Sekarang Bersyukur

“Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku –”
— ‭‭1 Timotius‬ ‭1‬:‭12‬‬

Salah satu lagu himne yang sangat indah adalah “Sekarang Bersyukur”, terjemahan dari lagu “Now Thank We All Our God” yang ditulis oleh Martin Rinkart pada tahun 1636. Lagu ini telah dinyanyikan oleh orang-orang percaya selama berabad-abad sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

Namun, menyanyikan lagu tentang ucapan syukur sering kali lebih mudah daripada menjalankannya. Tidak sedikit orang yang merasa hidup mereka terlalu biasa untuk disyukuri. Mereka tidak melihat mujizat besar, tidak memiliki kekayaan berlimpah, tidak menikmati kesehatan yang sempurna, dan bahkan mungkin sedang menghadapi berbagai kesulitan. Dalam keadaan seperti itu, ucapan syukur terasa berat.

Di sinilah kita dapat belajar dari Rasul Paulus.

Dalam 1 Timotius 1:12-17, Paulus membuka sedikit tirai kehidupan pribadinya. Ia tidak memulai dengan menceritakan keberhasilannya sebagai rasul, jumlah jemaat yang didirikannya, atau pengaruh pelayanannya yang luas. Sebaliknya, ia memulai dengan ucapan syukur kepada Kristus Yesus yang telah menguatkannya.

Paulus memahami satu kebenaran penting: segala sesuatu yang ia miliki berasal dari kasih karunia Allah. Ia tahu bahwa dahulu ia bukanlah seorang yang layak dipilih Tuhan. Sebelum bertobat, ia adalah Saul, seorang penganiaya gereja yang memburu dan memenjarakan orang-orang percaya. Masa lalunya penuh noda dan permusuhan terhadap Kristus.

Karena itu, ketika Paulus melihat hidupnya sekarang, ia tidak melihat prestasinya sendiri. Ia melihat karya Kristus yang ajaib. Ia menyadari bahwa perubahan hidupnya bukanlah hasil tekad manusia, melainkan hasil pekerjaan Allah yang mengubah hati dan hidupnya.

Itulah sebabnya ia berkata, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku.”

Paulus mengingat ajaran Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:5, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Kuasa untuk melayani, bertahan dalam penderitaan, mengajar jemaat, dan tetap setia bukan berasal dari dirinya sendiri. Semua itu berasal dari Kristus yang bekerja di dalam dirinya.

Lebih menarik lagi, Paulus berkata bahwa Kristus “menganggap aku setia.” Ia tidak mengatakan bahwa dirinya telah membuktikan kesetiaan sehingga layak dipilih. Sebaliknya, Allah yang terlebih dahulu menilai, memanggil, dan membentuknya menjadi seorang yang setia.

Ini adalah kasih karunia yang luar biasa. Allah tidak memilih Paulus karena ia sudah sempurna. Allah memilihnya dan kemudian membentuknya sesuai dengan panggilannya.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Banyak orang merasa hidup mereka tidak cukup istimewa. Mereka melihat kelemahan, kegagalan, usia yang bertambah, keterbatasan fisik, atau kesempatan yang tidak lagi sebanyak dulu. Akibatnya, mereka lebih mudah menghitung apa yang kurang daripada mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan.

Namun Paulus mengajarkan cara pandang yang berbeda. Dasar syukur terbesar bukanlah keadaan hidup yang nyaman, melainkan kenyataan bahwa Kristus telah menyelamatkan kita, menguatkan kita, dan tetap memakai kita untuk tujuan-Nya.

Setiap hari yang masih diberikan Tuhan adalah anugerah. Setiap kesempatan untuk berdoa, melayani, mengasihi keluarga, menghibur sesama, dan menjadi saksi Kristus adalah karunia yang tidak layak kita terima. Kita bersyukur menjadi hamba-hamba Tuhan.

Karena itu, ucapan syukur tidak perlu menunggu keadaan menjadi sempurna. Kita dapat bersyukur sekarang juga. Kita bersyukur bukan karena semua masalah telah hilang, melainkan karena Kristus tetap setia. Kita bersyukur bukan karena kekuatan kita besar, melainkan karena Dia yang menguatkan kita. Kita bersyukur bukan karena kita layak, melainkan karena kasih karunia-Nya yang terus bekerja dalam hidup kita. Kita bersyukur bukan karena kita orang yang terpandang di dunia, tetapi karena kita sudah menjadi hamba Tuhan yang merdeka dari kuasa dosa.

“Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.”
— ‭‭1 Korintus‬ ‭7‬:‭22‬‬

Seperti Paulus, marilah kita memandang hidup dengan mata yang tertuju kepada Kristus di surga. Ketika kita melihat apa yang telah Dia lakukan bagi kita, hati kita akan menemukan banyak alasan untuk berkata, “Sekarang bersyukur.”

Doa Penutup

Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas segala anugerah yang Engkau berikan dalam hidup kami. Ampunilah kami ketika kami lebih sering melihat kekurangan daripada menghitung berkat-berkat-Mu. Ajarlah kami memiliki hati seperti Paulus yang menyadari bahwa semua yang baik dalam hidup kami berasal dari kasih karunia-Mu.

Terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan kami melalui Kristus, menguatkan kami setiap hari, dan tetap memakai kami meskipun kami memiliki banyak kelemahan. Tolonglah kami untuk tidak menunda ucapan syukur sampai keadaan menjadi lebih baik, tetapi belajar bersyukur sekarang juga karena Engkau tetap setia.

Penuhi hati kami dengan sukacita yang lahir dari pengenalan akan kasih-Mu. Biarlah hidup kami menjadi ungkapan syukur yang nyata melalui perkataan, sikap, dan pelayanan kami kepada sesama.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar