Tuhan adalah mahakasih

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38

Tahun 2019 hampir berakhir dan tahun 2020 tidak lama lagi akan datang. Hari-hari mendatang adalah hari-hari terakhir yang bisa dipakai orang untuk mencapai target atau harapan yang pernah ditetapkannya pada awal tahun 2019. Pada pihak yang lain, hari-hari yang tersisa dari tahun ini, bagi sebagian orang, adalah hari-hari yang bisa dinikmati sesudah menyelesaikan kewajiban yang ada. Hari-hari yang bisa dipakai untuk berlibur atau beristirahat sebelum memasuki tahun baru dan menjalankan tugas-tugas baru. Semua itu adalah baik, karena sejak penciptaan manusia diberi pengertian akan pentingnya bekerja dan beristirahat.

Awal minggu ini, sebuah kapal pesiar berpenumpang sekitar 6000 orang mengunjungi sebuah tempat di Selandia Baru.  Saat dimana sebuah kapal berhenti dan penumpangnya bisa mendarat adalah saat gembira. Sekitar 50 penumpang kemudian mengikuti sebuah tour lokal untuk melihat sebuah kawah gunung berapi. Diantara mereka ada yang pergi bersama keluarga dan ada juga yang bersama teman-teman seusia. Malang tak dapat ditolak, gunung berapi yang dulunya tidur, tiba-tiba meletus tanpa tanda-tanda peringatan. Sebagai akibatnya, banyak orang yang luka berat dan beberapa orang sudah dinyatakan tewas akibat semburan pasir dan uap panas. Hal yang sangat menyedihkan, terutama karena itu terjadi menjelang hari Natal.

Bagi banyak orang, suasana gembira yang tiba-tiba menjadi suasana duka membawa pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi. Apakah salah mereka sehingga menemui kemalangan yang begitu besar? Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka semacam itu terjadi? Apakah Tuhan yang menyebabkan semua itu? Bagi mereka yang tidak atau kurang mengenal sifat hakiki Tuhan yang tidak hanya mahakuasa, tetapi juga mahakasih, sudah tentu ini bisa menjadi suatu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak melakukan atau tidak melakukan apa saja, sesuai dengan kehendakNya. Tetapi, jika Ia adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tentunya bukan penyebab malapetaka.

Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa menghindarkan manusia dari bencana. Itu dilakukanNya pada bani Israel ketika mereka dikejar tentara Firaun dan terpojok di pinggir laut. Lebih dari itu, Tuhan juga pernah melindungi orang lain dari berbagai bencana, sekalipun mereka bukan orang Israel atau umatNya. Yesus dan murid-muridNya juga menyembuhkan banyak orang yang sakit tanpa memikirkan apakah mereka pantas untuk ditolong. Dengan demikian, jika kita melihat adanya bencana, pertama-tama kita harus ingat bahwa Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana tentunya bukan Tuhan yang kejam.

Ayat diatas menyatakan bahwa dalam keadaan apa pun, apa yang harus kita pegang sebagai prinsip utama adalah bahwa Tuhan itu kasih. Dengan mengingat kasihNya, kita akan dapat menghadapi segala tantangan kehidupan dengan keberanian. Dengan mengingat kasihNya, kita juga percaya bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan bukan hanya umatNya.  Kasih Tuhan sebenarnya sudah diperlihatkanNya ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam bencana besar akibat dosa. Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus dan hidup manusia sejak saat itu menjadi hidup yang penuh bahaya dan tantangan.  Walaupun demikian, Tuhan menjanjikan datangnya seorang Juruselamat yang akan menyelamatkan keturunan mereka. Janji Tuhan ini sudah ditepati dengan kedatangan Yesus ke dunia di hari Natal.

Pagi ini, jika hati anda gundah karena apa yang terjadi di sekitar anda, janganlah hati anda menjadi kecil. Tuhan bukanlah oknum Ilahi yang karena kemahasucian dan kemahakuasaanNya bertindak dengan semena-mena. Sebaliknya, Tuhan menghendaki setiap orang agar mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan yang mempunyai rencana yang baik untuk seluruh umat manusia, yaitu untuk memberikan keselamatan yang kekal kepada mereka yang mau menerima kasihNya yang dinyatakan dalam diri AnakNya, Yesus Kristus.

 

Natal mengingatkan kita bahwa Tuhan itu dekat

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang akan dirayakan sebagai hari gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, hari Natal adalah hari yang biasanya disambut dengan rasa senang.  Bagi mereka yang mempunyai keluarga atau teman dekat, hari itu mungkin bisa dirayakan bersama-sama. Mereka yang sering ke gereja mungkin sudah merencanakan untuk hadir dalam kebaktian khusus hari Natal. Tetapi, banyak juga orang yang jika ditanya, menjawab bahwa mereka tidak mempunyai rencana khusus untuk merayakan Natal. Mungkin karena mereka jauh dari keluarga, tidak mempunyai sanak atau teman, atau sedang berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Bagi mereka, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan.

Mereka yang beriman, seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaanNya. Keselamatan yang direncanakanNya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan AnakNya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbananNya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umatNya. Allah tidak lagi oknum yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikanNya kepada semua pengikutNya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan  seharusnya makin terasa dalam hati umatNya ketika hari Natal mendatangi.

Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang sering diucapkan setiap orang yang merasa bahwa mereka harus menghadapi hidup ini sendirian. Bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasihNya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umatNya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang belum membuka hidup dan hati kita untuk Dia.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Ini haruslah dilakukan setiap saat, dan bukan hanya jarang-jarang saja. Jika kita menderita, baiklah kita berdoa kepada Tuhan; jika kita bergembira baiklah kita memuji Dia. Kebiasaan yang baik ini haruslah selalu dipertahankan sekalipun hidup kita terasa sibuk sepanjang tahun. Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia adalah Tuhan yang bisa merasakan suka-duka kita dan Tuhan yang mau dekat dengan kita. Yesus adalah sobat yang setia dalam keadaan apapun.

Mungkin pada saat-saat yang lalu kita sering mengalami kesusahan. Mungkin penderitaan yang kita alami membuat kita merasa bahwa Tuhan pun tidak dapat menolong kita. Dengan keadaan sedemikian, kita mungkin merasa bahwa doa kita tidak ada gunanya. Pada pihak yang lain, mungkin saja selama ini hidup kita cukup lancar dan kita merasa itu sudah sewajarnya. Kita sudah berusaha hidup baik dan bekerja keras, dan sudah sepatutnya kita memperoleh keberhasilan. Dengan itu mungkin kita lupa untuk memuji Dia. Sekalipun Tuhan ada di dekat kita, Dia sudah menjadi Tuhan yang diabaikan. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa lambat laun  hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang atau hambar.

Hari Natal sudah dekat, tetapi getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiranNya mungkin tidak terasa. Hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual.  Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk dekat kepadaNya dalam setiap saat dan keadaan, dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.

Hadiah Natal yang dibutuhkan semua orang

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Matius 1: 21

Hari ini tanggal 10 Desember dan dua minggu lagi orang Kristen akan merayakan hari Natal. Di Australia, bukan hanya orang Kristen yang menyambut datangnya hari Natal karena hari ini adalah bagian penting dari budaya barat. Hari Natal bagi masyarakat umum biasanya dirayakan sebagai hari keluarga, dimana banyak orang mengunjungi orang tua mereka untuk makan bersama. Liburan Natal yang bersamaan dengan liburan panjang musim panas, juga membuat orang untuk memakai kesempatan yang ada untuk berlibur atau bertamasya bersama keluarga.

Saat ini, anak-anak mulai memikirkan datangnya Natal dengan memikirkan hadiah apa saja yang bakal didapat dari orang tua mereka. Sebaliknya, para orang tua juga mulai bingung dan bahkan pusing memikirkan hadiah apa yang bisa mereka berikan kepada anak-cucu. Semua itu membuat hari Natal terasa seperti suatu kesibukan bagi semua umur. Walaupun demikian, bagi banyak orang lain hari  Natal mungkin justru bisa mendatangkan rasa sedih. Mungkin itu karena tidak adanya anggota keluarga atau teman yang bisa diajak untuk merayakan Natal, atau kurangnya uang untuk bisa membeli hadiah natal. Karena itu, hari Natal yang meriah bagi banyak orang bisa menjadi hari dimana ada yang merasa sedih, merana atau kesepian.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hari Natal adalah hari peringatan lahirnya Yesus. Ini seharusnya lebih utama dari segi sosial dan finansial. Walupun demikian, jika orang Kristen tidak meluangkan waktu untuk memikirkan arti hari Natal untuk dirinya, hari itu tidak akan berbeda dari hari-hari besar yang lain, seperti hari Tahun Baru dan hari kemerdekaan bangsa. Sekalipun ada yang bisa dinikmati, hari libur seperti itu adalah hari yang dirayakan orang setiap tahun tanpa ada yang terasa istimewa secara pribadi. Setiap tahun orang mungkin merayakannya tanpa mengalami perubahan, kecuali umur yang bertambah satu tahun. Benarkah demikian?

Hari Natal adalah hari yang seharusnya mengingatkan kita akan tujuh hadiah yang sudah kita terima dari Tuhan melalui Yesus. Tujuh hadiah itu adalah: pengampunan, pembenaran, hidup baru, perdamaian, pengadopsian, pembebasan dan penyucian. Karena Yesus lahir ke dunia dan mati di kayu salib ganti kita, kita bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita. Dosa yang seharusnya membawa kematian, tidak lagi menyebabkan datangnya murka Allah karena melalui Yesus kita dibenarkan. Melalui Yesus kita bisa mendapat hidup baru, karena hidup lama yang sudah mati mendapatkan nafas baru dari Allah.

Natal seharusnya juga mengingatkan kita  bahwa Allah yang membenci dosa kita seharusnya memberi kita hukuman yang setimpal. Kita seharusnya mengalami kematian sebagai balasan atas kedurhakaan kita. Tetapi Yesus datang untuk mendamaikan Allah dengan kita, umatNya. Dengan itu terbuka kemungkinan bagi kita untuk diadopsi sebagai anak-anakNya dan berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita sudah dibebaskan dari cengkeraman dosa dan pengaruhnya, oleh karena itu kita bisa mempunyai masa depan yang baik. Lebih dari itu, Tuhan yang mahakasih membimbing kita dengan Roh KudusNya untuk menyucikan hidup kita setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan tujuh hadiah Natal yang sudah diberikan kepada kita. Hadiah-hadiah ini sering tidak kita pikirkan karena pikiran kita yang sering terpusat pada hal-hal duniawi. Hadiah ini seringkali tidak disadari manusia karena mereka menginginkan hadiah yang tidak mereka butuhkan, seperti perhiasan, pakaian dan bahkan mobil, tetapi melupakan apa yang penting bagi rohani mereka. Bagi banyak orang, hadiah Natal itu adalah apa yang tidak mereka harapkan sekalipun itu adalah apa yang mereka butuhkan untuk hari depan. Bagaimana dengan sikap anda dalam menghadapi Natal yang sebentar lagi akan datang? Sudahkah anda bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan tujuh hadiah yang berharga untuk anda dan orang-orang yang anda kasihi? Semoga.

 

 

Kasih Allah sudah menghilangkan kegelapan

“..:oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” Lukas 1: 78 – 79

Di Australia, sekarang ini adalah musim panas. Karena itu tidak ada Natal yang bersalju seperti di Amerika. Berbeda dengan Indonesia, Australia terletak jauh di bawah garis khatulistiwa (equator). Pada musim panas matahari yang berada di belahan selatan bumi muncul pagi sekali, sebelum jam 5 pagi.

Bagi orang yang harus berangkat bekerja di dini hari, adanya sinar matahari adalah sangat membantu; berbeda dengan keadaan di musim dingin, dimana mereka harus berangkat menuju tempat pekerjaan sewaktu masih gelap karena matahari pada waktu itu ada di belahan utara dunia.

Sekalipun adanya musim dingin di Australia dapat dirasakan, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suasana di tempat-tempat yang dekat kutub bumi. Karena jauhnya dari posisi matahari, tempat seperti Alaska bisa mengalami kegelapan sampai 2 bulan setiap tahunnya.

Keadaan bumi sebelum adanya matahari dapat dibayangkan seperti musim dingin di Alaska. Gelap dan dingin. Keadaan serupa dapat dibayangkan untuk dunia jika manusia tidak mengenal Tuhan. Kegelapan dosa akan meliputi tempat dimana manusia merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Kejahatan, kekejian, kebohongan, ketamakan dan berbagai perbuatan asusila bisa muncul jika manusia tidak takut akan Tuhan. Dalam sepanjang sejarah, ini bisa terjadi di negara atau tempat mana pun.

Bagaimana reaksi Tuhan ketika Ia pada saat penciptaan melihat kegelapan yang menguasai alam semesta? Ia menciptakan matahari, bulan dan bintang untuk mengusir kegelapan. Bagaimana pula reaksiNya ketika Ia melihat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa? Tuhan yang tahu bahwa karena dosa satu orang, seisi dunia akan dikuasai oleh kegelapan rohani, sudah dari awalnya mempunyai rencana untuk mendatangkan AnakNya untuk menerangi dunia.

Dalam ayat di atas, seorang imam yang bernama Zakharia yang menjelaskan apa yang akan terjadi pada hari Natal yang pertama. Bahwa oleh rahmat dan belas kasihanNya, Allah akan menilik manusia yang mengalami kegelapan rohani. Surya pagi dari tempat yang tinggi, yaitu Yesus Kristus, akan datang untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan hidup mereka kepada jalan damai sejahtera.

Pagi ini kita diingatkan bahwa apa yang dilakukan Allah dua ribu tahun yang lalu, masih tetap dilakukanNya sampai sekarang karena kasihNya tidak pernah berkurang. Karena itu, jika kita sekarang merasa bahwa hidup kita terisi kesedihan, kekosongan, dosa atau kekecewaan, masih ada kesempatan bagi kita untuk menyambut rahmat dan belas kasihan Allah untuk mengusir kegelapan yang selama ini menguasai kita. Dengan sinar kasih Yesus Kristus yang datang ke dunia, kita bisa hidup dalam damai dan sejahtera yang dianugerahkan oleh Allah yang mahamulia.

Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 2 Korintus 4: 6

Bagaimana sikap kita dalam menyambut Natal?

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Lukas 2: 29 – 32

Hari Natal baru akan datang lebih dari dua minggu lagi, tetapi lampu dan hiasan natal sudah mulai bermunculan. Agaknya hari Natal adalah hari yang dinantikan banyak orang. Walaupun demikian, tiap orang menunggu datangnya Natal dengan maksud dan harapan yang berbeda-beda.

Bagi masyarakat umum di Australia, hari Natal adalah hari gembira untuk keluarga. Mereka biasanya merayakan hari itu dengan berkumpul dengan sanak keluarga. Bagi orang lain, hari itu adalah kesempatan untuk berpestapora atau beristirahat saja. Bagaimana pula dengan tanggapan anda? Apakah yang ada dalam pikiran anda?

Ayat di atas adalah pernyataan Simeon, seorang yang hidupnya saleh dan tinggal di Yerusalem. Simeon yang menantikan datangnya Mesias, merasa bahwa umurnya sudah lanjut dan karena itu kuatir kalau-kalau harapannya sia-sia. Tetapi, Tuhan yang mahakasih melihat kesetiaan Simeon dan menjanjikannya bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat sang Mesias. Ketika Simeon melihat bayi Yesus di bait Allah, ia merasakan kebahagiaan yang besar, karena Tuhan sudah menepati janjiNya.

Apa yang dinyatakan Simeon seharusnya bisa menjadi pernyataan setiap orang yang percaya. Simeon merasa bahwa tujuan hidupnya sudah tercapai. Ia merasa berbahagia dan karena itu bisa meninggalkan dunia ini dalam damai sejahtera. Simeon dapat melihat dengan matanya bahwa Yesus sudah datang untuk membawa keselamatan bagi setiap orang yang percaya di segala bangsa.

Sayang sekali bahwa tidak semua orang Kristen bisa menyambut Natal dengan sikap serupa. Sebaliknya justru banyak orang Kristen yang merasa bahwa tujuan hidupnya bukanlah untuk merasakan kehadiran Yesus dalam hidup mereka. Tujuan hidup orang yang sedemikian mungkin bersangkutan dengan keberhasilan karir, kesuksesan anak cucu, atau adanya uang pensiun yang cukup. Bagi mereka, hidup mungkin diisi dengan kekuatiran bahwa segala impian mereka belum tercapai, dan mungkin saja tidak akan tercapai.

Simeon adalah contoh bagaimana kita bisa merasakan damai sejahtera dalam menghadapi masa depan. Bagi Simeon, kebahagiaan adalah adanya kepastian bahwa Yesus sudah datang untuk memberikan kesempatan bagi semua orang yang percaya untuk diselamatkan. Simeon merasakan adanya ketenteraman bagi dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, karena ia sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih dan selalu menepati janjiNya. Sekalipun kita belum pernah melihat dengan mata, dengan hati kita percaya kepada Dia yang sudah datang ke dunia dua ribu tahun yang telah lalu.

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 2: 8 – 9

Jangan salahkan keadaan, orang lain atau Tuhan

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Salah satu pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan di Australia ialah profesi pembela dalam sebuah pengadilan. Pada dasarnya, hukum yang ada memberikan kesempatan kepada seorang tertuduh untuk membela diri dengan bantuan seorang atau sebuah tim pembela.

Dalam hal ini, seorang terdakwa umumnya berusaha mencari segala alasan yang bisa dipakai untuk menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah. Itu mungkin bisa dilakukan dengan memakai berbagai alasan, termasuk berbohong dan mempersalahkan orang lain atau keadaan. Dengan itu, memang ada kalanya orang yang sebenarnya bersalah bisa menerima pembebasan.

Dalam kenyataannya, pembela yang hebat memang bisa menggunakan segala bukti dan alibi yang dapat memperkecil hukuman dan bahkan membebaskan terdakwa dari hukuman. Dengan demikian, seorang tertuduh yang kaya bisa saja memilih pembela atau tim pembela yang top.

Di hadapan Tuhan yang mahatahu, orang tentunya tidak dapat berbohong atau mempersalahkan orang lain jika ia memang bersalah. Tetapi, banyak juga orang yang menyalahkan Tuhan atas keadaan yang dialaminya. Banyak orang yang marah kepada Tuhan karena Ia seolah membiarkan mereka untuk berbuat dosa. Bukankah sebagai Tuhan Ia mampu menjauhkan manusia dari dosa? Mungkin Tuhan sudah menentukan manusia untuk berbuat dosa!

Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa manusia tidak dapat mempersalahkan keadaan, orang lain atau Tuhan yang berkuasa sebagai penyebab dosa. Tuhan yang mahasuci tidak pernah berbuat jahat atau menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Tuhan yang mahakasih tidak mendatangkan dosa untuk manusia. Tetapi tiap-tiap orang mempunyai kebebasan dan tanggung jawab sendiri atas hidup dan perbuatannya. Manusia berbuat dosa dengan melanggar perintah dan hukum Tuhan.

Mereka yang hidup dalam dosa masih mempunyai harapan jika mau bertobat. Itu karena Yesus sudah datang sebagai pembela mereka yang bertobat dan percaya kepadanya (Kisah Para Rasul 2: 38). Tetapi, mereka yang berdalih dan berusaha melemparkan tanggung jawabnya ke orang lain atau kepada Tuhan tidak akan bisa memperoleh pengampunanNya. Bagi mereka pertobatan adalah sulit untuk dilakukan karena mereka tidak pernah merasa bersalah. Bagi mereka pengampunan dari Tuhan yang mahakasih tidak akan ada.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 9 – 10

Hal mata duitan

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” Pengkhotbah 5: 10

Masih teringat saya akan pelajaran bahasa Inggris yang saya ikuti pada saat saya belajar di universitas. Pada pagi itu saya sedang duduk diruang kuliah bersama  teman-teman sekelas. Kemudian beberapa murid diminta pak dosen untuk membuat sebuah kalimat dengan memakai kata-kata tertentu. Kebetulan saya ditunjuk untuk membuat kalimat yang dimulai dengan “There is nothing .., but …” atau “Tidak ada hal yang…, kecuali …”. Entah saya mendapat ilham dari mana, tetapi langsung saya menulis di papan tulis “There is nothing that can make me happy, but money” yang artinya “Tidak ada yang bisa membuat saya bahagia, kecuali uang”. Pak dosen pada waktu itu dengan tersenyum langsung memanggil saya “money lover” alias “pecinta uang”.

Jika saya teringat akan kejadian itu, mau tidak mau saya merasa geli. Itu karena saya hanya berpura-pura menjadi pecinta uang. Tetapi, jika saya memang seorang mata duitan, mungkin saya bisa merasa dipermalukan. Ataukah justru sebaliknya, saya akan merasa bangga?

Pada zaman ini kelihatannya orang yang mampu mengumpulkan uang banyak biasanya sangat bangga dengan kemampuannya. Mereka yang cinta uang seringkali dengan tidak ragu-ragu mendemonstrasikan apa yang dipunyainya. Barangkali rumah besar, mobil mewah dan pakaian yang buatan luar negeri sudah tidak perlu dibanggakan lagi karena sudah biasa dipakai mereka yang kaya. Bagaimana pula dengan moge dan sepeda mewah? Itupun terasa biasa bagi mereka yang bisa membeli tanpa mengedipkan mata. Lalu apa lagi yang masih bisa dibeli atau dipamerkan?

Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Itu benar. Kepuasan yang didapat melalui harta selalu tidak akan bertahan lama. Mereka yang mencintai uang selalu mencari apa yang lebih memikat dari apa yang sudah dimilikinya. Karena itu, mereka berusaha mencari apa yang lebih besar, apa yang lebih hebat dan apa yang tidak dipunyai orang lain, sekalipun itu mungkin harus melalui jalan yang salah.

Cinta uang memang sering mendorong orang untuk melakukan kejahatan. Mungkin mereka melakukannya tanpa menyadari apa yang bisa menjadi akibatnya. Hanya ketika berbagai masalah timbul karena keserakahannya, orang mungkin akan menyadari bahwa apa yang jahat di mata Tuhan akhirnya akan membawa berbagai duka.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10