Bersahabat dengan uang

Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Lukas 16: 9

Duit, fulus, uang. Siapakah yang tidak butuh? Dari lahir sampai mati, manusia membutuhkan uang. Apalagi kalau tanggal tua, adanya sedikit uang di dompet mungkin seperti seteguk air di padang pasir. Apa sih uang itu? Mengapa manusia sangat membutuhkan uang? Uang adalah alat tukar. Ini adalah barang yang disepakati yang dapat kita gunakan untuk melakukan pembelian, perdagangan, atau melunasi hutang. Penggunaan uang membuatnya jauh lebih mudah untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan daripada dengan cara “barter”, seperti menukar ayam peliharaan kita dengan sekotak coklat yang kita ingini.

Walaupun uang hanyalah konsep duniawi, hakikat uang yang dibutuhkan manusia ini diungkapkan dalam  agama tertentu sebagai bekal ibadah dan perjuangan hidup. Menurut ajaran tersebut, dengan berbekal uang yang dimiliki, seorang dapat melakukan sesuatu yang baik  untuk mendapat sesuatu yang paling berharga, yaitu surga. Dengan uang atau harta, seorang  dapat membeli surga dengan perniagaan dengan Allah yang empunya surga. Orang bisa dengan hartanya berbuat kebajikan untuk dapat ditukarkan dengan tempat di surga.

Sudah barang tentu, sebagai umat Kristen, kita tahu bahwa perniagaan dengan Allah semacam itu tidak mungkin bisa. Tidak mungkin kita membeli tempat di surga melalui “barter” dengan Allah. Kemahasucian Allah tidak mungkin dicapai atau dibeli oleh manusia dengan alat apapun. Allah bukanlah miskin dan membutuhkan donasi manusia. Hanya darah Yesus yang memungkinkan manusia untuk dapat mendekati Sang Pencipta. 

Sebenarnya, uang adaah benda mati ciptaan manusia. Uang tidak memiliki kehidupan. Uang tidak bisa bertindak sendiri. Ia tidak dapat melakukan perbuatan baik, dan ia tidak dapat melakukan kejahatan. Pada dasarnya, uang bukan benda yang tidak baik. Tetapi jika ada hal yang buruk terjadi karena uang, itu ditenentukan oleh pemakainya, yaitu manusia. Uang hanya dapat melakukan apa yang kita perintahkan. Uang bukanlah akar dari segala kejahatan. Tetapi akar segala kejahatan adalah cinta uang (1 Timotius 6:10).

Jika konsep uang begitu sederhana dan tidak memiliki kekuatan yang menarik kita ke arah yang jahat, lalu mengapa kita begitu memusingkan soal uang? Apa yang Alkitab katakan tentang keuangan dan uang? Alkitab mengatakan banyak hal tentang uang, tetapi intinya adalah ini: uang bisa menjadi sesuatu yang mengatur hidup kita- semacam berhala – kartena keputusan kita sendiri. Dari rayuan kesuksesan hingga iming-iming nafsu, banyak hal di dunia ini yang akan memperebutkan kasih sayang dan pengabdian kita. Tetapi berhala yang paling berbahaya yang akan kita hadapi adalah uang (Matius 6:24).

Mengapa Gereja berbicara begitu banyak tentang uang? Ada dua alasan bagus mengapa Gereja begitu sering berbicara tentang uang. Pertama, alasan Gereja berbicara tentang uang adalah karena Tuhan berbicara tentang uang. Pertimbangkan statistik ini pada ayat-ayat tentang uang dalam Alkitab:

  • 16 dari 38 perumpamaan Yesus berhubungan dengan uang dan harta benda
  • Hampir 25% dari kata-kata Yesus dalam Perjanjian Baru berhubungan dengan penatalayanan uang secara alkitabiah
  • 1 dari 10 ayat dalam Injil berhubungan dengan uang
  • Ada lebih dari 2.000 ayat kitab suci tentang persepuluhan, uang, dan harta benda. Jumlahnya dua kali lebih banyak dari gabungan ayat mengenai iman dan doa.

Dalam Alkitab kita bisa mempelajari bahwa:

  • Tuhan memiliki segalanya, termasuk uang
  • Uang adalah alat yang digunakan manusia
  • Jangan berharap kepada uang untuk memperoleh kebahagiaan
  • Dapatkan uang itu dengan giat bekerja
  • Berusahalah untuk merasa cukup dalam semua keadaan
  • Bunuhlah keserakahan di hati kita
  • Berhati-hatilah dengan hutang
  • Kelola keuangan Anda dengan baik
  • Banyak uang, banyak masalah

Lalu bagaimana dengan ayat diatas? Mengapa Yesus berkata bahwa kita harus menggunakan uang untuk bisa diterima di dalam kemah abadi (surga)? Benarkah Yesus menganjurkan kita untuk bersahabat dengan uang atau harta? Kalau benar, bukankah apa yang diajarkan Kristus itu serupa dengan apa yang diajarkan oleh agama lain? Bukankah agama lain mengajarkan bahwa dengan amal-ibadah orang akan dapat masuk ke tempat yang paling tinggi di surga? Sebaliknya, bukankah rasul Paulus dalam 1 Timotius 6: 10 menulis bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan?

Apa yang dikatakan oleh Yesus waktu itu adalah ucapan ekstrim atau bernada hiperbola, yang dimaksudkan agar dapat lebih tajam dan mengena pada sasarannya. Ada beberapa ucapan bernada hiperbola yang dipakai Yesus dan tertulis dalam Alkitab. Misalnya:

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14: 26

Ungkapan bernada hiperbol tidak dapat langsung diartikan secara literal, tetapi harus dipelajari konteksnya. Kalau tidak, kita bisa mendapat kesimpulan yang keliru.

Uang sebenarnya adalah alat dan sumber daya manusia seperti juga pendidikan dan kepandaian dll. Manusia harus bekerja untuk mendapatkan uang, mengumpulkannya untuk disimpan dan dikembangkan, dan memakainya untuk mencapai tujuan tertentu. Ketiganya harus dijalankan dengan cara yang benar yang sesuai dengan hukum negara.

Dalam kenyataan hidup ini, banyak orang mencari uang dengan cara yang tidak benar, mengumpulkannya dengan maksud yang salah dan memakainya untuk tujuan yang keliru. Dalam masyarakat yang cenderung makin kapitalis sekarang ini, tidak hanya dalam dunia bisnis orang berebut mencari uang dengan segala cara yang kurang legal dan berusaha mengurangi pembayaran pajak sebisa mungkin, tetapi juga dalam lingkungan gereja banyak orang Kristen dan bahkan pemimpin gereja yang keliru dalam usaha mencari, mengumpulkan dan menggunakan uang. Selain itu, ada yang berpendapat bahwa banyaknya uang seorang anggota gereja akan memungkinkan pemberian uang persembahan yang lebih besar.

Banyak contoh di Alkitab yang menggambarkan betapa manusia bisa mengalami masalah karena cinta akan uang. Contoh yang mungkin sangat menyedihkan ialah ketika Ananias dan Safira  menemui kematian karena melakukan tiga hal diatas secara keliru: mendapat uang, mengumpulkan uang dan memakai uang dengan tujuan yang salah (Kisah Para Rasul 5). Seandainya mereka tidak membuat kekeliruan itu, mereka tentu tidak akan mati secara mengenaskan.

Dalam ayat Lukas 16: 9 diatas, jelaslah bahwa Yesus mengajarkan agar kita bisa menguasai uang dan bukan dikuasai uang. Kita harus bisa “bersahabat” dengan uang dalam arti bisa mencari uang dengan cara yang benar, mengelola uang dengan benar dan memakai uang dengan maksud yang baik – untuk kebesaran nama Tuhan. Keberhasilan yang pernah kita alami dalam mencari uang tidak dapat menjamin bahwa kita akan selalu berhasil dalam dua hal yang lain. Sebagai manusia yang hidup di dunia, ada juga saat dimana kita tidak dapat meneruskan usaha kita dalam mengelola uang karena berbagai faktor. Tetapi, jika untuk orang dunia terhentinya aktivitas keuangan akan membawa frustrasi dan kekecewaan, bagi orang Kristen yang sudah menggunakan uangnya dan hidupnya dengan baik ada kebahagiaan tersendiri, karena mereka sudah menggunakan sumber daya yang datangnya dari Tuhan itu untuk kemuliaan-Nya.

Sejauh mana orang Kristen harus mau untuk berjuang mencari uang, mengumpulkan uang dan menggunakan uang untuk kemuliaan Tuhan? Selama hidup di dunia kita bisa memakai berkat Tuhan itu untuk melebarkan kerajaan Tuhan dengan berbagai cara. Juga kita dapat menolong sesama kita yang menderita secara finansial. Ini bukan soal yang mudah untuk manusia yang cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri. Tetapi Yesus berkata bahwa siapa yang tidak dapat mencintai sesamanya yang kelihatan,  tidak akan bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan (1 Yohanes 4: 20). Senada dengan itu, siapa yang tidak dapat mengelola harta duniawi dengan baik, tidak dapat mengelola harta surgawi.

 “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Lukas 16: 11

Hari ini, biarlah kita bisa menyadari realita hidup di dunia ini. Bahwa selaku orang percaya kita dikaruniai kemampuan untuk menguasai bumi, untuk mengelola berbagai sumber daya yang ada. Sebagai orang beriman, kita mendapat panggilan untuk bisa bekerja dengan rajin dan jujur agar kita dapat memperoleh hasil yang baik, yang berasal dari Tuhan, dan yang bisa digunakan untuk memperbesar kerajaan Allah di dunia dan di surga dengan makin banyaknya orang yang menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Perbedaan harus ada, begitu juga persatuan

“Kamu harus berpegang kepada ketetapanKu. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.” Imamat 19: 19

Jika kita rajin membaca berita di media, setiap hari selalu ada masalah sosial yang dilaporkan, yang disebabkan karena adanya perbedaan antar manusia, antar bangsa dan antar agama. Walaupun demikian, pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.

Dengan perubahan yang terjadi di zaman modern, banyak orang yang merasa “maju” jika mereka bisa hidup bersama dengan damai bersama orang yang sebenarnya berpandangan hidup yang sangat berbeda. Hal yang sedemikian adalah baik, dan Alkitab memang menunjang prinsip kesamaan derajat antar umat manusia. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat digolongkan sebagai umat Tuhan. Ada orang yang dapat digolongkan sebagai domba Yesus dan gandum, tetapi ada pula yang bukan termasuk dombaNya (Yohanes 10: 26) dan mungkin bisa tergolong jenis lalang (Matius 13: 38).

Agama memang adalah salah satu hal yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Ada orang yang membayangkan betapa dunia akan tenteram jika tidak ada agama. Itu ada benarnya, tetapi dalam hal hidup beragama hal yang jahat biasanya bukan karena adanya perbedaan agama, tetapi karena adanya manusia yang memutar-balikkan ajaran agamanya sehingga timbul permusuhan antar sesama manusia. Adanya perbedaan dalam hidup tidaklah dapat dihilangkan, tetapi tidaklah harus menimbulkan kebencian dan persengketaan. Pada pihak yang lain, mereka yang berusaha menghilangkan kebencian dengan menghilangkan perbedaan, bisa melenyapkan kebenaran dan bahkan mengabaikan adanya Tuhan yang mahasuci.

Ayat di atas menunjukkan adanya perbedaan: ada dua jenis ternak, ada dua jenis benih dan ada dua jenis bahan pakaian. Walaupun demikian, isi ayat itu bukanlah mengenai 3 jenis perbedaan itu. Ayat itu menggambarkan perbedaan antara umat Tuhan dan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kedua kelompok ini adalah ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, tetapi sangat berbeda dalam hal iman, sehingga keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Mereka yang beriman, tetapi menerima cara hidup orang yang tidak beriman, lambat laun akan berubah gaya hidupnya dan menjalani hidup seperti orang yang tidak beriman. Mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi juga bisa menerima pendapat bahwa ada jalan lain menuju ke surga, lambat laun akan berpendapat bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan. Ini adalah hal yang tidak baik, dan karena itu adanya perbedaan antara orang dunia dan umat Tuhan harus tetap disadari.

Bagaimana pula dengan perbedaan pendapat di kalangan umat Kristen? Sekalipun mereka semuanya percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, permusuhan atau pertentangan antar umat Kristen masih ada sampai saat ini. Ada contoh dalam Alkitab di mana perpecahan antar umat Kristen dipakai Tuhan untuk hal yang baik. Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia.

Anda tentunya pernah mendengar kisah diatas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah untuk tidak pernah berjumpa lagi. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat nama-Nya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin keadaan keluarga tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif di gereja. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Barangkali, dalam suasana saat ini kita sering bertengkar dengan mereka mengenai soal prioritas kehidupan dan rencana masa depan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan kemurungan dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umat-Nya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umat-Nya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan persatuan dalam iman. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar dalam situasi yang sulit Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Kalau memang sudah diselamatkan, buktinya apa?

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4:17

Apakah Tuhan tetap menyelamatkan mereka yang sudah dipilih-Nya jika mereka tetap hidup dalam dosa? Ini adalah pertanyaan yang cukup sering muncul, dan sudah menyebabkan perdebatan antar berbagai denominasi Kristen. Dari segi teologi, ini mungkin tidak sulit dijawab. Jika memang Tuhan sudah memilih seseorang untuk maksud tertentu, Ia pasti memilihnya melalui kebijaksanaan dan kemahatahuan-Nya. Dengan demikian, Tuhan yang tidak pernah membuat kesalahan, tidak perlu membatalkan keputusan-Nya. Apa yang sudah ditentukan Tuhan, tidak dapat dibatalkan manusia. Ini sejalan dengan keyakinan semua umat Kristen bahwa keselamatan bukan terjadi karena usaha manusia, tetapi semata-mata karena karunia Tuhan kepada mereka yang mau diselamatkan.

Pada pihak yang lain, jika kita percaya bahwa Tuhan dan mahaadil dan mahasuci, apakah Tuhan mau menerima orang Kristen yang hidup dalam dosa, alias “anak yang hilang”, jika ia tidak pernah mau kembali dan bertobat kepada Bapa? Apakah Tuhan tetap menyertai kita sekalipun kita memilih untuk hidup dalam dosa? Apakah Tuhan hanya menyertai mereka yang imannya besar dan hidup tak bercela? Pertanyaan ini harus dijawab dengan pengertian dasar bahwa mereka yang mau mengikut Kristus harus meninggalkan hidup lamanya dan tidak melakukan dosa yang biasa dilakukannya. Karena itu, mereka yang tetap bertahan dalam dosa harus meneliti hidup mereka dan berdoa agar Tuhan memberi mereka kemampuan untuk menyadari apakah mereka memang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Memang ada banyak orang yang mengaku Kristen, tetapi tidak hidup menurut apa yang difirmankan Tuhan. Ada banyak orang sedemikian yang tidak pernah berubah gaya hidupnya karena yakin bahwa keselamatan sudah terjamin. Sebagai umat-Nya, hidup kita seharusnya berubah hari demi hari untuk menjadi makin serupa dengan Yesus. Roh Kudus bekerja dalam hidup kita memperbaharui hati dan pikiran kita. Dengan demikian, mereka yang yakin bahwa mereka orang Kristen, belum tentu adalah orang terpilih. Pada pihak yang lain, jika kita sadar bahwa kita sudah diplih, tetapi jika hidup kita masih terlalu sibuk dengan berbagai kesibukan duniawi, pembaharuan hidup kita akan mengalami kelambatan dan kita mudah jatuh kedalam dosa, termasuk kehancuran karena dosa lama. Itu adalah kesalahan kita sendiri, dan kalau itu terjadi kita tidak bisa mempersalahkan Tuhan.

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita manusia berdosa? Pertanyaan ini juga mudah dijawab karena penebusan Kristus memungkinkan  orang yang benar-benar percaya kepada-Nya mendapat pengampunan sekalipun dosanya sebesar apapun (Yesaya 1: 18). Selain itu, karena Kristus sudah mati di kayu salib untuk seisi dunia, setiap manusia yang percaya akan terhitung sebagai anak Tuhan sekalipun ia berdosa (Lukas 23: 43). Dalam Yesus tidak ada lagi hukuman:

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8: 1

Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Karena itu, adakalanya ia memperingatkan umat-Nya untuk kembali ke jalan yang benar. Memang peringatan itu adalah tindakan pendisiplinan yang bisa terasa menyakitkan, tetapi Ia tidak akan memberi sesuatu yang melebihi kekuatan kita (1 Korintus 10: 13).

Sudah berapa lama kita menjadi pengikut Kristus ? Apakah dengan menjadi pengikut Kristus kita telah meninggalkan kehidupan lama dan menjadi manusia yang baru ? Ingatlah Firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:17 yamg menyatakan bahwa siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.Yang dimaksud dengan ciptaan baru adalah pribadi yang telah mengalami pembaharuan dalam hidupnya melalui proses pertobatan yang tidak lagi mengenakan tabiat manusia lama, tetapi mengenakan tabiat Kristus dan hidup menurut pimpinan Roh Kudus.

Manusia baru tidak ada lagi hidup dalam dosa lama. Untuk bertumbuh menjadi manusia baru langkah yang harus kita lakukan adalah memiliki komitmen untuk membuang cara hidup manusia lama kita dan menjadi serupa dengan Kristus dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Jelas bahwa dosa adalah faktor penghalang utama untuk mengalami pembaharuan hidup. Oleh karena itu janganlah kita menyimpan dosa-dosa masa lalu yang terus menghantui dan menghambat pertumbuhan rohani kita. Janganlah memberi kesempatan kepada Iblis untuk menguasai kita kembali.

Ayat pembukaan di atas mengajak kita agar kita tidak hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Karena itu, sediakanlah banyak waktu untuk belajar firman Tuhan dan bersekutu dengan-Nya supaya kita dibaharui di dalam roh dan pikiran kita sehingga kita dapat mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah didalam kekudusan yang sesungguhnya. Itu jika kita benar-benar sudah diselamatkan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tidak dapat hidup dalam dosa lama. Tetapi, selama hidup di dunia kita tetap harus berjuang melawan dosa setiap hari. Adakalanya Tuhan memberi peringatan ketika kita membuat kesalahan, agar kita kembali mendekat kepada-Nya. Tetapi, dalam keadaan apapun Yesus yang telah mati di kayu salib sebagai ganti hukuman mereka yang terpilih. Mereka yang terpilih adalah orang-orang yang sadar bahwa mereka harus berubah melalui proses yang berlangsung selama hidup di dunia.

Hidup ini bagaikan sebuah bandul

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 5-8

Agaknya setiap orang pernah bermain bandulan atau ayunan, paling tidak semasa kecil. Selain bandulan yang dibuat dari sebuah papan kayu yang digantung ke sebuah pohon dengan tali, sekarang kita bisa menemukan kursi bandulan buatan pabrik yang bermacam-macam jenisnya. Jika bandulan adalah sebuah kursi yang digantung sehingga bisa bergoyang-goyang, istilah bandul menunjuk pada sebuah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas dan periodik yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang mempunyai ayunan.

Satu hal yang tidak bisa dihindari adalah kenyataan bahwa sebuah bandul tidak bisa mulai berayun tanpa ada yang mendorong. Hal yang lain yang harus diterima adalah sebuah bandul yang berayun pada suatu saat akan berhenti, jika tidak tetap didorong. Dalam bermain bandulan, kita mungkin bisa berjam-jam berayun jika ada orang lain yang mendorong kita atau jika kita mendorong bandulan itu dengan menggerakkan tubuh kita dan mengayunkan kaki kita seirama dengan gerakan bandulan. Begitu juga, jam lonceng bandul hanya bisa terus berdetak jika ada tenaga tambahan yang diberikan melalui tenaga baterai atau putaran per.

Hidup jasmani manusia agaknya berjalan seperti sebuah bandul yang berayun. Denyut jantung kita bisa dibayangkan sebagai bandul yang berayun, mungkin 60-100 kali semenit. Jika denyut jantung seseorang menurun sehingga jumlahnya sangat rendah, ada kemungkinan orang itu pingsan, atau mati jika tidak ada lagi detak jantungnya. Dalam hal rohani, kita juga bisa membayangkan bahwa kita tetap hidup jika detak iman kita masih ada; tetapi, mereka yang sudah mati secara rohani, tentunya tidak mempunyai iman yang bekerja. Bagaimana bisa begitu?

Ketika Tuhan menciptakan manusia di taman Eden, Ia menciptakannya dengan membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup dan mempunyai jantung yang berdetak . Tuhan sudah membuat jantung manusia terus berdetak dengan kasih-Nya, dan tanpa itu manusia tidak akan bisa hidup. Walaupun demikian, kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat hubungan antara manusia dan sumber kehidupannya menjadi retak, dan karena itu jantung manusia pada suatu saat akan berhenti berdetak. Ini seperti sebuah ayunan yang berhenti karena tidak ada dorongan.

Tuhan yang mahakasih tidak membiarkan manusia untuk mati selamanya ketika jantungnya berhenti berdetak. Tuhan kemudian menjanjikan seorang Juruselamat untuk menebus mereka yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian, walaupun secara jasmani manusia akan mati, secara rohani mereka yang percaya dan setia kepada Tuhan akan dikaruniai keselamatan yang abadi. Ini bukanlah seperti konsep ayunan yang sederhana, karena hidup kerohanian manusia juga dipengaruhi oleh cara hidup dan usaha manusia untuk tetap hidup dalam terang firman-Nya.

Memang keselamatan manusia hanya karena karunia Tuhan dan bukan karena usaha manusia. Ini berarti bahwa karunia Tuhanlah yang menjadi kekuatan utama yang membuat hidup kerohanian kita tetap berjalan. Walaupun demikian, Rasul Petrus menulis bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan sungguh-sungguh, dalam arti menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Inilah sebuah sinergi antara kehendak Tuhan dan kehendak manusia yang sulit kita bayangkan.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2: 12

Ayat pembukaan di atas yang berasal dari kitab Amsal menyatakan bahwa kita harus percayalah kepada TUHAN dengan segenap hati kita, dan jangan bersandar kepada pengertian kita sendiri. Dalam hidup di dunia, jika kita mau mengakui Dia dalam segala apa yang kita lakukan, maka Ia akan meluruskan jalan kita. Kita tidak boleh menganggap diri kita bijak, tetapi kita harus takut akan TUHAN dan menjauhi kejahatan. Inilah yang akan membuat kita tetap hidup dalam terang-Nya dan mempunyai jantung yang tetap berdetak untuk kemuliaan-Nya, bagaikan bandul yang tidak pernah berhenti. Roh Kudus-Nya juga akan menghidupkan iman kita, makin lama makin besar, sampai saat di mana kita menghadap Dia di surga.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4: 16


Pagi ini kita diingatkan untuk tidak tawar hati, tidak putus asa atau kecewa dengan keadaan diri kita atau situasi di sekeliling kita. Denyut jantung rohani kita tetap ada dan bahkan iman kita makin lama makin besar jika kita mau untuk mengerjakan keselamatan yang sudah kita terima dari Tuhan. Jika kita mau berusaha hidup dalam firman-Nya, kita akan menerima kekuatan dari Dia hari lepas hari sehingga bandul kehidupan kita teap bisa berayun.

Membayangkan hubungan antara kehendak bebas dan kehendak Tuhan

Sebenarnya kamu harus berkata: ”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Pernahkah anda bertanya-tanya apa kehendak Tuhan bagi hidup anda? Saya kira kita semua pernah mengajukan pertanyaan itu di beberapa kesempatan. Bagi kebanyakan dari kita, pertanyaan muncul dalam hati kita pada saat-saat kritis: memilih pasangan atau pekerjaan, memilih sekolah mana yang akan diikuti atau rumah mana yang akan dibeli. Inilah saat-saat kita cenderung berseru: Tuhan, tunjukkan kehendak-Mu!

Mencari kehendak Tuhan bukanlah soal gampang. Sering kali orang Kristen berhenti berusaha karena ragu-ragu apakah apa yang sudah dilakukannya adalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan hasil akhirnya sejak awal, mungkin merasa bahwa apa pun yang mereka perbuat adalah sia-sia pada akhirnya. Pada pihak lain, ada orang Kristen yang percaya bahwa setiap manusia mempunyai kehendak bebas dan harus bertanggungjawab atas pilihannya. Tetapi, pandangan ini tidaklah disetujui mereka yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan setiap perbuatan manusia, bagaimanapun kecilnya, untuk bisa mencapai rancangan-Nya.

Pada saat kita berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan, kita sering merasakan ketegangan. Dalam keinginan yang tulus untuk menyenangkan Dia, terkadang orang Kristen bisa berjalan dalam ketakutan bahwa mereka akan membuat pilihan yang salah. Secara ekstrim, kita mungkin bertanya-tanya di mana Tuhan ingin kita mendapatkan kopi, berapa banyak yang Dia ingin kita belanjakan untuk bahan makanan, atau apakah Dia akan senang jika kita pergi ke luar kota untuk berlibur. Setiap pilihan menjadi keputusan yang melumpuhkan: entah karena takut gagal menemukan apa yang Tuhan inginkan, atau takut membuat pilihan yang bisa menghancurkan segalanya.

Bagi beberapa orang, terobsesi dengan detail kehidupan membuat mereka membuat keputusan dengan cara yang jelas-jelas tidak alkitabiah—menggantungkan pilihan mereka pada “tanda-tanda” atau ‘berserah pada “nasib”. Mungkin kita terpaksa berkata: “Kehendak-Mu jadilah” sambil menutup mata dan mengharapkan apa yang terbaik. Pada pihak yang lain, ada orang yang berayun ke ujung yang berlawanan, yang berpikir bahwa Tuhan tidak terlalu peduli dengan detail kehidupan kita dan tidak memiliki “kehendak” untuk apa pun atas hal yang mereka lakukan.

Kita juga dapat berasumsi bahwa kehendak Tuhan hanya berlaku untuk aspek kehidupan tertentu, yang signifikan, misalnya dengan siapa kita menikah atau pekerjaan apa yang kita lamar. Tetapi, di luar hal-hal besar itu, pada dasarnya kita mungkin percaya bahwa kita bisa mengendalikan hidup kita. Yakobus mengatakan sikap seperti ini adalah arogan dan jahat (Yakobus 4:16). Dalam segala hal, kita harus mengakui ketergantungan kita sepenuhnya pada rencana Allah yang berdaulat, dengan mengatakan, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini atau itu” (Yakobus 4:15). Tetapi bagaimana kita bisa tahu apakah Tuhan telah menghendaki sesuatu atau tidak? Apakah kita tidak boleh atau tidak bisa mengambil keputusan dengan pikiran dan pengalaman kita? Apakah tindakan kita bisa mempengaruhi rancangan Tuhan? Apakah Tuhan akan terkejut melihat tindakan kita dan harus mengubah rancangan-Nya untuk mengakomodasi perbuatan kita?

Sebagai seorang yang berlatar belakang teknik sipil, tetapi yang kemudian belajar teologi Kristen, saya mengalami pergumulan dalam menjelaskan hubungan antara kehendak bebas manusia dan kehendak mutlak dari Tuhan. Secara umum, pandangan sebagian orang Kristen menjelaskan bahwa Tuhan adalah penyebab utama/pertama dari segala sesuatu. Tetapi Tuhan menetapkan manusia dan hal-hal lain di alam semesta untuk menjadi penyebab kedua, yang secara langsung berhubungan dengan hasil akhir dari suatu proses. Dengan demikian, sebuah kejadian seperti kecelakaan misalnya, bukanlah Tuhan yang membuatnya – tetapi manusia atau hal lain yang ada di dunia. Tetapi, agar kehendak-Nya tercapai, Tuhan sudah menentukan penyebab kedua untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan kecelakaan itu dari awalnya. Dengan demikian, apa yang dinamakan kehendak bebas itu sebenarnya tidak ada. Saya kurang setuju dengan pandangan ini.

Sebenarnya semua kehendak Tuhan bisa dibagi dalam dua penampilan: kehendak rahasia-Nya dan kehendak-Nya yang diungkapkan. Kehendak rahasia-Nya (kadang-kadang disebut sebagai kehendak tersembunyi) mengacu pada fakta bahwa Allah berdaulat dan memerintah dengan cermat atas segalanya. Tidak ada yang terjadi di luar kehendak-Nya atau tidak dengan se-izin-Nya. Ini disebut “tersembunyi” atau “rahasia” karena kita tidak tahu kehendaknya sebelum itu terjadi. Ini adalah kehendak Allah yang berdaulat, tetapi tidak kita ketahui. Kehendak ini tidak ada yang bisa menggagalkannya.

Pada pihak yang lain, kehendak Allah yang diungkapkan adalah apa yang Dia nyatakan kepada kita di dalam Alkitab dan apa yang kita ketahui melalui pengenalan kita akan hukum dan watak Ilahi-Nya. Misalnya, kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita mengasihi sesama, mengekang lidah, berlaku adil, mengasihi belas kasihan, dan berjalan dengan rendah hati. Kita tahu adalah kehendak Tuhan agar kita menghindari “dosa-dosa yang membinasakan” yang bisa menghancurkan hubungan kita dengan Dia dan sesama seperti kesombongan,ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan.

Ironisnya, sebagai orang Kristen kita cenderung mengabaikan kehendak Tuhan yang diungkapkan dan terlalu berfokus pada kehendak rahasia-Nya. Kita sering ingin mengetahui kehendak Tuhan yang tersembunyi di masa depan, sementara berjalan bertentangan dengan kehendak-Nya yang terungkap di masa sekarang. Kita kurang mau mengambil keputusan berdasarkan kehendak Tuhan yang kita ketahui, dan berharap pada apa yang masih dirahasiakan. Selain itu, jika pun kita mau mengambil keputusan, kita mungkin berusaha mengingkari tanggung jawab kita dengan berkata bahwa semua yang kemudian terjadi adalah kehendak Tuhan yang dulunya tidak kita sadari. Ini sesuatu yang aneh, karena kita tahu bahwa Tuhan akan menuntut tanggung jawab kita atas hidup kita (Roma 14: 12).

Sebenarnya, kita harus rajin belajar dan berusaha memahami kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Saat kita mendengarkan khotbah dan pengajaran yang baik, membaca dan mempelajari renungan Alkitab, kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk mengetahui kehendak Allah yang diungkapkan. Dan saat kita memperbarui pikiran kita, Roh Kudus akan membantu kita tidak hanya membedakan kehendak Tuhan (Roma 12: 2), tetapi juga menerapkannya pada keadaan dan momen hari-hari kita. Dengan demikian, kita akan lebih berani untuk mengambil keputusan dalam hidup kita karena kita percaya akan bimbingan-Nya.

Sementara kita berusaha mematuhi kehendak Tuhan yang diungkapkan, kita dapat percaya bahwa sebagai wakil Tuhan di dunia, kita bisa bergantung pada pemeliharaan Tuhan yang baik—bahwa Ia ikut bekerja dalam semua hal untuk membawa kebaikan bagi kita. Melalui sinergi, Dia mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma. 8:28). Apa pun hari-hari kita, kita dapat percaya bahwa hal-hal spesifik sudah dirancang oleh Tuhan yang pengasih untuk kebaikan kita. Lalu bagaimana kita bisa membayangkan sinergi antara kehendak manusia dan kehendak Tuhan? Bagaimana rancangan Tuhan bisa terjadi jika manusia bebas untuk mengambil keputusan?

Mungkin cara penggambaran saya ini agak sederhana, tetapi mudah-mudahan bisa mengena. Untuk dicatat, ada banyak orang yang berusaha menjelaskan konsep sinergi ini, tetapi tentu saja tidak ada orang yang bisa menggambarkannya dengan sempurna. Saya bayangkan bahwa kehendak manusia itu adalah seperti sebuah gelombang suara. Setiap orang bisa menyanyi, tetapi nyanyian setiap orang akan berbeda dengan yang lain. Itu karena bentuk gelombang suara yang diciptakan Tuhan untuk tiap orang adalah unik. Begitu juga setiap manusia mempunyai cara kehidupan yang berbeda-beda, dan ada yang terlihat seperti gelombang yang indah dan teratur karena mereka mau mendengarkan suara Roh Kudus dan belajar dari firman Tuhan. Apa yang diperbuat setiap insan dengan karunia Tuhan adalah pilihan dan tanggung jawab pribadi yang tidak menentukan hasil akhirnya. Mengapa demikian?

Tuhan juga bekerja dalam kehidupan setiap manusia. Bisa kita bayangkan bahwa tindakan Tuhan adalan sebagai gelombang kedua (bisa juga beberapa gelombang) yang akan menentukan hasil akhir dari setiap tindakan manusia. Hasil akhir yang terjadi jika gelombang pertama yang dilakukan manusia disuperposisi (atau digabung) dengan gelombang-gelombang yang dilakukan Tuhan. Tuhan bisa membuat gelombang kedua sedemikian rupa, sehingga gelombang pertama tidak menjadi penentu hasil akhirnya. Tuhan bisa melihat gelombang-gelombang apa yang akan kita buat dalam hidup ini dari awalnya, dan ekalipun kita tidak bisa menduga apa yang akan terjadi, Ia sudah siap dengan gelombang-gelombang yang perlu pada saat yang tepat, untuk mencapai bentuk akhir gelombang yang dikehendaki-Nya sejak awal.

Apakah keputusan kita hari ini menyangkut hal memilih pasangan atau pekerjaan baru, kita dapat mempercayai Tuhan kita yang berdaulat untuk mengatur hidup kita untuk kemuliaan dan kebaikan kita. Kita harus berani mengambil keputusan dan berani bertanggungjawab atasnya. Ini juga berarti kita dapat mempercayai kehendak Tuhan bahkan selama adanya masalah kehidupan. Kita harus yakin bahwa semakin ingin kita menncari kehendak Tuhan, gelombang yang kita buat akan makin serupa dengan bentuk akhir gelombang yang dikehendaki-Nya, dan karena itu kita tidak akan mengalami berbagai kejutan dan goncangan kehidupan ketka Tuhan bekerja dalam hidup kita. Sebaliknya, jika kita hidup menurut kehendak kita sendiri, gelombang pekerjaan Tuhan akan terasa berat dalam hidup kita.

Sebagai contoh yang terbaik atas hubungan kehendak manusia dan kehendak Tuhan, kita bisa mengingat apa yang dialami manusia Yesus. Setelah hidup dalam ketaatan yang sempurna pada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan, Yesus, pada malam sebelum penyaliban-Nya, bertanya kepada Bapa-Nya tiga kali apakah ada cara lain baginya untuk menyelesaikan rencana Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Semuanya bergantung pada bagaimana Yesus akan menanggapi kehendak Allah yang sempurna. Segala pujian dan kemuliaan bagi Yesus, karena Dia menyerahkan diri kepada kehendak Bapa dengan berkata, “Jadilah kehendak-Mu” (Matius 26:42).

Hari ini, biarlah kita berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan yang sudah diungkapkan sebelum kita mengambil tindakan atau keputusan. Kita harus mau menaatinya, berjalan dalam kekudusan, mengejar kekudusan, mengasihi sesama kita, bermurah hati dengan sumber daya kita, mengekang lidah kita, dan takut akanTuhan. Percayalah bahwa Tuhan, dalam pemeliharaan-Nya, mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk kebaikan kita, dan ingatlah bahwa apa yang saat ini tersembunyi akan suatu hari terungkap dalam kemuliaan Tuhan. Sementara kita menunggu dengan harapan yang teguh untuk hari itu, kita harus bersyukurlah kepada Tuhan bahwa kehendak-Nya selalu baik untuk setiap umat-Nya.

Hal ketakutan dalam rumah tangga

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3: 18 – 19

Soal tunduk kepada suami ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan umat beragama. Saya ingin sekali lagi mengulasnya karena banyaknya kasus-kasus penganiayaan domestik (domestic violence) diantara umat Kristen. Penganiayaan ini bisa berupa tindakan fisik, tetapi juga bisa berupa penganiayaan batin. Pasangan suami-istri yang terlihat mesra seperti sepasang merpati di luar, bisa saja hidup seperti singa dan harimau di rumah. Bagaimana perkawinan mereka bisa tetap berjalan sekalipun tidak ada kedamaian dalam rumah tangga?

Untuk disimak, perkawinan di Australia sering kali tidak berlangsung lama. Beberapa data mengenai hal ini:

  • Pada tahun 2017 ada 1 perceraian di antara 2.8 perkawinan
  • Pada tahun 2020 ada 1 perceraian di antara 1.6 perkawinan
  • Kira-kira 50% pernikahan berakhir dengan perceraian
  • Lama perkawinan rata-rata 12 tahun

Di Indonesia mungkin angka perceraian tidaklah seburuk itu karena perceraian sering dianggap membawa aib bagi keluarga. Karena itu, banyak orang yang sebenarnya sudah lama bercerai secara batin sekalipun masih tinggal di bawah satu atap. Mereka yang mungkin masih terlihat seperti pasangan suami-istri yang rajin ke gereja, tetapi sudah tidak sehati-sepikiran.

Mengapa perceraian mudah terjadi? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab karena adanya berbagai faktor yang bisa mempengaruhi hubungan antara suami dan istri. Selain faktor usia, ekonomi, pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan agama, ada juga faktor-faktor dari luar yang bisa menghancurkan perkawinan.

Adanya persoalan hidup yang berbagai ragam sebenarnya adalah jamak karena itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Walaupun demikian, persoalan yang kecil bisa menjadi besar dan persoalan yang bagaimana pun bisa menghancurkan rumah tangga jika tidak segera diatasi.  Dengan demikian, jelas bahwa perkawinan akan mudah hancur jika tidak ada ikatan yang kuat antara suami dan istri dan komunikasi yang baik dan jujur di antara keduanya.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas sebagai pedoman hidup keluarga di kalangan orang Kristen, tetapi juga ayat yang sering menyebabkan perbantahan antara suami dan istri. Mengapa demikian? Dalam ayat itu ada disebutkan bahwa seorang istri harus tunduk kepada suami dan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya. Bagi sebagian kaum wanita, kata “tunduk” sering dipikirkan sebagai kesediaan untuk menjadi seperti hamba yang mau melakukan apa saja yang diminta tuannya. Lebih dari itu, sebagian orang menyangka bahwa istri harus menuruti apa saja yang dimaui suami, sekalipun itu bukan hal yang benar atau yang baik. Tambahan lagi, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tidaklah patut untuk seorang istri merasa lebih pandai, lebih mampu atau lebih bijaksana dari suaminya.

Di zaman modern ini banyak kaum wanita yang memandang bahwa ayat diatas sudah ketinggalan zaman. Bagi sebagian, keharusan untuk tunduk itu dianggap sebagai penyebab kekacauan rumah tangga. Pada pihak yang lain, ada yang berpendapat bahwa kekacauan rumah tangga terjadi karena istri yang selalu tunduk sehingga suami bebas untuk berbuat semaunya. Lalu bagaimana mungkin kata “tunduk” itu bisa muncul dalam Alkitab tidak hanya di kitab Kolose, tetapi juga di kitab Efesus dan Petrus? Dan mengapa “tunduk” merupakan perintah kepada istri, sedang “kasih” ditujukan kepada suami?

Hubungan antara suami dan istri dalam Alkitab ternyata dipakai untuk melambangkan hubungan antara jemaat dan Kristus. Seperti indahnya hubungan antara jemaat dengan Kristus, begitu juga hubungan antara istri dan suami bisa menjadi indah dan langgeng jika mereka menyadari fungsi masing-masing. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk melindungi dan mengasihi istrinya seperti Kristus sudah lebih dulu mengurbankan diri-Nya untuk jemaat-Nya.

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5: 24 – 25

Pada kenyataannya, banyak suami yang tidak sadar bahwa ia harus bisa mencontoh Kristus yang mau berkurban untuk jemaatNya. Mereka lupa bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, itu bukanlah berarti menjadi majikan. Seorang suami yang baik akan mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat (Efesus 5: 28 – 29). Pada pihak yang lain, ada juga istri yang selalu ingin untuk ikut berfungsi sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bahkan memandang rendah kemampuan sang suami.

Seorang istri yang merasakan besarnya kasih dan dedikasi sang suami akan bisa dengan sungguh hati menghormati dia. Hal ini mirip dengan jemaat yang mengasihi Kristus karena Ia lebih dulu berkurban. Seorang istri dengan senang hati mau memberikan kesempatan kepada sang suami untuk memimpin rumah-tangga jika sang suami mau melakukan tugasnya. Ini seperti jemaat yang menurut kepada pimpinan Kristus.

Hubungan suami istri menurut Alkitab bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh dunia. Pada saat ini orang cenderung untuk menuntut haknya dan dengan demikian mudah jatuh ke dalam pertikaian. Jika suami hanya menuntut ketaatan istri dan istri hanya menuntut kesabaran dan kasih sayang suami, hidup rumah tangga hanya berisi hal tuntut-menuntut. Sebaliknya, hidup suami istri menurut Alkitab adalah berdasarkan kewajiban. Baik suami maupun istri harus ingat akan kewajiban mereka, dan berlomba-lomba untuk lebih dulu berbuat baik bagi yang lain. Baik suami maupun istri harus sadar bahwa setiap orang mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri.

Dalam hidup berumah tangga kekuatan akan datang dari kasih dan kemurahan hati pasangan hidup kita. Inilah kunci kesuksesan dan kebahagiaan rumah tangga! Sayang bahwa gereja dan pendeta dalam hal ini sering tidak mau campur tangan dan bahkan memilih untuk menekankan bahwa istri harus tetap “tunduk” kepada suami. Banyak pendeta yang kukuh mengajarkan bahwa seperti manusia harus tunduk kepada Tuhan, istri juga harus tunduk dan taat kepada suaminya dalam keadaan apa pun.

Memang seperti Tuhan mengasihi manusia, suami harus mengasihi istrinya. Suami juga harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5: 25-28). Masalahnya ialah banyak suami yang tidak mengenal kasih Tuhan dan bahkan tidak tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya sendiri. Inilah masalahnya: bagaimana istri bisa tunduk kepada suami yang demikian?

Membandingkan lelaki dan wanita, mungkin tidak ada orang yang membantah bahwa pada umumnya lelaki lebih kuat fisiknya daripada wanita. Karena itulah, dalam olahraga, tim pria tidak bertanding melawan tim wanita. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kejahatan suami terhadap istri, atau kekerasan pria atas wanita secara umum tidak dapat diterima masyarakat mana pun.

Dalam rumah tangga, seorang suami mungkin lebih bisa mengerjakan satu hal dan sang istri sering lebih luwes melakukan hal yang lain. Tetapi yang sering terjadi dalam rumah tangga adalah istri diharapkan untuk tunduk kepada suami dalam semua hal, bahkan seperti tunduk kepada Tuhan. Apakah seorang istri harus selalu memandang dirinya kurang berarti? Apakah istri tidak boleh membantah dan menentang perlakuan semena-mena suami? Berita-berita di media sampai sekarang sering menunjukkan bahwa banyak istri yang menderita lahir dan batin karena harus tunduk kepada sang suami. Bahkan ada suami yang mungkin karena saking pintarnya bertinju, suka memukuli istrinya sampai babak belur!

Bagi kita yang sudah lama menikah, mungkin kita sudah terbiasa dengan perlakuan suami atau istri kita. Mungkin perlakuan kita yang dulu kurang baik, jika ada, sudah berhasil diperbaiki. Syukurlah kalau begitu. Jika tidak, kesempatan masih ada untuk mengubah apa yang keliru:

  1. Tunduk bukan berarti selalu setuju.
  2. Tunduk bukan berarti istri harus menanggalkan akal budi.
  3. Tunduk bukan berarti tidak pernah atau mau mempengaruhi suami.
  4. Tunduk bukan berarti mendahulukan kehendak suami diatas kehendak Tuhan.
  5. Tunduk bukan berarti menggantungkan seluruh kekuatan rohani kepada suami.
  6. Tunduk bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Poin nomer 6 adalah satu hal penting yang bisa dipakai sebagai alat pengukur kesehatan hubungan suami-istri. Jika salah satu merasa takut kepada pasamgannya, itu berarti hubungan mereka tidak sehat. Mengapa demikian? Itu karena rasa takut menunjuk pada absennya kasih dari hubungan suami-istri. Kita yang sudah diselamatkan oleh Kristus, memiliki hubungan yang berdasarkan kasih, bukan keakutan. Kita tidak perlu takut kepada Kristus jika kita hidup dalam kasih-Nya. Begitu juga dalam hidup rumah tangga, seorang istri yang hidup dalam ketakutan, atau seorang suami yang terlihat menakutkan, adalah tanda bahwa Yesus belumlah menjadi Tuhan dalam rumah tangga mereka. Semoga kita sadar bahwa jika kasih ada dalam sebuah keluarga, tidak ada lagi ketakutan yang dialami oleh anggota keluarga. Sebaliknya, yang ada adalah kedamaian dalam Kristus.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan melaui doa

Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.” 2 Tesalonika 1: 11-12

Apakah setiap orang Kristen berdoa? Pertanyaan ini terdengar aneh. Tetapi, adalah kenyataan bahwa banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, walaupun tidak atau jarang berdoa secara teratur. Sebagian hanya berdoa bersama-sama jemaat lainnya ketika di gereja, tetapi di luar kebaktian tidak pernah berdoa. Mungkin karena malas, tidak ada waktu untuk berdoa, atau tidak terbiasa atau tidak bisa berdoa. Ini tentunya sangat menyedihkan, karena ada tertulis dalam Alkitab bahwa kita harus berdoa dengan tidak berkeputusan:

Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5:17-18

Pada pihak yang lain, memang ada pemikiran sebagian orang Kristen bahwa doa kita tidak akan ada gunanya karena Tuhanlah yang menetapkan segalanya, dan semua rancangan-Nya pasti terjadi. Doa adalah usaha manusia yang sia-sia, begitu argumen mereka. Ini ada benarnya, jika kita berdoa dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang mahakuasa tidak dapat diubah manusia, dan kehendak Tuhan bukanlah atas usul manusia. Bukankah kita menyebut “Kehendak-Mu jadilah” dakam Doa Bapa Kami?

Ada pertanyaan lain, mengapa Yesus mengajarkan kita untuk mengajukan permohonan kita secara pribadi dan ringkas kepada Tuhan, jika Ia tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita memintanya?

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu j yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 6-8

Hal berdoa adalah suatu misteri dalam iman Kristen karena Alkitab mengajarkan adanya kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Tuhan berkuasa untuk menentukan segala apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi Ia menuntut tanggung jawab kita atas apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, kita tetap diperintahkan untuk berdoa dan bekerja. Ora et Labora.

Dalam agama Kristen, frasa berdoa dan bekerja mengacu pada praktik monastik gereja Katolik yang umumnya terkait dengan ajaran Santo Benediktus, yang percaya akan perlunya memadukan kontemplasi dengan tindakan. Frasa ini mengungkapkan kebutuhan untuk menyeimbangkan doa dan kerja dalam aturan-aturan monastik, dan telah digunakan dalam banyak komunitas Kristen secara umum sejak abad pertengahan hingga saat ini. Pandangan ini adalah alkitabiah, sekalipun kita harus tahu apa yang akan kita kerjakan dan apa yang patut kita doakan.

Ayat pembukaan di atas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika dan bisa memberikan pedoman hidup kita, terutama dalam hal berdoa dan bekerja. Paulus menyatakan bahwa ia selalu berdoa agar: (1) Tuhan menganggap jemaat Tesalonika layak bagi panggilan-Nya, dan (2) dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendak mereka untuk berbuat baik, dan (3) menyempurnakan segala pekerjaan mereka sehingga (4) nama Yesus dimuliakan di dalam hidup mereka dan (5) hidup mereka di dalam Dia.

Kita bisa melihat bahwa Paulus berharap bahwa Tuhan memanggil jemaat Tesalonika untuk hidup baik sesuai dengan panggilan-Nya. Kita harus sadar bahwa tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup baik jika Tuhan tidak memanggil mereka dan mempersiapkan, membimbing dan menyempurnakan kehendak mereka. Sebagai contoh, Tuhan yang menganggap Musa layak untuk memimpin orang Israel, sudah merencanakan untuk membawa umat Israel untuk keluar dari Mesir sebelumnya.

Musa yang berusaha menghindar dari tugas yang ditentukan Tuhan, akhirnya tidak bisa mengelak dari perintah Tuhan. Itu bukan karena Musa dipaksa Tuhan, tetapi karena Tuhan yang menguatkan Musa dan menyempurnakan kehendak Musa untuk menolong bangsanya. Tujuan Tuhan untuk membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir sudah tentu berhubungan dengan rencana agung-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa melalui kelahiran Yesus, tetapi yang paling utama adalah agar Dia dipermuliakan dalam hidup setiap orang yang diselamatkan, dan agar mereka yang percaya kepada-Nya bisa hidup bersama dengan Dia di surga.

Kembali kepada hal menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan, peranan doa adalah penting. Memang Tuhan sudah mempunyai rencana tertentu untuk setiap umat-Nya. Jika kita hidup dalam terang-Nya, melalui Roh Kudus kehendak Tuhan akan makin lama makin terasa dalam hidup kita. Sebagai umat-Nya, kita sudah tentu mempunyai kehendak untuk melayani Tuhan. Tetapi, jika Tuhan tidak mengarahkan hidup kita dan kita tidak mau mendengar suara-Nya, kehendak kita sendiri tidak akan membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Melalui doa kita dan doa saudara-saudara seiman, hari demi hari kita akan lebih bisa merasakan bahwa Ia sudah memanggil kita, mempersiapkan kita, membimbing kita dan menyempurnakan kehendak kita. Jika kita rajin berdoa dan kemudian memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya, hidup kita akan berguna untuk memuliakan Dia. Pada akhirnya, kita akan yakin bahwa kita akan menerima kemuliaan di surga pada waktunya.

Harmoni: kerukunan dalam Kristus

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 15: 5 – 6

Dalam sejarah perkembangan agama Kristen, orang bisa membaca bahwa perdebatan, perseteruan, dan bahkan peperangan sering ditemui diantara umat Kristen. Mereka yang sama-sama mengaku pengikut Kristus, ternyata mengalami kesulitan dalam melaksanakan perintah-Nya untuk mengasihi sesama manusia. Mengapa begitu? Mungkin yang satu merasa lebih benar dari yang lain. Atau mungkin yang satu merasa tersaingi oleh yang lain. Lebih dari itu, ada juga orang Kristen yang merasa bahwa mereka adalah satu-satunya yang mengenal jalan keselamatan, dan karena itu adalah satu-satunya yang pada akhirnya akan masuk ke surga.

Memang banyak orang Kristen yang merasa bahwa apa yang mereka yakini adalah yang paling benar. Itu dapat dimengerti, karena orang tentunya memilih apa yang paling baik diantara banyak pilihan. Adalah aneh jika orang memilih apa yang kurang baik diantara apa yang lebih baik. Walaupun demikian, masalah serius mungkin muncul jika ada orang yang merasa bahwa hanya dirinya saja yang benar, sedangkan semua orang yang lain adalah salah. Dalam hal ini, sebuah gereja yang pada mulanya menganut aliran tertentu bisa saja terpecah belah menjadi beberapa gereja terpisah ketika pemimpin-pemimpinnya tidak lagi bisa memelihara  kesatuan hati dan suara dalam hal memuliakan Allah. Hal ini bukannya jarang, tetapi mungkin malah lebih sering terjadi di zaman modern karena adanya kebebasan bagi semua orang untuk mengemukakan pendapatnya dan menuntut haknya.

Hal hidup rukun dengan orang lain adalah apa yang didengung-dengungkan oleh banyak pemerintah, terutama jika rakyatnya terdiri dari berbagai ragam suku, agama dan budaya. Dalam hal ini, orang mungkin lebih bisa berusaha untuk hidup dengan harmonis bersama orang lain karena adanya ajakan, ajaran, perintah dan hukum agar setiap orang bisa menghormati orang lain dan menerima adanya perbedaan sebagai apa yang normal. Dengan demikian, kita mungkin bisa melihat bahwa kerukunan antar agama bisa dijalankan di berbagai negara yang mempunyai sistim hukum dan pemerintahan yang baik. Bagaimana pula dengan kerukunan diantara umat Kristen?

Setelah memberikan petunjuk penting dalam Roma 14:1-15:4 tentang tanggung jawab orang Kristen untuk tidak terpecah belah atas hal-hal yang tidak penting untuk keselamatan, Rasul Paulus mengakhiri diskusinya dengan doa untuk persatuan di dalam gereja. Paulus mengakui bahwa keharmonisan Kristiani tidak mungkin terlepas dari pemberdayaan Allah, dan karena itu Ia memohon kepada Tuhan untuk memberikan kepada para pembaca suratnya kemampuan dan kemauan untuk memuliakan “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” dengan satu suara. Jelaslah Paulus menyatakan bahwa kasih bukan berasal dari manusia, tetapi berasal dari Allah. Sebagai manusia kita tidak mampu mengasihi Tuhan dan sesama kita jika Allah tidak lebih dulu menyatakan kasih-Nya dengan mengirimkan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.

Paulus pada suratnya kepada jemaat di Roma menyatakan harapannya agar Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada mereka, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara mereka memuliakan Allah dan Bapa dari Yesus Kristus. Dalam hal ini, sangatlah menarik bahwa Paulus bukannya mengatakan bahwa jemaat di Roma harus bisa untuk hidup rukun. Sebaliknya, Paulus berdoa agar Allah memberikan kerukunan (harmoni) kepada mereka. Harmoni dalam umat Kristen bukan kesatuan menurut hukum, tetapi kesatuan dalam iman.

Mari kita perhatikan hal-hal yang paling menonjol dari doa ini. Pertama, doa Rasul merupakan tindakan syafaat dan pernyataan nasihat. Dengan menyertakan doa dalam badan suratnya, Paulus sekali lagi menekankan – walaupun secara tidak langsung – pentingnya persatuan di dalam gereja. Dia berdoa untuk apa yang Tuhan inginkan, yaitu umat yang bersatu dalam esensi Injil dan toleran terhadap perbedaan dalam hal-hal yang tidak menyentuh hati iman Kristen. Karena ini yang Tuhan inginkan, itu juga yang harus kita inginkan. Oleh karena itu, kita harus selalu bekerja menuju persatuan Kristen yang didasarkan pada kebenaran dan memajukan kedamaian berdasarkan wahyu Tuhan tanpa mengkompromikan esensi Injil.

Kedua, kesatuan Kristiani tidak berarti menghilangkan keragaman dalam tubuh. Kesediaan Kristus untuk menerima sebagai murid-Nya laki-laki dan perempuan yang memiliki pendapat yang berbeda tentang makan daging (lihat Roma 14) menunjukkan bahwa Tuhan kita tidak mencari semacam kesatuan yang sama dengan keseragaman yang menonjol dalam setiap hal. Ada ruang untuk perbedaan pendapat dalam tubuh Kristus selama Injil tidak digulingkan dalam prosesnya. Allah mencari kesatuan di tengah keragaman, yang seharusnya tidak mengherankan karena sebagai Trinitas, Dia menunjukkan baik kesatuan maupun keragaman – Dia adalah satu esensi dan tiga pribadi.

Sebagai orang percaya yang hidup dalam harmoni, kita mencerminkan Tritunggal Mahakudus dan kesatuan dan keragaman yang mencirikan keberadaan Tuhan. Dengan demikian, kita semakin menggambarkan Tuhan – yang merupakan mandat asli kita (Kejadian 1:26-28) – dan kita memuliakan Tuhan. Seluruh hidup kita adalah untuk memuliakan Pencipta kita (1 Korintus 10:31). Kita mencapai ini dalam komunitas perjanjian saat kita mengejar kasih suci yang tidak berusaha untuk mengganggu orang lain dengan kepercayaan kita pada hal-hal yang tidak penting, namun berdiri kokoh di atas landasan keselamatan hanya oleh kasih karunia melalui iman saja di dalam Kristus saja.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Allah sudah memberi ajakan, ajaran, perintah dan hukum-Nya agar kita mau mengasihi Dia dan sesama kita; dan itu tentu saja termasuk ajakan untuk hidup rukun dengan saudara-saudara seiman kita agar kita bisa bersama-sama memuliakan Dia. Itu tidak mudah untuk dilaksanakan jika kita tidak memohon karunia-Nya. Semoga kita semua mau berdoa setiap saat agar karunia kerukunan ini dianugerahkan-Nya kepada kita semua, terutama dalam tahun yang baru ini.

Siapakah Anda?

“Kamu adalah domba-domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah Allahmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Yehezkiel 34: 31

Alkisah ada seorang gadis remaja yang berasal dari sebuah keluarga yang berantakan (broken home) di negara bagian New South Wales, Australia. Sewaktu masih di sekolah, gadis ini termasuk pandai sekalipun orang tuanya tidak dapat memberinya dukungan. Setelah menginjak usia dewasa, karena tidak adanya kebahagiaan, melalui pengaruh teman dan lingkungan ia mulai mengenal minuman keras. Selang berapa tahun, ia menjadi pecandu miras dan narkoba. Tetangkap polisi karena menjual narkoba, ia harus masuk penjara. Di penjara ia merasa hidupnya tidak berguna; sampai suatu saat ia sadar bahwa masa depan ada di tangannya sendiri. Ia berubah dalam cara hidupnya dan sekarang menjadi seorang pelukis dan juga aktif dalam usaha membantu orang yang mengalami masalah yang serupa.

Gadis di atas adalah orang yang “beruntung”. Karena dari keadaan yang kacau, dengan susah payah bisa menjadi orang yang berguna untuk masyarakat. Saat ini ia tidak lagi bertanya-tanya siapakah dia dan untuk apa ia hidup. Ia bisa merasakan apa yang dinamakan kebahagiaan. Memang, dua hal ini yang bisa memberi arti kehidupan. Orang yang tidak pernah memikirkan siapakah dia dan apa guna hidupnya, seringkali hidup dalam kebingungan dan tidak mempunyai tujuan hidup. Orang-orang sedemikian sering mengalami kesedihan yang mendalam, yang akhirnya bisa membawa kehancuran hidup.

Siapakah anda dan untuk apa anda hidup? Pernahkah anda memikirkan hal ini? Tentunya setiap orang pernah sesekali memikirkannya, tetapi mungkin tidak sampai menemukan jawabannya. Mungkin juga orang mempunyai jawaban tetapi bukan jawaban yang benar. Jawaban yang tidak benar tidak akan mengubah cara hidup manusia secara permanen, sekalipun kelihatannya bisa membawa perubahan. Hanya jawaban yang benar bisa menjamin hidup yang sejahtera sampai akhir. Jawaban yang benar dan membawa kebahagiaan di bumi dan di surga hanya bisa diberikan oleh Tuhan.

Terlalu banyak orang yang menyampaikan pesan-pesan positif yang dimaksudkan untuk membangun semangat mereka yang mengalami masalah hidup. Banyak influencer yang menyapaikan pesan atau nasihat agar orang menghargai hidupnya dan tetap bersemangat untuk berjuang demi keberhasilan. Tetapi sebagai orang Kristen kita tahu bahwa manusia yang berusaha membimbing sesama untuk mencapai kebahagiaan, adalah serupa dengan orang buta yang berusaha menuntun orang buta yang lain. Hanya Tuhan yang bisa membimbing kita melalui Roh Kudus-Nya.

Ayat di atas menjelaskan siapakah kita ini. Kita, umat percaya, adalah domba-domba Yesus, domba gembalaan-Nya, dan Dia adalah Allah. Yesus yang sudah lahir di hari Natal datang dari Allah dan Allah sendiri. Jika kita mengerti bahwa Yesus adalah Allah yang datang untuk menebus dosa kita, kita tentu akan menghargai Dia di atas segala yang ada. Selanjutnya, jika kita percaya bahwa Yesus adalah Gembala kita, kita tentu tidak ingin menyia-nyiakan hidup kita karena Ia sangat mengasihi kita.

Biarlah dalam memasuki tahun baru, kita mau menyadari betapa berharganya diri umat manusia di hadapan Allah, sehingga Yesus perlu datang ke dunia. Karena itu kita harus mau menyerahkan hidup kita ke dalam pimpinan-Nya. Kita percaya bahwa Allah menyertai mereka yang menghargai Allah untuk selama-lamanya.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Hal kehilangan keselamatan

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Pertanyaan umum bagi banyak orang Kristen adalah, “Apakah saya bisa kehilangan keselamatan saya?” Kemungkinan jawabannya tentu hanya dua: ya atau tidak. Dalam hal ini, saya telah mendengar kedua sisi argumen dan percaya bahwa hanya Tuhan yang benar-benar tahu jawabnya. Alasan terjadinya perdebatan antar umat Kristen adalah karena Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Tuhan yang tidak dapat diperoleh manusia dengan usahanya sendiri, tetapi Alkitab juga memberikan peringatan tentang adanya kemurtadan. Adalah lumrah jika ada ketegangan yang sehat antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Tetapi, isu ini juga sering menimbulkan perpecahan gereja, elitisme golongan, atau superioritas teologi.

Ayat di atas cukup kontroversial dan memiliki interpretasi yang beragam. Bahasa yang digunakan dalam ayat ini dapat diartikan dalam lebih dari satu cara. Sesulit apa pun ayat-ayat ini untuk dijelaskan, ayat-ayat ini tidak boleh ditafsirkan dengan cara yang tidak sesuai dengan isi Alkitab lainnya. Sebagai bagian yang berhubungan dengan kemurtadan, tafsiran pertama atas peringatan dalam ayat ini berlaku untuk orang Kristen yang diselamatkan yang harus menderita hukuman karena ketidaktaatan mereka; atau dalam tafsiran kedua, berlaku pada mereka yang tidak pernah benar-benar diselamatkan, dan yang mengalami murka khusus karena menolak Kristus secara terang-terangan.

Ungkapan Yunani di sini kadang-kadang ditafsirkan sebagai “terus menerus berbuat dosa”, atau sebagai “dengan sengaja berbuat dosa”. Ada perbedaan halus antara ini, dan bagaimana seseorang menafsirkan sisa bagian ini sangat mempengaruhi bagaimana kata-kata ini dipahami. Konteks yang lebih luas dari bagian ini, bagaimanapun, tampaknya mendukung pandangan kedua. Mengapa begitu? Karena tidak mungkin orang Kristen sejati untuk tetap hidup dalam dosa.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Dalam kasus mereka yang “terus berbuat dosa”, ini menyiratkan mereka yang sampai pada tingkat pengetahuan tertentu tentang Injil, tetapi pada akhirnya menolaknya demi dosa mereka. Orang-orang seperti itu adalah mereka yang tidak pernah diselamatkan secara sah sejak awal. Maka, peringatan berikut mengacu pada betapa lebih parahnya penghakiman mereka nantinya. Mereka yang memiliki pengetahuan yang lebih besar memiliki tanggung jawab yang lebih besar, khususnya dalam hal rohani (Yohanes 9:41).

Jika rujukan ini dipahami sebagai mereka yang “dengan sengaja berbuat dosa”, tampaknya ini menunjukkan mereka yang telah menerima Kristus secara sah, tetapi dengan sengaja gagal tunduk sepenuhnya pada kehendak-Nya. Memang benar bahwa Alkitab menetapkan suatu pengharapan tertentu bagi mereka yang diselamatkan; yaitu, mereka tentunya diharapkan untuk hidup sebagai orang percaya. Namun, kitab Ibrani ini menunjukkan adanya bahaya untuk jatuh ke dalam ketidaksetiaan dan ketidakpercayaan (Ibrani 3:12–19; Ibrani 6:1–8). Peringatan sebelumnya itu diberikan dengan sangat jelas kepada orang-orang percaya yang telah diselamatkan.

Penulis Ibrani menunjukkan bahwa pengorbanan Kristus adalah satu peristiwa, sekali untuk selamanya (Ibrani 10:12). Oleh karena itu, tidak ada lagi korban tambahan yang dipersembahkan di surga untuk pengampunan dosa (Ibrani 10:18). Ketika dosa benar-benar diampuni, tidak ada lagi korban untuk menghapusnya. Namun, sisi lain dari kebenaran itu terungkap di sini. Mereka yang menolak Kristus menolak satu-satunya korban yang dapat menyelamatkan mereka. Tidak ada, dan tidak akan pernah ada, cara lain untuk menghilangkan dosa.

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10:26

Kemurtadan adalah pengkhianatan atau pembelotan yang disengaja. Orang yang murtad adalah mereka yang bergerak menuju Kristus, sampai ke tepi kepercayaan yang menyelamatkan, yang mendengar dan memahami Injil, dan berada di ambang iman yang menyelamatkan, tetapi kemudian menolak apa yang telah mereka pelajari dan berpaling kepada Iblis. Ini adalah orang-orang yang bahkan mungkin sadar akan dosa mereka dan bahkan membuat pengakuan iman. Namun, bukannya mencapai kedewasaan rohani, minat mereka pada Kristus mulai berkurang, karena kenyamanan dan kenikmatan duniawi lebih menarik bagi mereka, dan akhirnya mereka kehilangan semua keinginan untuk mengasihi dan menghormati Tuhan. Mereka merasa bahwa apa yang ada di dunia lebih menarik dari apa yang dijanjikan akan ada di surga.

“Kesengajaan berbuat dosa” dalam perikop ini membawa gagasan penolakan Kristus secara sadar dan sengaja. Mengetahui jalan Tuhan, mendengarnya dikhotbahkan, mempelajarinya, menganggap dirinya sebagai orang beriman, dan kemudian berpaling berarti menjadi orang yang tidak peduli akan Tuhan. Orang seperti itu tidak berbuat dosa karena ketidaktahuan, juga tidak terbawa oleh godaan sesaat mereka terlalu lemah untuk melawannya. Orang berdosa yang sengaja berbuat dosa karena cara hidup yang terasa nyaman dan mapan yang tidak ingin ia tinggalkan. Orang yang sedemikian tidak perlu terlihat sebagai orang yang jahat, tetapi Tuhan menolak mereka karena mereka sudah menolak-Nya.

Pada pihak yang lain, orang beriman sejati bisa jatuh ke dalam dosa dan untuk sementara kehilangan persekutuan dengan Allah. Tetapi pada akhirnya dia akan kembali kepada Tuhan dalam pertobatan karena Allah akan terus mengerjakan dia sampai dia tidak bisa menjauh lagi. Ini berbeda dengan orang yang murtad sejati, yang tidak mau bertobat dan akan terus menerus berbuat dosa dengan sengaja dan kemudian meninggalkan Allah. Yohanes memberi tahu kita bahwa

“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” 1 Yohanes 3: 9

Orang yang murtad sejati memiliki pengetahuan, tetapi tidak ada aplikasi dari pengetahuan itu. Mereka dapat ditemukan di gereja, di antara umat Allah. Yudas Iskariot adalah contoh yang sempurna – dia memiliki pengetahuan tetapi dia tidak memiliki iman yang sejati. Tidak ada penolak kebenaran lain yang memiliki lebih banyak atau lebih baik paparan kasih dan anugerah Allah daripada Yudas. Dia adalah bagian dari lingkaran murid Yesus, yang makan, tidur, dan bepergian bersama-Nya selama bertahun-tahun. Dia melihat mukjizat dan mendengar firman Tuhan dari bibir Yesus, dari pengkhotbah terbaik yang pernah dikenal dunia, namun dia tidak hanya berpaling tetapi berperan penting dalam rencana untuk membunuh Yesus.

Setelah berpaling dari kebenaran, dan dengan pengetahuan bisa memilih apa yang baik; tetapi dengan sengaja dan terus-menerus berbuat dosa, orang yang murtad tidak dapat diselamatkan karena dia telah menolak satu-satunya korban yang benar untuk dosa: Tuhan Yesus Kristus. Jika pengorbanan Kristus ditolak, maka semua harapan keselamatan hilang. Berpaling dengan sengaja dari pengorbanan ini tidak meninggalkan pengorbanan; ia hanya menyisakan dosa, yang hukumannya adalah kematian kekal. Dengan demikian, ayat di atas tidak berbicara tentang seorang percaya yang murtad, melainkan seseorang yang mungkin mengaku sebagai orang percaya, tetapi sebenarnya tidak. Siapa pun yang murtad membuktikan bahwa dia tidak pernah memiliki iman yang sejati sejak awal.

“Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.” 1 Yohanes 2: 19

Apakah Tuhan sudah menetapkan orang-rang tertentu untuk menjadi orang murtad sejati dari awalnya? Sebagian orang Kristen percaya akan hal itu. Tetapi, seperti Martin Luther, saya tidak menganut faham itu. Walaupun keselamatan adalah anugerah Tuhan, kita juga memiliki bagian dalam rencana keselamatan-Nya, yaitu tanggung jawab untuk merespons, itulah langkah pertama dari keyakinan yang menyelamatkan jiwa. Dan lebih dari itu, kits memiliki tanggung jawab untuk tetap setia sampai akhir, mengarahkan kehendak kita melalui bimbingan Roh Kudus untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, yang ditunjukkan dalam ketaatan (Yohanes 14:21), dan untuk tetap dalam persekutuan yang berkesinambungan dengan-Nya.

Jelas bahwa pertanyaan apakah seseorang dapat kehilangan keselamatannya bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Itu menyentuh kita pada inti kehidupan Kristen kita, tidak hanya berkenaan dengan kepedulian kita terhadap ketekunan kita sendiri, tetapi juga sehubungan dengan kepedulian kita terhadap keluarga dan teman-teman kita, khususnya mereka yang tampaknya, dari semua penampilan luar, telah membuat pengakuan iman yang sejati. Kita mungkin berpikir bahwa pengakuan percaya mereka terlihat kredibel, kita kemudian memeluk mereka sebagai saudara atau saudari seiman, hanya untuk melihat bahwa mereka menyangkal iman itu dalam keseganan mereka untuk mengikutsertakan Tuhan dalam hidup mereka.

Pada akhirnya, hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa seseorang, mengubah, dan memeliharanya. Itu adalah kedaulatan-Nya yang tidak dapat diganggu gugat. Dengan demikian, pertanyaan atas bisa hilang atau tidaknya keselamatan itu bukanlah hal yang penting bagi kita, karena itu tidak pernah dijawab dalam Alkitab sebagai “ya” atau “tidak”. Tetapi, adalah lebih penting bagi kita untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, orang-orang kudus, selama hidup di dunia. Itu adalah kehendak Tuhan bagi umat-Nya, dan hanya umat-Nya yang diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 26-27