“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
— Kolose 3:23

Ketika membaca Kolose 3:23, banyak orang langsung mengaitkannya dengan pekerjaan, pelayanan, atau tanggung jawab kepada orang lain. Memang benar, Paulus mengajarkan bahwa orang percaya harus bekerja dengan sungguh-sungguh dan setia, bukan untuk mencari pujian manusia, melainkan untuk menyenangkan Tuhan. Namun, prinsip yang terkandung dalam ayat ini jauh lebih luas. Jika segala sesuatu yang kita lakukan harus dilakukan seperti untuk Tuhan, maka hal itu juga mencakup cara kita memperlakukan diri sendiri.
Sering kali orang Kristen sangat bersemangat melayani orang lain tetapi kurang memperhatikan kesehatan tubuh dan jiwanya sendiri. Ada yang terus bekerja tanpa istirahat yang cukup. Ada yang mengabaikan kesehatan karena merasa terlalu sibuk. Ada pula yang segan mencari pertolongan ketika sakit karena menganggap hal itu kurang rohani. Akibatnya, tubuh menjadi lemah, pikiran menjadi letih, dan kehidupan rohani pun ikut terdampak.
Padahal Alkitab mengajarkan bahwa tubuh kita adalah milik Tuhan. Kita bukan pemilik mutlak atas diri kita sendiri. Tubuh yang kita miliki adalah anugerah dan sekaligus tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Karena itu, memelihara kesehatan bukanlah tindakan yang egois, melainkan bagian dari pengelolaan yang setia terhadap apa yang Tuhan berikan.
Kita sering memahami bahwa mengasihi sesama berarti berkorban bagi orang lain. Memang demikian. Namun Alkitab juga berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Bagaimana bisa benar-benar mengasihi orang lain jika kita tidak tahu apa yang perlu untuk diri sendiri? Perintah ini mengandung pengertian bahwa seseorang yang bijak dalam hal jasmani, emosional, dan rohani akan lebih mampu mengasihi dan melayani orang lain dengan baik. Lagi pula, sulit untuk terus melayani dengan sukacita jika tubuh terus-menerus kelelahan atau jika jiwa dipenuhi kepahitan dan keputusasaan.
Menarik untuk memperhatikan pengalaman nabi Elia. Setelah mengalami kemenangan besar di Gunung Karmel, ia justru jatuh dalam kelelahan yang mendalam. Ia begitu putus asa hingga ingin mati. Namun Tuhan tidak langsung menegurnya atau menyuruhnya bekerja lebih keras. Sebaliknya, Tuhan terlebih dahulu menyediakan makanan, minuman, dan waktu istirahat baginya. Setelah tubuhnya dipulihkan, barulah Tuhan berbicara dan menguatkan kembali pelayanannya. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani sering kali saling berkaitan.
Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga pola makan yang baik, beristirahat secukupnya, berolahraga sesuai kemampuan, memeriksakan kesehatan ketika diperlukan, dan mengikuti pengobatan yang tepat bukanlah tanda kurang iman. Sebaliknya, sering kali itu menyatakan keberanian dan tanggung jawab dalam iman. Semua itu dapat menjadi bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Kita tetap berdoa memohon kesembuhan dan pertolongan-Nya, tetapi kita juga mau menggunakan sarana yang telah Dia sediakan melalui ilmu pengetahuan, tenaga medis, dan berbagai bentuk perawatan. Kita tidak selalu mengharapkan Tuhan untuk melakukan keajaiban, tetapi untuk selalu memberi kita kebijaksanaan.
Hal yang sama berlaku bagi jiwa kita. Tubuh yang sehat saja tidak cukup. Kita juga perlu memelihara kehidupan rohani melalui doa, pembacaan Firman Tuhan, persekutuan dengan sesama orang percaya, dan waktu teduh bersama Tuhan. Jiwa yang terus dipenuhi Firman akan lebih kuat menghadapi tekanan hidup dan lebih peka terhadap kehendak-Nya.
Pada akhirnya, Kolose 3:23 mengingatkan bahwa seluruh hidup kita adalah untuk Tuhan. Bukan hanya pekerjaan kita, bukan hanya pelayanan kita, tetapi juga cara kita merawat tubuh dan jiwa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita. Ketika kita menjaga kesehatan, beristirahat dengan bijaksana, dan memelihara kehidupan rohani dengan setia, kita sedang melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.
Semoga renungan ini mengingatkan kita bahwa memelihara tubuh dan jiwa bukanlah tindakan yang berpusat pada diri sendiri, melainkan bagian dari kesetiaan kepada Tuhan. Tubuh yang terpelihara dan jiwa yang diperbarui oleh Firman akan lebih siap untuk mengasihi keluarga, melayani sesama, dan memuliakan Kristus dalam setiap musim kehidupan.
“Karena itu, baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
— 1 Korintus 10:31
Doa Penutup
Bapa Surgawi, terima kasih untuk tubuh dan kehidupan yang Engkau percayakan kepada kami. Ampunilah kami jika selama ini kami kurang bijaksana dalam memelihara kesehatan jasmani maupun rohani kami. Ajarlah kami untuk melihat tubuh kami sebagai milik-Mu dan mengelolanya dengan setia.
Berikan kami hikmat untuk menjaga kesehatan, kerendahan hati untuk menerima pertolongan ketika kami membutuhkannya, dan disiplin untuk memelihara kehidupan rohani kami setiap hari. Tolong kami agar tidak hanya sibuk melayani orang lain, tetapi juga menjaga diri kami sehingga dapat terus melayani-Mu dengan sukacita dan kesetiaan.
Kiranya dalam segala sesuatu yang kami lakukan—bekerja, beristirahat, melayani, maupun merawat diri—nama-Mu dimuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.