Demi uang orang mau berbuat apa saja

“Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.” Ulangan 16: 19

Akhir-akhir ini, saya sering merasa masygul selesai membaca berita media tentang penyalahgunaan uang negara. Di saat pandemi masih merajalela, ada saja orang yang memanfaatkan kekacauan untuk mengambil keuntungan pribadi. Herannya, mereka yang melakukan hal-hal semacam ini seolah-olah menikmati “ketenaran” yang diperolehnya bersama kekayaan yang membuat orang lain menggelengkan kepala.

Sejak dulu kala korupsi dengan segala bentuknya sudah ada. Yakub misalnya, menipu saudaranya, Esau, untuk memberikan hak anak sulungnya hanya untuk semangkuk sup kacang merah (Kejadian 25: 33-34). Mungkin untuk sebagian orang, kejadian ini bukanlah korupsi tetapi proses jual beli yang konyol. Walaupun demikian, apa yang dilakukan oleh Yakub adalah mirip dengan apa yang kita kenal dengan memberi uang suap (bribe) untuk mendapat keuntungan pribadi yang tidak seharusnya. Memberi/meminta sesuatu kepada orang lain dengan maksud tidak jujur atau tidak etis untuk menguntungkan diri sendiri adalah korupsi.

Mengapa ada korupsi? Karena manusia ingin memperoleh keuntungan dengan cara yang gampang. Dengan memutarbalikkan keadilan, seseorang dapat memperoleh fasilitas atau dukungan dari orang lain, sekalipun itu sebenarnya bukan haknya. Dengan mengabaikan keadilan, orang melanggar hukum karena adanya imbalan dari orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Biarlah orang lain merugi, asal diri sendiri mendapat keuntungan.

Masalah korupsi adalah masalah rumit yang terjadi di negara dan masyarakat manapun. Walaupun demikian, hal ini jarang dibahas di gereja, mungkin karena agak sensitif terutama dalam sangkut pautnya dengan kehidupan anggota gereja dan situasi hukum setempat. Banyak orang yang kurang senang jika hal ini dibahas secara mendetail di gereja.

Karena situasi hukum yang kurang baik, memang mungkin bagi seseorang untuk melakukan korupsi tanpa harus melanggar hukum setempat. Karena kebiasaan dan etika masyarakat, mungkin saja orang memakai cara-cara tertentu yang kurang benar untuk “melicinkan” jalan masuk ke sekolah, universitas dan pekerjaan. Dengan dalih pemerataan ekonomi dan menolong orang lain, sering juga orang menggunakan jalan belakang untuk memperoleh keuntungan dalam bisnis, agama dan politik. Karena apa yang dilakukan manusia selalu disesuaikan dengan sikon, Tuhan seolah mempunyai standar yang berbeda-beda untuk manusia. Memang banyak orang menganggap bahwa tujuan boleh menghalalkan cara.

Kebiasaan dengan korupsi juga bisa membawa pengertian yang keliru dalam hubungan dengan Tuhan. Banyak orang yang tidak mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan sebelum hasrat kebutuhannya terpenuhi. Sebaliknya, ada orang yang berpikir bahwa Tuhan akan menuruti kehendaknya setelah memberikan persembahan kepada Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang kita imani dan karena itu hukumNya adalah sama di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Sebagai orang beriman kita harus menjunjung keadilan untuk seluruh umat manusia, dan karena itu harus hidup dengan jujur satu dengan yang lain. Lebih dari itu, kita juga harus mempunyai iman yang benar dan jujur kepada Tuhan.

“Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.” Ayub 8: 5-6

Yesus yang sudah bangkit, sekarang menyertai kita

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” 2 Korintus 4: 8-10

Dimanakah Tuhan jika anda seorang diri sedang mengalami kesulitan? Pada saat sedemikian, mungkin tidak ada teman atau sanak yang mengerti apa yang kita rasakan. Kebanyakan orang percaya bahwa Tuhan ada di surga. Tetapi, jika kita berdoa kepadaNya, apakah Ia selalu mau mendengar? Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan jika kita tidak mendengar jawabanNya? Mungkinkah Tuhan yang jauh di sana hanya mau menjawab doa kita jika kita tidak berdoa sendirian? Bukankah Yesus pernah berkata bahwa jika ada dua atau tiga orang berdoa kepadaNya, Ia ada diantara mereka?

Memang ada banyak orang yang percaya bahwa doa yang disampaikan oleh beberapa orang lebih didengar Tuhan, karena Tuhan akan datang ke tempat dimana mereka berdoa.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Matius 18: 20

Tetapi pengertian seperti itu sebenarnya kurang benar karena adanya dua atau tiga orang berdoa bukanlah syarat hadirnya Tuhan. Yang dimaksudkan Yesus adalah dalam berdoa kita harus bisa lebih dulu menyelesaikan konflik kita dengan saudara-saudara seiman kita yang bisa menjadi penghalang hubungan baik kita dengan Tuhan (Matius 18: 15 – 16). Yesus mendengarkan doa kita sekalipun kita berdoa seorang diri. Dalam segala persoalan, bahaya atau kebutuhan yang kita hadapi, Yesus selalu mau mendengar doa kita.

Bagi kita yang menghadapi masalah kehidupan ada dua hal yang dengan iman harus diamini. Yang pertama adalah ketidakmampuan manusia untuk menentukan masa depannya dan yang kedua, bahwa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat diatasiNya. Yesus adalah Tuhan.

Seberapa besarnya masalah kita, kita harus mempunyai iman bahwa Yesus ada dalam diri kita, bersama-sama dengan kita dalam menghadapinya. Dalam kesepian kita, kita tidak perlu merasa sendirian karena Yesus sudah memberikan Roh Kudus untuk menghibur kita dan bahkan menyampaikan kepada Tuhan segala doa-doa yang tidak bisa kita ucapkan.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” Roma 8: 26

Pagi ini, mungkin hanya anda yang tahu tentang masalah yang anda hadapi. Anda mungkin merasa masygul bahwa pada saat ini anda sendirian dalam menghadapi tantangan hidup. Anda berdoa, tetapi tidak yakin apakah Tuhan mendengarkan doa anda. Teman jauh, Tuhan pun terasa jauh. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa jika kita percaya bahwa Yesus yang sudah bangkit sekarang hidup bersama kita, kita tidak akan merasa takut atau kuatir menghadapi ujian hidup.

“Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” 2 Korintus 13: 5

Dapatkah manusia menolak karunia Tuhan?

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Roma 8: 7

Ketika Paulus berkata dalam ayat di atas bahwa “keinginan daging adalah permusuhan dengan Allah”, dia memberi arti yang paling penting untuk dosa. Dosa adalah kontradiksi dengan Tuhan, kontradiksi dengan kemuliaan Tuhan yang mahabesar. Tidak ada yang lebih dekat dengan kemuliaan Tuhan selain kebenaranNya; karena Dia adalah kebenaran. Iblis, si penggoda, tentu sangat menyadari hal ini, dan karena itu strateginya sampai sekarang adalah memutar-balikkan kebenaran Tuhan. Kepada Hawa dia berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3: 4). Ini adalah penolakan terang-terangan atas kebenaran Tuhan. Ketika Hawa dengan kehendaknya sendiri menerima kontradiksi ini, hubungannya dengan Tuhan menjadi berantakan dan karena dosanya ia terbelenggu oleh iblis. Kemarahan Tuhan terhadap iblis adalah karena apa yang diperbuatnya dulu, yang membawa kejatuhannya, adalah sama dengan apa yang ia gunakan untuk merayu Hawa.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”`(Yohanes 8:44).

Jelas bahwa dosa adalah penolakan manusia terhadap kehendak Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukanlah kehendak Tuhan, karena Ia memberi Adam dan Hawa sebuah larangan yang mudah dimengerti. Jika kehendak Tuhan tidak bisa ditolak manusia, tentu tidak akan ada dosa. Firman Tuhan sudah diungkapkan dalam Injil dan karena itu semua kontradiksi atas Injil adalah penolakan manusia yang sudah diketahui Allah sejak mulanya. Di dalam Injil kita melihat bentuk kasih karunia Allah yang sudah dirancang sebelum kejatuhan, dan Kristus adalah perwujudan dari kasih karunia itu. Oleh karena itu, ketidakpercayaan kepada Kristus adalah penolakan atas kasih karunia Tuhan yang akan membawa maut (Roma 6: 23). Jadi, untuk mengatakan bahwa semua kasih karunia Tuhan tidak dapat ditolak berarti menyangkal fakta-fakta kehidupan manusia berdosa seperti apa yang dicantumkan dalam Alkitab.

Judul renungan di atas sebenarnya adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya kemungkinan bahwa teman atau sanak-saudara mereka tidak akan bisa diselamatkan. Jika manusia dikatakan tidak dapat menolak karunia Tuhan, dan tetap ada banyak orang yang jelas-jelas memilih cara hidup yang keliru, mungkinkah itu karena Tuhan sengaja membuat mereka menolak karuniaNya? Mungkinkah Tuhan sudah dari awalnya menetapkan mereka untuk ke neraka? Dalam hal ini, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagiNya. Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas memenuhi syarat untuk masuk ke neraka!

Walaupun demikian, Roma 10: 9 mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwaYesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggilNya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Kembali kepada pertanyaan diatas, dapatkah orang menolak karunia keselamatan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah singkat dan pasti: YA. Jika ada gagasan bahwa seseorang tidak mungkin menolak kasih karunia Tuhan, sejarah umat manusia adalah penuh dengan perlawanan yang tiada hentinya terhadap anugrah Tuhan. Memang kita mampu menolak kasih karunia Tuhan, dan dalam hidup lama kita, kita benar-benar sudah pernah menolak kasih karunia Tuhan. Tetapi, meskipun kita secara alami bisa menolak anugerah Tuhan, kasih dan kuasa Tuhan begitu kuat sehingga dapat mengatasi penolakan alami kita terhadapNya, jika Ia menghendakiNya.

Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintahNya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus.

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apapun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubahNya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan namaNya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Jika demikian, kita tidak perlu meragukan janji keselamatanNya.

Pada pihak yang lain, mungkin diantara kita masih ada yang bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau mengikuti kenikmatan duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima karunia keselamatan. Disini peranan pemuridan dan doa orang Kristen adalah sangat penting (Matius 28: 19-20). Tuhan bekerja menurut rencanaNya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukanNya kepada orang-orang yang belum benar-benar percaya kepadaNya. Doa dan usaha mengabarkan Injil kita adalah pernyataan iman bahwa Tuhan pada hakikatnya mengasihi seisi dunia dan ingin agar manusia bisa diselamatkan pada saat yang ditetapkanNya.

Amazing Grace, how sweet the sound that saved a wretch like me
I once was lost, but now am found
Was blind but now I see

Ajaib benar anugerah pembaru hidupku
‘Ku hilang, buta, bercela; olehnya ‘ku sembuh.

Jangan sampai kurang yakin

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Yohanes 8: 23-24

Di sepanjang sejarah, selalu ada saja orang-orang yang mengajarkan cara hidup untuk mencapai kebahagiaan. Mereka menunjukkan hal-hal yang penting untuk dilakukan agar manusia bisa hidup tenteram, tidak hanya selama hidup di dunia, tetapi juga setelah itu. Kebahagiaan di surga sepertinya bisa dicapai dengan berbagai cara seperti yang diajarkan oleh berbagai agama.

Perbedaan ajaran berbagai agama sering kali membuat manusia bingung, terutama mengenai bagaimana manusia harus melakukan berbagai kebajikan agar mereka bisa masuk ke surga. Dalam hal ini, Kekristenan atau Kristianitas sebenarnya bukanlah agama; karena dalam Kekristenan, hanya iman kepada Yesus yang membawa keselamatan. Manusia tidak bisa mendapat keselamatan karena perbuatan baik apapun.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Walaupun demikian, di zaman ini makin banyak orang yang mengajarkan bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan, the way, untuk menuju ke surga. Paham-paham semacam itu bisa berupa universalisme yang mengajarkan bahwa tiap orang bisa mencari jalan ke surga dengan caranya sendiri. Akibatnya, orang Kristen sekarang sering malu dan segan untuk menyatakan keyakinan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan.

Banyak orang Kristen yang dipengaruhi oleh paham universalisme di era pluralisme yang ada sekarang, sehingga mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya menghargai iktikad baik setiap manusia yang berusaha sungguh-sungguh mencari Tuhannya. Seringkali orang mempunyai kepercayaan semacam ini karena adanya sanak saudara yang bukan orang Kristen. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa sanak saudara mereka tidak akan diselamatkan.

Ayat pembukaan diatas menunjukkan bahwa usaha manusia untuk mengenal Tuhan akan sia-sia karena Tuhan itu mahatinggi. Yesus datang dari surga sedang manusia berada di dunia. Pengertian manusia tidak akan dapat meraih kebesaran Yesus. Apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah menerima Yesus sebagai Mesias dengan iman, percaya bahwa Yesus datang dari surga sebagai satu-satunya jalan keselamatan, sesuai dengan pernyataanNya.

Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa betapapun baiknya hidup seseorang, ia tetap adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan yang mahasuci. Jika ada orang yang percaya bahwa mereka yang berbuat banyak kebajikan akan masuk ke surga, pada hakikatnya mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Mereka dengan demikian menolak bahwa Yesus adalah Tuhan yang datang dari surga untuk menyelamatkan manusia.

Apa yang dikatakan Yesus dalam ayat pembukaan diatas seharusnya bisa menyadarkan mereka yang menolak bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan Tuhan sendiri. Bahwa dengan penolakan itu, mereka akan mati dalam dosa sekalipun mereka mengaku sebagai orang Kristen.

Hari ini ada satu pertanyaan untuk kita. Apa yang sebenarnya kita percayai? Apakah kita percaya bahwa Kekristenan adalah salah satu cara mencapai surga? Mungkin kita percaya bahwa Yesus hanyalah salah satu guru agama yang masyhur di dunia? Barangkali anda percaya bahwa Yesus adalah ciptaan Allah dan bukan Anak Allah yang satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus? Ataukah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang datang dari surga untuk menebus dosa kita?

Pada waktu Yesus disalib, seorang penjahat yang disalib di sampingNya berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Jawaban Yesus kepada penjahat itu seharusnya tidak mengherankan mereka yang percaya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23: 42-43). Yesus adalah Tuhan dan di dalam Dia ada keselamatan. Tidak ada jalan lain di luar Dia!

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.” Lukas 9: 26

Manis lembut Tuhan Yesus memanggil

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hari ini kebetulan saya mendengarkan lagu himne lama yang berdudul “Softly and Tenderly Jesus is Calling” yang diciptakan oleh Will Lamartine Thompon pada tahun 1880. Lagu yang sangat populer di kalangan orang Kristen ini sudah dinyanyikan oleh banyak penyanyi Gospel, seperti Allan Jackson dan Anne Murray. Lagu ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu “Manis Lembut Tuhan Yesus Memanggil”.

Manis lembut Tuhan Yesus memanggil
Memanggil aku dan kau
Lihatlah Dia prihatin menunggu
Menunggu aku dan kau

Hai mari datanglah
Kau yang lelah mari datanglah
Sungguh lembut
Tuhan Yesus memanggil
Kau yang sesat, marilah

Hidup ini memang berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”,  tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika masalah yang ada sangat besar?

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani sering kali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani sering kali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah lain.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani sering kali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani sering kali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani sering kali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka mudah sesat karena tidak dapat menemukan jalan yang baik. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadanya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Mungkinkah perang datang dari Tuhan?

“Banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah. Lalu mereka menduduki tempat orang-orang itu sampai waktu pembuangan. 1 Tawarikh 5: 22

Alkitab dalam 1 Tawarikh 5: 18-22 mengisahkan perang anak-anak Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye, melawan orang-orang Hagri, Yetur, Nafish dan Nodab. Ayat 20 menyatakan bahwa anak-anak Israel berseru kepada Tuhan di tengah-tengah pertempuran, dan Tuhan membantu mereka dalam perang melawan musuh-musuh mereka. Ayat 22 di atas menyatakan, “banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah”. Pertempuran yang datang dari Allah? Jika Tuhan itu baik (Mazmur 100: 5) dan jika Tuhan adalah Tuhan yang damai (Roma 15:33), bagaimana Dia bisa mengobarkan perang?

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapapun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan sering kali seakan tidak dapat dihindari. Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, sering kali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaanNya.

Mengobarkan perang dan menjadi Tuhan yang mahakasih dan mahabaik tidaklah harus selalu bertentangan. Pertama, adalah keliru untuk menganggap bahwa perang tidak sejalan dengan kebaikan. Seorang ahli bedah mengambil tindakan drastis melawan kanker untuk mendatangkan kebaikan tertinggi bagi pasien. Namun, kejahatan spiritual jauh lebih serius daripada kejahatan fisik. Ketika Tuhan mengobarkan perang di Perjanjian Lama, itu melawan kekuatan roh jahat. Tuhan mengambil tindakan drastis untuk membersihkan tanah dari pengaruh jahat penduduknya.

Kedua, adalah keliru untuk menganggap bahwa berperang tidak sejalan dengan perdamaian. Tidak akan ada kedamaian di dunia jika Tuhan tidak melawan kejahatan. Sesungguhnya, damai sejahtera Tuhan sekarang tersedia bagi semua orang yang percaya, karena Tuhan mengobarkan perang melawan kekuatan jahat – peperangan yang mencapai puncaknya di Golgota di mana darah Anak Tunggal Tuhan dicurahkan. Memang, terkadang perang diperlukan untuk menghasilkan perdamaian yang langgeng.

Setiap tahun pada tanggal 6 Juni banyak negara memperingati hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan bisa juga terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilihNya.

Hari ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad-abad yang telah lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umatNya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganNya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepadaNya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Jangan ragukan Tuhan kita yang Maha Esa

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Di dunia ini ada banyak agama dan ada banyak orang yang beragama. Jika kita mungkin mengenal adanya sekitar 10 agama di suatu negara, itu tidaklah banyak. Diperkirakan ada sekitar 4200 agama di dunia. Sekitar 84% penduduk dunia mengaku beragama, dan sepertiga diantaranya menganut agama Kristen. Walaupun demikian, tidak ada data yang menjelaskan berapa banyak orang beragama yang mengenal Tuhan mereka. Juga kurang jelas ada berapa “Tuhan” yang dikenal seisi dunia.

Bagi mereka yang beragama, adanya Tuhan tentunya adalah suatu kenyataan tidak dapat dibantah. Mereka bisa melihat bahwa seluruh jagad raya tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mencipta dan yang mengatur. Apalagi, dalam hidupnya manusia bisa mengalami hal- hal yang ada di luar kuasa mereka. Karena itu, dari zaman purba manusia selalu berusaha mengenal siapa yang dibalik semua hal yang terjadi dalam alam semesta. Oknum yang mahakuasa yang ada dari awalnya itulah yang mereka percayai sebagai Tuhan,

Walaupun demikian, jika kepada orang yang beragama diajukan sebuah pertanyaan apakah mereka mengenal Tuhan mereka, sering kali jawabnya kurang meyakinkan. Tidak seorang pun yang pernah melihat sang tuhan, dan apa yang bisa dilihat biasanya adalah gambar, patung atau wakil/penjelmaan tuhan mereka. Sifat apa yang seharusnya nyata ada dalam Tuhan, seperti mahatahu, mahakuasa, kekekalan dan lain-lainnya, tidaklah bisa ditemukan di dunia. Semua “tuhan” yang ada di dunia adalah benda mati atau manusia yang pernah hidup atau yang bakal mati.

Bagaimana dengan Tuhan orang Kristen? Dapatkah orang Kristen mengenal Tuhan mereka? Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan yang mahabesar dan mahasuci jika Tuhan sendiri tidak membuat diriNya dikenal oleh umatNya. Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diriNya dalam berbagai bentuk yang ajaib seperti api atau suara, tetapi manusia yang berdosa tidak dapat melihat Dia secara pribadi atau menyebutkan namaNya. Tuhan memang mengirimkan nabi-nabi untuk mewakiliNya, tetapi mereka semua adalah manusia fana yang berdosa dan tidak sempurna.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan jika Ia turun ke dunia sebagai manusia seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa dan tidak dapat mengalami kematian. Tuhan yang benar adalah sumber kehidupan dan karena itu tidak dapat dikalahkan maut. Tuhan yang mahahadir, sudah tentu ada dimana-mana di antara umatNya di segala zaman. Hanya satu Oknum yang bisa memenuhi persyaratan di atas: Yesus Kristus.

Pada ayat di atas ditulis bahwa pada saat sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Ayat di atas menegaskan bahwa bagi umat Kristen hanyalah ada satu yakni Tuhan yang Maha Esa, dan Yesus Anak Allah adalah Allah sendiri yang turun ke dunia sebagai manusia yang dipenuhi Roh Allah. Yesus sudah lahir, mati, bangkit dan naik ke surga, dan itu dapat dilihat mata manusia dan tercatat dalam sejarah. Karena itu, bagi kita tidaklah sulit membayangkan bahwa Allah adalah seperti Yesus: mahakasih, mahaadil dan mahakuasa. Lebih dari itu, karena Yesus yang sekarang di surga sudah mengaruniakan Roh Kudus sebagai Penolong kepada setiap umatNya, tidaklah sulit bagi kita untuk merasakan bahwa Tuhan beserta kita setiap saat dan untuk selamanya. Pujilah Tuhan yang dalam Yesus Kristus sudah menebus dosa kita dan memberikan pengenalan akan kasih dan kebesaranNya!

Berapa harga keselamatanmu?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Alkisah, ada seorang tokoh agama yang berdoa dalam hatinya: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti orang yang tidak pernah berpuasa dan yang kurang memberi amal ibadah” Mungkin anda tahu bahwa ini adalah sebuah cuplikan dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18: 9 – 14. Tuhan Yesus dalam ayat 14 menyatakan bahwa orang semacam tokoh agama ini justru bukan orang yang dibenarkan Tuhan.

Memang menurut ukuran banyak orang, bukan saja yang tinggal di Indonesia tetapi juga di negara lain, orang yang disenangi Tuhan adalah mereka yang banyak memberi amal ibadah. Dengan demikian, amal ibadah seringkali dianggap dapat memberi manfaat seperti:

  • Menghindarkan marabahaya
  • Membuka pintu rezeki
  • Memperpanjang umur
  • Menyembuhkan penyakit
  • Melipatgandakan rezeki
  • Memberi naungan di hari kiamat
  • Menghapus dosa.

Jika ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa keselamatan diberikan kepada manusia secara cuma-cuma, sebagian orang berpendapat itu adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Kelihatannya begitu mudah untuk menjadi Kristen jika orang hanya harus percaya kepada Yesus. Bagaimana mungkin Tuhan memberi keselamatan secara cuma-cuma jika itu adalah sesuatu yang berharga? Bukankah tidak ada yang gratis di muka bumi?

Bagi banyak orang, seringkali juga ada pertanyaan mengapa orang Kristen tidak diharuskan melakukan berbagai ritual dan amal ibadah seperti pengikut agama lain. Lebih dari itu, orang Kristen sering nampak seperti orang sombong atau orang bodoh karena mereka percaya bahwa mereka sudah terpilih untuk diselamatkan tanpa harus menyumbangkan amal ibadah kepada Tuhan dan sesama. Mengapa orang Kristen tidak perlu membayar harga keselamatan mereka dengan berbuat sesuatu untuk Tuhan?

Dalam kenyataannya, hanya sebagian orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan mereka bukan hasil jerih payah mereka sendiri, tetapi semata-mata adalah pemberian Tuhan. Mereka yang mau menerima penebusan darah Kristus dan percaya bahwa Ia adalah Juruselamat, mendapat jaminan bahwa mereka akan ke surga setelah tugas di bumi selesai. Semua hal diatas bisa terjadi karena Tuhan yang mereka percayai adalah Tuhan yang mahaadil, mahasuci dan mahakasih.

Karena Tuhan adalah mahaadil, Ia tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Baik mereka yang kaya maupun miskin, baik mereka yang hidup di dunia barat ataupun timur, baik mereka yang kurang berpendidikan atau yang mempunyai berbagai gelar, baik mereka yang tergolong rakyat jelata ataupun yang tergolong ningrat, semua orang pada akhirnya harus menemui kebinasaan karena dosa mereka.

Selain mahaadil, Tuhan adalah mahasuci. Karena itu, manusia tidak dapat berbuat baik bagaimanapun untuk menjadi suci dan memenuhi standar kesucian Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada dosa kecil dan dosa besar, semuanya adalah dosa di mata Tuhan. Apapun amal ibadah yang kita lakukan tidak akan menebus hidup kita yang penuh dosa jika kita tidak percaya kepada penebusan melalui kematian Yesus di kayu salib.

Jika Tuhan hanya mahaadil dan mahasuci, manusia tidak dapat memperoleh jalan keluar dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi. Tetapi, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu tidak mau membiarkan ciptaanNya binasa. Hukuman untuk semua orang harus terjadi, kecuali ada yang bisa membayar harga tebusan yang sempurna. Manusia yang sebaik apapun tidak dapat menebus dosanya. Hanya satu oknum yang suci yang bisa melakukannya, yaitu Tuhan sendiri yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dengan kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya, ada jaminan bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup yang kekal di surga.

Hari ini, kita harus sadar mengapa keselamatan hanya bisa terjadi sebagai karunia cuma-cuma dari Tuhan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Karunia kasih itu diberikan cuma-cuma karena kita sendiri tidak mampu menebus dosa kita. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menyombongkan kebaikan dan amal ibadah kita karena semua itu tidak ada harganya dalam konteks keselamatan. Hanya Yesus, Anak Allah, yang mampu melakukannya dengan membayarnya dengan harga tertinggi. Karena itu kita harus menunjukkan rasa syukur kita kepadaNya setiap hari melalui perbuatan dan kelakuan kita.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4

Kebangkitan Yesus adalah kemenangan atas kuasa dosa

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3: 8

Di berbagai negara, orang Kristen merayakan Paskah atau Easter, untuk memperingati kebangkitan Kristus. Kristus yang sudah menang atas kuasa dosa yang membawa maut. Perayaan ini seharusnya adalah lebih penting dari perayaan Natal, karena kebangkitan Kristus itulah yang membuat iman kita tidak sia-sia (1 Korintus 15: 14, 17).

Setelah kita merayakan Paskah pada hari Minggu, penduduk beberapa negara masih mempunyai satu hari libur tambahan yaitu hari Senin Paskah atau Easter Monday. Tetapi, di Indonesia orang kembali bekerja pada hari Senin sesudah Paskah. Hidup kembali berjalan seperti biasa.

Hidup yang kembali normal umumnya berarti menjalankan tugas sehari- hari seperti biasa. Mereka yang bekerja di kantor, pabrik, sekolah, universitas, dan gereja dan juga yang bekerja di rumah, harus menghadapi segala hal rutin dan tidak rutin, yang harus diselesaikan. Segala cara hidup yang sudah biasa dilakukan, harus dijalankan seperti sebelumnya. Dunia berputar dan tidak ada yang berubah. Benarkah?

Kebangkitan Kristus sebenarnya adalah suatu hal yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia. Manusia sudah seharusnya mati pada saatnya, dan kematian itu merupakan akhir segalanya. Yesus mengubah persepsi yang salah itu dengan menyatakan bahwa kematian tubuh adalah permulaan segala yang indah bagi mereka yang percaya, tetapi adalah permulaan penderitaan abadi bagi mereka yang menolak Dia.

Hal merayakan Paskah pada hari apa dan dengan cara bagaimana, sudah menjadi bahan perdebatan orang Kristen sejak ratusan tahun yang lalu. Tetapi, itu sebenarnya kurang penting jika dibandingkan dengan maknanya. Apa arti kematian dan kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari orang percaya? Mati dalam Kristus, seperti yang Paulus tulis dalam Filipi 4: 8, adalah menanggalkan cara hidup yang lama, yang menggantungkan diri pada hal-hal yang serupa sampah (atau kotoran binatang dalam bahasa Yunani). Mungkin itu berupa cara hidup atau bekerja yang kurang jujur, tingkah laku yang kurang sopan, kecintaan akan kesenangan duniawi, dan pikiran yang dipenuhi hal-hal yang tidak patut.

Hari ini kita diingatkan bahwa perayaan Paskah itu bukan hanya sekali setahun, tetapi sesuatu yang harus kita rayakan dan rasakan setiap hari dan setiap saat. Kemenangan Yesus atas kuasa dosa harus dapat menjadi nyata dalam hidup kita!

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan.” Efesus 2: 4-5

Apa yang anda lakukan selama menanti?

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 4

Hari Sabtu Suci (juga disebut Sabtu Paskah, Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi (bahasa Latinnya adalah Sabbatum Sanctum yang berarti “Hari Sabat Suci”) berada di antara hari Jumat Agung dan hari Paskah. Hari Sabtu Suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah mati disalibkan pada hari Jumat Agung.

Berbeda dengan hari Jumat Agung dan Hari Paskah, hari Sabtu Suci tidak dirayakan di semua gereja. Khotbah tentang hari Sabtu Suci juga jarang ditemui. Karena itu, mungkin banyak orang Kristen menganggap bahwa hari ini adalah sekedar hari penantian Yesus untuk menuju ke hari Paskah. Benarkah begitu? Alkitab memang tidak begitu jelas menerangkan apa yang Yesus lakukan selama tiga hari di antara kematian dan kebangkitanNya. Namun ada bagian Alkitab yang menyebut bahwan Yesus pergi memberitakan kemenanganNya ke atas malaikat-malaikat yang telah jatuh dan roh orang-orang yang tidak percaya (1 Petrus 3: 19). Jadi, tidaklah benar jika Yesus dikatakan hanya menantikan kebangkitanNya dan tidak berbuat apa-apa selama berada di kubur.

Hidup ini memang sering dibayangkan seperti sebuah perjalanan menuju ke suatu tujuan. Tiap orang yang dilahirkan di dunia ini tentunya mempunyai, atau setidaknya pernah mempunyai tujuan hidup. Untuk mereka yang percaya bahwa hidup di dunia ini adalah satu-satunya kehidupan yang ada, perjalanan hidup itu mudah diterka. Ada yang dari kecil ingin untuk melanglang buana, ada juga yang ingin untuk menjadi orang ternama, dan banyak juga yang ingin untuk menjadi kaya raya. Perjalanan hidup yang mereka lakukan adalah usaha untuk mencapai tujuan hidup itu. Dan setelah itu tercapai, hidup hanyalah untuk melewati hari-hari tanpa tujuan berarti. Sebaliknya, mereka yang gagal untuk mencapai tujuan hidup mereka, rasa bosan, kecewa dan putus asa mudah datang karena penantian yang tidak kunjung berakhir.

Bagi umat Kristen, kebahagiaan duniawi bukanlah tujuan karena mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu hidup bersama Tuhan di surga. Pada hari Jumat Agung dua ribu tahun yang lalu, sebagai manusia Yesus menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia memang berakhir dengan kematian. Tetapi apa yang sudah dilakukanNya selama di dunia bukanlah sia-sia. Dalam perjalanan hidupnya menuju Golgota untuk menebus dosa manusia, Ia memakai hidupNya untuk menolong mereka yang menderita dan mengajarkan jalan kebenaran. Selama di kubur, Ia juga tetap bekerja sehingga semua yang telah diciptakan Tuhan mengakui kuasaNya. Dengan demikian, sesuai dengan ayat pembukaan di atas, kematian Yesus di kayu salib, penguburanNya dan kebangkitanNya pada hari yang ketiga adalah sebuah kesatuan yang menunjukkan kuasa dan kasih Tuhan.

Hari ini marilah kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah perjalanan yang harus kita alami dan bukanlah tujuan hidup. Seperti Yesus, kita harus memakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan, melayani sesama, serta memberitakan injil kebenaran sampai akhir hayat kita. Hidup kita harus juga berangsur-angsur berubah selama dalam perjalanan: mematikan hidup lama yang penuh dosa, untuk menjadi orang yang semakin dekat kepada Tuhan. Dan bila tiba saat kita untuk meninggalkan dunia ini, pada saat itulah kita mencapai tujuan perjalanan hidup kita!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5