“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
— 2 Korintus 9:7

Memberi adalah salah satu bentuk kasih yang sangat ditekankan dalam Alkitab. Ayat di atas sering kita dengar ketika kantung persembahan akan diedarkan di gereja. Tetapi, mempersembahkan dengan sukacita bukan satu-satunya hal yang perlu kita perhatikan.
Tuhan Yesus memang mengajar murid-murid-Nya untuk peduli kepada orang miskin, menolong yang lemah, dan berbagi dengan sesama. Gereja mula-mula pun dikenal sebagai komunitas yang murah hati. Banyak orang Kristen bertumbuh dengan pengertian bahwa memberi adalah bagian penting dari kehidupan iman.
Namun Alkitab juga menunjukkan bahwa memberi perlu dilakukan dengan hikmat. Tidak semua pemberian otomatis baik di hadapan Tuhan. Ada kalanya pemberian justru mendukung dosa, memelihara kemalasan, atau lahir dari motivasi yang salah. Karena itu, kasih Kristen tidak hanya membutuhkan hati yang lembut, tetapi juga kebijaksanaan rohani.
Rasul Paulus menulis dengan tegas:
“Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”
— 2 Tesalonika 3:10
Perkataan ini bukan berarti Tuhan tidak peduli kepada orang miskin atau mereka yang sungguh-sungguh menderita. Paulus sedang menegur orang-orang yang sebenarnya mampu bekerja tetapi memilih hidup tidak bertanggung jawab sambil bergantung pada belas kasihan orang lain. Dalam keadaan seperti itu, pemberian tanpa hikmat justru dapat memperkuat kebiasaan yang salah.
Alkitab juga mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap keluarga tidak boleh diabaikan demi terlihat murah hati di luar rumah. Paulus berkata:
“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.”
— 1 Timotius 5:8
Kerohanian sejati bukan hanya terlihat dari banyaknya seseorang memberi, tetapi juga dari kesetiaannya mengasihi dan memelihara keluarga yang Tuhan percayakan kepadanya. Charity begins at home.
Selain itu, Alkitab memperingatkan bahwa memberi bisa dipakai untuk tujuan yang tidak murni. Ada orang yang memberi bukan karena kasih, melainkan untuk “membeli” dukungan, perhatian, pengaruh, atau rasa hormat dari orang lain. Di dunia politik dan ekonomi, hal seperti ini sering terlihat. Bantuan atau hadiah kadang dipakai untuk membangun loyalitas dan ketergantungan agar orang lain mengikuti kehendaknya.
Namun sikap seperti ini juga dapat muncul dalam keluarga maupun gereja. Ada orang tua yang memakai pemberian materi untuk “mengendalikan” anak-anaknya. Ada juga orang tua atau kakek/nenek yang senang memanjakan anak atau cucu mereka tanpa memikirkan dampaknya. All the joy without responsibility.
Ada orang yang memberi sumbangan besar untuk gereja supaya pendapatnya lebih didengar atau posisinya lebih dihormati. Ada pula yang memberi untuk mendapatkan pujian, perhatian, atau rasa “dibutuhkan” oleh orang lain. Ini adalah bentuk usaha pencitraan.
Ada juga pendeta yang mengajarkan bahwa jika kita memberi kepada Tuhan, Ia akan membalas pemberian itu dengan berlipat ganda. Ini menyamakan Tuhan dengan bank yang memberi bunga kepada para nasabah. Tuhan yang merupakan sumber hidup kita tidak membutuhkan donasi kita!
Secara lahiriah tindakan-tindakan seperti itu tampak baik dan murah hati, tetapi di dalamnya tersembunyi keinginan untuk menguasai hati orang lain atau memuaskan diri sendiri. Pemberian kemudian berubah menjadi alat manipulasi.
Tuhan Yesus mengingatkan:
“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkannya seperti yang dilakukan orang munafik.”
— Matius 6:2
Tuhan melihat bukan hanya tangan yang memberi, tetapi juga hati di balik pemberian itu. Ia mengetahui apakah kita memberi dengan kasih yang tulus atau dengan pamrih atau motivasi tersembunyi.
Kasih sejati tidak berusaha membeli manusia. Kasih memberi tanpa memaksa orang berutang budi. Kasih tidak menjadikan bantuan sebagai alat kontrol. Tuhan sendiri memberi anugerah kepada manusia bukan untuk memanipulasi, tetapi untuk menyelamatkan dan memulihkan.
Karena itu, orang percaya perlu memeriksa hati mereka saat memberi. Apakah kita sungguh ingin menolong? Ataukah kita sedang mencari pengaruh, penghargaan, rasa aman, atau kuasa atas orang lain?
Memberi dengan bijaksana berarti menggabungkan kasih, kebenaran, dan kemurnian hati. Tuhan ingin kita menjadi saluran berkat, bukan memakai pemberian sebagai alat kepentingan diri sendiri.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
ajarilah kami memiliki hati yang murah hati dan tulus. Jauhkan kami dari motivasi yang tersembunyi saat memberi. Ampunilah kami jika pernah memakai bantuan, hadiah, atau kebaikan untuk mencari pujian, pengaruh, atau mengendalikan orang lain.
Berikan kami hati yang bersih di hadapan-Mu. Ajarlah kami memberi dengan kasih yang murni, tanpa pamrih, tanpa manipulasi, dan tanpa keinginan meninggikan diri sendiri. Berikan juga kami hikmat supaya pertolongan yang kami berikan benar-benar membawa kebaikan dan pertumbuhan bagi sesama.
Tolong kami agar setia kepada tanggung jawab dalam keluarga, gereja, dan kehidupan sehari-hari. Biarlah setiap pemberian kami menjadi kesaksian tentang kasih Kristus yang sejati.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.