Kesempatan masih ada

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Apapun pengertian lahir baru itu, ayat diatas menyatakan bahwa hanya orang yang benar-benar dilahirkan kembali, akan menerima penyelamatan.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan dimana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan dimana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, disebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali, hidup lamanya yang penuh dosa, sudah menjadi putih bersih melalui pengampunan Tuhan.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi melalui darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan. Lahir baru memungkinkan manusia untuk berubah dari hidup lamanya dan dengan berjalannya waktu bertumbuh menjadi dewasa dalam iman.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Apakah Nikodemus tidak mendapatkan kesempatan untuk lahir baru? Ada orang yang berpikir begitu karena ia adalah orang Farisi yang secara sembunyi-sembunyi menjumpai Yesus dan tidak dapat memahami hal hidup baru. Tetapi Nikodemuslah yang bersama Yusuf dari Arimatea mempersiapkan penguburan Yesus setelah Ia mati disalibkan. Nikodemus jugalah yang membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu dan mengapani serta membubuhi mayat Yesus dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi (Yohanes 19: 38 – 40). Apakah itu sekadar penghormatan terakhir kepada Rabbi Yesus yang diberikan oleh Nikodemus? Ataukah itu adalah tanda hidup baru yang sudah diterima Nikodemus? Alkitab tidak memberikan kepastian tentang hal ini, tetapi banyak orang yang percaya bahwa Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus adalah orang Yahudi yang kemudian percaya kepada Yesus.

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Jika ada orang yang mempertanyakan mengapa kita berusaha untuk makin hari makin baik, kita tahu jawabnya. Perbuatan baik seperti apa yang dilakukan oleh Nikodemus bisa menunjukkan sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap memilih untuk hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum menerima karunia hidup baru dari Tuhan. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Bosan mendengar suaraNya?

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Dalam hidup ini siapakah yang tidak pernah bosan? Dari bosan makan makanan tertentu, bosan memakai jenis pakaian tertentu, bosan bekerja atau bersekolah, sampai bosan hidup dengan orang tertentu. Apalagi dengan adanya pandemi, orang menjadi kurang bebas untuk melakukan kegiatan sehari-hari, dan karena itu mudah merasa bosan.

Rasa bosan adalah keadaan emosi atau jasmani yang dialami seseorang karena kurangnya aktivitas, variasi, motivasi atau stimulasi. Tetapi bosan juga bisa disebabkan oleh kesulitan, tantangan dan penderitaan yang tidak kunjung berhenti seperti yang dialami Ayub:

“Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” Ayub 10: 1

Mengalami kebosanan belum tentu dosa, tetapi sikap, kelakuan dan perbuatan yang menyebabkan kebosanan atau yang terjadi sesudahnya mungkin dapat berakhir dengan dosa. Kebosanan dengan situasi hidup bisa membuat kita tidak peduli atas apapun yang terjadi dan bahkan bosan untuk mendengarkan suara Tuhan.

Pada waktu di padang gurun, umat Israel pada suatu saat merasa bosan memakan roti manna yang rasanya manis seperti kue madu. Maklum sudah bertahun- tahun mereka tidak pernah makan daging. Apa yang terjadi setelah itu? Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan karena tidak adanya daging. Dari perasaan bosan, dosa kemudian muncul, dan akibat selanjutnya mengerikan. Beribu-ribu orang Israel mati karena kebanyakan makan burung puyuh yang didatangkan Tuhan (Bilangan 11).

Kita yang hidup di kota besar mungkin sering berpikir betapa membosankan hidup di desa. Memang sesekali bertamasya ke tempat sepi bisa membawa rasa damai. Tapi bagaimana kalau kita harus hidup di tempat dimana tidak ada mall, internet atau tempat kuliner? Mereka yang tiap hari “ngemall” pun lama-lama bosan juga. Yang suka “ngemal-ngemil” bosan juga akhirnya.

Kalau sudah bosan lalu bagaimana? Rasa kebosanan yang tidak diatasi akan bisa berlanjut dengan dosa karena hidup yang kehilangan tujuan. Begitu banyak orang yang terjerumus kedalam aktivitas dan hal-hal yang buruk karena bosan dengan apa yang ada. Bosan menghilangkan rasa syukur, kesabaran, kesetiaan dan kasih.

Pada pihak yang lain, ada orang yang tidak bosan-bosannya melakukan hal yang sama. Kalau yang dilakukan adalah hal yang baik, maka itu adalah keuletan. Tetapi jika apa yang diperbuat adalah tidak baik, itu bukan keuletan, tapi mungkin ambisi, adiksi atau kerakusan. Mereka yang tidak bosan-bosannya hidup untuk memuaskan diri sendiri akhirnya bisa jatuh dalam dosa, jatuh kedalam jerat iblis. Mereka yang tidak pernah bosan mengejar harta, kenyamanan dan kemuliaan akan jatuh kedalam berbagai kesengsaraan karena tidak sempat mendengar suara Tuhan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Hari ini, sudahkah kita membuat rencana untuk mengerjakan sesuatu? Adakah rencana untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi Tuhan dan sesama? Apakah kita merasa lelah dan bosan mengalami hal-hal yang tidak enak, yang selalu muncul setiap hari?Ataukah selama ini kita tidak bosan-bosannya mengerjakan sesuatu demi kepuasan diri sendiri? Marilah kita mengevaluasi hidup kita agar dalam segala yang kita alami dan lakukan, nama Tuhanlah yang dipermuliakan!

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

Hari Minggu bukanlah hari tanpa tujuan

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa kita harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, manusia tidak akan dapat beristirahat pada hari Minggu. Dunia ini penuh dengan atraksi yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Setelah seminggu orang bekerja, malam Minggu di berbagai kota adalah kesempatan untuk berpesta pora dan bermalam panjang. Karena itu, bagi sebagian orang, hari Minggu adalah kesempatan untuk memperoleh ekstra tidur sesudah begadang. Begitu pula, sebagian manusia yang lain berpikir bahwa hari Minggu adalah hari yang bisa dipakai untuk tidak memikirkan apa-apa, selain rekreasi, makan dan tidur. Mereka tidak suka kalau satu hari yang tersisa dalam seminggu harus dipakai untuk memikirkan kebutuhan rohani. Itu sebelum datangnya pandemi…..

Sejak adanya Covid-19, hidup manusia terjungkir-balik. Banyak gereja yang tidak dapat melangsungkan kebaktian secara nyata, tetapi harus melakukannya melalui internet. Banyak orang Kristen yang mengeluh bahwa kebaktian secara maya tidaklah sama dengan kebaktian yang nyata. Hari Minggu yang biasanya bisa dinikmati, pada saat pandemi bisa menjadi hari yang membosankan. Mengapa demikian? Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu membutuhkan orang lain. Panggilan untuk menguduskan hari Sabat bukan saja untuk berbakti kepada Tuhan, tetapi juga untuk bersekutu dengan saudara seiman.

Hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Adanya pandemi mungkin bisa mengingatkan kita bahwa hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran jika jasmani dan rohani mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita bisa bersungguh-sungguh berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Yesus tetap menyertai kita

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Dalam hidup ini adakalanya kita mungkin merasa bahwa segala sesuatu berjalan lancar dan mulus. Keuangan baik, kesehatan baik, keluarga harmonis, anak cucu pun sehat. Walaupun demikian, seringkali hidup ini tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Sebagai contoh, adanya pandemi saat ini jelas sudah memporak-porandakan dunia. Ekonomi kacau, bisnis mundur, kesehatan terganggu, keluarga menghadapi berbagai persoalan. Pikiran kita jadi suram, hatipun merasa sedih: mengapa ini harus terjadi? Adakah sesuatu yang aku perbuat yang menyebabkan hal ini? Apakah Tuhan sedang marah kepadaku?

Kesadaran akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci memang mungkin bisa membawa berbagai reaksi. Dalam keadaan bahagia, kita bisa bersyukur. Tetapi dalam keadaan sulit, mungkin kita meragukan kasih Tuhan. Malahan dalam situasi yang sangat gawat, sering manusia merasa Tuhan itu jauh. Dan ada kalanya kita merasa bahwa Tuhan itu kejam, tetapi sebagai manusia berdosa dan lemah kita hanya bisa menerima kenyataan itu dan hidup tanpa harapan.

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita hidup dalam dosa? Apakah Tuhan hanya menyertai mereka yang imannya besar dan hidup tak bercela? Pertanyaan ini harus dijawab dengan pengertian dasar bahwa mereka yang memilih untuk mengikut Kristus harus meninggalkan hidup lamanya dan tidak melakukan dosa yang biasa dilakukannya. Karena itu, mereka yang tetap bertahan dalam dosa harus meneliti hidup mereka dan berdoa agar Tuhan memberi mereka kemampuan untuk bisa benar-benar menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Sebagai umatNya, hidup kita seharusnya berubah hari demi hari untuk menjadi makin serupa dengan Yesus. Roh Kudus bekerja dalam hidup kita memperbarui hati dan pikiran kita. Tetapi jika hidup kita masih terlalu sibuk dengan berbagai kesibukan duniawi, pembaruan hidup kita akan mengalami kelambatan dan kita mudah jatuh kedalam dosa, termasuk dosa lama. Itu adalah kesalahan kita sendiri. Demikian juga dalam kehidupan bermasyarakat, banyak orang yang merasakan penderitaan akibat perbuatan dan tindakan para pemimpin yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Karena itu, Ia selalu memperingatkan manusia untuk memilih cara hidup yang benar. Bagi orang percaya, memang peringatan itu adalah tindakan pendisiplinan yang bisa terasa menyakitkan, tetapi Ia tidak akan memberi sesuatu yang melebihi kekuatan kita (1 Korintus 10: 13).

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita manusia berdosa? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab karena penebusan Kristus memungkinkan orang yang benar-benar percaya kepadaNya mendapat pengampunan sekalipun dosanya sebesar apapun (Yesaya 1: 18). Selain itu, karena Kristus sudah mati di kayu salib untuk seisi dunia, setiap manusia yang percaya akan terhitung sebagai anak Tuhan sekalipun ia berdosa (Lukas 23: 43). Dalam Yesus tidak ada lagi hukuman:

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8: 1

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tidak dapat hidup dalam dosa lama. Tetapi, selama hidup di dunia kita tetap harus berjuang melawan dosa setiap hari. Adakalanya Tuhan memperingatkan kita ketika kita membuat kesalahan, agar kita kembali mendekat kepadaNya. Tetapi, dalam keadaan apapun Yesus yang telah mati di kayu salib sebagai ganti hukuman kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Ia adalah gembala kita yang baik, yang menyertai kita selama-lamanya!

Dukunglah pemimpin yang baik

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Saat ini, banyak orang mengikuti perkembangan politik di Amerika. Sebentar lagi, rakyat negara adidaya itu akan menghadapi pemilihan umum (pemilu) untuk jabatan presiden dalam masa 4 tahun mendatang. Berbeda dengan Australia, pemilihan umum di Amerika bukanlah keharusan bagi setiap warga, dan karena itu tidak semua orang mau berpartisipasi. Di Indonesia, pemilihan kepala daerah (pilkada atau pemilukada) sebentar lagi akan dilangsungkan secara serentak. Untuk orang Kristen, partisipasi dalam pemilu seperti itu sudah tentu merupakan kewajiban karena pemerintah pusat maupun daerah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa karena Tuhanlah yang menetapkan adanya pemimpin negara dan pemerintah, mereka tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Tetapi, pandangan semacam ini tentunya tidak sesuai dengan keadaan sekarang, karena Tuhan tidaklah memerintah umat manusia secara langsung seperti Ia memimpin bani Israel pada zaman perjanjian lama.

Karena pemerintah negara manapun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, perdamaian, keamanan, keadilan, fungsi keluarga, dan arti pernikahan.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, manusialah yang harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan, dan karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang Dia dan yang melanggar hukumNya, dan yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan rencanaNya.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, dalam usaha untuk menjadi warganegara yang baik, kita harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang akhirnya terpilih dalam pemerintahan dapat memberi kita hidup tenang dan tenteram dalam iman kepercayaan kita. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus mendukung pemimpin-pemimpin negara yang bijaksana dan yang takut akan Tuhan, agar seluruh rakyatnya juga takut akan Tuhan dan karena itu selalu mendapat berkatNya. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Samuel 23: 3 – 4

Mengapa anda merasa lelah?

“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” Keluaran 18: 18

Pagi ini saya membuka sebuah pertemuan melalui internet. Ada lebih dari 30 orang yang hadir dalam acara itu. Lain dari biasanya, pertemuan itu terasa sepi karena setiap orang mematikan mic nya dan hanya satu orang saja yang digilir untuk berbicara. Ini adalah sopan satun pertemuan melalui Zoom, agar orang tidak bingung mendengar suara banyak orang. Pertemuan maya seperti itu sudah jelas tidaklah senyaman pertemuan muka dengan muka. Memang suasana pandemi ini sudah mengubah cara hidup manusia dan ini membuat kebanyakan orang makin mudah menjadi lelah dan jemu.

Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia. Kelelahan sebenarnya bukan akibat dari dosa. Dari awalnya, Tuhan menciptakan siang dan malam, dan malam adalah waktu untuk beristirahat bagi manusia. Juga, hari ke tujuh adalah hari yang ditetapkan Tuhan sebagai hari bagi manusia untuk beristirahat.

Dosa memang membuat hidup di bumi ini menjadi berat, dan kelelahan bisa membuat manusia makin menderita. Tetapi, kelelahan bisa berguna untuk mengingatkan kita untuk berhenti bekerja untuk memulihkan kekuatan kita. Jika kita sering mengabaikan kelelahan kita, itu adalah dosa. Lambat laun kesehatan dan keseimbangan hidup kita akan terganggu karenanya.

Dalam ayat diatas, mertua Musa mengingatkan Musa agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin agar ia tidak menjadi terlalu lelah. Sebagai pemimpin, Musa pada mulanya selalu menghadapi segala persoalan bani Israel seorang diri. Hal itu tentunya akan menghabiskan waktu dan tenaganya. Mertua Musa, dengan kebijaksanaan dari Allah, mengusulkan agar Musa memilih orang-orang yang pandai dan takut akan Allah untuk menolong Musa. Kelelahan membawa kesadaran akan keterbatasan kita dan mendorong kita untuk memohon kebjaksanaan dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kelelahan itu bisa menjadi berkat untuk kita jika kita tidak mengabaikannya. Banyak orang yang jatuh sakit karena mereka tidak bisa mengukur kekuatannya atau tidak bekerja dengan cara yang bijaksana. Apalagi di saat pandemi ini, masih banyak orang yang secara sembrono melakukan segala aktivitasnya seolah-olah tidak ada risikonya. Seringkali juga orang menjadi lelah karena tidak mau menerima bantuan atau nasihat orang-orang lain. Lebih dari itu, penyebab utama kelelahan kita adalah karena kita tidak mau menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan. Karena itu, maukah kita memikirkan apa yang menyebabkan kelelahan kita saat ini dan memusatkan hidup kita kepada Tuhan dan bimbinganNya?

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Tanggung jawab kita kepada masyarakat

“Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.” Ulangan 22: 8

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya keselamatan fisik dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh mengendarai motor tanpa memakai helm, atau mengendarai mobil tanpa sabuk pengaman, dan juga memakai ponsel sambil menyetir mobil sudah berlalu, dan sekarang kita bisa didenda polisi jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang melanggar peraturan keamanan dan kesehatan umum, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Angka penularan COVID-19 di dunia pada saat ini masih sangat tinggi, bahkan makin tinggi saja di beberapa negara. Karena kurangnya pengertian akan bahaya virus ini, dan juga karena sudah bosan dengan berbagai peraturan pembatasan sosial, mungkin banyak orang yang mulai mengabaikan peraturan yang ada. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang kurang sadar akan peran mereka dalam mengurangi angka penularan dan kematian di daerah tempat tinggal mereka.

Masalah keselamatan orang lain adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum, bukan agama. Walaupun begitu, ayat diatas jelas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal keselamatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri, seperti Kristus yang sudah mengasihi umatNya.

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil risiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan risiko bagi orang lain, terutama risiko bagi mereka yang kurang mampu secara sosial-ekonomi.

Hari ini, sebelum kita mulai mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa membahayakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Inginkah anda menjadi kaya?

“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” 2 Korintus 8: 9

Hal mencari kesuksesan dan kebahagiaan seringkali dipakai untuk bahan renungan atau khotbah, tetapi mungkin banyak orang Kristen yang masih kurang bisa memahami artinya. Kebanyakan orang ingin untuk menjadi kaya dan sukses selama hidup di dunia, dan orang Kristen pun tidak terkecuali. Memang ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa orang yang diberkati Tuhan dapat terlihat dalam hidupnya yang serba nyaman. Tetapi, adanya pandemi sekarang ini bisa membuat sebagian orang Kristen mengalami goncangan spiritual. Bagaimana tidak?

Adanya pandemi sudah membuat banyak orang menderita, dan orang Kristen pun tidak luput dari itu. Dalam hal ini, kemiskinan jasmani, sakit penyakit dan masalah kehidupan di dunia adalah konsekuensi dosa, tetapi itu tidak harus berarti kemiskinan rohani. Mereka yang sadar akan kekurangannya dan mau bergantung kepada Tuhan adalah orang kaya rohani karena dekat denganNya (yang empunya kerajaan surga). Mereka menjadi orang yang bisa merasa damai dalam setiap keadaan.

Baik kekayaan maupun kemiskinan jasmani bukanlah hal yang bisa memadamkan kasih dan kemuliaan Tuhan, jika orang selalu sadar akan ketergantungannya kepada Tuhan. Yesus tidak mengatakan bahwa mereka yang ingin dekat dengan Allah harus menjadi orang yang tidak berharta. Bagi Tuhan, orang berharta dan orang miskin tidak ada bedanya: mereka adalah orang berdosa yang sama-sama membutuhkan Dia. Semua orang adalah miskin di hadapan Allah, walaupun tidak semua orang menyadarinya.

Yesus menyatakan bahwa mereka yang tidak kaya secara jasmani justru bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Ketika Yesus melihat janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya, Ia bisa melihat bahwa hati janda ini dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan yang sudah membimbingnya. Sebagai manusia, janda ini adalah orang yang miskin secara jasmani, tetapi juga orang yang selalu bergantung kepada Tuhan. Orang yang kaya secara rohani.

Maka dipanggil-Nya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Markus 12: 43 – 44

Sesudah menerima Kristus sebagai Juruselamat kita harus percaya bahwa sebagai anak-anak Allah kita adalah orang yang kaya secara rohani. Ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa Yesus, Tuhan yang kaya sudah menjadi miskin karena kita, supaya kita menjadi kaya di dalam Dia. Yesus sudah datang ke dunia dan mati untuk menebus kita yang berdosa, sehingga melalui penderitaanNya kita ditebus dan menjadi anak-anak Allah dan bisa masuk ke surga.

Selama kita hidup di dunia, Tuhan tidak selalu menghendaki atau menjanjikan umatNya kekayaan jasmani, kenyamanan dan kesuksesan, tetapi Ia akan memberikan kekayaan rohani jika orang selalu merasa membutuhkan Tuhan atau merasa miskin di hadapanNya.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Jangan patah semangat

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Adanya pandemi sekarang ini sudah membuat cita-cita dan rencana banyak orang menjadi berantakan. Mereka yang mempunyai rencana untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri misalnya, sekarang harus menunda atau membatalkan rencananya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak universitas di Australia sekarang ini mengalami penyusutan dana yang luar biasa karena berkurangnya jumlah murid dari luar negeri. Sudah ada beberapa universitas yang harus mengurangi jumlah pegawai secara besar-besaran. Dengan demikian, seperti banyak pekerja lainnya, ribuan tenaga pengajar dan administrasi universitas harus menghadapi akhir tahun dengan rasa sedih dan mungkin juga rasa kecewa.

Setiap orang tentunya pernah kecewa, pernah dikecewakan orang lain, dan pernah mengecewakan orang lain. Kekecewaan yang baik kecil ataupun besar, bisa cepat terlupakan tetapi bisa juga selalu dalam ingatan. Kekecewaan yang mudah terlupakan sering membuat orang mudah terperosok dalam keadaan serupa di masa depan, tetapi rasa kecewa yang tidak kunjung hilang jelas bisa membuat hidup seseorang sengsara.

Sebagai manusia, orang Kristen mungkin juga sering kecewa melihat berbagai peristiwa di dunia. Itu terjadi karena mereka tidak mengerti mengapa sesuatu yang buruk dan menyedihkan harus terjadi. Sebaliknya, sekalipun Yesus pernah menunjukkan rasa sedih ketika melihat apa yang tidak baik, Ia tidak pernah kecewa karena sebagai Tuhan, Ia tahu apa yang akan terjadi. Ketika Ia meminta beberapa murid untuk menemaniNya dalam berdoa di taman Getsemane dan menjumpai mereka sedang tidur, Yesus tidak kecewa. Begitu juga Ia tidak kecewa sewaktu Petrus menyangkali tiga kali. Manusia bisa kecewa, tetapi Tuhan tidak akan bisa dikecewakan seperti manusia.

Tuhan tidak pernah bermaksud mengecewakan atau membuat umatNya menderita. Manusia kecewa dan menderita di dunia karena keterbatasannya. Manusia sering tidak bisa melihat jalan Tuhan dan lupa bahwa Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang harus terjadi pada saatnya. Tuhan sendiri ingin agar semua anakNya mencari kehendakNya dalam hidup di dunia supaya mereka tidak mudah kecewa.

Apa yang dialami seseorang bisa membuatnya kecewa kepada Tuhan. Kekecewaan itu juga bisa menjadi rasa benci atas apa yang terjadi. Rasa tidak berdaya bisa muncul dan berubah menjadi fatalisme, yang membuat orang kehilangan iman dan semangat hidup. Kekecewaan juga bisa membuat orang menolak adanya Tuhan yang maha kuasa.

Hari ini marilah kita meneliti hidup kita. Adakah rasa kecewa yang ada dalam hati kita? Adakah keraguan atas kasih Tuhan karena apa yang kita hadapi? Biarlah kita sadar bahwa kekecewaan kita mungkin disebabkan karena kita tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan dan karena kita tidak menyadari bahwa Ia yang mahakasih selalu menyertai kita dalam keadaan apapun.

Halal tapi belum tentu berguna

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Sesuatu yang “halal” (dari bahasa Arab, artinya “diperbolehkan”) adalah segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan dalam agama Islam. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk menunjukkan makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut ajaran Islam, menurut jenis makanan dan cara memperolehnya. Pasangan halal adalah thayyib yang berarti “baik”. Suatu makanan dan minuman tidak hanya halal, tetapi harus thayyib; apakah layak dikonsumsi atau tidak, atau bermanfaatkah bagi kesehatan. Lawan halal adalah haram.

Dalam agama Kristen, kata halal tidak sering dibahas. Oleh karena itu, banyak orang mengira bahwa penganut agama Kristen bebas untuk menggunakan segala objek atau melakukan kegiatan apa saja, asal tidak melanggar hukum.

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6: 12

Dalam hal makanan dan minuman, mayoritas orang Kristen memang bebas untuk mengonsumsi apa saja yang tidak merugikan kesehatan. Hal ini malahan dianggap sebagai ciri orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan hukum Taurat karena pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi, bagi orang yang bukan Kristen, hal ini sering menjadi bahan olok-olokan, karena agaknya orang Kristen tidak mengenal barang atau hal yang haram. Benarkah begitu?

Paulus dalam ayat di atas menulis bahwa segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Dengan demikian, segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Karena itu bukan segala sesuatu adalah baik untuk dilakukan. Lalu, apakah yang “baik”, yang berguna dan membangun, yang boleh dan patut dilakukan?

Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan apa saja, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10: 31). Dengan demikian, apa yang berguna adalah segala sesuatu yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan membangun kerajaanNya di dunia. Umat Kristen seharusnya hidup dan memakai hidup mereka untuk menerangi dunia agar makin banyak orang yang bertobat dari hidup lamanya dan kemudian menjadi umatNya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16