“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25

Hari Minggu sering menjadi hari yang paling dinanti. Setelah enam hari bekerja, tubuh ingin beristirahat. Kita ingin bangun lebih siang, menikmati kopi dengan tenang, berjalan-jalan, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar bersantai di rumah. Tidak ada yang salah dengan istirahat, karena istirahat pun adalah anugerah Tuhan. Tetapi persoalannya muncul ketika hati mulai berkata, “Santai di rumah lebih menyenangkan daripada beribadah kepada Tuhan.”
Pelan-pelan, kebiasaan itu bisa membentuk arah hidup. Minggu demi Minggu berlalu. Awalnya hanya sesekali absen, lalu menjadi sering, lalu akhirnya tidak merasa perlu lagi hadir dalam persekutuan. Hati menjadi nyaman tanpa ibadah bersama. Firman Tuhan dalam Ibrani 10:25 mengingatkan bahwa kecenderungan seperti ini sudah ada sejak gereja mula-mula: beberapa orang membiasakan diri menjauh dari pertemuan ibadah.
Mengapa hal ini berbahaya? Karena iman tidak dirancang untuk hidup sendirian. Tuhan tidak memanggil kita hanya menjadi individu yang percaya, tetapi menjadi bagian dari tubuh Kristus. Kita membutuhkan saudara seiman untuk saling menguatkan, menegur, mendoakan, dan menolong ketika lemah. Bara api yang dipisahkan dari kumpulannya perlahan akan padam. Demikian juga jiwa yang terus memisahkan diri dari persekutuan rohani.
Ada orang berkata, “Saya masih punya iman, walaupun kecil seperti biji sesawi.” Benar, Tuhan menghargai iman yang kecil tetapi sungguh-sungguh. Namun iman yang hidup tidak akan puas tinggal kecil selamanya. Iman yang sejati ingin bertumbuh. Ia rindu firman Tuhan, rindu penyembahan, rindu doa bersama, dan rindu berjalan bersama umat Tuhan. Jika seseorang merasa cukup dengan “iman yang tersisa” sambil terus menjauh dari Tuhan dan gereja-Nya, itu tanda yang perlu direnungkan dengan jujur.
Tentunya ada orang yang jarang hadir karena sakit, usia lanjut, trauma, pergumulan keluarga, pekerjaan darurat, atau kelemahan mental dan emosional. Tuhan mengenal setiap keadaan. Ia penuh belas kasihan. Tetapi berbeda halnya jika kita sehat, mampu, dan punya kesempatan, namun memilih santai terus-menerus karena hati sudah dingin terhadap Tuhan dan sesama orang percaya.
Hari Minggu bukan sekadar kewajiban agama. Hari Minggu adalah kesempatan untuk mengingat siapa pusat hidup kita. Dunia berkata, “Gunakan hari itu hanya untuk dirimu.” Tuhan berkata, “Datanglah kepada-Ku bersama umat-Ku.” Dunia menawarkan kenyamanan sementara. Tuhan menawarkan kesegaran jiwa.
Sering kali justru saat kita malas datang, saat itulah kita paling membutuhkan ibadah. Kita datang dengan hati berat, lalu firman menegur. Kita datang dengan jiwa lelah, lalu pujian menguatkan. Kita datang dengan beban, lalu doa bersama menolong kita berdiri lagi. Tuhan memakai persekutuan untuk memelihara iman kita.
Jika hari ini kita menyadari bahwa hati mulai puas dengan santai di hari Minggu dan tidak lagi rindu beribadah, jangan keras hati. Tuhan memanggil kita kembali, bukan dengan cambuk, tetapi dengan kasih. Ia mengundang kita untuk kembali menempatkan Dia di tempat utama.
Hari Minggu akan berlalu cepat. Kenyamanan sofa, secangkir kopi, atau hiburan sesaat akan hilang. Tetapi jiwa yang bertemu Tuhan akan dikuatkan untuk kekekalan.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, ampunilah kami bila sering menomorsatukan kenyamanan dan menyingkirkan Engkau dari hari yang seharusnya kami persembahkan bagi-Mu.
Ampuni hati kami yang mudah dingin dan puas dengan hal-hal sementara. Bangkitkan kembali kerinduan kami untuk beribadah, mendengar firman-Mu, dan bersekutu dengan umat-Mu.
Pulihkan mereka yang terluka oleh gereja, kuatkan mereka yang lemah, dan tuntun kami semua kembali kepada-Mu. Jadikan hari Minggu bukan hanya hari libur, tetapi hari perjumpaan yang mengubahkan hidup kami. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.