“Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
— Ratapan 3:22-23

Ayat ini sangat dikenal oleh banyak orang Kristen. Di berbagai gereja, kita sering menyanyikannya dalam bentuk pujian yang mengingatkan hati akan kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah. Himne klasik “Besar Setia-Mu” menggemakan kebenaran ini dengan indah: “Saban pagi nampak rahmat baru.” Demikian juga berbagai lagu rohani Indonesia yang mengutip langsung kata-kata dari Ratapan 3:22-23.
Menariknya, ayat yang penuh pengharapan ini lahir dari sebuah kitab yang berisi ratapan. Nabi Yeremia menulis Ratapan di tengah kehancuran Yerusalem. Kota yang dicintainya porak-poranda, bangsa yang dikasihinya mengalami penderitaan besar, dan masa depan tampak suram. Namun justru di tengah kesedihan itu, ia menemukan satu kebenaran yang tidak berubah: kasih setia Tuhan tidak pernah berakhir.
Yeremia tidak berkata bahwa hidupnya baik-baik saja. Ia tidak mengatakan bahwa semua masalah telah selesai. Sebaliknya, ia memilih memandang melampaui kesulitan yang sedang dihadapinya dan mengingat siapa Allah yang ia sembah. Di balik awan gelap penderitaan, kesetiaan Tuhan tetap bersinar.
Itulah sebabnya ayat ini begitu menghiburkan. Setiap pagi yang Tuhan berikan adalah bukti bahwa rahmat-Nya masih bekerja dalam hidup kita. Nafas yang masih kita hirup, kesehatan yang masih kita nikmati, keluarga yang mengasihi kita, makanan yang tersedia, dan kesempatan untuk melayani-Nya adalah anugerah yang tidak kita peroleh karena jasa kita sendiri.
Namun ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan: apa yang kita lakukan sesudah bangun tidur?
Banyak orang langsung meraih telepon genggam mereka. Sebelum kaki menyentuh lantai, pikiran sudah dipenuhi berita, media sosial, pesan-pesan, atau berbagai kekhawatiran tentang pekerjaan dan urusan sehari-hari. Tidak jarang hati menjadi gelisah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Sebaliknya, firman Tuhan mengajak kita memulai hari dengan kesadaran akan rahmat-Nya yang baru. Sebelum memikirkan segala tuntutan hidup, ada baiknya kita mengingat bahwa kita masih hidup karena anugerah Tuhan. Hari yang baru bukan sekadar tambahan waktu, melainkan pemberian dari Allah yang penuh kasih.
Sikap bersyukur setiap pagi memiliki kuasa yang besar. Bersyukur mengubah cara kita memandang kehidupan. Orang yang memulai hari dengan keluhan akan melihat banyak alasan untuk mengeluh sepanjang hari. Tetapi orang yang memulai hari dengan ucapan syukur akan lebih peka melihat kebaikan Tuhan dalam berbagai keadaan.
Bersyukur juga memberi kekuatan baru. Ketika kita mengingat bahwa Tuhan setia pada masa lalu, kita memperoleh keyakinan bahwa Dia akan tetap setia hari ini. Jika Tuhan telah memelihara kita sampai saat ini, Dia juga akan menolong kita menghadapi apa pun yang ada di depan.
Karena itu, ketika Anda membuka mata esok pagi, jangan terburu-buru memenuhi pikiran dengan berbagai urusan dunia. Luangkan beberapa saat untuk memandang kepada Tuhan. Ucapkan syukur atas hidup yang masih diberikan-Nya. Renungkan kasih setia-Nya yang tidak pernah berkesudahan. Ingatlah bahwa rahmat-Nya tidak pernah usang; rahmat itu selalu baru setiap pagi.
Mungkin keadaan hidup Anda belum terasa baik. Mungkin masih ada pergumulan, penyakit, kehilangan, atau kekhawatiran yang belum terselesaikan. Namun sama seperti Yeremia menemukan pengharapan di tengah ratapan, kita pun dapat menemukan kekuatan baru dalam kesetiaan Tuhan.
Ada satu pemikiran yang juga perlu untuk direnungkan. Mungkin ucapan pertama yang keluar dari bibir kita ketika suatu hari nanti berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka adalah ucapan syukur. Pada saat itu kita akan melihat dengan jelas bagaimana kasih setia-Nya telah menyertai setiap langkah hidup kita.
Kita akan memahami bahwa di balik setiap sukacita dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan, kesehatan dan kelemahan, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Semua rahmat yang dahulu kita lihat hanya sebagian demi sebagian akan tampak dalam kepenuhannya.
Setiap pagi adalah undangan dari Allah untuk memulai kembali bersama-Nya. Dan selama kasih setia-Nya tetap ada—dan memang tidak akan pernah berakhir—kita selalu memiliki alasan untuk berharap dan bersyukur.
Karena itu, jika kelak ucapan syukur akan memenuhi hati kita di hadapan takhta-Nya, bukankah sudah sepatutnya kita mulai mengucapkannya setiap pagi selama kita masih menjalani hidup di dunia ini?
Doa Penutup
Bapa yang setia, terima kasih karena kasih setia-Mu tidak pernah berkesudahan dan rahmat-Mu selalu baru setiap pagi. Ajarlah kami memulai setiap hari dengan hati yang bersyukur dan penuh pengharapan kepada-Mu. Tolong kami untuk selalu mengingat kesetiaan-Mu dalam segala keadaan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.