“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
— Roma 12:2

Di zaman ini, banyak orang tua Kristen menghadapi pergumulan yang tidak mudah. Dunia yang dahulu memiliki batas moral yang cukup jelas sekarang berubah dengan sangat cepat. Apa yang dulu dianggap bertentangan dengan ajaran Alkitab kini sering dipresentasikan sebagai sesuatu yang normal, baik, bahkan harus dirayakan. Anak-anak pun bertumbuh di tengah media sosial, sekolah, film, dan lingkungan yang terus membentuk cara berpikir mereka tentang identitas, keluarga, dan seksualitas.
Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan dirancang Tuhan sebagai satu perjanjian kudus antara pria dan wanita. Tetapi, di zaman ini, banyak orang yang menganggap pernikahan sebagai cohabitation yang berupa “eksperimen hidup bersama antara dua insan yang sejenis atau yang berbeda jenis”. Ini sering dijumpai di kalangan orang-orang yang terlihat sukses dan terkenal. Tidak diragukan bahwa banyak anak muda yang kemudian meniru karena itu mungkin sudah dianggap biasa.
Banyak orang tua bingung ketika harus berelasi dengan teman, tetangga, atau keluarga yang menjalani gaya hidup yang tidak sesuai dengan keyakinan Kristen. Apalagi jika anak-anak mereka bermain bersama. Anak kecil belum mampu memahami perbedaan antara menghormati seseorang dan menerima semua nilai hidupnya sebagai benar. Mereka cenderung berpikir sederhana: “Kalau mereka bukan orang jahat, berarti semua yang mereka lakukan juga baik.”
Sebagian orang tua mencoba melindungi anak dengan menjauhkan mereka dari semua pengaruh luar. Sebagian lagi memilih diam karena takut dianggap tidak toleran. Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan untuk hidup dalam ketakutan ataupun mengikuti arus dunia tanpa arah. Kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak dalam kasih dan kebenaran Tuhan.
Tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa semua manusia adalah orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia Tuhan. Karena itu, orang Kristen tidak boleh membenci atau merendahkan orang lain, termasuk mereka yang memiliki pandangan hidup berbeda.
Inilah keseimbangan yang sulit tetapi penting: mengasihi tanpa kehilangan kebenaran.
Karena itu orang tua tidak boleh pasif. Anak-anak membutuhkan penjelasan yang lembut tetapi jelas. Mereka perlu tahu bahwa orang Kristen dipanggil untuk menghormati semua orang, namun tetap memegang apa yang Tuhan ajarkan.
Jika orang tua hanya berkata, “Pokoknya salah,” anak bisa tumbuh dengan kebingungan atau bahkan kemarahan. Tetapi jika orang tua tidak pernah menjelaskan apa pun, dunia akan mengambil alih pembentukan hati dan pikiran mereka. Ketika mereka menyadari apa yang sudah terjadi, biasanya itu sudah terlambat.
Yesus Kristus memberi teladan yang indah. Ia makan bersama orang berdosa, tetapi Ia tidak mengikuti dosa mereka. Ia penuh kasih, namun tidak mengaburkan kebenaran. Dunia sering memaksa kita memilih antara kasih atau kebenaran, tetapi Yesus menunjukkan bahwa keduanya harus berjalan bersama.
Anak-anak belajar bukan hanya dari perkataan, tetapi juga dari apa yang terjadi di rumah. Jika mereka melihat ayah dan ibu hidup dalam kasih, kesetiaan, pengampunan, dan hormat satu sama lain, mereka melihat gambaran nyata dari rancangan Tuhan tentang keluarga. Sebaliknya, jika rumah penuh pertengkaran, kekerasan, pelecehan, atau kepahitan, anak akan lebih mudah bingung ketika dunia menawarkan definisi cinta yang berbeda.
Selain itu, orang tua juga perlu bijaksana memilih lingkungan yang paling dekat memengaruhi anak. Alkitab berkata:
“Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”
— 1 Korintus 15:33
Ini bukan berarti kita membenci orang lain atau merasa lebih suci. Bahkan Yesus memanggil kita menjadi terang dunia. Tetapi terang hanya dapat menerangi jika ia sendiri tidak kehilangan cahayanya.
Pada akhirnya, tugas orang tua Kristen bukan menciptakan anak yang takut kepada dunia, melainkan anak yang mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh. Orang yang takut akan Tuhan. Dunia akan terus berubah. Nilai-nilai masyarakat akan terus bergeser. Tetapi anak yang memiliki akar iman yang kuat akan lebih mampu berdiri teguh tanpa kehilangan kasih kepada sesama.
Kiranya Tuhan memberi hikmat kepada setiap orang tua untuk membimbing anak-anak mereka dengan kasih, keberanian, dan kebenaran di tengah zaman yang semakin membingungkan.
Doa Penutup
Tuhan, berikan kami hikmat sebagai orang tua untuk membimbing anak-anak kami di tengah dunia yang terus berubah. Tolong kami agar tidak membesarkan mereka dengan kebencian atau ketakutan, tetapi dengan kasih dan kebenaran-Mu. Ajarlah kami menjadi teladan yang baik di dalam keluarga, sehingga anak-anak kami melihat terang Kristus melalui hidup kami. Lindungilah hati dan pikiran mereka dari pengaruh yang menjauhkan mereka dari kehendak-Mu. Berikan keberanian kepada kami untuk tetap setia kepada firman-Mu, sekaligus tetap mengasihi sesama dengan rendah hati. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.