Hidup sebagai selebriti

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 14

Anda sering membaca berita tentang selebriti di media? Jika ya, tiap hari tentunya anda bisa menemukan berita apa saja yang terjadi dalam kehidupan mereka. Sekalipun anda kurang suka membaca berita-berita semacam itu, hampir setiap media cetak maupun internet selalu menampilkan cerita tentang orang-orang yang terkenal dan gaya hidup mereka.

Mereka yang menjadi selebriti biasanya mempunyai penampilan, kelakuan, kemampuan dan pekerjaan yang membuat mereka dikenal banyak orang. Sayang sekali, banyak diantara mereka adalah orang-orang yang hidupnya kacau. Kejadian seperti perselingkuhan, pertengkaran, pelecehan dan sebagainya, membuat sebagian besar selebriti dikenal sebagai orang-orang yang tidak baik. Karena itu, sebutan selebriti biasanya mempunyai konotasi yang kurang baik.

Mereka yang menjadi selebriti besar biasanya adalah orang-orang yang berkelimpahan karena mereka sudah mendapat perhatian masyarakat dan kemasyhuran. Dengan status itu, seringkali mereka merasa bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka maui. Walaupun demikian, diantara selebriti di dunia ini ada juga yang hidupnya sederhana, rendah hati, dan dapat dipercaya.

Yesus dan pengikutNya dari awalnya adalah orang-orang yang lain dari yang lain, yang selalu disorot masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa Yesus adalah seorang selebriti, walaupun apa yang dikerjakannya adalah semata-mata untuk kemuliaan Allah Bapa. Seperti itu, sebagai orang Kristen, sebenarnya kita juga dapat digolongkan sebagai selebriti (dalam arti yang baik) karena masyarakat melihat kita sebagai orang-orang yang menarik perhatian. Ayat diatas menyebutkan bahwa kita adalah terang dunia, yang bisa dilihat semua orang. Baik di rumah, di sekolah, di kantor dan dimana saja, masyarakat melihat atau mengharapkan kita sebagai orang-orang yang mempunyai cara hidup dan tingkah laku yang baik.

Dalam lingkungan hidup kita, kita mungkin dikenal sebagai pengikut Kristus yang mendapat karunia keselamatan. Sudah sepantasnya kalau kita adalah orang-orang yang berbahagia. Tetapi, itu belum tentu terlihat dari hidup kita. Kita adalah murid Yesus, Anak Allah yang sudah merendahkan diriNya untuk datang ke dunia, tetapi kita belum tentu terlihat sebagai orang-orang yang sederhana dan rendah hati. Sekalipun Tuhan kita mahatahu, belum tentu kita hidup jujur dan bisa dipercaya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita adalah seperti selebriti surgawi. Sekalipun kita masih hidup di dunia, kita bukanlah selebriti dunia yang mencari kemasyhuran diri sendiri. Sebagai orang-orang yang dikenal oleh banyak orang lain, orang Kristen haruslah berusaha untuk mempermuliakan Tuhan dalam segala segi kehidupan. Kita adalah terang dunia, dan semua orang bisa melihat cara hidup kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Ujian yang paling sukar

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Pada akhir bulan November ini, semua mahasiswa sudah mendapat hasil ujian semester 2 dan memasuki saat liburan musim panas. Sebagian murid bisa bergembira karena lulus dari semua ujian, tetapi sebagian lagi mungkin tidak bisa bersukacita karena adanya kegagalan dalam ujian tertentu. Memang tiap mata pelajaran sebenarnya mempunyai derajat kesulitan (degree of difficulty) yang berbeda, dan setiap orang mempunyai kemampuan yang berlainan. Bagi mereka yang menyukai mata pelajaran tertentu, biasanya merasa lebih mudah untuk menghadapi ujiannya. Tetapi mereka yang kurang menyukai suatu mata pelajaran, biasanya akan lebih sulit untuk lulus dari ujiannya.

Hidup ini adalah seperti menghadapi ujian. Tiap-tiap hari kita menghadapi tugas dan tantangan. Dan bagi semua orang, ada tantangan dan ujian yang bersifat jasmani, dan ada yang rohani. Apa mata pelajaran yang disukai seseorang dalam hidup biasanya menentukan bagaimana hasil ujiannya. Mereka yang menyenangi mata pelajaran jasmani, mungkin kurang bisa menikmati mata pelajaran rohani, dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, mereka yang sehari-harinya sibuk dan senang memikirkan hal-hal jasmani saja, mungkin kurang mampu untuk menghadapi ujian rohani.

Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu seperti itu. Ada juga tafsiran lain bahwa kata “unta” itu sebenarnya adalah “tali”. Sudah tentu sulit dan bahkan tidak mungkin untuk sebuah tali untuk memasuki lubang jarum yang hanya cocok untuk benang.

Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.

Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Yesus adalah cukup bagiku

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28

Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang Kristen yang sejati? Banyak orang yang bukan Kristen, mengatakan bahwa untuk diselamatkan, mereka harus selalu rajin berbuat baik dan menjalankan perintah Tuhan. Selain itu ada juga orang yang mengajarkan bahwa untuk diselamatkan manusia harus hidup suci dan meninggalkan apa yang bersifat keduniawian. Lain dari itu, ada orang yang berpendapat bahwa jika seseorang belum menerima tanda atau karunia tertentu, ia belumlah benar-benar menjadi umat Tuhan. Semua pendapat yang diatas pada hakikatnya menyatakan bahwa untuk menjadi orang Kristen kita haruslah berusaha menjadi orang yang “istimewa”.

Bukankah orang yang bisa menerima keselamatan adalah orang-orang yang sudah mempunyai hidup yang sesuai dengan firman Tuhan? Pertanyaan semacam ini agaknya aneh, tetapi seringkali dianggap sebagai kebenaran oleh orang yang bukan Kristen maupun sebagian orang Kristen. Mereka berpikir bahwa Tuhan hanya bisa menerima orang yang sudah memenuhi syarat kesucianNya. Tuhan yang mahasuci tentunya hanya mau menerima orang yang baik hidupnya. Kelihatannya pendapat ini masuk di akal.

Walaupun begitu, jika benar bahwa hanya orang-orang yang “baik” yang bisa diterima Tuhan, masalahnya adalah apa yang baik menurut standar Tuhan, tidaklah bakal terjangkau manusia. Oleh karena itu, sebenarnya semua orang tanpa terkecuali sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Mereka yang merasa sudah menjadi orang-orang yang diselamatkan karena “keistimewaan” mereka sebenarnya adalah orang-orang yang patut dikasihani. Mereka tidak sadar bahwa apapun dan bagaimanapun usaha mereka, keselamatan hanyalah tersedia untuk mereka yang mengaku dengan sungguh-sungguh bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak layak.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Kematian Yesus di kayu salib adalah satu-satunya kejadian yang memungkinkan Allah yang mahasuci untuk mengampuni manusia yang penuh dosa untuk diampuni karena Yesus yang tidak berdosa sudah menggantikan manusia untuk menerima hukuman Allah. KematianNya cukup sekali saja karena itu adalah sempurna di hadapan Allah.

Hari ini, jika kita membayangkan apa yang dialami Yesus di kayu salib, kita harus mengerti bahwa apa yang sudah sempurna tidak dapat atau perlu disempurnakan lagi. Apa yang dilakukan Yesus yang sudah memenuhi standar Allah tidak perlu untuk ditambahi perbuatan dan usaha manusia, karena tindakan semacam itu tidak lain hanyalah menunjukkan bahwa manusia belum menerima pengurbanan Yesus sebagai suatu karunia yang sempurna. Dengan demikian, perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah sebuah usaha untuk membeli keselamatan, tetapi adalah pernyataan rasa syukur atas harga penyelamatan yang sudah lunas terbayar. Yesus adalah cukup bagiku. Jesus is enough for me.

Hari Minggu adalah hari bahagia

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” Markus 2: 27

Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang juga dikenal sebagai hari kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib (the Lord’s day). Bagi sebagian orang Kristen, hari ini adalah hari perhentian, seperti hari Sabat bagi orang Yahudi dan sebagian umat Kristen. Hari yang diberikan Tuhan untuk manusia. Benarkah? Banyak orang Kristen yang mengira bahwa karena hari itu adalah hari untuk ke gereja, itu adalah hari untuk Tuhan. Tetapi Yesus sendiri yang mengatakan bahwa hari Sabat adalah hari untuk manusia. Mengapa begitu?

Dalam seminggu, enam hari lamanya manusia harus bekerja. Walaupun banyak negara sudah mengikut prinsip lima hari kerja dalam seminggu, hari Sabtu biasanya adalah hari sibuk yang dipakai untuk berbagai kegiatan pribadi atau keluarga. Dengan demikian, konsep hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat tetaplah relevan untuk banyak orang Kristen.

Pada zaman Yesus masih di dunia, orang Farisi menganggap hari Sabat adalah hari yang ditentukan Tuhan agar manusia berhenti melakukan sebagian besar aktivitas sehari-hari umtuk bisa memusatkan diri pada Tuhan. Tetapi Yesus bisa melihat bahwa hari yang sebenarnya diciptakan untuk kebahagiaan manusia itu kemudian menjadi hari yang membatasi manusia; sedemikian rupa, sehingga manusia merasa sangat terbebani. Manusia bukannya berbahagia dengan datangnya hari Sabat, tetapi sebaliknya menjadi tertekan karena harus menaati segala macam aturan dan adat yang diciptakan manusia sendiri.

Hari Sabat ataupun hari Minggu seharusnya adalah hari yang disediakan Tuhan untuk menyegarkan tubuh dan jiwa manusia, tetapi jika manusia dipaksa untuk mengikuti ajaran kaum Farisi pada waktu itu, manusia tidak akan bisa untuk mendapatkan keintiman dengan Tuhan dan sesama. Peraturan dan persiapan hari Sabat yang sedemikian ketat, justru akan membuat manusia hanya melihat semua itu sebagai tugas (chores) saja.

Hari Sabat diciptakan Tuhan agar manusia dapat mempererat hubungan dengan Tuhan dan sesamanya. Hari Sabat seharusnya adalah hari gembira yang mengingatkan kita atas kemenangan Kristus dalam penebusan dosa manusia, dan hari yang bisa lebih mendorong kita untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama: untuk mengasihi Tuhan, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; dan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Selain itu, dengan merayakan hari Sabat ataupun hari Minggu, kita bisa bersyukur bahwa Tuhan benar-benar mengasihi umatNya dengan menyediakan satu hari bahagia dalam seminggu.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku,dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Tetap bersyukur setiap hari

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Semua hari itu sama, kata orang. Memang tidak ada hari mujur atau hari malang jika orang tidak percaya adanya nasib. Ayat diatas memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi dalam konteks yang lain. Hari baik adalah hari dimana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari dimana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan.

Memang setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau membuka toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor.

Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Adakah hari baik dan hari buruk bagi mereka? Tentu! Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari boss, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian.

Pengkhotbah dalam ayat diatas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan apa yang terjadi seringkali membuat kejutan karena ada diluar dugaan mereka.

Mereka yang selalu berhati-hati dalam hidup, biasanya selalu merencanakan segala tindakan dengan seksama. Pengalaman mereka di masa lalu mungkin memberi keyakinan bahwa sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan, mereka mempunyai semangat dan kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan. Masa depan ada di tangan kita sendiri, begitu mungkin pikiran sombong mereka.

Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan apa yang terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan sebenarnya tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi dalam keadaan sehat, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus tunduk kepada kehendakNya dalam bekerja dan berusaha.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14.

Pagi ini, kembali kita diingatkan bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu bersyukur dan mau menyerahkan masa depan kita sepenuhnya kedalam bimbingan kasihNya.

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Buka mata, buka telinga!

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Berita semalam cukup menyedihkan. Walaupun bukan yang pertama untuk saya, berita semacam ini tetap mendatangkan rasa sedih. Seorang pendeta mega-church terkenal di satu negara dijatuhi hukuman penjara karena ia telah melecehkan puluhan anggota gerejanya dengan dalih bahwa ia adalah utusan Tuhan. Berita ini adalah kabar buruk yang untuk sekian kalinya menimpa umat Kristen. Mereka yang mengaku orang Kristen ternyata adalah antek-antek iblis, yang mencelakakan banyak anggota gereja.

Memang Yesus pernah berkata bahwa ada banyak pemimpin gereja yang berlagak seperti domba, tetapi mereka sebenarnya adalah serigala yang cerdik, yang siap menyerang dan menghancurkan mangsanya.

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7: 15

Tetapi dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak mempunyai kesadaran atau awareness bahwa sebagai domba mereka harus selalu awas akan pengajaran yang nampaknya benar dan menarik, tetapi sebenarnya sesat. Mereka justru sering mengagumi pemimpin-pemimpin gereja yang pandai bersandiwara. Mata mereka tertutup, demikian juga telinga mereka.

Banyak anggota gereja yang dengan mudah menerima pengajaran orang-orang yang kelihatannya mempunyai charisma, yang dengan kemampuan memutar lidah dan melakukan berbagai hal yang mempesona, telah menimbulkan kekaguman yang besar; seperti acara sulap David Copperfield saja. Mereka yang hebat itu adalah orang-orang yang harum namanya. Gereja-gereja yang mempunyai pemimpin seperti itu umumnya adalah gereja yang terkenal karena seakan mempunyai magnit yang menarik pengunjung.

Sungguh menyedihkan jika manusia lupa bahwa mereka diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Tuhan menghendaki umatNya untuk tunduk dan mengasihiNya. Karena itu, jika seseorang atau sebuah gereja membawa kemasyhuran untuk dirinya sendiri, perbuatan itu justru merendahkan Tuhan. Dalam hal ini, mungkin banyak orang lupa atau kurang awas untuk bisa mengingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa bukan setiap orang yang berseru Tuhan, Tuhan! akan masuk ke surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa.

Buka mata, buka telinga! Itulah yang dipesankan Yesus dalam Matius 7: 15 – 27. Sebagai orang Kristen kita haruslah bijaksana dalam menjalani hidup kita di dunia. Ada banyak orang yang melandaskan iman mereka pada hal-hal yang menakjubkan, yang gemerlapan, dan pada pesan-pesan cendekia yang indah dan membuai. Semua itu adalah bagaikan tanah pasir yang hanya bisa mendukung iman mereka untuk sementara waktu (Matius 7: 26). Jika badai kehidupan mendatangi, iman mereka akan goncang sebab apa yang mereka kagumi sebelumnya tidak lain hanyalah sesuatu yang tidak berharga, dan yang seperti sampah, di hadapan Tuhan!

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” Filipi 3: 8 – 9

Persiapan Natal itu perlu

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Jika anda berada di Australia dan mengunjungi berbagai kompleks pertokoan, tentu anda bisa melihat bahwa orang mulai sibuk dengan persiapan menyongsong hari Natal. Pusat perbelanjaan dimanapun saat ini mulai dipenuhi banyak pengunjung, apalagi sekolah dan universitas sudah memasuki masa liburan musim panas. Akhir tahun di Australia tidaklah bersalju, tetapi sebaliknya, bagi mereka yang senang berjemur, bulan-bulan ini adalah saat untuk bermain di pantai. Tentu saja, mereka yang kepanasan memilih untuk pergi shopping karena gedung pertokoan yang ber AC adalah tempat yang enak untuk bersantai.

Dengan berjubelnya pusat pertokoan, terkadang saya heran mengapa begitu banyak orang yang merayakan hari Natal. Benarkah mereka mengerti makna Natal? Ataukah mereka hanya merayakan hari Natal sebagai suatu kebiasaan turun temurun saja? Memang sekitar 52% penduduk Australia saat ini mengaku sebagai orang Kristen, tetapi dalam kenyataannya hanya sebagian kecil dari mereka yang pergi ke gereja secara konsisten. Tentu saja mereka yang mengaku Kristen mengerti bahwa perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Yesus. Tetapi, siapakah Yesus itu untuk diri mereka pribadi? Apakah Yesus tetap relevan untuk kehidupan mereka, sedangkan mereka yang tidak ke gereja kebanyakan berdalih bahwa gereja sudah tidak cocok untuk kehidupan zaman sekarang?

Memang kekristenan di zaman ini menghadapi serangan yang luar biasa dari segala penjuru. Bukan saja pertumbuhan agama-agama lain menyebabkan mereka yang dulunya lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen, sekarang tertarik untuk pergi “shopping” mencari apa yang lebih menarik, kemajuan teknologi bisa membuat manusia seolah bisa menentukan nasibnya sendiri. Nasibku ada ditanganku, begitu banyak orang berpikir. Belum lagi adanya banyak orang terkenal yang mengajarkan cara hidup yang dikatakan akan membawa keberhasilan dan kebahagiaan tanpa perlu untuk menaati ajaran-ajaran keagamaan atau mengenal Tuhan. Tidaklah mengherankan, bagi banyak orang Yesus hanyalah tokoh sejarah dan bukan Anak Allah.

Ayat diatas adalah ayat yang sering dibacakan di gereja pada minggu-minggu menjelang Natal. Ayat yang signifikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah bahwa Yesus memang lahir sebagai manusia dan karena itu Ia adalah manusia yang bisa mengerti kebutuhan kita dengan sepenuhnya. Yang kedua, Yesus dilahirkan sebagai pernyataan kasih Allah yang ingin agar manusia menyadari bahwa didalam Yesus manusia dapat menemukan Dia.

Tuhan yang menjadi manusia adalah Tuhan yang bisa dan mau menolong kita. Tuhan kita bukanlah yang jauh disana, yang dalam kebesaranNya membiarkan manusia untuk berjuang seorang diri di dunia, dan yang mengharuskan manusia untuk bisa mencapai derajat kesucian yang bisa diterima olehNya. Tuhan tahu bahwa manusia yang lemah dan berdosa ini, tidaklah sanggup untuk berjuang seorang diri.

Sebulan lagi kita akan merayakan Natal. Masih ada cukup waktu bagi siapa saja untuk mulai menganalisa hidup kita selama setahun ini. Sudahkah anda mencapai kebahagiaan yang sejati? Sudahkah anda merasa tenteram dalam hidup anda? Yakinkah anda bahwa hari-hari mendatang akan dapat anda hadapi dengan keteguhan hati?  Masih adakah perasaan bahwa dengan adanya berbagai persoalan ekonomi, studi, kesehatan dan keluarga, anda mungkin harus menerima kenyataan bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani?

Ayat diatas memberikan jaminan kepada setiap orang Kristen bahwa apapun yang  mereka alami, Yesus yang lahir di bumi sebagai manusia dapat mengerti dan ikut merasakannya. Ayat itu juga memberi keyakinan baru kepada siapapun yang merasa lemah dan kuatir untuk menghadapi masa depan, bahwa Yesus Anak Allah akan menyertai mereka dalam setiap keadaan. Apa yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi Natal adalah hati kita, agar kita tetap berpegang pada iman bahwa Imanuel itu benar-benar berarti Allah menyertai kita.