Orang sakit perlu dokter

Siapakah dapat berkata: “Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?” Amsal 20: 9

Bagi orang yang ingin memelihara kesehatannya, kunjungan ke dokter untuk full check-up adalah perlu, setidaknya setahun sekali. Jika pemeriksaan dokter menunjukkan adanya gejala penyakit tertentu, dokter biasanya akan melanjutkan pemeriksaan rutin itu dengan pemeriksaan khusus dan pengobatan sampai penyakit yang ada bisa disembuhkan atau diatasi.

Dalam kenyataannya, tidak semua orang mau pergi ke dokter secara rutin setiap tahun. Memang ada orang yang tidak atau kurang mampu untuk membayar biayanya; tetapi, sekalipun itu ditanggung asuransi, tetap saja ada orang-orang yang tidak mau ke dokter secara teratur. Mungkin mereka merasa sehat, atau mungkin merasa sudah betul-betul sembuh dari penyakit yang dialami sebelumnya. Mereka mungkin berpikir bahwa jika tidak ada tanda-tanda sakit, tubuh mereka sudah tentu sehat.

Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan orang yang percaya kepadaNya. Mereka yang tua ataupun muda, pria maupun wanita, kaya ataupun miskin, semuanya adalah orang-orang berdosa yang seperti orang sakit, membutuhkan tabib yang bisa menyembuhkan mereka.

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Sayang sekali, tidak semua orang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar dalam hidup mereka. Banyak orang yang merasa bahwa mereka mempunyai hidup yang baik, tidak pernah berurusan dengan hukum atau jikapun ada hal-hal yang kurang baik yang mereka lakukan, tidak ada seorang pun yang tahu akan hal itu. Dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai, orang Farisi melambangkan orang yang sakit tetapi merasa sehat. Dalam banyak hal, jika kita tidak berhati-hati, hidup kita bisa menyerupai hidup orang Farisi itu.

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12

Barangkali sebagai orang Kristen kita rajin ke gereja. Tetapi jika hidup kita di luar gereja tidak sejalan dengan firman Tuhan, kita mungkin masih tergolong orang yang sakit berat. Memang ada banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa karena mereka mengaku Kristen, sudah tentu hidup mereka berkenan kepada Tuhan. Tetapi, ayat pembukaan kita mempertanyakan keyakinan kita: Siapakah dapat berkata bahwa ia telah membersihkan hatinya, dan yakin bahwa ia bersih dari dosanya?

Alkitab menyebutkan bahwa semua orang dalam pandangan Tuhan adalah orang berdosa, seperti orang-orang yang sakit yang memerlukan perawatan dokter.

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Roma 3: 12

Setiap orang dengan demikian membutuhkan kesembuhan rohani melalui penebusan darah Kristus dan pemeliharaanNya setiap hari. Mereka yang sudah merasa pernah menerima Yesus dan kemudian dengan sengaja melupakanNya dalam hidup sehari-harinya, tidaklah berbeda dengan orang yang sudah merasa sehat untuk selamanya setelah menemui seorang dokter.

Pagi hari ini, jika kita mempersiapkan diri kita untuk ke gereja, biarlah kita mau meneliti hidup kita. Sudahkah kita hidup sebagai orang-orang yang pernah menerima kesembuhan dari penyakit dosa dalam hidup lama kita dan kini memiliki hidup baru bersama Kristus setiap hari?

Pernahkah Tuhan berubah pikiran?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Istilah “plin-plan” sudah lama dipakai di Indonesia, terutama untuk menggambarkan sifat seorang pemimpin yang kurang tegas dan sering berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Pemimpin yang sedemikian tentunya bukan pemimpin yang tegas dan bijaksana, karena keputusan yang dibuatnya sering dipengaruhi orang-orang yang disekitarnya. Oleh karena itu, mereka yang bekerja dibawah pimpinannya sering bingung dalam melaksanakan tugas mereka karena standar pemimpin yang berubah-ubah sesuai dengan arus angin. Apalagi, jika pemimpin itu tidak benar-benar kuat kedudukannya, ia mungkin juga harus sering mengubah keputusannya untuk menghindari komentar negatif dari bawahannya.

Jika ada banyak pemimpin dunia yang plin-plan, yang wishy-washy, bagaimana pula dengan Tuhan, Raja diatas segala raja? Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana dan mahatahu sudah tentu tidak pernah takut, ragu-ragu atau kuatir untuk melakukan tindakan apa saja yang perlu. Ia yang mahasempurna tentu bisa melakukan apa saja secara sempurna. Tambahan lagi, Ia yang mahabijaksana tidak membutuhkan nasihat manusia; dan karena Ia mahatahu, sudah tentu tidak perlu bagi umatNya untuk memberitahu Dia akan apa yang mereka butuhkan. Juga, karena Ia mempunyai rancangan agung untuk segala sesuatu, apapun yang terjadi di alam semesta tidak akan dapat mengubah rencanaNya.

Memang ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa dengan tindakan tertentu Tuhan akan tergerak untuk melakukan sesuatu untuk mereka, misalnya dengan berdoa, berpuasa dan ritual-ritual lainnya. Dengan demikian, mereka seolah menyatakan bahwa mereka kurang puas dengan apa yang dilakukan Tuhan saat ini. Secara tidak langsung mereka mungkin merasa lebih tahu tentang apa yang diperlukan, saat yang tepat dan tempat yang sesuai bagi Tuhan untuk bertindak. Sekalipun mereka mungkin sadar bahwa Tuhan mungkin mempunyai rencana yang berlainan dengan keinginan mereka, mereka mungkin berharap kalau-kalau Tuhan berubah pikiran.

Hal mungkin tidaknya Tuhan berubah pikiran sudah sering diperdebatkan secara teologi. Banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya. Tetapi, anggapan sedemikian adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan pimpinan dunia, manusia yang sering kuatir tentang popularitas mereka. Tuhan menurut ayat diatas adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusanNya atau plin-plan seperti manusia.

Pagi ini, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu agar Tuhan sadar akan keadaan kita. Mungkin kita akan memanjatkan doa yang panjang kepada Tuhan. Atau mungkin kita pergi menemui seseorang untuk minta bantuan agar Tuhan mau mendengarkan permintaan kita. Mungkin saja orang itu dikenal sebagai hamba Tuhan yang doanya manjur, atau mempunyai karunia untuk melakukan mujizat. Tetapi kalau memang demikian, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Dalam hal ini, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbinganNya yang disertai dengan rasa syukur.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 7 – 8

Jangan selalu mengharapkan mujizat

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22 – 23

Pernahkah anda menonton pertunjukan sulap yang benar-benar hebat? Memang ada banyak orang yang mampu memukau penonton dengan berbagai trik sulap yang luar biasa. Mereka adalah pesulap professional yang mencari uang dengan melakukan show di gedung pertunjukan, TV dan media. Semua orang yang menonton tahu bahwa mereka hanya melakukan tipuan mata, tetapi mengagumi bagaimana mereka bisa membuat apa yang tidak mungkin atau sulit terjadi, menjadi suatu yang nampaknya mudah dilakukan.

Serupa tapi tak sama, pada sekitar 3500 tahun yang lalu, Musa dan Harun pergi menghadap Firaun; lalu Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular (Keluaran 7: 10). Musa dan Harun melakukan semua itu sesuai dengan perintah Tuhan.

Firaun yang melihat tongkat Harun menjadi seekor ular, kemudian memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir dari Mesir; dan mereka pun, melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular-ular. Apa yang menakjubkan ialah tongkat Harun kemudian menelan tongkat-tongkat mereka.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari mujizat yang terjadi di depan Firaun ialah bukan hanya Tuhan, setan pun bisa membuat hal yang tidak sesuai dengan hukum alam. Memang diantara mujizat yang ada di bumi, ada yang membawa pengenalan akan kuasa dan kasih Tuhan, tetapi ada juga yang hanya membawa kemasyhuran dan kekayaan bagi orang-orang yang melakukannya. Selain itu ada hal-hal luar biasa yang justru bisa mencelakakan manusia. Tetapi yang benar-benar merupakan mujizat Tuhan adalah apa yang membawa kebaikan kepada umatNya dan kemuliaan bagiNya.

Dengan perintah Tuhan, semua umatNya sebenarnya bisa mendapat kemampuan untuk melakukan sesuatu yang ajaib untuk tujuan Tuhan yang spesifik. Tuhan Yesus dari awalnya menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan kabar keselamatan sambil melakukan berbagai mujizat. Tetapi mereka harus melakukan pelayanan itu tanpa pamrih- bukan untuk mencari uang.

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10: 7 – 8

Mujizat dengan demikian bukan monopoli orang-orang “istimewa” saja. Mujizat tidak juga harus terjadi pada orang beriman saja. Mujizat adalah salah satu cara Tuhan untuk membawa orang-orang yang dipilihNya, kearah pertobatan dan penyerahan hidup kepadaNya.

Mujizat adalah sesuatu yang luar biasa, tetapi mujizat yang sungguh besar ialah ketika seorang bisa bertobat dari dosanya dan menerima keselamatan melalui darah Kristus. Mujizat tidak dilakukan Tuhan pada setiap saat untuk mereka yang sudah benar-benar mengenalNya dan mempunyai kekuatan iman; tetapi pada saat yang tertentu, Tuhan bisa mendatangkan mujizat untuk menolong orang yang masih terasing dan menderita, agar mereka dapat melihat kebesaran Tuhan dan mau menjadi pengikutNya.

“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.” Markus 6: 12 – 13

Perlu kita sadari bahwa mujizat tidak selalu membawa orang kepada Tuhan karena bagi mereka yang mengeraskan hati seperti Firaun, apa yang jelas-jelas merupakan mujizat Tuhan tetap tidak dapat membawa perubahan hati. Pada pihak yang lain, mereka yang selalu mementingkan mujizat dan keajaiban seringkali terjebak kedalam kegembiraan dan pemujaan atas apa yang bisa dilihat mata saja.

Pada waktu Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, hanya satu diantara mereka, yaitu orang Samaria, yang kembali menjumpai Yesus untuk memuliakan Allah. Hanya satu diantara sepuluh yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata. Sembilan orang bergembira karena bisa melihat keajaiban, tetapi hanya satu yang bisa melihat Tuhan dibalik keajaiban. Karena itu Yesus berkata bahwa iman orang itu telah menyelamatkannya (Lukas 17: 15 – 19).

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang melakukan mujizat, bukan manusia. Karena itu, jika kita membutuhkan pertolongan dalam hidup, kita harus bergantung kepada Tuhan dan bukannya kepada orang-orang yang merasa sudah dipilih Tuhan untuk melakukan mujizatNya pada setiap saat yang mereka maui.

Sekalipun Tuhan tidak selalu membuat mujizat untuk umatNya, Ia mau memberi mereka ketabahan dan kekuatan. Tuhan tidak juga selalu membuat mujizat yang spektakuler untuk orang yang mencari Dia, tetapi tetap bisa membuka hati mereka sehingga bisa melihat keselamatan yang datang dari Kristus. Dengan demikian, pengharapan kita dalam hidup di dunia adalah kepada kasih Tuhan dan bukannya kepada mujizatNya saja. Kita harus juga sadar bahwa seringkali Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda dengan apa yang kita harapkan. Karena itu biarlah kita mau selalu berdoa agar kehendak Tuhanlah yang terjadi.

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Menyelami pikiran Tuhan

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Mazmur 139: 17 – 18

Matematika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang penting, tetapi seringkali membuat sebagian murid kurang menyukainya. Itu mungkin disebabkan oleh ciri ilmu itu yang memang membutuhkan banyak pemikiran dan latihan untuk dapat menggunakannya dengan baik. Teringat saya pada waktu taman kanak-kanak, guru saya mulai mengajarkan teknik hitung-menghitung, dimulai dengan apa yang sangat sederhana, seperti 1+ 1 = 2. Dengan bertambahnya umur, saya menjadi semakin mampu mengerjakan soal matematika yang jauh lebih rumit, sehingga saya bisa memahami bahwa 1 ditambah 1 belum tentu menjadi 2 karena semua itu tergantung konteks aplikasinya.

Banyak orang yang dalam hidup juga berpikir bahwa mereka dapat, dan bahkan harus menghitung-hitung segala tindakan dan keadaan untuk dapat menentukan hari depan. Masa depan kita ada di tangan kita, begitu ungkapan yang sering kita temui. Dalam hal ini kita mungkin pernah mendengar berbagai nasihat serupa dari berbagai motivator, orang ternama dan orang yang sukses bisnisnya. Bagi mereka, segala segi kehidupan dapat dan harus diperhitungkan seperti layaknya menghitung satu ditambah satu.

Ada pula orang-orang yang berpendapat bahwa hidup ini tidaklah semudah apa yang bisa dihitung atau diperhitungkan. Ada banyak faktor yang tidak diketahui, unknown factors, yang bisa mempengaruhi hasil usaha manusia. Mereka menyebutnya sebagai unsur keberuntungan atau luck yang tidak bisa diduga. Karena itu ada pendapat bahwa orang-orang yang tidak lucky hidupnya kurang berhasil sekalipun mereka sudah bekerja keras. Sebaliknya, ada juga orang yang sukses sekalipun nampaknya santai-santai saja. Itu semua hanya tergantung pada prinsip berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, atau being at the right place at the right time.

Walaupun demikian, ayat diatas menyatakan bahwa apa yang dikenal sebagai luck tidaklah ada. Mereka yang percaya faktor “untung” secara tidak langsung menolak kenyataan bahwa Tuhan mahakuasa dan mahabijaksana. Sebaliknya, untuk orang percaya, segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan. Dalam hal ini, jalan pemikiran Tuhan adalah sulit ditebak manusia karena Tuhan mempunyai banyak cara untuk mencapai tujuanNya. Jika manusia berusaha menerka apa yang akan dilakukan Tuhan dalam hidup mereka, itu adalah sesuatu yang sia-sia atau futile, jika Tuhan sendiri tidak mau menjelaskannya kepada mereka. Tuhan yang mahakuasa akan mewujudkan semua rancanganNya tanpa terpengaruh oleh tindakan manusia.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 56: 8 – 9

Pagi ini kita seharusnya menyadari bahwa sepandai-pandainya manusia, tidaklah mungkin baginya untuk menentukan masa depannya dengan keyakinan sendiri. Hidup ini tidak semudah prinsip menghitung satu tambah satu. Jika bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan hal ini bisa membawa kekuatiran, mereka yang mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang mahakasih akan hidup dan bekerja dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong mereka untuk memilih jalan yang benar dan untuk tetap tabah dalam menghadapi masa-masa sulit.

“‘Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Bertahan dalam iman

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4

Pagi ini saya membaca di media bahwa sebuah negara di Afrika mengalami kesulitan ekonomi yang besar sehingga rakyatnya resah. Selain sulitnya hidup karena 90 persen penduduknya tidak mempunyai pekerjaan, harga bensin sekarang mencapai Rp. 45 ribu seliter – harga bensin termahal sedunia. Memang rakyat negara ini sudah lama menderita, dan sekalipun orang-orang yang dulunya memerintah dengan tangan besi dan menghancurkan ekonomi sudah lenyap, mereka yang menggantikan belum bisa memperbaiki negara.

Sungguh menyedihkan jika kita membaca atau mendengar adanya penderitaan manusia di dunia. Apalagi jika kita melihat atau mengalaminya sendiri. Mengapa manusia harus menderita di dunia? Banyak diantara mereka yang sebenarnya hanya ingin hidup sederhana dalam suasana yang aman, sehat dan tenteram. Tidak membutuhkan kekayaan dan kemewahan. Tetapi hidup layak sebagai manusia tidaklah mudah dicapai.

Sebagai orang Kristen tentunya kita sadar bahwa sejak kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, umat manusia harus berjuang untuk bisa bertahan hidup di dunia. Dunia yang sudah terkontaminasi dengan dosa menjadi dunia yang penuh kekejaman, ketidakadilan dan penderitaan. Dengan demikian ada orang yang menderita berbagai penyakit, dan ada juga yang dianiaya orang lain, yang diperlakukan secara tidak adil dalam masyarakat, yang jujur tapi tidak berhasil, dan juga orang jahat yang kelihatan sukses dan nyaman hidupnya. Tuhan seolah menutup mata.

Memang dalam melihat semua penderitaan manusia, adalah mudah bagi kita untuk berkata bahwa semua itu sudah “nasib”. Kehendak Tuhan tidak dapat dibantah. Karena itu wajarlah kalau sebagian orang Kristen bertanya-tanya apakah Tuhan menghendaki semua ini terjadi pada umatNya. Tetapi dalam Alkitab jelas tertulis bahwa Tuhan itu mahakasih, bukan Tuhan yang kejam dan semena-mena (Yohanes 3: 16).

Tuhan yang mahakasih tentu tidak menghendaki kita menderita. Tetapi Tuhan yang mahaadil tidak memisahkan umatNya dari orang lain selama mereka hidup di dunia. Ia memberikan sinar matahari kepada siapapun juga, dan udara pun tersedia untuk seluruh umat manusia. Setiap umat manusia mempunyai cara hidup tersendiri, dan mereka akan memperoleh hasil yang berbeda-beda, sesuai dengan hukum dunia yaitu ketidakpastian. Apa yang terjadi di dunia sulit ditebak manusia.

Jika manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, sebagian orang akan menggunakan segala kesempatan untuk mencari kesuksesan dan kebahagiaan selagi masih bisa. Dunia yang kacau dan Tuhan yang seolah tidak mau ikut campur, memberi mereka dorongan untuk memikirkan diri sendiri saja selama hidup di dunia.

Tuhan dalam Alkitab bukanlah Tuhan yang lepas tangan atau yang tidak berdaya. Bumi dengan kekacauannya dan manusia dalam dosa mereka tidak bisa lepas dari pandangan mata dan kuasa Tuhan. Apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha melupakan kuasaNya di dunia. Tuhan bisa bekerja dengan bebas ditengah kekacauan dunia dan tetap memberi berkat dan kasihNya kepada semua umatNya.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Pagi hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita lebih mementingkan hidup umatNya dalam jangka panjang. Hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan hidup sesudahnya. Karena itu Tuhan bekerja untuk memberi kita iman yang makin kuat dalam keadaan apapun, bahwa Ia telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, dan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yaitu hidup di surga.

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6

Mengapa keselamatan merupakan karunia

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Kemarin, seorang sanak saya membeli sebuah cindera mata dari sebuah toko di Sydney. Penjual barang kemudian memberinya sebuah kupon seharga $14 yang bisa digunakan untuk membeli barang di toko lain. Apa yang mengecewakan adalah kenyataan bahwa kupon itu hanyalah tipuan saja, karena barang apapun yang ada di toko itu tidak ada yang lebih murah dari $34. Kelihatannya apa yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah barang yang berharga.

Jika ayat diatas mengatakan bahwa keselamatan diberikan kepada manusia secara cuma-cuma, sebagian orang berpendapat itu adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Kelihatannya begitu mudah untuk menjadi Kristen jika orang hanya harus percaya kepada Yesus. Bagaimana mungkin Tuhan memberi keselamatan secara cuma-cuma jika itu adalah sesuatu yang berharga? Bukankah tidak ada yang gratis di muka bumi?

Bagi banyak orang, seringkali juga ada pertanyaan mengapa orang Kristen tidak diharuskan melakukan berbagai ritual seperti pengikut agama lain. Lebih dari itu, orang Kristen sering nampak seperti orang sombong atau orang bodoh karena mereka percaya bahwa mereka sudah terpilih untuk diselamatkan tanpa harus menyumbangkan amal ibadah kepada Tuhan dan sesama. Mengapa orang Kristen tidak perlu membayar harga keselamatan mereka dengan berbuat sesuatu untuk Tuhan?

Dalam kenyataannya, hanya sebagian orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan mereka bukan hasil jerih payah mereka sendiri, tetapi semata-mata adalah pemberian Tuhan. Mereka yang mau menerima penebusan darah Kristus dan percaya bahwa Ia adalah Juruselamat, mendapat jaminan bahwa mereka akan ke surga setelah tugas di bumi selesai. Semua hal diatas bisa terjadi karena Tuhan yang mereka percayai adalah Tuhan yang mahaadil, mahasuci dan mahakasih.

Karena Tuhan adalah mahaadil, Ia tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Baik mereka yang kaya maupun miskin, baik mereka yang hidup di dunia barat ataupun timur, baik mereka yang kurang berpendidikan atau yang mempunyai berbagai gelar, baik mereka yang tergolong rakyat jelata ataupun yang tergolong ningrat, semua orang pada akhirnya harus menemui kebinasaan karena dosa mereka.

Selain mahaadil, Tuhan adalah mahasuci. Karena itu, manusia tidak dapat berbuat baik bagaimanapun untuk menjadi suci dan memenuhi standar kesucian Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada dosa kecil dan dosa besar, semuanya adalah dosa di mata Tuhan. Apapun amal ibadah yang kita lakukan tidak akan menebus hidup kita yang penuh dosa jika kita tidak percaya kepada penebusan melalui kematian Yesus di kayu salib.

Jika Tuhan hanya mahaadil dan mahasuci, manusia tidak dapat memperoleh jalan keluar dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi. Tetapi, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu tidak mau membiarkan ciptaanNya binasa. Hukuman untuk semua orang harus terjadi, kecuali ada yang bisa membayar harga tebusan yang sempurna. Manusia yang sebaik apapun tidak dapat menebus dosanya. Hanya satu oknum yang suci yang bisa melakukannya, yaitu Tuhan sendiri yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dengan kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya, ada jaminan bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup yang kekal di surga.

Pagi ini, kita harus sadar mengapa keselamatan hanya bisa terjadi sebagai karunia cuma-cuma dari Tuhan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Karunia kasih itu diberikan cuma-cuma karena kita sendiri tidak mampu menebus dosa kita. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menyombongkan kebaikan dan amal ibadah kita karena semua itu tidak ada harganya dalam konteks keselamatan. Hanya Yesus, Anak Allah, yang mampu melakukannya dengan membayarnya dengan harga tertinggi. Karena itu kita harus menunjukkan rasa syukur kita kepadaNya setiap hari melalui perbuatan dan kelakuan kita.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4

Aku datang, aku melihat dan aku percaya

“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.“ Yohanes 6: 37

Yakinkah anda akan masuk ke surga? Pertanyaan itu sering muncul di lubuk hati banyak orang, termasuk orang Kristen.

Bagi mereka yang bukan Kristen, mau tidak mau pertanyaan ini membuat mereka berpikir dalam-dalam, merenungkan apakah hidup mereka sudah cukup baik untuk bisa diterima Tuhan. Orang mungkin terpaksa menghitung-hitung apakah amal ibadah mereka sudah bisa dibilang cukup besar. Dan jika saatnya tiba bagi seseorang untuk meninggalkan dunia ini, orang-orang yang ditinggalkan biasanya mengenang kebaikan apa saja yang sudah diperbuat almarhum dan berharap agar beliau diberi tempat yang baik di surga. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang “baik” menurut standar manusia akan masuk ke surga. Surga tentunya adalah tempat yang sempurna dimana Tuhan yang mahasuci berada, dan bagaimana manusia bisa memenuhi syarat kesucian Tuhan adalah pertanyaan yang sulit dijawab.

Mereka yang mengaku Kristen, seharusnya mengerti bahwa keselamatan hanya dimungkinkan oleh darah Kristus yang telah menebus dosa apapun yang ada dalam diri seseorang. Walaupun demikian, Alkitab menulis bahwa tidak semua orang yang percaya adanya Tuhan akan diselamatkan, karena iblis pun percaya Tuhan itu ada (Yakobus 2: 19). Karena itu, keraguan orang mungkin muncul apakah Tuhan benar-benar mau menerima semua yang mengaku Kristen. Dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang berhak menerima atau menolak manusia, ada orang-orang yang mungkin kuatir bahwa mereka tidak cukup baik di mata Tuhan.

Mungkinkah Yesus menolak orang yang benar-benar ingin menjadi umatNya? Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa mereka yang datang kepada Yesus adalah orang-orang yang diberikan Bapa kepadaNya. Allah membuka mata hati mereka untuk bisa mengerti akan kebesaranNya, dan karena itu Yesus tidak mungkin menolak mereka. Diantara mereka yang datang kepada Yesus dan kemudian melihat Yesus sebagai Anak Allah, ada yang percaya dan menyerahkan hidup mereka kepadaNya. Merekalah yang akan diselamatkan. Tetapi, apa arti percaya?

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Pagi ini, mungkin kita pernah mendengar bahwa Yesus itu adalah guru yang baik, tokoh yang patut dihormati. Dengan demikian, kita mungkin sudah datang dan melihat Dia. Tetapi, pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang sudah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Dengan penebusan itu, kita yang tidak layak di mata Tuhan, mendapat pengampunan dari semua dosa kita. Dengan demikian, tidaklah perlu bagi kita untuk memikirkan apakah kita cukup baik bagi Tuhan.

Walaupun demikian, jika kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat kita , tentunya kita akan dengan sukacita melakukan apa yang difirmankanNya. Seperti Yesus menaati Bapa, kita seharusnya mempunyai kerinduan untuk taat kepada perintah Bapa dan hidup untuk memuliakanNya. Mereka yang sudah datang dan melihat Yesus dalam hidupnya, tetapi tidak merasakan adanya dorongan untuk hidup dalam kebenaran Kristus adalah orang yang belum benar-benar percaya kepadaNya. Sudahkah kita dalam hidup ini datang kepada Yesus, melihat Dia dan beriman kepadaNya?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21