Di Tangan Sang Tukang Periuk

“Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” Roma‬ ‭9‬:‭21‬‬

Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering muncul dalam hati manusia, walau jarang diucapkan dengan jujur: Mengapa Tuhan memperlakukan orang secara berbeda? Mengapa ada yang tampaknya begitu mudah percaya, sementara yang lain bergumul begitu lama? Mengapa ada yang hidupnya terasa penuh berkat, sementara yang lain harus melewati jalan yang terjal?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hal baru. Dalam Surat Roma pasal 9, Paulus menghadapi kegelisahan serupa. Ia memakai gambaran yang sederhana namun dalam: Allah adalah tukang periuk (penjunan), dan kita adalah tanah liat. Dari bahan yang sama, Ia, Sang Pencipta, membentuk berbagai bejana, masing-masing dengan tujuan yang berbeda.

Namun ada satu pergumulan lain yang lebih dalam—dan ini pun sering hadir, bahkan di hati orang Kristen sendiri: Mengapa Tuhan sebagai Pencipta membiarkan manusia jatuh dalam dosa? Jika Tuhan berkuasa, mengapa Ia tidak mencegah kejatuhan itu sejak awal? Dan jika dosa itu dibiarkan terjadi, bukankah segala penderitaan—air mata, penyakit, ketidakadilan, dan bahkan kematian mengalir dari sana?

Pertanyaan seperti ini bisa membuat iman terasa goyah. Ada saat di mana seseorang tidak lagi hanya bertanya, tetapi mulai menuduh bahwa Tuhan kurang adil. Sebagian orang kemudian memberontak, dan sebagian menjadi fatalis.

Alkitab tidak menutup mata terhadap pergumulan ini. Sejak awal, manusia memang diberi kebebasan untuk memilih, dan dalam kebebasan itu manusia memilih menjauh dari Tuhan. Namun yang sering kita lupakan adalah ini: Tuhan tidak pernah berhenti bekerja setelah kejatuhan itu terjadi.

Jika kita kembali pada gambaran tukang periuk, kita melihat sesuatu yang penting. Seorang tukang periuk tidak selalu bekerja dengan tanah liat yang sempurna. Kadang tanah itu retak, tidak seimbang, bahkan rusak. Tetapi ia tidak langsung membuangnya. Ia memperbaiki, membentuk ulang, dan dengan kesabaran yang luar biasa, tetap mengerjakannya sampai mencapai tujuan tertentu.

Demikian pula Tuhan. Ia memang mengizinkan kejatuhan terjadi—sebuah misteri yang tidak sepenuhnya kita pahami. Tetapi setelah itu, Ia menyatakan sesuatu yang jauh lebih dalam: kesabaran-Nya yang panjang dan kasih-Nya yang tidak pernah berakhir.

Sering kali kita melihat dunia yang penuh penderitaan, lalu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak adil atau bahkan tidak ada. Tetapi kita lupa melihat berapa banyak kesempatan yang Tuhan berikan, berapa kali Ia menahan penghakiman, berapa sering Ia memanggil manusia untuk kembali.

Bahkan dalam hidup pribadi kita, jika kita jujur, kita akan melihat bahwa Tuhan tidak memperlakukan kita seturut dosa kita. Bukan seperti hukum menabur dan menuai yang kaku. Sebaliknya, Ia sabar. Ia memberi waktu. Ia tidak segera menghukum semua orang karena dosa mereka, tetapi menunggu kita dengan penuh kasih.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa kedaulatan Tuhan bukanlah kekuasaan yang dingin dan jauh. Itu adalah kedaulatan yang dipenuhi oleh kesabaran. Ia tidak hanya berhak membentuk, tetapi Ia juga rela terlibat dalam proses yang panjang dan sering menyakitkan, demi membawa tanah liat itu kepada bentuk yang indah.

Masalahnya, manusia sering ingin menjadi penilai atas Tuhan. Kita ingin memahami seluruh rencana-Nya sebelum kita bersedia percaya. Kita ingin keadilan versi kita ditegakkan, tanpa menyadari betapa terbatasnya pengertian kita.

Padahal, jika jujur, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah, “Mengapa Tuhan membiarkan dosa dan penderitaan terjadi?” melainkan, “Mengapa Tuhan masih bersabar menghadapi manusia yang terus menolak Dia?”

Di situlah kasih karunia menjadi begitu indah. Keselamatan bukan hak, tetapi pemberian. Dan pemberian itu tidak diberikan dengan tergesa-gesa, melainkan melalui kesabaran yang panjang. Penderitaan mungkin bukan terjadi karena kesalahan kita, tetapi bisa membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Sebagian orang sangat ingin memperoleh kemakmuran dan kesuksesan dari Tuhan. Tetapi, kenyamanan seperti itu belum tentu adalah berkat-Nya, tetapi justru bisa menjadi ujian yang berat bagi seseorang dan sanak keluarganya.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam proses itu. Mungkin kita belum mengerti mengapa Tuhan membiarkan sesuatu yang tidak enak terjadi. Mungkin kita merasa seperti tanah liat yang sedang ditekan dan dibentuk, tanpa tahu akan menjadi apa.

Namun kita diundang untuk percaya: tangan yang sedang bekerja itu tidak pernah salah. Ia tidak hanya berkuasa, tetapi juga mengasihi. Ia tidak hanya menentukan, tetapi juga setia membentuk dan menyelesaikan apa yang telah Ia mulai.

Dan ketika kita belajar melihat Tuhan dengan cara ini, hati kita perlahan berubah—dari mempertanyakan menjadi mempercayai, dari menuntut menjadi berserah kepada kasih-Nya. Dari sana sukacita hidup akan datang.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
sering kali aku tidak mengerti jalan-Mu. Ada saat-saat ketika aku merasa hidup ini tidak adil, bahkan aku bertanya mengapa Engkau membiarkan dosa dan penderitaan ada di dunia ini. Ampuni aku jika hatiku menjadi ragu dan kurang percaya.

Ajarku untuk melihat Engkau bukan hanya sebagai Tuhan yang berdaulat, tetapi juga sebagai Bapa yang sabar dan penuh kasih. Ingatkan aku bahwa Engkau tetap bekerja, bahkan di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa.

Berikan aku hati yang lembut seperti tanah liat di tangan-Mu—yang mau dibentuk, diajar, dan diproses. Tolong aku untuk percaya bahwa setiap sentuhan tangan-Mu, bahkan yang terasa berat, adalah bagian dari kasih-Mu yang sempurna.

Di dalam segala pergumulanku, ajarku untuk tetap berharap, karena Engkau tidak pernah meninggalkan pekerjaan tangan-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar