Menuruti hukum itu tidak mudah

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Sekitar 3500 pengunjuk rasa anti-lockdown berbaris di kawasan Central Business District (CBD) Sydney, negara bagian New South Wales (NSW), di Australia, pada hari Sabtu (24/7/2021). Demo terjadi pada saat kasus infeksi COVID-19 harian melonjak di wilayah tersebut. Menteri Kepolisian NSW, David Elliott, yang kesal dengan demonstrasi itu karena momennya tidak tepat, mencap para demonstran itu sebagai kelompok “orang bodoh yang egois”.

Foto-foto yang mengejutkan menunjukkan para pengunjuk rasa berkerumun bersama-sama saat mereka berjalan di jalan utama Broadway menuju pusat kota, memegang rambu-rambu dan menghentikan lalu lintas. Dalam keadaan sedemikian, bentrokan dengan para penegak hukum tidaklah dapat dihindari dan puluhan demonstran sudah ditangkap atau dicatat namanya oleh polisi. David Elliott mengatakan satuan tugas detektif kepolisian akan bekerja sepanjang waktu untuk mengidentifikasi para pengunjuk rasa dan menuntut mereka karena melanggar protokol kesehatan masyarakat.

Mengapa orang kadangkala bisa bertindak seperti hewan yang tidak mengerti hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst”. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa hukum tidak dapat menangkap mereka. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan aturan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apa pun yang bisa menghentikan kehendak mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen untuk taat kepadanya. Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik. Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ini mungkin menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi mereka yang berani mengambil risiko mungkin tidak ragu untuk menggunakan uang negara selagi ada kesempatan.

Ketaatan bukan saja dalam hal tidak melanggar hukum pidana dan perdata, tetapi juga dalam hal menuruti pedoman dan bimbingan dari yang berwajib, misalnya dalam hal memelihara kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan sesama. Dalam usaha untuk mengatasi pandemi ini, sudah tentu orang Kristen tidak ingin untuk menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan apa yang dianjurkan pemerintah untuk kebaikan bersama.

Adanya pemerintah dan pimpinan bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pedoman pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada bimbingan dan aturan pemerintahnya. Mungkin ada orang Kristen yang berpendapat bahwa jika ia tidak taat kepada anjuran pemerintah, itu hanya menyangkut dirinya sendiri. Dalam melakukan tindakan seperti menerima atau menolak anjuran pemerintah tentang prosedur kesehatan tertentu, mereka berpikir bahwa itu adalah hak pribadi mereka. Itu ada benarnya, jika apa yang mereka lakukan tidak memengaruhi hidup orang senegara. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, kecuali jika ia melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan pemerintah, karena pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Masih adakah manfaat doa di saat ini?

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Walaupun demikian, di saat ini mungkin semua orang berharap agar jangan sampai sakit apa pun, sekalipun batuk-pilek yang biasanya dianggap ringan. Adanya pandemi memang membuat orang lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas agar tidak terpapar Covid-19. Selain itu, karena rumah sakit pada saat ini sudah banyak yang penuh, berobat ke rumah sakit adalah sesuatu yang mutlak harus dihindari.

Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaan-Nya tetap berfungsi seperti apa yang dirancang-Nya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatan-Nya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaan-Nya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya, tetapi kepada semua mahluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat di atas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendak-Nya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat di atas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Sering kali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunan-Nya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apa pun apabila sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan sering kali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang mengalami gangguan kejiwaan karena suasana pandemi yang menakutkan. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa memperbaiki kehidupan manusia, baik dalam keluarga, masyarakat ataupun negara untuk kemuliaan-Nya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dari-Nya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru di dalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.

Bila suara Tuhan tak terdengar

“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Pernahkah anda mengalami kejadian yang sangat menekan perasaan dan pikiran anda? Mungkin itu disebabkan oleh keadaan di sekitar anda, atau karena sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, atau karena kekeliruan yang anda perbuat, dan mungkin juga karena adanya perbuatan buruk orang lain. Dalam hidup ini, masalah besar ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus kita hadapi, karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada. Hidup kita menjadi sesak rasanya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakuasa dan mahakasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepada-Nya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.

Memang ada orang-orang yang merasa bahwa setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa dan bahkan putus asa dan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka.

Benarkah Tuhan terkadang tidak menjawab permohonan anak-anak-Nya? Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan selalu menjawab doa mereka yang percaya. Doa yang tidak terjawab menunjukkan kelemahan iman, begitu kata mereka. Dan mereka memakai ayat Matius 7: 11 sebagai pedoman, bahwa Tuhan pasti menjawab doa-doa kita dan memberikan apa yang kita minta. Tetapi ajaran semacam itu tidaklah benar.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firman-Nya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepada-Nya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apapun, kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, mahaadil dan mahabijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbingan-Nya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, pada saatnya kita akan mendengar suara-Nya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan di saat ini. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepada-Nya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bagi umat-Nya yang mengalami masalah, Tuhan berkata dalam ayat pembukaan di atas bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang mahakasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang mahakuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apa pun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan di dalam Dia.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Saat ini, jika kita merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umat-Nya pada saat yang tepat.

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda tetap mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya. Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita, tetapi dengan kebijaksanaan-Nya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikan-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Berkat yang sejati membuat kita makin dekat kepada Tuhan

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Kejadian 26: 12-13

Ayat di atas adalah ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan memberkati Ishak yang dikasihi-Nya. Ishak yang menuruti perintah Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, tetapi ke Gerar di tanah bangsa Filistin, ketika ada wabah kelaparan. Jelas bahwa berkat Tuhan melimpah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.

Memang enak kalau orang mendapat kemakmuran dan keberhasilan. Seperti Ishak yang diberkati Tuhan sehingga menjadi sangat kaya. Sebaliknya, rasa sedih kadang muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu? Dan apakah berkat Tuhan harus berupa kekayaan, keberhasilan dan kenyamanan?

Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Dalam hidup sehari-hari, berkat adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang yang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

Berkat Tuhan yang semula untuk semua mahluk ciptaan-Nya, termasuk manusia, adalah agar mereka mengalami kemakmuran, kedamaian dan kepuasan hidup, tetapi ini dirusakkan oleh dosa. Walau demikian, kita melihat dari ayat diatas bahwa Tuhan tetap mau memberkati orang-orang yang mengasihi-Nya. Sayang sekali bahwa di zaman ini banyak orang yang berpikir bahwa berkat Tuhan adalah segala sesuatu yang nyata dan bisa dinikmati.

Berkat materi dari Tuhan sering disalahgunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran, kasih dan maksud baik-Nya. Berkat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anak-Nya. Apa yang nampak sebagai berkat Tuhan, tetapi ternyata tidak memperkuat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, mungkin bukan datang dari Tuhan.

Dapatkah kita merasakan berkat Tuhan di zaman pandemi ini? Dapatkah orang memakai apa yang sebelumnya terasa nikmat untuk bisa hidup tenteram hari lepas hari di saat ini? Kelihatannya semua orang merasa gundah, susah dan kuatir dengan keadaan yang tidak kunjung teratasi. Kebahagiaan ternyata tidak dapat dicapai dengan materi. Jika demikian, berkat apakah yang kita inginkan dari Tuhan?

Buat orang percaya, yang harus selalu diingat adalah berkat yang terbesar yang bisa diterima anak-anak Tuhan, yaitu hidup baru dan pengampunan melalui iman dalam Yesus Kristus. Berkat materi yang kita terima hanya sementara, tetapi anugrah keselamatan-Nya adalah kekal.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Berkat rohani melalui darah Kristus adalah satu-satunya berkat yang tetap bisa dinikmati dalam keadaan apa pun. Berkat yang paling berharga, tetapi juga berkat yang mudah dilupakan karena kita menerimanya bukan melalui usaha kita. Di saat ini, berkat keselamatan inilah yang membuat kita kuat dan tahan menghadapi segala tantangan kehidupan di dunia karena kita sudah menjadi anak-anak Allah.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1: 3

Manusia tidak bisa menyelami jalan pikiran Tuhan

“Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah.” Mazmur 40:12

Sebulan yang lalu, tidak ada yang bisa membayangkan bahwa 3 di antara 6 negara bagian Australia harus mengalami lockdown lagi. Malang tak dapat ditolak, pada saat ini di Australia ada sekitar 1500 kasus aktif dan 10% di antaranya pada saat ini berada dalam perawatan rumah sakit. Bagi rakyat Australia, adanya lockdown ini terasa sebagai hukuman penjara dan sudah membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Bagi pemerintah Australia, keadaan yang berlarut-larut ini sudah pasti akan membuat ekonomi berantakan karena adanya banyak orang yang memerlukan uang tunjangan. Semua ini seperti sebuah malapetaka yang memengaruhi manusia secara jasmani maupun rohani.

Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul dalam keadaan seperti ini adalah mengapa ada pandemi, kejahatan dan penderitaan terjadi jika Tuhan itu ada. Mengapa musuh-musuh kita terus menerus menyerang kelemahan atau kesalahan kita? Mengapa ada orang yang harus masuk penjara atau dipecat dari pekerjaannya karena fitnah? Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal seperti itu?

Banyak orang yang beranggapan bahwa adanya hal-hal yang keji itu membuktikan Tuhan itu tidak ada. Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup di atas bisa menimbulkan pertanyaan:

1. Apakah Tuhan itu mahakasih tapi tidak mahakuasa?

2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tapi tidak mahakasih?

Kalau Tuhan itu memang mahakasih, sudah barang tentu Dia tidak akan membuat bencana sebagai pemberian untuk anak-anak-Nya. Tetapi dunia yang diciptakan-Nya dulu, bukanlah dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia kini adalah seperti semak duri yang dihuni anak-anak Tuhan dan anak-anak setan.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kebodohan manusia dan pemerintah. Bencana alam sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta. Tetapi bencana bukan sesuatu yang disenangi Tuhan. Itu adalah konsekuensi kejatuhan manusia dalam dosa. Sesudah kejatuhan, manusia hidup dalam dunia yang penuh masalah. Dalam dunia manusia bisa memilih apa pun yang mereka maui. Tambahan lagi, iblis ada dimana-mana dan berusaha menguasai manusia, terutama menyerang anak-anak Tuhan yang kurang waspada.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai anak-anak-Nya dan tidak membiarkan malapetaka datang atas mereka tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak pernah berubah sifatnya. Namun kadangkala Ia mengizinkan kita untuk mendapat pelajaran dari pengalaman kita, agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinan-Nya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anak-Nya untuk lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Kita tahu mengapa ada malapetaka dan kejahatan di bumi, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang jahat terjadi pada hidup anak-anak-Nya. Jalan pikiran-Nya tidak terjangkau manusia dan rencana-Nya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya dan Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana!

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Di saat badai bergelora

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1: 3 – 4

Pada saat pandemi sedang mengobrak-abrik negara kita, semua orang tentunya heran bahwa virus Covid-19 yang baru saja dijumpai pada awal tahun 2020, sekarang sudah mempunyai banyak varian yang lebih berbahaya. Dengan itu, jumlah korban pada gelombang kedua saat ini adalah jauh lebih besar dari apa yang tercatat pada gelombang pertama. Karena itu, hampir setiap orang tahu akan adanya teman atau sanak yang terpapar virus corona.

Banyak orang yang mengalami penderitaan atau masalah hidup akan mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada mereka. Why me? Pertanyaan sedemikian adalah lumrah bagi setiap orang, dan mungkin menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa segala sesuatu tidak berjalan secara acak, tetapi menurut suatu pola atau maksud tertentu. Pasti ada suatu sebab atau penyebabnya, dan karena itu mereka mempertanyakan hal itu. Bagi banyak orang, penyebab malapetaka atau masalah berat mungkin dihubungkan dengan nasib, kehendak Tuhan, hukuman Tuhan, atau kekejian manusia dan perbuatan iblis. Tetapi, sebagai umat Kristen kita tahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi dan tidak akan mencelakai anak-anak-Nya. Tetapi, pertanyaan yang sama tetap tidak terjawab: why me?

Memang dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan dengan itu segala kekejian manusia dan tipu daya iblis bisa mengancam kebahagiaan anak-anak Tuhan setiap saat. Tetapi bukankah Tuhan yang mahakuasa selalu melindungi umat-Nya? Mengapa Ia membiarkan kita mengalami segala masalah besar yang tidak kita duga? Mengapa aku? Why me?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa ia dan teman-teman seimannya juga mengalami penderitaan yang sangat besar di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas mereka adalah begitu besar dan berat, sehingga mereka telah putus asa dan bahkan menguatirkan hidup mereka. Saking beratnya masalah yang dihadapi, seolah-olah mereka telah dijatuhi hukuman mati (2 Korintus 1: 8 – 9).

Paulus menjelaskan bahwa hal yang buruk itu terjadi, supaya mereka jangan menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dengan adanya berbagai penderitaan, Paulus dan rekan-rekannya justru bisa menaruh pengharapan bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka seperti apa yang sudah terjadi pada saat-saat yang telah lalu.

Paulus dan rekan-rekannya percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kuasa Tuhan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Mereka adalah murid-murid Kristus yang mengalami penderitaan seperti Kristus. Jadi tidak perlu ada pertanyaan “why me”. Seperti Kristus, mereka sudah mendapat bagian dalam kesengsaraan, dan karena itu, seperti Kristus, mereka juga sudah menerima penghiburan berlimpah-limpah dari Allah Bapa.

Pagi ini, jika kita bangun dan sadar bahwa hidup ini tidak seindah yang kita harapkan, tetapi justru jauh lebih buruk dari apa yang kita duga, mungkin kita mempertanyakan kebijakan Tuhan yang mengizinkan semua itu terjadi. Bukan kita saja yang terkejut melihat bahwa apa yang terjadi adalah lebih parah dari apa yang diperkirakan, karena para pemimpin kita juga tidak pernah menduga bahwa keadaan bisa menjadi sangat buruk. Tetapi, seperti Paulus dan orang-orang percaya yang lain, biarlah kita yakin bahwa segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan.

Tuhanlah yang bisa menguatkan kita, dan bahkan memakai hidup kita untuk menguatkan orang lain, sehingga mereka beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kita derita. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan!

Mengapa kita haus akan mukjizat?

“Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya.” Yohanes 12: 37

Pandemi ini sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun, tetapi sampai sekarang orang tidak bisa menerka kapan dan bagaimana itu akan berakhir. Banyak orang yang berharap bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan-Nya dengan melakukan suatu tindakan yang ajaib, karena kelihatannya manusia sudah menemui jalan buntu.

Tiap hari, jika kita perhatikan, memang ada berita-berita tentang keajaiban yang terjadi di berbagai sudut dunia. Bagi mereka yang percaya adanya kekuasaan Ilahi, kejadian semacam itu adalah sesuatu yang membuat mereka kagum atas kebesaran Tuhan. Sedemikian besar keinginan sebagian diantara mereka untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada dan mahakuasa, mereka sampai-sampai mencari keajaiban dan mukjizat dalam segala bentuknya.

Di kalangan umat Kristen pun ada banyak orang yang selalu mencari pernyataan Tuhan dengan segala ragamnya. Ada orang-orang yang suka menafsirkan proses alami tertentu, seperti bentuk awan dan batu, sebagai penampilan Tuhan. Ada pula mereka yang menyukai orang-orang tertentu yang mengaku utusan Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Lebih dari itu, banyak orang yang gemar mendengar pesan dari mimbar tentang pentingnya memohon agar Tuhan memberi mukjizat bagi umat-Nya.

Adalah hal yang menarik untuk disimak bahwa selama Yesus masih di dunia, Ia tidaklah selalu membuat mukjizat di tempat-tempat yang dikunjungi-Nya. Tuhan Yesus memusatkan tenaga-Nya untuk memberitakan kabar keselamatan dan mengajarkan firman-Nya. Mereka yang mengikut Dia bukanlah selalu mengharapkan adanya mukjizat, tetapi mereka ingin mendengar kabar baik dari Tuhan. Sebagai Anak Allah, kebesaran dan kasih Tuhan Yesus sebenarnya tidak perlu ditopang dengan mukjizat yang memang diperbuat-Nya pada saat-saat tertentu, tetapi sudah dinyatakan dengan kematian dan kebangkitan-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, rasul-rasul harus bekerja keras untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis Yesus. Karena Yesus sudah tidak bersama dengan mereka, tugas untuk mengabarkan injil itu tidaklah mungkin dilaksanakan jika Roh Kudus tidak menyertai mereka. Untuk menambah otoritas mereka, Tuhan juga memberikan kemampuan untuk melakukan berbagai hal yang ajaib agar mereka yang tidak pernah melihat Yesus dan belum pernah mendengar nama-Nya, bisa diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Keadaan pada zaman ini adalah berbeda, karena hampir semua orang di dunia sudah pernah mendengar nama Yesus.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa sekalipun Yesus melakukan banyak mukjizat, sebagian orang tetap tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Bagi mereka, apa yang mereka lihat tidaklah mendatangkan iman. Mungkin hanya sekedar show. Hati mereka tertutup untuk Tuhan. Bagaimana pula jika pandemi ini dilenyapkan Tuhan di bulan depan? Apakah semua orang akan percaya kepada-Nya? Tentu tidak. Kepercayaan manusia kepada Tuhan tidak bergantung pada adanya mukjizat.

Iman adalah percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, kepada Tuhan yang Roh dan kepada kuasa dan kasih-Nya. Karena itu, apa yang terlihat manusia belum tentu bisa membawa kepada iman. Yesus memberi kesempatan kepada Tomas untuk membuktikan dengan mata kepalanya bahwa Ia sudah bangkit. Tetapi Ia juga berkata bahwa adalah lebih baik jika orang bisa percaya dan berserah kepada Tuhan tanpa perlu, dengan mata, melihat keajaiban Ilahi.

Dari manakah iman jika tidak dari perjumpaan dengan kuasa Tuhan? Pertanyaan yang benar, tetapi belum tentu dijawab dengan dengan benar. Karena jawabnya belum tentu mukjizat yang kita lihat dengan mata. Iman datangnya dari Tuhan, yang sudah bekerja dalam hati seseorang. Sekalipun tidak ada mukjizat yang muncul, Roh Kudus terus bekerja untuk membawa manusia kepada iman yang benar. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk memohon agar Tuhan menumbuhkan iman kita setiap hari dalam pergumulan hidup saat ini, daripada memohon agar Tuhan menghilangkan pergumulan hidup kita. Kita harus bisa meyerahkan segala sesuatu kepada Dia. Kehendak Tuhanlah yang harus terjadi di bumi seperti di surga.

Tiap hari, setiap kali kita menghirup udara segar, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban. Tetapi, keajaiban yang terbesar yang dilakukan Tuhan untuk kita adalah datangnya Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Inilah karunia yang terbesar, bahwa sekalipun kita sebenarnya harus mati karena dosa- dosa kita, melalui darah Yesus kita bisa menerima hidup yang kekal. Mengapa pula kita masih mendambakan datangnya mukjizat lain yang tidak dapat dibandingkan dengan pengurbanan Kristus?

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Makin lama makin kenal

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Maria ingin lebih mengenal Yesus

Apakah sepasang pria dan wanita menikah karena mereka dijodohkan Tuhan? Alkitab punya banyak contoh bahwa pasangan seseorang adalah pilihannya sendiri. Walaupun demikian, jika orang Kristen ingin menemukan seorang pendamping, ia akan mendengar suara Tuhan dalam hatinya. Semakin erat hubungan orang itu dengan Tuhan, semakin bijaksana ia dalam melangkahkan kakinya untuk menuju ke masa depan.

Seorang kenalan yang baru merayakan hari ulang tahun ke 50 pernikahannya menyatakan bahwa pernikahan sebagai pilihan dua insan, adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Saya setuju. Memang dengan lamanya pernikahan, hubungan suami-istri bukannya tidak lagi mempunyai masalah. Bahkan sebaliknya, dengan berlalunya waktu suami atau istri akan makin dapat melihat sifat pasangannya dan menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Lamanya pernikahan memang membuat dua orang bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan harus ada, tetapi mereka bisa saling menghormati, saling menerima dan saling percaya. Hubungan kasih antara suami-istri memang mengalami penyataan (revelation) sepanjang hari sampai saat terakhir.

Jika pencerahan terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, bagaimana pula dengan hubungan antara manusia dan Tuhan? Ayat di atas menunjukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi penyataan-Nya melalui Yesus Kristus, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya sekali saja, dan bukan melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum.

Keadaan yang kurang baik di saat ini mungkin sudah membuat banyak orang bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi. Bahkan banyak orang Kristen yang gundah mengapa Tuhan membiarkan banyak umat-Nya, dan bahkan seisi dunia menderita. Mata manusia melihat semua yang ada adalah sia-sia, tetapi bagi Tuhan semua itu ada arti dan tujuannya.

Berbeda dengan hubungan Sang Pencipta dengan dunia, hubungan Tuhan dan umat-Nya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari, melewati gunung dan lembah. Tuhan menyatakan diri-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada mereka yang beriman kepada-Nya dalam setiap keadaan. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pengertian akan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak menerima penyataan dari Tuhan dalam hidup kita.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk mendengar suara-Nya dan melihat kebesaran-Nya. Jika kita merasa yakin bahwa kita sudah mengetahui segala sesuatu, kita tidak mudah belajar dari orang lain atau dari keadaan di sekeliling kita. Jika kita merasa bahwa kita sudah mengerti jalan pikiran Tuhan dengan sepenuhnya, proses pendewasaan iman kita akan berhenti.

Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau menerima dan mendengarkan Dia. Tidak semua orang mengerti bahwa apa yang terlihat sebagai masalah terjadi dengan seizin-Nya. Mereka yang bergantung pada diri sendiri, yang cenderung mengabaikan Tuhan dalam hidupnya, sekarang merasa putus asa. Mereka yang merasa bahwa Tuhan selalu memberikan kenyamanan hidup bagi umat-Nya mungkin merasa kecewa. Memang, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dengan pengenalan yang makin mendalam tentang Tuhan, kita tidak akan mudah untuk kaget, kuatir, takut ataupun kecewa jika ada masalah besar yang terjadi dalam hidup kita. Dengan pengertian akan kesucian-Nya, kita akan bisa makin kuat dalam menghindari godaan iblis. Dengan mengakui kebesaran-Nya, kita juga makin lama makin menyadari kelemahan dan kekurangan kita, sehingga makin lama kita makin beriman kepada-Nya.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu masih bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus-Nya setiap hari? Ataukah anda merasa bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, anda sudah mengenal Dia sepenuhnya dan tidak perlu lagi merenungkan arti apa yang terjadi di zaman ini?

Hari ini, keputusan ada di tangan kita untuk mau membina hubungan yang makin baik dengan Tuhan kita. Tuhan menghendaki setiap umat-Nya untuk mau membuka diri kepada-Nya dan juga mau menerima apa yang dinyatakan-Nya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, iman kita akan tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang penuh tantangan ini dengan keyakinan bahwa kasih-Nya akan senantiasa menyertai kita.