Salam dalam kasih Kristus

post

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!

Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft”  dan karena itu mengalami editing secara berangsur.

Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,

Andreas

Kasihani dirimu sendiri dengan mengasihani orang lain

“Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Yakobus 2:13

Ayat ini adalah salah satu pernyataan Yakobus yang tajam, bahkan terasa keras. Ia tidak berbicara dengan bahasa yang lunak atau kompromistis. Namun justru di dalam ketegasannya, Yakobus sedang membawa kita kembali kepada inti iman Kristen: bagaimana relasi kita dengan Allah yang penuh belas kasihan itu harus dinyatakan dalam cara kita memperlakukan sesama.

Yakobus tidak sedang mengajarkan bahwa keselamatan ditentukan oleh seberapa banyak belas kasihan yang kita lakukan. Ia juga tidak mengatakan bahwa seorang Kristen yang pernah gagal mengasihi orang lain akan kehilangan keselamatannya. Demikian pula, ia tidak sedang menyatakan bahwa orang yang tidak mengenal Kristus tetapi bersikap baik kepada sesamanya otomatis akan diselamatkan. Yakobus bukan sedang membandingkan perbuatan baik dengan iman, melainkan menunjukkan buah alami dari iman yang sejati.

Iman yang hidup kepada Allah yang berbelas kasihan akan melahirkan kehidupan yang ditandai oleh belas kasihan. Bukan kesempurnaan, tetapi arah hidup. Bukan tanpa dosa, tetapi dengan kepekaan hati.

Sampai nafas yang penghabisan, orang Kristen tetap orang berdosa. Selama hidup, kita masih bisa bersikap keras, cepat menghakimi, atau kurang empati. Namun perbedaannya terletak pada kebiasaan hidup dan kecenderungan hati. Orang yang ada di dalam Kristus, yang setiap hari hidup dari anugerah, lambat laun akan dibentuk oleh Roh Kudus untuk semakin menyerupai Kristus yang penuh belas kasihan kepada orang lemah, orang berdosa, dan mereka yang terpinggirkan.

Karena itu Yakobus berani berkata: orang yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menunjukkan belas kasihan, terutama kepada mereka yang lebih lemah atau menderita, patut mempertanyakan imannya sendiri. Ia mungkin bukan orang Kristen sejati! Bukan karena ia gagal memenuhi standar moral tertentu, melainkan karena hidupnya tidak mencerminkan sifat Allah yang ia akui percaya.

Yesus sendiri mengajarkan hal yang serupa. Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan (Matius 18:23-35), Tuhan menegur orang yang telah menerima pengampunan besar tetapi menolak mengampuni sesamanya. Masalahnya bukan pada satu kesalahan, melainkan pada hati yang tidak pernah berubah setelah menerima anugerah. Orang yang sedemikian tidak sadar bahwa ia harus mengasihani orang lain setelah ia dikasihani oleh Tuhan. Karena itu, pantaslah ia kehilangan belas kasihan Tuhan.

‘Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Matius 18:35

Di sinilah kita diajak bercermin. Betapa mudahnya kita menghakimi—dengan kata-kata, sikap, atau bahkan dengan kediaman yang dingin. Kita sering merasa benar, rohani, atau lebih bermoral, sementara lupa bahwa kita sendiri hidup sepenuhnya oleh belas kasihan Allah. Kita lupa bahwa tanpa belas kasihan-Nya, tidak seorang pun dapat berdiri di hadapan-Nya.

Yakobus mengingatkan bahwa Allah memang adil, tetapi belas kasihan-Nya jauh lebih unggul dari penghakiman-Nya. Di dalam Kristus, penghakiman yang seharusnya kita terima telah ditanggung. Salib adalah bukti bahwa belas kasihan Allah tidak mengabaikan keadilan, tetapi menggenapinya melalui belas kasihan-Nya dalam pengorbanan Anak-Nya yang tunggal.

Karena itu, hidup dalam belas kasihan bukanlah beban tambahan bagi orang percaya, melainkan respons yang wajar dan sudah seharusnya. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi. Kita mengasihani karena sudah dikasihani. Kita mengampuni karena kita telah diampuni. Kita menahan diri untuk tidak cepat menghakimi karena kita sadar betapa seringnya Tuhan bersabar kepada kita.

Di dunia yang keras dan mudah menghakimi, belas kasihan adalah kesaksian yang kuat. Ia menunjukkan bahwa kita hidup dari sumber yang berbeda. Bukan dari rasa benar diri, tetapi dari anugerah. Bukan dari superioritas rohani, tetapi dari kerendahan hati sebagai orang-orang yang telah diselamatkan.

Kita harus sadar bahwa orang yang hidup dalam belas kasihan kepada orang lain sebenarnya sedang hidup di dalam ruang belas kasihan Allah sendiri. Mengasihi sesama bukan hanya demi mereka, tetapi juga demi kesehatan rohani kita sendiri selama hidup di dunia.

Orang yang terus menghakimi biasanya hidup dalam ketegangan, rasa benar diri, dan ketakutan akan penghakiman orang lain. Sebaliknya, orang yang berbelas kasihan memilih untuk “mengasihani dirinya sendiri” karena ia memilih untuk berjalan seirama dengan cara Allah dalam menyatakan belas kasihan-Nya. Orang yang sedemikian akan bisa hidup dalam kedamaian.

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. Amsal‬ ‭19‬:‭17‬‬

Kiranya hidup kita dalam tahun yang baru ini — di keluarga, gereja, dan masyarakat—lebih dikenal karena belas kasihan daripada penghakiman. Sebab di sanalah iman yang sejati terlihat, dan di sanalah karakter Kristus dinyatakan.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh belas kasihan, kami mengaku bahwa sering kali kami lebih cepat menghakimi daripada mengasihi.

Ampunilah kami, dan lembutkan hati kami oleh anugerah-Mu.

Ajarlah kami hidup sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan, supaya hidup kami pun memancarkan belas kasihan kepada sesama.

Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus, yang kasih-Nya menang atas segala penghakiman.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Memasuki Tahun Baru dengan keyakinan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Selamat Tahun Baru! Semoga tahun baru ini diisi dengan segala kebahagiaan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk itu, kita pagi ini akan belajar dari Roma 8:28.

Roma 8:18-30 berbicara tentang partisipasi orang Kristen dalam penderitaan sehari-hari yang dialami oleh seluruh ciptaan. Kita semua mengerang bersama seperti seorang wanita yang sedang melahirkan sambil menunggu Tuhan menemui anak-anak-Nya. Sebagai anak-anak-Nya, kita menunggu Bapa untuk menyelesaikan pengadopsian kita dengan menebus tubuh kita sehingga kita dapat bersama-Nya. Roh Allah membantu kita di masa penantian dengan membawa doa-doa kita yang belum sempurna kepada Allah. Kita percaya bahwa Allah menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya dan bahwa Dia telah memilih kita sejak lama untuk menjadi anak-anak-Nya.

Roma 8:28 adalah salah satu ayat Alkitab yang paling populer, paling sering dikutip, dan sekaligus paling sering disalahpahami. Ayat ini kerap dijadikan penghiburan instan, seolah-olah setiap peristiwa buruk pasti akan segera berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tidak jarang ayat ini diucapkan dengan maksud baik, tetapi justru terdengar dingin dan tidak peka bagi mereka yang sedang berada dalam penderitaan yang nyata.

Banyak orang Kristen, tanpa disadari, memiliki hubungan yang canggung dengan Roma 8:28. Ayat ini terdengar indah, tetapi terasa sulit dipercaya ketika hidup dipenuhi kegagalan, kehilangan, sakit penyakit, konflik keluarga, atau doa-doa yang tampaknya tidak dijawab. Di titik inilah Roma 8:28 menjadi bukan hanya ayat penghiburan, tetapi juga ayat yang menguji iman.

Memasuki tahun baru, kita membawa serta berbagai pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya. Ada sukacita, ada pencapaian, tetapi juga ada luka yang belum sembuh, kesedihan yang belum terurai, dan pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Roma 8:28 tidak menyangkal kenyataan pahit itu. Ayat ini tidak berkata bahwa segala sesuatu itu baik. Ayat ini berkata bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu. Ini perbedaan yang sangat penting.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa penderitaan itu sendiri adalah kebaikan. Kehilangan, ketidakadilan, penyakit, dan kejahatan tetaplah sesuatu yang menyakitkan dan sering kali tidak masuk akal bagi kita. Namun, Roma 8:28 menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang berada di luar kedaulatan dan pemeliharaan Allah, khususnya bagi mereka yang berada di dalam Kristus.

Paulus menulis ayat ini bukan dari menara gading, yaitu tempat atau kedudukan yg serba mulia, enak, dan menyenangkan. Ia menulisnya sebagai seseorang yang mengenal penderitaan, penganiayaan, penolakan, bahkan ancaman kematian. Karena itu, Roma 8:28 bukanlah slogan optimisme murahan, ajaran teologi kemakmuran, atau sekadar ayat penghibur, melainkan pernyataan iman yang matang: Allah tidak pernah kehilangan kendali, bahkan ketika hidup terasa kacau.

Kunci ayat ini terletak pada frasa “bagi mereka yang mengasihi Dia” dan “terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini bukan janji universal bagi semua orang, dan bukan pula jaminan hidup tanpa masalah. Ini adalah janji perjanjian—janji bagi mereka yang hidup di dalam relasi dengan Kristus.

Bagi orang percaya, “kebaikan” yang dimaksud Allah tidak selalu identik dengan kenyamanan, keberhasilan, atau kebahagiaan jangka pendek. Kebaikan yang Allah kerjakan sering kali berbentuk pembentukan karakter, pemurnian iman, pendewasaan rohani, dan semakin serupanya kita dengan Kristus. Proses ini sering menyakitkan, tetapi tujuannya mulia.

Roma 8:28 juga menolong kita memasuki tahun baru dengan sikap yang lebih tenang dan realistis. Kita tidak memasuki tahun baru dengan ilusi bahwa semuanya akan berjalan lancar, melainkan dengan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah tidak akan meninggalkan kita. Keyakinan ini tidak menghapus air mata, tetapi memberi makna di tengah air mata.

Iman Kristen bukan iman yang menutup mata terhadap penderitaan, melainkan iman yang berani berjalan di tengah penderitaan dengan pengharapan. Kita boleh berduka, kita boleh kecewa, kita boleh mengeluh kepada Tuhan. Dalam hal ini, kitab Mazmur penuh dengan keluhan yang jujur. Namun di balik semua itu, ada pegangan yang kokoh: Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya sekarang.

Memasuki tahun baru, mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi Roma 8:28 mengingatkan kita bahwa masa depan kita tidak ditentukan oleh kebetulan, nasib, atau kekuatan gelap, melainkan oleh Allah yang setia pada rencana-Nya. Keyakinan inilah yang memberi kita keberanian untuk melangkah, satu hari demi satu hari.

Tahun baru bukan jaminan hidup yang lebih mudah, tetapi undangan untuk mempercayakan hidup lebih dalam kepada Tuhan. Di dalam Kristus, tidak ada penderitaan yang sia-sia, tidak ada air mata yang tidak diperhitungkan, dan tidak ada cerita hidup yang berakhir tanpa makna.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang setia, kami memasuki tahun yang baru dengan hati yang beragam—ada harapan, ada ketakutan, ada luka yang masih kami bawa. Kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang bekerja di dalam segala sesuatu, bahkan ketika kami tidak memahaminya.

Ajarlah kami untuk percaya, bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Engkau selalu setia. Berilah kami iman untuk melangkah hari demi hari, kekuatan saat kami lemah, dan pengharapan saat jalan terasa gelap.

Kami menyerahkan tahun ini ke dalam tangan-Mu. Bentuklah hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu, dan pakailah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan yang Engkau maksudkan bagi kami di dalam Kristus.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Menyongsong tahun baru dalam kasih yang teguh

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4:16

Tahun 2025 perlahan menutup lembarannya. Ada halaman-halaman yang ingin kita kenang dengan syukur, ada pula yang mungkin ingin kita lipat rapi dan tidak sering-sering dibuka kembali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, waktu berjalan tanpa meminta izin, membawa serta keberhasilan dan kegagalan, tawa dan air mata, harapan yang terpenuhi dan doa yang terasa tak terjawab.

Kini, tahun 2026 berdiri di depan kita—masih kosong, masih sunyi, masih penuh tanda tanya. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Kita tidak tahu kondisi kesehatan kita setahun ke depan, arah dunia yang terus berubah, nasib ekonomi, relasi, bahkan pergumulan batin yang mungkin muncul tanpa diduga. Ketidakpastian inilah yang sering melahirkan kekhawatiran. Masa depan, bagi banyak orang, adalah sumber kecemasan.

Namun firman Tuhan mengarahkan pandangan kita ke dasar yang jauh lebih kokoh: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.” Bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi mengenal—melalui pengalaman hidup—dan percaya—dengan keyakinan yang bersandar penuh. Kasih Allah bukan teori, bukan slogan rohani, melainkan realitas yang telah dinyatakan melalui salib Kristus dan kesetiaan-Nya yang terus kita alami hari demi hari.

Rasul Yohanes menegaskan sesuatu yang radikal: Allah adalah kasih. Ini berarti kasih bukan hanya salah satu sifat Allah, tetapi hakikat-Nya sendiri. Dan jika kita tinggal di dalam kasih itu, kita tinggal di dalam Allah. Masa depan mungkin tidak pasti, tetapi Allah yang kita kenal tidak pernah berubah. Kasih-Nya tidak tergantung pada situasi, usia, keberhasilan, atau kegagalan kita. Ia setia ketika kita kuat, dan Ia tetap setia ketika kita rapuh.

Menyambut tahun baru dengan iman bukan berarti menutup mata terhadap realitas hidup. Kita tetap merencanakan, bekerja, dan berjaga-jaga. Namun perbedaannya terletak pada dasar hati kita. Kekhawatiran tidak lagi menjadi pusat, karena masa depan tidak kita hadapi sendirian. Kita melangkah bersama Allah yang telah lebih dahulu hadir di hari esok.

Jika kita menoleh ke belakang, sering kali kita menyadari: ada banyak hal yang dulu kita khawatirkan, tetapi ternyata dapat kita lewati. Ada jalan yang Tuhan buka, kekuatan yang Tuhan beri, dan penghiburan yang datang tepat pada waktunya. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah jejak kasih Allah yang menyertai perjalanan hidup kita.

Karena itu, memasuki tahun 2026, pertanyaannya bukan terutama: apa yang akan terjadi? Melainkan: di dalam siapa kita tinggal? Jika kita tinggal di dalam kasih Allah, maka apa pun yang datang—sukacita atau duka—tidak akan memisahkan kita dari Dia. Kita mungkin tidak selalu mengerti rencana-Nya, tetapi kita mengenal hati-Nya.

Tahun baru adalah undangan untuk memperbarui kepercayaan. Bukan janji bahwa hidup akan lebih mudah, tetapi keyakinan bahwa kita tidak akan pernah berjalan sendiri. Kasih Allah cukup untuk hari ini, dan kasih yang sama akan menopang kita esok hari.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih,

Kami mengucap syukur untuk tahun yang telah Engkau izinkan kami jalani. Untuk segala berkat yang kami terima, kami bersyukur. Untuk luka dan kegagalan, kami menyerahkannya ke dalam tangan kasih-Mu.

Saat kami melangkah ke tahun yang baru, kami mengakui keterbatasan kami. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kami memilih percaya kepada-Mu. Ajarlah kami tinggal di dalam kasih-Mu, agar hati kami tenang menghadapi hari esok.

Pimpinlah langkah kami di tahun 2026. Bentuklah kami menjadi pribadi yang lebih setia, lebih rendah hati, dan lebih mengasihi. Kiranya hidup kami memuliakan nama-Mu, apa pun keadaan yang kami hadapi.

Di dalam nama Yesus Kristus, sumber pengharapan kami, kami berdoa.

Amin.

Hal menebus waktu

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5:15–16

Sering saya melihat adanya beberapa orang yang pergi ke gym, tapi memakai waktunya untuk lebih lama duduk di alat latihan, bukannya untuk berolahraga, tapi untuk bermain dengan ponsel mereka. Saya heran mengapa mereka tidak dapat berolahraga tanpa memegang HP. Hal itu bukan saja merugikan mereka sendiri, tetapi juga orang lain yang ingin memakai alat yang sama. Lebih mengherankan, bukan anak muda saja yang terobsesi dengan HP, tetapi juga mereka yang tergolong tua.

Dalam ayat di atas, Rasul Paulus tidak menulis nasihat bukan hanya bagi orang muda atau mereka yang masih aktif bekerja. Ia berbicara kepada seluruh umat percaya, tanpa pengecualian usia. “Perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup,” katanya. Artinya, hidup tidak boleh dijalani secara otomatis, apalagi pasif atau pasrah. Ada panggilan untuk kesadaran, kewaspadaan, dan pilihan yang disengaja dalam menggunakan waktu.

Renungan hari ini berfokus pada hidup di hari tua, sekalipun berguna juga untuk mereka yang masih muda.

Usia lanjut sering dipandang sebagai masa untuk melambat, beristirahat, dan “menjalani hari apa adanya.” Tubuh memang tidak lagi sekuat dahulu, dan ruang aktivitas fisik menjadi terbatas. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup Kristen tidak pernah diukur terutama dari kekuatan tubuh, melainkan dari kebijaksanaan dalam menggunakan waktu.

Kebosanan yang sering dialami di usia lanjut bukan sekadar persoalan kurangnya kegiatan, tetapi kerap berakar pada pikiran yang tidak lagi diarahkan pada makna. Ketika tanggung jawab besar telah selesai, ada godaan untuk membiarkan waktu berlalu tanpa tujuan rohani maupun intelektual.

Hari-hari bisa diisi dengan rutinitas yang aman, tetapi tidak menumbuhkan. Inilah yang secara halus dapat menjadikan seseorang “bebal” bukan karena kurang cerdas, melainkan karena berhenti menggunakan hikmat. Orang yang sedemikian mungkin secara bercanda disebut sebagai “pengacara” yang berarti “pengangguran banyak acara”.

Paulus mengontraskan hidup orang bebal dengan hidup orang arif. Orang arif bukanlah orang yang sibuk tanpa henti, tetapi orang yang menebus waktu (redeeming the time). Kata “menebus” (atau “membeli”) menyiratkan tindakan aktif untuk menyelamatkan waktu dari kesia-siaan.

Kisah Maria dan Marta dalam Alkitab, yang sering direnungkan terkait dengan “menebus waktu” atau memprioritaskan hal-hal yang penting, mengajarkan tentang  prioritas antara pelayanan aktif (Marta) dan waktu bersekutu secara pribadi dengan Tuhan (Maria).  Cerita ini terdapat dalam Injil Lukas 10:38-42.

Ketika Yesus mengunjungi rumah mereka di Betania, kedua saudari yang masih muda ini menunjukkan sikap yang berbeda: 

  • Marta sibuk sekali mempersiapkan dan melayani segala sesuatu untuk menjamu Yesus dan murid-murid-Nya. Ia merasa terbebani dengan pekerjaannya dan mengeluh kepada Yesus karena Maria tidak membantunya.
  • Maria memilih untuk duduk diam dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkan pengajaran-Nya, menyingkirkan kesibukan lain untuk fokus pada hadirat Yesus. 

Respons Yesus terhadap keluhan Marta memberikan pelajaran kunci mengenai prioritas hidup dan penggunaan waktu bagi semua orang, tua dan muda:

“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42).

Menebus waktu dengan demikian berarti menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah yang bernilai, bahkan—atau justru—ketika hari-hari terasa sunyi dan sederhana. Waktu ditebus ketika pikiran tetap dipakai untuk merenung, belajar, berdoa, dan memahami kehendak Tuhan dengan lebih dalam.

Di usia senja, kesempatan untuk berpikir jernih dan reflektif sering kali justru lebih besar. Tidak lagi dikejar ambisi, pikiran dapat diarahkan pada hal-hal yang kekal: kebenaran firman, hikmat hidup, dan warisan iman bagi generasi berikutnya. Ketika pikiran dibiarkan menganggur, kebosanan mudah masuk. Tetapi ketika pikiran diarahkan kepada Tuhan, waktu yang tampaknya kosong berubah menjadi ladang pertumbuhan rohani.

Pada saat ini hari Natal dan kesibukan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat sudah lewat, tetapi rasa capai mungkin masih terasa. Natal, bagi banyak orang, adalah masa sibuk. Firman Tuhan pagi ini tidak memanggil kita sekadar untuk sibuk mengisi waktu, melainkan untuk menggunakannya dengan arif. Kita harus sadar bahwa seperti Marta, semua kesibukan yang kita maksudkan untuk Tuhan, belum tentu membawa kebaikan untuk kita atau memuliakan Tuhan.

Selama Tuhan masih memberi napas, Dia masih memberi panggilan untuk hidup dengan sadar, bertanggung jawab, dan bermakna. Bagi kita yang masih muda, penggunaan waktu secara bijaksana menentukan masa depan kita secara jasmani dan rohani. Bagi kita yang sudah tua, usia lanjut bukan masa penurunan rohani, melainkan kesempatan untuk menebus waktu dengan hikmat yang telah ditempa sepanjang hidup.

Doa Penutup:

Tuhan, ajar kami memperhatikan bagaimana kami hidup, di setiap musim kehidupan. Tolong kami menebus waktu yang Kau berikan, bukan dengan kesibukan kosong, tetapi dengan hikmat, iman, dan kerinduan untuk terus bertumbuh di dalam-Mu. Amin.

Mengapa kita harus memuliakan Tuhan?

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1:3

Bab pertama Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai “Firman,” dari kata Yunani logos. Bab ini dengan jelas menggambarkan Yesus sebagai Allah. Setelah prolog ini, bab ini menggambarkan Yesus merekrut murid-murid pertama-Nya, serta percakapan antara Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi. Ada tujuh nama atau gelar untuk Kristus dalam bab ini, termasuk “Anak Allah,” “Firman,” dan “Raja Israel.”

Peran Allah sebagai Pencipta ditegaskan dalam ayat di atas. Alam semesta bukanlah produk materi tanpa desain, tetapi produk yang dimaksudkan oleh Pencipta yang mahacerdas. Dalam ayat-ayat sebelumnya (Yohanes 1:1-2), Yesus dikatakan sebagai Allah. Ini adalah tujuan penting dari 18 ayat pertama Yohanes: menentang semua konsep lain tentang apa itu Allah atau bukan Allah.

Di sini, Alkitab membuat poin menarik bahwa tidak ada ciptaan yang diciptakan terpisah dari Yesus. Ini penting karena beberapa alasan. Pertama, ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah malaikat, manusia, atau makhluk yang dibentuk lainnya (Ibrani 1:3-4). Kedua, ini menyiratkan perbedaan antara hal-hal yang mulai ada, dan Dia yang selalu ada. Dengan kata lain, ada satu hal yang tidak “mulai ada,” yang tidak “muncul.” Memang secara logis, sebab-akibat harus memiliki permulaan yang tidak disebabkan. Satu-satunya hal ini adalah Allah. Istilah yang lebih canggih untuk gagasan ini adalah “Argumen Kosmologis,” atau argumen dari “penyebab pertama.”

Argumen kosmologis adalah landasan teologi alam yang menyimpulkan keberadaan Tuhan dari keberadaan alam semesta (kosmos). Argumen ini menyatakan bahwa karena alam semesta terdiri dari makhluk-makhluk yang kontingen (bergantung) dan tunduk pada sebab akibat, maka alam semesta membutuhkan sebab pertama yang mutlak, tak diciptakan, dan transenden—yang diidentifikasi sebagai Tuhan.

Teologi alam itu mudah dimengerti, dan karena itu ada banyak orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Tidak sedikit yang mengakui bahwa Dialah Pencipta langit dan bumi, sumber awal dari seluruh alam semesta. Namun anehnya, pengakuan ini sering berhenti pada tataran intelektual. Mereka percaya Tuhan menciptakan segalanya, tetapi tidak merasa perlu memuja-Nya, menyembah-Nya, atau hidup untuk memuliakan-Nya.

Bagi sebagian orang, penciptaan dianggap sekadar peristiwa kosmis yang tidak memiliki hubungan personal dengan manusia. Tuhan dipahami sebagai “arsitek agung” yang telah menyelesaikan pekerjaan-Nya, lalu membiarkan ciptaan berjalan sendiri menurut hukum alam. Manusia, dalam pandangan ini, hidup untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari ciptaan-Nya, sehingga dianggap tidak pantas jika Ia “menuntut” pujian. Bahkan ada yang berkata, “Jika Tuhan meminta penyembahan, bukankah itu tanda Dia gila hormat?”. Pandangan ini sepertinya terdengar rasional, bahkan rendah hati. Namun sesungguhnya di situlah letak kekeliruannya.

Yohanes 1:3 menegaskan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang ada. Ayat ini bukan sekadar pernyataan tentang asal-usul dunia, tetapi tentang ketergantungan total ciptaan kepada Sang Firman. Kita tidak hanya “pernah” diciptakan; kita terus ada karena Dia menopang keberadaan kita setiap saat. Nafas yang kita hirup, detak jantung yang kita anggap biasa, kemampuan berpikir dan merasa—semuanya bukan milik kita secara otonom. Jika demikian, maka penyembahan bukanlah pemberian tambahan dari manusia kepada Tuhan, melainkan respons yang paling wajar dari ciptaan kepada Penciptanya.

Tuhan memang tidak membutuhkan pujian kita. Ia sempurna tanpa kita. Namun justru di situlah bedanya antara Tuhan yang sejati dan berhala. Berhala membutuhkan pujian agar tampak berkuasa; Tuhan layak dipuja karena Dia memang berkuasa. Penyembahan tidak menambah kemuliaan Tuhan, tetapi mengembalikan posisi kita pada tempat yang benar: sebagai ciptaan yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Masalahnya, banyak orang—termasuk yang mengaku Kristen—ingin menerima berkat dari Tuhan tanpa menyerahkan hidup untuk Tuhan. Mereka bersyukur atas kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan perlindungan-Nya, tetapi enggan hidup dalam ketaatan, pelayanan, dan pengorbanan. Tuhan dijadikan sumber pertolongan, bukan tujuan hidup.

Di sinilah penyembahan menjadi isu hati, bukan sekadar ritual. Penyembahan sejati tidak berhenti pada lagu, doa, atau kehadiran di gereja. Penyembahan adalah sikap hidup yang mengakui: “Tuhan, Engkau layak atas hidupku, waktuku, kemampuanku, dan keputusanku.” Ketika seseorang berkata percaya kepada Tuhan tetapi tidak mau melakukan apa pun untuk memuliakan-Nya, sesungguhnya ia belum mengenal siapa Tuhan itu. Orang Kristen yang sedemikian, bukanlah orang Kristen sejati.

Melalui Alkitab, kita diajar bahwa tujuan utama manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya. Ini bukan beban, melainkan pembebasan. Dunia modern mendorong manusia untuk hidup bagi diri sendiri, mengejar makna dari prestasi, kenyamanan, dan pengakuan. Namun semakin manusia berpusat pada diri, semakin kosong jiwanya. Penyembahan mengalihkan pusat hidup dari “aku” kepada Dia yang menciptakan dan menyelamatkan aku.

Yesus Kristus, Sang Firman yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, tidak hanya layak dipuja karena kuasa-Nya sebagai Pencipta, tetapi juga karena kerendahan hati-Nya sebagai Penebus. Dia yang menciptakan segala sesuatu rela masuk ke dalam ciptaan, menderita, dan mati bagi manusia yang sering mengabaikan-Nya. Jika penciptaan saja sudah cukup menjadi alasan untuk memuja Tuhan, apalagi penebusan-Nya.

Maka pertanyaannya bukanlah, “Apakah Tuhan membutuhkan pujianku?” melainkan, “Bagaimana mungkin aku yang diciptakan dan ditebus tidak hidup untuk memuliakan Dia?” Ketika kita memahami siapa Tuhan dan siapa diri kita di hadapan-Nya, penyembahan tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kerinduan.

Pagi ini biarlah kita sadar sepenuhnya akan kebesaran Tuhan kita. Kiranya kita tidak menjadi orang yang mengakui Tuhan dengan mulut, tetapi menyangkal-Nya dengan hidup. Biarlah seluruh keberadaan kita—pikiran, perkataan, dan perbuatan—menjadi pujian yang hidup bagi Dia yang oleh-Nya segala sesuatu ada.

Doa Penutup:

Tuhan yang Mahamulia, kami mengaku bahwa sering kali kami menikmati ciptaan-Mu tanpa memuliakan Engkau sebagai Pencipta. Ampuni hati kami yang berpusat pada diri sendiri. Ajar kami menyadari bahwa hidup kami sepenuhnya berasal dari-Mu dan ada bagi-Mu. Bentuklah kami menjadi pribadi yang menyembah Engkau bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan seluruh hidup kami. Di dalam nama Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup, kami berdoa. Amin.

Tuhan memberi kita hikmat sesuai dengan ukuran-Nya

“Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.”
— ‭‭Efesus‬ ‭4‬:‭7‬‬

Hari Natal 2025 telah lewat, tetapi kenangan kita masih belum lenyap. Kita merayakan hari Natal bukan untuk memperingati hari kelahiran Yesus, tetapi untuk memperingati datangnya karunia Allah yang terbesar dengan lahirnya Yesus ke dunia.

Setiap orang percaya diselamatkan oleh kasih karunia yang sama, melalui iman yang sama, diberikan oleh Juruselamat yang sama, yang merupakan Tuhan dan Tuhan dari semua. Sementara iman kita disatukan di bawah satu Tuhan, Ia juga membawa untuk setiap orang karunia rohani yang mereka butuhkan, tergantung pada siapa dan di mana mereka berada.

Dengan kata lain, rahmat Tuhan diberikan secara pribadi. Dia tahu persis apa yang kita butuhkan dan bagaimana memenuhi kebutuhan itu. Rahmat ini diberikan pada berbagai tingkatan sesuai dengan apa yang Tuhan anggap cocok, yang berarti karunia rohani diberikan kepada setiap orang percaya sesuai dengan cara distribusi Kristus, memberdayakan mereka secara unik untuk pelayanan, bukan secara kompetitif.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4:10

Ini menandakan bahwa Tuhan menganugerahkan ukuran kemampuan dan iman yang berbeda, mengharapkan setiap orang untuk menggunakan kapasitas spesifik mereka sepenuhnya untuk membangun gereja dan memuliakan Dia; dan itu termasuk karunia yang berupa kebijaksanaan.

Salomo, raja Israel ketiga, terkenal dalam Alkitab karena memohon karunia yang berupa kebijaksanaan daripada kekayaan atau umur panjang saat Allah menawarkannya (1 Raja-raja 3:5-9). Hikmat ini memampukannya memimpin, memberikan keputusan adil, dan menulis banyak amsal. Ia membangun Bait Allah yang pertama, namun masa tuanya ternoda oleh ketidaksetiaan kepada Allah. Salomo memang hebat; tetapi sebagai manusia biasa, ia tidak selalu menggunakan kebijaksanaan dari Tuhan.

Sering kali tanpa sadar kita menyamakan kebijaksanaan seorang pemimpin dengan kebijaksanaan Tuhan. Padahal Alkitab menempatkan keduanya dalam jarak yang sangat jelas. Kebijaksanaan Tuhan adalah milik-Nya sendiri—tak terselami, tak terbatas, dan melampaui segala logika manusia. Sementara kebijaksanaan adalah anugerah Tuhan yang Ia bagikan kepada manusia—nyata, berguna, tetapi tetap terbatas oleh kemanusiaan kita.

Tuhan sendiri menegaskan perbedaan ini dengan sangat tegas: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu… setinggi langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8–9). Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan koreksi. Ia mengingatkan bahwa bahkan pada saat manusia merasa paling bijaksana, tetap ada jarak yang tak terjembatani antara Sang Pencipta dan ciptaan.

Namun dalam kasih-Nya, Tuhan tidak menuntut manusia memahami segala sesuatu seperti Dia. Sebaliknya, Ia menganugerahkan hikmat yang cukup untuk hidup setia di dalam panggilan masing-masing. Hikmat ini bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi dari sesama, melainkan untuk menolong kita berjalan benar di hadapan-Nya.

Di sinilah kita mulai melihat perbedaan antar manusia. Tuhan tidak membagikan hikmat dalam bentuk yang seragam. Ada orang yang kuat dalam penalaran logis, ada yang tajam dalam membaca hati. Ada yang cepat mengambil keputusan, ada yang berhikmat dalam menunggu. Perbedaan ini sering kali menimbulkan gesekan, terutama ketika satu cara berpikir dianggap lebih rohani atau lebih benar daripada yang lain.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa perbedaan bukanlah cacat, melainkan kehendak Allah sendiri: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak… demikian pula Kristus” (1 Korintus 12:12). Hikmat tidak dimonopoli oleh satu tipe manusia. Tuhan sengaja bekerja melalui keberagaman agar tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan diri.

Perbedaan ini juga menjadi semakin nyata melalui perubahan karena usia. Ketika muda, seseorang sering mencari kepastian, kecepatan, dan solusi yang jelas. Energi dan keyakinan diri begitu kuat. Namun seiring bertambahnya usia, banyak orang belajar bahwa hidup tidak selalu hitam-putih. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logis, ada keputusan yang baru dimengerti maknanya setelah puluhan tahun berlalu.

Yang lebih muda belum tentu kurang hikmat. Yang lebih tua bukan selalu paling benar. Bentuk kebijaksanaannya saja yang berbeda. Ketika perbedaan ini tidak dipahami, konflik mudah muncul—baik dalam keluarga, gereja, maupun pelayanan. Padahal Tuhan dapat memakai hikmat generasi yang berbeda untuk saling menajamkan, bukan saling meniadakan.

Semua ini terjadi bukan secara kebetulan. Dalam iman Kristen, kita percaya bahwa semua terjadi menurut kehendak-Nya. Ini tidak berarti Tuhan menghendaki dosa atau kejahatan, tetapi tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari kedaulatan-Nya. Bahkan keterbatasan kita, perbedaan karakter, dan proses penuaan ada dalam pengetahuan dan izin-Nya. Di dalam misteri itu, Tuhan tetap setia mengerjakan maksud-Nya yang baik.

Kesadaran akan kedaulatan Allah seharusnya melahirkan kerendahan hati. Jika hikmat yang kita miliki adalah pemberian, bukan prestasi, maka tidak ada dasar untuk merendahkan orang lain. Justru di sinilah panggilan kita menjadi nyata: kita harus saling menghargai. Menghargai berarti mengakui bahwa Tuhan juga bekerja melalui orang yang berbeda dengan kita. Menghargai berarti belajar mendengar, bukan hanya berbicara.

Amsal menegaskan dasar dari semua ini: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10). Hikmat sejati tidak dimulai dari kecerdasan, pengalaman, atau usia, melainkan dari sikap hati yang tunduk kepada Allah.

Pada akhirnya, kebijaksanaan Tuhan akan selalu melampaui kita. Tetapi kebijaksanaan dari Tuhan cukup untuk menuntun kita hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan saling menghargai—sampai kita kelak melihat dengan sempurna apa yang hari ini hanya kita pahami sebagian.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang Mahabijaksana, kami mengakui bahwa kebijaksanaan-Mu jauh melampaui pengertian kami.

Ampuni kami jika sering merasa paling benar, mudah menghakimi, dan kurang menghargai perbedaan di antara kami. Ajarlah kami menerima hikmat yang Engkau berikan dengan hati yang rendah dan penuh syukur. Bentuklah kami menjadi satu tubuh yang saling melengkapi, bukan saling melukai; saling meneguhkan, bukan saling meninggikan diri.

Di tengah perbedaan usia, cara berpikir, dan latar belakang, ikatlah kami dalam kasih Kristus. Berikan kami hati yang mau mendengar, hikmat untuk berkata benar dengan lemah lembut, dan kerelaan untuk berjalan bersama demi kemuliaan nama-Mu.

Kiranya gereja-Mu menjadi tempat di mana kebenaran dipegang teguh dan kasih dinyatakan nyata, sehingga dunia melihat kesatuan kami dan memuliakan Engkau.

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sumber hikmat dan Raja damai, kami berdoa dan berserah. Amin.

Allah menyertai kita

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1:23

Hari ini hari Natal. Natal bukan sekadar peringatan kelahiran seorang tokoh besar dalam sejarah. Natal adalah pernyataan iman yang paling mendasar: Allah menyertai kita. Di tengah dunia yang rapuh, penuh ketidakpastian, penderitaan, dan kegelisahan batin, Natal membawa kabar yang menenangkan—Tuhan tidak menjauh, tidak berdiam di kejauhan, melainkan datang dan hadir.

Dalam Injil Matius, Yesus disebut Immanuel. Menariknya, Immanuel bukan nama pemberian sehari-hari-Nya—nama-Nya adalah Yesus, yang berarti “Tuhan menyelamatkan.” Namun Immanuel adalah gelar kenabian yang menggambarkan hakikat-Nya. Yesus adalah Allah yang menyertai umat-Nya. Dengan kata lain, Natal bukan hanya tentang apa yang Yesus lakukan, tetapi tentang siapa Dia sesungguhnya.

Asal-usul sebutan Immanuel berakar pada nubuat Nabi Yesaya. Dalam Yesaya 7:14, Tuhan memberikan sebuah tanda kepada Raja Ahas dari Yehuda: seorang anak akan lahir dan dinamai Immanuel. Dalam konteks sejarahnya, nubuat ini merupakan jaminan bahwa Tuhan tidak meninggalkan Rumah Daud di tengah ancaman musuh. Nama Immanuel menjadi simbol perlindungan dan kehadiran Allah bagi umat-Nya.

Namun, dalam terang Perjanjian Baru, gereja melihat bahwa nubuat ini melampaui konteks awalnya. Injil Matius dengan sengaja menghubungkan kelahiran Yesus dari Perawan Maria dengan nubuat Yesaya, dan menegaskan bahwa kelahiran itu adalah penggenapan sejati dari janji Allah. Di dalam Yesus, makna Immanuel mencapai kepenuhannya: Allah benar-benar hadir dalam daging, hidup di tengah manusia, merasakan lapar, lelah, air mata, bahkan kematian.

Inilah keunikan iman Kristen. Allah yang Mahakuasa tidak memilih untuk menyelamatkan dari kejauhan. Ia masuk ke dalam sejarah manusia, ke dalam keterbatasan dan penderitaan. Palungan di Betlehem menjadi tanda bahwa Allah tidak “alergi” terhadap kelemahan manusia. Ia tidak menunggu manusia menjadi layak, tetapi datang justru ketika manusia tidak berdaya.

Makna Immanuel sangat dalam bagi kehidupan iman kita. Ini berarti bahwa Tuhan bukan hanya Allah yang kita sembah, tetapi Allah yang hadir. Hadir dalam sukacita maupun duka. Hadir dalam keberhasilan maupun kegagalan. Hadir ketika doa kita terasa dijawab, dan bahkan ketika langit terasa diam.

Yesus sendiri menegaskan kebenaran ini menjelang kenaikan-Nya: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Janji Immanuel tidak berhenti di palungan atau di kayu salib. Kehadiran Allah berlanjut melalui Roh Kudus, yang diam dalam hati orang percaya. Karena itu, iman Kristen bukan hanya iman tentang masa lalu, tetapi pengalaman kehadiran Allah yang nyata hari ini.

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menutup salah satu doanya dengan kata-kata:

“Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian!” (Roma 15:33).

Mengingat keadaan Paulus dan banyak orang Kristen waktu itu, jelas bahwa damai sejahtera sejati bukan sesuatu yang lahir dari keadaan yang ideal, melainkan dari keyakinan bahwa Allah menyertai kita dalam keadaan apa pun. Natal mengingatkan kita bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Kiranya di tengah dunia yang bising dan hati yang mudah gelisah, kita kembali pada inti Natal ini: Allah menyertai kita. Dan karena Ia menyertai, kita dapat melangkah dengan tenang, berharap, dan percaya.

Doa Penutup:

Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Immanuel, Allah yang menyertai kami. Di dalam setiap musim hidup, ajar kami untuk percaya pada kehadiran-Mu dan hidup dalam damai sejahtera-Mu. Amin.

Natal mengajak kita berubah

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11:29

Natal sering kita bayangkan sebagai kisah yang indah: malaikat bernyanyi, gembala datang, bintang bersinar, dan seorang Bayi terbaring di palungan. Namun palungan itu bukan sekadar latar romantis. Ia adalah pendahuluan dari seluruh kisah hidup Yesus. Dari awal hingga akhir, hidup-Nya adalah satu kesaksian yang konsisten tentang kerendahan hati—kerendahan hati yang mengajak setiap orang yang merayakan Natal untuk berubah.

Yesus tidak lahir di istana, tidak disambut upacara kerajaan, dan tidak dikelilingi kemewahan. Ia lahir di tempat yang sederhana, bahkan hina menurut ukuran dunia. Pilihan ini bukan kebetulan. Sejak awal, Allah menyatakan bahwa jalan keselamatan tidak dibangun di atas kekuasaan, gengsi, atau kehebatan manusia, melainkan di atas kasih yang rela merendahkan diri. Palungan itu menjadi simbol bahwa Kerajaan Allah datang dengan cara yang berlawanan dengan logika dunia.

Kerendahan hati Yesus bukan hanya terlihat pada kelahiran-Nya, tetapi juga terwujud nyata sepanjang hidup-Nya. Ia sendiri berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28). Ia, Sang Tuhan, memilih jalan seorang hamba. Ia mendekati orang-orang kecil, orang sakit, orang berdosa, dan mereka yang tersisih. Ia tidak menjaga jarak demi wibawa, melainkan mendekat demi pemulihan relasi.

Puncak dari teladan itu terlihat ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh budak paling rendah, namun Yesus melakukannya dengan sadar dan sengaja. Dalam tindakan sederhana itu, Ia mengajarkan bahwa kebesaran sejati bukan terletak pada posisi, melainkan pada kesediaan melayani dengan kasih.

Yesus juga memilih hidup yang sederhana. Ia berkata, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20). Kemuliaan-Nya tidak bergantung pada harta, kenyamanan, atau pengakuan manusia. Ia menunjukkan bahwa hidup yang berkenan kepada Allah tidak diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari kepada siapa kita hidup. Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk memiliki lebih, Natal mengajak kita untuk bertanya: apakah kita sanggup untuk hidup sebagai orang yang sederhana demi ketaatan?

Dalam segala hal, Yesus tidak mencari kemuliaan diri. Ketika dipuji sebagai “Guru yang baik,” Ia mengarahkan kembali perhatian kepada Bapa (Markus 10:17–18). Seluruh hidup-Nya adalah hidup yang memuliakan Allah. Ketaatan-Nya mencapai puncaknya di kayu salib, ketika Ia merendahkan diri sampai mati, bahkan mati yang hina (Filipi 2:8). Inilah kerendahan hati yang tertinggi—ketaatan total demi kasih.

Yesus sendiri merangkum semua itu dalam undangan yang lembut: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Kerendahan hati bukan sekadar sikap moral, melainkan jalan menuju ketenangan jiwa. Itu berguna untuk kebaikan hidup kita karena tidak ada lagi keinginan untuk bersaing dengan orang lain.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam Kristus kita bisa dan bebas memilih. Dunia mengajarkan kita untuk meninggikan diri agar diakui, tetapi Yesus berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Siapa yang rendah hati akan berbahagia, sedangkan mereka yang sombong tidak akan mempunyai kedamaian.

Natal, karena itu, bukan hanya perayaan tahunan, melainkan panggilan untuk perubahan. Kita diajak untuk meninggalkan kesombongan, belajar melayani, mengosongkan diri, dan memuliakan Tuhan, bukan diri sendiri. Jika makna palungan itu benar-benar kita renungkan, maka Natal tidak akan berakhir dengan dekorasi dan lagu, tetapi berlanjut dalam hidup yang semakin serupa dengan Kristus—lemah lembut, rendah hati, dan penuh kasih.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, terima kasih untuk Natal yang kembali mengingatkan kami akan kasih dan kerendahan hati-Mu. Engkau rela datang ke dunia, merendahkan diri, dan melayani kami dengan kasih yang sempurna.

Ajarlah kami untuk memikul kuk-Mu, belajar dari kelemahlembutan dan kerendahan hati-Mu, serta mengubah hidup kami agar semakin memuliakan Bapa. Bentuklah hati kami supaya tidak mencari kemuliaan diri, melainkan setia melayani sesama dengan kasih. Kiranya damai sejahtera-Mu memenuhi jiwa kami, hari ini dan seterusnya.

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Aku Takkan Kekurangan

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Mazmur 23:1

Natal sering datang dengan dua wajah. Yang satu penuh cahaya: lagu, lilin, hadiah, dan senyum. Yang lain lebih sunyi: kursi kosong di meja makan, doa yang belum terjawab, tubuh yang melemah, atau rencana hidup yang tak berjalan seperti harapan. Di tengah suasana seperti itu, ayat Mazmur 23:1 terdengar indah—namun juga menantang. Bagaimana mungkin kita berkata, “Aku takkan kekurangan,” ketika kenyataan berkata sebaliknya?

Pemazmur tidak menulis ayat ini dari ruang istana yang nyaman. Daud mengenal rasa takut, pengkhianatan, pelarian, dan kesendirian. Namun ia berani berkata bahwa ia tidak berkekurangan, bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena Tuhan adalah gembalanya. Inilah kunci dari ayat ini: bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada siapa yang menyertai.

Natal memberi kita kunci itu dengan cara yang paling nyata. Allah tidak hanya mengirim pertolongan dari jauh; Ia datang sendiri. Yesus lahir bukan di istana, bukan di tengah kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan—di palungan. Sejak awal, Allah ingin menunjukkan bahwa kecukupan sejati tidak identik dengan kelimpahan materi, melainkan dengan kehadiran-Nya.

Ketika Yesus lahir, janji Mazmur 23 mulai mengambil rupa. Gembala yang baik tidak lagi hanya gambaran puitis; Ia hadir sebagai manusia. Yesus berjalan bersama orang lapar, orang sakit, orang berdosa, dan orang yang tersisih. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa lembah gelap, tetapi Ia menjanjikan bahwa kita tidak akan berjalan sendirian.

Banyak orang menafsirkan “takkan kekurangan” sebagai janji bahwa orang percaya akan selalu berhasil, sehat, dan makmur. Namun Natal justru membalik logika itu. Allah yang Mahakuasa memilih menjadi bayi yang bergantung pada Maria dan Yusuf. Sang Pemilik segalanya memilih jalan kerentanan. Di situlah kita belajar bahwa kecukupan tidak berarti memiliki segalanya, tetapi menerima anugerah Allah yang lengkap di dalam Kristus.

Dalam Yesus, anugerah Allah menjadi utuh. Kita mungkin masih kekurangan uang, tenaga, atau jawaban atas pertanyaan hidup. Tetapi kita tidak kekurangan kasih, pengampunan, harapan, dan tujuan. Kita tidak kekurangan arah, karena Sang Gembala menuntun langkah kita. Kita tidak kekurangan pengharapan, karena Natal berujung pada salib dan kebangkitan.

Natal mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa sebenarnya yang kita anggap sebagai kekurangan? Jika Allah sudah memberikan Anak-Nya sendiri, mungkinkah kita masih berkata bahwa hidup ini kosong? Paulus menuliskannya dengan jelas: “Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri… bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32).

Maka, menjelang Natal saat ini, kita belajar berkata bersama Daud—dengan pengertian yang lebih dalam:

Tuhan adalah Gembalaku. Karena itu, di dalam Kristus, aku cukup. Bukan karena semua keinginanku terpenuhi, melainkan karena anugerah Allah telah dinyatakan sepenuhnya.

Doa Penutup:

Tuhan, Gembala kami yang baik, pada saat menjelang Natal ini kami bersyukur karena Engkau tidak tinggal jauh,melainkan datang menghampiri kami dalam Yesus Kristus.

Ajarlah kami memahami arti kecukupan yang sejati:bukan hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang Engkau sertai. Bukan kelimpahan harta, melainkan kelimpahan anugerah.

Di tengah kekurangan, ajar kami percaya. Di tengah lembah gelap, ajar kami berharap. Dan di tengah dunia yang gelisah, buatlah hati kami tenang karena Engkau beserta kami.

Terima kasih untuk Yesus, anugerah-Mu yang lengkap dan nyata.

Di dalam Nama-Nya kami berdoa. Amin.

Antara Natal dan Rasa Damai

“Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” ‭‭Matius‬ ‭2‬:‭13‬‬

“Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.” Matius 2:16

Para pelayat di Australia mengheningkan cipta pada hari Minggu kemarin untuk mengenang para korban serangan teroris di Pantai Bondi. Peringatan itu adalah bagian dari hari refleksi nasional untuk menandai satu minggu sejak peristiwa tanggal 14 Desember 2025, di mana penembakan massal terjadi di Pantai Bondi di Sydney, Australia, pada saat perayaan Hanukkah yang dihadiri oleh sekitar seribu orang. Dua orang bersenjata membunuh 15 orang, termasuk seorang anak. Jika kita renungkan, adalah menyedihkan bahwa damai di bumi adalah jauh dari kenyataan.

Natal memang selalu diidentikkan dengan damai di bumi. Namun ketika kita membaca kisah Natal dalam Alkitab, ternyata tidak semuanya indah dan tenang. Di Betlehem, setelah Yesus lahir, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan: bayi-bayi dibunuh atas perintah Raja Herodes. Kisah ini sering membuat orang bertanya, mengapa hal buruk bisa terjadi, terutama di saat Natal?

Di tengah kisah itu, ada orang-orang Majus dari Timur. Mereka datang dari jauh untuk mencari dan menyembah Yesus. Mereka mengikuti bintang, menempuh perjalanan panjang, dan membawa persembahan terbaik. Mereka tidak berniat jahat. Mereka hanya ingin bertemu Sang Raja yang dijanjikan Tuhan. Namun setelah mereka pergi, tragedi itu terjadi.

Penting untuk kita pahami: orang Majus tidak bersalah atas pembunuhan bayi-bayi di Betlehem. Kejahatan itu adalah pilihan Herodes sendiri. Tuhanlah yang melindungi orang Majus dengan memperingatkan mereka lewat mimpi agar tidak kembali kepada Herodes. Mereka taat, lalu pulang melalui jalan lain.

Kisah ini mengajarkan sesuatu yang sangat menenangkan: tidak semua hal buruk terjadi karena kesalahan kita. Dalam hidup, banyak orang memikul beban yang terlalu berat. Kita mungkin sering menyalahkan diri sendiri atas masa lalu, atas keputusan orang lain, atau atas peristiwa yang tidak bisa kita kendalikan. Ada rasa bersalah yang terus kita bawa, meskipun sebenarnya itu ada di luar kemampuan atau tanggung jawab kita.

Firman Tuhan berkata:

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri” (Galatia 6:4).

Artinya, Tuhan meminta kita melihat dengan jujur apa yang menjadi bagian kita—bukan memikul semua hal yang terjadi di sekitar kita.

Natal mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu.

Apa yang sudah terjadi, tidak selalu bisa diperbaiki. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak terus hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Yesus lahir bukan untuk menambah beban hidup manusia, melainkan untuk membebaskan.

Orang Majus tidak tinggal di Betlehem selamanya. Mereka pulang ke negeri mereka. Mereka melanjutkan hidup dengan tenang karena mereka tahu telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Mereka taat, dan itu cukup.

Natal juga mengingatkan kita untuk melihat ke depan.

Tuhan tidak menuntut kita mengendalikan semua orang atau semua keadaan. Tuhan hanya meminta kita setia dalam hal-hal yang Dia percayakan kepada kita hari ini—dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan hubungan dengan sesama.

Damai Natal bukan berarti hidup tanpa masalah. Damai Natal adalah ketenangan hati karena kita tahu: saya sudah melakukan bagian saya, sisanya saya serahkan kepada Tuhan.

Natal ini, marilah kita belajar melepaskan beban yang bukan milik kita, menerima pengampunan atas kekeliruan kita dan menyambut kasih Tuhan, serta melangkah ke depan dengan hati yang tenang. Seperti orang Majus, marilah kita pulang melalui jalan yang Tuhan tunjukkan—jalan damai.

Doa Penutup:

Tuhan yang baik,

Terima kasih untuk Natal dan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat kami. Terima kasih karena Engkau tidak bermaksud membebani kami dengan rasa bersalah yang tidak pernah berakhir. Ajarlah kami untuk berdamai dengan masa lalu, setia pada tanggung jawab kami hari ini, dan percaya kepada-Mu untuk masa depan. Berikan kami hati yang tenang dan damai dalam menjalani hidup.

Di dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.