Di tengah kegelapan ada perlindungan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Mungkin semua orang pernah mengalami lampu mati, alias listrik yang terputus, karena adanya masalah teknis dalam penyediaan listrik. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga ada di negara-negara lain, termasuk negara yang maju. Sewaktu saya masih kecil, seingat saya acara “petengan” alias lampu mati sangat sering terjadi di Surabaya, dan karena itu setiap rumah selalu siap dengan lilin, lampu tempel, atau lampu petromak. Bagi saya waktu itu, gelapnya ruangan bisa membuat hati menjadi kecil, karena adanya bayang-bayang yang bisa berbentuk seperti makhluk yang aneh dan menakutkan. Sesudah agak besar, biasanya rasa takut karena lampu mati menjadi berkurang; tetapi sampai dewasa pun banyak orang merasa tidak aman jika harus berjalan di tempat yang gelap tidak berlampu, karena adanya bahaya yang mungkin terjadi.

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang berjalan dalam lembah kekelaman alias mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, memang ayat itu seolah menggambarkan bagaimana pemazmur merasa terhibur ketika ia “berjalan dalam lembah kekelaman” atau “berjalan dalam lembah kegelapan”. Sekalipun tidak sukar untuk mengartikan kata-kata itu sebagai “mengalami kesulitan besar”, dalam beberapa terjemahan berbahasa Inggris bunyi ayat ini agak berbeda:

“Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.”

Memang kata Ibrani untuk “bayang-bayang maut” adalah sal-ma-wet, yang artinya “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan yang menghubungan kata kegelapan dengan kata kematian atau maut.

Sayang sekali, karena pemakaian kata-kata “the valley of the shadow of death” yaitu “lembah bayang-bayang maut”, orang lebih sering memakai ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus. Sebaliknya, rasa takut sering muncul selama kita masih hidup karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya. Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2).

Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Apalagi, dengan adanya pandemi saat ini, semua masalah itu seperti bayang-bayang kegelapan yang sangat menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kita pun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Hari ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menghindari persekutuan kita dengan saudara-saudara seiman. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-domba-Nya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Segala kemuliaan untuk Yesus

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Ayat di atas diambil dari Injil Yohanes yang menceritakan kisah Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Yohanes pun membaptis juga di daerah itu sebab di situ banyak air, dan orang-orang juga datang kesitu untuk dibaptis. Pengikut Yohanes yang pada mulanya banyak, kemudian berkurang jumlahnya karena sebagian kemudian pindah untuk mengikut Yesus. Atas kejadian itu, Yohanes berkata bahwa itu tidaklah menjadi soal karena Yesus adalah Anak Allah. Yohanes berkata bahwa Yesus , Anak Allah, sudah sepatutnya mendapat perhatian dan penghormatan dari manusia.

Jika Yohanes menyadari siapa Yesus itu dan tidak berusaha menjadi lebih besar atau lebih masyhur dari-Nya, banyak orang yang dengan sadar atau tidak, menikmati kemasyhuran mereka. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang justru berusaha menarik perhatian publik dan bangga atas banyaknya pengikut (follower) dari blog atau vlog mereka, atau mendambakan kemasyhuran dari apa yang mereka kerjakan, karena kemasyhuran sering identik dengan pemasukan uang.

Di kalangan gereja pun, ada banyak pendeta dan penginjil yang karena saking masyhurnya, seolah mereka lebih ternama dari Yesus. Memang ada orang-orang yang karena apa yang pernah diperbuat mereka, menjadi selebriti yang setiap kali muncul akan mendapat jutaan tanda suka atau “like“. Mereka itu secara tidak sadar sudah bersaing dengan Yesus, karena segala kemuliaan yang mereka peroleh hanyalah untuk kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini, banyak umat Kristen yang yakin bahwa ada orang-orang tertentu yang dapat melakukan mukjizat setiap saat, dan agaknya lebih sering dan lebih hebat dari apa yang sudah dilakukan oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Orang-orang yang sedemikian biasanya sangat terkenal dan banyak yang hidup dalam kemewahan.

Hari ini hari Minggu dan mungkin anda sudah atau akan pergi ke gereja. Gereja mana pun yang anda tuju, tidaklah menjadi masalah. Tetapi anda harus yakin bahwa apa yang dipraktikkan di gereja anda adalah seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis, yaitu untuk memuliakan Tuhan sepenuhnya. Gereja yang nampaknya hebat dan meriah, belum tentu adalah pendukung Kristus karena mereka justru ingin lebih dikenal daripada Yesus dan firman-Nya. Pendeta atau pimpinan gereja yang menyampaikan khotbah, mungkin saja tidak sadar bahwa penghormatan dan kekaguman jemaat atas diri mereka adalah lebih dipentingkan dari penyembahan kepada Yesus, Anak Allah dan Tuhan kita. Orang yang senang dikagumi dan dihormati orang lain sering kali adalah orang-orang yang lupa bahwa hanya Tuhan yang patut dimuliakan.

Kita mungkin ingat bahwa Musa diperintahkan melepaskan sandalnya ketika Allah berbicara kepadanya dari semak duri yang menyala (Keluaran 3: 5). Jika melepaskan sandal adalah tanda rasa hormat, orang Yahudi menganggap hal membawa atau membuka tali sandal orang lain suatu tugas yang hina. Ketika Yohanes Pembaptis berbicara tentang kedatangan Kristus, ia berkata, “Dia, yang datang kemudian daripadaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yohanes 1: 27).

Sebagai umat percaya, biarlah kita sadar bahwa Tuhan yang mahabesar tidak bisa disaingi. Marilah kita menjalani hidup kita ini dengan kerendahhatian, agar nama Tuhan semakin dipermuliakan. Lebih dari itu, biarlah kita menyandarkan iman kita kepada Kristus dan bukannya kepada orang-orang ternama.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Doa yang menyenangkan Tuhan

Doa yang bagaimana yang seharusnya kita panjatkan? Silahkan menonton video di atas.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, terutama di kalangan tertentu. Ayat ini sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apa pun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka. Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka diajarkan bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang mahapemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Siapa bilang Tuhan tidak mendengarkan doa orang yang benar? Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu`mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendakNya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata, tetapi berguna untuk kemuliaan Tuhan dan kepentingan sesama manusia.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Tuhan bukanlah sebuah mesin penjual otomatis

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 8 – 9

Pernahkah anda menjumpai sebuah vending machine (mesin penjual otomatis) seperti foto di atas? Itu adalah mesin yang bertenaga manusia, bukan listrik. Di zaman ini mesin penjual otomatis umumnya bertenaga listrik yang dilengkapi dengan alat kontrol elektronik, tetapi kantor saya masih mempunyai mesin penjual mekanis yang bisa mengeluarkan makanan atau minuman yang dibeli dengan mata uang logam setelah tombol yang dipilih diputar dengan jari. Berbeda dengan mesin modern, mesin kuno ini hanya bisa bekerja jika ada tangan manusia yang menggerakkannya.

Barangkali konsep bahwa Tuhan bekerja karena ada manusia yang membuatNya bekerja adalah mirip dengan konsep mesin di atas. Tuhan bisa memberikan apa yang kita inginkan setelah kita membayarNya dengan suatu persembahan, dan memakai tangan kita untuk memanjatkan doa. Banyak orang beragama yang percaya bahwa berkat dan keajaiban akan datang dari Tuhan karena adanya usaha, doa dan iman kita. Tetapi apakah sebenarnya arti sebuah doa bagi orang Kristen?

Ada orang yang menyamakan doa dengan restu, permohonan, ucapan kasih dan lain-lain. Karena itu banyak “doa” yang diucapkan orang yang berisi kata-kata yang indah dan membawa harapan. Tetapi, bagi orang Kristen doa adalah sebuah komunikasi manusia dengan Allah Sang Pencipta melalui Yesus Sang Penebus. Dengan demikian, untuk bisa berdoa dengan efektif tentunya orang harus mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan menyadari kedudukannya di hadapan Dia yang mahabesar. Doa yang sedemikian memang dapat membawa banyak kebaikan untuk hidup kita.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Kebanyakan orang sering berdoa ketika perlu untuk mendapatkan apa yang diingininya. Itu mungkin kesembuhan, perlindungan, keberhasilan dan sebagainya. Hal ini terjadi karena manusia pada umumnya tidak menyadari bahwa mereka seharusnya berdoa untuk apa yang dibutuhkannya. Manusia sering tahu apa yang diingini, tetapi tidak sadar akan apa yang dibutuhkan. Tuhanlah yang sepenuhnya tahu apa yang kita butuhkan dan Ia selalu memberikannya pada waktu yang tepat.

Jika Tuhan menghendaki kita berdoa kepadaNya, itu sudah tentu berguna untuk memupuk hubungan yang baik dengan Dia. Dengan hubungan yang baik itu, kita bisa mengerti kasihNya yang besar yang menyertai kita setiap saat. Selanjutnya, kita bisa mengerti apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita dan menyadari apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup, dan bukan apa yang kita ingini.

Dalam ayat di atas, kita membaca bahwa Paulus ingin agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan fisik yang ada sejak lama. Ia tiga kali berseru kepada Tuhan untuk menolongnya, tetapi Tuhan tidak menuruti permohonannya. Mengapa demikian? Dari ayat itu juga kita membaca bahwa apa yang diingini Paulus bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan. Paulus berdoa untuk apa yang diingininya, tetapi Tuhan memberi apa yang dibutuhkannya.

Dalam penderitaannya Paulus membutuhkan kekuatan dari Tuhan. Dalam keadaan sedemikian, apa yang ia perlukan adalah keyakinan bahwa Tuhan mengasihi dan menguatkan dia. Karena itu Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu Paulus tidak bersedih hati ketika doanya tidak mendatangkan apa yang diingininya. Sebaliknya ia bermegah atas kelemahannya, karena ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Hari ini, jika anda ingin berdoa kepada Tuhan karena adanya sesuatu yang anda perlukan, biarlah itu disampaikan karena adanya hubungan yang baik antara anda dengan Tuhan. Dengan bimbingan Tuhan, anda akan dapat melihat perbedaan antara apa yang anda inginkan dan apa yang anda butuhkan. Apa yang anda butuhkan adalah sesuatu yang memperkuat hubungan antara anda dengan Tuhan. Apa yang disenangi Tuhan adalah doa yang membawa kemuliaan bagiNya. Sebaliknya, apa yang anda inginkan mungkin justru bisa menjauhkan anda dari kasih karunia dan penyertaanNya. Selain itu, cara anda berdoa bisa saja membuat Tuhan merasa diperlakukan sebagai sebuah mesin penjual otomatis. Tuhan adalah Raja di atas segala raja, dan karena itu kita harus berserah kepada kehendakNya. Lebih dari itu, Tuhan yang mahakasih tahu apa yang terbaik untuk kita semua sebelum kita memintanya.

“Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8

Hanya Yesus yang bisa memenuhi standar kesucian Allah

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Bagi banyak orang yang bukan Kristen, mengapa Yesus harus mati di kayu salib untuk menebus dosa mereka yang percaya kepadaNya adalah suatu konsep yang tidak dapat dimengerti, untuk tidak dikatakan konsep yang tidak masuk akal. Bagaimana kematian seseorang di kayu salib bisa memungkinkan umat Kristen untuk masuk ke surga? Selain itu, klaim Yesus bahwa Ia adalah Anak Allah adalah suatu hal yang aneh. Mengapa Allah bisa mempunyai seorang anak dan turun ke dunia sebagai manusia biasa, yang hidup mengembara tanpa mempunyai tempat kediaman yang tetap?

Sudah tentu, terhadap keraguan orang-orang non-Kristen di atas, orang Kristen akan menjawab bahwa hanya Tuhan yang bisa memenuhi standar kesucian dan kemurnianNya. Manusia ciptaanNya tidak mungkin bisa berbuat baik atau hidup suci sehingga Allah mau mengampuni dosa mereka. Jika kebanyakan orang non-Kristen percaya bahwa mereka yang baik budi dan jujur akan mendapat pahala di surga, orang Kristen bisa ke surga hanya karena Tuhan sendiri sudah turun ke dunia untuk menebus manusia dari hukuman kebinasaan untuk dosa mereka.

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal yang berisi klaim Yesus bahwa Ia adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk bisa menuju ke surga. Sekalipun ayat ini jelas menunjukkan bahwa iman kepada Kristus adalah mutlak perlu untuk bisa diselamatkan, di zaman ini ada banyak orang Kristen yang ragu-ragu bahwa keselamatan adalah eksklusif untuk mereka yang percaya kepada Yesus.

Kepercayaan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan memang sudah sering membuat orang yang bukan Kristen menjadi tersinggung. Mereka yang Kristen pun sekarang banyak yang segan untuk menekankan pentingnya ayat ini, demi menjaga keakraban dengan teman, saudara atau sanak yang beragama lain. Mereka yang ingin membina hubungan baik antar agama sering kali menghindari penggunaan ayat ini secara terbuka. Mereka yang mempunyai anak atau sanak yang bukan Kristen, sering kali tidak mau menyatakan pentingnya ayat ini.

Memang orang Kristen yang mengasihi sesama sering kali ingin agar semua orang yang hidupnya baik bisa juga memperoleh keselamatan. Tuhan yang mahaadil tentu harus mau menerima mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik, begitu kilah mereka. Jika Tuhan memang adil, Ia tentu tidak hanya memilih orang Kristen untuk ke surga. Apalagi, orang Kristen belum tentu lebih baik hidupnya jika dibandingkan dengan orang yang bukan Kristen. Karena itu, sebagian orang yang percaya bahwa ada banyak jalan ke surga.

Tidaklah mengherankan bahwa di zaman ini, paham relativisme mulai muncul. Paham ini yang juga dikenal dengan istilah “multi-agama” mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya cenderung untuk mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri, yang dipengaruhi oleh kebudayaan, latar belakang, kebijaksanaan dan pengalaman mereka. Karena itu, manusia harus saling menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain. Semua agama pada hakikatnya baik dan bisa membawa keselamatan. Menurut mereka, itu adalah cara untuk hidup damai dengan semua orang, seperti yang dikehendaki Tuhan.

Apa yang sering dilupakan orang adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang baik dan suci di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan harus menemui kematian abadi jika mereka tidak menerima pengampunan Tuhan. Kemahasucian Tuhan membuat orang sebaik bagaimanapun terlihat sebagai orang yang penuh cacat cela. Dalam hal ini, Yesus adalah Anak Allah yang turun ke dunia untuk menyelamatkan orang yang percaya (Yohanes 3: 16). Yesus dan Allah Bapa adalah satu adanya (Yohanes 10: 30). Darah Yesus adalah satu-satunya jalan yang bisa membasuh dosa manusia. Mereka yang sudah menerima pengampunan bukanlah orang yang hidupnya baik, tetapi orang yang menerima anugerah Tuhan dengan cuma-cuma.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan agar kita tetap berpegang pada iman bahwa hanya ada satu jalan menuju keselamatan. Itu bukan dengan berbuat baik dan menjadi orang yang saleh, karena semua itu hanyalah ilusi manusia. Manusia yang berdosa hanya bisa mendapat pengampunan melalui iman kepada Kristus.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13- 14

Tuhan menghendaki keselamatan, bukan kemalangan, untuk umatNya

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Judul di atas mungkin bisa disalah-tafsirkan orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakaya akan memberikan kelimpahan dan kenyamanan bagi setiap umatNya. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang saat pandemi ini mengalami berbagai penderitaan dan masalah. Karena itu, kita mungkin yakin bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menerima anugerah keselamatan, tetapi agak ragu bahwa Ia akan memberi apa saja yang kita minta. Mengapa Tuhan memilih aku sebagai anakNya jika selama hidup di dunia ini aku sulit untuk mendapatkan apa yang aku inginkan? Mungkinkah aku sebenarnya bukan orang yang benar-benar dipilihNya?

Memang bagi sebagian orang, soal dipilih Tuhan atau tidak adalah hal yang sulit dijawab. Jika Tuhan membiarkan kita merasa yakin akan keselamatan kita, tetapi pada akhirnya menolak kita, itu jelas bisa membuat kita hancur. Tetapi, jika kita merasa yakin bahwa Tuhan memilih kita dan pada akhirnya kita membuat suatu dosa yang besar, bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan tetap memilih kita?

Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa Tuhanlah yang memilih kita dan bukan kita yang memilih Dia. Lebih-lebih lagi, Tuhan memilih kita sewaktu kita masih hidup dalam dosa, bukan ketika kita sudah cukup baik untukNya. Berbeda dengan ajaran-ajaran lain di dunia, apa pun yang kita perbuat tidak akan membuat kita cukup baik untuk Dia yang mahasuci. Standar kesucian Tuhan hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan sendiri dan karena itu Yesus perlu datang ke dunia.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Dengan demikian kita tidak perlu kuatir bahwa kasihNya menjadi padam ketika kita gagal untuk melaksanakan firmanNya.

Walaupun demikian, dalam hidup ini selalu ada goncangan lain yang mungkin membuat kita ragu akan kasihNya. Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan akan memberikan keselamatan di surga tetapi selama hidup di dunia kita tidak henti-hentinya mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan? Mungkinkah Dia yang sudah menetapkan kita untuk menjadi umatNya juga sudah menetapkan kita untuk mengalami penderitaan, penyakit, kegagalan, kemiskinan dan berbagai masalah?

Jika bencana terjadi di dunia, banyak orangKristen yang juga terkena dampaknya. Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Mengapa ia membiarkan mereka yang taat menderita bersama -sama dengan mereka yang murtad? Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan, adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. MuUngkinkah Tuhan yang menetapkan keselamatan umatNya juga menetapkan kemalangan bagi mereka?

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dia juga sumber semua malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan seluruh umat manusia. Tetapi iblis hanya bisa menyentuh umat Tuhan jika Ia mengizinkannya.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen, satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia pada hakikatnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan orang lebih mau untuk menyercah atau berserah kepadaNya. Tuhan tidak membiarkan kemalangan terjadi pada umatNya tanpa adanya maksud yang baik.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hari ini, ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Tuhanlah yang berhak untuk memilih siapa saja yang dikehendakiNya untuk menerima penyelamatan Yesus Kristus. Ini adalah misteri yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya selama kita hidup di dunia. Mereka yang dipilih Tuhan bukannya cukup baik untuk standarNya, tetapi justru orang berdosa yang mau menerima panggilan kasihNya. Mereka yang terpilih akan dapat merasakan kasih Tuhan dalam setiap saat dan setiap keadaan. Di mana pun mereka berada, dalam segala kelemahan, cacat-cela, dan perjuangan yang ada, mereka selalu mempunyai kerinduan untuk memuliakan Tuhan dan bisa bersyukur atas segala berkat Tuhan dalam hidup mereka. Keselamatan dan kebahagiaan dalam Kristus mungkin sulit terlihat dengan mata manusia, tetapi jelas bisa dirasakan oleh mereka yang sudah menerimanya.

Tuhan tidak membuat manusia jatuh dalam dosa

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Yakobus 1: 13 – 16

Salah satu pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan di Australia ialah profesi pembela dalam sebuah pengadilan. Pada dasarnya, hukum yang ada memberikan kesempatan kepada seorang tertuduh untuk membela diri dengan bantuan seorang atau sebuah tim pembela.

Dalam hal ini, seorang terdakwa umumnya berusaha mencari segala alasan yang bisa dipakai untuk menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah. Itu mungkin bisa dilakukan dengan memakai berbagai alasan, termasuk berbohong dan mempersalahkan orang lain atau keadaan. Dengan itu, memang ada kalanya orang yang sebenarnya bersalah bisa menerima pembebasan.

Dalam kenyataannya, pembela yang hebat memang bisa menggunakan segala bukti dan alibi yang dapat memperkecil hukuman dan bahkan membebaskan terdakwa dari hukuman. Dengan demikian, seorang tertuduh yang kaya bisa saja memilih pembela atau tim pembela yang top.

Di hadapan Tuhan yang mahatahu, orang tentunya tidak dapat berbohong atau mempersalahkan orang lain jika ia memang bersalah. Tetapi, banyak juga orang yang menyalahkan Tuhan atas keadaan yang dialaminya. Banyak orang yang marah kepada Tuhan karena Ia seolah membiarkan mereka untuk berbuat dosa. Bukankah sebagai Tuhan Ia mampu menjauhkan manusia dari dosa? Mungkin Tuhan sudah menentukan manusia untuk berbuat dosa!

Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa manusia tidak dapat mempersalahkan keadaan, orang lain atau Tuhan yang berkuasa sebagai penyebab dosa. Tuhan yang mahasuci tidak pernah berbuat jahat atau menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Pada dasarnya, Tuhan yang mahakasih tidak membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Tetapi, Ia membiarkan mereka untuk jatuh ke dalam dosa sesuai dengan dengan rencana agungNya.

Seperti Adam dan Hawa, setiap orang mempunyai kebebasan dan tanggung jawab sendiri atas cara hidup dan perbuatannya. Manusia mungkin menuruti bujukan iblis untuk melanggar perintah hukum Tuhan, tetapi Tuhan tahu akan apa yang direncanakan iblis dan manusia sebelum itu terjadi. Dalam hal ini, mereka yang taat kepada Tuhan tentu sadar dan selalu berjaga-jaga karena iblis adalah seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5: 8).

Mereka yang hidup dalam dosa masih mempunyai harapan jika mau bertobat. Itu karena Yesus sudah datang sebagai pembela mereka yang bertobat dan percaya kepadanya (Kisah Para Rasul 2: 38). Tetapi, mereka yang berdalih dan berusaha melemparkan tanggung jawabnya ke orang lain atau kepada Tuhan tidak akan bisa memperoleh pengampunanNya. Bagi mereka pertobatan adalah sulit untuk dilakukan karena mereka tidak pernah merasa bersalah. Bagi mereka pengampunan dari Tuhan yang mahakasih tidak akan ada.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 9 – 10

Jika kelelahan muncul dalam penantian

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40: 28-29

Rasa lelah. Semua orang tahu bagaimana rasanya. Sejak kecil kita pernah merasa lelah; lebih sering sewaktu kanak-kanak, agak berkurang setelah dewasa, tetapi kembali menjadi sering ketika mulai tua. Istirahat yang cukup biasanya bisa memulihkan kesegaran. Namun, berapapun umur kita, kadang-kadang kita bangun dari tidur yang cukup lama, tetapi masih tetap merasa lelah.

Apa penyebab rasa lelah? Dari segi medis, kelelahan bisa terjadi secara fisik maupun psikologis. Seorang yang sudah bekerja berat atau berolahraga secara intensif akan mengalami kelelahan. Begitu juga orang yang mengalami beban mental yang berat, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan psikis.

Adanya pandemi yang tidak kunjung teratasi dan lockdown yang terjadi berulang kali sudah tentu bisa membuat orang mengalami gangguan psikologis. Semua orang menantikan saat di mana kehidupan yang normal bisa dijalankan lagi, tetapi tidak seorangpun yang bisa memastikan kapan itu bisa terjadi.

Karena fisik dan psikis saling memengaruhi, adanya kelelahan fisik bisa memengaruhi keadaan psikis atau mental seseorang, dan begitu juga kelelahan psikis atau mental bisa membuat orang mudah lelah secara fisik. Kedua kelelahan ini biasanya bisa diatasi dengan mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Selain itu, jika mungkin, orang harus berusaha menghindari penyebab kelelahan itu.

Bagaimana pula dengan kelelahan spiritual? Kelelahan spiritual terjadi jika seseorang merasa Tuhan itu tidak ada atau jauh darinya. Keadaan ini sering membuat manusia mengalami kelelahan yang luar biasa dan bahkan kehancuran karena manusia kehilangan arti hidupnya.

Manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah selalu merasakan adanya oknum yang mahabesar, yang tidak dapat dilihatnya: Tuhan. Selama beribu-ribu tahun, dalam sejarah tercatat bahwa manusia melalui berbagai agama dan kepercayaan, berusaha menemukan tuhan-tuhan yang hanya bisa mereka bayangkan.

Bagi kita umat Kristen, Tuhan yang satu-satunya hanya dapat dikenali dengan sempurna melalui Yesus Kristus, karena Ia yang telah menyatakan diriNya sebagai manusia. Mereka yang mencoba mengenali Allah tanpa menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka akan menemui jalan buntu.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Hari ini, jika kita mengalami kelelahan fisik dan psikis yang berat dan melihat bahwa tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menolong kita, ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Ia mahabijaksana dan mau memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Apa yang harus kita lakukan dalam beratnya kehidupan saat ini hanyalah berdoa dan berharap dengan iman kepada Allah kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Mengapa harus berlama-lama menderita?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Sejak kemarin malam negara bagian Victoria di Australia untuk kesekian kalinya menjalankan lockdown lagi karena adanya kasus Covid positif yang muncul lagi secara cepat. Adanya varian virus yang baru memang membuat pemerintah setempat merasa kuatir kalau-kalau jumlah orang yang terjangkit akan menanjak secara eksponensial. Selagi tracing masih bisa dilakukan, pemerintah mengambil keputusan untuk memulai lockdown lagi guna menghambat penambahan jumlah orang yang tertular.

Bagi banyak orang, lockdown ini membawa banyak penderitaan, baik secara jasmani maupun rohani. Sesudah mengalami hal yang serupa pada tahun yang lalu, banyak orang yang kuatir kalau-kalau setelah seminggu keadaan belum bisa membaik. Jika mereka yang bekerja di bidang kesehatan merasa kuatir kalau-kalau rumah sakit akan dipenuhi korban virus yang ganas ini, mereka yang bekerja di bidang bisnis takut menghadapi kemungkinan bahwa mereka akan mengalami kerugian besar, dan harus memecat banyak pegawai. Mengapa keadaan tidak kunjung membaik?

Memang kebanyakan orang beriman tahu bahwa kekhawatiran dan kesedihan yang berlarut-larut adalah tidak berguna, karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dalam Alkitab ada tertulis ayat-ayatnya, dan para pendeta pun sering mengajarkannya. Tetapi, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Lebih mudah untuk mereka yang mengamati, daripada orang yang menjalani tantangan hidup.

Sering kali orang yang mengalami musibah diberi nasihat penghiburan yang berdasarkan ayat diatas. Tuhan bisa memakai pengalamanmu untuk membuat hal-hal yang baik di masa depan, mungkin begitu nasihat yang sering kita terima. Bagi orang yang mengalami masalah, nasihat sedemikian biasanya kurang bisa dimengerti; apakah Tuhan memakai hal-hal buruk yang terjadi pada saat ini untuk mencapai hasil yang baik?

Apa yang terjadi dalam hidup ini sering tidak kita mengerti arti dan gunanya. Apa yang kita pandang baik belum tentu membawa kebaikan. Apalagi apa yang buruk, kita tidak bisa membayangkan gunanya. Itu semua karena apa yang kita mengerti adalah terbatas jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, dan karena itu sering tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.

Apa yang dimaksudkan ayat di atas sebenarnya adalah Tuhan memakai segala sesuatu yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita, baik itu suka atau duka untuk kebaikan kita. Ini berarti, pada saat kita mengalami kesulitan atau duka, janganlah kita hanya memusatkan pikiran kita pada hal-hal itu saja karena bukan hanya itu yang dipakai Tuhan untuk membawa kebaikan bagi hidup kita. Tuhan memakai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya untuk membawa mereka makin dekat kepadaNya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Di balik semua peristiwa, Tuhan bekerja untuk rencana agungNya. Memang duka adalah suatu yang terasa pahit dan adalah wajar jika bisa merasakannya sebagai suatu penderitaan. Tetapi, baik suka maupun duka, semua yang terjadi dalam hidup kita dan bahkan dalam dunia akan membawa orang yang beriman untuk makin serupa dengan Yesus yang mengalami segala penderitaan di dunia dan kemudian menerima kemuliaan di surga dari Allah Bapa.

Antara lahir baru dan hidup baru

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Ada satu kabar buruk datang dari Melbourne hari ini, karena ditemukannya sekitar 25 orang yang terkena Covid-19. Seluruh negara bagian Victoria akan mengalami lockdown mulai tengah malam. Sudah tentu, bagi mereka yang hidup di sana, hal ini adalah suatu pukulan berat karena mereka tidak lagi bebas untuk ke luar rumah. Semua acara publik sudah dibatalkan dan orang harus memakai masker lagi jika ke luar rumah. Namun, di tengah kekacauan yang dialami oleh banyak penduduk, ada juga kabar baik. Ada pasangan yang sempat menikah hari ini sebelum lockdown dimulai. Mereka memasuki hidup baru sebagai suami-istri dan bertekad untuk bahu-membahu menghadapi hari depan yang saat ini serba tidak menentu.

Hidup baru tidaklah sama dengan lahir baru. Kedua istilah ini memang dipakai oleh umat Kristen, tetapi sering membuat bingung mereka yang kurang mengerti bedanya. Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Dalam hal ini, sebenarnya istilah “Kristen hidup baru” adalah lebih tepat.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan di mana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan di mana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, di sebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegur dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali karena dengan imannya, dosanya sudah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, ia tidak sempat untuk menjalani hidup baru.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui penebusan darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Dengan bimbingan Roh Kudus, kita berusaha untuk hidup makin hari makin baik. Perbuatan yang benar atau baik dalam hidup baru adalah sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum lahir baru, dan karena itu tidak bisa hidup baru. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26