“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Saat Yesus mendekati akhir dari Khotbah di Bukit (Matius 5:1-2), Dia menjelaskan serangkaian pilihan yang harus diambil oleh para pendengar-Nya. Mereka harus memilih apa yang baik dengan bimbingan Tuhan, tetapi bukan hanya menantikan keajaiban Tuhan. Pilihan yang pertama adalah gerbang sempit yang membuka jalan yang lebih sulit (kebenaran Tuhan), dan yang lain adalah gerbang lebar yang menuju jalan yang mudah (kebenaran manusia). Meskipun analogi ini sengaja dibuat sederhana, namun mengandung beberapa lapisan makna.
Dalam konteks ajaran Yesus dalam Matius 5-7, jelas bahwa Dia menunjuk jalan yang sempit itu pada diri-Nya sendiri dan ajaran-Nya tentang kebenaran rohani sebagai “gerbang sempit”. Ia juga mengindikasikan bahwa hal ini membuka jalan yang sulit untuk diterima dan dijalani. Dengan kata lain, mereka yang mengikuti-Nya harus memahami bahwa mereka memilih jalan yang sulit menurut sudut pandang duniawi (Matius 5:10-12). Menjadi orang Kristen sejati memang bukan sesuatu yang mudah dijalani.
Ayat ini menyebabkan beberapa orang mempertanyakan kebaikan Tuhan. Jika Dia benar-benar ingin menyelamatkan semua orang, mengapa Dia tidak mempermudah mereka untuk diselamatkan? Mengapa Dia tidak membiarkan semua orang masuk surga? Mengapa Ia justru membuat jalan keselamatan itu sangat sempit sehingga banyak orang yang tidak menyukainya?
Pilihan yang akan diambil kebanyakan orang adalah gerbang lebar menuju jalan yang mudah. Gambaran gerbang yang “lebar” menyiratkan sesuatu yang mudah dilihat, dan mudah untuk dilewati. Hal ini juga menunjukkan sesuatu yang mengakomodasi preferensi kita: gerbang lebar memberi kita lebih banyak pilihan mengenai cara melewatinya dibandingkan gerbang sempit. Karena apa yang ada di balik gerbang itu tampaknya mudah, itulah pilihan yang akan diambil kebanyakan orang. Orang tidak memikirkan bahwa apa yang dapat dilakukan dengan usaha sendiri tidak akan membawa ke arah kebenaran. Hal ini mempunyai implikasi yang menyedihkan dan menyayat hati bagi nasib kekal kebanyakan orang.
Sebenarnya, Matius 7:7–14 menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati yang ingin sekali memberikan pemberian yang baik kepada anak-anak-Nya yang berdoa. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk terus meminta dan mencari, dengan keyakinan bahwa mereka akan menerima dan menemukan. Jalan Yesus dimulai dengan memasuki gerbang sempit dan terus menyusuri jalan sulit menuju kehidupan. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk mengambil jalan itu, bukan jalan mudah yang menuju kehancuran.
Sebagian yang Yesus maksudkan sebagai orang yang memilih jalan yang mudah adalah mereka yang akan terus mengikuti ajaran para pemimpin agama Israel, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang Farisi. Ajaran mereka yang legalistik menuntut perubahan lahiriah yang meningkatkan ketaatan terhadap peraturan. Hal ini “lebih mudah”, karena hanya mengharuskan seseorang untuk berpura-pura menjadi orang benar atau yakin bahwa mereka orang benar. Orang akan merasa bahwa dengan berbuat baik mereka akan dapat membuat Tuhan merasa puas atas “kebaikan’ mereka. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya bahwa ini adalah jalan yang terlalu mudah dan mengarah pada kehancuran kekal. Keyakinan akan kebaikan diri sendiri justru membuat mereka tidak sadar akan kebusukan hidup mereka.
Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau palsu seperti itu. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka menaati perintah-Nya. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memilih gerbang yang sempit dan menempuh jalan yang sulit menuju kehidupan. Ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh nabi-nabi palsu.
Nabi palsu dapat dikenali dari buahnya, yaitu tindakan dan pilihannya. Di zaman ini, paling tidak ada dua macam nabi palsu yang sering kita lihat: mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan harus kita capai dengan berbuat baik, dan yang lain adalah mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan sudah diberikan Tuhan dan tidak membutuhkan respon kita.
Ketika kita membaca kata sempit, kita cenderung mengasosiasikannya dengan hal yang merugikan. Kedengarannya seolah-olah Tuhan telah menilai kita semua melalui syarat penerimaan tertentu dan hanya mengijinkan segelintir orang saja untuk memasuki hadirat-Nya. Namun, beberapa ayat sebelumnya, Yesus telah mengatakan kepada pendengar yang sama, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8). Yesus menjelaskannya: jalan menuju kehidupan kekal terbuka bagi setiap orang yang mau bertobat dan meminta bimbingan untuk bisa memilih jalan yang benar, yang sudah disediakan Tuhan.
Gerbang ke surga itu “sempit” dalam artian ada persyaratan khusus untuk masuk: iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan hanya ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus; Dialah satu-satunya jalan (Yohanes 14:6). Sebaliknya, gerbang yang “lebar” tidaklah eksklusif; hal ini memungkinkan upaya manusia dan semua agama lain di dunia. Dalam hal ini, memang ada banyak jalan ke Roma, tetapi hanya satu jalan ke surga!
Yesus berkata bahwa gerbang sempit itu membawa kita ke jalan yang “sulit”, yaitu jalan yang akan membawa kita melewati kesukaran dan keputusan sulit. Mengikuti Yesus mengharuskan kita menyalibkan daging kita (Galatia 2:20; 5:24; Roma 6:2), hidup dengan iman (Roma 1:17; 2 Korintus 5:7; Ibrani 10:38), menanggung pencobaan dengan kesabaran seperti Kristus (Yakobus 1:2–3, 12; 1 Petrus 1:6), dan menjalani gaya hidup yang terpisah dari dunia (Yakobus 1:27; Roma 12:1–2). Saat dihadapkan pada pilihan antara jalan sempit dan bergelombang atau jalan raya lebar beraspal, kebanyakan dari kita memilih jalan yang lebih mudah. Sifat manusia tertarik pada kenyamanan dan kesenangan. Ketika dihadapkan pada kenyataan menyangkal diri untuk mengikuti Yesus, kebanyakan orang berpaling (Yohanes 6:66). Yesus tidak pernah menutup-nutupi kebenaran, dan kenyataannya tidak banyak orang yang bersedia membayar harga untuk mengikuti-Nya. Itu adalah kesalahan mereka sendiri.
Allah menawarkan keselamatan kepada setiap orang yang mau menerimanya (Yohanes 1:12; 3:16-18; Roma 10:9; 1 Yohanes 2:2). Tapi itu sesuai dengan ketentuan-Nya. Kita harus menempuh jalan yang telah Dia sediakan. Kita tidak dapat menciptakan jalan kita sendiri atau datang kepada Tuhan yang kudus berdasarkan usaha kita sendiri. Dibandingkan dengan kebenaran-Nya, kita semua kotor (Yesaya 64:6; Roma 3:10). Tuhan tidak bisa begitu saja memaafkan atau mengabaikan dosa kita. Dia penyayang, tapi Dia juga adil. Keadilan Tuhan mengharuskan dosa dibayar. Dengan harga yang mahal bagi diri-Nya sendiri, Dia membayar harga tersebut (Yesaya 53:5; 1 Yohanes 3:1, 16; Mazmur 51:7). Tanpa darah Yesus yang menutupi dosa kita, kita bersalah di hadapan Allah (Roma 1:20).
Jika jalan menuju Tuhan tertutup sepenuhnya, dosa kitalah menjadi penghalangnya (Roma 5:12). Tidak ada seorang pun yang berhak mendapat kesempatan kedua. Kita semua berhak untuk tetap berada di “jalan lebar yang menuju kehancuran”. Namun Allah cukup mengasihi kita sehingga memberikan kesempatan untuk memilih jalan menuju kehidupan kekal (Roma 5:6-8). Namun, Dia juga tahu bahwa di dunia kita yang egois dan penuh dosa, tidak banyak orang yang menginginkan Dia – untuk datang kepada-Nya sesuai dengan persyaratan-Nya (Yohanes 6:44, 65; Roma 3:11; Yeremia 29:13) . Setan telah membuka jalan menuju neraka dengan godaan daging, ketertarikan duniawi, dan kompromi moral. Setan juga mengatakan bahwa hidup bermoral tidaklah perlu untuk orang yang sudah diselamatkan karena bukan moral yang menyelamatkan.
Kebanyakan orang membiarkan nafsu dan keinginannya menentukan jalan hidup mereka. Mereka memilih kesenangan duniawi yang bersifat sementara dibandingkan pengorbanan diri yang dituntut dalam mengikut Yesus (Markus 8:34; Lukas 9:23; Matius 10:37). Gerbang sempit diabaikan. Kebanyakan orang lebih suka menciptakan agama mereka sendiri dan merancang dewa-dewa mereka sendiri. Jadi dengan penuh duka, bukan diskriminasi, Yesus menyatakan bahwa jalan menuju kehidupan kekal itu “sempit, dan hanya sedikit yang menemukannya”. Semoga kita sadar bahwa untuk menyambut tawaran keselamatan dari Yesus kita harus mau mengambil keputusan untuk memilih jalan yag sempit, seperti apa yang sudah dibisikkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita. Jangan sampai kita yang merasa sudah diselamatkan kemudian ditolak-Nya karena kita tidak pernah menyambut uluran tangan-Nya.