“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”
— Yohanes 15:13-14

Judul renungan ini diambil dari lirik lagu rohani yang sangat populer, “Yesus Kawan yang Sejati”, yang dikenal juga sebagai “What a Friend We Have in Jesus” atau Kidung Jemaat 453. Lagu ini telah menghibur jutaan orang percaya selama lebih dari satu abad. Di balik melodi yang sederhana dan syair yang indah, terdapat sebuah kebenaran yang sangat dalam: Yesus adalah sahabat yang sejati bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Dalam kehidupan, hampir semua orang pernah merasakan kesepian. Kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki orang di sekitar kita. Seseorang dapat berada di tengah keluarga, teman-teman, atau bahkan keramaian, tetapi tetap merasa sendirian. Ada pergumulan-pergumulan yang sulit dibagikan kepada orang lain. Ada air mata yang jatuh ketika tidak seorang pun melihat. Ada ketakutan yang disimpan rapat di dalam hati.
Kesepian sering kali membuat beban hidup terasa lebih berat daripada yang sebenarnya. Masalah yang mungkin dapat ditanggung menjadi terasa sangat menekan ketika kita merasa harus menghadapinya seorang diri.
Di tengah kenyataan itulah perkataan Yesus dalam Yohanes 15 memberikan penghiburan yang luar biasa. Ia tidak hanya menyebut diri-Nya sebagai Tuhan, Guru, atau Juruselamat. Ia juga menyebut orang-orang percaya sebagai sahabat-Nya. Ini adalah sebuah kehormatan yang besar. Sang Pencipta langit dan bumi berkenan menjalin hubungan yang dekat dan pribadi dengan umat-Nya.
Lebih dari itu, Yesus membuktikan persahabatan-Nya melalui tindakan. Banyak orang mengaku sebagai sahabat ketika keadaan baik-baik saja. Namun tidak semua tetap tinggal ketika kesulitan datang. Yesus berbeda. Ia berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Beberapa jam setelah mengucapkan kata-kata itu, Ia pergi menuju salib. Di sana Ia menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia berdosa.
Persahabatan Yesus bukan sekadar kata-kata yang manis. Persahabatan-Nya dibuktikan dengan pengorbanan yang paling mahal. Ia mati supaya kita hidup. Ia menanggung hukuman dosa supaya kita memperoleh pengampunan dan damai sejahtera dengan Allah.
Karena itu, ketika kita merasa tidak dipahami orang lain, Yesus memahami kita. Ketika kita merasa ditinggalkan, Yesus tetap menyertai kita. Ketika dunia tampak gelap dan masa depan terasa tidak pasti, Yesus tetap berjalan bersama kita. Ia mengenal setiap pergumulan yang kita hadapi. Tidak ada satu pun air mata yang luput dari perhatian-Nya.
Namun persahabatan dengan Yesus bukanlah hubungan yang pasif. Dalam ayat 14, Yesus berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Ketaatan bukanlah syarat untuk memperoleh kasih-Nya, melainkan respons dari mereka yang telah menerima kasih-Nya. Sahabat sejati ingin menyenangkan hati sahabatnya. Demikian pula orang percaya dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus sebagai ungkapan syukur atas kasih yang telah diterimanya.
Seiring bertambahnya usia, kita mungkin kehilangan banyak hal. Kesehatan dapat berkurang, sahabat-sahabat lama dapat berpulang, dan keadaan hidup dapat berubah. Namun ada satu Sahabat yang tidak pernah berubah. Ia tetap setia ketika yang lain tidak lagi bersama kita. Ia tetap hadir ketika rumah terasa sunyi. Ia tetap memegang tangan kita ketika langkah mulai melemah.
Karena itu, setiap kali kita menyanyikan lagu “Yesus Kawan yang Sejati,” janganlah kita hanya menikmati melodinya. Ingatlah bahwa syair itu menunjuk kepada kenyataan yang indah. Kita memiliki Sahabat yang mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, yang telah memberikan nyawa-Nya bagi kita, dan yang akan menyertai kita sampai akhir perjalanan hidup ini.
Di usia berapa pun, ada ketenangan besar ketika kita menyadari bahwa persahabatan dengan Kristus tidak bergantung pada keadaan, perasaan, atau kemampuan kita untuk bertahan. Ia tetap setia karena itulah natur-Nya.
Kiranya kata-kata dalam lagu yang terkenal itu terus mengingatkan kita:
“Yesus kawan yang sejati bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya.”
Dan kiranya janji Tuhan ini senantiasa menguatkan hati:
“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
— Ibrani 13:5
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Kawan yang sejati. Terima kasih atas kasih-Mu yang telah Engkau buktikan melalui pengorbanan-Mu di kayu salib. Ketika kami merasa kesepian, kuatkanlah hati kami dengan keyakinan bahwa Engkau selalu hadir menyertai kami. Tolong kami untuk hidup taat kepada-Mu dan semakin mengenal kasih-Mu setiap hari. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.