Kesalehan tidak identik dengan kemunafikan

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 14 – 16

Salah satu julukan yang sering diberikan kepada orang Kristen adalah “orang yang sok suci”. Ucapan ini keluar dari mulut seseorang mungkin ketika ada orang Kristen yang menegur cara hidupnya. Bagi orang yang ditegur, adanya sesama manusia yang berani menegurnya seolah membawa kesan kurang ajar. Siapakah dia yang merasa hidupnya lebih suci dari orang lain? Jangan pura-pura suci! Orang munafik!

Sebenarnya, bukan saja orang non-kristen yang sering mengejek mereka yang ingin untuk hidup dalam kesalehan. Sebagian orang Kristen pun kurang suka membicarakan hal hidup suci karena adanya pandangan bahwa manusia tidak perlu berusaha keras untuk hidup saleh, asal saja mereka sudah tergolong orang pilihan Tuhan untuk diselamatkan. Masalahnya, dalam hal ini tidak ada seorang pun yang yakin 100% bahwa ia sudah dipilih Tuhan; dan selain itu, jika seseorang sudah dipilih, justru tantangan untuk hidup suci seharusnya makin besar – sebagai pengutaraan rasa syukurnya kepada karunia keselamatan dari Tuhan.

Memang semua orang di dunia adalah orang berdosa. Orang Kristen pun orang berdosa, tetapi karena penebusan Kristus dosanya sudah diampuni Tuhan. Orang yang sedemikian adalah orang yang merasa beruntung; dan dengan demikian, ia ingin untuk memuliakan Tuhan yang mahakasih dan hidup suci seperti apa yang dikehendaki-Nya. Ini bukan berarti bahwa orang itu tidak bisa berbuat dosa lagi, tetapi ia sadar bahwa dosa adalah hal yang tidak disenangi Tuhan yang mahasuci.

Bagi orang yang kurang mengerti, hidup suci atau hidup kudus adalah keadaan yang sempurna yang seharusnya terjadi setelah orang menjadi pengikut Yesus. Bukan begitu! Sebenarnya, apa yang terjadi ketika seseorang menjadi orang percaya adalah pembenaran (justification); ketika Tuhan menerima orang itu sebagaimana adanya, dan mengampuni dosa-dosanya. Sejak saat itu, orang yang benar-benar percaya akan berusaha dengan pertolongan Roh Kudus yang menginsafkan dan membimbing, untuk hidup dalam kesucian dengan pertolongan Tuhan (sanctification) sehingga ia mencapai kedewasaan dalam iman (maturity).

Kesempurnaan selama hidup di dunia itu tidak terjadi secara tiba-tiba seperti keajaiban. Hari demi hari pengikut Kristus tetap harus berjuang menghadapi tantangan dan godaan, dalam usaha mereka untuk menjadi suci seperti Kristus dibawah bimbingan Roh Kudus. Perjuangan ini hanya berakhir ketika pada akhir hidup, mereka berjumpa dengan Sang Juruselamat dan menerima kemuliaan dan kesucian yang sepenuhnya (glorification).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3: 2 – 3

Mereka yang benar-benar sudah diselamatkan pasti berubah hidupnya dan tidak mau untuk tetap hidup dalam dosa. Mereka bukanlah orang yang “sok suci”, tetapi orang yang benar-benar tahu apa dosa itu dan membencinya. Ia akan berusaha keras untuk melawan godaan dan pencobaan, sekalipun itu bukanlah hal yang mudah dilakukan di setiap saat.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Orang Kristen adalah orang yang sadar bahwa dirinya adalah lemah dan tidak dapat melawan godaan dosa. Itu sudah terlihat sejak kejatuhan Adam dan Hawa, dan Rasul Paulus pernah menyatakan hal itu dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 19

Hal ini bukanlah alasan bagi kita untuk tidak mau berusaha mati-matian untuk hidup baik. Kita tahu bahwa sekalipun dosa tidak membawa maut kepada mereka yang diselamatkan, dosa akan membawa banyak kesusahan dan penderitaan bagi mereka yang tidak berhati-hati. Hidup dalam dosa juga merendahkan Tuhan yang mahakasih yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus untuk ganti kita.

Hari ini, kita diingatkan bahwa cara hidup kita di dunia adalah pilihan kita, dan bukan apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Jika kita sudah menerima keselamatan, perubahan hidup kita adalah sesuatu yang seharusnya bisa terlihat karena adanya kesadaran bahwa hidup suci adalah perintah Tuhan. Lebih dari itu, karena kita sudah diselamatkan semata-mata karena anugerah Tuhan, hidup suci juga untuk memuliakan nama-Nya. Sebagai manusia kita tidak dapat hidup suci dengan kekuatan kita sendiri. Biarlah Roh Kudus membimbing hidup kita hari demi hari, supaya hidup kita makin lama makin menyerupai hidup Kristus!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Orang yang benar dijaga Tuhan

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37: 23 – 24

Mazmur 37:21–31 menunjukkan berkat-berkat Tuhan kepada orang benar (godly people). Daud dalam mazmurnya menggambarkan bagaimana berkat Tuhan kepada mereka, tidak hanya dalam bentuk barang jasmani, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan perilaku mereka. Tuhan memberkati orang yang saleh dengan janji warisan, bimbingan pribadi, perlindungan, penyediaan, keturunan yang baik, dan hadirat-Nya.

Dalam mazmur ini, Daud membandingkan cara Allah melindungi dan menyelamatkan umat-Nya, yang kontras dengan kehancuran yang menanti orang jahat. Banyak dari mazmur ini tampaknya didasarkan pada pengalaman Daud sendiri (Mazmur 37: 25, 35). Seperti banyak ayat lain dalam Mazmur dan Amsal, ayat ini menjelaskan hasil baik kebijaksanaan orang yang saleh. Sebaliknya, mereka yang menolak Tuhan dan jalan-Nya akan menghadapi ketidakpastian di bumi dan bencana dalam kekekalan.

Alkitab tidak pernah menjamin bahwa para pengikut Allah akan bebas dari penderitaan duniawi (Yohanes 16:33; Mazmur 34:19). Apa yang Alkitab janjikan adalah bahwa setiap rasa sakit dan derita yang dialami oleh orang percaya bersifat sementara (Roma 8:28). Memang umat Tuhan kadang-kadang mengalami kemalangan, tetapi mereka tidak akan mengalami kehancuran total. Mereka mungkin menderita, tetapi mereka tidak bisa hancur hidupnya seperti orang fasik. Tuhan memegang tangan orang benar, dan dengan demikian melindunginya dari bencana.

Ungkapan “tergeletak” ada kaitannya dengan kata “dilemparkan” dalam bahasa Ibrani. Gambaran di sini adalah seseorang yang jatuh di luar kendali. Kata-kata Daud menggambarkan perbedaan antara “tersandung” untuk orang saleh, dari mana akan ada pemulihan, versus “tergeletak” untuk orang-orang fasik, yang dapat menyebabkan malapetaka karena tidak adanya pertobatan dan kesadaran akan kuasa Tuhan. Ini benar, baik dalam arti duniawi maupun surgawi (2 Korintus 7:10).

Di dunia, setiap kehidupan memiliki masalah, tetapi orang yang benar tidak akan terpuruk selamanya. Itu pesan ayat di atas. Masalahnya, apakah yang dimaksudkan dengan orang yang benar atau orang yang saleh? Sebagai orang Kristen kita tahu bahwa tidak ada seorangpun orang yang benar di hadapan Tuhan. Bagaimana dengan kesalehan? Tidak mudah mengartikan kata “orang saleh”, tetapi mungkin bisa dihubungkan dengan orang yang takut akan Tuhan dan selalu bisa menerima keputusan dan kehendak Tuhan.

Dalam hal kehidupan orang yang saleh Alkitab menyatakan bahwa mereka adalah orang yang rajin beribadah dan mempunyai rasa cukup atas pemeliharaan Tuhan:

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” 1 Timotius 6: 6-7

“But godliness with contentment is great gain. For we brought nothing into this world, and it is certain we can carry nothing out.” 1 Timothy 5: 6-7

Orang yang saleh juga bisa diartikan sebagai orang yang imannya besar dalam keadaan apa pun. Orang yang saleh adalah orang yang bisa merasa cukup dalam keadaan sekarang, dan mempercayakan masa depannya kepada Tuhan. Dengan demikian, mereka adalah orang yang sabar menantikan pertolongan Tuhan dan tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri.

Kejatuhan orang percaya di dunia bisa dialami dalam hal material. Ayub, misalnya, mengalami kejatuhan materi dan kerugian pribadi. Ia kehilangan 7.000 domba, 3.000 unta, 500 pasang lembu, dan 500 keledai betina (Ayub 1:3, 14-17). Dia juga kehilangan tujuh putra dan tiga putrinya (Ayub 1:2, 18-19). Selanjutnya, ia kehilangan kesehatannya (Ayub 2:7-8). Tetapi , Ayub tetap bertahan dalam imannya dan tidak merasa malu akan keadaannya.

Hari ini, kita mengerti bahwa bahwa karena hidup orang saleh adalah dekat dengan Tuhan, apabila ia jatuh dalam kemalangan, tidaklah ia sampai hilang harapan, sebab dengan iman ia dapat tetap merasakan kasih Tuhan yang memberi dia rasa cukup dalam semua keadaan. Ia tidak akan merasa malu akan keadaannya, karena penderitaan sebagai orang Kristen adalah kesempatan baginya untuk merasakan sebagian kecil penderitaan Kristus selama Ia hidup di dunia. Dengan demikian, kita juga percaya, bahwa seperti Kristus sudah mengalahkan maut, kita pun akan menang bersama Dia.

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” 2 Timotius 1:12

Tanggung jawab kita tidak hilang setelah diselamatkan

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa Tuhan berdaulat atas segala ciptaan-Nya, dan karena itu tidak ada satu makhluk pun yang bisa mempengaruhi-Nya. Tuhan sudah mempunyai rencana untuk seluruh jagad raya dan isinya, dan itu termasuk rencana untuk setiap manusia. Setiap manusia sudah ditetapkan-Nya untuk berada dalam lingkungan tertentu dan menerima apa yang sudah ditentukan-Nya dalam hidupnya. Tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam hidupnya, karena Tuhan juga sudah menetapkan tugas dan peranan masing-masing. Itu berarti bahwa Tuhan 100% berdaulat, dan manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya.

Apa arti “manusia 100% bertanggungjawab”? Sebagian orang menafsirkannya sebagai suatu kemampuan yang sepenuhnya untuk mempertangungjawabkan hidup dan perbuatan mereka. Tetapi, sebagian lagi mengartilannya sebagai suatu keharusan yang sepenuhnya untuk mempertangungjawabkan hidup dan perbuatan mereka. Alkitab hanya memberi satu jawaban yang benar. Berdasarkan ayat di atas, setiap manusia, Kristen maupun bukan Kristen, harus memberi pertanggungan jawab kepada Tuhan tentang dirinya. Sekalipun manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mempertanggungjawabkan hidupnya dengan sepenuhnya kepada Tuhan, Tuhan tetap menuntut setiap manusia untuk bertanggung jawab kepada-Nya.

Bagi sebagian orang, ayat di atas agaknya bernada “kurang adil”. Bagaimana Tuhan yang mahasuci mengharapkan manusia untuk memberi pertanggungan jawab kepada Dia yang mahasempurna? Sudah tentu manusia mana pun tidak ada yang bisa memenuhi syarat kebenaran Tuhan! Setiap manusia sudah berdosa dihadapan Tuhan dan sebenarnya harus binasa karena tidak dapat mempertanggungjawabkan hidupnya sesuai dengan standar kebenaran Tuhan. Tuhan agaknya adalah Tuhan yang kejam, yang menuntut apa yang tidak bisa dilakukan manusia.

Sebenarnya apa yang dituntut Tuhan dari manusia? Tuhan menuntut kita mengakui kedaulatan Tuhan dan tuntutan-Nya agar kita mau bertanggung jawab atas hidup kita. Sebagai anak yang hilang, kita yang mau mengakui kesalahan dan dosa kita dapat kembali menjumpai Allah Bapa dan memohon pengampunan-Nya atas hidup kita yang penuh dosa. Kita harus mau mempertanggungjawabkan dosa kita dan mengaku dosa setiap hari seperti anak yang hilang:

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa” Lukas 15:21

Setiap orang dituntut untuk memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah, begitu bunyi ayat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Roma. Kepada mereka yang sudah dilahirkan kembali, kepada mereka yang sudah disadarkan akan jalan yang benar. Tidak ada alasan bagi umat Kristen untuk menolak bertanggung jawab, apalagi dengan alasan bahwa Tuhan sudah menetapkan segala yang terjadi dalam hidup mereka. Tidak juga kita bisa menolak untuk hidup bertanggung jawab karena Yesus sudah menebus dosa-dosa kita. Dengan demikian, setiap manusia, harus 100% bertanggung jawab atas hidupnya yang berada dalam rancangan Tuhan.

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Merka memilih untuk tetap hidup sebagai anak yang hilang. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada pula orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Hidup liar tanpa tanggung jawab kepada Tuhan.

Hidup yang bertanggung jawab adalah hidup yang menghindari dosa dan mengejar hal-hal seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5: 22-23). Hidup yang benar adalah tentang membuat pilihan, untuk mengejar kehendak Tuhan dan kehidupan iman setiap hari. Ini adalah keputusan kita untuk taat kepada pimpinan Roh Kudus dalam melawan godaan dan faktor-faktor yang menjauhkan diri kita dari Tuhan, dan sebaliknya bersandar kepada Dia sepenuhnya.

Kita tidak dapat menolak untuk bertanggung jawab dengan alasan bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya. Kita juga tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil dengan memberikan apa yang tidak seindah atau sebesar apa yang diberikan Tuhan atas orang lain. Tetapi setiap manusia bertanggung jawab atas setiap karunia Tuhan yang sudah diterimanya. Dalam hal ini, manusia hanya bisa hidup bertanggung jawab melalui kemampuan yang sudah diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya. Sebagai orang Kristen, kita tidak mau mengingkari tanggung jawab kita seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa ditaman Eden.

Manusia itu menjawab: ”Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Kejadian 3: 12-13

Hari ini, jika kita ingat bahwa hidup di dunia adalah sementara, dan itu jauh lebih singkat dari hidup yang akan kita jalani bersama Yesus di surga, baiklah kita sadar bahwa kita harus mati-matian memilih cara hidup yang baik selama di dunia. Mengapa demikian? Karena Tuhan sudah mengampuni kita, kita harus menyatakan rasa syukur kita dalam kesetiaan dalam iman. Bukan justru merasa bahwa kita tidak perlu lagi bekerja keras karena sudah dipilih untuk diselamatkan. Paulus merujuk pertandingan yang baik dalam 2 Timotius 4:7 di mana dia berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Dengan demikian, patutlah kita meniru Paulus dengan tetap beriman, tetap setia dan tetapl berjuang memuliakan nama-Nya selama kita hidup.

Tuhan menentukan semua rencana-Nya, tetapi adanya manusia yang bertanggung jawab adalah bagian dari penetapan-Nya. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang hatus memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah!

Kasih Tuhan sulit dibayangkan

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Allah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih? Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima panggilan yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasih-Nya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membiarkan seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup.

Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencana-Nya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencana-Nya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Tuhan mempunyai rencana tertentu, bukan karena kebaikan atau keburukan orang-orang itu.

Banyak orang yang berpikir bahwa jika Allah itu mahakasih, tentunya Ia akan menyelamatkan semua orang yang baik. Pandangan ini masuk akal, hanya saja tidak seorangpun di dunia ini yang cukup baik menurut ukuran Allah yang maha suci. Karena itu, hanya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus akan menerima pengampunan total.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-domba-Nya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tangan-Nya, diberiNya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberi-Nya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Sebagai Tuhan yang memiliki alam semesta, Ialah yang berhak menentukan dan mengatur apa pun yang terjadi di dunia. Sekalipun kita tidak menyukai orang-orang tertentu, kita harus sadar bahwa mereka adalah milik Tuhan juga. Kita harus mau mengakui bahwa sekalipun kita tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih kepada semua ciptaan-Nya.

Jelas bahwa kita tidak bolehi memutlakkan satu ekspresi alkitabiah tentang kasih Allah. Menempatkan penekanan eksklusif pada kasih Tuhan kepada orang percaya dapat menyebabkan timbulnya kekristenan yang dingin terhadap mereka yang bukan orang Kristen. Sebaliknya, jika kasih pemeliharaan Allah bagi semua ciptaan-Nya mendapat penekanan utama, kita mungkin mengira bahwa semua orang “baik” akan bisa mencapai surga. Kita tidak boleh memilah-milah cara mengartikulasikan kasih Tuhan ini. Tuhan tidak boleh dipandang sebagai pergantian mekanis antara berbagai aspek kasih-Nya. Ia selalu mengasihi orang-orang pilihan-Nya dan ciptaan-Nya, tetapi dengan cara yang berlainan.

Pada pihak yang lain, kita harus menimbang cara penginjilan yang sudah usang. Ajaran tentang kasih Tuhan membutuhkan penjelasan tentang kata-kata mutiara seperti “Tuhan mencintai semua orang dengan cara yang sama,” atau “Tuhan mencintai kita tanpa syarat.” Di banyak tempat, Alkitab menggambarkan kasih Allah yang dikondisikan oleh ketaatan. Mereka yang sudah menerima keselamatan, tidak akan hidup seperti orang yang belum mengenal Kristus. Di sisi lain, kasih Allah bagi umat-Nya tidak bersyarat; berkat penebusan Kristus. Kita membutuhkan semua yang dikatakan Alkitab tentang hal ini, atau pengertian kita tentang kasih Tuhan akan menjadi kacau.

Sebagai anak Tuhan kita harus bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Tetapi kita harus sadar bahwa kasih Tuhan yang menyelamatkan hanyalah untuk umat-Nya. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umat-Nya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Jika Tuhan berdaulat, apakah Dia penyebab adanya kejahatan?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1:13-14

Setiap orang Kristen tentu percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa. Tuhan adalah pencipta segala yang ada dalam alam semesta dan jagad raya. Tuhan jugalah yang menciptakan Adam dan Hawa. Jika mereka kemudian jatuh dalam dosa, dari mana datangnya dosa? Apakah Tuhan juga pencipta dosa?

Dosa adalah suatu keadaan di mana manusia tidak menaati perintah-Nya. Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan tidak mendatangkan dosa. Manusialah yang karena keinginan mereka, kemudian melanggar perintah Tuhan.

Kitab Suci mengatakan bahwa ketika Allah menyelesaikan ciptaan-Nya, Dia melihat segala sesuatu dan menyatakannya “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Kitab Suci juga menegaskan bahwa Allah bukanlah pencipta kejahatan:

“Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” 1 Yohanes 1:5

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14:33

Jika anda percaya akan kebenaran ayat-ayat itu, Tuhan sama sekali tidak dapat menjadi pencipta kejahatan.

Kadang-kadang seseorang akan mengutip ayat di bawah ini, dan mengklaim itu membuktikan Tuhan membuat kejahatan sebagai bagian dari ciptaan-Nya:

“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini. ” Yesaya 45: 6-7.

Tetapi, alkitab berbahasa Inggris New International Version memberikan pengertian Yesaya 45:6-7 lebih jelas:

“Akulah Tuhan, dan tidak ada yang lain. Aku membentuk terang dan menciptakan kegelapan, Aku membawa kemakmuran dan menciptakan bencana; Aku, Tuhan, melakukan semua ini.”

Dengan kata lain, Tuhan merancang bencana sebagai hukuman bagi orang fasik. Tetapi ini bukan berarti Dia pencipta kejahatan di dunia atau pemberi nasib malang bagi umat-Nya.

Kejahatan tidak berasal dari Tuhan tetapi dari manusia yang sudah jatuh. Reformator John Calvin, pernah menulis,

. . . Tuhan telah menyatakan bahwa “segala sesuatu yang dijadikan-Nya . . . sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Dari manakah datangnya kejahatan ini kepada manusia, sehingga ia harus murtad dari Tuhannya? Agar kita tidak berpikir bahwa itu berasal dari ciptaan, Tuhan telah memberikan pernyataan-Nya atas apa yang telah keluar dari diri-Nya sendiri. Sungguh amat baik. Oleh karena itu, dengan niat jahatnya sendiri, manusia merusak sifat murni yang telah dia terima dari Tuhan; dan dengan kejatuhannya menarik semua keturunannya bersamanya ke dalam kehancuran. Oleh karena itu, kita harus merenungkan penyebab penghukuman yang jelas dalam sifat manusia yang rusak – yang lebih dekat dengan kita – daripada mencari penyebab yang tersembunyi dan sama sekali tidak dapat dipahami dalam penetapanTuhan. [Institut, 3:23:8]

Adalah penting untuk memahami bahwa dosa itu sendiri bukanlah sesuatu yang diciptakan. Dosa bukanlah substansi, makhluk, roh, atau materi. Jadi secara teknis tidak tepat untuk menganggap dosa sebagai sesuatu yang diciptakan. Dosa hanyalah kurang baiknya moral dalam manusia yang jatuh. Manusia dengan kebebasannya memilih untuk berbuat dosa, harus memikul tanggung jawab penuh atas dosa mereka. Karena itu, semua kejahatan di alam semesta berasal dari dosa-dosa manusia yang jatuh.

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Roma 5: 12

Kematian, penyakit, stres, kelelahan, malapetaka, dan semua hal buruk yang terjadi adalah akibat dari masuknya dosa ke dalam alam semesta (Kejadian 3:14-24). Semua efek jahat dari dosa terus bekerja di dunia dan akan bersama kita selama kita hidup di dunia.

Jika adanya dosa bisa membawa berbagai jenis kejahatan, Tuhan pasti berdaulat atas semua kejahatan. Dalam hal ini, mngkin ada orang yang mengatakan bahwa kejahatan adalah bagian dari ketetapan kekal-Nya. Itu tidak keliru, jika diartikan dalam konteks yang benar. Dia yang mahatahu sudah membuat semua rencana-Nya dengan memperhitungkan adanya dosa, kapan munculnya, siapa yang melakukannya, dan apa akibatnya. Dengan demikian, munculnya berbagai dosa hari lepas hari tidak akan mengejutkan Dia. Karena Dia sudah memperhitungkan semua hal yang bertalian dengan dosa, itu bukan gangguan terhadap rencana kekal-Nya.

Selain dosa dan kejahatan manusia, adakah penyebab lain dari penderitaan manusia di dunia? Dengan keterbatasan yang ada, kita tidak bisa menyelami dalamnya kuasa, kasih dan hikmat Tuhan. Oleh karena itu, jika kita melihat adanya dosa, kita hanya dapat merenungkan penyebab yang jelas dalam sifat manusia yang rusak, tetapi tidak bisa mencari penyebab lain yang tersembunyi dan sama sekali tidak dapat dipahami dalam penetapan mutlak (sovereign ordination) yang sesuai dengan kehendak-Nya (sovereign will).

Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan yang berdaulat adalah Tuhan yang mahakasih. Jika adanya dosa bisa merupakan suatu penyebab utama kesengsaraan manusia di dunia, Tuhan berjanji kepada kita bahwa Allah tidak akan mengizinkan pencobaan yang lebih besar dari yang dapat kita tanggung.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Hari ini kita disadarkan bahwa peran Tuhan sehubungan dengan kejahatan bukanlah sebagai penciptanya. Tuhan juga bukan penyebab manusia berbuat dosa. Tuhan tidak juga menetapkan sesorang untuk berbuat dosa tertentu. Dia hanya mengizinkan iblis untuk bekerja, dan kemudian mengatasi semua dosa dan kejahatan untuk mencapai tujuan-Nya yang bijaksana dan suci.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50: 20

Dengan demikian, sekalipun hidup kita sekarang ini mengalami banyak kesulitan dan penderitaan, pada akhirnya Dia mampu membuat segala sesuatu – termasuk semua buah dari semua kejahatan sepanjang waktu – bekerja bersama untuk kebaikan yang lebih besar .

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apa arti hidup manusia jika Tuhan memegang kemudi?

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37: 23-24

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, tetapi mereka juga percaya bahwa manusia membuat pilihan yang berarti. Tapi bagaimana keduanya bisa benar? Alkitab mengatakan bahwa keduanya benar. Bahkan, dikatakan bahwa rencana Tuhan maju melalui pilihan manusia sebagai agen moral, termasuk tindakan dosa yang kita pilih secara bebas! Bagaimana dengan hidup orang percaya? Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan membimbing mereka sehingga meskipun mereka tetap bisa jatuh dalam pilihan dan kelemahan mereka, mereka akan bisa bangun kembali.

Tuhan memegang kendali penuh atas segala sesuatu. Inilah yang dimaksud orang Kristen ketika mereka menyebut Tuhan “berdaulat.” Kedaulatan, atau otoritas Tuhan, adalah mutlak. Rencana-Nya bagi dunia tidak dapat ditantang atau dicegah. Apa yang Tuhan katakan akan terjadi akan terjadi. Tetapi, bukankah ada pilihan kita, seperti berbagai tindakan dan keputusan moral yang kita buat setiap hari? Apakah otoritas Tuhan bertentangan dengan kemampuan kita untuk membuat keputusan yang penting dan berdampak pada dunia?

Aiden Wilson Tozer (21 April 1897 – 12 Mei 1963) adalah seorang pendeta Kristen Amerika, penulis yang terkenal, editor majalah, dan pembimbing rohani. Lahir dalam kemiskinan, Tozer belajar sendiri tentang apa yang tidak pernah diperolehnya dari sekolah menengah dan universitas.  Dalam bukunya yang berjudul “Knowledge of the Holy‘, A. W. Tozer mencoba untuk mendamaikan kepercayaan yang tampaknya bertentangan tentang kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia dengan sebuah analogi:

“Sebuah kapal pesiar meninggalkan New York menuju Liverpool. Tujuannya telah ditentukan oleh otoritas maritim yang berkuasa. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Setidaknya ini adalah gambaran samar tentang kedaulatan. Di atas kapal ada banyak penumpang. Mereka tidak dirantai, kegiatan mereka juga tidak ditentukan oleh peraturan. Mereka benar-benar bebas bergerak sesuka mereka. Mereka makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka; tapi sementara kapal besar itu membawa mereka terus maju menuju pelabuhan yang telah ditentukan. Kebebasan dan kedaulatan ada di sini, dan keduanya tidak bertentangan. Begitulah, saya percaya, dengan kebebasan manusia dan kedaulatan Tuhan. Garis besar rancangan Tuhan yang berdaulat mempertahankan jalurnya yang mantap di atas lautan sejarah.”

Dalam analogi dari Tozer, sangat menarik bahwa kapal laut itu digambarkan sebagai kapal yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuannya oleh otoritas yang berkuasa. Ini sebenarnya adalah kenyataan: bahwa setiap cruise ship memang hanya bisa berlayar menuju ke satu tujuan akhir yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah oleh penumpangnya. Berapa pun jumlah uang yang dibayar atau apa pun usaha yang dilakukan penumpang, mereka tidak bisa mengganti tujuan atau mengubah saat tibanya kapal itu. Memang benar mereka bisa makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka. Tetapi, jika ada orang yang mencoba untuk melanggar peraturan kapal yang ada dengan berbuat onar atau melakukan hal-hal yang bodoh, mereka akan dikenakan sanksi atau hukuman yang sepadan.

Penumpang kapal yang turun ke darat sewaktu kapal mengunjungi tempat-tempat perhentian sepanjang jalan, hanya bisa melakukan tur darat dalam waktu yang sudah ditetapkan. Mereka yang terlambat untuk kembali ke kapal akan ditinggal. Dengan demikian apa yang dianggap sebagai kebebasan adalah kesempatan untuk melakukan sesuatu dalam batasan yang ada. Mereka dapat melakukan apa saja, tetapi harus memikul konsekuensinya karena tujuan kapal itu sudah ditetapkan.

Bagaimana dengan pilihan dan perbuatan kita selaku ciptaan Tuhan? Banyak manusia yang merasa bahwa Tuhan tidak berkuasa atas hidup mereka. Ada pula mereka yang berdalih bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya tidak mau membatasi kebebasan manusia. Selain itu, ada juga yang percaya bahwa selama apa yang mereka senangi terus terjadi, itu tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, ada juga orang tidak mau lagi berusaha mencapai apa yang mereka inginkan karena yakin bahwa Tuhan sudah menetapkan apa yang mereka alami. Juga ada orang-orang yang dengan sengaja berusaha mengubah rancangan Tuhan dengan berbuat jahat, melakukan keonaran dan bahkan menyerang kedaulatan Tuhan di dunia.

Segala sesuatu yang kita lakukan adalah apa yang ingin kita lakukan, sementara juga menjadi bagian dari rencana Tuhan. Semua itu adalah apa yang kita inginkan dan apa yang Tuhan izinkan, meskipun mungkin bukan yang Tuhan kehendaki. Alkitab menunjukkan kepada kita contoh sempurna tentang hal ini dalam kematian Yesus. Kematian Yesus di kayu salib dimaksudkan oleh Allah untuk menyelamatkan orang berdosa. Tetapi Yesus dibunuh oleh orang-orang yang menginginkan Dia mati. Mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka, yang jahat di mata Tuhan meskipun itu adalah bagian dari rencana Tuhan.

Hubungan antara rencana Tuhan dan tindakan manusia sulit untuk kita pahami, apalagi untuk menerima dan merangkul. Itu adalah kebenaran yang terlalu besar untuk kita pahami sepenuhnya. Dan sementara itu sulit dan menciptakan kebingungan dan kadang-kadang frustrasi, itu juga memberi kita harapan: Tuhan sedang mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia, dan kita dapat percaya bahwa tidak ada pilihan manusia yang berdosa yang akan menghentikan Dia dari pelaksanaan rancangan-Nya. Mereka yang tidak mau bertobat harus menerima segala konsekuensi pilihan hidup mereka. Sebaliknya, orang percaya yang mau dipimpin-Nya akan dapat merasakan kedamaian, karena sekalipun mereka tetap harus berjuang dan mengambil keputusan dalam hidup mereka, Tuhan selalu siap untuk menolong dan menguatkan mereka yang mengalami masalah.

Hal mencari kehendak Tuhan melalui undian

“Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.” Amsal 16:33

Satu ayat yang mungkin sulit dipahami terdapat dalam kitab Amsal 16:33. Apa arti ayat ini? Apakah Tuhan memang mengendalikan setiap lemparan dadu? Apa yang Tuhan coba katakan kepada kita dalam ayat ini?

Praktik membuang undi disebut tujuh puluh kali dalam Perjanjian Lama dan sebanyak tujuh kali dalam Perjanjian Baru. Meskipun ada begitu banyak ayat rujukan untuk pembuangan undi dalam Perjanjian Lama, bentuk nyata dari undian tersebut kurang jelas. Mungkin undi yang dimaksud berupa batang kayu yang panjangnya bervariasi, batu datar seperti koin, atau semacam dadu; namun secara detilnya kurang jelas. Aplikasi modern akan membuang undi sepertinya mirip dengan melemparkan koin untuk mendapat kepala atau ekor dari koin.

Dari situs Got Quesions kita bisa membaca bahwa praktik membuang undi paling sering terjadi dalam kaitannya dengan pembagian tanah di bawah pimpinan Yosua (Yosua pasal 14-21), sebuah prosedur yang Allah perintahkan bagi Israel bebeberapa kali dalam kitab Bilangan (Bilangan 26:55; 33:54; 34:13; 36:2). Allah memperbolehkan Israel membuang undi untuk mengungkapkan kehendak-Nya dalam sebuah situasi (Yosua 18:6-10; 1 Tawarikh 24:5,31). Berbagai jabatan dan tanggung jawab dalam bait juga ditetapkan melalui pembuangan undi (1 Tawarikh 24:5,31; 25:8-9; 26:13-14). Nahkoda kapal yang ditumpangi oleh Yunus juga membuang undi demi mencari tahu penumpang manakah yang telah membuat Allah murka pada kapalnya (Yunus 1:7). Kesebelas rasul juga membuang undi dalam mencari pengganti Yudas Iskariot (Kisah 1:26). Lama-kelamaan membuang undi menjadi permainan yang diisi dengan taruhan. Contohnya terlihat ketika para prajurit Romawi membuang undi untuk mendapat pakaian Yesus (Matius 27:35).

Walaupun demikian, sebagian orang Kristen percaya bahwa hal-hal yang sekecil apa pun di dunia ini, seperti melempar dadu, sepenuhnya ada di bawah kontrol dari Tuhan. Karena itu ada yang masih percaya bahwa Tuhan adalah Oknum Ilahi yang menentukan angka berapa yang akan muncul pada setiap lemparan dadu, dan karena itu ada pemimpin gereja yang tetap menggunakan dadu untuk mengambil keputusan gereja seperti pada zaman yang lalu.

Jika anda percaya bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu sampai hal yang sekecil-kecilnya, dan dengan demikian lemparan dadu selalu menghasilkan angka yang dipilih Tuhan, setidaknya ada 3 masalah:

  1. Mengapa orang Kristen tidak lagi memakai dadu untuk memilih jodoh, mengambil tindakan dan memilih karir?
  2. Kalaupun ada orang Kristen yang mengambil keputusan dengan melempar dadu, apakah lemparan berikutnya akan menghasilkan angka yang sama, yang bisa memastikan bahwa nomer yang diperolehnya benar-benar kehendak Tuhan?
  3. Mengapa sekarang umumnya pendeta melarang umat untuk bermain dengan dadu arau lotere?

Perjanjian Baru tidak pernah mengajar umat Kristen membuang undi demi mengambil keputusan. Karena kita telah mempunyai Firman Allah yang lengkap, serta Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita dan membimbing kita, maka tidak ada alasan lagi menggunakan undian untuk mengambil keputusan. Dengan demikian, tidak ada alasan bahwa Tuhan mengintervensi dan menentukan apa yang akan keluar sebagai hasil undian, sekalipun kita yakin bahwa Tuhan tentunya tahu apa yang akan terjadi. Memahami kehendak Allah pada zaman ini cukup dengan Firman, Roh Kudus, dan doa – bukan membuang undi, melempar dadu, atau melempar koin. Setiap orang Kristen harus mau bertanggungjawab atas pilihannya.

Lemparan dadu tidak dapat dijadikan alat untuk mencari kehendak Tuhan. Dadu adalah alat yang dibuat manusia hanya untuk memperoleh angka acak, dan angka acak belum tentu menyatakan pilihan Tuhan. Dengan demikian, jika anda bersiteguh untuk menggunakan berbagai cara yang mirip dengan undian untuk mengambil keputusan, Tuhan tidak akan ikut campur tangan dalam menentukan apa yang harus anda pilih. Percaya kepada hasil undian bukannya menunjukkan besarnya iman anda, tetapi justru membuktikan bahwa hubungan anda dengan Tuhan adalah kurang erat sehingga anda tidak dapat berkomunikasi dengan-Nya.

Adalah menarik perhatian bahwa dalam bahasa Indonesia ayat di atas sebenarnya agak berbeda bunyinya dalam beberapa alkitab lainnya. Dalam beberapa alkitab berbahasa Inggris, ayat itu bisa berbunyi:

“Undi dibuang manusia untuk mengambil keputusan, tetapi yang akan tercapai oleh manusia ditetapkan TUHAN.”

Dengan demikian, kita bisa menafsirkan bahwa jika manusia di zaman ini ingin mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang harus mereka pilih dengan memakai cara-cara, atau melalui tanda-tanda mistik, yang mirip dengan melempar dadu, apa yang akhirnya mereka peroleh bukan apa yang dinyatakan oleh tanda-tanda yang mereka lihat. Cara-cara sedemikian adalah mengandung risiko besar karena bukan segala sesuatu yang kita lihat berasal dari Tuhan atau ditetapkan oleh-Nya. Apa yang harus kita sadari adalah bahwa segala yang diusahakan manusia, pada akhirnya harus tunduk kepada rencana Tuhan. Apa yang akhirnya terjadi harus sesuai dengan kehendak-Nya.

Bagaimana kita bisa menerapkannya hal ini dalam hidup kita? Jangan mendasarkan keputusan anda pada lemparan dadu, tiket lotre, mimpi, ilham, kunjungan ke tempat tertentu, atau dorongan hati. Tapi dasarkan keputusan anda pada penelitian yang cermat. Pelajari pembelian rumah. Baca surat perjanjian sebelum menandatanganinya. Bicaralah dengan seorang teman untuk mendapatkan nasihat. Berdoa dan carilah kehendak Tuhan ketika anda tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan ketika anda telah melakukan semua yang dapat anda lakukan, berserahlah kepada Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan yang memberi anda hikmat dalam mengambil keputusan, pada akhirnya memberi hasil yang baik, yang sesuai dengan rencana-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hal melangkah dalam hidup

Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya. Yeremia 10: 23

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dipakai untuk menekankan bahwa Tuhan yang mahakuasa menentukan setiap detil kehidupan manusia. Tetapi ini bukanlah apa yang menjadi inti pesan Yeremia. Secara spesifik, alam kitab Yeremia 10, nabi Yeremia menubuatkan penyebaran bangsa Israel dan kehancuran bait suci yang mengerikan dan kehancuran kota Yerusalem yang dicintainya. Dia mengerti bahwa umat Allah tidak memiliki alasan untuk berbuat dosa, dan status istimewa mereka sebagai umat pilihan Allah tidak membebaskan mereka dari hajaran-Nya. Dan meskipun dia menyesali penghakiman yang akan datang, Yeremia berdoa memohon belas kasihan Tuhan atas umat-Nya. Kitab Yeremia 10 adalah refleksi rasa sedih nabi Yeremia.

Yeremia bukannya menyatakan bahwa semua yang dilakukan manusia adalah ditentukan oleh Tuhan, karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang mampu untuk berpikir dan mengambil keputusan. Sebaliknya, Yeremia bersedih hati dan mengeluh mengapa bangsa Israel tidak menyadari bahwa apa yang tidak dikehendaki Tuhan, sehingga akhirnya mereka akan gagal dan bahkan hancur, karena semua rencana Tuhan harus terjadi. Ia menyatakan bahwa bangsa Israel tidak bisa untuk mencapai apa yang diingini mereka jika itu bertentangan dengan rencana Tuhan dan tidak menyenangkan Tuhan.

Bagi umat Kristen, tentunya menyedihkan jika mereka tidak bisa memikirkan cara bagaimana bisa menyenangkan Tuhan selama hidup di dunia. Walaupun demikian, tidak ada orang dapat mengerti bagaimana mereka bisa membuat Tuhan senang jika Tuhan tidak menyatakan hal itu kepadanya. Dengan demikian, sebagai makhluk yang bergantung, dan yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya, jika umat percaya ingin merancang jalan mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah, mereka seharusnya berdoa agar Dia mengarahkan langkah-langkah mereka dengan Roh dan kasih karunia-Nya, sehingga mereka tidak akan tersesat atau gagal mencapai tujuan mereka. 

Pada pihak yang lain, jika manusia merancang urusan duniawi mereka dengan sangat berhati-hati dan mengharapkan sukses besar, Tuhan yang mengatur alam semesta terkadang mengarahkan langkah mereka ke arah yang tidak mereka inginkan. Dengan demikian, setiap manusia diajar untuk mengarahkan pandangan mereka kepada Allah, mempunyai rasa takut dan hormat kepada-Nya, tidak hanya dalam hidup sehari-hari, tetapi juga dalam setiap langkah yang mereka ambil. 

Sepanjang sejarah, umat manusia telah membuat rencana untuk apa yang akan harus dilakukan setiap hari. Tidak ada yang salah dengan perencanaan. Malahan, sebenarnya adalah baik bagi semua orang untuk menetapkan tujuan dan rencana. Jika tidak, hidup mereka akan kacau dan tidak akan membuahkan apa yang berguna. Perencanaan jelas merupakan hal yang baik. Namun, sebagai orang Kristen, rencana kita harus selalu dimulai dengan doa dan mencari kehendak Tuhan untuk hidup kita. Jika Tuhan telah disertakan dalam proses perencanaan, kita dapat yakin bahwa rencana kita akan berhasil, sekalipun kita mungkin mengalami beberapa rintangan dan harus berputar jalan. Sebaliknya, jika rencana kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita berdosa kepada-Nya.

Mereka yang bermegah dalam kesombongan akan membuat Allah marah. Semua kesombongan manusia seperti itu adalah jahat. Maka itu, bagi orang Kristen yang tahu bagaimana mereka seharusnya bisa menempatkan diri di hadapan Allah tetapi tidak mengerjakannya, hal itu juga berakhir dengan dosa. Dan jika karena kesombongan dan keras kepala kita, kita memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, Tuhan akan tetap bisa mewujudkan kehendak ilahi-Nya. Tetapi jalan menuju ke sana mungkin tidak akan menjadi jalan yang bisa kita nikmati!

Tuhan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri tanpa berkonsultasi dengan-Nya. Dia mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri ketika kita tidak terlalu menyukai kehendak-Nya. Dia juga memungkinkan kita untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Tetapi kita harus sadar bahwa terlepas dari apa yang kita rencanakan, Tuhan akan menjadi satu-satunya Oknum yang akan mengarahkan setiap langkah yang kita ambil untuk mencapai rancangan-Nya.

Apa maksud Tuhan dalam menghukum bangsa Israel yang ingin bebas dari bimbingan Tuhan? Yeremia 29:11 memberi tahu kita bahwa Tuhan tetap sama, Ia memiliki rencana yang baik untuk bangsa Isreal – rencana untuk kesejahteraan mereka dan bukan kehancuran. Seperti itu juga, jika kita benar-benar percaya akan hal ini, maka kita tidak akan kesulitan memulai perencanaan kita dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mencari kehendak Tuhan – untuk memastikan bahwa rencana yang kita buat selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita melakukannya, maka kita dapat menyerahkan rencana kita ke dalam tangan-Nya dan percaya bahwa meskipun jalan untuk mencapai apa yang kita rencanakan terlihat berbeda dari yang kita rencanakan, pada akhirnya Tuhan akan membawa kita ke sana, bahwa Ia akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita (Roma 8:28), dan Ia akan menyertai kita di setiap langkah.

Sebaliknya, jika kita mencoba untuk menempuh jalan kita sendiri, kita mungkin menemukan diri kita dalam berbagai masalah seperti bangsa Israel dan kemudian menemukan diri kita tepat di tempat yang tidak kita inginkan. Yeremia dalam ayat diatas menyesali kebodohan bangsa Israel karena jika mereka kita mau tunduk kepada Tuhan, mereka tentunya dapat terhindar dari konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Hari ini, adakah rencana yang anda pikirkan? Firman Tuhan menyatakan bahwa adalah baik jika anda ingin membuat rencana anda. Tetapi mulailah setiap rencana dengan doa, carilah kehendak Tuhan terlebih dahulu. Buatlah rencana anda berpusat pada kehendak-Nya, mintalah agar rencana anda bisa membawa kehormatan dan kemuliaan bagi-Nya. Dengan itu, anda akan yakin bahwa Tuhan akan menunjukkan jalan dan menetapkan langkah kita menuju ke tempat yang baik.

Pengampunan yang membawa damai

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 8 – 9

Adalah manusia yang tidak bisa berbuat dosa? Tentu tidak ada. Ayat di atas menyatakan bahwa semua orang sudah berdosa. Kita dengan demikian selalu berbuat dosa karena kita adalah orang yang berdosa dari awalnya. Dosa kita bisa muncul dalam segala segi kehidupan kita, baik itu dosa yang terlihat signifikan atau dosa yang dianggap kecil. Itu bukan berarti bahwa hidup kita adalah 100% busuk, tetapi sudah tercemar dengan kebusukan. Begitulah semua manusia sudah cemar di hadapan Tuhan yang mahasuci.

Sebagian orang mungkin berkata bahwa sekalipun manusia yang sejahat apapun, tentu ada sebagian dari hidupnya yang terlihat baik. Itu benar. Sebaliknya, orang tentunya tahu bahwa dalam hidup seseorang yang terlihat baik, ada saja hal-hal yang kurang baik. Sebagian manusia mencoba memperbaiki hidupnya dengan berbuat baik; tetapi karena dosa sudah meracuni hidup manusia, apapun yang mereka perbuat tidak dapat membawa kepada kesucian atau keselamatan. Dosa sudah meracuni hidup dan pikiran kita sehingga apapun yang kita lakukan selalu tercemar oleh dosa yang kita sadari atau tidak kita sadari. Dosa yang berada dalam hidup kta adalah seperti kebusukan yang sangat dalam (radical corruption) sehingga apapun yang kita perbuat tidak dapat memperbaiki hidup kita.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Orang Kristen yang menderita karena teringat akan dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan besarnya kesetiaan dan keadilan Allah melalui penebusan darah Kristus. Seorang yang sudah menerima hidup baru adalah ciptaan yang baru, yang sudah diampuni atas segala dosa yang ada. Mereka dengan bimbingan Roh Kudus akan berubah hidupnya, makin lama makin menyerupai Yesus. Secara pelan atau cepat, setiap orang Kristen sejati akan berubah cara hidupnya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa untuk mengubah hidup kita tidaklah mudah. Dengan tenaga kita sendiri tidaklah mungkin kita bisa menghilangkan pengaruh dosa yang sudah tertanam dalam hidup kita. Untuk itu, setiap hari kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang lemah dan masih bisa berbuat dosa. Hanya dengan pengampunan Tuhan, hidup manusia yang dulunya sudah digolongkan sebagai sampah, bisa terus diperbarui. Dengan demikian, kita yang sudah menerima pengampunan akan dapat merasakan adanya kedamaian dalam hidup karena kita tidak perlu memikirkan apa yang sudah lewat. Lebih dari itu, Tuhan memberikan bimbingan Roh Kudus untuk bisa memperbaiki hidup kita, dan untuk membimbing kita guna menghindari apa yang jahat, hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia.

Karunia keselamatan: gratis, tapi bukan murah

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah. Titus 2 : 12-15

Mengapa sebagai orang Kristen kita harus hidup dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama? Haruskan mereka berusaha hidup dalam kesucian?

Dakam ayat di atas, Paulus menulis kepada Titus bahwa orang Kristen melakukan hal yang baik karena Kristus sudah lebih dulu berkurban untuk mereka. Mereka tentu tidak berusaha untuk berbuat baik guna dapat diselamatkan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar kesucian Allah. Tetapi, karena kasih Tuhan yang begitu besar telah membawa keselamatan, umat Kristen seharusnya mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup baik dan berbuat kebaikan agar orang lain bisa melihat kasih Tuhan dan kemudian mau menerima karunia keselamatan. Pekerjaan yang baik dan hidup baik orang Kristen di dunia ini adalah identik dengan mengajak dunia untuk memuliakan Tuhan. Tetapi hal ini bukanlah mudah untuk dijalankan.

Sebenarnya, ada dua syarat yang diberikan Yesus untuk menjadi murid-Nya (Lukas 14: 25-33). Yang pertama adalah rela meninggalkan keluarga untuk mengikut Yesus. Yang kedua adalah rela mati, baik secara harfiah maupun metaforis (“mati bagi diri sendiri”) untuk mengikut Yesus. Yesus kemudian memberikan dua contoh “menghitung biaya.” Yang pertama adalah contoh seorang pria yang ingin membangun menara tanpa terlebih dahulu menghitung biaya pembangunan menara. Setelah menyadari bahwa dia tidak dapat menyelesaikannya, dia menyerah karena malu dan malu. Yang kedua adalah seorang raja yang bersiap untuk pergi berperang dan memastikan dia bisa bertahan melawan musuh yang lebih unggul. Maksud Yesus adalah bahwa untuk menjadi pengikut-Nya kita harus bersedia berkurban besar. Untuk hidup baik, kita harus mau meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi.

Untuk bisa hidup sebagai orang Kristen yang setia di dunia ini tidaklah mudah. Godaan dan bahaya selalu ada di dunia yang sudah dipenuhi dosa ini; sehingga sering mereka yang ingin untuk hidup baik, bisa gagal untuk menjalaninya. Banyak orang Kristen hidup dalam dua dunia, diluar kehidupan gereja mereka tidak berbeda dengan orang lain. Ada juga orang Kristen yang terlihat baik dalam masyarakat, tetapi tidaklah demikian dalam keluarga sendiri. Banyak orang Kristen yang berbuat baik untuk sesama tetapi tidak mempersembahkan kemuliaan yang diterima kepada Tuhan. Selain itu, ada juga orang Kristen yang kurang bisa melakukan pekerjaan yang baik karena adanya kesibukan dan kesukaran hidup. Hal-hal semacam ini sudah tentu merendahkan nilai karunia keselamatan yang sudah diberikan Tuhan. Walaupun demikian, ada pandangan Kristen duniawi yang memandang bahwa hidup baik adalah hal yang kurang penting bagi orang yang sudah terpilih. Tentu saja, pandangan duniawi seperti ini cukup memikat karena agaknya keselamatan ada tanpa menimbulkan konsekuensi.

Ide kekristenan duniawi pada dasarnya mengajarkan bahwa selama seseorang mengaku beriman kepada Kristus, dia diselamatkan (Roma 10:9), bahkan jika tidak ada ketaatan langsung pada perintah Yesus dan para rasul untuk hidup dalam hidup kesucian. Merekai terpilih bukan karena perbuatan, dan karena itu perbuatan bukanlah faktor penting dalam hidup kekristenan mereka. Ini adalah gagasan bahwa kita dapat memiliki Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tidak harus sebagai Tuhan yang harus ditaati. Orang-orang yang mendukung Kekristenan duniawi, atau “karunia cuma-cuma” seperti yang sering disebut, tidak menyangkal perlunya perbuatan baik (yaitu, hidup kudus) untuk pengudusan, tetapi mereka memisahkan panggilan untuk keselamatan dari panggilan untuk pengudusan (atau pemuridan) .

Teologi Anugerah Murah (Cheap Grace) mengajarkan bahwa orang yang percaya kepada Yesus Kristus “memiliki hidup yang kekal” dan “akan diselamatkan.” Tidak ada yang mempermasalahkan ini. Namun, yang ditentang oleh orang-orang Kristen lainnya bukanlah bahwa keselamatan dan kehidupan kekal adalah pemberian cuma-cuma dari kasih karunia Allah, melainkan ajaran bahwa panggilan keselamatan tidak mencakup panggilan untuk pertobatan dan hidup kudus. Dengan kata lain, teologi Anugerah Murahan membuat doktrin kasih karunia yang gratis atau uma-cuma menjadi doktrin kasih karunia yang murah. Ini adalah kesalahan besar. Kasih karunia Allah memang diberikan secara cuma-cuma kepada orang percaya, tetapi harga yang harus dibayar Yesus adalah sangat mahal. Gratis, tetapi bukan murah.

Jika proses pengudusan dimulai pada saat orang diselanatkan dan perintah Tuhan untuk hidup baik ada dalam Alkitab, sering kali orang tidak sadar akan pentingnya. Dari mana orang Kristen bisa mendapatkan kesadaran untuk hidup baik? Sebagian orang berpendapat bahwa itu mungkin diperoleh dengan bertambahnya usia, dan pengaruh lingkungan, pendidikan dan pengalaman. Benarkah begitu? Ada banyak orang yang sudah lama menjadi anggota gereja, tetapi tidak mengenal pentingnya untuk hidup baik. Bukannya berusaha hidup baik, mereka justru sering mencemooh orang lain yang berusaha hidup dalam kekudusan dan menganggap mereka munafik.

Bagi orang Kristen, apa yang baik selalu datang dari Tuhan dan dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi-Nya dan kebaikan bagi umat-Nya. Dengan demikian, mereka yang penuh dengan hikmat akan mengerti bahwa panggilan keselamatan dan panggilan untuk hidup kudus adalah satu. Mereka yang bijaksana tidaklah menyombongkan keselamatan yang mereka terima, tetapi sebaliknya justru rendah hati, baik hati, tulus hati dan mau memakai apa yang ada dalam hidup mereka untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini kita disadarkan bahwa seyakin-yakinnya kita akan karunia keselamatan dari Tuhan, itu belum lengkap jika kita tidak sadar bahwa karunia keselamatan itu bukanlah sesuatu yang murah, yang tidak menuntut pengurbanan kita. Mereka yang mengabaikan perintahTuhan untuk hidup dalam kekudusan bukanlah orang Kristen yang sejati karena mereka memusatkan hidup mereka kepada keselamatan diri sendiri. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup baik yang penuh kasih harus tetap diusahakan dan dipertahankan sampai berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.