Jangan takut, Yesus selalu beserta kita!

“Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” 1 Tesalonika 5: 9 – 10

Sudah lebih dari setengah tahun wabah Covid-19 ini merajalela di dunia. Keadaan saat ini bukannya membaik, tetapi sebaliknya makin memburuk di banyak negara. Beberapa negara yang dulunya pernah merasa sudah memenangkan perjuangan melawan virus corona, sekarang harus menghadapi gelombang kedua. Selain itu ada negara-negara yang sampai saat ini belum mengalami pelandaian kurva penularan. Semua ini membuat semua orang merasa gundah.

Apa yang akan terjadi pada bulan-bulan mendatang, tidaklah ada seorang pun yang tahu. Ketidaktahuan akan masa depan inilah yang bisa membuat manusia menderita. Manusia dari awalnya selalu ingin untuk merancangkan dan menentukan masa depannya. Jika sekarang semua rencana dan angan-angan sudah menjadi berantakan, manusia mudah menjadi hilang harapan.

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, keadaan saat ini mungkin membuat mereka menghitung-hitung apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk yang bisa terjadi di dunia. Vaksin tidak ditemukan? Resesi? Kekacauan sosial? Perang? Media tidak henti-hentinya menampilkan berbagai skenario yang menakutkan. Semua itu membuat mereka hidup dalam kekuatiran yang besar.

Bagi orang yang percaya adanya kuasa ilahi, keadaan saat ini mungkin dihadapi dengan rasa takut, jangan-jangan semua ini adalah bentuk kemarahan Tuhan. Mungkinkah ini tanda datangnya hari kiamat? Kekuatiran akan datangnya berbagai masalah di dunia juga disebabkan karena adanya ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi pada hidup mereka sesudah kematian. Mungkin mereka merasa bahwa hidup mereka sampai sekarang mungkin belum mencapai syarat untuk masuk ke surga.

Bagi kita unat Kristen, keadaan saat ini tentunya juga terasa berat. Adanya iman kepada Yesus tidak mengubah kenyataan bahwa penyakit, kelaparan, kekacauan atau perang adalah hal-hal yang tidak dapat kita nikmati. Tetapi, kita tahu bahwa semua penderitaan itu adalah bagian hidup manusia di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Walaupun demikian, ayat di atas menyatakan bahwa Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka.

Sekali pun keadaan dunia bisa menjadi sangat buruk, kasih Allah kepada kita tidaklah pernah berkurang. Mengapa begitu? Karena Ia sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus demi keselamatan kita. Ini adalah pernyataan kasih Allah yang terbesar. Jika Ia sedemikian mengasihi kita sewaktu kita masih berdosa, tambahan lagi sekarang karena kita sudah menjadi umatNya. Oleh karena itu, dalam hidup atau mati kita boleh yakin bahwa Yesus tetap bersama kita.

Satu daging, satu roh

“Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” 1 Korintus 6: 17

Tidak dapat disangkal bahwa banyak orang percaya bahwa manusia berbeda dengan hewan karena manusia mempunyai “roh”. Tetapi apa arti kata roh (spirit) ini mungkin berbeda-beda dari orang yang satu ke orang yang lain. Bagi sebagian orang kata roh dihubungkan dengan kerohanian yang mungkin diartikan sebagai kemampuan untuk merasakan hal-hal yang tidak dapat ditangkap pancaindera, seperti rasa cinta, bahagia, tenteram, terharu, khusyuk dan sebagainya. Bagi orang beragama, kata roh juga dihubungkan dengan kepercayaan bahwa manusia terdiri dari tubuh jasmani dan rohani – manusia terdiri dari daging dan roh. Mereka yang beragama umumnya menyembah Tuhan yang tidak dapat dilihat atau berupa roh.

Ayat di atas adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Korintus pada waktu itu adalah tempat dimana banyak orang dari berbagai tempat di dunia pergi berkunjung dan berniaga. Korintus juga kota dimana banyak patung berhala, dan juga tempat dimana hubungan seksuil dengan pelacur adalah bagian dari kegiatan religi. Tidaklah mengherankan bahwa di antara jemaat Korintus pada waktu itu juga ada orang yang terperosok ke dalam dosa perzinahan. Karena itu, Paulus menegur mereka dengan mengatakan bahwa perzinahan adalah dosa karena mereka sudah “menjadi satu daging” dengan orang yang bukan pasangannya.

Apa artinya menjadi satu daging? Pada umumnya, dari kitab Kejadian 2:24 orang tahu bahwa suami dan istri adalah satu daging, satu tubuh secara jasmani. Tetapi, dari Galatia 2:20 kita tahu bahwa karena Kristus hidup di dalam tubuh jasmani kita, kita adalah satu dengan Dia secara jasmani dan rohani.

“….namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Hubungan antara suami dan istri yang menggambarkan hubungan kita dengan Kristus dengan demikian adalah menggambarkan hubungan antara anggota dari satu tubuh secara jasmani dan rohani. Mereka yang melakukan hubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya dengan demikian tidak hanya menodai jasmani, tetapi juga rohani mereka. Secara jasmani dan rohani, mereka sudah merusak hubungan mereka dengan Kristus.

Jika seseorang sudah ditebus oleh darah Kristus, tubuh jasmani dan rohaninya sudah secara keseluruhan menjadi milik Kristus. Mereka yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Dengan demikian, jika orang menyerahkan tubuhnya kepada percabulan, itu berarti ia juga menyerahkan milik Kristus kepada dosa. Menyerahkan tubuh kita kepada dosa tidak hanya berarti bahwa secara jasmani kita berbuat dosa, tetapi jika pikiran kita terisi oleh hal-hal yang kotor, itu pun sudah menodai diri kita yang sudah sepenuhnya menjadi milik Kristus (Matius 5: 27 – 28). Selain itu, jika kita membuat tubuh kita menjadi obyek pikiran dan perbuatan kotor orang lain, itu pun berarti menodai nama Kristus yang memiliki kita.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukannya kita lagi tetapi Kristus yang hidup dalam kita. Karena itu, kita adalah satu daging dan satu roh dengan Dia. Kesetiaan kita kepada Kristus secara jasmani dan rohani haruslah juga dinyatakan dalam hubungan kita dengan orang lain dalam kesucian jasmani dan rohani.

Mencari ketenangan dalam ketegangan

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.” Markus 6: 31

Beberapa saat yang lalu ada berita di media Australia yang mengabarkan bahwa polisi sudah menjatuhkan denda lebih dari $20.000 kepada beberapa orang yang melanggar peraturan penjagaan jarak dengan mengadakan acara “makan besar” di rumah seseorang. Polisi mendapat laporan dari seseorang yang melihat adanya beberapa orang yang membeli ayam goreng Kentucky yang banyak jumlahnya, yang tidak mungkin dikonsumsi oleh para pembeli saja. Dengan laporan itu, polisi kemudian bisa menemukan tempat dimana ada banyak orang berkumpul dan beramai-ramai makan ayam goreng.

Mengapa orang senang untuk tetap berpesta pora di tengah pandemi saat ini? Agaknya mereka yang mengabaikan peraturan pemerintah untuk menghindari penularan virus corona itu adalah orang-orang yang hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri. Mereka ingin bergembira ria tanpa memikirkan risiko bagi dirinya dan orang lain. Mereka lupa bahwa banyak dokter dan petugas medis saat ini berjuang untuk menolong mereka yang terjangkit virus corona dan seringkali harus melupakan saat makan karena terlalu sibuk. Banyak diantara mereka yang merawat pasien di rumah sakit merasa sangat lelah karena adanya begitu banyaknya pasien yang menderita. Mereka kurang tidur dan mengalami stress dan trauma karena keadaan pasien yang mereka jumpai di rumah sakit.

Tuhan Yesus yang pernah hidup di dunia pun mengalami saat-saat dimana Ia dan murid-muridNya mengalami kesibukan yang luar biasa karena adanya orang-orang yang datang dan pergi untuk mendapatkan penghiburan dan pelayanan. Walaupun demikian, Yesus dapat merasakan bahwa Ia dan murid-muridNya memerlukan waktu untuk beristirahat dan makan. Karena itu, dalam ayat diatas Yesus mengajak para muridNya untuk pergi ke tempat yang sunyi. Kesadaran bahwa kesibukan dapat merusak kehidupan ada pada Yesus. Manusia, seperti juga makhluk lainnya, memerlukan istirahat.

Istirahat bukan saja untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan jiwa kita. Dalam kesibukan kita, mungkin kita tidak atau kurang sempat untuk mendengarkan suara Tuhan. Seringkali juga, karena sibuk kita memilih untuk terus bekerja sekalipun hati dan pikiran kita mengomel. Tidak jarang, karena kelelahan jasmani dan rohani, orang kemudian tidak sanggup lagi untuk bekerja, alias burned-out. Hubungan mereka yang lelah dengan orang disekitarnya pun bisa terganggu karenanya.

Pada waktu Yesus mengunjungi rumah Maria dan Marta di Betania, Marta sangat sibuk menyiapkan makanan. Maria adiknya, sebaliknya hanya duduk mendengarkan Yesus. Ketika Marta merasa kesal karena Maria tidak mau membantunya di dapur, ia meminta Yesus untuk menegur adiknya. Tetapi Yesus justru menegur Marta.

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Pagi ini, sebagai orang percaya kita sadar bahwa memang setiap orang di dunia ini harus mau giat bekerja. Lebih dari itu, setiap orang Kristen harus bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan sesama. Itu berarti kita harus bisa melihat arti kerja menurut pandangan Tuhan. Banyak pekerjaan dan kesibukan yang nampaknya baik, tetapi bisa membuat hidup kita menjadi kering dan layu.

Mungkin kesibukan kita yang disebabkan oleh tuntutan atau ulah orang lain. Selain itu, kesibukan bisa yang terjadi karena kekuatiran kita atas diri kita sendiri atau diri orang lain. Bahkan banyak hamba Tuhan yang terbenam dalam kesibukan yang luar biasa karena kekuatiran atas masalah umat dan gereja. Banyak orang yang tenggelam dalam kesibukan karena tidak menyadari bahwa apa yang sudah mereka kerjakan secara maksimal pada akhirnya harus diserahkan kepada kehendak Tuhan yang mahakuasa.

Segala kesibukan yang secara sengaja atau tidak disengaja menjadi tak terkontrol, bisa menyebabkan kita menjauhi Tuhan; dan itu pada akhirnya akan merusak kehidupan dan kebahagiaan kita. Biarlah kita mau menganalisa hidup kita sambil mengingat bahwa Tuhan selalu beserta kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Pencobaan bisa membentuk pribadi yang baik

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Bagi banyak orang, diagnosis coronavirus hanyalah permulaan impian yang buruk. Menurut penyelidikan, orang-orang yang pulih dari penyakit ini ternyata bisa mengalami berbagai gejala persisten: sesak napas, lemah, pikiran berkabut, kelelahan, dan depresi. Karena itu, negara-negara yang dilanda pandemi di Eropa telah mulai menawarkan layanan rehabilitasi kepada para penyintas COVID-19 sekalipun ilmu kedokteran belum tahu banyak tentang bagaimana tubuh manusia bisa pulih dari serangan virus di paru-paru, saluran pencernaan, jantung, ginjal, hati , otak, dan sistem saraf.

Bagi banyak orang, adanya pandemi membuat mereka berpikir dan merenung, kalau-kalau virus itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada manusia. Kalau betul demikian, untuk apa? Memang soal sakit, semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong, apalagi jika pikiran bahwa Tuhan memang membiarkan mereka sakit.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengizinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita makin bergantung kepadaNya.

Memang rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Hari ini, jika kita merasakan hidup ini adalah terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Kita sudah menerima mukjizat terbesar

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” 2 Timotius 1: 9-10

Dengan adanya pandemi dan masalah ekonomi yang melanda semua negara di dunia saat ini, banyak orang yang merasa bahwa tanpa intervensi Tuhan, dunia ini akan mengalami kekacauan besar. Dalam keadaan yang sedemikian, tidak dapat diragukan bahwa banyak orang Kristen yang berdoa dan mengharapkan untuk datangnya mukjizat Tuhan. Mukjizat adalah sesuatu yang terjadi diluar apa yang bisa dijangkau dengan pikiran manusia, yang dipercayai sebagai suatu hal supranatural yang berasal dari Tuhan. Semua orang Kristen percaya adanya mukjizat yang dilakukan Tuhan, walaupun sering ada perbedaan pengertian tentang detilnya.

Diantara dua posisi ekstrim, ada orang Kristen yang percaya bahwa mukjizat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja dalam setiap segi kehidupan manusia, dan ada yang percaya bahwa mukjizat hanya terjadi secara unik pada zaman sebelum Alkitab tertulis. Dengan demikian, golongan yang pertama adalah orang-orang yang selalu mengharapkan agar Tuhan melakukan mukjizatNya, dan golongan kedua adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Tuhan perlu untuk membuat mukjizat seperti dulu. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen tidak menolak kenyataan bahwa mukjizat di zaman ini tetap bisa terjadi karena Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.

Memang dalam hidup di dunia, manusia sering mengalami saat-saat dimana kemampuannya tidak lagi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Untuk mereka yang beriman, adalah normal jika mereka berseru meminta tolong kepada Tuhan. Seringkali jika hal yang diharapkan itu datang, orang menerimanya sebagai mukjizat Tuhan yang mengabulkan doa-doa mereka. Bagi orang lain, mukjizat belum tentu datang langsung dari Tuhan karena Ia bisa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk menolong umatNya. Pertolongan yang terjadi karena usaha manusia tidaklah meniadakan kasih Tuhan yang memungkinkan hal itu terjadi.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mereka yang mengharapkan mukjizat langsung dari Tuhan seringkali menekankan pentingnya iman yang teguh. Malahan, ada yang percaya bahwa jika apa yang diminta tidak terjadi, itu disebabkan oleh kelemahan iman. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa agar bukan kehendak kita yang terjadi, tetapi kehendakNya. Yesus juga mengajarkan bahwa ukuran iman tidak menentukan apa yang akan terjadi, tetapi adanya iman memberi keyakinan bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja yang dikehendakiNya dan pada saat yang dipilihNya.

“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Walaupun demikian, tidaklah benar jika manusia mengharapkan mukjizat terjadi di setiap saat dan tempat menurut kehendak mereka; karena jika memang demikian, mukjizat itu terjadi karena usaha manusia dan bukannya menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak dapat diperintah manusia untuk melakukan segala hal yang dimaui mereka. Dari awalnya, Tuhan melakukan suatu mukjizat untuk tujuan khusus sesuai dengan maksud dan waktu Tuhan sendiri, dan itu bisa terjadi pada siapa saja dan bukan hanya pada umatNya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Satu hal yang pasti, mereka yang berharap akan pertolongan Tuhan dimanapun dan kapanpun, tidak akan dikecewakan jika pikiran mereka tidak hanya terpusat pada apa yang mereka maui.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selalu berharap atas datangnya intervensi Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah melakukan mukjizat yang terbesar dalam hidup mereka. Setiap orang beriman adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan diselamatkan melalui darah Kristus dan sudah lahir baru. Ini adalah mukjizat terbesar yang tidak dapat dimengerti oleh dunia.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sejak mulanya. Dengan hidup baru ini kita seharusnya mempunyai perspektif baru tentang adanya tantangan kehidupan. Mukjizat demi mukjizat tetap terjadi, tetapi hidup baru kita tidak lagi bergantung padanya!

Giatlah berdoa di masa sulit

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 11 – 12

Jika kita menyangka bahwa korban Covid-19 ini sudah terlalu besar, itu tentunya tak salah. Data yang ada menunjukkan bahwa di seluruh dunia sudah banyak orang yang terinfeksi virus corona dan di antaranya banyak yang tewas. Walaupun demikian, kita mungkin kurang menyadari bahwa di antara mereka yang tetap hidup, banyak yang mengalami masalah kesehatan untuk jangka panjang. Memang virus ini bisa membuat kerusakan yang luar biasa pada berbagai anggota tubuh. Selain itu, adanya pandemi dapat dipastikan sudah membuat banyak orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi, saat ini data yang akurat belumlah diketahui karena gangguan kejiwaan ini umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi meningkat secara perlahan-lahan.

Di antara mereka yang terpengaruh oleh keadaan gawat saat ini, ada banyak orang yang perlahan-lahan kehilangan semangat untuk beraktivitas, berinteraksi, bekerja dan bahkan untuk hidup. Adanya pembatasan sosial dan berita-berita yang kurang menyenangkan yang timbul setiap hari memang bisa menghancurkan perasaan orang yang setabah apa pun. Apalagi, pada saat ini apa yang biasanya dianggap bisa menguatkan hidup manusia tidaklah mudah dijumpai. Berbagai aktivitas sosial, budaya dan religi memang sudah menghilang sejak wabah ini menjadi besar. Manusia dalam keadaan ini mudah kehilangan arti hidup dan jatuh ke dalam depresi.

Bagaimana tindakan kita sebagai orang Kristen di tengah kekacauan saat ini? Bagi mereka yang biasanya sangat aktif di gereja dan sekarang hanya bisa mengikuti acara kebaktian yang sederhana melalui internet, tentunya merasakan adanya suatu kekosongan. Jika biasanya kita dapat memuji Tuhan dengan diiringi musik yang merdu dan bersama-sama berdoa dengan saudara seiman di gereja, sekarang banyak orang terpaksa tinggal di rumah dan hanya bisa menyanyi dan berdoa dengan orang yang serumah. Memang manusia sebagai makhluk sosial agaknya tidak dapat mengabaikan perlunya hidup bermasyarakat.

Sekalipun demikian, ayat di atas menyatakan bahwa di dalam menghadapi kesulitan hidup, kita tidak boleh membiarkan kerajinan kita kendor. Sebaliknya, kita harus mempertahankan semangat kita untuk tetap menyala-nyala, untuk tetap bisa melayani Tuhan. Di dalam kesulitan, kita tetap harus bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa. Mengapa demikian? Itu karena hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan rohani, bukan jasmani. Biarpun secara jasmani tubuh kita lemah dan keadaan di sekeliling kita tidak memungkinkan adanya interaksi jasmani antar umat Kristen, interaksi kita dengan Tuhan dan sesama umat percaya tetap bisa berlangsung secara rohani melalui doa dan persekutuan dari hati ke hati yang berlandaskan pengharapan, kesabaran dan ketekunan.

Saat ini, jika kita merasa lemah, letih, lesu dan padam semangat, mungkin itu suatu tanda yang harus kita sadari bahwa secara rohani kita sudah mengalami masalah yang besar. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk mengingat bahwa bagaimana pun beratnya hidup ini, hubungan antara kita dengan Tuhan adalah satu-satunya yang bisa menyegarkan kita kembali. Keadaan yang kurang baik saat ini seharusnya mengingatkan kita untuk kembali kepada doa, yang merupakan nafas kehidupan spiritual kita. Hanya melalui hubungan yang baik dengan Tuhan yang mahakuasa, kita akan tetap dapat mempertahankan dan bahkan memperkuat semangat hidup kita di masa sulit ini.

Akulah Tuhanmu

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengharubirukan laut, sehingga gelombang-gelombangnya ribut, TUHAN semesta alam namaNya.” Yesaya 51: 15

Aku percaya kepada Tuhan yang mahakuasa

Ada berapakah ayat yang mengandung kata-kata “Akulah Tuhan” dalam Alkitab? Ada banyak, mungkin ada sekitar 20. Barangkali kita heran mengapa Tuhan begitu sering memperkenalkan diriNya sebagai Tuhan kepada umat Israel. Tetapi semua itu wajar jika kita ingat bahwa umat Israel sering lupa atau sengaja melupakan Tuhan yang sudah banyak membuat berbagai keajaiban dalam hidup mereka. Tuhan yang tahu bahwa umatNya memerlukan Dia, sering mengingatkan mereka hanya bisa hidup bergantung kepadaNya.

Tuhan juga sering mengingatkan kita bahwa Ia adalah Tuhan kita. Melalui berbagai kejadian dalam hidup kita, mungkin kita ingat bahwa ada saat-saat tertentu dimana kita merasakan kehadiran atau campur tangan Tuhan. Jika itu terjadi, barangkali hati kita berdebar dan pikiran kita terisi kekaguman bahwa Tuhan itu adalah mahakuasa. Sayang sekali, kejadian semacam itu mungkin agak jarang terjadi; dan karena itu hari demi hari berjalan dan kita mungkin lupa bahwa Tuhan ada dan bekerja dalam kehidupan manusia.

Manusia sering lupa akan Tuhan jika hidupnya terasa tenang. Tetapi jika kesulitan hidup terjadi bagaikan ombak lautan yang bergelora, mungkin orang tersadar bahwa ia tidaklah berkuasa atas hidupnya. Melalui berbagai kejadian, Tuhan kembali menyatakan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya. Ia adalah Tuhan, Allah yang membuat laut, bergelora sehingga gelombang-gelombangnya ribut.

Jika Ia adalah Raja semesta alam, dimanakah Ia gerangan di saat ini, saat dimana banyak manusia mengalami penderitaan akibat pandemi Covid-19? Apakah Ia bersembunyi di balik semua kejadian di bumi? Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang terlihat menakutkan pun terjadi atas sepengetahuan dan seizinNya. Malahan, Ia bisa menggunakan kekacauan yang terjadi di bumi untuk mengingatkan umatNya bahwa Ia adalah Tuhan, Allah mereka.

Adalah manusia yang sering lupa atau sengaja melupakan adanya Tuhan jika laut tidak bergelora, dan hidupnya berjalan mulus. Tetapi keadaan yang sedemikian bisa membuatnya lupa akan ketergantungannya kepada Tuhan yang mahakuasa. Melalui adanya kekacauan dan persoalan di dunia, Tuhan ingin mengingatkan manusia untuk kembali bernaung dalam perlindunganNya.

Hari ini, apakah anda merasa bahwa Tuhan itu jauh karena Ia nampaknya tidak berbuat apa-apa ketika laut bergelombang mengeluarkan suara yang menakutkan? Ingatlah bahwa laut yang bergelora membuktikan bahwa Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang mahakuasa. Ia telah memberi firmanNya kepada kita agar kita selalu ingat kepadaNya yang melindungi kita hari lepas hari.

“Aku menaruh firmanKu ke dalam mulutmu dan menyembunyikan engkau dalam naungan tanganKu, supaya Aku kembali membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umatKu!” Yesaya 51: 17

Tetap berbahagia sekalipun berdukacita

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Aku percaya akan kasihMu

Anda ingin merasa berbahagia dalam hidup? Menurut kata orang, ada beberapa resepnya. Diantaranya: 

  • Kebahagiaan timbul dari kesuksesan.
  • Kebahagiaan bisa timbul dari rasa puas dan cukup.
  • Rasa bahagia bisa dirasakan karena keadaan keluarga yang baik.
  • Kebahagiaan muncul jika kita merasa bisa menolong orang lain, dll.

Sekalipun kita pada suatu saat bisa memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal di atas, adalah kenyataan bahwa kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dan jika pun bisa diperoleh itu seringkali tidak langgeng. Buktinya? Baru saja kita memasuki tahun 2020 dengan segala optimisme, keadaan dunia tiba-tiba berubah dan membuat banyak orang berdukacita.

Dalam kenyataannya, setiap orang dalam hidup ini sering mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan, perlakuan orang lain yang kurang baik, kegagalan, atau rasa kurang puas dengan apa yang dialami dalam hidup. Rasa pahit yang timbul karena hal-hal ini seringkali meracuni hidup seseorang sehingga membuatnya kurang bisa melihat hidup dari segi positif. Tetapi, jika keadaan di sekitar kita memang nampak buruk, bagaimana kita bisa berbahagia? Salahkah kita jika kita merasa sedih?

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam menerima keputusan Tuhan atas hidup kita, kita harus bisa menghadapinya dengan sabar sekalipun itu merupakan hal yang sulit diterima. Ini lebih mudah dikatakan daripada dijalankan karena untuk menerima keputusan Tuhan, kita harus mengenal Tuhan dan sifatNya, agar kita bisa percaya akan maksud baikNya.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri yang membuka hati dan pikiran mereka. Karena itu, untuk bisa menerima keputusan Tuhan dalam hidup ini, kita memerlukan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang bisa memberi penghiburan, yang kita perlukan untuk bisa dengan rasa damai dan rendah hati mendengarkan suara Tuhan tentang apa arti hidup ini, mengapa sesuatu harus terjadi, dan apa yang masih dan harus bisa dilakukan untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita adalah Mahakasih. Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya. Dalam keadaan dunia yang serba kacau saat ini, sebagai orang beriman kita harus percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dengan kerendahhatian, kita siap menerima bimbingan Tuhan untuk melangkah ke masa depan. Dengan keyakinan akan kasihNya kita akan dapat merasakan kebahagiaan karena tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita dari Dia.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Tetaplah teguh dalam menghadapi masalah

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Hidup ini penuh tantangan

Situasi di Melbourne, Australia, pada saat ini kurang baik. Sesudah berhasil menekan jumlah pertambahan harian kasus positif COVID-19 sampai kurang dari 5 orang per hari pada akhir bulan Mei yang lalu, sekarang pertambahan harian bisa mencapai 200-300 orang per hari. Dengan itu lockdown dimulai lagi di beberapa tempat dan semua orang di sana diharuskan memakai masker. Jika orang mengabaikan peraturan ini, denda sebesar $200 sudah menanti. Mengapa keadaan bisa berubah menjadi buruk lagi? Agaknya itu disebabkan oleh beberapa kelompok masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembatasan jarak dan mungkin kurang berdisiplin dalam menerapkan anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan sosial. Sebagai akibatnya, sekarang ini ada sekitar 5 juta penduduk Melbourne harus merasakan ketegangan dan ketakutan karena mereka menghadapi masalah besar.

Hidup manusia adalah penuh tantangan dan setiap orang umumnya pernah mengalami masalah hidup yang serius. Dalam hal ini, sebagian orang merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat mengatasi masalah mereka, mungkin setelah bergumul cukup lama. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak teratasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepadaNya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengizinkan datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya. Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah tes kehidupan yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh kedalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada zaman modern  ini mungkin lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa mereka jatuh kedalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan pengaruh jahat merajalela di dunia.

Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umatNya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan mereka mengalami pencobaan. Tiap-tiap orang harus menghadapi persoalan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai manusia kita seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang seringkali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kekuatan untuk bisa selalu menang dalam menghadapi pencobaan.

Hidup ini berat, tetapi kita bukan orang yang malang

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Aku tetap percaya kepada Tuhanku

Berita media sore ini mengabarkan adanya dua anak yang berusia dibawah dua tahun yang ditemukan tenggelam di kolam renang di belakang sebuah rumah di sebelah barat-daya Sydney. Kedua anak itu segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi keadaan mereka sudah kritis. Bagi orangtua anak-anak itu, kejadian di atas tentunya adalah suatu malapetaka yang tidak tersangka. Bagi orang lain, kejadian ini tentunya sangat menyedihkan karena terjadi pada anak-anak yang belum mengerti adanya bahaya.

Di dunia ini banyak orang yang kehilangan semua yang dimilikinya dan apa yang dicintainya akibat perbuatan orang lain, kesalahan sendiri, bencana alam, penyakit atau kecelakaan. Kita juga tahu bahwa saat ini jutaan orang di dunia kehilangan pekerjaan karena adanya wabah Covid-19. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Sebenarnya dalam hidup ini, orang tidak semestinya heran atau kaget melihat datangnya apa yang tidak nyaman dan bahkan malapetaka. Dunia sesudah kejatuhan manusia dalam dosa, adalah dunia yang sulit diterka dan karena itu harus siap dihadapi dengan peluh dan air mata. Walaupun demikian, mungkin dalam hidup ini kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Saat ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Kita bukanlah orang yang malang, karena di dalam Kristus kita justru adalah orang yang beruntung!