Biarlah engkau kuat dalam batinmu

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Efesus 3: 16 – 17

Besok pagi, pada hari Senin tanggal 17 Februari, kebanyakan universitas di Australia akan memulai tahun ajaran baru yaitu Semester 1, 2020. Bagi para murid baru, minggu depan belumlah saat untuk mulai kuliah, tetapi saat untuk orientasi. Mereka akan diperkenalkan dengan fasilitas dan staff pengajar universitas.

Untuk sebagian besar murid saya, minggu depan masih merupakan minggu santai. Tetapi, bagi banyak dosen minggu itu adalah kesempatan terakhir untuk mempersiapkan bahan ajaran, sebelum mulai memberi kuliah minggu berikutnya. Minggu depan bagi saya adalah minggu kerja keras dan seiring dengan itu ada juga rasa tegang yang muncul dalam hati saya karena adanya perasaan kurang siap.

Sebenarnya, jika anda bisa memilih, manakah yang lebih anda sukai: kelelahan fisik atau ketegangan batin? Banyak orang mungkin memilih kelelahan fisik karena itu lebih mudah mengatasinya. Dengan beristirahat atau tidur, memang kita bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan kelelahan jasmani. Sebaliknya, kelelahan batin tidak mudah untuk dihilangkan. Kita juga tahu bahwa banyak orang yang hancur masa depannya atau goncang hidupnya karena persoalan batiniah atau rohani yang besar, dan yang tidak teratasi.

Jika kita lelah atau sakit secara jasmani, kita mungkin bisa meminta pertolongan orang lain, baik itu secara cuma-cuma atau dengan membayar jasa. Tetapi, jika kita lelah secara batin atau rohani, tidaklah mudah bagi orang lain untuk mengerti keadaan kita atau untuk menolong kita. Kelelahan batin jugalah yang banyak diderita di zaman ini sehingga orang sering kehilangan harapan.

Bukan saja kegiatan di luar rumah yang bisa membebani batin manusia. Kehidupan dalam rumah tangga justru sering membuat orang lelah secara batin dan putus asa. Bagaimana tidak? Istri mungkin tertekan batinnya, tetapi suami tidak menyadarinya. Suami mengalami depresi, tetapi istri tidak dapat menolong. Begitu juga hubungan antara anak dan orangtua bisa membawa tekanan batin yang besar pada kedua pihak.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus yang tercantum di atas, berdoa supaya Tuhan menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan mereka melalui Roh Kudus yang berdiam dalam batin mereka. Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa jika kita mengalami kesulitan hidup dan penderitaan batin dan orang lain tidak dapat menolong kita, Roh Kudus yang ada dalam hati kita akan berdoa untuk kita. Roh Kudus yang merupakan Roh Penolong akan menguatkan kita sehingga kita selalu ingat akan kasih Yesus yang pernah menderita sebagai manusia. Ia adalah Tuhan yang mahakasih dan yang mengerti akan apa yang kita alami dan bisa menolong kita. Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan. Mengapa kita harus berkecil dan bersusah hati jika kita sadar akan kasihNya?

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” Efesus 3: 18

Siapakah aku?

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 1

Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum muda adalah krisis identitas. Menurut ilmu kejiwaan, krisis identitas adalah kegagalan dalam mencapai identitas ego yang umumnya terjadi sewaktu masa remaja. Pada saat itu kaum remaja menghadapi pertumbuhan badan dan perkembangan seksuil. Mereka juga berusaha menyatukan pandangan mereka tentang diri sendiri dan pandangan orang lain tentang mereka. Dalam hal ini, kerapkali mereka merasa bahwa orang lain tidak dapat mengerti tentang keadaan mereka. Karena itu tidaklah mengherankan jika masa remaja bagi mereka terasa membingungkan. Mereka mungkin merasa terkucil dari masyarakat dan hal ini bisa menimbulkan rasa sedih atau marah.

Krisis identitas tidak selalu membuat setiap remaja mengalami masalah. Mereka yang mempunyai orang tua yang bijaksana dan guru yang baik, harus merasa beruntung karena apa yang mereka pelajari bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Sekalipun mereka sering merasa orang lain kurang dapat menyelami hati dan pikiran mereka, perhatian dan kasih yang diterima dari para pembimbing bisa membimbing mereka agar terus tumbuh ke arah kedewasaan.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin pernah juga merasakan krisis identitas. Masyarakat yang tidak mengenal Tuhan sering memandang kita sebagai manusia yang aneh, sok atau munafik. Jika kita berusaha hidup jujur menurut firmanNya, dunia memandang kita aneh karena tidak mau menggunakan kesempatan untuk mencari keuntungan. Jika kita berusaha untuk hidup dalam kebenaran, orang mungkin memandang kita sebagai orang yang sok saleh. Dan jika kita menasihati orang lain agar mengubah cara hidup mereka, mungkin kita dituduh munafik.

Hidup di dunia di antara orang yang tidak berTuhan, yang tidak mengenal Juruselamat Yesus Kristus, dan yang menuruti keinginannya sendiri sering membuat kita bingung. Siapakah kita ini? Mengapa Tuhan menghendaki kita untuk menegaskan adanya perbedaan antara umatNya dan mereka yang tidak mengenal Dia? Bukankah dengan demikian kita justru mengundang banyak musuh, dan menjumpai banyak orang-orang yang tidak menyenangi kita?

Siapakah kita? Ayat di atas menjelaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah, karena kasihNya yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus kita. Karena itu kita tidak boleh ragu akan identitas kita. Sekalipun dunia tidak mengenal kita sebab dunia tidak mengenal Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus, kita tidak boleh ragu atau gentar dalam menjalani hidup kita di dunia. Sebagai anak-anak Allah kita harus bisa bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus untuk menjadi dewasa dalam iman, dan bisa selalu hidup dalam kebenaranNya agar tidak terpengaruh atau terseret oleh arus dunia.

Hidup adalah sebuah perjalanan

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Hidup adalah sebuah perjalanan. Life is a journey. Benarkah? Mungkin mereka yang sekarang ini berada di kapal pesiar Diamond Princess tidak setuju. Sampai saat ini, 3700 penumpang dan awak kapal masih dikarantina oleh pemerintah Jepang di pelabuhan Yokohama karena wabah coronavirus yang sudah menjangkiti lebih dari 200 orang di kapal itu. Karena itu, sejak tanggal 4 Febuari kapal itu tidak diperbolehkan untuk meninggalkan dermaga. Perjalanan yang diharapkan banyak orang, sekarang agaknya sudah kehilangan tujuan.

Mereka yang ingin menikmati perjalanan yang berkesan, mungkin hanya sekali seumur hidup, sekarang harus tinggal terkurung dalam kamar atau dalam kapal setidaknya selama 14 hari. Agak beruntung mereka yang mempunyai kamar yang berbalkon karena mereka masih bisa melihat pemandangan, tetapi bagi mereka yang tinggal di inside cabin, ruang yang di tengah kapal, hanya 4 tembok yang bisa mereka lihat setiap hari. Bagi mereka, hidup bukanlah sebuah perjalanan, tetapi sebuah kurungan.

Alkitab menyatakan bahwa hidup manusia di dunia memang seperti sebuah perjalanan. Itu karena hidup ini harus dijalani setiap orang untuk mencapai tujuan tertentu. Bagi sebagian orang, tujuan hidup selama di dunia adalah sesuatu yang tidak jelas. Bagi orang lain, mencapai tujuan hidup bisa dilakukan dengan santai. Mungkin hidup santai adalah apa yang diinginkan. Sebaliknya, sebagian orang mungkin percaya bahwa tujuan hidup adalah bekerja keras untuk mencapai keberhasilan di dunia. Dalam hal ini, jika tujuan hidup sulit dicapai, rasa sesal dan putus asa mungkin muncul.

Apa sebenarnya tujuan hidup orang Kristen? Orang Kristen yang mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan tentu percaya bahwa manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Mereka sadar bahwa karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya dalam diri Yesus, mereka terpanggil untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Dengan demikian tujuan hidup di dunia bukanlah untuk mencapai keuntungan dan kemegahan diri sendiri.

Hidup umat Kristen adalah suatu bagian perjalanan untuk menemui Tuhan di surga. Karena itu selama hidup di dunia, orang Kristen berusaha memusatkan pandangannya ke masa depan, ke arah persekutuan kekal dengan Tuhan dan seluruh umat percaya di surga. Dengan demikian, mereka berusaha untuk menjalani hidup dalam kebenaran. Ini tidak mudah dilakukan karena sebagai manusia yang tidak sempurna, kerapkali mereka mengalami masalah dan kegagalan.

Paulus dalam ayat di atas menyatakan bahwa ia juga harus berjuang untuk bisa hidup menurut kehendak Tuhan. Mungkin terkadang ia merasa lelah dan jemu karena perjalanan hidup yang berat, dan adanya kegagalan atau penderitaan. Walaupun demikian, ia melupakan apa yang di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya. Apa yang sudah terjadi dibiarkannya berlalu, tetapi dengan bersemangat ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu kemuliaan di surga bersama Allah karena kasihNya dalam Kristus Yesus. Hidup orang percaya memang adalah sebuah perjalanan dalam iman!

Teman sehati sependeritaan

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” 1 Korintus 9: 22

Dalam hidup ini mencari teman yang baik tidaklah mudah. Jika kita sedang berjaya, teman mungkin datang tanpa diundang. Tetapi, jika kita lagi dirundung malang, teman yang dulunya terlihat baik belum tentu mau datang. Karena itulah peribahasa menyebutkan bahwa teman sejati adalah teman dalam penderitaan. A friend in need is a friend indeed.

Menjadi teman sejati bagi orang lain adalah panggilan setiap orang Kristen karena perintah Tuhan kepada umatNya untuk mengasihi sesama manusia. Tetapi ini tidak mudah dilaksanakan dengan cara yang benar.

Kebanyakan orang memilih cara yang paling mudah untuk mengasihi orang lain, yaitu dengan menyumbang atau memberi sesuatu yang mungkin dibutuhkan mereka. Dengan demikian, banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai penolong orang lain karena bisa membantu orang itu secara jasmani. Bagi gereja pun, cara yang termudah untuk mengasihi orang yang di luar gereja adalah dengan memberi secara materiil. Setiap ada kesempatan, jemaat mengumpulkan uang atau barang untuk diberikan kepada mereka yang terlihat miskin.

Mempunyai perasaan simpati adalah sudah seharusnya. Walaupun demikian, Paulus dalam ayat di atas menegaskan bahwa kita sebagai orang Kristen harus mempunyai rasa empati. Baik simpati maupun empati berasal dari kata Yunani pathos yang berkaitan dengan penderitaan dan perasaan. Tetapi kedua kata ini memiliki perbedaan inti: simpati menggambarkan perasan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihan mereka.

Kepada kita firman Tuhan mengingatkan bahwa jika kita ingin bekerja untuk Tuhan dalam membimbing orang lain ke arah yang benar, kita harus bisa menjadi orang yang sehati sependeritaan dengan mereka yang kekurangan, sakit, takut dan tertindas dan bukan hanya bisa mengulurkan tangan kita dari tempat yang tinggi.

Sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk menunjukkan belas kasihan kita untuk mereka yang menderita. Kita harus bisa menempatkan diri dalam keadaan mereka dan mempunyai empati atas kesedihan mereka. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk bisa ikut menggumuli perjuangan mereka agar mereka bisa juga merasakan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Semoga banyak orang bisa menjadi umat Tuhan melalui apa yang baik yang kita lakukan!

Siapa yang benar-benar mengenal kita?

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” Mazmur 139: 1 – 2

Melihat pergaulan antar muda-mudi di Indonesia pada zaman sekarang, kita tentu bisa menyadari bahwa ada banyak hal yang berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman-zaman yang silam. Menurut cerita kakek-nenek, pergaulan muda-mudi di zaman dulu tidaklah sebebas sekarang. Mereka yang dapat mencapai pendidikan tinggi mungkin mempunyai kesempatan untuk berkenalan dan berpacaran, tetapi banyak orang lain mendapatkan jodohnya lewat bantuan mak comblang. Karena tidak adanya kesempatan untuk mengenal calon pasangannya, orang tentunya harus mau bekerja keras untuk mengerti jalan pikiran dan sifat pasangannya melalui hidup dan pengalaman sehari-hari sesudah menikah.

Di zaman modern ini, sepasang muda-mudi setidaknya mungkin berpacaran selama setahun sebelum menikah. Diharapkan bahwa selama itu masing-masing pihak akan bisa mengerti sifat dari yang lain. Walaupun demikian, sungguh mengherankan bahwa angka perceraian di zaman ini justru sangat tinggi. Kebebasan dan kesempatan bagi muda-mudi untuk bisa saling mengenal ternyata belum tentu bisa membuat mereka menjadi sehati dalam perkawinan mereka. Apa yang diharapkan sebagai jangka waktu yang cukup untuk membuat mereka sehati dan sepikiran ternyata sering tidak menjamin kelanggengan hubungan mereka. Dalam hal ini, perceraian seringkali terjadi karena satu pihak merasa tidak puas atau tidak senang dengan perlakuan atau tindak tanduk yang lain. Orang yang dulunya terasa paling bisa mengerti perasaan pasangannya, ternyata bukanlah seperti yang diharapkan.

Hidup manusia di zaman modern memang bisa terasa sepi dan hampa karena jarang orang yang bisa memahami diri kita. Dalam keadaan suka, memang ada banyak teman di sekitar kita yang bisa diajak untuk menikmati apa saja. Tetapi jika kita berada dalam kesukaran, sulitlah bagi kita untuk mendapatkan orang yang benar-benar bisa kita sandari. Orang yang terdekat, seperti orangtua, suami, istri dan anak pun ternyata terbatas kemampuannya dalam hal menolong kita. Mereka seringkali tidak dapat mengerti perasaan dan keluh kesah kita. Inilah yang bisa membuat kita merasa sedih dan merana; tetapi itu semua terjadi karena kita menaruh harapan kepada manusia dan bukannya Tuhan.

Pemazmur di atas menyatakan bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenalnya; Tuhan tahu kalau ia duduk atau berdiri, dan Ia mengerti pikirannya dari jauh. Tuhan mahatahu, dan lebih dari itu Ia peduli atas keadaan umatNya. He cares. Tuhan bukanlah Oknum yang baru mau memandang umatNya jika mereka mempersembahkan sesuatu yang berharga kepadaNya. Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Tuhan juga bukan Tuhan yang hanya mengasihi orang yang selalu taat kepadaNya. Sebaliknya, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih yang sudah memberikan seorang Juruselamat kepada manusia, agar mereka yang percaya kepadaNya bisa menerima keselamatan. Tuhan bisa melihat apa yang kita lakukan, dan Ia mengerti apa yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan jugalah yang selalu berusaha untuk membimbing seluruh umatNya ke arah yang benar.

Saat ini, adakah kesedihan dalam hati anda karena anda seorang diri  berjuang dalam hidup? Adakah perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaan dan masalah anda? Firman Tuhan berkata bahwa jika manusia tidak dapat mengerti jalan pikiran anda, Tuhanlah yang bisa melihat apa yang anda pikirkan dan kuatirkan. Ia yang mahakuasa selalu mau menyelidiki dan mengenal siapa anda. Ialah yang bisa menolong anda, mengampuni anda dan mengembalikan anda ke jalan yang benar, agar anda bisa hidup berbahagia didalam Dia.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

Makin lama makin kuat

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4: 16 – 17

Tahukah anda bahwa salah satu penyakit yang jarang disadari orang adalah osteoporosis? Osteoporosis adalah kondisi saat kualitas kepadatan tulang menurun. Kondisi ini membuat tulang menjadi keropos dan rentan retak. Osteoporosis umumnya baru diketahui setelah ditemukan retak pada tulang, setelah pasien mengalami jatuh ringan. Retak pada pergelangan tangan, tulang pinggul, dan tulang belakang adalah kasus yang paling banyak ditemui pada penderita osteoporosis.

Seiring dengan pertumbuhan badan, sejak lahir kepadatan tulang manusia ikut bertambah sampai umur 25 tahun. Dalam tahun-tahun berikutnya, kepadatan tulang manusia cenderung tidak berubah sampai mencapai umur 50 tahun. Setelah itu tulang manusia mulai turun kepadatannya dan tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan manusia untuk menghentikan proses penuaan ini selain memperlambat proses penurunan kepadatan tulang dengan diet sehat dan olahraga. Proses penuaan dan kematian memang tidak bisa dihindari siapa pun.

Menjadi tua bagi banyak orang adalah sebuah penderitaan karena kemampuan fisik yang menurun. Bagi yang masih tergolong muda, tidaklah mudah menghadapi kenyataan bahwa orangtua mereka yang dulunya kuat dan sehat dan sekarang mulai terlihat lemah dan membutuhkan pertolongan mereka untuk berbelanja atau melakukan aktivitas yang lain. Rasa sedih mungkin muncul di hati kita mengapa keadaan lahiriah orang yang kita cintai harus mengalami kemerosotan, tetapi kita mungkin harus bersyukur jika mereka bertambah tua tetapi tetap mempunyai rasa damai dan  syukur. Memang banyak orang tua yang mengerti the art of growing old gracefully. Mereka yang tahu hal ini  biasanya bisa menerima keadaan dan tetap dapat menemukan apa yang baik dalam hidupnya.

Memang, jika kesehatan jasmani itu penting, kesehatan rohani itu ternyata jauh lebih perlu terutama ketika tubuh sudah mulai melemah. Kebahagiaan ternyata tidak identik dengan tubuh yang tegap dan tampang yang memikat. Mereka yang merasa bahwa masa muda adalah masa yang terbaik bagi mereka mungkin tidak sepenuhnya keliru. Masa muda adalah masa yang terbaik jika mereka tidak dapat menemukan apa yang baik di masa tua. Masa muda adalah masa yang terbaik jika orang tidak pernah memikirkan bahwa dengan bertambahnya umur mereka harus bisa mengalami pertumbuhan rohani.

Dalam ayat di atas Paulus menulis bahwa ia tidak menjadi sedih sekalipun manusia lahiriahnya semakin merosot, sebab manusia batiniahnya diperbaharui setiap hari. Ia makin hari makin dekat dengan Tuhannya. Sekalipun sering ia mengalami penderitaan fisik, kemajuan dalam hal kerohanian membuat dia makin sadar bahwa ia makin dekat kepada kemuliaan yang dijanjikan Tuhan di surga. Ini jauh lebih besar dari penderitaannya di dunia. Dengan kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan jauh lebih pendek dari hidup kekal yang ada di surga, Paulus tidak merasa bahwa hidup di dunia adalah sesuatu yang harus disesali atau diisi dengan keluh kesah.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk lebih  memusatkan perhatian kepada hidup kerohanian kita. Mempunyai hidup batiniah yang baik adalah mutlak diperlukan agar kita makin mengenal Tuhan yang sudah menyatakan diriNya kepada kita dan makin bisa mengerti akan kasihNya. Manusia lahiriah kita mungkin makin merosot, dan tantangan kehidupan mungkin membuat tubuh jasmani kita lemah, tetapi manusia batiniah kita haruslah tumbuh semakin kuat. Sekalipun banyak tantangan dalam hidup kita, iman kita akan semakin besar dalam persekutuan rohani kita  dengan Tuhan yang mahakasih.

Dari manakah datangnya kekuatanku?

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” 2 Korintus 4: 8 – 10

Berita media tentang wabah coronavirus pagi ini agaknya membuat gundah banyak orang di seluruh dunia. Bukan saja di China, virus ini juga makin menyebar dan memakan korban jiwa di berbagai negara. Memang hal semacam ini tidak bisa dianggap “monopoli” suatu bangsa saja. Di dunia ini selalu ada hal-hal yang membuat manusia dimana pun menderita, baik tua atau muda, lelaki atau wanita, miskin atau kaya.

Jika manusia dimana saja bisa jatuh dalam penderitaan, ada sebuah pertanyaan yang mungkin menggelitik hati nurani kita: apa gunanya menjadi pengikut Kristus? Bagi sebagian orang Kristen, pertanyaan ini mungkin sering ditepis dengan keyakinan bahwa sekalipun orang lain mengalami bencana, orang yang beriman tidak mungkin mengalami hal yang sama. Karena itu mereka mungkin percaya bahwa setiap penderitaan adalah hukuman atas dosa yang dilakukan orang. Di lain pihak, Tuhan selalu memagari umatNya dari semua kesulitan, penderitaan dan bencana. Ini adalah keyakinan yang keliru.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah dan sering mengalami penderitaan dalam hidup mereka. Dalam segala hal mereka ditindas, tetapi mereka tidak putus asa. Mereka dianiaya, namun tidak merasa ditinggalkan sendirian; mereka dihempaskan, namun masih bertahan hidup.

Hal yang sangat berat dalam hidup murid Tuhan pada waktu itu, tentunya masih terjadi di zaman ini sekalipun mungkin lain penyebabnya. Dalam hal ini, masyarakat yang cenderung individualistis saat ini seringkali membuat orang Kristen mudah mengalami hal-hal yang mengguncangkan iman mereka: Tuhan terasa jauh dan teman sehati sulit ditemukan.

Apa yang harus kita lakukan ketika ada masalah besar di depan kita? Bagaimana kita dapat bertahan dalam menghadapi penderitaan, kekurangan, ketakutan, dan rasa sakit? Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya senantiasa mengingat kematian Yesus di dalam hidupnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata.

Paulus dan rekan-rekannya selalu sadar bahwa Yesus sudah pernah mengalami penderitaan yang besar di kayu salib dan bahkan merasakan bagaimana sakitnya ketika Ia dipisahkan dari Allah Bapa. Walaupun Yesus merasakan derita yang luar biasa, Ia yakin akan kasih Bapa dan karena itu Ia tetap setia sampai akhir.

Dengan kebangkitanNya Yesus membuktikan bahwa maut tidak berkuasa atasNya. Bagi Paulus dan rekan-rekannya, Yesus adalah Tuhan dalam mati dan kebangkitanNya. Karena itu, dalam menghadapi segala penderitaan, mereka percaya bahwa pada akhirnya mereka akan menang seperti Yesus dan memperoleh mahkota kehidupan.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1: 12