Yang kaya makin kaya

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Salah satu keluhan rakyat dari sebuah negara maju biasanya bertautan dengan kenyataan bahwa kemakmuran yang terlihat belum tentu dapat dirasakan oleh semua orang. Bahkan, keluhan rakyat biasanya sehubungan dengan keadaan dimana orang yang kaya bertambah kaya, sedangkan orang yang miskin bertambah miskin. Suatu ketidakadilan sosial yang sering dijumpai di negara-negara besar di dunia.

Keadaan yang serupa sering juga terlihat diantara masyarakat Kristen, dimana gereja-gereja yang besar dan kaya seringkali terlihat makin maju dan makmur, sedangkan gereja-gereja yang kecil harus berjuang dalam kekurangan dan kemiskinan. Orang mungkin menghubungkan kemakmuran sebuah gereja dengan berkat Tuhan, atau membuat asumsi bahwa kenyamanan yang mereka alami menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang disenangi Tuhan, yang hidup menurut kehendak Tuhan. Tetapi hal ini adalah jauh dari kebenaran, sebab Tuhan adalah Tuhan yang adil dan mengharapkan semua umatNya untuk hidup berbahagia.

Ayat diatas memang sering ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa Tuhan mengasihi orang-orang pilihanNya, dengan memberkati orang-orang tertentu. Mereka yang hidupnya sukses dan kaya, tentunya adalah orang-orang yang menggunakan berkat dan talenta dari Tuhan sedemikian rupa sehingga Tuhan senang dan makin membuka pintu-pintu berkat di surga. Memang ada benarnya jika mereka yang tidak menghargai berkat Tuhan yang sudah dilimpahkan, tidak akan menerima tambahan berkat di masa depan. Tetapi hal jasmani ini bukanlah yang terpenting dalam hidup manusia.

Apa yang lebih ditekankan dalam ayat diatas adalah kenyataan bahwa orang yang merasakan berkat karunia dan kasih Tuhan setiap hari, akan makin merasakan kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam hidup rohaninya. Memang orang tidak perlu hidup dalam kelimpahan untuk dapat merasakan betapa besarnya kasih Tuhan dalam pengurbanan Yesus Kristus.

Mereka yang bergelimang dalam kenikmatan duniawi, malahan sering terasing dari Tuhan. Mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakan hidup untuk memuliakan Tuhan yang sudah mati disalibkan, akan mengalami kemiskinan rohani sehingga semakin lama imannya akan semakin kecil dan akhirnya lenyap.

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13: 11 – 12

Hal mencari getaran hati

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Salah satu makanan Indonesia yang sangat saya sukai adalah nasi campur. Di Australia, nasi campur tidaklah mudah ditemui. Karena itu, sebagai gantinya saya biasanya memesan nasi lemak, yang serupa dengan nasi campur. Apa yang saya sukai dengan nasi campur atau nasi lemak adalah adanya berbagai lauk dengan berbagai rasa sedap yang disajikan bersama semangkuk nasi.

Dalam hidup sehari-hari, banyak orang yang juga menyenangi berbagai aktivitas yang membuat hidup terasa bervariasi. Dengan mencampur beberapa kegiatan, hidup bisa terasa lebih nikmat dan tidak membosankan. Memang, kata orang jika kita harus bekerja tiap hari tanpa sempat pergi ke bioskop, restoran atau mal, dan berjumpa dengan teman-teman, hidup ini menjadi hambar.

Adalah kenyataan bahwa apapun yang terasa enak, jika itu dinikmati tiap hari, lama-lama timbul rasa bosan juga. Kalau dalam hal makanan, orang bisa berganti menu, dalam hidup orang yang bosan sering berganti gaya hidup dan aktivitas. Tetapi, untuk mencapai maksud itu biasanya pilihan yang tersedia adalah terbatas. Itulah sebabnya banyak orang yang kemudian dengan sengaja mencari sesuatu yang jarang dan sulit diperoleh, melakukan hal-hal yang tidak lazim, dan bahkan menjalani hidup yang berbahaya dan yang melanggar hukum.

Sebagian orang Kristen pun merasa bahwa hidup yang dituntut Tuhan adalah hidup yang terlalu”steril”, yang kurang memberi getaran hati atau thrill. Dimulai dengan hal-hal yang kecil, yang kurang mencolok, orang mulai melakukan sesuatu aktivitas atau memilih gaya hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Pelan tetapi pasti, orang kemudian terjebak dalam kebiasaan dan perbuatan yang terasa nikmat dan seolah memberi kepuasan. Mereka kemudian yakin bahwa ada banyak hal yang lebih menarik daripada soal Tuhan. Tuhan secara perlahan menjadi Oknum yang diketahui tetapi tidak lagi dikenal atau disukai.

Bagaimana pendapat Tuhan akan hidup manusia yang mencari getaran hati? Mereka yang tergolong thrill-seekers? Ayat diatas menulis bahwa mereka yang dengan sengaja berbuat dosa, yang hakikatnya memilih untuk menjauhkan diri dari Tuhan dan firmanNya, adalah bukan anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan menemukan kebahagiaan dan kecukupan dalam Dia, bukan dalam hal-hal yang membawa kepuasan duniawi. Mereka yang sengaja mengutamakan hal-hal duniawi adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan sepenuhnya. Mereka itu belum mengerti bahwa keselamatan melalui Yesus Kristus adalah yang paling utama dalam hidup. Apa yang mereka lakukan dalam hidup adalah persoalan yang harus diselesaikan secara pribadi dengan Tuhan sebelum mereka bisa yakin bahwa Tuhan itu ada dalam hidup mereka.

Kasih itu bukan hanya berkurban tanpa tujuan

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” 1 Korintus 13: 3

Ada banyak pengurbanan yang dilakukan manusia untuk orang lain. Bagi banyak orang, semua pengurbanan baik moril maupun materiil adalah kebaikan. Dalam hal ini, kesediaan untuk mati sering dipandang sebagai pengurbanan yang terbesar yang bisa dilakukan manusia.

Bayangkan Yesus yang mengurbankan dirinya di kayu salib. Menurut perikemanusiaan, bagaimana Ia menderita dan akhirnya mati adalah suatu kekejaman. Untuk sebagian orang itu adalah kebodohan yang bisa dihindari; sedang bagi orang lain, pengurbanan itu adalah tanda kasih.

Apakah ada orang yang mau mati? Tentu! Tetapi belum tentu itu berdasarkan kebaikan. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk membela kehormatan pribadi, keluarga, agama dan negara. Ada juga orang yang bersedia untuk mati daripada menderita, atau untuk menyusul kekasih yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia, dan bahkan ada juga orang memilih mati untuk mendapatkan pahala di surga sesuai dengan ajaran agamanya.

Ada banyak orang yang mengurbankan diri untuk orang lain, tetapi untuk maksud dan tujuan yang keliru. Orang tua dalam memanjakan anaknya, mungkin berpikir bahwa itu baik adanya. Suami atau istri yang membiarkan pasangannya untuk mengumbar apa yang disenanginya juga sering beralasan cinta. Mereka yang sering memberi donasi kepada orang yang menderita, bisa saja berdasarkan kesadaran sosial atau perikemanusiaan, tetapi mungkin juga untuk membawa nama baik dan keuntungan pribadi.

Ayat diatas mengatakan bahwa tujuan apapun yang kita punyai dalam memberi, jika itu bukan kasih, semuanya adalah sia-sia. Kasih itu apa? Kasih yang bagaimana? Paulus dalam 1 Korintus 13: 4 – 7 menulis:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Semua hal-hal diatas adalah mengenai hal bagaimana, yaitu tentang pelaksanaan kasih; tetapi belum menjelaskan apa kasih itu. Apa yang ditulis oleh rasul Yohanes dibawah ini memberi jawaban tentang apa kasih itu.

“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 9 – 10

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kasih manusia yang benar adalah kasih yang bertalian dengan kasih yang sudah diterimanya dari Allah. Mereka yang sudah menerima kasih Allah dalam pengurbanan AnakNya, sadar bahwa kasih yang harus dipunyainya adalah kasih yang membawa kemuliaan kepada sumber kasih itu sendiri. Kasih yang benar hanya mempunyai satu tujuan yaitu mempermuliakan Tuhan.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 13

Hubungan nyata, bukan maya

“Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111: 1

Di zaman modern ini, banyak kebaktian gereja yang ditayangkan melalui TV. Selain itu tidak terhitung jumlah pendeta dan penginjil yang membuat Vlog (Video Blog) yang berisi pesan-pesan Kristiani. Dengan mengikuti acara gereja di TV dan berbagai rekaman khotbah yang ada di internet, banyak orang Kristen di negara maju yang beranggapan bahwa menghadiri kebaktian gereja adalah suatu aktivitas yang tidak penting.

Jika universitas di luar negeri sekarang bisa mengadakan kuliah jarak jauh melalui internet, mungkin ada orang yang percaya bahwa kebaktian jarak jauh bisa juga dilaksanakan secara on-line, dalam bentuk video atau audio saja. Seperti kuliah jarak jauh yang tidak mempunyai murid yang nyata, kebaktian jarak jauh mungkin dianggap cukup untuk melayani jemaat maya. Begitukah?

Ayat diatas menyebutkan keinginan pemazmur untuk bisa bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Ia ingin untuk memuji Tuhan bukan saja dengan bibirnya, tetapi juga dengan sepenuh jiwanya dalam lingkungan yang mendukung, yaitu bersama-sama dengan orang seiman dalam persekutuan orang percaya. Pemazmur secara jelas menjelaskan motivasinya dalam penyembahan kepada Tuhan.

Motivasi yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang mengaku Kristen, sekarang mungkin sudah mulai luntur; karena dengan majunya teknologi, segala sesuatu ingin dilakukan secara mudah dan cepat. Selain itu, kesibukan hidup yang ada, membuat manusia sulit untuk meluangkan waktu bagi Tuhan dan sesama. Juga ada orang yang berpendapat bahwa Tuhan ada dan bisa disembah dimana saja.

Pada waktu Yesus datang ke dunia, Ia tidak memakai jalan pintas seperti yang disukai manusia di zaman ini. PersiapanNya untuk menebus dosa manusia sudah dimulai sejak manusia jatuh ke dalam dosa, dan memakan jangka waktu yang lama dan proses yang rumit. Semuanya karena Tuhan ingin menjadi manusia agar kita bisa diyakinkan bahwa Tuhan benar-benar mengerti keadaan kita dan selalu beserta kita.

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, motivasi kita seharusnya untuk merasakan kehadiranNya diantara umat percaya. Seperti Yesus yang tahu bahwa tidak ada yang bisa menggantikan hubungan intim yang nyata antara Tuhan dan manusia, demikian juga kita harus yakin bahwa tidak ada yang setara dengan persekutuan orang percaya secara muka dengan muka. Haleluya!

Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa gelombang

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Matius 14: 30

Pernahkah anda mengalami pengalaman yang menakutkan? Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal yang terjadi, yang tidak dapat dikontrol. Mungkin seperti sebuah bis yang menuruni sebuah jalan berliku-liku, yang tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang supir. Semua penumpang bis itu tentunya hanya bisa menjerit atau berdoa.

Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada diluar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang akan dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak mudah dimengertinya.

Bagaimana pula jika kita yakin bahwa Tuhan sudah menyuruh kita untuk melakukan sesuatu? Apakah kita kemudian bisa hidup dalam ketenangan karena semua yang kita alami tentunya adalah sesuai dengan kehendak Tuhan? Akankah Tuhan membuat hidup kita berjalan mulus jika kita menurut perintahNya?

Dalam kenyataannya, sekalipun hidup kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, itu tidak berarti bahwa ada saat-saat dimana kita merasakan kebimbangan. Tanggung jawab rumah-tangga, pekerjaan, dan pelayanan mungkin sudah kita jalankan sesuai dengan perintahNya; tetapi seringkali kita ragu apakah semuanya akan membawa kebaikan di masa depan seperti yang kita harapkan. Rasa takut dan kuatir pun muncul, karena kita tidak mengerti apa yang akan dilakukan Tuhan.

Pada saat itu, Petrus yang melihat Yesus berjalan diatas air ingin meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Yesus. Petrus meminta agar Yesus menyuruh dia untuk berjalan diatas air dan menjumpaiNya. Dengan ajakan Yesus, Petrus segera melangkahkan kakinya diatas air. Keberaniannya tumbuh karena adanya ajakan Yesus. Tetapi ketika dirasakannya ada tiupan angin, takutlah Petrus karena ia mulai tenggelam. Mengapa Yesus tidak membuat tiupan angin hilang dan memerintahkan lautan untuk mendukung Petrus dengan tidak bergoyang?

Melihat Petrus yang ketakutan, Yesus segera menolongnya. Tetapi, Yesus juga menegur Petrus atas kebimbangannya. Itu karena Petrus yang sudah diajak Yesus untuk berjalan diatas air, sebenarnya harus sepenuhnya percaya bahwa ia akan bisa berjalan diatas air sekalipun adanya tiupan angin tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Petrus bisa berjalan diatas air yang tenang, tanpa gelombang atau angin. Seperti itu jugalah, jika kita percaya bahwa kita hidup menurut perintahNya, itu bukan berarti bahwa hidup kita akan selalu tenang. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita.

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14: 33

Kaya atau miskin?

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Amsal 30: 8

Jika anda bisa memilih antara kaya dan miskin, mana yang anda pilih? Kebanyakan orang akan memilih untuk menjadi kaya, dan karena itu dari kecil mereka akan berusaha keras untuk mencari kesuksesan dengan segala cara. Bahkan dalam ajaran beberapa pimpinan gereja, jemaat juga dianjurkan untuk mencari kesuksesan yang dianggap bukti penyertaan Tuhan. Kekayaan dalam Alkitab Perjanjian Lama memang sering dikaitkan dengan anugerah Allah kepada umatNya. Tetapi, pemberian Allah yang terbesar dalam Perjanjian Baru sudah terwujud dalam diri Yesus. Karena itu Alkitab perjanjian baru lebih menekankan pada kekayaan rohani dan bukannya kekayaan jasmani. Malahan, mencari kekayaan jasmani dikatakan sebagai sesuatu yang bisa membuat kebangkrutan rohani.

Paulus dalam pesannya kepada Timotius berkata:

” Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 8 – 9

Pesan Paulus diatas adalah jelas dan lantang; walaupun demikian, banyak orang Kristen tetap saja mau menjadi hamba uang.

Jika kekayaan bisa mendatangkan banyak masalah, itu adalah hal yang mudah dimengerti. Mereka yang ingin kaya seringkali melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi, orang harus menyadari bahwa mereka yang miskin pun bisa terjebak dalam kekeliruan. Penulis Amsal dalam ayat diatas tidak mau memilih kekayaan atau kemiskinan, tetapi memilih apa yang ditentukan Tuhan, agar ia tidak terjerumus dalam dosa.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Masalahnya, kita sering tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Seberapa banyak Tuhan sudah menentukan apa yang menjadi bagian kita? Bukankah Dia yang mahakasih dan mahaadil selalu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anakNya? Bukankah Ia mau memberikan apa saja yang baik yang kita minta?

Dalam hidup ini kita bisa melihat bahwa memang baik kekayaan atau kemiskinan bisa membuat orang Kristen untuk menjauhi Tuhan. Satu sebabnya, dan hanya satu: itu karena tidak adanya rasa cukup. Tidak adanya rasa cukup membuat orang menjadi rakus atau merasa sangat lapar. Dalam kedua keadaan itu, kita bisa jatuh kedalam dosa jika Tuhan tidak memberi kekuatan kepada kita dan kemampuan untuk merasa cukup.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13

Selubung penyebab masalah

“Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.” 2 Korintus 3: 16

Beberapa bulan yang lalu, saya pergi menonton sebuah sirkus. Memang saya adalah penggemar sirkus, dan selalu berusaha untuk pergi menonton jika ada sirkus yang datang ke kota saya, Toowoomba. Pada kali itu, saya yang beruntung mendapat tempat duduk di kursi paling depan, agaknya tidak beruntung karena dipanggil ke panggung bersama seorang penonton lain, oleh si badut sirkus  dalam acara partisipasi penonton. Saya tahu bahwa si badut akan menjadikan saya obyek tertawaan penonton, tetapi saya tidak bisa menolak ajakannya. Si badut yang membawa sebuah tali, berkata bahwa saya hanya diminta untuk lompat tali. Muka saya kemudian ditutup dengan sebuah kantung hitam sehingga saya tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian si badut menyuruh saya melompat -lompat di tempat seiring dengan teriakannya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semua penonton tertawa terbahak-bahak. Saya tahu bahwa ada perbuatan konyol yang saya lakukan, tetapi dengan mata tertutup saya tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh si badut terhadap saya. Belakangan saya tahu bahwa saya hanya melompat-lompat di tempat, sedangkan tali hanya dihentak-hentakkan di lantai di depan saya. Saya benar-benar melakukan hal yang konyol.

Jika dengan muka yang ditutupi sebuah selubung, orang tidak dapat melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dengan hati yang terselubung, orang tidak dapat merasakan apa yang terjadi dalam hidup rohaninya. Mereka tidak dapat menyadari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka, dan sekalipun mereka mempelajari firman Tuhan, mereka tidak dapat mengerti apa arti dan aplikasi firman itu dalam hidup mereka. Mereka mungkin sudah lama menjadi orang Kristen, atau sering pergi ke gereja dan mendengarkan khotbah atau membaca renungan, tetapi tahun demi tahun lewat dan mereka tidak merasakan perubahan apa yang terjadi dalam hidup mereka.  Hati mereka seakan ditutupi oleh sesuatu yang membuat mereka tidak peka akan perintah Tuhan dan kekeliruan hidup mereka. Karena hati mereka yang tidak dapat melihat, hari demi hari dilewatkan tanpa menyadari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka.

Apa yang dapat menyelubungi hati seseorang dari kemuliaan Tuhan? Hanya satu jawabnya. Dosa. Dosa yang dilakukan manusia secara rutin, dan yang membuat manusia merasa terbiasa dengan hidupnya dan bisa menikmati apa yang ada disekelilingnya, membuat hati manusia menjadi dingin. Jika segala sesuatu berjalan sesuai dengan seperti biasa, sangat mudah bagi kita untuk berkata bahwa tidak ada sesuatupun yang perlu dilakukan lagi. Apapun yang terjadi, baik dalam hidup yang berkelimpahan atau hidup yang penuh perjuangan, hati yang tertutup oleh dosa membuat kerinduan akan Tuhan menjadi berkurang dan lambat laun menjadi hilang. Jauh di mata, jauh di hati. Jauh di hati, jauh dari pikiran. Pikiran mereka kemudian menjadi tumpul (2 Korintus 3: 14).

Untuk membuka selubung yang menutup hati , ayat diatas menyatakan perlunya agar manusia berbalik kepada Tuhan. Hidup lama yang mengabaikan Tuhan, haruslah diganti dengan hidup baru yang diserahkan kepadaNya. Mungkin kita sudah lama meninggalkan Tuhan, dan menempuh jalan kehidupan seorang diri. Mungkin kita mendambakan kebebasan dari suara Tuhan dalam hidup kita. Mungkin bagi kita Tuhan sudah terlalu jauh dalam hal mencampuri urusan kita. Mungkin juga, apa yang pernah terjadi dalam hidup kita sudah membuat kita jemu akan perintahNya. Mungkin saja kita sudah hidup bergelimang dalam dosa dan kebiasaan yang salah. Api Roh Kudus yang pernah tinggal di hati kita mungkin sudah padam.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk berbalik kepada Tuhan. Jika kita sudah jauh berjalan seorang diri, Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali kepadaNya. Mungkin sudah lama kita menjadi hamba dosa dan kemerdekaan hidup kita sudah tidak ada. Tetapi, Tuhan menjanjikan bahwa jika kita bertobat, selubung yang menutupi hati kita akan diambilNya, sehingga hati kita akan bisa kembali merasakan kehadiran dan kasih sayangNya.  Lebih dari itu, Roh Kudus akan bekerja dalam hati kita membuat kita benar-benar merdeka dari belenggu dosa dan selubung, untuk kemudian menjadi orang-orang merdeka dalam perlindunganNya.

“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” 2 Korintus 3: 17