Bergumul dalam menantikan anugerah Tuhan

Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Kejadian 32: 28

Pernahkah anda menonton pertandingan gulat? Pertandingan gulat (wrestling) yang ada di TV seringkali hanyalah untuk konsumsi mereka yang senang menonton pertunjukan atau entertainment.  Pertandingan gulat yang asli menghadapkan dua orang yang benar-benar bertanding dan bukan hanya berpura-pura bertanding. Karena itu, dalam pertandingan gulat seperti itu cedera sering terjadi.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa Yakub sudah bergumul dengan seseorang dan Yakub menang. Pergumulan Yakub mungkin bisa dibayangkan seperti pertandingan gulat, dimana Yakub pada akhirnya mengalami cedera pada sendi di pangkal pahanya. Yakub sejak itu timpang, dan pengalaman itu membuatnya menjadi manusia yang berbeda sikap hidupnya.

Dengan siapakah Yakub bergumul pada waktu itu? Yakub bergumul dengan orang yang tidak dikenalnya, tetapi ia sadar bahwa orang itu utusan Tuhan. Pergumulan Yakub bukan sekedar perkelahian, tetapi lebih menyerupai permohonan yang sungguh-sungguh agar ia diberkati. Yakub orang yang nampaknya kurang jujur dan egois itu, mengalami pergumulan hidup yang tidak dapat diatasinya dengan kekuatan sendiri. Karena itu, ketika ia mendapatkan kesempatan, ia benar-benar mau bergumul untuk mendapat pertolongan Tuhan.

Banyak penafsir Alkitab yang menulis bahwa orang yang bergumul dengan Yakub adalah malaikat utusan Tuhan. Tetapi banyak juga yang menafsirkan bahwa Yakub bergumul dengan Tuhan Yesus yang belum turun ke dunia sebagai manusia. Apapun yang sebenarnya terjadi, Yakub bergumul dalam menghadapi Tuhan ketika ia berada dalam situasi yang benar-benar kritis atau desperate. Jika Yakub tidak mendapat berkat Tuhan, ia tidak akan bisa melihat hari depan dengan keyakinan.

Ayat diatas menggambarkan Yakub yang “menang” dalam pergumulannya dengan Tuhan. Secara fisik, Yakub kalah dengan cedera berat. Tetapi secara rohani, Yakub mendapat kemenangan hanya karena Tuhan dengan belas kasihan dan karuniaNya melihat bahwa Yakub benar-benar membutuhkan berkat penyertaanNya. Pergumulan Yakub menunjukkan imannya yang percaya bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber keselamatan dan kekuatannya.

Pagi ini, adakah masalah kehidupan yang berat yang harus anda hadapi? Apakah anda sudah menggumulkan semua itu dengan Tuhan? Apakah anda mempunyai iman bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan yang mahakasih? Tahukah anda bahwa Tuhan ingin melihat kesungguhan dalam hati kita untuk menjadi umatNya yang bergantung kepadaNya dalam setiap keadaan? Seperti Yakub yang sudah diberi kemenangan dan kedamaian oleh Tuhan, Tuhan bisa memberikan kemenangan atas kekuatiran dan kedamaian hidup kepada mereka yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang memegang kemudi kehidupan manusia.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Adakah kekuatiran di hati anda?

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa, dunia menjadi satu tempat yang penuh dengan semak duri (Kejadian 3: 17 – 19). Walaupun demikian, manusia eksis selama berabad-abad dan hidup sampai sekarang sekalipun banyak makhluk lain yang musnah. Jelas bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan yang istimewa memang diberi kemampuan yang khusus untuk survive oleh Tuhan.

Dengan majunya peradaban dan ilmu pengetahuan, manusia makin mendominasi bumi dan isinya. Tetapi, seiring dengan kemajuan itu, manusia juga makin mampu untuk mencelakai sesamanya dan makin mampu untuk membuat orang lain menderita. Apa yang terjadi pada Yesus pada akhir hidupNya adalah sebuah contoh bahwa manusia tidak segan-segan menggunakan segala cara yang kejam untuk mencapai maksud mereka.

Para murid Yesus pun mengalami berbagai penderitaan. Diantara apa yang tercatat dalam sejarah gereja, Matius dibunuh dengan pedang setelah disiksa terlebih dahulu. Yakobus anak Zebedeus, meninggal karena dipenggal di Jerusalem. Bagaimana dengan Petrus? Ia meninggal dengan cara disalibkan terbalik dengan kepala menghadap kebawah. Andreas juga meninggal dengan cara disalib seperti Petrus di Yunani. Thomas meninggal karena dihujani tombak, dan sebelumnya dia sempat dilempar kedalam perapian, tetapi tidak meninggal. Matias, yang merupakan Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal karena dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Apa yang membuat umat Kristen bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan bahaya dan lebih tabah dari yang lain? Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma menyebutkan kunci kekuatan umat Kristen yaitu kasih Allah. Bahwa tidak ada kuasa atau keadaan yang akan dapat memisahkan umat Kristen dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus sendiri disiksa dengan kejam dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero pada abad pertama. Ia adalah rasul yang paling lama mengalami penyiksaan di penjara dan karena itu kebanyakan suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.

Kunci keberanian orang Kristen adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dalam keadaan apapun. Bagi umat Kristen yang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, kasihNya yang mereka rasakan hari demi hari dalam hidup mereka membuat mereka selalu tabah dan tidak takut menghadapi goncangan dalam hidup. Sekalipun keadaan di dunia mungkin mencekam, mereka sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebagian kecil dari hidup keseluruhan. Bagi mereka, hidup yang ada sesudah hidup di dunia adalah yang paling penting.

Pagi ini, suasana disekitar kita mungkin terasa suram dan kekuatiran mulai muncul dalam pikran kita. Apa yang akan terjadi pada diri kita, dan apa pula yang akan dihari-hari mendatang? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan Tuhan tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas akan masa depan kita. Tetapi, apa yang pasti adalah kasih dan kuasaNya. Tuhan yang mahakasih selalu memberi kita kekuatan dan Ia yang mahakuasa pasti memberi apa yang terbaik untuk kita. Dengan itu kita boleh yakin bahwa pada akhirnya rencana agung Tuhan akan terjadi dan itu adalah baik untuk kita.

Hal mencari kehendak Tuhan

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Tanggal 17 April yang akan datang bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan umum. Sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Mei, Australia akan mengalami hal yang serupa. Pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi yang paling nyata dalam sebuah negara, untuk mana manusia harus bersyukur karena adanya kemerdekaan setiap warga untuk menyatakan pendapatnya. Kemerdekaan atau freedom yang dipunyai sebuah bangsa, seringkali hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar. Karena itu, pemilihan umum adalah suatu pesta demokrasi yang harus kita nikmati bersama.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendakiNya? Apakah yang sekarang ada sudah merupakan kehendakNya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerapkali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Memang manusia tidak mungkin tahu keseluruhan kehendakNya (overall will).

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Seorang yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumahtangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggungjawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firmanNya setiap hari.

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak (sovereign will) untuk seluruh ciptaanNya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetap dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendakNya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggungjawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umatNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apakah kita tahu apa yang kita perbuat?

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34

Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.

Ayat diatas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak  orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan disamping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap bisa berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekedar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa  disebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.

Tahukah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia.  Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam kesombongan bahwa kita adalah orang-orang baik yang sudah terpilih. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.

 

Keinginan yang bisa membawa kehancuran

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.

Gang Kelinci itu nampak manis dari sudut nostalgia, tetapi mungkin bukanlah tempat tinggal yang disukai orang zaman sekarang. Dengan kemajuan ekonomi dan bertambahnya daya beli, mereka yang mampu tentunya ingin tinggal di daerah yang mewah di jalan yang bisa dilewati mobil besar. Bukan saja di Jakarta, di kota besar di seluruh dunia, termasuk Sydney dan Melbourne di Australia, orang ingin tinggal di gedongan.

Bagi kebanyakan manusia memang apa yang kurang baik atau kurang nyaman umumnya selalu ingin dihindari atau diperbaiki. Itu lumrah saja. Walaupun demikian, untuk mencapai tujuan hidup itu orang sering mencari jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Karena itu, banyak orang Kristen yang gaya hidupnya tidak berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Mereka yang hanya ingin mencari keuntungan, mungkin tidak takut kepada hukum negara, tidak mempunyai etika yang baik, dan tidak merasa bersalah jika orang lain dikorbankan. Tuhan bagi mereka bukanlah Tuhan yang harus dihormati, dan orang lain bukanlah sesama insan yang harus dikasihi.

Menjalani hidup sebagai orang Kristen memang tidak mudah. Kita tahu bahwa dunia mempunyai prinsip “siapa cepat dia dapat“. Tetapi jika orang yang ingin untuk mendapatkan keberhasilan kemudian mengambil jalan yang terlihat paling mudah, disitulah kehancuran hidup bisa muncul. Ada banyak orang yang ingin memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan, tetapi apa yang kemudian diperoleh adalah hidup yang jauh dari Tuhan. Hidup yang rukun dan damai a la Gang Kelinci diganti dengan hidup yang terisi kekejaman, ketidak-jujuran dan keserakahan.

Setiap manusia pada akhirnya bertanggung jawab atas hidup dan tingkah laku mereka kepada Tuhan. Melalui ayat diatas firman Tuhan pagi ini memperingatkan bahwa jika prinsip kehidupan kita adalah mencari kesuksesan materi, besar kemungkinan bahwa kita akan terjebak dalam dosa-dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Mengikut Tuhan bukanlah hal yang mudah dilakukan karena itu berarti menentang arus dunia. Manusia ingin hidup nyaman dan karena itu sebagian orang Kristen mengejar kesuksesan yang dianggap sebagai bukti kasih Tuhan. Tetapi ini bukanlah apa yang diajarkan Alkitab. Sebab itu, sekalipun banyak orang melakukannya kita tidak boleh terpikat olehnya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus bisa memilih apa yang terbaik untuk masa depan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Apa pesan kita kepada mereka yang sakit?

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1: 2

Jatuh sakit adalah hal yang umum. Semua orang pernah jatuh sakit, dan sebagian malahan pernah masuk ke rumah sakit. Sudah tentu semua orang tidak menyukai penyakit, dan karena itu jika ada orang yang sakit berat, tentu ada pertanyaan mengapa itu terjadi. Apakah adanya penyakit adalah suatu pernyataan kedaulatan Tuhan? Ataukah adanya penyakit merupakan bukti adanya dosa si penderita? Mungkinkah Tuhan memakai penyakit sebagai suatu sarana untuk mencapai kehendakNya? Apakah Tuhan menghendaki adanya penyakit, ataukah Ia tidak peduli? Bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka yang jatuh sakit?

Penyakit sudah tentu adalah sesuatu yang buruk, suatu konsekuensi yang harus dihadapi seluruh umat manusia yang jatuh kedalam dosa. Penyakit dapat terjadi pada siapa saja, umat Kristen atau bukan. Penyakit tidak memandang bulu, kaya atau miskin, tua atau muda.

Pada pihak yang lain, Tuhan mungkin mendatangkan penyakit untuk memperingatkan atau menghukum orang yang dengan sengaja menentang apa yang dikehendakiNya atau menghajar mereka yang hidup menurut jalan dunia. Tuhan juga bisa memakai penyakit untuk mengajar umatNya untuk lebih taat dan lebih bersandar kepadaNya. Memang, adanya penyakit juga bisa digunakan untuk mendemonstrasikan kedaulatan Tuhan. Ini bisa kita baca dalam Perjanjian Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru.

Pada tahun 1980an, ketika virus HIV mulai menyebar, banyak orang Kristen yang percaya bahwa virus itu didatangkan Tuhan sebagai hukuman untuk kelompok tertentu. Beberapa tahun kemudian, banyak orang terkena virus itu melalui transfusi darah, kontaminasi alat operasi dan lain-lain. Hal ini kemudian memicu riset untuk mencari obat-obat yang bisa mencegah atau menyembuhkan. Mereka yang percaya bisa melihat bahwa sekalipun ada malapetaka, Tuhan tetap memegang kontrol.

Di zaman modern ini kita tahu adanya berbagai jenis penyakit lain seperti kanker yang merajarela. Semua itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Jika Yesus masih hidup di dunia dan sempat mengunjungi rumah sakit anak-anak, Ia mungkin ikut menangis bersama anak-anak kecil yang menderita leukemia atau penyakit lainnya. Penyakit adalah sesuatu yang tidak disenangi Yesus dan karena itu selama di dunia, Ia menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan itu Yesus juga menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat atas penyakit dan bahkan kematian.

Pagi ini kita mungkin memikirkan teman atau saudara yang sedang sakit. Kita mungkin tidak tahu mengapa itu harus terjadi. Tetapi jatuh sakit adalah bagian kehidupan di dunia dan umat percaya pun tidak luput darinya. Apa yang kita tahu ialah Tuhan ingin agar seluruh umat manusia untuk hidup sehat secara jasmani dan rohani.

Yesus turun ke dunia untuk membawa keselamatan jiwa kepada mereka yang percaya kepadaNya. Tetapi Ia juga menyembuhkan banyak orang sakit tanpa pilih kasih. Dengan demikian Ia membuktikan bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, adalah Tuhan yang mahakasih yang ingin menyelamatkan siapa saja yang datang kepadaNya.

Sikap kita kepada yang sakit haruslah sama dengan sikap Yesus Kristus kepada mereka yang sakit pada waktu Ia masih di dunia. Ia tidak memakai penderitaan manusia untuk menggaris-bawahi aspek hukuman atau kedaulatan Tuhan. Sebaliknya, Ia mengabarkan kabar baik (good news) bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mau membebaskan manusia dari kurungan dosa. Dialah yang memegang kontrol dan yang bisa memberi kekuatan dan kesembuhan jasmani dan rohani sesuai dengan kehendakNya. Semoga kita dapat membagikan kasih Kristus kepada mereka yang sedang sakit dengan ikut mendukung mereka baik dalam doa maupun bantuan.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 16

Apakah kita mempunyai kebebasan?

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 15

Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi di sebuah cafe. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Walaupun sebagian orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa manusia hanya bisa menerima apa yang “sudah ditentukan” Tuhan.

Adalah hal yang menarik untuk diamati bahwa penginjil Billy Graham selama hidupnya selalu berusaha untuk mengabarkan injil agar siapa saja yang percaya kepada Yesus mau mengambil keputusan untuk mengikut Dia. Mengikut Yesus keputusanku, begitu bunyi lagu yang sering dinyanyikan sewaktu ada kebaktian kebangunan rohani Billy Graham. Tetapi sudah barang tentu, siapapun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia seringkali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan seringkali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kehendak bebas kita akan bisa membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Markus 16: 24