Kuasa Tuhan membuat kita kuat

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Hari Minggu yang lalu saya diminta untuk memberi renungan melalui internet dalam sebuah pertemuan maya antar teman SMA. Dalam situasi saat ini jumpa tatap muka tidaklah mungkin, apalagi karena mereka tinggal di kota dan negara yang berlainan. Walaupun demikian, perjumpaan melalui layar komputer dan HP terasa cukup berkesan.

Renungan saya sampaikan dengan menggunakan komputer laptop yang saya miliki, dan untuk memungkinkan kualitas gambar dan suara yang lebih baik saya menggunakan tambahan microphone dan camera. Sayang sekali saya tidak menyadari bahwa microphone ekstra itu tidak bekerja selama pertemuan. Akibatnya, menurut beberapa teman, volume suara saya terdengar naik turun dan sebagian mungkin kurang jelas.

Rasa menyesal atas kekeliruan saya mungkin saya bawa sampai saat saya tidur. Menjelang pagi saya terbangun dengan perasaan kurang enak karena teringat bahwa kekeliruan itu sebenarnya bisa diatasi kalau saja saya lebih berhati-hati dalam mempersiapkan microphone itu. Tetapi karena nasi sudah menjadi bubur, saya kemudian sulit untuk melanjutkan tidur. Ajaib, pada waktu itu saya teringat akan ayat di atas yang seakan memberi teguran kepada saya. Sesudah itu saya bisa tidur lagi dengan lelap.

Sebagai manusia kita ingin mengendalikan jalan hidup kita. Kita berusaha untuk hidup baik, dari masa sekolah, masa kuliah sampai masa bekerja dan juga dalam masa pensiun. Kita berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap usaha kita. Bukan saja mengenai pendidikan, pekerjaan, keuangan dan kesehatan, sebagai orang Kristen kita mungkin berusaha untuk menjalani hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi, sekalipun kita berusaha keras, terkadang kita merasa bahwa masih ada saja hal yang kurang baik yang terjadi dalam hidup kita. Kita mungkin merasa sedih dan menyesal akan apa yang tidak kita harapkan, tetapi semua itu sudah terjadi dan tidak dapat diperbaiki.

Paulus dalam ayat di atas menulis apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Pada waktu itu ia mengalami masalah yang sangat membebani dia yang seperti “duri dalam daging” rasanya (2 Korintus 12: 7). Sudah tiga kali Paulus berseru kepada Tuhan meminta pertolongan, tetapi tidak ada perubahan yang dialaminya. Tuhan malahan menjawab bahwa kasihNya sudah cukup bagi Paulus.

Ada banyak teori tentang apa sebenarnya duri ini – begitu banyak teori yang dikemukakan orang, sehingga mustahil untuk mendiagnosis situasi Paul dengan kepastian penuh. Beberapa orang berpendapat bahwa duri Paulus datang dalam bentuk penganiayaan orang Yahudi karena konteks sekitarnya berbicara tentang lawan. Yang lain berpendapat bahwa ingatan Paulus sendiri tentang masa lalunya adalah duri; mungkin masa lalu Paulus yang termasuk penganiayaan terhadap gereja terus menghantuinya. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa Paulus mengalami masalah jasmani atau depresi.

Sekalipun kelemahan fisik tampaknya lebih mungkin terjadi di sini, kita tidak tahu jawaban yang tepat. Beberapa kelemahan fisik yang tampaknya sesuai dengan keadaan Paulus di antaranya adalah malaria, demam Malta, dan epilepsi. Banyak dari masalah kesehatan ini juga bisa memengaruhi penglihatan, dan tampaknya Paulus memang mengalami kesulitan dengan penglihatannya – jadi ini bisa jadi disebabkan oleh “duri” dalam dagingnya.

Apa pun yang terjadi pada Paulus, itu menunjukkan kelemahan manusia yang bisa terjadi pada siapa pun. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidup yang bisa membuatnya merasa lemah dalam menghadapi hidup. Berbagai kesalahan yang kita perbuat pada masa yang lalu juga bisa membuat kita merasa sedih dan putus asa. Kita memang berharap agar Tuhan selalu mau menolong dan melindungi kita. Karena itu kita merasa terpukul jika ada hal-hal yang kurang baik terjadi dalam hidup kita. Mungkin kita sudah berusaha mati-matian untuk menghindari kesalahan, tetapi sebagai manusia yang tidak sempurna selalu ada masalah dan kegagalan yang terjadi.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang lemah. Sebagai umat Kristen kita tidak bisa mengharapkan bahwa kita akan memperoleh kesuksesan dalam hidup, kesehatan yang lebih baik dan kenyamanan yang lebih daripada orang lain. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita minta atau harapkan, tetapi Ia selalu memberi kita kekuatan dalam menghadapi semua masalah. Kasih karuniaNya sudah diberikanNya kepada semua orang percaya, agar dengan iman mereka dapat berserah kepada Tuhan yang mahakuasa. Biarlah kasih dan kuasa Tuhan tetap dapat kita rasakan dalam setiap masalah yang kita alami pada saat ini.

Bertahan untuk hidup

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”, tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika ada masalah yang sangat besar seperti pandemi saat ini? Banyaknya orang yang sakit, yang meninggal, yang kehilangan pekerjaan dan yang putus asa di sekitar kita, membuat kita ikut merasa kuatir dan tertekan. Dalam keadaan sedemikian, kita mungkin merasa mudah lelah dalam menghadapi perjuangan hidup sehari-hari.

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani seringkali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani seringkali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah jasmani.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani seringkali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadaNya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Berdoa di masa pandemi

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Tetapi, jika seseorang jatuh sakit di masa pandemi ini dan harus ke rumah sakit, kekuatiran mungkin bisa menjadi lebih besar. Memang karena virus corona ini sangat menular, banyak orang yang takut untuk pergi ke rumah sakit.

Adanya penyakit dan rasa sakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia kedalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat diatas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendakNya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat diatas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Seringkali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunanNya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apapun apabila sesuai dengan kehendakNya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup manusia. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan seringkali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di saat ini yang harus dirawat di rumah sakit sebagai akibat dari interaksi dengan masyarakat di sekitarnya. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa bekerja dalam hidup manusia, keluarga, masyarakat dan negara untuk kemuliaanNya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dariNya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan. Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita di masa pandemi ini untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Lebih dari itu, kita harus juga berdoa untuk kesehatan mereka yang bekerja di rumah sakit: para dokter, jururawat dan pekerja yang lain. Kita harus percaya bahwa dalam darah Yesus ada kuasa yang besar!

Hal meningkatkan kekuatan

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Filipi 4: 13

Beberapa hari ini banyak media Indonesia yang menyorot klaim seseorang bahwa ia berhasil menemukan obat COVID-19. Obat ini dikatakan dapat menyembuhkan penderita dalam waktu dua hari dengan meningkatkan antibodi untuk melawan virus corona. Sudah tentu berita ini sangat menarik perhatian masyarakat karena dalam suasana saat ini semua orang ingin mendapat kabar baik tentang obat dan vaksin untuk mengatasi masalah pandemi. Sayang sekali, agaknya berita ini tidak didukung dengan bukti-bukti ilmiah yang bisa menunjukkan bahwa produk itu benar-benar obat dan bukannya ramuan herbal untuk kesehatan. Memang sejak munculnya COVID-19 pada bulan Maret yang lalu, berbagai ramuan jamu sudah dipasarkan, yang dikatakan berguna untuk meningkatkan kesehatan, kekuatan dan imunitas tubuh.

Siapakah manusia yang tidak tertarik untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya? Sekalipun demikian, kita tentunya tidak ingin menjadi seperti Simson. Dalam Alkitab, orang yang dikatakan mempunyai kekuatan jasmani yang luar biasa adalah Simson yang menjadi salah satu hakim umat Israel (Hakim-Hakim 14). Simson dapat mencabik seekor singa, menangkap tiga ratus anjing hutan dan membunuh banyak orang, semuanya dengan tangannya. Tetapi Simson bukan benar-benar orang yang kuat dalam segala hal, karena ia mempunyai kelemahan terhadap rayuan wanita. Karena kelemahan rohani itulah ia akhirnya mati bersama ribuan orang Filistin.

Sebagai manusia, kita mungkin membayangkan betapa enaknya jika kita bisa hidup sehat-kuat sampai hari tua. Berbagai hal yang bisa dilakukan manusia untuk memelihara kesehatannya seperti minum berbagai obat, vitamin, berolahraga, berdiet sehat dan sebagainya, yang di zaman ini menjadi pusat perhatian mereka yang mampu. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa dalam jasmaninya mencapai tingkatan sempurna. Jasmani kita adalah sesuatu yang terbatas dan fana sifatnya. Seperti Simson, semua orang akhirnya akan mati dan lebih dari itu, tidak ada seorang pun yang tahu kapankah itu akan terjadi.

Sebagai karunia Tuhan dari mulanya, kekuatan jasmani memang penting untuk dapat menjalankan tugas manusia di dunia , dan lebih dibutuhkan lagi setelah kejatuhan mereka ke dalam dosa – karena hanya dengan susah payah saja manusia bisa tetap berkembang biak dan hidup (Kejadian 3: 16-17). Walaupun demikian, kekuatan yang diutamakan Tuhan adalah kekuatan rohani melalui hubungan yang baik denganNya. Kekuatan rohani ini seharusnya tetap ada seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Namun, karena kejatuhan dalam dosa, manusia tidak akan memperoleh kekuatan rohani jika mereka tidak mau kembali membina hubungan yang baik dengan Sang Pencipta.

Mungkin kita sering merasa capai setelah bekerja seharian. Barangkali kita merasa lelah dalam hidup yang penuh tantangan saat ini. Mungkin juga usia sudah mulai mempengaruhi kekuatan jasmani kita. Dalam hal ini ada orang yang sedih karena merasa bahwa rasa segan orang lain kepadanya sudah mulai berkurang karena kekuatannya yang makin merosot. Mungkin semua hal itu pernah dirasakan oleh Simson. Seperti Simson, kita tidak dapat menghindari semua masalah itu karena kekuatan jasmani kita yang bersifat sementara.

Hari ini kita harus sadar bahwa adalah kebodohan jika kita selalu memprioritaskan keadaan jasmani kita. Dalam keadaan apa pun manusia tidak dapat bergantung kepada tubuh, kepandaian, kekuatan dan harta mereka. Dalam soal rohani, manusia juga harus tetap bergantung kepada Tuhan yang membawa keselamatan melalui Yesus Kristus. Walaupun demikian, jika kita mempunyai kekuatan rohani dari Tuhan, kita boleh yakin bahwa kita bisa menjadi sempurna dalam Yesus untuk bisa menghadapi semua tantangan hidup. Dalam kelemahan jasmani kita, kita boleh bermegah bahwa Yesus sudah memberikan kita kekuatan rohani yang abadi.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Kita adalah hamba Allah

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Keadaan di kota Melbourne, Australia saat ini cukup kritis. Pertambahan kasus positif COVID-19 dua minggu terakhir ini membuat lockdown diterapkan lagi. Bahkan, lebih dari itu jam malam juga diberlakukan dan setiap orang sekarang diharuskan memakai masker. Banyak toko-toko yang diharuskan tutup, kecuali penjual barang kebutuhan pokok seperti supermarket dan apotik. Dalam keadaan yang gawat sekarang ini, adalah aneh jika ada sekelompok orang yang sengaja menentang keharusan untuk memakai masker. Kelompok anti-masker ini mencari gara-gara dengan polisi dan bahkan ada yang berani menganiaya polisi. Mereka itu menamakan kelompoknya sebagai “sovereign citizen” atau warga merdeka. Mereka tidak mau tunduk kepada peraturan dan hukum.

Kemerdekaan atau freedom adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Tetapi kemerdekaan manusia bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian  adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya.

Pada pihak yang lain, ada juga orang yang menaati peraturan pemerintah karena terpaksa. Jika ada kesempatan, mereka akan mengabaikan adanya hukum dan peraturan, dan merasa puas jika mereka dapat melakukan hal itu. Tetapi, sebagai umat Kristen, kita semua dipanggil untuk menghormati pemerintah dan hukum yang ada karena pemerintah yang baik adalah wakil Tuhan di dunia (Roma 13: 1).

Orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan setempat yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Jika mereka melakukan hal-hal itu, mungkin tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka. Karena itu, Tuhan seolah mempunyai hukum yang berbeda di tempat yang berlainan.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNya tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya.

Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita. Kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari dosa untuk menjadi hamba Allah.

Sekalipun kabar buruk ada dimana-mana

“Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.” Mazmur 112: 7

Adakah kabar baik yang disampaikan media saat ini? Mungkin tidak ada, atau jarang sekali ada. Apa yang muncul setiap hari umumnya kabar buruk, kabar celaka, sedangkan kabar baik yang ada seringkali palsu atau mengada-ada. Sebagai contoh, media memberitakan bahwa ada pertambahan jumlah orang yang tertular virus corona sebanyak 1000 orang, tetapi kabar baiknya adalah ada 500 orang yang sembuh pada hari yang sama. Tentu saja kabar baik yang benar-benar bisa dinikmati ialah jika tidak ada pertambahan jumlah orang yang tertular. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang tertipu dengan adanya berita baik yang sebenarnya adalah berita buruk. Dengan demikian, ada orang-orang yang mengabaikan bahaya penularan karena memandang enteng dampaknya. Sebaliknya, ada juga orang yang selalu merasa kuatir karena jarang adanya kabar yang benar-benar baik di saat ini.

Sebenarnya, apa yang kita alami saat ini bukanlah barang baru. Berbagai krisis sudah pernah dialami umat manusia pada waktu yang silam. Baik krisis pandemi, krisis moneter ataupun krisis politik yang besar pernah terjadi di dunia. Semua itu bisa menggoncangkan rasa percaya diri yang dimiliki orang, masyarakat maupun negara. Bagi orang percaya, adanya krisis seringkali diartikan sebagai peringatan untuk kembali memohon perlindungan dan kekuatan dari Tuhan, dengan iman melalui doa permohonan yang disampaikan kepadaNya. Umat Kristen sadar bahwa kerapkali krisis terjadi karena manusia yang mementingkan diri sendiri dan melupakan adanya Tuhan dan hukum-hukumNya.

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Umat Tuhan sadar bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci dan karena itu mereka percaya bahwa hidup manusia seharusnya dijalani dengan rasa takut kepada Tuhan. Rasa takut ini bukanlah rasa takut kepada Tuhan yang siap menghukum mereka; karena melalui pengurbanan Yesus, dosa mereka sudah diampuni. Tetapi rasa takut ini adalah rasa hormat kepada Dia yang berkuasa atas langit dan bumi. Umat percaya dengan demikian seharusnya memprioritaskan Tuhan dan firmanNya dalam hidup mereka. Adanya krisis bisa mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang memegang kendali kehidupan dalam alam semesta.

Keyakinan bahwa Tuhan adalah mahakasih selalu ada pada setiap umat percaya. Jika Tuhan tidak mahakasih, pastilah Ia tidak mau mengurbankan AnakNya untuk menebus dosa umat manusia. Sebaliknya, bagi orang Kristen, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang ingin agar setiap manusia yang percaya kepadaNya untuk tidak menemui kebinasaan, tetapi memperoleh hidup yang kekal. Bagi mereka yang percaya, apa yang terlihat menakutkan di dunia bukanlah sesuatu yang dapat membuat mereka gentar dan mundur dari iman kepada Tuhan.

Ayat pembukaan dari Mazmur di atas mengatakan bahwa barangsiapa percaya kepada Tuhan, ia tidak takut kepada kabar buruk, karena hatinya tetap penuh kepercayaan kepada Tuhan. Apa yang terjadi di dunia selalu ada dalam kendali Tuhan yang mahakuasa. Tidak ada satu peristiwa yang bisa terjadi tanpa seizin Tuhan. Dengan demikian, bagi umat Kristen, sekalipun mereka tidak mengerti apa arti semua yang terjadi, mereka tetap percaya akan kasih Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, yang tidak pernah meninggalkan kita!

Mengapa kamu begitu takut?

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Sore hari ini saya berjalan-jalan sepanjang pantai sambil menikmati pemandangan. Ketika itu langit biru dan air sangat tenang sehingga banyak orang yang berperahu dan berolahraga air. Pikiran saya teringat akan keadaan dua bulan yang lalu, saat saya tidak dapat mengunjungi tempat ini karena adanya lockdown. Saya bersyukur bahwa keadaan sesudah itu mulai membaik. Pada pihak yang lain, saya juga kuatir bahwa ada kemungkinan keadaan bisa memburuk lagi dalam minggu-minggu mendatang. Kekuatiran saya menjadi lebih intens jika saya ingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menduga apa yang akan terjadi.

Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas mungkin juga berperahu sambil  menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Mungkin mereka pada awalnya berusaha untuk mengatasi keadaan. Tetapi sekalipun mereka kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga dalam kekuatiran mereka membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang-orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya kuat dalam menghadapi gelombang hidup yang besar? Saat ini, kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi. Seperti murid-murid Yesus kita merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita.

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus.  Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar berkuasa, Tuhan Yesus.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa ingat adanya Tuhan dan agar mau menjerit kepadaNya. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Dan kita ingat bahwa ketika topan itu reda, hidup kita terasa teduh kembali. Biarlah kita juga ingat bahwa Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menolong kita pada waktu yang tepat. Semoga Tuhan menguatkan kita yang saat ini sedang menghadapi masalah hidup yang besar.

Tuhan memegang kendali

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Pada jam 12.42 pada malam yang tenang dan diterangi cahaya bulan di tanggal 8 Maret 2014, sebuah pesawat Boeing 777 lepas landas dari Kuala Lumpur. Pesawat dengan nomor penerbangan MH370 itu take off dengan lancar dan semua penumpang kelihatannya santai. Pesawat kemudian berbelok ke arah Beijing, naik ke ketinggian jelajah yang ditetapkan yaitu 35.000 kaki.

Fariq Hamid, first officer, pada saat itu memegang kendali pesawat. Bagi Fariq yang berusia 27 tahun, ini adalah penerbangan latihan yang terakhir; karena sesudah itu dia akan segera mendapatkan sertifikasi penuh. Pelatihnya adalah pilot in command, Zaharie Ahmad Shah, yang berusia 53 tahun dan merupakan salah satu kapten paling senior di Malaysia Airlines.

Di kabin itu ada 10 pramugari, semuanya orang Malaysia. Mereka melayani 227 penumpang, termasuk lima anak. Sebagian besar penumpang adalah orang Cina; sisanya, 38 adalah Malaysia, Indonesia, Australia, India, Perancis, Amerika Serikat, Iran, Ukraina, Kanada, Selandia Baru, Belanda, Rusia, dan Taiwan.

Di kokpit malam itu, ketika First Officer Fariq menerbangkan pesawat, Kapten Zaharie menangani radio. Pada jam 1:08 penerbangan melintasi garis pantai Malaysia dan berangkat melintasi Laut Cina Selatan ke arah Vietnam. Sebelas menit kemudian, ketika pesawat itu mendekati Vietnam, pengontrol lintas udara di Kuala Lumpur Centre mengirimkan pesan melalui radio, “Malaysia tiga-tujuh-nol, hubungi Ho Chi Minh satu-dua-nol-desimal- sembilan. Selamat malam.” Zaharie menjawab, “Selamat malam. Malaysia tiga-tujuh-nol. ” Itu adalah pesan terakhir yang didengar dunia dari MH370. Pilot yang mengendalikan pesawat sesudah itu, siapa pun orangnya, tidak pernah mengontak Ho Chi Minh. Pesawat yang seharusnya mendarat di Beijing itu hilang tanpa jejak. Pesawat itu kemudian diduga tidak terkendalikan dan kemudian mengalami kecelakaan.

Pencarian pesawat MH370 awalnya terkonsentrasi di Laut Cina Selatan, antara Malaysia dan Vietnam. Itu adalah upaya internasional oleh 34 kapal dan 28 pesawat dari tujuh negara yang berbeda. Tapi MH370 tidak ditemukan jejaknya. Dalam penyelidikan lebih lanjut, data angkatan udara Malaysia mengungkapkan bahwa begitu MH370 menghilang dari radar, pesawat itu berbelok tajam ke barat daya, terbang kembali melintasi Semenanjung Melayu, dan membelok di sekitar pulau Penang. Dari sana ia terbang ke barat laut ke Selat Malaka dan keluar melintasi Laut Andaman, di mana ia menghilang di luar jangkauan radar. Apa yang sudah terjadi? Siapakah yang memegang kendali pesawat pada waktu itu?

Misteri seputar MH370 telah menjadi fokus penyelidikan yang berkelanjutan dan sumber berbagai spekulasi publik. Gagasan bahwa mesin canggih, dengan instrumen modern dan komunikasi yang lengkap, bisa hilang begitu saja sebenarnya tidak masuk akal. Di zaman ini, pesawat komersial modern tidak bisa hilang begitu saja. Bukan saja pesawat itu diterbangkan oleh pilot yang berpengalaman, rute penerbangannya adalah rute yang tidak berbahaya. Tetapi, lebih dari lima tahun kemudian dan sampai saat ini, keberadaan pesawat yang hilang ini tetap tidak diketahui.

Membaca musibah yang dialami para penumpang pesawat MH370 di atas, mau tidak mau kita menghela nafas sedih. Kehilangan itu menghancurkan keluarga di empat benua. Penumpang pesawat itu, sebagian tentunya ada yang Kristen, sampai sekarang tidak diketahui nasibnya, yang keluarganya merasa tidak berdaya.

Mengenai MH370 itu, jika kita berpikir dalam-dalam, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita:

  • Mengapa itu bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?
  • Siapa yang sebenarnya memegang kendali pesawat ini sebelum menghilang?
  • Bagaimana keadaan para penumpang selagi masih sadar?
  • Dimana pesawat ini sekarang?
  • Kapan kita bisa menemukannya?
  • Adakah sesuatu yang baik dalam kejadian itu?

Semua pertanyaan di atas kita tidak bisa menjawabnya. Kita tidak juga pasti apakah pada akhirnya orang bisa menemukan jawabnya. Hanya Tuhan yang seharusnya bisa memberi jawaban yang tepat. Satu yang kita tahu: musibah adalah sesuatu yang menyedihkan, dan kita tidak mudah menemukan apa yang baik dari satu musibah. Tidak ada orang yang mau mengalami musibah karena tidak ada faedahnya. Musibah bagi manusia adalah sesuatu yang sia-sia karena hanya membuat banyak manusia yang tidak bersalah menderita. Adanya malapetaka juga bisa membuat manusia berpikir bahwa Tuhan itu jauh di sana atau tidak ada.

  • Tuhan yang mahakuasa tentu bisa menghindarkan pesawat dari kecelakaan.
  • Tuhan yang mahakasih tentu mau menghindarkan pesawat dari kecelakaan
  • Tuhan mahakuasa dan mahakasih, jadi tentu tidak ada kecelakaan
  • Tapi kecelakaan sudah terjadi
  • Ini berarti Tuhan tidak ada.

Adanya pandemi COVID-19 sekarang ini ada miripnya dengan kasus musibah yang dialami MH370. Memang apa yang dinamakan musibah adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dan menakutkan. Adanya musibah membuat kita menjadi makhluk kecil yang tidak berdaya. Seringkali kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ini terjadi, apakah ada jalan penyelesaiannya, kapan bisa diselesaikan dan apa maknanya. Kita mencari jawabnya, tetapi mungkin kita tidak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Mengapa begitu?

Jika Tuhan itu mahakasih:

  • Dimanakah Tuhan ketika musibah terjadi?
  • Mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi? Apakah Ia tidak bisa mengendalikan keadaan?

Jika Tuhan itu mahakuasa:

  • Mungkinkah Tuhan membenci mereka yang mengalami musibah?
  • Mungkinkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang tertentu?

Inilah beberapa pertanyaan di antara banyak pertanyaan yang sering muncul ketika musibah terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat hati kita hancur tanpa harapan jika tidak dapat memperoleh jawaban yang benar. Lalu darimanakah kita bisa mendapatkan jawabnya? Hanya satu sumber yang bisa memberikan jawaban yang benar: Tuhan. Melalui firmanNya kita dapat menemukan penghiburan dan kekuatan.

Dimanakah Tuhan ketika musibah terjadi

“TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediamanNya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.” Mazmur 33: 13-15

Tuhan kita yang berdiam di surga adalah Tuhan yang mahatahu, yang bisa melihat kita dimana pun kita berada. Ia dengan kasihNya mengatur segala sesuatu dalam alam semesta agar bisa berjalan sesuai dengan rencanaNya. Ia tahu apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Jika kita berjalan di pinggir pantai, Ia tahu kapan ombak akan datang dan membasahi kaki kita. Ia tahu kalau sehelai rambut akan rontok dari kepala kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang akan dialami dan dilakukan manusia, Tuhan pasti tahu. Ia membiarkan segala sesuatu berjalan apabila sesuai dengan kehendakNya.

Mungkinkah musibah terjadi karena Tuhan tidak bisa mengendalikan keadaan?

“Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?“ Yeremia 32: 27

Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa. Ia bukanlah seperti manusia yang lemah dan yang harus tidur pada jam-jam tertentu. Ia tahu apa yang terjadi pada umat manusia dan bahkan dalam alam semesta. Dengan kemahatahuan dan kemahakuasaanNya, seisi alam semesta tetap dapat berjalan secara sistimatis. Jika tidak demikian, bumi yang kita diami sekarang mungkin sudah musnah sejak dulu karena adanya berbagai meteor yang bisa membenturnya. Seisi alam semesta ini diaturNya selama berjuta-juta tahun menurut hukum-hukum tertentu yang jauh lebih kompleks dari apa yang memungkinkan sebuah pesawat untuk terbang selama beberapa jam. Berbagai pandemi dan krisis sudah pernah muncul di dunia, tetapi sampai saat ini dunia tetap berputar sebagaimana mestinya. Tuhan tidak pernah kehilangan kendali.

Mungkinkah Tuhan membenci mereka yang mengalami musibah?

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?” Lukas 13: 1-2

Satu pertanyaan yang bisa menghancurkan hati setiap orang ketika mengalami musibah adalah adanya perasaan bahwa Tuhan membencinya. Apa salahku sehingga aku harus mengalami ini? Perasaan masygul juga datang ketika orang lain memandang bahwa semua yang terjadi pada diri kita adalah hukuman atas dosa kita. Memang, jika apa yang terjadi adalah akibat langsung dari kesalahan kita, itu adalah sewajarnya. Tetapi, dalam musibah banyak juga orang yang harus menderita karena bukan kesalahan yang mereka perbuat. Apakah manusia mengalami bencana secara acak? Kebetulan sial? Sudah tentu tidak, karena hal sedemikian akan bertentangan dengan sifat Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa.

Semua hal yang terjadi di dunia yang sudah tercemar dosa ini adalah dengan sepengetahuan dan seizin Tuhan, dan kita sering tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkannya. Tetapi satu hal yang kita tahu ialah bahwa semua orang sudah berdosa dihadapanNya, tetapi mereka yang percaya pada akhirnya akan mendapatkan pengampunan dan hidup yang kekal. Karunia keselamatan dari Tuhan adalah sesuatu paling besar dan utama dalam hidup orang Kristen, dan karena itu adanya bencana apa pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Mungkinkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang tertentu?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Dalam penderitaan yang kita alami, mungkin kita merasa bahwa Tuhan pilih kasih. Mengapa orang lain tidak mengalami penderitaan seperti kita? Mengapa orang yang hidupnya tidak mengenal Tuhan justru sering mempunyai hidup yang nyaman? Mengapa Tuhan membiarkan umatNya mengalami sakit, terkena wabah, mengalami kerugian besar dan sebagainya? Ayat di atas menyatakan bahwa dalam hidup di dunia ini, Tuhan mengasihi seluruh umat manusia. Tuhan memberi berkat umumNya untuk semua orang. Walaupun demikian, dalam hal yang khusus, yaitu dalam hubungan antara manusia dan Tuhan, Tuhan hanya memberikan Roh KudusNya kepada umatNya. Roh Kudus yang memberi pertolongan ketika musibah datang, hanya ada dalam hati umat percaya. Lebih dari itu, hanya umatNya yang menerima pengampunan dosa dan akan menjumpai Dia di surga.

Pada saat ini keadaan dunia serba kacau. kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berlangsung. Akankah kita melalui goncangan hidup ini dengan selamat? Kita bagaikan penumpang yang tidak tahu kemana pilot kita akan menerbangkan pesawat kita. Akankah kita mendarat dengan selamat? Jika pilot kita berada dalam kesulitan, adakah orang yang bisa menolongnya. Bagaimana pula jika pilot kita sakit, adakah yang dapat menggantikannya?

Jika kita mengalami badai kehidupan dan hati kita menjadi kecil, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa. Ia tidak pernah meninggalkan umatNya. Janji Yesus kepada para muridnya tatkala Ia akan meninggalkan mereka dan naik ke surga, menyatakan bahwa Ia memberikan damai sejahtera yang tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Dunia dengan segala kemajuan teknologi dan peradaban, tidak bisa menjamin adanya keselamatan. Dunia dengan demikian tidak bisa memberi kedamaian. Sebaliknya, Yesus sudah memberikan kedamaian kepada murid-muridNya. Dengan itu mereka hidup dengan berani untuk menghadapi segala tantangan dan bahaya. Kepada kita Ia juga mau memberikan damai sejahtera yang sama. Seperti Yesus sudah menyertai murid-muridNya, Ia yang sekarang di surga tetap memegang kendali hidup kita dan karena itu kita tidak perlu gelisah dan gentar.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5: 7

Sebab Dia hidup

“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” 1 Korintus 15: 21 – 22

Siapakah yang tidak mengenal lagu “Because He lives“? Lagu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “S’bab Dia hidup” ini ditulis oleh William (Bill) dan Gloria Gather di Amerika pada tahun 1971 di tengah pergolakan sosial, ancaman perang, dan penolakan terhadap kepercayaan nasional dan pribadi. Pada saat itu, pembunuhan, lalu lintas narkoba, dan perang ekonomi menjadi tajuk berita utama setiap hari. Di tengah-tengah ketidakpastian seperti itu, kepastian akan ketuhanan Kristus bangkit meniup pikiran manusia yang bermasalah seperti angin sepoi-sepoi yang mendinginkan padang pasir yang kering.

Anak Allah Yesus namaNya
Menyembuhkan, menyucikan
Bahkan mati tebus dosaku
Kubur kosong membuktikan Dia hidup

S’bab Dia hidup, ada hari esok
S’bab Dia hidup, ku tak gentar
Kar’na ku tahu Dia pegang hari esok
Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup

Tidak dapat disangkal, tahun 1971 sudah lama berlalu. Hampir setengah abad yang lalu, dan waktu itu saya masih belajar di SMA. Pada saat itu komputer dan ponsel belum ada, dan TVRI belum mempunyai stasiun pemancar di Surabaya. Dengan demikian, berita tentang apa yang terjadi dalam masyarakat dan negara hanya bisa saya peroleh melalui radio saja. Walaupun begitu, jika ada pendapat bahwa dengan kemajuan teknologi yang sudah tercapai sampai saat ini kita sudah mencapai tingkat kemampuan yang bisa membawa hidup yang nyaman, itu mungkin adalah pandangan yang keliru.

Pada saat ini dunia sedang mengalami krisis karena adanya pandemi COVID-19. Tidak saja ini menyangkut kesehatan manusia, banyak masalah lain juga timbul seperti masalah ekonomi, sosial, politik dan juga keamanan dunia. Teknologi memang sudah maju sekali diakhir abad ke 20, tetapi dengan adanya krisis di awal abad ke 21 ini, kita mungkin kembali merasakan apa yang dirasakan orang di tahun 1970an. Manusia kehilangan pegangan hidupnya, dan mencari-cari apa yang bisa dipakai sebagai pedoman hidup.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi masa mendatang yang serba tidak menentu ini? Sebagian orang mencoba untuk melupakan apa yang terjadi dan mencoba untuk menikmati hidup ini selagi masih bisa. Sebagian lagi mencoba menimbun harta berharga seperti emas dan uang dollar untuk menghadapi kemungkinan kacaunya ekonomi. Ada juga orang yang saking kuatirnya untuk jatuh sakit, sekarang mengonsumsi berbagai obat suplemen guna meningkatkan imunitas. Walaupun demikian, kekuatiran dalam hati setiap orang tetap ada karena mereka tahu bahwa hidup mereka sebenarnya bukan di tangan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa pada saatnya mereka akan meninggalkan dunia ini.

Bagi sebagian orang, kematian mungkin bukan hal yang harus dipikirkan. Ada orang yang percaya bahwa seperti hewan, mereka akan lenyap musnah setelah kematian. Selain itu, ada juga manusia yang berpikir bahwa jika hidup ini dijalani sebagai warga dunia yang baik, pada akhirnya mereka akan menemui kebahagiaan setelah kematian. Tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa manusia tidak dapat mengabaikan adanya hidup sesudah kematian jasmani. Mereka yang percaya kepada Kristus akan menemui kebahagiaan di surga, sedangkan yang lain akan menderita di neraka.

Ayat di atas menyatakan bahwa setiap orang akan menemui kematian jasmani karena dosa yang sudah dilakukan oleh Adam, tetapi karena kedatangan Kristus ke dunia, mereka yang percaya kepadaNya akan memperoleh kebangkitan. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Membayangkan kebahagiaan yang akan kita terima di surga memang bisa membuat kita terhibur. Walaupun demikian, kita mungkin mengharapkan agar kita bisa berbahagia juga selama hidup di dunia. Mengapa kita harus menderita selama menantikan saat untuk meninggalkan dunia ini? Dalam hal ini, Alkitab menyatakan bahwa sebenarnya setiap orang percaya tidak perlu merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Keyakinan bahwa Tuhan sudah memberi kita pengampunan seharusnya memberi kita keberanian untuk menghadapi gelora kehidupan karena kita yakin akan kasihNya. Seperti syair lagu “Because He lives” kita percaya bahwa sebab Dia hidup, ada hari esok untuk kita. Sebab Dia hidup, kita tak gentar menghadapi hari depan. Kita tahu bahwa Yesus memegang hari esok, dan hidup kita akan menjadi berarti jika kita yakin bahwa Dia benar-benar Tuhan yang hidup.

Tugas kewajiban di saat sulit

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Berapa lama anda sudah menjadi orang Kristen? Percayalah, pertanyaan ini bersangkutan dengan bagaimana anda hidup di masa yang penuh tantangan sekarang ini. Jika anda tahu jawaban yang benar, hidup anda akan bisa berubah, dan anda akan menjadi lebih tabah dan lebih bisa bersukacita dalam segala keadaan. Pertanyaan ini sering dilontarkan orang dan mungkin dijawab dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran yang panjang. Kebanyakan orang mengartikannya sebagai jangka waktu dari saat dibaptis hingga sekarang. Namun, ada juga orang yang mengartikannya sebagai jangka waktu sejak ia menerima Yesus Kristus sebagai JuruselamatNya. Selain itu, ada juga orang yang berpendapat bahwa jangka waktu itu harus dihitung dari saat ia mengenal siapa Yesus itu. Semua jawaban itu boleh saja diberikan, walaupun semuanya bukan jawaban yang tepat. Mengapa demikian?

Menjadi orang Kristen adalah menjadi pengikut Kristus. Alkitab menyatakan bahwa di Antiokhialah murid-murid Yesus untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kisah Para Rasul 11: 26). Dengan demikian, nama “Kristen” adalah sebutan yang diberikan orang kepada pengikut Yesus pada waktu itu, sekalipun mereka tentunya sudah menjadi pengikut Yesus sebelum sebutan itu ada. Sejak kapan orang menjadi Kristen sebenarnya bukanlah hal yang penting. Pengertian manusia tidaklah sama dengan apa yang dipikirkan Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa setiap pengikut Kristus menjadi orang pilihan Tuhan sebelum mereka lahir. Tuhan yang memilih mereka, dan bukan mereka yang memilih Tuhan. Begitu juga kita adalah orang-orang yang sudah dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk menerima pengampunan dan keselamatan, dan itu terjadi sebelum kita lahir.

“Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya” Galatia 1: 15

Pengampunan dosa adalah kasih karunia Tuhan dan bukan hasil usaha kita sendiri. Kita tidak bisa menjadi pengikut Kristus melalui tindakan kita, karena kita tidak bisa memenuhi tingkat kekudusan yang ditentukan Tuhan. Walaupun demikian, rasul Petrus dalam ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa setiap orang yang sudah dipilih Tuhan seharusnya menyambut panggilan dan pilihan Tuhan dengan hidup dan berperilaku yang baik. Khususnya, orang Kristen yang diselamatkan seharusnya mengonfirmasi keselamatan mereka, untuk diri mereka sendiri dan orang lain, dengan memiliki sifat-sifat yang dimiliki Yesus. Ini bukan berarti bahwa sifat baik seperti Yesus bukanlah ujian sulit yang harus kita lewati untuk mencapai keselamatan. Juga tidak menyiratkan bahwa keselamatan sudah diperoleh jika kita menunjukkan sifat-sifat ini.

Mereka yang telah dipilih oleh Allah dan dipanggil untuk beriman kepada Kristus, benar-benar dapat memiliki dan berlimpah dalam sifat-sifat ini dalam keadaan apa pun. Karena itu, mereka yang menunjukkannya memiliki kepercayaan diri yang baik dalam hubungan mereka dengan Kristus dan sesamanya. Mereka yang tidak, akan kurang percaya diri dalam menghadapi segala masalah yang harus mereka hadapi. Jika kita hidup karena hanya anak-anak Allah dalam Kristus yang diberi kuasa untuk hidup, kata Petrus, kita tidak akan memiliki alasan untuk meragukan atau tersandung oleh iman. Penggunaan kata “tersandung” bukan tentang kehilangan keselamatan. Dalam konteksnya, ini adalah hidup yang terbuang sia-sia, tidak produktif dan tidak efektif, hidup dalam kekuatiran dan ketakutan, yang seharusnya kita tinggalkan karena semuanya bukan apa yang diperlihatkan Yesus.

Bagaimana keadaan hidup anda di saat ini? Apakah adanya pandemi membuat hidup anda terasa kacau? Apakah anda merasa kuatir dalam menghadapi hari depan? Ataukah ada perasaan bahwa semua yang ada adalah sia-sia? Adakah ketakutan dalam hidup anda sehingga anda lupa bahwa anda adalah orang yang terpilih untuk menerima keselamatan sejak mulanya? Biarlah kita bisa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjalani hidup kita supaya kita merasa makin yakin bahwa kita adalah orang yang terpanggil dan terpilih agar kita bisa tetap teguh dalam menghadapi hari-hari mendatang!