Dimanakah sukacita itu?

“Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan.” Amsal 14: 14

Di Australia, hari Jumat adalah hari kerja terakhir dalam seminggu. Biasanya orang menyambut hari Jumat dengan perasaan lega karena akhir minggu sudah diambang pintu. Hari Jumat sore setelah selesai bekerja, banyak orang yang pergi ke restoran dan tempat minum bersama kolega dan teman. Karena itu, tempat-tempat terkenal di kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane biasanya penuh sesak dengan orang-orang yang ingin mengobrol sambil makan-minum. Jika kita mengunjungi tempat-tempat itu, bunyi hiruk-pikuk orang dan musik riang-gembira selalu mengisi suasana.

Suasana gembira yang bisa kita lihat ditempat umum biasanya mulai reda sesudah tengah malam. Sebagai gantinya, kita mulai melihat adanya orang-orang yang berjalan tertatih-tatih menuju ke stasiun kereta api untuk pulang ke rumah masing-masing. Maklumlah, sesudah meminum banyak minuman keras, orang menjadi kurang mampu mengontrol gerakan tubuhnya.  Sebagian orang bahkan tidak lagi bisa berjalan karena mabuk berat, dan karena itu mereka tidur dipingir jalan.

Perlukah mereka yang mabuk itu untuk dikasihani? Mungkin kita berpendapat bahwa mereka yang mabuk adalah karena kesalahan sendiri. Mereka yang mengalami hal-hal yang kurang baik ketika mereka mabuk berat adalah orang-orang yang bodoh, yang membuka kesempatan kepada orang lain untuk melakukan hal yang jahat kepada mereka. Tetapi, pada pihak yang lain, kita harus berbelas kasihan kepada mereka yang seolah mendapat kegembiraan untuk sementara, tetapi kemudian mengalami kesunyian dan bahkan penderitaan. Mereka yang tidak mempunyai kebahagian dalam hidup, seringkali mencari kebahagiaan di tempat yang dapat mengalihkan perhatian mereka untuk sesaat. Jika kita teliti, seperti apa yang dikatakan ayat diatas, diantara mereka yang tertawa ada hati yang  merana, dan kesukaan duniawi yang mereka peroleh dapat berakhir dengan kedukaan.

Orang sebenarnya tidak selalu mengonsumsi minuman keras sebagai  usaha untuk menikmati  hidup dan melupakan kepahitan yang mereka alami. Banyak orang yang tidak memilih pesta-pora, obat terlarang ataupun minuman keras sebagai pelarian dari kesepian dan penderitaan dalam hidup. Mereka mungkin saja mengucilkan diri ke tempat yang sepi, ataupun membenamkan diri dalam kesibukan hidup. Ada juga yang giat bekerja dalam aktivitas sosial, gereja, olahraga atau hobi. Semua ingin untuk mendapatkan sukacita, sekalipun untuk sementara.  Namun, semakin keras manusia berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan, semakin sulit bagi mereka untuk memperolehnya.

Kebahagiaan memang tidak bisa dicari manusia karena Tuhanlah yang memberikannya kepada mereka yang taat kepadaNya. Mazmur 37 : 3 – 5 menulis:

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”

Dimanakah kebahagiaan itu bisa ditemukan, jika tidak di sumbernya? Adakah yang lebih besar dari kasih Tuhan kepada umatNya? Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah sumber kebahagiaan kita. Happiness is the Lord.

 

Iman yang menyelamatkan

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 1: 1

Iman adalah satu kunci kata dalam banyak agama, tetapi mempunyai banyak definisi.  Dengan demikian, istilah orang beriman juga mempunyai berbagai pengertian. Orang beriman bisa diartikan orang saleh yang hidupnya sesuai dengan hukum agama. Ada juga yang mengartikannya sebagai orang yang rajin berdoa dan berbuat baik. Selain itu, ada juga yang mengartikan bahwa orang beriman berarti orang yang giat berusaha untuk mengenal Tuhannya. Apapun artinya, banyak orang percaya bahwa makin besar iman seseorang, makin besar harapan bahwa orang itu akan masuk ke surga setelah hidup di dunia berakhir.

Bagi umat Kristen, hal-hal diatas bisa menjadi aspek iman, tetapi bukanlah secara keseluruhan. Iman bukanlah usaha manusia, tapi karunia Tuhan (Efesus 2: 8). Manusia tidak dapat mengenal Tuhan jika Ia tidak memberinya pengertian. Tanpa iman seorang dapat percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi tidak merasa perlu untuk menyembahNya. Selain itu, iman yang tidak disertai perbuatan pada hakekatnya adalah iman yang mati (Yakobus 2: 17 – 19). Iman adalah sesuatu yang sulit didefinisikan dengan beberapa kata.

Untuk sebagian orang Kristen, iman ditambah perbuatan baik akan membawa keselamatan.

iman + perbuatan = keselamatan

Tetapi untuk mereka yang tergolong kaum Protestan, iman dari Tuhanlah yang membawa keselamatan dan mendorong kita untuk berbuat baik. Dengan kata lain, iman yang menyelamatkan tidak terpengaruh oleh perbuatan baik manusia; tetapi, perbuatan baik adalah buah iman.

iman = keselamatan + perbuatan

Manusia dapat diselamatkan  hanya karena iman, tetapi apa yang terlihat sebagai iman belum tentu adalah iman. Iman bagi orang percaya terdiri dari 3 komponen utama yaitu pengetahuan, keyakinan dan penyerahan, dan karena itu ketiganya penting untuk memastikan adanya iman yang menyelamatkan.

Tanpa mengetahui apa yang harus dipercaya, iman tentunya hanya sesuatu yang kabur. Bagi setiap umat Kristen, setidaknya pengetahuan (notitia) bahwa Yesus sudah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia haruslah dipunyai. Tetapi pengetahuan yang sedemikian tidaklah cukup jika tidak ada keyakinan (assensus) bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mengurbankan diriNya di kayu salib agar setiap orang yang percaya akan beroleh hidup yang kekal. Selanjutnya, pengetahuan dan kepercayaan saja tidak membentuk iman yang utuh jika tidak ada penyerahan hidup (fiducia) kepada Tuhan. Dalam hidup kita, kita harus bisa berserah kepada bimbingan Tuhan, sebab iblispun tahu dan percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi tidak taat kepadaNya.

Kebanyakan manusia  mempunyai pengetahuan tentang Yesus seperti yang ada dalam Alkitab, tetapi belum tentu yakin bahwa semua itu benar. Selain itu, mereka yang tahu dan yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah yang menebus dosa  manusia, belum tentu mau atau senang untuk taat kepadaNya. Karena itu, mereka yang merasa mempunyai iman belum tentu mempunyai iman yang menyelamatkan.

“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 20 – 21

Pagi ini ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Tuhan memberikan iman kepada kita dan karena itu dengan iman  kita bisa berharap untuk bisa bersama dengan Tuhan setelah hidup kita di dunia berakhir; dan pada saat ini kita seharusnya sudah bisa merasakan kemuliaan Tuhan sekalipun kita tidak melihatNya.

Bagaimana kita bisa memperoleh iman yang menyelamatkan? Bagaimana kita bisa makin kuat dalam iman? Hanya satu yang bisa kita kerjakan: meminta agar Tuhan menambahkan iman kita. Dengan itu kita bisa makin bertambah dalam pengetahuan, kepercayaan dan penyerahan.

 

Dari pembenci menjadi pembunuh

“Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” 1 Yohanes 3: 15

Semalam, di TV ditayangkan kisah persepakbolaan di satu negara. Di negara itu sepakbola adalah olahraga yang sangat populer di kalangan rakyat jelata, terutama diantara kaum muda. Saking populernya, tiap tim mempunyai tim suporter yang boleh dikatakan fanatik, yang selalu hadir pada tiap pertandingan yang melibatkan tim mereka. Karena itu, pada tiap pertandingan selalu ada resiko bentrokan fisik antar tim suporter yang bisa berakibat fatal.

Bagaimana suatu hal yang seharusnya bisa dinikmati bersama, kemudian membawa kekacauan dan bencana? Pertanyaan ini tidak hanya untuk dunia sepakbola, tetapi juga berlaku di segala bidang kehidupan di negara manapun. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa diantara orang Kristen pun pernah ada bentrokan fisik antar pengikut aliran gereja. Bermula dengan ketidaksenangan terhadap gaya hidup, pandangan hidup, kelakuan atau penampilan yang berbeda, kebencian kepada sesama manusia memang bisa tumbuh. Adanya kebencian kepada orang lain inilah yang kemudian bisa membawa akibat lain yang lebih serius.

Alkitab mencatat bahwa karena kebencian kepada saudaranya, Kain menjadi seorang pembunuh dan menerima kutukan Tuhan. Karena kebencian juga, orang Farisi menghasut banyak orang untuk menyalibkan Yesus. Adanya perbedaan memang bisa membawa rasa kurang suka, iri hati, rasa benci dan kemarahan. Kebencian dan kemarahan yang tidak segera diatasi, akan membuat manusia kehilangan akal sehat dan kemudian melakukan dosa-dosa lain.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Kebencian antar manusia bukan saja bisa terjadi dalam masyarakat umum karena hal-hal yang nampaknya sepele, tetapi sering juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Kebencian bisa terjadi antara suami dan istri, orangtua dan anak, dan antar saudara.

Bagi banyak orang, menerima adanya perbedaan dan melupakan atau mengampuni orang yang kita anggap bersalah adalah suatu hal yang sulit. Prinsip “aku yang benar dan dia yang salah” seringkali mengisi hidup kita. Mungkin sebagian ada yang mau mengampuni, tetapi tidak bisa melupakan perbuatan orang lain. Ada juga yang berusaha melupakan, tetapi karena tidak bisa mengampuni, mereka juga sulit untuk benar-benar melupakan apa yang sudah terjadi. Selama ingatan masih ada, tentu saja kebencian masih bisa muncul.

Pagi ini, sebagai orang Kristen kita tahu bahwa Tuhan yang mahatahu tidaklah mungkin untuk lupa. Tetapi Ia sudah memilih untuk melupakan dan mau mengampuni dosa-dosa lama kita karena kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. Dengan demikian, kita yang ingin diampuni oleh Tuhan atas dosa-dosa yang kita perbuat setiap hari, haruslah mau untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita juga harus memilih untuk melupakan kekurangan orang lain dan mau menerima adanya perbedaan antar manusia, agar kita bisa menghapus rasa benci dari hati kita. Bukankah Tuhan juga memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita, yaitu semua orang, dan bukannya orang-orang tertentu saja?

Apa arti hidup ini?

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Akhir minggu yang lalu saya pergi ke luar kota. Hari Senin, ketika saya sudah kembali di rumah, saya heran melihat begitu banyaknya bangkai lalat yang bertebaran di depan jendela dapur. Memang musim panas di Australia adalah musim lalat yang bisa membuat orang menjadi sebal karena begitu banyaknya lalat yang beterbangan. Walaupun demikian, saya heran mengapa banyak lalat bisa masuk ke dapur sekalipun tidak ada makanan di meja dan pintu serta jendela dalam keadaan tertutup rapat. Setelah meneliti berbagai kemungkinan, saya menyimpulkan bahwa lalat-lalat itu masuk ke dapur melalui lubang air ditempat pencucian piring. Karena keran air tidak terpakai untuk beberapa hari, ada kemungkinan  lalat bisa masuk ke rumah melalui saluran air kotor dari luar rumah, hanya untuk mati kelaparan.

Melihat banyaknya bangkai lalat yang bertebaran di lantai, mau tidak mau saya berpikir betapa malangnya nasib mereka. Mereka yang hanya hidup untuk mencari makan, berkembang biak dan kemudian mati tanpa mencapai hasil apapun. Mereka tentunya tidak mengerti mengapa mereka harus hidup di dunia, dan tidak juga bisa mengerti bahwa mereka diciptakan Tuhan untuk maksud tertentu.  Pikiran saya tidak hanya sampai disitu, tetapi melambung terus sehingga saya merasa bahwa barangkali Tuhan melihat sebagian manusia juga hidup dan bernasib seperti lalat-lalat itu.

Memang dari beberapa orang yang pernah saya jumpai, ada yang berpendapat bahwa manusia tidaklah jauh berbeda dari seekor lalat. Manusia dilahirkan, bekerja, berkembang biak dan kemudian mati, hilang tak berbekas; itu adalah suatu takdir. Mereka yang tergolong Kristen mungkin mempunyai pendapat yang berlainan: bahwa hidup mati manusia ada ditangan Tuhan, tetapi ada kehidupan di surga sesudah kematian di dunia. Walaupun demikian, selama hidup di dunia, banyak orang Kristen yang hanya hidup untuk mencari makan, berkembang biak dan kemudian mati tanpa mencapai hasil apapun bagi Sang Pencipta. Mereka tentunya tidak mengerti mengapa mereka harus hidup di dunia, dan tidak juga bisa mengerti bahwa mereka diciptakan Tuhan untuk maksud tertentu.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma dan merupakan ayat yang cukup terkenal. Dalam ayat ini ditulis bahwa baik dalam hidup maupun mati, kita harus berguna untuk Tuhan karena kita adalah milikNya. Sudah tentu ini tidak berlaku untuk ciptaan Tuhan yang lain karena selain manusia, tidak ada makhluk lain yang menyadari bahwa mereka adalah milik Tuhan. Makhluk lain bekerja sesuai dengan naluri yang diberikan Tuhan kepada mereka, sedangkan manusia bekerja dengan roh dan kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan. Karena itu, manusia seharusnya dapat melihat kebesaran Tuhan dalam hidup mereka dan dalam alam semesta, dan dengan bimbingan Roh Kudus kemudian dapat mengerti apa arti hidup ini.

Apa arti hidup ini? Tidak semua manusia dapat mengetahuinya. Sebagian orang berpikir bahwa hidup adalah untuk mencari kebahagiaan melalui keberhasilan. Tetapi, kebahagiaan yang mereka harapkan seringkali hilang tidak berbekas ketika goncangan kehidupan terjadi. Mereka mungkin berusaha muntuk melepaskan diri dari kurungan penderitaan, tetapi pada akhirnya tidak menjumpai jawaban atas kesulitannya. Lalu hidup itu untuk apa dan kematian itu apa artinya?

Ayat diatas menjelaskan bahwa kita adalah makhluk yang istimewa di mata Tuhan. Kita diciptakanNya menurut gambarNya. Tuhan sangat mencintai manusia, sehingga Ia berusaha menyelamatkan manusia dari ketidaktahuan mereka akan arti hidup ini. Tuhan sudah mengirimkan Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia, sehingga manusia bisa disadarkan bahwa siklus kehidupan manusia bukan hanya untuk dilahirkan, bekerja, berkembang biak dan kemudian mati, dan kemudian hilang tak berbekas. Sebaliknya, manusia dilahirkan sesuai dengan rencana Tuhan dan karena itu harus hidup sesuai dengan kehendakNya; agar jika tiba waktu kita untuk meninggalkan dunia ini, kehidupan di surga bersama Kristus akan bisa dimulai. Hidup manusia di dunia dengan demikian seharusnya diisi dengan kepercayaan kepada Tuhan, penyerahan kepada kehendakNya dan ketaatan kepada perintahNya. Hidup kita dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan!

Iman dalam suka maupun duka

“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini..” Ulangan 8: 11

Pagi ini saya membaca kisah pertemuan Yesus dengan sepuluh penderita kusta (Lukas 17: 11 – 19).  Dalam perjalanan ke Yerusalem, ketika Yesus memasuki suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh  dan berteriak memanggil Yesus meminta belas kasihanNya. Yesus hanya memandang mereka dan menyuruh mereka untuk menemui para imam. Sungguh ajaib bahwa dalam perjalanan untuk menemui imam-imam, di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria, orang yang tidak disenangi orang Yahudi. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Yesus berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Suatu kisah nyata yang membuat saya berpikir: siapakah orang yang beruntung dan telah diselamatkan ini?

Tidak dapat diragukan bahwa sepuluh orang kusta itu bisa mewakili semua manusia yang sudah lama hidup menderita. Umat manusia yang hidup dalam dosa, dan sepuluh orang yang menerima tawaran karunia penyelamatan Tuhan. Sepuluh orang disembuhkan sakitnya, tetapi hanya satu orang yang mempunyai iman yang menyelamatkan. Sembilan orang yang lain mungkin sebanding dengan orang Kristen yang lupa kepada Tuhan jika sudah berada dalam keadaan nyaman dan bahagia. Sembilan orang itu mungkin seperti bani Israel yang sering menjadi sombong ketika mereka mengalami kejayaan dan lupa kepada Tuhan yang sudah membawa mereka keluar dari tanah Mesir (Ulangan 8: 12 – 14).

“….dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan …..”

Dalam hidup ini memang ada banyak orang yang dulunya mempunyai pengharapan kepada Kristus dan sudah menerima berbagai berkatNya. Mereka yang menyebut diri mereka Kristen tetapi sudah meninggalkan Kristus untuk menikmati kegembiraan dan kenyamanan hidup mereka. Mereka yang sesudah berjumpa dengan Dia dan menerima kasihNya, kemudian pergi dan tidak pernah kembali menemui Kristus untuk menyembah Dia dan memuliakanNya. Hidup mereka kemudian kembali diisi dengan hal-hal yang membuat diri mereka seperti tuhan yang perlu dimuliakan. Mereka sibuk dalam kenyamanan hidup mereka dan lupa bahwa Tuhanlah yang sudah memberi mereka berbagai karunia. Mereka tidak mau lagi berpegang pada perintah, peraturan dan firmanNya; mereka sudah menghujat Tuhan.

Memang adalah ciri manusia bahwa mereka lebih mudah berseru kepada Tuhan jika mereka dalam penderitaan atau kesulitan. Mereka tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat memberikan pertolongan. Tetapi, ketika Tuhan memberi mereka pertolongan, mereka dengan mudah merasa bahwa itu adalah sudah seharusnya. Take it for granted.  Mereka lupa bahwa karena Tuhan sudah mengasihi mereka, adalah kewajiban bagi mereka untuk memuliakanNya.

Ada tiga unsur iman yang membawa keselamatan, yaitu percaya, berserah dan taat. Sepuluh orang sudah percaya dan berserah, tetapi hanya seorang dari sepuluh itu yang taat. Sayang sekali! Iman dari Tuhan  tidak boleh berhenti bekerja ketika ombak laut sudah terasa tenang, tetapi harus tetap dipakai dalam segala keadaan. Dengan demikian, ketaatan kepada perintah, peraturan dan ketetapan Tuhan harus selalu dipertahankan. Apakah kita mempunyai iman yang membawa keselamatan? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

 

Doa yang sulit dilaksanakan

“…jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Pernahkah anda berdoa Bapa Kami seorang diri? Doa Bapa Kami yang dikenal sebagai the Lord’s Prayer adalah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, Tuhan kita atau our Lord, sebagai pedoman doa. Doa ini disebut sebagai Doa Bapa Kami karena dalam bahasa Latin, doa itu dikenal sebagai doa Pater Noster karena diawali dengan ucapan “Bapa kami yang di surga” atauPater noster, qui es in caelis”.

Doa Bapa Kami lebih sering diucapkan secara bersama oleh sekelompok orang karena secara tradisi dan historis, doa ini adalah doa yang dikenal oleh semua orang Kristen walaupun mempunyai beberapa versi. Bahkan, setiap kali parlemen di Australia memulai acaranya, semua anggota parlemen mendengar doa ini disebutkan dalam versi Protestan, sekalipun tidak semua orang ikut berdoa. Harus dimaklumi bahwa Australia tidak dapat digolongkan sebagai negara Kristen.

Walaupun Doa Bapa Kami sering diucapkan secara bersama di sebagian gereja, doa ini mungkin jarang diucapkan secara individual. Kurang dapat dimengerti apa sebabnya, doa yang berdasarkan Alkitab ini seakan dihindari oleh sebagian orang Kristen. Tetapi, jika kita meneliti beberapa bagian dari doa ini, memang ada kata-kata yang serasa sulit untuk diucapkan, yaitu mengenai kehendak Tuhan yang harus terjadi (Matius 6: 20) dan hal mengampuni orang lain (Matius 6: 12).

Hal yang kedua lebih mudah kita mengerti. Kita memang sering meminta ampun kepada Tuhan, tetapi sulit untuk mengampuni orang lain. Oleh karena itu, kita mungkin agak ragu untuk mengucapkan kata-kata itu, sekalipun kita tahu bahwa dalam Matius 6. 14 – 15 ada tertulis bahwa jika kita mengampuni kesalahan orang, Bapa kita yang di sorga akan mengampuni kita juga, tetapi jika kita tidak mengampuni orang, Bapa kita juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.

Bagaimana dengan hal yang pertama, mengenai kehendak Tuhan yang harus terjadi dalam hidup kita? Inilah hal yang paling sulit dilakukan, karena adalah naluri manusia untuk berusaha menentukan apa yang harus terjadi dalam hidupnya. Tidak hanya dalam karir dan keluarga, tetapi juga dalam berbagai segi kehidupan yang lain, manusia berusaha untuk mencari keberhasilan dengan usaha sendiri. Tuhan hanya ditempatkan di latar bekakang saja, dengan tugas merestui apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka, mengucapkan doa penyerahan kepada Tuhan tidaklah mudah.

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, itulah suatu bentuk ibadah kepada Tuhan yang mahakuasa. Ibadah yang benar merupakan pengakuan bahwa Ialah Tuhan yang patut dipuja, dan karena itu kehendakNyalah yang harus terjadi dalam hidup kita. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita bisa berserah kepada Bapa yang mahakasih. Sekalipun kita tidak mengucapkan Doa Bapa Kami dengan mulut kita, hati kita harus mengakui kebesaranNya,

Hubungan orangtua dan anak

“Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6: 2 – 4

Pagi ini saya membaca di media bahwa ada seorang pria di satu negara yang bermaksud membawa orangtuanya ke pengadilan. Mengapa? Karena ia merasa bahwa haknya sudah dilanggar; orang tuanya tidak pernah meminta izin kepadanya untuk melahirkan dia. Pria itu merasa bahwa ia dirugikan karena dengan kelahirannya ia harus berjuang untuk hidup. Aneh?

Adanya filosofi bahwa seorang anak tidak seharusnya dilahirkan menurut kemauan orangtua bukan barang baru. Filsuf Théophile de Giraud tercatat sebagai orang pertama di abad 20 yang memperkenalkan faham yang disebut anti-natalisme yang menentang kebebasan orangtua untuk mempunyai anak. Melahirkan anak dianggap sebagai usaha yang menimbulkan siksaan kepada bayi yang harus menjadi dewasa dan menghadapi semua tantangan kehidupan.

Beberapa agama sebenarnya juga mengajarkan anti-natalisme, karena menganggap bahwa kelahiran bayi di dunia adalah awal penderitaan. Tetapi, menurut kepercayaan Kristen kelahiran seorang bayi adalah berkat Tuhan kepada keluarga yang menjalankan perintahNya untuk berkembang biak. Kelahiran seorang bayi, seperti penciptaan manusia di taman Eden, dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak untuk menghentikan proses kelahiran bayi, sekalipun boleh mengambil keputusan untuk memperoleh keturunan atau tidak, yang disesuaikan dengan kehendak Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Dengan kelahiran seorang bayi, hubungan antara suami istri berubah; perhatian yang dulunya hanya berkisar antara dua orang, sekarang menjadi lebih luas karena mencakup anak-anak mereka. Dalam kenyataannya, menjadi orangtua berarti mau berkurban untuk anak-anak mereka, seperti Tuhan Yesus yang berkurban untuk umat manusia. Sebaliknya, anak-anak harus menghormati orangtua sebagai wakil Tuhan yang mengasuh mereka sampai mencapai kedewasaan.

Ayat diatas menggaris-bawahi hubungan antara anak dan orangtua dalam keluarga Kristen yang sering disalah-tafsirkan. Pada masa yang silam, menghormati orangtua sering membuat anak sangat terbebani sehingga keluarga mereka bisa terlantar. Dalam Perjanjian Lama, kata “hormat” dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani kabad yang memberi kesan seperti beban berat bagi anak-anak mereka yang harus memberi prioritas utama kepada orangtua. Tetapi dalam Perjanjian Baru, kata Yunani timao dipakai untuk menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Memang orangtua adalah orang yang harus dihargai oleh anak-anak mereka, sekalipun mereka mungkin mempunyai banyak kekurangan.

Ayat diatas juga menunjukkan bahwa hubungan orangtua dan anak-anak mereka adalah kewajiban dua arah. Jika anak harus menghargai orangtua, kita yang berstatus orangtua tidak boleh memakai status itu untuk menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anak kita, agar jangan sampai merasa terlukai, baik secara lahir maupun batin. Sebaliknya, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kasih supaya mereka mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan dan bisa menjadi orangtua yang baik di masa depan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya hubungan dalam keluarga. Sebagai manusia, kita bukanlah orang yang sempurna, dan karena itu kita sering membuat kekeliruan dalam membina hubungan dengan orangtua ataupun anak kita. Walaupun demikian, jika kita ingat akan kewajiban kita masing-masing, kasih agape akan bersinar dalam keluarga kita.