Kasih yang bagaimana?

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”  Yohanes 15: 13

Pagi ini media memberitakan kabar  suksesnya sebuah transplantasi hati yang di lakukan di Melbourne. Seorang anak yang berusia baru setahun tiba-tiba sakit dan mengalami gagal hati. Dokter tidak tahu penyebabnya, tetapi diduga anak kecil itu mendapat serangan virus dan hanya mempunyai beberapa hari saja untuk hidup. Dalam keadaan sedemikian, tentu saja kedua orang tua anak itu menjadi panik. Persediaan hati  dari donor yang sudah meninggal tidaklah banyak dan yang antri panjang sekali. Selain itu, hati yang ada belum tentu cocok (compatible) dengan orang yang membutuhkan.

Selang beberapa hari, sekalipun anak kecil ini mendapat prioritas utama, hati yang cocok tidaklah dapat ditemukan. Karena itu, kedua orang tuanya kemudian diperiksa, kalau-kalau mereka mempunyai kecocokan dengan anaknya. Ternyata sang ibu tidak cocok, tetapi ayah anak itu cocok untuk menjadi donor. Sang ayah kemudian menjalani operasi untuk mengambil 1/5 hatinya guna ditanamkan dalam tubuh anaknya pada hari yang sama. Operasi besar itu berjalan dengan baik dan selang beberapa minggu kemudian keduanya nampak sehat. Sungguh besar kasih orang tua kepada anak mereka!

Ayat diatas menyatakan bahwa kasih yang terbesar adalah kasih seseorang yang mau memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Orangtua yang memberikan sebagian hatinya untuk bisa dicangkokkan kedalam tubuh anaknya memang tidak memberikan nyawanya, tetapi sudah tentu mempertaruhkan nyawanya demi kebaikan anaknya. Operasi yang dijalani orang tua itu bukanlah operasi ringan, dan rasa sakit akibat operasi itu masih terasa untuk waktu yang cukup lama.

Kasih orangtua adalah kasih yang besar, tetapi sudah tentu tidak bisa diharapkan untuk diberikan kepada sembarang orang. Jika ada orang yang mau berkurban untuk orang yang tidak dikenal, tidak pantas untuk dikasihi, tidak layak untuk dihormati atau tidak patut untuk dikasihani, tentulah orang itu adalah orang yang istimewa. Adakah orang semacam itu?

Yesus yang sudah mati ganti kita yang berdosa adalah satu contoh yang luar biasa bagaimana Anak Allah mengurbankan diriNya di kayu salib karena kasihNya, sekalipun kita tidak pantas untuk menerimanya.

“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Roma 5: 10

Pagi ini, mungkin kita merasakan adanya panggilan untuk mengasihi sesama kita. Mungkin kita siap dan rela untuk berkurban bagi orang-orang yang sudah berbaik hati kepada kita. Tetapi, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan adanya orang-orang yang sudah pernah menyakiti hati kita atau pernah berbuat jahat kepada kita. Bagi kita, orang-orang seperti itu mungkin tidak pantas untuk kita kasihi. Apa guna mengasihi orang yang tidak pernah membalas budi atau tidak menyadari pengurbanan kita?

Firman Tuhan berkata bahwa kasih manusia yang terbesar adalah kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.  Tetapi, Yesus sudah menunjukkan kasih yang terbesar dari segalanya, ketika Ia memberikan nyawaNya kepada orang-orang berdosa yang sepantasnya binasa seperti diri kita. Adakah alasan buat kita untuk membatasi kasih kita hanya kepada orang-orang tertentu? Biarlah kita boleh belajar dari Yesus agar makin hari kita makin bisa mengasihi sesama kita.

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” Matius 5: 46 – 47

Apakah Yesus itu Tuhan?

“Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 10: 30

Bagi kebanyakan orang yang mengaku Kristen, Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan yang turun ke dunia. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi oknum ilahi yang diutus Tuhan untuk menebus dosa manusia. Bagi mereka, Yesus tidaklah sama dengan Allah.

Orang-orang yang menolak kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus sudah ada sejak lama. Memang konsep Allah Tritunggal itu tidak mudah dimengerti dan sering menjadi bahan cemooh kelompok-kelompok tertentu. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui adanya Allah yang satu, yang mempunyai tiga “pribadi”.

Alkitab menyatakan bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin diselamatkan jika Tuhan sendiri tidak menebus mereka dengan kurban yang sempurna. Tetapi, tidak ada manusia atau oknum ilahi yang sempurna, kecuali Tuhan sendiri. Dengan demikian, Yesus adalah satu-satunya oknum dan Tuhan yang memenuhi syarat kesucian Tuhan dan yang bisa menyuci bersih dosa manusia.

Ada juga orang-orang yang percaya bahwa Yesus adalah orang yang baik, dan bahkan seorang nabi, tetapi Yesus bukanlah Tuhan. Ini tidaklah jauh berbeda dengan orang Farisi pada zaman Yesus yang tidak menerima pernyataan Yesus bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Mereka ingin membunuh Yesus karena mereka menganggap Yesus sudah menghujat Allah.

Yesus bukan hanya mengklaim bahwa Ia dan Allah adalah satu. Ia juga berkata bahwa mereka yang melihat Dia, sudahlah melihat Allah. Dengan kata lain, mereka yang percaya kepadaNya adalah percaya kepada Allah sendiri.

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14: 9

Oleh sebab itu, tidaklah mungkin jika kita bisa percaya bahwa Tuhan adalah Allah Bapa, tetapi tidak mengakui bahwa Yesus juga Tuhan. Yesus dan Allah Bapa tidaklah dapat dipisahkan.

Sebagai orang Kristen sudah seharusnya kita juga yakin dan percaya bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Pada waktu Yesus dibaptis, ketiga “pribadi ilahi” ini muncul secara bersamaan.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Kesatuan antara ketiganya juga ditekankan Yesus pada waktu Ia memerintahkan murid-muridNya untuk mengabarkan injil.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Pagi ini, keraguan bahwa Yesus adalah Tuhan haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Kesangsian akan satunya Bapa, Anak dan Roh juga harus dihapus dari iman kita. Itu tidak mudah jika kita hanya bergantung pada kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri. Biarlah kita mau berdoa kepada Tuhan Yesus untuk memohon pengertian yang benar sambil percaya bahwa Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan agar nama Tuhan dipermuliakan.

“….dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 13 – 14

Kebijaksanaan adalah untuk hidup baik

“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Yakobus 3: 17

Dalam Alkitab, seorang raja yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya ialah raja Salomo. Alkisah, pada suatu hari Salomo pergi ke Gibeon umtuk mempersembahkan korban bakaran. Lalu Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Tuhan berfirman: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (1 Raja-Raja 3: 5). Apa yang kemudian diminta Salomo? Salomo tidak meminta kekayaan, kesehatan, kekuatan dan sebagainya; ia sebaliknya meminta hati yang faham menimbang perkara, yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Salomo meminta hikmat kebijaksanaan (wisdom) agar ia bisa menjadi raja yang baik bagi rakyatnya.

Bagi seseorang, kebijaksanaan adalah sesuatu yang berharga karena biasanya orang ingin menggunakannya untuk dapat menyelesaikan sebuah masalah yang sedang dihadapi. Misalnya, kebijaksanaan untuk memilih pasangan hidup yang cocok atau  pekerjaan yang baik untuk masa depan. Memang, orang menginginkan hikmat kebijaksanaan seringkali untuk kepentingan diri sendiri, supaya apapun yang dipilih akan membawa keuntungan dan agar ia bisa menghindari kesulitan. Kebijaksanaan dengan demikian  seringkali diartikan sebagai kemampuan untuk mencari sebuah solusi yang tepat untuk sebuah masalah. Orang yang bijaksana (wise) dianggap orang yang pandai mengambil keputusan hidup dan kemudian terlihat sukses dalam hal apapun yang dikerjakannya.

Dari mana orang bisa mendapatkan hikmat kebijaksanaan? Sebagian orang berpendapat bahwa itu mungkin diperoleh dengan bertambahnya usia, dan pengaruh lingkungan, pendidikan dan pengalaman juga berperan dalam memberikan kemampuan otak manusia. Benarkah begitu? Apa yang bisa diperoleh dengan usaha manusia hanyalah dalam hal mengasah otak. Dalam hal ini, manusia bisa bertambah pandai, tetapi belum tentu bijaksana. Banyak orang yang pandai dan bahkan tergolong genius, tetapi justru mempunyai hidup berantakan atau sering membuat hidup orang lain berantakan. Ada banyak orang yang pandai di dunia, tetapi tidak mengenal Tuhan dan pentingnya untuk menerima keselamatan dariNya. Ada banyak orang pandai yang tidak mengerti bahwa hikmat kebijaksanaan yang benar datang dari Tuhan.

Bagi orang Kristen, apa yang baik selalu datang dari Tuhan dan dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagiNya dan kebaikan bagi umatNya. Dengan demikian, hikmat yang dari Tuhan bukanlah hanya berkat yang dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Ayat diatas menunjukkan bahwa hikmat kebijaksanaan adalah hidup baik yang sesuai dengan kehendak Tuhan: yang benar, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan menghasilkan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dengan demikian, mereka yang penuh dengan hikmat akan selalu bisa memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama dalam hidup. Mereka yang bijaksana tidaklah menyombongkan kemampuan, kesuksesan, kekayaan dan kebaikan mereka, tetapi sebaliknya justru rendah hati, baik hati, tulus hati dan mau memakai apa yang ada dalam hidup mereka untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama dengan sepenuh hati.

Sepandai-pandainya manusia, mereka yang mengabaikan Tuhan dalam hidupnya bukanlah orang yang bijaksana karena mereka memusatkan hidup mereka kepada hal-hal sementara yang hanya membawa keuntungan diri sendiri pada saat ini. Mereka lupa atau tidak sadar bahwa segala sesuatu akhirnya akan lenyap. Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup baik yang penuh kasih akan terus berlangsung dan bahkan dilanjutkan ketika kita berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka. Dengan demikian, hikmat kebijaksanaan adalah kemampuan yang datang dari Tuhan untuk memilih hidup yang sesuai dengan firmanNya. Maukah kita meminta hikmat kebijaksanaan yang sedemikian dari Tuhan?

 

Harinya Tuhan

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya” Mazmur 118: 24

Siapa yang tidak mengenal lagu kanak-kanak yang berjudul “Hari ini harinya Tuhan”? Lagu ini diterjemahkan dari lagu “This is the day that the Lord has made” yang disusun oleh Les Garrett pada tahun 1967. Syair lagu ini diambil dari Mazmur 118: 24.

Hari ini, hari ini

Harinya Tuhan, harinya Tuhan

Mari kita, mari kita

Bersukaria, bersukaria

Hari ini, harinya Tuhan

Mari kita bersukaria

Hari ini, hari ini harinya Tuhan

Hari ini harinya Tuhan mungkin bisa diartikan sebagai hari Minggu atau hari Sabat. Hari dimana umat Kristen berhenti bekerja untuk berbakti kepadaNya.

“… tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.” Keluaran 20: 10

Karena dalam seminggu ada 7 hari, pengertian adanya “harinya Tuhan” mungkin bisa dikaitkan dengan adanya “hari manusia” dimana manusia boleh bekerja selama enam hari dan melakukan berbagai aktivitas kehidupan mereka.

Anggapan bahwa manusia mempunyai 6 hari untuk diri mereka sendiri adalah jauh dari benar. Tuhan pencipta langit dan bumi adalah pemilik segala sesuatu, baik di bumi maupun di surga (Mazmur 89: 11). Tuhan adalah pemilik seluruh jagad raya. Tuhan jugalah yang memungkinkan terjadinya siang dan malam dan dengan demikian terbentuknya 7 hari yang kita kenal.

Jelas bahwa tujuh hari dalam seminggu adalah milik Tuhan. Karena itu kita tidak boleh menganggap bahwa kita bisa memakai 6 hari kerja semau kita. Seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, dan adanya 7 hari dalam seminggu harus kita pakai untuk hidup sesuai dengan firmanNya dan selalu bersyukur dan bersukacita atas semua yang diberikanNya kepada kita.

Alkitab menulis bahwa selama enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya (Keluaran 20: 11).

Dengan demikian, hari yang ketujuh adalah hari istimewa yang diciptakan Tuhan agar umatNya dapat bersama-sama berbakti kepadaNya. Hari ketujuh adalah hari dimana kita bisa beristirahat dan disegarkan kembali melalui persekutuan orang seiman dengan Tuhan. Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana? Marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

Mengumpulkan harta di surga

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19 – 20

Siapa bilang di Australia tidak ada maling dan garong? Semalam di kompleks apartemen saja ada tetangga yang kecurian. Sekitar jam 4 pagi, seorang pencuri memasuki sebuah apartemen dengan memanjat balkon belakang dan melewati pintu kaca yang tidak terkunci. Si pencuri berhasil menggondol dompet penghuni apartemen dan mungkin juga beberapa barang lain. Data dari bank menunjukkan bahwa sekitar jam 5 pagi kartu kredit yang dicuri sudah digunakan oleh si pencuri untuk membeli barang.

Memang di Australia keamanan tidaklah sebaik 30-40 tahun yang lalu. Jika pada waktu itu orang bisa meninggalkan rumah tanpa harus menguncinya, sekarang ini rumah yang sudah terkunci pun bisa dibongkar orang. Dalam hal ini, seorang penghuni rumah bukan saja kuatir atas kemungkinan hilangnya harta benda. Orang tentunya juga takut untuk memergoki si pencuri kalau-kalau ia membawa senjata.

Polisi selalu memberi nasihat agar orang berhati- hati menyimpan harta mereka. Jika ada barang berharga yang disimpan di rumah, sebaiknya itu ditaruh dalam lemari besi yang tersembunyi. Selain itu, dianjurkan agar setiap orang mengunci pintu dan jendela rumah dan tidak menunjukkan kesan bahwa penghuni rumah sedang bepergian. Memang adanya harta selalu mengundang datangnya pencuri.

Dalam ayat di atas Tuhan Yesus memberikan nasihat agar kita tidak mengumpulkan harta di dunia; karena di dunia ini ngengat dan karat merusakkan harta kita dan pencuri juga bisa membongkar serta mencurinya. Nasihat yang kelihatannya pas dengan apa yang terjadi tadi malam.

Memang di dunia ini tidak ada barang apapun yang kekal. Sekalipun kita bisa menyimpan benda-benda itu di tempat yang aman, pada saat kita meninggalkan dunia ini, semuanya itu akan hilang tak berbekas. Kita tidak akan dapat menggunakan semua itu, dan Tuhan pun tidak akan menghargainya.

Tuhan Yesus bukannya anti harta dan anti menabung. Nasihat Yesus bukannya dimaksudkan agar kita tidak bekerja, atau agar kita menghambur-hamburkan harta milik kita. Apa yang dimaksudkanNya adalah agar kita tidak memusatkan hidup kita pada harta duniawi dan hal mencari harta untuk kepentingan kita sendiri.

Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di sorga, harta yang abadi yang tidak dapat hilang. Bagaimana kita bisa mengumpukan harta semacam itu? Kekayaan adalah baik jika bisa digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan untuk kepentingan sesama. Dengan mengasihi dan menolong mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya membawa kasih yang kita miliki untuk Tuhan yang di surga.

“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Matius 25: 40

Jangan sampai kehilangan berkatNya

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 27

Pernahkah anda kecewa? Saya sendiri pernah dan bahkan sering. Kekecewaan yang  pernah kita alami mungkin ada berbagai ragam, tetapi kekecewaan yang paling berat mungkin jika kita ditolak oleh orang yang kita cintai. Patah hati? Bertepuk sebelah tangan? Apapun istilahnya, jelas bahwa penolakan itu akan membuat kita sedih dan kecewa. Apalagi jika kita melihat adanya orang yang kita kenal yang beruntung menggantikan posisi kita.

Ayat diatas seolah menggambarkan hal yang serupa. Orang Kristen yang sibuk mengabarkan injil kepada orang lain, tetapi kemudian harus kecewa karena ia pada akhirnya ditolak Tuhan sedangkan orang lain diterimaNya. Ditolak? Tidak dapat masuk ke surga? Jika memang demikian tentunya sangat menyedihkan! Mereka yang kita injili memperoleh keselamatan dan masuk ke surga, sedangkan kita  yang lebih dulu mengenal Kristus ternyata ditolakNya dan masuk ke neraka.

Memang banyak orang Kristen yang memakai ayat ini untuk meyakinkan mereka yang hidup kekristenannya mulai kendor. Dengan maksud yang baik, mereka memperingatkan bahwa jika orang Kristen tidak berhati-hati, Tuhan akan mencabut hak mereka untuk masuk ke surga. Tuhan akan menolak mereka karena mereka mundur dari hidup Kristen yang berdisiplin. Benarkah begitu?

Kata “ditolak” dalam alkitab berbahasa Inggris mungkin bisa diterjemahkan sebagai “disqualified” atau “disqualified for prize” yang berarti “didiskualifikasi” atau “tidak diberi hadiah”. Dengan demikian, “ditolak” dalam hal ini bukan seperti orang yang diusir atau ditelantarkan. Bukan seperti orang yang bertepuk sebelah tangan.

Jika seseorang bertobat dan mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya, ia akan memperoleh keselamatan dari Tuhan. Itu sebenarnya karena belas kasihan Tuhan semata dan bukannya karena perbuatan baik orang itu. Di hadapan Tuhan semua orang adalah orang yang berdosa dan sudah kehilangan kemuliaan. Dalam pandangan Tuhan tidak ada perbuatan baik manusia yang dapat dihargai dengan keselamatan. Dengan demikian, Tuhanlah yang sudah menyatakan kasihNya kepada kita ketika kita masih berdosa. Tuhan sudah menerima kita sebagai anak-anakNya atas kehendakNya sendiri.

Mereka yang bertepuk sebelah tangan adalah orang yang sudah menyatakan cintanya kepada orang lain, tetapi cinta itu kemudian ditolak. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, bukanlah kita yang menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Kitalah yang sudah menerima pernyataan cinta dari Tuhan. Dengan demikian tidak mungkin bagi kita untuk bertepuk sebelah tangan karena Tuhan tidak akan mengubah keputusanNya. jika Ia sudah memutuskan untuk menyelamatkan kita karena iman kita, kasih dan kesetiaanNya tetap untuk selama-lamaNya.

Apa yang bisa terjadi pada hidup orang Kristen setelah menerima uluran tangan kasih Tuhan adalah hidup yang secara potensial akan dipenuhi oleh kebahagiaan dalam Dia. Berkat Tuhan dalam segala bentuk akan dicurahkan kepada mereka yang setia dalam hidup yang mengikuti firmanNya. Kepada mereka yang menggunakan hidup mereka sesuai dengan perintah Kristus, Tuhan menjanjikan kekuatan, penghiburan, kedamaian dan kecukupan. Mereka yang hidup dalam Tuhan juga akan mendapat kesempatan untuk melayani Tuhan karena Tuhan mau memakai mereka yang setia. Kabar baik inilah yang kita sampaikan kepada orang-orang yang kita injili.

Dalam kenyataannya tidak semua orang Kristen mau menggunakan hidupnya sejalan dengan firman Tuhan setiap hari. Hidup yang sedemikian mungkin dirasakan terasa kurang bebas, dan karena itu banyak orang Kristen yang menjadi orang yang tidak mau berlatih dalam kedisiplinan firman Tuhan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita yang sudah diselamatkan bahwa hidup yang sesuai dengan firman Tuhan akan membawa banyak berkat yang dapat kita rasakan. Karena itu, jika kita tidak mau kehilangan kesempatan untuk menerima berkat Tuhan dan untuk melayani Dia, baiklah kita tetap bertekun dalam hidup dalam terang Kristus. Ini seharusnya menjadi pilihan kita.

 

 

 

Kesombongan itu tidak selalu terlihat mata

“TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.” Mazmur 138: 6

Adakah orang yang senang kepada orang yang sombong? Secara logis, tentunya orang tidak menyenangi orang yang sombong, sekalipun ia sendiri mungkin dipandang sombong oleh orang lain. Tetapi, adanya orang yang sombong mungkin saja bisa ditolerir oleh masyarakat karena mereka adalah orang yang terkenal.

Masyarakat mungkin bisa menerima kalau ada orang yang sudah sepantasnya bangga atas kekuasaannya, kemampuannya, kepandaiannya, kekayaannya, atau kerupawanannya. Yang dianggap lebih menyebalkan biasanya adalah orang yang tidak sepatutnya sombong, tetapi terlihat sombong. Dalam hal ini kesombongan adalah relatif, tidak semua orang bisa merasakan adanya kesombongan  pada diri seseorang atau dirinya sendiri.

Jika manusia mungkin menganggap sebagian kesombongan adalah biasa dan bisa diterima, Tuhan tidaklah menyenangi adanya kesombongan apapun. Sebagian kesombongan manusia adalah tersembunyi dan tidak dapat dilihat atau dirasakan orang disekitarnya, tetapi Tuhan yang mahatahu dapat menyelidiki isi hati dan pikiran setiap manusia. Jika manusia tidak dapat membedakan rasa puas, percaya diri, bangga dan kesombongan, Tuhan tahu adanya kesombongan dalam setiap insan.

“Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan kubinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati,aku tidak suka.” Mazmur 101: 5

Kesombongan adalah perasaan bahwa seseorang dapat mencapai sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, atau jika seseorang membenci, memandang rendah atau mengabaikan apapun yang merupakan ciptaan atau berkat Tuhan. Kesombongan mungkin juga berupa sikap yang menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dalam hidup atau perbuatan seseorang. Pada pihak yang lain, kesombongan bisa juga muncul pada orang-orang  yang merasa bahwa mereka adalah anak mas Tuhan.

Kesombongan dengan demikian adalah dosa, dan itu sering ditempatkan sebagai dosa nomer satu diantara tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Dosa yang paling mudah dilakukan dengan sengaja maupun tidak; dosa yang membawa kejatuhan iblis dari posisinya di surga, dan yang mengakibatkan diusirnya Adam dan Hawa dari taman Eden. Walaupun begitu umumnya kesombongan dalam hidup, kesadaran akan kesombongan tidaklah mudah dirasakan manusia.

Dalam perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang pergi berdoa ke Bait Allah (Lukas 18: 9 – 14) diceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa dengan keyakinan bahwa hidupnya sudah lebih baik dari hidup pemungut cukai yang berdoa di dekatnya. Keyakinan orang Farisi itu ternyata adalah sebuah kesombongan yang tidak dapat dibenarkan Allah. Sebaliknya, kerendahan hati si pemungut cukai membawa pengampunan.

“Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18: 14

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam diri setiap orang selalu ada benih-benih kesombongan. Sekalipun orang lain tidak dapat melihat atau merasakan adanya kesombongan dalam diri kita, kita seharusnya dapat mengevaluasi hidup kita dan mengakui adanya dosa-dosa kesombongan yang ada.

Terkadang sulit juga bagi kita untuk mengakui apa yang kita perbuat, katakan atau pikirkan sebagai kesombongan. Oleh karena itu mungkin jarang bagi kita untuk memohon pengampunanNya secara khusus atas kesombongan kita. Dengan demikian, sulit bagi kita untuk mengubah sikap hidup kita jika kita tidak merasa bersalah dalam apa yang sudah kita kerjakan.

Firman Tuhan berkata bahwaTuhan dari jauh bisa melihat orang yang rendah hati dan orang yang sombong. Oleh sebab itu biarlah kita tiap hari meneliti hidup kita masing-masing dan mendengarkan suara Tuhan agar kita makin hari makin bisa merendahkan diri kita di hadapanNYa.