Tuhan yang tidak mereka kenal

“Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Kisah Para Rasul 17: 23

Di Australia, sekarang ini banyak digalakkan hal keragaman agama atau multi faith melalui penyelenggaraan acara keagamaan dan sosial yang diorganisir dan diikuti oleh pengikut berbagai agama. Biasanya, dalam acara ini para pemimpin-pemimpin agama mendapat kesempatan untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing dengan satu tema. Seolah mereka bersatu dalam doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan yang sama.

Walaupun pandangan tentang adanya satu Tuhan pada umumnya bisa dimengerti, ada juga orang-orang yang percaya kepada banyak dewa yang mengatur kehidupan manusia. Dengan demikian, dalam acara multi faith mungkin ada pertanyaan apakah manusia yang berlainan iman memang berdoa kepada Tuhan yang sama. Jadi barangkali bukan itu yang dimaksudkan dengan doa bersama kaum beragama. Mereka berdoa dengan maksud baik yang sama, tetapi kepada tuhan atau dewa yang berlainan. Mereka saling menghormati dan berharap bahwa setiap doa membawa kebaikan bersama.

Kerukunan beragama adalah penting, tetapi sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus bersikap dalam bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama. Pada waktu Paulus mengunjungi Atena, ia melihat begitu banyak patung dewa yang disembah oleh penduduk kota itu. Ia merasa terpanggil untuk memberitakan kabar keselamatan, yaitu Injil tentang Yesus dan kebangkitanNya. Walaupun demikian, ia tidak membuat penduduk kota itu marah dengan mencela dan menista agama mereka. Paulus tidak juga berkata bahwa patung-patung yang ada harus dirobohkan.

Pada pihak yang lain, Paulus tidak bermaksud menyatakan bahwa semua dewa dan patung di Athena boleh disembah. Paulus tidak menampilkan Tuhan yang baru, tetapi berkata bahwa Tuhan yang mereka sembah tanpa mengenalNya adalah Tuhan yang diberitakannya. Apa yang ia katakan adalah jawaban praktis yang tepat.

Memang orang bisa percaya atas adanya Tuhan dan beribadah menurut cara mereka sendiri. Tetapi dengan demikian mereka menyembah apa yang ada dalam pikiran mereka atau apa yang mereka ciptakan sendiri. Sebaliknya, Tuhan yang sebenarnya dan yang seharusnya mereka sembah dengan sepenuh hati adalah suatu oknum yang tidak dapat mereka kenal. Tuhan tidak dapat dikenal manusia, jika Ia tidak memperkenalkan diriNya dalam bentuk yang bisa dimengerti manusia, tetapi yang mempunyai kuasa Ilahi.

Adalah fakta bahwa Tuhan sudah turun ke dunia sebagai Yesus Kristus yang sudah mati untuk menebus dosa manusia. Dengan keilahianNya Ia kemudian bangkit dan naik ke surga. Orang di Atena tidak dapat mengerti bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah justru Tuhan yang benar. Begitu juga di zaman ini, banyak orang beragama yang tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan. Mungkin mereka hanya menganggap Dia sebagai tokoh yang istimewa.

Sebagai orang Kristen kita bisa mengerti mengapa keragaman agama itu ada. Tetapi kita tidak boleh ragu untuk menyatakan apa yang benar, bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Siapakah yang anda kagumi?

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40: 4

Australia pada saat ini mendapat kunjungan dari seorang tamu agung. Bukan ratu, bukan presiden dan bukan pemimpin agama. Ia adalah Shah Rukh Khan dari India. Anda belum pernah mendengar nama itu? Namanya tersohor di antara penggemar layar perak. Ia adalah bintang film Bollywood nomer satu yang sudah membintangi lebih dari 90 film dan dikagumi oleh tua dan muda.

Anda mungkin tersenyum geli. Bollywood? Mengapa orang begitu tertarik untuk menyambutnya? Karena tidak kenal, anda tidak mencintainya. Tetapi orang yang senang menonton film India tentunya berpendapat bahwa ia jauh lebih masyhur dari Ario Bayu, Iqbaal Ramadhan, Brad Pitt ataupun Harrison Ford. Karena suka, orang menjadi kagum.

Kekaguman manusia adalah normal, tetapi bisa membawa persoalan. Karena kagum orang bisa kehilangan akal sehat dan kemudian jatuh cinta setengah mati. Karena dikagumi, orang juga bisa menjadi sombong setengah mati. Ini bukan saja terjadi di dunia musik, film, bisnis, politik dan teknologi, tetapi juga bisa dilihat dalam bidang keagamaan.

Banyak pemimpin agama yang dikagumi oleh pengikutnya. Entah itu karena hidupnya yang terlihat suci, karena hikmat kebijaksanaan yang terlihat dari luar, atau karena pelayanan sosial yang dilakukan mereka. Selain itu ada juga orang yang dikagumi karena pengalaman spiritual istimewa yang mereka klaim. Bagi banyak orang, mereka tidaklah berbeda dari para nabi atau rasul yang ada dalam Alkitab. Karena itu, tidaklah mengherankan jika tokoh-tokoh seperti itu menjadi seperti magnet yang mempunyai daya tarik besar. Adalah lumrah bahwa karena dikagumi banyak orang, banyak yang terlihat bangga dan sombong atas “keistimewaan” mereka.

Sungguh menyedihkan karena adanya tokoh-tokoh yang mempunyai daya pesona, banyak orang ingin menjumpai mereka. Mereka seolah menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan. Apapun yang mereka lihat dan dengar dari tokoh-tokoh itu selalu terasa benar dan “sreg” untuk dinikmati.

Pagi ini, kita membaca dari ayat di atas bahwa manusia harus menaruh kepercayaan pada TUHAN saja. Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu, yang tidak mengizinkan umatNya mendewakan manusia atau benda apapun, karena semua itu adalah ciptaanNya.

Tuhan juga membenci orang-orang yang menyombongkan pengalaman rohani mereka, yang membuat diri mereka dikagumi orang lain. Orang-orang semacam itu adalah pencuri kemuliaan Tuhan karena membuat orang lain percaya kepada mereka dan bukannya kepada Tuhan. Biarlah kita sadar bahwa hanyalah kebesaran Tuhan yang patut kita kagumi, sembah dan muliakan dalam hidup kita!

Kemerdekaan bukan untuk menerjang bahaya

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Kebebasan dari apa dan dalam hal apa? Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?

  • Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain
  • Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya
  • Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya
  • Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.

Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang sedemikian tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas.

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh Tuhan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai kehendak bebas (free will) yang seharusnya dipakai oleh setiap manusia untuk memilih apa saja yang dikehendakinya.

Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa free will bukan berarti bebas untuk berbuat dosa, free to sin. Mereka yang ingin merdeka dari Tuhan justru akan jatuh kedalam bahaya dosa dan masuk kedalam perangkap iblis yang membawa kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?

“Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” Mazmur 1: 6

Jangan mendua hati

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” Yakobus 4: 8

Pernahkah anda melihat hewan berkepala dua? Keabnormalan seperti itu disebut bichephaly dan kadang-kadang terjadi pada ular, sapi, kambing, anjing dan kucing. Walaupun ada, jarang sekali hewan yang seperti itu dapat hidup lama. Umumnya hewan seperti itu cepat mati.

Ayat diatas menulis tentang orang yang mendua hati. Sudah tentu itu bukan orang yang mempunyai dua hati, tetapi adalah orang yang mempunyai pikiran bercabang, double-minded, menurut Alkitab terjemahan bahasa Inggris. Seperti makhluk yang berkepala dua, keadaan ini juga bukanlah normal.

Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya, dan karena itu Ia mengingini agar manusia tidak mendua hati atau mempunyai pikiran yang bercabang. Sebaliknya, Ia menciptakan manusia dan menghendaki mereka untuk mempercayai Dia saja. Itulah yang seharusnya. Itulah keadaan yang normal sebelum kejatuhan manusia. Apa yang normal adalah ketergantungan manusia kepada Penciptanya.

Jika kemudian Adam dan Hawa melanggar perintahNya, itu karena mereka mendua hati dan mempercayai apa yang dikatakan iblis. Manusia merasa bahwa mereka tidak lagi memerlukan Tuhan. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, semua manusia tidak akan hidup lama. Jika Tuhan tidak memberi pertolongan, pastilah manusia akan menuju ke arah kematian yang abadi.

Sekalipun ayat diatas memberi peringatan keras kepada orang yang mendua hati, yaitu mereka yang mengaku percaya tetapi juga masih hidup dalam dosa, ayat itu juga memberi jalan keluar. Kepada mereka yang pikirannya bercabang, ingin menaati Tuhan tetapi juga ingin mengikuti dunia, Tuhan mengingatkan agar mereka segera bertobat. Jika manusia merasa tergantung kepada Tuhan, Tuhan akan mengasihani mereka. Jika mereka mau mendekati Tuhan, Tuhan akan mau mendekati dan menolong mereka.

Mereka yang menyadari bahwa sampai saat ini hidup mereka terombang-ambing diantara Tuhan dan iblis, haruslah berusaha untuk meninggalkan hidup lamanya dan kemudian berbalik arah untuk mendekati Tuhan. Tuhan yang melihat mereka yang benar-benar ingin bertobat, akan datang mendekati dan memberikan kemampuan agar mereka dengan sepenuh hati, single-minded, bisa bertahan sebagai umatNya untuk selamanya. Bersediakah kita untuk mendekati Dia?

Hanya ada satu cara untuk menjadi bersih

“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” Mazmur 51: 7

Pada saat ini, hampir semua bagian dunia mengalami perubahan iklim yang luar biasa. Australia juga mengalami perubahan iklim atau climate change itu. Minggu ini, daerah yang biasanya tidak pernah mengalami hujan salju secara mengherankan bisa tertutup salju. Rumah, mobil, pohon dan tanah semuanya berubah warna menjadi putih untuk beberapa saat.

Warna putihnya salju memang menarik dan terlihat bersih memikat. Karena itu, di daerah yang mengalami hujan salju banyak orang bermain dengan salju, saling melempar bola salju, dan membuat orang-orangan dari salju. Walaupun demikian, salju yang jatuh di tanah tidak tetap bisa berwarna putih. Selang berapa lama, ketika salju mulai melunak, warnanya berubah menjadi kecoklatan karena bercampur dengan lumpur.

Ayat di atas adalah seruan Daud yang memohon pengampunan Tuhan. Daud tahu bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan bisa membersihkan dirinya dari dosa. Perbuatan baik, amal ibadah, ataupun persembahan kurban bakaran tidak akan bisa membuat dirinya yang berdosa untuk menjadi bersih dan diterima oleh Tuhan yang mahasuci. Karena itu, Daud hanya bisa memohon agar Tuhan sendiri yang membuat dia menjadi bersih dan layak untuk diterimaNya. Hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosanya dan menjadikannya lebih putih dari salju.

Berbeda dengan Daud, bagi kita yang sudah mendengar hal Kristus, apa yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Dia yang sudah mati menebus dosa kita. Darah Yesuslah yang bisa mencuci dosa kita, seperti hisop yang dipakai sebagai lambang penghapusan dosa pada zaman Daud.

Hanya ada satu hal yang sudah membuat kita lebih putih dari salju. Kita sudah di tebus dengan darah Anak Allah yang tunggal. Pengurbanan Kristus adalah sempurna sehingga kita bisa diterima oleh Allah sebagai anak-anakNya.

Masih adakah keraguan kita bahwa Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita dan karena itu kita sudah menjadi ciptaan yang baru? Jika kita memang yakin akan pengampunanNya, maukah kita menyampaikan kabar gembira ini kepada semua orang?

What can wash away my sin?

Nothing but the blood of Jesus

What can make me whole again?

Nothing but the blood of Jesus

Oh, precious is the flow

That makes me white as snow

No other fount I know

Nothing but the blood of Jesus

Prinsip meditasi Kristen

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Pernahkah anda memikirkan soal pensiun? Belum? Memang bagi yang belum setengah umur, soal pensiun mungkin belum terpikir. Tetapi mereka yang mendekati usia senja, mungkin mulai memikirkan kapan dan bagaimana mereka akan pensiun.

Bayangan akan keadaan dimana hari demi hari dilewati tanpa tujuan yang pasti bisa membuat orang kurang tertarik untuk pensiun. Tambahan pula, orang yang tidak memiliki persiapan keuangan yang baik untuk pensiun sudah tentu berharap agar hari pensiun bisa ditunda.

Memang mereka yang sudah terbiasa dengan hidup yang sibuk dan produktif, pensiun adalah momok yang ditakuti. Sebagian orang yang terpaksa atau dipaksa pensiun, bisa saja mengalami stres dan cepat menurun kemampuan otaknya.

Pada pihak yang lain, jika orang selalu hidup dalam kesibukan, kelelahan tubuh dan pikiran bisa datang. Karena itu banyak orang yang kemudian berusaha untuk mencari ketenteraman dengan mempraktikkan pengosongan pikiran. Dengan bermeditasi, mereka percaya bahwa kekuatan dan kesegaran akan dapat dipulihkan kembali.

Benarkah cara bermeditasi dengan mengosongkan pikiran itu? Dalam sudut iman Kristen, pengosongan pikiran itu bukanlah hal yang baik, sebab apa yang kosong akan mudah diisi atau dipengaruhi hal yang jahat. Mungkin ini seperti raja Daud yang pada waktu petang berjalan-jalan di atas sotoh istana. Pikiran Daud yang kosong membuat ia terpikat oleh pemandangan yang kemudian membawanya jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan perempuan cantik yang bernama Betsyeba, yang berlanjut dengan pembunuhan suaminya yang bernama Uria.

Ayat di atas adalah apa yang harus kita pegang sebagai prinsip meditasi Kristen. Meditasi Kristen bukannya mengosongkan pikiran, tetapi justru memusatkan pikiran kepada apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci, apa yang manis, apa yang sedap didengar, apa yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Semua itu dapat kita temukan di dalam kasih Tuhan dan firmanNya.

Hari ini, jika kita merasa resah, lelah ataupun susah, haruslah sadar bahwa kita tidak boleh membiarkan pikiran dan hati kita menjadi kosong. Usaha melarikan diri dari masalah kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, kita harus mengisi hidup kita dengan apa yang baik yang bersumber dari Tuhan kita. Semoga RohNya membimbing kita untuk mendapatkan apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci.

Berjuang hari demi hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Pagi ini kebetulan saya menemukan lagu “One day at a time” yang dibawakan oleh Lynda Randle di YouTube. Syairnya sungguh menarik, terutama refrainnya yang sebagian berbunyi:

Just give me the strength to do everyday

What I have to do

Yesterday’s gone, sweet Jesus

And tomorrow may never be mine

Lord, help me today

Show me the way

One day at a time

Lagu ini berisi permohonan kepada Yesus untuk memperoleh kekuatan agar bisa melewati hari demi hari tanpa memikirkan hari kemarin yang sudah lenyap, atau hari esok yang belum tentu datang.

Alangkah benarnya syair lagu itu, bahwa kita hanya membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk melakukan apa yang harus kita kerjakan hari ini. Memang Tuhan Yesus berkata dalam ayat di atas bahwa kita tidak perlu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Sekalipun demikian, adalah kenyataan bahwa orang sering memikirkan hari yang telah lalu dan hari yang akan datang. Hari yang telah lalu dengan segala kegagalan dan kekecewaannya, dan hari yang akan datang dengan segala ketidakpastian dan kekuatirannya. Oleh sebab itu, orang kemudian lupa bahwa pada hari ini ada tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Setiap orang dikaruniai 24 jam dalam sehari. Memakai waktu yang terbatas itu dengan bijaksana adalah hal yang tidak mudah. Karena itu, jika kita sibuk memikirkan apa yang telah lalu dan apa yang mungkin datang, kita tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menghadapi hari ini. Hari ini kemudian akan berlalu dan menjadi hari kemarin dengan segala penyesalannya.

Menghadapi persoalan hari ini dengan bersandar kepada Tuhan adalah bukti iman. Itu membuktikan bahwa kita percaya bahwa Tuhan bersama kita Sebaliknya, menyesali apa yang sudah terjadi pada masa lalu membuat kita jauh dari Tuhan karena seolah Tuhanlah yang membuat atau membiarkan semua itu terjadi. Pada pihak lain, menguatirkan masa depan membuat kita lemah karena seolah kuasaTuhan tidak dapat diharapkan. Biarlah kita sadar bahwa Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya, dan kewajiban kita adalah untuk percaya kepadaNya.