
Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja

Segala puji kepada Tuhan pencipta alam semesta!
Tulisan saya dibawah ini dipersiapkan dalam bentuk “draft” dan karena itu mengalami editing secara berangsur.
Salam dari Sunshine Coast, Queensland, Australia,
Andreas Nataatmadja
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:32

Pengampunan adalah salah satu perintah Yesus yang paling sering kita ucapkan, tetapi paling sulit kita jalani. Kita tahu secara teologis bahwa kita harus mengampuni, tetapi secara emosional kita sering bertanya dalam hati: bagaimana saya tahu bahwa saya sungguh-sungguh sudah mengampuni? Apakah pengampunan itu berarti rasa sakitnya hilang? Apakah berarti hubungan harus kembali seperti semula? Ataukah cukup dengan berkata, “Saya sudah memaafkan,” meski hati masih terasa sesak?
Efesus 4:32 memberi kita petunjuk yang sangat praktis. Rasul Paulus tidak memulai dari perasaan, melainkan dari tindakan dan sikap hati: ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Artinya, ukuran pengampunan sejati bukanlah apakah luka itu sudah sepenuhnya sembuh, melainkan apakah hidup kita mulai mencerminkan karakter Allah yang penuh anugerah.
Pengampunan sejati selalu melibatkan pelepasan. Kita melepaskan hak untuk membalas, melepaskan keinginan untuk mencari kesalahan orang lain dan dorongan untuk menghakimi, dan melepaskan orang tersebut dari “utang” moral yang kita simpan di dalam hati.
Selama ini mungkin kita tidak membalas secara terbuka, tetapi dalam batin kita masih menyimpan catatan kesalahan mereka. Kita mengulangnya dalam pikiran, menggunakannya sebagai senjata batin untuk membenarkan kemarahan kita. Selama catatan itu masih kita simpan, pengampunan belum sungguh terjadi.
Salah satu tanda pengampunan yang mulai nyata adalah ketika kita berhenti menggunakan masa lalu sebagai alat untuk melukai. Kita tidak lagi mengungkit kesalahan mereka untuk menang dalam percakapan, atau untuk membenarkan jarak emosional yang kita bangun. Kita tidak lagi menuntut agar mereka “membayar” rasa sakit yang kita alami. Kita tidak lagi menuntut mereka untuk meminta maaf kepada kita. Di titik ini, kita mulai memahami bahwa pengampunan bukan berarti melupakan, tetapi memilih untuk tidak menagih.
Efesus 4:32 juga berbicara tentang kebaikan. Ini bukan kebaikan yang palsu atau terpaksa, melainkan sikap hati yang tidak lagi berniat jahat. Kita mungkin belum siap untuk akrab kembali, tetapi kita tidak lagi berharap yang buruk terjadi atas mereka. Kita tidak lagi tertarik untuk mencari kelemahan mereka dan kesalahan mereka terhadap orang lain. Bahkan, kita mampu bersikap adil, sopan, dan manusiawi. Kebaikan ini adalah buah dari hati yang tidak lagi dikuasai kepahitan.
Tanda lain yang lebih dalam adalah munculnya kasih sayang—tenderhearted. Ini tidak berarti kita membenarkan kesalahan mereka, tetapi kita mulai melihat mereka sebagai manusia yang rapuh, berdosa, dan membutuhkan anugerah, sama seperti diri kita sendiri. Kita menyadari bahwa di hadapan Allah, posisi kita tidak lebih tinggi dari mereka. Kesadaran ini melunakkan hati kita dan menghancurkan kesombongan rohani yang sering tersembunyi di balik kemarahan.
Kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita jika kita sendiri ingin diampuni oleh Tuhan.
“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Lukas 6:37
Karena itu, jika kita sudah benar-benar mengampuni, kita akan bisa dengan sungguh-sungguh berdoa mohon pengampunan dari Tuhan untuk dosa kita sendiri.
“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;” Matius 6:12
Bagi banyak orang, titik balik pengampunan terjadi ketika mereka akhirnya bisa berdoa bagi orang yang melukai mereka. Awalnya mungkin doa itu masih kaku dan singkat. Namun perlahan, doa berubah: dari sekadar kewajiban, menjadi kerinduan agar Tuhan bekerja dalam hidup orang tersebut. Saat kita bisa berharap yang baik bagi mereka—bukan karena mereka layak, tetapi karena Allah itu baik—kita tahu bahwa sesuatu telah berubah di dalam hati kita.
Pengampunan juga ditandai dengan kepercayaan kepada keadilan Tuhan. Kita berhenti bermain sebagai hakim, dan menyerahkan penghakiman kepada Dia yang adil dan penuh belas kasih. Kita percaya bahwa Tuhan lebih mampu menangani ketidakadilan daripada diri kita sendiri. Dengan demikian, kita dibebaskan dari beban berat yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan untuk kita pikul.
Sebaliknya, jika kita masih dikuasai kepahitan, mudah tersulut emosi ketika mengingat peristiwa lama, atau secara sadar menahan kebaikan, itu bukan tanda kegagalan iman, melainkan undangan untuk datang kembali kepada salib. Di sana kita diingatkan bahwa kita diampuni bukan karena kita pantas, tetapi karena kasih karunia semata.
Pengampunan sejati bukanlah satu momen dramatis, melainkan sebuah perjalanan ketaatan. Namun setiap langkah kecil menuju kebaikan, belas kasih, dan kepercayaan kepada Tuhan adalah bukti bahwa anugerah Kristus sedang bekerja di dalam diri kita.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih dan panjang sabar, kami datang kepada-Mu dengan hati yang sering terluka dan berat. Engkau tahu betapa sulitnya mengampuni, terutama ketika luka itu dalam dan keadilan terasa jauh. Ajarlah kami mengampuni bukan dengan kekuatan kami sendiri, melainkan dengan mengingat bagaimana Engkau telah mengampuni kami di dalam Kristus.
Lunakkanlah hati kami yang keras, lepaskan kepahitan yang kami simpan, dan gantikan dengan kebaikan serta belas kasih. Ajari kami mempercayakan keadilan kepada-Mu, dan berjalan dalam kebebasan anak-anak Allah. Biarlah hidup kami mencerminkan anugerah-Mu, sehingga melalui pengampunan, nama-Mu dipermuliakan.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok, supaya Tuhan tidak melihatnya dan menganggapnya jahat, lalu memalingkan murkanya dari pada orang itu.” Amsal 24:17–18

Ada sesuatu yang sangat manusiawi—dan sekaligus sangat berbahaya—dalam diri kita: kecenderungan untuk merasa lega, bahkan senang, ketika orang yang mengganggu kita akhirnya jatuh. Dalam hati kita mungkin berkata, “itu sudah sepantasnya.” Dunia menyebutnya sebagai poetic justice (keadilan puitis). Media sosial pun sering merayakannya. Namun firman Tuhan justru menegur kecenderungan itu dengan sangat tegas. Perasaan itu tidak seharusnya muncul di hati orang Kristen sebagai reaksi terhadap orang yang tidak disenangi.
Amsal 24:17–18 tidak sedang membela kejahatan atau meniadakan keadilan. Firman ini berbicara tentang kondisi hati. Tuhan menaruh perhatian bukan hanya pada apa yang terjadi pada orang lain, tetapi pada apa yang terjadi di dalam hati kita ketika itu terjadi. Ketika kita bersukacita atas kejatuhan orang lain—bahkan musuh kita—Tuhan melihatnya bukan sebagai kebenaran, melainkan sebagai kejahatan hati yang tersembunyi.
Mengapa demikian? Karena sukacita atas penderitaan orang lain sering kali lahir bukan dari cinta akan kebenaran, melainkan dari dendam yang terpelihara. Itu mungkin juga berarti bahwa kita sebelumnya tidak pernah berdoa agar mereka insaf. Kita mungkin tidak mendoakan kejatuhan mereka atau ingin membalas, tetapi hati kita bersorak secara diam-diam. Dan di situlah masalahnya. Tuhan tidak hanya menilai perbuatan, tetapi juga motivasi kita yang terdalam.
Alkitab berulang kali mengajak umat Tuhan untuk mempercayakan keadilan kepada-Nya. Tuhan adalah Hakim yang adil dan sempurna, sedangkan penilaian kita sering kali tercemar oleh luka, emosi, dan kepentingan pribadi. Ketika kita merasa senang atas apa yang menimpa orang lain, seolah-olah kita sedang duduk di kursi hakim—kursi yang bukan milik kita, tetapi milik Tuhan pencipta alam semesta.
Lebih dari itu, sikap bersukacita atas kemalangan orang lain merusak kesaksian Kristus dalam hidup kita. Yesus tidak dikenal karena sorak-sorai atas kehancuran musuh-Nya, melainkan karena belas kasihan-Nya terhadap orang berdosa. Di kayu salib, Ia tidak berseru, “Akhirnya Aku menang atas kalian,” tetapi berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Kasih seperti inilah yang menjadi tanda murid Kristus.
Di sinilah empati menjadi sangat penting. Empati bukan berarti menyetujui dosa atau membenarkan kesalahan. Empati berarti melihat manusia di balik kegagalannya. Menyadari bahwa kejatuhan seseorang bukanlah tontonan, melainkan tragedi. Bahwa di balik kesalahan itu ada jiwa yang rapuh, keluarga yang terluka, dan masa depan yang hancur.
Seperti kita ketahui bahwa hukum Tuhan (Mitzvah) yang paling penting dalam Kitab Suci adalah untuk mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa hukum yang kedua, yang sama dengan itu, adalah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. (Matius 22:36-40)
Sehubungan dengan hal mengasihi sesama, perlu dicatat bahwa empati bukan sekadar bersimpati. Simpati adalah rasa kasihan atau iba dari luar (merasa “untuk” orang lain), sedangkan empati adalah kemampuan merasakan emosi yang sama dan “bersama” orang lain, menempatkan diri pada posisi mereka, dan memahami kondisi mereka secara mendalam.
Simpati bersifat lebih dangkal dan bisa muncul tanpa pernah mengalami kondisi tersebut, sementara empati lebih mendalam, melibatkan pemahaman kognitif dan afektif, serta seringkali memicu keinginan untuk membantu menyelesaikan masalah, bukan hanya berdiam diri atau menyampaikan kritik.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk bercermin. Kita mudah lupa bahwa kita sendiri pernah—dan mungkin masih—jatuh berkali-kali. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita dulunya adalah musuh Allah, tetapi diselamatkan bukan karena kelayakan, melainkan karena kasih karunia (Roma 5:10). Jika Tuhan memperlakukan kita dengan belas kasihan, bagaimana mungkin kita menolak menunjukkan empati kepada sesama kita?
Empati menolong kita untuk berkata, “Jika bukan karena anugerah Tuhan, aku pun bisa berada di posisi itu.” Sikap ini meruntuhkan kesombongan rohani dan menumbuhkan kerendahan hati. Ia mengubah respons kita dari ejekan menjadi doa, dari sorak-sorai menjadi air mata, dari penghakiman menjadi uluran tangan. Ini juga mencegah kita untuk menggosipkan masalah orang yang tidak kita senangi.
Dalam dunia yang cepat menghakimi dan gemar mempermalukan, panggilan orang percaya justru berbeda. Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus—kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi bersukacita dalam kebenaran. Kasih yang berharap akan pemulihan, bukan kehancuran.
Pada akhirnya, Alkitab menyerukan hati yang penuh belas kasihan dan dukungan. Bukan hati yang bergembira ketika orang lain menderita, merasa itu sudah sepantasnya, atau diam-diam menyombongkan diri. Empati adalah bukti bahwa kita sungguh memahami Injil—bahwa kita hidup oleh anugerah, dan karena itu dipanggil untuk mengalirkannya kepada orang lain.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
Kami mengakui bahwa hati kami sering keras dan mudah bersukacita atas kejatuhan orang lain. Ampunilah kami, ya Tuhan, ketika kami lebih mengikuti dorongan daging daripada suara Roh-Mu.
Ajarlah kami untuk mempercayakan keadilan sepenuhnya kepada-Mu, dan bukan mengambil alih peran-Mu sebagai Hakim. Lembutkan hati kami agar dipenuhi empati, kasih, dan belas kasihan—seperti yang telah Engkau tunjukkan kepada kami di dalam Kristus.
Mampukan kami menjadi saksi kasih-Mu di tengah dunia yang terluka, sehingga melalui sikap dan respons kami, nama-Mu dimuliakan.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6:27

Stres dan kecemasan adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Alkitab tidak pernah menampilkan manusia beriman sebagai pribadi yang kebal terhadap rasa takut, gelisah, atau tertekan. Daud pernah merasa jiwanya tertekan sampai remuk. Elia pernah ingin mati karena kelelahan batin. Bahkan murid-murid Yesus dilanda panik ketika badai mengguncang perahu mereka. Namun Kitab Suci juga dengan jujur menunjukkan bahwa kecemasan, meskipun bukan “dosa yang mematikan”, adalah kekuatan yang berbahaya—perlahan, diam-diam, tetapi memadamkan api kehidupan rohani bila dibiarkan.
Yesus dalam Matius 6 berbicara tentang kekhawatiran bukan sebagai kegagalan moral semata, melainkan sebagai beban yang tidak perlu dan tidak berguna. Ia bertanya dengan nada yang lembut namun menusuk: “Siapa di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan satu jam saja pada hidupnya?” Pertanyaan ini membuka mata kita bahwa kecemasan bukan hanya menyakitkan, tetapi juga sia-sia. Ia menguras energi dan merusak kesehatan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Alkitab sering membingkai kecemasan sebagai penyakit yang mengganggu—penyakit batin yang memecah pikiran, membebani hati, dan secara perlahan menggerogoti kepercayaan kepada Allah. Amsal 12:25 dengan sangat realistis berkata, “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang.” Banyak orang yang kelihatannya tetap berjalan, bekerja, dan tersenyum, tetapi jiwanya membungkuk—lelah, berat, dan kehilangan sukacita. Kecemasan membuat seseorang “lumpuh”: sulit berpikir jernih, sulit berdoa dengan tenang, dan sulit berharap dengan utuh. Ini bukan hanya pengamatan psikologis modern; ini adalah kebijaksanaan Alkitab sejak ribuan tahun lalu.
Yesus juga memperingatkan bahwa kecemasan memiliki daya rusak rohani yang serius. Dalam perumpamaan tentang penabur, Ia berkata bahwa “kekhawatiran hidup ini” dapat mencekik firman, sehingga hidup menjadi tidak berbuah (Markus 4:19). Firman Tuhan mungkin didengar, dipahami, bahkan disetujui, tetapi tidak pernah bertumbuh karena dicekik oleh rasa takut akan masa depan, ancaman sosial, tekanan ekonomi, kondisi kesehatan, atau keadaan dunia. Kecemasan tidak selalu membuat seseorang meninggalkan iman, tetapi sering membuat iman menjadi mandul—tidak menghasilkan damai, ketekunan, dan kasih.
Yang menarik, dalam Lukas 21:34 Yesus menempatkan kecemasan sejajar dengan pesta pora dan kemabukan. Ini mengejutkan, karena kita cenderung menganggap kecemasan sebagai sesuatu yang “sepi” atau “sopan”. Namun Yesus melihatnya sebagai beban hati yang sama-sama merusak kewaspadaan rohani. Pesta pora dan kemabukan merusak tubuh secara kasar; kecemasan merusak jiwa secara halus. Keduanya membuat hati berat dan mata iman tumpul.
Namun Injil tidak berhenti pada peringatan. Yesus tidak hanya menunjukkan bahaya kecemasan, tetapi juga menawarkan jalan pembebasan: mempercayakan hidup kepada Bapa yang memelihara. Ia menunjuk burung di udara dan bunga di ladang—bukan untuk meromantisasi hidup, tetapi untuk menegaskan karakter Allah. Allah adalah Bapa yang tahu, peduli, dan setia. Kekhawatiran sering kali bukan soal kurangnya iman kepada kuasa Allah, tetapi kurangnya kepercayaan pada kebaikan-Nya.
Dalam perspektif iman Kristen, kita diingatkan bahwa hidup ini berada di bawah providensia (pemeliharaan) Allah yang berdaulat. Tidak ada satu detik pun yang berada di luar perhatian-Nya. Menyadari hal ini tidak serta-merta menghapus stres, tetapi menempatkannya di tempat yang benar. Kita belajar membawa kecemasan ke hadapan Tuhan, bukan menyangkalnya, tetapi menyerahkannya. Kita berhenti memikul beban yang tidak pernah dimaksudkan untuk kita tanggung sendirian.
Kecemasan mungkin datang, tetapi ia tidak harus berkuasa. Ia boleh mengetuk pintu, tetapi tidak harus menjadi tuan rumah. Dalam Kristus, kita dipanggil untuk hidup bukan tanpa masalah, tetapi dengan kepercayaan—bahwa hidup kita ada di tangan Bapa yang baik, dan tidak satu pun kekhawatiran kita dapat menambah satu jam pun pada hidup ini.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
Engkau mengenal hati kami yang mudah gelisah dan pikiran kami yang cepat dipenuhi kekhawatiran. Kami mengakui bahwa sering kali kami memikul beban yang tidak Engkau minta kami tanggung.
Ampunilah kami ketika kecemasan lebih kami dengarkan daripada suara-Mu. Ajarlah kami mempercayakan hidup kami sepenuhnya kepada pemeliharaan-Mu.
Berilah kami hati yang tenang, iman yang bertumbuh, dan pengharapan yang teguh di dalam Kristus. Biarlah Firman-Mu tidak dicekik oleh kekhawatiran, tetapi berbuah dalam hidup kami.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” 1 Korintus 3:3

Ada satu hal yang selalu menyedihkan dalam kehidupan gereja: ketika umat Tuhan, yang seharusnya menjadi saksi kasih Kristus, justru saling berselisih. Lebih menyedihkan lagi ketika perselisihan itu bukan soal kebenaran Injil, melainkan soal “siapa mengikuti siapa”, “siapa lebih rohani”, atau “siapa lebih layak didengar”. Di sinilah kita perlu jujur mengakui satu hal yang jarang kita ucapkan dengan keras: iblis sangat senang melihat umat Kristen bertengkar.
Rasul Paulus menegur jemaat Korintus dengan sangat tajam. Mereka adalah jemaat yang kaya karunia, tetapi miskin kedewasaan. Perselisihan muncul karena mereka mengelompokkan diri berdasarkan pemimpin rohani: ada yang berkata, “Aku dari golongan Paulus”, yang lain, “Aku dari golongan Apolos”. Padahal Paulus dan Apolos tidak berselisih. Paulus tidak memuji loyalitas semacam itu. Sebaliknya, ia menyebutnya tanda kedagingan—tanda bahwa mereka masih hidup menurut cara manusia duniawi, bukan menurut Roh.
Paulus mengingatkan: “Apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan…” Pemimpin rohani, betapapun dipakai Tuhan, tetaplah alat. Yang satu menanam, yang lain menyiram, tetapi bukan mereka yang memberi pertumbuhan. Allah-lah sumber kehidupan, pertumbuhan, dan buah rohani. Ketika umat meninggikan alat di atas Sang Pemberi Hidup, maka gereja kehilangan fokusnya.
Jika adanya beberapa pemimpin gereja yang berbeda kemampuan, kepribadian dan penampilan sudah cukup untuk menimbulkan “fraksi”, perselisihan antar pimpinan gereja sering kali berakhir secara menyedihkan.
Perselisihan di gereja sering kali tidak dimulai dengan niat jahat. Banyak pemimpin tidak pernah bermaksud menghancurkan jemaat. Namun, ketika para pemimpin sendiri tidak dapat menunjukkan kesatuan—entah karena ego, perbedaan pendekatan, atau luka lama yang tidak diselesaikan—jemaat dengan cepat menangkap sinyal itu. Umat belajar bukan hanya dari mimbar, tetapi dari sikap, nada bicara, dan relasi para pemimpinnya. Pemimpin yang tidak bersatu, meski tanpa kata-kata, sedang mengajarkan perpecahan.
Alkitab memandang perpecahan bukan sekadar masalah relasi, tetapi masalah rohani. Perselisihan membuka celah yang besar bagi pekerjaan si jahat. Ketika gereja sibuk bertengkar, kesaksian Injil melemah. Energi yang seharusnya dipakai untuk mengasihi, melayani, dan memberitakan Kristus habis untuk konflik internal. Dunia yang memperhatikan dari luar tidak lagi melihat terang Kristus, melainkan bayangan ego manusia.
Tidak heran jika Yesus, menjelang salib, berdoa secara khusus untuk kesatuan para pengikut-Nya: “Supaya mereka semua menjadi satu… supaya dunia percaya.” (Yohanes 17:21). Kesatuan bukan sekadar ideal moral; kesatuan adalah alat kesaksian. Dunia menilai kebenaran Injil bukan hanya dari apa yang dikhotbahkan, tetapi dari bagaimana para pemimpin saling memperlakukan.
Paulus berulang kali memperingatkan jemaat-jemaat mula-mula agar menjauhi perselisihan. Bagi Paulus, konflik yang berakar pada iri hati dan ambisi bukan tanda ketegasan iman, melainkan tanda ketidakdewasaan rohani. Orang yang sungguh hidup oleh Roh akan belajar merendahkan diri, mengutamakan Kristus, dan memandang sesama saudara seiman sebagai bagian dari satu tubuh.
Renungan ini mengajak kita bercermin. Apakah hati kita sedang lebih setia kepada Kristus atau kepada figur tertentu? Apakah kita membela kebenaran atau sekadar membela kelompok? Apakah perkataan dan sikap kita sedang membangun tubuh Kristus atau justru merobeknya perlahan?
Iblis tidak selalu bekerja dengan serangan besar. Kadang ia hanya perlu menyokong sedikit iri hati, sedikit kekecewaan, dan sedikit kebanggaan rohani. Jika itu dibiarkan, perselisihan akan tumbuh. Tetapi ketika umat Tuhan kembali merendahkan diri di hadapan Kristus, mengingat bahwa hanya Allah yang memberi pertumbuhan, maka kuasa perpecahan itu dipatahkan.
Kesatuan bukan berarti keseragaman. Pimpinan gereja bisa berbeda metode, gaya, dan penekanan. Namun di atas semua perbedaan itu, Kristus harus tetap harus menjadi pusat. Ketika Kristus dimuliakan, pemimpin ditempatkan pada posisinya yang benar, dan kasih menjadi pengikat, iblis kehilangan kegembiraannya.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
Kami mengaku bahwa hati kami sering mudah terseret oleh ego, iri hati, dan keinginan untuk menang sendiri. Ampuni kami bila kami lebih meninggikan manusia daripada Engkau. Lembutkan hati kami, ya Tuhan, agar kami belajar merendahkan diri dan mengutamakan kesatuan tubuh Kristus.
Peliharalah gereja-Mu dari roh perselisihan. Berikan hikmat dan kerendahan hati kepada para pemimpin-Mu, agar mereka boleh berjalan dalam kesatuan dan menjadi teladan bagi jemaat. Ajarlah kami untuk mengasihi sesama saudara seiman, meskipun berbeda, demi nama Kristus yang kami tinggikan.
Biarlah gereja-Mu menjadi satu, supaya dunia melihat kasih-Mu dan percaya kepada Engkau.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Yakobus 3:17

Orang diharapkan untuk lebih bijaksana seiring bertambahnya usia, mengembangkan pengaturan emosi yang lebih baik, refleksi diri, dan perspektif, meskipun kecepatan kognitif mungkin melambat. Kebijaksanaan tidak otomatis tetapi tumbuh dari pemrosesan pengalaman hidup secara aktif, menyeimbangkan perolehan empati dan pengetahuan.
Tetapi, di sinilah Yakobus membawa kita pada pertanyaan yang mendasar: jika lidah kita begitu sulit dikendalikan, jika kata-kata kita sering mencerminkan iri hati, amarah, dan ambisi tersembunyi, maka hikmat macam apa yang sebenarnya sedang kita hidupi?
Dunia memiliki definisi hikmatnya sendiri. Hikmat sering diukur dari gelar, kecerdasan, kekayaan, pengaruh, atau banyaknya orang yang mendukung kita. Orang dianggap bijak jika ia pandai berbicara, cerdas berargumentasi, mampu memenangkan perdebatan, dan sukses dalam usaha. Namun Yakobus mengguncang semua ukuran itu.
Yakobus bertanya, “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berpengetahuan?” Lalu jawabannya mengejutkan: bukan mereka yang paling lantang berbicara, tetapi mereka yang menunjukkan hikmat itu melalui hidup yang penuh kerendahan hati dan perbuatan baik.
Yakobus dengan tegas membedakan antara hikmat duniawi dan hikmat surgawi. Hikmat duniawi bersumber dari iri hati dan ambisi egois. Ia selalu bertanya, apa untungnya bagi saya? Dari sanalah lahir persaingan, pertengkaran, kekacauan, bahkan kejahatan yang terorganisir dengan rapi. Dunia mungkin menyebutnya “strategi” atau “kepintaran”, tetapi Yakobus menyebutnya apa adanya: hikmat yang tidak berasal dari atas.
Sebaliknya, hikmat surgawi lahir dari iman kepada Allah yang hidup. Hikmat ini tidak muncul karena manusia merasa cukup, tetapi justru karena ia percaya bahwa Allah mencukupi. Orang yang hidup dalam hikmat surgawi percaya bahwa setiap karunia yang baik berasal dari Tuhan (Yakobus 1:17). Karena itu, ia tidak perlu merebut, memanipulasi, atau mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Yakobus menggambarkan hikmat dari atas dengan sangat indah dan praktis. Pertama, hikmat itu murni—hagnē—tidak terbagi, tidak bercabang. Orang yang hidup dalam hikmat ini memiliki satu tujuan utama: melakukan kehendak Allah. Ia tidak hidup dengan agenda tersembunyi atau motivasi ganda. Hatinya tidak terbelah antara melayani Tuhan dan meninggikan diri.
Hikmat surgawi juga pendamai. Ia tidak menikmati konflik, tidak memelihara pertengkaran, dan tidak merasa nyaman jika ada perdebatan. Ini bukan sikap kompromi terhadap kebenaran, melainkan kerinduan untuk memelihara damai sejauh itu bergantung padanya. Hikmat ini peramah dan lembut, tidak kasar dalam kata, tidak cepat tersinggung, dan tidak defensif.
Lebih jauh, Yakobus mengatakan hikmat ini penurut atau mudah diajar. Orang bijak tidak merasa selalu benar. Ia bersedia mendengar, belajar, dan bahkan dikoreksi. Ini sangat kontras dengan hikmat dunia yang keras kepala dan selalu ingin menang.
Hikmat surgawi juga penuh belas kasihan dan menghadirkan buah-buah yang baik. Ia tidak hanya benar secara doktrin, tetapi juga hangat secara relasional. Ia peduli pada yang lemah, yang terluka, dan yang terpinggirkan. Hikmat ini tidak memihak dan tidak munafik—tidak memainkan peran, tidak memakai topeng rohani agar terlihat baik demi keuntungan pribadi.
Sungguh, hidup menjadi jauh lebih ringan ketika seorang Kristen melepaskan tuntutan untuk selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Banyak konflik lahir bukan karena kebenaran, melainkan karena ego yang tidak mau dilepaskan. Namun pelepasan itu hanya mungkin jika kita sungguh percaya bahwa Tuhan yang baik tidak pernah lalai memelihara umat-Nya.
Hikmat surgawi bukan hasil usaha manusia semata, melainkan buah dari hati yang tunduk kepada Allah. Ia lahir ketika kita berhenti mengandalkan diri sendiri dan mulai bersandar sepenuhnya pada anugerah-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahabijaksana, kami mengakui bahwa sering kali kata-kata kami mencerminkan hati yang belum sepenuhnya tunduk kepada-Mu. Ampunilah kami ketika lidah kami melukai, ketika ambisi kami tersembunyi di balik kerohanian, dan ketika kami mengejar hikmat dunia lebih daripada hikmat-Mu.
Ajarlah kami hikmat yang dari atas—hikmat yang murni, pendamai, lembut, penuh belas kasihan, dan tulus. Bentuklah hati kami agar percaya penuh kepada pemeliharaan-Mu, sehingga kami tidak hidup dalam iri hati dan ambisi egois. Kiranya hidup kami, perkataan kami, dan sikap kami memuliakan nama-Mu dan menjadi berkat bagi sesama.
Di dalam nama Yesus Kristus, Sang Hikmat sejati, kami berdoa.
Amin.
“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” Roma 15:1

Di dunia ini, kekejaman manusia bukanlah hal baru. Sejak halaman-halaman awal Kitab Kejadian, Alkitab tidak menutupi kenyataan pahit ini. Kain membunuh Habel, bukan karena Habel berbuat jahat, tetapi justru karena persembahannya berkenan kepada Allah. Saudara-saudara Yusuf merencanakan pembunuhan terhadap adiknya sendiri, bukan karena Yusuf mengancam mereka, melainkan karena iri hati dan rasa tersaingi. Sejarah dosa manusia dimulai dengan satu pola yang berulang: yang merasa lebih kuat cenderung menindas yang lebih lemah.
Pola ini tidak hanya terjadi dalam kisah-kisah besar Alkitab. Ia hidup dalam keseharian kita. Dalam keluarga, di tempat kerja, di gereja, bahkan dalam relasi sosial yang tampaknya sopan dan beradab. Ketika seseorang memiliki posisi, kuasa, pengetahuan, suara, atau dukungan lebih besar, godaan untuk mengabaikan, meremehkan, atau menekan yang lemah menjadi sangat nyata. Kadang dilakukan dengan kasar dan terang-terangan. Kadang dilakukan dengan halus, rapi, dan “masuk akal”. Namun hakikatnya sama: yang kuat merasa berhak.
Rasul Paulus menulis dengan sangat jelas dalam ayat di aas
“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat..”
Perhatikan baik-baik: Paulus tidak berkata “jika mau” atau “jika merasa iba”, melainkan wajib. Kekuatan—baik fisik, mental, ekonomi, rohani, maupun sosial—bukanlah lisensi untuk berbuat sesuka hati, melainkan tanggung jawab untuk memikul beban orang lain, terutama yang lebih lemah.
Dunia mengajarkan sebaliknya. Dalam dunia politik dan ekonomi, dunia berkata: “Yang kuat bertahan, yang lemah tersingkir.” Namun firman Tuhan membalikkan logika itu. Dalam Kerajaan Allah, kekuatan sejati diukur dari kesediaan untuk menahan diri, berkorban, dan merendahkan hati. Bukan untuk menguasai, tetapi untuk melayani.
Amsal 14:31 berkata dengan sangat tajam:
“Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
Ayat ini membawa kita pada realitas yang serius: sikap kita terhadap yang lemah bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan persoalan teologis. Menindas yang lemah sama artinya dengan menghina Allah sendiri, sebab Allah adalah Pencipta mereka. Sebaliknya, berbelas kasihan kepada yang lemah adalah tindakan ibadah—cara konkret memuliakan Tuhan.
Yesus sendiri hidup dalam kerangka ini. Ia mendekati orang-orang yang dianggap tidak berarti: pemungut cukai, orang sakit, perempuan yang disingkirkan, dan anak-anak kecil. Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk mengamankan diri, melainkan untuk memulihkan yang rapuh. Bahkan dalam penderitaan-Nya di kayu salib, Ia mengambil posisi paling lemah di hadapan dunia—namun justru di sanalah kuasa Allah dinyatakan.
Rasul Paulus menangkap semangat Kristus itu ketika ia berkata:
“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku memenangkan orang-orang yang lemah.” 1 Korintus 9:22
Ini bukan kepura-puraan, melainkan kasih yang rela menurunkan diri. Paulus tidak berkata bahwa ia memanfaatkan kelemahan orang lain, tetapi ia memilih untuk berdiri bersama mereka.
Renungan ini mengajak kita untuk bercermin. Dalam relasi apa kita merasa “lebih kuat”? Dalam hal apa kita memiliki keunggulan yang bisa dengan mudah melukai orang lain—lewat kata-kata, keputusan, atau sikap acuh tak acuh? Dan sebaliknya, apakah kekuatan itu sudah kita pakai untuk menanggung, menghibur, dan melindungi?
Kasih kepada yang lemah bukanlah tanda kelemahan iman, melainkan buah dari hati yang telah disentuh oleh anugerah. Kita sendiri pernah lemah, tak berdaya, dan berdosa—namun Allah tidak menindas kita. Ia mengasihani, memanggul beban kita, dan menebus kita melalui Kristus. Maka, bagaimana mungkin kita yang telah menerima belas kasihan, hidup tanpa belas kasihan?
Doa Penutup
Tuhan yang penuh belas kasihan, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih senang merasa kuat daripada setia mengasihi.
Ampuni kami bila kami, sadar atau tidak, pernah meremehkan, mengabaikan, atau menindas mereka yang Engkau kasihi.
Ajarlah kami menggunakan kekuatan sebagai sarana untuk melayani, bukan menguasai.
Lunakkan hati kami agar peka terhadap yang lemah, yang terluka, dan yang terpinggirkan.
Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus, yang rela merendahkan diri demi keselamatan kami.
Kiranya hidup kami memuliakan Engkau, bukan hanya lewat kata, tetapi lewat kasih yang nyata.
Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di rumah TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” (Mzm. 92:13–15)

Di Indonesia, klasifikasi lansia umumnya mengikuti pedoman Kementerian Kesehatan dan WHO, membaginya menjadi Pra-Lanjut Usia (60-69 tahun), Lanjut Usia (70-79 tahun), dan Lanjut Usia Akhir (80+ tahun), dengan fokus pada kebutuhan kesehatan dan potensi yang berbeda pada setiap tahap, dari lansia muda yang masih aktif hingga lansia sangat tua yang lebih rentan.
Berbeda dengan klasifikasi di atas, Kemenkes mengeluarkan klasifikasi berdasarkan potensi kerja.
Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa sebutan “Lansia Tidak Potensial” itu kurang nyaman karena adanya anggapan bahwa setelah mencapai usia lanjut, sebagian orang menjadi “tidak berguna”. Sebutan sedemikian mungkin akan ditolak oleh masyarakat yang mempunyai banyak tenaga kerja berusia lanjut.
Apakah hidup sebagai lansia adalah hidup yang tidak berpotensial untuk menghasilkan apa yang baik? Apakah mereka hanya bisa bergantung pada orang lain? Belum tentu. Tapi memang itu bisa terjadi karena pilihan yang bersangkutan.
Mazmur 92 menyampaikan gambaran yang indah sekaligus menantang tentang usia lanjut. Mazmur ini adalah nyanyian yang lahir dari sudut pandang iman yang matang. Bukan iman yang berisik, bukan pula iman yang tergesa-gesa, melainkan iman yang telah diuji oleh waktu.
Ayat ini menolak dua sikap yang sering diam-diam menyelinap ke dalam kehidupan orang percaya di usia lanjut: kepasrahan kosong (que sera, sera) dan cukup seperti sekarang (status quo). Firman Tuhan tidak memberi ruang bagi keduanya.
Pemazmur tidak berkata, “Orang benar akan bertahan sampai akhir.” Ia berkata, “akan bertunas… akan berbuah… akan memberitakan.” Kata-kata ini penuh gerak. Ada kehidupan, ada pertumbuhan, ada tujuan. Masa tua tidak digambarkan sebagai masa menunggu, tetapi sebagai masa memberi kesaksian.
Gambaran pohon korma dan pohon aras sangat bermakna. Keduanya bukan tanaman rapuh. Pohon korma tumbuh di padang kering, berakar dalam, dan menghasilkan buah yang manis. Pohon aras dikenal karena kekokohannya dan daya tahannya terhadap waktu. Pesannya jelas: orang benar tidak ditentukan oleh keadaan luar, tetapi oleh tempat ia ditanam.
“Ditaman di rumah TUHAN”—inilah kuncinya. Bukan sekadar rajin beribadah, melainkan hidup yang berakar pada Tuhan. Akar itu tidak selalu terlihat, tetapi justru di sanalah kekuatan sejati berada. Dan akar yang dalam itulah yang memungkinkan seseorang tetap berbuah, bahkan ketika tenaga berkurang dan dunia mulai terasa asing.
Ayat 15 menyebut sesuatu yang mengejutkan: “pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.” Ini bukan janji bahwa masa tua akan selalu nyaman, melainkan janji bahwa hidup yang ditopang oleh Tuhan tidak akan menjadi sia-sia. Buah di masa tua mungkin bukan lagi prestasi, jabatan, atau pencapaian publik. Buah itu bisa berupa hikmat yang tenang, doa yang setia, kesabaran dalam penderitaan, atau iman yang tidak pahit menghadapi keterbatasan.
Di sinilah sikap que sera, sera menjadi berbahaya. Kepasrahan yang tidak bertanggung jawab sering dibungkus dengan bahasa rohani, tetapi sejatinya menolak panggilan untuk tetap hidup dengan kesungguhan. Iman Alkitab bukan fatalisme. Tuhan berdaulat, ya—tetapi kedaulatan-Nya justru mendorong umat-Nya untuk hidup setia, bukan pasif.
Pengakuan Westminster menyatakan bahwa mereka yang telah dipanggil secara effektif dan dilahirbarukan, memiliki hati yang baru dan roh yang baru, yang diciptakan di dalam diri mereka, selanjutnya mereka dikuduskan secara riil dan pribadi, melalui manfaat kematian dan kebangkitan Kristus, oleh Firman dan Roh-Nya yang tinggal di dalam diri mereka. Kuasa dosa atas segenap tubuh dihancurkan dan berbagai hawa nafsu semakin diperlemah dan dimatikan, dan mereka yang dipanggil ini semakin hari makin dihidupkan dan diperkuat di dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, untuk melakukan kekudusan yang sejati.
Pada pihak yang lain, merasa “cukup” secara rohani bisa menjadi awal kemunduran. Mazmur 92 tidak memuliakan kenyamanan dalam kepasifan, tetapi kesetiaan yang terus berbuah. Bahkan di usia lanjut, Tuhan masih membentuk umat-Nya—menjadi lebih baik bukan saja untuk diri sendiri, tetapi terutama untuk menjadi saksi bagi generasi berikutnya.
Tujuan akhir dari semua ini ditegaskan pemazmur: “untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar.” Inilah buah terbesar di masa tua. Hidup yang dijalani dengan iman, bukan kepahitan. Hidup yang mungkin melemah secara jasmani, tetapi semakin jernih secara rohani. Hidup yang tidak hanya untuk menikmati hari tua, tetapi tetap berkarya dalam iman. Hidup yang berkata, tanpa banyak kata, bahwa Tuhan setia dari awal sampai akhir.
Masa tua, dengan segala keterbatasannya, justru menjadi panggung terakhir di mana kebenaran Tuhan dinyatakan. Bukan dengan suara keras, tetapi dengan kehidupan yang berakar, bertumbuh, dan berbuah sampai akhir.
Doa Penutup
Tuhan yang setia, kami bersyukur karena Engkau tidak pernah berhenti bekerja dalam hidup kami, bahkan ketika usia bertambah dan kekuatan berkurang. Tanamkanlah kami semakin dalam di dalam Engkau, agar hidup kami tidak kering oleh ketakutan atau mandek oleh kenyamanan.
Ajarlah kami menolak kepasrahan yang kosong dan iman yang malas. Berikan kami hati yang tetap rindu bertumbuh, jiwa yang tetap segar oleh firman-Mu, dan hidup yang tetap berbuah bagi kemuliaan-Mu.
Kiranya di masa tua kami, hidup kami menjadi kesaksian yang sederhana namun jujur, bahwa Engkau adalah Gunung Batu kami, setia dan benar, dari awal sampai akhir.
Di dalam nama Tuhan kami, Yesus Kristus. Amin.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9

Ada satu kesamaan antara orang lanjut usia dan keluarga muda: keduanya sama-sama memikirkan masa depan, hanya dari arah yang berbeda. Yang satu melihat ke belakang sambil bertanya, “Ke mana arah dunia ini?” Yang lain memandang ke depan sambil cemas, “Dunia seperti apa yang akan diwarisi anak-anak kami?” Di tengah pertanyaan itu, kekuatiran mudah tumbuh—terutama ketika dunia tampak semakin rapuh.
Berita tentang politik yang saling menjatuhkan, ekonomi yang tak menentu, perang yang tak kunjung usai, serta penyakit yang datang tanpa peringatan membuat banyak orang merasa kehilangan pijakan. Bagi sebagian lansia, semua ini menimbulkan rasa lelah dan kecewa: “Dulu dunia tidak seperti ini.” Bagi keluarga muda, muncul rasa takut: “Bagaimana masa depan kami nanti?”
Di tengah kegelisahan itu, Tuhan berbicara melalui firman-Nya:
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.”
Firman ini tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak peduli pada kekuatiran kita. Sebaliknya, Tuhan sedang mengundang kita untuk meletakkan kekuatiran itu di tempat yang benar. Ia mengingatkan bahwa hidup ini tidak pernah dimaksudkan untuk ditopang oleh kemampuan manusia untuk memahami segalanya, melainkan oleh kepercayaan kepada Allah yang berdaulat.
Sebagai manusia, kita terbiasa menilai segala sesuatu dari apa yang terlihat. Ketika keadaan memburuk, kita segera menyimpulkan bahwa segalanya akan berakhir buruk. Kita lupa bahwa keterbatasan pandangan kita bukan tanda kelemahan iman, melainkan kenyataan sebagai makhluk ciptaan. Justru karena kita terbatas, kita membutuhkan Tuhan yang tidak terbatas.
Yesaya berkata bahwa jalan Tuhan setinggi langit dari bumi. Artinya, bukan hanya lebih kuat, tetapi lebih bijaksana, lebih menyeluruh, dan lebih penuh tujuan. Tuhan tidak bereaksi terhadap peristiwa dunia seperti manusia. Ia tidak panik, tidak terburu-buru, dan tidak kehilangan kendali. Bahkan di tengah kekacauan, kehendak-Nya tetap berjalan dengan pasti.
Bagi lansia, firman ini menghibur dengan cara yang dalam. Hidup yang telah dijalani puluhan tahun mungkin penuh liku—ada doa yang terjawab, ada yang tidak; ada harapan yang terwujud, ada yang pupus. Namun ketika menoleh ke belakang, kita sering baru menyadari: Tuhan setia memimpin, bahkan saat kita tidak memahami arah-Nya. Apa yang dulu terasa membingungkan, kini sering terlihat sebagai bagian dari pemeliharaan-Nya.
Bagi keluarga muda, firman ini menjadi penopang yang kokoh. Anak-anak kita bertumbuh di dunia yang berbeda dari dunia masa kecil kita. Kita tidak bisa menjamin masa depan mereka bebas dari penderitaan. Tetapi kita bisa mempercayakan mereka kepada Tuhan yang jalannya lebih tinggi dari kecemasan orang tua mana pun. Keselamatan dan pemeliharaan mereka tidak bergantung sepenuhnya pada kecakapan kita, melainkan pada kesetiaan Tuhan.
Iman Kristen tidak menjanjikan hidup tanpa badai. Namun iman mengajarkan bahwa tidak ada badai yang berada di luar kendali Allah. Kekuatiran sering muncul ketika kita lupa bahwa Tuhan bukan hanya hadir, tetapi juga berdaulat. Ia bukan sekadar menemani kita di tengah kekacauan; Ia memimpin sejarah menuju tujuan-Nya yang mulia.
Dalam dunia yang terus berubah, firman Tuhan tetap sama. Jalan-Nya tidak pernah melenceng. Rancangan-Nya tidak pernah gagal. Dan umat-Nya—baik yang telah berjalan panjang maupun yang baru memulai—dipelihara oleh kasih karunia yang sama.
Karena itu, mengatasi kekuatiran bukan berarti kita harus bisa memahami rencana Tuhan secara utuh. Mengatasi kekuatiran berarti belajar berkata dengan rendah hati: “Tuhan, aku tidak mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.” Inilah iman yang dewasa—iman yang bersandar pada siapa Tuhan itu, bukan pada kemampuan kita membaca masa depan. Iman yang mencari dan berseru kepada Tuhan sepanjang hidup di dunia.
“Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Yesaya 55:6o
Doa Penutup
Tuhan yang berdaulat dan penuh kasih,
Kami datang kepada-Mu dengan hati yang sering gelisah melihat keadaan dunia ini. Kami mengakui bahwa kami mudah takut ketika masa depan tampak tidak pasti—baik kami yang telah lanjut usia, maupun kami yang sedang membesarkan anak-anak.
Terima kasih karena Engkau mengingatkan kami bahwa jalan-Mu lebih tinggi dari jalan kami. Ajarlah kami untuk berserah, bukan karena kami menyerah, tetapi karena kami percaya kepada-Mu. Tenangkan hati kami, kuatkan iman kami, dan tuntun langkah kami hari demi hari.
Kami menyerahkan hidup kami, keluarga kami, dan generasi yang akan datang ke dalam tangan-Mu. Biarlah kami hidup setia dalam panggilan kami, sambil percaya bahwa segala sesuatu ada di bawah kedaulatan-Mu yang sempurna.
Di dalam nama Tuhan yang setia memegang sejarah dan hidup kami, kami berdoa. Amin.
“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12:10

Dunia modern memuja kekuatan, fisik maupun mental. Kita diajar sejak kecil untuk menjadi mandiri, tangguh, tidak bergantung pada siapa pun. Kelemahan sering dipandang sebagai kegagalan, aib, atau tanda bahwa seorang Kristen kurang iman. Namun Rasul Paulus justru menabrak logika ini. Ia dengan berani menyatakan sebuah paradoks rohani yang radikal: “Jika aku lemah, maka aku kuat.”
Paulus bukanlah orang yang asing terhadap penderitaan batin. Catatan Alkitab dan surat-suratnya menunjukkan bahwa ia mengalami tekanan psikologis yang nyata—kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, dan beban pelayanan yang berat. Dalam 2 Korintus, ia mengaku pernah “tertekan berat, bahkan putus asa akan hidup” (2 Korintus 1:8). Ia dipenjara, dianiaya, difitnah, disalahpahami, dan hidup dalam ketidakpastian. Namun yang mengherankan, semua itu tidak menghancurkan imannya—justru memperdalamnya.
Paulus tidak menyangkal penderitaan, dan ia juga tidak menganggapnya sebagai ilusi rohani. Ia merasakannya sepenuhnya. Tetapi responsnya bukanlah keputusasaan, melainkan ketergantungan yang semakin dalam kepada Tuhan.
Ketika ia memohon agar “duri dalam daging” itu diambil, Tuhan tidak menghilangkannya. Sebaliknya, Tuhan berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:7-9). Di titik inilah perspektif Paulus berubah. Kelemahan manusia bukan lagi musuh iman, melainkan tempat bekerja bagi kuasa Allah.
Kita sering berpikir bahwa Tuhan bekerja paling efektif melalui orang-orang yang kuat, percaya diri, dan berhasil. Tetapi Alkitab berkali-kali menunjukkan pola yang berbeda. Tuhan justru menyatakan kemuliaan-Nya melalui bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan itu berasal dari Allah dan bukan dari kita.
Kelemahan manusia membuka ruang bagi kekuatan ilahi. Ketika kita tidak lagi mengandalkan diri sendiri, di situlah iman bekerja dengan murni.
Surat Paulus kepada jemaat Filipi juga memperlihatkan hal ini dengan jelas. Ditulis dari penjara, dalam kondisi yang secara manusiawi penuh tekanan, Paulus justru berbicara tentang damai sejahtera dan sukacita. Ia menasihati jemaat untuk membawa segala kekhawatiran kepada Tuhan dalam doa dan ucapan syukur, dengan janji bahwa damai sejahtera Allah yang melampaui akal akan memelihara hati dan pikiran mereka. Damai itu bukan hasil situasi yang membaik, melainkan hasil kehadiran Allah yang setia.
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13
Inilah pesan penting bagi kita hari ini. Ketika kita menghadapi kelemahan—baik fisik, emosional, rohani, maupun situasional—kita sering merasa gagal sebagai orang percaya. Padahal, justru di situlah kita diundang untuk mengalami Tuhan secara lebih dalam.
Kelemahan mematahkan ilusi kemandirian dan membawa kita kembali kepada sumber hidup yang sejati.
Merangkul penderitaan bukan berarti mencintai rasa sakit atau menolak pertolongan. Paulus sendiri berdoa, menangis, dan mencari penghiburan. Namun ia menolak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk menjauh dari Tuhan. Ia melihatnya sebagai sarana pembentukan, tempat kasih karunia Allah bekerja dengan paling nyata. Dalam penderitaan, iman diuji; dalam kelemahan, pengharapan dimurnikan.
Bagi orang percaya, kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menguasai keadaan, melainkan keberanian untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan di tengah keadaan yang tidak terkendali. Kita kuat bukan karena kita sanggup, tetapi karena Tuhan setia. Kita teguh bukan karena iman kita besar, tetapi karena objek iman kita—Kristus—tidak pernah berubah.
Kiranya kita belajar, seperti Paulus, untuk berkata dengan rendah hati dan iman: “Aku rela dalam kelemahanku, sebab di sanalah kuasa Tuhan nyata.”
Doaw Penutup
Tuhan yang penuh kasih dan setia, Kami datang kepada-Mu dengan segala kelemahan kami—yang sering kami sembunyikan, kami sangkali, atau kami sesali. Ajarlah kami melihat kelemahan bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai undangan untuk bergantung sepenuhnya kepada-Mu.
Ketika kami lelah, takut, dan merasa tidak sanggup, ingatkan kami bahwa kasih karunia-Mu selalu cukup. Nyatakanlah kuasa-Mu dalam hidup kami, bukan supaya kami dibanggakan, tetapi supaya nama-Mu dimuliakan. Kuatkan iman kami untuk tetap berharap, bahkan ketika jalan terasa gelap.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.
Amin.
“Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”Markus 4:38-39

Semua orang pernah merasa takut. Rasa takut adalah bagian dari kemanusiaan kita. Takut akan bahaya, kehilangan, penyakit, masa depan, atau ketidakpastian adalah respons yang wajar. Bahkan murid-murid Yesus—orang-orang yang telah berjalan bersama-Nya, melihat mujizat-Nya, dan mendengar pengajaran-Nya—tidak kebal terhadap rasa takut. Namun, apa yang terjadi di perahu itu bukan sekadar takut. Mereka panik.
Panik adalah bentuk ekstrem dari rasa takut. Ia datang mendadak, meluap, dan sering kali melumpuhkan. Dalam kepanikan, akal sehat melemah, tubuh bereaksi keras, dan hati kehilangan pijakan. Detak jantung meningkat, napas terasa sesak, keringat dingin mengalir, dan pikiran dipenuhi oleh satu kesimpulan: kita akan binasa.
Perhatikan kata-kata murid-murid itu:
“Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”
Ini bukan hanya seruan minta tolong. Ini adalah tuduhan yang lahir dari kepanikan. Dalam kondisi panik, mereka tidak sekadar takut pada badai—mereka mulai meragukan karakter Yesus. Kepanikan membuat mereka lupa siapa yang ada di perahu bersama mereka.
Yesus sedang tidur. Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena Ia berdaulat. Tidur-Nya bukan tanda ketidakhadiran, melainkan ketenangan ilahi di tengah kekacauan. Badai tidak mengejutkan-Nya, ombak tidak mengancam-Nya, dan situasi tidak pernah berada di luar kendali-Nya.
Sering kali, kepanikan kita muncul bukan karena Tuhan tidak hadir, tetapi karena kita kehilangan fokus pada kehadiran-Nya.
Yesus bangun, menghardik angin, dan menenangkan danau. Lalu Ia menegur murid-murid-Nya dengan dua pertanyaan yang sangat menusuk:
“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
Yesus tidak menegur mereka karena takut—tetapi karena takut yang berkembang menjadi ketidakpercayaan. Ada perbedaan besar antara takut yang membawa kita kepada Tuhan dan panik yang menjauhkan kita dari Tuhan. Takut bisa menjadi alarm yang mendorong kita berdoa. Panik, sebaliknya, sering membuat kita bertindak seolah-olah Tuhan tidak ada atau tidak peduli.
Di sinilah peran iman menjadi sangat penting.
Pertama, iman mengubah fokus. Iman tidak selalu menghilangkan badai, tetapi iman mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang berdaulat atas badai. Dalam kepanikan, fokus kita menyempit pada ancaman. Dalam iman, fokus kita diperluas kepada Pribadi yang memegang kendali. Iman mengingatkan kita bahwa keadaan tidak menentukan kebenaran; Tuhanlah yang menentukan.
Kedua, iman menjadi perisai. Iman bukan sekadar perasaan tenang, melainkan kepercayaan yang berakar pada siapa Tuhan itu—setia, berdaulat, dan baik. Iman melindungi hati kita dari kesimpulan tergesa-gesa yang lahir dari panik. Dengan iman, kita dapat berkata: bahaya ini nyata, tetapi Tuhan tetap memerintah.
Yesus tidak berkata, “Mengapa perahu tak terkendali?”
Ia bertanya, “Mengapa kamu tidak percaya?”
Pertanyaan itu masih relevan hari ini. Ketika hidup terasa seperti perahu kecil di tengah badai besar—krisis kesehatan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau kecemasan akan masa depan—kita dipanggil bukan untuk menyangkal bahaya, tetapi untuk tidak melupakan Tuhan di tengah kepanikan.
Badai mungkin tidak langsung reda. Yesus mungkin tampak “diam”. Tetapi kehadiran-Nya tidak pernah absen, dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang. Iman mengajar kita untuk bersandar, bukan mengendalikan; mempercayai, bukan menuduh; berharap, bukan panik.
Kiranya kita belajar berkata dalam hati yang gelisah:
Tuhan ada di perahu ini. Aku tidak sendirian.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahakuasa, kami mengakui bahwa kami mudah takut dan sering kali panik. Dalam badai hidup, kami kerap lupa siapa Engkau dan meragukan kepedulian-Mu. Ampunilah kami.
Ajarlah kami untuk percaya, bukan hanya saat danau teduh, tetapi juga ketika angin bertiup kencang. Tenangkan hati kami, arahkan fokus kami kepada-Mu, dan jadikan iman kami perisai di tengah ketakutan.
Kami menyerahkan setiap kecemasan, kepanikan, dan ketidakpastian ke dalam tangan-Mu. Engkaulah Tuhan yang berdaulat, setia, dan tidak pernah meninggalkan umat-Mu.
Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan atas segala badai, kami berdoa.
Amin.