“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.”
— Roma 9:16

Di banyak keluarga Kristen ada satu pertanyaan yang sering menimbulkan kesedihan dan kebingungan. Mengapa saudara sekandung bisa bertumbuh sangat berbeda dalam hal iman, padahal mereka dibesarkan dalam rumah yang sama?
Ada anak yang mengasihi Tuhan sejak muda, setia beribadah, dan hidup dekat dengan firman. Tetapi saudaranya mungkin menjadi dingin terhadap Tuhan, menjauh dari gereja, atau bahkan mempertanyakan iman yang dahulu diajarkan kepadanya.
Bagi orang tua, hal ini bisa menjadi luka yang dalam. Mereka bertanya dalam hati: “Apakah kami gagal mendidik anak kami?” Ada pula saudara yang mulai saling menghakimi: yang satu merasa lebih rohani, yang lain merasa tidak dimengerti.
Namun Alkitab menunjukkan bahwa kenyataan seperti ini bukan hal baru. Kain dan Habel berasal dari keluarga yang sama, tetapi hati mereka berbeda. Yakub dan Esau lahir dari rahim yang sama, tetapi jalan hidup mereka tidak sama.
Studi terhadap anak kembar identik yang dibesarkan di lingkungan terpisah menunjukkan bahwa sekitar 40% variasi tingkat spiritualitas seseorang dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik). Sementara itu, 60% sisanya dibentuk oleh lingkungan, pola asuh keluarga, budaya, dan pengalaman hidup pribadi. Seseorang bisa saja memiliki “bakat spiritual” yang tinggi secara genetik (mudah tersentuh atau kagum), tetapi ia tetap bisa memilih untuk menjadi ateis atau menolak untuk taat.
Semua ini mengingatkan kita bahwa iman tidak diwariskan secara otomatis melalui hubungan darah atau genetika. Tidak ada seorang pun menjadi anak Tuhan hanya karena lahir di keluarga Kristen. Tidak ada seorang pun yang bisa menemukan Tuhan dengan usaha sendiri atau bakat pribadi. Keselamatan bukan warisan keluarga, melainkan pekerjaan anugerah Allah di dalam hati seseorang.
Orang tua memang mempunyai tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak di dalam Tuhan. Mereka dipanggil mengajar firman, memberi teladan, dan membangun kehidupan rohani di rumah. Mereka seharusnya mengajak anak-anak untuk setia pergi ke gereja. Tetapi pada akhirnya, hanya Roh Kudus yang dapat membuka hati manusia dan menuntunnya ke arah kebenaran,
Rasul Paulus berkata:
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
— 1 Korintus 3:6
Betapa pentingnya ayat ini. Orang tua dapat menanam benih firman. Gereja dapat menyiram melalui pengajaran dan persekutuan. Tetapi pertumbuhan rohani tetap berasal dari Tuhan.
Karena itu, orang tua Kristen tidak perlu hidup dalam kesombongan rohani ketika anak-anak mereka berjalan baik. Semua itu adalah anugerah Tuhan. Sebaliknya, mereka juga tidak harus tenggelam dalam rasa bersalah tanpa akhir ketika ada anak yang menjauh dari iman. Setiap manusia, tua dan muda, pada akhirnya harus memberikan respons pribadinya sendiri kepada Tuhan yang sudah memanggil mereka.
Kadang-kadang ada anak yang sejak kecil terlihat jauh dari Tuhan, tetapi justru di kemudian hari mengalami pertobatan yang mendalam. Ada pula yang tampak rajin secara lahiriah, tetapi hatinya sebenarnya dingin. Manusia melihat penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati.
Itulah sebabnya keluarga Kristen dipanggil bukan untuk memaksa pertobatan, melainkan untuk setia menghadirkan Injil di dalam rumah. Kasih, doa, pengampunan, kerendahan hati, dan teladan hidup sering berbicara lebih kuat daripada banyak nasihat.
Tidak sedikit anak yang akhirnya kembali kepada Tuhan karena mereka mengingat doa ibunya, kesabaran ayahnya, atau suasana rumah yang pernah memperkenalkan kasih Kristus kepada mereka. Benih firman yang ditanam sejak kecil sering tetap tinggal diam-diam di dalam hati, bahkan ketika seseorang tampak jauh dari Tuhan.
Karena itu jangan berhenti berdoa bagi anggota keluarga yang belum sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan. Jangan cepat putus asa. Selama Tuhan masih memberi hidup, kasih karunia-Nya masih bekerja.
Dan bagi mereka yang hari ini tetap setia dalam iman, jangan menjadi sombong terhadap saudara yang sedang lemah. Kesetiaan kita pun adalah anugerah Tuhan, bukan semata-mata kekuatan diri sendiri.
Pada akhirnya, keselamatan adalah pekerjaan Allah. Tugas kita adalah tetap setia menanam, menyiram, mengasihi, dan berdoa—sambil percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja melampaui apa yang dapat kita lihat.
Doa Penutup
Tuhan, ajar kami memahami bahwa keselamatan adalah anugerah-Mu. Berikan kami hati yang setia untuk terus menanam firman dan menjadi teladan kasih di dalam keluarga kami. Tolong kami untuk tidak sombong ketika melihat pertumbuhan rohani, dan tidak putus asa ketika melihat anggota keluarga yang masih jauh dari-Mu. Roh Kudus, bekerjalah di dalam hati setiap orang yang kami kasihi. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.