Melalui etika ajaran Yesus moralitas kita diperbaharui

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Yakobus 2: 18

Apakah arti kata “etika” dan “moralitas”? Bagi sebagian orang kedua kata itu adalah sinonim, yang berarti kaidah untuk membedakan apa yang baik dan yang buruk. Definisi itu cocok untuk kata “etika”. Tetapi, sebenarnya arti moralitas adalah lain. Moralitas adalah cara hidup seseorang yang merupakan suatu kebiasaan atau suatu yang dipandang umum dalam masyarakat. Moralitas tidak mengatur hidup seseorang, tetapi etika mengharuskan orang untuk memilih apa yang dipandang benar atau baik. Bagi orang Kristen, sudah tentu etika adalah berdasarkan kebenaran Alkitab, dan moralitas mereka seharusnya sesuai dengan apa etika yang difirmankan Tuhan.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa lahirnya Yesus ke dunia, menghapus perlunya moralitas Kristen untuk keselamatan. Itu ada benarnya, selama tidak diartikan bahwa orang Kristen tidak perlu memikirkan moralitasnya. Justru dari moralitas manusia, orang akan bisa membedakan mereka yang Kristen dari mereka yang bukan Kristen. Orang Kristen sejati seharusnya mempunyai moralitas yang baik yang sesuai dengan pertumbuhan imannya, dan moralitas yang baik bisa menunjukkan kedewasaan iman seseorang. Sekalipun tidak ada manusia yang mempunyai moralitas yang sempurna, setiap orang Kristen yang sejati akan mengalami pertumbuhan dalam hal pengertian akan etika Kristen sehingga gaya hidupnya akan semakin lama menjadi semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai konsekuensi dari perilaku Adam dan Hawa di taman Eden, yaitu memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia berubah dari ketidaksadaran, menuju ke arah pengetahuan tentang pentingnya etika. Mereka menyadari adanya perbedaan antara apa yang “baik” dan yang “buruk” setelah mengalami pengalaman pahit dan mendapat hukuman Allah. Dalam menjalankan kebebasan memilih, Adam dan Hawa melakukan pelanggaran berat. Mereka sudah mengabaikan prinsip moralitas Tuhan: bahwa mereka harus hidup dengan taat kepada perintah Allah.

Banyak pemimpin umat Tuhan yang pada suatu saat dalam hidup mereka mempunyai moralitas yang tidak baik. Contohnya seperti Abraham yang mengawini Hagar dan Daud yang mengawini Betsyeba. Tetapi ini bukan menyatakan bahwa moralitas tidaklah penting dalam pandangan Tuhan yang melarang Adam dan Hawa untuk melakukan hal yang tidak baik. Semua yang tidak baik itu hanya menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan, dan jika keputusan mereka tidak sesuai dengan etika yang diajarkan Tuhan, mereka jatuh dalam dosa.

Moralitas adalah panduan umum tentang kualitas dalam perbuatan manusia yang bisa menunjukan apakah pandangan manusia dalam hidup itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas dipengaruhi pengertian tentang baik buruknya suatu perbuatan tertentu (etika). Dalam teologi Kristen klasik, semua manusia secara inheren dipandang berdosa karena tindakan Adam dan Hawa (sebuah gagasan yang dikenal sebagai “dosa asal”). Sebaliknya, pemikiran Yahudi, sementara mengakui dorongan manusia menuju kejahatan (yetzer ha-ra), juga menegaskan dorongan menuju kebaikan (yetzer ha-tov). Baik dalam ajaran Kristen maupun Yahudi, setiap manusia harus bertanggung jawab atas karakter moralnya. Masalahnya, manusia sesudah jatuh ke dalam dosa, tidak mampu untuk mencapai apa yang benar-benat baik, yang seturut kehendak Tuhan, sekalipun ia mungkin sadar akan apa yang diperbuatnya dan juga akibatnya. Mengapa demikian?

Sebagian orang Kristen menganggap bahwa sesudah kejatuhan, manusia adalah rusak total (totally depraved), tetapi ini bukan berarti bahwa manusia tidak lagi mengerti arti etika. Kain, misalnya, tahu bahwa membunuh Habil adalah suatu hal yang jahat. Tetapi, melalui pilihannya ia justru melakukannya, dan ia kemudian berusaha untuk menghindari pertanggungjawabannya kepada Allah. Manusia setelah kejatuhan bukan rusak sebobrok-bobroknya, terapi rusak dari dalam budinya (radical depravity). Dengan demikian, tanpa bimbingan dan karunia Tuhan manusia akan hidup dalam moralitas yang bobrok dan mengabaikan prinsip etika yang diberikan Tuhan.

Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa mereka harus mengindari moralitas dunia. Mereka harus berubah dari dalam sehingga dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Jelas Paulus mengemukakan tiga hal yang penting: bertindak, berubah dan belajar (act, change, and learn). Orang Kristen harus bertindak untuk menghindari pengaruh dunia, berubah secara rohani, dan belajar untuk mencari kehendak Allah. Ini berarti bahwa umat Tuhan harus mempunyai moralitas yang benar. Bukan untuk diselamatkan, tetapi sebagai akibat penyelamatan oleh Tuhan.

Kembali ke ayat pembukaan, kita melihat bahwa raul Yakobus menasihati umat Kristen agar mereka hidup dalam iman dan perbuatan, dalam arti hidup dalam iman yang dinyatakan melalui moralitas yang baik. Sebagian orang Kristen percaya bahwa mereka sudah mempunyai iman karena adanya perbuatan baik, karena moralitas yang mereka miliki. Tetapi ini belum tentu benar karena adanya moralitas yang dipandang baik bukan berarti bahwa mereka mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan mengenal apa yang benar menurut Dia. Rasul Yakobus menantang orang-orang itu untuk menunjukkan iman mereka dan bukannya perbuatan atau moralitas yang mereka punyai. Dengan kata lain, Yakobus berkata bahwa moralitas yang terlihat baik bukan tanda bahwa mereka mengenal Tuhan. Perbuatan atau hidup yang terlihat baik (menurut mata manusia) bukan bukti bahwa mereka percaya kepada Tuhan yang berkuasa atas hidup mereka. Moralitas tanpa iman adalah mungkin, tetapi sia-sia.

Pada pihak yang lain, Yakobus menyatakan bahwa ia dapat menunjukkan iman melaui apa yang dilakukannya, melalui moralitas yang ada dalam hidupnya. Karena melalui cara hidup rasul Yakobus, orang bisa melihat bahwa ia menjalankan prinsip moralitas yang ada dalam firman Tuhan. Moralitas yang dicapai melalui bimbingan Roh Kudus untuk kemuliaan Tuhan. Moralitas yang bukan dimiliki untuk kepuasan diri sendiri. Moralitas yang bukan merupakan usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga.

Moralitas hidup yang benar akan ada jika orang Kristen mendengarkan suara Roh Kudus dalam hidupnya, bukan suara orang lain, bukan apa yang serupa dengan apa yang dianggap baik di dunia ini. Etika Kristen selalu menuntut hati orang Kristen untuk berbuat baik, memikirkan yang baik dan mempelajari yang baik, agar hidup kita terus menerus mengalami pembaharuan untuk kemuliaan Tuhan. Iman tanpa moralitas adalah tidak mungkin. Mereka yang mengaku beriman tetapi mengabaikan prinsip moralitas dan etika kristiani, bukanlah orang Kristen sejati. Sebaliknya, melalui etika yang diajarkan Yesus, moralitas hidup orang yang sudah diselamatkan akan menjadi makin sempurna sehingga nama Tuhan akan dipermuliakan.


“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Apakah Anda benar-benar mengasihi Yesus?

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yohanes 21: 15

Waktu itu, Yesus yang sudah bangkit menapakkan diri-Nya di antara para murid-Nya. Setelah makan bersama, Yesus bertanya kepada Petrus. Pertanyaan Yesus di atas lebih jelas ditulis demikian: “Apakah kasihmu kepada-Ku lebih daripada kasih murid yang lain kepada-Ku?” Jangan ayat ini diartikan sebagai: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari kasihmu kepada orang lain”, sekalipun ini lebih mudah dijawab.

Pertanyaan di atas sulit dijawab oleh Petrus. Bagaimana Petrus diharapkan untuk memberi jawaban? Petrus tidak bisa mengukur kasih orang lain kepada Yesus. Sekalipun ia mungkin merasa bahwa kasihnya sangat besar kepada Yesus, Petrus tentu saja tidak bisa menganggap orang lain kurang mengasihi Yesus. Kalau demikian, mengapa Yesus menanyakan hal itu? Bukankah Dia tahu keadaan yang sebenarnya? Kita nanti akan tahu bahwa untuk Yesus yang paling penting adalah bahwa Petrus benar-benar mengasihi–Nya.

Yesus menanyakan hal itu sebagai peringatan kepada Petrus akan apa yang sudah terjadi pada masa lalu, dan apa yang akan terjadi pada masa depan. Apa yang terjadi sewaktu Yesus diadili, sebelum Ia disalibkan, adalah penyangkalan Petrus bahwa ia kenal dan malahan pengikut Yesus. Sebelum ayam berkokok, Petrus sudah menyangkali Yesus tiga kali. Hal mana membuat Petrus merasa sangat sedih karena Yesus sudah mengetahui bahwa itu akan terjadi. Petrus yang mengaku bahwa ia mengasihi Yesus, ternyata tidak setia kepada Yesus. Petrus justru mengingkari pernyataan kasihnya kepada Yesus, yaitu bahwa ia mau mati untuk ganti Yesus (Yohanes 13: 36-38).

Jawab Yesus: ”Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Yohanes 13: 38

Pertanyaan Yesus juga berhubungan dengan apa yang akan terjadi pada diri Petrus di masa mendatang. Petrus akan menjadi martir yang mati demi imannya kepada Kristus. Yesus dengan tiga pertanyaan yang sama “apakah engkau mengasihi Aku” membuat Petrus merasa sedih karena ia teringat bahwa sebagai orang yang merasa kasihnya begitu besar kepada Yesus, ia tidak atau belum dapat membuktikannya. Walaupun demikian, Petrus tentunya merasa dikuatkan karena terhadap jawaban Petrus, Yesus tiga kali menjawab “gembalakanlah domba-domba-Ku”. Petrus dapat merasakan bahwa sekalipun ia lemah, Tuhan sudah memilih dia untuk memimpin pengikut Kristus yang lain. Lebih dari itu, Yesus sudah memberikan pengertian bahwa karena kasih Petrus yang besar kepada-Nya, Yesus memilih Petrus untuk menggembalakan yang lain, sampai harus mati demi kemuliaan bagi Tuhan (Yohanes 21: 18-19). Pada akhirnya, Tuhan memberikan Petrus kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi tugas-tugas dan kematiannya.

Seperti Petrus, kita pun mengaku pengikut Kristus dan mengasihi-Nya. Jika Petrus pernah tiga kali mengecewakan Kristus, mungkin kita lebih dari tiga kali menyangkali Dia. Mungkin, dalam bekerja kita pernah melakukan apa yang tidak patut dilakukan oleh umat Tuhan. Mungkin kita menutup-tutupi identitas kita sebagai orang Kristen ketika kita melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Jika Petrus kemudian merasa sedih karena apa yang dilakukannya, mungkin ada orang Kristen yang tidak lagi bisa menyesali perbuatannya yang buruk karena sudah terlau sering dilakukan. Mungkin kita sudah tertipu oleh ajaran yang mengatakan bahwa sebagai orang terpilih, kita tidak perlu memikirkan penyangkalan kita atas Yesus yang muncul dalam bentuk cara hidup, perbuatan dan pikiran kita yang mengabaikan firman-Nya.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa seperti Petrus, kita juga mendapat pertanyaan yang serupa setiap hari: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Mungkin kita tidak merasa sedih seperti Petrus yang akhirnya menjawab: “Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, sebab kita tidak yakin bahwa kita mau berkurban untuk Dia. Jika Petrus memang mau hidup untuk menggembalakan orang lain, memimpin dan mengarahkan orang seiman ke arah yang baik, mungkin kita kurang peduli akan orang lain karena mengurus diri sendiri pun kita tidak mampu. Jika Petrus menyesali penyangkalannya yang tiga kali terjadi sebelum ayam berkokok, mungkin kita sudah lupa berapa kali kita melanggar firman-Nya sekalipun Roh Kudus sering mengingatkan kita akan cara hidup dan tingkah laku kita. Firman Tuhan menyatakan bahwa menjadi Kristen bukan saja menjadi orang pilihan untuk bisa ke surga, tetapi juga menjadi seorang Petrus yang mau bekerja dan berbuat untuk kemuliaan Tuhan selama hidup dan sampai mati. Itulah tanda orang pilhan Tuhan yang sejati.

Sudahkah Anda lahir baru?

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”. 2 Korintus 5:15-17

Ayat di atas adalah tulisan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus tentang lahir baru dan hidup baru. Ia menulis bagaimana Kristus sudah mati untuk memberi kehidupan bagi mereka yang dulunya sudah tidak mempunyai harapan. Mereka yang seharusnya binasa, kemudian melalui penebusan Kristus, kemudian bisa dilahirkan kembali. Melalui lahir baru dalam Kristus, hidup mereka bukanlah hidup yang lama, yaitu untuk diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Kristus. Karena itu, Paulus menyatakan bahwa ia tidak lagi menilai manusia menurut apa yang terlihat dari luar, tetapi dari apa yang ada dalam hidup mereka. Apakah mereka yang mengaku sudah lahir baru memang benar-benar mempunyai hidup baru?

Hidup baru tidaklah sama dengan lahir baru. Kedua istilah ini memang dipakai oleh umat Kristen, tetapi sering membuat bingung mereka yang kurang mengerti bedanya. Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Dalam hal ini, sebenarnya istilah “Kristen hidup baru” adalah lebih tepat.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan di mana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan di mana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pada waktu Yesus disalib, di sebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegur dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali karena dengan imannya, dosanya sudah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, ia tidak sempat untuk menjalani hidup baru.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43


Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui penebusan darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Dengan bimbingan Roh Kudus, kita akan mau berusaha untuk hidup makin hari makin menurut firman-Nya. Perbuatan yang benar atau baik dalam hidup baru adalah sambutan kita kepada kasih-Nya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap hidup bergelimang dalam dosa dan tidak mau berubah dari hidup lamanya, adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum lahir baru, dan karena itu tidak bisa hidup baru. Tidak ada kemungkinan lain. Orang itu bukan orang yang diselamatkan, karena mereka yang sudah diselamatkan adalah orang yang hidup dengan taat kepada firman-Nya.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Berdoalah seperti Nehemia

“Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Nehemia 1:11

Nehemia adalah seorang tokoh penting dalam sejarah pasca-pembuangan orang-orang Yahudi sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Ia diyakini sebagai penulis utama Kitab Nehemia. Ia adalah anak Hakhalya (Nehemia 1:1), dan kemungkinan dari Suku Yehuda. Leluhurnya tinggal di Yerusalem, tetapi Nehemia tinggal dan berdinas di Persia, yang sekarang dikenal sebagai negara Iran (Nehemia 2:3). Ia memangku jabatan yang tinggi, yaitu sebagai seorang juru minuman raja Artahsasta dari Kekaisaran Persia.

Suatu hari Nehemia mendengar bahwa orang-orang Yahudi di Yerusalem sedang menderita. Tembok yang melindungi Yerusalem dihancurkan dan tidak pernah dibangun kembali. Nehemia sangat sedih mendengar bahwa Yerusalem sudah porak poranda. Ia bermaksud minta izin dari raja Artahsasta untuk mengambil cuti guna pergi ke Yerusalam untuk membangun kembali kota itu. Tetapi, ia tidak tahu bahwa raja itu akan mengizinkannya. Karena itu ia berpuasa dan berdoa memohon pertolongan Tuhan. Ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan yang mahakuasa.

Seperti Nehemia, kita mungkin sering Kristen memikirkan apa maksud Tuhan dengan membiarkan banyak manusia, terutama sanak saudara kita dan kita sendiri, mengalami berbagai penderitaan. Kebingungan terjadi juga karena kita tidak tahu apakah memang Tuhan menghendaki semuanya. Barangkali Tuhan bermaksud menghukum umat manusia karena sudah terlalu banyak orang yang berani melawan kehendak-Nya? Pada pihak yang lain, ada juga mereka yang percaya bahwa semua ini hanya bagian kehidupan manusia di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya berbagai masalah dalam hidup, biasanya makin banyak orang yang berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan.

Seperti ayat di atas, banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya. Jika kita membaca kitab Nehemia, kita akan tahu bahwa ia mendapat izin dari raja Persia untuk pergi ke Yerusalem dan kemudian mengumpulkan beberapa orang Yahudi yang takut akan Tuhan, dan kemudian membangun kota Yerusalaem. Meskipun mendapat banyak tantangan, semangat Yeremia dan teman-temannya akhirnya membawa hasil yang baik. Tuhan menyertai mereka dan mereka berhasil dalam misi mereka.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ucapan Yesus empat ratus tahun sesudah zaman Nehemia di atas adalah ayat yang sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apapun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka (Lukas 17: 6). Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka dinasihati bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang mahapemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Kembali ke soal masalah hidup, agaknya setiap orang Kristen mengakui bahwa Tuan mahakuasa, mahatahu dan mahabijaksana. Tetapi mengapa Ia membiarkan kita mengalaminya? Mengapa Ia seolah-olah tidur atau tidak peduli? Banyak orang Kristen yang percaya bahwa seperti apa yang dialami Nehemia, Tuhan akan mengubah keadaan yang ada, jika mereka berdoa, berpuasa dan melakukan ritual-ritual lainnya. Ini seharusnya tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan, tetapi untuk dengan khusyuk menyerahkan diri mereka kepada kehendak-Nya.

Mereka yang percaya bahwa doa bisa mengubah keputusan Tuhan adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusan-Nya (Yakobus 1: 17). Memang, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu. Itu adalah baik, selama apa yang kita lakukan adalah untuk memohon ampun atas dosa dan kelemahan kita, dan mau menyerahkan hidup dan rencana kita kepada-Nya (Nehemia 1: 5-11).

Tuhan pasti mendengarkan doa umat-Nya, tetapi apakah Ia selalu mau melakukan apa yang diminta mereka? Jika memang Tuhan menantikan permohonan umat-Nya sebelum bertindak, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbingan-Nya yang disertai dengan rasa syukur.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Matius 6: 8

Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata. Hari ini, jika kita berdoa, kita harus sadar bahwa doa yang selalu berpusat pada kepentingan diri sendiri tidak akan membuat Tuhan senang, karena itu bertentangan dengan tujuan Tuhan dalam menciptakan kita. Tuhan menciptakan kita untuk bisa membina hubungan yang baik dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan Kristen yang menguatkan kita sewaktu mengalami masalah dan memberi kehidupan selama kita menantikan pertolonganNya. Tetaplah berdoa sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi!

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 -44

Alkisah adalah seorang Yahudi yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia pun melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Orang Samaria itu membalut luka-lukanya, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan memintanya untuk merawat si korban sampai ia kuat kembali. Perumpamaan ini adalah kisah yang sangat terkenal yang diceritakan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menjelaskan arti sesama manusia (Lukas 19: 25 – 37). Perumpamaan “Orang Samaria yang baik hati” ini dikenal sebagai “The Good Samaritan” dalam bahasa Inggris.

Perumpamaan Yesus diatas berdasarkan kenyataan bahwa orang Yahudi tidak menyenangi orang Samaria yang termasuk golongan minoritas pada waktu itu. Karena itu sudah sewajarnya jika orang Yahudi itu tidak mengharapkan untuk mendapat pertolongan dari orang Samaria. Tetapi, justru orang yang tidak disenanginya adalah orang yang mau menolongnya. Orang Samaria itu adalah “sesama manusia” bagi orang Yahudi yang mengalami bencana itu, dan bagi orang Samaria yang baik hati itu tentunya orang Yahudi itu adalah sesamanya. Sesama manusia dengan demikian adalah orang yang mau mengasihi orang lain,  sekalipun orang lain itu nampaknya berbeda dan tidak menyukainya. Sesama manusia adalah orang lain yang mau menolong kita jika kita dalam kesulitan, sekalipun orang itu bukan teman kita. Kita bisa menjadi sesama manusia untuk orang lain jika kita mau mengasihi mereka yang tidak menyukai kita.

Dalam kenyataannya, menjadi sesama manusia untuk orang lain itu tidak mudah. Apa sebabnya? Manusia sejak dilahirkan mengalami berbagai pengalaman hidup, baik yang indah maupun yang kurang menyenangkan. Karena suasana lingkungan, faktor budaya, dan pengalaman pribadi, orang cenderung untuk mempunyai perasaan bahwa orang-orang tertentu adalah orang-orang yang kurang baik atau lebih rendah derajatnya. Apalagi, jika faktor politik dan kepercayaan ikut dimasukkan, orang mudah sekali untuk membenci orang-orang tertentu. Bagi mereka yang kita kurang senangi mungkin mudah muncul perasaan bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat, yang dibenci Tuhan. Karena itu, mungkin ada juga “perasaan syukur” jika  orang-orang yang kurang kita senangi itu kemudian mengalami bencana. Memang, secara naluri manusia yang berdosa mudah untuk mengasihi orang yang serupa, tetapi membenci mereka yang berbeda.

Yesus dalam ayat diatas menjelaskan bahwa jika dunia mengajarkan bahwa kita harus mengasihi orang-orang yang pantas untuk dikasihi, Ia memerintahkan kita untuk mengasihi semua orang, termasuk musuh-musuh kita; dan kita harus juga berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Yesus sendiri melakukannya ketika Ia berdoa untuk mereka yang menyalibkan-Nya.

 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23: 34

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut-Nya yang sudah menerima pengampunan dari Allah, kita harus menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.  Seperti Allah yang sudah mengirimkan Yesus Kristus ke dunia agar semua orang yang percaya bisa diselamatkan, kita tidak boleh membatasi kasih kita kepada keluarga dan teman kita, atau kepada orang yang sesuku, sebangsa atau seiman saja. Kita tidak dapat membatasi kasih kita kepada orang-orang yang kelihatannya dikasihi Tuhan. Memang  bagi siapapun, adalah lebih mudah untuk mengasihi orang-orang yang kelihatannya baik dan mengasihi kita, tetapi itu bukanlah yang diperintahkan Yesus kepada kita. Seperti Allah mengasihi seisi dunia, kitapun harus bisa mengasihi semua orang tanpa pandang bulu.

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Lukas 6: 36

Apakah Tuhan ingin menyelamatkan semua orang?

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Ayat di atas agaknya menunjukkan bahwa orang mungkin mengira bahwa Yesus sudah lupa akan jamji-Nya, karena Ia tidak kunjung datang untuk menghakimi umat manusia. Tetapi, ayat di atas mengingatkan kita bahwa itu bukanlah kelalaian Tuhan. Tuhan masih menunggu agar lebih banyak orang yang bertobat. Walaupun demikian, ayat itu sering diperdebatkan di antata berbagai golongan Kristen maupun di antara orang yang bukan Kristen.

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Apakah Tuhan menghendaki semua orang untuk diselamatkan? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Neraka dengan demikian tidak akan diperlukan karena Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apa pun. Sebaliknya, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju ke sana. Karena itu, Tuhan tentu tahu bahwa tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan. Ayat di atas dan juga Yohanes 3: 16 menunjukkan bahwa mereka yang tidak mengenal Yesus akan menemui kebinasaan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Mereka yang tidak mengenal nama Kristus, sudah tentu tidak dapat hidup menurut firman-Nya. Mungkin hidup mereka terlihat cukup baik menurut ukuran manusia, tetapi sebenarnya mereka hidup dalam dosa karena bagi mereka Tuhan hanya ada dalam bayangan. Hari demi hari berlalu, dan bagi mereka tidak ada perubahan apa pun yang terjadi. Kedatangan Kristus yang kedua kali tidak kunjung tiba dan dunia berjalan seperti biasa. Mereka mungkin merasa bahwa hidup di dunia ini bisa dinikmati seperti biasa. Mereka yang menganggap bahwa iman kepada Yesus itu hanyalah khayalan, kemudian mengabaikan iman Kristen dan hidup menurut keinginannya.

Tuhan yang mahakasih menghendaki semua orang untuk mau menerima uluran tangan penyelamatan-Nya. Tetapi Tuhan yang mahaadil hanya menerima mereka yang dengan pertolongan Roh Kudus benar-benar mau berusaha hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan hanya mereka yang gemar mempelajarinya. Tanda hidup baru adalah perubahan hidup yang bisa dilihat dari buah-buahnya (Matius 7: 20). Jika ini tidak terlihat, Yesus berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Manusia dalam kodratnya, memang selalu ingin melakukan apa yang melawan Tuhan. Jika seseorang menjadi cukup rendah hati untuk tunduk kepada Tuhan, itu berarti bahwa Tuhan telah memberi orang itu sifat baru yang rendah hati. Jika seseorang tetap berkeras hati dan sombong untuk tunduk kepada Tuhan, itu karena orang itu belum diberi semangat dan kemampuan untuk tunduk kepada Tuhan.

Jelas dari sini bahwa walaupun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia, Ia tidak memaksa kita untuk percaya jika itu bertentangan dengan keinginan kita. Memang, ada orang Kristen yang percaya bahwa kehendak Tuhan tentu tidak dapat dibantah atau dilawan oleh manusia. Tetapi, manusia dalam dosanya selalu cenderung untuk tidak menurut kepada Allah. Sebaliknya, Tuhan mempunyai kuasa untuk memungkinkan (bukan memaksa) orang untuk mau mendengar-Nya. Kasih karunia Tuhan bisa dibayangkan sebagai khotbah dan kesaksian yang mencoba untuk membujuk orang untuk melakukan apa yang masuk akal dan apa yang sesuai dengan kepentingan terbaik mereka. Di sini, pertobatan juga termasuk karunia Allah.

Lalu Ia berkata: ”Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Yohanes 6:65

Mereka yang terpanggil dibukakan matanya oleh kuasa penciptaan Allah yang berdaulat sehingga mereka tidak lagi melihat salib sebagai kebodohan tetapi sebagai kekuatan dan hikmat Allah. Panggilan yang efektif adalah keajaiban menghilangkan kebutaan kita. Jadi, sekalipun Tuhan tidak memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya, Ia bekerja dan memberi manusia kemampuan untuk melihat jalan kebenaran dan tidak terus menerus melawan uluran tangan kasih-Nya. Ini adalah cara kerja Tuhan yang bisa menaklukkan orang yang ingin diselamatkan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang percaya.

Hari ini kita harus sadar bahwa penginjilan harus tetap dilakukan agar makin banyak orang yang mau mendengar panggilan untuk menjadi umat-Nya. Tuhan bisa membuat panggilan ini sebagai sesuatu yang mencelikkan mata rohani mereka untuk bisa mau menjawab “ya’ atas keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus kepada semua orang. Penginjilan hanya bisa efektif jika kita percaya bahwa Tuhan ingin menyelamatkan semua orang yang mau percaya kepada-Nya.

Apa kata Alkitab tentang uang?

Uang. Setiap orang butuh uang.Tanpa uang orang tidak bisa membeli barang kebutuhan atau mendapat pelayanan jasa. Uang sudah ada sebelum Yesus dilahirkan. Uang adalah benda yang memiliki nilai yang dicantumkan di atasnya, yang memungkinkan terjadinya perdagangan barang dan jasa. Sepanjang sejarah manusia, mata uang telah mengalami evolusi dalam bentuk dan penggunaan yang berbeda. Sebagian mata uang, seperti koin logam, memiliki nilai nyata yang bergantung pada bahan yang digunakan. Namun, uang kertas lebih umum di dunia modern dan biasanya tidak memiliki nilai nyata.

Sebelum uang ditemukan, orang melakukan barter untuk barang dan jasa. Baru sekitar 5.000 tahun yang lalu orang Mesopotamia menciptakan syikal, yang dianggap sebagai bentuk mata uang pertama dari emas yang diketahui. Kata syikal (shekel) ada di Alkitab. Koin digunakan oleh orang Yunani kuno, mulai sekitar 650 SM. Seiring waktu, penggunaan koin berkembang, dan koin kemudian dibuat dari perak dan emas. Koin adalah tonggak besar dalam sejarah uang karena mereka adalah salah satu mata uang pertama yang memungkinkan orang membayar berdasarkan hitungan (jumlah koin) daripada berat.

Sementara uang kertas pertama dibuat di Cina sekitar tahun 700-800 AD, masih lama sebelum mata uang kertas digunakan secara umum. Bobot uang kertas yang lebih ringan memungkinkan perdagangan internasional, yang kemudian menciptakan masalah seperti ketidakpercayaan antar bangsa dan perang mata uang, tetapi juga peluang seperti kemampuan untuk berdagang di negara lain. Memang uang bisa menjadi teman dan musuh manusia.

Orang Kristen sudah tentu harus mau dan bisa menggunakan uang dengan baik. Tetapi, mungkin jarang orang yang sadar bahwa ada sembilan prinsip Alkitab yang bisa kita pelajari:

1. Tuhan memiliki segalanya, termasuk uang

TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Mazmur 24:1

2. Uang adalah alat yang digunakan manusia

Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya. Pengkhotbah 7:12

3. Jangan berharap kepada uang untuk memperoleh kebahagiaan

Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? Pengkhotbah 5:10

4. Dapatkan uang itu dengan giat bekerja

Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Amsal 10:4

5. Berusahalah untuk merasa cukup dalam semua keadaan

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:12-13

6. Hilangkan keserakahan di hati kita

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.Lukas 12:15

7. Berhati-hatilah dengan hutang

Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi. Amsal 22:7

8. Kelola keuangan Anda dengan baik

Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. Tesalonika 3 : 11-12

9. Banyak uang, banyak masalah

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. 1 Timotius 6:10

Hari ini kita harus sadar bahwa Alkitab sangat sering menyantumkan kata uang, karena uang bisa menguasai hidup kita sehingga hidup kita jauh dari Tuhan. Semoga kita sadar bahwa selama hidup kita harus bisa mengendalikan uang dan bukannya dikendalikan oleh uang.

Hubungan orangtua dan anak

“Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6: 2 – 4

Dalam dua bulan terakhir ini saya membaca tiga berita menyedihkan tentang adanya seorang anak yang membunuh ibunya di tiga tempat yang berbeda di Australia. Tiga orang yang berlainan yang membenci ibu mereka sedemikian rupa, sampai-sampai tega untuk menghabisi nyawa mereka. Memang, selain masalah kejiwaan ada berbagai sebab bisa membuat seorang anak yang sudah dewasa merasa bahwa ia diperlakukan secara tidak adil oleh orangtua sekalipun sebenarnya tidak demikian. Orang-orang itu mungkin mempersalahkan orangtua mereka karena melahirkan mereka. Ini adalah sebuah dosa bagi umat Kristen.

Walaupun demikian, ada pemikiran filosofi bahwa seorang anak tidak seharusnya dilahirkan menurut kemauan orangtua. Filsuf Théophile de Giraud tercatat sebagai orang pertama di abad 20 yang memperkenalkan faham yang disebut anti-natalisme yang menentang kebebasan orangtua untuk mempunyai anak. Melahirkan anak dianggap sebagai usaha yang menimbulkan siksaan kepada bayi yang harus menjadi dewasa dan menghadapi semua tantangan kehidupan.

Beberapa agama sebenarnya juga mengajarkan anti-natalisme, karena menganggap bahwa kelahiran bayi di dunia adalah awal penderitaan. Tetapi, menurut kepercayaan Kristen kelahiran seorang bayi adalah berkat Tuhan kepada keluarga yang menjalankan perintah-Nya untuk berkembang biak. Kelahiran seorang bayi, seperti penciptaan manusia di taman Eden, dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak untuk menghentikan proses kelahiran bayi, sekalipun boleh mengambil keputusan untuk memperoleh keturunan atau tidak, yang disesuaikan dengan kehendak Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Dengan kelahiran seorang bayi, hubungan antara suami istri berubah; perhatian yang dulunya hanya berkisar antara dua orang, sekarang menjadi lebih luas karena mencakup anak-anak mereka. Dalam kenyataannya, menjadi orangtua berarti mau berkurban untuk anak-anak mereka, seperti Tuhan Yesus yang berkurban untuk umat manusia. Sebaliknya, anak-anak harus menghormati orangtua sebagai wakil Tuhan yang mengasuh mereka sampai mencapai kedewasaan.

Ayat diatas menggaris-bawahi hubungan antara anak dan orangtua dalam keluarga Kristen yang sering disalah-tafsirkan. Pada masa yang silam, menghormati orangtua sering membuat anak sangat terbebani sehingga keluarga mereka bisa terlantar. Dalam Perjanjian Lama, kata “hormat” dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani kabad yang memberi kesan seperti beban berat bagi anak-anak mereka yang harus memberi prioritas utama kepada orangtua. Tetapi dalam Perjanjian Baru, kata Yunani timao dipakai untuk menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Memang orangtua adalah orang yang harus dihargai oleh anak-anak mereka, sekalipun mereka mungkin mempunyai banyak kekurangan.

Ayat diatas juga menunjukkan bahwa hubungan orangtua dan anak-anak mereka adalah kewajiban dua arah. Jika anak harus menghargai orangtua, kita yang berstatus orangtua tidak boleh memakai status itu untuk menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anak kita, agar jangan sampai merasa terlukai, baik secara lahir maupun batin. Sebaliknya, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kasih supaya mereka mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan dan bisa menjadi orangtua yang baik di masa depan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya hubungan dalam keluarga. Sebagai manusia, kita bukanlah orang yang sempurna, dan karena itu kita sering membuat kekeliruan dalam membina hubungan dengan orangtua ataupun anak kita. Walaupun demikian, jika kita ingat akan kewajiban kita masing-masing, kasih agape akan bersinar dalam keluarga kita.

Bersahabat dengan uang

Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Lukas 16: 9

Duit, fulus, uang. Siapakah yang tidak butuh? Dari lahir sampai mati, manusia membutuhkan uang. Apalagi kalau tanggal tua, adanya sedikit uang di dompet mungkin seperti seteguk air di padang pasir. Apa sih uang itu? Mengapa manusia sangat membutuhkan uang? Uang adalah alat tukar. Ini adalah barang yang disepakati yang dapat kita gunakan untuk melakukan pembelian, perdagangan, atau melunasi hutang. Penggunaan uang membuatnya jauh lebih mudah untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan daripada dengan cara “barter”, seperti menukar ayam peliharaan kita dengan sekotak coklat yang kita ingini.

Walaupun uang hanyalah konsep duniawi, hakikat uang yang dibutuhkan manusia ini diungkapkan dalam  agama tertentu sebagai bekal ibadah dan perjuangan hidup. Menurut ajaran tersebut, dengan berbekal uang yang dimiliki, seorang dapat melakukan sesuatu yang baik  untuk mendapat sesuatu yang paling berharga, yaitu surga. Dengan uang atau harta, seorang  dapat membeli surga dengan perniagaan dengan Allah yang empunya surga. Orang bisa dengan hartanya berbuat kebajikan untuk dapat ditukarkan dengan tempat di surga.

Sudah barang tentu, sebagai umat Kristen, kita tahu bahwa perniagaan dengan Allah semacam itu tidak mungkin bisa. Tidak mungkin kita membeli tempat di surga melalui “barter” dengan Allah. Kemahasucian Allah tidak mungkin dicapai atau dibeli oleh manusia dengan alat apapun. Allah bukanlah miskin dan membutuhkan donasi manusia. Hanya darah Yesus yang memungkinkan manusia untuk dapat mendekati Sang Pencipta. 

Sebenarnya, uang adaah benda mati ciptaan manusia. Uang tidak memiliki kehidupan. Uang tidak bisa bertindak sendiri. Ia tidak dapat melakukan perbuatan baik, dan ia tidak dapat melakukan kejahatan. Pada dasarnya, uang bukan benda yang tidak baik. Tetapi jika ada hal yang buruk terjadi karena uang, itu ditenentukan oleh pemakainya, yaitu manusia. Uang hanya dapat melakukan apa yang kita perintahkan. Uang bukanlah akar dari segala kejahatan. Tetapi akar segala kejahatan adalah cinta uang (1 Timotius 6:10).

Jika konsep uang begitu sederhana dan tidak memiliki kekuatan yang menarik kita ke arah yang jahat, lalu mengapa kita begitu memusingkan soal uang? Apa yang Alkitab katakan tentang keuangan dan uang? Alkitab mengatakan banyak hal tentang uang, tetapi intinya adalah ini: uang bisa menjadi sesuatu yang mengatur hidup kita- semacam berhala – kartena keputusan kita sendiri. Dari rayuan kesuksesan hingga iming-iming nafsu, banyak hal di dunia ini yang akan memperebutkan kasih sayang dan pengabdian kita. Tetapi berhala yang paling berbahaya yang akan kita hadapi adalah uang (Matius 6:24).

Mengapa Gereja berbicara begitu banyak tentang uang? Ada dua alasan bagus mengapa Gereja begitu sering berbicara tentang uang. Pertama, alasan Gereja berbicara tentang uang adalah karena Tuhan berbicara tentang uang. Pertimbangkan statistik ini pada ayat-ayat tentang uang dalam Alkitab:

  • 16 dari 38 perumpamaan Yesus berhubungan dengan uang dan harta benda
  • Hampir 25% dari kata-kata Yesus dalam Perjanjian Baru berhubungan dengan penatalayanan uang secara alkitabiah
  • 1 dari 10 ayat dalam Injil berhubungan dengan uang
  • Ada lebih dari 2.000 ayat kitab suci tentang persepuluhan, uang, dan harta benda. Jumlahnya dua kali lebih banyak dari gabungan ayat mengenai iman dan doa.

Dalam Alkitab kita bisa mempelajari bahwa:

  • Tuhan memiliki segalanya, termasuk uang
  • Uang adalah alat yang digunakan manusia
  • Jangan berharap kepada uang untuk memperoleh kebahagiaan
  • Dapatkan uang itu dengan giat bekerja
  • Berusahalah untuk merasa cukup dalam semua keadaan
  • Bunuhlah keserakahan di hati kita
  • Berhati-hatilah dengan hutang
  • Kelola keuangan Anda dengan baik
  • Banyak uang, banyak masalah

Lalu bagaimana dengan ayat diatas? Mengapa Yesus berkata bahwa kita harus menggunakan uang untuk bisa diterima di dalam kemah abadi (surga)? Benarkah Yesus menganjurkan kita untuk bersahabat dengan uang atau harta? Kalau benar, bukankah apa yang diajarkan Kristus itu serupa dengan apa yang diajarkan oleh agama lain? Bukankah agama lain mengajarkan bahwa dengan amal-ibadah orang akan dapat masuk ke tempat yang paling tinggi di surga? Sebaliknya, bukankah rasul Paulus dalam 1 Timotius 6: 10 menulis bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan?

Apa yang dikatakan oleh Yesus waktu itu adalah ucapan ekstrim atau bernada hiperbola, yang dimaksudkan agar dapat lebih tajam dan mengena pada sasarannya. Ada beberapa ucapan bernada hiperbola yang dipakai Yesus dan tertulis dalam Alkitab. Misalnya:

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14: 26

Ungkapan bernada hiperbol tidak dapat langsung diartikan secara literal, tetapi harus dipelajari konteksnya. Kalau tidak, kita bisa mendapat kesimpulan yang keliru.

Uang sebenarnya adalah alat dan sumber daya manusia seperti juga pendidikan dan kepandaian dll. Manusia harus bekerja untuk mendapatkan uang, mengumpulkannya untuk disimpan dan dikembangkan, dan memakainya untuk mencapai tujuan tertentu. Ketiganya harus dijalankan dengan cara yang benar yang sesuai dengan hukum negara.

Dalam kenyataan hidup ini, banyak orang mencari uang dengan cara yang tidak benar, mengumpulkannya dengan maksud yang salah dan memakainya untuk tujuan yang keliru. Dalam masyarakat yang cenderung makin kapitalis sekarang ini, tidak hanya dalam dunia bisnis orang berebut mencari uang dengan segala cara yang kurang legal dan berusaha mengurangi pembayaran pajak sebisa mungkin, tetapi juga dalam lingkungan gereja banyak orang Kristen dan bahkan pemimpin gereja yang keliru dalam usaha mencari, mengumpulkan dan menggunakan uang. Selain itu, ada yang berpendapat bahwa banyaknya uang seorang anggota gereja akan memungkinkan pemberian uang persembahan yang lebih besar.

Banyak contoh di Alkitab yang menggambarkan betapa manusia bisa mengalami masalah karena cinta akan uang. Contoh yang mungkin sangat menyedihkan ialah ketika Ananias dan Safira  menemui kematian karena melakukan tiga hal diatas secara keliru: mendapat uang, mengumpulkan uang dan memakai uang dengan tujuan yang salah (Kisah Para Rasul 5). Seandainya mereka tidak membuat kekeliruan itu, mereka tentu tidak akan mati secara mengenaskan.

Dalam ayat Lukas 16: 9 diatas, jelaslah bahwa Yesus mengajarkan agar kita bisa menguasai uang dan bukan dikuasai uang. Kita harus bisa “bersahabat” dengan uang dalam arti bisa mencari uang dengan cara yang benar, mengelola uang dengan benar dan memakai uang dengan maksud yang baik – untuk kebesaran nama Tuhan. Keberhasilan yang pernah kita alami dalam mencari uang tidak dapat menjamin bahwa kita akan selalu berhasil dalam dua hal yang lain. Sebagai manusia yang hidup di dunia, ada juga saat dimana kita tidak dapat meneruskan usaha kita dalam mengelola uang karena berbagai faktor. Tetapi, jika untuk orang dunia terhentinya aktivitas keuangan akan membawa frustrasi dan kekecewaan, bagi orang Kristen yang sudah menggunakan uangnya dan hidupnya dengan baik ada kebahagiaan tersendiri, karena mereka sudah menggunakan sumber daya yang datangnya dari Tuhan itu untuk kemuliaan-Nya.

Sejauh mana orang Kristen harus mau untuk berjuang mencari uang, mengumpulkan uang dan menggunakan uang untuk kemuliaan Tuhan? Selama hidup di dunia kita bisa memakai berkat Tuhan itu untuk melebarkan kerajaan Tuhan dengan berbagai cara. Juga kita dapat menolong sesama kita yang menderita secara finansial. Ini bukan soal yang mudah untuk manusia yang cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri. Tetapi Yesus berkata bahwa siapa yang tidak dapat mencintai sesamanya yang kelihatan,  tidak akan bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan (1 Yohanes 4: 20). Senada dengan itu, siapa yang tidak dapat mengelola harta duniawi dengan baik, tidak dapat mengelola harta surgawi.

 “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Lukas 16: 11

Hari ini, biarlah kita bisa menyadari realita hidup di dunia ini. Bahwa selaku orang percaya kita dikaruniai kemampuan untuk menguasai bumi, untuk mengelola berbagai sumber daya yang ada. Sebagai orang beriman, kita mendapat panggilan untuk bisa bekerja dengan rajin dan jujur agar kita dapat memperoleh hasil yang baik, yang berasal dari Tuhan, dan yang bisa digunakan untuk memperbesar kerajaan Allah di dunia dan di surga dengan makin banyaknya orang yang menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Perbedaan harus ada, begitu juga persatuan

“Kamu harus berpegang kepada ketetapanKu. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.” Imamat 19: 19

Jika kita rajin membaca berita di media, setiap hari selalu ada masalah sosial yang dilaporkan, yang disebabkan karena adanya perbedaan antar manusia, antar bangsa dan antar agama. Walaupun demikian, pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.

Dengan perubahan yang terjadi di zaman modern, banyak orang yang merasa “maju” jika mereka bisa hidup bersama dengan damai bersama orang yang sebenarnya berpandangan hidup yang sangat berbeda. Hal yang sedemikian adalah baik, dan Alkitab memang menunjang prinsip kesamaan derajat antar umat manusia. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat digolongkan sebagai umat Tuhan. Ada orang yang dapat digolongkan sebagai domba Yesus dan gandum, tetapi ada pula yang bukan termasuk dombaNya (Yohanes 10: 26) dan mungkin bisa tergolong jenis lalang (Matius 13: 38).

Agama memang adalah salah satu hal yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Ada orang yang membayangkan betapa dunia akan tenteram jika tidak ada agama. Itu ada benarnya, tetapi dalam hal hidup beragama hal yang jahat biasanya bukan karena adanya perbedaan agama, tetapi karena adanya manusia yang memutar-balikkan ajaran agamanya sehingga timbul permusuhan antar sesama manusia. Adanya perbedaan dalam hidup tidaklah dapat dihilangkan, tetapi tidaklah harus menimbulkan kebencian dan persengketaan. Pada pihak yang lain, mereka yang berusaha menghilangkan kebencian dengan menghilangkan perbedaan, bisa melenyapkan kebenaran dan bahkan mengabaikan adanya Tuhan yang mahasuci.

Ayat di atas menunjukkan adanya perbedaan: ada dua jenis ternak, ada dua jenis benih dan ada dua jenis bahan pakaian. Walaupun demikian, isi ayat itu bukanlah mengenai 3 jenis perbedaan itu. Ayat itu menggambarkan perbedaan antara umat Tuhan dan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kedua kelompok ini adalah ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, tetapi sangat berbeda dalam hal iman, sehingga keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Mereka yang beriman, tetapi menerima cara hidup orang yang tidak beriman, lambat laun akan berubah gaya hidupnya dan menjalani hidup seperti orang yang tidak beriman. Mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi juga bisa menerima pendapat bahwa ada jalan lain menuju ke surga, lambat laun akan berpendapat bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan. Ini adalah hal yang tidak baik, dan karena itu adanya perbedaan antara orang dunia dan umat Tuhan harus tetap disadari.

Bagaimana pula dengan perbedaan pendapat di kalangan umat Kristen? Sekalipun mereka semuanya percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, permusuhan atau pertentangan antar umat Kristen masih ada sampai saat ini. Ada contoh dalam Alkitab di mana perpecahan antar umat Kristen dipakai Tuhan untuk hal yang baik. Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia.

Anda tentunya pernah mendengar kisah diatas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah untuk tidak pernah berjumpa lagi. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat nama-Nya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin keadaan keluarga tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif di gereja. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Barangkali, dalam suasana saat ini kita sering bertengkar dengan mereka mengenai soal prioritas kehidupan dan rencana masa depan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan kemurungan dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umat-Nya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umat-Nya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan persatuan dalam iman. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar dalam situasi yang sulit Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16