Apakah iman bisa memindahkan gunung?

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Pada kesempatan mengunjungi Mesir, saya sempat mampir di sebuah gereja besar berkapasitas 20000 orang yang dikenal di Indonesia sebagai “Gereja Sampah”. Nama yang agaknya mempunyai konotasi yang kurang baik itu sebenarnya muncul karena gereja itu didirikan di daerah Bukit Mokattam dimana penduduknya mencari nafkah dengan mengumpulkan dan mengolah sampah untuk dijual sebagai bahan daur ulang. Nama resmi gereja ini sebenarnya Gereja Santa Perawan Maria dan juga dikenal sebagai gereja St. Simon the Tanner (Simon penyamak kulit).

Di gereja ini saya mendengar dari guide saya bagaimana warga Mesir pada zaman yang silam menyaksikan suatu mukjizat yakni gunung yang berpindah tempat karena doa orang percaya. Alkisah, ada seorang imam yang ditantang untuk memindahkan sebuah gunung oleh raja Mesir sehubungan dengan bunyi ayat di atas. Sang imam kemudian berpuasa tiga hari dan bertemu dengan Bunda Maria. Sang imam diminta mencari seseorang bernama Simon. Bersama tukang sepatu inilah sang imam berdoa. Mukjizat pun terjadi dan gunung itu berpindah sehingga kini ada gereja di puncaknya.

Memang ada orang yang percaya bahwa ayat di atas harus ditafsirkan secara harafiah, yaitu jika kita mempunyai iman sebesar biji sesawi segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Jika memindahkan gunung belum terjadi, itu karena belum ada manusia yang mempunyai iman yang cukup. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang merasa sangat terpukul ketika apa yang mereka doakan tidak terjadi dan orang lain mempersalahkan iman mereka.

Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus itu adalah kiasan. Manusia sudah tentu tidak diharapkan Tuhan untuk bisa secara fisik memindahkan gunung yang sudah diciptakanNya – sekalipun mempunyai iman sebesar apa pun. Tetapi, manusia mampu menghadapi persoalan sebesar gunung jika ia mau percaya bahwa Tuhan bisa menolongnya pada saat dan dengan cara yang sesuai dengan kehendakNya. Iman kita bukanlah diukur dengan apa yang terjadi yang sesuai dengan pengharapan kita, tetapi dengan kepercayaan dan penyerahan bahwa Tuhanlah yang membuat itu terjadi.

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa memiliki iman yang besar itu tidak perlu, karena biji sesawi menggambarkan sesuatu yang sangat kecil. Tetapi ini juga tidak benar karena Yesus menegur muridNya karena mereka gagal melaksanakan tugas mereka sebab kurang percaya. Mereka seharusnya meminta Tuhan untuk memberikan mereka iman yang besar, karena iman datang bukan karena usaha manusia tetapi karena karunia Tuhan (Efesus 6: 23). Iman tidak dapat diperoleh manusia dengan berbuat baik atau taat kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita memperoleh iman dari Tuhan, kita akan bisa menjalankan kehendakNya.

Iman diberikan Tuhan kepada manusia agar mereka bisa memuliakan Tuhan. Iman bukannya untuk membawa keuntungan duniawi yang bersifat pribadi. Dengan demikian, mereka yang berdoa meminta iman yang besar agar dapat memindahkan “gunung” masalah hidup mereka sebenarnya tidak menyadari bahwa iman yang besar berarti kepercayaan yang besar bahwa Tuhan sanggup menolong mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan. Iman yang besar akan menghilangkan kekuatiran bahwa Tuhan melupakan atau mengabaikan keluhan umatNya.

Mengapa masih meragukan kuasa Tuhan?

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Matius 14: 28

Kisah Yesus berjalan di atas ombak danau Tiberias agaknya sering dibahas. Kejadian itu ditampilkan dalam Matius 14: 22 -33, Markus 6: 45 – 52 dan Yohanes 6: 16 – 21, tetapi hanya Matius yang menyebut Petrus yang hampir tenggelam. Kebanyakan orang mengupas kejadian itu dari sudut kelemahan iman Petrus ketika mencoba berjalan di atas air seperti Yesus.

Mungkin sebagian orang merasa bahwa Petrus agaknya cukup bodoh untuk melangkahkan kaki keluar dari perahunya. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa berjalan di atas air? Hanya Allah yang bisa, karena Ia mahakuasa. Ayub 9: 4 – 8 menyebutkan bahwa Allah itu bijak dan kuat, yang bisa memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar- bangkirkannya dalam murka-Nya; yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang; yang memberi perintah kepada matahari sehingga tidak terbit, yang mengurung bintang-bintang sehingga tidak berpindah; yang seorang diri membentangkan langit, dan yang melangkah di atas gelombang-gelombang laut.

Yesus yang sepenuhnya berupa manusia pada saat itu bisa melangkah di atas gelombang laut Galilea atau danau Tiberias, karena Ia bukan manusia biasa. Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta. Walaupun demikian, Petrus tidak yakin apakah sosok yang berjalan di atas gelombang air itu adalah Yesus! Bagaimana mungkin manusia yang makan, minum dan tidur seperti dia bisa melakukan hal itu? Karena itu ia berseru kepada Yesus: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air.”

Mengapa Yesus berjalan di atas air? Sesuai dengan Ayub 9: 4 – 8, Yesus bermaksud menyatakan diriNya kepada murid-muridNya yang mengalami bahaya bahwa Ia yang sepenuhnya manusia adalah juga sepenuhnya Tuhan, yang berkuasa atas apa pun, termasuk gelombang kehidupan manusia. Jika manusia tidak sanggup menyelesaikan masalah hidupnya, Tuhan bisa mengatasinya.

Apakah Yesus memang mengajak Petrus untuk berjalan di atas air untuk mengukur imannya? Barangkali tidak, karena Petrus adalah manusia. Yesus sebaliknya tahu bahwa Petrus ragu bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Sayang sekali Petrus bimbang bahwa Yesuslah yang berjalan di atas air! Karena itu, Yesus ingin mengajar Petrus bukan untuk berjalan di atas air sendirian, tetapi untuk percaya bahwa Oknum yang berada di tengah gelombang laut dan tidak tenggelam adalah Tuhan sendiri.

Hari ini, adakah masalah besar dan gelombang kehidupan yang anda hadapi? Tuhan mungkin tidak mengharapkan anda untuk menghadapinya sendirian. Tuhan yang tahu kelemahan anda mengharapkan anda untuk mengakui Dia sebagai Tuhan yang mahakuasa. Seperti Petrus, kita mungkin bimbang apakah Tuhan yang berada di dekat kita, akan mampu mengatasi topan kehidupan kita. Mungkin kita mencoba untuk berjalan di atas topan kehidupan kita dengan kaki kita sendiri. Tetapi, bukan itu yang diharapkan Tuhan. Tuhan mengharapkan semua umatNya untuk tidak bimbang atas kuasa dan kasihNya.

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Matius 14: 31 – 33

Jangan mengabaikan Tuhan

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga.” Matius 10: 32 – 33

Pernahkah anda menyangkali sesuatu atau seseorang? Pertanyaan ini mungkin tidak perlu cepat dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Menyangkali yang bagaimana? Kata “menyangkali” memang mempunyai beberapa arti: mengingkari; tidak mengakui; tidak membenarkan; membantah; melawan; menentang; menyanggah; dan menolak.

Apa yang terjadi pada diri Petrus ketika Yesus sedang diadili tentunya sudah banyak dibahas. Ketika itu Petrus ditanya orang apakah ia adalah pemgikut Yesus. Tiga kali ia ditanya, tiga kali juga ia menyangkal. Dengan demikian, Petrus sudah meyangkali atau menolak Yesus. Jika tidak karena penyesalan Petrus dan pengampunan Yesus, tentunya Petrus tidak mempunyai harapan untuk masa depannya.

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26: 74 – 75

Bagi kita yang tidak pernah mengalami suasana mencekam seperti yang dialami Petrus, tentunya tidak dapat membayangkan bagaimana mudahnya Petrus untuk menyangkali Tuhannya. Pada pihak yang lain, kita tahu bahwa Petrus pada akhir hidupnya mengalami kematian yang mengerikan karena bertahan pada imannya.

Kita tentunya berharap agar dalam hidup kita ini tidak harus menghadapi tantangan hidup sebesar yang dialami Petrus, agar tidak pernah menyangkali Tuhan kita selama hidup di dunia. Selama kita tidak mengalami ancaman besar, mungkin kita yakin bahwa kita akan bertahan dengan iman kita. Apalagi jika kita merasa hidup kita selalu aman dan nyaman, hal menyangkali Tuhan tentunya tidak pernah terpikirkan. Tuhan tentunya senang dengan cara hidup kita, begitu kita mungkin berpikir.

Benarkah kita tidak pernah menyangkali Tuhan? Menyangkali Tuhan tidak harus diartikan sebagai menolakNya seperti apa yang dilakukan Petrus. Kita bisa saja mengaku umatNya, tetapi tidak selalu hidup menurut perintahNya. Kita mungkin sudah lama menjadi orang Kristen, tetapi sering lupa akan janji kesetiaan yang kita ucapkan dulu. Mungkin juga, karena pengaruh orang lain, hidup kita tidak lagi berjalan menurut perintah Tuhan. Menyangkali Tuhan tidak harus dengan perkataan atau perbuatan, tetapi bisa juga terjadi jika kita sering mengabaikan atau melupakan Dia.

Mereka yang hidupnya selalu menurut firmanNya akan mengalami perubahan hidup sehingga makin lama makin bisa hidup seperti apa yang dikehendaki Bapa (Matius 5: 48). Sebaliknya, jika tahun demi tahun berlalu dan hidup kita tidak banyak mengalami perubahan dalam tingkah laku, cara hidup, kebiasaan dan etika kita, mungkin kita sudah melupakan Tuhan dan tidak lagi mengakui Dia sebagai Raja. Seperti apa yang terjadi pada Petrus, Tuhan yang mahakasih masih memberi kita kesempatan melalui bimbingan RohNya untuk insaf akan kekeliruan kita dan mau mengubah hidup kita.

Dimanakah hatimu?

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6: 19 – 21

Hari ini adalah hari tahun baru Imlek yang dirayakan di negara-negara yang mempunyai banyak penduduk yang masih memakai budaya Cina. Di Australia, hari ini bukanlah hari libur atau hari besar yang dirayakan umum, tetapi adalah hari yang biasanya dirayakan di Chinatown dan dalam masyarakat keturunan Cina saja.

Untuk menyambut Chinese New Year ini, sejak beberapa hari yang lalu berbagai ucapan selamat tahun baru dengan gambar tikus dan kata Gong Xi Fat Cai mulai bermunculan di media sosial seperti Facebook dan Whatsapp. Kata Gong Xi Fat Cai yang mungkin bisa diartikan “mendoakan tahun baru yang penuh rezeki” memang adalah salah satu ucapan tahun baru Imlek yang banyak dipakai orang. Mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis tentunya menyukai ucapan selamat seperti ini, tetapi masyarakat umum sering juga mengucapkan “semoga sukses selalu” sebagai ucapan alternatif. Kemakmuran, rezeki dan kesuksesan memang diharapkan banyak orang ketika memasuki tahun yang baru. Tetapi bagi orang Kristen, ini bukanlah hal yang terpenting.

Membaca kisah perjalanan umat Israel pada zaman perjanjian lama, kita tahu bahwa Tuhan berkali-kali mengingatkan mereka melalui berbagai kejadian dan nabi-nabi bahwa apa yang terpenting dalam hidup adalah kepercayaan kepada Tuhan yang mahakuasa, yang sudah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dengan demikian, ucapan selamat tahun baru Imlek yang lebih cocok untuk umat Kristen mungkin adalah “Xin Nian Kuai Le” dan “Xin Nian Meng En” yang berarti “Semoga berbahagia di tahun yang baru” dan “Semoga Tuhan mengaruniai berkatNya di tahun baru” Memang untuk orang Kristen, sukacita dalam Tuhan adalah jauh lebih penting daripada kemakmuran dan kesuksesan. Tuhan kita yang mahabesar dan mahakasih tahu apa yang terbaik untuk umatNya, dan itu bukan harta atau nama yang fana.

Ayat di atas mengingatkan bahwa mereka yang mengejar harta dan kesuksesan duniawi adalah orang yang mencari hal yang tidak kekal dan yang tidak akan dapat memberikan kebahagiaan abadi. Mereka yang hidupnya berpusat pada harta, kemakmuran dan kesuksesan menaruh hati dan hidupnya dalam kebahagiaan yang semu dan lupa bahwa kedekatan dengan Tuhan adalah harta rohani yang tidak bisa hilang dalam keadaan apapun. Tuhan yang mahakuasa adalah sumber kebahagiaan kita, dan kepadaNya saja kita harus memusatkan hati kita selama hidup di dunia. Selamat Tahun Baru Imlek (untuk yang merayakan), semoga Tuhan memberkati hidup anda.

Kaya tapi miskin, miskin tapi kaya

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Ucapan bahagia atau the Beatitudes adalah ucapan berkat yang disampaikan Yesus sewaktu Ia masih di dunia. Tempat dimana Yesus menyampaikan ucapan ini diduga adalah sebuah bukit dekat kota Tabgha dan Kapernaum di Israel. Pada kunjungan saya ke Israel baru-baru ini, saya sempat melihat gereja Katolik yang didirikan disana untuk memperingati hal itu.

Apa yang disebutkan Yesus dan dikenal umat Kristen sebagai ucapan-ucapan bahagia adalah pernyataan Yesus mengenai apa yang baik bagi manusia untuk dipakai sebagai pedoman hidup (Matius 5: 1 – 12). Meskipun ada yang mengatakan bahwa jumlahnya ada 8, 9 atau 10, secara tradisional ada 8 ucapan bahagia karena ayat 11 dan 12 memakai kata “kamu” dan bukan “orang”.

Ucapan bahagia seringkali dipakai untuk bahan renungan atau khotbah, tetapi pada umumnya umat Kristen kurang bisa memahami artinya. Itu karena apa yang dikatakan Yesus adalah berlawanan dengan apa yang bisa diterima akal manusia. Ayat di atas misalnya, mempunyai 2 hal yang sulit dimengerti: yaitu “miskin di hadapan Allah” dan “empunya kerajaan surga”. Miskin tapi kaya?

Hal miskin di hadapan Allah adalah sesuatu yang tidak mudah dijelaskan. Sudah tentu ini bukan mengenai kemiskinan jasmani. Yesus tidak mengatakan bahwa mereka yang ingin dekat dengan Allah harus menjadi orang yang tidak berharta. Bagi Tuhan, orang berharta dan orang miskin tidak ada bedanya: mereka adalah orang berdosa yang sama-sama membutuhkan Dia. Walaupun demikian, mereka yang mengejar dan mencintai harta bisa menemui kesulitan untuk menjadi muridNya.

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Markus 10: 21

Pada pihak yang lain, Yesus menyatakan bahwa mereka yang tidak kaya justru bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Ketika Yesus melihat janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkanya, Ia bisa melihat bahwa hati janda ini dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan yang sudah membimbingnya. Sebagai manusia, janda ini adalah orang yang miskin di hadapan Allah, yang selalu bergantung kepada Tuhan.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Markus 12: 43 – 44

Kemiskinan jasmani di dunia adalah konsekuensi dosa, tetapi itu tidak harus berarti kemiskinan rohani. Sebaliknya, mereka yang hidupnya terlihat kaya dan nyaman tetapi tidak merasakan kebutuhan spiritualnya adalah orang-orang yang jauh dari Tuhan dan miskin secara rohani. Kaya tapi miskin.

Baik kekayaan maupun kemiskinan jasmani bukanlah hal yang bisa memadamkan kasih dan kemuliaan Tuhan jika orang selalu sadar akan ketergantungannya kepada Tuhan. Kemiskinan di hadapan Allah (poor in spirit) dengan demikian menyatakan adanya penyerahan hidup secara total kepada Tuhan. Mereka yang miskin di hadapan Allah adalah orang kaya rohani karena dekat denganNya (yang empunya kerajaan surga). Mereka akan menjadi orang yang berbahagia.

Tuhan tidak selalu menghendaki atau menjanjikan umatNya kekayaan jasmani, tetapi Ia akan memberikan kekayaan rohani jika orang selalu merasa membutuhkan Tuhan atau merasa miskin di hadapanNya.

Let the weak say I am strong

Let the poor say I am rich

Let the blind say I can see

It’s what the Lord has done in me

Apa yang anda harapkan melalui doa?

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 8 – 9

Doa adalah nafas kehidupan, begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Nafas kehidupan seorang bayi, tanpa itu tidak ada kehidupan. Bagi mereka yang percaya, doa adalah sesuatu yang menyejukkan hati dan pikiran, baik diri sendiri atau pun orang lain. Tetapi apa arti sebuah doa bagi orang Kristen?

Ada orang yang menyamakan doa dengan restu, permohonan, ucapan kasih dan lain-lain. Karena itu banyak “doa” yang diucapkan orang yang berisi kata-kata yang indah dan membawa harapan. Tetapi, bagi orang Kristen doa adalah sebuah komunikasi manusia dengan Allah Sang Pencipta melalui Yesus Sang Penebus. Dengan demikian, untuk bisa berdoa dengan efektif tentunya orang harus mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan menyadari kedudukannya di hadapan Dia yang mahabesar. Doa yang sedemikian memang dapat membawa banyak kebaikan.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Kebanyakan orang sering berdoa ketika perlu untuk mendapatkan apa yang diingininya. Itu mungkin kesembuhan, perlindungan, keberhasilan dan sebagainya. Hal ini bisa dimaklumi karena manusia pada umumnya tidak menyadari bahwa mereka seharusnya berdoa untuk apa yang dibutuhkannya. Manusia sering tahu apa yang diingini, tetapi tidak sadar akan apa yang dibutuhkan. Tuhanlah yang sepenuhnya tahu apa yang kita butuhkan dan Ia selalu memberikannya pada waktu yang tepat.

Jika Tuhan menghendaki kita berdoa kepadaNya, itu sudah tentu berguna untuk memupuk hubungan yang baik dengan Dia. Dengan hubungan yang baik itu, kita bisa mengerti kasihNya yang besar yang menyertai kita setiap saat. Selanjutnya, kita bisa mengerti apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita dan menyadari apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup, dan bukan apa yang kita ingini.

Dalam ayat di atas, kita membaca bahwa Paulus ingin agar Tuhan membebaskan ya dari penderitaan fisik yang ada sejak lama. Ia tiga kali berseru kepada Tuhan untuk menolongnya, tetapi Tuhan tidak menuruti permohonannya. Mengapa demikian? Dari ayat itu juga kita membaca bahwa apa yang diingini Paulus bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan. Paulus berdoa untuk apa yang diingininya, tetapi Tuhan memberi apa yang dibutuhkannya.

Dalam penderitaannya Paulus membutuhkan kekuatan dari Tuhan. Dalam keadaan sedemikian, apa yang ia perlukan adalah keyakinan bahwa Tuhan mengasihi dia dan menguatkan dia. Karena itu Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu Paulus tidak bersedih hati ketika doanya tidak mendatangkan apa yang diingininya. Sebaliknya ia bermegah atas kelemahannya, karena ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Pagi ini, jika anda ingin berdoa kepada Tuhan karena adanya sesuatu yang diminta, biarlah itu disampaikan karena adanya hubungan yang baik antara anda dengan Tuhan. Dengan bimbingan Tuhan, anda akan dapat melihat perbedaan antara apa yang anda inginkan dan apa yang anda butuhkan. Apa yang anda butuhkan adalah sesuatu yang memperkuat hubungan antara anda dengan Tuhan. Sebaliknya, apa yang anda inginkan mungkin justru bisa menjauhkan anda dari kasih karunia dan penyertaanNya. Tuhan yang mahakasih tahu apa yang terbaik untuk kita semua.

“Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8

Habis gelap terbitlah terang

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” Efesus 5: 8 – 10

Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini yang dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht. Buku aslinya diterbitkan pada 1911 dan pada tahun 1922 disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka dan Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemahnya.

Agaknya judul buku Kartini mirip dengan bunyi ayat pembukaan yang ditulis oleh Rasul Paulus kepasa jemaat di Efesus: Dulu kita adalah kegelapan, tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan. Tetapi apa artinya?

Sebelum kita mengenal Tuhan, atau lebih tepatnya sebelum kita dikenal Tuhan, kita hidup menurut apa yang kita pandang baik. Dalam hidup ini memang banyak hal yang dipandang baik dan bisa diterima oleh masyarakat di sekeliling kita. Tetapi apa yang dianggap baik, adil dan benar oleh manusia selalu berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Hanya apa yang dikehendaki Tuhan tidak pernah berubah karena Tuhan selalu sama: dulu, sekarang dan selamanya.

Mungkin kita sudah membaca banyak buku, belajar dari orang-orang yang terkenal atau sering merenungi makna kehidupan kita, tetapi apa yang kita lakukan hanyalah menurut pendapat dan ajaran manusia. Dan jika kita melakukan yang terlihat baik, itu hanya menurut standar manusia. Dengan demikian, sepandai-pandainya kita, atau sesaleh-salehnya kita, kita tidak dapat menyadari apa yang dikehendaki Tuhan. Kita berada dalam kegelapan, tetapi sering membimbing orang lain ke arah kegelapan.

Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih tahu akan kelemahan manusia dan sudah mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diriNya dalam wujud manusia Yesus. Dari Dialah kita belajar mengenal Allah Bapa dan menjadi terang di dalam Dia.

“Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Yohanes 14: 7

Bapa yang sudah mengenal kita menulis dalam hati kita apa yang patut kita lakukan dan melalui RohNya kita mengerti apa yang menjadi kehendakNya.

“…. Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka” Ibrani 10: 16

Pagi ini, sebagai orang Kristen kita seharusnya hidup dalam terang dan berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, sesuai dengan apa yang berkenan kepada Tuhan dan bukan apa yang dikehendaki manusia. Untuk itu, kita harus menguji segala apa yang kita lihat, katakan dan lakukan untuk memastikan apakah semua itu berguna untuk kemuliaanNya. Jika kita hidup sedemikian, kita juga menjadi terang bagi sesama kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16