Kuasa dan kasih Tuhan melampaui kuasa dosa

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Teringat saya akan masa muda, di mana teman yang lama tak berjumpa menyapa saya dengan pertanyaan “kemana saja nih?” dan obyek pembicaraan kami berlanjut menjadi saling menukar pengalaman selama berpisah. Heran, setelah usia saya mulai melanjut, pembicaraan dengan teman-teman saya cenderung berkisar soal kesehatan dan obat-obatan. Sekalipun demikian, saya yakin bahwa keadaan dunia di zaman ini agaknya sudah berubah dengan kesadaran bahwa hal menjadi sakit bukan hanya monopoli kaum yang kurang mampu dan yang berumur saja.

Setiap orang bisa jatuh sakit, itu adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Dengan demikian, setiap orang berusaha dengan kemampuannya untuk bisa tetap sehat, dan mereka yang beriman tentunya memohon penyertaan Tuhan agar bisa terlindungi dari ancaman berbagai penyakit. Pada pihak yang lain, orang mungkin jarang memikirkan hal dosa yang seperti penyakit jasmani, bisa membuat manusia sakit. Orang mungkin juga kurang menyadari pentingnya meminta perlindungan Tuhan dari godaan iblis supaya bisa mengatasi ancaman berbagai penyakit rohani. Padahal hal sakit rohani seharusnya lebih ditakuti daripada sakit jasmani karena menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan.

Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umat-Nya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaan-Nya tetap berfungsi seperti apa yang dirancang-Nya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatan-Nya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaan-Nya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya, tetapi kepada semua makhluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat di atas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendak-Nya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat di atas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Sering kali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunan-Nya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apa pun apabila sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan sering kali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang mengalami gangguan kejiwaan karena dampak pandemi dan berbagai peraturan lockdown . Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa di dalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa memperbaiki kehidupan manusia, baik dalam keluarga, masyarakat ataupun negara untuk kemuliaan-Nya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dari-Nya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru di dalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.

Pada ayat di atas juga terlihat adanya hubungan antara penyakit jasmani dengan penyakit rohani. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mampu menyembuhkan orang yang sakit seperti apa yang dikehendaki-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa Ia akan menyembuhkan setiap orang dari setiap penyakit pada setiap saat, tetapi Ia sanggup menunjukkan kuasa-Nya sehingga setiap umat-Nya yang benar-benar beriman mempunyai keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, setiap orang percaya tidak perlu takut dalam menghadapi bahaya penyakit apa pun.

Pada pihak yang lain, dosa yang membawa penyakit rohani adalah suatu bahaya besar yang seharusnya ditakuti oleh setiap manusia yang sadar tentang adanya Tuhan yang mahasuci. Tuhan menuntut seluruh umat manusia untuk bisa hidup suci seperti Dia, dan jika tidak mereka akan binasa. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang bisa selamat dengan usahanya sendiri. Hanya dengan belas kasihan Tuhan, manusia bisa menerima pengampunan melalui darah Kristus. Karena itu, mereka yang beriman tidak akan mati, melainkan sudah memperoleh jaminan hidup yang kekal.

Hari ini, adakah perasaan gundah dalam hati anda karena adanya ancaman penyakit tertentu? Apakah anda kuatir akan kekuatan jasmani atau rohani anda dan keadaan orang-orang yang anda cintai? Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa Tuhan sanggup memelihara kesehatan tubuh semua umat-Nya. Lebih dari itu Ia menjamin keselamatan jiwa mereka yang beriman dengan mengampuni semua dosa yang mereka perbuat karena pengurbanan Kristus. Biarlah kita selalu yakin akan kebesaran kasih dan kuasa-Nya dalam iman yang teguh!

Mukjizat palsu adalah tipu daya iblis

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Sebelum munculnya virus corona, setiap hari kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak di antara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Sejak munculnya pandemi, penderitaan manusia makin bertambah, dan bahkan sekarang ini dengan munculnya varian baru, kita tidak bisa menduga kapan pandemi ini akan berakhir.

Pada pihak yang lain, dalam media kita masih bisa menemui berbagai kabar baik tentang adanya berbagai organisasi yang bisa membantu mereka yang menderita, bermacam vaksin yang bisa mengurangi dampak virus corona, dan juga berbagai keajaiban yang terjadi dalam hidup manusia. Kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Sering kali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mukjizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui pengobatan yang tidak tradisionil, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, sering kali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekadar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apa pun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mukjizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mukjizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi yang bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, kehadiran Tuhan hanya bisa terasa ada karena adanya mukjizat yang bisa mereka lihat atau alami.

Pagi ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mukjizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang masih tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, Anak Allah yang lahir di palungan, yaitu keselamatan jiwa mereka.

Mereka yang tidak mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata kita, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu, biarlah kita selalu sadar bahwa:

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mukjizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak mencari mukjizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memuliakan mukjizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mukjizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Semoga kita tetap berfokus pada dasar iman yang benar!

Bosan makan nasi?

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

Pernahkah anda merasa bosan makan nasi? Mungkin di Indonesia pertanyaan ini adalah ucapan sarkastik yang dipakai untuk memperingatkan orang yang akan melakukan hal yang berbahaya, yang bisa membawa kematian. Siang hari ini saya tidak makan nasi, bukan karena bosan. Tetapi, makan siang hari ini bukan makanan biasa. Cake. Makanan berbahaya untuk sebagian orang. Bermacam jenis roti berrlapis coklat, krim dan lainnya, rasanya manis sekali. Alasan saya kali ini: pesta akhir tahun yang diadakan universitas di mana saya bekerja hanya diadakan sekali setahun!

Semua orang tahu bahwa makan untuk hidup. Seingat saya, di Indonesia jika ada tamu berkunjung ketika tuan rumah sedang makan, pertanyaan kepada tamu itu adalah “sudah makan?”. Memang, di luar negeri pun orang kita terkenal sebagai orang yang ramah, friendly, menggunakan acara makan-makan untuk membina kesatuan dalam keluarga dan persahabatan. Sesekali makan besar bolehlah.

Pada pihak yang lain ada orang yang tidak pernah bosan untuk makan enak dan hidup untuk kenikmatan. Tidak ada pesta, tidak ada acara istimewa, mereka tidak bosan-bosannya hidup untuk memuaskan diri sendiri. Sudah tentu, mereka yang hidup sedemikian, akhirnya bisa jatuh dalam dosa, jatuh ke dalam jerat iblis.

Manusia setelah kejatuhan dalam dosa sering berebut makanan dan menjadi mahluk yang rakus. Manusia siap membenci, merampok dan membunuh orang lain demi makanan. Manusia dengan keculasannya juga sering memakai makanan untuk menyuap, mempengaruhi dan menguasai orang lain, terutama mereka yang miskin dan kurang terpelajar. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, banyak orang yang menjadi pemuja makanan dan minuman, dan juga kenikmatan jasmani lainnya.

Kerakusan adalah dosa, dan dalam tradisi sebagian orang Kristen, termasuk dalam 7 dosa besar. Karena soal makanan, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan membuat-Nya murka dengan mendatangkan hujan burung puyuh sehingga mereka yang rakus dan serakah mati dalam jumlah besar (Bilangan 11: 33 – 34). Karena merasa bebas, mereka yang mampu sering kali mempunyai kebiasaan makan dan minum dalam pesta pora, yang bisa menjauhkan mereka dari Tuhan (Galatia 5: 21).

Untuk menyambut hari Natal dan tahun baru yang akan datang, pikiran kita tidak boleh dipusatkan pada hal makan minum, pesta pora dan kenikmatan badani. Dalam hal makan, dengan kebebasan yang Tuhan berikan, kita harus bisa mengendalikan cara hidup kita. Kecukupan adalah lebih penting dari kelimpahan, sebab mereka yang berkelimpahan belum tentu merasa cukup. Lebih dari itu, keserakahan dan kerakusan jelas bisa membawa berbagai bencana dalam hidup, seperti apa yang sering terjadi pada mereka yang sudah “bosan makan nasi”, yaitu mereka yang hidup dan bekerja untuk kenyamanan duniawi.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Ya atau tidak?

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5: 37

Banyak orang yang mengatakan bahwa “politik itu kotor” karena dalam politik apa yang paling buruk dari berbagai sifat manusia bisa terlihat: iri hati, fitnah, congkak, dendam dan sebagainya. Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah para politikus itu adalah pilihan rakyat? Sebenarnya dalam politik, tidak semua orang sudah ternoda dengan hal-hal yang tidak baik. Tentu ada politikus yang benar-benar jujur dan baik, sekalipun jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan rakyat.

Mengapa ada orang yang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang memakai segala cara, tanpa berpikir dalam-dalam, asal tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Mereka belum tentu bukan orang Kristen, karena justru banyak orang Kristen yang mempunyai hidup dalam dualisme: hidup dalam gereja yang berbeda dengan hidup di luar gereja.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, atau usaha untuk melupakan konsekuensi perbuatan kita, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu berlaku jujur. Sering kali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya risiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi kehidupan keluarga pun sering digoncangkan karena adanya orang-orang yang tidak menjaga integritasnya atau orang yang hanya asal-asalan menjalankan kewajibannya. Sebagai akibatnya, sering kali ada rasa kurang percaya, rasa marah dan kecewa kepada orang lain yang tidak bisa bersungguh-sunggguh dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan pasti diketahui Tuhan. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan keliru yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang kita tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang benar!

Kapan derita ini akan berlalu?

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12: 10

Menjelang akhir tahun 2021, banyak orang yang berharap akan redanya, dan bahkan lenyapnya, pandemi Covid-19. Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Varian baru yang dinamakan Omicron sekarang mulai muncul di berbagai negara, yang menyebabkan kembalinya berbagai bentuk PPKM atau lockdown. Semua orang ingin bebas melakukan segala aktivitas kehidupan, tetapi setelah hampir dua tahun situasi pandemi di dunia belum juga teratasi. Hal ini membuat banyak orang menjadi kuatir dan tertekan hidupnya.

Memang jika kita tahu bahwa kita belum juga bisa mempunyai kebebasan yang kita harapkan, rasa kecewa atau sedih mungkin timbul. Tetapi tentunya kita harus bersyukur bahwa dengan ditemukannya sejumlah vaksin, risiko serangan virus corona bisa diperkecil; dan karena itu kita sudah bisa melakukan apa yang perlu dalam batas-batas tertentu. Walaupun demikian, banyak juga orang yang sampai saat ini masih belum bisa mendapatkan kesempatan untuk itu karena berbagai hal.

Bukan saja menghadapi akibat pandemi, pada umumnya setiap orang pernah mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan selama hidup. Itu lumrah karena semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan harus hidup di dunia yang tidak sempurna. Tetapi jika umat Kristen mengalami penderitaan karena hal-hal yang nampaknya “tidak adil”, pertanyaan mungkin timbul di hati kita, mengapa hal-hal yang sedemikian terjadi pada anak-anak Tuhan. Bukan hanya kelemahan tubuh, penyakit, dan kesukaran hidup, tetapi juga bahaya dan penganiayaan dialami oleh banyak orang Kristen di dunia. Menjadi Kristen memang dalam kenyataannya tidak akan menghilangkan persoalan hidup, dan persoalan hidup malah justru sering muncul karena adanya iman kepada Tuhan, karena kita harus menuruti perintah Tuhan.

Ada orang Kristen yang memiliki mata rohani yang tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat adanya bimbingan Tuhan dalam segala kesulitan. Untuk mereka, kehidupan adalah baik jika mereka bisa berbuat apa yang mereka maui. Mereka dapat hidup dalam kebebasan yang semu sampai tiba saatnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena mereka tidak mempunyai Tuhan, bagi mereka tidak ada harapan dan penghiburan dalam kesulitan. Karena itu, sebagian orang yang tidak benar-benar mau dibimbing Tuhan lebih suka untuk mengabaikan adanya persoalan dalam hidup mereka.

Hari ini, Rasul Paulus sebagai rasul menceritakan bahwa dalam hidupnya ada sesuatu masalah kesehatan yang membuat ia sangat menderita. Ia sudah memohon tiga kali kepada Tuhan untuk mendapat kelepasan, tetapi jawaban Tuhan bukanlah seperti yang diharapkannya.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Sebab itu, bukannya menyesali keadaannya, Paulus malahan bersyukur dalam kelemahannya, supaya ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Seperti Paulus, kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu dibimbingnya untuk menjadi makin dewasa dan makin kuat dalam iman. Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kelemahan dan berbagai persoalan; tetapi bagi kita yang mau dibimbing Tuhan, kesadaran bahwa hidup kita adalah bergantung kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih adalah bagaikan obat yang memberi harapan dan kekuatan di dalam kesulitan. Biarlah kita makin bisa berserah kepada Tuhan dalam mengakhiri tahun ini!

Menghadapi krisis kehidupan

Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Yohanes 11: 32

Pernahkan anda mengalami krisis kehidupan yang besar? Kebanyakan orang pernah mengalami peristiwa atau pengalaman yang membuat mereka sedih, marah atau putus asa. Mungkin mereka merasa hilang harapan dan tidak dapat melihat adanya kemungkinan untuk melarikan diri atau mengatasi krisis itu. Bukan saja persoalan keluarga, tetapi masalah sekolah, pekerjaan dan bahkan juga masalah kepercayaan bisa membuat manusia menemui jalan buntu.

Alkisah, ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya, dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: ”Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sekarang sakit.” Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ”Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus, tetapi Ia seakan tidak peduli akan keadaan Lazarus.

Yesus malahan tinggal dua hari lagi di mana Ia berada, sebelum mengajak murid-murid-Nya untuk kembali ke Yudea. Ia berkata kepada mereka bahwa Lazarus telah tertidur, tetapi Ia ingin pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya. Murid-murid Yesus tentunya heran karena jika Lazarus hanya tertidur, ia akan sembuh sendiri. Lalu Yesus berkata dengan terus terang kepada para murid-Nya bahwa Lazarus sudah mati, dan menyatakan bahwa mereka beruntung karena Ia tidak berada bersama Lazarus sewaktu masih belum mati. Mengapa demikian? Supaya mereka belajar percaya. Ada sesuatu yang ajaib akan terjadi.

Kisah nyata yang dimulai dengan sebuah krisis dan dukacita, kemudian berakhir dengan sebuah keajaiban dan sukacita. Apa yang dapat kita pelajari dari kejadian itu?

Ada tiga pelajaran penting yang dapat kita pelajari dari kisah kebangkitan Lazarus, yaitu tiga hal tentang bagaimana bertahan di saat kita mengalami krisis.

Pelajaran 1: Waktu Tuhan selalu sempurna.

Tuhan tidak pernah bertindak terlalu dini, dan tidak pernah terlambat, tetapi selalu tepat waktu. Just in time. Waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Bagi kita, waktu Tuhan sering terasa seperti penundaan yang lama, yang mendatangkan rasa putus asa.

Yesus mendapat kabar bahwa Lazarus sakit kritis. Sangat mengherankan bagi murid-Nya, Yesus tidak cepat-cepat pergi ke Betania untuk menyembuhkan Lazarus dari sakitnya, tetapi Ia tinggal selama dua hari sebelum pergi. Ketika Yesus tiba di Betania, rumah Lazarus dan dua saudara perempuannya, Dia tentu tahu bahwa Lazarus meninggal empat hari sebelumnya.

Waktu Tuhan yang sempurna menumbuhkan iman kita ketika kita dipaksa untuk menunggu dan percaya kepada Tuhan, dan itu memastikan bahwa Dia sendiri yang patut mendapatkan kemuliaan dan pujian karena Ia membimbing kita melalui krisis yang kita alami. Pada waktu yang tepat, Tuhan akan menjawab doa kita. Pada waktu yang tepat, Tuhan akan bertindak untuk kebaikan umat-Nya.

Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata: ”Engkaulah Allahku!” Mazmur 31:15

Pelajaran 2: Jalan Tuhan bukanlah jalan kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9.

Tuhan memiliki perspektif abadi. Tuhan yang mahaagung mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan. Dan apa yang diketahui manusia ciptaan-Nya? Tidak ada yang benar-benar kita ketahui. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan Tuhan. Jika kita adalah Yesus, kita akan ingin langsung menyembuhkan Lazarus. Tetapi Yesus bermaksud untuk memperluas iman para murid-Nya yang setelah kematian-Nya akan menjadi rasul-rasul yang membawa pesan Kristus ke dunia. Para murid tahu Yesus memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang – tetapi untuk membangkitkan mayat berumur 4 hari? Itu membawa iman ke tingkat yang sama sekali baru. Mengetahui bahwa jalan Tuhan bukanlah jalan kita berarti kita harus menaruh semua iman dan kepercayaan kita pada jalan-Nya.

Pelajaran 3: Tuhan selalu memiliki keputusan akhir.

Tidak peduli seberapa buruk dan beratnya situasi yang muncul, dan betapa tertekannya perasaan kita karena tampaknya tidak ada jawaban, tidak ada bantuan, tidak ada harapan, Tuhan melihat keadaan kita dan Dia sendiri yang memiliki keputusan akhir.

Kita sering menempatkan sebuah titik dalam hidup kita di mana Tuhan menempatkan koma. Semua terasa sudah berakhir, titik. Pernikahan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, kesehatan kita, masa depan kita. Tetapi Tuhan memberi koma di tempat-tempat itu karena itu belum berakhir, sampai Dia mengatakan itu sudah berakhir.

Lazarus sudah mati dan membusuk selama empat hari di makam itu. Bagi Maria, Marta dan murid-murid Yesus, itu lebih dari satu titik, itu tanda seru! Tapi itu belum berakhir. Tuhan menaruh koma di tempat itu. Dan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, organ-organnya kembali berfungsi, dan kulit yang membusuk menjadi baru kembali.

Seperti itulah, Yesus akan mengambil apa yang tidak lagi mempunyai tenaga di dalam diri kita dan membangkitkannya dari kematian. Dia akan menolong kita melewati masa krisis, tidak hanya agar kita bisa bertahan hidup, tetapi juga agar kita bisa menang. Ini malahan sudah dibuktikan dalam penyaliban dan kematian Yesus. Tuhan selalu memiliki kata terakhir. Pada hari ketiga, Minggu pagi, Tuhan membangkitkan Yesus dari kematian dan Dia hidup! Karena Yesus Kristus, kematian dan kuburan tidak lagi memiliki kuasa atas hidup kita. Yesuslah yang memiliki kata terakhir. Dan karena Dia hidup, jika kita percaya kepada-Nya dan menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya, kita juga akan hidup! Halleluya!

Untuk memberitakan firman Tuhan perlu persiapan

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” 2 Timotius 4: 2

Mungkin banyak orang Kristen yang sadar akan sulitnya untuk memberitakan firman Tuhan. Biasanya orang ragu untuk menyampaikan firman Tuhan karena merasa kurang mampu untuk berbicara di depan umum, atau kurang faham mengenai dasar-dasar teologi Kristen. Penginjil besar yang kita kenal, Billy Graham, pernah juga merasakan hal yang serupa. Hanya dengan kekuatan dari Tuhan, ia bisa mengatasi keraguannya dan perlahan-lahan belajar menjadi penginjil yang sangat efektif dalam membawa orang ke dalam pengenalan akan Tuhan.

Sebenarnya, menjadi pembawa firman Tuhan tidak harus diartikan bekerja sebagai penginjil atau pendeta. Amanat Agung dari Yesus untuk mengabarkan Injil adalah perintah-Nya untuk semua orang percaya. Kita bisa membawakan firman Tuhan di rumah, sekolah, kantor dan di mana saja, dan itu bisa disampaikan kepada satu, dua atau banyak orang.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 29-20

Untuk mengabarkan firman Tuhan, orang tidak harus masuk sekolah Alkitab atau mempunyai gelar teologia, tetapi orang tersebut harus benar-benar orang yang percaya kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Alah Roh Kudus. Lebih penting dari itu, orang tersebut haruslah hidup dalam terang Kristus dan memiliki iman yang benar. Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menasihati rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, bagaimana ia harus mempersiapkan diri untuk membawakan firman Tuhan.

Pertama, Timotius harus siap menyampaikan firman Tuhan ketika situasi lagi kondusif. Ungkapan “waktu yang baik” mengacu pada saat-saat ketika seseorang, dengan akal sehat, “seharusnya” mengkhotbahkan firman. Ini sehubungan dengan keadaan yang bersahabat, atau situasi yang aman.

Kedua, Timotius harus siap berkhotbah ketika situasi tidak nyaman. Ini adalah arti dari ungkapan “tidak baik waktunya”. Inilah saat-saat ketika menyatakan kebenaran itu canggung, sulit, atau ditentang.

Ketiga, dia harus menyatakan apa yang salah. Ini menggemakan seruan Paulus untuk “menegur” yang ditemukan dalam 1 Timotius 5: 20.

Keempat, Timotius harus menegur orang yang salah. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “teguran” adalah epitimēson, yang dalam konteks ini berarti memarahi, mencaci, atau mengoreksi.

Kelima, Timotius harus menasihati, sebuah istilah yang mengacu pada dorongan atau himbauan. Ini berasal dari istilah Yunani parakaleson, yang melibatkan dukungan, kenyamanan, dan bantuan.

Keenam, Timotius harus berkhotbah dengan kesabaran. Bagi mereka yang memimpin, dan terutama ketika menghadapi oposisi, ini tidaklah mudah dilakukan. Namun, Paulus menyebutkan ini sebagai bagian dari buah Roh (Galatia 5:22-23). Kesabaran, meskipun selagi merasa frustrasi, dimaksudkan untuk menjadi ciri iman Kristen. Dengan adanya kesabaran dan rasa kasih, makin banyak orang yang akan tertarik untuk mengenal Allah.

Ketujuh, pemberitaan firman Timotius harus mencakup pengajaran, sebuah istilah yang mengacu pada instruksi. Dia harus memakai hati dan pikiran, melatih orang percaya untuk mengikuti kebenaran Allah.

Hari ini kita belajar dari rasul Paulus bagaimana kita bisa belajar menjadi pembawa firman Tuhan yang baik, yang bisa membimbing banyak orang untuk mengenal Tuhan dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Biarlah kita mau meminta bantuan Roh Kudus agar kita diberi kemampuan dan keberanian serta kebijaksanaan untuk melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus.

Tetap waspada dalam semua keadaan

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Masih sebulan lagi sebelum datangnya hari Natal. Tetapi banyak juga rumah yang sudah dihias dengan berbagai lampu dan perhiasan Natal. Kapankah sebenarnya hiasan Natal itu boleh mulai dipasang? Tidak ada peraturan untuk itu, tetapi biasanya mulai tanggal 1 Desember orang sudah mulai memasangnya dan itu belangsung sampai seminggu sesudah tahun baru.

Menjelang hari Natal ini banyak kantor atau perusahaan yang sudah mengadakan pesta akhir tahun. Mengapa begitu dini? Itu karena banyak orang yang sebentar lagi mengambil cuti tahunan mereka yang biasanya 4 minggu lamanya; dan setiap orang bisa mengambil cuti pada waktu yang berlainan. Dalam pesta semacam itu, mereka bersama-sama bergembira atas apa yang sudah tercapai dalam tahun ini.

Dalam pesta semacam itu biasanya orang mengonsumsi alkohol. Suasana gembira dan alkohol terkadang membuat orang terlena. Karena mabuk, banyak kecelakaan yang terjadi karena supir yang tertidur di belakang kemudi. Hanya beberapa detik saja sudah bisa menentukan hidup-mati orang di jalan raya. Untuk itu, polisi menganjurkan agar pengemudi kendaraan bermotor lebih berjaga-jaga di akhir tahun ini.

Ayat di atas adalah peringatan Yesus kepada tiga murid (Petrus, Yakobus dan Yohanes) yang jatuh tertidur ketika diminta untuk berjaga-jaga selagi Yesus berdoa di taman Getsemani. Murid-murid itu tentunya sadar  bahwa Yesus yang merasa sedih meminta mereka untuk menemani-Nya selagi Ia berdoa. Walaupun demikian mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa Yesus sedang menghadapi  perjuangan besar dan bergulat dengan kenyataan bahwa sebentar lagi Ia akan menemui kematian. Perasaan sedih dan tubuh yang lelah, membuat murid-murid itu tertidur. Mereka gagal untuk berjaga-jaga.

Perlukah Yesus, Anak Allah, meminta dukungan manusia yang lemah? Sudah tentu Yesus tidak memerlukan hal itu karena Allah Bapa bisa mengirimkan seorang malaikat untuk memberi kekuatan (Lukas 22: 43). Yesus meminta ketiga murid-Nya untuk berjaga-jaga sebagai perlambang bahwa dalam hidup di dunia mereka harus siap bertahan menghadapi apa yang akan terjadi. Alkitab menyebutkan bahwa mereka mengalami goncangan besar ketika melihat dengan mata-kepala sendiri, bagaimana Guru mereka, Sang Mesias, kemudian ditangkap, dipukuli dan disalibkan sampai mati. Harapan mereka hancur karena Mesias yang mereka saksikan tidaklah seperti yang mereka harapkan. Dengan demikian, Yesus mengajak ketiga murid-Nya untuk mengajar mereka agar tetap berjaga-jaga dalam menghadapi masa depan, dan Ia juga memberi peringatan khusus kepada Petrus (Matius 26: 40) yang kemudian menyangkali-Nya tiga kali .

Seperti ketiga murid itu, setiap orang Kristen akan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, terutama tantangan untuk bisa tetap hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Memikirkan tantangan hidup yang akan terjadi adalah sesuatu yang kurang menyenangkan. Orang lebih senang memikirkan apa yang nyaman dan indah seperti Natal yang akan kita rayakan sebentar lagi. Membayangkan kelahiran Yesus dengan memandang pohon Natal dengan lampu-lampunya yang indah mungkin lebih membuai  daripada memikirkan perjuangan Yesus dalam kegelapan taman Getsemani. 

Hari Natal memang membawa rasa gembira. Kita memang harus bersyukur bahwa Yesus yang lahir sebagai bayi di hari Natal adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia. Hari Natal adalah hari di mana misi Yesus dimulai dan tiap kali kita merayakannya kita diingatkan bahwa misi penyelamatan-Nya masih terus berjalan. Dengan demikian, dalam gemerlapnya lampu Natal saat ini kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa kita pun dipanggil seperti tiga murid di atas untuk mendukung perjuangan-Nya. Dalam hal ini, ada begitu banyak hal di dunia yang bisa membuat kita terbuai dan kemudian jatuh ke dalam pencobaan. Sesuai dengan perintah Yesus di atas, maukah kita selalu berjaga-jaga dalam hidup kita agar tetap bisa menjadi umat-Nya yang setia dalam mendukung pekerjaan-Nya?

Jika derita datang bukan karena kesalahan kita

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1: 3 – 4

Banyak orang yang mengalami penderitaan atau masalah hidup akan mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada mereka. Why me? Bagi banyak orang, penyebab masalah mungkin dihubungkan dengan nasib, kehendak Tuhan, hukuman Tuhan, atau kekejian manusia dan upaya iblis. Tetapi, sebagai umat Kristen kita tahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi dan tidak akan mencelakai anak-anak-Nya. Dengan demikian, jika kita merasa tidak bersalah, pertanyaan yang sama tetap tidak terjawab: why me?

Memang dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan dengan itu segala kekejian manusia dan tipu daya iblis bisa mengancam kebahagiaan anak-anak Tuhan setiap saat. Tetapi, bukankah Tuhan yang mahakuasa selalu melindungi umat-Nya? Mengapa Ia membiarkan kita mengalami segala masalah besar yang tidak kita duga? Why me?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa ia dan teman-teman seimannya juga mengalami penderitaan yang sangat besar di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas mereka adalah begitu besar dan berat, sehingga mereka telah putus asa dan bahkan menguatirkan hidup mereka. Saking beratnya masalah yang dihadapi, seolah-olah mereka telah dijatuhi hukuman mati (2 Korintus 1: 8 – 9). Tetapi mereka tidak mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada diri mereka.

Mungkin ada orang yang menerima kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang adil. Raja Salomo pernah berkata bahwa setiap orang mempunyai “nasib” yang berbeda, dan orang-orang yang berjaya belum tentu disebabkan oleh keunggulan mereka. Sebaliknya, orang yang menderita belum tentu karena kesalahan mereka. Dengan demikian, orang agaknya tidak perlu bertanya mengapa mereka harus menderita.

“Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.” Pengkhotbah 9: 11

Walaupun demikian, bagi umat Tuhan tetap ada pertanyaan. Mengapa Tuhan membiarkan adanya ketidakadilan di dunia? Apakah Ia adalah Tuhan yang adil? Pertanyaan ini sering diucapkan mereka yang merasakan perbedaan yang ada di antara umat manusia, terutama jika mereka sendiri merasa sebagai orang yang kurang beruntung. Apalagi jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka yang berhasil dan jaya pastilah orang-orang yang dikasihi Tuhan.

Paulus menjelaskan bahwa hal yang buruk itu terjadi, supaya mereka jangan menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dengan adanya berbagai penderitaan sekalipun mereka tidak berbuat jahat, Paulus dan rekan-rekannya justru bisa menaruh pengharapan bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka seperti apa yang sudah terjadi pada saat-saat yang telah lalu.

Paulus dan rekan-rekannya percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kuasa Tuhan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Mereka adalah murid-murid Kristus yang mengalami penderitaan seperti Kristus. Jadi tidak perlu ada pertanyaan “why me”. Seperti Kristus, mereka sudah mendapat bagian dalam kesengsaraan, dan karena itu, seperti Kristus, mereka juga sudah menerima penghiburan berlimpah-limpah dari Allah Bapa.

Manusia yang tidak mengerti mengapa sesuatu yang kurang baik bisa terjadi pada dirinya, tidak sadar bahwa Tuhan bisa saja membiarkan orang-orang tertentu untuk mengalami penderitaan, atau tidak mengalami penderitaan, agar rencana-Nya bisa tercapai.

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang kita pandang adil belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak untuk melakukan apa saja yang sesuai dengan rencana-Nya, termasuk untuk tidak melakukan apa yang kita harapkan. JIka hidup ini tidak seindah yang kita harapkan, tetapi justru jauh lebih buruk dari apa yang kita duga, mungkin kita mempertanyakan kebijakan Tuhan yang mengizinkan semua itu terjadi. Tetapi, seperti Paulus dan orang-orang percaya yang lain, biarlah kita yakin bahwa segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan. Tuhanlah yang bisa menguatkan kita, dan bahkan memakai hidup kita untuk menguatkan orang lain, sehingga mereka beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti apa yang kita derita.

Tuhan mau agar kita percaya bahwa dalam segala sesuatu, Ialah yang memegang kemudi kehidupan manusia. Adanya penderitaan di dunia seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk menolong atau menyadarkan mereka yang mengalami hidup yang berat karena satu dan lain hal. Sebagai umat-Nya kita harus tetap taat kepada-Nya dalam setiap keadaan dan percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahaadil, mahakasih dan mahabijaksana.

Hari ini kita diingatkan bahwa dalam setiap keadaan kita harus menyadari bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi pada diri setiap orang. Tuhan yang seolah membiarkan ketidakadilan terjadi di dunia, bermaksud agar setiap manusia sadar bahwa mereka bergantung kepada Dia. Ia juga menghendaki bahwa kita tidak kehilangan rasa belas kasihan kepada mereka yang kurang beruntung. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan!

Manusia tidak bisa melawan keputusan Tuhan

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Manusia mana pun pernah mengalami kegagalan. Kegagalan sering terasa sebagai pil pahit yang sulit ditelan; tapi, hal itu sering kali membuat orang semakin gigih berjuang karena adanya harapan bahwa keberhasilan bisa dicapai dengan keuletan. Pada pihak yang lain, kegagalan mungkin membawa pesan bahwa sekalipun ada banyak rancangan manusia, apa yang terjadi pada akhirnya harus sesuai dengan rencana Tuhan.

Bagi umat Kristen, ada kepercayaan bahwa apa yang tercapai adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Kesuksesan adalah tanda kasih-Nya dan mungkin karena adanya iman yang teguh. Tetapi, ini tidak selalu benar. Apa pun yang terjadi di dunia belum tentu membuat Tuhan senang, dan sekalipun itu terjadi belumlah tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, Tuhan terkadang membiarkan apa yang tidak berkenan kepada-Nya terjadi, karena itu tidak mengganggu rencana-Nya. Dalam hal ini, karena pada akhirnya rencana-Nya harus terjadi, hal yang kita pandang sebagai kejahatan, kepahitan dan sejenisnya bisa terjadi kepada siapa dan apa saja dengan seizin-Nya.

Dalam hal hidup manusia, mengapa harus ada kegagalan atau kekecewaan? Apakah Tuhan yang menetapkan semua itu untuk terjadi? Inilah pertanyaan manusia sejak dulu dan sering membuat manusia berusaha untuk mendekati Tuhan, walaupun hal ini juga bisa membuat manusia menjauhi Tuhan. Dalam hal ini, banyak orang yang berpikir bahwa penetapan Tuhan mengandung arti bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu yang terjadi di dunia. Ini adalah pandangan fatalisme yang membuat manusia dan bahkan alam semesta bekerja seperti robot ciptaan Tuhan.

Penetapan Tuhan bukan berarti segalanya ditetapkan atau ditentukan Tuhan. Tetapi itu berarti bahwa semua yang terjadi di dunia akan tunduk atau berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Jika sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, Tuhan tentu saja akan membiarkan itu terjadi. Tetapi, apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya akan diubah, dihentikan atau dimusnahkan-Nya pada saat yang tepat. Bahkan, Tuhan juga bisa mencapai tujuan-Nya sekalipun manusia berusaha melawan kehendak-Nya. Dengan demikian, mereka yang percaya bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah bagian dari hidup di dunia, tetapi yakin bahwa semua itu 100 persen ada dalam rencana Tuhan, akan bisa merasa yakin bahwa pada akhirnya rancangan-Nya pasti terjadi. Jika mereka juga sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, kekuatiran untuk masa depan bisa dihilangkan.

Pada pihak yang lain, mereka yang merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa dirancang dan dilaksanakan untuk mencapai keberhasilan dengan memakai akal budi manusia, akan mendapat kekecewaan yang besar jika menemui kegagalan. Dan lambat laun mereka mungkin saja menjadi pembenci Tuhan atau orang yang menyerah kepada “nasib”. Memang, apa yang dimengerti manusia hanya sebagian kecil dari apa yang diciptakan Tuhan dalam alam semesta. Apa yang diketahui dan dirancang manusia tidak dapat menjamin keberhasilan. Tetapi, mengapa banyak manusia masih saja mengabaikan firman Tuhan yang mahakuasa ketika membuat rancangan hidupnya?

Firman Tuhan di atas mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita tidak dapat memperoleh garansi bahwa rancangan sebaik apa pun akan berhasil. Tuhan yang mahakuasa mempunyai rancangan yang mungkin berbeda dengan rancangan manusia. Dalam segala ketidakpastian yang ada dalam pengetahuan dan kuasa yang dimiliki manusia, Tuhan yang mahakuasa selalu bisa bekerja untuk mewujudkan rencana-Nya.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya? Apakah yang sekarang ada sudah sesuai dengan rencana-Nya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerap kali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Seorang yang mencari pasangan hidup misalnya, mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik; tetapi jika kemudian rumah tangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus selalu berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia 100 persen bertanggung jawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firman-Nya setiap hari.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita sepenuhnya bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Pada pihak yang lain, kita juga percaya bahwa Tuhan sepenuhnya berdaulat atas apa yang kita pilih. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umat-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28