“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,”
— Filipi 3:10

Hampir semua orang mempunyai cita-cita. Sejak kecil, kita diajar untuk memiliki tujuan hidup. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, pengusaha, atau profesional yang berhasil. Ada yang bercita-cita memiliki rumah yang nyaman, kehidupan keluarga yang bahagia, kesehatan yang baik, atau masa pensiun yang tenang. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tuhan pun menghendaki kita hidup dengan penuh tanggung jawab dan menggunakan kesempatan yang diberikan-Nya dengan baik.
Namun ada sebuah pertanyaan yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri: Apa cita-cita rohani saya?
Banyak orang Kristen bekerja keras untuk mencapai tujuan jasmani, tetapi tidak memiliki tujuan yang jelas dalam kehidupan rohani. Mereka memiliki rencana keuangan, rencana pendidikan, dan rencana masa depan, tetapi tidak memiliki kerinduan yang terarah untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
Banyak orang tua mengajarkan anak-anak mereka tentang pentingnya tujuan hidup jasmani tetapi mengabaikan bimbingan rohani. Padahal hidup jasmani kita terbatas. Sehebat apa pun pencapaian kita, suatu hari semuanya akan berakhir. Sebaliknya, kehidupan rohani memiliki nilai kekal. Hubungan kita dengan Tuhan tidak berhenti ketika kita meninggalkan dunia ini. Karena itu, seharusnya kita memberi perhatian yang sungguh-sungguh kepada pertumbuhan rohani kita.
Rasul Paulus memberikan teladan yang luar biasa. Jika dilihat dari ukuran dunia, Paulus adalah orang yang sangat berhasil. Ia memiliki latar belakang pendidikan yang baik, status sosial yang terhormat, dan pengaruh yang besar di kalangan bangsanya. Namun setelah mengenal Kristus, semua itu tidak lagi menjadi tujuan utamanya.
Paulus menulis, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia.” Kalimat ini mengungkapkan cita-cita terbesar dalam hidupnya. Ia tidak berkata, “Yang kukehendaki ialah menjadi terkenal,” atau “Yang kukehendaki ialah hidup nyaman.” Kerinduan terdalamnya adalah mengenal Kristus semakin dekat.
Mengenal Kristus bukan sekadar mengetahui fakta-fakta tentang Dia. Banyak orang dapat menghafal ayat Alkitab atau memahami doktrin Kristen, tetapi pengenalan yang dimaksud Paulus adalah hubungan yang hidup dan nyata dengan Tuhan. Ia ingin mengalami kuasa kebangkitan Kristus, hidup dalam persekutuan dengan-Nya, dan bahkan belajar setia ketika harus menghadapi penderitaan.
Sayangnya, di zaman sekarang banyak orang Kristen lebih mudah menetapkan target duniawi daripada target rohani. Kita mungkin tahu berapa banyak tabungan yang ingin kita miliki lima tahun lagi, tetapi belum tentu tahu seperti apa karakter Kristus yang ingin kita miliki lima tahun lagi.
Bagaimana jika kita mulai memiliki cita-cita rohani yang jelas? Misalnya, menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih setia berdoa, lebih tekun membaca Firman Tuhan, lebih mudah mengampuni, lebih murah hati, atau lebih berani bersaksi tentang Kristus. Mungkin kita juga memiliki kerinduan untuk meninggalkan warisan kerohanian bagi anak-anak dan cucu-cucu kita, sehingga mereka pun mengenal dan mengasihi Tuhan.
Paulus mengingatkan Timotius bahwa imannya bertumbuh melalui pengaruh neneknya Lois dan ibunya Eunike (2 Timotius 1:5). Mereka mungkin tidak tercatat sebagai orang terkenal di dunia, tetapi pengaruh rohani mereka menghasilkan seorang pelayan Tuhan yang dipakai secara luar biasa. Warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah harta benda, melainkan iman yang hidup dan pengenalan akan Kristus yang diteruskan kepada generasi sesudah kita.
Tentu pertumbuhan rohani tidak terjadi dalam semalam. Sama seperti pencapaian duniawi membutuhkan waktu, disiplin, dan pengorbanan, demikian pula pertumbuhan rohani. Namun ketika tujuan kita adalah semakin mengenal Kristus, setiap langkah kecil yang kita ambil memiliki nilai kekal. Tuhan sendiri yang akan membimbing kita dengan Roh Kudus-Nya jika kita tidak malas untuk berusaha.
Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Jika Tuhan mengizinkan saya hidup lima atau sepuluh tahun lagi, saya ingin menjadi orang percaya seperti apa? Apakah cita-cita terbesar saya masih berpusat pada hal-hal duniawi, ataukah saya memiliki kerinduan yang mendalam untuk semakin mengenal Tuhan?
Kiranya seperti Paulus, kita dapat berkata dengan tulus, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia.” Sebab tidak ada pencapaian yang lebih mulia daripada hidup yang semakin serupa dengan Kristus.
Doa Penutup
Bapa Surgawi,
Kami bersyukur untuk setiap berkat dan kesempatan yang Engkau berikan dalam hidup kami. Engkau mengizinkan kami bekerja, merencanakan masa depan, dan mengejar berbagai tujuan dalam kehidupan ini.
Namun kami mengakui bahwa sering kali perhatian kami lebih tertuju pada hal-hal jasmani daripada pertumbuhan rohani kami. Kami begitu sibuk mengejar keberhasilan duniawi sehingga melupakan tujuan yang kekal.
Tolonglah kami memiliki cita-cita rohani yang benar. Tanamkan dalam hati kami kerinduan untuk semakin mengenal Tuhan Yesus, mengasihi Firman-Mu, setia dalam doa, dan bertumbuh dalam karakter yang memuliakan nama-Mu. Bentuklah kami menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus dari hari ke hari.
Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.