“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
— Kejadian 2:15

Ketika udara semakin panas, hujan tidak kunjung turun, lahan mengering, dan kebakaran hutan meluas, banyak orang Kristen berdoa agar Tuhan segera menurunkan hujan. Doa seperti ini tentu tidak salah. Kita menyadari bahwa manusia tidak dapat mengendalikan cuaca dan membutuhkan pertolongan Tuhan. Namun, di tengah doa-doa tersebut, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: Tanggung jawab siapa sebenarnya kerusakan alam yang kita alami?
Kita sering mengharapkan Acts of God, yaitu tindakan Allah yang berada di luar kemampuan manusia, untuk mengatasi persoalan yang kita hadapi. Kita memohon agar hujan turun, suhu udara menurun, dan kebakaran segera padam. Kita bersyukur ketika hujan akhirnya datang dan keadaan kembali membaik. Namun, bagaimana jika sebagian persoalan itu sebenarnya diperburuk oleh tindakan manusia sendiri?
Kekeringan dapat diperparah oleh kerusakan lingkungan. Kebakaran hutan dapat terjadi akibat faktor alam, tetapi juga dapat disebabkan oleh pembakaran lahan yang disengaja atau kelalaian manusia. Perubahan iklim global, yang terutama disebabkan oleh aktivitas manusia sejak era industri, turut meningkatkan risiko berbagai kejadian cuaca ekstrem. Dengan demikian, tidak semua bencana semata-mata merupakan peristiwa alam yang tidak dapat kita pengaruhi.
Jika demikian, apakah cukup bagi kita untuk berdoa memohon hujan tanpa memikirkan tanggung jawab manusia? Bukankah kita juga perlu memohon agar manusia bertobat dari keserakahan, ketidakpedulian, dan tindakan yang merusak lingkungan?
Alkitab memberikan dasar yang jelas bagi tanggung jawab tersebut. Kejadian 2:15 menyatakan bahwa Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya. Manusia bukan pemilik mutlak taman itu. Allah adalah Pencipta, sedangkan manusia menerima kepercayaan untuk mengelola ciptaan-Nya. Mengusahakan berarti memanfaatkan apa yang tersedia untuk kehidupan, sedangkan memelihara berarti menjaga agar apa yang dipercayakan itu tidak dirusak.
Sayangnya, manusia sering kali lebih bersemangat mengambil manfaat daripada memikul tanggung jawab. Hutan dibuka demi keuntungan, sumber daya alam dieksploitasi tanpa memikirkan dampak jangka panjang, dan kepentingan ekonomi sesaat terkadang lebih diutamakan daripada keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan. Ketika akibatnya muncul, kita berdoa agar Tuhan memulihkan keadaan. Kita tentu boleh memohon pertolongan-Nya, tetapi jangan sampai doa menjadi alasan untuk mengabaikan kesalahan yang harus diperbaiki.
Pertobatan bukan hanya persoalan meninggalkan dosa-dosa pribadi seperti kebohongan, kesombongan, dan kemarahan. Pertobatan juga berarti mengubah tindakan yang merugikan sesama dan merusak ciptaan. Bagi mereka yang mengambil keputusan, pertobatan mungkin berarti menghentikan praktik yang merusak lingkungan. Bagi pemerintah, pertobatan dapat diwujudkan melalui kebijakan yang bertanggung jawab dan penegakan hukum yang adil. Bagi kita sendiri, pertobatan dimulai ketika kita bersedia mengubah kebiasaan sehari-hari.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan secara konkret?
Kita dapat memulainya dari rumah. Matikan lampu dan peralatan listrik yang tidak digunakan. Gunakan air secukupnya dan hindari pemborosan. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tas belanja dan botol minum sendiri. Belilah barang seperlunya, gunakan kembali barang yang masih layak, dan jangan membuang sampah sembarangan. Kita juga dapat mengurangi pemborosan makanan, sebab makanan yang terbuang berarti sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan dan mengangkutnya ikut terbuang.
Di lingkungan tempat tinggal, kita dapat menanam dan merawat pohon yang sesuai dengan kondisi setempat, menjaga kebersihan saluran air, serta ikut dalam kegiatan penghijauan dan pengelolaan sampah. Kita dapat mengingatkan keluarga dan tetangga dengan cara yang baik agar tidak membakar sampah atau melakukan pembakaran lahan yang membahayakan. Jika menemukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran atau kerusakan lingkungan, kita dapat melaporkannya kepada pihak berwenang.
Gereja pun dapat mengambil bagian. Selain berdoa memohon hujan, gereja dapat mengajak jemaat merawat lingkungan sekitar, mengurangi sampah dalam kegiatan gerejawi, menggunakan air dan listrik secara bijaksana, serta mendukung kegiatan pelestarian alam. Gereja juga dapat mendidik jemaat untuk memilih dan mendukung kebijakan publik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Semua ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan salah satu cara menjalankan panggilan untuk memelihara ciptaan Allah.
Namun, apakah tindakan-tindakan kecil ini benar-benar berarti? Mungkin kita tidak dapat menghentikan perubahan iklim melalui usaha pribadi. Kita juga tidak dapat mengendalikan seluruh proses alam. Akan tetapi, keterbatasan kita bukan alasan untuk tidak melakukan apa pun. Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan untuk mulai melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita.
Di sinilah hubungan antara iman dan tindakan menjadi nyata. Kita diselamatkan oleh anugerah Allah melalui iman, bukan karena perbuatan baik kita. Namun, iman yang hidup menghasilkan perubahan dalam cara kita berpikir, memilih, dan bertindak. Yakobus 2:17 mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Dalam konteks ini, iman kepada Allah sebagai Pencipta seharusnya mendorong kita untuk menghargai dan memelihara ciptaan-Nya.
Jika kita berdoa memohon hujan, tetapi tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan yang dapat kita cegah, ada ketidaksesuaian antara iman yang kita akui dan kehidupan yang kita jalani. Doa bukan pengganti tanggung jawab. Sebaliknya, doa seharusnya menguatkan kita untuk melakukan apa yang benar. Kita memohon pertolongan Allah sekaligus menggunakan hikmat yang diberikan-Nya untuk mencegah kerusakan yang dapat dihindari.
Tentu, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa setiap bencana merupakan hukuman Allah atas dosa tertentu. Kita juga tidak boleh menyalahkan korban yang menderita. Sebaliknya, kita perlu menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang terdampak, sambil berusaha memahami penyebab bencana dan memperbaiki keadaan sejauh yang dapat kita lakukan.
Jadi, ketika kita bertanya, “Tanggung jawab siapa?”, jawabannya tidak selalu terletak pada orang lain. Sebagai manusia yang menerima kepercayaan dari Allah, kita masing-masing perlu memeriksa bagian tanggung jawab yang ada pada diri kita.
Iman yang berdoa memohon hujan seharusnya juga menjadi iman yang bertindak memelihara bumi. Kita tidak dapat memerintahkan hujan untuk turun, tetapi kita dapat memilih untuk tidak merusak lingkungan. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh perubahan iklim, tetapi kita dapat mulai mengubah kebiasaan yang merugikan bumi.
Kita tidak dapat mengendalikan hujan, tetapi kita bertanggung jawab atas tindakan kita terhadap bumi. Iman yang sejati bukan hanya membawa kita berlutut dalam doa, melainkan juga menggerakkan kita untuk bangkit dan melakukan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Kiranya kita tidak hanya meminta Tuhan mengubah keadaan alam, tetapi juga bersedia diubah oleh-Nya. Sebab, iman yang hidup tidak hanya mengharapkan pertolongan Allah, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi penatalayan ciptaan-Nya yang setia.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas bumi dan segala isinya yang Engkau percayakan kepada kami. Ampunilah kami ketika lebih mementingkan kenyamanan dan keuntungan daripada tanggung jawab untuk memelihara ciptaan-Mu.
Kami berdoa memohon belas kasihan-Mu bagi mereka yang menderita akibat kekeringan, panas yang ekstrem, dan kebakaran hutan. Kiranya Engkau memberikan hujan pada waktu yang tepat dan memelihara mereka yang menghadapi kesulitan.
Namun, Tuhan, kami juga memohon agar Engkau mengubah hati kami. Ampunilah keserakahan, ketidakpedulian, dan kebiasaan kami yang merusak lingkungan. Berikanlah hikmat kepada para pemimpin, kejujuran kepada para pelaku usaha, dan keberanian kepada penegak hukum untuk menjalankan tanggung jawab mereka dengan adil.
Ajarlah kami mewujudkan iman melalui tindakan nyata, mulai dari rumah, keluarga, gereja, dan lingkungan tempat kami tinggal. Tolonglah kami menggunakan air dan energi dengan bijaksana, mengurangi sampah, menjaga kebersihan, serta mendukung usaha-usaha yang memelihara ciptaan-Mu.
Kiranya kami tidak hanya berdoa memohon pertolongan-Mu, tetapi juga bersedia melakukan bagian kami dengan setia. Jadikanlah kami penatalayan yang bertanggung jawab, yang memelihara bumi sebagai ungkapan syukur atas anugerah-Mu dan kasih kepada sesama.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.








