“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49:21

Sekalipun hidup ini tidak mudah, setiap manusia pasti merasa lebih beruntung jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia bisa dan sering membanggakan dirinya karena kecerdasan, teknologi, kekuatan, atau keberhasilan hidupnya. Manusia dapat membangun kota-kota besar, menciptakan mesin yang rumit, bahkan mencoba memahami alam semesta. Namun pemazmur memberi sebuah peringatan yang tajam: manusia yang tidak mempunyai pengertian dapat disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Pengertian apa?
Ayat ini bukannya menista hewan. Alkitab dalam kitab Kejadian mengajarkan bahwa hewan adalah ciptaan Tuhan yang baik. Burung di udara dipelihara oleh Tuhan. Singa muda mencari makanan dari Tuhan. Bahkan kepada Yunus, Tuhan berkata bahwa Ia juga memperhatikan banyak ternak di Niniwe. Hewan memiliki hidup yang berasal dari Sang Pencipta.
Dalam penciptaan, manusia dan hewan memang memiliki beberapa persamaan. Keduanya berasal dari bumi. Tubuh manusia dibentuk dari debu tanah, dan hewan pun diciptakan dari bumi. Keduanya menerima nafas hidup dari Tuhan. Keduanya makan, bertumbuh, berkembang biak, menjadi lemah, lalu mati. Secara jasmani, manusia tidak setinggi yang sering ia bayangkan.
Tetapi Alkitab juga menunjukkan adanya perbedaan yang besar. Ketika menciptakan hewan, Tuhan berfirman supaya bumi mengeluarkan makhluk hidup. Namun ketika menciptakan manusia, Tuhan membentuk Adam dan menghembuskan nafas hidup ke dalam dirinya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Manusia diberi kemampuan mengenal Tuhan, berbicara dengan-Nya, memahami benar dan salah, serta memelihara ciptaan-Nya.
Sebelum kejatuhan, manusia hidup dalam keadaan yang indah. Adam bukan sekadar makhluk biologis yang bernapas. Ia hidup dalam persekutuan dengan Allah. Ia belum dipenuhi rasa malu, ketakutan, kebencian, atau hawa nafsu yang rusak. Hidupnya memiliki arah yang jelas karena pusat hidupnya adalah Tuhan sendiri. Ia bisa melihat kemuliaan Tuhan melalui semua ciptaan-Nya.
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;” Mazmur 19:2
Kita bisa mengatakan bahwa manusia pada mulanya hidup lebih tinggi daripada sekadar dorongan naluri. Ia tidak hidup hanya untuk makan, bertahan hidup, atau memuaskan keinginannya. Ada dimensi rohani yang hidup di dalam dirinya. Ia seharusnya mengenal Penciptanya. Ini adalah pengertian yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia.
Namun semuanya berubah ketika dosa masuk ke dunia.
Kejatuhan tidak langsung mengubah manusia menjadi binatang secara fisik, tetapi dosa membuat manusia kehilangan arah rohaninya. Hubungan dengan Tuhan rusak. Sejak saat itu manusia mulai hidup dengan pusat pada dirinya sendiri. Nafsu menjadi tuan. Kesombongan menguasai hati. Pada pihak yang lain, ketakutan dan kematian mulai membayangi hidup manusia.
Bukankah sering kali manusia modern hidup hanya mengikuti naluri? Mengejar makanan, kenyamanan, seks, kekuasaan, uang, dan hiburan tanpa pernah bertanya untuk apa ia diciptakan. Dalam hal ini, manusia dapat jatuh lebih rendah daripada hewan. Hewan mengikuti nalurinya karena memang demikian ia diciptakan. Tetapi manusia diberi hati untuk mengenal Allah, namun memilih hidup tanpa Dia.
Itulah sebabnya pemazmur berkata bahwa manusia yang tidak mempunyai pengertian dapat disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Pada akhirnya, jika seseorang hidup tanpa mengenal Tuhan, nasib jasmaninya tidak berbeda jauh dari hewan: sama-sama menua, sama-sama mati, sama-sama kembali menjadi debu.
Kegemilangan dunia tidak mampu mengalahkan kematian.
Namun Injil memberi pengharapan. Kristus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa manusia, tetapi juga untuk memulihkan manusia kepada tujuan semula: hidup dalam persekutuan dengan Allah. Di dalam Kristus, manusia yang jatuh dipanggil kembali untuk hidup bukan menurut daging, tetapi menurut Roh.
Karena itu pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah seberapa sukses kita, melainkan: apakah kita sungguh mengenal Tuhan? Sebab tanpa Dia, manusia perlahan kehilangan kemuliaannya dan hidup hanya menurut naluri dunia yang sementara. Tetapi bersama Tuhan, manusia menemukan kembali siapa dirinya sebenarnya.
Doa Penutup
Tuhan, kami mengaku bahwa sering kali kami hidup hanya mengikuti keinginan dan naluri kami sendiri. Kami mengejar banyak hal duniawi, tetapi melupakan Engkau, sumber hidup kami yang sejati. Ampunilah kami apabila hati kami menjadi tumpul dan kehilangan pengertian rohani.
Pulihkanlah kami melalui Kristus agar kami kembali hidup dalam persekutuan dengan-Mu. Ajarlah kami untuk hidup bukan hanya bagi tubuh dan kesenangan sementara, tetapi bagi kehendak-Mu yang kekal. Biarlah Roh-Mu memimpin kami supaya kami semakin mengenal Engkau dan hidup sebagai manusia yang memuliakan Tuhan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.