Memuji Tuhan itu tidak mudah

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Hari Minggu ini bagi sebagian orang adalah hari yang istimewa karena mereka yang mempunyai pasangan atau teman baik mendapat kesempatan untuk saling menyatakan rasa terima kasih dan rasa sayang. Terlepas dari pro dan kontra dalam hal merayakan hari Valentine, adalah baik jika orang Kristen bisa menyatakan penghargaan kepada mereka yang dikasihi. Dalam kesempatan seperti ini, mungkin orang juga diingatkan untuk mengucapkan terima kasih atas segala apa yang baik yang sudah mereka terima.

Jika mengucapkan “terima kasih” adalah salah satu kebiasaan antar manusia, bagaimana pula dengan kebiasaan yang ada antara umat Kristen dan Tuhan? Apakah mereka selalu bisa bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia karena berkat penyertaanNya setiap hari? Belum tentu! Jika keadaan memang bisa dinikmati dan semua berjalan baik, itu memang tidak sukar. Tetapi, ketika suasana menjadi kurang baik dan hidup terasa hampa atau badan terasa kurang sehat, mungkin hanya mulut yang bisa memuji Dia, sedangkan hati dan pikiran mungkin terasa terbeban berat.

Ayat diatas adalah Mazmur Daud yang sangat terkenal. Malahan, seluruh pasal 103 berisi pujian kepada Tuhan, dan diberi judul ” Pujilah Tuhan hai jiwaku” atau “Blessed the Lord, O my soul“. Dalam 22 ayat yang ada, kita bisa membaca mengapa Daud memuji Tuhan. Bagi Raja Daud, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasetia kepada umatNya. Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi Daud, Mazmur ini ditulis sebagai pernyataan terima kasih Daud kepada Tuhan.

Mazmur 103 begitu mengesankan sehingga dituangkan kedalam beberapa lagu gereja. Bagi setiap orang yang menyanyikan lagi pujian semacam itu, rasa syukur kepada Tuhan seharusnya benar-benar ada, sekalipun karena berbagai sebab yang berlainan. Mungkin ada orang yang bernyanyi karena adanya berbagai berkat seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan dan semacamnya, tetapi tentu ada juga yang hanya bisa bernyanyi tanpa bisa menghayati maknanya.

Memang jika hidup ini berjalan lancar dan mulus, mengucapkan terima kasih dengan mulut kita kepada Tuhan tidaklah sukar, karena itulah yang sepantasnya. Tetapi, jika apa yang kita alami di saat pandemi ini adalah penderitaan, mungkin sulit bagi kita untuk bisa benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur untuk apa? Bagaimana kita bisa bersyukur?

Mazmur 103 sebenarnya bukan hanya berisi pujian karena Tuhan yang memberkati anak-anakNya, tetapi juga rasa syukur kepada Tuhan karena Ia tahu bahwa manusia adalah debu, yang hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang yang berkembang indah pada satu saat, tetapi hancur jika diterpa angin kehidupan (ayat 14. – 16). Daud bersyukur dengan sepenuh hati bahwa Tuhan sepenuhnya bisa mengerti penderitaan manusia. Karena itu, Daud bisa bersyukur kepada Tuhan dalam suka maupun duka.

Hari ini kita mungkin ingin bersyukur kepada Tuhan, tetapi barangkali apa yang ada di mulut kita berbeda dengan apa yang ada di dalam hati dan jiwa kita. Bahwa dengan mulut kita bisa mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena sudah kita sudah terbiasa, tetapi hati dan jiwa kita yang mengalami kepedihan yang besar, mungkin belum bisa dengan sepenuhnya memuji Tuhan.

Daud menulis bahwa Tuhan adalah seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya dalam keadaan apa pun. Kasih setia Tuhan akan selama-lamanya dicurahkan atas kita yang takut akan Dia, dan yang berpegang pada janjiNya dan yang ingat untuk melakukan firmanNya. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita!

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Carilah kuasa kasih Kristus

” ..tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Pernahkah anda mendengarkan lagu “The Power of Your Love?” Lagu ini dirilis pada tahun 1992 dan mendapat penghargaan Album Emas. Lirik aslinya ditulis oleh Geoff Bullock dari Gereja Hillsong di Sydney, Autralia. Syair lagunya, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunnyi:

Kekuatan kasihMu
Tuhan, aku datang kepadaMu
Biarkan hatiku diubah, diperbarui
Mengalir dari kasih karunia
Yang saya temukan dalam diriMu
Tuhan, aku jadi tahu
Kelemahan yang kulihat dalam diriku
Akan dilucuti
Dengan kekuatan kasihMu

Jaga aku dari dekat
Biarkan kasihMu mengelilingiku
Dekatkan aku
Tarik aku ke sisiMu
Dan saat aku menunggu
Aku akan bangkit seperti rajawali
Dan aku akan terbang bersamaMu
RohMu menuntunku
Dalam kekuatan hasihMu

Dan aku akan terbang bersamaMu
RohMu menuntunku
Dalam kekuatan kasihMu
Dan aku akan terbang bersamaMu
RohMu menuntunku
Dalam kekuatan kasihMu

Ada kaitan syair lagu itu dengan ayat dari Yesaya 40: 31. Ayat itu ditulis oleh nabi Yesaya untuk bani Israel. Kata-kata penghiburan ini diberikan kepada Israel setelah berulang kali Yesaya mengingatkan mereka tentang hukuman yang akan datang jika mereka tidak bertobat dari hidup jahat mereka.

Walaupun demikian, Tuhan adalah Allah penghiburan dan anugerah. Dia tidak pernah mundur dari janjiNya dan juga tidak menjadi lelah. Dalam cinta kasihNya Dia akan memberikan kasih karunia kepada yang rendah hati dan memperbarui kekuatan mereka yang menungguNya dengan iman. Janji Tuhan untuk Israel di saat itu adalah juga janjiNya kepada umat Kristen di masa kini.

Keadaan dunia pada saat ini memang bisa membuat semua orang merasa tertekan. Adalah kenyataan bahwa kesulitan hidup sudah membanjiri hidup manusia, ketakutan sudah menggerogoti hati manusia, dan mereka yang muda dan kuat pun bisa menjadi lemah dan lelah. Mereka tersandung dan jatuh karena mereka mengandalkan kekuatan batin dan sumber daya manusia mereka sendiri, yang bukan merupakan pelindung yang memadai dalam badai kehidupan.

Iman dalam Kristus dibutuhkan untuk bisa terbang setiap hari dengan sayap seperti burung rajawali. Bukan hanya kadang-kadang atau jarang. Itu berarti memercayai Tuhan setiap hari untuk mewujudkan semua yang telah Dia janjikan, bahkan ketika akal sehat dan logika kita tampaknya menyarankan sebaliknya.

Mereka yang menantikan Tuhan adalah mereka yang memiliki kepastian dan keyakinan batin bahwa janji-janji yang telah Dia buat kepada umatNya, dan hal-hal yang mereka harapkan, adalah fakta dan kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh indra, emosi, alasan atau ketakutan.

Anugerah Tuhan cukup bagi kita untuk hidup setiap hari dan untuk menghadapi semua keadaan kehidupan. Itu cukup untuk setiap kesulitan yang mungkin kita hadapi atau tantangan apa pun. Kasih karuniaNya cukup bagi semua orang yang menaruh seluruh kepercayaan dan keyakinan mereka pada kekuatanNya yang luar biasa. Itu adalah kekuatan Tuhan Yesus yang mendukung mereka yang tidak mengandalkan kemampuan mereka sendiri.

Jika kita benar-benar mengidentifikasi dengan Kristus dan percaya pada kuasaNya dalam perjalanan kehidupan setiap hari, maka kekuatan Tuhan disempurnakan dalam kelemahan kita, dan angin Tuhan akan mengangkat kita di atas sayap rajawali dan membawa kita melewati tantangan dan tekanan hidup, dengan kuasa Roh KudusNya.

RencanaKu bukan rencanamu

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Hari ini adalah hari istimewa untuk mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek. Pada perayaan yang ada di berbagai negara, orang biasanya saling mengucapkan selamat disertai dengan harapan agar hari-hari mendatang akan membawa lebih banyak keberuntungan. Ucapan serupa juga diucapkan pada tanggal 25 Januari tahun yang lalu. Pada waktu itu tidak ada orang yang mengira bahwa segera setelah itu terjadi pandemi yang memporak-porandakan kehidupan manusia. Keberuntungan dan keberhasilan mungkin batal terjadi selama setahun yang telah lalu, tetapi sekarang orang masih mengharapkannya untuk hari-hari mendatang.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk mencapai kesuksesan dan kemakmuran, dan juga bukan hanya untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa. Tetapi, hidup umat percaya adalah untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14

Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan!

Tidak semua orang menyadari besarnya kasih Tuhan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9

Apakah Tuhan mengasihi orang berdosa? Pertanyaan ini kelihatannya tidak sukar dijawab, tetapi sebenarnya bisa dan sudah menyebabkan kebingungan di antara banyak orang. Ayat di atas menunjuk kepada kasih Tuhan kepada kita ketika masih berdosa. Di lain pihak, ada ayat-ayat di Alkitab yang menyebutkan bahwa Tuhan membenci orang-orang yang hidupnya tidak berkenan kepadaNya.

Terlepas dari apa yang dikerjakan Tuhan secara khusus pada diri setiap individu di dunia ini, ayat diatas menyatakan kasih Tuhan yang besar; bahwa Ia pada hakikatnya ingin menyelamatkan orang berdosa. Ia memberikan AnakNya yang tunggal kepada seluruh umat manusia di bumi ini, baik pria atau wanita, kaya atau miskin, pandai atau tidak pandai, yang muda dan juga yang tua. Yesus mau menemui mereka yang hidup dalam dosa dan begitu juga murid-murid Yesus melakukan hal yang sama. Injil keselamatan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia yang penuh dosa, seperti apa yang sudah diperintahkan Yesus kepada seluruh muridNya dalam Amanat AgungNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Dalam Amanat Agung ini, nyatalah bahwa uluran tangan kasih penyelamatan Tuhan ini ditujukan kepada semua bangsa, seluruh umat manusia. Dalam usahaNya untuk menyelamatkan seisi dunia, Tuhan memerintahkan umat Kristen untuk pergi mengabarkan Injil, agar siapa saja yang percaya bisa mendapatkan hidup kekal.

Sekalipun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dalam hal memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mendengarkan panggilanNya, tidak semua orang akhirnya menjadi pengikutNya. Tetapi, bagi orang-orang yang mau mendengar firmanNya, firman Tuhan serupa dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15). Mereka menjadi orang yang benar-benar beriman, karena mereka menyambut uluran tangan Tuhan.

Tidaklah heran bahwa mereka yang belum percaya kepada Kristus mungkin mempertanyakan sifat mahakasih dari Tuhan, karena kalau Ia mahakasih, tentunya kasihNya adalah tanpa syarat (unconditional). Jika Tuhan mengharuskan mereka untuk percaya kepada Yesus dan bertobat agar tidak binasa, itu sepertinya tidak menunjukkan sifat mahakasihNya. Walaupun demikian, orang Kristen percaya bahwa Tuhanlah yang membuat manusia menyadari kasihNya, sehingga mereka bisa percaya kepada Kristus untuk menerima keselamatan.

Tuhan memang mengasihi orang berdosa dan ingin agar mereka diselamatkan. Tetapi, banyak orang Kristen yang membenci orang-orang tertentu. Bagi mereka, orang yang hidupnya dipandang kurang baik adalah orang-orang yang tidak pantas untuk menerima keselamatan. Memang keselamatan tidak bisa diberikan kepada semua orang, tetapi Tuhan bisa menunjukkan jalan keselamatan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Kasihnya sungguh besar.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus mencintai semua bangsa di dunia. Semua bangsa di dunia, walaupun berbeda dalam agama, budaya dan bahasa, bagi Yesus mereka adalah sama dan tidak dibeda-bedakan. Tuhan juga mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai. Tanpa sepengetahuan kita, mereka bisa diberi kesempatan untuk melihat kasihNya dan menjawab panggilan keselamatanNya. Kita yang sudah pernah merasakan kasihNya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat bukanlah orang-orang yang istimewa, tetapi adalah orang-orang yang seharusnya bersyukur atas kemurahanNya. Dengan demikian, tidaklah patut bagi kita untuk membatasi keselamatan itu untuk orang-orang yang kita pandang cukup baik hidupnya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apa yang harus aku pilih?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Adalah hal yang menarik jika kita bandingkan reaksi rakyat di berbagai negara terhadap peraturan pemerintah setempat dalam usaha mengatasi masalah pandemi Covid-19. Di antara berbagai reaksi, ada rakyat yang menolak anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan sehari-hari. Bahkan ada yang melakukan demonstrasi besar-besaran sambil melakukan perbuatan anarkis. Sebaliknya, ada juga rakyat yang menurut akan peraturan pemerintah dan bahkan ikut membantu dalam mengawasi jalannya pembatasan kegiatan sosial. Selain itu ada juga rakyat yang tidak mau mengutarakan pendapat, tetapi secara diam-diam mengabaikan perintah pimpinan. Memang, setiap orang bisa memilih apa yang dimauinya, tetapi tidak semua pilihan adalah baik atau sesuai dengan kehendak Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendakiNya? Apakah yang semua yang ada sudah merupakan kehendakNya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana besarTuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerapkali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Memang manusia tidak mungkin tahu keseluruhan kehendakNya (overall will). Manusia tidak juga tahu mengapa Tuhan membiarkan hal-hal yang nampaknya jelek terjadi di depan mata mereka.

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Seorang yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumah tangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggung jawab untuk pilihannya dan harus melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firmanNya setiap hari.

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak (sovereign will) untuk seluruh ciptaanNya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetap dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain. Tetapi, rencana Tuhan tidaklah bergantung pada apa yang bisa kita lakukan. Tuhan yang mahakuasa bisa melihat apa yang akan kita pilih dari mulanya, dan dengan demikian Ia bisa membuat rencana yang sempurna dari awalnya. Seperti Adam dan Hawa, kita tentu saja bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendakNya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir. Hanya Tuhan yang tahu semuanya. Walaupun demikian kita tahu bahwa Tuhan menghendaki umatNya untuk mengasihi Dia dan menurut perintahNya.

Hari ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggungjawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umatNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Pandemi dan kebosanan

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12: 36

Seiring dengan adanya pandemi Covid-19. banyak orang yang terpaksa mengurangi aktivitas di luar rumah. Mereka yang mempunyai kesadaran akan bahaya penularan virus corona sudah tentu harus dihargai. Sekalipun demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa tinggal di rumah selama berbulan-bulan mirip hukuman penjara.Mereka mengeluh karena tidak dapat menikmati kegiatan atau kenyamanan yang sebelumnya mereka punyai. Apa yang bisa dinikmati jika mereka tidak bisa keluyuran, pergi menonton film atau makan-makan di mall. Hari demi hari dilewati dengan kebosanan karena hari yang terasa panjang.

Rasa bosan itu sendiri belum tentu dosa. Rasa bosan baru menjadi dosa jika itu menguasai hidup kita sehingga hidup kita tidak bisa menghasilkan apa yang baik. Rasa bosan adalah gejala hidup yang kurang sehat dimana kebahagiaan dan kepuasan tidak ada, atau makin berkurang. Rasa bosan bisa berakibat kesia-siaan dalam perkataan, perbuatan dan hidup sehari-hari. Rasa bosan yang tidak teratasi akan berkembang makin besar karena berkurangnya kebahagiaan seiring dengan bertambahnya kebosanan.

Apakah kebosanan itu ada sejak mulanya? Apakah kebosanan ditanamkan Tuhan dalam diri manusia ketika Ia menciptakan mereka? Rasa bosan sudah pasti tidak dipunyai Tuhan yang mahakasih dan mahasetia. Jika Tuhan bisa merasa bosan, tentu manusia tidak akan dapat melihat kesabaranNya yang ada sampai saat ini. Manusia yang diciptakanNya berbeda dengan Sang Pencipta, dan karena itu dalam keterbatasannya ia bisa merasa bosan dan kesepian. Rasa bosan sering timbul jika manusia hidup jauh dari Tuhan. Jika hubungan dengan Tuhan menjadi renggang, manusia akan kehilangan motivasi hidup karena ia tidak bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan tidak dapat merasakan kasihNya dalam hidupnya.

Tuhan menghendaki kita untuk memuliakanNya dan mengasihi sesama kita dalam setiap keadaan. Adanya kasih kepada Tuhan dan kepada sesama adalah sesuatu yang membuat hidup manusia mempunyai makna. Memang banyak orang yang mencari makna kehidupan melalui pekerjaan, kemewahan dan kesuksesan; tetapi semua itu adalah sementara saja. Kenikmatan duniawi tidaklah dapat bertahan lama. Usia, penyakit, kegagalan, kerugian dan berbagai persoalan selalu ada dalam hidup manusia. Pandemi Covid-19 mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya di hadapanTuhan.

Pagi ini tentu hanya anda yang tahu apakah anda merasa bosan; apakah anda merasa adanya kekosongan hidup. Mungkin anda jauh dari keluarga, atau merasa bahwa tidak ada hal apapun yang bisa menggairahkan hidup anda. Anda mungkin merasa bingung, bagaimana hari ini bisa dilalui tanpa kebosanan. Mungkin anda masih bisa merasa beruntung, jika ada orang-orang yang bisa diajak untuk berbincang-bincang tentang apa saja, sekedar omong kosong untuk mengisi waktu. Tetapi ayat diatas dengan tegas berkata bahwa setiap orang yang memakai kata-kata yang kosong dan tidak berarti, haruslah mempertanggung-jawabkannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara santai, tetapi berarti bahwa hidup kita ini tidak boleh disia-siakan dengan tidak berbuat apa yang bisa mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan dan melihat apa yang kita lakukan, dan karena itu kita harus bisa mengisi hidup kita dengan apa yang berguna sekalipun kita berada dalam keterbatasan. Adanya pandemi memang bisa memberi kita kesadaran yang lebih besar akan perlunya penyertaan Tuhan.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4: 17 – 18

Hari kemarin sudah lenyap, hari esok belum datang

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Pernahkah anda mendengar ungkapan “Yesterday is gone and tomorrow may never come“? Ungkapan yang berarti “Hari kemarin telah lenyap, hari esok mungkin tidak pernah datang”. Ungkapan ini agaknya bernada negatif karena hari depan tidaklah bisa diketahui. Walaupun demikian, banyak orang yang menambahkan beberapa kata seperti “Nikmatilah hari ini karena hari kemarin telah lenyap dan hari esok mungkin tidak pernah datang” atau “Hari kemarin telah lenyap, hari esok mungkin tidak pernah datang, karena itu marilah kita bekerja hari ini”. Dengan penambahan kata-kata ini, ungkapan itu menjadi bernada positif. Memang apa yang kita bisa lihat sekarang adalah apa yang terjadi pada hari ini, mengapa harus memikirkan masa lalu dan masa depan?

Membayangkan masa lalu, sebagian orang mungkin merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Karena masa lalu yang pahit malah ada orang yang tidak yakin bahwa Tuhan itu ada. Hidup yang demikian seringkali sangat terasa berat dan menyebabkan timbulnya stres yang tinggi dan hilangnya rasa tenteram dan damai. Hari demi hari dilewati dengan rasa penyesalan akan masa lalu.

Bagaimana pula dengan masa depan? Banyak orang di saat ini kuatir tentang masa depan, Tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia itu sering diisi dengan berbagai tantangan. Kesulitan, kekurangan, penyakit dan berbagai macam penderitaan bisa kita alami selama hidup di dunia. Sekalipun kita hidup jujur, bekerja keras dan berusaha hidup sehat, selalu ada kemungkinan bahwa ada hal-hal jelek datang menimpa. Dengan demikian, memikirkan masa depan juga bisa menghilangkan rasa damai dan menimbulkan stres dalam hidup manusia.

Menurut ilmu psikologis, stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stres dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Manusia bisa hancur hidupnya dan bahkan jatuh sakit atau mati karena tidak adanya rasa damai, atau karena adanya stres yang besar.

Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari datangnya masalah. Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak perlu mengharapkan adanya kedamaian disekitar kita. Sebaliknya, kita harus bergantung kepada Roh Kudus yang ada didalam kita.

Roh Kudus diberikan Yesus sebagai penolong sehingga kita bisa terhibur dan dikuatkan dalam suasana yang menyesakkan. Jika kita memberikan kesempatan kepada Roh untuk menguasai hidup kita, segala masalah akan bisa kita hadapi dengan ketenangan dan keyakinan bahwa Tuhan beserta kita. Tuhan tidak pernah berubah dan Ia tetap beserta kita untuk selama-lamanya.

Memang tiap-tiap masalah yang kita alami pada mulanya akan mendatangkan stres. Tetapi kemudian kita akan memperoleh pengalaman berharga, yaitu pengalaman pribadi tentang kebesaran kuasa Tuhan dalam hidup kita. Inilah yang bisa memberikan rasa damai sejati kepada mereka yang dilatih oleh Tuhan!

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Berilah aku istirahat yang baik …

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Virus corona telah mendorong dunia ke perairan yang belum pernah dipetakan. Berbagai negara telah menetapkan lockdown yang menyebabkan ekonomi terhenti, dan banyak orang kuatir atas keselamatan diri sendiri dan orang yang mereka cintai. Dengan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan yang datang begitu cepat, dapat dimengerti bahwa banyak orang yang mengalami kesulitan untuk bisa tidur dengan baik. Tidur sangat penting untuk kesehatan fisik dan berpengaruh atas sistem kekebalan tubuh. Itu juga merupakan pendorong utama kesehatan emosi dan mental, membantu mengalahkan stres, depresi, dan kecemasan.

Mereka yang sering kurang tidur tentu lambat laun akan merasa lelah; walaupun demikian, mereka yang cukup tidurnya bisa juga mengalami kelelahan hidup karena adanya berbagai persoalan yang harus dihadapi. Malahan ada yang karena tekanan hidup, terus-terusan ingin tidur karena kelelahan jasmani dan rohani yang ada.

Jutaan orang sudah menderita insomnia sebelum adanya virus korona. Tetapi pandemi ini menciptakan sejumlah problem baru – bahkan bagi orang yang sebelumnya tidak memiliki masalah tidur. Memang rasa kuatir bisa menimbulkan rasa gelisah akan ketidakpastian yang dihadapi, yang menyebabkan masalah untuk bisa beristirahat dengan baik.

Sebenarnya bagi siapapun yang menghadapi kegelisahan hidup ada dua hal yang secara logis harus disadari. Yang pertama adalah ketidak mampuan manusia untuk menentukan masa depannya dan yang kedua, jika Tuhan itu ada, hanya Dialah yang tidak mempunyai persoalan. Jika kita bisa sepenuhnya menentukan masa depan kita tentu saja tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Semua manusia mempunyai keterbatasan, dan hanya Tuhan, yang mahakuasa dan mahatahu, yang tidak pernah gelisah, kuatir atau takut.

Bagi orang Kristen, pernyataan bahwa manusia tidak bisa menentukan masa depan kita ada tertulis dalam Alkitab. Mereka yang menolak kenyataan ini adalah orang-orang yang hidup dalam alam impian.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 14

Dalam hal ini, orang Kristen adalah orang yang beruntung. Kedatangan Yesus ke dunia, pengurbananNya di kayu salib dan kebangkitanNya menunjukkan adanya Tuhan yang mahakasih, yang peduli akan keadaan dan keterbatasan manusia. Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat bergantung pada diri sendiri untuk mendapat kedamaian di bumi dan di surga.

Hari ini kita diingatkan bahwa satu-satunya pengharapan kita dalam menghadapi masa depan adalah Tuhan kita yang mahakuasa. Yesus adalah Allah yang sudah pernah menjadi manusia dan mengalahkan maut setelah menebus dosa kita dengan darahNya. Ialah yang bisa memberikan kita ketenangan dalam keadaan apapun!

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Mazmur 42: 5

Sulitnya untuk merasa cukup

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Di saat pandemi ini, tantangan hidup menjadi sangat berat bagi banyak orang. Untuk negara mana pun, semakin banyak penduduknya yang terkena Covid-19, semakin banyak juga orang yang hidup dalam kesusahan. Banyak orang di negara manapun saat ini harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang kehilangan sumber penghasilan. Dengan demikian, banyaklah orang yang tidak dapat merasakan kecukupan.

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin terlihat “berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya, mereka yang tergolong lemah ekonominya mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Saat ini, perbedaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Mereka yang hidup di “gedongan” mungkin tidak terlalu kuatir untuk terjangkit virus corona. Mereka masih bisa menikmati hidup dengan berfoya-foya di balik tembok yang tebal dan menghilangkan kejemuan dengan menikmati apa saja yang bisa dibeli. Sebaliknya, mereka yang hidup di pelosok mungkin tidak mempunyai sarana yang melindungi mereka dari penularan ataupun sesuatu yang bisa dinikmati. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaanNya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena untuk sebagian orang makanan tidaklah mudah diperoleh? Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapapun juga, termasuk Tuhan.

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi berkat, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Kita juga belajar bersyukur atas apa yang sudah ada.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, seringkali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Sebaliknya, mereka yang hidup berkekurangan seringkali hidupnya bisa berbahagia karena ada rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang, karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus, sehingga kita mau menghitung apa yang sudah diberikan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, apa yang mereka terima tidaklah terhitung jumlahnya, dan karena itu mereka bisa bersyukur kepadaNya setiap hari.

Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.

Tuhan pembuat nasib malang

“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45: 6 – 7

Setujukah anda dengan pandangan bahwa Tuhan menciptakan nasib malang di antara umat manusia? Sekalipun ayat di atas menyatakan demikian, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Kata yang diterjemahkan sebagai “nasib malang” berasal dari kata Ibrani yang berarti “kesengsaraan, penderitaan, malapetaka, kesusahan, kesengsaraan”.

Jika kita bandingkan, banyak Alkitab berbahasa Inggris yang menerjemahkan kata itu sebagai: “bencana” (NIV, HCSB), “malapetaka” (NKJV, NAS, ESV), dan “celaka” (NRSV). Konteks dari Yesaya 45: 6 – 7 adalah Tuhan yang memberi berkat kepada Israel karena ketaatan, dan yang menghukum Israel karena ketidaktaatan. Tuhan mencurahkan berkat atas orang-orang yang Dia kasihi, tetapi menghakimi mereka yang terus memberontak melawan Dia: “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya” (Yesaya 45: 9). Dengan demikian, Yesaya 45: 6 – 7 menyajikan tema umum dari Kitab Suci – bahwa Tuhan mendatangkan hukuman bagi mereka yang terus memberontak dengan keras hati terhadapNya.

Walaupun demikian, jika bencana terjadi di dunia, banyak orangKristen yang juga terkena dampaknya. Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Mengapa ia membiarkan mereka yang taat menderita bersama -sama dengan mereka yang murtad? Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan, adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang sumber semua malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan seluruh umat manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa lebih terasa dan membuat orang mau menyerah atau berserah kepadaNya.

Hari ini, jika kita melihat adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, mahaadil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa keputusanNya akan terjadi dan segala kehendakNya akan terlaksana. Apapun yang terjadi adalah dengan sepengetahuanNya. Sebagai Pencipta, Tuhan berhak untuk melakukan apa saja yang dikehendakiNya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang bisa kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Kita adalah orang-orang yang mujur karena Tuhan kita bukanlah Oknum Ilahi yang kejam, tetapi Ia adalah Tuhan yang mahaadil dan mahakasih!