Misteri Pilihan Allah dan Tanggapan Manusia

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Roma 11:33

Banyak orang mencoba menjelaskan bagaimana Allah memilih siapa yang akan diselamatkan dan bagaimana manusia harus menanggapi panggilan itu. Sebagian orang mengatakan bahwa semua tergantung pada pilihan bebas manusia. Yang lain berkata bahwa semuanya adalah keputusan mutlak Allah sejak kekekalan. Tetapi bagaimana jika keduanya benar dalam cara yang tidak bisa kita pahami sepenuhnya?

Beberapa pandangan teologi mencoba menyatukan dua hal itu. Allah memberikan anugerah kepada semua, dan manusia harus merespons dengan benar. Hanya mereka yang tidak menolak anugerah Allah yang akan diselamatkan, tapi kemampuan untuk tidak menolak juga berasal dari anugerah. Hasilnya adalah sebuah logika berputar yang sulit dicerna. Seolah-olah kita diselamatkan karena pilihan kita, tapi tidak juga, karena semuanya berasal dari anugerah Allah.

Jika kita terlalu menekankan logika ini, kita bisa jatuh ke dalam kebingungan — atau lebih parah: merasa lebih unggul karena kita “merespons dengan benar.”

Allah adalah Oknum Ilahi yang berdaulat. Karena itu, saya percaya bahwa pilihan Allah tidak ditentukan oleh tanggapan manusia, namun Dia tetap menghendaki manusia untuk menanggapi panggilan-Nya. Ini bukan kontradiksi. Ini adalah misteri. Dan misteri ini bukan untuk dipecahkan dengan logika manusia, tetapi untuk dihormati dengan iman yang rendah hati.

Kebenaran yang Sederhana Tapi Dalam

Alkitab mengajarkan dua kebenaran besar:

Allah berdaulat dan tidak ada yang bisa mempengaruhi keputusan-Nya (Roma 9:15–16). Manusia sungguh-sungguh bertanggung jawab untuk menanggapi Injil (Roma 10:13).

Apakah kedua hal ini bisa dijelaskan sepenuhnya? Tidak. Tapi keduanya benar.

Itulah sebabnya Paulus — setelah menulis tentang pemilihan, tanggapan manusia, dan keselamatan — tidak mencoba menyimpulkannya dengan logika. Ia malah menyembah:

“Dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:36

Jika Anda diselamatkan hari ini, itu bukan karena Anda lebih bijak, lebih rendah hati, lebih cepat bertobat, atau lebih baik daripada orang lain. Itu karena anugerah Allah telah menembus kelemahan Anda, dan Anda tidak menolak-Nya.

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Lukas‬ ‭5‬:‭32‬ ‭

Karena itu, jika seseorang belum diselamatkan, kita tidak berhak berkata, “Dia lebih buruk dari saya.” Kita hanya bisa berdoa:

“Tuhan, kiranya mereka pun mengalami anugerah seperti yang aku alami.”

Pertanyaan Refleksi

  • Apakah saya merasa lebih “rohani” daripada orang lain karena saya merespons Injil?
  • Apakah saya bersedia mengakui bahwa keselamatan saya murni karena anugerah Tuhan?
  • Bagaimana saya bisa menunjukkan kasih kepada orang yang belum mengenal Yesus, tanpa merasa lebih tinggi dari mereka?

Doa Penutup

Tuhan, aku tidak memahami sepenuhnya bagaimana Engkau memilih dan bagaimana Engkau memanggil. Tapi aku percaya bahwa Engkau adil, penuh kasih, dan tidak pernah gagal. Ajarlah aku untuk tetap rendah hati, dan untuk memuji Engkau, bukan memuji diriku sendiri. Amin.

Mengapa Kita Tak Perlu Takut Lagi

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1

Seorang teman Kristen saya pernah berkata, “Kami sering merasa takut terhadap penghakiman Tuhan karena kami tidak yakin apakah kami cukup layak untuk masuk surga.”

Mungkin Anda juga pernah berpikir seperti itu. Anda percaya kepada Tuhan, namun di dalam hati Anda masih muncul pertanyaan:

“Apakah saya benar-benar siap untuk hidup kekal?”

Namun, kabar baik dari Injil adalah: keselamatan bukan untuk orang yang merasa layak, tapi untuk mereka yang percaya.

1. Kita Memang Tidak Layak — Dan Itu Justru Awal dari Kabar Baik

Alkitab dengan jujur mengatakan:

“Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” Roma 3:10

Tidak ada satu pun dari kita yang bisa mencapai standar kekudusan Allah dengan kekuatan sendiri. Kita semua gagal. Tapi justru karena itulah Yesus datang.

2. Yesus Layak — Dan Kita Diselamatkan Melalui Dia

Yesus hidup sempurna, lalu mati menggantikan kita. Dia tidak hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memberikan kebenaran-Nya kepada kita.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” 2 Korintus 5:21

Ini berarti bahwa ketika Allah melihat kita, Dia tidak melihat kegagalan kita—Dia melihat Yesus.

3. Kita Tidak Perlu Takut Lagi

Takut akan penghakiman muncul ketika kita lupa bahwa kita sudah dibenarkan. Tapi jika Anda percaya kepada Kristus, penghakiman bukan lagi ancaman.

“Siapakah yang akan mengajukan dakwaan terhadap orang-orang pilihan Allah? Allah sendiri yang membenarkan mereka.” Roma 8:33

4. Damai Sejahtera yang Sejati

Ketika kita hidup dalam kasih karunia, kita tidak lagi dikuasai oleh rasa takut. Kita bisa datang kepada Allah dengan hati yang yakin.

“Sebab itu marilah kita dengan keberanian menghampiri takhta kasih karunia.” Ibrani 4:16

5. Percaya, Bukan Performa

Ingatlah, Allah tidak menunggu kita menjadi “cukup baik.” Dia menunggu kita untuk percaya kepada Anak-Nya.

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan dihukum.” Yohanes 5:24

Pertanyaan Refleksi:

  • Apakah saya masih merasa harus “layak” supaya Tuhan menerima saya?
  • Apakah saya sungguh percaya bahwa Yesus sudah cukup untuk menyelamatkan saya?
  • Bagaimana saya bisa lebih hidup dalam damai dan sukacita karena kasih karunia?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, aku mengakui bahwa aku tidak layak. Tapi Engkau layak, dan Engkau telah mati bagiku. Tolong aku untuk percaya penuh kepada kasih karunia-Mu, dan hidup dalam damai, bukan dalam ketakutan. Amin.

Akar Pahit yang Menghancurkan

“Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Ibrani 12:15

“Kepahitan” biasanya dikaitkan dengan kemarahan dan dendam. Namun, apakah ini yang dimaksud dalam Ibrani 12:15? Sebagian orang Kristen berpendapat demikian. Memang. kemarahan dan rasa dendam di antara umat Kristen bisa menimbulkan dosa di dalam gereja-Nya. Tapi bukan hanya ini artinya.

Mari kita ajukan beberapa pertanyaan. Pertama-tama, apakah “akar pahit” berarti akar yang pahit (seperti sepotong kayu)? Atau apakah itu berarti akar yang tumbuh menjadi tanaman dan menghasilkan buah yang pahit? Kedua, apakah “kepahitan” berarti “kemarahan yang mendalam, beracun dan busuk”? Ketiga, dari mana asal gambaran “akar pahit” ini?

Mari kita mulai dengan pertanyaan terakhir. Jawabannya: itu berasal dari Ulangan 29:18.

“Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling a meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh. Ulangan 29:18

Secara umum, “ipuh” bisa merujuk pada pohon dengan getah beracun atau racun yang dihasilkan oleh getah pohon tersebut. Dalam ayat itu, jelas bahwa “racun” yang khusus ini adalah penyembahan berhala yang menentang perjanjian. Di seluruh Perjanjian Lama, kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “racun pahit” mengacu pada orang yang tidak setia (Ulangan 29:18; Amos 6:12) atau hukuman bagi mereka (Yeremia 8:14; 9:15; 23:15).

Latar belakang ini juga membantu kita menjawab dua pertanyaan pertama: akar itu sendiri bukanlah kepahitan, melainkan menghasilkan buah kepahitan. Dan kepahitan yang dihasilkannya adalah sesuatu yang beracun. Lalu, akar apakah yang menghasilkan buah pahit? Itu adalah seperti orang yang memiliki pandangan yang salah tentang keamanan kekal. Ia merasa aman sekalipun ia tidak aman. Ia berkata, “Aku akan tetap aman, meskipun aku berjalan dalam kedegilan hatiku.” Ia salah memahami perjanjian yang dibuat Allah. Ia berpikir bahwa karena ia adalah bagian dari umat perjanjian, ia aman dari penghakiman Allah.

Kesombongan seperti inilah yang dibahas berulang kali dalam kitab Ibrani — orang-orang Kristen yang mengaku percaya diri karena pengalaman rohani masa lalu, karena ajaran teologi tertentu, atau pergaulan saat ini dengan orang-orang Kristen tertentu. Setidaknya empat kali Paulus memperingatkan bahwa kita tidak boleh mengabaikan keselamatan kita yang agung, tetapi harus waspada untuk berjuang dalam pertarungan iman setiap hari, jangan sampai kita menjadi keras kepala dan jatuh yang mana akan membuktikan bahwa kita tidak memiliki bagian dalam Kristus (Ibrani 2:3; 3:12–14; 6:4–7; 10:23–29).

Sebenarnya, ayat sebelumnya juga mempunyai konteks dengan istilah “akar pahit”:

‘Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14

Ini adalah peringatan untuk tidak menganggap enteng kekudusan atau menganggap remeh kasih karunia yang sudah diberikan Tuhan. Dengan demikian, tujuan kitab Ibrani 12 adalah untuk menyembuhkan orang-orang Kristen dari dosa keangkuhan, dan untuk mengembalikan orang-orang yang memandang rendah karunia keselamatan ke arah ketekunan yang sungguh-sungguh dalam iman dan kekudusan.

Oleh karena itu, “akar kepahitan” adalah orang atau doktrin di gereja yang mendorong orang untuk bertindak lancang dan memperlakukan keselamatan sebagai “hak orang Kristen” atau hal yang otomatis yang tidak memerlukan kehidupan yang waspada dalam perjuangan iman dan pengejaran kekudusan.

Jadi, “akar yang pahit” dalam Kitab Ibrani bisa menjadi sumber kejahatan atau kefasikan yang ada di dalam gereja. Akar mungkin kecil dan lambat dalam pertumbuhannya, tetapi, jika mengandung racun, itu ganas; itu berbahaya. Dosa apa pun di dalam gereja harus dengan tekun dicabut; karena hasil dari menoleransi kejahatan dalam gereja adalah bahwa “banyak orang” akan ikut menjadi najis.

Untuk contoh bagaimana Allah menangani “akar pahit” di gereja mula-mula, kita bisa membaca kisah Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5. Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja menganggap bahwa berbohong kepada Tuhan adalah bukan dosa. Jelas, Allah menganggap mencabut “akar pahit” seperti itu sangat penting bagi kesehatan gereja-Nya agar tidak ada orang lain yang kemudian melakukan hal yang serupa. Penting untuk diingat bahwa kita tidak harus bertindak untuk berdosa, karena hati yang berdosa sudah cukup untuk menghukum kita (Matius 5:21–30).

Puji Tuhan bahwa setiap orang yang masih hidup memiliki kesempatan untuk bertobat. Tidak peduli apakah mereka pernah mencoba menggunakan nama Tuhan untuk menghasilkan uang dan kemakmuran, melakukan mukjizat palsu, atau bahkan membunuh orang Kristen (Kisah Para Rasul 26:10), Yesus menawarkan untuk mengampuni setiap dosa dan mendamaikan mereka dengan Tuhan. Tidak ada dosa yang tidak akan Ia ampuni kecuali jika manusia terus-menerus menolak kematian-Nya untuk menutupi dosa-dosa mereka.

Pagi ini, kita disadarkan bahwa ada perbedaan antara memercayai hal-hal tentang Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat Anda. Ketika tujuan utama hidup kita adalah mendapatkan apa yang kita inginkan, kita cenderung menggunakan cara apa pun untuk melakukannya. Dalam kerangka berpikir seperti itu, jika kita merasa bahwa Tuhan tidak memberkati kita dengan cukup, kita akan beralih ke berhala seperti bisnis, kemakmuran, ketenaran, dan kenyamanan duniawi. Dalam kehidupan gereja, kita bisa menjadi “bibit kepahitan” untuk orang lain.

Ketika kita bertobat dari delusi diri kita dan menerima bahwa Tuhan berdaulat atas kita, kita dapat merasa lebih tenang. Dia yang memegang kendali, bukan kita, keinginan kita, atau berhala yang kita andalkan secara tidak tepat. Dan hanya Dia yang mengutamakan kepentingan terbaik kita dan mampu memberi kita apa yang kita butuhkan. Dia ingin membebaskan kita dari penjara kejahatan kita, dan ingin menghentikan pengaruh kita kepada orang lain!

Menguji Iman: Seberapa Baik untuk Cukup Baik bagi Allah?

“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” Yesaya 64:6

Kita semua pernah bertanya dalam hati: “Apakah aku cukup baik di hadapan Allah?” Pertanyaan ini muncul saat kita gagal, saat kita membandingkan diri dengan orang lain, atau saat suara-suara rohani membuat kita merasa harus terus-menerus membuktikan diri. Entah kita dibesarkan dalam lingkungan gereja yang penuh aturan, atau hanya merasa terbeban secara rohani, pertanyaan ini membayangi banyak orang percaya. Dan ini membuat kita tertekan.

Namun, bisa jadi pertanyaannya sendiri perlu dikoreksi. Pertanyaan “Seberapa baik cukup baik?” mengasumsikan bahwa Allah menilai kita berdasarkan skala tertentu—bahwa ada garis tak terlihat yang memisahkan orang yang diterima dari yang ditolak-Nya. Ini menggambarkan Allah sebagai penguji yang menunggu kita memenuhi standar-Nya atau gagal dan ditolak. Namun, Alkitab menceritakan kisah yang berbeda:

“Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” Roma 3:10

“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Jika keselamatan bergantung pada “cukup baik”-nya kita, tak satu pun dari kita yang akan lolos. Bahkan perbuatan terbaik dari kita pun masih ternoda oleh kesombongan, ketakutan, atau motivasi tersembunyi.

Ayat di atas sering digunakan sebagai teks pembuktian untuk mengutuk semua perbuatan baik kita sebagai “kain kotor” di mata Tuhan. Konteks bagian ini secara khusus merujuk kepada orang Israel pada zaman Yesaya (760—670 SM) yang telah menyimpang dari Tuhan. Yesaya menulis tentang bangsanya dan kemunafikan mereka. Namun, ia juga memasukkan dirinya sendiri dalam deskripsi itu, dengan mengatakan “kita” dan “milik kita.” Yesaya ditebus dan dipisahkan sebagai nabi Tuhan, tetapi ia melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok yang sepenuhnya berdosa. Doktrin tentang kerusakan total diajarkan dengan jelas di bagian lain Kitab Suci (misalnya, Efesus 2:1-5), dan ilustrasi Yesaya 64:6 dapat dengan tepat diterapkan ke seluruh dunia, terutama mengingat Yesaya memasukkan dirinya sendiri dalam deskripsi tersebut. Jadi, memang semua orang di dunia adalah orang yang kotor di hadapan Allah.

Ketika Yesaya menulis ini, orang Israel telah menerima banyak berkat ajaib dari Tuhan. Namun, mereka telah berpaling dari-Nya dengan menyembah dewa-dewa palsu (Yesaya 42:17), mempersembahkan korban dan membakar dupa di altar-altar asing (Yesaya 65:3-5). Yesaya bahkan menyebut Yerusalem sebagai pelacur dan membandingkannya dengan Sodom (Yesaya 3:9). Orang-orang ini memiliki ilusi tentang kebenaran diri mereka sendiri. Namun, Allah tidak menganggap tindakan kebenaran mereka sebagai apa pun selain “pakaian yang tercemar” atau “kain yang kotor.”

Kemurtadan mereka, atau menjauh dari hukum Allah, telah membuat pekerjaan kebenaran mereka menjadi najis sama sekali. Martin Luther berkata, “Dosa yang paling terkutuk dan merusak yang pernah mengganggu pikiran manusia adalah bahwa entah bagaimana ia dapat membuat dirinya cukup baik untuk layak hidup selamanya dengan Allah yang mahakudus.”

Perlu dicatat, meskipun kebenaran diri dikutuk di seluruh Alkitab (Yehezkiel 33:13; Roma 3:27; Titus 3:5), kita, pada kenyataannya, diperintahkan untuk melakukan perbuatan baik. Paulus menjelaskan bahwa kita tidak dapat melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi keselamatan kita hanya datang sebagai hasil dari kasih karunia Allah (Efesus 2:8-9). Kemudian ia menyatakan bahwa “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10; lihat juga 2 Korintus 3:5).

Keselamatan kita bukanlah hasil dari usaha, kemampuan, pilihan cerdas, karakteristik pribadi, atau tindakan pelayanan yang mungkin kita lakukan. Kita juga bukan diselamatkan karena kita lebih baik dari orang lain. Namun, sebagai orang percaya, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik”—untuk menolong dan melayani orang lain. Meskipun tidak ada yang dapat kita lakukan untuk memperoleh keselamatan, maksud Allah adalah bahwa keselamatan kita akan menghasilkan tindakan pelayanan. Kita diselamatkan bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, tetapi untuk melayani Kristus dan membangun jemaat (Efesus 4:12). Perbuatan kita yang benar tidak menghasilkan keselamatan, tetapi sebenarnya merupakan bukti keselamatan kita (Yakobus 1:22; 2:14–26).

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa perbuatan kita yang benar pun merupakan karya Tuhan di dalam diri kita, bukan dari diri kita sendiri. Dengan sendirinya, “kebenaran” kita hanyalah pembenaran diri sendiri, dan agama yang sia-sia dan munafik tidak menghasilkan apa pun selain “kain kotor”.

Allah tidak meminta kita untuk mengesankan-Nya dengan kebaikan kita. Ia memanggil kita untuk percaya kepada-Nya dengan keterbatasan kita. Dia tidak menuntut catatan hidup yang sempurna. Dia menawarkan Juruselamat yang sempurna.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8–9

Banyak orang yang hidup dalam iman yang berbasis kinerja pada akhirnya merasa lelah. Beberapa orang mungkin menjauh bukan karena menolak Allah, tetapi karena mereka dibesarkan untuk mengenal versi Allah yang salah—Allah yang hanya mengasihi orang yang banyak berbuat baik. Dan persan ini sering muncul dalam beberapa gereja.

Kasih Allah tidak tergantung pada seberapa baik Anda tampil. Anda diundang bukan karena Anda “cukup baik” tetapi karena Yesus adalah sempurna untuk Anda. Iman bukan tentang kesempurnaan, tapi kepercayaan kepada Dia yang Mahasempurna. Iman bukanlah tentang menjadi manusia tanpa cela. Iman adalah tentang mengakui kebutuhan kita dan bersandar pada belas kasih Allah. Ingatlah pemungut cukai dalam Lukas 18:13, yang bahkan tak berani menatap ke langit, hanya berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Yesus berkata bahwa orang inilah—bukan orang Farisi yang sok suci—yang pulang dengan dibenarkan.

Seberapa baik untuk cukup baik bagi Allah? Jawabannya: hanya kesempurnaan saja yang cukup. Dan dalam hal ini. hanya Yesus yang sempurna. Kabar baiknya, Dia memberikan kesempurnaan-Nya sebagai anugerah. Di salib, Yesus menanggung dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya. Itu bukan soal pengadilan manusia—itu adalah kasih karunia dari Tuhan kepada manusia.

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata..” Titus 2:11

Banyak orang berpikir bahwa untuk hidup kudus, kita harus lebih dulu membuktikan diri kepada Tuhan — menunjukkan ketaatan, kesetiaan, dan pengorbanan — barulah Tuhan memberi anugerah-Nya. Tapi Injil berkata sebaliknya: Kita hidup kudus karena anugerah Allah, bukan agar kita layak menerima anugerah-Nya. Dalam Alkitab, urutan antara anugerah dan kekudusan selalu jelas: Tuhan memberi kita anugerah terlebih dahulu, baru kita dipanggil untuk hidup kudus. Allah membebaskan Israel dari Mesir terlebih dahulu — bukan karena mereka taat, tapi karena kasih dan janji-Nya. Setelah itu barulah Ia memberikan Hukum Taurat. Yesus mengampuni perempuan yang berzinah terlebih dahulu, baru Ia memanggilnya untuk meninggalkan dosa. Tidak sebaliknya.

Jika kita berpikir harus hidup benar dulu agar Tuhan mengasihi kita, kita akan jatuh ke dalam legalisme, Kita akan kecewa, karena tidak pernah merasa cukup; kita akan bermegah dalam perbuatan, bukan bersyukur atas kasih. Tetapi bila kita menerima anugerah terlebih dahulu, kita akan taat karena bersyukur, dan hidup suci karena kasih, bukan karena takut dihukum; berubah bukan karena terpaksa, tetapi karena Roh Kudus yang bekerja di dalam kita.

“Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” 1 Korintus 15:10

Kekudusan bukanlah akar keselamatan, tetapi buah dari keselamatan. Tanpa kasih karunia, kita tidak bisa berubah. Tanpa Roh Kudus, semua usaha kita hanya seperti daun-daun kering. Anda tidak harus hidup sempurna dulu supaya Tuhan mengasihi Anda. Dia sudah mengasihi Anda di dalam Kristus. Dari kasih itulah, kekudusan bisa mengalir ke luar.

Pertanyaan untuk Refleksi Pribadi:

  • Apakah saya masih berusaha mendapatkan penerimaan Allah lewat perbuatan saya?
  • Apa yang saya rasakan saat gagal—malu, takut, atau berserah?
  • Dapatkah saya percaya bahwa kasih Allah tidak naik turun tergantung pada performa saya?

Doa Penutup:

Bapa, aku datang kepada-Mu bukan sebagai orang yang cukup baik, tetapi sebagai orang yang sangat membutuhkan-Mu. Terima kasih karena kasih-Mu tidak bergantung pada penampilanku, tetapi pada kasih karunia-Mu. Ajarlah aku untuk merasakan damai di dalam karya Yesus yang sudah selesai. Bebaskan aku dari rasa takut, rasa malu, dan usaha yang sia-sia. Biarlah ketaatanku lahir dari kasih, bukan tekanan.

Dulu, aku sering berpikir bahwa aku harus membuktikan diriku terlebih dahulu baru Engkau akan mengasihiku. Tapi kini aku tahu, Engkau telah lebih dulu mengasihiku dalam Yesus Kristus. Ajarku untuk hidup kudus bukan karena takut akan hukuman, tapi karena bersyukur atas anugerah-Mu yang tak ternilai. Ajarlah aku untuk percaya kepada-Mu lebih dari aku percaya pada diriku sendiri. Dalam nama Yesus, Amin.

Lebih Dari Sekadar Taat: Hati yang Diperbarui oleh Kasih Karunia

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu dan mengusir setan demi nama-Mu dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21–23

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga bab yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak memberikan penilaian yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Tuhan sebagai Bapa yang murah hati yang ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka meminta. Ia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memasuki pintu gerbang yang sempit dan berjalan di jalan yang sulit menuju kehidupan. Nabi-nabi palsu dapat dikenali dari buahnya, yang berarti tindakan dan pilihan mereka. Pada saat yang sama, perbuatan baik bukanlah bukti mutlak bahwa seseorang memiliki iman yang sejati. Hidup menurut ajaran Yesus seperti membangun rumah kehidupan Anda di atas fondasi yang kokoh.

Matius 7:15–23 berisi peringatan dua sisi tentang orang percaya palsu. Seorang pemimpin agama mungkin tampak terhormat dan bijaksana, tetapi Anda harus melihat buah hidupnya untuk mengetahui apakah ia benar-benar mewakili Tuhan. Dengan cara yang sama, mungkin saja seseorang mengaku mengikuti Yesus, menyebut-Nya sebagai “Tuhan,” padahal mereka bukan orang percaya sejati. Hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa yang akan diizinkan masuk ke dalam kerajaan surga—yang Yesus definisikan sebagai dimulai dengan iman sejati (Yohanes 6:28–29). Perbuatan baik kita mungkin menipu orang lain, dan bahkan mungkin menipu diri kita sendiri, tetapi perbuatan baik tidak dapat menipu Tuhan.

Ayat-ayat ini sangat menantang, dan menjadi pokok perdebatan. Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah kasih karunia melalui iman, dan tidak diperoleh melalui perbuatan baik (Titus 3:5; Galatia 2:16; Roma 11:6; Yohanes 6:28–29). Alkitab juga mengingatkan orang percaya bahwa semua orang—bahkan mereka yang telah lahir baru—memiliki dosa yang perlu ditangani (1 Yohanes 1:9–10; Ibrani 4:14–16). Akan tetapi, Firman Tuhan juga menunjukkan bahwa mereka yang benar-benar telah lahir baru akan melihat keselamatan tercermin dalam sikap dan tindakan mereka (Yakobus 2:14–17; Yohanes 14:15). Ketegangan serupa terjadi dalam bagian ini—menekankan bahwa Kristus, bukan perbuatan, yang menyelamatkan (Yohanes 14:6), namun ketundukan kepada Kristus adalah hasil yang diharapkan dari keselamatan (Lukas 6:46).

Meskipun ayat ini sering disalahartikan oleh mereka yang mengklaim bahwa perbuatan baik diperlukan untuk diselamatkan, pernyataan Yesus berikutnya menghancurkan penafsiran itu. Bahkan, mereka yang terutama mendefinisikan iman mereka dengan apa yang telah mereka lakukan bagi Tuhan telah menaruh iman mereka pada sesuatu selain Kristus (Matius 7:22–23). Dalam beberapa ayat ini, Yesus secara eksplisit menjelaskan bahwa melakukan kehendak Tuhan berarti sesuatu yang lebih dari sekadar tindakan—itu membutuhkan iman yang sejati.

Yesus memperingatkan para pendengar-Nya untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu, Yesus menjelaskan dengan jelas bahwa orang lain dapat “berpura-pura” beriman dan menipu kita. Orang Kristen harus waspada terhadap para pemimpin palsu, dan orang lain yang mengaku mewakili Tuhan padahal sebenarnya tidak (Matius 7:15–20). Di sini, Ia juga memberikan sisi lain dari peringatan dua bagian ini: berhati-hatilah terhadap pengikut palsu. Secara khusus, Kristus memperingatkan mereka yang mendengarkan-Nya untuk tidak menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa mereka adalah orang percaya sejati, padahal sebenarnya tidak.

Yesus menyatakan bahwa tidak semua orang yang menyebut-Nya sebagai “Tuhan” akan masuk ke dalam kerajaan surga. Gelar “Tuhan” menyiratkan seorang tuan, pemimpin, dan seseorang yang kepadanya pembicara tunduk. Dalam pengajaran sebelumnya, Yesus menunjukkan bahwa kata-kata dan tindakan belaka tidaklah cukup—semua itu harus dimotivasi oleh ketulusan dan kebenaran (Matius 6:1, 5, 16). Dengan cara yang sama, Yesus menyatakan dengan tegas bahwa sekadar menyebut-Nya sebagai Tuhan tidaklah cukup. Begitu pula tindakan yang dianggap benar. Masuk ke dalam kerajaan surga terbatas pada mereka yang benar-benar, sepenuhnya melakukan kehendak Bapa-Nya di surga (2 Korintus 13:5). Itu dimulai dengan iman yang tulus kepada Kristus (Yohanes 6:28–29) dan meluas hingga kerendahan hati dalam cara kita menjalani hidup (Yohanes 14:15).

Untuk pertama kalinya dalam khotbah ini, Yesus menyebut Allah sebagai “Bapa-Ku.” Yesus Sendiri melakukan kehendak Bapa-Nya di surga. Mereka yang benar-benar mengikuti-Nya akan melakukan hal yang sama.

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus mengajarkan bahwa kedatangan Yesus di bumi berarti kerajaan surga sudah dekat (Matius 3:1–2; 4:17). Ini adalah kerajaan Kristus yang kekal, yang akan dimulai di hati semua orang yang benar-benar milik-Nya (Yeremia 31:31–33; Ibrani 8:6–7). Ini pada akhirnya akan menjadi kerajaan yang benar dan politis di mana kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga (Wahyu 20:4–6). Hanya mereka yang datang kepada Bapa melalui iman sejati kepada Kristus yang akan menjadi warga kerajaan itu selamanya. Lalu apa itu “iman sejati”? Apa tanda orang percaya?

Dalam kehidupan Kristen, ada dua ekstrem yang harus diwaspadai:

  • Antinomianisme — pandangan yang menolak hukum Tuhan; hidup dalam dosa seolah-olah kasih karunia Tuhan membenarkan segala sesuatu.
  • Prononomianisme — keinginan berlebihan untuk menuruti hukum; mengukur iman berdasarkan ketaatan lahiriah dan peraturan yang diikuti.

Kalimat yang tajam namun benar ini menangkap realita yang penting:

“Sementara antinomianisme adalah tanda orang yang tidak percaya, prononomianisme belum tentu tanda orang yang percaya.”

Mengapa demikian?

Karena ketidaktaatan yang disengaja terhadap hukum Allah menandakan hati yang belum diperbarui. Namun ketaatan terhadap hukum belum tentu berasal dari iman yang sejati. Banyak orang taat, tapi taat tanpa kasih. Banyak orang disiplin, tapi tanpa mengenal Kristus.

Iman yang Menghasilkan Ketaatan

Alkitab jelas bahwa iman sejati menghasilkan buah. Yakobus 2:26 mengatakan, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Iman yang menyelamatkan bukanlah sekadar pengetahuan, melainkan keyakinan dan kasih yang menuntun pada perubahan hidup.

Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

Ketaatan bukan penyebab keselamatan—tetapi bukti dari kasih karunia yang telah bekerja.

Karena itu, antinomianisme—hidup tanpa pertobatan, tanpa ketaatan—adalah tanda bahwa seseorang belum mengalami kelahiran baru. Orang yang lahir baru tidak sempurna, tapi hatinya tidak tenang jika tinggal dalam dosa.

Bahaya Penipuan Rohani: Prononomianisme

Namun di sisi lain, ketaatan bukanlah bukti pasti dari iman yang sejati. Inilah mengapa prononomianisme—kecintaan terhadap hukum dan ketaatan lahiriah—belum tentu merupakan tanda keselamatan. Itu yang disinggung dalam ayat pembukaan di atas.

Yesus menegur orang-orang yang tampak religius, tetapi hatinya jauh dari Allah. Dalam Matius 23:27 Ia berkata:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik! Sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”

Orang Farisi adalah contoh sempurna dari prononomianisme. Mereka taat luar biasa. Mereka puasa, memberi persepuluhan, berdoa panjang-panjang. Tapi mereka tidak mengenal Allah.

Ketaatan tanpa kasih adalah kebisingan kosong. Ketaatan tanpa iman adalah keangkuhan rohani. Bahkan Paulus berkata dalam 1 Korintus 13:3:

“Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Mengapa Ini Penting?

Di zaman sekarang, kita bisa melihat dua tipe orang dalam gereja:

Orang yang merasa aman karena mereka “baik” dan taat pada aturan gereja. Mereka mungkin aktif di pelayanan, menjauhi dosa besar, dan tampak saleh. Tapi jika hati mereka belum bertemu Yesus secara pribadi, mereka seperti daun yang hijau tanpa akar.

Orang yang merasa bebas karena “kasih karunia.” Mereka berkata, “Tuhan mengampuni semuanya,” lalu hidup seolah-olah tidak ada standar moral. Mereka menolak disiplin rohani dan menyebutnya legalisme.

Keduanya keliru.

Yesus tidak datang hanya untuk mengubah perilaku kita, tetapi untuk mengubah hati kita. Hati yang diperbarui oleh kasih karunia akan menghasilkan kehidupan yang taat dan rendah hati—bukan karena takut dihukum, tetapi karena mengasihi Tuhan.

Ketaatan yang Benar

Apa itu ketaatan yang lahir dari iman?

Ketaatan yang lahir dari kasih, bukan rasa takut. Ketaatan yang lahir dari keinginan untuk menyenangkan Tuhan, bukan untuk memperoleh pujian manusia atau sekadar menaati aturan gereja. Ketaatan yang berakar dalam relasi dengan Tuhan, bukan dalam ritual. Ketaatan yang berjalan dalam kerendahan hati, bukan dalam kesombongan rohani.

Yesus berkata dalam Yohanes 15:5:

“Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.”

Buah itulah ketaatan. Tetapi akar dari buah itu adalah tinggal di dalam Kristus.

Pertanyaan untuk Refleksi Pribadi:

Apakah saya menganggap diri saya benar karena perbuatan saya, atau karena anugerah Kristus? Apakah ketaatan saya lahir dari kasih kepada Allah, atau dari kebiasaan dan tradisi? Apakah saya merasa “aman” dalam gereja hanya karena saya mengikuti aturan? Apakah saya pernah mengabaikan perintah Tuhan karena berpikir kasih karunia membebaskan saya dari tanggung jawab? Apakah saya melihat perubahan hati dan kerinduan untuk taat karena saya telah mengenal Kristus secara pribadi?

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih karunia, aku mengakui bahwa aku mudah jatuh ke dalam dua ekstrem: kadang aku mengabaikan hukum-Mu, dan kadang aku membanggakan ketaatanku sendiri. Ampunilah aku, ya Tuhan.

Aku tidak ingin menjadi seperti orang Farisi yang taat tapi tidak mengenal-Mu. Aku juga tidak ingin hidup dalam kebebasan palsu yang menolak kekudusan-Mu. Berikan aku hati yang baru—hati yang rindu untuk menyenangkan Engkau karena kasih, bukan karena takut.

Ajarku untuk taat bukan sebagai beban, tetapi sebagai bentuk sukacita karena aku telah diselamatkan oleh kasih karunia-Mu. Biarlah ketaatanku menjadi buah dari iman yang hidup.

Yesus, aku percaya kepada-Mu. Biarlah hidupku menjadi bukti bahwa Engkau hidup di dalam aku.

Dalam nama-Mu yang kudus aku berdoa,

Amin.

Siapa yang sebenarnya Anda puja?

“Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Yohanes 13:15

Pada saat itu Yesus bertemu dengan kelompok kecil, mungkin hanya terdiri dari dua belas murid, dalam suasana pribadi. Sebelum makan, Yesus melakukan pekerjaan seorang hamba yang rendah hati, yaitu membasuh kaki para murid. Ia menjelaskan bahwa ini adalah pelajaran yang dapat dipetik para murid-Nya.

Kristus sebagai Tuhan dan tuan, menggunakan kedudukan-Nya untuk menegaskan poin utama-Nya. Mereka yang mengaku sebagai Yesus harus mengikuti teladan-Nya. Itu berarti kerendahan hati dan pelayanan bagi orang lain—jika Tuhan melayani orang lain, demikian pula mereka yang mengikuti-Nya.

Ketika Yesus mendekati Petrus untuk membasuh kakinya, Petrus merasa malu (Yohanes 13:6–8). Pada masa itu, membasuh kaki orang lain merupakan bukti ketundukan dan kerendahan. Gagasan bahwa seorang tuan akan melakukan hal itu kepada hambanya sendiri tidak terpikirkan oleh Petrus. Hal itu bertentangan dengan gagasannya tentang Kristus sebagai Tuhan dan Tuan.

Yesus kemudian menunjukkan bahwa tidak semua orang dalam hal ini ini mau mengikuti teladan-Nya. Prediksi ini diberikan untuk memperkuat iman orang percaya sejati dan akan terungkap pada akhir zaman di mana umat yang sejati dipisahkan dari mereka yang bukan umat. Orang Kristen yang sejati bukanlah “boss” atau “majikan” yang suka memerintah dan memperalat orang lain, tapi adalah orang yang dengan rendah hati sudah melayani dan mengasihi sesamanya.

Yesus menjelaskan bahwa Ia tidak menyangkal supremasi-Nya (Yohanes 13:13). Yesus sepenuhnya menerima gagasan bahwa Ia adalah Tuhan mereka. Tetapi Ia tetap melakukan pelayanan sebagai hamba. Berlawanan dengan hal itu, perspektif alami manusia adalah melihat beberapa jenis pelayanan dan kemudian berkata, “itu tidak pantas buat aku.” Hal ini terutama berlaku ketika kita merasa lebih penting atau lebih berharga daripada orang lain.

Dengan menunjukkan kerendahan hati, pengorbanan, dan pelayanan, Yesus menurunkan garis “di bawahku” hingga ke lantai. Dengan demikian, pelayanan yang penuh kasih kepada sesama, terutama bagi mereka yang dianggap lebih rendah posisinya, adalah sesuatu yang tidak dapat diabaikan oleh orang percaya sekalipun dalam pandangan dunia itu dianggap tidak layak untuk dilakukan.

Di sini, Yesus juga secara eksplisit menyatakan bahwa apa yang telah Dia lakukan dimaksudkan sebagai contoh. Dia tidak bermaksud bahwa semua orang Kristen wajib membasuh kaki orang lain secara harfiah dan fisik. Implikasinya jauh melampaui sekadar ritual. Intinya adalah bahwa mereka yang “mengikuti” Kristus harus “mengikuti” teladan-Nya dalam kerendahan hati dan pelayanan kepada sesama.

Apa yang diperintahkan Yesus tidak mudah dilakukan. Di zaman yang terobsesi dengan figur publik—baik dalam politik, agama, atau media sosial—kita mudah terjebak untuk mengikuti teladan manusia daripada teladan Yesus. Seorang pengkhotbah karismatik, guru populer, atau pemimpin gereja bisa perlahan-lahan menjadi panutan yang tak ada bandingnya. Kekaguman orang lain bisa berubah menjadi peniruan, dan peniruan menjadi penyembahan. Karena itu, mereka yang merasa sudah ditinggikan, tidak mudah untuk bisa merendahkan diri.

Alkitab tidak pernah memerintahkan kita untuk menyembah manusia, tetapi untuk mengikuti Kristus. Namun sepanjang sejarah, bahkan orang percaya yang tulus bisa terjebak dalam apa yang disebut para sosiolog sebagai ‘cultus individu‘—sebuah budaya pengagungan berlebihan kepada satu tokoh. Dalam istilah awam, ini disebut perilaku cult atau kultus—di mana satu pemimpin menjadi pusat kebenaran dan kesetiaan, dan mempertanyakan kedudukan orang itu bisa dianggap sebagai pemberontakan.

Tetapi Yesus menunjukkan cara yang jauh lebih baik untuk memimpin. Yohanes 13:15 diucapkan dalam momen kerendahan hati yang dalam. Anak Allah, yang tahu bahwa Dia akan segera dikhianati, berlutut untuk membasuh kaki para murid-Nya—termasuk kaki Yudas.

Pemimpin seperti apa yang melakukan hal itu?

  • Bukan pemimpin kultus.
  • Bukan diktator.
  • Bukan pencari pujian atau pemujaan.

Yesus—meskipun layak disembah—memilih handuk daripada gelar, dan pelayanan daripada popularitas. Dengan itu, Ia memberikan penawar sempurna terhadap kultus individu: kasih yang rendah hati dan berkorban, yang melayani daripada menguasai.

Masalahnya bukan hanya di luar sana—di kelompok-kelompok cult atau kultus—tetapi juga di dalam hati kita. Kita cenderung mencari pahlawan. Kita ingin ada sosok yang mewakili kebenaran untuk kita. Tetapi hanya satu Pribadi yang layak memegang peran itu: Yesus Kristus, Raja yang menjadi Hamba.

Pagi ini, marilah kita berkata bersama Paulus, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1). Jika iman kita benar-benar berpusat pada Yesus, tidak akan ada tempat bagi pemujaan atas seseorang—yang ada hanya ucapan syukur dan kerendahan hati dalam meneladani Dia yang membasuh kaki kita dan mati bagi dosa kita. Jika kita memang taat kepada Yesus, kita tidak akan menuntut orang lain untuk tunduk kepada kita, karena hanya Yesus yang patut dipuja.

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Pertanyaan untuk Refleksi Pribadi:

1. Bagaimana teladan kepemimpinan Yesus dalam Yohanes 13:15 menantang budaya gereja saat ini?
2. Pernahkah Anda merasa ditekan untuk mengikuti seseorang daripada Kristus? Bagaimana dampaknya bagi iman Anda?
3. Apa yang bisa Anda lakukan untuk membangun komunitas iman yang berpusat pada Kristus, dan bukan pada pemimpin manusia?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, tolong aku agar mengikuti Engkau, bukan pribadi-pribadi tertentu. Ajarlah aku menjadi seperti Engkau—rendah hati, lemah lembut, dan berhati hamba. Jika ada bagian dari hatiku yang telah mengidolakan pemimpin atau gerakan tertentu, tegurlah aku dalam kasih. Jika aku sering mendambakan ketundukan dan penghormatan dari orang lain, ampunilah aku. Tolong aku untuk melihat Engkau lebih jelas dan mengikuti Engkau lebih dekat. Amin.

Hanya satu yang layak kita sembah

Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lukas 4:8

Lukas 4:1–13 menggambarkan godaan Yesus oleh Setan. Selama empat puluh hari berpuasa, Iblis membujuk-Nya menggunakan tawaran kenyamanan, kekuasaan, dan gengsi. Dalam setiap kasus, Yesus menanggapi dengan Kitab Suci dan komitmen terhadap kehendak Tuhan. Rangkaian peristiwa ini juga dicatat dalam Matius 4:1–11 dan Markus 1:12–13. Sementara tuisan Matius menyiratkan urutan yang jelas untuk godaan-godaan ini, tulisan Lukas tidak begitu.

Kristus menanggapi tawaran Setan berupa kekuasaan duniawi sebagai ganti penyembahan (Lukas 4:5–7). Seperti dalam kasus-kasus lainnya, Yesus mengutip Kitab Suci dan menolak godaan tersebut. Alih-alih menerima otoritas duniawi sekarang dan menghindari penderitaan di kayu salib, Yesus memilih untuk menaati Allah dan menunggu segala sesuatu diberikan pada waktunya (Filipi 2:8).

Kutipan Yesus di sini diambil dari Ulangan 6:13. Dalam kitab itu, Musa mengulang banyak sejarah Israel. Ia menceritakan perintah-perintah dan pelajaran-pelajaran yang diberikan Allah kepada mereka. Di antaranya adalah perintah-perintah untuk mengingat Tuhan dan percaya. Dalam bagian yang dirujuk Yesus, Musa mengingatkan Israel bahwa Allah—dan hanya Allah—lah yang menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir. Mengabaikan keselamatan itu dan mengejar allah-allah lain akan menjadi dosa yang keji.

Godaan Setan terhadap Yesus, dalam kasus ini, adalah melakukan hal itu: “melupakan” Allah dan melayani tuan yang lain. Umpan godaan ini adalah daya tarik kehidupan yang lebih mudah dan “lebih baik”. Yesus tahu bahwa tawaran ini bukan hanya kebohongan, tetapi juga tidak ada gunanya. Dia telah dijanjikan semua hal itu, asalkan Dia mengikuti kehendak Bapa. Dengan cara yang sama, orang Kristen harus menolak kebohongan duniawi yang sering kita temui di banyak tempat, termasuk ajaran-ajaran keliru di gereja, karena Tuhan telah menjanjikan kita pahala dan kebahagiaan yang jauh lebih besar (1 Korintus 9:24; Kolose 3:23–24).

Untuk mengabaikan ajaran yang kelru tidaklah mudah. Di dunia, gereja dan denominasi sering menekankan pemimpin atau doktrin mereka. Ada orang Kristen yang lebih kenal pendiri gereja mereka daripada Juruselamat mereka. Yang lain sangat setia pada sistem teologi atau praktik rohani tertentu. Memang di zaman ini adalah hal yang wajar untuk menghormati orang-orang hebat: pendeta yang dihormati, teolog yang brilian, pendiri gereja besar, atau bahkan institusi gereja kita. Kita mengagumi mereka, kesuksesan mereka, membela mereka, dan terkadang mengikuti mereka lebih dekat daripada kita mengikuti Kristus. Namun, dalam terang kekekalan, bahkan cahaya manusia yang paling terang pun akan memudar di hadapan kemuliaan Allah. Alkitab memperingatkan bahwa “hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1 Korintus 3:19). Di surga, tidak ada ketenaran, kemakmuran, gelar atau pengetahuan teologi yang berarti.

Mengapa Manusia Berfokus pada Hal-Hal Duniawi?

1. Kita Mencari Keamanan
Orang berpegang pada sistem dan pemimpin karena memberi rasa aman. Keyakinan bahwa “gereja kami benar” atau “teologi kami sehat” bisa terasa seperti perlindungan rohani. Namun, keamanan sejati bukanlah dalam kebenaran doktrin, tetapi dalam berada di dalam Kristus (Filipi 3:9).

2. Kita Mencari Identitas
Kita ingin merasa memiliki. Denominasi kita, pengkhotbah favorit kita, atau kelompok teologis kita memberi kita nama. Namun di surga, “mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka” (Wahyu 22:4). Hanya identitas dari Allah yang akan bertahan.

3. Kita Mudah Teralihkan
Iblis tidak keberatan jika kita menghabiskan seluruh hidup mempelajari teologi — asalkan kita lupa Pribadi Ilahi yang menjadi pusatnya. Tidak salah belajar atau menghormati pemimpin, tetapi kekaguman yang menggantikan penyembahan Tuhan adalah berbahaya. Musa adalah pribadi besar — namun dia pun tidak diizinkan masuk Tanah Perjanjian karena mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri (Bilangan 20:10–12).

4. Kita Lupa Surga
Kolose 3:2 memerintahkan, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Namun sering kali iman kita dijalani seolah-olah hidup di dunia ini adalah segalanya — seolah pemimpin kita, debat kita, kemakmuran gereja dan doktrin kita akan ikut ke dalam kekekalan. Padahal tidak.

Tatanan Baru di Surga

Dalam Wahyu 4 dan 5, digambarkan suasana surga. Dua puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta. Malaikat, makhluk, dan semua ciptaan berseru, “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (Wahyu 5:13). Di surga tidak ada orang yang meninggikan suatu denominasi. Tidak ada yang mengutip nama nabi dan tokoh Kristen. Tidak ada yang membela posisi teologis mereka. Semua umat menyembah Allah.

Para teolog yang menulis banyak buku akan bersatu dengan orang sederhana dalam menyanyikan, “Anak Dombalah yang layak menerima pujian.” Pendeta setia akan berdiri di samping mantan kriminal yang diselamatkan oleh kasih karunia, dan mereka semua akan sujud bersama di hadapan takhta. Satu-satunya gelar yang akan bertahan adalah “anak Allah.”

Bagaimana Kita Harus Hidup Sekarang?

Karena segala yang kita agungkan di dunia akan terlupakan dalam terang kemuliaan Allah, maka kita seharusnya hidup sesuai dengan itu. Berikut beberapa pengingat penting:

1. Ikutilah pemimpin, tetapi sembahlah Kristus
Ibrani 13:7 berkata bahwa kita harus mengenang para pemimpin kita dan meneladani iman mereka — bukan mengidolakan mereka. Biarlah mereka membawa kita kepada Yesus, bukan menggantikan-Nya.

2. Pelajari teologi, tetapi kasihi Kebenaran
Doktrin itu penting, tetapi hanya jika mengarahkan kita kepada Pribadi Kebenaran (Yohanes 14:6). Pengetahuan tanpa penyerahan hati tidak berguna.

3. Banggalah akan gerejamu, tetapi setialah kepada Kerajaan Allah
Gereja adalah ungkapan lokal dari umat Allah, bukan keseluruhannya. Kerajaan Allah jauh lebih besar dari gerakan mana pun.

4. Bersyukurlah untuk pahlawan iman, tetapi jangan mengagungkan mereka
Allah sering memakai manusia dengan luar biasa — tetapi mereka hanyalah bejana tanah liat (2 Korintus 4:7). Segala kemuliaan hanya bagi Sang Penjunan.

5. Hiduplah sekarang seperti di surga: dalam penyembahan
Jika surga penuh dengan pujian, maka mulailah sekarang. Biarlah pujian, kerendahan hati, dan kasih yang berpusat pada Kristus membentuk kehidupan kita setiap hari.

Pertanyaan untuk Refleksi Pribadi:

  1. Apakah saya lebih sering membela teologi atau tradisi gereja saya daripada menghidupi kasih Kristus?
  2. Apakah saya pernah mengagumi pemimpin rohani secara berlebihan hingga tanpa sadar menomorduakan Yesus?
  3. Bagaimana saya bisa mulai “menyembah Tuhan” lebih banyak dan “mengidolakan orang” lebih sedikit?
  4. Apakah saya benar-benar mengarahkan hati kepada hal-hal yang kekal, atau masih terjebak pada status dan pengakuan duniawi?
  5. Jika saya berdiri di hadapan Allah hari ini, apa yang akan saya tinggalkan di belakang?

Doa Penutup:

Tuhan yang Maha Kudus, Engkau satu-satunya yang layak menerima segala pujian dan hormat. Ampunilah aku jika selama ini aku terlalu fokus pada hal-hal duniawi—pada pemimpin, gereja, atau doktrin—dan lupa bahwa Engkaulah pusat dari segalanya.
Ajarku untuk hidup dengan hati yang tertuju kepada Surga, untuk menghargai mereka yang Engkau pakai tanpa menyembah mereka. Bentuklah dalam diriku kerendahan hati, semangat menyembah, dan kasih yang murni kepada-Mu.
Bimbing aku agar setiap perkataan, pikiran, dan perbuatanku memuliakan nama-Mu. Ingatkan aku setiap hari bahwa hanya Engkaulah yang layak ditinggikan—dulu, sekarang, dan selamanya.
Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, aku berdoa.
Amin.

Hanya Tuhan yang baik

“Mengapa engkau berkata Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.” Markus 10:18

Apakah Anda mengenal seseorang yang sopan santun, yang menghormati orang lain, yang hidupnya tertib dan rohani? Mungkin Anda menamakan dia “orang baik”. Tetapi apa arti “orang baik” itu? Orang yang diberkati Tuhan dengan berbagai hal yang indah dan nantinya masuk surga?

Kita sebagai manusia sering menghormati orang yang terlihat “baik”. Tetapi mungkin kita sadar bahwa tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar 100% baik. Hanya Tuhan yang benar-benar baik dan suci. Tidaklah mengherankan bahwa ayat di atas telah digunakan dalam perdebatan tentang keilahian Yesus. Sebagian berpendapat bahwa Yesus menyangkal bahwa Dia adalah Tuhan. Sebagian lain berpendapat bahwa Yesus mencoba untuk menyatakan kepada orang itu bahwa Dia adalah Tuhan. Namun, Yesus tidak secara langsung mengomentari sentimen yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Sebaliknya, Dia mendorong orang itu untuk mempertimbangkan siapa yang layak disebut “baik.” Jangan sembarangan memakai kata “orang baik”.

Yesus bertanya kepada orang itu mengapa menurutnya Yesus baik. Apa yang mencirikan seseorang sebagai “baik”? Dan jika ada seseorang benar-benar baik, apa yang akan dia katakan tentangnya? Jika saja Tuhan itu benar-benar baik, dan seorang manusia benar-benar baik, maka manusia itu adalah Tuhan. Jika ada yang berpendapat bahwa Yesus mencoba untuk menuntun orang itu ke kesimpulan ini, itu tidaklah mungkin. Pada waktu itu, Yesus justru bersusah payah menyembunyikan identitas-Nya dari semua orang kecuali dua belas murid-Nya (Markus 8:29–30; 9:9). Jadi lebih mungkin, komentar singkat dari Yesus itu menunjukkan bahwa Ia memberi orang itu sesuatu untuk dipikirkan kemudian: “mengapa kau menyebut Aku baik? Apakah kau menyebut Aku Allah? Jika ya, apakah kau siap mendengarkan Aku?”

Pada masa itu, orang awam biasanya percaya kepada pemimpin agama, seperti rabi, ahli Taurat, atau orang Farisi, tentang apa yang harus mereka lakukan agar menjadi baik dan masuk ke surga. Mereka bahkan berusaha mengikuti ajaran di luar Alkitab yang telah diciptakan oleh para ahli Taurat selama bertahun-tahun. Sebaliknya, Yesus memberi tahu orang itu untuk kembali kepada hukum Musa sebagaimana yang diberikan Allah (Markus 10:19), dan tidak khawatir tentang tradisi manusia (Markus 7:1–13). Orang itu menyiratkan bahwa Yesus, sebagai guru yang baik, tentunya tahu bagaimana caranya untuk menerima hidup kekal. Yesus menunjukkan bahwa hanya Allah yang baik, dan Ia memberikan hukum Musa untuk mengajar orang Yahudi bagaimana menjadi kudus.

Lebih mungkin lagi, Yesus menunjukkan kepada orang itu bahwa jika hanya Allah yang baik, orang muda yang kaya itu tidak mungkin menjadi baik. Jika dia tidak bisa menjadi baik, bagaimana dia bisa memperoleh hidup kekal? Kata-kata Matius mendukung penafsiran ini: “Kata Yesus kepadanya: ‘Mengapa engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik'” (Matius 19:17). Tidak peduli seberapa “baik” kita, kita tidak akan pernah tanpa dosa (Roma 3:23).

Kita hidup di zaman yang penuh dengan suara—pengkhotbah, pemimpin rohani, tokoh teologi, dan gerakan rohani yang menawarkan berbagai penafsiran akan kebenaran. Banyak yang tulus, berbakat, dan penuh semangat. Namun seiring waktu, kekaguman terhadap suara-suara ini dapat tumbuh menjadi pusat identitas kita. Firman Tuhan mengingatkan kita dengan tegas: hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Bahkan pemimpin rohani yang paling berbakat sekalipun tetaplah manusia. Mereka bisa memiliki wawasan mendalam dan khotbah yang kuat, tetapi mereka juga membutuhkan kasih karunia dan koreksi dari Tuhan. Gereja bisa menjadi komunitas kasih yang indah, namun tetap terdiri dari orang-orang berdosa. Sistem teologi bisa membantu menjelaskan iman, tetapi tidak ada satu pun yang sepenuhnya menggambarkan pikiran Allah yang tak terbatas.

Ketika kita meninggikan sistem manusia atau pemimpin rohani hingga setara dengan Allah, kita telah jatuh dalam penyembahan berhala rohani. Mengagumi hikmat itu baik, tetapi menyembahnya dalam bentuk pemimpin, denominasi, atau ideologi adalah hal yang berbahaya. Kebaikan yang kita lihat dalam diri orang lain hanyalah pantulan dari terang Tuhan, bukan sumbernya.

Yesus berkata, “Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah.” Ini bukan hanya koreksi terhadap si pemuda kaya, tetapi juga undangan bagi kita untuk melihat melampaui penampilan luar—menengok kepada sumber segala kebaikan. Hanya Tuhan yang baik dalam esensi, motivasi, dan tindakan-Nya. Semua yang baik berasal dari-Nya. Setiap kebaikan dalam ciptaan adalah bayangan dari kebaikan Allah.

Budaya kita cenderung mendorong kita untuk bersekutu dengan kelompok teologi atau gereja tertentu seolah-olah mereka tak bisa salah. Kita membela mereka dengan semangat, bahkan kadang menyerang pihak lain. Namun di tengah semua itu, kita bisa kehilangan fokus kepada Pribadi yang seharusnya kita sembah: Tuhan.

Gereja bukan Juruselamat kita. Teologi bukan otoritas tertinggi. Kristuslah satu-satunya yang layak kita sembah. Kekaguman kita harus diarahkan kembali. Hormati pemimpin, tetapi jangan menyembah mereka. Kasihi gereja, tetapi jangan mendewakannya. Hargai doktrin, tetapi ingat: yang menyelamatkan adalah Allah, bukan pemahaman teologi kita.

Ada bahaya lain juga. Ketika pemimpin jatuh—dan hal ini bisa terjadi—mereka yang telah mengidolakan mereka akan merasa hancur secara rohani. Bahkan ada yang meninggalkan iman, karena tidak bisa memisahkan kepercayaan mereka kepada Tuhan dari kepercayaan kepada manusia atau sistem. Ini adalah akibat dari pengharapan yang salah tempat.

Untuk tetap teguh, kita perlu membangun kerendahan hati dan ketergantungan hanya kepada Tuhan. Seperti Yohanes Pembaptis berkata tentang Kristus: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Mari kita mengagumi apa yang layak dikagumi, tetapi berikan penyembahan tertinggi hanya kepada Tuhan.

Pertanyaan refleksi:

  1. Adakah orang, gereja, atau ajaran yang terlalu Anda kagumi?
  2. Bagaimana Anda dapat kembali memusatkan hati kepada kebaikan Tuhan?
  3. Adakah area dalam hidup Anda di mana Anda lebih giat membela institusi manusia daripada mencari kebenaran Tuhan?
  4. Tahukah Anda bahwa di surga Anda hanya boleh menyembah Tuhan yang mahabaik dan karena itu Anda harus belajar mulai dari sekarang?

Doa:


Tuhan, ingatkan aku bahwa hanya Engkaulah yang benar-benar baik. Tolong aku menghargai pemimpin dan ajaran yang Engkau pakai, tetapi jangan biarkan aku menempatkan mereka di atas-Mu. Biarlah kekagumanku dipenuhi kerendahan hati, dan kesetiaanku tertuju kepada Kristus saja. Dalam nama Yesus, Amin.

Kekuatiran Tidak Menambah Apa-Apa: Panggilan untuk Percaya kepada Kuasa Allah

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Lukas 12:25

Kita hidup di dunia yang penuh kekuatiran. Karena itu, di zaman ini obat untuk kecemasan dan depresi dikonsumsi orang dalam jumlah besar. Orang juga mencari damai dengan memakai terapi, hiburan, kekayaan, media sosial — bahkan dalam pemakaian narkoba. Namun rasa damai tetap sulit ditemukan. Mengapa? Karena dunia tidak menawarkan harapan yang kekal. Keluarga hancur, komunitas terpecah, bangsa-bangsa konflik, bahkan iklim dan ekonomi terasa tidak stabil. Masa depan? Tak terduga. Entah akhir dunia sudah dekat atau belum, kita tetap akan menghadapi berbagai pencobaan. Inilah realitas kehidupan setelah kejatuhan manusia.

Lukas 12:22–34 mencatat bahwa Yesus memberi tahu murid-murid-Nya untuk melepaskan kekhawatiran dan mempercayai Tuhan. Dia telah memberi tahu mereka untuk menolak ketenaran, takut akan kematian, dan bergantung pada kekayaan (Lukas 12:1–21). Kemudian, Ia akan memberi tahu mereka bahwa mereka mungkin harus meninggalkan keluarga juga (Lukas 12:49-53). Sebaliknya, mereka perlu berfokus pada tugas yang akan diberikan Yesus kepada mereka (Lukas 12:35-48), untuk membangun gereja setelah kenaikan-Nya. Matius 6:25-34 membahas ajaran yang sama, meskipun mungkin pada waktu dan tempat yang berbeda.

Yesus mengajar para pengikutnya tentang prioritas yang tepat. Ini termasuk mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, bahkan hal-hal rahasia. Orang percaya harus lebih percaya kepada kuasa Allah daripada takut akan kematian, atau khawatir tentang hal-hal seperti makanan dan pakaian. Orang Kristen harus tetap siap untuk kedatangan Kristus, bahkan ketika iman memisahkan mereka yang percaya dari mereka yang tidak. Gagasan-gagasan ini berputar di sekitar tema utama ayat 34: bahwa hati seseorang mencerminkan apa yang paling mereka hargai.

Inilah inti ayat dari bagian ini (Lukas 12:22–31). Yesus tidak menjamin semua pengikut-Nya akan hidup di bumi dengan makanan yang cukup dan pakaian yang layak. Ia mengatakan bahwa khawatir—terobsesi atau panik, dalam konteks ini—tentang makanan dan pakaian tidak akan ada gunanya. Ia baru saja menceritakan perumpamaan tentang seorang pria yang mengumpulkan begitu banyak gandum sehingga ia bisa berhenti bekerja selama beberapa tahun, tetapi semua gandum di semua lumbung tidak akan membuatnya tetap hidup jika Tuhan memutuskan waktunya di bumi telah berakhir (Lukas 12:13–21).

Kecemasan tidak akan memperpanjang hidup Anda. Oleh karena itu, khawatir tentang makanan, pakaian, dan hal-hal lain tidak akan memperpanjang hidup Anda. Tuhan akan menyediakan para pengikut-Nya dengan apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan-Nya dalam hidup mereka. Tujuan itu adalah prioritas dan hak istimewa kita yang besar.

Memang, tujuan Tuhan tidak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Kita, seperti petani kaya, mungkin ingin “bersantai, makan, minum, bergembira” selama beberapa tahun (Lukas 12:19). Yesus ingin kita begitu berani membagikan Injil sehingga kita tidak takut ketika otoritas mengancam hidup kita (Lukas 12:4). Dia tidak ingin kita memanfaatkan hubungan kita dengan-Nya, tetapi melayani-Nya dengan tekun dan memimpin orang lain dengan setia (Lukas 12:35–48). Pada akhirnya, bukan dalam hidup ini kita dapat berharap untuk diberi makan dan berpakaian dengan baik, tetapi pada saat kedatangan Yesus kembali (Lukas 12:37; Wahyu 19:7–10).

Penafsiran ayat ini bisa diperdebatkan meskipun makna metaforisnya tetap sama. Bahasa Yunani yang diterjemahkan “satu jam” juga dapat berarti “satu hasta”—ukuran panjang. “Jangkauan” hanya berarti “panjang”; “hidup” ditambahkan untuk kejelasan. Alkitab menafsirkan frasa tersebut berarti kekhawatiran tidak dapat menambah sedikit pun waktu dalam rentang hidup kita. Dengan menerjemahkan “hasta” secara harfiah, Alkitab mengartikannya sebagai kekhawatiran tidak dapat menambah delapan belas inci pada tinggi badan kita. Apa pun terjemahannya, inti ayat ini adalah kekhawatiran tidak dapat memberi kita apa yang kita inginkan.

Satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa ayat ini tidak memberi tahu kita bahwa kita harus menolak perawatan medis yang dapat menyembuhkan atau meringankan kondisi penyakit atau cedera. Rencana Tuhan, bukan kekhawatiran kita, yang menentukan rentang hidup kita, tetapi perawatan medis mungkin merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi hidup kita. Bahwa kita tidak boleh paranoid tentang kehidupan duniawi tidak berarti kita harus memperlakukannya dengan sembarangan.

Mari kita renungkan lebih lanjut. Apa sebenarnya yang bisa dicapai dengan kekuatiran?

I. Kekuatiran: Gejala Masalah yang Lebih Dalam

Kekuatiran bukan hanya masalah psikologis. Itu adalah gejala rohani.

Sebelum kejatuhan manusia, Adam dan Hawa tidak mengenal kekuatiran. Mereka berjalan bersama Allah dan percaya kepada-Nya. Namun setelah kejatuhan, rasa takut muncul: takut dihukum, takut kekurangan, takut akan masa depan. Maka dimulailah kecemasan manusia.

Pada dasarnya, kekuatiran adalah ketidakpercayaan:

  • Meragukan kuasa Allah — Apakah Dia benar-benar sanggup menolong?
  • Meragukan kasih-Nya — Apakah Dia benar-benar peduli?
  • Meragukan rencana-Nya — Bagaimana jika Dia salah arah?

Keraguan ini bukan hal sepele. Itu adalah dosa. Karena itu menyangkal siapa Allah sebenarnya.

II. Kekuatiran Tidak Mengubah Masa Depan

Perkataan Yesus sangat jelas: Kekuatiran tidak menambah apa-apa. Tidak membawa solusi, tidak memperpanjang hidup, tidak memperbaiki keadaan.

Kekuatiran justru merampas:

  • Merampas kenyenyakan tidur kita.
  • Mengaburkan pertimbangan sehat.
  • Merusak kesehatan jasmani dan rohani.
  • Meretakkan hubungan dengan orang lain.
  • Menggerogoti iman.

Kekuatiran adalah seperti pencuri. Ia datang seolah membantu kita bersiap, padahal hanya menambah beban. Lalu apakah salah untuk merencanakan masa depan? Tidak! Merencanakan hari depan itu bijak. Tapi rasa kuatir yang berlebihan adalah tanda kurang iman.

III. Akar Solusi: Kembali kepada Allah

Kita tidak bisa berhenti kuatir hanya dengan kemauan sendiri. Kuncinya adalah pertobatan dan iman.

Mintalah pengampunan atas dosa kita karena mengabaikan Allah dan huasa-Nya, dan kita akan menerima damai-Nya. Dosa apa?

  • Melupakan-Nya dalam rencana hidup kita.
  • Tidak mempercayai-Nya dalam kesulitan.
  • Menggantikan-Nya dengan berhala kenyamanan, uang, atau kendali manusiawi.

Yesaya 26:3 berkata, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”

Hari ini, mari kita mengaku: “Tuhan, aku telah berdosa karena kuatir. Aku meragukan tangan dan hati-Mu. Ampunilah aku.”

Dan Tuhan yang kaya kasih karunia akan menjawab: “Damai-Ku Kuberikan kepadamu.”

IV. Panggilan untuk Hidup dalam Hikmat dan Percaya

Yesus tidak memanggil kita untuk jadi optimis yang naif. Dia memanggil kita untuk hidup dalam iman yang bijaksana:

  • Rencanakan — tapi jangan panik.
  • Bekerja — tapi jangan cemas.
  • Sadari tantangan — tapi tetap pandang Kristus.

Dunia memang rusak. Tapi Allah tetap berdaulat. Dia melihat burung pipit. Dia tahu kebutuhan Anda. Dia tetap bekerja sekarang juga. Bagian kita? Percaya saja. Tetap taat. Beristirahat dalam Dia. Kita bisa kuatir. Itu mudah. Tapi kita tidak bisa menyelesaikan masalah kita dengan kekuatiran. Hanya Allah yang bisa. Hari ini, berhentilah memikul beban sendirian. Serahkan beban itu kepada Tuhan. Dia mengundang kita:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28

Maukah kita datang? Maukah kita percaya? Maukah kita berserah? Mari kita mengaku kecemasan kita, bertobat dari ketidakpercayaan kita, dan menerima damai dari Sang Raja Damai.

Doa Penutup:

Tuhan, kami mengaku bahwa kami sering memikul beban yang tidak Engkau minta kami tanggung. Kami lebih sering kuatir daripada menyembah. Kami lebih sering takut daripada percaya. Ampunilah kami. Pulihkan iman kami. Gantikan kecemasan kami dengan damai sejahtera-Mu yang sempurna. Dalam nama Yesus kami berdoa, Ami

Standar bermasyarakat yang tidak pernah berubah

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Filipi 4:2–9 adalah seruan Paulus kepada jemaat Kristen di Filipi mengenai cara mereka menangani perselisihan di dalam gereja. Paulus khususnya prihatin dengan pertengkaran antara dua wanita, Euodia dan Sintikhe. Nasihat Paulus adalah untuk berfokus pada kemampuan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita untuk bersukacita dalam persekutuan kita dengan Kristus. Filipi 4:8 mengingatkan kita bahwa standar bermasyarakat orang percaya tidak pernah berubah. Dengan fokus yang tepat pada hal-hal positif, kita dapat mengalami kedamaian dalam hidup bermasyarakat melalui kuasa Allah.

Di dunia yang terobsesi dengan tren, citra diri, dan kesuksesan buatan sendiri, tekanan untuk menyesuaikan diri sangat nyata. Baik muda maupun tua, orang Kristen dibombardir dengan pesan-pesan halus—dan tidak begitu halus: Jadilah relevan. Jadilah dikagumi. Jadilah sukses. Namun definisi sukses menurut dunia seringkali datang dengan harga: kompromi rohani. Untuk terlihat bijak di mata dunia, kita tergoda untuk melunakkan kebenaran. Untuk bisa diterima teman atau rekan, kita mengaburkan batas antara kebenaran dan kesucian. Untuk mendapatkan kemenangan atau pujian orang lain, kita mungkin mulai mengadopsi nilai-nilai yang tidak pernah dimaksudkan Tuhan untuk umat-Nya. Inilah standar dunia saat ini yang hanya bisa membawa kedamaian palsu yang bersifat sementara.

Dunia merayakan kecerdikan, promosi diri, dan kekayaan materi. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk mengejar yang benar, bukan yang sedang tren. Untuk menghormati yang mulia, bukan hanya yang populer. Untuk memegang keadilan, meskipun ada harga yang harus dibayar. Untuk tetap suci, walaupun dunia menyebutnya kuno. Untuk menghargai apa yang manis dan sedap didengar, meskipun sering dianggap ketinggalan zaman. Kita hidup di zaman di mana kesuksesan harus terlihat, keras, dan sering kali diukur dengan jumlah teman, pengikut, dan saldo rekening. Namun hidup Kristen berjalan di jalur yang berbeda. Tepuk tangan dari manusia cepat memudar, tetapi pujian dari Allah bersifat kekal.

Keunggulan di mata Allah tidak ditentukan oleh popularitas, kekayaan, atau status. Itu ditentukan oleh seberapa besar karakter-Nya tercermin dalam hati dan pikiran kita. Apa yang dianggap kelemahan oleh dunia—kerendahan hati, kesetiaan, kebaikan—justru adalah hal-hal yang dianggap terpuji di surga. Itulah sebabnya nasihat Paulus dalam Filipi 4:8 begitu radikal—dan begitu dibutuhkan. Ia tidak hanya berkata, ‘lakukanlah semua itu’; ia berkata, ‘pikirkanlah semuanya itu.’ Karena apa yang kita isi dalam pikiran kita akan membentuk hidup kita.

Orang percaya harus “memikirkan semuanya ini.” Sementara Allah menjaga hati kita (Filipi 4:7), kita juga diperintahkan untuk memfokuskan hidup kita pada hal-hal yang menyenangkan Allah. Apa yang terus-menerus ditekankan di seluruh tulisan Paulus adalah keterlibatan Allah dalam setiap aspek kehidupan orang percaya. Pada saat yang sama, orang percaya diperintahkan untuk hidup sesuai dengan jalan Allah. Ia melakukan pekerjaan-Nya, tetapi juga memberi kita pekerjaan untuk dilakukan. Orang percaya dipanggil untuk percaya kepada Tuhan, tetapi juga untuk melayani Tuhan. Paulus memberikan contoh tentang cara melakukan keduanya. Ia setia dalam doa, tetapi menyerahkan seluruh hidupnya untuk memuliakan Tuhan.

Terlalu banyak orang Kristen saat ini merasa terbebani untuk terlihat ‘keren’ atau ‘bijak’ di mata dunia. Namun Kitab Suci jelas: ‘Hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah’ (1 Korintus 3:19). Hikmat sejati dimulai dengan takut akan Tuhan (Amsal 9:10), bukan dengan diterima oleh budaya. Ketika orang Kristen mulai berpikir seperti dunia, mereka akhirnya akan hidup seperti dunia. Tetapi ketika pikiran kita dibentuk oleh kebenaran dan kesucian, kita akan selaras dengan hati Allah. Ini bukan ajakan untuk legalisme atau mengasingkan diri dari dunia. Yesus berdoa agar murid-murid-Nya tidak diambil dari dunia, tetapi agar mereka dijaga dari yang jahat (Yohanes 17:15). Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk membedakan—untuk menyaring nilai, keinginan, dan ambisi kita melalui kebenaran Allah yang tidak berubah. Ini demi kebahagiaan kita yang sejati.

Menjadi umat yang setia mungkin akan membuat kita kehilangan promosi. Menolak kompromi bisa berarti kehilangan teman. Memegang kebenaran bisa membuat kita tidak populer. Tetapi ingatlah: standar Tuhan bukan beban untuk kita—melainkan berkat. Standar itu melindungi hati, menjaga kesaksian, dan menunjuk dunia ke arah yang lebih baik.

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa standar-Nya akan mudah diikuti. Tetapi Dia menjanjikan bahwa Roh-Nya akan memberi kita kekuatan. Ketika kita mengarahkan pikiran kita kepada yang mahakuasa dan patut dipuji, kita diubahkan dari dalam (Roma 12:2). Kita menjadi pribadi yang penuh kedalaman, keyakinan, dan sukacita—dibentuk bukan oleh tren dan tekanan dunia, tetapi oleh kebenaran Tuhan.

Pagi ini, mari kita lawan tekanan untuk membengkokkan iman dan melebur dengan dunia. Jangan biarkan budaya mendefinisikan keberhasilan atau kemenangan kita. Sebaliknya, pusatkan pikiran kita pada apa yang telah Tuhan nyatakan baik. Sebab dengan melakukan itu, kita bukan hanya menghormati Kristus—kita menjadi terang di tengah kegelapan. Orang lain akan melihat perbedaannya. Dan sekalipun mereka tidak memberikan tepuk tangan, Bapa kita di surga akan melakukannya.

Doa:
Tuhan, jagalah pikiranku dari daya tarik nilai-nilai dunia. Tolong aku untuk merenungkan apa yang benar, mulia, adil, dan suci. Ajarku untuk mengasihi apa yang Engkau kasihi dan mendambakan perkenanan-Mu di atas segalanya. Kuatkan aku untuk tetap teguh, bahkan ketika tekanan untuk menyesuaikan diri begitu besar. Aku ingin mencerminkan kemuliaan-Mu, bukan ilusi dunia. Amin.