Jangan hanya menonton

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.” 2 Timotius 2: 3

Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan  lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.

Barangkali kehidupan orang Kristen di dunia bisa dibayangkan sebagai kompetisi olahraga. Paulus pada zamannya menggunakan ilustrasi pelari dan petinju untuk menggambarkan bagaimana orang Kristen harus berjuang untuk mencapai kemenangan dalam Kristus. Mereka yang menjadi pelari atau petinju tidak akan sembarangan berlari atau memukul, tetapi dengan penuh semangat dan perhatian akan berusaha untuk mendisiplinkan hidupnya agar tidak dikalahkan oleh lawan-lawan mereka. Seperti itulah, sebagai orang Kristen kita juga harus bisa melatih hidup kita agar kita tetap bisa setia mengikut Tuhan sampai akhir hidup.

Satu hal yang tidak bisa digambarkan melalui ilustrasi pelari atau petinju adalah pentingnya teamwork atau kerja tim. Pada lomba tough mudder, tiap peserta peserta umumnya muncul sebagai tim yang terdiri dari 2 atau 4 orang. Dengan demikian, sekalipun kemampuan perseorangan penting, seorang peserta lomba yang baik tidak hanya harus mau berjuang, tetapi harus juga mau bekerjasama dengan anggota timnya untuk mencapai garis finis. Persis seperti seorang prajurit yang maju berperang. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Senang dan susah dialami bersama.

Kehidupab orang Kristen sebenarnya seringkali lebih berat dan lebih menakutkan dari apa yang bisa dialami oleh seorang atlit. Mereka tidak hanya harus menghadapi kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan bahaya, tetapi juga harus menghadapi lingkungan, masyarakat dan bahkan pemerintah yang mungkin jahat atau hostile terhadap mereka. Kerapkali, karena tantangan dan bahaya yang harus dihadapi adalah terlalu besar , orang Kristen mungkin mengambil keputusan untuk tidak bertindak apa-apa atau tidak mau mengambil keputusan. Jika  ini dibayangkan seperi lomba lari halang rintang, orang Kristen yang sedemikian membiarkan peserta lainnya untuk berangkat berjuang, tetapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Sebagai anggota tim Kristus, orang yang sedemikian memilih untuk tidak ikut-ikutan menderita.

Ayat di atas mengingatkan semua orang percaya bahwa mereka adalah anggota dari tim Kristus. Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa nama Tuhan akan dimuliakan melalui umatNya yang mau benar-benar berjuang seperti prajuritNya. Memang tiap orang memiliki beban hidup tersendiri, tetapi sebagai umat Kristen kita memiliki beban bersama. Karena itu kita harus bisa bersatu dalam kerja tim yang baik, harus sehati sepenanggungan.

Keadan disekeliling kita mungkin bisa membuat hati kita menjadi kecil dan bayangan bahwa kita harus bisa menghadapi segala tantangan dan bahaya sebagai orang Kristen, mungkin membuat kita memutuskan untuk memilih jalan gampang. Tidak ikut-ikutan. Tidak ikut menderita. Biarlah orang lain yang melakukannya. Tetapi ini bukanlah apa yang dilakukan oleh Paulus ketika ia menulis ayat di atas. Ia menulis bahwa karena pemberitaan Injil ia menderita,  dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak dapat dihentikan oleh lawan-lawannya (2 Timotius 2: 9).

Pagi ini keadaan di sekeliling kita mungkin menunjukkan adanya ketidakadilan, ketimpangan sosial, hukum dan ekonomi. Semua itu adalah tantangan buat umat Kristen dan untuk itu Paulus mengundang agar kita sebagai anggota tim Kristus mau ikut berjuang untuk menegakkan kebenaran Kristus. Adakah kemauan kita untuk berjuang bersama-sama dengan umat Kristen lainnya? Ataukah kita tinggal membisu dan hanya menonton saudara-saudara seiman kita berjuang dan mengucurkan keringat dan bahkan darah untuk mencapai kemenangan dalam Kristus?

 

 

 

 

 

 

Diganjar untuk mendapat ganjaran

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.

Pada ayat di atas, Paulus menulis bahwa ganjaran tidak mendatangkan sukacita. Sudah tentu ganjaran disini bukanlah hadiah. Jika sebuah hadiah biasanya mendatangkan rasa senang, ganjaran yang berarti hukuman tentunya akan membawa rasa duka. Walaupun demikian, dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “ganjaran” diatas ternyata muncul sebagai kata “discipline” atau “chastening” yang bisa dihubungkan dengan tindakan mengajar (pendisiplinan) agar seseorang bisa hidup benar dan menghentikan perbuatan yang tidak semestinya.

Salahkah pilihan kata “ganjaran” diatas? Saya rasa tidak. Memang, jika disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawab seseorang, pendisiplinan adalah usaha-usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar orang memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa juga menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Jadi, kata ganjaran diatas adalah sesuatu yang diberikan Tuhan kepada umatNya agar mereka bisa memiliki kemampuan untuk menuruti firmanNya.

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Banyak orang  yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan karena kesalahan mereka sendiri, tetapi banyak orang Kristen  yang mengalami hal yang serupa sekalipun  bukan karena mereka melakukan apa yang salah. Jika orang yang melakukan hal yang tidak baik pantas untuk mendapat hukuman, banyak orang Kristen yang berdukacita karena apa yang terjadi dalam hidup mereka seolah menunjukkan adanya kemarahan Tuhan.

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Allah Bapa memberikan ganjaran kepada umatNya dengan maksud baik. Allah memperlakukan kita sebagai anakNya dan dengan demikian ingin agar kita berhasil dalam mengarungi tantangan kehidupan. Ganjaran datang dari Tuhan kepada umatNya, bukan sebagai hukuman tetapi pendidikan.  Seperti seorang murid yang mau menerima didikan gurunya dan mau melaksanakan tugas-tugas belajar agar ia bisa lulus dan mendapatkan sebuah ijazah, demikian pula umat Kristen yang diganjar atau dididik Allah akan menerima ganjaran atau hadiah yang berupa kedamaian hidup. Bagi mereka yang sudah menerima didikan Tuhan, hidup tidak lagi berupa perjuangan seorang diri, tetapi sebuah perjuangan yang dijalani bersama Tuhan.

Pagi ini, adakah perasaan dukacita dalam hati anda karena apa yang terjadi dalam hidup anda? Mungkinkah ada perasaan bahwa Tuhan sudah meninggalkan anda? Ataukah ada perasaan bersalah dalam hati yang membuat hidup terasa hampa? Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan mencintai semua anakNya. Tetapi ini tidak berarti bahwa hidup kita akan menjadi mudah dan selalu lancar. Tuhan bisa mengganjar umatNya untuk membuat mereka lebih dekat kepadaNya, untuk lebih bergantung kepada Dia. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa Tuhan adalah setia dan kasihNya tidaklah berkesudahan. Apa yang kita rasakan sebagai ganjaran yang tidak menyenangkan saat ini pada akhirnya akan menghasilkan ganjaran yang membawa rasa sukacita. Pujilah Tuhan yang mahasih dan mahasetia!

Apa yang mereka pikirkan?

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49: 20

Bacaan: Mazmur 49

Toowoomba adalah  kota kecil di negara bagian Queensland, Australia, dimana saya tinggal. Toowoomba dikenal sebagai daerah pertanian dan peternakan yang cukup besar. Statistik dari tahun 2015/2016 menunjukkan bahwa Toowoomba menghasilkan $900 juta dari pertanian dan peternakan, dan sekitar 30% dari pendapatan itu dihasilkan dari peternakan hewan potong.

Di sekitar kediaman saya, dapat dijumpai beberapa padang rumput tempat pemeliharaan sapi, dan yang terdekat hanya berada dalam jarak beberapa ratus meter saja dari rumah. Karena itu, sewaktu saya berjalan-jalan seringkali saya menjumpai beberapa sapi yang sedang merumput dan ada juga yang berdiri diam sambil menonton saya berjalan. Mata mereka terlihat kosong. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terkadang saya berpikir alangkah membosankan jika manusia hidup seperti sapi itu. Seekor sapi memang tidak merasa jemu untuk hidup seperti itu. Selama rumput hijau ada, seekor sapi tentunya merasa puas sekalipun esok hari ia akan dikirim ke rumah pemotongan. Sapi tidak mempunyai pengertian akan apa arti hidup dan masa depan.

Jika sapi adalah hewan yang sederhana cara berpikirnya, menurut pemazmur sebagian manusia juga hidup seperti itu. Mereka yang merasa sudah mencapai apa yang bisa dinikmati atau dibanggakannya, cenderung untuk hidup dalam kesempitan pikirannya. Apakah yang mereka pikirkan dalam hidup? Bagi orang seperti itu, hidup adalah kesempatan untuk menikmati kenyamanan, kekayaan, kuasa, kejayaan, kebebasan dan semacamnya. Di antara orang Kristen pun, hanya sebagian kecil yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengamalkan perintah Tuhan; sebagian besar justru lebih menyukai apa yang terlihat lebih mudah dijalani dan dinikmati.

Mereka yang masih muda mungkin sibuk mengejar kesempatan yang ada, dan mereka yang tua mungkin lebih senang menikmati apa yang sudah dicapainya. Selama apa yang diinginkan bisa dicapai, hidup mereka adalah kebahagiaan yang bisa dinikmati. Manusia yang sedemikian tidak mempunyai pengertian bahwa semua itu adalah kebahagiaan yang sementara, barangkali seperti rumput hijau dalam pandangan seekor sapi. Seperti seekor hewan yang akan dibinasakan, mereka tidak sadar bahwa hidup dan kebahagiaan mereka adalah singkat saja.

Pemazmur menyatakan bahwa sebagai orang beriman kita tidak perlu merasa iri bahwa ada orang-orang yang nampaknya hidup dalam kegemilangan, sebab pada suatu saat mereka akan mati dan semua yang ada tidak akan bisa dibawa mereka (ayat 17). Sekalipun ada orang yang menganggap dirinya berbahagia, dan sekalipun orang lain menyanjungnya, orang itu tidak akan mengalami itu seterusnya (ayat 18-19). Lebih-lebih lagi, bagaimanapun besarnya kekayaan sesorang, ia tidak akan bisa memberikan tebusan kepada Allah sebagai ganti nyawanya (ayat 7).

Mereka yang mempunyai pengertian akan apa arti hidup ini dan yang taat kepada Allah tahu bahwa Allah akan membebaskan nyawanya dari cengkeraman dunia orang mati sebab Ia akan menarik mereka kearah keselamatan (ayat 15). Bahkan sesungguhnya, semua itu sudah terjadi pada setiap orang percaya karena Kristus sudah menang atas maut dengan kebangkitanNya. Dengan demikian, bagi mereka yang mempunyai pengertian yang benar, hidup adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengikut firmanNya. Bagi mereka, pandangan mata mereka tidaklah hampa, tetapi akan selalu tertuju ke surga dimana tempat sudah disediakan bagi mereka. Hidup manusia yang tidak mempunyai pengertian boleh terasa kosong, tetapi mereka yang percaya kepada Kristus, hidup selalu diisi dengan ketaatan kepada Tuhan dan sukacita yang abadi dan kekal.

 

Hal hutang berhutang

“Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Amsal 22: 7

Kemarin malam saya menonton TV Netflix yang menampilkan kuliner rakyat (jajan pasar atau street food) dari berbagai negara. Berbeda dengan acara semacamnya, acara itu menggaris-bawahi peranan manusia yang membuat/menjual makanan dan bukan makanan yang dijual mereka. Salah satu penjual makanan yang ditampilkan adalah seorang ibu yang sudah berumur 100 tahun dari Indonesia, Mbah Lindu, yang menjual nasi gudeg selama 86 tahun dan dengan penghasilannya bisa menyokong beberapa anggota keluarganya.

Melihat bagaimana para penjual makanan yang bekerja keras mencari nafkah di pasar dan di pinggir jalan itu, saya tidak bisa tidak merasa kagum atas semangat mereka, terutama kaum ibu yang karena satu dan lain hal harus menjadi tonggak penopang ekonomi keluarga mereka.

Di antara mereka ada seorang ibu yang menjual makanan di sebuah pasar di Seoul, Korea. Ia terpaksa mencari nafkah karena suaminya yang bangkrut dan terlibat dalam hutang yang besar. Hutang itu menyebabkan seisi keluarga menderita karena ancaman penagih hutang yang datang setiap hari, dan akhirnya membuat sang suami mengalami depresi. Hutang yang bisa saja menghancurkan rumah tangga jika tidak karena kerja keras sang istri.

Alkitab tidak secara tegas melarang orang untuk berhutang ataupun menghutangi. Agaknya hal hutang menghutangi adalah bagian kehidupan manusia dari mulanya. Mereka yang berhutang dapat memakai uang yang dipinjam untuk mengembangkan suatu usaha bisnis, dan mereka yang menghutangi mendapat penghasilan dari bunga yang dibayar oleh orang yang berhutang. Walaupun demikian, keadaan bisa berbeda jika orang kemudian terlibat hutang besar yang tidak bisa terbayar.

Ayat di atas menulis bahwa dalam keadaan tertentu, hutang bisa menyebabkan masalah. Mereka yang kaya dan yang menghutangi kemudian bisa menguasai orang miskin yang berhutang, sehingga mereka menjadi “budak” dari yang menghutangi. Dalam hal ini ada orang-orang yang mempunyai maksud-maksud jelek dengan menghutangi orang lain, dan begitu juga ada orang yang berhutang tanpa mempunyai iktikad untuk membayarnya.

Sebagai orang Kristen kita tentu tahu bahwa iblis adalah oknum yang berusaha agar manusia berhutang kepadanya. Dengan segala tipu daya, ia juga berusaha untuk membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak baik dalam hal hutang menghutangi. Dalam hal ini, manusia yang jatuh dalam perangkap iblis bisa kehilangan rasa tanggung jawab kepada sesama manusia. Orang juga bisa mengabaikan hukum, akal sehat dan etika jika uang sudah menguasai pikiran mereka.

Pada pihak lain, Allah yang mengutus Yesus Kristus untuk datang ke dunia tidak bermaksud untuk membuat umat manusia berhutang kepadaNya. Ia memberikan keselamatan dengan cuma-cuma karena tahu bahwa manusia tidak dapat membayar atau membalas kasihNya. Sebagai manusia seharusnya kita bersyukur atas kasihNya dengan membaktikan diri kita yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa. Kita yang sudah dibebaskan dari dampak “hutang” kita kepada iblis sudah sewajarnya bersyukur kepadaNya setiap hari.

Pagi ini kita yang sudah menerima kasih Allah harus mau belajar dari firmanNya. Kita yang bisa menghutangi harus ingat bahwa Allah mempunyai maksud mulia dengan mengurbankan AnakNya, yaitu untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Dengan demikian, kita juga bisa menolong orang lain untuk bisa bebas dari belenggu kemiskinan. Dalam hal ini, kita ingat bahwa memberi adalah lebih berbahagia dari menerima. Bagi kita yang terpaksa berhutang, adalah bijaksana jika kita berusaha untuk mengurangi hutang yang ada dengan apa yang bisa dilakukan. Kita harus tetap bisa percaya bahwa Tuhan menilik setiap anakNya yang berseru minta tolong kepadaNya.

“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Amsal 22: 8 – 9

Mengasihi tanpa pamrih

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.” 1 Yohanes 4: 8 – 9

Teringat saya akan ucapan teman yang menyatakan pendapatnya tentang bagaimana orang beragama berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang diimaninya adalah satu-satunya yang benar. Menurut teman itu, orang beragama tidaklah jauh berbeda dengan seorang penjual produk, salesman, yang berusaha menjajakan barangnya dengan slogan “nomer satu”. Kecap nomer satu.

Memang ada benarnya bahwa setiap agama umumnya bersifat ekslusif, karena keselamatan hanya tersedia untuk pengikutnya. Walaupun demikian, beberapa kepercayaan mengajarkan bahwa ada banyak jalan ke surga, dan ada juga yang mengajarkan bahwa manusia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Wajarlah banyak orang bertanya: manakah ajaran yang benar dan siapakah Allah yang sebenarnya?

Iman Kristen mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci, yang tidak dapat dijangkau oleh manusia dengan usaha sendiri. Manusia dengan keterbatasan dan dosa mereka tidak dapat mengenali atau mendekati Tuhan, sekalipun sudah berusaha menunaikan amal ibadah mereka. Manusia tidak dapat membeli tiket ke surga. Ini adalah ajaran yang sangat berbeda dari banyak agama lain.

Hanya karena kasih Allah, manusia dapat mengenalNya. Ia yang mahasuci, yang tidak dapat didekati manusia, sudah menyatakan diriNya kepada umat manusia melalui Yesus Kristus. Yesus adalah pernyataan kasih Allah yang memungkinkan manusia untuk mengenal Dia sebagai Allah yang mahakasih. Melalui pengurbanan Yesus di kayu salib, mereka yang percaya dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa mereka.

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 10

Iman Kristen adalah iman yang percaya bahwa Allah itu kasih. Karena itu, orang yang sudah mengenal Allah akan terpanggil untuk mengasihi sesamanya. Banyak orang yang nampaknya saleh dan dermawan, dan mereka mungkin terlihat sering berkurban untuk Tuhan dan sesama. Tetapi mereka mungkin berbuat baik untuk keuntungan diri sendiri, supaya pahala mereka diterima Tuhan dan mereka bisa masuk ke surga. Selain itu, banyak orang cenderung untuk mengasihi orang-orang tertentu saja. Orang-orang yang sedemikian tentu bukanlah orang yang benar-benar mengenal Tuhan.

Orang yang mengenal Allah adalah mereka yang mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mereka tahu bahwa Allah mengasihi seisi dunia dengan mengurbankan AnakNya untuk ganti dosa mereka yang percaya. Karena itu, orang yang sudah diselamatkan bisa mengasihi Tuhan dan sesamanya tanpa pamrih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi.

Merdeka dalam Tuhan

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Setiap tahun bangsa Indonesia mengadakan peringatan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Malam sebelumnya, yaitu pada tanggal 16 Agustus, ada tradisi di tengah-tengah masyarakat yang masih dilaksanakan hingga kini yang disebut malam tirakatan. Tirakatan dilaksanakan di setiap RT atau desa. Masyarakat tua-muda berkumpul sambil membawa makanan masing-masing. Tirakatan bukanlah acara yang formal tetapi acara sosial sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia. Tirakatan  biasanya ditandai dengan kehadiran tumpeng yang diberi bendera merah putih berukuran kecil diatasnya.

Kemerdekaan atau freedom adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Tetapi kemerdekaan manusia bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian  adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya. Sebagai akibatnya, kemerdekaan yang ada di satu tempat belum tentu sama dengan kemerdekaan yang  ada pada tempat yang lain. Apa yang bisa diterima di satu tempat, belum tentu dianggap baik di tempat lain. Sebaliknya, apa yang dipandang buruk di satu tempat mungkin bisa diterima di tempat lain.

Karena setiap bangsa, suku dan masyarakat mempunyai standar, adat, etika, dan hukum yang berbeda dengan yang lain, orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Jika mereka melakukan hal-hal itu, tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka. Karena itu, Tuhan seolah mempunyai hukum yang berbeda di tempat yang berlainan.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNYa tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya. Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita.

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Jangan tergoda dan jangan menggoda

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Galatia 5: 16 – 17

Apakah anda penggemar Instagram? Instagram (juga disebut IG atau Insta) adalah sebuah aplikasi handphone untuk berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya secara instan ke berbagai layanan jejaring sosial. Instagram adalah salah satu fenomena media yang sekarang sangat populer di kalangan kaum muda untuk melampiaskan perasaan “narsis” yaitu keinginan untuk mengagumi diri sendiri. Kaum narsis dikatakan suka membuat foto diri sendiri pada setiap kesempatan untuk disebarkan melalui akun Instagramnya.

Selain untuk mencari popularitas, orang bisa menggunakan Instagram untuk mencari penghasilan. Mereka yang mempunyai banyak pengikut (followers), bisa menggunakan akunnya untuk mereklamekan produk tertentu. Dengan menggunakan Instagram untuk marketing orang bisa memperoleh penghasilan karena banyaknya orang yang mau melihat foto-foto yang berisi pesan-pesan komersial yang dirilis secara teratur. Publik yang melihat instagram para influencer itu tidak perlu tahu tentang latar belakang mereka. Berbeda dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh motivator, influencer tidak perlu banyak bersuara untuk mempengaruhi orang lain. Mereka tidak perlu mempunyai pendidikan tinggi, kebijaksanaan atau pola hidup yang baik. Asalkan instagram mereka cukup menarik dan sedap dipandang, orang bisa terpengaruh oleh pesannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, instagram atau foto instan itu sebenarnya ada sejak adanya manusia. Setiap saat manusia bisa melihat orang lain dan apa yang dikerjakan orang itu. Setiap saat orang lain bisa melihat kita dan apa yang kita kerjakan. Melalui apa yang bisa dilihat dari orang lain, orang kemudian bisa terpengaruh (influenced)  dan melakukan hal yang serupa. Melalui “instagram” yang diterbitkan orangtua dalam keluarga, anak-anak mereka bisa menjadi orang -orang yang mempunyai cara dan pandangan hidup tertentu. Demikian pula, melalui “instagram” atau perilaku kita, orang lain bisa meniru apa yang mereka lihat.

Ayat diatas memperingatkan kita agar tidak menuruti keinginan daging. Banyak orang yang mengira bahwa ini adalah soal seks. Tetapi keinginan daging bisa berupa apa saja yang bertentangan dengan keinginan Tuhan. Apa yang kita lihat dari orang lain bisa membuat kita terpikat dan menginginkan hal yang serupa. Demikian juga, apa yang dilihat orang dari diri kita bisa membuat mereka meniru kita. Mungkin itu soal kekayaan, kesuksesan, kebencian, kebiasaan dan berbagai kenikmatan yang bisa membuat orang ingin untuk mendapatkannya sekarang juga, dan dengan cara apa saja.

Pagi ini, Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap orang harus bertanggung-jawab atas apa yang diperbuatnya, baik apa yang bisa dilihat orang lain atau apa yang ditiru dari orang lain. Sebagai umat Kristen, kita adalah ciptaan yang baru didalam Tuhan. Karena itu, seharusnya orang bisa melihat apa yang baik memancar dari hidup kita. Demikian juga, sebagai orang yang sudah menerima pengampunan Tuhan, kita harus bisa memilih apa yang baik, yang bisa ditiru dari saudara-saudara seiman kita. Kita harus berhati-hati dengan “instagram” yang kita sampaikan kepada masyarakat, dan tidak mudah terpengaruh oleh “instagram” yang ada dalam mayarakat.