“Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”” — Lukas 5:8

Simon Petrus adalah seorang nelayan berpengalaman. Ia mengetahui kapan dan di mana ikan biasanya dapat ditangkap. Namun, setelah bekerja sepanjang malam, ia tidak memperoleh apa-apa. Ketika Yesus menyuruhnya bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya sekali lagi, Simon sebenarnya mempunyai alasan untuk meragukan perintah tersebut. Bagaimanapun, ia adalah nelayan, sedangkan Yesus dikenal sebagai seorang pengajar. Meskipun demikian, Simon memilih untuk menaati perkataan Yesus. Hasilnya sungguh luar biasa. Mereka menangkap begitu banyak ikan sehingga jala mereka mulai koyak dan kedua perahu hampir tenggelam karena penuh dengan ikan.
Apa yang terjadi kemudian jauh lebih menarik daripada mukjizat penangkapan ikan itu sendiri. Ketika melihat peristiwa tersebut, Simon Petrus tersungkur di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Mengapa Simon memberikan respons demikian? Ia tentu kagum terhadap kuasa Yesus. Namun, kekagumannya tidak berhenti pada keajaiban yang baru saja disaksikannya. Ia mulai menyadari bahwa Yesus bukan manusia biasa. Di hadapan kuasa dan kemuliaan-Nya, Simon juga semakin menyadari keadaan dirinya sendiri. Ia melihat betapa kecil, terbatas, dan berdosanya dirinya dibandingkan dengan Pribadi yang sedang berdiri di hadapannya. Perjumpaan dengan kebesaran Tuhan membawa Simon kepada kesadaran akan keberdosaannya sendiri.
Sesungguhnya, inilah salah satu persoalan mendasar manusia. Banyak orang menikmati keindahan dan keajaiban alam semesta, tetapi tidak pernah memikirkan Sang Penciptanya. Mereka melihat langit yang luas, lautan yang dalam, keteraturan alam, dan kehidupan yang begitu kompleks, tetapi menganggap semuanya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, Mazmur 19:2 mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Ciptaan seharusnya mengarahkan perhatian kita kepada Sang Pencipta.
Paulus menjelaskan dalam Roma 1:20 bahwa kuasa dan keilahian Allah yang tidak kelihatan dapat dipahami melalui karya penciptaan-Nya. Namun, manusia sering kali tidak memberikan kemuliaan kepada Allah. Ia lebih suka mengandalkan kemampuan, pengetahuan, dan pencapaiannya sendiri. Bahkan, ada yang merasa tidak membutuhkan Tuhan karena menganggap dirinya mampu menentukan jalan hidup dan standar kebenarannya sendiri.
Ketika manusia tidak lagi menyadari kebesaran Tuhan, ia juga kehilangan kesadaran akan kekecilan dirinya. Ia mudah merasa dirinya selalu benar, sulit menerima teguran, enggan mengakui kesalahan, dan tidak merasa membutuhkan pertobatan. Amsal 16:2 mengingatkan bahwa segala jalan manusia tampak bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
Namun, persoalan ini bukan hanya milik mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Kita yang mengaku sebagai orang Kristen pun dapat terjebak dalam sikap yang sama. Kita mungkin rajin beribadah, membaca Alkitab, dan berdoa, tetapi masih mengandalkan kemampuan sendiri, sulit mengakui kesalahan, dan kurang bersedia mengoreksi kehidupan. Kita bisa mengagumi berkat Tuhan tanpa sungguh-sungguh mengagumi Sang Pemberi berkat.
Menariknya, ketika Simon meminta Yesus menjauh darinya, Yesus justru berkata, “Jangan takut.” Yesus tidak menolak Simon karena keberdosaannya. Sebaliknya, Ia memanggil Simon untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Kesadaran akan dosa bukan dimaksudkan untuk membuat kita melarikan diri dari Tuhan, melainkan membawa kita kepada-Nya dengan hati yang bertobat dan bergantung pada anugerah-Nya.
Hari ini, kita tidak perlu menunggu mengalami mukjizat luar biasa untuk menyadari kebesaran Tuhan. Melalui firman-Nya, karya penciptaan, dan bahkan keterbatasan hidup kita sehari-hari, Tuhan mengingatkan siapa diri-Nya dan siapa kita. Semakin kita mengenal kekudusan dan kebesaran-Nya, semakin kita menyadari bahwa tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Orang yang sungguh-sungguh menyadari kebesaran Tuhan tidak akan membesarkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia akan semakin merendahkan hati, mengakui keberdosaannya, dan hidup dalam ketergantungan kepada anugerah-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, ampunilah kami apabila selama ini kami terlalu sibuk mengagumi diri sendiri sehingga lupa mengagumi kebesaran-Mu. Ajarlah kami melihat kemuliaan-Mu melalui ciptaan dan karya-Mu, serta menyadari keterbatasan dan keberdosaan kami. Jauhkanlah kami dari kesombongan dan sikap merasa selalu benar. Berikanlah hati yang rendah hati, bersedia menerima teguran, mengakui kesalahan, dan bertobat. Terima kasih karena di tengah ketidaklayakan kami, Engkau tetap menyatakan anugerah melalui Yesus Kristus. Mampukanlah kami menjalani hidup yang senantiasa memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.








