Diciptakan untuk berbuat baik

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
‭‭Efesus‬ ‭2‬:‭10‬ ‭

Di antara orang Kristen yang menekankan kedaulatan Allah, kadang-kadang ada kesalahpahaman yang mengganggu — keyakinan bahwa perbuatan baik itu tidak perlu, atau bahkan tidak relevan. Beberapa bahkan berkata, “Apa pun yang terjadi sudah ditentukan, jadi apa yang saya lakukan tidak penting.” Orang yang lain mungkin terlalu khawatir tentang ‘legalisme’ sehingga mereka curiga terhadap ketaatan itu sendiri.

Kecenderungan ini sering terlihat di antara orang-orang yang dikenal sebagai Calvinis garis keras atau mereka yang baru menemukan teologi Reformed. Dalam semangat mereka untuk melindungi doktrin anugerah, mereka terkadang terlalu ekstrem — seakan-akan berusaha berbuat baik adalah ancaman terhadap kemuliaan Allah. Ironisnya, hal ini bisa mengarah pada kemalasan rohani, kesombongan, atau fatalisme.

Namun, Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa perbuatan baik itu opsional atau tidak penting. Sebaliknya, Alkitab menyatakan bahwa perbuatan baik itu ditentukan oleh Allah, diberdayakan oleh anugerah, dan mencerminkan Kristus. Perbuatan baik bukanlah akar dari keselamatan kita — tetapi itu adalah buahnya.

Dalam Efesus 2:8–9, Paulus mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah karena anugerah melalui iman, bukan hasil dari perbuatan, “supaya jangan ada orang yang memegahkan diri.” Inilah inti dari Injil: kita diselamatkan bukan karena kita baik, tetapi karena Allah itu penuh anugerah.

Namun Paulus tidak berhenti di sana. Ayat berikutnya, Efesus 2:10, memberikan keseimbangan yang penting:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Ayat ini menunjukkan gambaran lengkap:
– Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik
– Tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik.

Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ‘buatan’ (poiēma) menunjukkan sesuatu yang dirancang dengan sengaja, sesuatu yang indah dan penuh tujuan. Kita adalah karya ciptaan Allah, dibentuk dalam Kristus Yesus — bukan untuk berdiam diri, tetapi untuk hidup secara aktif dalam kehidupan baru yang telah diberikan kepada kita.

Allah tidak hanya menyelamatkan kita — Ia juga telah menyiapkan jalan kita. Perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah usaha manusia untuk mengesankan Allah; itu adalah langkah-langkah yang telah Dia rancang sebelumnya bagi kita.

Ungkapan ini — “yang dipersiapkan Allah sebelumnya” — sangat teologis. Ini mengajarkan bahwa bahkan ketaatan kita merupakan bagian dari rencana kedaulatan Allah. Allah yang sama yang memilih kita sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4) juga telah menentukan bahwa kita hidup dalam kekudusan, kasih, keadilan, kerendahan hati, dan pelayanan.

Ini secara langsung bertentangan dengan gagasan bahwa semua perilaku kita tidak berarti. Memang benar bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu — termasuk sejarah manusia, keselamatan, dan kekekalan — tetapi kedaulatan itu juga mencakup cara atau sarana yang Dia pakai. Ketaatan kita bukanlah pengecualian dari kehendak Allah; itu adalah hasil dari anugerah-Nya yang bekerja dalam diri kita.

Paulus juga mengatakan hal yang sama dalam Filipi 2:12–13:


“Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Perhatikan dinamikanya: Kita diperintahkan untuk ‘mengerjakan’ apa yang Allah sudah ‘kerjakan’ di dalam kita. Tanggung jawab manusia dan kedaulatan Allah tidak bertentangan; keduanya berjalan selaras secara indah.

Lalu mengapa sebagian orang, khususnya dalam lingkup Reformed, meremehkan perbuatan baik atau menganggapnya tidak perlu?

Berikut tiga alasan umum:

1. Reaksi terhadap legalisme.
Banyak orang percaya yang terluka oleh ajaran legalistik yang menyatakan bahwa kita mendapat kasih karunia Allah melalui perbuatan. Sebagai reaksi, mereka terlalu menekankan anugerah sampai takut menyebut ketaatan.

2. Kesalahpahaman tentang predestinasi.
Beberapa orang mengira bahwa karena Allah sudah menentukan segalanya, maka pilihan moral manusia menjadi tidak berarti. Ini bukan Calvinisme, melainkan fatalisme.

3. Ketidakdewasaan dalam teologi.
Mereka yang baru belajar doktrin anugerah (kadang disebut ‘Calvinis kandang atau “caged Calvinist’) sering menerima logika teologi sebelum memahami kasih Kristus. Dalam usaha melindungi kedaulatan Allah, mereka justru mengabaikan perintah Kitab Suci. Ironisnya, keadaan ini juga bisa terjadi pada orang yang sudah lama menjadi orang Kristen. Mereka ini lebih senang berdebat tentang teologi daripada berbuat baik.

Namun para Reformator tidak pernah mengajarkan bahwa ketaatan itu tidak penting. John Calvin sendiri menulis bahwa meskipun kita dibenarkan oleh iman saja, “iman yang sejati tidak pernah sendirian” — iman sejati selalu disertai dengan hidup baru dan buah yang nyata.

Perbuatan Baik Adalah Buah Injil

Ketika Allah menyelamatkan seseorang, Ia mengubahnya. Roh Kudus tinggal dalam diri orang percaya dan mulai proses pengudusan — menjadikannya serupa dengan Kristus. Transformasi ini nyata. Itu menghasilkan buah dalam pertobatan, kasih, kemurahan hati, kerendahan hati, penguasaan diri, dan pelayanan. Bukan dengan sempurna, tetapi dengan nyata.

Yesus sendiri berkata:


“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Ini menunjukkan bahwa perbuatan baik bukan untuk kemuliaan kita — tetapi untuk kemuliaan Allah. Ketika kita berjalan dalam kasih, berlaku adil, mengampuni, dan merawat sesama — kita sedang mencerminkan karakter Allah yang telah menyelamatkan kita.

  • Jika Anda pernah merasa bahwa perbuatan baikmu tidak penting, atau jika Anda pernah diberitahu bahwa ketaatan tidak penting karena Allah sudah menentukan segalanya, ingatlah ini:
  • Anda diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik.
  • Allah telah mempersiapkannya terlebih dahulu khusus bagi Anda.
  • Anda adalah karya ciptaan-Nya, bukan milikmu sendiri.
  • Setiap perbuatan baik yang dilakukan dalam iman dan kasih adalah bagian dari rancangan-Nya yang agung.
  • Jadi, lakukan kasih dengan berani. Layani dengan sukacita. Ampunilah dengan tulus. Lawan dosa dengan serius. Bukan karena Anda ingin mendapatkan anugerah — tetapi karena anugerah sudah menjadi milik Anda, dan sekarang Allah sedang bekerja melalui hidup Anda.

Doa: Bapa, terima kasih karena aku diselamatkan hanya oleh anugerah, bukan oleh perbuatanku. Tapi aku juga bersyukur bahwa Engkau telah menciptakanku kembali dalam Kristus Yesus, untuk maksud yang mulia. Engkau telah mempersiapkan perbuatan baik yang harus kulakukan — bukan sebagai beban, tetapi sebagai berkat. Biarlah aku berjalan di dalamnya dengan sukacita, mengetahui bahwa itu semua adalah bagian dari rancangan-Mu. Biarlah hidupku menjadi kesaksian, bukan tentang kebaikanku, tetapi tentang anugerah-Mu. Dalam nama Yesus, amin.

Kemenangan kita karena Kristus

“Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15:55-58

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan mereka bisa hilang jika mereka kurang taat kepada firman Tuhan. Namun, ada juga pandangan yang menyatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang. Pandangan ini, yang dikenal sebagai “sekali diselamatkan, selalu diselamatkan”, didasarkan pada keyakinan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang tidak bisa dicabut. Memang, jika keselamatan bisa hilang, maka itu tidak lagi disebut anugerah, tetapi hanya sebuah harapan manusia yang tidak pasti. Pandangan ini juga didukung oleh keyakinan bahwa Roh Kudus adalah meterai dan jaminan keselamatan, yang melindungi orang percaya dari kehilangan keselamatan. Semua orang Kristen yang sudah diselamatkan adalah orang-orang yang sudah dipastikan akan dibangkitkan.

1 Korintus 15:50–58 dengan kuat menyimpulkan ajaran Paulus tentang kebangkitan orang Kristen: ketika terompet terakhir dibunyikan dan Kristus kembali untuk mereka yang menjadi milik-Nya. Pada saat itu, semua orang yang percaya kepada Yesus, baik yang hidup maupun yang mati, akan diubahkan ke dalam tubuh yang mulia dan kekal yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Kematian akan dikalahkan selamanya, dan tidak akan pernah menyakiti siapa pun lagi. Dosa mendatangkan kematian, dan hukum adalah kuasa dosa, tetapi Tuhan telah memberikan kita kemenangan atas kematian dengan mengampuni dosa kita melalui iman kepada Yesus dan kasih karunia-Nya.

Setelah mengejek kematian karena kekalahannya yang akan datang di ayat 55, Paulus menyatakan “sengat” atau sumber kematian adalah dosa dan kuasa dosa adalah hukum Taurat. Hukum Taurat tidak menciptakan dosa, tetapi hukum Taurat menyingkapkan bahwa setiap manusia berdosa. Kita masing-masing tidak bisa menaati bisa perintah-perintah Allah. Akibat dosa selalu kematian, dan bukan hanya kematian fisik. Dosa bertanggung jawab atas kematian rohani yang memisahkan kita dari Allah selamanya.

Paulus ikut campur, seperti yang dilakukannya di kitab Roma (Roma 7:24-25) untuk mengatakan bahwa kematian fisik bukanlah akhir dari cerita. Ia menyatakan rasa syukurnya kepada Allah, yang memberikan kemenangan atas kematian kepada manusia melalui Yesus. Artinya, Allah mengampuni dosa semua orang yang percaya kepada kematian Kristus di kayu salib sebagai ganti mereka. Kemenangan atas kematian diberikan kepada mereka yang percaya kepada kebangkitan-Nya dari antara orang mati. (Yohanes 3:16-18; Roma 10:9-10).

Utang dosa kita yang tak terhindarkan seharusnya berarti kematian yang tak terelakkan dan keterpisahan kekal dari Tuhan. Tetapi, kehidupan Kristus yang tanpa dosa dan kematian-Nya membuat dosa kita terhindarkan melalui iman kepada-Nya dan oleh kasih karunia Allah (2 Korintus 5:21). Itu mengubah makna kematian fisik dalam hidup ini bagi orang Kristen yang lahir baru. Alih-alih kematian menjadi awal dari kekekalan terpisah dari Bapa (Yohanes 3:36; Wahyu 20:15), itu hanyalah langkah lain sebelum kebangkitan kita sebagai makhluk yang dimuliakan yang akan menghabiskan kekekalan bersama Bapa (1 Yohanes 3:2; 1 Korintus 15:51–55).

Paulus memberikan pengajaran yang menyeluruh tentang kebangkitan orang Kristen dari kematian. Ini merupakan pertentangan langsung terhadap sekelompok jemaat Korintus yang tidak percaya pada kebangkitan seperti itu. Ia menunjukkan bahwa kematian alami bukanlah akhir dari kehidupan orang Kristen; itu adalah langkah terakhir sebelum menerima tubuh yang mulia dan bangkit seperti tubuh Kristus yang telah bangkit. Tubuh yang mulia itu akan berbeda dari tubuh kita saat ini. Pada saat itu, bagi semua orang yang telah percaya kepada Kristus, baik yang hidup maupun yang mati, kematian akan dikalahkan untuk selamanya.

Semua yang dinyatakan di atas adalah pemahaman proleptik yang berkenaan dengan masa depan. Walaupun demikian itu bukannya menyatakan bahwa kita belumlah diselamatkan. Mengapa demikian?

Orang Percaya Sudah Memiliki Kemenangan di Dalam Kristus

    “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Korintus 15:57

    Ayat ini menggunakan bentuk waktu sekarang: orang percaya sudah memiliki kemenangan melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

    “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1

    Keselamatan dan kebebasan dari kekuasaan setan adalah kenyataan saat ini, bukan hanya harapan masa depan.

    Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Allah

      “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38–39

      Keyakinan ini menegaskan bahwa orang percaya aman dalam kasih Allah sekarang, bukan hanya setelah Kedatangan Kristus yang kedua. Pergumulan di dunia ini tidak menyiratkan kerentanan terhadap kematian kekal. Kita tidak perlu kuatir akan bahaya hilangnya keselamatan jika kita tetap percaya kepada Yesus Kristus.

      Pemuliaan di Masa Depan, Bukan Pembenaran di Masa Depan

        “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30

        Pagi ini, di dalam Kristus kita harus yakin bahwa orang percaya sudah menang atas dosa, kematian, dan setan. Kebangkitan meyakinkan kita akan pemuliaan di masa depan, tetapi bukan pembenaran di masa depan. Saat ini, kita tidak berjuang untuk mencapai adau mempertahankan keselamatan; tetapi kita beristirahat di dalamnya. Walaupun demikian, sebagai umat Tuhan kita kita berjuang untuk memuliakan Tuhan selama kita masih hidup di dunia agar kita mendapatkan bagian kemuliaan kita di surga. Kedatangan Kristus yang kedua bukanlah saat ketika umat Allah akhirnya dibebaskan dari setan, tetapi saat ketika kepenuhan kemenangan Kristus dinyatakan. Tidak ada apa pun — baik kematian, penghakiman, maupun akhir dunia — yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.

        Manifesto pribadi orang Kristen

        Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

        1 Korintus 10:23—11:1 menunjukkan bahwa sekadar bertanya, ”Apakah ini diperbolehkan?” adalah pertanyaan yang salah bagi orang Kristen. Sebaliknya, kita harus melanjutkan dengan bertanya, ”Apakah ini akan memuliakan Tuhan?” dan ”Apakah ini akan membangun sesama kita?” Paulus memerintahkan mereka untuk bertindak berdasarkan hal ini dengan menolak makan daging yang mereka tahu telah dipersembahkan kepada berhala. Alasannya adalah untuk menghindari membuat siapa pun berpikir bahwa orang Kristen menyetujui penyembahan berhala dengan cara apa pun. Namun, mereka bebas untuk memakan daging apa pun yang tidak mereka ketahui telah dipersembahkan kepada berhala, dengan hati nurani yang bersih, dan dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Pesan utama dari bagian ini adalah bahwa niat kita, dan dampak tindakan kita terhadap orang lain, lebih penting daripada hal-hal fisik yang terlibat.

        Orang percaya harus termotivasi untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah dalam segala hal yang kita lakukan, atau memilih untuk tidak melakukannya. Ini termasuk pilihan kita untuk makan atau minum, atau menolak. Paulus menambahkan ini ke dalam daftar faktor motivasi untuk menggunakan kebebasan kita di dalam Kristus. Apakah kegiatan ini akan membantu saya atau akan menyebabkan saya “dikuasai” (1 Korintus 6:12)? Apakah melakukan ini akan membangun orang lain dan baik bagi sesama saya serta bagi diri saya sendiri (1 Korintus 10:23–24)? Dan sekarang, apakah pilihan untuk makan atau minum atau melakukan hal lain ini akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan? Semua pertanyaan ini harus dipertimbangkan dalam manifesto pribadi kita. Lalu apa manifesto itu?

        Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), manifesto adalah pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. Manifesto bertujuan untuk mengkomunikasikan pandangan, prinsip, atau rencana kepada publik dan seringkali menjadi dasar untuk gerakan atau perubahan yang lebih luas. Manifesto mengungkapkan apa yang ingin dicapai, apa yang dipercaya, dan bagaimana cara mencapainya. Jadi, manifesto adalah alat komunikasi yang kuat untuk menyampaikan pesan penting kepada masyarakat dan mendorong perubahan.

        Sebagai orang Krisen, mungkin Anda pernah mengucapkan pengakuan Iman Rasuli dalam acara kebaktian gereja. Pengakuan Iman Rasuli menjadi pernyataan keyakinan dasar atau kesaksian iman umat Kristiani. Pengakuan Iman Rasuli diketahui berkaitan dengan pengakuan atas adanya Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, gereja, pengampunan dosa, kebangkitan dan hidup kekal. Pengakuan ini adalah sebuah manifesto iman yang diucapkan secara bersama di gereja, tetapi mungkin terlalu panjang untuk dipakai secara pribadi dalam hidup sehari-hari. Selain itu, pengakuan ini tidak dimaksudkan untuk mendorong perubahan orang lain. Lalu apa yang bisa kita pakai sebagai manifesto agar orang lain bisa melihat bahwa kita adalah orang Kristen dan kemudian meniru kita?

        Di antara seruan-seruan besar Reformasi Protestan, Soli Deo Gloria — Hanya bagi kemuliaan Allah — sering kali berada di bawah bayang-bayang padanannya yang lebih sering dibahas: Sola Scriptura (Hanya Kitab Suci), Sola Fide (Hanya Iman), Sola Gratia (Hanya Anugerah), dan Solus Christus (Hanya Kristus). Namun dalam banyak hal, Soli Deo Gloria adalah permata mahkota yang menyatukan semuanya. Itu bukan sekadar poin teologis, tetapi panggilan pribadi. Itu adalah tujuan dari keberadaan segala sesuatu (Roma 11:36). Itu adalah tujuan keselamatan kita, ibadah kita, pekerjaan kita, dan kehidupan kita.

        Soli Deo Gloria seharusnya menjadi manifesto kita: Hidup hanya untuk kemuliaan Allah. Mengapa? Karena hanya Tuhan yang layak menerima segala kemuliaan — dalam penciptaan, dalam keselamatan, dalam pewahyuan, dan dalam setiap tindakan pemeliharaan-Nya.

        “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

        Kita Diciptakan untuk Kemuliaan-Nya

        Alam semesta tidak muncul secara kebetulan, dan kita juga tidak ada di sini untuk kesenangan kita sendiri. Kitab Suci mengingatkan kita bahwa “langit memberitakan kemuliaan Allah” (Mazmur 19:1), dan manusia — yang diciptakan menurut gambar Allah — diciptakan untuk mencerminkan keindahan dan kekudusan-Nya. Yesaya 43:7 menyatakan bahwa Allah membentuk kita “untuk kemuliaan-Ku.” Ini berarti hidup kita bukan milik kita untuk diarahkan sesuka hati. Setiap napas yang kita ambil adalah anugerah yang dirancang untuk menghormati Dia yang memberikannya. Hidup Soli Deo Gloria dimulai dengan mengakui bahwa keberadaan kita bukanlah tentang pemenuhan diri sendiri tetapi tentang pemuliaan Tuhan.

        Kita Mengasihi Karena Dia Lebih Dahulu Mengasihi Kita

        Sebelum kita dapat mengucapkan sepatah kata pujian, kasih Allah telah menjangkau kita. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Kasih, pengabdian, dan ketaatan kita bukanlah upaya untuk mendapatkan kasih karunia, melainkan tanggapan terhadap kasih karunia ilahi. Kasih Allah membangkitkan dalam diri kita keinginan untuk hidup bagi-Nya — bukan dengan rasa terpaksa, tetapi dengan sukacita. Kasih Allah adalah bahan bakar bagi kemuliaan Allah dalam hidup kita. Ketika kita melihat betapa dalamnya kita dikasihi, kita tidak dapat menahan diri untuk tidak memuliakan-Nya sebagai balasannya.

        Kita Diselamatkan untuk Berbagi dalam Kemuliaan-Nya

        Keselamatan kita bukanlah pencapaian manusia. Itu adalah pekerjaan Allah dari awal hingga akhir — direncanakan oleh Bapa, diselesaikan oleh Anak, dan diterapkan oleh Roh Kudus. “Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). Di dalam Kristus, kita tidak hanya diampuni; kita diundang untuk berbagi dalam kemuliaan-Nya.

        Ini mengubah cara kita hidup. Kita tidak hanya menunggu surga; kita hidup sekarang sebagai orang-orang yang telah dimahkotai dengan tujuan. Setiap tindakan pelayanan, setiap saat penderitaan yang ditanggung dalam iman, menjadi gema kemuliaan Allah dalam hidup kita (2 Korintus 4:17). Kita Melihat Kemuliaan-Nya melalui Kitab Suci dan Roh.

        Tuhan tidak meninggalkan kita dalam kegelapan

        Dia memberi kita Firman-Nya — “pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita” (Mazmur 119:105). Melalui Kitab Suci, kita melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus (2 Korintus 3:18). Dan oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, kita diubahkan dari kemuliaan kepada kemuliaan, dibentuk menjadi serupa dengan Anak.

        Roh membuka mata kita untuk melihat keagungan Allah di mana orang lain hanya melihat kata-kata. Dia menegur, menghibur, dan mengajar — bukan agar kita dapat dikagumi karena pengetahuan kita, tetapi agar kita dapat lebih mencerminkan cahaya Juruselamat kita.

        Kita Percaya melalui Karunia Iman

        Bahkan iman kita — sarana yang dengannya kita memperoleh keselamatan — adalah karunia kasih karunia (Efesus 2:8). Iman bukanlah pekerjaan yang kita lakukan, tetapi kepercayaan yang kita terima. Itu adalah cara Tuhan untuk memastikan bahwa tidak seorang pun dapat menyombongkan diri, dan bahwa semua kemuliaan diberikan kepada-Nya.

        Hidup dengan iman berarti hidup dalam ketergantungan penuh kepada Tuhan, tidak percaya pada diri sendiri tetapi pada janji-janji Dia yang tidak akan pernah gagal. Dan itu juga mendatangkan kemuliaan bagi-Nya.

        Kesimpulan: Seluruh Hidup Kita, Semua Adalah untuk Kemuliaan-Nya

        Bagi Tuhan saja kemuliaan lebih dari sekadar pernyataan teologis — itu adalah cara hidup. Itu membentuk cara kita bekerja, cara kita mengasihi, cara kita beribadah, dan cara kita menderita. Itu merendahkan hati kita dan meninggikan Kristus. Itu membungkam kesombongan dan membangkitkan pujian. Itu mengangkat pandangan kita dari yang fana ke yang kekal.

        Soli Deo Gloria seharusnya menjadi manifesto kita

        Bahwa pikiran saya, kata-kata saya, keputusan saya, pergumulan saya, dan kemenangan saya semuanya dapat mencerminkan kemuliaan Dia yang menciptakan saya, mengasihi saya, menyelamatkan saya, berbicara kepada saya, dan memberi saya iman.

        Dan jika saya harus hidup untuk kemuliaan-Nya, saya harus hidup dalam kasih karunia-Nya — sepenuhnya bergantung, taat dengan sukacita, dan bersyukur selamanya.

        Dalam semua kasus, pertanyaan apakah kegiatan ini akan mendatangkan kesenangan, keuntungan materi, atau status bagi saya seharusnya tidak menjadi faktor penentu saja, bahkan bagi mereka yang bebas di dalam Kristus. Sama seperti segala sesuatu yang dilakukan tanpa keyakinan adalah dosa (Roma 14:23), orang Kristen seharusnya tidak berpartisipasi dalam apa pun yang menurut mereka tidak akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.

        “Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” Mazmur 115:1

        Jangan lupa: Kita adalah umat yang tersisa

        “Tetapi pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara kaum keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar kepada TUHAN, Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tetap setia.” Yesaya 10:20

        Yesaya 10 mengutuki orang di Israel dan Yehuda yang menggunakan hukum untuk mengambil keuntungan dari orang miskin. Orang-orang ini tidak akan luput dari penghakiman Tuhan. Selanjutnya, Yesaya menggambarkan orang Asyur sebagai tongkat penghakiman Tuhan terhadap umat-Nya.

        Yesaya 10:20–34 menggambarkan kelompok yang tersisa, yang akan diselamatkan di Israel dan yang akan membangun kembali kepercayaan kepada Tuhan. Hanya sedikit orang Israel yang akan diselamatkan, namun Tuhan mendesak umat-Nya untuk tidak takut kepada orang Asyur. Kemarahan-Nya akan segera beralih dari Israel ke arah Asyur. Dia akan menggunakan kekuatan supranatural-Nya untuk mengakhiri penindasan Asyur atas Israel. Bahkan jika pasukan Asyur yang besar berbaris sampai ke tepi Yerusalem, Tuhan akan menghancurkan mereka seperti menebas hutan.

        Dari ayat di atas kita membaca tentang adanya kelompok sisa yang setia kepada Tuhan. Dari ayat itu muncul frase “Gereja Sisa” atau “Gereja yang tersisa’ (“Remnant church), yang mungkin jarang disebutkan dalam hereja Protestan dan Katolik. Kata “remnant” menunjuk kepada arti “sisa” dan ini dihubungkan dengan sisa orang Israel yang tetap setia kepada Tuhan dalam ayat di atas. Secara sederhana frase “Remnant church” di zaman ini mennjuk kepada umat Kristen yang akan masih bertahan sampai akhir zaman.

        Perlu dicatat bahwa Remnant Church (Gereja Sisa) tidak sama dengan Remnant Fellowship (Persekutuan Sisa). Yang terakhir adalah adalah sebuah organisasi keagamaan yang berdiri sejak tahun 1986 di Memphis, Tennessee, dan program penurunan berat badan yang didirikan oleh Gwen Shamblin, seorang ahli gizi. Pada tahun 1999, Shamblin dan yang lainnya memulai sebuah gereja, Remnant Fellowship Church (Gereja Persekutuan Sisa), di Nashville, Tennessee. Segera setelah itu, Shamblin secara terbuka menyangkal doktrin Alkitab tentang Trinitas. Remnant Fellowship adalah sebah bidat atau gereja sesat.

        Ide tentang umat yang tersisa muncul di seluruh Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama, umat yang tersisa mengacu pada mereka yang tetap setia selama masa penghakiman atau pembuangan (Yesaya 10:20–22, Mikha 2:12). Hal itu tidak didefinisikan oleh kesempurnaan tetapi oleh kasih karunia pemeliharaan Allah. Dalam Perjanjian Baru, Paulus merujuk kepada suatu sisa yang dipilih oleh kasih karunia (Roma 11:5), menekankan bahwa Allah selalu menyimpan umat yang setia bagi diri-Nya—bukan karena jasa mereka, tetapi karena belas kasihan-Nya.

        Selain ayat di atas, Wahyu 12:17 mengidentifikasi adanya suatu kelompok di akhir zaman yang “menaati perintah-perintah Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Beberapa denominasi di zaman ini menafsirkan hal ini sebagai merujuk kepada diri mereka sendiri, sebagai Remnant Church yang berupa suatu komunitas yang dibangkitkan dengan pesan yang berbeda dari denominasi lain. Namun, “gereja sisa” dalam Alkitab adalah semua kelompok yang menaati hukum Allah dan saksi Kristus yang selalu dicirikan oleh kerendahan hati, ketergantungan pada kasih karunia, dan pelayanan kepada orang lain—bukan dalam hal keunggulan rohani.

        “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Wahyu 12:17

        Ide tentang “umat yang tersisa” telah lama membentuk teologi, identitas, dan misi beberapa denominasi. Namun, identitas ini dapat disalahpahami atau disalahgunakan—menjadi sumber eksklusivisme atau elitisme spiritual, di mana gereja melihat dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang setia. Keadaan ini tentunya bisa diperburuk dengan kenyataan bahwa kebanyakan denominasi saat ini tidak menekankan kenyataan bahwa semua orang Kristen yang setia dalam iman adalah tergolong dalam umat yang tersisa.

        Teologi umat sisa yang berpusat pada Kristus menegaskan:

        • Bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia melalui iman, bukan dengan menjadi bagian dari denominasi tertentu.
        • Bahwa umat sisa Tuhan dipanggil untuk mencerminkan karakter-Nya, bukan hanya untuk mempertahankan doktrin gereja.
        • Bahwa misi umat sisa adalah untuk meninggikan Yesus di hadapan dunia—bukan untuk memuliakan gereja sendiri.

        Identitas kita sebagai umat yang tersisa bisa memainkan peran yang kuat dalam menyatukan denominasi global yang beragam. Harapan eskatologis—kepercayaan bahwa kita hidup di fase akhir sejarah—bisa membantu menyelaraskan kepercayaan, praktik ibadah, dan prioritas misi. Urgensi Kedatangan Yesus yang kedua dan harapan umat Kristen dalam menghadapi akhir zaman bisa membantu menyatukan identitas umat Kristen di seluruh dunia. Pendekatan seperti itu juga dapat memperkuat kerendahan hati ekumenis, membuka gereja sebagai tubuh Kristus yang lebih luas melalui pendekatan wawasan rohani dari komunitas Kristen lainnya.

        Yesus adalah umat sisa yang utama—Dia yang tetap setia, menanggung penghakiman dosa, dan sekarang mengundang semua orang untuk menjadi bagian dari umat tebusan-Nya. Jika kita ingin menjadi umat yang tersisa, kita harus bersedia untuk mengajak orang lain untuk bergabung dalam iman. Panggilan kita adalah untuk memberitakan Injil yang kekal (Wahyu 14:6), bukan sekadar memperingatkan tentang cara hidup yang baik. Pesan kiita harus berpusat pada kasih karunia Tuhan (Sola Gratia) akan mengundang orang-orang ke dalam hubungan dengan Yesus, bukan sekadar ke dalam sistem doktrinal. Kita harus menekankan transformasi karakter melalui Roh Kudus, bukan upaya manusia atau kepatuhan kepada aturan gereja. Kita wajib menegaskan bahwa umat Allah ditemukan di mana pun Roh-Nya bekerja, bukan hanya dalam satu denominasi.

        Pagi ini kita disadarkan bahwa umat Kristen adalah umat pilihan Tuhan. Identitas sebagai umat yang tersisa bukanlah lambang keunggulan tetapi panggilan untuk menjadi hamba Kristus. Jika kita ingin tetap relevan dan setia di akhir zaman, ia harus menolak godaan eksklusivisme dan memfokuskan kembali pesannya pada kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Umat yang tersisa tidak terpelihara karena mereka sempurna, tetapi karena Allah setia. Dan kesetiaan itu dinyatakan paling jelas di kayu salib. Umat Kristen dipanggil untuk memberitakan pesan harapan, bukan ketakutan—Injil kebenaran melalui iman, bukan kebenaran melalui afiliasi. Hanya dengan demikian dunia akan melihat umat yang tersisa bukan sebagai umat yang sombong, tetapi sebagai umat yang mencerminkan Anak Domba. Segala puji untuk Tuhan. Soli Deo Gloria.

        Bergantung kepada Raja segala raja

        “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” – 1 Korintus 2:5

        Bagi Anda yang seumur saya mungkin pernah mendengar tentang film berjudul “King of Kings” (Raja segala raja) rilis tahun 1961 yang menceritakan kisah Yesus. Film ini disutradarai oleh Nicholas Ray dan dibintangi oleh Jeffrey Hunter sebagai Yesus. Film ini mencakup peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, termasuk khotbah di bukit, perjamuan Terakhir, kesengsaraan, dan kebangkitan Yesus. Dalam konteks kekristenan, “Raja segala raja” adalah gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus, yang menunjukkan keagungan-Nya sebagai pusat kehidupan dan pemerintahan ilahi.

        Di zaman modern ini, agaknya banyak orang yang tidak mengerti atau tidak tahu bahwa Yesus adalah Raja segala raja. Mereka mungkin mengenal nama Yesus, tapi tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Mereka mungkin lebih terbiasa dengan adanya tokoh-tokoh publik, pemimpin politik, influencer media sosial, bahkan tokoh-tokoh agama yang menjadi acuan utama dalam menentukan apa yang benar, apa yang salah, apa yang patut diikuti, dan bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Manusia terus mencari sosok “raja” baru—mereka yang dianggap hebat, pintar, populer, atau berpengaruh. Namun, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus memberikan peringatan yang tajam: jangan menaruh iman pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

        Hikmat Dunia vs Hikmat Allah

        Rasul Paulus, dalam konteks pasal ini, sedang menjelaskan bahwa Injil Kristus bukanlah hasil filosofi manusia atau kebijaksanaan duniawi. Dunia pada masa Paulus sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan orator-orator hebat. Tetapi Paulus dengan sengaja tidak memakai kata-kata indah atau argumentasi rumit ketika menyampaikan Injil. Ia datang dengan kesederhanaan, dengan gemetar dan rasa takut (1 Korintus 2:3), karena ia ingin agar perhatian orang tidak tertuju kepada dirinya, tetapi kepada Tuhan Yesus Kristus.

        Dalam bahasa Indonesia, “Tuhan” secara umum merujuk pada oknum ilahi yang Mahatinggi dan Mahakuasa, yang diyakini sebagai pencipta dan pengatur alam semesta serta menjadi objek pemujaan manusia. Tetapi, karena Tuhan itu roh banyak manusia tidak dapat melihat-Nya dan tidak dapat percaya kepada-Nya. Sebaliknya, banyak orang yang tertarik kepada apa yang bisa dilihat, yaitu penampilan luar: khotbah yang retoris, ajaran yang menyenangkan telinga, atau pemimpin yang kharismatik. Namun, semua itu adalah bentuk hikmat manusia yang sering kali mengalihkan perhatian dari kekuatan Tuhan.

        Raja-Raja Dunia yang Menjadi Pusat Perhatian

        Di berbagai bidang kehidupan, manusia cenderung mengidolakan figur-figur manusia:

        • Dalam dunia Krsten, orang sering lebih terpesona oleh pengkhotbah terkenal dan ajaran manusia daripada oleh kebenaran Alkitab itu sendiri. Banyak yang mengikuti ajaran tokoh karena popularitasnya, bukan karena keakuratan firman Tuhan. Kadang, bahkan saat ajaran mereka menyimpang, orang tetap setia karena mereka lebih suka mengandalkan manusia daripada Tuhan.
        • Dalam pemerintahan dan politik, manusia mencari pemimpin kuat yang bisa menyelamatkan ekonomi, memberikan keamanan, atau menyatukan bangsa. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa bahkan pemimpin terbaik pun tetap manusia berdosa yang terbatas dan bisa gagal.
        • Dalam dunia sosial dan budaya, para influencer dan selebriti dijadikan panutan hidup. Banyak orang meniru gaya hidup mereka, cara berpakaian, berbicara, dan bahkan nilai-nilai moral mereka. Tapi apakah semua itu membawa manusia lebih dekat kepada kebenaran dan kekudusan?

        Alkitab mengingatkan kita bahwa hanya satu Raja yang layak menerima ketaatan dan penyembahan kita: Tuhan Yesus Kristus, Raja segala raja.

        Bahaya Ketergantungan pada Manusia

        Ketika manusia mulai mengandalkan manusia lain untuk arahan hidup, banyak bahaya yang bisa muncul:

        • Disesatkan oleh ajaran palsu: Jika kita tidak menguji ajaran berdasarkan Firman Tuhan, kita bisa dengan mudah disesatkan oleh pengajaran yang terdengar “bijak”, tetapi sebenarnya menyesatkan (Lihat Matius 24:24).
        • Mengidolakan manusia dan bukan Tuhan: Ketika seorang pemimpin atau tokoh spiritual lebih dihormati daripada Kristus sendiri, itu sudah menjadi bentuk penyembahan berhala terselubung.
        • Kekecewaan yang mendalam: Manusia bisa gagal. Pemimpin bisa jatuh dalam dosa. Ketika kita terlalu menggantungkan harapan kepada manusia, maka saat mereka jatuh, iman kita bisa goyah.

        Oleh karena itu, Paulus mengarahkan jemaat kepada kekuatan Allah—bukan kepada dirinya, bukan kepada kefasihan bicara atau keindahan pengajaran, tetapi kepada Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.

        Iman yang Tertanam pada Kekuatan Allah

        Apa artinya menaruh iman pada kekuatan Allah?

        • Mengakui keterbatasan manusia: Baik kita sendiri maupun pemimpin rohani atau pemimpin politik, semua manusia adalah makhluk berdosa yang terbatas. Hanya Allah yang sempurna.
        • Mengandalkan Roh Kudus sebagai Penuntun Kebenaran: Dalam ayat-ayat selanjutnya di pasal yang sama, Paulus menjelaskan bahwa kebenaran rohani hanya bisa dipahami melalui pencerahan Roh Kudus, bukan dari akal manusia semata (1 Korintus 2:10-14).
        • Membangun relasi pribadi dengan Tuhan: Kita tidak bisa hanya hidup dari “makanan rohani” yang disampaikan oleh orang lain. Kita perlu mengenal Tuhan secara pribadi, membaca firman-Nya, berdoa, dan membangun relasi yang nyata dengan-Nya.
        • Menjadi rendah hati: Mengakui bahwa iman kita bukan karena kepandaian atau logika kita, tetapi karena kasih karunia Allah yang menarik kita kepada-Nya. Ini mencegah kesombongan rohani.

        Menjadi Umat yang Bergantung pada Sang Raja

        Kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh “raja-raja dunia”—tokoh, sistem, ideologi, dan budaya yang menuntut perhatian dan kesetiaan kita. Tetapi kita dipanggil untuk hidup berbeda. Kita dipanggil menjadi umat yang hanya mengakui satu Raja: Tuhan Yesus Kristus.

        Yesus bukan hanya Raja dalam makna rohani. Dia adalah Raja segala raja, Penguasa atas sejarah, dan satu-satunya yang layak diandalkan. Tidak ada penguasa dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwa manusia. Tidak ada ideologi atau teologi yang bisa memberi damai sejati. Hanya Yesus yang sanggup memberi hidup kekal dan makna sejati.

        Renungan pagi ini hendak mengajak kita semua untuk memeriksa di mana kita meletakkan kepercayaan dan harapan kita. Apakah kita sedang bergantung pada tokoh-tokoh besar dunia ini? Apakah kita terlalu bergantung pada para pemimpin rohani tanpa menguji ajaran mereka? Apakah kita sedang mencari “raja” lain yang bisa menyelamatkan kita selain Kristus?

        Mari kita kembali kepada salib. Mari kita kembali menaruh iman bukan pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah yang dinyatakan di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Hanya Dia yang layak kita ikuti, kita andalkan, dan kita sembah.

        “Terpujilah Tuhan, Gunung batuku, yang mengajar tanganku berperang, dan jari-jariku untuk bertempur; Dialah kasih setiaku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku, Dialah yang padanya aku berlindung.” Mazmur 144:1–2

        Tidak ada orang Kristen yang setengah percaya

        Kata Yesus: ”Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ”Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14:29-31

        Matius 14:22–33 berisi mukjizat Yesus berjalan di atas air. Segera setelah memberi makan ribuan orang dari satu porsi kecil, Yesus naik ke gunung untuk berdoa. Para murid menghabiskan malam yang panjang dengan mendayung melawan angin kencang. Yesus berjalan menyeberangi danau untuk menemui mereka. Petrus berjalan di atas air bersama Yesus sebentar sebelum menjadi takut terhadap angin dan ombak dan mulai tenggelam. Yesus menyelamatkan Petrus dan bertanya mengapa ia ragu. Angin berhenti ketika Yesus naik ke perahu, dan para murid menyembah-Nya sebagai Anak Allah.

        Beberapa hal terjadi dalam ayat pendek ini.

        Pertama, Yesus menyelamatkan Petrus, membuat mukjizat berjalan di atas air menjadi lebih mengesankan (Matius 14:24–25). Petrus hampir tenggelam (Matius 14:28–30), dan Yesus mampu memegangnya tanpa tenggelam ke dalam air. Untuk melakukan ini, Yesus pasti telah berdiri kokoh di atas air. Pastilah itu merupakan hal yang menakjubkan untuk disaksikan.

        Kedua, Yesus sekali lagi menentang harapan manusia normal kita. Ia tidak menanggapi Petrus seperti yang mungkin kita duga. Petrus baru saja berjalan di atas air. Kita tidak diberi tahu seberapa jauh ia berjalan, tetapi ia melakukannya. Ia menaruh keyakinan penuhnya pada kuasa Yesus untuk bekerja melalui dirinya dan memungkinkannya berjalan di atas air juga. Tidak ada orang lain yang bukan Anak Allah yang pernah melakukan hal seperti itu. Itu luar biasa.

        Kita mungkin berharap Yesus akan berkata, “Bagus sekali.” Atau bahkan, “Bagus sekali, tetapi…” Sebaliknya, Yesus tidak memuji. Setelah menyelamatkan Petrus dari tenggelam, Ia berkata dengan nada yang terkenal, “Hai, kamu yang kurang percaya.” Ia menegur kurangnya iman Petrus alih-alih memuji iman yang dimilikinya sejak awal. Yesus menambahkan, “Mengapa engkau ragu?”

        Sebagai pembaca, kita mungkin terkesan dengan iman awal Petrus, tetapi Yesus lebih peduli tentang apa yang menghentikan Petrus untuk dengan sepenuhnya percaya kepada-Nya. Petrus berjalan di atas air dengan kuasa Allah! Apa yang mungkin membuatnya berpikir bahwa ia tidak dapat berjalan di atas air dengan kuasa Allah setelah ia mulai melakukannya? Ayat sebelumnya memberikan jawabannya: Ketakutan Petrus menguasai imannya. Ketakutan adalah titik kelemahan yang membuatnya tidak dapat terus percaya kepada Yesus untuk memberinya kuasa untuk melakukan hal yang mustahil.

        Tanggapan Yesus mungkin tampak kasar, tetapi itu menunjukkan terang benderang tentang apa yang perlu disadari Petrus: Iman kepada Yesus membuat segalanya mungkin, tetapi ketakutan bisa membuat iman menjadi kecil.

        Kisah Petrus berjalan di atas air ini memang menarik karena banyak orang dan mungkin Anda sendiri pernah mengalami keadaan serupa dalam hidup. Seringkali kita mendengar ungkapan seperti “dia itu setengah percaya,” atau “masih belum sepenuhnya Kristen.” Namun sebenarnya, secara Alkitabiah, tidak ada istilah “setengah percaya” atau “setengah Kristen.” Kita percaya, atau tidak. Kita mengikut Kristus, atau tidak. Tapi bukan berarti tidak ada perbedaan antara iman yang kuat dan iman yang lemah. Ada perbedaan antara orang yang sudah percaya tetapi sedang bergumul dalam kelemahan, dan orang yang belum pernah menyerahkan hatinya kepada Kristus.

        Iman bukanlah hasil usaha manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan imannya sendiri. Rasul Paulus berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8). Jadi, percaya bukanlah soal seberapa kuat kita berusaha untuk meyakinkan diri sendiri. Iman adalah pemberian, anugerah Tuhan. Dan karena itu, kita tidak bisa menyombongkan diri, ataupun merasa lebih baik dari mereka yang sedang berjuang dalam kelemahan iman.

        Ketika Yesus berkata, “Datanglah!”, Petrus melangkah turun dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus. Pada saat itu, Petrus sungguh percaya. Ia merespons undangan Yesus dan mengambil risiko untuk melangkah di atas sesuatu yang tidak mungkin secara manusiawi. Tapi kemudian, ketika ia melihat tiupan angin, ia menjadi takut dan mulai tenggelam. Lalu ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku!”

        Apa reaksi Yesus? Ia tidak menunggu atau menghukum. Alkitab berkata, “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?’” Kata yang digunakan Yesus adalah “kurang percaya,” bukan “tidak percaya,” apalagi “setengah percaya.” Artinya, Petrus memang memiliki iman, tetapi imannya belum matang. Ia masih mudah goyah oleh keadaan sekitarnya.

        Inilah penghiburan besar bagi kita. Tuhan tidak hanya bekerja bagi mereka yang memiliki iman sempurna. Ia justru datang bagi yang lemah, yang ragu, yang tenggelam dalam ketakutan dan kegagalan. Iman tidak selalu berarti berjalan dengan mantap di atas air. Kadang iman berarti berani melangkah, dan saat tenggelam, masih punya keberanian untuk berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Petrus diselamatkan bukan karena kekuatan imannya, tetapi karena Yesus setia menolong. Ini menunjukkan kepada kita bahwa keselamatan bukan berdasarkan seberapa besar iman kita, tetapi seberapa setia Tuhan dalam memegang janji-Nya.

        Jadi bagaimana dengan mereka yang tampaknya “setengah percaya”? Seringkali kita melihat orang-orang yang belum hidup konsisten dalam iman mereka. Mereka masih jatuh dalam dosa yang sama, masih ragu untuk bersaksi, atau belum menunjukkan perubahan yang nyata. Tapi kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka “setengah Kristen.” Bisa jadi mereka adalah anak-anak Allah yang sedang bertumbuh, sedang dibentuk, sedang diperkuat oleh Roh Kudus. Sama seperti bayi yang baru belajar berjalan, mereka pun sedang belajar melangkah dalam iman.

        Tuhan tidak akan menolak orang yang imannya kecil. Dia hanya memperingatkan, dan dengan kasih mengangkat kembali mereka yang jatuh. Dalam Matius 17:20, Yesus berkata bahwa jika iman kita hanya sebesar biji sesawi, kita dapat memindahkan gunung. Iman yang kecil pun memiliki kekuatan besar, bukan karena iman itu sendiri, tetapi karena kepada siapa iman itu bersandar.

        Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17:20

        Itulah sebabnya kita tidak boleh menghakimi iman orang lain, dan tidak boleh merendahkan orang percaya yang masih berjuang. Mungkin kita melihat mereka ragu, mudah goyah, atau kadang terseret oleh dunia. Tapi jika mereka telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, jika mereka percaya, walau dengan iman yang kecil, maka mereka adalah milik-Nya. Dan Dia akan terus bekerja dalam hidup mereka sampai mereka kuat.

        Paulus menulis dalam Filipi 1:6, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Pekerjaan iman dalam diri seseorang adalah karya Allah dari awal sampai akhir. Tidak ada orang yang diselamatkan karena kekuatan pribadinya. Kita semua adalah penerima kasih karunia yang sama. Kita semua pernah seperti Petrus, melangkah dengan berani lalu tenggelam karena takut. Dan kita semua hanya bisa berseru: “Tuhan, tolonglah aku!”

        Tuhan kita tidak pernah menolak seruan seperti itu. Ia tidak mencari orang yang sempurna, tetapi mereka yang mau datang dan menyerahkan hidupnya. Maka, tugas kita bukanlah untuk mengukur iman orang lain, tetapi untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan akan kasih Tuhan yang tidak berubah.

        Bagi Anda yang mungkin merasa imann Anda sedang lemah, atau hidup rohani Anda tidak seperti dulu, jangan menyerah. Anda bukan “setengah Kristen.” Anda yang mengenal Kristus adalah anak yang dikasihi Tuhan. Datanglah kembali kepada-Nya. Berserulah seperti Petrus: “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Dia akan mengulurkan tangan-Nya. Ia tidak akan membiarkan Anda tenggelam.

        Bagi Anda yang merasa telah lama berjalan dengan Tuhan, jangan menjadi sombong rohani. Ingat bahwa Anda pun dulu lemah sebelum menerima anugerah Tuhan, Anda tidak akan bisa berdiri hari ini jika tidak karena kasih-Nya. Jangan mencela mereka yang masih bergumul. Doakan mereka. Peluk mereka. Tuntun mereka untuk kembali melihat kepada Kristus, bukan kepada kelemahan mereka. Karena iman yang sejati, sekuat atau selemah apapun, tetap berasal dari Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah gagal memelihara milik-Nya.

        Tidak ada orang setengah percaya. Tidak ada orang setengah Kristen. Yang ada hanyalah mereka yang telah menerima anugerah iman dari Tuhan, dan sedang bertumbuh di dalam kasih karunia-Nya. Ada yang sudah kuat, ada yang masih lemah. Tapi semuanya adalah milik Kristus. Seperti Petrus, kita semua bisa tenggelam. Tapi Yesus selalu siap mengulurkan tangan-Nya dan menarik kita kembali ke dalam pelukan-Nya. Iman mungkin kurang, tapi kasih Tuhan tidak pernah kurang. Mari datang dan berseru: “Tuhan, tolonglah aku!”

        Hidup jangan untuk makan nasi saja

        Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4:4

        Apakah Anda suka makan roti? Saya percaya, semua orang di Indonesia suka makan roti tertentu sebagai makanan pelengkap. Tapi itu bukan untuk mengganti nasi karena agaknya “belum terasa makan kalau belum makan nasi”. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang yang merasa sudah cukup dengan makan nasi saja. “Empat sehat, lima sempurna” sudah menjadi motto makan sehat sejak lama, dan semua orang tentunya berusaha untuk tidak makan nasi saja, sekalipun nasi adalah makanan utama di Indonesia.

        Bagaimana nasi bisa menjadi makanan utama rakyat Indonesia? Padi sebenarnya telah masuk ke Indonesia sejak sekitar 1500 SM, kemungkinan berasal dari India atau Indocina. Namun, nasi baru benar-benar menjadi makanan pokok secara nasional setelah Indonesia merdeka. Hal ini terjadi seiring dengan fokus pemerintah dalam pembangunan pertanian melalui program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) pada 1969–1974.

        Beras kemudian dijadikan simbol kemakmuran oleh negara. Pemerintah mendorong produksi dan konsumsi beras secara masif sebagai bagian dari target swasembada pangan. Akibatnya, makanan lokal seperti tiwul, jagung, dan sagu mulai tergeser dan perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Bahkan, beras sempat dijadikan komoditas politik. Sejak saat itu, nasi menjadi makanan utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Tak hanya soal rasa atau gizi, tetapi juga menyangkut citra sosial. Bagaimana kalau makan nasi dijadikan salah satu syarat untuk hidup kita? Ya itu boleh saja karena orang harus makan untuk bisa hidup; kecuali kalau Anda mau mengganti nasi dengan roti seperti dalam ayat di atas.

        Matius 4:1–11 menggambarkan godaan Yesus di padang gurun. Setelah berpuasa selama 40 hari dan malam, Yesus menghadapi tiga godaan dari Setan. Setiap godaan berusaha untuk memikat Kristus agar menyalahgunakan kuasa-Nya; untuk segera mengambil apa yang telah dijanjikan Allah Bapa untuk disediakan di kemudian hari. Yesus menolak setiap godaan dengan mengutip dari Kitab Ulangan, menolak untuk memberontak terhadap rencana Allah Bapa. Akhirnya, Yesus menolak untuk menyembah iblis sebagai ganti kerajaan-kerajaan di bumi. Ia menyuruh iblis untuk pergi, dan para malaikat datang melayani-Nya.

        Apa artinya hidup bukan dari roti saja? Bukankah kita memang butuh makan? Tuhan Yesus menyatakan bahwa bukan hanya makanan yang memberi manusia kehidupan. Tanpa Firman Allah yang diberikan secara ilahi, makanan apa pn tidak akan tersedia. Kita tidak hidup hanya dengan roti saja, tetapi dengan segala sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan—yaitu, apa pun dan segala sesuatu yang Allah pilih untuk diberikan kepada kita. Hanya Allah yang merupakan sumber kehidupan dan segala sesuatu dalam kehidupan itu bagi umat-Nya (Yohanes 15:1-5; Yohanes 14:6). Dialah segalanya bagi kita.

        Selain itu, ada beberapa poin penting yang harus kita pahami:

        Yesus Tidak Bisa Berdosa, Bukan Sekadar Tidak Mau Berdosa

        Dalam pencobaan di padang gurun, Yesus dicobai bukan karena Ia bisa berdosa, tetapi untuk menunjukkan bahwa Ia tidak bisa berdosa.

        • Ia adalah Anak Allah yang kudus, inkarnasi dari Allah sendiri (Yohanes 1:14).
        • Sebagai manusia sejati, Ia lapar. Tapi sebagai Allah sejati, Ia tidak mungkin berdosa.

        Mengapa Setan Tetap Mencobai Yesus?

        Pertanyaan yang sering muncul: Mengapa Setan mencobai Yesus, jika ia tahu siapa Yesus itu?

        • Mungkin Setan tidak percaya sepenuhnya bahwa Yesus adalah Allah.
        • Mungkin ia tahu, tetapi ingin menjatuhkan Yesus dalam kelemahan manusia-Nya.
        • Mungkin karena kesombongan, Setan tetap berusaha menggagalkan rencana Allah.
        • Atau mungkin untuk memikat Kristus agar menyalahgunakan kuasa-Nya.

        Ini adalah pelajaran bagi kita: Setan tidak berhenti hanya karena kita rohani. Semakin kita dekat dengan Allah, semakin kita menjadi sasaran pencobaan. Tapi puji Tuhan, Yesus telah menang, dan kita akan menang bersama-Nya (1 Yohanes 4:4).

        Ketika Manusia Mencobai Tuhan

        Sikap mencobai Tuhan tidak hanya dilakukan oleh Setan. Banyak orang yang menolak percaya, dan tetap menantang Tuhan:

        • Mereka berkata, “Kalau Tuhan itu ada, buktikan!”
        • Mereka berkata, “Kalau Tuhan baik, kenapa dunia seperti ini?”
        • Mereka berkata, “kalu Tuhan mahakuasa, tentu Dia kan segera bertindak!”

        Pagi ini, kita harus mengerti bahwa iman sejati tidak menuntut bukti, tetapi menyambut kebenaran firman Tuhan. Jangan jatuh ke dalam dosa mencobai Tuhan dengan ketidakpercayaan, ketegaran hati, atau hidup yang sembarangan.

        Yesus mengajarkan kita untuk hidup di dunia ini dengan arah mata ke surga.

        “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

        Jadi kita akan tetap bekerja. Kita tetap berumah tangga. Kita tetap sekolah. Tapi semua itu bukan tujuan utama. Tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah, karena kita sudah dimiliki oleh-Nya. Biarlah kita menjadikan firman sebagai makanan utama, bukan pelengkap. Hidup kita akan kuat, jiwa kita akan segar, dan kita akan menang dalam setiap pencobaan, karena kita hidup dalam kuasa firman Tuhan.

        Dunia ini sementara. Firman Allah kekal.
        Dunia ini fana. Kerajaan Allah abadi.
        Maka hiduplah menurut apa yang kekal, bukan yang fana.

        Adanya neraka: membuat orang jadi percaya atau tidak?

        “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Matius 25:41

        Doktrin Kristen tentang neraka memang telah lama menjadi titik ketegangan – baik di dalam gereja maupun dalam imajinasi publik. Perdebatan antara orang yang percaya bahwa neraka adalah siksaan kekal dalam kesadaran yang penuh dan mereka yang percaya anihilasionisme (pelenyapan orang jahat) tidak hanya bersifat akademis. Perdebatan ini menyentuh pertanyaan inti tentang karakter, keadilan, dan inti penginjilan Tuhan.

        Anihilasionisme (juga dikenal sebagai ekstinksionisme atau destruksionisme) adalah sebuah keyakinan bahwa setelah penghakiman terakhir, manusia durhaka dan seluruh malaikat jatuh (semuanya yang terkena hukuman kekal) akan secara bulat dihancurkan sampai kesadaran mereka akan padam. Ini berbeda dengan pandangan yang menyatakan bahwa orang durhaka akan hukuman dibakar api tak berkesudahan di neraka. Anihilasionisme juga berkaitan dengan keabadian kondisional, gagasan bahwa roh manusia tidaklah abadi dan karena itu bisa dimusnahkan.

        Meskipun Alkitab harus selalu menjadi otoritas terakhir, ada hikmat dalam bertanya: Apa dampak doktrin neraka kita terhadap cara orang mendengar Injil? Dalam terang itu, mungkin diskusi tentang neraka tidak hanya ada di ruang debat teologis tetapi juga dalam konteks penginjilan praktis.

        Pad waktu itu, Yesus menggunakan dua perumpamaan untuk menggambarkan keadaan kesiapan yang terus menerus untuk menyambut kedatangan-Nya kembali setelah Ia berangkat ke surga. Para pengikut-Nya harus bekerja untuk-Nya sementara mereka menunggu. Mereka tidak boleh seperti para wanita muda bodoh yang melewatkan pesta pernikahan karena mereka lupa membawa minyak untuk pelita mereka. Mereka harus seperti para hamba yang melipatgandakan investasi tuan mereka yang kejam saat Ia pergi. Yesus mengakhiri dengan bagian deskriptif ketiga, yang menunjukkan bagaimana Ia akan menghakimi antara orang benar dan orang jahat ketika Ia kembali sebagai Raja.

        Matius 25:31–46 menggambarkan penghakiman besar Yesus, yang akan terjadi ketika Ia kembali sebagai Raja bersama para malaikat-Nya dan mengambil tempat-Nya di atas takhta. Ia akan membagi mereka yang dihakimi menjadi dua kelompok: “domba” dan “kambing.” Domba akan disambut dan dipuji karena melayani mereka yang membutuhkan. Kambing akan disingkirkan dari Yesus ke api kekal dan dikutuk karena tidak melayani mereka yang membutuhkan. Ini terjadi di akhir Khotbah di Bukit Zaitun, yang dimulai ketika para murid bertanya kepada Yesus tentang akhir zaman (Matius 24:3). Bagian ini terkenal sulit untuk ditafsirkan, sehingga sangat penting untuk ditangani dengan hati-hati. Meskipun disebut sebagai “perumpamaan,” berkat penggunaan istilah penggembalaan, situasi yang digambarkannya tampak sangat nyata.

        Setelah melewati masa penderitaan dan kesengsaraan yang hebat di bumi (Matius 24:21–22), Yesus akhirnya akan kembali sebagai Raja dan Hakim (Matius 25:31–32). Yesus menyambut kelompok pertama, domba, untuk menerima tempat yang sah di kerajaan-Nya di bumi. Ia menggambarkan kelompok itu sebagai kelompok yang diberkati oleh Bapa-Nya dan menyatakan bahwa Ia telah menerima setiap tindakan kebaikan yang mereka lakukan untuk saudara-saudara-Nya yang paling hina, orang-orang percaya lainnya, sebagai tindakan yang dilakukan untuk-Nya secara pribadi (Matius 25:34–40).

        Beralih ke kelompok kedua, kambing, Kristus menyampaikan pesan yang sangat berbeda. Ia menyebut mereka terkutuk dan mengusir mereka ke tempat hukuman kekal bersama dengan setan dan para iblis pengikutnya. Tidak seperti kelompok pertama, orang-orang ini jelas bukan orang percaya kepada Yesus—terbukti dari fakta bahwa mereka tidak setia kepada-Nya.

        Dalam Alkitab, iblis adalah malaikat yang bergabung dengan setan dalam pemberontakannya terhadap Tuhan. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus mengusir banyak iblis dari orang-orang yang menderita (Markus 1:34). Uraiannya tentang mereka di sini menunjukkan bahwa setan pada akhirnya bertanggung jawab atas gerombolan malaikat yang jatuh, yang bersama setan, melawan Tuhan. Mereka semua ditakdirkan untuk ke neraka (Markus 9:48), yang juga merupakan tempat di mana roh manusia yang menolak Kristus akan tinggal (Markus 9:43).

        Jika surga sering disalahpahami karena kekeliruan dan kepalsuan yang ditampilkan dalam berbagai agama di luar agama Kristen, atau yang tampil dalam mitos dan budaya populer, realitas neraka lebih mudah lagi untuk disalahpahami oleh jemaat Kristen. Ini sehubungan dengan kenyataan bahwa banyak pendeta dan guru Alkitab menghindari pembahasan tentang neraka karena takut membuat jemaat mereka kesal atas apa yang dipandang sebagai tempat yang mengerikan. Jarang ada khotbah atau penginjilan yang bertema neraka. Memang, neraka adalah topik yang paling tidak menyenangkan, tetapi karena Tuhan Yesus mengajarkan tentang neraka, kita tidak boleh tinggal diam tentang masalah ini. Lalu bagaimana pengertian kita tentang neraka?

        Ajaran siksaan kekal dalam kesadaran mengajarkan bahwa orang jahat akan dibangkitkan untuk diadili dan dilemparkan ke neraka, di mana mereka secara sadar akan menderita selamanya tanpa akhir. Ini telah menjadi pandangan dominan dalam kekristenan sampai saat ini. Sebaliknya, ajaran anihilasionisme mengajarkan bahwa orang jahat akan menghadapi penghakiman yang nyata, tetapi hukumannya akan berpuncak pada kehancuran terakhir mereka – mereka akan binasa (Yohanes 3:16), dihancurkan (Matius 10:28), dan tidak ada lagi (Maleakhi 4:1-3). Pandangan ini menyatakan bahwa keabadian roh adalah anugerah yang hanya diberikan kepada orang yang ditebus (Roma 6:23; 1 Korintus 15:53-54).

        Menurut Alkitab, neraka itu nyata (Markus 9:43), tempat orang berdosa dihukum (Matius 5:22), tempat siksaan (Wahyu 14:11), dan kekal (Markus 9:48). Neraka pada awalnya diciptakan untuk Setan dan para malaikatnya (Matius 25:41), tetapi juga dipakai sebagai tempat menghukum orang durhaka. Dalm hal ini, ada orang yang percaya bahwa neraka hanya diperuntukkan bagi para pelaku kejahatan terburuk seperti diktator yang kejam dan pembunuh berantai. Ada pula orang yang percaya bahwa Tuhan yang penuh kasih tidak akan mengirim orang ke api neraka. Selain itu, ada yang percaya bahwa neraka bukanlah realita, tapi keadaan di mana orang durhaka akan menderita karena terasing dari Tuhan dan orang percaya. Lebih dari itu, ada yang mengajarkan bahwa api neraka bukanlah hukuman yang terus menerus atau kekal, tetapi sekali saja; dan setelah itu orang durhaka akan lenyap. Apapun pengertian orang tentang neraka, itu adalah tempat yang akan dihuni oleh orang-orang yang memilih untuk tinggal di sana, yaitu karena mereka memilih untuk hidup dalam dosa; bukan karena mereka dilemparkan Tuhan ke neraka dengan semena-mena.

        Alkitab menyatakan bahwa neraka adalah realita dan roh manusia adalah abadi. Tetapi, ada orang yang percaya bahwa konsep neraka hanyalah cara Tuhan untuk menakut-nakuti manusia, guna menegakkan kesetiaan atau perilaku tertentu. Tetapi, Yesus memperingatkan tentang bahaya neraka (Matius 10:28). Apakah Dia akan memperingatkan kita tentang bahaya neraka jika bahaya itu tidak nyata? Apakah mereka yang menyangkal keberadaan neraka lebih bijaksana, lebih pintar, dan lebih terinformasi daripada Yesus? Menyangkal bahaya neraka sama saja dengan meragukan perkataan Juruselamat kita.

        Hakikat neraka adalah tempat kesengsaraan dan penderitaan yang tidak pernah berakhir (Wahyu 14:11). Walaupun demikian, perdebatan antara mereka yang percaya dan yang tidak percaya akan hakikat neraka masih sering terjadi. Dalam hal ini, apakah api itu nyata dan kekal, atau melambangkan malapetaka yang lebih besar, sebenarnya bukan masalah. Kita semua yakin bahwa semua keuntungan yang ditawarkan dunia ini—uang, ketenaran, reputasi, kekuasaan, atau kepuasan seksual—tidak sebanding kerugian yang akan terjadi dengan hilangnya nyawa kita. Neraka jelas harus dihindari.

        “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya.” Markus 8:36-37

        Berbeda dengan pandangan sebagian orang, Allah tidak senang dengan kematian orang jahat (Yehezkiel 18:32). Ia sedih jika ada orang yang memilih neraka daripada memilih Dia. Sebaliknya, Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dan menebus kita (Yohanes 3:16). Karena itu, malaikat-malaikat di surga bersukacita jika ada orang yang bertobat dan lolos dari neraka.

        “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”Lukas 15:10

        Kematian dan kebangkitan Yesus adalah kabar baik bagi orang berdosa yang terhilang yang bersedia percaya bahwa hutang dosa kita telah dibayar lunas. Mereka yang menerima kasih karunia Allah melalui iman dalam Kristus akan hidup selamanya bersama-Nya.

        Yesus adalah yang terbaik yang dapat diberikan Allah kepada kita. Allah tidak memiliki sesuatu yang lebih besar untuk ditawarkan selain Anak-Nya. Mereka yang telah menaruh iman mereka kepada Yesus Kristus tidak memiliki alasan untuk takut akan kematian dan kuburan; sebaliknya, mereka menunggu yang terbaik, yang belum datang. Namun, ada orang-orang yang mengeraskan hati dan lebih tertarik untuk mendapatkan apa yang ditawarkan dunia karena itu bisa dilihat mata. Sungguh tragis hal ini, karena Kristus telah mengalahkan dosa, kematian, dan neraka demi kita.

        Kedua pandangan tentang hakikat neraka bertujuan untuk menanggapi Kitab Suci dengan serius. Para pendukung api neraka yang abadi menekankan keadilan dan kekudusan Tuhan; penganut anihilasionisme menekankan makna istilah-istilah Alkitab seperti “kematian,” “kehancuran,” dan “binasa,” serta masalah moral tentang siksaan kekal. Namun, perdebatan tersebut sering dilakukan untuk mencapai kemenangan teologi daripada unuk mencari jalan agar orang mau memilih jalan yang sempit yang menuju ke arah keselamatan. Dengan demikian, pendekatan itu lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Perjanjian Baru tidak menjabarkan doktrin neraka yang sepenuhnya sistematis; sebaliknya, ia memberikan peringatan yang jelas yang dirancang untuk mendesak pertobatan dan kepercayaan kepada Kristus.

        Di sinilah letak pertanyaan yang lebih dalam: Mengapa orang harus berpaling kepada Tuhan? Apakah itu hanya untuk menghindari hukuman? Ataukah itu karena menyadari kasih Tuhan? Dan jika demikian, pandangan neraka mana yang bisa memotivasi lebih baik?

        Beberapa orang berpendapat bahwa api neraka abadi bisa menciptakan urgensi yang lebih besar – “Jika neraka itu kekal, bagaimana kita bisa menghindarinya?” Tetapi rasa takut adalah motivator yang rapuh di zaman ini. Banyak orang muda saat ini menolak Kekristenan bukan karena mereka tidak takut akan penghakiman, tetapi karena mereka menganggap gagasan tentang siksaan kekal tidak realistis dan menjijikkan secara moral – karena adanya penggambaran Tuhan yang lebih menyerupai seorang tiran daripada seorang Bapa yang penuh kasih. Pada pihak yang lain ada pendapat bahwa pemusnahan roh terdengar “terlalu lunak.” Memang pemusnahan roh melibatkan rasa sakit, menunjukkan keadilan Tuhan, dan kehilangan manusia secara nyata, tetapi menurut mereka itu seharusnya terus berlanjut tanpa akhir.

        Perdebatan ini bisa memengaruhi cara kita menggambarkan karakter Tuhan dalam penginjilan. Apakah Tuhan lebih dimuliakan dengan menekakan kasih dan keadilan-Nya, atau dengan menekankan keadilan dan kesucian-Nya? Pada akhirnya, inti penginjilan bukanlah kabar buruk untuk menakut-nakuti orang, tetapi kabar baik untuk mengungkapkan keindahan Kristus, keseriusan dosa, dan harapan penebusan. Seseorang yang tidak mengasihi Tuhan tidak akan menikmati surga, tidak peduli apa yang mereka “hindari.” Karena itu, doktrin neraka tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak boleh menjadi inti dari Injil kita. Injil bukanlah “Hindari hukuman,” tetapi “Datanglah kepada Tuhan yang memberi hidup.”

        Perdebatan antara pemusnahan roh dan siksaan kekal kemungkinan akan terus berlanjut. Tetapi kita harus ingat: doktrin ada untuk melayani misi – bukan untuk menjadi penghalangnya. Jika ada pendekatan yang bisa membantu lebih banyak orang memahami keadilan, belas kasihan, dan karunia Tuhan, kita tidak boleh ragu untuk menggunakannya dalam kasih dan kebenaran. Neraka bukanlah akhir dari cerita. Kasih Kristuslah yang merupakan akhir dari cerita!

        Manusia tidak bisa melupakan, tapi Tuhan bisa

        ”Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” Ibrani 10:16-17

        Salah satu pernyataan yang paling umum kita dengar dalam percakapan tentang pengampunan adalah ini: “Saya dapat mengampuni, tetapi saya tidak dapat melupakan.” Kedengarannya mulia—jujur, bahkan praktis. Lagi pula, bagaimana seseorang dapat benar-benar melupakan pengkhianatan, luka, atau kekecewaan yang mendalam? Daya ingat kita sangat kuat. Kenangan yang ada dalam pikiran kita membentuk siapa diri kita dan memberi tahu cara kita berinteraksi dengan dunia. Wajar saja jika kita membawa kenangan tertentu—terutama yang menyakitkan—dalam diri kita.

        Namun, pernahkah Anda berhenti sejenak untuk mempertimbangkan betapa berbedanya Allah dengan kita? Ibrani 10:16–17 berisi salah satu janji yang paling mengejutkan dalam Alkitab. Allah, berbicara tentang perjanjian yang baru yang dimungkinkan melalui Yesus Kristus, menyatakan bahwa Ia akan “menaruh hukum-hukum-Nya di dalam hati mereka” dan “menuliskannya dalam pikiran mereka.” Kemudian, seolah-olah untuk menyegel perjanjian itu dengan sesuatu yang bahkan lebih radikal, Ia berkata: “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran hukum mereka.”

        Ibrani 10:16 dikutip dari Yeremia 31:33. Ayat yang sama disebutkan sebelumnya dalam Kitab Ibrani, untuk menunjukkan bahwa Allah telah berjanji untuk mengganti perjanjian yang lama. Maksud Allah bukanlah untuk menggunakan imamat Lewi sebagai solusi utama bagi umat manusia untuk dosa. Sebaliknya, ritual dan objek perjanjian Tuhan yang lama dimaksudkan untuk mengarahkan umat manusia kepada Mesias, Yesus Kristus. Penulis litab Ibrani sangat berhati-hati untuk mendukung klaim ini dengan menggunakan Firman Allah sendiri, dari Alkitab Perjanjian Lama. Ayat sebelumnya secara eksplisit mengingatkan pembaca bahwa itu adalah firman Allah—Roh Kudus yang berbicara kepada kita—sebagai cara untuk mendorong pembaca agar menganggap serius firman tersebut.

        Yeremia 31:33 menekankan aspek utama dari perjanjian Tuhan yang baru. Sementara perjanjian Tuhan yang lama bersifat eksternal dan bergantung pada hukum tertulis, perjanjian yang baru bersifat internal dan “tertulis” di hati dan pikiran setiap orang percaya.

        Ibrani 10:17 muncul di akhir diskusi panjang di mana penulis Ibrani sering mengutip ayat dari Perjanjian Lama. Alasan kutipan ini adalah untuk membuktikan bahwa Allah, sejak awal, berjanji untuk mengutus Yesus sebagai penggenapan akhir dari rencana-Nya untuk menyelesaikan dosa kita. Pada waktu itu, orang-orang Kristen Yahudi yang membaca kata-kata ini pasti akan terpengaruh terutama oleh seruan kepada Kitab Suci mereka sendiri.

        Salah satu bagian yang digunakan adalah Yeremia 31:31–34. Di sana, Allah secara langsung mengatakan bahwa Ia akan membentuk “perjanjian yang baru” dengan Israel, terpisah dari perjanjian yang diberikan kepada Musa dan dilaksanakan oleh para imam Lewi (Ibrani 8:7–13). Komponen utama dari perjanjian yang baru ini adalah kehadirannya di dalam setiap orang. Berbeda dengan perjanjian Tuhan yang lama yang ditulis di atas batu dan bergantung pada pengorbanan hewan yang berulang, perjanjian yang baru ini akan “ditulis” di dalam pikiran dan hati manusia.

        Perjanjian yang lama bukanlah penyembuhan permanen untuk dosa; ini hanyalah pengingat sementara akan dosa dan simbol rencana akhir Allah. Sebaliknya, perjanjian yang baru, menurut Yeremia, akan menghasilkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh perjanjian yang lama: pengampunan dosa yang sesungguhnya. Pengorbanan tunggal Yesus untuk dosa sekali untuk selamanya akan benar-benar membersihkan manusia, dari dalam, alih-alih hanya menutupi dosanya untuk sementara waktu.

        Allah—yang mahatahu, yang mengetahui segala sesuatu—mengatakan bahwa Ia akan melupakan. Ini bukan masalah kegagalan ingatan ilahi. Ini adalah tindakan Tuhan dengan kehendak yang disengaja dan penuh kasih. Allah memilih untuk tidak mengingat dosa-dosa kita. Ia memilih untuk tidak mengingatnya ketika berurusan dengan kita. Ia menghapus semua kesalahan—tidak hanya sementara, tidak hanya bersyarat, tetapi selamanya.

        Kelupaan ilahi ini tidak seperti kelupaan manusia. Ini bukan sesuatu yang tidak disengaja atau tidak lengkap. Ini sempurna dan bertujuan. Allah, karena Ia adalah kasih, memilih untuk melupakan dosa-dosa kita. Ia melakukan ini karena Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, telah membuat penebusan penuh atas dosa-dosa kita. Keadilan Allah telah dipuaskan di kayu salib. Dan karena itu, Tuhan sekarang dapat berkata: “Aku tidak mengingat dosa-dosamu lagi.” Sungguh pemikiran yang luar biasa.

        Jika kita taat pada firman Tuhan, kita berusaha untuk menghentikan kemarahan kita secepat mungkin. Kita berjuang untuk melupakan kesalahan orang lain yang dilakukan kepada kita. Tetapi ini tidak mudah. Kita lebih sering menyimpan dendam, mengingat luka masa lalu, dan terkadang bahkan memendamnya. Bahkan ketika kita mengatakan kita mengampuni, kenangan itu masih menghantui kita. Kenangan itu muncul dalam pikiran kita, hubungan kita, dan reaksi kita. Namun, Tuhan semesta alam—yang memiliki hak penuh untuk menghukum kita—berkata, “Aku tidak akan mengingatnya lagi.” Seperti inilah rupa kasih karunia.

        Sebagian orang mungkin berkata, “Begitulah Tuhan. Aku bukan Tuhan—aku tidak bisa melupakan seperti itu.” Itu benar. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Namun, jika Kristus hidup di dalam kita, maka Roh-Nya memberi kita kekuatan untuk hidup secara berbeda. Kita mungkin tidak dapat melupakan seperti yang Tuhan lakukan, tetapi kita dapat memilih untuk tidak memikirkan pelanggaran itu. Kita dapat memilih untuk tidak terus-menerus mengungkitnya—baik dalam pikiran kita maupun dalam hubungan kita.

        Kita dapat memilih untuk melepaskan cengkeraman kepahitan. Jadi, pengampunan bukan hanya peristiwa satu kali—sering kali merupakan keputusan yang harus diambil setiap hari. Dan melupakan bukan berarti tidak adanya ingatan, tetapi penolakan untuk membiarkan ingatan mengendalikan sikap dan tindakan kita. Ketika kita berkata, “Saya mengampuni, tetapi saya tidak bisa melupakan,” kita sering kali mengakui tetap adanya pergumulan alih-alih keadaan yang sudah mapan dan aman. Itu normal bagi manusia yang lemah. Namun, kita juga harus bersedia untuk bertumbuh. Kita harus mengizinkan Kristus melakukan pekerjaan transformasi-Nya di dalam diri kita.

        Penting untuk dicatat bahwa melupakan tidak berarti meremehkan apa yang terjadi. Itu tidak berarti menyangkal rasa sakit atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tuhan tidak melupakan karena dosa-dosa kita tidak serius—Dia melupakan karena pengorbanan Kristus sudah cukup. Dan dengan cara yang sama, kita tidak melupakan karena kesalahan itu tidak enar-benar terjadi, tetapi karena kasih karunia Yesus memampukan kita untuk bangkit darinya.

        Inilah kebenaran yang lebih dalam: Ketika kita berpegang teguh pada ingatan tentang dosa orang lain terhadap kita, kita sering kali mengikat diri kita pada rasa sakit itu. Kita sendiri bisa menderita. Namun, saat kita menyerahkannya kepada Tuhan, kita tidak hanya meniru kasih-Nya—kita melangkah menuju kebebasan. Kita membiarkan belas kasihan yang sama, dari Tuhan, yang mengalir atas kita mengalir melalui diri kita kepada orang lain.

        Semakin kita berjalan bersama Yesus, semakin hati kita dibentuk oleh-Nya. Dan semakin hati kita dibentuk oleh-Nya, semakin kita mulai mencerminkan karakter-Nya—bahkan dalam cara kita mengampuni, bahkan dalam cara kita memilih untuk melupakan. Jadi, lain kali Anda tergoda untuk berkata, “Saya tidak bisa melupakan,” ingatlah ini: Tuhan bisa. Dan Dia hidup di dalam Anda.

        Doa:

        Bapa, terima kasih atas mukjizat kasih karunia. Terima kasih karena Engkau tidak hanya mengampuni dosa-dosaku melalui Yesus, tetapi Engkau memilih untuk tidak mengingatnya lagi. Bantulah aku untuk memahami kedalaman kasih itu dan menyebarkannya kepada orang lain. Ajari aku cara mengampuni dari hati dan melepaskan cengkeraman kemarahan masa lalu yang masih ada padaku. Bahkan saat aku berjuang untuk melupakan, bantulah aku untuk tidak berkutat pada rasa sakit. Jadikanlah aku lebih seperti-Mu, Tuhan. Dalam nama Yesus, Amin.

        Ketika kemuliaan manusia memudar

        “Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” 1 Samuel 15:23

        Pada saat itu Samuel memberi raja Saul sebuah misi dari Tuhan untuk menggenapi penghakiman Tuhan atas orang Amalek dengan membunuh semua orang dan hewan. Kemudian Saul dan pasukannya mengalahkan Amalek, tetapi mereka menyelamatkan raja dan hewan-hewan terbaik. Tuhan memberi tahu Samuel bahwa tindakan Saul—yang merupakan penolakan terhadap perintah Tuhan—akan mengakibatkan berakhirnya pemerintahan Saul.

        Tentang mengapa Saul tidak membunuh semua hewan milik orang Amalek, sang raja membuat alasan dan mengklaim bahwa ia sebenarnya bermaksud mengorbankan hewan-hewan yang dikutuk itu kepada Tuhan. Samuel menanggapi dengan pernyataan puitis tentang bagaimana Tuhan menginginkan ketaatan, bukan upaya arogan untuk “memperbaiki” perintah-perintah-Nya.

        Tidak jelas apakah Saul dan orang-orang pada awalnya memang bermaksud untuk mempersembahkan barang rampasan di Gilgal, atau apakah mereka sengaja berencana menyimpan hewan-hewan itu untuk diri mereka sendiri. Tapi, mengingat bahwa Saul mendirikan sebuah monumen untuk dirinya sendiri (1 Samuel 15:12) dan bahwa perintah dari Allah tentang kehancuran total sudah begitu jelas (1 Samuel 15:3), niat untuk menggunakan hewan-hewan untuk penyembahan perlu dipertanyakan. Bahkan sekalipun jika Saul jujur, ketidaktaatannya masih merupakan pemberontakan terhadap perintah langsung Tuhan. Tuhan menghendaki ketaatan, bukan persembahan (1 Samuel 15:22).

        Samuel menyatakan keputusan Tuhan untuk menolak Saul sebagai raja. Sebagai tanggapan atas ketidaktaatan Saul, Tuhan telah menyatakan bahwa garis keturunan Saul tidak akan menduduki takhta Israel (1 Samuel 13:14). Tuhan menolak Saul sekalipun Ia memilih Saul pada awalnya.

        Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah Tuhan kepadanya: ”Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” 1 Samuel 9:17

        Sekalipun Tuhanlah yang menghendaki Saul menjadi raja, itu bukan berarti bahwa Saul tidak perlu bertanggungjawab atas tindakannya. Tuhan yang mengangkat Saul, tetapi bukanlah Tuhan yang bermaksud menjatuhkan Saul ke dalam dosa. Saul telah menolak firman Tuhan, dan dengan demikian Tuhan kemudian menolaknya sebagai raja. Ketidaktaatan Saul sangat parah, dan konsekuensinya sangat berat.

        Dalam kisah di atas, kita membaca tentang ambisi manusia yang salah tempat dan kebenaran bahwa Tuhan terkadang mengizinkan kita berjalan melewati pintu-pintu yang sebenarnya bukan apa yang Ia buka untuk memberkati kita. Saul tidak merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri; ia dipilih oleh Tuhan sebagai tanggapan atas permintaan Israel yang terus-menerus akan seorang raja. Namun, jabatan raja yang dimulai dengan pengurapan ilahi berakhir dengan aib — bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena Saul yang berubah. Saul bukanlah robot Allah dan karena itu ia bisa jatuh dalam dosa.

        Hal ini membawa kita pada pertanyaan yang menghantui: Bagaimana jika Tuhan mengizinkan kita untuk berhasil — hanya untuk menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan tanpa Dia adalah hampa? Apa yang akan terjadi pada hidup kita jika Tuhan menyatakan bahwa kita sudah sengaja melanggar perintah-Nya?

        Pertanyaan ini bukan untuk mengada-ada. Sekalipun kita pada saat ini berada dalam keadaan aman dan mungkin juga nyaman, belum tentu Tuhan senang dengan cara hidup kita! Mengapa demikian?

        1. Karunia Tuhan yang bisa menjadi jerat

        Sebelum Saul menjafi raja, Israel telah lelah dengan pemerintahan Tuhan. Mereka ingin menjadi “seperti bangsa-bangsa lain” (1 Samuel 8:5). Para tua-tua datang kepada Samuel, bukan untuk meminta kebangkitan rohani atau petunjuk ilahi, tetapi untuk sebuah sistem pemerintahan yang dapat mereka kendalikan. Allah melihat apa yang ada dalam hati bani Israel: “… tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Samuel 8:7).

        Alih-alih mengirimkan penghakiman, Allah mengirim Saul — tinggi, tampan, karismatik. Ia tampak seperti pemimpin yang ideal, tipe yang menginspirasi rasa percaya diri. Dengan melakukan ini, Allah memberi orang-orang itu apa yang mereka inginkan, bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai pelajaran. Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan, tetapi yang mendatangkan kekeringan ke dalam jiwa mereka. Secara lahiriah, mereka menerima kemuliaan — seorang raja, prestise, kekuasaan. Namun secara batiniah, ada sesuatu yang layu.

        Kita sering berasumsi bahwa jika kita menemukan kesuksesan, rencana kita pasti benar dan Tuhan memberi kita berkat-Nya. Namun Kitab Suci menunjukkan bahwa tidak setiap pintu yang terbuka adalah apa yang terbaik dari Allah. Terkadang, Allah membiarkan kita berjalan untuk mencapai mimpi kita sendiri — untuk mengajar kita bahwa mimpi kita tanpa Dia akan menjadi mimpi buruk.

        2. Pergeseran menuju rasa puas hati

        Awalnya, Saul tampak rendah hati dan sabar. Namun, adanya kekuasaan dengan cepat menyingkapkan apa yang ada di balik permukaan: rasa takut kepada manusia, rasa tidak aman, dan hati yang gelisah yang tidak mau menanti Tuhan. Dalam 1 Samuel 13, Saul panik dan mempersembahkan korban yang tidak sah. Dalam pasal 15, ia tidak menaati perintah langsung Tuhan, lalu mencari-cari alasan. Dalam kedua momen itu, ia lebih peduli pada penampilannya daripada ketaatan. Ia lebih tunduk kepada kehendak dunia daripada kepada Tuhan.

        Inilah tragedi kepuasan rohani. Saul lupa siapa yang memberinya mahkota. Saul lebih mengandalkan posisinya daripada suara Tuhan. Hasilnya? Tuhan menyesal telah mengangkatnya menjadi raja (1 Samuel 15:11), dan kerajaan itu pun terkoyak darinya. Kebesaran yang sangat diinginkan Israel dan Saul berubah menjadi kesedihan mereka.

        3. Bahaya harapan manusiia

        Kita hidup di dunia yang menghargai kesuksesan — dalam studi, karier, bahkan dalam kehidupan dalam keluarga dan gereja. Ada tekanan terus-menerus untuk berproduksi, memberi kesan, dan berprestasi. Entah itu berupa kenyamanan, kemewahan, penampilan atau hal lain yang bisa dikagumi orang lain. Dan sering kali, kita menerjemahkan harapan-harapan ini ke dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita berasumsi bahwa pertumbuhan, pengaruh, dan pintu-pintu yang terbuka selalu merupakan tanda-tanda kebaikan ilahi. Kesuksesan dunia yang kita miliki, sering kita pandang sebagai bukti iman dan ketaatan kita kepada Tuhan.

        Namun, Kitab Suci memperingatkan kita: Tuhan terkadang mengizinkan kita untuk meraih apa yang kita dambakan — bukan karena itu yang terbaik bagi-Nya, tetapi karena itu akan mengajarkan kita untuk mendambakan-Nya sebagai gantinya. Suatu pelajaran pahit bagi umat-Nya agar mereka bertobat.

        karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Ibrani 12:6-7 TB

        Ini tidak berarti Tuhan senang dengan kejatuhan manusia. Jauh dari itu. Tuhan memberi Saul setiap kesempatan. Dia mengurapinya. Dia memberinya kuasa dengan Roh Kudus. Dia mengutus Samuel sebagai mentor. Namun, hati Saul bimbang. Peringatannya jelas: semakin besar karunia kita yang kita terima, semakin besar pula kebutuhan kita untuk taat kepada firman-Nya. Kita harus menghindari pemikiran bahwa kita adalah orang-orang yang “istimewa” di hadapan Allah.

        4. Rasa takut yang kudus, bukan ketakutan yang melumpuhkan

        Jadi, haruskah kita takut bahwa Tuhan akan mengambil “kemuliaan” kita jika kita menjadi puas diri?

        Ya — tetapi bukan dengan rasa takut yang menyiksa. Melainkan, rasa takut yang kudus dan penuh hormat yang merendahkan hati. Jenis rasa takut yang Paulus bicarakan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi:

        “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12–13:

        Ini bukanlah rasa takut akan hukuman, tetapi rasa kagum yang membuat kita tetap bergantung pada-Nya.

        Ketakutan, dalam pengertian Alkitab, bukanlah keraguan dan ketidakmampuan untuk bertindak. Seperti apa yang dialami Petrus yang berjalan di atas air, kita harus percaya bahwa jika Ia beserta kita dan kita taat kepada-nya, tidak ada bahaya yang bisa menghancurkan kita. Ketakutan adalah kesadaran bahwa tanpa Dia, bahkan keberhasilan terbesar kita malahan bisa menjadi beban. Takut pada Tuhan akan membuat kita lebih bijaksana, tidak tenggelam dalam kesombongan, tidak membangun menara tanpa fondasi, tidak melupakan bahwa segala kemuliaan adalah milik-Nya, bukan milik kita.

        Kata Yesus: ”Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ”Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”Matius 14:29-31

        5. Kemuliaan yang lebih baik

        Tuhan akhirnya membangkitkan Daud — seorang yang berkenan di hati-Nya. Daud juga orang berdosa, tetapi tidak seperti Saul, ia cepat bertobat. Ia mengetahui sumber kemuliaan yang sejati:

        “Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” (Mazmur 115:1).

        Itulah sikap yang mempertahankan kebesaran Tuhan. Itulah jenis hati yang dapat dilihat Tuhan untuk memberikan berkat-Nya yang terbaik.

        Hari ini, di mana pun Anda berada — baik dalam kelimpahan atau kekurangan, keberhasilan atau perjuangan — tanyakan pada diri Anda:

        • Apakah saya mengejar kehendak Tuhan, atau hanya kebenaran versi saya sendiri?
        • Apakah saya lebih takut kehilangan reputasi saya daripada kehilangan hadirat-Nya?
        • Apakah saya menggunakan Tuhan untuk memenuhi impian saya, atau membiarkan Dia membentuk rencana-Nya dalam diri saya?
        • Apakah saya menikmati berkat Tuhan untuk kepentingan saya sendiri, tanpa mau mencari maksud Tuhan?

        Biarlah kisah Saul menjadi lebih dari sekadar sejarah. Biarlah itu menjadi panggilan kita untuk keintiman yang lebih dalam, penyerahan diri yang terus-menerus, dan rasa takut yang kudus kepada Tuhan. Karena ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, bahkan jika dunia melupakan nama kita — kita berjalan dalam kemuliaan yang tidak pernah pudar.

        Kita tidak dapat membuat pilihan yang lebih baik daripada Allah, dan kita tidak dapat mempengaruhi-Nya untuk mengampuni pengabaian dan penolakan kita terhadap-Nya. Kebenaran ini memanggil kita untuk berwaspada, rendah hati, dan bergantung kepada Tuhan— bukan dengan rasa takut dalam pengertian duniawi, tetapi rasa kagum dan bersyukur kepada Dia yang bisa membuat kita tetap teguh sampai sekarang.