“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
— Kolose 3:1-2

Melamun adalah bagian normal dari kehidupan manusia. Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Saat duduk sendirian, menunggu di ruang tunggu, berjalan kaki, atau bahkan ketika sedang bekerja, pikiran kita dapat mengembara ke berbagai arah. Para ahli psikologi menjelaskan bahwa otak memang dirancang untuk sesekali mengalihkan fokus dari dunia luar kepada dunia batin. Dalam banyak kasus, melamun membantu seseorang memproses pengalaman, merencanakan masa depan, atau melepaskan diri sejenak dari tekanan hidup.
Usia sangat memengaruhi frekuensi melamun seseorang. Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa intensitas dan kecenderungan pikiran untuk mengambang (mind-wandering) akan mengalami perubahan yang signifikan seiring bertambahnya umur manusia. Secara umum, frekuensi melamun semakin menurun seiring bertambahnya usia.
Anak muda sering melamun karena pikirannya tidak fokus atau terdistraksi dari apa yang sedang dikerjakan (misalnya melamun saat belajar).Orang tua mungkin senang bernostalgia secara sadar dan sengaja. Mereka memilih untuk mengingat kembali kenangan masa lalu untuk menikmati memori tersebut.
Melamun pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Alkitab tidak pernah menyebut bahwa setiap lamunan adalah dosa. Namun, seperti banyak hal lainnya dalam hidup, yang penting bukan sering atau tidaknya kita melamun, tetapi apa yang kita lamunkan.
Sering kali isi lamunan kita mencerminkan apa yang paling memenuhi hati kita. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan kekayaan, mungkin hatinya sedang melekat pada uang. Ketika seseorang selalu membayangkan pujian dan pengakuan dari orang lain, mungkin ia sedang haus akan penghargaan manusia. Ada pula yang berulang kali memikirkan kekecewaan, kemarahan, atau balas dendam. Lamunan seperti ini perlahan dapat membentuk sikap dan perilaku, dan bahkan bisa memengaruhi kesehatan tubuh dan pikiran seseorang.
Paulus menulis surat kepada jemaat Kolose untuk mengingatkan mereka bahwa kehidupan baru dalam Kristus harus menghasilkan pola pikir yang baru. Mereka telah dibangkitkan bersama Kristus, sehingga perhatian mereka tidak lagi berpusat pada nilai-nilai dunia yang berdosa. Mereka dipanggil untuk mencari dan memikirkan “perkara yang di atas,” yaitu hal-hal yang berkenan kepada Allah.
Ini bukan berarti orang Kristen harus mengabaikan pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau tanggung jawab sehari-hari. Paulus sendiri adalah seorang yang sangat praktis. Yang ia maksud adalah agar segala sesuatu dalam hidup dilihat dari perspektif Kerajaan Allah. Pikiran kita perlu dipenuhi oleh apa yang benar, murni, adil, penuh kasih, dan memuliakan Tuhan.
Menariknya, banyak penyebab melamun justru muncul ketika kita sedang bosan, lelah, cemas, atau tertekan. Pada saat-saat seperti itulah isi hati kita sering terlihat dengan jelas. Ketika menghadapi kecemasan, apakah pikiran kita dipenuhi ketakutan atau janji-janji Tuhan? Ketika menghadapi kesulitan, apakah lamunan kita dipenuhi kepahitan atau pengharapan? Ketika sedang sendiri, apakah pikiran kita tertuju kepada hal-hal yang membangun iman atau justru kepada hal-hal yang menjauhkan kita dari Tuhan?
Yakobus membedakan antara hikmat yang berasal dari dunia dan hikmat yang datang dari atas. Hikmat dunia menghasilkan iri hati, ambisi egois, dan kekacauan. Sebaliknya, hikmat dari atas menghasilkan kemurnian, damai sejahtera, kelemahlembutan, belas kasihan, dan ketulusan. Karena itu, pertanyaan yang penting bagi kita bukanlah seberapa sering kita melamun, melainkan ke mana lamunan kita membawa hati kita.
Ketika pikiran kita mulai mengembara, kita dapat menjadikannya kesempatan untuk mengarahkan kembali hati kepada Tuhan. Kita dapat mengingat firman-Nya, bersyukur atas kebaikan-Nya, mendoakan orang lain, atau merenungkan karya Kristus dalam hidup kita. Sedikit demi sedikit, Roh Kudus membentuk pola pikir yang semakin serupa dengan Kristus.
Hari ini, cobalah memperhatikan isi lamunan Anda. Apa yang paling sering memenuhi pikiran ketika tidak ada tuntutan yang mendesak? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin mengungkapkan apa yang sedang menempati takhta hati Anda. Dan jika Kristus adalah Tuhan atas hidup kita, maka semakin hari pikiran kita seharusnya semakin tertuju kepada perkara-perkara yang di atas.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, penuhi pikiran dan hati kami dengan perkara-perkara yang berkenan kepada-Mu. Saat pikiran kami mengembara, arahkanlah kami untuk mengingat kasih, kebenaran, dan janji-Mu. Bentuklah kami agar semakin memiliki pikiran Kristus dan hidup yang memuliakan nama-Mu. Amin.