Warisan apa yang ingin Anda berikan?

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 13

Warisan adalah sesuatu yang diberikan atau ditinggalkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka, umumnya sesudah mereka tidak membutuhkannya. Di negara maju, orang tua menentukan jumlah warisan kepada anak-anak mereka melalui surat wasiat yang disahkan ahli hukum. Dalam hal ini, seharusnya tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan mengenai hak mewarisi harta orang tua. Tetapi, pada zaman Perjanjian Lama situasi sangat berbeda. Alkitab memberikan pedoman khusus untuk mewarisi properti keluarga: anak laki-laki tertua harus mewarisi dua bagian (Ulangan 21:15-17); jika tidak ada anak laki-laki, anak perempuan baru boleh mewarisi tanah ayahnya (Bilangan 27:8). Tidak mengherankan bahwa sering pertentangan sengit terjadi antar saudara yang berebut warisan setelah orangtua mereka meninggal dunia. Gara-gara warisan fisik, hubungan keluarga bisa berantakan.

Yesus dalam ayat-ayat di atas menerima permintaan seseorang yang dicurangi oleh saudaranya yang tidak mau membagi warisan orangtua mereka. Tetapi Yesus menolak permintaan itu dengan alasan bahwa Ia bukanlah hakim atau pengantara yang diangkat untuk menyelesaikan masalah mereka. Memang itu betul, tetapi sebenarnya Yesus tidak tertarik untuk menjadi hakim atau pengantara dalam hal warisan jasmani. Sebaliknya, Ia berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Yesus menyatakan bahwa memperoleh harta warisan duniawi belum tentu akan membawa kebahagiaan. Dengan demikian, orang tua yang memberi warisan kepada anak-anaknya belum tentu menambah kebahagiaan mereka.

Perjanjian Baru memang tidak berbicara tentang warisan jasmani, melainkan warisan rohani. Karena itu, Yesus meremehkan pentingnya warisan duniawi, dengan menjelaskan bahwa hal itu justru dapat menyebabkan keserakahan dan obsesi terhadap kekayaan. Jauh lebih baik menyimpan harta di surga. Warisan kita, seperti bangsa Israel, berasal dari Allah (Kisah Para Rasul 20:32). Dan, seperti Abraham, kita tidak akan menerima warisan kita dalam hidup ini (1 Petrus 1:4). Kalau begitu, apakah warisan yang dapat kita harapkan? Ayat 1 Korintus 2:9 mengatakan betapa ajaibnya, bahwa “yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia, semua itu telah disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” Dan Wahyu 21 menggambarkan langit baru dan bumi baru di mana Tuhan akan tinggal di antara umat-Nya dan menghapus air mata, ratapan, rasa sakit, dan kematian. Warisan rohani dari Allah adalah untuk kita setelah kita meninggalkan dunia ini.

Sebagai orang percaya, kita tidak lagi terikat pada Hukum Perjanjian Lama. Sebaliknya, kita harus mengikuti dua perintah terbesar – mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Matius 22:34-36). Perjanjian Lama menawarkan contoh-contoh praktis tentang bagaimana memenuhi perintah-perintah utama. Dalam hal warisan, itu termasuk keharusan orang tua untuk memastikan keluarganya terpelihara setelah kematiannya. Di zaman modern, ini tidak selalu berarti tanah, atau harta benda. Ini dapat mencakup menanamkan karakter yang baik, memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang cukup, atau melatih mereka dalam suatu profesi. Namun, kebanyakan orang yang berpikir tentang orang tua yang meninggalkan warisan untuk anak-anaknya, itu berkaitan dengan warisan yang berupa harta benda.

Alkitab dengan jelas mendukung gagasan tentang orang tua yang mewariskan harta benda/kekayaan/properti mereka kepada anak-anak mereka. Pada saat yang sama, orang tua hendaknya tidak merasa berkewajiban untuk menabung segalanya untuk warisan anak-anak mereka, dengan mengabaikan keperluan diri mereka sendiri dalam prosesnya. Orang tua tidak juga boleh menggunakan prinsip nepotisme untuk dengan cara curang membuka kesempatan kepada anak-anaknya untuk memperoleh jabatan atau pendidikan yang sebenarnya lebih pantas dimiliki orang lain.

Seharusnya orang tua tidak perlu merasa diharuskan atau berkewajiban untuk memberikan warisan. Tuhan tidak menuntut orang tua untuk memberi warisan jasmani. Tetapi, jika memang mungkin, itu harus menjadi tindakan kasih, yang dengan jujur menjadi cara terakhir untuk mengungkapkan kasih dan penghargaan orang tua kepada anak-anak. Namun, yang paling penting adalah tanggung jawab orang tua untuk memastikan anak-anak mengetahui warisan yang akan mereka terima jika mereka mengikuti Kristus. Orang tua harus mengajar anak-anak mereka tentang harapan Allah (Ulangan 6:6-7; Efesus 6:4) dan membawa anak-anak mereka kepada Kristus (Markus 10:14). Dengan cara ini, orang tua dapat menyokong anak-anak mereka sebaik mungkin selama hidup di dunia, sehingga mereka berjalan dalam kebenaran Tuhan.

Sekarang, jika Anda adalah orang tua, warisan apakah yang Anda prioritaskan untuk anak-anak Anda? Mungkin Anda ingin bekerja keras sampai hari tua supaya makin besar warisan Anda yang bisa diberikan kepada mereka. Sebaliknya, mungkin juga Anda merasa bahwa mereka tidak memerlukan warisan besar, tetapi justru perlu bagi mereka untuk bisa bekerja dan bertanggungjawab atas diri mereka sendiri. Mungkin juga Anda memberi contoh yang baik bagi anak-anak Anda untuk bisa menolong orang lain, ketka Anda membagi apa yang Anda punyai dengan orang-orang yang bukan sanak Anda. Atau mungkin juga Anda mengajarkan bahwa hidup manusia bukan untuk dipusatkan pada harta, tetapi pada usaha untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Apa pun yang Anda pilih, firman Tuhan mengingatkan:

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16: 26

Fokus hidup kita dalam tahun yang baru

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” 1 Yohanes 2: 15

Ayat di atas adalah singkat dan seharusnya mudah dimengerti. Selain itu, ayat ini seharusnya terdengar sangat tegas. Ada dua pilihan hidup: dunia atau surga. Mengasihi dunia berarti mengasihi apa yang apa yang fana, mengasihi surga berarti mengasihi apa yang kekal. Jika kita mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, itu berarti kita berfokus pada segala kenikmatan semu yang ditawarkannya. Jika kita mengasihi apa yang surgawi, itu berarti fokus hidup kita adalah untuk memperoleh apa yang ada di surga, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada orang beriman melalui kasih Bapa yang mengirimkan Anak-Nya yang tunggal: Yesus Kristus. Singkatnya, fokus hidup kita adalah untuk bisa meniru Yesus.

Tidak dapat dipungkiri, Yesus adalah tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia modern. Sekalipun perkembangan agama Kristen agak menurun di dunia Barat, hasil survei internet beberapa tahun yang lalu membuktikan bahwa orang tetap menempatkan Yesus sebagai orang yang paling penting di dunia. Mengapa begitu? Apakah Yesus bisa dibandingkan dengan tokoh-tokoh dunia yang sukses seperti Bill Gates, pendiri Microsoft, atau Elon Musk, boss pabrik mobil listrik Tesla yang kaya raya? Bukankah Yesus adalah anak tukang kayu yang mengembara selama kurang lebih 3 tahun dengan hanya berjalan kaki dan bahkan tidak mempunyai rumah?

Mungkin ada yang berpendapat bahwa cara hidup Yesus tidaklah bisa dibandingkan dengan tokoh-tokoh dunia yang lain. Dengan demikian, manusia seharusnya meniru cara hidup dan cara kerja tokoh-tokoh dunia selama hidup di dunia, dan hanya memikirkan ajaran Yesus jika mereka ingin ke surga setelah meninggalkan dunia. Karena itu, selama hidup di dunia, banyak orang yang memusatkan perhatiannya pada kenyamanan duniawi. Tetapi, ayat di atas menyatakan bahwa jika kita mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam diri kita. Kita tidak akan termasuk dalam kategori orang yang dikasihi Tuhan; dan tanpa kasih Tuhan, kita tidak bisa ke surga.

Bagaimana kita bisa hidup befokus kepada Yesus Kristus? Berapa lama kita harus hidup untuk mengasihi Tuhan? Paulus memberi contoh yang baik untuk kita. Ia hidup untuk Kristus sampai saat terakhir:

“Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4:6-8

Yesus adalah Anak Allah dan karena itu Ia adalah Tuhan; tetapi sewaktu ada di bumi, ia juga sepenuhnya manusia seperti kita. Yesus adalah orang yang sukses dalam hidupnya yang relatif singkat di dunia. Kesuksesan Yesus terletak pada ketaatan-Nya kepada Allah Bapa, dalam menjalani berbagai penderitaan sampai Ia disalibkan sebagai ganti dosa manusia. Kesuksesan Yesus inilah yang membuat begitu banyak orang yang merasa bahwa Yesus adalah tokoh yang sudah membawa pengaruh terbesar atas manusia di sepanjang sejarah dan karena itu banyak orang yang ingin tahu lebih banyak tentang Dia. Kesuksesan Yesus ini jugalah yang  mendatangkan penghargaan dari Allah Bapa yaitu kemuliaan tertinggi di surga.

Jika ukuran kesuksesan bagi Yesus adalah bagaimana Ia bisa taat kepada sang Bapa sehingga Ia dan Bapa adalah satu, agaknya mengherankan bahwa diantara pengikut Yesus di zaman ini masih ada yang berpendapat bahwa kesuksesan hidup mereka dapat dicapai dan diukur dengan mendapat kekayaan, kepandaian, kekuasaan dan bahkan keberhasilan anak-cucu! Dengan apa yang mereka peroleh di dunia, yang mereka anggap sebagai kesuksesan, mereka mengharapkan penghargaan dan pujian dari orang lain dan bukannya kasih dan penghargaan dari Allah.

Ayat diatas menunjukkan bahwa jika kita mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, maka kasih akan Bapa tidak ada didalam kita. Ini menurut ukuran Yesus adalah kegagalan, seperti yang tertulis dalam Alkitab:

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” 1 Yohanes 2: 16-17.

Hari ini kita diingatkan bahwa dalam hidup di dunia, adalah penting bagi umat Kristen untuk bekerja keras, tetapi itu bukan dengan segala cara untuk memuaskan keinginan duniawi kita. Bukan juga untuk kepuasan diri dan mata kita sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Mungkin juga dalam hidup kita ada berbagai tantangan, masalah dan penderitaan. Tetapi apapun yang terjadi, hidup kita tetap bisa dipakai untuk memuliakanTuhan karena itulah kesuksesan menurut ukuran Yesus.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Arti tinggi hati dan rendah hati

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Tahukah Anda bahwa istilah tinggi hati dan rendah hati adalah suatu ungkapan yang khas Indonesia? Arti kata tinggi hati menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBI) adalah sombong atau angkuh, dan orang yang memiliki sifat dan sikap ini biasanya dijauhi orang lain. Tetapi mengapa hati bisa dikatakan tinggi? Saya kira penggunaaan kata “hati” adalah menunjuk pada ciri kepribadian atau karakter yang ada dalam diri manusia. Jadi ada orang yang baik hati (kind-hearted) dan ada yang jahat (evil-hearted). Tetapi dalam bahasa Inggris tidak ada istilah yang seupa dengan tinggi hati dan rendah hati; yang ada adalah istilah proud (sombong) dan humble (sederhana, tidak sombong).

Sebenarnya, arti sombong itu cukup banyak. Beberapa contoh sikap tinggi hati atau kesombongan:

  • Sering memamerkan harta atau kepandaiannya
  • Selalu merasa lebih hebat dari orang lain
  • Sulit berempati kepada orang lain
  • Egois dan suka memaksakan kehendak
  • Sering tidak peduli atas lingkungan sekitarnya
  • Suka emosi, sakit hati, hingga dendam.

Kesombongan adalah dosa dan sebagian orang Kristen mengenalnya sebagai dosa yang teratas diantara tujuh dosa utama yang mematikan (seven deadly sins). Memang sejak awalnya manusia cenderung untuk sombong; Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa karena mereka ingin mempunyai pengetahuan seperti Allah. Kesombongan adalah seperti penyakit menular. Mungkin kita sadar bahwa kesombongan adalah hal yang tidak baik, tetapi, jika kita mendengar seseorang memyombongkan milik, anak atau prestasinya, cepat atau lambat kita akan ikut-ikutan menyombongkan diri. Bagaimana tidak? Banyak orang yang percaya bahwa iman akan mendatangkan berkat Tuhan. Dengan demikian, dalam satu suasana yang memungkinkan satu orang Kristen membanggakan karunia Tuhan atas hidupnya, orang Kristen yang lain akan ikut-ikutan “bersaksi” atas kemakmuran atau kenyamanan yang dimiliki mereka.

Kesombongan (dalam bahasa Inggris: pride dan dalam bahasa Latin: superbia) atau kecongkakan/keangkuhan sebenarnya adalah awal segala dosa. Tokoh gereja Thomas Aquinas pernah menyatakan bahwa setiap manusia yang meninggalkan Tuhan berawal dari kesombongannya, karena ia yang merasa super, ingin mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain ataupun Tuhan.

Kesombongan adalah hasrat berlebihan ketika manusia menilai dirinya terlalu tinggi. Manusia menjadikan dirinya sendiri ‘tuhan’ dengan penolakan untuk menundukkan akal budi dan keinginannya kepada Tuhan, termasuk tunduk kepada mereka yang berkewajiban untuk memimpinnya. Sebaliknya, mereka yakin bahwa Tuhan dan orang lain akan menuruti kehendak mereka. Dengan demikian, kesombongan seringkali menimbulkan masalah dan kehancuran dalam keluarga, gereja, masyarakat dan bahkan negara.

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal yang pertama, adalah contoh dari apa yang menjadi lawan kesombongan, yaitu kerendahan hati. Dalam ayat diatas dikatakan bahwa Yesus selama hidup di dunia, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, bahkan mati di kayu salib sebagai ganti manusia yang berdosa.

Kerendahan hati adalah sifat dan sikap yang sulit dipertahankan dalam hidup, terutama karena orang yang sedemikian seolah-olah adalah orang yang selalu membiarkan dirinya “diinjak-injak” orang lain dan dianggap kurang beriman. Bagaimana Yesus, Anak Allah, dapat mempunyai karakter yang lemah lembut dan rendah hati? Karena Ia taat kepada perintah Bapa-Nya; Yesus mengasihi Bapa dan sadar akan tugas-Nya untuk menyelamatkan manusia. Seperti itu jugalah, kita bisa menjadi orang yang rendah hati jika kita benar-benar taat kepada Tuhan dan sadar bahwa tugas kita di dunia ini adalah untuk memuliakan Tuhan dengan cara yang serupa dengan apa yang dikerjakan Yesus. Dengan kerendahan hati kita, kasih Tuhan akan lebih nyata dicurahkan dalam hidup kita, karena Tuhan mengasihi orang yang tunduk kepada-Nya dan menghormati sesamanya.

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” 1 Petrus 5: 5

Bangga atas apa yang terbaik

“Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” 2 Tesalonika 2:13

Hal berbangga atas apa yang sudah terjadi adalah sesuatu yang umum dan sering kita jumpai dalam hidup ini. Orang mungkin bangga akan keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan apa yang sudah diperolehnya atau yang sudah dicapai oleh anak cucu dan kerabatnya. Tetapi, setiap orang harus berhati-hati dalam membanggakan semua itu. Kebanggaan yang dipamerkan kepada orang lain bisa dipandang sebagai kesombongan jika terlalu sering diutarakan, apalagi jika dengan cara yang berlebihan. Memang, beda antara kebanggaan dan kesombongan itu terkadang sangat tipis, sehingga sulit untuk memisahkan keduanya.

Bolehkah kita bangga? Tentu saja boleh, tapi untuk orang Kristen ada syaratnya. Kita biasanya bangga akan apa yang kita anggap baik, yang benar-benar terjadi pada diri kita atau anggota keluarga kita. Walaupun demikian, sebagai orang Kristen kita seharusnya bangga akan apa yang benar-benar baik dan yang belum terjadi. Apakah yang benar-benar baik, yang belum terjadi dalam hidup orang percaya? Bagaimana kita harus merasa bangga untuk apa yang belum terlihat? Tentunya kita harus tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana manusia bisa tahu akan apa yang benar-benar baik, yang tidak bisa hilang, dan yang akan terjadi pada masa depan?

Sering kali kebanggaan seseorang diutarakan atas hal yang sudah terjadi, karena orang itu dengan cerdik sudah menggunakan kesempatan, kemampuan dan kebebasan yang ada padanya. Mungkin ia bangga karena tidak ada orang atau hal lain yang bisa menghalanginya atau menyainginya. Kebanggaan semacam ini tidak lain adalah kebodohan karena apa yang dibanggakan hanyalah untuk diri sendiri dan tidak kekal.

Sering juga orang merasa bangga atas apa yang terjadi pada diri orang lain, seperti para pemimpin atau tokoh masyarakat yang lain karena apa yang sudah dicapai mereka, sekalipun orang itu tidak mempunyai andil atau hubungan langsung atas keberhasilan mereka. Jelas kebanggaan semacam itu hanyalah kebanggaan yang kosong saja karena apa yang dipandang baik terjadi pada orang lain.

Kapan orang Kristen boleh bermegah atau bangga:

a. Kebanggaan boleh ada jika kita sendiri berhasil melakukan hal yang baik di mata Tuhan.

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Galatia 6: 4

b. Kebanggaan kita atas apa yang baik yang dicapai orang lain, boleh ada hanya jika kita ikut berjuang, dan mempunyai hubungan yang erat, dengan orang itu.

“Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.” 2 Korintus 7: 3-4

c. Bagi orang Kristen, kebanggaan tidak dapat dipisahkan dengan anugerah Tuhan. Segala yang baik datang dari Tuhan. Karena itu, kebanggaan yang hanya merupakan usaha untuk menunjukkan keberhasilan diri sendiri sering merupakan kesombongan dan ketidakjujuran. Inilah sesuatu yang dibenci Tuhan.

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8: 13

d. Kebanggaan kita haruslah didasari dengan kesadaran bahwa tanpa Tuhan, segala sesuatu yang baik tidak akan terjadi. Kita adalah manusia fana yang punya banyak kelemahan. Dunia ini dan semua isinya sudah ternoda dosa. Sekalipun kita tahu bahwa kita harus berbuat baik, apa yang tidak baik justru apa yang kita lakukan. Karena itu, dalam segala apa yang kita banggakan, baiklah kita mengingat bahwa Tuhan sudah memberikan berkat dan menunjukkan kasih-Nya kepada kita.

“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan” 2 Korintus 10:17

e. Kebanggaan yang paling utama untuk umat Kristen adalah tentang anugerah Tuhan yang terbesar dalam hidup kita di masa mendatang, yaitu hidup di surga. Oleh karena kasih-Nya kita sudah diselamatkan, sekalipun itu bukan karena usaha kita. Sekalipun kita belum bisa melihat atau merasakan kehidupan surgawi selama di dunia, kita bisa membayangkan kemuliaan yang akan kita terima karena dengan iman kita bisa percaya akan apa yang tidak terlihat. Ini sudah tentu berbeda dengan harta duniawi yang bisa terlihat, diakui dan dibanggakan sebagai hasil perbuatan kita, tetapi yang tidak kekal dan tidak berharga di mata Tuhan.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6:19-21

f. Apa yang baik, yang kita terima adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, kebanggaan kita hanyalah untuk memuliakan Tuhan, agar makin banyak orang yang percaya kepada-Nya.

Beginilah firman TUHAN: ”Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23-24

Hari ini, marilah kita memikirkan hidup kita sampai saat ini. Memasuki tahun 2023 ini, apakah yang Anda banggakan dari apa yang sudah terjadi dalam hidup Anda pada tahun yang lalu? Apakah yang menjadi tujuan hidup Anda pada tahun 2023 dan seterusnya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, tetapi dengan iman kita bisa mengerti bahwa karunia keselamatan yang sudah kita terima adalah kabar baik yang harus kita sampaikan ke seluruh dunia.

Semoga Anda benar-benar berbahagia dalam tahun yang baru

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Sebagai seorang dosen, saya sudah terbiasa bekerja seorang diri di ruang kantor saya. Tetapi, setiap bulan Desember dan Januari saya sering merasa agak “kesepian” karena banyaknya rekan saya yang mengambil cuti selagi murid-murid masih berlibur panjang. Dengan demikian, suasana di universitas terlihat sepi dan lenggang karena jarang terlihat orang yang berlalu-lalang. Walaupun demikian, keadaan saat ini adalah cocok untuk memikirkan apa yang perlu dilakukan dalam tahun yang baru ini, agar lebih banyak keberhasilan yang bisa dicapai. Selain itu, bagi banyak orang, saat ini belumlah terlambat untuk memikirkan bagaimana mereka bisa lebih berbahagia daripada tahun yang lalu.

Sungguh menarik bahwa untuk memperoleh atau menambah kebahagiaan, di zaman modern ini orang tetap tertarik pada berbagai resep yang sudah ada sejak lama, seperti resep awet muda, resep umur panjang, resep keharmonisan rumah tangga, resep kesuksesan dalam bisnis dan lain-lain. Dalam hal ini, resep hidup bahagia juga sering dibaca orang di berbagai media. Penulis resep bahagia bisa saja seorang psikolog, motivator, atau pemuka agama.

Memang pada umumnya kebahagiaan dimasukkan dalam hal yang abstrak, yang muncul dalam alam pikiran atau hati manusia. Para penulis itu pada umumnya setuju bahwa kesuksesan, kekayaan atau pun kesehatan belum tentu membawa kebahagiaan. Walaupun demikian, sering juga didengar dalam pengajaran orang-orang tertentu bahwa kesuksesan jasmani dan materiel adalah tanda kesuksesan rohani, dan dengan demikian kesuksesan dan materi adalah tanda kebahagiaan dalam hidup bersama Tuhan.

Hari Natal yang baru kita rayakan menunjukkan bahwa Yesus dilahirkan dalam suasana yang sangat sederhana, untuk tidak dikatakan miskin. Yesus juga dibesarkan dalam keluarga yang tidak berada, yang memperoleh nafkah dari usaha bertukang kayu. Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke mana-mana dengan berjalan kaki di jalan yang berdebu dan kotor. Tetapi Yesus dan murid-murid-Nya berhasil, sukses, dalam mengabarkan jalan keselamatan. Yesus jugalah yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat kita peroleh di dunia jika kita terpukau pada harta dan kesuksesan. Harta dan kesuksesan adalah sementara, karena itu pastilah bukan kunci maupun tanda kebahagiaan hidup dalam Tuhan. Sebaliknya, jika kita terpukau pada kesuksesan jasmani, kerohanian kita akan mengalami kemunduran.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6: 21

Pagi ini, saya mendapat ucapan selamat tahun baru dari seorang rekan yang baru kembali dari liburannya. “Selamat tahun baru, semoga Anda memperoleh kesuksesan dan kemakmuran tahun ini”, tulisnya dalam sebuah email kepada semua rekan sekantor. Saya tersenyum seorang diri. Inikah arti kebahagiaan dalam hidup manusia?

Mengapa orang tidak percaya kepada Tuhan?


Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, – sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Mazmur 63:5-9

Mengapa banyak orang tidak percaya kepada Tuhan? Pertanyaan ini mungkin sudah ada sejak Adam dan Hawa. Sebelum mencoba menjawab pertanyaan ini, perlu ditegaskan bahwa Tuhan di sini adalah Tuhan menurut iman Kristen. Tuhan yang mahakuasa, tetapi juga yang mahakasih. Tuhan yang mengurbankan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus, untuk menebus manusia yang berdosa.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Adalah kenyataan bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang meragukan iktikad Tuhan. Mereka tidak yakin akan maksud baik dan kasih Tuhan ketika Tuhan mengizinkan mereka untuk memakan semua buah yang ada di taman Eden, kecuali buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Karena itu, dengan mudah mereka terkecoh oleh bujukan iblis sehingga mereka diusir Tuhan dari taman Eden dan kehilangan kesempatan untuk hidup untuk selamanya bersama Tuhan. Mereka kemudian harus berjuang dalam dunia yang penuh semak duri.

Apakah Tuhan sebenarnya mengasihi Adam dan Hawa? Ataukah Ia hanya menciptakan mereka sebagai obyek kemahakuasaan dan otoritas-Nya? Ini sering dipertanyakan orang, dan sebagian orang Kristen percaya bahwa Adam dan Hawa diciptakan Tuhan semata-mata untuk kemuliaan-Nya. Itu kurang benar. Tuhan menciptakan manusia karena Ia adalah Tuhan yang kreatif dan senang menciptakan apa yang baik. Ia juga ingin agar manusia bisa merasakan kasih-Nya. Berbeda dengan makhluk lain, manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, untuk bisa mengasihi Dia dan sesama. Selain itu, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia memberi mereka pekerjaan yang baik untuk dilakukan, agar mereka dapat menyadari kebaikan Tuhan dan mencerminkan citra-Nya dalam cara hidup dan tanggung jawab mereka yang peduli terhadap seisi dunia dan sesama manusia.

Kejatuhan manusia membuktikan bahwa manusia gagal menyadari kasih Tuhan. Pada pihak lain, kejatuhan manusia membuktikan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Sebelum Adam dan Hawa di usir dari taman Eden, Tuhan memberi mereka pakaian yang membuktikan bahwa Tuhan mengasihi manusia dalam bentuk jasmani mereka. Tuhan juga menjanjikan datangnya seorang Juruselamat, Yesus Kristus, yang mengalahkan kuasa iblis sehingga manusia dapat kembali hidup bersama Dia untuk selamanya. Ini membuktikan adanya kasih Tuhan kepada manusia secara rohani. Jelas bahwa kasih Tuhan ada selama manusia hidup didunia, dan tetap ada setelah manusia meninggalkan dunia ini. Kasih Tuhan adalah kunci kehidupan manusia, sekarang dan selamanya.

Sekalipun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dalam hal memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mendengarkan panggilan-Nya, tidak semua orang akhirnya menjadi pengikut-Nya. Tetapi, bagi orang-orang yang mau mendengar firman-Nya, firman Tuhan serupa dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15). Mereka menjadi orang yang benar-benar beriman, karena mereka menyambut uluran tangan Tuhan. Mereka mengakui adanya Tuhan yang mahakasih selama hidup di dunia.

Mereka yang tidak dapat merasakan kasih Tuhan mungkin pernah mengalami kepahitan hidup sehingga tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang karena hidup dalam kenyamanan, merasa bahwa semua kesuksesan mereka adalah karena jerih payah mereka sendiri, atau karena jasa orang lain. Bagi orang-orang ini, kasih Tuhan sangatlah sulit untuk diterima karena keyakinan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak akan mengubah atau mempengaruhi keadaan mereka. Mereka lupa bahwa jika tidak karena kasih Tuhan, manusia tidak akan bisa hidup di dunia yang dengan seluruh alam semesta, tetap berjalan dengan teratur sesuai dengan pemeliharaan Tuhan (Roma 1: 20).

Mereka yang percaya kepada Kristus, adalah orang-orang yang dengan pertolongan Roh Kudus bisa merasakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Mereka yang sudah menerima kasih Tuhan, kemudian bisa hidup dalam rasa syukur dalam keadaan apa pun. Baik dalam suka maupun duka, orang Kristen sejati adalah orang yang bisa merasakan kasih Tuhan, seperti doa Daud dalam Mazmur 63: 5-9 di atas. Orang Kristen sejati adalah orang yang merasa cukup dan selalu memuji Tuhan selama hidup. Mereka ingat kepada Tuhan sepanjang hari, merenungkan kasih-Nya, dan menyadari bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan mereka.

Mengapa orang tidak percaya kepada Tuhan? Jawabnya sekarang sudah jelas. Ketidakpercayaan adalah karena mereka dengan sengaja menolak kenyataan tentang adanya kasih Tuhan dalam hidup mereka. Dalam Alkitab ada tertulis bahwa barangsiapa tidak mengasihi orang yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya (1 Yohanes 4:20). Senada dengan ayat ini, kita bisa mengerti bahwa jikalau seorang tidak mau menyadari adanya penyertaan Tuhan selama hidupnya di dunia, maka ia tidak mungkin bisa percaya akan kasih Tuhan yang ada di surga. Apakah Anda benar-benar sudah dapat merasakan kasih Tuhan dalam hidup Anda, baik dalam kesusahan maupun kegembiraan? Semoga Roh Kudus menolong kita untuk bisa bersyukur atas hidup kita, yang sekarang dan yang akan datang.

Semoga Anda yakin sudah diselamatkan

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Pertanyaan penting untuk Anda di awal tahun 2023 ini adalah: Apakah Anda yakin sudah diselamatkan? Ini tentunya adalah pertanyaan untuk orang Kristen yang masih hidup di dunia, karena konsep karunia keselamatan dari Tuhan untuk bisa ke surga hanya ada dalam agama Kristen. Pertanyaan ini perlu kita pikirkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun ini. Jadi, jika Anda bukan orang Kristen, atau tidak berniat menjadi orang Kristen, Anda tidak perlu menjawab pertanyaan yang nadanya kurang nyaman ini.

Pada agama-agama lain, keselamatan harus dicapai dengan usaha manusia untuk berbuat baik; dan karena itu orang mungkin lebih mudah mengatakan “si anu akan ke surga karena hidupnya yang saleh”. Sebaliknya, bagi umat Kristen, keselamatan hanya karena iman, dan karena itu kita tidak bisa memastikan apakan seseorang yang kita kenal sudah diselamatkan, karena dari ayat di atas, iman yang dimiliki seseorang hanyalah Tuhan yang tahu benar atau tidaknya.

Mungkin kita beranggapan bahwa iman yang benar akan berbuah, dalam arti menghasilan berbagai hal yang baik, yang bisa dilihat atau dirasakan orang lain. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, mungkin pandangan kita akan tidak berbeda dengan agama lain yang mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh perbuatan baiknya. Kita harus ingat bahwa menurut iman Kristen, semua orang seharusnya menerima kebinasaan karena semunya sudah berdosa.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Bagi orang Kristen, Rasul Paulus menyatakan bahwa keselamatan bukan karena kesalehan, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan (Efesus 2: 8). Tetapi, rasul Paulus juga menyatakan bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Ini berarti bahwa kita tidak boleh merasa santai karena sudah diselamatkan, tetapi dengan serius kita mau hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Memasuki tahun yang baru ini, apakah Anda yakin sudah diselamatkan?

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas, marilah kita lebih dulu belajar dari apa yang di uraikan oleh rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 2: 1-6 dan 1 Yohanes 3: 5-10.

Dalam 1 Yohanes 2: 1-6, Yohanes menulis:

“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.  Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Dan dalam 1 Yohanes 3: 5-10 tertulis:

“Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.”

Banyak orang Kristen yang merasa sudah dipilih oleh Tuhan, dan karena itu mereka yakin sudah diselamatkan berdasarkan keyakinan itu. Mereka yang yakin bahwa manusia tidak mempunyai bagian dalam anugerah keselamatan, biasanya mempunyai “keyakinan karena keyakinan” , bukan “keyakinan karena iman”. Karena mereka yakin sudah dipilih, mereka yakin sudah diselamatkan. Mereka agaknya hidup dalam impian, karena tidak memikirkan apa yang harus ada dalam hidup orang yang diselamatkan, yaitu peerubahan hidup karena adanya pembaharuan budi (Roma 12:2). Tidak ada seorang pun yang tahu apakah Tuhan sudah memilih si A atau si B, tetapi orang bisa melihat apakah si A atau si B sudah melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan.

Anugerah keselamatan tidak akan membawa datangnya kesombongan, karen keselamatan yang benar adalah semata-mata karena anugerah Tuhan. Jika kita sudah diselamatkan, kita akan merasa bahwa sebagai orang yang tidak layak, kita sudah menerima kasih Tuhan; dan karena itu, kita akan berharap bahwa banyak orang lain juga akan diselamatkan. Dalam hal ini, bagaimana kita bisa tinggal diam? Mereka yang memenangkan hadiah besar misalnya, tidak akan tinggal diam. Mereka akan melompat, bersorak gembira dan mungkin memberi tahu semua rekannya. Begitu juga, kita yang menerima kasih Tuhan yang sangat besar tidak akan tinggal diam, kita akan selalu bersyukur kepada-Nya, mau membalas kasih-Nya dengan menaati firman-Nya. Karena kasih Tuhan yang ada dalam hidup orang yang diselamatkan, mereka juga bisa hidup dengan menawaarkan kasih itu kepada orang lain. Mereka akan menjadi orang yang ingin membantu orang lain dalam perjuangan hidupnya, terutama dalam perjuangan untuk menurut kehendak Tuhan, yaitu untuk hidup sesuai dengan perintah-Nya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa pengurbanan Kristus adalah cukup untuk menghapus dosa semua umat Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan perlu untuk kuatir jika kita menghadap Tuhan, karena Yesuslah yang akan menjadi pembela kita. Walaupun demikian, hal ini bukanlah “surat izin” umtuk berbuat dosa atau lebih parah lagi, untuk tetap hidup dalam dosa lama. Manusia selama hidup tetap berbuat dosa, tetapi umat Kristen harus sadar atas apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak. Umat Kristen harus makin lama makin sadar apa yang dikehendaki Tuhan, sehingga mereka akan mau berjuang untuk hidup suci. Mereka yang mengabaikan hal yang tidak baik dalam hidup dan bahkan meneruskan kebiasaan yang buruk, mungkin adalah orang yang tidak diselamatkan.

Sebagai orang Kristen adalah normal jika kita semakin sensitif atas cara hidup kita. Jika kita berbuat dosa, kita akan menyesalinya, merasa malu, dan bukannya bersukacita karena Yesus pasti akan mengampuni semuanya. Bukan merasa bahwa semua dosa yang kita lakukan setiap hari adalah sepele, karena kita sudah dipilih Tuhan. Penyesalan akan dosa adalah baik, tetapi bagi sebagian orang perasaan menyesal ini sangat besar dan menghantui hidup mereka. Mereka yang yakin sudah diselamatkan tidak pernah merasa bahwa adanya dosa yang muncul setiap hari adalah tanda bahwa mereka bukan orang Kristen yang baik, atau bukan orang yang terpilih. Tuhan tidak mengharapkan agar kita menjadi sempurna, tetapi agar berusaha menjadi sempurna karena Bapa di surga adalah Tuhan yang sempurna. Mereka yang sudah diselamatkan tahu bahwa Roh Kudus sudah diberikan kepada umat Kristen karena Tuhan tahu kelemahan kita. Roh Kuduslah yang membimbing hidup kita, menghibur kita dan menguatkan kita dalam hidup yang penuh tantangan di dunia ini. Sekali lagi, kita tidak boleh mengklaim bahwa kita sudah diselamatkan karena cara hidup kita.

Bagaimana jawab Anda?

Hari ini, jika Anda masih merasa sulit untuk menjawab pertanyaan di atas, mungkin pertanyaan ini bisa membantu Anda: Sudahkah Anda merasakan kasih Yesus dalam hidup Anda? Jika Anda bisa yakin bahwa kasih-Nya ada dalam hidup Anda, dan Anda bisa merasa tabah dan cukup dalam suka maupun duka, kasih-Nya bisa 100% dipastikan sudah membasuh dosa-dosa Anda. Mereka yang tidak dapat merasakan kasih Yesus selama hidup di dunia, adalah orang yang tidak bisa memahami kasih Kristus yang sudah mati di kayu salib. Itu karena tidak ada hal yang lebih besar dari kasih-Nya yang sudah menebus orang percaya. Jika Anda bisa bersyukur akan kasih-Nya, Tuhan jugalah yang akan memelihara tubuh, jiwa dan roh Anda sampai saat perjumpaan dengan-Nya.

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5:24

Apakah Tuhan bertanggungjawab atas segalanya?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.” Roma 11: 33

Baru saja memasuki tahun 2023, kemarin terjadi kecelakaan di Dunia Laut (Sea World) di Gold Coast, Australia. Dua helikopter milik Sea World bertabrakan di udara ketika helikopter yang mau mendarat bersenggolan dengan helikopter lain yang baru berangkat. Helikopter yang baru saja terbang kemudian jatuh dan menewaskan pilot bersama 3 orang penumpangnya. Helikopter yang lain rusak tapi masih bisa mendarat dengan selamat. Dari ketiga penumpang yang tewas itu ada pasangan suami istri dari Inggris yang baru setahun menikah dan seorang ibu dari Sydney, sedangkan yang luka berat adalah seorang ibu dan anaknya, serta seorang anak lain. Berkenaan dengan hal ini, saya sempat terbangun tadi malam dan memikirkan satu masalah yang sering diperbincangkan di kalangan umat Kristen: Mengapa ada hal-hal yang buruk dan jahat? Mengapa ada penderitaan dan ketakutan? Mengapa ada malapetaka? Apakah Tuhan bertanggungjawab atas hal-hal itu?

Memang dunia ini sudah jatuh dalam dosa dan tidaklah mengherankan bahwa ada saja kejadian-kejadian yang mengerikan di segala penjuru dunia. Tetapi, apakah Tuhan yang membuat semua itu? Jika Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak menghentikan hal-hal yang jahat dan berbagai malapetaka, bukankan Ia juga bersalah? Mengapa Tuhan membiarkan manusia, termasuk umat-Nya, menderita dan bahkan mati dalam kesengsaraan di dunia ini? Jika Tuhan itu mahakasih, bukankah Ia harus melindungi anak-anak-Nya setiap saat dan dalam semua keadaan? Jika Tuhan tidak bertangungjawab atas hal-hal itu, bukankah Ia adalah Tuhan yang jahat? Jika Ia tahu bahwa hal yang jahat akan terjadi tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, bukankah Ia bukan Tuhan yang mahakuasa?

Selanjutnya, kita tahu bahwa Tuhan membimbing umat Israel keluar dari tanah Mesir dan selama itu umat Israel menerima berbagai hukuman Tuhan dan bangsa-bangsa lain disekitarnya juga mengalami kejadian serupa. Jika itu untuk menggenapi rencana Tuhan untuk penyelamatan, apakah Tuhan tetap melakukan hal-hal yang serupa di zaman ini? Mungkinkah Tuhan mahakuasa dan mahaadil sehingga setiap hal yang jahat adalah hukuman-Nya kepada mereka yang mengalaminya?

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit dijawab dan tidak seorangpun yang tahu jawaban apa yang 100% benar. Roma 11: 33 diatas seharusnya dapat menyadarkan bahwa kita tidak mungkin bisa mengerti jalan pikiran dan rencana Tuhan sepenuhnya. Walaupun demikian, dengan mempelajari Firman, kita setidaknya akan mengerti beberapa pokok yang penting.

Memang di dunia yang penuh dosa ini, hidup manusia adalah berat dan penuh perjuangan. Alam semesta dengan semak duri dan berbagai bencana alam adalah bagian kehidupan manusia. Selain itu, karena manusia adalah mahluk yang lemah, ia juga sering membuat kesalahan dalam mengolah dan memelihara apa yang ada di bumi. Juga membuat kekeliruan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu tidak mengherankan kalau ada berbagai bencana, perang dan kecelakaan di dunia karena adanya kelemahan dan kesalahan manusia. Umat percaya boleh bersandar kepada Tuhan untuk memberi bimbingan dan perlindungan, tetapi karena hidup seluruh manusia di dunia adalah seperti lalang dan gandum yang hidup dalam satu lahan, siapapun dapat mengalami bencana yang berbagai ragam bentuknya, terutama jika pimpinan dan masyarakat membuat kekeliruan kolektip yang besar.

Bencana juga menunjukkan keterbatasan manusia secara fisik maupun moral. Manusia bisa membuat kekeliruan secara jasmani maupun rohani. Dengan demikian, setiap orang yang mengalami bencana di dunia belum tentu lebih besar dosanya dari yang lain. Tapi untuk anak Tuhan, adanya bencana justru membuka kemungkinan adanya keajaiban Tuhan yang terjadi dalam hidup atau nurani mereka dan juga dalam hidup orang lain. Bagi mereka yang belum percaya, adanya bencana memberi kesempatan untuk menyadari bahwa hanya Tuhan yang mahakuasa dan mahasempurna.

Hidup orang percaya juga selalu dalam incaran iblis, yang ingin menghancurkannya. Ayub adalah contoh yang nyata bahwa hidup orang-orang Kristen mungkin mendapat serangan iblis sedemikan rupa sehingga iman mereka benar-benar mengalami ujian berat. Tetapi  bencana yang terjadi bukanlah berasal dari Tuhan, sekalipun itu terjadi dengan seizin Tuhan. Tuhan tahu kekuatan Ayub dan Ia tidak mebiarkan Ayub dicobai lebih dari kekuatannya. Kitapun harus yakin bahwa seperti Ayub, kita harus tetap teguh dalam iman untuk memenangkan pergulatan hidup seperti itu. Selain itu, dalam menghadapi tantangan kehidupan, kita seharusnya bisa saling menolong agar nama Tuhan makin dipermuliakan.

Hari ini biarlah kita bisa meyakini bahwa Tuhan kita baik. Ia tidak mendatangkan atau membuat bencana untuk umat manusia. Tuhan ‘bertanggungjawab’ dalam kasih-Nya yang memberikan kesempatan kepada seluruh umat manusia untuk bisa mengambil keputusan dan kemampuan memilih apa yang baik selama mereka hidup dengan bimbingan-Nya. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan anak-Nya untuk menebus dosa mereka yang percaya. Tuhan jugalah yang menggerakkan umat-Nya untuk bisa mengasihi mereka yang tertimpa bencana atau dalam kesusahan. Karena itu, Tuhanlah yang menuntut tanggung jawab kita dalam hal mendengarkan suara-Nya dan atas bagaimana kita menggunakan hidup kita.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Tahun baru, tekad baru

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Apa arti setahun? Setahun bagi seseorang mungkin berisi banyak hal yang signifikan, tapi orang lain mungkin berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun demikian, bagi semua orang, baik tua maupun muda, datangnya tahun baru jelas menambah usia. Manusia manapun akan bertambah tua. Dimulai pada saat kelahiran, seorang bayi tumbuh menjadi seorang anak kecil, anak remaja, orang muda, orang dewasa, orang berumur dan kemudian orang lanjut usia, sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Walaupun itu sudah seharusnya, tidak semua orang akan mengalami seluruh tingkat usia itu. Ada orang yang belum tua tetapi sudah tidak beserta kita, ada pula orang yang karena sakit, menjadi tua sebelum waktunya.

Masa muda biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik, yang memberi kesenangan, kebanggaan dan kepuasan pribadi. Seolah seluruh dunia ada untuk dinikmati oleh diri sendiri. Dengan bertambahnya usia, manusia umumnya mulai belajar untuk hidup bukan bagi dirinya sendiri, terutama setelah berkeluarga. Namun dengan bertambahnya usia, hidup seringkali diisi dengan kesibukan mencari ilmu, harta, kesuksesan atau nama. Kesenangan yang dicapai melalui jerih payah seolah bisa memberi makna kehidupan selama masih bisa bekerja. Padahal hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang seharusnya bisa membuat orang percaya merasa bahagia dalam hidupnya.

Keluarga dan persahabatan baik secara nyata atau maya bisa juga menjadi suatu kenikmatan. Waktu yang 24 jam sehari sering terasa kurang untuk bisa memberi perhatian yang cukup kepada sanak kerabat dan teman. Selain itu, karena kesibukan sehari-hari dan adanya berbagai aktivitas dan hobi, tidak ada waktu yang bisa dipakai untuk melayani Tuhan. Padahal soal mengasihi Tuhan itu seharusnya lebih penting dari yang lain, terutama di masa depan. Tuhan dan kasih-Nya tetap ada sewaktu perhatian sanak dan teman sudah hilang.

Selama setahun, Tuhan sudah menyertai kita. Tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik,Tuhan melindungi kita sehingga kita tetap bisa hidup sampai saat ini dan siap memasuki tahun yang baru. Lebih-lebih lagi, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Walaupun begitu besar kasih-Nya kepada manusia, kebanyakan orang menerima kasih Tuhan itu sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya, dan mudah melupakannya. Lebih mudah untuk dilupakan daripada melupakan kenangan manis bersama teman-teman di tahun yang baru lalu.

Sekalipun kita masih bisa menyambut datangnya tahun baru kali ini, adalah kenyataan hidup bahwa akan ada satu saat dalam hidup kita dimana kedatangan tahun baru tidak lagi dapat memberi kegembiraan. Mungkin saat itu terjadi sesudah kita menginjak usia tua, tetapi mungkin juga sewaktu kita masih muda. Pada saat itu, dukungan sanak kerabat dan teman tidaklah dapat memberi kekuatan dan semangat, dan apa yang ada terasa hampa. Kalaupun kekayaan dan fasilitas masih ada, mungkin kita sudah tidak dapat menggunakannya.

Hari ini, kita harus menerima kenyataan bahwa tahun 2022 sudah menghilang dan hanya menjadi kenangan. Tahun sudah berganti, tetapi kita tiak tahu pasti apakah itu akan membawa kebahagiaan. Walaupun demikian, jika kita memang beriman, kita akan yakin bahwa tahun yang baru ini akan membawa kebaikan bagi anak-anak Tuhan. Karena itu, biarlah kita sadar bahwa selagi kita masih bisa, kita harus makin dekat kepada Dia dan menuruti frmat-Nya. Kita harus sadar bahwa jika kita tidak terbiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, dan jika kita tidak terbiasa berbincang-bincang dengan Tuhan, atau tidak mau mempelajari firman-Nya, kita akan mengalami kesunyian yang luar biasa karena Tuhan akan terasa jauh dari kita dalam keadaan yang menguji iman kita di masa depan.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37: 23-24

Menyambut tahun baru dengan bersyukur

“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” Mazmur 28: 7

Beberapa jam lagi tahun baru akan datang. Hari besar yang ditunggu-tunggu sejak datangnya hari Natal akan segera tiba. Tahun baru akan dirayakan oleh Kiribati, Samoa, kemudian negara-negara di sekitar Selandia Baru, lalu Australia, Indonesia dan seterusnya, sesuai dengan posisi mereka di bumi. Bersama dengan itu berbagai harapan, resolusi dan doa diucapkan manusia untuk 365 hari yang akan datang.

Dalam merayakan tahun baru, banyak orang yang berpesta-pora dan makan-minum untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang telah lalu dan menyambut datangnya tahun yang baru. Sekalipun banyak negara masih terancam resesi, mereka tetap merayakan tahun baru dengan segala acara dan pesta kembang apinya. Begitu juga orang yang mampu tentunya ingin merayakannya dengan semeriah mungkin. Tetapi, didalam semua kemegahan itu, mungkin manusia lupa bahwa tidak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dalam tahun yang baru.

Berbeda dengan ucapan selamat hari Natal yang berisi pesan-pesan mengenai sukacita dan damai, kebanyakan ucapan selamat tahun baru secara tradisionil berisi harapan untuk keberhasilan dalam semua usaha dan segi kehidupan manusia. Walaupun semua ucapan selamat tahun baru itu dimaksudkan untuk memberi semangat optimisme dan keberanian dalam menjalani hidup di tahun baru, bagi orang Kristen ada satu hal yang paling penting dalam menyambut tahun baru, yaitu keyakinan akan penyertaan Tuhan.

Bagi orang Kristen, apapun yang akan terjadi dalam tahun yang baru bukanlah sesuatu yang harus dikuatirkan. Keberhasilan atau kegagalan dalam hidup di dunia bukanlah diukur dengan segala sesuatu yang bersifat fana, karena semua hal itu tidaklah kekal. Tetapi harta surgawi, yaitu kedekatan hubungan kita dengan Tuhan adalah yang seharusnya diutamakan; dengan itu kita bisa mendapatkan rasa cukup dan bahkan rasa sukacita yang abadi. Dengan hadirnya Tuhan dalam hidup kita, kita juga akan merasakan ketenteraman karena Tuhan adalah sumber kekuatan dan pelindung kita.

Pagi ini, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sudah melindungi bangsa dan negara kita selama tahun 2022. Keadaan ekonomi makin maju dan situasi pandemi makin dapat diatasi, dan dengan itu resesi dapat dihindari. Tetapi, kita harus sadar bahwa seberapapun besarnya rasa optimis dan besarnya pengharapan kita akan tahun yang baru, kita tidak dapat mengandalkan hidup kita kepada diri kita sendiri. Hidup ini penuh dengan tantangan, kesulitan dan marabahaya yang bisa menghancurkan siapapun. Walaupun demikian, dalam keadaan apapun Tuhan selalu siap menolong kita yang beriman kepadaNya. Biarlah kita dalam tahun yang baru ini bisa dikuatkan karena penyertaan Tuhan sampai sekarang yang bisa kita syukuri!