Lalang dan gandum boleh hidup bersama

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Pagi ini saya menyempatkan diri untuk memotong rumput di halaman belakang rumah saya yang cukup luas. Sudah lama saya tidak menggunakan mesin traktor pemotong rumput karena hujan yang jarang turun. Tetapi sejak turunnya hujan bulan lalu, halaman itu sekarang kelihatan hijau bukan saja dengan rumput, tetapi juga dengan berbagai tanaman liar seperti lalang dan sejenisnya. Saya sebenarnya ingin memiliki halaman yang ditumbuhi rumput saja, tetapi  di padang rumput manapun tanaman liar selalu ikut tumbuh bersama rumput yang ada. Dengan adanya sinar matahari dan air hujan, tanaman liar itu terkadang justru tumbuh lebih subur dari rumput. Ini yang membuat saya kesal karena selain tidak mudah untuk mencabut lalang, lubang bekas lalang tidaklah sedap dipandang mata.

Hidup manusia di dunia ini seringkali nampaknya seperti padang yang ditumbuhi rumput dan lalang. Mereka yang jahat dan curang kerapkali hidupnya berhasil dan nyaman, sedangkan mereka yang baik hati dan jujur justru hidupnya berat dan bahkan bisa menjadi bulan-bulanan orang lain. Mengapa begitu? Kalau Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat dan bahkan membiarkan mereka untuk berjaya, tidak patutkah kita merasa iri dan bahkan sakit hati kepada yang tidak mengenal Tuhan, dan juga marah kepada Tuhan yang tidak melakukan tindakan apa-apa kepada mereka? Tuhan tidak adil!

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup mereka ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk membahas kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini sudah sangat berkembang dan era globalisasi membuat negara yang satu membutuhkan negara yang lain. Begitu juga, di sebuah negara ada banyak berbagai  partai dan golongan yang saling bergantung dan berinteraksi. Dalam kehidupan seseorang, kerjasama dan komunikasi dengan orang lain adalah perlu sekalipun mereka tidak sepaham. Semua itu tentunya jika masih dalam batas-batas yang bisa diterima.

Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya sebuah negara, sebuah kelompok manusia atau pribadi yang seolah-olah berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah di muka bumi, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firmanNya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi?

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan untuk orang yang jahat dan orang yang baik (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan ada di dunia, sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan, yang baik maupun yang buruk, kehidupan manusia tetap berjalan dan mereka yang percaya bisa senantiasa berharap atas kasih dan pertolongan Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan juga yakin bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepadaNya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

 

Orang berdosa yang dikuduskan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9

Orang Kristen adalah orang yang sudah ditebus dosanya oleh darah Kristus. Karena pengorbanan Yesus di kayu salib, mereka yang dulunya harus menemui kebinasaan sekarang bisa menjadi orang yang diselamatkan. Lebih dari itu, orang Kristen boleh memanggil Allah sebagai Bapa karena mereka adalah orang-orang yang sudah dikuduskan. Orang kudus? Saint?

Sebutan “orang kudus” ada di Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, sebutan orang kudus jelas dipakai untuk mereka yang sudah dikuduskan oleh darah Kristus. Karena itu, sebagai orang Kristen sebenarnya kita tidak boleh ragu untuk  menyatakan bahwa sebagai anak-anak-Tuhan kita adalah orang-orang kudus. Tetapi, sebutan sedemikian mungkin bisa menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang tidak mengerti bahwa orang Kristen selama hidup di dunia tentunya tetap bisa jatuh ke dalam dosa. Orang Kristen yang masih hidup di dunia adalah orang yang disucikan Tuhan, tetapi bukannya suci seperti Yesus. Orang Kristen tetap adalah orang-orang berdosa. Membingungkan bukan?

Bagi sebagian orang Kristen, sebutan “orang kudus”, “saint“, “santa” atau “santo” mungkin dipakai untuk memanggil mereka yang dianggap benar-benar suci karena hidup mereka yang dianggap luar biasa, dan mungkin karena jasa mereka kepada gereja. Mereka itu mungkin ditetapkan oleh pimpinan gereja sebagai tokoh-tokoh yang sudah suci seperti Tuhan. Karena itu, jemaat mungkin sering berdoa kepada orang-orang kudus untuk mendapatkan pertolongan atau kemudahan dalam hidup. Tetapi penebusan Kristus sebenarnya tidak membeda-bedakan orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain. Mereka semuanya adalah orang berdosa yang membutuhkan penebusan Kristus, dan selama hidup di dunia mereka tetap berbuat dosa.

Orang Kristen adalah orang kudus tetapi juga orang yang berdosa. Berbeda dengan orang lain, darah Yesus memungkinkan mereka untuk memperoleh hidup baru dengan kesadaran akan apa yang baik dan buruk menurut firman Tuhan. Orang yang sudah dikuduskan  mempunyai keinginan untuk berjalan dalam kebenaran, dan memiliki kekuatan dari Tuhan untuk menolak apa yang jahat. Ini bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang tidak dapat berbuat dosa selama mereka hidup di dunia, tetapi jika mereka berbuat dosa mereka akan sadar akan hal itu dan makin hari akan makin bisa hidup lebih baik.

Pagi ini, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi anak-anakNya. Dengan demikian, kita tidaklah tetap hidup dalam kebiasaan lama yang bergelimang dengan dosa. Kita harus mempunyai kesadaran bahwa darah Yesus sudah ditumpahkan bukan untuk disia-siakan. Yesus sudah berkurban untuk kita dan jika kita benar-benar mau menjadi orang kudus, kita harus mau bertumbuh dalam kebenaran sehingga makin lama kita makin menyerupai Dia.

Belajar mengasihi melalui teladan

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4: 32

Bagaimana cara mendidik anak yang paling efektif? Menurut mereka yang mengerti psikologi anak, cara yang paling tepat adalah dengan memberi teladan, bukan dengan hanya memberi perintah atau anjuran. Anak-anak belajar berbuat sesuatu dengan melihat apa yang dilakukan orang tua mereka. Children learn by example.

Jika anak-anak belajar dari orang tua mereka, bagaimana pula jika mereka tidak mempunyai orang tua atau mempunyai orang tua yang jarang di rumah? Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang tidak mempunyai orang tua terpaksa belajar dari orang lain. Beruntunglah jika mereka mempunyai sanak saudara atau kerabat yang bisa memberi bimbingan, jika tidak mereka akan mudah tersesat.

Sebagai manusia, kita adalah orang-orang yang hidup dalam kegelapan sebelum Allah mengambil kita sebagai anak-anakNya. Dalam dosa kita, kita mungkin sudah menjadi anak hilang dan bahkan anak iblis, sehingga hidup kita kacau balau dan kita menjadi manusia yang mudah membenci sesama kita.

“Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 3: 10

Bagaimana Tuhan mengubah hidup kita yang tidak punya harapan untuk menjadi hidup baru yang penuh kasih? Pertama-tama Ia harus mau untuk menjadi orang tua, Bapa kita. Untuk itu Ia turun ke dunia untuk menebus dosa kita. Kristus bukan saja memungkinkan kita memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi Ia juga menjadi bukti kasih Tuhan. Lebih dari itu Tuhan sudah memberi teladan kepada kita bagaimana seperti Dia, kita bisa mengampuni orang lain dan mengasihi mereka yang dulunya kita benci. Jadi kita bisa belajar dari Tuhan melalui contoh kasih dan pengampunan dalam diri Yesus yang sudah kita terima.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita bukanlah anak yatim piatu yang tidak mempunyai orang yang membimbing hidup kita. Kita adalah anak-anak Tuhan yang bisa mengambil contoh dari apa yang sudah diperbuat Tuhan bagi kita. Dengan demikian, bagaimana kita bisa hidup baik adalah bergantung kepada kemauan kita untuk meniru kasihNya yang sudah dinyatakan kepada kita.

Sudahkah kita menerima Roh Kudus?

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1: 8

Hari ini adalah hari Pentakosta, hari dimana Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus, lima puluh hari setelah kebangkitanNya. Hari Pentakosta adalah hari penting dalam sejarah gereja, bahkan dianggap oleh sebagian denominasi sebagai hari berdirinya gereja, yaitu persekutuan orang percaya. Walaupun demikian, pada beberapa gereja di Australia, hari ini tidaklah dirayakan secara formal.

Banyak orang Kristen yang tidak lagi memandang hari Pentakosta sebagai hari yang penting untuk diperingati, selain dari segi historisnya. Tambahan pula, ada golongan Kristen yang memandang bahwa perayaan hari Pentakosta itu adalah kebiasaan golongan tertentu, dan karena itu mereka agak segan untuk memperingatinya. Bagi mereka, hari kematian dan kebangkitan Yesus adalah dua hari yang terpenting dan wajib diperingati.

Sesungguhnya hari turunNya Roh Kudus adalah hari yang penting untuk diperingati, bukan hanya untuk mengenang bagaimana Roh Kudus turun secara luar biasa, dan bersama itu banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi lebih dari itu hari Pentakosta seharusnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada kita dan setiap orang percaya.

Banyak orang Kristen yang belum atau tidak merasakan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka. Tidak adanya hal yang istimewa atau spektakuler yang pernah terjadi dalam hidup mereka seolah membuat suatu tanda tanya: apakah mereka benar-benar sudah menjadi pengikut Kristus? Terkadang, mungkin ada juga rasa sedih mengapa jika Tuhan sudah menerima mereka, tidak ada yang terlihat luar biasa dalam hidup mereka?

Pada waktu Yesus menjanjikan datangnya Rok Kudus, apa yang dinyatakanNya ialah bahwa para pengikutNya akan menerima kuasa dan mereka akan menjadi saksiNya dimana saja. Mereka menjadi saksi Yesus melalui perubahan hidup mereka yang menunjukkan sesuatu sudah terjadi. Hidup lama yang penuh dosa sudah berubah menjadi hidup yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Hidup yang dulu sering diisi kekuatiran dan kesedihan, sekarang diisi kebahagiaan dalam Tuhan. Mereka yang dulunya ragu-ragu dalam mengabarkan injil, sekarang menjadi bersemangat dan mati-matian mau bekerja keras di ladang Tuhan. Itu semua menunjukkan bekerjanya Roh Kudus: ada kuasa baru dalam hidup mereka yang percaya.

Hari ini, sekalipun kita tidak merayakan hari Pentakosta secara formal atau gerejani, kita wajib mengingat bahwa Roh Kudus sudah diberikan kepada kita untuk menolong, menghibur dan menguatkan kita. Roh jugalah yang bisa membawa orang lain kepada Kristus melalui hidup dan pelayanan kita. Seringkali kita lupa bahwa kita seharusnya mempersilahkan Roh Kudus untuk mengatur hidup kita sepenuhnya dan bukannya mendukakan Dia dengan menjalani hidup untuk kepuasan diri kita. Roh Kudus pasti bekerja didalam diri kita jika kita mau memakai hidup kita untuk kemuliaan bagi Tuhan. Selamat hari Pentakosta!

Belajar dari Roh Kudus

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Bagi mereka yang ingin mempunyai anak, tentunya biaya pendidikan adalah salah satu hal yang harus dipikirkan dan dipersiapkan. Di Australia, biaya sekolah dari SD sampai SMA bisa ditekan serendah mungkin jika anak masuk ke sekolah negeri, tetapi bisa menjadi sangat mahal jika sekolah swasta yang dipilih. Biaya sekolah swasta sangat bervariasi, dari beberapa ribu sampai lebih dari dua puluh ribu dolar per tahun.

Banyak orang tua merasa lega ketika anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan SMA mereka. Apakah anak-anak itu kemudian meneruskan ke perguruan tinggi atau tidak, orang tua tidak perlu lagi memikirkan biaya studi mereka. Itu karena biaya universitas yang sangat besar bisa dibayar oleh mereka yang belajar secara mengangsur setelah lulus. Walaupun demikian, orang tua bisa merasa kuatir juga kalau sang anak tidak kunjung selesai belajar, kalau-kalau hutang mereka menjadi terlalu besar.

Sampai umur berapakah orang bisa belajar dalam hidup ini? Di Australia, jawaban pertanyaan ini tidak mudah diberikan. Sudah tentu orang pada umumnya ingin cepat-cepat mendapat ijazah S1 agar dapat segera bekerja. Tetapi ada juga orang yang ingin mendapat ijazah S2 atau S3 sebelum bekerja. Selain itu ada orang yang setelah bekerja beberapa tahun, kemudian kembali ke universitas secara part-time atau full-time untuk mendapatkan ijazah yang lebih tinggi. Lebih dari itu, ada orang yang sudah pensiun kemudian mengambil ijazah S2 atau S3 pada usia lanjut, bahkan pada usia uzur 80 – 90 tahun.

Ayat di atas adalah nasihat raja Sulaiman yang cukup terkenal dan sering ditujukan kepada kaum muda agar mereka mau mendengar nasihat dan menerima didikan, supaya mereka menjadi bijak di masa depan. Bagi mereka yang sudah tergolong berumur, berpendidikan atau berpengalaman, mungkin dorongan untuk terus belajar untuk kebaikan masa depan agaknya dipandang kurang cocok. Bagi mereka, apa yang ada sudah pernah dikunjungi atau sudah pernah dilakukan. Been there, done that. Masa depan sudah berlalu dan menjadi masa lalu, dan yang tersisa adalah masa kini yang harus diterima atau dinikmati selagi masih bisa.

Saat ini dalam menyongsong hari kedatangan Roh Kudus, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita seharusnya tidak pernah berhenti untuk belajar guna menuju ke arah kedewasaan iman. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia menjanjikan kepada murid-muridNya seorang Penghibur dan Guru yang akan membimbing mereka. Sampai sekarang Roh Kudus senantiasa mau memberi kita nasihat dan didikan, agar kita makin mengerti kehendak Tuhan. Maukah kita memakai sisa hidup kita untuk selalu belajar dari Dia?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14: 25 – 26

Jangan mudah dibuat bingung

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Jika kita ingin mencari berita apa saja, internet adalah tempat yang paling mudah digunakan sebagai sarana. Dengan memakai Google search, orang bisa menulis beberapa kata kunci (keywords) di ponsel atau komputer dan kemudian menemukan berita apa yang dicarinya dalam waktu beberapa detik saja. Memang semua itu kelihatannya gampang, tetapi dalam kenyataannya seringkali berita yang diperoleh itu tidak jelas sumbernya dan berbeda-beda isinya. Sebagai akibatnya, banyak orang yang di zaman ini mudah tertipu oleh berbagai kabar simpang siur yang membingungkan.

Internet bisa dipandang sebagai salah satu penemuan teknologi abad 20 yang sudah menjadi bagian hidup orang di abad 21. Bisa dibayangkan bahwa apapun yang ada di dunia ini sekarang tergantung pada internet dan karena itu orang atau negara yang kurang bisa menggunakan internet perlahan-lahan akan tertinggal dalam segi ekonomi, pengetahuan, kesehatan dan sebagainya.

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia  makin lama  makin  pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Malahan, dengan kemajuan teknologi, manusia lebih mudah tersesat kedalam berbagai pengajaran yang bisa dijumpai melalui internet. Melalui Youtube misalnya, orang bisa menonton berbagai pembicara yang mengaku Kristen tetapi mengajarkan apa yang tidak sesuai dengan Alkitab. Banyak di antara mereka yang menampilkan berbagai hal yang hebat dan luar biasa, dengan tujuan untuk menarik perhatian publik, agar mereka di anggap sebagai hamba Tuhan yang hebat. Mungkin saja mereka adalah serigala yang menyamar sebagai domba (Matius 7: 15).

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati. Kita hidup untuk belajar dari Kristus dan untuk menjadi seperti Dia dalam segala hal yang baik.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar berita atau menyaksikan peristiwa yang luar biasa yang dialami seseorang? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Dapatkah orang mencapai apa yang baik di mata Tuhan melalui jalan yang salah? Sulitkah anda membedakan mana yang baik dan mana yang jahat? Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaranNya ditegakkan, dan apakah kasih kepada sesama sudah diutamakan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Hari ini adalah hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapapun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan seringkali seakan tidak dapat dihindari. Peperangan tidak terjadi karena permusuhan atau pertikaian yang terjadi pada satu hari saja. Peperangan pada umumnya terjadi melalui proses permusuhan yang berlangsung cukup lama.

Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, seringkali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaanNya. Tuhan nampaknya bukanlah Tuhan yang mengasihi umat ciptaanNya, begitu pikir banyak orang.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan bisa juga terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilihNya.

Pagi ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad yang lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya  bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umatNya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan pagi ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganNya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepadaNya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.