Pikirkan dan lakukan apa yang benar

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari ini ada kabar bahwa sebuah perusahaan raksasa yang berkecimpung dalam pelayanan TV berbayar di Australia telah meluncurkan penyelidikan ke salah satu salurannya yang dituduh menyiarkan disinformasi COVID-19. Saluran ini menyiarkan teori anti-vaksinasi dan konspirasi COVID-19 dan karena itu konten penyajian saluran ini sekarang dipelajari setelah adanya keluhan dari pemirsa.

Siapakah yang memiliki saluran TV ini? Anda mungkin tidak menyangka bahwa saluran ini dikelola oleh pasangan TV evangelis Amerika dan ada di Australia sejak tahun 2015 dan kini memiliki sekitar 1,7 juta pelanggan. Sejak pandemi dimulai, saluran ini telah menjadi tuan rumah wawancara dengan para dokter yang kontroversial dan para pendukung anti-vaksinasi. Beberapa tamu telah mempromosikan teori konspirasi vaksin dan cara perawatan yang belum terbukti untuk COVID-19.

Bagi kebanyakan orang yang memahami dasar-dasar ilmu kesehatan, siaran TV bernada sumbang ini bukanlah sesuatu yang menimbulkan masalah, walaupun bisa menimbulkan rasa jengkel. Walaupun demikian, ada banyak orang yang mudah terpengaruh dan yang meneruskannya ke orang lain. Siaran TV semacam itu jelas mengeksploitir mereka yang selama ini kurang bisa mendapat informasi yang benar dan yang percaya bahwa semua orang Kristen tentunya bermaksud baik. Mereka tidak bisa membedakan fakta (fact) dari apa yang palsu (fake).

Sebenarnya, ada banyak berita palsu yang beredar di berbagai media. Melalui Whatsapp (WA) misalnya, kabar bohong sering muncul, terutama di antara anggota chat group. Begitu mudahnya bagi seseorang untuk mem- forward – kan pesan dari seseorang kepada banyak orang melalui WA, sehingga membuat banyak orang dengan sengaja menulis dan meneruskan omong kosong, surat berantai dan hoax. Siapa tahu kalau apa yang dikirimkan bisa berguna, begitu dalih mereka. Mungkin mereka tidak sadar bahwa iblis, yang melakukan hal yang serupa kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus, tentunya sangat menyukai kecanggihan teknologi zaman sekarang yang membawa kemudahan untuk meyebarkan tipu muslihatnya agar menimbulkan kekacauan di dunia.

Bahwa iblis adalah biang kekacauan dan penipu yang unggul sudah ditulis dalam Alkitab.

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang.” 2 Korintus 11: 14

Apa yang ditawarkan dan diperlihatkan dalam sosial media pada zaman sekarang ini sering kali adalah usaha iblis untuk memperlemah iman orang percaya, dan untuk mengalihkan perhatian kita dari apa yang benar. Lebih dari itu, kerusuhan dan kekacauan bisa muncul sebagai tindakan anarki yang menggoyahkan pemerintah setempat. Dalam hal ini, Paulus pernah menulis kepada jemaat di Korintus:

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Hari ini, ayat pembukaan di atas mencoba mengingatkan kita untuk bisa lebih berhati-hati dalam mengirimkan dan meneruskan berita-berita yang kosong, konyol, palsu, menakutkan dan menyesatkan. Kita harus memusatkan pikiran kita pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Dengan demikian, hidup kita dan hidup orang di sekitar kita akan terhindar dari kebingungan dan kekacauan.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Manusia bisa menjadi hewan

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49: 20

Bacaan: Mazmur 49

Mungkin kita pernah membaca pernyataan filsuf Aristoteles bahwa manusia pada hakikatnya adalah hewan yang rasional. Benarkah begitu? Memang adalah umum untuk merujuk pada kecerdasan manusia sebagai faktor pembeda dengan hewan. Bahkan istilah hewan rasional digunakan dengan konotasi superioritas. Namun, definisi semacam ini sering kali memiliki nuansa menarik yang harus dipahami.

Manusia sering dikategorikan sebagai makhluk hidup dalam kerajaan hewan. Ini karena manusia memiliki karakteristik dan fungsi yang dipunyai hewan. Di sisi lain, banyak orang yang menekankan bahwa manusia berbeda dengan hewan karena mempunyai kecerdasan dan kemampuan untuk memilih alasan untuk berbuat sesuatu. Dua hal ini membedakan kita dari binatang yang lebih bergantung pada naluri dan kebiasaan. Studi seputar pemikiran dan perilaku sehari-hari manusia menunjukkan bahwa sebutan hewan rasional untuk manusia tidak bisa dianggap benar secara mutlak.

Di sekitar kediaman saya, dapat dijumpai beberapa padang rumput tempat pemeliharaan sapi, dan yang terdekat hanya berada dalam jarak beberapa ratus meter saja dari rumah. Karena itu, sewaktu saya berjalan-jalan sering kali saya menjumpai beberapa sapi yang sedang merumput dan ada juga yang berdiri diam sambil menonton saya berjalan. Mata mereka terlihat kosong. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terkadang saya berpikir alangkah membosankan jika manusia hidup seperti sapi itu. Seekor sapi mungkin tidak pernah merasa jemu untuk hidup seperti itu. Selama rumput hijau ada, seekor sapi tentunya merasa puas sekalipun esok hari ia akan dikirim ke rumah pemotongan. Sapi tidak mempunyai pengertian akan apa arti hidup dan rencana masa depan. Apakah mungkin manusia mengalami hal yang sama?

Bagi umat Kristen, manusia jelas berbeda dengan sapi atau hewan lainnya karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan diberikan mandat untuk menguasai segala jenis hewan (Kejadian 1: 27-28). Manusia mempunyai tubuh dan roh yang memberinya kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya mencakup kebutuhan jasmani, tetapi juga kebutuhan rohani. Sayang sekali bahwa kemampuan manusia itu justru membawa kehancuran karena Adam dan Hawa menggunakannya untuk maksud yang salah. Karena itulah seluruh umat manusia mempunyai dosa sejak dilahirkan, dan dosa manusia tentunya makin lama makin bertambah besar selama hidup di dunia. Dalam hal ini, dosa sekecil apa pun akan membawa kematian kekal jika Yesus tidak datang ke dunia untuk menebus umat-Nya.

Jika sapi adalah hewan yang sederhana cara berpikirnya, menurut pemazmur sebagian manusia juga bisa hidup seperti itu. Mereka yang merasa sudah mencapai apa yang bisa dinikmati atau dibanggakannya, cenderung untuk hidup dalam kesempitan pikirannya. Apakah yang mereka pikirkan dalam hidup? Bagi orang seperti itu, hidup adalah kesempatan untuk menikmati kenyamanan, kekayaan, kuasa, kejayaan, kebebasan dan semacamnya. Di antara orang Kristen pun, hanya sebagian kecil yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengamalkan perintah Tuhan; sebagian besar justru lebih menyukai apa yang terlihat lebih mudah dijalani dan dinikmati sekalipun itu tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Dengan meredanya kasus Covid-19 di beberapa negara, kehidupan manusia mulai terlihat normal. Apa yang terjadi pada saat yang baru lalu pelan-pelan terlupakan. Mereka yang masih muda sekarang bisa mengejar kesempatan yang ada, dan mereka yang tua bisa kembali menikmati apa yang sudah dicapainya. Selama apa yang diinginkan bisa diperoleh, hidup mereka adalah kebahagiaan yang bisa dinikmati. Manusia yang sedemikian tidak mempunyai pengertian bahwa semua itu adalah kebahagiaan yang sementara, barangkali seperti rumput hijau dalam pandangan seekor sapi. Seperti seekor hewan yang akan dibinasakan, mereka tidak sadar bahwa hidup dan kebahagiaan mereka adalah singkat saja.

Pemazmur menyatakan bahwa sebagai orang beriman kita tidak perlu merasa iri bahwa ada orang-orang yang nampaknya hidup dalam kegemilangan, sebab pada suatu saat mereka akan mati dan semua yang ada tidak akan bisa dibawa mereka (ayat 17). Sekalipun ada orang yang menganggap dirinya berbahagia, dan sekalipun orang lain menyanjungnya, orang itu tidak akan mengalami hal itu untuk selamanya (ayat 18-19). Lebih-lebih lagi, bagaimanapun besarnya kekayaan seseorang, ia tidak akan bisa memberikan tebusan kepada Allah yang mahasuci sebagai ganti nyawanya (ayat 7).

Mereka yang mempunyai pengertian akan apa arti hidup ini dan yang taat kepada Allah tahu bahwa Allah akan membebaskan nyawanya dari cengkeraman dunia orang mati sebab Ia akan menarik mereka kearah keselamatan (ayat 15). Bahkan sesungguhnya, semua itu sudah terjadi pada setiap orang percaya karena Kristus sudah menang atas maut dengan kebangkitan-Nya. Dengan demikian, bagi mereka yang mempunyai pengertian yang benar, hidup adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengikuti firman-Nya. Bagi mereka, pandangan mata mereka tidaklah hampa seperti hewan, tetapi akan selalu tertuju ke surga di mana tempat sudah disediakan bagi mereka. Hidup manusia yang tidak mempunyai pengertian boleh terasa kosong, tetapi mereka yang percaya kepada Kristus, hidup selalu diisi dengan ketaatan kepada Tuhan dan sukacita yang abadi dan kekal.

Dari mana datangnya iman?

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Begitu bunyi sebuah pantun lama yang sangat dikenal masyarakat sejak dulu. Agaknya itu ada benarnya jika seorang pemuda merasa tertarik ketika melihat seorang pemudi, dan perasaan itu berkembang menjadi rasa cinta. Serupa dengan itu seorang pemudi yang melihat seorang pemuda bisa juga mengalami apa yang dikenal sebagai “cinta pada pandangan pertama”. Memang sebagian orang yakin akan kebenaran pantun itu, setidaknya dalam sebuah film drama.

Jika rasa cinta mungkin dengan mudahnya datang setelah kita berjumpa dengan seseorang yang dirasakan “cocok”, bagaimana pula dengan iman? Iman mungkin dapat diartikan sebagai rasa cinta kita kepada Tuhan yang datang setelah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Tidaklah mengherankan jika ada orang-orang yang yakin bahwa iman mereka muncul karena mendengarkan khotbah tertentu, pergi ke gereja tertentu, memperoleh berkat tertentu, atau mendapatkan pengalaman tertentu. Mereka mungkin merasa “cocok” dengan Tuhan karena apa yang dialami.

Bagi mereka yang kurang paham, memang hal percaya kepada Tuhan kelihatannya mudah dilakukan oleh umat Kristen. Untuk bisa digolongkan sebagai orang beriman, sebagian orang mungkin mengira bahwa mereka cukup mengakui bahwa Tuhan itu ada, dan mengakui di depan orang lain bahwa Ia adalahTuhan yang mahakasih dan mahakuasa. Walaupun demikian, orang lain mungkin berpandangan bahwa untuk bisa dikenal Tuhan sebagai umat-Nya mereka harus bisa berbuat berbagai amal kebaikan . Benarkah begitu? Tentu tidak!

Iman bukanlah usaha manusia, tetapi adalah pemberian Tuhan. Iman adalah salah satu pernyataan kasih Tuhan yang tidak mudah dimengerti. Mengapa Tuhan yang mahabesar mau memberikan iman kepada manusia yang berdosa? Karena kasih-Nya kepada manusia, Tuhan ingin agar manusia bisa mengerti arti pengurbanan Kristus sehingga manusia mau menerima Yesus sebagai juruselamat mereka. Tuhan mengaruniakan iman yang membawa keselamatan menurut kehendak-Nya supaya tidak ada orang yang bisa menyombongkan diri atas iman yang dimilikinya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun setiap orang yang sudah menerima Yesus tentunya diselamatkan karena adanya iman, Tuhanlah yang menentukan seberapa besar iman yang ada. Iman yang besar memang membawa keuntungan dalam menghadapi tantangan kehidupan, tetapi setiap orang harus bersyukur atas iman yang dimilikinya dan memakainya dalam hidup sehari-hari.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Dengan demikian, kekaguman kita kepada orang Kristen yang terlihat baik hidup dan tingkah lakunya adalah keliru, sebab kita sebenarnya harus kagum dan bersyukur atas besarnya kasih anugerah Tuhan yang menyempurnakan iman orang itu.

Dari ayat pembukaan di atas, kita harus menyadari bahwa karena iman yang membawa keselamatan itu datang dari Tuhan, kita harus senantiasa bersyukur kepada-Nya dalam setiap keadaan. Kita yang beriman seharusnya memakai dan memeliharanya agar iman itu tetap hidup dan makin lama makin bertumbuh dalam kasih Tuhan, dan itu akan terlihat dari apa yang kita lakukan untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada Dia.

Iman yang tidak selalu disertai kehidupan yang penuh rasa syukur kepada Tuhan, dan iman yang tidak memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan, adalah iman yang lambat laun akan menjadi mati. Sebaliknya, iman yang disertai dengan kepercayaan penuh bahwa anugerah Tuhan adalah cukup untuk kita, akan bertumbuh dan menjadi makin sempurna dalam Tuhan. Biarlah kita mau menyatakan iman kita dalam segala segi kehidupan kita sehingga kemenangan Kristus atas maut dapat lebih makin terasa dalam hidup ini!

“Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu.” 2 Tesalonika 1: 3

Masih ada yang bisa dilakukan

“Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 23 – 24

Mungkin tidak banyak yang ingat bahwa lagu asli Que Sera Sera yang masih dikenal orang hingga saat ini dinyanyikan oleh Doris Mary Ann Kappelhoff aka Doris Day di tahun 1956 yang muncul dalam film The Man Who Knew Too Much. Dalam lagu itu, seorang anak bertanya kepada ibunya apa yang akan terjadi dalam hidupnya di masa depan. Sang ibu kemudian menjawab bahwa baik dirinya maupun sang anak tak bisa meramal masa depan. Que Sera Sera (Whatever Will Be, Will Be) berarti “apa pun yang akan terjadi, terjadilah”. Ini tentu ada benarnya karena apa yang akan terjadi di alam semesta hanya Tuhan yang tahu. Walaupun demikian, setiap manusia tentunya bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai pilihan dalam hidupnya.

Selama hidup, manusia harus memilih sekolah, pendidikan, karir, pasangan hidup dan sebagainya. Semua itu adalah bagian dari mandat budaya yang diberikan Tuhan (Kejadian 1: 28). Dalam hal ini, jika jumlah pilihan itu ada banyak, tentu sulit bagi kita untuk memilih apa yang terbaik. Bagaimana pula jika pilihan itu hanya dua? Barangkali anda mengira bahwa karena hanya ada dua opsi, lebih mudah untuk memilih yang terbaik.

Paulus dalam ayat di atas menghadapi dua pilihan. Bukan dua benda yang terbungkus, yang tidak diketahui jenisnya. Paulus bisa melihat dua pilihan yang jelas berbeda: meninggalkan dunia untuk menjumpai Kristus, atau tetap tinggal di dunia. Mana yang lebih enak untuknya? Sudah tentu tinggal di surga lebih enak; itu jugalah yang diyakini banyak orang, Kristen dan non-Kristen.

Sekalipun kebanyakan orang Kristen tentunya sadar akan enaknya hidup di surga, mungkin mereka tidak begitu antusias untuk memilihnya selagi mereka masih sehat atau berkecukupan di dunia. Mereka lebih senang menikmati pilihan yang kedua, apalagi kalau ada kemampuan dan kenyamanan yang tersedia di depan mata. Mumpung masih bisa! Barangkali, hanya jika ada persoalan hidup yang sangat besar, manusia mulai memikirkan pilihan yang pertama, tetapi itu mungkin saja karena terpaksa.

Dalam membaca ayat di atas kita harus sadar bahwa hidup Rasul Paulus bukannya mudah. Ia hidup dalam perjuangan: mengalami ancaman, kelaparan, sakit dan sebagainya (2 Korintus 11: 23 – 28). Ia tahu bahwa di surga, hal-hal itu tidak akan dijumpainya. Tetapi ia sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi. Tuhanlah yang menentukan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Jika Tuhan masih menghendaki dia untuk tinggal di dunia, Paulus percaya bahwa dia harus memilih untuk hidup dan bekerja untuk Tuhan dan sesama.

Hari ini, kita diingatkan bahwa pada saat ini kita masih hidup di dunia. Kita tidak tahu akan terjadi di tahun-tahun mendatang, tetapi kita tahu apa yang bisa dan harus kita pilih sekarang. Jika hidup kita saat ini nyaman, janganlah kita berpikir bahwa ini adalah apa yang terbaik yang pernah kita punyai, dan karena itu kita hanya hidup untuk menikmatinya. Sebaliknya, jika kita hidup dalam perjuangan dan penderitaan saat ini, janganlah kita mengutuki hidup yang terasa pahit dalam mulut kita. Hidup kita selama di dunia ini haruslah dipakai untuk membawa kemuliaan kepada Tuhan selagi kita masih bisa!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Filipi 1: 21 – 22

Mandat budaya orang Kristen

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Dalam pengajaran Kristen, kita memercayai bahwa Tuhan memberikan dua mandat kepada umat manusia. Yang pertama adalah Mandat Budaya (Kejadian 1: 28) dan yang kedua adalah Mandat Penginjilan (Matius 28: 19-20). Dalam bahasa yang sederhana Mandat Budaya berarti upaya mengintegrasikan iman Kristen dalam setiap aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, dan sebagainya. Sedang Mandat Penginjilan berarti orang-orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil Kristus di tengah dunia yang berdosa.

Hal mendidik bukanlah soal mudah. Sejak dulu orang tua, guru dan majikan selalu harus berusaha keras untuk membimbing anak, murid dan bawahan, agar mereka menjadi orang-orang yang berguna. Jika pada zaman yang telah silam orang seakan menggunakan teknik atau cara yang sederhana untuk mendidik kaum muda, di zaman sekarang berbagai teori muncul untuk memberikan cara pendidikan yang terbaik. Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hal mendidik bukannya semakin mudah dilaksanakan.

Di Australia, pendidikan agama Kristen di sekolah negeri adalah sangat minim. Satu atau dua jam dalam seminggu, mereka yang mendapat persetujuan orangtua bisa duduk di kelas Special Religious Education yang dipimpin oleh tenaga pendidik sukarela dari gereja setempat. Mereka yang tidak ingin mengikuti pendidikan agama yang khusus ini, bisa juga mengikuti pendidikan agama secara umum yang membahas berbagai agama yang ada di dunia.

Alkitab menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dari masa kecil untuk memberi hasil yang maksimal. Penundaan pendidikan tidak hanya memberi kesempatan pada kebiasaan buruk untuk muncul, tetapi juga membuat orang lebih sulit untuk menerima ajaran baru dengan meningkatnya usia.

“Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.” Amsal 29: 21

Tuhan yang sudah mengasihi kita, ingin agar kita membagikan kasih-Nya kepada mereka yang kita didik. Sebagaimana Yesus sudah menebus dosa kita dalam kasih-Nya, kita mendidik orang-orang di sekitar kita dengan kasih dan kesabaran, agar mereka bisa melihat bahwa sebagaimana Tuhan menjaga dan melindungi kita, begitu juga Tuhan yang mahakuasa mau menjaga mereka jika mereka mau menjadi domba-Nya.

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17 – 18

Tuhan yang di surga, tentunya mengerti sepenuhnya bagaimana sifat dan kemampuan manusia. Dalam ayat di atas, pemazmur menulis bahwa Tuhan sudah mengajar dia sejak kecil untuk memberitakan kebesaran-Nya; dan karena itu, sampai masa tua pun dia ingin agar Tuhan tetap menyertainya agar ia dapat mendidik kaum muda. Mendidik adalah membagikan apa yang kita ketahui kepada orang lain, sehingga mereka pun menjadi orang yang berpengetahuan dalam hal yang baik.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, Tuhan sudah mengaruniai kita dengan berbagai pengetahuan tentang Tuhan yang kita sembah. Bukan saja kita sadar bahwa Tuhan itu mahakuasa, kita juga mengerti bahwa Dia adalah mahatahu dan mahakasih. Tuhanlah yang sudah membimbing dan melindungi kita sejak kecil, dan dengan demikian apa yang kita sampaikan kepada orang lain adalah kesaksian hidup kita yang menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Dalam hal ini, mandat budaya tidak selalu harus dilaksanakan dalam sebuah sekolah. Dalam hidup sehari-hari kita bisa menceritakan apa yang kita yakini dan alami kepada orang lain, dan menjalankan apa yang kita ajarkan secara benar dalam masyarakat sehingga kita bukan hanya menjadi pembawa Firman, tetapi juga pelaku Firman. Talk the walk, walk the talk. Maukah kita melaksanakan mandat ini selama kita hidup?

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan

”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Matius 5: 17

Manakah yang lebih anda sukai, Alkitab Perjanjian Lama atau Alkitab Perjanjian Baru? Mungkin anda merasa bahwa pertanyaan ini aneh. Sebagai orang Kristen kita tentunya percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan karena itu kedua bagian Alkitab itu penting untuk kita pelajari dan mengerti. Walaupun demikian, isi dan misi kedua bagian Alkitab itu adalah berbeda dan dengan demikian Perjanjian Baru mungkin lebih cocok bagi mereka yang bukan orang Yahudi dan yang mengenal doktrin Tritunggal.

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”) menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi yang sehakikat (konsubstansial) – Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus – sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. Ketiga pribadi ini berbeda, tetapi merupakan satu “substansi, esensi, atau kodrat”. Dalam konteks ini, “kodrat” adalah apa Dia, sedangkan “pribadi” adalah siapa Dia.

Tidak semua orang Kristen mau menerima doktrin Allah Tritunggal. Beberapa aliran gereja memandang istilah itu tidak alkitabiah karena tidak disebutkan dalam Alkitab. Dalam kebanyakan kasus, aliran-aliran itu mengangkat Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab) sebagai ajaran dasar gereja. Ini menyebabkan Perjanjian Baru dianggap sebagai bagian sekunder dari Alkitab dan hanya untuk dipahami dalam terang Perjanjian Lama. Selain itu, adanya anggapan bahwa Perjanjian Baru tidak selengkap atau seakurat Perjanjian Lama telah membuat doktrin Trinitas diserang oleh banyak pendukung aliran ini.

Aliran-aliran di atas gagal untuk memahami bahwa Yesus tidak datang untuk memperluas Yudaisme atau Perjanjian Lama. Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa membaca bahwa Juruselamat manusia datang ke dunia untuk menggenapi Perjanjian Lama dan menegakkan Perjanjian Baru. Kematian dan kebangkitan Mesias memenuhi persyaratan Taurat dan membebaskan kita dari tuntutannya.

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Roma 10: 4

Paulus dalam di Galatia 3: 23-25 menyatakan bahwa sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, dan karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan hukum Taurat. Lebih lanjut, Paulus menulis:

“Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” Efesus 2: 15

Dengan demikian, Perjanjian Lama hanyalah sebuah bayangan (Ibrani 8). Perjanjian Baru, yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus, Juruselamat/Mesias kita, adalah sebuah pemenuhan, bukan kelanjutan.

Kebanyakan aliran yang menolak doktrin Trinitas yakin bahwa aliran-aliran Kristen utama (mainstream Christianity) telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar dan konsep Ibrani dari Alkitab. Lebih lanjut, gerakan ini menyatakan bahwa Kekristenan telah diindoktrinasi dengan budaya asing dan kepercayaan filsafat Yunani dan Romawi dan bahwa pada akhirnya Kekristenan yang diajarkan di mayoritas gereja-gereja saat ini, telah dirusak dengan hal-hal yang bernada pagan dari Injil Perjanjian Baru.

Di antara aliran-aliran yang menekankan pentingnya hukum Taurat, ada yang mengharuskan penggunaan bahasa Ibrani. Mereka kemudian menawarkan proposisi yang tidak alkitabiah yang selanjutnya membuahkan doktrin yang keliru. Keselamatan kita tidak bergantung pada kemampuan kita untuk berbahasa Ibrani. Hubungan kita dengan Tuhan tidak didasarkan pada ketaatan kita pada Perjanjian Lama yang sudah digenapi oleh Yesus dengan sempurna. Hubungan kita dengan Allah didasarkan pada keselamatan yang telah Dia sediakan melalui Putra-Nya, dan hubungan itu dimungkinkan oleh kasih karunia saja, melalui iman saja, di dalam Kristus saja (Sola Gratia, Sola Fide, Sola Christus).

Banyak aliran-aliran semacam itu yang menyatakan bahwa kematian Kristus di kayu salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa bagi bani Israel, melainkan memperbaruinya, memperluas pesannya, dan menuliskannya di hati para pengikut-Nya di zaman ini. Mereka mengajarkan bahwa pemahaman Perjanjian Baru hanya dapat datang dari perspektif Ibrani dan bahwa ajaran Rasul Paulus tidak bisa dipahami dengan jelas atau diajarkan dengan benar oleh para pendeta Kristen yang tidak mengenal budaya/bahasa Ibrani di saat ini.

Mereka yang mengajarkan bahwa Perjanjian Lama masih berlaku terlepas dari apa yang diajarkan Perjanjian Baru, atau memutarbalikkan Perjanjian Baru agar disesuaikan dengan Taurat, adalah ajaran yang salah. Mereka mengajarkan bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkokkan ke Israel, dan inilah salah satu alasan setiap orang percaya yang dilahirkan kembali di dalam Yesus untuk berpartisipasi dalam perayaan-perayaan Yahudi. Sekalipun mereka terdiri dari mayoritas non-Yahudi, termasuk para rabi non-Yahudi, banyak yang sampai pada kesimpulan bahwa Allah telah “memanggil” mereka untuk menjadi orang Yahudi dan telah menerima posisi teologis bahwa Taurat mengikat orang bukan Yahudi dan orang Yahudi.

Berlawanan dengan apa yang diklaim oleh gerakan-gerakan semacam ini, ajaran Perjanjian Baru dari Rasul Paulus sangat jelas dan jelas. Orang percaya non-Yahudi tidak dicangkokkan ke dalam Yudaisme Perjanjian Musa; mereka dicangkokkan ke dalam benih dan iman Abraham, yang mendahului hukum dan kebiasaan Yahudi. Mereka adalah sesama warga dengan orang-orang kudus (Efesus 2: 19), tetapi mereka bukan orang Yahudi. Paulus menjelaskan hal ini dengan jelas ketika dia memberitahu mereka yang bersunat (orang Yahudi) “untuk tidak berusaha untuk tidak bersunat” dan mereka yang tidak bersunat (bukan Yahudi) ” untuk berusaha disunat” (1 Korintus 7: 18).

Hari ini kita belajar bahwa seluruh orang yang mengaku Kristen tidak perlu merasa bahwa mereka harus menjadi apa yang bukan kebiasaan mereka. Sebaliknya, Allah telah membuat orang Yahudi dan bukan Yahudi menjadi “satu manusia baru” di dalam Kristus Yesus (Efesus 2: 15). “Manusia baru” ini mengacu pada Gereja, tubuh Kristus, yang tidak terdiri dari orang Yahudi atau bukan Yahudi (Galatia 3: 27-29). Penting bagi orang Yahudi dan non-Yahudi untuk tetap otentik dalam identitas mereka sendiri. Allah tidak pernah bermaksud agar orang-orang bukan Yahudi menjadi satu di Israel, tetapi menjadi satu di dalam Kristus. Dengan cara ini gambaran yang jelas tentang kesatuan tubuh Kristus dapat dilihat sebagai orang Yahudi dan bukan Yahudi dipersatukan oleh satu Tuhan, satu iman, satu baptisan di seluruh penjuru dunia (Efesus 4: 3-6).

Kita harus sadar bahwa Tuhan sendirilah yang telah menciptakan dunia dan orang-orang dengan budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Allah dimuliakan ketika kita menerima satu sama lain dalam kasih dan bersatu dalam kesatuan sebagai “satu” dalam Kristus Yesus. Penting untuk dipahami bahwa tidak ada keunggulan yang dimiliki mereka yang terlahir sebagai orang Yahudi atau bukan Yahudi. Kita yang adalah pengikut Kristus, terdiri dari banyak budaya dan gaya hidup yang berbeda, semuanya berharga dan sangat dikasihi karena kita telah masuk ke dalam keluarga Allah.

Hal hidup dalam kebenaran

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20

Dalam Matius 5: 17 – 18, Yesus dengan tegas dan jelas menyatakan suatu hal yang mungkin sulit untuk dipahami: Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Satu titik pun tidak akan ditiadakan sampai semuanya terjadi. Dengan demikian, agaknya kita yang membaca pesan Yesus dalam Matius 5: 20 di atas seharusnya mematuhi perintah hukum Taurat. Mereka yang menaatinya akan disebut besar di kerajaan surga; mereka yang tidak benar-benar taat akan disebut yang terkecil (Matus 5: 19). Yesus tidak menunjukkan bahwa perbuatan baik akan menghasilkan keselamatan, tetapi Ia menyatakan poin-poin penting tentang bagaimana kita harus hidup sebagai pengikut-Nya.

Sebagai umat Kristen, kita tentunya ingin untuk hidup sesuai dengan perintah Yesus. Tetapi itu sulit sekali. Mengasihi Tuhan, Allah kita dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan untuk tidak dikatakan mustahil. Padahal, pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22: 37-40). Ayat pembukaan di atas menunjukkan bahwa Yesus menuntut suatu standar yang tidak akan tercapai oleh para pendengar-Nya. Jika demikian, mengapa Yesus perlu menyebutkannya? Yesus ingin membuat dua poin pengajaran yang berbeda melalui ayat ini.

Ahli-ahli Taurat adalah ahli-ahli profesional mengenai isi kitab Taurat. Orang-orang Farisi adalah golongan yang terkenal karena sangat berhati-hati dalam menjaga hukum Taurat. Bahkan, mereka sangat berhati-hati sehingga mereka menambahkan lapisan detail, aturan, dan peraturan di atas undang-undang sehingga mereka tidak akan pernah melanggarnya. Orang-orang Farisi, murid-murid mereka dan para pengunjung sinagoga sadar tentang apa yang diperlukan untuk mengikuti hukum agar menjadi “orang benar”. Tetapi, Yesus telah menunjukkan bahwa kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah palsu. Yohanes Pembaptis bahkan menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” yang membutuhkan pertobatan yang benar-benar akan “berbuah” dan bukannya hanya agar terlihat baik di mata orang lain (Matius 3: 7-8).

Yesus memang pernah menegur orang-orang Farisi tentang cara mereka bekerja begitu keras pada penampilan luar sementara dosa mengotori hati mereka. Seperti yang akan ditekankan Yesus belakangan di kitab Matus 6: 1 – 7, Tuhan jauh lebih peduli tentang apa yang ada di dalam hati seseorang daripada bagaimana pandangan orang lain. Tuhan menghargai kemurnian sejati yang dimotivasi oleh kasih, lebih dari pelaksanaan hukum yang dimotivasi oleh kesombongan spiritual. Jadi, poin ajaran Yesus yang pertama adalah hal kebenaran orang beriman yang harus lebih baik daripada apa yang dipertunjukkan oleh orang-orang munafik itu.

Point lain dari pengajaran Yesus yang kita bisa pelajari dari Alkitab, adalah bahwa tidak seorang pun yang dapat menjalani kehidupan dengan kemurnian moral yang layak untuk ke surga (Yohanes 14: 6). Ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, kita tahu bahwa orang yang beriman kepada Kristus “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” ( Roma 3: 24). Yesus dalam Matius 5: 20 dengan demikian sedang mempersiapkan pendengar-Nya untuk memahami bahwa mereka membutuhkan kebenaran yang hanya dapat diperoleh-Nya bagi kita.

Hari ini, mungkin kita teringat akan perintah Yesus untuk hidup dalam kebenaran. Kebenaran yang ada di dunia ini dan yang diajarkan oleh manusia hanya membuat kita terbuai seakan kita sudah mencapai tingkat kesempurnaan seperti yang dikehendaki Yesus. Oleh karena itu, semakin kita berusaha mencapai tingkat kerohanian yang tinggi dengan tenaga sendiri, semakin jauh kita dari apa yang diperintahkan Yesus. Yesus menyatakan bahwa kita harus mempunyai hidup keagamaan yang lebih baik daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang serba semu. Kita harus bisa hidup dalam kebenaran yang asli dan murni, dan sebagai orang berdosa, kita tidak akan mencapai apa yang diminta-Nya untuk bisa dihitung sebagai anak-anak Tuhan. Kita bersyukur bahwa hanya oleh kemurahan-Nya, Yesus sudah menebus dosa kita dan membuka jalan ke surga bagi kita. Dengan pertolongan-Nya kita akan hidup makin hari makin sempurna dalam kebenaran-Nya di dunia ini.

Tidak semua orang sadar Tuhan mengasihi segala bangsa

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Siapakah yang berani marah kepada Tuhan semesta alam? Tentunya jika orang benar-benar percaya bahwa Tuhan adalah mahabesar dan mahakuasa, mereka tidak akan berani menentang atau marah kepada-Nya. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang mungkin bisa menarik perhatian kita jika ada orang yang nekad untuk marah kepada Tuhan.

Yang pertama, mereka yang marah kepada Tuhan tentunya percaya bahwa Tuhan itu ada. Yang kedua, sering kali orang marah kepada Tuhan karena mereka menganggap bahwa Tuhanlah yang menyebabkan atau membiarkan adanya masalah dalam hidup mereka. Yang ketiga, mereka yang marah mungkin merasa bahwa Tuhan yang mahakasih akan mempertimbangkan segala protes mereka. Yang keempat, mereka yang marah mungkin sudah tidak peduli lagi akan reaksi Tuhan atas kemarahan mereka. Keempat hal inilah yang mungkin ada dalam pikiran nabi Yunus.

Apa yang terjadi pada nabi Yunus? Yunus baru saja mengalami hal yang mengecewakan. Ia mengharapkan Tuhan menghukum orang Niniwe dengan menghancurkan mereka. Tetapi apa yang terjadi adalah kebalikannya: orang Niniwe bertobat dan Tuhan mengampuni mereka. Yunus menjadi sangat marah karena ia tidak mengerti bagaimana Tuhan bisa mengasihi segala bangsa (Yunus 4: 1).

Walaupun kemarahan Yunus tidak pada tempatnya, sungguh mengherankan bahwa Tuhan tidak marah kepada Yunus. Ia hanya menegur Yunus dengan sebuah pertanyaan (Yunus 4: 4): “Layakkah engkau marah?”. Tuhan memberikan kesempatan bagi Yunus untuk mengerti bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya ingin memberi semua orang kesempatan untuk bertobat.

Dengan kemarahannya, Yunus pergi ke luar kota Niniwe dan menantikan apa yang kemudian akan diperbuat Tuhan. Mungkinkah Tuhan tetap akan memberi hukuman, sekalipun tidak sebesar semula, kepada orang Niniwe?  Yunus  yang ingin menyaksikan sebuah pertunjukan yang menarik, membuat sebuah pondok untuk bernaung dari sinar panas matahari. Tuhan yang mahakasih kemudian menumbuhkan sebuah pohon jarak untuk menambah keteduhan. Tetapi, Tuhan kemudian mendatangkan ulat yang membuat pohon jarak itu layu dan mendatangkan angin panas sehingga Yunus menjadi lesu. Yunus seperti seorang anak kecil yang batal memperoleh apa yang diinginkannya, kemudian menjadi makin marah dan berkata bahwa ia ingin mati saja.

Hari ini, keadaan yang dialami Yunus mungkin terjadi dalam hidup kita. Pada saat pandemi ini, kita mungkin kecewa mengapa Tuhan membiarkan persoalan atau keadaan yang kita alami. Mungkin juga kita merasa Tuhan itu tidak adil atau kurang bijaksana karena mereka yang “ugal-ugalan” justru nyaman hidupnya. Kita mungkin merasakan adanya kemarahan dalam hati kita. Saat ini Tuhan mungkin bertanya kepada kita, seperti Ia bertanya kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena adanya persoalan dalam hidupmu?”

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Sebagai Tuhan yang memiliki alam semesta, Ialah yang berhak menentukan dan mengatur apa pun yang terjadi di dunia. Dengan demikian, kemarahan kita kepada Tuhan adalah tidak pada tempatnya. Sekalipun kita tidak menyukai orang-orang tertentu, kita harus sadar bahwa mereka adalah milik Tuhan juga. Kita harus mau mengakui bahwa sekalipun kita tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih kepada semua ciptaan-Nya. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan apa pun yang terjadi dalam hidup kita kepada pemeliharaan-Nya sambil mengakui bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas seisi alam semesta. Semua rancangan-Nya akan terjadi karena tidak ada apa pun yang bisa menghalanginya.

Kita yang bernasib mujur

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ungkapan “memang sudah nasib” sering kita dengar di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, orang membicarakan soal nasib (fate) di rumah, pasar, mal, kantor dan dimana pun. Nasib agaknya berlaku untuk siapa pun, baik mereka yang kaya atau yang miskin, baik yang berpendidikan atau yang kurang berpendidikan. Apalagi, pada saat ini Covid-19 sudah membuat kalang kabut banyak orang. Memang kata orang, nasib adalah penentu keadaan atau keberuntungan seseorang.

Dalam beberapa agama dan budaya, memang hal nasib itu diajarkan sebagai suatu keputusan Ilahi yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang menjadi dokter karena sudah ditentukan Tuhan, dan orang lain yang menjadi tukang sapu juga sesuai dengan kehendak-Nya. Sebuah negara yang makmur adalah karena kehendak Tuhan, dan negara lain yang miskin dan bahkan terjajah adalah karena keputusan Tuhan juga. Memang sudah nasibnya.

Dalam pandangan Kristen, kata nasib itu sebenarnya tidak ada. Memang dalam Alkitab terjemahan Indonesia, kata “nasib” itu muncul beberapa kali, tetapi itu adalah bertalian dengan soal bahasa dan budaya. Alkitab tidak mengajarkan bahwa Tuhan menentukan manusia untuk berbuat dosa, atau memutuskan bahwa hanya bangsa tertentu yang bisa diselamatkan. Secara umum, Tuhan tidak juga menentukan agar orang tertentu menjadi miskin atau kaya, sedih atau gembira, berpendidikan atau tidak. Semua itu adalah berkat-Nya dalam hidup kita jika kita mempunyai rasa cukup, dan ini bisa membuat kita bisa merasakan ketenangan dalam semua keadaan seperti yang dialami oleh rasul Paulus (Filipi 4: 12-13).

Memang bagaimana Tuhan yang mahakuasa itu menjalankan kuasa dan kedaulatan-Nya di seluruh jagad raya sudah diperdebatkan manusia sejak dulu. Pada umumnya, manusia merasa adanya penentuan Tuhan jika manusia tidak dapat membuat keinginannya terjadi. Tetapi keadaan zaman modern ini membuat manusia berpikir bahwa Tuhan tidak lagi relevan. Di kalangan orang Kristen pun ada berbagai pendapat yang agaknya bertentangan. Tetapi tentu saja apa yang sebenarnya dipikirkan dan dilakukan Tuhan, hanyalah Tuhan yang tahu.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

JIka keadaan saat ini nampaknya buruk, satu hal yang pasti dalam iman Kristen ialah kepercayaan bahwa apa pun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuai dengan pemeliharaan (providensia) Tuhan, yang ada sejak dari awalnya dan tidak pernah berubah, karena Ia mahatahu dan sempurna. Tuhan yang menciptakan setiap manusia dengan kasih-Nya adalah Tuhan mempunyai rancangan yang baik bagi umat-Nya.

Memang seluruh umat manusia sudah jatuh dalam dosa, tetapi itu tidaklah bisa menghentikan kasih dan kuasa Tuhan. Jika itu dikatakan “nasib”, itu mungkin satu-satunya kenyataan yang tidak dapat ditolak manusia. Sekalipun dosa manusia sebesar apa pun, Tuhan senantiasa mau mengampuni mereka yang bertobat. Nasib mujur!

“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun Ia tidak memaksa orang untuk untuk menjadi pengikut-Nya, tetapi setiap orang diberikan kesempatan untuk menjawab panggilan-Nya. Manusia bukan “robot” Tuhan, dan Tuhan bukanlah “dalang” kehidupan manusia dan alam semesta. Dalam hal ini, walaupun kasih dan kemurahan Tuhan itu sangat besar, manusia harus mau bertobat dari cara hidup lamanya.

Jawab Petrus kepada mereka: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Kisah Para Rasul 2: 38

Dari ayat pembukaan yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma, kita melihat bahwa Tuhan mempunyai rencana kasih untuk seluruh umat-Nya. Rencana Tuhan untuk kita, baik dalam hal jasmani maupun rohani, adalah rencana yang melibatkan Dia sebagai Sang Pencipta dan umat-Nya. Karena itu, sebagai orang yang sudah menerima panggilan-Nya melalui bantuan Roh Kudus, kita harus percaya bahwa apa pun keadaan kita sekarang ini, itu bukanlah sesuatu yang kita harus terima sebagai “nasib” saja, tetapi seperti rasul Paulus kita bisa menyadari bahwa apa pun keadaannya, kita masih ada kesempatan untuk bisa bekerja bersama Tuhan untuk memuliakan Dia dan mendatangkan kebaikan bagi sesama kita yang saat ini “bernasib malang”.

Tuhan memerintahkan agar setiap orang percaya yang sudah dipilih-Nya untuk mengabarkan injil keselamatan ke seluruh penjuru dunia, agar orang yang “malang”, yaitu yang belum mengenal Kristus, bisa menerima kabar baik itu dan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. Biarlah mereka menjadi “mujur” seperti kita!

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19