“Tetapi Roh Tuhan telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada Tuhan.” 1 Samuel 16:14

Kisah Raja Saul adalah salah satu kisah paling menyedihkan dalam Alkitab. Ia pernah dipilih, diurapi, dan dipakai Tuhan untuk memimpin Israel. Namun karena ketidaktaatan yang terus-menerus, ia kehilangan perkenanan Tuhan. Roh Tuhan mundur darinya, dan hidup Saul mulai dipenuhi kegelisahan, ketakutan, serta kekacauan batin.
Ada banyak penafsiran mengenai kalimat “roh jahat yang dari pada Tuhan.” Sebagian melihatnya sebagai tindakan supranatural, sebagian lain memahaminya sebagai gambaran keadaan jiwa Saul yang runtuh setelah ditinggalkan Tuhan. Apa pun pendekatan penafsirannya, satu hal jelas: Saul sedang mengalami penderitaan nyata. Hatinya tidak lagi tenang. Ia kehilangan damai yang dahulu pernah ia rasakan.
Namun yang menarik, bahkan di tengah penghakiman, Tuhan masih menunjukkan belas kasihan.
Alkitab mencatat bahwa ketika Saul tersiksa, Daud dipanggil memainkan kecapi baginya:
“Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.” 1 Samuel 16:23
Perhatikan hal ini baik-baik. Tuhan tidak membiarkan Saul tenggelam tanpa pertolongan. Di tengah hukuman, masih ada jeda. Di tengah disiplin, masih ada kelegaan. Di tengah kegelapan, masih ada nada penghiburan.
Tuhan memberi Saul masa “cooling-off,” waktu tenang untuk berpikir, merenung, dan mungkin bertobat. Tuhan juga memulihkan kekuatan fisiknya untuk sementara. Kata yang dipakai menunjukkan bahwa Saul menjadi lebih baik, lebih lega, lebih berfungsi kembali. Ini adalah kemurahan Tuhan yang sering tidak kita sadari: Ia tidak menghancurkan sekaligus, tetapi memberi ruang untuk sadar dan kembali.
Lebih dalam lagi, Tuhan menghadirkan Daud ke sisi Saul. Ironisnya, Daud adalah raja masa depan yang telah diurapi diam-diam untuk menggantikannya. Raja baru berdiri di samping raja lama. Orang yang kelak menggantikan Saul justru sekarang melayani Saul.
Betapa ajaib cara kerja Tuhan.
Daud bukan sekadar pemain musik berbakat. Ia adalah orang yang dipenuhi Roh Tuhan. Ketika Daud bermain, hadirat damai menyertai dirinya. Saul menikmati keteduhan yang datang melalui seseorang yang dipilih Tuhan.
Di sini kita melihat gambaran indah tentang karya Kristus.
Seperti Daud berdiri di antara Saul dan penderitaannya, demikian Yesus berdiri di antara kita dan hukuman dosa kita. Ia menjadi Pengantara. Ia memikul beban yang seharusnya kita tanggung, supaya kita menerima damai yang tidak layak kita peroleh. Ketika jiwa kita gelisah, Kristus datang membawa ketenangan. Ketika hati kita penuh tuduhan, Kristus datang membawa pengampunan. Ketika kita layak dihukum, Ia menawarkan belas kasihan.
Mungkin hari ini kita sedang menuai akibat dari keputusan yang salah. Mungkin ada kegelisahan yang lahir dari dosa, kebodohan, atau pemberontakan kita sendiri. Jangan lupa: jika Tuhan masih memberi napas, masih ada belas kasihan. Jika hati masih bisa disentuh, masih ada kesempatan bertobat. Jika firman masih berbicara, pintu pemulihan belum tertutup.
Jangan keraskan hati seperti Saul, yang menikmati kelegaan sesaat tetapi tidak sungguh-sungguh berubah. Datanglah kepada Kristus, Sang Raja sejati, yang bukan hanya menenangkan sementara, tetapi menyelamatkan untuk selamanya.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur karena belas kasihan-Mu tetap nyata bahkan ketika kami pantas menerima hukuman.
Ampunilah dosa dan pemberontakan kami. Jangan biarkan kami seperti Saul yang hanya mencari kelegaan, tetapi tidak bertobat sungguh-sungguh.
Bawalah kami datang kepada Yesus, Pengantara kami, sumber damai dan pemulihan sejati. Tenangkan hati kami yang gelisah, pulihkan jiwa kami yang lelah, dan ajar kami hidup taat kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.








