“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
— Matius 6:10

Ketika menghadapi persoalan yang berat, kebanyakan orang akan berdoa agar Tuhan menghilangkannya. Begitu juga, ketika menghadapi penyakit yang berat, kebanyakan orang akan berdoa agar Tuhan melakukan mukjizat kesembuhan. Tidak ada yang salah dengan doa seperti itu. Allah yang kita sembah adalah Allah yang Mahakuasa. Ia sanggup menyembuhkan persoalan atau penyakit yang paling berat sekalipun. Sepanjang Alkitab kita melihat begitu banyak mukjizat yang dilakukan-Nya.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan. Apakah permohonan terbesar kita seharusnya adalah pertolongan yang ajaib, ataukah belas kasihan (mercy) dan kasih karunia (grace) dari Tuhan?
Jawabannya dapat kita temukan dalam doa yang diajarkan Yesus sendiri. Di dalam Doa Bapa Kami, Yesus tidak mengajarkan kita untuk memulai dengan daftar kebutuhan atau keinginan. Sebaliknya, Ia mengajar kita terlebih dahulu berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Kalimat ini mengubah seluruh cara pandang kita terhadap doa. Tujuan utama doa bukanlah membuat kehendak kita terjadi di surga, melainkan agar kehendak Allah terjadi di bumi, termasuk dalam kehidupan kita sendiri.
Setelah menyerahkan diri kepada kehendak Bapa, barulah kita memohon kebutuhan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa orang percaya boleh membawa semua permohonannya kepada Tuhan, tetapi selalu dalam sikap tunduk kepada hikmat dan rencana-Nya yang sempurna.
Karena itu, ketika sakit datang, kita dapat berdoa, “Tuhan, kasihanilah aku. Berilah aku kasih karunia-Mu. Jika Engkau berkenan, sembuhkanlah aku.” Doa seperti ini bukanlah doa yang lemah atau kurang beriman. Justru doa seperti inilah yang lahir dari iman yang dewasa—iman yang percaya kepada Pribadi Allah lebih daripada kepada hasil yang diharapkan.
Belas kasihan Tuhan jauh lebih luas daripada kebutuhan fisik. Dalam belas kasihan-Nya, Ia dapat memilih menyembuhkan secara ajaib. Ia juga dapat menyembuhkan melalui dokter, obat-obatan, atau proses pemulihan yang panjang. Bahkan, dalam beberapa keadaan, Ia tidak segera mengangkat penyakit itu, tetapi memberikan damai sejahtera, kekuatan, dan pengharapan yang membuat anak-anak-Nya mampu bertahan dengan sukacita.
Kasih karunia Tuhan pun bekerja dengan cara yang sama. Rasul Paulus tiga kali memohon agar “duri dalam dagingnya” disingkirkan. Namun Tuhan tidak mengabulkan permohonan itu seperti yang diinginkannya. Sebaliknya, Tuhan berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Yang Tuhan ubah bukan keadaan Paulus, melainkan Paulus sendiri. Ia diberi kekuatan untuk menjalani penderitaan sambil tetap memuliakan Tuhan.
Di sinilah letak perbedaan antara beriman kepada mukjizat dan beriman kepada Allah. Mukjizat adalah salah satu cara Allah bekerja, tetapi Allah tidak pernah berjanji akan selalu melakukan mukjizat sesuai keinginan kita. Yang Ia janjikan adalah bahwa belas kasihan-Nya tidak pernah habis dan kasih karunia-Nya selalu cukup bagi setiap anak-Nya.
Sikap seperti inilah yang juga ditunjukkan Yesus di Taman Getsemani. Dalam penderitaan yang sangat berat, Ia menyampaikan kerinduan-Nya kepada Bapa, tetapi mengakhirinya dengan penyerahan yang sempurna kepada kehendak Allah. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa doa yang sejati bukan sekadar meminta, melainkan juga mempercayakan diri sepenuhnya kepada Bapa.
“Orang percaya tidak berfokus pada mencari mukjizat Tuhan, tetapi mencari belas kasihan dan kasih karunia Tuhan. Jika Tuhan berkenan, mukjizat adalah salah satu bentuk belas kasihan-Nya.”
Akhirnya, kita menyadari bahwa pertolongan Tuhan bisa berbeda dengan apa yang kita minta. Selama hidup di dunia, satu persoalan bisa hilang, tapi persoalan lain akan muncul. Tubuh yang sembuh hari ini suatu saat akan menjadi tua dan mati. Tetapi belas kasihan Allah membawa kita yang lemah kepada keselamatan yang kekal, dan kasih karunia-Nya menopang kita sampai hari ketika Kristus membangkitkan tubuh kita dalam kemuliaan yang tidak akan pernah hilang.
Karena itu, marilah kita datang kepada Bapa dengan penuh keyakinan. Mintalah apa yang menjadi kerinduan hati kita. Namun, di atas semuanya itu, mintalah belas kasihan-Nya dan kasih karunia-Nya. Sebab ketika kita memiliki keduanya, kita akan tetap dapat bersyukur, baik Tuhan memilih menolong kita sekarang maupun menopang kita sampai hidup yang sempurna di dalam Kerajaan-Nya kelak.
Doa:
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau penuh belas kasihan dan kasih karunia. Ajarlah kami datang kepada-Mu dengan hati yang percaya dan tunduk kepada kehendak-Mu. Jika Engkau berkenan, sembuhkanlah kami. Namun bila jalan-Mu berbeda, berilah kami kasih karunia yang cukup untuk tetap setia, damai, dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.








