa Ia peduli akan keadaan jasmani dan rohani manusia di sekelilingnya. Dalam hal jasmani, Ia memberi makan banyak orang, menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangkitkan orang mati. Walaupun demikian, semua itu bukanlah bagian yang terpenting dari kedatanganNya ke dunia. Yesus dalam ayat diatas berkata bahwa Ia datang ke dunia sebagai tabib untuk menyembuhkan mereka yang sering berbuat dosa, seperti si Lewi pemungut cukai – seperti kita semua. Sebagai tabib, Yesus memungkinkan manusia yang sakit atau mati rohaninya untuk bisa disembuhkan. Bahkan Ia mengurbankan diriNya sendiri di kayu salib untuk menjadi juru selamat mereka yang percaya.

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Adalah kenyataan bahwa di zaman ini umat Kristen justru kurang menghargai Yesus sebagai tabib yang bisa menghilangkan keresahan hidup. Mungkin banyak orang yang merasa bahwa Yesus adalah jalan ke surga, tetapi untuk hidup di dunia mereka membutuhkan sesuatu yang lain, yang lebih bermanfaat dan praktis dari sesama manusia.

Untuk mencari kebahagiaan duniawi, manusia mencari berbagai  hiburan, seperti makan minum, shopping, kegiatan sosial, olahraga dan pesta. Untuk mengatasi kekuatirannya manusia belajar dari para motivator dan tokoh-tokoh agama. Dan untuk masa depan manusia menaruh harapan kepada kesuksesan diri sendiri. Dengan adanya wabah virus corona, kegiatan hidup dan keyakinan mereka sekarang menjadi porak poranda. Walaupun demikian, mereka yang sekarang sakit dan memerlukan penyegaran rohani masih mempunyai kesempatan untuk mencari tabib yang sejati.

Hari ini kita diingatkan bahwa di dunia ini, jika orang yang sakit jasmani memerlukan dokter, mereka yang menderita atau lemah secara rohani memerlukan Yesus. Jika dunia menawarkan berbagai cara untuk memperbaiki dan menguatkan rohani kita, kita harus yakin bahwa hanya Yesus yang dapat membimbing dan menyegarkan kita melalui firmanNya. Dia adalah satu-satunya Tuhan kita yang akan membimbing kita keluar dari kekacauan dunia yang sekarang ini kita alami.

“Orang-orang yang takut kepadaMu melihat aku dan bersukacita, sebab aku berharap kepada firmanMu.” Mazmur 119: 74

 

Patutkah aku marah kepada Tuhan?

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1: 21

Pandemi COVID-19 yang berkepanangan sudah tentu akan menyebabkan berbagai masalah di dunia. Pelonjakan angka pengangguran rakyat dan kebangkrutan perusahaan sudah dapat terlihat di berbagai negara besar dan kecil. Berbagai fiskal stimulus sudah dijalankan oleh pemerintah banyak negara, tetapi hasilnya akan sulit diprediksi. Sebaliknya, krisis moneter  diramalkan akan terjadi dimana-mana dan ini tentunya bisa membuat banyak negara yang dulunya sudah kurang stabil ekonominya untuk menjadi bangkrut. Dalam hal ini, tidaklah mengherankan adanya orang- orang yang merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakasih karena Ia mengizinkan atau bahkan memungkinkan semua ini terjadi. Dalam kesedihan atau kemarahannya, ada orang-orang Kristen yang kemudian goncang imannya dan bahkan mengalami gangguan kejiwaan.

Di Australia, diperkirakan gangguan kejiwaan yang dialami rakyat menghabiskan setengah juta dollar per hari sehubungan dengan ongkos perawatan dan kerugian ekonomi. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang dialami masyarakat di banyak negara maju. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat Barat hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat di saat ini, bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup, dan itu termasuk mereka yang harus tinggal di rumah (stay at home) selama berbulan-bulan, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka, tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub dalam ayat di atas sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”

Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati? Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendakNya.

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman.

Menghadapi tantangan hidup

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17: 45

Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di  lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat. Raja Saul, sekalipun tinggi besar untuk zaman itu, hanya sekitar 1.80 meter tingginya dan tidak sebanding dengan Goliat yang tingginya hampir 3 meter.

Kisah kemenangan Daud atas Goliat ini sangatlah terkenal sehingga sudah ada beberapa film yang pernah dibuat, dan yang terakhir diproduksi pada  tahun 2016.  Film ini dibuat di Afrika utara dan London, dan sempat muncul di beberapa bioskop Indonesia. Dalam film epik ini, Goliat diperankan oleh aktor Michael Foster yang tingginya ‘hanya’ 1.88 meter.

Daud yang muda belia dan bertubuh kecil dari bani Israel pada saat itu mengunjungi medan perang. Ia mengajukan diri untuk menjadi lawan Goliat. Walaupun semua orang mencemoohkan dia, Daud akhirnya maju menghadapi Goliat dan berhasil membunuh pendekar Filistin itu dalam beberapa detik saja. Karena kematian Goliat, tentara Filistin menjadi hancur keberaniannya dan dikalahkan oleh tentara Israel dengan mudah.

Dua hal yang menarik perhatian adalah, yang pertama, kemauan dan keberanian Daud yang untuk ukuran manusia tidaklah masuk diakal. Yang kedua adalah kemenangan Daud atas Goliat dan kemenangan tentara Israel atas tentara Filistin yang menurut akal sehat tidaklah mudah untuk bisa dimengerti. Mengapa hal yang diluar dugaan bisa terjadi untuk membawa kemenangan bagi bangsa Israel? Bukankah lebih mudah bagi Tuhan untuk membiarkan orang Israel mengalahkan orang Filistin melalui perang yang biasa, yang konvensional?

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah diatas:

Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang Mahakuasa yang kepadaNya kita boleh serahkan segala masalah kita. Kemenangan Daud yang di luar dugaan menjadi kemenangan bani Israel karena Tuhan sendirilah yang menghadapi Goliat dan orang Filistin. Demikian juga, Tuhanlah yang akan mengalahkan persoalan-persoalan kita jika kita mau bersandar kepada Dia.

Tuhan mengundang setiap umatNya untuk menjadi seperti Daud yang mempunyai rasa hormat, ketaatan dan iman kepadaNya. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Ialah yang bisa melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat kita mengerti, untuk kebaikan kita di masa depan.

Tuhan yang Mahabijaksana adalah Tuhan yang mempunyai rencana untuk hidup seluruh manusia dan bahkan alam semesta. Apa yang terjadi dalam hidup kita berjalan sesuai dengan kehendakNya dan terjadi pada waktu yang ditetapkanNya. Hidup kita akan jauh lebih ringan jika kita mau berserah kepadaNya.

Pagi ini, keadaan di sekitar kita mungkin terasa seperti apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Berbagai masalah saat ini sedang dihadapi dunia karena adanya pandemi COVID-19.  Kita sendiri mungkin mempunyai banyak masalah, tetapi kita harus bersedia menjadi seperti Daud ketika menghadapi Goliat. Tuhan yang sudah melindungi kita sampai saat ini, adalah Tuhan yang akan menyertai kita di masa mendatang!

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Perpisahan yang membawa sukacita

“Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.” Lukas 24: 51-53

Pernahkah anda mengalami saat perpisahan dengan seorang teman baik atau kerabat? Bagaimana perasaan anda ketika harus mengatakan “selamat jalan” atau “goodbye” untuk perpisahan yang cukup lama? Tergantung pada situasi dan kondisi, perpisahan dengan orang yang akrab bisa menimbulkan rasa sedih, cemas, atau rasa kosong sekalipun itu untuk tujuan baik. Bagaimana tidak? Mereka yang dekat dengan kita adalah orang-orang yang merupakan bagian kehidupan kita. Dengan kepergian mereka, sebagian hidup kita terasa ikut hilang.

Teringat ketika saya harus meninggalkan keluarga pada tahun 1980an ketika saya berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Rasa sedih dengan demikian tentunya ada dalam hati mereka dan hati saya juga. Walaupun demikian, kesedihan kami tidaklah terasa terlalu berat. Mengapa demikian? Bagi orangtua dan sanak, perpisahan  bisa diterima karena mereka berharap agar saya bisa mempunyai masa depan yang lebih cerah. Bagaimana dengan saya sendiri? Selain berharap untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, pikiran saya terbuai oleh bayangan tentang hidup di luar negeri. Tidakkah saya kuatir akan sulitnya untuk berkomunikasi dengan mereka? Tidak! Walaupun waktu itu belum ada internet, saya tahu bahwa mereka akan rajin membalas surat-surat saya.

Ayat di atas menggambarkan saat dimana Yesus akan meninggalkan murid-muridNya. Dalam keadaan biasa, perpisahan seperti itu tentunya membawa kesedihan yang luar biasa. Yesus tidak akan dapat mereka jumpai sesudah itu! Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Yesus sudah terangkat ke sorga; para murid pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mengapa demikian? Yesus pernah berkata bahwa Ia pergi ke surga untuk menyediakan tempat bagi murid-muridNya. Pada saatnya, Ia akan datang kembali dan membawa mereka ke surga. Tuhan Yesus juga berkata bahwa di rumah BapaNya ada banyak tempat tinggal. Dengan demikian, murid-murid Yesus tidak berduka cita karena Yesus meninggalkan mereka, sekalipun mereka tahu bahwa hidup di dunia akan penuh dengan tantangan dan marabahaya.

Memang seringkali perpisahan harus terjadi demi tercapainya suatu rencana yang baik. Perpisahan belum tentu untuk selamanya, dan perpisahan tidaklah harus bersifat total. Dalam hal ini, Yesus sudah menjanjikan masa depan yang baik bagi setiap umatNya dan juga datangnya seorang Penolong yaitu Roh Kudus. Dengan demikian, pikiran para murid bisa diisi dengan rasa sukacita karena kenaikan Yesus ke surga adalah bukti bahwa Ia yang sudah mengalahkan maut adalah Tuhan yang mahakasih yang mau memberikan masa depan yang baik untuk umatNya. Yesus tidak akan memutus komunikasi dengan umatNya yang masih di dunia karena melalui RohNya, Ia tetap bisa membimbing mereka ke arah kebenaran sampai saatnya dimana mereka dapat berjumpa lagi  dengan Dia muka dengan muka.

Saat ini, adakah perasaan sedih dalam hati anda bahwa Tuhan adalah jauh di sana? Tidak dapatkah anda merasakan sukacita bahwa Yesus tidak lagi ada di bumi? Ia yang sudah naik ke surga adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Dengan naiknya Yesus ke surga, Ia justru membuat mata melihat kuasa dan kasihNya. Ia sudah mempersiapkan tempat bagi kita di surga, dan Ia juga yang menguatkan dan membimbing kita selagi masih hidup di dunia. Yesus tidak meninggalkan kita, karena RohNya ada dalam hidup kita. Sekalipun hidup kita saat ini penuh dengan tantangan, pada akhirnya iman kita akan memperoleh sukacita karena kita akan menerima mahkota kehidupan dariNya.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1: 12

Pengalaman bisa menjadi guru yang terbaik

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Semua orang tentu pernah mendengar ungkapan “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Memang melalui pengalaman, orang mempelajari apa yang dialaminya dan kemudian mengambil pelajaran darinya, agar bisa menggunakan kesimpulan yang diambilnya untuk digunakan dalam menghadapi hal yang serupa di masa depan. Inilah metode empiris, yang mungkin cukup efektif untuk menyelesaikan persoalan tertentu, tetapi bisa saja keliru jika keadaan sudah berubah. Pengalaman memang belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Pengalaman bisa saja sesuatu yang pahit atau sesuatu yang manis. Mungkin orang ingin mengingat apa yang manis, dan melupakan apa yang pahit. Tetapi itu tidak mudah, karena apa yang manis mudah dilupakan, sedangkan apa yang pahit sering terbayang-bayang. Dengan demikian, banyaklah orang yang menghadapi hari depan dengan berbekal pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Tidaklah mengherankan, banyak orang yang menghadapi hari depan dengan rasa sesal, takut, marah atau kecewa yang berasal dari pengalaman masa lalu.

Pengalaman apakah yang pernah anda rasakan sebagai orang Kristen? Ada orang yang percaya bahwa orang yang berjalan di jalan yang benar selalu akan menerima berkat dari Tuhan yang mahakaya. Jika mereka pernah menerima berkat di masa lalu, mereka yakin bahwa berkat yang lebih besar akan datang di masa depan. Itu karena Allah adalah Tuhan yang mahakaya, yang memberkati mereka yang mempunyai iman yang kuat dan mengasihiNya. Pengalaman mereka adalah buktinya dan bisa menjadi bahan kesaksian yang dikagumi orang lain.

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen belum tentu selalu nyaman dan indah. Paulus menulis dalam ayat di atas bahwa ia pernah mengalami baik kekurangan maupun kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada hal yang baru atau asing bagi Paulus. Ia pernah merasa kenyang dan juga lapar; ia pernah hidup dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Bagi Paulus, semua pengalaman itu adalah berharga. Mengapa demikian?

Bagi Paulus, semua pengalaman yang pernah dihadapinya bisa menjadi guru yang terbaik untuk menghadapi masa depan. Dalam hal ini, bukanlah tindakan yang dilakukannya di masa lalu yang bisa dijadikan pegangan untuk masa depan, tetapi penyertaan Tuhan dalam setiap keadaan yang dialaminya memberi keyakinan bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi masa depan.

Saat ini, pengalaman apa pun yang anda hadapi tidak akan menjadi guru yang terbaik jika anda tidak merasakan adanya Tuhan yang memegang kontrol atas hidup anda. Dengan demikian, maukah anda percaya kepada Dia yang menyertai anda dalam setiap keadaan?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13