Sekalipun Ada Penderitaan, Tuhan Selalu Menguatkan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
— Yeremia 29:11

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
— Roma 8:28

Dalam kehidupan, ada saat-saat ketika hati manusia terasa sangat berat. Ada orang yang kehilangan pekerjaan, kehilangan kesehatan, kehilangan orang yang dikasihi, atau menghadapi kegagalan yang menghancurkan harapan. Dalam keadaan seperti itu, dua ayat di atas sering dikutip untuk menghibur. Namun sayangnya, kadang-kadang ayat tersebut dipakai tanpa pengertian yang benar sehingga orang yang sedang menderita justru merasa semakin sedih.

Mereka mulai bertanya dalam hati: “Kalau Tuhan punya rancangan damai sejahtera, mengapa hidupku penuh air mata?” Atau, “Kalau Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, mengapa penderitaan ini begitu menyakitkan?”

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya akan hidup tanpa penderitaan. Justru banyak tokoh iman mengalami pergumulan yang sangat berat. Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya. Daud sering hidup dalam ketakutan dan pelarian. Rasul Paulus mengalami penjara, penganiayaan, dan penderitaan fisik. Bahkan dalam Yesaya 53:3 Yesus Kristus sendiri disebut sebagai “Manusia penuh kesengsaraan.”

Yeremia 29:11 diberikan bukan kepada umat Kristen secara umum, tetapi secara khusus kepada bangsa Israel ketika mereka sedang hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka jauh dari tanah air dan hidup dalam kesedihan. Tuhan tidak berkata bahwa semua masalah mereka akan langsung selesai. Namun Tuhan ingin mereka tahu bahwa penderitaan bukan akhir dari cerita. Tuhan tetap memegang masa depan umat-Nya.

Roma 8:28 yang diberikan untuk semua umat percaya, tidak mengatakan bahwa semua hal yang terjadi, pada akhirnya, adalah baik. Penyakit tetap menyakitkan. Pengkhianatan tetap melukai. Dukacita tetap membuat air mata jatuh. Tetapi di tengah semua itu, Tuhan bekerja. Tangan-Nya tidak berhenti hanya karena hidup manusia sedang sengsara.

Banyak orang lalu menghubungkan ayat-ayat ini dengan hukum tabur-tuai secara sederhana: orang baik pasti hidup lancar, sedangkan orang yang menderita pasti sedang dihukum Tuhan. Padahal Alkitab tidak mengajarkan demikian.

Memang manusia sering menuai akibat dari apa yang ditaburnya. Kemalasan dapat membawa kesulitan, dosa dapat merusak hidup, dan kebencian dapat menghancurkan hubungan. Namun tidak semua penderitaan adalah akibat langsung dari dosa pribadi. Dan tidak semua dosa akan menerima hukuman Tuhan secara langsung.

Sering kali manusia berharap melihat keadilan Tuhan terjadi secara langsung dan segera:

  • orang baik langsung diberkati,
  • orang jahat langsung dihukum.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang hidupnya jahat tetapi tampaknya berhasil dan nyaman. Sebaliknya, ada orang saleh yang justru mengalami penderitaan panjang. Pergumulan ini bahkan muncul berkali-kali dalam kitab Mazmur dan tulisan para nabi.

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus menunjukkan bahwa penilaian akhir Tuhan tidak selalu terlihat dalam kehidupan sekarang. Dalam dunia ini, orang kaya itu hidup mewah sementara Lazarus menderita di depan pintunya. Jika memakai ukuran manusia, mungkin orang mengira si kaya diberkati Tuhan dan Lazarus ditinggalkan Tuhan.

Ayub menderita bukan karena ia hidup jahat. Bahkan Yesus Kristus sendiri yang tidak berdosa mengalami penderitaan paling berat di kayu salib. Dari sini kita belajar bahwa penderitaan kadang menjadi bagian dari proses Tuhan membentuk iman, ketekunan, dan pengharapan umat-Nya.

Tetapi, seseorang bisa menderita bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan karena ia hidup di tengah dunia yang rusak. Anak kecil bisa sakit. Orang benar bisa menjadi korban kejahatan. Orang yang setia bisa kehilangan pekerjaan atau mengalami musibah dan bahkan tewas. Ini bukan “nasib”.

Sering kita baru mengerti mengapa Tuhan mengizinkan datangnya penderitaan setelah melewati lembah yang panjang. Ada orang yang melalui penderitaan justru menjadi lebih rendah hati, lebih peka terhadap sesama, lebih dekat kepada Tuhan, dan lebih memahami arti kasih karunia. Tuhan dapat memakai bahkan pengalaman yang pahit untuk membentuk iman anak-anak-Nya dan mengubah keadaan masyarakat di sekeliling mereka.

Ini bukan berarti orang Kristen harus pura-pura kuat atau menutupi kesedihan. Bukan juga harus mengerti mengapa suatu penderitaan terjadi. Tuhan tidak melarang kita menangis, karena sedih, karena hidup yang jauh dari rasa nyaman. Yesus sendiri menangis di kubur Lazarus. Air mata bukan tanda lemahnya iman. Sering kali air mata adalah bahasa hati yang paling jujur di hadapan Tuhan.

Karena itu, ketika kita menghadapi penderitaan, jangan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita. Mungkin kita belum memahami rencana-Nya sekarang, tetapi Tuhan tetap bekerja dalam diam. Ia tetap memegang hidup kita sekalipun keadaan terlihat kacau.

Sebaliknya, ketika melihat orang lain menderita, jangan terburu-buru memberikan nasihat rohani yang dingin. Kadang-kadang kehadiran kita yang penuh kasih lebih berarti daripada banyak kata. Belajarlah mendengar, mendoakan, dan berjalan bersama mereka. Bukan dengan mudah menyatakan bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan untuk kebaikan mereka, atau sesuatu yang harus diterima karena adanya kesalahan di masa lalu (Yohanes 9:1-3).

Pengharapan orang percaya bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan keyakinan bahwa Tuhan setia menyertai di tengah masalah. Dunia dapat berubah, manusia dapat mengecewakan, dan keadaan dapat menjadi sulit, tetapi kasih Tuhan tetap tidak berubah.

Pada akhirnya, orang percaya dapat berkata: “Aku mungkin terluka, tetapi aku tidak sendirian. Tuhan tetap memegang tanganku dan saudaraku tetap mendampingi aku.”

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
ketika kami menghadapi penderitaan dan pergumulan hidup, sering kali hati kami menjadi lemah dan bingung. Tolong kami untuk tetap percaya bahwa Engkau tidak meninggalkan anak-anak-Mu. Ajarlah kami melihat bahwa sekalipun kami tidak selalu mengerti jalan-Mu, tangan-Mu tetap bekerja dalam hidup kami.

Berikan kekuatan bagi mereka yang sedang sakit, berduka, kecewa, atau kehilangan harapan. Hiburlah hati mereka dengan kehadiran-Mu. Ajarlah kami juga menjadi saluran kasih-Mu bagi orang lain, bukan dengan kata-kata yang menghakimi, tetapi dengan hati yang penuh belas kasihan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar