Bagaimana Allah bekerja untuk umat-Nya

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ayat di atas adalah salah satu ayat Alkitab yang sering dihafalkan dan diucapkan orang Kristen ketika mengunjungi mereka yang lagi tertimpa kemalangan.Walaupun ayat ini bisa membawa penghiburan, harapan dan bimbingan kepada mereka yang bersedih hati, jika diucapkan pada saat yang kurang tepat dan dengan pengertian yang kurang cocok, ayat ini justru bisa menambah kesedihan. Mengapa begitu?

Memang kebanyakan orang beriman tahu bahwa kekuatiran dan kesedihan yang berlarut-larut adalah tidak berguna karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dalam Alkitab ada tertulis ayat-ayatnya dan para pendeta pun sering mengajarkannya. Tetapi, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Lebih mudah untuk mereka yang mengamati, daripada orang yang menjalani tantangan hidup.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada orang percaya, yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Bukan untuk mereka hanya yang ke gereja, tetapi mereka yang mengenal siapakah Tuhan itu. Tuhan yang mahakuasa, mahatahu dan mahakasih.Orang yang sudah mengalami perubahan dalam hidupnya dan ingin menjadi seperti Yesus. Yesus yang turun dari surga sebagai manusia biasa, hanya saja tidak berdosa, dan yang sudah mengalami penderitaan dan bahkan mati di kayu salib. Apa yang dialami-Nya selama di dunia dipakai Allah untuk kebaikan orang percaya sesuai dengan rencana-Nya.

Sering kali orang yang mengalami musibah diberi nasihat penghiburan yang berdasarkan pada ayat di atas. Tuhan bisa memakai pengalamanmu untuk membuat hal-hal yang baik di masa depan, mungkin begitu nasihat yang sering kita terima. Bagi orang yang tidak atau belum mengenal Tuhan, nasihat sedemikian bisa menimbulkan salah faham dan kemarahan; apakah Tuhan memakai hal-hal buruk yang terjadi saat ini untuk mencapai hasil yang baik? Tuhan macam apa itu?

Sekalipun kita sudah percaya kepada Yesus, apa yang terjadi dalam hidup ini sering tidak kita mengerti arti dan gunanya. Apa yang kita pandang baik belum tentu membawa kebaikan. Apalagi apa yang buruk, kita tidak bisa membayangkan gunanya. Itu semua karena apa yang kita mengerti adalah terbatas jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan dan karena itu sering tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.

Apa yang dimaksudkan ayat di atas sebenarnya adalah Tuhan memakai segala sesuatu yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita, baik itu suka atau duka untuk kebaikan kita. Itu bukan berarti bahwa apa pun yang terjadi saat ini adalah baik dan indah. Jika seseorang kehilangan seseorang yang dicintai, tentu bisa merasa sedih dan terpukul. Karena itu kita harus mempunyai rasa empati dan simpati kepada orang itu. Ayat ini jika diucapkan pada waktu yang kurang tepat dan dengan nada yang kurang cocok, justru bisa membuat orang yang sedih menjadi makin sedih.

Memang ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah mahakuasa. Ia bisa membuat apa yang kita lihat sebagai hal yang buruk saat ini dan hal-hal lain untuk menjadi apa yang baik bagi mereka yang percaya, dan itu pada saat yang ditentukan Tuhan. Tetapi, ayat ini juga menyatakan adanya hubungan kasih antara orang itu dan Tuhannya. Tuhan yang mahakasih bisa membawa kebaikan kepada anak-anak-Nya sekalipun apa yang terjadi saat ini nampak seperti kegagalan , kehilangan, penderitaan dan bahkan malapetaka.

Tuhan tidak pernah mencobai anak-anak-Nya tetapi Ia mungkin menguji iman kita. Tuhan tidak pernah menjatuhkan umat-Nya dan mendatangkan penderitaan hanya untuk menunjukkan bahwa Ia adalah mahakuasa. Ini berarti, pada saat kita mengalami kesulitan atau duka yang bukan akibat kesalahan kita, janganlah kita hanya memusatkan pikiran kita pada hal-hal itu saja karena bukan hanya itu yang dipakai Tuhan menurut rencanaNya untuk membawa kebaikan bagi hidup kita. Tuhan memakai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya untuk membawa mereka makin dekat kepada-Nya.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Dibalik semua peristiwa, Tuhan yang mahatahu bekerja untuk rencana agung-Nya. Memang duka adalah duka dan adalah wajar jika bisa merasakannya sebagai suatu penderitaan. Tetapi, baik suka maupun duka, semua yang terjadi dalam hidup kita dan bahkan dalam dunia akan membawa orang yang beriman untuk makin dekat dan serupa dengan Yesus yang pernah mengalami segalanya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Mungkinkah Tuhan menakdirkan kita ke neraka?

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain” Roma 9: 22-24

Sewaktu saya masih berkantor di Sydney, saya sering melihat seseorang yang membawa sebuat plakat yang bertuliskan “Bertobatlah agar kamu tidak ke neraka”. Orang ini berdiri di persimpangan dekat City Hall dan semua orang tentunya tahu bahwa ia bermaksud untuk mengabarkan Injil. Injil adalah kabar baik, tetapi pesan orang itu mungkin ditafsirkan sebagai kabar buruk oleh sebagian orang. Maklum, sebagian orang menolak adanya Tuhan atau adanya neraka. Konsep neraka agaknya bukan kabar baik untuk banyak orang.

Bagi kita, adanya neraka dan surga merupakan kabar baik. Itu karena orang yang sudah diselamatkan melalui darah Yesus tidak akan pergi ke neraka setelah meninggalkan dunia ini. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen masih merasa ragu akan jaminan keselamatan Tuhan. Itu karena adanya ayat di atas, ada beberapa ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah sudah menentukan siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka sejak awalnya, karena Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada mereka yang dipilih-Nya. Ini bisa membuat sebagian orang Kristen berpikir apakah ia atau seorang yang dikenalnya memang termasuk golongan yang sudah “ditakdirkan” untuk ke neraka. Ini tentu saja bisa menimbulkan rasa gelisah dan sedih kepada mereka yang berharap bahwa Tuhan sudah menakdirkan mereka untuk ke surga.

Haruskah orang Kristen percaya bahwa Tuhan menakdirkan manusia ke neraka? Konsep Tuhan yang mahakasih sering dianggap bertentangan dengan adanya neraka. Tetapi kita harus sadar bahwa karena Tuhan adalah mahasuci, semua manusia seharusnya dihukum untuk pergi ke neraka. Jika ada orang yang diselamatkan itu berarti Tuhan mengampuni dosa mereka yang sebenarnya tak terampuni.

Alkitab menegaskan bahwa Allah mengatur apa yang ada di alam semesta. Jadi hidup dan dosa manusia tidaklah di luar pemeliharaan Tuhan yang mengatur segalanya. Tetapi hal predestinasi, pemilihan dan panggilan keselamatan merujuk pada karunia yang dibagikan Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Alkitab tidak menekankan kebalikannya: takdir ke neraka, penetapan untuk gagal, atau panggilan untuk berbuat dosa. Tuhan tidak membuat manusia berdosa, tetapi setiap orang sudah berdosa sejak lahir. Kita mengakui bahwa Tuhan memang mengeraskan hati Firaun (Keluaran 7: 3), namun Firaun bertindak sesuai dengan kapasitas alami dan kehendak bebasnya untuk melakukan kejahatan, sementara Tuhan mengarahkan tindakan jahatnya untuk mencapai tujuan-Nya. Dalam pengertian ini, tidak ada yang ada di luar kendali Allah.

Tentu saja bagi sebagian orang, mengapa dan bagaimana Tuhan sejak mulanya memilih orang yang akan diselamatkan dan orang yang akan dihukum adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Namun kita harus meninggalkan usaha untuk memahami hal yang misterius ini. Tuhan itu baik. Tuhan adalah kasih. Dan Dia bertindak dari adanya kelimpahan kebaikan dan kasih-Nya untuk memberikan kehidupan. Penyebab penghukuman kita adalah dosa kita. Hanya kesabaran dan kasih karunia ilahi yang mencegah adanya penghakiman terakhir bagi kita (Rom 2: 4). Tuhan tidak menyebabkan dosa; manusia sendiri yang melakukannya. Sebaliknya, Tuhan melakukan regenerasi hati pada siapa saja yang dikasihi-Nya sehingga mereka dapat mengalami kasih karunia ilahi yang melampaui kapasitas alami mereka. Dalam hal ini kita tidak tahu atau bisa memastikan apakah orang tertentu memang termasuk dalam pilihan-Nya.

Jadi, adanya predestinasi adalah berhubungan erat dengan kasih karunia Tuhan. Itulah yang pada saatnya bisa dirasakan dan diyakini oleh setiap orang yang sudah dipilih-Nya, sekalipun keselamatannya mungkin masih dipertanyakan oleh orang lain. Oleh karena itu, orang yang percaya bahwa dirinya sudah diselamatkan seharusnya tetap giat mengabarkan kabar baik ke seluruh penjuru dunia. Kita tidak bisa berkata bahwa orang itu, golongan itu atau bangsa itu sudah ditentukan Tuhan untuk ke neraka. Bagi kita tidak ada istilah “Tuhan menakdirkan manusia ke neraka” karena dosa tanpa pertobatanlah yang menyebabkan penghukuman atas manusia.

Jika kita sekarang berusaha untuk menjadi makin sempurna dalam Kristus selama hidup di dunia, itu menandakan bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, dan kita harus yakin bahwa kita sudah diselamatkan. Tetapi perbuatan baik apa pun yang kita lakukan bukanlah yang menyelamatkan kita. Hanya kasih karunia cuma-cuma yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, dan itu melalui iman di dalam Kristus Yesus yang memperkenalkan kebenaran-Nya kepada kita melalui Roh Kudus.

Berdoa dan bersyukur

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Apa guna kita berdoa? Dulu sering kita mendengar semboyan Ora et Labora, berdoa dan bekerja. Tetapi, sekarang banyak orang yang tidak percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang sudah tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk bekerja saja.

Ada juga orang yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain mungkin berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman saja. Karena itu mereka menganggap orang Kristen yang sering berdoa sebagai orang “melempem”, yang tidak punya aspirasi atau cita-cita.

Selain itu, ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya termasuk kebiasaan berdoa kita. Mereka mungkin merasa bahwa doa itu adalah hanya sesuatu yang diharuskan Tuhan yang berdaulat. Mereka mungkin berpikir bahwa doa itu sebenarnya tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencana-Nya. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang mahasuci. Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan pada jam-jam tertentu seperti dalam agama lain.

Memang ada orang Kristen yang kurang percaya bahwa Tuhan akan mempertimbangkan doa manusia, tetapi Alkitab mempunyai banyak contoh bahwa berkat dan pertolongan Tuhan turun kepada mereka yang rajin berdoa. Dalam hal ini, kebanyakan orang Kristen lebih rajin untuk berdoa ketika mereka menghadapi masalah kehidupan. Mereka yang takut dan kuatir menghadapi topan kehidupan biasanya ingin untuk “membangunkan” Tuhan, persis seperti apa yang dilakukan murid-murid Yesus ketika perahu mereka diterpa angin keras di danau Tiberias, sekalipun mereka percaya Tuhan yang berdaulat sudah menetapkan apa yang terjadi.

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apa pun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat di atas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan atau merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Dengan mengingat bagaimana Yesus berdoa dengan khusyuk kepada Bapa di taman Getsemani, kita akan menyadari bahwa berdoa adalah cara komunikasi yang sangat penting dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenai-Nya. Jika kita kenal baik dengan Dia, kita bisa menerima bahwa kehendak-Nyalah yang harus terjadi. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilakan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang mahakasih.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk dan sukses sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang mahakudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Kita harus menyadari bahwa dalam keadaan apa pun, Tuhan yang mahakuasa selalu lebih besar dari masalah kita. Kasih-Nya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita. Semua itu terbukti dengan penebusan dosa kita oleh darah Yesus. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, biarlah kita bisa mempunyai rasa syukur karena Ia tidak pernah meninggalkan kita. Dan dengan rasa syukur itu, kita akan bisa memohon segala apa yang kita butuhkan, agar itu bisa terjadi apabila sesuai dengan kehendak-Nya.

Kehendak Tuhan dan kebebasan manusia

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10

Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menetapkan segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Walaupun sebagian lagi orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa Tuhan menentukan mereka yang akan dikirim ke surga dan mereka yang ke neraka tanpa mempertimbangkan iman dan pernyataan iman mereka selama hidup di dunia. Manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman. Tetapi sudah barang tentu, siapa pun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus. Dan oleh bimbingan Roh Kudus, mereka yang percaya akan bisa menyatakan iman mereka dalam berbagai perbuatan baik yang memuliakan Tuhan.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Memang sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik dalam diri manusia yang bisa memenuhi standar Allah. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan. Memang, hanya karena anugerah Tuhan mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima hidup yang kekal di surga. Walaupun demikian, tidaklah benar bahwa Tuhan selalu memaksakan kehendak-Nya kepada mereka yang tidak mau percaya kepada-Nya atau tidak peduli akan adanya surga dan neraka.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, manusia memang diberi kebebasan untuk memilih apa yang diingini selama hidup di dunia. (Kejadian 2: 16). Tetapi, jika manusia tidak mau tunduk kepada firman Tuhan, kehendak bebas akan membawa mereka kepada pilihan yang buruk. Kebebasan manusia dengan demikian bukanlah sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan dan firman-Nya. Manusialah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup mereka. Mereka yang pada akhirnya masuk ke neraka, tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil karena mereka akan disadarkan bahwa selama hidup di dunia, mereka tidak mau taat kepada firman Tuhan.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Selama hidup di dunia, setiap orang bisa menghendaki apa pun, tetapi belum tentu mendapatkannya. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya akan terjadi. Karena itu kita harus meniru Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26: 39

Kehendak kita hanya bisa terjadi sejauh mana Allah mengizinkan dan tidak lebih jauh. Manusia bisa menghendaki apa pun, tapi tidak ada usaha kita yang mengalahkan kedaulatan dan rencana Tuhan.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35

Jika demkian, apakah kita tidak benar-benar mempunyai kehendak bebas? Sebagai umat Kristen kita bebas untuk melakukan apa saja atau mengambil keputusan selama hidup di dunia. Tetapi kita tidak boleh menggunakan kebebasan itu untuk membuat murka Allah. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan karena kita bukanlah pion-pion Allah. Kewajiban kita adalah menggunakan kehendak bebas (yaitu tanpa paksaan) yang diberikan-Nya kepada kita untuk diselaraskan dengan kehendak-Nya selama hidup di dunia. Kita tidak boleh dengan sombong memakai kebebasan yang kita punyai untuk mengabaikan kedaulatan Allah. Sebaliknya, dengan kerendahan hati kita berserah kepada-Nya:

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Satu hal penting yang harus kita sadari, Tuhan belum tentu menghentikan tindakan manusia sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak bisa mempersalahkan Tuhan jika ia jatuh ke dalam dosa. Tuhan sudah tahu sebelum dosa dilakukan manusia dan rencana-Nya tetap bisa berjalan tanpa bergantung pada hidup dan perbuatan manusia. Itulah sebabnya ada banyak hal menyedihkan yang terjadi ketika manusia tidak mau hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa sebagai umat Kristen kita bertanggung-jawab atas apa pun yang kita sudah lakukan dengan kehendak bebas kita baik mengenai soal jasmani maupun rohani.

Hidup kita, pilihan kita

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 11

Empat Kebebasan adalah pidato yang dibacakan Franklin D. Roosevelt di Depan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada 6 Januari 1941. Ide-ide yang tercantum dalam pidato tersebut adalah prinsip-prinsip dasar yang berkembang menjadi Piagam Atlantik yang dinyatakan oleh Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt pada Agustus 1941, Deklarasi PBB pada tanggal 1 Januari 1942 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi oleh PBB pada tahun 1948.

Empat Kebebasan (Four Freedoms) yang sangat penting dalam negara demokrasi adalah kebebasan beragama, kebebasan pers, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan berkumpul. Empat kebebasan tersebut merupakan hak asasi manusia yang harus dijamin keberadaannya oleh negara. Memang kebebasan dari penindasan adalah salah satu ciri ajaran Kristen yang dilandasi oleh hukum kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Kebebasan adalah sesuatu yang berharga yang diberikan oleh Tuhan kepada Adam dan Hawa, adalah anugerah yang bisa dipakai untuk memilih apa yang baik dalam hidup ini, asal tidak digunakan untuk melawan kehendak Tuhan (Kejadian 2: 15 – 17).

Jika prinsip kebebasan berpendapat adalah hal yang mendasar dalam negara hukum, banyak negara yang belum dapat menerapkannya sebagai bagian hak asazi manusia. Memang membela kebenaran memang bisa mengandung risiko besar. Karena itu tidak semua orang mau ikut campur. “Pokoknya saya tidak ikut-ikut!”, begitulah jawaban mereka yang melihat kejahatan, ketimpangan dan kejanggalan dalam masyarakat. Memang banyak orang yang memilih untuk berdiam diri, sekalipun apa yang terjadi adalah hal yang tidak baik.

Mencampuri urusan orang lain jelas membawa risiko bahwa mereka akan membenci kita. Pada zaman perang dunia kedua misalnya, Hitler dan komplotannya melakukan berbagai tindakan represif di negara Jerman dan jajahannya. Karena itu, banyak orang Kristen yang abstain dalam usaha menegakkan kebenaran. Sebagai alasan, mungkin orang Kristen bisa saja menyebutkan bahwa mereka tidak mau mengadili orang lain, atau mereka lebih mencintai perdamaian. Sebagian lagi, mungkin menghibur diri dengan menyatakan bahwa apa yang ada adalah sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan dan karena itu mereka harus mau menerimanya. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan memberi manusia kesempatan untuk membuat pilihan yang bisa memengaruhi nasib mereka. Manusia benar-benar memiliki kehendak bebas.

Adalah kenyataan bahwa dalam hidup banyak orang yang menyesali mengapa mereka tidak bertindak apa-apa ketika ada hal-hal yang jahat terjadi. Pengecut! Egois! Begitulah hati kecil mereka berkata. Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Bukankah dengan berdiam diri engkau berpihak kepada mereka yang jahat? Itulah suara hati banyak orang Kristen yang melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, tetapi memilih untuk tidak bertindak atau justru lari menjauh. Roh Kudus menegur karena mereka gagal untuk menegakkan kebenaran Tuhan. Menegakkan kebenaran dan keadilan adalah salah satu ciri orang Kristen yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa.

Ayat di atas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, adalah salah satu ayat yang mengandung nasihat praktis untuk hidup sebagai umat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita bertanggung jawab tidak saja untuk apa yang kita lakukan, tetapi juga untuk reaksi kita atas apa yang diperbuat orang lain. Tindakan aktif dan proaktif mana yang kita lakukan, tergantung pada pilihan kita. Sebagai manusia, secara individu kita bebas untuk mempunyai keinginan dan harapan (free will). Jika kita membiarkan adanya perbuatan-perbuatan kegelapan di sekitar kita, itu sama saja dengan menyetujuinya. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita memperoleh mandat budaya (Kejadian 1: 28) untuk ikut mau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Apa yang ada di dunia belum tentu dikehendaki Tuhan, karena itu Tuhan menghendaki kita untuk menjadi umat-Nya yang mau membawa terang surgawi ke dunia.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Apakah Tuhan menentukan semua pilihanku?

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” Kejadian 3: 17

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, tetapi juga percaya bahwa manusia membuat pilihan yang berarti. Tapi bagaimana keduanya bisa benar?

Ayat di atas bisa kita pakai untuk membahas hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia. Apakah kedaulatan Tuhan bertentangan dengan kemampuan Adam untuk membuat keputusan yang penting dan berdampak besar pada seluruh umat manusia? Apakah Tuhan dengan kedaulatan-Nya sengaja membuat Adam melanggar perintah-Nya agar Ia dapat mengirim manusia yang tidak dipilih-Nya ke neraka?

Tuhan memegang kendali penuh atas segala sesuatu. Inilah yang dimaksud orang Kristen ketika mereka menyebut Tuhan “berdaulat.” Kedaulatan, atau otoritas Tuhan, adalah mutlak. Rencana-Nya bagi dunia tidak dapat ditantang atau dicegah. Apa yang Tuhan katakan akan terjadi pastilah terjadi. Pada pihak yang lain ada pilihan kita; pilihan praktis dan keputusan moral yang kita buat setiap hari, sesuai dengan kemampuan yang berbeda-beda yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Alkitab menunjukkan kepada kita contoh sempurna tentang hubungam kedaulatan Tuhan dan pilihan manusia dalam kematian Yesus. Kematian Yesus di kayu salib dimaksudkan oleh Allah untuk menyelamatkan orang berdosa. Tetapi Yesus dibunuh oleh orang-orang yang menginginkan Dia mati. Mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka, meskipun itu adalah bagian dari rencana Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa kedua hal di atas benar. Bahkan, dikatakan bahwa dalam semua rencana-Nya, Tuhan mampu melewati seluruh pilihan manusia sebagai agen moral, termasuk tindakan dosa yang dipilih secara bebas! Segala sesuatu yang kita lakukan adalah apa yang ingin kita lakukan, sementara juga menjadi bagian dari rencana Tuhan. Semua itu adalah apa yang Tuhan pakai untuk menggenapi rancangan-Nya.

Hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia memang sulit untuk kita pahami, apalagi untuk menerimanya. Itu adalah kebenaran yang terlalu besar untuk kita pahami sepenuhnya. Satu yang jelas, setiap orang bertanggung jawab untuk apa yang diperbuatnya. Tuhan selalu memegang kontrol atas segala sesuatu tanpa harus memperlakukan manusia sebagai robot. Tuhan yang mahakuasa tidak akan kuatir atau terkejut melihat tindakan manusia, karena Ia tahu sebelum itu terjadi dan mampu untuk bertindak apa saja untuk mencapai rencana-Nya.

Sekalipun hal di atas sulit dimengerti dan bisa menciptakan kebingungan dan kadang-kadang rasa frustrasi, itu juga memberi kita harapan: Tuhan sedang mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia, dan kita dapat percaya bahwa tidak ada pilihan manusia dan usaha iblis yang bisa menghentikan Dia dari penggenapan rencana-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut q dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mandat dari Tuhan untuk memilih apa yang baik

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2:15-17 TB

Lagu anak-anak dari Jawa Tengah, ”Dhondhong apa salak”, mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan anak-anak karena di dalam lagu dolanan tersebut terdapat nilai-nilai dan simbol-simbol kehidupan yang dapat dijadikan tuntunan. Tidaklah mengherankan bahwa syair lagu ini sudah pernah diselidiki dan diterbitkan dalam beberapa makalah pendidikan sekolah dasar. Syair lagu itu berbunyi seperti berikut:

Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Ngandhong apa mbecak, m’laku timik-timik
Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Ngandhong apa mbecak, m’laku timik-timik
Atik ndherek Ibu tindak menyang pasar
Ora pareng rewel ora pareng nakal
Ibu mengko mesthi mundhut oleh-oleh
Kacang karo roti Atik dhiparingi
Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Gendhong apa pundhak aja ngithik-ithik

Bagi anda yang tidak pernah belajar atau memakai bahasa Jawa, tentu syair di atas kurang dapat di mengerti. Tetapi, secara ringkas syair itu menampilkan berbagai opsi yang harus dipilih seorang anak:

  • Boleh memilih makan buah kedondong, salak atau duku. Buah duku adalah kecil dibandingkan dengan buah yang lain.
  • Boleh memilih naik andong, becak atau berjalan kaki. Berjalan kaki adalah lambat dibandingkan dengan naik andong atau becak.
  • Boleh memilih digendong di pinggang atau duduk di pundak, asal tidak tidak menggelitik si penggendong.
  • Pilihan antara menurut nasihat ibu atau mengabaikannya sewaktu ibu ke pasar. Jika tidak nakal ibu akan memberi oleh-oleh.

Memilih adalah mandat dan kemampuan manusia. Dari mulanya, Adam dan Hawa mendapat mandat untuk memelihara taman Eden dan kebebasan untuk makan buah apa saja kecuali satu, yaitu “buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Lagu “Dhondhong apa salak”” memberi pesan bahwa kita harus mau memilih, dan memilih apa yang baik. Memang kebebasan tanpa batas sering kali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak-anak, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kegembiraan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Roma 6: 1

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karuniaNya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata.

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” Filipi 1: 9-10

Hal penampilan untuk ke gereja

Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”1 Samuel 16: 7

Bagi oramg Kristen, pergi ke gereja adalah untuk berbakti kepada Tuhan secara bersama. Kebaktian gereja pada umumnya diisi dengan puji-pujian, persembahan dan doa kepada Tuhan serta mendengarkan firman-Nya. Dengan demikian, orang Kristen percaya bahwa Tuhan sendiri hadir di tengah perhimpunan mereka. Seperti Bait Allah orang Yahudi pada zaman Perjanjian Lama, gedung gereja di zaman ini juga dikenal sebagai Rumah Tuhan. Walaupun demikian, beda yang jelas antara Bait Allah dan Rumah Tuhan adalah adanya ruang kudus dan mahakudus di Bait Allah, ruang mana tidak dijumpai di Rumah Tuhan atau gedung gereja di zaman ini. Jika dulu hanya para imam yang dapat memasuki ruang kudus dan hanya imam besar yang boleh memasuki ruang mahakudus, sekarang kita bebas untuk menjumpai Tuhan di gereja secara langsung.

Kematian Yesus di kayu salib membuka kesempatan bagi setiap orang percaya untuk bisa bebas berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan kapan saja dan di mana saja. Lebih dari itu, karena Roh Kudus yang diam dalam hati kita, tubuh kita adalah rumah Tuhan juga (1 Korintus 3: 16). Walaupun demikian, gedung gereja adalah tempat yang dipakai umat Kristen untuk bersama-sama berbakti kepada-Nya. Kebaktian gereja dengan demikian bukanlah sekedar pertemuan sosial antar umat Kristen. Oleh karena itu, sering dipertanyakan bagaimana orang Kristen seharusnya berpakaian untuk ke gereja untuk menemui Tuhan, Raja segala raja. Kelihatannya hal penampilan bukanlah soal besar, tetapi ini sering menimbulkan kebingungan dan perdebatan di antara orang Kristen.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Tuhan tidaklah seperti manusia yang melihat apa yang di depan mata, karena Tuhan melihat apa yang ada dalam hati kita. Berdasarkan ayat ini, banyak orang Kristen yang pergi ke gereja dengan memakai pakaian seadanya, yang mungkin tidak bisa atau kurang pantas untuk dipakai untuk ke sekolah, ke kantor, apalagi untuk menjumpai pimpinan negara. Mereka berpendapat bahwa kesetiaan seorang pengikut Allah tidak diukur dengan pakaian apa yang terlihat dari luar, tetapi dengan apa yang ada dalam hati dan hidup mereka.

Alkitab tidak memuat perintah yang mengatur jenis pakaian yang harus dikenakan untuk pergi ke gereja. Apa yang disampaikan Alkitab adalah perlunya kesopanan serta pernyataan perbedaan gender. Paulus pernah berbicara kepada wanita Kristen pada zamannya tentang pakaian dan menyatakan bahwa ia ingin mereka menunjukkan pakaian yang sopan dan sepantasnya, bukan dengan rambut dikepang atau emas atau mutiara atau pakaian mahal, tetapi dengan memperlihatkan perbuatan baik, seperti yang diharapkan dari orang yang mengaku menyembah Tuhan (1 Timotius 2: 9–10). Baik wanita maupun pria yang menyembah Tuhan harus berpakaian pantas, dan pilihan pakaian mereka harus mencerminkan kerendahan hati dan bukannya kesombongan; ketertiban dan bukannya kecerobohan; sopan dan bukannya tidak senonoh; sepantasnya dan bukannya berlebihan.

Secara alkitabiah, setiap orang harus mengenakan pakaian yang menunjukkan perasaan hatinya. Dalam hal ini, kita perlu mengingat bahwa jika kita ke gereja, kita ingin menyampaikan berbagai permohonan dengan bersyukur kepada Dia yang mahakuasa dan mahakasih (Filipi 4: 6). Dalam hal ini, kita perlu berhati-hati. Mereka yang hidup dalam kelimpahan mungkin saja terjebak dalam rasa sombong dan karena itu memakai segala pakaian, perhiasan dan kendaraan yang serba mewah. Mungkin mereka berpikir bahwa untuk menemui Tuhan mereka harus tampil dalam keadaan yang terbaik. Selain itu, mereka mungkin berharap akan mendapat perhatian khusus dari orang lain, tanpa menyadari bahwa hal ini bisa membuat orang lain merasa canggung atau tersudut.

Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: ”Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: ”Berdirilah di sana!” atau: ”Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!” Yakobus 2: 2-3

Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan melihat apa yang ada dalam hati umat-Nya. Bukan penampilan jasmani yang utama, tetapi apa yang benar-benar ada dalam hati umat-Nya, yaitu rasa hormat dan syukur kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Dengan demikian, penampilan kita secara jasmani bukannya tidak perlu, tetapi haruslah mencerminkan apa yang ada dalam hati kita. Penampilan bukan untuk meninggikan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Penampilan bukannya mengabaikan apa yang baik dan pantas menurut kemampuan kita, karena dari apa yang terlihat orang lain bisa membuat mereka sadar akan kemurahan dan perlindungan Tuhan kepada umat-Nya.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Berjalanlah dalam terang

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Mulai hari ini penduduk kota Sydney dan negara bagian New South Wales memperoleh “kemerdekaan” mereka kembali. Setelah berbulan-bulan mengalami lockdown, aktivitas bisnis dan sosial bisa dimulai lagi karena jumlah penduduk yang sudah dua kali divaksinasi telah mencapai 80%. Walaupun demikian, kebebasan yang mereka peroleh bukanlah tanpa batasan karena ada aturan-aturan tertentu yang masih harus ditaati. Restoran, salon kecantikan dan berbagai usaha bisnis yang biasa didatangi banyak orang harus menerapkan prokes yang antara lain membutuhkan bukti vaksinasi dari para pengunjungnya. Pemerintah memang sudah membuat berbagai peraturan dan petunjuk yang bisa dipakai sebagai rambu-rambu pelaksanaan prokes untuk kehidupan “new normal” ini. Dalam hal ini, ada kekuatiran bahwa tidak semua usaha bisnis akan mampu untuk menerapkan prokes ini dan tidak semua pengunjung mau menaatinya.

Dalam kehidupan manusia memang ada berbagai rambu-rambu yang dimaksudkan untuk membimbing mereka agar menjalani hidup dengan baik. Rambu-rambu sosial, budaya, agama, hukum dan sebagainya memberikan pedoman dan peringatan yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat. Walaupun orang mengerti tujuan pemakaian rambu-rambu itu, tidak semua orang mengacuhkannya. Mengapa begitu? Mungkin banyak orang yang berpikir:

  • Itu untuk orang lain
  • Saya tahu apa yang lebih baik
  • Itu sudah tidak berlaku lagi
  • Terlalu sulit dilakukan
  • Tidak ada gunanya
  • Tidak ada waktu

Jika semua orang tahu bahwa semua peraturan kesehatan umum ditentukan oleh pemerintah, banyak yang berpendapat bahwa pemerintah tidak boleh memaksakan peraturan kepada semua orang. Mereka yang merasa bahwa kemerdekaan mereka sudah dibatasi, sering kali melakukan tindakan-tindakan sebagai tanda protes. Dalam hal ini, sebagian orang Kristen tidak mau menerima petunjuk Yesus mengenai kewajiban mereka kepada pemerintah:

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Walaupun orang Kristen tahu akan akibat dosa adalah kematian, mereka juga percaya bahwa karena kasih Allah, Yesus sudah mati untuk umat-Nya. Karena itu, sebagian orang Kristen mungkin merasa tidak perlu lagi untuk memedulikan apa yang diperintahkan oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis oleh rakyat. Hidup untuk sebagian orang Kristen mungkin ingin dirasakan sebagai kebebasan karena keyakinan bahwa Tuhan yang mahakasih sudah mengampuni mereka. Walaupun ketaatan adalah bukti keselamatan, karena kasih kepada Tuhan menuntut kita untuk menaati firman-Nya, itu tidak berarti orang Kristen tidak akan bergumul dengan ketaatan.

Dalam hal ini, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa sikap hidup sedemikian adalah keliru.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6: 1

Untuk orang Kristen, firman Tuhan adalah seperti rambu-rambu yang membimbing perjalanan dan lampu yang menerangi jalan hidup mereka di dunia. Tanpa itu hidup manusia akan melenceng dari jalan yang benar dan kejatuhan ke dalam dosa tidaklah dapat dihindari.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan adalah seharusnya kita lebih berhati-hati dengan hidup kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus dan tidak mengabaikan firman Tuhan sebagai rambu-rambu dan lampu kehidupan yang tidak pernah berubah, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar dan hidup dalam kasih pemeliharaan-Nya.

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” Yesaya 40: 8

Cungkillah matamu agar engkau selamat

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5: 29

Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang di mana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanian pun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat dalam Keluaran 34: 14-15 menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umat-Nya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 14-15

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasamani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang, raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apa pun yang membuat kita mengagumi orang yang bukan pasangan kita, bisa menjadi perzinaan. Curahan hati kepada seorang teman, baik itu pria atau wanita, baik teman nyata maupun teman maya, bisa juga menjadi perzinaan.

Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firman-Nya.

Hari ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaan-Nya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosanya dan benar-benar mau bertobat – mencungkil dan membuang apa yang dulunya menjadi bagian dari hidupnya.

Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Kisah Para Rasul 3:19