Bergembira sekalipun menderita

“Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Kisah Para Rasul 5: 40 – 41

Pada saat ini, sekitar 2400 juta orang yang menganut agama Kristen atau sekitar 33% dari penduduk dunia. Jika orang membaca kisah kematian dan kebangkitan Kristus, mungkin mereka heran bagaimana apa yang terjadi di Israel pada waktu itu kemudian bisa membuat banyak orang menjadi pengikut Kristus.

Bagaimana kabar baik, bahwa melalui Yesus umat manusia bisa memperoleh keselamatan, bisa menyebar ke seluruh bangsa di dunia dalam waktu 2000 tahun? Bagaimana kepercayaan Kristen bisa berkembang dari apa yang dianut bangsa Yahudi saja, menjadi satu agama yang paling besar penganutnya di dunia? Hal ini bukan saja sesuatu yang menarik untuk dipelajari oleh ahli sejarah, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Ini bukanlah hal yang biasa, tetapi tentu terjadi hanya karena kehendakNya.

Kematian Kristus di kayu salib adalah kulminasi kejahatan manusia kepada Tuhan. Dengan menyalibkan Yesus, manusia membunuh Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Jika penderitaan murid-murid Yesus sudah berlangsung sebelum penyaliban Yesus, sejak kebangkitanNya penderitaan mereka makin bertambah karena banyak orang yang kuatir bahwa Yesus dan kemenanganNya atas maut akan mempengaruhi opini masyarakat. Penderitaan itu tidaklah mengherankan pengikutNya karena itu sudah pernah dinyatakan Yesus sebelum kematianNya.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Dalam kenyataannya, penderitaan umat Kristen itulah yang membuat banyak orang menjadi heran bagaimana mereka tetap setia kepada Yesus sekalipun harus menderita. Bahkan ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa murid-murid Yesus bersukacita dengan adanya penganiayaan, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Yesus tentunya adalah Tuhan yang memberi kekuatan dan ketabahan kepada murid-muridNya!

Pagi ini, bagaimanakah perasaan anda atas hidup ini? Adakah perasaan bahwa sebagai orang Kristen anda mengalami perlakuan yang tidak baik atau tidak adil oleh orang-orang di sekitar anda? Apakah orang lain menganggap anda sebagai orang yang “aneh” jika anda tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Apakah anda diberi julukan “fanatik” ketika anda ingin menjalankan ibadah anda dengan sebaik-baiknya? Semua itu memang terasa berat, tetapi banyak orang Kristen yang mengalami apa yang jauh lebih berat, seperti kematian dan berbagai siksaan di tangan orang-orang yang membenci Kristus. Kita yang percaya kepada Kristus harus percaya bahwa semua itu bisa membawa kemuliaan bagi Dia dan iman yang teguh bagi seluruh umatNya jika kita tetap setia kepadaNya.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Kebangkitan Kristus adalah jaminan masa depan

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15:14

Teringat saya sewaktu berada di Jepang, dengan teman-teman seuniversitas saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal jika lagi senggang. Salah satu bahan pembicaraan adalah mengenai agama dan hidup sesudah mati (life after death). Walaupun kebanyakan teman saya bukan orang religius, seperti orang Jepang lainnya secara tradisi mereka mengaku beragama Shinto dan Budha. Agama Shinto karena itu bermanfaat untuk bisa hidup bahagia di dunia, agama Budha karena itu berguna untuk bisa hidup di surga sesudah mati. Dengan berbekal dua agama ini, mereka merasa siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan.

Bagi kita yang mengikut Kristus, hidup di dunia ataupun di surga adalah berada dalam tangan Tuhan yang mahakuasa. Sebagai ciptaan Tuhan, kita bisa mengharapkan penyertaanNya selagi kita masih hidup di dunia, tetapi kita juga berharap kepada Tuhan yang sama untuk masa depan yang cerah di surga sesudah hidup di dunia ini selesai. Walaupun demikian, iman Kristen tidaklah mengajarkan bahwa hidup kita di dunia ini akan selalu berkelimpahan. Sebaliknya, kita tahu bahwa didalam Tuhan kita akan dikuatkan dalam segala tantangan dan penderitaan selama kita hidup di dunia.

Jika hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan, orang Kristen menyadari bahwa itu bukanlah yang utama. Karena segala sesuatu yang ada di bumi hanyalah sementara, Yesus mengajarkan agar kita mencari apa yang tidak bisa lenyap, yaitu kebahagiaan di surga. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa manusia mempunyai hidup dalam bentuk lain sesudah kematian jasmani. Adakah bentuk kehidupan yang sesuai dengan keadaan di surga?

Bagaimana orang bisa yakin bahwa ada hidup sesudah kematian? Dan bagaimana orang bisa yakin bahwa ia bisa hidup lagi dan bisa ke surga sesudah mati? Tidak ada seorangpun di dunia yang pernah hidup, mati, untuk kemudian bangkit dan naik ke surga. Kecuali Yesus Kristus. Yesus yang turun ke dunia sebagai manusia yang sepenuhnya, Ia jugalah yang kemudian mati disalib dan dikuburkan sebagaimana layaknya manusia. Walaupun begitu, Yesus yang mati kemudian bangkit pada hari yang ketiga, dan itu membuktikan bahwa ada kehidupan yang lain sesudah kematian.

Kebangkitan Yesus juga merupakan pemenuhan janjiNya bahwa seperti Ia bangkit, mereka yang percaya kepadaNya juga akan dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia di surga. Itu adalah janji Tuhan yang benar-benar akan terjadi, karena itu sudah ada terbukti dengan adanya saksi mata, yaitu murid-murid Yesus yang menjumpai kubur yang kosong dan kemudian bertemu dengan Dia yang mempunyai tubuh yang tidak lagi berupa tubuh jasmani.

Pagi hari ini kita merayakan hari kemenangan Yesus atas maut. Dengan kebangkitanNya, iman kita bukanlah hal yang sia-sia. Dosa kita sudah ditebus oleh kematianNya, dan karena kebangkitanNya kita mempunyai harapan masa depan untuk bisa bersama dengan Dia di surga sesudah tugas kita di dunia berakhir. Haleluya!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Karena Yesus, Tuhan terasa dekat

“Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.” Lukas 23: 44 – 45

Jika anda adalah penggemar opera, pertunjukan musik dan balet, mungkin anda ingat bahwa panggung pertunjukan tradisional umumnya mempunyai tabir (curtain). Tetapi banyak gedung pertunjukan modern di dunia yang sekarang tidak lagi mempunyai tabir seperti itu.

Pada zaman sebelum kematian Yesus, bait suci di Yerusalem juga mempunyai tabir yang menutupi ruang mahakudus. Ruang yang didedikasikan kepada Allah ini hanya bisa dimasuki imam besar saja, hanya sekali dalam setahun, guna membawa persembahan untuk pendamaian dengan Allah (Keluaran 30: 10). Jabatan imam besar berakhir ketika bait suci dihancurkan tentara Romawi yang dipimpin Titus pada tahun 70 M.

Ayat diatas menuliskan kejadian yang terjadi pada saat Yesus disalibkan. Mulai tengah hari, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Allah memperlihatkan murkaNya kepada manusia, dan menunjukkan bahwa manusia tidak mempunyai harapan kecuali jika mereka mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Suatu keajaiban lain kemudian terjadi, tabir Bait Suci terbelah sehingga ruang mahakudus ini tidak lagi tersembunyi dari mata pengunjung bait Allah. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Lukas 23: 46).

Di Golgota, suara-suara orang yang mempercakapkan hal penyaliban Yesus menjadi terhenti, dan mereka menjadi takut. Yesus ternyata bukanlah orang biasa, Ia adalah orang yang benar. Yesus adalah Tuhan, seperti apa yang sudah dinyatakanNya selama Ia hidup di dunia.

Bagi kita orang yang mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat kita, Allah sudah mengampuni dosa kita. Kita yang berdosa sudah mati dan dikubur bersama Yesus, untuk menerima keselamatan dalam kebangkitanNya. Lebih dari itu, kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita karena dalam darah Kristus kita sudah diangkat menjadi anak-anakNya. Dengan terbelahnya tabir bait suci, kita sudah diberi anugerahNya untuk bisa berkomunikasi dengan Dia secara langsung.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memberi kita hak untuk menghadap tahtaNya dengan keyakinan bahwa Ia akan mau menerima kita. Sekalipun kita adalah orang yang berdosa, darah Yesus sudah mencuci bersih hidup lama kita. Dengan hidup baru, kita tidak lagi dengan ketakutan menghadapi tabir yang menutupi Tuhan, tetapi bisa dengan rasa hormat, syukur dan penuh kasih berdoa kepadaNya pada setiap saat. Kasih Tuhan sekarang bisa memancar langsung kepada kita anak-anakNya dari semua bangsa di dunia yang sudah diselamatkan!

Yesus menderita untuk kita

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.

Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.

Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.

Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah bisa dibandingkan dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia.

Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.

Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib membuktikan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!

Mengapa Ia diam saja?

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53: 7

Australia adalah negara peternak domba nomer dua sedunia. Banyak domba yang  diekspor ke luar negeri melalui jalur laut, kemudian di proses oleh abatoar setempat guna dijadikan daging konsumsi manusia. Sekalipun tujuan akhir dari ekspor itu adalah pengadaan daging, pemerintah Australia cukup dibuat rikuh dengan adanya berita yang muncul akhir-akhir yang menunjukkan adanya malpraktek terhadap domba-domba Australia di beberapa negara yang mengimpor domba itu. Domba-domba yang seharusnya dipelihara dengan baik sebelum saat penyembelihan sering diperlakukan dengan tidak semestinya, dan cara penyembelihannya juga dianggap tidak manusiawi. Domba-domba yang malang itu seringkali terlihat seperti makhluk yang tidak berdaya dalam cengkeraman manusia yang kejam.

Ayat diatas menggambarkan bagaimana seekor domba mengalami penderitaan di tangan manusia. Domba itu dianiaya, tetapi dia tidak membuka mulutnya. Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang tidak dapat bersuara di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia hanya berdiam diri. Apa yang mengherankan ialah domba yang tidak berdaya itu sebenarnya adalah oknum yang mahakuasa.

Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Anak Allah yang berwujud manusia. Sebagai manusia ia adalah sepenuhnya seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Anak Allah, Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi ia tidak menggunakan kemahakuasaanNya sebagai sesuatu yang menguntungkan diriNya sendiri, tetapi Ia justru merendahkan diri sehingga dapat merasakan segala penderitaan kita. Sebagai Tuhan, Ia sudah membuat berbagai macam mujizat yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa.

Adalah satu hal yang paling menakjubkan yang dapat kita lihat dari Anak Domba Allah ini. Pada hari menjelang penyalibanNya, kita mengenang betapa hebatNya pergumulan Yesus di taman Getsemane. Sang Domba yang tidak bersalah akan menghadapi kematian yang mengerikan, yang seharusnya dialami oleh seluruh umat manusia. KeringatNya mengucur deras seperti darah, dan hatiNya hancur karena Ia menyadari bahwa sebentar lagi murka Allah kepada umat manusia harus ditanggungNya di kayu salib.

Mengapa Yesus mau berkurban untuk umat manusia? Mengapa Ia yang mahakuasa tidak membuka mulutNya atau melawan mereka yang ingin menyalibkanNya? Mengapa Ia menghadapi kematian di kayu salib dengan kerelaan dan bahkan menyerahkan diriNya sepenuhnya kepada mereka yang ingin membunuhNya?

Sebagai manusia kita tidak dapat membayangkan bahwa semua ini terjadi karena kasih Tuhan yang sangat besar kepada seluruh umat manusia. Tuhan melihat kejatuhan manusia kedalam dosa dan tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk menghindarkan manusia dari hukuman yang sepadan dengan dosanya. Pemberontakan kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci harus diberi hukuman yang setimpal: kematian dalam bentuk yang paling mengerikan.

Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa tahan menghadapi hukuman Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa terlepas dari hukuman kecuali ada orang yang tidak berdosa, yang menggantikan seluruh umat manusia. Tebusan yang sangat besar karena seluruh umat manusia tersangkut didalam dosa kepada Tuhan yang mahasuci hanya bisa dibayar dengan harga tertinggi: Anak TunggalNya.

Hari ini, jika kita merenungkan penderitaan yang sudah dialami Yesus, kita mungkin takjub akan besarnya kasih Tuhan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan dengan kasihNya ingin menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi kita sadar bahwa dengan keadilanNya Ia harus menghukum mereka yang tetap tidak percaya kepada AnakNya. Biarlah kita boleh hidup dalam rasa syukur atas besarnya kemurahan Tuhan kepada kita dan mau membagikan kabar baik ini agar makin banyak orang yang diselamatkan!

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

 

Jangan mudah terkecoh

“Ketika aku memberi perhatianku untuk memahami hikmat dan melihat kegiatan yang dilakukan orang di dunia tanpa mengantuk siang malam, maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” Pengkhotbah 8: 16 – 17

Kejadian terbakarnya katedral Notre Dame di Paris kemarin dulu adalah berita yang membuat banyak orang merasa masygul. Sebagian orang merasa sedih karena bangunan yang  sudah berumur ratusan tahun itu merupakan bentuk arsitektur yang luar biasa. Mereka yang merasa ikut memiliki gedung gereja itu merasa sedih karena kerusakan berat yang sudah terjadi.

Sebagaimana biasa, kejadian yang diluar kontrol manusia yang muncul di dunia ini selalu ditanggapi oleh sebagian orang menurut pandangan pribadi mereka. Ada yang berpikir bahwa sebuah musibah seperti diatas adalah tanda kemarahan Tuhan, tetapi ada yang berpendapat bahwa manusialah yang menyebabkannya. Selain itu, ada orang yang menghubungkannya dengan hal-hal lain yang menunjuk pada datangnya akhir zaman, dan ada juga yang mengartikan bahwa semua itu hanyalah kecelakaan.

Mengapa orang bisa mempunyai obsesi yang besar tentang apa yang dipikirkan Tuhan? Memang, jika kita lihat dari awalnya, Adam dan Hawa berbuat dosa di taman Firdaus karena hal yang sama. Mereka melanggar perintah Tuhan karena mereka ingin seperti Tuhan. Manusia merasa puas jika ia dapat melihat apa yang akan terjadi, dapat menilai baik dan buruknya situasi, dan dapat mengambil tindakan dini (pre-emptive action) untuk mengatasi segala persoalan.

Sebenarnya, dengan keinginan manusia untuk memperkirakan apa yang akan terjadi, untuk mengartikan apa yang sudah terjadi dan untuk mempersiapkan diri untuk masa depan itu tidak ada salahnya jika dilakukan dalam batas-batas yang wajar sebagai manusia. Setiap manusia diberi kebebasan atau freedom oleh Tuhan untuk mengatur hidupnya. Banyak ilmu pengetahuan yang sekarang ada mempunyai cara-cara tertentu untuk mengamati keadaan, mengukur apa yang terjadi, dan kemudian membuat prognosis atau perkiraan, dan juga plan atau rencana untuk masa depan. Ilmu kedokteran misalnya, bisa menilai kesehatan seseorang dan membuat perkiraan tentang keadaan dan rencana perawatan untuk tahun-tahun mendatang. Tetapi, dari ayat diatas  kita sadar bahwa manusia sebenarnya tidak tahu apa yang  direncanakan dan diperbuat Tuhan.

Mereka yang gemar mendengar “ramalan” orang-orang tertentu untuk masa depan, atau yang suka mengartikan “tanda-tanda ajaib”, mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan dengan kebesaranNya tidak dapat diukur manusia. Apa yang dilakukan dan direncanakanNya, selain apa yang tertulis dalam Alkitab, tidaklah dapat kita ketahui detailnya. Selain itu, apa yang tertulis dalam Alkitab pun tidak mudah bagi kita untuk mengartikannya. Memang, jika semua yang direncanakan Tuhan di bumi dan di surga mudah diketahui dan dipelajari, tentu saja iblis akan mudah untuk menghindarinya atau mengacaukannya. Begitu juga, jika segala tindakan Tuhan mudah diterka manusia, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana karena manusia akan selalu dapat menanggapinya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Kristen kita tidak boleh mudah dipengaruhi oleh  berbagai pendapat dan pandangan manusia atas apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi di dunia. Mereka yang ingin mencoba untuk meramalkan apa yang akan terjadi hanyalah bisa melakukannya sebatas kekuatan manusia. Mereka yang mengaku atau dikenal sebagai orang yang dapat melihat ke masa depan mungkin saja sudah dipengaruhi oleh kuasa gelap. Memang orang yang mudah dipengaruhi oleh berbagai pendapat yang tidak benar dan kebohongan, akan mudah teombang-ambing dalam hidup dan iman mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang benar-benar beriman, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang memegang kendali dan karena itu mereka tidak akan mudah terperosok kedalam tipu muslihat iblis.

Apakah anda merasa beruntung atas hidup anda?

“Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Matius 13: 16

Beberapa saat yang silam ada seseorang yang bertanya kepada saya apakah saya merasa beruntung dalam hidup saya. Pertanyaan yang singkat itu tidak mudah saya jawab tanpa menyebabkan jawaban saya seolah-olah terlalu bernada “rohani”. Tetapi saya tidak juga dapat menjawab bahwa saya merasa beruntung karena bisa hidup dibawah atap dan tidak perlu mengalami kelaparan. Jawaban seperti itu bagi saya agaknya terlalu bernada  “jasmani”. Apa sih yang bisa disebut sebagai keberuntungan hidup?

Memang, jika kita rajin membaca media, kita bisa mengenali  orang-orang yang tersohor karena keberhasilan, kepandaian dan kekayaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai profile yang hebat di internet, dan jika anda menggunakan Google tentu anda bisa membaca riwayat hidup mereka. Mereka nampaknya adalah orang-orang yang sukses dan mencapai prestasi yang terbaik. Orang-orang yang nampaknya beruntung.

Bagaimana dengan anda sendiri? Dapatkah anda membayangkan kalau riwayat hidup anda tertulis dalam wikipedia? Ataukah nama anda memang sudah cukup dikenal masyarakat? Bagaimana perasaan anda jika orang bisa membaca semua yang terjadi dalam hidup anda? Apakah anda merasa senang atau bangga atas apa yang sudah anda capai dalam hidup anda? Apakah anda merasa beruntung? Apakah yang paling membuat anda senang dan puas atas hidup anda?

Ayat diatas adalah perkataan Yesus kepada murid-muridNya tatkala mereka merasa heran mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dalam mengajar orang banyak. Yesus menyatakan bahwa Ia menggenapi nubuat nabi Yesaya yang berbunyi: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap” (Matius 13: 14). Yesus lebih lanjut mengatakan bahwa hati banyak manusia sudah menebal dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup akan firman Tuhan. Karena itu, walaupun mereka ingin menjadi orang yang baik hidupnya, mereka tidak dapat mengerti apa yang paling perlu untuk dilakukan.

Bagi orang percaya, pertanyaan bagaimana manusia bisa hidup di dunia jika mereka buta dan tuli akan bimbingan Tuhan, tentu tidak sulit untuk dijawab. Tanpa dapat mendengar dan mengerti firman Tuhan, manusia tidak dapat membuahkan apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan. Sebaliknya, mereka bisa menjadi manusia yang durhaka dalam pandangan Tuhan. Mereka mungkin menjadi orang-orang yang terkenal, tetapi mungkin tidak sadar akan keadaan mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya jauh dari Tuhan dan tidak membuahkan apa yang baik bagi Tuhan yang sudah lebih dulu mengaruniakan kasihNya kepada mereka. Mereka tidak juga membuahkan apa yang baik untuk diri mereka dan sesama.

Pagi ini, jika kita bisa melihat dan  mengerti bahwa kita membutuhkan Yesus dalam hidup ini dan mau melaksanakan firmanNya setiap hari, kita adalah orang yang beruntung. Mereka yang beruntung adalah orang-orang yang berbahagia karena bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan dalam segala keadaan. Yesus berkata bahwa sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kita lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kita dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Kita sudah mengenal siapa Yesus itu dan mengerti bahwa Ia turun ke dunia untuk menebus dosa kita. Karena itu kita mempunyai iman kepadaNya dan mau melaksanakan segala apa yang difirmankanNya.  Kita adalah orang-orang yang beruntung, karena hidup kita yang selalu diterangi dengan firman Tuhan seharusnya bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan dan kebaikan bagi diri kita dan sesama manusia. Masihkah itu kurang? Ataukah kita yang kurang menghargai kasih karuniaNya?