Apakah Anda bisa melihat apa yang tidak kelihatan?

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4:18

Setiap manusia, tanpa terkecuali, mendambakan kesuksesan. Sejak kecil kita ditanamkan pengertian untuk bekerja keras, belajar giat, dan mencapai sesuatu yang membanggakan. Di sekolah, kesuksesan diukur lewat nilai dan prestasi. Di dunia kerja, kesuksesan sering diukur lewat jabatan, gaji, atau ketenaran. Bahkan dalam kehidupan keluarga, ukuran keberhasilan pun sering kali dikaitkan dengan status sosial, rumah yang bagus, anak-anak yang berprestasi, atau masa pensiun yang mapan. Tidak ada yang salah dengan semua itu — tetapi semuanya berada dalam ranah yang kelihatan.

Masalahnya, barangkali jarang orang tua Kristen yang mengajarkan anak-anaknya untuk “mengejar kesuksesan” dalam apa yang tidak kelihatan, seolah itu adalah hal yang sepele. Lebih jarang lagi orang tua yang mengajarkan anak-anaknya bahwa kesuksesan dalam hal yang tidak kelihatan itu adalah yang terpenting dalam hidup di dunia karena itu sudah ditawarkan Tuhan sekarang ini, untuk masa depan yang kekal. Apapun yang terjadi pada apa yang kelihatan tidaklah akan menjadi masalah jika apa yang tidak kelihatan, yaitu karunia keselamatan Tuhan, tidak disia-siakan.

Paulus, seperti semua orang, tidak ingin mengalami hidup yang terancam bahaya secara terus menerus. Tetapi ia menolak untuk patah semangat dalam menghadapi penderitaan demi imannya kepada Kristus. Ia menulis di ayat sebelumnya bahwa penderitaannya saat ini, meskipun terkadang hampir tak tertahankan (2 Korintus 1:8), tidaklah dapat dibandingkan dengan kemuliaan kekekalan yang jauh lebih besar. Ia menyatakan bahwa perspektif ini membutuhkan fokus pada apa yang tidak dapat dilihat dalam hidup ini, yaitu dunia rohani.

Sekalipun kebanyakan manusia sangat bergantung pada hal-hal jasmani, dan merasa gagal jika mereka tidak dapat mencapai apa yang dianggap berharga; hal-hal yang terlihat oleh manusia dalam hidup ini hanya ada sesaat lalu lenyap. Tidak ada manusia yang bisa mencapai apa yang abadi. Jelas, apa pun yang ada di dunia ini hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan hal-hal yang bertahan selamanya. Selain itu, kehidupan manusia jauh lebih singkat daripada sejarah manusia. Apa yang terlihat oleh mata jasmani kita akan datang dan pergi dengan sangat cepat.

Allah yang tidak kelihatan, bagaimanapun, adalah “kekal,” yang berarti “di luar waktu.” Apa pun yang ada bersama-Nya di dunia rohani tidak akan pernah berakhir. Paulus mampu mempertahankan fokusnya pada kemuliaan kekekalan dengan menjaga fokus batinnya pada apa yang kekal. Hal ini memungkinkannya menanggung penderitaan dalam hidup ini yang “ringan” dan “singkat” dibandingkan dengan kemuliaan dan kenikmatan kekekalan yang akan datang (Ibrani 11:14-16).

Memang, bila kita berhenti sejenak dan merenung, apa yang dikejar manusia di bumi ini memiliki satu kesamaan: sementara. Harta bisa hilang dalam sekejap. Kesehatan bisa merosot mendadak. Kedudukan bisa digantikan. Nama besar bisa dilupakan. Bahkan hidup kita sendiri pun dapat berakhir sewaktu-waktu. Sejarah dan pengalaman hidup banyak orang membuktikan bahwa apa yang dibangun selama puluhan tahun dapat runtuh dalam hitungan hari. Yesus sendiri berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Segala hal duniawi rentan, rapuh, dan tidak kekal.

Orang yang berhasil secara rohani bukanlah mereka yang paling kaya, paling sehat, atau paling terkenal, melainkan mereka yang hidup dalam damai sejahtera Tuhan, mengasihi sesama, dan tetap setia dalam iman — sekalipun dunia tidak melihat dan memuji mereka. Mereka menanam sesuatu yang kekal: kasih, kesetiaan, pengharapan, pengampunan, dan iman kepada Kristus.

Damai surgawi adalah salah satu bentuk kesuksesan rohani. Ini bukan sekadar perasaan tenang ketika semua keadaan baik. Damai surgawi adalah ketenangan yang datang dari Tuhan sendiri, yang melampaui segala akal (Filipi 4:7). Ini adalah damai yang tidak bisa dicuri oleh keadaan, penyakit, tekanan hidup, atau bahkan maut.

Sebagai orang percaya, kita memang hidup di dunia ini, tetapi kita tidak boleh terpaku pada dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara, bukan tujuan akhir. Oleh sebab itu, ukuran kesuksesan kita tidak boleh hanya ditentukan oleh apa yang dunia anggap berhasil.

Mereka yang hidup dengan perspektif kekekalan akan berbeda dalam cara memandang hidup. Mereka tidak akan putus asa ketika kehilangan hal-hal duniawi, sebab mereka tahu bahwa ada harta di surga yang tidak dapat dicuri. Mereka tidak sombong ketika berhasil, sebab mereka tahu semua itu fana. Mereka juga tidak takut menghadapi masa tua atau kematian, sebab mereka tahu kehidupan yang sejati dimulai setelah dunia ini berakhir.

Perspektif kekekalan membuat kita lebih tenang dalam menghadapi tekanan. Lebih rela memberi dan melayani. Lebih fokus pada hal-hal rohani. Lebih siap untuk berkata, “Hidupku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Menghidupi kesuksesan sejati bukan berarti berhenti bekerja keras atau tidak memiliki cita-cita duniawi. Tuhan tidak menentang kemajuan dan keberhasilan. Tetapi kita perlu menempatkan semuanya pada tempatnya: sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan biarkan harta memiliki kita. Kita boleh mencapai prestasi, tetapi jangan biarkan prestasi menjadi identitas kita. Identitas sejati kita adalah sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus oleh Kristus. Itulah kesuksesan terbesar dalam hidup ini: dikenal dan dikasihi oleh Tuhan.

Pagi ini, berapapun usia kita, kiita harus mengalihkan pandangan. Tidak lagi mendasarkan nilai hidup pada pujian atau pengakuan manusia. Belajar untuk mengukur keberhasilan berdasarkan ketaatan kepada Tuhan. Melatih hati untuk bersyukur bukan karena apa yang dimiliki, tetapi karena siapa Tuhan dalam hidup kita. Menaruh pengharapan bukan pada harta atau manusia, tetapi pada janji kekal yang diberikan oleh Kristus.

Mungkin saat ini Anda sedang berada dalam masa sulit, atau justru sedang berada di puncak keberhasilan. Apa pun keadaan Anda, mari arahkan pandangan kepada Tuhan. Sebab yang kelihatan adalah sementara, tetapi yang tak kelihatan — kasih Tuhan, damai sejahtera-Nya, janji keselamatan — itulah yang kekal.

Doa Penutup:

Tuhan, ajarilah aku untuk tidak terpaku pada apa yang kelihatan, tetapi untuk menaruh pandangan pada yang kekal. Ketika aku tergoda untuk mengukur kesuksesan seperti dunia, ingatkan aku bahwa hanya kasih-Mu yang abadi. Ketika aku mengalami kesulitan, kuatkan imanku untuk tetap melihat kepada-Mu. Bentuklah aku menjadi pribadi yang hidup dalam damai surgawi, bukan dalam kejaran akan hal-hal fana. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Apakah Anda masih berlari dengan penuh semangat?

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:13-14

Filipi 3:12—4:1 menjelaskan sikap yang tepat yang seharusnya dimiliki orang Kristen sejati terhadap proses “sanctification” atau “pengudusan”. Ini adalah jalan bertahap seumur hidup untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus. Jika kita benar-benar pengikut Kristus, tempat kita dalam kekekalan sudah terjamin sejak kita percaya kepada-Nya, tetapi butuh waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi serupa dengan-Nya.

Memang selama hidup di dunia tidak ada orang yang sempurna, dan Paulus sadar akan hal itu, tetapi ia mendorong setiap orang Kristen sejati untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Paulus juga meratapi mereka yang menolak Injil, yang mungkin mengaku Kristen, tetapi tidak pernah berubah dari hidup lama mereka; karena mereka sudah membuat sebuah pilihan yang akan mengakibatkan kebinasaan mereka.

Paulus merinci riwayat hidup Yahudinya yang mengesankan. Ia menyebutkan hal ini hanya untuk menekankan betapa kecilnya arti hal-hal tersebut dibandingkan dengan iman kepada Kristus. Bahasa Paulus di sini tajam dan langsung ke intinya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana fokus seorang Kristen seharusnya murni kepada Kristus, sama seperti seorang pelari berkonsentrasi pada tujuannya agar dapat berlari secara efektif.

Mungkin kita merasa bahwa kita sudah menjadi orang percaya sejak muda, lahir dalam keluarga Kriten, sudah banyak mempelajari firman Tuhan, dan merasa sudah cukup taat kepada Tuhan. Tetapi Paulus berkata bahwa kita tidak patut menyia-nyiakan waktu yang masih ada. Daripada melihat ke masa lalu atau ke diri kita sendiri, kita seharusnya melihat ke depan, ke keabadian bersama Tuhan.

Paulus terus memusatkan pandangannya pada garis finis karena seluruh tujuan hidupnya adalah mendapatkan Kristus:

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3:7-8

Tujuan Paulus adalah kesempurnaan, tetapi ia belum mencapainya. Ia bukannya tanpa cela, dan ia juga tidak berharap mencapai kesempurnaan sebelum kematiannya. Sebaliknya, ia menggunakan analogi seorang pelari dalam perlombaan untuk menggambarkan motivasi kehidupan rohaninya. Seperti seorang pelari yang berdedikasi, ia memiliki satu tujuan. Sebagaimana seorang pelari tidak dapat berhasil kecuali ia berkonsentrasi pada perlombaan yang dihadapinya, Paulus juga tidak dapat berhasil bertumbuh di dalam Kristus jika ia membiarkan hal-hal lain mengganggunya.

Melanjutkan analogi berlari, Paulus juga memilih untuk hidup dengan prinsip penting: tetap fokus pada jalan di depannya. Seorang pelari tidak dapat melihat ke belakang dan tetap fokus pada tujuan di depannya. Kedua gagasan ini saling bertentangan. Tujuan seorang pelari adalah berfokus pada langkah selanjutnya menuju tujuannya agar tidak jatuh tersandung. Tujuan rohani Paulus dinyatakan secara langsung di sini: “hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Orang Kristen dapat belajar dari masa lalu, tetapi kita tidak terikat pada hal-hal yang telah kita lakukan. Daripada terbelenggu oleh pengalaman masa lalu, kita dapat terus maju, karena kita tahu bahwa kita adalah manusia berdosa yang sudah menerima pengampunan Kristus. Kehidupan rohani Paulus pun sama. Ia tidak akan melihat kembali langkah-langkah sebelumnya, tetapi berfokus untuk meningkatkan setiap langkah dalam perlombaannya hingga mencapai tujuan bersama Kristus. Paulus memiliki tujuan yang jelas: berada di surga bersama Tuhan. Ia menantikan pahala tertinggi atas pelayanannya yang setia.

Dalam kitab Korintus, Paulus membandingkan mahkota seorang atlet dengan hadiah kekal orang percaya:

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1 Korintus 9:23

Apa hal-hal yang ada di belakang kita, yang bisa menghambat kemajuan rohani kita? Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, ada banyak hal yang bisa membuat kita tidak bisa berlari dengan sepenuh tenaga. Tetapi, di antara semua itu, memendam emosi seperti kepahitan dan ketidakmauan untuk mengampuni orang lain dapat memperlambat kita dan bahkan membuat kita terkunci di masa lalu. Mengungkit-ungkit konflik dan mengungkit kembali kejadian-kejadian yang menyakitkan hanya akan membuka luka lama.

Rasul Petrus mendesak kita untuk berhenti melakukan hal-hal ini:

“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” 1 Petrus 2:1-2

Rasa bersalah dan putus asa atas dosa-dosa masa lalu juga dapat membuat kita terbelenggu di masa lalu. Namun, Allah tidak mengungkit-ungkit dosa masa lalu kita, dan kita pun seharusnya tidak (1 Yohanes 1:7-9).

Pagi ini, kita disadarkan bahwa kehidupan Kristen harus dijalani dengan mata kita tertuju kepada Yesus Kristus. Dia adalah prioritas utama yang membuat hidup kita berharga. Tujuan tertinggi kita adalah mengenal-Nya lebih baik, seperti yang dikatakan Paulus:

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Filipi 3:10

Apa yang kita harus lakukan dalam kasih?

“Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”1 Korintus 13: 7

Ayat 1 Korintus 13:1–13 adalah salah satu bagian Alkitab yang paling disukai orang Kristen dan terkenal, tetapi Paulus menempatkannya setelah pengajarannya tentang karunia-karunia rohani – ini karena ada sebabnya. Paulus menanggapi penekanan berlebihan jemaat Korintus pada karunia-karunia rohani tertentu dengan menunjukkan kepada mereka bahwa semua karunia tidak ada nilainya jika tidak dipraktikkan melalui kasih ilahi. Beberapa karunia mungkin tampak mengesankan, tetapi jika dicoba tanpa kasih yang rela berkorban bagi orang lain, karunia-karunia itu menjadi tidak berarti, bahkan bisa merusak.

Dalam bagian kitab Korintus ini, Paulus menggunakan 14 kata kerja untuk menggambarkan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh kasih. Kasih adalah dasar bagi pengajaran Paulus dalam bab berikutnya tentang nubuat, bahasa roh, dan bahkan ibadah yang teratur. Meskipun bagian ini sering dikutip dalam suasana pernikahan, konsep yang dimaksud adalah agape: kasih ilahi yang rela berkorban dalam setiap keadaan.

Karunia-karunia rohani memang memberikan sekilas gambaran tentang apa yang dapat kita diketahui saat ini, tetapi ketika kesempurnaan datang, kita akan mengetahui segalanya. Dalam hal ini, ada satu hal yang sudah pasti: kasih adalah kebajikan terbesar. Jika kita memilih untuk saling mengasihi, itu akan menyelesaikan banyak masalah dalam hidup sehari-hari.

Dalam ayat di atas, Paulus hampir sampai pada akhir uraian singkatnya tentang seperti apa kasih sejati itu. Kata Yunani yang digunakan untuk kasih, agape, menggambarkan kasih Allah yang tanpa syarat bagi anak-anak-Nya dan bagaimana Dia menghendaki kita untuk saling mengasihi.

Seiring dengan deskripsi Paulus tentang apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh kasih Kristen, jelas bagi kita bahwa kasih selalu mengesampingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain. Lebih tepatnya, mereka yang mengasihi seperti Kristus memang mau mengesampingkan kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan orang Kristen lainnya. Sudah tentu, mengasihi seperti Yesus mengasihi kita tidaklah mudah kita tiru jika tidak karena karunia Tuhan.

Paulus menunjukkan bahwa kasih Allah, dalam arti tertentu, tidak ada habisnya. Kasih itu tidak membatasi komitmen-Nya kepada orang percaya lainnya. Seperti itu juga, kasih kita seharusnya bersifat langgeng, bukan untuk sementara.

Kasih dikatakan “menutupi” segala sesuatu, artinya menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkata, “sejauh ini dan tidak lebih.” Kasih tidak dibatasi oleh apa yang masuk akal atau apa yang orang lain rela untuk memberikan. Ini tidak berarti seseorang harus membiarkan dirinya terus-menerus dilukai, baik secara fisik maupun dengan cara lain, oleh sesama orang percaya atau anggota keluarga. Terkadang kasih menanggung rasa sakit dari jarak yang aman dan legal, tetapi kita harus ingat bahwa kasih yang sejati dari Allah tidak berhenti ketika sifat kita menjengkelkan atau sulit diatur.

Kasih percaya segala sesuatu. Apakah ini membuat kasih mudah tertipu? Tidak, tetapi pilihan kita untuk memercayai mereka yang mungkin menipu kita akan menghilangkan beban untuk menemukan kebohongan mereka dan memproyeksikan kepada mereka rasa hormat yang mungkin pantas atau tidak pantas mereka terima. Kita yakin bahwa orang yang dikasihi memikul beban untuk jujur ​​atau bertanggung jawab kepada Allah, dan bukan kepada kepada kita.

Kasih mengharapkan segala sesuatu. Kasih berharap untuk kemenangan dalam diri orang lain, untuk kebaikan yang menang, untuk kebenaran yang terungkap bagi mereka. Dalam Alkitab, harapan lebih dari sekadar keinginan, itu adalah keyakinan bahwa Allah akan melakukan apa yang Dia janjikan bagi orang-orang yang dipilih-Nya.

Kasih menanggung segala sesuatu. Orang Kristen sering menghadapi masa-masa sulit. Mereka yang memilih untuk mengasihi seperti Yesus tidak berhenti mengasihi ketika hidup menjadi sulit. Kasih kepada Tuhan dan sesama bertahan melewati hari-hari yang sulit dan malam-malam yang panjang.

Harapan Paulus yang teguh bagi jemaat Korintus merupakan salah satu bukti kasihnya kepada mereka. Dan pagi ini, harapan yang sama tertuju kepada kita.

“Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” 1 Korintus 1:8

Tetap Menyala Sampai Garis Akhir

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Roma 12:11

Banyak orang Kristen percaya bahwa seiring bertambahnya usia, seseorang akan secara alami menjadi lebih rohani. Mereka membayangkan masa tua sebagai masa keemasan dalam iman, masa di mana hidup menjadi tenang, damai, dan dipenuhi kesadaran akan hadirat Tuhan. Namun dalam kenyataannya, hal ini sering kali berbeda.

Pertambahan usia tidak secara otomatis membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhan. Pertambahan usia hanya membuat tubuh menjadi semakin lemah, pengalaman hidup semakin banyak, dan waktu semakin sedikit. Sementara itu, perjuangan iman tidak berhenti. Bahkan pada banyak orang, justru di masa-masa menjelang garis akhir kehidupan, api iman mulai meredup oleh kejemuan rohani.

Keadaan ini sering terjadi secara perlahan. Orang yang dahulu bersemangat melayani, rajin berdoa dan membaca Alkitab, bisa saja menjadi lebih pasif. Mereka merasa telah “melakukan bagian mereka” di masa muda: sudah ikut paduan suara, sudah mengajar Sekolah Minggu, sudah menjadi penatua, sudah membangun banyak hal untuk gereja. Ketika usia semakin lanjut, muncul pikiran seperti, “Biarlah yang muda yang melayani.” Lalu perlahan-lahan, semangat melayani Tuhan menjadi kendor, bahkan nyaris padam. Mereka mungkin yakin bahwa “Sekali selamat, tetap selamat”.

Paulus berkata dengan tegas: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Kata “menyala-nyala” dalam bahasa aslinya berarti mendidih, berapi-api, penuh semangat. Ini bukan gambaran iman yang pasif, tetapi iman yang hidup, yang terus berkobar sekalipun tubuh sudah tidak sekuat dahulu. Semangat melayani Tuhan tidak boleh padam hanya karena usia bertambah. Justru pada masa-masa inilah, kesaksian iman menjadi sangat berharga tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Itu karena keluar dari hidup yang telah mengalami begitu banyak suka dan duka bersama Tuhan.

Perlu dicatat bahwa kepada jemaat Filipi, Paulus juga berkata: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Filipi‬ ‭2‬:‭12‬‬).

“Kerjakan keselamatanmu” berarti menjalankan kehidupan yang saleh dan taat sesuai dengan ajaran Firman, bukan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan untuk mengamalkan keselamatan yang telah diterima secara cuma-cuma. Ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (“takut dan gentar”) dan konsisten, baik di depan orang lain maupun ketika sendirian, sebagai wujud syukur atas anugerah Tuhan yang memberikan iman dan kekuatan untuk melakukannya.

Kita perlu menyadari bahwa garis akhir bukan tempat beristirahat sebelum waktunya. Dalam dunia olahraga, banyak pelari yang justru tersandung pada kilometer terakhir karena kehilangan fokus. Mereka kehabisan tenaga atau menganggap kemenangan sudah di depan mata, sehingga lengah. Dalam hidup iman pun demikian. Ketika seseorang merasa “sudah cukup” dalam perjalanan rohaninya, justru pada saat itulah iblis sering datang dengan godaan yang halus. Godaan untuk menyerah, menjadi apatis, tidak lagi peduli, atau merasa semua sudah lewat. Padahal Iblis tidak pernah pensiun. Karena itu, selama kita masih hidup di dunia ini, perjuangan rohani tetap berjalan.

Usia lanjut sering membawa tantangan tersendiri: tubuh yang tidak sekuat dahulu, kesehatan yang menurun, teman-teman seangkatan yang satu per satu dipanggil pulang, dan rasa kesepian yang kadang menyelinap di antara kesibukan anak cucu. Dalam keadaan seperti itu, semangat rohani sangat mudah merosot bila tidak dipelihara. Kejemuan rohani dapat menyusup dalam bentuk rasa bosan berdoa, kehilangan gairah membaca firman, malas ke gereja, atau kehilangan makna dalam pelayanan. Mungkin sebagian orang bisa saja tetap datang ke gereja setiap minggu, tetapi tanpa lagi memiliki api semangat yang sama seperti dahulu.

Karena itulah, iman harus terus dipelihara seperti api dalam perapian. Jika dibiarkan tanpa kayu bakar, api itu akan padam. Namun jika terus diberi kayu — dalam bentuk doa, firman, dan persekutuan — api itu tetap menyala, bahkan memberi kehangatan bagi orang lain. Doa pribadi yang konsisten bukan sekadar kebiasaan rohani, tetapi persekutuan yang intim dengan Tuhan. Membaca Alkitab setiap hari bukan hanya mengulang cerita-cerita lama, melainkan merenungkan karya Tuhan yang terus hidup dan berbicara pada setiap musim kehidupan. Pelayanan tidak selalu berarti aktivitas fisik yang besar. Bagi banyak orang lanjut usia, pelayanan terbaik dapat berupa doa syafaat bagi keluarga, gereja, bangsa, dan orang-orang muda yang akan melanjutkan tongkat estafet iman. Setiap doa, sekecil apa pun, menjadi bagian dari pelayanan yang menyala.

Selain itu, ucapan syukur yang tulus menjadi bahan bakar rohani yang penting. Semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang dapat disyukuri. Mungkin tidak semua pengalaman itu manis. Ada luka, kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Namun ketika semua itu dipandang dalam terang kasih Tuhan, hati menjadi penuh ucapan syukur. Ucapan syukur membuat hati tetap hangat, tidak pahit, tidak letih dalam perjalanan iman. Dengan bersyukur, kita tetap dapat berkata seperti Daud, “Sekalipun rambutku memutih, ya Allah, janganlah Engkau meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” (Mazmur 71:18).

Persekutuan dengan sesama orang percaya juga menjadi penopang yang sangat penting. Banyak orang lanjut usia mulai menarik diri dari komunitas rohani dengan alasan kelelahan atau merasa tidak relevan lagi. Sebagian lagi mungkin lebih senang berjumpa dengan teman di media sosial untuk “cakap angin”. Padahal, hal sedemikian justru membuat iman makin mudah padam. Bersekutu dengan sesama orang percaya, saling menguatkan dan saling mendoakan, menyalakan kembali api semangat yang mungkin hampir padam.

Tuhan sering memberi kesempatan kepada orang-orang percaya lanjut usia untuk menjadi teladan iman bagi generasi berikut. Seperti Paulus yang berkata menjelang akhir hidupnya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7). Ini bukan kata-kata orang yang hanya berdiam diri menunggu akhir hidup, tetapi suara seorang pejuang iman yang tetap menyala sampai akhir.

Saat mendekati garis finish dalam kehidupan Kristen bukan waktu untuk berhenti. Itu adalah saat untuk berlari lebih teguh, dengan mata tertuju kepada Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman kita. Semakin mendekati garis akhir, seharusnya api itu menyala semakin terang. Bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang menopang dari awal hingga akhir.

Karena itu, jangan biarkan kerajinan Anda menjadi kendor. Jangan biarkan kejemuan rohani mencuri semangat Anda. Bila tubuh melemah, biarkan roh Anda semakin menyala. Bila dunia menjadi sunyi, biarkan doa menjadi nyanyian yang tidak pernah padam. Bila banyak hal berubah, ingatlah bahwa kasih Tuhan tetap sama. Dan bila garis akhir mulai terlihat di kejauhan, janganlah takut. Tetaplah berlari kencang dengan mata tertuju kepada Yesus!

Doa Penutup:

Tuhan yang setia, terima kasih karena Engkau menyertai aku sejak masa mudaku hingga kini. Tolong aku untuk tidak menyerah dalam iman, bahkan ketika tubuhku menjadi lemah dan hari-hariku semakin singkat. Nyalakan kembali api kasih dan pelayanan dalam hatiku. Jadikan hidupku teladan iman bagi anak-anakku, cucu-cucuku, dan banyak orang di sekitarku. Aku ingin tetap berlari sampai garis akhir, bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan dengan kasih karunia-Mu yang cukup. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Apakah kita masih ingin menjadi bayi?

“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5:14

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kaum remaja berkomunikasi? Di zaman serba digital ini, media sosial digunakan kaum remaja untuk membagikan berbagai hal. Mulai dari kisah, kesuksesan, dan bahkan kenakalan dirinya sendiri. Mungkin Anda heran mendengar bahwa pada zaman sekarang mereka membanggakan kenakalannya di media sosial. Namun faktanya ada yang sengaja membuat film tentang kenakalan atau kejahatan yang dilakukan mereka (semperti mencuri mobil atau menganiaya sesama remaja) untuk di pamerkan di media.

Sebenarnya kenakalan dikalangan remaja banyak sekali jenisnya. Di Australia, penggunaan narkoba, pencurian mobil dan perampokan adalah beberapa kejahatan remaja yang akhir-akhir ini menjadi pokok pembicaraan. Mirisnya sebagian remaja ini bangga atas apa yang mereka perbuat. Malahan seakan ada perlombaan tentang siapa yang paling hebat dalam melakukan kejahatan dan mengelabui polisi. Mereka merasa lebih unggul jika berhasil melakukan kenakalan yang lebih dibandingkan dengan yang lain.

Kejadian seperti ini merupakan bukti kesalahan berpikir dikalangan remaja. Tetapi, dalam banyak kejadian, ini disebabkan karena tidak adanya figur orang tua yang bisa mendidik mereka. Dengan demikian, lingkungan menjadi salah satu faktor utama perubahan pola pikir remaja, yang diperkuat dengan maraknya media sosial yang berisi hal-hal yang tidak baik. Kaum remaja yang sedemikian mungkin tidak pernah bisa menjadi dewasa, karena secara rohani dan moral mereka masih tetap seperti bayi.

Menarik sekali bahwa ayat di atas membicarakan tentang makanan orang dewasa. Ketika seorang anak masih sangat kecil, mereka hanya bisa mengonsumsi susu. Makanan yang lebih padat berada di luar jangkauan mereka; mereka hanya dapat memproses sesuatu yang khusus ditujukan untuk bayi. Demikian pula, mereka yang belum dewasa secara rohani hanya dapat menangani hal-hal rohani yang sederhana. Mereka mungkin belum mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. Mereka hanya bisa melihat segala sesuatu dari segi kemudahan, kenyamanan dan keindahan dari luar.

Hal kurang mampu membedakan apa yang baik dan buruk adalah umum dalam hidup kekristenan, terutama bagi seorang yang baru bertobat. Namun, jika seseorang tetap berada dalam keadaan bayi rohani ini, padahal seharusnya mereka sudah cukup dewasa untuk menerima makanan rohani yang lebih padat, maka mereka sendirilah yang harus disalahkan (Efesus 4:11-15). Menurut penulis Kitab Ibrani, pembacanya akan kehilangan beberapa makna yang lebih dalam yang akan ia uraikan (Ibrani 5:11), karena mereka “lamban dalam hal mendengar.” Dalam konteks ini, “lamban” tersebut berarti kemalasan dan apatis, atau dengan kata lain, pengabaian.

Sebagaimana seorang anak harus dilatih untuk bertumbuh, bukan hanya susu, tetapi juga makanan padat, demikian pula kedewasaan rohani seorang Kristen harus bertumbuh melalui usaha dan pengalaman. Ayat sebelumnya menggunakan istilah apeiros untuk menggambarkan bayi-bayi rohani ini, yang berarti mereka belum berpengalaman atau belum terampil. Kedewasaan rohani tidak ada hubungannya dengan usia, karena kita bisa saja tetap menjadi orang Kristen yang belum dewasa untuk waktu yang sangat lama. Sebaliknya, proses pendewasaan melibatkan pengembangan kemampuan untuk menerapkan iman kita secara praktis selama kita hidup di dunia.

Dalam konteks kitab Ibrani, hal ini berkaitan erat dengan upaya yang sungguh-sungguh. Hal ini menuntut seseorang untuk “lebih giat lagi” dalam beriman (Ibrani 2:1). Artinya, orang Kristen harus mengikuti kehendak Allah tanpa rasa ragu-ragu (Ibrani 4:11). Kedewasaan menuntut seseorang untuk belajar menggunakan alat rohani terbesar kita, Firman Allah (Ibrani 4:12), untuk membantu kita dalam membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Ini lebih dari sekadar dilema moral—tetapi juga merujuk pada pemahaman akan perbedaan antara ajaran teologis yang benar dan saleh dengan ajaran teologis yang keliru.

Dalam kenyataannya, tidak hanya kaum remaja yang senang menikmati hidup dalam kebebasan duniawi. Banyak orang yang sudah dewasa secara jasmani, tetapi secara rohani mereka masih belum bisa membedakan apa yang baik dan buruk. Apa yang terasa nikmat bagi mereka mungkin dipandang baik. Jadi, kesuksesan, kenyamanan, dan kekayaan mungkin dipandang sebagai bukti kebenaran iman dan cara hidup mreka.

Memang ada banyak orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi hidup mereka bertolak belakang dengan harga penebusan yang sudah dibayar Kristus di kayu salib-Nya. Cara hidup seperti itu hanya akan berakhir pada kehancuran rohani. Mereka memikirkan hal-hal duniawi dan tidak melayani Allah. Hidup mereka hanya untuk memuaskan keinginan diri sendiri. Mereka melakukan segala macam hal yang memalukan, bahkan merasa bangga atas semuanya itu. Mereka mungkin merasa yakin bahwa karunia Tuhan akan membenaskan mereka dari tanggung jawab atas dosa mereka.

Hari ini, ayat di atas mengajak setiap orang percaya untuk terus bertumbuh secara rohani. Mereka yang lebih dewasa seharusnya membimbing mereka yang kurang dewasa.Yang penting dalam hal ini, kita tidak boleh mundur dari tingkat kedewasaan rohani yang sudah kita capai, sebab semakin lama kita menjadi orang percaya, seharusnya kita menjadi semakin dewasa dan semakin dekat kepada Dia.

Doa Penutup:

Ya Tuhan Bapa kami yang mahakasih. Ampunilah kami jika kami mengaku sebagai umat-Mu, tetapi masih hidup menurut cara kami sendiri. Kami sering ingin menjadi umat-Mu tanpa mau terikat pada hukum dan firman-Mu. Kami tidak mau melaksanakan apa yang kami pandang sulit untuk dilakukan, dan karena itu kami kurang bisa menjadi dewasa dalam iman. Kami bertingkah laku seperti bayi, yang hanya tahu makanan yang lunak. Kami mau disebut sebagai orang Kristen tanpa harus hidup menurut Firman.

Sekarang kami mohon agar Engkau tetap sudi memimpin kami dalam hidup, karena kami masih sering memilih apa yang paling mudah untuk dilakukan. Biarlah Roh Kudus-Mu memimbing kami untuk bisa membedakan apa yang baik dan buruk, dan menguatkan kami dalam memilih jalan yang sempit untuk menuju ke arah kebenaran. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Membisu vs Mengakui

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Ku di sorga.” Matius 10:32–33

Dalam sistem hukum modern, khususnya di Amerika Serikat, ada hukum yang memberikan hak bagi setiap orang untuk “remain silent” (berdiam diri) ketika menghadapi interogasi hukum. Tujuannya sederhana: agar seseorang tidak dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang dapat memberatkan dirinya.

Secara yuridis, tinggal diam dalam konteks ini adalah tindakan perlindungan diri. Ini sangat masuk akal dalam sistem hukum sekuler. Bahkan para pengacara sering menasihati klien mereka untuk tidak berbicara apa pun sebelum ada penasihat hukum, demi mencegah kesalahan fatal.

Jadi, dalam logika hukum negara, diam adalah hak, diam tidak dianggap kebohongan, diam dapat menyelamatkan posisi hukum seseorang. Dengan kata lain, hukum dunia membolehkan — bahkan mendorong — warganya untuk melindungi diri melalui keheningan.

Namun dalam terang iman Kristen, diam tidak selalu netral. Dalam banyak situasi, diam dapat menjadi bentuk penyangkalan, jika keheningan itu dilakukan untuk menghindari pengakuan akan Kristus. Ayat di atas tidak hanya bicara tentang “penyangkalan lisan” seperti Petrus. Ayat itu juga menyangkut hal diam padas saat kita seharusnya bersaksi atau menyatakan bahwa kita adalah pengikut Kristus.

Dalam hukum dunia, diam untuk melindungi diri. Dalam hukum Kristus, diam dalam saat bersaksi bisa berarti kita tidak berdiri untuk Dia.

Penyangkalan aktif vs penyangkalan pasif

Pada waktu Yesus sedang diadili pada saat menjelang disalibkan, Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Ia berkata:

“Aku tidak kenal orang itu!” (Matius 26:70, 72, 74)

Itu adalah penyangkalan aktif — kebohongan yang disengaja untuk melepaskan diri dari keterlibatan dengan Yesus. Namun mari kita renungkan sebuah kemungkinan hipotetis. Bagaimana jika Petrus saat itu tidak berkata apa-apa, alias membisu? Apakah diamnya akan dianggap “tidak bersalah”? Jawabannya tergantung motivasinya.

Jika Petrus diam untuk menghindari pengakuan dan agar orang berpikir ia bukan murid Yesus → itu tetap penyangkalan, meskipun pasif. Jika Petrus diam karena takut, tapi tidak bermaksud menyangkal dalam hati, itu bukan kebohongan aktif, tapi tetap kegagalan untuk bersaksi. Petrus bisa saja memilih untuk membisu demi melindungi dirinya, tetapi Yesus melihat hati di balik tindakan Petrus, bukan sekadar kata-kata. Ia tentu merasa sedih bahwa Petrus sudah menyangkali Dia secara pasif. Ia tahu apa yang ada dalam hati Petrus.

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” — 1 Samuel 16:7

Karena itu, kalau Petrus diam karena ketakutannya untuk mengakui Yesus, ia sudah berdosa.

Bagaimana dengan keadaan kita di zaman sekarang? Dalam hubungan sosial sehari-hari, kita mungkin sering diam dan “menyembunyikan” iman kita jika dihadapkan pada suasana yang membuat kita ragu-ragu: takut menyinggung orang lain, takut di tolak teman, takut di kritik atau ditertawakan oleh orang yang tidak menyenangi Yesus. Demi kenyamanan, kita mungkin memilih untuk bergaul dan berkomunikasi secara “netral” , tanpa menunjukkan bahwa kita adalah orang Kristen.

Yesus sendiri “diam” — tapi bukan untuk menyangkal

Menariknya, Yesus sendiri juga berdiam diri dalam persidangan di depan imam besar dan Pilatus.

“Tetapi Yesus tetap diam.” (Matius 26:63)

Apakah Yesus berdosa karena diam? Tentu tidak. Diam Yesus memiliki pendekatan teologis yang sangat dalam, yaitu untuk menggenapi nubuat Yesaya 53:7, untuk tidak melawan dengan kebohongan apa pun, dan karena Ia tahu siapa diri-Nya dan rencana Bapa.

Namun, saat pertanyaan menyentuh identitas-Nya secara langsung: “Apakah Engkau Mesias, Anak Allah?” Ia menjawab: “Engkau telah mengatakannya.” (Matius 26:64). Yesus tidak tetap berdiam diri dalam momen pengakuan iman. Ia berbicara — meski jawaban itu akan membawanya ke kayu salib.

Orang percaya tidak dipanggil untuk “berdiam diri” demi kenyamanan diri sendiri

Dalam kehidupan modern, banyak orang Kristen memilih berdiam diri jika menghadapi orang-orang yang anti Yesus dengan alasan:“tidak ingin berdebat”, “tidak ingin mempermalukan diri”, “tidak ingin bikin suasana canggung” atau “tidak mau kehilangan sahabat”. Tetapi jika keheningan itu berarti kita menyembunyikan iman kita, maka diam bukan lagi kebijaksanaan — melainkan bentuk penyangkalan halus.

Hidup Kristen bukan sekadar iman dalam hati, melainkan berani menyatakan imannya kepada siapa saja dan berani menghadapi kecaman.

“Karena itu janganlah kamu malu bersaksi tentang Tuhan kita…” 2 Timotius 1:8

Gereja mula-mula: tidak ada “hak untuk diam”

Dalam sejarah gereja mula-mula, banyak murid Kristus dipaksa menyangkal iman atau mati. Tidak ada kesempatan untuk berdiam diri. Dan yang luar biasa — banyak dari mereka memilih berbicara dan bersaksi, meski tahu akibatnya adalah kematian. Inilah yang membuat kesaksian gereja mula-mula begitu kuat. Para martir tidak mau diam demi menyelamatkan diri; mereka berdiri teguh di hadapan kuasa dunia dan berkata seperti Stefanus:

“Sebab dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10:10

Stefanus tidak diam. Ia bersaksi — dan batu pun menghujani tubuhnya. Namun surga menyambutnya.

“Lihat, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Kisah Para Rasul 7:56

Diam bukan berarti salah, tapi harus ditempatkan pada konteks yang benar

Dalam kehidupan iman, diam tidak selalu dosa. Ada saatnya kita:

  • Diam untuk tidak terpancing emosi.
  • Diam agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
  • Diam untuk memberi ruang bagi Roh Kudus bekerja.

Namun kita tidak boleh diam jika:

  • Iman kita dipertaruhkan,
  • Nama Kristus dihina, atau
  • Kita diminta menyangkal siapa Dia.

Apa yang dunia sebut sebagai “hak”, iman sebut “ujian”

Bagi dunia, hak untuk diam adalah alat melindungi diri. Bagi orang percaya, saat iman ditantang, diam adalah ujian keberanian dan kesetiaan. Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi pahlawan hukum, tetapi menjadi saksi-Nya — dengan mulut, hidup, dan kasih. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata:

“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” 1 Korintus 9:16

Antara diam dan bersuara

Diam dapat menjadi bentuk hikmat, tetapi juga bisa menjadi bentuk penyangkalan. Dunia memberi hak untuk diam, tetapi Yesus memberi panggilan untuk bersaksi. Ketika orang bertanya siapa Yesus bagi kita, ketika nama-Nya dihina, atau ketika iman kita dipertaruhkan — kita tidak boleh berlindung di balik “lebih baik diam”. Kita dipanggil untuk berbicara, dengan kasih, bijak, dan berani.

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1:7

Pagi ini kita belajar bahwa dalam hukum negara, diam adalah hak kita. Tetapi, dalam iman Kristen, diam saat iman ditantang bisa menjadi penyangkalan. Murid Kristus dipanggil untuk bersaksi, bukan bersembunyi. Dunia menghargai hak pribadi, Kristus menilai kesetiaan kepada-Nya.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, ajarilah kami membedakan kapan harus diam, dan kapan harus bersaksi. Dalam dunia yang sering memberi kami alasan untuk bersembunyi, berikan kami keberanian untuk berdiri bagi nama-Mu. Teguhkan hati kami agar tidak menyangkal-Mu, bahkan dalam tekanan. Kiranya kesaksian kami menjadi terang di tengah dunia yang gelap. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Bagaimana Kita Bereaksi Ketika Nama Yesus Dihina?

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15:18

Suatu ketika, di tengah pertunjukan komedi di sebuah kapal pesiar, ada pelawak yang melontarkan candaan yang merendahkan nama Tuhan Yesus Kristus. Bagi sebagian besar pononton, itu mungkin dianggap gurauan biasa. Mereka menikmati semua itu sebagai sesuatu yang lucu. Namun bagi pengikut Kristus, momen seperti ini dapat terasa menyakitkan — karena mereka tidak sedang membicarakan hal kecil, melainkan tentang nama Tuhan dan Juruselamat manusia.

Jika dalam komedi, film dan pertunjukan umum lainnya, memakai nama Tuhan dan Yesus sebagai bahan gurauan adalah hal yang biasa di dunia Barat, kita mungkin jarang menemuinya di Indonesia. Tetapi, dalam lingkungan terbatas seperti chat group antar teman yang berbeda agama, hal yang serupa bisa terjadi.

Dalam hal ini, ketika seseorang Kristen merasa tersinggung atau terluka saat nama Tuhan dihina atau dihujat, orang lain dengan mudah berkata, “Jangan baper,” atau “Kita harus sabar, kan?” — seolah-olah reaksi emosi itu adalah bentuk kelemahan iman. Pertanyaannya: bagaimana seharusnyaorang Kristen menanggapi situasi seperti ini dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam ayat di atas, Yesus telah lebih dahulu memperingatkan murid-murid-Nya. Karena dunia tidak mengenal Kristus, hinaan dan ejekan akan selalu ada. Sebagai pengikut-Nya, kita tidak perlu terkejut, apalagi merasa takut atau khawatir.

Menghadapi keadaan yang serupa dalam hidup sehari-hari, reaksi setiap orang Kristen terhadap ejekan orang lain bisa berbeda. Ada yang diam saja dan ada yang berdoa. Ada yang memilih menegur dengan lemah lembut. Ada pula yang akhirnya pergi menjauh demi menjaga ketenteraman hati. Semua pilihan ini bisa dibenarkan — tergantung keadaan hati dan konteksnya.

  • Berdoa: Doa adalah bentuk kasih bagi mereka yang belum mengenal Kristus.
  • Bersaksi: Menyampaikan kebenaran dengan kasih bisa menyentuh hati yang keras.
  • Menarik diri: Bila hinaan terus-menerus terjadi, melangkah pergi bukan tanda kalah — tapi untuk menjaga hati dan semangat penginjilan. Yesus pun mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengebaskan debu dari kaki jika penginjilan mereka tidak diterima (Lukas 9:5).

Menhadapi cemooh dunia, ada orang Kristen yang kurang peduli, ada yang peka, dan ada yang tersakiti karena membawa beban masa lalu yang dalam. Merasa sedih atau tersinggung bukan tanda iman lemah atau belum dewasa. Itu tanda hati yang menghormati Tuhan. Sebaliknya, mereka yang kurang peduli justru mungkin masih kurang mengenal siapa Yesus itu.

Dunia mungkin menganggap Yesus sebagai manusia biasa, dan mungkin guru yang bijaksana. Tetapi bagi orang percaya, nama Yesus adalah nama di atas segala nama. Karena itu, kita tidak boleh ikut larut dalam candaan atau kebisuan yang membiarkan penghinaan itu dianggap normal.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2)

Dengan demikian, merasa tersinggung ketika Yesus dihina bukanlah hal yang aneh, melainkan wujud kasih dan pengabdian kepada Sang Juruselamat.

Walaupun demikian, tugas kita bukan membalas ejekan dan melakukan kekerasan seperti yang dilakukan oleh sebagian pengikut agama lain, melainkan menjadi terang — dengan kasih, hikmat, dan keteguhan iman. Kekuatan kita bukan terletak pada argumen atau perdebatan, tetapi pada kuasa Kristus sendiri. Di tengah dunia yang penuh ejekan dan candaan terhadap Kristus, kita bisa berlindung di bawah kasih-Nya. Dan sebagai orang Kristen, kita harus saling menopang dalam menghadapi kebencian dunia.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, kuatkan kami untuk tetap teguh dalam iman ketika nama-Mu dihina. Ajari kami untuk merespons dengan kasih, bukan kebencian. Tolong kami memahami sesama saudara seiman yang mungkin bereaksi dengan cara berbeda. Jadikan kami saksi-Mu yang hidup, di dunia yang sering tidak menghargai-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Melatih Diri Menguasai Amarah

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Efesus 4:26

Satu hal yang harus saya akui adalah sulitnya bagi saya untuk menghindari kemarahan. Saya pernah bertanya bagaimana caranya kepada beberapa teman saya yang sepertinya tidak pernah marah. Kebanyakan jawaban yang saya terima adalah bantahan bahwa mereka tidak pernah marah. Siapa sih yang tidak pernah marah? Mereka juga marah pada saat mengalami sesuatu yang menyinggung perasaan; hanya saja, itu mungkin tidak terlihat karena mereka bisa mengendalikan emosi.

Setiap orang tentu pernah marah. Amarah adalah emosi alami yang Tuhan tanamkan dalam diri manusia. Marah bukanlah dosa itu sendiri, karena bahkan Tuhan Yesus pernah menunjukkan kemarahan-Nya ketika melihat rumah Allah dijadikan sarang penyamun. Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita mengendalikan amarah itu. Jika tidak dikendalikan, amarah bisa melahirkan dosa. Sebaliknya, jika diarahkan dengan benar, amarah bisa menjadi tenaga untuk menegakkan kebenaran.

Firman Tuhan melalui Rasul Paulus dalam Efesus 4:26 mengingatkan kita dengan jelas: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Ayat ini seakan menegaskan dua hal penting:

1. Marah boleh, tetapi jangan jatuh ke dalam dosa. Marah harus segera dipadamkan, jangan dipelihara sampai berlarut-larut.

Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, betapa mudahnya kita melupakan peringatan ini. Kita sering merasa wajar untuk menyimpan kemarahan, bahkan kadang kita memeliharanya berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Padahal, amarah yang dibiarkan bisa menjadi racun yang merusak jiwa kita dan menghancurkan hubungan kita dengan orang lain.

2. Marah Itu Mudah, Menguasai Amarah Itu Sulit

Mengapa kita begitu gampang marah? Karena amarah muncul secara spontan sebagai respon terhadap situasi yang tidak kita sukai. Marah ketika disakiti, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil adalah hal yang wajar. Namun, yang sulit adalah menguasai diri dalam kemarahan itu.

——————–

Kita bisa melihat betapa besar tantangannya. Menguasai amarah tidak terjadi secara otomatis. Sama seperti tubuh kita perlu dilatih untuk sehat melalui olahraga, begitu pula jiwa kita perlu dilatih untuk menguasai diri. Mengendalikan amarah membutuhkan latihan dan disiplin rohani. Tanpa itu, kita akan selalu dikuasai emosi, bukan menguasai emosi.

Lalu bagaimana kalau kita menghindari kemarahan dengan mengabaikan apa yang terjadi? Banyak orang yang berpikir bahwa ini adalah cara yang terbaik. Tetapi ini bukanlah pesan Alkitab. Alkitab tidak melarang kita marah atau menganjurkan kita untuk tidak marah. Sebab sebagai ciptaan Tuhan berdasarkan gambar-Nya, kita diberi kemampuan untuk marah. Jika kita tidak pernah marah, itu mungkin berarti kita sering mengabaikan adanya kejahatan kepada diri kita, kepada orang lain dan kepada bahkan Tuhan kita. Tuhan sendiri bisa marah, tetapi Ia tetap suci. Karena itu, masalahnya adalah bagaimana kita bisa marah dan tetap mempertahankan kesalehan.

Alkitab Menunjukkan Pentingnya Latihan Rohani

Paulus menulis kepada Timotius: “Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Kata “latihlah” di sini berasal dari kata Yunani gumnazo, yang berarti berlatih seperti seorang atlet. Seorang atlet tidak akan pernah berprestasi tanpa latihan terus-menerus, pengulangan, disiplin, dan pengendalian diri.

Demikian pula dalam hal mengendalikan amarah. Tidak cukup hanya tahu bahwa kita harus sabar. Tidak cukup hanya mendengar khotbah atau membaca ayat. Kita harus berlatih untuk sabar. Kita harus melatih diri untuk menahan diri ketika marah. Tanpa disiplin, kita akan jatuh lagi dan lagi ke dalam dosa yang sama.

Latihan Menguasai Amarah

Bagaimana cara melatih diri untuk menguasai amarah? Belajar mengenali pemicu amarah Setiap orang punya titik lemah yang berbeda. Ada yang mudah marah jika diremehkan, ada yang cepat emosi jika pekerjaannya dikritik, ada juga yang tersulut ketika menghadapi kemacetan. Dengan mengenali pemicu amarah, kita bisa lebih waspada sebelum emosi itu meledak. Sering kali, kita bisa menghindari kemarahan dengan menjauhkan diri dari suasana yang membuat kita marah – jika itu bisa dilakukan.

Mengambil jeda sejenak Amsal 14:29 berkata: “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa yang lekas naik darah membesarkan kebodohan.” Saat amarah mulai muncul, latih diri untuk berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai sepuluh, atau bahkan meninggalkan tempat yang kurang nyaman untuk sementara waktu bisa menjadi latihan praktis yang sederhana namun efektif. Ini termasuk meninggalkan grup chat yang tidak membawa kebaikan atau kedamaian.

Banyak orang yang menganjurkan kita untuk berdoa ketika kita marah. Tetapi, mengganti respon spontan dengan doa secara alami adalah sulit. Doa sendiri adalah latihan rohani yang mengubah hati, tetapi kita secara manusiawi adalah tidak mampu berdoa dengan benar. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengajarkan kita Doa Bapa Kami yang mengandung kalimat “ampunilah kami seperti kami mengampuni” dalam Matius 6:12. Ungkapan ini memiliki makna bahwa pengampunan dari Tuhan akan diterima sesuai dengan cara kita mengampuni orang lain, di mana kita mengakui dosa kita dan berharap akan pengampunan, seperti yang sudah kita berikan kepada orang lain.

Mengucapkan doa singkat, “Tuhan, tolong aku untuk tidak jatuh dalam dosa,” mungkin bisa membantu kita meredakan emosi. Semakin sering kita melatih doa spontan ini, semakin mudah kita menguasai diri ketika marah. Belajar mengampuni dengan cepat Paulus menekankan: “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Ini berarti kita harus melatih diri untuk menyelesaikan konflik dengan cepat, tidak menunda pengampunan.

Semakin lama kita menahan amarah, semakin sulit untuk padam. Sama seperti api kecil, lebih mudah dipadamkan sebelum membesar. Mengisi pikiran dengan firman Tuhan Pikiran yang dipenuhi firman akan lebih mudah dikendalikan. Mazmur 119:11 berkata: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Melatih diri dengan merenungkan firman setiap hari membuat kita memiliki “filter rohani” ketika emosi ingin menguasai.

Disiplin Membentuk Karakter Kristus

Disiplin menguasai amarah bukanlah sekadar teknik psikologis, tetapi bagian dari proses pembentukan karakter Kristus dalam diri kita. Galatia 5:22-23 menyebutkan buah Roh, salah satunya adalah penguasaan diri. Buah Roh tidak muncul sekaligus, tetapi bertumbuh melalui latihan dan disiplin rohani setiap hari.

Sama seperti seorang murid belajar dari gurunya, kita pun belajar dari Yesus yang lemah lembut dan rendah hati. Semakin kita melatih diri meneladani-Nya, semakin nyata kesabaran dan penguasaan diri dalam hidup kita.

Marah yang Benar vs Marah yang Berdosa

Kita juga perlu membedakan antara marah yang benar dan marah yang berdosa. Marah yang benar adalah marah terhadap dosa, ketidakadilan, atau penghinaan terhadap nama Tuhan. Marah jenis ini lahir dari kasih, bukan dari ego. Marah yang berdosa adalah marah karena ego terluka, gengsi dijatuhkan, atau keinginan pribadi tidak terpenuhi. Marah seperti ini harus segera dipadamkan. Latihan dan disiplin rohani membantu kita membedakan keduanya.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa marah itu manusiawi. Tetapi menguasai amarah adalah tanda kedewasaan rohani. Sama seperti tubuh memerlukan latihan fisik, jiwa kita pun memerlukan latihan dan disiplin untuk menguasai emosi. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dimampukan untuk tidak membiarkan amarah menguasai kita. Kiranya kita menjadi orang-orang yang terlatih dalam penguasaan diri, sehingga hidup kita memancarkan damai Kristus.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah selama ini saya membiarkan amarah menguasai hidup saya? Apakah saya mudah marah atas ha-hal yang sepele?
  • Apakah saya sudah melatih diri untuk menahan amarah, atau saya selalu membiarkannya meledak begitu saja?
  • Adakah orang yang masih saya benci atau simpan dendamnya sampai hari ini?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, aku sering gagal menguasai amarahku. Aku sadar bahwa aku perlu melatih diri, berdisiplin, dan membiarkan Roh-Mu bekerja dalam hidupku. Tolong aku agar tidak membiarkan amarah berlarut-larut, tetapi menyerahkannya kepada-Mu sebelum matahari terbenam. Bentuklah aku menjadi pribadi yang sabar, penuh kasih, dan memancarkan damai sejahtera-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Mengapa Tuhan Layak Disembah

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103:2

Banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan mengatakan, “Kalau Tuhan itu benar-benar ada dan Mahakuasa, mengapa Dia perlu disembah? Bukankah Tuhan itu Mahasempurna dan tidak membutuhkan apa pun dari manusia?” Pertanyaan serupa mungkin muncul dalam hati Anda berkenaan dengan berapa sering kita harus berbakti kepada-Nya. Mengapa, Tuhan memerintahkan kita untuk selalu ingat untuk menyembah Dia?

Sekilas, pernyataan ini terdengar logis. Orang bisa saja membayangkan penyembahan Tuhan seperti kewajiban untuk menyenangkan seorang raja yang haus pujian. Apalagi, ada agama-agama tertentu yang tidak menekankan penyembahan ilahi, tetapi mementingkan perbatan baik. Asal kita rajin berbuat baik, masa depan kita akan baik. Tetapi, konsep penyembahan Tuhan menurut Alkitab jauh dari itu. Ini bukan soal Tuhan “butuh” penyembahan kita, tetapi soal siapa kita di hadapan-Nya.

Tuhan tidak menciptakan manusia karena Ia kesepian atau kurang pujian. Dia adalah Allah yang self-sufficient — cukup dalam diri-Nya sendiri. Tetapi Ia menciptakan kita untuk hidup dalam relasi kasih dengan-Nya. Penyembahan adalah bagian dari relasi itu — ekspresi kasih, ucapan syukur, dan pengakuan atas kemuliaan dan kedaulatan-Nya.

Beberapa poin penting yang perlu kita ingat:

1. Tuhan Tidak Membutuhkan Kita — Tapi Kita Membutuhkan Dia

Alkitab dengan jelas menyatakan:

“Allah, yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil buatan tangan manusia, dan Ia juga tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Kisah Para Rasul 17:24–25

Tuhan tidak pernah meminta penyembahan karena kekurangan. Ia adalah sumber hidup. Justru sebaliknya, kitalah yang membutuhkan Dia. Seperti tanaman tidak bisa hidup tanpa matahari, demikian pula jiwa manusia tidak bisa hidup tanpa hadirat Allah. Ketika manusia menyembah, ia memilih untuk kembali ke posisi semula, sewaktu dia baru diciptakan — sebagai makhluk yang bergantung dan bersyukur kepada Penciptanya.

2. Penyembahan Menyembuhkan Jiwa Kita

Mazmur 103 dimulai dengan seruan pribadi Daud kepada dirinya sendiri: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Ia tidak sedang memerintah orang lain — ia sedang mengingatkan dirinya sendiri untuk bersyukur.

Penyembahan bukan untuk menyenangkan Tuhan, tetapi untuk menyelaraskan hati kita dengan Dia. Saat kita menyembah, kita mengingat kasih setia dan kebaikan-Nya, melepaskan beban kekhawatiran, menempatkan diri dalam posisi rendah hati di hadapan kemuliaan Allah,dan menyadari kembali siapa kita dan siapa Tuhan.

Penyembahan adalah terapi rohani bagi jiwa manusia yang mudah lupa. Dunia mengajarkan kita untuk memuja diri sendiri, tetapi penyembahan mengembalikan fokus kita kepada Tuhan yang layak dimuliakan.

3. Jika Kita Tidak Menyembah Tuhan, Kita Akan Menyembah yang Lain

Alkitab mengingatkan kita bahwa ketika manusia menolak menyembah Sang Pencipta, mereka akan menyembah benda atau makhluk lain yang diciptakan Allah. Ini adalah suatu kebodohan yang luar biasa.

“Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya…” Roma 1:25

Ini berarti penyembahan bukan pilihan antara “ya atau tidak” — melainkan “kepada siapa.” Kalau bukan Tuhan, maka uang, kuasa, prestasi, kesenangan, tokoh yang dikagumi, atau diri sendirilah yang akan menjadi “allah” dalam hidup kita. Dan semua allah palsu itu tidak dapat menyelamatkan. Inilah suatu ironi karena banyak orang merasa “bebas” karena tidak menyembah Tuhan, padahal mereka sedang diperbudak oleh berhala yang mereka sembah secara tak sadar.

4. Penyembahan Adalah Respon Kasih, Bukan Kewajiban karena Terpaksa

Tuhan tidak memaksa penyembahan seperti diktator haus kuasa. Ia mengundang kita untuk mengasihi-Nya karena Ia terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Ketika kita mengingat salib Kristus — bahwa Yesus mati menggantikan kita yang berdosa — maka penyembahan bukan beban, tetapi kerinduan. Orang yang menyadari kasih karunia Allah akan secara alami menyembah-Nya. Seperti seorang anak kecil yang memeluk ayahnya karena diselamatkan dari bahaya, demikianlah penyembahan sejati lahir dari hati yang bersyukur.

5. Penyembahan Membentuk Karakter Kekal

Di surga nanti, tidak akan ada dosa, tidak ada kesedihan, tidak ada perebutan kuasa — tetapi akan ada penyembahan yang kekal (Wahyu 7:9–12). Mengapa? Karena penyembahan adalah kehidupan manusia sebagaimana seharusnya: hidup dalam kasih, kekaguman, dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Saat kita belajar menyembah Tuhan di dunia ini, kita sedang dibentuk untuk kehidupan kekal itu. Penyembahan bukan tugas sementara, melainkan latihan untuk hidup dalam kekekalan. Mereka yang tidak pernah mau belajar menyembah Tuhan, pada akhirnya mungkin tidak akan berdiam bersama Tuhan di surga.

Refleksi Pribadi:

Banyak orang salah paham tentang penyembahan karena melihatnya sebagai “kewajiban religius.” Tapi penyembahan sejati bukan soal rutinitas, melainkan relasi. Ketika hati kita jauh dari Tuhan, penyembahan terasa berat. Tapi ketika kita mengenal kasih-Nya yang besar, penyembahan menjadi sukacita.

Mazmur 103 bukan hanya perintah, tetapi ajakan lembut: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku…” Ini adalah panggilan untuk mengingat semua kebaikan Tuhan — pengampunan, pemulihan, dan kasih setia yang tidak pernah berhenti. Dalam dunia yang penuh kebisingan, penyembahan mengarahkan hati kita kembali kepada Dia.

Doa Penutup:

Tuhan, Engkau tidak membutuhkan pujian kami, tetapi kami membutuhkan Engkau. Ajari kami untuk menyembah-Mu dengan hati yang bersyukur, bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih yang Kau curahkan kepada kami. Ampuni kami bila kami sering melupakan kebaikan-Mu. Pulihkanlah jiwa kami, dan jadikan hidup kami pujian bagi nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Ayat di atas adalah satu ayat yang paling sering dipakai dalam acara kebangunan rohani, di mana orang yang belum mengenal Kristus diundang untuk percaya kepada-Nya. Salah satu pertanyaan teologis paling umum yang pernah saya terima mengenai ayat ini adalah seperti ini: Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Apakah Tuhan yang mahasuci sangat membenci dosa, tetapi mengasihi orang berdosa? Apakah Ia mengasihi mereka yang menolak-Nya sama seperti Ia mengasihi anak-anak tebusan-Nya? Dengan kata lain, apakah Ia mengasihi Adolf Hitler sama seperti Ia mengasihi Billy Graham?

Sering kali juga saya mendengar pesan “Yesus mengasihimu” atau “Tuhan memberkatimu” yang diucapkan oleh orang Kristen kepada sekelompok orang yang mungkin mencakup orang Kristen dan non-Kristen. Apakah alkitabiah untuk mengatakan ungkapan-ungkapan seperti itu kepada sembarang orang?

Terlalu sering saya mendengar jawaban yang terlalu sederhana untuk pertanyaan rumit ini. Secara historis, satu kelompok orang Kristen menjawab dengan “ya” tanpa syarat, sementara beberapa kelompok lain menjawab “tidak” tanpa syarat.

Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah memberikan karunia umum bagi semua orang, yang sering disebut anugerah umum, yang terlihat dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan hati bagi seluruh ciptaan dan umat manusia, seperti matahari dan hujan yang turun bagi orang benar maupun orang fasik. Namun, teologi Reformed juga mengajarkan bahwa Allah memiliki karunia yang khusus atau istimewa, yang secara eksklusif diperuntukkan bagi orang pilihan (mereka yang dipilih Allah untuk keselamatan) dan hanya ditemukan di dalam Kristus. Jadi, ada beda antara kasih-Nya yang umum dan kasih-Nya yang khusus.

Kasih Allah yang umum adalah keinginan yang penuh kemurahan hati untuk kebaikan seluruh umat manusia, bahkan mereka yang tidak percaya. Kasih ini ditunjukkan oleh pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan hati bagi semua orang, menyediakan makanan, tempat tinggal, dan kesempatan umum untuk bertobat dan datang kepada-Nya, seperti matahari dan hujan bagi semua orang, yang bukan hanya untuk orang percaya. Ini tentunya masuk akal karena semua orang di dunia ini hidup bersama dan berinteraksi satu dengan yang lain. Walaupun demikian, kasih umum bagi dunia ini sebenarnya bertalian dengan panggilan Injil, yang mengundang setiap orang untuk berdamai dengan Allah melalui Yesus Kristus. Hal ini tentu sulit diterima oleh mereka yang percaya bahwa alam semesta ada sejal mulanya untuk dinikmati setiap manusia dan segala hasil dalam hidup adalah jerih payah manusia sendiri. Bagi mereka, Tuhan itu tidak ada atau tidak relevan.

Kasih yang khusus atau istimewa adalah kasih Tuhan bagi umat pilihan-Nya saja, yaitu kasih yang unik dan menyelamatkan yang Allah miliki bagi mereka yang dipilih dan diangkat menjadi anak-anak-Nya melalui Kristus. Kasih Allah inilah yang menyelamatkan orang-orang yang tenggelam dalam dosa. Ditemukan di dalam Kristus, kasih yang mendalam dan mengubah cara hidup manusia ini dialami oleh mereka yang ada di dalam Kristus dan beriman kepada-Nya. Karena kekudusan-Nya, Allah tidak dapat mengaruniakan kasih yang menyelamatkan seperti ini bagi mereka yang menolak uluran tangan-Nya, karena Ia membenci dosa dan orang hidup dalam dosa.

Perbedaan utama antara dua jenis kasih ini terletak pada hakikat dan tujuan kasih tersebut. Meskipun Allah menunjukkan kebaikan umum kepada semua orang, hanya umat pilihan yang menerima kasih khusus dan menyelamatkan yang menebus dan mengubah mereka menjadi keluarga rohani-Nya.

Don Carson, dalam bukunya “The Difficult Doctrine of the Love of God” (Crossway, 2000) menjelaskan beberapa bentuk kasih Allah.

Kasih antara Allah Bapa, Putra dan Roh:
Kasih Allah Tritunggal tidak hanya membedakan monoteisme Kristen dari semua monoteisme lainnya, tetapi juga secara mengejutkan terkait erat dengan wahyu dan penebusan. Injil Yohanes khususnya kaya akan tema ini (misalnya, Yohanes 3:35; 5:20). Kasih intra-Trinitarian ini diungkapkan dalam hubungan yang sempurna antara Bapa dan Putra, yang tak ternoda oleh dosa di kedua belah pihak. Kasih intra-Trinitarian ini berfungsi sebagai model kasih antara Yesus dan para pengikut-Nya.

Kasih Allah yang Maha Pemurah atas semua ciptaan-Nya:
Meskipun Alkitab sebagian besar menghindari penggunaan kata “kasih” dalam konteks ini, temanya tidak sulit ditemukan. Allah menciptakan segala sesuatu, dan sebelum tercium sedikit pun dosa, Ia menyatakan segala sesuatu yang telah Ia ciptakan “baik” (Kejadian 1). Ini adalah hasil karya Pencipta yang penuh kasih. Yesus menggambarkan sebuah dunia di mana Allah menghiasi rumput di ladang dengan keindahan bunga-bunga liar yang mungkin tak disadari manusia, tetapi dinikmati oleh Allah.

Kasih Allah yang menebus dunia-Nya yang telah jatuh:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya (Yohanes 3:16). Beberapa orang mencoba mengartikan kosmos (“dunia”) di sini untuk merujuk pada orang-orang pilihan, tetapi itu sebenarnya tidak tepat. Semua bukti penggunaan kata tersebut dalam Injil Yohanes bertentangan dengan anggapan tersebut. “Dunia” dalam Injil Yohanes lebih merujuk pada kejahatan daripada kebesaran. Ini terutama merupakan tatanan moral dalam pemberontakan yang disengaja terhadap Allah. Dalam Yohanes 3:16, kasih karunia Allah patut dikagumi bukan karena ditujukan kepada hal sebesar dunia, melainkan kepada hal yang begitu buruk; bukan kepada begitu banyak orang, melainkan kepada orang berdosa, yaitu semua orang tanpa terkecuali.

Kasih Allah yang khusus, efektif, dan selektif terhadap umat pilihan-Nya:
Umat pilihan bisa berupa bangsa Israel dalam Perjanjian Lama atau gereja sebagai suatu badan atau individu. Dalam setiap kasus, Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada umat pilihan-Nya dengan cara yang tidak Ia berikan kepada orang lain.

Hal yang mencolok dari ayat-ayat seperti Ulangan 7:7-8 adalah ketika Israel dikontraskan dengan bangsa-bangsa lain, ciri pembedanya tidak mencakup apa pun yang berkaitan dengan jasa pribadi atau nasional; itu tidak lain adalah kasih Allah. Kasih Allah ditujukan kepada Israel dengan cara yang tidak ditujukan kepada bangsa-bangsa lain. Dan ciri pembeda dari kasih Allah ini sering muncul dalam Alkitab. “Aku mengasihi Yakub, tetapi Aku membenci Esau,” firman Allah (Maleakh 1:2-3).

Demikian pula, dalam Perjanjian Baru kita membaca Kristus “mengasihi jemaat” (Efesus 5:25). Berulang kali Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa kasih yang khusus dari Allah ditujukan kepada mereka yang ada sebagai jemaat. Pilihan Allah ini adalah hak-Nya dan tidak dapat dibantah siapa pun.

Kasih Allah bagi umat-Nya ada dengan syarat ketaatan:
Ketaatan adalah bagian dari struktur rasional pengenalan akan Allah; hal ini tidak berkaitan dengan bagaimana kita mengenal-Nya, melainkan dengan hubungan kita dengan-Nya setelah kita mengenal-Nya. Yudas menasihati para pembacanya, “Jagalah dirimu tetap berada dalam kasih Allah” (Yudas 21), meninggalkan kesan yang jelas bahwa seseorang yang mengaku Kristen mungkin saja tidak tetap berada dalam kasih Allah karena kesalahannya sendiri.

Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk tetap berada dalam kasih-Nya (Yohanes 15:9), dan menambahkan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tetap berada dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tetap berada dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10).

Peringatan Penting

Kita harus menghindari penekanan eksklusif pada kasih Allah yang memilih umat-Nya dan yang mengabaikan orang lain, yang dapat mengarahkan kita pada hiper-Calvinisme yang dingin. Mereka yang merasa terpilih juga bisa merasa bahwa ia tidak perlu berbuat baik atau taat kepada Tuhan.

Pada pihak lain, kita harus meneliti klise-klise Injili yang sudah usang dengan pertimbangan Alkitab. Ajaran Kitab Suci yang lengkap tentang kasih Allah memberikan pencerahan yang dibutuhkan pada ungkapan seperti “Allah mengasihi semua orang dengan cara yang sama,” atau “Allah mengasihi kita tanpa syarat.” Mengapa? Di banyak bagian, Alkitab menggambarkan kasih Allah sebagai sesuatu yang dikondisikan oleh ketaatan. Di sisi lain, kasih Allah bagi umat-Nya tidak bersyarat—berkat karya Kristus.

Alasan bagi kita untuk bersukacita

Kasih Allah bagi orang berdosa seharusnya selalu mencengangkan dan merendahkan hati kita. Kasih Allah itu tidak boleh diperkecil menjadi sekadar hal yang selazimnya bagi Dia yang mahakasih. Pemazmur bertanya-tanya dengan tepat, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:4).

Pagi ini kita belajar bahwa Allah mengasihi umat-Nya, ciptaan-Nya, dan kosmos yang telah jatuh ini. Kebenaran yang tak terselami itu seharusnya menuntun kita untuk menyembah-Nya dengan sungguh-sungguh, berseru bersama rasul agung itu, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Roma 11:36).