Bagaimana dengan persiapan anda untuk ke surga?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Teringat saya akan masa kecil, sewaktu orang tua mengajak saya dan adik saya untuk pergi ke luar kota. Pada waktu itu, bertamasya adalah sesuatu yang mewah dan jarang-jarang dialami, dan karena itu kami sekeluarga menantikan kedatangan harinya dengan penuh harapan. Persiapan untuk pergi bukan saja dengan memikirkan pakaian yang akan dipakai dan kegiatan apa yang akan dilakukan, tetapi bagi ibu saya adalah untuk mempersiapkan bekal makanan agar tidak perlu membeli makanan di jalan.

Persiapan adalah hal yang jamak dan umumnya dilakukan manusia untuk menghadapi hal-hal yang besar, penting, sulit atau memakan biaya. Tanpa persiapan, apa yang diharapkan untuk berjalan mulus bisa menjadi kacau balau. Persiapan juga bergantung kepada sifat dan sikap manusia yang bersangkutan, sebab ada orang yang selalu mempersiapkan diri dengan sangat berhati-hati sekalipun hanya menghadapi soal kecil; tetapi ada orang yang mengabaikan perlunya persiapan sekalipun ada hal-hal yang signifikan.

Bagaimana dengan soal pergi ke surga? Semua orang ingin ke surga, jika mereka percaya akan adanya surga. Tetapi, berapa banyak orang Kristen yang memikirkan surga dengan segala keindahan dan kemegahannya? Jika mereka pernah memikirkannya, seberapa sering mereka memikirkannya? Mungkin jarang-jarang saja, karena kelihatannya tidak ada gunanya. Hanya orang yang belum pasti tentang masa depannya akan memikirkan soal surga dan berusaha masuk surga dengan segala cara, begitu mungkin mereka berpikir. Bukankah orang Kristen sudah pasti ke surga tanpa perlu berbuat sesuatu?

Memang hal ke surga sepertinya mudah untuk orang Kristen, karena mereka diselamatkan semata-mata karena pemberian Allah.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun demikian, adalah keliru jika kita tidak mempersiapkan diri kita untuk menghadapi Tuhan, Allah kita di surga. Karena Tuhan adalah lebih agung dari pemimpin dunia manapun, dan kemuliaanNya melebihi segala ciptaanNya. Surga juga jauh lebih megah dan lebih indah dari bangunan apapun yang dibuat manusia.

Manusia hanya dapat membayangkan bentuk dan suasana di surga, tetapi semua itu hanyalah bayangan yang samar-samar saja. Persiapan kita untuk ke surga dengan demikian bukanlah berarti berusaha untuk mendapatkan pahala tertentu yang kita senangi di surga, seperti yang sering diajarkan oleh kepercayaan lain. Hanya Tuhan yang berhak menentukan apa saja yang akan kita terima di surga, dan tidak ada manusia yang tahu akan hal-hal itu selama mereka masih di dunia.

Memang dunia ini penuh dengan godaan, dan godaan yang paling sering kita hadapi adalah dorongan untuk memakai hidup kita sesuai dengan kemauan kita dan untuk kepentingan diri sendiri. Seringkali, sewaktu masih muda, orang terlalu sibuk dengan mengejar hari depan. Tetapi, dengan bertambahnya umur orang tetap saja cenderung menyibukkan diri dengan berbagai urusan dan kenikmatan duniawi. Surga, hal yang terbesar di masa depan, mungkin jarang dipikirkan.

Persiapan ke surga harus dihubungkan dengan hati, pikiran dan hidup kita selama masih di dunia. Dalam segala kelemahan, kita tetap harus berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi Dia, muka dengan muka, Tuhan yang sudah mengasihi kita di surga. Kita harus berusaha untuk mempersembahkan hidup kita di dunia sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Pagi ini, berapapun umur kita dan apapun kedudukan kita, seharusnya kita sadar bahwa sekalipun kita sudah diselamatkan, itu bukannya berarti kita tidak perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi Sang Pencipta. Semoga kita bisa memakai waktu yang masih ada untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3: 1- 2

Benarkah kita pengikutNya?

Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 26 – 27

Commonwealth Games 2018 adalah pertandingan olahraga antar negara-negara anggota Commonwealth yang diadakan di Gold Coast, Australia , bulan April yang baru lalu. Acara besar multi-sport seperti Olympic Games ini dihadiri sekitar 4500 atlit dari 71 tim internasional. Sungguh menarik bahwa untuk mempersiapkan diri guna menghadapi acara ini, seorang atlit mempersiapkan diri paling tidak selama dua tahun dan harus menghadapi berbagai proses seleksi sebelum bisa mewakili negaranya. Banyak atlit yang sudah terpilih untuk masuk kedalam pemusatan latihan nasional, kemudian ternyata tidak bisa bergabung dalam tim negaranya karena gagal memenuhi persyaratan.

Paulus dalam ayat diatas menggambarkan bahwa sebagai pengikut Kristus ia juga harus mempersiapkan diri seperti seorang atlit, pelari atau petinju. Sebagai seorang atlit pilihan ia harus tahu menguasai tubuh dan pikirannya agar ia bisa menggunakan seluruhnya untuk bisa memenangkan pertandingan. Paulus lebih lanjut mengatakan bahwa sebagai orang yang sudah dipilih untuk menjadi pengikut Kristus, ia tidak ingin untuk mengalami kegagalan. Apa maksud Paulus?

Memang banyak orang yang sudah dipanggil, diberikan kesempatan untuk mengikut Yesus, untuk menjadi atlit-atlitNya. Tetapi, tidak semua orang akan menjawab panggilan itu; mereka lebih senang menuruti cara hidup mereka sendiri dari pada berlatih untuk menjadi pengikut Kristus. Dengan demikian, mereka sendiri yang harus bertanggung jawab jika mereka tidak dipilih.

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22: 14

Diantara mereka yang menjawab panggilan Tuhan karena bimbingan Roh Kudus dan kemudian menjadi atlit pilihan, ada banyak yang memang mau hidup sebagai pengikutNya. Mereka merasa bersyukur bahwa mereka dipilih bukan karena jerih payah dan usaha mereka sendiri, tetapi semata-mata kasih karunia Tuhan. Karena itu mereka merasakan panggilan untuk berusaha sepenuh hati untuk menjalani hidup mereka sebagai atlit pilihan Tuhan. Memang hidup sebagai orang Kristen tidak mudah, tetapi mereka mau taat kepada firman Tuhan.

Diantara mereka yang menjawab panggilan Tuhan, ada juga orang-orang yang nampaknya bersedia untuk menjalani hidup sebagai atlit pilihan Tuhan. Mereka kelihatannya rajin berbuat baik, memuji Tuhan, mengabarkan injil dan sebagainya. Walaupun demikian, mereka tidak mempunyai alasan dan tujuan yang benar. Mereka mungkin ingin mencari kemuliaan diri sendiri dan bukannya kemuliaan Tuhan. Sebagian lagi mungkin hanya menikmati status “orang Kristen” saja, tanpa menyadari tugas dan panggilan mereka.

Pagi ini, Tuhan berfirman melalui Paulus bahwa orang yang sudah dipilih Tuhan seharusnya tidak lagi mempunyai hidup yang sama dengan mereka yang tidak terpilih. Mereka yang merasa atau terlihat sebagai atlit pilihan, tetapi tidak bisa hidup berdisplin sebagai seorang atlit, mungkin bukan benar-benar atlit yang terpilih yang sudah benar-benar menjawab panggilanNya. Mereka yang giat mengabarkan Injil, tetapi tetap hidup untuk kepentingan diri sendiri, mungkin adalah bukan pengikut Tuhan. Mereka yang sering berseru memanggil-manggil Tuhan dalam hidupnya, tetapi tidak melaksanakan perintahNya mungkin adalah penonton saja dan bukannya atlit. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda benar-benar menjawab panggilan Tuhan dan hidup sebagai orang yang terpilih?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Hal merebut kebesaran Tuhan

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40: 4

Mereka yang senang menonton drama atau pernah ikut main drama tentu tahu bagaimana seorang aktor bisa tiba-tiba menampakkan diri, mengeluarkan suara, atau membuat gerakan yang menarik perhatian penonton sehingga perhatian yang sebelumnya diberikan penonton kepada aktor lain teralihkan. Aksi drama yang mengundang perhatian ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan “upstaging“. Jika istilah upstaging dalam drama adalah disengaja untuk membuat drama itu makin menarik, diluar dunia drama istilah itu mungkin mempunyai konotasi yang kurang baik karena bisa diartikan sebagai “merebut pengaruh” , “mengungguli” atau “menutupi kebaikan orang lain”.

Dalam kehidupan gerejani, dari mulanya soal saling berebut pengaruh dan nama sudah ada. Mereka yang mengaku dari golongan Apolos bertengkar dengan mereka yang mengikut Paulus (1 Korintus 3: 3 – 4). Tiap golongan mungkin merasa lebih baik dari yang lain, dan mungkin mempunyai rasa iri hati terhadap yang lain. Dalam hal ini, Paulus mengingatkan bahwa jika ia yang menanam firman Tuhan, dan Apolos yang menyiram, Allahlah yang memberi pertumbuhan iman. Sudah tentu Allahlah yang terpenting dan patut disembah, karena Paulus dan Apolos hanyalah pelayan-pelayan Allah.

Bagaimana pula dengan keadaan gereja Tuhan di zaman ini? Perebutan pengaruh jelas masih ada antar gereja, antar pimpinan dan antar pengurus gereja. Tetapi yang lebih mencolok adalah adanya gereja dan pemimpin gereja yang ingin sekali membuat kelompok atau diri sendiri agar menonjol dan dikenal masyarakat. Mereka itu sering berusaha untuk menarik orang datang ke gereja mereka, bukan karena faktor Yesus, tetapi karena faktor manusia saja.

Ada banyak gereja yang seolah mengajak jemaat untuk merasa bangga atas segala kemegahan gedung dan kegiatan sosial yang ada. Juga ada banyak pendeta yang seolah membiarkan jemaat untuk memuja mereka karena penampilan, pengetahuan dan kata-kata bijak yang menimbulkan kekaguman. Mereka sudah menjadi selebriti, orang-orang yang terkenal karena penampilannya.

Memang apa yang terlihat megah dan indah bisa membawa kebaikan. Tetapi itu hanya bisa dibenarkan kalau membawa kemuliaan kepada Tuhan yang maha kuasa. Apapun yang baik, tetapi yang tidak kita lakukan untuk memuliakan nama Yesus, bisa digolongkan pada tindakan yang mencoba untuk merebut pengaruh dan kemuliaan Tuhan. Setiap kali nama manusia ditonjolkan diatas nama Tuhan, setiap kali pula keangkuhan dan kebohongan manusia diperlihatkan.

Pagi ini kita harus ingat bahwa Tuhan kita adalah Allah yang cemburu, yang tidak dapat menerima adanya ilah lain dihadapanNya. Adalah mudah bagi manusia untuk membuat kebodohan yang akan membawa murka Tuhan, seperti kesombongan atas kemampuan diri sendiri, kekaguman atas kehebatan orang-orang yang sombong, atau kepercayaan kepada orang-orang yang hidup dalam kebohongan. Oleh karena itu, marilah kita selalu berhati-hati untuk memusatkan iman kita kepada Yesus dan bukan kepada sesuatu yang bisa menutupi kebesaranNya!

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 15: 5 – 6

Hanya Tuhan yang tahu

“Sesungguhnya, ia tak mengetahui apa yang akan terjadi, karena siapakah yang akan mengatakan kepadanya bagaimana itu akan terjadi.” Pengkhotbah 8: 7

Jika anda sempat mengujungi tempat-tempat di pinggiran kota di Australia, anda mungkin bisa menjumpai adanya beberapa stand Tarot reader. Toko kecil yang menyediakan pembacaan kartu Tarot semacam ini biasanya juga menyediakan pelayanan penyembuhan penyakit secara mistis. Mirip praktek dukun di Indonesia.

Tarot adalah suatu sistem kartu bergambar yang terdiri dari 78 lembar kartu. Kartu Tarot biasanya digunakan untuk membaca keadaan, situasi, dan jalur hidup seseorang. Dokumen sejarah menunjukkan bahwa Tarot berasal dari Italia. Sampai saat ini, permainan kartu Tarocchi masih populer di Eropa.

Ahli pembaca kartu Tarot juga ada di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Mungkin sekarang ada sekitar 40 pembaca tarot di Indonesia (sebagian bertitel “Mama”), tetapi jumlahnya makin bertambah karena banyaknya orang yang ingin mengatahui apa yang terjadi di masa depan akibat situasi yang ada. Mereka yang menghindari dukun, mengira bahwa konsultasi “modern” yang biayanya mencapai sekitar Rp. 2-4 juta per jam itu tidaklah berbau mistis dan karena itu bisa diterima. Benarkah begitu?

Banyak ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Hanya Tuhan yang maha tahu, yang dapat mengetahui apapun yang akan terjadi di jagad raya dan di muka bumi ini. Tuhan yang maha kuasa juga selalu bekerja untuk mewujudkan rancanganNya, dan karena itu melakukan berbagai tindakan yang mengherankan manusia, tidak hanya dalam hal bentuknya, tetapi juga mengenai ukuran dan saatnya. Apa yang kita tahu hanyalah Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya untuk mereka yang percaya, sekalipun itu sulit dimengerti oleh manusia.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Ketidaktahuan manusia akan hari depannya sebenarnya adalah berkat Tuhan, karena dengan itu manusia bisa menggantungkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih. Persis seperti keadaan di taman Firdaus, sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Tetapi karena manusia ingin menjadi seperti Tuhan yang maha tahu, mereka selalu berusaha dengan segala cara untuk mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup mereka agar bisa melakukan sesuatu sebelumnya.

Dalam lingkungan gereja pun, ada orang-orang yang senang mencari “informasi” tentang masa depan, dan ada yang sering menyampaikan “nubuat” tentang berbagai hal. Nubuat semacam itu harus dianalisa isi, tujuan dan akurasinya. Memang, jika Tuhan mau menyatakan sesuatu kepada manusia, itu bisa dilakukan melalui orang-orang tertentu yang dikaruniai Tuhan. Tetapi, itu jarang terjadi dan biasanya muncul secara spesifik untuk hal yang sangat urgen yang akan terjadi. Nubuat bukan untuk membawa kemuliaan kepada si pembawa atau manusia lain, tetapi untuk membawa orang kepada pengenalan akan kebesaran Tuhan. Untuk memberitakan nubuat, seseorang harus dipilih Tuhan dan karena itu cara bernubuat tidak bisa dipelajari manusia. Nubuat Tuhan pasti terjadi dan jika ada yang tidak terjadi, itu menunjukkan adanya kepalsuan.

Sadar atau tidak, mereka yang selalu ingin melihat apa yang terjadi di masa depan, sebenarnya ingin untuk mengungguli (to upstage) kehendak Tuhan. Mereka yang merasa bisa meramalkan masa depan, seringkali mengalihkan perhatian orang lain dari Tuhan kepada diri mereka sendiri.

Jika kita membaca Alkitab dari ujung ke ujung, kita tahu bahwa ada satu oknum yang selalu ingin untuk meng “upstage” Tuhan. Iblis dulunya adalah Lucifer, malaikat ciptaan Tuhan yang berpenampilan luar biasa yang merasa lebih hebat dari Tuhan (Yesaya 14: 12 – 14). Iblislah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa dengan mengalihkan perhatian Adam dan Hawa ke arah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dan iblis jugalah yang sampai sekarang berusaha mengalihkan pandangan kita, dari kebesaran Tuhan kepada dirinya sendiri, dengan melakukan berbagai trik dan tipu muslihat yang mempesona agar kita terlena.

Sudah tentu mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhan akan berusaha mengabaikan tipu daya iblis. Tetapi, keadaan di sekeliling manusia bisa menimbulkan keinginan untuk bisa melihat dan mengatur masa depan mereka. Dengan demikian, manusia berbuat dosa karena tidak mempercayai Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Manusia kemudian mudah jatuh kedalam tipu daya ramalan iblis.

Raja Saul, sebagai contoh, menemui seorang dukun untuk bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dan bani Israel (1 Samuel 28: 3 -25). Iblis memanfaatkan kesempatan itu dengan menampilkan sosok Samuel yang sebenarnya sudah bersama Tuhan dan tidak mungkin datang menjumpai Saul. Sebagian ramalan iblis memang terjadi, tetapi kematian Saul dengan bunuh diri adalah tragis dan merupakan kelanjutan dosa Saul sendiri, karena ketakutan yang timbul setelah mendengar ramalan iblis membuat ia makin jauh dari Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk hanya mempercayai Dia dalam menghadapi masa depan. Dalam keadaan apapun, kita harus bisa mengatasi dorongan iblis untuk melupakan Tuhan dan kuasa serta kasihNya. Jika hidup kita saat ini mengalami berbagai kesulitan dan bahaya, itu adalah kesempatan bagi kita untuk makin dekat kepada Tuhan dan bukannya melarikan diri kepada orang-orang yang dari luar nampaknya bisa memberi bimbingan dan pertolongan melalui ramalan masa depan. Semoga kita selalu taat kepada Tuhan dan menghindari bujukan iblis!

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Tujuan hidup mempelai Kristus

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Acara pernikahan Prince Harry dengan aktris Meghan Markle akhir minggu kemarin diikuti oleh jutaan pemirsa TV di seluruh dunia. Mereka yang menonton acara itu banyak yang terbuai dengan kenyataan bahwa seorang wanita yang tergolong rakyat biasa di Amerika bisa menikah dengan seorang pangeran dari istana kerajaan Inggris. Kejadian ini seolah menjadi cerita Cinderella modern, atau setidaknya menjadi kisah cinta yang paling menarik di abad ini. Karena itu, ada orang-orang yang memakainya sebagai motivasi agar tidak mudah berputus asa dalam hidup, sebab tidak ada orang yang tahu tentang “nasib baik” dan “keberuntungan” yang sedang menunggu mereka di masa mendatang.

Berapapun umur kita saat ini, kita tidak tahu sampai dimanakah perjalanan hidup kita. Apakah masih ada yang bisa kita capai? Adakah sesuatu yang sangat penting yang masih harus diperoleh? Sebagian manusia hanya bisa menghitung segala kegagalan yang sudah dialami, tetapi mungkin masih menantikan datangnya “keberuntungan”. Sebagian yang lain mungkin merasa bahwa mereka sudah mencapai apa yang mereka idamkan dan karena itu mereka hidup dalam kepuasan diri sendiri. Selain dari itu, ada juga orang yang merasa bahwa hidup mereka sudah cukup panjang dan karena itu tidak mau pusing tentang masa depan.

Apapun keadaan dan tingkat kehidupan kita saat ini, sebagai manusia kita sebenarnya tetap memerlukan makna dan tujuan hidup. Dalam hal ini, Alkitab menyatakan bahwa satu-satunya manusia yang bisa kita jadikan sebagai contoh dan pegangan untuk menghadapi perjuangan hidup dan masa depan adalah Yesus.

Dalam wujud manusia, Yesus harus menderita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, mati disalibkan sekalipun Ia tidak berdosa. Inilah kisah cinta yang terbesar di sepanjang masa, yaitu tentang Allah yang mengasihi manusia sedemikian rupa, hingga Ia mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia.

Sekalipun kita belum pernah melihat Yesus, namun kita harus mengasihi Dia yang sudah mati ganti kita. Yesus adalah seperti mempelai pria yang sudah berkurban untuk mempelai wanitaNya, yaitu seluruh umat percaya (Wahyu 21: 9). Kita harus bersyukur karena sebagai pengantin Kristus, kita sudah menerima jaminan keselamatan jiwa melalui pengurbananNya. Dengan keyakinan itu, kita tidak perlu mengutamakan kebahagiaan duniawi karena itu tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi. Kita tidak perlu mendambakan datangnya “keberuntungan” dalam hidup, karena pemberian Tuhan yang terbesar, the greatest gift, sudah menjadi kenyataan didalam darah Yesus.

Karena Yesus, kita orang yang berdosa sudah diangkat menjadi mempelai Kristus yang diberi hak untuk masuk kedalam istana surgawi dan menerima kemuliaan di surga. Adakah tujuan hidup kita yang lebih penting dari pada mengasihi dan memuliakan Yesus?

“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Lukas 12: 31

Iman tidak akan bertambah jika tidak dipakai

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Lukas 17: 5

Suatu ketika, murid-murid Yesus mendengar perintahNya untuk selalu mau untuk mengampuni kesalahan orang lain (Lukas 17: 4). Kelihatannya hal itu dirasakan mereka sebagai sesuatu yang terlalu sulit untuk dilakukan. Karena itu, mereka meminta agar Yesus memberikan tambahan iman. Permintaan yang sepertinya baik. Tetapi apa jawab Yesus?

Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17: 6

Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa untuk menuruti perintahNya itu, murid-murid tidak memerlukan tambahan iman. Mereka pasti sanggup melaksanakannya jika mereka taat akan perintahNya.

Ada orang yang menafsirkan bahwa jawaban Yesus diatas menunjukkan bahwa kita cukup untuk mempunyai iman yang kecil saja, sebab dengan iman yang kecil saja kita sudah dapat membuat hal-hal yang besar. Tetapi tafsiran ini jauh dari benar.

Setiap orang percaya sudah dikaruniai dengan iman. Roh Kudus yang bekerja dalam diri kitalah yang memberikan iman kepada kita.

“Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” 1 Korintus 12: 9

Iman yang besar sudah tentu bisa membuat kita makin kuat dalam menghadapi berbagai masalah. Tetapi iman bukanlah sesuatu yang bisa kita peroleh dengan usaha sendiri. Kita harus memintanya dari Tuhan. Dalam hal ini, bagaimana kita bisa meminta iman yang besar jika kita ragu untuk memakai iman yang kita punyai untuk menghadapi tantangan kehidupan saat ini?

Pagi ini, jika kita bangun dari tidur kita dan merasa kuatir akan apa yang harus kita hadapi hari ini, kita tidak perlu membayangkan betapa enaknya jika kita dikaruniai iman yang besar. Iman yang sekecil apapun harus digunakan agar kita bisa mendapatkan iman yang lebih besar di masa mendatang, sekalipun kita cenderung untuk lebih mengandalkan akal budi kita. Jika kita tidak pernah berserah kepada bimbingan Tuhan dalam hal- hal yang terlihat kecil, bagaimana kita bisa mengharapkan Tuhan untuk menumbuhkan iman kita untuk bisa mengatasi hal yang jauh lebih sukar seperti yang pernah dihadapi oleh Ayub?

Biarlah kita boleh menghadapi hidup kita setiap hari dengan keyakinan bahwa Roh Kudus selalu memberikan kita iman yang cukup untuk menghadapi tantangan apapun jika kita selalu hidup dalam Kristus.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Keluarga adalah gereja yang terkecil

“Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Matius 18: 20

Hari ini adalah hari dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja. Ada banyak gereja di Australia, dan salah satu gereja yang bersejarah adalah gereja Saint Nicholas yang berada di Western Australia. Dibangun pada tahun 1840 oleh James Narroway sebagai gubuk dimana ia hidup dengan isterinya, Sarah, bangunan dari kayu jarrah yang berukuran 3,8 x 6,7 meter ini mulai dipakai sebagai gereja kaum pendatang sejak tahun 1848.

Jika anda heran dengan adanya gedung gereja yang hanya bisa memuat sekitar 15 orang itu, keadaan sudah berbeda sekarang dengan adanya berbagai gedung gereja besar yang bisa memuat banyak pengunjung, diantaranya:

  • Hillsong Church, Sydney 3500
  • Citipointe Church, Brisbane 2000
  • St Mary’s Cathedral, Sydney 2000
  • Wesley Uniting Church, Adelaide 1100
  • Rangeville Community Church, Toowoomba 1100
  • St Patrick’s Cathedral, Toowoomba 850

Adanya gedung-gedung gereja yang besar belum tentu menunjukkan kesehatan rohani penduduk setempat karena banyak gereja yang hanya mempunyai pengunjung yang jauh lebih sedikit dari kapasitasnya. Hal ini terjadi karena banyak keluarga yang sudah tidak bertahan didalam iman kepada Yesus Kristus.

Memang keluarga adalah dasar gereja yang merupakan persekutuan orang percaya. Keluarga Kristen adalah gereja yang terkecil dimana setidaknya dua orang bisa berkumpul dan bersama-sama berdoa dan berbakti kepada Tuhan dan memohon kehadiran Roh Kudus, seperti apa yang dilakukan oleh murid-murid Kristus (Kisah Para Rasul 2: 1 – 4).

Ayat diatas menyatakan bahwa jika ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, disitu Ia ada di tengah-tengah mereka. Ini bukan berarti bahwa jika kita seorang diri, Yesus tidak mau menyertai kita dan mendengar doa-doa kita; tetapi jika ada setidaknya dua orang, itu bisa membuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi gereja dan untuk bersama-sama mengaku dosa, memuji Tuhan dan untuk mempelajari firmanNya. Didalam kebersamaan kita juga bisa lebih bisa menghayati makna pengurbanan Kristus untuk menebus dosa semua orang percaya, sehingga kita mempunyai keinginan yang makin besar untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Sungguh memprihatinkan bahwa dengan kesibukan hidup manusia dan perubahan sosial di zaman ini, identitas dan fungsi keluarga mulai kabur. Kedudukan dan kewajiban orang tua, suami, istri dan anak-anak seringkali diabaikan sehingga kesatuan keluarga menjadi berkurang. Jika kasih mulai menghilang dari keluarga sebagai gereja yang terkecil, gereja yang ada dalam masyarakat setempat juga akan mengalami persoalan yang sama. Keluarga Kristen mulai jarang ke gereja, dan jika orang ke gereja pun, itu mungkin karena adanya alasan-alasan yang lain; bukan untuk mengaku dosa, memuliakan Tuhan dan menerima firmanNya.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhan menghargai mereka yang mau bersatu dengan saudara-saudara seiman untuk menyembah Dia. Seperti gereja yang terbentuk setelah Tuhan Yesus naik ke surga, fungsi keluarga dalam kehidupan orang Kristen harus dikuatkan agar makin banyak orang yang bisa melihat kasih dan kuasa Tuhan melalui persekutuan iman kita.