Siapa yang sebenarnya Anda puja?

“Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Yohanes 13:15

Pada saat itu Yesus bertemu dengan kelompok kecil, mungkin hanya terdiri dari dua belas murid, dalam suasana pribadi. Sebelum makan, Yesus melakukan pekerjaan seorang hamba yang rendah hati, yaitu membasuh kaki para murid. Ia menjelaskan bahwa ini adalah pelajaran yang dapat dipetik para murid-Nya.

Kristus sebagai Tuhan dan tuan, menggunakan kedudukan-Nya untuk menegaskan poin utama-Nya. Mereka yang mengaku sebagai Yesus harus mengikuti teladan-Nya. Itu berarti kerendahan hati dan pelayanan bagi orang lain—jika Tuhan melayani orang lain, demikian pula mereka yang mengikuti-Nya.

Ketika Yesus mendekati Petrus untuk membasuh kakinya, Petrus merasa malu (Yohanes 13:6–8). Pada masa itu, membasuh kaki orang lain merupakan bukti ketundukan dan kerendahan. Gagasan bahwa seorang tuan akan melakukan hal itu kepada hambanya sendiri tidak terpikirkan oleh Petrus. Hal itu bertentangan dengan gagasannya tentang Kristus sebagai Tuhan dan Tuan.

Yesus kemudian menunjukkan bahwa tidak semua orang dalam hal ini ini mau mengikuti teladan-Nya. Prediksi ini diberikan untuk memperkuat iman orang percaya sejati dan akan terungkap pada akhir zaman di mana umat yang sejati dipisahkan dari mereka yang bukan umat. Orang Kristen yang sejati bukanlah “boss” atau “majikan” yang suka memerintah dan memperalat orang lain, tapi adalah orang yang dengan rendah hati sudah melayani dan mengasihi sesamanya.

Yesus menjelaskan bahwa Ia tidak menyangkal supremasi-Nya (Yohanes 13:13). Yesus sepenuhnya menerima gagasan bahwa Ia adalah Tuhan mereka. Tetapi Ia tetap melakukan pelayanan sebagai hamba. Berlawanan dengan hal itu, perspektif alami manusia adalah melihat beberapa jenis pelayanan dan kemudian berkata, “itu tidak pantas buat aku.” Hal ini terutama berlaku ketika kita merasa lebih penting atau lebih berharga daripada orang lain.

Dengan menunjukkan kerendahan hati, pengorbanan, dan pelayanan, Yesus menurunkan garis “di bawahku” hingga ke lantai. Dengan demikian, pelayanan yang penuh kasih kepada sesama, terutama bagi mereka yang dianggap lebih rendah posisinya, adalah sesuatu yang tidak dapat diabaikan oleh orang percaya sekalipun dalam pandangan dunia itu dianggap tidak layak untuk dilakukan.

Di sini, Yesus juga secara eksplisit menyatakan bahwa apa yang telah Dia lakukan dimaksudkan sebagai contoh. Dia tidak bermaksud bahwa semua orang Kristen wajib membasuh kaki orang lain secara harfiah dan fisik. Implikasinya jauh melampaui sekadar ritual. Intinya adalah bahwa mereka yang “mengikuti” Kristus harus “mengikuti” teladan-Nya dalam kerendahan hati dan pelayanan kepada sesama.

Apa yang diperintahkan Yesus tidak mudah dilakukan. Di zaman yang terobsesi dengan figur publik—baik dalam politik, agama, atau media sosial—kita mudah terjebak untuk mengikuti teladan manusia daripada teladan Yesus. Seorang pengkhotbah karismatik, guru populer, atau pemimpin gereja bisa perlahan-lahan menjadi panutan yang tak ada bandingnya. Kekaguman orang lain bisa berubah menjadi peniruan, dan peniruan menjadi penyembahan. Karena itu, mereka yang merasa sudah ditinggikan, tidak mudah untuk bisa merendahkan diri.

Alkitab tidak pernah memerintahkan kita untuk menyembah manusia, tetapi untuk mengikuti Kristus. Namun sepanjang sejarah, bahkan orang percaya yang tulus bisa terjebak dalam apa yang disebut para sosiolog sebagai ‘cultus individu‘—sebuah budaya pengagungan berlebihan kepada satu tokoh. Dalam istilah awam, ini disebut perilaku cult atau kultus—di mana satu pemimpin menjadi pusat kebenaran dan kesetiaan, dan mempertanyakan kedudukan orang itu bisa dianggap sebagai pemberontakan.

Tetapi Yesus menunjukkan cara yang jauh lebih baik untuk memimpin. Yohanes 13:15 diucapkan dalam momen kerendahan hati yang dalam. Anak Allah, yang tahu bahwa Dia akan segera dikhianati, berlutut untuk membasuh kaki para murid-Nya—termasuk kaki Yudas.

Pemimpin seperti apa yang melakukan hal itu?

  • Bukan pemimpin kultus.
  • Bukan diktator.
  • Bukan pencari pujian atau pemujaan.

Yesus—meskipun layak disembah—memilih handuk daripada gelar, dan pelayanan daripada popularitas. Dengan itu, Ia memberikan penawar sempurna terhadap kultus individu: kasih yang rendah hati dan berkorban, yang melayani daripada menguasai.

Masalahnya bukan hanya di luar sana—di kelompok-kelompok cult atau kultus—tetapi juga di dalam hati kita. Kita cenderung mencari pahlawan. Kita ingin ada sosok yang mewakili kebenaran untuk kita. Tetapi hanya satu Pribadi yang layak memegang peran itu: Yesus Kristus, Raja yang menjadi Hamba.

Pagi ini, marilah kita berkata bersama Paulus, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1). Jika iman kita benar-benar berpusat pada Yesus, tidak akan ada tempat bagi pemujaan atas seseorang—yang ada hanya ucapan syukur dan kerendahan hati dalam meneladani Dia yang membasuh kaki kita dan mati bagi dosa kita. Jika kita memang taat kepada Yesus, kita tidak akan menuntut orang lain untuk tunduk kepada kita, karena hanya Yesus yang patut dipuja.

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Pertanyaan untuk Refleksi Pribadi:

1. Bagaimana teladan kepemimpinan Yesus dalam Yohanes 13:15 menantang budaya gereja saat ini?
2. Pernahkah Anda merasa ditekan untuk mengikuti seseorang daripada Kristus? Bagaimana dampaknya bagi iman Anda?
3. Apa yang bisa Anda lakukan untuk membangun komunitas iman yang berpusat pada Kristus, dan bukan pada pemimpin manusia?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, tolong aku agar mengikuti Engkau, bukan pribadi-pribadi tertentu. Ajarlah aku menjadi seperti Engkau—rendah hati, lemah lembut, dan berhati hamba. Jika ada bagian dari hatiku yang telah mengidolakan pemimpin atau gerakan tertentu, tegurlah aku dalam kasih. Jika aku sering mendambakan ketundukan dan penghormatan dari orang lain, ampunilah aku. Tolong aku untuk melihat Engkau lebih jelas dan mengikuti Engkau lebih dekat. Amin.

Hanya satu yang layak kita sembah

Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lukas 4:8

Lukas 4:1–13 menggambarkan godaan Yesus oleh Setan. Selama empat puluh hari berpuasa, Iblis membujuk-Nya menggunakan tawaran kenyamanan, kekuasaan, dan gengsi. Dalam setiap kasus, Yesus menanggapi dengan Kitab Suci dan komitmen terhadap kehendak Tuhan. Rangkaian peristiwa ini juga dicatat dalam Matius 4:1–11 dan Markus 1:12–13. Sementara tuisan Matius menyiratkan urutan yang jelas untuk godaan-godaan ini, tulisan Lukas tidak begitu.

Kristus menanggapi tawaran Setan berupa kekuasaan duniawi sebagai ganti penyembahan (Lukas 4:5–7). Seperti dalam kasus-kasus lainnya, Yesus mengutip Kitab Suci dan menolak godaan tersebut. Alih-alih menerima otoritas duniawi sekarang dan menghindari penderitaan di kayu salib, Yesus memilih untuk menaati Allah dan menunggu segala sesuatu diberikan pada waktunya (Filipi 2:8).

Kutipan Yesus di sini diambil dari Ulangan 6:13. Dalam kitab itu, Musa mengulang banyak sejarah Israel. Ia menceritakan perintah-perintah dan pelajaran-pelajaran yang diberikan Allah kepada mereka. Di antaranya adalah perintah-perintah untuk mengingat Tuhan dan percaya. Dalam bagian yang dirujuk Yesus, Musa mengingatkan Israel bahwa Allah—dan hanya Allah—lah yang menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir. Mengabaikan keselamatan itu dan mengejar allah-allah lain akan menjadi dosa yang keji.

Godaan Setan terhadap Yesus, dalam kasus ini, adalah melakukan hal itu: “melupakan” Allah dan melayani tuan yang lain. Umpan godaan ini adalah daya tarik kehidupan yang lebih mudah dan “lebih baik”. Yesus tahu bahwa tawaran ini bukan hanya kebohongan, tetapi juga tidak ada gunanya. Dia telah dijanjikan semua hal itu, asalkan Dia mengikuti kehendak Bapa. Dengan cara yang sama, orang Kristen harus menolak kebohongan duniawi yang sering kita temui di banyak tempat, termasuk ajaran-ajaran keliru di gereja, karena Tuhan telah menjanjikan kita pahala dan kebahagiaan yang jauh lebih besar (1 Korintus 9:24; Kolose 3:23–24).

Untuk mengabaikan ajaran yang kelru tidaklah mudah. Di dunia, gereja dan denominasi sering menekankan pemimpin atau doktrin mereka. Ada orang Kristen yang lebih kenal pendiri gereja mereka daripada Juruselamat mereka. Yang lain sangat setia pada sistem teologi atau praktik rohani tertentu. Memang di zaman ini adalah hal yang wajar untuk menghormati orang-orang hebat: pendeta yang dihormati, teolog yang brilian, pendiri gereja besar, atau bahkan institusi gereja kita. Kita mengagumi mereka, kesuksesan mereka, membela mereka, dan terkadang mengikuti mereka lebih dekat daripada kita mengikuti Kristus. Namun, dalam terang kekekalan, bahkan cahaya manusia yang paling terang pun akan memudar di hadapan kemuliaan Allah. Alkitab memperingatkan bahwa “hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1 Korintus 3:19). Di surga, tidak ada ketenaran, kemakmuran, gelar atau pengetahuan teologi yang berarti.

Mengapa Manusia Berfokus pada Hal-Hal Duniawi?

1. Kita Mencari Keamanan
Orang berpegang pada sistem dan pemimpin karena memberi rasa aman. Keyakinan bahwa “gereja kami benar” atau “teologi kami sehat” bisa terasa seperti perlindungan rohani. Namun, keamanan sejati bukanlah dalam kebenaran doktrin, tetapi dalam berada di dalam Kristus (Filipi 3:9).

2. Kita Mencari Identitas
Kita ingin merasa memiliki. Denominasi kita, pengkhotbah favorit kita, atau kelompok teologis kita memberi kita nama. Namun di surga, “mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka” (Wahyu 22:4). Hanya identitas dari Allah yang akan bertahan.

3. Kita Mudah Teralihkan
Iblis tidak keberatan jika kita menghabiskan seluruh hidup mempelajari teologi — asalkan kita lupa Pribadi Ilahi yang menjadi pusatnya. Tidak salah belajar atau menghormati pemimpin, tetapi kekaguman yang menggantikan penyembahan Tuhan adalah berbahaya. Musa adalah pribadi besar — namun dia pun tidak diizinkan masuk Tanah Perjanjian karena mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri (Bilangan 20:10–12).

4. Kita Lupa Surga
Kolose 3:2 memerintahkan, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Namun sering kali iman kita dijalani seolah-olah hidup di dunia ini adalah segalanya — seolah pemimpin kita, debat kita, kemakmuran gereja dan doktrin kita akan ikut ke dalam kekekalan. Padahal tidak.

Tatanan Baru di Surga

Dalam Wahyu 4 dan 5, digambarkan suasana surga. Dua puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta. Malaikat, makhluk, dan semua ciptaan berseru, “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (Wahyu 5:13). Di surga tidak ada orang yang meninggikan suatu denominasi. Tidak ada yang mengutip nama nabi dan tokoh Kristen. Tidak ada yang membela posisi teologis mereka. Semua umat menyembah Allah.

Para teolog yang menulis banyak buku akan bersatu dengan orang sederhana dalam menyanyikan, “Anak Dombalah yang layak menerima pujian.” Pendeta setia akan berdiri di samping mantan kriminal yang diselamatkan oleh kasih karunia, dan mereka semua akan sujud bersama di hadapan takhta. Satu-satunya gelar yang akan bertahan adalah “anak Allah.”

Bagaimana Kita Harus Hidup Sekarang?

Karena segala yang kita agungkan di dunia akan terlupakan dalam terang kemuliaan Allah, maka kita seharusnya hidup sesuai dengan itu. Berikut beberapa pengingat penting:

1. Ikutilah pemimpin, tetapi sembahlah Kristus
Ibrani 13:7 berkata bahwa kita harus mengenang para pemimpin kita dan meneladani iman mereka — bukan mengidolakan mereka. Biarlah mereka membawa kita kepada Yesus, bukan menggantikan-Nya.

2. Pelajari teologi, tetapi kasihi Kebenaran
Doktrin itu penting, tetapi hanya jika mengarahkan kita kepada Pribadi Kebenaran (Yohanes 14:6). Pengetahuan tanpa penyerahan hati tidak berguna.

3. Banggalah akan gerejamu, tetapi setialah kepada Kerajaan Allah
Gereja adalah ungkapan lokal dari umat Allah, bukan keseluruhannya. Kerajaan Allah jauh lebih besar dari gerakan mana pun.

4. Bersyukurlah untuk pahlawan iman, tetapi jangan mengagungkan mereka
Allah sering memakai manusia dengan luar biasa — tetapi mereka hanyalah bejana tanah liat (2 Korintus 4:7). Segala kemuliaan hanya bagi Sang Penjunan.

5. Hiduplah sekarang seperti di surga: dalam penyembahan
Jika surga penuh dengan pujian, maka mulailah sekarang. Biarlah pujian, kerendahan hati, dan kasih yang berpusat pada Kristus membentuk kehidupan kita setiap hari.

Pertanyaan untuk Refleksi Pribadi:

  1. Apakah saya lebih sering membela teologi atau tradisi gereja saya daripada menghidupi kasih Kristus?
  2. Apakah saya pernah mengagumi pemimpin rohani secara berlebihan hingga tanpa sadar menomorduakan Yesus?
  3. Bagaimana saya bisa mulai “menyembah Tuhan” lebih banyak dan “mengidolakan orang” lebih sedikit?
  4. Apakah saya benar-benar mengarahkan hati kepada hal-hal yang kekal, atau masih terjebak pada status dan pengakuan duniawi?
  5. Jika saya berdiri di hadapan Allah hari ini, apa yang akan saya tinggalkan di belakang?

Doa Penutup:

Tuhan yang Maha Kudus, Engkau satu-satunya yang layak menerima segala pujian dan hormat. Ampunilah aku jika selama ini aku terlalu fokus pada hal-hal duniawi—pada pemimpin, gereja, atau doktrin—dan lupa bahwa Engkaulah pusat dari segalanya.
Ajarku untuk hidup dengan hati yang tertuju kepada Surga, untuk menghargai mereka yang Engkau pakai tanpa menyembah mereka. Bentuklah dalam diriku kerendahan hati, semangat menyembah, dan kasih yang murni kepada-Mu.
Bimbing aku agar setiap perkataan, pikiran, dan perbuatanku memuliakan nama-Mu. Ingatkan aku setiap hari bahwa hanya Engkaulah yang layak ditinggikan—dulu, sekarang, dan selamanya.
Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, aku berdoa.
Amin.

Hanya Tuhan yang baik

“Mengapa engkau berkata Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.” Markus 10:18

Apakah Anda mengenal seseorang yang sopan santun, yang menghormati orang lain, yang hidupnya tertib dan rohani? Mungkin Anda menamakan dia “orang baik”. Tetapi apa arti “orang baik” itu? Orang yang diberkati Tuhan dengan berbagai hal yang indah dan nantinya masuk surga?

Kita sebagai manusia sering menghormati orang yang terlihat “baik”. Tetapi mungkin kita sadar bahwa tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar 100% baik. Hanya Tuhan yang benar-benar baik dan suci. Tidaklah mengherankan bahwa ayat di atas telah digunakan dalam perdebatan tentang keilahian Yesus. Sebagian berpendapat bahwa Yesus menyangkal bahwa Dia adalah Tuhan. Sebagian lain berpendapat bahwa Yesus mencoba untuk menyatakan kepada orang itu bahwa Dia adalah Tuhan. Namun, Yesus tidak secara langsung mengomentari sentimen yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Sebaliknya, Dia mendorong orang itu untuk mempertimbangkan siapa yang layak disebut “baik.” Jangan sembarangan memakai kata “orang baik”.

Yesus bertanya kepada orang itu mengapa menurutnya Yesus baik. Apa yang mencirikan seseorang sebagai “baik”? Dan jika ada seseorang benar-benar baik, apa yang akan dia katakan tentangnya? Jika saja Tuhan itu benar-benar baik, dan seorang manusia benar-benar baik, maka manusia itu adalah Tuhan. Jika ada yang berpendapat bahwa Yesus mencoba untuk menuntun orang itu ke kesimpulan ini, itu tidaklah mungkin. Pada waktu itu, Yesus justru bersusah payah menyembunyikan identitas-Nya dari semua orang kecuali dua belas murid-Nya (Markus 8:29–30; 9:9). Jadi lebih mungkin, komentar singkat dari Yesus itu menunjukkan bahwa Ia memberi orang itu sesuatu untuk dipikirkan kemudian: “mengapa kau menyebut Aku baik? Apakah kau menyebut Aku Allah? Jika ya, apakah kau siap mendengarkan Aku?”

Pada masa itu, orang awam biasanya percaya kepada pemimpin agama, seperti rabi, ahli Taurat, atau orang Farisi, tentang apa yang harus mereka lakukan agar menjadi baik dan masuk ke surga. Mereka bahkan berusaha mengikuti ajaran di luar Alkitab yang telah diciptakan oleh para ahli Taurat selama bertahun-tahun. Sebaliknya, Yesus memberi tahu orang itu untuk kembali kepada hukum Musa sebagaimana yang diberikan Allah (Markus 10:19), dan tidak khawatir tentang tradisi manusia (Markus 7:1–13). Orang itu menyiratkan bahwa Yesus, sebagai guru yang baik, tentunya tahu bagaimana caranya untuk menerima hidup kekal. Yesus menunjukkan bahwa hanya Allah yang baik, dan Ia memberikan hukum Musa untuk mengajar orang Yahudi bagaimana menjadi kudus.

Lebih mungkin lagi, Yesus menunjukkan kepada orang itu bahwa jika hanya Allah yang baik, orang muda yang kaya itu tidak mungkin menjadi baik. Jika dia tidak bisa menjadi baik, bagaimana dia bisa memperoleh hidup kekal? Kata-kata Matius mendukung penafsiran ini: “Kata Yesus kepadanya: ‘Mengapa engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik'” (Matius 19:17). Tidak peduli seberapa “baik” kita, kita tidak akan pernah tanpa dosa (Roma 3:23).

Kita hidup di zaman yang penuh dengan suara—pengkhotbah, pemimpin rohani, tokoh teologi, dan gerakan rohani yang menawarkan berbagai penafsiran akan kebenaran. Banyak yang tulus, berbakat, dan penuh semangat. Namun seiring waktu, kekaguman terhadap suara-suara ini dapat tumbuh menjadi pusat identitas kita. Firman Tuhan mengingatkan kita dengan tegas: hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Bahkan pemimpin rohani yang paling berbakat sekalipun tetaplah manusia. Mereka bisa memiliki wawasan mendalam dan khotbah yang kuat, tetapi mereka juga membutuhkan kasih karunia dan koreksi dari Tuhan. Gereja bisa menjadi komunitas kasih yang indah, namun tetap terdiri dari orang-orang berdosa. Sistem teologi bisa membantu menjelaskan iman, tetapi tidak ada satu pun yang sepenuhnya menggambarkan pikiran Allah yang tak terbatas.

Ketika kita meninggikan sistem manusia atau pemimpin rohani hingga setara dengan Allah, kita telah jatuh dalam penyembahan berhala rohani. Mengagumi hikmat itu baik, tetapi menyembahnya dalam bentuk pemimpin, denominasi, atau ideologi adalah hal yang berbahaya. Kebaikan yang kita lihat dalam diri orang lain hanyalah pantulan dari terang Tuhan, bukan sumbernya.

Yesus berkata, “Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah.” Ini bukan hanya koreksi terhadap si pemuda kaya, tetapi juga undangan bagi kita untuk melihat melampaui penampilan luar—menengok kepada sumber segala kebaikan. Hanya Tuhan yang baik dalam esensi, motivasi, dan tindakan-Nya. Semua yang baik berasal dari-Nya. Setiap kebaikan dalam ciptaan adalah bayangan dari kebaikan Allah.

Budaya kita cenderung mendorong kita untuk bersekutu dengan kelompok teologi atau gereja tertentu seolah-olah mereka tak bisa salah. Kita membela mereka dengan semangat, bahkan kadang menyerang pihak lain. Namun di tengah semua itu, kita bisa kehilangan fokus kepada Pribadi yang seharusnya kita sembah: Tuhan.

Gereja bukan Juruselamat kita. Teologi bukan otoritas tertinggi. Kristuslah satu-satunya yang layak kita sembah. Kekaguman kita harus diarahkan kembali. Hormati pemimpin, tetapi jangan menyembah mereka. Kasihi gereja, tetapi jangan mendewakannya. Hargai doktrin, tetapi ingat: yang menyelamatkan adalah Allah, bukan pemahaman teologi kita.

Ada bahaya lain juga. Ketika pemimpin jatuh—dan hal ini bisa terjadi—mereka yang telah mengidolakan mereka akan merasa hancur secara rohani. Bahkan ada yang meninggalkan iman, karena tidak bisa memisahkan kepercayaan mereka kepada Tuhan dari kepercayaan kepada manusia atau sistem. Ini adalah akibat dari pengharapan yang salah tempat.

Untuk tetap teguh, kita perlu membangun kerendahan hati dan ketergantungan hanya kepada Tuhan. Seperti Yohanes Pembaptis berkata tentang Kristus: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Mari kita mengagumi apa yang layak dikagumi, tetapi berikan penyembahan tertinggi hanya kepada Tuhan.

Pertanyaan refleksi:

  1. Adakah orang, gereja, atau ajaran yang terlalu Anda kagumi?
  2. Bagaimana Anda dapat kembali memusatkan hati kepada kebaikan Tuhan?
  3. Adakah area dalam hidup Anda di mana Anda lebih giat membela institusi manusia daripada mencari kebenaran Tuhan?
  4. Tahukah Anda bahwa di surga Anda hanya boleh menyembah Tuhan yang mahabaik dan karena itu Anda harus belajar mulai dari sekarang?

Doa:


Tuhan, ingatkan aku bahwa hanya Engkaulah yang benar-benar baik. Tolong aku menghargai pemimpin dan ajaran yang Engkau pakai, tetapi jangan biarkan aku menempatkan mereka di atas-Mu. Biarlah kekagumanku dipenuhi kerendahan hati, dan kesetiaanku tertuju kepada Kristus saja. Dalam nama Yesus, Amin.

Kekuatiran Tidak Menambah Apa-Apa: Panggilan untuk Percaya kepada Kuasa Allah

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Lukas 12:25

Kita hidup di dunia yang penuh kekuatiran. Karena itu, di zaman ini obat untuk kecemasan dan depresi dikonsumsi orang dalam jumlah besar. Orang juga mencari damai dengan memakai terapi, hiburan, kekayaan, media sosial — bahkan dalam pemakaian narkoba. Namun rasa damai tetap sulit ditemukan. Mengapa? Karena dunia tidak menawarkan harapan yang kekal. Keluarga hancur, komunitas terpecah, bangsa-bangsa konflik, bahkan iklim dan ekonomi terasa tidak stabil. Masa depan? Tak terduga. Entah akhir dunia sudah dekat atau belum, kita tetap akan menghadapi berbagai pencobaan. Inilah realitas kehidupan setelah kejatuhan manusia.

Lukas 12:22–34 mencatat bahwa Yesus memberi tahu murid-murid-Nya untuk melepaskan kekhawatiran dan mempercayai Tuhan. Dia telah memberi tahu mereka untuk menolak ketenaran, takut akan kematian, dan bergantung pada kekayaan (Lukas 12:1–21). Kemudian, Ia akan memberi tahu mereka bahwa mereka mungkin harus meninggalkan keluarga juga (Lukas 12:49-53). Sebaliknya, mereka perlu berfokus pada tugas yang akan diberikan Yesus kepada mereka (Lukas 12:35-48), untuk membangun gereja setelah kenaikan-Nya. Matius 6:25-34 membahas ajaran yang sama, meskipun mungkin pada waktu dan tempat yang berbeda.

Yesus mengajar para pengikutnya tentang prioritas yang tepat. Ini termasuk mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, bahkan hal-hal rahasia. Orang percaya harus lebih percaya kepada kuasa Allah daripada takut akan kematian, atau khawatir tentang hal-hal seperti makanan dan pakaian. Orang Kristen harus tetap siap untuk kedatangan Kristus, bahkan ketika iman memisahkan mereka yang percaya dari mereka yang tidak. Gagasan-gagasan ini berputar di sekitar tema utama ayat 34: bahwa hati seseorang mencerminkan apa yang paling mereka hargai.

Inilah inti ayat dari bagian ini (Lukas 12:22–31). Yesus tidak menjamin semua pengikut-Nya akan hidup di bumi dengan makanan yang cukup dan pakaian yang layak. Ia mengatakan bahwa khawatir—terobsesi atau panik, dalam konteks ini—tentang makanan dan pakaian tidak akan ada gunanya. Ia baru saja menceritakan perumpamaan tentang seorang pria yang mengumpulkan begitu banyak gandum sehingga ia bisa berhenti bekerja selama beberapa tahun, tetapi semua gandum di semua lumbung tidak akan membuatnya tetap hidup jika Tuhan memutuskan waktunya di bumi telah berakhir (Lukas 12:13–21).

Kecemasan tidak akan memperpanjang hidup Anda. Oleh karena itu, khawatir tentang makanan, pakaian, dan hal-hal lain tidak akan memperpanjang hidup Anda. Tuhan akan menyediakan para pengikut-Nya dengan apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan-Nya dalam hidup mereka. Tujuan itu adalah prioritas dan hak istimewa kita yang besar.

Memang, tujuan Tuhan tidak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Kita, seperti petani kaya, mungkin ingin “bersantai, makan, minum, bergembira” selama beberapa tahun (Lukas 12:19). Yesus ingin kita begitu berani membagikan Injil sehingga kita tidak takut ketika otoritas mengancam hidup kita (Lukas 12:4). Dia tidak ingin kita memanfaatkan hubungan kita dengan-Nya, tetapi melayani-Nya dengan tekun dan memimpin orang lain dengan setia (Lukas 12:35–48). Pada akhirnya, bukan dalam hidup ini kita dapat berharap untuk diberi makan dan berpakaian dengan baik, tetapi pada saat kedatangan Yesus kembali (Lukas 12:37; Wahyu 19:7–10).

Penafsiran ayat ini bisa diperdebatkan meskipun makna metaforisnya tetap sama. Bahasa Yunani yang diterjemahkan “satu jam” juga dapat berarti “satu hasta”—ukuran panjang. “Jangkauan” hanya berarti “panjang”; “hidup” ditambahkan untuk kejelasan. Alkitab menafsirkan frasa tersebut berarti kekhawatiran tidak dapat menambah sedikit pun waktu dalam rentang hidup kita. Dengan menerjemahkan “hasta” secara harfiah, Alkitab mengartikannya sebagai kekhawatiran tidak dapat menambah delapan belas inci pada tinggi badan kita. Apa pun terjemahannya, inti ayat ini adalah kekhawatiran tidak dapat memberi kita apa yang kita inginkan.

Satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa ayat ini tidak memberi tahu kita bahwa kita harus menolak perawatan medis yang dapat menyembuhkan atau meringankan kondisi penyakit atau cedera. Rencana Tuhan, bukan kekhawatiran kita, yang menentukan rentang hidup kita, tetapi perawatan medis mungkin merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi hidup kita. Bahwa kita tidak boleh paranoid tentang kehidupan duniawi tidak berarti kita harus memperlakukannya dengan sembarangan.

Mari kita renungkan lebih lanjut. Apa sebenarnya yang bisa dicapai dengan kekuatiran?

I. Kekuatiran: Gejala Masalah yang Lebih Dalam

Kekuatiran bukan hanya masalah psikologis. Itu adalah gejala rohani.

Sebelum kejatuhan manusia, Adam dan Hawa tidak mengenal kekuatiran. Mereka berjalan bersama Allah dan percaya kepada-Nya. Namun setelah kejatuhan, rasa takut muncul: takut dihukum, takut kekurangan, takut akan masa depan. Maka dimulailah kecemasan manusia.

Pada dasarnya, kekuatiran adalah ketidakpercayaan:

  • Meragukan kuasa Allah — Apakah Dia benar-benar sanggup menolong?
  • Meragukan kasih-Nya — Apakah Dia benar-benar peduli?
  • Meragukan rencana-Nya — Bagaimana jika Dia salah arah?

Keraguan ini bukan hal sepele. Itu adalah dosa. Karena itu menyangkal siapa Allah sebenarnya.

II. Kekuatiran Tidak Mengubah Masa Depan

Perkataan Yesus sangat jelas: Kekuatiran tidak menambah apa-apa. Tidak membawa solusi, tidak memperpanjang hidup, tidak memperbaiki keadaan.

Kekuatiran justru merampas:

  • Merampas kenyenyakan tidur kita.
  • Mengaburkan pertimbangan sehat.
  • Merusak kesehatan jasmani dan rohani.
  • Meretakkan hubungan dengan orang lain.
  • Menggerogoti iman.

Kekuatiran adalah seperti pencuri. Ia datang seolah membantu kita bersiap, padahal hanya menambah beban. Lalu apakah salah untuk merencanakan masa depan? Tidak! Merencanakan hari depan itu bijak. Tapi rasa kuatir yang berlebihan adalah tanda kurang iman.

III. Akar Solusi: Kembali kepada Allah

Kita tidak bisa berhenti kuatir hanya dengan kemauan sendiri. Kuncinya adalah pertobatan dan iman.

Mintalah pengampunan atas dosa kita karena mengabaikan Allah dan huasa-Nya, dan kita akan menerima damai-Nya. Dosa apa?

  • Melupakan-Nya dalam rencana hidup kita.
  • Tidak mempercayai-Nya dalam kesulitan.
  • Menggantikan-Nya dengan berhala kenyamanan, uang, atau kendali manusiawi.

Yesaya 26:3 berkata, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”

Hari ini, mari kita mengaku: “Tuhan, aku telah berdosa karena kuatir. Aku meragukan tangan dan hati-Mu. Ampunilah aku.”

Dan Tuhan yang kaya kasih karunia akan menjawab: “Damai-Ku Kuberikan kepadamu.”

IV. Panggilan untuk Hidup dalam Hikmat dan Percaya

Yesus tidak memanggil kita untuk jadi optimis yang naif. Dia memanggil kita untuk hidup dalam iman yang bijaksana:

  • Rencanakan — tapi jangan panik.
  • Bekerja — tapi jangan cemas.
  • Sadari tantangan — tapi tetap pandang Kristus.

Dunia memang rusak. Tapi Allah tetap berdaulat. Dia melihat burung pipit. Dia tahu kebutuhan Anda. Dia tetap bekerja sekarang juga. Bagian kita? Percaya saja. Tetap taat. Beristirahat dalam Dia. Kita bisa kuatir. Itu mudah. Tapi kita tidak bisa menyelesaikan masalah kita dengan kekuatiran. Hanya Allah yang bisa. Hari ini, berhentilah memikul beban sendirian. Serahkan beban itu kepada Tuhan. Dia mengundang kita:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28

Maukah kita datang? Maukah kita percaya? Maukah kita berserah? Mari kita mengaku kecemasan kita, bertobat dari ketidakpercayaan kita, dan menerima damai dari Sang Raja Damai.

Doa Penutup:

Tuhan, kami mengaku bahwa kami sering memikul beban yang tidak Engkau minta kami tanggung. Kami lebih sering kuatir daripada menyembah. Kami lebih sering takut daripada percaya. Ampunilah kami. Pulihkan iman kami. Gantikan kecemasan kami dengan damai sejahtera-Mu yang sempurna. Dalam nama Yesus kami berdoa, Ami

Standar bermasyarakat yang tidak pernah berubah

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Filipi 4:2–9 adalah seruan Paulus kepada jemaat Kristen di Filipi mengenai cara mereka menangani perselisihan di dalam gereja. Paulus khususnya prihatin dengan pertengkaran antara dua wanita, Euodia dan Sintikhe. Nasihat Paulus adalah untuk berfokus pada kemampuan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita untuk bersukacita dalam persekutuan kita dengan Kristus. Filipi 4:8 mengingatkan kita bahwa standar bermasyarakat orang percaya tidak pernah berubah. Dengan fokus yang tepat pada hal-hal positif, kita dapat mengalami kedamaian dalam hidup bermasyarakat melalui kuasa Allah.

Di dunia yang terobsesi dengan tren, citra diri, dan kesuksesan buatan sendiri, tekanan untuk menyesuaikan diri sangat nyata. Baik muda maupun tua, orang Kristen dibombardir dengan pesan-pesan halus—dan tidak begitu halus: Jadilah relevan. Jadilah dikagumi. Jadilah sukses. Namun definisi sukses menurut dunia seringkali datang dengan harga: kompromi rohani. Untuk terlihat bijak di mata dunia, kita tergoda untuk melunakkan kebenaran. Untuk bisa diterima teman atau rekan, kita mengaburkan batas antara kebenaran dan kesucian. Untuk mendapatkan kemenangan atau pujian orang lain, kita mungkin mulai mengadopsi nilai-nilai yang tidak pernah dimaksudkan Tuhan untuk umat-Nya. Inilah standar dunia saat ini yang hanya bisa membawa kedamaian palsu yang bersifat sementara.

Dunia merayakan kecerdikan, promosi diri, dan kekayaan materi. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk mengejar yang benar, bukan yang sedang tren. Untuk menghormati yang mulia, bukan hanya yang populer. Untuk memegang keadilan, meskipun ada harga yang harus dibayar. Untuk tetap suci, walaupun dunia menyebutnya kuno. Untuk menghargai apa yang manis dan sedap didengar, meskipun sering dianggap ketinggalan zaman. Kita hidup di zaman di mana kesuksesan harus terlihat, keras, dan sering kali diukur dengan jumlah teman, pengikut, dan saldo rekening. Namun hidup Kristen berjalan di jalur yang berbeda. Tepuk tangan dari manusia cepat memudar, tetapi pujian dari Allah bersifat kekal.

Keunggulan di mata Allah tidak ditentukan oleh popularitas, kekayaan, atau status. Itu ditentukan oleh seberapa besar karakter-Nya tercermin dalam hati dan pikiran kita. Apa yang dianggap kelemahan oleh dunia—kerendahan hati, kesetiaan, kebaikan—justru adalah hal-hal yang dianggap terpuji di surga. Itulah sebabnya nasihat Paulus dalam Filipi 4:8 begitu radikal—dan begitu dibutuhkan. Ia tidak hanya berkata, ‘lakukanlah semua itu’; ia berkata, ‘pikirkanlah semuanya itu.’ Karena apa yang kita isi dalam pikiran kita akan membentuk hidup kita.

Orang percaya harus “memikirkan semuanya ini.” Sementara Allah menjaga hati kita (Filipi 4:7), kita juga diperintahkan untuk memfokuskan hidup kita pada hal-hal yang menyenangkan Allah. Apa yang terus-menerus ditekankan di seluruh tulisan Paulus adalah keterlibatan Allah dalam setiap aspek kehidupan orang percaya. Pada saat yang sama, orang percaya diperintahkan untuk hidup sesuai dengan jalan Allah. Ia melakukan pekerjaan-Nya, tetapi juga memberi kita pekerjaan untuk dilakukan. Orang percaya dipanggil untuk percaya kepada Tuhan, tetapi juga untuk melayani Tuhan. Paulus memberikan contoh tentang cara melakukan keduanya. Ia setia dalam doa, tetapi menyerahkan seluruh hidupnya untuk memuliakan Tuhan.

Terlalu banyak orang Kristen saat ini merasa terbebani untuk terlihat ‘keren’ atau ‘bijak’ di mata dunia. Namun Kitab Suci jelas: ‘Hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah’ (1 Korintus 3:19). Hikmat sejati dimulai dengan takut akan Tuhan (Amsal 9:10), bukan dengan diterima oleh budaya. Ketika orang Kristen mulai berpikir seperti dunia, mereka akhirnya akan hidup seperti dunia. Tetapi ketika pikiran kita dibentuk oleh kebenaran dan kesucian, kita akan selaras dengan hati Allah. Ini bukan ajakan untuk legalisme atau mengasingkan diri dari dunia. Yesus berdoa agar murid-murid-Nya tidak diambil dari dunia, tetapi agar mereka dijaga dari yang jahat (Yohanes 17:15). Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk membedakan—untuk menyaring nilai, keinginan, dan ambisi kita melalui kebenaran Allah yang tidak berubah. Ini demi kebahagiaan kita yang sejati.

Menjadi umat yang setia mungkin akan membuat kita kehilangan promosi. Menolak kompromi bisa berarti kehilangan teman. Memegang kebenaran bisa membuat kita tidak populer. Tetapi ingatlah: standar Tuhan bukan beban untuk kita—melainkan berkat. Standar itu melindungi hati, menjaga kesaksian, dan menunjuk dunia ke arah yang lebih baik.

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa standar-Nya akan mudah diikuti. Tetapi Dia menjanjikan bahwa Roh-Nya akan memberi kita kekuatan. Ketika kita mengarahkan pikiran kita kepada yang mahakuasa dan patut dipuji, kita diubahkan dari dalam (Roma 12:2). Kita menjadi pribadi yang penuh kedalaman, keyakinan, dan sukacita—dibentuk bukan oleh tren dan tekanan dunia, tetapi oleh kebenaran Tuhan.

Pagi ini, mari kita lawan tekanan untuk membengkokkan iman dan melebur dengan dunia. Jangan biarkan budaya mendefinisikan keberhasilan atau kemenangan kita. Sebaliknya, pusatkan pikiran kita pada apa yang telah Tuhan nyatakan baik. Sebab dengan melakukan itu, kita bukan hanya menghormati Kristus—kita menjadi terang di tengah kegelapan. Orang lain akan melihat perbedaannya. Dan sekalipun mereka tidak memberikan tepuk tangan, Bapa kita di surga akan melakukannya.

Doa:
Tuhan, jagalah pikiranku dari daya tarik nilai-nilai dunia. Tolong aku untuk merenungkan apa yang benar, mulia, adil, dan suci. Ajarku untuk mengasihi apa yang Engkau kasihi dan mendambakan perkenanan-Mu di atas segalanya. Kuatkan aku untuk tetap teguh, bahkan ketika tekanan untuk menyesuaikan diri begitu besar. Aku ingin mencerminkan kemuliaan-Mu, bukan ilusi dunia. Amin.

Diciptakan untuk berbuat baik

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
‭‭Efesus‬ ‭2‬:‭10‬ ‭

Di antara orang Kristen yang menekankan kedaulatan Allah, kadang-kadang ada kesalahpahaman yang mengganggu — keyakinan bahwa perbuatan baik itu tidak perlu, atau bahkan tidak relevan. Beberapa bahkan berkata, “Apa pun yang terjadi sudah ditentukan, jadi apa yang saya lakukan tidak penting.” Orang yang lain mungkin terlalu khawatir tentang ‘legalisme’ sehingga mereka curiga terhadap ketaatan itu sendiri.

Kecenderungan ini sering terlihat di antara orang-orang yang dikenal sebagai Calvinis garis keras atau mereka yang baru menemukan teologi Reformed. Dalam semangat mereka untuk melindungi doktrin anugerah, mereka terkadang terlalu ekstrem — seakan-akan berusaha berbuat baik adalah ancaman terhadap kemuliaan Allah. Ironisnya, hal ini bisa mengarah pada kemalasan rohani, kesombongan, atau fatalisme.

Namun, Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa perbuatan baik itu opsional atau tidak penting. Sebaliknya, Alkitab menyatakan bahwa perbuatan baik itu ditentukan oleh Allah, diberdayakan oleh anugerah, dan mencerminkan Kristus. Perbuatan baik bukanlah akar dari keselamatan kita — tetapi itu adalah buahnya.

Dalam Efesus 2:8–9, Paulus mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah karena anugerah melalui iman, bukan hasil dari perbuatan, “supaya jangan ada orang yang memegahkan diri.” Inilah inti dari Injil: kita diselamatkan bukan karena kita baik, tetapi karena Allah itu penuh anugerah.

Namun Paulus tidak berhenti di sana. Ayat berikutnya, Efesus 2:10, memberikan keseimbangan yang penting:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Ayat ini menunjukkan gambaran lengkap:
– Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik
– Tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik.

Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ‘buatan’ (poiēma) menunjukkan sesuatu yang dirancang dengan sengaja, sesuatu yang indah dan penuh tujuan. Kita adalah karya ciptaan Allah, dibentuk dalam Kristus Yesus — bukan untuk berdiam diri, tetapi untuk hidup secara aktif dalam kehidupan baru yang telah diberikan kepada kita.

Allah tidak hanya menyelamatkan kita — Ia juga telah menyiapkan jalan kita. Perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah usaha manusia untuk mengesankan Allah; itu adalah langkah-langkah yang telah Dia rancang sebelumnya bagi kita.

Ungkapan ini — “yang dipersiapkan Allah sebelumnya” — sangat teologis. Ini mengajarkan bahwa bahkan ketaatan kita merupakan bagian dari rencana kedaulatan Allah. Allah yang sama yang memilih kita sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4) juga telah menentukan bahwa kita hidup dalam kekudusan, kasih, keadilan, kerendahan hati, dan pelayanan.

Ini secara langsung bertentangan dengan gagasan bahwa semua perilaku kita tidak berarti. Memang benar bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu — termasuk sejarah manusia, keselamatan, dan kekekalan — tetapi kedaulatan itu juga mencakup cara atau sarana yang Dia pakai. Ketaatan kita bukanlah pengecualian dari kehendak Allah; itu adalah hasil dari anugerah-Nya yang bekerja dalam diri kita.

Paulus juga mengatakan hal yang sama dalam Filipi 2:12–13:


“Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

Perhatikan dinamikanya: Kita diperintahkan untuk ‘mengerjakan’ apa yang Allah sudah ‘kerjakan’ di dalam kita. Tanggung jawab manusia dan kedaulatan Allah tidak bertentangan; keduanya berjalan selaras secara indah.

Lalu mengapa sebagian orang, khususnya dalam lingkup Reformed, meremehkan perbuatan baik atau menganggapnya tidak perlu?

Berikut tiga alasan umum:

1. Reaksi terhadap legalisme.
Banyak orang percaya yang terluka oleh ajaran legalistik yang menyatakan bahwa kita mendapat kasih karunia Allah melalui perbuatan. Sebagai reaksi, mereka terlalu menekankan anugerah sampai takut menyebut ketaatan.

2. Kesalahpahaman tentang predestinasi.
Beberapa orang mengira bahwa karena Allah sudah menentukan segalanya, maka pilihan moral manusia menjadi tidak berarti. Ini bukan Calvinisme, melainkan fatalisme.

3. Ketidakdewasaan dalam teologi.
Mereka yang baru belajar doktrin anugerah (kadang disebut ‘Calvinis kandang atau “caged Calvinist’) sering menerima logika teologi sebelum memahami kasih Kristus. Dalam usaha melindungi kedaulatan Allah, mereka justru mengabaikan perintah Kitab Suci. Ironisnya, keadaan ini juga bisa terjadi pada orang yang sudah lama menjadi orang Kristen. Mereka ini lebih senang berdebat tentang teologi daripada berbuat baik.

Namun para Reformator tidak pernah mengajarkan bahwa ketaatan itu tidak penting. John Calvin sendiri menulis bahwa meskipun kita dibenarkan oleh iman saja, “iman yang sejati tidak pernah sendirian” — iman sejati selalu disertai dengan hidup baru dan buah yang nyata.

Perbuatan Baik Adalah Buah Injil

Ketika Allah menyelamatkan seseorang, Ia mengubahnya. Roh Kudus tinggal dalam diri orang percaya dan mulai proses pengudusan — menjadikannya serupa dengan Kristus. Transformasi ini nyata. Itu menghasilkan buah dalam pertobatan, kasih, kemurahan hati, kerendahan hati, penguasaan diri, dan pelayanan. Bukan dengan sempurna, tetapi dengan nyata.

Yesus sendiri berkata:


“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Ini menunjukkan bahwa perbuatan baik bukan untuk kemuliaan kita — tetapi untuk kemuliaan Allah. Ketika kita berjalan dalam kasih, berlaku adil, mengampuni, dan merawat sesama — kita sedang mencerminkan karakter Allah yang telah menyelamatkan kita.

  • Jika Anda pernah merasa bahwa perbuatan baikmu tidak penting, atau jika Anda pernah diberitahu bahwa ketaatan tidak penting karena Allah sudah menentukan segalanya, ingatlah ini:
  • Anda diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik.
  • Allah telah mempersiapkannya terlebih dahulu khusus bagi Anda.
  • Anda adalah karya ciptaan-Nya, bukan milikmu sendiri.
  • Setiap perbuatan baik yang dilakukan dalam iman dan kasih adalah bagian dari rancangan-Nya yang agung.
  • Jadi, lakukan kasih dengan berani. Layani dengan sukacita. Ampunilah dengan tulus. Lawan dosa dengan serius. Bukan karena Anda ingin mendapatkan anugerah — tetapi karena anugerah sudah menjadi milik Anda, dan sekarang Allah sedang bekerja melalui hidup Anda.

Doa: Bapa, terima kasih karena aku diselamatkan hanya oleh anugerah, bukan oleh perbuatanku. Tapi aku juga bersyukur bahwa Engkau telah menciptakanku kembali dalam Kristus Yesus, untuk maksud yang mulia. Engkau telah mempersiapkan perbuatan baik yang harus kulakukan — bukan sebagai beban, tetapi sebagai berkat. Biarlah aku berjalan di dalamnya dengan sukacita, mengetahui bahwa itu semua adalah bagian dari rancangan-Mu. Biarlah hidupku menjadi kesaksian, bukan tentang kebaikanku, tetapi tentang anugerah-Mu. Dalam nama Yesus, amin.

Kemenangan kita karena Kristus

“Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15:55-58

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan mereka bisa hilang jika mereka kurang taat kepada firman Tuhan. Namun, ada juga pandangan yang menyatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang. Pandangan ini, yang dikenal sebagai “sekali diselamatkan, selalu diselamatkan”, didasarkan pada keyakinan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang tidak bisa dicabut. Memang, jika keselamatan bisa hilang, maka itu tidak lagi disebut anugerah, tetapi hanya sebuah harapan manusia yang tidak pasti. Pandangan ini juga didukung oleh keyakinan bahwa Roh Kudus adalah meterai dan jaminan keselamatan, yang melindungi orang percaya dari kehilangan keselamatan. Semua orang Kristen yang sudah diselamatkan adalah orang-orang yang sudah dipastikan akan dibangkitkan.

1 Korintus 15:50–58 dengan kuat menyimpulkan ajaran Paulus tentang kebangkitan orang Kristen: ketika terompet terakhir dibunyikan dan Kristus kembali untuk mereka yang menjadi milik-Nya. Pada saat itu, semua orang yang percaya kepada Yesus, baik yang hidup maupun yang mati, akan diubahkan ke dalam tubuh yang mulia dan kekal yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Kematian akan dikalahkan selamanya, dan tidak akan pernah menyakiti siapa pun lagi. Dosa mendatangkan kematian, dan hukum adalah kuasa dosa, tetapi Tuhan telah memberikan kita kemenangan atas kematian dengan mengampuni dosa kita melalui iman kepada Yesus dan kasih karunia-Nya.

Setelah mengejek kematian karena kekalahannya yang akan datang di ayat 55, Paulus menyatakan “sengat” atau sumber kematian adalah dosa dan kuasa dosa adalah hukum Taurat. Hukum Taurat tidak menciptakan dosa, tetapi hukum Taurat menyingkapkan bahwa setiap manusia berdosa. Kita masing-masing tidak bisa menaati bisa perintah-perintah Allah. Akibat dosa selalu kematian, dan bukan hanya kematian fisik. Dosa bertanggung jawab atas kematian rohani yang memisahkan kita dari Allah selamanya.

Paulus ikut campur, seperti yang dilakukannya di kitab Roma (Roma 7:24-25) untuk mengatakan bahwa kematian fisik bukanlah akhir dari cerita. Ia menyatakan rasa syukurnya kepada Allah, yang memberikan kemenangan atas kematian kepada manusia melalui Yesus. Artinya, Allah mengampuni dosa semua orang yang percaya kepada kematian Kristus di kayu salib sebagai ganti mereka. Kemenangan atas kematian diberikan kepada mereka yang percaya kepada kebangkitan-Nya dari antara orang mati. (Yohanes 3:16-18; Roma 10:9-10).

Utang dosa kita yang tak terhindarkan seharusnya berarti kematian yang tak terelakkan dan keterpisahan kekal dari Tuhan. Tetapi, kehidupan Kristus yang tanpa dosa dan kematian-Nya membuat dosa kita terhindarkan melalui iman kepada-Nya dan oleh kasih karunia Allah (2 Korintus 5:21). Itu mengubah makna kematian fisik dalam hidup ini bagi orang Kristen yang lahir baru. Alih-alih kematian menjadi awal dari kekekalan terpisah dari Bapa (Yohanes 3:36; Wahyu 20:15), itu hanyalah langkah lain sebelum kebangkitan kita sebagai makhluk yang dimuliakan yang akan menghabiskan kekekalan bersama Bapa (1 Yohanes 3:2; 1 Korintus 15:51–55).

Paulus memberikan pengajaran yang menyeluruh tentang kebangkitan orang Kristen dari kematian. Ini merupakan pertentangan langsung terhadap sekelompok jemaat Korintus yang tidak percaya pada kebangkitan seperti itu. Ia menunjukkan bahwa kematian alami bukanlah akhir dari kehidupan orang Kristen; itu adalah langkah terakhir sebelum menerima tubuh yang mulia dan bangkit seperti tubuh Kristus yang telah bangkit. Tubuh yang mulia itu akan berbeda dari tubuh kita saat ini. Pada saat itu, bagi semua orang yang telah percaya kepada Kristus, baik yang hidup maupun yang mati, kematian akan dikalahkan untuk selamanya.

Semua yang dinyatakan di atas adalah pemahaman proleptik yang berkenaan dengan masa depan. Walaupun demikian itu bukannya menyatakan bahwa kita belumlah diselamatkan. Mengapa demikian?

Orang Percaya Sudah Memiliki Kemenangan di Dalam Kristus

    “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Korintus 15:57

    Ayat ini menggunakan bentuk waktu sekarang: orang percaya sudah memiliki kemenangan melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

    “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1

    Keselamatan dan kebebasan dari kekuasaan setan adalah kenyataan saat ini, bukan hanya harapan masa depan.

    Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Allah

      “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38–39

      Keyakinan ini menegaskan bahwa orang percaya aman dalam kasih Allah sekarang, bukan hanya setelah Kedatangan Kristus yang kedua. Pergumulan di dunia ini tidak menyiratkan kerentanan terhadap kematian kekal. Kita tidak perlu kuatir akan bahaya hilangnya keselamatan jika kita tetap percaya kepada Yesus Kristus.

      Pemuliaan di Masa Depan, Bukan Pembenaran di Masa Depan

        “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30

        Pagi ini, di dalam Kristus kita harus yakin bahwa orang percaya sudah menang atas dosa, kematian, dan setan. Kebangkitan meyakinkan kita akan pemuliaan di masa depan, tetapi bukan pembenaran di masa depan. Saat ini, kita tidak berjuang untuk mencapai adau mempertahankan keselamatan; tetapi kita beristirahat di dalamnya. Walaupun demikian, sebagai umat Tuhan kita kita berjuang untuk memuliakan Tuhan selama kita masih hidup di dunia agar kita mendapatkan bagian kemuliaan kita di surga. Kedatangan Kristus yang kedua bukanlah saat ketika umat Allah akhirnya dibebaskan dari setan, tetapi saat ketika kepenuhan kemenangan Kristus dinyatakan. Tidak ada apa pun — baik kematian, penghakiman, maupun akhir dunia — yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.

        Manifesto pribadi orang Kristen

        Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

        1 Korintus 10:23—11:1 menunjukkan bahwa sekadar bertanya, ”Apakah ini diperbolehkan?” adalah pertanyaan yang salah bagi orang Kristen. Sebaliknya, kita harus melanjutkan dengan bertanya, ”Apakah ini akan memuliakan Tuhan?” dan ”Apakah ini akan membangun sesama kita?” Paulus memerintahkan mereka untuk bertindak berdasarkan hal ini dengan menolak makan daging yang mereka tahu telah dipersembahkan kepada berhala. Alasannya adalah untuk menghindari membuat siapa pun berpikir bahwa orang Kristen menyetujui penyembahan berhala dengan cara apa pun. Namun, mereka bebas untuk memakan daging apa pun yang tidak mereka ketahui telah dipersembahkan kepada berhala, dengan hati nurani yang bersih, dan dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Pesan utama dari bagian ini adalah bahwa niat kita, dan dampak tindakan kita terhadap orang lain, lebih penting daripada hal-hal fisik yang terlibat.

        Orang percaya harus termotivasi untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah dalam segala hal yang kita lakukan, atau memilih untuk tidak melakukannya. Ini termasuk pilihan kita untuk makan atau minum, atau menolak. Paulus menambahkan ini ke dalam daftar faktor motivasi untuk menggunakan kebebasan kita di dalam Kristus. Apakah kegiatan ini akan membantu saya atau akan menyebabkan saya “dikuasai” (1 Korintus 6:12)? Apakah melakukan ini akan membangun orang lain dan baik bagi sesama saya serta bagi diri saya sendiri (1 Korintus 10:23–24)? Dan sekarang, apakah pilihan untuk makan atau minum atau melakukan hal lain ini akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan? Semua pertanyaan ini harus dipertimbangkan dalam manifesto pribadi kita. Lalu apa manifesto itu?

        Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), manifesto adalah pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. Manifesto bertujuan untuk mengkomunikasikan pandangan, prinsip, atau rencana kepada publik dan seringkali menjadi dasar untuk gerakan atau perubahan yang lebih luas. Manifesto mengungkapkan apa yang ingin dicapai, apa yang dipercaya, dan bagaimana cara mencapainya. Jadi, manifesto adalah alat komunikasi yang kuat untuk menyampaikan pesan penting kepada masyarakat dan mendorong perubahan.

        Sebagai orang Krisen, mungkin Anda pernah mengucapkan pengakuan Iman Rasuli dalam acara kebaktian gereja. Pengakuan Iman Rasuli menjadi pernyataan keyakinan dasar atau kesaksian iman umat Kristiani. Pengakuan Iman Rasuli diketahui berkaitan dengan pengakuan atas adanya Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, gereja, pengampunan dosa, kebangkitan dan hidup kekal. Pengakuan ini adalah sebuah manifesto iman yang diucapkan secara bersama di gereja, tetapi mungkin terlalu panjang untuk dipakai secara pribadi dalam hidup sehari-hari. Selain itu, pengakuan ini tidak dimaksudkan untuk mendorong perubahan orang lain. Lalu apa yang bisa kita pakai sebagai manifesto agar orang lain bisa melihat bahwa kita adalah orang Kristen dan kemudian meniru kita?

        Di antara seruan-seruan besar Reformasi Protestan, Soli Deo Gloria — Hanya bagi kemuliaan Allah — sering kali berada di bawah bayang-bayang padanannya yang lebih sering dibahas: Sola Scriptura (Hanya Kitab Suci), Sola Fide (Hanya Iman), Sola Gratia (Hanya Anugerah), dan Solus Christus (Hanya Kristus). Namun dalam banyak hal, Soli Deo Gloria adalah permata mahkota yang menyatukan semuanya. Itu bukan sekadar poin teologis, tetapi panggilan pribadi. Itu adalah tujuan dari keberadaan segala sesuatu (Roma 11:36). Itu adalah tujuan keselamatan kita, ibadah kita, pekerjaan kita, dan kehidupan kita.

        Soli Deo Gloria seharusnya menjadi manifesto kita: Hidup hanya untuk kemuliaan Allah. Mengapa? Karena hanya Tuhan yang layak menerima segala kemuliaan — dalam penciptaan, dalam keselamatan, dalam pewahyuan, dan dalam setiap tindakan pemeliharaan-Nya.

        “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

        Kita Diciptakan untuk Kemuliaan-Nya

        Alam semesta tidak muncul secara kebetulan, dan kita juga tidak ada di sini untuk kesenangan kita sendiri. Kitab Suci mengingatkan kita bahwa “langit memberitakan kemuliaan Allah” (Mazmur 19:1), dan manusia — yang diciptakan menurut gambar Allah — diciptakan untuk mencerminkan keindahan dan kekudusan-Nya. Yesaya 43:7 menyatakan bahwa Allah membentuk kita “untuk kemuliaan-Ku.” Ini berarti hidup kita bukan milik kita untuk diarahkan sesuka hati. Setiap napas yang kita ambil adalah anugerah yang dirancang untuk menghormati Dia yang memberikannya. Hidup Soli Deo Gloria dimulai dengan mengakui bahwa keberadaan kita bukanlah tentang pemenuhan diri sendiri tetapi tentang pemuliaan Tuhan.

        Kita Mengasihi Karena Dia Lebih Dahulu Mengasihi Kita

        Sebelum kita dapat mengucapkan sepatah kata pujian, kasih Allah telah menjangkau kita. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Kasih, pengabdian, dan ketaatan kita bukanlah upaya untuk mendapatkan kasih karunia, melainkan tanggapan terhadap kasih karunia ilahi. Kasih Allah membangkitkan dalam diri kita keinginan untuk hidup bagi-Nya — bukan dengan rasa terpaksa, tetapi dengan sukacita. Kasih Allah adalah bahan bakar bagi kemuliaan Allah dalam hidup kita. Ketika kita melihat betapa dalamnya kita dikasihi, kita tidak dapat menahan diri untuk tidak memuliakan-Nya sebagai balasannya.

        Kita Diselamatkan untuk Berbagi dalam Kemuliaan-Nya

        Keselamatan kita bukanlah pencapaian manusia. Itu adalah pekerjaan Allah dari awal hingga akhir — direncanakan oleh Bapa, diselesaikan oleh Anak, dan diterapkan oleh Roh Kudus. “Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). Di dalam Kristus, kita tidak hanya diampuni; kita diundang untuk berbagi dalam kemuliaan-Nya.

        Ini mengubah cara kita hidup. Kita tidak hanya menunggu surga; kita hidup sekarang sebagai orang-orang yang telah dimahkotai dengan tujuan. Setiap tindakan pelayanan, setiap saat penderitaan yang ditanggung dalam iman, menjadi gema kemuliaan Allah dalam hidup kita (2 Korintus 4:17). Kita Melihat Kemuliaan-Nya melalui Kitab Suci dan Roh.

        Tuhan tidak meninggalkan kita dalam kegelapan

        Dia memberi kita Firman-Nya — “pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita” (Mazmur 119:105). Melalui Kitab Suci, kita melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus (2 Korintus 3:18). Dan oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, kita diubahkan dari kemuliaan kepada kemuliaan, dibentuk menjadi serupa dengan Anak.

        Roh membuka mata kita untuk melihat keagungan Allah di mana orang lain hanya melihat kata-kata. Dia menegur, menghibur, dan mengajar — bukan agar kita dapat dikagumi karena pengetahuan kita, tetapi agar kita dapat lebih mencerminkan cahaya Juruselamat kita.

        Kita Percaya melalui Karunia Iman

        Bahkan iman kita — sarana yang dengannya kita memperoleh keselamatan — adalah karunia kasih karunia (Efesus 2:8). Iman bukanlah pekerjaan yang kita lakukan, tetapi kepercayaan yang kita terima. Itu adalah cara Tuhan untuk memastikan bahwa tidak seorang pun dapat menyombongkan diri, dan bahwa semua kemuliaan diberikan kepada-Nya.

        Hidup dengan iman berarti hidup dalam ketergantungan penuh kepada Tuhan, tidak percaya pada diri sendiri tetapi pada janji-janji Dia yang tidak akan pernah gagal. Dan itu juga mendatangkan kemuliaan bagi-Nya.

        Kesimpulan: Seluruh Hidup Kita, Semua Adalah untuk Kemuliaan-Nya

        Bagi Tuhan saja kemuliaan lebih dari sekadar pernyataan teologis — itu adalah cara hidup. Itu membentuk cara kita bekerja, cara kita mengasihi, cara kita beribadah, dan cara kita menderita. Itu merendahkan hati kita dan meninggikan Kristus. Itu membungkam kesombongan dan membangkitkan pujian. Itu mengangkat pandangan kita dari yang fana ke yang kekal.

        Soli Deo Gloria seharusnya menjadi manifesto kita

        Bahwa pikiran saya, kata-kata saya, keputusan saya, pergumulan saya, dan kemenangan saya semuanya dapat mencerminkan kemuliaan Dia yang menciptakan saya, mengasihi saya, menyelamatkan saya, berbicara kepada saya, dan memberi saya iman.

        Dan jika saya harus hidup untuk kemuliaan-Nya, saya harus hidup dalam kasih karunia-Nya — sepenuhnya bergantung, taat dengan sukacita, dan bersyukur selamanya.

        Dalam semua kasus, pertanyaan apakah kegiatan ini akan mendatangkan kesenangan, keuntungan materi, atau status bagi saya seharusnya tidak menjadi faktor penentu saja, bahkan bagi mereka yang bebas di dalam Kristus. Sama seperti segala sesuatu yang dilakukan tanpa keyakinan adalah dosa (Roma 14:23), orang Kristen seharusnya tidak berpartisipasi dalam apa pun yang menurut mereka tidak akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.

        “Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” Mazmur 115:1

        Jangan lupa: Kita adalah umat yang tersisa

        “Tetapi pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara kaum keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar kepada TUHAN, Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tetap setia.” Yesaya 10:20

        Yesaya 10 mengutuki orang di Israel dan Yehuda yang menggunakan hukum untuk mengambil keuntungan dari orang miskin. Orang-orang ini tidak akan luput dari penghakiman Tuhan. Selanjutnya, Yesaya menggambarkan orang Asyur sebagai tongkat penghakiman Tuhan terhadap umat-Nya.

        Yesaya 10:20–34 menggambarkan kelompok yang tersisa, yang akan diselamatkan di Israel dan yang akan membangun kembali kepercayaan kepada Tuhan. Hanya sedikit orang Israel yang akan diselamatkan, namun Tuhan mendesak umat-Nya untuk tidak takut kepada orang Asyur. Kemarahan-Nya akan segera beralih dari Israel ke arah Asyur. Dia akan menggunakan kekuatan supranatural-Nya untuk mengakhiri penindasan Asyur atas Israel. Bahkan jika pasukan Asyur yang besar berbaris sampai ke tepi Yerusalem, Tuhan akan menghancurkan mereka seperti menebas hutan.

        Dari ayat di atas kita membaca tentang adanya kelompok sisa yang setia kepada Tuhan. Dari ayat itu muncul frase “Gereja Sisa” atau “Gereja yang tersisa’ (“Remnant church), yang mungkin jarang disebutkan dalam hereja Protestan dan Katolik. Kata “remnant” menunjuk kepada arti “sisa” dan ini dihubungkan dengan sisa orang Israel yang tetap setia kepada Tuhan dalam ayat di atas. Secara sederhana frase “Remnant church” di zaman ini mennjuk kepada umat Kristen yang akan masih bertahan sampai akhir zaman.

        Perlu dicatat bahwa Remnant Church (Gereja Sisa) tidak sama dengan Remnant Fellowship (Persekutuan Sisa). Yang terakhir adalah adalah sebuah organisasi keagamaan yang berdiri sejak tahun 1986 di Memphis, Tennessee, dan program penurunan berat badan yang didirikan oleh Gwen Shamblin, seorang ahli gizi. Pada tahun 1999, Shamblin dan yang lainnya memulai sebuah gereja, Remnant Fellowship Church (Gereja Persekutuan Sisa), di Nashville, Tennessee. Segera setelah itu, Shamblin secara terbuka menyangkal doktrin Alkitab tentang Trinitas. Remnant Fellowship adalah sebah bidat atau gereja sesat.

        Ide tentang umat yang tersisa muncul di seluruh Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama, umat yang tersisa mengacu pada mereka yang tetap setia selama masa penghakiman atau pembuangan (Yesaya 10:20–22, Mikha 2:12). Hal itu tidak didefinisikan oleh kesempurnaan tetapi oleh kasih karunia pemeliharaan Allah. Dalam Perjanjian Baru, Paulus merujuk kepada suatu sisa yang dipilih oleh kasih karunia (Roma 11:5), menekankan bahwa Allah selalu menyimpan umat yang setia bagi diri-Nya—bukan karena jasa mereka, tetapi karena belas kasihan-Nya.

        Selain ayat di atas, Wahyu 12:17 mengidentifikasi adanya suatu kelompok di akhir zaman yang “menaati perintah-perintah Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Beberapa denominasi di zaman ini menafsirkan hal ini sebagai merujuk kepada diri mereka sendiri, sebagai Remnant Church yang berupa suatu komunitas yang dibangkitkan dengan pesan yang berbeda dari denominasi lain. Namun, “gereja sisa” dalam Alkitab adalah semua kelompok yang menaati hukum Allah dan saksi Kristus yang selalu dicirikan oleh kerendahan hati, ketergantungan pada kasih karunia, dan pelayanan kepada orang lain—bukan dalam hal keunggulan rohani.

        “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Wahyu 12:17

        Ide tentang “umat yang tersisa” telah lama membentuk teologi, identitas, dan misi beberapa denominasi. Namun, identitas ini dapat disalahpahami atau disalahgunakan—menjadi sumber eksklusivisme atau elitisme spiritual, di mana gereja melihat dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang setia. Keadaan ini tentunya bisa diperburuk dengan kenyataan bahwa kebanyakan denominasi saat ini tidak menekankan kenyataan bahwa semua orang Kristen yang setia dalam iman adalah tergolong dalam umat yang tersisa.

        Teologi umat sisa yang berpusat pada Kristus menegaskan:

        • Bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia melalui iman, bukan dengan menjadi bagian dari denominasi tertentu.
        • Bahwa umat sisa Tuhan dipanggil untuk mencerminkan karakter-Nya, bukan hanya untuk mempertahankan doktrin gereja.
        • Bahwa misi umat sisa adalah untuk meninggikan Yesus di hadapan dunia—bukan untuk memuliakan gereja sendiri.

        Identitas kita sebagai umat yang tersisa bisa memainkan peran yang kuat dalam menyatukan denominasi global yang beragam. Harapan eskatologis—kepercayaan bahwa kita hidup di fase akhir sejarah—bisa membantu menyelaraskan kepercayaan, praktik ibadah, dan prioritas misi. Urgensi Kedatangan Yesus yang kedua dan harapan umat Kristen dalam menghadapi akhir zaman bisa membantu menyatukan identitas umat Kristen di seluruh dunia. Pendekatan seperti itu juga dapat memperkuat kerendahan hati ekumenis, membuka gereja sebagai tubuh Kristus yang lebih luas melalui pendekatan wawasan rohani dari komunitas Kristen lainnya.

        Yesus adalah umat sisa yang utama—Dia yang tetap setia, menanggung penghakiman dosa, dan sekarang mengundang semua orang untuk menjadi bagian dari umat tebusan-Nya. Jika kita ingin menjadi umat yang tersisa, kita harus bersedia untuk mengajak orang lain untuk bergabung dalam iman. Panggilan kita adalah untuk memberitakan Injil yang kekal (Wahyu 14:6), bukan sekadar memperingatkan tentang cara hidup yang baik. Pesan kiita harus berpusat pada kasih karunia Tuhan (Sola Gratia) akan mengundang orang-orang ke dalam hubungan dengan Yesus, bukan sekadar ke dalam sistem doktrinal. Kita harus menekankan transformasi karakter melalui Roh Kudus, bukan upaya manusia atau kepatuhan kepada aturan gereja. Kita wajib menegaskan bahwa umat Allah ditemukan di mana pun Roh-Nya bekerja, bukan hanya dalam satu denominasi.

        Pagi ini kita disadarkan bahwa umat Kristen adalah umat pilihan Tuhan. Identitas sebagai umat yang tersisa bukanlah lambang keunggulan tetapi panggilan untuk menjadi hamba Kristus. Jika kita ingin tetap relevan dan setia di akhir zaman, ia harus menolak godaan eksklusivisme dan memfokuskan kembali pesannya pada kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Umat yang tersisa tidak terpelihara karena mereka sempurna, tetapi karena Allah setia. Dan kesetiaan itu dinyatakan paling jelas di kayu salib. Umat Kristen dipanggil untuk memberitakan pesan harapan, bukan ketakutan—Injil kebenaran melalui iman, bukan kebenaran melalui afiliasi. Hanya dengan demikian dunia akan melihat umat yang tersisa bukan sebagai umat yang sombong, tetapi sebagai umat yang mencerminkan Anak Domba. Segala puji untuk Tuhan. Soli Deo Gloria.

        Bergantung kepada Raja segala raja

        “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” – 1 Korintus 2:5

        Bagi Anda yang seumur saya mungkin pernah mendengar tentang film berjudul “King of Kings” (Raja segala raja) rilis tahun 1961 yang menceritakan kisah Yesus. Film ini disutradarai oleh Nicholas Ray dan dibintangi oleh Jeffrey Hunter sebagai Yesus. Film ini mencakup peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, termasuk khotbah di bukit, perjamuan Terakhir, kesengsaraan, dan kebangkitan Yesus. Dalam konteks kekristenan, “Raja segala raja” adalah gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus, yang menunjukkan keagungan-Nya sebagai pusat kehidupan dan pemerintahan ilahi.

        Di zaman modern ini, agaknya banyak orang yang tidak mengerti atau tidak tahu bahwa Yesus adalah Raja segala raja. Mereka mungkin mengenal nama Yesus, tapi tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Mereka mungkin lebih terbiasa dengan adanya tokoh-tokoh publik, pemimpin politik, influencer media sosial, bahkan tokoh-tokoh agama yang menjadi acuan utama dalam menentukan apa yang benar, apa yang salah, apa yang patut diikuti, dan bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Manusia terus mencari sosok “raja” baru—mereka yang dianggap hebat, pintar, populer, atau berpengaruh. Namun, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus memberikan peringatan yang tajam: jangan menaruh iman pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

        Hikmat Dunia vs Hikmat Allah

        Rasul Paulus, dalam konteks pasal ini, sedang menjelaskan bahwa Injil Kristus bukanlah hasil filosofi manusia atau kebijaksanaan duniawi. Dunia pada masa Paulus sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan orator-orator hebat. Tetapi Paulus dengan sengaja tidak memakai kata-kata indah atau argumentasi rumit ketika menyampaikan Injil. Ia datang dengan kesederhanaan, dengan gemetar dan rasa takut (1 Korintus 2:3), karena ia ingin agar perhatian orang tidak tertuju kepada dirinya, tetapi kepada Tuhan Yesus Kristus.

        Dalam bahasa Indonesia, “Tuhan” secara umum merujuk pada oknum ilahi yang Mahatinggi dan Mahakuasa, yang diyakini sebagai pencipta dan pengatur alam semesta serta menjadi objek pemujaan manusia. Tetapi, karena Tuhan itu roh banyak manusia tidak dapat melihat-Nya dan tidak dapat percaya kepada-Nya. Sebaliknya, banyak orang yang tertarik kepada apa yang bisa dilihat, yaitu penampilan luar: khotbah yang retoris, ajaran yang menyenangkan telinga, atau pemimpin yang kharismatik. Namun, semua itu adalah bentuk hikmat manusia yang sering kali mengalihkan perhatian dari kekuatan Tuhan.

        Raja-Raja Dunia yang Menjadi Pusat Perhatian

        Di berbagai bidang kehidupan, manusia cenderung mengidolakan figur-figur manusia:

        • Dalam dunia Krsten, orang sering lebih terpesona oleh pengkhotbah terkenal dan ajaran manusia daripada oleh kebenaran Alkitab itu sendiri. Banyak yang mengikuti ajaran tokoh karena popularitasnya, bukan karena keakuratan firman Tuhan. Kadang, bahkan saat ajaran mereka menyimpang, orang tetap setia karena mereka lebih suka mengandalkan manusia daripada Tuhan.
        • Dalam pemerintahan dan politik, manusia mencari pemimpin kuat yang bisa menyelamatkan ekonomi, memberikan keamanan, atau menyatukan bangsa. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa bahkan pemimpin terbaik pun tetap manusia berdosa yang terbatas dan bisa gagal.
        • Dalam dunia sosial dan budaya, para influencer dan selebriti dijadikan panutan hidup. Banyak orang meniru gaya hidup mereka, cara berpakaian, berbicara, dan bahkan nilai-nilai moral mereka. Tapi apakah semua itu membawa manusia lebih dekat kepada kebenaran dan kekudusan?

        Alkitab mengingatkan kita bahwa hanya satu Raja yang layak menerima ketaatan dan penyembahan kita: Tuhan Yesus Kristus, Raja segala raja.

        Bahaya Ketergantungan pada Manusia

        Ketika manusia mulai mengandalkan manusia lain untuk arahan hidup, banyak bahaya yang bisa muncul:

        • Disesatkan oleh ajaran palsu: Jika kita tidak menguji ajaran berdasarkan Firman Tuhan, kita bisa dengan mudah disesatkan oleh pengajaran yang terdengar “bijak”, tetapi sebenarnya menyesatkan (Lihat Matius 24:24).
        • Mengidolakan manusia dan bukan Tuhan: Ketika seorang pemimpin atau tokoh spiritual lebih dihormati daripada Kristus sendiri, itu sudah menjadi bentuk penyembahan berhala terselubung.
        • Kekecewaan yang mendalam: Manusia bisa gagal. Pemimpin bisa jatuh dalam dosa. Ketika kita terlalu menggantungkan harapan kepada manusia, maka saat mereka jatuh, iman kita bisa goyah.

        Oleh karena itu, Paulus mengarahkan jemaat kepada kekuatan Allah—bukan kepada dirinya, bukan kepada kefasihan bicara atau keindahan pengajaran, tetapi kepada Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.

        Iman yang Tertanam pada Kekuatan Allah

        Apa artinya menaruh iman pada kekuatan Allah?

        • Mengakui keterbatasan manusia: Baik kita sendiri maupun pemimpin rohani atau pemimpin politik, semua manusia adalah makhluk berdosa yang terbatas. Hanya Allah yang sempurna.
        • Mengandalkan Roh Kudus sebagai Penuntun Kebenaran: Dalam ayat-ayat selanjutnya di pasal yang sama, Paulus menjelaskan bahwa kebenaran rohani hanya bisa dipahami melalui pencerahan Roh Kudus, bukan dari akal manusia semata (1 Korintus 2:10-14).
        • Membangun relasi pribadi dengan Tuhan: Kita tidak bisa hanya hidup dari “makanan rohani” yang disampaikan oleh orang lain. Kita perlu mengenal Tuhan secara pribadi, membaca firman-Nya, berdoa, dan membangun relasi yang nyata dengan-Nya.
        • Menjadi rendah hati: Mengakui bahwa iman kita bukan karena kepandaian atau logika kita, tetapi karena kasih karunia Allah yang menarik kita kepada-Nya. Ini mencegah kesombongan rohani.

        Menjadi Umat yang Bergantung pada Sang Raja

        Kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh “raja-raja dunia”—tokoh, sistem, ideologi, dan budaya yang menuntut perhatian dan kesetiaan kita. Tetapi kita dipanggil untuk hidup berbeda. Kita dipanggil menjadi umat yang hanya mengakui satu Raja: Tuhan Yesus Kristus.

        Yesus bukan hanya Raja dalam makna rohani. Dia adalah Raja segala raja, Penguasa atas sejarah, dan satu-satunya yang layak diandalkan. Tidak ada penguasa dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwa manusia. Tidak ada ideologi atau teologi yang bisa memberi damai sejati. Hanya Yesus yang sanggup memberi hidup kekal dan makna sejati.

        Renungan pagi ini hendak mengajak kita semua untuk memeriksa di mana kita meletakkan kepercayaan dan harapan kita. Apakah kita sedang bergantung pada tokoh-tokoh besar dunia ini? Apakah kita terlalu bergantung pada para pemimpin rohani tanpa menguji ajaran mereka? Apakah kita sedang mencari “raja” lain yang bisa menyelamatkan kita selain Kristus?

        Mari kita kembali kepada salib. Mari kita kembali menaruh iman bukan pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah yang dinyatakan di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Hanya Dia yang layak kita ikuti, kita andalkan, dan kita sembah.

        “Terpujilah Tuhan, Gunung batuku, yang mengajar tanganku berperang, dan jari-jariku untuk bertempur; Dialah kasih setiaku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku, Dialah yang padanya aku berlindung.” Mazmur 144:1–2