Memberi Kesempatan kepada Orang Lain

“Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Filipi 2:3–4

Di Indonesia mungkin frasa “ladies first” mungkin jarang di dengar, kecuali dalam kalangan orang yang terbiasa dengan budaya barat. Frasa ini dalam bahasa Inggris berarti “wanita lebih dulu”, sebuah ungkapan kesopanan yang mempersilakan kaum wanita untuk mendahului pria dalam situasi tertentu seperti masuk atau keluar ruangan, mengantre makanan dan sebagainya. Ungkapan ini bisa menandakan penghargaan terhadap wanita, meskipun ada juga perdebatan mengenai asal-usulnya yang konon berasal dari etiket kesatria abad pertengahan untuk melindungi wanita dari bahaya.

Pada zaman modern, wanita tidak dipandang sebagai makhluk yang lebih lemah dari pria. Tetapi, secara umum, “ladies first” tetap merupakan gestur sopan santun yang menunjukkan rasa hormat dengan mempersilakan wanita untuk mendahului pria. Tindakan ini sering kali dilakukan untuk membuat wanita merasa dihargai, didahulukan, dan diperhatikan. Sebaliknya, bagi kaum pria, ini dipandang sebagai etiket pergaulan yang baik yang seharusnya dimiliki oleh semua pria yang tahu sopan santun. Selain “ladies first”, terkadang frasa “ladies and children first” sekarang kadang-kadang masih ditemui sekalipun tidak ditetapkan hukum, untuk mendahulukan kaum wanita dan anak-anak pada situasi tertentu, seperti menaiki perahu atau kendaraan lain.

Bagaimana dengan konsep mendahulukan orang lain menurut Alkitab? Kita bisa belajar dari ayat-ayat di atas. Kehidupan jemaat di Filipi pada masa Paulus sebenarnya cukup baik. Mereka dikenal sebagai jemaat yang penuh kasih dan dermawan, bahkan membantu pelayanan Paulus ketika ia berada di penjara. Namun, di balik semangat itu, tersimpan benih-benih perpecahan kecil. Ada anggota jemaat yang merasa lebih penting, ada yang ingin diakui, dan ada pula yang berjuang mempertahankan pandangannya sendiri. Paulus, yang begitu mengenal jemaat itu dengan kasih pastoral, menulis dengan lembut tetapi tegas: “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Konteks nasihat ini bukan hubungan dengan orang luar atau masyarakat umum, melainkan hubungan antar jemaat, antar sesama orang percaya yang sudah ditebus Kristus. Paulus tahu, jika tubuh Kristus di Filipi retak karena ambisi pribadi dan kebanggaan rohani, maka kesaksian mereka di hadapan dunia akan kehilangan maknanya. Kerendahan hati bukan sekadar sikap sopan atau etika sosial, melainkan cerminan kasih Kristus sendiri yang hidup di dalam umat-Nya.

Paulus menegaskan bahwa orang percaya dipanggil untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Kristus, yang memiliki segala kemuliaan dan kuasa, justru mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Inilah inti dari iman Kristen: kasih yang rela menanggalkan hak demi kepentingan orang lain. Bagi Paulus, kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari pengenalan akan kasih karunia Tuhan.

Jika kita merenungkan ayat ini dalam kehidupan jemaat masa kini, kita bisa melihat betapa relevannya pesan ini. Banyak gereja modern yang memiliki liturgi indah, pelayanan lengkap, dan aktivitas padat, tetapi di dalamnya kadang muncul persaingan halus — siapa yang lebih dihormati, siapa yang lebih “rohani,” siapa yang lebih didengar. Lebih dari itu, terkadang sebagian para pemimpin gereja mungkin ada yang merasa bahwa mereka seharusnya menerima penghormatan dan prioritas yang lebih besar dari orang lain. Dalam situasi seperti ini, nasihat Paulus bergema kembali: berilah kesempatan bagi orang lain.

Memberi kesempatan bukan berarti mengabaikan diri sendiri atau meniadakan kebutuhan pribadi. Paulus tidak meminta jemaat untuk hidup dalam ketimpangan, tetapi untuk menyeimbangkan kepentingan diri dan sesama dengan kasih yang tulus. Dalam gereja, memberi kesempatan bisa berarti mendengarkan sebelum menilai, berbagi kesempatan pelayanan tanpa iri hati, memberi dorongan ketika yang lain tampil di depan, dan menerima bahwa cara Tuhan bekerja melalui setiap orang bisa berbeda-beda dan setiap orang mempunyai kelemahan dan kekuatan tersendiri.

Kita sering melihat bagaimana perbedaan pendapat dalam pelayanan bisa menimbulkan luka. Selain itu, kita sadar bahwa setiap manusia umumnya cenderung menuntut perhatian dan penghargaan orang lain. Namun, jika kita meneladani Kristus yang tidak menuntut hak-Nya, maka kita akan belajar menundukkan diri bukan karena kalah, melainkan karena kasih. Kerendahan hati tidak membuat kita kecil, justru membesarkan ruang hati agar kasih Kristus dapat bekerja melalui kita. Kesediaan untuk mendahulukan kepentingan orang lain adalah kualitas kekristenan yang diajarkan Paulus.

Alkitab mengajarkan bahwa perbuatan baik kita seharusnya terlihat oleh orang di luar gereja sehingga mereka memuliakan Bapa di surga. Kutipan utama yang mendukung hal ini adalah Matius 5:16 yang menyatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”. Hal ini bertujuan agar kebaikan kita bukan untuk diri sendiri, melainkan sebagai kesaksian akan kehadiran Allah dan memimpin orang lain kepada kebenaran.

Pagi ini kita belajar bahwa kasih yang sejati tidak bersaing untuk menonjol, tetapi bersaing untuk melayani. Dan hanya kasih Kristus yang bisa menumbuhkan semangat itu. Ketika kita memandang orang lain melalui mata Allah, kita tidak lagi melihat saingan atau ancaman, melainkan sesama yang dikasihi Tuhan. Kita tidak lagi menghitung siapa lebih besar, tetapi bersyukur bahwa setiap orang mendapat bagian yang indah dalam rencana-Nya.

Kerendahan hati dan kasih dalam jemaat bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan karya Roh Kudus dalam hati yang telah dikosongkan. Maka doa kita hari ini kiranya sederhana tetapi dalam: “Ya Tuhan, tolong aku untuk mengosongkan diriku dan memberi ruang bagi sesamaku.” Dengan demikian, gereja bukan sekadar tempat beribadah, melainkan rumah kasih di mana setiap orang belajar melihat dan melayani dengan hati Kristus.

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:43-45

Berbahagia dalam Penderitaan karena Kristus

” Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Matius 5:11

Kata “berbahagialah” terdengar indah, tetapi ketika Yesus berkata, “Berbahagialah kamu yang dianiaya karena Aku,” banyak orang berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana mungkin seseorang bisa berbahagia ketika disakiti, ditolak, atau difitnah?”

Memang pada saat Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit, penderitaan dan penganiayaan belum terjadi pada mereka yang mengikuti-Nya. Namun, berkat Yesus ini berfungsi sebagai peringatan dini bahwa pelecehan semacam itu akan datang (Yohanes 16:1-4). Dalam ayat berikutnya, Yesus akan melanjutkan penjelasannya mengapa mereka yang menderita karena terhubung dengan-Nya sudah diberkati di surga.

Sebenarnya dalam hidup setiap orang bisa disakiti, ditolak, atau difitnah, kapan saja dan di mana saja. Di rumah, sekolah, kantor, dan bahkan di gereja, kita bisa saja mengalami hal-hal yang membuat kita menderita. Apalagi, di zaman ini pergaulan bisa dilakukan di dunia maya, di mana hal-hal yang tidak baik bisa terjadi tanpa sanksi atau hukuman.

Namun Yesus tidak sedang berbicara tentang kebahagiaan duniawi. Ia tidak juga menyinggung penderitaan yang kita alami yang datang dari persoalan duniawi. Ia berbicara hanya tentang penderitaan yang kita alami karena iman kita dalam Yesus Kristus. Dalam hal itu, Ia berbicara tentang sukacita rohani yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang menyatu dengan Allah. Sukacita yang tidak tergantung pada situasi, melainkan pada kehadiran Kristus di dalam diri kita.

Mungkin ada yang bertanya: apakah baik jika kita berusaha mencari tantangan iman agar kita bisa lebih berbahagia? Jawabnya jelas: Tidak. Yesus tidak mengajar kita untuk mencari penderitaan. Tidak ada rasul yang sengaja mencari gara-gara supaya bisa dianiaya. Tidak ada murid Kristus yang bangga karena dibenci orang lain. Tapi mereka sadar bahwa itu akan dan bisa terjadi, dan mereka siap menerima akibatnya.

Yang Yesus maksud adalah jika kita tetap setia kepada-Nya, dan karena itu kita dicela atau difitnah, jangan takut, jangan akan tawar hati — sebab kita tidak akan sendirian.

Yesus juga berkata,

“Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala; sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Dalam hal ini, kita dipanggil untuk berhikmat, bukan untuk nekat. Kita dipanggil untuk tetap tulus, bukan untuk memancing atau mengobarkan kebencian. Kesetiaan kepada Kristus bukan berarti kita harus menjerumuskan diri ke dalam bahaya, tetapi berarti kita tidak menyerah dalam kebenaran dan kasih, sekalipun dunia menolak kita.

Yesus memberikan prinsip yang bijaksana ketika Ia mengutus murid-murid-Nya, Ia berkata,

“Apabila kamu tidak diterima di suatu tempat, kebaskanlah debu dari kakimu.” (Markus 6:11)

Artinya, ketika kebaikan dan kasih kita ditolak, kita tidak perlu memaksakan diri. Kita boleh mengebaskan debu dan berjalan lanjut — bukan karena dendam, tetapi karena ini adalah lebih berguna untuk hidup dan pelayanan kita sebagai hamba Kristus. Seorang hamba yang baik tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna bagi majikannya, dan karena itu kita harus bijaksana dalam menggunakan kesempatan yang ada.

Mengebaskan debu bukan tanda menyerah. Itu tanda berserah. Sebuah pengakuan bahwa kita sudah melakukan bagian kita, dan sekarang waktunya menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Tuhan tidak meminta kita menanggung beban yang lebih besar dari kekuatan kita. Ia hanya meminta kita tetap memiliki hati yang bersih, tanpa dendam dan tanpa kepahitan, dan terus melaksanakan tugas kita pada kesempatan lain.

Memang dunia tidak selalu menyambut terang Kristus dengan sukacita. Adanya terang sering kali membuat orang yang hidup dalam kegelapan merasa terganggu. Ketika kita jujur, ada yang mencibir. Ketika kita tulus, ada yang menuduh. Ketika kita setia kepada Kristus, ada yang menertawakan kita. Tetapi Yesus sendiri sudah lebih dahulu mengalaminya.

Orang percaya sejati di dalam Kristus adalah orang benar di mata Allah (Roma 3:21-22; 2 Korintus 5:21; Filipi 1:11). Pengakuan iman kita kepada Yesus Kristus dan cara hidup moral orang Kristen sejati terbukti menyinggung dunia, yang mengakibatkan penganiayaan demi kebenaran. Yesus menghadapi penganiayaan dan dibenci dunia, begitu pula semua orang yang menjadi milik Kristus: “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu seperti miliknya. Tetapi kamu bukanlah dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia; sebab itulah dunia membenci kamu” (Yohanes 15:19).

Jika kita benar-benar mengikuti Dia, tidak mengherankan bila dunia pun memperlakukan kita seperti Dia. Para rasul mengerti hal ini. Setelah mereka dipukuli dan diancam karena memberitakan Kristus, mereka keluar dari mahkamah agama sambil bersukacita,karena dianggap layak menderita demi nama Yesus (Kisah 5:41). Mereka tidak marah, tidak membalas, tidak menuntut.Mereka tahu bahwa penderitaan itu bukan aib —melainkan kehormatan dari Allah.

Namun kita perlu jujur juga: tidak semua penderitaan adalah penderitaan karena Kristus. Kadang orang merasa dianiaya karena “kebenaran”, padahal yang menimbulkan masalah adalah ego, cara bicara yang sembarangan, atau sikap yang tidak bijak. Penderitaan seperti itu tidak menghasilkan pahala rohani, tetapi pelajaran untuk rendah hati.

Petrus menulis,

“Alangkah baiknya jika seorang menanggung penderitaan karena berbuat baik, dan bukan karena berbuat jahat.” (1 Petrus 2:20)

Sukacita yang Yesus maksud bukanlah tertawa di tengah air mata, tetapi damai yang melampaui pengertian. Sebuah ketenangan dapat kita peroleh dari keyakinan kita akan kedaulatan Tuhan: “Tuhan tahu apa yang akan terjadi padaku” (Matius 10:30). Damai ini tidak bisa dirampas oleh siapa pun, karena berasal dari keyakinan bahwa Tuhan memegang kendali.

Namun menguasai hati di tengah celaan bukan hal yang mudah. Kita perlu latihan — disiplin iman. Sama seperti otot yang dilatih dengan beban, jiwa kita pun perlu dilatih dengan pengendalian diri dan kesabaran. Setiap kali kita tergoda untuk membalas, itulah saatnya berlatih menahan diri. Setiap kali kita difitnah, itulah saatnya berdoa dan menyerahkan luka kepada Tuhan. Setiap kali kita tetap memilih mengasihi, itulah saat kita sedang menang — bukan kalah.

Kadang latihan ini membuat hati perih, tetapi justru di situlah kasih diuji. Kita belajar bahwa tidak semua tuduhan harus dibantah, tidak semua luka harus dibalas, dan tidak semua penolakan harus dikejar. Ada kalanya yang terbaik adalah diam, mengebaskan debu dari kaki, dan berjalan maju bersama Kristus yang memahami segalanya.

Yesus menutup ajaran-Nya dengan janji indah: “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”(Matius 5:12). Dunia mungkin tidak memberi tepuk tangan, tetapi surga menanti dengan mahkota. Kita tidak perlu mencari penderitaan, tetapi ketika penderitaan datang karena kesetiaan kita, biarlah kita menyambutnya dengan damai. Dan bila tiba saatnya mengebaskan debu, lakukanlah dengan kasih, bukan dengan amarah.

Berbahagialah bukan karena kita dianiaya, tetapi karena Kristus hidup di dalam kita. Berbahagialah bukan karena dunia menolak kita, tetapi karena kita tidak menolak kasih-Nya. Berbahagialah karena di tengah fitnah dan celaan, karena kita tetap memiliki damai sejahtera yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.

Kiranya setiap celaan yang datang justru menjadi kesempatan bagi kita untuk memancarkan kasih Kristus. Dan ketika kaki kita berdebu oleh perjalanan yang panjang, semoga kita selalu ingat untuk mengebaskannya — bukan karena menyerah, tetapi karena berserah. Alih-alih merasa kecil hati, cemas, marah, atau tertekan, orang percaya yang dianiaya karena hidup secara terbuka bagi Kristus dan kerajaan-Nya memiliki alasan yang baik untuk bersukacita dan bergembira—karena pahala mereka di surga sangat besar.

Kasih dan Kerendahan Hati: Dua Wajah dari Satu Roh

“Janganlah kamu melakukan sesuatu pun dengan sikap mementingkan diri sendiri atau dengan kesombongan, tetapi hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Filipi 2:3

Adakah kasih tanpa kerendahan hati? Tidak ada. Kasih dan kerendahan hati adalah dua wajah dari satu roh yang sama—Roh Kristus. Keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab kasih sejati selalu mengalir dari hati yang rendah, dan kerendahan hati sejati selalu tampak dalam kasih. Namun di dunia modern, kedua sikap ini sering disalahpahami. Banyak orang mengira kasih berarti membiarkan orang lain berbuat sesuka hati, bahkan ketika mereka berbuat jahat kepada kita. Sebaliknya, ada pula yang mengira kerendahan hati berarti diam saja ketika dilecehkan, menanggung hinaan tanpa batas, seolah Tuhan menuntut kita menjadi korban tanpa suara.

Kasih dan kerendahan hati yang diajarkan Kristus jauh lebih dalam dari apa yang banyak disuarakan orang. Keduanya bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang berakar pada pengenalan akan Allah. Kasih sejati bukan perasaan lemah-lembut yang mudah berubah, melainkan keputusan untuk mencari kebenaran dan kebaikan bagi orang lain. Rasul Paulus menggambarkan kasih sebagai sabar, murah hati, tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Kasih bukan berarti kita membiarkan kejahatan terus terjadi demi menjaga ketenangan. Itu karena Yesus sendiri penuh kasih, tetapi Ia juga tegas terhadap dosa. Ia mengampuni perempuan yang berzinah, tetapi berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Kasih seperti ini berani menolak kejahatan tetapi tetap menerima orangnya dengan belas kasihan.

Demikian pula kerendahan hati. Banyak orang mengira rendah hati berarti menilai diri sendiri tidak berharga. Padahal kerendahan hati sejati justru lahir dari pengenalan akan nilai diri yang benar di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati tahu bahwa dirinya adalah ciptaan yang berharga, tetapi juga sadar bahwa segala yang ia miliki hanyalah anugerah. Ia tidak sombong, tetapi juga tidak meniadakan diri. Kerendahan hati bukan berarti membiarkan orang lain melecehkan kita; rendah hati bukan rendah diri. Kerendahan hati bukan berarti membiarkan orang melecehkan ajaran Kristus, karena Yesus adalah teladan tertinggi. Ia merendahkan diri, menjadi manusia, bahkan mati di kayu salib, tetapi Ia tidak pernah kehilangan identitas sebagai Anak Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kasih dan kerendahan hati paling nyata diuji bukan di gereja, melainkan di rumah, di tempat kerja, dan di tengah pergaulan. Kasih yang rendah hati membuat seorang suami mau meminta maaf lebih dulu, meski merasa tidak sepenuhnya salah. Kasih yang rendah hati membuat seorang rekan kerja menghargai pendapat orang lain, tanpa harus membuktikan diri paling benar. Dan kasih yang rendah hati membuat seorang pelayan Tuhan tetap setia melayani, meski tanpa tepuk tangan. Di tengah dunia yang penuh ego, kasih yang rendah hati menjadi cahaya yang meneduhkan. Dunia mengajarkan: “Jangan biarkan orang lain menginjakmu.” Tetapi Kristus berkata: “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” (Matius 11:29).

Kasih tanpa kerendahan hati akan menjadi sombong. Kita bisa memberi, tetapi dengan niat ingin dipuji. Kita bisa menolong, tetapi dengan merasa lebih tinggi. Kasih seperti itu kehilangan keindahan sejatinya karena tidak berakar dalam anugerah. Sebaliknya, kerendahan hati tanpa kasih menjadi dingin dan pasif. Orang bisa tampak lembut, tetapi sebenarnya takut, tertekan, atau kehilangan keberanian menegakkan kebenaran Kristus. Kerendahan hati sejati tunduk kepada Allah, bukan kepada manusia. Kasih memberi arah pada kerendahan hati, dan kerendahan hati memberi kekuatan pada kasih.

Kita tidak dapat memiliki keduanya tanpa mengenal Kristus. Dosa selalu membuat kita ingin membalas, ingin menang, ingin dihormati. Tetapi saat kita memandang salib Kristus, kita melihat kasih yang paling murni dan kerendahan hati yang paling dalam. Di situ kita belajar bahwa mengundurkan diri bukan berarti kalah, mengampuni bukan berarti lemah, dan berdiri untuk kebenaran bukan berarti tidak mengasihi.

Kasih tanpa kerendahan hati kehilangan keindahannya, dan kerendahan hati tanpa kasih kehilangan kehangatannya. Keduanya hanya dapat bersatu di dalam Kristus, yang penuh kasih dan rendah hati. Dialah teladan kita yang tidak membalas hinaan dengan hinaan, tetapi menyerahkan diri kepada Allah yang menghakimi dengan adil. Marilah kita belajar mengasihi tanpa sombong, dan rendah hati tanpa kehilangan keberanian. Sebab di dalam kasih dan kerendahan hati yang sejati, dunia dapat melihat wajah Kristus di dalam hidup kita.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Filipi 2:5

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkaulah sumber kasih dan teladan kerendahan hati. Ajarlah aku untuk mengasihi seperti Engkau, tanpa pamrih dan tanpa sombong. Ajarlah aku untuk rendah hati, bukan karena takut, tetapi karena percaya bahwa Engkau yang memegang hidupku. Tuntunlah lidahku, pikiranku, dan tindakanku agar selalu mencerminkan kasih-Mu yang kudus. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.

Persahabatan di Usia Senja

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari seorang saudara.” Amsal 18:24

Semakin usia kita bertambah, semakin kita menyadari bahwa lingkaran pertemanan kita tidak lagi seluas dulu. Di masa muda, kita memiliki banyak teman dari berbagai lingkup: sekolah, kuliah, pekerjaan, lingkungan rumah, bahkan dari aktivitas-aktivitas sosial yang kita ikuti. Nama dan wajah mereka berderet di album foto lama, penuh kenangan masa indah ketika dunia terasa begitu terbuka. Kita bisa tertawa bersama, bepergian bersama, bahkan begadang bersama hanya demi cerita atau rencana yang seolah tiada habisnya. Namun waktu membawa perubahan. Teman yang dulu begitu dekat mungkin pindah ke kota lain, sibuk dengan urusan rumah tangganya, atau bahkan telah berpulang mendahului kita.

Dengan berlalunya tahun, lingkaran pertemanan itu mengecil, dan kita mulai merasakan bahwa persahabatan tidak bisa diukur dari banyaknya nama yang ada di buku alamat atau daftar kontak telepon, melainkan dari seberapa dalam hubungan itu memberi makna.

Ada orang yang merasa sepi ketika mendapati jumlah temannya berkurang. Ia bertanya-tanya, mengapa makin tua justru makin sedikit orang yang datang berkunjung, menelepon, atau sekadar mengirim pesan singkat. Tetapi jika direnungkan lebih dalam, mungkin bukan kesepian yang sebenarnya terjadi, melainkan pergeseran cara kita melihat nilai sebuah relasi.

Di masa muda, kita mencari banyak teman karena ingin diakui, ingin berbagi pengalaman, atau sekadar ingin menikmati suasana ramai. Namun, seiring berjalannya waktu, kita belajar bahwa keramaian tidak selalu sejalan dengan kedekatan hati. Kita mulai lebih selektif, tidak lagi mengejar banyaknya teman, melainkan mencari sahabat sejati yang benar-benar bisa dipercaya, yang seiman, sehati, dan yang mampu menopang kita di saat-saat paling lemah.

Firman Tuhan menyinggung hal ini dengan jelas. Kitab Amsal berkata bahwa ada teman yang justru mendatangkan celaka, tetapi ada sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara. Sahabat semacam itu tidak datang begitu saja; ia ditemukan lewat perjalanan panjang, diuji melalui waktu, kesetiaan, dan kejujuran.

Dengan bertambahnya usia, kita semakin menghargai kualitas daripada kuantitas. Mungkin sekarang sahabat kita hanya satu atau dua, tetapi mereka itulah yang menjadi tempat kita bersandar ketika hati resah, menjadi telinga yang setia mendengar keluh kesah, bahkan menjadi suara pengingat yang menegur dengan kasih ketika langkah kita mulai melenceng.

Yesus sendiri memberi teladan yang indah. Meski banyak orang mengikuti-Nya, Ia memilih membangun keintiman khusus dengan tiga murid: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Ia mengajak mereka ke tempat doa yang paling pribadi, memperlihatkan kemuliaan-Nya di atas gunung, bahkan meminta mereka berjaga-jaga di Taman Getsemani. Dari situ kita belajar bahwa persahabatan sejati memang tidak bisa dijalani dengan semua orang. Ada lingkaran besar pengikut, ada dua belas murid yang belajar langsung, tetapi ada pula lingkaran kecil sahabat terdekat. Itulah pola yang juga kita alami dalam hidup: dari banyak kenalan, semakin mengerucut kepada sahabat-sahabat yang benar-benar setia.

Di zaman sekarang, dunia maya seolah memberi peluang baru. Banyak orang lanjut usia yang menemukan komunitas melalui internet, baik berupa kelompok hobi, persekutuan doa daring, maupun sekadar pertemanan dengan orang dari belahan dunia lain. Ada yang merasa terhibur karena tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik, bisa berinteraksi kapan saja, di mana saja. Teman maya bisa menjadi penyemangat, tempat berbagi kisah, bahkan sarana untuk terus belajar di usia senja.

Namun di sisi lain, persahabatan digital juga membawa tantangan. Tidak semua yang kita kenal lewat layar benar-benar hadir ketika kita jatuh. Tidak semua yang tampak akrab di pesan singkat dapat disebut sahabat sejati. Karena itu, kita tetap perlu bijaksana dalam membedakan mana yang hanya sekadar kenalan, dan mana yang sungguh menjadi sahabat dalam iman dan kasih.

Semakin kita menua, semakin jelas pula bahwa persahabatan yang paling kokoh adalah yang berakar dalam Kristus. Persahabatan seperti ini tidak hanya bertujuan menemani kita di dunia, tetapi juga menolong kita tetap berjalan menuju rumah kekal. Rasul Paulus dalam surat-suratnya selalu menyebut nama sahabat-sahabat rohaninya, mengucap syukur atas mereka, mendoakan mereka, dan mengakui betapa besar peran mereka dalam perjalanan imannya. Itu mengingatkan kita bahwa sahabat seiman bukan sekadar rekan ngobrol, melainkan mitra rohani yang saling meneguhkan dalam pengharapan.

Maka janganlah kita kecewa bila jumlah teman semakin sedikit. Justru di balik itu, Tuhan sedang menuntun kita kepada relasi yang lebih murni dan penuh makna. Persahabatan yang sejati adalah anugerah, dan anugerah itu tidak selalu datang dalam jumlah banyak. Dunia mungkin memandang bahwa orang yang populer, dikelilingi banyak teman, adalah orang yang beruntung. Tetapi di hadapan Tuhan, yang lebih bernilai adalah mereka yang setia memelihara persahabatan kecil yang penuh kasih, saling menopang, dan saling mendoakan.

Pada akhirnya, bahkan jika semua orang pergi, kita masih memiliki Sahabat Sejati yang tidak pernah meninggalkan kita: Yesus Kristus sendiri. Ia berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yohanes 15:15). Inilah penghiburan terbesar di usia senja: bahwa dalam kesendirian sekalipun, kita tidak pernah benar-benar sendiri, karena ada Sahabat yang setia, yang mengasihi kita sampai mati, dan yang telah menebus kita dengan darah-Nya.

Kiranya kita belajar untuk melihat persahabatan bukan dari banyaknya nama yang tersisa dalam daftar kontak, melainkan dari kedalaman relasi yang ditopang oleh kasih Kristus. Biarlah kita juga menjadi sahabat sejati bagi orang lain, bukan hanya sekadar hadir di waktu senang, tetapi juga berjalan bersama di saat susah, menolong, mendoakan, dan meneguhkan iman.

Semoga sisa hidup kita dipenuhi bukan oleh keramaian yang semu, melainkan oleh kehangatan relasi yang sejati, sedikit tetapi berharga, rapuh namun dipelihara oleh kasih Allah yang abadi. Dan pada akhirnya, ketika semua pertemanan dunia ini mencapai garis akhir, kita akan bersukacita karena sahabat-sahabat sejati kita adalah mereka yang bersama-sama dengan kita memandang wajah Kristus di kekekalan.

Doa Penutup;

Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap sahabat yang Engkau beri dalam perjalanan hidup kami. Meskipun jumlah mereka sedikit, relasi itu penuh makna karena Engkau hadir di dalamnya. Tolonglah kami untuk menghargai dan merawat persahabatan yang ada, serta menjadikan Engkau sebagai Sahabat yang utama. Ajari kami untuk setia, mengasihi, dan menopang satu sama lain sampai akhir. Dan biarlah hidup kami menjadi berkat bagi sahabat-sahabat yang Engkau percayakan kepada kami. Amin.

Hidup: Karunia Tuhan dan Pilihan Kita

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus‬ ‭6‬:‭20‬‬

Ada satu kalimat sederhana tetapi sangat dalam: “Hidup kita adalah karunia Tuhan, namun juga pilihan kita.” Kalimat ini merangkum dua aspek penting iman Kristen, khususnya dalam ajaran Reformed. Kita percaya bahwa hidup berasal dari Allah, diberikan sebagai anugerah, dan ditebus dengan darah Kristus. Tetapi pada saat yang sama, kita juga dipanggil untuk membuat pilihan-pilihan nyata setiap hari: bagaimana kita menggunakan hidup ini, bagaimana kita memuliakan Allah, dan bagaimana kita bertanggung jawab dengan tubuh, jiwa, dan roh kita.

Ayat di atas menegaskan dua hal:

  • hidup kita sudah ditebus dengan harga yang mahal, yaitu darah Kristus, dan
  • karena itu, kita tidak bisa lagi hidup sesuka hati, tetapi harus memuliakan Allah dengan seluruh keberadaan kita.

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa hidup adalah karunia. Tidak ada seorang pun yang bisa memilih kapan ia lahir, dari orangtua siapa, di bangsa mana, dengan talenta apa. Semuanya adalah pemberian. Dalam teologi Reformed, ini disebut anugerah umum—Allah memberikan kehidupan, udara, hujan, dan berkat duniawi kepada semua manusia tanpa memandang latar belakang mereka.

Lebih daripada itu, keselamatan kita adalah anugerah khusus—bukan hasil usaha atau jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah di dalam Kristus. Paulus berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” (Efesus 2:8). Hidup kita, baik secara jasmani maupun rohani, adalah hadiah dari Tuhan.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita rendah hati dan bersyukur. Segala sesuatu yang kita miliki—kesehatan, pekerjaan, keluarga, kesempatan belajar, bahkan iman yang menyelamatkan—semua berasal dari tangan Allah. Tidak ada ruang untuk kesombongan atau sikap merasa berhak.

Namun, semua karunia Allah tidak membuat kita pasif. Justru karena hidup adalah karunia, kita dipanggil untuk merespons dengan pilihan-pilihan yang benar. Ajaran Reformed menekankan bahwa manusia memang sudah jatuh dalam dosa dan tidak mampu menyelamatkan diri, tetapi setelah ditebus, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan.

Setiap hari adalah kesempatan untuk memilih.

  • Apakah kita akan menggunakan waktu saya untuk hal yang berguna atau membuangnya untuk hal yang sia-sia?
  • Apakah kita akan memakai tubuh dan hidup kita untuk kesenangan pribadi semata, atau untuk memuliakan Allah?
  • Apakah kita akan melaksanakan pekerjaan kita dengan integritas, atau dengan kompromi dosa?
  • Apakah kita akan merespons kesulitan dengan iman, atau dengan keluhan dan kepahitan?

Pilihan-pilihan ini bukan sekadar masalah moral, tetapi masalah penyembahan. Siapa yang kita sembah akan menentukan bagaimana kita hidup. Jika kita menyembah uang, maka seluruh pilihan kita akan diarahkan untuk mencari keuntungan. Jika kita menyembah diri sendiri, maka segala hal akan dipakai demi kesenangan pribadi. Ini termasuk tren masa kini: giat membaca berbagai posting dunia maya yang ada dalam sosial media. Tetapi jika kita sungguh menyembah Allah, maka setiap aspek hidup kita akan diarahkan dalam dunia nyata untuk memuliakan Dia.

Menarik bahwa Paulus menekankan: “Muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Dalam konteks 1 Korintus 6, Paulus berbicara mengenai bahaya percabulan. Jemaat Korintus hidup dalam budaya yang menganggap tubuh hanya sekadar wadah sementara, sehingga mereka merasa bebas melakukan apa saja. Tetapi Paulus menegaskan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Artinya, tubuh ini bukan milik kita, melainkan milik Allah.

Bagaimana kita memuliakan Allah dengan tubuh kita?

  • Menjaga kekudusan hidup. Seksualitas, keintiman, dan relasi harus dijalani sesuai dengan rancangan Allah.
  • Menggunakan tubuh untuk melayani. Kaki kita bisa dipakai untuk berjalan menuju orang yang membutuhkan, tangan kita bisa dipakai untuk menolong, mulut kita bisa dipakai untuk menguatkan sesama.
  • Memelihara kesehatan. Menyalahgunakan tubuh dengan kebiasaan buruk, makanan berlebihan, atau gaya hidup malas juga berarti tidak menghargai karunia Tuhan.
  • Bekerja dengan rajin dan jujur. Tubuh kita dipakai untuk bekerja, bukan hanya demi nafkah, tetapi juga untuk menjadi berkat bagi sesama.

Dengan demikian, tubuh bukanlah milik pribadi yang bisa dipakai sesuka hati, tetapi milik Kristus yang sudah membelinya dengan darah-Nya.

Sering kali kita jatuh ke dalam dua ekstrem. Ada orang yang berpikir bahwa karena hidup adalah karunia Tuhan, maka tidak ada yang perlu dilakukan—biarkan saja Tuhan yang mengatur segalanya. Ini membuat mereka merasa “damai” dalam nuansa pasif dan malas. Sebaliknya, ada orang yang berpikir bahwa hidup sepenuhnya bergantung pada pilihan pribadi, sehingga mereka tenggelam dalam banyak hal besar maupun kecil, dan sering panik karena mengandalkan kekuatan sendiri dan melupakan Allah.

Kebenaran Alkitab mengajarkan keseimbangan: hidup memang karunia, tetapi karunia itu menuntut respons. Hidup memang pilihan, tetapi pilihan itu tidak pernah dilepaskan dari anugerah. Seperti seorang anak yang diberi hadiah oleh orangtuanya: hadiah itu gratis, tetapi anak itu tetap harus memilih apakah ia akan merawat hadiah itu dengan baik atau merusaknya.

Demikian juga dengan hidup kita. Tuhan sudah memberikan karunia hidup, bahkan menebus kita dengan darah Anak-Nya. Pertanyaannya: bagaimana kita memilih untuk menjalani hidup ini? Apakah kita akan menghargai karunia itu, atau justru menyia-nyiakannya?

Hidup kita bukan kebetulan, melainkan karunia yang mahal. Tetapi hidup ini juga bukan otomatis berjalan benar, melainkan menuntut pilihan-pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah. Inilah ajaran Kristen yang menekankan kedaulatan Allah sekaligus tanggung jawab manusia.

Marilah kita mengingat terus firman Paulus: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Hidup adalah anugerah yang harus disyukuri, dan pilihan yang harus dijalani dengan takut akan Tuhan.

Doa Penutup:

Ya Bapa di surga, terima kasih untuk hidup yang Engkau berikan sebagai karunia. Terima kasih karena Engkau sudah menebus kami dengan darah Kristus yang mahal. Tolonglah kami agar setiap hari kami membuat pilihan yang benar, pilihan yang memuliakan Engkau. Ajar kami untuk memakai tubuh, pikiran, dan hati kami sebagai bait Roh Kudus yang hidup. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Apakah Anda Mata Duitan?

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13:5

Tidak ada orang yang mau disebut “mata duitan.” Anda mungkin marah jika dituduh “mata duitan”. Tetapi, dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, orang sering memakai istilah ini untuk orang-orang yang mempunyai profesi tertentu seperti dokter, polisi, dan akhir-akhir ini, anggota DPR.

Sebenarnya, untuk menjadi “hamba uang” seperti yang dinyatakan dalam ayat di atas orang tidak perlu menjadi mata duitan atau menjadi orang yang loba akan uang; serakah akan uang; yang hanya mementingkan uang. Tetapi, tentunya semua orang yang bukan hamba Kristus adalah hamba uang, hamba karir, hamba berhala, dsb.

Lalu apa artinya istilah “hamba uang” dalam ayat ini, jika itu tidak identik dengan “mata duitan”? Jika diselidiki lebih dalam, hamba uang di sini adalah orang Kristen yang mencintai uang lebih daripada Kristus. Mereka rajin bekerja siang malam, tetapi lalai berdoa atau ke gereja. Mereka gigih mengejar karier, tetapi sering mengabaikan keluarga. Mereka tekun menabung, tetapi kikir memberi. Itu tanda-tanda seseorang sudah diperbudak oleh uang.

Dalam masyarakat modern, uang menempati posisi yang sangat penting. Hampir semua aspek kehidupan berkaitan dengan uang: makan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, bahkan relasi sosial. Tidak heran jika banyak orang mengejar uang dengan sepenuh tenaga, bahkan rela mengorbankan waktu, kesehatan, keluarga, dan keutuhan spiritual mereka.

Obsesi yang tidak sehat terhadap uang berkaitan erat dengan dosa ketidakpuasan. Hal ini disiratkan Alkitab dengan kata-kata seperti “mengingini” (Keluaran 20:17; Yakobus 4:2) dan “cemburu” (Yakobus 3:16).

Alih-alih tidak bahagia atas apa yang tidak kita miliki, orang Kristen seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki dan berharap atas apa yang akan kita peroleh suatu hari nanti (Ibrani 11:14-16). Landasan dari perspektif yang percaya, puas, dan berwawasan ke depan ini adalah hubungan yang benar antara orang percaya dengan Kristus (Ibrani 12:2).

Rasul Paulus selain menulis tentang hamba uang dalam kitab Ibrani, juga menulis bahayanya:

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. 1 Timotius 6:10

Di sini, Paulus menyebutkan tema umum lain dari moralitas alkitabiah: bahaya keserakahan. Frasa “uang adalah akar segala kejahatan” sebenarnya tidak alkitabiah, karena kekayaan dapat digunakan dan dinikmati dengan benar tanpa dosa (Roma 14:14). Tetapi, Alkitab memang mengatakan, dalam 1 Timotius 6:10, bahwa “cinta uang adalah akar segala kejahatan.” Ayat itu mencatat bahwa keinginan yang tidak sehat akan kekayaan telah menyebabkan kehancuran banyak kehidupan.

Perlu dicatat bahwa ada perbedaan antara bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dengan hidup sebagai hamba uang. Yang pertama adalah panggilan mulia—Tuhan sendiri memerintahkan kita untuk rajin bekerja, supaya bisa memberi nafkah kepada keluarga dan menolong sesama. Tetapi yang kedua adalah perbudakan rohani—ketika uang menjadi tuan atas hidup kita, dan Kristus tidak lagi yang utama.

Kedua ayat di atas (Ibrani 13:5 dan 1 Timotius 6:10) bukan sekadar nasihat moral, melainkan sebuah peringatan rohani: cinta uang bisa membuat seseorang batal menjadi hamba Kristus. Ibrani 13:5 menekankan bahwa cinta uang membuat orang tidak pernah puas. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kepuasan rohani karena janji Tuhan yang setia. 1 Timotius 6:10 mengingatkan bahwa cinta uang bukan hanya masalah pribadi, tetapi bisa menjadi akar kejahatan sosial: korupsi, penindasan, iri hati, pertikaian, bahkan kejatuhan iman. Dengan kata lain, cinta uang bukan sekadar kelemahan kecil, melainkan penyakit rohani yang mematikan hidup kita di dunia jika tidak ditangani.

Kerja keras yang sehat dilakukan sebagai panggilan Tuhan. Seorang ayah atau ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mendidik anak, memberi nafkah dengan jujur. Dalam hal ini, uang hanyalah alat, bukan tujuan. Kerja keras sebagai hamba uang terjadi ketika uang menjadi tujuan utama. Orang bekerja bukan lagi untuk Tuhan atau keluarga, tetapi demi prestise, ambisi, atau demi menumpuk harta, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Akhirnya, hidupnya dikuasai oleh rasa takut kehilangan dan ketidakpuasan yang tidak pernah berakhir..

Hidup sebagai hamba uang tidak pernah membawa kebahagiaan sejati. Justru sebaliknya, hidup sedemikian penuh dengan kekuatiran Semakin banyak harta yang dikumpulkan, semakin besar pula rasa takut kehilangannya. Orang tidak bisa tidur karena khawatir dengan bisnis, harga saham, atau persaingan. Hidup seperti itu tidak pernah puas. Pepatah yang cocok untuk sikap itu adalah: “Cukup itu selalu lebih dari apa yang kita miliki sekarang.”

Orang yang cinta uang selalu merasa kurang. Banyak keluarga hancur karena perebutan warisan. Banyak persahabatan retak karena uang. Hidup kehilangan arah rohani Yesus sendiri berkata: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Siapa yang memilih Mamon, akan jauh dari Kristus.

Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai hamba Kristus. Apa artinya? kita harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber rasa aman. Bukan tabungan, bukan investasi, bukan asuransi, melainkan janji Allah: “Aku tidak akan meninggalkan engkau.” Menggunakan uang sebagai sarana, bukan tujuan. Uang dipakai untuk memenuhi kebutuhan seperlunya, membiayai pendidikan, dan terutama untuk menjadi berkat bagi sesama.

Uang juga dipakai untuk melatih hati melalui memberi. Paulus menulis bahwa orang kaya dalam iman harus kaya dalam kebajikan dan siap berbagi (1 Timotius 6:17–19). Dengan memberi, kita belajar melepaskan keterikatan pada harta. Memberi membuat uang tetap di tempatnya: sebagai alat, bukan tuan.

Masyarakat modern menjadikan uang sebagai berhala baru. Tetapi orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda: bukan diperbudak uang, melainkan menggunakannya sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Kekayaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak harta kita, melainkan pada seberapa dalam relasi kita dengan Kristus dan seberapa besar kasih kita kepada sesama.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya sedang bekerja demi Tuhan, atau demi uang semata?
  • Apakah saya merasa aman karena tabungan dan investasi saya, atau karena penyertaan Tuhan?
  • Apakah saya hidup dengan hati yang puas, atau terus dikuasai rasa iri hati dan ambisi?
  • Apakah saya rela melepaskan sebagian dari harta saya untuk menolong sesama, atau justru sulit sekali untuk memberi?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, ampunilah kami bila seringkali hati kami lebih melekat pada uang daripada pada-Mu. Tolonglah kami agar hidup bebas dari cinta uang, cukup dengan apa yang ada, dan percaya bahwa Engkau tidak akan meninggalkan kami. Ajarlah kami menjadi pengelola yang setia, memakai uang untuk kemuliaan-Mu, bukan sebagai tuan atas hidup kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Jangan melemparkan mutiara kepada babi

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Matius‬ ‭7‬:‭6‬‬

Ungkapan di atas berasal dari Alkitab Matius 7:6, yang berarti jangan memberikan hal-hal berharga atau firman Tuhan kepada orang yang tidak menghargainya, karena mereka akan menginjak-injaknya dan bahkan bisa menyerang kita.

Ungkapan ini mengajarkan untuk bijaksana dalam memberi nasihat atau “Injil” kepada orang yang tidak menghargai nilai kebenaran, sehingga penginjilan harus dihentikan kepada orang-orang yang mengejek atau mencemoohkan firman Tuhan.

Mutiara dan barang kudus melambangkan hal-hal berharga, terutama firman Tuhan atau Injil.

Babi melambangkan orang-orang yang tidak menghargai Injil, bahkan menghinanya atau menjadikannya lelucon.

Menginjak-injak melambangkan tindakan meremehkan, menghina, atau bahkan menyakiti orang yang memberi nasihat atau peringatan.

Implikasi:

Kita harus berhati-hati dalam menegur atau menasihati orang yang tidak ada harapan untuk berubah.

Ada batas kesabaran dalam memberitakan Injil kepada orang yang terus-menerus mengejek atau menertawakannya.

Lebih baik memberitakan Injil kepada orang-orang yang mau menerima dan menghargai kebenaran.

Jika kita memberikan nasihat yang berharga kepada orang yang merendahkan, itu justru bisa membuat mereka menghujat Tuhan.

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus‬ ‭1‬:‭18‬‬

Mengenal Allah atau Menjadi Allah?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1:21

Di zaman modern, banyak orang tidak lagi menyebut diri mereka ateis. Sebaliknya, mereka mengaku “spiritual tapi bukan religius.” Mereka percaya ada “sesuatu” di luar sana, tetapi bukan Tuhan pribadi yang layak disembah. Mereka senang berbicara tentang energi kosmis, kesadaran universal, suara hati nurani, dan kekuatan semesta. Inilah salah satu ciri New Age Movement (NAM), sebuah arus spiritual global yang sudah meresap ke dalam musik, yoga, meditasi, psikologi populer, bahkan film-film Hollywood.

Pandangan seperti ini juga saya dengar dari seorang teman yang berkata: “Tuhan itu tanpa pamrih—tidak ingin dipuja. Kalau kita mau berterima kasih, baik. Kalau tidak, Tuhan juga tidak apa-apa. Semua hasil adalah usaha manusia sendiri.” Sepintas terdengar indah, tetapi di baliknya ada bahaya rohani yang besar.

Rasul Paulus sudah menyinggung hal ini dalam Roma 1:21. Walaupun manusia mengenal Allah melalui ciptaan-Nya, mereka menolak memuliakan Dia dan mengucap syukur. Akibatnya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka menjadi gelap. Mari kita renungkan firman ini dalam terang tantangan New Age Movement.

Dalam Roma 1:21 Paulus menulis kepada jemaat di Roma, pusat dunia filsafat, kebudayaan, dan kekaisaran. Orang Romawi dan Yunani kala itu mengagungkan hikmat manusia, namun sekaligus menyembah berhala. Mereka tahu ada kuasa ilahi dari ciptaan (Roma 1:20), tetapi menolak tunduk kepada Allah yang benar. Hasilnya? Dua hal:

  • Mereka tidak pernah memuliakan Tuhan.
  • Mereka tidak mau mengucap syukur kepada Tuhan.

Dari sini Paulus menunjukkan bahwa inti dosa adalah penolakan untuk memberi Allah tempat yang seharusnya. Bukan hanya perbuatan jahat, tetapi sikap hati yang menggantikan Tuhan dengan diri sendiri.

New Age Movement lahir dari perpaduan filsafat Timur (Hindu-Buddha), mistisisme, psikologi modern, dan sekularisme Barat. Dalam NAM, semua agama dianggap sama. Tidak ada satu jalan yang benar, semua relatif. Tidak ada dosa, hanya “kurang pencerahan.” Keselamatan adalah kesadaran diri. Dengan meditasi atau latihan batin, manusia dianggap bisa mencapai tingkat ilahi sepenuhnya. Tuhan adalah energi atau kesadaran universal. Bukan Pribadi yang berdaulat, melainkan semacam “kekuatan kosmis.” Manusia sebagai pusat. Kita semua adalah “ilahi kecil” yang hanya perlu dibangkitkan potensinya. Bagi pengikut NAM, menyembah Tuhan pribadi dianggap tidak perlu. Yang penting adalah “terhubung” dengan energi semesta atau menemukan “ilahi” di dalam diri.

Fenomena NAM sebenarnya bukan hal baru. Paulus sudah melihat gejalanya di dunia Yunani-Romawi. Filsuf Stoic misalnya, berbicara tentang logos, hukum kosmis, dan kebaikan universal, tetapi tanpa mengenal Allah pribadi. Filsuf Epicurean mencari kebahagiaan tanpa takut kepada Allah, hanya mengutamakan kesenangan. Masyarakat Romawi penuh dengan kuil dan patung, tetapi hatinya kosong dari penyembahan sejati. Sama seperti NAM, mereka mengaku bijaksana tetapi menjadi bodoh (Roma 1:22).

NAM tidak selalu muncul dalam bentuk agama formal. Ia sering menyusup dalam hal-hal yang tampak “biasa”. Misalnya, yoga atau meditasi yang diajarkan tanpa menyebut Tuhan, hanya untuk “membangkitkan energi.” Selain itu, mindfulness atau kesadaran pribadi versi sekuler yang mereka pakai, memisahkan diri dari doa kepada Allah. Banyak buku self-help yang berkata, “Percayalah pada dirimu sendiri, kamu adalah tuhan bagi dirimu. Semua ini membentuk cara berpikir yang sama: “Saya bisa hidup tanpa Tuhan.”

Tetapi Roma 1:21 mengingatkan: pikiran manusia tanpa Allah hanyalah sia-sia, hati manusia tanpa Allah hanyalah gelap. Manusia tidak bisa menyelamatkan diri. Kita mati dalam dosa (Efesus 2:1). Sebaliknya, keselamatan hanya anugerah. Bukan hasil usaha, meditasi, atau kesadaran diri (Efesus 2:8–9). Kristus adalah pusat, bukan manusia. Dialah yang mati dan bangkit untuk kita. Ucapan syukur dan penyembahan adalah respon alami orang yang sudah diselamatkan.

NAM berkata: “Carilah kekuatan dalam dirimu.”

Injil berkata: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5).

Di tengah dunia yang penuh “spiritualitas” palsu, orang Kristen harus berwaspada terhadap filsafat kosong. Kolose 2:8 berkata: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun manusia dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”

Pagi ini kita diingatkan untuk hidup dalam ucapan syukur. Setiap hari mengingat bahwa segala sesuatu dari Tuhan, bukan hasil usaha kita sendiri. Kiranya kita selalu memilih untuk memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada-Nya setiap hari.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya pernah merasa Tuhan tidak perlu, karena semua bisa saya lakukan dengan usaha sendiri?
  • Apakah saya sungguh hidup dalam ucapan syukur kepada Tuhan, atau hanya mengucap syukur atas keberuntungan saya?
  • Apakah saya sedang terjebak dalam tren “spiritualitas modern” yang tidak mengenal Kristus?

Doa Penutup:

“Tuhan, jangan biarkan aku tertipu oleh filsafat dunia yang menyingkirkan-Mu. Ajar aku mengucap syukur, memuliakan-Mu, dan mengakui bahwa hidupku hanya dari-Mu. Jauhkan aku dari kesombongan rohani, dan penuhi aku dengan kasih Kristus setiap hari. Amin.”

Berbeda pandangan dalam kesatuan

“Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Efesus 4:4–6

Ada kisah lama tentang sepuluh orang buta yang dibawa untuk meraba seekor gajah. Karena mereka belum pernah bertemu gajah sebelumnya, masing-masing mencoba meraba bagian tubuhnya. Satu orang meraba gading dan berkata, “Gajah itu seperti tombak!” Yang lain memegang telinga dan berseru, “Tidak, gajah itu seperti kipas.” Yang ketiga memegang kaki dan bersumpah, “Ini jelas tiang.” Yang keempat meraba ekor dan tertawa, “Gajah ini hanyalah seutas tali.” Ada satu gajah, tetapi penafsiran tiap orang berbeda.

Setiap orang buta berbicara dengan yakin. Masing-masing benar dalam sebagian kecil — tetapi juga salah, karena tidak seorang pun melihat gambaran keseluruhan.

Kisah ini sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana manusia memahami kebenaran: terbatas, sebagian, dan dipengaruhi oleh sudut pandang. Ketika diterapkan pada perbedaan denominasi Kristen, kisah ini menjadi pengingat akan keterbatasan kita dan sekaligus akan kebesaran Allah.

Efesus 4:1–10 adalah deskripsi Paulus yang meyakinkan tentang kesatuan Kristen. Setiap orang percaya yang diselamatkan, terlepas dari bakat atau keterampilannya, Yahudi atau non-Yahudi, pria atau wanita, diselamatkan oleh iman yang sama kepada Allah yang sama. Oleh karena itu, setiap orang Kristen adalah bagian dari satu keluarga orang percaya universal di dalam Yesus Kristus. Pada saat yang sama, Allah memberikan karunia yang berbeda kepada orang yang berbeda, sehingga mereka dapat menjalankan berbagai peran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-Nya di bumi. Alih-alih mengkhawatirkan karunia apa yang mungkin kurang kita miliki, setiap orang Kristen dapat bersukacita dalam kesatuan kita, dan berfokus untuk melayani Allah sebaik mungkin.

Memahami anugerah keselamatan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya, adalah motivasi pertama orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang saleh. Di sini, Paulus mendorong orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghormati karunia tersebut. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari “tubuh” Kristus. Pada saat yang sama, setiap orang percaya diberi talenta yang berbeda. Beberapa dipanggil untuk menduduki posisi kepemimpinan dan otoritas. Semua orang Kristen harus meninggalkan “manusia lama” yang kita miliki sebelum diselamatkan. Penjelasan Paulus tentang “manusia baru” mencakup beberapa langkah dasar dan praktis.

Efesus 4:4 mengawali pengulangan klasik kata “satu”, yang membentuk sebuah bagian terkenal dari Perjanjian Baru, yang berlanjut hingga ayat 6. Dengan mengulang konsep “kesatuan”, “seiman”, dan seterusnya, bagian ini menekankan kedekatan dan keharmonisan yang seharusnya kita tunjukkan sebagai orang percaya. Pertama, kesatuan yang Paulus maksudkan di ayat 3 menuntut fokus bersama sebagai satu tubuh yang bersatu. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada gereja-gereja yang berbeda, melainkan satu gereja Kristus yang sejati dan universal.

Setiap orang percaya yang diselamatkan di dalam Kristus adalah anggota dari satu tubuh ini, meskipun mereka menganggap diri mereka bagian dari denominasi tertentu. Kedua, Roh Kudus adalah satu-satunya kekuatan rohani yang mempersatukan semua orang percaya di dalam Kristus. Ketiga, semua orang percaya dipanggil kepada pengharapan yang sama akan kekekalan di masa depan bersama Kristus (1 Petrus 1:3; 3:15). Paulus membahas panggilan ini dalam Efesus 1:4, 18 serta di awal pasal ini.

Menariknya, ketiga bagian Tritunggal kembali dibahas. Ayat ini menyebutkan Roh Kudus. Ayat 5 menyebutkan Tuhan Yesus. Ayat 6 mencakup Bapa. Penekanan Paulus pada ketiga pribadi Allah Tritunggal sebagai sama-sama ilahi telah dijelaskan beberapa kali dalam surat ini.

Sekalipun satu iman, sejak zaman para rasul, gereja sudah menghadapi perbedaan. Paulus dan Barnabas berselisih soal Yohanes Markus (Kisah Para Rasul 15:36–41). Paulus bahkan menegur Petrus karena bersikap munafik di Antiokhia (Galatia 2:11–14). Jemaat di Korintus pun sudah terpecah dalam kelompok: “Aku dari golongan Paulus,” “Aku dari Apolos,” “Aku dari Kefas” (1 Korintus 1:12).

Denominasi saat ini muncul karena penekanan yang berbeda-beda. Katolik dan Ortodoks menekankan tradisi, sakramen, dan kesinambungan dengan gereja mula-mula. Reformed dan Presbyterian menekankan kedaulatan Allah, anugerah, dan otoritas Alkitab. Baptis menekankan baptisan orang percaya dan kemandirian jemaat lokal. Pentakosta dan Karismatik menekankan karya Roh Kudus yang nyata. Metodis dan Wesleyan menekankan kekudusan hidup, pemuridan, dan kasih yang nyata.

Semua penekanan ini memiliki dasar Alkitab. Semua telah berbuah sepanjang sejarah. Tetapi tidak ada satu pun yang sepenuhnya mencakup keseluruhan kebenaran Allah. Seperti kata Paulus: “Karena pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi apabila yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:9–10).

Masalahnya bukan karena kita melihat sebagian — itu wajar, karena kita terbatas. Masalah muncul ketika kita menganggap bahwa bagian kecil kita adalah keseluruhan kebenaran. Orang buta yang meraba gading tidak salah ketika berkata gajah seperti tombak. Tetapi ia salah ketika bersikeras bahwa semua orang lain keliru. Demikian juga, Baptis tidak salah menekankan baptisan, dan Pentakosta tidak salah menekankan karunia Roh. Tetapi bila ada yang berkata, “Kami satu-satunya yang benar, yang lain tersesat,” maka kesombongan mengubah kebenaran sebagian menjadi sumber perpecahan.

Paulus mengingatkan bahwa pengetahuan yang membanggakan tidak berguna, tetapi kasih membangun. Jika ada orang menyangka bahwa ia mempunyai sesuatu pengetahuan, maka ia belum juga mencapai pengetahuan sebagaimana yang harus dicapainya (1 Korintus 8:1–2).

Daripada melihat perbedaan denominasi sebagai ancaman, kita dapat melihatnya sebagai kesempatan. Sama seperti orang buta itu akan belajar lebih banyak jika mereka mau mendengar satu sama lain, kita pun dapat melihat Kristus dengan lebih lengkap bila rendah hati belajar dari tradisi lain. Keberagaman dalam tubuh Kristus bisa menjadi berkat, bila kita hadapi dengan kerendahan hati. Itu mengingatkan kita bahwa kebenaran Allah lebih besar daripada sudut pandang kita.

Dari saudara Katolik dan Ortodoks, kita belajar sikap hormat, akar sejarah, dan keindahan liturgi. Dari Pentakosta, kita diingatkan bahwa iman bukan sekadar intelektual, tetapi juga pengalaman bersama Roh yang hidup. Dari tradisi Reformed, kita belajar kagum pada kedaulatan dan anugerah Allah. Dari Metodis, kita ditantang untuk menghidupi kekudusan dalam keseharian. Bila diterima dengan rendah hati, semua ini tidak melemahkan iman kita, melainkan memperkaya.

Di pusat semua denominasi bukanlah doktrin, sakramen, atau pengkhotbah, melainkan Yesus Kristus sendiri. Dialah “gajah” itu, kebenaran yang penuh, kepenuhan Allah yang dinyatakan. Kita semua hanya melihat sebagian saat ini, tetapi kelak di surga kita akan melihat Dia dengan jelas.

Dalam Yohanes 17, Yesus berdoa agar murid-murid-Nya bersatu: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21).

Kesatuan kita bukan pada keseragaman organisasi atau teologi melainkan pada iman yang sama di dalam Kristus.

Pertanyaan Reflektif:

  • Bagian mana dari kebenaran Kristus yang paling ditekankan dalam denominasi saya?
  • Pernahkah saya merendahkan atau meremehkan orang Kristen dari tradisi lain?
  • Bagaimana saya bisa belajar dari orang Kristen lain tanpa kehilangan keyakinan saya sendiri?
  • Bagaimana perbedaan denominasi mencerminkan keterbatasan manusia sekaligus kebesaran kebenaran Allah?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkaulah kebenaran yang penuh, tetapi kami hanya melihat sebagian. Ampunilah kami bila kami membanggakan bagian kecil kami seakan-akan itulah seluruhnya. Ampunilah kami bila perbedaan denominasi membuat kami terpecah, bukan saling membangun. Ajarlah kami rendah hati untuk belajar dari sesama, kasih untuk merangkul saudara-saudari, dan iman untuk berpegang pada-Mu di atas segalanya. Satukanlah kami, sebagaimana Engkau dan Bapa adalah satu, supaya dunia percaya kepada-Mu. Amin.

Mengapa Orang Menolak Kristus?

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus 1:18

Pertanyaan terbesar dalam hidup manusia bukanlah soal ekonomi, politik, atau kesehatan, melainkan soal hubungan kita dengan Tuhan. Alkitab jelas menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:27). Namun, realitas di sekitar kita memperlihatkan bahwa banyak orang justru menolak keberadaan-Nya, menutup telinga terhadap suara-Nya, bahkan mengeraskan hati terhadap kasih-Nya yang sudah dinyatakan dalam Yesus Kristus.

Mengapa demikian? Apakah Allah yang salah karena tidak hadir? Ataukah manusia yang salah menafsirkan keberadaan-Nya?

1 Korintus 1:18–31 menggambarkan kebodohan Injil di mata dunia. Baik orang Yahudi maupun orang Yunani menolak gagasan tentang Kristus yang disalibkan. Dewa mana pun yang mati di kayu salib Romawi, terutama sebagai pengorbanan untuk dosa manusia, akan dipandang oleh mata duniawi sebagai dewa yang lemah dan bodoh. Namun, Allah akan mempermalukan orang bijak dan kuat dengan memberikan kemampuan untuk percaya kepada salib Kristus, terutama kepada orang yang lemah dan bodoh di dunia, dalam istilah manusia. Pada akhirnya, tak seorang pun akan bisa menyombongkan diri di hadapan-Nya tentang kekuatan dan kebijaksanaan mereka sendiri.

Dalam 1 Korintus 1:18 Paulus membagi dunia menjadi dua kelompok orang: mereka yang akan binasa dan mereka yang diselamatkan. Mereka yang akan binasa ditakdirkan untuk selamanya terpisah dari Allah, sementara mereka yang diselamatkan ditakdirkan untuk selamanya tinggal dalam kemuliaan Allah.

Bagi kelompok pertama—mereka yang akan binasa—salib Kristus adalah “kebodohan.” Istilah Yunani asli yang digunakan di sini adalah mōria, dari akar kata yang sama yang membentuk kata-kata bahasa Inggris seperti moron. Secara gamblang, Paulus mengatakan bahwa bagi dunia yang belum diselamatkan, mereka yang memberitakan Injil tampak seperti orang bodoh.

Pada zaman Paulus, salib masih digunakan secara luas oleh orang Romawi sebagai alat eksekusi publik. Itu adalah simbol kejahatan yang memalukan dan ketidakberdayaan di hadapan Kekaisaran Romawi yang berkuasa waktu itu. Salib Kristus adalah sesuatu yang bodoh dalam budaya Yunani dan Romawi bukan karena mereka ateis. Mereka percaya pada semua jenis dewa dan mengurutkannya berdasarkan kuasa yang mereka miliki atas alam dan manusia. Tetapi, salib Kristus adalah sesuatu yang bodoh bagi budaya pagan karena Yesus Kristus ditolak oleh umat-Nya sendiri dan disalibkan seperti penjahat biasa lainnya oleh penguasa Romawi. Dari perspektif Yunani dan Romawi, dan juga sampai zaman ini, itu bukanlah Tuhan yang layak disembah.

Dalam Kekristenan, orang fasik adalah orang yang menolak Tuhan, hidup dalam dosa, dan bertindak bertentangan dengan kehendak Allah. Mereka cenderung mengabaikan Firman Tuhan, mengikuti cara hidup duniawi, dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan hukum-Nya. Lebih dari itu, secara umum, orang-orang fasik menganggap orang percaya, dan iman mereka kepada Yesus Kristus adalah kebodohan. Dengan demikian, orang-orang fasik (mungkin orang ateis, agnostik atau orang yang tidak percaya kepda Yesus) sering kali mengejek orang Kristen dan bahkan mengolok-olok Tuhan Yesus yang dipercayai umat-Nya sebagai Juruselamat.

Bagi mereka yang diselamatkan, karena iman mereka kepada Kristus, salib dipahami sebagai tindakan Allah yang paling berkuasa. Putra Allah tidak kalah dalam pertempuran melawan para pemimpin Yahudi atau pemerintah Romawi. Dia tidak dapat dikalahkan atau ditundukkan (Yohanes 10:17-18; 18:6; Matius 26:53). Tetapi, Allah Bapa mengorbankan Putra-Nya, Yesus, untuk dosa manusia. Yesus, meskipun memiliki kuasa dan otoritas Ilahi yang tak terbatas, menyerahkan nyawa-Nya untuk menutupi dosa-dosa mereka yang sedang binasa. Mereka yang percaya kepada Kristus memahami bahwa tanpa tindakan penuh kuasa itu, manusia akan tersesat dan tanpa harapan.

Dari pengalaman hidup dan kesaksian Alkitab, ada tiga alasan utama mengapa manusia dalam kebodohannya menolak Tuhan: (1) merasa tidak dikasihi-Nya, (2) merasa tidak memerlukan Dia, dan (3) merasa Dia tidak ada. Mari kita renungkan satu per satu.

1. Merasa Tidak Dikasihi-Nya

Banyak orang berpaling dari Tuhan karena luka batin yang mereka alami. Ada yang berdoa bertahun-tahun untuk kesembuhan, tetapi penyakitnya tidak juga hilang. Ada yang memohon agar keluarganya dipersatukan kembali, namun perceraian tetap terjadi. Ada pula yang kehilangan orang yang sangat dikasihi, lalu merasa Tuhan tidak peduli.

Seperti Ayub yang pernah berseru:

“Aku berteriak kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri, tetapi Engkau hanya memperhatikan aku saja.” Ayub 30:20

Rasa ditinggalkan ini membuat manusia bertanya: “Kalau Tuhan kasih, mengapa semua ini terjadi padaku?”

Padahal, kasih Allah terbesar sudah nyata dalam salib Kristus. Rasul Paulus berkata:

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8

Seringkali, manusia menafsirkan kasih Allah hanya sebatas pada kenyamanan hidup. Ketika doa tidak dikabulkan, mereka merasa Tuhan tidak mengasihi. Namun kasih sejati bukan berarti hidup tanpa penderitaan, melainkan hadirnya pengharapan di tengah penderitaan. Justru melalui salib, kita melihat bahwa Allah sanggup memakai penderitaan sebagai jalan menuju kemuliaan.

2. Merasa Tidak Memerlukan Dia

Alasan kedua datang dari mereka yang hidup berkecukupan. Dengan harta, ilmu, dan jabatan, manusia merasa bisa mengendalikan hidupnya. Tuhan dianggap tidak relevan.

Yesus pernah berkata kepada jemaat di Laodikia:

“Karena engkau berkata: Aku kaya, dan aku telah memperkayakan diriku, dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Wahyu 3:17

Kemandirian yang berlebihan membuat manusia menolak Tuhan. Mereka berpikir: “Mengapa saya perlu Tuhan, jika saya bisa meraih semua ini dengan usaha sendiri?”

Namun, kesombongan ini ibarat rumah megah tanpa fondasi. Saat badai datang—penyakit, kematian, atau krisis yang tak terkendali—baru disadari bahwa semua yang dibanggakan rapuh dan fana.

Seorang filsuf pernah berkata: “Manusia adalah makhluk yang baru menyadari kebutuhan akan Tuhan ketika ia berhadapan dengan kuburan.” Pada saat menghadapi kematian, semua prestasi dan kekayaan tidak bisa menolong, hanya Tuhan yang kekal yang sanggup memberi pengharapan.

3. Merasa Dia Tidak Ada

Ada juga orang yang menolak Tuhan karena mereka meyakini Dia tidak ada. Kaum ateis dan agnostik berkata bahwa Tuhan hanyalah ilusi, hasil ciptaan pikiran manusia. Mereka berpegang pada ilmu pengetahuan atau logika manusia, dan menolak segala sesuatu yang bersifat rohani.

Namun, Alkitab sudah menegaskan:

“Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah.” Mazmur 14:1

Alasan ini seringkali bukan sekadar karena akal budi, tetapi karena keinginan untuk hidup tanpa firman Tuhan. Jika Tuhan tidak ada, maka tidak ada standar kebenaran yang absolut. Manusia bisa merasa bebas melakukan apa saja menurut hati nurani mereka tanpa kekuatiran untuk berbuat dosa.

Tetapi, meski menolak, hati manusia tetap merindukan makna. Seperti kata C.S. Lewis: “Jika saya menemukan dalam diri saya kerinduan yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun di dunia ini, penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa saya diciptakan untuk dunia lain.” Kerinduan akan sesuatu yang lebih besar dari dunia ini adalah tanda bahwa Allah itu ada.

Dari ketiga alasan ini, kita melihat bahwa penolakan manusia terhadap Tuhan berakar pada dosa dan kerapuhan hati. Dosa membuat manusia buta terhadap kasih Allah, sombong dalam apa yang dimilikinya, dan keras hati untuk mengakui keberadaan-Nya.

Perlu diingat, sebagian orang Kristen bisa juga mempunyai kebodohan yang serupa jika mereka membatasi kedaulatan Tuhan atas hidup mereka. Mereka menolak untuk tunduk kepada firman-Nya jika itu bertentangan dengan kemauan sendiri. Mereka ingin menjadi orang Kristen “biasa”, pergi ke gereja tapi di luar gereja hidup seakan Tuhan itu tidak ada.

Namun, kabar baiknya adalah: Allah tidak berhenti mengetuk pintu hati manusia. Yesus berkata:

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.” Wahyu 3:20

Allah tidak memaksa, tetapi dengan kasih-Nya yang lembut Ia mengundang setiap orang untuk kembali. Bahkan ketika manusia menolak, Ia tetap setia menunggu.

Manusia bisa merasa tidak dikasihi, merasa tidak memerlukan, atau bahkan menyangkal keberadaan Tuhan. Namun, Allah tetap Allah yang penuh kasih. Ia tetap hadir, meskipun kita sering tidak menyadarinya. Yesus Kristus datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa. Ia datang justru untuk mereka yang menolak, supaya mereka berbalik dan diselamatkan.

Hari ini, mari kita renungkan: apakah dalam hati kita masih ada area tertentu yang menolak Tuhan? Apakah kita pernah merasa ditinggalkan-Nya, atau merasa cukup tanpa Dia, atau meragukan keberadaan-Nya? Mari kita membuka hati, karena kasih-Nya selalu lebih besar daripada penolakan kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengaku bahwa seringkali hati kami keras dan menolak Engkau. Kami merasa tidak dikasihi, padahal kasih-Mu tidak pernah berkurang. Kami merasa tidak memerlukan Engkau, padahal setiap nafas kami adalah anugerah-Mu. Kadang kami meragukan keberadaan-Mu, padahal seluruh ciptaan bersaksi tentang kuasa-Mu. Ampunilah kami, ya Tuhan. Lembutkan hati kami agar senantiasa terbuka kepada-Mu. Tolong kami untuk tetap percaya, sekalipun kami tidak mengerti jalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.