Menggunakan kemerdekaan dengan benar

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Hari ini, negara bagian Victoria di Australia seharusnya bisa mendapat tambahan pelonggaran dari PSBB. Tetapi, karena adanya peningkatan jumlah penduduk yang menerima hasil positif dari tes virus corona pada minggu yang lalu, peraturan social distancing mulai diketatkan kembali. Ada dugaan bahwa peningkatan hasil positif itu disebabkan karena banyaknya orang yang melakukan interaksi sosial tanpa memperhatikan peraturan pemerintah untuk berwaspada. Hal ini tentu saja membuat pemerintah setempat menjadi kalang-kabut karena sebelumnya sudah merencanakan berbagai kegiatan untuk menghidupkan kembali aktivitas perekonomian negara serta kegiatan bermasyarakat.

Memang agaknya setelah mengalami lockdown cukup lama, bisa dimengerti bahwa rakyat ingin untuk memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Pernah saya tulis bahwa kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalahartikan atau disalahgunakan. Dalam keadaan dunia di saat ini, kita bisa melihat bahwa di banyak negara ada manusia-manusia yang ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginan mereka. Sayang sekali bahwa untuk mencapai hal itu, mereka juga ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum. Lebih-lebih lagi, mereka yang ingin merdeka seringkali tidak peduli akan keadaan dan kebutuhan orang lain. Kemerdekaan manusia seringkali mendorong manusia untuk berbuat dosa dan untuk tidak mengasihi sesamanya.

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh Tuhan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai kehendak bebas yang seharusnya dipakai oleh setiap manusia untuk memilih apa saja yang dikehendakinya.

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan dan kebutuhan orang lain. Karena itu, jika firman Tuhan melarang, orang yang sedemikian tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas. Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan membawa rakyatnya kepada pengenalan akan Tuhan yang mahakasih.

Pagi ini, ketika kita bangun, kita bisa melihat bahwa matahari menyinarkan terangnya untuk semua orang. Tuhan sudah menyalurkan kasihNya kepada semua orang, dan karena itu jelaslah bahwa kita harus mempergunakan kemerdekaan kita sebagai kesempatan untuk mengasihi sesama kita agar nama Tuhan bisa makin dimuliakan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. ” Roma 13: 1 – 2

Jagalah ketertiban

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Ketertiban hilang karena kepentingan pribadi

Baru saja PSBB di negara bagian Victoria dilonggarkan, hari ini tercatat 25 orang yang secara positif tertular virus corona. Karena itu mulai Senin, PSBB mulai diberlakukan kembali sekalipun tidak seketat bulan lalu. Kemunduran ini memang bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi sudah tentu membawa kekuatiran bagi banyak orang. Apalagi, orang mulai membicarakan kemungkinan wabah Covid-19 ini untuk kambuh lagi di Australia, seperti yang sudah terjadi di beberapa negara lain. Dalam hal ini, banyak orang berpendapat bahwa semua itu bisa terjadi jika masyarakat kurang mau menjaga ketertiban yang dibutuhkan untuk menghindari penularan virus dari orang yang satu ke orang yang lain.

Ketertiban adalah hal yang sulit untuk dilaksanakan. Mengapa orang di mana pun sulit untuk hidup tertib? Sebaliknya kekacauan begitu mudahnya untuk muncul di dunia. Manusia seringkali dengan sengaja atau tidak membuat kekacauan. Memang kekacauan adalah berhubungan dengan dosa manusia, dan itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Karena itu, Tuhan memang dari awalnya sudah mempersiapkan rencana agungnya untuk menyelamatkan manusia yang dikasihiNya. Tuhan ingin agar semua manusia yang mau  bertobat dari dosanya bisa menerima keselamatan yang kekal.

Selama hidup di dunia, mereka yang mau menjadi umatNya akan mengalami pertumbuhan rohani dan dipersiapkanNya untuk kehidupan kekal di surga. Pertumbuhan rohani yang hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Kudus, tidak hanya memperbaiki hati dan pikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah cara hidup sehari-hari dengan hubungannya dengan sesama manusia. Manusia yang sudah diperbarui hidupnya akan lebih mampu untuk hidup dalam ketertiban dan menghindari kekacauan.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan (1 Korintus 14: 31). Disini kita bisa melihat bahwa apapun yang baik, jika tidak dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan kekacauan dan tidak membawa kedamaian.

Adalah kenyataan bahwa di zaman ini, manusia pada umumnya sudah mempunyai pendidikan yang lebih baik dari apa yang dimiliki jemaat Korintus. Walaupun demikian, pendidikan yang baik tidak menjamin kelakuan atau tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, banyak orang yang melakukan berbagai perbuatan tercela dalam masyarakat, yang merugikan sesama,  yang menimbulkan kekacauan, dan yang menghilangkan kedamaian hidup, karena mereka mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Selain itu, ada juga orang yang menjalani hidupnya menurut apa yang disenanginya, tanpa menuruti sopan-santun dan hukum yang berlaku. Sekalipun mereka tidak secara langsung menimbulkan kegundahan dalam masyarakat, hidup mereka yang kacau bisa menghilangkan kedamaian hidup orang-orang di sekitarnya. Manusia tanpa bimbingan Roh Kudus memang sulit untuk hidup dalam ketertiban.

Ayat di atas mengajarkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus mengerti bagaimana kita seharusnya hidup untuk Tuhan selama di dunia dan bisa membuat sesama kita berbahagia. Melalui hidup yang tertib, sopan dan berdisiplin kita memenuhi panggilan Tuhan untuk menghindari kekacauan dan mencari damai sejahtera.  Biarlah hubungan rohani kita dengan Tuhan bisa  membuat kita lebih mampu dan mau menaati tata-cara, sopan-santun dan disiplin yang baik dalam hidup bermasyarakat untuk kemuliaanNya!

Aku kuat sebab dikuatkan Tuhan

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.’ Filipi 4: 11-12

Sebuah lagu gereja yang saya senangi adalah “Just a closer walk with Thee” atau dalam bahasa Indonesianya “Lebih dekat padaMu”. Mengapa lagu ini sangat menarik bagi saya? Lagu ini menyatakan bahwa kita lemah tetapi Tuhan kuat, dan melalui penyertaanNya kita bisa menjalani hidup yang benar dan berbahagia.

Ku lemah Yesus kuasa
Hindarkanlah dari dosa
Dan ku sungguh berbahagia
Serta senang trus selamanya
Lebih dekat padamu
Itu permohonanaku
Setiap hari sertamu
Oh Tuhan tolonglah aku

Lagu yang tidak diketahui siapa pengarangnya ini sudah ada sejak abad ke 19. Ada yang menduga bahwa lagu ini berasal dari gereja Afrika-Amerika di bagian selatan Amerika. Lagu ini sebenarnya bernada gembira karena menyatakan bahwa kedekatan kepada Tuhan yang mahakuasa membuat umatNya mempunyai hidup senang untuk selamanya.

Dalam kenyataannya, hidup sebagai orang Kristen tidaklah menjamin bahwa segala sesuatu akan berjalan mulus dan kita tidak akan menemui hal-hal yang membawa kesedihan, kelaparan, atau penderitaan yang lain. Mereka yang menyanyikan lagu di atas seringkali ditantang dengan kenyataan bahwa apa yang mereka nyanyikan belum tentu cocok dengan apa yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan demikian apakah syair lagu itu bisa benar-benar kita amini?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menulis bahwa ia bersyukur bahwa jemaat Filipi masih ingat kepadanya. Ia senang bahwa pada masa yang lalu jemaat Filipi pernah mengirimkan bantuan kepadanya sekalipun sekarang mereka tidak dapat lagi membantu, mungkin karena jarak yang memisahkan Paulus dan jemaat Filipi. Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa ia menuliskan hal itu bukan karena kekurangan, sebab ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus bukan meminta agar mereka memberikan bantuan kepadanya, karena ia tahu apa itu kekurangan dan tahu apa itu kelimpahan. Paulus dengan kata lain menyatakan bahwa sebagai pengikut Kristus, ia tahu bagaimana rasanya “jatuh dan bangun” dalam kehidupan.

Lebih lanjut Paulus menulis bahwa dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia baginya. Baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan, Paulus dapat menanggungnya karena Tuhan yang memberi kekuatan kepadanya. Sekalipun kenyataan hidup bisa terasa pahit, namun di dalam Tuhan Paulus menerima kekuatan karena penyertaan Tuhan. Paulus menjadi kuat dan sanggup menghadapi gejolak hidup karena penyertaan Tuhan.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Filipi 4: 13

Pagi hari ini, dapatkah kita menyanyikan lagu “Lebih dekat padaMu” dan mengamini syairnya? Dapatkah kita dengan yakin berkata bahwa kita sungguh berbahagia dan senang setiap hari karena Tuhan dekat dengan kita? Paulus sudah mengajarkan bahwa sekalipun hidup tidak selalu berjalan mulus, di dalam Tuhan kita bisa merasa kuat dan merasakan kedamaian karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Kita kuat karena dikuatkan oleh Dia yang kuat.

Menantikan pertolongan Tuhan

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Dimanakah Engkau, Tuhan?

Baru-baru ini ada seorang warga Australia yang dijatuhi hukuman mati di China. Saya baru mendengar namanya minggu lalu karena adanya berita di media tentang vonis yang dijatuhkan oleh pengadilan. Ternyata orang itu sudah mendekam di penjara selama bertahun-tahun. Tidak terbayangkan betapa kecewanya orang itu karena harapannya untuk dibebaskan tiba-tiba lenyap setelah lama menunggu. Memang sekarang masih ada kesempatan untuk naik banding, tetapi perasaan gundah sudah pasti sangat besar. Dalam hal ini, ada orang bilang bahwa selagi kita masih bisa hidup kita tidak perlu memikirkan hari esok. Tetapi, bagaimana kita bisa menikmati hari ini jika kita tidak mempunyai harapan untuk hari esok? Jika tidak ada orang yang bisa diharapkan untuk bisa menolong?

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa hilang harapan ketika menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kebimbangan itu dengan melupakan hal itu, dalam hal besar seperti adanya pandemi COVID-19 saat ini, orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, dimanapun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi seringkali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu Tuhan, dan mengharapkan Tuhan untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih akan mendengarkan doanya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini.

Kasih itu membenci ketidakadilan

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” 1 Korintus 13: 4 -6

Keadilan adalah bukti adanya kasih.

Sejak umur berapakah seorang anak bisa memprotes adanya ketidakadilan? Saya rasa sejak ia mulai bisa bicara, seorang anak bisa mengutarakan rasa tidak senangnya atas apa yang dirasakannya sebagai ketidakadilan. Mungkin itu dimulai dengan kata yang singkat seperti “tidak mau” yang kemudian berubah menjadi “tidak adil”. Serupa dengan itu, anak kecil yang berbahasa Inggris menyatakan rasa tidak senangnya dengan menjeritkan kata “no” sambil menggelengkan kepala, yang kemudian berubah menjadi kata “not fair“. Walaupun demikian, seorang anak mungkin hanya merasakan ketidakadilan yang dialaminya, bukan apa yang dirasakan orang lain.

Rasa ketidakadilan adalah fitur universal manusia, meskipun keadaan yang dianggap tidak adil dapat bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Dengan demikian, untuk bisa merasakan ketidakadilan, seorang anak harus belajar tentang apa yang adil dan apa yang tidak adil. Apa yang terjadi dalam alam semesta kadang-kadang dapat membangkitkan pengertian tentang ketidakadilan, tetapi ketidakadilan biasanya dirasakan dalam kaitannya dengan tindakan manusia seperti penyalahgunaan, pelecehan, penelantaran, atau penyimpangan yang tidak sesuai dengan sistem hukum atau sosial dari masyarakat setempat. Rasa ketidakadilan bisa menjadi kondisi motivasi yang kuat, menyebabkan orang untuk mengambil tindakan, tidak hanya untuk membela diri mereka sendiri tetapi juga orang lain yang mereka anggap diperlakukan tidak adil.

Jika ketidakadilan bisa berubah-ubah dari lokasi ke lokasi yang lain menurut standar hukum dan sosial yang berlaku, orang Kristen seringkali mengalami dilema karena sekalipun pikiran bisa menerima apa yang dialami sebagai “keadilan” di lingkungannya, hati seringkali berbisik bahwa semua itu tidaklah adil. Roh Kudus agaknya bekerja dalam diri umat Kristen dan mengetuk pintu hatinya, sehingga ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang adil. Sayang sekali bahwa suara Roh Kudus dalam hati kita yang ingin menyatakan kebenaran Tuhan seringkali tertutup oleh jawaban pikiran kita yang mengatakan bahwa kita harus bisa menerima keadaan yang ada karena itu sudah seharusnya, atau karena tidak ada jalan lain yang bisa kita pilih. Dengan demikian, perlahan-lahan orang Kristen menjadi orang yang hanya menerima keadaan di sekitarnya sebagai ‘takdir’ atau “kehendak Tuhan”.

Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang mempunyai kasih yang datang dari Tuhan adalah orang yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk bersifat pasif dalam menghadapi ketidakadilan, tetapi sebaliknya harus mau berjuang untuk menegakkan kebenaran. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja menegakkan kebenaran hukum dan sosial. Terutama di negara dimana penguasa setempat tidak mendukung kebebasan rakyat untuk menyatakan pendapatnya. Dalam keadaan sedemikian, orang Kristen menjadi kurang mau membuka suara dan lambat laun kehilangan kepekaan akan apa yang adil dan apa yang tidak adil menurut firman Tuhan. Mereka dengan demikian tidak dapat menyatakan kasih dengan sepenuhnya kepada orang lain, dan karena itu lambat laun mereka menjadi kebal atas ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.

Pagi hari ini firman Tuhan berkata bahwa kasih dan keadilan tidaklah dapat dipisahkan. Dimana pun kita berada kita tidak boleh berhenti memikirkan apa yang baik dan apa yang tidak baik menurut firman Tuhan. Kita juga harus bisa dan mau mendiskusikan masalah ketidakadilan yang terjadi di lingkungan kita, baik yang terjadi di rumah, di kantor, di sekolah , di gereja dan juga dalam pemerintahan dan bahkan seisi dunia. Selain itu, kita harus rajin mempelajari firman Tuhan dan mau mendengarkan suara Roh Kudus untuk menegakkan kebenaran Tuhan di setiap saat.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Yesus tentu mengerti penderitaan kita

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Ibrani 2:18

Penderitaan Kristus membuktikan kasihNya

Alkisah ada seorang petani muda dan baik hati yang bernama Ma Liang. Dia suka menggambar dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pelukis. Dia bekerja sangat keras untuk mencapai cita-cita ini dan meskipun dia tidak memiliki sebuah kuas untuk melukis, dia menggambar dengan alat seadanya di tempat-tempat yang dikunjunginya. Pada suatu malam, ketika Ma Liang bersiap-siap untuk tidur, seorang tua muncul dan memberinya sebuah kuas ajaib. Ma Liang kemudian menggunakan kuas itu untuk mengecat ayam jantan. Ketika ia melukis bulu terakhir, lukisan ayam jantan berubah menjadi ayam hidup yang kemudian terbang.

Menyadari kekuatan kuasnya, Ma Liang bertekad untuk menggunakannya untuk membantu orang lain. Tetapi, sekalipun Ma Liang ingin menolong orang-orang yang menderita, ia sendiri tidak dapat sepenuhnya merasakan penderitaan orang lain atau mengerti akan kebutuhan mereka. Karena itu, suatu hari Ma Liang sengaja melukis dirinya sendiri sebagai orang pengemis tuna wisma. Walaupun Ma Liang tidak kaya, ia belum pernah kelaparan atau tidur dengan kedinginan di alam terbuka. Ternyata penderitaan yang dirasakannya sebagai pengemis tuna wisma adalah jauh lebih berat dari apa yang pernah dibayangkannya. Sejak hari itu, Ma Liang bisa menggunakan kuas ajaibnya untuk menolong orang yang mempunyai berbagai masalah.

Cerita di atas adalah sebuah adaptasi dari cerita rakyat terkenal dari China. Tentu saja itu hanya dongeng anak kecil. Tetapi maknanya cukup besar, yaitu bahwa kita hanya bisa menolong orang lain jika kita benar-benar tahu, dan bisa merasakan masalah yang dihadapi mereka. Terlalu banyak orang yang mengajarkan cara untuk menghadapi masalah kehidupan, sekalipun mereka sendiri belum pernah mengalami penderitaan yang serupa. Berbagai motivator seringkali mengajarkan cara untuk bisa bertahan dalam menghadapi gelombang kehidupan, sekalipun mereka hanya bisa menikmati penghasilan orang lain yang menghadapi masalah. Bahkan dalam situasi pandemi ini banyak orang yang menawarkan obat untuk menangkal virus corona, sekalipun mereka belum pernah memakainya untuk kesembuhan diri sendiri.

Bagaimana seseorang bisa mengerti perasaan orang yang menderita jika tidak pernah mengalaminya sendiri? Bagi mereka yang menderita sudah tentu sulit untuk bisa percaya kepada mereka yang hanya bisa memakai kata-kata untuk menghibur. Seperti itu jugalah, kita umat Kristen akan sulit untuk bisa yakin bahwa Tuhan mengerti segala penderitaan dan masalah yang kita hadapi, jika tidak karena Yesus Kristus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus adalah Anak Allah yang sudah meninggalkan kemuliaan surgawi dan turun kedunia (Filipi 2: 5-8). Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Pagi ini, adakah keraguan anda bahwa Tuhan sepenuhnya mengerti akan perasaan anda? Bimbangkah anda ditengah kesulitan hidup yang ada karena tidak ada seorang pun yang memahami penderitaan anda? Mungkinkah anda merasa bahwa Tuhan dengan kemuliaanNya di surga sudah melupakan anda yang berdoa siang-malam untuk memohon pertolonganNya? Ayat diatas menyatakan bahwa Yesus sendiri telah menderita di dunia, dengan demikian Ia pasti mau dan dapat menolong mereka yang mengalami penderitaan saat ini. Tetaplah percaya akan kasihNya!

Tuhan selalu mengawasi kita

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” Mazmur 139: 1 – 2

Tuhan mengawasi setiap langkahku

Hari ini dari laporan TV ABC saya mendapat kabar bahwa beberapa restoran di Brisbane meminta pelanggan mereka untuk memberikan rincian kontak mereka untuk tujuan pelacakan COVID-19. Banyak orang yang menolak untuk memberikannya karena kekuatiran bahwa informasi itu akan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung-jawab. Memang di Australia dan juga di negara barat lainnya, orang sangat menghargai kerahasiaan pribadi atau privacy. Orang pada umumnya tidak senang jika ada orang lain yang ingin tahu apa yang dianggap rahasia pribadi.

Seorang pria ditanya oleh pewawancara ABC apakah dia kuatir dengan adanya permintaan restoran itu. Dia tersenyum dan berkata, “Tidak, saya tidak kuatir sama sekali. Saya seorang Kristen, dan saya sudah biasa diawasi setiap saat ”. Saya agak kaget dengan jawaban pria ini karena jarang orang di Australia yang mengaku di depan umum bahwa ia adalah orang Kristen, apalagi mengaku bahwa ia diawasi setiap saat. Jawaban pria ini mungkin tidak dapat ditangkap oleh masyarakat umum. Diawasi siapa? Di Australia orang Kristen beruntung karena bebas untuk melakukan ibadahnya, tidak ada petugas pemerintah atau polisi yang mengawasi mereka. Banyak orang mungkin tidak tahu bahwa pria itu menyatakan bahwa ia diawasi Tuhan setiap saat! Tetapi pada pihak yang lain, mungkin juga tidak semua orang Kristen sadar atau mau memikirkan bahwa Tuhan mengawasi tindak tanduknya setiap saat.

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal pemazmur. Tuhan tahu kalau ia duduk atau berdiri, dan Tuhan mengerti pikirannya dari jauh. Mazmur 139 memang sepenuhnya didedikasikan kepada Tuhan yang mahatahu. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kenyataan ini mungkin dianggap keterlaluan. Mereka tidak ingin Tuhan mengawasi mereka. Seperti Adam dan Hawa, manusia cenderung ingin melakukan apa yang disenanginya tanpa sepengetahuan atau seizin Tuhan. Dan jika mereka sudah berbuat dosa, mereka akan berusaha menyembunyikan diri dari mata Tuhan. Ini tentunya sesuatu usaha yang tidak mungkin berhasil.

Amsal 5: 21 – 23 berbunyi:

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasiNya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.”

Dari ayat ayat di atas jelas terlihat bahwa segala tingkah laku dan perbuatan manusia diawasi Tuhan. Baik orang Kristen maupun orang yang tidak mengenal Tuhan, semuanya tidak bisa luput dari pengawasanNya. Ia tahu jika ada orang yang ingin berjalan sendiri untuk mengikuti keinginan hatinya. Ia tahu bahwa orang-orang sedemikian akan tertangkap dalam kejahatannya dan terjerat dalam dosa. Orang yang sedemikian akan menerima hasil perbuatannya sendiri yang harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan. Mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan yang membiarkan mereka untuk berbuat dosa. Mereka tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan sudah mengawasi mereka dan menetapkan mereka untuk jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, mereka semestinya sadar bahwa Tuhan mengawasi segala perbuatan mereka dan karena itu seharusnya mereka tidak melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Bagaimana dengan orang Kristen? Adakah gunanya bagi mereka jika Tuhan mengawasi segala segi kehidupan mereka? Tentu saja! Tuhan yang mahakuasa mengasihi orang-orang yang taat kepadaNya dan mau mengarahkan mereka ke jalan yang benar dan membimbing mereka sehingga makin hari mereka makin sempurna di dalam Dia. Sekalipun keadaan dunia berubah menjadi kacau dan masalah datang bertubi-tubi, Tuhan mengawasi dan menjaga hidup mereka senantiasa.

Pada pagi ini, adakah kerisauan dalam hati anda? Tidak adakah orang yang mengerti perasaan dan keadaan anda? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Tidak adakah teman yang bisa dipercaya? Mungkinkah anda berusaha menyembunyikan duka-lara dari pandangan orang lain? Biarlah kita sadar bahwa kita tidak dapat bersembunyi dari pandangan mata Tuhan. Tuhan melihat setiap orang dan bagi mereka yang percaya kepada Dia, Tuhan mengawasi dengan mataNya yang penuh kasih untuk melindungi dan menguatkan mereka. Mata Tuhan juga mengawasi umatNya yang tersesat; sebagai gembala yang baik Ia memanggil mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

“TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Mazmur 121: 8

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Tuhan mengasihiku

Apakah Tuhan mengasihi semua orang di dunia? Pertanyaan ini nampaknya mudah, tetapi sebenarnya sulit untuk dijawab. Bagaimana kalau seseorang menjawabnya dengan “tidak”? Sebagai bukti dikatakannya bahwa tidak setiap orang bisa ke surga. Tetapi dalam kenyataan hidup di dunia, banyak orang yang nyaman hidupnya sekalipun tidak mengenal Tuhan. Jadi tentunya Tuhan memberkati orang-orang itu dan mengasihi mereka. Bagaimana kalau kita menjawab dengan “ya”? Ayat diatas mungkin bisa diajukan sebagai bukti: bahwa Tuhan menerbitkan matahari dan menurunkan hujan kepada siapa saja. Walaupun demikian, seperti diatas, tidak semua orang akan ke surga.

Jadi bagaimana? Apakah mereka yang jatuh sakit di zaman pandemi ini adalah orang-orang yang tidak dikasihi Tuhan? Apakah mereka yang sembuh dari serangan virus ini adalah orang-orang yang benar-benar dikasihi Tuhan? Semua itu tidak benar. Tuhan mengasihi semua orang di dunia dan memberi berkatNya dalam bentuk anugerah umum yang berlaku untuk semua orang. Setiap orang bisa menerima dan memakai apa yang sudah dikaruniakan Tuhan kepada seisi dunia. Entah itu sinar matahari yang memberi kehangatan, air hujan yang menyuburkan tanaman, angin sepoi yang menyejukkan, atau obat-obatan dan perawatan dokter, itu semuanya merupakan berkat Tuhan kepada seluruh umat manusia dan tidak dapat diklaim oleh orang Kristen saja. Lebih dari itu, dengan kasihNya Ia memanggil setiap orang untuk datang kepadaNya dan mau bertobat dari hidup lamanya.

Jika Tuhan nampaknya adil dalam hal memberikan anugerah umumNya, apakah Tuhan dengan demikian memandang bahwa setiap orang adalah sama? Sudah tentu tidak. Mereka yang percaya kepada Yesus adalah orang-orang yang dipilihNya untuk menjadi anak-anak Allah di sorga. Kepada umatNya, Tuhan memberikan karunia yang khusus yaitu keselamatan. Kepada setiap orang yang beriman, keselamatan itu sudah dipastikan. Karena kasihNya yang sangat besar untuk orang yang mengaku dosanya dan mau bertobat, Tuhan memberi mereka kesempatan untuk hidup dalam hubungan yang baru. Ini bukan berarti bahwa mereka akan hidup di dunia tanpa harus menghadapi kesulitan, masalah dan bahkan malapetaka, tetapi dalam segala keadaan mereka dapat berseru memohon pertolongan dan penghiburan dari Tuhan. Ini tentunya tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena mereka tidak kenal Tuhan dan Tuhan tidak mengenal mereka.

Pada pagi hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa karena Tuhan mengasihi setiap orang kita juga wajib mengasihi sesama kita. Firman Tuhan juga mengingatkan bahwa sekalipun hidup kita di dunia tidaklah senyaman mereka yang tidak mengenal Tuhan, mereka juga menerima berkat dari Tuhan. Kita tidak boleh berkecil hati melihat mereka yang nampak jaya tetapi bukan orang percaya. Kita harus sadar bahwa selaku umat Kristen kita adalah orang-orang yang sudah menerima keselamatan dan berhak memanggil Tuhan sebagai Bapa. Karena itu, kasih Tuhan melalui darah Yesus inilah yang membedakan kasih Tuhan kepada seisi dunia. Kasih Kristus ini jugalah yang memberikan kita kemampuan untuk mengasihi saudara-saudara seiman kita dalam keadaan apapun dan mau saling menguatkan dan mendoakan dalam keadaan yang sulit saat ini.

Tahukah anda siapa diri anda?

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Mazmur 139: 1 -4

Pernahkah anda menonton film Papillon? Fim Papillon adalah film produksi 1973 yang menceritakan seorang pria bernama Henri Charriere yang dibuang ke tempat pengasingan karena dituduh melakukan berbagai kejahatan. Henri mempunyai semangat yang tak pernah padam untuk kabur, untuk melarikan diri, untuk bebas. Jiwanya lepas, tak sudi dikungkung dan selalu mencari jalan untuk keluar dari penjara . Mungkin karena itu Henri dijuluki Papillon, Sang Kupu-kupu.

Meskipun dikurung dalam penjara yang bertembok tinggi dan tebal, suatu saat Papillon berhasil lolos. Tetapi, tak lama kemudian ia tertangkap dan kemudian dimasukkan ke ruang pengasingan yang kotor dan kecil. Papillon harus hidup tanpa sinar matahari dengan kondisi gizi yang sangat buruk. Dia tidak boleh bertemu manusia lain, selama 1 tahun. Keadaan ini hampir membuatnya gila dan karena itu ketika ia sempat mengeluarkan kepalanya dari lubang pintu makanan, ia bertanya kepada narapidana disebelah kamar tahanannya: “Bagaimana rupaku?” Papillon yang tinggal didalam kegelapan dan tidak pernah bercermin, tidak lagi tahu bagaimana rupanya.

Seperti Papillon, mungkin kita saat ini merasa bahwa kita tidak tahu lagi siapakah diri kita yang sebenarnya. Keadaan dunia yang kacau dan berbagai tantangan hidup seringkali memaksa kita untuk tidak memikirkan hal-hal lain di luar usaha untuk bisa tetap hidup, tetap survive. Kadang-kadang hidup ini terasa begitu berat dan matahari serasa tidak bersinar, sehingga kita merasa seakan kita sendirian tanpa teman. Siapakah aku dan mengapa aku harus mengalami semua ini? Bagaimana kata orang lain tentang diriku? Apakah mereka tetap bisa menerima aku sebagai sesama manusia yang membutuhkan teman? Mengapa tidak ada seorang pun yang peduli akan kesulitanku?

Di tengah keadaan yang harus kita hadapi, kita merasa terkubur dalam berbagai beban berat, dan perlahan-lahan mulai meragukan siapakah diri kita. Jika dalam keadaan senang orang tidak pernah memikirkan mengapa ia harus menerima segala hal yang baik dan indah, dalam keadaan susah orang mulai memikirkan siapakah dirinya yang harus mengalami semua kesulitan hidup. Dalam kesunyian kita mungkin bertanya-tanya apakah ada orang yang masih menganggap kita sebagai sesama manusia.

Pemazmur dalam ayat di atas sering mengalami hal yang yang menekan jiwanya. Seringkali ia merasa bahwa tidak ada orang yang bisa menolong dia, dan bahkan Tuhan seringkali terasa jauh. Tetapi dalam ayat di atas, ia menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tahu apa saja yang ada dalam hidupnya. Tuhan ternyata menyelidiki dan mengenalnya dan bahkan tahu kalau ia duduk atau berdiri. Tuhan mengerti jalan pikirannya sekalipun dari jauh. Tuhan melihatnya kalau ia berjalan dan berbaring, dan Ia mengerti segala jalan yang diambilnya. Bahkan sebelum lidahnya mengeluarkan perkataan, Tuhan sudah tahu apa yang akan diucapkannya.

Jika Tuhan adalah mahakuasa dan mahatahu, dan Ia mengikuti apa saja yang terjadi dalam hidup kita, mengapa kita merasa bahwa kita hanya seorang diri dalam hidup ini? Mengapa kita tidak menyadari bahwa Tuhan yang mahakasih senantiasa menyertai kita? Mungkin kita tidak lagi tahu siapakah diri kita. Mungkin kita tidak lagi tahu bagaimana penampilan kita dalam pandangan Tuhan. Tuhan yang sudah mengangkat kita sebagai anak-anakNya tidak pernah melupakan kita atau meninggalkan kita. Sekalipun kita berada dalam kegelapan dan mulai meragukan harga hidup kita, bagi Tuhan kita adalah seperti mutiara-mutiara berharga. Jika kita sendiri tidak yakin apakah hidup kita ada harganya di hadapan manusia, ayat di atas menunjukan bahwa Tuhan selalu mengikuti jalan hidup kita dengan penuh rasa kasih. Dengan demikian, mengapa pula kita harus ragu tentang diri kita? Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan yang tidak pernah akan ditinggalkanNya!

Kuatir itu tidak ada gunanya

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?” Lukas 12: 25

Hanya Tuhanlah yang bisa menolongku

Masih ingatkah anda akan lagu anak-anak zaman dulu yang berjudul “Sayonara“? Walaupun ada lagu pop Jepang yang judulnya sama, lagu ini bukan dari Jepang sekalipun memang sama-sama berarti “selamat berpisah”. Lagu ini mungkin sudah jarang dinyanyikan oleh anak-anak sekarang, tetapi justru lebih sering dinyanyikan orang dewasa sewaktu akan mengakhiri sebuah pertemuan besar. Lagu yang bernada gembira ini agaknya dinyanyikan untuk menghilangkan rasa sedih karena datangnya saat untuk berpisah.

Sayonara sayonara
sampai berjumpa lagi
Sayonara sayonara
sampai berjumpa lagi
buat apa susah
buat apa susah
susah itu tak ada gunanya
buat apa susah
buat apa susah
susah itu tak ada gunanya

Saya sendiri terakhir kalinya menyanyikan lagu ini di dalam sebuah bis bersama-sama teman SMA saya ketika kami meninggalkan kota Yogyakarta untuk kembali ke Surabaya setelah seminggu bertamasya di akhir SMA. Dengan perjalan pulang itu, pengalaman manis yang kami alami dengan mengunjungi candi Borobudur dan tempat-tempat turis lainnya harus diakhiri. Walaupun demikian, di sepanjang jalan kami tidak henti-hentinya bercanda sambil menyanyikan lagu Sayonara sekedar untuk mengisi waktu sambil menghibur diri dari rasa sedih. Bagi sebagian teman memang rasa sedih ada karena akan berpisah, tetapi tentu ada juga yang sedih karena liburan yang sudah habis!

Rasa sedih adalah reaksi normal manusia yang menghadapi kesusahan. Rasa sedih bisa juga timbul bersama dengan rasa kuatir jika orang merasa kehilangan sesuatu dan kemudian tidak yakin apakah ia sanggup menghadapi hari depan. Jika rasa sedih mungkin bisa diakhiri karena manusia dikaruniai oleh kemampuan untuk melupakan apa yang sudah lewat, rasa kuatir seringkali berkelanjutan karena adanya masa depan yang tidak dapat dipastikan. Keduanya, rasa sedih dan rasa kuatir, bisa berwujud perasaan hati yang sangat kuat dan yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Hal ini tidaklah mengherankan karena dengan bersedih dan berkuatir sebenarnya tidak ada yang baik yang bisa dihasilkan. Keduanya adalah unsur negatif dalam hidup yang tidak berguna.

Ayat di atas adalah ucapan Tuhan Yesus yang sangat terkenal. Yesus berkata bahwa kekuatiran tidak akan bisa mendatangkan apa yang baik bagaimana pun kecilnya. Kekuatiran akan masa depan, karena keadaan sosial, ekonomi, kesehatan dan keamanan tidak akan memperbaiki situasi atau pun kondisi kita. Sebaliknya, di tengah kekacauan dunia saat ini, baik jasmani maupun rohani kita bisa menjadi lemah jika kita selalu kuatir. Yesus mengatakan bahwa kita adalah manusia yang kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemampuan diri sendiri (Lukas 12: 26). Dengan demikian, jika kita kuatir menghadapi masalah yang besar, apakah yang bisa kita harapkan? Apakah gunanya kekuatiran jika kita memang adalah manusia yang lemah?

Hanya kepada Tuhan kita bisa berharap ditengah keadaan yang sangat menekan saat ini. Hanya Tuhan yang mempunyai kuasa yang dapat menyelesaikan segala perkara yang merintangi rencanaNya. Karena itu kepada Dia kita harus berharap dan berdoa agar Ia membimbing kita untuk bisa mengatasi segala masalah kita. Kita harus dengan yakin bahwa dengan bimbinganNya segala sesuatu akan berakhir dengan kebaikan sesuai dengan rencanaNya.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7