Kebebasan bukan untuk membuat kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Banyak negara yang selama pandemi ini mengalami kekacauan yang disebabkan oleh rakyat yang tidak mau untuk menaati pedoman atau perintah yang berwajib untuk menjalankan protokol kesehatan. Bukan saja di negara berkembang, banyak negara maju yang mengalami dampak pandemi yang berkelanjutan karena rakyat yang tidak ingin untuk dibatasi dalam menjalankan aktivitas mereka. Selain itu, keadaan saat ini sering membuat manusia untuk berebut mencari barang kebutuhan hidup jika ada kemungkinan bahwa pembatasan kegiatan masyarakat akan diterapkan.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apa pun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang sering kali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan memengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, seperti memakai produk tertentu, tetapi karena banyaknya orang yang ingin untuk melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.

Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus sering kali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang dengan kebijaksanaan harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan dan menguntungkan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Hari ini, jika kita membaca koran atau media apa pun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi di mana-mana. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Keadaan dunia saat ini memang jauh lebih parah jika dibandingkan dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang bijak, sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

Menggunakan kebebasan dengan benar

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Dalam suasana saat ini banyak orang sudah merasa jemu dengan adanya pembatasan aktivitas kehidupan yang disebabkan oleh adanya pandemi. Bukan saja jemu untuk berdiam di rumah saja, mereka juga merasa terkungkung dan tidak bisa bekerja seperti biasa. Apabila keuangan rumah tangga menjadi berantakan karena berkurangnya penghasilan, mungkin orang memilih untuk tetap bekerja seperti biasa dan melupakan adanya bahaya bagi dirinya atau keluarganya. Dalam hal ini, bukan saja rakyat yang merasakan adanya keinginan untuk bebas dari kungkungan pandemi, banyak tokoh masyarakat juga ingin agar kegiatan ekonomi tidak terhambat oleh adanya pembatasan kesehatan. Semua orang agaknya ingin untuk hidup merdeka.

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Kebebasan dari apa dan dalam hal apa? Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?

  • Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain
  • Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya
  • Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya
  • Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.

Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang sedemikian tidak akan mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas dan apa yang terlihat nyaman,

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan dan peraturan pemerintah karena bagi mereka orang-orang itu tidaklah merdeka. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai kehendak bebas (free will) yang seharusnya dipakai oleh setiap manusia untuk memilih apa saja yang dikehendakinya.

Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa free will bukan berarti bebas untuk berbuat dosa, free to sin dan melakukan apa yang dipandang baik oleh manusia, tetapi yang dipandang sebagai kebodohan oleh Tuhan. Mereka yang ingin merdeka dari jalan yang ditunjukkan Tuhan justru akan jatuh ke dalam bahaya dosa dan masuk ke dalam perangkap iblis yang membawa penderitaan dan kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?

“Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” Mazmur 1: 6

Bersyukur selagi mengalami masalah

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Bersyukur kepada Tuhan selagi kita mengalami masalah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Di saat pandemi ini, banyak orang Kristen yang merasa bahwa hidup ini sangat berat dan karena itu sulit sekali untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan setiap hari.

Sebelum datangnya pandemi, hal bersyukur kepada Tuhan untuk banyak orang Kristen sebenarnya tidaklah semudah yang dibayangkan. Mereka harus bisa bersyukur dalam segala hal, untuk segala yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka juga harus senantiasa bersyukur, mengucapkan terima kasih di segala waktu. Mereka harus bisa bersyukur dengan rasa cukup dan bukannya tidak puas akan hidupnya. Jika demikian, siapakah yang dapat bersyukur kepada Tuhan?

Bersyukur kepada Tuhan dengan cara yang benar tidak mungkin dilakukan manusia jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam hidupnya. Mereka yang tidak menyadari betapa besar pengurbanan Yesus untuk menebus dosa manusia dan mereka yang tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka ke dalam bimbingan Roh Kudus tidak akan mengerti mengapa rasa syukur itu seharusnya selalu dinyatakan kepada Tuhan.

Segala yang baik datangnya dari Tuhan (Roma 11: 36). Karena itu, sudah sepantasnya jika Tuhan yang sudah memelihara manusia dan alam semesta itu senang jika manusia mempunyai rasa syukur dan mau berbakti kepada-Nya.

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Wahyu 4: 11

Mengucap syukur di hari baik mungkin tidak sulit dlakukan. Tetapi bagaimana kita bisa bersyukur di hari buruk? Mungkin saat ini kita merasa Tuhan ada jauh di sana, dan membiarkan kita sendirian untuk menghadapi berbagai persoalan dan bahaya. Mungkin kita merasa bahwa Tuhan sudah menghukum kita dan juga seluruh umat manusia. Inilah yang membuat kita sulit untuk bersyukur,

Walaupun keadaan saat ini sangat menekan, kita harus tetap sadar bahwa sebagai umat-Nya kita tidak boleh berputus asa. Tuhan yang sudah mengampuni kita adalah Tuhan yang tentunya sangat mengasihi kita. Keadaan saat ini memang mungkin terasa sebagai ganjaran, tetapi kita harus tetap bisa bersyukur kalau kita tetap bisa percaya bahwa Ia mengizinkan hal-hal tertentu terjadi dalam hidup kita untuk menguatkan iman kita kepada-Nya.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Tabah karena yakin

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hari ini berita media rasanya kurang bisa dinikmati. Memang setiap hari selalu ada saja berita sensasional dan kabar buruk yang ditonjolkan, tetapi rasanya tidak seperti hari ini. Karena itu, baru beberapa menit saya menonton, TV kemudian saya matikan.

Melihat kejadian yang kurang baik bisa membuat orang merasa sedih, kuatir atau takut. Tidaklah mengherankan kalau banyak orang yang saat ini mengalami gangguan kesehatan akibat suasana yang kurang baik. Walaupun demikian, bagi sebagian orang, hidup berjalan seperti biasa. Mengapa ada orang yang nampaknya begitu tabah dalam menghadapi masalah kehidupan? Sebagian orang mungkin tidak mempunyai alternatif lain. Tuhan dipercaya sebagai Oknum yang menentukan dan bahkan membuat semua itu. Karena itu, tidak ada gunanya untuk bersusah hati. Siapa yang bisa melawan Tuhan? Malapetaka adalah nasib yang ditentukan Tuhan untuk orang-orang yang dipilih-Nya.

Sebenarnya, adanya bencana belum tentu datang dari Tuhan. Memang, jika orang hidup dalam dosa, Tuhan bisa memberi peringatan dan bahkan hukuman. Kekeliruan manusia dalam mengambil keputusan juga bisa menyebabkan datangnya bencana. Walaupun demikian, Tuhan adalah mahakasih. Ia tidak pernah bermaksud untuk memberi bencana bagi anak-anak-Nya yang taat. Ada kalanya Ia membiarkan adanya penderitaan dan malapetaka terjadi, seperti apa yang terjadi kepada Ayub. Tetapi Tuhan jugalah yang memberi kekuatan kepada mereka yang percaya, agar mereka tetap teguh selama hidup di dunia. Dunia ini penuh semak duri, tetapi Tuhan membimbing dan menguatkan orang beriman.

Ayat di atas sering dipakai untuk menghibur orang Kristen yang mengalami penderitaan. Tetapi ayat itu juga sering disalahtafsirkan sehingga orang bukannya terhibur, tapi justru sebaliknya. Mengapa begitu? Memang dalam menghadapi bencana kehidupan, tidak mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan adanya malapetaka? Kalau Ia memelihara orang yang mengasihi-Nya, mengapa bencana bisa terjadi pada umat percaya?

Tuhan jelas mengasihi seluruh umat manusia dengan mengutus Yesus untuk menebus dosa orang yang percaya. Bagi orang-orang yang sudah menjadi anak-Nya, jaminan keselamatan sudah ada. Tetapi selama hidup di dunia, setiap orang bisa mengalami bencana. Penderitaan di dunia adalah bagian kehidupan semua orang. Apalagi, sebagai orang Kristen kita justru sering menderita karena iman kita kepada Kristus.

Apa yang dialami Yesus di dunia, bukan hanya sehubungan dengan penyelamatan orang percaya. Penderitaan di dunia yang dialami-Nya adalah juga untuk meyakinkan kita bahwa Ia tahu apa yang kita rasakan dalam menghadapi bencana hidup. Yesus yang seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sudah memberikan contoh ketabahan dengan memercayakan diri-Nya kepada rencana Allah Bapa. Ia yakin bahwa rencana Allah adalah baik, dan Allahlah yang bisa membuat agar apa yang baik bisa timbul dari apa yang kelihatannya sangat buruk.

Pagi ini, dalam membaca ayat diatas, marilah kita meminta agar Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita untuk dapat menyelaminya. Memang tidak mudah bagi kita untuk mengerti rencana Tuhan dalam hidup kita, tetapi satu hal yang harus kita yakini ialah kasih-Nya yang tidak pernah berubah.

“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 1 Korintus 1: 9

Apakah kita juga harus ikut prihatin?

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Sudah satu setengah tahun pandemi Covid-19 ini merajarela di bumi. Banyak negara yang sudah mengalami berbagai masalah sebelum pandemi terjadi, sekarang rakyatnya makin menderita karena banyaknya dampak yang ada. Mungkin kita merasa heran bagaimana pandemi ini menghantam berbagai negara tanpa pandang bulu. Malahan, negara-negara yang termasuk maju dan kaya, justru saat ini terlihat kurang bisa mengendalikan situasi. Apakah semua itu menunjukkan bahwa Tuhan sedang murka kepada sebagian umat manusia dan memberikan hukuman-Nya?

Tuhan itu mahakasih dan kasih-Nya kepada umat-Nya tidaklah dapat diukur. Seperti nyanyian “Jesus loves me” kita percaya bahwa Yesus mengasihi kita. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Tetapi, apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaan ini mungkin mudah dijawab jika Yesus datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan orang tertentu. Adanya orang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikut-Nya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap kurang baik atau kurang pantas untuk menjadi teman kita. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, dan karena itu tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Kita mungkin juga sering merasa bahwa jika banyak orang yang saat ini menderita, itu adalah karena kesalahan dan kebodohan mereka sendiri.

Apa yang kita pikirkan  tidaklah sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita. Biarlah dalam keadaan saat ini kita tetap bisa ikut merasakan penderitaan orang lain dan ikut prihatin, dan dengan rela mau menolong mereka yang menderita.

Jangan biarkan mereka mati

“Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 22 – 23

Ingatkah anda hukum kedua yang disebutkan Yesus dalam Matius 22: 39? Hukum itu berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Setiap orang yang mempunyai pikiran yang sehat tentunya tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya, dan seperti itulah ia harus mengasihi orang lain. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Memang biasanya orang tidak mudah mengasihi orang lain karena adanya perasaan bahwa orang lain tidak pantas untuk dikasihi. Apalagi, jika orang lain itu sudah terbukti pernah melakukan kekejian, mungkin ada perasaan dalam hati kita bahwa orang itu sebaiknya tidak dibiarkan hidup. Lebih dari itu, kita mungkin berharap agar Tuhan membinasakan orang tersebut. Benarkah sikap ini? Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat begitu.

Dalam pandangan sebagian orang Kristen yang lain, adanya hukuman bukanlah suatu pembalasan, walaupun hukuman diperlukan untuk mengurangi adanya kejahatan. Hukuman seberat apa pun tidak akan menghentikan adanya kekejian. Selanjutnya dalam pandangan mereka, orang Kristen seharusnya dapat mengampuni karena Allah telah mengampuninya.

Tidak dapat dihindari bahwa terkait dengan hukuman pidana mati, terdapat dua pandangan yakni yang mendukung dan yang menolak diterapkannya hukuman pidana mati. Bagi yang mendukung (menerima) diterapkannya hukuman pidana mati, dasarnya adalah penjahat yang telah melakukan kejahatan pantas dihukum, bahkan dengan hukuman mati. Hukuman mati merupakan pembalasan. Seseorang bisa menjadi abdi Allah dan menjalankan hukuman Allah kepada mereka yang melakukan kejahatan, dan terlebih lagi Allah memberi kuasa kepada negara untuk menghukum bagi siapa saja yang berbuat kejahatan. Dalam perwujudan akan hal tersebut dituangkan dalam bentuk undang-undang dengan pandangan agama yang diyakini. Di sisi lain, bagi yang menolak (tidak setuju) diterapkannya pidana mati beralasan bahwa hukuman mati tidaklah efektif dalam menangani kejahatan, dan karena itu hukuman seumur hidup lebih tepat digunakan daripada hukuman mati. Selain itu, hukuman mati berarti menutup kesempatan bagi narapidana untuk bertobat dengan alasan Tuhan sudah menghendakinya.

Dilema antara pro dan kontra hukuman mati mungkin mirip dengan apa yang dialami dokter yang harus memutuskan untuk menghentikan mesin pembantu jantung atau pernafasan dari seorang pasien yang sakit parah. Tetapi, jika dokter sudah tidak bisa menolong lagi, dan keajaiban ilahi tidak terjadi, apakah yang bisa dilakukan? Dalam hal ini, mungkin bisa diterima bahwa sang pasien sudah waktunya untuk meninggalkan dunia. Pada pihak yang lain, seorang penjahat yang segar bugar tentu saja bisa bertobat jika Tuhan menghendakinya. Dengan demikian, jika kita memutuskan bahwa orang itu harus dihukum mati, kita sudah mencoba berperan sebagai Tuhan.

Mengapa kita harus bisa untuk tetap menghargai nyawa orang yang berbuat jahat? Mengapa kita harus mengasihi orang yang hidup dalam dosa? Mereka tidak pantas untuk dikasihi, begitu mungkin pikiran kita. Dengan kata lain, kita tidak mengasihi mereka karena kita yakin bahwa mereka tidaklah sebaik diri kita. Pandangan semacam ini sudah tentu bukanlah pandangan Yesus. Selama hidup di dunia Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada orang yang terasing dari masyarakat, marginalised people, seperti orang yang sakit kusta, pelacur, pemungut cukai dan penjahat. Yesus mengasihi mereka sebelum mereka mengasihi Dia. Yesus mengasihi mereka sekalipun mereka belum menjadi pengikut-Nya. Tuhan pun mengasihi kita ketika kita masih berada dalam dosa dengan mengirimkan Yesus untuk mati bagi kita (Roma 5: 8).

Satu hal yang sering dilupakan orang adalah fakta bahwa jika Yesus mengasihi semua umat manusia, Ia membenci dosa mereka. Kepada seorang perempuan yang berzinah Ia berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8: 11). Seperti itu jugalah, setiap orang percaya harus berusaha untuk tetap hidup sesuai dengan firman-Nya. Setiap orang percaya juga harus bisa bersikap seperti Yesus: mengasihi sesama manusia tetapi membenci dosa mereka. Manusia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih mereka tetap harus menghindari dosa.

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6: 15

Membenci dosa tetapi tetap mengasihi orang yang berdosa adalah sesuatu yang diajarkan Alkitab. Ayat pembukaan kita berkata bahwa kita harus bisa menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu akan jalan kebenaran Tuhan, tetapi mau menyelamatkan mereka dari kematian dengan jalan merampas mereka dari api penghukuman. Kata “merampas” menyatakan bahwa ini bukanlah tugas yang ringan karena sering kali mengundang permusuhan dengan orang yang merasa bahwa mereka yang dipandang jahat itu sudah tidak pantas untuk menerima pengampunan Tuhan.

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita harus berani untuk menyatakan apa yang jahat sebagai kejahatan yang dibenci Tuhan. Selain itu, kita harus juga bisa menyatakan belas kasihan yang disertai ketakutan bahwa apa yang mereka perbuat akan mencelakakan hidup mereka, dengan membenci apa yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa mereka. Sebagai orang Kristen kita yakin akan apa yang harus kita kasihi (sesama manusia) dan apa yang harus kita benci (dosa). Adalah kewajiban bagi semua umat Kristen untuk menyatakan kepada seisi dunia bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahasuci, yang tidak dapat dipermainkan manusia.

Mata ganti mata?

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Masih ingatkah anda akan kejadian 9/11 di Amerika? Pada tanggal 11 September 2001, 19 militan yang terkait dengan kelompok ekstremis membajak empat pesawat dan melakukan serangan bunuh diri terhadap sasaran di Amerika Serikat. Dua dari pesawat diterbangkan ke menara kembar World Trade Center di New York City, pesawat ketiga menabrak Pentagon di luar Washington, D.C., dan pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Shanksville, Pennsylvania. Hampir tiga ribu orang tewas selama serangan teroris 9/11, yang memicu inisiatif besar negara Amerika untuk memulai Perang Melawan Teror dalam upaya untuk melenyapkan beberapa sel teroris dan rezim jahat di seluruh dunia. Ribuan tentara Amerika tewas dalam dua dekade pertama Perang Melawan Teror, dan banyak lagi yang pulang dengan luka fisik dan psikologis.

Adakah hasil yang baik dari sebuah perang? Ini tentu adalah topik yang sering didiskusikan antara dua kubu: mereka yang pro dan mereka yang kontra perang. Bagaimana pula pandangan orang Kristen tentang perang? Sudah tentu perang yang terjadi untuk memenuhi hasrat pemimpin negara saja, bukanlah suatu yang bisa dibenarkan. Perang yang sedemikian akan membawa banyak penderitaan bagi banyak orang yang tidak berbuat salah. Seperti itu, ada juga “perang” antar individu: ada perang mulut, ada perang dingin dan sebagainya, yang bisa terjadi di rumah, di kantor dan di mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Sudah umum, perang apa pun terjadi karena adanya perselisihan, kemarahan atau kebencian yang tidak bisa diatasi. Apalagi, banyak orang yang masih percaya bahwa tindakan “mata ganti mata” adalah cara yang paling tepat untuk melenyapkan kejahatan.

Prinsip mata ganti mata dalam kehidupan sehari-hari di zaman ini, mungkin tidak mudah dilakukan secara perseorangan karena adanya hukum negara. Walaupun demikian, sering kali orang yang merasa diperlakukan secara tidak baik, kemudian merasa dendam. Banyak orang yang berkata bahwa mereka bisa mengampuni orang tetapi tidak dapat melupakan perbuatannya. Dengan demikian, bayangan tentang orang itu dan kejahatannya selalu ada dalam pikiran dan tentunya setiap kali muncul bisa menimbulkan kemarahan atau rasa benci yang membuat diri mereka sangat menderita. Tetapi, ada juga orang yang benar-benar bisa mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Itu tentu ada sebabnya.

Jika hal mengampuni kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia, bagi Allah yang mahasuci tentunya akan lebih sulit lagi  untuk mengampuni manusia yang berdosa kepada-Nya. Karena standar kesucian Allah yang mahatinggi, tidak akan ada seorang pun yang bisa diampuni-Nya, jika tidak ada penebusan oleh darah Yesus. Karena Yesus sudah mati ganti kita, Tuhan mau mengampuni kita dan melupakan  dosa kita sekali pun kita mempunyai dosa sebesar apa pun.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagaimana Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu dapat melupakan sesuatu peristiwa? Banyak orang berpikir bahwa jika Tuhan bisa lupa, Ia bukanlah Oknum yang mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan bisa mengampuni dan melupakan dosa kita karena Ia dengan sengaja tidak mau memikirkan hal itu. Sebagai Tuhan yang mahakasih Ia mengambil keputusan untuk memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada Yesus yang sudah dikaruniakan-Nya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Dengan demikian, Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita patutlah menghendaki agar manusia mau mengasihi Dia dan sesama kita karena Tuhan mengasihi seisi dunia ini. Dalam hal ini, selama hidup di dunia tentu lebih mudah bagi manusia untuk mengasihi sesama manusia yang bisa dilihatnya daripada mengasihi Tuhan.

Bagi manusia, tidaklah mudah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah yang Roh dan karena itu jika ada orang yang berkata bahwa ia mengasihi Allah, itu terjadi karena Allah sudah membuka mata rohaninya. Orang yang sedemikian sudah menjadi ciptaan baru yang mengenal apa yang dikehendaki Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Dengan demikian, mereka yang mengaku mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, perlu bertanya kepada diri sendiri bagaimana ia bisa mengasihi Allah tanpa melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 1 Yohanes 4: 20

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Yesus sudah datang untuk menebus dosa kita dan karena itu seluruh dosa kita sudah diampuni Tuhan. Mengapa pula kita merasa berat untuk mengampuni sesama kita jika mereka juga dikasihi Tuhan dan diberi kesempatan untuk menerima keselamatan jika mereka mau bertobat?

Tuhan tidak pernah kaget

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Kemarin saya mendapat pesan SMS dari seorang anggota persekutuan doa saya yang mengabarkan bahwa salah satu anggota yang lain harus masuk ke rumah sakit karena adanya tanda-tanda serangan jantung. Tentu saja saya kaget, karena tidak terbayangkan bahwa ibu yang bekerja sebagai perawat rumah sakit itu mempunyai masalah jantung. Tetapi, seperti banyak penyakit lain, datangnya penyakit bisa secara tiba-tiba karena gejalanya yang tidak jelas atau tidak dirasakan. Kita orang Kristen, tentunya percaya bahwa Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada diri setiap insan, dan segala yang terjadi di alam semesta pasti sesuai dengan rencana-Nya. Tuhan tidak pernah kaget melihat apa yang terjadi.

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizin-Nya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendaki-Nya. Pengertian yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat.

Sekalipun secara literal bunyi ayat itu menggaris-bawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang disenangi Tuhan. Berbeda dengan kehidupan di taman Firdaus, dosa manusia menyebabkan berbagai kejahatan dan penyelewengan sering terjadi. Selain itu, berbagai penderitaan, kemalangan, kecelakaan dan penyakit muncul dan ada di dunia sekalipun itu bukan ciptaan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendak-Nya yang terjadi.

Bagaimana dengan kita sendiri, jika kita melihat sesuatu terjadi di luar dugaan atau rencana kita? Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksi-Nya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa sedih, depresi, kuatir ataupun putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan. Tidaklah mengherankan bahwa sejak munculnya Covid-19, jutaan orang di dunia mengalami gangguan kejiwaan berat yang membutuhkan perawatan serius.

Sudah enam bulan kita memasuki tahun 2021, kita tentu mempunyai harapan bahwa tahun ini akan dapat dilalui dengan baik. Kita berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya. Tetapi, dalam hati kita mungkin mengakui adanya kemungkinan bahwa hal-hal yang tidak kita harapkan bisa terjadi. Makin banyaknya orang yang terkena dampak pandemi dan munculnya berbagai varian virus corona membuat orang menjadi was-was. Adakah hal yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya?

Ayat di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasi-Nya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umat-Nya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa. Biarlah kita terus menjalani tahun ini dengan keberanian dari Tuhan!

Makin dekat Tuhan

“Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.” Mazmur 22: 11

Siapakah orang Kristen yang tidak mengenal lagu “Nearer my God to Thee“? Penggubah lagu ini, Sarah Adams, adalah anak dari seorang jurnalis dan politikus Benjamin Flower. Ia menikah dengan William Bridges Adams pada tahun 1834. Sarah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang aktris, tetapi Tuhan mempunyai rencana yang berbeda untuk hidupnya. Cita-citanya untuk tampil di panggung kandas karena kesehatan yang kurang baik, sehingga ia mulai berfokus ke bidang menulis. Ia banyak menulis untuk artikel Kristen dan banyak lagu pujian. Sering ia mempelajari Alkitab untuk mendapatkan gagasan atau buah pikiran yang baru.

Pada suatu hari ia tertarik akan kisah Yakub dalam kitab Kejadian pasal 28. Ia membaca tentang masa hidup Yakub yang serba sulit. Tentu Yakub merasa kesepian, sedih, dan kuatir, karena ia terpaksa meninggalkan rumah dan melarikan diri dari kakaknya, Esau, yang marah karena telah mengambil hak dan berkat kesulungannya. Di Bethel Yakub tidur dengan berbantalkan batu. Di situ pun ia bermimpi tentang suatu tangga ke Surga dan para malaikat Allah turun naik di atasnya. Yakub kemudian sadar bahwa Tuhan masih dekat padanya, sama seperti dahulu di rumah orang tuanya. Dengan diilhami cerita Alkitab itu, pada tahun 1841 Sarah Flower Adams menulis suatu nyanyian rohani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Makin dekat Tuhan“.

  1. Makin dekat Tuhan, kepadaMu;
    walaupun saliblah mengangkatku,
    inilah laguku: Dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
  2. Berbantal batu pun ‘ku mau rebah,
    bagai musafir yang lunglai, lelah,
    asal di mimpiku dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
  3. Buatlah tanggaMu tampak jelas,
    dan para malakMu yang bergegas
    mengimbau diriku dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
  4. Batu deritaku ‘kan kubentuk
    menjadi Betelku, kokoh teguh.
    Jiwaku berseru, dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.

Perasaan kesepian seperti yang dialami Yakub memang bisa timbul jika hidup kita mengalami badai kehidupan. Bukan saja kesepian itu karena tidak adanya orang yang mengerti persoalan kita, tetapi juga karena kita merasa bahwa kita harus menghadapi badai itu seorang diri. Penulis Mazmur menulis ayat di atas ketika ia merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakannya. Ia menjerit seperti Yesus sewaktu disalibkan: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Pemazmur berseru, tetapi Tuhan serasa tetap jauh dan tidak menolongnya (Mazmur 22: 1).

Hari ini kita melihat bahwa perasaan lonely itu adalah wajar jika timbul dari dalam hidup kita. Pemazmur dan Yesus pun mengalaminya. Tidak ada hal yang salah jika kita merasa sedih karena ditinggalkan orang yang kita kasihi, atau mengalami kesulitan hidup yang besar baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, keuangan dan keluarga. Semua itu adalah bagian kehidupan di dunia. Baik orang Kristen maupun orang yang belum percaya bisa mengalaminya.

Walaupun demikian, perbedaan yang jelas terlihat dalam Mazmur di atas adalah bahwa pemazmur sebenarnya masih yakin bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar doanya. Karena itu, seperti Yesus di kayu salib, pemazmur menjerit kepada Tuhan; dan ia memohon agar Tuhan tetap menyertainya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!” Mazmur 22: 19

Apakah kesulitan yang anda alami saat ini sangat besar? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Jika demikian, anda bukanlah orang satu-satunya yang mengalaminya. Yesus yang pernah merasakan penderitaan di kayu salib, adalah Tuhan yang mengerti apa yang anda derita dan rasakan. Ia jugalah yang mau mendengar seruan anda dan mampu menolong anda, jika anda mau dekat kepada-Nya.

“Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” Mazmur 22: 24