Tuhan menjadi manusia, mata hati kita melihat, dan kita bertindak

“Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Markus 6: 51 – 52

Banyak orang yang percaya bahwa apa pun yang kita lakukan, itu bukan 100 persen barang baru. Mereka percaya bahwa setiap tindakan manusia bukanlah berasal dari kehendak sendiri, karena setiap keputusan pasti dipengaruhi oleh apa yang sudah ada dalam pikiran mereka atau apa yang sudah mereka alami. Psikologis juga mengutarakan hal yang sama, bahwa tindakan manusia sering kali tidak logis karena pikiran mereka sudah dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dialami atau pengalaman sebelumnya. Pertanyaan untuk kita: Apakah ada orang yang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan apa yang pernah dialaminya?

Mungkin anda menjawab: Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik? Banyak orang yang berkata begitu. Tetapi, jika pengalaman adalah sesuatu yang berguna, dalam kenyataannya tidak semua orang mau atau bisa belajar darinya. Mereka yang keras kepala misalnya, tidak mau gampang-gampang menyerah dengan adanya hasil yang kurang baik dari usahanya, dan karena itu ingin terus mencoba usaha yang sama dengan harapan bahwa lain kali hasilnya akan lebih baik. Selain itu, ada orang yang tidak bisa mengerti bahwa apa yang sudah pernah dilakukannya dan gagal adalah sesuatu yang kurang baik, dan karena itu ia tetap ingin melakukannya.

Memang pengalaman yang dialami seseorang belum tentu bisa dipakai sebagai pedoman untuk masa depan. Pengalaman seseorang yang bersangkutan dengan hubungannya dengan orang lain atau situasi tertentu memang bisa memberi pelajaran berharga, tetapi belum tentu bisa dipakai untuk mengatasi persoalan yang serupa di masa depan. Itu karena keadaan bisa berubah: orang dan situasi yang dihadapi di masa depan mungkin saja berbeda dan itu memerlukan pendekatan yang berbeda. Pengalaman memang memberi pengetahuan empiris, tetapi itu belum tentu bisa dipakai untuk masa depan karena apa yang terjadi di dunia selalu berubah-ubah. Manusia bisa melihat dengan mata, dan dengan otaknya harus memutuskan apa yang akan dilakukannya.

Pada waktu itu, murid-murid Yesus baru saja menyaksikan suatu mukjizat dimana Yesus memberi makan lima ribu orang dengan modal lima roti dan dua ikan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia di dunia, tetapi Yesus sudah memungkinkannya. Apa yang dipikirkan murid-murid Yesus ketika itu? Tentunya mereka heran dan takjub melihat bagaimana Guru mereka bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa terjadi dalam alam mimpi. Pengalaman yang luar biasa itu tentunya membekas dalam pikiran dan hati mereka. Jika mereka mau dan bisa belajar dari pengalaman mereka, tentu mereka akan berubah menjadi orang yang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Yesus.

Tidak setiap orang mau dan bisa belajar dari pengalaman. Murid-murid Yesus ternyata tergolong kedalam jenis orang yang sedemikian. Mereka adalah orang yang tidak bijaksana. Karena itu, ketika mereka kemudian berperahu dan ditimpa angin badai, mereka menjadi takut. Mereka sudah lupa bahwa Yesus yang baru saja memberi makan lima ribu orang itu tentunya bukan manusia biasa. Pengalaman luar biasa yang dialami mereka sebelumnya ternyata tidak ada gunanya. Dengan kehendak mereka sendiri mereka menolak apa yang sudah dialami sebelumnya.

Kita yang percaya bahwa pengalaman belum tentu merupakan guru yang terbaik karena semua itu bersifat empiris dan hanya berlaku untuk keadaan waktu itu, mungkin ingin membela murid-murid Yesus. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa Yesus bisa berjalan di atas air dan menenangkan angin badai? Memang benar Yesus sudah membuat mukjizat dengan lima roti dan dua ikan, tetapi apakah Yesus bisa membuat keajaiban yang menundukkan hukum alam? Yesus sebagai manusia, tidak akan bisa berjalan di atas air dan menghentikan topan! Begitu pikir mereka.

Dalam kehidupan kita di tengah pandemi saat ini, mungkin kita tahu batas-batas di mana pengalaman kita yang lalu bisa berguna untuk menghadapi hari depan. Kita mungkin bisa mengekstrapolasi apa yang kita alami pada masa yang lalu untuk bisa diterapkan di masa depan. Tetapi, kita mungkin sadar bahwa situasi yang ada sekarang ini membuat kita tidak bisa memegang pengalaman kita sebagai guru yang terbaik. Keterbatasan manusia dan perbedaan situasi sering kali membuat kita meragukan manfaat pengalaman kita. Itu bisa dimengerti, kecuali untuk satu pengalaman.

Pengalaman yang kita alami dalam hidup karena campur tangan Tuhan tidak boleh diabaikan karena Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang tidak bisa dikalahkan oleh situasi dunia dan keterbatasan manusia. Jika Tuhan yang membimbing kita pada waktu yang silam, Ia juga dapat melakukannya di masa depan jika Ia menghendakinya.

Mungkin mata kita melihat apa yang ada di sekeliling kita, dan semua itu membuat kita gundah. Di manakah Tuhan saat ini? Tuhan memang tidak terlihat dengan mata kita, tetapi Tuhan seharusnya dapat dilihat oleh mata hati kita.

Hari ini, adakah kemasygulan di hati kita karena adanya banyak masalah di sekeliling kita? Adakah kekuatiran dan ketakutan karena bahaya yang muncul di mana-mana? Pengalaman hidup kita mungkin mencoba meyakinkan kita untuk tidak kuatir, tetapi pikiran kita tidak dapat meyakini bahwa Tuhan akan dapat menolong kita. Seperti murid-murid Yesus yang sudah melihat satu mukjizat besar tetapi tetap tidak sadar siapakah Yesus itu, kita mungkin tidak mengerti bahwa manusia dan situasi dunia yang berubah-ubah tidak dapat mengurangi kasih dan kuasa Tuhan.

Keputusan ada di tangan kita, apakah kita bertindak menurut apa yang kita lihat, atau menurut apa yang ada dalam hati kita. Biarlah pengalaman kita yang lalu di mana Yesus dengan kasihNya menebus kita dan membawa kita ke jalan keselamatan, bisa meyakinkan kita untuk mengambil keputusan untuk tetap beriman kepadaNya!

Tetap teguh dalam kasihNya

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Pernahkah anda mengalami pengalaman yang menakutkan? Jika pertanyaan ini diajukan 2 tahun yang lalu, mungkin ada orang yang menjawab “tidak”. Tetapi, setelah datangnya pandemi dan orang bisa melihat bagaimana wabah ini sudah menyebabkan penderitaan dan bahkan kematian di seluruh dunia, mungkin banyak orang akan menjawabnya dengan “ya”.

Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal yang terjadi, yang tidak dapat dikontrol. Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang akan dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak mudah dimengerti.

Sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa, dunia menjadi satu tempat yang penuh dengan semak duri (Kejadian 3: 17 – 19). Walaupun demikian, manusia eksis selama berabad-abad dan hidup sampai sekarang sekalipun banyak makhluk lain yang musnah. Jelas bahwa setiap manusia memang diberi kemampuan untuk bertahan dalam hidup oleh Tuhan yang mahakasih. Lebih dari itu, Tuhan memberi berbagai berkat khusus kepada mereka yang mengasihiNya.

Walaupun demikian, jika kita hidup menurut perintahNya, itu bukan berarti bahwa hidup kita akan selalu tenang. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita. Kunci keberanian orang Kristen adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan apapun.

Para murid Yesus pun mengalami berbagai penderitaan. Di antara apa yang tercatat dalam sejarah gereja, Matius dibunuh dengan pedang setelah disiksa terlebih dahulu. Yakobus anak Zebedeus, meninggal karena dipenggal di Jerusalem. Bagaimana dengan Petrus? Ia meninggal dengan cara disalibkan terbalik dengan kepala menghadap ke bawah. Andreas juga meninggal dengan cara disalib seperti Petrus di Yunani. Thomas meninggal karena dihujani tombak, dan sebelumnya dia sempat dilempar kedalam perapian, tetapi tidak meninggal. Matias, yang merupakan Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal karena dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Apa yang membuat orang Kristen bisa bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan bahaya dan lebih tabah dari orang lain? Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma menyebutkan kunci kekuatan umat Kristen yaitu kasih Allah. Bahwa tidak ada kuasa atau keadaan yang akan dapat memisahkan umat Kristen dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus sendiri disiksa dengan kejam dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero pada abad pertama. Ia adalah rasul yang paling lama mengalami penyiksaan di penjara dan karena itu kebanyakan suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.

Bagi umat Kristen yang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, kasihNya yang mereka rasakan hari demi hari dalam hidup mereka, membuat mereka selalu tabah dan tidak takut menghadapi goncangan dalam hidup. Sekalipun keadaan di dunia saat ini makin mencekam, mereka sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebagian kecil dari hidup keseluruhan. Bagi mereka, hidup yang ada sesudah hidup di dunia adalah yang paling penting.

Hari ini, suasana disekitar kita mungkin terasa suram dan kekuatiran mulai muncul dalam pikiran kita. Apa yang akan terjadi pada diri kita, dan apa pula yang akan muncul di hari-hari mendatang? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan Tuhan tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas akan masa depan kita. Tetapi, apa yang pasti adalah kasih dan kuasaNya. Tuhan yang mahakasih selalu memberi kita kekuatan dan Ia yang mahakuasa pasti memberi apa yang terbaik untuk kita. Dengan itu kita boleh yakin bahwa pada akhirnya rencana agung Tuhan akan terjadi dan itu adalah baik untuk kita!

Hidup di tengah pandemi

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya kesehatan tubuh untuk bisa menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh makan apa saja yang terasa enak, menghirup asap rokok sendiri atau asap rokok orang lain, atau membuang sampah secara sembarangan sudah berlalu, dan orang bisa ditegur jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang tidak peduli; bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Jika ada orang-orang yang melakukan hal-hal di atas tanpa merasa bersalah, mungkin kita berpikir bahwa mereka mungkin kurang sadar akan dampaknya. Barangkali kita berpikir bahwa tiap orang boleh memilih apa yang sesuai dengan kehendak mereka. Mungkin juga ada orang yang berpikir bahwa orang-orang semacam itu sudah ditakdirkan untuk hidup seperti itu. Hidup dalam realitas sehari-hari. Karena banyaknya orang yang menderita penyakit, mungkin orang merasa biasa, dan bahkan kebal, dalam melihat apa yang seharusnya terasa menyedihkan, yang terjadi dalam masyarakat. Begitu juga orang Kristen, banyak diantara mereka yang kurang sadar akan peran mereka dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Beberapa hari yang telah lalu kita melihat di media adanya puluhan ribu orang yang menyerbu sebuah pasar di Jakarta untuk membeli barang-barang yang murah. Mereka tidak peduli bahwa pada saat pandemi ini, orang harus berwaspada akan kemungkinan tertular atau menulari orang lain. Di negara barat, kejadian yang serupa juga ada walaupun untuk maksud yang lain, seperti menghadiri acara-acara atau melakukan aktivitas yang mengundang ribuan orang. Asal diri sendiri puas, peduli amat dengan orang lain!

Masalah kesehatan umum adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum dan medis, bukan agama. Walaupun begitu, ayat di atas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal kesehatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri. Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil risiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan risiko bagi orang lain, terutama risiko bagi mereka yang kurang dalam hal kepandaian dan kemampuan.

Hari ini, dalam mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa mencelakakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita sudah mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Kita adalah pekerja Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Hari ini adalah hari libur untuk ganti hari buruh di negara bagian Queensland karena hari buruh 1 Mei 2021 kebetulan jatuh pada hari Sabtu yang sudah merupakan hari libur umum. Dengan demikian, hari Senin ini adalah pengganti hari Sabtu yang lalu. Secara tradisi, pada hari buruh banyak anggota serikat buruh yang berbaris ke kota untuk menyuarakan berbagai tuntutan kepada negara agar memperbaiki nasib kaum buruh.

Manusia memang diciptakan Tuhan untuk bekerja. Pada mulanya, pekerjaan bukanlah sesuatu yang berat ataupun hal kurang bisa dinikmati. Manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak pekerjaan atau orang lain, sebaliknya untuk menjadi penguasa bumi, sebagai wakil Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Walaupun manusia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan penciptaNya, dalam batas-batas tertentu manusia bisa membuat atau menciptakan sesuatu yang baik atau indah bagi sesamanya. Itu memang tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak mulanya, untuk mengatur isi bumi ini sebagai utusanNya. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, memang diberiNya kemampuan untuk melakukan apa yang perlu untuk jalannya kehidupan di bumi.

Sebagai manusia yang bisa berkarya, salah satu kewajiban manusia dalam membuat sesuatu hasil, baik itu kecil ataupun besar, adalah untuk merampungkan tugasnya dengan baik sehingga mereka yang memakai atau menggunakannya akan mendapat manfaat dan bukannya masalah.

Apapun peranan kita dalam hidup sehari-hari, kita harus bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Ini, jika dilihat dari sudut pandangan kekristenan, adalah sesuatu yang seharusnya karena Tuhan yang menciptakan manusia juga mempunyai prinsip yang sama: jika Ia bekerja, Ia bekerja sampai tuntas. Jika Ia mencipta, Ia menciptakan segala sesuatu sampai selesai dan berfungsi dengan baik.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1: 31

Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Sang Pencipta tentu mengerti bahwa apapun yang mereka kerjakan, haruslah membawa kebaikan – seperti Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu sehingga terlihat sangat baik dan berfungsi dengan sempurna. Dalam hal ini, pria maupun wanita yang mengurus rumah tangga sudah tentu adalah contoh pekerja yang baik, yang membawa kebahagiaan bagi pasangan dan anak-anak mereka.

Dalam kenyataannya, banyak manusia yang bekerja hanya untuk uang, sebagai keharusan, atau demi keuntungan dan kemasyhuran diri sendiri. Mereka sering kali bekerja secara asal-asalan dan tanpa memikirkan resiko untuk dirinya dan orang yang disekitarnya; dan karena itu bisa mendatangkan kekacauan dan penderitaan bagi orang lain. Manusia juga sering merasa malang karena harus bekerja keras untuk “mencari sesuap nasi”.

Hari ini marilah kita memikirkan apa yang perlu kita persiapkan dan lakukan di hari-hari mendatang. Firman Tuhan berkata bahwa Ia sudah menciptakan apa yang baik untuk kita, dan karena itu kita harus bisa memakai dan mengelolanya dengan baik. Biarlah kita mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sekadar memenuhi kewajiban kita!

Manusia bergantung kepada Tuhan

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Sabtu terasa baru saja berlalu, sekarang sudah hari Sabtu lagi! Kemana hari-hari ini pergi berlalu? Orang bilang: waktu cepat berlalu menunjukkan kesibukan hidup, itu ada benarnya. Tetapi, sekalipun kita tidak terlalu sibuk, hidup manusia terasa berubah cepat dengan adanya pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Kebebasan manusia dalam menentukan arah dan tujuan studi, karir, dan bisnis misalnya, sekarang terpaksa disesuaikan dengan keadaan yang tidak menentu. Banyak murid saya yang berasal dari luar Australia, sekarang terpaksa belajar on-line karena tidak bisa terbang ke Australia. Mereka yang tidak menyukai cara belajar jarak jauh ini, ada yang memilih untuk menunda masuk ke universitas.

Sebenarnya, sebelum adanya pandemi sudah banyak perubahan yang harus kita terima saja, tanpa bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuat kita sering merasa prihatin, terutama jika perubahan nampaknya tidak membawa kebaikan. Perubahan itu bisa datang dari dalam diri kita sendiri sebagai faktor internal, ataupun dari orang lain atau faktor eksternal lainnya. Bertambahnya umur yang untuk sebagian orang adalah sesuatu faktor internal yang membawa kematangan, untuk orang lain mungkin mendatangkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Masalah eksternal yang datang dari luar diri kita, seperti adanya virus corona, sudah tentu lebih sulit diduga akibatnya, tetapi selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Penulis ayat diatas adalah Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ia menulis bahwa segala sesuatu yang ditentukan dan dilakukan Tuhan tidaklah dapat diubah manusia. Segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menghindari kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Apa yang terjadi mungkin sering dipandang sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dihindari dan karena itu sebagian orang hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah.

Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan sepengetahuanNya. Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu. Tuhan juga mahakuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakanNya di dunia, bukanlah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan, dan iblis pun tahu bahwa dengan adanya kebebasan manusia, ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

Ayat diatas menegaskan bahwa adanya perubahan dalam hidup kita di dunia ini haruslah bisa kita terima. Jika kita membaca seluruh pasal dalam kitab Pengkhotbah 3, kita akan menyadari bahwa sekalipun kita tidak mengerti arti perubahan dalam hidup kita dan apa yang terjadi di sekitar kita, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Kitab Pengkhotbah 3 juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus sadar akan keterbatasan kita. Kerapkali, kita menerima kebebasan dan kemampuan yang kita terima dari Tuhan sebagai mandat untuk memaksakan kehendak kita. Kita lupa bahwa manusia bisa, boleh dan bahkan harus berusaha, tetapi kehendak Tuhanlah yang akhirnya akan terjadi. Karena itulah, setiap umat percaya seharusnya mencari kehendak Tuhan dan tidak menyia-nyiakan hidup mereka untuk berusaha menemukan apa yang mereka kehendaki.

Bagi kita yang percaya akan kemurahan Tuhan, kitab Pengkhotbah 3 menulis bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati apa yang kita sudah terima dari Tuhan. Kegalauan hati dan pikiran tidak akan menolong kita karena kita memang tidak sepenuhnya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Tetapi berbagai tokoh Alkitab seperti Jusuf, Abraham dan Musa, menyerahkan semua kekuatiran mereka dalam menjalani hidup di tanah yang asing. Mereka bisa menikmati hidup di dunia dengan menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Tuhan.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3: 13

Hari ini, mungkin kita merasa bahwa kita kehilangan kontrol atas hidup kita. Pengkhotbah 3 bertanya adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa putus asa yang mungkin timbul dalam hidup kita. Adakah sesuatu yang bisa kita andalkan? Salomo menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menguasai jalannya semua peristiwa kehidupan, tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, hidup ini adalah suatu kepastian: Tuhan akan membimbing kita dalam keadaan apa pun. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap tekun dalam melaksanakan tugas-tugas kita dan bersabar menunggu pertolongan Tuhan yang akan datang pada saatnya.

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Mencuri bukan hanya berarti mengambil milik orang lain

“Jangan mencuri” Keluaran 20: 15

Tiap hari media selalu menampilkan beberapa kasus pencurian atau penyelewengan dana. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak tersangka yang bisa digolongkan orang berpendidikan, dan bahkan termasuk orang-orang “kelas tinggi”. Herannya, banyak di antara mereka yang nampaknya tidak merasa malu atas perbuatan mereka. Memang di zaman ini, orang sering mencuri tanpa sadar bahwa mereka sudah berbuat salah.

Apa arti mencuri? Apakah mencuri selalu merupakan dosa? Inilah beberapa hal yang sering dipertanyakan, sekalipun orang tentunya menyadari bahwa definisi umum kata “mencuri” adalah mengambil barang orang lain tanpa izin atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mencuri bisa berupa mengambil mangga dari pohon tetangga, meminjam pakaian atau HP teman tanpa izin, mencontoh solusi ujian/riset orang lain, atau tidak membayar hutang atau pajak, sampai hal yang bisa menjadi pokok berita heboh di media, seperti melarikan pasangan orang lain atau menggelapkan uang orang lain atau uang negara, alias korupsi.

Jika kita melihat apa yang tertulis dalam ayat diatas, yang merupakan salah satu dari sepuluh hukum Tuhan, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa mencuri dalam segala bentuknya adalah dosa. Baik mencuri barang yang kecil maupun besar adalah dosa. Tetapi, bagaimana jika kita mengambil barang seseorang karena kita merasa bahwa orang yang empunya tidak berkeberatan? Bagaimana pula jika kita mengambil barang orang lain yang sudah tidak dipakai? Atau jika orang mencuri karena terpaksa, karena keadaan yang berat yang dialaminya?

Bagi sebagian orang, mencuri adalah sesuatu yang mempunyai kepuasan tersendiri. Orang yang bisa menggunakan fasilitas atau sarana secara gratis sering merasa senang dan puas sekalipun mereka sanggup membayar. Orang mampu yang menemukan barang berharga yang tertinggal di tempat umum, mungkin masih bisa tergoda untuk mengambilnya. Bagi mereka, kalau orang lain berbuat hal yang sama, dan tidak ada hukum setempat yang melarangnya, itu bukan mencuri. 

Memang ada situasi yang berat, yang memaksa seseorang untuk mencuri. Misalnya, mereka yang kelaparan dan tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, mungkin terpaksa untuk mencuri. Ini pun dosa yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini juga bisa menyebabkan orang di sekitarnya berbuat dosa juga karena membiarkan hal ini sampai terjadi. Perintah Yesus untuk mengasihi sesama kita, membuat kita ikut bertanggung jawab jika seseorang terpaksa mencuri, sedangkan kita mampu untuk memberi pertolongan.

Mencuri tidak selalu berupa kegiatan “mengambil”, tetapi juga bersangkutan dengan kegiatan “memberi”. Mereka yang tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan/dibaktikan kepada seseorang, masyarakat, negara, dan dunia adalah mencuri hak orang lain.  Sebagai contoh, setiap orang Kristen diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Tidak membayar pajak atau sengaja mengurangi jumlah pajak yang seharusnya dibayar kepada pemerintah adalah mencuri hak pemerintah.

Mencuri juga bisa berupa penyalahgunaan apa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk maksud-maksud tertentu. Tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan hal yang baik adalah mencuri waktu yang diberikan Tuhan, sebab Tuhan memberi kita kehidupan bukan untuk dipakai secara sembarangan, tetapi untuk memuliakanNya. Segala berkat yang dilimpahkanNya bukannya untuk kemuliaan kita, tetapi untuk kebesaranNya. Karena itu, dalam keadaan apapun kita tidak boleh lupa untuk menyatakan rasa syukur kita kepadaNya. Jika tidak, kita sebenarnya mencuri kemuliaan Tuhan.

Pada zaman pandemi ini, mencuri juga bisa berupa pengabaian larangan untuk berkerumun atau ketidak-pedulian untuk memakai masker. Mengapa begitu? Jelas itu karena orang sedemikian menggunakan kesempatan untuk memuaskan diri sendiri tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain. Mereka yang tidak berhak untuk melakukan hal-hal terlarang itu, merasa bahwa semua itu adalah kemerdekaan yang mereka punyai.

Kita bisa melihat bahwa ayat diatas adalah singkat, tetapi sulit untuk dimengerti dan dilaksanakan. Ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang di taman Eden, agaknya mereka mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya. Tuhan jelas melarang mereka untuk memakannya. Tetapi, dosa mereka adalah bukan semata-mata karena mencuri, dan bukan juga karena terbujuk ular, tetapi karena mereka pada dasarnya tidak mau tunduk kepada Tuhan. Kita yang adalah keturunan Adam dan Hawa, tetapi sudah menerima anugrah keselamatan dari Tuhan, seharusnya mau sepenuhnya tunduk kepadaNya!

Menghadapi hari depan tanpa kebosanan

“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.” Amsal 4: 25

Sudah pasti bahwa kebanyakan orang sudah merasa bosan dengan keadaan saat ini. Pandemi yang tidak kunjung reda membuat orang tidak bebas untuk bepergian, berekreasi, atau melakukan aktivitas di tempat yang ramai. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang saat ini merasa tertekan karena hidup seperti burung dalam sangkar. Bagi banyak orang, termasuk saya, menunggu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kebosanan sering datang, dan waktu yang sejam saja mungkin terasa seperti seminggu. Apalagi, pandemi ini sudah berlangsung selama lebih dari setahun, dan sekarang bukannya mereda tetapi makin menjadi.

Mengapa timbul kebosanan? Kebosanan adalah keadaan emosi atau psikologis yang gundah karena tidak adanya sesuatu yang bisa dinikmati atau dikerjakan. Kebosanan bisa timbul pada setiap orang, baik yang sibuk atau pun yang menganggur. Bagi yang sibuk tetapi kurang bisa menikmati kegiatannya, kebosanan bisa datang. Sebaliknya, mereka yang tidak mempunyai kegiatan tertentu, sudah tentu mudah menjadi bosan.

Kebosanan dapat mendorong seseorang mencari sesuatu yang lebih berguna untuk dirinya ataupun orang lain, dan juga untuk menciptakan suasana baru. Kebosanan bisa membawa seseorang untuk lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi, kebosanan bisa juga membuat orang jatuh dalam dosa. Tidaklah mengherankan, pada saat ini di banyak negara orang mulai melanggar larangan pemerintah untuk menghindari kerumunan. Mereka ingin bebas karena sudah bosan hidup dalam keterbatasan. Tentu saja hal ini berakibat makin banyaknya orang yang terjangkit.

Satu contoh kebosanan yang membawa dosa adalah pengalaman Raja Daud. Ketika Daud bertambah tua, ia menjadi kurang aktif dalam memimpin bani Israel. Tak terasa, hidupnya menjadi membosankan dan karena itu ia membuat petualangan cinta dengan Batsyeba, istri seorang prajuritnya yang bernama Uria. Dengan usaha Daud, Uria gugur di medan perang. Setelah itu, Daud mengawini Batsyeba. Dosa besar raja Daud ini berawal dari kebosanannya.

Bagaimana dengan hal mengikut Kristus? Apakah kita juga bisa bosan menjadi umatNya? Sudah tentu! Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak berkembang baik, komunikasi dengan Dia menjadi jarang dan hidup kekristenan kita menjadi membosankan. Dalam keadaan sedemikian, iblis justru dengan tidak bosan-bosannya berusaha menjerumuskan kita kedalam dosa. Selain itu, jika kita lengah, dalam menghadapi keadaan saat ini iblis mungkin membisikkan pesan bahwa hidup saat ini tidak lagi ada gunanya jika kita tidak dapat beraktivitas secara normal. Hidup hanya sekali dan itu harus bisa dinikmati.

Hari ini, jika kita merasa hidup ini mulai membosankan, dan mata serta pikiran kita mulai mencari-cari sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanan kita, ayat diatas mengajarkan agar kita tetap memandang terus ke depan dan tatapan mata kita tetap ke muka. Dalam keadaan apapun, kita harus selalu memusatkan perhatian kita apa yang baik dan benar menurut perintah Tuhan. Tetaplah berharap kepada pertolonganNya!

“Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” Amsal 4: 26 – 27

Tinggal sertaku, Tuhan!

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Hari ini saya membaca media yang melaporkan bahwa pandemi COVID-19 ini agaknya akan berlangsung cukup lama. Sekalipun vaksin sudah ada, belum tentu itu akan membawa kekebalan terhadap virus yang terus bermutasi. Tambahan lagi, karena jumlah vaksin yang ada pada satu negara mungkin belum cukup atau tidak bisa disebarkan dengan merata, kemungkinan adalah kecil untuk bisa mencapai imunitas masyarakat secara cepat. Dengan demikian, akan ada banyak negara yang masih terus mengalami dampak pandemi ini untuk tahun-tahun mendatang. Bagi banyak manusia di dunia, masa depan adalah sesuatu yang tidak dapat diterka atau direncanakan.

Masa depan yang bagaimanakah yang anda inginkan? Bagi mereka yang masih tergolong muda, mungkin ada banyak yang diidamkan untuk masa depan. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur, masa depan yang mereka impikan dulu adalah masa kini. Mereka mungkin sudah menyerah dan mau menerima apa saja yang bakal terjadi. Walaupun begitu, banyak orang tetap melihat ke masa depan dengan usaha dan pengharapan bahwa pada suatu saat mereka masih akan dapat mengalami sesuatu yang baik dan indah.

Memang agaknya aneh bahwa ada orang yang selalu sibuk memikirkan dan menguatirkan masa depan, sedangkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tetapi, kita tentu bisa mengerti kalau dalam keadaan darurat saat ini manusia dan negara yang mampu berlomba-lomba untuk membeli bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan untuk bisa ditimbun guna menghadapi hari depan yang tidak menentu. Dalam kehidupan sehari-hari orang memang sering kuatir akan apa yang terjadi karena kemungkinan datangnya kejadian-kejadian yang tidak terduga. Hidup adalah penuh dengan misteri, begitu kata orang.

Ayat diatas menunjukkan bahwa apa yang terlihat nyaman dan tidak nyaman terjadi karena kehendak Tuhan. Tuhan yang mahakuasa memang bisa mengizinkan  terjadinya hal apapun, yang tidak bisa diduga manusia, supaya manusia mengakui bahwa mereka hanya dapat bergantung kepada Sang Pencipta. Walaupun demikian, banyak orang yang tetap merasa mampu untuk menentukan hari depan mereka melalui usaha dan kerja; mereka mungkin berpikir bahwa masa depan setiap orang ada ditangan sendiri. Memang banyak guru yang mengajarkan bahwa jika kita bersikap positif untuk menghadapi hidup dan mau bekerja keras, masa depan yang cemerlang menunggu kita. Tetapi itu belum tentu terjadi.

Memandang masa depan yang tidak dapat diduga, sering kali membuat kita ragu. Jika semuanya tidak ada yang pasti, bagaimana pula kita bisa mempunyai harapan untuk hal apapun. Mereka yang mengajarkan manusia untuk berpikir positif selalu menekankan hal percaya diri; sebaliknya mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah kunci kehidupan, menekankan hal percaya kepada Tuhan. Dalam hal ini, seakan lebih mudah bagi seseorang untuk mempercayai kemampuan manusia karena Tuhan dan kehendakNya adalah sulit untuk dimengerti. Kehendak Tuhan adalah suatu misteri.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, mereka yang benar-benar mengenal Tuhan akan mempunyai pengertian tentang cara kerja Tuhan. Sepanjang sejarah, Tuhan selalu bekerja agar umatNya mau menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepadaNya. Ia tahu bahwa manusia tidak dapat hidup dengan bergantung pada diri mereka sendiri. Ia juga tahu bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan diri dari dosa dan akibatnya. Karena itu, melalui firmanNya dan berbagai kejadian yang ada di dunia, Tuhan tidak jemu-jemunya mengingatkan bahwa jika kita hanya percaya kepada diri sendiri selama hidup di dunia ini, kehancuranlah yang menunggu kita. Jika itu tidak terjadi sekarang, pastilah itu terjadi di masa depan.

Pagi ini, perlulah kita pikirkan apa yang kita harapkan dari masa depan. Apakah kita mengharapkan datangnya hari-hari gembira yang penuh suka cita? Tidak ada salahnya jika kita mengharapkannya dari Tuhan. Jika itu datang, kita boleh menikmatinya sambil bersyukur kepadaNya. Tetapi, jika hari-hari yang penuh tantangan dan kesulitan datang, kita pun harus sadar bahwa hari-hari itu juga datang dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Tuhan akan mengeluh dan bahkan mungkin menghujat Tuhan; tetapi mereka yang mengenal kasih Tuhan yang sudah memberi keselamatan yang kekal di surga tidaklah menjadi kecewa, melainkan makin merasakan betapa besar kuasa dan kasih Tuhan. Bagi kita, hidup ini tidak lagi sebuah misteri. Tuhan senantiasa menyertai kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Merasakan kedamaian di tengah kekacauan

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Mendengar berita tentang India, mau tidak mau saya merasa sangat sedih. Dengan jumlah penduduk yang hampir 1,4 miliar, negara ini berada dalam urutan kedua sedunia sesudah China. Menurut berita, negara besar ini sekarang kehilangan kira-kira 117 penduduk setiap jam akibat COVID -19. Bagaimana ini bisa terjadi di negara yang paling banyak memproduksi obat-obatan generik sedunia dan yang sebelumnya mengirimkan jutaan vaksin corona ke negara-negara lain?

Berbagai negara sekarang mulai mengirimkan bantuan darurat ke India untuk perawatan pasien yang berupa mesin-mesin pembantu pernafasan dan obat-obatan. Dalam keadaan ini, banyak orang Kristen yang berdoa agar India, yang secara mayoritas beragama Hindu, agar dapat mengatasi bencana ini secepatnya. Selain itu, orang di negara lain juga berdoa agar Tuhan melindungi mereka dari ancaman penularan virus dari India.

Tetapi, apa gunanya kita berdoa? Banyak orang di zaman ini yang sudah tidak percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih perlu.

Sebagian orang berpikir bahwa doa itu tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencanaNya. Ada juga yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman karena kebiasaan saja.

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apapun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Hari ini, jika kita mempunyai kekuatiran tentang apapun juga, biarlah kita pertama-tama berusaha menguranginya. Sebaliknya, kita harus bisa menyadari bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan selalu lebih besar dari masalah kita. KasihNya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita semua. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, kita akan mendapatkan rasa damai sejahtera sekalipun keadaan di sekeliling kita terlihat suram dan menakutkan.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4: 7

Bencana selalu ada di dunia

Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Berita tentang makin parahnya kasus penularan COVID-19 di India belakangan ini membuat banyak orang kuatir. Jumlah penambahan kasus positif per hari di India saat ini sudah melampaui apa yang pernah terjadi di Amerika. Orang menduga hal itu terjadi karena kurangnya usaha lockdown dan juga karena munculnya varian virus yang baru. Bagi manusia, kemungkinan terjadinya berbagai bencana bisa diramalkan dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.

Apa yang dirasakan banyak manusia jika bencana terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah bahtera Nuh dan banjir besar yang melanda dunia. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa bencana yang luar biasa dengan seijin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya bencana adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan bencana akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  1. Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  2. Adanya bencana selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  3. Bencana hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umatNya. Manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang jahat maupun yang baik, bisa menerima berkat Tuhan seperti sinar matahari. Karena itu, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan dan semua orang bisa membuat kekeliruan.

Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan menerima keselamatan yang kekal melalui Yesus Kristus.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18