Hidup baru di dunia

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” 2 Petrus 1: 3

Jika kita percaya bahwa mereka yang sudah menerima hidup baru dan bertobat dalam Kristus akan mempunyai hidup yang lain dari hidup orang kebanyakan, dalam kenyataannya ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi Kristen, tetapi hidupnya tidak jauh berbeda dengan orang yang belum Kristen. Mengapa bisa begitu? Banyak yang berpendapat bahwa orang yang sedemikian adalah orang yang belum betul-betul bertobat. Tetapi, walaupun itu mungkin ada benarnya, ada banyak orang Kristen yang ingin berubah cara hidupnya, tetapi selalu menemui kesulitan.

Bagi orang Kristen yang sadar bahwa hidup mereka masih jauh dari apa yang seharusnya, kekecewaan dan rasa sedih bisa muncul karena bukannya apa yang baik yang mereka lakukan, tetapi justru apa yang jahat.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Roma 7: 22 – 24

Memang kesedihan karena merasa bahwa kita sudah mengecewakan Tuhan itu bisa muncul, terutama jika ada pikiran bahwa kita adalah orang-orang yang gagal, yang sudah mengecewakan orang-orang yang mencintai kita, seperti orang tua, suami, istri, anak atau saudara kita. Selain itu, kita mungkin juga merasa gagal dalam membina hubungan baik dengan teman dan sejawat. Ah, aku manusia celaka!

Dalam keadaan pandemi sekarang ini, banyak orang yang merasa lemah jasmani dan rohaninya, dan tidak mempunyai semangat untuk menghadapi hari depan. Hari demi hari lewat dan kesedihan mungkin muncul karena tidak adanya perubahan hidup. Dari dulu sampai sekarang, Tuhan sering terasa jauh. Rasa kuatir juga bisa timbul karena Tuhan seolah berdiam diri dan tidak mau menolong. Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Apakah Tuhan peduli akan hidup anak-anakNya? Tentu! Ayat pembukaan diatas berkata bahwa karena kuasa Tuhan kita telah mendapat segala sesuatu yang bisa kita pakai untuk hidup yang saleh karena kita mengenal Dia, Tuhan, yang telah memanggil kita. Hidup yang saleh disini adalah gambaran hidup suci di surga yang dimungkinkan oleh Tuhan, sekalipun kita masih berada di dunia.

Kepastian bahwa hidup kita menuju ke surga tidaklah berarti bahwa hidup kita di dunia menjadi mudah dijalani. Sebaliknya, semakin kita ingin untuk menempuh hidup yang sesuai dengan firmanNya, semakin besar juga tantangan yang kita hadapi. Tetapi, Tuhan yang memberi kita hidup baru adalah Tuhan yang membimbing agar kita bisa mempunyai hidup yang baik selama di dunia. Dengan demikian, hidup yang sekarang ini harus tetap diisi dengan sukacita dan semangat untuk bisa tetap mau bertumbuh dalam segala apa yang baik.

Bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh optimisme? Bukankah keadaan saat ini terasa sangat suram? Sampai kapankah kita bisa bertahan? Memang tidak mudah untuk menawab pertanyaan-pertanyaan ini. Walaupun demikian, kita harus bisa menyadari dan menggunakan apa yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak dapat hidup dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Segala berkat dan kasih penyertaan Tuhan setiap hari dan lebih-lebih lagi Roh Kudus, sudah diberikan kepada kita agar hidup kita makin lama makin terpusat kepada hidup yang akan datang di surga, dan bukan kepada hidup yang ada sekarang ini.

Hari ini jika kita merasa lemah dan kecewa atas hidup kita atau atas keadaan di sekeliling kita, marilah kita mengingat bahwa apa yang baik dari Tuhan sudah diberikan kepada kita untuk bisa menghadapi perjuangan hidup di dunia ini karena kemenangan kita di surga sudah terjamin melalui darah Yesus di kayu salib. Dunia ini bukan surga dan karena itu kekacauan dan penderitaan adalah lumrah. Tetapi, karena kita mengenal Juruselamat kita, pengetahuan kita akan kasih dan kemurahan Tuhan adalah lengkap, dan dengan itu kita boleh yakin bahwa hari lepas hari Ia membimbing kita dalam menghadapi berbagai kesulitan untuk menjalani hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Tuhan jugalah yang membimbing hidup kita melalui segala kesulitan sehingga kita bisa makin dewasa dalam iman sampai saatnya kita berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Tidur tak nyenyak, makan tak enak

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Di saat pandemi ini, umumnya orang merasa was-was dan karena itu lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Mereka yang sadar akan bahaya virus corona tentunya akan menjaga jarak, memakai masker jika perlu, dan rajin mencuci tangan. Sudah tentu semua itu menambah rasa tidak nyaman yang ada saat ini. Bukankah banyak orang terpapar Covid-19 sekalipun sudah berhati-hati? Hidup manusia menjadi tertekan dan rasa damai tenteram mungkin tidak ada lagi walaupun waktu banyak dihabiskan di dalam rumah sendiri. Rasa damai telah hilang – tidur tak nyenyak, makan pun tak enak.

Salah satu hal yang didambakan manusia adalah kedamaian. Kita tahu bahwa bersama kesehatan dan kecukupan, semua orang sebenarnya mengerti bahwa hidup damai juga perlu untuk menunjang kebahagiaan. Tetapi, sekalipun seseorang pada saat ini hidup berkecukupan dan sehat tubuhnya, rasa damai itu belum tentu ada. Malahan rasa damai itu sepertinya sulit didefinisikan, karena tidak bisa dilihat atau dibuat.

Berbagai usaha sering dilakukan manusia untuk mendapatkan rasa damai, misalnya dengan banyak berdoa, menyepi, berpuasa atau bersemedi. Tetapi seringkali rasa damai tentram itu tidak kunjung datang. Apalagi jika keuangan atau kesehatan mulai menurun di saat pandemi ini, rasa gundah dan kuatir mulai muncul.

Mereka yang beruang dan sehat, juga belum tentu bisa mendapatkan rasa damai dalam hidupnya. Biasanya dalam kebosanan hidup mereka mencari kebahagiaan dengan materi dan kegiatan fisik. Mungkin melalui makanan, pakaian, barang mewah, olahraga, pesta pora dan petualangan. Tetapi di saat pandemi ini, kedamaian yang ingin diperoleh manusia adalah sesuatu yang semakin elusif, sulit ditemukan.

Ayat diatas meyatakan bahwa damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang dapat memelihara hati dan pikiran kita, adalah pemberian Allah melalui Kristus Yesus. Jelas bahwa kedamaian yang benar-benar bisa efektif dalam hidup kita bukanlah dari usaha kita sendiri. Manusia sering berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan apa yang bisa memberi ketenangan hidup dalam keadaan apapun.

Apa yang ditentukan Allah dari awalnya untuk membawa kebahagiaan bagi manusia adalah hubungan yang baik antara manusia ciptaanNya dengan Sang Pencipta yang Mahakuasa dan Mahakasih. Karena hubungan ini menjadi rusak sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia kehilangan pegangan hidup dalam perjuangan di dunia. Karena itulah Allah mengirimkan anakNya yang tunggal Yesus Kristus ke dunia.

Yesus Kristus tidak hanya menebus dosa manusia, tetapi Ia memungkinkan manusia yang percaya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Bapa di surga. Dalam suasana yang kurang nyaman saat ini, kesempatan masih ada bagi semua orang yang percaya untuk mengutarakan segala persoalan dan kebutuhan mereka kepada Tuhan secara langsung pada setiap saat, dan dimana pun kita berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Berhati-hatilah dalam menegur orang lain

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Ayat diatas adalah salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, baik di kalangan orang Kristen maupun orang bukan Kristen. Ayat ini kelihatannya mudah dimengerti dan sangat praktis penggunaannya dalam hidup sehari-hari. Sayang sekali, ayat ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekedar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru.

Seringkali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai banyak orang untuk membungkamkan orang Kristen yang menolak perkawinan antar manusia sejenis, kebebasan seksual dan aborsi.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen seringkali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Malahan, ada orang-orang Kristen yang hidupnya tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tuhan Yesus tidak mengajarkan murid-muridNya untuk membiarkan orang lain berbuat semaunya dan tidak juga melarang mereka untuk menegur orang yang keliru dalam hidupnya. Tetapi apa yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah hal menghakimi orang lain dengan cara yang salah. Seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-hakim, menegakkan hukum Tuhan di dunia dengan cara yang benar sebenarnya adalah tugas semua orang Kristen.

Bagaimana kita bisa menjadi “hakim” yang benar di dunia ini? Bagaimana seharusnya kita ikut menegakkan etika dan hukum Kristen dalam hidup sehari-hari? Ada beberapa syaratnya:

  • Kita harus memegang kuat Firman Tuhan. Apa yang baik dan buruk menurut Firman harus dinyatakan kepada semua orang dengan tegas tetapi dengan kasih. Apa yang dibenci Tuhan adalah perbuatan dosa kita dan bukan kita sendiri. Kita juga harus ingat bahwa orang yang sangat buruk hidupnya seperti Paulus, bisa dijadikan seorang Rasul.
  • Kita tidak boleh membeda-bedakan penerapan hukum Tuhan dalam masyarakat dan gereja. Siapapun yang tersesat harus diperingatkan, tidak tergantung pada siapa orangnya. Kita juga harus menegur berdasarkan fakta dan bukan berita. “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Yohanes 7: 24
  • Menegakkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar “omong kosong” saja tetapi dengan tindakan yang berdasarkan Firman. “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain.” Kolose 3: 16
  • Dalam usaha menegakkan kebenaran, kita harus menyadari bahwa semua orang cenderung untuk berbuat dosa. Karena itu, semua orang Kristen terutama mereka yang mempunyai kesempatan dan fungsi sebagai pemimpin dan guru harus mau dan bisa mengintrospeksi diri sendiri, agar bisa memberi contoh dan teladan untuk hidup baik.
  • Kerendahan hati adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan ini harus lebih dinyatakan dalam usaha menegakkan kebenaran Tuhan. Dalam kita menegur orang lain, kita harus sadar bahwa kita pun orang berdosa, tetapi hanya karena kasih Kristus kita sudah diselamatkan.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, dan dengan itu kebenaran Tuhan harus ditegakkan. Walaupun demikian, semua itu harus dilakukan dengan kasih supaya nama Tuhan dipermuliakan.

Pakailah mata rohani, bukan mata jasmani

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Hari ini saya pergi ke sebuah kennel yang sering saya pakai untuk menitipkan anjing saya jika saya bepergian jauh. Kali ini ada kabar buruk yang disampaikan pemilik kennel itu, yaitu bulan depan kennel itu akan ditutup karena sering merugi sejak adanya pandemi. Orang jarang melakukan perjalanan jauh, dan karena itu jaranglah anjing yang dititipkan. Memang kasihan sekali orang-orang yang mempunyai usaha atau menawarkan jasa yang kurang dipandang penting dalam keadaan krisis sekarang ini. Karena itu, orang bisa melihat banyaknya perusahaan kecil yang bangkrut atau yang terpaksa ditutup sebelum bangkrut. Dengan mata, kita bisa melihat banyaknya orang yang tidak mempunyai pekerjaan, yang menantikan bantuan pemerintah.

Jika dengan mata kita bisa melihat bahwa kehidupan manusia di saat ini menjadi porak poranda, hati kita tentunya akan merasa makin sedih karena adanya kemungkinan bahwa keadaan ini belum bisa membaik dalam tahun ini. Apa yang kita lihat dengan mata bisa menghilangkan semangat kita untuk tetap berjuang. Dalam mengalami keadaan yang serupa, Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia tidak memperhatikan apa yang sekarang kelihatan, melainkan apa yang tak kelihatan, karena apa yang kelihatan saat ini adalah sementara, sedangkan apa yang tak kelihatan adalah kekal. Apa yang kita lihat sekarang, bukanlah apa yang akan kita dapat di masa depan. Apa maksudnya?

Paulus berusaha menjelaskan bahwa apapun yang kita lihat selama kita hidup, baik itu penderitaan ataupun kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang abadi. Selama hidup di dunia, orang Kristen harus menjalankan tugas kewajiban mereka, tetapi apapun yang mereka rasakan atau lihat tidak perlu membuat hidup mereka terpengaruh. Hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Tuhan yang tidak kelihatan dan untuk itu mereka cukup bermodalkan iman yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan iman mereka bisa berharap akan masa depan dan yakin akan keselamatan yang sudah diberikan sekalipun mereka masih belum berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Memang manusia cenderung berpikir bahwa apa yang mereka alami atau rasakan adalah faktor yang menentukan kehidupan mereka di dunia. Karena itu mereka merasa bangga dan puas jika mereka berhasil memperoleh kesuksesan, atau merasa tertekan jika mereka mengalami apa yang tidak diharapkan. Bahkan banyak orang Kristen yang percaya bahwa hidup di dunia sebagai orang diberkati Tuhan seharusnya ditandai dengan kemakmuran. Banyak orang mungkin lupa bahwa jika mereka meninggalkan dunia ini, semua harta miliknya tidak akan berguna lagi. Begitu juga, dalam penderitaan orang mungkin lupa bahwa itu adalah sementara. Karena itu kita seharusnya memusatkan pikiran kepada apa yang abadi, yaitu hidup sesudah hidup di dunia. Kebahagiaan di surga adalah hal yang harus kita perhatikan agar selama kita hidup di dunia kita tidak terpikat oleh apa yang bisa dilihat mata saja dan apa yang ditawarkan oleh dunia.

Hari ini, apakah yang anda lihat dengan mata anda? Apakah yang terjadi dalam hidup anda? Apakah yang dialami oleh keluarga anda? Adakah orang-orang yang anda kasihi yang saat ini mengalami sakit atau kesusahan? Adakah rasa tertekan dan rasa sedih dalam diri anda karena adanya hal-hal yang tidak anda harapkan? Firman Tuhan berkata melalui Paulus bahwa kita tidak perlu tawar hati sekalipun apa yang kita lihat dengan mata jasmani kita menunjukkan adanya hal yang tidak baik. Sebagai orang beriman, kita bisa memakai mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertai kita hingga kita bertemu dengan Dia dalam kebahagiaan yang kekal.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” 2 Korintus 4: 16 – 17

Bukan Allah yang membuat manusia menderita

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13-14

Selang setahun sejak munculnya virus corona, orang di negara mana pun masih hidup dalam berbagai penderitaan. Tidak hanya kasus positif yang makin meningkat, korban yang tewas juga bertambah banyak. Dalam keadaan yang makin parah, beberapa negara mulai menjalankan lockdown lagi. Tetapi, rakyat yang sudah merasa sangat jemu terkurung di rumah, sekarang mulai memperlihatkan rasa tidak senang dan bahkan rasa marah kepada pemerintah. Apalagi, dalam situasi saat ini banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Karena itu di beberapa negara ada demo-demo yang menuntut penghapusan pembatasan sosial dan juga orang-orang yang sengaja mengabaikan aturan pemerintah setempat. Apakah Allah yang membuat manusia menderita? Apakah salah manusia sehingga pandemi ini terjadi?

Kitab Kejadian 3 menceritakan bagaimana Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa melalui tipu muslihat iblis. Iblis dengan kecerdikannya berhasil membuat Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada Adam yang bersama-sama dengan dia (Kejadian 3: 6).

Adam dan Hawa jatuh kedalam pencobaan, tetapi siapakah yang sebenarnya bersalah? Allah yang menciptakan pohon itu, iblis yang menjerumuskan manusia, atau manusia yang jatuh kedalam perangkap iblis? Ada orang yang berpendapat bahwa Allahlah yang paling bersalah karena Ia yang menciptakan pohon itu dan Ia seharusnya bisa mencegah iblis dari menipu manusia atau mencegah manusia dari melanggar perintahNya.

Jika pada akhirnya Allah menjatuhkan hukumanNya kepada Adam, Hawa, dan juga iblis, menunjukkan bahwa mereka semuanya sudah bersalah di hadapan Allah. Sebagai keturunan Adam dan Hawa kita terkena getahnya dan harus mengalami berbagai penderitaan selama hidup di dunia. Jika Allah memang mahaadil, hukuman itu adalah sudah sewajarnya, tetapi ada juga orang yang berpendapat bahwa manusia sudah jatuh kedalam pencobaan dari Allah.

Mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan tentang apa yang baik dan yang jahat? Apakah Ia ingin mencobai manusia, ingin menjebak mereka? Alkitab dalam ayat diatas mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dari mulanya Allah menetapkan hukum dan perintahNya agar manusia taat kepadaNya, tetapi bukan untuk menjebak mereka kedalam dosa. Dosa adalah keadaan dimana manusia gagal untuk menaati hukum dan perintah Tuhan.

Allah tidak pernah mencobai kita walaupun Ia mungkin menguji kita. Pencobaan dari iblis berbeda dengan ujian dari Allah. Mengapa Yesus mengajar kita untuk memohon agar Allah tidak membawa kita kedalam pencobaan?

“…dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 13

Doa diatas sebenarnya dimaksudkan agar Allah sudi membimbing dan menguatkan kita agar kita tidak terseret kedalam pencobaan. Bisa terhindar dari godaan iblis sehingga tidak sampai dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan kita sendiri.

Yesus sebagai manusia yang lelah tubuhnya setelah berpuasa 40 hari di padang gurun, juga mengalami pencobaan (Matius 4: 1-11). Ia menghadapi pencobaan yang datang bukan dari Allah Bapa, tetapi dari iblis. Yesus sebagai manusia yang tidak berdosa, tidak dapat dicobai. Ia menghadapi tiga macam bujukan iblis, dan Ia menangkis semua itu dengan cara yang tepat. Pada akhirnya, kemenangan Yesus membawa kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, sekalipun pencobaan bukan dari Tuhan, adanya pencobaan membawa kemuliaan kepada Tuhan ketika umatNya bisa menghadapinya dan tidak jatuh kedalam dosa.

Hari ini kita harus sadar bahwa seperti apa yang ditawarkan kepada Yesus, iblis sering menggoda manusia dengan tiga hal yaitu kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan. Dalam hal ini, keinginan manusia untuk bebas dari perintah dan hukum Allah, membuat manusia mudah terperosok ke dalam tipuan iblis. Selanjutnya, keinginan manusia untuk bebas dari hukum dan aturan pemerintah, membuat manusia melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain.

Hidup di dunia ini tidak mudah karena adanya berbagai pencobaan dan tantangan. Mungkin kita merasa lelah dan takut menghadapi keadaan hidup yang tidak menentu saat ini. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa semua pencobaan itu sebenarnya tidak melebihi kekuatan kita. Biarlah kita selalu berdoa agar kita bisa menghindari pencobaan; tetapi jika kita harus menghadapinya, biarlah kekuatan dari Tuhan memberi kita kemenangan. Karena apakah suatu keadaan yang sulit akhirnya menjadi godaan yang menghancurkan kita atau ujian yang menguatkan kita, itu sering bergantung pada reaksi kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1Korintus 10: 13

Bertekunlah dalam menghadapi ujian

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Bulan Desember 2020 telah menjadi bulan penting dalam perang global melawan COVID-19. Setahun setelah munculnya virus corona, Inggris dan AS telah mulai memberikan suntikan pertama vaksin kepada rakyat mereka. Namun di negara berpenghasilan rendah, penantiannya bisa lebih lama. Pemerintah di seluruh dunia saat ini masih sibuk merundingkan kesepakatan untuk membeli vaksin COVID-19. Tetapi, “perebutan vaksin” ini dapat menunda pengadaan vaksin di negara-negara yang kurang mampu hingga tahun 2024. Rakyat yang sudah merasa lelah dengan berbagai lockdown, sekarang ingin mendapatkan kebebasan sekalipun rasa takut menjadi makin besar karena adanya varian virus yang lebih ganas.

Memang, kita yang hidup di dunia ini sering merasa lelah dan takut dengan keadaan di sekeliling kita. Karena itu, kita mungkin merasa sangat menderita jika gelombang kehidupan yang besar terus melanda. Hal ini agaknya tidak mengherankan, karena tentu tidak ada manusia yang menyenangi adanya masalah kehidupan. Siapa yang tidak ingin hidup yang tenteram dan damai? Seperti ikan yang senang berenang di air tenang, sudah tentu semua manusia mendambakan adanya hidup yang berkecukupan dan yang bisa terus dinikmati. Tetapi itu bukanlah kenyataan hidup.

Adalah fakta bahwa semua makhluk hidup pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan atau berbahaya. Sebagian makhluk malahan sudah punah (misalnya Dinosaurus) karena tidak sanggup memenangkan perjuangan hidup mereka, baik karena keadaan lingkungan maupun serangan makhluk lain. Tetapi manusia sebagai makhluk yang paling besar ukuran otaknya, secara umum tidak pernah mengalami ancaman yang menjurus kearah kepunahan total. Manusia sebagai peta dan teladan Allah diberi kemampuan untuk menghadapi segala tantangan hidup dan justru makin kuat dan makin mampu menghadapi masalah kehidupan, terutama dengan majunya teknologi. Karena itu juga, jumlah manusia di dunia ini makin membengkak dan sekarang lebih dari 7,5 miliar jiwa.

Bertambahnya penduduk dunia tidaklah berarti bahwa semua manusia hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada banyak penduduk di dunia yang masih hidup dalam penderitaan dan kekurangan. Begitu juga dengan bertambahnya jumlah orang yang menemukan keselamatan dalam Kristus, ada banyak yang masih harus berjuang mati-matian dalam hidup sehari-hari. Bagi banyak orang Kristen, gelombang kehidupan yang tidak kunjung reda membuat mereka sangat lelah dan putus asa. Mereka yang ingin untuk mencari ketenangan sekalipun hanya sejenak, seringkali sulit untuk mendapatkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sekalipun adanya gelombang kehidupan saat ini tidaklah membawa rasa nyaman, kita bisa menganggap itu sebagai kebahagiaan, sebagai suatu berkat. Bagaimana mungkin? Itu karena kita tahu bahwa ujian terhadap iman akan membuat kita ingat bahwa kita harus mencari tempat berlindung dalam Tuhan. Tiap-tiap kali kita menghadapi gelombang kehidupan, tiap kali juga kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa melindungi umatNya. Oleh karena itu, dengan adanya tantangan kehidupan, kita bisa menjadi makin tekun dalam berdoa, dalam bersekutu dengan saudara seiman dan dalam mengikuti perintahNya. Gelombang kehidupan selalu ada, tetapi itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Kristus adalah terang

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Kejadian 1:3-4

Sinar matahari adalah berkat Allah yang memungkinkan semua makhluk di dunia untuk hidup. Tanpa matahari yang diciptakan Allah pada hari keempat (Kejadian 1: 14), sebagian besar dari dunia akan mengalami musim dingin dan kegelapan sepanjang masa. Allah memang menciptakan matahari untuk mengusir kegelapan sehingga semua ciptaanNya bisa hidup menurut ritme kehidupan yang teratur. Dengan adanya terang, kegelapan bisa dihilangkan.

Walaupun demikian, dalam ayat pembukaan di atas tertulis bahwa pada hari pertama Allah menciptakan terang dan memisahan terang itu dari gelap. Terlihat pula bahwa ayat itu adalah ayat pertama dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan dengan FirmanNya. Lebih dari itu Allah melihat bahwa terang itu baik adanya. Bagaimana ada terang sebelum ada matahari dan bulan? Apakah terang disini bukan dimaksudkan sebagai terang secara fisik, terang matahari yang kita lihat di siang hari?

Bahwa terang adalah baik dan Tuhan adalah sumber terang, itu sudah dimengerti sejak zaman dulu. Pemazmur dalam Mazmur 27:1 memuji Tuhan sebagai terang dan keselamatannya. Dengan demikian orang Israel mempunyai konsep bahwa Tuhan adalah terang dalam hidup mereka.

“…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Dengan demikian, ketika Yesus berkata dihadapan orang Farisi bahwa Ia adalah terang dunia, orang Farisi tentu mengerti bahwa Yesus mengklaim bahwa Ia adalah sumber kehidupan manusia. Tetapi mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu, karena bagi mereka Yesus adalah orang biasa, anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus datang ke dunia sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Ia datang sebagai terang dari mulanya untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa. Jika Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan, itu berarti Ia mengaruniakan AnakNya untuk mengusir dosa manusia agar manusia bisa memperoleh kehidupan yang kekal.

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Sayang sekali, dalam hidup ini seringkali manusia tidak sadar bahwa mereka hidup dalam kegelapan. Sebagian manusia malahan lebih menyukai kegelapan karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3: 19). Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa ada banyak hal-hal yang tidak baik yang mereka lakukan, mereka akan tetap hidup dalam dosa jika mereka dengan sengaja mengabaikan suara Roh Kudus yang mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Dengan dorongan Roh Kudus, manusia bisa menyadari bahwa mereka akan binasa karena tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari hukuman Tuhan. Hanya karena Yesus sudah datang sebagai terang dunia, kegelapan dosa bisa dihilangkan melalui pengampunan total dari Allah yang terjadi karena darah Kristus sudah tercurah bagi mereka yang mau percaya kepadaNya. Mereka yang sudah diselamatkan akan memakai terang Kristus untuk menjalani hidup baru yang senantiasa mengalami pembaharuan, hari demi hari dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah diberikan kepada umatNya. Mereka melakukan apa yang benar, supaya menjadi nyata bahwa hidup mereka ada dalam Allah Sang Pencipta (Yohanes 3: 21).

Hari ini, ayat diatas adalah panggilan untuk kita menyadari bahwa tanpa Yesus hidup kita akan tetap dalam kegelapan. Mungkin saja kita tidak merasa bahwa sudah lama kita mengabaikan terang Kristus yang dulu pernah datang ke dalam hidup kita ketika kita pertama kali menyatakan iman percaya kita. Mungkin sejak itu, terang api Roh Kudus mulai perlahan-lahan menjadi padam karena kita sering mengabaikanNya. Pagi ini kita diingatkan bahwa jika terang hidup itu tidak bertambah besar dalam hidup kita, besar kemungkinan bahwa terang itu akan mengecil dan kegelapan dalam hidup kita akan bertambah besar. Saat ini adalah saat yang penting untuk kita sadari bahwa kita perlu untuk makin bisa mengikut Yesus dalam terangNya. Dengan memakai terang Kristus, kita akan bisa menghindari kegelapan dosa; dan dengan memancarkan terang Kristus, orang lain akan dapat ikut memuliakan Dia yang sudah mengubah hidup kita.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Yohanes 12: 46

Dalam kesulitan kita harus tetap teguh

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan berbagai kesulitan dan penderitaan dalam hubungan antar manusia karena adanya lockdown dalam berbagai bentuk. Pemerintah Australia saat ini tidak mengizinkan warganya untuk ke luar negeri setidaknya sampai akhir tahun ini. Begitu juga orang yang ingin mengunjungi Australia haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk karantina selama dua minggu di hotel atau perumahan yang ditetapkan pemerintah. Bagaimana pula dengan warga Australia yang berada di luar negeri yang ingin pulang ke negaranya? Inilah yang sangat menyedihkan karena banyak di antara mereka yang tidak dapat menemukan pesawat yang bisa membawa mereka pulang. Sekalipun ada pesawatnya, banyak orang yang tidak sanggup membayar harga tiket pesawat yang sangat mahal saat ini.

Pandemi tidaklah memandang bulu, siapa pun bisa merasakan akibatnya. Bagaimana umat Kristen bisa bertahan dalam menghadapi semua tantangan hidup mereka? Paulus adalah seorang rasul yang suka menggambarkan bahwa hidup orang Kristen adalah seperti seorang atlit, petinju atau pelari yang berjuang untuk menang dalam pertandingan. Itu bukan karena ia adalah seorang olahragawan, tetapi ia sadar bahwa seorang olahragawan perlu mempunyai dedikasi tinggi dalam berlatih dan berlomba. Ia bisa melihat bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi hidupnya tidak seperti yang seharusnya karena kurangnya dedikasi dan iman.

Seperti seorang pelari yang harus menghadapi berbagai perlombaan, kita tahu bahwa sebagai manusia kita akan mengalami berbagai tantangan kehidupan. Jika seorang atlit harus hidup sehat, giat berlatih dan mempunyai keberanian untuk menghadapi semua pertandingan, orang Kristen harus hidup menurut perintah Tuhan, rajin mempelajari firmanNya, giat berdoa dan berani menghadapi tantangan hidup.

Masalahnya adalah adanya satu saat dalam kehidupan kita dimana kita, sekalipun sudah berusaha untuk hidup dalam kebenaran, menghadapi persoalan hidup yang sangat besar sehingga kita seakan membentur sebuah tembok besar. Apa yang terjadi pada diri kita mungkin tidak bisa dirasakan orang lain karena itulah masalah kita pribadi.

Seperti seorang pelari yang sudah merasa sangat lelah, keputusan ada ditangan kita, apakah kita akan terus berlari sebisa mungkin, atau berhenti berlari dan meninggalkan perlombaan. Bagi seorang pelari, perasaan lelah akan bertambah besar ketika ia melihat bagaimana pelari-pelari lain mendahului, tidak ada seorangpun yang bisa menolong untuk mengatasi kelelahannya. Tetapi dalam hidup, kita yang mempunyai iman kepada Tuhan mengerti bahwa kita tidak akan tertinggal sendirian, karena Tuhan sebenarnya ikut berlari bersama kita sampai garis finish (Matius 28: 20).

Hari ini biarlah kita menyadari bahwa hidup ini memang terkadang sangat berat, ketika tubuh dan jiwa kita menjerit seakan ingin menyerah. Begitu banyak hal-hal berat yang sudah terjadi sejak awal tahun lalu dan untuk menghadapi hari-hari mendatang terasa hati kita menjadi semakin kecil. Pada saat yang demikian, seperti seorang atlit yang bertekad untuk mencapai garis finish, iman kita harus mengambil alih pikiran manusiawi kita. Hidup ini memang penuh tantangan, tetapi kekuatan dan keberanian kita akan datang dalam pengharapan kepada Tuhan yang akan memberi mahkota kehidupan di masa depan.

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Dalam Kristus seharusnya ada kedamaian

“Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya.” Mikha 4: 3-4

Hari ini hampir semua media di dunia memberitakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Pelantikan serupa pada tahun-tahun yang silam selalu mengisi berita utama media, tetapi tahun ini agaknya lebih menjadi perhatian orang. Mengapa demikian? Ada banyak sebabnya, antara lain karena adanya demo besar-besaran yang terjadi minggu sebelumnya yang berbuntut tewasnya 5 orang, dan juga karena Presiden yang digantikan tidak mau menghadiri acara pelantikan itu.

Dengan alasan keamanan, suasana pelantikan kali ini tidaklah seperti biasanya karena hanya orang-orang tertentu yang boleh hadir. Memang situasi di Amerika saat ini sangatlah genting dengan adanya pandemi yang sudah menewaskan lebih dari 400 ribu orang dan juga adanya jurang perbedaan pendapat yang besar di antara rakyat Amerika yang disebabkan oleh persaingan antara kedua partai politik utama. Dalam keadaan seperti itu, sungguh membesarkan hati bahwa dalam upacara pelantikan itu ada seorang gadis berkulit hitam, Amanda Gorman, yang membawakan sebuah puisi yang berisi harapan akan masa depan.

Dalam salah satu bait dari puisinya, Amanda menyebutkan bahwa “Alkitab mengajak kita untuk membayangkan bahwa setiap orang akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara milik mereka sendiri dan tidak ada yang akan membuat mereka merasa takut.” Dari mana Amanda mengambil cuplikan di atas? Dari Mikha 4: 4 yang menyebutkan bahwa pada saatnya, umat Tuhan akan hidup dalam damai sejahtera dan bisa menikmati segala berkat Tuhan. Pada waktu itu, tidak ada lagi orang atau bangsa yang berperang karena semua umat Tuhan akan hidup dalam kedamaian.

Barangkali harapan Amanda untuk bangsa Amerika adalah seperti harapan umat Tuhan yang percaya akan apa yang dijanjikan Tuhan. Tidak akan ada permusuhan, kekacauan dan penderitaan di masa depan. Sudah tentu ini hanyalah harapan. Selama hidup di dunia, manusia harus membanting tulang untuk mencari nafkah dan menghadapi segala macam tantangan. Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung satu tahun, dan kita belum tahu kapan itu akan berakhir. Bagaimana pula dengan perseteruan antar golongan dan antar manusia? Sejak Kain membunuh Habel, manusia tidak pernah bisa memadamkan api kemarahan, iri hati dan kebencian!

Memang di dunia ini semua orang yang bijak tentunya ingin hidup dalam kedamaian, ingin untuk menikmati pohon anggur dan pohon aranya. Tetapi di dunia ini iblis mengembara, dan seperti singa yang mengaum-aum ia mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5: 8). Karena itu, di dunia ini selalu ada masalah, permusuhan dan kebencian. Ayat di atas mungkin menggambarkan keadaan setelah kedatangan Kristus kedua kalinya yang tidak kita ketahui saatnya. Lalu bagaimana pula dengan hidup kita selama di dunia?

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan yang sudah berfirman bahwa selaku umat pilihanNya kita akan mengalami saat dimana kita secara bersama bisa menikmati suasana damai. Selaku umatNya sebenarnya kita tidak perlu menunggu sampai saat kedatangan Kristus untuk memperoleh keadaan damai. Sebagai orang Kristen seharusnya kita mau untuk membawa damai di bumi ini karena hanya kita tahu dalam Kristus ada rasa damai yang sempurna. Karena itu biarlah kita bisa menjadi orang-orang yang membawa damai dalam masyarakat di sekeliling kita, dan bisa menunjukkan kepada seisi dunia bahwa kita adalah anak-anak Allah.

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Matius 5: 9

Apakah maksudMu, Tuhan?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Dengan adanya pandemi yang tidak kunjung mereda saat ini, setidaknya keadaan ekonomi, pendidikan dan pekerjaan di banyak negara mengalami kemunduran. Sekalipun beberapa vaksin sudah ditemukan dan bahkan mulai disuntikkan, dalam kenyataannya keadaan dunia tidak akan membaik dengan cepat. Sebaliknya, menurut para ahli, situasi akan bertambah buruk selama tahun 2021 sebelum bisa mulai membaik pada tahun sesudahnya.

Banyak orang yang sudah hampir setahun terkurung dalam rumah, keadaan saat ini sungguh terasa membosankan untuk tidak dikatakan menyedihkan. Mereka yang masih belajar mungkin hanya bisa melakukannya secara daring melalui internet. Begitu juga mereka yang biasanya ke kantor setiap hari, saat ini mungkin harus bekerja dari rumah. Mereka yang biasanya bekerja di rumah sakit, toko, pabrik atau lapangan sudah tentu tidak dapat bekerja dari rumah. Dengan demikian jika ada orang-orang yang masih beruntung mempunyai pekerjaan di luar rumah pada saat ekonomi yang suram ini, mereka mungkin harus melupakan risiko tertular virus corona.

Sebelum adanya pandemi, keadaan dunia umumnya cukup baik. Ketika itu kita baru saja memasuki tahun 2020 dan setiap orang mempunyai harapan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Adanya pandemi seharusnya mengingatkan manusia bahwa masa depan mereka sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini.

Sekalipun keadaan saat ini dapat dikatakan kritis, mereka yang tetap berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Sebaliknya, mereka yang menuruti kehendak sendiri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah orang-orang yang bodoh.

Memang dalam keadaan yang normal, orang yang tidak mengenal Tuhan selalu yakin bahwa hidup mereka ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam keadaan yang gawat sekarang ini, mereka merencanakan segala sesuatu yang baik untuk diri sendiri dan menurut cara-cara mereka tanpa mempedulikan orang lain. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan dan kehendak mereka hanya akan terjadi jika itu sesuai dengan rancangan Tuhan.

Hari ini biarlah kita mau berdoa untuk masa depan kita, masa depan bangsa dan keadaan dunia. Kesadaran bahwa Tuhan yang mahakuasa mencintai orang-orang yang tulus, jujur dan suka damai, seharusnya menambah keyakinan kita bahwa sekalipun awan tebal menutupi langit saat ini, pada waktunya kita akan melihat sinar matahari lagi.

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 7