Teori dan praktik adalah satu

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Peneguhan sidi (confirmation) adalah bagian dari pengakuan iman dalam banyak gereja. Kata “sidi” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya penuh atau sempurna. Pada kebanyakan gereja, setelah melakukan katekisasi (kursus Alkitab), seseorang bisa diteguhkan sebagai anggota gereja melalui peneguhan sidi dalam upacara khusus di hadapan sidang jemaat. Apabila seseorang telah menerima peneguhan sidi, secara gerejawi keanggotaannya sudah penuh.

Untuk sebagian gereja, peneguhan sidi bukan sakramen tapi berkaitan erat dengan sakramen. Baptisan usia dewasa memang bisa dilakukan bersama peneguhan sidi. Jika baptisan usia anak kemudian dilanjutkan dengan sidi sesudah menginjak usia dewasa, maka dalam hal ini peneguhan sidi adalah kesempatan untuk mengakui iman di hadapan jemaat. Selain itu, pengakuan sidi juga merupakan pernyataan bahwa janji orangtua untuk membesarkan anaknya sesuai dengan firman Tuhan telah ditepati, sampai sang anak percaya kepada Yesus Kristus. Melalui peneguhan sidi, seseorang diterima sebagai jemaat yang bertanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pelayanan jemaat, dan diijinkan ikut dalam Perjamuan Kudus.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengikuti upacara sidi, antara lain:

  1. Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  2. Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  3. Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  4. Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari dari pada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga?

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan. Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firmanNya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintahNya?

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Kita sendiri pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa masyarakat di sekitar kita akan membenci kita. Karena itu, kita juga sering memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab seringkali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman. Dengan demikian kita membiarkan hidup kita tinggal dalam dosa pengabaian firman Tuhan. Bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Jangan kehilangan kepekaan akan kejahatan

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Dua hari terakhir ini di beberapa tempat di Australia terjadi kebakaran hutan yang menghanguskan banyak rumah penduduk. Memang udara yang panas dan daun-daunan yang kering membuat kebakaran mudah terjadi. Terkadang kebakaran besar seperti ini terjadi karena kilat yang menyambar rumput kering, tetapi sekarang ini lebih sering terjadi karena tangan-tangan usil  anak remaja yang membakar rumput sekedar untuk mendapat sensasi yang menggetarkan hati. Mereka yang melakukan itu seolah merasa puas jika kebakaran yang terjadi bisa membuat bingung banyak orang termasuk aparat kepolisian. Mereka mungkin merasa puas jika polisi tidak dapat menemukan siapa yang bersalah.

Mereka yang membakar rumput itu mungkin tidak mengharapkan adanya korban jiwa. Walaupun demikian, terkadang ada juga orang yang tewas atau luka-luka karena terbakar api. Saya tidak habis memikirkan bagaimana perasaan mereka yang karena iseng membakar hutan, dan kemudian menyadari adanya korban manusia akibat ulah mereka. Sedihkah mereka? Menyesalkah mereka? Mungkin saja, walaupun mungkin hanya untuk sejenak. Mereka yang mempunyai “hobi” membakar hutan biasanya sudah terbiasa melakukan hal-hal yang tidak baik dalam hidup sehari-hari. Menurut laporan penyelidikan, anak-anak remaja seperti ini memang senang bermain dengan korek api.  Memang karena kebiasaan jelek, siapa pun bisa menjadi kebal akan akibatnya dan justru makin senang melakukan hal-hal yang menyusahkan orang lain. Mereka malahan mungkin bisa tertawa melihat kebingungan dan kesengsaraan orang lain.

Mungkin mudah bagi kita untuk melihat kejahatan yang dilakukan orang lain. Mereka yang membakar hutan dan menyebabkan kerugian orang lain tentunya patut dijatuhi hukuman. Lebih dari itu, karena kenakalan remaja yang luar biasa ini, ada orang yang berpendapat bahwa orangtua mereka ikut bertanggung jawab dan seharusnya mengganti kerugian. Pada pihak yang lain, kejahatan manusia di bumi ini sangat beragam bentuknya dan tidak semuanya mendapatkan perhatian yang serius dari masyarakat. Baik tua maupun muda bisa melakukan kejahatan yang bermula dari ukuran kecil. Kebiasaan mengambil barang orang lain mungkin saja dianggap lucu jika kerugian yang ditimbulkan tidaklah besar. Mereka yang mencuri sering menyalahkan pemiliknya yang pelit atau kurang mampu menyimpan barangnya pada tempat yang semestinya. Kemampuan untuk melakukan kejahatan kecil, kemudian bisa membuat orang untuk mampu melakukan yang besar tanpa mengedipkan mata. Semua dosa akan tidak terasa jika sudah biasa.

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan umat di Tesalonika untuk menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan, baik itu yang nampaknya kecil ataupun yang besar. Peringatan ini bukan ditujukan kepada orang yang belum mengenal Kristus, tetapi kepada jemaat. Tidak seorang pun yang kebal dari kejahatan dan orang Kristen yang tidak berhati-hati juga bisa terjebak dalam kenikmatan dosa. Bahkan ada orang Kristen yang karena menyadari bahwa ia bisa diselamatkan karena kasih karunia Tuhan, menganggap bahwa berbuat dosa adalah sesuatu yang lumrah karena itu adalah ciri manusia. Mereka tidak merasa perlu untuk menguji segala sesuatu dan memilih apa yang baik. Bagi mereka pengampunan Tuhan ada tersedia bagi mereka setiap kali mereka melakukan dosa. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang ingin mengikut Kristus kemudian menjadi kecewa melihat kelakuan mereka yang mengaku Kristen.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa menjadi orang yang diampuni dan diselamatkan oleh Tuhan bukanlah berarti bahwa kita bisa hidup “semau gue”. Kesadaran akan hukum, etika, sopan-santun dan kepentingan orang lain haruslah dipupuk sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahasuci tidaklah boleh dipermainkan. Jika kita memang mau mengikut Yesus, itu berarti bahwa kita harus meninggalkan apa yang jelek dan memilih untuk selalu berjalan dalam kebenaran.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Menghadapi orang yang sukar

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” 2 Timotius 2: 23

Pernahkah anda menemui orang yang sukar? Pertanyaan ini mungkin agak membingungkan bagi sebagian orang. Orang yang sukar? Sukar apanya?  Orang yang sukar atau difficult person adalah orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi atau diajak untuk bekerjasama. Orang yang  sedemikian biasanya sukar cenderung untuk semaunya sendiri, mudah tersinggung, mudah marah, ingin mengontrol orang lain, ingin menang sendiri dan mungkin merasa paling pandai dalam segala hal. Dalam suatu organisasi, orang yang sukar bisa membuat orang lain menjadi segan untuk mendekati. Ini bisa menimbulkan masalah, dan karena itu biasanya ada cara-cara tertentu yang harus dipakai untuk bisa mengatasinya.

Orang yang sukar biasanya juga orang yang sukar untuk berubah. Dalam hal ini, orang yang di sekitarnya justru  lebih mudah untuk bisa menyesuaikan diri. Mereka yang kurang tahan menghadapi  orang yang sukar misalnya, bisa mendapat kursus untuk mengatasi persoalan ini, misalnya dengan mengikuti kursus “How to handle difficult people“. Walaupun demikian, sering tidak kita sadari bahwa dalam situasi tertentu kita sendiri adalah orang-orang yang sukar untuk mengubah pendekatan kita terhadap orang lain.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang semestinya sudah mengalami perubahan cara dan ciri hidup, masih bisa digolongkan kedalam kelompok orang yang sukar. Di antara murid-murid Yesus, mungkin Yudas bisa digolongkan orang yang sukar karena cara berpikirnya mengenai soal uang. Petrus dengan sifat kepala batunya, mungkin juga termasuk orang yang sukar. Bagaimana murid-murid yang lain bisa bergaul dengan Yudas dan Petrus selama tiga tahun dan mengembara bersama Yesus tentunya sulit untuk kita bayangkan. Bagaimana Yesus bisa mengendalikan kedua murid ini dan bisa menghadapi orang-orang yang sukar yang ada pada waktu itu?

Dalam menghadapi orang yang sukar, prinsip pertama yang harus kita punyai adalah kasih. Tanpa kasih, kita tidak akan mempunyai minat untuk berkomunikasi dengan orang yang sedemikian. Yesus tidak pernah menutup dirinya dari orang lain. Ia tidak pernah memutuskan hubungan dengan orang-orang yang sukar, yang selalu mempersukar misiNya. Sekalipun ada orang-orang yang sukar seperti para ahli taurat dan orang Farisi, Yesus tidak menutup kabar keselamatan bagi mereka. Ia mengasihi semua orang sekalipun Ia tidak menyukai semua orang. Misi keselamatanNya ditujukan kepada semua orang, agar barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa beroleh hidup yang kekal. Seperti itu jugalah, kita harus menghadapi semua orang, termasuk orang-orang yang tidak kita sukai, dengan kasih yang asalnya dari Yesus. Jika mereka melakukan suatu tindakan yang menyakiti, merugikan atau mempermalukan kita, sebagai umat Tuhan kita harus siap untuk mengampuni, karena kita juga sudah  diampuni Tuhan.

Prinsip kedua juga bisa kita pelajari dari Yesus, yaitu berdiam diri. Yesus tidak pernah mengabaikan apapun yang diucapkan atau diperlihatkan oleh orang lain. Walaupun demikian, Ia tidak selalu bereaksi. Ada saat-saat tertentu dimana Yesus tidak menunjukkan reaksiNya karena Ia tahu bahwa pada saat itu orang-orang yang sukar tidak akan bisa menerima apapun yang diucapkanNya. Dengan kebijaksanaanNya, Yesus bisa memutuskan kapan dan untuk berapa lama Ia harus berdiam diri. Memang dalam kediaman, sering masalah yang rumit bisa diatasi sekalipun untuk itu kita harus bisa bersabar. Silence is golden, tetapi berdiam diri bukan untuk selamanya; pada saat yang tepat kita harus mau memberi penjelasan atau bimbingan lebih lanjut. Kebijaksanaan dan kesabaran seperti inilah yang harus kita minta dari Tuhan.

Hal yang ketiga yang penting dalam menghadapi orang yang sukar adalah berdoa. Seperti Yesus yang mendoakan murid-muridNya agar mereka dapat tahan menghadapi semua tantangan hidup, kita pun harus mau mendoakan mereka yang mempersulit hidup kita. Sekalipun ada orang-orang yang memperlakukan kita sebagai musuh mereka, kita tetap harus mau mendoakan mereka. Kita harus sadar bahwa manusia tidak akan dapat mengubah cara hidup orang lain jika Tuhan tidak menghendakinya. Hanya dengan kuasaNya hidup kita bisa diubah, dan dengan kuasa yang sama Ia bisa mengubah orang yang bagaimana pun sukarnya untuk menjadi hambaNya yang setia – seperti Paulus.

Prinsip keempat yang harus kita pegang adalah  menghindari hal-hal yang sia-sia. Paulus adalah orang yang dulunya termasuk orang yang sangat sukar, tetapi yang sudah berubah karena pekerjaan Tuhan. Dalam ayat di atas, ia menasihati Timotius yang masih muda pada saat itu agar mau menghindari soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Timotius juga diingatkan bahwa soal-soal semacam itu hanya menimbulkan pertengkaran. Prinsip yang sama haruslah kita pegang dalam menghadapi orang yang sukar di masa ini. Perang mulut, tuduh-menuduh, perang tulisan, saling mengejek melalui media dan sejenisnya, bisa membuat satu orang sukar  menjadi dua orang sukar, dan bahkan kemudian tumbuh menjadi banyak orang sukar. Semua ini bisa memperkeruh suasana dan menghilangkan rasa damai.

Inginkah anda untuk mendapat kedamaian hidup? Inginkah anda untuk bisa menghadapi orang-orang yang sukar  dengan tetap mempunyai rasa damai dalam hati dan pikiran anda? Itu tidak mudah, tetapi bisa dicapai jika kita mau belajar dari firman Tuhan.

 

Jangan kesal berbuat baik

“Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” 2 Tesalonika 3: 13

Banyak orang yang mengira bahwa menjadi orang Kristen adalah hal yang tidak terlalu sulit. Bukan hanya orang yang beragama lain, sebagian orang Kristen pun mengira bahwa agama lain mempunyai persyaratan yang lebih berat. Mereka menyangka bahwa untuk menjadi Kristen orang tidak diharuskan untuk berbuat baik, karena keselamatan datang secara cuma-cuma dari Tuhan yang mahakasih. Pandangan ini sudah tentu adalah keliru. Perbuatan baik justru adalah sesuatu yang semestinya dilakukan oleh seluruh umat Kristen, sekalipun bukan untuk memperoleh keselamatan.

Berbuat baik? Semestinya? Berbuat baik yang bagaimana? Bagi banyak orang, berbuat baik berarti melakukan sesuatu yang membawa kebaikan untuk sesama, untuk lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan banyak berbuat baik orang mungkin mengharapkan adanya balasan atau penghargaan dari sesama, masyarakat, negara, dan bahkan Tuhan. Semua ini bisa menjadi motivasi orang di dunia, tetapi bagi orang Kristen yang sejati, perbuatan baik adalah karena Tuhan sudah lebih dulu memberikan karunia keselamatan.

Walaupun perbuatan baik bisa juga dirasakan sebagai sesuatu yang membawa keuntungan pada diri sendiri, agar selalu bisa mempraktikan ini perlu adanya pengurbanan. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi sesama, kemudian memperoleh kekecewaan dan kelelahan karena kurang atau tidak adanya penghargaan.

Kejemuan akan timbul jika perbuatan baik kita hanyalah dianggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya kita lakukan untuk orang lain. Hari demi hari kita berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, tetapi mereka kurang menghargai jerih payah kita. Kita mungkin sering dikecewakan oleh orang lain, termasuk suami, istri, anak, sanak keluarga, dan teman segereja yang menganggap kebaikan kita sebagai sesuatu yang biasa (taking it for granted). Tambahan pula, ada orang-orang yang seakan membalas kebaikan kita dengan hal yang kurang baik. Buat apa kita berbuat baik jika orang justru menganggap kita sebagai sapi perahan?

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan bahwa kita tidak boleh jemu dan kesal (weary) untuk berbuat baik. Berbuat baik adalah ciri hidup orang yang sudah merasakan kebaikan Tuhan. Orang yang merasa bahwa ia pernah tersesat dan melarikan diri dari Tuhan, orang yang tidak layak untuk diterima oleh Tuhan.

Sebagai anak yang pernah hilang kita sudah disambut dengan tangan terbuka oleh Allah, Bapa yang mahakasih. Dengan demikian, adakah alasan bagi kita untuk merasa kesal dalam berbuat baik bagi Tuhan dan sesama kita?

Pujilah Tuhan yang Mahaesa

“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Mazmur 104: 24

Akhir pekan ini saya mengunjungi Uluru yang dulu dikenal dengan nama Ayers Rock, yaitu bukit batu karang sandstone yang utuh (monolith), yang terletak di tengah benua Australia. Uluru dianggap tanah keramat oleh penduduk asli Australia dan diperkirakan mulai terbentuk sekitar 550 juta tahun yang lalu.

Uluru ada ditengah daerah “tanah merah” dan penduduknya hidup dari turisme saja. Bukit batu karang setinggi 348 meter ini terletak di dalam taman nasional Uluru-Kata Tjuta. Penerbangan dari Brisbane ke desa Uluru memakan waktu 3 jam untuk menempuh jarak sekitar 3200 km.

Melihat Uluru dengan mata-kepala membuat saya kagum bagaimana batu sebesar itu bisa muncul dari dalam perut bumi. Seperti pemazmur dalam ayat di atas yang memuji Tuhan, rasa takjub ada dalam hati saya atas kebesaran Tuhan. Memang bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, tentu saja apa yang ada di jagad raya terjadi karena pekerjaanNya. Walaupun demikian, sesuai dengan kepercayaan animisme dan menurut kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi, terbentuknya Uluru oleh penduduk setempat dihubungkan dengan pekerjaan berbagai roh nenek moyang mereka.

Berbeda dengan banyak kepercayaan lain, kekristenan adalah dilandaskan kepada adanya satu Tuhan yang mahakuasa, yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan bukan saja oknum yang memberikan kesempatan bagi kita untuk menikmati berkatNya selama kita hidup di dunia, tetapi juga yang memungkinkan kita untuk menjadi ciptaan yang baru dalam darah Kristus sehingga kita bisa melanjutkan hidup kita bersamaNya di surga. Kristus juga sudah mengaruniakan Roh KudusNya untuk membimbing kita hari demi hari, sehingga semakin lama hidup kita menjadi seperti Dia.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Pada hari Minggu ini, kita boleh menyatakan kepercayaan kita bahwa Tuhan adalah pencipta langit dan bumi. Tetapi selain itu, kita juga harus meyakini bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu adanya. Karena kasih Tuhan sajalah kita ada di dunia, dan karena kasihNya juga, kita bisa menjadi ciptaan baru. Biarlah kita bisa hidup dengan rasa syukur bahwa kita mempunyai satu Tuhan yang tidak hanya mahakuasa, tetapi juga mahakasih!

Sulitnya menjadi prajurit

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” 2 Timoutius 2: 3 – 4

Akademi militer angkatan darat yang terkenal di Australia adalah The Royal Military College, Duntroon. Akademi yang juga dikenal dengan nama Duntroon, didirikan di Canberra, ibukota Australia pada tahun 1911. Lokasi akademi ini adalah di kaki gunung Pleasant dekat danau Burley Griffin. Akademi ini sebanding dengan the Royal Military Academy Sandhurst yang dimiliki Inggris and the Military Academy at West Point yang ada di Amerika.

Seorang kolega saya, Claude, yang pernah mengajar di sebuah universitas di Australia adalah lulusan Duntroon yang pernah dikirim ke perang Vietnam sebagai seorang prajurit. Seingat saya, Claude adalah orang yang tegas dan berdisiplin dengan suara yang lantang. Mungkin saja, karena selama bertahun-tahun ia bekerja sebagai tenaga militer, ia mempunyai karakter dan tingkah laku yang khas militer.

Bagaimana seorang bisa mempunyai penampilan khas militer sekalipun ia tidak memakai seragam militer? Orang tentu tidak dilahirkan dengan ciri-ciri itu, tetapi sesudah mengalami penggemblengan yang cukup lama dan kemudian mendapat kesempatan untuk mempraktikkan semua teori yang pernah diterimanya, lambat laun akan menjadi orang yang berbeda dalam cara dan ciri hidupnya.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus bersedia menderita dan berjuang sebagai seorang prajurit yang baik. Sebagai seorang prajurit yang sedang berjuang, kita seharusnya tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan kita, supaya bisa berkenan kepada komandan kita, Yesus Kristus. Pada pihak yang lain, jika kita hanya mementingkan kehidupan kita, pikiran kita selalu dibebani dengan kebutuhan kita dan selalu membayangkan apa yang kita ingini saja. Dengan demikian, sebagai seorang prajurit kita tidak akan bisa memusatkan perhatian kepada apa yang penting, yang sudah diperintahkan Tuhan.

Orang Kristen adalah seperti orang yang sudah lulus dari sebuah akademi militer. Ia adalah orang yang sudah menerima status yang baru sebagai seorang prajurit. Tetapi, apa yang sudah didengar dan dipelajarinya tidaklah akan berguna jika ia tidak mau maju berjuang bersama rekan-rekannya dan tidak mau mendengarkan perintah komandannya. Bagaimana kita bisa menjadi pengikut Tuhan jika kita hanya ingin menuruti kemauan kita? Bagaimana kita bisa bertahan dalam perjuangan jika kita tidak mau memusatkan hidup kita kepada apa yang difirmankanNya?

Tujuan hidup bukanlah sekedar konsep

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Apakah tujuan hidup atau purpose of life kita? Mungkin ada orang yang menjawab bahwa ia ingin menjadi orang yang sukses, orang yang pandai atau orang yang berguna untuk masyarakat dan negara. Semua ini adalah cita-cita. Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih luas dan menyeluruh jika dibandingkan dengan cita-cita dan karir. Tujuan hidup juga sering berbentuk abstrak dan tidak dapat dilihat atau diukur. Walaupun demikian, adanya tujuan hidup adalah penting untuk membuat orang kuat dalam menghadapi semua tantangan. Orang boleh mengejar cita-cita dan senang ketika itu tercapai, namun jika tujuan hidup tidak terwujud, semua yang dicapai mungkin tidak berarti. Sebaliknya, mereka yang tidak mencapai kedudukan tinggi atau mendapat kekayaan yang berlimpah bisa saja berbahagia jika tujuan hidupnya tercapai.

Dalam hidup ini memang kesibukan sehari-hari sering menyita waktu dan karena itu kita mungkin tidak sempat memikirkan apakah tujuan hidup kita sudah tercapai. Apakah kepuasan hidup sudah tercapai, sedang mendatangi ataukah belum terasa, mungkin tidak pernah dipikirkan dalam-dalam. Walaupun demikian, seringkali ketika orang mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup, secara tiba-tiba ia mungkin terbangun dan sadar bahwa hidup yang ada sampai saat ini adalah hampa. Jika pada saat-saat yang lalu ia tidak memikirkan apa arti hidupnya, dengan  memeriksa realitas kehidupan kemudian timbul kesadaran bahwa apa yang dipunyainya bukanlah tujuan hidupnya.

Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?  Kita bisa memeriksa hidup kita sendiri. Reality check untuk apa yang sudah kita capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa  kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan dan memuliakanNya tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita bisa melakukannya untuk memujiNya.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17