“Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.’” 1 Samuel 16:7

Manusia mudah terpesona oleh apa yang tampak. Wajah yang menarik, pakaian yang rapi, tutur kata yang meyakinkan, jabatan yang tinggi, atau keberhasilan yang mencolok sering langsung mencuri perhatian kita. Tidak heran banyak orang berusaha membangun penampilan demi mendapat pujian, hormat, simpati, bahkan kasih dari sesama. Kita hidup di dunia yang cepat menilai dari luar, sebab mata manusia hanya sanggup melihat bungkus.
Namun Tuhan tidak seperti manusia. Ia melihat lebih dalam daripada apa yang bisa ditangkap mata. Ia menembus lapisan citra, reputasi, dan pencitraan. Ia melihat hati.
Ketika Samuel datang ke rumah Isai untuk mengurapi raja baru, ia pun sempat terjebak seperti kebanyakan manusia. Saat melihat Eliab yang gagah dan berwibawa, Samuel mengira dialah pilihan Tuhan. Bukankah sosok seperti itu tampak pantas menjadi raja? Tetapi Tuhan menegur Samuel: jangan menilai dari paras atau tinggi badan. Yang Tuhan cari bukan penampilan luar, melainkan hati yang berkenan kepada-Nya.
Betapa menghiburkan ayat ini bagi banyak orang. Mungkin kita merasa tidak menonjol, tidak terlalu pandai berbicara, tidak punya status tinggi, atau tidak memiliki penampilan yang mengesankan. Dunia mungkin melewatkan kita. Orang lain mungkin tidak melihat potensi kita. Tetapi Tuhan melihat apa yang tersembunyi: kesetiaan kecil, air mata doa yang diam-diam, perjuangan melawan dosa, kerendahan hati, kasih yang tulus, dan kerinduan untuk taat.
Sebaliknya, ayat ini juga menjadi peringatan. Kita bisa terlihat rohani di luar, tetapi kosong di dalam. Kita bisa tampak berhasil, tetapi hati jauh dari Tuhan. Kita bisa disanjung manusia, tetapi tidak berkenan di hadapan Allah. Penampilan dan kesuksesan dapat menipu orang lain, tetapi tidak pernah menipu Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, godaan menilai dari bungkus sangat besar. Saat bertemu orang baru, kita cepat menyimpulkan dari kesan pertama. Saat melihat orang sukses, kita menganggap pasti ia bijaksana dan benar. Saat melihat orang sederhana, kita meremehkan. Saat melihat orang yang jatuh, kita menghakimi. Padahal kita hanya melihat satu halaman, sedangkan Tuhan membaca seluruh isi buku.
Karena itu kita perlu belajar berhenti sejenak sebelum menilai. Kita harus meminta hikmat agar melihat sesama dengan kasih, bukan prasangka. Mendengarkan lebih dulu sebelum memberi kesimpulan. Mengenali karakter sebelum mengagumi pencapaian. Dan yang terpenting, menjaga hati sendiri lebih daripada mengejar citra luar.
Daud, anak bungsu yang sedang menggembalakan domba, bahkan tidak dipanggil ketika saudara-saudaranya diperiksa Samuel. Tetapi justru dialah yang Tuhan pilih. Dunia sering mengabaikan orang yang sederhana, tetapi Tuhan kerap bekerja melalui mereka yang tersembunyi.
Hari ini, mungkin Anda merasa tidak diperhatikan. Tetaplah setia. Tuhan melihat. Mungkin Anda lelah berbuat baik tanpa pujian. Tetaplah berjalan. Tuhan melihat. Mungkin Anda sedang berjuang dalam sunyi. Jangan menyerah. Tuhan melihat apa yang tidak terlihat.
Pada pihak lain, bila hari ini kita terlalu sibuk merawat bungkus, mari kembali merawat hati. Sebab pada akhirnya, yang menentukan bukan tepuk tangan manusia, melainkan penilaian Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahatahu, terima kasih karena Engkau melihat hati kami, bukan hanya penampilan luar kami. Ampuni kami jika sering menilai orang lain dari apa yang tampak, dan ampuni kami jika lebih sibuk membangun citra daripada membenahi hati. Ajarlah kami memiliki pandangan seperti pandangan-Mu: penuh hikmat, kasih, dan kebenaran. Kuatkan kami saat merasa tidak diperhatikan, sebab Engkau melihat setiap kesetiaan yang tersembunyi. Bentuklah hati kami agar berkenan kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.