Ketakutan berarti ketidakpastian

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

This image has an empty alt attribute; its file name is img_9246.jpg
Ya Tuhan, mengapa hidupku terasa berat?

Alkisah ada seorang perampok yang sangat kejam karena ia sering menyiksa para korbannya. Sekalipun para korban sudah menyerahkan semua hartanya, mereka tetap saja dianiaya. Perampok ini sudah tentu diincar oleh polisi karena sudah membuat masyarakat hidup dalam ketakutan. Pada akhirnya, polisi berhasil menangkap perampok ini dan kemudian pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Heran, bahwa menjelang pelaksanaan hukuman matinya, si perampok terlihat sangat ketakutan. Mengapa perampok yang tidak pernah takut menjalankan kejahatannya, dan yang seolah menganggap sepi hamba hukum yang berusaha menangkapnya, kemudian bisa menjadi ketakutan?

Kematian adalah suatu misteri bagi banyak orang dan karena itu mereka tidak senang membicarakannya. Sekalipun mereka tidak percaya adanya kehidupan di alam yang lain, banyak yang merasa takut ketika menghadapi saat kematian. Mungkin itu karena bayangan bahwa kematian sering diiringi dengan penderitaan atau rasa sakit yang luar biasa. Mereka yang hidupnya tidak mengenal Tuhan barangkali kuatir kalau-kalau mereka harus menjalani hukuman berat sesudah mati atas segala kejahatan yang dilakukannya selama hidup. Mereka yang mengenal Tuhan pun sering kuatir kalau-kalau mereka tetap harus ke neraka karena perbuatan jahat mereka lebih banyak dari perbuatan baik yang pernah diperbuat. Dengan demikian, adanya ketakutan adalah disebabkan oleh ketidakpastian akan apa yang akan terjadi sesudah kematian.

Jika kematian adalah ketakutan bagi banyak orang, bagaimana pula dengan kehidupan? Kehidupan bagi banyak orang juga menakutkan.Bahkan bagi sebagian, hidup bisa lebih menakutkan dari mati. Bagaimana tidak? Sekarang hidup tetapi tidak pasti kalau ada makanan esok hari. Sekarang hidup tapi tidak pasti kalau ada pekerjaan bulan depan. Sekarang hidup tapi kuatir kalau-kalau tertular penyakit orang lain. Sampai-sampai ada orang hidup yang ingin mati karena kematian dianggapnya akhir dari semua penderitaannya. Jadi kasihan juga, mereka mungkin tidak tahu kalau dengan kematian setiap orang masih harus mempertanggung-jawabkan hidupnya.

Bagi orang Kristen yang sejati, baik hidup atau mati bukanlah ketidakpastian. Paulus menulis bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 21). Hidup adalah bekerja untuk kemuliaan Kristus, dan mati adalah hidup bersama Kristus. Dengan demikian, baik mati maupun hidup bukanlah suatu ketakutan karena adanya kepastian bahwa kasih Kristus yang senantiasa menyertainya.

Saat ini, adakah ketakutan dalam hidup anda? Jika ya, apakah itu ketakutan untuk hidup atau ketakutan menghadapi kematian? Biarlah Firman Tuhan menginsafkan kita semua bahwa dalam kasihNya tidak ada ketakutan. Kasih Tuhan yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab dengan kasihNya kita sudah diampuni dan diangkat menjadi anak-anakNya. KasihNya menghilangkan hukuman atas kita dan sebaliknya membuka saluran berkatNya kepada kita. Karena itu barangsiapa takut, ia tidak menyadari kasih Tuhan. Biarlah dalam kasihNya kita bisa selalu dikuatkan baik dalam menghadapi hidup maupun kematian.

Kemerdekaan sebagai hamba Kristus

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5: 15 -16

Apakah anda mendengar berita tentang bagaimana beberapa negara sudah menghentikan lockdown dan PSBB untuk memasuki apa yang disebut “new normal“? Negara-negara yang pada mulanya mengalami kesulitan besar akibat pandemi  COVID-19 pada suatu saat memutuskan bahwa keadaan sudah mulai membaik dan cukup aman bagi rakyatnya untuk beraktivitas lagi. Bagi rakyat yang sudah merasa dikurung untuk berbulan-bulan, kesempatan untuk bisa keluar rumah dan melakukan berbagai kegiatan sudah tentu disambut dengan gembira. Walaupun demikian apa yang terjadi bisa membuat orang menggelengkan kepala karena seakan mereka sudah lupa akan bahaya yang masih mengancam. Adanya kebebasan memang sering membuat manusia lupa daratan. Virus corona masih bisa mencelakai siapa saja sampai vaksin ditemukan dan bahkan, seperti influenza, masih tetap merupakan bahaya laten sekalipun vaksin sudah ada.

Memang manusia adalah makhluk yang sangat istimewa karena berbeda dengan makhluk lainnya, mereka merasa bahwa kemerdekaan adalah suatu hal yang sangat berharga. Karena itu, hampir seluruh negara di dunia memperoleh kemerdekaannya melalui perjuangan berat yang memakan banyak korban jiwa. Manusia bersedia membayar kemerdekaan dengan harga yang tertinggi. Pada pihak yang lain, Tuhan memberikan kemerdekaan kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus untuk memakan buah apa saja, kecuali buah dari satu pohon yang ada di tengah taman itu. Sayang sekali bahwa mereka mungkin merasa bahwa kemerdekaan yang mereka miliki adalah kemerdekaan untuk melakukan apa saja, termasuk untuk tidak menaati perintah Tuhan. Itulah yang membawa kejatuhan mereka ke dalam belenggu dosa.

Sebagai orang Kristen kita harus bersyukur bahwa belenggu dosa itu sudak dilepas oleh Yesus Kristus yang mati untuk menebus kita. Karena Kristus, kita memperoleh kemerdekaan lagi dan itu sudah dibayar dengan harga yang termahal. Sayang sekali bahwa banyak orang Kristen yang merasa bahwa dalam Kristus mereka adalah orang-orang yang merdeka sepenuhnya. Ini tidaklah benar, karena sesudah bebas dari hamba dosa, kita menjadi hamba Kristus. Kita bergantung kepadaNya dan hidup untuk Dia. Kita hidup bukan untuk manusia dan bukan untuk diri kita sendiri.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Di zaman modern ini, iblis tetap bekerja dan berusaha mempengaruhi manusia seperti apa yang dilakukannya kepada Adam dan Hawa. Iblis dapat melihat bahwa kelemahan manusia adalah dalam hal kemerdekaan yang didambakannya untuk bisa melakukan apa saja yang dikehendaki. Manusia cenderung ingin memakai hidup dan waktu yang ada untuk kenikmatan dan kenyamanan diri sendiri. Dan keinginan itu tetap menggoda siapa saja termasuk orang Kristen yang sudah menjadi hamba Kristus. Dengan demikian, orang Kristen bisa saja bertingkah laku seperti orang yang bodoh yang merasa bahwa ia dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya. Itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka ke gereja di hari Minggu, tetapi pada hari-hari yang lain tingkah laku dan perbuatannya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Kristus.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa hamba Kristus haruslah berbeda dengan hamba dunia. Hamba Kristus adalah orang-orang yang merdeka dari kuasa iblis, orang yang berusaha hidup menurut Firman Tuhan setiap hari. Orang Kristen tidak sepatutnya menyia-nyiakan waktu yang ada untuk apa yang tidak berguna. Sebaliknya, mereka hidup untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama. Orang Kristen adalah orang yang sadar akan kehendak Tuhan dalam segala tindak-tanduknya.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 17

Pandanglah pada Yesus

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  2 Korintus 4: 17 – 18

Sebagai manusia kita sudah dianugerahi berbagai  indra oleh Tuhan, agar kita dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Alat indra manusia sering disebut juga dengan panca indra, karena terdiri dari lima indra yakni indra penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau/pencium (hidung), indra pengecap (lidah) dan indra peraba (kulit). Dari kelima indra itu, tidak dapat disangkal  bahwa mata adalah indra yang paling penting karena melalui mata manusia bisa melihat keadaan di sekelilingnya, memikirkan arti apa yang dilihatnya dan kemudian mengambil keputusan yang perlu.

Tanpa mata, dunia akan terasa gelap dan manusia mungkin menjadi kurang bisa untuk menggunakan kemampuannya. Benarkah begitu? Belum tentu! Mungkin anda pernah mendengar tentang Helen Keller yang lahir normal di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat pada tahun 1880. Di usia 19 bulan, ia diserang penyakit yang menyebabkan dia bukan saja buta tetapi juga tuli. Tetapi dengan susah payah Helen bisa diajar membaca lewat huruf Braille sampai ia bisa menjadi orang tuna rungu dan tuna netra pertama yang lulus dari universitas.  Ia kemudian berkeliling ke 39 negara untuk berbicara dengan banyak kepala negara dan mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli. Dalam kegelapan dan kesunyian, Helen menjadi orang ternama karena hasil jerih payahnya sudah membantu banyak orang yang senasib.

Di zaman ini,  mungkin ada banyak manusia tuna netra yang seperti Helen Keller yang bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, tetapi sebaliknya ada banyak orang yang bisa melihat tetapi tidak dapat menggunakan hidupnya dengan baik. Dengan demikian, mungkin ada yang berpendapat bahwa adanya mata belum tentu dapat memastikan pemiliknya bisa menemukan apa yang berguna dalam hidupnya. Itu ada benarnya. Memang, dengan mata orang juga bisa melihat hal-hal yang kurang baik, yang menyebabkan kebencian, kesedihan, kemarahan dan juga hawa nafsu dan keserakahan. Tidaklah mengherankan bahwa Yesus pernah berkata: “Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.” (Lukas 11: 34).

Dalam ayat di atas, dikatakan bahwa mata juga bisa membuat hidup kita menjadi gelap. Mengapa demikian? Mata manusia bisa terpaku pada hal-hal yang menyusahkan dan penderitaan yang ada disekelilingnya dan karena itu hidup manusia bisa menjadi sangat berat. Paulus sebaliknya memandang bahwa penderitaan yang dialaminya adalah ringan karena apa yang akan diterimanya, yaitu kemuliaan kekal dari Tuhan adalah jauh lebih besar dari pada penderitaannya. Karena itu, ia tidak memperhatikan yang terlihat dengan mata jasmaninya; dengan mata rohaninya ia justru bisa melihat apa yang tidak kelihatan yang akan diterimanya di surga. Apa yang kelihatan oleh mata manusia di dunia adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah keselamatan yang kekal.

Hari ini, apakah yang anda lihat dengan mata anda? Apakah anda melihat adanya kekacauan, penderitaan, kejahatan, penyakit dan kelaparan? Jangan berkecil hati! Dengan mata rohani, kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus sudah menebus kita dengan darahNya dan mengaruniakan keselamatan bagi kita di surga. Memang kita tidak bisa melihat itu dengan mata jasmani kita, tetapi jika kita memusatkan perhatian kita kepada Dia, kita akan bisa melihat kemuliaan yang kekal yang sudah dijanjikanNya. Dengan mata rohani yang dipusatkan kepada Dia, sekalipun mata jasmani kita melihat hidup yang berat di dunia ini, sukacita dan kedamaian tetap ada dalam hati kita dalam menempuh hidup di dunia!

Lelah dan susahkah jiwamu, serta gelap gulitakah?

Pandanglah t’rang Jurus’lamatmu, hidupmu ‘kan bahagialah.

Pandanglah pada Yesus, pandanglah wajah muliaNya,

di dalam terang kemuliaanNya, hatiku tak menjadi duka

Datanglah kepada Tuhan

Biarlah aku menumpang di dalam kemahMu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayapMu!” Mazmur 61: 4

Sudah beberapa hari ini berita-berita yang muncul dalam media kebanyakan berupa berita yang buruk. Pandemi COVID-19 memang masih merajarela, tetapi apa yang terjadi di beberapa tempat bisa membuat banyak orang bertambah gundah. Adanya demo besar di beberapa negara yang disertai dengan kekerasan, sudah memakan beberapa korban jiwa. Ini sudah tentu bisa membuat orang makin kuatir melihat keadaan dunia saat ini. Apalagi, kemunduran ekonomi yang mengancam banyak negara membuat orang makin tidak yakin apakah tahun 2020 ini bisa dilewati dengan selamat.

Siapakah yang bisa meramalkan keadaan sekarang sebelum ini terjadi? Dan siapa yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa mendatang? Tidak ada seorang pun yang bisa. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang mengalami tekanan batin yang sangat besar karena merasa tidak berdaya untuk menghindari bencana. Bagi banyak orang, bangun tidur adalah bagaikan mengalami mimpi buruk. Apa yang dilihat mata dan didengarkan telinga hanyalah berita yang tidak enak dan bahkan mengerikan. Masa sekarang adalah berat dan masa yang akan datang mungkin akan lebih berat. Mungkin mereka merasa ada baiknya jika mereka tidur lagi sehingga dapat menghindari kenyataan hidup. Tetapi, untuk bisa tidur nyenyak dengan pikiran yang gundah seringkali juga tidak mudah.

Adakah sesuatu yang bisa membawa sedikit kedamaian dan ketenangan hati dan pikiran di saat sulit sekarang ini? Kemana kita harus berlindung jika kemampuan kita sendiri sudah tidak dapat memberi jaminan masa depan? Adakah orang yang dapat memberi penghiburan kepada kita di saat kita berduka? Ayat di atas ditulis oleh Daud yang lemah lesu menghadapi tantangan hidupnya (Mazmur 61: 2). Daud yang sadar bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungannya (Mazmur 61: 3,) menyatakan keinginannya untuk tinggal di Kemah Suci Tuhan.

Kemah Suci, dalam bahasa Ibrani disebut Mishkan yang artinya tempat tinggal Allah, adalah rumah ibadah yang diperintahkan Tuhan kepada Musa untuk didirikan pada saat bangsa Israel berada di kaki Gunung Sinai. Dalam bahasa Inggris Kemah Suci diterjemahkan dengan kata Tabernacle, berasal dari bahasa Latin Tabernaculum yang artinya kemah, gubuk atau pondok.

Sudah tentu Daud sadar bahwa ia tidak dapat tinggal menumpang dalam Kemah Suci. Tetapi, Kemah Suci dalam bayangan Daud adalah suasana dan keadaan di mana ia bisa merasakan kasih dan perlindungan Tuhan. Seperti seorang pengungsi yang membutuhkan pertolongan, Daud mengharapkan bantuan yang bukan hanya untuk sementara. Jika manusia tidak dapat memberi Daud perasaan damai dan tenteram, Tuhan bisa dan mau untuk memberi tempat berlindung yang abadi.

Hari ini, adakah kekuatiran yang anda rasakan? Adakah masalah besar yang harus anda hadapi? Sekalipun anda tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, Tuhan selalu siap menolong anda. Datanglah dan tinggallah di kemah Tuhan, maka Ia akan memberikan pertolonganNya!

Jika bahaya datang tanpa diundang

Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya. Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: “Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding.” Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali. Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud, sedang dari pada Saul Ia telah undur. 1 Samuel 18: 10 – 12

Pernahkah anda mengundang bahaya? Pada umumnya, setiap orang pada suatu saat dalam hidupnya pernah, secara sadar atau tidak, mengundang bahaya.  Itu terjadi jika kita melakukan sesuatu yang jika kita pikir dalam-dalam, adalah sesuatu yang tidak patut kita lakukan karena adanya resiko yang tidak baik. Misalnya, mengendarai motor tanpa helm, mengendarai mobil tanpa sabuk pengaman, ngebut atau merokok. Mungkin kita melakukan hal-hal itu sebagai suatu kebiasaan atau sebagai sesuatu yang dipandang umum oleh masyarakat. Tetapi, orang yang sadar akan adanya bahaya tentu saja akan berusaha menghindarinya. Itu jika mereka mempunyai pikiran sehat.

Ketika itu Daud sudah menjadi seorang prajurit raja Saul. Ia bahkan menjadi seorang kepala peleton. Daud dari seorang gembala sudah menjadi seorang pahlawan yang mengalahkan orang Filistin dan karena itu banyak orang yang menyanjungnya. Dalam keadaan itu, raja Saul bukannya merasa senang atas keberhasilan Daud, tetapi justru merasa benci dan iri. Saul merasa terancam karena ia tahu bahwa Tuhan tidak lagi menyenanginya. Hari demi hari berlalu, rasa benci itu tumbuh makin besar sehingga menjadi keinginan untuk menghancurkan Daud.

Apa yang dialami Saul sebenarnya sangat sering terjadi pada diri manusia mana pun. Mereka yang merasa kurang berhasil dalam hidupnya, bisa merasa iri akan apa yang bisa dicapai oleh orang lain. Rasa iri bisa bertumbuh menjadi besar dan menjadi rasa benci. Dan dari rasa benci tumbuhlah pikiran yang jahat. Ini jugalah yang terjadi pada waktu Kain membunuh Habil, adiknya.

Daud yang tinggal di istana Saul sudah tidak pernah pulang ke rumahnya lagi. Ia merasa kerasan di istana dan masih saja sering memainkan kecapinya. Mungkinkah Daud tidak merasakan perubahan sikap Saul kepadanya? Itu mungkin, tetapi Saul bukanlah orang yang bisa menyembunyikan perasaannya. Besar kemungkinan Daud tahu bahwa Saul tidak lagi menyenanginya seperti dulu, tetapi ia tidak peduli akan hal itu. Ia adalah orang yang setia kepada Tuhannya dan juga kepada rajanya. Ia tetap sering bermain kecapi untuk memuji Tuhannya dan untuk menghibur Saul.

Pada suatu saat Tuhan membiarkan roh jahat menguasai raja Saul sehingga ia menjadi kerasukan. Saul menjadi orang yang sangat marah, dan tidak dapat menyembunyikan atau mengendalikan kemarahannya. Ia kemudian mengambil tombak dan melemparkannya ke Daud dengan maksud membunuhnya. Daud tidak menyangka bahwa bahaya maut datang secara tiba-tiba. Apa yang diperbuatnya sehingga Saul ingin membunuhnya? Tentu tidak terlintas dalam pikiran Daud bahwa Saul mengingini kematiannya. Tetapi Daud bisa menghindari lemparan tombak Saul. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali.

Ada dua pertanyaan di sini. Yang pertama, apakah Daud tidak sadar bahwa tinggal dengan Saul adalah mengundang bahaya? Setidaknya Daud pasti merasakan adanya kebencian Saul, tetapi ia tidak peduli akan hal itu karena ia mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Daud tidak mengundang bahaya, tetapi bisa hidup dalam keadaan bahaya. Dengan adanya hubungan yang baik dengan Tuhan kita juga bisa seperti Daud, kita bisa melupakan kenyataan pahit di sekitar kita dan memusatkan hati dan pikiran kita kepada kasih Tuhan. Keadaan di sekeliling kita tidak dapat menghapus rasa damai dan sukacita kita jika kita sadar bahwa Tuhan beserta kita.

Yang kedua: mengapa Daud bisa menghindari serangan tombak Saul sampai dua kali? Mungkin kita berpikir bahwa Daud yang menang dalam duel melawan Goliat tentu mempunyai kemampuan untuk menghindari serangan Saul.  Daud yang mengalahkan orang Filistin tentu adalah seorang prajurit yang terampil.  Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Daud menang atas Goliat bukan karena kemampuannya sendiri. Tuhanlah yang membuat ia menang. Tuhan jugalah yang membuat Daud bisa menghindari serangan tombak yang tidak terduga dari Saul.

Tuhan yang sudah membiarkan roh jahat menguasai Saul sehingga ia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, adalah Tuhan yang mempunyai rencana lain. Tuhan tidak akan membiarkan Saul menjadi sedemikian murka jika Ia tidak dapat menguasai tindakan Saul. Dalam keadaan yang kritis, Tuhan yang mengizinkan itu terjadi adalah Tuhan yang tahu bagaimana Ia harus menyudahinya. Tuhan adalah mahakuasa dan mahatahu. Rencananya selalu baik untuk orang orang yang dikasihiNya.

Apa  maksud Tuhan dalam membiarkan kedatangan bahaya yang tidak diundang kepada Daud? Itu tertulis dalam ayat ke 12. Saul menjadi takut kepada Daud, karena ia bisa melihat bahwa Tuhan menyertai Daud, sedangkan ia bisa merasa bahwa Tuhan sudah mundur darinya. Dengan demikian, ayat-ayat ini memberi pelajaran kepada kita sebagai umat Tuhan, bahwa bahaya bisa datang dalam hidup kita tanpa diundang, tetapi Tuhan selalu memegang kontrol. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang dikasihiNya tetapi akan mengabaikan mereka yang tidak mau taat kepada perintahNya. Adakah yang masih kita kuatirkan dalam hidup ini? Marilah kita serahkan hidup kita kepada Tuhan!

Kewajiban untuk menasihati orang lain

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Yehezkiel 33: 8

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang mengingatkan orang lain tentang perlunya untuk menjaga jarak selagi mengantri. Maklum, dalam suasana pandemi ini setiap orang seharusnya punya rasa peduli (duty of care) untuk orang lain. Namun, nasihat yang disampaikannya ternyata disambut dengan rasa tidak senang dari orang yang dinasihati. Ujung-ujungnya, maksud baik dari orang yang menasihati kemudian berakhir dengan pertikaian.

Adakah untungnya bagi orang yang bermaksud baik untuk memberi nasihat bagi orang lain jika ada kemungkinan bahwa nasihat itu akan ditolak mentah-mentah dan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengadakan permusuhan? Ini adalah pertanyaan yang mungkin muncul dalam setiap orang dari kecil. Memang, orang sering mempunyai keinginan untuk menolong orang lain, setidaknya untuk memberi nasihat.  Tetapi, dari kecil mungkin kita sudah belajar untuk mengabaikan adanya hal-hal yang kurang baik dalam masyarakat. Mungkin dari orang tua atau teman, kita belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Itu adalah demi keselamatan atau kenyamanan kita sendiri.

Jika seseorang berusaha menasihati orang lain, ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Ada orang yang hanya ingin menunjukkan kemampuan dan kehebatannya. Ada juga orang yang cenderung ingin mempersalahkan, menghakimi atau merendahkan orang lain. Tetapi, ada juga orang yang benar-benar ingin agar orang lain sadar akan adanya hal yang tidak benar. Dalam semua itu, orang yang dinasihati bisa saja merasa bahwa dirinya dipermalukan atau diserang sehingga ia menjadi defensif, ingin membela diri.

Sangatlah menarik bahwa setiap masyarakat selalu mempunyai hal-hal tertentu yang tidak boleh disinggung atau dibicarakan orang lain. Di dunia Barat misalnya, hal aborsi dan persamaan gender seringkali membuat masyarakat rikuh untuk membicarakannya di tempat umum. Begitu pula, dalam masyarakat Timur orang belajar untuk tidak mengkritik orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya.  Dengan demikian, orang menjadi kurang peduli atas persoalan orang lain. Biarlah orang yang melakukan kesalahan membayar dendanya sendiri, begitu kita berpikir.

Bagaimana sebenarnya panggilan orang Kristen dalam menghadapi situasi di sekelilingnya? Haruskah orang Kristen berusaha berdamai dengan semua orang dengan cara apa pun? Kita bisa melihat dari contoh Yesus yang selama hidup di dunia tidak ragu-ragu menegur orang lain, sekalpun itu menyebabkan kemarahan mereka. Dengan demikian, panggilan kita untuk hari ini tetaplah sama, yaitu agar kita berani menyatakan apa yang benar dan yang tidak benar menurut apa yang difirmankan Tuhan.

Ayat di atas adalah pernyataan Tuhan yang khusus kepada Yehezkiel, tetapi bisa diterapkan prinsipnya untuk semua orang Kristen yang hidup di mana pun. Prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita ikut bertanggung-jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain yang kita lihat sendiri. Jika kita tahu bahwa orang lain melakukan kesalahan dan kita hanya berdiam diri, kita sudah ikut bersalah di hadapan mata Tuhan. Setiap orang Kristen dipanggil untuk ikut berpartisipasi dalam menegakkan kebenaran, bukan saja dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan gereja, tetapi juga dalam hidup bernegara. Semua itu tentunya harus dilakukan dengan kasih dan untuk kemuliaan Tuhan. Semoga Tuhan menguatkan umatNya.

 

Hal belajar dan mengajar

” Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.” Amsal 15: 31 – 32

Awal bulan April yang lalu, ketika PSBB masih dijalankan secara penuh di negara bagian New South Wales, Australia, seorang menteri bermobil ke rumah liburan (holiday house) yang dimilikinya. Malang tidak dapat ditolak, ia dipergoki oleh beberapa orang di tempat peristirahatannya, dan karena pelanggarannya ia didenda $1000. Bukan hanya itu, ia terpaksa meletakkan jabatannya sebagai menteri kebudayaan. Suatu denda yang sangat besar.

Memang di Australia keharusan untuk mengikuti aturan kesehatan masyarakat ini dijalankan dengan ketat. Kebanyakan orang mau menaati peraturan sekalipun bukan dengan sukarela. Umumnya orang mengerti perlunya PSBB, tetapi jika tidak merugikan dirinya. Tetapi, karena adanya denda uang, orang lebih berhati-hati untuk tidak melanggar peraturan. Walaupun demikian, orang yang dengan sengaja melanggar peraturan masih tetap bisa ditemukan dalam masyarakat.

Pada hakikatnya, setiap manusia selalu ingin untuk melakukan apa yang disenanginya dan tidak mau untuk melakukan apa yang dikehendaki orang lain. Lebih dari itu, orang cenderung untuk mendengarkan suara hati dan pikirannya sendiri daripada mendengarkan nasihat orang lain. Manusia selalu ingin menggunakan kebebasannya untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan demikian, dalam masyarakat kita bisa melihat bahwa banyak orang cenderung untuk berhati-hati dalam memberi nasihat kepada orang lain sebab kuatir menyinggung perasaan orang itu.  Dalam kehidupan di negara-negara tertentu, orang malah mungkin segan untuk mengutarakan pendapatnya secara umum, karena kuatir melanggar tatakrama bermasyarakat atau bernegara.

Sebagai orang Kristen, bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak semestinya? Ayat-ayat diatas menjelaskan bahwa orang-orang yang mau mendengarkan teguran orang lain tergolong orang bijak. Sebaliknya, mereka yang mengabaikan  didikan orang lain adalah orang-orang yang bodoh yang membuang dirinya sendiri. Mereka adalah orang yang perlu dikasihani karena mereka tidak menyadari persoalan mereka. Sebagai orang Kristen, kita harus mengasihi sesama kita, dan ini tentunya termasuk kemauan untuk mengajar orang lain yang mau menjadi bijak. Kita harus meniru Yesus yang mau dan berani menegur dan mengajar siapa pun, termasuk orang Farisi dan para penguasa.

“..berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.” Amsal 9: 9

Banyak orang Kristen yang tidak mau ikut campur dalam masalah orang lain atau dalam hal menyuarakan pendapatnya dalam masyarakat. Ini adalah sesuatu yang perlu disesali karena mereka seakan adalah orang yang bijak, yang mau menerima nasihat orang lain, tetapi tidak mau atau berani memberi nasihat agar orang lain menjadi makin bijak. Pada pihak lain, ada juga orang Kristen yang tidak mau memberi nasihat kepada orang lain karena ia juga tidak ingin dinasihati.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Kristen kita tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi kesalahan dan kekeliruan dalam masyarakat. Sebagai orang yang bijak kita bukan saja mau belajar, tetapi juga mau mengajar supaya semua orang memperoleh hikmat kebijaksanaan dari Tuhan kita. Sebagai warga dari satu negara dan penghuni satu dunia, setiap orang Kristen harus mau menjadi terang bagi orang lain, supaya nama Tuhan makin dipermuliakan.

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Kolose 3: 16