“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25:13

Ada suatu kecenderungan halus dalam hidup manusia: semakin lama kita terbiasa dalam suatu hal, semakin kita merasa sudah menguasainya. Kita mulai mengandalkan pengalaman dan mengurangi pemikiran. Apa yang dulu kita lakukan dengan hati-hati, kini dilakukan hampir tanpa berpikir. Di satu sisi, ini wajar. Pengalaman memang membentuk kita. Tetapi di sisi lain, di situlah sering tersembunyi bahaya—kita menjadi kurang berjaga.
Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan rohani. Seseorang yang sudah lama menjadi orang Kristen, yang sudah bertahun-tahun beribadah, membaca Firman, dan melayani, bisa perlahan-lahan kehilangan kewaspadaan rohani. Bukan karena ia meninggalkan iman, tetapi karena ia merasa sudah “aman”. Ayem tentrem, istilah bahasa Jawanya. Kata ayem merujuk pada rasa tenang dan tidak ada kekhawatiran. Tentrem merujuk pada suasana aman dan tidak ada gangguan.
Perumpamaan tentang sepuluh anak dara dalam Injil Matius 25 menggambarkan hal ini dengan sangat jelas. Semua anak dara itu diundang. Semua menantikan mempelai. Semua membawa pelita. Dari luar, tidak ada perbedaan mencolok. Namun ketika malam semakin larut dan mempelai datang terlambat, mengantuklah mereka dan semua lalu ayem tertidur.
Tapi ini masalahnya. Lima dari mereka bijaksana—mereka membawa minyak cadangan. Lima lainnya bodoh—mereka tidak mempersiapkan diri dengan cukup. Karena itu anak dara yang bodoh akhirnya terlambat untuk bisa masuk ke ruang pesta.
Yang menarik, kelima yang bodoh itu tidak menolak mempelai. Mereka juga percaya bahwa mempelai akan datang. Mereka bahkan sudah berada di tempat yang benar, bersama orang-orang yang benar. Tetapi mereka tidak berjaga-jaga. Mereka tidak siap untuk penantian yang lebih lama dari yang mereka perkirakan.
Di sinilah pesan Tuhan menjadi sangat relevan: “Berjaga-jagalah.”
Undangan bukanlah jaminan kesiapan. Kedekatan bukanlah pengganti kewaspadaan. Lama berjalan bersama Tuhan bukan berarti kita otomatis siap setiap saat.
Sering kali, justru mereka yang sudah lama berada dalam kehidupan rohani menghadapi godaan terbesar: menggantikan relasi dengan rutinitas. Doa menjadi kebiasaan tanpa kehadiran hati. Firman dibaca tanpa kerinduan untuk diubah. Pelayanan dilakukan tanpa kesadaran akan ketergantungan kepada Tuhan.
Tanpa disadari, pelita masih ada, tetapi minyak mulai habis.
Keyakinan akan keselamatan adalah anugerah yang luar biasa. Namun jika tidak dijaga dengan hati yang rendah dan waspada, keyakinan itu bisa berubah menjadi rasa aman yang keliru. Kita mulai berpikir, “Saya sudah percaya. Saya sudah lama ikut Tuhan.” Lalu tanpa sadar, kita berhenti berjaga.
Perumpamaan ini tidak mengajarkan bahwa keselamatan dapat hilang dengan mudah, tetapi mengingatkan bahwa iman yang sejati selalu disertai kesiapan yang terus-menerus. Ada kehidupan di dalamnya. Ada kewaspadaan. Ada kerinduan untuk tetap dekat dengan Tuhan, bukan hanya karena kita diundang, tetapi karena kita mengasihi Dia.
Hidup Kristen bukanlah tentang pernah siap, tetapi tentang terus berjaga.
Kita tidak tahu kapan “mempelai” datang—kapan Tuhan memanggil kita, atau kapan Ia datang kembali. Tetapi yang jelas, panggilan-Nya bukan hanya untuk percaya, melainkan untuk setia sampai akhir. Itulah kekristenan yang benar-benar sejati.
Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah: “Apakah saya sudah diundang?”
Melainkan: “Apakah pelita saya masih menyala dengan minyak yang cukup?”
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
kami bersyukur karena Engkau telah memanggil dan mengundang kami untuk hidup bersama-Mu. Terima kasih untuk anugerah keselamatan yang tidak kami usahakan sendiri.
Namun kami juga mengaku, sering kali kami menjadi lengah. Kami merasa sudah cukup, sudah aman, dan berhenti berjaga. Ampuni kami ketika doa kami menjadi kosong, ketika hati kami jauh walau langkah kami masih terlihat dekat.
Tolong kami, ya Tuhan, untuk tetap waspada. Berikan kami hati yang rindu akan Engkau, bukan hanya kebiasaan yang mengingatkan kami kepada-Mu. Ajarlah kami untuk menjaga pelita iman kami tetap menyala, dengan minyak yang cukup setiap hari.
Jangan biarkan kami tertidur dalam rasa aman yang salah. Bangunkan kami untuk hidup dalam kesetiaan, kerendahan hati, dan pengharapan.
Sehingga ketika Engkau datang, kami didapati siap—bukan karena kekuatan kami, tetapi karena kasih karunia-Mu yang memelihara kami.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa,
Amin.