Ujilah segala sesuatu

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Jika kita ingin mencari berita apa saja, internet adalah tempat yang paling mudah digunakan sebagai sarana. Dengan memakai Google, orang bisa menulis beberapa kata kunci (keywords) di ponsel atau komputer dan kemudian menemukan berita apa yang dicarinya dalam waktu beberapa detik saja. Memang semua itu kelihatannya gampang, tetapi dalam kenyataannya seringkali berita yang diperoleh itu tidak jelas sumbernya dan berbeda-beda isinya. Sebagai akibatnya, banyak orang di zaman pandemi Covid-19 ini yang tertipu oleh berbagai kabar simpang siur yang membingungkan.

Internet bisa dipandang sebagai salah satu penemuan teknologi abad 20 yang sudah menjadi bagian hidup orang di abad 21. Bisa dibayangkan bahwa apapun yang ada di dunia ini sekarang tergantung pada internet dan karena itu orang atau negara yang kurang bisa menggunakan internet perlahan-lahan akan tertinggal dalam segi ekonomi, pengetahuan, kesehatan dan sebagainya.

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia makin lama makin pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Malahan, dengan kemajuan teknologi, manusia lebih mudah tersesat kedalam berbagai pengajaran yang bisa dijumpai melalui internet. Melalui Youtube misalnya, orang bisa menonton berbagai pembicara yang mengaku Kristen tetapi hanya mengajarkan tradisi dan budaya lama yang bisa dijumpai dalam Alkitab, tetapi bukan apa yang perlu digunakan untuk menjalani hidup baru dalam Kristus. Banyak di antara mereka yang menampilkan berbagai ajaran yang lain daripada yang lain, hanya untuk menarik perhatian publik agar mereka di anggap sebagai hamba Tuhan yang benar. Mungkin saja mereka justru adalah serigala yang menyamar sebagai domba (Matius 7: 15).

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati. Kita hidup untuk belajar dari Kristus dan untuk menjadi seperti Dia dalam segala hal yang baik.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar berita atau menyaksikan peristiwa yang luar biasa yang dialami seseorang? Apakah anda mengagumi seseorang yang seolah adalah orang yang paling benar dan paling bijaksana di dunia? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Sulitkah anda membedakan mana yang asli dan mana yang palsu?

Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaranNya ditegakkan, dan apakah kasih kepada Tuhan dan sesama sudah diutamakan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Berhati-hati dalam hidup

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis, yang dengan kelicikannya sudah membuat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umatNya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktek toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini.

Diantara berbagai ajaran diluar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran manusia yang berkembang.

Memang di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, dengan menjalankan aturan-aturan budaya historis, yang membuat orang bergantung pada tradisi dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan dimana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasihNya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat dimana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh kedalam dosa dan menolak Tuhan.

Hari ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apapun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firmanNya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Belajar untuk masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Tidak dapat disangkal bahwa adanya pandemi sudah membuat hidup manusia dimana pun menjadi kacau balau. Mungkin banyak orang yang belum pernah menyaksikan atau mengalami hal seperti ini sebelumnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa kebanyakan orang hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan, dan mencoba-coba mencari jalan keluar dari kesulitan yang ada. Dalam hal ini, mereka yang bijaksana akan mau belajar dari keadaan dan dari orang lain agar bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain. Mereka yang muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyainya, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno dimana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segalanya.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman.  Setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit bagi mereka untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Tambahan lagi, mereka mungkin cenderung memilih tindakan yang bisa menguntungkan diri sendiri. Dalam hal ini, mereka segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dianggap salah, atau tidak ingin diingatkan bahwa tingkah lakunya kurang baik.

 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan.

Tugas kita di tengah kekacauan dunia

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dari Alkitab kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada manusia dan tidak pernah membiarkan datangnya bencana tanpa sebab yang jelas. Namun, ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan orang yang mengabaikan Tuhan mengalami hidup yang yang kurang menyenangkan. Bukanlah hal yang mengherankan bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan kemudian mengalami berbagai persoalan. Memang, jika pada suatu tempat manusia tidak mengakui Tuhan, Ia mungkin membiarkan iblis untuk mengacaukan hidup mereka.

Ayat di atas menulis bahwa Tuhan sendiri mungkin tidak perlu menjatuhkan hukuman secara langsung, tetapi Ia bisa menyerahkan orang-orang yang melupakan Dia kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Kekacauan dan bahkan malapetaka bisa terjadi karena Tuhan melepas tangan atas kehidupan masyarakat yang tidak takut kepadaNya.

Takut akan Tuhan memang agaknya sulit dipraktikkan jika manusia tidak menyadari mengapa Yesus Kristus perlu turun ke dunia. Bagi sebagian orang, manusia tidaklah seburuk yang dilihat, mereka percaya bahwa dalam diri setiap manusia selalu ada unsur-unsur yang baik dan itu bisa menyenangkan Tuhan.  Tuhan yang mahakasih tentunya tidak pernah marah dan membiarkan masyarakat menemui persoalan hidup yang terlalu besar. Tetapi, itu adalah pandangan keliru.

Mata Tuhan yang mahasuci tidak tahan melihat semua manusia yang sudah berbuat durhaka kepadaNya. Karena itu, Ia harus mengurbankan AnakNya untuk memadamkan amarahNya. Mereka yang menyadari betapa besar pengurbanan Tuhan untuk manusia, akan sadar bahwa Tuhan tidak dapat dipermainkan. Jika murka Tuhan hanya bisa dipadamkan dengan darah AnakNya, Ia adalah Tuhan yang tidak dapat diabaikan.

Bagi banyak orang Kristen, rasa puas mungkin sudah ada bahwa mereka adalah orang-orang yang diselamatkan. Dengan itu, hidup berjalan seperti biasa dan Tuhan dipersilakan untuk berada di latar belakang. Umat Kristen dan Gereja mungkin secara religius mengakui eksistensi Tuhan, tetapi dalam hidup sehari-hari mereka tidak memberi contoh kepada masyarakat agar masyarakat takut akan Tuhan dan memilih jalan hidup yang baik sesuai dengan hukum dan kewajiban yang ada. Mereka kurang mau atau kurang berani menyatakan bahwa apa yang paling penting dalam hidup adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesamanya.

Masyarakat yang hanya mementingkan kesibukan sehari-hari, lambat laun melupakan Tuhan dan firmanNya. Masyarakat yang lebih mementingkan kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri, lambat laun akan tenggelam dalam kekacauan dan masalah. Dimanakah orang Kristen di tengah dunia yang penuh masalah saat ini? Inilah yang harus kita sadari, bahwa Tuhan bukan saja menghendaki kita untuk taat kepadaNya, tetapi Ia juga mau agar kita berusaha menginsafkan masyarakat di sekeliling kita agar mereka menyadari dosa mereka dan takut akan Dia.

Kelelahan bisa membawa berkat

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga seringkali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan.

Kelelahan juga bisa terjadi karena keadaan yang membuat orang bosan atau tertekan. Adanya pandemi saat ini sudah membuat banyak orang tidak bebas untuk keluar rumah, entah itu karena larangan pemerintah atau karena kehendak diri sendiri. Karena manusia adalah makhluk sosial, isolasi dari orang lain tidak hanya bisa membuat pikiran mereka menjadi jenuh, tetapi juga bisa mendatangkan kelelahan jasmani sekalipun tidak ada pekerjaan berat yang dilakukan.

Soal merasa lelah dan lemah, jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Cerita kuno sering menggambarkan seorang suami yang pulang dari kantor dan melihat keadaan rumah yang porak poranda, mengomel karena merasa istri yang di rumah tidak bisa mengatur rumah tangga. Suami mungkin mengomel karena lelah, tetapi istri yang sudah seharian bekerja keras di rumah, merasa sedih dan bahkan marah karena merasa jerih payahnya tidak dihargai. Kelelahan jasmani dan rohani, jika tidak diatasi, bisa membuat hidup manusia menjadi hancur.

Paulus dalam ayat diatas mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Sudah sewajarnya ia merasa kuatir dengan adanya jemaat Korintus, yang sudah lama dibimbingnya, disesatkan oleh rasul-rasul palsu yang mungkin dianggap hebat dengan segala yang dibanggakan mereka.

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Hari ini jika kita merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi saat ini. Apalagi jika penghargaan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini.

Tetapi, jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, dan juga dengan adanya jemaat di Korintus yang tidak menghargai segala pengurbanannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Adanya kelelahan bisa membawa berkat karena dapat membuka kesempatan bagi kita untuk membina hubungan yang lebih baik dengan Kristus.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Hidup harus tetap berjalan terus

“Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” 2 Tesalonika 3: 11 – 12

Keadaan dunia saat ini memang menguatirkan. Di berbagai negara, Covid-19 masih belum dapat diatasi, namun rakyat sudah tidak mau terus hidup dalam suasana lockdown. Karena itu, di beberapa negara mulai muncul demonstrasi-demonstrasi anti PSBB. Mereka yang sudah jemu tinggal di rumah dan tidak bisa kemana-mana, kemudian menuntut kebebasan. Memang, karena banyak orang harus hidup seperti burung-burung dalam sangkar, tidak dapat dihindari bahwa ketegangan dalam keluarga atau di antara teman serumah dan bahkan teman segereja mudah terjadi.

Dalam keadaan normal, suami dan istri umumnya harus mengerjakan tugas masing-masing dan anak-anak pergi ke sekolah. Karena itu tiap orang mempunyai kebebasan untuk mengerjakan tugas sehari-harinya dan tidak perlu terganggu orang lain. Karena adanya keharusan untuk bekerja dari rumah atau karena hilangnya pekerjaan, orang mungkin merasakan adanya ketegangan yang diakibatkan oleh mereka yang tinggal serumah. Mungkin itu terjadi karena adanya teguran, campur-tangan atau ucapan orang lain. Manusia memang makhluk sosial, tetapi tetap membutuhkan saat untuk menyendiri guna menjalankan tugas atau kegiatannya.

Adanya pandemi bisa menimbulkan iritasi di antara orang-orang yang “terkurung” dalam satu tempat. Kejenuhan dan kebosanan bisa membuat orang mudah tersinggung atau naik darah. Pada pihak yang lain, kurang adanya aktivitas cenderung membuat orang untuk “usil” dan mencampuri urusan orang lain. Dengan demikian, keadaan saat ini bisa mempengaruhi hubungan antar manusia, termasuk hubungan keluarga dan keharmonisan suami dan istri.

Paulus mengutarakan dalam ayat di atas bahwa ia tahu adanya orang-orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian ia ingatkan dan nasihati agar mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian dapat mencapai hasil yang baik. Peringatan Paulus ini bukan saja dalam hal bekerja untuk mencari rezeki, tetapi juga berlaku dalam pekerjaan dan tugas apa pun yang Tuhan berikan kepada kita.

Adanya pandemi memang bisa membuat orang kurang bersemangat untuk mencari apa yang baik dan apa yang bisa dikerjakan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk dirinya sendiri, untuk orang lain dan untuk kemuliaan Tuhan. Keadaan ekonomi dan sosial memang bisa membuat orang Kristen yang dulunya rajin bekerja untuk menjadi apatis atau mencari-cari hal lain yang merupakan pelarian dari rasa bosan. Tidaklah mengherankan bahwa sikap yang sedemikian bisa membuat orang lain merasa tertekan ataupun terganggu. Mereka yang kehilangan arah memang cenderung untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna dan bersikap negatif terhadap orang di sekitarnya.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ada 24 jam dalam sehari. Ini tidak berubah sekalipun kita bekerja di rumah atau di tempat lain. Hari-hari kita adalah milik Tuhan dan diberikan kepada kita untuk digunakan dengan produktif, untuk menghasilkan apa yang baik untuk diri kita, untuk orang lain dan untuk Tuhan. Dalam semua keadaan, Tuhan selalu memberikan waktu yang sama untuk kita pakai dengan bijaksana. Tetaplah bersemangat untuk memuliakan Tuhan pada setiap waktu dan dalam segala keadaan!

Pakaian yang bagaimana?

“Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” Ulangan 22: 5

Kilt: pakaian tradisionil pria Skotlandia

Di zaman modern ini kita bisa melihat adanya kaum wanita yang memakai pakaian seperti pakaian pria, dan sebaliknya ada juga kaum pria yang berdandan seperti wanita walaupun jumlahnya tidak terlalu mencolok mata. Apakah wanita Kristen tidak boleh memakai celana panjang, celana pendek atau jeans adalah hal yang dipertanyakan sejak lama.

Ayat di atas digunakan beberapa orang untuk membahas masalah wanita yang memakai celana atau jeans. Ayat itu adalah perintah bagi Israel untuk mempertahankan perbedaan gender melalui bentuk pakaian mereka; dan ayat itu juga melarang orang untuk memakai pakaian yang bukan untuk jenisnya. Karena tidak ada orang Israel pada waktu itu yang mengenakan celana panjang atau celana pendek (pria dan wanita pada waktu itu memakai jubah), kita harus bertanya pada diri sendiri apakah ayat itu cocok untuk budaya yang berbeda. Perlu diketahui, di negara-negara tertentu baik pria maupun wanita memakai celana panjang.

Alkitab mengajarkan bahwa secara umum, pria dan wanita harus berpakaian dengan cara yang sesuai dengan budaya mereka untuk menunjukkan adanya perbedaan gender. Ulangan 22: 5 tidak melarang pria Skotlandia memakai kilt, dan tidak melarang wanita di mana pun memakai celana panjang, selama mereka tidak berusaha untuk terlihat seperti lawan jenisnya. Kesetiaan seorang pengikut Allah tidak diukur dengan pakaian apa yang terlihat dari luar, tetapi dengan apa yang ada dalam hati dan hidup mereka (Galatia 5:16).

Umat ​​Kristen tidak berada di bawah hukum; sebaliknya, kita dibenarkan oleh iman kepada Kristus (Roma 3: 21–28). Orang percaya dalam Kristus Yesus sudah dibebaskan dari kuasa hukum Taurat. Seorang percaya dengan demikian tidak hidup dengan legalisme, atau dengan surat izin, melainkan oleh kasih karunia bisa hidup merdeka menurut bimbingan Roh Kudus.

Alkitab tidak memuat perintah yang mengatur jenis pakaian yang harus dikenakan seorang wanita atau pun pria. Tidak ada bagian yang menyebutkan gaun, rok, celana, atau celana panjang sebagai “pakaian seragam” gender tertentu. Apa yang disampaikan Alkitab adalah perlunya kesopanan serta pernyataan perbedaan gender. Paulus pernah berbicara kepada wanita Kristen pada zamannya tentang pakaian dan menyatakan bahwa ia ingin mereka menunjukkan pakaian yang sopan dan sepantasnya, bukan dengan rambut dikepang atau emas atau mutiara atau pakaian mahal, tetapi dengan memperlihatkan perbuatan baik, seperti yang diharapkan dari wanita yang mengaku menyembah Tuhan (1 Timotius 2: 9–10). Baik wanita maupun pria yang menyembah Tuhan harus berpakaian pantas, dan pilihan pakaian mereka harus mencerminkan kerendahan hati dan bukannya kesombongan; ketertiban dan bukannya kecerobohan; sopan dan bukannya tidak senonoh; sepantasnya dan bukannya berlebihan.

Secara alkitabiah, setiap orang harus mengenakan pakaian yang sopan, sesuai dengan jenis kelaminnya dan untuk situasinya. Apakah ada celana yang dibuat khusus untuk wanita yang sederhana dan sesuai untuk beberapa situasi? Tentu, dan wanita Kristen bebas memakainya. Pada pihak yang lain, adakah perintah alkitabiah bahwa seorang wanita harus mengenakan celana panjang? Tidak ada. Wanita Kristen bebas untuk mengenakan gaun atau rok jika itu pilihannya dan bisa diterima masyarakat. Semua ini bergantung pada hati nurani seorang wanita di hadapan Tuhannya. Begitu juga seorang pria boleh saja memakai topi atau kalung dan tidak perlu merasa bahwa ia sudah menyalahi perintah Tuhan. Apa yang perlu adalah bahwa setiap orang mau menerima kodratnya sebagai seorang pria atau seorang wanita, dan mau memuliakan Tuhan melalui hidupnya..

Kekuatan kita datang dari Tuhan

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Yesaya 40: 28-29

Salah satu dampak Covid-19 adalah banyaknya orang yang menderita gangguan kesehatan. Itu bukan saja diakibatkan oleh kekuatiran yang timbul karena kabar buruk yang muncul setiap hari, tetapi juga karena banyak orang yang tidak dapat bebas pergi ke luar rumah. Manusia yang terkurung dalam kekuatiran, lambat laun akan mengalami masalah jasmani maupun rohani. Dengan keadaan yang sedemikian, seringkali orang merasakan bukan saja pikiran menjadi kacau dan lamban karena terbebani oleh berbagai kekuatiran, tetapi tubuh pun menjadi letih dan lemah tanpa alasan.

Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia yang makin semrawut semenjak datangnya pandemi, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang bisa untuk sementara menghilangkan rasa sakit atau untuk melupakan rasa duka dan kuatir. Bagi orang yang lain, mungkin masih ada iman bahwa Tuhan masih mau mendengarkan doa mereka. Tetapi, seringkali dalam keadaan seperti ini orang tidak lagi bisa berdoa dengan benar.

Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia manapun tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung adalah Tuhan yang selalu ada dan tahu apa yang terjadi dalam hidup umatNya. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana, tidak terduga pengertianNya.

Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung cukup lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa keringanan dan kesembuhan? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita. Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tuhan yang tidak pernah lelah akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran. Maukah kita memercayakan hidup kita kepadaNya?

Pakailah Efodmu

Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: “Bawalah efod itu kepadaku.” Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.” 1 Samuel 30: 7 – 8

Saat ini hampir semua orang merasakan adanya tekanan hidup yang besar. Bagi sebagian, suasana pandemi saat ini sudah membuat kehidupan sehari-hari seperti kegelapan malam yang panjang. Mereka menantikan terbitnya matahari, tetapi matahari tidak kunjung muncul.

Kisah perjalanan hidup Daud yang bisa kita baca dari 1 Samuel 30 mungkin adalah salah satu lembah yang tergelap dalam kehidupan Daud. Pada waktu itu, ia dikejar oleh Raja Saul. Bagi Daud, tempat teraman untuk menjauh dari Saul adalah tinggal di antara orang Filistin, musuh yang ditakuti Saul. Karena itu, Daud dan 600 orangnya pergi ke Akhis, raja Gat dan meminta izin untuk membiarkan mereka menetap di Ziklag, salah satu kota Filistin (1 Samuel 27).

Selama enam belas bulan, Daud dan anak buahnya menghabiskan waktu mereka untuk menyerang orang Geshur, Girz, dan Amalek. Mereka menjarah domba, lembu, keledai, unta dan pakaian setelah membunuh setiap orang di desa yang mereka serang. Kepada Akhis Daud berbohong bahwa ia menyerang orang Israel. Akhish mempercayai penjelasan Daud dan berpikir bahwa orang Israel pasti sangat membenci Daud, dan yakin bahwa Daud akan tinggal di Gat dan mengabdi kepada dia untuk selamanya.

Pada suatu saat, orang Filistin mengumpulkan pasukan mereka untuk berperang lagi dengan Israel. Akhish meminta Daud dan anak buahnya untuk pergi dan membantu mereka guna melawan Israel. Sebelum pertempuran dimulai, para komandan Filistin menolak Daud dan anak buahnya. Mereka menjelaskan kepada Akhish bahwa Daud mungkin berbalik melawan mereka dan berperang untuk Israel. Atas saran itu, Daud diminta kembali ke Ziklag.

Daud dan anak buahnya tiba di Ziklag dua hari kemudian. Dengan rasa ngeri mereka melihat bahwa orang Amalek telah menyerang dan membakar kota mereka. Semua wanita dan anak-anak mereka ditawan orang Amalek. Daud dan anak buahnya mulai menangis dengan sedihnya. Anak buah Daud kemudian mengalihkan amarah mereka terhadap Daud dan berencana untuk melempari dia dengan batu. Tetapi Daud menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Daud meminta imam Abyatar untuk membawakannya efod (1 Samuel 29 – 30).

Efod adalah rompi yang dikenakan oleh imam besar ketika dia melayani di altar (Keluaran 28: 4-14; 39: 2-7). Dipakai di atas jubah biru (Keluaran 28: 31-35), efod terbuat dari linen halus yang dijalin dengan benang emas murni, biru, ungu dan merah tua. Efod diikat dengan ikat pinggang anyaman yang indah (Keluaran 28: 27-28), dan pada tali bahunya terpasang dua batu yang di atasnya terukir nama kedua belas suku. Di atas dada imam besar ada penutup dada, berisi dua belas batu yang diukir dengan nama suku Israel.

Memakai efod pada waktu itu berarti mengenakan pakaian puji-pujian untuk menyembah Tuhan. Ini adalah waktu untuk menghadap Tuhan secara langsung. Mendongak ke atas, dan tidak ke tempat lain. Melalui tindakan Daud ini, setiap orang dan segala sesuatu yang hilang dipulihkan (1 Samuel 30: 18). Lebih dari itu, Daud dijadikan raja Yehuda setelah kematian Raja Saul. Tujuh setengah tahun kemudian, dia menjadi raja di Yerusalem atas seluruh Israel dan Yehuda.

Di zaman sekarang, kita tidak memerlukan efod atau alat-alat tertentu untuk bisa menjumpai Tuhan. Yesus Kristus adalah Imam Besar kita yang agung dan efod adalah simbol dari Dia. Jika imam Israel memakai efod mereka untuk menemui Tuhan, melalui Kristus kita bisa berkomunikasi dengan Allah Bapa. Yesus memungkinkan adanya jalan kepada Bapa bagi semua orang. Karena itu kita dapat datang dengan berani ke tahta kasih karunia, untuk memperoleh belas kasihan dan menemukan kasih karunia pada saat dibutuhkan.

Ketika masa sekarang menjadi sulit dan berat, kita perlu memakai baju efod kita, menghadap Tuhan yang mahakudus dan menyembah Dia. Dengan berdiri diam kita akan melihat kuasa dan kasih Tuhan!

“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 16

Iman bukanlah sesuatu yang abstrak

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Bagaimana pandangan manusia atas konsep keTuhanan? Banyak orang yang berpendapat bahwa Tuhan adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak mudah dimengerti karena tidak berwujud atau tidak berbentuk. Bagi umat Kristen, Tuhan memang Roh dan tidak dapat terlihat dengan mata. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah abstrak karena kasihNya yang mencari manusia untuk diselamatkan adalah nyata. Oleh sebab itu, kepercayaan orang Kristen kepada Tuhan atau iman bukanlah sesuatu yang abstrak. Iman bukan hanya pengakuan orang yang merasa bahwa Tuhan ada, tetapi adalah sesuatu yang bisa terlihat dalam hidup orang yang memiliki keyakinan bahwa Tuhan ada dalam hidupnya.

Peneguhan sidi (confirmation) adalah bagian dari pengakuan iman dalam banyak gereja. Kata “sidi” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya penuh atau sempurna. Pada kebanyakan gereja, setelah melakukan katekisasi (kursus Alkitab), seseorang bisa diteguhkan sebagai anggota gereja melalui peneguhan sidi dalam upacara khusus di hadapan sidang jemaat. Apabila seseorang telah menerima peneguhan sidi, secara gerejawi keanggotaannya sudah penuh.

Untuk sebagian gereja, peneguhan sidi bukan sakramen tapi berkaitan erat dengan sakramen. Baptisan usia dewasa memang bisa dilakukan bersama peneguhan sidi. Jika baptisan usia anak kemudian dilanjutkan dengan sidi sesudah menginjak usia dewasa, maka dalam hal ini peneguhan sidi adalah kesempatan untuk mengakui iman di hadapan jemaat. Selain itu, pengakuan sidi juga merupakan pernyataan bahwa janji orangtua untuk membesarkan anaknya sesuai dengan firman Tuhan telah ditepati, sampai sang anak percaya kepada Yesus Kristus. Melalui peneguhan sidi, seseorang diterima sebagai jemaat yang bertanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pelayanan jemaat, dan diijinkan ikut dalam Perjamuan Kudus.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengikuti upacara sidi, antara lain:

  • Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  • Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  • Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  • Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari daripada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga?

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin ada kalau tidak disertai dengan perbuatan. Pengakuan iman tanpa disertai dengan perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan. Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firmanNya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintahNya?

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Kita sendiri pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa masyarakat di sekitar kita akan membenci kita. Karena itu, kita juga sering memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab seringkali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman. Dengan demikian kita membiarkan hidup kita tinggal dalam dosa pengabaian firman Tuhan. Bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan? Bagaimana seseorang dapat menjadi pengikut Kristus jika ia tidak mau melakukan hal yang baik?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17