Pemimpin yang baik itu perlu

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.“ 1 Petrus 5: 3

Hari ini media memberitakan bahwa Premier (gubernur) dari negara bagian Victoria di Australia naik darah setelah memperoleh kabar bahwa negara bagian yang lain rupanya sudah menerima perhatian istimewa dari pemerintah pusat dalam hal jumlah vaksin Covid-19. Karena itu, Premier Victoria merasa rakyatnya dianaktirikan karena tidak dapat memperoleh vaksin yang cukup di saat jumlah kasus positif makin meningkat. Terlepas dari pro dan kontra mengenai sikap Premier terhadap pemerintah pusat itu, seorang pemimpin memang diharapkan untuk mau membela rakyatnya.

Leaders are born not made. Seorang pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibuat, begitu ungkapan yang sering dikumandangkan. Memang ada benarnya bahwa seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang kelihatannya sudah sejak dari kecil tumbuh dengan bakat memimpin orang lain. Walaupun demikian, sebagian ahli jiwa berpendapat bahwa seorang pemimpin adalah dibuat dan bukannya dilahirkan. Hanya melalui pendidikan dan latihan, seorang bisa menjadi pemimpin yang baik. Leaders are made not born.

Mana yang benar? Apakah pemimpin itu dilahirkan sebagai pemimpin atau belajar menjadi pemimpin? Tentu saja mereka yang bisa menjadi pemimpin yang baik adalah orang yang berbakat dari lahir dan memperoleh didikan, latihan dan pengalaman yang cukup. Tidak ada orang yang bisa menjadi pemimpin dunia tanpa menerima gemblengan yang cukup untuk dapat menghadapi berbagai masalah dan tantangan demi kesejahteraan orang yang dipimpin. Selain itu, seorang pemimpin harus bisa memberi contoh yang baik bagi pengikutnya.

Bagi orang Kristen, satu-satunya pemimpin yang dilahirkan dan tidak dibuat adalah Yesus Kristus yang sebagai Allah sudah turun ke dunia sebagai manusia. Ialah pemimpin terbesar, Raja di atas segala raja yang harus dimuliakan. Semua pemimpin lain yang ada di dunia adalah manusia biasa yang bercacat-cela dan yang tidak perlu disembah.

“Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Kisah Para Rasul 5: 31

Jika Yesus adalah Pemimpin manusia yang terbaik, bagaimana orang Kristen bisa menjadi pemimpin yang baik? Dengan mencontoh Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 5 – 7). Ia menjadi pemimpin terbesar karena mau mengurbankan diri-Nya.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Dengan demikian, pemimpin Kristen yang baik adalah orang yang mau berkurban seperti Yesus, dan bukannya orang yang menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya bisa memerintah dan menyuruh orang lain. Pemimpin yang baik juga harus mau bekerja keras untuk bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Ia harus mempunyai kasih dan kesabaran serta bisa menghargai seluruh bawahannya. Pemimpin yang baik selalu berusaha untuk mendidik pengikutnya agar mereka bisa menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari.

Hari ini kita belajar bahwa setiap orang Kristen yang mendapat kesempatan untuk memimpin orang lain, baik dalam negara, perusahaan, masyarakat maupun keluarga, haruslah menjadikan dirinya sebagai orang yang siap bekerja untuk kebaikan orang lain. Kita harus bersyukur bahwa pada saat pandemi ini, kita lebih bisa melihat bagaimana para pemimpin kita bekerja. Apa yang baik patut kita tiru, tetapi jika ada yang tidak baik janganlah kita menutup mata. Pemimpin yang baik adalah dia yang menghargai pengikutnya dan mau berkurban untuk mereka.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 25 – 28

Menjadi orang yang bisa dipercaya

“Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.” 2 Korintus 7: 16

Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang tidak jujur

Masalah yang ada pada diri semua manusia pada umumnya adalah ketidakpedulian atas ketidakjujuran yang ada dalam dirinya. Selama orang lain tidak melihat atau tidak peduli atas hal-hal buruk yang kita lakukan, kita pun merasa tenang. Selama orang lain puas dengan apa yang terlihat dari luar, kita pun merasa senang. Dengan demikian, kurang ada dorongan bagi kita untuk terus berusaha memperbaiki diri, sekalipun Roh Kudus siap menolong kita. Karena itu, kita mungkin sulit untuk berubah dari kehidupan yang tidak memuliakan Tuhan.

Mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan di mana orang di sekitar mereka sering membuat dusta putih (white lies), membual, dan menyampaikan berita-berita yang tidak akurat, akan tidak segan untuk melakukan hal yang serupa jika tidak ada konsekuensinya. Mereka mudah untuk menerima alasan bahwa tidak ada orang yang sempurna, dan apa yang tidak benar tetapi tidak bermaksud buruk bisa diterima. Dengan demikian, banyak orang yang menerima apa yang bertujuan baik sekalipun caranya tidak benar. Ini lebih terlihat semasa pandemi Covid-19 ini, di mana banyak orang yang menganjurkan tindakan atau cara tertentu agar bisa tetap sehat atau bisa cepat sembuh jika terpapar virus corona. Sebagian besar dari berita yang ada di media adalah hoax saja, tetapi banyak orang agaknya tidak peduli atas kemungkinan adanya dampak serius jika ada orang yang percaya.

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada para jemaat di Korintus untuk mengutarakan rasa senangnya karena mereka dapat dipercaya dalam segala hal. Segala hal? Luar biasa! Apakah Paulus hanya bermanis-manis saja? Rupanya tidak, karena Paulus membanggakan mereka kepada Titus (2 Korintus 7: 13-14). Walaupun demikian, Paulus tentu tidak bermaksud bahwa mereka adalah orang-orang alim dan selalu jujur. Tetapi Paulus jelas bangga bahwa mereka adalah orang yang sudah berubah hidupnya dan bisa diandalkan dalam pekerjaan Tuhan.

Paulus, seperti kita, tidak bisa sepenuhnya melihat hati dan pikiran orang lain. Tetapi ia tentu tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, termasuk dirinya sendiri. Tiap orang pernah berbohong atau berlaku tidak jujur; tetapi mereka bisa menjadi orang Kristen yang berguna dalam kerajaan Kristus di dunia. Mereka yang menyadari kekurangannya dapat memakai segala kesempatan yang disediakan Tuhan untuk memperbaiki diri dan membaktikan dirinya untuk Tuhan. Paulus dalam hal ini sebagai Rasul yang mengikuti perkembangan kehidupan rohani jemaat Korintus, tahu bahwa mereka sudah berjuang untuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik.

Manusia sering memakai kedok untuk menutupi kekurangannya, tetapi Tuhan melihat semua yang ada. Tuhan bisa melihat seluruh hidup kita, dan Ia tahu apakah kita dengan sengaja menjalani hidup sehari-hari dalam kepalsuan. Untuk semua itu, kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan di sekolah, kantor, toko, rumah dan di mana saja.

“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Ibrani 4: 13

Hari ini, beranikah kita menghadap Tuhan dan mengaku bahwa kita sudah berusaha sepenuh hati untuk menjadi orang yang bisa dipercaya sebagai umat-Nya? Ataukah selama ini kita mengabaikan pandangan mata Tuhan dan hanya memedulikan pendapat umum atau perhatian mereka untuk kita?

Tuhan mengerti kelemahan kita dan Ia bisa menerima kita sebagaimana adanya, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh dengan sadar, hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Kita tidak boleh menyampaikan apa yang tidak kita yakini atau mengerti kebenarannya, karena jika kita keliru orang lain akan dirugikan. Marilah kita menghadap Dia dalam doa untuk memohon pengampunan serta berjanji bahwa kita mau membiarkan Roh Kudus membarui hidup kita, agar kita bisa menjadi orang-orang kepercayaan-Nya.

Dalam keletihan haruslah ada istirahat yang baik

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Pada saat ini, beberapa negara bagian di Australia sedang mengalami krisis akibat adanya pandemi Covid-19. Jumlah kasus positif yang makin banyak membuat lockdown kembali diberlakukan. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang tidak bisa berbakti di gereja. Dengan demikian, keadaan saat ini membuat banyak orang merasa letih secara rohani karena hidup yang kurang bisa dinikmati, terutama karena akhir pekan yang tidak ada bedanya dari hari-hari lain. Bagaimana orang Kristen harus bersikap mengenai hal ini?

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja.

Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

Sebelum adanya pandemi, dunia ini penuh dengan kegiatan yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Sejak adanya pandemi dan banyak orang harus bekerja dari rumah, beda antara hari kerja dan akhir minggu menjadi kabur. Malahan, hari Minggu menjadi hari yang membuat banyak orang merasa makin lelah karena merasa seperti terkurung.

Sebenarnya, hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Tanpa itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik dalam jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu tidak berarti bahwa kita harus duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja.

Hari Minggu adalah hari di mana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru. Karena itu, di saat pandemi ini kita harus tetap bisa dan mau berjumpa dengan Dia di mana pun kita berada.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Great is Thy faithfulness (Besar Setia-Mu)

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22-23

Anda tentu pernah mendengar lagu himne “Besar Setia-Mu”. Lagu yang dalam bahasa Inggris berjudul “Great is Thy Faithfulnes” yang menggema di sepanjang masa ini ditulis oleh Thomas Chisholm yang lahir di Kentucky, Amerika Serikat. Sepanjang hidupnya Thomas sering menderita sakit karena mempunyai kelemahan dalam kesehatannya. Tapi keadaan fisik yang lemah bukanlah halangan untuk melayani Tuhan dan menulis kurang lebih 1.200 puisi rohani termasuk lirik lagu Besar Setia-Mu .

Lagu ini terinspirasi oleh kisah nabi Yeremia. Nabi Yeremia menjadi saksi malapetaka yang tak terbayangkan ketika orang Babilonia melakukan penyerangan ke Yerusalem pada tahun 586 SM. Bait suci Salomo runtuh menjadi puing-puing. Bersamaan dengan itu, kehidupan orang Israel pun turut hancur. Banyak orang Israel yang kemudian telantar; tanpa makanan, tempat bernaung, dan rasa damai. Meskipun begitu, di tengah-tengah penderitaan dan kepedihan itu, Yeremia menulis bahwa kasih setia Tuhan selalu baru tiap pagi, dan itu menunjukkan betapa besarnya kesetiaan-Nya. Apa yang diutarakan Yeremia bukanlah sekedar harapan, tetapi berdasarkan pengalaman pribadinya di masa lalu.

Keadaan yang terasa “tidak ada harapan” bisa menimpa kapan saja dan siapa saja seperti yang dirasakan juga oleh banyak orang di saat pandemi ini. Sudah tentu setiap orang masih bisa berharap untuk tetap sehat dan tidak terpapar virus corona. Adanya vaksin juga memberi harapan bahwa sekalipun orang masih bisa terpapar, akibatnya akan jauh lebih ringan jika sudah divaksinasi. Walaupun demikian, kebanyakan orang tidak mempunyai harapan untuk bisa mengunjungi sanak saudara yang berada di luar negeri dalam tahun 2021 ini. Selain itu, banyak usahawan yang merasa bahwa kecil kemungkinan bagi mereka untuk bisa`mendapat untung di tahun ini.

Sebenarnya, istilah “tidak ada harapan” untuk orang Kristen tidaklah patut dipakai. Sebagai orang beriman, kita bisa berharap akan sesuatu yang tidak terlihat yaitu kehidupan di surga bersama Tuhan yang kita puja. Dengan demikian, kesulitan atau penderitaan kita yang kita alami saat ini tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang sebenarnya mustahil, yaitu kita manusia yang berdosa bisa mendapat pengampunan dari Tuhan. Tuhan kita adalah Oknum yang mahakuasa dan mahakasih dan karena itu tidaklah ada yang mustahil bagi-Nya.

Dalam Alkitab ada banyak contoh di mana murid-murid Yesus merasa atau melihat suasana ‘”tidak ada harapan”, hanya untuk kemudian merasa takjub atas kuasa dan mukjizat yang diperlihatkan oleh Yesus. Walaupun demikian, mereka kembali merasa hancur ketika Yesus yang diharapkan untuk menjadi Mesias yang gagah perkasa, kemudian harus mati di kayu salib. Kali ini tentunya benar-benar tidak ada harapan! Tetapi, lagi-lagi mereka dibuat heran dan takjub ketika Yesus bangkit dari kuburnya pada hari yang ketiga sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan-Nya. Mereka yang lupa bahwa Yesus sudah menolong mereka di masa lalu, kemudian diingatkan bahwa apa yang terlihat buruk belum tentu berakhir dengan “tidak ada harapan”. Sebaliknya, apa yang terlihat buruk di masa lalu seharusnya mengingatkan kita bahwa seperti Tuhan sudah membimbing kita pada masa lalu, Ia akan tetap beserta kita di masa yang akan datang.

“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.  Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 10-11

Oleh bilur-Nya kita disembuhkan

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Jika anda aktif di sosial media, pastilah anda pernah mendapat kiriman artikel tentang bagaimana memelihara kesehatan, menghindari penyakit, mengenali gejala penyakit, menyembuhkan penyakit dan sejenisnya. Dengan adanya pandemi Covid-19, tidaklah mengherankan bahwa tulisan-tulisan semacam itu makin banyak beredar dan diedarkan. Banyak tulisan semacam itu seolah disajikan oleh orang yang memang ahli. Namun, bagi mereka yang mengerti soal medis, 90% dari tulisan itu hanya omong kosong saja; apalagi jika ditutup dengan kalimat “harap disampaikan kepada orang lain untuk menolong mereka”. Tetapi, memang dengan cara itulah hoax dan scam menyebar ke seluruh dunia.

Sekalipun tulisan yang demikian sering kali aneh isinya, tidaklah mudah mencari jawab pertanyaan mengapa ada banyak orang yang percaya akan tulisan semacam itu. Barangkali itu disebabkan oleh kekuatiran terpapar virus corona yang belum ada obatnya. Mungkin juga karena tulisan semacam itu mudah dicerna dan penampilannya cukup meyakinkan. Apalagi, semuanya tidak memakan biaya; berbeda dengan pergi ke dokter. Tambahan lagi, sering kali apa yang dikatakan dokter kurang bisa dipahami atau tidak mudah dijalani.

Selain itu, ada berbagai teori konspirasi yang sudah beredar lama sebelum adanya pandemi. Kebanyakan dugaan tentang adanya penyelewengan di bidang medis itu berdasarkan asumsi bahwa perusahaan obat-obatan yang besar ingin agar orang membeli produknya yang mahal. Karena itu orang menduga bahwa perusahaan farmasi itu mengingini agar banyak orang jatuh sakit. Malahan, ada orang yang menuduh bahwa adanya pandemi sekarang ini juga dimanfaatkan oleh perusahaan farmasi besar (big pharma) dengan berlomba-lomba menjual vaksin dan obat-obatan yang efikasinya masih kurang jelas.

Jika fenomena di atas adalah menyangkut kesehatan jasmani, hal yang serupa juga terjadi dalam segi kesehatan rohani. Persis seperti apa yang terjadi dalam hal jasmani, manusia di dunia ini sering mencari pengobatan alternatif dan menerima apa saja yang ditawarkan dunia untuk memperbaiki dirinya dalam hal rohani. Yang dicari adalah cara yang termudah yang bisa dilakukan untuk menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tidak mengherankan bahwa ada banyak orang yang mencari jalan ke surga dengan cara “berbuat baik”.

Sungguh aneh tapi nyata, bahwa di zaman ini umat Kristen justru kurang menghargai Yesus sebagai tabib satu-satunya. Mungkin banyak orang yang merasa bahwa Yesus dan firman-Nya hanya merupakan kunci kehidupan di surga, sedangkan untuk hidup di dunia mereka membutuhkan sesuatu yang lain, yang terlihat lebih nyata. Untuk kebahagiaan di dunia mereka menaruh harapan kepada kesuksesan diri sendiri. Mereka yang sebenarnya memerlukan kesembuhan rohani itu sering membagikan pengalaman mereka dan mengajak orang lain untuk meniru mereka. Dengan cara itulah berbagai pengajaran yang keliru menyebar ke seluruh dunia melalui berbagai agama dan aliran.

Baru-baru ini ada orang yang mengajarkan bahwa untuk lebih berkenan kepada Tuhan, orang hendaknya berusaha untuk menjadi kaya raya, supaya bisa memberi lebih banyak persembahan dan bisa lebih mudah berbuat baik. Sebaliknya, orang yang miskin mungkin membenci keadaan dunia sehingga mereka tidak bisa berbuat baik ke orang lain. Pendapat seperti ini mirip dengan perumpamaan tentang orang Farisi yang berdoa dengan membanggakan apa yang dipercayainya sebagai perbuatan baik (Lukas 18: 9-14).

Pada pihak yang lain, Yesus dalam ayat di atas berkata bahwa sebagai Juruselamat, hanya Yesus yang memungkinkan manusia yang sakit atau mati rohaninya untuk bisa disembuhkan. Bahkan Ia mengurbankan diri-Nya sendiri di kayu salib untuk membawa keselamatan bagi orang yang bertobat dan percaya kepada-Nya.

Hari ini kita diingatkan bahwa di dunia ini, jika orang yang sakit jasmani memerlukan dokter, mereka yang menderita atau lemah rohaninya memerlukan Yesus. Yesus adalah Juruselamat kita yang sudah mati untuk menebus dosa kita. Jika dunia menawarkan berbagai cara untuk memperbaiki hidup kita dan untuk memperoleh keselamatan, kita harus yakin bahwa hanya Yesus yang dapat membimbing kita yang sudah diselamatkan-Nya untuk bisa mempunyai hidup yang berkenan kepada-Nya.

Bilur-Nya, bilur-Nya
Bilur-Nya sungguh heran
Bilur-Nya, bilur-Nya
Membawa kesembuhan

Asal percaya saja sakit anda hilanglah
Oleh darah Yesus tertolong

Jika tidak ada orang yang peduli

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Manusia adalah makhluk sosial, dalam arti bahwa ia tidak mau hidup menyendiri karena ia membutuhkan orang lain untuk berinteraksi. Memang ada beberapa orang yang pernah hidup menyendiri selama bertahun-tahun karena berbagai sebab, tetapi pada umumnya orang yang hidup tanpa mempunyai teman atau orang yang bisa diajak berkomunikasi akan perlahan-lahan menjadi “aneh” sifat dan kelakuannya. Ada orang yang lebih memercayai binatang peliharaannya dari pada orang lain, dan ada juga orang yang sama sekali tidak mau menjumpai orang lain karena adanya trauma yang pernah dialaminya pada masa yang silam.

Pada abad-abad yang lalu, mereka yang dipenjara karena melakukan kejahatan serius sering kali ditempatkan di sebuah ruang sempit yang terpisah dari narapidana yang lain. Ini merupakan hukuman berat yang bisa membuat hancur mental mereka yang sekuat apa pun. Memang, salah satu musuh terbesar manusia adalah perasaan kesepian. Allah yang menciptakan Adam tentu tahu bahwa kesepian adalah tidak baik; karena itu Ia menciptakan seorang pendamping yang sepadan yaitu Hawa (Kejadian 2: 18). Manusia membutuhkan manusia lain untuk berkomunikasi, hidup bersama dan saling menolong.

Walaupun manusia seharusnya hidup bermasyarakat untuk bekerja sama dalam hidup di dunia, kejatuhan ke dalam dosa membuat hubungan antar manusia menjadi rusak. Manusia sering menguasai, menindas dan menyiksa sesamanya, baik secara jasmani maupun rohani. Selain itu, hidup pun menjadi berat karena setiap orang harus membanting tulang untuk bisa tetap hidup. Lebih parah lagi, karena dosa manusia sering tidak bisa mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan pencipta-Nya.

Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia mengalami berbagai kesulitan hidup, termasuk apa yang diperbuat orang lain. Ia menulis bahwa ia dan rekan-rekannya mengalami penindasan, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya. Walaupun demikian, mereka tetap bertahan, dalam setiap keadaan dan tidak merasa ditinggalkan. Mengapa bisa begitu? Itu tentunya karena mereka mempunyai hubungan yang baik dengan saudara-saudara seiman, dan lebih dari itu, karena mereka dekat dengan Tuhan yang menguatkan, membimbing dan melindungi. Mereka juga ingat bahwa Yesus juga pernah mengalami penderitaan yang malahan jauh lebih besar, tetapi memperoleh kemenangan pada akhirnya. Adanya kesatuan iman kepada satu Tuhan membuat mereka kuat dan tidak merasa sendirian atau kesepian.

Di saat pandemi ini sedang berlangsung, anda mungkin merasa sendirian karena anda hidup seorang diri. Mungkin juga anda hidup bersama keluarga, tetapi tidak mendapat dukungan yang cukup. Mungkin juga anda mempunyai teman atau pasangan hidup yang kurang bisa mengerti perasaan atau kebutuhan anda. Mungkin saja anda hidup di tengah keramaian, tetapi hanya merasakan kesunyian dan sakitnya hidup ini. Anda merasa ditinggalkan, kesepian, sendirian, ketakutan, kuatir. Anda tidak bisa melihat adanya masa depan.

Dimanakah teman seperjuangan anda? Orang-orang yang seharusnya bisa mengerti keadaan anda dan mampu menolong? Saudara-saudara seiman yang bisa menguatkan dan mendoakan? Mungkin saja mereka semuanya sudah meninggalkan anda. Sebagian mungkin malah membenci dan memusuhi anda. Tetapi, ada satu yang masih dengan setia menyertai anda. Tuhan yang sudah membimbing rasul-rasul, adalah Tuhan yang sama, yang menyertai anda untuk selama-lamanya.

“Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” Ulangan 31: 8

Apakah adanya pandemi sudah mempengaruhi etika anda?

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Jika kita membaca koran, menonton TV, ataupun meneliti berita internet, kita bisa menemui berbagai sajian menarik dan berbagai berita yang tidak berbentuk iklan tapi sebenarnya juga dimaksudkan untuk menarik perhatian konsumer suatu produk atau jasa. Di saat pandemi sedang berlangsung, agaknya makin banyak berita yang tidak benar atau setengah benar yang berusaha membuat sensasi. Ini terutama menyangkut obat-obatan yang diklaim dapat menyembuhkan orang dari Covid-19. Selain itu saat ini ada juga berita-berita “miring” tentang risiko penggunaan vaksin yang membuat banyak orang menjadi ragu akan manfaat vaksin.

Memang orang di dunia cenderung menekankan bahwa hasil lebih penting dari usaha, dan hasil akhir sering menghalalkan cara. Untuk mencapai tujuannya, manusia sering menggunakan segala cara, entah itu berupa kepura-puraan, bohong, ataupun ketidak jujuran. Tetapi, apa yang diajarkan Yesus selama Ia berada di dunia adalah satu prinsip etika yang benar yang harus kita pegang: bahwa apa pun yang kita perbuat haruslah bisa membuat nama Tuhan dibesarkan dalam segala situasi. Manusia harus mempertanggungjawabkan apa saja yang diperbuatnya.

Dunia mengajarkan etika situasi, yang bisa berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Sejarah membuktikan bahwa orang Kristen pernah memakai cara-cara yang keji demi nama Tuhan. Tetapi firman Tuhan tidak pernah berubah: apa yang salah tidak akan berubah menjadi benar dan apa yang palsu tidak dapat mendukung kebenaran.

Dapatkah kita berbuat baik melalui perbuatan yang kurang baik? Bolehkah kita memakai cara yang tidak benar asal tujuannya baik? Firman Tuhan secara tegas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus menyinarkan terang kebenaran dalam masyarakat agar nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang kita perbuat dalam hidup sehari-hari, baik di kantor, di sekolah, di rumah maupun di gereja haruslah berdasarkan kesadaran bahwa Tuhan harus dipermuliakan baik dalam cara kita bekerja maupun dalam apa yang kita hasilkan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21-22

Dalam hidup ini ada berbagai etika yang kelihatannya baik, tetapi tidak semua ada dalam Alkitab. Etika bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya, etika masyarakat yang satu mungkin bisa menjadi bahan pergunjingan dan geguyonan dalam masyarakat lain.

Etika Kristen (dari bahasa Yunani ethos yang berarti  kebiasaan/ adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  di mana saja. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya setempat) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak menjadi manusia “kurang ajar” yang hidup “ugal-ugalan”. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman itu belum tentu dibahas dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau tidak bisa berpikir akan kurang mampu untuk melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika yang menguntungkan mereka saja.

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika hidup Kristen yang berdasarkan kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan jujur dan rajin, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang menjadi majikan kita. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati anjuran pemerintah dan menaati peraturan dan hukum yang berlaku.

Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani, tetapi tidak hanya untuk diri sendiri. Karena itu kita tidak akan melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firman-Nya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Mendapat kelegaan melalui doa

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Sebelum adanya pandemi, dengan kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lainnya, banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Dengan adanya pandemi, kehidupan manusia di seluruh dunia menjadi sangat berubah. Bukan saja kegiatan sehari-hari menjadi terbatas, keuangan pun menjadi kacau balau dan masa depan tidaklah dapat diduga. Karena itu banyak orang yang sekarang mengalami rasa kuatir, takut dan bahkan depresi.

Dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, memang orang lebih sering merasa lelah. Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini kita bisa belajar dari apa yang dialami oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Baca 2 Korintus 11 & 12.

Paulus sebagai manusia juga mengalami penderitaan dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27).

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasih-Nya kepada Paulus sudah cukup.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Itu kalau kita bisa dan mau berkomunikasi, berdoa kepada Dia secara teratur.

Ada banyak penyebab mengapa orang Kristen tidak berdoa secara teratur. Sebab yang pertama ialah soal prioritas. Seorang tidak berdoa karena ia mementingkan hal lain daripada berdoa. Selain itu, ada orang yang beranggapan bahwa berdoa adalah memohon sesuatu kepada Tuhan. Karena itu, selama hidupnya lancar, doa tidak dirasakan perlu.

Selain dari sebab di atas, ada pula orang yang berpendapat bahwa Tuhan sudah mempunyai rencana tertentu yang tidak bisa diubah. Sebab itu doa adalah hal yang sia-sia. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang mahasuci. Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan seperti dalam agama lain.

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenal-Nya.

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang mahakudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Setiap hari, hanya kita yang bisa menjawab pertanyaan mengapa berdoa di saat ini masih sering terasa sebagai beban dan kewajiban, dan bukannya sebagai kenikmatan dan berkat.

Karena Tuhan tahu bahwa kita membutuhkan-Nya, Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang maha pengasih.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Masih ingatkah anda akan lagu “Manis lembut Tuhan Yesus memanggil”?

Lemah lembut Tuhan Yesus memanggil,
Ia memanggil engkau,
Tengoklah Ia sekarang menunggu,
tunggu kedatanganmu.

Semoga kita mau menjawab panggilan Yesus itu.

Dekatlah pada Tuhan selagi masih bisa

“Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” Mazmur 71: 9

Hari ini ada kabar sedih di media Australia. Seorang ibu dari tiga anak yang berusia 30 tahun meninggal dunia akibat Covid-19 di rumahnya. Kelihatannya, ia dan suaminya yang juga terpapar virus corona tidak sadar bahwa mereka harus ke rumah sakit. Tak seorang pun yang menduga bahwa ibu itu kemudian menjadi korban virus corona yang termuda di negara bagian New South Wales.

Jatuh sakit berat. Siapa yang senang membicarakannya? Mereka yang masih tergolong muda dan sehat mungkin tidak mau memikirkan apa yang belum tentu terjadi. Mereka yang sudah tua dan sakit-sakitan, barangkali merasa bahwa tidak ada gunanya untuk membicarakannya, apalagi untuk berbuat sesuatu.

Pemazmur dalam Mazmur 71 barangkali dengan rasa tidak menentu menulis tentang penderitaannya, sebagai orang yang tidak berdaya dalam usia tua. Perasaan ini sulit untuk digambarkan, apalagi untuk dimengerti mereka yang belum atau tidak pernah mengalaminya.

Usia tua pada umumnya datang dengan perasaan bahwa tubuh mulai melemah dan kurangnya keinginan untuk menikmati hidup yang ada. Masalah keuangan adalah salah satu dari beberapa masalah yang umum dijumpai, tetapi masalah kesehatan yang menurun dan masalah keluarga yang kurang harmonis juga bisa membuat orang yang berumur tidak bisa merasakan ketenteraman. Apalagi jika ada perasaan bahwa orang di sekitarnya sudah tidak membutuhkannya lagi.

Mazmur 71: 9 adalah permohonan pemazmur agar Tuhan tidak meninggalkannya jika ia sudah tidak bertenaga. Ia teringat bahwa ketika ia masih muda, banyak kegiatan yang bisa dilakukannya dan serasa tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidupnya. Tetapi, dengan menanjaknya usia, satu persatu temannya pergi meninggalkannya. Lebih-lebih lagi, dalam kelemahannya selalu ada orang-orang yang ingin mengganggu dan mencelakakannya.

Tidak dapat diingkari bahwa masa tua adalah masa yang penting untuk seseorang bisa menikmati hidup dalam kedamaian. Tetapi kedamaian tidak akan diperoleh tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan, yang dipupuk sejak awalnya. Hubungan dengan Tuhan yang tidak diperkuat sejak muda bisa mengakibatkan kerenggangan dengan meningkatnya usia. Hal ini mirip dengan hubungan antara suami dan istri yang harus dipererat sejak mereka kenal satu dengan yang lain.

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Dengan mempunyai kebiasaan untuk mau mengenali sifat Tuhan, kita bisa mempunyai iman yang makin hari makin kuat karena adanya kesadaran akan penyertaan Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana selama hidup kita sampai saat ini. Dengan itu kita bisa menumbuhkan kepercayaan dan pengharapan kepada Dia untuk hari depan kita. Hidup tenteram yang sedemikian tidak bisa dicapai jika kita tidak bisa bersyukur atas kasih-Nya selama ini.

Kekeliruan yang terbesar yang mungkin terjadi dalam hidup adalah menunggu sampai saat di mana kita sudah tidak berdaya untuk mulai mendekati Tuhan dan berusaha membina hubungan yang baik dengan Dia. Ini bisa diibaratkan seperti mereka yang menunggu hari tua untuk bisa benar-benar mengenal pasangan hidupnya. Hidup orang yang percaya adalah hidup yang melibatkan Tuhan dari awalnya, baik dalam suka maupun duka, dan dengan itu kita akan memperoleh ketenteraman hidup di hari tua. Jangan menunda-nunda kesempatan, pakailah itu selagi masih bisa!