Masih adakah rasa hormat dan takut kepada Tuhan?

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut.” Ibrani 12: 28

Jika kita memperhatikan hidup umat Kristen di berbagai tempat di dunia, kita dapat melihat bahwa tiap komunitas mempunyai cara dan ciri tertentu dalam berbakti kepada Tuhan. Walaupun demikian, di zaman ini makin sering terlihat di gereja orang yang berbakti atau berdoa dengan santai, seolah-olah mereka pergi ke rumah teman, ke pesta atau ke bioskop. Malahan juga sering terlihat bahwa dalam kebaktian orang sibuk memakai ponselnya untuk berkomunikasi dengan teman yang berada di tempat lain. Agaknya sulit bagi mereka untuk duduk diam sejam dalam seminggu dan untuk sejenak melupakan kesibukan sehari-hari.

Dengan kemajuan zaman, memang banyak orang Kristen cenderung untuk bersifat “casual” dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Rasa hormat dan takut kepada Tuhan agaknya sudah sangat berkurang, seiring dengan berkurangnya rasa hormat kepada guru, orangtua dan atasan. Dengan demikian, komunikasi dengan Tuhan melalui doa dan mempelajari firmanNya sekarang sudah menjadi beban yang harus dilaksanakan secepat dan sesingkat mungkin.

Pada beberapa kebaktian gereja, rasa hormat dan khusyuk juga sudah berubah menjadi “kebebasan” yang bukan memuliakan Tuhan, tetapi membesarkan manusia. Acara kebaktian untuk Tuhan sudah berubah menjadi show atau tontonan saja. Rasa hormat dan takut kepada Tuhan diganti dengan rasa kagum kepada orang-orang yang mengaku punya pengalaman dan kemampuan tertentu.

Di zaman sekarang memang banyak orang mengaku pernah berjumpa secara langsung dengan Tuhan. Tetapi, sekalipun Tuhan bisa muncul dalam bentuk apapun jika Ia mau, pada dasarnya Ia bukan Oknum yang bisa dijumpai secara jasmani. Hanya Yesus yang pernah melihat Allah (Yohanes 1: 18), sedangkan manusia melalui penampakan oleh Tuhan (theophany) terkadang bisa merasa berjumpa dengan Tuhan. Pada pihak yang lain, semua orang Kristen bisa merasakan perjumpaan dengan Tuhan secara rohani dalam doa dan ibadah yang benar.

Perjumpaan dengan Tuhan bukanlah hal yang kecil. Musa sebagai contoh, mendapat peringatan dari Tuhan ketika ia menjumpaiNya:

Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Keluaran 3: 5 – 6

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita harus menempatkan diri kita dan sesama manusia pada tempat yang seharusnya. Sebagai manusia kita sudah dipilihNya untuk diselamatkan melalui pengurbanan Yesus, dan kita diangkat sebagai anak-anakNya. Walaupun demikian, Tuhan yang di surga adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, kita harus mengucap syukur dan beribadah kepada Dia saja dan menurut cara yang berkenan kepadaNya, yaitu dengan rasa hormat dan takut. Segala pujian dan sembah hanya untuk Dia!

Tuhan adalah Hakim yang mahaadil

“Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” 1 Petrus 4: 5

Pernahkah anda memikirkan arti kata “adil”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “adil” bisa berarti sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak; berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; sepatutnya; dan tidak sewenang-wenang. Definisi kata itu agaknya mudah di mengerti, tetapi masalahnya ialah bahwa selama hidup di dunia ini kita sering melihat apa yang kurang atau tidak adil. Dalam kenyataannya, keadilan di antara manusia seringkali ditentukan oleh hukum setempat, penguasa yang ada, dan mungkin juga melalui suara terbanyak. Dengan demikian, apa yang adil di dunia belum tentu adil, tetapi harus diterima sebagai apa yang terbaik untuk saat itu.

Dalam hidup sehari-hari, mungkin kita sering melihat bahwa ada banyak orang yang bersalah tetapi tidak mendapatkan hukuman yang setimpal, dan sebaliknya ada orang yang tidak bersalah tetapi memperoleh hukuman berat. Dalam hal ini kita juga tahu bahwa setiap orang yang berhadapan dengan masalah bisa mendapatkan bantuan hukum untuk mendapatkan keringanan dan bahkan pembebasan dari hukuman.  Orang yang mampu dan berpengaruh memang bisa menyewa ahli-ahli hukum ternama untuk membela kasus mereka. Sekalipun seseorang bersalah secara fakta, ia mungkin tidak bersalah secara hukum; dan karena itu tugas para pembela hukum adalah meringankan hukuman sang klien. Orang yang bebas dari hukuman harus dipandang sebagai orang yang tidak bersalah.

Selama hidup di dunia, orang Kristen adalah warga dunia tetapi juga warga surga. Mereka harus menaati hukum dunia tetapi juga hukum Tuhan. Ketaatan kepada pemerintah dan hukumnya adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan itu diajarkan dalam Alkitab (Roma 13: 6 – 7). Walaupun demikian ada kalanya apa yang dibenarkan oleh hukum setempat tidaklah sesuai dengan apa yang tertera dalam Alkitab. Makin banyak hal yang disetujui oleh masyarakat di zaman modern ini yang bertentangan dengan firman Tuhan. Itu bukan saja menyangkut uang, bisnis, sekolah, hubungan antar manusia dan budaya, tetapi juga menyangkut soal makanan dan pakaian dan sebagainya. Dengan demikian, banyak orang Kristen menjadi bimbang: manakah yang harus dituruti?

Banyak orang Kristen yang sekarang segan untuk mengungkapkan isi hatinya dan sebaliknya cenderung untuk mengikuti arus dunia. Banyak orang Kristen yang tidak mau dipandang “aneh” oleh masyarakat atau dianggap sebagai “orang Farisi” oleh sesama umat.  Selama apa yang dilakukan dianggap sah dan adil menurut hukum setempat, mereka akan hidup dan bekerja menurut hukum yang ada agar tidak mengalami masalah dalam hidup bermasyarakat. Mereka tidak sadar bahwa walaupun mereka bisa menghindari masalah yang bertautan dengan hukum manusia, mereka tidak akan bisa menghindari fakta bahwa mereka melanggar hukum Tuhan.

Pagi ini, ayat pembukaan di atas mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, kita mempunyai Tuhan di surga yang mengawasi semua tingkah laku dan perbuatan kita. Jika hidup kita hanya berdasarkan apa yang dianggap pantas, layak, lumrah , jamak dan adil di dunia, lambat laun kita akan hidup seperti mereka yang belum percaya. Tuhan yang mahaadil adalah Tuhan yang sudah menanamkan hukumNya dalam hati setiap orang percaya. Sekalipun dalam hidup sehari-hari kita tidak terus menerus membaca hukum utama tentang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita, seharusnya kita bisa mengingatnya setiap kali kita melangkahkan kaki kita. Rasa takut akan Tuhan haruslah selalu ada dalam hati kita, dan itu membimbing kita untuk hidup dengan bijaksana. Memang pada akhirnya kita harus memberi pertanggungjawaban kepada Dia, Tuhan yang mahaadil, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

 

Mengurangi keinginan adalah kunci kebahagiaan

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Apa arti kata “ibadah”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dalam ayat di atas kata “ibadah” dipakai, tetapi dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” lah yang sering dipakai. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Hidup manusia di dunia bukan hanya diisi dengan perbuatan, tetapi mencakup banyak hal seperti perkataan, pekerjaan, pikiran, tingkah laku, dan sebagainya. Dengan demikian, hidup manusia adalah sesuatu yang bisa membedakan keadaan manusia yang satu dengan yang lain. Mereka yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, memperoleh hidup baru yang berpusat pada Dia.

Diantara umat percaya yang sudah menerima hidup baru, perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain tetap ada karena tiap orang tentunya memiliki tingkat kedewasaan iman yang berbeda. Oleh sebab itu, ada orang Kristen yang hidupnya terlihat berbahagia sekalipun berada dalam perjuangan, tetapi ada juga orang Kristen yang hidupnya enak tetapi tidak menunjukkan adanya sukacita.

Ayat di atas menyebutkan bahwa hidup orang Kristen yang disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Mengapa begitu? Banyak orang yang berpendapat bahwa hidup bahagia bisa tercapai jika orang bisa mencapai apa yang diinginkan. Di zaman ini sering diajarkan bahwa melalui Tuhan berbagai berkat akan datang melimpah kepada mereka yang mau meminta. Tetapi, ayat di atas menyatakan bahwa kebahagiaan justru bisa tercapai dengan mengurangi apa yang diinginkan dari Tuhan.

Hidup dengan rasa cukup memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang ingin untuk berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang ingin kaya sering terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!

Hal mengampuni kesalahan orang

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Hari ini saya membaca di media bahwa seorang ibu yang kehilangan tiga anak karena ditabrak oleh seorang pengemudi yang sedang mabuk, berkata bahwa ia tidak membenci pembunuh anak-anaknya. Sekalipun ia pada saat ini tidak mau menemui orang itu, ia mau mengampuninya dan hanya berharap agar pengadilan memberi hukuman yang sepantasnya. Bagi saya ini adalah sesuatu yang luar biasa, bahwa kemarahan dan kebencian bisa padam karena adanya kasih dalam hati orang Kristen. Kasih yang sudah diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan oleh umatNya.

Pernahkah anda memaafkan orang yang bersalah kepada anda? Jika ya, apakah anda benar-benar mengampuni orang itu dengan melupakan segala kesalahan dan cacat celanya? Banyak orang yang berkata bahwa mereka bisa mengampuni orang tetapi tidak dapat melupakan perbuatannya. Dengan demikian, bayangan tentang orang itu dan kejahatannya selalu ada dalam pikiran dan tentunya setiap kali muncul bisa menimbulkan kemarahan atau rasa benci yang membuat diri mereka sangat menderita. Tetapi, saya yakin ada orang yang benar-benar bisa mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Itu tentu ada sebabnya.

Jika hal mengampuni kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia, bagi Allah yang mahasuci tentunya akan lebih sulit lagi  untuk mengampuni manusia yang berdosa kepadaNya. Karena standar kesucian Allah yang mahatinggi, tidak akan ada seorang pun yang bisa diampuniNya, jika tidak ada penebusan oleh darah Yesus. Karena Yesus sudah mati ganti kita, Tuhan mau mengampuni kita dan melupakan  dosa kita sekali pun kita mempunyai dosa sebesar apa pun.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagaimana Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu dapat melupakan sesuatu peristiwa? Banyak orang berpikir bahwa jika Tuhan bisa lupa, Ia bukanlah Oknum yang mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan bisa mengampuni dan melupakan dosa kita karena Ia dengan sengaja tidak mau memikirkan hal itu. Sebagai Tuhan yang mahakasih Ia mengambil keputusan untuk memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada Yesus yang sudah dikaruniakanNya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Dengan demikian, Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita patutlah menghendaki agar manusia mau mengasihi Dia dan sesama kita karena Tuhan mengasihi seisi dunia ini. Dalam hal ini, selama hidup di dunia tentu lebih mudah bagi manusia untuk mengasihi sesama manusia yang bisa dilihatnya daripada mengasihi Tuhan.

Bagi manusia, tidaklah mudah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah yang Roh dan karena itu jika ada orang yang berkata bahwa ia mengasihi Allah, itu terjadi karena Allah sudah membuka mata rohaniNya. Orang yang sedemikian sudah menjadi ciptaan baru yang mengenal apa yang dikehendaki Allah dan melaksanakan perintahNya. Dengan demikian, mereka yang mengaku mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, perlu bertanya kepada diri sendiri bagaimana ia bisa mengasihi Allah tanpa melakukan apa yang diperintahkanNya.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 1 Yohanes 4: 20

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Yesus sudah datang untuk menebus dosa kita dan karena itu seluruh dosa kita sudah diampuni Tuhan. Mengapa pula kita merasa berat untuk mengampuni sesama kita jika mereka juga dikasihi Tuhan dan diberi kesempatan untuk menerima keselamatan jika mereka mau bertobat?

 

 

 

Berdoa itu memang tidak mudah

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Ingatkah anda akan doa pertama yang pernah anda ucapkan? Saya sendiri sudah lupa akan apa yang saya ucapkan sebagai doa makan ketika saya berumur 8 atau 9 tahun. Ketika itu ayah saya mengingatkan agar saya mau mulai berdoa sendiri, dan tidak mengharapkan orang lain mendoakan saya. Doa adalah hubungan komunikasi pribadi antara seseorang dengan Tuhannya dan karena itu harus disampaikan oleh orang yang bersangkutan menurut imannya.

Sebagaimana Yesus sudah mengajar murid-muridNya berdoa, setiap orang Kristen harus mau dan bisa berdoa sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan atau dibiasakan. Karena itu banyak orang yang selalu ingin didoakan dan mengharapkan orang lain yang memimpin doa.

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa adalah lebih baik jika kita berdoa secara kolektif. Dalam hal ini, orang sering mengutip ayat dalam Matius 18: 19 – 20 yang berbunyi “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Tetapi, ayat itu sebenarnya tidak menyebutkan bahwa doa orang banyak akan lebih didengar Tuhan daripada doa perseorangan. Ayat itu bersangkutan dengan pertikaian di antara orang Kristen: mereka yang ingin doanya didengar Tuhan hendaknya mau berdamai dan bersatu hati dengan yang lain sebelum menyampaikan doa mereka.

Doa jelas adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak merasakan kerinduan untuk berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar.

Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Dan ketika hidup penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Tetapi sebagai umat percaya, kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang berdoa.

Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak mendukakan Roh Kudus dengan mencoba melarikan diri dariNya. Apa yang harus kita lakukan justru membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan!

Janji penyertaan Tuhan

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91:7

Pagi ini saya bangun dengan perasaan gundah. Di media dilaporkan adanya kecelakaan lalu lintas di Sydney yang memakan korban 4 anak dari dua keluarga pada hari Sabtu malam. Tiga diantara korban adalah saudara kandung dan yang lain adalah saudara sepupu. Mereka berempat ditabrak oleh sebuah mobil 4WD yang dikemudikan oleh seorang yang mabuk miras. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kesedihan orangtua anak-anak itu yang secara tiba-tiba kehilangan anak-anak yang tercinta.

Kejadian yang menyedihkan terjadi setiap hari dimana saja, dan itu bisa terjadi pada semua orang, baik Kristen maupun bukan. Sudah tentu mereka yang merasa berTuhan ingin agar Tuhan melindungi mereka dari segala bencana. Sebagian yakin bahwa Tuhan akan menghindarkan mereka dari apa yang jahat. Dan mereka yang Kristen tentunya berdoa dalam nama Yesus agar Tuhan tidak membiarkan mereka jatuh dalam pencobaan.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dipakai oleh orang Kristen untuk menguatkan iman mereka yang kuatir akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak yang sering memakai ayat ini untuk memberikan semangat baru kepada jemaatnya, seperti seorang motivator yang sering mengumandangkan ucapan atau slogan yang bernada positif atau positive thinking.

Memang tidak ada salahnya jika orang yang mempunyai sikap positif dalam menghadapi hidup. Malahan ada baiknya jika orang mempunyai sikap yang optimis dalam menghadapi kesulitan. Pada pihak yang lain, sikap optimis dan pikiran positif tidak menjamin bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan selalu indah dan berjalan aman. Ada kalanya, kejadian yang menyedihkan terjadi di luar dugaan.

Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana dalam hidupnya? Jika kita menerima nasihat yang secara literal mengartikan bahwa orang beriman tidak akan pernah mengalami kekalahan atau malapetaka, ada kemungkinan bahwa kita akan kecewa dan bahkan menyesali Tuhan. Itu karena ayat diatas bukan merupakan janji Tuhan untuk membebaskan umatNya dari segala masalah selama hidup di dunia.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang justru mengalami bencana dalam hidup karena iman mereka. Mengikut Yesus berarti ikut memikul salibNya dan hal-hal yang jahat sering terjadi karena iblis yang tidak mau tunduk kepada Tuhan. Selain itu, karena dunia yang sudah jatuh dalam dosa, berbagai masalah bisa terjadi pada siapa saja. Jika demikian, perlukah kita percaya akan kebenaran ayat di atas?

Ayat di atas tidak menjanjikan hidup yang selalu indah kepada umat Kristen. Sebaliknya, ayat itu mengungkapkan adanya kenyataan bahwa hidup itu tidak mudah. Manusia boleh mempunyai cara berpikir positif dan penuh optimisme, tetapi ada hal-hal yang bisa menghancurkan hidup mereka jika mereka tidak mengenal Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Dalam menghadapi bencana, banyak orang yang kehilangan harapan dan hancur semangatnya jika mereka hanya bergantung pada kekuatan manusia, Tetapi, sekali pun ada banyak orang yang kehilangan harapan di sekitar kita – seribu orang rebah tak berdaya di sisi kita, dan sepuluh ribu kehilangan harapan untuk masa depan di sebelah kanan kita – kita akan tetap dapat berdiri tegak dalam iman dan percaya bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan kebaikan sesuai dengan kehendak Tuhan yang mahakasih.

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8: 35 – 37

Hal mendua hati

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16: 13

Jika ada sesuatu di bumi yang sangat mempengaruhi hidup manusia, itu pastilah uang. Uang yang pada dasarnya adalah alat untuk melakukan transaksi jual beli, sudah sejak dulu menjadi sesuatu yang dibutuhkan masyarakat yang sudah maju budayanya.

Ketergantungan manusia pada uang ada dimana saja. Tanpa uang orang tidak akan dapat membeli apa yang diperlukan dalam hidupnya. Money is everything. Dengan demikian, banyak orang yang menderita karena tidak adanya uang untuk membiayai kebutuhan mereka.

Banyak orang yang percaya bahwa dengan adanya uang, ada kehidupan. Kehidupan itu ada jika uang ada, dan kehidupan ada untuk menghasilkan uang. Money is life and life is money. Karena itu, mereka yang hidup di negara kaya seringkali mengira bahwa mereka yang hidup di negara miskin tidak akan dapat merasakan kebahagiaan. Mereka yang miskin tentunya selalu menjadi bulan-bulanan orang kaya. Itu agaknya karena uang memberi atau dapat membeli kekuasaan. Money is power.

Alkitab mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang dipercaya oleh dunia. Jika dunia menaruh kepercayaaan pada uang, Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah yang mahakaya sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7).

Kita juga tahu bahwa selama hidup di dunia Yesus mengembara dan tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap.

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 10

Dengan demikian, mereka yang ingin menjadi pengikut Yesus di dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus siap untuk menempatkan Yesus di atas segala-galanya, dan mau menderita untuk melebarkan kerajaanNya. Ini jelas berbeda dengan pandangan umum yang menempatkan uang, kuasa, kesuksesan dan hal-hal duniawi lainnya sebagai pusat kehidupan.

Memang selama hidup di dunia kita memerlukan uang untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup, tetapi kita tidak boleh memusatkan hidup kita hanya untuk mengejarnya. Sebaliknya, kita harus bisa meniru Rasul Paulus yang ingin untuk mengejar pengenalan akan Yesus.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri …” Filipi 3: 7 – 9

Mengapa Paulus yang pada mulanya mengejar keuntungan duniawi kemudian menganggapnya sebagai sampah? Bukankah itu terlalu ekstrim? Salahkah kita jika ingin mendapatkan kepuasan duniawi dan juga kebahagiaan surgawi? Ayat pembukaan kita jelas menyatakan bahwa pilihan ada di tangan kita, kepada siapa kita menyerahkan hidup kita. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita harus memilih Mamon yang melambangkan uang, kedudukan dan hal-hal duniawi lainnya, atau Tuhan yang mahakuasa. Mana yang anda pilih?