Bisa Bersyukur Karena Merasa Cukup

“Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
— Ratapan 3:22-23

Setiap orang pasti menghadapi tantangan hidup. Ada yang bergumul dengan kesehatan, ada yang dibebani masalah keluarga, ada yang khawatir tentang keuangan, dan ada pula yang memikul kesedihan yang tidak diketahui orang lain. Dalam keadaan seperti itu, tidak mudah untuk berkata dengan sepenuh hati, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya.”

Namun itulah yang diucapkan oleh penulis kitab Ratapan. Yang membuat ayat ini begitu mengagumkan adalah kenyataan bahwa ayat tersebut lahir bukan pada masa kemakmuran, melainkan di tengah penderitaan. Yerusalem telah hancur. Masa depan tampak suram. Bangsa itu sedang mengalami masa yang sangat kelam. Tetapi di tengah semua itu, sang nabi masih mampu melihat kesetiaan Tuhan.

Bagaimana seseorang dapat tetap bersyukur dalam situasi seperti itu?

Salah satu jawabannya adalah karena ia telah belajar merasa cukup di dalam Tuhan.

Bersyukur dan merasa cukup memiliki hubungan yang sangat erat. Sulit bagi seseorang untuk bersyukur jika hatinya selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, orang yang merasa cukup akan lebih mudah menemukan alasan untuk mengucap syukur.

Dunia di sekitar kita terus mendorong kita untuk merasa tidak puas. Kita diajarkan untuk selalu mengejar lebih banyak: lebih banyak uang, lebih banyak kenyamanan, lebih banyak pengakuan, lebih banyak kepemilikan, lebih banyak perhatian.

Tidak ada yang salah dengan bekerja keras atau berusaha memperbaiki keadaan. Namun ketika kebahagiaan kita bergantung pada apa yang belum kita miliki atau capai, kita akan sulit menikmati apa yang sudah Tuhan berikan.

Banyak orang mengira bahwa mereka akan bersyukur setelah memiliki lebih banyak, padahal Alkitab justru mengajarkan bahwa orang yang belajar merasa cukup akan lebih mudah bersyukur. Seperti yang ditulis oleh Rasul Paulus:

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”
— 1 Timotius 6:6

Rasa cukup bukanlah hasil dari banyaknya berkat yang kita miliki, melainkan hasil dari kepercayaan bahwa Tuhan mengetahui kebutuhan kita dan tetap setia memelihara kita. Ketika hati dipenuhi keyakinan itu, ucapan syukur tidak lagi bergantung pada keadaan saat ini, melainkan pada karakter Tuhan yang tidak berubah.

Dengan kata lain, dasar kecukupan orang percaya bukanlah kenyamanan hidup yang dimiliki, melainkan keyakinan bahwa kehadiran Tuhan yang menyertainya. Ini jelas berbeda dengan anggapan bahwa setiap orang Kristen akan hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan.

Kita mungkin tidak memiliki semua yang kita inginkan, tetapi jika Tuhan menyertai kita, sesungguhnya kita memiliki yang paling penting. Kita mungkin menghadapi hari-hari yang sulit dan badan yang sakit, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita mengetahui siapa yang memegang hari esok.

Ketika seseorang memahami hal ini, cara pandangnya terhadap hidup mulai berubah. Ia tidak lagi hanya menghitung apa yang kurang, tetapi juga melihat begitu banyak berkat yang sudah diterimanya. Ia bersyukur atas kesehatan yang masih ada, keluarga yang dikasihi, sahabat yang mendukung, kesempatan untuk beribadah, serta keselamatan yang telah diberikan melalui Yesus Kristus.

Rasa cukup bukan berarti kita berhenti berharap atau berusaha. Rasa cukup berarti kita tidak menjadikan janji dunia sebagai sumber utama sukacita kita. Kita belajar berkata, “Jika Tuhan menghendaki saya memiliki lebih, saya bersyukur. Jika tidak, saya tetap bersyukur karena Tuhan sendiri cukup bagi saya.”

Mungkin itulah sebabnya orang-orang percaya yang paling bersyukur sering kali bukan mereka yang memiliki paling baik dan paling banyak, melainkan mereka yang paling menyadari betapa besar kasih karunia Tuhan dalam hidupnya.

Setiap pagi, ketika kita membuka mata, kita dapat mengingat bahwa rahmat Tuhan masih tersedia. Kasih setia-Nya tidak akan berakhir sampai akhir hayat kita. Kesetiaan-Nya tidak berkurang sedikit pun. Dan jika Tuhan masih menyertai kita hari ini, kita memiliki alasan yang cukup untuk bersyukur selama hidup.

Doa Penutup

Bapa di surga, ajarlah kami memiliki hati yang merasa cukup di dalam Engkau. Jauhkan kami dari sikap yang selalu mengeluh dan membandingkan diri dengan orang lain. Bukalah mata kami untuk melihat kasih setia dan rahmat-Mu yang selalu baru setiap pagi. Tolong kami untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan, karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar