Takut akan Tuhan dalam hidup bermasyarakat

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8: 13

Apakah anda takut akan Tuhan? Pertanyaan ini mungkin dijawab oleh orang Kristen dengan kata “ya” dengan penuh keyakinan. Bagaimana tidak? Tuhan kita adalah mahakuasa dan tentunya kita tidak mau membuat dia marah. Sekalipun Tuhan itu mahakasih, kita mengerti bahwa Ia yang mahasuci tidak suka untuk diabaikan oleh manusia. Sekalipun Tuhan itu tidak terlihat mata, kita mengerti bahwa Ia adalah mahatahu.

Dengan memikirkan keyakinan diatas, kita mungkin bisa merasa heran bahwa ada orang-orang Kristen yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Berita dalam media memang sering menyebutkan adanya hal-hal yang jahat yang dilakukan mereka yang percaya adanya Tuhan. Bagaimana orang bisa pada satu pihak percaya dan takut akan Tuhan, tetapi pada pihak yang lain mempunyai sikap yang kurang baik terhadap sesamanya?

Kita sebenarnya tidak perlu berpikir jauh-jauh sebab semua orang cenderung mempunyai kelakuan yang sama. Kita pun sering melakukan hal yang serupa! Takut kepada Tuhan seringkali hanya dalam konteks hubungan pribadi secara vertikal dengan Tuhan, tetapi melupakan hubungan horisontal dengan sesama manusia.

Sejarah mencatat bahwa bagaimana misionaris yang pergi mengabarkan injil ke negara lain, menjalankan tugas itu dengan menempatkan diri mereka sebagai penguasa dan memperlakukan penduduk setempat secara kejam dan semena-mena. Mungkin kita berpikir bahwa itu terjadi pada zaman dulu, sewaktu hukum dan etika belum berkembang; tetapi sesungguhnya kita pun bisa melakukan hal yang serupa di zaman modern ini dengan mengabaikan perasaan , penderitaan, kebutuhan dan hak azasi sesama manusia. Keadaan yang lebih buruk malah bisa terjadi jika faktor kedudukan, politik dan uang ikut berbicara.

Ayat diatas memperingatkan apa yang perlu kita sadari dalam hidup kita sebagai orang yang takut akan Tuhan. Bahwa takut kepada Tuhan bukan hanya sekedar konsep untuk mengasihi dan menghormati oknum Tuhan itu saja, tetapi juga mengasihi dan menghormati sesama kita, baik itu orang Kristen maupun bukan Kristen. Kita harus mengasihi semua orang tanpa memandang bulu, dan menghargai orang lain tanpa memandang muka, dan berlaku jujur kepada orang lain. Itu karena takut akan Tuhan berarti membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan dan kebohongan.

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” 1 Yohanes 4: 20

Hal memerangi kesia-siaan

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12: 36

Siapa yang tidak suka beromong kosong? Di zaman ini, agaknya semua orang melakukannya. Bukan hanya rakyat jelata yang duduk di warung kopi, atau mereka yang “gaul” dan yang sering pergi ke mal, tetapi juga mereka yang sibuk bekerja. Mereka yang bisa menggunakan berbagai gadget sekarang bahkan bisa beromong kosong melalui media. Agaknya berbincang-bincang tanpa tujuan yang pasti itu memang ciri manusia modern yang mengaku sibuk tetapi masih mempunyai banyak waktu untuk membicarakan hal apa saja.

Seiring dengan kegemaran beromong kosong, orang sekarang agaknya juga ingin untuk hidup rileks, kurang mau bekerja keras, tetapi tetap ingin mencapai hasil yang besar. Mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tentu menyadari bahwa pada zaman ini banyak murid yang pergi ke sekolah atau ke universitas dengan pikiran yang kosong, yang tidak terfokus pada mata pelajaran, sekalipun mempunyai cita-cita besar.

Omong kosong dan pikiran kosong adalah ciri hidup yang kosong. Itu tidak hanya terjadi diantara kaum muda, tetapi juga dialami mereka yang sudah termasuk tua. Apalagi bagi mereka yang sudah tidak mempunyai beban kehidupan, hidup mereka mungkin tidak lagi mempunyai target yang nyata. Hari demi hari dilewati dengan santai, sekalipun terkadang kebosanan datang juga karena hari yang terasa panjang.

Rasa bosan itu sendiri belum tentu dosa. Rasa bosan baru menjadi dosa jika itu menguasai hidup kita sehingga hidup kita tidak bisa menghasilkan apa yang baik. Rasa bosan adalah gejala hidup yang kurang sehat dimana kebahagiaan dan kepuasan tidak ada, atau makin berkurang. Rasa bosan bisa berakibat kesia-siaan dalam perkataan, perbuatan dan hidup sehari-hari. Rasa bosan yang tidak teratasi akan berkembang makin besar karena berkurangnya kebahagiaan seiring dengan bertambahnya kebosanan.

Apakah kebosanan itu ada sejak mulanya? Apakah kebosanan ditanamkan Tuhan dalam diri manusia ketika Ia menciptakan mereka? Rasa bosan sudah pasti tidak dipunyai Tuhan yang mahakasih dan mahasetia. Jika Tuhan bisa merasa bosan, tentu manusia tidak akan dapat melihat kesabaranNya yang ada sampai saat ini. Manusia yang diciptakanNya berbeda dengan Sang Pencipta, dan karena itu dalam keterbatasannya ia bisa merasa bosan dan kesepian. Rasa bosan sering timbul jika manusia hidup jauh dari Tuhan. Jika hubungan dengan Tuhan menjadi renggang, manusia akan kehilangan motivasi hidup karena ia tidak bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan tidak dapat merasakan kasihNya.

Tuhan menghendaki kita untuk memuliakanNya dan mengasihi sesama kita. Adanya kasih kepada Tuhan dan kepada sesama adalah sesuatu yang membuat hidup manusia mempunyai makna. Memang banyak orang yang mencari makna kehidupan melalui pekerjaan, kemewahan dan kesuksesan; tetapi semua itu adalah sementara saja. Kenikmatan duniawi tidaklah dapat bertahan lama. Usia, penyakit, kegagalan, kerugian dan berbagai persoalan selalu ada dalam hidup manusia. Dan itu bisa membuat hidup manusia menjadi kosong.

Pagi ini tentu hanya anda yang tahu apakah anda merasa bosan; apakah anda merasa adanya kekosongan hidup. Mungkin anda jauh dari keluarga, atau merasa bahwa tidak ada hal apapun yang bisa menggairahkan hidup anda. Anda mungkin merasa bingung, bagaimana hari ini bisa dilalui tanpa kebosanan. Mungkin anda masih bisa merasa beruntung, jika ada orang-orang yang bisa diajak untuk berbincang-bincang tentang apa saja, sekedar omong kosong untuk mengisi waktu. Tetapi ayat diatas dengan tegas berkata bahwa setiap orang yang memakai kata-kata yang kosong dan tidak berarti, haruslah mempertanggung-jawabkannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara santai, tetapi berarti bahwa dalam apapun yang kita ucapkan dan lakukan dalam hidup ini, haruslah membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan dan melihat apa yang kita lakukan, dan karena itu kita harus bisa mengisi hidup kita dengan apa yang berguna.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4: 17 – 18

Setialah sampai mati

“Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita” 2 Timotius 2: 11 – 12

Sehidup semati. Semboyan yang lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Mereka yang menikah, biasanya berjanji untuk hidup bersama sampai mati, untuk melewati hari baik dan hari buruk, selagi kaya atau miskin, pada saat sehat atau sakit. Tetapi, dalam kenyataan hidup ini banyak orang yang begitu mudah untuk bercerai ketika keadaan rumah tangga mulai berantakan. Apalagi di kalangan orang ternama dan mereka yang mampu, untuk mendapatkan yang terbaik seringkali diartikan membuang yang lama dan membeli yang baru, karena adanya banyak pilihan yang bisa dicoba.

Alkitab menggambarkan hubungan orang Kristen dengan Tuhan adalah seperti hubungan antara suami dan istri. Karena orang Kristen adalah seperti mempelai yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Yesus yang sudah berjanji untuk menyertai kita untuk selamanya, mengharapkan agar kita juga setia kepadaNya dalam setiap keadaan. Sehidup semati.

Janji sehidup semati kepada Tuhan tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Banyak orang yang merasa bahwa adalah tugas pasangannya untuk menjamin kebahagiaannya dalam rumah tangga, dan karena itu siap untuk meninggalkannya jika keadaan tidaklah seperti yang diharapkan. Begitu juga banyak orang Kristen yang mengharapkan hidup yang penuh kemakmuran dan kesuksesan jika mereka mengikut Yesus, kemudian goncang imannya ketika hidup berubah menjadi buruk. Apa gunanya mengikut Tuhan? Bukankah Tuhan sudah berjanji memberi umatNya kebahagiaan dan kelimpahan?

Rasul Paulus yang menulis surat kepada Timotius diatas, adalah orang yang merasakan banyaknya asam-garam kehidupan. Ia pernah menjadi tokoh agama, orang kaya, pandai dan ternama, orang yang kejam terhadap pengikut Kristus. Tetapi, sesudah ia bertobat, Paulus berubah menjadi rasul yang bijaksana, penuh kasih, dan benar-benar taat kepada Kristus dalam setiap keadaan, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kelimpahan atau kekurangan; dan bahkan ketika hidupnya dalam bahaya, ia tetap berharap kepada Tuhan. Ia setia sampai mati.

Paulus dalam 2 Timotius 2: 3 – 6 juga menggambarkan kesetiaan orang Kristen kepada Tuhan sebagai seorang prajurit yang tidak memusingkan persoalan hidupnya, sebagai seorang olahragawan yang mau mengikuti peraturan-peraturan olahraganya, dan sebagai seorang petani yang harus bekerja keras untuk menikmati hasil usahanya. Memikirkan kepentingan Tuhan, menjalani hidup sesuai dengan firmanNya, dan bekerja untuk kemuliaanNya adalah tugas kita.

Hidup sebagai mempelai Kristus memang tidak mudah. Tetapi, kenyataan bahwa Ia sudah mati berkurban untuk kita seharusnya membawa kesadaran bahwa kita yang sudah dipilihnya, adalah makhluk yang sangat berharga. Kesadaran inilah yang membuat Paulus setia dalam imannya, apalagi ia tahu bahwa dalam penderitaan ia bisa menjadi contoh dalam hal kesetiaan yang sejati bagi orang lain. Begitu pula, kesetiaan kita kepada Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi bisa membuat orang lain untuk menpunyai kesetiaan seperti kita.

“Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” 2 Timotius 2: 10

Pagi ini, pertanyaannya apakah kita mempunyai kesetiaan seperti rasul Paulus. Sebab kita yang sudah dipilih Tuhan, tentunya sudah berjanji untuk sehidup semati denganNya. Yesus sudah lebih dulu menderita dan bahkan mati untuk kita, karena itu apa arti semua tantangan kehidupan kita jika dibandingkan dengan pengurbananNya?

Api yang memurnikan

“Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.” Maleakhi 3: 3

Emas dan perak adalah dua jenis logam berharga yang dipakai untuk membuat berbagai perhiasan. Logam ini biasanya diperoleh dengan cara menambang dari perut bumi. Data dari tahun 2016 menunjukkan bahwa Australia menghasilkan sekitar 300 ton emas yang menempatkannya dalam posisi kedua sedunia. Sebaliknya, pertambangan di Australia tidak menghasilkan perak dalam jumlah yang besar.

Ketika emas dan perak baru saja diperoleh dari dalam tanah, logam-logam itu tidaklah murni karena adanya kontaminasi zat-zat lain. Batu mengandung logam yang baru ditambang biasanya harus diproses melalui proses pembersihan dan pemurnian yang cukup rumit sehingga logam-logam berharga itu bisa dipisahkan dari yang lain. Dalam hal ini, sejak ratusan tahun sebelum Masehi orang sudah bisa menggunakan api untuk membakar hasil tambang sampai apa yang tidak diingini bisa dihilangkan, dan apa yang tertinggal hanyalah logam yang murni.

Apa yang ditulis oleh nabi Maleakhi diatas adalah suatu nubuat yang menggambarkan bagaimana Tuhan akan mengembalikan orang Lewi kepada keadaan yang seharusnya. Orang suku ini adalah orang pilihan yang bertugas untuk memimpin upacara agama, dan juga mempunyai pengaruh penting dalam bidang politik dan pendidikan. Sayang sekali banyak diantara mereka yang menyalahgunakan kedudukan mereka. Maleakhi menyatakan bahwa Tuhan akan menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan.

Apa yang ditulis dalam kitab Maleakhi diatas bukan hanya berlaku untuk zaman itu. Sebagai orang pilihan Tuhan, seharusnya kita hidup sesuai dengan firmanNya. Tetapi sebaliknya kita tahu bagaimanapun kita berusaha untuk menaati perintah Tuhan, kita justru lebih sering berbuat hal-hal yang tidak baik.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18 – 19

Tuhan mempunyai tujuan agar kita, seperti orang Lewi, menjadi orang pilihanNya untuk melakukan tugas-tugas kehidupan untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Tetapi, sadar atau tidak, seperti orang Lewi kita juga sering melakukan hal-hal yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan. Selain itu, seringkali kita melakukan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang jahat kepada sesama kita.

Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci jika Ia tidak peduli akan cara hidup orang-orang pilihanNya. Jika Ia memilih kita untuk tugas memuliakan Dia, itulah yang harus terjadi. Karena itulah, Tuhan mempunyai rencana-rencana yang unik untuk setiap umatNya. Seperti yang dikatakan Maleakhi, Tuhan menggunakan api penyucian untuk memurnikan mereka yang dipilihnya, agar mereka perlahan-lahan berubah menjadi logam berharga.

Tuhan menggunakan berbagai hal sebagai api penyucian umatNya. Ada kalanya Ia membuat kegagalan untuk memberi pelajaran bagi manusia. Ia mungkin juga menggunakan rasa sakit, kecewa, takut, dan susah untuk membawa kesadaran bagi kita bahwa ada sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita. Itu wajar, karena seperti api yang memurnikan emas dan perak, semua penderitaan itu diizinkan oleh Tuhan untuk membuat kita lebih dekat kepadanya.

Api apapun tentunya terasa panas dan bisa menimbulkan rasa sakit pada tubuh kita. Tuhan yang mahabijaksana tentu tahu akan hal itu. Tetapi kita harus sadar bahwa Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12: 10 – 11).

Tuhan yang bermaksud memurnikan kita dengan api penyucianNya, tidak akan membiarkan kita untuk terbakar musnah. Api penyucian memang menimbulkan rasa sakit, tetapi bukanlah api yang menghanguskan. Segala tantangan hidup yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan adalah Tuhan yang setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Kita harus percaya bahwa pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya (1 Korintus 10: 13).

Dengan api penyucian, Tuhan bermaksud membuat hidup kita di dunia ini untuk menjadi makin baik dan makin berkenan kepadaNya. Itupun juga untuk kebaikan kita, karena semakin serupa kita dengan Dia, semakin mudah bagi kita untuk berbahagia sekalipun situasi dan kondisi disekitar kita terlihat buruk. Tetapi api penyucian tidak membuat kita secara otomatis menjadi umat Tuhan yang menyinarkan cahaya yang gemerlap. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot yang tidak mempunyai reaksi atau sambutan atas kasihNya. Tuhan memberikan api penyucianNya, tetapi respons kitalah yang membuat kita bersikap acuh tak acuh, berduka atau bergembira dalam hidup kita. Manakah yang kita pilih?

“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” 1 Petrus 4: 12 – 13

Bila kita berzina secara rohani

“Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 15

Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang dimana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanianpun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui pengelihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat pembukaan dari Keluaran 34: 15 diatas menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umatNya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, dan yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasamani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang , raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apapun yang membuat kita mengagumi orang yang bukan pasangan kita, bisa menjadi perzinaan. Curahan hati kepada seorang teman, baik itu pria atau wanita, baik teman nyata maupun teman maya, bisa merendahkan pasangan hidup kita secara rohani.

Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firmanNya.

Pagi ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaanNya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosa-dosanya.

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Mazmur 32: 5

Aku ini manusia berdosa

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaanNya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat diatas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat diatas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba. Dalam konteks iman Kristen, ini menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaanNya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apapun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Karena dosa kita, kita tidak bisa menuntut hak apapun di hadapan Tuhan. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, itu memang adalah keputusan kita. Tetapi itu karena Tuhan yang sudah memanggil kita. Dengan itu, kita merasa ingin kembali menjumpai Tuhan Bapa kita dan berbakti kepadaNya. Seminggu kita bekerja, dan dalam waktu itu banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa dipadankan dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Atau mungkin saja Tuhan sudah memberi kita berbagai karunia rohani yang hebat. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anakNya. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunanNya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firmanNya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasihNya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pertumbuhan yang membawa kebaikan

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Lukas 2: 52

Tuhan Yesus datang dari surga sebagai Anak Allah untuk menebus dosa manusia. Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia sepenuhnya, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai manusia ia dilahirkan sebagai seorang bayi melalui anak dara Maria, dan tumbuh menjadi dewasa. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai masa kecil Yesus, selain Ia tentunya ikut bekerja sebagai tukang kayu seperti ayahNya, Yusuf (Markus 6: 3). Yesus sebagai manusia adalah orang biasa yang sederhana, bukan orang kaya ataupun orang yang berkuasa.

Benarkah bahwa Yesus tidaklah berbeda dengan manusia biasa? Banyak orang yang sampai sekarangpun berpendapat bahwa Yesus adalah manusia yang baik dan barangkali guru filsafat yang pandai, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka yang bukan umat Kristen tidak dapat menerima pernyataan Alkitab bahwa Yesus adalah Anak Allah. Walaupun demikian, sejarah mencatat bahwa Yesus adalah orang yang paling berpengaruh di dunia dari segala masa.

Selama di dunia, Yesus adalah Tuhan dan juga manusia, tetapi bukannya berganti-ganti diantara kedua eksistensi itu. Sebagai manusia Ia dilahirkan, tumbuh menjadi dewasa dan menjalankan tugas-tugasNya untuk sesama manusia, dan juga untuk kemuliaan Bapa di surga. Tidaklah mengherankan bahwa ayat diatas mencatat bahwa dalam proses pertumbuhanNya sebagai manusia, Yesus bertambah besar dan makin bijaksana, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Bagaimana kita sebagai umat Kristen bisa bertumbuh dan menjadi serupa dengan Yesus? Itulah pertanyaan yang sulit dijawab. Sebab orang bisa tumbuh dengan baik secara jasmani dan menjadi dewasa, tetapi secara rohani pertumbuhannya tidaklah seperti seharusnya.

Banyak orang yang sudah bertahun-tahun mengaku Kristen, tetapi tidak mempunyai kebijaksanaan dan cara hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Mereka lebih sering memperdebatkan hal-hal duniawi seperti hal makanan dan minuman, atau mempersoalkan apa yang baik atau buruk menurut ukuran manusia, dan itu seringkali justru membawa kekacauan dan kebingungan dalam masyarakat. Mungkin karena adanya batu sandungan seperti itulah, orang lain kemudian menjadi ragu untuk mengikut Kristus.

Pagi ini, mungkin kita sudah menjalani hidup kita di dunia ini cukup lama. Kita mungkin sudah tumbuh sepenuhnya secara jasmani tetapi apakah dalam hal rohani kita juga sudah makin dewasa dan makin bijaksana? Jika pertumbuhan itu ada, apakah itu sudah membawa kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dari Roh Kudus demi kebaikan untuk Tuhan dan sesama?

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.” Roma 14: 17 – 18