Apakah segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan?

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Hitler dan pengikutnya yang menyebabkan ribuan orang Yahudi, baik tua atau muda, mati di kamar gas pada perang dunia kedua, tentu dipandang sebagai orang yang sangat jahat. Apakah Tuhan menghendaki Hitler untuk melakukan kekejaman itu?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendakNya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat Hitler melakukan kekejiannya. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seijin Tuhan.

Dengan seijin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengijinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengijinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengijinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendakiNya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi resiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan kedalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umatNya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencanaNya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “ijin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendakiNya, tanpa dipengaruhi oleh apapun dan siapapun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Pagi ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umatNya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umatNya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendakNya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Hal kesembuhan di zaman sekarang

“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.” Lukas 9: 1 – 2

Adalah suatu kenyataan bahwa setiap orang di dunia ini tentunya pernah jatuh sakit. Memang, dunia sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa adalah dunia yang penuh masalah dan penderitaan. Alkitab menceritakan berbagai masalah kesehatan yang mengganggu hidup manusia, terutama dalam kitab perjanjian baru, dimana berbagai penyakit sudah disembuhkan oleh Yesus dan murid-muridNya.

Sudah tentu bahwa ilmu pengetahuan manusia pada zaman dulu tidaklah seperti zaman ini. Ilmu kedokteran saat itu belumlah berkembang dan dengan demikian orang mungkin lebih bergantung pada doa dan keajaiban untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang tidak dapat diobati oleh para tabib yang ada.

Kedatangan Yesus ke dunia membawa dimensi baru dalam hal kesembuhan. Alkitab mencatat bahwa Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya (Markus 3: 10). Jika sebelum kedatanganNya, orang tidak mempunyai banyak harapan untuk mendapat kesembuhan, Yesus memberi kepastian bahwa sebagai Anak Allah Ia bisa mengalahkan segala penyakit dan bahkan kematian.

Kepada murid-Nya Yesus juga memberikan tenaga dan kuasa untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Memang, dalam paket keselamatan Yesus, Ia mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Semua itu dimaksudkan agar orang pada zaman itu bisa mengenal Yesus Sang Juruselamat dan memuliakan Allah Bapa yang mengutusNya.

Bagaimana pula dengan keadaan di zaman sekarang? Hal kesembuhan yang ajaib masih kita dengar atau alami, tetapi agaknya tidak sesering dulu. Sebaliknya, kita melihat bahwa banyak orang sakit menjalani pengobatan dan mengalami kesembuhan melalui pengobatan modern. Semua itu tentunya merupakan berkat dari Tuhan, yang memungkinkan apa yang baik untuk bisa dipakai manusia. Yesus yang sudah menyelesaikan tugas penyelamatanNya, tidak lagi perlu untuk mengelilingi dunia dan melakukan penyembuhan ilahi seperti dulu.

Sebagian umat Kristen masih percaya bahwa keadaan sekarang masih tetap seperti dulu. Akibatnya, mereka yang sakit mungkin kurang mempercayai ilmu kedokteran, tetapi lebih mengharapkan adanya keajaiban. Selain itu, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa ilmu kedokteran adalah ilmu manusiawi, dan kesembuhan yang paling baik bukanlah melalui ilmu itu.

Salahkah jika kita masih mengharapkan pemeliharaan dan kesembuhan ilahi di zaman ini? Tentu tidak! Alkitab menulis bahwa Tuhan tidak berubah. KasihNya tetap sama, begitu juga kuasaNya. Jika Ia menghendaki keajaiban terjadi di zaman ini, itu pasti akan terjadi. Kuasa Tuhan ada dan bekerja dalam segala hal, baik itu dalam hal yang kita mengerti maupun dalam hal yang kita kurang mengerti.

Ilmu kedokteran di zaman ini sudah jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh Lukas, yang pada waktu itu bekerja sebagai tabib (Kolose 4: 14). Lukas yang pada waktu itu mengabarkan injil bersama Paulus, tentunya sadar bahwa dibalik semuanya Tuhanlah yang bekerja. Begitu juga kita yang hidup di zaman modern ini harus percaya bahwa Tuhan tetap memelihara kesehatan kita melalui segala apa yang baik. Ilmu kesehatan dan kedokteran adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri.

Pagi ini, adakah masalah kesehatan yang anda hadapi? Percayakah anda bahwa Tuhan tetap peduli akan penderitaan manusia di bumi? Tahukah anda bahwa Ia ingin supaya manusia bisa mengenalNya melalui apa yang baik yang sudah diberikanNya?

Tuhan sudah memberikan berkatNya melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia, dan karena itu kita tetap bisa melihat berbagai keajaiban yang dilakukanNya termasuk apa yang terjadi melalui ilmu kedokteran. Bersyukurlah bahwa Tuhan itu baik, dan jangan sia-siakan kasihNya!

Bertahan dalam Kristus

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Dalam hidup ini, semua orang tentunya mendambakan kebahagiaan. Mungkin bagi sebagian orang, kebahagiaan berarti kecukupan dalam segala sesuatu, kesehatan yang baik sampai hari tua, ataupun kehidupan anak cucu yang bisa dibanggakan. Segala sesuatu yang baik tentunya diidamkan setiap orang, dan tentunya tidak ada orang yang menginginkan kesulitan atau penderitaan dalam hidup ini. Walaupun demikian, dinamika hidup adalah sedemikian sehingga orang sulit untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu kata sebuah peribahasa.

Memang, sekalipun banyak orang yang mengajarkan bahwa nasib kita ada ditangan kita sendiri, dalam kenyataannya, hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam tangan manusia. Semakin lama kita hidup di dunia, semakin kita bisa melihat bahwa seringkali manusia berusaha, tapi kelihatannya Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Memang, apapun yang terjadi di dunia ini tentunya terjadi dengan seijin Tuhan; dan jika manusia mencoba untuk melakukan apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, pada akhirnya apa yang didapat belum tentu seperti apa yang diharapkan.

Lalu bagaimana pula dengan adanya kesulitan dalam hidup? Sekalipun kita tidak menyukainya, seringkali berbagai masalah justru muncul pada saat yang tidak kita inginkan. Apakah itu kehendak Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang dengan sungguh-sungguh mencari pasangan hidupnya dan kemudian mengalami berbagai masalah dalam perkawinan? Atau seorang pengendara mobil yang berhenti karena melihat adanya bahaya, tetapi justru ditabrak orang lain dari belakang? Sekalipun manusia sudah berhati-hati dalam segala sesuatu, apa yang terjadi belum tentu baik adanya. Apakah hal-hal yang sedemikian juga dikehendaki Tuhan? Belum tentu!

Dalam ayat diatas, Paulus menulis bahwa dalam usaha untuk mengabarkan injil, ia dan rekan-rekannya sering mengalami kesulitan besar; tertindas, dianiaya dan dihempaskan. Mereka berusaha melebarkan kerajaan Tuhan, dan sudah tentu Tuhan tidak menghendaki mereka mengalami berbagai masalah. Tetapi, apa yang terjadi adalah konsekuensi hidup di dunia yang penuh dosa. Lebih-lebih lagi, iblis pun berusaha untuk menghalangi umat Tuhan yang ingin berbuat baik.

Tuhan memang seringkali terasa diam dalam hidup ini. Ia tidak terlihat bertindak untuk mengatasi masalah kita. Mengapa Ia mengijinkan semua masalah untuk muncul dalam hidup kita dan kemudian seakan diam membisu? Bukankah Ia sanggup untuk menghilangkan atau menyelesaikan semua masalah? Itu memang sulit untuk dimengerti, tetapi sebagai umat percaya kita harus yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana. Jika Ia mau bertindak tentu saja Ia bisa. Tetapi jika Ia tidak bertindak seperti yang kita harapkan, itu pun adalah sesuai dengan kehendakNya. Apa yang dilakukan (kehendak aktif) atau tidak dilakukan olehNya (kehendak pasif) selalu mempunyai arti dan maksud, yang sesuai dengan kehendak agungNya sekalipun kita sering tidak mengerti mengapa itu harus terjadi.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, satu hal yang harus kita yakini: bahwa Tuhan memegang kendali. Terkadang Ia serasa tidak peduli, tetapi apa pun yang kita alami seharusnya membuat kita lebih bisa bergantung kepada Dia, agar kita bisa menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang mahakuasa. Kita juga bisa belajar untuk bersabar dan percaya kepada kasihNya selama kita menunggu pertolonganNya.  Kita memang manusia yang lemah, tetapi Tuhan selalu mau memberikan kekuatan yang melimpah kepada mereka yang beriman kepadaNya.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4: 7

Siapakah sesamaku?

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 -44

Alkisah adalah seorang Yahudi yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia pun melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Orang Samaria itu membalut luka-lukanya, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan memintanya untuk merawat si korban sampai ia kuat kembali.

Kisah ini adalah kisah yang sangat terkenal yang diceritakan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menjelaskan arti sesama manusia (Lukas 19: 25 – 37). Perumpamaan “Orang Samaria yang baik hati” ini dikenal sebagai “The Good Samaritan” dalam bahasa Inggris. Saking terkenalnya perumpamaan ini, mereka yang menolong orang yang tidak dikenal sering dinamakan the good Samaritan. Di negara barat seperti Australia dan Canada malahan ada hukum (Good Samaritan laws) yang melindungi secara hukum mereka yang menolong orang lain jika korban kemudian tidak tertolong dan keluarganya tidak terima. Dengan demikian, mereka yang bermaksud baik untuk menolong orang lain yang mengalami kecelakaan, tidak perlu kuatir untuk dituntut di pengadilan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Perumpamaan Yesus diatas berdasarkan kenyataan bahwa orang Yahudi tidak menyenangi orang Samaria yang termasuk golongan minoritas pada waktu itu. Karena itu sudah sewajarnya jika orang Yahudi itu tidak mengharapkan untuk mendapat pertolongan dari orang Samaria. Tetapi, justru orang yang tidak disenanginya adalah orang yang mau menolongnya. Orang Samaria itu adalah “sesama manusia” bagi orang Yahudi yang mengalami bencana itu, dan bagi orang Samaria yang baik hati itu tentunya orang Yahudi itu adalah sesamanya. Sesama manusia dengan demikian adalah orang yang mau mengasihi orang lain,  sekalipun orang lain itu nampaknya berbeda dan tidak menyukainya. Sesama manusia adalah orang lain yang mau menolong kita jika kita dalam kesulitan, sekalipun orang itu bukan teman kita. Kita bisa menjadi sesama manusia untuk orang lain jika kita mau mengasihi mereka yang tidak menyukai kita.

Dalam kenyataannya, menjadi sesama manusia untuk orang lain itu tidak mudah. Apa sebabnya? Manusia sejak dilahirkan mengalami berbagai pengalaman hidup, baik yang indah maupun yang kurang menyenangkan. Karena suasana lingkungan, faktor budaya, dan pengalaman pribadi, orang cenderung untuk mempunyai perasaan bahwa orang-orang tertentu adalah orang-orang yang kurang baik atau lebih rendah derajatnya. Apalagi, jika faktor politik dan kepercayaan ikut dimasukkan, orang mudah sekali untuk membenci orang-orang tertentu. Bagi mereka yang kita kurang senangi mungkin mudah muncul perasaan bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat, yang dibenci Tuhan. Karena itu, mungkin ada juga “perasaan syukur” jika  orang-orang yang kurang kita senangi itu kemudian mengalami bencana. Memang, secara naluri manusia yang berdosa mudah untuk mengasihi orang yang serupa, tetapi membenci mereka yang berbeda.

Yesus dalam ayat diatas menjelaskan bahwa jika dunia mengajarkan bahwa kita harus mengasihi orang-orang yang pantas untuk dikasihi, Ia memerintahkan kita untuk mengasihi semua orang, termasuk musuh-musuh kita; dan kita harus juga berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Yesus sendiri melakukannya ketika Ia berdoa untuk mereka yang menyalibkanNya.

 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23: 34

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai pengikutNya yang sudah menerima pengampunan dari Allah, kita harus menyatakan kasihNya kepada semua orang.  Seperti Allah yang sudah mengirimkan Yesus Kristus ke dunia agar semua orang yang percaya bisa diselamatkan, kita tidak boleh membatasi kasih kita kepada keluarga dan teman kita, atau kepada orang yang sesuku, sebangsa atau seiman saja. Kita tidak dapat membatasi kasih kita kepada orang-orang yang kelihatannya dikasihi Tuhan. Memang  bagi siapapun, adalah lebih mudah untuk mengasihi orang-orang yang kelihatannya baik dan mengasihi kita, tetapi itu bukanlah yang diperintahkan Yesus kepada kita. Seperti Allah mengasihi seisi dunia, kitapun harus bisa mengasihi semua orang tanpa pandang bulu.

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Lukas 6: 36

 

Harga keadilan sosial

” Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 6 – 7

Hal membayar pajak adalah sesuatu yang agak sensitif. Dimanapun kita berada, hampir tidak ada orang yang dengan senang hati membayar pajak. Tetapi membayar pajak adalah sebuah keharusan bagi setiap penduduk negara, karena pemerintah hanya bisa menjalankan mandatnya dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak (tax revenue). Sekalipun penduduk negara secara keseluruhan bisa memperoleh penghasilan besar dari usaha mereka, negara tetap tidak dapat maju jika uang pemasukan dari pajak tidak cukup besar untuk membangun berbagai infrastruktur dan untuk menjalankan berbagai fungsi pemerintahan.  Dalam keadaan demikian, sebagian penduduk mungkin hidup dalam kelebihan dan kenyamanan, tetapi mereka yang kurang mampu akan hidup menderita karena fasilitas sosial yang tidak berkembang.

Alkitab mengisahkan saat dimana orang-orang Farisi berusaha mencobai Yesus dalam hal membayar pajak. Dalam kitab Matius 22: 15 – 22 diceritakan  bagaimana mereka bertanya kepada Yesus apakah mereka, orang Yahudi, diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar Romawi atau tidak. Yesus kemudian menjawab dengan tegas:

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Matius 22: 21

Jelaslah bahwa membayar pajak kepada pemerintah adalah suatu kewajiban, sekalipun orang mungkin tidak menyenangi pemerintah yang ada.

Ayat dari Roma 13: 6 – 7 diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma lebih jauh menegaskan bahwa pemerintah yang ada adalah wakil Allah di dunia, dan karena itu orang Kristen harus mau membayar pajak kepada pemerintah yang sah, dan mempunyai rasa takut hormat kepada pemerintah yang berfungsi untuk menegakkan hukum dan melindungi masyarakat.

Membayar pajak juga merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan hukum Tuhan untuk mengasihi sesama kita. Didalam sebuah negara, keadilan sosial tidak mudah untuk dicapai jika pemerintah tidak mempunyai dana yang cukup yang berasal dari pajak. Dengan demikian, mereka yang mempunyai penghasilan yang cukup tetapi segan membayar pajak, pada hakikatnya tidak peduli dengan penderitaan dan kebutuhan orang lain. Sebagian orang mungkin segan membayar pajak karena kekuatiran bahwa uang pajak akan disalahgunakan. Tetapi pandangan semacam ini sudah tentu hanyalah alasan yang tidak didukung oleh prinsip kasih dan hormat yang diajarkan dalam Alkitab.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap orang mempunyai kewajiban kepada negara dan masyarakat yang harus dijalankannya. Demikian pula setiap pemerintah sebenarnya adalah wakil Tuhan di dunia yang bertanggung-jawab untuk kesejahteraan rakyatnya dan untuk menegakkan hukum. Oleh sebab itu kita harus mau menunjang pelaksanaan hukum dan prinsip keadilan sosial baik secara langsung maupun melalui doa-doa kita. Biarlah sebagai orang Kristen kita bisa berfungsi sebagai lampu yang memancarkan sinar yang terang kepada masyarakat disekitar kita, sekalipun itu tidak mudah dilakukan.

Kehendak Tuhan selalu baik

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3 – 6

Tuhan yang mahakuasa adalah mahakasih. Itulah Tuhan yang dikenal oleh umat Kristen. Memang kasih Tuhan itu terlihat dalam pemeliharaanNya setiap hari, tetapi yang paling bisa disadari adalah kasihNya yang memungkinkan manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus.

Siapakah manusia yang beruntung mendapatkan karunia Tuhan yang cuma-cuma itu? Pada zaman sebelum Yesus, orang Yahudi percaya bahwa merekalah satu-satunya bangsa yang diselamatkan. Tetapi, sesudah Yesus datang ke dunia, Alkitab menyatakan bahwa keselamatan tersedia untuk semua orang yang percaya (Yohanes 3: 16). Itu bukan untuk orang Yahudi saja, tetapi untuk segala bangsa dan seluruh umat manusia di dunia; dengan persyaratan bahwa mereka harus percaya kepada Yesus.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17 – 18

Walaupun manusia sejak penciptaan makin berbudaya dan makin pandai, adalah kenyataan bahwa untuk percaya kepada Allah dan kepada AnakNya tidaklah mudah untuk dilakukan manusia. Tanpa pertolongan Tuhan, tidaklah mungkin manusia mengenal Allah. Manusia dengan usahanya sendiri tidak akan menemui keselamatan. Seluruh umat manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang terhilang, yang tidak dapat menemukan jalan yang benar. Tetapi untunglah, karena kasihNya Allah menghendaki mereka yang percaya kepada Yesus untuk diselamatkan sekalipun mereka pernah hilang.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataanNya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka.

Pagi ini, sebuah pertanyaan untuk kita semua, apakah kita menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada orang yang lebih baik dan lebih pantas untuk diselamatkan. Bagi Tuhan, semua orang sudah berdosa. Tidakkah kita heran mengapa Tuhan menghendaki supaya semua orang diselamatkan, dan itu termasuk diri kita dan seluruh anggota keluarga kita? Bukankah Ia adalah Allah yang mahakasih? Pujilah Dia selalu!

Tuhan adalah setia dan adil

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 8 – 9

Buah mangga adalah buah yang sangat populer, bukan saja di Indonesia tetapi juga di Australia. Banyak jenis mangga yang ada di Indonesia, tetapi barangkali mangga gadung dan manalagi adalah yang paling populer. Di Australia juga ada banyak jenis mangga, tetapi umumnya tidak seenak mangga Indonesia. Mangga di Australia termasuk barang lux, karena mahalnya. Karena itu jika orang mempunyai pohon mangga di rumah, itu adalah suatu berkat yang benar-benar bisa dinikmati.

Walaupun memilihara pohon mangga tidaklah sukar karena pohon itu termasuk tahan cuaca dan dapat hidup tanpa bantuan manusia, musuh pohon yang besar itu adalah binatang yang kecil: lalat. Lalat buah memang bisa memasukkan telurnya kedalam buah mangga selagi masih muda, dan setelah buah itu dipetik orang bisa menjadi kecewa karena buah itu sudah mengandung banyak ulat didalamnya. Buah yang sedemikian, sekalipun tidak semua dagingnya berulat, umumnya harus masuk ke tempat sampah. Tidak bisa dijual, tidak bisa dimakan.

Seperti mangga yang sudah diisi telur lalat, begitu juga manusia yang sudah dicemarkan oleh dosa. Kita dengan demikian selalu berbuat dosa karena kita adalah orang yang berdosa dari awalnya. We sin because we are sinners. Dosa kita bisa muncul dalam segala segi kehidupan kita, baik itu dosa yang terlihat signifikan atau dosa yang dianggap kecil. Itu bukan berarti bahwa hidup kita mirip buah mangga yang sudah 100% busuk, tetapi seperti buah mangga yang sudah tercemar dengan kebusukan sehingga tidak lagi bisa dimakan. Begitulah semua manusia sudah cemar di hadapan Tuhan yang mahasuci.

Sebagian orang berkata bahwa sekalipun manusia yang sejahat apapun, tentu ada sebagian dari hidupnya yang terlihat baik. Itu benar. Sebaliknya, orang tentunya tahu bahwa  dalam hidup seseorang yang terlihat baik, ada saja hal-hal yang kurang baik. Sebagian manusia mencoba memperbaiki hidupnya dengan berbuat baik; tetapi karena dosa sudah meracuni hidup manusia, apapun yang mereka perbuat tidak dapat membawa kepada kesucian atau keselamatan. Dosa sudah meracuni hidup dan pikiran kita sehingga apapun yang kita lakukan selalu tercemar oleh dosa yang kita sadari atau tidak kita sadari. Dosa yang berada dalam hidup kta adalah seperti kebusukan yang sangat dalam (radical corruption) sehingga apapun yang kita perbuat tidak dapat memperbaiki hidup kita. Memang benar bahwa melalui pendidikan dan belajar pengalaman, mungkin orang bisa terlihat baik dari luar, tetapi akar dosa tetap ada dalam hidup kita.

Pagi ini kita harus sadar bahwa untuk mengubah hidup kita  dari sesuatu yang ditolak Tuhan guna menjadi sesuatu yang bisa diterima Tuhan tidaklah mudah. Dengan tenaga kita sendiri tidaklah mungkin kita bisa menghilangkan kebusukan dosa yang sudah tertanam dalam hidup kita.  Untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan meminta pengampunanNya. Hanya dengan pengampunanTuhan, hidup manusia yang sebenarnya sudah digolongkan sebagai sampah, bisa diselamatkan dari kebinasaan melalui penebusan darah Kristus. Lebih dari itu, kepada kita yang sudah menerima pengampunan, Tuhan memberikan bimbingan Roh Kudus untuk bisa memperbaiki hidup kita, dan untuk membimbing kita guna menghindari apa yang jahat, hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia. 

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24