Mengapa kita harus memuliakan Tuhan?

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1:3

Bab pertama Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai “Firman,” dari kata Yunani logos. Bab ini dengan jelas menggambarkan Yesus sebagai Allah. Setelah prolog ini, bab ini menggambarkan Yesus merekrut murid-murid pertama-Nya, serta percakapan antara Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi. Ada tujuh nama atau gelar untuk Kristus dalam bab ini, termasuk “Anak Allah,” “Firman,” dan “Raja Israel.”

Peran Allah sebagai Pencipta ditegaskan dalam ayat di atas. Alam semesta bukanlah produk materi tanpa desain, tetapi produk yang dimaksudkan oleh Pencipta yang mahacerdas. Dalam ayat-ayat sebelumnya (Yohanes 1:1-2), Yesus dikatakan sebagai Allah. Ini adalah tujuan penting dari 18 ayat pertama Yohanes: menentang semua konsep lain tentang apa itu Allah atau bukan Allah.

Di sini, Alkitab membuat poin menarik bahwa tidak ada ciptaan yang diciptakan terpisah dari Yesus. Ini penting karena beberapa alasan. Pertama, ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah malaikat, manusia, atau makhluk yang dibentuk lainnya (Ibrani 1:3-4). Kedua, ini menyiratkan perbedaan antara hal-hal yang mulai ada, dan Dia yang selalu ada. Dengan kata lain, ada satu hal yang tidak “mulai ada,” yang tidak “muncul.” Memang secara logis, sebab-akibat harus memiliki permulaan yang tidak disebabkan. Satu-satunya hal ini adalah Allah. Istilah yang lebih canggih untuk gagasan ini adalah “Argumen Kosmologis,” atau argumen dari “penyebab pertama.”

Argumen kosmologis adalah landasan teologi alam yang menyimpulkan keberadaan Tuhan dari keberadaan alam semesta (kosmos). Argumen ini menyatakan bahwa karena alam semesta terdiri dari makhluk-makhluk yang kontingen (bergantung) dan tunduk pada sebab akibat, maka alam semesta membutuhkan sebab pertama yang mutlak, tak diciptakan, dan transenden—yang diidentifikasi sebagai Tuhan.

Teologi alam itu mudah dimengerti, dan karena itu ada banyak orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Tidak sedikit yang mengakui bahwa Dialah Pencipta langit dan bumi, sumber awal dari seluruh alam semesta. Namun anehnya, pengakuan ini sering berhenti pada tataran intelektual. Mereka percaya Tuhan menciptakan segalanya, tetapi tidak merasa perlu memuja-Nya, menyembah-Nya, atau hidup untuk memuliakan-Nya.

Bagi sebagian orang, penciptaan dianggap sekadar peristiwa kosmis yang tidak memiliki hubungan personal dengan manusia. Tuhan dipahami sebagai “arsitek agung” yang telah menyelesaikan pekerjaan-Nya, lalu membiarkan ciptaan berjalan sendiri menurut hukum alam. Manusia, dalam pandangan ini, hidup untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari ciptaan-Nya, sehingga dianggap tidak pantas jika Ia “menuntut” pujian. Bahkan ada yang berkata, “Jika Tuhan meminta penyembahan, bukankah itu tanda Dia gila hormat?”. Pandangan ini sepertinya terdengar rasional, bahkan rendah hati. Namun sesungguhnya di situlah letak kekeliruannya.

Yohanes 1:3 menegaskan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang ada. Ayat ini bukan sekadar pernyataan tentang asal-usul dunia, tetapi tentang ketergantungan total ciptaan kepada Sang Firman. Kita tidak hanya “pernah” diciptakan; kita terus ada karena Dia menopang keberadaan kita setiap saat. Nafas yang kita hirup, detak jantung yang kita anggap biasa, kemampuan berpikir dan merasa—semuanya bukan milik kita secara otonom. Jika demikian, maka penyembahan bukanlah pemberian tambahan dari manusia kepada Tuhan, melainkan respons yang paling wajar dari ciptaan kepada Penciptanya.

Tuhan memang tidak membutuhkan pujian kita. Ia sempurna tanpa kita. Namun justru di situlah bedanya antara Tuhan yang sejati dan berhala. Berhala membutuhkan pujian agar tampak berkuasa; Tuhan layak dipuja karena Dia memang berkuasa. Penyembahan tidak menambah kemuliaan Tuhan, tetapi mengembalikan posisi kita pada tempat yang benar: sebagai ciptaan yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Masalahnya, banyak orang—termasuk yang mengaku Kristen—ingin menerima berkat dari Tuhan tanpa menyerahkan hidup untuk Tuhan. Mereka bersyukur atas kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan perlindungan-Nya, tetapi enggan hidup dalam ketaatan, pelayanan, dan pengorbanan. Tuhan dijadikan sumber pertolongan, bukan tujuan hidup.

Di sinilah penyembahan menjadi isu hati, bukan sekadar ritual. Penyembahan sejati tidak berhenti pada lagu, doa, atau kehadiran di gereja. Penyembahan adalah sikap hidup yang mengakui: “Tuhan, Engkau layak atas hidupku, waktuku, kemampuanku, dan keputusanku.” Ketika seseorang berkata percaya kepada Tuhan tetapi tidak mau melakukan apa pun untuk memuliakan-Nya, sesungguhnya ia belum mengenal siapa Tuhan itu. Orang Kristen yang sedemikian, bukanlah orang Kristen sejati.

Melalui Alkitab, kita diajar bahwa tujuan utama manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya. Ini bukan beban, melainkan pembebasan. Dunia modern mendorong manusia untuk hidup bagi diri sendiri, mengejar makna dari prestasi, kenyamanan, dan pengakuan. Namun semakin manusia berpusat pada diri, semakin kosong jiwanya. Penyembahan mengalihkan pusat hidup dari “aku” kepada Dia yang menciptakan dan menyelamatkan aku.

Yesus Kristus, Sang Firman yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, tidak hanya layak dipuja karena kuasa-Nya sebagai Pencipta, tetapi juga karena kerendahan hati-Nya sebagai Penebus. Dia yang menciptakan segala sesuatu rela masuk ke dalam ciptaan, menderita, dan mati bagi manusia yang sering mengabaikan-Nya. Jika penciptaan saja sudah cukup menjadi alasan untuk memuja Tuhan, apalagi penebusan-Nya.

Maka pertanyaannya bukanlah, “Apakah Tuhan membutuhkan pujianku?” melainkan, “Bagaimana mungkin aku yang diciptakan dan ditebus tidak hidup untuk memuliakan Dia?” Ketika kita memahami siapa Tuhan dan siapa diri kita di hadapan-Nya, penyembahan tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kerinduan.

Pagi ini biarlah kita sadar sepenuhnya akan kebesaran Tuhan kita. Kiranya kita tidak menjadi orang yang mengakui Tuhan dengan mulut, tetapi menyangkal-Nya dengan hidup. Biarlah seluruh keberadaan kita—pikiran, perkataan, dan perbuatan—menjadi pujian yang hidup bagi Dia yang oleh-Nya segala sesuatu ada.

Doa Penutup:

Tuhan yang Mahamulia, kami mengaku bahwa sering kali kami menikmati ciptaan-Mu tanpa memuliakan Engkau sebagai Pencipta. Ampuni hati kami yang berpusat pada diri sendiri. Ajar kami menyadari bahwa hidup kami sepenuhnya berasal dari-Mu dan ada bagi-Mu. Bentuklah kami menjadi pribadi yang menyembah Engkau bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan seluruh hidup kami. Di dalam nama Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup, kami berdoa. Amin.

Tuhan memberi kita hikmat sesuai dengan ukuran-Nya

“Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.”
— ‭‭Efesus‬ ‭4‬:‭7‬‬

Hari Natal 2025 telah lewat, tetapi kenangan kita masih belum lenyap. Kita merayakan hari Natal bukan untuk memperingati hari kelahiran Yesus, tetapi untuk memperingati datangnya karunia Allah yang terbesar dengan lahirnya Yesus ke dunia.

Setiap orang percaya diselamatkan oleh kasih karunia yang sama, melalui iman yang sama, diberikan oleh Juruselamat yang sama, yang merupakan Tuhan dan Tuhan dari semua. Sementara iman kita disatukan di bawah satu Tuhan, Ia juga membawa untuk setiap orang karunia rohani yang mereka butuhkan, tergantung pada siapa dan di mana mereka berada.

Dengan kata lain, rahmat Tuhan diberikan secara pribadi. Dia tahu persis apa yang kita butuhkan dan bagaimana memenuhi kebutuhan itu. Rahmat ini diberikan pada berbagai tingkatan sesuai dengan apa yang Tuhan anggap cocok, yang berarti karunia rohani diberikan kepada setiap orang percaya sesuai dengan cara distribusi Kristus, memberdayakan mereka secara unik untuk pelayanan, bukan secara kompetitif.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4:10

Ini menandakan bahwa Tuhan menganugerahkan ukuran kemampuan dan iman yang berbeda, mengharapkan setiap orang untuk menggunakan kapasitas spesifik mereka sepenuhnya untuk membangun gereja dan memuliakan Dia; dan itu termasuk karunia yang berupa kebijaksanaan.

Salomo, raja Israel ketiga, terkenal dalam Alkitab karena memohon karunia yang berupa kebijaksanaan daripada kekayaan atau umur panjang saat Allah menawarkannya (1 Raja-raja 3:5-9). Hikmat ini memampukannya memimpin, memberikan keputusan adil, dan menulis banyak amsal. Ia membangun Bait Allah yang pertama, namun masa tuanya ternoda oleh ketidaksetiaan kepada Allah. Salomo memang hebat; tetapi sebagai manusia biasa, ia tidak selalu menggunakan kebijaksanaan dari Tuhan.

Sering kali tanpa sadar kita menyamakan kebijaksanaan seorang pemimpin dengan kebijaksanaan Tuhan. Padahal Alkitab menempatkan keduanya dalam jarak yang sangat jelas. Kebijaksanaan Tuhan adalah milik-Nya sendiri—tak terselami, tak terbatas, dan melampaui segala logika manusia. Sementara kebijaksanaan adalah anugerah Tuhan yang Ia bagikan kepada manusia—nyata, berguna, tetapi tetap terbatas oleh kemanusiaan kita.

Tuhan sendiri menegaskan perbedaan ini dengan sangat tegas: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu… setinggi langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8–9). Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan koreksi. Ia mengingatkan bahwa bahkan pada saat manusia merasa paling bijaksana, tetap ada jarak yang tak terjembatani antara Sang Pencipta dan ciptaan.

Namun dalam kasih-Nya, Tuhan tidak menuntut manusia memahami segala sesuatu seperti Dia. Sebaliknya, Ia menganugerahkan hikmat yang cukup untuk hidup setia di dalam panggilan masing-masing. Hikmat ini bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi dari sesama, melainkan untuk menolong kita berjalan benar di hadapan-Nya.

Di sinilah kita mulai melihat perbedaan antar manusia. Tuhan tidak membagikan hikmat dalam bentuk yang seragam. Ada orang yang kuat dalam penalaran logis, ada yang tajam dalam membaca hati. Ada yang cepat mengambil keputusan, ada yang berhikmat dalam menunggu. Perbedaan ini sering kali menimbulkan gesekan, terutama ketika satu cara berpikir dianggap lebih rohani atau lebih benar daripada yang lain.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa perbedaan bukanlah cacat, melainkan kehendak Allah sendiri: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak… demikian pula Kristus” (1 Korintus 12:12). Hikmat tidak dimonopoli oleh satu tipe manusia. Tuhan sengaja bekerja melalui keberagaman agar tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan diri.

Perbedaan ini juga menjadi semakin nyata melalui perubahan karena usia. Ketika muda, seseorang sering mencari kepastian, kecepatan, dan solusi yang jelas. Energi dan keyakinan diri begitu kuat. Namun seiring bertambahnya usia, banyak orang belajar bahwa hidup tidak selalu hitam-putih. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logis, ada keputusan yang baru dimengerti maknanya setelah puluhan tahun berlalu.

Yang lebih muda belum tentu kurang hikmat. Yang lebih tua bukan selalu paling benar. Bentuk kebijaksanaannya saja yang berbeda. Ketika perbedaan ini tidak dipahami, konflik mudah muncul—baik dalam keluarga, gereja, maupun pelayanan. Padahal Tuhan dapat memakai hikmat generasi yang berbeda untuk saling menajamkan, bukan saling meniadakan.

Semua ini terjadi bukan secara kebetulan. Dalam iman Kristen, kita percaya bahwa semua terjadi menurut kehendak-Nya. Ini tidak berarti Tuhan menghendaki dosa atau kejahatan, tetapi tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari kedaulatan-Nya. Bahkan keterbatasan kita, perbedaan karakter, dan proses penuaan ada dalam pengetahuan dan izin-Nya. Di dalam misteri itu, Tuhan tetap setia mengerjakan maksud-Nya yang baik.

Kesadaran akan kedaulatan Allah seharusnya melahirkan kerendahan hati. Jika hikmat yang kita miliki adalah pemberian, bukan prestasi, maka tidak ada dasar untuk merendahkan orang lain. Justru di sinilah panggilan kita menjadi nyata: kita harus saling menghargai. Menghargai berarti mengakui bahwa Tuhan juga bekerja melalui orang yang berbeda dengan kita. Menghargai berarti belajar mendengar, bukan hanya berbicara.

Amsal menegaskan dasar dari semua ini: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10). Hikmat sejati tidak dimulai dari kecerdasan, pengalaman, atau usia, melainkan dari sikap hati yang tunduk kepada Allah.

Pada akhirnya, kebijaksanaan Tuhan akan selalu melampaui kita. Tetapi kebijaksanaan dari Tuhan cukup untuk menuntun kita hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan saling menghargai—sampai kita kelak melihat dengan sempurna apa yang hari ini hanya kita pahami sebagian.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang Mahabijaksana, kami mengakui bahwa kebijaksanaan-Mu jauh melampaui pengertian kami.

Ampuni kami jika sering merasa paling benar, mudah menghakimi, dan kurang menghargai perbedaan di antara kami. Ajarlah kami menerima hikmat yang Engkau berikan dengan hati yang rendah dan penuh syukur. Bentuklah kami menjadi satu tubuh yang saling melengkapi, bukan saling melukai; saling meneguhkan, bukan saling meninggikan diri.

Di tengah perbedaan usia, cara berpikir, dan latar belakang, ikatlah kami dalam kasih Kristus. Berikan kami hati yang mau mendengar, hikmat untuk berkata benar dengan lemah lembut, dan kerelaan untuk berjalan bersama demi kemuliaan nama-Mu.

Kiranya gereja-Mu menjadi tempat di mana kebenaran dipegang teguh dan kasih dinyatakan nyata, sehingga dunia melihat kesatuan kami dan memuliakan Engkau.

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sumber hikmat dan Raja damai, kami berdoa dan berserah. Amin.

Allah menyertai kita

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1:23

Hari ini hari Natal. Natal bukan sekadar peringatan kelahiran seorang tokoh besar dalam sejarah. Natal adalah pernyataan iman yang paling mendasar: Allah menyertai kita. Di tengah dunia yang rapuh, penuh ketidakpastian, penderitaan, dan kegelisahan batin, Natal membawa kabar yang menenangkan—Tuhan tidak menjauh, tidak berdiam di kejauhan, melainkan datang dan hadir.

Dalam Injil Matius, Yesus disebut Immanuel. Menariknya, Immanuel bukan nama pemberian sehari-hari-Nya—nama-Nya adalah Yesus, yang berarti “Tuhan menyelamatkan.” Namun Immanuel adalah gelar kenabian yang menggambarkan hakikat-Nya. Yesus adalah Allah yang menyertai umat-Nya. Dengan kata lain, Natal bukan hanya tentang apa yang Yesus lakukan, tetapi tentang siapa Dia sesungguhnya.

Asal-usul sebutan Immanuel berakar pada nubuat Nabi Yesaya. Dalam Yesaya 7:14, Tuhan memberikan sebuah tanda kepada Raja Ahas dari Yehuda: seorang anak akan lahir dan dinamai Immanuel. Dalam konteks sejarahnya, nubuat ini merupakan jaminan bahwa Tuhan tidak meninggalkan Rumah Daud di tengah ancaman musuh. Nama Immanuel menjadi simbol perlindungan dan kehadiran Allah bagi umat-Nya.

Namun, dalam terang Perjanjian Baru, gereja melihat bahwa nubuat ini melampaui konteks awalnya. Injil Matius dengan sengaja menghubungkan kelahiran Yesus dari Perawan Maria dengan nubuat Yesaya, dan menegaskan bahwa kelahiran itu adalah penggenapan sejati dari janji Allah. Di dalam Yesus, makna Immanuel mencapai kepenuhannya: Allah benar-benar hadir dalam daging, hidup di tengah manusia, merasakan lapar, lelah, air mata, bahkan kematian.

Inilah keunikan iman Kristen. Allah yang Mahakuasa tidak memilih untuk menyelamatkan dari kejauhan. Ia masuk ke dalam sejarah manusia, ke dalam keterbatasan dan penderitaan. Palungan di Betlehem menjadi tanda bahwa Allah tidak “alergi” terhadap kelemahan manusia. Ia tidak menunggu manusia menjadi layak, tetapi datang justru ketika manusia tidak berdaya.

Makna Immanuel sangat dalam bagi kehidupan iman kita. Ini berarti bahwa Tuhan bukan hanya Allah yang kita sembah, tetapi Allah yang hadir. Hadir dalam sukacita maupun duka. Hadir dalam keberhasilan maupun kegagalan. Hadir ketika doa kita terasa dijawab, dan bahkan ketika langit terasa diam.

Yesus sendiri menegaskan kebenaran ini menjelang kenaikan-Nya: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Janji Immanuel tidak berhenti di palungan atau di kayu salib. Kehadiran Allah berlanjut melalui Roh Kudus, yang diam dalam hati orang percaya. Karena itu, iman Kristen bukan hanya iman tentang masa lalu, tetapi pengalaman kehadiran Allah yang nyata hari ini.

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menutup salah satu doanya dengan kata-kata:

“Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian!” (Roma 15:33).

Mengingat keadaan Paulus dan banyak orang Kristen waktu itu, jelas bahwa damai sejahtera sejati bukan sesuatu yang lahir dari keadaan yang ideal, melainkan dari keyakinan bahwa Allah menyertai kita dalam keadaan apa pun. Natal mengingatkan kita bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Kiranya di tengah dunia yang bising dan hati yang mudah gelisah, kita kembali pada inti Natal ini: Allah menyertai kita. Dan karena Ia menyertai, kita dapat melangkah dengan tenang, berharap, dan percaya.

Doa Penutup:

Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Immanuel, Allah yang menyertai kami. Di dalam setiap musim hidup, ajar kami untuk percaya pada kehadiran-Mu dan hidup dalam damai sejahtera-Mu. Amin.

Natal mengajak kita berubah

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11:29

Natal sering kita bayangkan sebagai kisah yang indah: malaikat bernyanyi, gembala datang, bintang bersinar, dan seorang Bayi terbaring di palungan. Namun palungan itu bukan sekadar latar romantis. Ia adalah pendahuluan dari seluruh kisah hidup Yesus. Dari awal hingga akhir, hidup-Nya adalah satu kesaksian yang konsisten tentang kerendahan hati—kerendahan hati yang mengajak setiap orang yang merayakan Natal untuk berubah.

Yesus tidak lahir di istana, tidak disambut upacara kerajaan, dan tidak dikelilingi kemewahan. Ia lahir di tempat yang sederhana, bahkan hina menurut ukuran dunia. Pilihan ini bukan kebetulan. Sejak awal, Allah menyatakan bahwa jalan keselamatan tidak dibangun di atas kekuasaan, gengsi, atau kehebatan manusia, melainkan di atas kasih yang rela merendahkan diri. Palungan itu menjadi simbol bahwa Kerajaan Allah datang dengan cara yang berlawanan dengan logika dunia.

Kerendahan hati Yesus bukan hanya terlihat pada kelahiran-Nya, tetapi juga terwujud nyata sepanjang hidup-Nya. Ia sendiri berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28). Ia, Sang Tuhan, memilih jalan seorang hamba. Ia mendekati orang-orang kecil, orang sakit, orang berdosa, dan mereka yang tersisih. Ia tidak menjaga jarak demi wibawa, melainkan mendekat demi pemulihan relasi.

Puncak dari teladan itu terlihat ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh budak paling rendah, namun Yesus melakukannya dengan sadar dan sengaja. Dalam tindakan sederhana itu, Ia mengajarkan bahwa kebesaran sejati bukan terletak pada posisi, melainkan pada kesediaan melayani dengan kasih.

Yesus juga memilih hidup yang sederhana. Ia berkata, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20). Kemuliaan-Nya tidak bergantung pada harta, kenyamanan, atau pengakuan manusia. Ia menunjukkan bahwa hidup yang berkenan kepada Allah tidak diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari kepada siapa kita hidup. Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk memiliki lebih, Natal mengajak kita untuk bertanya: apakah kita sanggup untuk hidup sebagai orang yang sederhana demi ketaatan?

Dalam segala hal, Yesus tidak mencari kemuliaan diri. Ketika dipuji sebagai “Guru yang baik,” Ia mengarahkan kembali perhatian kepada Bapa (Markus 10:17–18). Seluruh hidup-Nya adalah hidup yang memuliakan Allah. Ketaatan-Nya mencapai puncaknya di kayu salib, ketika Ia merendahkan diri sampai mati, bahkan mati yang hina (Filipi 2:8). Inilah kerendahan hati yang tertinggi—ketaatan total demi kasih.

Yesus sendiri merangkum semua itu dalam undangan yang lembut: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Kerendahan hati bukan sekadar sikap moral, melainkan jalan menuju ketenangan jiwa. Itu berguna untuk kebaikan hidup kita karena tidak ada lagi keinginan untuk bersaing dengan orang lain.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam Kristus kita bisa dan bebas memilih. Dunia mengajarkan kita untuk meninggikan diri agar diakui, tetapi Yesus berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Siapa yang rendah hati akan berbahagia, sedangkan mereka yang sombong tidak akan mempunyai kedamaian.

Natal, karena itu, bukan hanya perayaan tahunan, melainkan panggilan untuk perubahan. Kita diajak untuk meninggalkan kesombongan, belajar melayani, mengosongkan diri, dan memuliakan Tuhan, bukan diri sendiri. Jika makna palungan itu benar-benar kita renungkan, maka Natal tidak akan berakhir dengan dekorasi dan lagu, tetapi berlanjut dalam hidup yang semakin serupa dengan Kristus—lemah lembut, rendah hati, dan penuh kasih.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, terima kasih untuk Natal yang kembali mengingatkan kami akan kasih dan kerendahan hati-Mu. Engkau rela datang ke dunia, merendahkan diri, dan melayani kami dengan kasih yang sempurna.

Ajarlah kami untuk memikul kuk-Mu, belajar dari kelemahlembutan dan kerendahan hati-Mu, serta mengubah hidup kami agar semakin memuliakan Bapa. Bentuklah hati kami supaya tidak mencari kemuliaan diri, melainkan setia melayani sesama dengan kasih. Kiranya damai sejahtera-Mu memenuhi jiwa kami, hari ini dan seterusnya.

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Aku Takkan Kekurangan

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Mazmur 23:1

Natal sering datang dengan dua wajah. Yang satu penuh cahaya: lagu, lilin, hadiah, dan senyum. Yang lain lebih sunyi: kursi kosong di meja makan, doa yang belum terjawab, tubuh yang melemah, atau rencana hidup yang tak berjalan seperti harapan. Di tengah suasana seperti itu, ayat Mazmur 23:1 terdengar indah—namun juga menantang. Bagaimana mungkin kita berkata, “Aku takkan kekurangan,” ketika kenyataan berkata sebaliknya?

Pemazmur tidak menulis ayat ini dari ruang istana yang nyaman. Daud mengenal rasa takut, pengkhianatan, pelarian, dan kesendirian. Namun ia berani berkata bahwa ia tidak berkekurangan, bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena Tuhan adalah gembalanya. Inilah kunci dari ayat ini: bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada siapa yang menyertai.

Natal memberi kita kunci itu dengan cara yang paling nyata. Allah tidak hanya mengirim pertolongan dari jauh; Ia datang sendiri. Yesus lahir bukan di istana, bukan di tengah kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan—di palungan. Sejak awal, Allah ingin menunjukkan bahwa kecukupan sejati tidak identik dengan kelimpahan materi, melainkan dengan kehadiran-Nya.

Ketika Yesus lahir, janji Mazmur 23 mulai mengambil rupa. Gembala yang baik tidak lagi hanya gambaran puitis; Ia hadir sebagai manusia. Yesus berjalan bersama orang lapar, orang sakit, orang berdosa, dan orang yang tersisih. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa lembah gelap, tetapi Ia menjanjikan bahwa kita tidak akan berjalan sendirian.

Banyak orang menafsirkan “takkan kekurangan” sebagai janji bahwa orang percaya akan selalu berhasil, sehat, dan makmur. Namun Natal justru membalik logika itu. Allah yang Mahakuasa memilih menjadi bayi yang bergantung pada Maria dan Yusuf. Sang Pemilik segalanya memilih jalan kerentanan. Di situlah kita belajar bahwa kecukupan tidak berarti memiliki segalanya, tetapi menerima anugerah Allah yang lengkap di dalam Kristus.

Dalam Yesus, anugerah Allah menjadi utuh. Kita mungkin masih kekurangan uang, tenaga, atau jawaban atas pertanyaan hidup. Tetapi kita tidak kekurangan kasih, pengampunan, harapan, dan tujuan. Kita tidak kekurangan arah, karena Sang Gembala menuntun langkah kita. Kita tidak kekurangan pengharapan, karena Natal berujung pada salib dan kebangkitan.

Natal mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa sebenarnya yang kita anggap sebagai kekurangan? Jika Allah sudah memberikan Anak-Nya sendiri, mungkinkah kita masih berkata bahwa hidup ini kosong? Paulus menuliskannya dengan jelas: “Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri… bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32).

Maka, menjelang Natal saat ini, kita belajar berkata bersama Daud—dengan pengertian yang lebih dalam:

Tuhan adalah Gembalaku. Karena itu, di dalam Kristus, aku cukup. Bukan karena semua keinginanku terpenuhi, melainkan karena anugerah Allah telah dinyatakan sepenuhnya.

Doa Penutup:

Tuhan, Gembala kami yang baik, pada saat menjelang Natal ini kami bersyukur karena Engkau tidak tinggal jauh,melainkan datang menghampiri kami dalam Yesus Kristus.

Ajarlah kami memahami arti kecukupan yang sejati:bukan hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang Engkau sertai. Bukan kelimpahan harta, melainkan kelimpahan anugerah.

Di tengah kekurangan, ajar kami percaya. Di tengah lembah gelap, ajar kami berharap. Dan di tengah dunia yang gelisah, buatlah hati kami tenang karena Engkau beserta kami.

Terima kasih untuk Yesus, anugerah-Mu yang lengkap dan nyata.

Di dalam Nama-Nya kami berdoa. Amin.

Antara Natal dan Rasa Damai

“Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” ‭‭Matius‬ ‭2‬:‭13‬‬

“Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.” Matius 2:16

Para pelayat di Australia mengheningkan cipta pada hari Minggu kemarin untuk mengenang para korban serangan teroris di Pantai Bondi. Peringatan itu adalah bagian dari hari refleksi nasional untuk menandai satu minggu sejak peristiwa tanggal 14 Desember 2025, di mana penembakan massal terjadi di Pantai Bondi di Sydney, Australia, pada saat perayaan Hanukkah yang dihadiri oleh sekitar seribu orang. Dua orang bersenjata membunuh 15 orang, termasuk seorang anak. Jika kita renungkan, adalah menyedihkan bahwa damai di bumi adalah jauh dari kenyataan.

Natal memang selalu diidentikkan dengan damai di bumi. Namun ketika kita membaca kisah Natal dalam Alkitab, ternyata tidak semuanya indah dan tenang. Di Betlehem, setelah Yesus lahir, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan: bayi-bayi dibunuh atas perintah Raja Herodes. Kisah ini sering membuat orang bertanya, mengapa hal buruk bisa terjadi, terutama di saat Natal?

Di tengah kisah itu, ada orang-orang Majus dari Timur. Mereka datang dari jauh untuk mencari dan menyembah Yesus. Mereka mengikuti bintang, menempuh perjalanan panjang, dan membawa persembahan terbaik. Mereka tidak berniat jahat. Mereka hanya ingin bertemu Sang Raja yang dijanjikan Tuhan. Namun setelah mereka pergi, tragedi itu terjadi.

Penting untuk kita pahami: orang Majus tidak bersalah atas pembunuhan bayi-bayi di Betlehem. Kejahatan itu adalah pilihan Herodes sendiri. Tuhanlah yang melindungi orang Majus dengan memperingatkan mereka lewat mimpi agar tidak kembali kepada Herodes. Mereka taat, lalu pulang melalui jalan lain.

Kisah ini mengajarkan sesuatu yang sangat menenangkan: tidak semua hal buruk terjadi karena kesalahan kita. Dalam hidup, banyak orang memikul beban yang terlalu berat. Kita mungkin sering menyalahkan diri sendiri atas masa lalu, atas keputusan orang lain, atau atas peristiwa yang tidak bisa kita kendalikan. Ada rasa bersalah yang terus kita bawa, meskipun sebenarnya itu ada di luar kemampuan atau tanggung jawab kita.

Firman Tuhan berkata:

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri” (Galatia 6:4).

Artinya, Tuhan meminta kita melihat dengan jujur apa yang menjadi bagian kita—bukan memikul semua hal yang terjadi di sekitar kita.

Natal mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu.

Apa yang sudah terjadi, tidak selalu bisa diperbaiki. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak terus hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Yesus lahir bukan untuk menambah beban hidup manusia, melainkan untuk membebaskan.

Orang Majus tidak tinggal di Betlehem selamanya. Mereka pulang ke negeri mereka. Mereka melanjutkan hidup dengan tenang karena mereka tahu telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Mereka taat, dan itu cukup.

Natal juga mengingatkan kita untuk melihat ke depan.

Tuhan tidak menuntut kita mengendalikan semua orang atau semua keadaan. Tuhan hanya meminta kita setia dalam hal-hal yang Dia percayakan kepada kita hari ini—dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan hubungan dengan sesama.

Damai Natal bukan berarti hidup tanpa masalah. Damai Natal adalah ketenangan hati karena kita tahu: saya sudah melakukan bagian saya, sisanya saya serahkan kepada Tuhan.

Natal ini, marilah kita belajar melepaskan beban yang bukan milik kita, menerima pengampunan atas kekeliruan kita dan menyambut kasih Tuhan, serta melangkah ke depan dengan hati yang tenang. Seperti orang Majus, marilah kita pulang melalui jalan yang Tuhan tunjukkan—jalan damai.

Doa Penutup:

Tuhan yang baik,

Terima kasih untuk Natal dan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat kami. Terima kasih karena Engkau tidak bermaksud membebani kami dengan rasa bersalah yang tidak pernah berakhir. Ajarlah kami untuk berdamai dengan masa lalu, setia pada tanggung jawab kami hari ini, dan percaya kepada-Mu untuk masa depan. Berikan kami hati yang tenang dan damai dalam menjalani hidup.

Di dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Apa arti Natal untuk Anda?

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” — ‭‭Yesaya‬ ‭7‬:‭14‬‬

Yesaya 7:14 sering dibacakan dan direnungkan khususnya selama masa Adven dan Natal untuk memperingati kedatangan Kristus ke dunia. Istilah “Natal” sendiri mempunyai arti “berkaitan dengan kelahiran,” dan berasal dari bahasa Latin natalis.

Ayat ini merupakan salah satu nubuatan mesianik paling terkenal dalam Alkitab yang merujuk pada kelahiran Yesus Kristus. Ini diberikan sebagai tanda kedaulatan Tuhan di tengah situasi politik yang sulit karena penindasan umat Israel oleh bangsa Romawi.

Nubuat ini digenapi dalam Perjanjian Baru, secara spesifik dicatat dalam Matius 1:22-23, yang menegaskan bahwa Yesus adalah anak yang dimaksud dalam nubuat Yesaya tersebut.

Yesus dilahirkan pada hari yang dikenal sebagai hari Natal; tetapi Alkitab tidak menjelaskan kapan terjadinya. Kita tidak tahu dengan pasti kapan Dies Natalis dari Yesus.

Walaupun demikian, pada bulan Desember dunia berubah wajah. Lampu-lampu menghiasi jalan, lagu-lagu Natal terdengar di pusat perbelanjaan, dan kalender dipenuhi acara keluarga. Namun di balik semua itu, sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam patut kita ajukan secara pribadi: apa arti Natal untuk Anda? Apakah ia sekadar tradisi tahunan, atau sebuah perjumpaan rohani yang memperbarui iman?

Bagi orang Kristen, Natal pada dasarnya adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus—peristiwa inkarnasi, ketika Firman menjadi manusia dan diam di antara kita.

Alkitab memang tidak mencatat tanggal kelahiran Yesus, juga tidak memerintahkan kita untuk merayakannya secara khusus. Namun Alkitab dengan sangat jelas menekankan fakta kedatangan-Nya: Sang Juruselamat masuk ke dalam sejarah manusia. Fokus Kitab Suci bukan pada kapan-Nya, melainkan pada siapa dan mengapa Ia datang.

Karena itu, Natal bukanlah soal tanggal, dekorasi, atau bentuk perayaannya, melainkan tentang pribadi Kristus sendiri. Ia adalah Immanuel—Tuhan beserta kita. Di dalam Yesus, Allah tidak tinggal jauh dan tak terjangkau, tetapi hadir, merasakan penderitaan manusia, dan akhirnya menebus dosa melalui salib. Natal mengingatkan kita bahwa kasih Allah bukan konsep abstrak, melainkan kasih yang menjelma, berjalan, menangis, dan berkorban.

Sebagian orang keberatan merayakan Natal karena menganggapnya sebagai tradisi buatan manusia atau bahkan warisan pagan. Memang, secara historis, tanggal 25 Desember kemungkinan bersinggungan dengan festival musim dingin Romawi. Namun gereja mula-mula tidak sedang melanjutkan penyembahan berhala; sebaliknya, mereka mengarahkan perhatian umat kepada Kristus sebagai terang sejati yang mengalahkan kegelapan. Fokusnya dialihkan—dari dewa palsu kepada Tuhan yang hidup. Itu bukan kompromi rohani, melainkan pernyataan iman.

Di sinilah kita belajar tentang kebebasan Kristen. Alkitab tidak memerintahkan Natal, tetapi juga tidak melarang kita untuk menghormati kelahiran Yesus. Sama seperti kita bersyukur atas ulang tahun orang yang kita kasihi, demikian pula gereja bersukacita atas kedatangan Sang Juruselamat. Yang menjadi ukuran bukanlah bentuk luar perayaan, melainkan sikap hati yang memuliakan Tuhan.

Bagi banyak orang percaya, Natal justru menjadi momen yang sangat Alkitabiah. Firman Tuhan dibacakan, Injil diberitakan, doa dinaikkan, dan umat diingatkan kembali akan janji-janji Allah yang digenapi.

Natal mengarahkan kita pada kebutuhan terdalam manusia—bukan sekadar kesejahteraan lahiriah, tetapi keselamatan jiwa. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Natal mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan kasih karunia.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: apa arti Natal untuk Anda? Apakah Natal membawa Anda lebih dekat kepada Kristus? Apakah ia mendorong Anda untuk mengasihi, melayani, dan membagikan kabar baik?

Jika Natal hanya berhenti pada kebiasaan budaya, kita telah kehilangan intinya. Tetapi jika Natal menuntun kita pada penyembahan yang sejati, maka perayaan itu, betapapun sederhana, berkenan di hadapan Tuhan.

Kiranya Natal selalu menjadi undangan untuk memandang palungan, dan melalui palungan itu, melihat salib dan kebangkitan. Di sanalah makna Natal menemukan kepenuhannya.

Doa Penutup:

Tuhan yang kami sembah, kami bersyukur karena Engkau tidak tinggal diam melihat dunia yang terhilang. Dalam kasih-Mu, Engkau mengutus Yesus, Immanuel, Tuhan beserta kami. Ajarlah kami untuk merayakan Natal bukan sekadar dengan tradisi, tetapi dengan hati yang menyembah dan hidup yang taat.

Biarlah kelahiran Kristus memperbarui iman kami, menyalakan kasih kami, dan menggerakkan kami untuk menjadi terang di dunia yang gelap. Kiranya hidup kami memuliakan Engkau, bukan hanya di hari Natal, tetapi sepanjang tahun.

Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Kristus Datang untuk Mereka yang Rendah Hati

“Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” — Lukas 2:20

Malam itu sunyi, namun penuh kejutan ilahi. Bukan istana yang menjadi tujuan malaikat, bukan pula para imam atau penguasa. Tuhan memilih ladang dan para gembala—orang-orang sederhana yang bekerja di pinggiran, sering dianggap rendah dan tak penting. Kepada merekalah kabar terbesar sepanjang sejarah disampaikan: Juruselamat telah lahir.

Setelah melihat Sang Bayi di palungan, para gembala kembali ke pekerjaan mereka, tetapi hati mereka tidak lagi sama. Mereka pulang sambil memuji dan memuliakan Allah. Natal telah mengubah arah batin mereka.

Inilah keindahan Natal: Kristus datang bukan pertama-tama untuk yang merasa layak, tetapi untuk yang rendah hati dan yang mau menurut panggilan Tuhan.

Para gembala tidak membawa persembahan mewah. Mereka hanya membawa diri mereka apa adanya—tangan yang kasar, pakaian yang berbau padang, dan hati yang terbuka. Namun justru itulah yang berkenan. Allah tidak menunggu kesempurnaan; Ia menyambut kerendahan hati. Ia menghargai hati yang tanggap atas panggilan-Nya.

Pesan ini digemakan secara indah dalam lagu The Little Drummer Boy. Lagu ini mengisahkan seorang anak yatim piatu yang miskin, dipanggil untuk melihat Bayi Yesus. Ia gelisah karena tidak memiliki hadiah berharga seperti orang-orang lain. Di tangannya hanya ada sebuah drum kecil. Dengan ragu namun tulus, ia memainkan lagu sederhana. Maria tersenyum, dan Bayi Yesus tampak berkenan. Pesannya jelas: persembahan dari hati yang tulus diterima oleh Allah.

Seperti gembala-gembala dan si penabuh drum kecil itu, kita sering merasa ragu untuk datang kepada Tuhan. Kita menilai diri dari ukuran dunia: prestasi, reputasi, kelayakan rohani. Kita berkata, “Nanti saja kalau hidupku lebih rapi,” atau “Aku tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan.” Namun Natal membalikkan logika itu. Allah justru datang ketika kita tidak punya apa-apa selain kebutuhan akan Dia.

Kerendahan hati bukan merendahkan diri secara palsu, melainkan kejujuran di hadapan Allah. Para gembala tidak berpura-pura menjadi orang lain. Mereka datang, melihat, percaya, lalu pulang dengan hati yang memuji. Mereka tidak tinggal di palungan; mereka kembali ke ladang. Tetapi pujian mereka menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Kristus memberi makna baru pada rutinitas lama.

Natal yang praktis berarti membawa sikap itu ke dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin hadiah kita bukan besar: doa yang singkat, pelayanan kecil yang tak terlihat, kesetiaan dalam pekerjaan yang biasa, atau kesediaan mengampuni. Seperti denting drum sederhana, persembahan itu mungkin terdengar kecil di telinga manusia, tetapi bernilai di hadapan Tuhan bila lahir dari hati yang tulus mengakui bahwa kita bukan apa-apa.

Di dunia yang gemar memamerkan yang besar dan berkilau, Kristus lahir di tempat yang sunyi. Ia memilih palungan agar setiap orang—siapa pun—mau datang. Ia menyambut gembala dan anak miskin, dan Ia juga menyambut kita hari ini. Pertanyaannya bukan apa yang kita miliki, melainkan bagaimana hati kita mau datang dengan rendah hati kepada-Nya.

Kiranya Natal ini kita belajar dari para gembala: datang dengan sederhana, pulang dengan pujian. Dan seperti si penabuh drum kecil, mari mempersembahkan apa yang ada di tangan kita—waktu, kasih, ketaatan—dengan hati yang tulus. Sebab Kristus datang untuk mereka yang rendah hati, dan di sanalah sukacita Natal menemukan rumahnya.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang penuh kasih, kami bersyukur untuk anugerah Natal— bahwa Engkau berkenan datang ke dunia ini, bukan untuk orang-orang yang merasa besar dan layak, melainkan untuk mereka yang rendah hati dan haus akan kasih-Mu.

Kami belajar dari para gembala yang datang dengan sederhana dan pulang dengan hati yang memuji. Kami juga belajar dari kisah si penabuh drum kecil, bahwa Engkau tidak menuntut persembahan yang megah, tetapi hati yang tulus dan taat.

Ampuni kami, ya Tuhan, jika sering kali kami menunda datang kepada-Mu karena merasa diri tidak cukup baik, tidak cukup rohani, atau tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan. Mungkin juga kami segan untuk datang karena kesibukan kami.

Di Natal ini, ubahlah hati kami, supaya dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari kami hidup sebagai orang yang telah berjumpa dengan Juruselamat: penuh syukur, penuh damai, dan penuh ketaatan.

Kami serahkan hidup kami ke dalam tangan-Mu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja yang lahir di palungan.

Amin.

Dari yang Kecil, Muncullah yang Besar

“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”” — ‭‭Matius‬ ‭2‬:‭6‬‬

“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” — ‭‭Lukas‬ ‭22‬:‭26‬‬

Dunia memiliki ukuran kebesaran yang jelas: siapa yang berkuasa, siapa yang dikenal, siapa yang berada di pusat perhatian. Kita terbiasa berpikir bahwa sesuatu yang besar harus dimulai dari tempat yang besar, oleh orang yang besar, dan dengan cara yang besar. Namun sejak awal, Alkitab menunjukkan bahwa Allah bekerja dengan cara yang berbeda.

Ketika para imam dan ahli Taurat diminta menunjukkan di mana Mesias akan lahir, mereka mengutip nubuat Mikha: Betlehem. Sebuah kota kecil, jauh dari hiruk-pikuk Yerusalem, pusat kekuasaan politik dan agama. Betlehem bukan tempat yang strategis, bukan pula kota yang disegani. Namun justru dari sanalah Sang Juruselamat dunia dilahirkan. Allah memilih yang kecil untuk menghadirkan karya yang paling besar: keselamatan bagi umat manusia.

Pilihan Allah ini bukan kebetulan. Ia sedang menyatakan sebuah prinsip Kerajaan-Nya. Kebesaran tidak selalu muncul dari tempat yang terlihat penting. Nilai sejati tidak ditentukan oleh ukuran di mata dunia. Yang menentukan adalah kehendak Allah dan ketaatan manusia. Bayi yang lahir di kota kecil itu kelak akan mengubah arah sejarah, bukan dengan pedang atau takhta, melainkan dengan kasih, pengorbanan, dan ketaatan sempurna kepada Bapa.

Beberapa puluh tahun kemudian, Yesus yang lahir di Betlehem itu duduk bersama murid-murid-Nya. Anehnya, di tengah perjalanan bersama Sang Mesias, para murid masih memikirkan siapa yang terbesar di antara mereka.

Jelas bahwa para murid membawa pola pikir dunia ke dalam percakapan rohani. Padahal, Yesus sangat menyukai orang yang rendah hati, karena Allah menentang orang sombong tetapi mengasihi orang yang rendah hati, dan orang rendah hati akan ditinggikan oleh-Nya.

Yesus lalu berkata dengan lembut tetapi tegas bahwa dalam Kerajaan Allah, yang terbesar justru adalah yang melayani.

Yesus membalikkan cara pandang mereka. Pemimpin bukanlah orang yang menuntut dilayani, melainkan yang rela merendahkan diri. Yang besar bukan yang paling berkuasa, tetapi yang paling mau mengosongkan diri demi orang lain.

Ia tidak hanya mengajarkan hal ini, tetapi juga menghidupinya. Raja yang lahir di kota kecil itu juga adalah Raja yang membasuh kaki murid-murid-Nya dan akhirnya menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib.

Dua peristiwa ini—kelahiran Yesus di Betlehem dan ajaran-Nya tentang kepemimpinan—diikat oleh satu kebenaran yang sama sekalipun berbeda konteks: dalam Kerajaan Allah, kebesaran lahir dari kerendahan hati. Dari yang kecil muncullah yang besar. Dari pelayanan tersembunyi muncullah kemuliaan kekal.

Renungan ini menantang kita untuk memeriksa kembali hati kita. Mungkin kita merasa peran kita kecil, pelayanan kita tidak terlihat, atau hidup kita jauh dari pusat perhatian. Namun Allah tidak mencari yang besar menurut ukuran dunia. Ia mencari hati yang mau taat, rendah hati, dan setia.

Jika hari ini kita dipanggil untuk melayani dalam hal-hal yang dianggap kecil, baik di rumah, gereja, kantor, sekolah, atau masyarakat, janganlah meremehkannya. Bisa jadi Allah sedang menumbuhkan sesuatu yang besar melalui kesetiaan yang sederhana. Dalam Kerajaan-Nya, tidak ada pelayanan yang sia-sia, dan tidak ada ketulusan dan kerendahan hati yang luput dari perhatian-Nya.

Dari Betlehem yang kecil lahirlah keselamatan yang besar. Dan dari hati yang mau melayani, Allah menghadirkan kebesaran yang kekal.

Doa Penutup:

Tuhan yang Mahabesar,

Terima kasih karena Engkau bekerja dengan cara yang sering tidak kami mengerti.

Engkau memilih yang kecil, yang sederhana, dan yang rendah hati untuk menyatakan kebesaran-Mu.

Ajarlah kami untuk setia dalam hal-hal kecil, rendah hati dalam pelayanan, dan tidak mengejar kebesaran menurut ukuran dunia.

Bentuklah hati kami agar serupa dengan hati Kristus, yang rela menjadi hamba demi menghadirkan keselamatan yang besar.

Di dalam nama Yesus kami berdoa.

Amin.