Tetaplah teguh dalam pekerjaan Tuhan

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15: 58

Saat ini keadaan yang suram di dunia mempengaruhi segala aktivitas manusia. Dengan tidak adanya kepastian kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir, keadaan ekonomi dan sosial hampir semua bangsa di dunia sudah dapat dipastikan mengalami kemunduran. Lebih dari itu, ada kemungkinan bahwa keadaan dunia setelah pandemi ini akan menjadi lebih kacau karena semua negara akan berusaha keras untuk secepatnya bangkit kembali, dan dengan demikian persaingan dan pertentangan antar negara akan makin terlihat.

Dalam keadaan yang kacau saat ini, tidak dapat diragukan bahwa banyak gereja juga mengalami goncangan. Karena kegiatan gereja sudah terhenti cukup lama, saat ini kas keuangan banyak gereja sudah menjadi kosong. Tidak itu saja, banyak jemaat yang sudah lama tidak dapat berbakti bersama-sama di gereja sekarang ini mulai berkurang dalam semangat untuk melayani sesama. Sayang bahwa dalam suasana yang suram saat ini gereja justru tidak dapat memelihara jemaatnya dengan optimal. Kemunduran lebih lanjut yang akan terjadi pada umat Kristen dan misi gereja di masa mendatang sudah tentu sulit untuk dihindari.

Keadaan dunia dan negara memang bisa membuat orang yang pemberani dan bersemangat tinggi menjadi orang yang seringkali kuatir dan tidak yakin dalam menghadapi masa depan. Keadaan yang serupa mungkin dihadapi oleh orang-orang Kristen yang pertama. Tetapi, kita tahu bahwa pada saat itu umat Kristen justru kuat bertahan dalam iman sekalipun harus menghadapi penganiayaan dan berbagai penderitaan. Itu dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam kitab Korintus.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Apa yang bisa kita kerjakan dalam masa yang sulit saat ini untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baik, yang berguna untuk Tuhan dan sesama? Paulus dalam ayat pembukaan di atas menulis kepada jemaat di Korintus agar mereka tetap berdiri teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Mengapa demikian? Itu karena kita tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia. Tuhan selalu menyertai dan memberkati umatNya yang mau memakai hidup mereka untuk kemuliaanNya.

Penderitaan di saat ini membawa harapan untuk masa depan

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Roma 8: 22

Kapankah pandemi COVID-19 ini akan berakhir? Tentunya tidak ada orang yang tahu. Di Australia, dua minggu yang lalu keadaan yang sangat membaik memberi harapan bahwa PSBB di seluruh negara bisa di tinggalkan. Tetapi, setelah itu banyak kasus positif yang ditemukan di kota Melbourne. Akibatnya, sekarang sepuluh kecamatan di Melbourne dinyatakan tertutup. Kelihatannya, keadaan seperti ini juga terjadi di negara lain. Memang dengan kemajuan teknologi, ternyata manusia masih tidak mampu untuk menghindari penderitaan.

Dalam keadaan sekarang ini, umat percaya sangat berharap agar Tuhan menyatakan kuasaNya. Mereka membayangkan bagaimana indahnya keadaan di masa depan ketika mereka menerima kemuliaan surgawi dan dibebaskan dari penderitaan manusiawi dan kerusakan dunia. Dengan kata lain, semua akan diperbaiki. Manusia akan dikembalikan ke keadaan yang didudukinya ketika ia pertama kali diciptakan, sebelum dosa masuk ke dunia (1 Yohanes 3: 2). Tetapi, saat yang berbahagia itu masih terasa jauh. Saat ini, Tuhan seakan membiarkan seluruh makhluk menderita.

Dalam ayat di atas, Paulus menjelaskan bahwa kita belum sampai di surga. Di saat sekarang ini, semua ciptaan Tuhan terus mengerang karena penderitaan yang dialami dalam kerusakan semesta yang telah terjadi sejak dosa masuk ke dunia. Paul juga menggambarkan penderitaan makhluk yang merintih ini seperti merasakan sakit di saat melahirkan. Dengan kata lain, rasa sakit itu nyata, jelas, dan intens, tetapi itu mengarah ke momen “kelahiran” yaitu pada saat semua akan dikoreksi dan rasa sakit akan dilupakan.

Ini mirip dengan analogi yang digunakan oleh Yesus, dalam Yohanes 16: 21-22:

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

Dari ayat di atas, kita melihat bahwa Tuhan tidak mengabaikan penderitaan manusia. Rasa sakit itu nyata, dan manusia mengalami penderitaan dalam kehidupan ini. Intinya di sini bukan bahwa rasa sakit itu menyenangkan — sebaliknya, itu adalah hal yang menyedihkan. Apa yang bisa membuat kita melewati rasa sakit adalah mengetahui apa yang ada pada sisi yang lain. Ini seperti seorang wanita dalam persalinan untuk melahirkan bayi. Tidak ada wanita yang menginginkan rasa sakit itu sendiri, tetapi dia rela menanggungnya karena hasil sesudahnya yang menggembirakan.

Hari ini mungkin anda merasakan betapa besar penderitaan yang di alami seisi dunia. Penderitaan ini bisa menjadi hal yang sia-sia, jika tidak ada yang bisa diharapkan di masa depan. Tetapi bagi umat Tuhan, penderitaan di dunia ini justru memberi kita kerinduan dan pengharapan akan apa yang akan datang.

“…..tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 21

Roh Kudus adalah jaminan

“Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.” 2 Korintus 5: 1 -5

Aku yakin akan masa depanku

Pernahkah anda pergi berkemah? Sewaktu masih kecil saya ingin pergi berkemah di pengunungan, tetapi kesempatan itu tidak ada. Memang, berkemah mungkin hanya dilakukan oleh mereka yang aktif berkelana di alam terbuka, seperti pendaki gunung, pramuka atau tentara. Walaupun demikian, sesudah dewasa saya sering juga pergi berkemah bersama teman segereja atau keluarga.

Teringat saya pada saat berkemah bersama keluarga di Brunswich Heads di dekat perbatasan antara negara bagian Queensland dan New South Wales. Pada waktu itu saya menggunakan kemah kecil yang hanya mempunyai satu ruang dengan kapasitas 4 orang. Pada malam hari menjelang pagi datanglah hujan deras ketika kami masih tidur. Air hujan ternyata bisa menembus kain kemah yang berlapis dua dan membuat kami basah kuyup di dalam kemah. Kemah itu ternyata tidak dapat melindungi kami dari hujan; tidur dalam kemah kecil seperti itu ternyata tidak banyak berbeda dengan tidur di alam terbuka. Setelah kejadian itu saya sadar bahwa saya harus menutupi kemah kecil saya dengan selembar plastik tebal agar air hujan tidak memasukinya.

Ayat di atas adalah tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus menggambarkan bahwa hidup di dunia ini adalah seperti hidup dalam kemah yang tidak dapat melindungi kita. Kita ingin agar Tuhan menutupi kemah kita yang lemah dan fana ini dengan sesuatu yang kuat dan kekal, supaya kita bisa merasakan hidup yang tenteram. Keinginan dan kerinduan untuk merasakan tempat kediaman surgawi selama kita masih hidup di dunia ini tentunya tidak mungkin terjadi, dan karena itu kita hanya bisa mengeluh dan berharap. Hidup di dunia ini memang berat dan penuh dengan tekanan, tetapi kita sekarang hanya bisa menunggu saat di mana kita akan masuk ke dalam tempat tinggal yang sudah disediakan Yesus untuk kita.

“Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Bagaimana kita bisa bertahan selama kita hidup dalam kemah duniawi sekarang ini? Keadaan mungkin sudah tak tertahankan karena adanya berbagai hal yang membuat kita menderita, kuatir, takut dan putus asa. Mungkin kita merasa bahwa hidup didunia ini sudah tidak bisa menawarkan apa pun yang bisa memberi kita kedamaian dan ketenangan. Walaupun kerinduan untuk bisa merasakan kebahagiaan surgawi di masa mendatang mungkin besar, kita mungkin kurang yakin apakah kita akan mengatasi semua yang ada sekarang dan tetap berteguh dalam iman. Dalam hal ini Paulus menulis bahwa Tuhan justru membiarkan kita untuk hidup di kemah dunia ini agar Ia bisa mempersiapkan kita untuk hidup di surga. Tuhan membiarkan kita hidup dalam tubuh ini, tetapi Ia sudah mengaruniakan RohNya kepada kita agar kita tidak ragu untuk hari depan, karena RohNya adalah jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. Dengan demikian, selama kita masih hidup dalam kemah duniawi ini biarlah kita tetap yakin bahwa Ia akan menyertai kita sampai saatnya kita bisa menempati tempat kediaman kekal yang sudah disediakanNya. Apakah anda masih ragu akan janjiNya?

Kesatuan jiwa dan raga

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Tesalonika 5: 23

Tuhan, kuatkanlah jiwa dan ragaku

Apakah yang bisa membuat orang kuatir dengan adanya pandemi di saat ini? Tentunya semua orang ingin menghindari serangan virus corona terhadap tubuhnya. Sudah banyak korban virus yang jatuh sakit, sebagian cukup parah sehingga harus mendekam di rumah sakit untuk waktu yang lama. Tetapi, korban virus bukan saja menyangkut jasmani, karena banyak orang yang harus mengalami isolasi di rumah atau tempat lain kemudian mengalami gangguan kejiwaan. Dengan demikian, COVID-19 ini bisa menyerang baik jasmani maupun rohani kita.

Mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan, umumnya percaya bahwa manusia hanya berbentuk jasmani atau raga. Memang, jika Tuhan adalah roh, orang yang tidak percaya adanya roh tentu tidak bisa membayangkan adanya Tuhan. Bagi mereka, manusia ini adalah suatu makhluk yang seperti makhluk lainnya di dunia, hanya hidup untuk satu kurun waktu tertentu, dan yang kemudian mati dan hilang lenyap.

Manusia memang terdiri dari dua aspek yaitu rohani dan jasmani atau jiwa dan raga. Karena adanya pembagian atas dua aspek yaitu tubuh dan roh, ini disebut pandangan dikotomi. Tetapi, ada juga orang yang kemudian membagi aspek rohani menjadi dua komponen, yaitu jiwa dan roh. Dengan demikian ada tiga aspek manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Pandangan sedemikian disebut trikotomi.

Menurut pandangan dikotomi, raga mewakili segala sesuatu yang tampak, sementara jiwa mewakili semua yang tak terlihat. Dalam hal ini, istilah soul (jiwa) dan spirit (roh) adalah dua aspek yang ditilik dari dua sudut pandang yang berbeda. Dalam menilai dikotomi, soal penciptaan merupakan argumen terkuat. Kejadian 2:7 mencatat bahwa manusia menjadi raga yang diberi nafas kehidupan oleh Tuhan.

Menurut pemikiran trikotomi, manusia terdiri dari tiga unsur berbeda, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa mencakup nyawa dan kemampuan yang dimiliki manusia, seperti pikiran, hati, dan kehendak. Sebaliknya, roh adalah kemampuan rohani untuk berhubungan dengan Tuhan. Pandangan trikotomi bisa menjelaskan mengapa seseorang dapat dikatakan hidup secara jasmaniah namun mati secara rohaniah. Oleh sebab itu, banyak juga penyajian Injil yang dilakukan berdasarkan pandangan trikotomi.

Mengenai 1 Tesalonika 5:23, kita perlu mengamati bahwa Paulus sedang sibuk berdoa. Ia tidak membicarakan aspek apa yang membentuk manusia. Sebaliknya, Paulus memakai kata kerja “terpelihara” dan kata sifat “seluruhnya” yang secara bersamaan menunjuk kepada sesuatu yang tunggal. Dengan demikian, ayat di atas tidak dimaksudkan untuk membagi manusia dalam beberapa aspek. Sebaliknya, ayat itu menunjukkan pentingnya untuk mendapat damai sejahtera dari Tuhan sehingga hidup kita sepenuhnya dipelihara dengan sempurna sampai kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Hari ini, adakah perasaan gundah dalam diri anda dalam menghadapi hari-hari mendatang? Apakah kerisauan hati itu sehubungan dengan ancaman penyakit, keadaan ekonomi atau kebutuhan hidup kita? Apakah anda tidak merasakan kekuatiran bahwa keadaan saat ini bisa juga mempengaruhi keadaan rohani anda di masa depan? Jika anda berusaha keras untuk bisa mempertahankan kesehatan jasmani anda, adakah usaha anda untuk mempertahankan bahkan memperkuat keadaan rohani anda? Firman Tuhan di atas menyatakan pentingnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus tetap berdoa memohon penyertaan Tuhan bagi hidup kita secara keseluruhan agar kita bisa merasakan damai sejahtera yang penuh dariNya.

Bagaimana masa depanmu?

Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” 2 Petrus 3: 13

Aku tetap berharap pada Tuhan

Setiap orang yang ditanya bencana apa yang sekarang terjadi di dunia tentu akan menjawab “COVID-19”. Sudah memakan korban lebih dari 500 ribu jiwa (128 ribu di antaranya di Amerika Serikat) dalam waktu kurang dari 6 bulan, wabah ini mungkin tidak sedahsyat wabah flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918-1919 yang memakan korban setidaknya 500 juta jiwa di seluruh dunia (675 ribu di antaranya di Amerika Serikat). Walaupun demikian, COVID-19 belum sepenuhnya menjalar ke seluruh penjuru dunia. Pandemi ini jelas belum mencapai puncaknya atau melambat perkembangannya, tetapi justru makin menjadi parah dengan lebih cepat menyebar dari pada bulan-bulan yang lalu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak manusia yang mulai bertanya-tanya apakah manusia masih bisa berharap untuk mempunyai masa depan yang baik.

Sebagian manusia memang sangat menguatirkan kemungkinan bahwa keadaan yang buruk saat ini akan menjadi makin buruk dan mempengaruhi keadaan ekonomi, sosial dan politik banyak negara. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa kekacauan akan terjadi di berbagai tempat. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa krisis seperti ini pernah terjadi sebelumnya dan manusia pasti akan bisa mengatasinya. Menurut mereka, manusia cukup tangguh dalam menghadapi masalah dan akan tetap bisa bertahan dalam hidup.

Bagaimana dengan pendapat anda sendiri? Apakah anda termasuk orang yang merasa pesimis dengan penanganan krisis di tempat anda? Ataukah anda tetap merasa optimis bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik? Mungkin anda sulit untuk menjawabnya, dan lebih ingin untuk berserah kepada Tuhan. Anda tidak mau memikirkan hal itu karena percaya sepenuhnya bahwa Tuhan yang akan mengambil keputusan. Mungkin anda merasa takut untuk memikirkan apa yang bisa terjadi, dan karena itu ingin melupakannya. Memang lebih mudah bagi kita yang menghadapi masalah untuk mengabaikan segala sesuatu yang bisa membuat kita bingung atau pusing. Ketidaktahuan adalah suatu kedamaian, begitu kata orang. Ignorance is a bliss.

Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ketidaktahuan akan membawa kedamaian. Jika kita tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, itu akan membawa hidup yang kacau. Jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, itu tidak akan memberi perasaan tenang. Sebaliknya, jika kita bisa membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar, kita tentunya akan dapat memilih apa yang benar. Jika kita tahu apa yang akan terjadi, maka kita bisa membuat persiapan yang baik untuk menghadapinya. Masalahnya, bagaimana kita bisa membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar? Dan bagaimana pula kita bisa tahu apa yang akan terjadi?

Alkitab adalah firman Tuhan yang berisi kebenaranNya. Dari firman Tuhan kita bisa belajar untuk mengerti apa yang baik dan apa yang buruk dalam pandangan Tuhan. Dari Alkitab kita belajar bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umatNya. Tuhan tidak pernah bermaksud buruk kepada mereka yang taat kepadaNya. Dari Alkitab kita juga sadar bahwa apa pun yang terjadi di dunia, pada akhirnya akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih akan dapat mengatasi segala sesuatu yang terjadi saat ini, sehingga semua orang bisa melihat bahwa Ia adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.

Ayat di atas menyatakan bahwa sesuai dengan janjiNya, kita saat ini menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Ini berarti bahwa sebagai umat Kristus kita percaya bahwa hidup di dunia ini bukanlah satu-satunya hidup yang kita punyai. Sebaliknya, hidup di dunia ini adalah suatu jalan yang harus kita tempuh sambil menunggu saat dimana kita dapat bersatu dengan Dia yang sudah menyelamatkan kita. Hidup di dunia adalah kesempatan bagi kita untuk bisa makin mengenal kebenaran Tuhan dan untuk bisa makin taat kepada firmanNya. Dalam hal ini, keadaan apa pun yang terjadi tidak akan membuat kita goncang. Kita tetap sanggup menghadapi segala tantangan hidup karena kita sudah menerima kemenangan di dalam Dia. Biarlah kita berani menghadapi hari-hari mendatang karena adanya pengharapan di dalam Dia!

Dekatlah dengan gembalamu

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Yesus gembala yang baik

Apakah yang bisa membuat anda takut? Banyak orang merasa takut jika dihadapkan pada sebuah ancaman yang besar yang bisa membawa celaka. Tetapi banyak juga yang merasa takut ketika mereka harus menghadapi kejadian atau hal yang tidak dikenalnya. Perasaan kurang yakin akan apa yang akan terjadi memang bisa membuat jantung berdebar. Pada saat ini, kebanyakan orang takut menghadapi ancaman pandemi dan juga karena tidak tahu apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang. Maklum, bukan saja kesehatan kita yang bisa terpengaruh, tetapi juga keuangan dan kebutuhan kita sehari-hari. Barangkali keadaan kita adalah seperti seekor domba yang harus melalui sebuah hutan yang gelap.

Dalam ayat di atas, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Semua itu seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Saat ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menjauhkan diri dari doa dan persekutuan dengan Tuhan. Sebaliknya, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Kita adalah milik Allah yang berharga

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Tuhan selalu menjaga hidupku

Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Dengan adanya pandemi, banyak orang kuatir akan kemungkinan tertular virus corona. Pada pihak yang lain, banyak juga orang yang kuatir kalau-kalau perekonomian dunia menjadi goncang. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; kaum muda mungkin justru lebih kuatir dalam menghadapi masa depan, terutama karena sulitnya mendapat pekerjaan yang layak dalam situasi saat ini.

Kekuatiran sebenarnya tidak harus berupa hal yang jelek. Kekuatiran hanya menjadi hal yang merusak atau destruktif jika itu membuat kita lumpuh tidak berdaya. Jika kekuatiran bisa menginsafkan manusia atas kelemahannya sehingga ia mau berusaha untuk mencari penyelesaian atau pertolongan, kekuatiran mungkin bisa menjadi bagian pertahanan hidup yang baik. Sebagai contoh, mereka yang kuatir tertular virus corona akan lebih berhati-hati dalam hidup bermasyarakat di saat ini. Dalam hal ini, masalah mungkin timbul kalau ketakutan yang besar kemudian muncul sebagai akibatnya. Keterbatasan manusia memang bisa membuat manusia tidak bisa melihat adanya jalan keluar, atau bisa membuat mereka tidak mengerti bahwa ada jalan keluar yang tidak bisa dilihatnya. Inilah yang biasanya mendatangkan ketakutan yang melumpuhkan.

Orang Kristen yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakasih tidak akan bisa mengerti bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk berjuang sendirian di dunia ini. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup yang besar, ia akan merasa seorang diri dan mudah putus asa karena ia tidak bisa melihat adanya Tuhan yang mau menolong. Dalam hal ini, apa yang paling mudah untuk dilakukan untuk bisa bertahan hidup ialah menerima segala kesulitan hidup sebagai takdir. Sebaliknya, mereka yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakuasa, cenderung percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diinginkannya. Doa-doa permohonan kemudian disampaikan tanpa menyadari bahwa jalan Tuhan bisa berbeda dengan jalan manusia. Kekeliruan mudah terjadi ketika dalam kekuatiran mereka tergesa-gesa memilih apa yang terlihat indah, sekalipun itu mungkin bukan apa yang disenangi Tuhan.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhan tahu jumlah rambut kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang dekat dengan umatNya, yang peduli akan apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Ia yang tahu jumlah rambut kita, juga tahu semua kebutuhan dan masalah kita dan tidak membiarkan kita mengalami kehancuran karenanya. Bagi Tuhan yang mahakasih, umatNya adalah jauh lebih berharga dari apapun juga. Karena itu jugalah, Tuhan sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jika kita sadar akan besarnya kasihNya, tidaklah  perlu ada keraguan bahwa Tuhan selalu memelihara umatNya.

Pagi ini mungkin kita percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihi kita. Tetapi keraguan mungkin masih ada, apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa memberi apa saja. Tetapi Tuhan yang mahabijaksana tidaklah selalu memberi apa yang sesuai dengan permohonan kita. Tuhan mempunyai rencana yang khusus bagi setiap umatNya. Ia yang tahu bahwa rambut setiap orang tidaklah sama jumlahnya, Ia jugalah yang memberikan apa yang baik bagi setiap umatNya sesuai dengan pertimbanganNya. Terkadang kita seolah kehilangan kesabaran dalam menunggu saat yang dipilihNya, tetapi selama dalam penantian kita harus tetap teguh dalam iman. Tuhan adalah mahatahu, mahakasih, mahakuasa dan mahabijaksana, karena itu kita tidak perlu takut dalam menghadapi masa depan.

Lima prinsip kesehatan

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 3: 1-2

Terima kasih Tuhan atas kesehatan kami

Dengan adanya pandemi COVID-19, tidak dapat disangkal bahwa kesehatan adalah hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan manusia di saat ini. Dengan adanya ancaman virus corona, manusia makin sadar bahwa selama hidup di dunia mereka harus berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stress dan sebagainya. Berbagai brosur, buku, situs internet dan juga hoax bermunculan tiap hari, yang semuanya mengajarkan trik-trik untuk menjaga kesehatan, mengobati penyakit dan hidup sehat. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang juga mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan menurut Firman Tuhan.

Yang pertama, Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakanNya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan. Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Kedua, Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Faktor genetik dan faktor lingkungan bisa mempengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai dan dimana kita hidup. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing sambil bersyukur, mau memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Yang ketiga, apapun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa mempengaruhi kesehatan kita. Hidup sehat, diet, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya bisa meningkatkan kesehatan kita. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa diperhamba oleh semuanya. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu haripun.

Yang keempat, manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekadar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita. Selain itu, apa yang kita perbuat tidak akan mengubah rencanaNya.

Dan yang kelima, Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupanNya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladanNya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firmanNya.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip kesehatan menurut Alkitab. Penulis Amsal mengajak kita untuk tidak melupakan ajaran Tuhan, dan mau memelihara perintahNya agar kita bisa memperoleh kesehatan jasmani dan rohani selama hidup di dunia.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 7-8

Berserulah kepada Tuhan

“Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Tolonglah aku, Tuhan..

Apakah anda menonton berita TV setiap hari? Pernahkah anda merasa gundah setelah menonton? Mungkin itu disebabkan oleh berita-berita menyedihkan atau menakutkan yang dilaporkan. Tidak banyak orang yang menduga bahwa sebuah pandemi akan terjadi pada tahun ini dan membawa banyak korban jiwa. Tetapi mudah untuk dibayangkan apa yang akan terjadi pada bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang jika vaksin tidak dapat ditemukan.

Dalam hidup ini, masalah besar memang ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus dihadapi manusia di dunia ini. Bukan saja karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada, tetapi juga karena adanya masalah baru yang sering timbul sebelum masalah yang ada bisa diatasi.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita maha kuasa dan maha kasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepadaNya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan mendengar doa kita dan menjawabnya? Ayat diatas memberikan sebuah gambaran singkat bagaimana Tuhan bekerja menolong umatnya yang berada dalam kesulitan. Ada tiga bagian yang perlu kita teliti: (1) Bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab, (2) Tuhan akan menyertai kita yang dalam kesesakan, dan (3) Tuhan akan meluputkan kita dari bencana dan meninggikan kita. Jika kita mengerti akan hal-hal ini, kita akan mempunyai wawasan yang baru dalam menghadapi masalah kehidupan.

Yang pertama, bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab. Tuhan tahu jika kita mengalami masalah dan Ia pasti bertindak pada waktu yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Tuhan yang maha kasih selalu ingin memberikan yang terbaik untuk umatNya, sekalipun dunia ini selalu penuh dengan semak duri.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbinganNya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendakNya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, kita akan mendengar suaraNya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepadaNya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bagi umatNya yang mengalami masalah, Tuhan juga berkata bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang maha kasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang maha kuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apapun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan didalam Dia.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolonganNya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya.

Hidup ini memang tidak mudah

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1: 3 – 5

Hari Jumat yang lalu Badan Kesehatan Sedunia (WHO) melaporkan bahwa rekor peningkatan harian kasus positif COVID-19 sudah dipecahkan dengan adanya 183,000 kasus baru dalam 24 jam. Sebagian besar dari negara-negara yang ada di dunia memang masih mengalami peningkatan kasus positif corona virus. Walaupun demikian, banyak di antaranya yang sudah mengurangi pembatasan sosial demi mengatasi kemungkinan timbulnya gejolak sosial dan ekonomi. Memang, jika kasus pandemi ini tidak segera teratasi dengan ditemukannya vaksin yang efektif, keadaan perekonomian dunia akan hancur. Dalam hal ini banyak orang terpaksa mengambil resiko untuk mulai menjalankan aktivitas kehidupannya, dengan bersemboyan “daripada mati karena kelaparan, lebih baik mati karena virus”.

Hidup ini memang tidak mudah dan mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu untuk bisa tetap hidup seringkali merupakan tantangan yang sangat besar. Pernahkah anda mengalami kesulitan besar dalam hidup anda, sedemikian rupa sehingga anda merasa bahwa hidup ini terlalu sulit untuk ditempuh dan barangkali lebih enak kalau anda bisa ke surga sekarang juga? Mungkin anda belum pernah mengalami perasaan semacam ini. Walaupun demikian, setiap hari di dunia ini ada banyak orang Kristen yang membandingkan pilihan untuk terus hidup dalam perjuangan dan penderitaan di dunia, dengan kesempatan untuk ke surga. Rasul Paulus pun pernah membandingkan hal hidup dan mati baginya.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Filipi 1: 21 – 22

Sudah tentu Paulus tidak bisa menentukan kapan ia akan dipanggil ke surga; karena itu, ia memutuskan bahwa selama masih hidup, ia akan berjuang untuk memuliakan nama Tuhan. Memang adalah baik jika kita bisa seperti Paulus, tetap kuat menghadapi hidup di dunia ini. Tetap bisa memakai kesempatan apapun untuk melayani Tuhan dan sesama. Tetapi, ada kalanya hidup ini sangat berat dan kita merasa lelah dan berputus asa.

Mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana dalam perjuangan hidupnya, Paulus bisa tetap bisa tabah dalam iman dan yakin bahwa ia akan bisa menerima keselamatan. Banyak umat Kristen yang menjadi ragu untuk keselamatan yang dijanjikan Tuhan, bukan karena kuatir bahwa Tuhan akan melupakan janjiNya, tetapi karena keraguan apakah mereka tetap bisa hidup bertahan menghadapi segala persoalan. Hidup memang bisa menjadi sangat berat, dan jika Tuhan tidak menolong mereka, bagaimana mereka bisa bertahan dalam iman dan tetap diselamatkan?

Ayat-ayat pembukaan diatas adalah tulisan rasul Petrus yang ditujukan kepada jemaat Kristen di beberapa tempat yang mengalami berbagai pencobaan. Petrus menulis bahwa Yesus Kristus dengan kasihNya yang besar, melalui kematian dan kebangkitanNya, akan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima hidup yang kekal. Petrus lebih lanjut menulis bahwa kita akan dipelihara Allah karena iman kita sementara kita menantikan keselamatan yang telah tersedia.

Pagi ini, jika kita meragukan apakah keselamatan itu akan tetap tersedia untuk kita karena hidup kita saat ini bagaikan perahu yang diombang-ambingkan ombak, firmanNya berkata bahwa Tuhanlah yang akan memelihara kita. Iman bukanlah hasil jerih payah kita; iman berasal dari Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, besar ataupun kecil, menurut ukuran yang sesuai dengan kehendakNya (Roma 12: 3). Selama kita tetap berpegang pada iman itu, Tuhan akan memelihara dan melindungi kita sehingga keselamatan itu tidak bisa lenyap. Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan ombak kehidupan kita, tetapi Ia berjanji untuk memelihara kita sampai akhir zaman!

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6