Tuhan itu tidak jauh dari umat-Nya

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Dalam agama Hindu, sapi adalah simbol suci kehidupan dan bumi. Selama berabad-abad umat Hindu di India menggunakan kotoran sapi untuk membersihkan rumah dan untuk ritual doa. Baru-baru ini, di negara bagian Gujarat, beberapa orang percaya dan pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran dan air kencing sapi. Mereka berharap ritual itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh, atau membantu mereka pulih dari infeksi virus corona.

Para dokter dan ilmuwan di India serta di seluruh dunia telah berulang kali memperingatkan agar tidak mempraktikkan pengobatan alternatif untuk melawan Covid-19, tetapi masih banyak juga yang mengabaikan peringatan itu. “Kami melihat bahwa dokter pun datang ke sini. Mereka yakin ritual ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan mereka dapat merawat pasien tanpa rasa takut,” kata seorang manajer di perusahaan farmasi. Dia mengatakan bahwa dalam kenyataannya praktik tersebut membantunya pulih dari Covid-19 pada tahun lalu. Kemanjuran “terapi” itu baginya adalah evidence based atau berdasarkan kenyataan.

Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang mahakuasa dan menyembahnya agar hidup mereka diberkati. Pada saat ini, tentu ada banyak orang yang memohon kepada tuhan-tuhan mereka untuk dilindungi dari wabah Covid-19. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka juga berdoa meminta perlindungan atau kesembuhan dalam nama Yesus Kristus. Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, kita pun percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendak-Nya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Walaupun demikian, berbeda dengan banyak kepercayaan lain, orang Kristen tidak perlu lagi bergantung kepada berbagai ritual untuk menghampiri Tuhan. Mereka tidak juga membutuhkan keajaiban untuk bisa percaya bahwa Tuhan itu ada dan Ia mengasihi umat-Nya. Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, di mana saja, yang berseru kepada-Nya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, tanpa ritual banyak orang Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. kalau mereka sempat untuk berbakti kepada Tuhan, itu pun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Bagi mereka Tuhan mungkin seperti seorang teman baik saja yang bisa memenuhi keinginan mereka. Walaupun demikian, pandemi yang berkepanjangan ini membuat mereka merasa bahwa Tuhan sudah melupakan mereka.

Memang benar bahwa kita tidak lagi mempunyai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpai-Nya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak lagi Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Jika kita membutuhkan Tuhan, itu tidak hanya pada saat kita mengalami masalah besar, tetapi pada setiap saat kita harus bergantung kepada-Nya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita sudah terbiasa untuk hidup bagi diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!

Penyebab masalah hidup

 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Hari Sabtu kemarin saya mendengar kabar bahwa kasus transmisi lokal varian Delta sudah ditemukan di Brisbane dan karena itu ada kemungkinan bahwa sudah ada banyak orang yang terpapar dalam masyarakat. Karena itu, akhir minggu ini Brisbane dan 10 daerah di sekitarnya harus mengalami lockdown lagi agar testing dan tracing bisa dilakukan dengan efektif. Jika pada hari Selasa yang akan datang semua orang yang terpapar bisa ditemukan, lockdown bisa dihentikan. Kabar lockdown ini tentunya membuat banyak orang kaget, karena akhir minggu ini harus dilewatkan dengan tinggal di rumah saja.

Memang dalam suasana yang mirip suasana perang saat ini, hal menonton TV atau mengikuti berita bisa membuat kita merasa serba salah. Kalau kita tidak mengikuti berita media, kita mungkin tidak sadar akan keadaan pandemi di tempat kita dan mungkin tidak tahu adanya peraturan baru dari pemerintah. Tetapi, jika kita rajin mengikuti berita, selalu ada saja kejadian-kejadian yang mengagetkan, yang membawa kekuatiran. Tentu saja tidak ada orang yang ingin menambah kekuatiran atau rasa takut yang sudah ada, seperti takut sakit, takut gemuk, takut kurus, takut kesepian, takut ketinggalan jaman, takut diganggu orang lain, takut mati dll.

Mengapa manusia selalu menghadapi masalah dalam hidup ini? Ada berbagai sebab spesifik, namun pada umumnya hal-hal itu dapat digolongkan dalam 5 golongan.

Kejatuhan dalam dosa: Memang itulah dunia, sejak kejatuhan dalam dosa manusia harus menghadapi hidup yang berat yang terisi penderitaan dan kesepian (Kejadian 3: 17-19). Karena kejatuhan Adam dan Hawa, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak hidup di taman Firdaus lagi.

Kesalahan kita sendiri: Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita kurang berhati-hati melangkah dalam hidup ini. Mungkin sebagai orang Kristen kita sering mendengar bahwa hidup sebagai orang beriman pasti membawa ketenangan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang mengharapkan solusi instan akan kecewa. Ketenangan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan hidup berdisplin dekat dengan Tuhan. Jika tidak berhati-hati kita akan tetap bisa jatuh ke dalam pencobaan terutama jika kita lebih mementingkan kehidupan yang berpusat kepada hal-hal duniawi (Markus 14: 38).

Perbuatan orang lain: Karena semua orang sudah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23), tidaklah mengherankan jika ada saja masalah yang terjadi karena ulah orang lain, termasuk orang-orang terdekat dan bahkan saudara-saudara seiman. Kesadaran bahwa tiap orang membutuhkan penyelamatan dari Yesus Kristus seharusnya mengingat kan kita agar tidak kecewa atau putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang disebabkan orang lain.

Usaha iblis untuk menghancurkan umat Tuhan: Sering kali kita bayangkan iblis muncul dalam bentuk yang mengerikan dan menakutkan seperti seekor singa (1 Petrus 5: 8). Tetapi iblis juga pandai menyamar (2 Korintus 11: 14); ia bisa menyamar sebagai hal-hal atau orang-orang yang nampaknya baik dan berguna dalam hidup ini. Karena itu ada saja orang beriman yang jatuh ke dalam berbagai masalah ketika sibuk dengan aktivitas gereja dan sosial yang nampaknya baik.

Pekerjaan Tuhan: Tuhan mempunyai rencana agung untuk seisi dunia dan Ia tetap bekerja dalam semua keadaan dunia. Dalam keadaan dunia yang kacau-balau saat ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan hanya membiarkan semuanya terjadi. Tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar rencana-Nya (Yesaya 14:24); semua hal yang baik dan buruk terjadi harus dengan seizin Tuhan. Karena Tuhan kita Mahakuasa dan Mahakasih, kita yakin bahwa Tuhan tetap bisa dan mau menyertai kita dalam keadaan apa pun.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Tuhan selalu mau memberikan kekuatan agar kita bisa bertahan dalam hidup ini. Tetapi untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah lemah dan karena itu mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya.

Siapakah yang sanggup memimpin kita?

“Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. 1 Samuel 15: 11

Di mana pun kita hidup, masyarakat di sekitar kita selalu memerlukan adanya pemimpin. Adalah kenyataan hidup bahwa hampir semua makhluk di dunia ini, besar dan kecil, selalu mempunyai pemimpin dalam aktivitas hidup mereka. Pemimpin diharapkan bisa untuk memberi contoh, teladan, pengarahan, penguatan, dan pemersatuan. Pemimpin yang baik disegani musuh tetapi disayangi dan dihormati oleh masyarakatnya.

Untuk memilih seorang pemimpin, umumnya ada prosesnya. Entah melalui kenaikan pangkat, penunjukkan oleh suatu badan atau pemilihan oleh masyarakat. Kalau harus dipilih masyarakat, tiap lingkungan, daerah dan negara mempunyai cara sendiri untuk memilih pemimpinnya. Pemimpin yang dipilih biasanya orang yang populer, dikenal dan disukai oleh mayoritas masyarakat. Mereka yang kemudian terpilih menjadi pemimpin sering kali menjadi tumpuan harapan dan dipuja rakyatnya.

Umat Israel juga pernah merindukan akan adanya seorang raja yang bisa memimpin mereka. Walaupun Tuhan sudah memimpin mereka dari awalnya, mereka masih kurang puas, dan mengingini seorang raja seperti bangsa lain. Raja pertama bangsa Israel, Saul, akhirnya dipilih melalui undian. Pada waktu Tuhan mengangkat Saul menjadi raja, Ia berjanji bahwa kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya, keturunannya turun temurun akan terus menjadi raja di Israel sampai selama-lamanya. Namun Raja Saul kehilangan kesempatan itu. Dalam ayat di atas tertulis bahwa Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja Israel. Tuhan menyesal karena Saul menyalah-gunakan apa yang Ia berikan dan mengabaikan-Nya.

Keadaan dunia saat ini adalah seperti keadaan umat Israel pada waktu itu. Bagaimana tidak? Ancaman pandemi, kemunduran ekonomi, kemungkinan perang dan bencana alam menghantui rakyat berbagai negara. Memang, jika kita memikirkan masa mendatang, kita sadar bahwa tidak ada siapa atau apa pun yang bisa menjamin hari depan kita. Di dunia ini, tidak ada yang baik, tidak ada yang sempurna, tidak ada yang kekal. Harapan kita untuk adanya pemimpin yang bisa membimbing kita melewati keadaan yang sulit saat ini memang harus tetap ada, tetapi lebih penting dari itu kita harus sadar bahwa hanya Tuhan yang dapat memimpin kita dengan pasti menuju hari depan.

Hanya Tuhan yang mahakuasa dan mengerti kebutuhan umat-Nya serta bisa melindungi mereka dari bahaya. Tuhanlah juga yang bisa membimbing para pemimpin kita untuk bisa mengatur jalannya hidup bermasyarakat di tempat kita masing-masing. Sebagai umat Tuhan kita harus sadar bahwa para pemimpin dunia, bagaimana pun hebatnya, tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, di saat ini kita harus dengan tidak putus-putusnya berdoa seperti Samuel, memohon agar Tuhan sudi menolong para pemimpin kita. Kita juga harus berdoa agar para pemimpin kita mau memilih jalan yang benar, yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Berilah aku ketenangan ya Tuhan!

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Yesaya 40: 28-29

Hari ini ada kabar dari negara bagian New South Wales, Australia, bahwa karena kasus tambahan Covid positif yang mendekati 200 per hari dan sebarannya yang sulit untuk diketahui, seluruh kota Sydney dan sekitarnya dipastikan untuk mengalami perpanjangan lockdown selama sebulan. Hal ini tentunya membuat banyak orang resah karena sudah sebulan terkurung, sekarang penambahan kasus positif masih belum juga bisa teratasi. Keadaan ini dikuatirkan akan memperburuk kesehatan mental penduduknya dan membuat makin banyaknya orang yang kecanduan obat penenang dan obat penghilang rasa sakit.

Mengapa begitu banyak orang yang memakai obat-obat seperti itu? Ada berbagai sebabnya, antara lain karena orang ingin merasakan ketenangan pikiran, menghindari tekanan jiwa, mengurangi kelelahan tubuh atau sekadar mencari kenikmatan dalam ketidaksadaran. Memang, serupa dengan narkoba, obat-obatan ini bisa membuat pemakainya tidak sadar atas keadaan sekitarnya. Banyak pecandu obat semacam ini pada mulanya mungkin ingin mengurangi rasa lelah dan rasa sakit yang dideritanya dengan meminta resep dokter. Lambat laun dosis obat ini makin meningkat karena tubuh menjadi kebal, dan tanpa disadari mereka menjadi pecandu obat keras.

Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia saat ini, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Dalam suasana pandemi yang tidak kunjung reda ini, manusia kehilangan rasa aman yang dulunya ada. Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah meminum obat-obatan yang bisa untuk sementara menghilangkan rasa sakit. Bagi orang yang lain, mungkin doa permohonan kepada Tuhan masih bisa membawa sebuah harapan. Tetapi doa yang bagaimana?

Mungkin juga berita simpang-siur di media membuat anda bingung ikut mencari perlengkapan medis dan obat-obatan yang mungkin diperlukan jika ada anggota keluarga yang terpapar. Seperti banyak orang, anda mencari-cari nasihat tentang apa yang bisa dilakukan dan obat atau ramuan apa yang mungkin bisa diminum untuk menghindari serangan virus yang ganas ini. Sebagai manusia, naluri anda mengingatkan bahwa saat ini nasib anda ada di tangan anda sendiri. Dalam keadaan terdesak, pikiran sehat diganti dengan segala usaha (legal atau tidak, terbukti efektif atau tidak) untuk mempertahankan eksistensi. Anda mungkin siap dan bersedia untuk ikut berebut perlengkapan dan obat-obatan yang ditawarkan mereka yang memanfaatkan situasi untuk mencari untung. Dalam suasana chaos, seolah anda lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas kehidupan seluruh umat manusia di dunia.

Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia mana pun tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung adalah Tuhan yang selalu ada dan tahu apa yang terjadi dalam hidup umat-Nya. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana, tidak terduga pengertian-Nya.

Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa keringanan dan kesembuhan? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan dan kekuatiran yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita. 

Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tuhan yang tidak pernah lelah akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran. Maukah kita memercayakan hidup-mati kita kepada-Nya?

Jika Tuhan mengizinkan hal yang jahat terjadi

“Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” Habakuk 1: 13

Mengapa Tuhan membiarkan mereka kelaparan?

Mendengar dan menyaksikan kejadian-kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan di sekeliling kita di saat ini, mungkin kita merasa sedih karena dunia ini agaknya secara pelan-pelan menjadi semakin kacau, setidaknya di tempat-tempat tertentu. Dunia memang penuh dosa dan karena itu tidak bisa bebas dari kekacauan, kejahatan dan kekejaman, tetapi jika hal-hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa Tuhan berdiam diri?

Kejadian buruk yang terjadi di luar dugaan pada seseorang memang sering dihubungkan dengan faktor kebetulan: mungkin ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tetapi alasan ini untuk orang Kristen akan membawa pertanyaan: apakah ada hal yang kebetulan di hadapan Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa? Tentu Tuhan yang membiarkan hal yang jahat itu terjadi!

Tuhan adalah pencipta alam semesta yang membuat apa yang tidak baik dan kacau untuk menjadi baik dan indah. Tetapi mengapa Ia membiarkan adanya hal-hal yang keji atau menyedihkan di sekeliling kita? Tentu Tuhan mempunyai maksud atau rencana sekalipun kita sering tidak bisa memahaminya.

Ayat Habakuk 1: 13 di atas adalah keluhan nabi Habakuk karena Tuhan bermaksud membuat bangsa Babel yang jahat untuk menguasai bani Israel. Habakuk seakan menyatakan protes atas rencana Tuhan karena seakan Tuhan akan menelantarkan umat-Nya. Ia tidak mengerti bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan umat-Nya, pada saat-saat tertentu sengaja membiarkan terjadinya hal-hal yang tidak baik dan bahkan hal-hal yang jahat untuk menggenapi rencana-Nya.

Adalah menarik bahwa kita sering kali lupa bahwa Allah Bapa mengirimkan Anak-Nya ke dunia untuk disiksa dan disalibkan guna menebus dosa kita. Allah tidak menyiksa dan membunuh Yesus, tetapi Ia membiarkan orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang jahat kepada Yesus untuk menggenapi rencana penyelamatan-Nya. Sejarah gereja juga menulis bahwa setelah Yesus naik ke surga, umat Kristen juga mengalami penganiayaan yang besar, yang membawa banyak korban di antara orang percaya.

Berubahkah keadaan dunia setelah itu? Memang, orang umumnya berpikir bahwa dengan kemajuan sains, hukum dan pendidikan, agaknya manusia dapat hidup lebih baik atau teratur. Tetapi, apakah keadilan dan keamanan sudah sepenuhnya kita alami sekarang? Tentu saja tidak! Di dunia ini tetap ada orang-orang jahat yang hidup di antara umat Tuhan, seperti lalang di antara rumput-rumput. Wabah penyakit yang sudah dapat diatasi memang banyak, tapi penyakit baru masih juga muncul dari waktu ke waktu dan membuat sengsara banyak orang, terutama di negara-negara yang belum kuat ekonominya.

Tuhan membiarkan hal yang jahat ada, dan bahkan terkadang memakai hal yang jahat untuk membangun dan memperkuat umat-Nya di dunia. Semua itu bisa terjadi dengan seizin Tuhan yang mempunyai rencana agung untuk membawa setiap orang yang percaya kepada keselamatan, dan agar mereka yang sudah diselamatkan untuk makin beriman kepada-Nya. Bagi kita hal-hal semacam itu bukanlah pencobaan tetapi ujian iman.

Dari sejarah dunia, kita tahu bahwa Tuhan yang “membiarkan” umat Israel jatuh ketangan musuh-musuh mereka, ternyata tidak bermaksud meninggalkan mereka. Justru sebaliknya, Tuhan menggunakan masa-masa sulit untuk menggenapi rencana-Nya. Karena itu, kita boleh percaya bahwa seperti janji-Nya kepada bani Israel, Tuhan juga tetap membimbing umat-Nya dalam setiap keadaan untuk menuju ke arah yang baik, sesuai dengan rencana kasih-Nya!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jeremia 29: 11

Menuruti hukum itu tidak mudah

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Sekitar 3500 pengunjuk rasa anti-lockdown berbaris di kawasan Central Business District (CBD) Sydney, negara bagian New South Wales (NSW), di Australia, pada hari Sabtu (24/7/2021). Demo terjadi pada saat kasus infeksi COVID-19 harian melonjak di wilayah tersebut. Menteri Kepolisian NSW, David Elliott, yang kesal dengan demonstrasi itu karena momennya tidak tepat, mencap para demonstran itu sebagai kelompok “orang bodoh yang egois”.

Foto-foto yang mengejutkan menunjukkan para pengunjuk rasa berkerumun bersama-sama saat mereka berjalan di jalan utama Broadway menuju pusat kota, memegang rambu-rambu dan menghentikan lalu lintas. Dalam keadaan sedemikian, bentrokan dengan para penegak hukum tidaklah dapat dihindari dan puluhan demonstran sudah ditangkap atau dicatat namanya oleh polisi. David Elliott mengatakan satuan tugas detektif kepolisian akan bekerja sepanjang waktu untuk mengidentifikasi para pengunjuk rasa dan menuntut mereka karena melanggar protokol kesehatan masyarakat.

Mengapa orang kadangkala bisa bertindak seperti hewan yang tidak mengerti hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst”. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa hukum tidak dapat menangkap mereka. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan aturan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apa pun yang bisa menghentikan kehendak mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen untuk taat kepadanya. Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik. Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ini mungkin menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi mereka yang berani mengambil risiko mungkin tidak ragu untuk menggunakan uang negara selagi ada kesempatan.

Ketaatan bukan saja dalam hal tidak melanggar hukum pidana dan perdata, tetapi juga dalam hal menuruti pedoman dan bimbingan dari yang berwajib, misalnya dalam hal memelihara kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan sesama. Dalam usaha untuk mengatasi pandemi ini, sudah tentu orang Kristen tidak ingin untuk menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan apa yang dianjurkan pemerintah untuk kebaikan bersama.

Adanya pemerintah dan pimpinan bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pedoman pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada bimbingan dan aturan pemerintahnya. Mungkin ada orang Kristen yang berpendapat bahwa jika ia tidak taat kepada anjuran pemerintah, itu hanya menyangkut dirinya sendiri. Dalam melakukan tindakan seperti menerima atau menolak anjuran pemerintah tentang prosedur kesehatan tertentu, mereka berpikir bahwa itu adalah hak pribadi mereka. Itu ada benarnya, jika apa yang mereka lakukan tidak memengaruhi hidup orang senegara. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, kecuali jika ia melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan pemerintah, karena pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Masih adakah manfaat doa di saat ini?

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Walaupun demikian, di saat ini mungkin semua orang berharap agar jangan sampai sakit apa pun, sekalipun batuk-pilek yang biasanya dianggap ringan. Adanya pandemi memang membuat orang lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas agar tidak terpapar Covid-19. Selain itu, karena rumah sakit pada saat ini sudah banyak yang penuh, berobat ke rumah sakit adalah sesuatu yang mutlak harus dihindari.

Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaan-Nya tetap berfungsi seperti apa yang dirancang-Nya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatan-Nya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaan-Nya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya, tetapi kepada semua mahluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat di atas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendak-Nya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat di atas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Sering kali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunan-Nya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apa pun apabila sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan sering kali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang mengalami gangguan kejiwaan karena suasana pandemi yang menakutkan. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa memperbaiki kehidupan manusia, baik dalam keluarga, masyarakat ataupun negara untuk kemuliaan-Nya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dari-Nya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru di dalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.